Abstrak
Latar. Manajemen sumber daya manusia (MSDM) secara historis dilembagakan sebagai fungsi administratif yang berdiri di samping sistem produksi, sehingga kontribusinya terhadap kinerja organisasi kerap tersembunyi dalam "kotak hitam" yang belum terurai sepenuhnya.
Tujuan. Artikel ini membangun kerangka konseptual yang memposisikan sistem MSDM sebagai subsistem sosioteknik yang dirancang serentak (co-designed) dengan sistem produksi, bukan sebagai pelengkap administratif.
Metode. Studi menggunakan pendekatan sintesis teoretis (theory synthesis) yang menyatukan tiga badan literatur—teori sistem sosioteknik (STS), MSDM strategis dengan perspektif konfigurasional dan model Ability–Motivation–Opportunity (AMO), serta manajemen operasi dalam transisi Industry 4.0 menuju Industry 5.0—melalui prosedur pemetaan konsep dan derivasi proposisi yang eksplisit dan dapat ditelusuri.
Temuan utama. Analisis menunjukkan bahwa sejumlah prinsip STS—optimasi bersama, ekuifinalitas, spesifikasi kritis minimal, dan pengendalian variansi pada sumbernya—dapat dipindahkan secara terbatas dan bersyarat ke tingkat arsitektur sistem MSDM. Pemindahan ini melahirkan dimensi keselarasan ketiga di luar keselarasan vertikal dan horizontal yang sudah mapan, yaitu 'keselarasan sosioteknik': kesepadanan struktural antara variabilitas sistem produksi dan kapasitas regulasi sistem MSDM. Dari kerangka ini diturunkan enam proposisi yang dapat diuji secara empiris.
Implikasi. Kerangka ini menawarkan satu penjelasan teoretis bagi keterkaitan MSDM–kinerja dan memandu perancangan organisasi yang menahan ketegangan antara efisiensi produksi dan martabat kerja, sekaligus menetapkan agenda riset untuk operasionalisasi dan pengujiannya.
Keywords: sistem sosioteknik; manajemen sumber daya manusia strategis; optimasi bersama; keselarasan sosioteknik; desain organisasi; Industry 5.0
---
1. Pendahuluan
Selama lebih dari setengah abad, pertanyaan tentang bagaimana cara mengelola manusia di dalam organisasi produktif telah berkembang menjadi sebuah disiplin tersendiri dengan kosakata, jurnal, dan komunitas epistemiknya. Namun di balik pelembagaan itu tersimpan sebuah paradoks yang jarang dihadapi secara langsung: semakin MSDM matang sebagai fungsi yang otonom, semakin ia terpisah secara konseptual dari proses produktif yang seharusnya ia layani. Departemen sumber daya manusia memiliki ruang, anggaran, dan indikator kinerjanya sendiri; ia merekrut, melatih, menilai, dan memberi kompensasi; tetapi semua aktivitas itu kerap berlangsung dalam logika yang paralel—bukan menyatu—dengan logika yang mengatur aliran material, ritme mesin, dan arsitektur proses di lantai produksi. Manusia, dalam pengaturan semacam ini, dikelola oleh satu sistem sementara pekerjaannya dirancang oleh sistem yang lain.
Konsekuensi teoretis dari pemisahan ini telah lama menjadi sumber keresahan dalam literatur. Sejak akhir 1990-an, perdebatan besar dalam MSDM strategis berpusat pada apa yang oleh banyak penulis disebut sebagai "kotak hitam" hubungan antara MSDM dan kinerja: bukti statistik menunjukkan korelasi antara praktik MSDM tertentu dan kinerja organisasi, tetapi mekanisme yang menghubungkan keduanya tetap kabur (Boxall, 2012; Jiang et al., 2012). Salah satu sumber kekaburan itu, demikian argumen yang akan dikembangkan dalam artikel ini, justru terletak pada cara MSDM dikonseptualisasikan: sebagai paket praktik yang diterapkan kepada tenaga kerja, alih-alih sebagai subsistem yang dirancang bersama dengan sistem produksi yang menentukan untuk apa tenaga kerja itu ada. Selama unit analisis kita adalah "praktik MSDM" yang berdiri lepas dari arsitektur proses produktif, mekanisme penghubungnya memang akan selalu sulit ditangkap, karena yang menghubungkan keduanya bukanlah praktik melainkan desain.
Pada saat yang sama, gelombang wacana kontemporer tentang transformasi industri justru mengembalikan pertanyaan ini ke pusat perhatian. Diskursus Industry 4.0, dengan integrasi cyber-physical systems dan internet of things, awalnya memunculkan kekhawatiran lama tentang produksi tanpa pekerja; tetapi konsensus yang terbentuk belakangan menegaskan sebaliknya—bahwa otomasi tingkat lanjut tidak menghapus interaksi manusia melainkan mengubah bentuknya, menuntut keterampilan yang lebih terspesialisasi dan menjadikan sistem industri sebagai sistem sosioteknik par excellence (Sony & Naik, 2020). Pergeseran selanjutnya menuju Industry 5.0 mempertegas pembalikan ini dengan menempatkan sentralitas manusia, keberlanjutan, dan resiliensi sebagai pilar desain, bukan sebagai pertimbangan tambahan (Xu et al., 2021; Ghobakhloo et al., 2024). Ironisnya, justru ketika manufaktur secara eksplisit menyatakan diri "berpusat pada manusia", kerangka teoretis untuk merancang sistem pengelolaan manusia sebagai bagian integral dari sistem produksi masih belum tersedia secara memadai. Wacana Industry 5.0 berbicara tentang operator, ergonomi, dan kolaborasi manusia-robot di tingkat proses, tetapi jarang menjangkau tingkat arsitektur kelembagaan tempat MSDM beroperasi (Lu et al., 2022).
Di sinilah letak peluang teoretis yang ingin diisi artikel ini. Tiga badan literatur yang relevan—teori sistem sosioteknik, MSDM strategis, dan manajemen operasi—telah berkembang secara relatif terpisah, masing-masing dengan kekuatan dan titik butanya sendiri. Teori sistem sosioteknik, yang lahir dari studi Tavistock Institute tentang penambangan batu bara Inggris, memiliki prinsip optimasi bersama (joint optimization) yang justru dirancang untuk menolak pemisahan antara sistem sosial dan sistem teknis (Trist & Bamforth, 1951; Cherns, 1976). Namun unit analisis historisnya adalah desain kerja dan desain produksi, bukan arsitektur sistem MSDM sebagai keseluruhan. MSDM strategis, di pihak lain, telah mengembangkan kosakata yang canggih tentang keselarasan—keselarasan vertikal antara praktik MSDM dan strategi bisnis, serta keselarasan horizontal antar-praktik MSDM (Delery & Doty, 1996; Lepak et al., 2006)—tetapi sistem produksi sering kali diperlakukan sebagai variabel konteks atau kontingensi eksternal, bukan sebagai subsistem yang dirancang bersama. Manajemen operasi, akhirnya, unggul dalam memahami integrasi manusia-teknologi di lantai produksi, tetapi MSDM dalam literatur ini kerap muncul sebagai enabler atau sekadar pelatihan, bukan sebagai subsistem yang setara dan ko-desain (Shah & Ward, 2003).
Artikel ini berargumen bahwa menjembatani ketiga literatur tersebut bukan sekadar latihan integratif, melainkan langkah yang membuka penjelasan baru. Kontribusi yang diajukan ada tiga. Pertama, secara konseptual, artikel ini mengusulkan reposisi MSDM dari fungsi administratif menjadi subsistem sosioteknik yang dirancang serentak dengan sistem produksi, dengan menerjemahkan prinsip-prinsip STS ke tingkat arsitektur MSDM. Kedua, secara teoretis, artikel ini menambahkan dimensi keselarasan ketiga—keselarasan sosioteknik—pada kerangka fit yang sudah mapan dalam MSDM strategis, dan mendefinisikannya sebagai kesepadanan struktural antara variabilitas serta ketidakpastian sistem produksi dan kapasitas regulasi sistem MSDM. Ketiga, secara metodologis, artikel ini menurunkan enam proposisi yang dapat diuji, sehingga kerangka konseptual ini tidak berhenti sebagai metafora melainkan dapat ditindaklanjuti secara empiris.
Untuk membangun argumen ini, artikel disusun sebagai berikut. Bagian kedua membangun kerangka teoretis dengan menelusuri tiga pilar literatur dan, yang lebih penting, menampilkan ketegangan di antara mereka alih-alih meleburkannya secara prematur. Bagian ketiga menjelaskan metodologi sintesis teoretis yang digunakan, lengkap dengan kriteria seleksi sumber dan prosedur derivasi proposisi agar dapat ditelusuri ulang. Bagian keempat menyajikan pembangunan model dalam empat langkah analitis. Bagian kelima mendiskusikan implikasi temuan dengan kembali ke teori dan, sebelum menutup, menanggapi secara serius posisi yang berlawanan dengan tesis utama. Bagian keenam memaparkan keterbatasan secara eksplisit, dan bagian ketujuh menyimpulkan dengan kontribusi serta agenda riset lanjutan.
Sebelum melangkah lebih jauh, satu kalibrasi perlu dinyatakan. Artikel ini bersifat konseptual; ia membangun dan tidak menguji. Klaim-klaim yang diajukan adalah klaim tentang bagaimana sebaiknya kita memikirkan hubungan MSDM dengan sistem produksi, dan tentang proposisi mana yang layak diuji—bukan klaim bahwa hubungan kausal tertentu telah terbukti. Setiap kali artikel ini menyentuh batas antara yang telah didukung bukti dan yang masih berupa dugaan teoretis, batas itu akan ditandai.
2. Kerangka Teoretis
2.1 Tiga pilar dan ketegangan di antaranya
Membangun kerangka untuk memikirkan MSDM sebagai subsistem sosioteknik menuntut keterlibatan dengan tiga tradisi intelektual yang masing-masing memiliki klaim sah atas persoalan ini. Godaan terbesar dalam latihan integratif semacam ini adalah meleburkan ketiganya menjadi satu narasi yang harmonis. Artikel ini menahan godaan itu. Justru pada titik-titik ketiga tradisi saling bertentangan terletak persoalan teoretis yang paling produktif.
2.2 Teori sistem sosioteknik: optimasi bersama dan warisan Tavistock
Teori sistem sosioteknik bermula dari sebuah pengamatan yang sederhana namun radikal. Ketika Trist dan Bamforth (1951) mempelajari mekanisasi penambangan batu bara di Inggris, mereka menemukan bahwa pengenalan teknologi baru yang secara teknis lebih efisien justru menurunkan produktivitas dan meningkatkan ketidakpuasan, karena teknologi itu menghancurkan struktur sosial kelompok kerja mandiri yang sebelumnya menanggung tugas secara utuh. Pelajaran yang ditarik bukanlah bahwa teknologi buruk, melainkan bahwa sistem sosial dan sistem teknis adalah dua sisi dari satu sistem tunggal; mengoptimalkan salah satunya secara terpisah hampir pasti merusak keseluruhan. Dari sinilah lahir prinsip inti STS, yaitu optimasi bersama: kinerja sistem keseluruhan hanya tercapai bila sistem sosial dan sistem teknis dirancang secara serentak dan saling menyesuaikan (Emery & Trist, 1960).
Prinsip ini kemudian dikodifikasi oleh Cherns (1976, 1987) menjadi serangkaian prinsip desain yang lebih operasional. Beberapa di antaranya sangat relevan bagi argumen artikel ini. Spesifikasi kritis minimal (minimal critical specification) menyatakan bahwa desain hanya boleh menetapkan hal-hal yang mutlak perlu, dan menyerahkan sisanya kepada mereka yang menjalankan pekerjaan—sebuah penolakan terhadap kontrol yang berlebihan. Pengendalian variansi pada sumbernya (variance control at source) menyatakan bahwa penyimpangan sebaiknya ditangani sedekat mungkin dengan titik kemunculannya, bukan diteruskan ke unit lain. Prinsip kongruensi dukungan menuntut agar sistem-sistem pendukung—termasuk, secara eksplisit dalam rumusan Cherns, sistem seleksi, pelatihan, dan pengupahan—dirancang agar memperkuat, bukan melemahkan, perilaku yang dikehendaki oleh struktur kerja (Cherns, 1976). Clegg (2000) kemudian memperbarui dan memperluas prinsip-prinsip ini untuk konteks sistem informasi dan praktik manajemen modern, menegaskan bahwa desain sosioteknik adalah proses yang berkelanjutan dan tidak pernah selesai.
Penting untuk dicatat bahwa Cherns sendiri telah menyentuh wilayah yang menjadi perhatian artikel ini. Ketika ia menulis bahwa sistem seleksi dan pengupahan harus kongruen dengan desain kerja, ia sesungguhnya sudah menempatkan elemen-elemen MSDM dalam kerangka sosioteknik. Namun penempatan itu bersifat parsial: elemen MSDM muncul sebagai sistem pendukung bagi desain kerja, bukan sebagai subsistem yang setara dan dirancang bersama dari awal. Inilah celah yang akan diperluas. Perlu pula dicatat batas teori ini. STS klasik berkembang dalam konteks produksi industri pertengahan abad ke-20 dengan teknologi yang relatif stabil; sejumlah kritikus menunjukkan bahwa penerapannya tidak selalu menghasilkan hasil yang dijanjikan dan bahwa prinsip-prinsipnya kadang terlalu umum untuk memandu desain konkret (Mumford, 2006). Pemindahan prinsip STS ke domain baru, karenanya, harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak boleh sekadar analogis.
2.3 MSDM strategis: keselarasan, konfigurasi, dan model AMO
Tradisi kedua, MSDM strategis, mendekati persoalan dari arah yang berbeda. Pertanyaan sentralnya bukanlah bagaimana merancang kerja, melainkan bagaimana sekumpulan praktik MSDM dapat berkontribusi pada keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Dari pertanyaan ini lahir tiga mode teorisasi yang dirumuskan secara klasik oleh Delery dan Doty (1996): pendekatan universalistik, yang mengklaim adanya praktik terbaik yang berlaku di mana saja; pendekatan kontingensi, yang menyatakan bahwa efektivitas praktik bergantung pada kesesuaiannya dengan strategi; dan pendekatan konfigurasional, yang berargumen bahwa praktik-praktik MSDM bekerja sebagai pola atau bundel yang saling memperkuat, dan bahwa berbagai konfigurasi berbeda dapat mencapai hasil yang sama—sebuah gagasan yang dikenal sebagai ekuifinalitas.
Pendekatan konfigurasional inilah yang paling dekat dengan semangat sosioteknik, karena ia menolak gagasan bahwa praktik tunggal memiliki efek yang dapat diisolasi. Dari sini berkembang konsep keselarasan vertikal (kesesuaian antara sistem MSDM dan strategi organisasi) dan keselarasan horizontal (konsistensi internal antar-praktik MSDM), yang bersama-sama membentuk inti dari apa yang disebut sistem kerja berkinerja tinggi atau high-performance work systems (HPWS) (Lepak et al., 2006). Untuk menjelaskan mengapa bundel praktik tertentu meningkatkan kinerja, literatur ini banyak bersandar pada model Ability–Motivation–Opportunity (AMO), yang menyatakan bahwa kinerja merupakan fungsi dari kemampuan karyawan, motivasinya, dan kesempatan yang diberikan untuk berkontribusi; praktik MSDM dikelompokkan sesuai dengan komponen mana yang ia tingkatkan (Appelbaum et al., 2000; Jiang et al., 2012).
Namun di sinilah ketegangan pertama muncul. Komponen "kesempatan" dalam model AMO—yang mencakup desain kerja partisipatif dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan—sesungguhnya adalah wilayah yang tumpang tindih dengan desain sosioteknik, tetapi dalam literatur HPWS ia kerap diperlakukan sebagai sekadar satu kelompok praktik MSDM di antara kelompok lain, bukan sebagai titik temu struktural dengan sistem produksi. Bukti lintas budaya bahkan menunjukkan bahwa praktik peningkatan-kesempatan kurang efektif dalam konteks berjarak-kuasa tinggi (Rabl et al., 2014), yang mengisyaratkan bahwa efektivitas bundel MSDM bergantung pada konteks struktural yang lebih dalam daripada yang biasa diakui. Ketegangan kedua bersifat lebih mendasar: tradisi HPWS condong pada klaim universalistik tentang "praktik terbaik", sementara tradisi STS pada dasarnya kontingen dan menekankan ekuifinalitas. Artikel ini akan berargumen bahwa ekuifinalitas adalah jembatan konseptual yang menghubungkan kedua tradisi, tetapi jembatan itu hanya dapat dibangun jika klaim universalistik HPWS dilonggarkan.
2.4 Manajemen operasi: dari bundel praktik lean hingga Industry 5.0
Tradisi ketiga datang dari manajemen operasi dan teknik industri. Di sini, gagasan bahwa praktik bekerja dalam bundel ternyata berkembang secara paralel dan independen dari MSDM strategis. Shah dan Ward (2003) menunjukkan bahwa manufaktur ramping (lean manufacturing) bukanlah kumpulan teknik yang berdiri sendiri melainkan bundel praktik yang saling tergantung dan bergantung pada konteks. Yang menarik secara teoretis, sistem produksi Toyota—rujukan paradigmatik manufaktur ramping—justru menempatkan pengembangan manusia, keterlibatan dalam perbaikan berkelanjutan, dan stabilitas kerja sebagai elemen yang tidak terpisahkan dari sistem teknisnya. Dengan kata lain, praktik terbaik dalam manajemen operasi sejak awal sudah bersifat sosioteknik, meskipun jarang dibahasakan dengan kosakata STS.
Transisi menuju Industry 4.0 dan 5.0 mempertajam relevansi ini. Konsensus dalam literatur mutakhir menegaskan bahwa sistem Industry 4.0 pada hakikatnya adalah sistem sosioteknik yang menuntut optimasi bersama antara komponen sosial dan teknis untuk implementasi yang berkelanjutan (Sony & Naik, 2020). Industry 5.0 melangkah lebih jauh dengan menjadikan sentralitas manusia sebagai salah satu dari tiga pilar desainnya, di samping keberlanjutan dan resiliensi (Xu et al., 2021; Ghobakhloo et al., 2024). Namun kritik internal terhadap wacana ini relevan: literatur Industry 5.0 cenderung menyamakan "manusia" dengan "operator" dan memusatkan perhatian pada integrasi operator-teknologi di tingkat proses, sementara tingkat sistem dan tingkat manajemen—tempat MSDM secara kelembagaan berada—kurang terelaborasi (Lu et al., 2022). Dengan demikian, justru tradisi yang paling vokal menyerukan sentralitas manusia pun belum menyediakan kerangka untuk merancang sistem pengelolaan manusia sebagai subsistem sosioteknik di tingkat arsitektur.
2.5 Sintesis ketegangan
Ketiga tradisi, bila ditahan bersama dalam ketegangan, menghasilkan diagnosis berikut. STS memiliki prinsip yang tepat—optimasi bersama—tetapi diterapkan pada unit analisis yang salah untuk persoalan kita (desain kerja, bukan arsitektur MSDM). MSDM strategis memiliki unit analisis yang tepat—sistem MSDM sebagai konfigurasi—tetapi kehilangan prinsip integratifnya karena memperlakukan sistem produksi sebagai konteks eksternal. Manajemen operasi memiliki bukti bahwa integrasi sosioteknik berhasil dalam praktik—sistem Toyota, implementasi Industry 4.0—tetapi belum mengangkat MSDM ke status subsistem yang setara. Artikel ini berargumen bahwa menggabungkan prinsip STS, unit analisis MSDM strategis, dan bukti manajemen operasi menghasilkan satu kerangka yang lebih dari sekadar penjumlahan ketiganya. Persisnya bagaimana penggabungan itu dilakukan secara sah—dan di mana batas keabsahannya—adalah persoalan metodologis yang dibahas berikutnya.
3. Metodologi
3.1 Desain penelitian: sintesis teoretis
Artikel ini adalah artikel konseptual, dan kejujuran tentang status epistemiknya adalah prasyarat kualitas. Sesuai dengan tipologi yang dirumuskan Jaakkola (2020), terdapat empat templat untuk artikel konseptual: sintesis teori, adaptasi teori, tipologi, dan model. Artikel ini terutama mengikuti template sintesis teori (theory synthesis), yang bertujuan mengintegrasikan beberapa badan literatur yang sebelumnya terpisah untuk menghasilkan pemahaman baru atas suatu fenomena, dengan unsur adaptasi teori pada bagian akhir ketika prinsip STS dipindahkan ke domain MSDM. Pilihan templat ini menuntut, sebagaimana ditekankan Jaakkola (2020) dan MacInnis (2011), bahwa peran setiap teori dalam analisis dinyatakan secara eksplisit dan justifikasinya dapat ditelusuri. Tuntutan inilah yang dipenuhi bagian ini.
Perlu dinyatakan dengan jelas apa yang tidak dilakukan artikel ini. Ia tidak menguji hipotesis, tidak mengumpulkan data primer, dan tidak mengklaim telah membuktikan hubungan kausal apa pun. Klaim-klaimnya bersifat teoretis dan diakhiri dengan proposisi yang justru menunggu pengujian. Konsekuensinya, kriteria validitas yang berlaku bukanlah validitas internal atau eksternal dalam pengertian empiris, melainkan kriteria yang lazim untuk karya konseptual: kejernihan logis, kebaruan kontribusi, keterhubungan dengan literatur yang ada, dan kemampuan menghasilkan proposisi yang dapat diuji (MacInnis, 2011).
3.2 Prosedur seleksi dan hierarki sumber
Literatur yang menjadi bahan sintesis dipilih melalui penelusuran terstruktur pada basis data jurnal dengan kombinasi kata kunci yang mencakup tiga domain: teori sistem sosioteknik (sociotechnical systems, joint optimization, work design), MSDM strategis (strategic HRM, high-performance work systems, configurational, AMO, HR bundles), dan manajemen operasi serta transformasi industri (lean production, Industry 4.0, Industry 5.0, human-centric manufacturing). Untuk menjaga mutu, diterapkan hierarki sumber yang ketat. Prioritas pertama diberikan kepada artikel jurnal yang ditelaah sejawat, baik karya seminal yang mendefinisikan konsep inti maupun publikasi mutakhir dalam lima tahun terakhir yang menandai keadaan terkini. Prioritas kedua diberikan kepada publikasi institusional dan badan resmi yang kredibel. Sumber komersial, ringkasan ringan, dan ensiklopedia daring tidak digunakan sebagai dasar klaim. Untuk klaim yang menyangkut keadaan terkini, literatur 2020–2025 diutamakan; untuk klaim tentang konsep fondasional, karya seminal dirujuk langsung agar pemindahan konsep tidak terdistorsi oleh interpretasi sekunder.
3.3 Prosedur analisis: pemetaan konsep dan derivasi proposisi
Analisis berlangsung dalam empat langkah yang dirancang agar dapat ditelusuri ulang. Langkah pertama adalah dekonstruksi asumsi: menelusuri dari mana asumsi "MSDM sebagai fungsi terpisah" berasal dan asumsi teoretis apa yang menyangganya. Langkah kedua adalah pemetaan dan transfer konsep: setiap prinsip inti STS diperiksa satu per satu untuk menentukan apakah ia dapat dipindahkan secara sah ke tingkat arsitektur MSDM, dengan kriteria keabsahan yang dinyatakan sebelum pemindahan dilakukan. Langkah ketiga adalah konstruksi konsep baru: dari hasil transfer diturunkan konstruk keselarasan sosioteknik sebagai dimensi tambahan pada kerangka keselarasan MSDM yang ada. Langkah keempat adalah derivasi proposisi: dari model yang terbangun diturunkan proposisi yang dirumuskan dalam bentuk yang memungkinkan operasionalisasi dan pengujian empiris di masa depan.
Kriteria keabsahan transfer pada langkah kedua perlu dinyatakan terlebih dahulu, karena di sinilah risiko terbesar sebuah sintesis teoretis: pemindahan metafora yang terdengar elegan tetapi tidak sah. Sebuah prinsip STS dinilai dapat dipindahkan ke domain MSDM hanya jika tiga syarat terpenuhi. Pertama, prinsip itu harus menyangkut relasi struktural antar-subsistem, bukan sekadar properti teknis dari satu jenis teknologi tertentu. Kedua, domain MSDM harus memiliki analog struktural yang nyata bagi unsur-unsur yang dirujuk prinsip itu, bukan sekadar kemiripan permukaan. Ketiga, pemindahan itu harus menghasilkan implikasi yang dapat dibedakan dari apa yang sudah dinyatakan kerangka MSDM yang ada—jika tidak, ia hanya pengulangan berkostum baru. Prinsip yang gagal memenuhi salah satu syarat ini akan ditandai sebagai tidak dapat dipindahkan, dan penandaan itu sendiri merupakan bagian dari hasil.
4. Analisis: Pembangunan Model
4.1 Langkah pertama: dari mana asumsi pemisahan berasal
Sebelum mengusulkan integrasi, perlu dipahami mengapa pemisahan terjadi dan bertahan. Asumsi bahwa MSDM adalah fungsi administratif terpisah bukanlah kekeliruan acak melainkan warisan dari pembagian kerja intelektual dan organisasional yang punya akar dalam. Secara historis, fungsi personalia tumbuh dari kebutuhan administratif—penggajian, pencatatan, kepatuhan hukum ketenagakerjaan—yang memang bersifat transaksional dan secara wajar dikelola terpisah. Secara intelektual, manajemen ilmiah Taylorian memisahkan secara tegas perancangan kerja (tugas insinyur) dari pelaksanaan kerja (tugas pekerja), dan dalam pembagian itu pengelolaan manusia tereduksi menjadi soal seleksi dan insentif setelah desain kerja ditetapkan oleh pihak lain (Cherns, 1976). Warisan ini bertahan bahkan ketika MSDM strategis mengangkat status fungsi tersebut, karena pengangkatan itu berlangsung dalam kerangka "menyelaraskan MSDM dengan strategi"—sebuah perumusan yang, secara halus, tetap menempatkan MSDM sebagai sesuatu yang menyesuaikan diri dengan keputusan yang sudah diambil di tempat lain, bukan sebagai sesuatu yang dirancang bersama keputusan itu.
Implikasinya penting. Pemisahan MSDM bukanlah sekadar kebiasaan organisasi yang dapat dihapus dengan imbauan, melainkan tertanam dalam cara kita membagi otoritas desain. Maka reposisi yang diusulkan artikel ini bukan soal memindahkan MSDM ke bagan organisasi yang berbeda, melainkan soal mengubah pada momen apa dan dengan logika apa keputusan tentang manusia diambil relatif terhadap keputusan tentang proses.
4.2 Langkah kedua: prinsip STS mana yang dapat dipindahkan
Dengan kriteria keabsahan yang telah dinyatakan, prinsip-prinsip inti STS kini diperiksa satu per satu.
'Optimasi bersama' lolos ketiga syarat. Prinsip ini menyangkut relasi struktural antar-subsistem (syarat pertama); domain MSDM memiliki analog nyata karena keputusan tentang keterampilan, otonomi, dan insentif memang dapat dirancang serentak dengan keputusan tentang tata letak proses dan tingkat otomasi (syarat kedua); dan pemindahannya menghasilkan implikasi yang berbeda dari kerangka keselarasan yang ada, yakni keharusan ko-desain temporal, bukan sekadar penyelarasan pasca-keputusan (syarat ketiga). Inilah prinsip yang menjadi tulang punggung model.
'Pengendalian variansi pada sumbernya' juga lolos, dengan terjemahan yang spesifik. Dalam STS asli, prinsip ini berarti penyimpangan proses sebaiknya ditangani di titik kemunculannya. Dipindahkan ke arsitektur MSDM, ia berarti bahwa kewenangan untuk menangani variabilitas yang terkait manusia—keputusan tentang penjadwalan, alokasi tugas, penyelesaian masalah kualitas di lini—sebaiknya berada sedekat mungkin dengan titik kerja, bukan tersentralisasi pada departemen yang jauh. Ini menghasilkan implikasi konkret tentang desentralisasi sebagian kewenangan MSDM, yang berbeda dari sekadar "pemberdayaan" generik.
'Spesifikasi kritis minimal' lolos tetapi menuntut kehati-hatian. Diterjemahkan ke MSDM, prinsip ini menyarankan agar sistem MSDM menetapkan hanya parameter yang mutlak perlu—standar keselamatan, batas kepatuhan hukum, kerangka keadilan—dan menyerahkan sebanyak mungkin sisanya pada regulasi di tingkat unit. Namun di sinilah ketegangan dengan kebutuhan akan konsistensi dan keadilan prosedural muncul, dan ketegangan itu tidak boleh disembunyikan; ia akan ditanggapi dalam diskusi.
'Ekuifinalitas' lolos dan berfungsi sebagai jembatan teoretis yang telah disinggung sebelumnya. Karena baik tradisi konfigurasional MSDM maupun STS sama-sama mengakui bahwa berbagai konfigurasi berbeda dapat mencapai hasil setara, prinsip ini menyatukan keduanya secara sah dan sekaligus melonggarkan klaim universalistik "praktik terbaik" yang menjadi titik lemah HPWS.
Sebaliknya, sejumlah elemen STS 'tidak' dapat dipindahkan dan penting untuk dinyatakan demikian. Prinsip-prinsip yang sangat terikat pada karakteristik teknologi produksi tertentu—misalnya yang menyangkut tata letak fisik aliran material—tidak memiliki analog struktural yang bermakna di domain MSDM dan, bila dipaksakan, hanya akan menghasilkan analogi yang menyesatkan. Penandaan batas ini bukan kelemahan melainkan bagian dari disiplin metodologis: sebuah sintesis yang memindahkan segalanya pada akhirnya tidak memindahkan apa pun yang dapat dipertanggungjawabkan.
4.3 Langkah ketiga: konstruk keselarasan sosioteknik
Dari transfer di atas lahir kontribusi konseptual inti artikel ini. Kerangka MSDM strategis yang mapan mengenal dua dimensi keselarasan: vertikal (antara sistem MSDM dan strategi) dan horizontal (antar-praktik MSDM). Artikel ini mengusulkan dimensi ketiga, 'keselarasan sosioteknik', yang didefinisikan sebagai kesepadanan struktural antara tingkat variabilitas dan ketidakpastian yang melekat pada sistem produksi di satu sisi, dan kapasitas regulasi yang dibangun ke dalam sistem MSDM di sisi lain.
Definisi ini perlu diurai. "Variabilitas dan ketidakpastian sistem produksi" merujuk pada sejauh mana proses produktif menghadapi penyimpangan, variasi permintaan, kompleksitas teknis, dan kebutuhan adaptasi yang tidak dapat sepenuhnya diprogram di muka. "Kapasitas regulasi sistem MSDM" merujuk pada sejauh mana sistem MSDM membekali dan memberi kewenangan kepada manusia untuk menyerap dan menangani variabilitas itu—melalui keluasan keterampilan, otonomi pengambilan keputusan, struktur insentif yang mendukung penyelesaian masalah, dan kelonggaran desain peran. Keselarasan sosioteknik tinggi terjadi ketika kedua sisi sepadan: sistem produksi dengan variabilitas tinggi dipasangkan dengan sistem MSDM berkapasitas regulasi tinggi, dan sistem produksi yang sangat terstandardisasi dipasangkan dengan sistem MSDM yang lebih sederhana. Ketidaksepadanan di kedua arah menimbulkan biaya: kapasitas regulasi yang kurang dari yang dituntut produksi menghasilkan kegagalan kualitas dan kelelahan; kapasitas yang jauh melebihi kebutuhan menghasilkan pemborosan dan frustrasi atas otonomi yang tak terpakai.
Konstruk ini berbeda secara bermakna dari kerangka yang ada, dan perbedaan itu adalah ujian kebaruannya. Keselarasan vertikal menanyakan apakah MSDM sesuai dengan strategi; keselarasan sosioteknik menanyakan apakah MSDM sepadan dengan karakteristik struktural sistem produksi—dua hal yang dapat berbeda, karena strategi yang sama dapat diwujudkan melalui sistem produksi dengan profil variabilitas yang berlainan. Inilah yang membedakan usulan ini dari sekadar penambahan "sistem produksi" sebagai satu variabel kontingensi lain.
4.4 Langkah keempat: model integratif dan proposisi
Menyatukan langkah-langkah di atas menghasilkan model integratif yang dapat dinyatakan sebagai berikut. Sistem MSDM dipahami sebagai subsistem sosioteknik yang, bersama sistem produksi, membentuk satu sistem kerja tunggal. Efektivitas sistem kerja ini ditentukan bukan oleh kualitas masing-masing subsistem secara terpisah, melainkan oleh derajat optimasi bersama keduanya, yang termanifestasi dalam keselarasan sosioteknik. Keselarasan sosioteknik, pada gilirannya, dimoderasi oleh konteks kelembagaan dan kultural tempat sistem itu beroperasi. Dari model ini diturunkan enam proposisi.
Proposisi 1. Semakin tinggi keselarasan sosioteknik antara variabilitas sistem produksi dan kapasitas regulasi sistem MSDM, semakin tinggi kinerja operasional sistem kerja, melampaui efek keselarasan vertikal dan horizontal secara terpisah.
Proposisi 2. Efek bundel MSDM terhadap kinerja sebagian dimediasi oleh sejauh mana bundel itu meningkatkan kapasitas regulasi pada titik kerja, bukan hanya oleh kemampuan, motivasi, dan kesempatan secara agregat.
Proposisi 3. Organisasi yang merancang keputusan MSDM secara serentak dengan keputusan desain produksi (ko-desain temporal) akan mencapai keselarasan sosioteknik yang lebih tinggi dibandingkan organisasi yang menyelaraskan MSDM setelah desain produksi ditetapkan.
Proposisi 4. Desentralisasi kewenangan menangani variabilitas terkait manusia ke titik kerja meningkatkan kinerja hanya sejauh sistem produksi memang menghadapi variabilitas yang tinggi; pada sistem produksi yang sangat terstandardisasi, desentralisasi semacam itu tidak memberikan keuntungan dan dapat menambah biaya koordinasi.
Proposisi 5. Karena ekuifinalitas, terdapat lebih dari satu konfigurasi sistem MSDM yang dapat mencapai keselarasan sosioteknik tinggi untuk profil variabilitas produksi tertentu; tidak ada satu bundel "praktik terbaik" yang universal.
Proposisi 6. Hubungan antara keselarasan sosioteknik dan kinerja dimoderasi oleh konteks kelembagaan dan kultural; secara khusus, komponen yang bergantung pada otonomi dan partisipasi kurang efektif dalam konteks berjarak-kuasa tinggi.
Proposisi keenam sengaja dirumuskan agar terhubung dengan bukti lintas budaya yang ada (Rabl et al., 2014), sekaligus menandai bahwa model ini tidak mengklaim keberlakuan universal yang lepas dari konteks—sebuah kalibrasi yang konsisten dengan semangat kontingensi STS.
5. Diskusi
5.1 Apa yang ditawarkan model terhadap "kotak hitam" MSDM–kinerja
Nilai sebuah kerangka konseptual diukur dari persoalan yang dapat ia terangi. Persoalan kotak hitam MSDM–kinerja, yang telah lama menyibukkan literatur, sebagian bersumber dari kesulitan menentukan melalui apa praktik MSDM mempengaruhi kinerja (Jiang et al., 2012). Model yang diajukan menawarkan satu jawaban yang sebelumnya kabur: praktik MSDM mempengaruhi kinerja sejauh ia membangun kapasitas regulasi yang sepadan dengan variabilitas sistem produksi. Dengan kata lain, mediator yang dicari sebagian terletak pada kesepadanan struktural, bukan semata pada peningkatan kemampuan, motivasi, dan kesempatan yang diukur secara agregat dan terlepas dari konteks produksi. Proposisi 2 menyatakan dugaan ini dalam bentuk yang dapat diuji. Ini bukan klaim bahwa kotak hitam telah dibuka—pengujian empiris belum dilakukan—melainkan klaim bahwa model ini menunjuk ke arah yang berbeda dari pencarian mediator yang selama ini didominasi konstruk tingkat-individu.
Implikasi bagi model AMO juga perlu dinyatakan dengan hati-hati. Model yang diajukan tidak menggantikan AMO melainkan menempatkannya kembali dalam konteks struktural. Komponen "kesempatan", yang dalam literatur HPWS kerap menjadi sekadar satu kelompok praktik, dalam kerangka ini menjadi titik temu paling kritis dengan sistem produksi, karena justru di situlah variabilitas produksi bertemu dengan kewenangan manusia untuk menanganinya. Reposisi ini menjelaskan, secara teoretis, mengapa bukti empiris tentang komponen kesempatan paling bervariasi lintas konteks: efektivitasnya bergantung pada profil variabilitas produksi yang berbeda-beda, suatu variabel yang selama ini tidak dimodelkan secara eksplisit.
5.2 Implikasi bagi wacana Industry 5.0
Bagi wacana Industry 5.0 yang menyerukan sentralitas manusia, kerangka ini menawarkan koreksi yang konstruktif. Kritik bahwa literatur tersebut menyamakan "manusia" dengan "operator" dan berhenti di tingkat proses (Lu et al., 2022) dapat dijawab dengan menyediakan kerangka tingkat-arsitektur: sentralitas manusia bukan hanya soal ergonomi kolaborasi manusia-robot di lantai produksi, melainkan soal merancang sistem MSDM sebagai subsistem sosioteknik sejak keputusan desain produksi diambil. Tanpa langkah ini, seruan "berpusat pada manusia" berisiko menjadi retorika yang tidak terhubung dengan keputusan kelembagaan yang sebenarnya menentukan pengalaman kerja.
5.3 Steelman: argumen tandingan bahwa pemisahan justru lebih baik
Kejujuran intelektual menuntut bahwa posisi yang berlawanan dengan tesis utama disajikan dalam bentuknya yang paling kuat sebelum ditanggapi. Terdapat argumen serius bahwa MSDM sebaiknya tetap menjadi fungsi yang relatif terpisah dan terstandardisasi, dan argumen itu tidak boleh diremehkan.
Argumen pertama adalah argumen skala dan profesionalisasi. Standardisasi fungsi MSDM memungkinkan efisiensi administratif, penerapan keahlian khusus yang konsisten, dan akumulasi kompetensi profesional yang sulit dicapai bila setiap unit produksi merancang sistem pengelolaan manusianya sendiri. Desentralisasi dan ko-desain yang diusulkan artikel ini berisiko membongkar efisiensi ini dan menghasilkan duplikasi serta inkonsistensi.
Argumen kedua adalah argumen keadilan dan kepatuhan. Justru karena sistem MSDM yang terpusat dan terstandardisasi-lah keadilan prosedural, kesetaraan perlakuan, dan kepatuhan terhadap hukum ketenagakerjaan dapat dijamin. Menyerahkan terlalu banyak kewenangan ke titik kerja, sebagaimana disiratkan prinsip spesifikasi kritis minimal, dapat membuka pintu bagi perlakuan yang tidak konsisten, favoritisme, dan pelanggaran hak yang sulit dipantau.
Argumen ketiga adalah argumen kejernihan akuntabilitas. Pemisahan fungsi menciptakan garis tanggung jawab yang jelas; peleburan MSDM ke dalam sistem produksi dapat mengaburkan siapa yang bertanggung jawab atas kesejahteraan dan pengembangan manusia, sehingga dalam tekanan target produksi, dimensi manusia justru terkorbankan—persis kebalikan dari yang dimaksudkan.
Ketiga argumen ini kuat dan sebagian benar. Tanggapan artikel ini bukan menyangkalnya melainkan menunjukkan bahwa model yang diajukan justru mengakomodasinya melalui dua mekanisme. Pertama, prinsip spesifikasi kritis minimal tidak menghapus standar melainkan justru menuntut bahwa parameter kritis—keselamatan, keadilan, kepatuhan—ditetapkan secara eksplisit dan dipertahankan terpusat, sementara hanya keputusan non-kritis yang didesentralisasi. Dengan demikian keadilan dan kepatuhan tetap terjaga sebagai parameter kritis, bukan diserahkan begitu saja. Kedua, Proposisi 4 secara eksplisit membatasi keberlakuan desentralisasi hanya pada sistem produksi dengan variabilitas tinggi; untuk sistem yang sangat terstandardisasi, model ini sendiri merekomendasikan sistem MSDM yang lebih sederhana dan tersentralisasi. Artinya argumen skala dan profesionalisasi tepat untuk satu profil produksi, sementara argumen integrasi tepat untuk profil lain. Ketegangan, dengan demikian, sebagian terselesaikan dengan menyatakan bahwa kedua belah pihak benar pada domain yang berbeda—dan keselarasan sosioteknik adalah konstruk yang menentukan domain mana yang berlaku. Argumen ketiga, tentang akuntabilitas, paling sulit ditanggapi dan paling jujur diakui sebagai risiko nyata yang harus dikelola melalui tata kelola, bukan dihapus oleh desain semata.
6. Keterbatasan
Sejumlah keterbatasan harus dinyatakan secara terbuka, karena kalibrasi terhadap kekuatan bukti adalah bagian dari mutu argumen.
Pertama dan paling mendasar, artikel ini bersifat konseptual dan belum diuji. Seluruh proposisi adalah dugaan teoretis yang menunggu pengujian empiris; tidak ada di antaranya yang boleh dibaca sebagai temuan yang telah terbukti. Kekuatan kerangka ini terletak pada koherensi logis dan kemampuannya menghasilkan dugaan yang dapat diuji, bukan pada dukungan empiris yang, sejauh ini, belum ada.
Kedua, terdapat risiko pemindahan berlebihan prinsip STS. Meskipun artikel ini telah menetapkan kriteria keabsahan transfer dan menandai prinsip yang tidak dapat dipindahkan, penilaian tentang apa yang "sah" dipindahkan pada akhirnya mengandung unsur pertimbangan yang dapat diperdebatkan. Pembaca yang skeptis dapat menilai bahwa sebagian transfer masih bersifat analogis ketimbang struktural, dan kritik semacam itu sah.
Ketiga, konstruk inti—variabilitas sistem produksi dan kapasitas regulasi sistem MSDM—belum dioperasionalisasi. Tanpa ukuran yang valid dan andal bagi kedua konstruk ini, Proposisi 1 hingga 6 tidak dapat diuji. Pengembangan instrumen pengukuran merupakan prasyarat yang belum dipenuhi dan dengan sendirinya menjadi agenda riset tersendiri.
Keempat, generalisasi lintas rezim produksi terbatas. Kerangka ini dibangun terutama dengan rujukan pada manufaktur; sejauh mana ia berlaku pada produksi jasa, pekerjaan berbasis pengetahuan, atau ekonomi platform—yang profil variabilitas dan strukturnya berbeda—masih merupakan pertanyaan terbuka yang tidak dijawab artikel ini.
Kelima, dimensi kekuasaan dan kepentingan kurang dielaborasi. Artikel ini banyak berbicara tentang desain seakan-akan ia merupakan persoalan teknis yang dapat dioptimalkan, padahal keputusan tentang otonomi, kewenangan, dan distribusi manfaat sarat dengan kepentingan dan relasi kuasa. Tradisi STS sendiri pernah dikritik karena cenderung mengabaikan dimensi konflik (Mumford, 2006), dan kritik itu berlaku pula bagi kerangka ini. Integrasi dengan perspektif yang lebih kritis terhadap relasi kerja merupakan keterbatasan sekaligus arah pengembangan.
7. Kesimpulan
Artikel ini berangkat dari sebuah paradoks: semakin matang MSDM sebagai fungsi otonom, semakin ia terpisah dari sistem produksi yang seharusnya ia layani, dan keterpisahan itu turut menjelaskan mengapa hubungan MSDM–kinerja tetap menjadi kotak hitam. Melalui sintesis tiga tradisi yang selama ini berkembang terpisah—teori sistem sosioteknik, MSDM strategis, dan manajemen operasi—artikel ini mengusulkan reposisi MSDM dari fungsi administratif menjadi subsistem sosioteknik yang dirancang serentak dengan sistem produksi.
Kontribusi teoretisnya berlapis. Pada tingkat prinsip, artikel ini menunjukkan bahwa optimasi bersama, pengendalian variansi pada sumbernya, spesifikasi kritis minimal, dan ekuifinalitas dapat dipindahkan secara terbatas dan bersyarat dari domain desain kerja ke domain arsitektur MSDM—dengan kriteria keabsahan yang dinyatakan eksplisit dan batas yang ditandai jujur. Pada tingkat konstruk, artikel ini menambahkan dimensi keselarasan ketiga, keselarasan sosioteknik, pada kerangka keselarasan vertikal dan horizontal yang telah mapan, dan mendefinisikannya sebagai kesepadanan struktural antara variabilitas sistem produksi dan kapasitas regulasi sistem MSDM. Pada tingkat operasional, artikel ini menurunkan enam proposisi yang dapat diuji, sehingga kerangka ini tidak berhenti sebagai metafora.
Implikasi praktisnya terletak pada perubahan momen dan logika pengambilan keputusan: keputusan tentang manusia sebaiknya tidak diambil setelah desain produksi selesai, melainkan bersamaan dengannya, dengan kapasitas regulasi yang sengaja disepadankan dengan variabilitas yang akan dihadapi. Namun artikel ini juga menegaskan—melalui tanggapan terhadap argumen tandingan yang kuat—bahwa integrasi bukanlah resep universal; untuk sistem produksi yang sangat terstandardisasi, sistem MSDM yang lebih sederhana dan terpusat justru lebih tepat. Inilah yang membedakan usulan ini dari seruan generik agar MSDM "lebih strategis".
Agenda riset lanjutan mengikuti langsung dari keterbatasan yang telah dinyatakan. Prioritas pertama adalah operasionalisasi: pengembangan instrumen yang valid untuk mengukur variabilitas sistem produksi dan kapasitas regulasi sistem MSDM. Prioritas kedua adalah pengujian proposisi, idealnya melalui desain yang mampu menangkap kesepadanan struktural lintas unit dengan profil produksi berbeda, termasuk studi kasus komparatif pada rezim produksi yang kontras. Prioritas ketiga adalah perluasan ke luar manufaktur, untuk menguji batas keberlakuan kerangka pada jasa, pekerjaan pengetahuan, dan ekonomi platform. Prioritas keempat, dan barangkali yang paling penting secara normatif, adalah integrasi dengan perspektif yang menempatkan kuasa dan kepentingan di pusat analisis, agar pertanyaan "untuk siapa sistem ini dirancang" tidak larut dalam bahasa optimasi. Hanya dengan menjawab pertanyaan terakhir itu kerangka sosioteknik dapat memenuhi janji aslinya: bukan sekadar membuat produksi lebih efisien, melainkan membuat kerja lebih layak bagi manusia yang menjalankannya.
---
Referensi
Appelbaum, E., Bailey, T., Berg, P., & Kalleberg, A. L. (2000). *Manufacturing advantage: Why high-performance work systems pay off*. Cornell University Press.
Boxall, P. (2012). High-performance work systems: What, why, how and for whom? *Asia Pacific Journal of Human Resources, 50*(2), 169–186. https://doi.org/10.1111/j.1744-7941.2011.00012.x
Cherns, A. (1976). The principles of sociotechnical design. *Human Relations, 29*(8), 783–792. https://doi.org/10.1177/001872677602900806
Cherns, A. (1987). Principles of sociotechnical design revisited. *Human Relations, 40*(3), 153–161. https://doi.org/10.1177/001872678704000303
Clegg, C. W. (2000). Sociotechnical principles for system design. *Applied Ergonomics, 31*(5), 463–477. https://doi.org/10.1016/S0003-6870(00)00009-0
Delery, J. E., & Doty, D. H. (1996). Modes of theorizing in strategic human resource management: Tests of universalistic, contingency, and configurational performance predictions. *Academy of Management Journal, 39*(4), 802–835. https://doi.org/10.5465/256713
Emery, F. E., & Trist, E. L. (1960). Socio-technical systems. In C. W. Churchman & M. Verhulst (Eds.), *Management science, models and techniques* (Vol. 2, pp. 83–97). Pergamon Press.
Ghobakhloo, M., Iranmanesh, M., Fathi, M., Rejeb, A., Foroughi, B., & Nikbin, D. (2024). Beyond Industry 4.0: A systematic review of Industry 5.0 technologies and implications for social, environmental and economic sustainability. *Asia-Pacific Journal of Business Administration*. Advance online publication. https://doi.org/10.1108/APJBA-08-2023-0384
Jaakkola, E. (2020). Designing conceptual articles: Four approaches. *AMS Review, 10*(1–2), 18–26. https://doi.org/10.1007/s13162-020-00161-0
Jiang, K., Lepak, D. P., Hu, J., & Baer, J. C. (2012). How does human resource management influence organizational outcomes? A meta-analytic investigation of mediating mechanisms. *Academy of Management Journal, 55*(6), 1264–1294. https://doi.org/10.5465/amj.2011.0088
Lepak, D. P., Liao, H., Chung, Y., & Harden, E. E. (2006). A conceptual review of human resource management systems in strategic human resource management research. *Research in Personnel and Human Resources Management, 25*, 217–271. https://doi.org/10.1016/S0742-7301(06)25006-0
Lu, Y., Adrados, J. S., Chand, S. S., & Wang, L. (2022). Humans are not machines—Anthropocentric human–machine symbiosis for ultra-flexible smart manufacturing. *Engineering, 7*(6), 734–737. https://doi.org/10.1016/j.eng.2020.09.018
MacInnis, D. J. (2011). A framework for conceptual contributions in marketing. *Journal of Marketing, 75*(4), 136–154. https://doi.org/10.1509/jmkg.75.4.136
Mumford, E. (2006). The story of socio-technical design: Reflections on its successes, failures and potential. *Information Systems Journal, 16*(4), 317–342. https://doi.org/10.1111/j.1365-2575.2006.00221.x
Rabl, T., Jayasinghe, M., Gerhart, B., & Kühlmann, T. M. (2014). A meta-analysis of country differences in the high-performance work system–business performance relationship: The roles of national culture and managerial discretion. *Journal of Applied Psychology, 99*(6), 1011–1041. https://doi.org/10.1037/a0037712
Shah, R., & Ward, P. T. (2003). Lean manufacturing: Context, practice bundles, and performance. *Journal of Operations Management, 21*(2), 129–149. https://doi.org/10.1016/S0272-6963(02)00108-0
Sony, M., & Naik, S. (2020). Industry 4.0 integration with socio-technical systems theory: A systematic review and proposed theoretical model. *Technology in Society, 61*, 101248. https://doi.org/10.1016/j.techsoc.2020.101248
Trist, E. L., & Bamforth, K. W. (1951). Some social and psychological consequences of the longwall method of coal-getting. *Human Relations, 4*(1), 3–38. https://doi.org/10.1177/001872675100400101
Xu, X., Lu, Y., Vogel-Heuser, B., & Wang, L. (2021). Industry 4.0 and Industry 5.0—Inception, conception and perception. *Journal of Manufacturing Systems, 61*, 530–535. https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2021.10.006