JAWA
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
BUKU SEMBILAN
Nyala di Atas Besi
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
Mereka membawa besi,
dan mengira bahwa
dengan besi mereka telah menaklukkan tanah ini.
Tetapi ada sebuah nyala yang tak bisa
dipadamkan oleh besi mana pun,
sebab ia bukan kobaran, melainkan hati yang
menolak menjadi dingin,
dan nyala itu, dijaga dari tangan ke
tangan melalui seluruh malam,
membawa tanah ini keluar ke dalam pagi.
BAGIAN I
Nyala di Dalam Gelap
BAB SATU
Malam yang Tak Terlihat
Malam yang panjang telah turun
sepenuhnya ke atas Jawa, dan tangan-tangan asing memerintah dengan besi. Damar,
yang dahulu menerima nyala sebagai pemuda di ambang malam, kini telah lama
membawanya di dalam gelap. Tetapi ia menemukan sebuah bahaya yang tak pernah
dihadapi pengingat mana pun sebelumnya, yaitu sebuah angkatan yang lahir
sepenuhnya di dalam gelap, yang tak pernah mengenal pagi, dan yang karena itu
tak tahu bahwa ini adalah malam. Sebab senjata terdalam seorang penakluk
bukanlah rantai pada tubuh, melainkan gelap yang menjadi tak terlihat, malam
yang diterima sebagai satu-satunya siang. Dan Ratu mengajarinya bahwa di zaman
ini, seorang pengingat harus menjaga bukan hanya hati, melainkan ingatan bahwa
ini adalah malam, dan bahwa ada pagi yang akan datang.
dari ajaran para pengingat, tentang
malam yang menjadi tak terlihat
Tahun-tahun telah berlalu sejak Damar berjalan melalui
gapura yang tumbang itu ke dalam malam, dan malam itu kini telah turun
sepenuhnya. Tangan-tangan asing memerintah seluruh tanah dengan besi, dengan
senjata, dengan mesin, dengan ukuran dan catatan yang mengubah segala sesuatu
menjadi sesuatu untuk diambil. Kerajaan-kerajaan lama telah lama jatuh, dan
gapura-gapura mereka berdiri sepi, dan rakyat bekerja di tanah yang dahulu
milik mereka, miskin dan diperintah, demi kekayaan yang berlayar jauh ke seberang
lautan.
Dan Damar, yang dahulu menerima nyala sebagai
pemuda di ambang malam, kini telah lama membawanya di dalam gelap. Ia telah
menjadi seorang lelaki yang tenang dan sabar, yang berjalan dari desa ke desa,
melakukan pekerjaan kecil yang menjadi tugas pengingat di zaman ini, yaitu
menyimpan hati Ratu di dalam bisikan, menjaga benteng terkecil tetap menyala,
satu hati pada satu waktu, seperti yang diajarkan Teguh kepadanya.
Tetapi pada tahun-tahun ini, Damar mulai
merasakan sebuah bahaya yang tak pernah ia duga, sebuah bahaya yang lebih dalam
daripada besi atau kemiskinan atau rantai. Dan ia menemukannya bukan di antara
para penakluk, melainkan di antara anak-anak bangsanya sendiri, di antara
mereka yang paling muda.
Sebab di sebuah desa tempat Damar singgah, ada
seorang pemuda bernama Bagas, yang lahir lama setelah malam turun, yang tak
pernah mengenal Jawa selain Jawa yang ditaklukkan, yang tumbuh di bawah
tuan-tuan asing seperti orang tumbuh di bawah langit, sebagai sesuatu yang
sudah selalu begitu. Dan ketika Damar, pada suatu malam, mulai menceritakan
kepadanya kisah lama tentang Ratu dan tanah yang dahulu memerintah dirinya
sendiri, Bagas hanya memandangnya dengan heran yang sopan.
“Itu cerita yang indah, Pak,” kata Bagas
akhirnya. “Tetapi untuk apa? Dunia adalah seperti adanya. Selalu ada tuan-tuan
dan ada kita yang bekerja. Selalu ada kekayaan yang berlayar ke seberang dan
ada kita yang lapar. Begitulah dunia. Cerita tentang masa ketika tidak begitu,
masa ketika tanah ini memerintah dirinya sendiri, itu hanya, maaf, dongeng yang
menyenangkan untuk membuat malam terasa kurang dingin. Aku tak melihat gunanya
menjaga lampu untuk sesuatu yang tak pernah ada dan tak akan pernah ada.”
❖
Dan kata-kata itu menusuk Damar lebih dalam daripada
cemoohan mana pun. Sebab Bagas tidak menolak hati Ratu karena malu, seperti
Jati dahulu. Ia tidak takut padanya, seperti yang takut pada cerita seram. Ia
hanya tidak melihat gunanya, sebab bagi Bagas tak ada malam dan tak ada pagi,
hanya dunia sebagaimana adanya, gelap yang ia kira sebagai siang sebab ia tak
pernah melihat yang lain.
Maka malam itu, Damar pergi sendirian ke tepi
air, ke sebuah sungai yang mengalir menuju laut selatan, dan ia menjangkau ke
dalam kedalaman, kepada Ratu. “Ratu,” katanya, “aku telah menghadapi banyak
ancaman atas hatimu. Aku telah menghadapi rasa malu, dan ketakutan, dan
keserakahan. Tetapi malam ini aku menghadapi sesuatu yang lebih dingin daripada
semuanya, dan aku tak tahu cara melawannya.”
“Ada seorang pemuda,” Damar melanjutkan, “yang
lahir sepenuhnya di dalam malam ini. Dan ia tidak membenci hatimu, dan ia tidak
malu padanya. Ia hanya tidak melihat gunanya. Bagi dia, penaklukan bukanlah
luka, melainkan hanya cara dunia bekerja. Ia tak tahu bahwa ini adalah malam,
sebab ia tak pernah melihat pagi. Dan bagaimana aku bisa membuat seseorang
merindukan fajar, bila ia bahkan tak tahu bahwa ada hal seperti fajar?”
Dan Ratu terdiam lama, dan ketika ia berbicara,
ada keseriusan baru dalam suaranya. “Engkau telah menemukan, Damar, senjata
yang paling dalam dari seorang penakluk, yang lebih dalam daripada besi mana
pun. Sebab seorang penakluk yang merantai tubuh masih meninggalkan jiwa yang
tahu bahwa ia dirantai, dan jiwa yang tahu ia dirantai suatu hari akan
berjuang. Tetapi seorang penakluk yang membuat gelap menjadi tak terlihat, yang
membuat sebuah bangsa lupa bahwa ini adalah malam, telah merantai bukan tubuh
melainkan kemampuan untuk merindukan pagi. Dan itulah penaklukan yang
terdalam.”
“Ingatkah engkau, Damar, apa yang kukatakan
tentang empat hal?” tanya Ratu. “Bahwa di zaman gelap, yang paling perlu dijaga
adalah Kehendak, hati yang masih menginginkan fajar. Inilah serangan langsung
terhadapnya. Sebab bila sebuah bangsa lupa bahwa ada pagi, ia berhenti
menginginkannya. Dan bila tak ada yang menginginkan pagi, maka ketika tiga hal
lain berkumpul, ketika kekuatan dan pengetahuan dan kemampuan akhirnya ada, tak
akan ada yang peduli untuk membuka penjara. Maka inilah, Damar, medan perang
yang sesungguhnya dari malam yang panjang, yaitu bukan rantai, melainkan
ingatan bahwa ini adalah malam.”
❖
“Maka bagaimana aku melawannya, Ratu?” tanya Damar.
“Bagaimana aku membuat Bagas tahu bahwa ini adalah malam, ketika ia tak pernah
melihat pagi untuk membandingkannya? Bagaimana aku membuatnya merindukan
sesuatu yang tak pernah ia kenal?”
Dan Ratu menjawab, “Engkau tak akan memulainya
dengan berdebat tentang tuan-tuan dan tanah, Damar, sebab tentang itu Bagas
akan selalu berkata, begitulah dunia. Engkau akan memulainya dari sesuatu yang
sudah ada di dalam dirinya. Sebab walau Bagas lahir di dalam malam, ada di
dalam dirinya, seperti di dalam tiap manusia, sebuah kerinduan yang tak bisa
dipadamkan oleh malam mana pun, yaitu kerinduan akan keadilan, kerinduan untuk
tidak diinjak, kerinduan agar yang lemah tidak ditinggalkan. Ia mungkin menyebut
penaklukan sebagai cara dunia bekerja, tetapi tanyailah dia apakah ia merasa
itu benar, apakah ia merasa itu adil. Dan di sana, di dalam jawabannya, engkau
akan menemukan pagi yang sudah ia rindukan tanpa mengetahui namanya.”
“Sebab inilah yang dilakukan oleh hatiku,
Damar, oleh kisah lama itu,” kata Ratu. “Ia tidak menciptakan kerinduan akan
keadilan, sebab kerinduan itu sudah ada di dalam tiap dada. Yang ia lakukan
adalah memberi kerinduan itu sebuah ingatan dan sebuah nama. Ia berkata kepada
Bagas, rasa di dalam dadamu yang berkata bahwa ini tidak benar, rasa itu bukan
kelemahan dan bukan mimpi; ia adalah ingatan akan sebuah pagi yang nyata,
sebuah masa ketika tanah ini memerintah dirinya sendiri dengan hati, dan ia
adalah janji akan sebuah pagi yang akan datang lagi. Maka tugasmu bukan
meyakinkan Bagas bahwa ini malam. Tugasmu adalah memberi nama kepada kerinduan
yang sudah membuatnya gelisah, dan berkata kepadanya, itu yang kaurasakan,
itulah pagi memanggilmu.”
Dan Damar merasakan jalan terbuka di
hadapannya. “Maka aku tidak melawan kegelapannya dengan berdebat,” katanya
pelan. “Aku menyalakan cahaya kecil yang sudah ada di dalam dirinya, yaitu
kerinduannya sendiri akan keadilan, dan aku berkata kepadanya bahwa cahaya itu
adalah pagi yang ia kira tak ada. Aku tidak membawa fajar dari luar. Aku
menunjukkan kepadanya fajar yang sudah menyala, redup, di dalam dadanya
sendiri.”
“Ya, Damar,” kata Ratu. “Sebab tak ada malam
yang cukup panjang untuk memadamkan kerinduan akan keadilan di dalam hati
manusia. Penakluk bisa membuat sebuah bangsa lupa sejarahnya, lupa nama
raja-rajanya, bahkan lupa bahwa ia pernah bebas. Tetapi ia tak pernah bisa
membuat sebuah hati berhenti merasa bahwa diinjak itu salah. Dan selama satu
hati pun masih merasa itu, pagi belum mati, ia hanya tertidur. Dan tugasmu,
pengingat, adalah membangunkannya.”
❖
Maka keesokan malamnya, Damar kembali kepada Bagas, dan
kali ini ia tidak menceritakan kisah lama. Ia hanya duduk bersamanya, dan
bertanya tentang hidup Bagas, tentang pekerjaannya, tentang desanya. Dan
perlahan, Bagas bercerita tentang seorang tetangga tua yang tanahnya diambil
karena ia tak bisa membayar pajak yang baru, dan yang kini bekerja sebagai
buruh di tanah yang dahulu miliknya sendiri.
Dan Damar bertanya, dengan lembut, “Dan ketika
engkau melihat itu, Bagas, ketika engkau melihat orang tua itu bekerja di
tanahnya sendiri sebagai buruh, apa yang kaurasakan di dalam dadamu?” Dan Bagas
terdiam lama, dan akhirnya ia berkata, dengan suara yang lebih pelan, “Aku
merasakan sesuatu yang panas. Sesuatu yang berkata bahwa ini salah. Tetapi aku
menelannya, sebab apa gunanya. Begitulah dunia.”
“Rasa panas itu, Bagas,” kata Damar, “rasa yang
berkata bahwa ini salah, itu bukan kelemahan. Itu bukan sesuatu yang harus
kautelan. Itu adalah hal yang paling benar di dalam dirimu. Dan biar kukatakan
kepadamu apa namanya. Ia adalah ingatan. Sesuatu di dalam dirimu mengingat,
walau pikiranmu tak pernah melihatnya, bahwa dunia tidak harus seperti ini.
Bahwa pernah ada masa, dan akan ada masa lagi, ketika tanah ini tidak
diperintah dengan injakan, melainkan dengan hati. Rasa panas itu bukan mimpi
yang sia-sia. Ia adalah pagi, memanggilmu dari seberang malam yang panjang.”
Dan untuk pertama kalinya, Bagas tidak
memandangnya dengan heran yang sopan. Ia memandangnya dengan sesuatu yang lain,
sesuatu yang seperti seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa perasaan yang
selama ini ia kira sebagai cacat di dalam dirinya sebenarnya adalah hal yang
paling sehat tentangnya. “Maka rasa itu,” katanya pelan, “rasa yang selama ini
kukira membuatku lemah, karena aku tak bisa menerima dunia dengan tenang
seperti yang lain, rasa itu sebenarnya adalah, apa, sebuah ingatan? Sebuah
pagi?”
“Itulah pagi, Bagas,” kata Damar. “Dan sekarang
setelah engkau tahu namanya, engkau tak akan bisa lagi menelannya seakan ia tak
ada. Engkau telah melihat, untuk pertama kalinya, bahwa ini adalah malam. Dan
seseorang yang tahu bahwa ini malam adalah seseorang yang bisa, suatu hari,
ikut menyambut pagi.” Dan Damar melihat, di mata pemuda itu, sebuah lampu kecil
yang baru saja menyadari bahwa ia adalah lampu, dan bukan sekadar bagian dari
kegelapan.
❖
Dan demikianlah Damar memulai pekerjaannya di zaman malam
yang panjang, bukan dengan melawan besi dengan besi, melainkan dengan
membangunkan, satu per satu, ingatan akan pagi di dalam mereka yang lahir di
dalam gelap. Sebab ia tahu kini bahwa medan perang yang sesungguhnya bukanlah
tanah atau takhta, melainkan ingatan sebuah bangsa bahwa ini adalah malam, dan
bahwa ada pagi yang harus dirindukan.
Dan inilah pelajaran pertama zaman malam. Bahwa
senjata terdalam seorang penakluk bukanlah rantai pada tubuh melainkan gelap
yang dibuat tak terlihat, malam yang diterima sebagai satu-satunya siang; bahwa
melawan ini bukan dengan membawa fajar dari luar, melainkan dengan memberi nama
kepada kerinduan akan keadilan yang sudah menyala, redup, di dalam tiap dada;
dan bahwa tak ada malam yang cukup panjang untuk memadamkan rasa, di dalam hati
manusia, bahwa diinjak itu salah, sehingga pagi tak pernah mati, melainkan
hanya tertidur, menunggu untuk dibangunkan.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran pertama zaman malam,
yaitu bahwa sebuah bangsa belum ditaklukkan selama satu hati pun masih merasa
bahwa ketidakadilan itu salah; bahwa rasa itu adalah pagi yang tertidur, bukan
mimpi yang sia-sia; dan bahwa tugas seorang pengingat di dalam gelap yang
terdalam adalah membangunkan, satu per satu, mereka yang lupa bahwa mereka
pernah, dan akan kembali, mengenal cahaya.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya di dalam malam yang paling
gelap, di dalam kerinduan yang tertidur di dada anak-anak yang lahir tanpa
pernah melihat pagi. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini
terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh
menunggu, dan ia tahu bahwa malam ini, betapapun gelapnya, tak akan pernah bisa
memadamkan kerinduan akan pagi di dalam hati bangsanya, dan bahwa selama
kerinduan itu hidup, walau hanya sebagai bara yang tertidur, hari pembebasan,
dan hari ia akan pulang, masih pasti akan datang. Dan zaman malam dimulai, di
atas besi para penakluk dan di bawah bintang-bintang yang sama, dengan sebuah
nyala kecil yang baru saja terbangun di dada seorang pemuda.
❖
BAB DUA
Yang Berkobar dan Yang Menyebar
Bagas terbangun, dan api di dalam
dirinya menuntut untuk berkobar sekarang, melawan besi yang seribu kali lebih
kuat. Tetapi Ratu mengajarinya bahwa ada dua macam api di dalam malam yang
panjang. Ada api yang berkobar, yang menyala terang dalam sekejap lalu padam
dan meninggalkan malam yang lebih gelap, dan justru itulah yang paling
diinginkan oleh seorang penakluk, sebab kehancuran sebuah perlawanan yang
terlalu dini mengajar sejuta orang untuk takut. Dan ada api yang menyebar, yang
menyala kecil dan menyalakan api lain, dari hati ke hati, terlalu tersebar
untuk dipadamkan. Dan malam yang panjang berakhir bukan oleh yang pertama,
melainkan oleh yang kedua.
dari ajaran para pengingat, tentang dua
macam api
Setelah malam ketika Bagas menemukan nama bagi rasa panas
di dalam dadanya, ia berubah. Cahaya kecil yang dilihat Damar di matanya tumbuh
menjadi api. Bagas tak bisa lagi memandang desanya seperti dahulu. Di mana
dahulu ia melihat dunia sebagaimana adanya, kini ia melihat malam di mana-mana,
dan ia tak bisa lagi menelan rasa panas itu. Dan api di dalam dirinya menuntut
untuk berbuat sesuatu.
Maka pada suatu malam ia datang kepada Damar
dengan mata yang menyala. “Pak Damar,” katanya, “engkau membangunkanku, dan
sekarang aku tak bisa tidur lagi. Aku melihat sekarang bahwa ini adalah malam,
dan bahwa tuan-tuan ini menginjak kita, dan aku tak bisa hanya duduk dan
menjaga sebuah lampu kecil sementara mereka mengambil tanah
tetangga-tetanggaku. Aku telah berbicara dengan pemuda-pemuda lain. Mandor yang
mengambil tanah Mbah Karyo akan datang lagi pekan depan. Kami akan
menghadangnya. Kami akan menunjukkan kepada para tuan bahwa kami bukan ternak
yang bisa diinjak tanpa perlawanan.”
Dan Damar merasakan dingin di dalam dadanya,
sebab ia mengenali bahaya dalam api itu, bukan bahaya karena api itu salah,
melainkan bahaya karena api itu akan habis dalam sekejap dan meninggalkan malam
yang lebih gelap. “Bagas,” katanya pelan, “berapa banyak kalian?” Dan Bagas
berkata, “Dua belas. Mungkin dua puluh bila yang lain ikut.” Dan Damar
bertanya, “Dan berapa banyak senjata yang dimiliki para tuan? Berapa banyak
serdadu dengan besi yang bisa mereka panggil dalam sehari?”
Dan Bagas terdiam, sebab ia tahu jawabannya.
“Banyak,” akhirnya ia mengakui. “Lebih banyak daripada yang bisa kami lawan.
Tetapi apakah itu berarti kami harus diam? Apakah itu berarti rasa panas yang
kautunjukkan kepadaku ini hanya untuk ditelan kembali, kali ini sambil tahu
betul apa yang kutelan? Itu lebih buruk daripada tidur, Pak. Engkau
membangunkanku hanya untuk menyuruhku berbaring diam dengan mata terbuka.”
Dan Damar merasakan beratnya keberatan itu,
sebab Bagas benar bahwa membangunkan seseorang lalu menyuruhnya diam adalah
kekejaman tersendiri. “Engkau benar bahwa rasa itu bukan untuk ditelan, Bagas,”
katanya. “Tetapi ada perbedaan antara menelan apimu dan menghabiskannya dalam
sekejap. Biarkan aku menunjukkan kepadamu perbedaan itu. Datanglah bersamaku ke
tepi air malam ini, dan dengarkan apa yang dikatakan Ratu tentang api di dalam
malam yang panjang.”
❖
Maka kedua lelaki itu pergi ke tepi sungai, dan Damar
menjangkau ke dalam kedalaman, dan untuk pertama kalinya Bagas merasakan, samar
seperti dari jauh, kehadiran yang telah menunggu di bawah segala air selama
empat belas ribu tahun. Dan Damar berkata, “Ratu, pemuda ini terbangun, dan
apinya menuntut untuk berkobar sekarang, melawan besi yang seribu kali lebih
kuat. Ajari dia, dan ajari aku, tentang api di dalam malam yang panjang.”
Dan Ratu berbicara, dan suaranya kepada Bagas
hangat dan tidak menegur. “Bagas, apimu adalah hal yang indah, dan jangan
biarkan siapa pun, termasuk aku, membuatmu malu karenanya. Engkau terbangun,
dan orang yang terbangun ingin berbuat, dan itu benar. Aku tidak akan
menyuruhmu memadamkan apimu. Aku hanya ingin mengajarimu perbedaan antara dua
macam api, supaya apimu tidak terbuang sia-sia.”
“Ada api yang berkobar, dan ada api yang
menyebar,” kata Ratu. “Api yang berkobar menyala terang dan tinggi dalam
sekejap, dan ia memuaskan, sebab akhirnya sesuatu terjadi. Tetapi ia membakar
dirinya habis, dan ketika ia padam, ia meninggalkan malam yang lebih gelap
daripada sebelumnya, dan abu di tempat dahulu ada nyala. Bila dua belas pemuda
menghadang besi para tuan, mereka akan berkobar terang untuk satu malam, dan
mereka akan padam, dan para tuan akan memastikan semua orang melihat bagaimana
mereka padam, supaya tiap orang lain belajar bahwa terbangun berarti mati.
Itulah api yang berkobar. Dan tahukah engkau, Bagas, siapa yang paling
menginginkan engkau menyalakannya?”
Dan Bagas terdiam, dan Ratu menjawab
pertanyaannya sendiri. “Para tuan sendiri. Sebab tak ada yang lebih berguna
bagi seorang penakluk daripada sebuah perlawanan yang terlalu dini dan terlalu
kecil, yang bisa ia hancurkan di depan semua orang. Ia tak takut pada dua belas
pemuda dengan parang. Ia menyambut mereka, sebab kehancuran mereka akan menjadi
pelajarannya kepada sejuta orang lain, yaitu lihatlah apa yang terjadi pada
mereka yang terbangun. Sebuah api yang berkobar dan padam tidak melukai
penakluk; ia mengajar bangsamu untuk takut. Engkau akan berpikir engkau melawan
malam, padahal engkau sedang membuatnya lebih gelap.”
Dan Bagas, yang apinya tadi begitu pasti, kini
terguncang. “Maka apa gunanya terbangun,” katanya pahit, “bila terbangun hanya
berarti melihat penjara dengan lebih jelas tanpa bisa berbuat apa-apa? Engkau
berkata ada dua macam api. Api yang berkobar membunuh kami dan menggelapkan
malam. Lalu apa api yang lain? Api yang menyebar, kaubilang. Apa itu?”
❖
“Api yang menyebar, Bagas, tidak berkobar tinggi,” kata
Ratu. “Ia menyala kecil, dan alih-alih membakar dirinya habis dalam satu malam,
ia menyentuh api lain, dan menyalakannya, dan kemudian api itu menyentuh yang
lain lagi. Ia tidak terlihat dramatis. Tak ada yang bisa kaubanggakan di
hadapan para pemuda lain pada malam yang sama. Tetapi ia tidak bisa dipadamkan,
sebab ia tidak ada di satu tempat untuk dihancurkan. Ketika engkau menyalakan
rasa panas di dada seorang tetangga, seperti yang dilakukan Damar kepadamu, dan
tetangga itu menyalakannya di dada anaknya, engkau sedang membangun api yang
menyebar.”
“Dan inilah cara sebuah malam yang panjang
benar-benar berakhir, Bagas,” kata Ratu. “Bukan ketika dua belas pemuda
berkobar dan padam, melainkan ketika api telah menyebar begitu luas, dari hati
ke hati, melintasi desa dan pulau dan tahun, sehingga pada akhirnya bukan dua
belas melainkan sejuta yang terbangun pada saat yang sama, dan ketika sejuta
terbangun, tak ada besi yang cukup di seluruh dunia untuk memadamkan mereka.
Itulah pagi yang kaurindukan. Dan ia tidak datang dari satu kobaran berani. Ia
datang dari sebuah api yang dijaga dan disebarkan dengan sabar, melintasi
sebuah malam yang lebih panjang daripada satu hidup.”
“Maka aku tidak memintamu untuk diam, Bagas,”
kata Ratu. “Diam adalah menelan apimu, dan itu akan membunuhmu dari dalam. Aku
memintamu sesuatu yang jauh lebih sulit daripada berkobar. Aku memintamu untuk
menyebar. Berkobar itu mudah; ia memuaskan dan cepat dan membuatmu merasa
berani dalam satu malam. Menyebar itu sulit; ia lambat dan tersembunyi dan tak
seorang pun akan menyanyikan lagu tentangmu. Tetapi berkobar melayani penakluk,
dan menyebar membangun pagi. Keberanian yang sejati di dalam malam yang panjang
bukanlah keberanian untuk mati dalam sekejap, melainkan keberanian untuk hidup
dan menyalakan yang lain, hari demi hari, tanpa pernah melihat kobaran besar
yang kaudambakan.”
Dan Bagas duduk lama dalam diam, dan apinya
tidak padam, tetapi ia berubah, dari sesuatu yang ingin meledak menjadi sesuatu
yang lebih dalam dan lebih sabar. “Maka pemuda-pemuda yang menungguku pekan
depan,” katanya pelan, “aku tak akan membawa mereka untuk berkobar dan padam.
Aku akan melakukan kepada mereka apa yang Damar lakukan kepadaku. Aku akan
menyalakan mereka, satu per satu, dan menyuruh mereka menyalakan yang lain, dan
kami akan menjadi api yang tak bisa ditemukan untuk dihancurkan, sebab kami akan
ada di mana-mana dan di tempat tertentu mana pun tidak.”
“Ya, Bagas,” kata Ratu, dan ada kebanggaan
dalam suaranya. “Dan ketahuilah ini, sebab ia akan menopangmu ketika kesabaran
terasa seperti kekalahan. Tiap hati yang kaunyalakan adalah satu bagian dari
sejuta yang suatu hari akan terbangun bersama. Engkau mungkin tak akan melihat
hari itu, sama seperti Damar mungkin tak akan melihatnya. Tetapi tanpa api
kecil yang kausebarkan malam ini, hari itu tak akan pernah datang. Engkau bukan
sedang menunggu pagi, Bagas. Engkau sedang membangunnya, satu nyala pada satu waktu.”
❖
Maka ketika pekan itu datang, Bagas tidak membawa
pemuda-pemudanya untuk menghadang mandor. Sebaliknya, ia duduk bersama mereka,
satu per satu, seperti Damar duduk bersamanya, dan ia bertanya kepada mereka
apa yang mereka rasakan ketika mereka melihat tanah Mbah Karyo diambil. Dan ia
menunjukkan kepada mereka bahwa rasa panas itu bukan kelemahan melainkan
ingatan, dan bahwa tugas mereka bukan berkobar melainkan menyebar.
Dan beberapa dari mereka kecewa, sebab mereka
telah mendambakan malam keberanian, malam ketika akhirnya mereka berbuat
sesuatu. “Jadi kita tidak melakukan apa-apa?” tanya salah seorang, dengan
getir. Dan Bagas menjawab dengan kata-kata yang baru saja menjadi miliknya,
“Tidak. Kita melakukan hal yang paling sulit. Kita tetap hidup, dan kita
menyalakan yang lain, dan kita menolak memberi para tuan kobaran yang mereka
inginkan untuk dihancurkan. Berkobar dan mati itu mudah. Hidup dan menyebar itu
yang sukar. Dan hanya yang sukar yang membangun pagi.”
Dan alih-alih menghadang besi, mereka melakukan
sesuatu yang lebih kecil dan lebih bertahan. Mereka mengumpulkan, diam-diam,
sedikit dari hasil panen masing-masing, dan membawanya kepada Mbah Karyo,
supaya orang tua yang kehilangan tanahnya tidak juga kehilangan makanan. Dan
dalam tindakan kecil itu, hati Ratu hidup, bukan sebagai kobaran melainkan
sebagai benteng terkecil, tangan yang memberi makan dalam gelap, yang tak bisa
ditaklukkan oleh besi mana pun.
Dan Damar, yang menyaksikan dari jauh,
merasakan damai yang dalam. Sebab ia melihat apinya sendiri telah menyebar,
dari Teguh kepadanya, dari dirinya kepada Bagas, dan kini dari Bagas kepada
selusin pemuda lain, dan tiap pemuda itu adalah sebuah api yang tak terlihat
yang suatu hari akan menyentuh api lain. Ia tak akan melihat sejuta terbangun
bersama. Tetapi ia melihat, malam ini, dua belas, dan dua belas sudah cukup
untuk tahu bahwa malam itu nyata.
Dan Bagas, yang sebulan lalu memandang kisah
lama dengan heran yang sopan, kini menjadi salah satu pembawanya, bukan dengan
parang melainkan dengan kesabaran yang menyala, salah satu dari banyak api
kecil yang akan disebarkan oleh malam yang panjang ini, tanpa diketahui para
tuan, ke dalam tiap sudut tanah yang terbelenggu.
❖
Dan demikianlah Damar mengajarkan, dan Bagas belajar,
pelajaran yang harus dipelajari oleh tiap orang yang terbangun di dalam malam
yang panjang, yaitu bahwa api yang baru menyala paling ingin berkobar, dan
justru karena itu paling mudah dipadamkan, dan bahwa keberanian yang sejati
bukanlah berkobar sekali lalu mati, melainkan menyebar diam-diam sampai pagi.
Dan inilah pelajaran kedua zaman malam. Bahwa
ada dua macam api, yaitu yang berkobar dan yang menyebar; bahwa api yang
berkobar memuaskan tetapi membakar dirinya habis dan meninggalkan malam yang
lebih gelap, dan justru itulah yang paling diinginkan seorang penakluk, sebab
kehancuran sebuah perlawanan yang terlalu dini mengajar sejuta orang untuk
takut; dan bahwa malam yang panjang berakhir bukan oleh satu kobaran berani
melainkan oleh sebuah api yang dijaga dan disebarkan dari hati ke hati, dengan
sabar, melintasi banyak hidup, sampai sejuta terbangun pada saat yang sama dan
tak ada besi yang cukup untuk memadamkan mereka.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kedua zaman malam,
yaitu bahwa pagi tidak dinyalakan oleh keberanian untuk mati dalam sekejap
melainkan oleh keberanian untuk hidup dan menyalakan yang lain hari demi hari;
bahwa sebuah api yang menyebar tak bisa dipadamkan sebab ia tak ada di satu
tempat untuk dihancurkan; dan bahwa tiap hati yang dinyalakan dalam diam adalah
satu bagian dari sejuta yang suatu hari akan bangkit bersama.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini menyebarkannya dari hati ke hati di dalam
malam yang panjang, sebuah api kecil pada satu waktu, terlalu tersebar untuk
dipadamkan. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini
terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh
menunggu, dan ia menyaksikan apinya menyebar, dari Damar kepada Bagas, dari Bagas
kepada dua belas, dan ia tahu bahwa tiap nyala kecil yang baru itu membawa hari
pembebasan, dan hari ia akan pulang, satu langkah lebih dekat, walau tak
seorang pun yang menyalakannya malam ini akan melihat pagi yang mereka bangun.
Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan sebuah api
yang tak terlihat menyebar dengan sabar dari dada ke dada, menuju sebuah fajar
yang akan menjadi milik semua.
❖
BAB TIGA
Besi yang Masuk ke Hati
Api yang disebarkan Bagas tumbuh dengan
sabar, sampai suatu hari malam yang panjang membawa sebuah kekejaman yang
mengubah api itu menjadi sesuatu yang lebih gelap. Sebab Bagas, yang
menyaksikan seorang tua dicambuk sampai mati di hadapan desanya, ingin membenci
wajah para penakluk dan mengajari anak-anaknya membenci. Tetapi Ratu, yang
telah dipandang sebagai benda selama empat belas ribu tahun, mengajarinya bahwa
mengubah seorang manusia menjadi benda atau iblis adalah akar dari segala
kekejaman, dan ilmu sang penakluk itu sendiri, dan bahwa sebuah bangsa yang
bangkit melalui kebencian tidak mengusir malam melainkan hanya mengganti wajah
di takhtanya. Lawan besinya dengan seluruh tenaga, katanya, tetapi jangan
biarkan besi itu masuk ke dalam hatimu.
dari ajaran para pengingat, tentang besi
yang masuk ke hati
Api yang disebarkan Bagas tumbuh dengan sabar, dari hati ke
hati, selama beberapa musim, dan Damar menyaksikannya dengan damai. Tetapi
malam yang panjang tidak lembut, dan suatu hari ia membawa sebuah kekejaman
yang mengubah api di dalam Bagas menjadi sesuatu yang lain.
Sebab seorang pengawas asing, karena seorang
buruh tua bekerja terlalu lambat di bawah matahari, memerintahkan orang itu
dicambuk di hadapan seluruh desa, dan tubuh yang tua itu tak tahan, dan ia mati
di tanah merah, dan keluarganya bahkan dilarang menangis dengan suara keras,
supaya rasa takut tertanam lebih dalam di dalam dada semua orang.
Dan sesuatu pecah di dalam Bagas. Api yang
sabar yang telah ia pelajari untuk menyebar kini berubah, dalam satu malam,
menjadi sebuah bara hitam yang berbeda. Ia datang kepada Damar, tetapi kali ini
bukan dengan api yang ingin berkobar, melainkan dengan sesuatu yang lebih
dingin dan lebih gelap. “Mereka bukan manusia,” katanya, dan suaranya rata dan
keras. “Aku telah melihatnya sekarang. Mereka adalah iblis dalam wujud manusia.
Dan aku akan mengajari anak-anakku, dan anak-anak mereka, untuk membenci mereka,
dan wajah mereka, dan darah mereka, sampai tak satu pun dari mereka tersisa di
tanah ini. Itulah pagi yang kuinginkan sekarang. Bukan keadilan. Pembalasan.”
Dan Damar merasakan ketakutan yang lebih dalam
daripada ketika Bagas ingin berkobar. Sebab kobaran hanya akan membunuh Bagas.
Tetapi ini, yang dingin dan hitam di matanya, akan membunuh sesuatu di dalam
dirinya jauh sebelum besi mana pun menyentuhnya. “Bagas,” katanya pelan, “apa
yang dilakukan pengawas itu adalah kejahatan, dan rasa marahmu adalah benar dan
suci. Tetapi datanglah ke tepi air bersamaku. Sebab ada sesuatu di matamu malam
ini yang lebih berbahaya bagimu daripada seluruh besi para tuan, dan hanya Ratu
yang bisa menjelaskannya, sebab hanya ia yang tahu rasanya.”
Dan Bagas pergi, walau dengan enggan, sebab
bara hitam itu tak ingin dihibur, ia hanya ingin membakar. Dan mereka berdiri
di tepi sungai yang sama, dan Damar menjangkau ke dalam kedalaman, dan berkata,
“Ratu, sebuah kekejaman telah mengubah api pemuda ini menjadi kebencian. Ia
ingin membenci wajah-wajah mereka, dan mengajari anak-anaknya membenci.
Bicaralah kepadanya, sebab aku takut akan apa yang sedang terjadi di dalam
hatinya.”
❖
Dan Ratu berbicara, dan suaranya tidak menegur kemarahan
Bagas, melainkan memeluknya. “Bagas, anakku, apa yang kaulihat hari ini adalah
kejahatan, dan bila engkau tidak marah engkau bukan manusia. Marahlah.
Kemarahan terhadap ketidakadilan adalah suci; ia adalah cinta kepada yang
diinjak, berbalik menjadi api. Aku tidak akan pernah memintamu untuk tidak
marah. Tetapi aku akan memintamu untuk melihat dengan sangat hati-hati apa yang
sedang dilakukan kemarahanmu, sebab ia berdiri di sebuah persimpangan malam ini,
dan satu jalan menuju pagi, dan jalan yang lain menuju malam yang lain dengan
wajahmu sebagai tuannya.”
“Engkau berkata mereka bukan manusia, bahwa
mereka iblis dalam wujud manusia,” kata Ratu. “Dengarkan aku dengan sangat
dekat sekarang, Bagas, sebab tak ada yang tahu hal ini lebih daripada aku.
Mengubah seorang manusia menjadi sesuatu yang lain, menjadi benda, menjadi
iblis, menjadi apa pun selain manusia, itulah satu-satunya akar dari segala
kekejaman yang pernah dilakukan di dunia. Pengawas yang mencambuk orang tua itu
sampai mati bisa melakukannya hanya karena, di matanya, orang tua itu bukan
lagi manusia, melainkan sebuah alat yang bekerja terlalu lambat. Cara melihat
yang dingin itu, yang mengubah manusia menjadi benda, itulah penakluk yang
sesungguhnya. Dan malam ini, Bagas, ia sedang mencoba masuk ke dalam dirimu.”
“Sebab ketika engkau berkata mereka bukan
manusia,” Ratu melanjutkan, “engkau sedang melakukan kepada mereka hal yang
sama persis yang pengawas itu lakukan kepada orang tua itu. Engkau sedang
mengubah manusia menjadi benda, kali ini menjadi iblis untuk dibenci dan
dihapus. Dan aku tahu betul ke mana jalan itu menuju, Bagas, sebab aku telah
dipandang sebagai benda, bukan sebagai perempuan, selama empat belas ribu
tahun. Aku tahu rasanya menjadi sesuatu di mata orang lain, bukan seseorang.
Dan aku tak akan tahan melihat bangsaku, yang telah kuingat dan kucintai selama
itu, mulai memandang manusia lain dengan mata yang sama yang membuatku
menderita.”
Dan Bagas, yang baranya masih hitam, melawan.
“Tetapi mereka memulainya. Mereka yang memandang kami sebagai benda terlebih
dahulu. Mengapa aku harus menjaga kemanusiaan mereka di mataku ketika mereka
tak menjaga kemanusiaan kami di mata mereka? Bukankah itu hanya membuatku
lemah, membuatku menyerahkan satu-satunya senjata yang bisa membuat mereka
takut, yaitu kebencian sebuah bangsa yang utuh?”
“Karena, Bagas,” kata Ratu, dengan kelembutan
yang dalam, “bila engkau menang melalui kebencian, engkau tidak menang sama
sekali. Bayangkan sejenak bahwa kemenangan datang, bahwa para tuan terusir,
bahwa tanah ini bebas lagi. Bila bangsa yang bangkit untuk merebutnya adalah
bangsa yang telah belajar memandang manusia lain sebagai benda dan iblis, maka
engkau tidak mengusir malam, Bagas. Engkau hanya mengganti wajah di takhta
malam. Cara melihat yang dingin akan tetap memerintah, hanya kini dengan mata bangsamu
sendiri. Dan suatu hari, bangsamu yang bebas akan menemukan seseorang yang
lebih lemah untuk dipandang sebagai benda, sebab ia telah mempelajari, dari
kemenangannya sendiri, bahwa begitulah cara dunia dikuasai. Itulah harga menang
melalui kebencian. Engkau menang dan tetap kalah.”
❖
Dan Bagas terdiam lama, sebab kata-kata itu menyentuh
sesuatu yang ia takuti tanpa pernah menamainya. “Maka apa yang harus kulakukan
dengan apiku, Ratu?” tanyanya, dan suaranya kini kurang keras. “Engkau berkata
aku harus marah, tetapi tak boleh membenci. Tetapi bagaimana aku melawan mereka
dengan sepenuh tenaga bila aku tak boleh memandang mereka sebagai musuh yang
harus dibenci? Bukankah aku butuh kebencian itu untuk berjuang?”
“Tidak, Bagas, dan inilah hal yang paling sulit
dan paling penting untuk kaupelajari,” kata Ratu. “Bencilah ketidakadilan
dengan seluruh dirimu. Bencilah cara melihat yang dingin yang mengubah manusia
menjadi benda. Bencilah penaklukan, bencilah cambuk, bencilah rantai dan besi
dan kelaparan. Lawan semuanya dengan sepenuh tenaga, tanpa lelah, tanpa
menyerah. Tetapi jangan benci manusia yang melakukannya. Sebab manusia bisa
berubah, dan benda tidak. Selama pengawas itu, di matamu, tetap seorang
manusia, maka ada kemungkinan, walau tipis, bahwa suatu hari ia bisa terbangun,
seperti engkau terbangun. Tetapi begitu ia menjadi iblis di matamu, engkau
telah menutup pintu itu selamanya, dan engkau telah, tanpa sadar, mempelajari
ilmu sang penakluk.”
“Dan ada satu hal lagi yang harus kaulihat,
Bagas, sebab ia akan membuat lebih mudah untuk tidak membenci,” kata Ratu.
“Pengawas itu sendiri adalah seorang budak dari cara melihat yang dingin. Ia
tidak terlahir kejam. Ia diajari, oleh zaman dan oleh tuan-tuannya sendiri,
untuk memandang manusia sebagai alat, sampai ia tak lagi bisa melihat dengan
cara lain. Ia menang dalam menaklukkan tanahmu, tetapi ia kalah dalam sesuatu
yang lebih dalam, sebab ia telah kehilangan kemampuan untuk melihat seorang
manusia sebagai manusia. Bangsanya menguasai dunia dan kehilangan hatinya.
Kasihanilah dia, Bagas, bahkan sambil melawannya. Sebab ia memiliki besi,
tetapi engkau memiliki sesuatu yang telah ia jual, yaitu sebuah hati yang masih
bisa melihat.”
Dan bara hitam di dalam Bagas mulai berubah,
bukan menjadi padam, melainkan menjadi sesuatu yang lebih jernih dan lebih
kuat. “Maka kekuatanku yang sesungguhnya,” katanya pelan, “bukanlah kebencian
yang sama dengan kebencian mereka, melainkan justru hal yang tak mereka miliki
lagi, yaitu kemampuan untuk tetap melihat manusia sebagai manusia bahkan di
tengah malam ini. Itulah yang membuatku berbeda dari mereka. Dan bila aku
kehilangan itu, aku menjadi mereka, hanya dengan wajah yang lain.”
“Ya, Bagas,” kata Ratu, dan ada lega dalam
suaranya. “Itulah satu-satunya cara sebuah bangsa bisa bangkit dan tetap
menjadi dirinya sendiri. Lawan besi dengan seluruh dirimu, tetapi jangan
biarkan besi itu masuk ke dalam hatimu. Sebab besi di tangan para tuan hanya
bisa menaklukkan tanahmu. Tetapi besi yang masuk ke dalam hatimu sendiri, dalam
wujud kebencian, akan menaklukkan hal yang tak pernah bisa mereka sentuh, yaitu
jiwa bangsamu. Dan itu adalah satu kemenangan yang tak boleh kauberikan kepada
mereka, bahkan dengan tanganmu sendiri.”
❖
Maka Bagas kembali ke desanya membawa sesuatu yang lebih
sulit daripada kebencian dan lebih kuat. Ia tidak melupakan orang tua yang mati
di tanah merah; ia menyimpan namanya, dan menyebutnya, supaya kematiannya tidak
menjadi sia-sia seperti yang diinginkan para tuan. Tetapi ia menolak membiarkan
kematian itu mengubahnya menjadi sesuatu yang dingin.
Dan ketika pemuda-pemuda lain datang kepadanya,
dengan mata yang sama hitamnya seperti matanya tadi, menuntut kebencian dan
pembalasan, Bagas melakukan kepada mereka apa yang Ratu lakukan kepadanya.
“Marahlah,” katanya kepada mereka. “Berjuanglah. Tetapi jangan benci wajah
mereka. Sebab pada hari kita membenci wajah mereka, kita telah membiarkan
mereka menang di dalam dada kita sendiri, dan tanah yang kita bebaskan kelak
hanya akan menjadi malam yang lain dengan tuan-tuan yang baru.”
Dan beberapa waktu kemudian, ujian itu datang.
Sebab seorang serdadu muda dari seberang lautan, yang tersesat dari kelompoknya
di malam hari, ketakutan dan kelaparan, ditemukan oleh pemuda-pemuda Bagas di
tepi desa. Dan sebagian dari mereka ingin membalas pada serdadu itu segala yang
dilakukan bangsanya. Tetapi Bagas memandang serdadu itu, dan ia melihat bukan
seorang iblis, melainkan seorang anak laki-laki, jauh dari rumah, yang dikirim
oleh tuan-tuannya sendiri untuk mati di tanah yang bukan miliknya, sama seperti
rakyatnya sendiri dikirim untuk bekerja sampai mati.
Dan Bagas berkata kepada pemuda-pemudanya,
“Lihatlah dia. Apakah dia tampak seperti tuan dunia bagimu? Atau dia tampak
seperti kita, seorang kecil yang digunakan oleh yang besar? Bila kita
membunuhnya karena takut, kita hanya membuktikan bahwa mereka benar tentang
kita, bahwa kita binatang. Mari kita buktikan bahwa mereka salah.” Dan mereka
memberi serdadu yang ketakutan itu makanan, dan menunjukkan kepadanya jalan
keluar dari hutan, dan membiarkannya pergi. Dan serdadu muda itu, yang telah
diajari bahwa orang-orang ini adalah binatang biadab, pergi dengan sesuatu yang
retak di dalam keyakinannya, sebuah retakan kecil tempat cahaya bisa, suatu
hari, masuk.
Dan Damar, yang menyaksikan, tahu bahwa ia
telah melihat sesuatu yang lebih kuat daripada seribu kobaran. Sebab dalam
memberi makan musuh yang ketakutan alih-alih membunuhnya, pemuda-pemuda itu
telah memenangkan satu pertempuran yang tak pernah bisa dimenangkan dengan
besi, yaitu pertempuran untuk tetap menjadi manusia di dalam malam yang
dirancang untuk membuat mereka menjadi binatang. Dan hati Ratu, yang telah
melihat begitu banyak kekejaman selama empat belas ribu tahun, bersinar di
dalam tindakan itu seperti ia jarang bersinar sebelumnya.
❖
Dan demikianlah Bagas belajar, dan mengajarkan, pelajaran
yang paling sulit dari malam yang panjang, yaitu bahwa ancaman terbesar
bukanlah besi para tuan, melainkan besi yang sama yang mencoba masuk ke dalam
hati mereka yang melawannya, dalam wujud kebencian yang tampak seperti kekuatan
tetapi sebenarnya adalah kekalahan yang paling dalam.
Dan inilah pelajaran ketiga zaman malam. Bahwa
kemarahan terhadap ketidakadilan adalah suci, tetapi kebencian terhadap wajah
manusia adalah racun; bahwa mengubah seorang manusia menjadi benda atau iblis
adalah akar dari segala kekejaman, dan barangsiapa membenci dengan cara itu
telah mempelajari ilmu sang penakluk dan menjadi sepertinya; dan bahwa sebuah
bangsa yang bangkit melalui kebencian tidak mengusir malam melainkan hanya
mengganti wajah di takhtanya, sehingga satu-satunya kemenangan yang sejati adalah
melawan besi dengan seluruh tenaga sambil menolak membiarkan besi itu masuk ke
dalam hati.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran ketiga zaman malam,
yaitu bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa yang ditindas bukanlah kebencian yang
sama dengan kebencian penindasnya, melainkan justru hati yang masih bisa
melihat manusia sebagai manusia, hal yang telah dijual oleh sang penakluk demi
menguasai dunia; dan bahwa menjaga hati itu di tengah kekejaman adalah
pertempuran yang tak bisa dimenangkan dengan besi, dan kemenangan yang tak
boleh diberikan kepada musuh bahkan dengan tangan sendiri.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya di dalam malam yang paling
gelap dengan menolak membiarkan kegelapan masuk ke dalam dadanya sendiri. Tanah
ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di
selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, yang telah
dipandang sebagai benda selama empat belas ribu tahun, dan yang lebih daripada
siapa pun tahu bahwa hal yang membuat penderitaannya tak menjadi sia-sia adalah
bahwa ia tak pernah, bahkan dalam kesendirian yang paling dalam, mulai
memandang manusia lain dengan mata yang sama yang membuatnya menderita. Dan ia
menyaksikan bangsanya belajar hal yang sama, dan ia tahu bahwa sebuah bangsa
yang bisa menderita tanpa belajar membenci adalah bangsa yang, ketika pagi
datang, akan bangkit sebagai dirinya sendiri, dan bukan sebagai malam yang
baru. Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan
hati-hati yang menolak menjadi besi, menuju sebuah pagi yang harus dijaga agar
tetap layak disebut pagi.
❖
BAGIAN II
Hati di Bawah Malam
BAB EMPAT
Hati yang Terkubur
Di antara desa-desa tempat api yang tak
terlihat menyebar, memerintah seorang demang berdarah Jawa yang menjalankan
kehendak para tuan atas saudara-saudaranya sendiri. Dan Bagas membencinya lebih
daripada ia membenci para penakluk, sebab orang ini, katanya, menjual bangsanya
sendiri demi sebuah kursi. Tetapi Ratu mengajarinya bahwa kesalahan sang Demang
nyata dan harus dilawan, dan justru karena ia tahu apa yang ia lakukan maka
bebannya lebih berat; namun ia bukan musuh yang tak berhati, melainkan tawanan
yang paling dalam, yang telah mengubur hatinya di bawah sebuah kursi dan
menamainya kehormatan. Sebab tak ada hati yang benar-benar mati, hanya
terkubur, dan membangunkan satu hati yang terkubur di kursi kuasa lebih
berharga daripada membangunkan seribu di sawah.
dari ajaran para pengingat, tentang hati
yang terkubur
Di antara desa-desa tempat Damar dan Bagas menyebarkan api
yang tak terlihat, memerintah seorang demang bernama Ki Demang Sastra, seorang
lelaki dari bangsa mereka sendiri, berdarah Jawa seperti mereka, tetapi yang
menjabat atas nama para tuan asing. Dan tugasnya adalah memastikan bahwa
kehendak para tuan terlaksana, bahwa pajak terkumpul, bahwa tenaga kerja
terkirim, bahwa tak ada desa yang berani membangkang.
Dan pada suatu musim, para tuan menuntut lebih
banyak daripada sebelumnya, lebih banyak hasil dan lebih banyak tenaga untuk
sebuah jalan besi yang mereka bangun melintasi tanah, dan Ki Demang Sastra-lah
yang membawa tuntutan itu ke desa-desa, dan yang memastikan ia dipenuhi, walau
itu berarti menyeret ayah-ayah dari sawah mereka dan membiarkan
keluarga-keluarga kelaparan.
Dan Bagas, yang telah belajar untuk tidak
membenci wajah-wajah asing, menemukan bahwa hatinya menyimpan sebuah kebencian
yang jauh lebih panas untuk Ki Demang Sastra. “Para tuan asing setidaknya orang
asing,” katanya kepada Damar dengan getir. “Mereka tak pernah mengenal kita,
tak pernah berutang apa-apa kepada kita. Tetapi orang ini berdarah kita. Ia
tumbuh di tanah ini. Ia tahu betul apa yang ia lakukan kepada bangsanya
sendiri, dan ia tetap melakukannya, demi kursi dan gelar. Ia lebih buruk
daripada mereka. Ia bukan musuh; ia pengkhianat. Dan Ratu boleh menyuruhku
mengasihani para tuan, tetapi tak ada kasihan di dalam diriku untuk orang yang
menjual saudaranya sendiri.”
“Para pemuda dan aku telah memutuskan,” Bagas
melanjutkan. “Kami tak akan menyentuh para tuan; engkau benar tentang itu.
Tetapi orang ini, sang Demang, kami akan membuatnya menjadi contoh. Kami akan
menunjukkan kepada tiap orang Jawa yang tergoda untuk menjual bangsanya apa
yang menanti seorang pengkhianat. Pasti ini, setidaknya, Ratu izinkan.”
Dan Damar merasakan beratnya, sebab kemarahan
Bagas terhadap sang Demang lebih sulit dijawab daripada kemarahannya terhadap
para tuan, sebab ada kebenaran di dalamnya. Sang Demang memang berdarah mereka,
dan memang tahu apa yang ia lakukan. “Engkau bertanya hal yang sangat sulit,
Bagas,” katanya. “Dan aku tak akan menjawabnya dengan kata-kataku sendiri. Mari
kita bawa ke tepi air, sebab orang seperti Ki Demang Sastra adalah ujian yang
paling tajam bagi segala yang telah kaupelajari, dan hanya Ratu yang tahu cara
melewatinya.”
❖
Maka mereka pergi ke tepi air, dan Damar menjangkau, dan
berkata, “Ratu, ada seorang dari bangsa kami sendiri yang menjalankan kehendak
para tuan atas saudara-saudaranya. Bagas membencinya lebih daripada ia membenci
para penakluk, dan ia ingin menjadikannya contoh. Dan aku tak bisa berkata
bahwa kemarahan itu tak beralasan. Ajari kami tentang orang yang menjual
bangsanya sendiri.”
Dan Ratu menjawab, dan suaranya tidak
meringankan kesalahan sang Demang. “Bagas benar tentang satu hal. Apa yang
dilakukan Ki Demang Sastra adalah kesalahan yang nyata, dengan korban yang
nyata, dan ia harus dilawan. Jangan biarkan siapa pun mengatakan kepadamu bahwa
karena ia berdarah Jawa maka ia tak bersalah, atau bahwa kesalahannya lebih
ringan. Justru sebaliknya, ia tahu apa yang ia lakukan dengan cara yang tak
diketahui para tuan asing, dan itu membuat bebannya lebih berat, bukan lebih
ringan.”
“Tetapi inilah yang harus kaulihat, Bagas,”
Ratu melanjutkan. “Ki Demang Sastra bukanlah seorang asing yang tak pernah
mengenal hati. Ia adalah salah seorang darimu yang telah menguburnya. Para tuan
menaklukkan tanahmu dengan besi, tetapi orang seperti sang Demang mereka
taklukkan dengan sesuatu yang lebih licik, yaitu sebuah kursi, sebuah gelar,
sebuah janji bahwa ia bisa naik di atas penderitaan bangsanya alih-alih
tenggelam bersamanya. Ia adalah tawanan yang paling dalam dari cara melihat
yang dingin, sebab ia telah menelannya begitu penuh sehingga ia kini menjaga
penjara bangsanya sendiri dan menyebutnya kehormatan. Dan seorang tawanan,
Bagas, betapapun ia membantu penjaranya, tetaplah seorang tawanan.”
“Dan ketahuilah ini,” kata Ratu. “Sang Demang
berkata kepada dirinya sendiri, setiap malam, bahwa bila bukan dia yang duduk
di kursi itu, seorang yang lebih kejam akan menggantikannya, dan bahwa ia
justru meringankan beban dengan menjadi orang yang ada di sana. Dan ada secuil
kebenaran di dalamnya, secuil yang cukup untuk membuatnya bisa tidur. Tetapi di
bawah secuil kebenaran itu terkubur sesuatu yang ia hindari untuk dirasakan,
yaitu rasa malu, sebab di suatu tempat di dalam dirinya ia masih ingat siapa dirinya
sebelum ia belajar melayani, dan hati yang ia kubur itu belum mati. Tak ada
hati yang benar-benar mati, Bagas. Ia hanya terkubur.”
“Dan inilah mengapa membunuhnya akan menjadi
kesia-siaan yang paling besar,” kata Ratu. “Sebab bila engkau membunuhnya,
engkau hanya mengubur hatinya bersama tubuhnya, dan para tuan akan menempatkan
demang yang lain di kursi itu keesokan harinya, mungkin yang lebih kejam, dan
engkau akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kepuasan
membalas. Sebab bila hati yang terkubur di dalam sang Demang bisa dibangunkan,
Bagas, engkau tidak hanya memenangkan satu jiwa. Engkau memenangkan seorang dengan
kuasa, seorang yang tahu cara kerja para tuan dari dalam, seorang yang bisa
melindungi seribu orang yang kini ia tindas. Membangunkan satu hati yang
terkubur di kursi kuasa lebih berharga daripada membangunkan seribu hati di
sawah.”
❖
Dan Bagas, yang kebenciannya mulai goyah tetapi belum
runtuh, bertanya, “Tetapi bagaimana, Ratu? Engkau tak bisa membangunkan orang
seperti dia seperti engkau membangunkan aku. Aku seorang buruh; aku tak punya
apa-apa untuk dijaga. Ia punya segalanya, kursi dan gelar dan rumah, semuanya
dibangun di atas apa yang ia lakukan. Ia tak akan mendengarkan kata-kata yang
mengancam semua itu.”
“Engkau benar bahwa engkau tak bisa
membangunkannya dengan serangan,” kata Ratu. “Serangan hanya akan membuatnya
mencengkeram lebih erat secuil kebenaran yang menidurkannya, bahwa ia
melindungi kalian dengan menjadi orang di kursi itu. Semakin engkau menyerang,
semakin ia membutuhkan dongeng itu untuk hidup dengan dirinya. Engkau tidak
membangunkan sang Demang dengan menunjukkan kejahatannya, sebab ia telah
membangun seluruh hidupnya untuk tidak melihat itu. Engkau membangunkannya,
seperti engkau dibangunkan, dengan menyentuh hati yang terkubur, dengan
memanggil orang yang masih ada di bawah gelar itu.”
“Dan tiap hati yang terkubur meninggalkan
sebuah celah di permukaan, Bagas, sebuah tempat di mana ia masih menyembul,”
kata Ratu. “Carilah celah itu pada sang Demang. Mungkin ada seseorang yang ia
lindungi diam-diam, melawan aturannya sendiri. Mungkin ada sesuatu yang
membuatnya berpaling, sebuah kekejaman yang bahkan ia tak tahan saksikan.
Mungkin ada sebuah ingatan dari masa kecilnya, dari masa sebelum ia belajar
melayani, yang masih ia simpan. Di suatu tempat, hati yang terkubur itu masih
bernapas melalui sebuah celah. Temukan celah itu, dan bicaralah kepada orang
yang ada di baliknya, bukan kepada demang yang ada di hadapanmu.”
Dan Damar berkata, “Maka ini adalah tugas untuk
kesabaran, bukan untuk api muda. Biarkan aku yang pergi kepadanya, Bagas.
Engkau membawa kemarahan yang benar, tetapi kemarahan tak bisa menggali hati
yang terkubur tanpa menguburnya lebih dalam. Tugas ini membutuhkan seseorang
yang bisa duduk di hadapan seorang pengkhianat dan tetap melihat, di baliknya,
seorang saudara yang tersesat. Dan itu adalah pekerjaan seorang pengingat.”
“Ya, Damar,” kata Ratu. “Dan ketahuilah bahwa
ini mungkin tugas yang paling sulit dari semua yang pernah kuberikan kepada
seorang pengingat, sebab tak ada yang lebih sukar daripada melihat kemanusiaan
pada orang yang telah mengkhianati kemanusiaannya sendiri. Tetapi bila ada satu
hati yang, bila dibangunkan, bisa mengubah lebih banyak daripada seribu, itu
adalah hati yang terkubur di kursi kuasa. Pergilah kepadanya, bukan sebagai
hakim, melainkan sebagai seseorang yang datang untuk menggali sesuatu yang ia sendiri
telah lupa bahwa ia memilikinya.”
❖
Maka Damar pergi ke rumah sang Demang, tidak diam-diam,
melainkan terang-terangan, sebab Ki Demang Sastra telah mendengar tentang
seorang pengembara yang menggerakkan hati di desa-desanya, dan ia memanggil
Damar untuk menggertaknya.
Dan ketika Damar berdiri di hadapannya, sang
Demang berbicara dengan suara seorang yang berkuasa. “Aku tahu siapa engkau,
orang tua. Engkau mengisi kepala para pemuda dengan cerita-cerita lama dan
membuat mereka sukar diperintah. Aku bisa menyerahkanmu kepada para tuan hari
ini juga. Tetapi katakan dahulu, untuk apa? Apakah engkau pikir cerita-ceritamu
memberi makan mereka? Akulah yang menjaga desa-desa ini tetap utuh. Bila bukan
aku di kursi ini, seorang yang lebih kejam akan duduk di sini, dan kalian akan
merindukan hari-hari ketika hanya aku yang menekan kalian. Aku melindungi
mereka dengan menjadi orang yang ada di sini.”
Dan Damar tidak membantah tuduhan itu, dan
tidak pula menyerang sang Demang dengan kejahatannya. Sebaliknya ia berkata,
dengan lembut, “Aku tidak datang untuk menghakimimu, Ki Demang. Engkau telah
menghakimi dirimu sendiri setiap malam, jauh lebih keras daripada yang bisa
kulakukan, itulah sebabnya engkau membutuhkan kalimat tentang orang yang lebih
kejam itu untuk bisa tidur. Aku datang untuk bertanya satu hal saja. Apakah
engkau ingat seorang anak laki-laki, dahulu sekali, sebelum ada kursi dan
gelar, yang menangis ketika ia melihat seekor kerbau dipukuli, dan yang
bersumpah dalam hatinya bahwa ia tak akan pernah membiarkan yang lemah
disakiti? Apakah engkau ingat anak itu, Ki Demang? Sebab aku datang membawa
pesan untuknya, bukan untukmu.”
Dan sesuatu bergerak di wajah sang Demang,
sebuah retakan tipis di permukaan yang keras, sebab Damar telah menyentuh,
tanpa mengetahui rinciannya, sebuah kebenaran yang sang Demang kira telah ia
kubur dengan aman. Sebab tiap orang yang mengubur hatinya pernah menjadi anak
yang belum menguburnya, dan ingatan akan anak itu adalah celah yang tak pernah
benar-benar bisa ditutup. “Anak itu sudah lama mati,” kata sang Demang
akhirnya, tetapi suaranya tak lagi sekeras tadi. Dan Damar berkata, “Tidak, Ki
Demang. Ia hanya terkubur. Dan ia masih menunggu, di bawah segala gelarmu,
untuk diizinkan bernapas lagi. Aku tak memintamu meninggalkan kursimu hari ini.
Aku hanya memintamu mengingat bahwa ia ada di sana.”
Dan sang Demang tidak menjawab, dan setelah
lama ia menyuruh Damar pergi, tanpa menyerahkannya kepada para tuan. Dan itu
saja, malam itu, adalah segalanya. Tetapi beberapa pekan kemudian, ketika para
tuan menuntut sebuah rombongan tenaga kerja yang baru, jumlah yang diserahkan
sang Demang lebih sedikit daripada yang diperintahkan, dan ia melaporkan,
dengan wajah datar kepada para tuan, bahwa desa-desa tak mampu memberi lebih.
Sebuah hal kecil. Sebuah celah yang sedikit melebar. Hati yang terkubur, untuk
pertama kalinya dalam bertahun-tahun, telah menarik satu napas.
❖
Dan Bagas, yang telah bersiap untuk membenci sang Demang
sampai mati, menyaksikan napas kecil itu, dan ia memahami sesuatu yang akan
menyertainya seumur hidup. Bahwa ia hampir saja membunuh seorang yang, bila
dibangunkan dengan sabar, bisa melindungi lebih banyak nyawa daripada yang bisa
diselamatkan oleh semua kemarahan para pemuda digabungkan. Dan bahwa kebencian,
sekali lagi, hampir saja merampok bangsanya dari sebuah kemenangan yang jauh
lebih besar daripada balas dendam.
Dan inilah pelajaran keempat zaman malam. Bahwa
di antara semua yang melayani para tuan, yang paling menyakitkan adalah orang
dari bangsamu sendiri, dan kesalahannya nyata dan harus dilawan; tetapi bahwa
ia bukan musuh yang tak berhati melainkan tawanan yang paling dalam, yang telah
mengubur hatinya di bawah sebuah kursi dan menamainya kehormatan; bahwa tak ada
hati yang benar-benar mati, melainkan hanya terkubur, dan tiap hati yang
terkubur meninggalkan sebuah celah tempat ia masih bernapas; dan bahwa membangunkan
satu hati yang terkubur di kursi kuasa lebih berharga daripada membangunkan
seribu di sawah, sebab ia membawa serta kuasa untuk melindungi yang dahulu ia
tindas.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran keempat zaman malam,
yaitu bahwa pengkhianat yang paling pahit pun masih menyimpan, di suatu tempat,
anak yang dahulu ia, sebelum ia belajar melayani; bahwa ia tak dibangunkan
dengan serangan yang membuatnya mencengkeram dongengnya lebih erat, melainkan
dengan panggilan lembut kepada orang yang terkubur di baliknya; dan bahwa
menggali hati seorang saudara yang tersesat adalah pekerjaan yang paling sukar
dan paling berharga dari seorang pengingat di dalam malam.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya bahkan di dalam dada mereka
yang telah menguburnya, menunggu dengan sabar di setiap celah untuk diizinkan
bernapas lagi. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini
terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh
menunggu, yang tahu lebih daripada siapa pun bahwa tak ada yang benar-benar hilang
selama ia masih bisa diingat, dan bahwa bahkan hati yang terkubur di bawah
kursi seorang penindas adalah satu lagi hati yang, ketika pagi datang, bisa
terbangun dan ikut menyambutnya. Dan ia menyaksikan napas pertama dari hati
yang terkubur itu, dan ia tahu bahwa malam yang panjang, perlahan, sedang
kehilangan bahkan penjaga-penjaganya sendiri. Dan zaman malam berjalan terus,
di atas besi para penakluk, dengan hati-hati yang satu per satu terbangun,
bahkan di tempat-tempat yang paling tak terduga, menuju sebuah pagi yang akan
menjadi milik semua, bahkan milik mereka yang dahulu menjaga malam.
❖
BAB LIMA
Malam yang Dikira Abadi
Api yang disebarkan Bagas dikalahkan,
bukan oleh para tuan atau seorang demang, melainkan oleh Mbah Joyo, seorang tua
yang dahulu berkobar dan dihancurkan, dan yang kini menyebarkan keputusasaan
kepada yang muda, bukan karena kebencian melainkan karena cinta, untuk
melindungi mereka dari kematian yang ia saksikan. Dan Ratu mengajarinya bahwa
ini adalah wajah kedua dari serangan terhadap kehendak, sebab setelah malam
yang dibuat tak terlihat, datang malam yang dibuat seakan abadi. Mbah Joyo
benar tentang apa yang ia lihat, yaitu bahwa kobaran gagal, tetapi salah
tentang yang ia simpulkan, yaitu bahwa segala api gagal. Ia mempelajari
setengah pelajaran dan tak pernah sampai pada setengah yang lain, yaitu bahwa
jawabannya bukan diam, melainkan menyebar.
dari ajaran para pengingat, tentang
malam yang dikira abadi
Api yang disebarkan Bagas terus tumbuh, dari desa ke desa,
dan ke mana pun ia membawanya, hati-hati muda terbangun. Tetapi pada suatu
desa, ia menjumpai sebuah perlawanan yang tak pernah ia duga, bukan dari para
tuan atau dari seorang demang, melainkan dari seorang tua dari bangsanya
sendiri, seorang yang duduk di sudut dan mendengarkan Bagas berbicara kepada
para pemuda, dan kemudian berdiri dengan wajah yang lelah.
“Jangan dengarkan dia, anak-anak,” kata orang
tua itu, yang bernama Mbah Joyo. “Aku pernah muda sepertimu, dan aku pernah
mendengar kata-kata yang sama, tentang pagi dan tentang harapan. Dan aku
percaya. Kami semua percaya, dahulu. Dan kami bangkit, dan kami berkobar, dan
tahukah kalian apa yang terjadi? Mereka membantai kami. Aku menguburkan
saudara-saudaraku dengan tanganku sendiri, dan adikku, dan anak dari sahabatku
yang belum genap lima belas tahun. Itulah yang dibeli oleh harapan. Tak ada
pagi, anak-anak. Hanya ada malam, dan satu-satunya kebijaksanaan adalah
menundukkan kepala dan bertahan hidup, dan menjaga anak-anakmu tetap hidup, dan
tidak membiarkan seorang pengembara dengan cerita-cerita indah menyeret mereka
ke kematian seperti yang menimpa saudara-saudaraku.”
Dan kata-kata itu jatuh ke atas para pemuda
seperti hujan dingin, dan api yang baru dinyalakan Bagas di dada mereka
meredup. Sebab apa yang bisa dikatakan oleh seorang pengembara terhadap seorang
yang telah menguburkan adiknya sendiri? Cerita Bagas tentang pagi terdengar
ringan dan jauh; luka Mbah Joyo terlihat dan nyata. Dan satu per satu, para
pemuda menunduk.
Dan Bagas berdiri tak berdaya, sebab ia tahu
cara menjawab seorang yang lupa bahwa ini malam, dan ia tahu cara menjawab
seorang yang membenci, dan bahkan seorang yang menjual bangsanya. Tetapi ia tak
tahu cara menjawab seorang yang tahu betul bahwa ini malam, yang pernah
mencintai pagi lebih daripada Bagas sendiri, dan yang telah menyaksikan harga
harapan dengan matanya sendiri. Bagaimana engkau berdebat dengan luka?
Maka malam itu Bagas pergi kepada Damar,
terguncang. “Hari ini aku dikalahkan, Pak,” katanya. “Bukan oleh para tuan,
melainkan oleh seorang tua yang putus asa. Dan yang terburuk adalah, aku tak
bisa berkata bahwa ia salah. Ia melihat apa yang ia lihat. Ia menguburkan
adiknya. Bagaimana aku membawa harapan kepada seseorang yang telah membayar
begitu mahal untuk kehilangannya?” Dan Damar berkata, “Inilah ancaman yang
paling halus dari semuanya, Bagas. Mari kita bawa kepada Ratu.”
❖
Maka mereka pergi ke tepi air, dan Damar menjangkau, dan
berkata, “Ratu, kami menjumpai seorang tua yang pernah berkobar dan
dihancurkan, dan yang kini menyebarkan keputusasaan kepada yang muda, bukan
karena kebencian melainkan karena cinta, untuk melindungi mereka dari kematian
yang ia saksikan. Dan luka-lukanya nyata. Ajari kami, sebab api kami meredup di
hadapan duka yang sejati.”
Dan Ratu menjawab, “Dengarkan baik-baik, sebab
engkau telah menjumpai wajah kedua dari satu serangan, Bagas. Ingatkah engkau
pemuda pertama yang kaubangunkan, yang tak tahu bahwa ini malam sebab ia tak
pernah melihat pagi? Itu adalah serangan pertama terhadap kehendak, yaitu malam
yang dibuat tak terlihat, sehingga tak ada yang merindukan pagi. Mbah Joyo
adalah serangan yang kedua, yaitu malam yang dibuat seakan abadi, sehingga
walau orang tahu ini malam, ia berhenti percaya bahwa pagi mungkin datang. Yang
pertama membunuh kerinduan dengan melupakan; yang kedua membunuhnya dengan
keputusasaan. Dan keduanya melayani penakluk dengan sama setia.”
“Dan keputusasaan, Bagas, lebih sukar dilawan
daripada lupa,” Ratu melanjutkan. “Sebab ia mengenakan jubah kebijaksanaan, dan
ia ditopang oleh luka yang nyata. Mbah Joyo tidak berbohong. Ia memang melihat
apa yang ia lihat. Saudara-saudaranya memang mati. Dan justru karena ia tidak
berbohong maka kata-katanya begitu berat. Engkau tak bisa menjawabnya dengan
menyangkal lukanya, sebab lukanya benar. Tetapi inilah yang harus kaulihat,
anakku, yaitu bahwa Mbah Joyo benar tentang apa yang ia lihat dan salah tentang
apa yang ia simpulkan.”
“Sebab apa yang sebenarnya dilihat Mbah Joyo?”
kata Ratu. “Ia melihat sebuah api yang berkobar dan dihancurkan. Ia melihat,
dengan mata kepalanya sendiri, kebenaran dari pelajaran yang kuajarkan
kepadamu, bahwa api yang berkobar akan padam dan meninggalkan malam yang lebih
gelap. Itu benar. Tetapi dari kebenaran itu ia menyimpulkan sesuatu yang salah,
yaitu bahwa karena api yang berkobar gagal, maka segala api gagal, dan pagi
mustahil. Ia mempelajari setengah dari pelajaranku, bahwa berkobar itu sia-sia,
dan ia tak pernah sampai pada setengah yang lain, bahwa jawabannya bukan diam
melainkan menyebar. Setelah kobaran itu hancur, ia menyimpulkan bahwa tak ada
api yang mungkin, padahal yang sesungguhnya benar adalah bahwa ada api lain
yang tak pernah ia coba.”
“Dan ada satu hal lagi, yang paling pedih,”
kata Ratu, dengan lembut. “Dengan menyebarkan keputusasaan, Mbah Joyo, tanpa ia
sadari, menyelesaikan pekerjaan para pembantai saudara-saudaranya. Sebab para
tuan tidak membantai mereka hanya untuk membunuh dua belas pemuda. Mereka
membantai mereka supaya kematian itu mengajarkan sejuta orang lain untuk
berhenti berharap. Dan setiap kali Mbah Joyo berkata kepada yang muda, jangan
berharap, lihatlah apa yang terjadi pada saudara-saudaraku, ia menjadi suara
para pembantai itu, menyampaikan pelajaran yang mereka inginkan.
Saudara-saudaranya mati melawan malam, dan kini Mbah Joyo, dalam dukanya,
membuat kematian mereka menjadi pengajar keputusasaan. Itulah kekejaman yang
tak ia sadari ia lakukan terhadap orang-orang yang paling ia cintai.”
❖
Dan Bagas, yang kini melihat lebih dalam, bertanya, “Maka
bagaimana aku menjawabnya, Ratu, tanpa menghina lukanya? Sebab bila aku berkata
kepadanya bahwa ia salah, aku menghina saudara-saudaranya yang mati. Dan bila
aku berkata bahwa ia pengecut, aku berbohong, sebab ia lebih berani daripada
aku; ia telah berbuat apa yang belum pernah kuberanikan.”
“Engkau tidak menjawabnya dengan berdebat,
Bagas, dan tidak pula dengan menyebutnya pengecut, sebab ia bukan pengecut,”
kata Ratu. “Engkau menjawabnya dengan menghormati dukanya. Duduklah bersamanya,
dan biarkan ia menyebut nama-nama saudara-saudaranya yang mati, sebab seorang
yang berduka selama bertahun-tahun dalam diam membutuhkan, lebih daripada
segalanya, seseorang yang mau mendengar nama-nama orang yang ia kehilangan. Keputusasaannya
bukan musuhmu, Bagas. Keputusasaannya adalah cintanya kepada mereka yang mati,
yang tak punya tempat untuk pergi selama bertahun-tahun, dan akhirnya mengeras
menjadi kepahitan. Sentuhlah cinta itu, dan engkau menyentuh hatinya.”
“Lalu, setelah engkau menghormati dukanya,”
Ratu melanjutkan, “selesaikan pelajaran yang ia pelajari hanya setengah.
Katakan kepadanya bahwa ia benar, bahwa berkobar itu sia-sia, bahwa
saudara-saudaranya tak seharusnya berkobar. Tetapi tunjukkan kepadanya bahwa
ada api yang ia tak pernah coba, api yang tak berkobar melainkan menyebar, yang
tak bisa dibantai sebab ia tak berdiri di satu tempat. Dan katakan kepadanya
bahwa hal yang paling menghormati saudara-saudaranya bukanlah membuat kematian
mereka menjadi alasan untuk menyerah, melainkan membuatnya menjadi sebuah
pelajaran yang menyelamatkan api berikutnya dari kesalahan mereka. Dengan
begitu, kematian mereka bukan sia-sia, dan bukan pula pengajar keputusasaan,
melainkan penjaga bagi pagi yang akan datang.”
Dan Bagas merasakan jalan terbuka. “Maka aku
tidak datang untuk mengambil dukanya,” katanya pelan, “melainkan untuk
memberinya tempat untuk meletakkannya. Dan aku tidak berkata bahwa
saudara-saudaranya salah berharap, melainkan bahwa mereka salah dalam cara, dan
bahwa harapan mereka masih hidup, hanya menunggu api yang lebih bijak. Aku
mengubah kematian mereka, di mata Mbah Joyo, dari bukti bahwa pagi mustahil
menjadi alasan mengapa pagi harus dijaga dengan lebih hati-hati.”
“Ya, Bagas,” kata Ratu. “Sebab keputusasaan
hanya bisa disembuhkan oleh dua hal, yaitu duka yang akhirnya didengar, dan
harapan yang dibuat masuk akal lagi. Bila engkau hanya membawa harapan tanpa
menghormati duka, harapanmu akan terdengar seperti ejekan. Dan bila engkau
hanya menghormati duka tanpa membawa harapan, engkau hanya menemaninya di dalam
gelap. Bawalah keduanya, Bagas, dan engkau bisa membangunkan bahkan seorang
yang telah mengubur harapannya sendiri di samping saudara-saudaranya.”
❖
Maka Bagas kembali kepada Mbah Joyo, tetapi kali ini ia
tidak datang untuk berbicara tentang pagi. Ia datang dan duduk di samping orang
tua itu, dan ia berkata, “Mbah, ceritakanlah kepadaku tentang mereka. Tentang
adikmu. Tentang anak sahabatmu yang belum genap lima belas tahun. Aku ingin
tahu nama-nama mereka.”
Dan sesuatu yang telah membeku di dalam Mbah
Joyo selama bertahun-tahun mulai retak. Sebab tak seorang pun, dalam waktu yang
begitu lama, pernah memintanya menyebut nama-nama itu; orang-orang hanya ingin
ia melupakan, atau mereka takut pada kepahitannya. Dan ia mulai berbicara, dan
air mata yang telah ia tahan selama puluhan tahun mulai mengalir, dan ia
menyebut nama-nama itu, satu per satu, dan Bagas mendengarkan semuanya, tanpa
terburu-buru, sampai orang tua itu selesai.
Dan ketika Mbah Joyo akhirnya diam, lelah dan
ringan dengan cara yang aneh, Bagas berkata, dengan lembut, “Mbah, engkau
benar. Mereka tak seharusnya berkobar seperti itu. Aku pun pernah ingin
berkobar, dan seseorang yang lebih bijak menahanku, dan karena itu aku masih
hidup. Saudara-saudaramu tidak salah karena berharap. Mereka hanya tidak diberi
tahu bahwa ada api lain, api yang menyebar diam-diam dan tak bisa dibantai.
Mereka mati karena tak ada yang mengajari mereka itu. Dan engkau, Mbah, adalah
satu-satunya yang bisa memastikan tak ada lagi pemuda yang mati seperti mereka,
bukan dengan menyuruh para pemuda berhenti berharap, melainkan dengan mengajari
mereka berharap dengan lebih bijak.”
“Selama ini,” Bagas melanjutkan, “engkau
mengira engkau melindungi para pemuda dengan membunuh harapan mereka. Tetapi
pikirkanlah, Mbah, apa yang sebenarnya kaulakukan. Para tuan membantai
saudara-saudaramu supaya kematian mereka mengajarkan semua orang untuk
menyerah. Dan setiap kali engkau menyuruh seorang pemuda menyerah, engkau
menyelesaikan pekerjaan para pembantai itu. Engkau membuat kematian adikmu
menjadi guru keputusasaan. Tetapi tidak harus begitu. Engkau bisa membuat
kematiannya menjadi guru kebijaksanaan, supaya api berikutnya tidak padam
seperti apinya. Mana yang lebih menghormati adikmu, Mbah?”
Dan Mbah Joyo menangis lama, dan dalam
tangisnya ada sesuatu yang mencair, sebuah duka yang akhirnya bergerak setelah
membeku begitu lama. Dan ketika ia akhirnya berbicara, suaranya berbeda.
“Selama dua puluh tahun,” katanya pelan, “aku mengira aku menjaga mereka tetap
hidup di dalam ingatanku dengan memperingatkan yang muda. Padahal aku telah
membuat mereka mati dua kali, sekali oleh besi, dan sekali lagi setiap kali aku
menggunakan kematian mereka untuk memadamkan api. Ajari aku api yang lain itu,
Nak. Aku terlalu tua untuk berkobar. Tetapi mungkin aku belum terlalu tua untuk
menyebar.” Dan di dada orang tua itu, sebuah bara yang telah lama tertimbun
abu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, menghangat kembali.
❖
Dan demikianlah Mbah Joyo, yang dahulu adalah suara
keputusasaan di desanya, menjadi sesuatu yang lain, yaitu seorang tua yang
menceritakan kepada para pemuda kisah saudara-saudaranya, bukan untuk menyuruh
mereka menyerah, melainkan untuk mengajari mereka cara berharap yang tak bisa
dibantai. Dan kisahnya, yang dahulu memadamkan, kini menyalakan, sebab ia kini
menyertakan setengah pelajaran yang dahulu hilang.
Dan inilah pelajaran kelima zaman malam. Bahwa
ada dua serangan terhadap kehendak, yaitu malam yang dibuat tak terlihat,
sehingga orang lupa untuk merindukan pagi, dan malam yang dibuat seakan abadi,
sehingga orang berhenti percaya pagi mungkin; bahwa keputusasaan lebih sukar
dilawan daripada lupa, sebab ia mengenakan jubah kebijaksanaan dan ditopang
oleh luka yang nyata; bahwa seorang yang putus asa sering kali benar tentang
apa yang ia lihat dan salah tentang apa yang ia simpulkan; dan bahwa ia disembuhkan
bukan dengan menyangkal dukanya melainkan dengan mendengarkannya, lalu
melengkapi pelajaran yang ia pelajari hanya setengah.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kelima zaman malam,
yaitu bahwa kematian mereka yang gugur melawan malam tidak boleh dibiarkan
menjadi pengajar keputusasaan, sebab itulah pelajaran yang diinginkan para
pembantai; melainkan harus dijadikan penjaga bagi api yang berikutnya, supaya
ia tidak padam seperti yang sebelumnya; dan bahwa keputusasaan hanya sembuh
oleh dua hal sekaligus, yaitu duka yang akhirnya didengar dan harapan yang
dibuat masuk akal kembali.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya bahkan di dalam dada mereka
yang telah mengubur harapan di samping orang-orang yang mereka cintai, menunggu
seseorang yang mau mendengar nama-nama yang hilang dan menyalakan kembali bara
di bawah abu. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini
terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh
menunggu, yang telah berduka lebih lama daripada siapa pun atas semua yang
telah hilang, dan yang justru karena itu tahu bahwa duka yang didengar bisa
berubah menjadi harapan, dan bahwa tak ada keputusasaan yang begitu tua
sehingga tak bisa dihangatkan kembali. Dan ia menyaksikan bara di dada Mbah
Joyo menyala kembali, dan ia tahu bahwa malam yang panjang, perlahan, sedang
kehilangan bahkan keputusasaannya, senjatanya yang paling halus. Dan zaman
malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan bara-bara lama yang
dinyalakan kembali bersama nyala-nyala yang baru, menuju sebuah pagi yang kini
dijaga bukan hanya oleh yang muda, melainkan juga oleh yang telah belajar,
dengan cara yang paling pahit, betapa berharganya ia.
❖
BAB ENAM
Yang Pulang dengan Mata Tuan
Harsa, seorang pemuda desa yang cerdas,
dididik dengan ilmu para tuan dan kembali memandang bangsanya sendiri dengan
mata yang malu. Ia berkata bahwa kisah lama adalah takhayul yang membuat mereka
lemah, dan bahwa jalan menuju pagi adalah berhenti bermimpi dan menjadi seperti
para tuan. Tetapi Ratu mengajarinya bahwa pencurian yang paling halus
bersembunyi di dalam sebuah kebenaran. Sebab Harsa benar bahwa bangsanya harus
belajar, dan justru di dalam ilmu itu terletak kemampuan yang suatu hari akan
membebaskannya; ia hanya salah karena menelan, bersama ilmu itu, cara melihat
yang dingin yang mengubah manusia menjadi benda. Ambillah besi mereka ke dalam
tanganmu, kata Ratu, tetapi jangan biarkan ia masuk ke dalam matamu.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
pulang dengan mata tuan
Di sebuah desa yang dilewati Damar dan Bagas, lahir seorang
pemuda yang luar biasa cerdas, bernama Harsa, anak seorang petani, yang otaknya
begitu tajam sehingga para tuan sendiri memperhatikannya dan membawanya ke
sekolah-sekolah mereka, jauh dari desanya, untuk dididik dengan ilmu mereka.
Dan setelah bertahun-tahun, Harsa kembali, dan ia kembali sebagai orang yang
berbeda.
Sebab Harsa kini bisa berbicara tentang hal-hal
yang tak pernah didengar desanya, tentang bagaimana penyakit menyebar dan
bagaimana mencegahnya, tentang bagaimana mesin bekerja, tentang ukuran bintang
dan bentuk dunia. Ilmunya nyata, dan ilmunya kuat. Tetapi bersama ilmu itu, ia
membawa pulang sesuatu yang lain, yaitu sebuah cara memandang desanya sendiri,
dan ia memandangnya kini dengan mata yang lelah dan malu.
Dan ketika Harsa mendengar bahwa seorang
pengembara tua mengisi kepala para pemuda dengan kisah lama tentang Ratu di
dasar laut, ia datang kepada Damar, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan
semacam kasihan. “Orang tua,” katanya, dengan sopan tetapi pasti, “aku tahu
engkau bermaksud baik. Tetapi inilah persis yang membuat kita lemah. Dongeng
tentang ratu di laut, tentang kerikil ajaib, tentang hati yang menunggu di
bawah air. Para tuan menguasai kita bukan hanya dengan senjata, melainkan
karena mereka tahu cara dunia bekerja, dan kita masih bercerita tentang hantu.
Bila kita ingin bebas, kita harus berhenti bermimpi dan mulai belajar. Kita
harus menjadi seperti mereka, atau kita akan selamanya berada di bawah mereka.”
Dan kata-kata itu menggetarkan para pemuda,
sebab tidak seperti Mbah Joyo yang membawa keputusasaan, Harsa membawa sebuah
jalan, jalan yang terang dan modern dan masuk akal. Ia tidak berkata bahwa tak
ada pagi; ia berkata bahwa pagi terletak pada ilmu para tuan, bukan pada
kisah-kisah lama. Dan beberapa pemuda mulai berpaling dari api Bagas menuju
cahaya Harsa, sebab cahaya Harsa tampak lebih cerah dan lebih nyata.
Dan Bagas merasa goyah, sebab kali ini ia tak
bisa berkata bahwa lawannya sepenuhnya salah. Harsa benar bahwa para tuan
memiliki ilmu yang kuat. Harsa benar bahwa ketidaktahuan adalah sebuah rantai.
“Pak Damar,” katanya, “orang ini tidak membawa kebencian atau keputusasaan. Ia
membawa kebenaran, atau setengah kebenaran, dan aku tak tahu cara memisahkan
setengah yang benar dari setengah yang meracuni. Sebab ilmunya memang nyata,
dan kita memang membutuhkannya. Lalu apa yang salah dengan apa yang ia katakan?”
❖
Maka mereka pergi ke tepi air, dan Damar menjangkau, dan
berkata, “Ratu, ada seorang pemuda yang dididik dengan ilmu para tuan dan
kembali memandang bangsanya sendiri dengan mata yang malu. Ia berkata bahwa
kisahmu adalah takhayul yang membuat kami lemah, dan bahwa jalan menuju pagi
adalah menjadi seperti para tuan. Dan kami tak bisa berkata bahwa ia sepenuhnya
salah, sebab ilmunya nyata. Ajari kami cara memisahkan yang benar dari yang
meracuni.”
Dan Ratu menjawab, “Engkau telah menjumpai
pencurian yang paling halus dari semuanya, Bagas, sebab ia bersembunyi di dalam
sebuah kebenaran. Harsa melihat sesuatu yang benar, yaitu bahwa para tuan
memiliki ilmu yang nyata dan kuat, dan bahwa ketidaktahuan adalah rantai, dan
bahwa bangsamu membutuhkan ilmu itu. Sampai di sini ia benar, dan engkau tak
boleh menyangkalnya, sebab menyangkalnya akan menjadi kebodohan yang
sesungguhnya. Tetapi dari kebenaran itu Harsa menarik sebuah kebohongan, yaitu
bahwa karena cara melihat para tuan menghasilkan ilmu yang kuat, maka seluruh
cara melihat mereka lebih unggul, dan bangsamu harus membuang hatinya untuk
menjadi seperti mereka. Dan di situlah racunnya.”
“Sebab dengarkan baik-baik, sebab inilah yang
Harsa belum belajar untuk melihat,” kata Ratu. “Ilmu para tuan, cara mengukur
dunia, cara membangun mesin, cara menyembuhkan penyakit, itu adalah hal yang
baik, dan ia bisa dipisahkan dari cara melihat yang dingin. Tetapi Harsa
menelan keduanya sekaligus, sebab para tuan memberikannya sebagai satu paket,
dan ia tak tahu bahwa keduanya bisa dipisahkan. Ia belajar cara mengukur dunia,
dan bersama itu ia belajar memandang manusia sebagai sesuatu untuk diukur dan
diperbaiki, termasuk ibunya sendiri, termasuk desanya sendiri. Ia mengambil
besi ke dalam tangannya, yang baik, tetapi ia juga membiarkan besi itu masuk ke
dalam matanya, dan kini ia memandang bangsanya sendiri dengan mata seorang
tuan.”
“Dan inilah yang harus kaupahami, Bagas, sebab
ia mengubah segalanya,” kata Ratu. “Bangsamu tidak hanya boleh mengambil ilmu
para tuan; bangsamu harus mengambilnya. Ingatkah empat hal yang kukatakan? Yang
satu masih hilang, yaitu kemampuan untuk mencapai kedalaman tempat aku
terkurung. Dan kemampuan itu hanya akan lahir dari ilmu seperti yang dipelajari
Harsa, ilmu mengukur dan membangun dan menjangkau. Maka membuang ilmu itu,
seperti yang ditakuti sebagian orang, akan berarti membiarkan aku terkurung selamanya.
Harsa benar bahwa bangsamu harus belajar. Ia hanya salah tentang apa yang harus
ditinggalkan untuk belajar.”
“Maka inilah kebenaran yang harus kaubawa
kepadanya,” kata Ratu. “Ambillah ilmu mereka ke dalam tanganmu, seluruhnya,
sampai engkau lebih tahu daripada mereka. Tetapi jangan biarkan cara melihat
mereka masuk ke dalam matamu. Pelajarilah cara mengukur dunia tanpa mempelajari
cara memandang manusia sebagai benda. Besi di tangan adalah sebuah alat, dan
alat itu suatu hari akan membuka penjaraku. Tetapi besi di mata adalah racun,
sebab ia membuatmu memandang ibumu sendiri sebagai sesuatu yang terbelakang alih-alih
seseorang yang kaucintai. Bangsa yang mengambil ilmu mereka tetapi menjaga
hatinya akan menjadi lebih kuat daripada mereka, sebab ia akan memiliki
keduanya, yaitu kekuatan untuk mengukur dunia dan hati untuk tidak
menjadikannya gudang.”
❖
Dan Bagas bertanya, “Tetapi bagaimana aku menunjukkan
kepadanya bahwa keduanya bisa dipisahkan, ketika ia telah menelannya sebagai
satu? Ia akan berpikir aku menyuruhnya membuang ilmunya dan kembali ke
takhayul.”
“Engkau tak akan membela takhayul, Bagas, sebab
Harsa benar tentang takhayul,” kata Ratu. “Kisahku tak pernah dimaksudkan
sebagai takhayul untuk ditakuti atau dipuja, melainkan sebagai ingatan akan
hati. Maka katakanlah kepada Harsa bahwa engkau setuju dengannya, bahwa bangsa
harus belajar, bahwa ketidaktahuan adalah rantai, bahwa ia harus menjadi yang
paling terpelajar dari semua. Hormatilah hasratnya akan ilmu, sebab ia benar
dan suci. Lalu, setelah engkau berdiri di sisinya tentang hal itu, tunjukkan
kepadanya satu hal yang tak ia sadari telah ia ambil bersama ilmunya.”
“Dan cara menunjukkannya bukan dengan berdebat,
melainkan dengan sebuah pertanyaan,” kata Ratu. “Tanyailah Harsa apa yang ia
rasakan ketika ia memandang ibunya sendiri sekarang, perempuan tua yang
membesarkannya, yang tak bisa membaca, yang masih percaya pada kisah-kisah
lama. Bila Harsa menjawab dengan jujur, ia akan menemukan bahwa ia merasa malu,
bahwa ia memandang ibunya sebagai sesuatu yang terbelakang, sebuah masalah
untuk diperbaiki. Dan di sanalah, Bagas, ia akan melihat racunnya. Sebab ilmu
tak pernah menuntut seseorang memandang ibunya dengan malu. Ilmu mengajari cara
dunia bekerja; ia tak pernah mengajari seseorang membenci tempat asalnya. Rasa
malu itu bukan ilmu. Ia adalah mata tuan, yang ia kira adalah bagian dari ilmu,
padahal ia adalah racun yang menumpang bersamanya.”
“Dan tunjukkan kepadanya, Bagas, bahwa
orang-orang paling besar di antara para tuan sendiri, yang paling dalam
ilmunya, sering kali bukanlah yang paling dingin, melainkan yang menjaga
hatinya. Sebab ilmu yang dipakai dengan hati menyembuhkan, dan ilmu yang
dipakai dengan mata yang dingin hanya menguasai. Harsa bisa menjadi yang paling
terpelajar dari bangsanya, dan ia bisa membawa ilmu itu pulang untuk melayani
ibunya alih-alih memalukannya. Tetapi hanya bila ia memisahkan besi di
tangannya dari besi di matanya. Itulah yang harus kautawarkan kepadanya, bukan
agar ia berhenti belajar, melainkan agar ia belajar dengan hati yang utuh.”
Dan Bagas memahami. Tetapi Damar berkata,
“Biarkan aku menemaninya kali ini, Bagas, sebab Harsa cerdas, dan ia akan
mengira engkau iri pada ilmunya. Ia perlu melihat bahwa kita tidak takut pada
ilmunya, melainkan justru menginginkannya untuk bangsa, dan bahwa yang kita
tolak hanyalah racun yang ia tak tahu sedang ia bawa. Itu lebih mudah
ditunjukkan oleh seorang tua yang jelas tak iri pada apa pun.”
❖
Maka Damar pergi kepada Harsa, dan ia tidak datang untuk
membela kisah lama melawan ilmu baru. Sebaliknya ia berkata, “Harsa, engkau
benar tentang banyak hal, dan aku datang untuk mengatakan itu kepadamu. Engkau
benar bahwa bangsa kita harus belajar. Engkau benar bahwa ketidaktahuan adalah
sebuah rantai, dan bahwa kisah yang dipakai untuk menakuti orang agar tetap
bodoh adalah racun. Aku tak datang untuk menyuruhmu berhenti belajar. Aku
berharap ada seribu Harsa, yang tahu segala yang para tuan tahu, dan lebih.”
Dan Harsa terkejut, sebab ia telah bersiap
untuk berdebat melawan seorang yang membela takhayul, dan alih-alih ia
menemukan seorang yang setuju dengannya tentang ilmu. “Maka engkau
memahaminya,” katanya, agak melunak. “Aku kira engkau akan menyuruhku kembali
kepada dongeng-dongeng.” Dan Damar berkata, “Tidak. Aku hanya ingin mengajukan
satu pertanyaan kepadamu, dan aku memintamu menjawabnya dengan jujur, bukan
kepadaku, melainkan kepada dirimu sendiri.”
“Ketika engkau memandang ibumu sekarang,
Harsa,” kata Damar, “perempuan yang menjual perhiasannya yang terakhir supaya
engkau bisa pergi belajar, yang tak bisa membaca satu kata pun, yang masih
menyalakan dupa untuk kisah-kisah lama, apa yang kaurasakan di dalam dadamu?
Jawablah dengan jujur.” Dan Harsa membuka mulutnya untuk menjawab dengan mudah,
lalu berhenti. Sebab pertanyaan itu telah menyentuh sesuatu yang ia hindari.
Dan setelah lama, ia berkata, pelan, dengan suara yang malu, “Aku merasa malu.
Ampunilah aku, aku merasa malu padanya. Aku memandangnya dan aku melihat segala
yang kucoba tinggalkan.”
Dan Damar berkata, dengan lembut, “Itu, Harsa,
bukanlah ilmu. Tak ada ilmu di dunia yang menuntutmu memandang ibumu dengan
malu. Ilmu mengajarimu cara penyakit menyebar dan cara bintang bergerak; ia tak
pernah mengajarimu untuk merasa malu pada perempuan yang melahirkanmu. Rasa
malu itu adalah sesuatu yang lain, yang kauambil dari para tuan bersama ilmu
mereka, mengira ia adalah bagian darinya. Ia adalah cara mereka memandang
dunia, yaitu memandang manusia sebagai sesuatu yang terbelakang atau maju, berguna
atau tak berguna, untuk diperbaiki atau dibuang. Engkau mengambil besi mereka
ke dalam tanganmu, dan itu baik. Tetapi engkau juga membiarkannya masuk ke
dalam matamu, dan kini engkau memandang ibumu sendiri dengan mata seorang
tuan.”
Dan sesuatu runtuh di dalam Harsa, sebab ia
adalah seorang yang cerdas, dan seorang yang cerdas tak bisa lagi tak melihat
sesuatu setelah ia ditunjukkan. “Selama ini aku mengira aku menjadi lebih
baik,” katanya, dan suaranya retak. “Aku mengira aku naik, dan bahwa rasa
maluku adalah tanda bahwa aku telah maju melampaui mereka. Padahal aku hanya
belajar memandang bangsaku sendiri dengan mata yang sama yang dipakai para tuan
untuk menginjak mereka. Aku mengambil ilmu mereka dan racun mereka, dan kukira
keduanya adalah cahaya.” Dan Damar berkata, “Maka simpanlah cahayanya, Harsa,
dan buanglah racunnya. Jadilah yang paling terpelajar dari bangsamu, dan
bawalah ilmumu pulang untuk melayani ibumu, bukan untuk memalukannya. Sebab
bangsa ini suatu hari akan membutuhkan ilmu sepertimu, tetapi ilmu yang dibawa
oleh hati yang utuh, bukan oleh mata seorang tuan.”
❖
Dan demikianlah Harsa, yang pulang dengan mata seorang
tuan, perlahan belajar memisahkan apa yang telah ia telan sebagai satu. Ia
tidak membuang ilmunya; ia menjaganya, dan menambahnya, dan menjadi yang paling
terpelajar di seluruh daerahnya. Tetapi ia membuang rasa malu pada bangsanya,
dan ia mulai membawa ilmunya pulang, mengajar anak-anak desa membaca,
menunjukkan cara mencegah penyakit yang dahulu membunuh, melayani dengan
tangannya yang terpelajar orang-orang yang dahulu ia pandang dengan malu. Dan
ia menjadi, tanpa ia ketahui, sebuah benih dari sesuatu yang jauh di masa
depan, yaitu sebuah bangsa yang memiliki ilmu para tuan dan hati yang tak
pernah mereka jual.
Dan inilah pelajaran keenam zaman malam. Bahwa
pencurian yang paling halus bersembunyi di dalam sebuah kebenaran, sebab para
tuan memberikan ilmu mereka dan cara melihat mereka sebagai satu paket,
sehingga yang mengambil ilmu mengira ia harus mengambil pula racunnya; tetapi
bahwa keduanya bisa dipisahkan, dan harus dipisahkan; bahwa bangsa yang
ditindas tak boleh menolak ilmu sang penakluk, sebab justru di dalam ilmu itu
terletak kemampuan yang suatu hari akan membebaskannya, melainkan harus
mengambilnya ke dalam tangannya tanpa membiarkannya masuk ke dalam matanya; dan
bahwa rasa malu pada bangsa sendiri bukanlah tanda kemajuan, melainkan tanda
bahwa mata seorang tuan telah menumpang masuk bersama ilmunya.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran keenam zaman malam,
yaitu bahwa ilmu mengajari cara dunia bekerja tetapi tak pernah menuntut
seseorang membenci tempat asalnya; bahwa besi di tangan adalah alat yang bisa
menyembuhkan dan membebaskan, sedangkan besi di mata adalah racun yang mengubah
ibu sendiri menjadi sesuatu yang terbelakang; dan bahwa bangsa yang mengambil
ilmu para tuan sambil menjaga hatinya akan menjadi lebih kuat daripada mereka,
sebab ia akan memiliki kekuatan untuk mengukur dunia dan hati untuk tidak
menjadikannya gudang.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini mulai menambahkan ke dalam simpanannya
sesuatu yang baru, yaitu ilmu para penakluk, diambil ke dalam tangan-tangan
yang menolak membiarkannya masuk ke dalam mata. Tanah ini adalah Jawa, yang
menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar
lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, dan ia menyaksikan bangsanya
mulai belajar cara mengukur dan membangun dan menjangkau, dan untuk pertama
kalinya ia merasakan, samar dan jauh, gerakan dari hal yang keempat, yaitu
kemampuan, yang selama ini hilang, mulai ditempa bukan lagi hanya oleh para penakluk
melainkan oleh tangan bangsanya sendiri. Dan ia tahu bahwa hari ketika
tangan-tangan itu cukup terpelajar untuk mencapai kedalamannya, dan cukup
berhati untuk ingin melakukannya, adalah hari ketika ia akan pulang. Dan zaman
malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan bangsa yang perlahan
mengambil besi itu ke dalam tangannya sendiri, menjaga matanya tetap jernih,
menuju sebuah pagi yang akan dibangun dengan ilmu dan dengan hati sekaligus.
❖
BAGIAN III
Menjadi Satu Tubuh
BAB TUJUH
Ketika Api Saling Memadamkan
Bertahun-tahun berlalu, dan api yang tak
terlihat telah menyebar ke ribuan hati dan ke banyak jenis orang, dan tiap
jenis membawa apinya dengan caranya sendiri. Tetapi cara-cara itu mulai saling
bertabrakan, dan mereka yang telah dibangunkan mulai saling memadamkan. Para
terpelajar menghina para penjaga kisah, dan para penjaga kisah tak memercayai
para terpelajar, dan yang muda menghina yang sabar. Dan Ratu mengajarkan bahwa
inilah saat yang paling berbahaya dari seluruh malam, sebab kini malam mendapatkan
pembagian itu secara cuma-cuma, oleh tangan bangsa itu sendiri. Tiap kubu benar
tentang potongan kebenaran yang ia pegang, dan salah hanya karena mengira
potongannya adalah keseluruhan. Sebab yang mengikat sebuah gerakan bukanlah
satu cara, melainkan satu hati.
dari ajaran para pengingat, tentang
ketika api saling memadamkan
Bertahun-tahun berlalu, dan api yang tak terlihat telah
menyebar lebih jauh daripada yang pernah dibayangkan Bagas ketika ia masih
muda. Kini bukan lagi dua belas pemuda di satu desa, melainkan ratusan, ribuan,
di banyak desa dan banyak daerah, hati-hati yang telah terbangun dan kini
menjaga nyala masing-masing. Damar telah menjadi sangat tua, dan Bagas, yang
dahulu pemuda, kini seorang lelaki yang dihormati, yang kepadanya orang-orang
dari jauh datang untuk mendengar.
Tetapi bersama penyebaran itu, datang sebuah
bahaya yang tak pernah diduga Bagas. Sebab api telah menyebar ke begitu banyak
jenis orang, dan tiap jenis membawa apinya dengan caranya sendiri, dan kini
cara-cara itu mulai saling bertabrakan. Dan Bagas, yang telah menghadapi tuan
dan demang dan keputusasaan, kini menghadapi sesuatu yang lebih memilukan,
yaitu mereka yang telah ia bangunkan mulai saling memadamkan.
Sebab para terpelajar, yang seperti Harsa telah
belajar memisahkan ilmu dari racunnya, memandang para penjaga kisah di
desa-desa sebagai orang yang masih terbelakang, yang menahan bangsa dengan
takhayulnya. Dan para penjaga kisah memandang para terpelajar sebagai orang
yang setengah asing, yang terlalu dingin, yang tak bisa dipercaya. Dan para
pemuda yang berapi-api memandang yang sabar sebagai pengecut. Dan yang sabar
memandang yang berapi-api sebagai orang bodoh yang akan membawa bencana. Dan
masing-masing yakin bahwa caranya adalah satu-satunya cara yang benar.
Dan perlahan, gerakan yang seharusnya satu
mulai terpecah menjadi kubu-kubu yang saling mencurigai, dan menghabiskan lebih
banyak api untuk saling menyerang daripada untuk melawan malam. Dan yang paling
pahit bagi Bagas adalah bahwa para tuan tak perlu berbuat apa-apa untuk ini.
Tidak seperti dahulu, ketika para penakluk mengadu desa melawan desa, kini
bangsanya sendiri yang mengadu dirinya, tanpa ada yang menyuruh.
Dan Bagas pergi kepada Damar, yang kini
terbaring lemah karena usia, dan ia berkata dengan getir, “Pak, aku telah
membangunkan mereka semua, dan kini mereka saling memerangi. Para terpelajar
menghina para penjaga kisah, dan para penjaga kisah tak memercayai para
terpelajar, dan yang muda menghina yang sabar. Aku menghabiskan hidupku
menyalakan api ini, dan kini api-api itu saling memadamkan. Apakah aku telah
keliru sejak awal?” Dan Damar, dengan suara yang lemah tetapi tenang, berkata,
“Bawa aku ke tepi air, Bagas. Ini adalah ujian yang harus kaulewati sebelum aku
pergi.”
❖
Maka Bagas memapah Damar yang tua ke tepi air, dan keduanya
menjangkau ke dalam kedalaman, dan Bagas menumpahkan kepedihannya. “Ratu,
mereka yang kami bangunkan kini saling memadamkan. Gerakan yang seharusnya satu
terpecah menjadi kubu-kubu yang saling membenci. Dan para tuan tak perlu
berbuat apa-apa; kami melakukannya kepada diri kami sendiri. Apakah
membangunkan mereka adalah sebuah kesalahan?”
Dan Ratu menjawab, “Tidak, Bagas, membangunkan
mereka bukanlah kesalahan. Tetapi engkau telah sampai pada saat yang paling
berbahaya dari seluruh malam, lebih berbahaya daripada para tuan dengan
besinya. Sebab para tuan, untuk membagi bangsamu, harus bekerja keras, harus
mengadu dan menyuap dan berbohong. Tetapi pada saat ini, malam mendapatkan
pembagian itu secara cuma-cuma, sebab yang terbangun membaginya sendiri. Tak
ada senjata penakluk yang lebih murah daripada sebuah gerakan yang memerangi
dirinya sendiri.”
“Dan inilah yang paling pedih, Bagas,” Ratu
melanjutkan. “Tiap kubu benar tentang sesuatu. Para terpelajar benar bahwa
bangsa membutuhkan ilmu. Para penjaga kisah benar bahwa bangsa membutuhkan
hati. Yang berapi-api benar bahwa bangsa harus bertindak. Yang sabar benar
bahwa bangsa tak boleh berkobar dan padam. Yang beriman benar bahwa kerinduan
ini suci. Masing-masing memegang sepotong kebenaran. Tetapi masing-masing telah
melakukan kesalahan yang sama, yaitu mengira bahwa potongannya adalah seluruh
kebenaran, dan memandang hina mereka yang memegang potongan yang lain. Dan
begitulah gerakan yang kuat justru karena ia memegang semua potongan, mencabik
dirinya sendiri dengan memaksa setiap orang memegang hanya satu.”
“Bayangkan sebuah tubuh, Bagas,” kata Ratu.
“Tangan, dan mata, dan kaki, dan jantung. Tiap bagian berbeda, dan tiap bagian
melakukan hal yang tak bisa dilakukan bagian lain. Tubuh itu kuat justru karena
ia memiliki semuanya. Tetapi bayangkan bila tangan berkata kepada mata, karena
engkau tak bisa menggenggam, engkau tak berguna; dan mata berkata kepada kaki,
karena engkau tak bisa melihat, engkau hina. Tubuh seperti itu akan lumpuh,
bukan karena ia lemah, melainkan karena bagian-bagiannya memerangi satu sama
lain. Itulah yang sedang terjadi pada gerakanmu, Bagas. Bukan kelemahan yang
membunuhnya, melainkan bagian-bagiannya yang lupa bahwa mereka adalah satu
tubuh.”
Dan Bagas bertanya, “Maka apa yang harus
kulakukan, Ratu? Aku tak bisa membuat para terpelajar berpikir seperti para
penjaga kisah, dan aku tak bisa membuat yang muda bersabar seperti yang tua.
Mereka tak akan pernah sepakat tentang cara. Apakah aku harus memaksa mereka
semua menjadi satu cara?”
❖
“Tidak, Bagas, dan inilah kesalahan yang justru memperdalam
perpecahan,” kata Ratu. “Jangan pernah mencoba membuat mereka menjadi satu
cara. Keberagaman cara mereka bukanlah kelemahan gerakan, melainkan
kekuatannya. Engkau membutuhkan para terpelajar dan engkau membutuhkan para
penjaga kisah; engkau membutuhkan yang berapi-api dan engkau membutuhkan yang
sabar. Bila engkau memaksa semuanya menjadi satu cara, engkau hanya akan
membuat gerakanmu kehilangan setengah dari kekuatannya, dan engkau hanya akan mengganti
perpecahan dengan kemiskinan. Yang mengikat sebuah gerakan bukanlah satu cara.
Ia adalah satu hati dan satu tujuan.”
“Sebab di bawah segala perbedaan cara mereka,”
Ratu melanjutkan, “mereka semua memikul satu hati yang sama, bila saja mereka
mau melihatnya. Para terpelajar dan para penjaga kisah dan yang muda dan yang
tua, semuanya membawa kebenaran yang sama yang telah dijaga sejak banjir besar,
yaitu bahwa tanah ini satu, bahwa tak seorang pun boleh ditinggalkan, bahwa
pagi adalah milik semua dan bukan milik satu kubu. Itulah hati yang sama di
bawah seribu cara. Dan tugasmu, Bagas, bukanlah membuat mereka memegang satu cara,
melainkan mengingatkan mereka bahwa mereka memikul satu hati.”
“Dan caranya, Bagas, adalah mengajari tiap kubu
untuk menghormati apa yang dipegang kubu yang lain, yang tak ia miliki
sendiri,” kata Ratu. “Ajari para terpelajar untuk menghormati hati para penjaga
kisah, sebab ilmu tanpa hati hanyalah cara melihat yang dingin dengan wajah
yang baru. Ajari para penjaga kisah untuk menghormati ilmu para terpelajar,
sebab hati tanpa ilmu tak akan pernah bisa mencapai kedalaman tempat aku
terkurung. Ajari yang muda untuk menghormati kesabaran yang tua, dan yang tua
untuk menghormati keberanian yang muda. Bila tiap kubu bisa melihat bahwa ia
membutuhkan apa yang dipegang kubu yang lain, maka mereka berhenti menjadi
saingan dan menjadi anggota dari satu tubuh.”
“Dan sebuah gerakan yang bisa memegang semua
potongannya tanpa ada potongan yang menghina yang lain, Bagas, adalah gerakan
yang tak bisa ditaklukkan,” kata Ratu. “Sebab ia memiliki segalanya yang
dibutuhkan untuk pagi, yaitu ilmu dan hati dan keberanian dan kesabaran dan
iman, semuanya dalam satu tubuh. Tetapi sebuah gerakan yang memaksa semua orang
memegang satu potongan telah kalah sebelum para tuan mengangkat satu jari pun,
sebab ia telah membuang sendiri sebagian besar dari kekuatannya. Pilihannya, Bagas,
bukanlah antara satu cara dan banyak cara. Pilihannya adalah antara banyak cara
yang diikat oleh satu hati, dan banyak cara yang saling memerangi. Yang pertama
tak terkalahkan. Yang kedua melayani malam.”
Dan Bagas merasakan jalan terbuka. “Maka aku
tidak datang untuk menengahi siapa yang benar tentang cara,” katanya pelan,
“sebab mereka semua benar tentang potongannya masing-masing. Aku datang untuk
mengingatkan mereka bahwa di bawah potongan-potongan itu, mereka memikul satu
hati, dan untuk mengajari tiap potongan menghormati apa yang dipegang potongan
yang lain. Aku bukan menyatukan cara mereka. Aku menyatukan hati mereka, dan
membiarkan cara mereka tetap banyak.” Dan Damar yang tua, mendengar ini, tersenyum
lemah, sebab ia tahu Bagas kini telah memahami sesuatu yang membuatnya siap
memikul beban sendiri.
❖
Maka Bagas mengumpulkan kubu-kubu yang bertikai, dan di
antara mereka adalah Harsa, kini seorang terpelajar yang dihormati dengan
banyak pengikut muda, dan seorang penjaga kisah tua bernama Mbok Ginah, yang
telah menyimpan legenda di desanya selama puluhan tahun. Dan keduanya saling
memandang dengan curiga, sebab pengikut Harsa menyebut Mbok Ginah penyebar
takhayul, dan Mbok Ginah menyebut Harsa dan kawan-kawannya anak-anak yang telah
kehilangan jiwanya kepada para tuan.
Dan Bagas tidak bertanya siapa yang benar.
Sebaliknya ia bertanya kepada Harsa, “Harsa, katakanlah dengan jujur, apa yang
engkau takutkan akan hilang dari bangsa ini bila hanya para penjaga kisah yang
memimpin?” Dan Harsa berkata, “Aku takut kita akan tetap miskin dan sakit dan
lemah, terlalu sibuk dengan dunia roh untuk membangun dunia yang nyata.” Lalu
Bagas bertanya kepada Mbok Ginah, “Dan engkau, Mbok, apa yang engkau takutkan
akan hilang bila hanya para terpelajar yang memimpin?” Dan Mbok Ginah berkata,
“Aku takut kita akan menjadi kuat dan pandai dan kehilangan satu-satunya hal
yang membuat kita layak disebut bangsa, yaitu hati kita.”
Dan Bagas berkata, “Dengarkan kalian berdua.
Harsa takut bangsa ini tetap lemah. Mbok Ginah takut bangsa ini kehilangan
hatinya. Dan tahukah kalian apa yang baru saja kalian lakukan? Kalian baru saja
menyebutkan, masing-masing, persis hal yang dijaga oleh yang lain. Harsa,
perempuan yang kaupandang sebagai penyebar takhayul ini adalah penjaga dari
satu-satunya hal yang kautakut hilang. Dan Mbok, anak yang kaupandang telah
kehilangan jiwanya ini adalah penjaga dari satu-satunya hal yang bisa membuat
bangsa ini cukup kuat untuk bertahan hidup. Kalian bukan musuh. Kalian
masing-masing menjaga separuh dari apa yang dibutuhkan bangsa ini, dan kalian
saling membenci karena tak melihat bahwa separuh kalian membutuhkan separuh
yang lain.”
Dan ada keheningan yang panjang, dan kemudian
sesuatu berubah di wajah Harsa, dan ia berkata, pelan, kepada Mbok Ginah, “Bila
bangsa ini menjadi seperti para tuan, kuat dan pandai dan tanpa hati, maka tak
ada gunanya kita bebas, sebab kita hanya akan menjadi penindas yang baru.
Engkau menjaga hal yang akan membuat kebebasan kami layak diperjuangkan.” Dan
Mbok Ginah, dengan mata yang berkaca, berkata kepada Harsa, “Dan engkau menjaga
hal yang akan membuat kebebasan kami mungkin sama sekali. Hatiku saja tak akan
pernah bisa mengusir besi para tuan. Aku membutuhkan ilmumu, Nak, sama seperti
engkau membutuhkan hatiku.”
Dan pada hari itu, sebuah ikatan terbentuk yang
tak pernah ada sebelumnya, bukan kesepakatan tentang cara, sebab Harsa tetap
seorang terpelajar dan Mbok Ginah tetap seorang penjaga kisah, melainkan
pengakuan bahwa mereka adalah dua tangan dari satu tubuh. Dan Bagas membawa
pengakuan itu dari kubu ke kubu, dari yang muda kepada yang tua, dari yang
berapi-api kepada yang sabar, tidak pernah menyatukan cara mereka, selalu
menyatukan hati mereka. Dan perlahan, ribuan api kecil yang telah mulai saling
memadamkan berhenti saling memerangi, dan mulai, untuk pertama kalinya, menyala
sebagai satu.
❖
Dan demikianlah gerakan yang nyaris terpecah menjadi satu
tubuh, bukan dengan menjadi seragam, melainkan dengan belajar bahwa
keberagamannya adalah kekuatannya, asalkan ia diikat oleh satu hati. Dan Damar
yang tua menyaksikan ini dengan damai, sebab ia tahu bahwa sebuah gerakan yang
telah belajar memegang semua potongannya tanpa saling menghina adalah gerakan
yang telah siap, ketika waktunya tiba, untuk bangkit sebagai satu.
Dan inilah pelajaran ketujuh zaman malam. Bahwa
saat yang paling berbahaya bagi sebuah gerakan bukanlah ketika para tuan
membaginya, melainkan ketika ia membagi dirinya sendiri, sebab pembagian itu
didapat malam secara cuma-cuma; bahwa tiap kubu di dalam gerakan sering kali
benar tentang potongan kebenaran yang ia pegang, dan salah hanya karena mengira
potongannya adalah keseluruhan dan menghina mereka yang memegang potongan yang
lain; dan bahwa yang mengikat sebuah gerakan bukanlah satu cara melainkan satu
hati dan satu tujuan, sehingga sebuah gerakan yang memegang semua potongannya
tanpa ada yang saling menghina tak bisa ditaklukkan, sedangkan yang memaksa
semua orang memegang satu potongan telah kalah sebelum dilawan.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran ketujuh zaman malam,
yaitu bahwa sebuah tubuh yang bagian-bagiannya saling memerangi akan lumpuh
bukan karena lemah melainkan karena lupa bahwa ia satu; bahwa keberagaman cara
adalah kekuatan sebuah bangsa, bukan kelemahannya, asalkan ia diikat oleh hati
yang sama; dan bahwa tugas yang menyatukan bukanlah membuat semua orang sama,
melainkan mengajari tiap orang menghormati apa yang dipegang orang lain, yang
ia sendiri tak miliki.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini belajar memikulnya bukan dengan satu
tangan melainkan dengan banyak tangan dari satu tubuh, yang berbeda-beda cara
tetapi satu hati. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini
terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh
menunggu, dan ia menyaksikan ribuan api kecil yang dahulu saling memadamkan kini
menyala sebagai satu, dan ia mengenali di dalamnya bentuk dari sesuatu yang
belum pernah ada di tanah ini, yaitu bukan banyak desa dan banyak daerah dan
banyak kubu, melainkan satu bangsa yang mulai mengenal dirinya sebagai satu.
Dan ia tahu bahwa ketika banyak yang berbeda telah belajar menjadi satu tubuh,
hari kebangkitan, dan hari ia akan pulang, telah mendekat satu langkah besar.
Dan zaman malam berjalan terus, di atas besi para penakluk, dengan banyak nyala
yang akhirnya menyala sebagai satu, menuju sebuah pagi yang akan menjadi milik
sebuah bangsa yang utuh.
❖
BAB DELAPAN
Racun yang Ditinggalkan
Setelah ribuan api menyala sebagai satu,
gerakan itu menjadi sebuah ancaman yang nyata, dan para tuan menjawab dengan
menyusupkan telik sandi ke dalamnya. Penangkapan dimulai, dan rasa curiga mulai
memakan kepercayaan yang baru terikat. Tetapi Ratu mengajarkan bahwa seorang
mata-mata membawa dua senjata, yaitu nama-nama yang ia bawa keluar, yang kecil,
dan rasa curiga yang ia tinggalkan, yang besar; dan bahwa sebuah gerakan yang
menjadi penuh curiga menyelesaikan sendiri pekerjaan sang mata-mata, dengan mengubah
tempat hati menjadi tempat ketakutan. Sebab keterbukaan sebuah gerakan adalah
sekaligus kelemahannya yang terbesar dan kekuatannya yang terbesar, dan hati
yang sungguh-sungguh bisa membalikkan bahkan tangan yang dikirim untuk
menghancurkannya.
dari ajaran para pengingat, tentang
racun yang ditinggalkan
Setelah ribuan api menyala sebagai satu, gerakan itu
menjadi, untuk pertama kalinya, sebuah hal yang ditakuti para tuan. Sebab
selama ia hanya berupa bisikan-bisikan yang terpisah, ia bisa diabaikan; tetapi
sebuah bangsa yang mulai mengenal dirinya sebagai satu adalah ancaman yang
nyata. Maka para tuan menjawab, bukan hanya dengan besi, melainkan dengan
sesuatu yang lebih halus, yaitu dengan menyusupkan telik sandi ke dalam gerakan
itu.
Dan tak lama kemudian, hal-hal mulai terjadi
yang seharusnya tak mungkin. Orang-orang ditangkap yang namanya seharusnya
hanya diketahui di dalam lingkaran kepercayaan. Pertemuan-pertemuan digerebek
yang waktunya seharusnya rahasia. Dan perlahan, kebenaran yang dingin menyebar
di antara mereka, yaitu bahwa ada seorang di antara mereka sendiri yang menjual
mereka kepada para tuan.
Dan sesuatu mulai membusuk di dalam gerakan
yang baru saja belajar menjadi satu. Sebab kepercayaan yang dengan susah payah
dibangun Bagas, yang mengikat para terpelajar dan para penjaga kisah dan yang
muda dan yang tua menjadi satu tubuh, kini mulai dimakan oleh rasa curiga. Tiap
orang mulai memandang tetangganya dan bertanya, apakah engkau? Pintu-pintu yang
dahulu terbuka untuk menyambut hati-hati baru kini tertutup, sebab tiap wajah
baru dicurigai sebagai mata-mata. Api yang menyebar dengan menyambut orang
asing kini membeku menjadi ketakutan yang menolak siapa pun yang tak dikenal.
Dan Bagas merasakan seluruh kerja hidupnya
terancam. Sebab gerakan yang ia satukan kini mengoyak dirinya sendiri dengan
kecurigaan, dan ia sendiri tergoda untuk menutup pintu, untuk berhenti
menyambut yang baru, untuk mulai mencurigai semua orang demi menemukan satu
pengkhianat. “Pak Damar,” katanya kepada gurunya yang kini hampir tak bisa
bangkit, “ada mata-mata di antara kami, dan rasa curiga sedang membunuh segala
yang telah kita bangun. Haruskah aku menutup gerakan ini, menyaring tiap orang,
berhenti memercayai sampai pengkhianat ditemukan?”
Dan Damar, dengan napas yang tinggal sedikit,
berkata, “Hati-hati, Bagas, sebab di sini terletak sebuah perangkap yang lebih
dalam daripada sang mata-mata itu sendiri. Bawa aku ke air sekali lagi. Ratu
harus mengajarkan ini kepadamu, sebab aku tak akan lama lagi bersamamu untuk
menjaganya.”
❖
Maka untuk yang kesekian kalinya, Bagas memapah gurunya
yang sekarat ke tepi air, dan keduanya menjangkau ke dalam kedalaman, dan Bagas
berkata, “Ratu, para tuan telah menyusupkan seorang pengkhianat ke dalam kami,
dan ia membawa keluar nama-nama kami. Tetapi yang lebih buruk, rasa curiga kini
memakan kepercayaan yang baru kami bangun. Haruskah aku menutup gerakan ini dan
mencurigai semua orang demi menemukannya?”
Dan Ratu menjawab, “Dengarkan dengan sangat
hati-hati, Bagas, sebab inilah salah satu perangkap yang paling licik dari
seluruh malam. Sang mata-mata membawa dua senjata, bukan satu. Senjata pertama
adalah nama-nama yang ia bawa keluar, dan itu nyata, dan ia melukai, dan
beberapa dari kalian akan ditangkap karenanya. Tetapi senjata pertama itu
kecil. Seorang mata-mata hanya bisa membawa beberapa nama. Senjata yang kedua
jauh lebih besar, dan itulah yang sebenarnya dikirim para tuan untuk ia tanam,
yaitu rasa curiga yang ia tinggalkan di belakangnya.”
“Sebab pikirkanlah, Bagas,” Ratu melanjutkan.
“Satu mata-mata membawa sepuluh nama. Tetapi rasa takut akan mata-mata, bila ia
berakar, membuat seribu orang saling mencurigai, menutup pintu yang dahulu
terbuka, berhenti menyambut hati-hati baru, dan mengoyak kepercayaan yang
menjadi nyawa gerakan itu. Maka satu mata-mata, dengan rasa curiga yang ia
tanam, bisa melumpuhkan apa yang tak bisa ia lumpuhkan dengan sepuluh nama.
Bila engkau menutup gerakan ini dan mencurigai semua orang, Bagas, engkau tak
menggagalkan sang mata-mata. Engkau menyelesaikan pekerjaannya untuknya. Engkau
mengubah sebuah tempat hati menjadi sebuah tempat ketakutan, dan itulah persis
malam yang diinginkan para tuan.”
“Maka engkau berdiri di hadapan sebuah pilihan
yang tampak mustahil,” kata Ratu. “Bila engkau tetap terbuka, seorang mata-mata
bisa masuk, dan beberapa akan terluka. Tetapi bila engkau menutup diri dan
mencurigai semua orang, engkau membunuh keterbukaan yang menyebarkan apimu
sejak awal, dan engkau membusuk dari dalam. Yang satu membiarkan masuk sedikit
racun dari luar; yang lain menumbuhkan racun di seluruh tubuh dari dalam. Dan
banyak gerakan, karena takut pada racun yang sedikit dari luar, telah meminum racun
yang lebih besar dari dalam, dan mati oleh tangan sendiri sambil mengira mereka
melindungi diri.”
Dan Bagas bertanya, “Maka apa yang harus
kulakukan, Ratu? Aku tak bisa berpura-pura tak ada mata-mata; ia nyata, dan
orang-orang ditangkap. Tetapi aku juga tak bisa membiarkan rasa curiga membunuh
kami dari dalam. Bagaimana aku tetap terbuka tanpa menjadi bodoh, dan tetap
waspada tanpa menjadi racun?”
❖
“Inilah kebenaran yang paling sulit dan paling indah,
Bagas,” kata Ratu. “Keterbukaanmu, kesediaanmu menyambut dan membangunkan
bahkan orang asing, adalah sekaligus kelemahanmu yang terbesar dan kekuatanmu
yang terbesar. Ia kelemahan, sebab seorang mata-mata bisa berjalan masuk
melalui pintu yang terbuka. Tetapi ia kekuatan, sebab, ingatkah engkau, hati
bisa membangunkan bahkan orang yang dikirim untuk menghancurkannya. Ingatkah
demang yang hatinya terkubur? Ingatkah serdadu muda yang kaulepaskan? Sebuah hati
yang dikelilingi oleh cinta yang sungguh-sungguh tak tinggal tak tersentuh.”
“Maka pertahanan yang paling dalam terhadap
seorang mata-mata bukanlah tembok, Bagas,” Ratu melanjutkan. “Ia adalah hati
yang begitu sungguh-sungguh sehingga ia mengubah. Seorang mata-mata yang
dikirim ke dalam sebuah tempat ketakutan akan pulang dengan nama-nama. Tetapi
seorang mata-mata yang dikirim ke dalam sebuah tempat hati yang sejati, yang
menyaksikan orang-orang memberi makan yang lapar, melindungi yang lemah,
menolak membenci bahkan musuh mereka, dan menyambutnya sendiri sebagai saudara,
mata-mata seperti itu sedang dikepung oleh hal yang persis ia dikirim untuk
dikhianati. Dan hal itu mulai bekerja di dalam dirinya. Engkau tak bisa
menghentikan tiap mata-mata dengan menjadi benteng ketakutan. Tetapi engkau
bisa membuat tempatmu begitu sungguh-sungguh sebuah tempat hati sehingga bahkan
mata-mata, pada akhirnya, bisa dibalikkan.”
“Ini tidak berarti engkau harus bodoh, Bagas,”
kata Ratu. “Ada kebijaksanaan yang benar. Simpanlah rencanamu yang paling dalam
dengan hati-hati; jangan letakkan seluruh hidup gerakan di tangan seorang yang
baru kaukenal. Kebijaksanaan seperti itu bukanlah rasa curiga; ia adalah
kehati-hatian. Tetapi nilailah orang dari buahnya sepanjang waktu, dari hati
yang mereka tunjukkan dalam perbuatan, bukan dari ketakutan yang kaurasakan
terhadap wajah yang asing. Yang bijak menyimpan keduanya, yaitu cukup kehati-hatian
untuk tidak naif, dan cukup keterbukaan untuk tidak menjadi malam itu sendiri.
Sebab sebuah gerakan yang kehilangan kehati-hatian akan dilukai dari luar,
tetapi sebuah gerakan yang kehilangan keterbukaan akan mati dari dalam, dan
kematian dari dalam jauh lebih pasti.”
Dan Bagas merasakan beban kecurigaan terangkat.
“Maka aku tidak berburu mata-mata dengan racun yang akan membunuh kami semua,”
katanya pelan. “Aku menjaga rencana terdalam kami dengan hati-hati, ya, tetapi
aku menjaga pintu kami tetap terbuka, dan aku membuat tempat kami begitu
sungguh-sungguh sebuah tempat hati sehingga seorang mata-mata yang masuk akan
menemukan dirinya dikepung oleh hal yang ia dikirim untuk dihancurkan. Aku
tidak melawan mata-mata dengan menjadi seperti para tuan. Aku melawannya dengan
menjadi lebih sungguh-sungguh apa adanya kami.”
“Ya, Bagas,” kata Ratu. “Dan ketahuilah ini,
sebab ia adalah rahasia yang paling dalam dari seluruh perlawanan ini. Para
tuan bisa mengirim besi, dan engkau bisa dilukai. Mereka bisa mengirim
mata-mata, dan beberapa namamu bisa terbawa. Tetapi mereka tak punya senjata
untuk melawan sebuah hati yang menolak menjadi takut dan menolak menjadi
dingin, sebab hati seperti itu mengubah segala yang menyentuhnya, bahkan tangan
yang dikirim untuk menghancurkannya. Itulah satu-satunya benteng yang tak
pernah bisa mereka tembus, sebab ia bukan tembok, melainkan justru ketiadaan
tembok yang dijaga oleh cinta yang sungguh-sungguh.”
❖
Dan ada memang seorang mata-mata di antara mereka, seorang
bernama Resa, yang telah dikirim para tuan, dan yang telah membawa keluar
beberapa nama. Tetapi Resa tidak menemukan apa yang ia harapkan. Ia telah
dikirim ke dalam apa yang ia kira adalah sarang pemberontak yang penuh
kebencian, dan sebaliknya ia menemukan orang-orang yang memberi makan janda
yang kelaparan, yang menyembunyikan anak yatim, yang menolak membenci bahkan
para serdadu, dan yang menyambutnya, dirinya sendiri, sebagai seorang saudara,
tanpa tahu siapa ia sebenarnya.
Dan sesuatu mulai retak di dalam Resa, sebab ia
adalah seorang manusia, dan seorang manusia tak bisa berada di tengah cinta
yang sungguh-sungguh untuk waktu yang lama tanpa tersentuh olehnya. Tiap nama
yang ia bawa keluar kini terasa lebih berat, sebab ia tahu wajah-wajah di
baliknya, dan ia tahu kebaikan mereka. Dan datang malam ketika para tuan
menuntut darinya hal yang terbesar, yaitu tempat dan waktu sebuah pertemuan
besar, dan nama orang yang memimpinnya, yang adalah Bagas sendiri.
Dan Resa tak bisa melakukannya. Ia datang
kepada Bagas, gemetar, dan menjatuhkan dirinya, dan mengakui segalanya, siapa
ia, dan apa yang telah ia lakukan, dan nama-nama yang telah ia bawa keluar.
“Aku adalah mata-mata yang kaucari,” katanya. “Aku telah menjual beberapa dari
kalian. Lakukanlah kepadaku apa yang pantas. Aku hanya tak bisa lagi
menyerahkan orang-orang yang telah memperlakukanku sebagai saudara, walau
mereka tak tahu apa adanya aku.”
Dan para pemuda, ketika mereka tahu, ingin
membunuhnya, sebab ia telah menyebabkan saudara-saudara mereka ditangkap.
Tetapi Bagas, yang baru saja belajar pelajarannya, menahan mereka. “Bila kita
membunuhnya dalam kemarahan,” katanya, “kita membuktikan bahwa kita adalah
sarang yang dikira para tuan, dan kita membiarkan besi masuk ke dalam hati
kita. Tetapi lihatlah apa yang telah terjadi. Mereka mengirimnya untuk
menghancurkan kita, dan justru hati kita yang menghancurkan tugasnya. Ia datang
sebagai mata-mata, dan ia berdiri di sini sebagai orang yang terbangun. Kita
tidak menang dengan membunuh pengkhianat. Kita menang dengan mengubahnya
menjadi saudara.”
Dan mereka tidak membunuh Resa. Dan Resa, yang
datang membawa kematian bagi mereka dan menemukan dirinya diberi hidup, menjadi
salah seorang yang paling setia di antara mereka, dan pengetahuannya tentang
cara kerja para tuan, yang dahulu dipakai untuk mengkhianati, kini dipakai
untuk melindungi. Namun Bagas tak pernah melupakan harga yang nyata, yaitu
mereka yang telah ditangkap karena nama-nama yang dibawa Resa, dan ia menjaga
rencana terdalam gerakan dengan kehati-hatian yang ia pelajari, sebab keterbukaan
hati tak pernah berarti kehilangan kebijaksanaan. Tetapi ia tak pernah lagi
membiarkan rasa curiga menutup pintu yang menyebarkan apinya, sebab ia kini
tahu bahwa pintu yang terbuka, yang dijaga oleh hati yang sungguh-sungguh,
adalah benteng yang lebih kuat daripada tembok mana pun.
❖
Dan demikianlah gerakan itu melewati ujian yang telah
membunuh banyak gerakan sebelum waktunya, bukan dengan menjadi benteng
ketakutan, melainkan dengan tetap menjadi tempat hati yang begitu
sungguh-sungguh sehingga ia mengubah bahkan tangan yang dikirim untuk
menghancurkannya. Dan Damar yang sangat tua menyaksikan ini, dan ia tahu bahwa
Bagas kini telah belajar salah satu pelajaran terakhir yang ia butuhkan.
Dan inilah pelajaran kedelapan zaman malam.
Bahwa seorang mata-mata membawa dua senjata, yaitu nama-nama yang ia bawa
keluar, yang kecil, dan rasa curiga yang ia tinggalkan, yang besar; bahwa
sebuah gerakan yang menjadi penuh curiga menyelesaikan sendiri pekerjaan sang
mata-mata, dengan mengubah tempat hati menjadi tempat ketakutan; dan bahwa
pertahanan yang paling dalam bukanlah tembok melainkan hati yang begitu
sungguh-sungguh sehingga ia mengubah bahkan yang dikirim untuk
menghancurkannya, dijaga oleh kehati-hatian yang bijak tetapi tak pernah oleh
rasa curiga yang membusukkan dari dalam.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kedelapan zaman
malam, yaitu bahwa keterbukaan sebuah gerakan adalah sekaligus kelemahannya
yang terbesar dan kekuatannya yang terbesar; bahwa sebuah gerakan dilukai dari
luar oleh hilangnya kehati-hatian, tetapi dibunuh dari dalam oleh hilangnya
keterbukaan, dan kematian dari dalam jauh lebih pasti; dan bahwa sebuah hati
yang menolak menjadi takut dan menolak menjadi dingin adalah satu-satunya
benteng yang tak pernah bisa ditembus para penakluk, sebab ia bukan tembok
melainkan cinta yang mengubah segala yang menyentuhnya.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini menjaganya dengan pintu yang tetap
terbuka, dijaga bukan oleh tembok melainkan oleh hati yang begitu
sungguh-sungguh sehingga bahkan pengkhianat dibalikkan menjadi saudara. Tanah
ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di
selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, yang selama
empat belas ribu tahun telah belajar bahwa satu-satunya hal yang tak pernah
bisa dipenjarakan adalah sebuah hati yang menolak menjadi dingin, dan yang kini
menyaksikan bangsanya menjaga hati itu utuh bahkan di bawah mata-mata para
tuan. Dan ia tahu bahwa sebuah bangsa yang telah belajar untuk bersatu, dan
untuk tidak membenci, dan untuk tidak terpecah, dan kini untuk tidak menjadi
takut, adalah bangsa yang nyaris siap untuk pagi. Dan zaman malam berjalan
terus, di atas besi para penakluk, dengan sebuah gerakan yang pintunya tetap
terbuka dan hatinya tetap utuh, menuju sebuah fajar yang kini terasa, untuk
pertama kalinya, tidak lagi jauh.
❖
BAB SEMBILAN
Pelita yang Tak Sempat Melihat Pagi
Dan datanglah hari yang telah lama
dirasakan mendekat, yaitu hari ketika Damar, yang membawa pelita melalui
seluruh malam yang panjang, harus pergi tepat ketika fajar mulai terasa tidak
lagi jauh. Ia membawa bangsanya sampai ke ambang pagi, dan tak akan melihatnya
dengan matanya. Tetapi sebelum ia pergi, ia menyerahkan nyala itu kepada tangan
berikutnya, dan menitipkan ujian yang belum pernah dihadapi siapa pun, yaitu
bukan menjaga hati di dalam gelap penindasan, melainkan menjaga hati di dalam
terang kuasa. Sebab sebuah bangsa yang menang tanpa hatinya hanya mengganti
satu malam dengan malam yang lain. Dan di dasar laut, seorang perempuan berduka
bagi pembawa pelita yang setia, dan untuk pertama kalinya melihat bentuk dari
akhir penjaranya.
dari ajaran para pengingat, tentang
pelita yang tak sempat melihat pagi
Dan datanglah hari yang telah lama dirasakan Bagas
mendekat, yaitu hari ketika Damar, yang telah membawa pelita melalui seluruh
malam yang panjang, terbaring sekarat di sebuah gubuk dekat laut selatan, dan
tak akan bangkit lagi. Ia telah menjadi sangat tua, lebih tua daripada yang
pernah dikira siapa pun bisa dicapai seorang manusia, sebab ia telah memikul
nyala itu sejak ia melangkah melalui gerbang yang runtuh ke dalam malam,
bertahun-tahun yang lalu, ketika Bagas belum lahir.
Dan ada sebuah kepedihan yang khusus dalam
kematiannya, sebab ia mati persis ketika fajar mulai terasa tidak lagi jauh. Ia
telah membawa bangsanya melalui seluruh kegelapan, telah membangunkannya dari
kelupaan, telah menjaganya dari kebencian dan keputusasaan dan perpecahan dan
ketakutan, telah membawanya sampai ke ambang pagi. Dan kini, ketika pagi itu
hampir tiba, ia harus pergi tanpa pernah melihatnya. Pelita yang telah menyala
sepanjang malam tak akan menyala untuk menyaksikan matahari.
Dan Bagas, yang berlutut di sisinya, tak bisa
menahan kepedihannya. “Pak, ini tidak adil,” katanya. “Engkau yang membawa kami
melalui seluruh malam. Engkau yang berhak melihat pagi. Bertahanlah sedikit
lagi. Fajar sudah dekat; engkau sendiri yang mengatakannya. Lihatlah dahulu
pagi yang kaubuat mungkin, baru pergi.”
Tetapi Damar hanya tersenyum, dan dalam
senyumnya tak ada kepahitan. “Bagas,” katanya dengan suara yang nyaris habis,
“dengarkanlah, sebab ini adalah salah satu hal terpenting yang harus kaupahami.
Teguh, yang mengajariku dahulu, berkata kepadaku bahwa tak ada satu pelita pun
yang membawa cahaya sepanjang seluruh malam. Ada banyak pelita, dan tiap pelita
menyala untuk masanya sendiri, lalu diserahkan dari tangan ke tangan. Aku tak
diberi tugas untuk melihat pagi. Aku diberi tugas untuk membawa nyala melalui
kegelapan dan menyerahkannya, masih menyala, kepada tangan berikutnya. Dan
tugas itu telah kuselesaikan.”
“Dan tangan berikutnya itu adalah tanganmu,
Bagas,” Damar melanjutkan. “Aku tak akan melihat pagi. Tetapi engkau akan
melihatnya. Dan itu sudah cukup bagiku, sebab seorang pembawa pelita tak
menyalakan nyalanya untuk dirinya sendiri; ia menyalakannya untuk mereka yang
akan datang sesudahnya. Aku telah membawamu sampai ke ambang. Sisanya adalah
milikmu.”
❖
Dan Bagas mengira bahwa Damar, di saat terakhirnya, akan
berbicara tentang kemenangan, tentang betapa dekat pagi, tentang betapa sedikit
lagi yang tersisa untuk dilakukan. Tetapi sebaliknya, wajah Damar menjadi
sungguh-sungguh, dan ia menggenggam tangan Bagas dengan sisa kekuatan
terakhirnya, dan berkata, “Bagas, ada satu ujian yang belum pernah kauhadapi,
dan itu adalah ujian yang paling berbahaya dari semuanya. Dengarkanlah, sebab
aku tak akan ada di sana untuk mengingatkanmu ketika ia datang.”
“Sepanjang seluruh hidupmu,” kata Damar,
“engkau telah belajar menjaga hati di dalam kegelapan, ketika kita lemah dan
tertindas dan tak punya kuasa. Tetapi pagi akan datang, Bagas, dan dengan pagi
akan datang sesuatu yang jauh lebih sulit daripada penindasan, yaitu kuasa.
Suatu hari bangsa ini akan bebas, dan akan memegang kuasa atas dirinya sendiri,
dan mungkin atas yang lain. Dan di sanalah, di dalam terang, bukan di dalam
gelap, ujian yang sebenarnya menunggu.”
“Sebab jauh lebih mudah menjaga hati ketika
engkau tak berdaya daripada ketika engkau berkuasa, Bagas,” Damar melanjutkan.
“Ketika engkau tertindas, kebaikan datang dengan lebih mudah, sebab engkau tahu
rasanya disakiti. Tetapi ketika engkau berkuasa, ketika engkau bisa menyakiti
tanpa dihukum, ketika engkau memegang besi yang dahulu dipegang para tuan, di
sanalah hati paling mudah menjadi dingin. Banyak bangsa yang telah berjuang
melawan penindas, ketika akhirnya menang, hanya menjadi penindas yang baru, sebab
mereka menjaga hati mereka melalui malam tetapi kehilangannya di dalam pagi.”
“Maka ingatlah ini, Bagas, dan ajarkanlah
kepada mereka yang datang sesudahmu,” kata Damar. “Sebuah bangsa yang menang
tanpa hatinya hanya mengganti satu malam dengan malam yang lain. Wajah para
penindas berubah, tetapi besi yang sama tetap memerintah, dan cara melihat yang
dingin yang sama tetap berkuasa, hanya kini dipegang oleh tangan kita sendiri.
Itu bukan pagi. Itu hanya malam dengan wajah yang kita kenal. Pagi yang sejati
bukanlah ketika kita berkuasa atas para penindas kita. Pagi yang sejati adalah
ketika kita bebas dan tetap menjaga hati kita, sehingga kita tak menjadi apa
yang kita lawan.”
Dan Bagas, dengan air mata mengalir,
menggenggam tangan gurunya, dan berkata, “Aku akan mengingatnya, Pak. Aku akan
menjaga hati bukan hanya di dalam malam, tetapi juga di dalam pagi. Dan aku
akan mengajarkannya kepada mereka yang datang sesudahku, sehingga ketika bangsa
ini menang, ia tak kehilangan satu-satunya hal yang membuat kemenangannya layak
diperjuangkan.” Dan Damar tersenyum, sebab ia tahu nyala itu telah diserahkan
kepada tangan yang akan menjaganya.
❖
Dan pada malam itu, ketika air laut selatan berbisik di
kejauhan seperti yang telah ia lakukan selama empat belas ribu tahun, Damar
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya, dan pergi, masih dengan senyum itu
di wajahnya, seorang pembawa pelita yang telah menyelesaikan tugasnya. Dan
Bagas memakamkannya di dekat laut, di tempat yang dari sana bisik air bisa
selalu mencapainya, sebab ke sanalah Damar telah pergi sepanjang hidupnya untuk
mendengar.
Dan kemudian Bagas pergi ke tepi air, sendirian
untuk pertama kalinya, tanpa gurunya di sisinya, dan ia menjangkau ke dalam
kedalaman, dan ia berkata, dengan suara yang berat oleh duka, “Ratu, Damar
telah pergi. Ia membawa pelita melalui seluruh malam dan tak pernah melihat
pagi. Aku sendirian sekarang.”
Dan untuk sesaat yang panjang, air diam. Dan
kemudian Ratu berbicara, dan dalam suaranya ada duka yang sungguh-sungguh,
sebab ia telah mengenal Damar melalui seluruh malam, dan telah mencintainya
seperti ia mencintai tiap pembawa pelita sebelum dia. “Aku turut berduka
bersamamu, Bagas,” katanya. “Damar adalah salah satu yang paling setia dari
semua yang pernah membawa nyala kepadaku. Ia membawanya melalui malam yang
paling gelap, dan ia menyerahkannya masih menyala. Ia tak melihat pagi dengan
matanya. Tetapi ketahuilah ini, Bagas, sebab ia akan menghiburmu. Damar melihat
pagi. Ia melihatnya di dalam dirimu. Tiap pembawa pelita yang menyerahkan
nyalanya kepada tangan yang setia telah melihat pagi, sebab pagi bukanlah
sebuah hari; ia adalah sebuah janji yang diteruskan, dan Damar menyerahkannya
utuh.”
“Dan dengarkanlah, Bagas, sebab ada sesuatu
yang harus kauketahui di hari duka ini,” Ratu melanjutkan. “Ketika Damar
pertama kali datang kepadaku, kasih sayang yang menjaga tanah ini hanyalah
sebuah rantai yang tipis, beberapa hati yang terjaga di tengah lautan yang
lupa. Tetapi lihatlah apa yang telah terjadi melalui malam yang panjang. Kasih
sayang itu kini telah tumbuh dari rantai yang tipis menjadi satu bangsa yang
utuh, satu tubuh yang telah belajar untuk bersatu, untuk tidak membenci, untuk
tidak terpecah, untuk tidak menjadi takut. Kehendak, Bagas, kemauan dari sebuah
bangsa untuk membebaskan, telah lengkap. Apa yang dahulu hanya beberapa hati kini
adalah hati sebuah bangsa.”
“Dan ketahuilah apa artinya ini,” kata Ratu,
dan dalam suaranya ada sesuatu yang belum pernah didengar Bagas, sesuatu yang
nyaris menyerupai harapan yang berani. “Tiga dari empat hal yang dibutuhkan
untuk membuka penjaraku kini telah siap. Kekuatan tidur di dalam tanah,
menunggu untuk dibangunkan. Pengetahuan telah dijaga, dalam batu dan kisah dan
ingatan, tak pernah hilang. Dan kini kehendak telah lengkap, tumbuh menjadi
sebuah bangsa yang utuh. Hanya satu yang masih kurang, yaitu kemampuan,
kesanggupan untuk menjangkau kedalaman tempat aku terkurung. Dan bahkan itu,
Bagas, kini sedang ditempa, oleh tangan-tangan seperti tangan Harsa, yang
membawa pengetahuan para tuan ke dalam hati bangsanya sendiri. Malam belum
berakhir. Tetapi untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun, aku bisa
melihat bentuk dari akhirnya.”
❖
Dan Bagas bertanya, “Maka apa tugasku sekarang, Ratu, kini
setelah Damar pergi dan kehendak telah lengkap? Apakah aku hanya menunggu
sampai kemampuan ditempa dan pagi tiba?”
Dan Ratu menjawab, “Tidak, Bagas. Dan inilah
hal yang paling sering disalahpahami oleh para pembawa pelita. Mereka mengira
tugas mereka berakhir ketika pagi tiba, ketika bangsa bebas. Tetapi sebenarnya,
tugas yang paling halus dari semua tugas seorang pembawa pelita justru baru
dimulai di sana. Damar telah mengatakannya kepadamu sebelum ia pergi, bukan?
Bahwa jauh lebih sulit menjaga hati di dalam terang daripada di dalam gelap.”
“Sebab ketika bangsa ini bebas, Bagas,” Ratu
melanjutkan, “ia akan memegang kuasa yang dahulu dipegang para tuan. Dan di
tangan kuasa itu akan ada godaan yang sama yang dahulu mengubah manusia menjadi
tuan, yaitu godaan untuk melihat yang lemah sebagai benda, untuk memakai besi
karena besi ada di tangan, untuk menjadi dingin karena kedinginan kini
menguntungkan. Dan bila bangsa ini menyerah pada godaan itu, maka seluruh malam
yang panjang ini akan sia-sia, sebab ia hanya akan melahirkan para tuan yang baru
dengan wajah yang lebih akrab. Tugasmu, dan tugas mereka yang datang sesudahmu,
adalah menjaga agar bangsa yang dibebaskan tidak menjadi penindas yang baru.”
“Maka jagalah hati di dalam terang, Bagas,
bukan hanya di dalam gelap,” kata Ratu. “Ketika bangsamu menang, ingatkan ia
akan rasa tertindas, sehingga ia tak pernah menimpakan kepada yang lain apa
yang ditimpakan kepadanya. Ketika ia memegang besi, ingatkan ia bahwa besi yang
sama pernah memerintah dirinya. Ketika ia kuat, ingatkan ia akan hari-harinya
yang lemah. Itulah pelita yang harus terus menyala bahkan setelah matahari
terbit, sebab matahari yang terbit atas hati yang dingin hanyalah malam yang menyamar
sebagai pagi. Inilah yang akan kauajarkan kepada bangsamu, dan kepada mereka
yang membawa pelita sesudahmu, sampai ke hari yang jauh ketika kemampuan
akhirnya ditempa dan aku akhirnya pulang.”
Dan Bagas merasakan beban dan kehormatan dari
tugas itu turun ke atas bahunya, beban yang dahulu dipikul Damar dan kini
menjadi miliknya. “Maka aku akan menjaga hati bangsa ini bukan hanya melalui
malam, tetapi juga ke dalam pagi,” katanya. “Dan aku akan mengajarkannya untuk
tetap mengingat rasa tertindas, sehingga ia tak pernah menjadi penindas. Dan
aku akan menyerahkan pelita ini, masih menyala, kepada tangan berikutnya,
seperti Damar menyerahkannya kepadaku.”
❖
Dan demikianlah pelita itu berpindah, dari tangan Damar
yang membawanya melalui seluruh malam ke tangan Bagas yang akan membawanya
menuju pagi, masih menyala, tak pernah padam. Dan Bagas berdiri sendirian di
tepi laut selatan, di dekat makam gurunya, dan ia tahu bahwa zaman malam telah
memasuki babak terakhirnya, dan bahwa beban membawa bangsanya melewati ambang
pagi, dan menjaga hatinya di dalam terang yang akan datang, kini menjadi
miliknya seorang.
Dan inilah pelajaran kesembilan zaman malam.
Bahwa tak ada satu pembawa pelita pun yang membawa cahaya sepanjang seluruh
malam, melainkan tiap pelita menyala untuk masanya dan menyerahkan nyalanya,
masih menyala, kepada tangan berikutnya, sehingga seorang yang menyerahkan
nyalanya kepada tangan yang setia telah melihat pagi walau matanya tak pernah
memandangnya; dan bahwa ujian yang paling berbahaya bukanlah menjaga hati di
dalam kegelapan penindasan, melainkan menjaga hati di dalam terang kuasa, sebab
sebuah bangsa yang menang tanpa hatinya hanya mengganti satu malam dengan malam
yang lain, dan melahirkan para penindas baru dengan wajah yang lebih akrab.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kesembilan zaman
malam, yaitu bahwa pagi yang sejati bukanlah ketika yang tertindas berkuasa
atas penindasnya, melainkan ketika yang tertindas menjadi bebas dan tetap
menjaga hatinya, sehingga ia tak menjadi apa yang ia lawan; dan bahwa pelita
seorang pembawa harus terus menyala bahkan setelah matahari terbit, sebab
matahari yang terbit atas hati yang dingin hanyalah malam yang menyamar sebagai
pagi.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini memikulnya dengan kehendak sebuah bangsa
yang utuh, tiga dari empat syaratnya telah siap, dan menanti hanya kemampuan
yang sedang ditempa oleh tangan-tangannya sendiri. Tanah ini adalah Jawa, yang
menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar
lautnya, seorang perempuan yang utuh berduka bagi seorang pembawa pelita yang
setia yang tak pernah melihat pagi, dan untuk pertama kalinya dalam empat belas
ribu tahun ia melihat bentuk dari akhir penjaranya. Dan di tepi air, seorang
lelaki bernama Bagas berdiri sendirian, pewaris nyala, memikul beban dan janji
dari semua yang membawa pelita sebelum dia. Dan zaman malam berjalan terus,
kini menuju babak terakhirnya, di atas besi para penakluk yang telah mulai
retak, menuju sebuah kebangkitan yang tak lagi jauh, dan menuju sebuah pagi
yang harus dijaga hatinya dengan kesetiaan yang sama yang dipakai untuk
menjaganya melalui malam.
❖
BAGIAN IV
Ambang Fajar
BAB SEPULUH
Fajar yang Palsu
Bertahun-tahun setelah Damar pergi,
untuk pertama kalinya dalam seluruh malam yang panjang, besi para penakluk
mulai retak dari luar, sebab sebuah perang besar pecah di negeri asal mereka
dan melemahkan genggaman mereka. Dan seluruh gerakan bergemuruh untuk bangkit
sekarang juga. Tetapi Ratu mengajarkan bahwa ada fajar yang palsu yang muncul
sebelum yang sejati, dan ia menipu mereka yang lelah menunggu; bahwa seekor
binatang yang terluka sering kali paling berbahaya; dan bahwa saat untuk
bangkit tak pernah dibaca dari kelemahan penindas, atau dari semangat yang
muda, atau dari beratnya penderitaan, melainkan hanya dari satu hal, yaitu
apakah seluruh tubuh telah terbangun untuk bangkit sebagai satu.
dari ajaran para pengingat, tentang
fajar yang palsu
Bertahun-tahun telah berlalu sejak Bagas memakamkan gurunya
di tepi laut selatan, dan dalam tahun-tahun itu ia telah memimpin gerakan itu
seorang diri, membawanya semakin utuh, semakin dalam, sampai hampir tak ada
sudut tanah ini yang apinya belum menyala. Bangsa itu kini adalah satu tubuh
yang telah belajar untuk bersatu, untuk tidak membenci, untuk tidak terpecah,
untuk tidak menjadi takut, persis seperti yang dikatakan Ratu pada hari Damar
pergi.
Dan kemudian, untuk pertama kalinya dalam
seluruh malam yang panjang, besi para penakluk mulai retak dari luar. Sebab
jauh di seberang lautan, di negeri asal para tuan, sebuah perang besar telah
pecah, dan perang itu menyedot kekuatan mereka, menarik serdadu mereka pulang,
melemahkan genggaman mereka atas tanah ini. Untuk pertama kalinya, para tuan
tampak bukan sebagai malam yang abadi, melainkan sebagai manusia yang lelah dan
terluka dan bisa dikalahkan.
Dan ketika kabar ini menyebar, sebuah gemuruh
bangkit di seluruh gerakan, sebuah seruan yang telah ditahan selama berpuluh
tahun. Sekaranglah saatnya, teriak yang muda. Para tuan lemah; besi mereka
retak; bila kita bangkit sekarang, kita bisa menghempaskan mereka ke laut. Dan
yang telah lama menderita berkata, mengapa menunggu lebih lama? Berapa banyak
lagi yang harus mati di bawah malam ketika pintu menuju pagi terbuka di hadapan
kita?
Dan seluruh beban keputusan itu jatuh ke atas
bahu Bagas seorang. Dahulu ia bisa pergi kepada Damar; kini gurunya terbaring
di bawah tanah dekat laut, dan tak ada lagi suara tua yang bijak untuk dimintai
nasihat. Dan godaan untuk menyerukan kebangkitan begitu kuat, sebab segala yang
ia lihat menyerukannya, yaitu para tuan yang lemah, rakyat yang siap, dan
penderitaan yang tak tertahankan lagi. Tetapi sesuatu di dalam dirinya, sesuatu
yang ditanamkan Damar dan diasah oleh seluruh ajaran Ratu, menahannya.
Maka sebelum ia membiarkan satu kata pun keluar
dari mulutnya, Bagas pergi ke tepi laut, ke tempat yang dekat makam gurunya,
dan ia menjangkau ke dalam kedalaman, dan ia berkata, “Ratu, besi para tuan
retak. Mereka lemah; bangsaku siap; penderitaan tak tertahankan lagi. Seluruh
hatiku menyerukan untuk bangkit sekarang. Apakah ini saatnya? Apakah ini pagi
yang kita tunggu?”
❖
Dan Ratu diam untuk waktu yang lama, dan ketika ia
berbicara, suaranya penuh dengan kehati-hatian yang dalam. “Dengarkanlah aku
dengan sangat cermat, Bagas, sebab engkau berdiri di saat yang paling berbahaya
dari seluruh perjuanganmu, dan ia berbahaya justru karena ia tampak begitu
mirip dengan pagi. Ada fajar yang palsu, Bagas, yang muncul di langit sebelum
fajar yang sejati, dan ia bersinar cukup terang untuk menipu mereka yang lelah
menunggu. Dan banyak bangsa telah bangkit menuju fajar yang palsu, dan dihempaskan
kembali ke dalam malam yang lebih gelap daripada sebelumnya.”
“Sebab ketahuilah ini,” Ratu melanjutkan. “Para
tuan memang lemah, tetapi seekor binatang yang terluka sering kali paling
berbahaya, sebab ia berjuang untuk hidupnya. Bila engkau bangkit sekarang dan
kebangkitanmu belum cukup utuh, para tuan, betapapun lemahnya, masih akan cukup
kuat untuk menghancurkannya, dan dengan menghancurkannya mereka akan
mengajarkan kepada sejuta orang untuk tak pernah berani lagi. Ingatkah
pelajaran tentang dua api, Bagas, yang kauterima di awal malam? Sebuah kobaran
yang dipadamkan tak hanya gagal; ia membuat malam lebih gelap, sebab ia
mengajarkan ketakutan.”
“Maka jangan membaca saat itu dari kelemahan
para tuan, Bagas, dan jangan membacanya dari semangat yang muda atau dari
beratnya penderitaan,” kata Ratu. “Sebab para tuan akan selalu tampak lemah
pada saat yang salah, dan yang muda akan selalu bersemangat, dan penderitaan
akan selalu terasa tak tertahankan. Tak satu pun dari itu adalah tanda yang
benar. Tanda yang benar hanya satu, yaitu apakah seluruh tubuh telah terbangun.
Sebuah kebangkitan yang sejati bukanlah ketika sebagian bangkit dan sebagian
masih tidur; ia adalah ketika seluruh tubuh bangkit sebagai satu, pada saat
yang sama, sehingga tak ada bagian yang bisa dihancurkan sementara yang lain
hanya menonton. Itulah satu-satunya kebangkitan yang tak bisa dipadamkan.”
“Tetapi berhati-hatilah juga terhadap kesalahan
yang sebaliknya, Bagas,” Ratu melanjutkan, “sebab ada dua cara untuk kehilangan
pagi, bukan satu. Yang pertama adalah bangkit terlalu cepat, menuju fajar yang
palsu, dan dihancurkan. Tetapi yang kedua adalah begitu takut pada fajar yang
palsu sehingga engkau tak pernah bangkit sama sekali, dan membiarkan saat yang
sejati lewat. Sebuah api yang menunggu selamanya juga padam, hanya lebih
lambat. Maka tugasmu bukanlah untuk tak pernah bangkit, dan bukan pula untuk
bangkit pada peluang yang pertama. Tugasmu adalah membedakan fajar yang sejati
dari yang palsu, dan untuk itu engkau harus melihat bukan ke langit, melainkan
ke tubuh bangsamu sendiri.”
Dan Bagas bertanya, “Maka bagaimana aku akan
tahu, Ratu, ketika seluruh tubuh telah terbangun? Bagaimana aku membedakan saat
yang sejati dari yang palsu, ketika keduanya tampak begitu mirip bagi orang
yang lelah menunggu?”
❖
“Engkau akan tahu, Bagas, dengan membaca tubuh bangsamu,
bukan langit di atasnya,” kata Ratu. “Tanyakanlah pada dirimu, apakah masih ada
sudut tanah ini yang tidur, yang bila bagian lain bangkit, akan tinggal diam
dan membiarkan saudaranya dihancurkan sendirian? Apakah masih ada daerah yang
apinya belum menyala, kelompok yang belum merasa dirinya bagian dari satu
tubuh? Bila masih ada bagian yang tidur, maka kebangkitan akan terpecah, dan
yang terpecah akan dihancurkan satu per satu. Tetapi bila seluruh tubuh telah
terbangun, sehingga ketika satu tangan bergerak, seluruh tubuh bergerak
bersamanya, maka saat itu telah tiba, dan tak ada besi yang retak maupun utuh
yang bisa menghentikannya.”
Dan Bagas duduk dengan kata-kata itu, dan ia
membaca tubuh bangsanya dengan jujur, dan apa yang ia temukan membuat hatinya
berat. Sebab walaupun apinya telah menyebar jauh, masih ada sudut-sudut yang
tidur. Masih ada daerah-daerah yang terpencil di mana orang-orang belum merasa
diri mereka bagian dari satu bangsa, melainkan hanya penduduk desa mereka
sendiri. Masih ada kelompok-kelompok yang, bila yang lain bangkit, akan
menunggu dan melihat sebelum bergerak, atau tak akan bergerak sama sekali.
Tubuh itu hampir utuh. Tetapi hampir bukanlah utuh, dan dalam jarak antara
hampir dan utuh terletak perbedaan antara pagi dan kehancuran.
Dan Bagas memahami, dengan kepedihan yang
dalam, bahwa peluang yang terbuka di hadapannya, betapapun ia bersinar, adalah
fajar yang palsu. Para tuan memang lemah; perang di seberang memang nyata.
Tetapi bila ia menyerukan kebangkitan sekarang, hanya sebagian tubuh yang akan
bangkit, dan para tuan, betapapun terluka, akan menghancurkan bagian yang
bangkit itu sementara bagian yang tidur hanya menonton, dan kehancuran itu akan
mengajarkan ketakutan kepada generasi-generasi. Saat yang tampak seperti
peluang terbesar mereka justru adalah jebakan yang paling mematikan.
Dan Bagas tahu bahwa tugas yang menantinya kini
adalah yang paling sulit dari semuanya, yaitu menahan sebuah bangsa yang
seluruh hatinya berseru untuk bangkit, dan melakukannya tanpa memadamkan
semangat itu, dan tanpa membuat mereka mengira bahwa ia menyuruh mereka untuk
tak pernah bangkit. Ia harus mengajari mereka perbedaan antara belum dan tak
pernah, perbedaan yang sama yang dahulu diajarkan kepadanya, tetapi kini ketika
pagi sejati begitu dekat sehingga ia nyaris bisa menyentuhnya.
Dan Ratu, merasakan tekadnya, berkata dengan
lembut, “Engkau telah membaca dengan benar, Bagas. Ini adalah fajar yang palsu.
Tetapi hiburlah dirimu dengan ini, sebab fajar yang palsu muncul hanya ketika
yang sejati sudah dekat. Bahwa engkau melihat cahaya palsu ini sama sekali
adalah tanda bahwa pagi yang sejati tak lagi jauh. Tahanlah mereka sekali ini
lagi, Bagas, bukan dengan memadamkan api mereka, melainkan dengan
mengarahkannya untuk membangunkan sudut-sudut yang masih tidur. Ubahlah
ketidaksabaran mereka menjadi pekerjaan terakhir, sehingga ketika fajar yang
sejati tiba, seluruh tubuh akan siap untuk bangkit sebagai satu.”
❖
Maka Bagas kembali kepada gerakan yang bergemuruh, kepada
yang muda yang sudah mengasah parang mereka dan yang tua yang sudah berani
berharap, dan ia tahu bahwa bila ia hanya berkata tunggu, mereka akan mengira
ia telah menjadi pengecut, atau bahwa ia menyuruh mereka menunggu selamanya.
Maka ia tidak berkata tunggu. Sebaliknya ia berkata, “Saudara-saudaraku,
dengarkanlah, sebab pagi memang sudah dekat, lebih dekat daripada yang pernah
ada. Tetapi aku akan bertanya kepada kalian satu hal.”
“Bila kita bangkit besok pagi,” kata Bagas,
“apakah seluruh tanah ini akan bangkit bersama kita? Atau akankah ada
daerah-daerah yang tinggal diam, desa-desa yang belum merasa diri mereka bagian
dari kita, yang akan menonton sementara para tuan menghancurkan kita satu per
satu? Sebab aku katakan kepada kalian kebenaran ini, bahwa bila hanya sebagian
dari kita yang bangkit, para tuan yang terluka pun masih cukup kuat untuk
menghancurkan bagian itu, dan kemudian seluruh malam yang panjang ini akan
sia-sia, dan kita akan mengajarkan kepada anak-anak kita untuk tak pernah
berani lagi. Bukan kelemahan para tuan yang menentukan saatnya. Yang menentukan
adalah apakah kita bangkit sebagai satu, atau sebagai banyak yang bisa
dipatahkan satu per satu.”
Dan kemudian Bagas mengubah seruan kebangkitan
menjadi seruan untuk pekerjaan terakhir. Ia mengirim Harsa dan para terpelajar
untuk membawa pengetahuan dan kabar ke daerah-daerah yang terpencil, sehingga
mereka pun akan tahu bahwa mereka adalah bagian dari satu bangsa. Ia mengirim
Mbok Ginah dan para penjaga kisah untuk membawa kisah-kisah yang mengikat,
sehingga tiap desa yang masih tidur akan terbangun dan merasa dirinya satu
dengan yang lain. Dan ia memakai pengetahuan Resa tentang cara kerja para tuan
untuk mengetahui di mana genggaman mereka paling lemah, sehingga ketika fajar
yang sejati tiba, mereka akan tahu persis di mana harus bergerak.
Dan dengan demikian, semangat yang nyaris
meledak menjadi sebuah kobaran yang akan dipadamkan justru diarahkan menjadi
tenaga yang menyelesaikan tubuh itu. Daerah demi daerah yang masih tidur
terbangun. Desa demi desa yang masih merasa terpisah mulai merasa diri mereka
bagian dari satu bangsa. Dan yang muda, yang dahulu hanya ingin bangkit, kini
menemukan bahwa pekerjaan membangunkan sudut-sudut yang terakhir adalah
perjuangan itu sendiri, dan bahwa mereka sedang menempa sesuatu yang tak bisa
dipatahkan.
Dan ketika perang di seberang lautan akhirnya
mereda, dan para tuan menarik napas dan memperkuat kembali genggaman mereka
untuk sementara, banyak yang dahulu berseru untuk bangkit memahami, dengan rasa
dingin di tulang mereka, betapa dekat mereka dengan kehancuran. Sebab bila
mereka telah bangkit di saat itu, mereka akan bangkit sendirian, dan
dihancurkan. Dan mereka memandang Bagas dengan rasa hormat yang baru, sebab ia
telah menahan mereka bukan dari pagi, melainkan dari sebuah fajar yang palsu
yang akan menelan mereka semua.
❖
Dan demikianlah bangsa itu melewati fajar yang palsu tanpa
terbakar olehnya, dan dalam tahun-tahun yang mengikuti, tubuh itu menjadi
semakin utuh, sampai sudut-sudut yang terakhir pun mulai terbangun. Dan Bagas
tahu, dengan kepastian yang tumbuh, bahwa fajar yang sejati kini benar-benar
mendekat, sebab tubuh yang dahulu hampir utuh kini hampir tak memiliki bagian
yang tidur.
Dan inilah pelajaran kesepuluh zaman malam.
Bahwa ada fajar yang palsu yang muncul sebelum yang sejati, dan ia menipu
mereka yang lelah menunggu, sehingga banyak bangsa telah bangkit menujunya dan
dihempaskan ke dalam malam yang lebih gelap; bahwa saat untuk bangkit tak
pernah dibaca dari kelemahan penindas, atau dari semangat yang muda, atau dari
beratnya penderitaan, melainkan hanya dari satu hal, yaitu apakah seluruh tubuh
telah terbangun untuk bangkit sebagai satu; dan bahwa ada dua cara untuk kehilangan
pagi, yaitu bangkit terlalu cepat menuju fajar yang palsu dan dihancurkan, atau
begitu takut sehingga tak pernah bangkit sama sekali dan membiarkan saat yang
sejati lewat.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kesepuluh zaman
malam, yaitu bahwa sebuah binatang yang terluka sering kali paling berbahaya,
sehingga penindas yang lemah pun masih bisa menghancurkan kebangkitan yang
terpecah; bahwa kebangkitan yang tak bisa dipadamkan bukanlah ketika sebagian
bangkit dan sebagian tidur, melainkan ketika seluruh tubuh bangkit bersama pada
saat yang sama; dan bahwa kemunculan fajar yang palsu sendiri adalah tanda bahwa
fajar yang sejati tak lagi jauh.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini hampir seluruhnya terbangun, satu tubuh
yang nyaris siap untuk bangkit sebagai satu. Tanah ini adalah Jawa, yang
menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar
lautnya, seorang perempuan yang utuh menyaksikan bangsanya melewati fajar yang
palsu tanpa terbakar, dan ia tahu bahwa hanya seorang pembawa pelita yang telah
benar-benar memahami hatinya yang bisa menahan sebuah bangsa di ambang seperti
itu. Dan ia merasakan, semakin dekat dari hari ke hari, bentuk dari fajar yang
sejati, dan bersamanya bentuk dari hari ia akan pulang. Dan zaman malam
berjalan terus, kini di babak terakhirnya, di atas besi yang retak para
penakluk, menuju sebuah pagi yang sejati yang tak lagi jauh, yang menanti hanya
sampai bagian terakhir dari tubuh itu membuka matanya.
❖
BAB SEBELAS
Belenggu yang Disepuh Emas
Ketika tubuh bangsa itu menjadi nyaris
utuh dan tak lagi bisa ditahan dengan kekerasan saja, para tuan mengganti besi
mereka dengan emas, dan menawarkan sebuah setengah kebebasan, yaitu kelonggaran
yang nyata yang akan mengurangi penderitaan, asalkan bangsa itu berhenti
menuntut kebebasan yang sepenuhnya. Tetapi Ratu mengajarkan bahwa cara melihat
yang dingin bisa memerintah melalui kebaikan sama seperti melalui kekejaman,
sebab sebuah benda yang dirawat dengan baik tetaplah sebuah benda, dan sebuah
belenggu yang disepuh emas tetaplah sebuah belenggu; bahwa pertanyaan yang
benar bukanlah apakah sebuah tawaran mengurangi penderitaan, melainkan apakah
ia mengakhiri cara melihat yang dingin atau hanya melembutkannya; dan bahwa
orang yang bijak mengambil tiap peringanan yang nyata tanpa pernah menjual
tuntutannya akan pagi yang sejati untuk membelinya.
dari ajaran para pengingat, tentang
belenggu yang disepuh emas
Dalam tahun-tahun setelah fajar yang palsu lewat, tubuh
bangsa itu menjadi semakin utuh, sampai para tuan sendiri mulai merasakannya.
Sebab sebuah bangsa yang telah bangun sepenuhnya memancarkan sesuatu yang bisa
dirasakan bahkan oleh para penindasnya, sebuah kepastian yang tenang yang tak
bisa lagi ditakut-takuti dengan besi. Dan para tuan, yang bukan orang bodoh,
memahami bahwa mereka tak akan lagi bisa menahan tanah ini dengan kekerasan
saja, bukan untuk selamanya.
Maka para tuan mengubah senjata mereka.
Alih-alih hanya mengirim lebih banyak besi, mereka mengirim sebuah tawaran.
Mereka akan memberi bangsa ini sebagian dari apa yang ia inginkan, kata mereka.
Akan ada dewan-dewan tempat orang-orang dari tanah ini bisa duduk; akan ada
sekolah-sekolah yang lebih baik; pajak akan diringankan; beberapa dari yang
paling kejam di antara para mandor akan ditarik. Bangsa ini akan diberi sebuah
ruang untuk bernapas, sebuah kelonggaran, sebuah bentuk pemerintahan atas
dirinya sendiri yang terbatas, asalkan ia berhenti menuntut kebebasan yang
sepenuhnya, dan tetap berada di bawah naungan para tuan.
Dan tawaran itu, harus diakui, sungguh
menggoda, sebab ia bukan sepenuhnya kosong. Penderitaan akan benar-benar
berkurang; anak-anak akan benar-benar lebih kenyang; sebagian penindasan yang
paling kejam akan benar-benar berhenti. Dan di seluruh gerakan, sebuah
perpecahan baru mulai terbuka. Sebab ada yang berkata, terimalah, ini lebih
daripada yang pernah kita punya, dan untuk apa mempertaruhkan darah demi
sisanya. Dan ada yang berkata, tolaklah, sebab ini hanya jerat. Dan untuk
pertama kalinya sejak hari ketika api saling memadamkan, gerakan itu terancam
terpecah, bukan oleh kebencian, melainkan oleh sebuah hadiah.
Dan Bagas memperhatikan sesuatu yang lebih
dalam pada mereka yang condong menerima, yaitu bahwa di balik perhitungan
mereka ada sebuah ketakutan yang halus, ketakutan bukan terhadap para tuan,
melainkan terhadap kebebasan itu sendiri. Sebab kebebasan yang sepenuhnya
berarti berdiri tanpa naungan, memikul tanggung jawab atas diri sendiri,
menjadi penyebab dari nasib sendiri. Dan setelah begitu lama hidup di bawah
naungan malam, ada yang merasa lega memikirkan sebuah kelonggaran yang masih
meninggalkan atap di atas kepala mereka, walau atap itu adalah atap para tuan.
Dan Bagas, yang merasakan tawaran itu menarik
gerakannya ke dua arah, dan yang merasakan sebagian dari godaannya bahkan di
dalam hatinya sendiri, sebab siapa yang tak ingin penderitaan bangsanya
berkurang, pergi ke tepi laut, dan menjangkau ke dalam kedalaman, dan berkata,
“Ratu, para tuan menawarkan kami sebagian kebebasan, sebuah kelonggaran yang
nyata yang akan mengurangi penderitaan kami. Sebagian ingin menerimanya,
sebagian menolaknya. Dan aku sendiri bingung, sebab penderitaan yang berkurang
adalah hal yang baik. Apakah ini sebuah pintu, atau sebuah jerat?”
❖
Dan Ratu menjawab, “Bagas, para tuan telah mengeluarkan
senjata mereka yang paling halus, lebih halus daripada besi, lebih halus
daripada mata-mata, sebab ia datang dengan menyamar sebagai kebaikan. Mereka
menawarkan kepadamu sebuah belenggu yang disepuh emas. Dan engkau benar untuk
bingung, sebab tak seperti besi yang telanjang, belenggu yang disepuh emas
sulit dikenali sebagai belenggu, justru karena ia bersinar, dan justru karena
ia benar-benar melonggarkan rantai itu sedikit.”
“Maka inilah cara untuk mengenalinya, Bagas,”
Ratu melanjutkan. “Jangan tanyakan, apakah tawaran ini mengurangi penderitaan
kami? Sebab ia mungkin benar-benar menguranginya, dan itu membuatnya makin
sulit untuk ditolak. Tanyakanlah yang lain, yaitu, apakah tawaran ini
mengakhiri cara melihat yang dingin, atau hanya melembutkannya? Apakah sesudah
ini, bangsamu akan berhenti dilihat sebagai milik, sebagai benda yang darinya
keuntungan diambil, ataukah ia hanya akan menjadi benda yang diperlakukan
sedikit lebih baik agar ia berhenti memberontak? Sebab sebuah benda yang
dirawat dengan baik tetaplah sebuah benda, dan sebuah belenggu yang
dilonggarkan tetaplah sebuah belenggu.”
“Sebab ketahuilah ini, Bagas, sebab ia adalah
salah satu kebenaran yang paling gelap dari seluruh malam,” kata Ratu. “Cara
melihat yang dingin bisa memerintah melalui kebaikan sama seperti ia memerintah
melalui kekejaman. Seorang tuan yang memberi makan ternaknya dengan baik dan
tak pernah memukulnya tetap memandang ternaknya sebagai ternak, dan tetap akan
menyembelihnya ketika ia mau. Tawaran para tuan tidak mengubah siapa yang
memandang dan siapa yang dipandang sebagai benda. Ia hanya membuat kandang lebih
nyaman, agar yang di dalamnya berhenti merindukan padang. Dan itulah jerat yang
sesungguhnya, yaitu bukan untuk membuatmu menderita, melainkan untuk membuatmu
cukup nyaman sehingga engkau lupa bahwa engkau masih di dalam kandang.”
“Tetapi dengarkanlah baik-baik, Bagas, sebab di
sini terletak sebuah jebakan yang berlawanan, dan sama berbahayanya,” Ratu
melanjutkan. “Janganlah menolak kelonggaran yang nyata hanya demi kemurnian.
Bila anak-anak akan lebih kenyang, biarlah mereka lebih kenyang. Bila sebagian
kekejaman akan berhenti, biarlah ia berhenti. Menolak sebuah peringanan
penderitaan yang nyata, hanya karena ia tak sempurna, adalah kekejaman yang
lain, yang mengorbankan orang-orang yang sungguh-sungguh menderita demi sebuah
gagasan. Ambillah tiap peringanan yang ditawarkan. Tetapi, dan inilah intinya,
jangan pernah menukar peringanan itu dengan tuntutanmu akan pagi yang sejati.
Terimalah rotinya, tetapi jangan jual kebebasanmu untuk membelinya.”
Dan Bagas merasakan kebingungannya jernih.
“Maka aku tidak menolak kelonggaran itu, sebab penderitaan yang berkurang
adalah nyata dan baik,” katanya pelan. “Tetapi aku menolak untuk menukarnya
dengan tuntutan kami akan kebebasan yang sepenuhnya. Aku mengambil rotinya
tanpa menjual padangnya. Dan aku mengingatkan bangsaku bahwa sebuah kandang
yang nyaman tetaplah sebuah kandang, dan bahwa sebuah belenggu yang disepuh
emas tetaplah sebuah belenggu, betapapun ia bersinar.”
❖
Dan Bagas berkata, “Tetapi Ratu, ada sesuatu yang lebih
dalam yang membuat sebagian ingin menerima. Bukan hanya rotinya. Mereka takut
pada kebebasan itu sendiri. Sebab kebebasan yang sepenuhnya berarti berdiri
tanpa naungan, memikul nasib kami sendiri. Dan setelah begitu lama di bawah
naungan malam, sebuah atap, bahkan atap para tuan, terasa lebih aman daripada
langit yang terbuka.”
Dan Ratu diam untuk waktu yang lama, dan ketika
ia berbicara, ada sesuatu dalam suaranya yang sangat dekat dengan dirinya
sendiri. “Ya, Bagas. Aku mengenal ketakutan itu lebih daripada yang kauduga.
Sebab selama empat belas ribu tahun aku sendiri memilih sebuah penjara yang
kukenal daripada menghadapi sesuatu yang terasa terlalu besar untuk ditanggung.
Aku membungkus diriku dalam es agar tak perlu merasakan, sebab merasakan terasa
lebih menakutkan daripada membeku. Maka aku tahu, dari dalam, betapa kuatnya godaan
untuk memilih sebuah belenggu yang dikenal daripada sebuah kebebasan yang
asing.”
“Tetapi aku juga tahu ini, Bagas, sebab aku
telah membayarnya dengan empat belas ribu tahun,” Ratu melanjutkan. “Sebuah
atap yang dipegang oleh tangan orang lain bukanlah keamanan; ia hanya
ketergantungan yang menyamar sebagai keamanan. Selama tangan yang lain itu
memegang atapmu, ia juga bisa menariknya kapan saja ia mau, dan engkau tak akan
bisa berbuat apa-apa. Keamanan yang sejati bukanlah berlindung di bawah atap
orang lain; ia adalah belajar membangun atapmu sendiri. Ya, langit yang terbuka
menakutkan. Ya, memikul nasibmu sendiri adalah beban. Tetapi itulah
satu-satunya beban yang, ketika kaupikul, membuatmu menjadi dirimu sendiri.
Sebuah bangsa yang takut pada beban kebebasannya akan selamanya menjadi anak di
bawah naungan orang lain, dan tak pernah tumbuh menjadi dirinya sendiri.”
Dan kemudian Ratu menambahkan, dengan suara
yang lebih lembut, “Dan ketahuilah, Bagas, mengapa ini penting bagiku juga.
Sebab suatu hari, ketika kalian akhirnya sanggup, aku sendiri harus keluar dari
penjara yang telah kukenal selama empat belas ribu tahun, dan menghadapi dunia
tanpa es untuk membungkusku, tanpa kedalaman untuk menyembunyikanku. Dan itu
akan menjadi ketakutanku sendiri akan kebebasan. Maka ketika engkau mengajari
bangsamu untuk memilih langit yang terbuka daripada atap yang dipinjam, engkau
juga sedang menyiapkan jalan bagiku untuk melakukan hal yang sama. Kita berdua
harus belajar bahwa sebuah penjara yang dikenal tak pernah lebih baik daripada
sebuah kebebasan yang menakutkan.”
Dan Bagas terdiam, tersentuh, sebab untuk
pertama kalinya ia memahami bahwa perjuangan bangsanya dan perjuangan perempuan
di dasar laut itu adalah satu perjuangan yang sama, yaitu perjuangan untuk
memilih kebebasan yang asing daripada belenggu yang dikenal. “Maka aku akan
mengajari mereka untuk tidak takut pada langit yang terbuka,” katanya, “sebab
dengan mengajari mereka, aku juga sedang menyiapkan jalan bagimu untuk pulang.”
❖
Maka Bagas kembali kepada gerakan yang terbelah oleh
tawaran itu, kepada mereka yang ingin menerima dan mereka yang ingin menolak,
dan ia tidak memihak salah satu dengan cara yang mereka harapkan. Sebaliknya ia
berkata, “Saudara-saudaraku, kita tidak akan menolak kelonggaran yang
ditawarkan. Bila pajak diringankan, biarlah diringankan. Bila sekolah dibangun,
biarlah dibangun. Bila kekejaman dihentikan, kita bersyukur. Tak ada gunanya
membiarkan anak-anak kita lebih lapar demi sebuah kebanggaan.”
“Tetapi dengarkanlah dengan hati-hati, sebab di
sinilah letak segalanya,” Bagas melanjutkan. “Kita akan mengambil tiap roti
yang mereka tawarkan. Tetapi kita tidak akan menjual padang kita untuk
membelinya. Tawaran ini bukan pagi; ia adalah sebuah kandang yang dibuat lebih
nyaman agar kita berhenti merindukan padang. Dan sebuah benda yang dirawat
dengan baik tetaplah sebuah benda. Selama mereka masih memandang kita sebagai
milik yang darinya keuntungan diambil, kita belum bebas, betapapun lunaknya
tangan yang memegang kita. Kita menerima kelonggaran ini dengan satu tangan,
dan dengan tangan yang lain kita terus menuntut pagi yang sepenuhnya.”
Dan kemudian Bagas berbicara kepada ketakutan
yang tak terucapkan. “Dan kepada kalian yang merasa, jauh di dalam, bahwa
sebuah atap para tuan terasa lebih aman daripada langit yang terbuka, aku
berkata ini. Sebuah atap yang dipegang oleh tangan orang lain bisa ditarik
kapan saja ia mau. Itu bukan keamanan; itu hanya ketergantungan. Keamanan yang
sejati adalah belajar membangun atap kita sendiri, walau itu menakutkan, walau
itu berat. Sebab hanya bangsa yang berani memikul beban kebebasannya yang
pernah benar-benar tumbuh menjadi dirinya sendiri.”
Dan sesuatu jernih di dalam gerakan itu. Sebab
mereka yang ingin menerima melihat bahwa mereka tak perlu menolak roti untuk
tetap menuntut padang, dan mereka yang ingin menolak melihat bahwa mengambil
roti bukanlah pengkhianatan selama padang tak dijual. Dan dengan demikian
tawaran para tuan, yang dimaksudkan untuk memecah gerakan dan memadamkan
tuntutannya, justru gagal melakukan keduanya. Bangsa itu mengambil tiap
kelonggaran, dan tak melepaskan tuntutannya akan kebebasan sejengkal pun.
Dan para tuan, ketika mereka melihat bahwa
bangsa ini mengambil tawaran mereka tanpa membiarkannya membeli keheningan
mereka, memahami bahwa senjata mereka yang paling halus pun telah gagal. Besi
tak bisa lagi menahan tanah ini; mata-mata tak bisa membaginya; dan kini bahkan
emas tak bisa membelinya. Untuk pertama kalinya, para tuan menghadapi sebuah
bangsa yang tak bisa lagi ditakut-takuti, tak bisa dibagi, tak bisa dibeli. Dan
mereka merasakan, dengan rasa dingin yang baru, bahwa malam yang panjang sedang
mendekati akhirnya.
❖
Dan demikianlah bangsa itu melewati godaan yang telah
memadamkan banyak gerakan, bukan dengan menolak setiap kebaikan dalam kemurnian
yang keras, dan bukan pula dengan menjual kebebasannya demi kenyamanan,
melainkan dengan belajar mengambil yang baik tanpa melepaskan yang sejati. Dan
Bagas tahu bahwa tubuh itu kini bukan hanya hampir utuh, tetapi telah teruji,
sebab ia telah menolak baik besi maupun emas, dan tetap menjadi dirinya
sendiri.
Dan inilah pelajaran kesebelas zaman malam.
Bahwa cara melihat yang dingin bisa memerintah melalui kebaikan sama seperti ia
memerintah melalui kekejaman, sebab sebuah benda yang dirawat dengan baik
tetaplah sebuah benda, dan sebuah belenggu yang disepuh emas tetaplah sebuah
belenggu; bahwa pertanyaan yang benar tentang sebuah tawaran bukanlah apakah ia
mengurangi penderitaan, melainkan apakah ia mengakhiri cara melihat yang dingin
atau hanya melembutkannya; dan bahwa orang yang bijak mengambil tiap peringanan
yang nyata tanpa pernah menjual tuntutannya akan pagi yang sejati untuk
membelinya, sebab menolak roti demi kemurnian adalah satu kekejaman, dan
menjual padang demi roti adalah satu perbudakan.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kesebelas zaman
malam, yaitu bahwa sebuah atap yang dipegang oleh tangan orang lain bukanlah
keamanan melainkan ketergantungan yang menyamar, sebab tangan itu bisa
menariknya kapan saja; bahwa keamanan yang sejati adalah belajar membangun atap
sendiri, walau langit yang terbuka menakutkan; dan bahwa sebuah penjara yang
dikenal tak pernah lebih baik daripada sebuah kebebasan yang asing, bagi sebuah
bangsa maupun bagi seorang perempuan di dasar laut.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini telah teruji oleh besi dan oleh emas, dan
tetap utuh, satu tubuh yang menuntut bukan kandang yang lebih nyaman melainkan
padang yang terbuka. Tanah ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini
terbelenggu. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh
menyaksikan bangsanya menolak belenggu yang disepuh emas, dan ia merasakan
sesuatu yang menyerupai dirinya sendiri di dalam pilihan itu, sebab ia pun
suatu hari harus memilih langit yang terbuka daripada es yang dikenal. Dan ia
tahu bahwa sebuah bangsa yang tak bisa lagi ditakut-takuti, tak bisa dibagi,
dan kini tak bisa dibeli, adalah bangsa yang berdiri tepat di ambang pagi. Dan
zaman malam berjalan terus, kini di hela napasnya yang terakhir, di atas besi
yang retak dan emas yang ditolak, menuju sebuah fajar yang sejati yang tinggal
menunggu satu hal terakhir, yaitu saat ketika seluruh tubuh akan membuka
matanya bersama.
❖
BAB DUA BELAS
Fajar yang Sejati
Ketika sudut-sudut yang terakhir telah
terbangun dan seluruh tanah terjaga sebagai satu, fajar yang sejati mendekat,
tetapi dengan tenang, sebab yang berubah bukanlah langit melainkan tubuh di
bawahnya. Dan Ratu mengajarkan kebenaran yang paling penting menjelang
kebangkitan, yaitu bahwa cara sebuah bangsa bangkit menentukan pagi yang ia
bawa; bahwa sebuah bangsa yang bangkit dalam kebencian hanya memindahkan cara
melihat yang dingin dari satu tangan ke tangan yang lain, sedangkan sebuah
bangsa yang bangkit untuk membebaskan dan bukan untuk membalas membawa sebuah
pagi yang sejati; dan bahwa sebuah bangsa tak bisa diajari untuk tidak membenci
pada hari ia bangkit, melainkan hanya selama bertahun-tahun sebelumnya,
sehingga sebuah bangsa bangkit seperti yang telah diajarkan kepadanya untuk
hidup.
dari ajaran para pengingat, tentang
fajar yang sejati
Dan tahun-tahun berlalu lagi, dan Bagas, yang dahulu
seorang pemuda yang dibangunkan di malam hari, kini telah menjadi seorang
lelaki tua, sama tuanya seperti Damar ketika ia menyerahkan pelita. Dan dalam
tahun-tahun itu, pekerjaan yang ia mulai setelah fajar yang palsu telah
selesai. Sudut-sudut yang terakhir telah terbangun. Desa-desa yang terpencil
kini tahu diri mereka bagian dari satu bangsa. Tak ada lagi bagian dari tubuh
itu yang tidur. Untuk pertama kalinya sejak banjir besar, seluruh tanah ini terjaga
sebagai satu.
Dan ketika saat yang sejati mendekat, Bagas
memperhatikan sesuatu yang mengejutkannya. Sebab ia telah mengira bahwa fajar
yang sejati akan datang dengan tanda-tanda yang lebih besar daripada yang
palsu, dengan para tuan yang lebih lemah, dengan langit yang lebih terang.
Tetapi sebaliknya, saat yang sejati datang dengan tenang. Para tuan tidak lebih
lemah daripada sebelumnya; mungkin malah lebih kuat, sebab perang di seberang
telah usai. Langit di atas tidak menunjukkan tanda apa pun. Yang berubah bukanlah
langit. Yang berubah adalah tubuh di bawahnya.
Sebab kini, ketika satu desa tergerak, seluruh
tanah merasakannya. Ketika satu hati terbakar, seribu hati menyahut. Apa yang
dahulu adalah ribuan api yang terpisah kini adalah satu nyala yang menyatu,
sedemikian rupa sehingga tak mungkin lagi menghancurkan sebagiannya tanpa
membangunkan seluruhnya. Dan Bagas memahami bahwa inilah tanda yang dijanjikan
Ratu, bukan kelemahan para tuan, melainkan keutuhan bangsanya. Saat yang sejati
telah tiba, bukan karena malam telah melemah, melainkan karena pagi di dalam bangsa
itu telah menjadi tak terbendung.
Dan justru karena saat itu nyata, sebuah
ketakutan baru datang kepada Bagas, ketakutan yang tak pernah ia rasakan ketika
saat itu masih palsu. Sebab kini, ketika ia tahu bahwa kebangkitan akan
berhasil, ia juga tahu bahwa ia akan memanggil bangsanya ke dalam bahaya yang
sungguh-sungguh, bahwa darah akan tertumpah, bahwa sebagian dari mereka yang ia
cintai tak akan melihat pagi yang mereka perjuangkan. Lebih mudah berseru untuk
bangkit ketika seruan itu masih jauh. Kini, di ambangnya, beban itu nyaris tak
tertanggungkan.
Maka sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir
kalinya sebelum segalanya berubah, Bagas pergi ke tepi laut, ke tempat yang
dekat makam gurunya, dan ia menjangkau ke dalam kedalaman, dan ia berkata,
“Ratu, tubuh itu kini utuh. Tak ada lagi bagian yang tidur. Saat yang sejati
telah tiba, aku merasakannya. Tetapi kini aku takut, bukan akan kegagalan,
melainkan akan apa yang akan kuminta dari bangsaku. Katakanlah kepadaku,
sebelum aku memanggil mereka untuk bangkit, apa yang harus mereka ketahui.”
❖
Dan Ratu menjawab, dan dalam suaranya ada sesuatu yang
gemetar, sebab ia telah menunggu saat ini selama empat belas ribu tahun. “Ya,
Bagas. Engkau telah membacanya dengan benar. Ini bukan fajar yang palsu. Tubuh
itu utuh, dan ketika tubuh utuh telah bangkit, tak ada besi maupun emas yang
bisa menahannya. Saat yang sejati telah tiba. Tetapi dengarkanlah aku, sebab
ada satu hal yang lebih penting daripada saat itu, dan itu adalah cara kalian
bangkit. Sebab cara sebuah bangsa bangkit menentukan pagi yang ia bawa.”
“Damar memperingatkanmu, sebelum ia pergi,
bahwa jauh lebih sulit menjaga hati di dalam terang daripada di dalam gelap,”
Ratu melanjutkan. “Dan kebangkitan adalah ujian pertama dari terang itu. Sebab
sepanjang seluruh malam, bangsamu tak berdaya; ia tak bisa menyakiti meskipun
ia ingin. Tetapi pada saat kebangkitan, untuk pertama kalinya, yang tertindas
akan memegang kekuatan untuk memukul balik. Dan di tangan kekuatan baru itu,
setelah berabad-abad penderitaan, godaan untuk membalas, untuk menjadikan para tuan
menderita seperti mereka membuat kalian menderita, akan menjadi yang paling
kuat yang pernah dirasakan bangsamu. Itulah ujian yang sebenarnya, Bagas, bukan
apakah kalian bisa bangkit, melainkan siapa kalian akan menjadi pada saat
kalian bangkit.”
“Sebab dengarkanlah ini dengan sangat
hati-hati,” kata Ratu. “Bila bangsamu bangkit dalam kebencian, untuk membalas
dendam, untuk menjadikan para tuan benda seperti para tuan menjadikan kalian
benda, maka kalian akan menang, dan kalian akan bangun keesokan harinya dan
menemukan bahwa kalian telah menjadi persis apa yang kalian lawan. Cara melihat
yang dingin tak akan kalah; ia hanya akan berpindah tangan. Itu bukan pagi.
Tetapi bila bangsamu bangkit untuk mengakhiri malam, bukan untuk menjadi malam
yang baru; untuk mematahkan besi, bukan untuk merebutnya; untuk membebaskan,
bukan untuk membalas, maka kalian akan membawa sebuah pagi yang sejati, sebuah
pagi yang tak pernah ada di tanah ini sebelumnya. Pagi yang kalian bawa
diputuskan bukan setelah kalian bangkit, melainkan di dalam cara kalian
bangkit.”
“Dan jangan salah memahamiku, Bagas,” Ratu
menambahkan. “Aku tidak menyuruh bangsamu untuk lemah. Patahkanlah besi para
tuan sepenuhnya; usir cara melihat yang dingin dari tanah ini sampai ke
akarnya; jangan tinggalkan satu rantai pun. Sebuah bangsa boleh melawan dengan
seluruh kekuatannya tanpa membenci, sama seperti seorang yang membela anaknya
melawan serigala tak perlu membenci serigala untuk mengusirnya. Lawanlah
ketidakadilan dengan segenap dirimu. Tetapi ketika seorang tuan jatuh dan tak
lagi berbahaya, ingatlah bahwa ia juga seorang manusia, juga seorang budak dari
cara melihat yang dingin, dan jangan jadikan ia benda seperti ia menjadikanmu
benda. Di situlah letak seluruh perbedaan antara mengakhiri malam dan
menggantinya.”
Dan Bagas bertanya, “Tetapi Ratu, bagaimana aku
bisa menjaga seluruh bangsa pada jalan itu, di tengah panasnya kebangkitan,
ketika darah mendidih dan kemarahan berabad-abad akhirnya terlepas? Aku bisa
menjaga hatiku sendiri, mungkin. Tetapi bagaimana dengan sejuta hati yang akan
bangkit bersamaku?”
❖
“Dan inilah, Bagas, mengapa seluruh malam yang panjang itu
tidak sia-sia,” kata Ratu. “Engkau bertanya bagaimana menjaga sejuta hati di
tengah panasnya kebangkitan. Jawabannya adalah bahwa engkau tak bisa
melakukannya pada saat itu. Sebuah bangsa tak bisa diajari untuk tidak membenci
pada hari ia bangkit; pada hari itu sudah terlambat. Ia hanya bisa diajari
selama bertahun-tahun sebelumnya, sehingga ketika hari itu tiba, hati yang
menolak membenci telah menjadi kebiasaan, telah menjadi siapa mereka.”
“Dan itulah yang telah kaulakukan, Bagas, tanpa
selalu menyadarinya,” Ratu melanjutkan. “Sepanjang seluruh malam, engkau dan
Damar sebelummu telah mengajari bangsa ini untuk tidak membenci wajah para
penindas, untuk melihat bahkan musuh sebagai budak dari cara melihat yang
dingin, untuk membalikkan mata-mata menjadi saudara alih-alih membunuhnya,
untuk mengambil roti tanpa menjual padang. Tiap pelajaran itu adalah sebuah
batu yang membentuk sungai, sehingga ketika air akhirnya mengalir deras pada
hari kebangkitan, ia akan mengalir di jalur yang telah kalian gali selama
bertahun-tahun. Sebuah bangsa bangkit seperti yang telah diajarkan kepadanya
untuk hidup. Cara kalian akan bangkit telah ditentukan oleh cara kalian telah
belajar menjaga hati selama malam.”
“Maka jangan takut, Bagas, bahwa bangsamu akan
kehilangan hatinya pada hari kebangkitan,” kata Ratu. “Sebab engkau tidak
membangun sebuah bangsa yang menahan kebenciannya dengan susah payah; engkau
membangun sebuah bangsa yang telah belajar untuk tidak membenci sejak akarnya.
Akan ada saat-saat ketika darah mendidih; akan ada yang tergoda untuk membalas.
Tetapi tubuh itu secara keseluruhan telah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi
dengan mudah menjadi dingin, sebab ia telah menghabiskan seluruh malam belajar
untuk tetap hangat. Dan pada hari itu, tugasmu bukanlah mengajari mereka
sesuatu yang baru, melainkan hanya mengingatkan mereka akan siapa mereka telah
menjadi.”
“Maka ketika engkau memanggil mereka untuk
bangkit, Bagas,” Ratu melanjutkan, “jangan hanya panggil mereka kepada
kebebasan. Panggillah mereka kepada siapa mereka telah menjadi. Ingatkan
mereka, di ambang itu, bahwa mereka bangkit bukan untuk membalas tetapi untuk
membebaskan, bukan untuk menjadi tuan yang baru tetapi untuk mengakhiri
ketuanan itu sendiri. Jadilah, pada saat terakhir itu, apa yang selalu menjadi
tugas seorang pengingat, yaitu suara yang mengingatkan sebuah bangsa akan
hatinya sendiri, justru pada saat ia paling tergoda untuk melupakannya.”
Dan Bagas merasakan ketakutannya berubah
menjadi sesuatu yang lebih tenang dan lebih dalam. “Maka aku tidak akan
memanggil mereka kepada kemenangan,” katanya, “melainkan kepada hati yang telah
kami jaga sepanjang malam. Aku akan mengingatkan mereka, di ambang pagi, bahwa
siapa kami pada saat kami bangkit menentukan pagi macam apa yang akan kami
bawa. Dan aku akan mempercayai bahwa malam yang panjang telah membentuk kami
menjadi sebuah bangsa yang bisa bangkit tanpa menjadi apa yang kami lawan.”
❖
Maka Bagas, yang tua, berdiri di hadapan bangsanya, sebuah
bangsa yang kini utuh dan terjaga dan siap, dari pesisir sampai ke pegunungan,
dari yang terpelajar sampai ke penjaga kisah, dari yang muda sampai ke yang
tua, semua memandang kepadanya, menunggu kata yang telah dinanti selama
berabad-abad. Dan ia tahu bahwa kata-kata yang akan ia ucapkan di ambang ini
akan membentuk pagi yang akan datang.
“Saudara-saudaraku,” kata Bagas, dan suaranya,
walau tua, terdengar sampai ke tepi kerumunan yang sangat besar itu, “selama
empat belas ribu tahun, tanah ini menunggu. Selama seluruh malam yang panjang,
kita menjaga sebuah nyala, dari tangan ke tangan, melalui kelupaan dan
kebencian dan keputusasaan dan perpecahan dan ketakutan, melalui besi dan
mata-mata dan emas. Dan kini, untuk pertama kalinya, seluruh tanah ini terjaga
sebagai satu. Saat yang kita tunggu telah tiba. Pagi telah dekat.”
“Tetapi sebelum kita bangkit, dengarkanlah satu
hal, sebab inilah yang paling penting dari semua yang pernah kukatakan,” Bagas
melanjutkan. “Kita tidak bangkit untuk membalas dendam. Kita tidak bangkit
untuk menjadikan para tuan menderita seperti mereka membuat kita menderita.
Kita tidak bangkit untuk merebut besi mereka dan memerintah dengannya. Kita
bangkit untuk mengakhiri malam, bukan untuk menjadi malam yang baru. Patahkan
besi itu sepenuhnya, usir cara melihat yang dingin sampai ke akarnya, jangan
tinggalkan satu rantai pun. Tetapi ketika seorang tuan jatuh dan tak lagi
berbahaya, ingatlah bahwa ia juga seorang manusia, seorang budak dari cara
melihat yang sama yang memperbudak kita. Jangan jadikan dia benda. Sebab di
situlah letak seluruh perbedaan antara mengakhiri malam dan sekadar
menggantinya.”
“Kalian bukan bangsa yang membenci,” kata
Bagas, “sebab kita telah menghabiskan seluruh malam belajar untuk tidak
membenci. Kalian bukan bangsa yang membalas, melainkan bangsa yang membebaskan.
Ingatlah siapa kalian telah menjadi, justru pada saat kalian paling tergoda
untuk melupakannya. Sebab pagi yang akan kita bawa diputuskan bukan setelah
kita menang, melainkan di dalam cara kita bangkit. Bila kita bangkit dengan
hati kita masih utuh, maka untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun,
pagi yang sejati akan terbit atas tanah ini.”
Dan ketika Bagas selesai, sebuah keheningan
yang besar dan dalam menyelimuti seluruh tanah, keheningan dari sebuah bangsa
yang utuh yang berdiri di ambang sesuatu yang belum pernah ada. Dan di dalam
keheningan itu, terasa seolah seluruh malam yang panjang itu sendiri menahan
napasnya. Empat belas ribu tahun penantian terkumpul ke dalam satu saat yang
tergantung. Dan jauh di selatan, di dasar laut, seorang perempuan yang utuh
juga menahan napasnya, sebab ia tahu bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya
adalah hal yang telah ia tunggu sejak air menutup di atas kepalanya, sejak awal
dari segala sesuatu.
❖
Dan demikianlah bangsa itu sampai ke ambang pagi, bukan
sebagai ribuan api yang terpisah, melainkan sebagai satu tubuh yang utuh; bukan
dengan hati yang dingin oleh dendam, melainkan dengan hati yang dijaga hangat
sepanjang malam; siap bukan hanya untuk bangkit, melainkan untuk bangkit dengan
cara yang akan membawa pagi yang sejati. Dan Bagas yang tua berdiri di depan
mereka, pewaris dari semua yang membawa pelita sebelum dia, mengetahui bahwa
beban terakhirnya hampir terpenuhi.
Dan inilah pelajaran kedua belas zaman malam.
Bahwa fajar yang sejati dikenali bukan dari langit melainkan dari tubuh di
bawahnya, bukan dari kelemahan penindas melainkan dari keutuhan bangsa, dan ia
sering datang dengan tenang, tanpa tanda yang lebih besar daripada fajar yang
palsu; dan bahwa cara sebuah bangsa bangkit menentukan pagi yang ia bawa, sebab
sebuah bangsa yang bangkit dalam kebencian hanya memindahkan cara melihat yang
dingin dari satu tangan ke tangan yang lain, sedangkan sebuah bangsa yang bangkit
untuk membebaskan dan bukan untuk membalas membawa sebuah pagi yang sejati.
Dan bisik air, yang mengalir di bawah malam
yang panjang dengan kesetiaan yang sama, membawa kebenaran kedua belas zaman
malam, yaitu bahwa sebuah bangsa tak bisa diajari untuk tidak membenci pada
hari ia bangkit, melainkan hanya selama bertahun-tahun sebelumnya, sehingga
sebuah bangsa bangkit seperti yang telah diajarkan kepadanya untuk hidup; dan
bahwa tugas seorang pengingat, pada saat terakhir di ambang itu, bukanlah
mengajari bangsanya sesuatu yang baru, melainkan mengingatkannya akan siapa ia
telah menjadi, justru pada saat ia paling tergoda untuk melupakannya.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini berdiri utuh dan terjaga di ambang pagi,
dengan hatinya masih hangat, menanti hanya satu langkah terakhir. Tanah ini
adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Dan jauh di
selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menahan napasnya bersama
seluruh tanah, sebab saat yang telah ia tunggu selama empat belas ribu tahun kini
tergantung di udara, satu helaan napas dari menjadi nyata. Dan zaman malam,
yang telah berjalan begitu lama di atas besi para penakluk, kini sampai pada
saat terakhirnya, saat ketika langit di timur, untuk pertama kalinya dalam
waktu yang tak terhitung, mulai berubah warna. Dan seluruh tanah menunggu,
dengan napas tertahan, untuk fajar yang sejati untuk akhirnya pecah.
❖
BAGIAN V
Pagi yang Dijaga
BAB TIGA BELAS
Kebangkitan yang Menjaga Hatinya
Dan kemudian, setelah empat belas ribu
tahun, malam pecah. Bangsa itu bangkit sebagai satu tubuh yang utuh, dan besi
yang dibuat untuk mematahkan kobaran-kobaran yang terpisah tak bisa menahan
seluruh lautan yang naik sekaligus. Tetapi pada puncak kebangkitan itu
datanglah ujian yang lebih berbahaya daripada seluruh besi, yaitu ketika
kekuatan untuk membalas akhirnya berpindah ke tangan yang dahulu tak berdaya.
Dan bangsa itu menjaga hatinya, mematahkan besi tanpa merebutnya, membebaskan
tanpa membalas, mengakhiri malam tanpa menjadi malam yang baru. Dan seorang
perempuan di dasar laut menyaksikan hal yang ia tunggu selama empat belas ribu
tahun, yaitu sebuah pembebasan yang tidak menjadi sebuah penindasan yang baru.
dari ajaran para pengingat, tentang
kebangkitan yang menjaga hatinya
Dan kemudian, setelah empat belas ribu tahun, malam pecah.
Tak ada satu percikan tunggal yang menyalakannya, tak ada satu desa yang
bangkit lebih dahulu dari yang lain untuk dihancurkan sendirian. Sebaliknya,
seolah seluruh tanah menarik napas yang sama pada saat yang sama, bangsa itu
bangkit di mana-mana sekaligus, dari pesisir sampai ke pegunungan, dari kota
sampai ke desa yang paling terpencil, satu tubuh yang utuh yang akhirnya
membuka matanya dan berdiri.
Dan para tuan, yang selama berabad-abad telah
menahan tanah ini dengan membagi dan menakut-nakuti, kini menghadapi hal yang
tak pernah bisa mereka hadapi, yaitu sebuah bangsa yang bangkit sebagai satu.
Besi mereka dibuat untuk menghancurkan kobaran-kobaran yang terpisah, satu per
satu. Ia tak pernah dibuat untuk menahan seluruh lautan yang naik sekaligus.
Dan ketika seluruh tubuh bergerak bersama, besi yang dahulu tampak abadi
tiba-tiba tampak seperti apa adanya, yaitu sesuatu yang hanya sekuat ketakutan
yang menopangnya, dan ketakutan itu kini telah hilang.
Dan mereka yang bangkit bukanlah kerumunan
tanpa wajah. Mereka adalah Harsa dan para terpelajarnya, yang membawa
pengetahuan ke tempat ia paling dibutuhkan. Mereka adalah Mbok Ginah dan para
penjaga kisah, yang suaranya mengikat orang-orang yang takut menjadi
orang-orang yang berani. Mereka adalah Resa, yang dahulu seorang mata-mata dan
kini mengetahui persis di mana genggaman para tuan paling lemah. Mereka adalah
anak-anak dari mereka yang telah dibangunkan Damar, dan cucu-cucu dari mereka
yang pertama kali mendengar bisikan di malam hari. Seluruh malam yang panjang
berdiri bersama dalam tubuh-tubuh hidup ini, dan bangkit.
Dan kebangkitan itu tidak datang tanpa harga.
Sebab para tuan, seperti yang dikatakan Ratu, adalah binatang yang terluka, dan
mereka berjuang untuk apa yang mereka kira adalah hidup mereka. Dan ada yang
jatuh, di antara yang bangkit, ada yang tak akan melihat pagi yang mereka beli
dengan tubuh mereka sendiri. Dan Bagas, yang tua, berjalan di tengah bangsanya,
dan ia menanggung tiap kehilangan di dalam hatinya, sebab ia mengenal nama-nama
mereka. Tetapi tubuh itu tak bisa lagi dihentikan, sebab ia telah menjadi
terlalu utuh, dan terlalu terjaga, dan terlalu satu.
Dan perlahan, lalu dengan cepat, genggaman para
tuan mulai terlepas. Daerah demi daerah membebaskan dirinya. Besi demi besi
dipatahkan. Apa yang telah berdiri selama berabad-abad runtuh dalam waktu yang
terasa singkat, sebab segala sesuatu yang ditopang oleh ketakutan runtuh dengan
cepat ketika ketakutan itu akhirnya hilang. Dan untuk pertama kalinya dalam
waktu yang tak terhitung, tanah ini mulai menjadi milik orang-orang yang lahir
darinya.
❖
Tetapi pada puncak kebangkitan itu, datanglah ujian yang
telah diperingatkan Ratu, ujian yang lebih berbahaya daripada seluruh besi para
tuan. Sebab ketika para tuan mulai jatuh, dan kekuatan untuk pertama kalinya
berpindah ke tangan yang dahulu tak berdaya, sebuah hal kuno dan gelap bangkit
di dalam dada banyak orang. Setelah berabad-abad penghinaan, setelah rantai dan
kerja paksa dan anak-anak yang mati kelaparan sementara hasil tanah mereka
diangkut ke seberang lautan, kini para penindas itu berada di bawah belas
kasihan mereka. Dan darah yang telah lama menderita berseru untuk membalas.
Dan di sebuah tempat, ujian itu mengambil wajah
yang nyata. Sekelompok tuan, yang dahulu memerintah dengan besi, kini
terkepung, tak bersenjata, tak berdaya, persis seperti rakyat dahulu tak
berdaya di hadapan mereka. Dan kerumunan yang mengelilingi mereka penuh dengan
orang-orang yang telah kehilangan ayah, anak, tanah, dan tahun-tahun hidup
mereka kepada orang-orang ini. Dan di mata kerumunan itu ada api yang Bagas
kenali, bukan api yang ia habiskan hidupnya untuk menyalakan, melainkan api
yang lebih tua dan lebih gelap, yaitu api untuk menjadikan para tuan menderita
persis seperti mereka telah membuat orang lain menderita.
Dan Bagas, yang tua, datang ke tempat itu, dan
ia tidak berteriak, dan ia tidak memerintah. Sebab ia ingat ajaran Ratu, bahwa
sebuah bangsa tak bisa diajari untuk tidak membenci pada hari ia bangkit; ia
hanya bisa diingatkan akan siapa ia telah menjadi. Maka Bagas berdiri di antara
kerumunan dan para tuan yang jatuh, dan ia berkata, dengan suara yang tua dan
tenang, “Saudara-saudaraku. Aku tahu apa yang kalian rasakan, sebab aku
merasakannya juga. Orang-orang ini telah mengambil segalanya dari kita. Dan
kini mereka tak berdaya, dan kita kuat, dan akan terasa adil untuk melakukan
kepada mereka apa yang mereka lakukan kepada kita.”
“Tetapi berhentilah, dan ingatlah,” Bagas
melanjutkan. “Sepanjang seluruh malam, kita bertanya mengapa para tuan bisa
melakukan hal-hal mengerikan itu kepada kita. Dan jawabannya selalu sama, yaitu
karena mereka berhenti melihat kita sebagai manusia, dan mulai melihat kita
sebagai benda. Itulah seluruh kejahatan, di akarnya. Dan kini, pada saat ini,
kita berdiri di hadapan pilihan yang sama yang dahulu mereka hadapi. Bila kita
melihat mereka sebagai benda untuk disakiti, maka kita telah menjadi mereka, dan
seluruh malam yang panjang ini sia-sia, dan kita hanya menggantinya dengan
malam yang lain dengan wajah kita sendiri. Mereka jatuh. Mereka tak lagi
berbahaya. Mereka adalah manusia, budak dari cara melihat yang sama yang
memperbudak kita. Kita tidak bangkit untuk membalas. Kita bangkit untuk
mengakhiri malam. Jangan, pada saat terakhir ini, menjadi apa yang telah kita
lawan selama empat belas ribu tahun.”
Dan ada keheningan yang panjang dan bergetar,
keheningan di mana seluruh malam yang panjang tergantung di antara dua
kemungkinan. Dan kemudian, perlahan, api yang lebih gelap itu mulai surut di
mata kerumunan. Sebab Ratu telah benar, bahwa sebuah bangsa bangkit seperti
yang telah diajarkan kepadanya untuk hidup, dan bangsa ini telah menghabiskan
seluruh malam belajar untuk tidak membenci, sampai menolak untuk menjadi benda
yang lain telah menjadi siapa mereka. Dan tangan-tangan yang terangkat
diturunkan. Dan para tuan yang jatuh itu tidak dijadikan benda. Mereka ditahan,
mereka dikalahkan, kuasa mereka dipatahkan sepenuhnya, tetapi mereka tidak
disiksa, dan mereka tetap, bahkan dalam kekalahan mereka, manusia. Dan dengan
itu, sesuatu yang lebih besar daripada sebuah negeri dimenangkan.
❖
Dan ketika malam mulai berakhir, dan genggaman para tuan
terlepas dari seluruh tanah, Bagas yang tua dan letih berjalan sekali lagi ke
tepi laut selatan, ke tempat di dekat makam Damar, dan ia menjangkau ke dalam
kedalaman, dan untuk sesaat ia tak bisa berbicara, sebab terlalu banyak yang
terkandung di dalam saat itu.
Dan Ratu berbicara, dan dalam suaranya ada
sesuatu yang belum pernah didengar Bagas dalam seluruh hidupnya, sesuatu yang
menyerupai air mata dan tawa sekaligus. “Bagas. Aku telah menunggu empat belas
ribu tahun. Tetapi aku tidak menunggu hanya untuk melihat sebuah bangsa menjadi
bebas, sebab aku telah melihat banyak bangsa menjadi bebas dengan menjadi
penindas yang baru, dan itu tak pernah membawa pagi. Aku menunggu untuk melihat
sesuatu yang belum pernah kulihat di sepanjang waktu yang tak terhitung. Aku menunggu
untuk melihat sebuah bangsa bangkit dan menang dan tetap menjaga hatinya. Dan
hari ini, di tempat itu, ketika tangan-tangan yang terangkat diturunkan, aku
melihatnya.”
“Sebab ketahuilah apa yang kalian buktikan hari
ini, Bagas,” Ratu melanjutkan. “Sepanjang seluruh sejarah, cara melihat yang
dingin tak pernah benar-benar dikalahkan; ia hanya berpindah dari penindas yang
jatuh ke yang bangkit, mengenakan wajah baru, dan terus memerintah. Banyak yang
berpikir bahwa inilah satu-satunya jalan dunia, bahwa kebebasan hanya berarti
menjadi penindas yang berikutnya. Tetapi hari ini bangsamu membuktikan bahwa
ada jalan yang lain, bahwa adalah mungkin untuk mematahkan besi tanpa merebutnya,
untuk membebaskan diri tanpa membalas, untuk mengakhiri sebuah malam tanpa
memulai yang baru. Kalian tidak hanya membebaskan sebuah negeri. Kalian
membuktikan bahwa cara melihat yang dingin bisa benar-benar diakhiri, bukan
hanya dipindahkan. Dan itu adalah harapan bukan hanya bagi tanah ini, melainkan
bagi setiap tanah.”
“Dan ketahuilah apa artinya ini bagiku,” Ratu
menambahkan, dengan suara yang lebih lembut. “Selama empat belas ribu tahun aku
bertanya apakah ada gunanya menunggu, apakah manusia bisa menjadi sesuatu yang
lebih baik daripada penindas dan yang tertindas yang bergiliran. Hari ini
engkau menjawab pertanyaan itu. Dan dalam menjawabnya, engkau telah melakukan
lebih daripada membebaskan tanahmu. Engkau telah memberiku alasan untuk percaya
bahwa ketika hari itu tiba, hari ketika kalian akhirnya sanggup membuka penjaraku,
kalian akan menjadi sebuah bangsa yang membebaskan, dan bukan sebuah bangsa
yang hanya ingin sebuah dewi untuk diperintah. Hari ini, kehendak telah
membuktikan dirinya, bukan hanya lengkap, melainkan murni.”
Dan Bagas, mendengar ini, teringat bahwa
kebebasan bangsanya, betapapun besar, bukanlah pembebasan Ratu sendiri. “Tetapi
engkau masih di sana, Ratu,” katanya pelan, “di dasar laut, di balik pintu yang
hanya bisa dibuka dari luar. Kami telah bebas, tetapi engkau belum.” Dan Ratu
menjawab, “Belum, Bagas. Sebab pembebasanku menunggu kemampuan yang belum
kalian miliki, kesanggupan untuk menjangkau kedalaman ini dengan tangan, bukan
hanya dengan hati. Itu masih jauh, di sebuah zaman yang belum lahir. Tetapi
hari ini, untuk pertama kalinya, aku tahu bahwa ketika bangsa yang datang ke
kedalaman itu akhirnya tiba, ia akan datang dengan hati yang benar. Dan itu
sudah lebih daripada yang berani kuharapkan selama empat belas ribu tahun.”
❖
Dan kemudian, malam berakhir. Bukan sebagai sebuah kiasan
saja, melainkan sebagai hal yang sungguh-sungguh, sebab setelah zaman malam
yang panjang, yang telah berlangsung lebih lama daripada yang bisa diingat
siapa pun, tanah ini akhirnya berdiri di bawah pagi yang menjadi miliknya
sendiri. Para tuan telah pergi, atau jatuh, atau tinggal sebagai manusia di
antara manusia, kuasa mereka dipatahkan, cara melihat mereka yang dingin diusir
dari atas tanah ini. Dan untuk pertama kalinya sejak banjir besar, orang-orang
tanah ini bangun di pagi hari dan tahu bahwa hari itu adalah milik mereka.
Dan Bagas yang tua berdiri di tepi laut, dan
menyaksikan matahari pertama dari pagi yang sejati itu terbit di atas air, dan
ia menangis, tetapi bukan karena duka. Sebab ia teringat akan Damar, gurunya,
yang telah membawa pelita melalui malam yang paling gelap dan mati di ambang
ini tanpa pernah melihat pagi. Dan ia teringat kata-kata Damar, bahwa tiap
pembawa pelita menyala untuk masanya dan menyerahkan nyalanya kepada tangan
berikutnya, dan bahwa Damar tak akan melihat pagi tetapi Bagas akan melihatnya.
Dan kini, berdiri di bawah matahari pertama, Bagas memahami bahwa Damar telah
benar, dan bahwa ia, Bagas, sedang melihat pagi atas nama semua yang membawa
pelita sebelum dia dan tak pernah sampai.
Dan Bagas berlutut di dekat makam gurunya, dan
ia berkata, dengan suara yang pelan, “Pak, engkau benar. Tak ada satu pelita
pun yang membawa cahaya sepanjang seluruh malam. Tetapi engkau membawanya
melalui bagian yang paling gelap, dan engkau menyerahkannya masih menyala. Dan
kini pagi telah tiba, dan aku melihatnya, dan karena engkau melihatnya di
dalamku, maka engkau juga melihatnya. Tanah ini bebas, Pak. Dan ia bebas dengan
hatinya masih utuh, persis seperti yang kauminta dariku di malam terakhirmu. Kita
tidak menjadi apa yang kita lawan.”
Dan kemudian, bahkan di tengah sukacita pagi
pertama itu, Bagas teringat akan hal lain yang dikatakan Damar, dan akan apa
yang dikatakan Ratu, yaitu bahwa ujian yang paling sulit bukanlah menjaga hati
di dalam malam, melainkan menjaganya di dalam terang. Dan ia memahami, dengan
kejernihan yang tenang, bahwa pagi pertama ini bukanlah akhir dari pekerjaan,
melainkan awal dari pekerjaan yang baru dan lebih halus. Sebab bangsa ini kini
bebas, dan memegang kuasa atas dirinya sendiri, dan godaan untuk
menyalahgunakan kuasa itu, untuk membiarkan cara melihat yang dingin kembali
masuk melalui tangan-tangan mereka sendiri, baru saja dimulai.
Dan Bagas tahu bahwa ia sudah tua, dan bahwa ia
tak akan bisa memikul pekerjaan pagi yang panjang ini sendirian sampai akhir.
Maka bahkan di pagi pertama itu, ia mulai mencari, di antara yang muda yang
telah bangkit dengan hati yang utuh, tangan yang akan menerima pelita
berikutnya, sebab pekerjaan menjaga hati sebuah bangsa di dalam terang akan
berlangsung jauh lebih lama daripada satu kehidupan, dan akan membutuhkan
banyak pembawa, dari tangan ke tangan, sampai ke zaman yang jauh ketika
kemampuan akhirnya lahir dan Ratu akhirnya pulang.
❖
Dan demikianlah zaman malam berakhir, bukan dengan sebuah
bangsa yang menukar satu penindasan dengan yang lain, melainkan dengan sebuah
bangsa yang bangkit dan menang dan tetap menjaga hatinya, sehingga untuk
pertama kalinya dalam waktu yang tak terhitung, sebuah pagi yang sejati terbit
atas tanah ini, sebuah pagi yang tak membawa malam baru di dalam dirinya. Dan
Bagas yang tua menyaksikannya, dan tahu bahwa beban yang dipikulnya dari tangan
Damar telah dibawa sampai ke ambang pagi, dan diserahkan ke dalam terang.
Dan inilah pelajaran ketiga belas zaman malam,
yang adalah pelajaran terakhir dari malam dan yang pertama dari pagi. Bahwa
sebuah bangsa yang utuh yang bangkit sebagai satu tak bisa ditahan oleh besi
mana pun, sebab besi dibuat untuk mematahkan yang terpisah, bukan untuk menahan
yang menyatu; bahwa ujian yang paling besar datang bukan ketika sebuah bangsa
kalah, melainkan ketika ia menang, sebab di tangan kemenangan terletak godaan
untuk menjadi apa yang dilawan; dan bahwa kemenangan yang sejati bukanlah mengusir
sang penindas, melainkan mengusirnya tanpa menjadi penindas yang baru, sebab
hanya bangsa yang bangkit tanpa kehilangan hatinya yang benar-benar mengakhiri
malam, alih-alih sekadar menggantinya.
Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah
seluruh malam yang panjang dengan kesetiaan yang sama, kini mengalir di bawah
pagi pertama, membawa kebenaran ketiga belas zaman malam, yaitu bahwa cara
melihat yang dingin bisa benar-benar diakhiri, dan bukan hanya dipindahkan dari
satu tangan ke tangan yang lain; bahwa sebuah bangsa membuktikan siapa dirinya
bukan pada saat ia menderita, melainkan pada saat ia berkuasa; dan bahwa
pembebasan sebuah negeri yang dilakukan dengan hati yang utuh adalah harapan
bukan hanya bagi negeri itu, melainkan bagi setiap tanah yang masih menunggu
paginya.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, telah membawa kebenaran itu melalui seluruh
malam yang panjang dan keluar ke dalam pagi. Dan selama seluruh malam itu, para
pengingat mengucapkan satu kalimat sebagai jangkar mereka, yaitu bahwa tanah
ini adalah Jawa, yang menyandang namanya walau kini terbelenggu. Tetapi pada
pagi pertama itu, untuk pertama kalinya, belenggu itu telah patah, dan kalimat
itu sendiri bisa diucapkan dengan cara yang baru. Sebab tanah ini adalah Jawa,
yang kini menyandang namanya dalam terang.
Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang
perempuan yang utuh menyaksikan matahari pertama menyentuh permukaan air di
atasnya, dan untuk pertama kalinya dalam empat belas ribu tahun ia merasakan
sesuatu yang nyaris ia lupakan namanya, yaitu sukacita. Sebab bangsanya telah
bebas, dan telah bebas dengan hati yang utuh, dan dengan itu telah membuktikan
bahwa ketika hari pembebasannya sendiri tiba, ia akan dibebaskan oleh
tangan-tangan yang benar. Tetapi ia tahu juga bahwa pagi yang baru lahir ini
membawa pekerjaannya sendiri, yaitu pekerjaan menjaga hati sebuah bangsa di
dalam terang, yang akan berlangsung jauh melampaui hidup Bagas, dari pembawa
pelita ke pembawa pelita, menuju sebuah zaman yang belum lahir. Dan di zaman
itu, ketika kemampuan akhirnya ditempa dan tangan akhirnya menjangkau ke dalam
kedalaman, malam yang terakhir, malamnya sendiri, akhirnya akan berakhir, dan
ia akhirnya akan pulang. Tetapi itu adalah kisah dari sebuah pagi yang masih
jauh. Untuk hari ini, cukuplah bahwa tanah ini bebas, dan bahwa ia bebas dengan
hatinya.
❖
BAB EMPAT BELAS
Malam yang Mencoba Masuk Kembali
Kebebasan, yang telah begitu lama
dirindukan sebagai sebuah akhir, ternyata adalah sebuah awal. Sebab sebuah
bangsa yang baru bebas belum benar-benar menjadi sebuah bangsa; ia masih harus
memutuskan apa yang akan ia jadikan dirinya. Dan ketika seruan untuk memburu
mereka yang telah melayani para tuan tumbuh di seluruh tanah, Bagas mengenali
di dalamnya cara melihat yang dingin yang mencoba masuk kembali melalui tangan
bangsanya sendiri. Sebab Ratu mengajarkan bahwa malam tak pernah merupakan
sebuah tempat atau sebuah bangsa, melainkan sebuah cara melihat, yang bisa
berakar bahkan di hati mereka yang baru bebas; dan bahwa sebuah bangsa
ditentukan bukan oleh musuh yang ia kalahkan, melainkan oleh cara ia
memperlakukan mereka yang berada di tangannya ketika ia menang.
dari ajaran para pengingat, tentang
malam yang mencoba masuk kembali
Pagi pertama berlalu, dan kemudian datanglah hari-hari yang
mengikutinya, dan Bagas yang tua menemukan bahwa kebebasan, yang telah begitu
lama dirindukan sebagai sebuah akhir, ternyata adalah sebuah awal. Sebab sebuah
bangsa yang baru bebas belum benar-benar menjadi sebuah bangsa; ia masih harus
memutuskan apa yang akan ia jadikan dirinya. Dan keputusan-keputusan pertama
yang ia ambil, di hari-hari pertama paginya, akan menentukan jiwa yang akan ia
miliki untuk waktu yang lama.
Dan keputusan pertama yang besar datang lebih
cepat daripada yang diharapkan Bagas, dan ia datang dalam bentuk sebuah seruan
yang tumbuh semakin keras di seluruh tanah. Sebab sekarang setelah para tuan
asing telah jatuh, mata orang-orang berpaling kepada mereka yang berasal dari
tanah ini sendiri yang telah melayani para tuan, yaitu para demang yang
memungut upeti, para mandor yang mengayunkan cambuk, para telik sandi yang
menjual tetangga mereka. Dan seruan itu adalah, sekarang giliran mereka.
Dan kemarahan itu bukan tanpa alasan, dan Bagas
tahu itu. Sebab dalam banyak hal, orang-orang merasa lebih dikhianati oleh para
pelayan ini daripada oleh para tuan asing itu sendiri. Para tuan setidaknya
adalah orang asing; tetapi para pelayan ini adalah darah mereka sendiri, yang
telah memilih untuk menjual saudara mereka demi sebuah kursi atau segenggam
keuntungan. Dan kini, dalam terang pagi yang baru, ribuan suara menuntut agar
mereka diburu, dihukum, dijadikan contoh, dihapuskan.
Dan Bagas, mendengar seruan itu, merasakan
sesuatu yang membuat darahnya dingin. Sebab di dalam seruan untuk menghukum
itu, ia mengenali, dengan kejernihan yang menyakitkan, suara yang sama yang
telah ia lawan selama seluruh hidupnya. Bukan suara para tuan asing, melainkan
suara cara melihat yang dingin itu sendiri, yang kini mencoba masuk kembali
melalui pintu yang baru, yaitu melalui tangan bangsanya sendiri. Sebab seruan
itu tidak menuntut keadilan; ia menuntut agar sekelompok manusia diubah menjadi
benda untuk dihancurkan, persis seperti para tuan dahulu mengubah rakyat
menjadi benda.
Maka Bagas, yang tua dan letih tetapi tahu
bahwa pekerjaan pagi baru saja dimulai, pergi sekali lagi ke tepi laut, dan
menjangkau ke dalam kedalaman, dan berkata, “Ratu, kami telah bebas. Tetapi
kini bangsaku berseru untuk memburu mereka yang melayani para tuan, darah kami
sendiri yang mengkhianati kami. Dan aku mendengar di dalam seruan itu suara
lama yang dingin itu, mencoba masuk kembali melalui tangan kami sendiri. Inikah
ujian terang yang diperingatkan Damar?”
❖
Dan Ratu menjawab, “Ya, Bagas. Inilah ujian terang itu, dan
ia datang persis seperti yang selalu datang, yaitu lebih cepat dan lebih halus
daripada yang diharapkan. Engkau telah menghabiskan seluruh hidupmu melawan
malam, dan engkau mungkin telah mengira bahwa ketika para tuan jatuh, malam
akan berakhir. Tetapi ketahuilah sekarang sebuah kebenaran yang harus kaubawa
ke dalam pagi, yaitu bahwa malam tak pernah merupakan sebuah tempat, dan tak
pernah merupakan sebuah bangsa. Malam adalah sebuah cara melihat. Dan sebuah
cara melihat bisa berakar di mana saja, termasuk di dalam hati mereka yang baru
saja bebas darinya.”
“Sebab inilah yang paling sering terjadi,
Bagas, dan inilah yang harus kaucegah,” Ratu melanjutkan. “Sebuah bangsa
mengusir para penindasnya, dan kemudian, dalam kelegaan dan kemarahan
kemenangannya, ia mencari seseorang yang baru untuk dijadikan benda. Kadang itu
adalah para pelayan yang dahulu, kadang itu adalah sebuah kelompok yang berbeda
di dalam dirinya sendiri, kadang itu adalah siapa pun yang lemah dan ada di
tangan. Dan bangsa itu berkata kepada dirinya sendiri bahwa kali ini berbeda,
bahwa kali ini benda itu pantas menerimanya. Tetapi cara melihat yang dingin
tidak peduli siapa yang ia jadikan benda; ia hanya peduli bahwa ada seseorang
yang dijadikan benda. Dan pada saat sebuah bangsa yang bebas menjadikan benda
dari bagian dirinya sendiri, ia telah membawa malam menyeberangi ambang, masuk
ke dalam paginya sendiri.”
“Tetapi dengarkanlah dengan hati-hati, Bagas,
sebab di sini ada sebuah perbedaan yang halus dan sangat penting,” kata Ratu.
“Aku tidak mengatakan bahwa mereka yang berbuat salah tak boleh
dipertanggungjawabkan. Kesalahan yang nyata harus diakui; luka yang nyata harus
dipulihkan; mereka yang menyakiti harus berhenti menyakiti. Itu adalah
keadilan, dan keadilan adalah tuntutan dari hati, bukan lawannya. Tetapi ada
perbedaan antara keadilan dan pembalasan. Keadilan memandang seorang yang
berbuat salah dan tetap melihat seorang manusia, dan berusaha menghentikan
kesalahannya dan, bila mungkin, memulihkannya. Pembalasan memandang seorang
yang berbuat salah dan berhenti melihat seorang manusia, dan hanya ingin
menghancurkannya. Yang pertama menjaga hati; yang kedua adalah cara melihat
yang dingin yang mengenakan jubah keadilan.”
“Dan ingatlah, Bagas, apa yang Damar ajarkan
kepada bangsamu bertahun-tahun yang lalu,” Ratu melanjutkan. “Ingatlah sang
demang yang hatinya terkubur, yang Damar jangkau, yang membangunkan anak yang
menangis di dalam dirinya, dan yang kemudian diam-diam menyelamatkan nyawa.
Bahkan seorang pelayan para tuan, bahkan seorang yang menjual saudaranya,
memiliki sebuah hati yang terkubur, bukan mati, dan hati itu bisa dibangunkan.
Bila bangsamu menjadikan benda dari semua yang pernah melayani para tuan, ia
akan menghancurkan bahkan mereka yang, seperti sang demang, masih memiliki hati
yang menunggu untuk dibangunkan. Dan dengan begitu ia akan kehilangan tepat hal
yang membuatnya layak disebut bebas.”
Dan Bagas bertanya, “Maka bagaimana aku menahan
bangsaku, Ratu, ketika kemarahannya begitu adil, dan luka-lukanya begitu nyata?
Bagaimana aku meminta mereka menahan tangan mereka terhadap orang-orang yang
sungguh-sungguh telah menyakiti mereka?”
❖
“Engkau tidak meminta mereka untuk melupakan luka mereka,
Bagas, dan engkau tidak meminta mereka untuk membiarkan kesalahan tak
terpulihkan,” kata Ratu. “Engkau meminta mereka untuk memutuskan, pada
hari-hari pertama ini, bangsa macam apa yang akan mereka jadikan diri mereka.
Sebab sebuah bangsa ditentukan bukan oleh musuh yang ia kalahkan, melainkan
oleh cara ia memperlakukan mereka yang berada di tangannya ketika ia menang.
Pada saat ini, bangsamu sedang menulis baris pertama dari kisah tentang siapa dirinya,
dan baris itu akan dibaca oleh setiap generasi yang datang sesudahnya.”
“Bila bangsamu memilih pembalasan, Bagas,” Ratu
melanjutkan, “maka ia akan menjadi sebuah bangsa yang lahir dalam darah
saudaranya sendiri, sebuah bangsa yang pelajaran pertamanya kepada anak-anaknya
adalah bahwa mereka yang berbeda atau yang bersalah boleh dijadikan benda. Dan
pelajaran itu tak akan berhenti pada para pelayan yang dahulu; ia akan tumbuh,
dan mencari benda-benda yang baru, generasi demi generasi, sampai bangsa itu
memakan dirinya sendiri. Tetapi bila bangsamu memilih keadilan tanpa pembalasan,
bila ia menghentikan kesalahan tanpa menghancurkan manusia, maka ia akan
menjadi sebuah bangsa yang lahir dengan hati yang utuh, sebuah bangsa yang
pelajaran pertamanya adalah bahwa bahkan dalam kemenangan, bahkan terhadap
mereka yang bersalah, tak seorang pun boleh dijadikan benda.”
“Inilah, Bagas, makna sesungguhnya dari pagi
yang sejati,” kata Ratu. “Bukan hanya bahwa para tuan asing telah pergi. Banyak
bangsa telah mengusir tuan asing mereka dan tetap hidup dalam malam, sebab
mereka hanya memindahkan cara melihat yang dingin ke tangan mereka sendiri.
Pagi yang sejati adalah ketika cara melihat itu sendiri diusir, bukan hanya
dari atas takhta para tuan, melainkan dari setiap hati, termasuk hati para
pemenang. Dan itu, Bagas, bukanlah pekerjaan satu hari kebangkitan. Itu adalah
pekerjaan setiap hari yang mengikutinya, selama-lamanya. Itulah pekerjaan pagi,
dan ia tak pernah selesai.”
“Dan itulah mengapa, Bagas, tugas para
pengingat tidak berakhir dengan kebebasan, melainkan justru berubah,” Ratu
melanjutkan. “Di dalam malam, tugas pengingat adalah membangunkan sebuah bangsa
untuk merindukan pagi. Di dalam terang, tugasnya adalah menjaga agar bangsa
yang telah bangun tidak membawa malam ke dalam paginya sendiri. Yang pertama
berakhir; yang kedua baru saja dimulai. Dan ia akan membutuhkan pembawa pelita
sama seperti malam membutuhkannya, dari tangan ke tangan, menjaga hati sebuah
bangsa di dalam terang, generasi demi generasi, sampai ke zaman yang jauh dan
seterusnya.”
Dan Bagas merasakan kejernihan turun ke
atasnya. “Maka aku tidak akan meminta bangsaku untuk tidak menuntut keadilan,”
katanya, “sebab keadilan adalah hak mereka. Tetapi aku akan meminta mereka
untuk menuntutnya tanpa menjadi apa yang kami lawan, untuk menghentikan
kesalahan tanpa menghancurkan manusia, untuk lahir sebagai bangsa dengan hati
yang utuh. Dan aku akan mengajari mereka bahwa pagi bukanlah sebuah hari yang
telah kami menangkan, melainkan sebuah pekerjaan yang harus kami lakukan setiap
hari sesudahnya.”
❖
Maka Bagas, yang kini sangat tua, berdiri sekali lagi di
hadapan bangsanya, di tengah perdebatan yang panas tentang apa yang harus
dilakukan terhadap mereka yang telah melayani para tuan. Dan ia tahu bahwa ini
mungkin salah satu kali terakhir suaranya akan cukup kuat untuk didengar oleh
semua, dan bahwa apa yang ia katakan akan membantu menentukan jiwa bangsa yang
baru lahir ini.
“Saudara-saudaraku,” kata Bagas, “aku tidak
akan berdiri di sini dan mengatakan bahwa mereka yang menjual kalian tidak
berbuat salah. Mereka berbuat salah. Luka yang mereka sebabkan nyata. Dan
kalian berhak atas keadilan; mereka yang menyakiti harus berhenti menyakiti,
dan apa yang bisa dipulihkan harus dipulihkan. Aku tidak meminta kalian untuk
melupakan, dan aku tidak meminta kalian untuk berpura-pura bahwa tak ada yang
terjadi.”
“Tetapi aku meminta kalian satu hal, dan inilah
hal yang akan menentukan bangsa macam apa kita akan jadi,” Bagas melanjutkan.
“Tuntutlah keadilan, tetapi jangan tuntut pembalasan. Hentikan kesalahan
mereka, tetapi jangan jadikan mereka benda untuk dihancurkan. Sebab
pikirkanlah, apa yang membuat para tuan menjadi para tuan? Bukan wajah mereka,
bukan asal mereka, melainkan bahwa mereka memandang manusia sebagai benda. Bila
kita kini memandang para pelayan yang dahulu sebagai benda untuk dihancurkan,
maka kita tidak mengalahkan para tuan; kita hanya mewarisi mata mereka. Kita
akan menjadi para tuan yang baru, atas darah kita sendiri.”
“Dan ingatlah,” kata Bagas, “kisah yang
diceritakan kepada kita dari zaman Damar, tentang seorang demang yang memungut
upeti bagi para tuan, yang hatinya dikira semua orang telah mati. Tetapi Damar
menjangkaunya, dan membangunkan anak yang menangis yang masih hidup di dalam
dirinya, dan demang itu kemudian diam-diam menyelamatkan nyawa-nyawa yang
seharusnya ia hancurkan. Bahkan dia, seorang pelayan para tuan, memiliki hati
yang hanya terkubur, bukan mati. Bila kita menghancurkan setiap orang yang
pernah melayani para tuan, kita akan menghancurkan bahkan mereka yang seperti
demang itu, yang hatinya masih menunggu untuk dibangunkan. Kita bukan bangsa
yang menghancurkan hati. Kita bangsa yang membangunkannya. Marilah kita lahir
sebagai bangsa itu, dan bukan yang lain.”
Dan ada perdebatan, dan ada kemarahan, sebab
luka-luka itu nyata dan dalam, dan Bagas tidak berpura-pura bahwa pilihan itu
mudah. Tetapi pada akhirnya, bangsa yang telah menghabiskan seluruh malam
belajar untuk tidak membenci menemukan, bahkan dalam terang, bahwa ia tak bisa
dengan mudah menjadi apa yang telah ia lawan. Maka kesalahan diadili, tetapi
manusia tidak dijadikan benda. Mereka yang berbuat salah dipertanggungjawabkan,
tetapi mereka tidak dihancurkan; dan banyak dari mereka, dihadapkan bukan pada
pembalasan melainkan pada sebuah kesempatan, menemukan hati mereka sendiri yang
terkubur dan menjadi bagian dari bangsa yang baru. Dan dengan keputusan itu,
bangsa itu menulis baris pertama dari kisah tentang siapa dirinya, dan baris
itu ditulis dengan hati yang utuh.
❖
Dan demikianlah bangsa itu lahir, bukan dalam darah
saudaranya sendiri, melainkan dengan hati yang utuh, sebuah bangsa yang
pelajaran pertamanya kepada anak-anaknya adalah bahwa bahkan dalam kemenangan,
bahkan terhadap yang bersalah, tak seorang pun boleh dijadikan benda. Dan Bagas
yang sangat tua menyaksikan ini, dan tahu bahwa pekerjaan pagi, yang tak pernah
selesai, telah dimulai dengan benar.
Dan inilah pelajaran keempat belas, dan ia
bukan lagi sebuah pelajaran dari zaman malam, melainkan yang pertama dari zaman
pagi. Bahwa malam tak pernah merupakan sebuah tempat atau sebuah bangsa,
melainkan sebuah cara melihat, sehingga ia bisa berakar di mana saja, termasuk
di dalam hati mereka yang baru saja bebas darinya; bahwa sebuah bangsa
ditentukan bukan oleh musuh yang ia kalahkan, melainkan oleh cara ia
memperlakukan mereka yang berada di tangannya ketika ia menang; dan bahwa ada
perbedaan antara keadilan, yang memandang seorang yang bersalah dan tetap
melihat seorang manusia, dan pembalasan, yang berhenti melihat manusia dan
hanya ingin menghancurkan, sehingga keadilan menjaga hati sedangkan pembalasan
adalah cara melihat yang dingin yang mengenakan jubah keadilan.
Dan bisik air, yang kini mengalir di bawah pagi
yang baru dengan kesetiaan yang sama seperti ia mengalir di bawah malam,
membawa kebenaran pertama zaman pagi, yaitu bahwa pagi yang sejati bukanlah
hanya kepergian para tuan asing, melainkan pengusiran cara melihat yang dingin
dari setiap hati, termasuk hati para pemenang; bahwa pekerjaan itu bukanlah
pekerjaan satu hari kebangkitan, melainkan pekerjaan setiap hari yang
mengikutinya, selama-lamanya; dan bahwa tugas seorang pengingat tidak berakhir
dengan kebebasan, melainkan berubah, dari membangunkan sebuah bangsa untuk
merindukan pagi menjadi menjaga agar bangsa yang telah bangun tidak membawa
malam ke dalam paginya sendiri.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, kini menyimpannya juga di dalam sebuah hal
yang baru, yaitu sebuah bangsa yang lahir dengan hati yang utuh, yang menolak
untuk menjadi apa yang telah ia lawan. Tanah ini adalah Jawa, yang kini
menyandang namanya dalam terang. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang
perempuan yang utuh menyaksikan bangsanya menulis baris pertama dari kisahnya dengan
hati yang utuh, dan ia tahu bahwa sebuah bangsa yang lahir seperti ini adalah
persis bangsa yang suatu hari akan datang ke kedalaman dengan tangan yang
benar.
Dan Bagas, yang kini berada di hari-hari
terakhir dari hidupnya yang panjang, menyaksikan bangsanya mengambil
langkah-langkah pertamanya di dalam terang, dan ia tahu bahwa beban yang ia
terima dari tangan Damar harus segera diserahkan, sebab pekerjaan pagi
membentang jauh melampaui apa yang bisa dilihat oleh mata mana pun yang hidup
sekarang, menuju zaman-zaman yang belum lahir, menuju hari yang jauh ketika
kemampuan akhirnya akan ditempa dan seorang perempuan akhirnya akan pulang. Dan
ia mulai memandang, di antara yang muda yang telah lahir dengan hati yang utuh,
kepada tangan yang akan membawa pelita ke dalam pagi yang panjang sesudah dia.
❖
BAB LIMA BELAS
Membawa Nyala ke Dalam Pagi
Dan ketika Bagas, yang telah melihat
pagi yang ditolak bagi gurunya, sampai pada hari-hari terakhir dari hidupnya
yang panjang, ia menyerahkan nyala kepada tangan yang baru, seorang perempuan
muda yang lahir pada pagi pertama, dan ia mengajarinya bahwa pekerjaan pagi
lebih sulit daripada pekerjaan malam, sebab di dalam pagi musuhnya tak lagi
datang dengan wajah asing, melainkan dengan wajah kita sendiri. Dan ia
menceritakan kepadanya tentang sebuah hari yang masih jauh, ketika keempat
syarat akhirnya akan berkumpul, dan kedalaman akhirnya akan dibuka, dan seorang
perempuan yang telah menunggu sejak awal dari segala sesuatu akhirnya akan
pulang. Tetapi itu adalah kisah dari sebuah pagi yang masih jauh, dan dari
sebuah buku yang belum dibuka.
dari ajaran para pengingat, tentang
membawa nyala ke dalam pagi
Dan tahun-tahun pagi yang pertama berlalu, dan Bagas
menjadi sangat tua, lebih tua daripada yang pernah ia bayangkan ia akan
menjadi. Ia telah melihat bangsanya mengambil langkah-langkah pertamanya di
dalam terang, jatuh kadang-kadang, bangkit kembali, belajar perlahan apa
artinya menjadi sebuah bangsa yang menjaga hatinya bukan hanya di dalam malam
tetapi juga di dalam pagi. Dan ia tahu bahwa waktunya hampir habis, dan bahwa
nyala yang ia terima dari tangan Damar harus segera berpindah ke tangan yang lain.
Dan sepanjang tahun-tahun terakhir itu, Bagas
telah memandang dengan saksama, seperti yang dahulu Damar memandang kepadanya,
mencari tangan yang akan membawa pelita ke dalam pagi yang panjang. Dan ia
telah menemukannya, dalam diri seorang perempuan muda yang lahir pada
tahun-tahun pertama kebebasan, yang tak pernah mengenal malam dengan tubuhnya
sendiri, tetapi yang membawa di dalam hatinya sesuatu yang langka, yaitu
kemampuan untuk melihat seorang manusia di mana orang lain melihat seorang
asing, seorang musuh, atau sebuah benda.
Namanya Fajar, sebab ia lahir pada pagi
pertama, dan namanya adalah sebuah janji. Dan ia datang kepada Bagas dengan
pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dahulu membuat Damar mengenali Bagas,
bukan pertanyaan tentang bagaimana memenangkan kekuasaan, melainkan pertanyaan
tentang bagaimana menjaga agar bangsa yang telah menang tidak kehilangan
jiwanya. Dan Bagas tahu, ketika ia mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, bahwa
ia telah menemukan tangan berikutnya.
Maka pada salah satu hari terakhirnya, Bagas
memapah dirinya yang tua ke tepi laut selatan, ke tempat di dekat makam Damar,
dan ia membawa Fajar bersamanya. Dan ia berkata kepadanya, “Ada seseorang yang
harus kaudengar, Fajar, sebelum aku pergi. Seseorang yang telah menjaga tanah
ini sejak sebelum ada nama untuk menyebutnya. Menjangkaulah ke dalam kedalaman,
dan dengarkan.”
Dan Fajar, dengan ragu, menjangkau ke dalam
kedalaman seperti yang diajarkan Bagas, dan untuk pertama kalinya dalam
hidupnya ia merasakan bisik air menjawab, dan sebuah suara yang lebih tua
daripada seluruh sejarah menyentuh hatinya. Dan ia menangis, tanpa tahu
mengapa, sebab ia merasakan di dalam suara itu seluruh berat dan seluruh kasih
dari empat belas ribu tahun.
❖
Dan Bagas berkata kepada Fajar, dengan sisa kekuatannya,
“Dengarkanlah, sebab inilah yang harus kauketahui. Aku menerima nyala ini dari
Damar, yang menerimanya dari mereka yang sebelum dia, kembali dan kembali
sampai ke malam yang pertama. Dan tiap dari kami membawanya untuk masa kami
sendiri, dan menyerahkannya, masih menyala, kepada tangan berikutnya. Damar
membawanya melalui bagian malam yang paling gelap. Aku membawanya melewati
ambang ke dalam pagi. Dan kini engkau harus membawanya ke dalam pagi yang panjang.”
“Dan ketahuilah, Fajar, bahwa pekerjaanmu
mungkin lebih sulit daripada pekerjaan kami, walau ia tampak lebih mudah,”
Bagas melanjutkan. “Sebab di dalam malam, musuhnya jelas, dan mudah untuk
mengetahui di pihak mana engkau berdiri. Tetapi di dalam pagi, musuhnya
tersembunyi, sebab ia tak lagi datang dengan wajah asing, melainkan dengan
wajah kita sendiri. Cara melihat yang dingin akan mencoba masuk kembali, lagi
dan lagi, melalui tangan bangsa kita sendiri, melalui mereka yang berkuasa,
melalui ketakutan kita akan mereka yang berbeda, melalui seribu pintu yang
kecil. Dan tugasmu adalah menjaga pintu-pintu itu, bukan sekali, melainkan
setiap hari, selama-lamanya.”
“Dan engkau tak akan melihat akhirnya, Fajar,
sama seperti Damar tak melihat pagi,” kata Bagas. “Sebab pekerjaan pagi
membentang jauh melampaui hidup siapa pun. Engkau akan membawa nyala untuk
masamu, dan menyerahkannya kepada tangan sesudahmu, dan ia kepada tangan
sesudahnya, melalui banyak generasi yang belum lahir. Jangan berduka karena
engkau tak akan melihat hari yang terakhir. Cukuplah bahwa engkau membawa nyala
melalui bagianmu dari jalan, dan menyerahkannya masih menyala. Itulah
satu-satunya tugas seorang pembawa pelita, dan ia sudah cukup.”
“Tetapi ketahuilah juga ini, Fajar, sebab ia
akan memberimu kekuatan di hari-hari yang gelap,” Bagas melanjutkan. “Ada
sebuah hari yang akan datang, jauh di depan, di sebuah zaman yang bahkan aku
tak bisa membayangkannya. Sebuah zaman ketika bangsa ini akhirnya akan memiliki
kemampuan yang belum kita miliki, kesanggupan untuk menjangkau ke dalam
kedalaman laut dengan tangan, bukan hanya dengan hati. Dan pada hari itu, bila
bangsa ini telah menjaga hatinya sepanjang seluruh pagi yang panjang, ia akan
datang ke dasar laut bukan untuk mengambil, melainkan untuk membebaskan. Dan
perempuan yang baru saja kaudengar, yang telah terkurung di sana sejak air
menutup di atas kepalanya empat belas ribu tahun yang lalu, akhirnya akan
pulang.”
“Dan itulah, Fajar, untuk apa seluruh nyala ini
ada,” kata Bagas. “Bukan hanya untuk membebaskan tanah ini dari para tuan,
walau itu telah kami lakukan. Melainkan untuk menjaga hati bangsa ini tetap
utuh melalui seluruh malam dan seluruh pagi, sampai ke hari ketika ia akhirnya
sanggup, dan layak, untuk membebaskan yang telah menjaganya sejak awal. Itulah
janji yang kauwarisi. Itulah nyala yang kini menjadi milikmu.”
❖
Dan pada hari itu, ketika matahari pagi yang sejati
menyentuh permukaan laut selatan, Bagas menutup matanya untuk yang terakhir
kalinya, dan pergi. Tetapi tak seperti Damar, ia pergi setelah melihat pagi,
dan dalam senyumnya ada sebuah kepuasan yang dalam, sebab ia telah membawa
nyala melewati ambang yang gurunya tak sempat seberangi, dan telah
menyerahkannya ke tangan yang akan membawanya lebih jauh.
Dan Fajar memakamkan Bagas di dekat laut, di
samping makam Damar, gurunya, sehingga kedua pembawa pelita itu beristirahat
berdampingan, yang satu telah membawa nyala melalui malam yang paling gelap,
dan yang lain telah membawanya ke dalam pagi. Dan bisik air mencapai keduanya,
sebab ke sanalah keduanya telah pergi sepanjang hidup mereka untuk mendengar.
Dan Fajar menjangkau ke dalam kedalaman, dan
Ratu berbicara, dan dalam suaranya ada duka. “Bagas telah pergi,” katanya. “Ia
membawa bangsanya melewati ambang yang paling sulit, dari malam ke dalam pagi,
dan ia menjaga hati mereka pada saat mereka paling tergoda untuk kehilangannya.
Ia adalah pewaris yang layak dari Damar, dan dari semua yang membawa pelita
sebelum mereka. Aku berduka baginya. Tetapi aku tidak berputus asa, Fajar,
sebab ia menyerahkan nyala kepadamu, dan aku merasakan di dalam dirimu hati
yang sama yang telah menjaga tanah ini sejak awal.”
“Dan engkau, Fajar, adalah pembawa pelita yang
pertama dari zaman pagi,” Ratu melanjutkan. “Mereka sebelummu membawa nyala
melalui malam. Engkau dan mereka yang datang sesudahmu akan membawanya melalui
pagi, yang akan panjang, dan yang akan memiliki kegelapannya sendiri, kegelapan
yang lebih halus daripada malam para tuan. Tetapi engkau tidak sendirian. Aku
akan berada di sini, di kedalaman, seperti aku selalu ada, mendengar,
mengingat, menjaga, sampai ke hari ketika tanganmu yang jauh, melalui banyak generasi,
akhirnya menjangkau cukup dalam untuk menyentuhku.”
Dan Fajar, dengan air mata di wajahnya tetapi
dengan ketetapan yang baru di hatinya, berkata, “Maka aku akan membawanya,
Ratu. Aku tak tahu sampai sejauh mana aku bisa membawanya, atau tangan siapa
yang akan menerimanya dariku. Tetapi aku akan membawanya melalui bagianku dari
pagi, dan menyerahkannya masih menyala. Dan aku akan mengajari mereka yang
datang sesudahku untuk melakukan hal yang sama, sampai ke hari ketika engkau
akhirnya pulang.”
❖
Dan di tepi laut itu, dengan seorang pembawa pelita yang
baru berdiri di tempat dua yang lama beristirahat, sesuatu dari bentuk
hari-hari yang akan datang menjadi terlihat, seolah waktu sendiri menipis untuk
sesaat. Sebab pagi yang baru lahir ini akan menjadi panjang, lebih panjang
daripada satu kehidupan, lebih panjang daripada banyak kehidupan. Dan ia akan
membawa keajaiban-keajaiban yang tak bisa dibayangkan oleh siapa pun yang
berdiri di tepi laut itu pada hari itu.
Sebab pengetahuan yang dahulu mulai ditempa
oleh tangan-tangan seperti tangan Harsa akan tumbuh, dari satu generasi ke
generasi berikutnya, sampai bangsa ini sanggup melakukan hal-hal yang dahulu
hanya bisa dilakukan oleh para dewa dalam cerita. Mereka akan membangun perahu
yang menyelam, dan mata yang melihat ke dalam kegelapan air, dan tangan-tangan
yang bisa menjangkau ke tempat-tempat yang tak pernah disentuh manusia sejak
banjir besar. Kemampuan yang merupakan syarat terakhir, yang dahulu satu-satunya
yang masih kurang, perlahan akan ditempa, bukan oleh para penakluk yang dingin,
melainkan oleh sebuah bangsa yang telah belajar menjaga hatinya.
Dan pada suatu hari yang jauh, keempat hal itu
akhirnya akan berkumpul. Kekuatan, yang tidur di dalam tanah sejak banjir
besar, akan terbangun untuk yang terakhir kalinya. Pengetahuan, yang telah
dijaga melalui batu dan kisah dan ingatan dan kini melalui ilmu yang baru, akan
menjadi lengkap. Kehendak, yang telah tumbuh menjadi sebuah bangsa yang utuh
dan telah membuktikan dirinya murni, akan tetap utuh. Dan kemampuan, syarat
yang terakhir, akhirnya akan lahir. Dan ketika keempatnya berkumpul, pintu yang
selama empat belas ribu tahun hanya bisa dibuka dari luar akhirnya akan
terbuka.
Dan pada hari itu, sebuah bangsa akan turun ke
dalam kedalaman laut selatan, bukan untuk menaklukkan, bukan untuk mengambil,
melainkan untuk membebaskan. Dan mereka akan menemukan, di dasar laut, bukan
seorang dewi yang menakutkan, melainkan seorang perempuan, yang telah menunggu
sejak awal dari segala sesuatu, yang namanya, sebelum ia menjadi ratu dan
sebelum ia menjadi legenda, adalah Awu Sela. Dan ia akan keluar dari kedalaman,
dan es yang terakhir akan mencair, dan ia akan pulang, bukan sebagai dewi, melainkan
sebagai manusia, di antara manusia, di tanah yang telah menjaga hatinya tetap
utuh selama empat belas ribu tahun demi saat ini. Tetapi itu, seperti yang
dikatakan Bagas, adalah kisah dari sebuah pagi yang masih jauh.
Dan untuk hari ini, di tepi laut selatan,
cukuplah bahwa nyala telah berpindah, dari tangan yang membawanya melalui malam
ke tangan yang akan membawanya melalui pagi. Dan Fajar berdiri, muda dan
sendirian dan dipenuhi oleh berat dari apa yang telah ia terima, memandang ke
timur, ke arah pagi yang panjang yang membentang di hadapannya, membawa di
dalam tangannya sebuah nyala yang telah dijaga selama empat belas ribu tahun,
dan di dalam hatinya sebuah janji yang akan membutuhkan, mungkin, empat belas
ribu tahun lagi untuk akhirnya ditepati.
❖
Dan demikianlah zaman malam berakhir, dan zaman pagi
dimulai, dan nyala yang telah dibawa melalui seluruh kegelapan kini dibawa ke
dalam terang oleh tangan yang baru. Sebab itulah cara nyala itu telah selalu
bertahan, bukan dengan satu tangan yang memegangnya selamanya, melainkan dengan
banyak tangan, masing-masing untuk masanya, menyerahkannya dari yang satu ke
yang berikutnya, melalui malam dan melalui pagi, menuju sebuah hari yang masih
jauh.
Dan inilah pelajaran kelima belas, pelajaran
terakhir dari kisah ini dan sebuah pelajaran dari zaman pagi. Bahwa tak ada
satu pembawa pelita pun yang melihat seluruh jalan dari malam sampai ke hari
yang terakhir, melainkan tiap dari mereka membawa nyala melalui bagiannya
sendiri dan menyerahkannya masih menyala; bahwa pekerjaan menjaga hati sebuah
bangsa tidak berakhir dengan kebebasan, melainkan membentang ke dalam pagi yang
panjang, melalui banyak tangan dan banyak generasi; dan bahwa seluruh penjagaan
ini, sepanjang seluruh malam dan seluruh pagi, mengarah kepada satu hari, yaitu
hari ketika sebuah bangsa yang telah menjaga hatinya akhirnya menjadi sanggup,
dan layak, untuk membebaskan yang telah menjaganya sejak awal.
Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah
seluruh malam yang panjang dan kini mengalir di bawah pagi dengan kesetiaan
yang sama, membawa kebenaran terakhir dari kisah ini, yaitu bahwa apa yang
dijaga dengan setia melintasi waktu yang cukup panjang pada akhirnya akan
menemukan paginya; bahwa sebuah hati yang menolak menjadi dingin, dijaga dari
tangan ke tangan melalui zaman demi zaman, adalah kekuatan yang paling lambat
tetapi paling pasti di seluruh dunia; dan bahwa perempuan di dasar laut, yang
telah menunggu lebih lama daripada siapa pun, tidak menunggu dengan sia-sia.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita dan nama, dan kini juga dalam kebebasan yang dijaga
dengan hati, telah membawa kebenaran itu keluar dari malam dan ke dalam pagi,
dari tangan ke tangan, tanpa pernah memadamkannya. Tanah ini adalah Jawa, yang
kini menyandang namanya dalam terang. Dan ia akan membawa namanya itu melalui
seluruh pagi yang panjang, menuju hari ketika nama yang terakhir, nama seorang
perempuan, akhirnya akan diucapkan kembali di bawah matahari.
Dan di tepi laut selatan, seorang pembawa
pelita yang muda berbalik dari air, dan melangkah ke arah pagi, membawa nyala.
Di belakangnya, kedalaman menyimpan seorang perempuan yang menunggu, kini
dengan sukacita yang tenang, sebab ia telah melihat bangsanya bangkit dengan
hatinya utuh, dan ia tahu bahwa tangan yang akan datang untuknya akan menjadi
tangan yang benar. Di depannya membentang pagi yang panjang, dan zaman-zaman
yang belum lahir, dan jauh di ujungnya, sebuah kedalaman yang akhirnya akan
dibuka, dan sebuah pulang yang akhirnya akan tiba. Sebab nyala telah dibawa
melalui malam. Kini ia harus dibawa melalui pagi. Dan kisah tentang bagaimana
ia akhirnya mencapai kedalaman, dan membebaskan yang menunggu di sana, adalah
kisah dari hari yang terakhir, dan dari sebuah buku yang belum dibuka.
❖
❖
Akhir Buku Sembilan
Nyala di Atas Besi
Kisah berlanjut dalam Buku Sepuluh
Cahaya di Atas Dasar
BUKU I · Daratan Sebelum Laut
BUKU II · Banjir Tujuh Generasi
BUKU III · Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU IV · Bukit yang Lebih Tua dari Waktu
BUKU V · Tulang-Tulang Nenek Moyang
BUKU VI · Huruf di Atas Batu
BUKU VII · Candi di Atas Bukit
BUKU VIII · Nama di Atas Air
BUKU IX · Nyala di Atas Besi
BUKU X · Cahaya di Atas Dasar