Ada sebuah ironi yang jarang kita ucapkan terus terang. Selama berabad-abad, manusia memimpikan kemerdekaan dari kerja. Para budak di tambang Laurion, para petani yang membungkuk di sawah dari fajar hingga senja, para buruh pabrik yang paru-parunya dipenuhi serat kapas di Manchester abad kesembilan belas — mereka semua, andai ditanya, mungkin akan menukar nyawa demi sehari saja tanpa keharusan menjual tenaga. Mimpi tentang dunia di mana mesin melakukan segalanya, dan manusia bebas, setua peradaban itu sendiri. Aristoteles, dalam *Politika*, membayangkan bahwa jika alat tenun dapat menenun sendiri dan plektrum dapat memetik kecapi tanpa tangan, maka tukang tidak lagi membutuhkan pembantu, dan tuan tidak lagi membutuhkan budak. Ia menulis itu sebagai pengandaian yang mustahil, sebagai batas imajinasi yang tak mungkin disentuh kenyataan. Dua puluh tiga abad kemudian, pengandaian itu berhenti menjadi mustahil.
Dan justru di sini ironinya bersarang. Saat mimpi itu mendekat — saat algoritma menulis, mendiagnosis, dan menyetir; saat lengan robotik merakit tanpa lelah; saat sistem mengelola gudang seluas kota tanpa satu pun manusia di dalamnya — kita tidak merasakan euforia pembebasan. Kita merasakan cemas. Bukan cemas karena harus bekerja, melainkan cemas karena mungkin tak ada lagi yang membutuhkan kita untuk bekerja. Pertanyaan yang muncul bukan "betapa indahnya bebas dari kerja," melainkan "lalu, atas dasar apa aku menuntut bagianku dari dunia ini?"
Pertanyaan inilah yang ingin saya telusuri. Jika otomasi benar-benar menghapus kebutuhan akan tenaga kerja manusia, apakah peristiwa itu membebaskan manusia — mengangkatnya dari kutukan kerja menuju kerajaan waktu luang dan pemenuhan diri — ataukah ia justru mencabut fondasi di mana manusia, sepanjang sejarah modern, mengajukan klaimnya atas hidup yang layak? Sebab ada kemungkinan yang menggetarkan: bahwa "hak untuk hidup layak" dan "kegunaan ekonomis" telah lama terjalin begitu erat dalam imajinasi kita, sehingga ketika yang kedua lenyap, yang pertama kehilangan tanah pijaknya.
## **Kerja sebagai Sumber Klaim**
Untuk memahami mengapa pertanyaan ini terasa menggigit, kita perlu menyadari sesuatu yang sering luput: dalam dunia modern, kerja bukan sekadar cara mendapatkan uang. Kerja adalah bahasa moral. Ia adalah cara kita membuktikan bahwa kita pantas. Ketika seseorang menerima upah, ia tidak hanya menerima alat tukar; ia menerima pengakuan bahwa kontribusinya nyata, bahwa ia memberi sesuatu kepada dunia dan karena itu berhak menerima sesuatu sebagai gantinya. Logika timbal balik ini — aku memberi, maka aku berhak — begitu dalam tertanam sehingga kita jarang mempertanyakannya.
Pikirkan betapa seringnya bahasa kelayakan ekonomi diselipkan dengan bahasa moral. Kita berbicara tentang orang yang "menghidupi keluarga" dengan nada hormat, dan tentang orang yang "hidup dari tunjangan" dengan nada curiga. Kita memuji "etos kerja" seolah ia kebajikan tertinggi, dan menghina "kemalasan" seolah ia dosa. Bahkan sistem jaminan sosial yang paling murah hati pun, di banyak negara, dibangun di atas asumsi bahwa bantuan adalah pengecualian sementara — jembatan menuju kembalinya seseorang ke pasar tenaga kerja, bukan pengakuan permanen atas haknya untuk hidup terlepas dari produktivitasnya.
Inilah yang membuat otomasi total begitu mengganggu secara filosofis. Bukan karena ia menciptakan pengangguran — kita sudah berpengalaman dengan pengangguran. Melainkan karena ia mengancam akan membuat seluruh populasi menjadi, dalam istilah yang dingin namun jujur, *secara ekonomis tidak diperlukan*. Dan jika dasar klaim seseorang atas bagiannya selama ini adalah kegunaannya, apa yang tersisa ketika kegunaan itu lenyap? Pertanyaannya bukan hanya bagaimana orang akan makan. Pertanyaannya adalah bagaimana orang akan merasa berhak untuk makan.
Di sinilah dua kemungkinan jawaban berpisah jalan, dan dari sanalah seluruh perdebatan ini bercabang. Kemungkinan pertama optimistis: barangkali otomasi memaksa kita melepaskan tautan keliru antara kelayakan hidup dan kegunaan ekonomis — tautan yang sejak awal sebenarnya tidak adil — dan dengan begitu membebaskan kita untuk membayangkan dasar martabat yang lebih dalam. Kemungkinan kedua kelam: barangkali tautan itu, betapapun keliru secara filosofis, adalah satu-satunya pijakan praktis yang pernah kita miliki, dan tanpanya manusia jatuh ke jurang tanpa dasar — bukan bebas, melainkan terapung tanpa tanah.
## **Mahzab Pembebasan: Marx, Keynes, dan Mimpi Kerajaan Kebebasan**
Tradisi yang melihat otomasi sebagai pembebasan punya silsilah yang panjang dan terhormat. Akarnya, secara mengejutkan, dapat ditelusuri hingga Karl Marx — bukan Marx yang sering dikutip sebagai pemuja kerja, melainkan Marx yang lebih halus dan lebih utopis.
Dalam *Grundrisse*, naskah yang tidak ia terbitkan semasa hidup, Marx membayangkan sesuatu yang kemudian dikenal sebagai "Fragmen tentang Mesin." Ia melihat bahwa ketika ilmu pengetahuan dan teknologi semakin tertanam dalam proses produksi, peran tenaga kerja langsung manusia akan menyusut. Kekayaan tidak lagi terutama bersumber dari waktu kerja yang dikeluarkan, melainkan dari penerapan sains dan kemampuan produktif kolektif yang ia sebut "intelek umum." Bagi Marx, ini membuka kemungkinan radikal: jika produksi tak lagi membutuhkan banyak tenaga manusia, maka waktu kerja yang diperlukan secara sosial menyusut, dan terbukalah ruang bagi pengembangan diri manusia secara bebas — bukan sebagai sarana produksi, melainkan sebagai tujuan pada dirinya sendiri.
Marx muda dalam *Manuskrip Ekonomi dan Filsafat 1844* sudah meletakkan dasarnya. Ia berbicara tentang "keterasingan" (*Entfremdung*): di bawah kapitalisme, kerja yang seharusnya menjadi ekspresi paling hakiki dari sifat manusia justru berubah menjadi siksaan yang asing, sesuatu yang dilakukan manusia hanya demi bertahan hidup, bukan demi menjadi dirinya. Kerja teralienasi adalah kerja yang membuat manusia merasa menjadi dirinya hanya ketika ia tidak bekerja — saat makan, minum, dan beranak — dan menjadi binatang ketika ia bekerja. Dalam visi Marx yang matang, di *Kapital* volume ketiga, kebebasan sejati dimulai justru di seberang ranah kebutuhan dan produksi material. Kerajaan kebebasan, tulisnya, baru dimulai di tempat di mana kerja yang ditentukan oleh keharusan dan tujuan eksternal berakhir. Otomasi, dalam pembacaan ini, adalah kendaraan menuju seberang itu.
Hampir seabad kemudian, dari kutub politik yang sama sekali berbeda, John Maynard Keynes menggemakan optimisme serupa. Dalam esai pendeknya yang termasyhur dari tahun 1930, "Kemungkinan Ekonomi bagi Cucu-Cucu Kita," Keynes memperkirakan bahwa dalam seratus tahun, kemajuan teknologi akan menyelesaikan "masalah ekonomi" — masalah kelangkaan yang sejak awal sejarah mencekik umat manusia. Cucu-cucu kita, ramalnya, akan bekerja mungkin lima belas jam seminggu, dan tantangan terbesar mereka bukanlah bagaimana bertahan hidup melainkan bagaimana mengisi waktu luang yang melimpah dengan bijak dan menyenangkan. Keynes mengakui bahwa transisi ini akan menyakitkan — ia bahkan menamai gejalanya "pengangguran teknologis" — tetapi ia memandangnya sebagai penyakit pertumbuhan, bukan kiamat. Yang menarik, Keynes menyadari problem psikologis yang mengintai: manusia, yang telah dilatih selama ribuan tahun untuk berjuang dan tidak untuk menikmati, mungkin akan mengalami semacam krisis ketika perjuangan itu tak lagi diperlukan. Ia menyebutnya kemungkinan "kehancuran saraf" kolektif. Ramalan ini, kita kini tahu, jauh lebih tajam daripada ramalan jam kerjanya.
Tradisi pembebasan ini menemukan suara kontemporernya dalam apa yang disebut wacana "pascakerja" (*post-work*). André Gorz, filsuf Prancis-Austria, dalam karya seperti *Farewell to the Working Class* dan *Reclaiming Work*, berargumen bahwa kiri harus berhenti memuja kerja dan sebaliknya memperjuangkan pembebasan *dari* kerja. Nick Srnicek dan Alex Williams, dalam *Inventing the Future* (2015), mengusung program empat tuntutan: otomasi penuh, pengurangan jam kerja, pendapatan dasar universal, dan pengikisan etos kerja itu sendiri. Mereka mengutip data yang mengganggu — sebuah survei Gallup tahun 2013 yang menemukan bahwa hanya sekitar tiga belas persen pekerja di seluruh dunia merasa benar-benar terlibat secara bermakna dengan pekerjaan mereka. Jika kerja sebegitu hampanya bagi mayoritas, untuk apa mempertahankannya?
Aaron Bastani melangkah lebih jauh dengan provokasinya, *Fully Automated Luxury Communism*, membayangkan dunia di mana otomasi dan kelimpahan teknologis memungkinkan setiap orang menikmati kemewahan yang dulu hanya milik segelintir. Dan jauh sebelum mereka semua, Bertrand Russell dalam esainya tahun 1932, "In Praise of Idleness," dengan jenaka membongkar moralitas kerja sebagai ideologi yang diciptakan oleh mereka yang diuntungkan oleh kerja keras orang lain. Russell berargumen bahwa kepercayaan akan kebajikan kerja menyebabkan kerugian besar di dunia modern, dan bahwa jalan menuju kebahagiaan justru terletak pada pengurangan kerja yang terorganisir.
Yang menyatukan mahzab ini adalah keyakinan bahwa tautan antara kelayakan hidup dan kegunaan ekonomis sejak awal adalah belenggu, bukan dasar. Hak manusia atas bagiannya dari kekayaan bersama, dalam pandangan ini, tidak pernah benar-benar bersandar pada produktivitasnya — itu hanya kebohongan yang ditanamkan kapitalisme. Otomasi, dengan menghancurkan ilusi itu, justru membebaskan kita untuk menegakkan dasar yang sebenarnya: martabat manusia sebagai manusia, terlepas dari apa yang ia hasilkan. Pendapatan dasar universal, dalam kerangka ini, bukan sedekah melainkan pengakuan atas warisan bersama — sebab kekayaan yang dihasilkan mesin hari ini berdiri di atas akumulasi pengetahuan dan kerja seluruh generasi terdahulu, yang bukan milik siapa pun secara khusus.
## **Mahzab Kecemasan: Arendt, Weber, dan Hilangnya Dunia Bersama**
Tetapi ada tradisi lain, sama dalamnya, yang menatap prospek dunia tanpa kerja dengan kengerian, bukan kegembiraan. Bagi tradisi ini, persoalannya bukan apakah kita bisa makan tanpa bekerja, melainkan apakah kita bisa *menjadi manusia* tanpa kerja.
Hannah Arendt memberikan kerangka paling tajam dalam *The Human Condition* (1958). Ia membedakan tiga moda aktivitas manusia: *labor* (kerja jasmani untuk bertahan hidup, siklus metabolisme yang tak pernah selesai), *work* (pembuatan benda-benda tahan lama yang membangun dunia buatan tempat kita hidup), dan *action* (tindakan politik dan ucapan di antara sesama manusia, tempat kita menyingkapkan siapa diri kita). Arendt mencemaskan bahwa masyarakat modern telah mereduksi segala sesuatu menjadi *labor* — bahkan seniman dan pemikir kini dipahami sebagai "pekerja." Dan inilah ironi yang ia tangkap dengan kalimat yang menghantui: kita telah menjadi "masyarakat pekerja" justru pada saat kerja hendak dihapuskan. Kita memuja kerja sebagai sumber segala nilai, sementara teknologi sedang melenyapkan kerja. Hasilnya, kata Arendt, adalah prospek "masyarakat pekerja tanpa kerja" — yakni masyarakat yang telah kehilangan semua aktivitas lebih tinggi yang dulu memberi makna, tetapi tetap terperangkap dalam mentalitas pekerja, tanpa kerja untuk dilakukan. Tidak ada yang lebih buruk, sindirnya, daripada itu.
Bagi Arendt, persoalannya bukan ekonomi melainkan eksistensial dan politis. Manusia menyingkapkan dirinya bukan melalui konsumsi pasif waktu luang, melainkan melalui tindakan di ruang publik, melalui kehadirannya di antara orang lain dalam proyek-proyek bersama. Sebuah masyarakat di mana mesin melakukan segalanya dan manusia hanya tinggal mengonsumsi, baginya, bukanlah surga melainkan kehampaan — manusia yang dipelihara seperti hewan ternak yang dirawat baik, kehilangan justru hal yang membuatnya manusia.
Max Weber menambahkan dimensi historis yang menjelaskan mengapa kerja begitu lekat dengan identitas moral kita. Dalam *The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism*, Weber melacak bagaimana panggilan (*Beruf*) — gagasan bahwa kerja duniawi adalah tugas suci yang melaluinya seseorang membuktikan keterpilihannya di mata Tuhan — bertransformasi menjadi etos sekuler yang menjadi tulang punggung kapitalisme modern. Kerja keras yang asketis, disiplin, dan metodis bukan lagi sekadar cara mencari nafkah melainkan ekspresi nilai diri yang paling dalam. Weber meramalkan bahwa kerangka religius ini akhirnya akan luruh, meninggalkan "sangkar besi" rasionalitas ekonomi — kita terus bekerja keras, tetapi tak lagi tahu untuk apa. Jika Weber benar, maka otomasi tidak hanya menghapus pekerjaan; ia menghapus seluruh arsitektur makna yang selama berabad-abad kita bangun di atas kerja. Dan kita tidak punya arsitektur pengganti.
Di sini muncul pula suara yang lebih membumi: para pemikir yang menyoroti dimensi *pengakuan* dan *timbal balik sosial*. Émile Durkheim, melalui konsep *anomie*, memperingatkan bahwa ketika norma-norma yang mengatur tempat seseorang dalam tatanan sosial runtuh, individu terjerumus ke dalam disorientasi dan keputusasaan. Kerja, betapapun beratnya, memberi struktur: tempat untuk pergi, peran untuk dimainkan, jaringan kewajiban dan ketergantungan timbal balik yang mengikat seseorang ke masyarakat. Penelitian sosiologis tentang pengangguran jangka panjang — dari studi klasik tentang desa Marienthal di Austria pada 1930-an hingga riset kontemporer — secara konsisten menemukan bahwa hilangnya pekerjaan menghancurkan bukan hanya pendapatan melainkan rasa waktu, tujuan, dan harga diri. Yang menarik dan getir: orang-orang menganggur di Marienthal, meski punya lebih banyak waktu luang, justru menjadi *kurang* aktif, kurang terlibat, lebih apatis. Waktu luang yang dipaksakan oleh ketiadaan kerja ternyata bukan kebebasan melainkan kelumpuhan.
Tradisi kecemasan ini, jika ditarik ke ujungnya, mengajukan tesis yang sukar dibantah: tautan antara kontribusi dan klaim bukanlah ilusi yang ditanamkan kapitalisme, melainkan struktur dalam dari kehidupan sosial manusia sebagai makhluk timbal balik. Kita adalah makhluk yang memberi dan menerima, dan martabat kita sebagian bersandar pada kemampuan kita untuk memberi. Sebuah hadiah yang tak pernah bisa dibalas, kata para antropolog yang mempelajari pemberian, bukanlah berkah melainkan penghinaan — ia menempatkan penerima dalam posisi inferior permanen. Pendapatan dasar universal, dalam kecurigaan ini, berisiko menjadikan seluruh populasi penerima hadiah abadi yang tak pernah bisa membalas: dipelihara, ya, tetapi juga dipinggirkan dari sirkuit timbal balik yang memberi manusia rasa setara dan terhormat.
## **Mahzab Ambivalen: Graeber, Han, dan Pertanyaan tentang Kerja yang Mana**
Di antara dua kutub itu berdiri sekelompok pemikir yang menolak dikotomi sederhana, dan justru dengan begitu memperdalam persoalan. Mereka bertanya: ketika kita bicara tentang otomasi menghapus "kerja," kerja yang mana sebenarnya yang kita maksud?
David Graeber, antropolog yang wafat pada 2020, melemparkan provokasi yang menggema luas melalui konsep "pekerjaan omong kosong" (*bullshit jobs*). Tesisnya: sebagian besar otomasi yang dijanjikan Keynes sebenarnya *sudah* terjadi, tetapi alih-alih membebaskan kita, sistem justru menciptakan jutaan pekerjaan yang bahkan oleh pelakunya sendiri diam-diam diakui sebagai tak berguna — administrator yang mengelola administrator, konsultan yang menasihati tentang nasihat, pekerjaan yang ada semata-mata agar orang tetap sibuk dan tetap berada dalam disiplin moral kerja. Graeber curiga bahwa ada semacam imperatif politis-moral di balik ini: penguasa tahu bahwa populasi dengan waktu luang dan keamanan ekonomi adalah bahaya, maka kerja dipertahankan bukan karena dibutuhkan secara ekonomis melainkan karena dibutuhkan secara *pengendalian*. Jika Graeber benar, maka pertanyaan tentang otomasi yang "membebaskan atau mencabut" salah arah sejak awal: kita tidak pernah dihadapkan pada pilihan jujur antara kerja dan kebebasan, melainkan dimanipulasi untuk tidak pernah mencapai kebebasan yang secara teknis sudah mungkin.
Byung-Chul Han, filsuf Korea-Jerman, membalik persoalan dari arah berlawanan. Dalam *The Burnout Society*, ia berargumen bahwa kita telah berpindah dari "masyarakat disiplin" yang dianalisis Foucault — masyarakat yang mengatur melalui larangan dan tembok — menuju "masyarakat prestasi" yang mengatur melalui dorongan tak henti untuk berprestasi, mengoptimalkan, dan memaksimalkan diri. Dalam masyarakat ini, kita tidak lagi ditindas oleh majikan eksternal melainkan oleh diri kita sendiri yang telah menjadi majikan sekaligus budak. Subjek prestasi mengeksploitasi dirinya sendiri secara sukarela, dan kelelahan serta depresi menjadi penyakit khas zaman. Dalam terang Han, otomasi yang membebaskan kita dari kerja bisa jadi tidak membebaskan apa-apa, karena belenggu sejati telah pindah ke dalam jiwa. Kita akan tetap merasa harus terus memproduktifkan diri — memproduktifkan waktu luang, memproduktifkan tubuh, memproduktifkan hubungan — sebab logika prestasi telah menjajah seluruh keberadaan. Pembebasan dari kerja tanpa pembebasan dari mentalitas prestasi hanyalah pemindahan tempat siksaan.
Ada pula dimensi yang sering terlewat dalam perdebatan ini, dan layak ditekankan justru karena pinggirannya: hampir seluruh diskursus pascakerja lahir dari pengalaman Eropa Barat dan Amerika Utara, dari masyarakat dengan kerja formal, kontrak, dan jaminan sosial. Tetapi sebagian besar pekerja dunia tidak hidup dalam dunia itu. Mereka adalah buruh informal, petani dalam transisi agraria, pekerja gig di platform digital, perempuan yang melakukan kerja perawatan tak berbayar. Bagi mereka, "otomasi yang menghapus kerja" punya makna yang berbeda sama sekali. Bagi seorang buruh pabrik nikel di kawasan industri yang baru tumbuh, ancaman bukanlah robot yang menggantikannya menuju waktu luang utopis, melainkan robot yang menggantikannya menuju kemiskinan tanpa jaring pengaman, di tengah masyarakat yang belum pernah membangun konsensus tentang martabat di luar kerja. Universalitas pertanyaan filosofis kita, dengan kata lain, mungkin semu — ia mengandaikan suatu titik berangkat kemakmuran dan keamanan yang hanya dinikmati sebagian kecil umat manusia. Pembebasan bagi yang sudah aman bisa berarti pencabutan bagi yang belum pernah aman.
## **Kegamangan Seorang Manusia**
Mari kita turunkan semua ini dari ketinggian abstraksi ke dalam satu kesadaran yang gamang. Bayangkan seorang lelaki — sebut saja Bahar — berusia empat puluh tujuh tahun, yang selama dua puluh tahun bekerja sebagai operator di sebuah fasilitas peleburan logam. Suatu pagi ia diberitahu bahwa lini tempatnya bekerja akan sepenuhnya diotomatisasi dalam delapan belas bulan. Perusahaan menjanjikan, dengan nada yang dimaksudkan menenangkan, bahwa tak seorang pun akan kelaparan: akan ada pesangon, akan ada — kelak, kata mereka — semacam tunjangan transisi, mungkin bahkan pendapatan dasar jika kebijakan nasional jadi diberlakukan.
Yang mengganggu Bahar di malam-malam berikutnya bukanlah ketakutan akan kelaparan. Justru kalau ia jujur, kemungkinan menerima uang tanpa harus bangun pukul empat pagi terdengar, untuk sesaat, seperti pembebasan. Ia memikirkan pagi-pagi yang bisa ia habiskan bersama anaknya, buku-buku yang tak pernah sempat ia baca, kebun kecil yang selalu ingin ia urus. Selama beberapa menit, mimpi Keynes terasa nyata dan dekat. Tetapi kemudian, dari dasar yang tak ia mengerti, naik perasaan lain yang dingin dan tak mau pergi.
Perasaan itu kira-kira berbunyi begini: *Kalau aku tak menghasilkan apa-apa, atas dasar apa aku menengadahkan tangan?* Selama dua puluh tahun, ketika ia membawa pulang upah, ia tahu persis mengapa ia berhak atas nasi di meja, atas sekolah anaknya, atas tempatnya di kursi tamu rumah orang. Ia *memberi* — keringatnya, waktunya, tubuhnya yang perlahan aus oleh panas tungku — dan karena ia memberi, ia berhak menerima. Itu adalah persamaan yang adil, persamaan yang ia mengerti tanpa perlu seorang pun menjelaskannya. Tetapi tunjangan tanpa kerja memecahkan persamaan itu. Ia akan menerima tanpa memberi. Dan sesuatu di dalam dirinya — sesuatu yang barangkali Weber sebut warisan etos panggilan, yang Durkheim sebut kebutuhan akan tempat dalam tatanan, yang Arendt sebut hasrat untuk hadir secara bermakna — memberontak terhadap gagasan itu.
Lalu datang pertanyaan yang lebih dalam, yang membuatnya terjaga: *Kalau bukan karena aku berguna, lalu mengapa aku berharga?* Sepanjang hidupnya, kedua hal itu — berguna dan berharga — terasa sebagai satu hal yang sama. Ayahnya berharga karena ayahnya bekerja. Ia berharga karena ia bekerja. Anak-anak akan berharga ketika kelak mereka bekerja. Mencabut kerja serasa mencabut pula sumber harga diri itu, dan ia tidak punya sumber lain yang siap menggantikan. Ia mencoba menghibur diri: *aku berharga karena aku ayah, karena aku suami, karena aku manusia.* Tetapi kalimat-kalimat itu terdengar di telinganya sendiri seperti penghiburan yang dipinjam, bukan keyakinan yang dimiliki. Ia tak pernah benar-benar diajar untuk percaya bahwa martabat manusia berdiri sendiri, terlepas dari kontribusi. Sepanjang hidup ia diajar sebaliknya.
Dan inilah inti kegamangannya, yang tak bisa diselesaikan dengan uang: ia tidak takut miskin. Ia takut menjadi *tak diperlukan*. Ia takut bahwa di dunia baru itu, ia dan jutaan orang sepertinya akan menjadi semacam tamu yang dipelihara dengan baik tetapi tak diundang ke meja perundingan — diberi makan, tetapi tak lagi dianggap sebagai pihak yang berkontribusi, dan karena itu, diam-diam, tak lagi dianggap setara. Ia membayangkan dirinya sehat, terberi cukup, punya waktu luang melimpah — dan toh merasa, di tengah semua kelimpahan itu, seperti sudah tak berada di dalam dunia, melainkan di pinggirnya, menonton dunia berjalan tanpa membutuhkannya. Russell akan menertawakan kecemasannya sebagai sisa ideologi kerja yang harus dibuang. Arendt akan menganggukinya dengan getir. Dan Bahar sendiri tidak tahu siapa yang benar — ia hanya tahu bahwa di dalam dirinya, kedua suara itu bertengkar, dan ia tak punya cara untuk mendamaikannya.
## **Mengapa Pertanyaan Ini Tak Bisa Diselesaikan dengan Kebijakan**
Penting untuk melihat bahwa kegamangan Bahar tidak akan tuntas oleh pendapatan dasar universal yang paling murah hati sekalipun. Inilah yang sering luput dari perdebatan kebijakan. Sebab di balik pertanyaan "bagaimana orang akan hidup tanpa kerja" tersembunyi pertanyaan yang jauh lebih sulit: "berdasarkan apa orang akan merasa berhak dan berharga."
Pendapatan dasar menjawab pertanyaan distribusi. Ia tidak menjawab pertanyaan pengakuan. Seseorang bisa menerima cek setiap bulan dan tetap merasa, dalam hati yang paling jujur, bahwa ia hidup dari belas kasihan sistem, bukan dari haknya sendiri yang ia tegakkan melalui kontribusi. Para pendukung pascakerja menjawab ini dengan argumen bahwa kita perlu mengubah *budaya* — mengikis etos kerja, mengajari generasi baru bahwa martabat tak bersandar pada produktivitas, membangun sumber makna baru dalam hubungan, kreativitas, perawatan, partisipasi. Mungkin mereka benar. Tetapi mengubah arsitektur makna yang dibangun selama berabad-abad bukanlah perkara kebijakan satu generasi. Dan di sinilah para pemikir kecemasan punya titik kuat: kita tidak punya bukti bahwa manusia bisa, dalam skala massal, menemukan dasar martabat yang kokoh di luar timbal balik kontribusi. Eksperimen itu belum pernah dijalankan. Kita sedang diminta melompat ke jurang dengan keyakinan bahwa jaring akan muncul saat kita jatuh.
Dan ada kemungkinan ketiga yang lebih meresahkan daripada kedua kutub itu, yang dikemukakan oleh para kritikus seperti Graeber dan oleh tradisi yang mencurigai otomasi sebagai proyek kekuasaan. Kemungkinan itu: bahwa otomasi tidak akan membebaskan *maupun* sekadar mencabut, melainkan *membelah*. Sebagian kecil — pemilik mesin, pemilik algoritma, pemilik data — akan menikmati pembebasan sejati, sebab klaim mereka atas kekayaan tak pernah bersandar pada kerja melainkan pada kepemilikan. Sementara mayoritas akan mengalami pencabutan: kehilangan dasar kontribusi yang selama ini menjadi satu-satunya sumber tawar mereka, tanpa memperoleh kepemilikan apa pun sebagai gantinya. Dalam skenario ini, pertanyaan "membebaskan atau mencabut" terjawab dengan getir: keduanya, tetapi pada orang yang berbeda. Dan ketimpangan yang dihasilkan bukan lagi ketimpangan kontribusi — yang setidaknya punya logika moral — melainkan ketimpangan murni kepemilikan, ketimpangan yang tak punya pembenaran selain fakta bahwa sebagian orang memiliki dan sebagian tidak.
## **Refleksi: Berdiri di Ambang Tanpa Tanah**
Maka di manakah kita berdiri, setelah semua mahzab dibentangkan?
Saya tidak ingin menutup esai ini dengan jawaban, sebab saya tak yakin jawaban itu ada, dan kecurigaan saya adalah bahwa siapa pun yang menawarkan jawaban tegas sedang menjual sesuatu — entah optimisme yang menenangkan tetapi kosong, entah pesimisme yang dramatis tetapi malas. Yang lebih jujur adalah berdiam sejenak pada ketegangan itu sendiri, dan membiarkannya mengajari kita sesuatu.
Mungkin pelajaran pertamanya adalah ini: pertanyaan apakah otomasi membebaskan atau mencabut sebenarnya menyingkap betapa rapuhnya fondasi yang selama ini kita pijak tanpa menyadarinya. Kita mengira kita tahu mengapa manusia berhak atas hidup yang layak. Ternyata, ketika ditelusuri, sebagian besar dari kita hanya tahu satu jawaban — *karena ia berkontribusi* — dan jawaban itu, yang terasa kokoh selama mesin masih membutuhkan tangan kita, ternyata adalah lantai yang dibangun di atas air. Otomasi tidak menciptakan kerapuhan itu; ia hanya menyingkapnya. Selama berabad-abad kita berdiri di atas tanah yang kita kira padat, dan baru sekarang, ketika air pasang, kita sadar bahwa kita tak pernah punya tanah — hanya keberuntungan bahwa air belum naik.
Pelajaran kedua, barangkali, adalah bahwa kedua mahzab besar itu mungkin sama-sama benar pada lapisan yang berbeda. Para pembebas benar bahwa menautkan martabat manusia pada kegunaan ekonomisnya adalah sesuatu yang, secara filosofis, tak pernah bisa dipertahankan — seorang bayi, seorang lansia, seorang yang sakit, semuanya berharga tanpa berkontribusi secara ekonomi, dan kita selalu tahu ini di suatu sudut hati. Tetapi para pencemas juga benar bahwa, secara *psikologis dan sosial*, manusia adalah makhluk timbal balik yang martabatnya, dalam praktik hidup nyata, terjalin erat dengan kemampuan memberi dan dibutuhkan. Keduanya benar, dan justru karena keduanya benar, kita terjebak: yang secara filosofis ideal bertabrakan dengan yang secara psikologis nyata, dan tak ada kebijakan yang bisa mendamaikan keduanya dengan satu gerakan.
Mungkin yang sesungguhnya sedang diuji oleh otomasi bukanlah ekonomi kita, melainkan imajinasi moral kita. Pertanyaannya bukan "bagaimana kita memberi makan orang tanpa kerja," melainkan "apakah kita sanggup membayangkan — dan kemudian membangun — suatu dasar martabat yang tak bersandar pada kegunaan." Sejarah memberi sedikit alasan untuk optimisme dan sedikit alasan untuk putus asa. Kita pernah, dengan susah payah, memperluas lingkaran mereka yang dianggap berhak atas martabat penuh — dari pemilik tanah ke seluruh warga, dari satu ras ke seluruh manusia, dari satu jenis kelamin ke semua. Setiap perluasan itu dulu terasa mustahil, dan setiap kali kita tetap melakukannya. Mungkin perluasan berikutnya adalah memutuskan tautan antara martabat dan kontribusi ekonomis — perluasan tersulit dari semuanya, karena ia menyentuh lapisan paling dalam dari cara kita menilai diri.
Atau mungkin kita tak sanggup, dan otomasi akan menemukan kita belum siap — sebuah spesies yang mencapai kemampuan teknis untuk membebaskan diri dari kerja jauh sebelum mencapai kematangan moral untuk hidup tanpa kerja. Dalam hal itu, mesin-mesin akan terus berputar, kekayaan akan terus mengalir, dan di tengah kelimpahan itu jutaan manusia akan berdiri seperti Bahar di malam yang tak bisa tidur, sehat dan terberi cukup dan toh merasa terapung tanpa tanah, menengadahkan tangan untuk menerima sambil bertanya pada diri sendiri, dengan suara yang tak akan reda, atas dasar apa sebenarnya tangan ini berhak.
Pertanyaan itu, saya kira, akan menemani kita lebih lama daripada pekerjaan mana pun. Dan barangkali justru di situ letak satu petunjuk kecil: bahwa makhluk yang masih sanggup terganggu oleh pertanyaan tentang dasar martabatnya sendiri, adalah makhluk yang martabatnya belum sepenuhnya hilang. Kegamangan Bahar bukanlah tanda kelemahannya. Ia adalah satu-satunya bukti bahwa di dalam dirinya masih hidup sesuatu yang menolak diukur dengan kegunaan — dan justru sesuatu itulah, bukan kerjanya, yang sejak awal membuatnya berharga.
---
## **Catatan untuk Bacaan Lanjutan**
Siapa pun yang ingin masuk lebih dalam ke perdebatan ini sebaiknya memulai dari tempat yang tak terduga: Aristoteles. Dalam Buku I *Politika*, pengandaiannya tentang alat tenun yang menenun sendiri adalah benih dari seluruh mimpi otomasi yang membebaskan, dan menariknya ia menuliskannya justru untuk membenarkan perbudakan — sebuah pengingat bahwa pertanyaan tentang siapa yang dibebaskan oleh mesin selalu sekaligus pertanyaan tentang siapa yang menggantikan kerja siapa.
Untuk akar utopis dari tradisi pembebasan, "Fragmen tentang Mesin" dalam *Grundrisse* karya Marx adalah teks pendek yang luar biasa berpengaruh; ia paling mudah ditemukan dalam kumpulan terbitan Penguin, meski pembaca yang ingin merasakan denyut moralnya sebaiknya menyandingkannya dengan *Manuskrip Ekonomi dan Filsafat 1844*, tempat gagasan tentang keterasingan kerja diuraikan dengan kehangatan yang jarang dikaitkan dengan Marx. Esai John Maynard Keynes, "Economic Possibilities for our Grandchildren" (1930), hanya sepanjang beberapa halaman dan dapat dibaca dalam satu duduk; ramalannya tentang jam kerja meleset jauh, tetapi kegelisahannya tentang apa yang akan kita lakukan dengan waktu luang justru semakin tajam seiring waktu. Esai Bertrand Russell "In Praise of Idleness" (1932) melengkapi ini dengan kejenakaan yang membongkar moralitas kerja sebagai ideologi kelas.
Tradisi pascakerja kontemporer paling baik diwakili oleh *Inventing the Future* (2015) karya Nick Srnicek dan Alex Williams, yang merumuskan program empat tuntutannya dengan jernih, dan oleh *The Refusal of Work* (2015) karya David Frayne, yang lebih sosiologis dan lebih lembut, menelusuri kisah orang-orang nyata yang mencoba menjauh dari kerja. André Gorz, terutama *Reclaiming Work*, memberi dasar teoretisnya satu generasi lebih awal. Aaron Bastani dalam *Fully Automated Luxury Communism* (2019) mendorong visi ini ke ujung yang paling berani dan paling mudah diperdebatkan. Pembaca yang ingin kritik tajam terhadap seluruh proyek ini akan menemukannya dalam berbagai esai di majalah *Jacobin*, yang menuduh tradisi pascakerja melupakan bahwa pengurangan kerja, betapapun diinginkan, tetap menuntut perjuangan politik dan tak akan tiba di punggung pasukan robot.
Untuk kutub kecemasan, *The Human Condition* (1958) karya Hannah Arendt adalah teks yang wajib namun menuntut; pembedaannya antara *labor*, *work*, dan *action*, serta gambarannya yang menghantui tentang "masyarakat pekerja tanpa kerja," membentuk seluruh kerangka esai ini. *The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism* karya Max Weber menjelaskan secara historis mengapa kerja begitu lekat dengan nilai diri kita, dan metafora "sangkar besi"-nya tetap tak terlampaui. Bagi yang tertarik pada bukti empiris tentang apa yang terjadi pada manusia ketika kerja lenyap, studi klasik *Marienthal* karya Marie Jahoda, Paul Lazarsfeld, dan Hans Zeisel tentang sebuah desa Austria yang dilanda pengangguran massal pada 1930-an tetap menggetarkan dan relevan.
Mereka yang ingin mengganggu kepastian kedua kutub itu sebaiknya membaca *Bullshit Jobs* (2018) karya David Graeber, yang berargumen bahwa otomasi pembebasan sebagian sudah tiba namun sengaja disembunyikan di balik kerja yang sia-sia, dan *The Burnout Society* karya Byung-Chul Han, sebuah buku yang sangat tipis namun memukul keras, yang memperingatkan bahwa membebaskan diri dari kerja tak ada artinya jika kita gagal membebaskan diri dari mentalitas prestasi yang telah menjajah jiwa. Akhirnya, bagi pembaca dari Selatan global yang merasa seluruh perdebatan ini berbau ruang tamu Eropa yang nyaman, kecurigaan itu sahih dan layak dikejar: sebagian besar literatur ini mengandaikan keamanan ekonomi sebagai titik berangkat, dan diam tentang buruh informal, pekerja perawatan tak berbayar, dan mereka yang bagi otomasi berarti bukan waktu luang melainkan kelaparan. Membaca seluruh kanon ini dengan pertanyaan itu di kepala — *dibebaskan untuk siapa, dicabut dari siapa* — adalah cara terbaik untuk menjaganya tetap jujur.
---
## **Catatan tentang Keterbatasan Esai Ini**
Sejumlah keterbatasan perlu diakui secara terbuka. Pertama, esai ini berdiri di atas asumsi yang sebenarnya belum terbukti: bahwa otomasi *benar-benar* akan menghapus kebutuhan akan tenaga kerja manusia secara menyeluruh. Sejarah ekonomi penuh dengan ramalan pengangguran teknologis yang tak terwujud, karena teknologi baru cenderung menciptakan jenis pekerjaan baru sembari menghapus yang lama. Mungkin saja seluruh premis esai ini terlalu mempercayai narasi yang dramatis namun belum tentu akurat. Jika otomasi total tak pernah tiba, maka kegamangan yang saya uraikan tetap relevan sebagai eksperimen pikiran, tetapi kehilangan urgensi praktisnya.
Kedua, esai ini sangat bertumpu pada kanon pemikiran Eropa-Amerika, dan saya menyebut keterbatasan ini di dalam tubuh tulisan justru karena ia struktural, bukan insidental. Konsep "kerja," "martabat," dan "kontribusi" yang saya bahas terbentuk dalam konteks historis tertentu; tradisi-tradisi lain — gagasan tentang kerja dan keberadaan dalam pemikiran Islam, konsep *gotong royong* dan timbal balik komunal di Nusantara, etika kerja dalam tradisi Konfusian — mungkin menawarkan dasar martabat yang sama sekali berbeda, yang tak bersandar pada kontribusi ekonomis individual. Esai ini tak menjelajahinya, dan dengan begitu meninggalkan kemungkinan bahwa jalan keluar dari dilema ini justru terletak di tempat yang tak saya tengok.
Ketiga, kerangka tiga-mahzab yang saya gunakan — pembebasan, kecemasan, ambivalen — adalah penyederhanaan yang membantu untuk berpikir namun mengaburkan banyak nuansa. Banyak pemikir tak rapi masuk ke satu kotak; Marx bisa dibaca sebagai pembebas sekaligus pencemas, Graeber punya kaki di lebih dari satu kubu. Pembaca sebaiknya memperlakukan peta ini sebagai alat sementara, bukan klasifikasi yang mengikat.
Akhirnya, dengan sengaja saya menolak untuk menyimpulkan dengan jawaban, dan ini sendiri adalah sebuah posisi yang bisa dikritik. Ada yang akan berkata bahwa menolak menjawab adalah bentuk kepengecutan intelektual, atau kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh seseorang yang tak sedang terancam kehilangan pekerjaannya bulan depan. Tuduhan itu punya bobotnya. Bagi Bahar dan jutaan orang sepertinya, refleksi yang tak berujung pada arah tindakan bisa terasa seperti pengkhianatan halus. Saya hanya bisa membela diri dengan mengatakan bahwa beberapa pertanyaan memang lebih jujur dibiarkan terbuka daripada ditutup dengan jawaban yang pura-pura — dan bahwa mengakui kita belum tahu adalah, kadang-kadang, prasyarat untuk mulai mencari tahu dengan sungguh-sungguh.