KITAB HIDUP BAIK
(The Book of Good Living) -
(A guide to good living grounded in universal principles)
[Part XII. Nature & Earth]
HIDUP
155 — ALAM
[Nature]
Saya berpikir bahwa saya bukanlah
penguasa yang berdiri di atas alam, melainkan bagian dari alam yang bergantung
sepenuhnya padanya — udara yang saya hirup, air yang saya minum, dan makanan
yang menghidupi saya semuanya datang darinya — sehingga merusak alam pada
akhirnya adalah merusak rumah dan tubuh saya sendiri — maka saya:
Laku
1 — Memandang diri sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya.
Saya berusaha memandang diri saya
sebagai bagian dari alam yang bergantung padanya, bukan sebagai penguasa yang
berhak mengeksploitasinya sesuka hati. Sebab segala yang menghidupi saya —
udara, air, tanah, makanan — datang dari alam, dan merusaknya berarti merusak
sumber kehidupan saya sendiri. Maka saya memperlakukan alam dengan hormat dan
kehati-hatian, bukan dengan keserakahan yang menguras tanpa batas. Pandangan
bahwa manusia berdiri di atas dan terpisah dari alam telah membawa kerusakan
besar; menyadari bahwa saya adalah bagian dari jaring kehidupan yang lebih
besar membawa cara hidup yang lebih bijak dan lebih lestari.
Laku
2 — Menikmati dan terhubung dengan alam sebagai kebutuhan jiwa.
Saya berusaha meluangkan waktu untuk
berada di alam dan terhubung dengannya — sebab kehadiran di alam terbukti
menyegarkan tubuh, menenangkan jiwa, dan memulihkan kejernihan pikiran, dan
manusia yang terputus sepenuhnya dari alam kehilangan sesuatu yang mendasar.
Maka saya tidak hidup sepenuhnya terkurung dalam ruang buatan dan layar,
melainkan mencari udara terbuka, pepohonan, air, dan langit. Berada di alam
bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan jiwa yang sering terlupakan di tengah
kehidupan modern yang serba dalam ruangan. Beberapa saat di alam terbuka
mengembalikan sesuatu yang tak bisa diberikan oleh ruang berdinding dan layar —
ketenangan yang berakar dalam pada hubungan tubuh dengan dunia hidup.
Laku
3 — Menjaga alam dari kerusakan yang ada dalam jangkauan saya.
Saya berusaha menjaga alam dari
kerusakan dalam hal-hal yang ada dalam jangkauan saya — tidak mencemari, tidak
merusak sembarangan, tidak menguras tanpa perlu, dan menjaga lingkungan tempat
saya tinggal. Sebab kerusakan alam besar terbangun dari banyak perbuatan kecil,
dan menjaganya pun dimulai dari perbuatan kecil dalam keseharian. Maka saya
tidak menganggap remeh sumbangan saya, baik dalam merusak maupun menjaga. Meski
masalah lingkungan terasa besar dan jauh, perbuatan saya sehari-hari ikut
menentukan, dan kebiasaan menjaga alam dalam lingkup saya adalah bagian dari
tanggung jawab terhadap rumah bersama yang menghidupi semua.
Laku
4 — Mengambil dari alam secukupnya, bukan dengan keserakahan.
Saya berusaha mengambil dari alam
secukupnya untuk kebutuhan, bukan menguras dengan keserakahan yang tak kenal
batas — sebab alam memberi cukup untuk kebutuhan semua, tetapi tidak cukup
untuk keserakahan tanpa batas, dan menguras melampaui kemampuan alam memulihkan
diri menghancurkan sumber kehidupan bagi generasi mendatang. Maka saya menahan
keserakahan dan mengambil dengan kesadaran akan batas. Alam memiliki kemampuan
memulihkan diri bila tidak diperas melampaui batasnya, dan mengambil secukupnya
sambil membiarkannya pulih adalah kearifan yang menjaga keberlanjutan.
Keserakahan yang menguras tanpa batas akhirnya menghancurkan yang dikurasnya,
merugikan baik pengurasnya maupun yang datang setelahnya.
Laku
5 — Mewariskan alam yang layak bagi generasi mendatang.
Saya berusaha menjaga alam bukan hanya
untuk diri saya, tetapi juga untuk generasi yang datang setelah saya — anak
cucu yang akan mewarisi bumi yang saya tinggalkan. Sebab saya hanya meminjam
bumi ini dari generasi mendatang, dan merusaknya demi kenikmatan sesaat berarti
mencuri dari mereka yang belum bisa membela diri. Maka saya menanam dan menjaga
hal-hal yang buahnya akan dinikmati oleh yang datang setelah saya. Ada
kemuliaan khusus dalam merawat sesuatu yang hasilnya tak akan saya nikmati
sendiri, dan menjaga alam bagi generasi mendatang adalah salah satu bentuk
kasih dan tanggung jawab yang melampaui kepentingan diri sendiri — sebuah
warisan bagi mereka yang belum lahir.
· · ·
LIFE 155 — NATURE
I believe that I am not a ruler standing
above nature, but a part of nature wholly dependent on it — the air I breathe,
the water I drink, and the food that sustains me all come from it — so to
damage nature is in the end to damage my own home and body — therefore I:
Practice
1 — See myself as part of nature, not its ruler.
I strive to see myself as a part of
nature dependent on it, not as a ruler entitled to exploit it at will. For all
that sustains me — air, water, soil, food — comes from nature, and damaging it
means damaging the source of my own life. So I treat nature with respect and
care, not with a greed that drains without limit. The view that humans stand
above and apart from nature has brought great damage; to realize that I am part
of a larger web of life brings a wiser and more sustainable way of living.
Practice
2 — Enjoy and connect with nature as a need of the soul.
I strive to make time to be in nature
and connect with it — for presence in nature is proven to refresh the body,
calm the soul, and restore clarity of mind, and a human wholly cut off from
nature loses something fundamental. So I do not live entirely confined in
artificial spaces and screens, but seek open air, trees, water, and sky. To be
in nature is no luxury, but a need of the soul often forgotten amid a modern
life lived all indoors. A few moments in the open air restore something that
walled rooms and screens cannot give — a calm rooted deeply in the body's
connection with the living world.
Practice
3 — Guard nature from the damage within my reach.
I strive to guard nature from damage in
the things within my reach — not polluting, not destroying carelessly, not
draining needlessly, and keeping clean the environment where I live. For great
damage to nature is built from many small acts, and guarding it too begins with
small acts in daily life. So I do not make light of my contribution, whether in
damaging or guarding. Though environmental problems feel large and distant, my
daily acts help determine, and the habit of guarding nature within my sphere is
part of the responsibility toward the shared home that sustains all.
Practice
4 — Take from nature enough, not with greed.
I strive to take from nature enough for
need, not draining it with a greed that knows no limit — for nature gives
enough for the needs of all, but not enough for limitless greed, and draining
beyond nature's ability to restore itself destroys the source of life for
generations to come. So I restrain greed and take with awareness of limits.
Nature has the ability to restore itself if not squeezed beyond its bounds, and
to take enough while letting it recover is the wisdom that keeps
sustainability. Greed that drains without limit in the end destroys what it
drains, harming both the drainer and those who come after.
Practice
5 — Bequeath a fit nature to generations to come.
I strive to guard nature not only for
myself, but also for the generations who come after me — the children and
grandchildren who will inherit the earth I leave behind. For I only borrow this
earth from generations to come, and damaging it for a momentary pleasure means
stealing from those who cannot yet defend themselves. So I plant and guard
things whose fruit will be enjoyed by those who come after me. There is a
special nobility in tending something whose harvest I will not enjoy myself,
and to guard nature for generations to come is one of the forms of love and
responsibility that goes beyond self-interest — a legacy for those not yet
born.
HIDUP
156 — HEWAN
[Animals]
Saya berpikir bahwa hewan adalah makhluk
hidup yang merasakan — yang bisa mengalami sakit, takut, dan kadang kegembiraan
— dan bahwa cara saya memperlakukan makhluk yang lebih lemah dan tak bisa
membela diri adalah salah satu ukuran kemanusiaan saya; sehingga kekejaman
terhadap hewan adalah keburukan, dan kepedulian terhadapnya adalah kebajikan —
maka saya:
Laku
1 — Memperlakukan hewan dengan belas kasih, menghindari kekejaman.
Saya berusaha memperlakukan hewan dengan
belas kasih dan menghindari menyiksa atau menyakiti mereka tanpa perlu — sebab
hewan adalah makhluk yang merasakan sakit dan takut, dan menyiksa makhluk yang
tak bisa membela diri adalah kekejaman yang mencerminkan keburukan hati. Maka
saya tidak menyiksa hewan untuk kesenangan, tidak memperlakukan mereka dengan
kekejaman, dan tidak menganggap penderitaan mereka sebagai hal yang tak
penting. Cara seseorang memperlakukan makhluk yang lebih lemah dan tak bisa
membalas menunjukkan wataknya, dan belas kasih terhadap hewan adalah perluasan
dari belas kasih yang menjadi inti kemanusiaan. Kekejaman terhadap hewan sering
berjalan seiring dengan kekejaman terhadap sesama manusia.
Laku
2 — Merawat hewan yang menjadi tanggung jawab saya dengan baik.
Saya berusaha merawat hewan yang menjadi
tanggung jawab saya — hewan peliharaan, ternak, atau hewan yang bergantung pada
saya — dengan baik, memenuhi kebutuhan dan menjaga kesejahteraannya. Sebab
memelihara hewan adalah memikul tanggung jawab atas makhluk yang bergantung
sepenuhnya pada saya, dan menelantarkannya adalah pengkhianatan terhadap
tanggung jawab itu. Maka saya tidak memelihara hewan lalu menelantarkannya,
melainkan memberi yang dibutuhkannya. Hewan yang dirawat dengan baik sering
memberi kasih, kesetiaan, dan kegembiraan yang tulus, dan hubungan dengan hewan
peliharaan bisa menjadi sumber kehangatan dan penghiburan. Merawat dengan baik
makhluk yang mempercayakan hidupnya kepada saya adalah bentuk tanggung jawab
dan kasih.
Laku
3 — Menggunakan hewan untuk kebutuhan dengan tetap menghindari kekejaman.
Saya menerima bahwa manusia menggunakan
hewan untuk berbagai kebutuhan — makanan, kerja, dan lainnya — sambil berusaha
agar penggunaan itu tidak disertai kekejaman dan penyiksaan yang tidak perlu.
Sebab menggunakan hewan untuk kebutuhan hidup berbeda dari menyiksanya dengan
kejam, dan bahkan dalam memanfaatkan hewan, belas kasih untuk meminimalkan
penderitaan tetap dituntut. Maka saya, dalam batas keadaan dan keyakinan saya,
berusaha agar perlakuan terhadap hewan tidak melampaui yang perlu menjadi kekejaman.
Bagaimana persisnya keseimbangan ini ditarik bisa beragam menurut keadaan dan
keyakinan masing-masing, tetapi prinsip menghindari kekejaman dan penderitaan
yang tidak perlu adalah hal yang patut dijaga.
Laku
4 — Menghormati hewan liar dan tempat hidupnya.
Saya berusaha menghormati hewan liar dan
tempat hidup mereka — tidak memburu atau membunuh tanpa perlu, tidak merusak
tempat hidup mereka dengan sembrono, dan tidak mendorong makhluk lain menuju
kepunahan demi keserakahan. Sebab setiap jenis makhluk adalah bagian dari
jaring kehidupan yang rumit dan saling terhubung, dan kepunahan yang disebabkan
manusia adalah kehilangan yang tak terpulihkan. Maka saya menghormati hak hewan
liar untuk hidup di tempatnya. Banyak jenis makhluk telah punah dan terancam karena
perbuatan manusia, dan menjaga keberadaan mereka adalah bagian dari menjaga
keutuhan alam yang menghidupi semua, serta menghormati nilai kehidupan yang
beragam di luar kepentingan manusia semata.
Laku
5 — Mengajarkan belas kasih terhadap hewan kepada anak-anak.
Saya berusaha mengajarkan belas kasih
terhadap hewan kepada anak-anak — sebab cara anak belajar memperlakukan makhluk
yang lebih lemah membentuk hati mereka, dan anak yang belajar berbelas kasih
terhadap hewan menumbuhkan kepekaan yang meluas kepada sesama manusia. Maka
saya tidak membiarkan anak menyiksa hewan dengan dalih bermain, melainkan
mengajari mereka memperlakukan makhluk hidup dengan lembut dan hormat.
Mengajarkan belas kasih terhadap hewan adalah salah satu cara menanamkan
kepekaan dan kasih sejak dini, sebab hati yang belajar peduli pada penderitaan
makhluk yang tak bisa bicara akan lebih mudah peduli pada penderitaan sesama.
Kekejaman yang dibiarkan pada anak terhadap hewan bisa tumbuh menjadi kekerasan
yang lebih luas.
· · ·
LIFE 156 — ANIMALS
I believe that animals are living,
feeling creatures — able to experience pain, fear, and sometimes joy — and that
how I treat creatures weaker and unable to defend themselves is one of the
measures of my humanity; so cruelty to animals is an evil, and care for them is
a virtue — therefore I:
Practice
1 — Treat animals with compassion, avoiding cruelty.
I strive to treat animals with
compassion and avoid torturing or hurting them needlessly — for animals are
creatures that feel pain and fear, and to torture a creature unable to defend
itself is a cruelty that reflects a bad heart. So I do not torture animals for
pleasure, do not treat them with cruelty, and do not regard their suffering as
unimportant. How a person treats a creature weaker and unable to repay shows
their character, and compassion for animals is an extension of the compassion
that is the core of humanity. Cruelty to animals often goes hand in hand with
cruelty to fellow humans.
Practice
2 — Tend well the animals in my charge.
I strive to tend well the animals in my
charge — pets, livestock, or animals that depend on me — meeting their needs
and guarding their welfare. For to keep an animal is to bear responsibility for
a creature wholly dependent on me, and to neglect it is a betrayal of that
responsibility. So I do not keep an animal and then neglect it, but give what
it needs. An animal tended well often gives sincere love, loyalty, and joy, and
a relationship with a pet can be a source of warmth and comfort. To tend well a
creature that entrusts its life to me is a form of responsibility and love.
Practice
3 — Use animals for need while still avoiding cruelty.
I accept that humans use animals for
various needs — food, work, and others — while striving that such use not be
accompanied by cruelty and needless torture. For using animals for life's needs
differs from torturing them cruelly, and even in making use of animals,
compassion to minimize suffering is still demanded. So I, within the bounds of
my circumstance and belief, strive that the treatment of animals not exceed the
necessary into cruelty. How exactly this balance is drawn can vary by each
person's circumstance and belief, but the principle of avoiding cruelty and
needless suffering is something worth keeping.
Practice
4 — Respect wild animals and their habitat.
I strive to respect wild animals and
their habitat — not hunting or killing needlessly, not destroying their habitat
carelessly, and not driving other creatures toward extinction out of greed. For
each kind of creature is part of an intricate and interconnected web of life,
and an extinction caused by humans is an irreparable loss. So I respect the
right of wild animals to live in their place. Many kinds of creatures have gone
extinct and are threatened by human action, and to guard their existence is part
of guarding the wholeness of the nature that sustains all, and of respecting
the value of the diverse life beyond human interest alone.
Practice
5 — Teach children compassion toward animals.
I strive to teach children compassion
toward animals — for how a child learns to treat weaker creatures shapes their
heart, and a child who learns compassion toward animals grows a sensitivity
that widens to fellow humans. So I do not let a child torture an animal with
the excuse of play, but teach them to treat living creatures gently and with
respect. To teach compassion toward animals is one way of instilling
sensitivity and love early, for a heart that learns to care about the suffering
of creatures that cannot speak will more easily care about the suffering of
fellow humans. Cruelty allowed in a child toward animals can grow into a wider
violence.
HIDUP
157 — TUMBUHAN
[Plants]
Saya berpikir bahwa tumbuhan adalah
fondasi kehidupan di bumi — penghasil udara yang saya hirup, makanan yang
menghidupi saya dan hewan, serta penjaga tanah dan air — dan bahwa meski mereka
diam dan mudah diabaikan, hidup saya bergantung pada mereka jauh lebih dalam
daripada yang sering saya sadari — maka saya:
Laku
1 — Menghargai tumbuhan sebagai fondasi kehidupan.
Saya berusaha menghargai tumbuhan
sebagai fondasi kehidupan yang sering terlupakan — sebab merekalah yang
menghasilkan sebagian besar udara yang saya hirup, menjadi dasar dari hampir
semua makanan, dan menjaga tanah, air, serta keseimbangan alam. Maka saya tidak
menganggap remeh keberadaan dan peran mereka hanya karena mereka diam dan mudah
diabaikan. Tanpa tumbuhan, kehidupan hewan dan manusia tak mungkin ada, dan
menghargai peran mendasar mereka adalah bagian dari memahami betapa hidup saya
terjalin dengan jaring kehidupan yang lebih besar. Kesadaran ini menumbuhkan
rasa hormat dan tanggung jawab terhadap dunia tumbuhan yang menopang segala
kehidupan.
Laku
2 — Menanam dan memelihara tumbuhan.
Saya berusaha menanam dan memelihara
tumbuhan sesuai kemampuan dan keadaan saya — pohon, tanaman pangan, atau
sekadar tanaman di sekitar rumah — sebab menanam adalah salah satu perbuatan
paling sederhana yang menambah kehidupan, keindahan, dan kebaikan bagi dunia.
Maka saya tidak hanya mengambil dari tumbuhan, tetapi juga ikut menumbuhkannya.
Menanam pohon yang naungannya akan dinikmati orang lain di masa depan adalah
bentuk kebaikan yang melampaui diri sendiri, dan memelihara tanaman, betapapun
kecil, menghubungkan saya dengan ritme alam dan memberi kepuasan tersendiri.
Setiap tumbuhan yang ditanam dan dirawat adalah sumbangan kecil bagi kehidupan
dan keindahan dunia.
Laku
3 — Menjaga hutan dan tumbuhan dari kerusakan yang merugikan semua.
Saya berusaha, sesuai kemampuan, ikut
menjaga hutan dan tumbuhan dari kerusakan yang merugikan semua — tidak ikut
merusak sembarangan, dan mendukung penjagaan terhadap hutan yang menjadi
paru-paru dan penjaga keseimbangan alam. Sebab perusakan hutan dan tumbuhan
besar-besaran membawa kerugian bagi semua: udara yang memburuk, tanah yang
rusak, air yang terganggu, dan iklim yang berubah. Maka saya tidak ikut dalam
perusakan dan, sebisa mungkin, mendukung penjagaan. Hutan dan tumbuhan adalah
milik bersama yang menghidupi semua, dan kerusakannya, meski sering terjadi
jauh dari mata, akhirnya merugikan setiap orang. Menjaganya adalah bagian dari
tanggung jawab terhadap rumah bersama.
Laku
4 — Tidak menyia-nyiakan hasil tumbuhan dan pangan.
Saya berusaha tidak menyia-nyiakan hasil
tumbuhan dan pangan — menghargai makanan yang berasal dari tanah, kerja, dan
waktu, dan tidak membuangnya dengan sembrono. Sebab di balik setiap makanan ada
tumbuhan yang tumbuh, tanah yang menumbuhkannya, dan tangan yang menanam dan
memanennya, dan menyia-nyiakannya adalah menyia-nyiakan semua itu sementara
banyak orang kekurangan. Maka saya mengambil secukupnya, menghargai, dan tidak
membuang berlebihan. Pemborosan pangan adalah salah satu pemborosan yang paling
tak adil di dunia yang sebagian penduduknya kelaparan, dan menghargai serta
tidak menyia-nyiakan makanan adalah bentuk rasa syukur dan keadilan sekaligus.
Laku
5 — Mengelilingi diri dan keluarga dengan kehijauan dan kehidupan tumbuhan.
Saya berusaha mengelilingi diri dan
keluarga dengan kehijauan dan kehidupan tumbuhan sesuai kemampuan — sebab
kehadiran tumbuhan dan kehijauan terbukti menenangkan jiwa, menyegarkan udara,
dan menambah keindahan serta kesejahteraan. Maka saya menghadirkan tumbuhan di
tempat tinggal dan mengajak keluarga, terutama anak-anak, untuk mengenal dan
mencintai dunia tumbuhan. Anak yang tumbuh mengenal alam dan tumbuhan
menumbuhkan kepekaan dan hubungan dengan kehidupan yang akan menyertai mereka
seumur hidup. Mengelilingi diri dengan kehidupan tumbuhan, betapapun sederhana,
mendekatkan saya dengan alam dan menambah ketenangan serta keindahan dalam
keseharian yang sering serba buatan dan jauh dari kehijauan.
· · ·
LIFE 157 — PLANTS
I believe that plants are the foundation
of life on earth — producer of the air I breathe, the food that sustains me and
the animals, and guardian of soil and water — and that though they are silent
and easily ignored, my life depends on them far more deeply than I often
realize — therefore I:
Practice
1 — Value plants as the foundation of life.
I strive to value plants as the
often-forgotten foundation of life — for they produce most of the air I
breathe, are the basis of almost all food, and guard the soil, water, and
balance of nature. So I do not make light of their existence and role merely
because they are silent and easily ignored. Without plants, the life of animals
and humans could not exist, and to value their fundamental role is part of
understanding how my life is woven into the larger web of life. This awareness
grows respect and responsibility toward the plant world that supports all life.
Practice
2 — Plant and tend plants.
I strive to plant and tend plants
according to my ability and circumstance — trees, food crops, or simply plants
around the house — for planting is one of the simplest acts that adds life,
beauty, and goodness to the world. So I do not only take from plants, but also
help grow them. To plant a tree whose shade others will enjoy in the future is
a form of goodness beyond oneself, and to tend a plant, however small, connects
me with the rhythm of nature and gives a satisfaction of its own. Every plant
planted and tended is a small contribution to the life and beauty of the world.
Practice
3 — Guard forests and plants from damage that harms all.
I strive, according to my ability, to
help guard forests and plants from damage that harms all — not joining in
careless destruction, and supporting the protection of forests that are the
lungs and guardian of nature's balance. For the large-scale destruction of
forests and plants brings harm to all: worsening air, ruined soil, disturbed
water, and a changing climate. So I do not join in the destruction and, as much
as possible, support the protection. Forests and plants are a shared possession
that sustains all, and their destruction, though often happening far from
sight, in the end harms everyone. To guard them is part of the responsibility
toward the shared home.
Practice
4 — Not waste the produce of plants and food.
I strive not to waste the produce of
plants and food — valuing food that comes from the soil, labor, and time, and
not throwing it away carelessly. For behind every food is a plant that grew,
the soil that grew it, and the hands that planted and harvested it, and to
waste it is to waste all that while many people are in want. So I take enough,
value it, and do not throw away in excess. Food waste is one of the most unjust
kinds of waste in a world where some of its people go hungry, and to value and
not waste food is a form of gratitude and justice at once.
Practice
5 — Surround myself and family with greenery and plant life.
I strive to surround myself and family
with greenery and plant life according to my ability — for the presence of
plants and greenery is proven to calm the soul, freshen the air, and add beauty
and well-being. So I bring plants into my dwelling and invite the family,
especially children, to know and love the plant world. A child who grows up
knowing nature and plants grows a sensitivity and connection with life that
will accompany them throughout their lives. To surround myself with plant life,
however simple, draws me close to nature and adds calm and beauty in a daily
life that is often all artificial and far from greenery.
HIDUP
158 — AIR
[Water]
Saya berpikir bahwa air adalah sumber
kehidupan yang paling mendasar — tubuh saya sebagian besarnya air, dan tak ada
kehidupan yang mungkin tanpanya — dan bahwa meski di sebagian tempat ia tampak
melimpah dan murah, ia sesungguhnya berharga, terbatas, dan di banyak tempat
menjadi perjuangan hidup-mati — maka saya:
Laku
1 — Menghargai air sebagai sumber kehidupan yang berharga.
Saya berusaha menghargai air sebagai
sumber kehidupan yang berharga, bukan menganggapnya remeh karena tampak
melimpah dan murah. Sebab air adalah dasar dari segala kehidupan, dan di banyak
tempat di dunia, air bersih adalah perjuangan hidup-mati dan kemewahan yang
langka. Maka saya tidak menyia-nyiakan air seolah ia tak terbatas. Menyadari
betapa berharganya air — bahwa banyak orang harus berjalan jauh untuk
mendapatkannya dan banyak yang menderita karena kekurangannya — menumbuhkan
rasa syukur dan kehati-hatian terhadap apa yang sering saya anggap biasa. Air
yang mengalir dengan mudah dari keran adalah berkat yang tak dimiliki semua
orang, dan menghargainya adalah bentuk syukur.
Laku
2 — Menggunakan air dengan hemat dan tidak menyia-nyiakannya.
Saya berusaha menggunakan air dengan
hemat dan tidak menyia-nyiakannya — sebab air bersih terbatas, dan pemborosan
oleh banyak orang menguras sumber yang dibutuhkan semua. Maka saya menjaga agar
tidak membuang air sia-sia, memperbaiki kebocoran, dan menggunakan secukupnya.
Penghematan air oleh satu orang tampak kecil, tetapi kebiasaan boros maupun
hemat oleh banyak orang menentukan ketersediaan air bagi semua. Di dunia yang
sebagian wilayahnya semakin kekurangan air bersih, kebiasaan menggunakan air
dengan bijak adalah bagian dari tanggung jawab terhadap sumber kehidupan
bersama yang tak boleh dianggap tak terbatas.
Laku
3 — Tidak mencemari air yang menghidupi semua.
Saya berusaha tidak mencemari air —
sungai, sumur, laut, dan sumber air lainnya — sebab air yang tercemar membawa
penyakit dan kematian, dan pencemaran air merugikan tak hanya saya tetapi semua
yang bergantung pada sumber air yang sama, termasuk makhluk hidup lainnya. Maka
saya tidak membuang limbah dan kotoran sembarangan ke air, dan menjaga
kebersihan sumber air di sekitar saya. Air mengalir dan terhubung, sehingga
mencemarinya di satu tempat merugikan banyak di tempat lain. Banyak penyakit
yang melemahkan dan mematikan berasal dari air yang tercemar, dan menjaga
kebersihan air adalah menjaga kesehatan bersama serta menghormati hak orang
lain atas air yang bersih.
Laku
4 — Menyadari ketidakadilan akses terhadap air dan peduli pada yang kekurangan.
Saya berusaha menyadari bahwa akses
terhadap air bersih sangat tidak merata — bahwa banyak orang di dunia menderita
dan bahkan mati karena kekurangan air bersih, sementara sebagian
menyia-nyiakannya — dan peduli pada ketidakadilan ini. Maka saya tidak hanya
menghargai dan menghemat air untuk diri sendiri, tetapi juga, sesuai kemampuan,
peduli pada mereka yang kekurangan. Air bersih adalah kebutuhan paling
mendasar, dan ketidakadilan dalam aksesnya adalah salah satu ketidakadilan yang
paling menyentuh hidup-mati. Kepedulian terhadap mereka yang kekurangan air,
dan dukungan terhadap upaya menyediakan air bersih bagi yang membutuhkan,
adalah bagian dari belas kasih terhadap sesama dalam kebutuhan yang paling
dasar.
Laku
5 — Mengajarkan penghargaan terhadap air kepada anak-anak.
Saya berusaha mengajarkan penghargaan
dan penghematan air kepada anak-anak — agar mereka tumbuh dengan kesadaran
bahwa air adalah berkat yang berharga dan terbatas, bukan sesuatu yang boleh
disia-siakan. Sebab kebiasaan menghargai atau menyia-nyiakan air terbentuk
sejak kecil, dan anak yang diajari menghargai air membawa kebiasaan baik itu
seumur hidup. Maka saya menanamkan kesadaran ini lewat teladan dan ajaran
sehari-hari. Mengajarkan anak menghargai air adalah menanamkan kesadaran akan
keterbatasan dan keberhargaan sumber kehidupan, dan menumbuhkan rasa syukur
serta tanggung jawab terhadap berkat yang sering dianggap biasa oleh mereka
yang mudah mendapatkannya.
· · ·
LIFE 158 — WATER
I believe that water is the most
fundamental source of life — my body is mostly water, and no life is possible
without it — and that though in some places it seems abundant and cheap, it is
in truth precious, limited, and in many places a life-and-death struggle —
therefore I:
Practice
1 — Value water as a precious source of life.
I strive to value water as a precious
source of life, not making light of it because it seems abundant and cheap. For
water is the basis of all life, and in many places in the world, clean water is
a life-and-death struggle and a rare luxury. So I do not waste water as though
it were limitless. To realize how precious water is — that many people must
walk far to obtain it and many suffer from its scarcity — grows gratitude and
care toward what I often regard as ordinary. Water that flows easily from the
tap is a blessing not everyone has, and to value it is a form of gratitude.
Practice
2 — Use water sparingly and not waste it.
I strive to use water sparingly and not
waste it — for clean water is limited, and waste by many people drains the
source needed by all. So I keep from throwing water away in vain, fix leaks,
and use enough. One person's water saving seems small, but the habit of waste
or thrift by many people determines the availability of water for all. In a
world where some regions increasingly lack clean water, the habit of using
water wisely is part of the responsibility toward the shared source of life
that must not be regarded as limitless.
Practice
3 — Not pollute the water that sustains all.
I strive not to pollute water — rivers,
wells, the sea, and other water sources — for polluted water brings disease and
death, and water pollution harms not only me but all who depend on the same
water source, including other living creatures. So I do not dump waste and
filth carelessly into water, and keep clean the water sources around me. Water
flows and is connected, so polluting it in one place harms many in another.
Many weakening and deadly diseases come from polluted water, and to keep water
clean is to guard the shared health and respect others' right to clean water.
Practice
4 — Be aware of the injustice of access to water and care for those who lack
it.
I strive to be aware that access to
clean water is very uneven — that many people in the world suffer and even die
from lack of clean water, while some waste it — and to care about this
injustice. So I do not only value and save water for myself, but also,
according to my ability, care for those who lack it. Clean water is the most
fundamental need, and the injustice in its access is one of the injustices that
most touches life and death. Care for those who lack water, and support for
efforts to provide clean water to those who need it, is part of compassion
toward others in the most basic need.
Practice
5 — Teach the valuing of water to children.
I strive to teach the valuing and saving
of water to children — so they grow with the awareness that water is a precious
and limited blessing, not something to be wasted. For the habit of valuing or
wasting water is formed from childhood, and a child taught to value water
carries that good habit for life. So I instill this awareness through example
and daily teaching. To teach a child to value water is to instill an awareness
of the limitedness and preciousness of the source of life, and to grow gratitude
and responsibility toward a blessing often regarded as ordinary by those who
obtain it easily.
HIDUP
159 — UDARA DAN IKLIM
[Air and Climate]
Saya berpikir bahwa udara yang saya
hirup dan iklim yang menopang kehidupan adalah milik bersama seluruh manusia
dan makhluk hidup — tak ada yang bisa hidup tanpa udara, dan tak ada yang lolos
dari perubahan iklim — sehingga menjaganya adalah tanggung jawab bersama yang
melampaui batas dan kepentingan diri sendiri — maka saya:
Laku
1 — Menyadari bahwa udara dan iklim adalah milik bersama yang menghidupi semua.
Saya berusaha menyadari bahwa udara dan
iklim adalah milik bersama seluruh manusia dan makhluk hidup — bahwa udara yang
tercemar dan iklim yang rusak merugikan semua tanpa kecuali, melampaui batas
negara dan kepentingan golongan. Maka saya tidak memandang menjaga udara dan
iklim sebagai urusan orang lain atau sesuatu yang terlalu besar untuk saya
pedulikan. Sebab kerusakan udara dan iklim menimpa semua, dan menjaganya adalah
tanggung jawab bersama yang setiap orang ikut memikul. Kesadaran bahwa ini adalah
persoalan bersama yang menyangkut hidup-mati semua makhluk, kini dan di masa
depan, menumbuhkan rasa tanggung jawab yang melampaui kepentingan diri sendiri.
Laku
2 — Tidak mencemari udara dalam hal-hal yang ada dalam jangkauan saya.
Saya berusaha tidak mencemari udara
dalam hal-hal yang ada dalam jangkauan saya — tidak membakar sembarangan,
mengurangi yang mengotori udara, dan menjaga lingkungan tetap bersih udaranya.
Sebab udara yang tercemar membawa penyakit pernapasan dan merugikan kesehatan
semua yang menghirupnya, dan pencemaran udara besar terbangun dari banyak
sumber kecil. Maka saya tidak menganggap remeh sumbangan saya terhadap
kebersihan atau pencemaran udara. Meski sebagian besar pencemaran udara berasal
dari sumber besar yang di luar kendali saya, kebiasaan saya sehari-hari tetap
ikut menentukan, dan menjaga udara dalam lingkup saya adalah bagian dari
tanggung jawab terhadap kesehatan bersama.
Laku
3 — Mengurangi sumbangan saya terhadap kerusakan iklim sesuai kemampuan.
Saya berusaha, sesuai kemampuan dan
keadaan saya, mengurangi sumbangan saya terhadap kerusakan iklim — menghemat
energi, mengurangi pemborosan, dan memilih cara hidup yang lebih sedikit
merusak. Sebab perubahan iklim, yang membawa cuaca ekstrem, bencana, dan
kerusakan yang merugikan banyak orang terutama yang lemah, sebagian disebabkan
oleh perbuatan manusia yang terkumpul. Maka saya tidak merasa sumbangan saya
terlalu kecil untuk dipedulikan. Meski persoalan iklim besar dan menuntut
perubahan dalam skala yang jauh melampaui satu orang, kebiasaan banyak orang
ikut menentukan, dan mengambil bagian dalam menjaga adalah tanggung jawab
terhadap rumah bersama dan generasi mendatang.
Laku
4 — Mendukung upaya bersama menjaga iklim, melampaui perbuatan pribadi.
Saya menyadari bahwa menjaga iklim
menuntut bukan hanya perbuatan pribadi, tetapi juga upaya bersama dalam skala
besar — sehingga saya, sesuai kemampuan, mendukung dan tidak menghalangi upaya
bersama untuk menjaga iklim dan lingkungan. Sebab persoalan sebesar iklim tak
bisa diselesaikan oleh perbuatan individu semata, dan menuntut tindakan bersama
yang lebih luas. Maka saya tidak menjadikan perbuatan pribadi sebagai alasan
untuk mengabaikan dukungan terhadap perubahan yang lebih besar, dan tidak pula
menjadikan besarnya masalah sebagai alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Menjaga
iklim menuntut keduanya: perbuatan pribadi yang bertanggung jawab dan dukungan
terhadap upaya bersama yang lebih luas.
Laku
5 — Peduli pada keadilan iklim dan mereka yang paling terdampak.
Saya berusaha peduli bahwa kerusakan
iklim dan udara paling merugikan mereka yang paling lemah dan paling sedikit
menyebabkannya — orang miskin, masyarakat rentan, dan generasi mendatang yang
belum bisa membela diri. Sebab ada ketidakadilan dalam kerusakan iklim: yang
paling menderita sering bukan yang paling bertanggung jawab atasnya. Maka
kepedulian saya terhadap iklim juga mencakup kepedulian terhadap keadilan bagi
yang paling terdampak. Menjaga udara dan iklim bukan hanya soal kelestarian
alam, melainkan juga soal keadilan terhadap yang lemah dan terhadap generasi
yang akan mewarisi bumi yang saya tinggalkan — sebuah tanggung jawab terhadap
mereka yang tak bisa bersuara membela kepentingannya sendiri.
· · ·
LIFE 159 — AIR AND CLIMATE
I believe that the air I breathe and the
climate that supports life are the shared possession of all humans and living
creatures — none can live without air, and none escapes climate change — so to
guard them is a shared responsibility that goes beyond borders and
self-interest — therefore I:
Practice
1 — Be aware that air and climate are a shared possession that sustains all.
I strive to be aware that air and
climate are the shared possession of all humans and living creatures — that
polluted air and a damaged climate harm all without exception, beyond the
borders of nations and the interests of factions. So I do not view guarding air
and climate as someone else's affair or something too large for me to care
about. For damage to air and climate befalls all, and guarding them is a shared
responsibility everyone helps to bear. The awareness that this is a shared
matter concerning the life and death of all creatures, now and in the future,
grows a sense of responsibility that goes beyond self-interest.
Practice
2 — Not pollute the air in the things within my reach.
I strive not to pollute the air in the
things within my reach — not burning carelessly, reducing what dirties the air,
and keeping the environment's air clean. For polluted air brings respiratory
disease and harms the health of all who breathe it, and great air pollution is
built from many small sources. So I do not make light of my contribution to the
cleanliness or pollution of the air. Though most air pollution comes from large
sources beyond my control, my daily habits still help determine, and to guard
the air within my sphere is part of the responsibility toward the shared
health.
Practice
3 — Reduce my contribution to climate damage according to ability.
I strive, according to my ability and
circumstance, to reduce my contribution to climate damage — saving energy,
reducing waste, and choosing a less damaging way of life. For climate change,
which brings extreme weather, disaster, and damage that harms many people
especially the weak, is partly caused by the accumulated actions of humans. So
I do not feel my contribution too small to care about. Though the climate
problem is large and demands change on a scale far beyond one person, the
habits of many people help determine, and to take part in guarding is a
responsibility toward the shared home and generations to come.
Practice
4 — Support joint efforts to guard the climate, beyond personal acts.
I am aware that guarding the climate
demands not only personal acts, but also joint effort on a large scale — so I,
according to my ability, support and do not hinder joint efforts to guard the
climate and environment. For a problem as large as the climate cannot be solved
by individual acts alone, and demands wider joint action. So I do not make
personal acts an excuse to neglect supporting larger change, nor make the size
of the problem an excuse to do nothing. To guard the climate demands both:
responsible personal acts and support for wider joint effort.
Practice
5 — Care about climate justice and those most affected.
I strive to care that damage to climate
and air most harms those weakest and least responsible for it — the poor,
vulnerable communities, and generations to come who cannot yet defend
themselves. For there is an injustice in climate damage: those who suffer most
are often not those most responsible for it. So my care for the climate also
includes care for justice for those most affected. To guard air and climate is
not only a matter of nature's preservation, but also of justice toward the weak
and toward the generations who will inherit the earth I leave behind — a
responsibility toward those who cannot voice a defense of their own interests.
HIDUP
160 — SAMPAH
[Waste]
Saya berpikir bahwa sampah adalah jejak
yang saya tinggalkan di dunia setiap hari — dan bahwa kebiasaan membuang tanpa
berpikir telah menumpuk menjadi salah satu beban besar bagi bumi dan kesehatan
bersama — sehingga cara saya memperlakukan sampah, meski tampak sepele, ikut
menentukan keadaan lingkungan yang saya wariskan — maka saya:
Laku
1 — Mengurangi sampah yang saya hasilkan.
Saya berusaha mengurangi sampah yang
saya hasilkan — membeli secukupnya, menghindari yang sekali pakai bila ada
pilihan lebih baik, dan tidak menumpuk barang yang akhirnya menjadi sampah.
Sebab cara terbaik menangani sampah adalah dengan tidak menghasilkannya sejak
awal, dan banyak sampah lahir dari konsumsi berlebihan dan kebiasaan sekali
pakai yang sebenarnya bisa dikurangi. Maka saya menimbang sebelum membeli dan
memakai, dan berusaha hidup dengan jejak sampah yang lebih kecil. Mengurangi
sampah dari sumbernya jauh lebih bermanfaat daripada sekadar membuangnya dengan
rapi, sebab sampah yang tak pernah dihasilkan tak membebani bumi sama sekali.
Laku
2 — Membuang sampah pada tempatnya, tidak sembarangan.
Saya berusaha membuang sampah pada
tempatnya dan tidak membuangnya sembarangan — di jalan, sungai, atau ruang
bersama — sebab sampah yang dibuang sembarangan mengotori lingkungan, menyumbat
saluran, mencemari air, dan merugikan semua yang berbagi tempat itu. Maka saya
tidak menganggap remeh kebiasaan kecil ini, dan menjaga agar jejak sampah saya
tidak mengotori ruang bersama. Membuang sampah sembarangan, meski tampak sepele
dilakukan satu orang, ketika dilakukan banyak orang menjadi beban yang
mencemari dan merusak. Membuang pada tempatnya adalah bentuk hormat terhadap
lingkungan dan terhadap orang lain yang berbagi ruang yang sama.
Laku
3 — Memilah dan mendaur ulang sesuai kemampuan.
Saya berusaha memilah sampah dan mendaur
ulang apa yang bisa didaur ulang sesuai kemampuan dan keadaan tempat saya —
sebab sebagian sampah bisa diolah kembali menjadi berguna alih-alih menumpuk
membebani, dan memilah memudahkan pengolahan yang mengurangi beban bagi bumi.
Maka saya, sebisa mungkin, tidak mencampur semua sampah menjadi satu tumpukan
yang sulit diolah. Memilah dan mendaur ulang adalah cara mengubah sebagian yang
akan menjadi beban menjadi sesuatu yang berguna kembali, dan meski memerlukan sedikit
usaha, ia adalah sumbangan nyata bagi mengurangi tumpukan sampah yang membebani
lingkungan dan kesehatan bersama.
Laku
4 — Tidak menyia-nyiakan sehingga mengurangi sampah dari pemborosan.
Saya berusaha tidak menyia-nyiakan
barang dan makanan, sehingga mengurangi sampah yang lahir dari pemborosan —
menghabiskan apa yang saya ambil, merawat barang agar tahan lama, dan tidak
membuang yang masih berguna. Sebab banyak sampah berasal dari pemborosan:
makanan yang dibuang, barang yang dibeli berlebihan lalu dibuang, dan benda
yang dibuang padahal masih bisa dipakai. Maka mengurangi pemborosan sekaligus
mengurangi sampah. Menghargai dan menghabiskan apa yang saya miliki, serta
tidak membuang yang masih berguna, adalah cara hidup yang sekaligus hemat,
bertanggung jawab, dan mengurangi beban sampah bagi bumi — sebuah kebajikan
yang menggabungkan kesederhanaan dengan kepedulian lingkungan.
Laku
5 — Mengajarkan dan menularkan kebiasaan baik tentang sampah.
Saya berusaha mengajarkan dan menularkan
kebiasaan baik tentang sampah kepada anak-anak dan orang di sekitar — lewat
teladan dan ajaran — agar kebiasaan menjaga lingkungan dari sampah menyebar dan
diwariskan. Sebab kebiasaan tentang sampah, baik maupun buruk, terbentuk sejak
kecil dan menular dalam masyarakat, dan lingkungan yang bersih atau kotor
adalah hasil dari kebiasaan banyak orang. Maka saya tidak hanya menjaga
kebiasaan saya sendiri, tetapi juga ikut menularkan yang baik. Anak yang
diajari menjaga kebersihan dan tidak menyampah sembarangan membawa kebiasaan
itu seumur hidup, dan masyarakat yang warganya terbiasa menjaga adalah
masyarakat yang lingkungannya bersih dan sehat bagi semua.
· · ·
LIFE 160 — WASTE
I believe that waste is the trace I
leave in the world every day — and that the habit of throwing away without
thinking has piled up into one of the great burdens on the earth and the shared
health — so how I treat waste, though it seems trivial, helps determine the
state of the environment I leave behind — therefore I:
Practice
1 — Reduce the waste I produce.
I strive to reduce the waste I produce —
buying enough, avoiding the single-use when there is a better option, and not
piling up goods that in the end become waste. For the best way to handle waste
is not to produce it in the first place, and much waste is born of excessive
consumption and a single-use habit that could actually be reduced. So I weigh
before buying and using, and strive to live with a smaller waste footprint. To
reduce waste at the source is far more beneficial than merely disposing of it
neatly, for waste never produced burdens the earth not at all.
Practice
2 — Dispose of waste in its place, not carelessly.
I strive to dispose of waste in its
place and not throw it carelessly — on the street, in rivers, or in shared
space — for waste thrown carelessly dirties the environment, clogs channels,
pollutes water, and harms all who share that place. So I do not make light of
this small habit, and keep my waste trace from dirtying shared space. To litter
carelessly, though it seems trivial done by one person, when done by many
people becomes a burden that pollutes and damages. To dispose in its place is a
form of respect toward the environment and toward others who share the same
space.
Practice
3 — Sort and recycle according to ability.
I strive to sort waste and recycle what
can be recycled according to my ability and the conditions of my place — for
some waste can be reprocessed into something useful rather than piling up as a
burden, and sorting eases the processing that reduces the burden on the earth.
So I, as much as possible, do not mix all waste into one heap hard to process.
To sort and recycle is a way of turning part of what would become a burden into
something useful again, and though it requires a little effort, it is a real contribution
to reducing the heaps of waste that burden the environment and the shared
health.
Practice
4 — Not waste, thereby reducing the waste born of wastefulness.
I strive not to waste goods and food,
thereby reducing the waste born of wastefulness — finishing what I take,
tending goods so they last, and not throwing away what is still useful. For
much waste comes from wastefulness: food thrown away, goods bought in excess
then discarded, and objects thrown away when still usable. So to reduce
wastefulness is at once to reduce waste. To value and finish what I have, and
not throw away what is still useful, is a way of living that is at once
thrifty, responsible, and reducing the waste burden on the earth — a virtue
that combines simplicity with environmental care.
Practice
5 — Teach and pass on good habits about waste.
I strive to teach and pass on good
habits about waste to children and those around me — through example and
teaching — so the habit of guarding the environment from waste spreads and is
inherited. For habits about waste, good or bad, are formed from childhood and
spread within a society, and a clean or dirty environment is the result of the
habits of many people. So I do not only keep my own habits, but also help pass
on the good ones. A child taught to keep clean and not litter carelessly
carries that habit for life, and a society whose citizens are used to guarding
is one whose environment is clean and healthy for all.
HIDUP
161 — ENERGI
[Energy]
Saya berpikir bahwa energi — yang
menggerakkan hampir seluruh kehidupan modern — adalah sesuatu yang sebagian
besarnya masih diperoleh dengan cara yang merusak bumi dan terbatas jumlahnya;
sehingga menggunakannya dengan hemat dan bijak adalah bagian dari menjaga rumah
bersama dan tidak menyia-nyiakan apa yang berharga — maka saya:
Laku
1 — Menggunakan energi dengan hemat, tidak menyia-nyiakannya.
Saya berusaha menggunakan energi dengan
hemat — mematikan yang tak terpakai, tidak memboroskan listrik dan bahan bakar,
dan menghindari pemakaian yang sia-sia. Sebab energi sebagian besarnya masih
diperoleh dengan cara yang merusak bumi dan terbatas jumlahnya, dan pemborosan
oleh banyak orang menguras sumber dan menambah kerusakan. Maka saya tidak
menganggap remeh kebiasaan hemat energi sehari-hari. Penghematan oleh satu
orang tampak kecil, tetapi kebiasaan hemat maupun boros oleh banyak orang
menentukan beban yang ditanggung bumi. Menghemat energi sekaligus menghemat
biaya dan mengurangi kerusakan lingkungan — kebajikan yang menguntungkan diri
sendiri dan rumah bersama.
Laku
2 — Menyadari dampak dari energi yang saya gunakan.
Saya berusaha menyadari bahwa di balik
energi yang saya gunakan dengan mudah ada dampak — sumber daya yang dikuras,
lingkungan yang terpengaruh, dan iklim yang terdampak. Maka saya tidak
menggunakan energi seolah ia datang tanpa biaya bagi bumi, melainkan dengan
kesadaran akan jejak yang ditimbulkannya. Kemudahan menyalakan dan menggunakan
energi membuat saya mudah lupa bahwa ia berasal dari sumber yang terbatas dan
sering merusak. Kesadaran akan dampak ini menumbuhkan kebijaksanaan dalam
menggunakan energi, bukan sebagai sikap menyiksa diri, melainkan sebagai
penghargaan terhadap sesuatu yang berharga dan kepedulian terhadap dampaknya
bagi rumah bersama.
Laku
3 — Memilih cara hidup yang lebih hemat dan lebih sedikit merusak, sesuai
kemampuan.
Saya berusaha, sesuai kemampuan dan
keadaan saya, memilih cara hidup yang lebih hemat energi dan lebih sedikit
merusak — dalam pilihan-pilihan sehari-hari yang ada dalam jangkauan saya.
Sebab banyak pilihan kecil dalam keseharian ikut menentukan jejak energi saya,
dan memilih yang lebih bijak adalah sumbangan nyata. Maka saya tidak merasa tak
bisa berbuat apa-apa, dan juga tidak terbebani melampaui kemampuan saya.
Bagaimana persisnya pilihan ini diambil bergantung pada keadaan masing-masing,
tetapi prinsip memilih yang lebih hemat dan lebih sedikit merusak bila ada
pilihan adalah bagian dari hidup yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Laku
4 — Mendukung peralihan ke sumber energi yang lebih bersih dan lestari.
Saya menyadari bahwa menjaga bumi
menuntut peralihan ke sumber energi yang lebih bersih dan lestari, melampaui
penghematan pribadi — sehingga saya, sesuai kemampuan, mendukung dan tidak
menghalangi upaya menuju energi yang lebih sedikit merusak. Sebab persoalan
energi tak bisa diselesaikan oleh penghematan individu semata, dan menuntut
perubahan yang lebih luas menuju sumber yang lebih lestari. Maka saya tidak
menjadikan penghematan pribadi sebagai pengganti dukungan terhadap perubahan
yang lebih besar, dan tidak pula menjadikan besarnya persoalan sebagai alasan
untuk tidak berbuat apa-apa dalam lingkup saya. Keduanya — penghematan pribadi
dan dukungan terhadap peralihan — sama-sama bagian dari tanggung jawab.
Laku
5 — Mensyukuri dan tidak menganggap remeh kemudahan energi.
Saya berusaha mensyukuri dan tidak
menganggap remeh kemudahan energi yang saya nikmati — sebab kemampuan
menyalakan listrik, memasak dengan mudah, dan bepergian dengan cepat adalah
kemewahan yang tak dimiliki sebagian besar manusia sepanjang sejarah dan masih
tak merata hingga kini. Maka saya menghargai kemudahan ini alih-alih
menganggapnya sebagai hak yang tak terbatas. Mensyukuri energi yang tersedia
menumbuhkan kebijaksanaan untuk tidak menyia-nyiakannya, dan kesadaran bahwa
banyak orang masih hidup tanpa akses energi yang memadai menumbuhkan
kepedulian. Menghargai apa yang saya miliki, alih-alih menganggapnya biasa dan
menyia-nyiakannya, adalah bentuk rasa syukur sekaligus tanggung jawab terhadap
sumber yang berharga.
· · ·
LIFE 161 — ENERGY
I believe that energy — which drives
almost all of modern life — is something most of which is still obtained in
ways that damage the earth and is limited in amount; so to use it sparingly and
wisely is part of guarding the shared home and not wasting what is precious —
therefore I:
Practice
1 — Use energy sparingly, not wasting it.
I strive to use energy sparingly —
turning off the unused, not wasting electricity and fuel, and avoiding
pointless use. For energy is mostly still obtained in ways that damage the
earth and is limited in amount, and waste by many people drains the source and
adds to the damage. So I do not make light of daily energy-saving habits.
Saving by one person seems small, but the habit of thrift or waste by many
people determines the burden the earth bears. To save energy is at once to save
cost and reduce environmental damage — a virtue that benefits both oneself and
the shared home.
Practice
2 — Be aware of the impact of the energy I use.
I strive to be aware that behind the
energy I use easily there is an impact — resources drained, the environment
affected, and the climate impacted. So I do not use energy as though it comes
without cost to the earth, but with awareness of the trace it leaves. The ease
of switching on and using energy makes me easily forget that it comes from a
limited and often damaging source. Awareness of this impact grows wisdom in
using energy, not as a stance of self-torment, but as an appreciation of
something precious and care for its impact on the shared home.
Practice
3 — Choose a more sparing and less damaging way of life, according to ability.
I strive, according to my ability and
circumstance, to choose a more energy-sparing and less damaging way of life —
in the daily choices within my reach. For many small choices in daily life help
determine my energy footprint, and to choose the wiser is a real contribution.
So I do not feel unable to do anything, and also not burdened beyond my
ability. How exactly these choices are made depends on each person's
circumstance, but the principle of choosing the more sparing and less damaging
when there is a choice is part of living responsibly toward the environment.
Practice
4 — Support the shift to cleaner and more sustainable energy sources.
I am aware that guarding the earth
demands a shift to cleaner and more sustainable energy sources, beyond personal
saving — so I, according to my ability, support and do not hinder efforts
toward less damaging energy. For the energy problem cannot be solved by
individual saving alone, and demands wider change toward more sustainable
sources. So I do not make personal saving a substitute for supporting larger
change, nor make the size of the problem an excuse to do nothing within my
sphere. Both — personal saving and support for the shift — are equally part of
the responsibility.
Practice
5 — Be grateful and not make light of the ease of energy.
I strive to be grateful and not make
light of the ease of energy I enjoy — for the ability to switch on electricity,
cook easily, and travel quickly is a luxury most humans throughout history did
not have and which is still uneven to this day. So I value this ease rather
than regard it as a limitless right. To be grateful for the energy available
grows the wisdom not to waste it, and the awareness that many people still live
without adequate access to energy grows care. To value what I have, rather than
regard it as ordinary and waste it, is a form of gratitude and at once
responsibility toward a precious source.
HIDUP
162 — BENCANA ALAM
[Natural Disasters]
Saya berpikir bahwa bencana alam —
gempa, banjir, badai, dan lainnya — adalah bagian dari kenyataan hidup di bumi
yang tak sepenuhnya bisa dicegah; dan bahwa menyikapinya menuntut kesiapan
sebelum ia datang, ketahanan saat ia menimpa, dan kepedulian terhadap sesama
yang terdampak — maka saya:
Laku
1 — Bersiap menghadapi bencana yang mungkin menimpa daerah saya.
Saya berusaha bersiap menghadapi bencana
yang mungkin menimpa daerah tempat saya tinggal — mengetahui bahayanya,
menyiapkan apa yang diperlukan, dan mengenali apa yang harus dilakukan bila ia
datang. Sebab kesiapan sebelum bencana sering menentukan keselamatan, dan
banyak nyawa terselamatkan atau terhindar dari penderitaan berat karena
persiapan yang dilakukan sebelumnya. Maka saya tidak mengabaikan kemungkinan
bencana dengan dalih "tidak akan terjadi pada saya". Bersiap
menghadapi bencana bukanlah hidup dalam ketakutan, melainkan kebijaksanaan yang
justru memberi ketenangan dan keselamatan — sebab yang siap menghadapi yang
terburuk bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan menghadapi guncangan
dengan lebih baik.
Laku
2 — Menghadapi bencana dengan ketenangan dan ketahanan.
Saya berusaha, bila bencana menimpa,
menghadapinya dengan ketenangan yang memungkinkan saya bertindak tepat dan
dengan ketahanan untuk bertahan dan bangkit — alih-alih panik yang melumpuhkan
atau keputusasaan yang menyerah. Sebab di tengah bencana, ketenangan dan
ketahanan sering menentukan keselamatan dan pemulihan, baik bagi diri sendiri
maupun bagi orang lain yang bergantung pada saya. Maka saya melatih diri untuk
menghadapi guncangan dengan kepala yang tetap berfungsi dan jiwa yang tahan.
Ketahanan batin yang dibangun sebelum bencana datang menjadi bekal yang tak
tergantikan saat ia menimpa, sebab bencana menguji bukan hanya kesiapan fisik,
tetapi juga kekuatan jiwa untuk bertahan dan bangkit.
Laku
3 — Menolong sesama yang terdampak bencana.
Saya berusaha menolong sesama yang
terdampak bencana sesuai kemampuan — sebab bencana sering menimpa banyak orang
sekaligus, dan saling menolong di saat seperti itu adalah jaring pengaman yang
menyelamatkan dan meringankan. Maka saya tidak hanya memikirkan keselamatan
diri, tetapi juga mengulurkan bantuan kepada yang membutuhkan, baik dengan
tenaga, harta, maupun kehadiran. Di tengah bencana, kebaikan dan kepedulian
sesama sering menjadi cahaya yang menguatkan korban untuk bertahan dan bangkit.
Menolong sesama yang terdampak bencana adalah salah satu bentuk solidaritas
kemanusiaan yang paling nyata dan paling dibutuhkan, dan ia menenun jaring
kasih yang menopang masyarakat di saat tergelap.
Laku
4 — Mengurangi sumbangan terhadap bencana yang diperparah perbuatan manusia.
Saya berusaha menyadari bahwa sebagian
bencana diperparah atau bahkan disebabkan oleh perbuatan manusia — banjir yang
diperburuk perusakan hutan dan penyumbatan saluran, longsor karena perusakan
lereng, dan bencana yang diperparah perubahan iklim — dan mengurangi sumbangan
saya terhadapnya. Maka saya tidak hanya menghadapi bencana sebagai takdir yang
tak terkait perbuatan, tetapi juga peduli pada mengurangi yang memperparahnya
dalam lingkup saya. Membedakan bencana yang murni alami dari yang diperparah
perbuatan manusia penting, sebab yang kedua bisa dikurangi dengan menjaga
lingkungan. Menjaga hutan, saluran air, dan lingkungan adalah sekaligus
mengurangi risiko bencana yang diperparah kelalaian manusia.
Laku
5 — Membantu pemulihan dan membangun kembali setelah bencana.
Saya berusaha, setelah bencana berlalu,
ikut membantu pemulihan dan membangun kembali sesuai kemampuan — sebab
penderitaan akibat bencana sering berlanjut lama setelah peristiwanya berlalu,
dan pemulihan menuntut kepedulian dan kerja bersama yang berkelanjutan. Maka
saya tidak hanya peduli saat bencana sedang terjadi lalu melupakannya, tetapi
juga membantu yang terdampak bangkit kembali. Pemulihan setelah bencana sering
menjadi perjuangan panjang yang membutuhkan dukungan yang tak berhenti saat
sorotan berlalu. Membantu sesama membangun kembali hidup mereka setelah bencana
adalah bentuk kepedulian yang berkelanjutan, dan ia menunjukkan solidaritas
yang sejati: yang hadir bukan hanya di puncak penderitaan, tetapi juga dalam
perjalanan panjang pemulihan.
· · ·
LIFE 162 — NATURAL DISASTERS
I believe that natural disasters —
earthquakes, floods, storms, and others — are part of the reality of life on
earth that cannot be fully prevented; and that to respond to them demands
readiness before they come, resilience when they strike, and care for others
affected — therefore I:
Practice
1 — Prepare for the disasters that may strike my area.
I strive to prepare for the disasters
that may strike the area where I live — knowing their dangers, preparing what
is needed, and recognizing what to do if they come. For readiness before a
disaster often determines safety, and many lives are saved or spared heavy
suffering because of preparation done beforehand. So I do not ignore the
possibility of disaster with the excuse "it will not happen to me."
To prepare for disaster is not to live in fear, but a wisdom that in fact gives
calm and safety — for one ready to face the worst can live more at peace and
face a shock better.
Practice
2 — Face disaster with calm and resilience.
I strive, if a disaster strikes, to face
it with the calm that lets me act rightly and the resilience to endure and rise
— rather than a paralyzing panic or a surrendering despair. For amid a
disaster, calm and resilience often determine safety and recovery, both for
oneself and for others dependent on me. So I train myself to face a shock with
a head still functioning and a resilient soul. Inner resilience built before a
disaster comes becomes an irreplaceable provision when it strikes, for a
disaster tests not only physical readiness, but also the soul's strength to
endure and rise.
Practice
3 — Help others affected by disaster.
I strive to help others affected by
disaster according to my ability — for a disaster often strikes many people at
once, and helping one another at such a time is a safety net that saves and
relieves. So I do not only think of my own safety, but also extend help to
those in need, whether with effort, wealth, or presence. Amid a disaster, the
kindness and care of others often becomes a light that strengthens victims to
endure and rise. To help others affected by disaster is one of the most real
and most needed forms of human solidarity, and it weaves a net of love that
supports society in its darkest hour.
Practice
4 — Reduce my contribution to disasters worsened by human action.
I strive to be aware that some disasters
are worsened or even caused by human action — floods worsened by forest
destruction and clogged channels, landslides from slope destruction, and
disasters worsened by climate change — and to reduce my contribution to them.
So I do not only face disaster as a fate unconnected to action, but also care
about reducing what worsens it within my sphere. To distinguish purely natural
disasters from those worsened by human action is important, for the latter can
be reduced by guarding the environment. To guard forests, waterways, and the
environment is at once to reduce the risk of disasters worsened by human
negligence.
Practice
5 — Help recovery and rebuilding after disaster.
I strive, after a disaster has passed,
to help recovery and rebuilding according to my ability — for the suffering
from a disaster often continues long after the event has passed, and recovery
demands continued care and joint work. So I do not only care while a disaster
is happening and then forget it, but also help the affected rise again.
Recovery after a disaster often becomes a long struggle that needs support
which does not stop when the spotlight passes. To help others rebuild their
lives after a disaster is a form of continued care, and it shows true
solidarity: present not only at the peak of suffering, but also in the long
journey of recovery.
HIDUP
163 — KOTA DAN DESA
[The City and The Village]
Saya berpikir bahwa kota dan desa adalah
dua cara hidup yang masing-masing punya keindahan dan kesulitannya sendiri —
kota menawarkan kesempatan dan keramaian namun sering keterasingan, desa
menawarkan kedekatan dan ketenangan namun sering keterbatasan — dan bahwa hidup
baik bisa dijalani di keduanya bila saya menjalaninya dengan bijak — maka saya:
Laku
1 — Menghargai keindahan dan kebaikan tempat di mana saya tinggal.
Saya berusaha menghargai keindahan dan
kebaikan tempat di mana saya tinggal — baik kota maupun desa — alih-alih hanya
mengeluhkan kekurangannya dan mengidamkan tempat lain. Sebab setiap tempat
punya keindahan dan kebaikannya sendiri yang mudah terlewat oleh mata yang
hanya melihat kekurangan, dan kebahagiaan lebih ditentukan oleh bagaimana saya
menjalani tempat saya daripada oleh tempatnya sendiri. Maka saya berusaha
menemukan dan menikmati apa yang baik di sekitar saya. Orang yang selalu merasa
rumput tetangga lebih hijau tak pernah menikmati taman sendiri; menghargai
tempat tinggal saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, adalah bagian
dari hidup dengan rasa cukup dan syukur.
Laku
2 — Menjaga ikatan dan kepedulian di tengah keterasingan kota.
Saya berusaha, bila tinggal di kota,
menjaga ikatan dan kepedulian terhadap sesama di tengah keramaian yang sering
terasing — mengenal tetangga, terlibat dalam komunitas, dan tidak membiarkan
diri tenggelam dalam isolasi di tengah kerumunan. Sebab kota, dengan segala
keramaiannya, sering justru membuat orang kesepian dan terasing, dikelilingi
banyak orang namun tak mengenal siapa pun. Maka saya melawan keterasingan ini
dengan sengaja membangun hubungan. Hidup di kota tak harus berarti hidup
terasing; dengan upaya yang sengaja untuk terhubung dan peduli, kota pun bisa
menjadi tempat yang hangat dan penuh ikatan, bukan sekadar kumpulan orang asing
yang berbagi tempat tanpa berbagi kehidupan.
Laku
3 — Menghargai kedekatan desa tanpa terjebak kesempitannya.
Saya berusaha, bila tinggal di desa atau
tempat yang lebih kecil, menghargai kedekatan dan kehangatan kebersamaannya
tanpa terjebak dalam kesempitan yang kadang menyertainya — gosip, kungkungan,
dan penolakan terhadap yang berbeda. Sebab tempat yang kecil dan akrab
menawarkan kedekatan dan rasa memiliki yang berharga, tetapi juga bisa membawa
kesempitan pandangan dan tekanan untuk seragam. Maka saya menikmati kebaikannya
sambil menjaga keterbukaan pikiran dan menghormati perbedaan. Kehangatan
kebersamaan tempat kecil adalah harta, tetapi ia menjadi sehat ketika tidak
berubah menjadi kungkungan yang menekan yang berbeda — keseimbangan antara
kedekatan dan keterbukaan.
Laku
4 — Ikut menjaga dan memperbaiki tempat tinggal bersama.
Saya berusaha ikut menjaga dan
memperbaiki tempat tinggal bersama — kota maupun desa — alih-alih hanya
menuntut dan mengeluh tanpa ikut menyumbang. Sebab tempat tinggal yang baik
adalah hasil dari warga yang ikut peduli dan merawatnya, bukan hanya dari segelintir
yang bertanggung jawab. Maka saya ikut menjaga kebersihan, ketertiban, dan
kebaikan lingkungan tempat saya tinggal. Mengeluhkan keburukan tempat tinggal
tanpa ikut memperbaikinya tidak mengubah apa pun; ikut menjaga dan memperbaiki,
betapapun kecil sumbangan saya, adalah bagian dari menjadi warga yang
bertanggung jawab dan dari membuat tempat tinggal bersama menjadi lebih baik
bagi semua.
Laku
5 — Memilih tempat tinggal sesuai keadaan dan kebutuhan hidup saya.
Saya berusaha memilih tempat tinggal —
bila saya punya pilihan — sesuai dengan keadaan dan kebutuhan hidup saya pada
musimnya, tanpa terjebak anggapan bahwa satu jenis tempat selalu lebih baik
dari yang lain. Sebab kota dan desa masing-masing cocok untuk kebutuhan dan
musim hidup yang berbeda, dan apa yang tepat bagi saya bisa berubah seiring
keadaan. Maka saya memilih dengan menimbang kebutuhan nyata saya, bukan sekadar
mengikuti anggapan umum atau mengejar yang dianggap lebih bergengsi. Tidak ada
tempat yang sempurna, dan kebijaksanaan ada pada memilih yang paling sesuai
dengan kebutuhan hidup saya saat ini, lalu menjalaninya dengan baik dan
menghargai kebaikannya.
· · ·
LIFE 163 — THE CITY AND THE VILLAGE
I believe that the city and the village are two ways of
life each with its own beauty and difficulty — the city offers opportunity and
bustle but often alienation, the village offers closeness and calm but often
limitation — and that a good life can be lived in both if I live it wisely —
therefore I:
Practice
1 — Value the beauty and goodness of the place where I live.
I strive to value the beauty and
goodness of the place where I live — city or village — rather than only
complaining of its lack and longing for elsewhere. For every place has its own
beauty and goodness easily missed by eyes that see only the lack, and happiness
is determined more by how I live my place than by the place itself. So I strive
to find and enjoy what is good around me. A person who always feels the
neighbor's grass is greener never enjoys their own garden; to value my
dwelling, with all its strengths and lacks, is part of living with a sense of
enough and gratitude.
Practice
2 — Keep bonds and care amid the city's alienation.
I strive, if I live in the city, to keep
bonds and care for others amid a bustle that is often alienating — knowing my
neighbors, engaging in community, and not letting myself sink into isolation
amid the crowd. For the city, with all its bustle, often in fact makes people
lonely and alienated, surrounded by many people yet knowing no one. So I fight
this alienation by deliberately building relationships. To live in the city
need not mean living alienated; with a deliberate effort to connect and care, even
the city can become a warm place full of bonds, not merely a gathering of
strangers who share a place without sharing a life.
Practice
3 — Value the village's closeness without being trapped by its narrowness.
I strive, if I live in a village or
smaller place, to value its closeness and the warmth of its togetherness
without being trapped in the narrowness that sometimes accompanies it — gossip,
confinement, and rejection of the different. For a small and intimate place
offers a precious closeness and sense of belonging, but can also bring a
narrowness of view and pressure to conform. So I enjoy its goodness while
keeping an openness of mind and respecting difference. The warmth of a small
place's togetherness is a treasure, but it stays healthy when it does not turn
into a confinement that presses on the different — a balance between closeness
and openness.
Practice
4 — Help guard and improve the shared dwelling place.
I strive to help guard and improve the
shared dwelling place — city or village — rather than only demanding and
complaining without contributing. For a good dwelling place is the result of
citizens who help care for and tend it, not only of a few who are responsible.
So I help keep the cleanliness, order, and goodness of the environment where I
live. To complain of a dwelling place's faults without helping improve it
changes nothing; to help guard and improve, however small my contribution, is
part of being a responsible citizen and of making the shared dwelling place
better for all.
Practice
5 — Choose a dwelling place suited to my circumstance and life's needs.
I strive to choose a dwelling place — if
I have a choice — suited to my circumstance and life's needs in their season,
without being trapped in the notion that one kind of place is always better
than another. For the city and the village each suit different needs and
seasons of life, and what is right for me can change with circumstance. So I
choose by weighing my real needs, not merely following the common notion or
chasing what is deemed more prestigious. No place is perfect, and the wisdom
lies in choosing the one most suited to my life's needs at present, then living
it well and valuing its goodness.
HIDUP
164 — BEPERGIAN DAN PERJALANAN
[Travel and Journeys]
Saya berpikir bahwa bepergian dan
perjalanan, ketika dijalani dengan baik, memperluas pandangan, menumbuhkan
pemahaman terhadap dunia dan sesama, dan memberi pengalaman yang memperkaya
jiwa lebih daripada barang — dan bahwa perjalanan terbaik mengubah saya, bukan
sekadar memindahkan saya — maka saya:
Laku
1 — Memandang perjalanan sebagai cara memperluas pandangan dan pemahaman.
Saya berusaha memandang bepergian
sebagai cara memperluas pandangan dan menumbuhkan pemahaman terhadap dunia dan
sesama — bukan sekadar mengumpulkan tempat yang dikunjungi atau foto untuk
dipamerkan. Sebab perjalanan yang sungguh berharga membuka mata terhadap cara
hidup, budaya, dan pandangan yang berbeda, dan meluruhkan kesempitan serta
prasangka. Maka saya bepergian dengan hati dan pikiran yang terbuka, ingin
memahami, bukan sekadar melihat sambil lalu. Perjalanan terbaik bukanlah yang
mengumpulkan paling banyak tempat, melainkan yang paling mengubah dan memperluas
cara saya memandang dunia dan sesama — yang membawa saya pulang sebagai orang
yang sedikit lebih luas pandangannya.
Laku
2 — Menghormati tempat, budaya, dan orang yang saya kunjungi.
Saya berusaha menghormati tempat,
budaya, dan orang-orang yang saya kunjungi — tidak merusak, tidak merendahkan
budaya yang berbeda, dan tidak memperlakukan tempat lain dan penduduknya semata
sebagai latar bagi kesenangan saya. Sebab tempat yang saya kunjungi adalah
rumah dan kehidupan nyata orang lain, bukan sekadar tontonan, dan
menghormatinya adalah bentuk kesopanan dan kemanusiaan dasar. Maka saya
bepergian sebagai tamu yang menghormati, bukan sebagai orang yang merasa
berhak. Menghormati budaya dan orang yang berbeda dari saya, alih-alih
menghakimi atau merendahkannya, adalah bagian dari perjalanan yang sungguh
memperluas — sebab hanya dengan hormat saya bisa sungguh belajar dari yang
berbeda.
Laku
3 — Menikmati pengalaman perjalanan, bukan sekadar mengejar tujuan.
Saya berusaha menikmati pengalaman
perjalanan itu sendiri — perjumpaan, pemandangan, pembelajaran, dan momen di
sepanjang jalan — bukan sekadar terburu-buru mengejar tujuan dan daftar tempat
yang harus dikunjungi. Sebab perjalanan yang dijalani dengan tergesa untuk
mencentang daftar sering melewatkan justru hal-hal yang membuatnya berharga.
Maka saya melambat untuk hadir dan meresapi, alih-alih hanya bergegas dari satu
tempat ke tempat berikutnya. Kesadaran penuh dalam perjalanan mengubahnya dari
sekadar perpindahan menjadi pengalaman yang kaya. Perjalanan yang paling
berkesan sering bukan yang paling padat tujuannya, melainkan yang paling
sungguh-sungguh dialami dan diresapi.
Laku
4 — Menghargai pengalaman perjalanan di atas penumpukan dan pamer.
Saya berusaha menghargai perjalanan
sebagai pengalaman yang memperkaya jiwa, bukan sebagai barang untuk dipamerkan
atau pencapaian untuk dikumpulkan. Sebab pengalaman terbukti memberi
kebahagiaan yang lebih dalam dan tahan lama daripada barang, tetapi nilainya
hilang bila perjalanan diubah menjadi sekadar bahan pamer dan perlombaan. Maka
saya bepergian untuk pengalaman dan pertumbuhannya, bukan untuk citra dan
pengakuan. Perjalanan yang dijalani demi pamer sering kehilangan justru hal
yang membuatnya berharga, sementara perjalanan yang dijalani untuk sungguh
mengalami dan tumbuh memberi kekayaan batin yang bertahan dalam kenangan dan
dalam diri yang berubah — kekayaan yang tak butuh penonton untuk berharga.
Laku
5 — Menemukan perjalanan dan keindahan bahkan di tempat dekat.
Saya berusaha menyadari bahwa perjalanan
dan penemuan tidak menuntut tempat yang jauh dan mahal — bahwa keindahan,
pembelajaran, dan pengalaman baru bisa ditemukan bahkan di tempat dekat bila
saya memandangnya dengan mata yang terbuka dan rasa ingin tahu. Sebab
perjalanan yang sejati lebih merupakan cara memandang daripada jarak yang
ditempuh, dan orang yang penasaran bisa menemukan keajaiban di tempat yang
dianggap orang lain biasa. Maka saya tidak menunda menikmati dunia sampai bisa
bepergian jauh, melainkan menemukan keindahan dan penemuan di sekitar saya.
Memandang tempat yang dekat dan akrab dengan mata yang baru, seolah pertama
kali melihatnya, adalah perjalanan yang tak menuntut biaya dan selalu tersedia.
· · ·
LIFE 164 — TRAVEL AND JOURNEYS
I believe that travel and journeys, when
undertaken well, widen one's view, grow understanding of the world and others,
and give an experience that enriches the soul more than goods — and that the
best journey changes me, not merely moves me — therefore I:
Practice
1 — View travel as a way of widening view and understanding.
I strive to view travel as a way of
widening my view and growing understanding of the world and others — not merely
collecting places visited or photos to show off. For a truly valuable journey
opens the eyes to differing ways of life, cultures, and views, and dissolves
narrowness and prejudice. So I travel with an open heart and mind, wanting to
understand, not merely seeing in passing. The best journey is not the one that
collects the most places, but the one that most changes and widens how I view
the world and others — that brings me home a person of slightly wider view.
Practice
2 — Respect the place, culture, and people I visit.
I strive to respect the place, culture,
and people I visit — not damaging, not demeaning a different culture, and not
treating another place and its people merely as a backdrop for my pleasure. For
the place I visit is others' home and real life, not a mere spectacle, and to
respect it is a form of basic courtesy and humanity. So I travel as a
respectful guest, not as one who feels entitled. To respect a culture and
people different from me, rather than judge or demean them, is part of a
journey that truly widens — for only with respect can I truly learn from the
different.
Practice
3 — Enjoy the experience of the journey, not merely chase the destination.
I strive to enjoy the experience of the
journey itself — the encounters, the views, the learning, and the moments along
the way — not merely rush to chase a destination and a list of places that must
be visited. For a journey lived in haste to check off a list often misses
precisely the things that make it valuable. So I slow down to be present and
absorb, rather than only rush from one place to the next. Full awareness in a
journey turns it from a mere movement into a rich experience. The most memorable
journey is often not the one most packed with destinations, but the one most
truly experienced and absorbed.
Practice
4 — Value the experience of travel over piling up and showing off.
I strive to value travel as an
experience that enriches the soul, not as a thing to show off or an achievement
to collect. For experiences are proven to give a deeper and more lasting
happiness than goods, but their value is lost when travel is turned into mere
material for show and competition. So I travel for the experience and its
growth, not for image and recognition. A journey undertaken for show often
loses precisely the thing that makes it valuable, while a journey undertaken to
truly experience and grow gives an inner richness that endures in memory and in
a changed self — a richness that needs no audience to be precious.
Practice
5 — Find journey and beauty even in nearby places.
I strive to be aware that journey and
discovery do not demand a distant and expensive place — that beauty, learning,
and new experience can be found even in a nearby place if I view it with open
eyes and curiosity. For true travel is more a way of seeing than a distance
covered, and a curious person can find wonder in a place others deem ordinary.
So I do not defer enjoying the world until I can travel far, but find beauty
and discovery around me. To view a nearby and familiar place with new eyes, as
if seeing it for the first time, is a journey that demands no cost and is
always available.