Buku
Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Teknik Industri
Mendesain Sistem Kerja yang Efektif, Efisien, dan Tetap Manusiawi
BAGIAN TIGA — SIKLUS MSDM DALAM
PERSPEKTIF IE-HRM
PERSPEKTIF IE-HRM
"Seluruh fungsi MSDM dibahas kembali melalui perspektif Teknik Industri"
Bab 12 ·Perencanaan SDM dan Workforce Planning
* * *
Pengantar dan Konteks: Mesin yang Datang Lebih Dulu daripada Orangnya
Sebuah perusahaan memutuskan membangun lini produksi baru. Keputusan investasinya dirayakan, mesinnya dipesan delapan bulan sebelumnya, gedungnya disiapkan berbulan-bulan, dan jadwal komisioningnya dikawal rapat mingguan. Lalu, kira-kira enam minggu sebelum lini beroperasi, seseorang di rapat bertanya: orangnya sudah ada?
Yang terjadi berikutnya bisa ditebak oleh siapa pun yang pernah mengalaminya. Rekrutmen besar-besaran dalam waktu yang mustahil. Membajak dari pesaing dengan gaji yang merusak struktur upah sendiri. Standar seleksi yang diam-diam diturunkan karena kursi harus terisi. Pelatihan berminggu-minggu yang dipadatkan menjadi hitungan hari. Dan pada bulan-bulan pertama operasinya, lini baru itu dijalankan oleh orang-orang yang belum mahir, dengan tingkat kecelakaan dan kecacatan yang kemudian dicatat dalam laporan sebagai "kendala awal produksi". Padahal kendala itu tidak terjadi pada bulan itu; ia diputuskan delapan bulan sebelumnya, ketika mesin direncanakan dengan teliti dan manusia direncanakan dengan asumsi bahwa mereka bisa dibeli kapan saja seperti suku cadang.
Perencanaan SDM adalah disiplin yang mencegah cerita itu, dan bab ini membahasnya dengan kacamata yang khas buku ini: sebagai persoalan kapasitas sistem. Bagian ketiga buku dimulai dari sini bukan tanpa alasan; dari seluruh siklus MSDM, perencanaan adalah fungsi yang paling hulu, dan kesalahan di hulu mengalir ke semua bab sesudahnya.
Landasan Teori dan Penelitian
Perencanaan SDM sebagai
persoalan kapasitas
Dalam bahasa
operasi, setiap sistem punya kapasitas (berapa yang sanggup dihasilkannya per
satuan waktu) dan permintaan (berapa yang diminta darinya). Perencanaan tenaga
kerja adalah menyeimbangkan keduanya untuk sumber daya yang paling istimewa:
manusia. Keistimewaannya membuat persoalan ini lebih sulit daripada perencanaan
mesin dalam tiga hal. Manusia punya waktu tunggu (lead time) yang panjang dan tidak pasti: mencari, memilih, dan yang
paling lama, memahirkan; kurva belajar pada bab enam belas adalah bagian dari
lead time ini. Manusia menyusut dan pindah atas kehendaknya sendiri: pensiun,
mengundurkan diri, promosi, mutasi, dan semuanya hanya bisa ditaksir, tidak
dijadwalkan. Dan manusia tidak bisa disimpan sebagai persediaan: kelebihan
orang hari ini tidak bisa digudangkan untuk kekurangan tahun depan; ia menjadi
biaya, kebosanan, atau keduanya.
Karena tiga
sifat itu, inti teknis perencanaan SDM adalah menyandingkan dua arus sepanjang
waktu: arus kebutuhan (dari rencana bisnis, volume, dan produktivitas) dan arus
ketersediaan (dari jumlah sekarang dikurangi taksiran penyusutan, ditambah
pasokan internal). Selisih keduanya per periode, per kelompok pekerjaan, itulah
kesenjangan yang harus diisi atau dilepas, dan keputusan mengisinya harus
diambil sepanjang lead time sebelum kesenjangan itu tiba.
Forecasting: kuantitatif
dan kualitatif
Meramal
kebutuhan dapat dilakukan dari dua arah yang saling memeriksa. Arah kuantitatif
bekerja dari nisbah dan beban: standar kerja hasil bab delapan dikalikan volume
yang direncanakan menghasilkan jam yang dibutuhkan, dan jam dibagi jam efektif
per orang menghasilkan kepala. Untuk ketersediaan, alat sederhananya adalah
tabel aliran: berapa persen dari setiap kelompok yang secara historis bertahan,
keluar, atau naik setiap tahun, diproyeksikan ke depan; dalam kepustakaan
dikenal sebagai analisis rantai Markov, tetapi praktisi tidak perlu nama itu
untuk memakainya. Arah kualitatif bekerja dari penilaian orang yang paling
tahu: para manajer lini dan perencana bisnis ditanya secara terstruktur, satu
per satu lalu dipertemukan, tentang perubahan yang tidak tertangkap angka
historis: teknologi baru, produk baru, aturan baru. Perencanaan yang sehat
memakai keduanya, karena masing-masing menambal kelemahan yang lain: angka
historis buta terhadap perubahan, penilaian manusia rawan bias dan kepentingan
(setiap manajer cenderung merasa kekurangan orang).
Manpower planning dan
workforce planning
Dua istilah ini
sering dipakai bergantian, tetapi ada pergeseran makna yang layak dijaga.
Perencanaan tenaga kerja klasik (manpower
planning) menghitung kepala: berapa orang, kapan, di mana. Perencanaan
angkatan kerja (workforce planning)
yang lebih baru menghitung kemampuan: keterampilan apa yang dibutuhkan
organisasi tiga sampai lima tahun ke depan, kemampuan kritis mana yang menjadi
pembeda dan tidak boleh kosong, dan bagaimana komposisi bentuk hubungan
kerjanya (tetap, kontrak, alih daya, mitra). Boudreau dan Ramstad (2007)
menajamkan pergeseran ini dengan satu pertanyaan yang menghemat banyak energi:
di posisi mana perbedaan mutu orang paling mengubah hasil organisasi?
Perencanaan yang memperlakukan semua posisi sama pentingnya akan menyebar
perhatian secara merata dan karena itu tidak menjaga apa-apa dengan
sungguh-sungguh.
Merencanakan dalam
ketidakpastian
Kritik paling
jujur terhadap perencanaan SDM datang dari kenyataan bahwa ramalan bisnis
sendiri sering meleset. Cappelli (2008) mengusulkan jawaban yang dipinjam dari
manajemen rantai pasok: karena ketidakpastian tidak bisa dihilangkan, kelolalah
risikonya. Jangan bertaruh pada satu angka; buat dua atau tiga skenario (dasar,
tinggi, rendah) dan uji rencana pemenuhan pada ketiganya. Bedakan kesalahan
yang mahal: di pekerjaan yang mudah dicari, kekurangan lebih murah daripada
kelebihan, maka rencanakan agak di bawah dan tutup sisanya dengan cara yang
lentur; di pekerjaan yang langka dan lead time-nya panjang, kelebihan kecil
lebih murah daripada kekosongan, maka isi lebih awal. Dan bangun kelenturan itu
sendiri sebagai kapasitas: kombinasi inti pegawai tetap dengan lapisan
penyangga (kontrak, alih daya, lembur yang terkendali) yang bisa mengembang dan
mengempis mengikuti kenyataan, dengan batas-batas yang adil dan sah menurut
hukum ketenagakerjaan yang berlaku.
Make, buy, or borrow
Setiap
kesenjangan dapat diisi dengan tiga jalan, dan masing-masing punya harga serta
lead time-nya. Membangun (make):
mengembangkan dari dalam, paling murah per orang dan paling menjaga budaya,
tetapi paling lama dan menuntut sistem pengembangan yang berjalan (bab tujuh
belas dan dua puluh satu). Membeli (buy):
merekrut jadi dari luar, cepat untuk satu-dua orang tetapi mahal dan berisiko
pada skala besar, sebagaimana diperlihatkan cerita pembuka. Meminjam (borrow): kontrak, alih daya, atau mitra,
paling lentur tetapi menuntut kejelasan tentang pekerjaan mana yang boleh
berada di luar inti, dan kepatuhan penuh pada aturan hubungan kerja. Organisasi
yang matang tidak memilih satu jalan; ia menetapkan komposisi per kelompok
pekerjaan, berdasarkan kelangkaan, kekritisan, dan lead time masing-masing.
Perspektif IE-HRM: Pipeline Manusia Punya Lead Time
Dari kacamata
kerangka buku ini, seluruh bab ini bermuara pada satu kalimat yang layak
digantung di ruang rapat investasi: pipeline manusia punya lead time, dan lead
time tidak bisa dimarahi supaya memendek. Organisasi yang merencanakan mesin
delapan bulan ke depan tetapi merencanakan manusia enam minggu ke depan sedang
menyatakan, lewat kalendernya, mana yang dianggapnya lebih penting; dan sistem,
seperti biasa, akan menagih pernyataan itu.
Konsekuensi
praktisnya: perencanaan SDM harus duduk di meja yang sama dengan perencanaan
bisnis dan investasi, dengan irama yang sama, bukan diberi tahu belakangan.
Fungsi HR yang datang ke meja itu membawa angka (standar kerja, kurva belajar,
lead time rekrutmen per kelompok pekerjaan, tabel penyusutan historis) akan
didengar; yang datang membawa keluhan tidak. Di sinilah investasi bagian dua
buku ini membayar dirinya: bab delapan menyediakan standar kerja untuk
pembilang kebutuhan, bab sepuluh menyediakan disiplin membaca angka historis,
dan bab lima mengingatkan bahwa siklus bajak-membajak antarperusahaan adalah
lingkar sistem yang setiap pesertanya rugi.
Kelebihan dan Keterbatasan
Perencanaan SDM
yang dikerjakan sungguh-sungguh mengubah fungsi HR dari pemadam kebakaran
menjadi perancang: kekurangan dicegah, bukan diatasi. Keterbatasannya harus
dipegang sama eratnya. Ramalan selalu salah dalam derajat tertentu, dan
perencanaan yang jatuh cinta pada angkanya sendiri lebih berbahaya daripada
tidak berencana; disiplinnya justru pada memperbarui rencana begitu kenyataan
berbicara. Perencanaan juga rawan menjadi ritual anggaran, sekadar
tawar-menawar jumlah kepala, jika tidak diikat pada kemampuan dan posisi
kritis. Dan ada batas moral yang harus disebut: manusia dalam rencana bukan
sekadar "FTE"; keputusan mengembang-mengempiskan lapisan penyangga
menyangkut penghidupan orang, dan kelenturan yang seluruh biayanya ditanggung
pihak yang paling lemah bukanlah kelenturan melainkan pemindahan risiko.
Kerangka ini menuntut kelenturan yang harganya dibayar dengan adil.
Panduan Praktik: Workforce Planning Template dan Manpower
Forecast
Bangun rencana
untuk cakrawala dua belas sampai tiga puluh enam bulan, per kelompok pekerjaan
(bukan per orang), dengan enam kolom berikut untuk setiap periode (bulanan
untuk dua belas bulan pertama, triwulanan sesudahnya).
(1) Kebutuhan:
dari volume rencana bisnis dikalikan standar kerja, atau dari nisbah yang
disepakati; catat asumsinya secara tertulis. (2) Ketersediaan awal: jumlah
sekarang. (3) Penyusutan taksiran: dari data historis tiga tahun (pensiun yang
pasti, turnover yang ditaksir, mutasi keluar); pakai rentang, bukan satu angka.
(4) Pasokan internal: lulusan program pengembangan dan mutasi masuk yang sudah
direncanakan. (5) Kesenjangan: kebutuhan dikurangi proyeksi ketersediaan. (6)
Rencana pemenuhan: bagaimana kesenjangan diisi (make, buy, borrow), dengan
tanggal mulai yang dihitung mundur dari lead time nyata, bukan lead time
harapan.
Lalu tiga
disiplin yang membuat template ini hidup. Pertama, ukur lead time Anda sendiri:
dari permintaan sampai orang mahir (bukan sampai orang masuk), per kelompok
pekerjaan; angka ini adalah jantung seluruh perencanaan dan hampir tidak ada
organisasi yang memilikinya sebelum sengaja mengukur. Kedua, jalankan pada tiga
skenario volume dan tandai keputusan mana yang sama di ketiganya (kerjakan
sekarang) dan mana yang berbeda (siapkan pemicunya: jika volume menyentuh X
pada bulan Y, jalankan Z). Ketiga, tinjau tiap triwulan dengan membandingkan
ramalan lalu terhadap kenyataan, dan perbaiki cara meramalnya, bukan hanya
angkanya; perencanaan yang tidak pernah belajar dari melesetnya sendiri
melanggar siklus PDCA yang baru saja kita pelajari.
Ringkasan Bab
Perencanaan SDM
adalah menyeimbangkan kapasitas dan permintaan untuk sumber daya yang punya
lead time panjang, menyusut sendiri, dan tidak bisa digudangkan. Tekniknya
menyandingkan arus kebutuhan dan ketersediaan per kelompok pekerjaan sepanjang
waktu, dengan ramalan kuantitatif dan kualitatif yang saling memeriksa;
kematangannya tampak dari pergeseran menghitung kepala menuju menghitung
kemampuan dan posisi kritis; dan kejujurannya tampak dari cara menghadapi
ketidakpastian: skenario, pembedaan biaya kesalahan, dan kelenturan yang
harganya dibayar adil. Pesan terpentingnya untuk ruang rapat investasi hanya
satu kalimat: rencanakan manusia dengan keseriusan yang sama seperti
merencanakan mesin, karena pipeline manusia punya lead time, dan tagihannya
selalu datang.
Pertanyaan Reflektif
1. Berapa lead
time sesungguhnya di organisasi Anda, dari permintaan sampai orang mahir, untuk
tiga kelompok pekerjaan terpenting? Jika tidak ada yang tahu angkanya, apa
artinya itu? 2. Kekurangan orang terbesar yang pernah dialami unit Anda:
keputusan apa, berapa bulan sebelumnya, yang sesungguhnya melahirkannya? 3.
Dalam komposisi tetap-kontrak-alih daya di organisasi Anda, siapa yang
menanggung biaya kelenturan? Apakah harganya dibayar adil?
Bacaan Lanjutan
Cappelli (2008),
Talent on Demand, mengubah cara
berpikir tentang perencanaan di zaman yang ramalannya selalu meleset; ini
bacaan pertama yang saya sarankan. Bechet (2008), Strategic Staffing, adalah panduan teknik yang paling membumi untuk
membangun model perencanaan yang benar-benar dipakai. Boudreau dan Ramstad
(2007), Beyond HR, mengajarkan
menemukan posisi yang perbedaannya paling menentukan, fondasi dari perencanaan
yang tidak menyamaratakan.
BAB 13
Analisis Jabatan dan Desain
Organisasi
Struktur organisasi adalah keputusan tentang siapa harus
berbicara dengan siapa.
Pengantar dan Konteks: Dokumen yang Tidak Dikenali Pemiliknya
Dalam sebuah
perselisihan hubungan industrial, uraian jabatan seorang karyawan dibuka di
hadapan para pihak. Karyawan itu membacanya dan mengatakan sesuatu yang membuat
ruangan hening sejenak: setengah dari tugas yang tertulis tidak pernah ia
kerjakan, dan setengah dari yang ia kerjakan setiap hari tidak tertulis.
Dokumen itu dibuat tujuh tahun lalu, disalin dari jabatan serupa di perusahaan
lain, ditandatangani dalam rangka sertifikasi sistem manajemen, lalu disimpan.
Selama tujuh tahun pekerjaannya berubah tiga kali; dokumennya tidak pernah.
Kejadian semacam
itu bukan kelalaian administrasi kecil. Uraian jabatan yang mati adalah retakan
pada fondasi, karena hampir seluruh bangunan MSDM berdiri di atasnya: rekrutmen
mencari orang berdasarkan syarat jabatan, seleksi menguji terhadap syarat itu,
penilaian kinerja menagih tanggung jawab yang tertulis, pelatihan menutup
kesenjangan terhadap tuntutan jabatan, evaluasi jabatan menimbang bobotnya
untuk struktur gaji, dan di ruang perselisihan, dokumen itulah yang berbicara.
Jika fondasinya fiksi, semua yang di atasnya ikut fiksi, masing-masing dengan
caranya sendiri.
Bab ini membahas
dua hal yang berpasangan: analisis jabatan (memahami dan mendokumentasikan
pekerjaan sebagaimana adanya dan sebagaimana seharusnya) dan desain organisasi
(menyusun pekerjaan-pekerjaan itu menjadi struktur). Keduanya sengaja
disatukan, karena kesalahan yang paling umum adalah mengerjakan yang pertama
sebagai administrasi dan yang kedua sebagai politik, padahal keduanya adalah
desain.
Landasan Teori dan Penelitian
Analisis jabatan: fondasi
yang sering dikerjakan paling asal
Analisis jabatan
adalah proses sistematis mengumpulkan dan menilai informasi tentang isi sebuah
pekerjaan, konteksnya, dan syarat manusia untuk menjalankannya (Brannick,
Levine, & Morgeson, 2007). Kata "sistematis" membedakannya dari
menyalin dokumen lama. Hasilnya dua wajah: deskripsi tentang pekerjaan (tugas,
tanggung jawab, hubungan, kondisi) dan spesifikasi tentang orangnya
(pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan karakteristik lain yang dibutuhkan).
Ada ketegangan
yang jujur di jantung disiplin ini. Di satu sisi, para ahli mencatat bahwa
pekerjaan modern berubah makin cepat, batas antarjabatan makin cair, dan
analisis jabatan klasik yang memotret pekerjaan sebagai daftar tugas yang tetap
makin cepat kedaluwarsa; sebagian karena itu bidang ini bergeser ke analisis
kerja (work analysis) yang lebih luas
dan ke bahasa kompetensi (Sanchez & Levine, 2012). Di sisi lain, kebutuhan
hukum dan keadilan justru menuntut dokumentasi yang jelas: keputusan seleksi,
pengupahan, dan pemutusan hubungan kerja harus bisa dipertanggungjawabkan terhadap
tuntutan pekerjaan yang nyata. Jalan tengah yang diambil buku ini praktis:
dokumentasikan yang stabil (tujuan jabatan, tanggung jawab utama, syarat yang
sungguh menentukan), longgarkan yang cair (rincian tugas), dan pasang tanggal
peninjauan pada dokumennya seperti tanggal kedaluwarsa pada makanan.
Metode analisis jabatan
Empat keluarga
metode saling melengkapi, dan pilihan di antaranya adalah soal biaya lawan
ketelitian. Observasi: mengamati langsung pekerjaan dilakukan; paling jujur
untuk kerja fisik yang kasatmata, lemah untuk kerja pikiran, dan selalu sedikit
mengubah yang diamati. Wawancara: bertanya kepada pemegang jabatan dan
atasannya; kaya konteks, tetapi rawan dua bias yang berlawanan, yaitu pemegang
jabatan yang membesarkan pekerjaannya dan atasan yang menganggapnya sederhana;
mewawancarai keduanya dan mempertemukan selisihnya justru bagian paling bergizi
dari metode ini. Kuesioner terstruktur: efisien untuk banyak jabatan sekaligus
dan memungkinkan perbandingan; dangkal jika dipakai sendirian. Catatan kerja (work log): pemegang jabatan mencatat
kegiatannya selama beberapa hari; membosankan tetapi sering membongkar selisih
terbesar antara pekerjaan di dokumen dan pekerjaan yang sesungguhnya, dan
bersanding baik dengan sampling kerja dari bab delapan. Untuk sebagian besar
keperluan, kombinasi wawancara ganda ditambah verifikasi singkat di lapangan
sudah jauh lebih baik daripada praktik umum, yaitu menyalin.
Dokumen yang benar-benar
dipakai
Uraian jabatan
yang hidup pendek, jelas, dan berpusat pada hasil. Bagian-bagian intinya:
identitas jabatan dan kedudukannya dalam struktur; tujuan jabatan dalam satu
kalimat (untuk apa jabatan ini ada; jika kalimat ini sulit ditulis, mungkin
jabatannya memang tidak perlu ada); lima sampai sembilan tanggung jawab utama
yang masing-masing dirumuskan sebagai hasil, bukan kegiatan ("memastikan
tagihan terbayar akurat dan tepat waktu", bukan "memproses
tagihan"); wewenang dan hubungan kerja utama; kondisi kerja yang penting
termasuk risiko K3; dan ukuran keberhasilan yang tersambung ke bab sembilan
belas. Spesifikasinya memuat syarat yang sungguh menentukan dan dapat
dibuktikan hubungannya dengan pekerjaan; setiap syarat yang tidak bisa
dijelaskan mengapa perlu (pendidikan yang lebih tinggi dari tuntutan nyata,
usia, penampilan) bukan hanya menyempitkan pasokan kandidat tanpa alasan,
melainkan juga tidak adil.
Struktur organisasi
sebagai desain aliran kerja dan informasi
Naik satu
tingkat: jabatan-jabatan itu disusun menjadi struktur, dan di sinilah kacamata
teknik industri paling terasa bedanya. Bagan organisasi biasanya dibaca sebagai
peta kekuasaan: siapa membawahi siapa. Bacaan yang lebih berguna: struktur
adalah desain aliran, yaitu keputusan tentang pekerjaan mana dikelompokkan
bersama, informasi harus menempuh jalur apa, dan keputusan diambil di
ketinggian mana. Galbraith (1974) merumuskannya dalam satu kalimat yang
menjelaskan sangat banyak: organisasi pada dasarnya adalah mesin pengolah
informasi, dan strukturnya harus dirancang menurut beban ketidakpastian yang
harus diolahnya. Pekerjaan yang rutin dan pasti tertampung oleh hierarki dan
aturan; makin tinggi ketidakpastian, makin besar kebutuhan akan jalur samping:
peran penghubung, tim lintas fungsi, atau sistem informasi yang memotong
jenjang. Organisasi yang memilih struktur karena sedang menjadi mode, bukan
karena beban informasinya, akan membayar dengan salah satu dari dua mata uang:
keputusan yang lambat atau keputusan yang salah.
Mintzberg (1979)
menambahkan pelajaran yang menjaga dari resep seragam: konfigurasi struktur
yang sehat berbeda menurut sifat pekerjaan dan lingkungannya; birokrasi mesin
yang cocok untuk operasi massal yang stabil akan mencekik organisasi yang hidup
dari keahlian atau inovasi, dan sebaliknya. Tidak ada struktur terbaik; yang
ada struktur yang serasi atau tidak serasi dengan pekerjaannya.
Span of control, layer,
dan biaya koordinasi
Dua tuas
struktur yang paling sering diutak-atik adalah rentang kendali (berapa bawahan
langsung per atasan) dan jumlah lapis. Keduanya berjungkat-jungkit: rentang
sempit menghasilkan lapis banyak, dan setiap lapis adalah stasiun tambahan yang
harus dilalui informasi, dengan penyaringan dan penundaan di setiap perhentian;
kita telah belajar pada bab lima apa yang dilakukan penundaan terhadap sistem.
Rentang lebar memangkas lapis tetapi menipiskan perhatian atasan per orang.
Tidak ada angka ajaib; rentang yang sehat bergantung pada keserupaan pekerjaan
bawahan, kematangan orangnya, kestabilan prosesnya, dan seberapa banyak
pekerjaan atasan selain mengawasi. Yang bisa dipegang adalah dua tanda bahaya:
lapis yang isi pekerjaannya hanya meneruskan (meminta laporan dari bawah untuk
dilaporkan ke atas) adalah pemborosan transportasi dalam bahasa lean; dan
rentang yang membuat atasan tidak lagi mengenal pekerjaan bawahannya akan
menagih dirinya pada penilaian kinerja dan keselamatan.
Perspektif IE-HRM: Arsitektur sebelum Administrasi
Kacamata buku
ini menyatukan bab ini dengan satu pembalikan urutan. Praktik umum berjalan
begini: struktur ditetapkan (sering dalam perundingan yang lebih politis
daripada teknis), kotak-kotaknya diberi nama, lalu HR ditugasi menulis uraian
jabatannya; analisis jabatan menjadi administrasi yang membenarkan keputusan
yang sudah diambil. Urutan desain berjalan sebaliknya: mulai dari pekerjaan
yang harus dilakukan organisasi (proses-proses intinya, bab enam), kelompokkan
menjadi peran dengan prinsip desain pekerjaan yang sehat (bab tujuh), baru
susun peran menjadi struktur yang alir informasinya paling pendek untuk
keputusan yang paling sering. Dalam urutan ini, analisis jabatan bukan tukang
catat; ia juru ukur yang bekerja sebelum bangunan berdiri.
Pembalikan itu
juga mengubah kapan pekerjaan ini dilakukan. Analisis jabatan bukan proyek
sekali jalan menjelang sertifikasi; ia menempel pada peristiwa yang mengubah
pekerjaan: teknologi baru, proses yang didesain ulang, reorganisasi, dan temuan
dari penilaian kinerja bahwa sebuah jabatan sudah tidak masuk akal. Dokumen
jabatan diperlakukan seperti standar pada bab enam: hidup, bertanggal, dan
diubah oleh kenyataan.
Kelebihan dan Keterbatasan
Analisis jabatan
dan desain struktur yang dikerjakan benar adalah investasi yang bunganya
dipetik semua fungsi lain; hampir tidak ada praktik MSDM yang tidak menjadi
lebih mudah di atas fondasi ini. Keterbatasannya tiga. Pertama, biayanya nyata
dan hasilnya cepat usang di pekerjaan yang berubah cepat; obatnya bukan
meninggalkan analisis melainkan menyesuaikan butirannya, sebagaimana jalan
tengah yang diambil di atas. Kedua, dokumentasi jabatan bisa menjadi tembok:
"itu bukan tugas saya" adalah kalimat yang tumbuh subur di taman
uraian jabatan yang terlalu rinci; rumusan berbasis hasil dan klausa kerja sama
yang wajar adalah penangkalnya. Ketiga, desain struktur tidak pernah steril
dari politik, dan buku ini tidak berpura-pura sebaliknya; yang bisa dilakukan
pendekatan teknik adalah membawa kriteria terbuka (aliran, beban informasi,
rentang, lapis) ke meja yang tanpa kriteria itu hanya akan diisi tarik-menarik
kepentingan.
Panduan Praktik: Job Analysis Template, Job Description, Job
Specification
Jalankan untuk
satu keluarga jabatan yang sedang bermasalah atau akan berubah.
Langkah satu,
siapkan data awal: struktur, dokumen jabatan lama (jika ada), data proses dari
pemetaan bab enam, dan data beban dari bab tujuh atau delapan.
Langkah dua,
wawancara ganda: pemegang jabatan (dua atau tiga orang jika pemegangnya banyak,
pilih yang dianggap baik oleh rekan-rekannya) dan atasan langsung, terpisah,
dengan pertanyaan yang sama: untuk apa jabatan ini ada; sebutkan tanggung jawab
utamanya sebagai hasil; apa yang paling menyita waktu; keputusan apa yang boleh
diambil sendiri; dengan siapa paling sering berurusan dan untuk apa; apa yang
paling sering salah; dan kemampuan apa yang membedakan pemegang jabatan yang
baik dari yang sekadar bisa.
Langkah tiga,
pertemukan selisihnya. Daftar tugas versi pemegang dan versi atasan hampir
pasti berbeda, dan selisih itu bukan gangguan melainkan temuan: di situlah
harapan yang tidak pernah dibicarakan, pekerjaan siluman yang tidak diakui, dan
tugas warisan yang tidak lagi perlu. Putuskan bersama mana yang masuk, mana
yang dipindah, mana yang dihapus.
Langkah empat,
tulis dokumennya dengan kerangka pada bagian teori: satu sampai dua halaman,
tujuan jabatan satu kalimat, lima sampai sembilan tanggung jawab berbasis
hasil, syarat yang bisa dipertanggungjawabkan, tanggal berlaku dan tanggal
tinjau.
Langkah lima,
uji pakai: berikan kepada seorang perekrut dan tanyakan apakah ia bisa
menyaring kandidat dengannya; berikan kepada pemegang jabatan baru dan tanyakan
apakah ia paham apa yang diharapkan darinya dalam sembilan puluh hari. Dokumen
yang gagal pada dua uji itu belum selesai, serapi apa pun formatnya.
Ringkasan Bab
Analisis jabatan
adalah fondasi yang di atasnya berdiri rekrutmen, seleksi, penilaian,
pelatihan, dan pengupahan, dan fondasi itu di banyak organisasi berupa dokumen
mati yang tidak dikenali pemiliknya sendiri. Membangunnya kembali menuntut
metode (wawancara ganda, verifikasi lapangan, dokumen berbasis hasil yang
bertanggal) dan sikap: dokumen jabatan adalah standar yang hidup. Satu tingkat
di atasnya, struktur organisasi paling baik dibaca sebagai desain aliran kerja
dan informasi, dirancang menurut beban ketidakpastian yang harus diolah, dengan
rentang dan lapis sebagai tuasnya dan biaya koordinasi sebagai tagihannya.
Urutan IE-HRM tegas: pekerjaan dulu, peran kemudian, struktur terakhir;
arsitektur sebelum administrasi.
Pertanyaan Reflektif
1. Buka uraian
jabatan Anda sendiri. Berapa persen isinya yang masih menggambarkan pekerjaan
Anda yang sesungguhnya? Kapan terakhir dokumen itu disentuh, dan oleh peristiwa
apa? 2. Lapis mana dalam struktur organisasi Anda yang pekerjaannya sebagian
besar meneruskan informasi? Apa yang menahannya tetap ada? 3. Dalam
reorganisasi terakhir di tempat Anda, kriteria apa yang sesungguhnya menentukan
bentuk akhirnya: aliran kerja dan informasi, atau tarik-menarik yang lain?
Bacaan Lanjutan
Brannick,
Levine, dan Morgeson (2007), Job and Work
Analysis, adalah rujukan metode yang paling lengkap. Sanchez dan Levine
(2012) merangkum ke mana bidang ini bergerak dan mengapa. Galbraith (1974)
tetap artikel pendek terbaik untuk membaca struktur sebagai mesin pengolah
informasi. Mintzberg (1979), The
Structuring of Organizations, adalah peta besar konfigurasi struktur yang
menyelamatkan pembacanya dari resep seragam.
BAB 14
Rekrutmen sebagai Sistem
Kandidat terbaik tidak menunggu; mereka memilih perusahaan
yang lebih dulu memutuskan.
Pengantar dan Konteks: Lowongan Sembilan Puluh Hari
Sebuah posisi
penting kosong sudah tiga bulan. Manajer pengguna kesal kepada HR: kalian
lambat. HR kesal kepada pasar: kandidatnya memang tidak ada. Kedua-duanya
yakin, dan tidak satu pun pernah melihat datanya.
Ketika akhirnya
seseorang menelusuri jejak proses itu, gambarnya berbeda dari kedua cerita.
Kandidat sebenarnya cukup: enam puluhan pelamar, belasan yang layak. Tetapi
berkas-berkas itu menunggu sembilan belas hari di kotak masuk manajer pengguna
sebelum disentuh, karena "belum sempat". Tiga kandidat terbaik yang
akhirnya dipanggil, dua sudah menerima tawaran perusahaan lain. Jadwal
wawancara berikutnya mundur dua kali karena menyesuaikan agenda tiga
pewawancara. Dan tawaran untuk kandidat yang tersisa terlambat sepekan menunggu
satu tanda tangan. Lowongan itu tidak lambat karena pasar; ia lambat karena
menunggu, dan sebagian besar penungguannya terjadi justru di pihak yang paling
kesal.
Cerita ini
adalah bab enam yang mengulang dirinya di wilayah rekrutmen, dan memang
begitulah bab ini dibangun: rekrutmen diperlakukan sebagai sistem aliran,
dengan corong (funnel), kemacetan,
waktu tunggu, dan ukuran, persis seperti proses-proses lain. Bedanya satu, dan
ini yang membuatnya menarik: yang mengalir di dalam proses ini adalah manusia
yang punya pilihan, yang bisa dan akan pergi jika prosesnya memperlakukan
mereka dengan buruk.
Landasan Teori dan Penelitian
Rekrutmen sebagai aliran
Rekrutmen adalah
serangkaian tahap yang setiap tahapnya menyaring: dari pasar tenaga kerja
menjadi pelamar, pelamar menjadi kandidat yang disaring, kandidat menjadi yang
diwawancara, yang diwawancara menjadi yang ditawari, yang ditawari menjadi yang
menerima, dan yang menerima menjadi yang benar-benar mulai bekerja (Barber,
1998). Bentuknya corong, dan dua sifat corong menentukan hasilnya: nisbah
konversi antartahap (berapa persen yang lolos dari satu tahap ke tahap
berikutnya) dan kecepatan alir (berapa lama kandidat berada di setiap tahap).
Kebanyakan organisasi hanya melihat ujung corong (terisi atau tidak, berapa
lama) dan karena itu berdebat tanpa bisa menunjuk masalahnya. Begitu corong
diukur per tahap, perdebatan berubah menjadi diagnosis: pelamar sedikit adalah
masalah hulu (sumber dan daya tarik); pelamar banyak tetapi yang layak sedikit
adalah masalah sasaran (pesan dan syarat yang salah); yang layak banyak tetapi
hilang di tengah adalah masalah aliran (kecepatan dan pengalaman); yang
ditawari banyak menolak adalah masalah tawaran atau masalah yang lebih dalam
lagi, yaitu apa yang mereka lihat selama proses.
Sumber kandidat dan
employer branding
Penelitian
rekrutmen memberi beberapa pegangan tentang hulu corong. Sumber yang berbeda
menghasilkan kandidat dengan mutu dan daya tahan yang berbeda; rujukan dari
karyawan sendiri, misalnya, secara konsisten termasuk sumber dengan hasil baik,
sebagian karena kandidat datang dengan gambaran pekerjaan yang lebih jujur dan
penyaringan sosial sudah terjadi sebelum lamaran (Breaugh, 2008). Pegangan
kedua: memberikan gambaran yang realistis tentang pekerjaan, termasuk sisi
beratnya, sedikit mengurangi pelamar tetapi mengurangi kekecewaan dan
pengunduran diri dini; kejujuran di hulu lebih murah daripada turnover di
hilir. Pegangan ketiga menyangkut daya tarik: kandidat menilai organisasi dari
sedikit sinyal yang bisa mereka lihat, dan perilaku organisasi selama proses
rekrutmen adalah sinyal yang paling dipercaya karena paling sulit dipalsukan
(Chapman, Uggerslev, Carroll, Piasentin, & Jones, 2005). Employer branding
yang sesungguhnya bukan kampanye; ia reputasi yang dibangun oleh ribuan
pengalaman kandidat dan cerita karyawan, dan iklan hanya bisa memperkuat atau
mempermalukan kenyataan itu.
Mengukur kinerja rekrutmen
Tiga ukuran
klasiknya saling melengkapi dan saling menjaga. Waktu pengisian (time-to-fill) mengukur kecepatan, dan
sebaiknya dipecah per tahap agar bisa didiagnosis, dengan pembedaan yang jujur
antara waktu proses dan waktu menunggu; pelajaran bab enam berlaku penuh di
sini, termasuk temuan khasnya bahwa menunggu hampir selalu jauh lebih besar.
Biaya per rekrutan (cost-per-hire)
mengukur ongkos, dan paling berguna bukan sebagai angka tunggal melainkan
sebagai perbandingan antarsumber. Dan mutu rekrutan (quality-of-hire) adalah ukuran yang paling penting sekaligus paling
jarang dikerjakan: bagaimana kinerja, ketahanan, dan kemajuan orang-orang yang
direkrut, dinilai enam sampai dua belas bulan kemudian, ditautkan kembali ke
sumber dan proses yang menghasilkannya. Tanpa ukuran ketiga, dua yang pertama
berbahaya: rekrutmen bisa makin cepat dan makin murah sambil makin buruk, dan
tidak ada yang tahu.
Bottleneck dan cara
mengurainya
Teori kendala
dari bab enam bekerja penuh di corong rekrutmen: percuma memperbanyak pelamar
jika kemacetannya di jadwal wawancara pengguna, dan percuma mempercepat
wawancara jika kemacetannya di persetujuan tawaran. Kemacetan rekrutmen yang
paling umum ternyata bukan pada kegiatan HR melainkan pada titik-titik serah
terima ke luar HR: menunggu pengguna menyaring berkas, menunggu jadwal para
pewawancara bertemu, menunggu tanda tangan berjenjang untuk tawaran.
Pengurainya adalah teknik proses biasa yang diterapkan dengan tega: perjanjian
tingkat layanan dua arah (HR menyerahkan daftar pendek dalam sekian hari,
pengguna menanggapinya dalam sekian hari, dan keterlambatan pengguna tercatat
sama telanjangnya dengan keterlambatan HR), blok jadwal wawancara yang dipesan
di muka setiap pekan, wawancara panel untuk memampatkan beberapa tahap menjadi
satu, dan wewenang tawaran yang didelegasikan dalam rentang yang sudah
disetujui di awal, sehingga tanda tangan tidak lagi mengantre pada saat yang
paling menentukan.
Pengalaman kandidat, bias,
dan keadilan proses
Dua tema
terakhir menyangkut sisi manusia dari aliran ini. Pertama, pengalaman kandidat:
setiap pelamar yang diperlakukan buruk (tidak dikabari, digantung
berminggu-minggu, diwawancara dengan tidak siap) membawa pulang cerita, dan di
pasar tenaga kerja yang saling terhubung, cerita itu menjadi bagian dari corong
tahun depan. Aturan minimalnya sederhana dan murah: setiap pelamar mendapat
kabar, apa pun hasilnya, dalam waktu yang dijanjikan. Kedua, bias: penyaringan
manusia atas berkas dan kesan membawa serta seluruh kecenderungan yang kita
kenal dari bab dua dan sepuluh, dari kesamaan latar yang disukai penyaring
sampai kesan lima menit pertama yang menjalar ke seluruh penilaian. Obat yang
paling teruji bukan pelatihan kesadaran semata melainkan desain proses: syarat
yang ditetapkan sebelum melihat kandidat, penyaringan terhadap kriteria yang
sama untuk semua orang, dan penilaian yang terstruktur, yang menjadi pokok bab
lima belas. Keadilan, di wilayah ini, bukan lawan efisiensi; keduanya lahir
dari desain yang sama.
Perspektif IE-HRM: Memperbaiki Proses sebelum Menyalahkan
Pasar
Kacamata buku
ini menertibkan urutan diagnosis yang di banyak organisasi terbalik.
"Pasarnya sulit" adalah kesimpulan yang hanya boleh diambil sesudah
corongnya diukur dan alirannya dibereskan, karena pasar adalah satu-satunya
faktor yang tidak bisa kita ubah, dan menyalahkannya adalah cara paling nyaman
untuk tidak memperbaiki apa-apa. Pengalaman berulang di banyak organisasi
menunjukkan pola yang sama: sebagian besar umur lowongan dihabiskan bukan untuk
mencari kandidat melainkan untuk menunggu keputusan internal, dan perbaikan
aliran internal (yang sepenuhnya di tangan sendiri) memangkas waktu pengisian
lebih banyak daripada penambahan saluran iklan mana pun.
Urutan itu juga
adil terhadap semua pihak. Manajer pengguna yang kesal pada pembuka bab tidak
sedang berbohong; ia sungguh merasa HR lambat, karena yang ia lihat hanyalah
ujung corong. Data per tahap mengubah pertengkaran dua kubu menjadi pekerjaan
bersama atas proses yang sama, dan itulah fungsi sosial dari pengukuran yang
jujur: ia memindahkan percakapan dari siapa ke di mana.
Kelebihan dan Keterbatasan
Memperlakukan
rekrutmen sebagai sistem aliran memberi apa yang tidak diberikan cara lama:
kemampuan mendiagnosis, membandingkan, dan memperbaiki dengan sasaran.
Keterbatasannya dua, dan keduanya penting. Pertama, corong yang efisien tetap
bisa mengalirkan orang yang salah dengan sangat lancar; kecepatan tidak
menggantikan ketepatan memilih, dan bab berikutnya mengurus hal itu. Kedua,
bahasa aliran menggoda kita memperlakukan kandidat sebagai unit yang mengalir;
batasnya harus tegas, karena di setiap tahap corong itu ada manusia yang sedang
berharap, dan cara organisasi memperlakukan orang yang belum tentu menjadi
karyawannya adalah salah satu ukuran wataknya yang paling jujur.
Panduan Praktik: Recruitment Funnel Dashboard dan Diagnosis
Kemacetannya
Bangun untuk
satu keluarga posisi yang volumenya cukup (operator, staf, atau posisi lain
yang sering direkrut), lalu perluas.
Langkah satu,
tetapkan tahap-tahap corong Anda secara resmi (misalnya: lamaran masuk, lolos
saring administrasi, lolos saring HR, diserahkan ke pengguna, diwawancara,
ditawari, menerima, mulai bekerja) dan definisikan kapan sebuah kandidat
berpindah tahap; tanpa definisi, angkanya akan diperdebatkan.
Langkah dua,
untuk setiap tahap catat dua angka dari data tiga sampai enam bulan terakhir:
nisbah konversi ke tahap berikutnya, dan waktu rata-rata serta terlama di tahap
itu, dipecah menjadi waktu proses dan waktu menunggu, dengan catatan menunggu
siapa.
Langkah tiga,
baca corongnya dengan tiga pertanyaan diagnosis: di tahap mana kandidat paling
banyak hilang, dan hilang karena disaring (sehat, bila kriterianya benar) atau
karena pergi sendiri (hampir selalu masalah kecepatan atau pengalaman); di
tahap mana waktu menunggu terpanjang, dan itu kotak masuk siapa; dan berapa
nisbah penerimaan tawaran, karena angka di bawah kewajaran industri adalah
alarm yang menunjuk ke tawaran atau ke apa yang disaksikan kandidat selama
proses.
Langkah empat,
urai satu kemacetan, hanya satu, dengan alat dari bagian teori (perjanjian
layanan dua arah, blok jadwal, panel, delegasi tawaran), lalu ukur ulang bulan
berikutnya. Ini PDCA, dan langkah periksanya tidak boleh dilompati.
Langkah lima,
tutup lingkarannya setahun sekali dengan mutu rekrutan: kinerja dan ketahanan
rekrutan per sumber dan per jalur proses. Di sinilah keputusan hulu yang
sesungguhnya diambil: sumber mana diperbesar, syarat mana ternyata tidak
memprediksi apa-apa, dan jalan pintas mana yang selama ini dibayar mahal di
hilir.
Ringkasan Bab
Rekrutmen adalah
sistem aliran berbentuk corong, dan hampir semua penyakitnya terdiagnosis
begitu corong itu diukur per tahap: konversi menunjukkan di mana kandidat
hilang, waktu menunjukkan di mana proses menunggu, dan mutu rekrutan menjaga
agar cepat dan murah tidak dicapai dengan menjadi buruk. Kemacetannya paling
sering di serah terima internal, bukan di pasar, sehingga urutan diagnosisnya
tegas: perbaiki aliran sendiri sebelum menyalahkan pasar. Dan karena yang
mengalir adalah manusia yang punya pilihan dan membawa cerita, kecepatan,
kejujuran, dan keadilan proses bukan tiga tujuan yang bersaing; ketiganya
adalah desain yang sama.
Pertanyaan Reflektif
1. Untuk
lowongan yang paling lama kosong di organisasi Anda tahun ini: berapa harinya
yang berupa menunggu, dan menunggu di kotak masuk siapa? Jika tidak ada yang
tahu, itulah temuan pertamanya. 2. Apa yang dialami pelamar yang ditolak oleh
organisasi Anda: kabar yang layak, atau keheningan? Cerita apa yang sedang
mereka bawa ke pasar tentang Anda? 3. Pernahkah organisasi Anda menautkan
kinerja karyawan setelah setahun kembali ke sumber dan proses rekrutmennya?
Keputusan hulu apa yang mungkin berubah jika itu dilakukan?
Bacaan Lanjutan
Barber (1998), Recruiting Employees, meletakkan
kerangka rekrutmen sebagai rangkaian tahap yang dipakai bab ini. Breaugh (2008)
merangkum apa yang diketahui penelitian tentang sumber, gambaran realistis
pekerjaan, dan arah risetnya. Chapman dkk. (2005) adalah rangkuman besar
tentang apa yang sesungguhnya menarik pelamar, dengan beberapa temuan yang
menampar praktik populer.
BAB 15
Seleksi Berbasis Kompetensi dan
Data
Perasaan yakin bukanlah bukti; ia hanya perasaan.
Pengantar dan Konteks: Manajer yang Tahu Sejak Jabat Tangan
Hampir setiap
organisasi punya satu tokoh seperti ini: manajer senior yang bangga akan
kemampuannya menilai orang. "Saya tahu sejak berjabat tangan,"
katanya, dan riwayat panjangnya di perusahaan membuat klaim itu terdengar
seperti keahlian. Dalam wawancara, ia mengabaikan panduan, mengobrol ke
mana-mana, lalu keluar ruangan dengan keputusan yang bulat. Kadang ia benar.
Kegagalannya, dan setiap orang lama bisa menyebutkan beberapa, dijelaskan
dengan cara yang menarik: kandidat itu pandai berpura-pura, atau berubah
setelah diterima. Keberhasilannya adalah bukti keahliannya; kegagalannya adalah
kesalahan orang lain. Dengan pembukuan seperti itu, keyakinannya tidak mungkin
kalah.
Yang hampir
tidak pernah dilakukan organisasi adalah mengaudit pembukuan itu: membandingkan
penilaian si penilai dengan kinerja nyata orang-orang yang dinilainya,
bertahun-tahun kemudian. Psikologi seleksi sudah seabad melakukan audit semacam
itu secara besar-besaran, dan hasilnya tidak berpihak pada jabat tangan.
Penilaian intuitif yang tidak terstruktur termasuk prediktor kinerja yang
paling lemah, dan yang lebih menyakitkan, rasa yakin penilainya nyaris tidak
berhubungan dengan ketepatannya (Highhouse, 2008). Bab ini adalah tentang
menggantikan keyakinan dengan bukti pada salah satu keputusan termahal yang
diambil organisasi berulang-ulang: memilih siapa yang masuk.
Landasan Teori dan Penelitian
Seleksi sebagai persoalan
prediksi
Begitu
dirumuskan dengan jujur, seleksi adalah persoalan prediksi: dari informasi yang
bisa dikumpulkan hari ini, taksirlah kinerja dan ketahanan seseorang di
pekerjaan tertentu di masa depan. Rumusan ini membebaskan kita dari banyak
kebingungan. Alat seleksi bukan upacara dan bukan uji kelayakan moral; ia
instrumen prediksi, dan satu-satunya pertanyaan yang adil terhadapnya adalah
seberapa baik ia memprediksi. Ukurannya disebut validitas prediktif: hubungan
antara skor alat itu dengan kinerja yang kemudian terjadi. Dan karena prediksi
selalu meleset dalam derajat tertentu, tujuannya bukan kepastian melainkan
perbaikan peluang: menaikkan nisbah keputusan yang benar dibandingkan cara yang
sekarang dipakai. Di posisi yang direkrut ratusan orang, perbaikan peluang yang
tampak kecil di atas kertas menjadi perbedaan besar dalam produktivitas,
kecelakaan, dan turnover.
Apa kata penelitian
tentang berbagai alat
Untunglah
pertanyaan "alat mana yang memprediksi" termasuk yang paling banyak
diteliti dalam seluruh ilmu organisasi. Rangkuman klasik Schmidt dan Hunter
(1998) atas penelitian delapan puluh lima tahun menempatkan kemampuan kognitif
umum dan contoh kerja di jajaran teratas, wawancara terstruktur tidak jauh di
bawahnya, dan menempatkan di dasar daftar hal-hal yang justru populer: tahun
pengalaman semata, pendidikan formal semata, dan alat-alat yang menyerupai
ramalan. Pemutakhiran besar oleh Sackett, Zhang, Berry, dan Lievens (2022),
dengan koreksi statistik yang lebih hati-hati, menggeser urutannya secara
penting: wawancara terstruktur naik ke posisi teratas, contoh kerja dan
pengetahuan kerja tetap kuat, sementara taksiran untuk tes kognitif turun dari
angka klasiknya meskipun tetap berarti. Bagi praktisi, dua rangkuman itu
bertemu pada pesan yang sama dan itulah yang perlu dibawa pulang: alat yang
menyerupai pekerjaannya dan penilaian yang terstruktur secara konsisten
mengalahkan kesan bebas, dan kombinasi beberapa alat yang saling melengkapi
mengalahkan alat tunggal mana pun.
Dua catatan
melengkapi tabel urutan itu. Pertama, validitas bukan satu-satunya
pertimbangan; dampak yang berbeda terhadap kelompok yang berbeda, biaya, dan
penerimaan kandidat ikut menentukan pilihan yang bertanggung jawab. Kedua,
semua angka itu adalah rata-rata lintas pekerjaan; alat yang tepat tetap harus
diturunkan dari analisis jabatan bab tiga belas, karena memprediksi kinerja
menuntut tahu lebih dulu kinerja itu terbuat dari apa.
Wawancara terstruktur dan
tidak terstruktur
Karena wawancara
adalah alat yang hampir pasti dipakai semua organisasi, selisih antara dua cara
memakainya layak diperjelas. Wawancara tidak terstruktur adalah percakapan
bebas yang arahnya ditentukan suasana; penelitian menunjukkan ia lemah
memprediksi dan lebar pintunya bagi bias, sebagian karena keputusan sering
terbentuk pada menit-menit awal dan sisa wawancara dipakai mencari
pembenarannya. Wawancara terstruktur mengubah beberapa hal sekaligus:
pertanyaan diturunkan dari analisis jabatan, semua kandidat mendapat pertanyaan
inti yang sama, jawaban dinilai dengan rubrik berjangkar yang disepakati
sebelumnya, dan penilaian dilakukan per pertanyaan sebelum dibentuk kesimpulan
(Campion, Palmer, & Campion, 1997). Setiap unsur struktur itu terbukti menambah
ketepatan. Bentuk pertanyaannya dua keluarga: perilaku lampau ("ceritakan
saat Anda menghadapi...", dengan penggalian atas situasi, tindakan, dan
hasil) dan situasional ("apa yang akan Anda lakukan jika...");
keduanya bekerja, dan keduanya menuntut hal yang sama dari pewawancara:
disiplin untuk bertanya, menggali, dan menilai, bukan mengobrol dan merasakan.
Asesmen kompetensi, tes
kognitif, dan work sample
Tiga keluarga
alat lain melengkapi wawancara. Contoh kerja (work sample) dan simulasi meminta kandidat mengerjakan potongan
pekerjaannya yang sesungguhnya: mengetik program, mengoperasikan alat, menyusun
rencana, memimpin diskusi; logikanya paling lurus dari semua alat (cara terbaik
menaksir kemampuan mengerjakan sesuatu adalah melihatnya dikerjakan), harganya
adalah biaya pembuatan dan penyelenggaraan. Tes kemampuan kognitif menaksir
kecepatan belajar dan menalar, paling berharga justru untuk pekerjaan yang
isinya akan terus berubah; pemakaiannya menuntut kehati-hatian pada mutu alat
ukurnya dan keadilannya antarkelompok. Asesmen kompetensi terstruktur, termasuk
pusat asesmen dengan beberapa simulasi dan penilai terlatih, berguna untuk
peran yang kompetensinya sulit dilihat dari satu alat, dengan syarat yang
sering dilanggar: kompetensinya sedikit dan terdefinisi ketat, penilainya
terlatih dan dikalibrasi, dan hasilnya dinilai per latihan sebelum dirangkum.
Kepribadian, bila dipakai, paling baik diperlakukan sebagai pelengkap yang
sumbangannya sedang-sedang saja, bukan sebagai penentu.
Menggabungkan data:
mekanis mengalahkan klinis
Temuan terakhir
adalah yang paling melawan naluri, dan karena itu paling penting. Sesudah semua
data terkumpul (skor tes, nilai wawancara, hasil simulasi), ada dua cara
menggabungkannya menjadi keputusan: cara klinis, yaitu penilai menimbang
semuanya di kepalanya dan membentuk kesimpulan menyeluruh, dan cara mekanis,
yaitu skor-skor digabung dengan aturan yang ditetapkan di muka, misalnya
rata-rata tertimbang. Sejak Meehl (1954) mengajukan pertanyaannya, ratusan
penelitian di banyak bidang memberi jawaban yang searah: penggabungan mekanis
sama baiknya atau lebih baik daripada penimbangan klinis, hampir di mana pun
keduanya diadu (Grove, Zald, Lebow, Snitz, & Nelson, 2000), dan temuan itu
berlaku pula di seleksi karyawan: keputusan yang mengikuti aturan penggabungan
mengungguli kesimpulan holistik para ahli yang sama yang mengumpulkan datanya
(Kuncel, Klieger, Connelly, & Ones, 2013). Alasannya bukan karena manusia
bodoh, melainkan karena penimbangan di kepala tidak konsisten: bobotnya
bergeser mengikuti kesan, kelelahan, dan kandidat sebelumnya. Praktisnya:
kumpulkan data dengan penilaian manusia yang terstruktur, lalu gabungkan dengan
aturan; dan bila keputusan akhir hendak menyimpang dari urutan skor,
penyimpangan itu harus ditulis beserta alasannya, supaya bisa diaudit oleh
kenyataan di kemudian hari.
Perspektif IE-HRM: Seleksi sebagai Proses yang Bisa Diaudit
Dalam kerangka
buku ini, seleksi diperlakukan seperti proses-proses lain: punya masukan
(kandidat dan kriteria dari analisis jabatan), punya metode yang
distandardisasi (alat dan rubrik), punya keluaran yang terukur (kinerja dan
ketahanan rekrutan), dan karena itu punya lingkar umpan balik yang bisa
ditutup. Menutup lingkar itulah yang membedakan organisasi yang belajar memilih
dari organisasi yang hanya terus memilih: setahun sekali, sandingkan skor
seleksi dengan kinerja nyata, per alat dan per penilai. Dari audit semacam itu
banyak organisasi menemukan hal-hal yang mengubah praktiknya: syarat yang
selama ini menyaring keras ternyata tidak berhubungan dengan kinerja, satu
tahap yang mahal ternyata tidak menambah prediksi apa-apa di atas tahap
sebelumnya, dan beberapa penilai ternyata konsisten lebih tepat daripada yang
lain, pengetahuan yang tidak akan pernah ada selama keputusan seleksi tidak
meninggalkan jejak yang bisa diperiksa.
Audit itu pula
jawaban yang paling sehat untuk tokoh pembuka bab ini. Melawan keyakinan dengan
keyakinan hanya menghasilkan pertengkaran; melawannya dengan struktur dan
pembukuan yang jujur menghasilkan pengetahuan. Dan pengalaman memberi kabar
yang melegakan: penilai yang baik tidak dirugikan oleh struktur; rubrik justru
membuat ketajamannya terbaca dan terbela, sementara yang selama ini bersembunyi
di balik wibawa akan terbaca pula.
Kelebihan dan Keterbatasan
Kelebihan
seleksi berbasis bukti sudah dihitung panjang oleh penelitiannya: keputusan
yang lebih tepat, lebih adil, dan lebih bisa dipertanggungjawabkan, pada
keputusan yang diulang ribuan kali. Keterbatasannya jujur ada tiga. Pertama,
prediksi tetap prediksi; alat terbaik pun sering meleset pada kasus per kasus,
dan kerendahan hati statistik harus menyertai setiap keputusan atas manusia.
Kedua, validitas bergantung pada ukuran kinerja yang dipakai untuk mengujinya;
bila penilaian kinerja organisasi sendiri bias (bab sembilan belas), seleksi
yang "tervalidasi" terhadapnya akan mewarisi biasnya, sebuah lingkar
yang harus diperiksa, bukan diandaikan sehat. Ketiga, struktur bisa dijalankan
sebagai formalitas: rubrik diisi sesudah keputusan diam-diam diambil;
penangkalnya adalah penilaian per pertanyaan sebelum diskusi, penilai yang
lebih dari satu dan menilai secara independen, dan audit tahunan yang membuat
formalitas ketahuan.
Panduan Praktik: Interview Guide Terstruktur dan Scoring
Rubric
Bangun untuk
satu jabatan yang sering direkrut, dari hasil analisis jabatan bab tiga belas.
Langkah satu,
pilih empat sampai enam kompetensi atau tuntutan kerja yang paling menentukan
pada jabatan itu; lebih dari itu, wawancara menjadi dangkal di semua hal.
Langkah dua,
untuk setiap kompetensi tulis satu pertanyaan perilaku lampau dan satu
situasional, beserta dua atau tiga pertanyaan penggali ("apa peran Anda
persisnya", "lalu apa hasilnya", "apa yang akan Anda ubah
sekarang"). Uji pertanyaannya pada dua karyawan yang ada: pertanyaan yang
bisa dijawab bagus tanpa kompetensinya harus diganti.
Langkah tiga,
buat rubrik berjangkar per pertanyaan pada skala sederhana (misalnya 1, 3, 5),
dengan jangkar berupa ciri jawaban, bukan kata sifat: tuliskan seperti apa
jawaban yang lemah, cukup, dan kuat untuk pertanyaan itu. Jangkar yang baik
lahir dari contoh nyata jawaban kandidat terdahulu.
Langkah empat,
tetapkan aturan mainnya secara tertulis: semua kandidat mendapat pertanyaan
inti yang sama; setiap pewawancara menilai per pertanyaan segera, sebelum
berdiskusi dengan siapa pun; dua penilai atau lebih untuk keputusan yang
penting; skor digabung dengan bobot yang disepakati di muka; dan penyimpangan
dari urutan skor harus ditulis alasannya.
Langkah lima,
latih pewawancaranya, bukan hanya bagikan formulirnya: latihan menilai rekaman
atau permainan peran yang sama lalu membandingkan skor adalah kalibrasi yang
paling cepat membuka mata tentang seberapa berbeda para penilai yang sama-sama
yakin.
Langkah enam,
jadwalkan auditnya sekarang: dua belas bulan sejak angkatan pertama, sandingkan
skor seleksi dengan kinerja dan ketahanan, per alat dan per penilai, dan
biarkan hasilnya mengubah kriterianya. Panduan yang tidak pernah diaudit akan
menua menjadi upacara.
Ringkasan Bab
Seleksi adalah
persoalan prediksi, dan seabad penelitian memberi jawaban yang cukup jelas
tentang alat-alatnya: penilaian yang terstruktur dan alat yang menyerupai
pekerjaan secara konsisten mengalahkan kesan bebas, kombinasi alat mengalahkan
alat tunggal, dan penggabungan data dengan aturan mengalahkan penimbangan di
kepala, bahkan kepala para ahli. Wawancara terstruktur, contoh kerja, dan tes
yang dipilih dari analisis jabatan adalah tulang punggungnya; rubrik, penilaian
independen, dan penggabungan mekanis adalah disiplinnya; dan audit tahunan
terhadap kenyataan adalah yang membuat seluruh sistem ini belajar. Perasaan
yakin akan selalu hadir dalam ruangan wawancara; tugas desain adalah memastikan
ia tidak duduk di kursi hakim.
Pertanyaan Reflektif
- Di organisasi Anda, pernahkah ketepatan para penilai seleksi diaudit terhadap kinerja nyata orang-orang yang mereka pilih? Jika hasil audit itu ada besok pagi, siapa yang paling tidak ingin melihatnya?
- Dari tahap-tahap seleksi Anda sekarang, tahap mana yang paling mahal, dan bukti apa yang Anda punya bahwa ia menambah ketepatan di atas tahap lainnya?
- Kapan terakhir kali keputusan seleksi di tempat Anda menyimpang dari urutan skor karena "keyakinan" seseorang? Apakah penyimpangan itu tercatat, dan bagaimana kabar orang yang dipilihnya sekarang?
Bacaan Lanjutan
Schmidt dan
Hunter (1998) adalah rangkuman klasik yang wajib dikenal setiap praktisi
seleksi; Sackett dkk. (2022) adalah koreksi mutakhirnya, dan membaca keduanya
berpasangan mengajarkan juga bagaimana ilmu memperbaiki dirinya. Campion,
Palmer, dan Campion (1997) merinci unsur-unsur struktur wawancara dan bukti
untuk masing-masing. Highhouse (2008) menjelaskan mengapa praktik terus
berpegang pada intuisi meskipun buktinya berkata lain; bacaan yang berguna
sebelum rapat yang akan sulit. Kuncel dkk. (2013) menutup perkaranya untuk
penggabungan mekanis.
BAB 16
Onboarding dan Learning Curve
Kecepatan orang baru menjadi mahir bukan bakat semata; ia
hasil rancangan.
Pengantar dan Konteks: Penemuan di Pabrik Pesawat
Pada tahun 1936,
seorang insinyur pabrik pesawat bernama T. P. Wright menerbitkan pengamatan
yang mengubah cara industri memandang belajar. Dengan mencermati data produksi,
ia menemukan keteraturan yang hampir seperti hukum alam: setiap kali jumlah
kumulatif pesawat yang dibuat berlipat dua, jam kerja yang dibutuhkan per
pesawat turun dengan persentase yang stabil (Wright, 1936). Pesawat kedelapan
lebih murah daripada keempat, keempat lebih murah daripada kedua, dan
penurunannya bisa diramalkan. Temuan itu, yang kemudian dikenal sebagai kurva
belajar (learning curve), dipakai
untuk menghitung biaya perang, merencanakan produksi, dan menetapkan harga
kontrak. Orang, tim, dan organisasi menjadi lebih cepat dengan pola yang dapat
diukur.
Ada dua pesan di
dalam temuan itu yang jarang diambil keduanya. Pesan pertama sudah lazim:
kemahiran datang bersama pengulangan. Pesan kedua lebih dalam dan menjadi pokok
bab ini: kemiringan kurva itu tidak sama di semua tempat. Dua pabrik yang
membuat pesawat serupa bisa punya kurva yang berbeda kemiringannya, karena
kecepatan belajar dipengaruhi oleh cara kerja dibakukan, cara pengetahuan
dipindahkan, cara kesalahan ditangani, dan cara orang baru didampingi. Dengan
kata lain, kurva belajar bukan takdir; ia hasil desain, dan organisasi yang
mendesainnya dengan sengaja akan sampai lebih dulu.
Masa paling
menentukan dari kurva itu adalah bagian awalnya: bulan-bulan pertama seseorang
di pekerjaan baru, masa yang oleh MSDM disebut onboarding. Bab enam pernah
menyinggung sisi prosesnya (hari pertama yang terbuang); bab ini menggarap
keseluruhannya, dari hari pertama sampai titik kemahiran, dengan satu
pertanyaan pengikat: berapa lama orang baru menjadi produktif di tempat Anda,
dan apa yang menentukan lamanya?
Landasan Teori dan Penelitian
Kurva belajar dan
time-to-productivity
Setiap orang
baru menempuh perjalanan dari nol menuju kemahiran penuh, dan perjalanan itu
punya bentuk: cepat di awal, melandai mendekati standar, dengan panjang total
yang berbeda-beda menurut kerumitan pekerjaannya, dari hitungan pekan untuk
pekerjaan sederhana sampai lebih dari setahun untuk peran yang kompleks. Titik
yang paling berguna pada kurva itu adalah waktu menuju produktif (time-to-productivity): berapa lama sejak
hari pertama sampai seseorang mencapai standar kinerja yang disepakati. Angka
ini adalah ukuran keberhasilan onboarding yang paling jujur, jauh lebih jujur
daripada kepuasan peserta orientasi, dan sekaligus salah satu angka terpenting
dalam perencanaan bab dua belas: ia adalah ekor dari lead time pipeline
manusia. Selama ia tidak diukur, organisasi tidak tahu berapa mahal
sesungguhnya setiap pergantian orang, dan tidak bisa menilai apakah perbaikan
onboarding-nya bekerja.
Mengukurnya
tidak serumit kedengarannya. Untuk pekerjaan yang keluarannya terhitung, pakai
standar kerja bab delapan: catat kapan keluaran orang baru mencapai,
katakanlah, sembilan puluh persen standar secara stabil. Untuk pekerjaan yang
keluarannya tidak terhitung rapi, pakai tonggak kemampuan: daftar tugas inti
jabatan itu (dari analisis jabatan bab tiga belas) dan tanggal ketika orang
baru dinyatakan mampu mengerjakannya tanpa pendampingan. Kasar tidak apa-apa;
yang penting konsisten, sehingga kurva antarangkatan dan antarunit bisa
dibandingkan.
Sosialisasi organisasi:
sisi manusia dari kurva
Penelitian
tentang pendatang baru menambahkan apa yang tidak tampak pada kurva produksi:
orang baru bukan hanya sedang belajar tugas; ia sedang mencari kejelasan
tentang perannya, membangun keyakinan bahwa ia mampu, dan mencari tempat di
antara orang-orang. Rangkuman besar penelitian sosialisasi menunjukkan bahwa
tiga hal itulah (kejelasan peran, keyakinan diri, dan penerimaan sosial) yang
menjadi jembatan antara program orientasi dan hasil akhirnya: kinerja,
kepuasan, komitmen, dan bertahannya orang itu (Bauer, Bodner, Erdogan,
Truxillo, & Tucker, 2007). Cara organisasi menyusun sosialisasi juga bukan
perkara selera; taktik yang terstruktur dan bertahap, dengan teladan yang
jelas, menghasilkan penyesuaian yang berbeda dari membiarkan orang berenang sendiri
(Van Maanen & Schein, 1979). Temuan-temuan ini menerjemahkan diri menjadi
peringatan praktis: onboarding yang hanya mengurus dokumen dan pelatihan teknis
sedang mengabaikan dua pertiga dari persoalan, dan dua pertiga itulah yang
paling sering muncul dalam kalimat orang yang mundur di bulan ketiga:
"saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang diharapkan", "saya
merasa sendirian".
Desain program: teknis,
sosial, kultural
Dari situ,
kerangka desainnya menjadi tiga jalur yang berjalan bersama. Jalur teknis
mengurus kemampuan kerja: urutan belajar yang disengaja dari tugas termudah ke
tersulit, standar kerja sebagai bahan ajar (di sinilah standardisasi bab enam
membayar bunganya lagi, karena pekerjaan yang dibakukan jauh lebih cepat
diajarkan), kesempatan praktik yang aman untuk gagal, dan umpan balik yang
cepat. Jalur sosial mengurus keterhubungan: atasan yang hadir sejak hari
pertama, seorang penunjuk jalan (buddy)
yang bukan penilai, dan perkenalan yang disengaja dengan orang-orang yang akan
sering berurusan dengannya. Jalur kultural mengurus makna dan cara: bagaimana
keputusan diambil di sini, apa yang dihargai dan apa yang tidak diampuni,
cerita-cerita yang menjelaskan mengapa; hal-hal yang bila tidak diajarkan
dengan sengaja akan dipelajari secara tidak sengaja, dari sumber yang tidak
dipilih organisasi.
Standardisasi dan
personalisasi
Ketegangan
desain yang khas muncul di sini. Standardisasi menjamin tidak ada yang terlewat
dan mutu tidak bergantung pada siapa kebetulan atasannya: peta sembilan puluh
hari yang sama, tonggak yang sama, daftar periksa yang sama. Personalisasi
mengakui bahwa orang baru datang dengan bekal berbeda: yang berpengalaman tidak
perlu diajari dari nol dan justru terhina bila diperlakukan begitu, yang
pindahan dari industri lain butuh peta budaya lebih tebal. Penyelesaiannya sama
dengan bab enam: bakukan kerangkanya (tonggak, tanggung jawab, ukuran),
lenturkan isinya (kecepatan dan penekanan per orang, disepakati pada pekan
pertama antara atasan dan orang baru). Kerangka tanpa kelenturan menghasilkan
upacara; kelenturan tanpa kerangka menghasilkan untung-untungan.
Probation sebagai evaluasi
dua arah
Masa percobaan
dalam praktik sering diperlakukan sebagai masa organisasi menilai orang, dengan
keputusan yang datang tiba-tiba di ujungnya. Desain yang lebih jujur
memperlakukannya dua arah: organisasi menilai kecocokan orang, orang menilai
kecocokan organisasi, dan keduanya berhak atas informasi yang cukup untuk
menilai. Artinya: sasaran masa percobaan tertulis sejak awal dan diturunkan
dari tonggak kurva belajar, percakapan kemajuan terjadwal (bukan hanya di
akhir), masalah disampaikan saat masih bisa diperbaiki, dan keputusan akhir
tidak boleh mengejutkan siapa pun. Masa percobaan yang dikelola begini jarang
berakhir sengketa, karena sengketa hampir selalu lahir dari kejutan, dan
kejutan hampir selalu lahir dari percakapan yang tidak pernah terjadi.
Perspektif IE-HRM: Kurva yang Bisa Dirancang
Kacamata buku
ini menyatukan bab ini dengan satu klaim yang bisa diuji: waktu menuju
produktif adalah variabel desain. Ia ditentukan oleh mutu standar kerja (bab
enam dan delapan), mutu bahan dan urutan belajar, kehadiran pendamping,
kecepatan umpan balik, dan beban yang diberikan pada tahap yang tepat; semuanya
keputusan organisasi, bukan bakat bawaan angkatan. Maka bila dua unit dengan
pekerjaan serupa punya kurva yang jauh berbeda, itu bukan keanehan; itu data,
dan unit yang kurvanya landai sedang menyimpan pelajaran yang bisa dipindahkan.
Klaim itu juga
membalik cara membaca kegagalan orang baru. Ketika seseorang tidak mencapai
standar pada waktunya, pertanyaan pertama kerangka ini bukan "apakah kita
salah pilih orang" melainkan "apakah kurvanya memang bisa didaki
dengan dukungan yang kita berikan". Kadang jawabannya tetap salah pilih,
dan seleksi bab lima belas yang menanggungnya. Tetapi sering kali jawabannya
adalah kurva yang tidak pernah dirancang: tidak ada standar untuk diajarkan,
tidak ada pendamping, umpan balik pertama datang di penghujung masa percobaan.
Memberhentikan orang atas kegagalan sistem yang tidak pernah dibangun bukan
hanya tidak adil; ia membuang biaya rekrutmen untuk mengulang kesalahan yang
sama pada orang berikutnya.
Kelebihan dan Keterbatasan
Kekuatan
pendekatan ini adalah menghubungkan sesuatu yang selama ini lunak (orientasi
karyawan baru) dengan ukuran yang keras (waktu menuju produktif) sehingga bisa
dikelola dan diperbaiki. Keterbatasannya tiga. Pertama, untuk pekerjaan yang
sangat kompleks, titik "produktif penuh" kabur dan ukurannya harus
berdamai dengan tonggak yang kasar; itu tetap lebih baik daripada tidak
mengukur, asal kekasarannya diakui. Kedua, kurva belajar bisa disalahgunakan
menjadi cambuk: target waktu yang dipatok tanpa membangun dukungannya, lalu
orang baru dihukum atas kelambatan yang dirancang oleh organisasi sendiri;
pembalikan pada bagian sebelumnya adalah penangkalnya. Ketiga, onboarding yang
terlalu padat bisa menenggelamkan justru orang yang ingin diselamatkannya; kurva
belajar juga tunduk pada batas beban kognitif bab sembilan, dan jeda untuk
mencerna adalah bagian dari desain, bukan kelonggaran.
Panduan Praktik: Onboarding Roadmap 90 Hari dan Checklist
Learning Curve
Bangun untuk
satu jabatan yang sering diisi, bersama atasan lini dan satu-dua pemegang
jabatan yang baru melewati masa itu (merekalah yang paling ingat di mana
jalannya gelap).
Langkah satu,
tetapkan tujuannya sebagai angka: waktu menuju produktif saat ini (ukur dari
tiga sampai lima orang terakhir) dan sasaran perbaikannya.
Langkah dua,
susun peta sembilan puluh hari dalam tiga fase dengan tonggak yang bisa
diperiksa. Hari 1 sampai 7: bisa bekerja secara administratif dan aman (akses,
alat, K3 dasar, tahu siapa bertanya ke mana); sasaran fase ini adalah menghapus
semua penungguan bab enam. Hari 8 sampai 30: mampu mengerjakan tugas-tugas inti
dengan pendampingan; setiap tugas inti dari analisis jabatan diberi kapan
diajarkan, oleh siapa, dan bagaimana dinyatakan lulus. Hari 31 sampai 90:
mandiri bertahap sampai standar; pendampingan menipis terjadwal, dan sasaran
masa percobaan ditagih dari tonggak-tonggak ini, bukan dari kesan.
Langkah tiga,
tetapkan peran tertulis: atasan memegang percakapan pekan pertama (harapan dua
arah), akhir bulan pertama, dan pertengahan masa percobaan; penunjuk jalan
memegang pertanyaan harian dan perkenalan sosial; HR memegang kerangka,
pengukuran, dan pengingat tanggal.
Langkah empat,
pasang dua alat ukurnya: checklist tonggak per orang (apa sudah tercapai,
kapan, catatan hambatan) dan kurva angkatan (waktu menuju produktif per orang,
dipetakan per unit dan per pembimbing). Baca kurvanya dengan disiplin bab
sepuluh: cari polanya, bukan kambing hitamnya.
Langkah lima,
tutup dengan PDCA: tiap triwulan, ambil tiga hambatan yang paling sering muncul
di checklist dan perbaiki desainnya, bukan orangnya. Peta sembilan puluh hari
adalah standar yang hidup; ia diubah oleh kenyataan angkatan demi angkatan.
Ringkasan Bab
Kurva belajar
adalah warisan teknik industri yang mengubah masa adaptasi dari nasib menjadi
objek desain: kemahiran datang bersama pengulangan, tetapi kemiringannya
ditentukan oleh standar, pengajaran, pendampingan, dan umpan balik yang
disediakan organisasi. Ukuran pusatnya adalah waktu menuju produktif, dan
penelitian sosialisasi mengingatkan bahwa mendakinya menuntut tiga bekal
sekaligus: kejelasan peran, keyakinan diri, dan penerimaan sosial. Desain yang
baik membakukan kerangka dan melenturkan isi, memperlakukan masa percobaan
sebagai evaluasi dua arah tanpa kejutan, dan membaca kegagalan orang baru
dengan urutan pertanyaan yang benar: kurvanya dulu, orangnya kemudian.
Pertanyaan Reflektif
1. Berapa waktu
menuju produktif untuk jabatan yang paling sering Anda isi? Jika jawabannya
tidak ada, apa yang selama ini dipakai untuk memutuskan bahwa onboarding Anda
baik-baik saja? 2. Ingat orang terakhir yang gagal masa percobaan di unit Anda.
Dukungan mana dari tiga jalur (teknis, sosial, kultural) yang sesungguhnya
tidak pernah ia terima? 3. Apa yang dipelajari orang baru di tempat Anda secara
tidak sengaja, dari sumber yang tidak dipilih organisasi? Apakah Anda ingin
mereka mempelajari itu?
Bacaan Lanjutan
Wright (1936)
adalah artikel pendiri kurva belajar dan tetap dibaca sampai kini sebagai
contoh pengamatan sederhana yang berumur panjang. Bauer dkk. (2007) merangkum
apa yang benar-benar menentukan penyesuaian pendatang baru. Van Maanen dan
Schein (1979) adalah kerangka klasik taktik sosialisasi, berguna bagi siapa pun
yang merancang pengalaman masuk secara sengaja.
BAB 17
Pelatihan, Pembelajaran, dan
Pengembangan Kompetensi
Pelatihan berakhir di ruang kelas; pembelajaran diuji di
tempat kerja.
Pengantar dan Konteks: Pelatihan yang Berakhir di Tempat
Parkir
Sebuah
perusahaan mengirim dua puluh penyelianya mengikuti pelatihan kepemimpinan yang
mahal. Tiga hari di hotel, fasilitator yang memukau, permainan peran yang
hidup. Lembar evaluasi di hari terakhir penuh pujian; beberapa peserta menulis
"pelatihan terbaik yang pernah saya ikuti". Senin pagi, salah satu
peserta mencoba mempraktikkan cara memberi umpan balik yang baru dipelajarinya.
Atasannya memanggil, setengah bercanda setengah tidak: "Sudah, tidak usah
gaya-gaya bekas pelatihan. Di sini caranya begini." Pekan berikutnya,
tekanan target datang seperti biasa, dan cara lama, yang selama ini selamat
dari tekanan itu, kembali memegang kemudi. Tiga bulan kemudian, dari dua puluh
peserta, tidak ada yang perilakunya berubah secara berarti; yang tersisa dari
pelatihan itu adalah kenangan yang baik dan sertifikat di laci.
Yang gagal dalam
cerita itu bukan fasilitatornya, bukan materinya, dan bukan pesertanya. Yang
gagal adalah asumsi diam-diam yang menopang sebagian besar praktik pelatihan:
bahwa masalahnya kekurangan pengetahuan, dan begitu pengetahuan diisi, perilaku
akan berubah. Penelitian pelatihan sudah puluhan tahun menunjukkan bahwa asumsi
itu hanya kadang-kadang benar, dan bahwa nasib sebuah pelatihan lebih banyak
ditentukan oleh apa yang terjadi sebelum dan sesudah ruang kelas daripada di
dalamnya (Baldwin & Ford, 1988; Salas, Tannenbaum, Kraiger, &
Smith-Jentsch, 2012). Bab ini membangun ulang praktik pelatihan di atas temuan
itu, dengan kacamata yang sudah menjadi kebiasaan buku ini: pembelajaran
sebagai sistem, bukan sebagai acara.
Landasan Teori dan Penelitian
Training need analysis
sebagai diagnosis sistem
Segala
sesuatunya dimulai dari diagnosis, dan diagnosis pelatihan punya satu
pertanyaan penyaring yang menghemat sangat banyak uang: apakah ini masalah
kemampuan? Sebuah kesenjangan kinerja hanya layak dijawab pelatihan bila
orangnya memang belum mampu; bila orangnya mampu tetapi tidak melakukan,
sebabnya tinggal di tempat lain: proses yang menyulitkan (bab enam), beban yang
mustahil (bab tujuh), insentif yang menghukum perilaku yang diminta (bab dua
puluh), atau atasan yang tidak menghendakinya, seperti dalam cerita pembuka.
Melatih orang untuk masalah yang bukan masalah kemampuan bukan hanya sia-sia;
ia menyesatkan, karena organisasi merasa sudah bertindak.
Bila jawabannya
memang kemampuan, analisis kebutuhan bekerja pada tiga tingkat yang saling
mengunci: organisasi (kemampuan apa yang dituntut arah bisnis dan perubahan
yang datang; di sinilah sambungan ke perencanaan bab dua belas), pekerjaan
(tuntutan nyata jabatan dari analisis bab tiga belas dan matriks kompetensi bab
delapan belas), dan orang (siapa yang kesenjangannya apa, dari asesmen dan data
kinerja, bukan dari pendaftaran sukarela). Analisis yang melompati tiga tingkat
ini biasanya berakhir menjadi katalog: daftar judul pelatihan yang dipilih
seperti memilih menu, dengan hubungan yang samar ke masalah mana pun.
Desain yang membuat orang
benar-benar belajar
Ilmu tentang
cara orang dewasa belajar keterampilan sudah cukup matang untuk memberi
pegangan desain yang tegas (Salas dkk., 2012). Yang bekerja: praktik aktif
dengan umpan balik, jauh lebih banyak daripada paparan; kesalahan yang dialami
dan dibahas di lingkungan yang aman; jarak antarsesi yang memberi waktu
mengendap dan mencoba, alih-alih dipadatkan demi efisiensi penginapan; contoh
dan latihan yang menyerupai situasi kerja sesungguhnya; dan penilaian kemampuan
di akhir, bukan sekadar kehadiran. Yang tidak bekerja tetapi terus dibeli:
paparan satu arah berjam-jam, konten generik yang jauh dari pekerjaan, dan
pemadatan yang mengorbankan praktik. Bagi perancang, aturan ibu jarinya
sederhana: hitung berapa menit peserta berlatih dan menerima umpan balik; bila
jauh lebih kecil daripada menit mendengarkan, itu bukan pelatihan melainkan
ceramah dengan biaya pelatihan.
Transfer: medan perang
yang sesungguhnya
Transfer
pelatihan (dipakainya hasil belajar di pekerjaan, dan bertahannya) adalah
tempat sebagian besar nilai hilang, dan penelitiannya konsisten tentang apa
yang menentukannya: selain mutu desain, dua kekuatan terbesar berada di luar
kelas, yaitu kesempatan menerapkan segera dan dukungan lingkungan, terutama
atasan langsung (Baldwin & Ford, 1988; Blume, Ford, Baldwin, & Huang,
2010). Dari situ lahir praktik-praktik yang murah tetapi jarang dilakukan:
kontrak tiga pihak sebelum pelatihan (peserta, atasan, penyelenggara
menyepakati apa yang akan diterapkan dan dukungan apa yang disediakan),
penugasan penerapan dengan tenggat sebagai bagian resmi program, percakapan
atasan dalam pekan pertama sesudah kembali, dan penghapusan hukuman tersembunyi
atas cara baru (cara baru hampir selalu lebih lambat pada mulanya, dan bila
kelambatan awal itu dihukum, orang akan kembali ke cara lama dengan kesimpulan
yang rasional). Cerita pembuka bab ini gugur persis di titik-titik ini, dan
tidak ada fasilitator sehebat apa pun yang bisa menambalnya dari dalam kelas.
Evaluasi: dari reaksi
hingga dampak
Kerangka
evaluasi yang paling dikenal adalah empat tingkat Kirkpatrick (1994): reaksi
peserta, hasil belajar, perubahan perilaku, dan dampak pada hasil organisasi.
Kerangka itu berguna sebagai tangga pertanyaan, dengan dua koreksi dari
penelitian. Pertama, tingkat-tingkat itu tidak otomatis berjenjang: reaksi yang
menyenangkan hanya berhubungan lemah dengan belajar dan perilaku (Alliger,
Tannenbaum, Bennett, Traver, & Shotland, 1997), sehingga lembar kepuasan
yang penuh pujian, seperti pada cerita pembuka, hampir tidak memberi tahu
apa-apa tentang nasib pelatihan itu. Kedua, evaluasi yang jujur harus
direncanakan sebelum pelatihan, bukan diakali sesudahnya: ukuran perilaku dan
hasil ditetapkan di muka, garis dasarnya diambil, dan pembandingnya dipikirkan
(kelompok yang belum dilatih, atau sekurang-kurangnya tren sebelum-sesudah yang
dibaca dengan disiplin bab sepuluh, termasuk waspada pada regresi ke rata-rata
bila pesertanya dipilih dari yang terburuk). Tidak semua program perlu evaluasi
sampai tingkat dampak; yang mahal dan strategis perlu, yang murah cukup sampai
perilaku. Yang tidak boleh: menilai seluruh fungsi pembelajaran dari jam
pelatihan dan kepuasan peserta, dua angka yang paling mudah dinaikkan tanpa
mengubah apa pun.
70:20:10 dan pembelajaran
di tempat kerja
Rumus populer
bahwa pengembangan terjadi tujuh puluh persen dari pengalaman, dua puluh dari
orang lain, dan sepuluh dari kelas berasal dari studi tentang pelajaran para
eksekutif (McCall, Lombardo, & Morrison, 1988), dan angkanya sebaiknya
diperlakukan sebagai perumpamaan, bukan hukum. Tetapi arahnya benar dan
penting: sebagian besar pembelajaran yang membentuk orang terjadi di pekerjaan,
melalui penugasan yang meregangkan, masalah nyata, dan orang-orang di
sekitarnya. Konsekuensi desainnya besar: penugasan adalah alat pengembangan
yang bisa dikelola (siapa mendapat proyek yang meregangkan, rotasi yang
membuka, penugasan sementara), pembimbingan dan umpan balik adalah keterampilan
atasan yang bisa dilatih dan dituntut, dan fungsi pembelajaran yang matang mengelola
portofolio ini, bukan hanya kalender kelas. Di sini pula bab ini berjabat
tangan dengan bab tujuh: pekerjaan yang dirancang baik, dengan keragaman dan
otonomi, adalah mesin pembelajaran yang menyala setiap hari.
Perspektif IE-HRM: Pembelajaran sebagai Sistem, bukan Acara
Kacamata buku
ini merangkum bab ini dalam satu pembingkaian ulang: pelatihan adalah proses
dengan hulu dan hilir, dan nilai mengalir hanya bila seluruh alirannya
tersambung. Hulunya diagnosis (benarkah ini masalah kemampuan, dan kemampuan
yang mana); tengahnya desain yang membuat orang berlatih, bukan mendengarkan;
hilirnya transfer yang disiapkan sebelum kelas dan dikawal sesudahnya; dan
lingkar baliknya evaluasi yang direncanakan di muka. Memotret dengan kerangka
ini, banyak "masalah pelatihan" ternyata masalah lain yang salah
alamat, dan banyak anggaran pelatihan sesungguhnya membayar tempat duduk, bukan
perubahan.
Pembingkaian itu
juga memindahkan pemilikan. Dalam sistem yang tersambung, pemilik hasil
pembelajaran adalah atasan lini (dialah yang memegang kesempatan menerapkan dan
dukungan harian), sementara fungsi pembelajaran memegang arsitektur, mutu
desain, dan pengukuran. Fungsi pelatihan yang mengukur dirinya dari jumlah jam
dan kepuasan sedang mengukur kesibukannya; yang mengukur dari perilaku dan
hasil sedang mengukur sumbangannya, dan hanya yang kedua yang berhak duduk di
meja perencanaan bab dua belas sebagai pemasok jalur "make".
Kelebihan dan Keterbatasan
Kekuatan
pendekatan sistem terhadap pembelajaran adalah efisiensinya yang sebenarnya:
bukan memangkas anggaran, melainkan memastikan anggaran membeli perubahan, dan
ilmunya sudah cukup matang untuk itu. Keterbatasannya tiga. Pertama, tidak
semua pengembangan bisa ditautkan rapi ke kinerja jangka pendek; membangun
kemampuan untuk masa depan yang belum tiba adalah investasi yang evaluasinya
menuntut kesabaran, dan menuntut bukti dampak triwulanan atasnya adalah cara
membunuhnya. Kedua, sistem yang terlalu ketat bisa mematikan pembelajaran yang
tumbuh dari keingintahuan; sebagian ruang belajar yang tidak berjustifikasi
langsung adalah tanah subur, bukan pemborosan. Ketiga, seluruh bangunan ini
berdiri di atas kejujuran diagnosis, dan diagnosis sering kalah oleh politik
anggaran serta selera pimpinan terhadap program yang sedang ramai; kerangka ini
memberi bahasa untuk melawannya, tetapi tidak menggantikan keberanian
mengatakannya.
Panduan Praktik: Training Need Analysis Worksheet dan
Evaluasi Transfer
Kerjakan untuk
satu kesenjangan kinerja yang nyata, bukan untuk menyusun katalog.
Bagian pertama,
diagnosis (jangan lewati satu pun): (1) tuliskan kesenjangannya sebagai fakta
terukur (apa yang seharusnya, apa yang terjadi, selisihnya berapa, sejak
kapan); (2) uji penyebabnya dengan empat pertanyaan berurutan: apakah mereka
tahu apa yang diharapkan; apakah mereka mampu bila keadaan mendukung (cara
paling cepat mengujinya: apakah ada saat atau tempat di mana mereka
melakukannya dengan benar); apakah sistem memudahkan atau menyulitkan perilaku
itu; apakah konsekuensinya mendukung (apa yang sesungguhnya terjadi pada orang
yang melakukannya dengan benar); (3) hanya kesenjangan yang gugur pada
pertanyaan kedua yang lanjut menjadi kebutuhan pelatihan; sisanya dialihkan ke
pemilik masalah yang benar, secara tertulis, supaya tidak hilang.
Bagian kedua,
untuk kebutuhan yang lolos: (4) rumuskan sasaran perilaku ("sesudah
program, peserta mampu ... pada situasi ... dengan mutu ..."), bukan
sasaran topik; (5) tetapkan ukuran dan garis dasar sekarang, sebelum desain
dimulai; (6) rancang dengan aturan ibu jari praktik-umpan balik, dan pecah
sesinya berjarak bila mungkin.
Bagian ketiga,
transfer dan evaluasi: (7) kontrak tiga pihak sebelum kelas: peserta menulis
apa yang akan diterapkan, atasan menulis dukungan dan kesempatan yang
disediakan, penyelenggara menulis penugasan penerapan dan tenggatnya; (8) dalam
empat belas hari sesudah kelas, atasan melakukan percakapan penerapan (apa yang
sudah dicoba, apa yang menghambat), dan hambatan sistemnya dicatat sebagai
temuan, bukan alasan; (9) pada titik yang ditetapkan di muka (misalnya sembilan
puluh hari), ukur perilaku terhadap garis dasar, dan untuk program yang mahal,
ukur hasil yang dijanjikannya; (10) tutup dengan PDCA: apa yang diubah pada
diagnosis, desain, atau dukungan untuk angkatan berikutnya. Simpan seluruh
lembar ini per program; tumpukannya adalah memori pembelajaran organisasi
tentang cara belajarnya sendiri.
Ringkasan Bab
Pelatihan hanya
menjawab masalah kemampuan, dan diagnosis yang jujur mengalihkan sisanya ke
pemilik yang benar. Untuk yang memang kemampuan, ilmunya jelas: orang belajar
dari praktik dan umpan balik, bukan paparan; nilainya diputuskan di transfer,
yang kekuatan penentunya adalah kesempatan menerapkan dan dukungan atasan; dan
evaluasinya harus direncanakan di muka, dengan kesadaran bahwa kepuasan peserta
hampir tidak memberi tahu apa-apa. Sebagian terbesar pembelajaran terjadi di
pekerjaan itu sendiri, sehingga penugasan, pembimbingan, dan desain pekerjaan
adalah alat pengembangan yang setara kelas. Pelatihan yang diperlakukan sebagai
acara berakhir di tempat parkir; pembelajaran yang diperlakukan sebagai sistem
berakhir di perilaku.
Pertanyaan Reflektif
1. Ambil program
pelatihan termahal organisasi Anda tahun lalu. Kesenjangan terukur apa yang
menjadi alasannya, dan apa yang terjadi pada kesenjangan itu sekarang? Jika
keduanya tidak diketahui, apa yang sesungguhnya dibeli? 2. Di tempat Anda, apa
yang terjadi pada orang yang mencoba cara baru hasil pelatihan dan karena itu
melambat sebentar? Jawaban jujur atas pertanyaan ini meramalkan nasib semua
pelatihan Anda. 3. Siapa yang mendapat penugasan yang meregangkan di unit Anda,
dan siapa yang tidak pernah? Portofolio pengalaman itu sedang mengembangkan
siapa, dan mengabaikan siapa?
Bacaan Lanjutan
Salas dkk.
(2012) adalah rangkuman ilmu pelatihan yang paling berguna bagi praktisi; bila
hanya sempat membaca satu, baca ini. Baldwin dan Ford (1988) meletakkan peta
masalah transfer yang masih dipakai sampai sekarang, dan Blume dkk. (2010)
memutakhirkan buktinya. Kirkpatrick (1994) tetap layak dikenal sebagai tangga
pertanyaan evaluasi, dibaca bersama koreksi Alliger dkk. (1997) supaya
tangganya tidak dinaiki dengan keliru.
BAB 18
Manajemen Kompetensi
Kompetensi yang tidak bisa diamati tidak bisa dikembangkan.
Pengantar dan Konteks: Kamus Tebal dan Papan Sederhana
Dua benda di dua
tempat dalam satu perusahaan yang sama menceritakan seluruh persoalan bab ini.
Benda pertama
tersimpan di lemari kantor HR: kamus kompetensi setebal buku telepon, warisan
proyek konsultan beberapa tahun lalu. Empat puluh kompetensi, masing-masing
dengan definisi yang anggun dan lima tingkat kecakapan yang kalimatnya nyaris
tidak bisa dibedakan satu dari yang lain ("menunjukkan pemahaman",
"menunjukkan pemahaman yang mendalam", "menunjukkan pemahaman
yang komprehensif"). Sejak konsultannya pulang, kamus itu dibuka hanya
menjelang audit.
Benda kedua
tergantung di dinding bengkel pemeliharaan: selembar papan berisi tabel
sederhana. Baris-barisnya nama teknisi, kolom-kolomnya keterampilan yang
dibutuhkan bengkel itu, dan setiap sel diisi tanda yang semua orang paham:
belum bisa, bisa dengan pengawasan, mandiri, bisa mengajari. Papan itu hidup:
dipakai mengatur penugasan harian, menentukan siapa dilatih apa bulan depan,
dan memperlihatkan dalam sekali pandang bahwa hanya satu orang yang menguasai
keterampilan nomor tujuh, sehingga bila ia cuti, bengkel itu berdoa. Kepala
bengkel memperbaruinya sendiri, karena papan itu menyelamatkannya setiap hari.
Kamus yang tebal
itu mati; papan yang sederhana itu hidup. Selisih keduanya bukan kecanggihan,
melainkan tiga hal yang menjadi tulang punggung bab ini: dapat diamati,
terhubung ke keputusan, dan dimiliki oleh yang memakainya.
Landasan Teori dan Penelitian
Sejarah gagasan dan
definisi kerja
Kata kompetensi
masuk ke MSDM lewat sebuah gugatan. McClelland (1973) berargumen bahwa tes
kecerdasan dan nilai akademik terlalu jauh dari kehidupan nyata dan menyarankan
mengukur kompetensi: karakteristik yang benar-benar membedakan orang yang
berhasil dari yang biasa-biasa saja dalam pekerjaan tertentu, ditemukan dengan
mempelajari orang-orang yang terbukti unggul. Gagasan itu dikembangkan menjadi
metode dan katalog oleh para penerusnya (Boyatzis, 1982; Spencer & Spencer,
1993), dan dari sana lahir industri pemodelan kompetensi yang hasilnya memenuhi
lemari-lemari HR di seluruh dunia, termasuk lemari pada cerita pembuka. Perlu
dicatat dengan jujur: sebagian klaim awal gerakan ini, termasuk anggapan bahwa
kompetensi mengalahkan kemampuan kognitif dalam memprediksi kinerja, tidak
bertahan diuji; bab lima belas telah menunjukkan peta prediksi yang lebih
akurat. Yang bertahan justru kegunaannya yang lebih rendah hati dan lebih
praktis: kompetensi sebagai bahasa bersama untuk mendeskripsikan tuntutan
pekerjaan dalam bentuk perilaku, sehingga seleksi, pelatihan, penilaian, dan
pengembangan bisa berbicara tentang hal yang sama.
Untuk keperluan
buku ini, definisi kerjanya dibuat sederhana dan ketat: kompetensi adalah
kumpulan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dapat diamati, yang
dibutuhkan untuk menghasilkan kinerja pada pekerjaan tertentu. Kata "dapat
diamati" adalah pagarnya. Sifat-sifat batin yang tidak tampak boleh jadi
nyata, tetapi ia bukan bahan sistem manajemen; yang bisa dinilai, dilatih, dan
ditagih hanyalah yang bisa dilihat dan didengar.
Menyusun kamus yang bisa
diamati
Penelitian
tentang praktik pemodelan kompetensi merangkum apa yang membedakan model yang
dipakai dari model yang disimpan (Campion dkk., 2011), dan intinya sejalan
dengan naluri kepala bengkel tadi. Jumlahnya sedikit: enam sampai dua belas
kompetensi untuk satu keluarga jabatan sudah batas atas; empat puluh adalah
cara memastikan tidak ada yang diingat. Bahasanya perilaku: setiap tingkat
kecakapan dijangkarkan pada contoh perilaku yang bisa disaksikan
("menyusun jadwal pemeliharaan bulanan tanpa koreksi", bukan
"memiliki wawasan pemeliharaan yang holistik"). Dibedakan menurut
tingkat: yang membedakan tingkat mahir dari tingkat dasar harus berupa
perbedaan perbuatan, bukan perbedaan kata sifat. Diturunkan dari pekerjaan
nyata: dari analisis jabatan bab tiga belas dan dari mempelajari pemegang
jabatan yang diakui unggul oleh rekan-rekannya, bukan disalin dari katalog. Dan
dibangun bersama pemakainya: atasan lini yang ikut merumuskan akan memakai;
yang hanya menerima kiriman akan menyimpan.
Matriks kompetensi dan
matriks keterampilan
Alat yang
mengubah kamus menjadi keputusan adalah matriks: orang pada baris, kompetensi
atau keterampilan pada kolom, tingkat penguasaan pada sel, dan tuntutan jabatan
sebagai pembandingnya. Matriks keterampilan (skill matrix) versi bengkel adalah bentuknya yang paling bersahaja
dan sering paling berguna; matriks kompetensi memperluasnya ke kemampuan yang
lebih lunak. Dari satu tabel itu terbaca empat hal sekaligus: kesenjangan per
orang (bahan rencana pengembangan bab tujuh belas), kesenjangan per unit (bahan
rencana pelatihan dan rekrutmen), risiko tunggal (keterampilan yang hanya
dikuasai satu orang, temuan yang menyambung ke perencanaan bab dua belas dan
suksesi bab dua puluh satu), dan kelebihan yang bisa dibagi (siapa yang tingkat
"bisa mengajari"). Matriks yang diperbarui adalah tulang punggung
pengelolaan kemampuan; kamus hanyalah kosakatanya.
Asesmen kompetensi: metode
dan jebakannya
Menilai tingkat
penguasaan adalah pekerjaan pengukuran, dan seluruh disiplin bab sepuluh dan
lima belas berlaku. Untuk keterampilan teknis, penilaian terbaik adalah
demonstrasi: kerjakan dan saksikan, dengan daftar periksa; sertifikasi internal
berbasis demonstrasi adalah bentuk matangnya. Untuk kompetensi perilaku,
gunakan bukti perilaku yang terstruktur: wawancara berbasis kejadian, penilaian
atasan dengan jangkar perilaku, atau simulasi; dan waspadai jebakan-jebakan
yang sudah kita kenal: penilaian bebas yang memantulkan kesan umum ke semua
kolom, penilai yang tidak dikalibrasi sehingga "mandiri" di unit satu
berarti lain di unit sebelah, dan penilaian yang dibebani terlalu banyak akibat
(bila tingkat kompetensi langsung menentukan gaji, tekanannya akan menaikkan
semua angka dan mematikan kejujurannya; sambungan ke imbalan lebih aman lewat
jabatan dan kinerja, bab sembilan belas dan dua puluh). Asesmen kompetensi yang
jujur adalah alat belajar; yang dipolitisasi menjadi tarif.
Reskilling dan upskilling
Percakapan
kompetensi hari ini tidak lengkap tanpa dimensi waktunya: teknologi mengubah
isi pekerjaan lebih cepat daripada pergantian generasi pekerjanya, sehingga
organisasi harus terus menaikkan kecakapan orang pada pekerjaannya (upskilling) dan memindahkan orang ke
keluarga keterampilan baru (reskilling).
Kacamata bab ini membuatnya bisa dikelola: mulai dari peta (matriks hari ini),
tambahkan kolom masa depan (keterampilan yang akan dibutuhkan dua-tiga tahun
lagi, dari perencanaan bab dua belas), dan kelola selisihnya sebagai portofolio
make-buy-borrow. Yang perlu dijaga adalah kejujuran dua arah: kepada
organisasi, bahwa membangun keterampilan baru punya kurva belajar (bab enam
belas) yang tidak bisa dimarahi supaya memendek; dan kepada orang, tentang
keterampilan mana yang masa depannya menyempit, karena menyembunyikan itu bukan
kebaikan melainkan mencuri waktu persiapan mereka.
Perspektif IE-HRM: Kompetensi sebagai Bahasa Penghubung
Sistem
Dalam arsitektur
buku ini, manajemen kompetensi adalah lapisan bahasa yang menghubungkan banyak
sistem: analisis jabatan menuliskan tuntutan dalam bahasa itu, seleksi menguji
terhadapnya, onboarding menandai tonggak dengannya, pelatihan menutup kesenjangannya,
matriksnya memberi makan perencanaan tenaga kerja dan suksesi, dan pengukuran
kesenjangannya adalah salah satu indikator kesehatan pilar Human. Justru karena
perannya sebagai bahasa, hukum utamanya adalah hukum bahasa: ia hidup hanya
bila dipakai. Kamus yang tidak tersambung ke satu pun keputusan akan mati
sehalus apa pun rumusannya, dan matriks bengkel yang sederhana mengalahkannya
bukan karena lebih benar, melainkan karena dipakai setiap hari oleh orang yang
keputusannya bergantung padanya.
Dari situ pula
urutan pembangunannya yang khas kerangka ini: jangan mulai dari kamus; mulai
dari keputusan. Tanyakan keputusan apa yang paling sakit karena ketiadaan peta
kemampuan (penugasan? pelatihan? risiko orang tunggal?), bangun matriks sekecil
yang dibutuhkan keputusan itu, dan biarkan kamus tumbuh dari matriks yang
terbukti hidup. Kamus yang ditulis belakangan oleh pemakainya selalu lebih
pendek dan lebih benar daripada kamus yang ditulis lebih dulu oleh penyusunnya.
Kelebihan dan Keterbatasan
Kelebihan
manajemen kompetensi yang dikerjakan dengan pagar "dapat diamati"
adalah integrasinya: satu bahasa untuk banyak sistem, dan peta kemampuan yang
membuat risiko serta kesenjangan terlihat sebelum menyakitkan. Keterbatasannya
empat. Pertama, biaya pemeliharaan: matriks yang tidak diperbarui lebih
menyesatkan daripada tidak ada, karena ia memberi rasa tahu; pemiliknya harus
lini, bukan HR, persis seperti papan bengkel. Kedua, godaan universalisme:
kompetensi generik yang sama untuk semua orang terasa rapi dan hampir selalu
hampa; kompetensi hidup dari kedekatannya dengan pekerjaan nyata. Ketiga,
bahasa kompetensi bisa menyembunyikan penilaian atas pribadi di balik kosakata
teknis; pagar perilakunya harus dijaga galak, karena "kurang berkomitmen"
bukanlah pengamatan melainkan vonis. Keempat, sebagaimana diakui di muka,
kompetensi bukan peluru ajaib prediksi; ia bahasa deskripsi yang baik, dan pada
perannya itulah ia harus dinilai.
Panduan Praktik: Competency Dictionary, Competency Matrix,
dan Skill Matrix
Kerjakan untuk
satu unit yang keputusannya sedang sakit karena tidak ada peta kemampuan.
Langkah satu,
tetapkan keputusan yang akan dilayani (penugasan harian, rencana pelatihan,
mitigasi risiko orang tunggal, atau kesiapan teknologi baru) dan pemilik
matriksnya: atasan unit itu, dengan HR sebagai pembantu metode.
Langkah dua,
daftarkan keterampilan dan kompetensinya dari pekerjaan nyata: mulai dari
tugas-tugas inti (analisis jabatan bab tiga belas), tanya "kemampuan apa
yang membuat tugas ini beres", dan berhenti di enam sampai dua belas
butir. Untuk setiap butir, tulis satu kalimat definisi dan jangkar perilaku
untuk setiap tingkat pada skala empat: belum bisa; bisa dengan pengawasan;
mandiri; bisa mengajari. Uji jangkarnya dengan pertanyaan kejam: bisakah dua
penilai yang berbeda, melihat orang yang sama bekerja, memberi tingkat yang
sama? Jangkar yang gagal ditulis ulang sampai lulus.
Langkah tiga,
isi matriksnya dengan bukti, bukan kesan: demonstrasi untuk keterampilan
teknis, contoh kejadian untuk kompetensi perilaku; penilaian awal oleh atasan
bersama orangnya (ketidaksepakatan adalah percakapan pengembangan yang paling
murah), lalu kalibrasi antarpenilai bila unitnya lebih dari satu.
Langkah empat,
baca dan putuskan pada hari yang sama matriks itu selesai: siapa dikembangkan
apa dan oleh siapa (kolom "bisa mengajari" adalah daftar gurunya),
risiko orang tunggal mana yang ditutup lebih dulu, dan kesenjangan mana yang
tidak akan dikejar dengan pelatihan melainkan dengan rekrutmen atau desain
ulang pekerjaan. Matriks yang selesai tanpa keputusan pada hari yang sama
sedang memulai kariernya sebagai dokumen.
Langkah lima,
pasang iramanya: matriks ditinjau tiap triwulan oleh pemiliknya (lima belas
menit cukup bila hidup), kamus ditinjau setahun sekali atau ketika pekerjaan
berubah, dan kolom masa depan diperbarui bersama siklus perencanaan bab dua
belas. Baru sesudah dua-tiga unit hidup dengan pola ini, satukan kosakatanya
pelan-pelan menjadi kamus organisasi; itulah kamus yang lahir dari pemakaian,
dan hanya kamus semacam itu yang akan berumur panjang.
Ringkasan Bab
Kompetensi
paling berguna bila diperlakukan dengan rendah hati dan ketat: bukan peluru
ajaib prediksi, melainkan bahasa bersama berbasis perilaku yang menghubungkan
analisis jabatan, seleksi, pelatihan, penilaian, perencanaan, dan suksesi.
Kamus yang hidup itu pendek, berjangkar pada perbuatan yang bisa disaksikan,
diturunkan dari pekerjaan nyata, dan dibangun bersama pemakainya; matriks yang
hidup itu dimiliki lini, diisi dengan bukti, dan dibaca menjadi keputusan pada
hari yang sama. Urutannya jangan dibalik: mulai dari keputusan yang sakit,
bukan dari kamus yang megah; papan sederhana di dinding bengkel mengalahkan
buku telepon di lemari, dan alasannya adalah hukum semua bahasa: ia hidup hanya
bila dipakai.
Pertanyaan Reflektif
1. Di mana kamus
kompetensi organisasi Anda sekarang berada, dan kapan terakhir ia menentukan
sebuah keputusan? Jawaban atas dua pertanyaan itu biasanya satu cerita. 2.
Keterampilan kritis apa di unit Anda yang hari ini dikuasai hanya satu orang?
Berapa lama organisasi bisa bernapas bila orang itu besok tidak masuk? 3.
Adakah "kompetensi" dalam formulir penilaian Anda yang sesungguhnya
vonis pribadi berkostum kosakata teknis? Perilaku teramati apa yang seharusnya
menggantikannya?
Bacaan Lanjutan
McClelland
(1973) adalah artikel yang memulai semuanya, dibaca paling baik bersama
kesadaran tentang klaim-klaimnya yang tidak bertahan. Spencer dan Spencer
(1993), Competence at Work, adalah
katalog klasik metode dan model generasi pertama. Campion dkk. (2011) merangkum
praktik terbaik pemodelan kompetensi dari pengalaman kolektif bidang ini, dan
merupakan bacaan paling berguna sebelum Anda membangun atau merombak model
sendiri.
BAB 19
Manajemen Kinerja
Sebagian besar dari apa yang kita sebut kinerja individu
adalah kinerja sistem yang menempel pada nama orang.
Pengantar dan Konteks: Dua Penjual, Dua Wilayah, Satu
Peringkat
Dua tenaga
penjual bekerja di perusahaan yang sama dengan kesungguhan yang, sejauh bisa
dilihat siapa pun, setara. Yang pertama memegang wilayah kota yang pasarnya
tumbuh, pelanggannya padat, dan pesaingnya baru saja bermasalah. Yang kedua
memegang wilayah yang pasarnya jenuh, jaraknya jauh, dan pelanggan terbesarnya
sedang mengurangi belanja. Di akhir tahun, angka penjualan yang pertama dua
kali angka yang kedua. Formulir penilaian diisi, kalibrasi dijalankan, dan
hasilnya tampak objektif karena berbasis angka: yang pertama dinilai istimewa
dan dipromosikan; yang kedua dinilai di bawah harapan dan diminta membuat
rencana perbaikan diri.
Tahun berikutnya
keduanya ditukar wilayah. Angka mereka pun bertukar.
Cerita semacam
ini adalah manajemen kinerja dalam bentuknya yang paling telanjang: sistem yang
dengan sungguh-sungguh dan penuh prosedur mengukur sesuatu, lalu menempelkan
hasilnya pada nama yang salah. Deming (1986) menyebut penilaian tahunan semacam
ini sebagai salah satu penyakit mematikan manajemen Barat, bukan karena menilai
itu salah, melainkan karena yang dinilai hampir selalu campuran yang tidak
dipisahkan: sumbangan orang dan keberuntungan sistemnya. Bab ini mencoba
mengerjakan apa yang jarang dikerjakan buku MSDM: mengambil serius kritik
Deming tanpa berakhir pada kesimpulan malas bahwa penilaian harus dihapus,
karena organisasi tetap harus memutuskan siapa dikembangkan, siapa dinaikkan,
dan siapa perlu dibantu berubah.
Landasan Teori dan Penelitian
Kinerja sebagai hasil
sistem
Titik
berangkatnya adalah persamaan yang sudah kita bangun sepanjang buku: kinerja
yang tampak pada seseorang adalah hasil kerja sama antara orangnya (kemampuan
dan usahanya) dan sistemnya (wilayah, alat, proses, beban, mutu masukan,
dukungan, dan nasib). Deming menegaskan bahwa porsi sistem dalam campuran itu
jauh lebih besar daripada yang mau diakui manajemen, dan bab lima telah
menjelaskan mengapa mata kita melawan pengakuan itu: kesalahan atribusi
mendasar membuat kita membaca hasil sebagai watak. Konsekuensinya bukan bahwa
perbedaan antarorang tidak nyata; konsekuensinya adalah tuntutan disiplin:
sebelum sebuah perbedaan hasil dibaca sebagai perbedaan orang, sistemnya harus
setara atau disetarakan dalam perhitungan, dan naik-turunnya harus melampaui variasi
normal yang telah kita pelajari pada bab sepuluh. Peringkat yang tidak lulus
dua ujian itu bukan penilaian; ia undian yang diberi tanda tangan.
Evolusi: dari upacara
tahunan ke percakapan berkelanjutan
Sejarah panjang
penilaian kinerja adalah sejarah kekecewaan yang terdokumentasi baik: satu abad
penelitian menghasilkan teknik penilaian yang makin canggih tanpa membuat
pihak-pihaknya lebih puas atau kinerjanya lebih baik secara meyakinkan (DeNisi
& Murphy, 2017; Pulakos & O'Leary, 2011). Dari kekecewaan itu lahir
gelombang pembaruan yang menggeser titik berat: dari penilaian sekali setahun
menuju umpan balik yang sering dan dekat dengan pekerjaan; dari formulir menuju
percakapan; dari melihat ke belakang untuk menghakimi menuju melihat ke depan
untuk memperbaiki. Arah ini didukung oleh temuan yang lebih tua dan lebih
mengejutkan tentang umpan balik itu sendiri: rangkuman besar penelitian
menemukan bahwa intervensi umpan balik rata-rata membantu, tetapi dalam lebih
dari sepertiga kasus justru menurunkan kinerja, terutama bila umpan baliknya
menyerang pribadi alih-alih tugas (Kluger & DeNisi, 1996). Umpan balik
bukan vitamin yang makin banyak makin sehat; ia intervensi yang bekerja bila
tepat sasaran (tugas dan cara, bukan harga diri), tepat waktu (dekat dengan
kejadian), dan datang dari hubungan yang dipercaya.
Masalah pengukuran:
penilai sebagai sumber variasi terbesar
Satu temuan lagi
harus diletakkan di meja sebelum membangun sistem apa pun: dalam penilaian
kinerja oleh atasan, porsi terbesar dari perbedaan nilai ternyata bukan
mencerminkan perbedaan orang yang dinilai, melainkan perbedaan penilainya,
yaitu kecenderungan pribadi si penilai dalam menilai siapa pun (Scullen, Mount,
& Goff, 2000). Penilai yang murah hati dan yang kikir, yang menilai dari
satu kesan dan yang menilai per aspek, semuanya menyumbang variasi yang
menempel pada nilai bawahannya. Konsekuensinya praktis dan tidak bisa ditawar:
nilai mentah antarpenilai tidak boleh dibandingkan begitu saja (kalibrasi
antarpenilai bukan formalitas melainkan syarat), keputusan penting tidak boleh
berdiri di atas satu penilai, dan pelatihan serta jangkar perilaku untuk
penilai adalah investasi mutu data, bukan pelengkap. Ini bab sepuluh yang
diterapkan pada pengukuran yang paling sensitif dari semuanya: pengukuran atas
manusia oleh manusia.
KPI, OKR, dan balanced
scorecard
Tiga kerangka
sasaran yang paling banyak dipakai punya watak yang berbeda dan sering dipaksa
saling menggantikan. Indikator kinerja utama (KPI) adalah ukuran kesehatan
proses dan hasil yang berulang; rumahnya adalah pekerjaan rutin, dan disiplin
pembuatannya sudah kita bangun pada bab sepuluh, termasuk indikator pendamping
untuk setiap angka yang bisa dibengkokkan. Objectives
and key results (OKR), yang akarnya pada manajemen berbasis sasaran di
industri semikonduktor (Grove, 1983), adalah alat fokus untuk perubahan:
sedikit sasaran yang menantang dengan hasil kunci yang terukur, ditinjau dalam
irama pendek; rumahnya adalah prioritas yang sedang diperjuangkan, dan ia rusak
bila dipakai membungkus seluruh pekerjaan rutin atau ditautkan mentah ke gaji,
karena sasaran yang menantang hanya akan ditulis orang bila kegagalan sebagian
tidak dihukum. Balanced scorecard (Kaplan & Norton, 1992) adalah kerangka
penerjemah strategi di tingkat organisasi dan unit: ia memaksa ukuran finansial
ditemani ukuran pelanggan, proses, serta pembelajaran, dan pelajaran abadinya
untuk MSDM adalah keseimbangan itu sendiri: sistem sasaran yang hanya
menghitung hasil hari ini sedang diam-diam memakan kemampuan hari esok.
Ketiganya bisa hidup bersama bila diberi rumah masing-masing: scorecard untuk
arah, KPI untuk kesehatan proses, OKR untuk lompatan yang sedang dikerjakan.
Distribusi paksa dan
kontroversinya
Peringkat dengan
kuota (sekian persen teratas, sekian persen harus di dasar) pernah menjadi mode
besar, dan daya tariknya bisa dipahami: ia melawan kemurahan hati penilai dan
memaksa pembedaan. Biayanya juga kini terdokumentasi dalam pengalaman banyak organisasi:
kerja sama memburuk karena rekan menjadi pesaing kuota, orang menghindar dari
tim yang kuat (tempat terbaik untuk belajar menjadi tempat terburuk untuk
peringkat), penilai memainkan sistem untuk melindungi anak buahnya, dan pada
unit kecil, kuota memaksa vonis "di bawah harapan" kepada seseorang
yang di unit lain akan dinilai baik, murni karena aritmetika. Dari kacamata
buku ini persoalannya mendasar: distribusi paksa mengandaikan bahwa sebaran
kinerja sejati di setiap unit sama bentuknya, padahal justru itulah yang tidak
boleh diandaikan; ia adalah jawaban administratif untuk masalah mutu penilaian,
dan jawaban yang benar untuk masalah mutu penilaian adalah memperbaiki mutu
penilaian: jangkar perilaku, kalibrasi, dan lebih dari satu mata.
Percakapan kinerja
Pada akhirnya
seluruh sistem ini bermuara pada percakapan antara dua manusia, dan mutu muara
itu menentukan apakah hulu yang canggih ada gunanya. Prinsip-prinsipnya
mengikuti temuan Kluger dan DeNisi: bicarakan pekerjaan dan cara, bukan
pribadi; dekatkan dengan kejadian, jangan menabung setahun; pisahkan percakapan
pengembangan dari percakapan konsekuensi (orang tidak bisa belajar dan membela
diri pada saat yang sama); dan jadikan dua arah, karena bawahanlah yang
memegang informasi terbaik tentang hambatan sistem, dan percakapan kinerja
adalah saluran naiknya informasi itu. Penilaian tahunan yang dibenci di banyak
organisasi sesungguhnya bukan dibenci karena menilai, melainkan karena menjadi
satu-satunya percakapan, sehingga memikul beban yang mustahil: umpan balik,
pengembangan, gaji, promosi, dan dokumentasi hukum dalam satu jam yang canggung
untuk kedua pihak.
Perspektif IE-HRM: Memisahkan Sinyal Orang dari Suara Sistem
Kerangka buku
ini merangkum bab ini menjadi satu disiplin inti dengan tiga langkah. Pertama,
kelola kinerja pada dua tingkat yang berbeda alatnya: kinerja proses dan unit
dikelola dengan alat bab-bab sebelumnya (peta, ukuran, peta kendali,
perbaikan), dan di tingkat inilah sebagian besar perbaikan hasil sesungguhnya
berada; kinerja individu dikelola dengan sasaran yang adil, umpan balik yang
sering, dan penilaian yang disiplin. Kedua, saat menilai individu, setarakan
sistemnya sebisa-bisanya (bandingkan dengan sasaran yang memperhitungkan
wilayah dan kondisi, bukan dengan angka mentah rekan yang sistemnya berbeda)
dan hormati variasi normal (perbedaan kecil bukan perbedaan; peta kendali bab
sepuluh berlaku juga untuk manusia). Ketiga, pisahkan pertanyaan yang
jawabannya berbeda: "bagaimana hasil unit ini" (pertanyaan sistem),
"apa sumbangan orang ini pada sistemnya" (pertanyaan penilaian,
dinilai dari perilaku dan keputusan yang dikuasainya, bukan dari nasib
wilayahnya), dan "apa yang orang ini butuhkan untuk tumbuh"
(pertanyaan pengembangan). Formulir yang mencampur ketiganya menghasilkan
jawaban yang buruk untuk semuanya.
Dua penjual pada
pembuka bab, dalam disiplin ini, akan dinilai dari apa yang mereka kuasai:
cakupan kunjungan, mutu penggarapan pelanggan, pertumbuhan relatif terhadap
potensi wilayah masing-masing; dan pertukaran wilayah yang membalik angka
mereka tidak lagi menjadi ironi, melainkan bukti bahwa sistem penilaiannya,
kali ini, mengukur hal yang benar.
Kelebihan dan Keterbatasan
Manajemen
kinerja yang dibangun dengan disiplin ini memberi yang dijanjikannya: keputusan
tentang orang yang lebih adil, informasi hambatan sistem yang mengalir naik,
dan energi yang berpindah dari upacara ke perbaikan. Keterbatasannya harus
disebut tanpa dikecilkan. Pemisahan sumbangan orang dari suara sistem tidak
pernah sempurna; ia disiplin ke arah yang benar, bukan rumus yang tuntas, dan
kerendahan hati harus menyertai setiap peringkat. Sistem yang menuntut
percakapan sering hidup dan mati bersama kemampuan serta beban para atasannya;
tanpa melatih dan memberi waktu (bab tujuh dan tujuh belas), ia hanya
memindahkan upacara tahunan menjadi upacara triwulanan. Dan dokumentasi untuk
keperluan hukum tetap dibutuhkan di dunia nyata hubungan kerja; sistem yang
paling manusiawi pun harus meninggalkan jejak tertulis yang adil, dan kejujuran
sepanjang tahun adalah dokumentasi terbaik: keputusan yang mengejutkan orangnya
hampir selalu keputusan yang cacat prosesnya.
Panduan Praktik: Performance Review Form dan KPI Development
Worksheet
Bangun ulang
untuk satu keluarga jabatan, bersama para atasan penilainya.
Bagian pertama,
lembar pengembangan KPI individu (satu lembar per jabatan, bukan per orang):
(1) dari uraian jabatan bab tiga belas, ambil tanggung jawab utama yang
hasilnya bisa diukur; (2) untuk masing-masing, tetapkan ukurannya dengan tujuh
pertanyaan bab sepuluh, ditambah ujian khusus penilaian individu: apakah angka
ini terutama digerakkan oleh yang bersangkutan, atau oleh sistem yang tidak ia
kuasai? Ukuran yang gugur di ujian ini dipindahkan ke KPI unit, tempat ia
dikelola sebagai persoalan sistem; (3) tetapkan cara penyetaraan untuk pemegang
jabatan yang sistemnya berbeda (target per potensi wilayah, per kondisi lini,
per mutu masukan), dan tuliskan; penyetaraan yang tidak tertulis akan kalah
oleh angka mentah di rapat.
Bagian kedua,
formulir tinjauan yang memisahkan tiga pertanyaan: (1) hasil terhadap sasaran
yang telah disetarakan, dengan kolom wajib "faktor sistem yang membantu
atau menghambat" yang diisi kedua pihak; (2) perilaku dan sumbangan,
dinilai per aspek dengan jangkar perilaku (bukan satu nilai keseluruhan yang
menular ke mana-mana), oleh penilai yang telah dikalibrasi; (3) pengembangan ke
depan, yang percakapannya dijadwalkan terpisah dari percakapan hasil. Tambahkan
iramanya: percakapan singkat bulanan atau triwulanan tentang pekerjaan dan
hambatan (lima belas menit yang jujur mengalahkan satu jam yang seremonial),
dengan tinjauan formal sebagai rangkuman tanpa kejutan.
Bagian ketiga,
jaga mutunya seperti menjaga alat ukur: kalibrasi penilai setiap siklus (bahas
kasus nyata bersama sampai jangkar dipahami sama), audit sebaran nilai per
penilai setiap tahun (penilai yang sebarannya aneh diajak bicara, bukan
dibiarkan menjadi legenda), dan tinjau formulirnya dengan PDCA: aspek yang
tidak pernah menghasilkan percakapan atau keputusan dihapus, karena setiap
kolom punya biaya kejujuran.
Ringkasan Bab
Kinerja yang
tampak pada seseorang adalah campuran sumbangan orang dan suara sistemnya, dan
tugas manajemen kinerja yang jujur adalah memisahkan keduanya sejauh bisa:
setarakan sistem sebelum membandingkan orang, hormati variasi normal sebelum
membaca perbedaan, dan ingat bahwa penilai sendiri adalah sumber variasi
terbesar yang menuntut jangkar, kalibrasi, dan lebih dari satu mata. Kerangka
sasaran punya rumah masing-masing (scorecard untuk arah, KPI untuk kesehatan
proses, OKR untuk lompatan), distribusi paksa adalah jawaban yang salah untuk
masalah mutu penilaian, dan seluruh sistem bermuara pada percakapan yang
sering, dua arah, tentang tugas dan bukan pribadi. Yang dihapus buku ini bukan
penilaian, melainkan undian yang menyamar sebagai penilaian.
Pertanyaan Reflektif
1. Dalam
peringkat kinerja terakhir di unit Anda, berapa banyak perbedaan antarorang
yang sesungguhnya perbedaan wilayah, lini, atau nasib? Siapa yang tahun ini
sedang dinilai atas sistemnya? 2. Bila sebaran nilai per penilai di organisasi
Anda dibuka besok, penilai mana yang kemurahan atau kekikirannya sudah menjadi
legenda, dan apa akibatnya selama ini bagi anak buah mereka? 3. Percakapan
kinerja Anda dengan atasan: kapan terakhir ia mengalirkan informasi hambatan
sistem ke atas, dan apa yang terjadi pada informasi itu?
Bacaan Lanjutan
Bab tentang
penyakit mematikan dalam Deming (1986), Out
of the Crisis, adalah kritik yang harus dihadapi setiap perancang sistem
penilaian, bukan dihindari. DeNisi dan Murphy (2017) merangkum seratus tahun
penelitian penilaian dan manajemen kinerja dengan kejujuran tentang hasilnya.
Kluger dan DeNisi (1996) mengubah cara berpikir tentang umpan balik dan layak
dibaca sebelum melatih para atasan. Scullen, Mount, dan Goff (2000) adalah
bukti empiris bahwa penilai adalah bagian terbesar dari nilai; sesudah
membacanya, kalibrasi tidak lagi terasa seperti formalitas.
BAB 20
Kompensasi dan Reward System
Engineering
Gaji dibicarakan diam-diam justru karena ia berbicara paling
keras.
Pengantar dan Konteks: Slip Gaji yang Bocor
Ingat cerita bab
dua belas: lini baru, rekrutmen panik, dan pembajakan dari pesaing dengan gaji
yang merusak struktur sendiri. Cerita itu punya babak kedua yang lebih pelan
dan lebih mahal. Beberapa bulan kemudian, di kantin, seorang teknisi senior
mengetahui bahwa teknisi baru yang kemarin ia ajari cara mengoperasikan mesin
menerima gaji lebih tinggi darinya. Ia tidak protes. Ia tidak mengundurkan
diri, setidaknya belum. Yang berubah tidak tercatat di sistem mana pun:
lemburnya tidak lagi ditawarkan sukarela, gagasannya tidak lagi disumbangkan,
dan ketika teknisi baru bertanya, jawabannya kini secukupnya saja. Organisasi
telah membayar dua kali: sekali kepada yang dibajak masuk, sekali lagi dalam
bentuk yang tidak muncul di anggaran, yaitu surutnya kerelaan orang yang merasa
dikhianati.
Teori keadilan
sudah lama menjelaskan mekanismenya: manusia menilai imbalannya secara
perbandingan, menimbang nisbah antara apa yang ia berikan dan apa yang ia
terima terhadap nisbah orang lain, dan ketika perbandingan itu terasa timpang,
ia memulihkan keseimbangan dengan caranya sendiri, paling sering dengan
mengurangi apa yang ia berikan (Adams, 1965). Itulah sebabnya kompensasi adalah
wilayah yang paling tidak boleh dikelola dengan tambal sulam: setiap keputusan
gaji adalah pesan yang akan dibandingkan, dan sistem yang penuh pengecualian
akan berbicara lebih keras daripada semua pidato tentang keadilan. Bab ini
membahas cara merancangnya sebagai sistem: menimbang pekerjaan, membangun
struktur, memutuskan hubungan antara bayaran dan kinerja, dan menjaga tiga
tuntutan yang selamanya tarik-menarik.
Landasan Teori dan Penelitian
Kompensasi sebagai desain
sistem insentif
Kompensasi
menjalankan beberapa fungsi sekaligus: menarik orang masuk, menahan orang
bertahan, mengarahkan usaha, dan menyatakan penghargaan. Kesalahan desain yang
paling umum adalah memaksa satu instrumen memikul semua fungsi itu. Gaji pokok
paling kuat untuk menarik dan menahan; insentif variabel paling kuat untuk
mengarahkan, sekaligus paling berbahaya bila arahnya salah; tunjangan dan
fasilitas bekerja pada rasa aman; dan pengakuan nonfinansial bekerja pada
wilayah yang uang justru canggung menjangkaunya. Perancang yang baik memulai
dari pertanyaan fungsi (masalah kami menarik orang, menahan orang, atau
mengarahkan usaha?) sebelum menyentuh instrumen, karena obat untuk penyakit
yang salah diagnosis hanya menambah penyakit.
Job evaluation: menimbang
nilai relatif pekerjaan
Fondasi keadilan
internal adalah menimbang pekerjaan, bukan orangnya: seberapa besar tuntutan
dan tanggung jawab jabatan ini dibandingkan jabatan lain di organisasi yang
sama. Metode yang paling luas dipakai adalah sistem poin-faktor: sekumpulan
faktor yang dihargai organisasi (misalnya pengetahuan yang dituntut, pemecahan
masalah, tanggung jawab atas hasil, kondisi kerja dan risiko) diberi jenjang
dan bobot, setiap jabatan dinilai faktor demi faktor berdasarkan dokumen
jabatan dari bab tiga belas, dan jumlah poinnya menjadi peringkat relatif
(Milkovich, Newman, & Gerhart, 2014). Metode ini tidak ilmiah dalam arti
bebas nilai; pemilihan faktor dan bobot adalah pernyataan tentang apa yang
dihargai organisasi, dan justru karena itu ia harus dikerjakan terbuka, oleh
panel yang mewakili, dengan hasil yang bisa dijelaskan. Kekuatannya bukan
objektivitas sempurna melainkan konsistensi yang bisa diperiksa: dua jabatan
dengan tuntutan serupa akan jatuh di kelas yang serupa, dan siapa pun yang
bertanya mengapa bisa diberi jawaban yang sama.
Struktur gaji: grade,
range, dan progression
Hasil
penimbangan dipetakan menjadi struktur: jabatan-jabatan dikelompokkan ke dalam
golongan (grade), setiap golongan
diberi rentang (batas bawah, titik tengah, batas atas), dan titik tengah
antargolongan disusun menaik dengan selisih yang disengaja. Tiga keputusan
desain menentukan wataknya. Lebar rentang: rentang sempit menjaga kesetaraan
tetapi cepat mentok; rentang lebar memberi ruang tumbuh di jabatan yang sama
tetapi menuntut disiplin agar tidak menjadi karet. Tumpang tindih
antargolongan: sedikit tumpang tindih itu sehat (senior yang mahir di golongan
bawah boleh melampaui pemula di golongan atas), tumpang tindih yang besar
mengaburkan makna promosi. Dan mekanisme pergerakan di dalam rentang: berdasar
masa kerja, kinerja, kemahiran, atau campuran, masing-masing dengan pesan yang
berbeda tentang apa yang dihargai. Struktur yang sehat lalu diuji terhadap
pasar melalui survei gaji pada jabatan-jabatan patokan, dan terhadap dirinya
sendiri melalui pemeriksaan anomali: orang yang dibayar jauh di luar rentangnya
adalah utang cerita yang suatu hari harus dibayar, dengan uang atau dengan
kepercayaan.
Pay-for-performance:
bukti, batas, dan efek samping
Tentang
menautkan bayaran pada kinerja, penelitian memberi jawaban yang menolak dua
kubu ekstrem sekaligus. Kubu pertama percaya insentif adalah tuas utama
kinerja; kubu kedua, yang paling lantang disuarakan Kohn (1993), menganggap
imbalan ekstrinsik pada dasarnya merusak. Buktinya lebih bernuansa. Insentif
finansial memang menggerakkan hasil pada pekerjaan yang keluarannya jelas dan
terukur, dengan efek yang nyata terutama pada kuantitas (Jenkins, Mitra, Gupta,
& Shaw, 1998), dan gaji tetap penting bagi hampir semua orang lebih
daripada yang mereka akui di survei (Gerhart & Rynes, 2003). Tetapi ada dua
batas yang keras. Pertama, insentif mengarahkan dengan patuh kepada ukurannya,
bukan kepada maksudnya; bila ukurannya sempit, orang akan mengorbankan yang
tidak diukur (mutu untuk kuantitas, keselamatan untuk kecepatan, kerja sama
untuk angka pribadi), dan bab delapan serta sepuluh telah menyiapkan kita untuk
pola ini. Kedua, pada pekerjaan yang menuntut kreativitas dan kedalaman,
imbalan yang dirasakan sebagai alat kendali dapat menggerus dorongan dari dalam
(Deci, Koestner, & Ryan, 1999); dan insentif individu yang tajam di
pekerjaan yang sesungguhnya saling bergantung akan memakan kerja samanya.
Terjemahan desainnya: sebelum memasang insentif, pastikan tiga hal ini lebih
dulu sehat, yaitu ukurannya (mewakili yang sungguh diinginkan), kendalinya
(hasil itu memang di tangan orangnya, bukan suara sistem, pelajaran bab
sembilan belas), dan satuannya (individu untuk kerja individu, tim untuk kerja
tim). Insentif yang gagal pada salah satunya lebih baik tidak dipasang.
Benefit, total rewards,
dan tiga tuntutan yang tarik-menarik
Di luar gaji,
paket kesejahteraan (jaminan kesehatan dan hari tua sesuai hukum dan di
atasnya, cuti, fasilitas, fleksibilitas) bekerja pada fungsi menahan dan
melindungi, dan nilainya di mata karyawan sering melampaui biayanya di mata
perusahaan, terutama yang menyentuh rasa aman keluarga. Seluruh bangunan ini
akhirnya harus berdiri di antara tiga tuntutan yang tidak pernah selesai:
keadilan internal (perbandingan antar jabatan dan antarorang di dalam masuk
akal), daya saing eksternal (cukup menarik dibanding pasar pada jabatan yang
diperebutkan), dan keterjangkauan (total biayanya tertanggung model bisnis
dalam jangka panjang). Ketiganya tarik-menarik, dan kebijakan kompensasi yang
matang bukan yang memenangkan salah satunya, melainkan yang memutuskan secara
sadar di mana berdiri untuk kelompok jabatan yang mana, dan mengatakannya
dengan jujur.
Perspektif IE-HRM: Merekayasa Imbalan tanpa Merusak Manusia
Dari kacamata
kerangka buku ini, sistem imbalan adalah salah satu struktur umpan balik
terkuat dalam organisasi (bab lima), dan karena itu salah satu titik desain
yang paling berbahaya untuk dikerjakan sembarangan. Tiga disiplin merangkum bab
ini. Pertama, struktur sebelum pengecualian: bangun penimbangan dan rentang
yang bisa dijelaskan, lalu jaga; setiap pengecualian hari ini adalah preseden
yang akan menagih besok, dan cerita pembuka bab adalah tagihannya. Kedua, ukur
sebelum menautkan: jangan pernah menyambungkan uang ke ukuran yang belum lulus
ujian bab sepuluh dan sembilan belas, karena uang memperbesar segala cacat
ukuran yang disentuhnya. Ketiga, dengarkan efek sampingnya: sistem insentif
selalu menghasilkan perilaku yang tidak diniatkan, dan satu-satunya pertanyaan
adalah apakah organisasi mengetahuinya lebih dulu dari kerusakannya; tinjauan
berkala atas "apa yang dilakukan orang untuk mengejar angka ini"
harus menjadi bagian resmi dari tata kelola imbalan.
Dan satu batas
dari premis pertama: imbalan adalah bentuk penghargaan, bukan alat kendali
perilaku semata. Sistem yang memperlakukan manusia seperti mesin berkoin
(masukkan insentif, keluarlah perilaku) akan mendapatkan manusia yang
memperlakukan pekerjaan dengan logika yang sama: sebatas koinnya.
Kelebihan dan Keterbatasan
Pendekatan
rekayasa memberi kompensasi apa yang paling dibutuhkannya: konsistensi yang
bisa diperiksa dan keputusan yang bisa dijelaskan. Keterbatasannya tiga.
Pertama, seluruh bangunan berdiri di atas dokumen jabatan dan ukuran kinerja;
bila fondasi itu fiksi (bab tiga belas) atau bias (bab sembilan belas),
strukturnya mewarisi cacatnya dengan kerapian yang menipu. Kedua, pasar tidak
menunggu struktur: tekanan bajakan pada keahlian langka akan terus menguji
rentang, dan jawaban yang jujur kadang memang membuat pengecualian yang
terkelola (golongan pasar khusus yang dinyatakan terbuka) daripada pengecualian
diam-diam yang membusuk. Ketiga, tidak ada sistem imbalan yang dirasakan adil
oleh semua orang sepanjang waktu; yang bisa dicapai adalah adil secara prosedur,
yaitu aturan yang jelas, diterapkan konsisten, dan bisa digugat melalui jalur
yang berfungsi, dan penelitian keadilan organisasi menunjukkan bahwa prosedur
yang adil menyelamatkan banyak hal bahkan ketika hasilnya mengecewakan.
Panduan Praktik: Job Evaluation Worksheet dan Salary
Structure Worksheet
Tahap satu,
penimbangan jabatan. (1) Bentuk panel lima sampai tujuh orang lintas fungsi
yang mengenal pekerjaan-pekerjaannya, sertakan wakil dari luar manajemen bila
iklimnya memungkinkan. (2) Sepakati empat sampai enam faktor beserta jenjang
dan bobotnya; tuliskan definisi setiap jenjang dengan contoh, karena kata sifat
tanpa contoh akan ditafsirkan sebanyak anggota panelnya. (3) Nilai dulu delapan
sampai dua belas jabatan patokan yang dikenal semua orang, faktor demi faktor,
dengan dokumen jabatan di atas meja; selisih penilaian dibahas sampai panel
kalibrasi, persis logika bab lima belas. (4) Baru nilai jabatan-jabatan lain
dengan patokan sebagai jangkar. (5) Periksa hasil akhirnya terhadap akal sehat
organisasi dan terhadap satu pertanyaan yang tidak boleh dilewati: adakah pola
peringkat yang sistematis merugikan kelompok tertentu tanpa alasan tuntutan
kerja yang nyata.
Tahap dua,
struktur gaji. (1) Kelompokkan hasil poin menjadi golongan pada patahan yang
alami. (2) Ambil data pasar untuk jabatan patokan dari survei yang kredibel,
dan putuskan posisi kebijakan per keluarga jabatan: mengikuti tengah pasar,
atau di atasnya untuk kelompok yang diperebutkan. (3) Tetapkan titik tengah per
golongan, rentang (untuk banyak konteks industri, sekitar dua puluh sampai
empat puluh persen lebar totalnya adalah titik mulai yang wajar untuk jabatan
operasional, lebih lebar untuk profesional; sesuaikan dengan kenyataan Anda),
dan selisih antargolongan yang membuat promosi berarti. (4) Petakan semua orang
ke struktur baru dan hadapi temuannya dengan rencana yang manusiawi: yang di
bawah rentang dinaikkan bertahap dengan jadwal yang dijanjikan dan ditepati;
yang di atas rentang tidak dipotong, tetapi pertumbuhannya dibekukan atau
dialihkan ke bentuk lain sampai struktur menyusulnya, dengan penjelasan yang
jujur. (5) Tuliskan aturan mainnya (kenaikan, promosi, pengecualian dan siapa
yang berhak menyetujuinya) dan tinjau struktur terhadap pasar serta anomali
setiap tahun. Struktur yang tidak dirawat akan kembali menjadi tambal sulam
dalam tiga tahun, hanya kali ini dengan dokumen yang lebih tebal.
Ringkasan Bab
Kompensasi
adalah sistem pesan yang dibandingkan, dan karena itu harus direkayasa, bukan
ditambal: fungsi ditetapkan sebelum instrumen, pekerjaan ditimbang dengan
metode yang terbuka, struktur dibangun dengan rentang dan aturan main yang bisa
dijelaskan, dan tautan bayaran-kinerja dipasang hanya di atas ukuran, kendali,
dan satuan yang sehat, dengan mata yang terus terbuka pada efek sampingnya.
Tiga tuntutan (adil di dalam, bersaing di luar, terjangkau) tidak pernah
selesai tarik-menariknya; kematangan bukan memenangkan salah satu, melainkan
memutuskan dengan sadar dan mengatakannya dengan jujur. Dan di atas semua
teknik itu berdiri satu kenyataan dari kantin pada pembuka bab: yang paling
mahal dari sistem imbalan yang rusak tidak pernah muncul di anggaran.
Pertanyaan Reflektif
1. Pengecualian
gaji apa di organisasi Anda yang sampai hari ini menjadi utang cerita? Siapa
yang membayar bunganya, dan dalam bentuk apa? 2. Insentif mana di tempat Anda
yang paling patuh kepada ukurannya dan paling jauh dari maksudnya? Apa yang
dikorbankan orang untuk mengejar angkanya? 3. Jika struktur gaji Anda dibuka
besok kepada seluruh karyawan, bagian mana yang paling sulit dijelaskan? Itulah
daftar kerja Anda.
Bacaan Lanjutan
Milkovich,
Newman, dan Gerhart (2014), Compensation,
adalah buku teks rujukan untuk seluruh teknik bab ini. Gerhart dan Rynes (2003)
menimbang bukti-bukti besar tentang bayaran dengan kepala dingin. Bacalah Kohn
(1993) dan Jenkins dkk. (1998) berpasangan sebagai dua sisi perdebatan
insentif, lalu Deci, Koestner, dan Ryan (1999) untuk memahami kapan imbalan
menggerus dorongan dari dalam. Adams (1965) tetap penjelasan paling awet
tentang mengapa slip gaji yang bocor mengubah begitu banyak hal.
BAB 21
Pengembangan Karier dan Talent
Management
Organisasi yang tidak merancang alur kariernya sedang
menjalankan undian promosi.
Pengantar dan Konteks: Penjual Terbaik yang Menjadi Manajer
Terburuk
Ceritanya begitu
umum sehingga setengah pembaca buku ini pernah menyaksikannya dari dekat.
Penjual terbaik di perusahaan, tahun demi tahun memuncaki angka, akhirnya
dipromosikan menjadi manajer penjualan. Itu terasa adil, dan memang menurut
satu ukuran keadilan ia pantas. Enam bulan kemudian semua orang menanggung
akibatnya: timnya kehilangan penjual terbaiknya dan mendapatkan manajer yang
tidak sabar kepada orang yang tidak secepat dirinya, yang mengambil alih klien
sulit alih-alih mengajari anak buahnya, dan yang mulai membenci pekerjaannya
sendiri.
Yang lama hanya
menjadi kelakar (orang menyebutnya prinsip Peter: setiap orang naik sampai
tingkat ketidakmampuannya) kini punya bukti empiris yang keras. Penelitian atas
data ratusan perusahaan menemukan pola yang persis seperti kelakar itu:
organisasi cenderung mempromosikan berdasarkan kinerja di jabatan sekarang,
padahal kinerja penjual hanya lemah meramalkan kecakapan memimpin penjual, dan
perusahaan terbukti membayar promosi semacam itu dengan dua kerugian sekaligus,
yaitu manajer yang lebih buruk dan hilangnya produsen terbaik dari pekerjaan
yang paling dikuasainya (Benson, Li, & Shue, 2019). Perhatikan bentuk
kesalahannya: ia bukan kesalahan orang per orang, melainkan kesalahan desain
aturan. Aturan "yang terbaik hari ini naik" adalah sistem, dan sistem
itu menghasilkan kerusakannya dengan patuh, siapa pun orangnya.
Bab ini membahas
cara merancang aturan main yang lebih baik: bagaimana orang mengalir melalui
jabatan-jabatan sepanjang tahun-tahun kariernya, bagaimana organisasi
memutuskan siapa disiapkan untuk apa, dan bagaimana risiko kosongnya posisi
kunci dikelola sebelum menjadi darurat.
Landasan Teori dan Penelitian
Karier sebagai aliran
dalam sistem
Dengan kacamata
buku ini, karier adalah aliran: orang masuk (bab empat belas dan lima belas),
bergerak naik dan menyamping melalui struktur (bab tiga belas), dan keluar (bab
dua puluh dua). Cara pandang aliran langsung menyingkap beberapa hal yang tak
terlihat oleh cara pandang kasus per kasus. Setiap jalur punya kapasitas: jika
struktur menyempit ke atas, tidak semua orang baik bisa naik, dan organisasi
yang menjanjikan sebaliknya sedang menabung kekecewaan. Setiap gerakan punya
efek berantai: satu promosi membuka satu lubang, yang menuntut pengisian, yang
membuka lubang berikutnya; perencanaan yang hanya melihat satu kursi selalu
terkejut oleh rantainya. Dan aliran yang macet berperilaku seperti semua
antrean: orang-orang yang lama tertahan di bawah sumbatan akan mencari jalan
keluar, dan yang paling mudah keluar justru yang paling laku di pasar.
Manajemen talenta strategis, dalam rumusan yang paling banyak dikutip, adalah
mengelola aliran ini secara berbeda menurut daya ungkitnya: mengenali
posisi-posisi yang paling menentukan hasil organisasi, lalu memastikan pasokan
orang untuk posisi itu tidak pernah bergantung pada keberuntungan (Collings
& Mellahi, 2009); logika yang sama dengan posisi kritis pada bab dua belas.
Talent review dan 9-box:
kegunaan dan kritiknya
Alat yang paling
luas dipakai untuk memotret pasokan itu adalah tinjauan talenta dengan kisi
sembilan kotak: setiap orang ditempatkan pada dua sumbu, kinerja saat ini dan
potensi ke depan. Kegunaannya yang sesungguhnya sering disalahpahami. Nilai
9-box bukan pada kotak-kotaknya melainkan pada percakapannya: ia memaksa para
pemimpin duduk bersama, membandingkan orang lintas unit dengan bahasa yang
sama, dan menyingkap selisih penilaian yang selama ini tersembunyi. Kritiknya
pun harus didengar sepenuhnya. Sumbu "potensi" adalah ramalan yang
jarang didefinisikan (potensi untuk apa?) dan rawan diisi oleh kesamaan dengan
penilainya, kefasihan bicara, dan keterlihatan; sumbu kinerja mewarisi seluruh
persoalan bab sembilan belas, termasuk suara sistem dan efek penilai; dan label
kotak yang bocor bisa menjadi ramalan yang memenuhi dirinya sendiri, ke dua
arah. Disiplin pemakaiannya karena itu tegas: definisikan potensi sebagai
perilaku yang bisa diamati (belajar cepat dari pengalaman baru, misalnya, adalah
definisi yang lebih jujur daripada "berbakat"), wajibkan bukti untuk
setiap penempatan, kalibrasi antarpenilai sebagaimana bab lima belas,
perlakukan hasilnya sebagai hipotesis yang ditinjau ulang, dan putuskan sejak
awal apa yang dikatakan kepada orangnya, karena kerahasiaan penuh dan
keterbukaan penuh sama-sama punya harga.
Succession planning:
mengelola risiko kesinambungan
Perencanaan
suksesi adalah manajemen risiko, dan paling sehat diperlakukan persis seperti
itu, bukan seperti penobatan. Objeknya posisi, bukan orang: untuk setiap posisi
kunci (kunci karena dampaknya, kelangkaan keahliannya, atau lamanya pemahiran,
bab dua belas), organisasi memelihara jawaban yang diperbarui atas tiga
pertanyaan: siapa yang siap sekarang, siapa yang siap satu sampai tiga tahun
lagi dengan pengembangan apa, dan apa rencana daruratnya jika posisi kosong
besok pagi (Rothwell, 2010). Dua kegagalan khasnya berlawanan arah. Yang
pertama, suksesi sebagai dokumen: daftar nama yang diperbarui setahun sekali
untuk rapat, tanpa satu pun penugasan pengembangan yang sungguh terjadi; ketika
posisi benar-benar kosong, daftar itu ternyata berisi orang yang belum pernah
disiapkan. Yang kedua, suksesi sebagai putra mahkota: satu nama dikunci
diam-diam bertahun-tahun, menutup pintu bagi yang lain dan membuat organisasi
buta terhadap perubahan kebutuhan posisi itu sendiri. Suksesi yang sehat
memelihara beberapa kandidat per posisi, mengembangkan mereka lewat penugasan
nyata, dan menerima bahwa sebagian yang disiapkan akan pergi; itu biaya
asuransi, bukan kegagalan program.
Jalur ganda dan mobilitas
internal
Dua keputusan
desain melengkapi arsitektur karier. Pertama, jalur ganda: cerita pembuka bab
terjadi sebagian karena organisasi hanya menyediakan satu tangga, yaitu tangga
manajerial, sehingga satu-satunya cara menghargai keahlian adalah menjauhkan
orang dari keahliannya. Jalur spesialis yang setara (dalam golongan,
penghasilan, dan kehormatan, bukan hanya dalam nama) memberi organisasi cara
menaikkan ahli tanpa mengubahnya menjadi administrator, dan memberi orang
pilihan yang jujur; syaratnya satu dan sulit: kesetaraan itu harus nyata,
karena jalur spesialis yang menjadi tempat parkir bagi yang "tidak cocok
memimpin" akan terbaca demikian oleh semua orang dalam hitungan bulan.
Kedua, mobilitas internal: lowongan yang terbuka ke dalam sebelum ke luar, hak
pindah yang tidak disandera atasan (atasan yang bisa memveto kepindahan anak
buah terbaiknya akan selalu memvetonya, dan orang itu akhirnya pindah juga, ke
perusahaan lain), dan gerakan menyamping yang dihargai sebagai pertumbuhan.
Penelitian tentang kepindahan bintang antarperusahaan memberi alasan tambahan
untuk menumbuhkan dari dalam: kinerja unggul ternyata tidak sepenuhnya
portabel, karena sebagiannya melekat pada sistem, jaringan, dan konteks tempat
ia tumbuh (Groysberg, 2010); membeli bintang sering berarti membeli masa
lalunya.
Perspektif IE-HRM: Merancang Alur, bukan Mengundi Promosi
Kacamata
kerangka ini merangkum bab ini dalam satu pembalikan: perlakukan karier sebagai
sistem alur yang dirancang, bukan sebagai rangkaian keputusan kasus per kasus.
Aturan promosi adalah desain (dan aturan "terbaik hari ini naik"
adalah desain yang buruk dengan bukti empirisnya sendiri); kriteria naik ke
jabatan pimpinan harus diturunkan dari tuntutan jabatan tujuannya (bab tiga
belas dan lima belas: contoh kerja memimpin, bukan piala dari pekerjaan
sebelumnya); pasokan posisi kritis dikelola seperti pipeline dengan lead time
(bab dua belas dan enam belas); dan seluruh alat bab ini (9-box, suksesi, jalur
ganda) dinilai dari satu ukuran yang jujur: berapa persen posisi kunci yang
terisi dari dalam, tepat waktu, oleh orang yang terbukti sanggup, dan berapa
banyak orang baik yang pergi karena alurnya buntu.
Premis pertama
menjaga batasnya. Manusia dalam tinjauan talenta bukan bidak yang dipetakan; ia
pemilik kariernya sendiri, dengan kehendak, keluarga, dan rencana yang tidak
tunduk pada kisi sembilan kotak. Perencanaan yang matang menyisakan tempat
resmi bagi aspirasi orangnya (percakapan karier dua arah, bukan hanya penilaian
satu arah), dan menerima jawabannya, termasuk jawaban yang tidak sesuai kotak:
ahli terbaik yang tidak ingin memimpin bukanlah masalah yang harus dipecahkan;
ia justru alasan jalur ganda ada.
Kelebihan dan Keterbatasan
Arsitektur
karier yang dirancang memberi organisasi pasokan yang tidak bergantung nasib
dan memberi orang peta yang jujur; keduanya langka dan keduanya menahan orang
lebih kuat daripada banyak program retensi. Keterbatasannya tiga. Pertama,
seluruh alat bab ini bekerja di atas penilaian manusia tentang manusia, dengan
semua bias yang telah kita pelajari; disiplin kalibrasi dan bukti mengurangi,
tidak menghapusnya. Kedua, perencanaan karier organisasi selalu berpacu dengan
perubahan: posisi yang disiapkan lima tahun mungkin berubah isi atau lenyap;
jawabannya bukan berhenti merencanakan melainkan merencanakan kemampuan yang
lebih lentur, bukan hanya kursi. Ketiga, di organisasi yang kepercayaannya
rendah, seluruh perangkat ini mudah dibaca (dan mudah benar-benar menjadi)
politik dengan formulir; urutan perbaikannya tidak bisa dibalik: keadilan
proses dulu, baru arsitektur.
Panduan Praktik: Talent Review (9-Box) dan Succession
Planning Template
Tahap satu,
tinjauan talenta. (1) Tetapkan definisi tertulis kedua sumbu: kinerja dari data
dua periode (bukan kesan satu musim), potensi sebagai dua atau tiga perilaku
teramati yang disepakati (misalnya kecepatan menguasai penugasan baru, dan efek
orang itu pada kinerja orang di sekitarnya). (2) Setiap pemimpin menempatkan
anak buahnya disertai bukti, secara independen, sebelum rapat. (3) Rapat
kalibrasi lintas unit membahas selisih dan kasus batas; HR menjaga proses dan
mencatat keputusan pengembangan, bukan hanya posisi kotak. (4) Setiap orang
yang dibahas keluar dari rapat dengan satu hal konkret: penugasan,
pendampingan, atau percakapan karier yang dijadwalkan; rapat yang hanya
menghasilkan peta bukan tinjauan talenta melainkan pemetaan gosip yang rapi.
Tahap dua,
suksesi. (1) Tetapkan daftar posisi kunci dengan kriteria dampak, kelangkaan,
dan lead time; belasan posisi yang dikelola sungguh-sungguh mengalahkan ratusan
yang dikelola di atas kertas. (2) Untuk setiap posisi, isi tiga baris: siap
sekarang (nama, bukti kesiapan), siap 1 sampai 3 tahun (nama, kesenjangan,
rencana penugasan yang bertanggal), dan rencana darurat (siapa memegang
sementara, apa yang boleh menunggu). (3) Wajibkan setiap rencana pengembangan
berupa pengalaman nyata (memimpin proyek lintas fungsi, penugasan di unit lain,
menggantikan selama cuti panjang), karena kepemimpinan dipelajari dari
penugasan yang menantang jauh lebih banyak daripada dari kelas (McCall,
Lombardo, & Morrison, 1988). (4) Tinjau dua kali setahun dengan dua pertanyaan
kejam: penugasan mana yang benar-benar terjadi sejak tinjauan lalu, dan posisi
kunci mana yang jika kosong besok masih membuat kita panik. Jawaban kedua
adalah daftar kerja Anda yang sesungguhnya.
Ringkasan Bab
Karier adalah
aliran dalam sistem, dan aturan alirannya adalah desain: aturan promosi yang
mempromosikan kinerja hari ini tanpa menguji tuntutan jabatan besok terbukti
menghasilkan manajer yang lebih buruk sambil kehilangan ahli terbaik.
Alat-alatnya (tinjauan talenta yang terkalibrasi dan berbukti, suksesi sebagai
manajemen risiko dengan penugasan nyata, jalur ganda yang setara sungguhan,
mobilitas internal yang tidak disandera) bekerja bila dijalankan sebagai sistem
yang adil prosesnya, dan membusuk menjadi politik berformulir bila tidak. Ukur
keberhasilannya pada aliran, bukan pada dokumen: posisi kunci yang terisi dari
dalam tepat waktu, dan orang baik yang tidak lagi harus keluar untuk tumbuh.
Pertanyaan Reflektif
1. Promosi
terakhir di unit Anda: apa yang sesungguhnya diuji, kinerja di jabatan lama
atau tuntutan jabatan baru? Dan siapa yang kehilangan apa karena promosi itu?
2. Jika tiga posisi paling kritis di organisasi Anda kosong besok pagi, mana
yang membuat panik? Kapan terakhir rencana daruratnya disentuh? 3. Ahli terbaik
Anda yang tidak ingin menjadi manajer: jalur apa yang organisasi sediakan
baginya untuk tetap tumbuh, dan apakah jalur itu setara sungguhan atau hanya
dalam nama?
Bacaan Lanjutan
Benson, Li, dan
Shue (2019) memberi bukti empiris pada kelakar tertua tentang promosi; bacaan
wajib sebelum rapat promosi berikutnya. Collings dan Mellahi (2009) merumuskan
manajemen talenta strategis dengan disiplin posisi kritisnya. Rothwell (2010), Effective Succession Planning, adalah
panduan kerja yang paling lengkap. Groysberg (2010), Chasing Stars, membongkar mitos portabilitas bintang dan memberi
alasan terbaik untuk menumbuhkan dari dalam. McCall, Lombardo, dan Morrison
(1988), The Lessons of Experience,
tetap sumber paling jernih tentang dari mana kemampuan memimpin sesungguhnya
datang.
BAB 22
Retensi, Turnover, dan Separasi
Pengantar dan Konteks: Alasan Keluarga
Selama tiga
tahun, rekap wawancara keluar di sebuah perusahaan menunjukkan hal yang
menenteramkan: hampir semua yang mengundurkan diri menyebut alasan keluarga
atau alasan pribadi. Kesimpulan yang dilaporkan ke pimpinan pun menenteramkan:
tidak ada masalah sistemik; orang pergi karena kehidupan. Lalu seorang staf HR
yang baru iseng melakukan sesuatu yang tidak ada dalam prosedur: ia menghubungi
beberapa mantan karyawan yang sudah setengah tahun lebih di tempat baru,
sekadar bertanya kabar. Dari obrolan santai itu keluarlah cerita yang tidak
pernah singgah di formulir: atasan yang membuat orang mengunci diri di kamar
mandi untuk menangis, lembur yang tidak tercatat, dan kenaikan yang dijanjikan
dua tahun berturut-turut tanpa pernah datang. Alasan keluarga itu benar juga,
dengan caranya sendiri: keluargalah yang akhirnya berkata, sudah, cari tempat
lain.
Kejadian itu
mengajarkan dua hal sekaligus. Pertama, orang yang sedang membutuhkan surat
referensi dan tidak ingin membakar jembatan adalah sumber data yang paling
tidak bebas di seluruh organisasi; wawancara keluar yang dibaca mentah-mentah
bukan umpan balik melainkan basa-basi yang diarsipkan. Kedua, dan lebih
penting: pintu keluar adalah bagian dari sistem, bukan kejadian di luar sistem.
Siapa yang pergi, kapan, dari unit mana, sesudah peristiwa apa; semuanya adalah
keluaran yang dihasilkan desain, dan bab ini membacanya sebagaimana kerangka
buku ini membaca semua keluaran: sebagai data tentang sistem, bukan sekadar
keputusan orang per orang.
Landasan Teori dan Penelitian
Turnover sebagai sinyal:
fungsional dan disfungsional
Kesalahan
pertama yang harus dibuang adalah memperlakukan turnover sebagai satu angka
yang makin rendah makin baik. Turnover ada yang fungsional (yang pergi
berkinerja rendah dan mudah digantikan; organisasi justru sehat karenanya) dan
disfungsional (yang pergi berkinerja tinggi, memegang keahlian langka, atau
mahal digantikan), dan angka gabungan menyembunyikan perbedaannya (Dalton,
Todor, & Krackhardt, 1982). Perusahaan yang merayakan turnover lima persen
bisa sedang berdarah: lima persen itu mungkin justru orang-orang terbaiknya,
sementara yang bertahan adalah yang tidak laku di pasar. Maka pertanyaan
pertama analisis turnover bukan "berapa" melainkan "siapa":
sandingkan data keluar dengan data kinerja, kelangkaan keahlian, dan biaya
penggantian (yang untuk banyak posisi setara berbulan-bulan gaji begitu
dihitung jujur: rekrutmen, kekosongan, kurva belajar bab enam belas, dan beban
yang dipikul rekan yang ditinggal). Turnover nol pun bukan cita-cita;
organisasi tanpa aliran keluar-masuk kehilangan penyegaran dan menua
bersama-sama. Yang dicari adalah turnover yang tepat: rendah pada yang ingin
dipertahankan, dan tidak ditahan-tahan pada yang memang saatnya berpisah.
Menganalisis turnover:
dari angka menuju akar
Sesudah
"siapa", pertanyaan berikutnya "kapan dan di mana". Waktu
bertahan menyimpan informasi yang hilang dalam angka tahunan: keluar pada
bulan-bulan pertama menunjuk ke rekrutmen yang menjual gambar palsu atau
onboarding yang gagal (bab empat belas dan enam belas); keluar di sekitar tahun
kedua-ketiga sering menunjuk ke jalur tumbuh yang buntu (bab dua puluh satu);
gelombang keluar sesudah peristiwa tertentu (pergantian atasan, perubahan
kebijakan, musim bonus dibayar) menunjuk dirinya sendiri. Pecah pula menurut
unit, atasan, shift, dan pekerjaan; peta panasnya hampir selalu mengejutkan,
dan hampir selalu menunjuk ke sedikit titik yang menyumbang sebagian besar
masalah. Lalu disiplin bab sepuluh mengawal pembacaannya: bedakan sinyal dari
kebisingan sebelum menghukum unit yang bulan ini kebetulan tinggi, dan uji
dugaan akar dengan data, bukan dengan anekdot yang paling keras diceritakan.
Seabad
penelitian turnover merangkum pendorongnya ke dalam beberapa keluarga yang kini
mapan: ketidakpuasan pada pekerjaan dan lingkungannya, tersedianya alternatif
di luar, guncangan (shock), yaitu
peristiwa yang memicu pemikiran untuk pergi (dilewati promosi, konflik, tawaran
yang datang sendiri, bahkan kepergian teman dekat), dan tarikan komunitas serta
keluarga (Griffeth, Hom, & Gaertner, 2000; Hom, Lee, Shaw, &
Hausknecht, 2017). Pelajaran praktisnya: orang tidak selalu pergi karena tidak
puas; banyak yang cukup puas tetapi pergi karena guncangan bertemu tawaran, dan
banyak yang tidak puas tetapi bertahan karena tertambat. Retensi karena itu
bukan sekadar menaikkan kepuasan.
Retensi: apa yang membuat
orang bertahan
Teori
ketertambatan (job embeddedness)
menjelaskan sisi bertahannya dengan tiga untai: kecocokan (orang merasa pas
dengan pekerjaan dan tempatnya), jalinan (hubungan-hubungan yang
menghubungkannya dengan orang dan kegiatan, di dalam dan di luar pekerjaan),
dan pengorbanan (apa yang hilang jika pergi: bukan hanya uang, tetapi tim yang
menyenangkan, keahlian yang diakui, sekolah anak, rumah yang dekat) (Mitchell,
Lee, Sablynski, Burton, & Erez, 2001). Untai-untai itu sebagian besar bisa
dirancang, dan buku ini telah merancangnya bab demi bab tanpa menyebut kata
retensi: pekerjaan yang layak dijalani (bab tujuh), beban yang jujur (bab tujuh
dan delapan), atasan yang percakapannya sehat (bab sembilan belas), gaji yang
adil dan bisa dijelaskan (bab dua puluh), dan jalur tumbuh yang tidak buntu (bab
dua puluh satu). Ada pula untai yang lebih halus: kontrak psikologis, yaitu
janji-janji tak tertulis yang diyakini kedua pihak; pelanggarannya (kenaikan
yang dijanjikan dan tidak datang, seperti dalam cerita pembuka) merusak jauh
melampaui nilai nominalnya, karena yang dilanggar bukan angka melainkan
kepercayaan (Rousseau, 1995). Program retensi yang datang belakangan (bonus
tinggal, wawancara tinggal) berguna sebagai pelengkap; yang menahan orang
sesungguhnya adalah sistem sehari-harinya. Dan counter-offer di detik terakhir
adalah pengakuan paling mahal bahwa sistem itu tidak diurus: ia menyelamatkan
satu orang untuk sementara sambil mengajari semua orang bahwa cara mendapat
kenaikan adalah membawa surat penawaran.
Separasi yang dirancang
Tidak semua
perpisahan harus dicegah; semua perpisahan harus dirancang. Pensiun yang
terlihat bertahun-tahun sebelumnya semestinya menjadi perpisahan yang paling
tertib, dengan alih pengetahuan yang dijadwalkan, dan di banyak organisasi
justru menjadi yang paling disia-siakan. Pengunduran diri baik-baik layak
diperlakukan baik-baik sampai hari terakhir, karena alumni adalah corong
reputasi (bab empat belas) dan kadang pelanggan, mitra, bahkan karyawan yang
kembali. Dan pemutusan hubungan kerja, bentuk perpisahan yang paling berat,
menuntut tiga hal sekaligus: kepatuhan penuh pada hukum ketenagakerjaan yang
berlaku (dengan kehati-hatian ekstra pada masa peralihan regulasi; periksa
ketentuan terkini sebelum setiap keputusan), proses yang adil dan berjejak (peringatan
yang nyata, kesempatan memperbaiki, alasan yang jujur), dan kemanusiaan dalam
pelaksanaannya, karena cara organisasi memperlakukan orang di hari terburuknya
disaksikan oleh semua orang yang tinggal, dan merekalah yang menyimpulkan
tempat macam apa ini.
Offboarding, pengetahuan,
dan exit interview
Dua pekerjaan
terakhir sering terlupa. Pertama, penahanan pengetahuan: sebagian keahlian
orang yang pergi tidak ada di dokumen mana pun (kontak, sejarah keputusan, cara
menangani kasus-kasus aneh); pemetaannya harus mulai begitu kepergian
diketahui, dengan pendampingan pengganti bila mungkin, dan lebih baik lagi bila
tidak menunggu ada yang pergi (standar hidup bab enam adalah asuransinya).
Kedua, wawancara keluar, yang kini bisa kita desain ulang dari pelajaran
pembuka bab: lakukan oleh pihak yang bukan atasan langsung, jamin dan tepati
kerahasiaan agregat, tanyakan hal yang spesifik dan bisa ditindak (bukan
"mengapa Anda keluar" melainkan "apa yang hampir membuat Anda
bertahan", "kapan Anda pertama kali berpikir untuk pergi, dan apa
pemicunya"), dan lengkapi dengan dua sumber yang lebih jujur: wawancara
tinggal (stay interview) kepada yang
masih ada, justru sebelum mereka berpikir pergi, dan sapaan alumni beberapa
bulan kemudian, ketika surat referensi sudah tidak dipertaruhkan.
Perspektif IE-HRM: Pintu Keluar adalah Bagian dari Desain
Kacamata
kerangka ini menyatukan bab ini dalam satu kalimat: turnover adalah keluaran
sistem yang paling jujur, justru karena ia diputuskan oleh pihak yang tidak
bisa diperintah. Survei bisa diisi sopan, rapat bisa diam, tetapi kaki yang
melangkah keluar adalah data yang tidak berbohong; tugas kita hanyalah
membacanya dengan benar, dan membaca dengan benar berarti menahan dua godaan:
godaan menyalahkan orangnya ("generasi sekarang tidak tahan banting",
kalimat yang telah kita bongkar sejak bab lima) dan godaan menenteramkan diri
dengan formulir yang sopan. Setiap kepergian yang disesalkan adalah laporan
investigasi kecil tentang desain: pekerjaannya, bebannya, atasannya, gajinya,
atau jalurnya. Organisasi yang membaca laporan-laporan itu memperbaiki sistemnya;
yang tidak, akan terus merekrut untuk mengganti, dan bertemu laporan yang sama
tahun depan dengan nama yang berbeda.
Kelebihan dan Keterbatasan
Pendekatan
sistem atas turnover mengubah angka yang selama ini hanya dilaporkan menjadi
diagnosis yang bisa ditindak, dan memindahkan energi dari program retensi
tempelan ke perbaikan yang sesungguhnya menahan orang. Keterbatasannya tiga.
Pertama, sebagian kepergian memang di luar jangkauan desain (pasangan pindah
kota, panggilan hidup yang berubah), dan analisis yang memaksa semua kepergian
punya akar organisasi akan mengarang-ngarang. Kedua, data kepergian datang
terlambat menurut sifatnya; pelengkapnya adalah sinyal hulu (wawancara tinggal,
tren lembur dan absensi bab sembilan, keluhan yang naik) yang harus dipantau
sebelum kaki melangkah. Ketiga, ada batas etika pada retensi: menahan orang
dengan menaikkan pengorbanan keluarnya (ikatan yang mencekik, informasi yang
disembunyikan) adalah memenjarakan, bukan menambatkan; kerangka ini menahan
orang dengan membuat bertahan menjadi pilihan yang baik, dan menghormati
pilihan sebaliknya.
Panduan Praktik: Turnover Diagnostic Worksheet dan Exit
Interview Guide
Tahap satu,
diagnosis. (1) Tarik data keluar dua sampai tiga tahun dan beri setiap
kepergian empat label: sukarela atau tidak; disesalkan atau tidak (dari kinerja
dan kelangkaan); masa kerja saat keluar; dan unit, atasan, serta pekerjaan. (2)
Buat tiga potret: turnover disesalkan menurut unit dan atasan, kurva waktu
bertahan (di bulan ke berapa orang paling banyak jatuh), dan garis waktu
kepergian terhadap peristiwa (pergantian pimpinan, kebijakan, musim bonus). (3)
Untuk dua atau tiga titik terpanas, jalankan analisis akar ala bab sebelas (A3
kecil), dengan data pembanding dari titik yang dingin: apa yang berbeda di unit
yang orangnya bertahan. (4) Hitung biaya turnover disesalkan setahun dengan
jujur (kekosongan, penggantian, pemahiran, lembur penutup lubang); angka ini
yang akan membuat perbaikan sistemik menang melawan program tempelan di rapat
anggaran.
Tahap dua,
panduan wawancara keluar (dan kembarannya). Pewawancara: HR atau pihak netral,
bukan atasan langsung; janji kerahasiaan agregat yang ditepati. Pertanyaan
inti: kapan pertama kali terpikir untuk pergi, dan apa pemicunya; apa yang
hampir membuat bertahan; hal apa yang jika berubah enam bulan lalu akan
mengubah keputusan ini; apa yang sebaiknya diketahui penerus Anda; dan bolehkah
kami menyapa Anda beberapa bulan lagi. Lalu kembarannya yang lebih penting:
wawancara tinggal dua pertanyaan kepada orang-orang yang ingin Anda
pertahankan, dilakukan atasannya sendiri dua kali setahun: apa yang membuat
Anda bertahan, dan apa yang bisa membuat Anda pergi. Terakhir, tutup
lingkarnya: rekap tematik triwulanan ke pimpinan, dengan satu aturan yang
membuat seluruh sistem ini hidup atau mati: setiap tema yang muncul tiga kali
harus dijawab dengan tindakan atau dengan penjelasan mengapa tidak; umpan balik
yang tidak pernah ditindak akan berhenti datang, dan organisasi akan kembali
mendengar "alasan keluarga".
Ringkasan Bab
Turnover bukan
satu angka melainkan sinyal yang harus dipecah: siapa yang pergi (fungsional
atau disesalkan), kapan dan dari mana, dipicu apa. Orang bertahan karena
tertambat (cocok, terjalin, dan banyak yang hilang jika pergi) lebih daripada
karena program retensi, dan hampir semua untai tambatan itu adalah bab-bab lain
buku ini yang dikerjakan dengan benar. Perpisahan sendiri adalah objek desain:
pensiun yang tertib, pengunduran diri yang dihormati, pemutusan yang patuh
hukum, adil, dan manusiawi, pengetahuan yang ditahan, dan pintu keluar yang
didengarkan dengan alat yang jujur. Dengan bab ini siklus hidup karyawan dalam
sistem tertutup lengkap; bab berikutnya, penutup bagian ketiga, naik ke relasi
yang menaungi seluruh siklus itu: hubungan industrial.
Pertanyaan Reflektif
1. Dari semua
yang keluar dari unit Anda tahun lalu, berapa yang sungguh disesalkan? Jika
jawabannya tidak diketahui, apa yang selama ini sebenarnya dilaporkan sebagai
"turnover"? 2. Kepergian mana dalam dua tahun terakhir yang merupakan
laporan investigasi paling jelas tentang desain organisasi Anda, dan apakah
laporannya pernah dibaca? 3. Kapan terakhir organisasi Anda mengubah sesuatu
karena wawancara keluar? Jika tidak pernah, siapa yang masih percaya formulir
itu, dan untuk apa ia terus diisi?
Bacaan Lanjutan
Hom, Lee, Shaw,
dan Hausknecht (2017) merangkum seratus tahun teori dan riset turnover dalam
satu artikel; peta terbaik untuk masuk. Mitchell dkk. (2001) memperkenalkan
ketertambatan dan mengubah pertanyaan dari mengapa orang pergi menjadi mengapa
orang tinggal. Griffeth, Hom, dan Gaertner (2000) adalah rangkuman
meta-analitik prediktor turnover yang tetap menjadi rujukan. Rousseau (1995), Psychological Contracts in Organizations,
menjelaskan mengapa janji yang dilanggar menghancurkan lebih banyak daripada
nilainya.
BAB 23
Hubungan Industrial sebagai Desain
Sistem Sosial
Konflik industrial jarang meledak tiba-tiba; ia menabung.
Pengantar dan Konteks: Aksi yang "Tiba-Tiba"
Pagi itu
manajemen terkejut: ratusan pekerja berkumpul di depan kantor, dan kata yang
paling sering terdengar di ruang rapat direksi adalah "tiba-tiba".
Tiba-tiba ada aksi. Pasti ada yang memprovokasi. Kemarin semuanya masih normal.
Sore harinya,
ketika daftar tuntutan dibaca pelan-pelan, tidak ada satu pun yang baru.
Keterlambatan pembayaran lembur itu sudah dikeluhkan lewat mandor sejak lama.
Soal air minum dan ruang istirahat pernah masuk kotak saran, dua kali.
Kegelisahan tentang status kontrak sudah menjadi obrolan warung berbulan-bulan.
Setiap keluhan itu pernah disampaikan melalui saluran yang tersedia, dan setiap
kali salurannya berujung sama: tidak ada jawaban. Yang disebut manajemen
"tiba-tiba" sesungguhnya adalah tabungan bertahun-tahun yang akhirnya
ditarik sekaligus; dan yang disebut "provokator" sering hanyalah
orang pertama yang berkata keras apa yang semua orang sudah bisikkan lama.
Hirschman (1970)
memberi kerangka yang menjelaskan mekanikanya: ketika orang kecewa terhadap
organisasi, pilihannya adalah keluar (exit)
atau bersuara (voice), dan kesetiaan
menentukan seberapa lama ia memilih bersuara sebelum menyerah. Bab dua puluh
dua membahas pintu keluar. Bab ini membahas suara, dan khususnya suara
kolektif: apa yang terjadi ketika salurannya dirancang baik, dan apa yang
terjadi ketika salurannya tersumbat. Bab ini sengaja diletakkan sebagai penutup
bagian ketiga, karena hubungan industrial menaungi seluruh siklus yang telah
kita bahas: rekrutmen sampai separasi semuanya berlangsung di dalam sebuah
relasi antara pihak-pihak yang saling membutuhkan tetapi tidak selalu
sekepentingan, dan mengelola relasi itu adalah pekerjaan desain, bukan sekadar
kepatuhan hukum.
Landasan Teori dan Penelitian
Bukan sekadar hukum:
pergeseran cara pandang
Di banyak
organisasi Indonesia, hubungan industrial identik dengan urusan hukum dan
penanganan masalah: perjanjian, peraturan perusahaan, dan perselisihan. Cara
pandang itu perlu tetapi tidak cukup, dan tradisi keilmuan bidang ini sudah
lama menawarkan yang lebih luas. Dunlop (1958) memandang hubungan industrial
sebagai sebuah sistem: para aktor (pekerja dan organisasinya, pengusaha dan
manajemennya, serta negara) berinteraksi dalam konteks tertentu dan
menghasilkan jaringan aturan, tertulis dan tidak tertulis, yang mengatur tempat
kerja. Membaca hubungan industrial sebagai sistem mengubah pertanyaannya: bukan
hanya "apakah kita patuh" melainkan "aturan main macam apa yang
sedang dihasilkan interaksi kita, dan apakah aturan itu menghasilkan tempat
kerja yang kita inginkan".
Budd (2004)
menambahkan kompas normatifnya: hubungan kerja yang sehat menyeimbangkan tiga
tujuan yang sama-sama sah, yaitu efisiensi (kepentingan organisasi untuk
berjalan produktif), keadilan (imbalan dan perlakuan yang layak), dan suara
(kesempatan pekerja ikut menentukan hal-hal yang menyangkut hidupnya).
Ketiganya tarik-menarik, dan kemiringan ekstrem ke salah satunya merusak:
efisiensi tanpa keadilan dan suara melahirkan perlawanan; keadilan dan suara
tanpa efisiensi menenggelamkan kapalnya sendiri. Kerangka tiga tujuan ini
sebangun dengan seluruh argumen buku ini, dan pembaca akan mengenali
premis-premis IE-HRM di dalamnya.
Aktor dan kepentingannya
Kejujuran
analisis menuntut satu pengakuan yang sering dihindari bahasa korporat:
kepentingan para pihak tidak selalu sejalan. Ada wilayah kepentingan bersama
yang luas (perusahaan yang sehat, pekerjaan yang aman, pertumbuhan) dan ada
wilayah tawar-menawar yang nyata (pembagian hasil, intensitas kerja, kepastian
status). Bahasa "kita semua satu keluarga" yang menolak mengakui
wilayah kedua tidak menghapusnya; ia hanya memaksa tawar-menawar berlangsung
diam-diam, dalam bentuk yang lebih mahal: kerja seadanya, kepatuhan semu, dan
tabungan kekecewaan seperti pada pembuka bab. Walton dan McKersie (1965)
membedakan dua jenis perundingan yang keduanya selalu hadir: distributif
(membagi kue yang tetap) dan integratif (memperbesar kue bersama), dan
keterampilan hubungan industrial yang sesungguhnya adalah mengenali mana yang
sedang dihadapi serta tidak memperlakukan semuanya sebagai perang memperebutkan
kue.
Serikat pekerja dan
perundingan kolektif
Terhadap serikat
pekerja, bukti penelitian lebih bernuansa daripada kedua karikaturnya. Freeman
dan Medoff (1984) menunjukkan dua wajah serikat: wajah monopoli (menaikkan
harga tenaga kerja) dan wajah suara kolektif, yang justru bisa menguntungkan
kedua pihak: saluran keluhan yang berfungsi menurunkan turnover (orang bersuara
alih-alih pergi), dan informasi dari lantai kerja yang tanpa saluran itu tidak
pernah naik. Wajah mana yang menonjol sangat ditentukan oleh mutu relasinya,
dan mutu relasi adalah sesuatu yang dibangun kedua pihak, bukan takdir.
Perundingan kolektif, dari kacamata desain, adalah kelembagaan: perjanjian
kerja bersama yang baik bukan sekadar daftar kompromi melainkan aturan main
yang memberi kepastian kepada dua pihak sekaligus, dan proses perundingannya
sendiri (jujur atau saling menjebak, berbasis data atau berbasis gertak)
mengajari kedua pihak bagaimana relasi ini akan dijalani tiga tahun ke depan.
Manajemen yang berharap serikat yang dewasa harus bertanya apa yang
dilakukannya untuk membuat kedewasaan itu masuk akal: serikat yang informasinya
selalu ditutup-tutupi dan usulannya selalu kalah sebelum dibaca akan belajar
bahwa satu-satunya bahasa yang didengar adalah tekanan.
Konflik sebagai gejala
desain, dan mekanisme penyalurannya
Cara pandang
sistem membaca konflik industrial sebagaimana bab sembilan membaca kecelakaan:
yang meledak adalah lubang terakhir dari rangkaian lubang yang lebih panjang.
Pertanyaannya karena itu bukan hanya "siapa yang memulai" melainkan
"saluran mana yang tersumbat, sejak kapan, dan mengapa sumbatannya tidak
pernah terlihat dari atas". Mekanisme dialognya sendiri sudah tersedia
dalam kelembagaan yang dikenal praktik Indonesia (forum bipartit di tingkat
perusahaan, perundingan, mediasi, hingga jalur penyelesaian perselisihan yang
diatur undang-undang), dan pengalaman menunjukkan bahwa nasib semua mekanisme
itu ditentukan oleh hal yang sama dengan nasib kotak saran pada bab sebelas:
kecepatan dan kejujuran tanggapannya. Forum yang bertemu rutin tetapi tidak
pernah mengubah apa pun adalah saluran yang secara resmi terbuka dan secara
fungsional tersumbat, dan pekerja mengetahui perbedaannya jauh lebih cepat
daripada manajemen.
Hubungan industrial dalam
transisi regulasi Indonesia
Bab ini ditulis
pada masa yang menuntut kehati-hatian khusus. Kerangka hukum ketenagakerjaan
Indonesia sedang berada dalam peralihan besar sesudah putusan Mahkamah
Konstitusi yang, di antara amar-amarnya, memerintahkan pembentukan
undang-undang ketenagakerjaan baru yang terpisah dan memberi tenggat bagi
pembentukannya, dengan sejumlah ketentuan yang dinyatakan harus dimaknai secara
baru sejak putusan dibacakan. Rincian pengaturannya (status hubungan kerja,
pengupahan, alih daya, penyelesaian perselisihan) karena itu dapat berubah
dalam usia buku ini, dan penulis sengaja tidak mengunci pasal-pasal di sini.
Yang perlu dipegang praktisi justru dua disiplin yang tidak lekang oleh
peralihan: pertama, selalu periksa ketentuan yang berlaku pada saat keputusan
diambil, dari sumber resmi, dan jangan mengelola dari ingatan; kedua, dan lebih
dalam: organisasi yang hubungan industrialnya hanya berdiri di atas pasal akan
goyah setiap pasalnya berubah, sementara yang berdiri di atas relasi yang sehat
(saluran yang berfungsi, kejujuran informasi, rekam jejak keadilan) akan
melewati peralihan regulasi mana pun dengan selamat, karena kepercayaan tidak
ikut direvisi ketika undang-undang direvisi.
Perspektif IE-HRM: Merancang Saluran sebelum Banjir
Seluruh kerangka
buku ini bermuara di bab ini dengan sederhana. Konflik industrial adalah
keluaran sistem; salurannya adalah desain; dan waktu merancang saluran adalah
sebelum banjir, bukan sesudahnya. Praktisnya, tiga pekerjaan desain. Pertama,
saluran suara yang berlapis dan berfungsi: dari atasan langsung yang
percakapannya sehat (bab sembilan belas), mekanisme keluhan yang tenggat
tanggapannya diukur seperti proses bab enam, forum bipartit yang agendanya
nyata, sampai relasi dengan serikat yang diperlakukan sebagai mitra
kelembagaan, bukan musuh yang ditunggu lengah. Kedua, kejujuran informasi
sebagai kebijakan: sebagian besar kecurigaan tumbuh di ruang gelap, dan
organisasi yang membagikan data yang bisa dibagikan (arah bisnis, dasar
kebijakan upah, alasan keputusan) sedang membeli sesuatu yang tidak bisa dibeli
saat krisis. Ketiga, indikator dini yang dipantau sebagaimana K3 memantau
nyaris-celaka: tren keluhan dan kecepatan tanggapannya, tema obrolan yang naik,
hasil forum yang menggantung; tabungan konflik terbaca lama sebelum ditarik,
oleh siapa pun yang sungguh membaca.
Dan satu
penegasan dari premis pertama: suara bukan sekadar katup pengaman untuk
melindungi efisiensi. Ikut bersuara atas hal-hal yang menyangkut hidupnya
adalah bagian dari martabat manusia bekerja; organisasi yang menyediakannya
karena menghormati manusianya akan mendapatkan juga manfaat sistemnya,
sementara yang menyediakannya hanya sebagai katup akan mendapati katupnya
dicurigai.
Kelebihan dan Keterbatasan
Membaca hubungan
industrial sebagai desain sistem memberi praktisi sesuatu yang tidak diberikan
cara pandang hukum semata: kemampuan mencegah, bukan hanya menangani, dan
bahasa yang bisa dipakai bersama pekerja alih-alih terhadap mereka.
Keterbatasannya jujur tiga. Pertama, desain tidak menghapus pertentangan
kepentingan yang nyata; ia hanya menyediakan arena yang lebih baik untuk
mengelolanya, dan akan selalu ada perundingan yang keras meski salurannya
sehat. Kedua, relasi kolektif melibatkan politik di kedua sisi (dinamika
internal serikat maupun manajemen) yang tidak tunduk pada diagram; kepekaan bab
dua tentang kuasa harus terus dibawa. Ketiga, asimetri kuasa itu sendiri:
saluran suara yang dirancang pihak yang lebih kuat selalu rawan menjadi hiasan,
dan ujian kejujurannya hanya satu, yaitu apakah suara itu pernah mengubah
keputusan yang sudah disukai manajemen. Jika belum pernah, salurannya belum
teruji.
Panduan Praktik: Asesmen Kesehatan Hubungan Industrial
Organisasi
Jalankan setahun
sekali, dijawab jujur oleh tim gabungan (HR, manajemen lini, dan bila iklim
memungkinkan, wakil pekerja), dengan bukti untuk setiap jawaban.
|
Wilayah |
Pertanyaan pemeriksaan |
|
Saluran
suara |
Berapa
lama rata-rata keluhan dijawab, dan berapa persen yang berujung tindakan atau
penjelasan? Kapan terakhir suara pekerja mengubah sebuah keputusan manajemen? |
|
Kelembagaan |
Apakah
forum bipartit bertemu rutin dengan agenda nyata dan tindak lanjut tertulis?
Bagaimana mutu perundingan terakhir: berbasis data atau gertak? |
|
Relasi
dengan serikat |
Seberapa
dini serikat dilibatkan pada perubahan yang menyentuh pekerja? Apakah
komunikasi berjalan juga di masa tenang, atau hanya saat ada masalah? |
|
Kepatuhan
dan kepastian |
Adakah
kewajiban normatif yang tertunda (upah, lembur, jaminan)? Bagaimana kejelasan
status hubungan kerja, dan kapan terakhir diperiksa terhadap ketentuan
terbaru? |
|
Keadilan
yang dirasakan |
Apa
kata data bab-bab lain: keluhan penilaian (19), anomali upah (20), jalur
buntu (21), turnover disesalkan (22)? Semuanya adalah indikator HI juga. |
|
Indikator
dini |
Tema
keluhan apa yang naik dua periode berturut-turut? Persoalan apa yang semua
orang bicarakan di bawah dan belum pernah dibicarakan di atas? |
Tutup asesmen dengan aturan yang sama dengan bab dua puluh dua: setiap temuan merah mendapat pemilik, tindakan, dan tanggal, atau penjelasan terbuka mengapa tidak. Asesmen yang berakhir sebagai dokumen sedang menambah satu lagi saluran yang resmi terbuka dan fungsional tersumbat.
Ringkasan Bab
Hubungan
industrial adalah sistem sosial yang dihuni aktor-aktor dengan kepentingan yang
sebagian searah dan sebagian tidak, menghasilkan aturan main yang menaungi
seluruh siklus MSDM, dan sehat bila menyeimbangkan efisiensi, keadilan, dan
suara. Konflik jarang tiba-tiba; ia tabungan dari saluran yang tersumbat, dan
karena itu pekerjaan intinya adalah desain: saluran suara berlapis yang
tanggapannya cepat dan jujur, kelembagaan dialog yang sungguh bekerja, relasi
dengan serikat yang dibangun di masa tenang, dan kepatuhan hukum yang diperiksa
terus di masa peralihan regulasi. Dengan bab ini, bagian ketiga selesai:
seluruh siklus manusia dalam organisasi, dari perencanaan sampai perpisahan,
dinaungi relasi yang kini juga kita perlakukan sebagai objek desain. Bagian
keempat menaikkan tingkatnya: dari fungsi-fungsi menuju organisasi yang
memperbaiki dirinya.
Pertanyaan Reflektif
- Keluhan apa yang hari ini sedang "menabung" di organisasi Anda: sudah disampaikan berulang kali melalui saluran resmi dan belum pernah dijawab sungguh-sungguh?
- Kapan terakhir suara pekerja mengubah keputusan yang sudah disukai manajemen di tempat Anda? Jika tidak pernah, apa yang dikatakan itu tentang saluran-saluran yang ada?
- Jika seluruh pasal ketenagakerjaan berubah tahun depan, seberapa banyak hubungan industrial organisasi Anda yang tetap berdiri? Apa yang selama ini menjadi fondasinya: pasal, atau kepercayaan?
Bacaan Lanjutan
Budd (2004), Employment with a Human Face, adalah kerangka efisiensi-keadilan-suara yang menaungi bab ini dan sejalan dengan seluruh buku. Hirschman (1970), Exit, Voice, and Loyalty, adalah buku kecil yang menjelaskan sangat banyak hal, jauh melampaui hubungan industrial. Freeman dan Medoff (1984), What Do Unions Do?, tetap titik berangkat terbaik untuk memahami dua wajah serikat dengan data. Walton dan McKersie (1965) mengajarkan membedakan perundingan yang membagi kue dari yang memperbesarnya. Dunlop (1958) adalah leluhur cara pandang sistem yang dipakai di sini.
PERNYATAAN KETERBUKAAN
Buku ini disusun dengan bantuan Akal Imitasi (artificial intelligence) sebagai alat riset dan penyusunan draft, di bawah pengarahan, seleksi, penilaian, dan penyuntingan penulis. Arsitektur gagasan, argumen, pilihan kata akhir, serta seleksi dan penyusunan bahan adalah karya penulis sebagai manusia; atas ekspresi yang diarahkan dan disunting secara manusiawi itulah hak cipta ini dinyatakan. Penulis menyadari bahwa status hukum karya yang diproduksi dengan bantuan Akal Imitasi masih berkembang dan berbeda dari satu yurisdiksi ke yurisdiksi lain; pernyataan hak cipta di halaman ini menegaskan posisi penulis, bukan menutup perdebatan hukum yang memang belum tuntas.
Buku ini disusun dengan bantuan Akal Imitasi (artificial intelligence) sebagai alat riset dan penyusunan draft, di bawah pengarahan, seleksi, penilaian, dan penyuntingan penulis. Arsitektur gagasan, argumen, pilihan kata akhir, serta seleksi dan penyusunan bahan adalah karya penulis sebagai manusia; atas ekspresi yang diarahkan dan disunting secara manusiawi itulah hak cipta ini dinyatakan. Penulis menyadari bahwa status hukum karya yang diproduksi dengan bantuan Akal Imitasi masih berkembang dan berbeda dari satu yurisdiksi ke yurisdiksi lain; pernyataan hak cipta di halaman ini menegaskan posisi penulis, bukan menutup perdebatan hukum yang memang belum tuntas.
METODE KEPENULISAN
Dalam penyusunan buku ini, saya menggunakan model bahasa besar (large language model) — sebuah sistem Akal Imitisasi — sebagai instrumen di tiga ranah: menyisir dan merangkai kepustakaan yang luas, menata kerangka serta urutan gagasan, dan menyusun draf-kandidat prosa yang kemudian saya tetapkan tesis utamanya, dan mengarahkan arah dan alur penulisannya. Dengan bantuan teknologi ini, saya dapat bergerak lebih cepat dalam membaca banyak sumber dan menyusunnya menjadi sebuah naskah yang lebih teratur. Namun, Akal Imitisasi tidak menentukan isi atau arah buku ini. Mesin tidak memutuskan apa yang harus menjadi tesis utama, tidak menjadi sumber kebenaran atas fakta-fakta yang disajikan, dan tidak menggantikan tanggung jawab saya sebagai penulis untuk menilai setiap gagasan. Argumen utama buku inisepenuhnya merupakan pandangan saya. Karena itu, seluruh isi buku ini tetap menjadi tanggung jawab saya.
Dalam penyusunan buku ini, saya menggunakan model bahasa besar (large language model) — sebuah sistem Akal Imitisasi — sebagai instrumen di tiga ranah: menyisir dan merangkai kepustakaan yang luas, menata kerangka serta urutan gagasan, dan menyusun draf-kandidat prosa yang kemudian saya tetapkan tesis utamanya, dan mengarahkan arah dan alur penulisannya. Dengan bantuan teknologi ini, saya dapat bergerak lebih cepat dalam membaca banyak sumber dan menyusunnya menjadi sebuah naskah yang lebih teratur. Namun, Akal Imitisasi tidak menentukan isi atau arah buku ini. Mesin tidak memutuskan apa yang harus menjadi tesis utama, tidak menjadi sumber kebenaran atas fakta-fakta yang disajikan, dan tidak menggantikan tanggung jawab saya sebagai penulis untuk menilai setiap gagasan. Argumen utama buku inisepenuhnya merupakan pandangan saya. Karena itu, seluruh isi buku ini tetap menjadi tanggung jawab saya.
No comments:
Post a Comment