"Hati memiliki alasannya sendiri yang tak dikenal oleh akal." — Blaise Pascal, Pensées
Ada satu malam yang barangkali pernah dialami hampir setiap orang. Rangga, sebut saja begitu, baru saja kehilangan ayahnya. Ia berbaring di atas atap rumah di pinggir kota, menatap langit yang—jauh dari lampu jalan—penuh sesak oleh bintang. Sebagian cahaya yang ia lihat berasal dari benda-benda yang sudah lama padam, ribuan tahun lalu, dan baru sampai ke matanya sekarang. Dalam keheningan itu muncul pertanyaan yang tidak ia minta dan tidak bisa ia usir: apakah ada Sesuatu di balik semua ini, yang menghendaki, yang menata, yang tahu bahwa ia sedang berduka? Atau langit hanyalah langit—kebetulan kosmik yang megah dan acuh tak acuh, dan kesedihannya tak punya penonton?
Pertanyaan Rangga bukan pertanyaan baru. Ia setua manusia yang sanggup bertanya. Yang menarik bukanlah bahwa pertanyaan itu muncul, melainkan bahwa selama dua ribu tahun lebih para pemikir paling tajam—filsuf, teolog, ilmuwan—telah mencoba menjawabnya bukan dengan air mata melainkan dengan argumen: rangkaian alasan yang, kalau berhasil, mestinya bisa meyakinkan siapa pun yang berpikir jernih, terlepas dari apa yang sedang ia rasakan. Tulisan ini berusaha memetakan argumen-argumen itu—yang mendukung maupun yang menolak—sejujur dan sejelas mungkin, dengan menempatkan versi terkuat dari masing-masing pihak lebih dulu sebelum mempersoalkannya. Sebab argumen yang belum berhadapan dengan lawannya dalam wujud terbaik belum benar-benar diuji.
Mari mulai dari yang paling tua dan, bagi banyak orang, paling intuitif: argumen kosmologis (cosmological argument). Inti gagasannya sederhana. Segala sesuatu yang kita lihat tampak bergantung pada sesuatu yang lain untuk keberadaannya. Pohon tumbuh dari biji, biji dari pohon sebelumnya, dan seterusnya ke belakang. Tetapi rantai sebab-akibat ini, kata argumen tersebut, tidak bisa mundur tanpa batas. Pasti ada sesuatu yang tidak bergantung pada apa pun—sesuatu yang ada dengan sendirinya, yang menjadi sumber tetapi bukan akibat. Thomas Aquinas pada abad ketiga belas menyebutnya "penggerak yang tidak digerakkan" (unmoved mover). Versi lain, yang lahir di dunia Islam jauh sebelumnya melalui Al-Ghazali dan para teolog kalam, dikenal sebagai argumen kalam: apa pun yang mulai ada punya sebab; alam semesta mulai ada; karena itu alam semesta punya sebab. Filsuf kontemporer William Lane Craig menghidupkan kembali versi ini dengan menautkannya pada kosmologi modern—khususnya teori Dentuman Besar (Big Bang), yang menyiratkan bahwa ruang, waktu, dan materi punya titik awal yang terhingga. Bagi pendukungnya, sebab dari seluruh ruang dan waktu itu sendiri tidak mungkin berupa benda di dalam ruang dan waktu; ia harus berada di luarnya, tanpa awal, tanpa sebab—dan ini, kata mereka, adalah apa yang orang maksud dengan Tuhan.
Argumen ini kuat karena memanfaatkan naluri kausal kita yang paling dalam: kita memang sulit menerima bahwa sesuatu muncul begitu saja dari ketiadaan tanpa penjelasan. Gottfried Leibniz merumuskannya sebagai pertanyaan yang memukau, "Mengapa ada sesuatu, dan bukan ketiadaan?" Namun di sinilah keberatan klasik bekerja. Jika segala sesuatu butuh sebab, mengapa Tuhan tidak? Dan jika ada satu hal yang boleh ada tanpa sebab, mengapa bukan alam semesta itu sendiri? Para pembela menjawab bahwa premisnya bukan "segala sesuatu butuh sebab" melainkan "segala sesuatu yang mulai ada butuh sebab"—dan Tuhan, menurut definisi, tidak mulai ada. Tetapi lawan akan membalas bahwa ini terasa seperti memenangkan perdebatan lewat definisi, dan bahwa fisika modern—dengan gagasan tentang fluktuasi kuantum dan model-model kosmologis di mana waktu sendiri berperilaku aneh di dekat titik awal—membuat intuisi kausal sehari-hari kita jadi panduan yang meragukan untuk menalar tentang asal-usul kosmos. Argumen kosmologis, pada akhirnya, memindahkan letak misteri tetapi mungkin tidak menghapusnya: ia mengganti "alam semesta yang tak terjelaskan" dengan "Tuhan yang tak terjelaskan", dan apakah pertukaran itu maju atau jalan di tempat menjadi soal yang masih diperdebatkan.
Kalau argumen kosmologis bertanya mengapa ada sesuatu, argumen teleologis (teleological argument) bertanya mengapa sesuatu itu begitu tertata. Inilah argumen perancangan (design argument), yang barangkali paling akrab di telinga awam. Versi klasiknya datang dari teolog William Paley pada awal abad kesembilan belas: bayangkan Anda menemukan jam tangan di tengah padang. Anda tidak akan menyangka jam itu terbentuk sendiri oleh angin dan hujan; kerumitannya yang berfungsi—roda gigi yang saling mengunci demi satu tujuan—menuntut adanya perancang. Alam, kata Paley, jauh lebih rumit dan lebih cermat ketimbang jam mana pun. Karena itu ia pun menuntut Perancang.
Versi Paley menerima pukulan keras dari Charles Darwin, yang menunjukkan bahwa kerumitan organik yang tampak terancang dapat muncul tanpa perancang, melalui seleksi alam yang bekerja perlahan sepanjang waktu geologis yang tak terbayangkan panjangnya. Namun argumen perancangan tidak mati; ia berpindah dari biologi ke fisika, dan di sana menjelma menjadi argumen penyetelan-halus (fine-tuning argument). Para fisikawan mendapati bahwa sejumlah konstanta dasar alam semesta—kekuatan gravitasi, nilai konstanta kosmologis, rasio massa partikel—seolah disetel pada angka-angka yang amat presisi. Seandainya beberapa di antaranya bergeser sedikit saja, bintang tak akan terbentuk, karbon tak akan tercipta, dan kehidupan menjadi mustahil. Bagi sebagian orang, ketepatan ini terlalu mencurigakan untuk sekadar kebetulan; ia menyiratkan maksud. Steelman dari argumen ini layak diperhatikan: ia tidak bersandar pada kebodohan tentang sains, melainkan justru pada temuan sains yang paling mutakhir, dan ia menuntut sebuah penjelasan atas keteraturan, bukan sekadar atas keberadaan.
Tetapi di sini pun ada jawaban tandingan yang serius. Yang paling berpengaruh adalah hipotesis multisemesta (multiverse): jika alam semesta kita hanya satu dari tak terhingga banyaknya semesta dengan konstanta yang berbeda-beda, maka tidak mengherankan bahwa kita mendapati diri kita di semesta yang kebetulan ramah bagi kehidupan—sebab hanya di semesta semacam itulah makhluk yang bisa bertanya akan muncul untuk bertanya. Ini disebut penalaran antropik. Para pengkritik membalas bahwa multisemesta belum teramati dan terkesan diada-adakan demi menghindari kesimpulan teistik—sebuah tuduhan yang, secara adil, juga bisa dilemparkan balik: bahwa Tuhan pun "diada-adakan" demi menghindari kesimpulan kebetulan. Perdebatan penyetelan-halus, dengan kata lain, kerap kali bukan adu data melainkan adu intuisi tentang penjelasan mana yang lebih sederhana dan lebih masuk akal—dan intuisi semacam itu, sayangnya, tidak terdistribusi merata di antara orang-orang yang sama-sama cerdas dan sama-sama jujur.
Lalu ada satu argumen yang sama sekali tidak menengok ke langit maupun ke laboratorium, melainkan murni bekerja di dalam pikiran: argumen ontologis (ontological argument). Inilah yang paling memesona sekaligus paling membuat frustrasi. Anselmus dari Canterbury merumuskannya pada abad kesebelas. Definisikan Tuhan sebagai "sesuatu yang lebih besar darinya tak dapat dibayangkan". Nah, sesuatu yang ada di kenyataan tentu lebih besar daripada sesuatu yang hanya ada dalam pikiran. Maka jika Tuhan—yang menurut definisi adalah yang terbesar yang dapat dibayangkan—hanya ada dalam pikiran, kita bisa membayangkan yang lebih besar lagi, yaitu yang juga ada di kenyataan. Itu kontradiksi. Karena itu, kata Anselmus, Tuhan mesti ada di kenyataan; ketiadaannya secara logis mustahil. Argumen ini berusaha menyimpulkan keberadaan dari konsep belaka—dan justru karena itulah ia terus menggoda para logikawan.
Hampir seketika, seorang rahib bernama Gaunilo membalas dengan sindiran tajam: dengan logika yang sama, saya bisa "membuktikan" adanya pulau tersempurna yang dapat dibayangkan—sebab pulau yang ada tentu lebih sempurna daripada pulau yang hanya dikhayalkan. Tetapi tidak ada yang menganggap khayalan bisa menyulap pulau menjadi nyata. Belakangan, Immanuel Kant melontarkan keberatan yang lebih dalam dan dianggap paling mematikan: "keberadaan bukanlah predikat". Mengatakan sesuatu ada tidak menambahkan sifat apa pun pada konsep itu, sebagaimana seratus koin yang nyata tidak punya sifat moneter lebih banyak daripada seratus koin yang dibayangkan—yang satu cuma ada, yang lain tidak. Menariknya, pada abad kedua puluh filsuf Alvin Plantinga menghidupkan kembali argumen ini dalam baju logika modal yang canggih, menggunakan konsep "dunia-dunia yang mungkin". Versinya secara logis valid—tetapi, seperti diakui Plantinga sendiri dengan jujur, kesahihannya bergantung pada satu premis (bahwa keberadaan Tuhan setidaknya mungkin dalam pengertian metafisik yang ketat) yang persis sama kontroversialnya dengan kesimpulan yang hendak dibuktikan. Argumen ontologis, dengan demikian, mungkin lebih banyak mengajari kita tentang batas-batas penalaran murni ketimbang tentang isi langit.
Keluar dari logika, kita masuk ke wilayah moral. Argumen moral (moral argument), yang dikaitkan terutama dengan Kant dan kemudian dikembangkan banyak pemikir, berangkat dari pengalaman yang nyaris universal: kita merasa bahwa sebagian hal sungguh-sungguh salah—menyiksa anak demi kesenangan, misalnya—bukan sekadar tidak kita sukai, melainkan salah secara objektif, terlepas dari pendapat siapa pun. Dari mana datangnya keharusan moral yang mengikat itu? Jika alam semesta hanyalah materi dan energi yang bergerak tanpa maksud, kata argumen ini, dari mana munculnya kewajiban yang sahih bagi semua orang? Keberadaan hukum moral yang objektif, demikian kesimpulannya, paling baik dijelaskan oleh adanya Pemberi Hukum yang transenden. Steelman-nya kuat: ia menjelaskan mengapa intuisi moral kita terasa seperti penemuan, bukan sekadar selera.
Keberatan terhadapnya juga sudah tua dan tetap tajam, berakar pada dilema yang dilemparkan Socrates dalam dialog Euthyphro: apakah sesuatu baik karena Tuhan memerintahkannya, atau Tuhan memerintahkannya karena sesuatu itu baik? Jika yang pertama, moralitas jadi sewenang-wenang—seandainya Tuhan memerintahkan kekejaman, kekejaman akan menjadi baik. Jika yang kedua, maka standar kebaikan berdiri sendiri, terpisah dari Tuhan, dan kita tidak lagi membutuhkan-Nya untuk menjelaskan moralitas. Selain itu, para filsuf sekuler menunjuk bahwa teori-teori etika naturalistik—dari kontrak sosial sampai etika berbasis kesejahteraan makhluk—berusaha menjelaskan keobjektifan moral tanpa menengok ke langit, dengan tingkat keberhasilan yang masih diperdebatkan dengan sengit. Yang pasti, kaitan antara moralitas dan keberadaan Tuhan tidak sesederhana yang sering dikira oleh kedua belah pihak.
Sampai di sini argumen-argumen yang kita bahas semuanya bersifat menyimpulkan—mereka mencoba menalar dari dunia menuju Tuhan. Tetapi bagi sebagian besar umat manusia, keyakinan tidak lahir dari silogisme melainkan dari pengalaman: rasa kehadiran yang mendalam saat berdoa, ketenangan yang tak terjelaskan, momen ketika dunia tiba-tiba terasa bermakna dan dipeluk. Inilah argumen dari pengalaman keagamaan (argument from religious experience), yang menyatakan bahwa, sebagaimana kita umumnya berhak mempercayai apa yang tampak nyata bagi indra kita, kita pun berhak menganggap pengalaman religius sebagai bukti—kecuali ada alasan kuat untuk meragukannya. Dan pengalaman semacam itu bukan barang langka: data lintas negara dari Pew Research Center menunjukkan bahwa keyakinan kepada Tuhan tetap menjadi fenomena mayoritas di sebagian besar dunia, dengan tingkat keyakinan yang sangat tinggi di negara-negara seperti Indonesia, Nigeria, dan Kenya, dan jauh lebih rendah—tetapi tetap signifikan—di negara seperti Swedia, di mana hanya sekitar sepertiga penduduk menyatakan percaya kepada Tuhan (Pew Research Center, 2024). Pada skala global, kelompok yang tak berafiliasi agama diperkirakan sekitar seperempat populasi dunia—besar, tetapi tetap minoritas (Pew Research Center, 2025).
Persebaran luas keyakinan ini melahirkan apa yang dulu disebut argumen kesepakatan umum (common consent): jika hampir semua bangsa di sepanjang sejarah percaya pada yang ilahi, bukankah itu petunjuk bahwa ada sesuatu yang nyata di baliknya? Justru pada titik inilah sains kontemporer melakukan intervensi yang paling menggugah—dan, ironisnya, ambivalen. Bidang yang disebut ilmu kognitif tentang agama (cognitive science of religion) menawarkan penjelasan mengapa manusia begitu mudah dan begitu universal mempercayai agen-agen adikodrati. Justin Barrett mengajukan gagasan tentang "perangkat pendeteksi keagenan yang hipersensitif" (hypersensitive agency detection device, atau HADD): pikiran kita, yang terbentuk oleh evolusi, cenderung memindai lingkungan untuk mendeteksi keberadaan agen—makhluk yang punya niat—bahkan dari isyarat yang paling samar (Barrett, 2004). Nenek moyang yang mengira gemerisik semak adalah harimau dan ternyata cuma angin hanya kehilangan sedikit tenaga; yang mengira itu angin padahal harimau, kehilangan nyawanya. Maka pikiran yang "salah deteksi ke arah ada agen" lebih unggul bertahan hidup. Dari kecenderungan inilah, kata teori tersebut, lahir kemudahan kita melihat maksud di balik guntur, penyakit, dan nasib. Pascal Boyer menambahkan bahwa konsep ketuhanan yang bertahan dan menyebar adalah yang bersifat "berlawanan-intuisi secara minimal" (minimally counterintuitive)—cukup aneh untuk berkesan, tetapi cukup akrab untuk diingat (Boyer, 2001), sebuah gagasan yang berakar pada karya antropolog Stewart Guthrie tentang kecenderungan kita memanusiakan dunia (Guthrie, 1993).
Di sinilah letak ambivalensi yang jujur. Penjelasan kognitif ini bisa dibaca dua arah. Bagi seorang ateis, ia merupakan pelemah (defeater) yang ampuh terhadap argumen kesepakatan umum: jika manusia memang terprogram untuk percaya pada agen ilahi entah ada atau tidak, maka fakta bahwa kita percaya tidak lagi bisa dijadikan bukti bahwa yang kita percayai itu benar-benar ada. Tetapi seorang teis dapat membalas—dan Barrett sendiri menekankan bahwa temuan bidang ini netral terhadap kebenaran teologis—bahwa adanya mekanisme yang membuat kita peka pada yang ilahi justru bisa jadi persis cara sebuah pikiran yang dirancang untuk mengenal Penciptanya akan bekerja. Bahwa kita punya mata bukan bukti cahaya itu ilusi. Sains menjelaskan bagaimana kita percaya; ia tidak otomatis menjawab apakah yang kita percayai itu nyata.
Sekarang kita harus berbalik, dan menghadapi keberatan terbesar terhadap keberadaan Tuhan—satu argumen yang, berbeda dari yang lain, justru menyimpulkan ketiadaan-Nya: masalah kejahatan (the problem of evil). Rumusannya yang paling tajam berasal dari Epicurus dan diperbarui filsuf J. L. Mackie pada abad kedua puluh. Jika Tuhan Mahakuasa, Ia mampu mencegah penderitaan. Jika Ia Mahabaik, Ia ingin mencegahnya. Namun penderitaan—gempa yang menelan ribuan nyawa, kanker yang menggerogoti anak-anak, kekejaman yang dilakukan manusia atas sesama—nyata dan melimpah. Maka, kata argumen ini, Tuhan yang Mahakuasa sekaligus Mahabaik tidak mungkin ada, setidaknya tidak dalam bentuk yang diyakini agama-agama besar. Ini bukan keberatan yang bisa diremehkan; bagi banyak orang yang kehilangan iman, ia bukan teka-teki abstrak melainkan luka.
Tanggapan teistik yang paling berpengaruh adalah pembelaan kehendak bebas (free will defense), yang dirumuskan dengan ketat oleh Alvin Plantinga. Banyak kejahatan, katanya, adalah harga dari kebebasan: Tuhan menilai dunia yang dihuni makhluk yang sungguh-sungguh bebas memilih kebaikan lebih bernilai ketimbang dunia yang dihuni boneka yang dipaksa berbuat baik—dan kebebasan sejati memuat kemungkinan menyalahgunakannya. Argumen ini cukup berhasil menjawab kejahatan moral (yang dilakukan manusia), tetapi tampak lebih lemah di hadapan kejahatan alamiah—penderitaan hewan, bencana, penyakit—yang tak ada kaitannya dengan pilihan siapa pun. Para teis lalu menambahkan teodisi lain, seperti gagasan bahwa dunia adalah "lembah pembentukan jiwa" tempat kesulitan menumbuhkan keutamaan. Sementara itu, filsuf William Rowe mempertajam serangan dengan versi evidensial: kita tidak perlu mengklaim kejahatan membuktikan ketiadaan Tuhan secara mutlak; cukup ditunjukkan bahwa adanya penderitaan yang tampak sia-sia dalam jumlah sebesar ini membuat keberadaan Tuhan menjadi tidak mungkin secara probabilistik. Perdebatan ini, lebih dari yang lain, tidak menemui titik henti—dan barangkali memang tak akan, sebab ia berpijak pada penilaian tentang seberapa banyak penderitaan yang "terlalu banyak", sebuah timbangan yang setiap orang membawanya sendiri.
Ada satu keberatan lebih halus yang patut disebut, karena ia menyerang dari sudut yang tak terduga: argumen ketersembunyian ilahi (divine hiddenness), yang dikembangkan filsuf J. L. Schellenberg. Jika ada Tuhan yang Mahapengasih, kata Schellenberg, Ia tentu menginginkan hubungan dengan setiap makhluk yang sanggup menjalinnya—dan hubungan menuntut, minimal, bahwa pihak yang dikasihi tahu Ia ada. Namun kenyataannya ada banyak orang yang tidak percaya tanpa menolak: para pencari tulus yang sungguh-sungguh ingin menemukan tetapi tidak menemukan bukti yang cukup, atau jutaan manusia di sepanjang sejarah yang hidup dan mati tanpa pernah punya kesempatan mendengar tentang Tuhan monoteistik (Schellenberg, 2015). Keberadaan "ketidakpercayaan yang tak melawan" (non-resistant non-belief) ini, kata Schellenberg, tidak cocok dengan adanya Tuhan yang Mahapengasih sekaligus selalu terbuka untuk dikenal. Para teis membalas dengan beragam cara—bahwa ketersembunyian justru menjaga kebebasan manusia untuk datang tanpa paksaan, atau bahwa keterbukaan kepada Tuhan tidak selalu berupa keyakinan eksplisit. Sekali lagi, tidak ada pukulan telak; yang ada adalah dorong-mendorong yang terus menggeser beban pembuktian dari satu sisi ke sisi lain.
Di balik seluruh perdebatan ini menyelinap pertanyaan tentang siapa yang menanggung beban pembuktian. Filsuf Bertrand Russell mengajukan perumpamaan termasyhur: seandainya saya mengklaim ada teko porselen yang mengorbit Matahari di antara Bumi dan Mars, terlalu kecil untuk dilihat teleskop mana pun, tidak masuk akal menuntut orang lain membuktikan teko itu tidak ada; bebannya ada pada yang mengklaim. Banyak ateis berdiri di sini: ketiadaan bukti yang meyakinkan sudah cukup untuk tidak percaya, tanpa perlu membuktikan ketiadaan Tuhan secara positif. Ditambah lagi prinsip yang dikenal sebagai pisau cukur Occam (Occam's razor)—bahwa kita sebaiknya tidak melipatgandakan entitas melampaui keperluan—maka, kata mereka, jika alam bisa dijelaskan tanpa Tuhan, untuk apa menambahkan-Nya? Para teis membalas bahwa "kesederhanaan" itu pisau bermata dua: sebuah Sebab tunggal yang menjelaskan keberadaan, keteraturan, kesadaran, dan moralitas sekaligus barangkali justru lebih sederhana ketimbang sekumpulan kebetulan yang tak saling berhubungan. Bahkan tentang siapa yang lebih hemat pun, kedua kubu tak sepakat.
Lalu siapa yang menang? Di sinilah satu data empiris menjadi cermin yang jujur. Survei PhilPapers 2020, yang memetakan pandangan sekitar dua ribu filsuf profesional di seluruh dunia, mendapati bahwa hanya sekitar 14,6 persen menerima atau condong pada teisme, sementara mayoritas besar—sekitar dua pertiga—menerima atau condong pada ateisme (Bourget & Chalmers, 2023). Pada pandangan pertama, ini seolah menutup perkara: para ahli berpikir yang menghabiskan hidup menalar tentang hal-hal semacam ini sebagian besar tidak percaya. Tetapi data yang sama menyimpan kejutan. Di kalangan spesialis filsafat agama—mereka yang justru paling mendalami argumen-argumen di atas—proporsi teis melonjak jauh, ke kisaran tujuh puluh persen. Penafsiran atas anomali ini sendiri terbelah: sebagian menduga orang yang sudah percaya cenderung memilih menekuni bidang itu (bias seleksi), sebagian lain menduga bahwa justru pendalaman terhadap argumennya membuat sebagian orang makin yakin. Studi yang dilakukan filsuf Helen De Cruz bahkan menemukan bahwa, di antara para filsuf agama, perpindahan menuju teisme tidak lebih jarang daripada perpindahan menjauhinya. Dengan kata lain, bahkan di antara orang-orang yang paling terlatih dan paling terinformasi, argumen-argumen tentang Tuhan tidak menghasilkan konvergensi. Mereka tidak memaksa kesimpulan; mereka memperjernih perbedaan.
Maka jujurlah kita mengakui batas-batas tulisan ini dan batas-batas seluruh perdebatan. Tidak ada satu pun argumen di atas yang berfungsi sebagai bukti telak yang akan memaksa setiap orang berakal untuk tunduk—baik ke arah percaya maupun tidak percaya. Masing-masing memindahkan beban, memperjelas taruhan, mengungkap intuisi tersembunyi yang kita bawa sebelum kita mulai menalar. Data survei yang saya kutip menggambarkan apa yang dipercayai orang, bukan apa yang benar; jumlah pemeluk tidak pernah menjadi takaran kebenaran sebuah klaim. Penjelasan kognitif menerangkan asal-usul keyakinan kita tetapi tidak menjawab pertanyaan metafisis di baliknya. Dan saya menulis sebagai pemeta argumen, bukan sebagai hakim yang berwenang memutus perkara yang telah membuat pikiran-pikiran lebih besar dari saya angkat tangan.
Yang barangkali paling layak direnungkan justru bukan jawaban, melainkan ketabahan pertanyaannya. Setelah dua ribu tahun, setelah Darwin dan Einstein, setelah sekularisasi yang melanda sebagian dunia dan kebangkitan religius yang melanda sebagian lain, pertanyaan Rangga di atap rumah itu tidak juga padam. Ia bertahan bukan karena manusia bodoh, melainkan barangkali karena ia menyentuh sesuatu yang tidak bisa dilunasi oleh data maupun silogisme—sesuatu tentang mengapa ada apa-apa sama sekali, dan apakah keberadaan kita disaksikan atau tidak. Mungkin akal memang tidak akan pernah menutup perkara ini sepenuhnya. Dan mungkin justru di situlah letak maknanya: bahwa di hadapan langit yang penuh bintang yang sudah lama padam, manusia tetap memilih untuk bertanya—dan dalam pertanyaan itu, entah ada Penonton atau tidak, ia menjadi paling manusiawi.
Bacaan Lanjutan
Barrett, J. L. (2004). Why would anyone believe in God? AltaMira Press.
Bourget, D., & Chalmers, D. J. (2023). Philosophers on philosophy: The 2020 PhilPapers Survey. Philosophers' Imprint, 23(11). https://philpapers.org/surveys/
Boyer, P. (2001). Religion explained: The evolutionary origins of religious thought. Basic Books.
Guthrie, S. (1993). Faces in the clouds: A new theory of religion. Oxford University Press.
Pew Research Center. (2020). The global God divide. https://www.pewresearch.org/global/2020/07/20/the-global-god-divide/
Pew Research Center. (2024). Spring 2024 Global Attitudes Survey: Belief in God. https://www.pewresearch.org/
Pew Research Center. (2025). How the global religious landscape changed from 2010 to 2020. https://www.pewresearch.org/religion/2025/06/09/how-the-global-religious-landscape-changed-from-2010-to-2020/
Schellenberg, J. L. (2015). The hiddenness argument: Philosophy's new challenge to belief in God. Oxford University Press.
No comments:
Post a Comment