6.9.26

(cerpen) Wadah Air dan Gelasnya

Istri saya berpikir kalau gelas adalah benda terpenting bagi peradaban manusia setelah wadah air. Wadah air dan gelas, katanya, merupakan penyebab munculnya peradaban. Selama ratusan ribu tahun, nenek moyang manusia modern yang hidup di savana Afrika Timur hanya hidup sekedar untuk tidak mati. Mereka berburu serta meramu umbi dan kacang-kacangan hanya sekadar agar tak kelaparan. Mereka meminum air tanpa wadah, langsung dari sumbernya seperti umumnya binatang. Tidak ada inovasi besar yang bisa mengubah kehidupan manusia. Sejauh-jauhnya perubahan adalah tombak-tombak dan pisau-pisau batu yang semakin halus karena dipapas, sekedar hanya membuat berburu dan memotong lebih efisien. Tapi tidak ada dampak lain selain membuat makanan sedikit lebih cepat tersaji. Alhasil, kehidupan berjalan begitu-begitu saja tanpa perubahan. Hidup manusia hanya soal mencari makan dan memakannya, menyelamatkan diri dari bahaya, serta beranak pinak. Titik. Tidak ada yang lain di luar itu. 

Tetapi, kata istri saya, penemuan wadah air dan gelas mengubah segalanya. Bak seorang arkeolog kawakan, dia menjelaskan bahwa awalnya orang hanya berpikir untuk membuat kantong-kantong air agar bisa menjelajahi tempat-tempat yang jauh dari sumber air. Mula-mula orang membuatnya dari ruas bambu, kayu yang dilubangi atau kulit binatang buruan. Dan bagaimana meminum air dari kantong air itu? Dengan gelas! Upaya memiliki gelas yang simpel dan bisa dibawa kemana-mana melahirkan gerabah dari tanah liat yang dibakar. Penguasaan terhadap api itu menjadikan peradaban berkembang. 

Istri saya bukan arkeolog. Sekolahnya tidak ada hubungannya dengan arkeologi. Dia lulusan Sekolah Seni Tari, setingkat SMA saat ini. Dulu, saat kami bertemu, dia sedang asyik menekuni tarian jawa ala Mangkunegaran, Solo, yang geraknya pelan dan luwes lembut. Nah, saat itu sebagai anak muda dari pulau seberang yang ngekos persis di depan balai kelurahan tempatnya berlatih setiap hari, saya jadi kepincut akan keluwesan gerak tangannya dan oleh wajahnya yang cantik menawan. Kami pacaran tak lama setelah dia lulus sekolah, dan segera menikah setahun kemudian hanya beberapa hari setelah saya wisuda sarjana. Jadi, saat tiba-tiba dia bilang bahwa gelas adalah benda terpenting dalam peradaban, sangatlah mengherankan. Setahu saya, dia tidak pernah membaca majalah-majalah National Geographic yang kami langgan sejak 10 tahun terakhir. Tak pernah sekalipun dia mau nonton acara TV BBC yang bahas soal arkeologi. Selama bertahun-tahun, sejak masih pacaran, kalau diajak ke museum dia selalu menampik dengan jawaban yang itu-itu juga, ““Nggak deh, Mas. Saya gak ngeh yang gituan. Pergi sendiri saja.” Saat diajak nonton TV dokumenter soal arkeologi, misalnya soal candi Borobudur yang lokasinya tak jauh dari rumahnya di Magelang, responnya tak jauh beda, “Nonton sendiri saja.” Lalu menyibukkan diri dengan hal lainnya, atau pergi ke ruang lain menonton acara lain sendiri di sana. Singkat kata, dia tidak tertarik meskipun saya hobi berat dengan arkeologi. Yang tentu saja, penolakan itu sering bikin hati ini jengkel bukan alang kepalang. Kepingin saya, lha mbok iya dia tertarik sedikit pada kegemaran suaminya ini. 

Perempuan yang melahirkan 2 anak saya ini, tidak pernah merecoki hobi barang kuno saya. Dia tidak pernah protes karena dinding rumah dipenuhi artefak yang saya dapatkan dari berburu artefak kuno di berbagai belahan Indonesia, yang tentu saja menguras keuangan. Foto keluarga pun saya singkirkan dari ruang utama demi untuk menempatkan kain ulos usia 300 tahun yang saya dapatkan dari Balige. Tanpa protes, dia pajang foto besar kami berempat saat anak-anak masih TK —anak kami kembar, di atas meja riasnya. Saat rencana jalan-jalan ke Bali batal gara-gara mendadak seorang teman menawarkan koleksi keris jaman Mataram Kuno dan saya tak kuasa menolak sehingga uang liburan kandas, istri saya pun tak marah. Bertanya saja tidak. Dia hanya meminta saya bilang ke anak-anak sendiri kalau liburannya batal. Sudah itu dia lanjutkan rutinitasnya seperti hari-hari biasa lainnya, seolah-olah tak terjadi apa-apa, padahal liburan ke Bali itu rencana yang telah dibuat setahun sebelumnya. 

Jangan salah ya, istri saya ini bukan tipe manusia apatis. Dia ikut pengajian ibu-ibu, dan bahkan jadi salah satu pengurus yang paling aktif. Dia juga dikenal di kompleks rajin bantu-bantu tetangga. Tidak seperti saya yang tidak bisa olahraga, dia jago voli. Tim ibu-ibu RT kami pernah beberapa kali juara lomba voli saat 17-an, yang menurut para tetangga semata-mata berkat adanya istri saya di tim. Dialah pelatih tari dari sanggar tari kelurahan, yang melatih anak-anak menari sejak usia TK sampai SMA. Dia juga bukannya tak suka baca atau nonton TV. Bacaan favoritnya saat muda dulu adalah cerita silat Wiro Sableng si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 karya almarmum Bastian Tito. Belakangan setelah anak kami kuliah di kota lain, dia mulai hobi membaca novel-novel yang dibawa pulang anak-anak, mulai dari novelnya Ayu Utami, Eka Kurniawan, Michael Crichton, Stephen King, sampai Haruki Murakami. Acara TV yang ditontonnya pun beragam. Dia tonton Master Chef, apa saja film India, Benteng Takeshi yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal, juga kadang menonton berita-berita televisi. Dalam hal bacaan maupun tontonan TV, satu-satunya yang total dia abaikan hanya soal arkeologi yang saya cintai sejak sebelum bertemu dia. 

Jadi, ada apa dengannya, kok tiba-tiba menjadi pemerhati wadah air dan gelasnya? 

“Istrimu sudah mulai tertarik dengan hobimu,” kata Pak Bondan, senior di komunitas pencinta artefak kuno, “tidak ada penjelasan lainnya. Setelah kalian hidup bareng 20-an tahun, tentu dia sedikit banyak mulai tertarik dengan apa yang kamu lakukan. Diam-diam dia dengar dan baca. Kamu saja yang tidak perhatian,” ulasnya mencoba menjelaskan sebab-musabab tiba-tiba istri saya jadi bisa memiliki hipotesa tentang wadah air dan gelasnya. Di komunitas kami yang kecil, yang anggotanya bisa dihitung dengan jari sejak awal berdiri sampai 2 dekade kemudian, sudah menjadi kebiasaan untuk saling bercerita apa saja yang terjadi dalam hidup, termasuk tingkah pola istri dan anak-anak kami. Kejadian tiba-tiba istri saya jadi ahli gelas tentu saja tak terlewat diceritakan. 

Pak Edi, seorang senior yang lain memiliki pendapatnya sendiri, bahwa istri saya hanya sedang cemburu. Sekitar sebulan lalu, saya pernah kedatangan arkeolog perempuan dari Belanda yang tertarik dengan komunitas kecil kami. Dia menginap di rumah saya hampir seminggu. Tapi, selama itu, boleh dibilang rumah kami hanya tempat tidurnya karena dia sibuk kemana-mana, pergi pagi buta pulang larut. Istri saya, dipercaya Pak Edi telah cemburu pada si Ava ini. Diduganya, istri saya pasti telah belajar diam-diam saat saya tak ada, lalu beraksi menunjukkan kalau dia tak kalah punya kualitas di banding si Ava. “Pasti itu sebabnya,” yakin Pak Edi. “Istri saya pernah semacam itu. Bak ratu lebah yang terusik dengan datangnya lebah baru. Si ratu lebah lama ini, lantas jadi mati-matian bertarung untuk menunjukkan dirinya tetap si ratu. Nanti kalau sudah lupa dengan ratu lebah baru, istrimu juga bakal adem, kembali lagi seperti dulu.” 

Istri saya dipanggil Bu Ayu karena di tempat kami, sebutan ibu berubah menjadi nama anak perempuan pertama, dan bapak dipanggil berdasarkan nama anak lelaki pertama: istri saya dipanggil Bu Ayu (ibunya Ayu) dan saya dipanggil Pak Boni (bapaknya Boni), karena nama anak kembar kami adalah Ayu dan Boni. Dan sepanjang ingatan saya, dia bukan pencemburu. “Bu Ayu itu jawa banget ya, halus pisan manehna. Idaman pisan!” (tak pernah marah, orangnya baik, perempuan idaman) kata Istrinya Pak Edi yang dari Tasikmalaya itu, yang tak urung membuat saya bangga. 

Tapi apa iya, begitu? Apa benar itu analisa bapak-bapak tadi? Memang harus diakui, dibandingkan istri teman-teman di komunitas yang lain, istri saya memang paling menjengkelkan kalau sudah soal hobi kami itu. Sedikitpun dia tak mau peduli. Tak mau dia membersihkan artefak-artefak yang saya koleksi. Diminta sekalipun, jawabnya bakal sama, “bersihkan sendiri!” Pendek kata, saya benar-benar merasa sendirian tanpa dukungan, meski tanpa interupsi juga. Dibandingkan Pak Bondan yang diomelin melulu gara-gara hobinya menghabiskan uang, saya benar-benar merasa bersyukur. 

“Dik, tumben kok tiba-tiba sepertinya tertarik dengan arkeologi, dengan wadah air dan gelas?” tanya saya langsung padanya, perempuan yang saya nikahi 22 tahun lalu, saat dia masih 19 dan saya sendiri masih 22, dan yang tetap langsing tak berubah badannya sampai hari ini. “Seperti janjiku dulu, Mas, saya nggak akan mengganggu hobimu, meskipun sedikit! Tapi soal gelas itu sangat menarik. Kuatir kalau Mas gak ngikutin info terbaru, kemarin itu kan sibuk banget, sampai nggak sempat nonton apalagi baca-baca. Jadi, ya saya ringkaskan. Nggak apa-apa kan?” 

“Buk!” sebuah kelapa tua jatuh semeter dari hammock tempat saya tidur siang yang diikatkan ke 2 batang kelapa di halaman depan rumah. Saya lihat punggung istri saya melenggang sembari berdendang lagunya Nia Daniati, “Gelas-gelas kaca, tunjukkan padaku siapa diriku ini…..”

No comments:

Post a Comment