6.9.26

(filsafat-industri) Apakah keuntungan (profit) dapat menjadi tujuan moral yang sah? Jika ya, dalam batas dan syarat seperti apa?"

Pada suatu sore di sebuah ruang rapat yang menghadap pelabuhan, seorang perempuan bernama Maya menatap selembar laporan kuartalan yang baru saja diterimanya. Angka di kolom paling kanan menunjukkan pertumbuhan laba yang, menurut ukuran apa pun, mengesankan. Ia mendirikan perusahaan distribusi pangan ini sembilan tahun lalu dengan satu keyakinan sederhana: bahwa ia ingin menafkahi keluarganya, memberi kerja kepada orang-orang di kotanya, dan—kalau bisa—hidup dengan kepala tegak. Sore itu, untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah angka di hadapannya adalah bukti keberhasilannya sebagai manusia atau dakwaan diam-diam atas sesuatu yang telah ia khianati. Laba itu, ia tahu, sebagian datang dari menekan margin pemasok kecil yang tidak punya daya tawar. Sebagian lagi dari memangkas tunjangan yang dulu ia banggakan. Ia tidak melakukan apa pun yang melanggar hukum. Ia bahkan tidak melakukan apa pun yang oleh kebanyakan kolega akan disebut tidak etis. Namun ada sesuatu di dadanya yang berdenyut tidak nyaman, semacam pertanyaan yang tak mau diam: apakah mengejar keuntungan—bukan sekadar memperolehnya, tetapi menjadikannya tujuan—adalah sesuatu yang boleh ia akui di hadapan dirinya sendiri sebagai hal yang baik?

Kegamangan Maya bukan kegamangan yang aneh. Ia adalah salah satu wujud paling jujur dari sebuah pertanyaan yang telah menghantui pemikiran moral setidaknya sejak Aristoteles menulis tentang kerematistike, seni menumpuk kekayaan, dan menyebutnya tidak alami. Pertanyaannya begini: dapatkah keuntungan menjadi tujuan moral yang sah? Dan jika dapat, dalam batas dan syarat seperti apa? Pertanyaan ini terasa sederhana sampai kita mencoba menjawabnya, dan saat itulah ia retak menjadi belasan pertanyaan kecil yang masing-masing menarik ke arah berbeda. Apa artinya "tujuan moral"? Apakah keuntungan adalah hal yang sama dengan keserakahan? Apakah motif menentukan kualitas moral suatu tindakan, ataukah hanya akibatnya yang penting? Dan siapa, sebenarnya, yang berhak memutuskan—Maya sendiri, masyarakat tempat ia berdiri, atau semacam standar yang melampaui keduanya?

Esai ini tidak akan berpura-pura menyelesaikan kegamangan Maya. Pertanyaan-pertanyaan terbaik dalam filsafat moral jarang punya jawaban yang bisa ditandatangani dan disahkan. Yang bisa dilakukan adalah mengajak pembaca berjalan melintasi beberapa cara berpikir yang telah dikembangkan manusia untuk menjinakkan persoalan ini—dan menunjukkan bahwa masing-masing menerangi sesuatu sekaligus menyembunyikan sesuatu yang lain.

## **Keuntungan sebagai Kata yang Tergelincir**

Sebelum kita bertanya apakah keuntungan dapat menjadi tujuan moral, kita perlu jujur bahwa kata "keuntungan" itu sendiri licin. Dalam percakapan sehari-hari, ia bergeser tanpa kita sadari di antara setidaknya tiga makna yang berbeda.

Ada keuntungan sebagai surplus: selisih antara apa yang masuk dan apa yang keluar, sebuah fakta akuntansi yang netral secara moral seperti halnya suhu atau berat. Dalam pengertian ini, sebuah koperasi tani yang menyisihkan dana untuk membeli traktor tahun depan menghasilkan "keuntungan", dan tidak seorang pun akan merasa perlu mengernyitkan dahi. Surplus adalah syarat keberlangsungan; entitas yang terus-menerus mengeluarkan lebih banyak daripada yang masuk akan mati, dan kematian organisasi jarang merupakan peristiwa moral yang netral bagi orang-orang yang bergantung padanya.

Ada pula keuntungan sebagai sinyal: ukuran yang memberi tahu kita apakah sumber daya yang langka sedang dialokasikan ke tempat yang menghasilkan nilai bagi orang lain. Inilah pengertian yang dirayakan oleh tradisi ekonomi sejak Adam Smith—gagasan bahwa laba, dalam pasar yang berfungsi, adalah cara masyarakat memberi tahu produsen bahwa mereka telah berhasil melayani kebutuhan sesama, dan bahwa ketiadaan laba adalah cara masyarakat berkata "berhentilah, kau menyia-nyiakan sesuatu yang berharga."

Dan ada keuntungan sebagai telos: keuntungan yang dikejar demi dirinya sendiri, dijadikan poros yang kepadanya segala hal lain tunduk, akumulasi yang tidak mengenal kata cukup. Inilah yang oleh Aristoteles dibedakan dari pengelolaan rumah tangga yang baik (oikonomia) dan disebutnya sebagai pengejaran yang tak berbatas, karena ia keliru menempatkan alat sebagai tujuan akhir.

Sebagian besar kebingungan moral kita lahir dari tergelincirnya tiga makna ini. Ketika seseorang membela keuntungan dengan mengatakan "tanpa laba perusahaan tidak bisa membayar gaji," ia berbicara tentang surplus. Ketika seseorang menyerang keuntungan dengan mengatakan "korporasi rakus menghancurkan dunia," ia berbicara tentang telos. Keduanya bisa benar sekaligus, dan justru karena itu mereka sering berbicara saling melewati. Pertanyaan Maya, jika kita perhatikan, sebenarnya adalah pertanyaan tentang yang ketiga. Ia tidak ragu bahwa perusahaannya harus menghasilkan surplus untuk bertahan. Yang menggelisahkannya adalah saat surplus itu berubah menjadi poros—saat "lebih banyak" menjadi jawaban otomatis atas setiap pertanyaan.

## **Apa yang Dimaksud dengan "Tujuan Moral"**

Sama liciinnya adalah frasa "tujuan moral yang sah". Di sini kita perlu memisahkan beberapa lapisan yang sering dilipat menjadi satu. Sebuah tujuan bisa secara moral *diizinkan* (permissible)—artinya, mengejarnya tidak melanggar kewajiban apa pun. Sebuah tujuan bisa secara moral *bernilai* (worthy)—artinya, mengejarnya merupakan ekspresi karakter yang baik atau menghasilkan kebaikan. Dan sebuah tujuan bisa secara moral *memuliakan* (ennobling)—artinya, ia adalah jenis hal yang pantas menjadi pusat hidup seseorang, yang kepadanya seseorang boleh mengabdikan diri tanpa kehilangan martabat.

Perbedaan ini penting karena jawaban atas pertanyaan kita berubah tergantung lapisan mana yang kita maksud. Hampir semua tradisi etika sepakat bahwa mencari keuntungan secara jujur adalah hal yang diizinkan. Lebih sedikit yang akan mengatakan bahwa keuntungan adalah hal yang bernilai dalam dirinya. Dan amat sedikit yang akan berani mengatakan bahwa keuntungan adalah hal yang memuliakan—bahwa hidup yang dipusatkan pada akumulasi adalah hidup yang baik dalam pengertian terdalam. Kegamangan Maya, sekali lagi, terletak persis di lipatan ini. Ia cukup yakin bahwa ia diizinkan. Ia ragu apakah ia bernilai. Dan ia takut bahwa ia telah, tanpa sadar, menukar sesuatu yang memuliakan dengan sesuatu yang sekadar diizinkan.

Dengan dua klarifikasi ini—tiga makna keuntungan, tiga lapisan keabsahan moral—kita bisa mulai mendengarkan apa yang dikatakan oleh berbagai tradisi pemikiran. Saya akan menyajikan mereka bukan sebagai daftar pendapat, melainkan sebagai suara-suara yang seolah duduk mengelilingi meja Maya, masing-masing menawarkan cara melihat yang berbeda.

## **Suara Pertama: Pasar sebagai Moralitas yang Tersamar**

Suara pertama datang dari tradisi yang paling sering dikaitkan dengan Adam Smith, meski sering disalahpahami atas namanya. Smith, yang sebelum menulis *The Wealth of Nations* menulis *The Theory of Moral Sentiments*, tidak pernah merayakan keserakahan. Yang ia amati adalah sesuatu yang lebih halus: bahwa dalam tatanan pertukaran yang tepat, pengejaran kepentingan diri masing-masing pihak dapat menghasilkan kebaikan bersama yang tidak diniatkan oleh siapa pun. Tukang roti memberi kita roti bukan karena cinta kepada kita, melainkan karena ia memperhatikan kepentingannya sendiri—dan justru karena itu kita bisa mengandalkannya, sebab cinta itu rapuh sedangkan kepentingan itu tahan lama.

Diterjemahkan ke dalam pertanyaan kita, suara ini berkata: keuntungan dapat menjadi tujuan yang sah karena, dalam pasar yang berfungsi, mengejar keuntungan berarti melayani orang lain. Anda tidak menghasilkan laba dengan membuat orang menderita; Anda menghasilkannya dengan memberi mereka sesuatu yang mereka hargai lebih daripada uang yang mereka serahkan. Laba adalah jejak yang ditinggalkan oleh pelayanan. Maya, kata suara ini, tidak perlu merasa bersalah. Pertumbuhan labanya adalah tanda bahwa ribuan orang memilih produknya di atas alternatif lain, dan setiap pilihan itu adalah suara kecil yang mengatakan "ini berguna bagiku."

Versi paling tajam dari suara ini datang dari Milton Friedman, yang pada 1970 menulis bahwa satu-satunya tanggung jawab sosial bisnis adalah meningkatkan labanya—selama ia tetap berada dalam aturan main, yakni terlibat dalam persaingan terbuka dan bebas tanpa tipu daya atau kecurangan. Argumen Friedman sering dikutip dengan keliru seolah ia memberi lisensi untuk berbuat apa saja. Padahal syaratnya jelas dan tidak ringan: tanpa tipu daya, tanpa kecurangan, dalam persaingan terbuka. Bagi Friedman, manajer yang mengejar laba sambil mematuhi syarat-syarat ini sedang menjalankan amanah—ia mengelola uang orang lain (para pemegang saham) dan tidak berhak mendermakan uang itu untuk tujuan yang ia sendiri anggap mulia.

Tetapi suara ini menyembunyikan sesuatu, dan Maya merasakannya. "Pasar yang berfungsi" adalah pengandaian yang besar. Pemasok kecil yang marginnya ia tekan tidak berdiri di pasar yang setara dengannya; mereka tidak punya alternatif, tidak punya informasi yang sama, tidak punya daya tawar. Dalam situasi seperti itu, laba bukan lagi jejak pelayanan melainkan jejak ketimpangan kekuasaan. Friedman sendiri akan setuju bahwa eksploitasi melalui posisi dominan adalah bentuk "kecurangan" yang melanggar aturan main—tetapi siapa yang menentukan kapan tekanan margin yang sah menjadi pemerasan yang tak sah? Suara pertama menyerahkan pertanyaan itu kepada hukum dan kepada pasar, dan justru di situlah ia membuat Maya gelisah: karena hukum diam dan pasar timpang.

## **Suara Kedua: Akibat Adalah Satu-Satunya Hakim**

Suara kedua tidak peduli pada motif sama sekali. Ia datang dari tradisi utilitarian, dari Jeremy Bentham dan John Stuart Mill, dan ia mengajukan satu kriteria yang dingin dan elegan: sebuah tindakan baik sejauh ia menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah terbesar. Pertanyaan apakah keuntungan adalah tujuan moral yang sah, bagi suara ini, adalah pertanyaan yang salah arah. Tujuan tidak punya status moral pada dirinya; yang punya status moral adalah akibat.

Maka jawabannya bersyarat sepenuhnya pada konsekuensi. Jika Maya mengejar keuntungan dan akibatnya adalah lebih banyak lapangan kerja, harga pangan yang lebih murah bagi konsumen miskin, dan modal yang bisa diinvestasikan kembali untuk memperluas usaha—maka pengejaran itu baik, terlepas dari apa yang ia rasakan di dadanya. Tetapi jika akibatnya adalah pemasok yang bangkrut, pekerja yang kehilangan tunjangan kesehatan, dan keluarga yang jatuh ke dalam utang—maka pengejaran itu buruk, terlepas dari betapa sahnya secara hukum dan betapa beriringnya dengan aturan pasar.

Suara ini punya kekuatan yang luar biasa: ia memaksa kita melihat keluar dari diri kita sendiri, ke arah orang-orang yang terkena akibat tindakan kita. Ia tidak membiarkan Maya bersembunyi di balik "saya tidak melanggar hukum". Ia bertanya: timbang. Letakkan kebahagiaan yang kau ciptakan di satu sisi, penderitaan yang kau ciptakan di sisi lain, dan lihat ke mana neraca itu condong. Inilah suara yang paling dekat dengan intuisi banyak orang modern bahwa yang penting bukan niat melainkan dampak.

Namun suara kedua juga punya bayangan yang panjang. Pertama, ia kesulitan dengan distribusi: sebuah keputusan yang sangat menguntungkan banyak orang sambil menghancurkan segelintir orang tertentu bisa lolos uji utilitarian, meski intuisi kita memberontak. Jika menekan sepuluh pemasok kecil hingga bangkrut menurunkan harga pangan bagi sejuta konsumen, kalkulus utilitarian mungkin merestuinya—dan di situlah banyak orang merasa ada sesuatu yang hilang, semacam pengakuan bahwa sepuluh manusia itu bukan sekadar angka yang bisa dikurangkan. Kedua, ia menuntut sesuatu yang mustahil: pengetahuan tentang seluruh konsekuensi. Maya tidak bisa tahu akibat penuh dari keputusannya, dan menuntutnya menimbang yang tak terhitung adalah menuntut kebijaksanaan ilahi dari makhluk yang terbatas.

## **Suara Ketiga: Manusia Tidak Boleh Menjadi Sekadar Alat**

Suara ketiga datang dari Immanuel Kant, dan ia mengubah seluruh kerangka percakapan. Bagi Kant, pertanyaan tentang akibat adalah pertanyaan sekunder. Yang menentukan kualitas moral suatu tindakan adalah apakah ia dilakukan karena kewajiban, dan apakah prinsip di baliknya bisa dikehendaki sebagai hukum universal tanpa kontradiksi.

Kant punya satu rumusan yang langsung menusuk ke jantung kegamangan Maya: perlakukan kemanusiaan, baik dalam dirimu maupun dalam diri orang lain, selalu juga sebagai tujuan pada dirinya, tidak pernah semata sebagai alat. Perhatikan kata "semata". Kant tidak melarang kita menggunakan orang lain sebagai alat—kita semua melakukannya setiap hari; saya menggunakan tukang roti sebagai alat untuk mendapatkan roti. Yang dilarang adalah memperlakukan mereka *semata* sebagai alat, yakni mengabaikan bahwa mereka juga adalah subjek dengan tujuan mereka sendiri, yang martabatnya menuntut dihormati.

Inilah yang membuat dada Maya berdenyut. Pemasok kecil yang ia tekan—apakah ia memperlakukan mereka sebagai mitra yang martabatnya ia hormati, ataukah sebagai variabel dalam persamaan laba yang nilainya hanya sejauh ia menekan biaya? Pekerja yang tunjangannya ia pangkas—apakah mereka tujuan, ataukah sekadar sarana? Bagi Kant, keuntungan dapat menjadi tujuan yang sah hanya dan selama pengejarannya tidak pernah meruntuhkan perlakuan terhadap siapa pun sebagai tujuan pada dirinya. Begitu laba dijadikan poros yang kepadanya martabat manusia tunduk, ia berhenti menjadi sah—bukan karena akibatnya buruk, tetapi karena ia melanggar sesuatu yang tidak boleh dilanggar berapa pun untungnya.

Kekuatan suara ini adalah ia memberi Maya sesuatu yang tak diberikan oleh dua suara sebelumnya: garis yang tidak boleh dilewati apa pun keuntungannya. Tidak peduli seberapa besar laba, tidak peduli seberapa efisien pasarnya, ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan kepada manusia. Tetapi suara ini pun menyembunyikan sesuatu. Kant amat baik dalam memberi tahu kita apa yang dilarang, tetapi kurang membantu dalam memberi tahu kita apa yang harus diperjuangkan. Ia menggambar pagar, bukan peta. Maya bisa mematuhi setiap kewajiban Kantian—tidak menipu, tidak memperalat, menghormati otonomi semua orang—dan masih merasa bahwa hidupnya kosong, bahwa ia telah mematuhi semua aturan tanpa pernah bertanya untuk apa sesungguhnya semua ini.

## **Suara Keempat: Bukan Apa yang Kau Lakukan, Melainkan Menjadi Siapa Kau**

Suara keempat membawa kita kembali ke Aristoteles, dan ia mengajukan pertanyaan yang berbeda secara mendasar. Tradisi etika keutamaan tidak terutama bertanya "tindakan mana yang benar?" melainkan "manusia macam apa yang sedang aku jadikan diriku melalui tindakan-tindakan ini?" Bagi Aristoteles, tujuan hidup adalah eudaimonia—biasanya diterjemahkan sebagai kebahagiaan, tetapi lebih tepat sebagai pemekaran diri, hidup yang berkembang sesuai dengan apa yang paling baik dalam diri manusia.

Aristoteles membedakan dengan tajam antara dua jenis pencarian kekayaan. Yang pertama, oikonomia, adalah pengelolaan sumber daya rumah tangga atau komunitas demi hidup yang baik; ia punya batas alami, karena ada titik di mana kebutuhan terpenuhi dan menambah lebih banyak tidak lagi bermakna. Yang kedua, chrematistike dalam bentuknya yang merosot, adalah akumulasi tanpa batas, mengejar uang demi uang—dan Aristoteles menyebutnya tidak alami justru karena ia tidak mengenal titik henti, karena tujuannya bukan hidup yang baik melainkan ketakterbatasan itu sendiri.

Bagi suara keempat, jawaban atas pertanyaan Maya tergantung pada keutamaan yang sedang ia kembangkan atau ia rusak melalui pengejaran labanya. Keuntungan yang dikejar dengan kemurahan hati, keadilan, keberanian untuk berkata cukup, dan kebijaksanaan praktis (phronesis) yang tahu kapan mengejar dan kapan menahan—keuntungan semacam itu adalah bagian dari hidup yang berkembang. Tetapi keuntungan yang dikejar dengan keserakahan, yang membuat seseorang semakin tamak, semakin tak peka, semakin tak mampu menikmati apa yang sudah dimilikinya—keuntungan semacam itu merusak jiwa yang mengejarnya, bahkan seandainya tidak ada hukum yang dilanggar dan tidak ada orang lain yang dirugikan.

Inilah suara yang paling langsung menjawab kegamangan terdalam Maya, sebab kegamangannya sejak awal bukan tentang aturan melainkan tentang dirinya: *manusia macam apa yang sedang aku jadikan diriku?* Suara keempat berkata: perhatikan bukan angka di laporan, melainkan apa yang terjadi pada dirimu saat kau mengejar angka itu. Apakah kau menjadi lebih besar atau lebih kecil sebagai manusia? Apakah kau masih bisa berkata "cukup", ataukah kata itu telah hilang dari kosakatamu?

Namun suara keempat pun punya keterbatasannya. Ia mengandaikan bahwa kita punya gambaran yang cukup jelas tentang "hidup yang berkembang", dan dalam masyarakat yang plural, gambaran itu diperebutkan. Apa yang oleh seorang biarawan disebut hidup yang berkembang akan tampak sebagai pemborosan potensi bagi seorang wirausahawan, dan sebaliknya. Etika keutamaan memberi tahu Maya untuk menjadi orang yang baik, tetapi relatif sunyi tentang apa yang dituntut keadilan dari struktur tempat ia berdiri—seolah cukup memperbaiki jiwa individu tanpa mempertanyakan sistem yang membentuk pilihan-pilihannya.

## **Suara Kelima: Lihat Sistemnya, Bukan Jiwanya**

Dan di sinilah suara kelima menyela, suara yang paling tidak nyaman bagi Maya karena ia menolak menganggap pertanyaannya sebagai pertanyaan pribadi sama sekali. Tradisi yang berakar pada Karl Marx, dan yang dilanjutkan oleh para pemikir kritis sesudahnya, berkata: kegamanganmu, Maya, adalah kegamangan yang dipersonalisasi dari sebuah kontradiksi struktural. Engkau bertanya apakah *engkau* boleh mengejar laba, padahal pertanyaan sebenarnya adalah apakah sebuah sistem yang memaksa siapa pun yang ingin bertahan untuk mengejar laba dapat disebut adil.

Bagi suara ini, keuntungan dalam ekonomi kapitalis bukanlah jejak pelayanan (sebagaimana kata suara pertama) melainkan, setidaknya sebagian, jejak dari nilai yang diciptakan oleh kerja namun tidak dibayarkan kembali kepada pekerja—apa yang Marx sebut nilai lebih. Maya merasa bersalah karena memangkas tunjangan dan menekan pemasok, tetapi suara kelima berkata bahwa rasa bersalah itu hampir tidak relevan: dalam persaingan, jika Maya tidak menekan biaya, pesaingnya akan melakukannya dan Maya akan tersingkir. Sistem itu sendiri yang menghasilkan tekanan ke bawah pada upah dan margin, dan menyalahkan individu yang terjebak di dalamnya adalah seperti menyalahkan setetes air karena mengalir mengikuti arus.

Implikasinya radikal. Pertanyaan "dalam batas dan syarat seperti apa keuntungan menjadi sah?" tidak bisa dijawab pada tingkat keputusan individu Maya; ia hanya bisa dijawab pada tingkat penataan ulang struktur—siapa yang memiliki alat produksi, bagaimana surplus dibagi, apakah para pekerja punya suara dalam keputusan yang membentuk hidup mereka. Suara ini menerangi sesuatu yang luput dari empat suara sebelumnya: bahwa banyak dari "pilihan" Maya sebenarnya bukan pilihan, melainkan batas yang ditetapkan oleh sebuah permainan yang aturannya tidak ia tulis.

Tetapi suara kelima, dalam ketajamannya, juga berisiko menyembunyikan sesuatu yang penting. Dengan menggeser seluruh beban moral ke struktur, ia bisa membebaskan Maya terlalu murah—seolah selama sistemnya tidak adil, tidak ada bedanya apa yang ia lakukan sebagai individu. Padahal pengalaman menunjukkan bahwa di dalam batas yang sama, ada pemilik usaha yang memperlakukan orang dengan martabat dan ada yang tidak; struktur membatasi, tetapi tidak sepenuhnya menentukan. Dan ada bahaya kedua: tradisi yang hanya bisa berkata "ubah seluruh sistem" berisiko melumpuhkan, meninggalkan Maya tanpa panduan untuk Senin pagi ketika ia harus mengambil keputusan nyata di dalam sistem yang belum berubah.

## **Suara Keenam: Amanah, Bukan Kepemilikan**

Sebelum kita meninggalkan meja ini, ada satu suara lagi yang terlalu sering diabaikan dalam percakapan yang didominasi tradisi Barat, dan yang terasa dekat dengan konteks tempat Maya berdiri. Ia datang dari tradisi-tradisi etika keagamaan—dalam hal ini saya akan menyebut khususnya etika ekonomi Islam, meski gagasan serupa hidup dalam tradisi Kristen, Yahudi, Buddha, dan banyak kearifan lokal—yang membingkai ulang seluruh pertanyaan melalui konsep amanah.

Dalam kerangka ini, manusia bukanlah pemilik mutlak atas harta yang ia kelola, melainkan pemegang amanah (khalifah) atas sesuatu yang pada akhirnya bukan miliknya. Keuntungan diizinkan, bahkan dimuliakan, sebab perdagangan yang jujur dihormati dalam tradisi ini. Tetapi ia datang dengan kewajiban yang melekat: larangan terhadap riba (pengambilan keuntungan dari uang itu sendiri tanpa risiko dan kerja nyata), kewajiban zakat dan sedekah yang mengakui hak orang lain dalam harta yang kita pegang, larangan terhadap gharar (ketidakpastian dan spekulasi yang merugikan), dan keharusan agar transaksi dilakukan atas dasar kerelaan tanpa pemaksaan terhadap pihak yang lemah.

Suara keenam menawarkan kepada Maya sesuatu yang tidak diberikan suara-suara sekuler: sebuah cara untuk menempatkan keuntungan dalam tatanan makna yang lebih besar, di mana ia bukan tujuan akhir melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Pertanyaan "apakah aku boleh mengejar laba" berubah menjadi "apakah aku menjaga amanah ini dengan baik—terhadap Tuhan, terhadap sesama, terhadap generasi yang belum lahir." Tekanan terhadap pemasok lemah, dalam kerangka ini, bukan sekadar pelanggaran terhadap pasar yang adil atau terhadap martabat Kantian, melainkan pengkhianatan terhadap amanah, dan itu adalah kategori yang jauh lebih berat dalam dadanya.

Keterbatasan suara ini, sebagaimana semua suara yang berakar pada keyakinan partikular, adalah bahwa kekuatannya bergantung pada apakah Maya berbagi keyakinan itu. Bagi yang berbagi, ia memberi fondasi yang kokoh; bagi yang tidak, argumennya kehilangan daya ikat, dan ia berisiko hanya berbicara kepada yang sudah percaya.

## **Tempat Suara-Suara Itu Bertabrakan**

Apa yang terjadi jika kita membiarkan semua suara ini berbicara sekaligus, sebagaimana sesungguhnya mereka berbicara di kepala Maya? Mereka tidak menyatu menjadi satu jawaban. Mereka bertabrakan, dan justru tabrakan itu yang menarik.

Suara pertama dan kelima berselisih paling tajam: apakah laba adalah jejak pelayanan atau jejak pengambilalihan? Keduanya melihat fakta yang sama—pertumbuhan laba Maya—dan membacanya secara berlawanan. Dan yang mengganggu adalah keduanya benar pada bagiannya: sebagian laba Maya memang datang dari melayani konsumen dengan baik, dan sebagian datang dari ketimpangan kuasa atas pemasok. Tidak ada termometer yang bisa memberi tahu kita berapa persen yang mana.

Suara kedua dan ketiga berselisih tentang apakah ada hal yang tidak boleh dilakukan apa pun akibatnya. Utilitarian bersedia mengorbankan sepuluh pemasok demi sejuta konsumen; Kantian menolak, bahkan jika neracanya menguntungkan, karena martabat tidak bisa dikurangkan. Maya merasakan tarikan keduanya: ia ingin menciptakan kebaikan terbesar, tetapi ia juga merasa bahwa ada manusia-manusia tertentu di hadapannya yang tidak boleh ia perlakukan sebagai variabel.

Suara keempat dan kelima berselisih tentang lokus tanggung jawab: ada di jiwa individu atau di struktur sistem? Dan barangkali kebenaran yang paling jujur adalah bahwa ia ada di keduanya sekaligus, terjalin sedemikian rupa sehingga tidak bisa dipisahkan—jiwa dibentuk oleh struktur, struktur dipelihara oleh pilihan-pilihan jiwa.

Inilah yang sering luput dari diskusi tentang etika bisnis di Indonesia dan di banyak negara dengan struktur ekonomi serupa: bahwa kerangka-kerangka ini sebagian besar dirumuskan di tengah ekonomi industri Barat dengan pekerja formal yang relatif terorganisir. Maya beroperasi di tengah lanskap yang dipenuhi pekerja informal tanpa kontrak, petani-pemasok yang berada di zona abu-abu antara mitra dan buruh, dan ekonomi yang sebagian besar berlangsung di luar jangkauan regulasi formal. Pemasok kecil yang ia tekan mungkin adalah keluarga tani yang tidak masuk dalam kategori "pekerja" mana pun yang dipikirkan oleh Marx, tidak terlindungi oleh hukum perburuhan, dan tidak terhitung dalam statistik. Suara-suara yang duduk di meja Maya, betapapun bijaknya, sebagian besar tidak dirancang untuk melihat orang-orang ini—dan itu adalah keterbatasan yang harus kita akui terus terang, bukan kita sembunyikan.

## **Batas-Batas Esai Ini Sendiri**

Sebelum bergerak ke penutup, kejujuran menuntut saya mengakui apa yang esai ini tidak lakukan dan tidak bisa lakukan. Pertama, ia memperlakukan setiap tradisi sebagai suara tunggal, padahal masing-masing adalah lautan perdebatan internal: ada banyak utilitarianisme, banyak pembacaan Kant, banyak Marxisme yang saling berselisih. Apa yang saya sajikan adalah karikatur yang dimurnikan demi kejelasan, dan setiap penyederhanaan membayar harga.

Kedua, esai ini berdiri di atas satu kasus rekaan—Maya—yang dengan sendirinya membatasi. Kegamangan seorang pemilik usaha menengah berbeda secara mendasar dari dilema seorang manajer dana yang mengejar laba untuk pemegang saham anonim, atau dari situasi seorang buruh harian yang "mengejar keuntungan" hanya berarti bertahan hidup. Dengan memilih Maya, saya telah memilih jenis pertanyaan tertentu dan mengabaikan yang lain.

Ketiga, dan paling penting, esai ini ditulis dalam bahasa yang menganggap Maya punya pilihan bermakna—punya ruang gerak moral. Bagi sebagian besar orang yang terjerat dalam ekonomi keuntungan, ruang itu jauh lebih sempit daripada yang diandaikan oleh percakapan filosofis yang nyaman. Filsafat moral kerap merupakan kemewahan mereka yang punya pilihan, dan ada sesuatu yang nyaris tidak senonoh dalam merenungkan keabsahan keuntungan dari posisi yang aman, sementara orang lain mengejar penghasilan sekadar agar tidak tenggelam. Esai ini tidak mengatasi ketimpangan itu; ia hanya bisa menamainya.

## **Penutup: Sebuah Refleksi, Bukan Putusan**

Maka kita kembali ke ruang rapat yang menghadap pelabuhan, ke Maya dan laporan kuartalannya. Apa yang harus ia lakukan dengan kegamangannya?

Saya ingin menahan diri dari godaan untuk memberinya jawaban, karena godaan itu sendiri—keinginan untuk menyelesaikan kegelisahan, menutup pertanyaan, dan kembali tidur nyenyak—mungkin adalah hal yang justru patut diwaspadai. Barangkali kegamangan Maya bukanlah masalah yang harus dipecahkan, melainkan suara hati nurani yang justru menandakan bahwa ia masih utuh sebagai manusia. Orang yang paling membahayakan, dalam urusan keuntungan, bukanlah orang yang ragu seperti Maya, melainkan orang yang tidak pernah ragu sama sekali—yang membaca laporan labanya dengan kepuasan murni dan tidur tanpa mimpi.

Mungkin yang bisa kita katakan bukanlah "keuntungan adalah tujuan moral yang sah" atau "keuntungan bukan tujuan moral yang sah", melainkan sesuatu yang lebih ganjil dan lebih jujur: bahwa keuntungan adalah tujuan yang sahnya tidak pernah final, yang harus diperjuangkan kembali pada setiap keputusan, dan yang kehilangan keabsahannya pada saat persis ketika kita berhenti mempertanyakannya. Keabsahan moral keuntungan, kalau begitu, bukanlah sertifikat yang sekali diperoleh lalu disimpan, melainkan sesuatu yang lebih menyerupai keseimbangan seorang penari—dipertahankan hanya selama gerakan terus disesuaikan, hilang pada saat tubuh berhenti dan menganggap dirinya sudah sampai.

Setiap suara yang duduk di meja Maya menerangi satu sudut. Pasar mengingatkannya bahwa laba bisa menjadi jejak pelayanan. Utilitarian memaksanya menimbang akibat yang nyata bagi orang nyata. Kant menggambar garis yang tidak boleh dilewati demi laba apa pun. Aristoteles bertanya manusia macam apa yang sedang ia jadikan dirinya. Marx menyingkapkan bahwa pilihan-pilihannya sebagian dibentuk oleh sistem yang melampaui dirinya. Dan tradisi amanah menempatkan seluruh persoalan dalam tatanan tanggung jawab yang lebih besar dari laba kuartal mana pun. Tidak satu pun dari suara ini, sendirian, cukup. Tetapi bersama-sama mereka membentuk semacam ruang—bukan jawaban, melainkan ruang—tempat seseorang seperti Maya bisa berdiri dan bertanya dengan lebih jernih.

Mungkin itulah yang paling bisa diharapkan dari filsafat moral: bukan menghapus kegamangan, melainkan memuliakannya; bukan memberi kita jawaban yang bisa kita simpan, melainkan memberi kita pertanyaan-pertanyaan yang layak kita bawa. Maya akan menutup laporan itu, mematikan lampu, dan pulang. Besok ia akan mengambil keputusan-keputusan yang sama sulitnya. Yang berubah, jika ada yang berubah, bukanlah bahwa ia kini tahu jawabannya—melainkan bahwa ia kini tahu betapa banyak yang dipertaruhkan dalam denyut tidak nyaman di dadanya itu, dan tidak lagi tergoda untuk membungkamnya.

---

## **Catatan Bacaan**

Bagi pembaca yang ingin menelusuri suara-suara di meja Maya secara langsung, ada beberapa jalan yang bisa ditempuh. Adam Smith jauh lebih kaya daripada karikaturnya; *The Theory of Moral Sentiments* (1759) sebaiknya dibaca berdampingan dengan *The Wealth of Nations* (1776), sebab tanpa yang pertama, yang kedua mudah disalahbaca sebagai perayaan keserakahan—padahal Smith adalah seorang profesor filsafat moral yang justru gelisah tentang apa yang dilakukan kekayaan kepada simpati manusia. Esai pendek Milton Friedman, "The Social Responsibility of Business Is to Increase Its Profits", terbit di *The New York Times Magazine* pada September 1970 dan tetap menjadi pernyataan paling tajam dari posisi yang kerap dikutip tetapi jarang dibaca utuh.

Untuk tradisi utilitarian, *Utilitarianism* (1863) karya John Stuart Mill tetap merupakan titik masuk yang elegan, sementara kritik tajam terhadapnya dapat ditemukan dalam karya Bernard Williams, terutama esainya bersama J.J.C. Smart, *Utilitarianism: For and Against* (1973), yang merumuskan keberatan tentang integritas yang menghantui Maya. Untuk Kant, *Groundwork of the Metaphysics of Morals* (1785) adalah sumber dari rumusan tentang manusia sebagai tujuan pada dirinya; ia ringkas tetapi padat, dan sebaiknya dibaca pelan-pelan.

Aristoteles membahas chrematistike dan oikonomia dalam Buku I *Politics* dan mengembangkan etika keutamaannya dalam *Nicomachean Ethics*; pembaca modern akan terbantu oleh tafsir Alasdair MacIntyre dalam *After Virtue* (1981), yang menghidupkan kembali etika keutamaan sebagai kritik atas modernitas. Untuk suara struktural, *Capital* Jilid I karya Karl Marx tetap menjadi sumbernya, meski pembaca yang ingin masuk lebih landai bisa memulai dari tulisan-tulisan awalnya, terutama *Economic and Philosophic Manuscripts of 1844*, tempat gagasan tentang keterasingan kerja dirumuskan dengan kekuatan yang masih terasa. David Graeber dalam *Debt: The First 5,000 Years* (2011) menawarkan jalan masuk antropologis yang menggugat banyak asumsi yang kita anggap alami tentang utang dan kewajiban.

Untuk etika amanah dalam tradisi Islam, karya-karya M. Umer Chapra, terutama *Islam and the Economic Challenge* (1992), memberi kerangka yang sistematis, sementara pembaca yang ingin perbandingan lintas tradisi keagamaan akan menemukan banyak hal dalam tulisan-tulisan tentang etika ekonomi yang menjembatani gagasan tentang penatalayanan (stewardship) yang hadir, dalam bentuk berbeda-beda, di hampir semua tradisi besar dunia. Akhirnya, bagi yang ingin menempatkan seluruh pertanyaan ini dalam konteks Indonesia dan ekonomi dengan sektor informal yang luas, masih ada celah literatur yang menganga—dan barangkali justru di celah itulah pemikiran yang paling kita butuhkan menunggu untuk ditulis.