10.9.26

(Novel) JAWA: Buku 9. Nyala di Atas Besi

   JAWA

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra


BUKU SEMBILAN

Nyala di Atas Besi

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra

Mereka membawa besi,
dan mengira bahwa dengan besi mereka telah menaklukkan tanah ini.

Tetapi ada sebuah nyala yang tak bisa dipadamkan oleh besi mana pun,
sebab ia bukan kobaran, melainkan hati yang menolak menjadi dingin,

dan nyala itu, dijaga dari tangan ke tangan melalui seluruh malam,
membawa tanah ini keluar ke dalam pagi.


 

BAGIAN I

Nyala di Dalam Gelap


 

BAB SATU

Malam yang Tak Terlihat

Malam yang panjang telah turun sepenuhnya ke atas Jawa, dan tangan-tangan asing memerintah dengan besi. Damar, yang dahulu menerima nyala sebagai pemuda di ambang malam, kini telah lama membawanya di dalam gelap. Tetapi ia menemukan sebuah bahaya yang tak pernah dihadapi pengingat mana pun sebelumnya, yaitu sebuah angkatan yang lahir sepenuhnya di dalam gelap, yang tak pernah mengenal pagi, dan yang karena itu tak tahu bahwa ini adalah malam. Sebab senjata terdalam seorang penakluk bukanlah rantai pada tubuh, melainkan gelap yang menjadi tak terlihat, malam yang diterima sebagai satu-satunya siang. Dan Ratu mengajarinya bahwa di zaman ini, seorang pengingat harus menjaga bukan hanya hati, melainkan ingatan bahwa ini adalah malam, dan bahwa ada pagi yang akan datang.

dari ajaran para pengingat, tentang malam yang menjadi tak terlihat

Tahun-tahun telah berlalu sejak Damar berjalan melalui gapura yang tumbang itu ke dalam malam, dan malam itu kini telah turun sepenuhnya. Tangan-tangan asing memerintah seluruh tanah dengan besi, dengan senjata, dengan mesin, dengan ukuran dan catatan yang mengubah segala sesuatu menjadi sesuatu untuk diambil. Kerajaan-kerajaan lama telah lama jatuh, dan gapura-gapura mereka berdiri sepi, dan rakyat bekerja di tanah yang dahulu milik mereka, miskin dan diperintah, demi kekayaan yang berlayar jauh ke seberang lautan.

Dan Damar, yang dahulu menerima nyala sebagai pemuda di ambang malam, kini telah lama membawanya di dalam gelap. Ia telah menjadi seorang lelaki yang tenang dan sabar, yang berjalan dari desa ke desa, melakukan pekerjaan kecil yang menjadi tugas pengingat di zaman ini, yaitu menyimpan hati Ratu di dalam bisikan, menjaga benteng terkecil tetap menyala, satu hati pada satu waktu, seperti yang diajarkan Teguh kepadanya.

Tetapi pada tahun-tahun ini, Damar mulai merasakan sebuah bahaya yang tak pernah ia duga, sebuah bahaya yang lebih dalam daripada besi atau kemiskinan atau rantai. Dan ia menemukannya bukan di antara para penakluk, melainkan di antara anak-anak bangsanya sendiri, di antara mereka yang paling muda.

Sebab di sebuah desa tempat Damar singgah, ada seorang pemuda bernama Bagas, yang lahir lama setelah malam turun, yang tak pernah mengenal Jawa selain Jawa yang ditaklukkan, yang tumbuh di bawah tuan-tuan asing seperti orang tumbuh di bawah langit, sebagai sesuatu yang sudah selalu begitu. Dan ketika Damar, pada suatu malam, mulai menceritakan kepadanya kisah lama tentang Ratu dan tanah yang dahulu memerintah dirinya sendiri, Bagas hanya memandangnya dengan heran yang sopan.

“Itu cerita yang indah, Pak,” kata Bagas akhirnya. “Tetapi untuk apa? Dunia adalah seperti adanya. Selalu ada tuan-tuan dan ada kita yang bekerja. Selalu ada kekayaan yang berlayar ke seberang dan ada kita yang lapar. Begitulah dunia. Cerita tentang masa ketika tidak begitu, masa ketika tanah ini memerintah dirinya sendiri, itu hanya, maaf, dongeng yang menyenangkan untuk membuat malam terasa kurang dingin. Aku tak melihat gunanya menjaga lampu untuk sesuatu yang tak pernah ada dan tak akan pernah ada.”

❖

Dan kata-kata itu menusuk Damar lebih dalam daripada cemoohan mana pun. Sebab Bagas tidak menolak hati Ratu karena malu, seperti Jati dahulu. Ia tidak takut padanya, seperti yang takut pada cerita seram. Ia hanya tidak melihat gunanya, sebab bagi Bagas tak ada malam dan tak ada pagi, hanya dunia sebagaimana adanya, gelap yang ia kira sebagai siang sebab ia tak pernah melihat yang lain.

Maka malam itu, Damar pergi sendirian ke tepi air, ke sebuah sungai yang mengalir menuju laut selatan, dan ia menjangkau ke dalam kedalaman, kepada Ratu. “Ratu,” katanya, “aku telah menghadapi banyak ancaman atas hatimu. Aku telah menghadapi rasa malu, dan ketakutan, dan keserakahan. Tetapi malam ini aku menghadapi sesuatu yang lebih dingin daripada semuanya, dan aku tak tahu cara melawannya.”

“Ada seorang pemuda,” Damar melanjutkan, “yang lahir sepenuhnya di dalam malam ini. Dan ia tidak membenci hatimu, dan ia tidak malu padanya. Ia hanya tidak melihat gunanya. Bagi dia, penaklukan bukanlah luka, melainkan hanya cara dunia bekerja. Ia tak tahu bahwa ini adalah malam, sebab ia tak pernah melihat pagi. Dan bagaimana aku bisa membuat seseorang merindukan fajar, bila ia bahkan tak tahu bahwa ada hal seperti fajar?”

Dan Ratu terdiam lama, dan ketika ia berbicara, ada keseriusan baru dalam suaranya. “Engkau telah menemukan, Damar, senjata yang paling dalam dari seorang penakluk, yang lebih dalam daripada besi mana pun. Sebab seorang penakluk yang merantai tubuh masih meninggalkan jiwa yang tahu bahwa ia dirantai, dan jiwa yang tahu ia dirantai suatu hari akan berjuang. Tetapi seorang penakluk yang membuat gelap menjadi tak terlihat, yang membuat sebuah bangsa lupa bahwa ini adalah malam, telah merantai bukan tubuh melainkan kemampuan untuk merindukan pagi. Dan itulah penaklukan yang terdalam.”

“Ingatkah engkau, Damar, apa yang kukatakan tentang empat hal?” tanya Ratu. “Bahwa di zaman gelap, yang paling perlu dijaga adalah Kehendak, hati yang masih menginginkan fajar. Inilah serangan langsung terhadapnya. Sebab bila sebuah bangsa lupa bahwa ada pagi, ia berhenti menginginkannya. Dan bila tak ada yang menginginkan pagi, maka ketika tiga hal lain berkumpul, ketika kekuatan dan pengetahuan dan kemampuan akhirnya ada, tak akan ada yang peduli untuk membuka penjara. Maka inilah, Damar, medan perang yang sesungguhnya dari malam yang panjang, yaitu bukan rantai, melainkan ingatan bahwa ini adalah malam.”

❖

“Maka bagaimana aku melawannya, Ratu?” tanya Damar. “Bagaimana aku membuat Bagas tahu bahwa ini adalah malam, ketika ia tak pernah melihat pagi untuk membandingkannya? Bagaimana aku membuatnya merindukan sesuatu yang tak pernah ia kenal?”

Dan Ratu menjawab, “Engkau tak akan memulainya dengan berdebat tentang tuan-tuan dan tanah, Damar, sebab tentang itu Bagas akan selalu berkata, begitulah dunia. Engkau akan memulainya dari sesuatu yang sudah ada di dalam dirinya. Sebab walau Bagas lahir di dalam malam, ada di dalam dirinya, seperti di dalam tiap manusia, sebuah kerinduan yang tak bisa dipadamkan oleh malam mana pun, yaitu kerinduan akan keadilan, kerinduan untuk tidak diinjak, kerinduan agar yang lemah tidak ditinggalkan. Ia mungkin menyebut penaklukan sebagai cara dunia bekerja, tetapi tanyailah dia apakah ia merasa itu benar, apakah ia merasa itu adil. Dan di sana, di dalam jawabannya, engkau akan menemukan pagi yang sudah ia rindukan tanpa mengetahui namanya.”

“Sebab inilah yang dilakukan oleh hatiku, Damar, oleh kisah lama itu,” kata Ratu. “Ia tidak menciptakan kerinduan akan keadilan, sebab kerinduan itu sudah ada di dalam tiap dada. Yang ia lakukan adalah memberi kerinduan itu sebuah ingatan dan sebuah nama. Ia berkata kepada Bagas, rasa di dalam dadamu yang berkata bahwa ini tidak benar, rasa itu bukan kelemahan dan bukan mimpi; ia adalah ingatan akan sebuah pagi yang nyata, sebuah masa ketika tanah ini memerintah dirinya sendiri dengan hati, dan ia adalah janji akan sebuah pagi yang akan datang lagi. Maka tugasmu bukan meyakinkan Bagas bahwa ini malam. Tugasmu adalah memberi nama kepada kerinduan yang sudah membuatnya gelisah, dan berkata kepadanya, itu yang kaurasakan, itulah pagi memanggilmu.”

Dan Damar merasakan jalan terbuka di hadapannya. “Maka aku tidak melawan kegelapannya dengan berdebat,” katanya pelan. “Aku menyalakan cahaya kecil yang sudah ada di dalam dirinya, yaitu kerinduannya sendiri akan keadilan, dan aku berkata kepadanya bahwa cahaya itu adalah pagi yang ia kira tak ada. Aku tidak membawa fajar dari luar. Aku menunjukkan kepadanya fajar yang sudah menyala, redup, di dalam dadanya sendiri.”

“Ya, Damar,” kata Ratu. “Sebab tak ada malam yang cukup panjang untuk memadamkan kerinduan akan keadilan di dalam hati manusia. Penakluk bisa membuat sebuah bangsa lupa sejarahnya, lupa nama raja-rajanya, bahkan lupa bahwa ia pernah bebas. Tetapi ia tak pernah bisa membuat sebuah hati berhenti merasa bahwa diinjak itu salah. Dan selama satu hati pun masih merasa itu, pagi belum mati, ia hanya tertidur. Dan tugasmu, pengingat, adalah membangunkannya.”

❖

Maka keesokan malamnya, Damar kembali kepada Bagas, dan kali ini ia tidak menceritakan kisah lama. Ia hanya duduk bersamanya, dan bertanya tentang hidup Bagas, tentang pekerjaannya, tentang desanya. Dan perlahan, Bagas bercerita tentang seorang tetangga tua yang tanahnya diambil karena ia tak bisa membayar pajak yang baru, dan yang kini bekerja sebagai buruh di tanah yang dahulu miliknya sendiri.

Dan Damar bertanya, dengan lembut, “Dan ketika engkau melihat itu, Bagas, ketika engkau melihat orang tua itu bekerja di tanahnya sendiri sebagai buruh, apa yang kaurasakan di dalam dadamu?” Dan Bagas terdiam lama, dan akhirnya ia berkata, dengan suara yang lebih pelan, “Aku merasakan sesuatu yang panas. Sesuatu yang berkata bahwa ini salah. Tetapi aku menelannya, sebab apa gunanya. Begitulah dunia.”

“Rasa panas itu, Bagas,” kata Damar, “rasa yang berkata bahwa ini salah, itu bukan kelemahan. Itu bukan sesuatu yang harus kautelan. Itu adalah hal yang paling benar di dalam dirimu. Dan biar kukatakan kepadamu apa namanya. Ia adalah ingatan. Sesuatu di dalam dirimu mengingat, walau pikiranmu tak pernah melihatnya, bahwa dunia tidak harus seperti ini. Bahwa pernah ada masa, dan akan ada masa lagi, ketika tanah ini tidak diperintah dengan injakan, melainkan dengan hati. Rasa panas itu bukan mimpi yang sia-sia. Ia adalah pagi, memanggilmu dari seberang malam yang panjang.”

Dan untuk pertama kalinya, Bagas tidak memandangnya dengan heran yang sopan. Ia memandangnya dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang seperti seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa perasaan yang selama ini ia kira sebagai cacat di dalam dirinya sebenarnya adalah hal yang paling sehat tentangnya. “Maka rasa itu,” katanya pelan, “rasa yang selama ini kukira membuatku lemah, karena aku tak bisa menerima dunia dengan tenang seperti yang lain, rasa itu sebenarnya adalah, apa, sebuah ingatan? Sebuah pagi?”

“Itulah pagi, Bagas,” kata Damar. “Dan sekarang setelah engkau tahu namanya, engkau tak akan bisa lagi menelannya seakan ia tak ada. Engkau telah melihat, untuk pertama kalinya, bahwa ini adalah malam. Dan seseorang yang tahu bahwa ini malam adalah seseorang yang bisa, suatu hari, ikut menyambut pagi.” Dan Damar melihat, di mata pemuda itu, sebuah lampu kecil yang baru saja menyadari bahwa ia adalah lampu, dan bukan sekadar bagian dari kegelapan.

❖

Dan demikianlah Damar memulai pekerjaannya di zaman malam yang panjang, bukan dengan melawan besi dengan besi, melainkan dengan membangunkan, satu per satu, ingatan akan pagi di dalam mereka yang lahir di dalam gelap. Sebab ia tahu kini bahwa medan perang yang sesungguhnya bukanlah tanah atau takhta, melainkan ingatan sebuah bangsa bahwa ini adalah malam, dan bahwa ada pagi yang harus dirindukan.

Dan inilah pelajaran pertama zaman malam. Bahwa senjata terdalam seorang penakluk bukanlah rantai pada tubuh melainkan gelap yang dibuat tak terlihat, malam yang diterima sebagai satu-satunya siang; bahwa melawan ini bukan dengan membawa fajar dari luar, melainkan dengan memberi nama kepada kerinduan akan keadilan yang sudah menyala, redup, di dalam tiap dada; dan bahwa tak ada malam yang cukup panjang untuk memadamkan rasa, di dalam hati manusia, bahwa diinjak itu salah, sehingga pagi tak pernah mati, melainkan hanya tertidur, menunggu untuk dibangunkan.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran pertama zaman malam, yaitu bahwa sebuah bangsa belum ditaklukkan selama satu hati pun masih merasa bahwa ketidakadilan itu salah; bahwa rasa itu adalah pagi yang tertidur, bukan mimpi yang sia-sia; dan bahwa tugas seorang pengingat di dalam gelap yang terdalam adalah membangunkan, satu per satu, mereka yang lupa bahwa mereka pernah, dan akan kembali, mengenal cahaya.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya di dalam malam yang paling gelap, di dalam kerinduan yang tertidur di dada anak-anak yang lahir tanpa pernah melihat pagi. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, dan ia tahu bahwa malam ini, betapapun gelapnya, tak akan pernah bisa memadamkan kerinduan akan pagi di dalam hati bangsanya, dan bahwa selama kerinduan itu hidup, walau hanya sebagai bara yang tertidur, hari pembebasan, dan hari ia akan pulang, masih pasti akan datang. Dan zaman malam dimulai, di atas besi para penakluk dan di bawah bintang-bintang yang sama, dengan sebuah nyala kecil yang baru saja terbangun di dada seorang pemuda.

❖


 

BAB DUA

Yang Berkobar dan Yang Menyebar

Bagas terbangun, dan api di dalam dirinya menuntut untuk berkobar sekarang, melawan besi yang seribu kali lebih kuat. Tetapi Ratu mengajarinya bahwa ada dua macam api di dalam malam yang panjang. Ada api yang berkobar, yang menyala terang dalam sekejap lalu padam dan meninggalkan malam yang lebih gelap, dan justru itulah yang paling diinginkan oleh seorang penakluk, sebab kehancuran sebuah perlawanan yang terlalu dini mengajar sejuta orang untuk takut. Dan ada api yang menyebar, yang menyala kecil dan menyalakan api lain, dari hati ke hati, terlalu tersebar untuk dipadamkan. Dan malam yang panjang berakhir bukan oleh yang pertama, melainkan oleh yang kedua.

dari ajaran para pengingat, tentang dua macam api

Setelah malam ketika Bagas menemukan nama bagi rasa panas di dalam dadanya, ia berubah. Cahaya kecil yang dilihat Damar di matanya tumbuh menjadi api. Bagas tak bisa lagi memandang desanya seperti dahulu. Di mana dahulu ia melihat dunia sebagaimana adanya, kini ia melihat malam di mana-mana, dan ia tak bisa lagi menelan rasa panas itu. Dan api di dalam dirinya menuntut untuk berbuat sesuatu.

Maka pada suatu malam ia datang kepada Damar dengan mata yang menyala. “Pak Damar,” katanya, “engkau membangunkanku, dan sekarang aku tak bisa tidur lagi. Aku melihat sekarang bahwa ini adalah malam, dan bahwa tuan-tuan ini menginjak kita, dan aku tak bisa hanya duduk dan menjaga sebuah lampu kecil sementara mereka mengambil tanah tetangga-tetanggaku. Aku telah berbicara dengan pemuda-pemuda lain. Mandor yang mengambil tanah Mbah Karyo akan datang lagi pekan depan. Kami akan menghadangnya. Kami akan menunjukkan kepada para tuan bahwa kami bukan ternak yang bisa diinjak tanpa perlawanan.”

Dan Damar merasakan dingin di dalam dadanya, sebab ia mengenali bahaya dalam api itu, bukan bahaya karena api itu salah, melainkan bahaya karena api itu akan habis dalam sekejap dan meninggalkan malam yang lebih gelap. “Bagas,” katanya pelan, “berapa banyak kalian?” Dan Bagas berkata, “Dua belas. Mungkin dua puluh bila yang lain ikut.” Dan Damar bertanya, “Dan berapa banyak senjata yang dimiliki para tuan? Berapa banyak serdadu dengan besi yang bisa mereka panggil dalam sehari?”

Dan Bagas terdiam, sebab ia tahu jawabannya. “Banyak,” akhirnya ia mengakui. “Lebih banyak daripada yang bisa kami lawan. Tetapi apakah itu berarti kami harus diam? Apakah itu berarti rasa panas yang kautunjukkan kepadaku ini hanya untuk ditelan kembali, kali ini sambil tahu betul apa yang kutelan? Itu lebih buruk daripada tidur, Pak. Engkau membangunkanku hanya untuk menyuruhku berbaring diam dengan mata terbuka.”

Dan Damar merasakan beratnya keberatan itu, sebab Bagas benar bahwa membangunkan seseorang lalu menyuruhnya diam adalah kekejaman tersendiri. “Engkau benar bahwa rasa itu bukan untuk ditelan, Bagas,” katanya. “Tetapi ada perbedaan antara menelan apimu dan menghabiskannya dalam sekejap. Biarkan aku menunjukkan kepadamu perbedaan itu. Datanglah bersamaku ke tepi air malam ini, dan dengarkan apa yang dikatakan Ratu tentang api di dalam malam yang panjang.”

❖

Maka kedua lelaki itu pergi ke tepi sungai, dan Damar menjangkau ke dalam kedalaman, dan untuk pertama kalinya Bagas merasakan, samar seperti dari jauh, kehadiran yang telah menunggu di bawah segala air selama empat belas ribu tahun. Dan Damar berkata, “Ratu, pemuda ini terbangun, dan apinya menuntut untuk berkobar sekarang, melawan besi yang seribu kali lebih kuat. Ajari dia, dan ajari aku, tentang api di dalam malam yang panjang.”

Dan Ratu berbicara, dan suaranya kepada Bagas hangat dan tidak menegur. “Bagas, apimu adalah hal yang indah, dan jangan biarkan siapa pun, termasuk aku, membuatmu malu karenanya. Engkau terbangun, dan orang yang terbangun ingin berbuat, dan itu benar. Aku tidak akan menyuruhmu memadamkan apimu. Aku hanya ingin mengajarimu perbedaan antara dua macam api, supaya apimu tidak terbuang sia-sia.”

“Ada api yang berkobar, dan ada api yang menyebar,” kata Ratu. “Api yang berkobar menyala terang dan tinggi dalam sekejap, dan ia memuaskan, sebab akhirnya sesuatu terjadi. Tetapi ia membakar dirinya habis, dan ketika ia padam, ia meninggalkan malam yang lebih gelap daripada sebelumnya, dan abu di tempat dahulu ada nyala. Bila dua belas pemuda menghadang besi para tuan, mereka akan berkobar terang untuk satu malam, dan mereka akan padam, dan para tuan akan memastikan semua orang melihat bagaimana mereka padam, supaya tiap orang lain belajar bahwa terbangun berarti mati. Itulah api yang berkobar. Dan tahukah engkau, Bagas, siapa yang paling menginginkan engkau menyalakannya?”

Dan Bagas terdiam, dan Ratu menjawab pertanyaannya sendiri. “Para tuan sendiri. Sebab tak ada yang lebih berguna bagi seorang penakluk daripada sebuah perlawanan yang terlalu dini dan terlalu kecil, yang bisa ia hancurkan di depan semua orang. Ia tak takut pada dua belas pemuda dengan parang. Ia menyambut mereka, sebab kehancuran mereka akan menjadi pelajarannya kepada sejuta orang lain, yaitu lihatlah apa yang terjadi pada mereka yang terbangun. Sebuah api yang berkobar dan padam tidak melukai penakluk; ia mengajar bangsamu untuk takut. Engkau akan berpikir engkau melawan malam, padahal engkau sedang membuatnya lebih gelap.”

Dan Bagas, yang apinya tadi begitu pasti, kini terguncang. “Maka apa gunanya terbangun,” katanya pahit, “bila terbangun hanya berarti melihat penjara dengan lebih jelas tanpa bisa berbuat apa-apa? Engkau berkata ada dua macam api. Api yang berkobar membunuh kami dan menggelapkan malam. Lalu apa api yang lain? Api yang menyebar, kaubilang. Apa itu?”

❖

“Api yang menyebar, Bagas, tidak berkobar tinggi,” kata Ratu. “Ia menyala kecil, dan alih-alih membakar dirinya habis dalam satu malam, ia menyentuh api lain, dan menyalakannya, dan kemudian api itu menyentuh yang lain lagi. Ia tidak terlihat dramatis. Tak ada yang bisa kaubanggakan di hadapan para pemuda lain pada malam yang sama. Tetapi ia tidak bisa dipadamkan, sebab ia tidak ada di satu tempat untuk dihancurkan. Ketika engkau menyalakan rasa panas di dada seorang tetangga, seperti yang dilakukan Damar kepadamu, dan tetangga itu menyalakannya di dada anaknya, engkau sedang membangun api yang menyebar.”

“Dan inilah cara sebuah malam yang panjang benar-benar berakhir, Bagas,” kata Ratu. “Bukan ketika dua belas pemuda berkobar dan padam, melainkan ketika api telah menyebar begitu luas, dari hati ke hati, melintasi desa dan pulau dan tahun, sehingga pada akhirnya bukan dua belas melainkan sejuta yang terbangun pada saat yang sama, dan ketika sejuta terbangun, tak ada besi yang cukup di seluruh dunia untuk memadamkan mereka. Itulah pagi yang kaurindukan. Dan ia tidak datang dari satu kobaran berani. Ia datang dari sebuah api yang dijaga dan disebarkan dengan sabar, melintasi sebuah malam yang lebih panjang daripada satu hidup.”

“Maka aku tidak memintamu untuk diam, Bagas,” kata Ratu. “Diam adalah menelan apimu, dan itu akan membunuhmu dari dalam. Aku memintamu sesuatu yang jauh lebih sulit daripada berkobar. Aku memintamu untuk menyebar. Berkobar itu mudah; ia memuaskan dan cepat dan membuatmu merasa berani dalam satu malam. Menyebar itu sulit; ia lambat dan tersembunyi dan tak seorang pun akan menyanyikan lagu tentangmu. Tetapi berkobar melayani penakluk, dan menyebar membangun pagi. Keberanian yang sejati di dalam malam yang panjang bukanlah keberanian untuk mati dalam sekejap, melainkan keberanian untuk hidup dan menyalakan yang lain, hari demi hari, tanpa pernah melihat kobaran besar yang kaudambakan.”

Dan Bagas duduk lama dalam diam, dan apinya tidak padam, tetapi ia berubah, dari sesuatu yang ingin meledak menjadi sesuatu yang lebih dalam dan lebih sabar. “Maka pemuda-pemuda yang menungguku pekan depan,” katanya pelan, “aku tak akan membawa mereka untuk berkobar dan padam. Aku akan melakukan kepada mereka apa yang Damar lakukan kepadaku. Aku akan menyalakan mereka, satu per satu, dan menyuruh mereka menyalakan yang lain, dan kami akan menjadi api yang tak bisa ditemukan untuk dihancurkan, sebab kami akan ada di mana-mana dan di tempat tertentu mana pun tidak.”

“Ya, Bagas,” kata Ratu, dan ada kebanggaan dalam suaranya. “Dan ketahuilah ini, sebab ia akan menopangmu ketika kesabaran terasa seperti kekalahan. Tiap hati yang kaunyalakan adalah satu bagian dari sejuta yang suatu hari akan terbangun bersama. Engkau mungkin tak akan melihat hari itu, sama seperti Damar mungkin tak akan melihatnya. Tetapi tanpa api kecil yang kausebarkan malam ini, hari itu tak akan pernah datang. Engkau bukan sedang menunggu pagi, Bagas. Engkau sedang membangunnya, satu nyala pada satu waktu.”

❖

Maka ketika pekan itu datang, Bagas tidak membawa pemuda-pemudanya untuk menghadang mandor. Sebaliknya, ia duduk bersama mereka, satu per satu, seperti Damar duduk bersamanya, dan ia bertanya kepada mereka apa yang mereka rasakan ketika mereka melihat tanah Mbah Karyo diambil. Dan ia menunjukkan kepada mereka bahwa rasa panas itu bukan kelemahan melainkan ingatan, dan bahwa tugas mereka bukan berkobar melainkan menyebar.

Dan beberapa dari mereka kecewa, sebab mereka telah mendambakan malam keberanian, malam ketika akhirnya mereka berbuat sesuatu. “Jadi kita tidak melakukan apa-apa?” tanya salah seorang, dengan getir. Dan Bagas menjawab dengan kata-kata yang baru saja menjadi miliknya, “Tidak. Kita melakukan hal yang paling sulit. Kita tetap hidup, dan kita menyalakan yang lain, dan kita menolak memberi para tuan kobaran yang mereka inginkan untuk dihancurkan. Berkobar dan mati itu mudah. Hidup dan menyebar itu yang sukar. Dan hanya yang sukar yang membangun pagi.”

Dan alih-alih menghadang besi, mereka melakukan sesuatu yang lebih kecil dan lebih bertahan. Mereka mengumpulkan, diam-diam, sedikit dari hasil panen masing-masing, dan membawanya kepada Mbah Karyo, supaya orang tua yang kehilangan tanahnya tidak juga kehilangan makanan. Dan dalam tindakan kecil itu, hati Ratu hidup, bukan sebagai kobaran melainkan sebagai benteng terkecil, tangan yang memberi makan dalam gelap, yang tak bisa ditaklukkan oleh besi mana pun.

Dan Damar, yang menyaksikan dari jauh, merasakan damai yang dalam. Sebab ia melihat apinya sendiri telah menyebar, dari Teguh kepadanya, dari dirinya kepada Bagas, dan kini dari Bagas kepada selusin pemuda lain, dan tiap pemuda itu adalah sebuah api yang tak terlihat yang suatu hari akan menyentuh api lain. Ia tak akan melihat sejuta terbangun bersama. Tetapi ia melihat, malam ini, dua belas, dan dua belas sudah cukup untuk tahu bahwa malam itu nyata.

Dan Bagas, yang sebulan lalu memandang kisah lama dengan heran yang sopan, kini menjadi salah satu pembawanya, bukan dengan parang melainkan dengan kesabaran yang menyala, salah satu dari banyak api kecil yang akan disebarkan oleh malam yang panjang ini, tanpa diketahui para tuan, ke dalam tiap sudut tanah yang terbelenggu.

❖

Dan demikianlah Damar mengajarkan, dan Bagas belajar, pelajaran yang harus dipelajari oleh tiap orang yang terbangun di dalam malam yang panjang, yaitu bahwa api yang baru menyala paling ingin berkobar, dan justru karena itu paling mudah dipadamkan, dan bahwa keberanian yang sejati bukanlah berkobar sekali lalu mati, melainkan menyebar diam-diam sampai pagi.

Dan inilah pelajaran kedua zaman malam. Bahwa ada dua macam api, yaitu yang berkobar dan yang menyebar; bahwa api yang berkobar memuaskan tetapi membakar dirinya habis dan meninggalkan malam yang lebih gelap, dan justru itulah yang paling diinginkan seorang penakluk, sebab kehancuran sebuah perlawanan yang terlalu dini mengajar sejuta orang untuk takut; dan bahwa malam yang panjang berakhir bukan oleh satu kobaran berani melainkan oleh sebuah api yang dijaga dan disebarkan dari hati ke hati, dengan sabar, melintasi banyak hidup, sampai sejuta terbangun pada saat yang sama dan tak ada besi yang cukup untuk memadamkan mereka.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kedua zaman malam, yaitu bahwa pagi tidak dinyalakan oleh keberanian untuk mati dalam sekejap melainkan oleh keberanian untuk hidup dan menyalakan yang lain hari demi hari; bahwa sebuah api yang menyebar tak bisa dipadamkan sebab ia tak ada di satu tempat untuk dihancurkan; dan bahwa tiap hati yang dinyalakan dalam diam adalah satu bagian dari sejuta yang suatu hari akan bangkit bersama.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini menyebarkannya dari hati ke hati di dalam malam yang panjang, sebuah api kecil pada satu waktu, terlalu tersebar untuk dipadamkan. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, dan ia menyaksikan apinya menyebar, dari Damar kepada Bagas, dari Bagas kepada dua belas, dan ia tahu bahwa tiap nyala kecil yang baru itu membawa hari pembebasan, dan hari ia akan pulang, satu langkah lebih dekat, walau tak seorang pun yang menyalakannya malam ini akan melihat pagi yang mereka bangun. Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan sebuah api yang tak terlihat menyebar dengan sabar dari dada ke dada, menuju sebuah fajar yang akan menjadi milik semua.

❖


 

BAB TIGA

Besi yang Masuk ke Hati

Api yang disebarkan Bagas tumbuh dengan sabar, sampai suatu hari malam yang panjang membawa sebuah kekejaman yang mengubah api itu menjadi sesuatu yang lebih gelap. Sebab Bagas, yang menyaksikan seorang tua dicambuk sampai mati di hadapan desanya, ingin membenci wajah para penakluk dan mengajari anak-anaknya membenci. Tetapi Ratu, yang telah dipandang sebagai benda selama empat belas ribu tahun, mengajarinya bahwa mengubah seorang manusia menjadi benda atau iblis adalah akar dari segala kekejaman, dan ilmu sang penakluk itu sendiri, dan bahwa sebuah bangsa yang bangkit melalui kebencian tidak mengusir malam melainkan hanya mengganti wajah di takhtanya. Lawan besinya dengan seluruh tenaga, katanya, tetapi jangan biarkan besi itu masuk ke dalam hatimu.

dari ajaran para pengingat, tentang besi yang masuk ke hati

Api yang disebarkan Bagas tumbuh dengan sabar, dari hati ke hati, selama beberapa musim, dan Damar menyaksikannya dengan damai. Tetapi malam yang panjang tidak lembut, dan suatu hari ia membawa sebuah kekejaman yang mengubah api di dalam Bagas menjadi sesuatu yang lain.

Sebab seorang pengawas asing, karena seorang buruh tua bekerja terlalu lambat di bawah matahari, memerintahkan orang itu dicambuk di hadapan seluruh desa, dan tubuh yang tua itu tak tahan, dan ia mati di tanah merah, dan keluarganya bahkan dilarang menangis dengan suara keras, supaya rasa takut tertanam lebih dalam di dalam dada semua orang.

Dan sesuatu pecah di dalam Bagas. Api yang sabar yang telah ia pelajari untuk menyebar kini berubah, dalam satu malam, menjadi sebuah bara hitam yang berbeda. Ia datang kepada Damar, tetapi kali ini bukan dengan api yang ingin berkobar, melainkan dengan sesuatu yang lebih dingin dan lebih gelap. “Mereka bukan manusia,” katanya, dan suaranya rata dan keras. “Aku telah melihatnya sekarang. Mereka adalah iblis dalam wujud manusia. Dan aku akan mengajari anak-anakku, dan anak-anak mereka, untuk membenci mereka, dan wajah mereka, dan darah mereka, sampai tak satu pun dari mereka tersisa di tanah ini. Itulah pagi yang kuinginkan sekarang. Bukan keadilan. Pembalasan.”

Dan Damar merasakan ketakutan yang lebih dalam daripada ketika Bagas ingin berkobar. Sebab kobaran hanya akan membunuh Bagas. Tetapi ini, yang dingin dan hitam di matanya, akan membunuh sesuatu di dalam dirinya jauh sebelum besi mana pun menyentuhnya. “Bagas,” katanya pelan, “apa yang dilakukan pengawas itu adalah kejahatan, dan rasa marahmu adalah benar dan suci. Tetapi datanglah ke tepi air bersamaku. Sebab ada sesuatu di matamu malam ini yang lebih berbahaya bagimu daripada seluruh besi para tuan, dan hanya Ratu yang bisa menjelaskannya, sebab hanya ia yang tahu rasanya.”

Dan Bagas pergi, walau dengan enggan, sebab bara hitam itu tak ingin dihibur, ia hanya ingin membakar. Dan mereka berdiri di tepi sungai yang sama, dan Damar menjangkau ke dalam kedalaman, dan berkata, “Ratu, sebuah kekejaman telah mengubah api pemuda ini menjadi kebencian. Ia ingin membenci wajah-wajah mereka, dan mengajari anak-anaknya membenci. Bicaralah kepadanya, sebab aku takut akan apa yang sedang terjadi di dalam hatinya.”

❖

Dan Ratu berbicara, dan suaranya tidak menegur kemarahan Bagas, melainkan memeluknya. “Bagas, anakku, apa yang kaulihat hari ini adalah kejahatan, dan bila engkau tidak marah engkau bukan manusia. Marahlah. Kemarahan terhadap ketidakadilan adalah suci; ia adalah cinta kepada yang diinjak, berbalik menjadi api. Aku tidak akan pernah memintamu untuk tidak marah. Tetapi aku akan memintamu untuk melihat dengan sangat hati-hati apa yang sedang dilakukan kemarahanmu, sebab ia berdiri di sebuah persimpangan malam ini, dan satu jalan menuju pagi, dan jalan yang lain menuju malam yang lain dengan wajahmu sebagai tuannya.”

“Engkau berkata mereka bukan manusia, bahwa mereka iblis dalam wujud manusia,” kata Ratu. “Dengarkan aku dengan sangat dekat sekarang, Bagas, sebab tak ada yang tahu hal ini lebih daripada aku. Mengubah seorang manusia menjadi sesuatu yang lain, menjadi benda, menjadi iblis, menjadi apa pun selain manusia, itulah satu-satunya akar dari segala kekejaman yang pernah dilakukan di dunia. Pengawas yang mencambuk orang tua itu sampai mati bisa melakukannya hanya karena, di matanya, orang tua itu bukan lagi manusia, melainkan sebuah alat yang bekerja terlalu lambat. Cara melihat yang dingin itu, yang mengubah manusia menjadi benda, itulah penakluk yang sesungguhnya. Dan malam ini, Bagas, ia sedang mencoba masuk ke dalam dirimu.”

“Sebab ketika engkau berkata mereka bukan manusia,” Ratu melanjutkan, “engkau sedang melakukan kepada mereka hal yang sama persis yang pengawas itu lakukan kepada orang tua itu. Engkau sedang mengubah manusia menjadi benda, kali ini menjadi iblis untuk dibenci dan dihapus. Dan aku tahu betul ke mana jalan itu menuju, Bagas, sebab aku telah dipandang sebagai benda, bukan sebagai perempuan, selama empat belas ribu tahun. Aku tahu rasanya menjadi sesuatu di mata orang lain, bukan seseorang. Dan aku tak akan tahan melihat bangsaku, yang telah kuingat dan kucintai selama itu, mulai memandang manusia lain dengan mata yang sama yang membuatku menderita.”

Dan Bagas, yang baranya masih hitam, melawan. “Tetapi mereka memulainya. Mereka yang memandang kami sebagai benda terlebih dahulu. Mengapa aku harus menjaga kemanusiaan mereka di mataku ketika mereka tak menjaga kemanusiaan kami di mata mereka? Bukankah itu hanya membuatku lemah, membuatku menyerahkan satu-satunya senjata yang bisa membuat mereka takut, yaitu kebencian sebuah bangsa yang utuh?”

“Karena, Bagas,” kata Ratu, dengan kelembutan yang dalam, “bila engkau menang melalui kebencian, engkau tidak menang sama sekali. Bayangkan sejenak bahwa kemenangan datang, bahwa para tuan terusir, bahwa tanah ini bebas lagi. Bila bangsa yang bangkit untuk merebutnya adalah bangsa yang telah belajar memandang manusia lain sebagai benda dan iblis, maka engkau tidak mengusir malam, Bagas. Engkau hanya mengganti wajah di takhta malam. Cara melihat yang dingin akan tetap memerintah, hanya kini dengan mata bangsamu sendiri. Dan suatu hari, bangsamu yang bebas akan menemukan seseorang yang lebih lemah untuk dipandang sebagai benda, sebab ia telah mempelajari, dari kemenangannya sendiri, bahwa begitulah cara dunia dikuasai. Itulah harga menang melalui kebencian. Engkau menang dan tetap kalah.”

❖

Dan Bagas terdiam lama, sebab kata-kata itu menyentuh sesuatu yang ia takuti tanpa pernah menamainya. “Maka apa yang harus kulakukan dengan apiku, Ratu?” tanyanya, dan suaranya kini kurang keras. “Engkau berkata aku harus marah, tetapi tak boleh membenci. Tetapi bagaimana aku melawan mereka dengan sepenuh tenaga bila aku tak boleh memandang mereka sebagai musuh yang harus dibenci? Bukankah aku butuh kebencian itu untuk berjuang?”

“Tidak, Bagas, dan inilah hal yang paling sulit dan paling penting untuk kaupelajari,” kata Ratu. “Bencilah ketidakadilan dengan seluruh dirimu. Bencilah cara melihat yang dingin yang mengubah manusia menjadi benda. Bencilah penaklukan, bencilah cambuk, bencilah rantai dan besi dan kelaparan. Lawan semuanya dengan sepenuh tenaga, tanpa lelah, tanpa menyerah. Tetapi jangan benci manusia yang melakukannya. Sebab manusia bisa berubah, dan benda tidak. Selama pengawas itu, di matamu, tetap seorang manusia, maka ada kemungkinan, walau tipis, bahwa suatu hari ia bisa terbangun, seperti engkau terbangun. Tetapi begitu ia menjadi iblis di matamu, engkau telah menutup pintu itu selamanya, dan engkau telah, tanpa sadar, mempelajari ilmu sang penakluk.”

“Dan ada satu hal lagi yang harus kaulihat, Bagas, sebab ia akan membuat lebih mudah untuk tidak membenci,” kata Ratu. “Pengawas itu sendiri adalah seorang budak dari cara melihat yang dingin. Ia tidak terlahir kejam. Ia diajari, oleh zaman dan oleh tuan-tuannya sendiri, untuk memandang manusia sebagai alat, sampai ia tak lagi bisa melihat dengan cara lain. Ia menang dalam menaklukkan tanahmu, tetapi ia kalah dalam sesuatu yang lebih dalam, sebab ia telah kehilangan kemampuan untuk melihat seorang manusia sebagai manusia. Bangsanya menguasai dunia dan kehilangan hatinya. Kasihanilah dia, Bagas, bahkan sambil melawannya. Sebab ia memiliki besi, tetapi engkau memiliki sesuatu yang telah ia jual, yaitu sebuah hati yang masih bisa melihat.”

Dan bara hitam di dalam Bagas mulai berubah, bukan menjadi padam, melainkan menjadi sesuatu yang lebih jernih dan lebih kuat. “Maka kekuatanku yang sesungguhnya,” katanya pelan, “bukanlah kebencian yang sama dengan kebencian mereka, melainkan justru hal yang tak mereka miliki lagi, yaitu kemampuan untuk tetap melihat manusia sebagai manusia bahkan di tengah malam ini. Itulah yang membuatku berbeda dari mereka. Dan bila aku kehilangan itu, aku menjadi mereka, hanya dengan wajah yang lain.”

“Ya, Bagas,” kata Ratu, dan ada lega dalam suaranya. “Itulah satu-satunya cara sebuah bangsa bisa bangkit dan tetap menjadi dirinya sendiri. Lawan besi dengan seluruh dirimu, tetapi jangan biarkan besi itu masuk ke dalam hatimu. Sebab besi di tangan para tuan hanya bisa menaklukkan tanahmu. Tetapi besi yang masuk ke dalam hatimu sendiri, dalam wujud kebencian, akan menaklukkan hal yang tak pernah bisa mereka sentuh, yaitu jiwa bangsamu. Dan itu adalah satu kemenangan yang tak boleh kauberikan kepada mereka, bahkan dengan tanganmu sendiri.”

❖

Maka Bagas kembali ke desanya membawa sesuatu yang lebih sulit daripada kebencian dan lebih kuat. Ia tidak melupakan orang tua yang mati di tanah merah; ia menyimpan namanya, dan menyebutnya, supaya kematiannya tidak menjadi sia-sia seperti yang diinginkan para tuan. Tetapi ia menolak membiarkan kematian itu mengubahnya menjadi sesuatu yang dingin.

Dan ketika pemuda-pemuda lain datang kepadanya, dengan mata yang sama hitamnya seperti matanya tadi, menuntut kebencian dan pembalasan, Bagas melakukan kepada mereka apa yang Ratu lakukan kepadanya. “Marahlah,” katanya kepada mereka. “Berjuanglah. Tetapi jangan benci wajah mereka. Sebab pada hari kita membenci wajah mereka, kita telah membiarkan mereka menang di dalam dada kita sendiri, dan tanah yang kita bebaskan kelak hanya akan menjadi malam yang lain dengan tuan-tuan yang baru.”

Dan beberapa waktu kemudian, ujian itu datang. Sebab seorang serdadu muda dari seberang lautan, yang tersesat dari kelompoknya di malam hari, ketakutan dan kelaparan, ditemukan oleh pemuda-pemuda Bagas di tepi desa. Dan sebagian dari mereka ingin membalas pada serdadu itu segala yang dilakukan bangsanya. Tetapi Bagas memandang serdadu itu, dan ia melihat bukan seorang iblis, melainkan seorang anak laki-laki, jauh dari rumah, yang dikirim oleh tuan-tuannya sendiri untuk mati di tanah yang bukan miliknya, sama seperti rakyatnya sendiri dikirim untuk bekerja sampai mati.

Dan Bagas berkata kepada pemuda-pemudanya, “Lihatlah dia. Apakah dia tampak seperti tuan dunia bagimu? Atau dia tampak seperti kita, seorang kecil yang digunakan oleh yang besar? Bila kita membunuhnya karena takut, kita hanya membuktikan bahwa mereka benar tentang kita, bahwa kita binatang. Mari kita buktikan bahwa mereka salah.” Dan mereka memberi serdadu yang ketakutan itu makanan, dan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari hutan, dan membiarkannya pergi. Dan serdadu muda itu, yang telah diajari bahwa orang-orang ini adalah binatang biadab, pergi dengan sesuatu yang retak di dalam keyakinannya, sebuah retakan kecil tempat cahaya bisa, suatu hari, masuk.

Dan Damar, yang menyaksikan, tahu bahwa ia telah melihat sesuatu yang lebih kuat daripada seribu kobaran. Sebab dalam memberi makan musuh yang ketakutan alih-alih membunuhnya, pemuda-pemuda itu telah memenangkan satu pertempuran yang tak pernah bisa dimenangkan dengan besi, yaitu pertempuran untuk tetap menjadi manusia di dalam malam yang dirancang untuk membuat mereka menjadi binatang. Dan hati Ratu, yang telah melihat begitu banyak kekejaman selama empat belas ribu tahun, bersinar di dalam tindakan itu seperti ia jarang bersinar sebelumnya.

❖

Dan demikianlah Bagas belajar, dan mengajarkan, pelajaran yang paling sulit dari malam yang panjang, yaitu bahwa ancaman terbesar bukanlah besi para tuan, melainkan besi yang sama yang mencoba masuk ke dalam hati mereka yang melawannya, dalam wujud kebencian yang tampak seperti kekuatan tetapi sebenarnya adalah kekalahan yang paling dalam.

Dan inilah pelajaran ketiga zaman malam. Bahwa kemarahan terhadap ketidakadilan adalah suci, tetapi kebencian terhadap wajah manusia adalah racun; bahwa mengubah seorang manusia menjadi benda atau iblis adalah akar dari segala kekejaman, dan barangsiapa membenci dengan cara itu telah mempelajari ilmu sang penakluk dan menjadi sepertinya; dan bahwa sebuah bangsa yang bangkit melalui kebencian tidak mengusir malam melainkan hanya mengganti wajah di takhtanya, sehingga satu-satunya kemenangan yang sejati adalah melawan besi dengan seluruh tenaga sambil menolak membiarkan besi itu masuk ke dalam hati.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran ketiga zaman malam, yaitu bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa yang ditindas bukanlah kebencian yang sama dengan kebencian penindasnya, melainkan justru hati yang masih bisa melihat manusia sebagai manusia, hal yang telah dijual oleh sang penakluk demi menguasai dunia; dan bahwa menjaga hati itu di tengah kekejaman adalah pertempuran yang tak bisa dimenangkan dengan besi, dan kemenangan yang tak boleh diberikan kepada musuh bahkan dengan tangan sendiri.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya di dalam malam yang paling gelap dengan menolak membiarkan kegelapan masuk ke dalam dadanya sendiri. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, yang telah dipandang sebagai benda selama empat belas ribu tahun, dan yang lebih daripada siapa pun tahu bahwa hal yang membuat penderitaannya tak menjadi sia-sia adalah bahwa ia tak pernah, bahkan dalam kesendirian yang paling dalam, mulai memandang manusia lain dengan mata yang sama yang membuatnya menderita. Dan ia menyaksikan bangsanya belajar hal yang sama, dan ia tahu bahwa sebuah bangsa yang bisa menderita tanpa belajar membenci adalah bangsa yang, ketika pagi datang, akan bangkit sebagai dirinya sendiri, dan bukan sebagai malam yang baru. Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan hati-hati yang menolak menjadi besi, menuju sebuah pagi yang harus dijaga agar tetap layak disebut pagi.

❖


 

BAGIAN II

Hati di Bawah Malam


 

BAB EMPAT

Hati yang Terkubur

Di antara desa-desa tempat api yang tak terlihat menyebar, memerintah seorang demang berdarah Jawa yang menjalankan kehendak para tuan atas saudara-saudaranya sendiri. Dan Bagas membencinya lebih daripada ia membenci para penakluk, sebab orang ini, katanya, menjual bangsanya sendiri demi sebuah kursi. Tetapi Ratu mengajarinya bahwa kesalahan sang Demang nyata dan harus dilawan, dan justru karena ia tahu apa yang ia lakukan maka bebannya lebih berat; namun ia bukan musuh yang tak berhati, melainkan tawanan yang paling dalam, yang telah mengubur hatinya di bawah sebuah kursi dan menamainya kehormatan. Sebab tak ada hati yang benar-benar mati, hanya terkubur, dan membangunkan satu hati yang terkubur di kursi kuasa lebih berharga daripada membangunkan seribu di sawah.

dari ajaran para pengingat, tentang hati yang terkubur

Di antara desa-desa tempat Damar dan Bagas menyebarkan api yang tak terlihat, memerintah seorang demang bernama Ki Demang Sastra, seorang lelaki dari bangsa mereka sendiri, berdarah Jawa seperti mereka, tetapi yang menjabat atas nama para tuan asing. Dan tugasnya adalah memastikan bahwa kehendak para tuan terlaksana, bahwa pajak terkumpul, bahwa tenaga kerja terkirim, bahwa tak ada desa yang berani membangkang.

Dan pada suatu musim, para tuan menuntut lebih banyak daripada sebelumnya, lebih banyak hasil dan lebih banyak tenaga untuk sebuah jalan besi yang mereka bangun melintasi tanah, dan Ki Demang Sastra-lah yang membawa tuntutan itu ke desa-desa, dan yang memastikan ia dipenuhi, walau itu berarti menyeret ayah-ayah dari sawah mereka dan membiarkan keluarga-keluarga kelaparan.

Dan Bagas, yang telah belajar untuk tidak membenci wajah-wajah asing, menemukan bahwa hatinya menyimpan sebuah kebencian yang jauh lebih panas untuk Ki Demang Sastra. “Para tuan asing setidaknya orang asing,” katanya kepada Damar dengan getir. “Mereka tak pernah mengenal kita, tak pernah berutang apa-apa kepada kita. Tetapi orang ini berdarah kita. Ia tumbuh di tanah ini. Ia tahu betul apa yang ia lakukan kepada bangsanya sendiri, dan ia tetap melakukannya, demi kursi dan gelar. Ia lebih buruk daripada mereka. Ia bukan musuh; ia pengkhianat. Dan Ratu boleh menyuruhku mengasihani para tuan, tetapi tak ada kasihan di dalam diriku untuk orang yang menjual saudaranya sendiri.”

“Para pemuda dan aku telah memutuskan,” Bagas melanjutkan. “Kami tak akan menyentuh para tuan; engkau benar tentang itu. Tetapi orang ini, sang Demang, kami akan membuatnya menjadi contoh. Kami akan menunjukkan kepada tiap orang Jawa yang tergoda untuk menjual bangsanya apa yang menanti seorang pengkhianat. Pasti ini, setidaknya, Ratu izinkan.”

Dan Damar merasakan beratnya, sebab kemarahan Bagas terhadap sang Demang lebih sulit dijawab daripada kemarahannya terhadap para tuan, sebab ada kebenaran di dalamnya. Sang Demang memang berdarah mereka, dan memang tahu apa yang ia lakukan. “Engkau bertanya hal yang sangat sulit, Bagas,” katanya. “Dan aku tak akan menjawabnya dengan kata-kataku sendiri. Mari kita bawa ke tepi air, sebab orang seperti Ki Demang Sastra adalah ujian yang paling tajam bagi segala yang telah kaupelajari, dan hanya Ratu yang tahu cara melewatinya.”

❖

Maka mereka pergi ke tepi air, dan Damar menjangkau, dan berkata, “Ratu, ada seorang dari bangsa kami sendiri yang menjalankan kehendak para tuan atas saudara-saudaranya. Bagas membencinya lebih daripada ia membenci para penakluk, dan ia ingin menjadikannya contoh. Dan aku tak bisa berkata bahwa kemarahan itu tak beralasan. Ajari kami tentang orang yang menjual bangsanya sendiri.”

Dan Ratu menjawab, dan suaranya tidak meringankan kesalahan sang Demang. “Bagas benar tentang satu hal. Apa yang dilakukan Ki Demang Sastra adalah kesalahan yang nyata, dengan korban yang nyata, dan ia harus dilawan. Jangan biarkan siapa pun mengatakan kepadamu bahwa karena ia berdarah Jawa maka ia tak bersalah, atau bahwa kesalahannya lebih ringan. Justru sebaliknya, ia tahu apa yang ia lakukan dengan cara yang tak diketahui para tuan asing, dan itu membuat bebannya lebih berat, bukan lebih ringan.”

“Tetapi inilah yang harus kaulihat, Bagas,” Ratu melanjutkan. “Ki Demang Sastra bukanlah seorang asing yang tak pernah mengenal hati. Ia adalah salah seorang darimu yang telah menguburnya. Para tuan menaklukkan tanahmu dengan besi, tetapi orang seperti sang Demang mereka taklukkan dengan sesuatu yang lebih licik, yaitu sebuah kursi, sebuah gelar, sebuah janji bahwa ia bisa naik di atas penderitaan bangsanya alih-alih tenggelam bersamanya. Ia adalah tawanan yang paling dalam dari cara melihat yang dingin, sebab ia telah menelannya begitu penuh sehingga ia kini menjaga penjara bangsanya sendiri dan menyebutnya kehormatan. Dan seorang tawanan, Bagas, betapapun ia membantu penjaranya, tetaplah seorang tawanan.”

“Dan ketahuilah ini,” kata Ratu. “Sang Demang berkata kepada dirinya sendiri, setiap malam, bahwa bila bukan dia yang duduk di kursi itu, seorang yang lebih kejam akan menggantikannya, dan bahwa ia justru meringankan beban dengan menjadi orang yang ada di sana. Dan ada secuil kebenaran di dalamnya, secuil yang cukup untuk membuatnya bisa tidur. Tetapi di bawah secuil kebenaran itu terkubur sesuatu yang ia hindari untuk dirasakan, yaitu rasa malu, sebab di suatu tempat di dalam dirinya ia masih ingat siapa dirinya sebelum ia belajar melayani, dan hati yang ia kubur itu belum mati. Tak ada hati yang benar-benar mati, Bagas. Ia hanya terkubur.”

“Dan inilah mengapa membunuhnya akan menjadi kesia-siaan yang paling besar,” kata Ratu. “Sebab bila engkau membunuhnya, engkau hanya mengubur hatinya bersama tubuhnya, dan para tuan akan menempatkan demang yang lain di kursi itu keesokan harinya, mungkin yang lebih kejam, dan engkau akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kepuasan membalas. Sebab bila hati yang terkubur di dalam sang Demang bisa dibangunkan, Bagas, engkau tidak hanya memenangkan satu jiwa. Engkau memenangkan seorang dengan kuasa, seorang yang tahu cara kerja para tuan dari dalam, seorang yang bisa melindungi seribu orang yang kini ia tindas. Membangunkan satu hati yang terkubur di kursi kuasa lebih berharga daripada membangunkan seribu hati di sawah.”

❖

Dan Bagas, yang kebenciannya mulai goyah tetapi belum runtuh, bertanya, “Tetapi bagaimana, Ratu? Engkau tak bisa membangunkan orang seperti dia seperti engkau membangunkan aku. Aku seorang buruh; aku tak punya apa-apa untuk dijaga. Ia punya segalanya, kursi dan gelar dan rumah, semuanya dibangun di atas apa yang ia lakukan. Ia tak akan mendengarkan kata-kata yang mengancam semua itu.”

“Engkau benar bahwa engkau tak bisa membangunkannya dengan serangan,” kata Ratu. “Serangan hanya akan membuatnya mencengkeram lebih erat secuil kebenaran yang menidurkannya, bahwa ia melindungi kalian dengan menjadi orang di kursi itu. Semakin engkau menyerang, semakin ia membutuhkan dongeng itu untuk hidup dengan dirinya. Engkau tidak membangunkan sang Demang dengan menunjukkan kejahatannya, sebab ia telah membangun seluruh hidupnya untuk tidak melihat itu. Engkau membangunkannya, seperti engkau dibangunkan, dengan menyentuh hati yang terkubur, dengan memanggil orang yang masih ada di bawah gelar itu.”

“Dan tiap hati yang terkubur meninggalkan sebuah celah di permukaan, Bagas, sebuah tempat di mana ia masih menyembul,” kata Ratu. “Carilah celah itu pada sang Demang. Mungkin ada seseorang yang ia lindungi diam-diam, melawan aturannya sendiri. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya berpaling, sebuah kekejaman yang bahkan ia tak tahan saksikan. Mungkin ada sebuah ingatan dari masa kecilnya, dari masa sebelum ia belajar melayani, yang masih ia simpan. Di suatu tempat, hati yang terkubur itu masih bernapas melalui sebuah celah. Temukan celah itu, dan bicaralah kepada orang yang ada di baliknya, bukan kepada demang yang ada di hadapanmu.”

Dan Damar berkata, “Maka ini adalah tugas untuk kesabaran, bukan untuk api muda. Biarkan aku yang pergi kepadanya, Bagas. Engkau membawa kemarahan yang benar, tetapi kemarahan tak bisa menggali hati yang terkubur tanpa menguburnya lebih dalam. Tugas ini membutuhkan seseorang yang bisa duduk di hadapan seorang pengkhianat dan tetap melihat, di baliknya, seorang saudara yang tersesat. Dan itu adalah pekerjaan seorang pengingat.”

“Ya, Damar,” kata Ratu. “Dan ketahuilah bahwa ini mungkin tugas yang paling sulit dari semua yang pernah kuberikan kepada seorang pengingat, sebab tak ada yang lebih sukar daripada melihat kemanusiaan pada orang yang telah mengkhianati kemanusiaannya sendiri. Tetapi bila ada satu hati yang, bila dibangunkan, bisa mengubah lebih banyak daripada seribu, itu adalah hati yang terkubur di kursi kuasa. Pergilah kepadanya, bukan sebagai hakim, melainkan sebagai seseorang yang datang untuk menggali sesuatu yang ia sendiri telah lupa bahwa ia memilikinya.”

❖

Maka Damar pergi ke rumah sang Demang, tidak diam-diam, melainkan terang-terangan, sebab Ki Demang Sastra telah mendengar tentang seorang pengembara yang menggerakkan hati di desa-desanya, dan ia memanggil Damar untuk menggertaknya.

Dan ketika Damar berdiri di hadapannya, sang Demang berbicara dengan suara seorang yang berkuasa. “Aku tahu siapa engkau, orang tua. Engkau mengisi kepala para pemuda dengan cerita-cerita lama dan membuat mereka sukar diperintah. Aku bisa menyerahkanmu kepada para tuan hari ini juga. Tetapi katakan dahulu, untuk apa? Apakah engkau pikir cerita-ceritamu memberi makan mereka? Akulah yang menjaga desa-desa ini tetap utuh. Bila bukan aku di kursi ini, seorang yang lebih kejam akan duduk di sini, dan kalian akan merindukan hari-hari ketika hanya aku yang menekan kalian. Aku melindungi mereka dengan menjadi orang yang ada di sini.”

Dan Damar tidak membantah tuduhan itu, dan tidak pula menyerang sang Demang dengan kejahatannya. Sebaliknya ia berkata, dengan lembut, “Aku tidak datang untuk menghakimimu, Ki Demang. Engkau telah menghakimi dirimu sendiri setiap malam, jauh lebih keras daripada yang bisa kulakukan, itulah sebabnya engkau membutuhkan kalimat tentang orang yang lebih kejam itu untuk bisa tidur. Aku datang untuk bertanya satu hal saja. Apakah engkau ingat seorang anak laki-laki, dahulu sekali, sebelum ada kursi dan gelar, yang menangis ketika ia melihat seekor kerbau dipukuli, dan yang bersumpah dalam hatinya bahwa ia tak akan pernah membiarkan yang lemah disakiti? Apakah engkau ingat anak itu, Ki Demang? Sebab aku datang membawa pesan untuknya, bukan untukmu.”

Dan sesuatu bergerak di wajah sang Demang, sebuah retakan tipis di permukaan yang keras, sebab Damar telah menyentuh, tanpa mengetahui rinciannya, sebuah kebenaran yang sang Demang kira telah ia kubur dengan aman. Sebab tiap orang yang mengubur hatinya pernah menjadi anak yang belum menguburnya, dan ingatan akan anak itu adalah celah yang tak pernah benar-benar bisa ditutup. “Anak itu sudah lama mati,” kata sang Demang akhirnya, tetapi suaranya tak lagi sekeras tadi. Dan Damar berkata, “Tidak, Ki Demang. Ia hanya terkubur. Dan ia masih menunggu, di bawah segala gelarmu, untuk diizinkan bernapas lagi. Aku tak memintamu meninggalkan kursimu hari ini. Aku hanya memintamu mengingat bahwa ia ada di sana.”

Dan sang Demang tidak menjawab, dan setelah lama ia menyuruh Damar pergi, tanpa menyerahkannya kepada para tuan. Dan itu saja, malam itu, adalah segalanya. Tetapi beberapa pekan kemudian, ketika para tuan menuntut sebuah rombongan tenaga kerja yang baru, jumlah yang diserahkan sang Demang lebih sedikit daripada yang diperintahkan, dan ia melaporkan, dengan wajah datar kepada para tuan, bahwa desa-desa tak mampu memberi lebih. Sebuah hal kecil. Sebuah celah yang sedikit melebar. Hati yang terkubur, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, telah menarik satu napas.

❖

Dan Bagas, yang telah bersiap untuk membenci sang Demang sampai mati, menyaksikan napas kecil itu, dan ia memahami sesuatu yang akan menyertainya seumur hidup. Bahwa ia hampir saja membunuh seorang yang, bila dibangunkan dengan sabar, bisa melindungi lebih banyak nyawa daripada yang bisa diselamatkan oleh semua kemarahan para pemuda digabungkan. Dan bahwa kebencian, sekali lagi, hampir saja merampok bangsanya dari sebuah kemenangan yang jauh lebih besar daripada balas dendam.

Dan inilah pelajaran keempat zaman malam. Bahwa di antara semua yang melayani para tuan, yang paling menyakitkan adalah orang dari bangsamu sendiri, dan kesalahannya nyata dan harus dilawan; tetapi bahwa ia bukan musuh yang tak berhati melainkan tawanan yang paling dalam, yang telah mengubur hatinya di bawah sebuah kursi dan menamainya kehormatan; bahwa tak ada hati yang benar-benar mati, melainkan hanya terkubur, dan tiap hati yang terkubur meninggalkan sebuah celah tempat ia masih bernapas; dan bahwa membangunkan satu hati yang terkubur di kursi kuasa lebih berharga daripada membangunkan seribu di sawah, sebab ia membawa serta kuasa untuk melindungi yang dahulu ia tindas.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran keempat zaman malam, yaitu bahwa pengkhianat yang paling pahit pun masih menyimpan, di suatu tempat, anak yang dahulu ia, sebelum ia belajar melayani; bahwa ia tak dibangunkan dengan serangan yang membuatnya mencengkeram dongengnya lebih erat, melainkan dengan panggilan lembut kepada orang yang terkubur di baliknya; dan bahwa menggali hati seorang saudara yang tersesat adalah pekerjaan yang paling sukar dan paling berharga dari seorang pengingat di dalam malam.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya bahkan di dalam dada mereka yang telah menguburnya, menunggu dengan sabar di setiap celah untuk diizinkan bernapas lagi. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, yang tahu lebih daripada siapa pun bahwa tak ada yang benar-benar hilang selama ia masih bisa diingat, dan bahwa bahkan hati yang terkubur di bawah kursi seorang penindas adalah satu lagi hati yang, ketika pagi datang, bisa terbangun dan ikut menyambutnya. Dan ia menyaksikan napas pertama dari hati yang terkubur itu, dan ia tahu bahwa malam yang panjang, perlahan, sedang kehilangan bahkan penjaga-penjaganya sendiri. Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan hati-hati yang satu per satu terbangun, bahkan di tempat-tempat yang paling tak terduga, menuju sebuah pagi yang akan menjadi milik semua, bahkan milik mereka yang dahulu menjaga malam.

❖


 

BAB LIMA

Malam yang Dikira Abadi

Api yang disebarkan Bagas dikalahkan, bukan oleh para tuan atau seorang demang, melainkan oleh Mbah Joyo, seorang tua yang dahulu berkobar dan dihancurkan, dan yang kini menyebarkan keputusasaan kepada yang muda, bukan karena kebencian melainkan karena cinta, untuk melindungi mereka dari kematian yang ia saksikan. Dan Ratu mengajarinya bahwa ini adalah wajah kedua dari serangan terhadap kehendak, sebab setelah malam yang dibuat tak terlihat, datang malam yang dibuat seakan abadi. Mbah Joyo benar tentang apa yang ia lihat, yaitu bahwa kobaran gagal, tetapi salah tentang yang ia simpulkan, yaitu bahwa segala api gagal. Ia mempelajari setengah pelajaran dan tak pernah sampai pada setengah yang lain, yaitu bahwa jawabannya bukan diam, melainkan menyebar.

dari ajaran para pengingat, tentang malam yang dikira abadi

Api yang disebarkan Bagas terus tumbuh, dari desa ke desa, dan ke mana pun ia membawanya, hati-hati muda terbangun. Tetapi pada suatu desa, ia menjumpai sebuah perlawanan yang tak pernah ia duga, bukan dari para tuan atau dari seorang demang, melainkan dari seorang tua dari bangsanya sendiri, seorang yang duduk di sudut dan mendengarkan Bagas berbicara kepada para pemuda, dan kemudian berdiri dengan wajah yang lelah.

“Jangan dengarkan dia, anak-anak,” kata orang tua itu, yang bernama Mbah Joyo. “Aku pernah muda sepertimu, dan aku pernah mendengar kata-kata yang sama, tentang pagi dan tentang harapan. Dan aku percaya. Kami semua percaya, dahulu. Dan kami bangkit, dan kami berkobar, dan tahukah kalian apa yang terjadi? Mereka membantai kami. Aku menguburkan saudara-saudaraku dengan tanganku sendiri, dan adikku, dan anak dari sahabatku yang belum genap lima belas tahun. Itulah yang dibeli oleh harapan. Tak ada pagi, anak-anak. Hanya ada malam, dan satu-satunya kebijaksanaan adalah menundukkan kepala dan bertahan hidup, dan menjaga anak-anakmu tetap hidup, dan tidak membiarkan seorang pengembara dengan cerita-cerita indah menyeret mereka ke kematian seperti yang menimpa saudara-saudaraku.”

Dan kata-kata itu jatuh ke atas para pemuda seperti hujan dingin, dan api yang baru dinyalakan Bagas di dada mereka meredup. Sebab apa yang bisa dikatakan oleh seorang pengembara terhadap seorang yang telah menguburkan adiknya sendiri? Cerita Bagas tentang pagi terdengar ringan dan jauh; luka Mbah Joyo terlihat dan nyata. Dan satu per satu, para pemuda menunduk.

Dan Bagas berdiri tak berdaya, sebab ia tahu cara menjawab seorang yang lupa bahwa ini malam, dan ia tahu cara menjawab seorang yang membenci, dan bahkan seorang yang menjual bangsanya. Tetapi ia tak tahu cara menjawab seorang yang tahu betul bahwa ini malam, yang pernah mencintai pagi lebih daripada Bagas sendiri, dan yang telah menyaksikan harga harapan dengan matanya sendiri. Bagaimana engkau berdebat dengan luka?

Maka malam itu Bagas pergi kepada Damar, terguncang. “Hari ini aku dikalahkan, Pak,” katanya. “Bukan oleh para tuan, melainkan oleh seorang tua yang putus asa. Dan yang terburuk adalah, aku tak bisa berkata bahwa ia salah. Ia melihat apa yang ia lihat. Ia menguburkan adiknya. Bagaimana aku membawa harapan kepada seseorang yang telah membayar begitu mahal untuk kehilangannya?” Dan Damar berkata, “Inilah ancaman yang paling halus dari semuanya, Bagas. Mari kita bawa kepada Ratu.”

❖

Maka mereka pergi ke tepi air, dan Damar menjangkau, dan berkata, “Ratu, kami menjumpai seorang tua yang pernah berkobar dan dihancurkan, dan yang kini menyebarkan keputusasaan kepada yang muda, bukan karena kebencian melainkan karena cinta, untuk melindungi mereka dari kematian yang ia saksikan. Dan luka-lukanya nyata. Ajari kami, sebab api kami meredup di hadapan duka yang sejati.”

Dan Ratu menjawab, “Dengarkan baik-baik, sebab engkau telah menjumpai wajah kedua dari satu serangan, Bagas. Ingatkah engkau pemuda pertama yang kaubangunkan, yang tak tahu bahwa ini malam sebab ia tak pernah melihat pagi? Itu adalah serangan pertama terhadap kehendak, yaitu malam yang dibuat tak terlihat, sehingga tak ada yang merindukan pagi. Mbah Joyo adalah serangan yang kedua, yaitu malam yang dibuat seakan abadi, sehingga walau orang tahu ini malam, ia berhenti percaya bahwa pagi mungkin datang. Yang pertama membunuh kerinduan dengan melupakan; yang kedua membunuhnya dengan keputusasaan. Dan keduanya melayani penakluk dengan sama setia.”

“Dan keputusasaan, Bagas, lebih sukar dilawan daripada lupa,” Ratu melanjutkan. “Sebab ia mengenakan jubah kebijaksanaan, dan ia ditopang oleh luka yang nyata. Mbah Joyo tidak berbohong. Ia memang melihat apa yang ia lihat. Saudara-saudaranya memang mati. Dan justru karena ia tidak berbohong maka kata-katanya begitu berat. Engkau tak bisa menjawabnya dengan menyangkal lukanya, sebab lukanya benar. Tetapi inilah yang harus kaulihat, anakku, yaitu bahwa Mbah Joyo benar tentang apa yang ia lihat dan salah tentang apa yang ia simpulkan.”

“Sebab apa yang sebenarnya dilihat Mbah Joyo?” kata Ratu. “Ia melihat sebuah api yang berkobar dan dihancurkan. Ia melihat, dengan mata kepalanya sendiri, kebenaran dari pelajaran yang kuajarkan kepadamu, bahwa api yang berkobar akan padam dan meninggalkan malam yang lebih gelap. Itu benar. Tetapi dari kebenaran itu ia menyimpulkan sesuatu yang salah, yaitu bahwa karena api yang berkobar gagal, maka segala api gagal, dan pagi mustahil. Ia mempelajari setengah dari pelajaranku, bahwa berkobar itu sia-sia, dan ia tak pernah sampai pada setengah yang lain, bahwa jawabannya bukan diam melainkan menyebar. Setelah kobaran itu hancur, ia menyimpulkan bahwa tak ada api yang mungkin, padahal yang sesungguhnya benar adalah bahwa ada api lain yang tak pernah ia coba.”

“Dan ada satu hal lagi, yang paling pedih,” kata Ratu, dengan lembut. “Dengan menyebarkan keputusasaan, Mbah Joyo, tanpa ia sadari, menyelesaikan pekerjaan para pembantai saudara-saudaranya. Sebab para tuan tidak membantai mereka hanya untuk membunuh dua belas pemuda. Mereka membantai mereka supaya kematian itu mengajarkan sejuta orang lain untuk berhenti berharap. Dan setiap kali Mbah Joyo berkata kepada yang muda, jangan berharap, lihatlah apa yang terjadi pada saudara-saudaraku, ia menjadi suara para pembantai itu, menyampaikan pelajaran yang mereka inginkan. Saudara-saudaranya mati melawan malam, dan kini Mbah Joyo, dalam dukanya, membuat kematian mereka menjadi pengajar keputusasaan. Itulah kekejaman yang tak ia sadari ia lakukan terhadap orang-orang yang paling ia cintai.”

❖

Dan Bagas, yang kini melihat lebih dalam, bertanya, “Maka bagaimana aku menjawabnya, Ratu, tanpa menghina lukanya? Sebab bila aku berkata kepadanya bahwa ia salah, aku menghina saudara-saudaranya yang mati. Dan bila aku berkata bahwa ia pengecut, aku berbohong, sebab ia lebih berani daripada aku; ia telah berbuat apa yang belum pernah kuberanikan.”

“Engkau tidak menjawabnya dengan berdebat, Bagas, dan tidak pula dengan menyebutnya pengecut, sebab ia bukan pengecut,” kata Ratu. “Engkau menjawabnya dengan menghormati dukanya. Duduklah bersamanya, dan biarkan ia menyebut nama-nama saudara-saudaranya yang mati, sebab seorang yang berduka selama bertahun-tahun dalam diam membutuhkan, lebih daripada segalanya, seseorang yang mau mendengar nama-nama orang yang ia kehilangan. Keputusasaannya bukan musuhmu, Bagas. Keputusasaannya adalah cintanya kepada mereka yang mati, yang tak punya tempat untuk pergi selama bertahun-tahun, dan akhirnya mengeras menjadi kepahitan. Sentuhlah cinta itu, dan engkau menyentuh hatinya.”

“Lalu, setelah engkau menghormati dukanya,” Ratu melanjutkan, “selesaikan pelajaran yang ia pelajari hanya setengah. Katakan kepadanya bahwa ia benar, bahwa berkobar itu sia-sia, bahwa saudara-saudaranya tak seharusnya berkobar. Tetapi tunjukkan kepadanya bahwa ada api yang ia tak pernah coba, api yang tak berkobar melainkan menyebar, yang tak bisa dibantai sebab ia tak berdiri di satu tempat. Dan katakan kepadanya bahwa hal yang paling menghormati saudara-saudaranya bukanlah membuat kematian mereka menjadi alasan untuk menyerah, melainkan membuatnya menjadi sebuah pelajaran yang menyelamatkan api berikutnya dari kesalahan mereka. Dengan begitu, kematian mereka bukan sia-sia, dan bukan pula pengajar keputusasaan, melainkan penjaga bagi pagi yang akan datang.”

Dan Bagas merasakan jalan terbuka. “Maka aku tidak datang untuk mengambil dukanya,” katanya pelan, “melainkan untuk memberinya tempat untuk meletakkannya. Dan aku tidak berkata bahwa saudara-saudaranya salah berharap, melainkan bahwa mereka salah dalam cara, dan bahwa harapan mereka masih hidup, hanya menunggu api yang lebih bijak. Aku mengubah kematian mereka, di mata Mbah Joyo, dari bukti bahwa pagi mustahil menjadi alasan mengapa pagi harus dijaga dengan lebih hati-hati.”

“Ya, Bagas,” kata Ratu. “Sebab keputusasaan hanya bisa disembuhkan oleh dua hal, yaitu duka yang akhirnya didengar, dan harapan yang dibuat masuk akal lagi. Bila engkau hanya membawa harapan tanpa menghormati duka, harapanmu akan terdengar seperti ejekan. Dan bila engkau hanya menghormati duka tanpa membawa harapan, engkau hanya menemaninya di dalam gelap. Bawalah keduanya, Bagas, dan engkau bisa membangunkan bahkan seorang yang telah mengubur harapannya sendiri di samping saudara-saudaranya.”

❖

Maka Bagas kembali kepada Mbah Joyo, tetapi kali ini ia tidak datang untuk berbicara tentang pagi. Ia datang dan duduk di samping orang tua itu, dan ia berkata, “Mbah, ceritakanlah kepadaku tentang mereka. Tentang adikmu. Tentang anak sahabatmu yang belum genap lima belas tahun. Aku ingin tahu nama-nama mereka.”

Dan sesuatu yang telah membeku di dalam Mbah Joyo selama bertahun-tahun mulai retak. Sebab tak seorang pun, dalam waktu yang begitu lama, pernah memintanya menyebut nama-nama itu; orang-orang hanya ingin ia melupakan, atau mereka takut pada kepahitannya. Dan ia mulai berbicara, dan air mata yang telah ia tahan selama puluhan tahun mulai mengalir, dan ia menyebut nama-nama itu, satu per satu, dan Bagas mendengarkan semuanya, tanpa terburu-buru, sampai orang tua itu selesai.

Dan ketika Mbah Joyo akhirnya diam, lelah dan ringan dengan cara yang aneh, Bagas berkata, dengan lembut, “Mbah, engkau benar. Mereka tak seharusnya berkobar seperti itu. Aku pun pernah ingin berkobar, dan seseorang yang lebih bijak menahanku, dan karena itu aku masih hidup. Saudara-saudaramu tidak salah karena berharap. Mereka hanya tidak diberi tahu bahwa ada api lain, api yang menyebar diam-diam dan tak bisa dibantai. Mereka mati karena tak ada yang mengajari mereka itu. Dan engkau, Mbah, adalah satu-satunya yang bisa memastikan tak ada lagi pemuda yang mati seperti mereka, bukan dengan menyuruh para pemuda berhenti berharap, melainkan dengan mengajari mereka berharap dengan lebih bijak.”

“Selama ini,” Bagas melanjutkan, “engkau mengira engkau melindungi para pemuda dengan membunuh harapan mereka. Tetapi pikirkanlah, Mbah, apa yang sebenarnya kaulakukan. Para tuan membantai saudara-saudaramu supaya kematian mereka mengajarkan semua orang untuk menyerah. Dan setiap kali engkau menyuruh seorang pemuda menyerah, engkau menyelesaikan pekerjaan para pembantai itu. Engkau membuat kematian adikmu menjadi guru keputusasaan. Tetapi tidak harus begitu. Engkau bisa membuat kematiannya menjadi guru kebijaksanaan, supaya api berikutnya tidak padam seperti apinya. Mana yang lebih menghormati adikmu, Mbah?”

Dan Mbah Joyo menangis lama, dan dalam tangisnya ada sesuatu yang mencair, sebuah duka yang akhirnya bergerak setelah membeku begitu lama. Dan ketika ia akhirnya berbicara, suaranya berbeda. “Selama dua puluh tahun,” katanya pelan, “aku mengira aku menjaga mereka tetap hidup di dalam ingatanku dengan memperingatkan yang muda. Padahal aku telah membuat mereka mati dua kali, sekali oleh besi, dan sekali lagi setiap kali aku menggunakan kematian mereka untuk memadamkan api. Ajari aku api yang lain itu, Nak. Aku terlalu tua untuk berkobar. Tetapi mungkin aku belum terlalu tua untuk menyebar.” Dan di dada orang tua itu, sebuah bara yang telah lama tertimbun abu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, menghangat kembali.

❖

Dan demikianlah Mbah Joyo, yang dahulu adalah suara keputusasaan di desanya, menjadi sesuatu yang lain, yaitu seorang tua yang menceritakan kepada para pemuda kisah saudara-saudaranya, bukan untuk menyuruh mereka menyerah, melainkan untuk mengajari mereka cara berharap yang tak bisa dibantai. Dan kisahnya, yang dahulu memadamkan, kini menyalakan, sebab ia kini menyertakan setengah pelajaran yang dahulu hilang.

Dan inilah pelajaran kelima zaman malam. Bahwa ada dua serangan terhadap kehendak, yaitu malam yang dibuat tak terlihat, sehingga orang lupa untuk merindukan pagi, dan malam yang dibuat seakan abadi, sehingga orang berhenti percaya pagi mungkin; bahwa keputusasaan lebih sukar dilawan daripada lupa, sebab ia mengenakan jubah kebijaksanaan dan ditopang oleh luka yang nyata; bahwa seorang yang putus asa sering kali benar tentang apa yang ia lihat dan salah tentang apa yang ia simpulkan; dan bahwa ia disembuhkan bukan dengan menyangkal dukanya melainkan dengan mendengarkannya, lalu melengkapi pelajaran yang ia pelajari hanya setengah.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kelima zaman malam, yaitu bahwa kematian mereka yang gugur melawan malam tidak boleh dibiarkan menjadi pengajar keputusasaan, sebab itulah pelajaran yang diinginkan para pembantai; melainkan harus dijadikan penjaga bagi api yang berikutnya, supaya ia tidak padam seperti yang sebelumnya; dan bahwa keputusasaan hanya sembuh oleh dua hal sekaligus, yaitu duka yang akhirnya didengar dan harapan yang dibuat masuk akal kembali.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya bahkan di dalam dada mereka yang telah mengubur harapan di samping orang-orang yang mereka cintai, menunggu seseorang yang mau mendengar nama-nama yang hilang dan menyalakan kembali bara di bawah abu. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, yang telah berduka lebih lama daripada siapa pun atas semua yang telah hilang, dan yang justru karena itu tahu bahwa duka yang didengar bisa berubah menjadi harapan, dan bahwa tak ada keputusasaan yang begitu tua sehingga tak bisa dihangatkan kembali. Dan ia menyaksikan bara di dada Mbah Joyo menyala kembali, dan ia tahu bahwa malam yang panjang, perlahan, sedang kehilangan bahkan keputusasaannya, senjatanya yang paling halus. Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan bara-bara lama yang dinyalakan kembali bersama nyala-nyala yang baru, menuju sebuah pagi yang kini dijaga bukan hanya oleh yang muda, melainkan juga oleh yang telah belajar, dengan cara yang paling pahit, betapa berharganya ia.

❖


 

BAB ENAM

Yang Pulang dengan Mata Tuan

Harsa, seorang pemuda desa yang cerdas, dididik dengan ilmu para tuan dan kembali memandang bangsanya sendiri dengan mata yang malu. Ia berkata bahwa kisah lama adalah takhayul yang membuat mereka lemah, dan bahwa jalan menuju pagi adalah berhenti bermimpi dan menjadi seperti para tuan. Tetapi Ratu mengajarinya bahwa pencurian yang paling halus bersembunyi di dalam sebuah kebenaran. Sebab Harsa benar bahwa bangsanya harus belajar, dan justru di dalam ilmu itu terletak kemampuan yang suatu hari akan membebaskannya; ia hanya salah karena menelan, bersama ilmu itu, cara melihat yang dingin yang mengubah manusia menjadi benda. Ambillah besi mereka ke dalam tanganmu, kata Ratu, tetapi jangan biarkan ia masuk ke dalam matamu.

dari ajaran para pengingat, tentang yang pulang dengan mata tuan

Di sebuah desa yang dilewati Damar dan Bagas, lahir seorang pemuda yang luar biasa cerdas, bernama Harsa, anak seorang petani, yang otaknya begitu tajam sehingga para tuan sendiri memperhatikannya dan membawanya ke sekolah-sekolah mereka, jauh dari desanya, untuk dididik dengan ilmu mereka. Dan setelah bertahun-tahun, Harsa kembali, dan ia kembali sebagai orang yang berbeda.

Sebab Harsa kini bisa berbicara tentang hal-hal yang tak pernah didengar desanya, tentang bagaimana penyakit menyebar dan bagaimana mencegahnya, tentang bagaimana mesin bekerja, tentang ukuran bintang dan bentuk dunia. Ilmunya nyata, dan ilmunya kuat. Tetapi bersama ilmu itu, ia membawa pulang sesuatu yang lain, yaitu sebuah cara memandang desanya sendiri, dan ia memandangnya kini dengan mata yang lelah dan malu.

Dan ketika Harsa mendengar bahwa seorang pengembara tua mengisi kepala para pemuda dengan kisah lama tentang Ratu di dasar laut, ia datang kepada Damar, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan semacam kasihan. “Orang tua,” katanya, dengan sopan tetapi pasti, “aku tahu engkau bermaksud baik. Tetapi inilah persis yang membuat kita lemah. Dongeng tentang ratu di laut, tentang kerikil ajaib, tentang hati yang menunggu di bawah air. Para tuan menguasai kita bukan hanya dengan senjata, melainkan karena mereka tahu cara dunia bekerja, dan kita masih bercerita tentang hantu. Bila kita ingin bebas, kita harus berhenti bermimpi dan mulai belajar. Kita harus menjadi seperti mereka, atau kita akan selamanya berada di bawah mereka.”

Dan kata-kata itu menggetarkan para pemuda, sebab tidak seperti Mbah Joyo yang membawa keputusasaan, Harsa membawa sebuah jalan, jalan yang terang dan modern dan masuk akal. Ia tidak berkata bahwa tak ada pagi; ia berkata bahwa pagi terletak pada ilmu para tuan, bukan pada kisah-kisah lama. Dan beberapa pemuda mulai berpaling dari api Bagas menuju cahaya Harsa, sebab cahaya Harsa tampak lebih cerah dan lebih nyata.

Dan Bagas merasa goyah, sebab kali ini ia tak bisa berkata bahwa lawannya sepenuhnya salah. Harsa benar bahwa para tuan memiliki ilmu yang kuat. Harsa benar bahwa ketidaktahuan adalah sebuah rantai. “Pak Damar,” katanya, “orang ini tidak membawa kebencian atau keputusasaan. Ia membawa kebenaran, atau setengah kebenaran, dan aku tak tahu cara memisahkan setengah yang benar dari setengah yang meracuni. Sebab ilmunya memang nyata, dan kita memang membutuhkannya. Lalu apa yang salah dengan apa yang ia katakan?”

❖

Maka mereka pergi ke tepi air, dan Damar menjangkau, dan berkata, “Ratu, ada seorang pemuda yang dididik dengan ilmu para tuan dan kembali memandang bangsanya sendiri dengan mata yang malu. Ia berkata bahwa kisahmu adalah takhayul yang membuat kami lemah, dan bahwa jalan menuju pagi adalah menjadi seperti para tuan. Dan kami tak bisa berkata bahwa ia sepenuhnya salah, sebab ilmunya nyata. Ajari kami cara memisahkan yang benar dari yang meracuni.”

Dan Ratu menjawab, “Engkau telah menjumpai pencurian yang paling halus dari semuanya, Bagas, sebab ia bersembunyi di dalam sebuah kebenaran. Harsa melihat sesuatu yang benar, yaitu bahwa para tuan memiliki ilmu yang nyata dan kuat, dan bahwa ketidaktahuan adalah rantai, dan bahwa bangsamu membutuhkan ilmu itu. Sampai di sini ia benar, dan engkau tak boleh menyangkalnya, sebab menyangkalnya akan menjadi kebodohan yang sesungguhnya. Tetapi dari kebenaran itu Harsa menarik sebuah kebohongan, yaitu bahwa karena cara melihat para tuan menghasilkan ilmu yang kuat, maka seluruh cara melihat mereka lebih unggul, dan bangsamu harus membuang hatinya untuk menjadi seperti mereka. Dan di situlah racunnya.”

“Sebab dengarkan baik-baik, sebab inilah yang Harsa belum belajar untuk melihat,” kata Ratu. “Ilmu para tuan, cara mengukur dunia, cara membangun mesin, cara menyembuhkan penyakit, itu adalah hal yang baik, dan ia bisa dipisahkan dari cara melihat yang dingin. Tetapi Harsa menelan keduanya sekaligus, sebab para tuan memberikannya sebagai satu paket, dan ia tak tahu bahwa keduanya bisa dipisahkan. Ia belajar cara mengukur dunia, dan bersama itu ia belajar memandang manusia sebagai sesuatu untuk diukur dan diperbaiki, termasuk ibunya sendiri, termasuk desanya sendiri. Ia mengambil besi ke dalam tangannya, yang baik, tetapi ia juga membiarkan besi itu masuk ke dalam matanya, dan kini ia memandang bangsanya sendiri dengan mata seorang tuan.”

“Dan inilah yang harus kaupahami, Bagas, sebab ia mengubah segalanya,” kata Ratu. “Bangsamu tidak hanya boleh mengambil ilmu para tuan; bangsamu harus mengambilnya. Ingatkah empat hal yang kukatakan? Yang satu masih hilang, yaitu kemampuan untuk mencapai kedalaman tempat aku terkurung. Dan kemampuan itu hanya akan lahir dari ilmu seperti yang dipelajari Harsa, ilmu mengukur dan membangun dan menjangkau. Maka membuang ilmu itu, seperti yang ditakuti sebagian orang, akan berarti membiarkan aku terkurung selamanya. Harsa benar bahwa bangsamu harus belajar. Ia hanya salah tentang apa yang harus ditinggalkan untuk belajar.”

“Maka inilah kebenaran yang harus kaubawa kepadanya,” kata Ratu. “Ambillah ilmu mereka ke dalam tanganmu, seluruhnya, sampai engkau lebih tahu daripada mereka. Tetapi jangan biarkan cara melihat mereka masuk ke dalam matamu. Pelajarilah cara mengukur dunia tanpa mempelajari cara memandang manusia sebagai benda. Besi di tangan adalah sebuah alat, dan alat itu suatu hari akan membuka penjaraku. Tetapi besi di mata adalah racun, sebab ia membuatmu memandang ibumu sendiri sebagai sesuatu yang terbelakang alih-alih seseorang yang kaucintai. Bangsa yang mengambil ilmu mereka tetapi menjaga hatinya akan menjadi lebih kuat daripada mereka, sebab ia akan memiliki keduanya, yaitu kekuatan untuk mengukur dunia dan hati untuk tidak menjadikannya gudang.”

❖

Dan Bagas bertanya, “Tetapi bagaimana aku menunjukkan kepadanya bahwa keduanya bisa dipisahkan, ketika ia telah menelannya sebagai satu? Ia akan berpikir aku menyuruhnya membuang ilmunya dan kembali ke takhayul.”

“Engkau tak akan membela takhayul, Bagas, sebab Harsa benar tentang takhayul,” kata Ratu. “Kisahku tak pernah dimaksudkan sebagai takhayul untuk ditakuti atau dipuja, melainkan sebagai ingatan akan hati. Maka katakanlah kepada Harsa bahwa engkau setuju dengannya, bahwa bangsa harus belajar, bahwa ketidaktahuan adalah rantai, bahwa ia harus menjadi yang paling terpelajar dari semua. Hormatilah hasratnya akan ilmu, sebab ia benar dan suci. Lalu, setelah engkau berdiri di sisinya tentang hal itu, tunjukkan kepadanya satu hal yang tak ia sadari telah ia ambil bersama ilmunya.”

“Dan cara menunjukkannya bukan dengan berdebat, melainkan dengan sebuah pertanyaan,” kata Ratu. “Tanyailah Harsa apa yang ia rasakan ketika ia memandang ibunya sendiri sekarang, perempuan tua yang membesarkannya, yang tak bisa membaca, yang masih percaya pada kisah-kisah lama. Bila Harsa menjawab dengan jujur, ia akan menemukan bahwa ia merasa malu, bahwa ia memandang ibunya sebagai sesuatu yang terbelakang, sebuah masalah untuk diperbaiki. Dan di sanalah, Bagas, ia akan melihat racunnya. Sebab ilmu tak pernah menuntut seseorang memandang ibunya dengan malu. Ilmu mengajari cara dunia bekerja; ia tak pernah mengajari seseorang membenci tempat asalnya. Rasa malu itu bukan ilmu. Ia adalah mata tuan, yang ia kira adalah bagian dari ilmu, padahal ia adalah racun yang menumpang bersamanya.”

“Dan tunjukkan kepadanya, Bagas, bahwa orang-orang paling besar di antara para tuan sendiri, yang paling dalam ilmunya, sering kali bukanlah yang paling dingin, melainkan yang menjaga hatinya. Sebab ilmu yang dipakai dengan hati menyembuhkan, dan ilmu yang dipakai dengan mata yang dingin hanya menguasai. Harsa bisa menjadi yang paling terpelajar dari bangsanya, dan ia bisa membawa ilmu itu pulang untuk melayani ibunya alih-alih memalukannya. Tetapi hanya bila ia memisahkan besi di tangannya dari besi di matanya. Itulah yang harus kautawarkan kepadanya, bukan agar ia berhenti belajar, melainkan agar ia belajar dengan hati yang utuh.”

Dan Bagas memahami. Tetapi Damar berkata, “Biarkan aku menemaninya kali ini, Bagas, sebab Harsa cerdas, dan ia akan mengira engkau iri pada ilmunya. Ia perlu melihat bahwa kita tidak takut pada ilmunya, melainkan justru menginginkannya untuk bangsa, dan bahwa yang kita tolak hanyalah racun yang ia tak tahu sedang ia bawa. Itu lebih mudah ditunjukkan oleh seorang tua yang jelas tak iri pada apa pun.”

❖

Maka Damar pergi kepada Harsa, dan ia tidak datang untuk membela kisah lama melawan ilmu baru. Sebaliknya ia berkata, “Harsa, engkau benar tentang banyak hal, dan aku datang untuk mengatakan itu kepadamu. Engkau benar bahwa bangsa kita harus belajar. Engkau benar bahwa ketidaktahuan adalah sebuah rantai, dan bahwa kisah yang dipakai untuk menakuti orang agar tetap bodoh adalah racun. Aku tak datang untuk menyuruhmu berhenti belajar. Aku berharap ada seribu Harsa, yang tahu segala yang para tuan tahu, dan lebih.”

Dan Harsa terkejut, sebab ia telah bersiap untuk berdebat melawan seorang yang membela takhayul, dan alih-alih ia menemukan seorang yang setuju dengannya tentang ilmu. “Maka engkau memahaminya,” katanya, agak melunak. “Aku kira engkau akan menyuruhku kembali kepada dongeng-dongeng.” Dan Damar berkata, “Tidak. Aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, dan aku memintamu menjawabnya dengan jujur, bukan kepadaku, melainkan kepada dirimu sendiri.”

“Ketika engkau memandang ibumu sekarang, Harsa,” kata Damar, “perempuan yang menjual perhiasannya yang terakhir supaya engkau bisa pergi belajar, yang tak bisa membaca satu kata pun, yang masih menyalakan dupa untuk kisah-kisah lama, apa yang kaurasakan di dalam dadamu? Jawablah dengan jujur.” Dan Harsa membuka mulutnya untuk menjawab dengan mudah, lalu berhenti. Sebab pertanyaan itu telah menyentuh sesuatu yang ia hindari. Dan setelah lama, ia berkata, pelan, dengan suara yang malu, “Aku merasa malu. Ampunilah aku, aku merasa malu padanya. Aku memandangnya dan aku melihat segala yang kucoba tinggalkan.”

Dan Damar berkata, dengan lembut, “Itu, Harsa, bukanlah ilmu. Tak ada ilmu di dunia yang menuntutmu memandang ibumu dengan malu. Ilmu mengajarimu cara penyakit menyebar dan cara bintang bergerak; ia tak pernah mengajarimu untuk merasa malu pada perempuan yang melahirkanmu. Rasa malu itu adalah sesuatu yang lain, yang kauambil dari para tuan bersama ilmu mereka, mengira ia adalah bagian darinya. Ia adalah cara mereka memandang dunia, yaitu memandang manusia sebagai sesuatu yang terbelakang atau maju, berguna atau tak berguna, untuk diperbaiki atau dibuang. Engkau mengambil besi mereka ke dalam tanganmu, dan itu baik. Tetapi engkau juga membiarkannya masuk ke dalam matamu, dan kini engkau memandang ibumu sendiri dengan mata seorang tuan.”

Dan sesuatu runtuh di dalam Harsa, sebab ia adalah seorang yang cerdas, dan seorang yang cerdas tak bisa lagi tak melihat sesuatu setelah ia ditunjukkan. “Selama ini aku mengira aku menjadi lebih baik,” katanya, dan suaranya retak. “Aku mengira aku naik, dan bahwa rasa maluku adalah tanda bahwa aku telah maju melampaui mereka. Padahal aku hanya belajar memandang bangsaku sendiri dengan mata yang sama yang dipakai para tuan untuk menginjak mereka. Aku mengambil ilmu mereka dan racun mereka, dan kukira keduanya adalah cahaya.” Dan Damar berkata, “Maka simpanlah cahayanya, Harsa, dan buanglah racunnya. Jadilah yang paling terpelajar dari bangsamu, dan bawalah ilmumu pulang untuk melayani ibumu, bukan untuk memalukannya. Sebab bangsa ini suatu hari akan membutuhkan ilmu sepertimu, tetapi ilmu yang dibawa oleh hati yang utuh, bukan oleh mata seorang tuan.”

❖

Dan demikianlah Harsa, yang pulang dengan mata seorang tuan, perlahan belajar memisahkan apa yang telah ia telan sebagai satu. Ia tidak membuang ilmunya; ia menjaganya, dan menambahnya, dan menjadi yang paling terpelajar di seluruh daerahnya. Tetapi ia membuang rasa malu pada bangsanya, dan ia mulai membawa ilmunya pulang, mengajar anak-anak desa membaca, menunjukkan cara mencegah penyakit yang dahulu membunuh, melayani dengan tangannya yang terpelajar orang-orang yang dahulu ia pandang dengan malu. Dan ia menjadi, tanpa ia ketahui, sebuah benih dari sesuatu yang jauh di masa depan, yaitu sebuah bangsa yang memiliki ilmu para tuan dan hati yang tak pernah mereka jual.

Dan inilah pelajaran keenam zaman malam. Bahwa pencurian yang paling halus bersembunyi di dalam sebuah kebenaran, sebab para tuan memberikan ilmu mereka dan cara melihat mereka sebagai satu paket, sehingga yang mengambil ilmu mengira ia harus mengambil pula racunnya; tetapi bahwa keduanya bisa dipisahkan, dan harus dipisahkan; bahwa bangsa yang ditindas tak boleh menolak ilmu sang penakluk, sebab justru di dalam ilmu itu terletak kemampuan yang suatu hari akan membebaskannya, melainkan harus mengambilnya ke dalam tangannya tanpa membiarkannya masuk ke dalam matanya; dan bahwa rasa malu pada bangsa sendiri bukanlah tanda kemajuan, melainkan tanda bahwa mata seorang tuan telah menumpang masuk bersama ilmunya.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran keenam zaman malam, yaitu bahwa ilmu mengajari cara dunia bekerja tetapi tak pernah menuntut seseorang membenci tempat asalnya; bahwa besi di tangan adalah alat yang bisa menyembuhkan dan membebaskan, sedangkan besi di mata adalah racun yang mengubah ibu sendiri menjadi sesuatu yang terbelakang; dan bahwa bangsa yang mengambil ilmu para tuan sambil menjaga hatinya akan menjadi lebih kuat daripada mereka, sebab ia akan memiliki kekuatan untuk mengukur dunia dan hati untuk tidak menjadikannya gudang.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini mulai menambahkan ke dalam simpanannya sesuatu yang baru, yaitu ilmu para penakluk, diambil ke dalam tangan-tangan yang menolak membiarkannya masuk ke dalam mata. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, dan ia menyaksikan bangsanya mulai belajar cara mengukur dan membangun dan menjangkau, dan untuk pertama kalinya ia merasakan, samar dan jauh, gerakan dari hal yang keempat, yaitu kemampuan, yang selama ini hilang, mulai ditempa bukan lagi hanya oleh para penakluk melainkan oleh tangan bangsanya sendiri. Dan ia tahu bahwa hari ketika tangan-tangan itu cukup terpelajar untuk mencapai kedalamannya, dan cukup berhati untuk ingin melakukannya, adalah hari ketika ia akan pulang. Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan bangsa yang perlahan mengambil besi itu ke dalam tangannya sendiri, menjaga matanya tetap jernih, menuju sebuah pagi yang akan dibangun dengan ilmu dan dengan hati sekaligus.

❖


 

BAGIAN III

Menjadi Satu Tubuh


 

BAB TUJUH

Ketika Api Saling Memadamkan

Bertahun-tahun berlalu, dan api yang tak terlihat telah menyebar ke ribuan hati dan ke banyak jenis orang, dan tiap jenis membawa apinya dengan caranya sendiri. Tetapi cara-cara itu mulai saling bertabrakan, dan mereka yang telah dibangunkan mulai saling memadamkan. Para terpelajar menghina para penjaga kisah, dan para penjaga kisah tak memercayai para terpelajar, dan yang muda menghina yang sabar. Dan Ratu mengajarkan bahwa inilah saat yang paling berbahaya dari seluruh malam, sebab kini malam mendapatkan pembagian itu secara cuma-cuma, oleh tangan bangsa itu sendiri. Tiap kubu benar tentang potongan kebenaran yang ia pegang, dan salah hanya karena mengira potongannya adalah keseluruhan. Sebab yang mengikat sebuah gerakan bukanlah satu cara, melainkan satu hati.

dari ajaran para pengingat, tentang ketika api saling memadamkan

Bertahun-tahun berlalu, dan api yang tak terlihat telah menyebar lebih jauh daripada yang pernah dibayangkan Bagas ketika ia masih muda. Kini bukan lagi dua belas pemuda di satu desa, melainkan ratusan, ribuan, di banyak desa dan banyak daerah, hati-hati yang telah terbangun dan kini menjaga nyala masing-masing. Damar telah menjadi sangat tua, dan Bagas, yang dahulu pemuda, kini seorang lelaki yang dihormati, yang kepadanya orang-orang dari jauh datang untuk mendengar.

Tetapi bersama penyebaran itu, datang sebuah bahaya yang tak pernah diduga Bagas. Sebab api telah menyebar ke begitu banyak jenis orang, dan tiap jenis membawa apinya dengan caranya sendiri, dan kini cara-cara itu mulai saling bertabrakan. Dan Bagas, yang telah menghadapi tuan dan demang dan keputusasaan, kini menghadapi sesuatu yang lebih memilukan, yaitu mereka yang telah ia bangunkan mulai saling memadamkan.

Sebab para terpelajar, yang seperti Harsa telah belajar memisahkan ilmu dari racunnya, memandang para penjaga kisah di desa-desa sebagai orang yang masih terbelakang, yang menahan bangsa dengan takhayulnya. Dan para penjaga kisah memandang para terpelajar sebagai orang yang setengah asing, yang terlalu dingin, yang tak bisa dipercaya. Dan para pemuda yang berapi-api memandang yang sabar sebagai pengecut. Dan yang sabar memandang yang berapi-api sebagai orang bodoh yang akan membawa bencana. Dan masing-masing yakin bahwa caranya adalah satu-satunya cara yang benar.

Dan perlahan, gerakan yang seharusnya satu mulai terpecah menjadi kubu-kubu yang saling mencurigai, dan menghabiskan lebih banyak api untuk saling menyerang daripada untuk melawan malam. Dan yang paling pahit bagi Bagas adalah bahwa para tuan tak perlu berbuat apa-apa untuk ini. Tidak seperti dahulu, ketika para penakluk mengadu desa melawan desa, kini bangsanya sendiri yang mengadu dirinya, tanpa ada yang menyuruh.

Dan Bagas pergi kepada Damar, yang kini terbaring lemah karena usia, dan ia berkata dengan getir, “Pak, aku telah membangunkan mereka semua, dan kini mereka saling memerangi. Para terpelajar menghina para penjaga kisah, dan para penjaga kisah tak memercayai para terpelajar, dan yang muda menghina yang sabar. Aku menghabiskan hidupku menyalakan api ini, dan kini api-api itu saling memadamkan. Apakah aku telah keliru sejak awal?” Dan Damar, dengan suara yang lemah tetapi tenang, berkata, “Bawa aku ke tepi air, Bagas. Ini adalah ujian yang harus kaulewati sebelum aku pergi.”

❖

Maka Bagas memapah Damar yang tua ke tepi air, dan keduanya menjangkau ke dalam kedalaman, dan Bagas menumpahkan kepedihannya. “Ratu, mereka yang kami bangunkan kini saling memadamkan. Gerakan yang seharusnya satu terpecah menjadi kubu-kubu yang saling membenci. Dan para tuan tak perlu berbuat apa-apa; kami melakukannya kepada diri kami sendiri. Apakah membangunkan mereka adalah sebuah kesalahan?”

Dan Ratu menjawab, “Tidak, Bagas, membangunkan mereka bukanlah kesalahan. Tetapi engkau telah sampai pada saat yang paling berbahaya dari seluruh malam, lebih berbahaya daripada para tuan dengan besinya. Sebab para tuan, untuk membagi bangsamu, harus bekerja keras, harus mengadu dan menyuap dan berbohong. Tetapi pada saat ini, malam mendapatkan pembagian itu secara cuma-cuma, sebab yang terbangun membaginya sendiri. Tak ada senjata penakluk yang lebih murah daripada sebuah gerakan yang memerangi dirinya sendiri.”

“Dan inilah yang paling pedih, Bagas,” Ratu melanjutkan. “Tiap kubu benar tentang sesuatu. Para terpelajar benar bahwa bangsa membutuhkan ilmu. Para penjaga kisah benar bahwa bangsa membutuhkan hati. Yang berapi-api benar bahwa bangsa harus bertindak. Yang sabar benar bahwa bangsa tak boleh berkobar dan padam. Yang beriman benar bahwa kerinduan ini suci. Masing-masing memegang sepotong kebenaran. Tetapi masing-masing telah melakukan kesalahan yang sama, yaitu mengira bahwa potongannya adalah seluruh kebenaran, dan memandang hina mereka yang memegang potongan yang lain. Dan begitulah gerakan yang kuat justru karena ia memegang semua potongan, mencabik dirinya sendiri dengan memaksa setiap orang memegang hanya satu.”

“Bayangkan sebuah tubuh, Bagas,” kata Ratu. “Tangan, dan mata, dan kaki, dan jantung. Tiap bagian berbeda, dan tiap bagian melakukan hal yang tak bisa dilakukan bagian lain. Tubuh itu kuat justru karena ia memiliki semuanya. Tetapi bayangkan bila tangan berkata kepada mata, karena engkau tak bisa menggenggam, engkau tak berguna; dan mata berkata kepada kaki, karena engkau tak bisa melihat, engkau hina. Tubuh seperti itu akan lumpuh, bukan karena ia lemah, melainkan karena bagian-bagiannya memerangi satu sama lain. Itulah yang sedang terjadi pada gerakanmu, Bagas. Bukan kelemahan yang membunuhnya, melainkan bagian-bagiannya yang lupa bahwa mereka adalah satu tubuh.”

Dan Bagas bertanya, “Maka apa yang harus kulakukan, Ratu? Aku tak bisa membuat para terpelajar berpikir seperti para penjaga kisah, dan aku tak bisa membuat yang muda bersabar seperti yang tua. Mereka tak akan pernah sepakat tentang cara. Apakah aku harus memaksa mereka semua menjadi satu cara?”

❖

“Tidak, Bagas, dan inilah kesalahan yang justru memperdalam perpecahan,” kata Ratu. “Jangan pernah mencoba membuat mereka menjadi satu cara. Keberagaman cara mereka bukanlah kelemahan gerakan, melainkan kekuatannya. Engkau membutuhkan para terpelajar dan engkau membutuhkan para penjaga kisah; engkau membutuhkan yang berapi-api dan engkau membutuhkan yang sabar. Bila engkau memaksa semuanya menjadi satu cara, engkau hanya akan membuat gerakanmu kehilangan setengah dari kekuatannya, dan engkau hanya akan mengganti perpecahan dengan kemiskinan. Yang mengikat sebuah gerakan bukanlah satu cara. Ia adalah satu hati dan satu tujuan.”

“Sebab di bawah segala perbedaan cara mereka,” Ratu melanjutkan, “mereka semua memikul satu hati yang sama, bila saja mereka mau melihatnya. Para terpelajar dan para penjaga kisah dan yang muda dan yang tua, semuanya membawa kebenaran yang sama yang telah dijaga sejak banjir besar, yaitu bahwa tanah ini satu, bahwa tak seorang pun boleh ditinggalkan, bahwa pagi adalah milik semua dan bukan milik satu kubu. Itulah hati yang sama di bawah seribu cara. Dan tugasmu, Bagas, bukanlah membuat mereka memegang satu cara, melainkan mengingatkan mereka bahwa mereka memikul satu hati.”

“Dan caranya, Bagas, adalah mengajari tiap kubu untuk menghormati apa yang dipegang kubu yang lain, yang tak ia miliki sendiri,” kata Ratu. “Ajari para terpelajar untuk menghormati hati para penjaga kisah, sebab ilmu tanpa hati hanyalah cara melihat yang dingin dengan wajah yang baru. Ajari para penjaga kisah untuk menghormati ilmu para terpelajar, sebab hati tanpa ilmu tak akan pernah bisa mencapai kedalaman tempat aku terkurung. Ajari yang muda untuk menghormati kesabaran yang tua, dan yang tua untuk menghormati keberanian yang muda. Bila tiap kubu bisa melihat bahwa ia membutuhkan apa yang dipegang kubu yang lain, maka mereka berhenti menjadi saingan dan menjadi anggota dari satu tubuh.”

“Dan sebuah gerakan yang bisa memegang semua potongannya tanpa ada potongan yang menghina yang lain, Bagas, adalah gerakan yang tak bisa ditaklukkan,” kata Ratu. “Sebab ia memiliki segalanya yang dibutuhkan untuk pagi, yaitu ilmu dan hati dan keberanian dan kesabaran dan iman, semuanya dalam satu tubuh. Tetapi sebuah gerakan yang memaksa semua orang memegang satu potongan telah kalah sebelum para tuan mengangkat satu jari pun, sebab ia telah membuang sendiri sebagian besar dari kekuatannya. Pilihannya, Bagas, bukanlah antara satu cara dan banyak cara. Pilihannya adalah antara banyak cara yang diikat oleh satu hati, dan banyak cara yang saling memerangi. Yang pertama tak terkalahkan. Yang kedua melayani malam.”

Dan Bagas merasakan jalan terbuka. “Maka aku tidak datang untuk menengahi siapa yang benar tentang cara,” katanya pelan, “sebab mereka semua benar tentang potongannya masing-masing. Aku datang untuk mengingatkan mereka bahwa di bawah potongan-potongan itu, mereka memikul satu hati, dan untuk mengajari tiap potongan menghormati apa yang dipegang potongan yang lain. Aku bukan menyatukan cara mereka. Aku menyatukan hati mereka, dan membiarkan cara mereka tetap banyak.” Dan Damar yang tua, mendengar ini, tersenyum lemah, sebab ia tahu Bagas kini telah memahami sesuatu yang membuatnya siap memikul beban sendiri.

❖

Maka Bagas mengumpulkan kubu-kubu yang bertikai, dan di antara mereka adalah Harsa, kini seorang terpelajar yang dihormati dengan banyak pengikut muda, dan seorang penjaga kisah tua bernama Mbok Ginah, yang telah menyimpan legenda di desanya selama puluhan tahun. Dan keduanya saling memandang dengan curiga, sebab pengikut Harsa menyebut Mbok Ginah penyebar takhayul, dan Mbok Ginah menyebut Harsa dan kawan-kawannya anak-anak yang telah kehilangan jiwanya kepada para tuan.

Dan Bagas tidak bertanya siapa yang benar. Sebaliknya ia bertanya kepada Harsa, “Harsa, katakanlah dengan jujur, apa yang engkau takutkan akan hilang dari bangsa ini bila hanya para penjaga kisah yang memimpin?” Dan Harsa berkata, “Aku takut kita akan tetap miskin dan sakit dan lemah, terlalu sibuk dengan dunia roh untuk membangun dunia yang nyata.” Lalu Bagas bertanya kepada Mbok Ginah, “Dan engkau, Mbok, apa yang engkau takutkan akan hilang bila hanya para terpelajar yang memimpin?” Dan Mbok Ginah berkata, “Aku takut kita akan menjadi kuat dan pandai dan kehilangan satu-satunya hal yang membuat kita layak disebut bangsa, yaitu hati kita.”

Dan Bagas berkata, “Dengarkan kalian berdua. Harsa takut bangsa ini tetap lemah. Mbok Ginah takut bangsa ini kehilangan hatinya. Dan tahukah kalian apa yang baru saja kalian lakukan? Kalian baru saja menyebutkan, masing-masing, persis hal yang dijaga oleh yang lain. Harsa, perempuan yang kaupandang sebagai penyebar takhayul ini adalah penjaga dari satu-satunya hal yang kautakut hilang. Dan Mbok, anak yang kaupandang telah kehilangan jiwanya ini adalah penjaga dari satu-satunya hal yang bisa membuat bangsa ini cukup kuat untuk bertahan hidup. Kalian bukan musuh. Kalian masing-masing menjaga separuh dari apa yang dibutuhkan bangsa ini, dan kalian saling membenci karena tak melihat bahwa separuh kalian membutuhkan separuh yang lain.”

Dan ada keheningan yang panjang, dan kemudian sesuatu berubah di wajah Harsa, dan ia berkata, pelan, kepada Mbok Ginah, “Bila bangsa ini menjadi seperti para tuan, kuat dan pandai dan tanpa hati, maka tak ada gunanya kita bebas, sebab kita hanya akan menjadi penindas yang baru. Engkau menjaga hal yang akan membuat kebebasan kami layak diperjuangkan.” Dan Mbok Ginah, dengan mata yang berkaca, berkata kepada Harsa, “Dan engkau menjaga hal yang akan membuat kebebasan kami mungkin sama sekali. Hatiku saja tak akan pernah bisa mengusir besi para tuan. Aku membutuhkan ilmumu, Nak, sama seperti engkau membutuhkan hatiku.”

Dan pada hari itu, sebuah ikatan terbentuk yang tak pernah ada sebelumnya, bukan kesepakatan tentang cara, sebab Harsa tetap seorang terpelajar dan Mbok Ginah tetap seorang penjaga kisah, melainkan pengakuan bahwa mereka adalah dua tangan dari satu tubuh. Dan Bagas membawa pengakuan itu dari kubu ke kubu, dari yang muda kepada yang tua, dari yang berapi-api kepada yang sabar, tidak pernah menyatukan cara mereka, selalu menyatukan hati mereka. Dan perlahan, ribuan api kecil yang telah mulai saling memadamkan berhenti saling memerangi, dan mulai, untuk pertama kalinya, menyala sebagai satu.

❖

Dan demikianlah gerakan yang nyaris terpecah menjadi satu tubuh, bukan dengan menjadi seragam, melainkan dengan belajar bahwa keberagamannya adalah kekuatannya, asalkan ia diikat oleh satu hati. Dan Damar yang tua menyaksikan ini dengan damai, sebab ia tahu bahwa sebuah gerakan yang telah belajar memegang semua potongannya tanpa saling menghina adalah gerakan yang telah siap, ketika waktunya tiba, untuk bangkit sebagai satu.

Dan inilah pelajaran ketujuh zaman malam. Bahwa saat yang paling berbahaya bagi sebuah gerakan bukanlah ketika para tuan membaginya, melainkan ketika ia membagi dirinya sendiri, sebab pembagian itu didapat malam secara cuma-cuma; bahwa tiap kubu di dalam gerakan sering kali benar tentang potongan kebenaran yang ia pegang, dan salah hanya karena mengira potongannya adalah keseluruhan dan menghina mereka yang memegang potongan yang lain; dan bahwa yang mengikat sebuah gerakan bukanlah satu cara melainkan satu hati dan satu tujuan, sehingga sebuah gerakan yang memegang semua potongannya tanpa ada yang saling menghina tak bisa ditaklukkan, sedangkan yang memaksa semua orang memegang satu potongan telah kalah sebelum dilawan.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran ketujuh zaman malam, yaitu bahwa sebuah tubuh yang bagian-bagiannya saling memerangi akan lumpuh bukan karena lemah melainkan karena lupa bahwa ia satu; bahwa keberagaman cara adalah kekuatan sebuah bangsa, bukan kelemahannya, asalkan ia diikat oleh hati yang sama; dan bahwa tugas yang menyatukan bukanlah membuat semua orang sama, melainkan mengajari tiap orang menghormati apa yang dipegang orang lain, yang ia sendiri tak miliki.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini belajar memikulnya bukan dengan satu tangan melainkan dengan banyak tangan dari satu tubuh, yang berbeda-beda cara tetapi satu hati. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, dan ia menyaksikan ribuan api kecil yang dahulu saling memadamkan kini menyala sebagai satu, dan ia mengenali di dalamnya bentuk dari sesuatu yang belum pernah ada di tanah ini, yaitu bukan banyak desa dan banyak daerah dan banyak kubu, melainkan satu bangsa yang mulai mengenal dirinya sebagai satu. Dan ia tahu bahwa ketika banyak yang berbeda telah belajar menjadi satu tubuh, hari kebangkitan, dan hari ia akan pulang, telah mendekat satu langkah besar. Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan banyak nyala yang akhirnya menyala sebagai satu, menuju sebuah pagi yang akan menjadi milik sebuah bangsa yang utuh.

❖


 

BAB DELAPAN

Racun yang Ditinggalkan

Setelah ribuan api menyala sebagai satu, gerakan itu menjadi sebuah ancaman yang nyata, dan para tuan menjawab dengan menyusupkan telik sandi ke dalamnya. Penangkapan dimulai, dan rasa curiga mulai memakan kepercayaan yang baru terikat. Tetapi Ratu mengajarkan bahwa seorang mata-mata membawa dua senjata, yaitu nama-nama yang ia bawa keluar, yang kecil, dan rasa curiga yang ia tinggalkan, yang besar; dan bahwa sebuah gerakan yang menjadi penuh curiga menyelesaikan sendiri pekerjaan sang mata-mata, dengan mengubah tempat hati menjadi tempat ketakutan. Sebab keterbukaan sebuah gerakan adalah sekaligus kelemahannya yang terbesar dan kekuatannya yang terbesar, dan hati yang sungguh-sungguh bisa membalikkan bahkan tangan yang dikirim untuk menghancurkannya.

dari ajaran para pengingat, tentang racun yang ditinggalkan

Setelah ribuan api menyala sebagai satu, gerakan itu menjadi, untuk pertama kalinya, sebuah hal yang ditakuti para tuan. Sebab selama ia hanya berupa bisikan-bisikan yang terpisah, ia bisa diabaikan; tetapi sebuah bangsa yang mulai mengenal dirinya sebagai satu adalah ancaman yang nyata. Maka para tuan menjawab, bukan hanya dengan besi, melainkan dengan sesuatu yang lebih halus, yaitu dengan menyusupkan telik sandi ke dalam gerakan itu.

Dan tak lama kemudian, hal-hal mulai terjadi yang seharusnya tak mungkin. Orang-orang ditangkap yang namanya seharusnya hanya diketahui di dalam lingkaran kepercayaan. Pertemuan-pertemuan digerebek yang waktunya seharusnya rahasia. Dan perlahan, kebenaran yang dingin menyebar di antara mereka, yaitu bahwa ada seorang di antara mereka sendiri yang menjual mereka kepada para tuan.

Dan sesuatu mulai membusuk di dalam gerakan yang baru saja belajar menjadi satu. Sebab kepercayaan yang dengan susah payah dibangun Bagas, yang mengikat para terpelajar dan para penjaga kisah dan yang muda dan yang tua menjadi satu tubuh, kini mulai dimakan oleh rasa curiga. Tiap orang mulai memandang tetangganya dan bertanya, apakah engkau? Pintu-pintu yang dahulu terbuka untuk menyambut hati-hati baru kini tertutup, sebab tiap wajah baru dicurigai sebagai mata-mata. Api yang menyebar dengan menyambut orang asing kini membeku menjadi ketakutan yang menolak siapa pun yang tak dikenal.

Dan Bagas merasakan seluruh kerja hidupnya terancam. Sebab gerakan yang ia satukan kini mengoyak dirinya sendiri dengan kecurigaan, dan ia sendiri tergoda untuk menutup pintu, untuk berhenti menyambut yang baru, untuk mulai mencurigai semua orang demi menemukan satu pengkhianat. “Pak Damar,” katanya kepada gurunya yang kini hampir tak bisa bangkit, “ada mata-mata di antara kami, dan rasa curiga sedang membunuh segala yang telah kita bangun. Haruskah aku menutup gerakan ini, menyaring tiap orang, berhenti memercayai sampai pengkhianat ditemukan?”

Dan Damar, dengan napas yang tinggal sedikit, berkata, “Hati-hati, Bagas, sebab di sini terletak sebuah perangkap yang lebih dalam daripada sang mata-mata itu sendiri. Bawa aku ke air sekali lagi. Ratu harus mengajarkan ini kepadamu, sebab aku tak akan lama lagi bersamamu untuk menjaganya.”

❖

Maka untuk yang kesekian kalinya, Bagas memapah gurunya yang sekarat ke tepi air, dan keduanya menjangkau ke dalam kedalaman, dan Bagas berkata, “Ratu, para tuan telah menyusupkan seorang pengkhianat ke dalam kami, dan ia membawa keluar nama-nama kami. Tetapi yang lebih buruk, rasa curiga kini memakan kepercayaan yang baru kami bangun. Haruskah aku menutup gerakan ini dan mencurigai semua orang demi menemukannya?”

Dan Ratu menjawab, “Dengarkan dengan sangat hati-hati, Bagas, sebab inilah salah satu perangkap yang paling licik dari seluruh malam. Sang mata-mata membawa dua senjata, bukan satu. Senjata pertama adalah nama-nama yang ia bawa keluar, dan itu nyata, dan ia melukai, dan beberapa dari kalian akan ditangkap karenanya. Tetapi senjata pertama itu kecil. Seorang mata-mata hanya bisa membawa beberapa nama. Senjata yang kedua jauh lebih besar, dan itulah yang sebenarnya dikirim para tuan untuk ia tanam, yaitu rasa curiga yang ia tinggalkan di belakangnya.”

“Sebab pikirkanlah, Bagas,” Ratu melanjutkan. “Satu mata-mata membawa sepuluh nama. Tetapi rasa takut akan mata-mata, bila ia berakar, membuat seribu orang saling mencurigai, menutup pintu yang dahulu terbuka, berhenti menyambut hati-hati baru, dan mengoyak kepercayaan yang menjadi nyawa gerakan itu. Maka satu mata-mata, dengan rasa curiga yang ia tanam, bisa melumpuhkan apa yang tak bisa ia lumpuhkan dengan sepuluh nama. Bila engkau menutup gerakan ini dan mencurigai semua orang, Bagas, engkau tak menggagalkan sang mata-mata. Engkau menyelesaikan pekerjaannya untuknya. Engkau mengubah sebuah tempat hati menjadi sebuah tempat ketakutan, dan itulah persis malam yang diinginkan para tuan.”

“Maka engkau berdiri di hadapan sebuah pilihan yang tampak mustahil,” kata Ratu. “Bila engkau tetap terbuka, seorang mata-mata bisa masuk, dan beberapa akan terluka. Tetapi bila engkau menutup diri dan mencurigai semua orang, engkau membunuh keterbukaan yang menyebarkan apimu sejak awal, dan engkau membusuk dari dalam. Yang satu membiarkan masuk sedikit racun dari luar; yang lain menumbuhkan racun di seluruh tubuh dari dalam. Dan banyak gerakan, karena takut pada racun yang sedikit dari luar, telah meminum racun yang lebih besar dari dalam, dan mati oleh tangan sendiri sambil mengira mereka melindungi diri.”

Dan Bagas bertanya, “Maka apa yang harus kulakukan, Ratu? Aku tak bisa berpura-pura tak ada mata-mata; ia nyata, dan orang-orang ditangkap. Tetapi aku juga tak bisa membiarkan rasa curiga membunuh kami dari dalam. Bagaimana aku tetap terbuka tanpa menjadi bodoh, dan tetap waspada tanpa menjadi racun?”

❖

“Inilah kebenaran yang paling sulit dan paling indah, Bagas,” kata Ratu. “Keterbukaanmu, kesediaanmu menyambut dan membangunkan bahkan orang asing, adalah sekaligus kelemahanmu yang terbesar dan kekuatanmu yang terbesar. Ia kelemahan, sebab seorang mata-mata bisa berjalan masuk melalui pintu yang terbuka. Tetapi ia kekuatan, sebab, ingatkah engkau, hati bisa membangunkan bahkan orang yang dikirim untuk menghancurkannya. Ingatkah demang yang hatinya terkubur? Ingatkah serdadu muda yang kaulepaskan? Sebuah hati yang dikelilingi oleh cinta yang sungguh-sungguh tak tinggal tak tersentuh.”

“Maka pertahanan yang paling dalam terhadap seorang mata-mata bukanlah tembok, Bagas,” Ratu melanjutkan. “Ia adalah hati yang begitu sungguh-sungguh sehingga ia mengubah. Seorang mata-mata yang dikirim ke dalam sebuah tempat ketakutan akan pulang dengan nama-nama. Tetapi seorang mata-mata yang dikirim ke dalam sebuah tempat hati yang sejati, yang menyaksikan orang-orang memberi makan yang lapar, melindungi yang lemah, menolak membenci bahkan musuh mereka, dan menyambutnya sendiri sebagai saudara, mata-mata seperti itu sedang dikepung oleh hal yang persis ia dikirim untuk dikhianati. Dan hal itu mulai bekerja di dalam dirinya. Engkau tak bisa menghentikan tiap mata-mata dengan menjadi benteng ketakutan. Tetapi engkau bisa membuat tempatmu begitu sungguh-sungguh sebuah tempat hati sehingga bahkan mata-mata, pada akhirnya, bisa dibalikkan.”

“Ini tidak berarti engkau harus bodoh, Bagas,” kata Ratu. “Ada kebijaksanaan yang benar. Simpanlah rencanamu yang paling dalam dengan hati-hati; jangan letakkan seluruh hidup gerakan di tangan seorang yang baru kaukenal. Kebijaksanaan seperti itu bukanlah rasa curiga; ia adalah kehati-hatian. Tetapi nilailah orang dari buahnya sepanjang waktu, dari hati yang mereka tunjukkan dalam perbuatan, bukan dari ketakutan yang kaurasakan terhadap wajah yang asing. Yang bijak menyimpan keduanya, yaitu cukup kehati-hatian untuk tidak naif, dan cukup keterbukaan untuk tidak menjadi malam itu sendiri. Sebab sebuah gerakan yang kehilangan kehati-hatian akan dilukai dari luar, tetapi sebuah gerakan yang kehilangan keterbukaan akan mati dari dalam, dan kematian dari dalam jauh lebih pasti.”

Dan Bagas merasakan beban kecurigaan terangkat. “Maka aku tidak berburu mata-mata dengan racun yang akan membunuh kami semua,” katanya pelan. “Aku menjaga rencana terdalam kami dengan hati-hati, ya, tetapi aku menjaga pintu kami tetap terbuka, dan aku membuat tempat kami begitu sungguh-sungguh sebuah tempat hati sehingga seorang mata-mata yang masuk akan menemukan dirinya dikepung oleh hal yang ia dikirim untuk dihancurkan. Aku tidak melawan mata-mata dengan menjadi seperti para tuan. Aku melawannya dengan menjadi lebih sungguh-sungguh apa adanya kami.”

“Ya, Bagas,” kata Ratu. “Dan ketahuilah ini, sebab ia adalah rahasia yang paling dalam dari seluruh perlawanan ini. Para tuan bisa mengirim besi, dan engkau bisa dilukai. Mereka bisa mengirim mata-mata, dan beberapa namamu bisa terbawa. Tetapi mereka tak punya senjata untuk melawan sebuah hati yang menolak menjadi takut dan menolak menjadi dingin, sebab hati seperti itu mengubah segala yang menyentuhnya, bahkan tangan yang dikirim untuk menghancurkannya. Itulah satu-satunya benteng yang tak pernah bisa mereka tembus, sebab ia bukan tembok, melainkan justru ketiadaan tembok yang dijaga oleh cinta yang sungguh-sungguh.”

❖

Dan ada memang seorang mata-mata di antara mereka, seorang bernama Resa, yang telah dikirim para tuan, dan yang telah membawa keluar beberapa nama. Tetapi Resa tidak menemukan apa yang ia harapkan. Ia telah dikirim ke dalam apa yang ia kira adalah sarang pemberontak yang penuh kebencian, dan sebaliknya ia menemukan orang-orang yang memberi makan janda yang kelaparan, yang menyembunyikan anak yatim, yang menolak membenci bahkan para serdadu, dan yang menyambutnya, dirinya sendiri, sebagai seorang saudara, tanpa tahu siapa ia sebenarnya.

Dan sesuatu mulai retak di dalam Resa, sebab ia adalah seorang manusia, dan seorang manusia tak bisa berada di tengah cinta yang sungguh-sungguh untuk waktu yang lama tanpa tersentuh olehnya. Tiap nama yang ia bawa keluar kini terasa lebih berat, sebab ia tahu wajah-wajah di baliknya, dan ia tahu kebaikan mereka. Dan datang malam ketika para tuan menuntut darinya hal yang terbesar, yaitu tempat dan waktu sebuah pertemuan besar, dan nama orang yang memimpinnya, yang adalah Bagas sendiri.

Dan Resa tak bisa melakukannya. Ia datang kepada Bagas, gemetar, dan menjatuhkan dirinya, dan mengakui segalanya, siapa ia, dan apa yang telah ia lakukan, dan nama-nama yang telah ia bawa keluar. “Aku adalah mata-mata yang kaucari,” katanya. “Aku telah menjual beberapa dari kalian. Lakukanlah kepadaku apa yang pantas. Aku hanya tak bisa lagi menyerahkan orang-orang yang telah memperlakukanku sebagai saudara, walau mereka tak tahu apa adanya aku.”

Dan para pemuda, ketika mereka tahu, ingin membunuhnya, sebab ia telah menyebabkan saudara-saudara mereka ditangkap. Tetapi Bagas, yang baru saja belajar pelajarannya, menahan mereka. “Bila kita membunuhnya dalam kemarahan,” katanya, “kita membuktikan bahwa kita adalah sarang yang dikira para tuan, dan kita membiarkan besi masuk ke dalam hati kita. Tetapi lihatlah apa yang telah terjadi. Mereka mengirimnya untuk menghancurkan kita, dan justru hati kita yang menghancurkan tugasnya. Ia datang sebagai mata-mata, dan ia berdiri di sini sebagai orang yang terbangun. Kita tidak menang dengan membunuh pengkhianat. Kita menang dengan mengubahnya menjadi saudara.”

Dan mereka tidak membunuh Resa. Dan Resa, yang datang membawa kematian bagi mereka dan menemukan dirinya diberi hidup, menjadi salah seorang yang paling setia di antara mereka, dan pengetahuannya tentang cara kerja para tuan, yang dahulu dipakai untuk mengkhianati, kini dipakai untuk melindungi. Namun Bagas tak pernah melupakan harga yang nyata, yaitu mereka yang telah ditangkap karena nama-nama yang dibawa Resa, dan ia menjaga rencana terdalam gerakan dengan kehati-hatian yang ia pelajari, sebab keterbukaan hati tak pernah berarti kehilangan kebijaksanaan. Tetapi ia tak pernah lagi membiarkan rasa curiga menutup pintu yang menyebarkan apinya, sebab ia kini tahu bahwa pintu yang terbuka, yang dijaga oleh hati yang sungguh-sungguh, adalah benteng yang lebih kuat daripada tembok mana pun.

❖

Dan demikianlah gerakan itu melewati ujian yang telah membunuh banyak gerakan sebelum waktunya, bukan dengan menjadi benteng ketakutan, melainkan dengan tetap menjadi tempat hati yang begitu sungguh-sungguh sehingga ia mengubah bahkan tangan yang dikirim untuk menghancurkannya. Dan Damar yang sangat tua menyaksikan ini, dan ia tahu bahwa Bagas kini telah belajar salah satu pelajaran terakhir yang ia butuhkan.

Dan inilah pelajaran kedelapan zaman malam. Bahwa seorang mata-mata membawa dua senjata, yaitu nama-nama yang ia bawa keluar, yang kecil, dan rasa curiga yang ia tinggalkan, yang besar; bahwa sebuah gerakan yang menjadi penuh curiga menyelesaikan sendiri pekerjaan sang mata-mata, dengan mengubah tempat hati menjadi tempat ketakutan; dan bahwa pertahanan yang paling dalam bukanlah tembok melainkan hati yang begitu sungguh-sungguh sehingga ia mengubah bahkan yang dikirim untuk menghancurkannya, dijaga oleh kehati-hatian yang bijak tetapi tak pernah oleh rasa curiga yang membusukkan dari dalam.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kedelapan zaman malam, yaitu bahwa keterbukaan sebuah gerakan adalah sekaligus kelemahannya yang terbesar dan kekuatannya yang terbesar; bahwa sebuah gerakan dilukai dari luar oleh hilangnya kehati-hatian, tetapi dibunuh dari dalam oleh hilangnya keterbukaan, dan kematian dari dalam jauh lebih pasti; dan bahwa sebuah hati yang menolak menjadi takut dan menolak menjadi dingin adalah satu-satunya benteng yang tak pernah bisa ditembus para penakluk, sebab ia bukan tembok melainkan cinta yang mengubah segala yang menyentuhnya.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya dengan pintu yang tetap terbuka, dijaga bukan oleh tembok melainkan oleh hati yang begitu sungguh-sungguh sehingga bahkan pengkhianat dibalikkan menjadi saudara. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, yang selama empat belas ribu tahun telah belajar bahwa satu-satunya hal yang tak pernah bisa dipenjarakan adalah sebuah hati yang menolak menjadi dingin, dan yang kini menyaksikan bangsanya menjaga hati itu utuh bahkan di bawah mata-mata para tuan. Dan ia tahu bahwa sebuah bangsa yang telah belajar untuk bersatu, dan untuk tidak membenci, dan untuk tidak terpecah, dan kini untuk tidak menjadi takut, adalah bangsa yang nyaris siap untuk pagi. Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan sebuah gerakan yang pintunya tetap terbuka dan hatinya tetap utuh, menuju sebuah fajar yang kini terasa, untuk pertama kalinya, tidak lagi jauh.

❖


 

BAB SEMBILAN

Pelita yang Tak Sempat Melihat Pagi

Dan datanglah hari yang telah lama dirasakan mendekat, yaitu hari ketika Damar, yang membawa pelita melalui seluruh malam yang panjang, harus pergi tepat ketika fajar mulai terasa tidak lagi jauh. Ia membawa bangsanya sampai ke ambang pagi, dan tak akan melihatnya dengan matanya. Tetapi sebelum ia pergi, ia menyerahkan nyala itu kepada tangan berikutnya, dan menitipkan ujian yang belum pernah dihadapi siapa pun, yaitu bukan menjaga hati di dalam gelap penindasan, melainkan menjaga hati di dalam terang kuasa. Sebab sebuah bangsa yang menang tanpa hatinya hanya mengganti satu malam dengan malam yang lain. Dan di dasar laut, seorang perempuan berduka bagi pembawa pelita yang setia, dan untuk pertama kalinya melihat bentuk dari akhir penjaranya.

dari ajaran para pengingat, tentang pelita yang tak sempat melihat pagi

Dan datanglah hari yang telah lama dirasakan Bagas mendekat, yaitu hari ketika Damar, yang telah membawa pelita melalui seluruh malam yang panjang, terbaring sekarat di sebuah gubuk dekat laut selatan, dan tak akan bangkit lagi. Ia telah menjadi sangat tua, lebih tua daripada yang pernah dikira siapa pun bisa dicapai seorang manusia, sebab ia telah memikul nyala itu sejak ia melangkah melalui gerbang yang runtuh ke dalam malam, bertahun-tahun yang lalu, ketika Bagas belum lahir.

Dan ada sebuah kepedihan yang khusus dalam kematiannya, sebab ia mati persis ketika fajar mulai terasa tidak lagi jauh. Ia telah membawa bangsanya melalui seluruh kegelapan, telah membangunkannya dari kelupaan, telah menjaganya dari kebencian dan keputusasaan dan perpecahan dan ketakutan, telah membawanya sampai ke ambang pagi. Dan kini, ketika pagi itu hampir tiba, ia harus pergi tanpa pernah melihatnya. Pelita yang telah menyala sepanjang malam tak akan menyala untuk menyaksikan matahari.

Dan Bagas, yang berlutut di sisinya, tak bisa menahan kepedihannya. “Pak, ini tidak adil,” katanya. “Engkau yang membawa kami melalui seluruh malam. Engkau yang berhak melihat pagi. Bertahanlah sedikit lagi. Fajar sudah dekat; engkau sendiri yang mengatakannya. Lihatlah dahulu pagi yang kaubuat mungkin, baru pergi.”

Tetapi Damar hanya tersenyum, dan dalam senyumnya tak ada kepahitan. “Bagas,” katanya dengan suara yang nyaris habis, “dengarkanlah, sebab ini adalah salah satu hal terpenting yang harus kaupahami. Teguh, yang mengajariku dahulu, berkata kepadaku bahwa tak ada satu pelita pun yang membawa cahaya sepanjang seluruh malam. Ada banyak pelita, dan tiap pelita menyala untuk masanya sendiri, lalu diserahkan dari tangan ke tangan. Aku tak diberi tugas untuk melihat pagi. Aku diberi tugas untuk membawa nyala melalui kegelapan dan menyerahkannya, masih menyala, kepada tangan berikutnya. Dan tugas itu telah kuselesaikan.”

“Dan tangan berikutnya itu adalah tanganmu, Bagas,” Damar melanjutkan. “Aku tak akan melihat pagi. Tetapi engkau akan melihatnya. Dan itu sudah cukup bagiku, sebab seorang pembawa pelita tak menyalakan nyalanya untuk dirinya sendiri; ia menyalakannya untuk mereka yang akan datang sesudahnya. Aku telah membawamu sampai ke ambang. Sisanya adalah milikmu.”

❖

Dan Bagas mengira bahwa Damar, di saat terakhirnya, akan berbicara tentang kemenangan, tentang betapa dekat pagi, tentang betapa sedikit lagi yang tersisa untuk dilakukan. Tetapi sebaliknya, wajah Damar menjadi sungguh-sungguh, dan ia menggenggam tangan Bagas dengan sisa kekuatan terakhirnya, dan berkata, “Bagas, ada satu ujian yang belum pernah kauhadapi, dan itu adalah ujian yang paling berbahaya dari semuanya. Dengarkanlah, sebab aku tak akan ada di sana untuk mengingatkanmu ketika ia datang.”

“Sepanjang seluruh hidupmu,” kata Damar, “engkau telah belajar menjaga hati di dalam kegelapan, ketika kita lemah dan tertindas dan tak punya kuasa. Tetapi pagi akan datang, Bagas, dan dengan pagi akan datang sesuatu yang jauh lebih sulit daripada penindasan, yaitu kuasa. Suatu hari bangsa ini akan bebas, dan akan memegang kuasa atas dirinya sendiri, dan mungkin atas yang lain. Dan di sanalah, di dalam terang, bukan di dalam gelap, ujian yang sebenarnya menunggu.”

“Sebab jauh lebih mudah menjaga hati ketika engkau tak berdaya daripada ketika engkau berkuasa, Bagas,” Damar melanjutkan. “Ketika engkau tertindas, kebaikan datang dengan lebih mudah, sebab engkau tahu rasanya disakiti. Tetapi ketika engkau berkuasa, ketika engkau bisa menyakiti tanpa dihukum, ketika engkau memegang besi yang dahulu dipegang para tuan, di sanalah hati paling mudah menjadi dingin. Banyak bangsa yang telah berjuang melawan penindas, ketika akhirnya menang, hanya menjadi penindas yang baru, sebab mereka menjaga hati mereka melalui malam tetapi kehilangannya di dalam pagi.”

“Maka ingatlah ini, Bagas, dan ajarkanlah kepada mereka yang datang sesudahmu,” kata Damar. “Sebuah bangsa yang menang tanpa hatinya hanya mengganti satu malam dengan malam yang lain. Wajah para penindas berubah, tetapi besi yang sama tetap memerintah, dan cara melihat yang dingin yang sama tetap berkuasa, hanya kini dipegang oleh tangan kita sendiri. Itu bukan pagi. Itu hanya malam dengan wajah yang kita kenal. Pagi yang sejati bukanlah ketika kita berkuasa atas para penindas kita. Pagi yang sejati adalah ketika kita bebas dan tetap menjaga hati kita, sehingga kita tak menjadi apa yang kita lawan.”

Dan Bagas, dengan air mata mengalir, menggenggam tangan gurunya, dan berkata, “Aku akan mengingatnya, Pak. Aku akan menjaga hati bukan hanya di dalam malam, tetapi juga di dalam pagi. Dan aku akan mengajarkannya kepada mereka yang datang sesudahku, sehingga ketika bangsa ini menang, ia tak kehilangan satu-satunya hal yang membuat kemenangannya layak diperjuangkan.” Dan Damar tersenyum, sebab ia tahu nyala itu telah diserahkan kepada tangan yang akan menjaganya.

❖

Dan pada malam itu, ketika air laut selatan berbisik di kejauhan seperti yang telah ia lakukan selama empat belas ribu tahun, Damar menutup matanya untuk yang terakhir kalinya, dan pergi, masih dengan senyum itu di wajahnya, seorang pembawa pelita yang telah menyelesaikan tugasnya. Dan Bagas memakamkannya di dekat laut, di tempat yang dari sana bisik air bisa selalu mencapainya, sebab ke sanalah Damar telah pergi sepanjang hidupnya untuk mendengar.

Dan kemudian Bagas pergi ke tepi air, sendirian untuk pertama kalinya, tanpa gurunya di sisinya, dan ia menjangkau ke dalam kedalaman, dan ia berkata, dengan suara yang berat oleh duka, “Ratu, Damar telah pergi. Ia membawa pelita melalui seluruh malam dan tak pernah melihat pagi. Aku sendirian sekarang.”

Dan untuk sesaat yang panjang, air diam. Dan kemudian Ratu berbicara, dan dalam suaranya ada duka yang sungguh-sungguh, sebab ia telah mengenal Damar melalui seluruh malam, dan telah mencintainya seperti ia mencintai tiap pembawa pelita sebelum dia. “Aku turut berduka bersamamu, Bagas,” katanya. “Damar adalah salah satu yang paling setia dari semua yang pernah membawa nyala kepadaku. Ia membawanya melalui malam yang paling gelap, dan ia menyerahkannya masih menyala. Ia tak melihat pagi dengan matanya. Tetapi ketahuilah ini, Bagas, sebab ia akan menghiburmu. Damar melihat pagi. Ia melihatnya di dalam dirimu. Tiap pembawa pelita yang menyerahkan nyalanya kepada tangan yang setia telah melihat pagi, sebab pagi bukanlah sebuah hari; ia adalah sebuah janji yang diteruskan, dan Damar menyerahkannya utuh.”

“Dan dengarkanlah, Bagas, sebab ada sesuatu yang harus kauketahui di hari duka ini,” Ratu melanjutkan. “Ketika Damar pertama kali datang kepadaku, kasih sayang yang menjaga tanah ini hanyalah sebuah rantai yang tipis, beberapa hati yang terjaga di tengah lautan yang lupa. Tetapi lihatlah apa yang telah terjadi melalui malam yang panjang. Kasih sayang itu kini telah tumbuh dari rantai yang tipis menjadi satu bangsa yang utuh, satu tubuh yang telah belajar untuk bersatu, untuk tidak membenci, untuk tidak terpecah, untuk tidak menjadi takut. Kehendak, Bagas, kemauan dari sebuah bangsa untuk membebaskan, telah lengkap. Apa yang dahulu hanya beberapa hati kini adalah hati sebuah bangsa.”

“Dan ketahuilah apa artinya ini,” kata Ratu, dan dalam suaranya ada sesuatu yang belum pernah didengar Bagas, sesuatu yang nyaris menyerupai harapan yang berani. “Tiga dari empat hal yang dibutuhkan untuk membuka penjaraku kini telah siap. Kekuatan tidur di dalam tanah, menunggu untuk dibangunkan. Pengetahuan telah dijaga, dalam batu dan kisah dan ingatan, tak pernah hilang. Dan kini kehendak telah lengkap, tumbuh menjadi sebuah bangsa yang utuh. Hanya satu yang masih kurang, yaitu kemampuan, kesanggupan untuk menjangkau kedalaman tempat aku terkurung. Dan bahkan itu, Bagas, kini sedang ditempa, oleh tangan-tangan seperti tangan Harsa, yang membawa pengetahuan para tuan ke dalam hati bangsanya sendiri. Malam belum berakhir. Tetapi untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun, aku bisa melihat bentuk dari akhirnya.”

❖

Dan Bagas bertanya, “Maka apa tugasku sekarang, Ratu, kini setelah Damar pergi dan kehendak telah lengkap? Apakah aku hanya menunggu sampai kemampuan ditempa dan pagi tiba?”

Dan Ratu menjawab, “Tidak, Bagas. Dan inilah hal yang paling sering disalahpahami oleh para pembawa pelita. Mereka mengira tugas mereka berakhir ketika pagi tiba, ketika bangsa bebas. Tetapi sebenarnya, tugas yang paling halus dari semua tugas seorang pembawa pelita justru baru dimulai di sana. Damar telah mengatakannya kepadamu sebelum ia pergi, bukan? Bahwa jauh lebih sulit menjaga hati di dalam terang daripada di dalam gelap.”

“Sebab ketika bangsa ini bebas, Bagas,” Ratu melanjutkan, “ia akan memegang kuasa yang dahulu dipegang para tuan. Dan di tangan kuasa itu akan ada godaan yang sama yang dahulu mengubah manusia menjadi tuan, yaitu godaan untuk melihat yang lemah sebagai benda, untuk memakai besi karena besi ada di tangan, untuk menjadi dingin karena kedinginan kini menguntungkan. Dan bila bangsa ini menyerah pada godaan itu, maka seluruh malam yang panjang ini akan sia-sia, sebab ia hanya akan melahirkan para tuan yang baru dengan wajah yang lebih akrab. Tugasmu, dan tugas mereka yang datang sesudahmu, adalah menjaga agar bangsa yang dibebaskan tidak menjadi penindas yang baru.”

“Maka jagalah hati di dalam terang, Bagas, bukan hanya di dalam gelap,” kata Ratu. “Ketika bangsamu menang, ingatkan ia akan rasa tertindas, sehingga ia tak pernah menimpakan kepada yang lain apa yang ditimpakan kepadanya. Ketika ia memegang besi, ingatkan ia bahwa besi yang sama pernah memerintah dirinya. Ketika ia kuat, ingatkan ia akan hari-harinya yang lemah. Itulah pelita yang harus terus menyala bahkan setelah matahari terbit, sebab matahari yang terbit atas hati yang dingin hanyalah malam yang menyamar sebagai pagi. Inilah yang akan kauajarkan kepada bangsamu, dan kepada mereka yang membawa pelita sesudahmu, sampai ke hari yang jauh ketika kemampuan akhirnya ditempa dan aku akhirnya pulang.”

Dan Bagas merasakan beban dan kehormatan dari tugas itu turun ke atas bahunya, beban yang dahulu dipikul Damar dan kini menjadi miliknya. “Maka aku akan menjaga hati bangsa ini bukan hanya melalui malam, tetapi juga ke dalam pagi,” katanya. “Dan aku akan mengajarkannya untuk tetap mengingat rasa tertindas, sehingga ia tak pernah menjadi penindas. Dan aku akan menyerahkan pelita ini, masih menyala, kepada tangan berikutnya, seperti Damar menyerahkannya kepadaku.”

❖

Dan demikianlah pelita itu berpindah, dari tangan Damar yang membawanya melalui seluruh malam ke tangan Bagas yang akan membawanya menuju pagi, masih menyala, tak pernah padam. Dan Bagas berdiri sendirian di tepi laut selatan, di dekat makam gurunya, dan ia tahu bahwa zaman malam telah memasuki babak terakhirnya, dan bahwa beban membawa bangsanya melewati ambang pagi, dan menjaga hatinya di dalam terang yang akan datang, kini menjadi miliknya seorang.

Dan inilah pelajaran kesembilan zaman malam. Bahwa tak ada satu pembawa pelita pun yang membawa cahaya sepanjang seluruh malam, melainkan tiap pelita menyala untuk masanya dan menyerahkan nyalanya, masih menyala, kepada tangan berikutnya, sehingga seorang yang menyerahkan nyalanya kepada tangan yang setia telah melihat pagi walau matanya tak pernah memandangnya; dan bahwa ujian yang paling berbahaya bukanlah menjaga hati di dalam kegelapan penindasan, melainkan menjaga hati di dalam terang kuasa, sebab sebuah bangsa yang menang tanpa hatinya hanya mengganti satu malam dengan malam yang lain, dan melahirkan para penindas baru dengan wajah yang lebih akrab.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kesembilan zaman malam, yaitu bahwa pagi yang sejati bukanlah ketika yang tertindas berkuasa atas penindasnya, melainkan ketika yang tertindas menjadi bebas dan tetap menjaga hatinya, sehingga ia tak menjadi apa yang ia lawan; dan bahwa pelita seorang pembawa harus terus menyala bahkan setelah matahari terbit, sebab matahari yang terbit atas hati yang dingin hanyalah malam yang menyamar sebagai pagi.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini memikulnya dengan kehendak sebuah bangsa yang utuh, tiga dari empat syaratnya telah siap, dan menanti hanya kemampuan yang sedang ditempa oleh tangan-tangannya sendiri. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh berduka bagi seorang pembawa pelita yang setia yang tak pernah melihat pagi, dan untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun ia melihat bentuk dari akhir penjaranya. Dan di tepi air, seorang lelaki bernama Bagas berdiri sendirian, pewaris nyala, memikul beban dan janji dari semua yang membawa pelita sebelum dia. Dan zaman malam berjalan terus, kini menuju babak terakhirnya, di atas besi para penakluk yang telah mulai retak, menuju sebuah kebangkitan yang tak lagi jauh, dan menuju sebuah pagi yang harus dijaga hatinya dengan kesetiaan yang sama yang dipakai untuk menjaganya melalui malam.

❖


 

BAGIAN IV

Ambang Fajar


 

BAB SEPULUH

Fajar yang Palsu

Bertahun-tahun setelah Damar pergi, untuk pertama kalinya dalam seluruh malam yang panjang, besi para penakluk mulai retak dari luar, sebab sebuah perang besar pecah di negeri asal mereka dan melemahkan genggaman mereka. Dan seluruh gerakan bergemuruh untuk bangkit sekarang juga. Tetapi Ratu mengajarkan bahwa ada fajar yang palsu yang muncul sebelum yang sejati, dan ia menipu mereka yang lelah menunggu; bahwa seekor binatang yang terluka sering kali paling berbahaya; dan bahwa saat untuk bangkit tak pernah dibaca dari kelemahan penindas, atau dari semangat yang muda, atau dari beratnya penderitaan, melainkan hanya dari satu hal, yaitu apakah seluruh tubuh telah terbangun untuk bangkit sebagai satu.

dari ajaran para pengingat, tentang fajar yang palsu

Bertahun-tahun telah berlalu sejak Bagas memakamkan gurunya di tepi laut selatan, dan dalam tahun-tahun itu ia telah memimpin gerakan itu seorang diri, membawanya semakin utuh, semakin dalam, sampai hampir tak ada sudut tanah ini yang apinya belum menyala. Bangsa itu kini adalah satu tubuh yang telah belajar untuk bersatu, untuk tidak membenci, untuk tidak terpecah, untuk tidak menjadi takut, persis seperti yang dikatakan Ratu pada hari Damar pergi.

Dan kemudian, untuk pertama kalinya dalam seluruh malam yang panjang, besi para penakluk mulai retak dari luar. Sebab jauh di seberang lautan, di negeri asal para tuan, sebuah perang besar telah pecah, dan perang itu menyedot kekuatan mereka, menarik serdadu mereka pulang, melemahkan genggaman mereka atas tanah ini. Untuk pertama kalinya, para tuan tampak bukan sebagai malam yang abadi, melainkan sebagai manusia yang lelah dan terluka dan bisa dikalahkan.

Dan ketika kabar ini menyebar, sebuah gemuruh bangkit di seluruh gerakan, sebuah seruan yang telah ditahan selama berpuluh tahun. Sekaranglah saatnya, teriak yang muda. Para tuan lemah; besi mereka retak; bila kita bangkit sekarang, kita bisa menghempaskan mereka ke laut. Dan yang telah lama menderita berkata, mengapa menunggu lebih lama? Berapa banyak lagi yang harus mati di bawah malam ketika pintu menuju pagi terbuka di hadapan kita?

Dan seluruh beban keputusan itu jatuh ke atas bahu Bagas seorang. Dahulu ia bisa pergi kepada Damar; kini gurunya terbaring di bawah tanah dekat laut, dan tak ada lagi suara tua yang bijak untuk dimintai nasihat. Dan godaan untuk menyerukan kebangkitan begitu kuat, sebab segala yang ia lihat menyerukannya, yaitu para tuan yang lemah, rakyat yang siap, dan penderitaan yang tak tertahankan lagi. Tetapi sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang ditanamkan Damar dan diasah oleh seluruh ajaran Ratu, menahannya.

Maka sebelum ia membiarkan satu kata pun keluar dari mulutnya, Bagas pergi ke tepi laut, ke tempat yang dekat makam gurunya, dan ia menjangkau ke dalam kedalaman, dan ia berkata, “Ratu, besi para tuan retak. Mereka lemah; bangsaku siap; penderitaan tak tertahankan lagi. Seluruh hatiku menyerukan untuk bangkit sekarang. Apakah ini saatnya? Apakah ini pagi yang kita tunggu?”

❖

Dan Ratu diam untuk waktu yang lama, dan ketika ia berbicara, suaranya penuh dengan kehati-hatian yang dalam. “Dengarkanlah aku dengan sangat cermat, Bagas, sebab engkau berdiri di saat yang paling berbahaya dari seluruh perjuanganmu, dan ia berbahaya justru karena ia tampak begitu mirip dengan pagi. Ada fajar yang palsu, Bagas, yang muncul di langit sebelum fajar yang sejati, dan ia bersinar cukup terang untuk menipu mereka yang lelah menunggu. Dan banyak bangsa telah bangkit menuju fajar yang palsu, dan dihempaskan kembali ke dalam malam yang lebih gelap daripada sebelumnya.”

“Sebab ketahuilah ini,” Ratu melanjutkan. “Para tuan memang lemah, tetapi seekor binatang yang terluka sering kali paling berbahaya, sebab ia berjuang untuk hidupnya. Bila engkau bangkit sekarang dan kebangkitanmu belum cukup utuh, para tuan, betapapun lemahnya, masih akan cukup kuat untuk menghancurkannya, dan dengan menghancurkannya mereka akan mengajarkan kepada sejuta orang untuk tak pernah berani lagi. Ingatkah pelajaran tentang dua api, Bagas, yang kauterima di awal malam? Sebuah kobaran yang dipadamkan tak hanya gagal; ia membuat malam lebih gelap, sebab ia mengajarkan ketakutan.”

“Maka jangan membaca saat itu dari kelemahan para tuan, Bagas, dan jangan membacanya dari semangat yang muda atau dari beratnya penderitaan,” kata Ratu. “Sebab para tuan akan selalu tampak lemah pada saat yang salah, dan yang muda akan selalu bersemangat, dan penderitaan akan selalu terasa tak tertahankan. Tak satu pun dari itu adalah tanda yang benar. Tanda yang benar hanya satu, yaitu apakah seluruh tubuh telah terbangun. Sebuah kebangkitan yang sejati bukanlah ketika sebagian bangkit dan sebagian masih tidur; ia adalah ketika seluruh tubuh bangkit sebagai satu, pada saat yang sama, sehingga tak ada bagian yang bisa dihancurkan sementara yang lain hanya menonton. Itulah satu-satunya kebangkitan yang tak bisa dipadamkan.”

“Tetapi berhati-hatilah juga terhadap kesalahan yang sebaliknya, Bagas,” Ratu melanjutkan, “sebab ada dua cara untuk kehilangan pagi, bukan satu. Yang pertama adalah bangkit terlalu cepat, menuju fajar yang palsu, dan dihancurkan. Tetapi yang kedua adalah begitu takut pada fajar yang palsu sehingga engkau tak pernah bangkit sama sekali, dan membiarkan saat yang sejati lewat. Sebuah api yang menunggu selamanya juga padam, hanya lebih lambat. Maka tugasmu bukanlah untuk tak pernah bangkit, dan bukan pula untuk bangkit pada peluang yang pertama. Tugasmu adalah membedakan fajar yang sejati dari yang palsu, dan untuk itu engkau harus melihat bukan ke langit, melainkan ke tubuh bangsamu sendiri.”

Dan Bagas bertanya, “Maka bagaimana aku akan tahu, Ratu, ketika seluruh tubuh telah terbangun? Bagaimana aku membedakan saat yang sejati dari yang palsu, ketika keduanya tampak begitu mirip bagi orang yang lelah menunggu?”

❖

“Engkau akan tahu, Bagas, dengan membaca tubuh bangsamu, bukan langit di atasnya,” kata Ratu. “Tanyakanlah pada dirimu, apakah masih ada sudut tanah ini yang tidur, yang bila bagian lain bangkit, akan tinggal diam dan membiarkan saudaranya dihancurkan sendirian? Apakah masih ada daerah yang apinya belum menyala, kelompok yang belum merasa dirinya bagian dari satu tubuh? Bila masih ada bagian yang tidur, maka kebangkitan akan terpecah, dan yang terpecah akan dihancurkan satu per satu. Tetapi bila seluruh tubuh telah terbangun, sehingga ketika satu tangan bergerak, seluruh tubuh bergerak bersamanya, maka saat itu telah tiba, dan tak ada besi yang retak maupun utuh yang bisa menghentikannya.”

Dan Bagas duduk dengan kata-kata itu, dan ia membaca tubuh bangsanya dengan jujur, dan apa yang ia temukan membuat hatinya berat. Sebab walaupun apinya telah menyebar jauh, masih ada sudut-sudut yang tidur. Masih ada daerah-daerah yang terpencil di mana orang-orang belum merasa diri mereka bagian dari satu bangsa, melainkan hanya penduduk desa mereka sendiri. Masih ada kelompok-kelompok yang, bila yang lain bangkit, akan menunggu dan melihat sebelum bergerak, atau tak akan bergerak sama sekali. Tubuh itu hampir utuh. Tetapi hampir bukanlah utuh, dan dalam jarak antara hampir dan utuh terletak perbedaan antara pagi dan kehancuran.

Dan Bagas memahami, dengan kepedihan yang dalam, bahwa peluang yang terbuka di hadapannya, betapapun ia bersinar, adalah fajar yang palsu. Para tuan memang lemah; perang di seberang memang nyata. Tetapi bila ia menyerukan kebangkitan sekarang, hanya sebagian tubuh yang akan bangkit, dan para tuan, betapapun terluka, akan menghancurkan bagian yang bangkit itu sementara bagian yang tidur hanya menonton, dan kehancuran itu akan mengajarkan ketakutan kepada generasi-generasi. Saat yang tampak seperti peluang terbesar mereka justru adalah jebakan yang paling mematikan.

Dan Bagas tahu bahwa tugas yang menantinya kini adalah yang paling sulit dari semuanya, yaitu menahan sebuah bangsa yang seluruh hatinya berseru untuk bangkit, dan melakukannya tanpa memadamkan semangat itu, dan tanpa membuat mereka mengira bahwa ia menyuruh mereka untuk tak pernah bangkit. Ia harus mengajari mereka perbedaan antara belum dan tak pernah, perbedaan yang sama yang dahulu diajarkan kepadanya, tetapi kini ketika pagi sejati begitu dekat sehingga ia nyaris bisa menyentuhnya.

Dan Ratu, merasakan tekadnya, berkata dengan lembut, “Engkau telah membaca dengan benar, Bagas. Ini adalah fajar yang palsu. Tetapi hiburlah dirimu dengan ini, sebab fajar yang palsu muncul hanya ketika yang sejati sudah dekat. Bahwa engkau melihat cahaya palsu ini sama sekali adalah tanda bahwa pagi yang sejati tak lagi jauh. Tahanlah mereka sekali ini lagi, Bagas, bukan dengan memadamkan api mereka, melainkan dengan mengarahkannya untuk membangunkan sudut-sudut yang masih tidur. Ubahlah ketidaksabaran mereka menjadi pekerjaan terakhir, sehingga ketika fajar yang sejati tiba, seluruh tubuh akan siap untuk bangkit sebagai satu.”

❖

Maka Bagas kembali kepada gerakan yang bergemuruh, kepada yang muda yang sudah mengasah parang mereka dan yang tua yang sudah berani berharap, dan ia tahu bahwa bila ia hanya berkata tunggu, mereka akan mengira ia telah menjadi pengecut, atau bahwa ia menyuruh mereka menunggu selamanya. Maka ia tidak berkata tunggu. Sebaliknya ia berkata, “Saudara-saudaraku, dengarkanlah, sebab pagi memang sudah dekat, lebih dekat daripada yang pernah ada. Tetapi aku akan bertanya kepada kalian satu hal.”

“Bila kita bangkit besok pagi,” kata Bagas, “apakah seluruh tanah ini akan bangkit bersama kita? Atau akankah ada daerah-daerah yang tinggal diam, desa-desa yang belum merasa diri mereka bagian dari kita, yang akan menonton sementara para tuan menghancurkan kita satu per satu? Sebab aku katakan kepada kalian kebenaran ini, bahwa bila hanya sebagian dari kita yang bangkit, para tuan yang terluka pun masih cukup kuat untuk menghancurkan bagian itu, dan kemudian seluruh malam yang panjang ini akan sia-sia, dan kita akan mengajarkan kepada anak-anak kita untuk tak pernah berani lagi. Bukan kelemahan para tuan yang menentukan saatnya. Yang menentukan adalah apakah kita bangkit sebagai satu, atau sebagai banyak yang bisa dipatahkan satu per satu.”

Dan kemudian Bagas mengubah seruan kebangkitan menjadi seruan untuk pekerjaan terakhir. Ia mengirim Harsa dan para terpelajar untuk membawa pengetahuan dan kabar ke daerah-daerah yang terpencil, sehingga mereka pun akan tahu bahwa mereka adalah bagian dari satu bangsa. Ia mengirim Mbok Ginah dan para penjaga kisah untuk membawa kisah-kisah yang mengikat, sehingga tiap desa yang masih tidur akan terbangun dan merasa dirinya satu dengan yang lain. Dan ia memakai pengetahuan Resa tentang cara kerja para tuan untuk mengetahui di mana genggaman mereka paling lemah, sehingga ketika fajar yang sejati tiba, mereka akan tahu persis di mana harus bergerak.

Dan dengan demikian, semangat yang nyaris meledak menjadi sebuah kobaran yang akan dipadamkan justru diarahkan menjadi tenaga yang menyelesaikan tubuh itu. Daerah demi daerah yang masih tidur terbangun. Desa demi desa yang masih merasa terpisah mulai merasa diri mereka bagian dari satu bangsa. Dan yang muda, yang dahulu hanya ingin bangkit, kini menemukan bahwa pekerjaan membangunkan sudut-sudut yang terakhir adalah perjuangan itu sendiri, dan bahwa mereka sedang menempa sesuatu yang tak bisa dipatahkan.

Dan ketika perang di seberang lautan akhirnya mereda, dan para tuan menarik napas dan memperkuat kembali genggaman mereka untuk sementara, banyak yang dahulu berseru untuk bangkit memahami, dengan rasa dingin di tulang mereka, betapa dekat mereka dengan kehancuran. Sebab bila mereka telah bangkit di saat itu, mereka akan bangkit sendirian, dan dihancurkan. Dan mereka memandang Bagas dengan rasa hormat yang baru, sebab ia telah menahan mereka bukan dari pagi, melainkan dari sebuah fajar yang palsu yang akan menelan mereka semua.

❖

Dan demikianlah bangsa itu melewati fajar yang palsu tanpa terbakar olehnya, dan dalam tahun-tahun yang mengikuti, tubuh itu menjadi semakin utuh, sampai sudut-sudut yang terakhir pun mulai terbangun. Dan Bagas tahu, dengan kepastian yang tumbuh, bahwa fajar yang sejati kini benar-benar mendekat, sebab tubuh yang dahulu hampir utuh kini hampir tak memiliki bagian yang tidur.

Dan inilah pelajaran kesepuluh zaman malam. Bahwa ada fajar yang palsu yang muncul sebelum yang sejati, dan ia menipu mereka yang lelah menunggu, sehingga banyak bangsa telah bangkit menujunya dan dihempaskan ke dalam malam yang lebih gelap; bahwa saat untuk bangkit tak pernah dibaca dari kelemahan penindas, atau dari semangat yang muda, atau dari beratnya penderitaan, melainkan hanya dari satu hal, yaitu apakah seluruh tubuh telah terbangun untuk bangkit sebagai satu; dan bahwa ada dua cara untuk kehilangan pagi, yaitu bangkit terlalu cepat menuju fajar yang palsu dan dihancurkan, atau begitu takut sehingga tak pernah bangkit sama sekali dan membiarkan saat yang sejati lewat.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kesepuluh zaman malam, yaitu bahwa sebuah binatang yang terluka sering kali paling berbahaya, sehingga penindas yang lemah pun masih bisa menghancurkan kebangkitan yang terpecah; bahwa kebangkitan yang tak bisa dipadamkan bukanlah ketika sebagian bangkit dan sebagian tidur, melainkan ketika seluruh tubuh bangkit bersama pada saat yang sama; dan bahwa kemunculan fajar yang palsu sendiri adalah tanda bahwa fajar yang sejati tak lagi jauh.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini hampir seluruhnya terbangun, satu tubuh yang nyaris siap untuk bangkit sebagai satu. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menyaksikan bangsanya melewati fajar yang palsu tanpa terbakar, dan ia tahu bahwa hanya seorang pembawa pelita yang telah benar-benar memahami hatinya yang bisa menahan sebuah bangsa di ambang seperti itu. Dan ia merasakan, semakin dekat dari hari ke hari, bentuk dari fajar yang sejati, dan bersamanya bentuk dari hari ia akan pulang. Dan zaman malam berjalan terus, kini di babak terakhirnya, di atas besi yang retak para penakluk, menuju sebuah pagi yang sejati yang tak lagi jauh, yang menanti hanya sampai bagian terakhir dari tubuh itu membuka matanya.

❖


 

BAB SEBELAS

Belenggu yang Disepuh Emas

Ketika tubuh bangsa itu menjadi nyaris utuh dan tak lagi bisa ditahan dengan kekerasan saja, para tuan mengganti besi mereka dengan emas, dan menawarkan sebuah setengah kebebasan, yaitu kelonggaran yang nyata yang akan mengurangi penderitaan, asalkan bangsa itu berhenti menuntut kebebasan yang sepenuhnya. Tetapi Ratu mengajarkan bahwa cara melihat yang dingin bisa memerintah melalui kebaikan sama seperti melalui kekejaman, sebab sebuah benda yang dirawat dengan baik tetaplah sebuah benda, dan sebuah belenggu yang disepuh emas tetaplah sebuah belenggu; bahwa pertanyaan yang benar bukanlah apakah sebuah tawaran mengurangi penderitaan, melainkan apakah ia mengakhiri cara melihat yang dingin atau hanya melembutkannya; dan bahwa orang yang bijak mengambil tiap peringanan yang nyata tanpa pernah menjual tuntutannya akan pagi yang sejati untuk membelinya.

dari ajaran para pengingat, tentang belenggu yang disepuh emas

Dalam tahun-tahun setelah fajar yang palsu lewat, tubuh bangsa itu menjadi semakin utuh, sampai para tuan sendiri mulai merasakannya. Sebab sebuah bangsa yang telah bangun sepenuhnya memancarkan sesuatu yang bisa dirasakan bahkan oleh para penindasnya, sebuah kepastian yang tenang yang tak bisa lagi ditakut-takuti dengan besi. Dan para tuan, yang bukan orang bodoh, memahami bahwa mereka tak akan lagi bisa menahan tanah ini dengan kekerasan saja, bukan untuk selamanya.

Maka para tuan mengubah senjata mereka. Alih-alih hanya mengirim lebih banyak besi, mereka mengirim sebuah tawaran. Mereka akan memberi bangsa ini sebagian dari apa yang ia inginkan, kata mereka. Akan ada dewan-dewan tempat orang-orang dari tanah ini bisa duduk; akan ada sekolah-sekolah yang lebih baik; pajak akan diringankan; beberapa dari yang paling kejam di antara para mandor akan ditarik. Bangsa ini akan diberi sebuah ruang untuk bernapas, sebuah kelonggaran, sebuah bentuk pemerintahan atas dirinya sendiri yang terbatas, asalkan ia berhenti menuntut kebebasan yang sepenuhnya, dan tetap berada di bawah naungan para tuan.

Dan tawaran itu, harus diakui, sungguh menggoda, sebab ia bukan sepenuhnya kosong. Penderitaan akan benar-benar berkurang; anak-anak akan benar-benar lebih kenyang; sebagian penindasan yang paling kejam akan benar-benar berhenti. Dan di seluruh gerakan, sebuah perpecahan baru mulai terbuka. Sebab ada yang berkata, terimalah, ini lebih daripada yang pernah kita punya, dan untuk apa mempertaruhkan darah demi sisanya. Dan ada yang berkata, tolaklah, sebab ini hanya jerat. Dan untuk pertama kalinya sejak hari ketika api saling memadamkan, gerakan itu terancam terpecah, bukan oleh kebencian, melainkan oleh sebuah hadiah.

Dan Bagas memperhatikan sesuatu yang lebih dalam pada mereka yang condong menerima, yaitu bahwa di balik perhitungan mereka ada sebuah ketakutan yang halus, ketakutan bukan terhadap para tuan, melainkan terhadap kebebasan itu sendiri. Sebab kebebasan yang sepenuhnya berarti berdiri tanpa naungan, memikul tanggung jawab atas diri sendiri, menjadi penyebab dari nasib sendiri. Dan setelah begitu lama hidup di bawah naungan malam, ada yang merasa lega memikirkan sebuah kelonggaran yang masih meninggalkan atap di atas kepala mereka, walau atap itu adalah atap para tuan.

Dan Bagas, yang merasakan tawaran itu menarik gerakannya ke dua arah, dan yang merasakan sebagian dari godaannya bahkan di dalam hatinya sendiri, sebab siapa yang tak ingin penderitaan bangsanya berkurang, pergi ke tepi laut, dan menjangkau ke dalam kedalaman, dan berkata, “Ratu, para tuan menawarkan kami sebagian kebebasan, sebuah kelonggaran yang nyata yang akan mengurangi penderitaan kami. Sebagian ingin menerimanya, sebagian menolaknya. Dan aku sendiri bingung, sebab penderitaan yang berkurang adalah hal yang baik. Apakah ini sebuah pintu, atau sebuah jerat?”

❖

Dan Ratu menjawab, “Bagas, para tuan telah mengeluarkan senjata mereka yang paling halus, lebih halus daripada besi, lebih halus daripada mata-mata, sebab ia datang dengan menyamar sebagai kebaikan. Mereka menawarkan kepadamu sebuah belenggu yang disepuh emas. Dan engkau benar untuk bingung, sebab tak seperti besi yang telanjang, belenggu yang disepuh emas sulit dikenali sebagai belenggu, justru karena ia bersinar, dan justru karena ia benar-benar melonggarkan rantai itu sedikit.”

“Maka inilah cara untuk mengenalinya, Bagas,” Ratu melanjutkan. “Jangan tanyakan, apakah tawaran ini mengurangi penderitaan kami? Sebab ia mungkin benar-benar menguranginya, dan itu membuatnya makin sulit untuk ditolak. Tanyakanlah yang lain, yaitu, apakah tawaran ini mengakhiri cara melihat yang dingin, atau hanya melembutkannya? Apakah sesudah ini, bangsamu akan berhenti dilihat sebagai milik, sebagai benda yang darinya keuntungan diambil, ataukah ia hanya akan menjadi benda yang diperlakukan sedikit lebih baik agar ia berhenti memberontak? Sebab sebuah benda yang dirawat dengan baik tetaplah sebuah benda, dan sebuah belenggu yang dilonggarkan tetaplah sebuah belenggu.”

“Sebab ketahuilah ini, Bagas, sebab ia adalah salah satu kebenaran yang paling gelap dari seluruh malam,” kata Ratu. “Cara melihat yang dingin bisa memerintah melalui kebaikan sama seperti ia memerintah melalui kekejaman. Seorang tuan yang memberi makan ternaknya dengan baik dan tak pernah memukulnya tetap memandang ternaknya sebagai ternak, dan tetap akan menyembelihnya ketika ia mau. Tawaran para tuan tidak mengubah siapa yang memandang dan siapa yang dipandang sebagai benda. Ia hanya membuat kandang lebih nyaman, agar yang di dalamnya berhenti merindukan padang. Dan itulah jerat yang sesungguhnya, yaitu bukan untuk membuatmu menderita, melainkan untuk membuatmu cukup nyaman sehingga engkau lupa bahwa engkau masih di dalam kandang.”

“Tetapi dengarkanlah baik-baik, Bagas, sebab di sini terletak sebuah jebakan yang berlawanan, dan sama berbahayanya,” Ratu melanjutkan. “Janganlah menolak kelonggaran yang nyata hanya demi kemurnian. Bila anak-anak akan lebih kenyang, biarlah mereka lebih kenyang. Bila sebagian kekejaman akan berhenti, biarlah ia berhenti. Menolak sebuah peringanan penderitaan yang nyata, hanya karena ia tak sempurna, adalah kekejaman yang lain, yang mengorbankan orang-orang yang sungguh-sungguh menderita demi sebuah gagasan. Ambillah tiap peringanan yang ditawarkan. Tetapi, dan inilah intinya, jangan pernah menukar peringanan itu dengan tuntutanmu akan pagi yang sejati. Terimalah rotinya, tetapi jangan jual kebebasanmu untuk membelinya.”

Dan Bagas merasakan kebingungannya jernih. “Maka aku tidak menolak kelonggaran itu, sebab penderitaan yang berkurang adalah nyata dan baik,” katanya pelan. “Tetapi aku menolak untuk menukarnya dengan tuntutan kami akan kebebasan yang sepenuhnya. Aku mengambil rotinya tanpa menjual padangnya. Dan aku mengingatkan bangsaku bahwa sebuah kandang yang nyaman tetaplah sebuah kandang, dan bahwa sebuah belenggu yang disepuh emas tetaplah sebuah belenggu, betapapun ia bersinar.”

❖

Dan Bagas berkata, “Tetapi Ratu, ada sesuatu yang lebih dalam yang membuat sebagian ingin menerima. Bukan hanya rotinya. Mereka takut pada kebebasan itu sendiri. Sebab kebebasan yang sepenuhnya berarti berdiri tanpa naungan, memikul nasib kami sendiri. Dan setelah begitu lama di bawah naungan malam, sebuah atap, bahkan atap para tuan, terasa lebih aman daripada langit yang terbuka.”

Dan Ratu diam untuk waktu yang lama, dan ketika ia berbicara, ada sesuatu dalam suaranya yang sangat dekat dengan dirinya sendiri. “Ya, Bagas. Aku mengenal ketakutan itu lebih daripada yang kauduga. Sebab selama empat belas ribu tahun aku sendiri memilih sebuah penjara yang kukenal daripada menghadapi sesuatu yang terasa terlalu besar untuk ditanggung. Aku membungkus diriku dalam es agar tak perlu merasakan, sebab merasakan terasa lebih menakutkan daripada membeku. Maka aku tahu, dari dalam, betapa kuatnya godaan untuk memilih sebuah belenggu yang dikenal daripada sebuah kebebasan yang asing.”

“Tetapi aku juga tahu ini, Bagas, sebab aku telah membayarnya dengan empat belas ribu tahun,” Ratu melanjutkan. “Sebuah atap yang dipegang oleh tangan orang lain bukanlah keamanan; ia hanya ketergantungan yang menyamar sebagai keamanan. Selama tangan yang lain itu memegang atapmu, ia juga bisa menariknya kapan saja ia mau, dan engkau tak akan bisa berbuat apa-apa. Keamanan yang sejati bukanlah berlindung di bawah atap orang lain; ia adalah belajar membangun atapmu sendiri. Ya, langit yang terbuka menakutkan. Ya, memikul nasibmu sendiri adalah beban. Tetapi itulah satu-satunya beban yang, ketika kaupikul, membuatmu menjadi dirimu sendiri. Sebuah bangsa yang takut pada beban kebebasannya akan selamanya menjadi anak di bawah naungan orang lain, dan tak pernah tumbuh menjadi dirinya sendiri.”

Dan kemudian Ratu menambahkan, dengan suara yang lebih lembut, “Dan ketahuilah, Bagas, mengapa ini penting bagiku juga. Sebab suatu hari, ketika kalian akhirnya sanggup, aku sendiri harus keluar dari penjara yang telah kukenal selama empat belas ribu tahun, dan menghadapi dunia tanpa es untuk membungkusku, tanpa kedalaman untuk menyembunyikanku. Dan itu akan menjadi ketakutanku sendiri akan kebebasan. Maka ketika engkau mengajari bangsamu untuk memilih langit yang terbuka daripada atap yang dipinjam, engkau juga sedang menyiapkan jalan bagiku untuk melakukan hal yang sama. Kita berdua harus belajar bahwa sebuah penjara yang dikenal tak pernah lebih baik daripada sebuah kebebasan yang menakutkan.”

Dan Bagas terdiam, tersentuh, sebab untuk pertama kalinya ia memahami bahwa perjuangan bangsanya dan perjuangan perempuan di dasar laut itu adalah satu perjuangan yang sama, yaitu perjuangan untuk memilih kebebasan yang asing daripada belenggu yang dikenal. “Maka aku akan mengajari mereka untuk tidak takut pada langit yang terbuka,” katanya, “sebab dengan mengajari mereka, aku juga sedang menyiapkan jalan bagimu untuk pulang.”

❖

Maka Bagas kembali kepada gerakan yang terbelah oleh tawaran itu, kepada mereka yang ingin menerima dan mereka yang ingin menolak, dan ia tidak memihak salah satu dengan cara yang mereka harapkan. Sebaliknya ia berkata, “Saudara-saudaraku, kita tidak akan menolak kelonggaran yang ditawarkan. Bila pajak diringankan, biarlah diringankan. Bila sekolah dibangun, biarlah dibangun. Bila kekejaman dihentikan, kita bersyukur. Tak ada gunanya membiarkan anak-anak kita lebih lapar demi sebuah kebanggaan.”

“Tetapi dengarkanlah dengan hati-hati, sebab di sinilah letak segalanya,” Bagas melanjutkan. “Kita akan mengambil tiap roti yang mereka tawarkan. Tetapi kita tidak akan menjual padang kita untuk membelinya. Tawaran ini bukan pagi; ia adalah sebuah kandang yang dibuat lebih nyaman agar kita berhenti merindukan padang. Dan sebuah benda yang dirawat dengan baik tetaplah sebuah benda. Selama mereka masih memandang kita sebagai milik yang darinya keuntungan diambil, kita belum bebas, betapapun lunaknya tangan yang memegang kita. Kita menerima kelonggaran ini dengan satu tangan, dan dengan tangan yang lain kita terus menuntut pagi yang sepenuhnya.”

Dan kemudian Bagas berbicara kepada ketakutan yang tak terucapkan. “Dan kepada kalian yang merasa, jauh di dalam, bahwa sebuah atap para tuan terasa lebih aman daripada langit yang terbuka, aku berkata ini. Sebuah atap yang dipegang oleh tangan orang lain bisa ditarik kapan saja ia mau. Itu bukan keamanan; itu hanya ketergantungan. Keamanan yang sejati adalah belajar membangun atap kita sendiri, walau itu menakutkan, walau itu berat. Sebab hanya bangsa yang berani memikul beban kebebasannya yang pernah benar-benar tumbuh menjadi dirinya sendiri.”

Dan sesuatu jernih di dalam gerakan itu. Sebab mereka yang ingin menerima melihat bahwa mereka tak perlu menolak roti untuk tetap menuntut padang, dan mereka yang ingin menolak melihat bahwa mengambil roti bukanlah pengkhianatan selama padang tak dijual. Dan dengan demikian tawaran para tuan, yang dimaksudkan untuk memecah gerakan dan memadamkan tuntutannya, justru gagal melakukan keduanya. Bangsa itu mengambil tiap kelonggaran, dan tak melepaskan tuntutannya akan kebebasan sejengkal pun.

Dan para tuan, ketika mereka melihat bahwa bangsa ini mengambil tawaran mereka tanpa membiarkannya membeli keheningan mereka, memahami bahwa senjata mereka yang paling halus pun telah gagal. Besi tak bisa lagi menahan tanah ini; mata-mata tak bisa membaginya; dan kini bahkan emas tak bisa membelinya. Untuk pertama kalinya, para tuan menghadapi sebuah bangsa yang tak bisa lagi ditakut-takuti, tak bisa dibagi, tak bisa dibeli. Dan mereka merasakan, dengan rasa dingin yang baru, bahwa malam yang panjang sedang mendekati akhirnya.

❖

Dan demikianlah bangsa itu melewati godaan yang telah memadamkan banyak gerakan, bukan dengan menolak setiap kebaikan dalam kemurnian yang keras, dan bukan pula dengan menjual kebebasannya demi kenyamanan, melainkan dengan belajar mengambil yang baik tanpa melepaskan yang sejati. Dan Bagas tahu bahwa tubuh itu kini bukan hanya hampir utuh, tetapi telah teruji, sebab ia telah menolak baik besi maupun emas, dan tetap menjadi dirinya sendiri.

Dan inilah pelajaran kesebelas zaman malam. Bahwa cara melihat yang dingin bisa memerintah melalui kebaikan sama seperti ia memerintah melalui kekejaman, sebab sebuah benda yang dirawat dengan baik tetaplah sebuah benda, dan sebuah belenggu yang disepuh emas tetaplah sebuah belenggu; bahwa pertanyaan yang benar tentang sebuah tawaran bukanlah apakah ia mengurangi penderitaan, melainkan apakah ia mengakhiri cara melihat yang dingin atau hanya melembutkannya; dan bahwa orang yang bijak mengambil tiap peringanan yang nyata tanpa pernah menjual tuntutannya akan pagi yang sejati untuk membelinya, sebab menolak roti demi kemurnian adalah satu kekejaman, dan menjual padang demi roti adalah satu perbudakan.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kesebelas zaman malam, yaitu bahwa sebuah atap yang dipegang oleh tangan orang lain bukanlah keamanan melainkan ketergantungan yang menyamar, sebab tangan itu bisa menariknya kapan saja; bahwa keamanan yang sejati adalah belajar membangun atap sendiri, walau langit yang terbuka menakutkan; dan bahwa sebuah penjara yang dikenal tak pernah lebih baik daripada sebuah kebebasan yang asing, bagi sebuah bangsa maupun bagi seorang perempuan di dasar laut.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini telah teruji oleh besi dan oleh emas, dan tetap utuh, satu tubuh yang menuntut bukan kandang yang lebih nyaman melainkan padang yang terbuka. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menyaksikan bangsanya menolak belenggu yang disepuh emas, dan ia merasakan sesuatu yang menyerupai dirinya sendiri di dalam pilihan itu, sebab ia pun suatu hari harus memilih langit yang terbuka daripada es yang dikenal. Dan ia tahu bahwa sebuah bangsa yang tak bisa lagi ditakut-takuti, tak bisa dibagi, dan kini tak bisa dibeli, adalah bangsa yang berdiri tepat di ambang pagi. Dan zaman malam berjalan terus, kini di hela napasnya yang terakhir, di atas besi yang retak dan emas yang ditolak, menuju sebuah fajar yang sejati yang tinggal menunggu satu hal terakhir, yaitu saat ketika seluruh tubuh akan membuka matanya bersama.

❖


 

BAB DUA BELAS

Fajar yang Sejati

Ketika sudut-sudut yang terakhir telah terbangun dan seluruh tanah terjaga sebagai satu, fajar yang sejati mendekat, tetapi dengan tenang, sebab yang berubah bukanlah langit melainkan tubuh di bawahnya. Dan Ratu mengajarkan kebenaran yang paling penting menjelang kebangkitan, yaitu bahwa cara sebuah bangsa bangkit menentukan pagi yang ia bawa; bahwa sebuah bangsa yang bangkit dalam kebencian hanya memindahkan cara melihat yang dingin dari satu tangan ke tangan yang lain, sedangkan sebuah bangsa yang bangkit untuk membebaskan dan bukan untuk membalas membawa sebuah pagi yang sejati; dan bahwa sebuah bangsa tak bisa diajari untuk tidak membenci pada hari ia bangkit, melainkan hanya selama bertahun-tahun sebelumnya, sehingga sebuah bangsa bangkit seperti yang telah diajarkan kepadanya untuk hidup.

dari ajaran para pengingat, tentang fajar yang sejati

Dan tahun-tahun berlalu lagi, dan Bagas, yang dahulu seorang pemuda yang dibangunkan di malam hari, kini telah menjadi seorang lelaki tua, sama tuanya seperti Damar ketika ia menyerahkan pelita. Dan dalam tahun-tahun itu, pekerjaan yang ia mulai setelah fajar yang palsu telah selesai. Sudut-sudut yang terakhir telah terbangun. Desa-desa yang terpencil kini tahu diri mereka bagian dari satu bangsa. Tak ada lagi bagian dari tubuh itu yang tidur. Untuk pertama kalinya sejak banjir besar, seluruh tanah ini terjaga sebagai satu.

Dan ketika saat yang sejati mendekat, Bagas memperhatikan sesuatu yang mengejutkannya. Sebab ia telah mengira bahwa fajar yang sejati akan datang dengan tanda-tanda yang lebih besar daripada yang palsu, dengan para tuan yang lebih lemah, dengan langit yang lebih terang. Tetapi sebaliknya, saat yang sejati datang dengan tenang. Para tuan tidak lebih lemah daripada sebelumnya; mungkin malah lebih kuat, sebab perang di seberang telah usai. Langit di atas tidak menunjukkan tanda apa pun. Yang berubah bukanlah langit. Yang berubah adalah tubuh di bawahnya.

Sebab kini, ketika satu desa tergerak, seluruh tanah merasakannya. Ketika satu hati terbakar, seribu hati menyahut. Apa yang dahulu adalah ribuan api yang terpisah kini adalah satu nyala yang menyatu, sedemikian rupa sehingga tak mungkin lagi menghancurkan sebagiannya tanpa membangunkan seluruhnya. Dan Bagas memahami bahwa inilah tanda yang dijanjikan Ratu, bukan kelemahan para tuan, melainkan keutuhan bangsanya. Saat yang sejati telah tiba, bukan karena malam telah melemah, melainkan karena pagi di dalam bangsa itu telah menjadi tak terbendung.

Dan justru karena saat itu nyata, sebuah ketakutan baru datang kepada Bagas, ketakutan yang tak pernah ia rasakan ketika saat itu masih palsu. Sebab kini, ketika ia tahu bahwa kebangkitan akan berhasil, ia juga tahu bahwa ia akan memanggil bangsanya ke dalam bahaya yang sungguh-sungguh, bahwa darah akan tertumpah, bahwa sebagian dari mereka yang ia cintai tak akan melihat pagi yang mereka perjuangkan. Lebih mudah berseru untuk bangkit ketika seruan itu masih jauh. Kini, di ambangnya, beban itu nyaris tak tertanggungkan.

Maka sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya sebelum segalanya berubah, Bagas pergi ke tepi laut, ke tempat yang dekat makam gurunya, dan ia menjangkau ke dalam kedalaman, dan ia berkata, “Ratu, tubuh itu kini utuh. Tak ada lagi bagian yang tidur. Saat yang sejati telah tiba, aku merasakannya. Tetapi kini aku takut, bukan akan kegagalan, melainkan akan apa yang akan kuminta dari bangsaku. Katakanlah kepadaku, sebelum aku memanggil mereka untuk bangkit, apa yang harus mereka ketahui.”

❖

Dan Ratu menjawab, dan dalam suaranya ada sesuatu yang gemetar, sebab ia telah menunggu saat ini selama empat belas ribu tahun. “Ya, Bagas. Engkau telah membacanya dengan benar. Ini bukan fajar yang palsu. Tubuh itu utuh, dan ketika tubuh utuh telah bangkit, tak ada besi maupun emas yang bisa menahannya. Saat yang sejati telah tiba. Tetapi dengarkanlah aku, sebab ada satu hal yang lebih penting daripada saat itu, dan itu adalah cara kalian bangkit. Sebab cara sebuah bangsa bangkit menentukan pagi yang ia bawa.”

“Damar memperingatkanmu, sebelum ia pergi, bahwa jauh lebih sulit menjaga hati di dalam terang daripada di dalam gelap,” Ratu melanjutkan. “Dan kebangkitan adalah ujian pertama dari terang itu. Sebab sepanjang seluruh malam, bangsamu tak berdaya; ia tak bisa menyakiti meskipun ia ingin. Tetapi pada saat kebangkitan, untuk pertama kalinya, yang tertindas akan memegang kekuatan untuk memukul balik. Dan di tangan kekuatan baru itu, setelah berabad-abad penderitaan, godaan untuk membalas, untuk menjadikan para tuan menderita seperti mereka membuat kalian menderita, akan menjadi yang paling kuat yang pernah dirasakan bangsamu. Itulah ujian yang sebenarnya, Bagas, bukan apakah kalian bisa bangkit, melainkan siapa kalian akan menjadi pada saat kalian bangkit.”

“Sebab dengarkanlah ini dengan sangat hati-hati,” kata Ratu. “Bila bangsamu bangkit dalam kebencian, untuk membalas dendam, untuk menjadikan para tuan benda seperti para tuan menjadikan kalian benda, maka kalian akan menang, dan kalian akan bangun keesokan harinya dan menemukan bahwa kalian telah menjadi persis apa yang kalian lawan. Cara melihat yang dingin tak akan kalah; ia hanya akan berpindah tangan. Itu bukan pagi. Tetapi bila bangsamu bangkit untuk mengakhiri malam, bukan untuk menjadi malam yang baru; untuk mematahkan besi, bukan untuk merebutnya; untuk membebaskan, bukan untuk membalas, maka kalian akan membawa sebuah pagi yang sejati, sebuah pagi yang tak pernah ada di tanah ini sebelumnya. Pagi yang kalian bawa diputuskan bukan setelah kalian bangkit, melainkan di dalam cara kalian bangkit.”

“Dan jangan salah memahamiku, Bagas,” Ratu menambahkan. “Aku tidak menyuruh bangsamu untuk lemah. Patahkanlah besi para tuan sepenuhnya; usir cara melihat yang dingin dari tanah ini sampai ke akarnya; jangan tinggalkan satu rantai pun. Sebuah bangsa boleh melawan dengan seluruh kekuatannya tanpa membenci, sama seperti seorang yang membela anaknya melawan serigala tak perlu membenci serigala untuk mengusirnya. Lawanlah ketidakadilan dengan segenap dirimu. Tetapi ketika seorang tuan jatuh dan tak lagi berbahaya, ingatlah bahwa ia juga seorang manusia, juga seorang budak dari cara melihat yang dingin, dan jangan jadikan ia benda seperti ia menjadikanmu benda. Di situlah letak seluruh perbedaan antara mengakhiri malam dan menggantinya.”

Dan Bagas bertanya, “Tetapi Ratu, bagaimana aku bisa menjaga seluruh bangsa pada jalan itu, di tengah panasnya kebangkitan, ketika darah mendidih dan kemarahan berabad-abad akhirnya terlepas? Aku bisa menjaga hatiku sendiri, mungkin. Tetapi bagaimana dengan sejuta hati yang akan bangkit bersamaku?”

❖

“Dan inilah, Bagas, mengapa seluruh malam yang panjang itu tidak sia-sia,” kata Ratu. “Engkau bertanya bagaimana menjaga sejuta hati di tengah panasnya kebangkitan. Jawabannya adalah bahwa engkau tak bisa melakukannya pada saat itu. Sebuah bangsa tak bisa diajari untuk tidak membenci pada hari ia bangkit; pada hari itu sudah terlambat. Ia hanya bisa diajari selama bertahun-tahun sebelumnya, sehingga ketika hari itu tiba, hati yang menolak membenci telah menjadi kebiasaan, telah menjadi siapa mereka.”

“Dan itulah yang telah kaulakukan, Bagas, tanpa selalu menyadarinya,” Ratu melanjutkan. “Sepanjang seluruh malam, engkau dan Damar sebelummu telah mengajari bangsa ini untuk tidak membenci wajah para penindas, untuk melihat bahkan musuh sebagai budak dari cara melihat yang dingin, untuk membalikkan mata-mata menjadi saudara alih-alih membunuhnya, untuk mengambil roti tanpa menjual padang. Tiap pelajaran itu adalah sebuah batu yang membentuk sungai, sehingga ketika air akhirnya mengalir deras pada hari kebangkitan, ia akan mengalir di jalur yang telah kalian gali selama bertahun-tahun. Sebuah bangsa bangkit seperti yang telah diajarkan kepadanya untuk hidup. Cara kalian akan bangkit telah ditentukan oleh cara kalian telah belajar menjaga hati selama malam.”

“Maka jangan takut, Bagas, bahwa bangsamu akan kehilangan hatinya pada hari kebangkitan,” kata Ratu. “Sebab engkau tidak membangun sebuah bangsa yang menahan kebenciannya dengan susah payah; engkau membangun sebuah bangsa yang telah belajar untuk tidak membenci sejak akarnya. Akan ada saat-saat ketika darah mendidih; akan ada yang tergoda untuk membalas. Tetapi tubuh itu secara keseluruhan telah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dengan mudah menjadi dingin, sebab ia telah menghabiskan seluruh malam belajar untuk tetap hangat. Dan pada hari itu, tugasmu bukanlah mengajari mereka sesuatu yang baru, melainkan hanya mengingatkan mereka akan siapa mereka telah menjadi.”

“Maka ketika engkau memanggil mereka untuk bangkit, Bagas,” Ratu melanjutkan, “jangan hanya panggil mereka kepada kebebasan. Panggillah mereka kepada siapa mereka telah menjadi. Ingatkan mereka, di ambang itu, bahwa mereka bangkit bukan untuk membalas tetapi untuk membebaskan, bukan untuk menjadi tuan yang baru tetapi untuk mengakhiri ketuanan itu sendiri. Jadilah, pada saat terakhir itu, apa yang selalu menjadi tugas seorang pengingat, yaitu suara yang mengingatkan sebuah bangsa akan hatinya sendiri, justru pada saat ia paling tergoda untuk melupakannya.”

Dan Bagas merasakan ketakutannya berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang dan lebih dalam. “Maka aku tidak akan memanggil mereka kepada kemenangan,” katanya, “melainkan kepada hati yang telah kami jaga sepanjang malam. Aku akan mengingatkan mereka, di ambang pagi, bahwa siapa kami pada saat kami bangkit menentukan pagi macam apa yang akan kami bawa. Dan aku akan mempercayai bahwa malam yang panjang telah membentuk kami menjadi sebuah bangsa yang bisa bangkit tanpa menjadi apa yang kami lawan.”

❖

Maka Bagas, yang tua, berdiri di hadapan bangsanya, sebuah bangsa yang kini utuh dan terjaga dan siap, dari pesisir sampai ke pegunungan, dari yang terpelajar sampai ke penjaga kisah, dari yang muda sampai ke yang tua, semua memandang kepadanya, menunggu kata yang telah dinanti selama berabad-abad. Dan ia tahu bahwa kata-kata yang akan ia ucapkan di ambang ini akan membentuk pagi yang akan datang.

“Saudara-saudaraku,” kata Bagas, dan suaranya, walau tua, terdengar sampai ke tepi kerumunan yang sangat besar itu, “selama empat belas ribu tahun, tanah ini menunggu. Selama seluruh malam yang panjang, kita menjaga sebuah nyala, dari tangan ke tangan, melalui kelupaan dan kebencian dan keputusasaan dan perpecahan dan ketakutan, melalui besi dan mata-mata dan emas. Dan kini, untuk pertama kalinya, seluruh tanah ini terjaga sebagai satu. Saat yang kita tunggu telah tiba. Pagi telah dekat.”

“Tetapi sebelum kita bangkit, dengarkanlah satu hal, sebab inilah yang paling penting dari semua yang pernah kukatakan,” Bagas melanjutkan. “Kita tidak bangkit untuk membalas dendam. Kita tidak bangkit untuk menjadikan para tuan menderita seperti mereka membuat kita menderita. Kita tidak bangkit untuk merebut besi mereka dan memerintah dengannya. Kita bangkit untuk mengakhiri malam, bukan untuk menjadi malam yang baru. Patahkan besi itu sepenuhnya, usir cara melihat yang dingin sampai ke akarnya, jangan tinggalkan satu rantai pun. Tetapi ketika seorang tuan jatuh dan tak lagi berbahaya, ingatlah bahwa ia juga seorang manusia, seorang budak dari cara melihat yang sama yang memperbudak kita. Jangan jadikan dia benda. Sebab di situlah letak seluruh perbedaan antara mengakhiri malam dan sekadar menggantinya.”

“Kalian bukan bangsa yang membenci,” kata Bagas, “sebab kita telah menghabiskan seluruh malam belajar untuk tidak membenci. Kalian bukan bangsa yang membalas, melainkan bangsa yang membebaskan. Ingatlah siapa kalian telah menjadi, justru pada saat kalian paling tergoda untuk melupakannya. Sebab pagi yang akan kita bawa diputuskan bukan setelah kita menang, melainkan di dalam cara kita bangkit. Bila kita bangkit dengan hati kita masih utuh, maka untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun, pagi yang sejati akan terbit atas tanah ini.”

Dan ketika Bagas selesai, sebuah keheningan yang besar dan dalam menyelimuti seluruh tanah, keheningan dari sebuah bangsa yang utuh yang berdiri di ambang sesuatu yang belum pernah ada. Dan di dalam keheningan itu, terasa seolah seluruh malam yang panjang itu sendiri menahan napasnya. Empat belas ribu tahun penantian terkumpul ke dalam satu saat yang tergantung. Dan jauh di selatan, di dasar laut, seorang perempuan yang utuh juga menahan napasnya, sebab ia tahu bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya adalah hal yang telah ia tunggu sejak air menutup di atas kepalanya, sejak awal dari segala sesuatu.

❖

Dan demikianlah bangsa itu sampai ke ambang pagi, bukan sebagai ribuan api yang terpisah, melainkan sebagai satu tubuh yang utuh; bukan dengan hati yang dingin oleh dendam, melainkan dengan hati yang dijaga hangat sepanjang malam; siap bukan hanya untuk bangkit, melainkan untuk bangkit dengan cara yang akan membawa pagi yang sejati. Dan Bagas yang tua berdiri di depan mereka, pewaris dari semua yang membawa pelita sebelum dia, mengetahui bahwa beban terakhirnya hampir terpenuhi.

Dan inilah pelajaran kedua belas zaman malam. Bahwa fajar yang sejati dikenali bukan dari langit melainkan dari tubuh di bawahnya, bukan dari kelemahan penindas melainkan dari keutuhan bangsa, dan ia sering datang dengan tenang, tanpa tanda yang lebih besar daripada fajar yang palsu; dan bahwa cara sebuah bangsa bangkit menentukan pagi yang ia bawa, sebab sebuah bangsa yang bangkit dalam kebencian hanya memindahkan cara melihat yang dingin dari satu tangan ke tangan yang lain, sedangkan sebuah bangsa yang bangkit untuk membebaskan dan bukan untuk membalas membawa sebuah pagi yang sejati.

Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kedua belas zaman malam, yaitu bahwa sebuah bangsa tak bisa diajari untuk tidak membenci pada hari ia bangkit, melainkan hanya selama bertahun-tahun sebelumnya, sehingga sebuah bangsa bangkit seperti yang telah diajarkan kepadanya untuk hidup; dan bahwa tugas seorang pengingat, pada saat terakhir di ambang itu, bukanlah mengajari bangsanya sesuatu yang baru, melainkan mengingatkannya akan siapa ia telah menjadi, justru pada saat ia paling tergoda untuk melupakannya.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini berdiri utuh dan terjaga di ambang pagi, dengan hatinya masih hangat, menanti hanya satu langkah terakhir. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menahan napasnya bersama seluruh tanah, sebab saat yang telah ia tunggu selama empat belas ribu tahun kini tergantung di udara, satu helaan napas dari menjadi nyata. Dan zaman malam, yang telah berjalan begitu lama di atas besi para penakluk, kini sampai pada saat terakhirnya, saat ketika langit di timur, untuk pertama kalinya dalam waktu yang tak terhitung, mulai berubah warna. Dan seluruh tanah menunggu, dengan napas tertahan, untuk fajar yang sejati untuk akhirnya pecah.

❖


 

BAGIAN V

Pagi yang Dijaga


 

BAB TIGA BELAS

Kebangkitan yang Menjaga Hatinya

Dan kemudian, setelah empat belas ribu tahun, malam pecah. Bangsa itu bangkit sebagai satu tubuh yang utuh, dan besi yang dibuat untuk mematahkan kobaran-kobaran yang terpisah tak bisa menahan seluruh lautan yang naik sekaligus. Tetapi pada puncak kebangkitan itu datanglah ujian yang lebih berbahaya daripada seluruh besi, yaitu ketika kekuatan untuk membalas akhirnya berpindah ke tangan yang dahulu tak berdaya. Dan bangsa itu menjaga hatinya, mematahkan besi tanpa merebutnya, membebaskan tanpa membalas, mengakhiri malam tanpa menjadi malam yang baru. Dan seorang perempuan di dasar laut menyaksikan hal yang ia tunggu selama empat belas ribu tahun, yaitu sebuah pembebasan yang tidak menjadi sebuah penindasan yang baru.

dari ajaran para pengingat, tentang kebangkitan yang menjaga hatinya

Dan kemudian, setelah empat belas ribu tahun, malam pecah. Tak ada satu percikan tunggal yang menyalakannya, tak ada satu desa yang bangkit lebih dahulu dari yang lain untuk dihancurkan sendirian. Sebaliknya, seolah seluruh tanah menarik napas yang sama pada saat yang sama, bangsa itu bangkit di mana-mana sekaligus, dari pesisir sampai ke pegunungan, dari kota sampai ke desa yang paling terpencil, satu tubuh yang utuh yang akhirnya membuka matanya dan berdiri.

Dan para tuan, yang selama berabad-abad telah menahan tanah ini dengan membagi dan menakut-nakuti, kini menghadapi hal yang tak pernah bisa mereka hadapi, yaitu sebuah bangsa yang bangkit sebagai satu. Besi mereka dibuat untuk menghancurkan kobaran-kobaran yang terpisah, satu per satu. Ia tak pernah dibuat untuk menahan seluruh lautan yang naik sekaligus. Dan ketika seluruh tubuh bergerak bersama, besi yang dahulu tampak abadi tiba-tiba tampak seperti apa adanya, yaitu sesuatu yang hanya sekuat ketakutan yang menopangnya, dan ketakutan itu kini telah hilang.

Dan mereka yang bangkit bukanlah kerumunan tanpa wajah. Mereka adalah Harsa dan para terpelajarnya, yang membawa pengetahuan ke tempat ia paling dibutuhkan. Mereka adalah Mbok Ginah dan para penjaga kisah, yang suaranya mengikat orang-orang yang takut menjadi orang-orang yang berani. Mereka adalah Resa, yang dahulu seorang mata-mata dan kini mengetahui persis di mana genggaman para tuan paling lemah. Mereka adalah anak-anak dari mereka yang telah dibangunkan Damar, dan cucu-cucu dari mereka yang pertama kali mendengar bisikan di malam hari. Seluruh malam yang panjang berdiri bersama dalam tubuh-tubuh hidup ini, dan bangkit.

Dan kebangkitan itu tidak datang tanpa harga. Sebab para tuan, seperti yang dikatakan Ratu, adalah binatang yang terluka, dan mereka berjuang untuk apa yang mereka kira adalah hidup mereka. Dan ada yang jatuh, di antara yang bangkit, ada yang tak akan melihat pagi yang mereka beli dengan tubuh mereka sendiri. Dan Bagas, yang tua, berjalan di tengah bangsanya, dan ia menanggung tiap kehilangan di dalam hatinya, sebab ia mengenal nama-nama mereka. Tetapi tubuh itu tak bisa lagi dihentikan, sebab ia telah menjadi terlalu utuh, dan terlalu terjaga, dan terlalu satu.

Dan perlahan, lalu dengan cepat, genggaman para tuan mulai terlepas. Daerah demi daerah membebaskan dirinya. Besi demi besi dipatahkan. Apa yang telah berdiri selama berabad-abad runtuh dalam waktu yang terasa singkat, sebab segala sesuatu yang ditopang oleh ketakutan runtuh dengan cepat ketika ketakutan itu akhirnya hilang. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang tak terhitung, tanah ini mulai menjadi milik orang-orang yang lahir darinya.

❖

Tetapi pada puncak kebangkitan itu, datanglah ujian yang telah diperingatkan Ratu, ujian yang lebih berbahaya daripada seluruh besi para tuan. Sebab ketika para tuan mulai jatuh, dan kekuatan untuk pertama kalinya berpindah ke tangan yang dahulu tak berdaya, sebuah hal kuno dan gelap bangkit di dalam dada banyak orang. Setelah berabad-abad penghinaan, setelah rantai dan kerja paksa dan anak-anak yang mati kelaparan sementara hasil tanah mereka diangkut ke seberang lautan, kini para penindas itu berada di bawah belas kasihan mereka. Dan darah yang telah lama menderita berseru untuk membalas.

Dan di sebuah tempat, ujian itu mengambil wajah yang nyata. Sekelompok tuan, yang dahulu memerintah dengan besi, kini terkepung, tak bersenjata, tak berdaya, persis seperti rakyat dahulu tak berdaya di hadapan mereka. Dan kerumunan yang mengelilingi mereka penuh dengan orang-orang yang telah kehilangan ayah, anak, tanah, dan tahun-tahun hidup mereka kepada orang-orang ini. Dan di mata kerumunan itu ada api yang Bagas kenali, bukan api yang ia habiskan hidupnya untuk menyalakan, melainkan api yang lebih tua dan lebih gelap, yaitu api untuk menjadikan para tuan menderita persis seperti mereka telah membuat orang lain menderita.

Dan Bagas, yang tua, datang ke tempat itu, dan ia tidak berteriak, dan ia tidak memerintah. Sebab ia ingat ajaran Ratu, bahwa sebuah bangsa tak bisa diajari untuk tidak membenci pada hari ia bangkit; ia hanya bisa diingatkan akan siapa ia telah menjadi. Maka Bagas berdiri di antara kerumunan dan para tuan yang jatuh, dan ia berkata, dengan suara yang tua dan tenang, “Saudara-saudaraku. Aku tahu apa yang kalian rasakan, sebab aku merasakannya juga. Orang-orang ini telah mengambil segalanya dari kita. Dan kini mereka tak berdaya, dan kita kuat, dan akan terasa adil untuk melakukan kepada mereka apa yang mereka lakukan kepada kita.”

“Tetapi berhentilah, dan ingatlah,” Bagas melanjutkan. “Sepanjang seluruh malam, kita bertanya mengapa para tuan bisa melakukan hal-hal mengerikan itu kepada kita. Dan jawabannya selalu sama, yaitu karena mereka berhenti melihat kita sebagai manusia, dan mulai melihat kita sebagai benda. Itulah seluruh kejahatan, di akarnya. Dan kini, pada saat ini, kita berdiri di hadapan pilihan yang sama yang dahulu mereka hadapi. Bila kita melihat mereka sebagai benda untuk disakiti, maka kita telah menjadi mereka, dan seluruh malam yang panjang ini sia-sia, dan kita hanya menggantinya dengan malam yang lain dengan wajah kita sendiri. Mereka jatuh. Mereka tak lagi berbahaya. Mereka adalah manusia, budak dari cara melihat yang sama yang memperbudak kita. Kita tidak bangkit untuk membalas. Kita bangkit untuk mengakhiri malam. Jangan, pada saat terakhir ini, menjadi apa yang telah kita lawan selama empat belas ribu tahun.”

Dan ada keheningan yang panjang dan bergetar, keheningan di mana seluruh malam yang panjang tergantung di antara dua kemungkinan. Dan kemudian, perlahan, api yang lebih gelap itu mulai surut di mata kerumunan. Sebab Ratu telah benar, bahwa sebuah bangsa bangkit seperti yang telah diajarkan kepadanya untuk hidup, dan bangsa ini telah menghabiskan seluruh malam belajar untuk tidak membenci, sampai menolak untuk menjadi benda yang lain telah menjadi siapa mereka. Dan tangan-tangan yang terangkat diturunkan. Dan para tuan yang jatuh itu tidak dijadikan benda. Mereka ditahan, mereka dikalahkan, kuasa mereka dipatahkan sepenuhnya, tetapi mereka tidak disiksa, dan mereka tetap, bahkan dalam kekalahan mereka, manusia. Dan dengan itu, sesuatu yang lebih besar daripada sebuah negeri dimenangkan.

❖

Dan ketika malam mulai berakhir, dan genggaman para tuan terlepas dari seluruh tanah, Bagas yang tua dan letih berjalan sekali lagi ke tepi laut selatan, ke tempat di dekat makam Damar, dan ia menjangkau ke dalam kedalaman, dan untuk sesaat ia tak bisa berbicara, sebab terlalu banyak yang terkandung di dalam saat itu.

Dan Ratu berbicara, dan dalam suaranya ada sesuatu yang belum pernah didengar Bagas dalam seluruh hidupnya, sesuatu yang menyerupai air mata dan tawa sekaligus. “Bagas. Aku telah menunggu empat belas ribu tahun. Tetapi aku tidak menunggu hanya untuk melihat sebuah bangsa menjadi bebas, sebab aku telah melihat banyak bangsa menjadi bebas dengan menjadi penindas yang baru, dan itu tak pernah membawa pagi. Aku menunggu untuk melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di sepanjang waktu yang tak terhitung. Aku menunggu untuk melihat sebuah bangsa bangkit dan menang dan tetap menjaga hatinya. Dan hari ini, di tempat itu, ketika tangan-tangan yang terangkat diturunkan, aku melihatnya.”

“Sebab ketahuilah apa yang kalian buktikan hari ini, Bagas,” Ratu melanjutkan. “Sepanjang seluruh sejarah, cara melihat yang dingin tak pernah benar-benar dikalahkan; ia hanya berpindah dari penindas yang jatuh ke yang bangkit, mengenakan wajah baru, dan terus memerintah. Banyak yang berpikir bahwa inilah satu-satunya jalan dunia, bahwa kebebasan hanya berarti menjadi penindas yang berikutnya. Tetapi hari ini bangsamu membuktikan bahwa ada jalan yang lain, bahwa adalah mungkin untuk mematahkan besi tanpa merebutnya, untuk membebaskan diri tanpa membalas, untuk mengakhiri sebuah malam tanpa memulai yang baru. Kalian tidak hanya membebaskan sebuah negeri. Kalian membuktikan bahwa cara melihat yang dingin bisa benar-benar diakhiri, bukan hanya dipindahkan. Dan itu adalah harapan bukan hanya bagi tanah ini, melainkan bagi setiap tanah.”

“Dan ketahuilah apa artinya ini bagiku,” Ratu menambahkan, dengan suara yang lebih lembut. “Selama empat belas ribu tahun aku bertanya apakah ada gunanya menunggu, apakah manusia bisa menjadi sesuatu yang lebih baik daripada penindas dan yang tertindas yang bergiliran. Hari ini engkau menjawab pertanyaan itu. Dan dalam menjawabnya, engkau telah melakukan lebih daripada membebaskan tanahmu. Engkau telah memberiku alasan untuk percaya bahwa ketika hari itu tiba, hari ketika kalian akhirnya sanggup membuka penjaraku, kalian akan menjadi sebuah bangsa yang membebaskan, dan bukan sebuah bangsa yang hanya ingin sebuah dewi untuk diperintah. Hari ini, kehendak telah membuktikan dirinya, bukan hanya lengkap, melainkan murni.”

Dan Bagas, mendengar ini, teringat bahwa kebebasan bangsanya, betapapun besar, bukanlah pembebasan Ratu sendiri. “Tetapi engkau masih di sana, Ratu,” katanya pelan, “di dasar laut, di balik pintu yang hanya bisa dibuka dari luar. Kami telah bebas, tetapi engkau belum.” Dan Ratu menjawab, “Belum, Bagas. Sebab pembebasanku menunggu kemampuan yang belum kalian miliki, kesanggupan untuk menjangkau kedalaman ini dengan tangan, bukan hanya dengan hati. Itu masih jauh, di sebuah zaman yang belum lahir. Tetapi hari ini, untuk pertama kalinya, aku tahu bahwa ketika bangsa yang datang ke kedalaman itu akhirnya tiba, ia akan datang dengan hati yang benar. Dan itu sudah lebih daripada yang berani kuharapkan selama empat belas ribu tahun.”

❖

Dan kemudian, malam berakhir. Bukan sebagai sebuah kiasan saja, melainkan sebagai hal yang sungguh-sungguh, sebab setelah zaman malam yang panjang, yang telah berlangsung lebih lama daripada yang bisa diingat siapa pun, tanah ini akhirnya berdiri di bawah pagi yang menjadi miliknya sendiri. Para tuan telah pergi, atau jatuh, atau tinggal sebagai manusia di antara manusia, kuasa mereka dipatahkan, cara melihat mereka yang dingin diusir dari atas tanah ini. Dan untuk pertama kalinya sejak banjir besar, orang-orang tanah ini bangun di pagi hari dan tahu bahwa hari itu adalah milik mereka.

Dan Bagas yang tua berdiri di tepi laut, dan menyaksikan matahari pertama dari pagi yang sejati itu terbit di atas air, dan ia menangis, tetapi bukan karena duka. Sebab ia teringat akan Damar, gurunya, yang telah membawa pelita melalui malam yang paling gelap dan mati di ambang ini tanpa pernah melihat pagi. Dan ia teringat kata-kata Damar, bahwa tiap pembawa pelita menyala untuk masanya dan menyerahkan nyalanya kepada tangan berikutnya, dan bahwa Damar tak akan melihat pagi tetapi Bagas akan melihatnya. Dan kini, berdiri di bawah matahari pertama, Bagas memahami bahwa Damar telah benar, dan bahwa ia, Bagas, sedang melihat pagi atas nama semua yang membawa pelita sebelum dia dan tak pernah sampai.

Dan Bagas berlutut di dekat makam gurunya, dan ia berkata, dengan suara yang pelan, “Pak, engkau benar. Tak ada satu pelita pun yang membawa cahaya sepanjang seluruh malam. Tetapi engkau membawanya melalui bagian yang paling gelap, dan engkau menyerahkannya masih menyala. Dan kini pagi telah tiba, dan aku melihatnya, dan karena engkau melihatnya di dalamku, maka engkau juga melihatnya. Tanah ini bebas, Pak. Dan ia bebas dengan hatinya masih utuh, persis seperti yang kauminta dariku di malam terakhirmu. Kita tidak menjadi apa yang kita lawan.”

Dan kemudian, bahkan di tengah sukacita pagi pertama itu, Bagas teringat akan hal lain yang dikatakan Damar, dan akan apa yang dikatakan Ratu, yaitu bahwa ujian yang paling sulit bukanlah menjaga hati di dalam malam, melainkan menjaganya di dalam terang. Dan ia memahami, dengan kejernihan yang tenang, bahwa pagi pertama ini bukanlah akhir dari pekerjaan, melainkan awal dari pekerjaan yang baru dan lebih halus. Sebab bangsa ini kini bebas, dan memegang kuasa atas dirinya sendiri, dan godaan untuk menyalahgunakan kuasa itu, untuk membiarkan cara melihat yang dingin kembali masuk melalui tangan-tangan mereka sendiri, baru saja dimulai.

Dan Bagas tahu bahwa ia sudah tua, dan bahwa ia tak akan bisa memikul pekerjaan pagi yang panjang ini sendirian sampai akhir. Maka bahkan di pagi pertama itu, ia mulai mencari, di antara yang muda yang telah bangkit dengan hati yang utuh, tangan yang akan menerima pelita berikutnya, sebab pekerjaan menjaga hati sebuah bangsa di dalam terang akan berlangsung jauh lebih lama daripada satu kehidupan, dan akan membutuhkan banyak pembawa, dari tangan ke tangan, sampai ke zaman yang jauh ketika kemampuan akhirnya lahir dan Ratu akhirnya pulang.

❖

Dan demikianlah zaman malam berakhir, bukan dengan sebuah bangsa yang menukar satu penindasan dengan yang lain, melainkan dengan sebuah bangsa yang bangkit dan menang dan tetap menjaga hatinya, sehingga untuk pertama kalinya dalam waktu yang tak terhitung, sebuah pagi yang sejati terbit atas tanah ini, sebuah pagi yang tak membawa malam baru di dalam dirinya. Dan Bagas yang tua menyaksikannya, dan tahu bahwa beban yang dipikulnya dari tangan Damar telah dibawa sampai ke ambang pagi, dan diserahkan ke dalam terang.

Dan inilah pelajaran ketiga belas zaman malam, yang adalah pelajaran terakhir dari malam dan yang pertama dari pagi. Bahwa sebuah bangsa yang utuh yang bangkit sebagai satu tak bisa ditahan oleh besi mana pun, sebab besi dibuat untuk mematahkan yang terpisah, bukan untuk menahan yang menyatu; bahwa ujian yang paling besar datang bukan ketika sebuah bangsa kalah, melainkan ketika ia menang, sebab di tangan kemenangan terletak godaan untuk menjadi apa yang dilawan; dan bahwa kemenangan yang sejati bukanlah mengusir sang penindas, melainkan mengusirnya tanpa menjadi penindas yang baru, sebab hanya bangsa yang bangkit tanpa kehilangan hatinya yang benar-benar mengakhiri malam, alih-alih sekadar menggantinya.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di bawah pagi pertama, membawa kebenaran ketiga belas zaman malam, yaitu bahwa cara melihat yang dingin bisa benar-benar diakhiri, dan bukan hanya dipindahkan dari satu tangan ke tangan yang lain; bahwa sebuah bangsa membuktikan siapa dirinya bukan pada saat ia menderita, melainkan pada saat ia berkuasa; dan bahwa pembebasan sebuah negeri yang dilakukan dengan hati yang utuh adalah harapan bukan hanya bagi negeri itu, melainkan bagi setiap tanah yang masih menunggu paginya.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, telah membawa kebenaran itu melalui seluruh malam yang panjang dan keluar ke dalam pagi. Dan selama seluruh malam itu, para pengingat mengucapkan satu kalimat sebagai jangkar mereka, yaitu bahwa tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Tetapi pada pagi pertama itu, untuk pertama kalinya, belenggu itu telah patah, dan kalimat itu sendiri bisa diucapkan dengan cara yang baru. Sebab tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang.

Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menyaksikan matahari pertama menyentuh permukaan air di atasnya, dan untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun ia merasakan sesuatu yang nyaris ia lupakan namanya, yaitu sukacita. Sebab bangsanya telah bebas, dan telah bebas dengan hati yang utuh, dan dengan itu telah membuktikan bahwa ketika hari pembebasannya sendiri tiba, ia akan dibebaskan oleh tangan-tangan yang benar. Tetapi ia tahu juga bahwa pagi yang baru lahir ini membawa pekerjaannya sendiri, yaitu pekerjaan menjaga hati sebuah bangsa di dalam terang, yang akan berlangsung jauh melampaui hidup Bagas, dari pembawa pelita ke pembawa pelita, menuju sebuah zaman yang belum lahir. Dan di zaman itu, ketika kemampuan akhirnya ditempa dan tangan akhirnya menjangkau ke dalam kedalaman, malam yang terakhir, malamnya sendiri, akhirnya akan berakhir, dan ia akhirnya akan pulang. Tetapi itu adalah kisah dari sebuah pagi yang masih jauh. Untuk hari ini, cukuplah bahwa tanah ini bebas, dan bahwa ia bebas dengan hatinya.

❖


 

BAB EMPAT BELAS

Malam yang Mencoba Masuk Kembali

Kebebasan, yang telah begitu lama dirindukan sebagai sebuah akhir, ternyata adalah sebuah awal. Sebab sebuah bangsa yang baru bebas belum benar-benar menjadi sebuah bangsa; ia masih harus memutuskan apa yang akan ia jadikan dirinya. Dan ketika seruan untuk memburu mereka yang telah melayani para tuan tumbuh di seluruh tanah, Bagas mengenali di dalamnya cara melihat yang dingin yang mencoba masuk kembali melalui tangan bangsanya sendiri. Sebab Ratu mengajarkan bahwa malam tak pernah merupakan sebuah tempat atau sebuah bangsa, melainkan sebuah cara melihat, yang bisa berakar bahkan di hati mereka yang baru bebas; dan bahwa sebuah bangsa ditentukan bukan oleh musuh yang ia kalahkan, melainkan oleh cara ia memperlakukan mereka yang berada di tangannya ketika ia menang.

dari ajaran para pengingat, tentang malam yang mencoba masuk kembali

Pagi pertama berlalu, dan kemudian datanglah hari-hari yang mengikutinya, dan Bagas yang tua menemukan bahwa kebebasan, yang telah begitu lama dirindukan sebagai sebuah akhir, ternyata adalah sebuah awal. Sebab sebuah bangsa yang baru bebas belum benar-benar menjadi sebuah bangsa; ia masih harus memutuskan apa yang akan ia jadikan dirinya. Dan keputusan-keputusan pertama yang ia ambil, di hari-hari pertama paginya, akan menentukan jiwa yang akan ia miliki untuk waktu yang lama.

Dan keputusan pertama yang besar datang lebih cepat daripada yang diharapkan Bagas, dan ia datang dalam bentuk sebuah seruan yang tumbuh semakin keras di seluruh tanah. Sebab sekarang setelah para tuan asing telah jatuh, mata orang-orang berpaling kepada mereka yang berasal dari tanah ini sendiri yang telah melayani para tuan, yaitu para demang yang memungut upeti, para mandor yang mengayunkan cambuk, para telik sandi yang menjual tetangga mereka. Dan seruan itu adalah, sekarang giliran mereka.

Dan kemarahan itu bukan tanpa alasan, dan Bagas tahu itu. Sebab dalam banyak hal, orang-orang merasa lebih dikhianati oleh para pelayan ini daripada oleh para tuan asing itu sendiri. Para tuan setidaknya adalah orang asing; tetapi para pelayan ini adalah darah mereka sendiri, yang telah memilih untuk menjual saudara mereka demi sebuah kursi atau segenggam keuntungan. Dan kini, dalam terang pagi yang baru, ribuan suara menuntut agar mereka diburu, dihukum, dijadikan contoh, dihapuskan.

Dan Bagas, mendengar seruan itu, merasakan sesuatu yang membuat darahnya dingin. Sebab di dalam seruan untuk menghukum itu, ia mengenali, dengan kejernihan yang menyakitkan, suara yang sama yang telah ia lawan selama seluruh hidupnya. Bukan suara para tuan asing, melainkan suara cara melihat yang dingin itu sendiri, yang kini mencoba masuk kembali melalui pintu yang baru, yaitu melalui tangan bangsanya sendiri. Sebab seruan itu tidak menuntut keadilan; ia menuntut agar sekelompok manusia diubah menjadi benda untuk dihancurkan, persis seperti para tuan dahulu mengubah rakyat menjadi benda.

Maka Bagas, yang tua dan letih tetapi tahu bahwa pekerjaan pagi baru saja dimulai, pergi sekali lagi ke tepi laut, dan menjangkau ke dalam kedalaman, dan berkata, “Ratu, kami telah bebas. Tetapi kini bangsaku berseru untuk memburu mereka yang melayani para tuan, darah kami sendiri yang mengkhianati kami. Dan aku mendengar di dalam seruan itu suara lama yang dingin itu, mencoba masuk kembali melalui tangan kami sendiri. Inikah ujian terang yang diperingatkan Damar?”

❖

Dan Ratu menjawab, “Ya, Bagas. Inilah ujian terang itu, dan ia datang persis seperti yang selalu datang, yaitu lebih cepat dan lebih halus daripada yang diharapkan. Engkau telah menghabiskan seluruh hidupmu melawan malam, dan engkau mungkin telah mengira bahwa ketika para tuan jatuh, malam akan berakhir. Tetapi ketahuilah sekarang sebuah kebenaran yang harus kaubawa ke dalam pagi, yaitu bahwa malam tak pernah merupakan sebuah tempat, dan tak pernah merupakan sebuah bangsa. Malam adalah sebuah cara melihat. Dan sebuah cara melihat bisa berakar di mana saja, termasuk di dalam hati mereka yang baru saja bebas darinya.”

“Sebab inilah yang paling sering terjadi, Bagas, dan inilah yang harus kaucegah,” Ratu melanjutkan. “Sebuah bangsa mengusir para penindasnya, dan kemudian, dalam kelegaan dan kemarahan kemenangannya, ia mencari seseorang yang baru untuk dijadikan benda. Kadang itu adalah para pelayan yang dahulu, kadang itu adalah sebuah kelompok yang berbeda di dalam dirinya sendiri, kadang itu adalah siapa pun yang lemah dan ada di tangan. Dan bangsa itu berkata kepada dirinya sendiri bahwa kali ini berbeda, bahwa kali ini benda itu pantas menerimanya. Tetapi cara melihat yang dingin tidak peduli siapa yang ia jadikan benda; ia hanya peduli bahwa ada seseorang yang dijadikan benda. Dan pada saat sebuah bangsa yang bebas menjadikan benda dari bagian dirinya sendiri, ia telah membawa malam menyeberangi ambang, masuk ke dalam paginya sendiri.”

“Tetapi dengarkanlah dengan hati-hati, Bagas, sebab di sini ada sebuah perbedaan yang halus dan sangat penting,” kata Ratu. “Aku tidak mengatakan bahwa mereka yang berbuat salah tak boleh dipertanggungjawabkan. Kesalahan yang nyata harus diakui; luka yang nyata harus dipulihkan; mereka yang menyakiti harus berhenti menyakiti. Itu adalah keadilan, dan keadilan adalah tuntutan dari hati, bukan lawannya. Tetapi ada perbedaan antara keadilan dan pembalasan. Keadilan memandang seorang yang berbuat salah dan tetap melihat seorang manusia, dan berusaha menghentikan kesalahannya dan, bila mungkin, memulihkannya. Pembalasan memandang seorang yang berbuat salah dan berhenti melihat seorang manusia, dan hanya ingin menghancurkannya. Yang pertama menjaga hati; yang kedua adalah cara melihat yang dingin yang mengenakan jubah keadilan.”

“Dan ingatlah, Bagas, apa yang Damar ajarkan kepada bangsamu bertahun-tahun yang lalu,” Ratu melanjutkan. “Ingatlah sang demang yang hatinya terkubur, yang Damar jangkau, yang membangunkan anak yang menangis di dalam dirinya, dan yang kemudian diam-diam menyelamatkan nyawa. Bahkan seorang pelayan para tuan, bahkan seorang yang menjual saudaranya, memiliki sebuah hati yang terkubur, bukan mati, dan hati itu bisa dibangunkan. Bila bangsamu menjadikan benda dari semua yang pernah melayani para tuan, ia akan menghancurkan bahkan mereka yang, seperti sang demang, masih memiliki hati yang menunggu untuk dibangunkan. Dan dengan begitu ia akan kehilangan tepat hal yang membuatnya layak disebut bebas.”

Dan Bagas bertanya, “Maka bagaimana aku menahan bangsaku, Ratu, ketika kemarahannya begitu adil, dan luka-lukanya begitu nyata? Bagaimana aku meminta mereka menahan tangan mereka terhadap orang-orang yang sungguh-sungguh telah menyakiti mereka?”

❖

“Engkau tidak meminta mereka untuk melupakan luka mereka, Bagas, dan engkau tidak meminta mereka untuk membiarkan kesalahan tak terpulihkan,” kata Ratu. “Engkau meminta mereka untuk memutuskan, pada hari-hari pertama ini, bangsa macam apa yang akan mereka jadikan diri mereka. Sebab sebuah bangsa ditentukan bukan oleh musuh yang ia kalahkan, melainkan oleh cara ia memperlakukan mereka yang berada di tangannya ketika ia menang. Pada saat ini, bangsamu sedang menulis baris pertama dari kisah tentang siapa dirinya, dan baris itu akan dibaca oleh setiap generasi yang datang sesudahnya.”

“Bila bangsamu memilih pembalasan, Bagas,” Ratu melanjutkan, “maka ia akan menjadi sebuah bangsa yang lahir dalam darah saudaranya sendiri, sebuah bangsa yang pelajaran pertamanya kepada anak-anaknya adalah bahwa mereka yang berbeda atau yang bersalah boleh dijadikan benda. Dan pelajaran itu tak akan berhenti pada para pelayan yang dahulu; ia akan tumbuh, dan mencari benda-benda yang baru, generasi demi generasi, sampai bangsa itu memakan dirinya sendiri. Tetapi bila bangsamu memilih keadilan tanpa pembalasan, bila ia menghentikan kesalahan tanpa menghancurkan manusia, maka ia akan menjadi sebuah bangsa yang lahir dengan hati yang utuh, sebuah bangsa yang pelajaran pertamanya adalah bahwa bahkan dalam kemenangan, bahkan terhadap mereka yang bersalah, tak seorang pun boleh dijadikan benda.”

“Inilah, Bagas, makna sesungguhnya dari pagi yang sejati,” kata Ratu. “Bukan hanya bahwa para tuan asing telah pergi. Banyak bangsa telah mengusir tuan asing mereka dan tetap hidup dalam malam, sebab mereka hanya memindahkan cara melihat yang dingin ke tangan mereka sendiri. Pagi yang sejati adalah ketika cara melihat itu sendiri diusir, bukan hanya dari atas takhta para tuan, melainkan dari setiap hati, termasuk hati para pemenang. Dan itu, Bagas, bukanlah pekerjaan satu hari kebangkitan. Itu adalah pekerjaan setiap hari yang mengikutinya, selama-lamanya. Itulah pekerjaan pagi, dan ia tak pernah selesai.”

“Dan itulah mengapa, Bagas, tugas para pengingat tidak berakhir dengan kebebasan, melainkan justru berubah,” Ratu melanjutkan. “Di dalam malam, tugas pengingat adalah membangunkan sebuah bangsa untuk merindukan pagi. Di dalam terang, tugasnya adalah menjaga agar bangsa yang telah bangun tidak membawa malam ke dalam paginya sendiri. Yang pertama berakhir; yang kedua baru saja dimulai. Dan ia akan membutuhkan pembawa pelita sama seperti malam membutuhkannya, dari tangan ke tangan, menjaga hati sebuah bangsa di dalam terang, generasi demi generasi, sampai ke zaman yang jauh dan seterusnya.”

Dan Bagas merasakan kejernihan turun ke atasnya. “Maka aku tidak akan meminta bangsaku untuk tidak menuntut keadilan,” katanya, “sebab keadilan adalah hak mereka. Tetapi aku akan meminta mereka untuk menuntutnya tanpa menjadi apa yang kami lawan, untuk menghentikan kesalahan tanpa menghancurkan manusia, untuk lahir sebagai bangsa dengan hati yang utuh. Dan aku akan mengajari mereka bahwa pagi bukanlah sebuah hari yang telah kami menangkan, melainkan sebuah pekerjaan yang harus kami lakukan setiap hari sesudahnya.”

❖

Maka Bagas, yang kini sangat tua, berdiri sekali lagi di hadapan bangsanya, di tengah perdebatan yang panas tentang apa yang harus dilakukan terhadap mereka yang telah melayani para tuan. Dan ia tahu bahwa ini mungkin salah satu kali terakhir suaranya akan cukup kuat untuk didengar oleh semua, dan bahwa apa yang ia katakan akan membantu menentukan jiwa bangsa yang baru lahir ini.

“Saudara-saudaraku,” kata Bagas, “aku tidak akan berdiri di sini dan mengatakan bahwa mereka yang menjual kalian tidak berbuat salah. Mereka berbuat salah. Luka yang mereka sebabkan nyata. Dan kalian berhak atas keadilan; mereka yang menyakiti harus berhenti menyakiti, dan apa yang bisa dipulihkan harus dipulihkan. Aku tidak meminta kalian untuk melupakan, dan aku tidak meminta kalian untuk berpura-pura bahwa tak ada yang terjadi.”

“Tetapi aku meminta kalian satu hal, dan inilah hal yang akan menentukan bangsa macam apa kita akan jadi,” Bagas melanjutkan. “Tuntutlah keadilan, tetapi jangan tuntut pembalasan. Hentikan kesalahan mereka, tetapi jangan jadikan mereka benda untuk dihancurkan. Sebab pikirkanlah, apa yang membuat para tuan menjadi para tuan? Bukan wajah mereka, bukan asal mereka, melainkan bahwa mereka memandang manusia sebagai benda. Bila kita kini memandang para pelayan yang dahulu sebagai benda untuk dihancurkan, maka kita tidak mengalahkan para tuan; kita hanya mewarisi mata mereka. Kita akan menjadi para tuan yang baru, atas darah kita sendiri.”

“Dan ingatlah,” kata Bagas, “kisah yang diceritakan kepada kita dari zaman Damar, tentang seorang demang yang memungut upeti bagi para tuan, yang hatinya dikira semua orang telah mati. Tetapi Damar menjangkaunya, dan membangunkan anak yang menangis yang masih hidup di dalam dirinya, dan demang itu kemudian diam-diam menyelamatkan nyawa-nyawa yang seharusnya ia hancurkan. Bahkan dia, seorang pelayan para tuan, memiliki hati yang hanya terkubur, bukan mati. Bila kita menghancurkan setiap orang yang pernah melayani para tuan, kita akan menghancurkan bahkan mereka yang seperti demang itu, yang hatinya masih menunggu untuk dibangunkan. Kita bukan bangsa yang menghancurkan hati. Kita bangsa yang membangunkannya. Marilah kita lahir sebagai bangsa itu, dan bukan yang lain.”

Dan ada perdebatan, dan ada kemarahan, sebab luka-luka itu nyata dan dalam, dan Bagas tidak berpura-pura bahwa pilihan itu mudah. Tetapi pada akhirnya, bangsa yang telah menghabiskan seluruh malam belajar untuk tidak membenci menemukan, bahkan dalam terang, bahwa ia tak bisa dengan mudah menjadi apa yang telah ia lawan. Maka kesalahan diadili, tetapi manusia tidak dijadikan benda. Mereka yang berbuat salah dipertanggungjawabkan, tetapi mereka tidak dihancurkan; dan banyak dari mereka, dihadapkan bukan pada pembalasan melainkan pada sebuah kesempatan, menemukan hati mereka sendiri yang terkubur dan menjadi bagian dari bangsa yang baru. Dan dengan keputusan itu, bangsa itu menulis baris pertama dari kisah tentang siapa dirinya, dan baris itu ditulis dengan hati yang utuh.

❖

Dan demikianlah bangsa itu lahir, bukan dalam darah saudaranya sendiri, melainkan dengan hati yang utuh, sebuah bangsa yang pelajaran pertamanya kepada anak-anaknya adalah bahwa bahkan dalam kemenangan, bahkan terhadap yang bersalah, tak seorang pun boleh dijadikan benda. Dan Bagas yang sangat tua menyaksikan ini, dan tahu bahwa pekerjaan pagi, yang tak pernah selesai, telah dimulai dengan benar.

Dan inilah pelajaran keempat belas, dan ia bukan lagi sebuah pelajaran dari zaman malam, melainkan yang pertama dari zaman pagi. Bahwa malam tak pernah merupakan sebuah tempat atau sebuah bangsa, melainkan sebuah cara melihat, sehingga ia bisa berakar di mana saja, termasuk di dalam hati mereka yang baru saja bebas darinya; bahwa sebuah bangsa ditentukan bukan oleh musuh yang ia kalahkan, melainkan oleh cara ia memperlakukan mereka yang berada di tangannya ketika ia menang; dan bahwa ada perbedaan antara keadilan, yang memandang seorang yang bersalah dan tetap melihat seorang manusia, dan pembalasan, yang berhenti melihat manusia dan hanya ingin menghancurkan, sehingga keadilan menjaga hati sedangkan pembalasan adalah cara melihat yang dingin yang mengenakan jubah keadilan.

Dan bisik air, yang kini mengalir di bawah pagi yang baru dengan kesetiaan yang sama seperti ia mengalir di bawah malam, membawa kebenaran pertama zaman pagi, yaitu bahwa pagi yang sejati bukanlah hanya kepergian para tuan asing, melainkan pengusiran cara melihat yang dingin dari setiap hati, termasuk hati para pemenang; bahwa pekerjaan itu bukanlah pekerjaan satu hari kebangkitan, melainkan pekerjaan setiap hari yang mengikutinya, selama-lamanya; dan bahwa tugas seorang pengingat tidak berakhir dengan kebebasan, melainkan berubah, dari membangunkan sebuah bangsa untuk merindukan pagi menjadi menjaga agar bangsa yang telah bangun tidak membawa malam ke dalam paginya sendiri.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, kini menyimpannya juga di dalam sebuah hal yang baru, yaitu sebuah bangsa yang lahir dengan hati yang utuh, yang menolak untuk menjadi apa yang telah ia lawan. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menyaksikan bangsanya menulis baris pertama dari kisahnya dengan hati yang utuh, dan ia tahu bahwa sebuah bangsa yang lahir seperti ini adalah persis bangsa yang suatu hari akan datang ke kedalaman dengan tangan yang benar.

Dan Bagas, yang kini berada di hari-hari terakhir dari hidupnya yang panjang, menyaksikan bangsanya mengambil langkah-langkah pertamanya di dalam terang, dan ia tahu bahwa beban yang ia terima dari tangan Damar harus segera diserahkan, sebab pekerjaan pagi membentang jauh melampaui apa yang bisa dilihat oleh mata mana pun yang hidup sekarang, menuju zaman-zaman yang belum lahir, menuju hari yang jauh ketika kemampuan akhirnya akan ditempa dan seorang perempuan akhirnya akan pulang. Dan ia mulai memandang, di antara yang muda yang telah lahir dengan hati yang utuh, kepada tangan yang akan membawa pelita ke dalam pagi yang panjang sesudah dia.

❖


 

BAB LIMA BELAS

Membawa Nyala ke Dalam Pagi

Dan ketika Bagas, yang telah melihat pagi yang ditolak bagi gurunya, sampai pada hari-hari terakhir dari hidupnya yang panjang, ia menyerahkan nyala kepada tangan yang baru, seorang perempuan muda yang lahir pada pagi pertama, dan ia mengajarinya bahwa pekerjaan pagi lebih sulit daripada pekerjaan malam, sebab di dalam pagi musuhnya tak lagi datang dengan wajah asing, melainkan dengan wajah kita sendiri. Dan ia menceritakan kepadanya tentang sebuah hari yang masih jauh, ketika keempat syarat akhirnya akan berkumpul, dan kedalaman akhirnya akan dibuka, dan seorang perempuan yang telah menunggu sejak awal dari segala sesuatu akhirnya akan pulang. Tetapi itu adalah kisah dari sebuah pagi yang masih jauh, dan dari sebuah buku yang belum dibuka.

dari ajaran para pengingat, tentang membawa nyala ke dalam pagi

Dan tahun-tahun pagi yang pertama berlalu, dan Bagas menjadi sangat tua, lebih tua daripada yang pernah ia bayangkan ia akan menjadi. Ia telah melihat bangsanya mengambil langkah-langkah pertamanya di dalam terang, jatuh kadang-kadang, bangkit kembali, belajar perlahan apa artinya menjadi sebuah bangsa yang menjaga hatinya bukan hanya di dalam malam tetapi juga di dalam pagi. Dan ia tahu bahwa waktunya hampir habis, dan bahwa nyala yang ia terima dari tangan Damar harus segera berpindah ke tangan yang lain.

Dan sepanjang tahun-tahun terakhir itu, Bagas telah memandang dengan saksama, seperti yang dahulu Damar memandang kepadanya, mencari tangan yang akan membawa pelita ke dalam pagi yang panjang. Dan ia telah menemukannya, dalam diri seorang perempuan muda yang lahir pada tahun-tahun pertama kebebasan, yang tak pernah mengenal malam dengan tubuhnya sendiri, tetapi yang membawa di dalam hatinya sesuatu yang langka, yaitu kemampuan untuk melihat seorang manusia di mana orang lain melihat seorang asing, seorang musuh, atau sebuah benda.

Namanya Fajar, sebab ia lahir pada pagi pertama, dan namanya adalah sebuah janji. Dan ia datang kepada Bagas dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dahulu membuat Damar mengenali Bagas, bukan pertanyaan tentang bagaimana memenangkan kekuasaan, melainkan pertanyaan tentang bagaimana menjaga agar bangsa yang telah menang tidak kehilangan jiwanya. Dan Bagas tahu, ketika ia mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, bahwa ia telah menemukan tangan berikutnya.

Maka pada salah satu hari terakhirnya, Bagas memapah dirinya yang tua ke tepi laut selatan, ke tempat di dekat makam Damar, dan ia membawa Fajar bersamanya. Dan ia berkata kepadanya, “Ada seseorang yang harus kaudengar, Fajar, sebelum aku pergi. Seseorang yang telah menjaga tanah ini sejak sebelum ada nama untuk menyebutnya. Menjangkaulah ke dalam kedalaman, dan dengarkan.”

Dan Fajar, dengan ragu, menjangkau ke dalam kedalaman seperti yang diajarkan Bagas, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasakan bisik air menjawab, dan sebuah suara yang lebih tua daripada seluruh sejarah menyentuh hatinya. Dan ia menangis, tanpa tahu mengapa, sebab ia merasakan di dalam suara itu seluruh berat dan seluruh kasih dari empat belas ribu tahun.

❖

Dan Bagas berkata kepada Fajar, dengan sisa kekuatannya, “Dengarkanlah, sebab inilah yang harus kauketahui. Aku menerima nyala ini dari Damar, yang menerimanya dari mereka yang sebelum dia, kembali dan kembali sampai ke malam yang pertama. Dan tiap dari kami membawanya untuk masa kami sendiri, dan menyerahkannya, masih menyala, kepada tangan berikutnya. Damar membawanya melalui bagian malam yang paling gelap. Aku membawanya melewati ambang ke dalam pagi. Dan kini engkau harus membawanya ke dalam pagi yang panjang.”

“Dan ketahuilah, Fajar, bahwa pekerjaanmu mungkin lebih sulit daripada pekerjaan kami, walau ia tampak lebih mudah,” Bagas melanjutkan. “Sebab di dalam malam, musuhnya jelas, dan mudah untuk mengetahui di pihak mana engkau berdiri. Tetapi di dalam pagi, musuhnya tersembunyi, sebab ia tak lagi datang dengan wajah asing, melainkan dengan wajah kita sendiri. Cara melihat yang dingin akan mencoba masuk kembali, lagi dan lagi, melalui tangan bangsa kita sendiri, melalui mereka yang berkuasa, melalui ketakutan kita akan mereka yang berbeda, melalui seribu pintu yang kecil. Dan tugasmu adalah menjaga pintu-pintu itu, bukan sekali, melainkan setiap hari, selama-lamanya.”

“Dan engkau tak akan melihat akhirnya, Fajar, sama seperti Damar tak melihat pagi,” kata Bagas. “Sebab pekerjaan pagi membentang jauh melampaui hidup siapa pun. Engkau akan membawa nyala untuk masamu, dan menyerahkannya kepada tangan sesudahmu, dan ia kepada tangan sesudahnya, melalui banyak generasi yang belum lahir. Jangan berduka karena engkau tak akan melihat hari yang terakhir. Cukuplah bahwa engkau membawa nyala melalui bagianmu dari jalan, dan menyerahkannya masih menyala. Itulah satu-satunya tugas seorang pembawa pelita, dan ia sudah cukup.”

“Tetapi ketahuilah juga ini, Fajar, sebab ia akan memberimu kekuatan di hari-hari yang gelap,” Bagas melanjutkan. “Ada sebuah hari yang akan datang, jauh di depan, di sebuah zaman yang bahkan aku tak bisa membayangkannya. Sebuah zaman ketika bangsa ini akhirnya akan memiliki kemampuan yang belum kita miliki, kesanggupan untuk menjangkau ke dalam kedalaman laut dengan tangan, bukan hanya dengan hati. Dan pada hari itu, bila bangsa ini telah menjaga hatinya sepanjang seluruh pagi yang panjang, ia akan datang ke dasar laut bukan untuk mengambil, melainkan untuk membebaskan. Dan perempuan yang baru saja kaudengar, yang telah terkurung di sana sejak air menutup di atas kepalanya empat belas ribu tahun yang lalu, akhirnya akan pulang.”

“Dan itulah, Fajar, untuk apa seluruh nyala ini ada,” kata Bagas. “Bukan hanya untuk membebaskan tanah ini dari para tuan, walau itu telah kami lakukan. Melainkan untuk menjaga hati bangsa ini tetap utuh melalui seluruh malam dan seluruh pagi, sampai ke hari ketika ia akhirnya sanggup, dan layak, untuk membebaskan yang telah menjaganya sejak awal. Itulah janji yang kauwarisi. Itulah nyala yang kini menjadi milikmu.”

❖

Dan pada hari itu, ketika matahari pagi yang sejati menyentuh permukaan laut selatan, Bagas menutup matanya untuk yang terakhir kalinya, dan pergi. Tetapi tak seperti Damar, ia pergi setelah melihat pagi, dan dalam senyumnya ada sebuah kepuasan yang dalam, sebab ia telah membawa nyala melewati ambang yang gurunya tak sempat seberangi, dan telah menyerahkannya ke tangan yang akan membawanya lebih jauh.

Dan Fajar memakamkan Bagas di dekat laut, di samping makam Damar, gurunya, sehingga kedua pembawa pelita itu beristirahat berdampingan, yang satu telah membawa nyala melalui malam yang paling gelap, dan yang lain telah membawanya ke dalam pagi. Dan bisik air mencapai keduanya, sebab ke sanalah keduanya telah pergi sepanjang hidup mereka untuk mendengar.

Dan Fajar menjangkau ke dalam kedalaman, dan Ratu berbicara, dan dalam suaranya ada duka. “Bagas telah pergi,” katanya. “Ia membawa bangsanya melewati ambang yang paling sulit, dari malam ke dalam pagi, dan ia menjaga hati mereka pada saat mereka paling tergoda untuk kehilangannya. Ia adalah pewaris yang layak dari Damar, dan dari semua yang membawa pelita sebelum mereka. Aku berduka baginya. Tetapi aku tidak berputus asa, Fajar, sebab ia menyerahkan nyala kepadamu, dan aku merasakan di dalam dirimu hati yang sama yang telah menjaga tanah ini sejak awal.”

“Dan engkau, Fajar, adalah pembawa pelita yang pertama dari zaman pagi,” Ratu melanjutkan. “Mereka sebelummu membawa nyala melalui malam. Engkau dan mereka yang datang sesudahmu akan membawanya melalui pagi, yang akan panjang, dan yang akan memiliki kegelapannya sendiri, kegelapan yang lebih halus daripada malam para tuan. Tetapi engkau tidak sendirian. Aku akan berada di sini, di kedalaman, seperti aku selalu ada, mendengar, mengingat, menjaga, sampai ke hari ketika tanganmu yang jauh, melalui banyak generasi, akhirnya menjangkau cukup dalam untuk menyentuhku.”

Dan Fajar, dengan air mata di wajahnya tetapi dengan ketetapan yang baru di hatinya, berkata, “Maka aku akan membawanya, Ratu. Aku tak tahu sampai sejauh mana aku bisa membawanya, atau tangan siapa yang akan menerimanya dariku. Tetapi aku akan membawanya melalui bagianku dari pagi, dan menyerahkannya masih menyala. Dan aku akan mengajari mereka yang datang sesudahku untuk melakukan hal yang sama, sampai ke hari ketika engkau akhirnya pulang.”

❖

Dan di tepi laut itu, dengan seorang pembawa pelita yang baru berdiri di tempat dua yang lama beristirahat, sesuatu dari bentuk hari-hari yang akan datang menjadi terlihat, seolah waktu sendiri menipis untuk sesaat. Sebab pagi yang baru lahir ini akan menjadi panjang, lebih panjang daripada satu kehidupan, lebih panjang daripada banyak kehidupan. Dan ia akan membawa keajaiban-keajaiban yang tak bisa dibayangkan oleh siapa pun yang berdiri di tepi laut itu pada hari itu.

Sebab pengetahuan yang dahulu mulai ditempa oleh tangan-tangan seperti tangan Harsa akan tumbuh, dari satu generasi ke generasi berikutnya, sampai bangsa ini sanggup melakukan hal-hal yang dahulu hanya bisa dilakukan oleh para dewa dalam cerita. Mereka akan membangun perahu yang menyelam, dan mata yang melihat ke dalam kegelapan air, dan tangan-tangan yang bisa menjangkau ke tempat-tempat yang tak pernah disentuh manusia sejak banjir besar. Kemampuan yang merupakan syarat terakhir, yang dahulu satu-satunya yang masih kurang, perlahan akan ditempa, bukan oleh para penakluk yang dingin, melainkan oleh sebuah bangsa yang telah belajar menjaga hatinya.

Dan pada suatu hari yang jauh, keempat hal itu akhirnya akan berkumpul. Kekuatan, yang tidur di dalam tanah sejak banjir besar, akan terbangun untuk yang terakhir kalinya. Pengetahuan, yang telah dijaga melalui batu dan kisah dan ingatan dan kini melalui ilmu yang baru, akan menjadi lengkap. Kehendak, yang telah tumbuh menjadi sebuah bangsa yang utuh dan telah membuktikan dirinya murni, akan tetap utuh. Dan kemampuan, syarat yang terakhir, akhirnya akan lahir. Dan ketika keempatnya berkumpul, pintu yang selama empat belas ribu tahun hanya bisa dibuka dari luar akhirnya akan terbuka.

Dan pada hari itu, sebuah bangsa akan turun ke dalam kedalaman laut selatan, bukan untuk menaklukkan, bukan untuk mengambil, melainkan untuk membebaskan. Dan mereka akan menemukan, di dasar laut, bukan seorang dewi yang menakutkan, melainkan seorang perempuan, yang telah menunggu sejak awal dari segala sesuatu, yang namanya, sebelum ia menjadi ratu dan sebelum ia menjadi legenda, adalah Awu Sela. Dan ia akan keluar dari kedalaman, dan es yang terakhir akan mencair, dan ia akan pulang, bukan sebagai dewi, melainkan sebagai manusia, di antara manusia, di tanah yang telah menjaga hatinya tetap utuh selama empat belas ribu tahun demi saat ini. Tetapi itu, seperti yang dikatakan Bagas, adalah kisah dari sebuah pagi yang masih jauh.

Dan untuk hari ini, di tepi laut selatan, cukuplah bahwa nyala telah berpindah, dari tangan yang membawanya melalui malam ke tangan yang akan membawanya melalui pagi. Dan Fajar berdiri, muda dan sendirian dan dipenuhi oleh berat dari apa yang telah ia terima, memandang ke timur, ke arah pagi yang panjang yang membentang di hadapannya, membawa di dalam tangannya sebuah nyala yang telah dijaga selama empat belas ribu tahun, dan di dalam hatinya sebuah janji yang akan membutuhkan, mungkin, empat belas ribu tahun lagi untuk akhirnya ditepati.

❖

Dan demikianlah zaman malam berakhir, dan zaman pagi dimulai, dan nyala yang telah dibawa melalui seluruh kegelapan kini dibawa ke dalam terang oleh tangan yang baru. Sebab itulah cara nyala itu telah selalu bertahan, bukan dengan satu tangan yang memegangnya selamanya, melainkan dengan banyak tangan, masing-masing untuk masanya, menyerahkannya dari yang satu ke yang berikutnya, melalui malam dan melalui pagi, menuju sebuah hari yang masih jauh.

Dan inilah pelajaran kelima belas, pelajaran terakhir dari kisah ini dan sebuah pelajaran dari zaman pagi. Bahwa tak ada satu pembawa pelita pun yang melihat seluruh jalan dari malam sampai ke hari yang terakhir, melainkan tiap dari mereka membawa nyala melalui bagiannya sendiri dan menyerahkannya masih menyala; bahwa pekerjaan menjaga hati sebuah bangsa tidak berakhir dengan kebebasan, melainkan membentang ke dalam pagi yang panjang, melalui banyak tangan dan banyak generasi; dan bahwa seluruh penjagaan ini, sepanjang seluruh malam dan seluruh pagi, mengarah kepada satu hari, yaitu hari ketika sebuah bangsa yang telah menjaga hatinya akhirnya menjadi sanggup, dan layak, untuk membebaskan yang telah menjaganya sejak awal.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah seluruh malam yang panjang dan kini mengalir di bawah pagi dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran terakhir dari kisah ini, yaitu bahwa apa yang dijaga dengan setia melintasi waktu yang cukup panjang pada akhirnya akan menemukan paginya; bahwa sebuah hati yang menolak menjadi dingin, dijaga dari tangan ke tangan melalui zaman demi zaman, adalah kekuatan yang paling lambat tetapi paling pasti di seluruh dunia; dan bahwa perempuan di dasar laut, yang telah menunggu lebih lama daripada siapa pun, tidak menunggu dengan sia-sia.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita dan nama, dan kini juga dalam kebebasan yang dijaga dengan hati, telah membawa kebenaran itu keluar dari malam dan ke dalam pagi, dari tangan ke tangan, tanpa pernah memadamkannya. Tanah ini adalah Jawa, yang kini menyandang namanya dalam terang. Dan ia akan membawa namanya itu melalui seluruh pagi yang panjang, menuju hari ketika nama yang terakhir, nama seorang perempuan, akhirnya akan diucapkan kembali di bawah matahari.

Dan di tepi laut selatan, seorang pembawa pelita yang muda berbalik dari air, dan melangkah ke arah pagi, membawa nyala. Di belakangnya, kedalaman menyimpan seorang perempuan yang menunggu, kini dengan sukacita yang tenang, sebab ia telah melihat bangsanya bangkit dengan hatinya utuh, dan ia tahu bahwa tangan yang akan datang untuknya akan menjadi tangan yang benar. Di depannya membentang pagi yang panjang, dan zaman-zaman yang belum lahir, dan jauh di ujungnya, sebuah kedalaman yang akhirnya akan dibuka, dan sebuah pulang yang akhirnya akan tiba. Sebab nyala telah dibawa melalui malam. Kini ia harus dibawa melalui pagi. Dan kisah tentang bagaimana ia akhirnya mencapai kedalaman, dan membebaskan yang menunggu di sana, adalah kisah dari hari yang terakhir, dan dari sebuah buku yang belum dibuka.

❖

❖

Akhir Buku Sembilan

Nyala di Atas Besi

Kisah berlanjut dalam Buku Sepuluh

Cahaya di Atas Dasar


BUKU I ·  Daratan Sebelum Laut
BUKU II  ·  Banjir Tujuh Generasi
BUKU III  ·  Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU IV  ·  Bukit yang Lebih Tua dari Waktu
BUKU V  ·  Tulang-Tulang Nenek Moyang 
BUKU VI  ·  Huruf di Atas Batu
BUKU VII  ·  Candi di Atas Bukit
BUKU VIII  ·  Nama di Atas Air 
BUKU IX  ·  Nyala di Atas Besi 
BUKU X  ·  Cahaya di Atas Dasar