16.9.26

KITAB HIDUP BAIK - Bagian 12. Alam & Bumi (Nature & Earth)

  KITAB HIDUP BAIK

(The Book of Good Living) - 

Prinsip hidup baik berdasarkan prinsip-prinsip universal
(A guide to good living grounded in universal principles)


BAGIAN XII . ALAM & BUMI
[Part XII. 
Nature & Earth]


HIDUP 155 — ALAM
[Nature]

Saya berpikir bahwa saya bukanlah penguasa yang berdiri di atas alam, melainkan bagian dari alam yang bergantung sepenuhnya padanya — udara yang saya hirup, air yang saya minum, dan makanan yang menghidupi saya semuanya datang darinya — sehingga merusak alam pada akhirnya adalah merusak rumah dan tubuh saya sendiri — maka saya:

Laku 1 — Memandang diri sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya.

Saya berusaha memandang diri saya sebagai bagian dari alam yang bergantung padanya, bukan sebagai penguasa yang berhak mengeksploitasinya sesuka hati. Sebab segala yang menghidupi saya — udara, air, tanah, makanan — datang dari alam, dan merusaknya berarti merusak sumber kehidupan saya sendiri. Maka saya memperlakukan alam dengan hormat dan kehati-hatian, bukan dengan keserakahan yang menguras tanpa batas. Pandangan bahwa manusia berdiri di atas dan terpisah dari alam telah membawa kerusakan besar; menyadari bahwa saya adalah bagian dari jaring kehidupan yang lebih besar membawa cara hidup yang lebih bijak dan lebih lestari.

Laku 2 — Menikmati dan terhubung dengan alam sebagai kebutuhan jiwa.

Saya berusaha meluangkan waktu untuk berada di alam dan terhubung dengannya — sebab kehadiran di alam terbukti menyegarkan tubuh, menenangkan jiwa, dan memulihkan kejernihan pikiran, dan manusia yang terputus sepenuhnya dari alam kehilangan sesuatu yang mendasar. Maka saya tidak hidup sepenuhnya terkurung dalam ruang buatan dan layar, melainkan mencari udara terbuka, pepohonan, air, dan langit. Berada di alam bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan jiwa yang sering terlupakan di tengah kehidupan modern yang serba dalam ruangan. Beberapa saat di alam terbuka mengembalikan sesuatu yang tak bisa diberikan oleh ruang berdinding dan layar — ketenangan yang berakar dalam pada hubungan tubuh dengan dunia hidup.

Laku 3 — Menjaga alam dari kerusakan yang ada dalam jangkauan saya.

Saya berusaha menjaga alam dari kerusakan dalam hal-hal yang ada dalam jangkauan saya — tidak mencemari, tidak merusak sembarangan, tidak menguras tanpa perlu, dan menjaga lingkungan tempat saya tinggal. Sebab kerusakan alam besar terbangun dari banyak perbuatan kecil, dan menjaganya pun dimulai dari perbuatan kecil dalam keseharian. Maka saya tidak menganggap remeh sumbangan saya, baik dalam merusak maupun menjaga. Meski masalah lingkungan terasa besar dan jauh, perbuatan saya sehari-hari ikut menentukan, dan kebiasaan menjaga alam dalam lingkup saya adalah bagian dari tanggung jawab terhadap rumah bersama yang menghidupi semua.

Laku 4 — Mengambil dari alam secukupnya, bukan dengan keserakahan.

Saya berusaha mengambil dari alam secukupnya untuk kebutuhan, bukan menguras dengan keserakahan yang tak kenal batas — sebab alam memberi cukup untuk kebutuhan semua, tetapi tidak cukup untuk keserakahan tanpa batas, dan menguras melampaui kemampuan alam memulihkan diri menghancurkan sumber kehidupan bagi generasi mendatang. Maka saya menahan keserakahan dan mengambil dengan kesadaran akan batas. Alam memiliki kemampuan memulihkan diri bila tidak diperas melampaui batasnya, dan mengambil secukupnya sambil membiarkannya pulih adalah kearifan yang menjaga keberlanjutan. Keserakahan yang menguras tanpa batas akhirnya menghancurkan yang dikurasnya, merugikan baik pengurasnya maupun yang datang setelahnya.

Laku 5 — Mewariskan alam yang layak bagi generasi mendatang.

Saya berusaha menjaga alam bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk generasi yang datang setelah saya — anak cucu yang akan mewarisi bumi yang saya tinggalkan. Sebab saya hanya meminjam bumi ini dari generasi mendatang, dan merusaknya demi kenikmatan sesaat berarti mencuri dari mereka yang belum bisa membela diri. Maka saya menanam dan menjaga hal-hal yang buahnya akan dinikmati oleh yang datang setelah saya. Ada kemuliaan khusus dalam merawat sesuatu yang hasilnya tak akan saya nikmati sendiri, dan menjaga alam bagi generasi mendatang adalah salah satu bentuk kasih dan tanggung jawab yang melampaui kepentingan diri sendiri — sebuah warisan bagi mereka yang belum lahir.

· · ·

LIFE 155 — NATURE

I believe that I am not a ruler standing above nature, but a part of nature wholly dependent on it — the air I breathe, the water I drink, and the food that sustains me all come from it — so to damage nature is in the end to damage my own home and body — therefore I:

Practice 1 — See myself as part of nature, not its ruler.

I strive to see myself as a part of nature dependent on it, not as a ruler entitled to exploit it at will. For all that sustains me — air, water, soil, food — comes from nature, and damaging it means damaging the source of my own life. So I treat nature with respect and care, not with a greed that drains without limit. The view that humans stand above and apart from nature has brought great damage; to realize that I am part of a larger web of life brings a wiser and more sustainable way of living.

Practice 2 — Enjoy and connect with nature as a need of the soul.

I strive to make time to be in nature and connect with it — for presence in nature is proven to refresh the body, calm the soul, and restore clarity of mind, and a human wholly cut off from nature loses something fundamental. So I do not live entirely confined in artificial spaces and screens, but seek open air, trees, water, and sky. To be in nature is no luxury, but a need of the soul often forgotten amid a modern life lived all indoors. A few moments in the open air restore something that walled rooms and screens cannot give — a calm rooted deeply in the body's connection with the living world.

Practice 3 — Guard nature from the damage within my reach.

I strive to guard nature from damage in the things within my reach — not polluting, not destroying carelessly, not draining needlessly, and keeping clean the environment where I live. For great damage to nature is built from many small acts, and guarding it too begins with small acts in daily life. So I do not make light of my contribution, whether in damaging or guarding. Though environmental problems feel large and distant, my daily acts help determine, and the habit of guarding nature within my sphere is part of the responsibility toward the shared home that sustains all.

Practice 4 — Take from nature enough, not with greed.

I strive to take from nature enough for need, not draining it with a greed that knows no limit — for nature gives enough for the needs of all, but not enough for limitless greed, and draining beyond nature's ability to restore itself destroys the source of life for generations to come. So I restrain greed and take with awareness of limits. Nature has the ability to restore itself if not squeezed beyond its bounds, and to take enough while letting it recover is the wisdom that keeps sustainability. Greed that drains without limit in the end destroys what it drains, harming both the drainer and those who come after.

Practice 5 — Bequeath a fit nature to generations to come.

I strive to guard nature not only for myself, but also for the generations who come after me — the children and grandchildren who will inherit the earth I leave behind. For I only borrow this earth from generations to come, and damaging it for a momentary pleasure means stealing from those who cannot yet defend themselves. So I plant and guard things whose fruit will be enjoyed by those who come after me. There is a special nobility in tending something whose harvest I will not enjoy myself, and to guard nature for generations to come is one of the forms of love and responsibility that goes beyond self-interest — a legacy for those not yet born.

 

HIDUP 156 — HEWAN
[Animals]

Saya berpikir bahwa hewan adalah makhluk hidup yang merasakan — yang bisa mengalami sakit, takut, dan kadang kegembiraan — dan bahwa cara saya memperlakukan makhluk yang lebih lemah dan tak bisa membela diri adalah salah satu ukuran kemanusiaan saya; sehingga kekejaman terhadap hewan adalah keburukan, dan kepedulian terhadapnya adalah kebajikan — maka saya:

Laku 1 — Memperlakukan hewan dengan belas kasih, menghindari kekejaman.

Saya berusaha memperlakukan hewan dengan belas kasih dan menghindari menyiksa atau menyakiti mereka tanpa perlu — sebab hewan adalah makhluk yang merasakan sakit dan takut, dan menyiksa makhluk yang tak bisa membela diri adalah kekejaman yang mencerminkan keburukan hati. Maka saya tidak menyiksa hewan untuk kesenangan, tidak memperlakukan mereka dengan kekejaman, dan tidak menganggap penderitaan mereka sebagai hal yang tak penting. Cara seseorang memperlakukan makhluk yang lebih lemah dan tak bisa membalas menunjukkan wataknya, dan belas kasih terhadap hewan adalah perluasan dari belas kasih yang menjadi inti kemanusiaan. Kekejaman terhadap hewan sering berjalan seiring dengan kekejaman terhadap sesama manusia.

Laku 2 — Merawat hewan yang menjadi tanggung jawab saya dengan baik.

Saya berusaha merawat hewan yang menjadi tanggung jawab saya — hewan peliharaan, ternak, atau hewan yang bergantung pada saya — dengan baik, memenuhi kebutuhan dan menjaga kesejahteraannya. Sebab memelihara hewan adalah memikul tanggung jawab atas makhluk yang bergantung sepenuhnya pada saya, dan menelantarkannya adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab itu. Maka saya tidak memelihara hewan lalu menelantarkannya, melainkan memberi yang dibutuhkannya. Hewan yang dirawat dengan baik sering memberi kasih, kesetiaan, dan kegembiraan yang tulus, dan hubungan dengan hewan peliharaan bisa menjadi sumber kehangatan dan penghiburan. Merawat dengan baik makhluk yang mempercayakan hidupnya kepada saya adalah bentuk tanggung jawab dan kasih.

Laku 3 — Menggunakan hewan untuk kebutuhan dengan tetap menghindari kekejaman.

Saya menerima bahwa manusia menggunakan hewan untuk berbagai kebutuhan — makanan, kerja, dan lainnya — sambil berusaha agar penggunaan itu tidak disertai kekejaman dan penyiksaan yang tidak perlu. Sebab menggunakan hewan untuk kebutuhan hidup berbeda dari menyiksanya dengan kejam, dan bahkan dalam memanfaatkan hewan, belas kasih untuk meminimalkan penderitaan tetap dituntut. Maka saya, dalam batas keadaan dan keyakinan saya, berusaha agar perlakuan terhadap hewan tidak melampaui yang perlu menjadi kekejaman. Bagaimana persisnya keseimbangan ini ditarik bisa beragam menurut keadaan dan keyakinan masing-masing, tetapi prinsip menghindari kekejaman dan penderitaan yang tidak perlu adalah hal yang patut dijaga.

Laku 4 — Menghormati hewan liar dan tempat hidupnya.

Saya berusaha menghormati hewan liar dan tempat hidup mereka — tidak memburu atau membunuh tanpa perlu, tidak merusak tempat hidup mereka dengan sembrono, dan tidak mendorong makhluk lain menuju kepunahan demi keserakahan. Sebab setiap jenis makhluk adalah bagian dari jaring kehidupan yang rumit dan saling terhubung, dan kepunahan yang disebabkan manusia adalah kehilangan yang tak terpulihkan. Maka saya menghormati hak hewan liar untuk hidup di tempatnya. Banyak jenis makhluk telah punah dan terancam karena perbuatan manusia, dan menjaga keberadaan mereka adalah bagian dari menjaga keutuhan alam yang menghidupi semua, serta menghormati nilai kehidupan yang beragam di luar kepentingan manusia semata.

Laku 5 — Mengajarkan belas kasih terhadap hewan kepada anak-anak.

Saya berusaha mengajarkan belas kasih terhadap hewan kepada anak-anak — sebab cara anak belajar memperlakukan makhluk yang lebih lemah membentuk hati mereka, dan anak yang belajar berbelas kasih terhadap hewan menumbuhkan kepekaan yang meluas kepada sesama manusia. Maka saya tidak membiarkan anak menyiksa hewan dengan dalih bermain, melainkan mengajari mereka memperlakukan makhluk hidup dengan lembut dan hormat. Mengajarkan belas kasih terhadap hewan adalah salah satu cara menanamkan kepekaan dan kasih sejak dini, sebab hati yang belajar peduli pada penderitaan makhluk yang tak bisa bicara akan lebih mudah peduli pada penderitaan sesama. Kekejaman yang dibiarkan pada anak terhadap hewan bisa tumbuh menjadi kekerasan yang lebih luas.

· · ·

LIFE 156 — ANIMALS

I believe that animals are living, feeling creatures — able to experience pain, fear, and sometimes joy — and that how I treat creatures weaker and unable to defend themselves is one of the measures of my humanity; so cruelty to animals is an evil, and care for them is a virtue — therefore I:

Practice 1 — Treat animals with compassion, avoiding cruelty.

I strive to treat animals with compassion and avoid torturing or hurting them needlessly — for animals are creatures that feel pain and fear, and to torture a creature unable to defend itself is a cruelty that reflects a bad heart. So I do not torture animals for pleasure, do not treat them with cruelty, and do not regard their suffering as unimportant. How a person treats a creature weaker and unable to repay shows their character, and compassion for animals is an extension of the compassion that is the core of humanity. Cruelty to animals often goes hand in hand with cruelty to fellow humans.

Practice 2 — Tend well the animals in my charge.

I strive to tend well the animals in my charge — pets, livestock, or animals that depend on me — meeting their needs and guarding their welfare. For to keep an animal is to bear responsibility for a creature wholly dependent on me, and to neglect it is a betrayal of that responsibility. So I do not keep an animal and then neglect it, but give what it needs. An animal tended well often gives sincere love, loyalty, and joy, and a relationship with a pet can be a source of warmth and comfort. To tend well a creature that entrusts its life to me is a form of responsibility and love.

Practice 3 — Use animals for need while still avoiding cruelty.

I accept that humans use animals for various needs — food, work, and others — while striving that such use not be accompanied by cruelty and needless torture. For using animals for life's needs differs from torturing them cruelly, and even in making use of animals, compassion to minimize suffering is still demanded. So I, within the bounds of my circumstance and belief, strive that the treatment of animals not exceed the necessary into cruelty. How exactly this balance is drawn can vary by each person's circumstance and belief, but the principle of avoiding cruelty and needless suffering is something worth keeping.

Practice 4 — Respect wild animals and their habitat.

I strive to respect wild animals and their habitat — not hunting or killing needlessly, not destroying their habitat carelessly, and not driving other creatures toward extinction out of greed. For each kind of creature is part of an intricate and interconnected web of life, and an extinction caused by humans is an irreparable loss. So I respect the right of wild animals to live in their place. Many kinds of creatures have gone extinct and are threatened by human action, and to guard their existence is part of guarding the wholeness of the nature that sustains all, and of respecting the value of the diverse life beyond human interest alone.

Practice 5 — Teach children compassion toward animals.

I strive to teach children compassion toward animals — for how a child learns to treat weaker creatures shapes their heart, and a child who learns compassion toward animals grows a sensitivity that widens to fellow humans. So I do not let a child torture an animal with the excuse of play, but teach them to treat living creatures gently and with respect. To teach compassion toward animals is one way of instilling sensitivity and love early, for a heart that learns to care about the suffering of creatures that cannot speak will more easily care about the suffering of fellow humans. Cruelty allowed in a child toward animals can grow into a wider violence.

 

HIDUP 157 — TUMBUHAN
[Plants]

Saya berpikir bahwa tumbuhan adalah fondasi kehidupan di bumi — penghasil udara yang saya hirup, makanan yang menghidupi saya dan hewan, serta penjaga tanah dan air — dan bahwa meski mereka diam dan mudah diabaikan, hidup saya bergantung pada mereka jauh lebih dalam daripada yang sering saya sadari — maka saya:

Laku 1 — Menghargai tumbuhan sebagai fondasi kehidupan.

Saya berusaha menghargai tumbuhan sebagai fondasi kehidupan yang sering terlupakan — sebab merekalah yang menghasilkan sebagian besar udara yang saya hirup, menjadi dasar dari hampir semua makanan, dan menjaga tanah, air, serta keseimbangan alam. Maka saya tidak menganggap remeh keberadaan dan peran mereka hanya karena mereka diam dan mudah diabaikan. Tanpa tumbuhan, kehidupan hewan dan manusia tak mungkin ada, dan menghargai peran mendasar mereka adalah bagian dari memahami betapa hidup saya terjalin dengan jaring kehidupan yang lebih besar. Kesadaran ini menumbuhkan rasa hormat dan tanggung jawab terhadap dunia tumbuhan yang menopang segala kehidupan.

Laku 2 — Menanam dan memelihara tumbuhan.

Saya berusaha menanam dan memelihara tumbuhan sesuai kemampuan dan keadaan saya — pohon, tanaman pangan, atau sekadar tanaman di sekitar rumah — sebab menanam adalah salah satu perbuatan paling sederhana yang menambah kehidupan, keindahan, dan kebaikan bagi dunia. Maka saya tidak hanya mengambil dari tumbuhan, tetapi juga ikut menumbuhkannya. Menanam pohon yang naungannya akan dinikmati orang lain di masa depan adalah bentuk kebaikan yang melampaui diri sendiri, dan memelihara tanaman, betapapun kecil, menghubungkan saya dengan ritme alam dan memberi kepuasan tersendiri. Setiap tumbuhan yang ditanam dan dirawat adalah sumbangan kecil bagi kehidupan dan keindahan dunia.

Laku 3 — Menjaga hutan dan tumbuhan dari kerusakan yang merugikan semua.

Saya berusaha, sesuai kemampuan, ikut menjaga hutan dan tumbuhan dari kerusakan yang merugikan semua — tidak ikut merusak sembarangan, dan mendukung penjagaan terhadap hutan yang menjadi paru-paru dan penjaga keseimbangan alam. Sebab perusakan hutan dan tumbuhan besar-besaran membawa kerugian bagi semua: udara yang memburuk, tanah yang rusak, air yang terganggu, dan iklim yang berubah. Maka saya tidak ikut dalam perusakan dan, sebisa mungkin, mendukung penjagaan. Hutan dan tumbuhan adalah milik bersama yang menghidupi semua, dan kerusakannya, meski sering terjadi jauh dari mata, akhirnya merugikan setiap orang. Menjaganya adalah bagian dari tanggung jawab terhadap rumah bersama.

Laku 4 — Tidak menyia-nyiakan hasil tumbuhan dan pangan.

Saya berusaha tidak menyia-nyiakan hasil tumbuhan dan pangan — menghargai makanan yang berasal dari tanah, kerja, dan waktu, dan tidak membuangnya dengan sembrono. Sebab di balik setiap makanan ada tumbuhan yang tumbuh, tanah yang menumbuhkannya, dan tangan yang menanam dan memanennya, dan menyia-nyiakannya adalah menyia-nyiakan semua itu sementara banyak orang kekurangan. Maka saya mengambil secukupnya, menghargai, dan tidak membuang berlebihan. Pemborosan pangan adalah salah satu pemborosan yang paling tak adil di dunia yang sebagian penduduknya kelaparan, dan menghargai serta tidak menyia-nyiakan makanan adalah bentuk rasa syukur dan keadilan sekaligus.

Laku 5 — Mengelilingi diri dan keluarga dengan kehijauan dan kehidupan tumbuhan.

Saya berusaha mengelilingi diri dan keluarga dengan kehijauan dan kehidupan tumbuhan sesuai kemampuan — sebab kehadiran tumbuhan dan kehijauan terbukti menenangkan jiwa, menyegarkan udara, dan menambah keindahan serta kesejahteraan. Maka saya menghadirkan tumbuhan di tempat tinggal dan mengajak keluarga, terutama anak-anak, untuk mengenal dan mencintai dunia tumbuhan. Anak yang tumbuh mengenal alam dan tumbuhan menumbuhkan kepekaan dan hubungan dengan kehidupan yang akan menyertai mereka seumur hidup. Mengelilingi diri dengan kehidupan tumbuhan, betapapun sederhana, mendekatkan saya dengan alam dan menambah ketenangan serta keindahan dalam keseharian yang sering serba buatan dan jauh dari kehijauan.

· · ·

LIFE 157 — PLANTS

I believe that plants are the foundation of life on earth — producer of the air I breathe, the food that sustains me and the animals, and guardian of soil and water — and that though they are silent and easily ignored, my life depends on them far more deeply than I often realize — therefore I:

Practice 1 — Value plants as the foundation of life.

I strive to value plants as the often-forgotten foundation of life — for they produce most of the air I breathe, are the basis of almost all food, and guard the soil, water, and balance of nature. So I do not make light of their existence and role merely because they are silent and easily ignored. Without plants, the life of animals and humans could not exist, and to value their fundamental role is part of understanding how my life is woven into the larger web of life. This awareness grows respect and responsibility toward the plant world that supports all life.

Practice 2 — Plant and tend plants.

I strive to plant and tend plants according to my ability and circumstance — trees, food crops, or simply plants around the house — for planting is one of the simplest acts that adds life, beauty, and goodness to the world. So I do not only take from plants, but also help grow them. To plant a tree whose shade others will enjoy in the future is a form of goodness beyond oneself, and to tend a plant, however small, connects me with the rhythm of nature and gives a satisfaction of its own. Every plant planted and tended is a small contribution to the life and beauty of the world.

Practice 3 — Guard forests and plants from damage that harms all.

I strive, according to my ability, to help guard forests and plants from damage that harms all — not joining in careless destruction, and supporting the protection of forests that are the lungs and guardian of nature's balance. For the large-scale destruction of forests and plants brings harm to all: worsening air, ruined soil, disturbed water, and a changing climate. So I do not join in the destruction and, as much as possible, support the protection. Forests and plants are a shared possession that sustains all, and their destruction, though often happening far from sight, in the end harms everyone. To guard them is part of the responsibility toward the shared home.

Practice 4 — Not waste the produce of plants and food.

I strive not to waste the produce of plants and food — valuing food that comes from the soil, labor, and time, and not throwing it away carelessly. For behind every food is a plant that grew, the soil that grew it, and the hands that planted and harvested it, and to waste it is to waste all that while many people are in want. So I take enough, value it, and do not throw away in excess. Food waste is one of the most unjust kinds of waste in a world where some of its people go hungry, and to value and not waste food is a form of gratitude and justice at once.

Practice 5 — Surround myself and family with greenery and plant life.

I strive to surround myself and family with greenery and plant life according to my ability — for the presence of plants and greenery is proven to calm the soul, freshen the air, and add beauty and well-being. So I bring plants into my dwelling and invite the family, especially children, to know and love the plant world. A child who grows up knowing nature and plants grows a sensitivity and connection with life that will accompany them throughout their lives. To surround myself with plant life, however simple, draws me close to nature and adds calm and beauty in a daily life that is often all artificial and far from greenery.

 

HIDUP 158 — AIR
[Water]

Saya berpikir bahwa air adalah sumber kehidupan yang paling mendasar — tubuh saya sebagian besarnya air, dan tak ada kehidupan yang mungkin tanpanya — dan bahwa meski di sebagian tempat ia tampak melimpah dan murah, ia sesungguhnya berharga, terbatas, dan di banyak tempat menjadi perjuangan hidup-mati — maka saya:

Laku 1 — Menghargai air sebagai sumber kehidupan yang berharga.

Saya berusaha menghargai air sebagai sumber kehidupan yang berharga, bukan menganggapnya remeh karena tampak melimpah dan murah. Sebab air adalah dasar dari segala kehidupan, dan di banyak tempat di dunia, air bersih adalah perjuangan hidup-mati dan kemewahan yang langka. Maka saya tidak menyia-nyiakan air seolah ia tak terbatas. Menyadari betapa berharganya air — bahwa banyak orang harus berjalan jauh untuk mendapatkannya dan banyak yang menderita karena kekurangannya — menumbuhkan rasa syukur dan kehati-hatian terhadap apa yang sering saya anggap biasa. Air yang mengalir dengan mudah dari keran adalah berkat yang tak dimiliki semua orang, dan menghargainya adalah bentuk syukur.

Laku 2 — Menggunakan air dengan hemat dan tidak menyia-nyiakannya.

Saya berusaha menggunakan air dengan hemat dan tidak menyia-nyiakannya — sebab air bersih terbatas, dan pemborosan oleh banyak orang menguras sumber yang dibutuhkan semua. Maka saya menjaga agar tidak membuang air sia-sia, memperbaiki kebocoran, dan menggunakan secukupnya. Penghematan air oleh satu orang tampak kecil, tetapi kebiasaan boros maupun hemat oleh banyak orang menentukan ketersediaan air bagi semua. Di dunia yang sebagian wilayahnya semakin kekurangan air bersih, kebiasaan menggunakan air dengan bijak adalah bagian dari tanggung jawab terhadap sumber kehidupan bersama yang tak boleh dianggap tak terbatas.

Laku 3 — Tidak mencemari air yang menghidupi semua.

Saya berusaha tidak mencemari air — sungai, sumur, laut, dan sumber air lainnya — sebab air yang tercemar membawa penyakit dan kematian, dan pencemaran air merugikan tak hanya saya tetapi semua yang bergantung pada sumber air yang sama, termasuk makhluk hidup lainnya. Maka saya tidak membuang limbah dan kotoran sembarangan ke air, dan menjaga kebersihan sumber air di sekitar saya. Air mengalir dan terhubung, sehingga mencemarinya di satu tempat merugikan banyak di tempat lain. Banyak penyakit yang melemahkan dan mematikan berasal dari air yang tercemar, dan menjaga kebersihan air adalah menjaga kesehatan bersama serta menghormati hak orang lain atas air yang bersih.

Laku 4 — Menyadari ketidakadilan akses terhadap air dan peduli pada yang kekurangan.

Saya berusaha menyadari bahwa akses terhadap air bersih sangat tidak merata — bahwa banyak orang di dunia menderita dan bahkan mati karena kekurangan air bersih, sementara sebagian menyia-nyiakannya — dan peduli pada ketidakadilan ini. Maka saya tidak hanya menghargai dan menghemat air untuk diri sendiri, tetapi juga, sesuai kemampuan, peduli pada mereka yang kekurangan. Air bersih adalah kebutuhan paling mendasar, dan ketidakadilan dalam aksesnya adalah salah satu ketidakadilan yang paling menyentuh hidup-mati. Kepedulian terhadap mereka yang kekurangan air, dan dukungan terhadap upaya menyediakan air bersih bagi yang membutuhkan, adalah bagian dari belas kasih terhadap sesama dalam kebutuhan yang paling dasar.

Laku 5 — Mengajarkan penghargaan terhadap air kepada anak-anak.

Saya berusaha mengajarkan penghargaan dan penghematan air kepada anak-anak — agar mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa air adalah berkat yang berharga dan terbatas, bukan sesuatu yang boleh disia-siakan. Sebab kebiasaan menghargai atau menyia-nyiakan air terbentuk sejak kecil, dan anak yang diajari menghargai air membawa kebiasaan baik itu seumur hidup. Maka saya menanamkan kesadaran ini lewat teladan dan ajaran sehari-hari. Mengajarkan anak menghargai air adalah menanamkan kesadaran akan keterbatasan dan keberhargaan sumber kehidupan, dan menumbuhkan rasa syukur serta tanggung jawab terhadap berkat yang sering dianggap biasa oleh mereka yang mudah mendapatkannya.

· · ·

LIFE 158 — WATER

I believe that water is the most fundamental source of life — my body is mostly water, and no life is possible without it — and that though in some places it seems abundant and cheap, it is in truth precious, limited, and in many places a life-and-death struggle — therefore I:

Practice 1 — Value water as a precious source of life.

I strive to value water as a precious source of life, not making light of it because it seems abundant and cheap. For water is the basis of all life, and in many places in the world, clean water is a life-and-death struggle and a rare luxury. So I do not waste water as though it were limitless. To realize how precious water is — that many people must walk far to obtain it and many suffer from its scarcity — grows gratitude and care toward what I often regard as ordinary. Water that flows easily from the tap is a blessing not everyone has, and to value it is a form of gratitude.

Practice 2 — Use water sparingly and not waste it.

I strive to use water sparingly and not waste it — for clean water is limited, and waste by many people drains the source needed by all. So I keep from throwing water away in vain, fix leaks, and use enough. One person's water saving seems small, but the habit of waste or thrift by many people determines the availability of water for all. In a world where some regions increasingly lack clean water, the habit of using water wisely is part of the responsibility toward the shared source of life that must not be regarded as limitless.

Practice 3 — Not pollute the water that sustains all.

I strive not to pollute water — rivers, wells, the sea, and other water sources — for polluted water brings disease and death, and water pollution harms not only me but all who depend on the same water source, including other living creatures. So I do not dump waste and filth carelessly into water, and keep clean the water sources around me. Water flows and is connected, so polluting it in one place harms many in another. Many weakening and deadly diseases come from polluted water, and to keep water clean is to guard the shared health and respect others' right to clean water.

Practice 4 — Be aware of the injustice of access to water and care for those who lack it.

I strive to be aware that access to clean water is very uneven — that many people in the world suffer and even die from lack of clean water, while some waste it — and to care about this injustice. So I do not only value and save water for myself, but also, according to my ability, care for those who lack it. Clean water is the most fundamental need, and the injustice in its access is one of the injustices that most touches life and death. Care for those who lack water, and support for efforts to provide clean water to those who need it, is part of compassion toward others in the most basic need.

Practice 5 — Teach the valuing of water to children.

I strive to teach the valuing and saving of water to children — so they grow with the awareness that water is a precious and limited blessing, not something to be wasted. For the habit of valuing or wasting water is formed from childhood, and a child taught to value water carries that good habit for life. So I instill this awareness through example and daily teaching. To teach a child to value water is to instill an awareness of the limitedness and preciousness of the source of life, and to grow gratitude and responsibility toward a blessing often regarded as ordinary by those who obtain it easily.

 

HIDUP 159 — UDARA DAN IKLIM
[Air and Climate]

Saya berpikir bahwa udara yang saya hirup dan iklim yang menopang kehidupan adalah milik bersama seluruh manusia dan makhluk hidup — tak ada yang bisa hidup tanpa udara, dan tak ada yang lolos dari perubahan iklim — sehingga menjaganya adalah tanggung jawab bersama yang melampaui batas dan kepentingan diri sendiri — maka saya:

Laku 1 — Menyadari bahwa udara dan iklim adalah milik bersama yang menghidupi semua.

Saya berusaha menyadari bahwa udara dan iklim adalah milik bersama seluruh manusia dan makhluk hidup — bahwa udara yang tercemar dan iklim yang rusak merugikan semua tanpa kecuali, melampaui batas negara dan kepentingan golongan. Maka saya tidak memandang menjaga udara dan iklim sebagai urusan orang lain atau sesuatu yang terlalu besar untuk saya pedulikan. Sebab kerusakan udara dan iklim menimpa semua, dan menjaganya adalah tanggung jawab bersama yang setiap orang ikut memikul. Kesadaran bahwa ini adalah persoalan bersama yang menyangkut hidup-mati semua makhluk, kini dan di masa depan, menumbuhkan rasa tanggung jawab yang melampaui kepentingan diri sendiri.

Laku 2 — Tidak mencemari udara dalam hal-hal yang ada dalam jangkauan saya.

Saya berusaha tidak mencemari udara dalam hal-hal yang ada dalam jangkauan saya — tidak membakar sembarangan, mengurangi yang mengotori udara, dan menjaga lingkungan tetap bersih udaranya. Sebab udara yang tercemar membawa penyakit pernapasan dan merugikan kesehatan semua yang menghirupnya, dan pencemaran udara besar terbangun dari banyak sumber kecil. Maka saya tidak menganggap remeh sumbangan saya terhadap kebersihan atau pencemaran udara. Meski sebagian besar pencemaran udara berasal dari sumber besar yang di luar kendali saya, kebiasaan saya sehari-hari tetap ikut menentukan, dan menjaga udara dalam lingkup saya adalah bagian dari tanggung jawab terhadap kesehatan bersama.

Laku 3 — Mengurangi sumbangan saya terhadap kerusakan iklim sesuai kemampuan.

Saya berusaha, sesuai kemampuan dan keadaan saya, mengurangi sumbangan saya terhadap kerusakan iklim — menghemat energi, mengurangi pemborosan, dan memilih cara hidup yang lebih sedikit merusak. Sebab perubahan iklim, yang membawa cuaca ekstrem, bencana, dan kerusakan yang merugikan banyak orang terutama yang lemah, sebagian disebabkan oleh perbuatan manusia yang terkumpul. Maka saya tidak merasa sumbangan saya terlalu kecil untuk dipedulikan. Meski persoalan iklim besar dan menuntut perubahan dalam skala yang jauh melampaui satu orang, kebiasaan banyak orang ikut menentukan, dan mengambil bagian dalam menjaga adalah tanggung jawab terhadap rumah bersama dan generasi mendatang.

Laku 4 — Mendukung upaya bersama menjaga iklim, melampaui perbuatan pribadi.

Saya menyadari bahwa menjaga iklim menuntut bukan hanya perbuatan pribadi, tetapi juga upaya bersama dalam skala besar — sehingga saya, sesuai kemampuan, mendukung dan tidak menghalangi upaya bersama untuk menjaga iklim dan lingkungan. Sebab persoalan sebesar iklim tak bisa diselesaikan oleh perbuatan individu semata, dan menuntut tindakan bersama yang lebih luas. Maka saya tidak menjadikan perbuatan pribadi sebagai alasan untuk mengabaikan dukungan terhadap perubahan yang lebih besar, dan tidak pula menjadikan besarnya masalah sebagai alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Menjaga iklim menuntut keduanya: perbuatan pribadi yang bertanggung jawab dan dukungan terhadap upaya bersama yang lebih luas.

Laku 5 — Peduli pada keadilan iklim dan mereka yang paling terdampak.

Saya berusaha peduli bahwa kerusakan iklim dan udara paling merugikan mereka yang paling lemah dan paling sedikit menyebabkannya — orang miskin, masyarakat rentan, dan generasi mendatang yang belum bisa membela diri. Sebab ada ketidakadilan dalam kerusakan iklim: yang paling menderita sering bukan yang paling bertanggung jawab atasnya. Maka kepedulian saya terhadap iklim juga mencakup kepedulian terhadap keadilan bagi yang paling terdampak. Menjaga udara dan iklim bukan hanya soal kelestarian alam, melainkan juga soal keadilan terhadap yang lemah dan terhadap generasi yang akan mewarisi bumi yang saya tinggalkan — sebuah tanggung jawab terhadap mereka yang tak bisa bersuara membela kepentingannya sendiri.

· · ·

LIFE 159 — AIR AND CLIMATE

I believe that the air I breathe and the climate that supports life are the shared possession of all humans and living creatures — none can live without air, and none escapes climate change — so to guard them is a shared responsibility that goes beyond borders and self-interest — therefore I:

Practice 1 — Be aware that air and climate are a shared possession that sustains all.

I strive to be aware that air and climate are the shared possession of all humans and living creatures — that polluted air and a damaged climate harm all without exception, beyond the borders of nations and the interests of factions. So I do not view guarding air and climate as someone else's affair or something too large for me to care about. For damage to air and climate befalls all, and guarding them is a shared responsibility everyone helps to bear. The awareness that this is a shared matter concerning the life and death of all creatures, now and in the future, grows a sense of responsibility that goes beyond self-interest.

Practice 2 — Not pollute the air in the things within my reach.

I strive not to pollute the air in the things within my reach — not burning carelessly, reducing what dirties the air, and keeping the environment's air clean. For polluted air brings respiratory disease and harms the health of all who breathe it, and great air pollution is built from many small sources. So I do not make light of my contribution to the cleanliness or pollution of the air. Though most air pollution comes from large sources beyond my control, my daily habits still help determine, and to guard the air within my sphere is part of the responsibility toward the shared health.

Practice 3 — Reduce my contribution to climate damage according to ability.

I strive, according to my ability and circumstance, to reduce my contribution to climate damage — saving energy, reducing waste, and choosing a less damaging way of life. For climate change, which brings extreme weather, disaster, and damage that harms many people especially the weak, is partly caused by the accumulated actions of humans. So I do not feel my contribution too small to care about. Though the climate problem is large and demands change on a scale far beyond one person, the habits of many people help determine, and to take part in guarding is a responsibility toward the shared home and generations to come.

Practice 4 — Support joint efforts to guard the climate, beyond personal acts.

I am aware that guarding the climate demands not only personal acts, but also joint effort on a large scale — so I, according to my ability, support and do not hinder joint efforts to guard the climate and environment. For a problem as large as the climate cannot be solved by individual acts alone, and demands wider joint action. So I do not make personal acts an excuse to neglect supporting larger change, nor make the size of the problem an excuse to do nothing. To guard the climate demands both: responsible personal acts and support for wider joint effort.

Practice 5 — Care about climate justice and those most affected.

I strive to care that damage to climate and air most harms those weakest and least responsible for it — the poor, vulnerable communities, and generations to come who cannot yet defend themselves. For there is an injustice in climate damage: those who suffer most are often not those most responsible for it. So my care for the climate also includes care for justice for those most affected. To guard air and climate is not only a matter of nature's preservation, but also of justice toward the weak and toward the generations who will inherit the earth I leave behind — a responsibility toward those who cannot voice a defense of their own interests.

 

HIDUP 160 — SAMPAH
[Waste]

Saya berpikir bahwa sampah adalah jejak yang saya tinggalkan di dunia setiap hari — dan bahwa kebiasaan membuang tanpa berpikir telah menumpuk menjadi salah satu beban besar bagi bumi dan kesehatan bersama — sehingga cara saya memperlakukan sampah, meski tampak sepele, ikut menentukan keadaan lingkungan yang saya wariskan — maka saya:

Laku 1 — Mengurangi sampah yang saya hasilkan.

Saya berusaha mengurangi sampah yang saya hasilkan — membeli secukupnya, menghindari yang sekali pakai bila ada pilihan lebih baik, dan tidak menumpuk barang yang akhirnya menjadi sampah. Sebab cara terbaik menangani sampah adalah dengan tidak menghasilkannya sejak awal, dan banyak sampah lahir dari konsumsi berlebihan dan kebiasaan sekali pakai yang sebenarnya bisa dikurangi. Maka saya menimbang sebelum membeli dan memakai, dan berusaha hidup dengan jejak sampah yang lebih kecil. Mengurangi sampah dari sumbernya jauh lebih bermanfaat daripada sekadar membuangnya dengan rapi, sebab sampah yang tak pernah dihasilkan tak membebani bumi sama sekali.

Laku 2 — Membuang sampah pada tempatnya, tidak sembarangan.

Saya berusaha membuang sampah pada tempatnya dan tidak membuangnya sembarangan — di jalan, sungai, atau ruang bersama — sebab sampah yang dibuang sembarangan mengotori lingkungan, menyumbat saluran, mencemari air, dan merugikan semua yang berbagi tempat itu. Maka saya tidak menganggap remeh kebiasaan kecil ini, dan menjaga agar jejak sampah saya tidak mengotori ruang bersama. Membuang sampah sembarangan, meski tampak sepele dilakukan satu orang, ketika dilakukan banyak orang menjadi beban yang mencemari dan merusak. Membuang pada tempatnya adalah bentuk hormat terhadap lingkungan dan terhadap orang lain yang berbagi ruang yang sama.

Laku 3 — Memilah dan mendaur ulang sesuai kemampuan.

Saya berusaha memilah sampah dan mendaur ulang apa yang bisa didaur ulang sesuai kemampuan dan keadaan tempat saya — sebab sebagian sampah bisa diolah kembali menjadi berguna alih-alih menumpuk membebani, dan memilah memudahkan pengolahan yang mengurangi beban bagi bumi. Maka saya, sebisa mungkin, tidak mencampur semua sampah menjadi satu tumpukan yang sulit diolah. Memilah dan mendaur ulang adalah cara mengubah sebagian yang akan menjadi beban menjadi sesuatu yang berguna kembali, dan meski memerlukan sedikit usaha, ia adalah sumbangan nyata bagi mengurangi tumpukan sampah yang membebani lingkungan dan kesehatan bersama.

Laku 4 — Tidak menyia-nyiakan sehingga mengurangi sampah dari pemborosan.

Saya berusaha tidak menyia-nyiakan barang dan makanan, sehingga mengurangi sampah yang lahir dari pemborosan — menghabiskan apa yang saya ambil, merawat barang agar tahan lama, dan tidak membuang yang masih berguna. Sebab banyak sampah berasal dari pemborosan: makanan yang dibuang, barang yang dibeli berlebihan lalu dibuang, dan benda yang dibuang padahal masih bisa dipakai. Maka mengurangi pemborosan sekaligus mengurangi sampah. Menghargai dan menghabiskan apa yang saya miliki, serta tidak membuang yang masih berguna, adalah cara hidup yang sekaligus hemat, bertanggung jawab, dan mengurangi beban sampah bagi bumi — sebuah kebajikan yang menggabungkan kesederhanaan dengan kepedulian lingkungan.

Laku 5 — Mengajarkan dan menularkan kebiasaan baik tentang sampah.

Saya berusaha mengajarkan dan menularkan kebiasaan baik tentang sampah kepada anak-anak dan orang di sekitar — lewat teladan dan ajaran — agar kebiasaan menjaga lingkungan dari sampah menyebar dan diwariskan. Sebab kebiasaan tentang sampah, baik maupun buruk, terbentuk sejak kecil dan menular dalam masyarakat, dan lingkungan yang bersih atau kotor adalah hasil dari kebiasaan banyak orang. Maka saya tidak hanya menjaga kebiasaan saya sendiri, tetapi juga ikut menularkan yang baik. Anak yang diajari menjaga kebersihan dan tidak menyampah sembarangan membawa kebiasaan itu seumur hidup, dan masyarakat yang warganya terbiasa menjaga adalah masyarakat yang lingkungannya bersih dan sehat bagi semua.

· · ·

LIFE 160 — WASTE

I believe that waste is the trace I leave in the world every day — and that the habit of throwing away without thinking has piled up into one of the great burdens on the earth and the shared health — so how I treat waste, though it seems trivial, helps determine the state of the environment I leave behind — therefore I:

Practice 1 — Reduce the waste I produce.

I strive to reduce the waste I produce — buying enough, avoiding the single-use when there is a better option, and not piling up goods that in the end become waste. For the best way to handle waste is not to produce it in the first place, and much waste is born of excessive consumption and a single-use habit that could actually be reduced. So I weigh before buying and using, and strive to live with a smaller waste footprint. To reduce waste at the source is far more beneficial than merely disposing of it neatly, for waste never produced burdens the earth not at all.

Practice 2 — Dispose of waste in its place, not carelessly.

I strive to dispose of waste in its place and not throw it carelessly — on the street, in rivers, or in shared space — for waste thrown carelessly dirties the environment, clogs channels, pollutes water, and harms all who share that place. So I do not make light of this small habit, and keep my waste trace from dirtying shared space. To litter carelessly, though it seems trivial done by one person, when done by many people becomes a burden that pollutes and damages. To dispose in its place is a form of respect toward the environment and toward others who share the same space.

Practice 3 — Sort and recycle according to ability.

I strive to sort waste and recycle what can be recycled according to my ability and the conditions of my place — for some waste can be reprocessed into something useful rather than piling up as a burden, and sorting eases the processing that reduces the burden on the earth. So I, as much as possible, do not mix all waste into one heap hard to process. To sort and recycle is a way of turning part of what would become a burden into something useful again, and though it requires a little effort, it is a real contribution to reducing the heaps of waste that burden the environment and the shared health.

Practice 4 — Not waste, thereby reducing the waste born of wastefulness.

I strive not to waste goods and food, thereby reducing the waste born of wastefulness — finishing what I take, tending goods so they last, and not throwing away what is still useful. For much waste comes from wastefulness: food thrown away, goods bought in excess then discarded, and objects thrown away when still usable. So to reduce wastefulness is at once to reduce waste. To value and finish what I have, and not throw away what is still useful, is a way of living that is at once thrifty, responsible, and reducing the waste burden on the earth — a virtue that combines simplicity with environmental care.

Practice 5 — Teach and pass on good habits about waste.

I strive to teach and pass on good habits about waste to children and those around me — through example and teaching — so the habit of guarding the environment from waste spreads and is inherited. For habits about waste, good or bad, are formed from childhood and spread within a society, and a clean or dirty environment is the result of the habits of many people. So I do not only keep my own habits, but also help pass on the good ones. A child taught to keep clean and not litter carelessly carries that habit for life, and a society whose citizens are used to guarding is one whose environment is clean and healthy for all.

 

HIDUP 161 — ENERGI
[Energy]

Saya berpikir bahwa energi — yang menggerakkan hampir seluruh kehidupan modern — adalah sesuatu yang sebagian besarnya masih diperoleh dengan cara yang merusak bumi dan terbatas jumlahnya; sehingga menggunakannya dengan hemat dan bijak adalah bagian dari menjaga rumah bersama dan tidak menyia-nyiakan apa yang berharga — maka saya:

Laku 1 — Menggunakan energi dengan hemat, tidak menyia-nyiakannya.

Saya berusaha menggunakan energi dengan hemat — mematikan yang tak terpakai, tidak memboroskan listrik dan bahan bakar, dan menghindari pemakaian yang sia-sia. Sebab energi sebagian besarnya masih diperoleh dengan cara yang merusak bumi dan terbatas jumlahnya, dan pemborosan oleh banyak orang menguras sumber dan menambah kerusakan. Maka saya tidak menganggap remeh kebiasaan hemat energi sehari-hari. Penghematan oleh satu orang tampak kecil, tetapi kebiasaan hemat maupun boros oleh banyak orang menentukan beban yang ditanggung bumi. Menghemat energi sekaligus menghemat biaya dan mengurangi kerusakan lingkungan — kebajikan yang menguntungkan diri sendiri dan rumah bersama.

Laku 2 — Menyadari dampak dari energi yang saya gunakan.

Saya berusaha menyadari bahwa di balik energi yang saya gunakan dengan mudah ada dampak — sumber daya yang dikuras, lingkungan yang terpengaruh, dan iklim yang terdampak. Maka saya tidak menggunakan energi seolah ia datang tanpa biaya bagi bumi, melainkan dengan kesadaran akan jejak yang ditimbulkannya. Kemudahan menyalakan dan menggunakan energi membuat saya mudah lupa bahwa ia berasal dari sumber yang terbatas dan sering merusak. Kesadaran akan dampak ini menumbuhkan kebijaksanaan dalam menggunakan energi, bukan sebagai sikap menyiksa diri, melainkan sebagai penghargaan terhadap sesuatu yang berharga dan kepedulian terhadap dampaknya bagi rumah bersama.

Laku 3 — Memilih cara hidup yang lebih hemat dan lebih sedikit merusak, sesuai kemampuan.

Saya berusaha, sesuai kemampuan dan keadaan saya, memilih cara hidup yang lebih hemat energi dan lebih sedikit merusak — dalam pilihan-pilihan sehari-hari yang ada dalam jangkauan saya. Sebab banyak pilihan kecil dalam keseharian ikut menentukan jejak energi saya, dan memilih yang lebih bijak adalah sumbangan nyata. Maka saya tidak merasa tak bisa berbuat apa-apa, dan juga tidak terbebani melampaui kemampuan saya. Bagaimana persisnya pilihan ini diambil bergantung pada keadaan masing-masing, tetapi prinsip memilih yang lebih hemat dan lebih sedikit merusak bila ada pilihan adalah bagian dari hidup yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Laku 4 — Mendukung peralihan ke sumber energi yang lebih bersih dan lestari.

Saya menyadari bahwa menjaga bumi menuntut peralihan ke sumber energi yang lebih bersih dan lestari, melampaui penghematan pribadi — sehingga saya, sesuai kemampuan, mendukung dan tidak menghalangi upaya menuju energi yang lebih sedikit merusak. Sebab persoalan energi tak bisa diselesaikan oleh penghematan individu semata, dan menuntut perubahan yang lebih luas menuju sumber yang lebih lestari. Maka saya tidak menjadikan penghematan pribadi sebagai pengganti dukungan terhadap perubahan yang lebih besar, dan tidak pula menjadikan besarnya persoalan sebagai alasan untuk tidak berbuat apa-apa dalam lingkup saya. Keduanya — penghematan pribadi dan dukungan terhadap peralihan — sama-sama bagian dari tanggung jawab.

Laku 5 — Mensyukuri dan tidak menganggap remeh kemudahan energi.

Saya berusaha mensyukuri dan tidak menganggap remeh kemudahan energi yang saya nikmati — sebab kemampuan menyalakan listrik, memasak dengan mudah, dan bepergian dengan cepat adalah kemewahan yang tak dimiliki sebagian besar manusia sepanjang sejarah dan masih tak merata hingga kini. Maka saya menghargai kemudahan ini alih-alih menganggapnya sebagai hak yang tak terbatas. Mensyukuri energi yang tersedia menumbuhkan kebijaksanaan untuk tidak menyia-nyiakannya, dan kesadaran bahwa banyak orang masih hidup tanpa akses energi yang memadai menumbuhkan kepedulian. Menghargai apa yang saya miliki, alih-alih menganggapnya biasa dan menyia-nyiakannya, adalah bentuk rasa syukur sekaligus tanggung jawab terhadap sumber yang berharga.

· · ·

LIFE 161 — ENERGY

I believe that energy — which drives almost all of modern life — is something most of which is still obtained in ways that damage the earth and is limited in amount; so to use it sparingly and wisely is part of guarding the shared home and not wasting what is precious — therefore I:

Practice 1 — Use energy sparingly, not wasting it.

I strive to use energy sparingly — turning off the unused, not wasting electricity and fuel, and avoiding pointless use. For energy is mostly still obtained in ways that damage the earth and is limited in amount, and waste by many people drains the source and adds to the damage. So I do not make light of daily energy-saving habits. Saving by one person seems small, but the habit of thrift or waste by many people determines the burden the earth bears. To save energy is at once to save cost and reduce environmental damage — a virtue that benefits both oneself and the shared home.

Practice 2 — Be aware of the impact of the energy I use.

I strive to be aware that behind the energy I use easily there is an impact — resources drained, the environment affected, and the climate impacted. So I do not use energy as though it comes without cost to the earth, but with awareness of the trace it leaves. The ease of switching on and using energy makes me easily forget that it comes from a limited and often damaging source. Awareness of this impact grows wisdom in using energy, not as a stance of self-torment, but as an appreciation of something precious and care for its impact on the shared home.

Practice 3 — Choose a more sparing and less damaging way of life, according to ability.

I strive, according to my ability and circumstance, to choose a more energy-sparing and less damaging way of life — in the daily choices within my reach. For many small choices in daily life help determine my energy footprint, and to choose the wiser is a real contribution. So I do not feel unable to do anything, and also not burdened beyond my ability. How exactly these choices are made depends on each person's circumstance, but the principle of choosing the more sparing and less damaging when there is a choice is part of living responsibly toward the environment.

Practice 4 — Support the shift to cleaner and more sustainable energy sources.

I am aware that guarding the earth demands a shift to cleaner and more sustainable energy sources, beyond personal saving — so I, according to my ability, support and do not hinder efforts toward less damaging energy. For the energy problem cannot be solved by individual saving alone, and demands wider change toward more sustainable sources. So I do not make personal saving a substitute for supporting larger change, nor make the size of the problem an excuse to do nothing within my sphere. Both — personal saving and support for the shift — are equally part of the responsibility.

Practice 5 — Be grateful and not make light of the ease of energy.

I strive to be grateful and not make light of the ease of energy I enjoy — for the ability to switch on electricity, cook easily, and travel quickly is a luxury most humans throughout history did not have and which is still uneven to this day. So I value this ease rather than regard it as a limitless right. To be grateful for the energy available grows the wisdom not to waste it, and the awareness that many people still live without adequate access to energy grows care. To value what I have, rather than regard it as ordinary and waste it, is a form of gratitude and at once responsibility toward a precious source.

 

HIDUP 162 — BENCANA ALAM
[Natural Disasters]

Saya berpikir bahwa bencana alam — gempa, banjir, badai, dan lainnya — adalah bagian dari kenyataan hidup di bumi yang tak sepenuhnya bisa dicegah; dan bahwa menyikapinya menuntut kesiapan sebelum ia datang, ketahanan saat ia menimpa, dan kepedulian terhadap sesama yang terdampak — maka saya:

Laku 1 — Bersiap menghadapi bencana yang mungkin menimpa daerah saya.

Saya berusaha bersiap menghadapi bencana yang mungkin menimpa daerah tempat saya tinggal — mengetahui bahayanya, menyiapkan apa yang diperlukan, dan mengenali apa yang harus dilakukan bila ia datang. Sebab kesiapan sebelum bencana sering menentukan keselamatan, dan banyak nyawa terselamatkan atau terhindar dari penderitaan berat karena persiapan yang dilakukan sebelumnya. Maka saya tidak mengabaikan kemungkinan bencana dengan dalih "tidak akan terjadi pada saya". Bersiap menghadapi bencana bukanlah hidup dalam ketakutan, melainkan kebijaksanaan yang justru memberi ketenangan dan keselamatan — sebab yang siap menghadapi yang terburuk bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan menghadapi guncangan dengan lebih baik.

Laku 2 — Menghadapi bencana dengan ketenangan dan ketahanan.

Saya berusaha, bila bencana menimpa, menghadapinya dengan ketenangan yang memungkinkan saya bertindak tepat dan dengan ketahanan untuk bertahan dan bangkit — alih-alih panik yang melumpuhkan atau keputusasaan yang menyerah. Sebab di tengah bencana, ketenangan dan ketahanan sering menentukan keselamatan dan pemulihan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain yang bergantung pada saya. Maka saya melatih diri untuk menghadapi guncangan dengan kepala yang tetap berfungsi dan jiwa yang tahan. Ketahanan batin yang dibangun sebelum bencana datang menjadi bekal yang tak tergantikan saat ia menimpa, sebab bencana menguji bukan hanya kesiapan fisik, tetapi juga kekuatan jiwa untuk bertahan dan bangkit.

Laku 3 — Menolong sesama yang terdampak bencana.

Saya berusaha menolong sesama yang terdampak bencana sesuai kemampuan — sebab bencana sering menimpa banyak orang sekaligus, dan saling menolong di saat seperti itu adalah jaring pengaman yang menyelamatkan dan meringankan. Maka saya tidak hanya memikirkan keselamatan diri, tetapi juga mengulurkan bantuan kepada yang membutuhkan, baik dengan tenaga, harta, maupun kehadiran. Di tengah bencana, kebaikan dan kepedulian sesama sering menjadi cahaya yang menguatkan korban untuk bertahan dan bangkit. Menolong sesama yang terdampak bencana adalah salah satu bentuk solidaritas kemanusiaan yang paling nyata dan paling dibutuhkan, dan ia menenun jaring kasih yang menopang masyarakat di saat tergelap.

Laku 4 — Mengurangi sumbangan terhadap bencana yang diperparah perbuatan manusia.

Saya berusaha menyadari bahwa sebagian bencana diperparah atau bahkan disebabkan oleh perbuatan manusia — banjir yang diperburuk perusakan hutan dan penyumbatan saluran, longsor karena perusakan lereng, dan bencana yang diperparah perubahan iklim — dan mengurangi sumbangan saya terhadapnya. Maka saya tidak hanya menghadapi bencana sebagai takdir yang tak terkait perbuatan, tetapi juga peduli pada mengurangi yang memperparahnya dalam lingkup saya. Membedakan bencana yang murni alami dari yang diperparah perbuatan manusia penting, sebab yang kedua bisa dikurangi dengan menjaga lingkungan. Menjaga hutan, saluran air, dan lingkungan adalah sekaligus mengurangi risiko bencana yang diperparah kelalaian manusia.

Laku 5 — Membantu pemulihan dan membangun kembali setelah bencana.

Saya berusaha, setelah bencana berlalu, ikut membantu pemulihan dan membangun kembali sesuai kemampuan — sebab penderitaan akibat bencana sering berlanjut lama setelah peristiwanya berlalu, dan pemulihan menuntut kepedulian dan kerja bersama yang berkelanjutan. Maka saya tidak hanya peduli saat bencana sedang terjadi lalu melupakannya, tetapi juga membantu yang terdampak bangkit kembali. Pemulihan setelah bencana sering menjadi perjuangan panjang yang membutuhkan dukungan yang tak berhenti saat sorotan berlalu. Membantu sesama membangun kembali hidup mereka setelah bencana adalah bentuk kepedulian yang berkelanjutan, dan ia menunjukkan solidaritas yang sejati: yang hadir bukan hanya di puncak penderitaan, tetapi juga dalam perjalanan panjang pemulihan.

· · ·

LIFE 162 — NATURAL DISASTERS

I believe that natural disasters — earthquakes, floods, storms, and others — are part of the reality of life on earth that cannot be fully prevented; and that to respond to them demands readiness before they come, resilience when they strike, and care for others affected — therefore I:

Practice 1 — Prepare for the disasters that may strike my area.

I strive to prepare for the disasters that may strike the area where I live — knowing their dangers, preparing what is needed, and recognizing what to do if they come. For readiness before a disaster often determines safety, and many lives are saved or spared heavy suffering because of preparation done beforehand. So I do not ignore the possibility of disaster with the excuse "it will not happen to me." To prepare for disaster is not to live in fear, but a wisdom that in fact gives calm and safety — for one ready to face the worst can live more at peace and face a shock better.

Practice 2 — Face disaster with calm and resilience.

I strive, if a disaster strikes, to face it with the calm that lets me act rightly and the resilience to endure and rise — rather than a paralyzing panic or a surrendering despair. For amid a disaster, calm and resilience often determine safety and recovery, both for oneself and for others dependent on me. So I train myself to face a shock with a head still functioning and a resilient soul. Inner resilience built before a disaster comes becomes an irreplaceable provision when it strikes, for a disaster tests not only physical readiness, but also the soul's strength to endure and rise.

Practice 3 — Help others affected by disaster.

I strive to help others affected by disaster according to my ability — for a disaster often strikes many people at once, and helping one another at such a time is a safety net that saves and relieves. So I do not only think of my own safety, but also extend help to those in need, whether with effort, wealth, or presence. Amid a disaster, the kindness and care of others often becomes a light that strengthens victims to endure and rise. To help others affected by disaster is one of the most real and most needed forms of human solidarity, and it weaves a net of love that supports society in its darkest hour.

Practice 4 — Reduce my contribution to disasters worsened by human action.

I strive to be aware that some disasters are worsened or even caused by human action — floods worsened by forest destruction and clogged channels, landslides from slope destruction, and disasters worsened by climate change — and to reduce my contribution to them. So I do not only face disaster as a fate unconnected to action, but also care about reducing what worsens it within my sphere. To distinguish purely natural disasters from those worsened by human action is important, for the latter can be reduced by guarding the environment. To guard forests, waterways, and the environment is at once to reduce the risk of disasters worsened by human negligence.

Practice 5 — Help recovery and rebuilding after disaster.

I strive, after a disaster has passed, to help recovery and rebuilding according to my ability — for the suffering from a disaster often continues long after the event has passed, and recovery demands continued care and joint work. So I do not only care while a disaster is happening and then forget it, but also help the affected rise again. Recovery after a disaster often becomes a long struggle that needs support which does not stop when the spotlight passes. To help others rebuild their lives after a disaster is a form of continued care, and it shows true solidarity: present not only at the peak of suffering, but also in the long journey of recovery.

 

HIDUP 163 — KOTA DAN DESA
[The City and The Village]

Saya berpikir bahwa kota dan desa adalah dua cara hidup yang masing-masing punya keindahan dan kesulitannya sendiri — kota menawarkan kesempatan dan keramaian namun sering keterasingan, desa menawarkan kedekatan dan ketenangan namun sering keterbatasan — dan bahwa hidup baik bisa dijalani di keduanya bila saya menjalaninya dengan bijak — maka saya:

Laku 1 — Menghargai keindahan dan kebaikan tempat di mana saya tinggal.

Saya berusaha menghargai keindahan dan kebaikan tempat di mana saya tinggal — baik kota maupun desa — alih-alih hanya mengeluhkan kekurangannya dan mengidamkan tempat lain. Sebab setiap tempat punya keindahan dan kebaikannya sendiri yang mudah terlewat oleh mata yang hanya melihat kekurangan, dan kebahagiaan lebih ditentukan oleh bagaimana saya menjalani tempat saya daripada oleh tempatnya sendiri. Maka saya berusaha menemukan dan menikmati apa yang baik di sekitar saya. Orang yang selalu merasa rumput tetangga lebih hijau tak pernah menikmati taman sendiri; menghargai tempat tinggal saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, adalah bagian dari hidup dengan rasa cukup dan syukur.

Laku 2 — Menjaga ikatan dan kepedulian di tengah keterasingan kota.

Saya berusaha, bila tinggal di kota, menjaga ikatan dan kepedulian terhadap sesama di tengah keramaian yang sering terasing — mengenal tetangga, terlibat dalam komunitas, dan tidak membiarkan diri tenggelam dalam isolasi di tengah kerumunan. Sebab kota, dengan segala keramaiannya, sering justru membuat orang kesepian dan terasing, dikelilingi banyak orang namun tak mengenal siapa pun. Maka saya melawan keterasingan ini dengan sengaja membangun hubungan. Hidup di kota tak harus berarti hidup terasing; dengan upaya yang sengaja untuk terhubung dan peduli, kota pun bisa menjadi tempat yang hangat dan penuh ikatan, bukan sekadar kumpulan orang asing yang berbagi tempat tanpa berbagi kehidupan.

Laku 3 — Menghargai kedekatan desa tanpa terjebak kesempitannya.

Saya berusaha, bila tinggal di desa atau tempat yang lebih kecil, menghargai kedekatan dan kehangatan kebersamaannya tanpa terjebak dalam kesempitan yang kadang menyertainya — gosip, kungkungan, dan penolakan terhadap yang berbeda. Sebab tempat yang kecil dan akrab menawarkan kedekatan dan rasa memiliki yang berharga, tetapi juga bisa membawa kesempitan pandangan dan tekanan untuk seragam. Maka saya menikmati kebaikannya sambil menjaga keterbukaan pikiran dan menghormati perbedaan. Kehangatan kebersamaan tempat kecil adalah harta, tetapi ia menjadi sehat ketika tidak berubah menjadi kungkungan yang menekan yang berbeda — keseimbangan antara kedekatan dan keterbukaan.

Laku 4 — Ikut menjaga dan memperbaiki tempat tinggal bersama.

Saya berusaha ikut menjaga dan memperbaiki tempat tinggal bersama — kota maupun desa — alih-alih hanya menuntut dan mengeluh tanpa ikut menyumbang. Sebab tempat tinggal yang baik adalah hasil dari warga yang ikut peduli dan merawatnya, bukan hanya dari segelintir yang bertanggung jawab. Maka saya ikut menjaga kebersihan, ketertiban, dan kebaikan lingkungan tempat saya tinggal. Mengeluhkan keburukan tempat tinggal tanpa ikut memperbaikinya tidak mengubah apa pun; ikut menjaga dan memperbaiki, betapapun kecil sumbangan saya, adalah bagian dari menjadi warga yang bertanggung jawab dan dari membuat tempat tinggal bersama menjadi lebih baik bagi semua.

Laku 5 — Memilih tempat tinggal sesuai keadaan dan kebutuhan hidup saya.

Saya berusaha memilih tempat tinggal — bila saya punya pilihan — sesuai dengan keadaan dan kebutuhan hidup saya pada musimnya, tanpa terjebak anggapan bahwa satu jenis tempat selalu lebih baik dari yang lain. Sebab kota dan desa masing-masing cocok untuk kebutuhan dan musim hidup yang berbeda, dan apa yang tepat bagi saya bisa berubah seiring keadaan. Maka saya memilih dengan menimbang kebutuhan nyata saya, bukan sekadar mengikuti anggapan umum atau mengejar yang dianggap lebih bergengsi. Tidak ada tempat yang sempurna, dan kebijaksanaan ada pada memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan hidup saya saat ini, lalu menjalaninya dengan baik dan menghargai kebaikannya.

· · ·

LIFE 163 — THE CITY AND THE VILLAGE

I believe that the city and the village are two ways of life each with its own beauty and difficulty — the city offers opportunity and bustle but often alienation, the village offers closeness and calm but often limitation — and that a good life can be lived in both if I live it wisely — therefore I:

Practice 1 — Value the beauty and goodness of the place where I live.

I strive to value the beauty and goodness of the place where I live — city or village — rather than only complaining of its lack and longing for elsewhere. For every place has its own beauty and goodness easily missed by eyes that see only the lack, and happiness is determined more by how I live my place than by the place itself. So I strive to find and enjoy what is good around me. A person who always feels the neighbor's grass is greener never enjoys their own garden; to value my dwelling, with all its strengths and lacks, is part of living with a sense of enough and gratitude.

Practice 2 — Keep bonds and care amid the city's alienation.

I strive, if I live in the city, to keep bonds and care for others amid a bustle that is often alienating — knowing my neighbors, engaging in community, and not letting myself sink into isolation amid the crowd. For the city, with all its bustle, often in fact makes people lonely and alienated, surrounded by many people yet knowing no one. So I fight this alienation by deliberately building relationships. To live in the city need not mean living alienated; with a deliberate effort to connect and care, even the city can become a warm place full of bonds, not merely a gathering of strangers who share a place without sharing a life.

Practice 3 — Value the village's closeness without being trapped by its narrowness.

I strive, if I live in a village or smaller place, to value its closeness and the warmth of its togetherness without being trapped in the narrowness that sometimes accompanies it — gossip, confinement, and rejection of the different. For a small and intimate place offers a precious closeness and sense of belonging, but can also bring a narrowness of view and pressure to conform. So I enjoy its goodness while keeping an openness of mind and respecting difference. The warmth of a small place's togetherness is a treasure, but it stays healthy when it does not turn into a confinement that presses on the different — a balance between closeness and openness.

Practice 4 — Help guard and improve the shared dwelling place.

I strive to help guard and improve the shared dwelling place — city or village — rather than only demanding and complaining without contributing. For a good dwelling place is the result of citizens who help care for and tend it, not only of a few who are responsible. So I help keep the cleanliness, order, and goodness of the environment where I live. To complain of a dwelling place's faults without helping improve it changes nothing; to help guard and improve, however small my contribution, is part of being a responsible citizen and of making the shared dwelling place better for all.

Practice 5 — Choose a dwelling place suited to my circumstance and life's needs.

I strive to choose a dwelling place — if I have a choice — suited to my circumstance and life's needs in their season, without being trapped in the notion that one kind of place is always better than another. For the city and the village each suit different needs and seasons of life, and what is right for me can change with circumstance. So I choose by weighing my real needs, not merely following the common notion or chasing what is deemed more prestigious. No place is perfect, and the wisdom lies in choosing the one most suited to my life's needs at present, then living it well and valuing its goodness.

 

HIDUP 164 — BEPERGIAN DAN PERJALANAN
[Travel and Journeys]

Saya berpikir bahwa bepergian dan perjalanan, ketika dijalani dengan baik, memperluas pandangan, menumbuhkan pemahaman terhadap dunia dan sesama, dan memberi pengalaman yang memperkaya jiwa lebih daripada barang — dan bahwa perjalanan terbaik mengubah saya, bukan sekadar memindahkan saya — maka saya:

Laku 1 — Memandang perjalanan sebagai cara memperluas pandangan dan pemahaman.

Saya berusaha memandang bepergian sebagai cara memperluas pandangan dan menumbuhkan pemahaman terhadap dunia dan sesama — bukan sekadar mengumpulkan tempat yang dikunjungi atau foto untuk dipamerkan. Sebab perjalanan yang sungguh berharga membuka mata terhadap cara hidup, budaya, dan pandangan yang berbeda, dan meluruhkan kesempitan serta prasangka. Maka saya bepergian dengan hati dan pikiran yang terbuka, ingin memahami, bukan sekadar melihat sambil lalu. Perjalanan terbaik bukanlah yang mengumpulkan paling banyak tempat, melainkan yang paling mengubah dan memperluas cara saya memandang dunia dan sesama — yang membawa saya pulang sebagai orang yang sedikit lebih luas pandangannya.

Laku 2 — Menghormati tempat, budaya, dan orang yang saya kunjungi.

Saya berusaha menghormati tempat, budaya, dan orang-orang yang saya kunjungi — tidak merusak, tidak merendahkan budaya yang berbeda, dan tidak memperlakukan tempat lain dan penduduknya semata sebagai latar bagi kesenangan saya. Sebab tempat yang saya kunjungi adalah rumah dan kehidupan nyata orang lain, bukan sekadar tontonan, dan menghormatinya adalah bentuk kesopanan dan kemanusiaan dasar. Maka saya bepergian sebagai tamu yang menghormati, bukan sebagai orang yang merasa berhak. Menghormati budaya dan orang yang berbeda dari saya, alih-alih menghakimi atau merendahkannya, adalah bagian dari perjalanan yang sungguh memperluas — sebab hanya dengan hormat saya bisa sungguh belajar dari yang berbeda.

Laku 3 — Menikmati pengalaman perjalanan, bukan sekadar mengejar tujuan.

Saya berusaha menikmati pengalaman perjalanan itu sendiri — perjumpaan, pemandangan, pembelajaran, dan momen di sepanjang jalan — bukan sekadar terburu-buru mengejar tujuan dan daftar tempat yang harus dikunjungi. Sebab perjalanan yang dijalani dengan tergesa untuk mencentang daftar sering melewatkan justru hal-hal yang membuatnya berharga. Maka saya melambat untuk hadir dan meresapi, alih-alih hanya bergegas dari satu tempat ke tempat berikutnya. Kesadaran penuh dalam perjalanan mengubahnya dari sekadar perpindahan menjadi pengalaman yang kaya. Perjalanan yang paling berkesan sering bukan yang paling padat tujuannya, melainkan yang paling sungguh-sungguh dialami dan diresapi.

Laku 4 — Menghargai pengalaman perjalanan di atas penumpukan dan pamer.

Saya berusaha menghargai perjalanan sebagai pengalaman yang memperkaya jiwa, bukan sebagai barang untuk dipamerkan atau pencapaian untuk dikumpulkan. Sebab pengalaman terbukti memberi kebahagiaan yang lebih dalam dan tahan lama daripada barang, tetapi nilainya hilang bila perjalanan diubah menjadi sekadar bahan pamer dan perlombaan. Maka saya bepergian untuk pengalaman dan pertumbuhannya, bukan untuk citra dan pengakuan. Perjalanan yang dijalani demi pamer sering kehilangan justru hal yang membuatnya berharga, sementara perjalanan yang dijalani untuk sungguh mengalami dan tumbuh memberi kekayaan batin yang bertahan dalam kenangan dan dalam diri yang berubah — kekayaan yang tak butuh penonton untuk berharga.

Laku 5 — Menemukan perjalanan dan keindahan bahkan di tempat dekat.

Saya berusaha menyadari bahwa perjalanan dan penemuan tidak menuntut tempat yang jauh dan mahal — bahwa keindahan, pembelajaran, dan pengalaman baru bisa ditemukan bahkan di tempat dekat bila saya memandangnya dengan mata yang terbuka dan rasa ingin tahu. Sebab perjalanan yang sejati lebih merupakan cara memandang daripada jarak yang ditempuh, dan orang yang penasaran bisa menemukan keajaiban di tempat yang dianggap orang lain biasa. Maka saya tidak menunda menikmati dunia sampai bisa bepergian jauh, melainkan menemukan keindahan dan penemuan di sekitar saya. Memandang tempat yang dekat dan akrab dengan mata yang baru, seolah pertama kali melihatnya, adalah perjalanan yang tak menuntut biaya dan selalu tersedia.

· · ·

LIFE 164 — TRAVEL AND JOURNEYS

I believe that travel and journeys, when undertaken well, widen one's view, grow understanding of the world and others, and give an experience that enriches the soul more than goods — and that the best journey changes me, not merely moves me — therefore I:

Practice 1 — View travel as a way of widening view and understanding.

I strive to view travel as a way of widening my view and growing understanding of the world and others — not merely collecting places visited or photos to show off. For a truly valuable journey opens the eyes to differing ways of life, cultures, and views, and dissolves narrowness and prejudice. So I travel with an open heart and mind, wanting to understand, not merely seeing in passing. The best journey is not the one that collects the most places, but the one that most changes and widens how I view the world and others — that brings me home a person of slightly wider view.

Practice 2 — Respect the place, culture, and people I visit.

I strive to respect the place, culture, and people I visit — not damaging, not demeaning a different culture, and not treating another place and its people merely as a backdrop for my pleasure. For the place I visit is others' home and real life, not a mere spectacle, and to respect it is a form of basic courtesy and humanity. So I travel as a respectful guest, not as one who feels entitled. To respect a culture and people different from me, rather than judge or demean them, is part of a journey that truly widens — for only with respect can I truly learn from the different.

Practice 3 — Enjoy the experience of the journey, not merely chase the destination.

I strive to enjoy the experience of the journey itself — the encounters, the views, the learning, and the moments along the way — not merely rush to chase a destination and a list of places that must be visited. For a journey lived in haste to check off a list often misses precisely the things that make it valuable. So I slow down to be present and absorb, rather than only rush from one place to the next. Full awareness in a journey turns it from a mere movement into a rich experience. The most memorable journey is often not the one most packed with destinations, but the one most truly experienced and absorbed.

Practice 4 — Value the experience of travel over piling up and showing off.

I strive to value travel as an experience that enriches the soul, not as a thing to show off or an achievement to collect. For experiences are proven to give a deeper and more lasting happiness than goods, but their value is lost when travel is turned into mere material for show and competition. So I travel for the experience and its growth, not for image and recognition. A journey undertaken for show often loses precisely the thing that makes it valuable, while a journey undertaken to truly experience and grow gives an inner richness that endures in memory and in a changed self — a richness that needs no audience to be precious.

Practice 5 — Find journey and beauty even in nearby places.

I strive to be aware that journey and discovery do not demand a distant and expensive place — that beauty, learning, and new experience can be found even in a nearby place if I view it with open eyes and curiosity. For true travel is more a way of seeing than a distance covered, and a curious person can find wonder in a place others deem ordinary. So I do not defer enjoying the world until I can travel far, but find beauty and discovery around me. To view a nearby and familiar place with new eyes, as if seeing it for the first time, is a journey that demands no cost and is always available.