Buku
Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Teknik Industri
Mendesain Sistem Kerja yang Efektif, Efisien, dan Tetap Manusiawi
BAGIAN SATU —
FONDASI INDUSTRIAL ENGINEERING HUMAN RESOURCE MANAGEMENT
FONDASI INDUSTRIAL ENGINEERING HUMAN RESOURCE MANAGEMENT
Bagian ini membangun cara berpikir seorang Industrial Engineering HR Professional
Bab 5 ·
Systems Thinking dalam MSDM
Dalam bab ini:
Pengantar dan konteks: jebakan pemadam kebakaran
Apa itu berpikir sistem: dari bagian menuju keseluruhan
Organisasi sebagai sistem sosio-teknis
Umpan balik, penundaan, dan konsekuensi tak diniatkan
Leverage points: di mana intervensi paling berdaya
Kesalahan atribusi: menyalahkan orang untuk kegagalan sistem
Perspektif IE-HRM: berpikir sistem dalam persoalan MSDM sehari-hari
Kelebihan dan keterbatasan berpikir sistem
Panduan praktik: causal loop diagram untuk masalah SDM berulang
Ringkasan bab
Pertanyaan reflektif dan bacaan lanjutan
Sistem selalu menjawab.
Persoalannya, jawabannya sering datang terlambat dan dari arah yang tidak kita duga
* * *
Pengantar dan Konteks: Jebakan Pemadam Kebakaran
Sebuah
perusahaan sedang kewalahan. Pesanan menumpuk, target tertinggal, dan semua
orang bekerja lembur. Dalam keadaan seperti itu, keputusan yang terasa paling
masuk akal diambil: program pelatihan ditunda, kegiatan perbaikan proses
dihentikan, semua tangan diarahkan ke produksi. Keputusan itu berhasil. Bulan
itu target tercapai.
Enam bulan
kemudian keadaannya lebih buruk. Karena pelatihan berhenti, keterampilan tidak
berkembang dan kesalahan bertambah. Karena perbaikan proses berhenti,
masalah-masalah kecil yang biasanya dicegah kini meledak menjadi kebakaran yang
harus dipadamkan. Kebakaran menyita waktu, waktu yang tersita membuat orang
makin tidak sempat belajar dan memperbaiki, dan lingkaran itu berputar makin
kencang. Para peneliti menyebutnya jebakan kapabilitas (capability trap): organisasi yang mengorbankan pembangunan
kemampuan demi hasil jangka pendek akan terperangkap dalam pemadaman kebakaran
yang tidak ada habisnya, dan yang paling getir, setiap putaran jebakan itu
diawali oleh keputusan yang saat diambil terasa benar (Repenning & Sterman,
2001).
Cerita itu bukan
cerita tentang manajer yang bodoh. Ia cerita tentang cara berpikir yang melihat
satu langkah ke depan di dalam sistem yang bergerak berputar-putar. Bab ini
melatih cara berpikir yang berbeda, yang oleh tradisi teknik industri dan ilmu
manajemen disebut berpikir sistem (systems
thinking). Dari lima pilar IE-HRM, bab ini adalah fondasi bagi pilar mana
pun; tanpa kemampuan melihat sistem, empat pilar lainnya hanya kumpulan alat.
Landasan Teori dan Penelitian
Apa itu berpikir sistem
Sistem adalah
sekumpulan bagian yang saling berhubungan dan bersama-sama menghasilkan
perilaku yang tidak dimiliki bagian mana pun secara sendiri-sendiri (Meadows,
2008). Sebuah tim bukan sekadar kumpulan orang; ia adalah orang-orang ditambah
hubungan di antara mereka, dan hubungan itulah yang membuat dua tim berisi
orang-orang yang sama kemampuannya bisa menghasilkan kinerja yang jauh berbeda.
Berpikir sistem adalah kebiasaan mengarahkan perhatian kepada hubungan-hubungan
itu: bukan hanya kepada bagian, melainkan kepada keterkaitannya; bukan hanya
kepada kejadian, melainkan kepada pola yang melahirkan kejadian; bukan hanya
kepada pola, melainkan kepada struktur yang melahirkan pola (Senge, 1990).
Ilmu tentang
organisasi sampai pada kesimpulan yang sama dari arahnya sendiri: organisasi
adalah sistem terbuka yang terus-menerus bertukar energi, orang, dan informasi
dengan lingkungannya, dan karena itu tidak pernah dapat dipahami sebagai mesin
tertutup (Katz & Kahn, 1966). Sementara itu tradisi sosio-teknis, yang
telah kita kenal dari bab tiga, menambahkan peringatan khasnya: di dalam setiap
sistem kerja hidup dua subsistem sekaligus, teknis dan sosial, dan keduanya
harus dirancang bersama karena mengoptimalkan salah satunya akan merusak
keduanya (Trist & Bamforth, 1951; Cherns, 1976).
Umpan balik, penundaan,
dan konsekuensi tak diniatkan
Perilaku sistem
digerakkan oleh lingkar umpan balik (feedback
loop). Ada lingkar yang menguatkan (reinforcing):
keberhasilan menarik orang berbakat, orang berbakat memperbesar keberhasilan.
Ada lingkar yang menyeimbangkan (balancing):
ketika beban melampaui kapasitas, mutu turun, dan penurunan mutu pada akhirnya
mengurangi beban dengan cara yang paling mahal, yaitu larinya pelanggan.
Jebakan pemadam kebakaran pada pembuka bab adalah lingkar penguat yang bekerja
ke arah yang salah.
Yang membuat
lingkar-lingkar itu sulit dilihat adalah penundaan (delay). Akibat sebuah keputusan sering baru muncul berbulan-bulan
kemudian, sesudah semua orang lupa pada sebabnya. Anggaran pelatihan yang
dipangkas hari ini baru terasa akibatnya tahun depan, dan tahun depan akibat
itu akan diberi nama lain: "kualitas rekrutan menurun",
"generasi sekarang kurang terampil". Ditambah penundaan, sistem
menghasilkan spesialisasi yang paling ditakuti para perancang kebijakan:
konsekuensi tak diniatkan (unintended
consequences), yaitu akibat nyata dari keputusan yang tidak pernah
dimaksudkan oleh pengambilnya (Sterman, 2000). Kebijakan membatasi lembur untuk
menekan biaya dapat mendorong pekerjaan dibawa pulang tanpa dibayar. Sistem
insentif yang mengganjar kecepatan dapat menghukum kejujuran melaporkan
masalah. Bab dua puluh sembilan akan penuh dengan contoh semacam ini.
Leverage points: di mana
intervensi paling berdaya
Tidak semua
titik dalam sistem sama dayanya untuk diubah. Meadows (2008) menyusun daftar
titik ungkit (leverage points) yang
kini klasik, dan pelajarannya menyakitkan: titik yang paling mudah dijangkau
biasanya yang paling lemah dayanya. Mengutak-atik angka (menaikkan insentif,
menambah orang) adalah titik ungkit paling lemah. Mengubah struktur umpan balik
(siapa mendapat informasi apa, seberapa cepat akibat kembali kepada pembuatnya)
jauh lebih berdaya. Dan yang paling berdaya adalah mengubah tujuan sistem serta
cara pandang yang melahirkannya. Itulah sebabnya buku ini menaruh filosofi
sebelum alat: mengubah cara organisasi memandang manusia adalah titik ungkit
yang lebih dalam daripada mengubah formulir penilaiannya.
Kesalahan atribusi:
menyalahkan orang untuk kegagalan sistem
Ada alasan
psikologis mengapa berpikir sistem terasa tidak alami. Ketika mengamati
perilaku orang lain, manusia cenderung menjelaskannya dari watak orang itu dan
meremehkan kekuatan situasi; kecenderungan ini begitu kokoh sehingga psikologi
menyebutnya kesalahan atribusi mendasar (fundamental
attribution error) (Ross, 1977). Melihat kasir yang lambat, kita
menyimpulkan orangnya lamban, bukan antreannya yang dirancang buruk. Melihat
bawahan yang pasif, kita menyimpulkan orangnya tidak berinisiatif, bukan
sejarah panjang inisiatif yang dihukum. Kecenderungan ini menjelaskan mengapa
premis kedua buku ini perlu terus diulang: bukan karena orang tidak pernah
salah, melainkan karena tanpa disiplin yang sengaja, kita akan selalu
menyalahkan orang lebih dulu.
Deming (1986)
menajamkan hal yang sama dari sisi statistik: sebagian besar variasi hasil
kerja bersumber dari sistem yang menjadi tanggung jawab manajemen, bukan dari
perbedaan kesungguhan pekerja. Menghukum atau memberi penghargaan orang atas
naik-turun hasil yang sesungguhnya lahir dari sistem sama saja dengan menghukum
dan mengganjar orang atas lemparan dadu.
Perspektif IE-HRM: Berpikir Sistem dalam Persoalan Sehari-hari
Bagi praktisi
MSDM, berpikir sistem bukan kemewahan intelektual melainkan keterampilan kerja.
Tanda-tanda persoalan sistemik mudah dikenali kalau kita tahu mencarinya.
Pertama, masalah yang berulang meskipun orangnya sudah berganti; pergantian
orang adalah eksperimen alami, dan jika hasilnya sama, tersangkanya bukan
orang. Kedua, masalah yang membaik sebentar setelah diintervensi lalu kembali
seperti semula; itu ciri khas lingkar penyeimbang yang menarik sistem kembali
ke keseimbangan lamanya. Ketiga, solusi yang makin lama makin besar dosisnya
untuk hasil yang sama, seperti insentif yang harus terus dinaikkan; itu ciri
ketergantungan pada gejala, bukan penyembuhan sebab.
Menghadapi
tanda-tanda itu, pertanyaan khas IE-HRM diajukan dengan urutan yang disiplin:
struktur macam apa yang menghasilkan perilaku ini? Informasi apa yang tidak
sampai, atau sampai terlambat? Akibat keputusan siapa yang ditanggung oleh
siapa? Dan di titik ungkit mana kita bekerja: sekadar angka, atau struktur,
atau tujuan?
Kelebihan dan Keterbatasan Berpikir Sistem
Kekuatannya
sudah diperagakan sepanjang bab: ia menjelaskan kegagalan yang tidak bisa
dijelaskan cara berpikir garis lurus, dan ia menyelamatkan banyak orang dari
hukuman yang tidak adil. Keterbatasannya dua. Pertama, ia mudah menjadi
permainan diagram: peta lingkar sebab-akibat yang indah, penuh panah, dan tidak
mengubah apa-apa. Berpikir sistem yang tidak berujung pada keputusan hanyalah
cara baru untuk menunda. Kedua, ia dapat disalahgunakan menjadi tempat
bersembunyi: "ini masalah sistem" bisa menjadi kalimat pembebasan
bagi orang yang memang lalai. Kerangka ini menuntut urutan, bukan pengecualian:
periksa sistem lebih dulu, dan jika sistem sudah diperiksa dengan jujur,
pertanggungjawaban pribadi tetap ada tempatnya.
Panduan Praktik: Causal Loop Diagram untuk Masalah SDM
Berulang
Pilih satu
masalah SDM yang sudah lebih dari dua tahun berulang di organisasi Anda.
Kerjakan bersama tiga sampai lima orang yang mengenal masalah itu dari posisi
berbeda.
- Pertama, tuliskan masalahnya sebagai variabel yang bisa naik-turun, bukan sebagai keluhan. "Turnover operator" adalah variabel; "anak sekarang tidak tahan banting" bukan.
- Kedua, tanyakan berantai: apa yang membuat variabel itu naik? Lalu apa yang dipengaruhi olehnya? Tuliskan setiap jawaban sebagai variabel baru, hubungkan dengan panah, dan beri tanda: S (same) jika keduanya bergerak searah, O (opposite) jika berlawanan. Teruskan sampai sebuah rantai kembali ke variabel awal. Di situlah Anda menemukan lingkar.
- Ketiga, tandai setiap lingkar: penguat (R) atau penyeimbang (B), dan tuliskan di mana ada penundaan yang berarti. Penundaan biasanya bersembunyi di tempat yang sama: antara keputusan dan akibatnya pada manusia.
- Keempat, cari di dalam diagram itu solusi-solusi yang selama ini dipakai. Hampir selalu Anda akan menemukan bahwa solusi lama bekerja pada gejala di ujung lingkar, bukan pada struktur yang memutarnya. Lalu ajukan pertanyaan titik ungkit: hubungan mana yang jika diubah akan mengubah arah putaran? Informasi apa yang jika sampai lebih cepat akan mengoreksi sistem ini dengan sendirinya?
- Kelima, akhiri dengan satu keputusan yang akan diuji, satu ukuran untuk mengetahui hasilnya, dan satu tanggal untuk memeriksanya. Diagram yang tidak berakhir dengan tiga hal itu belum selesai.
Satu nasihat
dari pengalaman: kerjakan dengan spidol dan kertas lebar, bukan dengan
perangkat lunak. Diagram ini alat berpikir bersama, dan berpikir bersama
membutuhkan tembok, bukan layar.
Ringkasan Bab
Berpikir sistem adalah kebiasaan melihat hubungan, lingkar umpan balik, dan penundaan di balik kejadian-kejadian. Ia menjelaskan mengapa masalah SDM berulang meski orang berganti, mengapa solusi yang berhasil sebentar lalu gagal, dan mengapa keputusan yang terasa benar melahirkan akibat yang tidak diniatkan. Ia juga membongkar kecenderungan psikologis kita menyalahkan orang untuk kegagalan sistem. Titik ungkit yang paling berdaya jarang berupa angka; ia berupa struktur informasi, dan yang terdalam, tujuan serta cara pandang. Bab berikutnya menurunkan cara berpikir ini menjadi keterampilan yang lebih membumi lagi: melihat dan merancang proses.
Pertanyaan Reflektif
- Masalah SDM apa di organisasi Anda yang paling memenuhi tiga tanda persoalan sistemik? Sudah berapa kali orangnya diganti?
- Ingat satu kebijakan SDM yang melahirkan akibat tak diniatkan. Penundaan macam apa yang membuat akibat itu tidak terlihat sejak awal?
- Dalam organisasi Anda, apakah kalimat "ini masalah sistem" lebih sering dipakai untuk memperbaiki sistem atau untuk menghindar dari tanggung jawab?
Bacaan Lanjutan
Meadows (2008), Thinking in Systems, adalah pengantar terbaik dan tertipis; bacalah sebelum yang lain. Senge (1990), The Fifth Discipline, membawa berpikir sistem ke dunia manajemen dan tetap paling berpengaruh. Repenning dan Sterman (2001) wajib dibaca setiap manajer yang organisasinya sibuk memadamkan kebakaran. Untuk yang ingin serius dengan pemodelan, Sterman (2000), Business Dynamics, adalah rujukan lengkapnya.
Bab 6 ·
Mendesain Proses Kerja Manusia
Dalam bab ini:
Pertanyaan reflektif dan bacaan lanjutan
Pengantar dan konteks: hari pertama yang terbuang
HR sebagai kumpulan proses: pergeseran cara pandang
SIPOC: memetakan pemasok hingga pelanggan proses
Process mapping dan swimlane diagram
Standardisasi: SOP yang hidup, bukan dokumen mati
Mengukur kinerja proses
Bottleneck dan antrean dalam layanan HR
Perspektif IE-HRM: ruang putih di antara kotak-kotak
Kelebihan dan keterbatasan pendekatan proses
Panduan praktik: memetakan dan menstandardisasi satu proses HR dari ujung ke ujung
Ringkasan bab
Pertanyaan reflektif dan bacaan lanjutan
Pelanggan sebuah proses tidak peduli departemen mana yang mengerjakan bagian mana.
Ia hanya merasakan keseluruhannya
* * *
Pengantar dan Konteks: Hari Pertama yang Terbuang
Seorang karyawan
baru datang pada hari pertamanya dengan semangat yang hanya dimiliki karyawan
baru. Sampai sore, semangat itu terpakai untuk menunggu. Meja belum ada karena
permintaan ke bagian umum belum diproses. Akses email belum jadi karena tiket
ke bagian TI baru dibuat pagi itu. Kartu tanda pengenal belum dicetak karena
fotonya belum diserahkan, dan tidak jelas siapa yang seharusnya menyerahkan.
Atasannya sedang rapat seharian karena tidak ada yang memberitahunya bahwa hari
ini anak buah barunya mulai bekerja.
Yang menarik
dari kejadian semacam ini, dan ia terjadi di mana-mana, adalah bahwa tidak ada
satu orang pun yang lalai. Bagian HR sudah mengirim pemberitahuan. Bagian TI
memproses tiket sesuai urutan. Bagian umum menunggu formulir yang memang belum
tiba. Setiap orang mengerjakan bagiannya dengan benar, dan hasil keseluruhannya
tetap buruk. Rummler dan Brache (1995) memberi nama pada tempat persoalan itu
bersembunyi: ruang putih pada bagan organisasi (the white space on the organization chart), yaitu wilayah di antara
kotak-kotak, tempat pekerjaan berpindah tangan antarunit dan tidak ada seorang
pun yang memilikinya.
Bab lima
mengajarkan melihat sistem. Bab ini mengajarkan bentuk sistem yang paling
sering dijumpai praktisi setiap hari: proses. Dan tesisnya sederhana: hampir
semua yang dikerjakan fungsi SDM adalah proses, dan hampir semua proses itu
belum pernah dirancang; ia hanya terjadi, lapis demi lapis, tahun demi tahun.
Landasan Teori dan Penelitian
HR sebagai kumpulan proses
Proses adalah
rangkaian kegiatan yang mengubah masukan menjadi keluaran yang bernilai bagi
seseorang. Dilihat dengan kacamata ini, fungsi SDM adalah pabrik jasa: ia
menjalankan proses rekrutmen (masukannya kebutuhan orang, keluarannya orang
yang tepat di posisi yang tepat), proses penggajian, proses pelatihan, proses
kenaikan pangkat, proses penyelesaian keluhan, dan puluhan proses lain.
Pergeseran cara pandang dari fungsi ke proses adalah salah satu gagasan besar
manajemen akhir abad kedua puluh (Davenport, 1993; Hammer & Champy, 1993),
dan meskipun gerakan rekayasa ulangnya sering kebablasan, wawasan dasarnya
bertahan: nilai mengalir mengikuti proses, sedangkan organisasi disusun menurut
fungsi, dan di celah antara keduanya nilai itu bocor.
Bagi fungsi SDM,
cara pandang proses membawa satu pertanyaan yang mengubah banyak hal: siapa
pelanggan proses ini, dan apa yang ia hargai? Pelanggan proses rekrutmen adalah
manajer yang membutuhkan orang dan kandidat yang melamar; keduanya menghargai
kecepatan, kejelasan, dan perlakuan yang layak. Pelanggan proses penggajian
adalah seluruh karyawan, dan yang mereka hargai nyaris hanya satu: benar dan
tepat waktu, setiap kali. Fungsi HR yang tidak pernah menanyakan hal ini akan
sibuk menyempurnakan prosedur yang tidak dihargai siapa pun.
SIPOC: melihat proses
dalam satu halaman
Alat pertama
untuk menjinakkan sebuah proses adalah SIPOC, singkatan dari supplier, input, process, output, customer.
Dalam satu halaman, SIPOC memaksa kita menjawab lima pertanyaan: siapa yang
memasok masukan proses ini, apa saja masukannya, apa langkah-langkah besarnya
(cukup lima sampai tujuh), apa keluarannya, dan siapa pelanggannya.
Kesederhanaannya menipu. Pengalaman menunjukkan bahwa mengisi SIPOC untuk
proses yang sudah bertahun-tahun berjalan hampir selalu memunculkan
pertengkaran kecil yang sehat: ternyata tidak semua orang sepakat di mana
proses itu mulai, di mana berakhir, dan untuk siapa ia ada.
Process mapping dan
swimlane
Sesudah gambaran
besar, barulah peta rinci. Peta proses (process
map) menggambarkan langkah demi langkah bagaimana pekerjaan sesungguhnya
berjalan, dan kata "sesungguhnya" adalah inti metode ini: yang
dipetakan adalah kenyataan, bukan prosedur tertulis, dan keduanya hampir tidak
pernah sama. Untuk proses yang melintasi banyak pihak, gunakan diagram jalur
renang (swimlane): setiap pihak
mendapat satu jalur mendatar, dan setiap perpindahan pekerjaan antarjalur
tergambar sebagai garis yang menyeberang. Perpindahan itulah yang paling
penting diamati, karena di situlah ruang putih Rummler dan Brache berada:
setiap penyeberangan garis adalah tempat pekerjaan bisa menunggu, salah paham,
atau hilang.
Saat memetakan,
catat pada setiap langkah dua angka kasar: berapa lama langkah itu dikerjakan
(waktu proses) dan berapa lama pekerjaan menunggu sebelum dikerjakan (waktu
tunggu). Hampir semua proses layanan, termasuk layanan HR, menyimpan rahasia
yang sama: waktu tunggu berkali-kali lipat lebih panjang daripada waktu proses.
Sebuah persetujuan yang dikerjakan lima menit bisa menunggu lima hari di kotak
masuk seseorang.
Standardisasi: SOP yang
hidup
Peta melahirkan
pertanyaan berikutnya: dari sekian cara yang sekarang dipakai orang untuk
mengerjakan proses yang sama, mana yang terbaik, dan bisakah semua orang
mengerjakannya dengan cara itu? Itulah standardisasi. Dalam tradisi Toyota,
standar bukan alat pengekang melainkan fondasi perbaikan: tanpa cara kerja yang
disepakati, perbaikan tidak mungkin, karena tidak ada garis dasar yang bisa
diperbaiki (Imai, 1986). Standar yang sehat memiliki tiga ciri: ditulis oleh
atau bersama orang yang mengerjakan, bukan diturunkan dari menara; menjelaskan
apa yang penting dan mengapa, bukan mengatur setiap gerakan; dan mudah diubah
begitu ditemukan cara yang lebih baik. SOP yang tebal, dibuat konsultan, dan
tidak pernah dibuka lagi sejak audit terakhir bukanlah standar; ia dokumen.
Di sinilah
prinsip kelima IE-HRM menemukan bentuk kongkretnya: standardisasi untuk
menjamin konsistensi, bukan untuk menghilangkan fleksibilitas. Yang
distandardisasi adalah hal-hal yang variasinya merugikan (urutan yang aman,
data yang wajib, batas waktu). Yang dibiarkan lentur adalah hal-hal yang
variasinya justru bernilai, terutama cara berhadapan dengan manusia yang
situasinya tidak pernah persis sama.
Mengukur kinerja proses
Proses yang
sudah dipetakan dan distandardisasi dapat diukur, dan tiga ukuran ini hampir
selalu cukup untuk memulai. Pertama, waktu ujung ke ujung (lead time): berapa lama dari permintaan sampai selesai, diukur
menurut pengalaman pelanggan, bukan menurut pembagian internal. Kedua, tingkat
kesalahan: berapa dari seratus keluaran yang salah atau harus diulang. Ketiga,
hasil sekali jalan (first-pass yield):
berapa dari seratus permintaan yang selesai tanpa bolak-balik dikembalikan
karena kurang ini dan itu. Ukuran ketiga ini kejam dan jujur; banyak proses HR
yang tampak berjalan baik ternyata hanya menyelesaikan sebagian kecil urusannya
sekali jalan, dan sisanya hidup dari bolak-balik yang oleh semua pihak sudah
dianggap normal.
Bottleneck dan antrean
Setiap proses
memiliki satu langkah yang paling sempit, dan langkah itulah yang menentukan
kecepatan keseluruhan. Goldratt dan Cox (1984) menjadikan wawasan ini terkenal
melalui teori kendala (theory of
constraints): memperbaiki langkah yang bukan kemacetan tidak mempercepat
apa pun; ia hanya menumpuk antrean di depan kemacetan. Terjemahannya bagi
layanan HR sangat praktis. Jika kemacetan rekrutmen ada pada jadwal wawancara
pengguna, mempercepat seleksi administrasi hanya memperpanjang daftar kandidat
yang menunggu diwawancara, dan mungkin kehilangan mereka ke perusahaan lain.
Temukan dulu kemacetannya, lalu curahkan perbaikan ke sana, dan hanya ke sana,
sampai kemacetan berpindah.
Perspektif IE-HRM: Ruang Putih di Antara Kotak-Kotak
Cerita hari
pertama yang terbuang pada pembuka bab kini dapat dibaca ulang dengan mata yang
baru. Onboarding adalah satu proses dengan satu pelanggan (karyawan baru dan
atasannya), tetapi dikerjakan oleh empat unit yang masing-masing hanya melihat
potongannya. Tidak ada pemilik proses, tidak ada peta, tidak ada ukuran ujung
ke ujung; yang ada hanyalah empat prosedur internal yang masing-masing benar.
Perbaikannya pun bukan menambah orang atau menegur siapa-siapa, melainkan
menunjuk pemilik, memetakan alirannya, memindahkan langkah-langkah yang bisa
dikerjakan sebelum hari pertama, dan mengukur satu angka yang mewakili
pengalaman pelanggannya: berapa jam sejak datang sampai karyawan baru bisa
benar-benar bekerja.
Pola yang sama
berlaku untuk hampir semua keluhan klasik terhadap fungsi HR: lambat, berbelit,
bolak-balik. Keluhan-keluhan itu jarang tentang orang HR; ia tentang proses HR
yang tidak pernah dirancang. Dan ada alasan strategis untuk membereskannya yang
lebih besar daripada kenyamanan: fungsi HR yang hendak mengajak organisasi
memperbaiki sistem kerja, sebagaimana diusulkan buku ini, harus memulai dari
sistem kerjanya sendiri. Kredibilitas dibangun di situ.
Kelebihan dan Keterbatasan Pendekatan Proses
Kekuatan
pendekatan proses adalah daya bongkárnya terhadap masalah yang selama ini
dilekatkan pada orang, dan kesederhanaan alatnya; semua yang diuraikan bab ini
dapat dikerjakan dengan kertas, dinding, dan kejujuran. Keterbatasannya dua.
Pertama, tidak semua pekerjaan HR berbentuk proses yang berulang; menangani
perselisihan yang pelik atau mendampingi perubahan besar adalah kerja yang
setiap kasusnya unik, dan memaksakan standar ke sana justru merusak. Kedua,
pendekatan proses dapat tergelincir menjadi birokratisasi baru: peta untuk
segala hal, prosedur untuk segala hal, dan indikator untuk segala hal, sampai
orang melayani proses alih-alih proses melayani orang. Bab dua puluh sembilan
akan kembali kepada bahaya ini. Ukurannya sederhana: setiap peta, standar, dan
angka harus bisa menjawab pertanyaan "pelanggan mana yang terbantu oleh
ini?", dan yang tidak bisa menjawab, dihapus.
Panduan Praktik: Memetakan dan Menstandardisasi Satu Proses HR dari Ujung ke Ujung
Pilih satu
proses HR yang paling sering dikeluhkan. Jangan yang terbesar; yang paling
dikeluhkan. Lalu kerjakan enam langkah berikut dalam dua sampai tiga pekan.
- Pertama, tetapkan pemilik proses: satu orang yang bertanggung jawab atas keseluruhan ujung ke ujung, apa pun batas unitnya.
- Kedua, buat SIPOC satu halaman bersama semua pihak yang terlibat. Sepakati di mana proses mulai, di mana berakhir, dan siapa pelanggannya. Jangan lanjut sebelum tiga hal itu disepakati.
- Ketiga, petakan kenyataannya dengan swimlane. Caranya bukan rapat, melainkan mengikuti tiga sampai lima kasus nyata dari awal sampai akhir, mencatat setiap langkah, setiap perpindahan tangan, waktu proses, dan waktu tunggunya. Petakan yang benar-benar terjadi, termasuk jalan-jalan tikus yang selama ini tidak diakui.
- Keempat, baca petanya bersama-sama dan tandai tiga hal: perpindahan tangan yang dapat dihapus atau digabung, tempat menunggu yang terpanjang, dan langkah yang paling sering membuat pekerjaan dikembalikan. Di tiga tempat itulah hampir seluruh perbaikan berada.
- Kelima, tuliskan standar barunya bersama orang yang mengerjakan: satu halaman berisi urutan langkah, siapa mengerjakan apa, data apa yang wajib lengkap sejak awal, dan batas waktu setiap perpindahan. Uji coba dua pekan, lalu perbaiki standarnya berdasarkan apa yang ditemukan.
- Keenam, pasang tiga ukuran (waktu ujung ke ujung, tingkat kesalahan, hasil sekali jalan) dan tinjau setiap bulan bersama pemilik proses. Angka yang tidak pernah ditinjau lebih buruk daripada tidak ada angka, karena ia mengajari orang bahwa ukuran hanyalah hiasan.
Ringkasan Bab
Hampir semua
pekerjaan fungsi SDM adalah proses, dan hampir semuanya belum pernah dirancang.
Alat-alatnya tidak rumit: SIPOC untuk gambaran besar, peta swimlane untuk
kenyataan yang rinci, standardisasi yang hidup untuk konsistensi, tiga ukuran
untuk kejujuran, dan teori kendala untuk menentukan di mana perbaikan
dicurahkan. Musuh utamanya adalah ruang putih di antara kotak-kotak organisasi,
tempat pekerjaan berpindah tangan tanpa pemilik. Dan alasan terdalam mengapa
fungsi HR harus menguasai keterampilan ini bukan efisiensi, melainkan
kredibilitas: tidak ada yang akan percaya kepada juru perbaiki sistem yang
sistemnya sendiri berantakan.
Pertanyaan Reflektif
- Proses HR mana di organisasi Anda yang paling banyak menghabiskan hidupnya di waktu tunggu? Di kotak masuk siapa ia biasanya menunggu?
- Adakah proses lintas unit di organisasi Anda yang benar-benar memiliki pemilik ujung ke ujung? Jika tidak ada, mengapa tidak pernah ada?
- SOP di organisasi Anda: dokumen atau standar yang hidup? Kapan terakhir kali salah satunya diubah karena ditemukan cara yang lebih baik?
Bacaan Lanjutan
Rummler dan Brache (1995), Improving Performance, adalah buku yang paling banyak mengubah cara praktisi melihat organisasi, dan gagasan ruang putihnya tetap segar. Goldratt dan Cox (1984), The Goal, mengajarkan teori kendala dalam bentuk novel yang enak dibaca. Imai (1986), Kaizen, meletakkan standardisasi pada tempatnya yang benar: sebagai fondasi perbaikan, bukan musuhnya. Davenport (1993), Process Innovation, adalah versi yang lebih hati-hati dari gerakan proses dibandingkan rekannya yang lebih terkenal.
Bab 7 ·
Merancang Pekerjaan (Work Design)
Dalam bab ini:
Pengantar dan konteks: dua meja yang bersebelahan
Sejarah desain pekerjaan: dari Taylorisme hingga job crafting
Job enlargement, job enrichment, job rotation
Model karakteristik pekerjaan
Tuntutan, kendali, dan sumber daya: sisi kesehatan desain kerja
Beban kerja: mengukur dan menyeimbangkan
Desain kerja tim dan kerja jarak jauh
Perspektif IE-HRM: pekerjaan sebagai hasil desain, bukan warisan
Kelebihan dan keterbatasan
Panduan praktik: workload analysis dan redesign pekerjaan
Ringkasan bab
Pertanyaan reflektif dan bacaan lanjutan
Orang jarang meninggalkan pekerjaan yang dirancang dengan baik
* * *
Pengantar dan Konteks: Dua Meja yang Bersebelahan
Di sebuah
kantor, dua orang staf administrasi duduk bersebelahan dengan jabatan yang sama
dan gaji yang sama. Yang pertama menghabiskan harinya memasukkan data dari
formulir ke sistem, formulir yang tidak ia pahami asal-usulnya, untuk laporan
yang tidak pernah ia lihat hasilnya. Kesalahan sekecil apa pun akan kembali
kepadanya dua minggu kemudian sebagai teguran. Yang kedua memegang satu wilayah
layanan dari awal sampai akhir: ia menerima permintaan, memprosesnya,
menghubungi orangnya langsung, dan setiap akhir bulan melihat sendiri angka
kepuasan wilayahnya. Ketika ditanya tentang pekerjaannya, yang pertama menjawab
"begini-begini saja"; yang kedua bercerita sepuluh menit.
Dua tahun
kemudian yang pertama mengundurkan diri dan yang kedua dipromosikan. Manajemen
menyimpulkan yang pertama kurang tangguh dan yang kedua berbakat. Kesimpulan
itu mungkin benar. Tetapi ada penjelasan lain yang tidak pernah
dipertimbangkan: kedua orang itu bekerja di dalam dua pekerjaan yang desainnya
berbeda, dan penelitian setengah abad tentang desain pekerjaan menyarankan
bahwa perbedaan desain itu saja sudah cukup untuk menghasilkan dua nasib yang
berbeda.
Bab enam
membahas perancangan proses, yaitu aliran pekerjaan di antara orang-orang. Bab
ini turun satu tingkat lagi, ke satuan yang paling dekat dengan kehidupan
sehari-hari manusia bekerja: pekerjaan itu sendiri, kumpulan tugas, wewenang,
dan hubungan yang dijalani satu orang dari pagi sampai sore, tahun demi tahun.
Landasan Teori dan Penelitian
Sejarah desain pekerjaan
Desain pekerjaan
modern lahir dari penyempitan. Resep Taylor dan lini perakitan Ford adalah
spesialisasi: pecah pekerjaan menjadi tugas-tugas sekecil mungkin, agar mudah
dipelajari, cepat dikerjakan, dan murah diganti orangnya. Resep itu berhasil
menurut ukurannya sendiri dan gagal menurut ukuran yang tidak sempat
dipikirkannya: kebosanan, keterasingan, perputaran orang, dan perlawanan
diam-diam dari mereka yang pekerjaannya dikosongkan dari makna.
Gelombang balik
datang pada pertengahan abad kedua puluh dengan tiga resep perbaikan yang
sampai kini masih dipakai. Perluasan pekerjaan (job enlargement) menambah ragam tugas pada tingkat yang sama;
rotasi (job rotation) memindahkan
orang antartugas secara berkala; dan yang paling penting, pengayaan (job enrichment) menambahkan unsur yang
lebih dalam, yaitu tanggung jawab, keputusan, dan kesempatan melihat hasil.
Herzberg (1968), dalam artikel yang menjadi salah satu tulisan paling banyak
dibaca dalam sejarah Harvard Business Review, merumuskan bedanya dengan tajam:
memperbesar pekerjaan yang kosong maknanya sama saja dengan menambahkan nol
pada nol; yang mengubah motivasi bukan jumlah tugas, melainkan kandungan
tanggung jawab dan pertumbuhan di dalamnya.
Model karakteristik
pekerjaan
Gagasan
pengayaan menemukan bentuk ilmiahnya yang paling berpengaruh pada model
karakteristik pekerjaan (job
characteristics model) dari Hackman dan Oldham (1976, 1980). Model ini
menyatakan bahwa lima sifat pekerjaan menentukan potensi motivasionalnya:
keragaman keterampilan yang dipakai, keutuhan tugas dari awal sampai akhir,
arti penting tugas bagi orang lain, otonomi dalam mengatur cara kerja, dan
umpan balik langsung dari pekerjaan itu sendiri. Tiga yang pertama membuat
kerja terasa bermakna, otonomi membuat orang merasa bertanggung jawab atas
hasil, dan umpan balik membuatnya mengetahui hasil itu. Pekerjaan staf pertama
pada cerita pembuka gugur pada hampir semua sifat itu; pekerjaan staf kedua
lulus hampir semuanya. Model ini telah diuji ribuan kali dengan hasil yang,
untuk ukuran ilmu sosial, sangat konsisten (Morgeson & Humphrey, 2006;
Parker, 2014).
Tuntutan, kendali, dan
sumber daya
Arus penelitian
kedua datang dari kesehatan kerja, dan sumbangannya melengkapi yang pertama.
Karasek (1979) menemukan bahwa yang paling merusak kesehatan bukanlah pekerjaan
yang tuntutannya tinggi, melainkan gabungan tuntutan tinggi dengan kendali
rendah: orang yang dituntut banyak tetapi tidak diberi wewenang mengatur
bagaimana memenuhinya. Model tuntutan dan sumber daya pekerjaan (job demands-resources) kemudian
memperluasnya: setiap pekerjaan berisi tuntutan yang menguras dan sumber daya
yang memulihkan (dukungan, kejelasan, otonomi, kesempatan berkembang), dan
kelelahan kronis (burnout) lahir
ketika yang pertama terus melampaui yang kedua (Bakker & Demerouti, 2007).
Pelajaran praktisnya penting: menurunkan tuntutan sering tidak mungkin, tetapi
menambah kendali dan sumber daya hampir selalu mungkin, dan keduanya sama-sama
menggeser keseimbangan.
Job crafting: desain dari
bawah
Penemuan yang
lebih baru mengubah arah panah desain. Wrzesniewski dan Dutton (2001) mengamati
bahwa pekerja tidak menunggu pekerjaannya dirancang; diam-diam mereka
merancangnya sendiri, menambah dan mengurangi tugas, mengatur ulang hubungan,
dan menafsir ulang makna kerjanya. Mereka menyebutnya job crafting. Bagi perancang sistem, temuan ini bukan ancaman
melainkan sumber daya: desain pekerjaan yang baik menyisakan ruang resmi bagi
orang untuk menyesuaikan pekerjaannya, karena penyesuaian itu akan terjadi
juga, dengan atau tanpa izin.
Beban kerja
Semua sifat baik
sebuah pekerjaan runtuh jika bebannya salah ukur. Beban yang terlalu berat
menghasilkan kelelahan, kesalahan, dan kepergian; beban yang terlalu ringan
menghasilkan kebosanan dan kehilangan orang-orang terbaik dengan cara yang
lebih sunyi. Persoalannya, di kebanyakan organisasi beban kerja tidak pernah
diukur; ia diwariskan. Formasi tahun ini adalah formasi tahun lalu ditambah
tawar-menawar anggaran, dan orang yang paling mampu diam-diam menjadi tempat
pembuangan tugas tambahan justru karena kemampuannya. Pengukuran beban kerja
yang jujur, yang tekniknya dibahas pada bab delapan dan panduan praktik bab
ini, adalah salah satu sumbangan paling langsung teknik industri kepada
keadilan di tempat kerja.
Desain kerja tim dan kerja
jarak jauh
Dua perkembangan
menambah dimensi baru. Pertama, makin banyak pekerjaan yang satuan alaminya
tim, bukan orang; untuk itu prinsip-prinsip yang sama berlaku pada tingkat tim
(keutuhan tugas tim, otonomi tim, umpan balik tim), dan warisan sosio-teknis
tentang kelompok kerja yang mengatur dirinya sendiri kembali relevan. Kedua,
kerja jarak jauh dan hibrida mengubah salah satu bahan baku desain:
keterlihatan. Dalam kerja jarak jauh, umpan balik alami menipis, batas beban
menjadi kabur, dan otonomi bisa berarti dukungan yang menghilang. Prinsip
desainnya tidak berubah, tetapi penerapannya harus lebih sengaja: umpan balik
yang dulu terjadi sendiri di lorong kantor kini harus dirancang.
Perspektif IE-HRM: Pekerjaan sebagai Hasil Desain, bukan
Warisan
Dari kacamata
IE-HRM, bab ini adalah jantung pilar kedua, dan intinya dapat dirumuskan dalam
satu kalimat: setiap pekerjaan adalah hasil desain, dan pekerjaan yang tidak
pernah dirancang secara sadar adalah hasil desain yang buruk. Uraian jabatan
yang hanya menumpuk tugas tanpa memikirkan keutuhan, otonomi, dan umpan
baliknya adalah keputusan desain. Membiarkan orang terbaik kelebihan beban
adalah keputusan desain. Bahkan tidak memutuskan apa-apa adalah keputusan
desain, yaitu keputusan membiarkan pekerjaan dibentuk oleh tambal sulam.
Yang khas dari
pendekatan buku ini adalah menggabungkan dua tradisi yang jarang bertemu:
tradisi motivasional (Hackman-Oldham, Herzberg) yang bertanya apakah pekerjaan
ini layak dijalani manusia, dan tradisi teknik (pengukuran beban, keseimbangan
lintasan) yang bertanya apakah pekerjaan ini masuk akal secara kapasitas.
Keduanya harus lulus. Pekerjaan yang bermakna tetapi bebannya mustahil akan
menghancurkan orang yang paling mencintainya; pekerjaan yang bebannya pas
tetapi kosong maknanya akan ditinggalkan begitu ada pintu.
Kelebihan dan Keterbatasan
Ilmu desain
pekerjaan adalah salah satu wilayah MSDM dengan bukti paling kokoh; sedikit
intervensi organisasi yang efeknya sekonsisten pengayaan pekerjaan.
Keterbatasannya perlu dicatat tiga. Pertama, tidak semua orang menginginkan
pekerjaan yang diperkaya; kekuatan kebutuhan untuk berkembang berbeda-beda, dan
memaksakan otonomi kepada orang yang sedang tidak menginginkannya adalah bentuk
lain dari tidak mendengarkan. Kedua, pengayaan sering dipakai organisasi
sebagai bahasa halus untuk penambahan beban tanpa penambahan imbalan; pekerja
cepat mencium bedanya, dan sekali tercium, kata "pemberdayaan" akan
disambut senyum sinis bertahun-tahun. Ketiga, desain pekerjaan menyentuh
wilayah yang sensitif secara politik: memperkaya satu pekerjaan sering berarti
mengambil wewenang dari pekerjaan di atasnya, dan perlawanan yang muncul jarang
mengaku sebagai perlawanan.
Panduan Praktik: Workload Analysis dan Redesign Pekerjaan
Pilih satu
kelompok pekerjaan yang bermasalah (turnover tinggi, lembur kronis, atau
keluhan beban). Kerjakan dua tahap berikut.
Tahap pertama,
analisis beban. (1) Daftarkan seluruh tugas kelompok itu bersama pemegang
pekerjaannya sendiri; jangan menyalin uraian jabatan, karena Anda sedang
mencari kenyataan. (2) Untuk setiap tugas, taksir frekuensi (berapa kali per
hari, pekan, atau bulan) dan durasi wajarnya sekali kerjakan; jika perlu,
cocokkan taksiran dengan pengamatan atau catatan beberapa hari. (3) Kalikan dan
jumlahkan menjadi beban jam per bulan, lalu bandingkan dengan jam tersedia per
orang setelah dikurangi cuti, rapat, dan gangguan yang wajar; nisbah di atas
kira-kira 85% dalam jangka panjang adalah lampu kuning, dan di atas 100%
berarti selama ini selisihnya dibayar diam-diam dengan lembur, mutu, atau
kesehatan orang. (4) Periksa juga sebarannya antarorang; rata-rata yang sehat
bisa menyembunyikan satu orang yang tenggelam.
Tahap kedua,
rancang ulang. Untuk pekerjaan yang bebannya sudah masuk akal (atau sesudah
dibereskan), uji desainnya dengan lima pertanyaan Hackman-Oldham: apakah
pekerjaan ini memakai lebih dari satu keterampilan; apakah pemegangnya
mengerjakan sesuatu yang utuh dan bisa ia tunjuk hasilnya; apakah ia tahu untuk
siapa hasil itu penting; apakah ia punya wewenang mengatur caranya; dan apakah
ia mengetahui hasilnya tanpa harus menunggu penilaian tahunan. Setiap jawaban
"tidak" adalah peluang desain, dan perbaikan yang paling murah hampir
selalu pada dua yang terakhir: otonomi dan umpan balik. Libatkan pemegang
pekerjaan dalam merancangnya; selain lebih adil, merekalah yang tahu di mana
pekerjaan itu menyakitkan. Dan tutup dengan kejujuran tentang imbalan: jika
desain baru menuntut lebih, imbalannya harus dibicarakan, bukan diselundupkan.
Ringkasan Bab
Pekerjaan adalah
satuan desain yang paling dekat dengan kehidupan orang bekerja, dan setengah
abad penelitian memberi tahu kita apa yang membuatnya baik: keragaman,
keutuhan, arti, otonomi, dan umpan balik dari sisi motivasi; keseimbangan
tuntutan, kendali, dan sumber daya dari sisi kesehatan; beban yang diukur,
bukan diwariskan, dari sisi kapasitas. Orang juga merancang pekerjaannya
sendiri diam-diam, dan desain yang baik memberi ruang untuk itu. Bagi IE-HRM,
tidak merancang pekerjaan bukanlah sikap netral; ia adalah desain yang buruk
yang dibiarkan bekerja.
Pertanyaan Reflektif
- Uji pekerjaan Anda sendiri dengan lima pertanyaan Hackman-Oldham. Pada pertanyaan mana ia gugur, dan apa akibatnya yang Anda rasakan?
- Siapa di unit Anda yang menjadi tempat pembuangan tugas tambahan karena kemampuannya? Berapa lama lagi menurut Anda ia bertahan?
- Pernahkah organisasi Anda menjalankan "pemberdayaan" yang sesungguhnya penambahan beban? Bagaimana orang-orang mengetahuinya, dan apa bekasnya sampai sekarang?
Bacaan Lanjutan
Herzberg (1968) tetap merupakan tulisan pendek terbaik tentang pengayaan pekerjaan. Hackman dan Oldham (1980), Work Redesign, adalah rujukan lengkap model karakteristik pekerjaan dari tangan pertamanya. Parker (2014) merangkum keadaan mutakhir ilmu desain kerja dengan cakupan yang melampaui motivasi. Wrzesniewski dan Dutton (2001) membuka mata tentang desain yang dikerjakan diam-diam oleh para pekerja sendiri.
Bab 8 ·
Pengukuran Kerja dan Produktivitas
Dalam bab ini:
Pengantar dan konteks: ketika pengukur waktu datang ke lini
Work measurement: warisan tertua teknik industri
Time study, work sampling, dan predetermined motion time system
Standar kerja: antara akurasi dan keadilan
Produktivitas: definisi, pengukuran, dan salah kaprahnya
Produktivitas pekerja pengetahuan
Perspektif IE-HRM: dari mengukur orang menuju mengukur sistem
Kelebihan dan keterbatasan pengukuran kerja
Panduan praktik: menyusun standar kerja dan baseline produktivitas
Ringkasan bab
Pertanyaan reflektif dan bacaan lanjutan
Ukuran yang tidak dipercaya lebih buruk daripada tidak ada ukuran
* * *
Pengantar dan Konteks: Ketika Pengukur Waktu Datang ke Lini
Ada pemandangan
yang berulang di pabrik-pabrik sejak zaman Taylor sampai hari ini. Seorang
petugas berdiri di pinggir lini dengan papan jalan dan pengukur waktu. Dan
seketika, tanpa aba-aba, seluruh lini melambat. Para operator bekerja dengan
gerakan yang tiba-tiba sangat berhati-hati. Semua orang tahu apa yang sedang
terjadi: hasil pengukuran hari ini akan menjadi standar, standar akan menjadi
target, dan target akan menempel pada mereka bertahun-tahun. Maka rasionalnya
sederhana: melambatlah hari ini agar bisa bernafas seterusnya.
Taylor sendiri
mengenal gejala ini dan menyebutnya soldiering,
kerja lambat yang disengaja, dan seluruh sistemnya dibangun sebagian untuk
memeranginya (Taylor, 1911). Yang tidak sempat ia akui adalah bahwa gejala itu
bukan kelicikan bawaan buruh, melainkan jawaban yang masuk akal terhadap sistem
yang tidak dipercaya. Di tempat yang standarnya pernah dipakai untuk memeras,
orang belajar melindungi diri dari pengukuran. Di tempat yang standarnya
dipakai untuk menyeimbangkan beban dan merencanakan dengan adil, orang justru
meminta pekerjaannya diukur.
Bab ini membahas
warisan tertua teknik industri itu: pengukuran kerja. Warisan ini menyimpan
alat-alat yang sangat berguna bagi MSDM (untuk menghitung kebutuhan orang,
menyeimbangkan beban, dan menilai perbaikan) sekaligus menyimpan sejarah
penyalahgunaan yang paling panjang. Karena itu bab ini berjalan di dua jalur
sekaligus: tekniknya dan syarat keadilannya. Yang satu tanpa yang lain sudah
terbukti berakhir buruk.
Landasan Teori dan Penelitian
Tiga keluarga teknik
pengukuran kerja
Pengukuran kerja
(work measurement) adalah penentuan
berapa lama sebuah pekerjaan sepatutnya diselesaikan oleh pekerja yang
terlatih, bekerja dengan cara yang telah ditetapkan, pada kecepatan yang dapat
dipertahankan sepanjang hari tanpa merusak dirinya. Setiap kata dalam definisi
itu penting, dan yang terakhir paling sering dilupakan. Tiga keluarga tekniknya
sebagai berikut (Barnes, 1980; Freivalds & Niebel, 2013).
Pertama, studi
waktu (time study): mengamati
langsung pekerjaan yang berulang, memecahnya menjadi elemen, mengukur waktu
setiap elemen berkali-kali, menilai tempo kerja pengamatan dibandingkan tempo
normal, lalu menambahkan kelonggaran (allowance)
untuk kebutuhan pribadi, kelelahan, dan hambatan yang tak terhindarkan.
Kelonggaran ini bukan kemurahan hati; ia pengakuan bahwa manusia bukan mesin,
dan standar yang dihitung tanpa kelonggaran adalah standar yang mustahil
dipertahankan.
Kedua, sampling
kerja (work sampling): mengamati
sekelompok pekerja pada waktu-waktu acak yang cukup banyak, mencatat sedang
mengerjakan apa masing-masing pada saat itu, lalu menyimpulkan berapa persen
waktu terpakai untuk setiap jenis kegiatan. Teknik ini murah, tidak mengganggu,
dan sangat cocok untuk pekerjaan yang tidak berulang rapi, termasuk pekerjaan
kantor. Hasil sampling kerja di lingkungan administrasi hampir selalu
mengejutkan dengan cara yang sama: porsi waktu yang termakan oleh menunggu,
mencari, dan mengerjakan ulang jauh lebih besar daripada yang diduga siapa pun.
Ketiga, sistem
waktu gerakan baku (predetermined motion
time system): membangun waktu sebuah tugas dari tabel waktu gerakan-gerakan
dasar manusia yang telah diteliti puluhan tahun. Kekuatannya, standar dapat
dihitung bahkan sebelum pekerjaannya ada, sehingga desain stasiun kerja dapat
diuji di atas kertas. Kelemahannya, ia menuntut keahlian khusus dan hanya masuk
akal untuk pekerjaan manual berulang bervolume besar.
Standar kerja: antara
akurasi dan keadilan
Hasil pengukuran
menjadi standar kerja, dan di sinilah persoalan berpindah dari teknik ke
keadilan. Standar yang baik memenuhi syarat teknis (cara kerja ditetapkan dulu
baru diukur, sampel cukup, tempo dinilai jujur, kelonggaran memadai) dan syarat
sosial: proses pengukurannya terbuka, pekerja atau wakilnya dilibatkan,
kegunaannya dijelaskan dan ditepati, dan standarnya ditinjau ulang ketika cara
kerja berubah. Sejarah hubungan industrial penuh dengan konflik yang meledak
dari standar yang dipaksakan, dan pola pemicunya hampir selalu sama: standar
diukur diam-diam, ditetapkan sepihak, lalu dipakai untuk menaikkan target atau
memangkas upah borongan. Pekerja yang melambat di depan pengukur waktu sedang
membaca sejarah itu, bukan sedang malas.
Produktivitas dan salah
kaprahnya
Produktivitas
adalah nisbah keluaran terhadap masukan. Definisi yang sederhana ini menyimpan
tiga jebakan yang setiap praktisi harus hafal. Pertama, jebakan pembilang:
keluaran yang dihitung harus keluaran yang baik; unit cacat, laporan yang tidak
dibaca, dan layanan yang harus diulang bukan keluaran melainkan pemborosan yang
menyamar. Kedua, jebakan penyebut: produktivitas tenaga kerja dapat
"naik" hanya karena orang dikurangi dan sisa bebannya dipikul lembur
diam-diam; angka membaik, sistemnya memburuk. Ketiga, dan yang paling penting
bagi buku ini, jebakan alamat: produktivitas terlalu sering dibaca sebagai
sifat orang ("dia produktif", "mereka tidak produktif"),
padahal untuk sebagian besar pekerjaan, langit-langit produktivitas ditentukan
oleh sistem: alat, metode, aliran material, mutu masukan, dan desain pekerjaan
itu sendiri. Operator terbaik di lini yang buruk akan kalah oleh operator
sedang di lini yang baik, dan menyalahkan orangnya adalah kesalahan alamat yang
telah kita bedah pada bab lima.
Produktivitas pekerja
pengetahuan
Kejujuran
menuntut satu pengakuan besar: seluruh perangkat di atas lahir dari pekerjaan
yang kasatmata dan keluarannya seragam, dan makin jauh sebuah pekerjaan dari
ciri itu, makin berbahaya perangkat ini dipakai mentah-mentah. Drucker (1999)
menyebut produktivitas pekerja pengetahuan sebagai tantangan manajemen terbesar
abad ini, dan meletakkan bedanya pada titik yang tepat: pada kerja manual,
tugas sudah tertentu dan pertanyaannya "bagaimana mengerjakannya lebih
cepat"; pada kerja pengetahuan, pertanyaan pertamanya justru "apa
yang seharusnya dikerjakan", dan mutu keluaran lebih penting daripada
jumlahnya. Mengukur pekerja pengetahuan dengan hitungan kegiatan (jumlah email,
jam daring, baris kode, jumlah kunjungan) adalah mengukur yang mudah dihitung
justru karena yang penting sulit dihitung, dan akibatnya dapat diramalkan:
orang akan memproduksi kegiatan, bukan hasil. Untuk kerja pengetahuan, satuan
ukur yang jujur biasanya lebih kasar tetapi lebih benar: hasil per periode yang
disepakati di muka, mutu menurut penilaian penerima hasil, dan waktu ujung ke
ujung dari proses tempat pekerjaan itu hidup.
Perspektif IE-HRM: Dari Mengukur Orang menuju Mengukur Sistem
Kini kita sampai
pada pembalikan yang menjadi ciri kerangka buku ini. Pengukuran kerja dalam
IE-HRM dipakai terutama untuk mengukur sistem, bukan menghakimi orang. Bedanya
bukan pada alatnya, melainkan pada pertanyaan yang dijawabnya. Mengukur untuk
menghakimi bertanya: siapa yang lambat? Mengukur untuk memperbaiki sistem
bertanya: berapa kapasitas sesungguhnya proses ini, di mana waktunya terbuang,
berapa orang yang sungguh dibutuhkan agar beban sehat, dan apakah perbaikan
bulan lalu benar-benar bekerja?
Pembalikan ini
bukan kelembutan hati semata; ia juga akurasi. Sebagaimana diajarkan Deming
(1986), variasi hasil antarorang di dalam sistem yang sama sebagian besar
adalah suara sistem itu sendiri, dan menghakimi orang berdasarkan variasi
sistem bukan hanya kejam, melainkan salah hitung. Dan ada untung praktisnya
yang besar: begitu orang percaya bahwa pengukuran tidak akan dipakai menghukum,
data menjadi jujur. Lini yang melambat di depan pengukur waktu dan formulir
yang diisi asal-asalan adalah biaya dari pengukuran yang menghakimi, dan biaya
itu dibayar dalam bentuk yang paling mahal: keputusan yang diambil dari data
yang bohong.
Kelebihan dan Keterbatasan Pengukuran Kerja
Kelebihannya
nyata dan langka: dari semua wilayah MSDM, inilah yang menyediakan angka paling
keras untuk pertanyaan paling sering diajukan, yaitu berapa orang yang kita
butuhkan dan ke mana waktu kita pergi. Perencanaan tenaga kerja (bab dua belas)
dan analisis beban (bab tujuh) berdiri di atas fondasi ini. Keterbatasannya
telah dibahas jujur: ia paling kuat pada kerja berulang yang kasatmata, makin
lemah pada kerja pengetahuan dan kerja perawatan, dan selamanya rawan
disalahgunakan. Satu keterbatasan lagi perlu ditambahkan: pengukuran itu
sendiri memakan waktu dan mengubah yang diukur; ukurlah secukupnya untuk
keputusan yang menunggu, bukan seteliti mungkin untuk kepuasan pengukurnya.
Panduan Praktik: Menyusun Standar Kerja dan Baseline
Produktivitas
Pilih satu jenis
pekerjaan yang volumenya besar dan berulang (di lingkungan HR sendiri pun
banyak: memproses lamaran, menjawab permintaan surat keterangan, memproses
perubahan data). Kerjakan langkah berikut.
Pertama, umumkan
maksudnya sebelum mengukur apa pun: untuk menyeimbangkan beban dan menghitung
kebutuhan orang, bukan untuk menilai individu, dan hasil per orang tidak akan
dilaporkan ke atasan penilainya. Lalu tepati itu. Satu kali saja janji ini
dilanggar, seluruh program pengukuran di organisasi Anda akan diracuni
bertahun-tahun.
Kedua, bakukan
dulu cara kerjanya (pakai hasil panduan praktik bab enam); mengukur pekerjaan
yang setiap orang mengerjakannya dengan cara berbeda hanya menghasilkan
rata-rata dari kekacauan.
Ketiga, pilih
tekniknya: studi waktu untuk pekerjaan yang berulang rapi, sampling kerja untuk
pekerjaan campuran. Untuk sampling: daftarkan dulu kategori kegiatannya
(termasuk kategori yang jujur: menunggu, mencari, mengerjakan ulang,
terganggu), lalu amati pada waktu acak sampai setiap kategori punya cukup
pengamatan; beberapa ratus titik pengamatan selama dua sampai tiga pekan
biasanya memadai untuk keputusan manajerial.
Keempat, hitung
standarnya dengan kelonggaran yang jujur, dan uji dengan pertanyaan pamungkas:
sanggupkah pekerja yang baik mempertahankan tempo ini delapan jam sehari, lima
hari sepekan, tanpa menabung kelelahan? Jika ragu, standarnya terlalu ketat.
Kelima, tetapkan
baseline produktivitas pada tingkat proses (keluaran baik per orang-jam untuk
seluruh unit, bukan per individu), catat kondisi saat baseline diambil, dan
pakai angka itu untuk satu tujuan: menilai apakah perbaikan sistem berikutnya
berhasil. Baseline yang tidak diikuti perbaikan hanya menjadi alat pembanding
antarorang, dan kita sudah tahu ke mana jalan itu menuju.
Ringkasan Bab
Pengukuran kerja
menyediakan tiga keluarga teknik (studi waktu, sampling kerja, waktu gerakan
baku) untuk menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab kesan: berapa lama
pekerjaan sepatutnya, ke mana waktu pergi, dan berapa orang yang dibutuhkan.
Standar yang lahir darinya harus lulus dua ujian sekaligus, teknis dan
keadilan, karena standar yang tidak dipercaya akan dilawan dengan data yang
bohong. Produktivitas harus dibaca dengan tiga kewaspadaan: pembilangnya harus
keluaran yang baik, penyebutnya jangan dimanipulasi, dan alamatnya lebih sering
sistem daripada orang. Untuk pekerja pengetahuan, alat-alat klasik ini harus
diganti satuan yang lebih kasar tetapi lebih jujur. Dan di atas semuanya
berdiri pembalikan khas IE-HRM: ukur untuk memperbaiki sistem, bukan untuk
menghakimi orang; selain lebih adil, itu satu-satunya cara mendapatkan data
yang benar.
Pertanyaan Reflektif
- Jika besok pagi seorang pengukur waktu berdiri di unit Anda, apa yang akan terjadi pada tempo kerja? Apa yang dikatakan jawaban itu tentang sejarah pengukuran di organisasi Anda?
- Angka produktivitas apa di organisasi Anda yang membaik di atas kertas sambil memburuk dalam kenyataan? Jebakan mana yang bekerja: pembilang, penyebut, atau alamat?
- Untuk pekerjaan pengetahuan di tim Anda, apa satuan hasil yang paling jujur, dan mengapa selama ini yang diukur justru kegiatan?
Bacaan Lanjutan
Barnes (1980), Motion and Time Study, adalah buku teks klasik yang tetap menjadi rujukan teknik pengukuran kerja; Freivalds dan Niebel (2013) adalah penerusnya yang mutakhir. Drucker (1999) merumuskan persoalan produktivitas pekerja pengetahuan dalam satu artikel yang belum terjawab tuntas sampai sekarang. Dan bacalah kembali bab dua Taylor (1911) tentang soldiering; sedikit teks yang lebih jelas memperlihatkan bagaimana ketidakpercayaan antara pengukur dan yang diukur bermula.
Bab 9 ·
Ergonomi, Human Factors, dan Keselamatan Kerja
Dalam bab ini:
Pengantar dan konteks: investigasi yang berhenti terlalu cepat
Ergonomi fisik: postur, beban, dan lingkungan kerja
Ergonomi kognitif: beban mental, atensi, dan kesalahan manusia
Ergonomi organisasi: jadwal kerja, shift, dan kelelahan
Human error sebagai gejala sistem
Keselamatan dan kesehatan kerja dalam kerangka sistem
Safety culture dan just culture
Perspektif IE-HRM: keselamatan sebagai hasil desain
Kelebihan dan keterbatasan
Panduan praktik: checklist asesmen ergonomi dan risiko K3
Ringkasan bab
Pertanyaan reflektif dan bacaan lanjutan
Menyalahkan adalah cara tercepat menutup investigasi dan cara terpasti mengulang kecelakaan
* * *
Pengantar dan Konteks: Investigasi yang Berhenti Terlalu Cepat
Sebuah
kecelakaan terjadi di area kerja: seorang operator alat berat menabrak struktur
karena, menurut hasil investigasi, salah membaca posisi. Laporan investigasi
menyimpulkan penyebabnya dalam dua kata yang sangat dikenal semua praktisi K3: human error. Operator diberi sanksi,
seluruh karyawan diberi pengarahan keselamatan, spanduk baru dipasang di
gerbang. Kasus ditutup.
Empat belas
bulan kemudian kecelakaan yang hampir sama terjadi di titik yang sama, dengan
operator yang berbeda. Dan baru pada investigasi kedua seseorang bertanya
dengan cara yang berbeda: mengapa dua orang yang berbeda membuat kesalahan yang
sama di tempat yang sama? Jawabannya ternyata sudah menunggu bertahun-tahun
untuk ditemukan: sudut pandang dari kabin di titik itu terhalang, penerangan
buruk pada shift malam, dan penanda posisi yang sudah lama pudar tidak pernah
masuk daftar perbaikan. Kesalahan manusia yang pertama bukan penjelasan; ia
adalah petunjuk yang dibuang.
Dalam
kepustakaan keselamatan, cara berpikir yang membedakan dua investigasi itu
punya nama. Yang pertama memperlakukan human error sebagai penyebab dan
berhenti di sana. Yang kedua memperlakukannya sebagai gejala dari persoalan
yang lebih dalam di dalam sistem (Dekker, 2014). Bab ini membahas tiga bidang
yang saling bertaut di sekitar cara berpikir kedua itu: ergonomi, human
factors, dan keselamatan kerja. Ketiganya adalah pilar Human dalam bentuknya
yang paling harfiah: tubuh, pikiran, dan nyawa manusia di tempat kerja.
Landasan Teori dan Penelitian
Ergonomi fisik
Prinsip dasar
ergonomi termuat dalam judul salah satu buku klasiknya: sesuaikan tugas dengan
manusia, fitting the task to the human
(Kroemer & Grandjean, 1997). Ergonomi fisik mengurus kesesuaian antara
pekerjaan dan tubuh: postur kerja, gerakan berulang, pengangkatan beban,
getaran, kebisingan, suhu, dan pencahayaan. Ilmu ini menyediakan batas-batas
yang telah diteliti panjang (berapa beban angkat yang aman pada postur
tertentu, berapa lama postur statis boleh dipertahankan, kombinasi frekuensi
dan gaya seperti apa yang menumbuhkan cedera regang berulang), dan
pelanggarannya dibayar dengan mata uang yang bergerak lambat tetapi pasti: gangguan
otot dan rangka, jenis penyakit akibat kerja yang paling banyak ditemukan di
hampir semua negara industri.
Yang perlu
digarisbawahi bagi praktisi MSDM: keluhan-keluhan itu jarang datang sebagai
laporan K3. Ia datang menyamar sebagai data SDM: absensi yang merayap naik,
produktivitas sore hari yang jatuh, permintaan pindah dari stasiun kerja
tertentu, dan turnover pada kelompok kerja tertentu. Fungsi HR yang tidak
mengenal ergonomi akan mengobati semua itu dengan resep motivasi.
Ergonomi kognitif
Manusia bukan
hanya tubuh yang bisa cedera; ia juga pengolah informasi yang kapasitasnya
terbatas. Ergonomi kognitif mengurus keterbatasan itu: perhatian yang tidak
bisa dibagi tanpa biaya, ingatan kerja yang hanya sanggup memegang sedikit hal
sekaligus, kewaspadaan yang menurun dalam pemantauan panjang yang monoton, dan
kecenderungan sistematis dalam mengambil keputusan cepat (Wickens, Lee, Liu,
& Gordon Becker, 2004). Dari sinilah lahir prinsip-prinsip desain yang kini
terasa wajar: tampilan yang sesuai harapan penggunanya, alarm yang tidak
berteriak serentak, prosedur kritis yang tidak mengandalkan ingatan, dan
konfirmasi untuk tindakan yang tidak bisa dibatalkan.
Bagi MSDM,
ergonomi kognitif punya dua wilayah penerapan yang jarang disadari. Pertama,
desain formulir, sistem, dan prosedur HR sendiri; formulir yang membingungkan
adalah masalah ergonomi kognitif, dan tingkat kesalahan pengisiannya adalah
datanya. Kedua, beban mental sebagai bagian dari beban kerja; analisis beban
pada bab tujuh belum lengkap jika hanya menghitung jam, karena satu jam
memantau enam layar tidak sama dengan satu jam mengarsip dokumen.
Ergonomi organisasi
Lapis ketiga
adalah desain waktu dan organisasi kerja: jam kerja, rotasi shift, waktu
istirahat, dan kelelahan. Penelitian tentang kerja shift konsisten pada
beberapa temuan yang langsung relevan bagi perancang jadwal: risiko kecelakaan
meningkat pada shift malam dan pada jam-jam panjang, menumpuk dari malam ke
malam berturut-turut, dan dipengaruhi arah serta kecepatan rotasi (Folkard
& Tucker, 2003). Kelelahan adalah persoalan sistem dalam arti yang paling
ketat: ia diciptakan oleh desain jadwal, bukan oleh lemahnya tekad, dan tidak
ada pengarahan motivasi yang mampu membatalkan ritme sirkadian. Bagi organisasi
yang beroperasi dua puluh empat jam, desain pola shift adalah salah satu
keputusan MSDM dengan taruhan nyawa yang paling langsung, dan karena itu ia
harus diperlakukan sebagai keputusan teknik, bukan sekadar kesepakatan jadwal.
Human error sebagai gejala
sistem
Reason (1990)
meletakkan dasar cara membaca kesalahan manusia yang kini menjadi rujukan
lintas industri. Kesalahan punya jenis-jenis yang berbeda sebabnya: keseleo
tindakan (slip) pada pekerjaan yang
sudah otomatis, kealpaan (lapse) pada
ingatan, kekeliruan (mistake) pada
rencana, dan pelanggaran (violation)
yang disengaja tetapi hampir selalu tumbuh di lahan yang disiapkan sistem:
prosedur yang tidak bisa dijalankan, target yang hanya tercapai dengan jalan
pintas, dan pembiaran yang menahun. Model "keju Swiss" dari Reason
(1997) melengkapinya: kecelakaan besar hampir tidak pernah disebabkan satu
kesalahan tunggal, melainkan oleh lubang-lubang pada berlapis-lapis pertahanan
yang kebetulan sebaris; kesalahan operator hanyalah lubang terakhir yang paling
terlihat, sementara lubang-lubang lain (desain, perawatan, pelatihan, tekanan
produksi) dibuat jauh dari tempat kejadian, oleh keputusan-keputusan yang
tampak wajar pada waktunya.
Konsekuensi
praktisnya dirumuskan Dekker (2014) dengan tajam: pertanyaan investigasi yang
benar bukan "siapa yang salah" melainkan "mengapa tindakan itu
masuk akal bagi orang itu pada saat itu". Pertanyaan pertama menghasilkan
hukuman dan pengulangan; pertanyaan kedua menghasilkan pengetahuan tentang
sistem.
Keselamatan kerja dalam
kerangka sistem
Ilmu keselamatan
modern menambahkan dua koreksi lagi terhadap praktik lama. Pertama, tentang
ukuran: angka kecelakaan yang rendah tidak sama dengan sistem yang aman,
terutama bila angka rendah itu dicapai dengan menekan pelaporan; organisasi
yang menghukum pelapor sedang membeli statistik bagus dengan membutakan dirinya
sendiri. Kedua, tentang arah pandang: keselamatan bukan hanya ketiadaan
kecelakaan melainkan kehadiran kapasitas untuk berhasil dalam kondisi yang
beragam, sehingga yang perlu dipelajari bukan hanya kegagalan yang jarang,
melainkan juga kerja normal sehari-hari tempat orang terus-menerus menyesuaikan
diri menutup celah sistem (Hollnagel, 2014). Penelitian tentang iklim
keselamatan menegaskan penentu utamanya: persepsi pekerja tentang seberapa
sungguh-sungguh manajemen menomorsatukan keselamatan ketika ia bertabrakan
dengan target produksi (Zohar, 1980). Iklim itu tidak dibentuk oleh spanduk; ia
dibentuk oleh keputusan yang disaksikan orang banyak.
Safety culture dan just
culture
Dari semua itu
mengalir dua konsep yang sering diucapkan dan jarang dijalankan. Budaya
keselamatan yang sehat adalah budaya yang informasinya mengalir: bahaya
dilaporkan, kabar buruk naik ke atas tanpa dihukum, dan pembawa berita tidak
ditembak (Westrum, 2004). Prasyaratnya adalah just culture, budaya yang adil: garis yang jelas dan disepakati
antara kesalahan yang manusiawi (yang ditanggapi dengan perbaikan sistem dan
pembelajaran) dan kesembronoan yang sesungguhnya (yang tetap ditindak). Tanpa
garis itu, satu dari dua hal terjadi: semua kesalahan dihukum dan orang
berhenti melapor, atau tidak ada yang dihukum dan keadilan mati dengan cara
lain. Menetapkan garis itu, menuliskannya, dan yang tersulit, menepatinya pada
kasus pertama yang menguji, adalah salah satu pekerjaan bersama HR dan K3 yang
paling menentukan.
Perspektif IE-HRM: Keselamatan sebagai Hasil Desain
Dalam kerangka
buku ini, bab ini bukan bab tamu dari disiplin sebelah; ia penerapan paling
murni dari seluruh premis. Kecelakaan dan cedera adalah keluaran sistem,
sebagaimana produktivitas adalah keluaran sistem. Prinsip kesembilan
(organisasi yang baik belajar dari kesalahan sistem, bukan hanya menyalahkan
individu) diuji paling keras justru di wilayah ini, karena sesudah kecelakaan,
godaan menyalahkan berada pada puncaknya: ada korban, ada kemarahan, ada
kebutuhan cerita yang sederhana, dan kadang ada kepentingan hukum yang
menginginkan satu nama.
Di sini pula HR
dan K3 bertemu lebih dalam daripada urusan administrasi. Hampir semua
pertahanan dalam model keju Swiss adalah wilayah MSDM: seleksi dan penempatan,
pelatihan dan kompetensi, desain jadwal dan beban, sistem insentif yang
menentukan apakah target menabrak keselamatan, dan budaya adil yang menentukan
apakah orang berani bicara. Fungsi HR yang memperlakukan K3 sebagai departemen
lain sedang melepaskan sebagian besar pengungkitnya sendiri.
Kelebihan dan Keterbatasan
Kekuatan bidang
ini adalah kematangannya: batas-batas ergonomi fisik dan pola risiko shift
didukung penelitian puluhan tahun, dan kerangka Reason telah teruji lintas
industri berisiko tinggi. Keterbatasannya jujur diakui para tokohnya sendiri.
Pandangan sistem terhadap kesalahan dapat disalahgunakan menjadi peniadaan
tanggung jawab, dan garis just culture pada kasus nyata tidak pernah setegas di
atas kertas. Pengetahuan ergonomi juga bersandar pada data populasi yang tidak
selalu mewakili semua tubuh dan semua konteks, sehingga penerapannya tetap
menuntut pengukuran setempat. Dan yang paling praktis: bidang ini mudah
terjebak menjadi kepatuhan dokumen, tumpukan izin kerja dan berita acara yang
rapi di atas sistem yang tetap berbahaya. Dokumen bukan pertahanan; ia hanya
catatan tentang pertahanan.
Panduan Praktik: Checklist Asesmen Ergonomi dan Risiko K3
Gunakan checklist berikut untuk asesmen awal satu area kerja. Ia bukan pengganti asesmen teknis oleh ahlinya; ia alat penyaring agar HR tahu kapan harus memanggil ahli, dan data SDM apa yang harus dibawa ke meja.
|
Wilayah |
Pertanyaan penyaring |
|
Fisik |
Adakah
pekerjaan dengan postur janggal yang lama, angkatan berat, atau gerakan sama
yang diulang terus-menerus? Adakah keluhan pegal atau nyeri yang sudah
dianggap "biasa"? |
|
Kognitif |
Langkah
kritis mana yang mengandalkan ingatan orang, bukan penanda atau sistem? Alarm
dan tampilan mana yang sering diabaikan karena terlalu sering berbunyi? |
|
Organisasi |
Bagaimana
pola shift dan lemburnya: berapa malam berturut-turut, berapa jam terpanjang,
kapan istirahat? Siapa yang paling lelah di area ini, dan tugas kritis apa
yang ia pegang? |
|
Kesalahan
dan pelaporan |
Tiga
kesalahan apa yang paling sering terjadi di sini, dan apa yang terjadi pada
orang yang terakhir melaporkan bahaya? Adakah jalan pintas yang semua orang
tahu dan semua orang diamkan? |
|
Pertahanan |
Untuk
risiko terbesar area ini, sebutkan lapisan pertahanannya satu per satu.
Lapisan mana yang sesungguhnya tinggal di atas kertas? |
|
Data
SDM |
Bagaimana
tren absensi, keluhan kesehatan, permintaan pindah, dan turnover area ini
dibandingkan area lain? Adakah polanya mengikuti shift atau musim beban? |
Cara memakainya:
isi bersama pengawas area, satu atau dua pekerja senior, dan petugas K3;
jalankan di lapangan, bukan di ruang rapat; dan akhiri dengan dua daftar yang
dipisahkan tegas, yaitu perbaikan yang bisa diputuskan minggu ini oleh orang
yang hadir, dan temuan yang menuntut asesmen ahli atau keputusan di atas.
Checklist yang berakhir tanpa dua daftar itu hanya menambah dokumen.
Ringkasan Bab
Ergonomi
menuntut pekerjaan disesuaikan dengan tubuh dan pikiran manusia, bukan
sebaliknya, pada tiga lapis sekaligus: fisik, kognitif, dan organisasi. Ilmu
keselamatan modern membaca kesalahan manusia sebagai gejala sistem dan
kecelakaan sebagai kegagalan berlapis pertahanan, sehingga pertanyaan
investigasi yang benar adalah mengapa tindakan itu masuk akal bagi pelakunya,
bukan siapa yang salah. Budaya keselamatan yang sehat adalah budaya yang
informasinya mengalir, dan prasyaratnya budaya yang adil. Bagi IE-HRM, seluruh
bab ini adalah premis buku dalam taruhannya yang tertinggi: pada nyawa manusia,
menyalahkan orang untuk kegagalan sistem bukan lagi sekadar tidak akurat; ia
mematikan.
Pertanyaan Reflektif
- Baca kembali laporan investigasi kecelakaan atau insiden terakhir di organisasi Anda. Pada kata apa investigasinya berhenti, dan pertanyaan apa yang tidak sempat diajukan?
- Apa yang terjadi pada orang terakhir yang melaporkan bahaya atau kesalahan di tempat Anda? Cerita itu, bukan spanduk, adalah budaya keselamatan Anda yang sesungguhnya.
- Jadwal shift di organisasi Anda: hasil perancangan yang mempertimbangkan kelelahan, atau warisan yang tidak pernah diusik? Siapa yang menanggung selisihnya?
Bacaan Lanjutan
Reason (1990), Human Error, adalah fondasi bidang ini; Reason (1997) menerapkannya pada kecelakaan organisasi. Dekker (2014), The Field Guide to Understanding 'Human Error', adalah buku yang paling banyak mengubah cara praktisi menginvestigasi, ditulis dengan gaya yang tidak mengampuni. Kroemer dan Grandjean (1997), Fitting the Task to the Human, tetap menjadi pengantar ergonomi yang paling jelas maksudnya sejak dari judul. Hollnagel (2014), Safety-I and Safety-II, membuka cara pandang keselamatan generasi berikutnya.
Bab 10 ·
Data, Pengukuran, dan Pengambilan Keputusan
Dalam bab ini:
Pengantar dan konteks: manajemen oleh kebisingan
Evidence-based HR: keputusan berbasis bukti
Jenis data SDM dan mutu data
Statistik untuk praktisi: cukup untuk tidak tertipu
Variasi: common cause dan special cause
Visualisasi data dan dashboard yang jujur
Batas data: kebijaksanaan yang tidak tergantikan
Perspektif IE-HRM: data sebagai pilar, bukan bangunan
Kelebihan dan keterbatasan
Panduan praktik: menyusun KPI HR yang valid dan tidak menyesatkan
Ringkasan bab
Pertanyaan reflektif dan bacaan lanjutan
Data yang buruk tetapi dipercaya lebih berbahaya daripada tidak ada data sama sekali.
* * *
Pengantar dan Konteks: Manajemen oleh Kebisingan
Setiap awal
bulan, di sebuah perusahaan, laporan turnover per departemen dibagikan dalam
rapat pimpinan. Departemen dengan angka tertinggi bulan itu diminta berdiri
memberi penjelasan. Bulan ini giliran departemen logistik: tiga orang keluar
dari empat puluh, hampir delapan persen, tertinggi sebulan ini. Manajernya
menjelaskan dengan gugup, pulang membawa tugas menyusun rencana perbaikan, dan
menghabiskan dua minggu berikutnya menulis dokumen. Bulan berikutnya logistik
aman; giliran departemen perawatan yang berdiri. Bulan berikutnya lagi,
departemen produksi.
Begitulah rapat
itu berputar bertahun-tahun, dan tidak seorang pun bertanya apakah
perbedaan-perbedaan bulanan itu berarti apa-apa. Dengan empat puluh orang per
departemen, selisih antara nol dan tiga orang keluar dalam sebulan hampir
seluruhnya adalah untung-untungan: siapa yang kebetulan menikah dan pindah
kota, siapa yang orang tuanya sakit, siapa yang mendapat tawaran dari
saudaranya. Rapat itu tidak sedang mengelola turnover; ia sedang menghukum
dadu. Deming (1986) menyebut pola ini sebagai salah satu penyakit manajemen
yang paling merusak: memperlakukan setiap naik-turun angka sebagai sinyal,
padahal sebagian besar adalah kebisingan, dan setiap reaksi terhadap kebisingan
bukan hanya sia-sia melainkan menambah kekacauan.
Bab ini
membekali praktisi dengan pilar keempat IE-HRM: keputusan berbasis bukti.
Isinya bukan pelajaran statistik, melainkan sesuatu yang lebih mendasar dan
lebih jarang diajarkan: disiplin berpikir tentang angka, secukupnya untuk tidak
tertipu, oleh orang lain maupun oleh diri sendiri.
Landasan Teori dan Penelitian
Evidence-based HR
Gerakan
manajemen berbasis bukti berangkat dari pengamatan yang memalukan: keputusan
tentang manusia di organisasi lebih sering didasarkan pada kebiasaan,
ikut-ikutan, dan keyakinan pribadi daripada pada bukti terbaik yang tersedia
(Rousseau, 2006; Pfeffer & Sutton, 2006). Praktik berbasis bukti tidak
berarti menyembah angka; ia berarti mendisiplinkan diri untuk menimbang empat
sumber bukti sebelum memutuskan: temuan penelitian ilmiah, data organisasi
sendiri, pengalaman profesional para praktisinya, dan kepentingan serta nilai
pihak yang terdampak (Barends & Rousseau, 2018). Empat-empatnya. Keputusan
yang hanya bersandar pada penelitian akan buta konteks; yang hanya bersandar
pada data internal akan mengulang masa lalu; yang hanya bersandar pada pengalaman
akan mewariskan bias; dan yang melupakan pihak terdampak akan dilawan oleh
mereka.
Bagi MSDM,
sumber pertama menyimpan kabar baik yang jarang dimanfaatkan: banyak pertanyaan
praktis yang penelitiannya sudah puluhan tahun menumpuk dengan jawaban cukup
jelas, dari alat seleksi mana yang memprediksi kinerja (bab lima belas) sampai
desain pekerjaan macam apa yang menyehatkan (bab tujuh). Praktisi yang tidak
pernah menengok tumpukan itu terpaksa membayar mahal untuk menemukan ulang,
atau lebih buruk, membeli keyakinan populer yang sudah lama terbantah.
Jenis data SDM dan mutu
data
Data SDM datang
dalam beberapa keluarga: data administratif (kepegawaian, kehadiran, gaji,
lembur), data proses (dari sistem rekrutmen, pelatihan, penilaian), data
persepsi (survei, wawancara keluar), dan data hasil (produktivitas, mutu,
kecelakaan, turnover). Kekuatan analisis hampir selalu lahir dari menyandingkan
antarkeluarga: persepsi beban kerja disandingkan dengan data lembur, hasil
pelatihan disandingkan dengan kinerja sesudahnya.
Namun sebelum
bicara analisis, ada urusan yang lebih rendah hati dan lebih menentukan: mutu
data. Pertanyaannya sederhana dan jawabannya sering menyakitkan. Apakah
definisinya seragam (apa yang dihitung sebagai "turnover": semua yang
keluar, atau hanya yang mengundurkan diri; karyawan tetap saja, atau semua
status)? Apakah pencatatannya lengkap dan tepat waktu? Apakah ada yang
berkepentingan terhadap angkanya, dan karena itu punya alasan membengkokkan
pencatatan? Organisasi yang menghukum unit berdasarkan angka keselamatan akan
mendapati angka keselamatannya membaik dan pelaporannya memburuk; kita telah
melihat mekanismenya pada bab sembilan. Aturan praktisnya keras: sebelum sebuah
angka diperiksa mutunya, ia belum boleh dipakai untuk keputusan tentang manusia.
Statistik untuk praktisi:
cukup untuk tidak tertipu
Praktisi tidak
perlu menjadi ahli statistik, tetapi ada beberapa kepekaan yang wajib dimiliki
karena ketiadaannya terus-menerus dimanfaatkan, sengaja atau tidak. Pertama,
ukuran sampel: angka dari kelompok kecil bergejolak liar, dan persentase tanpa
penyebutnya adalah setengah kebohongan; "kepuasan naik dua puluh
persen" bisa berarti dua orang. Kedua, pembanding: angka tanpa pembanding
yang tepat tidak berkata apa-apa; turnover lima belas persen itu buruk untuk
satu industri dan bagus untuk industri lain, buruk untuk teknisi ahli dan wajar
untuk pekerjaan musiman. Ketiga, perancu: dua hal yang bergerak bersama belum
tentu saling menyebabkan, dan yang paling licik adalah sebab ketiga yang
menggerakkan keduanya. Keempat, regresi ke rata-rata: yang ekstrem cenderung
kembali mendekati rata-rata dengan sendirinya, sehingga intervensi yang
dijatuhkan pada kelompok terburuk akan selalu tampak berhasil, terlepas dari
mutunya; banyak program perbaikan hidup dari ilusi ini bertahun-tahun
(Kahneman, 2011).
Variasi: common cause dan
special cause
Dari semua
sumbangan tradisi mutu kepada pengambilan keputusan, inilah yang terbesar dan
paling jarang dipakai di luar pabrik. Setiap proses menghasilkan angka yang
naik-turun, dan naik-turun itu terdiri atas dua jenis yang menuntut tanggapan
berlawanan (Shewhart, 1931; Deming, 1986). Variasi sebab umum (common cause) adalah napas normal
sistem, hasil dari ribuan faktor kecil; ia hanya bisa dikurangi dengan
memperbaiki sistemnya, dan bereaksi terhadap titik demi titiknya justru
memperburuk keadaan. Variasi sebab khusus (special
cause) adalah sinyal bahwa sesuatu yang berbeda telah terjadi; ia layak
diselidiki satu per satu. Alat untuk membedakannya adalah peta kendali (control chart): data yang sama diplot
menurut waktu dengan batas-batas yang dihitung dari perilakunya sendiri, dan
mendadak rapat bulanan berubah, karena kebanyakan naik-turun yang selama ini
diributkan ternyata tinggal di dalam batas napas normal (Wheeler, 2000). Rapat
turnover pada pembuka bab ini akan mati dengan satu peta kendali, dan itulah
kematian yang paling produktif dalam sejarah rapat itu.
Visualisasi dan dashboard
yang jujur
Angka mencapai
pengambil keputusan melalui tampilan, dan tampilan bisa jujur atau menipu tanpa
satu angka pun yang salah. Prinsip kejujurannya sudah lama dirumuskan:
tunjukkan datanya, jangan potong sumbu untuk mendramatisasi kemiringan, jangan
pakai grafik yang menyembunyikan sebaran di balik rata-rata, dan jangan hias
sampai hiasannya mengalahkan isinya (Tufte, 2001). Untuk data yang bergerak
dalam waktu, bentuk paling jujur hampir selalu paling sederhana: garis menurut
waktu, dengan batas kendali bila ada, dan pembanding yang relevan. Dashboard
yang baik bukan yang paling banyak angkanya, melainkan yang setiap angkanya
punya pemilik, punya pembanding, dan punya keputusan yang menunggunya. Sisanya
adalah dekorasi yang menyita perhatian, dan perhatian pengambil keputusan
adalah sumber daya yang paling terbatas di seluruh organisasi.
Batas data: kebijaksanaan
yang tidak tergantikan
Prinsip keempat
IE-HRM menyimpan klausa yang kini harus dibayar: data membantu pengambilan
keputusan, tetapi tidak menggantikan kebijaksanaan. Ada tiga batas yang tidak
boleh dilupakan. Pertama, tidak semua yang penting terukur; kepercayaan, rasa
aman, dan makna kerja hanya sebagian tertangkap angka, dan sistem yang hanya
mengurus yang terukur akan mengorbankan yang tidak terukur, sebuah patologi
yang mendapat babnya sendiri di bagian lima. Kedua, data adalah masa lalu;
keputusan tentang masa depan selalu mengandung penilaian yang melampaui data,
dan yang bisa dituntut hanyalah agar penilaian itu sadar dan terbuka, bukan
menyamar sebagai kepastian. Ketiga, di balik setiap baris data SDM ada manusia;
agregat boleh dianalisis dengan dingin, tetapi keputusan atas orang per orang
menuntut melihat orangnya, bukan barisnya.
Perspektif IE-HRM: Data sebagai Pilar, bukan Bangunan
Dalam kerangka
lima pilar, tempat data ditentukan dengan sengaja: satu pilar dari lima, bukan
fondasi bagi semuanya. Ia melayani pilar-pilar lain: mengukur beban untuk pilar
Work, mengukur aliran untuk pilar Process, menguji perbaikan untuk pilar
Improvement, dan memantau kesehatan manusia untuk pilar Human. Data yang tidak
melayani salah satunya adalah beban pelaporan yang menyamar sebagai kemajuan.
Urutan kerjanya
pun khas: bukan "kumpulkan semua data lalu cari wawasan", melainkan
"mulai dari keputusan yang menunggu, lalu tanya data apa yang akan
mengubahnya". Pertanyaan penguji yang sederhana dan kejam: jika angka ini
keluar begini, kita berbuat apa; jika keluar begitu, berbuat apa? Angka yang
kedua jawabannya sama tidak perlu dikumpulkan. Disiplin ini menyelamatkan
organisasi dari nasib yang menimpa banyak program analitik: tenggelam membangun
gudang data untuk pertanyaan yang tidak pernah dirumuskan.
Kelebihan dan Keterbatasan
Kekuatan
pendekatan berbasis bukti nyata: ia mengakhiri sebagian besar perdebatan
selera, melindungi orang dari penghakiman atas kebisingan, dan membuat
perbaikan bisa diuji. Keterbatasannya tiga, dan ketiganya sudah disinggung:
mutu data yang di banyak organisasi belum layak dianalisis; godaan mengukur
yang mudah alih-alih yang penting; dan bahaya angka menjadi tameng, tempat
pengambil keputusan bersembunyi dari tanggung jawab penilaian ("datanya
berkata begitu"). Data tidak pernah memutuskan; manusia yang memutuskan,
dan kerangka ini menuntut keputusan itu tetap bertuan.
Panduan Praktik: Menyusun KPI HR yang Valid dan Tidak
Menyesatkan
Untuk setiap
indikator yang hendak dipasang, jawab tujuh pertanyaan berikut secara tertulis.
Indikator yang tidak lulus, jangan dipasang.
Pertama,
keputusan apa yang menunggu angka ini, dan siapa pemiliknya? Kedua, apa
definisi operasionalnya, kata demi kata: apa yang dihitung, apa yang tidak,
sejak kapan, dari sumber mana? Tuliskan sampai dua orang yang berbeda akan
menghasilkan angka yang sama. Ketiga, apa pembandingnya: garis dasar sendiri,
unit serupa, atau patokan luar, dan apakah pembandingnya adil? Keempat,
seberapa besar naik-turun normalnya? Lihat dua tahun ke belakang bila ada;
tetapkan sejak awal perubahan sebesar apa yang layak ditanggapi, agar tidak
lahir rapat penghukum dadu yang baru. Kelima, bagaimana angka ini bisa
dibengkokkan, dan siapa yang tergoda? Untuk setiap indikator yang berisiko,
pasang indikator pendampingnya: turnover didampingi profil siapa yang keluar,
kecepatan proses didampingi mutunya, angka kecelakaan didampingi tingkat
pelaporan bahaya. Keenam, berapa biaya mengumpulkannya, dan apakah sepadan
dengan keputusan yang dilayaninya? Ketujuh, kapan indikator ini ditinjau ulang
untuk dipensiunkan? Indikator yang keputusannya sudah tidak ada harus dicabut;
dashboard juga butuh pemakaman.
Terakhir, batasi
jumlahnya. Selusin indikator yang bertuan mengalahkan lima puluh yang yatim.
Jika semua hal diukur, tidak ada yang diperhatikan.
Ringkasan Bab
Keputusan berbasis bukti menimbang empat sumber: penelitian, data organisasi, pengalaman praktisi, dan kepentingan pihak terdampak. Sebelum dianalisis, data harus diperiksa mutu dan definisinya; sebelum ditanggapi, naik-turunnya harus dibedakan antara napas normal sistem dan sinyal yang sesungguhnya, dan peta kendali adalah alat pembedanya. Tampilan harus jujur, indikator harus bertuan, dan setiap angka harus melayani keputusan. Di atas semuanya berdiri klausa yang menjaga seluruh pilar ini tetap waras: data membantu, kebijaksanaan memutuskan, dan di balik setiap baris ada manusia.
Pertanyaan Reflektif
- Rapat mana di organisasi Anda yang paling mirip rapat penghukum dadu? Angka apa yang diributkan di sana, dan pernahkah diperiksa berapa naik-turun normalnya?
- Ambil satu KPI HR yang sekarang dipakai. Uji dengan tujuh pertanyaan panduan praktik. Pada pertanyaan ke berapa ia gugur?
- Keputusan penting apa tentang manusia di organisasi Anda yang pernah bersembunyi di balik kalimat "datanya berkata begitu"? Penilaian siapa yang sesungguhnya sedang tidak diakui?
Bacaan Lanjutan
Wheeler (2000), Understanding Variation, adalah buku
kecil yang paling banyak mengubah cara manajer membaca angka; bacalah sebelum
membangun dashboard apa pun. Pfeffer dan Sutton (2006), Hard Facts, Dangerous Half-Truths and Total Nonsense, adalah
pengantar manajemen berbasis bukti yang paling enak dibaca. Barends dan
Rousseau (2018), Evidence-Based
Management, menyediakan metodenya secara sistematis. Tufte (2001), The Visual Display of Quantitative
Information, tetap menjadi kitab kejujuran visual.
Bab 11 ·
Continuous Improvement dalam MSDM
Dalam bab ini:
Pengantar dan konteks: program musiman
Filosofi perbaikan berkelanjutan
PDCA: siklus dasar perbaikan
Kaizen: perbaikan kecil setiap hari
Lean: menghilangkan pemborosan
Six Sigma: mengendalikan variasi
Learning organization: organisasi yang belajar dari dirinya sendiri
Perspektif IE-HRM: perbaikan sebagai pekerjaan, bukan proyek
Kelebihan dan keterbatasan
Panduan praktik: A3 problem solving untuk masalah SDM
Ringkasan bab
Pertanyaan reflektif dan bacaan lanjutan
Perbaikan yang menunggu proyek tidak akan pernah menjadi kebiasaan
* * *
Pengantar dan Konteks: Program Musiman
Di dinding
sebuah pabrik masih menempel spanduk program mutu dari lima tahun lalu,
warnanya sudah pucat dimakan matahari. Di sampingnya, bekas lubang paku dari
spanduk program sebelumnya. Karyawan senior di pabrik itu hafal siklusnya
seperti hafal musim: manajemen pulang dari seminar atau kedatangan konsultan,
sebuah program diluncurkan dengan pelatihan dan jargon baru, beberapa bulan
penuh semangat, lalu tekanan produksi datang, orang-orang kuncinya dipindahkan,
dan program itu wafat pelan-pelan tanpa pengumuman. Dua tahun kemudian program
baru lahir dengan nama baru, dan para senior saling melempar pandang: kita
tunggu saja, yang ini juga akan lewat.
Sinisme itu
bukan penyakit; ia hasil belajar. Orang-orang itu telah diajari oleh pengalaman
berulang bahwa "perbaikan" adalah peristiwa musiman yang dilakukan
kepada mereka, bukan pekerjaan yang dimiliki mereka. Dan di situlah letak
seluruh persoalan bab ini. Gagasan perbaikan berkelanjutan sudah dikenal luas;
nyaris tidak ada organisasi yang tidak pernah mencobanya. Yang langka bukan
pengetahuannya, melainkan keberlanjutannya, dan keberlanjutan adalah persoalan
desain sistem: bagaimana perbaikan dijadikan bagian dari pekerjaan sehari-hari,
bukan proyek yang menumpang pada pekerjaan.
Bab ini menutup
bagian kedua buku dengan pilar kelima IE-HRM. Isinya empat tradisi besar
perbaikan (PDCA, Kaizen, Lean, Six Sigma) dan satu gagasan payung (organisasi
pembelajar), dibaca dengan satu pertanyaan tetap: apa yang membuat perbaikan
hidup terus sesudah spanduknya pudar?
Landasan Teori dan Penelitian
PDCA: siklus dasar
Semua tradisi
perbaikan berdiri di atas satu siklus yang sama: rencanakan, jalankan, periksa,
tindaklanjuti (plan, do, check, act),
yang dipopulerkan Deming dari gagasan Shewhart (Deming, 1986). Kesederhanaannya
menipu, karena kekuatannya justru pada dua langkah yang paling sering
dilompati. Plan menuntut perbaikan
dirumuskan sebagai dugaan yang bisa diuji: kami menduga masalahnya X, karena
itu kami mengubah Y, dan jika benar, angka Z akan bergerak. Check menuntut dugaan itu benar-benar
diperiksa terhadap kenyataan. Organisasi pada umumnya hidup dalam siklus yang
lebih pendek dan lebih nyaman: rencanakan, jalankan, jalankan, jalankan.
Perubahan diluncurkan, lalu semua orang sibuk dengan perubahan berikutnya, dan
tidak seorang pun kembali untuk bertanya apakah yang kemarin bekerja. Tanpa check, organisasi bukan sedang belajar;
ia sedang menumpuk perubahan.
Kaizen: kecil, setiap
hari, oleh semua orang
Kaizen sering
diterjemahkan sebagai perbaikan berkelanjutan, tetapi terjemahannya yang lebih
jujur adalah tiga sifat sekaligus: kecil, setiap hari, oleh semua orang (Imai,
1986). Filosofinya berlawanan arah dengan naluri manajerial yang menyukai
lompatan besar: ribuan perbaikan kecil yang dilakukan orang-orang yang paling
dekat dengan pekerjaan, terakumulasi, mengalahkan proyek-proyek besar yang
dirancang dari jauh. Prasyaratnya sudah kita kenal dari bab enam: standar.
Tanpa cara kerja yang disepakati, tidak ada garis dasar untuk diperbaiki, dan
"perbaikan" hanyalah selera yang berganti-ganti. Dan prasyarat
keduanya lebih dalam: orang hanya akan menyumbang gagasan perbaikan jika
gagasannya ditanggapi dan penyumbangnya tidak dirugikan. Kotak saran yang tidak
pernah dibalas adalah monumen kecil bagi kematian kaizen.
Lean: menghilangkan
pemborosan
Lean adalah nama
Barat untuk sistem produksi Toyota, dan intinya adalah memandang seluruh aliran
kerja dari sisi nilai bagi pelanggan, lalu tanpa henti mengurangi segala yang
tidak menambah nilai itu: menunggu, mengerjakan ulang, memindah-mindahkan, memproses
berlebihan, menumpuk persediaan, gerakan yang sia-sia, dan membuat yang tidak
dibutuhkan (Ohno, 1988; Womack & Jones, 1996). Bab dua puluh empat akan
menerapkannya penuh pada fungsi HR. Di sini cukup satu penegasan yang sering
hilang dalam penerjemahannya: pada rumusan Toyota sendiri, penghormatan kepada
manusia bukan pelengkap melainkan pilar; pemborosan yang paling disesalkan
adalah kemampuan manusia yang tidak terpakai, dan lean yang dijalankan sebagai
program pemangkasan orang adalah pengkhianatan atas namanya sendiri (Liker,
2004). Pekerja yang membantu menghilangkan pemborosan lalu kehilangan
pekerjaannya karena itu tidak akan pernah membantu lagi, dan kabar semacam itu
menyebar melampaui satu perusahaan.
Six Sigma: mengendalikan
variasi
Six Sigma tumbuh
dari tradisi mutu statistik dan menyumbangkan dua hal yang bertahan melampaui
masa jayanya sebagai mode manajemen. Pertama, disiplin DMAIC (define, measure, analyze, improve, control):
rumuskan masalahnya, ukur keadaannya, analisis sebabnya dengan data, perbaiki,
lalu kunci perbaikannya agar tidak melorot kembali; sebuah PDCA yang diperberat
untuk masalah yang bandel. Kedua, kepekaan terhadap variasi yang telah kita
pelajari pada bab sepuluh: mutu bukan hanya rata-rata yang baik melainkan
sebaran yang sempit, karena yang dirasakan pelanggan, termasuk pelanggan proses
HR, bukanlah rata-rata melainkan pengalamannya sendiri. Proses penggajian yang
rata-rata akurat tetapi sesekali salah besar adalah proses yang buruk, dan
hanya kacamata variasi yang bisa melihatnya.
Learning organization:
payung yang menaungi semuanya
Di atas semua
metode itu terbentang pertanyaan yang lebih besar: organisasi macam apa yang
mampu terus belajar? Senge (1990) menjawabnya dengan lima disiplin yang salah
satunya, berpikir sistem, telah menjadi bab lima buku ini. Garvin (1993)
menurunkannya ke bumi: organisasi pembelajar adalah yang terampil dalam lima
kegiatan yang bisa diperiksa, yaitu memecahkan masalah secara sistematis,
bereksperimen, belajar dari pengalamannya sendiri, belajar dari orang lain, dan
memindahkan pengetahuan ke seluruh tubuhnya. Dan Argyris (1977) menambahkan
pembedaan yang menusuk: belajar satu lingkar memperbaiki cara mencapai tujuan,
belajar dua lingkar mempertanyakan tujuannya sendiri, dan organisasi, seperti
orang, sangat pandai menghindar dari jenis belajar yang kedua. Program
perbaikan yang tidak pernah boleh menyentuh kebijakan yang melahirkan masalah
adalah belajar satu lingkar yang dipagari, dan pagar itulah yang membuat
masalah yang sama lahir kembali dengan nama baru.
Perspektif IE-HRM: Perbaikan sebagai Pekerjaan, bukan Proyek
Sekarang kita
bisa menjawab pertanyaan pembuka bab: apa yang membedakan perbaikan yang hidup
dari program musiman? Jawabannya bukan metodenya; keempat tradisi di atas
semuanya pernah gagal dan semuanya pernah berhasil. Bedanya pada tiga keputusan
desain.
Pertama, waktu.
Perbaikan yang hidup diberi waktu di dalam pekerjaan, bukan diminta dari sisa
tenaga sesudah pekerjaan. Organisasi yang menuntut perbaikan tanpa menyediakan
waktunya sedang mengumumkan, dengan bahasa yang semua orang paham, bahwa
perbaikan tidak sungguh-sungguh penting; dan kita telah melihat pada bab lima
ke mana jalan itu menuju, yaitu jebakan pemadam kebakaran.
Kedua,
kepemilikan. Perbaikan yang hidup dimiliki oleh orang yang mengerjakan
prosesnya, dengan dukungan ahli bila perlu, bukan dimiliki oleh tim khusus yang
datang dan pergi. Tim khusus boleh menyalakan; yang harus menjaga nyala adalah
pemilik proses.
Ketiga,
tanggapan terhadap kegagalan. Perbaikan adalah rangkaian percobaan, dan
percobaan sesekali gagal. Organisasi yang menghukum percobaan yang gagal akan
segera hanya menerima usulan yang aman, yaitu usulan yang tidak mengubah
apa-apa. Prinsip kesembilan IE-HRM bekerja di sini dalam bentuknya yang paling
sehari-hari.
Bagi fungsi SDM
sendiri, bab ini menutup lingkaran yang dibuka bab enam: proses-proses HR yang
telah dipetakan dan diukur kini punya mesin perbaikannya. Dan lebih dari itu,
fungsi HR memegang kunci-kunci yang menentukan hidup-matinya perbaikan di
seluruh organisasi: desain waktu kerja yang menyediakan atau mencekik waktu
perbaikan, sistem penghargaan yang mengganjar atau menghukum percobaan, dan
pelatihan yang membekali atau membiarkan. Perbaikan berkelanjutan, pada
akhirnya, adalah kebijakan MSDM.
Kelebihan dan Keterbatasan
Kekuatan
tradisi-tradisi ini adalah rekam jejaknya: tidak banyak gagasan manajemen yang
bukti kerjanya sepanjang dan selintas-industri ini. Keterbatasannya tiga.
Pertama, semuanya menuntut kestabilan minimum; di organisasi yang strukturnya
dirombak tiap tahun dan pimpinannya berganti arah tiap musim, siklus belajar
tidak sempat menutup. Kedua, metode-metode ini rawan menjadi ritual:
sertifikasi, sabuk warna-warni, dan papan kanban yang diperbarui untuk tamu,
sementara keputusan sesungguhnya berjalan seperti sedia kala; bentuk paling
halus dari program musiman. Ketiga, perbaikan bisa menjadi tirani bila
targetnya dipaksakan dari atas tanpa kendali dari bawah; menuntut orang
"terus lebih baik" sambil terus menambah beban adalah resep kelelahan
yang menyamar sebagai budaya unggul, dan bagian lima buku ini akan kembali
kepadanya.
Panduan Praktik: A3 Problem Solving untuk Masalah SDM
A3 adalah cara
Toyota mendisiplinkan pemecahan masalah: seluruh masalah, analisis, dan
rencananya harus termuat dalam satu lembar kertas besar, disusun melalui
percakapan antara pemilik masalah dan pembimbingnya (Shook, 2008). Kekuatannya
bukan pada formulirnya melainkan pada urutan berpikirnya, yang memaksa memahami
sebelum mengusulkan. Pilih satu masalah SDM yang nyata dan kerjakan tujuh
kotaknya berurutan.
(1) Latar
belakang: mengapa masalah ini penting sekarang, bagi siapa. (2) Kondisi saat
ini: apa yang sesungguhnya terjadi, dengan data dan pengamatan langsung, bukan
kesan; sertakan angkanya dan sejak kapan. (3) Sasaran: keadaan seperti apa yang
ingin dicapai, terukur, dengan tenggat. (4) Analisis akar masalah: mengapa
kondisi saat ini terjadi; tanyakan "mengapa" berlapis-lapis sampai
tiba pada sebab yang bisa ditindak, dan waspadai jawaban yang berhenti pada
orang ("kurang disiplin") sebelum sistemnya diperiksa. (5) Usulan
tindakan: apa yang akan diubah, oleh siapa, kapan; tindakan harus tersambung
logis ke akar masalah, bukan daftar keinginan. (6) Rencana pemeriksaan: angka
apa yang akan dilihat, kapan, untuk memutuskan berhasil atau tidak. (7) Tindak
lanjut: jika berhasil, bagaimana dikunci menjadi standar; jika gagal, apa yang
dipelajari.
Dua aturan
mainnya. Pertama, kotak lima tidak boleh diisi sebelum kotak dua dan empat
selesai dan diperiksa orang lain; sebagian besar kegagalan pemecahan masalah
adalah melompat ke solusi. Kedua, A3 dibahas dalam percakapan, bukan
dipresentasikan; pembimbing bertanya, tidak mendikte, karena tujuannya bukan
hanya masalah yang selesai melainkan orang yang bertambah mampu. Satu A3 yang
dituntaskan dengan jujur mengajarkan lebih banyak tentang perbaikan daripada
satu angkatan pelatihan.
Ringkasan Bab
Empat tradisi
perbaikan berbagi satu siklus dasar (PDCA) dan saling melengkapi: Kaizen
menyumbang kecil-setiap-hari-oleh-semua-orang, Lean menyumbang kacamata nilai
dan pemborosan, Six Sigma menyumbang disiplin data dan variasi, dan gagasan
organisasi pembelajar menaungi semuanya dengan pertanyaan tentang belajar dua
lingkar. Yang membedakan perbaikan yang hidup dari program musiman bukan
metode, melainkan tiga keputusan desain: waktu yang disediakan, kepemilikan
oleh pengerjanya, dan keselamatan untuk mencoba. Ketiganya adalah kebijakan
MSDM. Dengan bab ini, lima pilar IE-HRM lengkap sudah menjadi kemampuan; bagian
berikutnya membawanya berkeliling ke seluruh siklus pengelolaan manusia, dari
perencanaan tenaga kerja sampai hubungan industrial.
Pertanyaan Reflektif
- Berapa umur rata-rata program perbaikan di organisasi Anda, dan apa yang biasanya membunuhnya: tekanan produksi, pergantian orang kunci, atau tidak pernah ada pemeriksaannya?
- Kapan terakhir kali sebuah perubahan di organisasi Anda benar-benar diperiksa hasilnya terhadap dugaan awalnya? Jika jarang, apa yang selama ini menggantikan langkah check?
- Pertanyaan belajar dua lingkar: kebijakan mana di organisasi Anda yang tidak pernah boleh disentuh oleh program perbaikan mana pun, dan masalah apa yang terus lahir darinya?
Bacaan Lanjutan
Imai (1986), Kaizen, tetap pengantar terbaik untuk
filosofi kecil-setiap-hari. Womack dan Jones (1996), Lean Thinking, merumuskan lean sebagai prinsip yang melampaui
pabrik. Liker (2004), The Toyota Way,
menjelaskan mengapa penghormatan kepada manusia bukan hiasan dalam sistem
Toyota. Shook (2008), Managing to Learn,
mengajarkan A3 sebagaimana ia dimaksudkan: sebagai cara membina orang, bukan
formulir. Garvin (1993) dan Argyris (1977) adalah dua artikel pendek yang
bersama-sama menjelaskan mengapa organisasi Anda mungkin sibuk berubah tanpa
belajar.
Berikutnya:
BAGIAN SATU — MEMAHAMI MSDM SECARA HOLISTIK
BAGIAN DUA — FONDASI INDUSTRIAL ENGINEERING HUMAN RESOURCE MANAGEMENT
BAGIAN TIGA — SIKLUS MSDM DALAM PERSPEKTIF IE-HRM
BAGIAN EMPAT — MEMBANGUN ORGANISASI BERKINERJA TINGGI
BAGIAN LIMA — MENJAGA SISTEM TETAP MANUSIAWI
Berikutnya:
BAGIAN SATU — MEMAHAMI MSDM SECARA HOLISTIK
BAGIAN DUA — FONDASI INDUSTRIAL ENGINEERING HUMAN RESOURCE MANAGEMENT
BAGIAN TIGA — SIKLUS MSDM DALAM PERSPEKTIF IE-HRM
BAGIAN EMPAT — MEMBANGUN ORGANISASI BERKINERJA TINGGI
BAGIAN LIMA — MENJAGA SISTEM TETAP MANUSIAWI
PERNYATAAN KETERBUKAAN
Buku ini disusun dengan bantuan Akal Imitasi (artificial intelligence) sebagai alat riset dan penyusunan draft, di bawah pengarahan, seleksi, penilaian, dan penyuntingan penulis. Arsitektur gagasan, argumen, pilihan kata akhir, serta seleksi dan penyusunan bahan adalah karya penulis sebagai manusia; atas ekspresi yang diarahkan dan disunting secara manusiawi itulah hak cipta ini dinyatakan. Penulis menyadari bahwa status hukum karya yang diproduksi dengan bantuan Akal Imitasi masih berkembang dan berbeda dari satu yurisdiksi ke yurisdiksi lain; pernyataan hak cipta di halaman ini menegaskan posisi penulis, bukan menutup perdebatan hukum yang memang belum tuntas.
Buku ini disusun dengan bantuan Akal Imitasi (artificial intelligence) sebagai alat riset dan penyusunan draft, di bawah pengarahan, seleksi, penilaian, dan penyuntingan penulis. Arsitektur gagasan, argumen, pilihan kata akhir, serta seleksi dan penyusunan bahan adalah karya penulis sebagai manusia; atas ekspresi yang diarahkan dan disunting secara manusiawi itulah hak cipta ini dinyatakan. Penulis menyadari bahwa status hukum karya yang diproduksi dengan bantuan Akal Imitasi masih berkembang dan berbeda dari satu yurisdiksi ke yurisdiksi lain; pernyataan hak cipta di halaman ini menegaskan posisi penulis, bukan menutup perdebatan hukum yang memang belum tuntas.
METODE KEPENULISAN
Dalam penyusunan buku ini, saya menggunakan model bahasa besar (large language model) — sebuah sistem Akal Imitisasi — sebagai instrumen di tiga ranah: menyisir dan merangkai kepustakaan yang luas, menata kerangka serta urutan gagasan, dan menyusun draf-kandidat prosa yang kemudian saya tetapkan tesis utamanya, dan mengarahkan arah dan alur penulisannya. Dengan bantuan teknologi ini, saya dapat bergerak lebih cepat dalam membaca banyak sumber dan menyusunnya menjadi sebuah naskah yang lebih teratur. Namun, Akal Imitisasi tidak menentukan isi atau arah buku ini. Mesin tidak memutuskan apa yang harus menjadi tesis utama, tidak menjadi sumber kebenaran atas fakta-fakta yang disajikan, dan tidak menggantikan tanggung jawab saya sebagai penulis untuk menilai setiap gagasan. Argumen utama buku inisepenuhnya merupakan pandangan saya. Karena itu, seluruh isi buku ini tetap menjadi tanggung jawab saya.
Dalam penyusunan buku ini, saya menggunakan model bahasa besar (large language model) — sebuah sistem Akal Imitisasi — sebagai instrumen di tiga ranah: menyisir dan merangkai kepustakaan yang luas, menata kerangka serta urutan gagasan, dan menyusun draf-kandidat prosa yang kemudian saya tetapkan tesis utamanya, dan mengarahkan arah dan alur penulisannya. Dengan bantuan teknologi ini, saya dapat bergerak lebih cepat dalam membaca banyak sumber dan menyusunnya menjadi sebuah naskah yang lebih teratur. Namun, Akal Imitisasi tidak menentukan isi atau arah buku ini. Mesin tidak memutuskan apa yang harus menjadi tesis utama, tidak menjadi sumber kebenaran atas fakta-fakta yang disajikan, dan tidak menggantikan tanggung jawab saya sebagai penulis untuk menilai setiap gagasan. Argumen utama buku inisepenuhnya merupakan pandangan saya. Karena itu, seluruh isi buku ini tetap menjadi tanggung jawab saya.