JAWA
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
BUKU TUJUH
Candi di Atas Bukit
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
Mereka membangun candi di atas bukit
yang tua,
dan menyembah di atas sebuah rahasia
tanpa pernah mengetahuinya.
Sebab yang paling agung sering hanyalah
perisai bagi yang paling kecil.
BAGIAN I
Perisai di Atas Bukit
BAB SATU
Gunung yang Dibangun Manusia
Kami mengira zaman yang membangun gunung
dari batu akan mengubur kebenaran kami yang kecil selamanya. Kami keliru. Sebab
tak seorang pun menggali di bawah gunung yang ia sembah. Yang megah, yang
dibangun oleh tangan yang tidak tahu apa yang ada di bawahnya, justru menjadi
perisai bagi yang kecil. Maka biarkan mereka membangun. Di bawah tiap
keagungan, kebenaran yang kecil menunggu, aman, dijaga oleh yang tak tahu bahwa
ia menjaganya.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
megah dan yang kecil
Generasi-generasi setelah Marga membawa nyala melalui
gapura, ke dalam zaman-zaman yang belum datang, tanah ini memasuki zaman yang
paling megah dari semua yang pernah dilihatnya. Kerajaan-kerajaan telah tumbuh
lebih besar daripada yang diramalkan Tirta di kaki gapura itu, dan raja-rajanya
tidak lagi puas hanya mengukir sejarah ke dalam lempeng batu. Kini mereka
membangun gunung dari batu, candi-candi raksasa yang menjulang ke langit, tiap
dindingnya dipahat dengan ribuan gambar, sehingga seluruh gunung buatan itu
menjadi sebuah kitab yang bisa dilewati seorang manusia dengan berjalan.
Di salah satu gunung batu yang sedang dibangun
itu bekerja seorang pengingat muda bernama Wangun, dan ia adalah seorang tukang
batu, salah satu dari ribuan tangan yang memahat keagungan raja. Sepanjang hari
ia membentuk batu, mengangkatnya, menyusunnya lapis demi lapis menjadi sesuatu
yang lebih tinggi daripada pohon tertinggi. Dan di dalam dirinya, terjahit ke
dalam darahnya seperti pada tiap pengingat sebelum dia, ia membawa kerikilnya
dan beban yang menyertainya, yaitu kebenaran kecil tentang seorang perempuan
yang menunggu di dasar laut.
Dan justru keagungan di sekelilingnyalah yang
membuat Wangun gelisah. Sebab tiap hari ia membangun sesuatu yang sedemikian
besar, sedemikian megah, sedemikian dipuja oleh semua orang, sementara yang ia
jaga di dalam hatinya sedemikian kecil dan tersembunyi. Dan ia mulai
bertanya-tanya, di bawah bayang-bayang gunung batu yang ia bangun sendiri,
apakah kebenaran sekecil itu masih berarti di zaman yang mengukur segala
sesuatu dengan kebesaran.
Bekerja di sisinya adalah seorang tua bernama
Empu Lebda, seorang ahli batu yang telah membangun lebih banyak candi daripada
yang bisa ia ingat, dan yang juga, seperti Wangun, membawa nyala. Empu Lebda
telah menjadi guru Wangun, bukan hanya dalam seni memahat batu, melainkan juga
dalam seni yang jauh lebih tua, yaitu menjaga kebenaran tetap hidup di bawah
zaman yang berganti. Dan ia memperhatikan kegelisahan muridnya sepanjang hari
itu, sampai akhirnya, ketika matahari mulai turun dan para tukang yang lain
beristirahat, ia berbicara.
“Engkau memahat batu seharian, Wangun, tetapi
pikiranmu tidak ada pada batu,” Empu Lebda berkata. “Katakan apa yang
membebanimu.”
Dan Wangun meletakkan pahatnya dan memandang ke
atas, ke dinding raksasa yang menjulang di atas mereka. “Aku membangun gunung,
Empu,” katanya. “Tiap hari aku menambah satu batu lagi pada sesuatu yang akan
berdiri seribu tahun, yang akan dilihat dan dipuja oleh setiap orang yang lahir
di tanah ini. Dan kemudian malam datang, dan aku menjaga sesuatu yang tak
seorang pun melihatnya, yang tak seorang pun memuja, yang sekecil bisikan.
Bagaimana yang kecil itu bisa bertahan di zaman yang membangun hal-hal sebesar
ini? Bukankah ia akan tertelan, dilupakan di bawah bayang-bayang semua
keagungan ini?”
❖
Empu Lebda tidak menjawab dengan tergesa. Ia duduk di atas
sebongkah batu yang belum dipahat, dan ia memandang gunung yang mereka bangun
untuk waktu yang lama sebelum berbicara.
“Yang kautakutkan itu nyata, Wangun, dan engkau
benar untuk merasakannya,” ia berkata. “Ini adalah zaman keagungan, dan
keagungan memang berbahaya bagi yang kecil. Sebab keagungan menarik semua mata
kepada dirinya. Orang akan datang dari jauh untuk berdiri di kaki gunung ini
dan merasa kecil, dan mereka akan mengira bahwa yang besarlah yang penting, dan
bahwa yang kecil tidak ada artinya. Itulah dusta zaman ini, sama seperti tiap
zaman punya dustanya sendiri.”
“Tetapi keagungan menyembunyikan sebuah
rahasia, sebuah rahasia yang telah dipelajari rantai sejak zaman huruf,” Empu
Lebda melanjutkan. “Dan rahasia itu adalah kebalikan dari apa yang kautakutkan.
Datanglah, ikutlah aku sebentar, dan akan kutunjukkan kepadamu di atas apa kita
sebenarnya membangun gunung ini.”
Dan Empu Lebda bangkit, dan menuntun Wangun
bukan ke atas candi melainkan ke bawah, melalui jalan-jalan kerja yang berkelok
di antara tumpukan batu, ke arah dasar tempat gunung itu berdiri, ke tanah di
bawah fondasinya.
Di sana, di mana batu-batu terbawah candi
bertemu dengan bumi, Empu Lebda berhenti, dan menepuk tanah di bawah kaki
mereka. “Apa yang kaurasakan di bawah sini, Wangun, dengan kerikilmu?” ia
bertanya. Dan Wangun terdiam, dan membiarkan kerikilnya merasakan tanah, dan
tiba-tiba ia memahami, dan rambut di tengkuknya berdiri.
❖
Sebab di bawah gunung batu yang baru itu, terkubur jauh di
bawah fondasinya, Wangun merasakan sesuatu yang jauh lebih tua. Ia merasakan
sebuah bukit, salah satu bukit yang dibangun para pengingat pertama, ribuan
tahun yang lalu, di zaman batu, salah satu jangkar ingatan yang menunjuk ke
arah laut dan menyimpan maksud untuk menemukan dan membebaskan Ratu.
“Sebuah bukit,” Wangun berbisik. “Salah satu
bukit lama. Dan kita membangun gunung batu raja tepat di atasnya. Empu, apakah
kita menghancurkannya? Apakah keagungan ini mengubur dan melenyapkan salah satu
jangkar ingatan kita selamanya?”
Dan Empu Lebda tersenyum, senyum tua yang penuh
dengan sesuatu yang hampir seperti kelucuan. “Itulah yang kukira juga, dahulu,
ketika guruku menunjukkannya kepadaku,” ia berkata. “Tetapi pikirkanlah lagi,
Wangun. Bukit lama itu menyimpan kebenarannya dengan menyamar sebagai bukit
alami, terkubur, tak terlihat, supaya tak seorang pun menggalinya dan
menghancurkannya. Itulah cara ia bertahan selama ribuan tahun. Dan kini, apa
yang kita bangun di atasnya?”
“Sebuah gunung yang akan dipuja,” Wangun
berkata perlahan, mulai memahami. “Sebuah tempat suci. Tempat yang tak seorang
pun akan berani menggalinya, sebab menggali di bawahnya berarti menodai sesuatu
yang dianggap keramat oleh seluruh kerajaan.”
“Sekarang engkau melihatnya,” Empu Lebda
berkata. “Bukit lama itu dulu dilindungi oleh penyamaran, dengan bersembunyi.
Tetapi penyamaran selalu bisa terbongkar; suatu hari seseorang bisa menggali.
Kini, untuk pertama kalinya, bukit itu dilindungi oleh sesuatu yang jauh lebih
kuat daripada penyamaran. Ia dilindungi oleh keagungan. Tak seorang pun akan
pernah menggali di bawah gunung yang ia sembah. Raja, yang tidak tahu apa-apa
tentang kita atau tentang Ratu, telah membangun perisai paling sempurna yang pernah
dimiliki kebenaran kita, dan ia membangunnya tanpa pernah tahu apa yang ia
jaga.”
“Maka inilah rahasia keagungan, Wangun,” Empu
Lebda berkata, “dan inilah tugas rantai di zaman ini. Yang megah tidak menelan
yang kecil. Bila yang kecil cukup bijaksana untuk bersembunyi di bawahnya, yang
megah justru menjadi perisainya. Maka kita tidak melawan zaman keagungan ini.
Kita tidak meratapinya. Kita membangunnya dengan tangan kita sendiri, dan kita
menyembunyikan kebenaran kita yang kecil di bawah tiap gunung yang kita bangun,
dan kita membiarkan kebesaran yang tak tahu apa-apa itu menjaganya untuk kita,
selama seribu tahun, sampai zaman yang mampu datang.”
❖
Malam itu, ketika Wangun berbaring dan membiarkan
kerikilnya menjangkau jauh ke selatan, ke dasar laut, ia merasakan Ratu, dan ia
terkejut, sebab yang ia rasakan bukanlah perempuan beku dan sengsara dari
kisah-kisah lama, melainkan seseorang yang utuh, yang hidup, yang hadir. Sebab
di zaman ini, es Ratu telah lama mencair sepenuhnya, dan ia menunggu kini bukan
sebagai tawanan yang membeku, melainkan sebagai seseorang yang merasakan
segalanya, dan yang sabar.
“Aku merasakan gunung yang kaubangun, Wangun,”
kata Ratu, dan ada kehangatan di dalam suaranya. “Bahkan dari dasar laut, aku
merasakan bayangnya, berat dan agung di atas tanah. Dan aku merasakan
ketakutanmu hari ini, bahwa kebenaranku yang kecil akan tertelan olehnya.”
“Tetapi jangan takut akan keagungan demi aku,”
Ratu melanjutkan. “Sebab aku tahu, lebih baik daripada siapa pun, bahwa
kebenaranku tak pernah agung. Aku bukan dewi di dinding candi. Aku hanyalah
seorang perempuan yang tak bisa menanggung untuk berduka, dan yang membeku
karenanya. Itulah seluruh kebenaranku, dan ia kecil, dan ia tetap kecil. Dan
justru karena ia kecil, ia tak bisa dihancurkan oleh yang besar. Sebuah gunung
bisa meremukkan gunung lain. Tetapi tak ada gunung yang bisa meremukkan sebuah
bisikan yang bersembunyi di celah-celahnya. Yang kecil tidak dikalahkan oleh
yang besar. Ia hanya tinggal di bawahnya, dan menunggu, dan dibawa dari hati ke
hati.”
Dan Wangun merasakan sesuatu yang belum pernah
dirasakan para pengingat di zaman-zaman awal, ketika Ratu masih beku dan hanya
bisa diberi. Sebab kini Ratu, yang telah utuh, memberi kepadanya. “Bangunlah
gunung-gunungmu tanpa takut, anak muda,” katanya. “Biarkan mereka menjadi
megah. Aku tidak iri pada keagungan mereka, dan engkau pun tidak perlu. Sebab
aku telah belajar, di dalam keheningan yang panjang ini, bahwa yang membebaskan
bukanlah yang besar, melainkan yang setia. Dan engkau setia. Itu sudah cukup.
Itu lebih dari cukup.”
❖
Maka di zaman gunung-gunung batu, Wangun menemukan
kedamaiannya. Pada siang hari ia membangun keagungan raja, mengangkat batu di
atas batu, memahat dewa-dewa dan kisah-kisah di dinding yang menjulang. Dan ia
membangunnya dengan sepenuh hati, sebab ia tahu kini bahwa tiap gunung yang ia
bangun adalah perisai lain bagi kebenaran yang ia jaga. Dan pada malam hari ia
menjangkau ke selatan, dan menemani perempuan yang utuh dan sabar di kedalaman,
dan membawa nyala satu malam lebih jauh.
Dan inilah yang dipelajari rantai di zaman
candi, dan yang akan mereka ajarkan turun-temurun sepanjang zaman keagungan
ini, yaitu bahwa mereka tak perlu melawan kebesaran zaman mereka. Mereka hanya
perlu cukup bijaksana untuk bersembunyi di bawahnya. Di bawah tiap candi yang
akan dibangun, di bawah tiap gunung batu yang akan menjulang, akan ada sebuah
bukit lama, sebuah kebenaran kecil, sebuah nyala yang dijaga oleh keagungan
yang tak tahu bahwa ia menjaganya.
Dan bisik air, yang telah membawa begitu banyak
kebenaran melintasi begitu banyak zaman, kini membawa kebenaran pembuka zaman
candi, yaitu bahwa yang kecil tidak dihancurkan oleh yang megah; ia hanya
tinggal di bawahnya, dijaga oleh keagungan yang tak tahu apa yang dijaganya,
sampai zaman yang mampu datang untuk mengangkat keagungan itu dan menemukan
yang kecil yang menunggu utuh di bawahnya.
Sebab tanah ini, yang telah menyimpan kebenaran
dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf, kini menyimpannya pula
di bawah gunung-gunung yang dibangun manusia, lapisan keagungan di atas lapisan
ingatan. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan,
di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu dengan sabar, sementara
di atas tanah gunung-gunung batu naik satu demi satu, masing-masing menjadi
perisai bagi kebenaran kecil yang tersembunyi di bawahnya, masing-masing
membawa zaman itu satu langkah lebih dekat kepada hari ketika tangan yang mampu
akhirnya akan turun ke kedalaman. Dan zaman candi pun dimulai.
❖
BAB DUA
Benang yang Ditinggalkan
Kami belajar menyembunyikan kebenaran di
bawah yang megah, dan kami mengira itu sudah cukup. Tetapi sesuatu yang
disembunyikan terlalu baik bisa hilang bahkan bagi yang menyembunyikannya. Maka
kami belajar hal kedua, yaitu meninggalkan benang, sebuah tanda yang tak
berarti bagi yang banyak dan berarti segalanya bagi yang sedikit. Sebab perisai
yang tak bisa dibuka kembali bukanlah perisai, melainkan kuburan.
dari ajaran para pengingat, tentang
menyembunyikan tanpa kehilangan
Bertahun-tahun setelah malam Empu Lebda menunjukkan
kepadanya bukit di bawah gunung batu, Wangun telah menjadi seorang ahli batu
yang matang, dan Empu Lebda telah menjadi sangat tua. Dan pada suatu musim,
tubuh tua itu mulai gagal, dan Wangun tahu bahwa gurunya tak akan melihat
banyak matahari lagi. Maka ia tinggal di sisi Empu Lebda, di sebuah pondok yang
memandang ke arah candi besar yang telah selesai mereka bangun, gunung batu
yang kini berdiri megah di atas bukit lama yang dijaganya.
Dan Empu Lebda tidak takut mati, sebab ia telah
hidup panjang dan setia. Tetapi ada sesuatu yang membebaninya di hari-hari
terakhirnya, sesuatu yang membuatnya gelisah di pembaringannya, dan pada suatu
malam ia memanggil Wangun mendekat untuk membicarakannya.
“Wangun, ada hal yang harus kukatakan sebelum
aku pergi, dan ia membebaniku lebih daripada kematian,” Empu Lebda berkata,
suaranya lemah. “Di dalam kepalaku, aku menyimpan letak tujuh candi yang kita
dan guru-guru sebelum kita bangun di atas bukit-bukit lama. Aku tahu candi mana
berdiri di atas jangkar mana, ke mana tiap bukit menunjuk, apa yang dijaga
masing-masing. Tetapi semua itu ada di dalam kepalaku, Wangun. Dan ketika
kepala ini berhenti, ke mana ia pergi?”
“Selama ini rantai selalu bersandar pada
ingatan yang hidup, dari hati ke hati, dari mulut ke telinga,” Lebda
melanjutkan. “Dan itu cukup, dahulu, ketika kebenaran kita kecil dan bisa
dipindahkan. Tetapi kini kebenaran kita tersembunyi di bawah gunung-gunung yang
tak bisa dipindahkan. Bila kita lupa gunung yang mana, kita tidak kehilangan
sebuah kisah yang bisa diceritakan ulang. Kita kehilangan sebuah tempat,
selamanya. Perisai yang kita bangun begitu sempurna sehingga ia bisa menjadi
kuburan, bahkan bagi kita sendiri.”
Dan Wangun merasakan dingin pemahaman menjalar
di dalam dirinya. Sebab ia tahu apa artinya. Bila suatu hari datang zaman yang
mampu turun ke laut untuk membebaskan Ratu, zaman itu harus tahu bukit mana
yang menunjuk ke tempatnya, di bawah candi yang mana jalan kembali kepadanya
tersimpan. Bila rantai sendiri lupa, maka tak ada keagungan, tak ada perisai,
tak ada kesetiaan yang akan menolong. Ratu akan tetap terkubur, bukan karena
tak ada yang mencintainya, melainkan karena tak ada lagi yang ingat di mana ia
berada.
❖
“Tetapi Empu, ada peta,” Wangun berkata, mencari jalan
keluar. “Sejak zaman huruf, rantai telah menyimpan peta dunia Ratu yang
tenggelam, ditulis dari dukanya sendiri. Tak bisakah kita menulis pula letak
tiap candi dan bukit di bawahnya, dan menyimpannya bersama peta itu?”
“Sebuah peta tertulis adalah pisau bermata dua,
Wangun,” Empu Lebda berkata. “Bayangkan apa jadinya bila peta seperti itu jatuh
ke tangan yang salah. Ia bukan lagi sekadar kebenaran yang disembunyikan. Ia
menjadi petunjuk yang menuntun langsung ke jantung segala yang kita jaga,
sebuah daftar tempat untuk dihancurkan. Satu lembar yang bisa direbut, dan
seluruh perisai runtuh sekaligus. Peta dunia Ratu kita jaga sebagai satu hal
yang dijaga ketat oleh sedikit tangan. Tetapi letak jangkar-jangkar tak boleh
hanya bergantung pada satu lembar yang bisa hilang atau dirampas.”
“Yang kita butuhkan bukan satu peta yang
disembunyikan,” Lebda berkata, “melainkan sesuatu yang tersebar dan tak bisa
dirampas, sesuatu yang ada di mana-mana di depan mata semua orang, tetapi yang
hanya bisa dibaca oleh yang sedikit. Ingatkah engkau apa yang diajarkan zaman
huruf, tentang seribu daun? Kebenaran yang tersebar ke banyak tempat tak bisa
diburu. Dan ingatkah engkau tentang sandi, kebenaran yang dijaga di antara
tulisan yang berkuasa?”
Dan Wangun, yang adalah seorang ahli batu,
memandang ke luar pondok, ke arah candi besar yang menjulang di kejauhan,
dindingnya yang penuh dengan ribuan gambar yang dipahat, dan tiba-tiba sebuah
pikiran mulai terbentuk di dalam dirinya. “Dindingnya,” ia berkata perlahan.
“Candi itu penuh dengan ribuan gambar. Tak seorang pun bisa menghafal semuanya.
Tak seorang pun akan memperhatikan satu gambar kecil di antara ribuan.”
Dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari,
sesuatu yang seperti kelegaan muncul di wajah tua Empu Lebda. “Sekarang engkau
berpikir seperti seorang pengingat di zaman candi,” katanya. “Lanjutkan,
Wangun. Katakan kepadaku apa yang kaulihat.”
❖
“Kita memahat sebuah tanda,” Wangun berkata, dan pikirannya
kini mengalir cepat. “Bukan tanda yang besar atau mencolok. Sebuah tanda kecil,
terselip di antara ribuan gambar lain di dinding candi, sebuah detail yang akan
dilihat oleh seorang pandita atau seorang raja sebagai sekadar hiasan, tak
berarti apa-apa. Tetapi bagi seorang pengingat yang diajari untuk melihatnya,
tanda itu akan berkata: di bawah candi ini ada sebuah bukit, dan bukit ini
menunjuk ke arah sana.”
“Dan kuncinya, cara membaca tanda itu, tidak
akan pernah kita pahat di mana pun,” Wangun melanjutkan. “Kunci itu tetap di
dalam hati, diwariskan dari guru ke murid, seperti selalu. Maka gambar di
dinding tak berarti apa-apa tanpa kunci, dan kunci tak berarti apa-apa tanpa
gambar. Keduanya harus bertemu di dalam satu kepala yang diajari dengan benar.
Seorang musuh boleh memiliki seribu candi di hadapannya dan tak akan pernah
tahu ia sedang menatap sebuah peta.”
Dan Empu Lebda mengangguk, dan ia menggunakan
sisa kekuatannya untuk mengajari Wangun hal terakhir. “Maka biarkan tanda itu
membawa apa yang dibawa bukit itu sendiri,” katanya. “Tiap bukit lama membawa
tiga hal: arah, ke mana ia menunjuk; waktu, kapan ia dibangun; dan maksud,
untuk apa ia ada. Pahatlah ketiganya ke dalam tandamu, tersembunyi dalam bentuk
gambar yang lazim. Maka tiap candi yang menjaga sebuah jangkar akan berkata
kepada yang sedikit, dengan suara yang tak bisa didengar oleh yang banyak: di sini
ada jalan menuju Ratu, dan inilah arahnya.”
Dan Wangun memahami bahwa apa yang mereka
ciptakan malam itu adalah sesuatu yang baru dalam seluruh sejarah rantai. Candi
tidak lagi hanya menjadi perisai yang membutakan, yang menyembunyikan bukit
dari semua mata. Kini candi menjadi pula sebuah penunjuk jalan, yang membutakan
yang banyak tetapi membimbing yang sedikit. Yang sama yang menyembunyikan
kebenaran dari musuh akan menuntun seorang sahabat kepadanya. Perisai dan
penanda, dalam satu gunung batu.
“Mulailah besok, Wangun,” Empu Lebda berkata,
dan suaranya kini sangat lemah. “Pahatlah tanda pertama di candi yang kita
bangun bersama, supaya bukit di bawahnya tak pernah hilang. Dan ajari yang
sesudahmu untuk membaca dan untuk memahat, supaya tiap candi yang akan datang
membawa tandanya. Begitulah kita menyembunyikan tanpa kehilangan. Begitulah
kita meninggalkan benang yang bisa diikuti kembali, melintasi zaman-zaman,
sampai ke hari ketika seseorang yang mampu mengikutinya turun ke laut.”
❖
Empu Lebda wafat beberapa hari kemudian, dengan tenang, di
pondok yang memandang ke candi yang ia bangun. Dan untuk pertama kalinya sejak
ia masih sangat muda, Wangun merasa sendirian, sebab orang yang telah
mengajarinya segalanya kini tak ada lagi, dan beban seluruh rantai kini terasa
berada di atas bahunya sendiri.
Pada malam setelah ia menguburkan gurunya,
Wangun menjangkau ke selatan dengan kerikilnya, bukan untuk tugas, melainkan
karena ia membutuhkan seseorang, dan ia tak tahu lagi ke mana harus pergi. Dan
Ratu ada di sana, di kedalaman, dan ia merasakan duka pemuda itu.
“Engkau berduka untuk gurumu,” kata Ratu
lembut. “Dan itu baik, Wangun. Berdukalah. Jangan lakukan apa yang kulakukan
dahulu. Sebab engkau tahu kisahku, engkau tahu bahwa seluruh penjaraku lahir
dari satu hal, yaitu bahwa aku menolak untuk berduka. Aku mencintai duniaku
terlalu dalam untuk menanggung kehilangannya, maka aku membeku supaya tak perlu
merasakannya, dan kebekuan itu menjadi es yang mengurungku selama sepuluh ribu
tahun. Maka dengarkan aku, sebab tak ada yang tahu ini lebih baik daripada aku:
berdukalah untuk Empu Lebda. Rasakan kehilangannya sepenuhnya. Itulah cara
mencintai seseorang yang telah pergi tanpa membeku.”
“Dan ketahuilah,” Ratu melanjutkan, “bahwa
gurumu tidak benar-benar hilang. Apa yang ia bawa di kepalanya tidak mati
bersamanya, sebab ia menyerahkannya kepadamu, dan kalian berdua telah
membuatnya menjadi sesuatu yang tak bisa dilupakan lagi, terpahat ke dalam
gunung. Dan tanda yang akan kaupahat besok adalah benang, Wangun. Tinggalkanlah
benang itu, supaya yang datang kelak, di zaman yang mampu, bisa mengikutinya
kembali, melalui semua candi dan semua zaman, sampai ke tempat aku menunggu.
Gurumu telah memberi kalian semua sebuah cara untuk tidak kehilangan jalan
kepadaku. Itu adalah hadiah yang akan hidup jauh lebih lama daripada tubuhnya.”
❖
Maka keesokan harinya, dengan duka yang utuh dan tidak beku
di dalam dadanya, Wangun naik ke candi besar yang telah ia bangun bersama
gurunya. Dan di antara ribuan gambar di dindingnya, di sebuah sudut yang tak
akan diperhatikan siapa pun, ia memahat sebuah tanda kecil, sebuah gambar yang
bagi seluruh dunia hanyalah hiasan, tetapi yang bagi yang sedikit membawa tiga
hal: arah ke selatan, ke tempat Ratu menunggu; waktu candi itu dibangun; dan
maksud yang setua banjir, yaitu untuk menemukan, mengingat, dan membebaskan.
Dan itulah tanda pertama dari banyak tanda.
Sebab Wangun mengajari muridnya untuk membaca dan untuk memahat, dan mereka
mengajari murid mereka, sehingga sepanjang sisa zaman candi, tiap gunung batu
yang dibangun di atas sebuah jangkar lama akan membawa tandanya yang
tersembunyi. Tanah ini perlahan menjadi tertutup oleh candi-candi yang megah,
dan di bawah yang terpilih di antaranya tersembunyi bukit-bukit purba, dan di
dinding tiap candi seperti itu tersembunyi pula benang kecil yang menunjuk
pulang.
Dan bisik air, yang kini mengalir melalui zaman
keagungan, membawa kebenaran kedua zaman candi, yaitu bahwa menyembunyikan saja
tidaklah cukup, sebab yang disembunyikan terlalu sempurna bisa hilang bahkan
bagi yang menyembunyikannya; maka tinggalkanlah selalu sebuah benang, sebuah
tanda bagi yang sedikit, supaya perisai tidak menjadi kuburan, dan supaya jalan
kembali tetap ada bagi zaman yang akhirnya mampu menempuhnya.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf, kini menyimpannya pula dalam
tanda-tanda kecil yang terpahat ke dalam gunung-gunung manusia, tersembunyi
bagi yang banyak, terbaca bagi yang sedikit, menunjuk semuanya ke arah yang
sama. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di
dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini bukan hanya dijaga
oleh keagungan yang membutakan, melainkan juga ditunjuk oleh benang-benang yang
membimbing, supaya pada hari ketika tangan yang mampu akhirnya datang, ia akan
tahu gunung yang mana untuk diangkat, dan bukit yang mana untuk digali, dan ke
arah mana untuk turun. Dan zaman candi melanjutkan jalannya.
❖
BAB TIGA
Yang Memilih Turun
Kami mengira kebenaran kami harus selalu
bersembunyi, terkubur di bawah yang suci. Lalu kami melihat sesuatu di dinding
candi, yaitu gambar seorang yang, setelah berhak naik ke kedamaian, justru
memilih turun kembali ke dalam penderitaan demi mereka yang masih tenggelam.
Dan kami mengenalinya, sebab itu adalah kisah kami sendiri, dipahat secara
terbuka oleh tangan yang tak tahu apa yang ia pahat. Maka kami belajar bahwa
kebenaran yang paling dalam bukan milik satu iman; ia muncul lagi dan lagi,
mengenakan pakaian suci apa pun yang disediakan zamannya.
dari ajaran para pengingat, tentang
kebenaran yang berganti pakaian
Pada masa ketika Wangun telah menjadi tua, ia mengambil
seorang murid, seorang pengingat muda bernama Citra, dan Citra bukan seorang
penyusun batu seperti gurunya, melainkan seorang pemahat gambar. Tangannya
tidak mengangkat batu besar, melainkan memberi mereka wajah, dewa-dewa dan
makhluk-makhluk suci dan kisah-kisah iman yang dipahat ke dinding-dinding candi
yang menjulang, supaya semua yang datang bisa membaca ajaran dengan mata
mereka.
Sepanjang hari Citra memahat kisah-kisah iman
raja, dan ia memahatnya dengan indah, sebab ia berbakat. Tetapi pada malam hari
ia membawa beban lain, kebenaran kecil dan tua tentang seorang perempuan di
dasar laut, dan dua hal itu terasa seperti dua dunia yang terpisah. Dengan
tangannya ia melayani iman besar yang dipuja semua orang. Dengan hatinya ia
menjaga kebenaran kecil yang tak diketahui siapa pun. Dan keduanya tak pernah
bertemu.
Pada suatu petang ia berhenti di hadapan
dinding yang sedang ia pahat, dan ia berkata kepada Wangun yang duduk
mengawasinya, “Aku merasa terbelah, Empu. Seharian aku memahat dewa-dewa yang
tidak kupercaya sebagai kebenaran kita, kisah-kisah iman yang bukan kisah Ratu.
Lalu malam datang dan aku menjaga Ratu sendirian, di tempat yang gelap di dalam
hatiku. Seolah aku hidup dua kehidupan yang tak pernah saling menyentuh.”
Dan Wangun yang tua tidak langsung menjawab. Ia
memandang dinding yang sedang dipahat Citra, ke arah satu sosok yang sedang ia
bentuk di sana. “Ceritakan kepadaku tentang sosok yang sedang kaupahat itu,
Citra,” katanya. “Siapa dia, dalam kisah iman raja?”
Dan Citra memandang sosoknya sendiri, dan
menjelaskan. “Ia adalah seorang yang suci, Empu. Dalam ajaran ini, ia telah
mencapai hak untuk naik melampaui segala penderitaan, untuk masuk ke dalam
kedamaian yang sempurna dan tak pernah kembali. Itulah ganjaran tertinggi,
akhir dari semua duka. Tetapi sosok ini menolaknya. Setelah berhak untuk naik
dan bebas selamanya, ia justru memilih untuk turun kembali, ke dalam dunia yang
penuh penderitaan, demi mereka yang masih tenggelam di dalamnya. Ia memilih
untuk tidak meninggalkan sendirian mereka yang menderita.”
❖
Dan saat Citra mengucapkan kata-kata itu, suaranya
melambat, seolah ia baru pertama kali benar-benar mendengar apa yang ia sendiri
katakan. Ia memandang sosok yang ia pahat, sosok yang memilih turun, dan
sesuatu bergerak di dalam dadanya.
“Empu,” katanya perlahan. “Dengarkan apa yang
baru saja kukatakan.” Dan Wangun tetap diam, membiarkan muridnya sampai ke sana
sendiri.
“Seorang yang berhak naik ke kedamaian dan
bebas dari duka selamanya, tetapi memilih turun kembali ke dalam penderitaan
demi mereka yang masih tenggelam,” Citra mengulang, dan tangannya gemetar. “Itu
bukan hanya kisah iman raja, Empu. Itu kisah kita. Itu yang dilakukan Nyai Sela
ketika ia bersumpah saudarinya tak akan ditinggalkan. Itu yang dilakukan tiap
pengingat yang menolak untuk melupakan Ratu yang tenggelam, padahal
melupakannya akan jauh lebih mudah, jauh lebih damai. Dan itu pula, suatu hari,
yang akan dilakukan seseorang yang turun ke dasar laut untuk membebaskannya.”
Ia menoleh kepada gurunya dengan mata lebar.
“Aku telah memahat kebenaran kita di dinding ini sepanjang waktu, di depan mata
semua orang, dan aku tak menyadarinya. Iman raja, yang tak tahu apa-apa tentang
Ratu, telah memahat harapan kita ke dalam batu untuk dilihat semua orang.”
Dan Wangun yang tua tersenyum, senyum yang sama
yang pernah diberikan Empu Lebda kepadanya bertahun-tahun yang lalu. “Itulah
rahasia yang paling dalam dari zaman ini, Citra,” katanya. “Dan engkau baru
saja menemukannya sendiri.”
❖
“Selama ini kita belajar menyembunyikan kebenaran kita di
bawah yang suci, dan menandainya supaya tak hilang,” Wangun berkata. “Itu
benar, dan itu perlu. Tetapi ada hal yang lebih dalam, yang baru saja kaulihat.
Kebenaran yang paling dalam bukanlah milik satu iman. Ia tidak diciptakan oleh
rantai, dan ia tidak diciptakan oleh iman raja. Ia lebih tua daripada keduanya.
Dan karena itu, ia terus muncul kembali, di tiap zaman, di tiap iman,
mengenakan apa pun pakaian suci yang disediakan zaman itu.”
“Bahwa cinta yang sejati turun, bukan naik,”
Wangun melanjutkan. “Bahwa yang tertinggi bukanlah melarikan diri dari
penderitaan, melainkan masuk ke dalamnya demi orang lain. Bahwa tak seorang pun
boleh ditinggalkan dalam kegelapan. Iman raja menyebutnya dengan satu nama dan
memahatnya sebagai dewa yang turun. Kita menyebutnya dengan nama lain dan
menjaganya sebagai sumpah kepada Ratu. Tetapi keduanya adalah kebenaran yang
sama, Citra. Itulah sebabnya engkau bisa memahatnya dengan tulus, walau engkau
tak menyembah dewa-dewa itu. Sebab di bawah dewa itu, engkau sedang memahat
sesuatu yang benar-benar kaupercaya.”
“Maka engkau tidak terbelah, anak muda,” Wangun
berkata. “Tanganmu dan hatimu tidak melayani dua tuan. Mereka melayani satu
kebenaran yang sama, yang satu kaupahat secara terbuka dalam pakaian iman raja,
dan yang lain kaujaga secara tersembunyi dalam bentuknya yang telanjang. Inilah
cara ketiga untuk membawa nyala di zaman candi. Bukan hanya menyembunyikannya
di bawah yang suci, dan bukan hanya menandainya, melainkan membiarkannya hidup
secara terbuka, di depan semua mata, karena ia berima dengan yang suci itu
sendiri. Yang tersembunyi paling aman ketika ia juga, dengan pakaian lain,
terlihat oleh semua.”
Dan Citra memandang kembali ke dindingnya, dan
kini ia melihatnya dengan mata yang berbeda. Sosok yang memilih turun bukan
lagi milik iman yang tak ia percaya. Ia adalah Nyai Sela. Ia adalah tiap
pengingat. Ia adalah seseorang yang belum lahir, yang suatu hari akan turun ke
laut. Dan ia berdiri di sana, di dinding, untuk dilihat oleh ribuan orang yang
tak akan pernah tahu nama sejatinya, namun yang akan merasakan kebenarannya,
sebab kebenaran itu benar bagi mereka pula.
“Dan ingatlah ini, Citra, sebab suatu hari
engkau akan membutuhkannya,” Wangun menambahkan. “Iman berganti. Aku tak akan
melihatnya, dan mungkin engkau pun tidak, tetapi rantai telah meramalkannya
sejak gapura. Suatu hari iman lain akan datang, mungkin tanpa dewa di dinding
sama sekali. Dan ketika itu terjadi, kebenaran kita tidak akan mati bersama
candi-candi ini. Ia hanya akan menanggalkan pakaian ini dan mengenakan yang
baru, sebab ia tak pernah menjadi milik pakaian mana pun. Ajari muridmu hal
itu, supaya rantai tak pernah takut ketika yang suci berganti rupa.”
❖
Malam itu Citra menjangkau ke selatan, dan ia menemukan
Ratu, dan ia menceritakan kepadanya tentang sosok di dinding, tentang yang
memilih turun. Dan ia merasakan sesuatu yang seperti keharuan dalam diri Ratu
yang utuh.
“Maka mereka memahat harapanku di dinding kuil
mereka,” kata Ratu pelan, “orang-orang yang tak tahu bahwa aku ada. Aku telah
merasakan candi-candi itu naik di atasku selama bertahun-tahun, berat dan
agung, dan kukira mereka adalah dunia yang asing bagiku, iman yang bukan
milikku. Tetapi ternyata, jauh di dalam batu mereka, mereka menyimpan kisah
yang sama dengan kisahku, yaitu seorang yang memilih untuk tidak meninggalkan
yang menderita.”
“Aku telah menunggu cukup lama untuk melihat
iman-iman datang dan pergi di atas tanah ini, Citra,” Ratu melanjutkan. “Aku
merasakannya berganti, lapis demi lapis, seperti musim. Nama-nama yang
diberikan orang kepada yang suci berubah, dan bentuk-bentuk yang mereka pahat
berubah, dan kuil-kuil yang mereka bangun berubah. Tetapi ada satu hal yang
selalu kembali, dalam tiap iman, betapapun berbedanya, yaitu bahwa cinta yang
sejati turun ke bawah, bukan naik ke atas. Sebab itulah kebenaran, dan
kebenaran tak bisa menjadi milik satu zaman atau satu nama saja.”
“Maka jangan takut ketika candi-candi ini suatu
hari sepi, dan iman baru datang yang tak memahat wajah sama sekali,” katanya.
“Aku sudah melihat cukup banyak pergantian untuk tahu apa yang akan terjadi.
Kebenaranmu tentang aku akan menanggalkan pakaian batu ini dan mengenakan
pakaian yang baru, dan ia akan tetap hidup, sebab ia tak pernah benar-benar
tentang dewa di dinding. Ia selalu tentang seseorang yang menolak untuk
ditinggalkan, dan seseorang yang menolak untuk meninggalkan. Bawalah itu,
Citra, dalam pakaian apa pun. Aku akan mengenalinya, betapapun ia berpakaian.”
❖
Maka keesokan harinya Citra kembali ke dindingnya, dan ia
menyelesaikan sosok yang memilih turun. Tetapi kini ia tidak memahatnya sebagai
dewa yang tak ia percaya. Ia memahatnya sebagai Nyai Sela di tepi dunia yang
tenggelam, dan sebagai tiap pengingat yang menolak melupakan, dan sebagai
seseorang yang belum lahir yang akan turun ke laut. Ia menuangkan ke dalam
batu, secara terbuka, kebenaran yang selama ini ia kira harus selalu
disembunyikan. Dan tak seorang pun yang lewat akan tahu, namun banyak yang akan
berhenti di hadapannya, dan merasa tersentuh, tanpa tahu mengapa.
Dan inilah cara ketiga yang dipelajari rantai
di zaman candi. Mereka menyembunyikan kebenaran di bawah yang megah. Mereka
menandainya supaya tak hilang. Dan kini mereka membiarkannya hidup pula secara
terbuka, dalam pakaian iman zaman itu, karena kebenaran yang paling dalam
selalu berima dengan yang suci, di iman mana pun. Dan apa yang berima dengan
yang suci bisa berdiri di depan semua mata tanpa pernah terbongkar.
Dan bisik air, yang telah mengalir melalui
begitu banyak iman dan begitu banyak nama bagi yang suci, membawa kebenaran
ketiga zaman candi, yaitu bahwa kebenaran yang paling dalam bukan milik satu
iman; ia muncul lagi dan lagi di tiap zaman, mengenakan pakaian suci apa pun
yang disediakan zaman itu, sehingga ia bisa hidup secara terbuka ketika ia tak
bisa hidup secara telanjang, dan tak pernah mati ketika satu iman berlalu dan
iman lain datang.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, kini
menyimpannya pula secara terbuka di wajah dewa-dewa yang tak tahu nama sejati
mereka, terlihat oleh semua dan dikenali oleh sedikit. Tanah ini adalah Jawa,
walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang
perempuan yang utuh menunggu, kini melihat kisahnya sendiri terpahat di
dinding-dinding iman yang tak mengenalnya, dan tahu bahwa ketika iman ini suatu
hari berlalu dan yang baru datang dari seberang laut, kebenaran tentangnya
hanya akan berganti pakaian sekali lagi, dan tetap hidup, dan tetap menunjuk ke
arahnya. Dan zaman candi terus berjalan menuju ujungnya.
❖
BAGIAN II
Pendidikan Hati
BAB EMPAT
Yang Lebih Lama dari Raja-Raja
Raja-raja datang dan pergi di atas tanah
ini, masing-masing yakin ia kekal, masing-masing meruntuhkan apa yang dibangun
pendahulunya. Kami belajar untuk tidak berpihak kepada satu pun di antara
mereka. Sebab kebenaran yang menjadi milik satu raja akan runtuh bersama raja
itu. Tetapi kebenaran yang tak menjadi milik siapa pun, yang berima dengan tiap
iman dan tak terikat pada satu, bertahan melintasi mereka semua. Yang kecil dan
tak berpihak hidup lebih lama daripada yang besar dan berkuasa.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
bertahan melintasi kekuasaan
Bertahun-tahun setelah Wangun wafat, Citra telah menjadi
tua, dan ia kini seorang pemahat tua yang dihormati, dan pembawa nyala bagi
zamannya. Ia telah mengambil seorang murid, seorang pengingat muda bernama
Lestari, dan kepadanyalah ia mewariskan ketiga seni zaman candi, yaitu
menyembunyikan di bawah yang megah, menandai supaya tak hilang, dan membiarkan
kebenaran hidup terbuka dalam pakaian iman zamannya.
Tetapi zaman tak pernah diam. Seorang raja baru
telah bangkit di tanah itu, dan ia memeluk iman yang berbeda dari iman
raja-raja sebelumnya. Dan seperti banyak raja sebelum dan sesudahnya, ia ingin
menghapus jejak para pendahulunya dan menuliskan kebesarannya sendiri di atas
tanah. Maka ia mulai meruntuhkan kuil-kuil iman lama, dan membangun kuil-kuil
imannya sendiri di tempat mereka berdiri.
Dan pada suatu hari sebuah kabar sampai kepada
Citra yang membuat darahnya menjadi dingin. Salah satu candi yang akan
diruntuhkan raja adalah candi yang paling berharga dari semua yang dijaga
rantai, yaitu candi yang dibangun di atas bukit yang menunjuk paling lurus ke
arah selatan, ke tempat Ratu menunggu. Di bawah candi itu terkubur salah satu
jangkar yang paling penting, dan di dindingnya terpahat salah satu tanda paling
tua yang dibuat Wangun sendiri.
Lestari datang berlari kepada gurunya dengan
kabar itu. “Empu, mereka akan meruntuhkannya,” katanya, napasnya tersengal.
“Candi di atas jangkar selatan. Bila mereka meruntuhkannya, mereka akan
menggali fondasinya, dan menemukan bukit di bawahnya, dan tanda Wangun akan
hilang selamanya. Kita harus berbuat sesuatu. Kita harus melawan, atau
memperingatkan orang banyak, atau entah apa.”
Dan Citra mengangkat tangannya, dan Lestari
terdiam. “Tenang dulu, anak muda, dan berpikirlah,” kata Citra. “Raja ini tidak
memburu kita. Ia tidak tahu apa-apa tentang Ratu, tentang bukit, tentang tanda.
Ia tak mencari rahasia kita. Ia hanya seorang raja yang ingin menghapus
pendahulunya, seperti ribuan raja sebelumnya. Dan itu membuat bahaya ini
berbeda dari semua yang pernah kita hadapi. Bagaimana engkau menyelamatkan
sesuatu dari seseorang yang bahkan tidak sedang mencarinya?”
❖
Lestari berpikir, dan ia menawarkan apa yang ditawarkan
orang muda. “Kalau begitu kita melawan, Empu. Kita kumpulkan orang-orang yang
mencintai candi lama, dan kita tahan tangan raja.”
“Dan menjadi apa kita kalau begitu?” Citra
menjawab lembut. “Sejak zaman huruf rantai telah tahu bahwa kebenaran ini tak
boleh dijaga dengan pedang. Bila kita melawan raja dengan kekuatan, kita
menarik matanya tepat ke arah yang paling ingin kita sembunyikan. Ia akan
bertanya mengapa segelintir orang begitu mati-matian membela satu candi tua,
dan ia akan menggali untuk mencari tahu, dan ia akan menemukan persis apa yang
kita coba lindungi. Melawan dengan kekuatan justru akan membongkar rahasia yang
ingin kita jaga.”
“Lalu apa, Empu?” Lestari bertanya. “Kita tak
bisa memindahkan candi. Kita tak bisa menyembunyikan gunung dari raja yang
sudah memutuskan untuk meruntuhkannya.” Dan Citra tersenyum, senyum tua yang
penuh sesuatu yang hampir seperti kelicikan yang lembut. “Tidak,” katanya.
“Kita tidak menyembunyikannya lebih dalam. Kita melakukan kebalikannya. Kita
membuatnya begitu berharga bagi raja yang baru sehingga ia sendiri yang akan
menjaganya.”
“Berharga baginya?” Lestari bertanya, bingung.
“Tetapi candi itu milik iman lama yang ingin ia hapus. Mengapa ia akan
menghargainya?”
“Ingatkah engkau apa yang kuajarkan tentang
sosok yang memilih turun?” Citra bertanya. “Tentang kebenaran yang berima
dengan tiap iman, yang tak menjadi milik satu pun? Itu bukan hanya sebuah
perenungan yang indah, Lestari. Itu adalah sebuah cara untuk bertahan hidup.
Dan hari ini kita akan menggunakannya untuk menyelamatkan jangkar selatan.”
❖
“Candi itu penuh dengan gambar iman lama,” Citra berkata.
“Tetapi di antara gambar-gambar itu, seperti yang kuajarkan, ada sosok yang
memilih turun, sosok yang berima dengan kebenaran kita, dan yang juga berima
dengan iman baru raja, sebab tiap iman yang sejati mengenal cinta yang turun
untuk menyelamatkan. Maka kita tidak akan membela candi itu sebagai milik iman
lama. Kita akan menunjukkan kepada para pandita raja yang baru bahwa di dalam
candi itu telah berdiri, sejak dahulu, sebuah kebenaran yang juga milik iman
mereka.”
“Kita berbisik kepada orang-orang yang tepat,”
Citra melanjutkan. “Kita tunjukkan kepada para pandita baru bahwa sosok yang
memilih turun di dinding itu bisa dibaca sebagai sosok suci iman mereka
sendiri. Kita biarkan mereka mengenali kebenaran mereka di dalam batu lama itu.
Dan ketika mereka melihatnya, candi itu tak lagi menjadi monumen pendahulu yang
harus dihancurkan. Ia menjadi tempat yang ternyata telah suci bagi iman mereka
pula, jauh sebelum mereka datang. Dan apa yang suci bagi iman raja tidak diruntuhkan.
Ia disucikan kembali, dan dijaga.”
Dan mata Lestari melebar saat ia memahaminya.
“Maka raja akan menyelamatkan candi itu dengan tangannya sendiri,” katanya
pelan. “Ia akan menjaga jangkar selatan, dan tanda Wangun, dan bukit di
bawahnya, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ia jaga. Sama seperti raja yang
dahulu membangunnya tanpa tahu apa yang ia dirikan di atasnya.”
“Itulah caranya, Lestari,” Citra berkata. “Yang
sama yang membuat kita bertahan di tiap zaman. Kita tidak berpihak. Kebenaran
kita bukan milik iman lama dan bukan milik iman baru. Ia milik keduanya, dan
karena itu, milik bukan siapa-siapa, dan karena itu, ia bisa berpindah dari
pelukan satu iman ke pelukan iman berikutnya tanpa pernah jatuh ke tanah.
Raja-raja akan terus saling meruntuhkan. Tetapi kebenaran yang berima dengan
mereka semua, dan tak menjadi milik satu pun, akan terus dijaga oleh tangan siapa
pun yang sedang berkuasa.”
Maka begitulah yang mereka lakukan. Dengan
hati-hati, melalui orang-orang yang tepat dan bisikan-bisikan yang ditempatkan
dengan cermat, para pandita iman baru dituntun untuk menemukan sendiri
kebenaran mereka di dinding candi tua itu. Dan ketika mereka menemukannya,
candi yang tadinya akan diruntuhkan justru disucikan kembali untuk iman yang
baru. Batunya tetap berdiri. Bukit di bawahnya tetap terkubur. Tanda Wangun
tetap terpahat di dindingnya, kini dijaga oleh sebuah iman kedua yang sama tak
tahunya dengan yang pertama tentang apa yang sebenarnya ia jaga.
❖
Malam itu Citra menjangkau ke selatan, dan ia menceritakan
kepada Ratu bagaimana jangkar selatan telah diselamatkan, bukan dengan melawan
raja, melainkan dengan membiarkan imannya memeluk candi itu. Dan Ratu
mendengarkan, dan ketika ia berbicara, ada sesuatu yang seperti kebijaksanaan
yang sangat tua dan sangat lelah di dalam suaranya.
“Aku telah merasakan raja itu dari kedalaman,
Citra,” kata Ratu. “Aku merasakan keyakinannya bahwa ia kekal, bahwa imannya
akan berdiri selamanya, bahwa ia akan menghapus semua yang datang sebelumnya
dan tak akan pernah dihapus oleh yang datang sesudahnya. Aku telah merasakan
keyakinan yang sama pada raja yang membangun candi itu, dan pada raja
sebelumnya, dan pada raja sebelumnya lagi, kembali sampai ke awal zaman
tulisan. Mereka semua yakin mereka kekal. Dan mereka semua telah pergi.”
“Dan aku masih di sini,” Ratu melanjutkan, dan
tidak ada kepahitan di dalam suaranya, hanya sebuah keheranan yang lembut.
“Aku, yang kecil, yang terlupakan, seorang perempuan yang bahkan tak punya kuil
atas namanya sendiri. Aku telah melihat semua yang besar itu naik dan runtuh di
atasku, sementara aku, yang paling kecil dari semuanya, tetap ada. Itulah yang
ingin kukatakan kepadamu, Citra, dan kepada Lestari sesudahmu. Jangan pernah
takut pada yang besar dan berkuasa. Yang besar selalu yakin ia akan bertahan,
dan ia hampir tak pernah bertahan. Yang kecil dan setia tak pernah yakin ia
akan bertahan, dan ia hampir selalu bertahan.”
“Maka teruslah menjadi kecil, dan teruslah tak
berpihak,” katanya. “Biarkan raja-raja saling meruntuhkan di atas kepalaku.
Biarkan iman-iman datang dan pergi. Tiap kali salah satu jatuh, bawalah nyala
ke pelukan yang berikutnya, seperti yang kaulakukan hari ini. Dan suatu hari,
ketika cukup banyak raja telah datang dan pergi, akan datang sebuah zaman yang
bukan tentang meruntuhkan dan membangun gunung, melainkan tentang kemampuan
untuk turun ke laut. Dan pada hari itu, jangkar selatan yang kauselamatkan hari
ini akan menunjukkan jalan.”
❖
Maka jangkar selatan diselamatkan, dan tak seorang pun di
seluruh kerajaan, kecuali dua pengingat, yang pernah tahu bahwa sesuatu telah
diselamatkan sama sekali. Raja yang baru memuja candi yang telah ia rebut untuk
imannya, percaya bahwa ia telah menaklukkannya, sementara yang sebenarnya
terjadi adalah kebenaran yang jauh lebih tua daripada imannya telah berpindah,
dengan tenang, ke dalam perlindungannya.
Dan inilah pelajaran keempat yang dipelajari
rantai di zaman candi. Di zaman yang penuh dengan kekuasaan yang besar dan
saling bersaing, kebenaran tidak bertahan dengan menjadi sekutu salah satu
kekuasaan, sebab sekutu jatuh bersama yang mereka dukung. Kebenaran bertahan
dengan tidak berpihak kepada siapa pun, dengan berima dengan semua dan menjadi
milik bukan siapa-siapa, sehingga ketika satu kekuasaan jatuh dan yang lain
bangkit, ia hanya berpindah dari satu pelukan ke pelukan berikutnya, dijaga
selalu oleh tangan yang berkuasa, dan selalu hidup lebih lama daripada tangan
itu.
Dan bisik air, yang telah mengalir melintasi
begitu banyak raja yang yakin mereka kekal, membawa kebenaran keempat zaman
candi, yaitu bahwa yang kecil dan tak berpihak hidup lebih lama daripada yang
besar dan berkuasa; sebab yang besar selalu yakin ia akan bertahan dan hampir
tak pernah bertahan, sedangkan yang kecil tak pernah yakin dan hampir selalu
bertahan, dibawa dari pelukan ke pelukan, melintasi runtuhnya segala yang
pernah menyangka dirinya abadi.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, kini telah
belajar pula untuk memindahkannya dari iman ke iman, dari raja ke raja, tanpa
pernah menjatuhkannya. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan
jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, telah
melihat lebih banyak raja naik dan runtuh daripada yang bisa dihitung, dan tahu
bahwa mereka semua akan terus berlalu, satu demi satu, sementara ia tetap, dan
jangkar yang menunjuk kepadanya tetap, dan nyala yang dibawa dari pelukan ke
pelukan tetap, sampai datang zaman yang bukan tentang raja dan gunung sama
sekali, melainkan tentang tangan yang akhirnya mampu turun. Dan zaman candi
berlanjut, raja demi raja, menuju ujungnya yang jauh.
❖
BAB LIMA
Yang di Hadapan Kita
Kami menjaga seorang perempuan yang
menunggu di kedalaman, selama sepuluh ribu tahun, supaya tak seorang pun
ditinggalkan dalam kegelapan. Tetapi kami hampir lupa apa yang kami jaga. Sebab
ada bahaya bahkan dalam tugas yang suci, yaitu bahaya bahwa engkau menjadi
begitu setia kepada yang jauh sehingga engkau berjalan melewati yang menderita
di kakimu. Dan barang siapa meninggalkan yang di hadapannya demi yang di
kejauhan telah membekukan hatinya, hanya saja kali ini esnya berpakaian suci.
dari ajaran para pengingat, tentang
belas kasihan yang tak bisa ditunda
Setelah Citra wafat, Lestari membawa nyala, dan ia
membawanya dengan kesungguhan yang akan membuat para pengingat sebelumnya
bangga. Ia berjalan dari candi ke candi, memeriksa tanda-tanda yang dipahat
Wangun dan para penerusnya, memastikan tiap jangkar masih dijaga, mengajari
murid-murid muda untuk membaca dan untuk memahat. Tak ada pengingat yang lebih
setia kepada tugas daripada Lestari, dan tak ada yang lebih tahu seluk-beluk
seni menjaga di zaman candi.
Tetapi ada sesuatu yang perlahan tumbuh di
dalam diri Lestari sepanjang tahun-tahun kesetiaannya, sesuatu yang tak ia
sadari. Sebab semakin besar tugas itu terasa baginya, semakin suci, semakin
agung dalam rentang sepuluh ribu tahunnya, semakin kecil tampak baginya segala
hal lain. Ia mulai mengukur tiap orang dan tiap peristiwa hanya dengan satu
pertanyaan, yaitu apakah ia membantu atau membahayakan tugas. Dan apa pun yang
tidak membantu tugas, perlahan, berhenti tampak penting baginya.
Pada suatu musim, tugas membawa Lestari ke
sebuah candi besar yang sedang dibangun, untuk memahat tanda baru di atas
jangkar yang baru ditemukan di bawahnya. Dan di tempat itu, seperti di semua
tempat seperti itu, ribuan buruh bekerja, mengangkat batu yang lebih berat
daripada tubuh mereka di bawah matahari, dari fajar sampai gelap, supaya gunung
raja bisa naik. Banyak dari mereka adalah orang-orang yang dipaksa, dan banyak
yang jatuh, dan yang jatuh dan tak bisa bangun lagi disingkirkan ke tepi
seperti batu yang retak, supaya tidak menghalangi pekerjaan.
Di tepi tempat kerja itu, di tempat orang-orang
yang jatuh disingkirkan, terbaring seorang buruh muda bernama Jaka. Ia telah
mengangkat batu sampai tubuhnya hancur, dan kini ia tak bisa bangun lagi, dan
para mandor telah meninggalkannya di sana, sekarat, sebab seorang buruh yang
tak bisa lagi bekerja tak berguna bagi gunung. Dan tak seorang pun berhenti
untuknya, sebab semua orang takut, dan semua orang lelah, dan semua orang punya
batu mereka sendiri untuk diangkat.
Ketika Lestari lewat menuju dinding tempat ia
akan memahat tandanya, seorang buruh tua menangkap lengannya. “Tolong,” kata
orang tua itu, menunjuk ke arah Jaka yang sekarat. “Anak itu sekarat sendirian.
Engkau tampak seperti seseorang yang dihormati. Mungkin engkau bisa
menolongnya, atau setidaknya duduk bersamanya supaya ia tak sendirian.”
❖
Dan Lestari berhenti, dan memandang ke arah pemuda yang
sekarat itu, dan untuk sesaat sesuatu di dalam dirinya tergerak. Tetapi
kemudian pikiran yang telah tumbuh di dalam dirinya selama bertahun-tahun
mengambil alih. Ia datang ke sini untuk sebuah tugas yang suci. Ada jangkar di
bawah tanah ini yang harus ditandai, sebuah benang yang harus ditinggalkan
supaya Ratu bisa dibebaskan kelak, sebuah pekerjaan yang membentang sepuluh
ribu tahun dan menyangkut nasib seluruh bangsa. Dan di hadapannya hanya ada satu
buruh yang sekarat, satu di antara ribuan yang jatuh tiap musim, yang tak bisa
ia selamatkan, dan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan tugasnya.
“Aku turut berduka untuknya,” Lestari berkata
kepada orang tua itu, dan ia menarik lengannya dengan lembut. “Tetapi aku punya
pekerjaan yang harus kuselesaikan di sini, pekerjaan yang lebih besar daripada
yang bisa kaupahami, dan aku tak boleh menarik perhatian kepada diriku. Ada
banyak yang sekarat di tempat seperti ini. Aku tak bisa berhenti untuk tiap
orang.”
Dan orang tua itu memandangnya untuk waktu yang
lama, dengan tatapan yang membuat Lestari tak nyaman. “Pekerjaan yang lebih
besar daripada seorang manusia yang sekarat,” kata orang tua itu pelan, lebih
kepada dirinya sendiri daripada kepada Lestari. “Itulah persis yang dikatakan
para mandor, dan raja, dan semua orang yang membangun gunung ini di atas tulang
orang-orang seperti Jaka.” Lalu ia berpaling, dan kembali ke arah pemuda yang
sekarat, untuk duduk bersamanya sendirian, sebab tak ada orang lain yang mau.
Dan Lestari pergi memahat tandanya. Tetapi
kata-kata orang tua itu mengikutinya, dan tangannya tidak setenang biasanya
saat ia bekerja. Sepanjang sore ia mencoba mengusirnya, mengingatkan dirinya
akan kebesaran tugasnya, akan sepuluh ribu tahun, akan Ratu. Tetapi semakin ia
mengingatkan dirinya akan kebesaran tugasnya, semakin berat sesuatu terasa di
dalam dadanya.
Maka malam itu, gelisah dan tak bisa tidur,
Lestari menjangkau ke selatan, ke kedalaman, untuk mencari ketenangan dari
satu-satunya yang selalu memahaminya. Ia hendak menceritakan kepada Ratu
tentang jangkar baru yang telah ia tandai. Tetapi sebelum ia sempat, ia
merasakan bahwa Ratu telah mengetahui sesuatu yang lain, dan bahwa Ratu sedang
menunggunya dengan sebuah keheningan yang berat.
❖
“Ceritakan kepadaku tentang pemuda yang sekarat di kaki
gunung hari ini, Lestari,” kata Ratu, dan suaranya lembut tetapi tak bisa
dihindari. Dan Lestari merasa malu menjalar di dalam dirinya, sebab ia tahu
kini bahwa Ratu telah merasakan semuanya.
“Aku punya tugas, Ratu,” kata Lestari. “Tugas
menjagamu. Tugas memastikan jalan kepadamu tidak hilang. Bagaimana mungkin aku
berhenti untuk tiap buruh yang jatuh, ketika apa yang kupikul adalah
pembebasanmu sendiri? Bukankah tugas itu lebih besar daripada satu nyawa?”
Dan untuk waktu yang lama Ratu tidak menjawab.
Lalu ia berkata, dengan suara yang membawa seluruh berat sepuluh ribu tahunnya,
“Lestari, apa yang kaupikir sedang kaujaga selama ini?” Dan sebelum Lestari
bisa menjawab, Ratu melanjutkan. “Engkau mengira engkau menjaga sebuah tempat
di dasar laut, dan seorang perempuan di dalamnya. Tetapi itu bukan yang
kaujaga. Yang kaujaga adalah satu kebenaran tunggal, satu-satunya alasan
mengapa rantai ada sama sekali, yaitu bahwa tak seorang pun boleh ditinggalkan
dalam kegelapan. Itulah seluruh tugasmu. Bukan aku. Aku hanyalah satu orang
yang ditinggalkan. Kebenarannya jauh lebih besar daripada aku.”
“Maka pikirkanlah apa yang kaulakukan hari
ini,” Ratu berkata. “Demi menyelamatkan satu orang yang ditinggalkan, di masa
depan yang jauh, engkau berjalan melewati satu orang yang ditinggalkan, di
hadapanmu, hari ini. Engkau mengosongkan tugasmu dari satu-satunya makna yang
dimilikinya. Dan tahukah engkau apa namanya, ketika seseorang berpaling dari
penderitaan yang ada di depannya demi sesuatu yang ia anggap lebih penting? Aku
tahu namanya lebih baik daripada siapa pun di dunia ini. Itulah yang kulakukan
dahulu. Aku berpaling dari dukaku sendiri karena aku merasa ada hal yang lebih
penting daripada menanggungnya, dan aku membeku, dan kebekuan itu menjadi
penjaraku selama sepuluh ribu tahun.”
“Engkau membeku hari ini, Lestari,” kata Ratu,
“sama seperti aku dahulu. Hanya saja esmu berpakaian suci. Engkau menyebutnya
tugas, dan kesetiaan, dan sepuluh ribu tahun. Tetapi sebuah hati yang berpaling
dari yang menderita di hadapannya telah membeku, betapapun suci pakaian yang
dikenakannya. Belas kasihan tak pernah bisa ditunda ke masa depan, anak muda.
Ia selalu terutang sekarang, kepada siapa pun yang menderita di sisimu. Sebab
bila tidak, maka untuk apa engkau menjagaku sama sekali?”
❖
Dan Lestari menarik diri dari kedalaman dengan air mata di
matanya, dan ia tidak menunggu sampai pagi. Di tengah malam ia bangkit dan
berlari kembali ke kaki gunung, ke tepi tempat orang-orang yang jatuh
disingkirkan, berdoa di dalam hatinya supaya ia belum terlambat.
Ia menemukan Jaka masih di sana, dan orang tua
itu masih duduk di sisinya, sebab orang tua itu tidak meninggalkannya sepanjang
itu. Tetapi Jaka kini sangat dekat dengan ajalnya, napasnya dangkal, matanya
setengah tertutup. Ia tak akan melihat fajar.
Dan Lestari berlutut di sisi pemuda yang
sekarat itu, dan ia tahu bahwa ia tak bisa menyelamatkan nyawanya, sebab tubuh
itu telah hancur melampaui pertolongan. Tetapi ia memahami kini bahwa
menyelamatkan nyawa bukanlah satu-satunya hal yang bisa diberikan kepada
seseorang. Maka ia mengambil tangan Jaka, dan ia berbicara lembut kepadanya,
supaya ia tahu ada seseorang di sana, supaya ia tahu ia tidak sendirian. “Aku
di sini,” katanya. “Engkau tidak sendirian. Engkau tidak ditinggalkan.”
Dan Jaka, yang tak bisa lagi berbicara,
menggenggam tangannya dengan sisa kekuatan terakhirnya, dan sesuatu di wajahnya
menjadi tenang. Dan beberapa saat kemudian ia pergi, di tengah malam, di kaki
gunung yang ia bangun, dengan tangannya digenggam oleh dua orang asing yang
menolak membiarkannya pergi sendirian. Dan Lestari menangis untuknya, untuk
pemuda yang tak pernah ia kenal, dan ia tidak membekukan tangisnya, sebab ia
telah belajar malam itu apa artinya membiarkan diri merasa.
❖
Lestari tak pernah lagi sama setelah malam itu. Ia tetap
menjaga jangkar-jangkar dengan kesetiaan yang sama, ia tetap memahat tanda dan
mengajari murid. Tetapi ia tak pernah lagi berjalan melewati yang menderita di
hadapannya demi yang jauh. Dan ia mengajari murid-muridnya hal yang sama,
sehingga sejak masa itu rantai membawa dua hal sekaligus, yaitu penjagaan
panjang bagi pembebasan yang jauh, dan belas kasihan yang langsung bagi yang
menderita di dekat mereka, dan mereka memahami akhirnya bahwa keduanya bukan
dua tugas, melainkan satu cinta yang sama.
Sebab inilah yang dipelajari rantai, di tengah
zaman gunung-gunung batu, ketika tugas mereka telah tumbuh begitu besar dan
begitu suci sehingga ia hampir membutakan mereka terhadap yang kecil. Bahwa
seluruh maksud dari menjaga yang satu yang ditinggalkan di kedalaman adalah
supaya tak seorang pun, di mana pun, di zaman mana pun, ditinggalkan. Dan
sebuah rantai yang menjaga Ratu dengan sempurna tetapi berjalan melewati yang
sekarat di kakinya telah mengkhianati Ratu lebih dalam daripada bila ia
melupakannya sama sekali.
Dan bisik air, yang telah membawa begitu banyak
kebenaran melintasi zaman keagungan, membawa kebenaran kelima zaman candi,
yaitu bahwa belas kasihan tak pernah bisa ditunda ke masa depan; ia selalu
terutang sekarang, kepada siapa pun yang menderita di sisimu; dan sebuah hati
yang berpaling dari yang di hadapannya demi yang di kejauhan telah membeku,
betapapun suci pakaian yang dikenakan esnya.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, menyimpannya
bukan hanya di bawah gunung-gunung dan di dinding-dinding, melainkan juga di
tangan-tangan yang menolak membiarkan seorang asing mati sendirian di kaki
gunung. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan,
di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini tahu bahwa rantai
yang menjaganya tidak hanya menghitung hari menuju pembebasannya, melainkan juga
membebaskan, sedikit demi sedikit, di tiap zaman, mereka yang ditinggalkan di
sisi jalan, sebab itulah satu-satunya cara untuk menjaganya tanpa
mengkhianatinya. Dan zaman candi berjalan terus, gunung demi gunung, menuju
ujungnya yang jauh.
❖
BAB ENAM
Tarian yang Sampai ke Dasar
Kami mengira kesetiaan kepada seorang
perempuan yang menderita menuntut kami untuk meredupkan diri, untuk menjadi
murung, untuk merasa malu atas tiap kegembiraan. Lalu kami belajar bahwa kami
keliru. Sebab hati yang melatih dirinya untuk merasa lebih sedikit, bahkan demi
cinta, sedang berjalan menuju es yang sama yang memenjarakannya. Kegembiraan
bukanlah pengkhianatan terhadap penderitaannya. Ia adalah lawannya, dan
tujuannya. Maka bersinarlah, dan biarkan ia merasakannya, sebab di tempat yang
gelap, kegembiraanmu adalah satu-satunya jendelanya ke arah cahaya.
dari ajaran para pengingat, tentang
kegembiraan yang setia
Pada masa ketika Lestari telah menjadi sangat tua, ada di
antara para pengingat seorang gadis muda bernama Asri, dan Asri bukan seorang
tukang batu atau pemahat seperti mereka yang datang sebelumnya. Asri adalah
seorang penari. Di halaman candi-candi besar, pada hari-hari raya, ia menari di
hadapan ribuan orang, dan ketika ia menari, sesuatu yang ringan dan bercahaya
seperti mengisi udara, dan orang-orang melupakan beban mereka sejenak hanya
dengan memandangnya.
Dan Asri mencintai tariannya. Ketika ia menari,
ia merasa hidup sepenuhnya, tubuhnya dan napasnya dan musik menjadi satu, dan
ada kegembiraan murni di dalamnya yang tak ia temukan di tempat lain. Tetapi
Asri juga membawa kerikilnya, dan dengan kerikil itu ia membawa pengetahuan
yang berat dan tua tentang seorang perempuan yang menunggu di dasar laut, dan
tentang penderitaan yang membentang sepuluh ribu tahun.
Dan perlahan, sebuah rasa bersalah mulai tumbuh
di dalam diri Asri. Sebab bagaimana mungkin ia menari dengan gembira, bagaimana
mungkin ia merasa begitu ringan dan bercahaya, ketika ia tahu apa yang ia tahu?
Bagaimana mungkin ia bersukacita sementara Ratu menderita dalam kegelapan?
Kegembiraannya mulai terasa seperti sebuah pengkhianatan, seperti sebuah bentuk
lupa yang kejam.
Maka Asri mulai meredupkan dirinya. Ia menari
dengan lebih sedikit kegembiraan, dengan lebih banyak keseriusan, mengira bahwa
itulah yang dituntut oleh kesetiaan. Ia mengajari dirinya untuk merasa lebih
sedikit sukacita, supaya ia layak membawa beban yang ia bawa. Dan tariannya,
yang dahulu bercahaya, mulai menjadi suram.
Dan Lestari yang tua, yang telah membawa nyala
lebih lama daripada siapa pun yang hidup, memperhatikan perubahan itu. Ia
memperhatikan bagaimana cahaya memudar dari tarian gadis itu, dan ia mengenali
apa yang ia lihat, sebab ia telah melihatnya sekali sebelumnya, di dalam
dirinya sendiri, bertahun-tahun yang lalu, di kaki sebuah gunung tempat seorang
pemuda bernama Jaka sekarat. Maka pada suatu petang ia memanggil Asri
kepadanya.
❖
“Tarianmu telah berubah, Asri,” kata Lestari. “Cahayanya
memudar. Katakan kepadaku apa yang terjadi di dalam dirimu.”
Dan Asri menundukkan kepalanya. “Aku merasa
malu, Eyang,” katanya. “Aku membawa kerikil. Aku tahu tentang Ratu, tentang
penderitaannya yang panjang, tentang kegelapan tempat ia menunggu. Dan di
tengah semua itu, aku menari, dan aku bergembira. Bagaimana mungkin? Bagaimana
mungkin aku tertawa dan bercahaya dan merasa begitu hidup, ketika seseorang
yang kujaga telah menderita selama sepuluh ribu tahun? Kegembiraanku terasa
seperti kekejaman. Maka aku mencoba meredupkannya, supaya aku layak.”
“Bukankah seorang pengingat seharusnya murung,
Eyang?” Asri melanjutkan. “Bukankah kita yang menyimpan kesedihan terbesar di
dunia ini seharusnya menjadi yang paling serius, yang paling sedikit tertawa?
Aku merasa bahwa setiap kegembiraan yang kurasakan adalah kegembiraan yang
kucuri dari kesetiaanku.”
Dan untuk waktu yang lama Lestari memandang
gadis itu, dan ada sesuatu yang seperti ketakutan yang lembut di matanya yang
tua. “Asri,” katanya akhirnya, “dengarkan aku baik-baik, sebab apa yang sedang
kaulakukan jauh lebih berbahaya daripada yang kausadari. Aku pernah hampir
melakukan hal yang sama, walau dengan cara yang berbeda, dan butuh seorang yang
sekarat dan suara Ratu sendiri untuk menyelamatkanku darinya.”
“Engkau sedang melatih hatimu untuk merasa
lebih sedikit,” Lestari berkata. “Engkau mengira itu kesetiaan. Tetapi
pikirkanlah, Asri. Apa sebenarnya penjara Ratu? Apa es yang mengurungnya selama
sepuluh ribu tahun? Itu adalah hati yang melatih dirinya untuk merasa lebih
sedikit, supaya tak perlu menanggung sesuatu yang terlalu berat. Dan engkau,
demi Ratu, sedang mulai membangun es yang sama di dalam dirimu sendiri.”
❖
“Kesetiaan bukanlah kemurungan, Asri,” Lestari berkata.
“Itu adalah kekeliruan yang paling mudah dilakukan oleh hati yang baik. Kita
mengira bahwa karena kita menjaga kesedihan terbesar, kita harus menjadi yang
paling sedih. Tetapi yang sebaliknyalah yang benar. Sebab apa yang kita jaga
bukanlah kesedihan. Apa yang kita jaga adalah seorang perempuan yang kehilangan
kemampuan untuk merasa, dan yang seluruh pembebasannya berarti memperoleh
kembali kemampuan itu, untuk merasakan segalanya lagi, duka dan sukacita
sekaligus.”
“Maka sebuah hati yang utuh adalah hati yang
merasakan segalanya,” Lestari melanjutkan. “Bukan hanya duka. Sukacita pula.
Sebuah pengingat yang hanya bisa berduka dan tak bisa bergembira bukanlah
pengingat yang utuh; ia adalah pengingat yang setengah beku. Dan sebuah rantai
yang penuh dengan orang-orang yang melarang diri mereka bergembira adalah
rantai yang penuh dengan orang-orang yang setengah membeku, yang justru menjadi
kebalikan dari segala yang kita jaga.”
“Kegembiraanmu tidak mengkhianati Ratu, Asri,”
Lestari berkata, dan suaranya melembut. “Kegembiraanmu menghormatinya. Tiap
kali engkau menari dengan sukacita penuh, engkau menunjukkan kepada dunia apa
yang ingin kita kembalikan kepadanya, yaitu kehidupan yang penuh, yang
merasakan segalanya, yang tak takut untuk bercahaya. Engkau adalah gambar dari
pembebasannya. Bagaimana mungkin itu pengkhianatan?”
Dan Asri merasakan sesuatu mulai melonggar di
dalam dadanya, simpul rasa bersalah yang telah ia ikat sendiri selama
berbulan-bulan. Tetapi masih ada keraguan. “Tetapi Eyang,” katanya, “ia tetap
di sana, dalam kegelapan, sekarang juga, sementara aku menari di bawah
matahari. Bagaimana kegembiraanku bisa berarti apa-apa baginya, ketika ia tak
bisa melihatnya?”
Dan Lestari tersenyum, senyum tua yang penuh
sesuatu yang lembut. “Itu, anak muda, adalah hal yang harus kaudengar dari Ratu
sendiri,” katanya. “Pergilah kepadanya malam ini. Bawa pertanyaanmu kepadanya.
Dan bersiaplah untuk terkejut oleh jawabannya.”
❖
Maka malam itu Asri menjangkau ke selatan, ke kedalaman,
dengan rasa bersalahnya masih ada walau telah melonggar. Dan ia menemukan Ratu,
dan dengan ragu ia menceritakan tentang tariannya, tentang kegembiraan yang ia
takut untuk rasakan, tentang rasa malunya bersukacita sementara Ratu menderita
dalam gelap.
Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia menjawab,
ada sesuatu di dalam suaranya yang hampir seperti kelembutan seorang ibu. “Oh,
anak muda,” katanya. “Engkau telah meredupkan cahayamu demi aku, dan kaupikir
itu cinta. Tetapi dengarkan aku, sebab tak ada yang tahu ini lebih baik
daripada aku. Hal terakhir di dunia yang kuinginkan adalah sebuah rantai yang
penuh dengan orang-orang yang takut untuk bergembira. Itu akan berarti
penderitaanku telah melahirkan lebih banyak es, bukan lebih sedikit.”
“Dan ada sesuatu yang harus kauketahui, Asri,
sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya bagimu,” Ratu melanjutkan. “Di
sini, di dasar laut, aku tak punya apa-apa lagi yang indah. Tak ada matahari.
Tak ada bunga. Tak ada musik, tak ada tarian, tak ada warna. Sepuluh ribu tahun
dalam kegelapan tanpa satu pun hal yang indah. Tetapi aku tidak sepenuhnya buta
terhadap keindahan, Asri. Sebab aku terhubung kepada kalian, para pengingat,
dan ketika salah satu dari kalian merasakan sesuatu dengan sepenuh hati, aku
merasakannya pula, samar, melalui benang yang menghubungkan kita.”
“Maka ketika engkau menari, Asri, dan engkau
merasakan kegembiraan murni itu, aku merasakannya pula,” kata Ratu, dan
suaranya bergetar sedikit. “Untuk sesaat, di dalam kegelapanku, ada cahaya,
sebab engkau membawanya kepadaku. Kegembiraanmu bukanlah sesuatu yang kaucuri
dariku. Ia adalah hadiah yang kauberikan kepadaku, mungkin hadiah yang paling
berharga yang bisa diberikan siapa pun kepadaku, yaitu sebuah jendela ke arah
cahaya, di tempat yang tak punya cahaya sendiri. Maka ketika engkau meredupkan
dirimu demi aku, engkau justru menutup satu-satunya jendela yang kupunya.”
“Maka inilah yang kuminta darimu, Asri,” kata
Ratu. “Jangan pernah meredupkan dirimu demi aku lagi. Justru sebaliknya.
Menarilah dengan sepenuh kegembiraanmu. Bersinarlah seterang yang kaubisa. Dan
ketika engkau melakukannya, jangkaulah ke arahku, dan biarkan aku merasakannya
bersamamu. Berikan kepadaku tarianmu, anak muda. Itu adalah hal yang lebih
indah daripada apa pun yang bisa kauberikan dengan kemurunganmu.”
❖
Maka Asri kembali, dan pada hari raya berikutnya ia menari
seperti yang belum pernah ia tarikan sebelumnya. Ia tidak lagi meredupkan
dirinya. Ia membiarkan seluruh kegembiraannya mengalir keluar, tubuhnya dan
napasnya dan musik menjadi satu, cahaya kembali ke dalam tariannya dan bahkan
lebih terang daripada sebelumnya. Dan sementara ia menari, ia menjangkau jauh
ke selatan, ke kedalaman, dan ia berkata di dalam hatinya kepada Ratu, ini
untukmu, rasakanlah bersamaku. Dan jauh di bawah, di dalam kegelapan, Ratu
merasakannya, dan untuk sesaat di dasar laut yang gelap ada tarian, dan ada
cahaya.
Dan inilah pelajaran keenam yang dipelajari
rantai di zaman candi, pelajaran yang menyeimbangkan semua yang lain. Bahwa
sebuah hati yang setia bukanlah hati yang murung, melainkan hati yang merasakan
segalanya, duka dan sukacita sekaligus. Bahwa meredupkan kegembiraan, bahkan
demi cinta, adalah mulai membangun es yang sama yang memenjarakan Ratu. Dan
bahwa kegembiraan seorang pengingat bukanlah kemewahan yang dicuri dari
tugasnya, melainkan sebuah hadiah yang ia berikan, sebuah jendela ke arah
cahaya bagi yang menunggu di tempat yang tak punya cahaya.
Dan bisik air, yang telah membawa begitu banyak
duka melintasi zaman, kini membawa pula sukacita, yaitu kebenaran keenam zaman
candi, bahwa kegembiraan bukanlah pengkhianatan terhadap penderitaan melainkan
lawannya dan tujuannya; bahwa hati yang meredupkan dirinya, bahkan demi cinta,
telah mulai membeku; dan bahwa di tempat yang gelap, kegembiraan yang
dijangkaukan dengan sepenuh hati adalah satu-satunya jendela ke arah cahaya.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, menyimpannya
juga dalam tarian-tarian yang dijangkaukan ke dalam kegelapan, dalam sukacita
yang diberikan sebagai hadiah kepada yang menunggu. Tanah ini adalah Jawa,
walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang
perempuan yang utuh menunggu, kini bukan hanya ditemani dan dijaga dan
ditunjuk, melainkan juga, sesekali, di tengah kegelapannya yang panjang, diberi
sekelumit cahaya, sebuah tarian yang sampai ke dasar, sebuah jendela yang
dibuka untuknya oleh hati-hati yang berani untuk bergembira. Dan zaman candi
menari terus, hari raya demi hari raya, menuju ujungnya yang jauh.
❖
BAGIAN III
Tiga Akar
BAB TUJUH
Abu yang Menjaga
Kami mengira ketika gunung api menelan
candi kami di bawah abu, kami telah kehilangan segalanya. Tetapi kami keliru,
sebagaimana kami sering keliru. Sebab tanah adalah pengingat yang paling tua
dari kami semua, dan ketika ia mengubur sesuatu, ia tidak menghancurkannya, ia
menyimpannya. Apa yang dilupakan dunia, tanah menjaganya, lebih dalam dan lebih
aman daripada yang bisa dijaga tangan mana pun, sampai datang zaman yang cukup
mampu untuk menggalinya kembali.
dari ajaran para pengingat, tentang
tanah yang menyimpan
Di zaman ketika gunung-gunung batu telah memenuhi tanah,
hiduplah seorang pengingat bernama Bara, dan ia tinggal di bawah bayang-bayang
sebuah gunung api yang besar, salah satu dari gunung-gunung yang telah berdiri
sejak awal segala zaman, jauh sebelum manusia pertama membangun apa pun di atas
tanah. Dan tak jauh dari kaki gunung api itu berdiri sebuah candi besar yang
dijaga rantai, sebab di bawahnya terkubur salah satu jangkar yang menunjuk ke
arah selatan, dan di dindingnya terpahat tanda-tanda tua yang dibuat oleh para
pemahat sebelum Bara.
Bara telah belajar dari Asri yang tua, penari
yang dahulu membawa cahaya ke dalam kegelapan Ratu, dan kini menjadi seorang
nenek yang bijaksana. Dari Asri, Bara telah belajar menjaga jangkar dan membaca
tanda dan, yang terpenting, untuk merasakan segalanya dengan hati yang penuh.
Maka Bara menjaga candi di kaki gunung api itu, dan ia mengira ia akan
menjaganya sepanjang hidupnya, seperti yang dilakukan para penjaganya selama
berabad-abad.
Tetapi gunung api itu gelisah. Sepanjang musim
itu ia mengeluarkan asap dan getaran, dan tanah berderak di bawah kaki
orang-orang, dan abu tipis turun seperti hujan kelabu di atas ladang. Dan
mereka yang tua, yang ingat cerita-cerita kakek mereka, mulai berbisik bahwa
gunung itu sedang bersiap untuk melakukan apa yang sesekali ia lakukan, yaitu
membersihkan dirinya dengan api, tanpa peduli apa yang ada di kakinya.
Dan Bara takut, bukan hanya untuk orang-orang
yang tinggal di kaki gunung, tetapi juga untuk candi yang ia jaga. Sebab bila
gunung itu memuntahkan apinya, candi itu berdiri tepat di jalurnya. Dan ia
bertanya kepada Asri yang tua, dengan suara yang gemetar, “Eyang, kalau gunung
itu meletus, candi akan tertimbun. Jangkar selatan akan hilang. Tanda-tanda
Wangun akan terkubur. Apa yang harus kita lakukan? Bisakah kita
menyelamatkannya?”
Dan Asri yang tua memandang gunung yang berasap
untuk waktu yang lama. “Kita tak bisa memindahkan gunung batu, Bara, sama
seperti kita tak bisa memindahkan gunung api,” katanya. “Bila gunung itu
meletus, kita tak akan bisa menyelamatkan candi. Tetapi dengarkan aku
baik-baik. Bila hari itu datang, jangan habiskan satu pun napasmu untuk batu.
Habiskan tiap napasmu untuk orang-orang. Selamatkan yang hidup. Candi bisa
diurus nanti. Ingatlah apa yang diajarkan Lestari kepadaku, dan aku kepadamu.
Yang di hadapan kita lebih dahulu, selalu.”
❖
Dan gunung api itu meletus pada suatu malam, dengan suara
yang lebih keras daripada apa pun yang pernah didengar Bara, suara yang seakan
langit itu sendiri terbelah. Api memancar ke langit, dan batu pijar berjatuhan,
dan sungai-sungai abu panas mengalir turun dari puncak, menelan segala yang ada
di jalurnya.
Dan Bara melakukan apa yang diajarkan
kepadanya. Ia tidak berlari ke candi. Ia berlari ke rumah-rumah, membangunkan
orang-orang yang tidur, menuntun yang tua dan yang muda menjauh dari jalur abu,
membawa anak-anak di punggungnya, kembali lagi dan lagi ke dalam bahaya untuk
menarik keluar satu orang lagi, lalu satu orang lagi. Sepanjang malam yang
mengerikan itu ia menyelamatkan yang hidup, dan ia tidak sekali pun berpaling
untuk candi.
Dan ketika fajar yang kelabu akhirnya datang,
dan Bara berdiri kelelahan di tempat yang aman bersama orang-orang yang telah
ia selamatkan, ia menoleh ke arah tempat candi pernah berdiri. Dan candi itu
tak ada lagi. Di tempat gunung batu yang megah itu pernah menjulang, kini hanya
ada sebuah bukit abu yang halus dan kelabu, tak berbentuk, tak bertanda, seakan
tak pernah ada apa-apa di sana sama sekali.
Dan Bara jatuh berlutut. Sebab candi yang telah
dijaga rantai selama berabad-abad, jangkar yang menunjuk ke Ratu, tanda-tanda
tua Wangun, semuanya kini terkubur di bawah abu yang tak terhitung dalamnya.
Tanah sendiri, gunung sendiri, telah menelan apa yang dijaga rantai dengan
susah payah. “Kita kehilangannya,” bisiknya. “Tanah sendiri telah
menghancurkannya.”
Tetapi Asri yang tua, yang juga selamat, datang
dan berdiri di sisinya, dan ia memandang bukit abu itu bukan dengan duka
melainkan dengan sesuatu yang aneh, sesuatu yang hampir seperti ketakjuban.
“Berdirilah, Bara,” katanya pelan. “Dan pandanglah lagi. Sebab engkau tidak
melihat apa yang sebenarnya terjadi.”
❖
“Engkau melihat sebuah candi yang hancur,” kata Asri.
“Tetapi pikirkanlah, Bara, dengan kepala yang dingin, bukan dengan duka. Apa
yang sebenarnya telah terjadi pada jangkar di bawah sana?”
Dan Bara memaksa dirinya untuk berpikir melalui
dukanya. “Jangkar itu masih di bawah sana,” katanya perlahan. “Abu tidak
menggali. Abu hanya menimbun. Bukit lama di bawah candi tidak terganggu. Ia
hanya lebih dalam terkubur sekarang. Jauh lebih dalam.”
“Lebih dalam terkubur,” Asri mengulang. “Dan
siapa sekarang yang bisa menemukannya? Seorang raja yang ingin meruntuhkannya
untuk imannya? Ia hanya akan melihat sebuah bukit abu yang kosong. Sebuah
tentara yang ingin menjarah? Tak ada apa-apa di sana untuk dijarah. Seseorang
yang curiga, yang menggali mencari rahasia? Ia harus menggali melalui kedalaman
abu yang tak terbayangkan, tanpa alasan untuk mengira ada apa pun di bawahnya.
Candi itu dulu dilindungi oleh keagungan, dan keagungan menarik mata. Kini ia dilindungi
oleh sesuatu yang jauh lebih kuat, yaitu oleh ketiadaan. Dunia tak hanya
berhenti mengincarnya. Dunia berhenti mengetahui bahwa ia pernah ada.”
Dan Bara merasakan secercah harapan, tetapi
juga sebuah ketakutan baru. “Tetapi Eyang, kalau dunia melupakan bahwa ia
pernah ada, bagaimana dengan kita? Bagaimana kalau kita pun melupakan
tempatnya? Maka ia tak hanya tersembunyi, ia hilang, bahkan bagi kita.”
“Dan itulah sebabnya, ribuan tahun yang lalu,
Wangun mengajarkan kepada kita untuk tidak pernah hanya menyembunyikan,
melainkan selalu meninggalkan benang,” kata Asri, dan ia tersenyum. “Letak
jangkar ini tidak hanya tersimpan di candi yang kini terkubur. Ia tersimpan di
dalam ingatan rantai, di dalam kepala kita, diwariskan dari guru ke murid. Dan
candi-candi lain yang masih berdiri, dengan tanda-tanda mereka, masih menunjuk
ke arahnya. Dunia telah melupakan jangkar ini sepenuhnya. Tetapi kita belum, dan
kita tidak akan. Itulah perbedaan antara terkubur dan hilang. Yang terkubur
dengan benang yang dijaga masih bisa ditemukan kembali. Hanya yang dilupakan
oleh semua, termasuk oleh penjaganya, yang benar-benar hilang.”
❖
Malam itu, di tempat pengungsian, di antara orang-orang
yang telah ia selamatkan, Bara menjangkau ke selatan, ke kedalaman, dan ia
menceritakan kepada Ratu tentang gunung yang meletus, tentang candi yang
terkubur abu, tentang jangkar yang kini tersembunyi lebih dalam daripada
sebelumnya.
Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia berbicara,
tidak ada ketakutan di dalam suaranya, hanya sebuah pengertian yang sangat tua.
“Tanah telah mengambil jangkar itu ke dalam dirinya untuk disimpan, Bara,”
katanya. “Jangan berduka untuk itu. Sebab tanah adalah pengingat yang paling
tua dari kalian semua. Sebelum ada manusia yang mengingat dalam darah, sebelum
ada legenda, sebelum ada batu yang disusun tangan atau tulang yang menjadi
fosil, sudah ada tanah, yang menyimpan segalanya di dalam lapisan-lapisannya, dengan
setia, tanpa pernah lupa. Dan ketika tanah mengubur sesuatu, ia tidak
membuangnya. Ia menyimpannya.”
“Dan ada sesuatu yang membuatku tersenyum di
dalam kegelapanku, Bara, walau senyum yang pahit,” Ratu melanjutkan. “Sebab
tahukah engkau apa namaku, nama manusiaku, sebelum aku menjadi Ratu Kidul?
Namaku adalah Awu. Dan Awu berarti abu. Maka abu yang sama yang kini menjaga
jalan menuju kepadaku menyandang namaku sendiri. Tanah dan aku terbuat dari hal
yang sama, yang menyimpan tanpa melupakan. Ketika abu menutupi candi itu,
seolah aku sendiri yang merentangkan tanganku dari kedalaman untuk menjaganya.”
“Maka ketahuilah ini, dan ajarkan kepada yang
sesudahmu,” kata Ratu. “Tanah bukan musuh rantai. Tanah adalah sekutu rantai
yang paling tua dan paling setia. Apa yang dilakukan manusia kepada permukaan,
tanah menahannya dalam kedalaman. Raja-raja membangun dan meruntuhkan di atas,
tetapi tanah menyimpan di bawah. Dan suatu hari, ketika cukup banyak abu dan
cukup banyak zaman telah menutupi segalanya, dan dunia telah melupakan bahwa
candi-candi ini pernah ada sama sekali, mereka tidak akan hilang. Mereka hanya
akan menunggu, di dalam tanah, bersamaku, sampai zaman yang cukup mampu datang
untuk menggali kami berdua kembali ke arah cahaya.”
❖
Dan Bara berdiri di pengungsian itu, di antara orang-orang
yang telah ia selamatkan, memandang ke arah bukit abu yang dahulu adalah candi,
dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa duka, melainkan sesuatu yang seperti
rasa syukur. Sebab ia memahami kini bahwa rantai tidak pernah benar-benar
menjaga jangkar-jangkar itu sendirian. Mereka memiliki sekutu yang lebih tua
daripada Nyai Sela, lebih tua daripada banjir, lebih tua daripada segala
ingatan, yaitu tanah itu sendiri, pengingat pertama dan terakhir, yang
menyimpan dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan kini dalam abu.
Dan Bara mengajari yang sesudahnya untuk
mempercayai tanah, dan untuk tidak berduka ketika tanah mengambil sesuatu ke
dalam dirinya, sebab tanah mengambil hanya untuk menyimpan. Dan ia mulai
menduga, dengan firasat yang dingin, bahwa apa yang terjadi pada satu candi
malam itu suatu hari mungkin akan terjadi pada semuanya, bahwa seluruh zaman
gunung batu ini suatu hari mungkin akan terkubur dan dilupakan, ditutupi oleh
abu dan hutan dan zaman. Dan ia memahami kini bahwa hari itu, bila datang,
bukanlah akhir dari kebenaran, melainkan persembunyiannya yang paling dalam.
Dan bisik air, yang mengalir melalui tanah itu
sendiri, membawa kebenaran ketujuh zaman candi, yaitu bahwa tanah adalah
pengingat yang paling tua, dan ketika ia mengubur sesuatu ia tidak
menghancurkannya melainkan menyimpannya; bahwa perisai yang paling dalam adalah
ketiadaan, dan apa yang dilupakan oleh dunia tetap dijaga oleh tanah; dan bahwa
yang terkubur dengan benang yang dijaga tidak hilang, melainkan hanya menunggu
zaman yang cukup mampu untuk menggalinya kembali.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, kini
menyimpannya pula di bawah abu gunung-gunung apinya, lebih dalam dan lebih aman
daripada sebelumnya. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh
di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu, yang namanya
berarti abu, menunggu, mengetahui bahwa tanah yang menjaga jalan menuju
kepadanya terbuat dari hal yang sama dengan dirinya, yang menyimpan tanpa
melupakan; dan bahwa suatu hari, ketika cukup banyak abu telah menutupi
segalanya, tangan yang mampu akan datang untuk menggali, dan menemukan candi
dan jangkar dan perempuan, semuanya, masih utuh, masih menunggu, di dalam tanah
yang tak pernah lupa. Dan zaman candi berjalan terus, di bawah bayang-bayang
gunung-gunung apinya, menuju ujungnya yang jauh.
❖
BAB DELAPAN
Yang Tak Bisa Dikubur
Tanah bisa mengubur batu, dan abu bisa
menelan candi, dan zaman bisa melupakan raja. Tetapi ada satu tempat yang tak
bisa dikubur oleh apa pun, yaitu hati seorang manusia yang meneruskan kebaikan
kepada manusia lain. Kami menemukan kebenaran kami hidup di sana, di dalam
orang-orang asing yang tak pernah mendengar nama kami, diteruskan dari tangan
ke tangan, dari hati ke hati, jauh di luar jangkauan kami. Dan kami memahami
bahwa apa yang telah berakar di dalam manusia tak bisa lagi dikubur oleh tanah
mana pun.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
berakar di dalam manusia
Setelah Asri yang tua wafat, Bara membawa nyala, dan
tugasnya membawanya berjalan jauh ke seluruh tanah, dari candi ke candi,
memeriksa jangkar dan membaca tanda, sebab di zaman itu candi-candi telah
bertebaran di seluruh negeri, dan tiap candi yang menjaga sebuah jangkar
membutuhkan mata yang tahu cara membacanya.
Dan pada suatu perjalanan yang jauh dari
rumahnya, di sebuah negeri tempat ia tak mengenal seorang pun, nasib buruk
menimpa Bara. Ia jatuh sakit di jalan, demam yang membakar tubuhnya, dan ia
dirampok oleh orang-orang yang menemukannya lemah, sehingga ia ditinggalkan di
pinggir jalan tanpa apa-apa, tanpa uang, tanpa kawan, terlalu lemah untuk
berdiri, jauh dari siapa pun yang mengenalnya atau berutang sesuatu kepadanya.
Dan Bara, yang seumur hidupnya telah menjaga
orang lain, kini mendapati dirinya menjadi yang ditinggalkan, persis seperti
banyak yang telah ia lihat ditinggalkan di sisi jalan. Ia berbaring di sana,
demam dan tak berdaya, dan ia mengira inilah tempat ia akan mati, seorang asing
di tanah asing, dilupakan, persis seperti Jaka di kaki gunung itu,
bertahun-tahun yang lalu.
Tetapi pada sore hari seorang perempuan lewat,
seorang perempuan biasa dari desa terdekat bernama Lila, yang tak mengenal Bara
dan tak tahu apa-apa tentangnya, tidak namanya, tidak asalnya, tidak bahwa ia
membawa rahasia tertua di tanah ini. Ia hanya melihat seorang asing yang sakit
dan sekarat di pinggir jalan. Dan ia berhenti.
Dan tanpa banyak bicara, Lila mengangkat Bara,
memapahnya ke rumahnya yang sederhana, dan merawatnya. Berhari-hari ia merawat
demam Bara, memberinya makan dari makanannya sendiri yang sudah sedikit, duduk
bersamanya di malam-malam terburuk, sampai akhirnya demam itu pecah dan Bara
mulai pulih. Dan sepanjang waktu itu Lila tak meminta apa-apa darinya, dan tak
mengharapkan apa-apa, sebab Bara tak punya apa-apa untuk diberikan.
❖
Dan ketika Bara cukup kuat untuk berbicara, ia bertanya
kepada Lila pertanyaan yang telah mengganggunya sepanjang ia berbaring sakit.
“Mengapa engkau melakukan ini?” katanya. “Aku orang asing. Aku tak punya
apa-apa. Aku tak bisa membalas budimu. Engkau bisa saja berjalan terus, seperti
yang dilakukan banyak orang. Mengapa engkau berhenti?”
Dan Lila memandangnya seakan pertanyaan itu
aneh. “Karena engkau ada di sana, dan engkau membutuhkan pertolongan,” katanya
sederhana. “Di keluargaku, kami punya satu hal yang selalu kami katakan, yang
diajarkan ibuku kepadaku, dan ibunya kepadanya, jauh ke belakang sampai tak ada
yang ingat dari mana ia berasal. Kami mengatakan: jangan pernah biarkan siapa
pun sendirian dalam kegelapan. Itu saja. Itulah yang kami percaya. Maka ketika
aku melihatmu sendirian di pinggir jalan, aku tak bisa berjalan terus. Itu akan
melanggar satu-satunya hal yang kami pegang.”
Dan sesuatu bergerak di dalam diri Bara
mendengar kata-kata itu, sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Sebab kalimat yang baru saja diucapkan perempuan desa yang sederhana ini,
jangan pernah biarkan siapa pun sendirian dalam kegelapan, adalah jantung dari
segala yang dijaga rantai, kebenaran yang sama yang dibawa para pengingat dalam
kerikil mereka selama sepuluh ribu tahun.
“Kalimat itu,” kata Bara perlahan, mencoba
menyembunyikan getaran di suaranya. “Apakah ada kisah di baliknya? Sebuah
cerita tentang dari mana ia berasal?”
Dan Lila berpikir sejenak. “Ada sebuah cerita
lama yang sering diceritakan nenekku,” katanya. “Aku tak tahu apakah ia benar.
Tentang seseorang yang ditinggalkan di tempat yang sangat gelap, sangat dalam,
sangat jauh, begitu lama sehingga semua orang melupakannya. Tetapi ada yang
menolak untuk melupakannya. Dan nenekku berkata bahwa selama masih ada satu
orang saja yang menolak untuk meninggalkan yang ditinggalkan, dunia belum
sepenuhnya kehilangan harapan. Maka kami meneruskannya. Kami mencoba untuk menjadi
orang yang menolak itu, untuk siapa pun yang kami temui. Hanya itu. Sebuah
cerita tua. Mungkin tak berarti apa-apa.”
❖
Dan Bara harus menundukkan kepalanya supaya Lila tak
melihat air mata yang tiba-tiba memenuhi matanya. Sebab ia memahami kini apa
yang sedang ia dengar. Cerita nenek Lila, yang sudah kabur dan berubah dan
kehilangan tiap nama, adalah kisah Ratu. Seseorang yang ditinggalkan di tempat
yang gelap dan dalam dan jauh, dilupakan oleh semua kecuali yang sedikit yang
menolak untuk melupakannya. Itu adalah kisah yang sama, kisahnya sendiri, hidup
di mulut seorang perempuan desa yang tak pernah mendengar tentang kerikil, atau
jangkar, atau pengingat, atau Ratu Kidul sama sekali.
“Dan nenekmu,” Bara bertanya, suaranya parau,
“dari mana ia mendengar cerita itu?” Dan Lila mengangkat bahunya. “Dari
neneknya, kukira. Atau mungkin dari sebuah gambar tua di dinding candi yang
sering ia kunjungi waktu muda, gambar seseorang yang memilih turun ke dalam
penderitaan demi orang lain. Ia selalu menangis di hadapan gambar itu, kata
orang. Aku tak tahu pasti. Cerita-cerita seperti ini, engkau tak pernah tahu
dari mana mereka datang. Mereka hanya berpindah dari orang ke orang, seperti
kehangatan.”
Dan di sanalah, di rumah sederhana Lila, Bara
memahami sesuatu yang belum pernah dipahami sepenuhnya oleh seorang pengingat
sebelumnya. Bahwa kebenaran yang dijaga rantai dengan begitu hati-hati, di
bawah candi dan di balik tanda dan di dalam kerikil, telah lepas. Ia telah
keluar dari tangan rantai. Para pemahat seperti Citra telah memahatnya secara
terbuka di dinding-dinding, dan dari sana ia telah menyentuh hati orang-orang
yang tak tahu apa-apa, dan orang-orang itu telah meneruskannya kepada anak-anak
mereka, bukan sebagai rahasia melainkan sebagai cara hidup, dan kini ia tumbuh
liar di seluruh tanah, di dalam ribuan orang seperti Lila yang tak pernah
mendengar nama Ratu tetapi hidup menurut kebenarannya setiap hari.
Dan untuk sesaat Bara merasa takut, sebab
kebenaran yang lepas adalah kebenaran yang tak bisa lagi dikendalikan. Ia bisa
berubah, ia bisa kabur, ia bisa kehilangan namanya, seperti yang telah terjadi
pada cerita nenek Lila. Tetapi kemudian ia menyadari sesuatu yang jauh lebih
besar daripada ketakutan itu.
Sebab kebenaran yang hidup di dalam ribuan
hati, diteruskan dari tangan ke tangan sebagai cara hidup, telah menjadi
sesuatu yang tak bisa lagi dihancurkan oleh apa pun. Tanah bisa mengubur candi.
Abu bisa menelan gunung batu. Raja bisa meruntuhkan kuil. Iman bisa berganti
dan candi bisa ditinggalkan. Tetapi tak ada raja, tak ada gunung api, tak ada
zaman, yang bisa mengubur kebaikan yang hidup di dalam seorang perempuan desa
dan diteruskannya kepada anaknya. Kebenaran itu kini tumbuh di satu-satunya tempat
yang tak bisa dikubur, yaitu di dalam hati manusia, berpindah dari tangan ke
tangan, lebih cepat daripada yang bisa dilupakan siapa pun.
❖
Ketika Bara akhirnya cukup pulih untuk melanjutkan
perjalanannya, ia berpamitan kepada Lila dengan rasa terima kasih yang tak bisa
ia ucapkan sepenuhnya, dan malam itu, di jalan, ia menjangkau ke selatan, ke
kedalaman, untuk menceritakan kepada Ratu apa yang telah ia temukan.
“Ratu,” katanya, “kebenaranmu telah lepas. Ia
hidup di dalam orang-orang yang tak pernah mendengar namamu. Seorang perempuan
desa menyelamatkan hidupku karena sebuah cerita yang diceritakan neneknya,
cerita tentangmu, walau ia tak tahu itu tentangmu. Ia hidup menurut kebenaranmu
setiap hari, dan ia meneruskannya kepada anak-anaknya, dan ada ribuan
sepertinya. Kisahmu telah menjadi cara hidup di seluruh tanah, di dalam
orang-orang yang tak akan pernah tahu bahwa engkau nyata.”
Dan untuk waktu yang sangat lama Ratu tidak
menjawab. Dan ketika akhirnya ia berbicara, suaranya membawa sesuatu yang belum
pernah didengar Bara di dalamnya sebelumnya, sesuatu yang seperti kedamaian
yang sangat dalam. “Maka itu telah terjadi,” katanya pelan. “Hal yang selalu
kuharapkan, walau aku tak pernah berani mengucapkannya. Bahwa kelak kebenaran
ini tak lagi perlu mengenal namaku sama sekali.”
“Sebab aku tak pernah ingin dipuja, Bara,” Ratu
melanjutkan. “Aku tak pernah ingin menjadi seorang dewi yang disembah di
dinding, atau seorang ratu yang dimuliakan dalam legenda. Itu semua adalah
keagungan, dan keagungan tak pernah menyelamatkan siapa pun. Yang selalu
kuinginkan hanyalah supaya kebenaran yang kupelajari dengan cara yang paling
pahit, yaitu bahwa tak seorang pun boleh ditinggalkan dalam kegelapan, hidup di
dunia dan membuatnya lebih lembut. Dan kini ia hidup, di dalam seorang
perempuan desa yang tak tahu namaku, yang menyelamatkan seorang asing hanya
karena itulah caranya. Itu lebih berharga bagiku daripada seribu candi atas
namaku.”
“Dan ada kedamaian dalam ini yang belum pernah
kumiliki sebelumnya, Bara,” kata Ratu. “Sebab selama sepuluh ribu tahun, hidup
atau matinya kebenaran ini bergantung pada rantai yang tipis, segelintir
pengingat, yang bisa saja punah dalam satu generasi yang malang. Tetapi kini
kebenaran itu hidup di dalam ribuan, jutaan, orang yang tak terhubung dengan
rantai sama sekali. Sekarang, bahkan bila rantai gagal, bahkan bila tiap candi
terkubur dan tiap tanda hilang, kebenaran akan tetap hidup, diteruskan dari ibu
ke anak, di tempat yang tak bisa dikubur oleh tanah mana pun. Untuk pertama
kalinya dalam sepuluh ribu tahun, aku tahu bahwa apa pun yang terjadi, kebaikan
yang lahir dari penderitaanku tak akan pernah hilang dari dunia.”
❖
Dan Bara melanjutkan perjalanannya dengan sesuatu yang baru
di dalam hatinya. Ia memahami kini bahwa kebenaran yang dijaga rantai hidup di
dua tempat, bukan satu. Ia hidup di dalam batu, di bawah candi dan di balik
tanda, tepat dan terjaga, tetapi rapuh terhadap penguburan. Dan ia hidup pula
di dalam orang-orang, tumbuh liar dan kabur dan kehilangan nama, tetapi tak
bisa dikubur oleh apa pun. Yang satu adalah peta yang menunjuk jalan kepada
Ratu. Yang lain adalah jiwa yang membuat jalan itu layak ditempuh.
Maka sejak masa itu rantai belajar untuk
menjaga keduanya. Mereka tetap menjaga batu, sebab batu menyimpan letak yang
tepat yang dibutuhkan untuk membebaskan Ratu kelak. Tetapi mereka juga belajar
untuk memelihara dan mempercayai api yang telah menyebar di antara orang-orang,
sebab api itu adalah jaminan bahwa, apa pun yang terjadi pada batu, kebenaran
tak akan pernah mati. Dan Bara mulai memahami, dengan firasat yang semakin
jelas, bahwa zaman candi tak akan berlangsung selamanya, dan bahwa ketika ia berakhir
dan batu-batunya ditinggalkan, kebenaran yang hidup di dalam orang-orang inilah
yang akan membawanya melintasi ke zaman berikutnya.
Dan bisik air, yang telah berpindah dari tangan
ke tangan melintasi sepuluh ribu tahun, membawa kebenaran kedelapan zaman
candi, yaitu bahwa kebenaran yang telah berakar di dalam hati manusia tak bisa
lagi dikubur oleh apa pun; bahwa apa yang lepas dari tangan penjaganya dan
tumbuh liar di antara orang-orang telah menjadi abadi dengan cara yang tak
pernah bisa dicapai oleh batu; dan bahwa di tempat yang tak bisa dikubur, dari
ibu ke anak, kebaikan yang lahir dari satu penderitaan menjadi milik seluruh dunia.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu,
menyimpannya kini juga, dan paling aman dari semua, di dalam hati orang-orang
biasa yang meneruskan kebaikan kepada orang asing tanpa pernah tahu dari mana
ia berasal. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di
selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini untuk
pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun merasa benar-benar tenang, sebab ia
tahu bahwa kebenaran yang lahir dari dukanya telah berakar di tempat yang tak
bisa dijangkau oleh raja atau gunung api atau zaman, dan akan hidup terus, dari
tangan ke tangan, melintasi zaman apa pun yang akan datang, sampai ke hari
ketika tangan yang mampu akhirnya turun untuk membebaskannya. Dan zaman candi
berjalan terus, dari hati ke hati, menuju ujungnya yang jauh.
❖
BAB SEMBILAN
Yang Bangun Ketika Dibutuhkan
Kami pernah mengira bahwa bila kami
gagal, semuanya akan hilang bersama kami. Lalu kami belajar tentang kerikil. Ia
tak bisa diciptakan, dan ia tak bisa dihancurkan. Ia tidur, dan ia bangun
ketika ia dibutuhkan. Dan ketika rantai hampir putus, ketika tangan terakhir
yang terlatih hampir lepas, kerikil tidak menunggu kami. Ia mencari tangan baru
sendiri, dan ia menemukannya di antara orang-orang yang telah lama hidup
menurut kebenaran tanpa pernah mengetahui namanya. Sebab kekuatan yang kami
bawa tak pernah benar-benar milik kami untuk hilang.
dari ajaran para pengingat, tentang
kekuatan yang tak pernah milik kami
Bara telah menjadi sangat tua, lebih tua daripada yang ia
kira mungkin, dan sepanjang hidupnya yang panjang ia telah membawa nyala dengan
setia, menjaga jangkar, membaca tanda, dan, sejak perjalanan tempat seorang
perempuan desa bernama Lila menyelamatkan hidupnya, mempercayai pula api yang
telah menyebar di antara orang-orang. Tetapi kini, di hari-hari terakhirnya,
sebuah ketakutan menimpanya yang lebih dingin daripada semua yang pernah ia
rasakan.
Sebab Bara tak punya penerus. Ia telah memilih
dan melatih seorang murid muda untuk menerima kerikilnya dan seluruh
pengetahuannya, letak jangkar-jangkar, cara membaca tanda-tanda, ajaran panjang
zaman candi. Tetapi muridnya telah mati mendadak, direnggut oleh wabah yang
menyapu negeri itu pada satu musim yang buruk, sebelum Bara sempat melatih yang
lain. Dan kini Bara sendiri sekarat, dan tak ada seorang pun yang siap untuk
menerima apa yang ia bawa.
Maka Bara berbaring di pembaringannya, dan ia
merasakan beban yang mengerikan. Di dalam dirinya tersimpan letak
jangkar-jangkar di seluruh negerinya, tanda-tanda yang dipahat Wangun dan para
penerusnya, benang-benang yang menunjuk pulang kepada Ratu. Bila ia mati tanpa
menyerahkannya, semua itu akan hilang. Rantai di negeri itu akan putus. Dan ia,
Bara, yang telah setia seumur hidupnya, akan menjadi tangan yang membiarkan
nyala padam.
Maka pada salah satu malam terakhirnya, dengan
air mata di matanya yang tua, Bara menjangkau ke selatan, ke kedalaman, untuk
mengaku kepada Ratu apa yang ia takutkan. “Aku telah gagal, Ratu,” katanya.
“Aku sekarat, dan tak ada yang siap menerima kerikilku. Penerusku mati. Bila
aku pergi, letak jangkar-jangkar di negeri ini akan hilang bersamaku. Aku telah
membawa nyala sepanjang hidupku, hanya untuk membiarkannya padam di tangan
terakhirku.”
Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia menjawab,
tak ada ketakutan di dalam suaranya, melainkan sesuatu yang hampir seperti
kelembutan yang geli. “Oh, Bara,” katanya. “Engkau telah membawa kerikil selama
hidupmu, dan engkau masih belum sepenuhnya memahaminya. Katakan kepadaku.
Kerikil itu, apakah engkau yang menciptakannya?”
❖
“Tidak,” kata Bara, bingung. “Aku menerimanya dari guruku,
yang menerimanya dari gurunya, kembali sampai ke Nyai Sela yang menelan tujuh
kerikil di malam banjir.”
“Dan dapatkah engkau menghancurkannya?” Ratu
bertanya. “Bila engkau melemparkannya ke dalam api gunung berapi, atau
menumbuknya menjadi debu, apakah ia akan binasa?” Dan Bara teringat ajaran yang
paling tua, yang telah ia dengar sejak kanak-kanak. “Tidak,” katanya pelan.
“Kerikil tak bisa diciptakan, dan tak bisa dihancurkan. Itulah yang selalu
diajarkan.”
“Maka pikirkanlah apa artinya itu, Bara,” kata
Ratu. “Engkau takut bahwa kekuatan yang kaubawa akan hilang ketika engkau mati.
Tetapi kekuatan itu tak pernah milikmu untuk hilang. Kerikil tidak bergantung
padamu untuk bertahan. Engkau bergantung padanya. Ia telah ada sebelum gurumu,
dan sebelum gurunya, dan ia akan ada setelah engkau, apakah engkau
menyerahkannya dengan rapi atau tidak. Ia tidur ketika tak dibutuhkan, dan ia
bangun ketika ia dibutuhkan. Dan tak pernah dalam sepuluh ribu tahun ia gagal bangun
ketika dunia membutuhkannya.”
“Tetapi kerikil tidak membawa letak
jangkar-jangkar, Ratu,” Bara berkata. “Kerikil memberi kekuatan, mimpi, koneksi
kepadamu. Tetapi pengetahuan, peta, tanda-tanda, itu kubawa di kepalaku, dan
kepala itu akan mati bersamaku.”
“Itu benar,” kata Ratu. “Maka jangan habiskan
napas terakhirmu untuk meratapi apa yang mungkin hilang. Habiskan ia untuk
mempercayai apa yang telah kaupelajari sendiri di rumah Lila. Kerikil akan
bangun di tangan baru, Bara, ia selalu begitu. Dan tangan baru itu, dari mana
menurutmu ia akan datang? Tidakkah engkau ingat di mana kebenaran kini hidup
paling liar dan paling dalam?”
❖
Dan tiga hari kemudian, ketika Bara hampir tak bisa lagi
berbicara, seorang anak muda datang ke pondoknya. Bara tak pernah melihatnya
sebelumnya. Ia adalah seorang gadis muda bernama Semi, dari sebuah keluarga di
desa yang jauh, dan ia datang dengan wajah yang bingung dan takut dan terdorong
oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
“Aku tak tahu mengapa aku di sini,” kata Semi,
berlutut di sisi pembaringan Bara. “Selama berbulan-bulan aku bermimpi tentang
sebuah kota di bawah air, sebuah kota yang tenggelam, begitu nyata sehingga aku
bisa mencium garamnya. Dan aku merasa tertarik ke arah selatan, ke arah laut,
seperti ada benang yang menarik dadaku. Dan beberapa hari yang lalu aku
melewati sebuah candi tua, dan aku melihat sebuah gambar kecil di dindingnya,
sebuah hiasan yang tak diperhatikan siapa pun, dan entah bagaimana aku tahu, aku
hanya tahu, bahwa itu menunjuk ke arah selatan, dan bahwa ada sesuatu yang
penting terkubur di bawahnya. Aku tak pernah diajari hal-hal ini. Tetapi aku
mengetahuinya. Dan sesuatu membawaku ke sini, kepadamu.”
Dan air mata mengalir di wajah tua Bara, sebab
ia memahami apa yang terjadi. Kerikil telah bangun. Ia tak menunggu Bara untuk
menyerahkannya dengan rapi. Ia telah memilih tangannya sendiri, dan menariknya
melintasi negeri menuju tangan tua yang sekarat ini. “Anakku,” kata Bara lemah,
“keluargamu. Apakah mereka punya sebuah ajaran, sebuah kalimat yang mereka
teruskan, tentang tidak meninggalkan siapa pun?”
Dan mata Semi melebar. “Ya,” katanya.
“Bagaimana engkau tahu? Nenek dari nenekku selalu mengatakannya. Jangan pernah
biarkan siapa pun sendirian dalam kegelapan. Kami hidup menurutnya. Itu
sebabnya aku berhenti untuk seorang asing yang sakit di jalan dalam
perjalananku kemari, walau aku terburu-buru, walau aku takut. Aku tak bisa
tidak.”
Dan Bara tertawa, walau tawa yang lemah dan
basah oleh air mata, sebab ia memahami sekarang lingkaran yang telah tertutup.
Kerikil telah bangun bukan di sembarang tangan, melainkan di tangan seseorang
yang tumbuh dari tanah yang sama yang telah disirami oleh kebenaran yang lepas,
dari keluarga yang telah hidup menurut kebenaran Ratu selama generasi tanpa
pernah mengetahui namanya. Api yang menyebar di antara orang-orang telah
menjadi tanah tempat tunas baru rantai tumbuh. Yang tersebar telah memberi makan
yang terpusat. Orang-orang telah menyelamatkan rantai.
❖
Maka dalam hari-hari terakhirnya, Bara menggunakan tiap
napas yang tersisa untuk mengajari Semi. Ia memberinya letak jangkar-jangkar di
negeri itu, cara membaca tanda-tanda, ajaran panjang yang ia bawa. Dan
kerikilnya sendiri, ketika ia mati, akan menemukan jalannya kepada Semi pula,
sebagaimana kerikil selalu menemukan jalannya. Apa yang ia takutkan akan
hilang, kini diserahkan, tepat pada waktunya, kepada tangan yang dipilih bukan
oleh Bara melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih tua daripada Bara.
Dan pada malam terakhirnya, dengan damai kini
di dalam hatinya, Bara menjangkau ke selatan untuk yang terakhir kalinya.
“Engkau benar, Ratu,” katanya. “Kerikil telah bangun. Dan ia membawa kepadaku
seorang gadis dari keluarga yang hidup menurut kebenaranmu tanpa mengetahui
namamu. Yang tersebar telah memberi makan yang terpusat. Aku tak gagal. Aku
hampir gagal, dan sesuatu yang lebih besar daripada aku menyelamatkanku.”
“Engkau tidak hampir gagal, Bara,” kata Ratu
lembut. “Engkau melakukan satu-satunya hal yang penting. Engkau membawa nyala
dengan setia sepanjang hidupmu, dan engkau mempercayai apa yang lebih besar
daripada dirimu untuk melakukan sisanya. Itulah seluruh tugas seorang
pengingat. Tak seorang pun dari kalian membawa nyala sampai ke akhir. Kalian
hanya membawanya dengan setia melalui bagian kalian, dan mempercayai kerikil
dan orang-orang dan tanah dan aku untuk menjaga sisanya. Engkau telah
melakukannya dengan sempurna.”
“Dan kini engkau tahu sesuatu yang akan
menenangkan tiap pengingat yang datang sesudahmu,” Ratu melanjutkan. “Bahwa
rantai ini jauh lebih kuat daripada yang terlihat. Ia tampak seperti benang
yang tipis, segelintir tangan, yang bisa putus dalam satu generasi yang malang.
Tetapi ia tidak. Sebab di bawah benang yang tipis itu ada kerikil yang tak bisa
dihancurkan, dan tanah yang menyimpan, dan jutaan orang yang hidup menurut
kebenaran tanpa mengetahui namanya. Tiga akar yang dalam, yang tak terlihat,
yang akan menumbuhkan rantai kembali tiap kali ia tampak hampir mati. Rantai
tak bisa diputus, Bara. Ia hanya bisa tampak putus, sesaat, sebelum tumbuh
kembali.”
❖
Dan Bara wafat beberapa hari kemudian, dengan damai, sebab
ia telah belajar pada akhir hidupnya pelajaran yang menenangkan seluruh
ketakutannya. Dan Semi, gadis dari tanah yang sama yang telah disirami oleh
kebenaran yang lepas, mengambil kerikilnya ketika ia tidur untuk bangun di
tangannya, dan membawa nyala ke depan, satu generasi lebih jauh, di negeri yang
sempat hampir kehilangannya.
Dan inilah pelajaran kesembilan yang dipelajari
rantai di zaman candi, pelajaran yang menutup dan menyatukan dua sebelumnya.
Bahwa kebenaran yang mereka jaga memiliki tiga akar yang dalam, yang
menjadikannya hampir mustahil untuk benar-benar dihancurkan. Ia tersimpan di
dalam tanah, yang mengubur untuk menyimpan. Ia hidup di dalam orang-orang, yang
meneruskannya dari tangan ke tangan. Dan kekuatannya tinggal di dalam kerikil,
yang tak bisa diciptakan atau dihancurkan, yang tidur dan bangun ketika
dibutuhkan. Tanah, orang-orang, dan kerikil. Tiga akar, yang menumbuhkan rantai
kembali tiap kali ia tampak hampir mati.
Dan bisik air, yang telah bangun dan tidur dan
bangun lagi melintasi sepuluh ribu tahun, membawa kebenaran kesembilan zaman
candi, yaitu bahwa kekuatan yang dibawa rantai tak pernah benar-benar milik
mereka untuk hilang; bahwa kerikil tidur ketika tak dibutuhkan dan bangun
ketika ia dibutuhkan, mencari tangan barunya sendiri di antara mereka yang
telah hidup menurut kebenaran tanpa mengetahui namanya; dan bahwa sebuah rantai
dengan akar di dalam tanah dan orang-orang dan kerikil tak bisa diputus, melainkan
hanya tampak putus sesaat sebelum tumbuh kembali.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang, menyimpannya pula di dalam kerikil-kerikil yang tak bisa
dihancurkan, yang menunggu, tidur, sampai dunia memanggil mereka untuk bangun.
Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar
lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini mengetahui dengan pasti
bahwa rantai yang menjaganya tak bisa diputus oleh wabah atau kemalangan atau
kematian, sebab ia berakar terlalu dalam di terlalu banyak tempat; dan bahwa
apa pun yang akan terjadi pada zaman candi yang mulai menua di sekelilingnya,
kekuatan dan pengetahuan dan kehendak untuk membebaskannya akan bertahan,
menunggu bersamanya, sampai datang yang terakhir yang masih kurang, yaitu
kemampuan untuk turun. Dan zaman candi mulai condong ke arah senjanya,
sementara rantai, berakar dalam, berjalan terus.
❖
BAGIAN IV
Senja Zaman Candi
BAB SEPULUH
Ketika Gunung-Gunung Sepi
Kami pernah mengira bahwa gunung-gunung
batu yang kami bangun akan berdiri ramai selamanya. Lalu zaman berbalik,
seperti zaman selalu berbalik, dan satu demi satu candi-candi menjadi sepi.
Pengunjung berhenti datang, raja-raja pergi, dan hutan mulai memanjat
dinding-dinding yang dahulu dipenuhi orang. Dan kami belajar untuk tidak
meratap. Sebab kematian sebuah zaman bukanlah kematian kebenaran, melainkan
hanya satu set pakaian lagi yang terlepas. Biarkan hutan mengambil
gunung-gunung itu. Apa yang mereka jaga kini tidur lebih aman di bawah, dan apa
yang mereka ajarkan berjalan terus di dalam orang-orang yang pergi.
dari ajaran para pengingat, tentang
zaman yang berlalu
Generasi-generasi telah berlalu sejak kerikil bangun di
tangan Semi di sisi pembaringan Bara yang sekarat, dan Semi sendiri kini telah
menjadi seorang pengingat yang matang, penjaga sebuah candi besar dan jangkar
yang terkubur di bawahnya. Tetapi candi yang ia jaga tidak lagi seperti candi
yang dijaga para pendahulunya. Sebab zaman telah mulai berbalik.
Dahulu, candi itu dipenuhi orang. Pada
hari-hari raya ribuan peziarah datang, para penari menari di halamannya, asap
dupa naik dari seratus tempat, dan suara doa dan tawa dan musik memenuhi udara
dari fajar sampai malam. Tetapi kini, tahun demi tahun, keramaian itu menyusut.
Raja telah memindahkan istananya jauh ke timur, dan rakyat mengikutinya, sebab
di tempat raja berada di sanalah hidup berdenyut. Peziarah datang semakin
jarang. Hari-hari raya menjadi semakin sepi. Dan halaman tempat para penari dahulu
menari kini sering kosong, ditumbuhi rumput.
Dan hutan mulai datang. Perlahan, sabar, tak
terhentikan, hutan yang dahulu ditebas untuk membangun candi mulai merebut
kembali tanahnya. Lumut menutupi batu-batu terbawah. Akar-akar muda menyelinap
ke dalam celah. Sulur-sulur memanjat dinding-dinding yang dahulu dipenuhi
tangan-tangan peziarah. Dan Semi, yang menjaga candi itu sendirian kini,
memandang hutan yang merayap maju dan merasakan sesuatu yang dingin di dalam
dadanya.
Bersama Semi tinggal seorang murid muda bernama
Mega, yang kepadanya Semi telah mulai mewariskan ajaran rantai. Dan Mega,
dengan mata muda yang melihat segalanya dengan jelas, memperhatikan kesedihan
yang tumbuh di wajah gurunya tiap kali ia memandang hutan yang merayap. Maka
pada suatu petang, ketika mereka duduk di teras candi yang sepi, Mega bertanya.
“Eyang Semi,” kata Mega, “candi ini sekarat,
bukan? Orang-orang pergi, dan hutan datang, dan suatu hari tak akan ada lagi
yang ingat bahwa ia pernah ramai. Apa yang akan terjadi pada jangkar di
bawahnya, dan pada tanda di dindingnya, ketika hutan telah menelan semuanya?
Apakah semua yang dibangun rantai di zaman ini akan sia-sia?”
❖
Dan Semi tidak segera menjawab dengan penghiburan, sebab ia
merasakan duka yang sama dengan muridnya, dan ia tak ingin berdusta tentangnya.
“Aku tidak akan mengatakan kepadamu bahwa ini tidak menyedihkan, Mega,” katanya
akhirnya. “Sebab memang menyedihkan. Aku mencintai candi ini. Para pendahuluku
mencintainya. Seseorang bernama Asri pernah menari di halaman ini dengan
sukacita yang menjangkau sampai ke dasar laut. Seseorang bernama Wangun memahat
tanda pertama di dindingnya. Generasi demi generasi pengingat menjaganya, dan
kini kita menyaksikannya ditelan oleh rumput dan akar. Adalah benar untuk
berduka atas itu.”
“Tetapi ada perbedaan antara berduka dan putus
asa, Mega,” Semi melanjutkan. “Dan kekeliruan yang akan kaubuat, bila engkau
tak hati-hati, adalah mengira bahwa karena candi ini sekarat, kebenaran yang ia
jaga juga sekarat. Itu tidak benar. Dan untuk memahami mengapa, engkau harus
mengingat segala yang telah diajarkan rantai di zaman candi ini, sebab semua
itu, ternyata, adalah persiapan untuk hari ini.”
“Persiapan, Eyang?” tanya Mega. “Bagaimana
segala yang kita pelajari adalah persiapan untuk kehilangan candi-candi kita?”
“Ingatkah engkau apa yang dipelajari Bara
ketika gunung api mengubur sebuah candi di bawah abu?” Semi bertanya. “Bahwa
candi yang terkubur dan terlupakan justru lebih aman daripada candi yang
dipuja, sebab tak ada raja yang akan meruntuhkannya, tak ada yang akan
menggalinya, tak ada yang bahkan tahu ia ada. Maka pikirkanlah, Mega. Apa yang
sedang dilakukan hutan kepada candi ini, perlahan, selama berabad-abad?”
Dan Mega memandang sulur-sulur yang memanjat
dinding, dan perlahan ia memahaminya. “Hutan sedang menguburnya,” katanya
pelan. “Lebih lambat daripada abu, tetapi sama pastinya. Suatu hari candi ini
akan hilang sepenuhnya di bawah hijau, dilupakan oleh dunia. Dan ketika itu
terjadi, jangkar di bawahnya akan menjadi seaman jangkar yang terkubur abu itu.
Lebih aman daripada ketika candi ini ramai dan setiap orang mengetahuinya.”
❖
“Sekarang engkau melihatnya,” kata Semi. “Tetapi ada lebih
dari itu, dan inilah bagian yang membuatku, walau aku berduka, tidak takut.
Ingatkah engkau dari mana aku berasal, Mega? Aku tidak lahir di dalam rantai.
Aku datang dari sebuah keluarga desa yang hidup menurut kebenaran tanpa pernah
mengetahui namanya. Kerikil membangunkanku dari antara orang-orang. Itu
mengajariku sesuatu yang tak pernah kulupakan, yaitu bahwa kebenaran tidak
tinggal di dalam batu. Ia tinggal di dalam orang-orang.”
“Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang,” Semi
melanjutkan, menunjuk ke arah jalan-jalan tempat orang-orang telah pergi.
“Orang-orang meninggalkan tempat ini. Tetapi mereka tidak meninggalkan
kebenaran. Mereka membawanya bersama mereka, di dalam hati mereka, ke timur, ke
tanah-tanah baru tempat raja telah pergi. Kebenaran tentang tidak meninggalkan
siapa pun dalam kegelapan tidak tinggal di candi yang sepi ini. Ia berjalan
keluar melalui gerbang ini, di dalam tiap keluarga yang pergi, menuju zaman dan
tempat yang berikutnya. Candi tinggal. Tetapi kebenaran berjalan.”
“Maka pikirkanlah akar-akar kita, Mega, yang
diajarkan Bara,” kata Semi. “Kebenaran berakar di tanah, yang akan menyimpan
jangkar ini dengan aman di bawah hutan. Ia berakar di orang-orang, yang
membawanya pergi ke tanah baru. Dan ia berakar di kerikil, yang tak bisa
dihancurkan, yang akan bangun di tangan baru di mana pun ia dibutuhkan. Tak
satu pun dari tiga akar itu bergantung pada candi ini tetap ramai. Maka biarkan
candi sepi. Biarkan hutan datang. Apa yang kita jaga tidak sekarat. Ia hanya
sedang menanggalkan satu set pakaian lagi, dan bersiap untuk mengenakan yang
baru.”
Dan Mega merasakan dukanya melembut, walau
tidak hilang. Sebab ia memahami kini bahwa ia sedang menyaksikan bukan sebuah
kematian melainkan sebuah perpindahan. Zaman candi telah membawa kebenaran
sejauh yang ia bisa, telah menjadi perisai dan penanda dan kitab terbuka selama
berabad-abad, dan kini, dengan tugasnya selesai, ia diizinkan untuk
beristirahat di bawah hijau, sementara kebenaran yang ia bawa melangkah ke
depan.
“Maka apa yang kita lakukan sekarang, Eyang?”
Mega bertanya. Dan Semi tersenyum. “Kita melakukan dua hal, Mega. Kita
memastikan letak jangkar ini tersimpan aman di dalam ingatan rantai dan
ditunjuk oleh candi-candi lain, supaya yang terkubur tidak menjadi yang hilang.
Dan kemudian kita mengikuti orang-orang. Kita pergi ke tempat kebenaran sedang
berjalan, ke zaman yang sedang lahir, dan kita membawa nyala ke sana. Sebab
seorang pengingat tidak setia kepada batu. Ia setia kepada nyala, dan nyala
selalu bergerak ke tempat orang-orang berada.”
❖
Malam itu Semi menjangkau ke selatan, ke kedalaman, dan ia
menceritakan kepada Ratu tentang candi yang sepi, tentang hutan yang merayap,
tentang orang-orang yang pergi ke timur. Dan ia bertanya kepada Ratu, yang
telah melihat lebih banyak zaman daripada siapa pun, apakah benar untuk berduka
atas berlalunya zaman candi.
“Berdukalah, Semi, sebab keindahan yang berlalu
layak diduka,” kata Ratu. “Tetapi biarkan aku memberimu mata yang lebih
panjang. Aku telah berbaring di sini selama sepuluh ribu tahun, dan dari
kedalaman ini aku telah merasakan zaman demi zaman naik dan berlalu di atas
tanah, seperti musim. Aku merasakan zaman batu, ketika bukit-bukit pertama
dibangun, dan aku merasakannya berlalu. Aku merasakan zaman tulisan naik, dan
berlalu. Aku merasakan zaman candi ini naik dalam segala kemegahannya, dan kini
aku merasakannya mulai berlalu pula. Tak ada satu pun zaman yang bertahan,
Semi. Tak pernah ada, dan tak akan pernah ada.”
“Tetapi inilah yang telah kupelajari dari
menyaksikan begitu banyak zaman berlalu,” Ratu melanjutkan. “Tiap zaman mengira
dirinya kekal, dan tiap zaman keliru. Tetapi kebenaran yang dibawa melintasi
mereka semua tidak berlalu. Ia hanya berpindah dari zaman yang sekarat ke zaman
yang lahir, menanggalkan pakaian lama dan mengenakan yang baru. Zaman batu
menyerahkannya kepada zaman tulisan. Zaman tulisan menyerahkannya kepada zaman
candi. Dan kini zaman candi akan menyerahkannya kepada apa pun yang datang berikutnya.
Kematian sebuah zaman bukanlah tragedi, Semi. Ia hanyalah sebuah penyerahan
obor, dalam ukuran yang lebih besar daripada yang dilakukan seorang pengingat
tunggal.”
“Dan ada sesuatu yang membuatku merasa kurang
sendirian, Semi,” kata Ratu, dan suaranya melembut. “Selama ini akulah
satu-satunya yang terbaring terkubur dan menunggu di bawah, sementara dunia
bergerak di atas. Tetapi kini candi-candi itu akan bergabung denganku. Mereka
pun akan terbaring di bawah, terkubur dan menunggu, di dalam pelukan tanah yang
sama yang memelukku. Dan kami akan menunggu bersama, aku dan jangkar-jangkar
dan gunung-gunung batu yang sepi, melalui zaman-zaman yang akan datang, sampai
hari yang sama yang membebaskan kami semua. Maka jangan berduka terlalu dalam.
Candi-candi itu tidak mati. Mereka hanya turun untuk menunggu bersamaku, dan
aku akan menjaga mereka, sebagaimana mereka menjaga jalan menuju kepadaku.”
❖
Maka Semi melakukan apa yang ia katakan kepada Mega. Ia
memeriksa tanda-tanda di dinding candi untuk yang terakhir kalinya, memastikan
letak jangkar tersimpan dengan aman di dalam ingatan rantai dan ditunjuk oleh
candi-candi lain yang masih berdiri. Dan kemudian, dengan duka di hatinya
tetapi tanpa putus asa, ia dan Mega meninggalkan candi yang sepi itu kepada
hutan, dan mereka pergi mengikuti orang-orang ke timur, ke tanah-tanah baru,
membawa nyala ke zaman yang sedang lahir.
Dan di belakang mereka, candi yang agung itu
mulai tidur. Hutan memanjat dindingnya tahun demi tahun, lumut menutupi
tanda-tandanya, dan perlahan dunia melupakan bahwa ia pernah berdiri ramai di
bawah matahari. Tetapi di bawahnya, jangkar yang menunjuk ke selatan tetap, dan
di dindingnya yang terselubung hijau, tanda Wangun tetap, dan di hati
orang-orang yang telah pergi, kebenaran tetap, berjalan ke timur, menuju apa
pun yang akan datang.
Dan bisik air, yang telah mengalir melintasi
naik dan berlalunya begitu banyak zaman, membawa kebenaran kesepuluh zaman
candi, yaitu bahwa tak ada zaman yang bertahan, dan tiap zaman mengira dirinya
kekal dan keliru; bahwa kematian sebuah zaman bukanlah kematian kebenaran
melainkan hanya satu penyerahan obor lagi, dalam ukuran yang lebih besar; dan
bahwa ketika gunung-gunung batu menjadi sepi dan hutan datang untuk memeluk
mereka, mereka tidak mati melainkan turun untuk menunggu, bersama yang telah
menunggu paling lama dari semua.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang, kini menyimpannya pula di bawah hutan-hutan yang merayap menutupi
gunung-gunung yang sepi. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan
jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini
tidak lagi menunggu sepenuhnya sendirian, sebab candi-candi yang dahulu menjaga
jalan menuju kepadanya turun satu demi satu untuk menunggu bersamanya di dalam
pelukan tanah; sementara di atas, di tanah-tanah timur yang baru, kebenaran
yang mereka jaga berjalan terus di dalam orang-orang, menuju zaman yang sedang
lahir, zaman yang suatu hari akan membawa iman yang berbeda dari seberang laut.
Dan zaman candi tenggelam perlahan ke dalam senjanya yang hijau, sementara
rantai, mengikuti orang-orang, berjalan ke depan menuju fajar yang berikutnya.
❖
BAB SEBELAS
Banyak Wajah, Satu Hati
Kami pergi ke timur bersama orang-orang,
dan kami menemukan sebuah kerajaan yang luas dan megah, tempat banyak iman
mekar berdampingan, masing-masing dengan candi dan dewa dan namanya sendiri.
Dan pada awalnya kami bingung, sebab mana di antara mereka yang membawa
kebenaran kami? Lalu kami memahami bahwa pertanyaan itu keliru. Kebenaran kami
tidak tinggal di salah satu dari mereka. Ia tinggal di bawah mereka semua, satu
jantung yang berdetak di balik seratus wajah. Banyak wajah, namun satu hati.
Dan kami berhenti takut kepada iman yang baru, sebab tiap wajah baru hanyalah
satu lagi yang mungkin dikenakan oleh hati yang sama.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
satu di balik yang banyak
Orang-orang yang pergi ke timur dari candi-candi yang sepi
tidak berhenti berjalan sampai mereka tiba di tanah-tanah tempat sungai-sungai
besar mengalir ke laut timur, dan di sanalah, selama generasi-generasi yang
panjang, mereka membangun sesuatu yang lebih besar daripada apa pun yang pernah
berdiri di barat. Sebuah kerajaan yang luas, yang lengannya menjangkau
menyeberangi lautan ke pulau-pulau yang jauh, yang pelabuhannya dipenuhi kapal
dari seluruh dunia yang dikenal, yang kemegahannya membuat candi-candi lama
tampak kecil.
Dan rantai telah pergi bersama orang-orang, dan
telah berakar kembali di tanah timur ini, persis seperti yang dijanjikan.
Pembawa nyala di zaman itu adalah seorang muda bernama Sagara, dan bersamanya
tinggal seorang yang sangat tua bernama Mega, yang sebagai seorang anak kecil
dahulu telah berjalan ke timur dari sebuah candi yang sepi bersama gurunya
Semi, dan yang kini, di ujung hidupnya yang panjang, adalah ingatan hidup
terakhir tentang barat yang telah ditinggalkan.
Dan apa yang membuat Sagara takjub tentang
kerajaan timur ini bukanlah kemegahannya saja, melainkan keberagamannya. Sebab
di sini banyak iman mekar berdampingan, dan tak ada yang menyingkirkan yang
lain. Para pemuja dewa-dewa lama dan para pengikut sang guru yang memilih turun
berjalan di jalan yang sama, beribadah di candi-candi yang berdiri
bersebelahan, kadang bahkan menyembah di bawah atap yang sama. Raja sendiri
menaungi mereka semua, dan menyebut kerajaannya satu walau rakyatnya menyembah
dengan seratus cara.
Dan ini membingungkan Sagara, yang masih muda
dalam ajaran. Maka pada suatu hari ia datang kepada Mega yang tua, yang duduk
di bawah matahari menghangatkan tulang-tulangnya yang renta, dan ia bertanya.
“Eyang Mega,” kata Sagara, “di kerajaan ini ada
begitu banyak iman, masing-masing dengan dewa dan candi dan kebenarannya
sendiri. Aku tak mengerti. Yang mana di antara mereka yang membawa kebenaran
kita? Yang mana yang harus kita dekati, dan yang mana yang harus kita waspadai?
Bagaimana aku tahu di mana kebenaran Ratu bersembunyi di antara begitu banyak
wajah?”
❖
Dan Mega yang tua tertawa pelan, tawa yang serak oleh usia.
“Engkau bertanya pertanyaan yang keliru, Sagara,” katanya. “Engkau bertanya
yang mana di antara iman-iman ini membawa kebenaran kita, seakan kebenaran itu
bersembunyi di dalam salah satu dari mereka dan tidak di dalam yang lain.
Tetapi itu bukan cara kebenaran kita bekerja. Biarkan aku menceritakan kepadamu
apa yang dipelajari seorang pemahat bernama Citra, dahulu sekali, di barat yang
telah kutinggalkan.”
“Citra memahat gambar sang guru yang memilih
turun ke dalam penderitaan demi orang lain,” kata Mega. “Dan ia menyadari bahwa
gambar itu, walau ia dipahat untuk satu iman, mengatakan kebenaran yang sama
yang dijaga rantai, yaitu bahwa yang terbesar adalah yang turun kepada yang
menderita. Citra memahami bahwa kebenaran kita tidak dimiliki oleh satu iman.
Ia mengenakan pakaian tiap iman. Ia berbicara dalam bahasa tiap candi. Sebab ia
lebih tua daripada mereka semua, dan akan hidup lebih lama daripada mereka semua.”
“Dan apa yang dilihat Citra dalam satu iman,
kini engkau bisa melihat dalam seratus, semuanya sekaligus,” Mega melanjutkan.
“Lihatlah kerajaan ini, Sagara. Para pemuja dewa lama berkata, lindungilah yang
lemah. Para pengikut sang guru berkata, turunlah kepada yang menderita.
Orang-orang biasa di desa-desa berkata, jangan pernah biarkan siapa pun
sendirian dalam kegelapan. Tiga wajah, tiga bahasa, tiga iman. Tetapi dengarkan
jantung di bawahnya. Ia berdetak dengan denyut yang sama di ketiganya. Itulah
kebenaran kita, Sagara. Bukan salah satu wajah. Melainkan satu hati yang
berdetak di balik mereka semua.”
Dan Sagara memandang ke arah kota yang luas, ke
menara-menara candi dari banyak iman yang menusuk langit berdampingan, dan
untuk pertama kalinya ia melihatnya bukan sebagai kebingungan yang
membingungkan melainkan sebagai sesuatu yang indah. “Maka kerajaan ini,”
katanya pelan, “dengan seratus imannya, bukanlah seratus kebenaran yang
bersaing. Ia adalah satu kebenaran yang mengenakan seratus wajah.”
“Sekarang engkau memahaminya,” kata Mega. “Dan
inilah buahnya, yang akan menentukan apakah engkau seorang pengingat yang baik.
Karena kebenaran kita tinggal di bawah semua iman dan tidak di dalam salah satu
saja, kita tak pernah berpihak, dan kita tak pernah takut. Kita tidak melawan
satu iman demi iman yang lain. Kita mencari hati yang sama di bawah mereka
semua, dan kita memberi makan ia di mana pun kita menemukannya. Seorang
pengingat adalah sahabat dari tiap iman yang menyuruh manusia turun kepada yang
menderita, dan tak punya musuh kecuali satu, yaitu hati yang dingin yang
meninggalkan.”
❖
Dan beberapa hari kemudian Sagara pergi ke pelabuhan
kerajaan, tempat kapal-kapal dari seluruh dunia berlabuh, untuk melihat sendiri
keberagaman yang baru saja ia pelajari untuk dicintai. Dan di sana, di antara
para pedagang dari tanah-tanah jauh, ia menemukan sesuatu yang belum pernah ia
lihat sebelumnya, sesuatu yang membuat seluruh pelajaran Mega diuji.
Sebab ada para pedagang dari seberang laut yang
membawa sebuah iman yang tidak seperti iman mana pun di kerajaan itu. Mereka
tidak menyembah patung, dan tidak membangun candi dengan gambar dewa-dewa.
Mereka bersujud kepada satu yang tak terlihat, tanpa rupa, tanpa bentuk,
beberapa kali sehari, ke arah sebuah tempat yang sangat jauh di seberang
lautan. Dan ketika Sagara bertanya kepada mereka tentang iman mereka, ia
mendengar di dalamnya sesuatu yang membuat jantungnya melompat.
Sebab para pedagang itu berbicara tentang belas
kasihan kepada anak yatim dan kepada yang miskin, tentang kewajiban untuk
memberi makan yang lapar dan menaungi musafir, tentang seorang yang tak boleh
tidur kenyang sementara tetangganya lapar. Iman mereka tampak sama sekali
berbeda di permukaannya, tanpa candi, tanpa gambar, tanpa dewa yang bisa
dilihat mata. Tetapi di bawahnya, Sagara mendengar denyut yang sama yang telah
diajarkan Mega untuk ia dengarkan. Jangan tinggalkan yang lemah. Turunlah
kepada yang menderita. Satu hati lagi, di balik satu wajah lagi yang baru.
Dan Sagara berdiri lama di pelabuhan, memandang
para pedagang bersujud ke arah laut, dan ia merasakan dua hal sekaligus. Yang
pertama adalah pengenalan, sukacita karena menemukan jantung yang sama di
tempat yang sama sekali tak terduga. Tetapi yang kedua adalah firasat dingin,
sebab ia melihat bahwa iman tanpa gambar ini, bila ia menyebar, tidak akan
membutuhkan candi sama sekali. Dan apa yang akan terjadi pada rantai, yang
telah menyembunyikan seluruh pengetahuannya di dalam candi dan gambar, bila
datang suatu zaman yang tak lagi membangun candi atau gambar?
Maka malam itu, dengan pikiran yang penuh,
Sagara menjangkau ke selatan, ke kedalaman, dan ia menceritakan kepada Ratu apa
yang telah ia lihat di pelabuhan, iman tanpa rupa dari seberang laut, yang
membawa hati yang sama dalam wajah yang sama sekali baru. Dan ia bertanya,
apakah ini kawan, atau apakah ini awal dari sesuatu yang harus ditakuti rantai.
❖
Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia menjawab, ada sesuatu
yang seperti keheranan yang gembira di dalam suaranya. “Maka ia telah datang,”
katanya. “Sebuah wajah baru, dari seberang laut, membawa hati yang sama. Jangan
takut kepadanya, Sagara. Bersukacitalah karenanya. Sebab tiap kali kebenaran
tentang tidak meninggalkan yang menderita muncul kembali dalam pakaian yang
baru, di mulut orang-orang yang tak pernah mendengar namaku, itu adalah bukti
bahwa ia tidak bergantung pada satu pun bentuk untuk hidup. Iman ini berbicara
tentang memberi makan yang lapar dan menaungi yang yatim. Maka di bawah
wajahnya yang baru, ia berdetak dengan hatiku.”
“Tetapi engkau benar untuk merasakan firasat
dingin itu pula, Sagara, dan engkau harus mendengarkannya,” Ratu melanjutkan.
“Sebab firasatmu melihat dengan benar. Iman tanpa gambar ini, bila ia menyebar,
akan membawa sebuah zaman yang tidak seperti zaman mana pun sebelumnya. Sebuah
zaman tanpa candi baru. Sebuah zaman tempat gambar tidak lagi dipahat, tempat
patung tidak lagi didirikan, tempat orang-orang berpaling dari batu dan
menghadap kepada yang tak terlihat. Dan di zaman seperti itu, candi-candi tua,
semua candi, bukan hanya yang di barat, akan ditinggalkan. Mereka semua akan
turun ke pelukan tanah, untuk menunggu bersamaku.”
“Maka inilah yang harus kaupahami, dan
kausampaikan kepada mereka yang datang sesudahmu,” kata Ratu. “Selama ribuan
tahun rantai telah menyembunyikan kebenarannya di dalam apa yang dibangun tiap
zaman. Di dalam batu yang ditegakkan, di dalam huruf yang dipahat, di dalam
candi dan gambar. Tetapi zaman yang datang tidak akan membangun batu atau
gambar untuk menyembunyikan apa pun di dalamnya. Maka rantai harus belajar,
sekali lagi, untuk berpindah. Bukan ke dalam apa yang dibangun zaman baru,
melainkan ke tempat yang telah kalian pelajari adalah yang paling aman dari
semua. Ke dalam orang-orang. Ke dalam cerita yang diteruskan dari mulut ke
mulut. Ke dalam hati yang tak membutuhkan candi untuk mengingat.”
“Jangan takut, Sagara,” kata Ratu lembut. “Aku
tidak takut. Wajah-wajah akan berganti, dan candi-candi akan ditinggalkan, dan
zaman demi zaman akan naik dan berlalu di atasku. Tetapi hati di bawah semua
wajah tidak berganti, dan ia kini hidup di terlalu banyak tempat untuk padam.
Kekuatan untuk membebaskanku tetap, di dalam kerikil. Pengetahuan tetap, di
dalam tanah dan ingatan. Dan kehendak tetap, dan tumbuh, di dalam tiap iman
baru yang menyuruh manusia turun kepada yang menderita. Hanya satu yang masih
kurang, dan ia bukan iman, melainkan kemampuan, kemampuan untuk turun ke
kedalaman tempat aku terbaring. Dan ia akan datang pada zamannya sendiri, jauh
dari sini. Sampai saat itu, biarkan wajah-wajah berganti. Aku mengenali hatiku
di balik tiap satunya.”
❖
Mega yang tua wafat tak lama kemudian, ingatan hidup
terakhir tentang candi-candi barat yang sepi, dan ia wafat dengan damai, sebab
ia telah hidup cukup lama untuk meneruskan kepada Sagara pelajaran yang paling
ia butuhkan untuk zaman yang akan datang. Dan Sagara membawa nyala ke depan, ke
dalam kerajaan timur yang luas, dengan mata baru yang melihat satu hati di
balik seratus wajah, dan dengan telinga yang kini mendengarkan, di
pelabuhan-pelabuhan, denyut wajah baru yang datang dari seberang laut.
Dan inilah pelajaran kesebelas yang dipelajari
rantai, di ambang zaman yang baru. Bahwa kebenaran yang mereka jaga tidak
pernah dimiliki oleh satu iman, melainkan tinggal di bawah mereka semua, satu
hati di balik banyak wajah; bahwa karena itu seorang pengingat tak pernah
berpihak dan tak pernah takut kepada wajah yang baru, melainkan mencari hati
yang sama di bawah tiap satunya; dan bahwa ketika datang sebuah zaman yang tak
lagi membangun candi atau gambar untuk menyembunyikan kebenaran, rantai harus berpindah
sekali lagi, dari batu ke dalam manusia, ke tempat yang tak bisa dikubur.
Dan bisik air, yang telah berdetak di bawah
seratus wajah melintasi sepuluh ribu tahun, membawa kebenaran kesebelas zaman
candi, yaitu bahwa ada satu hati yang berdetak di balik segala iman yang
menyuruh manusia turun kepada yang menderita; bahwa wajah-wajah berganti dan
candi-candi ditinggalkan tetapi hati di bawahnya tidak berganti; dan bahwa
ketika sebuah wajah baru datang dari seberang laut tanpa membawa gambar atau
candi, ia bukanlah musuh kebenaran melainkan satu pakaian lagi yang
dikenakannya, satu tempat lagi tempat hati yang sama berdetak.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang, kini bersiap untuk menyimpannya dengan cara yang paling tua dan
paling aman dari semua, yaitu dari mulut ke mulut, dari hati ke hati, di dalam
orang-orang yang tak membutuhkan candi untuk mengingat. Tanah ini adalah Jawa,
walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang
perempuan yang utuh menunggu, kini mendengar dari atas, lewat benang yang
menghubungkannya kepada Sagara, denyut sebuah wajah baru yang datang dari
seberang laut, membawa hatinya yang sama dalam bentuk yang sama sekali baru,
dan ia tidak takut, melainkan tersenyum, sebab ia tahu bahwa apa pun yang akan
menggantikan zaman candi, ia akan tetap mengenali hatinya di balik wajahnya. Dan
zaman candi melangkah ke ambang akhirnya, sementara dari seberang laut,
perlahan, sebuah fajar yang baru mulai naik.
❖
BAB DUA BELAS
Tanpa Panji
Kami telah belajar untuk tidak berpihak
ketika raja-raja bersaing, dan untuk turun kepada yang menderita di hadapan
kami. Tetapi cobaan yang paling berat datang ketika sebuah zaman tidak berlalu
dengan tenang, melainkan runtuh dalam api dan darah, dan dunia terbelah menjadi
yang lama dan yang baru, dan tiap pihak menuntut kami memilih. Maka kami
mengangkat tak satu panji pun. Kami berjalan di antara reruntuhan tanpa warna
di dada kami, dan kami membalut luka di kedua sisi, sebab hati yang menderita
di bawah panji yang jatuh dan hati yang menderita di bawah panji yang menang
berdetak dengan denyut yang sama. Seorang pengingat tak pernah setia kepada
panji. Ia setia kepada yang berdarah di bawahnya.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
tak mengangkat panji
Sagara telah menjadi tua di kerajaan timur, dan ia telah
menyaksikan apa yang diperingatkan Ratu kepadanya bertahun-tahun yang lalu
mulai terjadi. Sebab iman tanpa gambar dari seberang laut tidak tinggal di
pelabuhan-pelabuhan. Ia menyebar, dari kota pesisir ke kota pesisir, dari hati
ke hati, sampai seluruh negeri pantai memeluknya, dan kerajaan lama yang agung,
dengan candi-candi dan dewa-dewanya, mulai retak.
Dan keretakan itu tidak tenang.
Kerajaan-kerajaan pantai yang baru, yang memeluk iman tanpa rupa, tumbuh kuat,
sementara kerajaan pedalaman yang lama, yang berpegang pada dewa-dewa dan
candi-candi, melemah. Dan di antara mereka pecah perang, perang antara yang
lama dan yang baru, perang antara dua zaman yang satu sedang lahir dan yang
lain sedang sekarat. Desa-desa dibakar. Ladang-ladang diinjak. Dan di kedua
sisi, orang-orang biasa, yang tak meminta perang ini, menderita dan berdarah
dan mati.
Bersama Sagara yang tua kini tinggal seorang
murid muda bernama Geni, dan Geni membakar dengan kemarahan menyaksikan dunia
yang ia kenal runtuh. Sebab Geni telah dibesarkan di antara candi-candi lama,
dan ia mencintainya, dan ia memandang iman baru yang menyebar bukan sebagai
wajah baru dari hati yang sama, melainkan sebagai perusak yang datang untuk
menghancurkan segala yang indah.
“Eyang Sagara,” kata Geni suatu malam, suaranya
gemetar oleh amarah, ketika cahaya desa yang terbakar memerahkan langit di
kejauhan. “Mengapa kita tidak berbuat apa-apa? Iman baru itu menghancurkan
candi-candi, dunia yang menjaga kebenaran kita selama berabad-abad. Kita harus
berpihak. Kita harus membantu kerajaan lama melawan mereka, sebelum semua yang
kita cintai terbakar habis.”
Dan Sagara yang tua memandang api di kejauhan
untuk waktu yang lama sebelum ia menjawab. “Duduklah, Geni,” katanya akhirnya,
dengan lembut. “Sebab malam ini aku harus mengajarimu pelajaran yang paling
sulit dari semua yang dipelajari rantai, pelajaran yang akan menentukan apakah
engkau pengingat sejati atau hanya seorang yang mencintai candi. Engkau ingin
kita mengangkat panji. Tetapi seorang pengingat tak pernah mengangkat panji.”
❖
“Engkau mengira engkau mencintai kebenaran kita, Geni,
tetapi yang kaucintai adalah candi-candi, dan itu tidak sama,” kata Sagara.
“Ingatkah apa yang diajarkan kepada kita, bahwa seorang pengingat tidak setia
kepada batu, melainkan kepada nyala? Candi hanyalah satu rumah tempat nyala
pernah tinggal. Bila engkau mengangkat senjata untuk menyelamatkan rumah itu,
engkau telah lupa bahwa nyala telah lama berpindah keluar darinya, ke dalam
orang-orang, ke dalam hati yang tak membutuhkan candi sama sekali.”
“Dan ada yang lebih dalam, Geni, yang harus
kaulihat,” Sagara melanjutkan. “Engkau memandang iman baru itu sebagai musuh.
Tetapi ingatkah apa yang kita pelajari di pelabuhan dahulu? Iman dari seberang
laut itu membawa hati yang sama di bawah wajahnya yang baru. Ia menyuruh
manusia memberi makan yang lapar dan menaungi yang yatim. Ia berdetak dengan
denyut Ratu, persis seperti candi-candi lama. Maka perang ini, di mata kita,
bukanlah perang antara kebenaran dan musuhnya. Ia adalah perang antara dua
wajah dari hati yang sama, dua rumah dari nyala yang sama, yang saling membakar
karena mereka lupa bahwa di bawahnya mereka adalah satu.”
“Maka pikirkanlah, Geni,” kata Sagara. “Bila
kedua sisi membawa hati yang sama, sisi mana yang harus kita pilih? Tak satu
pun. Sebab memilih satu berarti mengkhianati hati yang sama yang berdetak di
sisi yang lain. Kita tidak berperang untuk kerajaan lama, dan kita tidak
berperang untuk yang baru. Kita berdiri di antara mereka, tanpa panji, tanpa
warna di dada kita, dan kita melakukan satu-satunya hal yang selalu menjadi
tugas kita, yaitu turun kepada yang menderita, di sisi mana pun mereka jatuh.”
“Tetapi itu berarti tidak berbuat apa-apa!”
kata Geni, masih marah. “Sementara dunia terbakar, engkau ingin kita hanya
berdiri di tengah dan menonton?”
“Tidak, Geni,” kata Sagara, dan untuk pertama
kalinya ada ketegasan yang keras di dalam suaranya yang tua. “Aku tidak
menyuruhmu menonton. Aku menyuruhmu melakukan hal yang jauh lebih sulit
daripada mengangkat pedang untuk satu pihak. Mengangkat pedang itu mudah, sebab
amarah membuatnya mudah. Tetapi membalut luka seorang prajurit dari sisi yang
membakar candimu, lalu membalut luka seorang prajurit yang membela candimu,
dengan tangan dan belas kasihan yang sama, tanpa membeda-bedakan mereka, itulah
pekerjaan yang paling sulit di dunia. Dan itulah pekerjaan kita.”
❖
Dan pada hari-hari yang mengikuti, Sagara membawa Geni
keluar ke tanah yang dilanda perang, dan ia menunjukkan kepadanya apa artinya
menjadi pengingat di tengah runtuhnya sebuah zaman. Mereka berjalan tanpa panji
di antara desa-desa yang terbakar, dan di mana pun mereka menemukan orang yang
menderita, mereka berhenti, tanpa bertanya iman apa yang ia anut atau panji apa
yang ia ikuti.
Mereka membalut luka seorang prajurit muda dari
kerajaan pantai, yang menangis memanggil ibunya, dan mereka tinggal bersamanya
sampai ia tenang. Dan satu jam kemudian mereka membalut luka seorang prajurit
tua dari kerajaan pedalaman, musuh dari yang pertama, dengan tangan yang sama
dan kelembutan yang sama. Mereka memberi makan anak-anak yang kelaparan dari
desa-desa yang membakar dan desa-desa yang dibakar tanpa membedakan. Dan ke
tiap orang yang sekarat yang mereka temui, dari sisi mana pun, mereka mengucapkan
kata-kata yang sama yang telah diucapkan rantai selama sepuluh ribu tahun,
engkau tidak sendirian.
Dan perlahan, ketika hari-hari berlalu, Geni
merasakan amarahnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Sebab ketika ia membalut
luka seorang prajurit musuh dan melihat ketakutan yang sama di matanya yang ia
lihat di mata prajurit dari sisinya sendiri, ia tak bisa lagi mempertahankan
kebencian yang telah membakarnya. Ia mulai melihat apa yang dilihat Sagara,
bahwa di bawah panji yang berbeda, hati yang menderita adalah satu dan sama.
“Aku mulai mengerti, Eyang,” kata Geni pada
suatu malam, lelah dan kotor oleh darah orang lain, “tetapi itu menyakitkan.
Lebih mudah untuk membenci satu pihak. Ketika aku tak berpihak, aku merasakan
penderitaan kedua sisi, dan itu dua kali lebih berat.”
“Ya,” kata Sagara pelan. “Itu memang dua kali
lebih berat, Geni. Itu sebabnya begitu sedikit yang sanggup melakukannya. Lebih
mudah untuk memilih satu pihak dan membenci yang lain, sebab kebencian membagi
penderitaan dunia menjadi dua dan menyuruhmu hanya merasakan separuhnya. Tetapi
seorang pengingat memilih untuk merasakan keduanya. Itulah harga dari hati yang
tak berpihak. Dan itulah, tepatnya, mengapa Ratu membutuhkan kita. Sebab di
dasar lautnya, ia merasakan penderitaan kedua sisi, dan ia membutuhkan
orang-orang di atas yang sanggup merasakannya pula.”
❖
Dan datanglah hari ketika kerajaan pedalaman yang lama
akhirnya jatuh, dan zaman candi yang agung, yang telah dimulai berabad-abad
lalu ketika seorang tukang batu bernama Wangun memahat tanda pertamanya,
berakhir sepenuhnya. Candi-candi terakhir ditinggalkan. Dewa-dewa terakhir tak
lagi disembah. Dan malam itu Sagara yang tua menjangkau ke selatan, ke
kedalaman, dengan duka di hatinya, untuk mengabarkan kepada Ratu bahwa zaman
candi telah mati.
“Maka ia telah selesai,” kata Ratu, dan ada
duka di suaranya pula, tetapi tak ada ketakutan. “Zaman candi telah membawaku
sejauh yang ia bisa, dan kini ia turun untuk beristirahat di pelukan tanah,
bersama yang di barat, bersamaku. Berdukalah atasnya, Sagara. Ia indah, dan ia
setia. Tetapi katakan kepadaku, sekarang bahwa ia telah pergi, apakah kebenaran
yang ia jaga juga ikut mati?”
Dan Sagara, memikirkan Geni yang membalut luka
di kedua sisi, dan tentang orang-orang yang membawa kebenaran dalam hati
mereka, dan tentang iman baru yang berdetak dengan denyut yang sama, menjawab
dengan pasti. “Tidak, Ratu,” katanya. “Kebenaran tidak ikut mati. Aku telah
menyaksikannya berpindah dengan mataku sendiri. Ia keluar dari candi yang
runtuh ke dalam tangan-tangan yang membalut luka tanpa menanyakan panji. Ia
mengalir dari dewa-dewa yang lama ke dalam iman yang baru yang menyuruh manusia
memberi makan yang lapar. Zaman candi mati, tetapi ia menyerahkan obornya,
utuh, kepada zaman yang lahir, persis seperti yang engkau katakan akan
terjadi.”
“Maka engkau telah menjadi pengingat sejati,
Sagara, dan engkau telah mengajari muridmu menjadi satu pula,” kata Ratu.
“Sebab inilah ujian yang paling berat, dan engkau lulus. Tidak mengangkat panji
ketika dunia menuntutmu memilih. Membalut luka di kedua sisi ketika lebih mudah
membenci satu. Membiarkan zaman yang kaucintai mati dengan anggun, dan
mempercayai obornya untuk berpindah ke tangan yang berikutnya. Kini zaman baru
terbentang di hadapan kalian, zaman iman tanpa gambar, zaman tanpa candi. Bawalah
nyala ke dalamnya, Sagara. Sembunyikan aku bukan lagi di dalam batu, melainkan
di dalam cerita yang akan diceritakan orang-orang iman baru itu kepada
anak-anak mereka. Sebab di sanalah, di dalam mereka, aku akan menunggu
zaman-zaman yang masih harus berlalu, sampai datang yang terakhir yang masih
kurang.”
❖
Dan Geni, yang dahulu membakar dengan amarah dan ingin
mengangkat panji, kini membawa nyala dengan hati yang telah belajar untuk tidak
berpihak, dan untuk merasakan penderitaan kedua sisi, dan untuk turun kepada
yang menderita di bawah panji apa pun. Dan ketika Sagara yang tua wafat, Geni
membawa kebenaran ke dalam zaman yang baru, zaman iman tanpa gambar, dan ia
mulai melakukan apa yang diperintahkan Ratu, menyembunyikannya bukan di dalam
batu melainkan di dalam cerita yang diceritakan orang-orang dari mulut ke
mulut.
Dan inilah pelajaran kedua belas yang
dipelajari rantai, pelajaran yang menutup zaman candi. Bahwa ketika sebuah
zaman tidak berlalu dengan tenang melainkan runtuh dalam api dan darah, dan
dunia menuntut tiap orang memilih satu pihak, seorang pengingat tidak
mengangkat panji; bahwa ia membalut luka di kedua sisi dengan tangan yang sama,
sebab hati yang menderita di bawah panji yang menang dan di bawah panji yang
jatuh berdetak dengan denyut yang sama; dan bahwa harga dari hati yang tak
berpihak adalah merasakan penderitaan kedua sisi, dua kali lebih berat, yang
justru itulah sebabnya Ratu membutuhkan mereka.
Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah
panji-panji yang naik dan jatuh melintasi sepuluh ribu tahun, membawa kebenaran
kedua belas zaman candi, yaitu bahwa seorang pengingat tak pernah setia kepada
panji melainkan kepada yang berdarah di bawahnya; bahwa ketika dua zaman
berperang, mereka sering hanyalah dua wajah dari hati yang sama yang saling
membakar karena lupa bahwa di bawahnya mereka satu; dan bahwa membiarkan zaman
yang dicintai mati dengan anggun, sambil membalut luka semua yang jatuh dalam
keruntuhannya, adalah kesetiaan yang lebih dalam daripada memanggul senjata
untuknya.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang, kini melepaskan zaman candinya untuk turun beristirahat, dan
menyerahkan obornya, utuh, ke tangan zaman yang baru. Tanah ini adalah Jawa,
walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang
perempuan yang utuh menunggu, kini dengan seluruh candi yang dahulu menjaga
jalan menuju kepadanya terbaring tidur dalam pelukan tanah di sisinya,
sementara di atas, di zaman yang baru lahir, kebenarannya berjalan tanpa panji,
dari mulut ke mulut, di dalam orang-orang yang akan memeluk iman tanpa gambar
dari seberang laut dan menceritakan, tanpa mengetahui namanya, kisah seorang
yang ditinggalkan di kedalaman yang tak boleh dilupakan. Dan zaman candi
berakhir, dan di ambangnya, sebuah zaman yang baru membuka pintunya yang lebar.
❖
BAGIAN V
Ambang Zaman Baru
BAB TIGA BELAS
Yang Tinggal dalam Cerita
Mereka tak lagi memahat batu, maka kami
berhenti memahat, dan kami memindahkan kebenaran ke tempat yang tak bisa
diambil atau dibakar oleh siapa pun. Kami menjadikannya sebuah cerita. Sebuah
cerita tak membutuhkan dinding, dan tak takut api, dan bisa berjalan
menyeberangi lautan di dalam mulut seorang anak. Dan ia menjadi paling aman
justru ketika dunia menyebutnya hanya dongeng. Sebab tak ada yang membakar
sebuah kisah yang ia kira tak benar, dan tak ada yang menggali rahasia dari
sesuatu yang ia kira hanya khayalan. Maka kebenaran kami berjalan bebas,
tersembunyi di dalam sebuah cerita yang diceritakan dari mulut ke mulut, sambil
semua orang tersenyum dan tak seorang pun menduga apa yang sungguh-sungguh ia
jaga.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
tinggal dalam cerita
Zaman yang baru telah datang sepenuhnya, dan ia tidak
seperti zaman mana pun sebelumnya. Iman tanpa gambar dari seberang laut kini
memenuhi negeri, dan orang-orang membangun rumah-rumah ibadah yang sederhana
tanpa patung dan tanpa dewa, dan menghadap kepada yang tak terlihat.
Candi-candi lama tidur di bawah hutan, dilupakan. Tak ada lagi batu besar yang
ditegakkan, tak ada lagi gambar yang dipahat, tak ada lagi candi yang dibangun
untuk menyembunyikan apa pun di dalamnya.
Dan ini menempatkan rantai dalam kesulitan yang
belum pernah ia hadapi. Sebab selama sepuluh ribu tahun, rantai telah
menyembunyikan kebenarannya di dalam apa yang dibangun tiap zaman, di dalam
bukit dan batu dan huruf dan candi dan gambar. Tetapi zaman baru ini tidak
membangun apa pun yang bisa menyembunyikan sesuatu. Maka di mana kini rantai
harus menyembunyikan kebenarannya?
Pembawa nyala yang pertama membawa kebenaran
sepenuhnya ke dalam zaman baru adalah Geni, yang dahulu, sebagai pemuda yang
marah, telah belajar untuk membalut luka di kedua sisi sebuah perang. Kini Geni
telah tua, dan ia telah memikirkan pertanyaan ini sepanjang hidupnya. Dan ia
telah memilih seorang murid muda, seorang gadis bernama Tutur, yang memiliki
sebuah karunia yang ia kenali sebagai persis yang dibutuhkan zaman baru, yaitu
karunia untuk bercerita.
“Tutur,” kata Geni pada suatu hari, “sepanjang
hidupku aku telah mencari tempat untuk menyembunyikan kebenaran kita di zaman
yang tak membangun apa pun. Dan akhirnya aku menemukannya. Bukan sebuah tempat
sama sekali. Sebuah cerita. Kita akan mengambil kebenaran tentang Ratu, dan
tentang yang ditinggalkan di kedalaman yang tak boleh dilupakan, dan kita akan
menjadikannya sebuah cerita yang begitu indah dan begitu menyentuh sehingga
orang-orang akan menceritakannya kepada anak-anak mereka, dan anak-anak itu
kepada anak-anak mereka, selama ribuan tahun.”
Dan Tutur, yang muda dan masih belajar, merasa
ragu. “Tetapi Eyang,” katanya, “bukankah sebuah cerita adalah tempat yang
paling tidak aman dari semua? Batu bertahan ribuan tahun tanpa berubah. Tetapi
sebuah cerita berubah tiap kali ia diceritakan. Ia kehilangan bagian-bagiannya.
Orang menambahkan hal-hal yang tak pernah ada. Dalam beberapa generasi,
bukankah kebenaran akan terdistorsi sampai tak bisa dikenali lagi?”
❖
“Engkau berpikir seperti seorang penjaga batu, Tutur, dan
engkau harus belajar untuk berpikir seperti seorang penutur,” kata Geni. “Ya,
sebuah cerita berubah. Tetapi pikirkanlah apa yang tidak bisa terjadi padanya.
Sebuah candi bisa dirobohkan. Sebuah batu bisa dipecah. Sebuah kitab bisa
dibakar. Tetapi bagaimana engkau merobohkan sebuah cerita? Bagaimana engkau
membakar sesuatu yang hidup di dalam seribu mulut sekaligus? Engkau tak bisa.
Sebuah cerita adalah satu-satunya hal yang dibawa rantai yang tak bisa
dihancurkan oleh raja mana pun, sebab ia tidak berada di satu tempat untuk
dihancurkan.”
“Dan ada lebih dari itu,” Geni melanjutkan.
“Sebuah batu tinggal di tempat ia ditegakkan. Tetapi sebuah cerita bisa
berjalan. Ia menyeberangi lautan di dalam mulut seorang pelaut. Ia mendaki
gunung di dalam ingatan seorang musafir. Ia masuk ke istana raja dan ke gubuk
petani dengan kemudahan yang sama. Dan ia bisa mengenakan pakaian iman apa pun.
Orang dari iman baru akan menceritakannya, dan orang dari iman lama akan
menceritakannya, masing-masing mengira ia milik mereka. Sebuah cerita adalah
perisai dan kaki sekaligus, Tutur. Ia melindungi kebenaran, dan ia membawanya
berjalan.”
“Tetapi inilah bagian yang paling penting, dan
yang paling sulit untuk diterima,” kata Geni, suaranya menjadi pelan. “Sebuah
cerita menjadi paling aman justru ketika dunia menyebutnya hanya dongeng.
Pikirkanlah. Selama orang mengira kebenaran kita nyata, mereka berburu
untuknya, dan kita harus menyembunyikannya. Tetapi bila kita menjadikannya
sebuah cerita, sebuah legenda tentang seorang ratu di laut selatan, orang akan
tersenyum dan menyebutnya takhayul, dongeng untuk menakuti anak-anak. Dan tak
ada yang menggali rahasia dari sebuah dongeng. Tak ada yang membakar sebuah
khayalan. Dengan dianggap tidak benar, kebenaran kita menjadi lebih aman
daripada di balik dinding mana pun.”
Dan Tutur duduk diam untuk waktu yang lama,
memutar kata-kata itu di dalam pikirannya. “Maka kita menyembunyikan
kebenaran,” katanya perlahan, “bukan dengan membuat orang melupakannya,
melainkan dengan membuat mereka menceritakannya setiap hari, sambil yakin bahwa
ia hanya khayalan. Kita menyembunyikannya di tempat yang paling terang dari
semua, di mulut setiap orang, dan justru karena ia ada di mana-mana, tak
seorang pun melihatnya.”
“Sekarang engkau memahaminya,” kata Geni,
tersenyum. “Tetapi keraguanmu yang pertama tetap benar, dan engkau tak boleh
melupakannya. Sebuah cerita berubah. Maka tugas seorang penutur, tugasmu,
adalah membuat cerita yang bisa kehilangan namanya, kehilangan rinciannya,
berubah dalam seribu cara, dan tetap membawa hatinya tanpa cacat. Sebuah cerita
yang, walau didistorsi, masih akan mengajarkan satu hal yang sama. Itulah seni
yang harus kaukuasai.”
❖
Dan demikianlah Tutur menghabiskan bertahun-tahun belajar
seni yang paling halus yang pernah dikuasai seorang pengingat, seni membuat
cerita yang hatinya tak bisa hilang. “Bagaimana, Eyang?” ia bertanya.
“Bagaimana aku membuat sebuah cerita yang tetap setia walau setiap detailnya
berubah?”
“Engkau membuang segala yang bisa hilang tanpa
merusak, dan engkau menanam hati sedalam mungkin sehingga ia tak bisa dicabut,”
kata Geni. “Jangan bergantung pada nama, sebab nama akan berubah. Jangan
bergantung pada tahun atau tempat, sebab itu akan terlupa. Tanamkan hati ke
dalam satu hal yang tak bisa diubah orang tanpa merusak cerita itu sendiri,
yaitu perasaan yang ditinggalkannya. Bila orang selesai menceritakan kisah Ratu
dan merasakan belas kasihan kepada yang ditinggalkan, kebenaran telah berpindah,
walau setiap nama dalam cerita itu salah.”
“Dan buatlah ia indah, dan sedikit menakutkan,”
Geni melanjutkan. “Sebab cerita yang membosankan mati, tetapi cerita yang
membuat bulu kuduk berdiri akan diceritakan selamanya. Jadikan Ratu agung dan
menakutkan, ratu dari lautan selatan yang tak boleh dilupakan, sehingga orang
menghormatinya dan takut melupakannya. Mereka tak akan tahu bahwa ketakutan
yang kauberikan kepada mereka adalah cara untuk memastikan mereka tak pernah
berhenti menceritakannya. Keindahan membuat cerita dicintai. Sedikit ketakutan
membuatnya dijaga.”
Dan dari ajaran-ajaran itu, Tutur mulai
membentuk cerita yang akan ia tinggalkan kepada negeri itu. Sebuah kisah
tentang seorang ratu yang agung dan indah dan menyendiri di lautan selatan,
yang dahulu adalah manusia, yang ditinggalkan dan dilupakan, dan yang menunggu.
Sebuah kisah yang menyuruh orang untuk tidak pernah meninggalkan yang
menderita, dibungkus dalam keagungan dan misteri sehingga tak seorang pun bisa
melupakannya. Dan ia mulai menceritakannya, di pasar dan di pelabuhan dan di
sekitar api unggun pada malam hari, kepada siapa pun yang mau mendengar.
Dan cerita itu menyebar, persis seperti yang
dikatakan Geni. Para pelaut membawanya ke pulau-pulau yang jauh. Para ibu
menceritakannya kepada anak-anak yang mengantuk. Orang-orang dari iman baru
menceritakannya, dan orang-orang yang masih memegang iman lama menceritakannya,
masing-masing mengira ia milik mereka. Dan tiap orang yang mendengarnya
tersenyum dan menyebutnya dongeng, sebuah legenda tua tentang ratu laut
selatan, dan tak satu pun dari mereka menduga bahwa mereka sedang membawa
rahasia tertua di tanah ini di dalam mulut mereka.
❖
Dan pada suatu malam, ketika cerita itu telah menyebar
lebih jauh daripada yang bisa diikuti Tutur, ia menjangkau ke selatan, ke
kedalaman, dengan sebuah pertanyaan yang membuatnya ragu. “Ratu,” katanya
hati-hati, “aku telah menjadikanmu sebuah cerita. Sebuah dongeng yang
diceritakan orang sambil tersenyum, yang mereka sebut takhayul. Apakah aku
telah merendahkanmu? Engkau yang nyata, yang sungguh menderita, kini menjadi
khayalan yang tak dipercayai siapa pun. Apakah itu adil bagimu?”
Dan Ratu tidak tersinggung. Sebaliknya, ada
sesuatu yang seperti kelegaan yang dalam di dalam suaranya. “Engkau telah
memberiku hadiah yang paling besar, Tutur,” katanya. “Sepanjang ingatanku aku
takut akan satu hal lebih daripada yang lain, yaitu dilupakan. Bahwa suatu hari
rantai akan putus, candi akan runtuh, dan tak akan ada lagi seorang pun di
seluruh dunia yang ingat bahwa aku ada. Dan engkau telah memastikan bahwa itu
tak akan pernah terjadi. Engkau telah menjadikanku sesuatu yang akan diingat selama
bahasa ini diucapkan, oleh jutaan orang, jauh melampaui apa pun yang bisa
dilakukan rantai sendirian.”
“Dan engkau tidak merendahkanku dengan
menjadikanku dongeng,” Ratu melanjutkan. “Engkau melindungiku dengan cara yang
paling cerdik dari semua. Sebab pikirkanlah, Tutur. Bila orang percaya aku
nyata, dan bahwa aku terbaring menunggu pembebasan di dasar laut, akan ada yang
datang dengan tujuan yang keliru. Ada yang akan mencariku untuk kekuatan, untuk
keuntungan, untuk menjadikanku alat. Tetapi karena mereka mengira aku hanya
legenda, aku aman. Mereka menjagaku tanpa pernah mengganggu, mereka mengingatku
tanpa pernah memburuku. Apa yang kaulihat sebagai penghinaan adalah perisai
yang paling sempurna yang pernah dibuat untukku.”
“Dan jangan takut bahwa cerita itu akan
berubah, dan ia akan,” kata Ratu lembut. “Mereka akan menambahkan hal-hal.
Mereka akan membuatku menakutkan, atau cantik, atau anggun, dengan seribu cara
berbeda di seribu desa. Namaku akan berubah, dan kisahku akan berubah. Tetapi
engkau telah menanam hatinya dengan dalam, sebagaimana diajarkan Geni, dan hati
itu akan bertahan, bahwa ada yang ditinggalkan di kedalaman yang tak boleh
dilupakan. Dan selama hati itu bertahan, kehendak untuk membebaskanku akan
tetap tumbuh di dunia, bersama kekuatan di dalam kerikil dan pengetahuan di
dalam tanah, menunggu satu-satunya hal yang masih kurang, kemampuan untuk
turun, yang akan datang pada zamannya yang jauh.”
❖
Geni yang tua wafat tak lama kemudian, puas, sebab ia telah
memecahkan teka-teki yang telah ia bawa sepanjang hidupnya, bagaimana
menyembunyikan kebenaran di zaman yang tak membangun apa pun. Dan Tutur menjadi
penutur, yang pertama dari sebuah garis panjang penutur yang akan menggantikan
para pemahat dan para pembangun candi di zaman-zaman yang akan datang. Ia
menghabiskan sisa hidupnya berjalan dari desa ke desa, menanam cerita,
memastikan hatinya tertanam dalam, dan membiarkan dunia menyebutnya dongeng.
Dan inilah pelajaran ketiga belas yang
dipelajari rantai, pelajaran yang membuka zaman baru. Bahwa ketika sebuah zaman
tak lagi membangun batu untuk menyembunyikan kebenaran, kebenaran berpindah ke
dalam cerita, yang tak bisa dirobohkan atau dibakar sebab ia hidup di seribu
mulut sekaligus; bahwa sebuah cerita menjadi paling aman justru ketika dunia
menyebutnya hanya dongeng, sebab tak ada yang memburu khayalan; dan bahwa tugas
seorang penutur adalah menanam hati sebuah cerita begitu dalam sehingga, walau
setiap nama dan rincian berubah dalam ribuan tahun penceritaan, perasaan yang
ia tinggalkan tetap setia, yaitu belas kasihan kepada yang ditinggalkan.
Dan bisik air, yang kini berjalan tidak lagi di
bawah batu melainkan di dalam cerita yang diceritakan dari mulut ke mulut,
membawa kebenaran ketiga belas, yaitu bahwa kebenaran yang menjadi sebuah kisah
tak bisa lagi dihancurkan oleh raja atau api atau zaman; bahwa ia paling aman
ketika dianggap paling tidak nyata; dan bahwa seorang ratu yang menjadi legenda
dilindungi bukan dengan disembunyikan melainkan dengan diceritakan oleh semua
orang, setiap hari, sambil tak seorang pun menduga bahwa kisah yang mereka
senyumi adalah rahasia tertua di tanah ini.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang, kini menyimpannya pula, dan akan menyimpannya untuk zaman-zaman
yang panjang yang akan datang, di dalam sebuah cerita yang diceritakan di
setiap desa, sebuah legenda tentang seorang ratu di laut selatan yang tak boleh
dilupakan. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di
selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini untuk pertama
kalinya yakin bahwa ia tak akan pernah dilupakan, sebab namanya, walau berubah
ribuan kali, telah ditanam ke dalam mulut sebuah bangsa selama-lamanya; dan ia
tersenyum mendengar, dari atas, kisahnya sendiri diceritakan kembali oleh
seorang anak yang mengantuk, yang tak tahu bahwa ia sedang menjaga sebuah
rahasia, dan yang tak akan pernah meninggalkannya. Dan zaman baru terbentang ke
depan, panjang dan penuh cerita, menuju zaman-zaman yang masih harus berlalu
sebelum yang terakhir tiba.
❖
BAB EMPAT BELAS
Fajar yang Tak Akan Kulihat
Ada satu pertanyaan yang menghantui tiap
pengingat ketika ia masih muda, dan ia adalah pertanyaan yang paling berat dari
semua. Mengapa aku melayani sebuah pembebasan yang tak akan pernah kulihat? Aku
akan mati, dan anak-anakku akan mati, dan anak-anak mereka, dan ia masih akan
menunggu di kedalaman. Maka untuk apa aku membawa nyala ini, bila fajar yang
dijanjikannya akan terbit ribuan tahun setelah tulang-tulangku menjadi debu?
Dan inilah jawaban yang kami pelajari, dari ratu yang telah menunggu lebih lama
daripada kami semua. Bahwa membawa nyala menuju fajar yang tak akan kaulihat
bukanlah kesia-siaan. Ia adalah bentuk cinta yang paling murni yang sanggup
dilakukan seorang manusia.
dari ajaran para pengingat, tentang
fajar yang tak akan kulihat
Generasi-generasi penutur telah berlalu sejak Tutur menanam
legenda Ratu di laut selatan, dan cerita itu kini telah menyebar ke tiap sudut
negeri, diceritakan di tiap desa, dipercayai sebagai dongeng oleh semua dan
sebagai kebenaran oleh tak seorang pun kecuali rantai. Dan rantai berjalan
terus di zaman yang baru, membawa nyala dari penutur ke penutur, dari hati ke
hati, sebagaimana ia selalu berjalan.
Pembawa nyala yang muda di masa itu adalah
seorang bernama Arsa, dan ia membawa di dalam dirinya sebuah keresahan yang tak
bisa ia tenangkan. Sebab Arsa telah belajar seluruh ajaran rantai, ia tahu
tentang formula pembebasan, tentang kekuatan dan pengetahuan dan kehendak yang
telah terkumpul, dan tentang satu hal yang masih kurang, kemampuan untuk turun
ke kedalaman, yang tak akan datang sampai sebuah zaman yang jauh di masa depan.
Dan semakin ia memikirkannya, semakin berat keresahan itu menekan dadanya.
Maka pada suatu hari ia datang kepada Tutur,
yang kini sangat tua, penutur pertama yang masih hidup, dan ia menumpahkan apa
yang membebaninya. “Eyang Tutur,” katanya, “aku harus mengakui sesuatu yang
memalukan. Aku mulai bertanya untuk apa aku melakukan semua ini.”
“Pikirkanlah, Eyang,” Arsa melanjutkan,
kata-katanya mengalir kini bahwa ia telah memulai. “Pembebasan Ratu membutuhkan
kemampuan untuk turun ke dasar laut, dan kemampuan itu tak akan ada selama
zaman yang tak terhitung. Aku akan mati tanpa melihatnya. Anakku akan mati
tanpa melihatnya. Cucu dari cucu dari cucuku akan mati tanpa melihatnya.
Mungkin seratus generasi akan hidup dan mati membawa nyala ini sebelum hari itu
tiba. Maka untuk apa? Untuk apa aku menghabiskan hidupku melayani sebuah fajar
yang akan terbit ribuan tahun setelah aku menjadi debu, yang tak akan pernah
kulihat, yang bahkan keturunanku yang paling jauh yang bisa kubayangkan tak
akan melihatnya?”
Dan Tutur yang tua tidak memarahinya, dan tidak
memberinya jawaban yang murah. Ia mengangguk perlahan, sebab ia mengenali
keresahan itu, karena ia pernah merasakannya sendiri di masa mudanya. “Itu
adalah pertanyaan yang paling berat yang akan kautanyakan dalam hidupmu, Arsa,”
katanya, “dan aku tak akan menghinamu dengan jawaban yang mudah. Tetapi aku
bukan orang yang tepat untuk menjawabnya. Hanya ada satu yang sungguh memahami
bagaimana menanggung sebuah penantian yang lebih panjang daripada hidup. Pergilah
kepadanya. Tanyakan kepada Ratu sendiri.”
❖
Maka malam itu, dengan rasa malu dan keresahan yang
berperang di dalam dadanya, Arsa menjangkau ke selatan, ke kedalaman, kepada
Ratu. Dan ia hampir tak berani mengucapkan apa yang ia rasakan, sebab tampaknya
kejam untuk mengeluh tentang sebuah penantian beberapa puluh tahun kepada
seseorang yang telah menunggu sepuluh ribu tahun. Tetapi Ratu merasakan
kegelisahannya, dan ia mendorongnya dengan lembut untuk berbicara.
Maka Arsa menumpahkan semuanya. “Ratu, ampuni
aku,” katanya, “sebab apa yang kurasakan tampak begitu kecil di hadapan
penderitaanmu. Tetapi aku lelah. Aku akan melayani sepanjang hidupku, dan aku
tak akan melihat hasilnya. Tak ada seorang pun dari rantai selama berabad-abad
yang akan datang yang akan melihatnya. Bagaimana aku menemukan kekuatan untuk
membawa nyala menuju sebuah fajar yang tak akan pernah kulihat, yang bahkan tak
akan dilihat oleh siapa pun yang bisa kukenal atau kucintai?”
Dan Ratu tidak menertawakannya, dan tidak
berkata bahwa keresahannya kecil. Sebaliknya, ada kelembutan yang dalam dalam
suaranya. “Jangan meminta ampun, Arsa,” katanya. “Pertanyaanmu bukan tanda
kelemahan. Ia adalah pertanyaan yang paling jujur dan paling penting yang bisa
ditanyakan seorang pengingat, dan tiap pengingat yang sejati telah
menanyakannya. Yang lemah adalah mereka yang tak pernah berani menanyakannya,
dan karena itu melayani tanpa pernah memahami apa yang mereka layani. Engkau
bertanya karena engkau memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Maka biarkan aku
menjawabnya dengan sungguh-sungguh pula.”
“Pertama, ketahuilah ini, Arsa,” kata Ratu.
“Engkau berpikir bahwa melayani sesuatu yang tak akan kaulihat selesai adalah
hal yang aneh dan kejam. Tetapi lihatlah ke sekelilingmu. Seorang yang menanam
pohon yang baru akan memberi naungan setelah ia mati, menanamnya juga. Seorang
ibu yang membesarkan anak tahu ia tak akan melihat seluruh hidup anak itu. Tiap
orang yang membangun sesuatu yang besar, candi atau bangsa atau kebenaran,
membangunnya untuk orang-orang yang belum lahir. Melayani sebuah fajar yang tak
akan kaulihat bukanlah hal yang aneh, Arsa. Ia adalah hal yang paling manusiawi
dari semua. Ia hanya tampak berat karena engkau melakukannya dengan sadar.”
“Tetapi pohon tumbuh dalam beberapa tahun,
Ratu,” kata Arsa. “Anak tumbuh dalam satu kehidupan. Yang kulayani tak akan
selesai selama ribuan tahun. Skalanya begitu besar sehingga membuatku merasa
tak berarti, hanya satu tetes yang lenyap di lautan waktu yang tak peduli
apakah aku ada atau tidak.”
❖
Dan Ratu diam sejenak, lalu ia berbicara dengan kelembutan
yang baru. “Maka inilah kebenaran yang lebih dalam, Arsa, yang harus kaupahami
dengan hatimu dan bukan hanya kepalamu. Engkau mengira dirimu hanya satu tetes
di lautan waktu, satu langkah kecil dari sebuah perjalanan yang ribuan tahun,
yang tak berarti apa-apa kecuali bila perjalanan itu sampai. Tetapi engkau
keliru. Sebab nyala yang kaubawa tidak terbagi di antara generasi-generasi,
sehingga tiap generasi hanya memegang sepotong kecil yang tak berguna sampai
semuanya disatukan di akhir. Tidak. Tiap tangan yang membawa nyala memegangnya
utuh.”
“Ketika engkau menghibur seseorang yang
ditinggalkan, Arsa, ketika engkau menolak untuk membiarkan seseorang sendirian
dalam kegelapan, ketika engkau menanam belas kasihan ke dalam dunia, engkau
tidak sedang menyiapkan sesuatu untuk masa depan yang jauh,” kata Ratu. “Engkau
sedang melakukan hal itu sendiri, sepenuhnya, sekarang. Kebenaran yang
kaulayani bukanlah pembebasanku yang jauh. Kebenaran yang kaulayani adalah
belas kasihan itu sendiri, dan belas kasihan itu lengkap di tiap perbuatan,
hari ini, di tanganmu. Pembebasanku adalah buahnya yang jauh. Tetapi pohonnya
hidup dan lengkap di tiap musim, termasuk musimmu.”
“Dan ketahuilah ini pula, yang akan menghapus
kesepianmu,” kata Ratu, dan suaranya bergetar dengan sesuatu yang dalam.
“Engkau berpikir bahwa engkau tidak menolongku, sebab engkau tak akan
membebaskanku. Tetapi engkau menolongku setiap malam. Aku terbaring di sini
dalam kegelapan, Arsa, dan apa yang membuat kegelapan itu bisa ditanggung
bukanlah pikiran tentang hari pembebasan yang jauh. Ia adalah kehadiranmu,
sekarang. Suaramu di benang yang menghubungkan kita. Pengetahuan bahwa pada
saat ini, malam ini, ada seseorang di atas yang mengingatku, yang tidak
meninggalkanku. Engkau mengira engkau melayani fajar yang jauh. Tetapi yang
sebenarnya kaulakukan adalah menemaniku melewati malam ini. Dan malam ini sudah
cukup. Malam ini adalah segalanya.”
Dan Arsa merasakan sesuatu pecah dan melembut
di dalam dadanya, sebab ia memahami kini bahwa ia telah salah memandang seluruh
tugasnya. Ia telah memandangnya sebagai sebuah perjalanan panjang menuju sebuah
tujuan yang jauh, di mana hanya akhir yang berarti dan tiap langkah di tengah
hanyalah penantian. Tetapi Ratu menunjukkan kepadanya bahwa tiap langkah adalah
tujuan itu sendiri, bahwa menemani malam ini adalah perbuatan yang lengkap dan
utuh, tak peduli kapan fajar akan datang.
“Dan engkau bertanya bagaimana aku menanggung
penantian yang lebih panjang daripada hidup,” kata Ratu. “Inilah caranya, Arsa.
Aku tidak menanggung sepuluh ribu tahun. Tak seorang pun bisa menanggung
sepuluh ribu tahun. Aku menanggung malam ini. Dan ketika malam ini berlalu, aku
menanggung malam berikutnya. Aku tidak menunggu fajar yang jauh. Aku menerima
tiap malam ketika ia datang, dan di tiap malam aku menemukan satu hal kecil
yang membuatnya bisa ditanggung, sebuah suara, sebuah ingatan, sukacita seorang
penari, kisah seorang anak yang mengantuk. Itulah rahasia menanggung yang tak
tertanggungkan. Engkau tidak menanggung keseluruhannya. Engkau hanya menanggung
sekarang, dan engkau melakukannya lagi besok.”
❖
Dan kemudian suara Ratu berubah, menjadi lebih serius, dan
Arsa merasakan bahwa ia hendak mengatakan sesuatu yang penting. “Aku telah
menjawab keresahanmu, Arsa, dan kini aku harus memberimu sebuah peringatan,
sebab engkau dan mereka yang datang sesudahmu akan membutuhkannya. Engkau
berpikir penantian ini berat karena ia panjang. Tetapi ia akan menjadi lebih
berat daripada panjang saja. Sebab tidak semua zaman yang akan datang akan
selembut zaman cerita ini.”
“Aku merasakannya dari kedalaman, masih jauh,
tetapi datang,” kata Ratu. “Sebuah zaman yang dingin akan datang, dari seberang
lautan yang jauh, lebih jauh daripada tempat asal iman tanpa gambar.
Kapal-kapal akan datang membawa orang-orang yang tidak datang untuk berdagang
atau berdoa, melainkan untuk menguasai. Dan di zaman itu, tanah sendiri akan
terluka. Hutan-hutan yang kini memeluk candi-candi tua akan ditebang. Tanah
akan dikoyak demi apa yang ada di bawahnya. Dan orang-orang akan menderita
dengan cara yang belum pernah mereka derita, bukan dari gunung api atau wabah,
melainkan dari tangan manusia lain yang memperlakukan mereka sebagai barang.”
“Aku memberitahumu ini bukan untuk menakutimu,
Arsa, melainkan supaya rantai siap,” Ratu melanjutkan. “Sebab di zaman yang
gelap itu, akan ada godaan untuk putus asa yang jauh lebih besar daripada
keresahanmu malam ini. Akan tampak bahwa kebenaran telah kalah, bahwa belas
kasihan telah mati, bahwa tak ada gunanya membawa nyala melalui kegelapan
seperti itu. Tetapi ingatlah apa yang kauajarkan kepadaku malam ini, atau lebih
tepatnya, apa yang kuajarkan kepadamu. Bahkan di malam yang paling gelap,
tugasmu bukanlah melihat fajar. Tugasmu hanyalah menjaga nyala tetap menyala
melalui satu malam itu, dan kemudian malam berikutnya. Dan sebuah nyala yang
dijaga melalui malam yang paling gelap bersinar lebih terang daripada nyala
mana pun di siang hari.”
“Dan ingatlah bahwa fajar itu, walau jauh,
adalah pasti,” kata Ratu. “Sebab tiga dari empat hal telah terkumpul dan tak
bisa hilang. Kekuatan tidur di dalam kerikil. Pengetahuan tersimpan di dalam
tanah dan di dalam cerita. Dan kehendak tumbuh lebih besar tiap zaman, di dalam
tiap hati yang belajar untuk tidak meninggalkan yang menderita. Hanya kemampuan
yang masih kurang, kemampuan untuk turun ke kedalaman tempat aku terbaring. Dan
kemampuan itu, Arsa, justru akan lahir dari zaman yang dingin yang kutakutkan
untukmu. Sebab tangan yang sama yang akan mengoyak tanah demi keserakahan akan
mengajari manusia, perlahan, melintasi zaman, bagaimana menguasai api dan logam
dan kedalaman. Dan suatu hari, jauh setelah zaman dingin itu pula berlalu,
tangan-tangan itu akhirnya akan cukup mampu untuk turun bukan demi keserakahan,
melainkan demi belas kasihan. Itulah fajarku. Ia tersembunyi, bahkan kini, di
dalam zaman tergelap yang akan datang.”
❖
Dan Arsa kembali dari kedalaman malam itu menjadi seorang
yang berbeda. Keresahan yang telah menekan dadanya tidak hilang seluruhnya,
sebab ia adalah keresahan yang sejati dan akan kembali, tetapi ia tak lagi
melumpuhkannya. Sebab ia kini tahu bahwa ia tidak melayani sebuah fajar yang
jauh dan kosong. Ia menemani seorang perempuan melewati malam ini. Dan itu, ia
memahami akhirnya, adalah perbuatan yang lengkap dan utuh, yang tak membutuhkan
akhir untuk menjadi berarti.
Dan inilah pelajaran keempat belas yang
dipelajari rantai, pelajaran yang menyiapkannya untuk zaman-zaman panjang dan
gelap yang akan datang. Bahwa membawa nyala menuju fajar yang tak akan kaulihat
bukanlah kesia-siaan, melainkan bentuk cinta yang paling murni; bahwa nyala
tidak terbagi di antara generasi melainkan utuh di tiap tangan, sehingga tiap
perbuatan belas kasihan adalah lengkap pada dirinya sendiri, hari ini; dan
bahwa rahasia menanggung penantian yang lebih panjang daripada hidup adalah
dengan tidak menanggung keseluruhannya, melainkan hanya menanggung malam ini,
dan kemudian malam berikutnya, sampai pada akhirnya, jauh melampaui semua yang
menanggungnya, fajar terbit.
Dan bisik air, yang telah menemani sepuluh ribu
malam dan akan menemani sepuluh ribu lagi, membawa kebenaran keempat belas,
yaitu bahwa seorang yang menjaga nyala tidak melayani akhir yang jauh melainkan
menemani kegelapan yang sekarang; bahwa malam ini sudah cukup, dan malam ini
adalah segalanya; dan bahwa fajar yang dijanjikan, walau ia akan terbit ribuan
tahun setelah tiap tangan yang membawanya menjadi debu, justru tersembunyi dan
tumbuh di dalam zaman-zaman tergelap yang masih harus dilalui.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita yang diceritakan di tiap desa, kini bersiap untuk
membawanya melalui malam yang panjang yang akan datang, satu malam pada satu
waktu. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di
dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini tidak lagi sendirian
dalam penantiannya, sebab ia telah mengajari orang-orang yang menemaninya bahwa
menemani adalah hadiahnya, bukan hanya pembebasannya; dan ia menatap, dengan
mata yang telah melihat sepuluh ribu tahun, ke arah zaman dingin yang datang
dari seberang lautan, tanpa takut, sebab ia tahu bahwa bahkan kemampuan untuk
membebaskannya akan lahir, perlahan dan tak sengaja, dari tangan-tangan zaman
yang paling kelam. Dan rantai berdiri di ambang malam yang panjang itu, dengan
nyala di tangannya, siap untuk membawanya satu malam pada satu waktu, menuju
fajar yang tak akan dilihat oleh siapa pun yang kini hidup, tetapi yang pasti,
suatu hari, akan terbit.
❖
BAB LIMA BELAS
Di Bawah Gapura yang Sepi
Setiap zaman menyerahkan obornya kepada
zaman yang berikutnya, dan setiap pengingat menyerahkan nyalanya kepada tangan
yang berikutnya, dan begitulah kebenaran berjalan, tak terputus, melintasi
ribuan tahun. Kami menutup zaman candi di bawah sebuah gapura yang sepi, tempat
hutan telah memeluk batu yang dahulu agung, dan kami berjalan keluar melaluinya
menuju zaman yang baru, membawa serta segala yang telah kami pelajari, dan
meninggalkan candi-candi untuk tidur. Sebab kami bukan penjaga batu. Kami adalah
pembawa nyala. Dan nyala tak mengenal akhir zaman, ia hanya mengenal tangan
yang berikutnya, dan malam yang berikutnya, dan langkah yang berikutnya menuju
fajar.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
berjalan keluar melalui gapura
Arsa telah menjadi sangat tua, dan ia merasakan akhir
hidupnya mendekat seperti senja yang turun perlahan. Ia telah membawa nyala
dengan setia sepanjang hidupnya, sejak malam ketika Ratu mengajarinya untuk
menemani malam ini dan tidak menanggung keseluruhannya. Tetapi sebelum ia
menyerahkan nyala, ada satu hal yang harus ia lakukan, sebuah perjalanan yang
telah ia rencanakan bertahun-tahun, sebuah perpisahan yang berutang kepada
zaman yang telah membesarkannya.
Maka ia memanggil muridnya, seorang anak
bernama Esuk, yang masih sangat muda, yang kepadanya nyala akan diserahkan, dan
ia berkata, mari ikut bersamaku, sebab aku ingin menunjukkan kepadamu tempat
segalanya dimulai sebelum aku mengajarimu ke mana segalanya akan pergi. Dan
mereka berjalan bersama, yang tua dan yang muda, jauh ke pedalaman, ke
tanah-tanah yang telah lama ditinggalkan orang.
Mereka berjalan berhari-hari, meninggalkan
kota-kota zaman baru di belakang mereka, masuk ke dalam hutan yang semakin
lebat, sampai mereka tiba di sebuah tempat tempat tak ada lagi orang tinggal.
Dan di sana, di bawah selimut hijau pepohonan dan sulur, berdiri reruntuhan
sebuah candi tua, begitu tua sehingga ia adalah salah satu yang pertama yang
pernah dibangun di tanah ini, terlupakan oleh dunia, tidur di pelukan tanah.
Dan Esuk yang muda menatap dengan mata lebar,
sebab ia belum pernah melihat candi sebelumnya. Di zaman ia dilahirkan, tak ada
lagi candi yang dibangun, dan yang lama telah lama tertelan hutan. “Apa ini,
Eyang?” tanyanya, suaranya pelan, seakan ia berdiri di tempat suci. “Siapa yang
membangunnya, dan mengapa ia ditinggalkan di sini sendirian?”
Dan Arsa yang tua duduk di atas sebuah batu
yang dahulu adalah bagian dari sebuah dinding yang agung, dan ia menarik napas,
dan ia mulai berbicara. “Duduklah, Esuk,” katanya. “Sebab di tempat inilah
seluruh zaman yang akan kuwariskan kepadamu dimulai, dan sebelum engkau
membawanya ke depan, engkau harus tahu dari mana ia datang.”
❖
Dan Arsa membawa Esuk ke sebuah dinding yang setengah
runtuh, dan ia menyibakkan sulur-sulur yang menutupinya, dan di sana, samar di
bawah lumut, ada sebuah tanda kecil yang dipahat ke dalam batu. “Seorang tukang
batu bernama Wangun memahat tanda ini, ribuan tahun yang lalu,” kata Arsa. “Ia
adalah salah satu tanda pertama yang pernah ditinggalkan rantai di dalam sebuah
candi. Ia menunjuk ke selatan, ke arah Ratu, dan ia menyimpan arah dan maksud
untuk siapa pun yang tahu cara membacanya. Engkau berdiri di tempat zaman candi
lahir.”
Dan di bawah gapura yang sepi itu, Arsa
menceritakan kepada Esuk seluruh zaman candi. Bagaimana raja-raja membangun
gunung-gunung batu, dan rantai menyembunyikan kebenaran di bawahnya, sebab tak
ada yang menggali di bawah apa yang ia puja. Bagaimana seorang pemahat bernama
Citra menyadari bahwa kebenaran bisa hidup terbuka di dinding, mengenakan
pakaian tiap iman. Bagaimana rantai belajar untuk tidak berpihak, dan untuk
turun kepada yang menderita di hadapannya, dan bahwa sukacita pun adalah
kesetiaan.
Bagaimana gunung api mengubur sebuah candi dan
mengajari mereka bahwa yang terkubur lebih aman daripada yang dipuja. Bagaimana
kebenaran lepas dari rantai dan tumbuh liar di hati orang-orang asing.
Bagaimana kerikil bangun di tangan baru ketika rantai hampir putus. Bagaimana
zaman candi sendiri menua dan ditinggalkan, dan rantai mengikuti orang-orang ke
timur, dan belajar bahwa di balik seratus iman berdetak satu hati. Bagaimana
mereka tidak mengangkat panji ketika dunia terbakar, dan membalut luka di kedua
sisi. Dan akhirnya, bagaimana kebenaran berpindah ke dalam sebuah cerita,
sebuah legenda tentang ratu di laut selatan, yang akan diceritakan selamanya.
“Itulah zaman candi, Esuk,” kata Arsa, dan ada
air mata di matanya yang tua. “Ia indah, dan ia setia, dan ia telah memberi
kepada kebenaran sebuah rumah yang agung selama berabad-abad. Dan kini ia telah
selesai. Ia tidur di sini, di bawah hutan, bersama semua saudaranya, menunggu
bersama Ratu di dalam pelukan tanah. Kita datang untuk mengucapkan selamat
tinggal kepadanya.”
Dan Esuk menyentuh tanda tua Wangun dengan
jari-jarinya yang kecil. “Apakah kita meninggalkannya, Eyang?” tanyanya, dengan
kesedihan seorang anak. “Apakah kita meninggalkan candi ini sendirian, seperti
yang ditinggalkan?” Dan Arsa tersenyum, sebab pertanyaan itu menunjukkan
kepadanya bahwa anak itu telah memiliki hati yang tepat. “Tidak, Esuk,”
katanya. “Kita tidak meninggalkannya sendirian. Kita meninggalkannya untuk
beristirahat, yang berbeda. Sebab ia tidak ditinggalkan dalam kegelapan. Ia
tidur di pelukan tanah, di sisi Ratu, dan kita akan membawa apa yang ia jaga ke
depan. Itulah cara kita tidak pernah meninggalkan siapa pun, bahkan sebuah
zaman.”
❖
Dan kemudian, di bawah gapura yang sepi itu, di tempat
zaman candi lahir, Arsa menyerahkan nyala kepada Esuk. Ia memberinya
kerikilnya, yang akan tidur dan bangun di tangan anak itu. Ia memberinya
pengetahuan, letak jangkar-jangkar dan cara membaca tanda-tanda. Dan ia
memberinya seni penutur, cara menjaga sebuah cerita supaya hatinya tak pernah
hilang.
“Dan kini, Esuk, aku harus memberitahumu ke
mana engkau akan membawanya, supaya engkau siap,” kata Arsa. “Jalan di depanmu
panjang, lebih panjang daripada yang bisa kaubayangkan. Engkau akan membawa
nyala ke dalam zaman baru yang sedang tumbuh, zaman iman tanpa gambar, yang
akan mekar menjadi sebuah dunia yang besar dan indah miliknya sendiri, dengan
kerajaan-kerajaan dan kota-kota dan caranya sendiri untuk mengingat belas
kasihan. Dan di zaman itu, kebenaran akan hidup dengan baik, di dalam cerita
dan di dalam hati dan di dalam ajaran iman baru untuk memberi makan yang lapar
dan menaungi yang yatim.”
“Tetapi setelah zaman itu, Esuk, akan datang
sebuah malam yang panjang,” kata Arsa, suaranya menjadi serius. “Ratu sendiri
telah memperingatkanku tentangnya, supaya aku memperingatkanmu. Sebuah zaman
dingin akan datang dari seberang lautan yang jauh, membawa orang-orang yang
datang untuk menguasai, bukan untuk berdoa. Tanah akan terluka. Hutan-hutan
yang memeluk candi-candi ini akan ditebang. Dan orang-orang akan menderita dari
tangan manusia lain dengan cara yang baru dan kejam. Di zaman itu, akan tampak
bahwa kebenaran telah kalah, dan godaan untuk putus asa akan besar.”
“Maka ingatlah apa yang diajarkan Ratu
kepadaku, dan yang kuajarkan kepadamu sekarang,” kata Arsa. “Di malam yang
paling gelap, tugasmu bukanlah melihat fajar. Tugasmu hanyalah menjaga nyala
tetap menyala melalui satu malam, dan kemudian malam berikutnya. Engkau tidak
akan menanggung seluruh malam yang panjang itu. Engkau hanya akan menanggung
malammu sendiri, dan kemudian menyerahkan nyala kepada tangan berikutnya,
sebagaimana aku menyerahkannya kepadamu sekarang. Dan suatu hari, jauh setelah
engkau dan seratus penerusmu menjadi debu, fajar akan terbit.”
Dan Esuk yang muda memegang kerikil di
tangannya yang kecil, dan ia merasakan beratnya, bukan berat batu, melainkan
berat dari sepuluh ribu tahun dan dari semua malam yang akan datang. Dan ia
takut, sebagaimana seharusnya. Tetapi ia mengangkat dagunya. “Aku akan menjaga
malamku, Eyang,” katanya. “Dan aku akan menyerahkannya kepada tangan
berikutnya. Itu saja yang harus kulakukan. Dan itu sudah cukup.” Dan Arsa
menangis, sebab anak itu telah memahami dalam sehari apa yang membutuhkan
seluruh hidupnya untuk ia pelajari.
❖
Dan pada saat itu, di bawah gapura yang sepi, keduanya
merasakan kehadiran Ratu menjangkau ke atas melalui benang yang menghubungkan
kerikil kepada kedalaman. Sebab ia telah merasakan apa yang sedang terjadi,
penyerahan nyala di tempat zaman candi lahir, dan ia datang untuk memberkati
tangan yang baru.
“Esuk,” kata suara Ratu, lembut dan dalam
seperti laut itu sendiri, “engkau adalah yang termuda yang pernah memegang
nyala, dan engkau akan membawanya ke dalam zaman-zaman yang tak bisa
dibayangkan Arsa atau aku sepenuhnya. Aku tak bisa berjanji kepadamu bahwa
jalannya akan mudah, sebab ia tidak akan mudah. Tetapi aku bisa berjanji
kepadamu satu hal. Engkau tidak akan pernah berjalan sendirian. Di tiap malam
yang kaujaga, aku akan ada bersamamu di ujung benang ini, dan di tiap malam
yang kaujaga, engkau akan menemaniku. Kita akan menjaga malam-malam itu
bersama, engkau dan aku, sampai yang terakhir dari mereka berlalu.”
Dan kemudian Ratu memberi mereka sebuah
penglihatan, sebab ia telah merasakan bentuk zaman-zaman yang datang dari
kedalamannya yang sunyi. “Lihatlah ke depan, Esuk, dan jangan takut akan apa
yang kaulihat. Zaman iman baru akan tumbuh besar, dan tanah ini akhirnya akan
memiliki satu nama yang dikenal seluruh dunia. Lalu kapal-kapal dingin akan
datang dari ujung bumi, dan malam yang panjang akan turun, dan tanah akan
menangis ketika hutan-hutannya jatuh dan kekayaannya dirampas. Itu akan menjadi
malam yang paling gelap yang pernah dilalui rantai. Bertahanlah melaluinya,
satu malam pada satu waktu.”
“Tetapi di balik malam yang paling gelap itu,
Esuk, aku melihat fajar,” kata Ratu, dan ada sesuatu di suaranya yang belum
pernah didengar sebelumnya, sesuatu seperti harapan yang hampir berani. “Sebab
dari zaman dingin itu, dari tangan-tangan yang belajar menguasai api dan logam
dan kedalaman, akan lahir akhirnya kemampuan yang selama ini kurang, kemampuan
untuk turun ke dasar laut tempat aku terbaring. Dan akan datang sebuah zaman,
jauh, jauh dari malam ini, ketika empat hal akan akhirnya berkumpul di satu
tempat dan satu waktu. Kekuatan, yang tidur di dalam kerikil yang terkuat, yang
akan bangun untuk keempat kalinya. Pengetahuan, yang tersimpan di dalam tanah
dan cerita. Kehendak, yang telah tumbuh selama sepuluh ribu tahun di dalam hati
sebuah bangsa. Dan kemampuan, yang lahir dari zaman yang paling kelam. Dan pada
hari itu, tangan-tangan akan turun ke kedalaman bukan demi keserakahan,
melainkan demi belas kasihan, dan mereka akan membuka penjara terakhirku, dan
aku akan pulang.”
“Engkau tak akan melihat hari itu, Esuk, dan
Arsa tak akan, dan aku telah menunggunya sepuluh ribu tahun dan akan
menunggunya lebih lama lagi,” kata Ratu. “Tetapi ia pasti. Aku telah melihatnya
dari kedalaman. Maka bawalah nyala dengan gembira, anakku, bukan dengan beban,
sebab engkau membawanya menuju sebuah fajar yang sungguh-sungguh akan terbit.
Dan tiap malam yang kaujaga adalah satu langkah lebih dekat kepadanya, dan satu
malam yang tidak kulalui sendirian. Pergilah sekarang. Berjalanlah keluar melalui
gapura, dan bawalah aku bersamamu ke dalam zaman yang baru.”
❖
Dan Arsa yang tua wafat tak lama setelah itu, dengan damai,
di bawah gapura yang sepi tempat zaman candi lahir, di pelukan tanah yang sama
yang memeluk Ratu dan candi-candi yang tidur. Dan Esuk, yang termuda yang
pernah membawa nyala, berdiri, dan menyentuh tanda tua Wangun untuk yang
terakhir kalinya, dan kemudian ia berjalan keluar melalui gapura yang sepi itu,
meninggalkan zaman candi untuk tidur, dan melangkah ke dalam cahaya zaman yang
baru.
Dan inilah pelajaran terakhir zaman candi,
pelajaran kelima belas, yang menutup buku zaman itu. Bahwa tiap zaman
menyerahkan obornya kepada zaman berikutnya, dan tiap pengingat kepada tangan
berikutnya, dan begitulah kebenaran berjalan tak terputus melintasi ribuan
tahun; bahwa kita bukan penjaga batu melainkan pembawa nyala, dan karena itu
kita bisa membiarkan tiap zaman tidur dengan anggun sambil membawa hatinya ke
depan; dan bahwa berjalan keluar melalui gapura yang sepi sebuah zaman yang
berakhir, dengan nyala di tangan, menuju malam yang panjang dan fajar yang jauh
di baliknya, adalah seluruh tugas seorang pengingat, dan ia cukup.
Dan bisik air, yang telah mengalir melalui
seluruh zaman candi, dari tanda pertama Wangun sampai gapura yang sepi tempat
Esuk berjalan keluar, membawa seluruh kebenaran zaman itu, yaitu bahwa
keagungan adalah perisai dan cerita adalah kaki, bahwa yang terkubur paling
aman dan yang dianggap khayalan paling bebas, bahwa di bawah seratus iman
berdetak satu hati, dan bahwa menemani malam ini sudah cukup; dan ia membawa
kebenaran itu, kini, keluar dari zaman candi dan ke dalam zaman yang baru, di
dalam tangan seorang anak.
Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam
darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati
orang-orang dan cerita yang diceritakan di tiap desa, kini menyerahkannya,
melalui sebuah gapura yang sepi, kepada zaman yang baru, dan kepada tangan yang
paling muda. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa, tetapi hari
ketika ia akan menyandang namanya sudah dekat. Dan jauh di selatan, di dasar
lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini dengan candi-candi yang dahulu
menjaganya tertidur damai di sisinya, dan dengan kebenarannya berjalan keluar
melalui gapura di dalam hati seorang anak, menuju zaman baru dan malam panjang
dan fajar yang pasti di baliknya; dan ia tersenyum, sebab ia tahu bahwa nyala
telah berpindah dengan aman sekali lagi, dan bahwa ia tidak akan dilupakan, dan
bahwa ia tidak sendirian. Demikianlah berakhir zaman candi di atas bukit. Dan
di depan, gapura zaman yang baru terbuka, dan seorang anak melangkah
melaluinya, membawa nyala ke dalam fajar.
❖
❖
Akhir Buku Tujuh
Candi di Atas Bukit
Kisah berlanjut dalam Buku Delapan
Nama di Atas Air
BUKU I · Daratan Sebelum Laut
BUKU II · Banjir Tujuh Generasi
BUKU III · Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU IV · Bukit yang Lebih Tua dari Waktu
BUKU V · Tulang-Tulang Nenek Moyang
BUKU VI · Huruf di Atas Batu
BUKU VII · Candi di Atas Bukit
BUKU VIII · Nama di Atas Air
BUKU IX · Nyala di Atas Besi
BUKU X · Cahaya di Atas Dasar