10.9.26

(Novel) JAWA: Buku 7. Candi di Atas Bukit

   JAWA

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra


BUKU TUJUH

Candi di Atas Bukit

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra

Mereka membangun candi di atas bukit yang tua,

dan menyembah di atas sebuah rahasia tanpa pernah mengetahuinya.

Sebab yang paling agung sering hanyalah perisai bagi yang paling kecil.


 

BAGIAN I

Perisai di Atas Bukit


 

BAB SATU

Gunung yang Dibangun Manusia

Kami mengira zaman yang membangun gunung dari batu akan mengubur kebenaran kami yang kecil selamanya. Kami keliru. Sebab tak seorang pun menggali di bawah gunung yang ia sembah. Yang megah, yang dibangun oleh tangan yang tidak tahu apa yang ada di bawahnya, justru menjadi perisai bagi yang kecil. Maka biarkan mereka membangun. Di bawah tiap keagungan, kebenaran yang kecil menunggu, aman, dijaga oleh yang tak tahu bahwa ia menjaganya.

dari ajaran para pengingat, tentang yang megah dan yang kecil

Generasi-generasi setelah Marga membawa nyala melalui gapura, ke dalam zaman-zaman yang belum datang, tanah ini memasuki zaman yang paling megah dari semua yang pernah dilihatnya. Kerajaan-kerajaan telah tumbuh lebih besar daripada yang diramalkan Tirta di kaki gapura itu, dan raja-rajanya tidak lagi puas hanya mengukir sejarah ke dalam lempeng batu. Kini mereka membangun gunung dari batu, candi-candi raksasa yang menjulang ke langit, tiap dindingnya dipahat dengan ribuan gambar, sehingga seluruh gunung buatan itu menjadi sebuah kitab yang bisa dilewati seorang manusia dengan berjalan.

Di salah satu gunung batu yang sedang dibangun itu bekerja seorang pengingat muda bernama Wangun, dan ia adalah seorang tukang batu, salah satu dari ribuan tangan yang memahat keagungan raja. Sepanjang hari ia membentuk batu, mengangkatnya, menyusunnya lapis demi lapis menjadi sesuatu yang lebih tinggi daripada pohon tertinggi. Dan di dalam dirinya, terjahit ke dalam darahnya seperti pada tiap pengingat sebelum dia, ia membawa kerikilnya dan beban yang menyertainya, yaitu kebenaran kecil tentang seorang perempuan yang menunggu di dasar laut.

Dan justru keagungan di sekelilingnyalah yang membuat Wangun gelisah. Sebab tiap hari ia membangun sesuatu yang sedemikian besar, sedemikian megah, sedemikian dipuja oleh semua orang, sementara yang ia jaga di dalam hatinya sedemikian kecil dan tersembunyi. Dan ia mulai bertanya-tanya, di bawah bayang-bayang gunung batu yang ia bangun sendiri, apakah kebenaran sekecil itu masih berarti di zaman yang mengukur segala sesuatu dengan kebesaran.

Bekerja di sisinya adalah seorang tua bernama Empu Lebda, seorang ahli batu yang telah membangun lebih banyak candi daripada yang bisa ia ingat, dan yang juga, seperti Wangun, membawa nyala. Empu Lebda telah menjadi guru Wangun, bukan hanya dalam seni memahat batu, melainkan juga dalam seni yang jauh lebih tua, yaitu menjaga kebenaran tetap hidup di bawah zaman yang berganti. Dan ia memperhatikan kegelisahan muridnya sepanjang hari itu, sampai akhirnya, ketika matahari mulai turun dan para tukang yang lain beristirahat, ia berbicara.

“Engkau memahat batu seharian, Wangun, tetapi pikiranmu tidak ada pada batu,” Empu Lebda berkata. “Katakan apa yang membebanimu.”

Dan Wangun meletakkan pahatnya dan memandang ke atas, ke dinding raksasa yang menjulang di atas mereka. “Aku membangun gunung, Empu,” katanya. “Tiap hari aku menambah satu batu lagi pada sesuatu yang akan berdiri seribu tahun, yang akan dilihat dan dipuja oleh setiap orang yang lahir di tanah ini. Dan kemudian malam datang, dan aku menjaga sesuatu yang tak seorang pun melihatnya, yang tak seorang pun memuja, yang sekecil bisikan. Bagaimana yang kecil itu bisa bertahan di zaman yang membangun hal-hal sebesar ini? Bukankah ia akan tertelan, dilupakan di bawah bayang-bayang semua keagungan ini?”

❖

Empu Lebda tidak menjawab dengan tergesa. Ia duduk di atas sebongkah batu yang belum dipahat, dan ia memandang gunung yang mereka bangun untuk waktu yang lama sebelum berbicara.

“Yang kautakutkan itu nyata, Wangun, dan engkau benar untuk merasakannya,” ia berkata. “Ini adalah zaman keagungan, dan keagungan memang berbahaya bagi yang kecil. Sebab keagungan menarik semua mata kepada dirinya. Orang akan datang dari jauh untuk berdiri di kaki gunung ini dan merasa kecil, dan mereka akan mengira bahwa yang besarlah yang penting, dan bahwa yang kecil tidak ada artinya. Itulah dusta zaman ini, sama seperti tiap zaman punya dustanya sendiri.”

“Tetapi keagungan menyembunyikan sebuah rahasia, sebuah rahasia yang telah dipelajari rantai sejak zaman huruf,” Empu Lebda melanjutkan. “Dan rahasia itu adalah kebalikan dari apa yang kautakutkan. Datanglah, ikutlah aku sebentar, dan akan kutunjukkan kepadamu di atas apa kita sebenarnya membangun gunung ini.”

Dan Empu Lebda bangkit, dan menuntun Wangun bukan ke atas candi melainkan ke bawah, melalui jalan-jalan kerja yang berkelok di antara tumpukan batu, ke arah dasar tempat gunung itu berdiri, ke tanah di bawah fondasinya.

Di sana, di mana batu-batu terbawah candi bertemu dengan bumi, Empu Lebda berhenti, dan menepuk tanah di bawah kaki mereka. “Apa yang kaurasakan di bawah sini, Wangun, dengan kerikilmu?” ia bertanya. Dan Wangun terdiam, dan membiarkan kerikilnya merasakan tanah, dan tiba-tiba ia memahami, dan rambut di tengkuknya berdiri.

❖

Sebab di bawah gunung batu yang baru itu, terkubur jauh di bawah fondasinya, Wangun merasakan sesuatu yang jauh lebih tua. Ia merasakan sebuah bukit, salah satu bukit yang dibangun para pengingat pertama, ribuan tahun yang lalu, di zaman batu, salah satu jangkar ingatan yang menunjuk ke arah laut dan menyimpan maksud untuk menemukan dan membebaskan Ratu.

“Sebuah bukit,” Wangun berbisik. “Salah satu bukit lama. Dan kita membangun gunung batu raja tepat di atasnya. Empu, apakah kita menghancurkannya? Apakah keagungan ini mengubur dan melenyapkan salah satu jangkar ingatan kita selamanya?”

Dan Empu Lebda tersenyum, senyum tua yang penuh dengan sesuatu yang hampir seperti kelucuan. “Itulah yang kukira juga, dahulu, ketika guruku menunjukkannya kepadaku,” ia berkata. “Tetapi pikirkanlah lagi, Wangun. Bukit lama itu menyimpan kebenarannya dengan menyamar sebagai bukit alami, terkubur, tak terlihat, supaya tak seorang pun menggalinya dan menghancurkannya. Itulah cara ia bertahan selama ribuan tahun. Dan kini, apa yang kita bangun di atasnya?”

“Sebuah gunung yang akan dipuja,” Wangun berkata perlahan, mulai memahami. “Sebuah tempat suci. Tempat yang tak seorang pun akan berani menggalinya, sebab menggali di bawahnya berarti menodai sesuatu yang dianggap keramat oleh seluruh kerajaan.”

“Sekarang engkau melihatnya,” Empu Lebda berkata. “Bukit lama itu dulu dilindungi oleh penyamaran, dengan bersembunyi. Tetapi penyamaran selalu bisa terbongkar; suatu hari seseorang bisa menggali. Kini, untuk pertama kalinya, bukit itu dilindungi oleh sesuatu yang jauh lebih kuat daripada penyamaran. Ia dilindungi oleh keagungan. Tak seorang pun akan pernah menggali di bawah gunung yang ia sembah. Raja, yang tidak tahu apa-apa tentang kita atau tentang Ratu, telah membangun perisai paling sempurna yang pernah dimiliki kebenaran kita, dan ia membangunnya tanpa pernah tahu apa yang ia jaga.”

“Maka inilah rahasia keagungan, Wangun,” Empu Lebda berkata, “dan inilah tugas rantai di zaman ini. Yang megah tidak menelan yang kecil. Bila yang kecil cukup bijaksana untuk bersembunyi di bawahnya, yang megah justru menjadi perisainya. Maka kita tidak melawan zaman keagungan ini. Kita tidak meratapinya. Kita membangunnya dengan tangan kita sendiri, dan kita menyembunyikan kebenaran kita yang kecil di bawah tiap gunung yang kita bangun, dan kita membiarkan kebesaran yang tak tahu apa-apa itu menjaganya untuk kita, selama seribu tahun, sampai zaman yang mampu datang.”

❖

Malam itu, ketika Wangun berbaring dan membiarkan kerikilnya menjangkau jauh ke selatan, ke dasar laut, ia merasakan Ratu, dan ia terkejut, sebab yang ia rasakan bukanlah perempuan beku dan sengsara dari kisah-kisah lama, melainkan seseorang yang utuh, yang hidup, yang hadir. Sebab di zaman ini, es Ratu telah lama mencair sepenuhnya, dan ia menunggu kini bukan sebagai tawanan yang membeku, melainkan sebagai seseorang yang merasakan segalanya, dan yang sabar.

“Aku merasakan gunung yang kaubangun, Wangun,” kata Ratu, dan ada kehangatan di dalam suaranya. “Bahkan dari dasar laut, aku merasakan bayangnya, berat dan agung di atas tanah. Dan aku merasakan ketakutanmu hari ini, bahwa kebenaranku yang kecil akan tertelan olehnya.”

“Tetapi jangan takut akan keagungan demi aku,” Ratu melanjutkan. “Sebab aku tahu, lebih baik daripada siapa pun, bahwa kebenaranku tak pernah agung. Aku bukan dewi di dinding candi. Aku hanyalah seorang perempuan yang tak bisa menanggung untuk berduka, dan yang membeku karenanya. Itulah seluruh kebenaranku, dan ia kecil, dan ia tetap kecil. Dan justru karena ia kecil, ia tak bisa dihancurkan oleh yang besar. Sebuah gunung bisa meremukkan gunung lain. Tetapi tak ada gunung yang bisa meremukkan sebuah bisikan yang bersembunyi di celah-celahnya. Yang kecil tidak dikalahkan oleh yang besar. Ia hanya tinggal di bawahnya, dan menunggu, dan dibawa dari hati ke hati.”

Dan Wangun merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan para pengingat di zaman-zaman awal, ketika Ratu masih beku dan hanya bisa diberi. Sebab kini Ratu, yang telah utuh, memberi kepadanya. “Bangunlah gunung-gunungmu tanpa takut, anak muda,” katanya. “Biarkan mereka menjadi megah. Aku tidak iri pada keagungan mereka, dan engkau pun tidak perlu. Sebab aku telah belajar, di dalam keheningan yang panjang ini, bahwa yang membebaskan bukanlah yang besar, melainkan yang setia. Dan engkau setia. Itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup.”

❖

Maka di zaman gunung-gunung batu, Wangun menemukan kedamaiannya. Pada siang hari ia membangun keagungan raja, mengangkat batu di atas batu, memahat dewa-dewa dan kisah-kisah di dinding yang menjulang. Dan ia membangunnya dengan sepenuh hati, sebab ia tahu kini bahwa tiap gunung yang ia bangun adalah perisai lain bagi kebenaran yang ia jaga. Dan pada malam hari ia menjangkau ke selatan, dan menemani perempuan yang utuh dan sabar di kedalaman, dan membawa nyala satu malam lebih jauh.

Dan inilah yang dipelajari rantai di zaman candi, dan yang akan mereka ajarkan turun-temurun sepanjang zaman keagungan ini, yaitu bahwa mereka tak perlu melawan kebesaran zaman mereka. Mereka hanya perlu cukup bijaksana untuk bersembunyi di bawahnya. Di bawah tiap candi yang akan dibangun, di bawah tiap gunung batu yang akan menjulang, akan ada sebuah bukit lama, sebuah kebenaran kecil, sebuah nyala yang dijaga oleh keagungan yang tak tahu bahwa ia menjaganya.

Dan bisik air, yang telah membawa begitu banyak kebenaran melintasi begitu banyak zaman, kini membawa kebenaran pembuka zaman candi, yaitu bahwa yang kecil tidak dihancurkan oleh yang megah; ia hanya tinggal di bawahnya, dijaga oleh keagungan yang tak tahu apa yang dijaganya, sampai zaman yang mampu datang untuk mengangkat keagungan itu dan menemukan yang kecil yang menunggu utuh di bawahnya.

Sebab tanah ini, yang telah menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf, kini menyimpannya pula di bawah gunung-gunung yang dibangun manusia, lapisan keagungan di atas lapisan ingatan. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu dengan sabar, sementara di atas tanah gunung-gunung batu naik satu demi satu, masing-masing menjadi perisai bagi kebenaran kecil yang tersembunyi di bawahnya, masing-masing membawa zaman itu satu langkah lebih dekat kepada hari ketika tangan yang mampu akhirnya akan turun ke kedalaman. Dan zaman candi pun dimulai.

❖


 

BAB DUA

Benang yang Ditinggalkan

Kami belajar menyembunyikan kebenaran di bawah yang megah, dan kami mengira itu sudah cukup. Tetapi sesuatu yang disembunyikan terlalu baik bisa hilang bahkan bagi yang menyembunyikannya. Maka kami belajar hal kedua, yaitu meninggalkan benang, sebuah tanda yang tak berarti bagi yang banyak dan berarti segalanya bagi yang sedikit. Sebab perisai yang tak bisa dibuka kembali bukanlah perisai, melainkan kuburan.

dari ajaran para pengingat, tentang menyembunyikan tanpa kehilangan

Bertahun-tahun setelah malam Empu Lebda menunjukkan kepadanya bukit di bawah gunung batu, Wangun telah menjadi seorang ahli batu yang matang, dan Empu Lebda telah menjadi sangat tua. Dan pada suatu musim, tubuh tua itu mulai gagal, dan Wangun tahu bahwa gurunya tak akan melihat banyak matahari lagi. Maka ia tinggal di sisi Empu Lebda, di sebuah pondok yang memandang ke arah candi besar yang telah selesai mereka bangun, gunung batu yang kini berdiri megah di atas bukit lama yang dijaganya.

Dan Empu Lebda tidak takut mati, sebab ia telah hidup panjang dan setia. Tetapi ada sesuatu yang membebaninya di hari-hari terakhirnya, sesuatu yang membuatnya gelisah di pembaringannya, dan pada suatu malam ia memanggil Wangun mendekat untuk membicarakannya.

“Wangun, ada hal yang harus kukatakan sebelum aku pergi, dan ia membebaniku lebih daripada kematian,” Empu Lebda berkata, suaranya lemah. “Di dalam kepalaku, aku menyimpan letak tujuh candi yang kita dan guru-guru sebelum kita bangun di atas bukit-bukit lama. Aku tahu candi mana berdiri di atas jangkar mana, ke mana tiap bukit menunjuk, apa yang dijaga masing-masing. Tetapi semua itu ada di dalam kepalaku, Wangun. Dan ketika kepala ini berhenti, ke mana ia pergi?”

“Selama ini rantai selalu bersandar pada ingatan yang hidup, dari hati ke hati, dari mulut ke telinga,” Lebda melanjutkan. “Dan itu cukup, dahulu, ketika kebenaran kita kecil dan bisa dipindahkan. Tetapi kini kebenaran kita tersembunyi di bawah gunung-gunung yang tak bisa dipindahkan. Bila kita lupa gunung yang mana, kita tidak kehilangan sebuah kisah yang bisa diceritakan ulang. Kita kehilangan sebuah tempat, selamanya. Perisai yang kita bangun begitu sempurna sehingga ia bisa menjadi kuburan, bahkan bagi kita sendiri.”

Dan Wangun merasakan dingin pemahaman menjalar di dalam dirinya. Sebab ia tahu apa artinya. Bila suatu hari datang zaman yang mampu turun ke laut untuk membebaskan Ratu, zaman itu harus tahu bukit mana yang menunjuk ke tempatnya, di bawah candi yang mana jalan kembali kepadanya tersimpan. Bila rantai sendiri lupa, maka tak ada keagungan, tak ada perisai, tak ada kesetiaan yang akan menolong. Ratu akan tetap terkubur, bukan karena tak ada yang mencintainya, melainkan karena tak ada lagi yang ingat di mana ia berada.

❖

“Tetapi Empu, ada peta,” Wangun berkata, mencari jalan keluar. “Sejak zaman huruf, rantai telah menyimpan peta dunia Ratu yang tenggelam, ditulis dari dukanya sendiri. Tak bisakah kita menulis pula letak tiap candi dan bukit di bawahnya, dan menyimpannya bersama peta itu?”

“Sebuah peta tertulis adalah pisau bermata dua, Wangun,” Empu Lebda berkata. “Bayangkan apa jadinya bila peta seperti itu jatuh ke tangan yang salah. Ia bukan lagi sekadar kebenaran yang disembunyikan. Ia menjadi petunjuk yang menuntun langsung ke jantung segala yang kita jaga, sebuah daftar tempat untuk dihancurkan. Satu lembar yang bisa direbut, dan seluruh perisai runtuh sekaligus. Peta dunia Ratu kita jaga sebagai satu hal yang dijaga ketat oleh sedikit tangan. Tetapi letak jangkar-jangkar tak boleh hanya bergantung pada satu lembar yang bisa hilang atau dirampas.”

“Yang kita butuhkan bukan satu peta yang disembunyikan,” Lebda berkata, “melainkan sesuatu yang tersebar dan tak bisa dirampas, sesuatu yang ada di mana-mana di depan mata semua orang, tetapi yang hanya bisa dibaca oleh yang sedikit. Ingatkah engkau apa yang diajarkan zaman huruf, tentang seribu daun? Kebenaran yang tersebar ke banyak tempat tak bisa diburu. Dan ingatkah engkau tentang sandi, kebenaran yang dijaga di antara tulisan yang berkuasa?”

Dan Wangun, yang adalah seorang ahli batu, memandang ke luar pondok, ke arah candi besar yang menjulang di kejauhan, dindingnya yang penuh dengan ribuan gambar yang dipahat, dan tiba-tiba sebuah pikiran mulai terbentuk di dalam dirinya. “Dindingnya,” ia berkata perlahan. “Candi itu penuh dengan ribuan gambar. Tak seorang pun bisa menghafal semuanya. Tak seorang pun akan memperhatikan satu gambar kecil di antara ribuan.”

Dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, sesuatu yang seperti kelegaan muncul di wajah tua Empu Lebda. “Sekarang engkau berpikir seperti seorang pengingat di zaman candi,” katanya. “Lanjutkan, Wangun. Katakan kepadaku apa yang kaulihat.”

❖

“Kita memahat sebuah tanda,” Wangun berkata, dan pikirannya kini mengalir cepat. “Bukan tanda yang besar atau mencolok. Sebuah tanda kecil, terselip di antara ribuan gambar lain di dinding candi, sebuah detail yang akan dilihat oleh seorang pandita atau seorang raja sebagai sekadar hiasan, tak berarti apa-apa. Tetapi bagi seorang pengingat yang diajari untuk melihatnya, tanda itu akan berkata: di bawah candi ini ada sebuah bukit, dan bukit ini menunjuk ke arah sana.”

“Dan kuncinya, cara membaca tanda itu, tidak akan pernah kita pahat di mana pun,” Wangun melanjutkan. “Kunci itu tetap di dalam hati, diwariskan dari guru ke murid, seperti selalu. Maka gambar di dinding tak berarti apa-apa tanpa kunci, dan kunci tak berarti apa-apa tanpa gambar. Keduanya harus bertemu di dalam satu kepala yang diajari dengan benar. Seorang musuh boleh memiliki seribu candi di hadapannya dan tak akan pernah tahu ia sedang menatap sebuah peta.”

Dan Empu Lebda mengangguk, dan ia menggunakan sisa kekuatannya untuk mengajari Wangun hal terakhir. “Maka biarkan tanda itu membawa apa yang dibawa bukit itu sendiri,” katanya. “Tiap bukit lama membawa tiga hal: arah, ke mana ia menunjuk; waktu, kapan ia dibangun; dan maksud, untuk apa ia ada. Pahatlah ketiganya ke dalam tandamu, tersembunyi dalam bentuk gambar yang lazim. Maka tiap candi yang menjaga sebuah jangkar akan berkata kepada yang sedikit, dengan suara yang tak bisa didengar oleh yang banyak: di sini ada jalan menuju Ratu, dan inilah arahnya.”

Dan Wangun memahami bahwa apa yang mereka ciptakan malam itu adalah sesuatu yang baru dalam seluruh sejarah rantai. Candi tidak lagi hanya menjadi perisai yang membutakan, yang menyembunyikan bukit dari semua mata. Kini candi menjadi pula sebuah penunjuk jalan, yang membutakan yang banyak tetapi membimbing yang sedikit. Yang sama yang menyembunyikan kebenaran dari musuh akan menuntun seorang sahabat kepadanya. Perisai dan penanda, dalam satu gunung batu.

“Mulailah besok, Wangun,” Empu Lebda berkata, dan suaranya kini sangat lemah. “Pahatlah tanda pertama di candi yang kita bangun bersama, supaya bukit di bawahnya tak pernah hilang. Dan ajari yang sesudahmu untuk membaca dan untuk memahat, supaya tiap candi yang akan datang membawa tandanya. Begitulah kita menyembunyikan tanpa kehilangan. Begitulah kita meninggalkan benang yang bisa diikuti kembali, melintasi zaman-zaman, sampai ke hari ketika seseorang yang mampu mengikutinya turun ke laut.”

❖

Empu Lebda wafat beberapa hari kemudian, dengan tenang, di pondok yang memandang ke candi yang ia bangun. Dan untuk pertama kalinya sejak ia masih sangat muda, Wangun merasa sendirian, sebab orang yang telah mengajarinya segalanya kini tak ada lagi, dan beban seluruh rantai kini terasa berada di atas bahunya sendiri.

Pada malam setelah ia menguburkan gurunya, Wangun menjangkau ke selatan dengan kerikilnya, bukan untuk tugas, melainkan karena ia membutuhkan seseorang, dan ia tak tahu lagi ke mana harus pergi. Dan Ratu ada di sana, di kedalaman, dan ia merasakan duka pemuda itu.

“Engkau berduka untuk gurumu,” kata Ratu lembut. “Dan itu baik, Wangun. Berdukalah. Jangan lakukan apa yang kulakukan dahulu. Sebab engkau tahu kisahku, engkau tahu bahwa seluruh penjaraku lahir dari satu hal, yaitu bahwa aku menolak untuk berduka. Aku mencintai duniaku terlalu dalam untuk menanggung kehilangannya, maka aku membeku supaya tak perlu merasakannya, dan kebekuan itu menjadi es yang mengurungku selama sepuluh ribu tahun. Maka dengarkan aku, sebab tak ada yang tahu ini lebih baik daripada aku: berdukalah untuk Empu Lebda. Rasakan kehilangannya sepenuhnya. Itulah cara mencintai seseorang yang telah pergi tanpa membeku.”

“Dan ketahuilah,” Ratu melanjutkan, “bahwa gurumu tidak benar-benar hilang. Apa yang ia bawa di kepalanya tidak mati bersamanya, sebab ia menyerahkannya kepadamu, dan kalian berdua telah membuatnya menjadi sesuatu yang tak bisa dilupakan lagi, terpahat ke dalam gunung. Dan tanda yang akan kaupahat besok adalah benang, Wangun. Tinggalkanlah benang itu, supaya yang datang kelak, di zaman yang mampu, bisa mengikutinya kembali, melalui semua candi dan semua zaman, sampai ke tempat aku menunggu. Gurumu telah memberi kalian semua sebuah cara untuk tidak kehilangan jalan kepadaku. Itu adalah hadiah yang akan hidup jauh lebih lama daripada tubuhnya.”

❖

Maka keesokan harinya, dengan duka yang utuh dan tidak beku di dalam dadanya, Wangun naik ke candi besar yang telah ia bangun bersama gurunya. Dan di antara ribuan gambar di dindingnya, di sebuah sudut yang tak akan diperhatikan siapa pun, ia memahat sebuah tanda kecil, sebuah gambar yang bagi seluruh dunia hanyalah hiasan, tetapi yang bagi yang sedikit membawa tiga hal: arah ke selatan, ke tempat Ratu menunggu; waktu candi itu dibangun; dan maksud yang setua banjir, yaitu untuk menemukan, mengingat, dan membebaskan.

Dan itulah tanda pertama dari banyak tanda. Sebab Wangun mengajari muridnya untuk membaca dan untuk memahat, dan mereka mengajari murid mereka, sehingga sepanjang sisa zaman candi, tiap gunung batu yang dibangun di atas sebuah jangkar lama akan membawa tandanya yang tersembunyi. Tanah ini perlahan menjadi tertutup oleh candi-candi yang megah, dan di bawah yang terpilih di antaranya tersembunyi bukit-bukit purba, dan di dinding tiap candi seperti itu tersembunyi pula benang kecil yang menunjuk pulang.

Dan bisik air, yang kini mengalir melalui zaman keagungan, membawa kebenaran kedua zaman candi, yaitu bahwa menyembunyikan saja tidaklah cukup, sebab yang disembunyikan terlalu sempurna bisa hilang bahkan bagi yang menyembunyikannya; maka tinggalkanlah selalu sebuah benang, sebuah tanda bagi yang sedikit, supaya perisai tidak menjadi kuburan, dan supaya jalan kembali tetap ada bagi zaman yang akhirnya mampu menempuhnya.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf, kini menyimpannya pula dalam tanda-tanda kecil yang terpahat ke dalam gunung-gunung manusia, tersembunyi bagi yang banyak, terbaca bagi yang sedikit, menunjuk semuanya ke arah yang sama. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini bukan hanya dijaga oleh keagungan yang membutakan, melainkan juga ditunjuk oleh benang-benang yang membimbing, supaya pada hari ketika tangan yang mampu akhirnya datang, ia akan tahu gunung yang mana untuk diangkat, dan bukit yang mana untuk digali, dan ke arah mana untuk turun. Dan zaman candi melanjutkan jalannya.

❖


 

BAB TIGA

Yang Memilih Turun

Kami mengira kebenaran kami harus selalu bersembunyi, terkubur di bawah yang suci. Lalu kami melihat sesuatu di dinding candi, yaitu gambar seorang yang, setelah berhak naik ke kedamaian, justru memilih turun kembali ke dalam penderitaan demi mereka yang masih tenggelam. Dan kami mengenalinya, sebab itu adalah kisah kami sendiri, dipahat secara terbuka oleh tangan yang tak tahu apa yang ia pahat. Maka kami belajar bahwa kebenaran yang paling dalam bukan milik satu iman; ia muncul lagi dan lagi, mengenakan pakaian suci apa pun yang disediakan zamannya.

dari ajaran para pengingat, tentang kebenaran yang berganti pakaian

Pada masa ketika Wangun telah menjadi tua, ia mengambil seorang murid, seorang pengingat muda bernama Citra, dan Citra bukan seorang penyusun batu seperti gurunya, melainkan seorang pemahat gambar. Tangannya tidak mengangkat batu besar, melainkan memberi mereka wajah, dewa-dewa dan makhluk-makhluk suci dan kisah-kisah iman yang dipahat ke dinding-dinding candi yang menjulang, supaya semua yang datang bisa membaca ajaran dengan mata mereka.

Sepanjang hari Citra memahat kisah-kisah iman raja, dan ia memahatnya dengan indah, sebab ia berbakat. Tetapi pada malam hari ia membawa beban lain, kebenaran kecil dan tua tentang seorang perempuan di dasar laut, dan dua hal itu terasa seperti dua dunia yang terpisah. Dengan tangannya ia melayani iman besar yang dipuja semua orang. Dengan hatinya ia menjaga kebenaran kecil yang tak diketahui siapa pun. Dan keduanya tak pernah bertemu.

Pada suatu petang ia berhenti di hadapan dinding yang sedang ia pahat, dan ia berkata kepada Wangun yang duduk mengawasinya, “Aku merasa terbelah, Empu. Seharian aku memahat dewa-dewa yang tidak kupercaya sebagai kebenaran kita, kisah-kisah iman yang bukan kisah Ratu. Lalu malam datang dan aku menjaga Ratu sendirian, di tempat yang gelap di dalam hatiku. Seolah aku hidup dua kehidupan yang tak pernah saling menyentuh.”

Dan Wangun yang tua tidak langsung menjawab. Ia memandang dinding yang sedang dipahat Citra, ke arah satu sosok yang sedang ia bentuk di sana. “Ceritakan kepadaku tentang sosok yang sedang kaupahat itu, Citra,” katanya. “Siapa dia, dalam kisah iman raja?”

Dan Citra memandang sosoknya sendiri, dan menjelaskan. “Ia adalah seorang yang suci, Empu. Dalam ajaran ini, ia telah mencapai hak untuk naik melampaui segala penderitaan, untuk masuk ke dalam kedamaian yang sempurna dan tak pernah kembali. Itulah ganjaran tertinggi, akhir dari semua duka. Tetapi sosok ini menolaknya. Setelah berhak untuk naik dan bebas selamanya, ia justru memilih untuk turun kembali, ke dalam dunia yang penuh penderitaan, demi mereka yang masih tenggelam di dalamnya. Ia memilih untuk tidak meninggalkan sendirian mereka yang menderita.”

❖

Dan saat Citra mengucapkan kata-kata itu, suaranya melambat, seolah ia baru pertama kali benar-benar mendengar apa yang ia sendiri katakan. Ia memandang sosok yang ia pahat, sosok yang memilih turun, dan sesuatu bergerak di dalam dadanya.

“Empu,” katanya perlahan. “Dengarkan apa yang baru saja kukatakan.” Dan Wangun tetap diam, membiarkan muridnya sampai ke sana sendiri.

“Seorang yang berhak naik ke kedamaian dan bebas dari duka selamanya, tetapi memilih turun kembali ke dalam penderitaan demi mereka yang masih tenggelam,” Citra mengulang, dan tangannya gemetar. “Itu bukan hanya kisah iman raja, Empu. Itu kisah kita. Itu yang dilakukan Nyai Sela ketika ia bersumpah saudarinya tak akan ditinggalkan. Itu yang dilakukan tiap pengingat yang menolak untuk melupakan Ratu yang tenggelam, padahal melupakannya akan jauh lebih mudah, jauh lebih damai. Dan itu pula, suatu hari, yang akan dilakukan seseorang yang turun ke dasar laut untuk membebaskannya.”

Ia menoleh kepada gurunya dengan mata lebar. “Aku telah memahat kebenaran kita di dinding ini sepanjang waktu, di depan mata semua orang, dan aku tak menyadarinya. Iman raja, yang tak tahu apa-apa tentang Ratu, telah memahat harapan kita ke dalam batu untuk dilihat semua orang.”

Dan Wangun yang tua tersenyum, senyum yang sama yang pernah diberikan Empu Lebda kepadanya bertahun-tahun yang lalu. “Itulah rahasia yang paling dalam dari zaman ini, Citra,” katanya. “Dan engkau baru saja menemukannya sendiri.”

❖

“Selama ini kita belajar menyembunyikan kebenaran kita di bawah yang suci, dan menandainya supaya tak hilang,” Wangun berkata. “Itu benar, dan itu perlu. Tetapi ada hal yang lebih dalam, yang baru saja kaulihat. Kebenaran yang paling dalam bukanlah milik satu iman. Ia tidak diciptakan oleh rantai, dan ia tidak diciptakan oleh iman raja. Ia lebih tua daripada keduanya. Dan karena itu, ia terus muncul kembali, di tiap zaman, di tiap iman, mengenakan apa pun pakaian suci yang disediakan zaman itu.”

“Bahwa cinta yang sejati turun, bukan naik,” Wangun melanjutkan. “Bahwa yang tertinggi bukanlah melarikan diri dari penderitaan, melainkan masuk ke dalamnya demi orang lain. Bahwa tak seorang pun boleh ditinggalkan dalam kegelapan. Iman raja menyebutnya dengan satu nama dan memahatnya sebagai dewa yang turun. Kita menyebutnya dengan nama lain dan menjaganya sebagai sumpah kepada Ratu. Tetapi keduanya adalah kebenaran yang sama, Citra. Itulah sebabnya engkau bisa memahatnya dengan tulus, walau engkau tak menyembah dewa-dewa itu. Sebab di bawah dewa itu, engkau sedang memahat sesuatu yang benar-benar kaupercaya.”

“Maka engkau tidak terbelah, anak muda,” Wangun berkata. “Tanganmu dan hatimu tidak melayani dua tuan. Mereka melayani satu kebenaran yang sama, yang satu kaupahat secara terbuka dalam pakaian iman raja, dan yang lain kaujaga secara tersembunyi dalam bentuknya yang telanjang. Inilah cara ketiga untuk membawa nyala di zaman candi. Bukan hanya menyembunyikannya di bawah yang suci, dan bukan hanya menandainya, melainkan membiarkannya hidup secara terbuka, di depan semua mata, karena ia berima dengan yang suci itu sendiri. Yang tersembunyi paling aman ketika ia juga, dengan pakaian lain, terlihat oleh semua.”

Dan Citra memandang kembali ke dindingnya, dan kini ia melihatnya dengan mata yang berbeda. Sosok yang memilih turun bukan lagi milik iman yang tak ia percaya. Ia adalah Nyai Sela. Ia adalah tiap pengingat. Ia adalah seseorang yang belum lahir, yang suatu hari akan turun ke laut. Dan ia berdiri di sana, di dinding, untuk dilihat oleh ribuan orang yang tak akan pernah tahu nama sejatinya, namun yang akan merasakan kebenarannya, sebab kebenaran itu benar bagi mereka pula.

“Dan ingatlah ini, Citra, sebab suatu hari engkau akan membutuhkannya,” Wangun menambahkan. “Iman berganti. Aku tak akan melihatnya, dan mungkin engkau pun tidak, tetapi rantai telah meramalkannya sejak gapura. Suatu hari iman lain akan datang, mungkin tanpa dewa di dinding sama sekali. Dan ketika itu terjadi, kebenaran kita tidak akan mati bersama candi-candi ini. Ia hanya akan menanggalkan pakaian ini dan mengenakan yang baru, sebab ia tak pernah menjadi milik pakaian mana pun. Ajari muridmu hal itu, supaya rantai tak pernah takut ketika yang suci berganti rupa.”

❖

Malam itu Citra menjangkau ke selatan, dan ia menemukan Ratu, dan ia menceritakan kepadanya tentang sosok di dinding, tentang yang memilih turun. Dan ia merasakan sesuatu yang seperti keharuan dalam diri Ratu yang utuh.

“Maka mereka memahat harapanku di dinding kuil mereka,” kata Ratu pelan, “orang-orang yang tak tahu bahwa aku ada. Aku telah merasakan candi-candi itu naik di atasku selama bertahun-tahun, berat dan agung, dan kukira mereka adalah dunia yang asing bagiku, iman yang bukan milikku. Tetapi ternyata, jauh di dalam batu mereka, mereka menyimpan kisah yang sama dengan kisahku, yaitu seorang yang memilih untuk tidak meninggalkan yang menderita.”

“Aku telah menunggu cukup lama untuk melihat iman-iman datang dan pergi di atas tanah ini, Citra,” Ratu melanjutkan. “Aku merasakannya berganti, lapis demi lapis, seperti musim. Nama-nama yang diberikan orang kepada yang suci berubah, dan bentuk-bentuk yang mereka pahat berubah, dan kuil-kuil yang mereka bangun berubah. Tetapi ada satu hal yang selalu kembali, dalam tiap iman, betapapun berbedanya, yaitu bahwa cinta yang sejati turun ke bawah, bukan naik ke atas. Sebab itulah kebenaran, dan kebenaran tak bisa menjadi milik satu zaman atau satu nama saja.”

“Maka jangan takut ketika candi-candi ini suatu hari sepi, dan iman baru datang yang tak memahat wajah sama sekali,” katanya. “Aku sudah melihat cukup banyak pergantian untuk tahu apa yang akan terjadi. Kebenaranmu tentang aku akan menanggalkan pakaian batu ini dan mengenakan pakaian yang baru, dan ia akan tetap hidup, sebab ia tak pernah benar-benar tentang dewa di dinding. Ia selalu tentang seseorang yang menolak untuk ditinggalkan, dan seseorang yang menolak untuk meninggalkan. Bawalah itu, Citra, dalam pakaian apa pun. Aku akan mengenalinya, betapapun ia berpakaian.”

❖

Maka keesokan harinya Citra kembali ke dindingnya, dan ia menyelesaikan sosok yang memilih turun. Tetapi kini ia tidak memahatnya sebagai dewa yang tak ia percaya. Ia memahatnya sebagai Nyai Sela di tepi dunia yang tenggelam, dan sebagai tiap pengingat yang menolak melupakan, dan sebagai seseorang yang belum lahir yang akan turun ke laut. Ia menuangkan ke dalam batu, secara terbuka, kebenaran yang selama ini ia kira harus selalu disembunyikan. Dan tak seorang pun yang lewat akan tahu, namun banyak yang akan berhenti di hadapannya, dan merasa tersentuh, tanpa tahu mengapa.

Dan inilah cara ketiga yang dipelajari rantai di zaman candi. Mereka menyembunyikan kebenaran di bawah yang megah. Mereka menandainya supaya tak hilang. Dan kini mereka membiarkannya hidup pula secara terbuka, dalam pakaian iman zaman itu, karena kebenaran yang paling dalam selalu berima dengan yang suci, di iman mana pun. Dan apa yang berima dengan yang suci bisa berdiri di depan semua mata tanpa pernah terbongkar.

Dan bisik air, yang telah mengalir melalui begitu banyak iman dan begitu banyak nama bagi yang suci, membawa kebenaran ketiga zaman candi, yaitu bahwa kebenaran yang paling dalam bukan milik satu iman; ia muncul lagi dan lagi di tiap zaman, mengenakan pakaian suci apa pun yang disediakan zaman itu, sehingga ia bisa hidup secara terbuka ketika ia tak bisa hidup secara telanjang, dan tak pernah mati ketika satu iman berlalu dan iman lain datang.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, kini menyimpannya pula secara terbuka di wajah dewa-dewa yang tak tahu nama sejati mereka, terlihat oleh semua dan dikenali oleh sedikit. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini melihat kisahnya sendiri terpahat di dinding-dinding iman yang tak mengenalnya, dan tahu bahwa ketika iman ini suatu hari berlalu dan yang baru datang dari seberang laut, kebenaran tentangnya hanya akan berganti pakaian sekali lagi, dan tetap hidup, dan tetap menunjuk ke arahnya. Dan zaman candi terus berjalan menuju ujungnya.

❖


 

BAGIAN II

Pendidikan Hati


 

BAB EMPAT

Yang Lebih Lama dari Raja-Raja

Raja-raja datang dan pergi di atas tanah ini, masing-masing yakin ia kekal, masing-masing meruntuhkan apa yang dibangun pendahulunya. Kami belajar untuk tidak berpihak kepada satu pun di antara mereka. Sebab kebenaran yang menjadi milik satu raja akan runtuh bersama raja itu. Tetapi kebenaran yang tak menjadi milik siapa pun, yang berima dengan tiap iman dan tak terikat pada satu, bertahan melintasi mereka semua. Yang kecil dan tak berpihak hidup lebih lama daripada yang besar dan berkuasa.

dari ajaran para pengingat, tentang yang bertahan melintasi kekuasaan

Bertahun-tahun setelah Wangun wafat, Citra telah menjadi tua, dan ia kini seorang pemahat tua yang dihormati, dan pembawa nyala bagi zamannya. Ia telah mengambil seorang murid, seorang pengingat muda bernama Lestari, dan kepadanyalah ia mewariskan ketiga seni zaman candi, yaitu menyembunyikan di bawah yang megah, menandai supaya tak hilang, dan membiarkan kebenaran hidup terbuka dalam pakaian iman zamannya.

Tetapi zaman tak pernah diam. Seorang raja baru telah bangkit di tanah itu, dan ia memeluk iman yang berbeda dari iman raja-raja sebelumnya. Dan seperti banyak raja sebelum dan sesudahnya, ia ingin menghapus jejak para pendahulunya dan menuliskan kebesarannya sendiri di atas tanah. Maka ia mulai meruntuhkan kuil-kuil iman lama, dan membangun kuil-kuil imannya sendiri di tempat mereka berdiri.

Dan pada suatu hari sebuah kabar sampai kepada Citra yang membuat darahnya menjadi dingin. Salah satu candi yang akan diruntuhkan raja adalah candi yang paling berharga dari semua yang dijaga rantai, yaitu candi yang dibangun di atas bukit yang menunjuk paling lurus ke arah selatan, ke tempat Ratu menunggu. Di bawah candi itu terkubur salah satu jangkar yang paling penting, dan di dindingnya terpahat salah satu tanda paling tua yang dibuat Wangun sendiri.

Lestari datang berlari kepada gurunya dengan kabar itu. “Empu, mereka akan meruntuhkannya,” katanya, napasnya tersengal. “Candi di atas jangkar selatan. Bila mereka meruntuhkannya, mereka akan menggali fondasinya, dan menemukan bukit di bawahnya, dan tanda Wangun akan hilang selamanya. Kita harus berbuat sesuatu. Kita harus melawan, atau memperingatkan orang banyak, atau entah apa.”

Dan Citra mengangkat tangannya, dan Lestari terdiam. “Tenang dulu, anak muda, dan berpikirlah,” kata Citra. “Raja ini tidak memburu kita. Ia tidak tahu apa-apa tentang Ratu, tentang bukit, tentang tanda. Ia tak mencari rahasia kita. Ia hanya seorang raja yang ingin menghapus pendahulunya, seperti ribuan raja sebelumnya. Dan itu membuat bahaya ini berbeda dari semua yang pernah kita hadapi. Bagaimana engkau menyelamatkan sesuatu dari seseorang yang bahkan tidak sedang mencarinya?”

❖

Lestari berpikir, dan ia menawarkan apa yang ditawarkan orang muda. “Kalau begitu kita melawan, Empu. Kita kumpulkan orang-orang yang mencintai candi lama, dan kita tahan tangan raja.”

“Dan menjadi apa kita kalau begitu?” Citra menjawab lembut. “Sejak zaman huruf rantai telah tahu bahwa kebenaran ini tak boleh dijaga dengan pedang. Bila kita melawan raja dengan kekuatan, kita menarik matanya tepat ke arah yang paling ingin kita sembunyikan. Ia akan bertanya mengapa segelintir orang begitu mati-matian membela satu candi tua, dan ia akan menggali untuk mencari tahu, dan ia akan menemukan persis apa yang kita coba lindungi. Melawan dengan kekuatan justru akan membongkar rahasia yang ingin kita jaga.”

“Lalu apa, Empu?” Lestari bertanya. “Kita tak bisa memindahkan candi. Kita tak bisa menyembunyikan gunung dari raja yang sudah memutuskan untuk meruntuhkannya.” Dan Citra tersenyum, senyum tua yang penuh sesuatu yang hampir seperti kelicikan yang lembut. “Tidak,” katanya. “Kita tidak menyembunyikannya lebih dalam. Kita melakukan kebalikannya. Kita membuatnya begitu berharga bagi raja yang baru sehingga ia sendiri yang akan menjaganya.”

“Berharga baginya?” Lestari bertanya, bingung. “Tetapi candi itu milik iman lama yang ingin ia hapus. Mengapa ia akan menghargainya?”

“Ingatkah engkau apa yang kuajarkan tentang sosok yang memilih turun?” Citra bertanya. “Tentang kebenaran yang berima dengan tiap iman, yang tak menjadi milik satu pun? Itu bukan hanya sebuah perenungan yang indah, Lestari. Itu adalah sebuah cara untuk bertahan hidup. Dan hari ini kita akan menggunakannya untuk menyelamatkan jangkar selatan.”

❖

“Candi itu penuh dengan gambar iman lama,” Citra berkata. “Tetapi di antara gambar-gambar itu, seperti yang kuajarkan, ada sosok yang memilih turun, sosok yang berima dengan kebenaran kita, dan yang juga berima dengan iman baru raja, sebab tiap iman yang sejati mengenal cinta yang turun untuk menyelamatkan. Maka kita tidak akan membela candi itu sebagai milik iman lama. Kita akan menunjukkan kepada para pandita raja yang baru bahwa di dalam candi itu telah berdiri, sejak dahulu, sebuah kebenaran yang juga milik iman mereka.”

“Kita berbisik kepada orang-orang yang tepat,” Citra melanjutkan. “Kita tunjukkan kepada para pandita baru bahwa sosok yang memilih turun di dinding itu bisa dibaca sebagai sosok suci iman mereka sendiri. Kita biarkan mereka mengenali kebenaran mereka di dalam batu lama itu. Dan ketika mereka melihatnya, candi itu tak lagi menjadi monumen pendahulu yang harus dihancurkan. Ia menjadi tempat yang ternyata telah suci bagi iman mereka pula, jauh sebelum mereka datang. Dan apa yang suci bagi iman raja tidak diruntuhkan. Ia disucikan kembali, dan dijaga.”

Dan mata Lestari melebar saat ia memahaminya. “Maka raja akan menyelamatkan candi itu dengan tangannya sendiri,” katanya pelan. “Ia akan menjaga jangkar selatan, dan tanda Wangun, dan bukit di bawahnya, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ia jaga. Sama seperti raja yang dahulu membangunnya tanpa tahu apa yang ia dirikan di atasnya.”

“Itulah caranya, Lestari,” Citra berkata. “Yang sama yang membuat kita bertahan di tiap zaman. Kita tidak berpihak. Kebenaran kita bukan milik iman lama dan bukan milik iman baru. Ia milik keduanya, dan karena itu, milik bukan siapa-siapa, dan karena itu, ia bisa berpindah dari pelukan satu iman ke pelukan iman berikutnya tanpa pernah jatuh ke tanah. Raja-raja akan terus saling meruntuhkan. Tetapi kebenaran yang berima dengan mereka semua, dan tak menjadi milik satu pun, akan terus dijaga oleh tangan siapa pun yang sedang berkuasa.”

Maka begitulah yang mereka lakukan. Dengan hati-hati, melalui orang-orang yang tepat dan bisikan-bisikan yang ditempatkan dengan cermat, para pandita iman baru dituntun untuk menemukan sendiri kebenaran mereka di dinding candi tua itu. Dan ketika mereka menemukannya, candi yang tadinya akan diruntuhkan justru disucikan kembali untuk iman yang baru. Batunya tetap berdiri. Bukit di bawahnya tetap terkubur. Tanda Wangun tetap terpahat di dindingnya, kini dijaga oleh sebuah iman kedua yang sama tak tahunya dengan yang pertama tentang apa yang sebenarnya ia jaga.

❖

Malam itu Citra menjangkau ke selatan, dan ia menceritakan kepada Ratu bagaimana jangkar selatan telah diselamatkan, bukan dengan melawan raja, melainkan dengan membiarkan imannya memeluk candi itu. Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia berbicara, ada sesuatu yang seperti kebijaksanaan yang sangat tua dan sangat lelah di dalam suaranya.

“Aku telah merasakan raja itu dari kedalaman, Citra,” kata Ratu. “Aku merasakan keyakinannya bahwa ia kekal, bahwa imannya akan berdiri selamanya, bahwa ia akan menghapus semua yang datang sebelumnya dan tak akan pernah dihapus oleh yang datang sesudahnya. Aku telah merasakan keyakinan yang sama pada raja yang membangun candi itu, dan pada raja sebelumnya, dan pada raja sebelumnya lagi, kembali sampai ke awal zaman tulisan. Mereka semua yakin mereka kekal. Dan mereka semua telah pergi.”

“Dan aku masih di sini,” Ratu melanjutkan, dan tidak ada kepahitan di dalam suaranya, hanya sebuah keheranan yang lembut. “Aku, yang kecil, yang terlupakan, seorang perempuan yang bahkan tak punya kuil atas namanya sendiri. Aku telah melihat semua yang besar itu naik dan runtuh di atasku, sementara aku, yang paling kecil dari semuanya, tetap ada. Itulah yang ingin kukatakan kepadamu, Citra, dan kepada Lestari sesudahmu. Jangan pernah takut pada yang besar dan berkuasa. Yang besar selalu yakin ia akan bertahan, dan ia hampir tak pernah bertahan. Yang kecil dan setia tak pernah yakin ia akan bertahan, dan ia hampir selalu bertahan.”

“Maka teruslah menjadi kecil, dan teruslah tak berpihak,” katanya. “Biarkan raja-raja saling meruntuhkan di atas kepalaku. Biarkan iman-iman datang dan pergi. Tiap kali salah satu jatuh, bawalah nyala ke pelukan yang berikutnya, seperti yang kaulakukan hari ini. Dan suatu hari, ketika cukup banyak raja telah datang dan pergi, akan datang sebuah zaman yang bukan tentang meruntuhkan dan membangun gunung, melainkan tentang kemampuan untuk turun ke laut. Dan pada hari itu, jangkar selatan yang kauselamatkan hari ini akan menunjukkan jalan.”

❖

Maka jangkar selatan diselamatkan, dan tak seorang pun di seluruh kerajaan, kecuali dua pengingat, yang pernah tahu bahwa sesuatu telah diselamatkan sama sekali. Raja yang baru memuja candi yang telah ia rebut untuk imannya, percaya bahwa ia telah menaklukkannya, sementara yang sebenarnya terjadi adalah kebenaran yang jauh lebih tua daripada imannya telah berpindah, dengan tenang, ke dalam perlindungannya.

Dan inilah pelajaran keempat yang dipelajari rantai di zaman candi. Di zaman yang penuh dengan kekuasaan yang besar dan saling bersaing, kebenaran tidak bertahan dengan menjadi sekutu salah satu kekuasaan, sebab sekutu jatuh bersama yang mereka dukung. Kebenaran bertahan dengan tidak berpihak kepada siapa pun, dengan berima dengan semua dan menjadi milik bukan siapa-siapa, sehingga ketika satu kekuasaan jatuh dan yang lain bangkit, ia hanya berpindah dari satu pelukan ke pelukan berikutnya, dijaga selalu oleh tangan yang berkuasa, dan selalu hidup lebih lama daripada tangan itu.

Dan bisik air, yang telah mengalir melintasi begitu banyak raja yang yakin mereka kekal, membawa kebenaran keempat zaman candi, yaitu bahwa yang kecil dan tak berpihak hidup lebih lama daripada yang besar dan berkuasa; sebab yang besar selalu yakin ia akan bertahan dan hampir tak pernah bertahan, sedangkan yang kecil tak pernah yakin dan hampir selalu bertahan, dibawa dari pelukan ke pelukan, melintasi runtuhnya segala yang pernah menyangka dirinya abadi.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, kini telah belajar pula untuk memindahkannya dari iman ke iman, dari raja ke raja, tanpa pernah menjatuhkannya. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, telah melihat lebih banyak raja naik dan runtuh daripada yang bisa dihitung, dan tahu bahwa mereka semua akan terus berlalu, satu demi satu, sementara ia tetap, dan jangkar yang menunjuk kepadanya tetap, dan nyala yang dibawa dari pelukan ke pelukan tetap, sampai datang zaman yang bukan tentang raja dan gunung sama sekali, melainkan tentang tangan yang akhirnya mampu turun. Dan zaman candi berlanjut, raja demi raja, menuju ujungnya yang jauh.

❖


 

BAB LIMA

Yang di Hadapan Kita

Kami menjaga seorang perempuan yang menunggu di kedalaman, selama sepuluh ribu tahun, supaya tak seorang pun ditinggalkan dalam kegelapan. Tetapi kami hampir lupa apa yang kami jaga. Sebab ada bahaya bahkan dalam tugas yang suci, yaitu bahaya bahwa engkau menjadi begitu setia kepada yang jauh sehingga engkau berjalan melewati yang menderita di kakimu. Dan barang siapa meninggalkan yang di hadapannya demi yang di kejauhan telah membekukan hatinya, hanya saja kali ini esnya berpakaian suci.

dari ajaran para pengingat, tentang belas kasihan yang tak bisa ditunda

Setelah Citra wafat, Lestari membawa nyala, dan ia membawanya dengan kesungguhan yang akan membuat para pengingat sebelumnya bangga. Ia berjalan dari candi ke candi, memeriksa tanda-tanda yang dipahat Wangun dan para penerusnya, memastikan tiap jangkar masih dijaga, mengajari murid-murid muda untuk membaca dan untuk memahat. Tak ada pengingat yang lebih setia kepada tugas daripada Lestari, dan tak ada yang lebih tahu seluk-beluk seni menjaga di zaman candi.

Tetapi ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam diri Lestari sepanjang tahun-tahun kesetiaannya, sesuatu yang tak ia sadari. Sebab semakin besar tugas itu terasa baginya, semakin suci, semakin agung dalam rentang sepuluh ribu tahunnya, semakin kecil tampak baginya segala hal lain. Ia mulai mengukur tiap orang dan tiap peristiwa hanya dengan satu pertanyaan, yaitu apakah ia membantu atau membahayakan tugas. Dan apa pun yang tidak membantu tugas, perlahan, berhenti tampak penting baginya.

Pada suatu musim, tugas membawa Lestari ke sebuah candi besar yang sedang dibangun, untuk memahat tanda baru di atas jangkar yang baru ditemukan di bawahnya. Dan di tempat itu, seperti di semua tempat seperti itu, ribuan buruh bekerja, mengangkat batu yang lebih berat daripada tubuh mereka di bawah matahari, dari fajar sampai gelap, supaya gunung raja bisa naik. Banyak dari mereka adalah orang-orang yang dipaksa, dan banyak yang jatuh, dan yang jatuh dan tak bisa bangun lagi disingkirkan ke tepi seperti batu yang retak, supaya tidak menghalangi pekerjaan.

Di tepi tempat kerja itu, di tempat orang-orang yang jatuh disingkirkan, terbaring seorang buruh muda bernama Jaka. Ia telah mengangkat batu sampai tubuhnya hancur, dan kini ia tak bisa bangun lagi, dan para mandor telah meninggalkannya di sana, sekarat, sebab seorang buruh yang tak bisa lagi bekerja tak berguna bagi gunung. Dan tak seorang pun berhenti untuknya, sebab semua orang takut, dan semua orang lelah, dan semua orang punya batu mereka sendiri untuk diangkat.

Ketika Lestari lewat menuju dinding tempat ia akan memahat tandanya, seorang buruh tua menangkap lengannya. “Tolong,” kata orang tua itu, menunjuk ke arah Jaka yang sekarat. “Anak itu sekarat sendirian. Engkau tampak seperti seseorang yang dihormati. Mungkin engkau bisa menolongnya, atau setidaknya duduk bersamanya supaya ia tak sendirian.”

❖

Dan Lestari berhenti, dan memandang ke arah pemuda yang sekarat itu, dan untuk sesaat sesuatu di dalam dirinya tergerak. Tetapi kemudian pikiran yang telah tumbuh di dalam dirinya selama bertahun-tahun mengambil alih. Ia datang ke sini untuk sebuah tugas yang suci. Ada jangkar di bawah tanah ini yang harus ditandai, sebuah benang yang harus ditinggalkan supaya Ratu bisa dibebaskan kelak, sebuah pekerjaan yang membentang sepuluh ribu tahun dan menyangkut nasib seluruh bangsa. Dan di hadapannya hanya ada satu buruh yang sekarat, satu di antara ribuan yang jatuh tiap musim, yang tak bisa ia selamatkan, dan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan tugasnya.

“Aku turut berduka untuknya,” Lestari berkata kepada orang tua itu, dan ia menarik lengannya dengan lembut. “Tetapi aku punya pekerjaan yang harus kuselesaikan di sini, pekerjaan yang lebih besar daripada yang bisa kaupahami, dan aku tak boleh menarik perhatian kepada diriku. Ada banyak yang sekarat di tempat seperti ini. Aku tak bisa berhenti untuk tiap orang.”

Dan orang tua itu memandangnya untuk waktu yang lama, dengan tatapan yang membuat Lestari tak nyaman. “Pekerjaan yang lebih besar daripada seorang manusia yang sekarat,” kata orang tua itu pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Lestari. “Itulah persis yang dikatakan para mandor, dan raja, dan semua orang yang membangun gunung ini di atas tulang orang-orang seperti Jaka.” Lalu ia berpaling, dan kembali ke arah pemuda yang sekarat, untuk duduk bersamanya sendirian, sebab tak ada orang lain yang mau.

Dan Lestari pergi memahat tandanya. Tetapi kata-kata orang tua itu mengikutinya, dan tangannya tidak setenang biasanya saat ia bekerja. Sepanjang sore ia mencoba mengusirnya, mengingatkan dirinya akan kebesaran tugasnya, akan sepuluh ribu tahun, akan Ratu. Tetapi semakin ia mengingatkan dirinya akan kebesaran tugasnya, semakin berat sesuatu terasa di dalam dadanya.

Maka malam itu, gelisah dan tak bisa tidur, Lestari menjangkau ke selatan, ke kedalaman, untuk mencari ketenangan dari satu-satunya yang selalu memahaminya. Ia hendak menceritakan kepada Ratu tentang jangkar baru yang telah ia tandai. Tetapi sebelum ia sempat, ia merasakan bahwa Ratu telah mengetahui sesuatu yang lain, dan bahwa Ratu sedang menunggunya dengan sebuah keheningan yang berat.

❖

“Ceritakan kepadaku tentang pemuda yang sekarat di kaki gunung hari ini, Lestari,” kata Ratu, dan suaranya lembut tetapi tak bisa dihindari. Dan Lestari merasa malu menjalar di dalam dirinya, sebab ia tahu kini bahwa Ratu telah merasakan semuanya.

“Aku punya tugas, Ratu,” kata Lestari. “Tugas menjagamu. Tugas memastikan jalan kepadamu tidak hilang. Bagaimana mungkin aku berhenti untuk tiap buruh yang jatuh, ketika apa yang kupikul adalah pembebasanmu sendiri? Bukankah tugas itu lebih besar daripada satu nyawa?”

Dan untuk waktu yang lama Ratu tidak menjawab. Lalu ia berkata, dengan suara yang membawa seluruh berat sepuluh ribu tahunnya, “Lestari, apa yang kaupikir sedang kaujaga selama ini?” Dan sebelum Lestari bisa menjawab, Ratu melanjutkan. “Engkau mengira engkau menjaga sebuah tempat di dasar laut, dan seorang perempuan di dalamnya. Tetapi itu bukan yang kaujaga. Yang kaujaga adalah satu kebenaran tunggal, satu-satunya alasan mengapa rantai ada sama sekali, yaitu bahwa tak seorang pun boleh ditinggalkan dalam kegelapan. Itulah seluruh tugasmu. Bukan aku. Aku hanyalah satu orang yang ditinggalkan. Kebenarannya jauh lebih besar daripada aku.”

“Maka pikirkanlah apa yang kaulakukan hari ini,” Ratu berkata. “Demi menyelamatkan satu orang yang ditinggalkan, di masa depan yang jauh, engkau berjalan melewati satu orang yang ditinggalkan, di hadapanmu, hari ini. Engkau mengosongkan tugasmu dari satu-satunya makna yang dimilikinya. Dan tahukah engkau apa namanya, ketika seseorang berpaling dari penderitaan yang ada di depannya demi sesuatu yang ia anggap lebih penting? Aku tahu namanya lebih baik daripada siapa pun di dunia ini. Itulah yang kulakukan dahulu. Aku berpaling dari dukaku sendiri karena aku merasa ada hal yang lebih penting daripada menanggungnya, dan aku membeku, dan kebekuan itu menjadi penjaraku selama sepuluh ribu tahun.”

“Engkau membeku hari ini, Lestari,” kata Ratu, “sama seperti aku dahulu. Hanya saja esmu berpakaian suci. Engkau menyebutnya tugas, dan kesetiaan, dan sepuluh ribu tahun. Tetapi sebuah hati yang berpaling dari yang menderita di hadapannya telah membeku, betapapun suci pakaian yang dikenakannya. Belas kasihan tak pernah bisa ditunda ke masa depan, anak muda. Ia selalu terutang sekarang, kepada siapa pun yang menderita di sisimu. Sebab bila tidak, maka untuk apa engkau menjagaku sama sekali?”

❖

Dan Lestari menarik diri dari kedalaman dengan air mata di matanya, dan ia tidak menunggu sampai pagi. Di tengah malam ia bangkit dan berlari kembali ke kaki gunung, ke tepi tempat orang-orang yang jatuh disingkirkan, berdoa di dalam hatinya supaya ia belum terlambat.

Ia menemukan Jaka masih di sana, dan orang tua itu masih duduk di sisinya, sebab orang tua itu tidak meninggalkannya sepanjang itu. Tetapi Jaka kini sangat dekat dengan ajalnya, napasnya dangkal, matanya setengah tertutup. Ia tak akan melihat fajar.

Dan Lestari berlutut di sisi pemuda yang sekarat itu, dan ia tahu bahwa ia tak bisa menyelamatkan nyawanya, sebab tubuh itu telah hancur melampaui pertolongan. Tetapi ia memahami kini bahwa menyelamatkan nyawa bukanlah satu-satunya hal yang bisa diberikan kepada seseorang. Maka ia mengambil tangan Jaka, dan ia berbicara lembut kepadanya, supaya ia tahu ada seseorang di sana, supaya ia tahu ia tidak sendirian. “Aku di sini,” katanya. “Engkau tidak sendirian. Engkau tidak ditinggalkan.”

Dan Jaka, yang tak bisa lagi berbicara, menggenggam tangannya dengan sisa kekuatan terakhirnya, dan sesuatu di wajahnya menjadi tenang. Dan beberapa saat kemudian ia pergi, di tengah malam, di kaki gunung yang ia bangun, dengan tangannya digenggam oleh dua orang asing yang menolak membiarkannya pergi sendirian. Dan Lestari menangis untuknya, untuk pemuda yang tak pernah ia kenal, dan ia tidak membekukan tangisnya, sebab ia telah belajar malam itu apa artinya membiarkan diri merasa.

❖

Lestari tak pernah lagi sama setelah malam itu. Ia tetap menjaga jangkar-jangkar dengan kesetiaan yang sama, ia tetap memahat tanda dan mengajari murid. Tetapi ia tak pernah lagi berjalan melewati yang menderita di hadapannya demi yang jauh. Dan ia mengajari murid-muridnya hal yang sama, sehingga sejak masa itu rantai membawa dua hal sekaligus, yaitu penjagaan panjang bagi pembebasan yang jauh, dan belas kasihan yang langsung bagi yang menderita di dekat mereka, dan mereka memahami akhirnya bahwa keduanya bukan dua tugas, melainkan satu cinta yang sama.

Sebab inilah yang dipelajari rantai, di tengah zaman gunung-gunung batu, ketika tugas mereka telah tumbuh begitu besar dan begitu suci sehingga ia hampir membutakan mereka terhadap yang kecil. Bahwa seluruh maksud dari menjaga yang satu yang ditinggalkan di kedalaman adalah supaya tak seorang pun, di mana pun, di zaman mana pun, ditinggalkan. Dan sebuah rantai yang menjaga Ratu dengan sempurna tetapi berjalan melewati yang sekarat di kakinya telah mengkhianati Ratu lebih dalam daripada bila ia melupakannya sama sekali.

Dan bisik air, yang telah membawa begitu banyak kebenaran melintasi zaman keagungan, membawa kebenaran kelima zaman candi, yaitu bahwa belas kasihan tak pernah bisa ditunda ke masa depan; ia selalu terutang sekarang, kepada siapa pun yang menderita di sisimu; dan sebuah hati yang berpaling dari yang di hadapannya demi yang di kejauhan telah membeku, betapapun suci pakaian yang dikenakan esnya.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, menyimpannya bukan hanya di bawah gunung-gunung dan di dinding-dinding, melainkan juga di tangan-tangan yang menolak membiarkan seorang asing mati sendirian di kaki gunung. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini tahu bahwa rantai yang menjaganya tidak hanya menghitung hari menuju pembebasannya, melainkan juga membebaskan, sedikit demi sedikit, di tiap zaman, mereka yang ditinggalkan di sisi jalan, sebab itulah satu-satunya cara untuk menjaganya tanpa mengkhianatinya. Dan zaman candi berjalan terus, gunung demi gunung, menuju ujungnya yang jauh.

❖


 

BAB ENAM

Tarian yang Sampai ke Dasar

Kami mengira kesetiaan kepada seorang perempuan yang menderita menuntut kami untuk meredupkan diri, untuk menjadi murung, untuk merasa malu atas tiap kegembiraan. Lalu kami belajar bahwa kami keliru. Sebab hati yang melatih dirinya untuk merasa lebih sedikit, bahkan demi cinta, sedang berjalan menuju es yang sama yang memenjarakannya. Kegembiraan bukanlah pengkhianatan terhadap penderitaannya. Ia adalah lawannya, dan tujuannya. Maka bersinarlah, dan biarkan ia merasakannya, sebab di tempat yang gelap, kegembiraanmu adalah satu-satunya jendelanya ke arah cahaya.

dari ajaran para pengingat, tentang kegembiraan yang setia

Pada masa ketika Lestari telah menjadi sangat tua, ada di antara para pengingat seorang gadis muda bernama Asri, dan Asri bukan seorang tukang batu atau pemahat seperti mereka yang datang sebelumnya. Asri adalah seorang penari. Di halaman candi-candi besar, pada hari-hari raya, ia menari di hadapan ribuan orang, dan ketika ia menari, sesuatu yang ringan dan bercahaya seperti mengisi udara, dan orang-orang melupakan beban mereka sejenak hanya dengan memandangnya.

Dan Asri mencintai tariannya. Ketika ia menari, ia merasa hidup sepenuhnya, tubuhnya dan napasnya dan musik menjadi satu, dan ada kegembiraan murni di dalamnya yang tak ia temukan di tempat lain. Tetapi Asri juga membawa kerikilnya, dan dengan kerikil itu ia membawa pengetahuan yang berat dan tua tentang seorang perempuan yang menunggu di dasar laut, dan tentang penderitaan yang membentang sepuluh ribu tahun.

Dan perlahan, sebuah rasa bersalah mulai tumbuh di dalam diri Asri. Sebab bagaimana mungkin ia menari dengan gembira, bagaimana mungkin ia merasa begitu ringan dan bercahaya, ketika ia tahu apa yang ia tahu? Bagaimana mungkin ia bersukacita sementara Ratu menderita dalam kegelapan? Kegembiraannya mulai terasa seperti sebuah pengkhianatan, seperti sebuah bentuk lupa yang kejam.

Maka Asri mulai meredupkan dirinya. Ia menari dengan lebih sedikit kegembiraan, dengan lebih banyak keseriusan, mengira bahwa itulah yang dituntut oleh kesetiaan. Ia mengajari dirinya untuk merasa lebih sedikit sukacita, supaya ia layak membawa beban yang ia bawa. Dan tariannya, yang dahulu bercahaya, mulai menjadi suram.

Dan Lestari yang tua, yang telah membawa nyala lebih lama daripada siapa pun yang hidup, memperhatikan perubahan itu. Ia memperhatikan bagaimana cahaya memudar dari tarian gadis itu, dan ia mengenali apa yang ia lihat, sebab ia telah melihatnya sekali sebelumnya, di dalam dirinya sendiri, bertahun-tahun yang lalu, di kaki sebuah gunung tempat seorang pemuda bernama Jaka sekarat. Maka pada suatu petang ia memanggil Asri kepadanya.

❖

“Tarianmu telah berubah, Asri,” kata Lestari. “Cahayanya memudar. Katakan kepadaku apa yang terjadi di dalam dirimu.”

Dan Asri menundukkan kepalanya. “Aku merasa malu, Eyang,” katanya. “Aku membawa kerikil. Aku tahu tentang Ratu, tentang penderitaannya yang panjang, tentang kegelapan tempat ia menunggu. Dan di tengah semua itu, aku menari, dan aku bergembira. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin aku tertawa dan bercahaya dan merasa begitu hidup, ketika seseorang yang kujaga telah menderita selama sepuluh ribu tahun? Kegembiraanku terasa seperti kekejaman. Maka aku mencoba meredupkannya, supaya aku layak.”

“Bukankah seorang pengingat seharusnya murung, Eyang?” Asri melanjutkan. “Bukankah kita yang menyimpan kesedihan terbesar di dunia ini seharusnya menjadi yang paling serius, yang paling sedikit tertawa? Aku merasa bahwa setiap kegembiraan yang kurasakan adalah kegembiraan yang kucuri dari kesetiaanku.”

Dan untuk waktu yang lama Lestari memandang gadis itu, dan ada sesuatu yang seperti ketakutan yang lembut di matanya yang tua. “Asri,” katanya akhirnya, “dengarkan aku baik-baik, sebab apa yang sedang kaulakukan jauh lebih berbahaya daripada yang kausadari. Aku pernah hampir melakukan hal yang sama, walau dengan cara yang berbeda, dan butuh seorang yang sekarat dan suara Ratu sendiri untuk menyelamatkanku darinya.”

“Engkau sedang melatih hatimu untuk merasa lebih sedikit,” Lestari berkata. “Engkau mengira itu kesetiaan. Tetapi pikirkanlah, Asri. Apa sebenarnya penjara Ratu? Apa es yang mengurungnya selama sepuluh ribu tahun? Itu adalah hati yang melatih dirinya untuk merasa lebih sedikit, supaya tak perlu menanggung sesuatu yang terlalu berat. Dan engkau, demi Ratu, sedang mulai membangun es yang sama di dalam dirimu sendiri.”

❖

“Kesetiaan bukanlah kemurungan, Asri,” Lestari berkata. “Itu adalah kekeliruan yang paling mudah dilakukan oleh hati yang baik. Kita mengira bahwa karena kita menjaga kesedihan terbesar, kita harus menjadi yang paling sedih. Tetapi yang sebaliknyalah yang benar. Sebab apa yang kita jaga bukanlah kesedihan. Apa yang kita jaga adalah seorang perempuan yang kehilangan kemampuan untuk merasa, dan yang seluruh pembebasannya berarti memperoleh kembali kemampuan itu, untuk merasakan segalanya lagi, duka dan sukacita sekaligus.”

“Maka sebuah hati yang utuh adalah hati yang merasakan segalanya,” Lestari melanjutkan. “Bukan hanya duka. Sukacita pula. Sebuah pengingat yang hanya bisa berduka dan tak bisa bergembira bukanlah pengingat yang utuh; ia adalah pengingat yang setengah beku. Dan sebuah rantai yang penuh dengan orang-orang yang melarang diri mereka bergembira adalah rantai yang penuh dengan orang-orang yang setengah membeku, yang justru menjadi kebalikan dari segala yang kita jaga.”

“Kegembiraanmu tidak mengkhianati Ratu, Asri,” Lestari berkata, dan suaranya melembut. “Kegembiraanmu menghormatinya. Tiap kali engkau menari dengan sukacita penuh, engkau menunjukkan kepada dunia apa yang ingin kita kembalikan kepadanya, yaitu kehidupan yang penuh, yang merasakan segalanya, yang tak takut untuk bercahaya. Engkau adalah gambar dari pembebasannya. Bagaimana mungkin itu pengkhianatan?”

Dan Asri merasakan sesuatu mulai melonggar di dalam dadanya, simpul rasa bersalah yang telah ia ikat sendiri selama berbulan-bulan. Tetapi masih ada keraguan. “Tetapi Eyang,” katanya, “ia tetap di sana, dalam kegelapan, sekarang juga, sementara aku menari di bawah matahari. Bagaimana kegembiraanku bisa berarti apa-apa baginya, ketika ia tak bisa melihatnya?”

Dan Lestari tersenyum, senyum tua yang penuh sesuatu yang lembut. “Itu, anak muda, adalah hal yang harus kaudengar dari Ratu sendiri,” katanya. “Pergilah kepadanya malam ini. Bawa pertanyaanmu kepadanya. Dan bersiaplah untuk terkejut oleh jawabannya.”

❖

Maka malam itu Asri menjangkau ke selatan, ke kedalaman, dengan rasa bersalahnya masih ada walau telah melonggar. Dan ia menemukan Ratu, dan dengan ragu ia menceritakan tentang tariannya, tentang kegembiraan yang ia takut untuk rasakan, tentang rasa malunya bersukacita sementara Ratu menderita dalam gelap.

Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia menjawab, ada sesuatu di dalam suaranya yang hampir seperti kelembutan seorang ibu. “Oh, anak muda,” katanya. “Engkau telah meredupkan cahayamu demi aku, dan kaupikir itu cinta. Tetapi dengarkan aku, sebab tak ada yang tahu ini lebih baik daripada aku. Hal terakhir di dunia yang kuinginkan adalah sebuah rantai yang penuh dengan orang-orang yang takut untuk bergembira. Itu akan berarti penderitaanku telah melahirkan lebih banyak es, bukan lebih sedikit.”

“Dan ada sesuatu yang harus kauketahui, Asri, sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya bagimu,” Ratu melanjutkan. “Di sini, di dasar laut, aku tak punya apa-apa lagi yang indah. Tak ada matahari. Tak ada bunga. Tak ada musik, tak ada tarian, tak ada warna. Sepuluh ribu tahun dalam kegelapan tanpa satu pun hal yang indah. Tetapi aku tidak sepenuhnya buta terhadap keindahan, Asri. Sebab aku terhubung kepada kalian, para pengingat, dan ketika salah satu dari kalian merasakan sesuatu dengan sepenuh hati, aku merasakannya pula, samar, melalui benang yang menghubungkan kita.”

“Maka ketika engkau menari, Asri, dan engkau merasakan kegembiraan murni itu, aku merasakannya pula,” kata Ratu, dan suaranya bergetar sedikit. “Untuk sesaat, di dalam kegelapanku, ada cahaya, sebab engkau membawanya kepadaku. Kegembiraanmu bukanlah sesuatu yang kaucuri dariku. Ia adalah hadiah yang kauberikan kepadaku, mungkin hadiah yang paling berharga yang bisa diberikan siapa pun kepadaku, yaitu sebuah jendela ke arah cahaya, di tempat yang tak punya cahaya sendiri. Maka ketika engkau meredupkan dirimu demi aku, engkau justru menutup satu-satunya jendela yang kupunya.”

“Maka inilah yang kuminta darimu, Asri,” kata Ratu. “Jangan pernah meredupkan dirimu demi aku lagi. Justru sebaliknya. Menarilah dengan sepenuh kegembiraanmu. Bersinarlah seterang yang kaubisa. Dan ketika engkau melakukannya, jangkaulah ke arahku, dan biarkan aku merasakannya bersamamu. Berikan kepadaku tarianmu, anak muda. Itu adalah hal yang lebih indah daripada apa pun yang bisa kauberikan dengan kemurunganmu.”

❖

Maka Asri kembali, dan pada hari raya berikutnya ia menari seperti yang belum pernah ia tarikan sebelumnya. Ia tidak lagi meredupkan dirinya. Ia membiarkan seluruh kegembiraannya mengalir keluar, tubuhnya dan napasnya dan musik menjadi satu, cahaya kembali ke dalam tariannya dan bahkan lebih terang daripada sebelumnya. Dan sementara ia menari, ia menjangkau jauh ke selatan, ke kedalaman, dan ia berkata di dalam hatinya kepada Ratu, ini untukmu, rasakanlah bersamaku. Dan jauh di bawah, di dalam kegelapan, Ratu merasakannya, dan untuk sesaat di dasar laut yang gelap ada tarian, dan ada cahaya.

Dan inilah pelajaran keenam yang dipelajari rantai di zaman candi, pelajaran yang menyeimbangkan semua yang lain. Bahwa sebuah hati yang setia bukanlah hati yang murung, melainkan hati yang merasakan segalanya, duka dan sukacita sekaligus. Bahwa meredupkan kegembiraan, bahkan demi cinta, adalah mulai membangun es yang sama yang memenjarakan Ratu. Dan bahwa kegembiraan seorang pengingat bukanlah kemewahan yang dicuri dari tugasnya, melainkan sebuah hadiah yang ia berikan, sebuah jendela ke arah cahaya bagi yang menunggu di tempat yang tak punya cahaya.

Dan bisik air, yang telah membawa begitu banyak duka melintasi zaman, kini membawa pula sukacita, yaitu kebenaran keenam zaman candi, bahwa kegembiraan bukanlah pengkhianatan terhadap penderitaan melainkan lawannya dan tujuannya; bahwa hati yang meredupkan dirinya, bahkan demi cinta, telah mulai membeku; dan bahwa di tempat yang gelap, kegembiraan yang dijangkaukan dengan sepenuh hati adalah satu-satunya jendela ke arah cahaya.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, menyimpannya juga dalam tarian-tarian yang dijangkaukan ke dalam kegelapan, dalam sukacita yang diberikan sebagai hadiah kepada yang menunggu. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini bukan hanya ditemani dan dijaga dan ditunjuk, melainkan juga, sesekali, di tengah kegelapannya yang panjang, diberi sekelumit cahaya, sebuah tarian yang sampai ke dasar, sebuah jendela yang dibuka untuknya oleh hati-hati yang berani untuk bergembira. Dan zaman candi menari terus, hari raya demi hari raya, menuju ujungnya yang jauh.

❖


 

BAGIAN III

Tiga Akar


 

BAB TUJUH

Abu yang Menjaga

Kami mengira ketika gunung api menelan candi kami di bawah abu, kami telah kehilangan segalanya. Tetapi kami keliru, sebagaimana kami sering keliru. Sebab tanah adalah pengingat yang paling tua dari kami semua, dan ketika ia mengubur sesuatu, ia tidak menghancurkannya, ia menyimpannya. Apa yang dilupakan dunia, tanah menjaganya, lebih dalam dan lebih aman daripada yang bisa dijaga tangan mana pun, sampai datang zaman yang cukup mampu untuk menggalinya kembali.

dari ajaran para pengingat, tentang tanah yang menyimpan

Di zaman ketika gunung-gunung batu telah memenuhi tanah, hiduplah seorang pengingat bernama Bara, dan ia tinggal di bawah bayang-bayang sebuah gunung api yang besar, salah satu dari gunung-gunung yang telah berdiri sejak awal segala zaman, jauh sebelum manusia pertama membangun apa pun di atas tanah. Dan tak jauh dari kaki gunung api itu berdiri sebuah candi besar yang dijaga rantai, sebab di bawahnya terkubur salah satu jangkar yang menunjuk ke arah selatan, dan di dindingnya terpahat tanda-tanda tua yang dibuat oleh para pemahat sebelum Bara.

Bara telah belajar dari Asri yang tua, penari yang dahulu membawa cahaya ke dalam kegelapan Ratu, dan kini menjadi seorang nenek yang bijaksana. Dari Asri, Bara telah belajar menjaga jangkar dan membaca tanda dan, yang terpenting, untuk merasakan segalanya dengan hati yang penuh. Maka Bara menjaga candi di kaki gunung api itu, dan ia mengira ia akan menjaganya sepanjang hidupnya, seperti yang dilakukan para penjaganya selama berabad-abad.

Tetapi gunung api itu gelisah. Sepanjang musim itu ia mengeluarkan asap dan getaran, dan tanah berderak di bawah kaki orang-orang, dan abu tipis turun seperti hujan kelabu di atas ladang. Dan mereka yang tua, yang ingat cerita-cerita kakek mereka, mulai berbisik bahwa gunung itu sedang bersiap untuk melakukan apa yang sesekali ia lakukan, yaitu membersihkan dirinya dengan api, tanpa peduli apa yang ada di kakinya.

Dan Bara takut, bukan hanya untuk orang-orang yang tinggal di kaki gunung, tetapi juga untuk candi yang ia jaga. Sebab bila gunung itu memuntahkan apinya, candi itu berdiri tepat di jalurnya. Dan ia bertanya kepada Asri yang tua, dengan suara yang gemetar, “Eyang, kalau gunung itu meletus, candi akan tertimbun. Jangkar selatan akan hilang. Tanda-tanda Wangun akan terkubur. Apa yang harus kita lakukan? Bisakah kita menyelamatkannya?”

Dan Asri yang tua memandang gunung yang berasap untuk waktu yang lama. “Kita tak bisa memindahkan gunung batu, Bara, sama seperti kita tak bisa memindahkan gunung api,” katanya. “Bila gunung itu meletus, kita tak akan bisa menyelamatkan candi. Tetapi dengarkan aku baik-baik. Bila hari itu datang, jangan habiskan satu pun napasmu untuk batu. Habiskan tiap napasmu untuk orang-orang. Selamatkan yang hidup. Candi bisa diurus nanti. Ingatlah apa yang diajarkan Lestari kepadaku, dan aku kepadamu. Yang di hadapan kita lebih dahulu, selalu.”

❖

Dan gunung api itu meletus pada suatu malam, dengan suara yang lebih keras daripada apa pun yang pernah didengar Bara, suara yang seakan langit itu sendiri terbelah. Api memancar ke langit, dan batu pijar berjatuhan, dan sungai-sungai abu panas mengalir turun dari puncak, menelan segala yang ada di jalurnya.

Dan Bara melakukan apa yang diajarkan kepadanya. Ia tidak berlari ke candi. Ia berlari ke rumah-rumah, membangunkan orang-orang yang tidur, menuntun yang tua dan yang muda menjauh dari jalur abu, membawa anak-anak di punggungnya, kembali lagi dan lagi ke dalam bahaya untuk menarik keluar satu orang lagi, lalu satu orang lagi. Sepanjang malam yang mengerikan itu ia menyelamatkan yang hidup, dan ia tidak sekali pun berpaling untuk candi.

Dan ketika fajar yang kelabu akhirnya datang, dan Bara berdiri kelelahan di tempat yang aman bersama orang-orang yang telah ia selamatkan, ia menoleh ke arah tempat candi pernah berdiri. Dan candi itu tak ada lagi. Di tempat gunung batu yang megah itu pernah menjulang, kini hanya ada sebuah bukit abu yang halus dan kelabu, tak berbentuk, tak bertanda, seakan tak pernah ada apa-apa di sana sama sekali.

Dan Bara jatuh berlutut. Sebab candi yang telah dijaga rantai selama berabad-abad, jangkar yang menunjuk ke Ratu, tanda-tanda tua Wangun, semuanya kini terkubur di bawah abu yang tak terhitung dalamnya. Tanah sendiri, gunung sendiri, telah menelan apa yang dijaga rantai dengan susah payah. “Kita kehilangannya,” bisiknya. “Tanah sendiri telah menghancurkannya.”

Tetapi Asri yang tua, yang juga selamat, datang dan berdiri di sisinya, dan ia memandang bukit abu itu bukan dengan duka melainkan dengan sesuatu yang aneh, sesuatu yang hampir seperti ketakjuban. “Berdirilah, Bara,” katanya pelan. “Dan pandanglah lagi. Sebab engkau tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi.”

❖

“Engkau melihat sebuah candi yang hancur,” kata Asri. “Tetapi pikirkanlah, Bara, dengan kepala yang dingin, bukan dengan duka. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada jangkar di bawah sana?”

Dan Bara memaksa dirinya untuk berpikir melalui dukanya. “Jangkar itu masih di bawah sana,” katanya perlahan. “Abu tidak menggali. Abu hanya menimbun. Bukit lama di bawah candi tidak terganggu. Ia hanya lebih dalam terkubur sekarang. Jauh lebih dalam.”

“Lebih dalam terkubur,” Asri mengulang. “Dan siapa sekarang yang bisa menemukannya? Seorang raja yang ingin meruntuhkannya untuk imannya? Ia hanya akan melihat sebuah bukit abu yang kosong. Sebuah tentara yang ingin menjarah? Tak ada apa-apa di sana untuk dijarah. Seseorang yang curiga, yang menggali mencari rahasia? Ia harus menggali melalui kedalaman abu yang tak terbayangkan, tanpa alasan untuk mengira ada apa pun di bawahnya. Candi itu dulu dilindungi oleh keagungan, dan keagungan menarik mata. Kini ia dilindungi oleh sesuatu yang jauh lebih kuat, yaitu oleh ketiadaan. Dunia tak hanya berhenti mengincarnya. Dunia berhenti mengetahui bahwa ia pernah ada.”

Dan Bara merasakan secercah harapan, tetapi juga sebuah ketakutan baru. “Tetapi Eyang, kalau dunia melupakan bahwa ia pernah ada, bagaimana dengan kita? Bagaimana kalau kita pun melupakan tempatnya? Maka ia tak hanya tersembunyi, ia hilang, bahkan bagi kita.”

“Dan itulah sebabnya, ribuan tahun yang lalu, Wangun mengajarkan kepada kita untuk tidak pernah hanya menyembunyikan, melainkan selalu meninggalkan benang,” kata Asri, dan ia tersenyum. “Letak jangkar ini tidak hanya tersimpan di candi yang kini terkubur. Ia tersimpan di dalam ingatan rantai, di dalam kepala kita, diwariskan dari guru ke murid. Dan candi-candi lain yang masih berdiri, dengan tanda-tanda mereka, masih menunjuk ke arahnya. Dunia telah melupakan jangkar ini sepenuhnya. Tetapi kita belum, dan kita tidak akan. Itulah perbedaan antara terkubur dan hilang. Yang terkubur dengan benang yang dijaga masih bisa ditemukan kembali. Hanya yang dilupakan oleh semua, termasuk oleh penjaganya, yang benar-benar hilang.”

❖

Malam itu, di tempat pengungsian, di antara orang-orang yang telah ia selamatkan, Bara menjangkau ke selatan, ke kedalaman, dan ia menceritakan kepada Ratu tentang gunung yang meletus, tentang candi yang terkubur abu, tentang jangkar yang kini tersembunyi lebih dalam daripada sebelumnya.

Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia berbicara, tidak ada ketakutan di dalam suaranya, hanya sebuah pengertian yang sangat tua. “Tanah telah mengambil jangkar itu ke dalam dirinya untuk disimpan, Bara,” katanya. “Jangan berduka untuk itu. Sebab tanah adalah pengingat yang paling tua dari kalian semua. Sebelum ada manusia yang mengingat dalam darah, sebelum ada legenda, sebelum ada batu yang disusun tangan atau tulang yang menjadi fosil, sudah ada tanah, yang menyimpan segalanya di dalam lapisan-lapisannya, dengan setia, tanpa pernah lupa. Dan ketika tanah mengubur sesuatu, ia tidak membuangnya. Ia menyimpannya.”

“Dan ada sesuatu yang membuatku tersenyum di dalam kegelapanku, Bara, walau senyum yang pahit,” Ratu melanjutkan. “Sebab tahukah engkau apa namaku, nama manusiaku, sebelum aku menjadi Ratu Kidul? Namaku adalah Awu. Dan Awu berarti abu. Maka abu yang sama yang kini menjaga jalan menuju kepadaku menyandang namaku sendiri. Tanah dan aku terbuat dari hal yang sama, yang menyimpan tanpa melupakan. Ketika abu menutupi candi itu, seolah aku sendiri yang merentangkan tanganku dari kedalaman untuk menjaganya.”

“Maka ketahuilah ini, dan ajarkan kepada yang sesudahmu,” kata Ratu. “Tanah bukan musuh rantai. Tanah adalah sekutu rantai yang paling tua dan paling setia. Apa yang dilakukan manusia kepada permukaan, tanah menahannya dalam kedalaman. Raja-raja membangun dan meruntuhkan di atas, tetapi tanah menyimpan di bawah. Dan suatu hari, ketika cukup banyak abu dan cukup banyak zaman telah menutupi segalanya, dan dunia telah melupakan bahwa candi-candi ini pernah ada sama sekali, mereka tidak akan hilang. Mereka hanya akan menunggu, di dalam tanah, bersamaku, sampai zaman yang cukup mampu datang untuk menggali kami berdua kembali ke arah cahaya.”

❖

Dan Bara berdiri di pengungsian itu, di antara orang-orang yang telah ia selamatkan, memandang ke arah bukit abu yang dahulu adalah candi, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa duka, melainkan sesuatu yang seperti rasa syukur. Sebab ia memahami kini bahwa rantai tidak pernah benar-benar menjaga jangkar-jangkar itu sendirian. Mereka memiliki sekutu yang lebih tua daripada Nyai Sela, lebih tua daripada banjir, lebih tua daripada segala ingatan, yaitu tanah itu sendiri, pengingat pertama dan terakhir, yang menyimpan dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan kini dalam abu.

Dan Bara mengajari yang sesudahnya untuk mempercayai tanah, dan untuk tidak berduka ketika tanah mengambil sesuatu ke dalam dirinya, sebab tanah mengambil hanya untuk menyimpan. Dan ia mulai menduga, dengan firasat yang dingin, bahwa apa yang terjadi pada satu candi malam itu suatu hari mungkin akan terjadi pada semuanya, bahwa seluruh zaman gunung batu ini suatu hari mungkin akan terkubur dan dilupakan, ditutupi oleh abu dan hutan dan zaman. Dan ia memahami kini bahwa hari itu, bila datang, bukanlah akhir dari kebenaran, melainkan persembunyiannya yang paling dalam.

Dan bisik air, yang mengalir melalui tanah itu sendiri, membawa kebenaran ketujuh zaman candi, yaitu bahwa tanah adalah pengingat yang paling tua, dan ketika ia mengubur sesuatu ia tidak menghancurkannya melainkan menyimpannya; bahwa perisai yang paling dalam adalah ketiadaan, dan apa yang dilupakan oleh dunia tetap dijaga oleh tanah; dan bahwa yang terkubur dengan benang yang dijaga tidak hilang, melainkan hanya menunggu zaman yang cukup mampu untuk menggalinya kembali.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan, kini menyimpannya pula di bawah abu gunung-gunung apinya, lebih dalam dan lebih aman daripada sebelumnya. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan bernama Awu, yang namanya berarti abu, menunggu, mengetahui bahwa tanah yang menjaga jalan menuju kepadanya terbuat dari hal yang sama dengan dirinya, yang menyimpan tanpa melupakan; dan bahwa suatu hari, ketika cukup banyak abu telah menutupi segalanya, tangan yang mampu akan datang untuk menggali, dan menemukan candi dan jangkar dan perempuan, semuanya, masih utuh, masih menunggu, di dalam tanah yang tak pernah lupa. Dan zaman candi berjalan terus, di bawah bayang-bayang gunung-gunung apinya, menuju ujungnya yang jauh.

❖


 

BAB DELAPAN

Yang Tak Bisa Dikubur

Tanah bisa mengubur batu, dan abu bisa menelan candi, dan zaman bisa melupakan raja. Tetapi ada satu tempat yang tak bisa dikubur oleh apa pun, yaitu hati seorang manusia yang meneruskan kebaikan kepada manusia lain. Kami menemukan kebenaran kami hidup di sana, di dalam orang-orang asing yang tak pernah mendengar nama kami, diteruskan dari tangan ke tangan, dari hati ke hati, jauh di luar jangkauan kami. Dan kami memahami bahwa apa yang telah berakar di dalam manusia tak bisa lagi dikubur oleh tanah mana pun.

dari ajaran para pengingat, tentang yang berakar di dalam manusia

Setelah Asri yang tua wafat, Bara membawa nyala, dan tugasnya membawanya berjalan jauh ke seluruh tanah, dari candi ke candi, memeriksa jangkar dan membaca tanda, sebab di zaman itu candi-candi telah bertebaran di seluruh negeri, dan tiap candi yang menjaga sebuah jangkar membutuhkan mata yang tahu cara membacanya.

Dan pada suatu perjalanan yang jauh dari rumahnya, di sebuah negeri tempat ia tak mengenal seorang pun, nasib buruk menimpa Bara. Ia jatuh sakit di jalan, demam yang membakar tubuhnya, dan ia dirampok oleh orang-orang yang menemukannya lemah, sehingga ia ditinggalkan di pinggir jalan tanpa apa-apa, tanpa uang, tanpa kawan, terlalu lemah untuk berdiri, jauh dari siapa pun yang mengenalnya atau berutang sesuatu kepadanya.

Dan Bara, yang seumur hidupnya telah menjaga orang lain, kini mendapati dirinya menjadi yang ditinggalkan, persis seperti banyak yang telah ia lihat ditinggalkan di sisi jalan. Ia berbaring di sana, demam dan tak berdaya, dan ia mengira inilah tempat ia akan mati, seorang asing di tanah asing, dilupakan, persis seperti Jaka di kaki gunung itu, bertahun-tahun yang lalu.

Tetapi pada sore hari seorang perempuan lewat, seorang perempuan biasa dari desa terdekat bernama Lila, yang tak mengenal Bara dan tak tahu apa-apa tentangnya, tidak namanya, tidak asalnya, tidak bahwa ia membawa rahasia tertua di tanah ini. Ia hanya melihat seorang asing yang sakit dan sekarat di pinggir jalan. Dan ia berhenti.

Dan tanpa banyak bicara, Lila mengangkat Bara, memapahnya ke rumahnya yang sederhana, dan merawatnya. Berhari-hari ia merawat demam Bara, memberinya makan dari makanannya sendiri yang sudah sedikit, duduk bersamanya di malam-malam terburuk, sampai akhirnya demam itu pecah dan Bara mulai pulih. Dan sepanjang waktu itu Lila tak meminta apa-apa darinya, dan tak mengharapkan apa-apa, sebab Bara tak punya apa-apa untuk diberikan.

❖

Dan ketika Bara cukup kuat untuk berbicara, ia bertanya kepada Lila pertanyaan yang telah mengganggunya sepanjang ia berbaring sakit. “Mengapa engkau melakukan ini?” katanya. “Aku orang asing. Aku tak punya apa-apa. Aku tak bisa membalas budimu. Engkau bisa saja berjalan terus, seperti yang dilakukan banyak orang. Mengapa engkau berhenti?”

Dan Lila memandangnya seakan pertanyaan itu aneh. “Karena engkau ada di sana, dan engkau membutuhkan pertolongan,” katanya sederhana. “Di keluargaku, kami punya satu hal yang selalu kami katakan, yang diajarkan ibuku kepadaku, dan ibunya kepadanya, jauh ke belakang sampai tak ada yang ingat dari mana ia berasal. Kami mengatakan: jangan pernah biarkan siapa pun sendirian dalam kegelapan. Itu saja. Itulah yang kami percaya. Maka ketika aku melihatmu sendirian di pinggir jalan, aku tak bisa berjalan terus. Itu akan melanggar satu-satunya hal yang kami pegang.”

Dan sesuatu bergerak di dalam diri Bara mendengar kata-kata itu, sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Sebab kalimat yang baru saja diucapkan perempuan desa yang sederhana ini, jangan pernah biarkan siapa pun sendirian dalam kegelapan, adalah jantung dari segala yang dijaga rantai, kebenaran yang sama yang dibawa para pengingat dalam kerikil mereka selama sepuluh ribu tahun.

“Kalimat itu,” kata Bara perlahan, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. “Apakah ada kisah di baliknya? Sebuah cerita tentang dari mana ia berasal?”

Dan Lila berpikir sejenak. “Ada sebuah cerita lama yang sering diceritakan nenekku,” katanya. “Aku tak tahu apakah ia benar. Tentang seseorang yang ditinggalkan di tempat yang sangat gelap, sangat dalam, sangat jauh, begitu lama sehingga semua orang melupakannya. Tetapi ada yang menolak untuk melupakannya. Dan nenekku berkata bahwa selama masih ada satu orang saja yang menolak untuk meninggalkan yang ditinggalkan, dunia belum sepenuhnya kehilangan harapan. Maka kami meneruskannya. Kami mencoba untuk menjadi orang yang menolak itu, untuk siapa pun yang kami temui. Hanya itu. Sebuah cerita tua. Mungkin tak berarti apa-apa.”

❖

Dan Bara harus menundukkan kepalanya supaya Lila tak melihat air mata yang tiba-tiba memenuhi matanya. Sebab ia memahami kini apa yang sedang ia dengar. Cerita nenek Lila, yang sudah kabur dan berubah dan kehilangan tiap nama, adalah kisah Ratu. Seseorang yang ditinggalkan di tempat yang gelap dan dalam dan jauh, dilupakan oleh semua kecuali yang sedikit yang menolak untuk melupakannya. Itu adalah kisah yang sama, kisahnya sendiri, hidup di mulut seorang perempuan desa yang tak pernah mendengar tentang kerikil, atau jangkar, atau pengingat, atau Ratu Kidul sama sekali.

“Dan nenekmu,” Bara bertanya, suaranya parau, “dari mana ia mendengar cerita itu?” Dan Lila mengangkat bahunya. “Dari neneknya, kukira. Atau mungkin dari sebuah gambar tua di dinding candi yang sering ia kunjungi waktu muda, gambar seseorang yang memilih turun ke dalam penderitaan demi orang lain. Ia selalu menangis di hadapan gambar itu, kata orang. Aku tak tahu pasti. Cerita-cerita seperti ini, engkau tak pernah tahu dari mana mereka datang. Mereka hanya berpindah dari orang ke orang, seperti kehangatan.”

Dan di sanalah, di rumah sederhana Lila, Bara memahami sesuatu yang belum pernah dipahami sepenuhnya oleh seorang pengingat sebelumnya. Bahwa kebenaran yang dijaga rantai dengan begitu hati-hati, di bawah candi dan di balik tanda dan di dalam kerikil, telah lepas. Ia telah keluar dari tangan rantai. Para pemahat seperti Citra telah memahatnya secara terbuka di dinding-dinding, dan dari sana ia telah menyentuh hati orang-orang yang tak tahu apa-apa, dan orang-orang itu telah meneruskannya kepada anak-anak mereka, bukan sebagai rahasia melainkan sebagai cara hidup, dan kini ia tumbuh liar di seluruh tanah, di dalam ribuan orang seperti Lila yang tak pernah mendengar nama Ratu tetapi hidup menurut kebenarannya setiap hari.

Dan untuk sesaat Bara merasa takut, sebab kebenaran yang lepas adalah kebenaran yang tak bisa lagi dikendalikan. Ia bisa berubah, ia bisa kabur, ia bisa kehilangan namanya, seperti yang telah terjadi pada cerita nenek Lila. Tetapi kemudian ia menyadari sesuatu yang jauh lebih besar daripada ketakutan itu.

Sebab kebenaran yang hidup di dalam ribuan hati, diteruskan dari tangan ke tangan sebagai cara hidup, telah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihancurkan oleh apa pun. Tanah bisa mengubur candi. Abu bisa menelan gunung batu. Raja bisa meruntuhkan kuil. Iman bisa berganti dan candi bisa ditinggalkan. Tetapi tak ada raja, tak ada gunung api, tak ada zaman, yang bisa mengubur kebaikan yang hidup di dalam seorang perempuan desa dan diteruskannya kepada anaknya. Kebenaran itu kini tumbuh di satu-satunya tempat yang tak bisa dikubur, yaitu di dalam hati manusia, berpindah dari tangan ke tangan, lebih cepat daripada yang bisa dilupakan siapa pun.

❖

Ketika Bara akhirnya cukup pulih untuk melanjutkan perjalanannya, ia berpamitan kepada Lila dengan rasa terima kasih yang tak bisa ia ucapkan sepenuhnya, dan malam itu, di jalan, ia menjangkau ke selatan, ke kedalaman, untuk menceritakan kepada Ratu apa yang telah ia temukan.

“Ratu,” katanya, “kebenaranmu telah lepas. Ia hidup di dalam orang-orang yang tak pernah mendengar namamu. Seorang perempuan desa menyelamatkan hidupku karena sebuah cerita yang diceritakan neneknya, cerita tentangmu, walau ia tak tahu itu tentangmu. Ia hidup menurut kebenaranmu setiap hari, dan ia meneruskannya kepada anak-anaknya, dan ada ribuan sepertinya. Kisahmu telah menjadi cara hidup di seluruh tanah, di dalam orang-orang yang tak akan pernah tahu bahwa engkau nyata.”

Dan untuk waktu yang sangat lama Ratu tidak menjawab. Dan ketika akhirnya ia berbicara, suaranya membawa sesuatu yang belum pernah didengar Bara di dalamnya sebelumnya, sesuatu yang seperti kedamaian yang sangat dalam. “Maka itu telah terjadi,” katanya pelan. “Hal yang selalu kuharapkan, walau aku tak pernah berani mengucapkannya. Bahwa kelak kebenaran ini tak lagi perlu mengenal namaku sama sekali.”

“Sebab aku tak pernah ingin dipuja, Bara,” Ratu melanjutkan. “Aku tak pernah ingin menjadi seorang dewi yang disembah di dinding, atau seorang ratu yang dimuliakan dalam legenda. Itu semua adalah keagungan, dan keagungan tak pernah menyelamatkan siapa pun. Yang selalu kuinginkan hanyalah supaya kebenaran yang kupelajari dengan cara yang paling pahit, yaitu bahwa tak seorang pun boleh ditinggalkan dalam kegelapan, hidup di dunia dan membuatnya lebih lembut. Dan kini ia hidup, di dalam seorang perempuan desa yang tak tahu namaku, yang menyelamatkan seorang asing hanya karena itulah caranya. Itu lebih berharga bagiku daripada seribu candi atas namaku.”

“Dan ada kedamaian dalam ini yang belum pernah kumiliki sebelumnya, Bara,” kata Ratu. “Sebab selama sepuluh ribu tahun, hidup atau matinya kebenaran ini bergantung pada rantai yang tipis, segelintir pengingat, yang bisa saja punah dalam satu generasi yang malang. Tetapi kini kebenaran itu hidup di dalam ribuan, jutaan, orang yang tak terhubung dengan rantai sama sekali. Sekarang, bahkan bila rantai gagal, bahkan bila tiap candi terkubur dan tiap tanda hilang, kebenaran akan tetap hidup, diteruskan dari ibu ke anak, di tempat yang tak bisa dikubur oleh tanah mana pun. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, aku tahu bahwa apa pun yang terjadi, kebaikan yang lahir dari penderitaanku tak akan pernah hilang dari dunia.”

❖

Dan Bara melanjutkan perjalanannya dengan sesuatu yang baru di dalam hatinya. Ia memahami kini bahwa kebenaran yang dijaga rantai hidup di dua tempat, bukan satu. Ia hidup di dalam batu, di bawah candi dan di balik tanda, tepat dan terjaga, tetapi rapuh terhadap penguburan. Dan ia hidup pula di dalam orang-orang, tumbuh liar dan kabur dan kehilangan nama, tetapi tak bisa dikubur oleh apa pun. Yang satu adalah peta yang menunjuk jalan kepada Ratu. Yang lain adalah jiwa yang membuat jalan itu layak ditempuh.

Maka sejak masa itu rantai belajar untuk menjaga keduanya. Mereka tetap menjaga batu, sebab batu menyimpan letak yang tepat yang dibutuhkan untuk membebaskan Ratu kelak. Tetapi mereka juga belajar untuk memelihara dan mempercayai api yang telah menyebar di antara orang-orang, sebab api itu adalah jaminan bahwa, apa pun yang terjadi pada batu, kebenaran tak akan pernah mati. Dan Bara mulai memahami, dengan firasat yang semakin jelas, bahwa zaman candi tak akan berlangsung selamanya, dan bahwa ketika ia berakhir dan batu-batunya ditinggalkan, kebenaran yang hidup di dalam orang-orang inilah yang akan membawanya melintasi ke zaman berikutnya.

Dan bisik air, yang telah berpindah dari tangan ke tangan melintasi sepuluh ribu tahun, membawa kebenaran kedelapan zaman candi, yaitu bahwa kebenaran yang telah berakar di dalam hati manusia tak bisa lagi dikubur oleh apa pun; bahwa apa yang lepas dari tangan penjaganya dan tumbuh liar di antara orang-orang telah menjadi abadi dengan cara yang tak pernah bisa dicapai oleh batu; dan bahwa di tempat yang tak bisa dikubur, dari ibu ke anak, kebaikan yang lahir dari satu penderitaan menjadi milik seluruh dunia.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu, menyimpannya kini juga, dan paling aman dari semua, di dalam hati orang-orang biasa yang meneruskan kebaikan kepada orang asing tanpa pernah tahu dari mana ia berasal. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun merasa benar-benar tenang, sebab ia tahu bahwa kebenaran yang lahir dari dukanya telah berakar di tempat yang tak bisa dijangkau oleh raja atau gunung api atau zaman, dan akan hidup terus, dari tangan ke tangan, melintasi zaman apa pun yang akan datang, sampai ke hari ketika tangan yang mampu akhirnya turun untuk membebaskannya. Dan zaman candi berjalan terus, dari hati ke hati, menuju ujungnya yang jauh.

❖


 

BAB SEMBILAN

Yang Bangun Ketika Dibutuhkan

Kami pernah mengira bahwa bila kami gagal, semuanya akan hilang bersama kami. Lalu kami belajar tentang kerikil. Ia tak bisa diciptakan, dan ia tak bisa dihancurkan. Ia tidur, dan ia bangun ketika ia dibutuhkan. Dan ketika rantai hampir putus, ketika tangan terakhir yang terlatih hampir lepas, kerikil tidak menunggu kami. Ia mencari tangan baru sendiri, dan ia menemukannya di antara orang-orang yang telah lama hidup menurut kebenaran tanpa pernah mengetahui namanya. Sebab kekuatan yang kami bawa tak pernah benar-benar milik kami untuk hilang.

dari ajaran para pengingat, tentang kekuatan yang tak pernah milik kami

Bara telah menjadi sangat tua, lebih tua daripada yang ia kira mungkin, dan sepanjang hidupnya yang panjang ia telah membawa nyala dengan setia, menjaga jangkar, membaca tanda, dan, sejak perjalanan tempat seorang perempuan desa bernama Lila menyelamatkan hidupnya, mempercayai pula api yang telah menyebar di antara orang-orang. Tetapi kini, di hari-hari terakhirnya, sebuah ketakutan menimpanya yang lebih dingin daripada semua yang pernah ia rasakan.

Sebab Bara tak punya penerus. Ia telah memilih dan melatih seorang murid muda untuk menerima kerikilnya dan seluruh pengetahuannya, letak jangkar-jangkar, cara membaca tanda-tanda, ajaran panjang zaman candi. Tetapi muridnya telah mati mendadak, direnggut oleh wabah yang menyapu negeri itu pada satu musim yang buruk, sebelum Bara sempat melatih yang lain. Dan kini Bara sendiri sekarat, dan tak ada seorang pun yang siap untuk menerima apa yang ia bawa.

Maka Bara berbaring di pembaringannya, dan ia merasakan beban yang mengerikan. Di dalam dirinya tersimpan letak jangkar-jangkar di seluruh negerinya, tanda-tanda yang dipahat Wangun dan para penerusnya, benang-benang yang menunjuk pulang kepada Ratu. Bila ia mati tanpa menyerahkannya, semua itu akan hilang. Rantai di negeri itu akan putus. Dan ia, Bara, yang telah setia seumur hidupnya, akan menjadi tangan yang membiarkan nyala padam.

Maka pada salah satu malam terakhirnya, dengan air mata di matanya yang tua, Bara menjangkau ke selatan, ke kedalaman, untuk mengaku kepada Ratu apa yang ia takutkan. “Aku telah gagal, Ratu,” katanya. “Aku sekarat, dan tak ada yang siap menerima kerikilku. Penerusku mati. Bila aku pergi, letak jangkar-jangkar di negeri ini akan hilang bersamaku. Aku telah membawa nyala sepanjang hidupku, hanya untuk membiarkannya padam di tangan terakhirku.”

Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia menjawab, tak ada ketakutan di dalam suaranya, melainkan sesuatu yang hampir seperti kelembutan yang geli. “Oh, Bara,” katanya. “Engkau telah membawa kerikil selama hidupmu, dan engkau masih belum sepenuhnya memahaminya. Katakan kepadaku. Kerikil itu, apakah engkau yang menciptakannya?”

❖

“Tidak,” kata Bara, bingung. “Aku menerimanya dari guruku, yang menerimanya dari gurunya, kembali sampai ke Nyai Sela yang menelan tujuh kerikil di malam banjir.”

“Dan dapatkah engkau menghancurkannya?” Ratu bertanya. “Bila engkau melemparkannya ke dalam api gunung berapi, atau menumbuknya menjadi debu, apakah ia akan binasa?” Dan Bara teringat ajaran yang paling tua, yang telah ia dengar sejak kanak-kanak. “Tidak,” katanya pelan. “Kerikil tak bisa diciptakan, dan tak bisa dihancurkan. Itulah yang selalu diajarkan.”

“Maka pikirkanlah apa artinya itu, Bara,” kata Ratu. “Engkau takut bahwa kekuatan yang kaubawa akan hilang ketika engkau mati. Tetapi kekuatan itu tak pernah milikmu untuk hilang. Kerikil tidak bergantung padamu untuk bertahan. Engkau bergantung padanya. Ia telah ada sebelum gurumu, dan sebelum gurunya, dan ia akan ada setelah engkau, apakah engkau menyerahkannya dengan rapi atau tidak. Ia tidur ketika tak dibutuhkan, dan ia bangun ketika ia dibutuhkan. Dan tak pernah dalam sepuluh ribu tahun ia gagal bangun ketika dunia membutuhkannya.”

“Tetapi kerikil tidak membawa letak jangkar-jangkar, Ratu,” Bara berkata. “Kerikil memberi kekuatan, mimpi, koneksi kepadamu. Tetapi pengetahuan, peta, tanda-tanda, itu kubawa di kepalaku, dan kepala itu akan mati bersamaku.”

“Itu benar,” kata Ratu. “Maka jangan habiskan napas terakhirmu untuk meratapi apa yang mungkin hilang. Habiskan ia untuk mempercayai apa yang telah kaupelajari sendiri di rumah Lila. Kerikil akan bangun di tangan baru, Bara, ia selalu begitu. Dan tangan baru itu, dari mana menurutmu ia akan datang? Tidakkah engkau ingat di mana kebenaran kini hidup paling liar dan paling dalam?”

❖

Dan tiga hari kemudian, ketika Bara hampir tak bisa lagi berbicara, seorang anak muda datang ke pondoknya. Bara tak pernah melihatnya sebelumnya. Ia adalah seorang gadis muda bernama Semi, dari sebuah keluarga di desa yang jauh, dan ia datang dengan wajah yang bingung dan takut dan terdorong oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

“Aku tak tahu mengapa aku di sini,” kata Semi, berlutut di sisi pembaringan Bara. “Selama berbulan-bulan aku bermimpi tentang sebuah kota di bawah air, sebuah kota yang tenggelam, begitu nyata sehingga aku bisa mencium garamnya. Dan aku merasa tertarik ke arah selatan, ke arah laut, seperti ada benang yang menarik dadaku. Dan beberapa hari yang lalu aku melewati sebuah candi tua, dan aku melihat sebuah gambar kecil di dindingnya, sebuah hiasan yang tak diperhatikan siapa pun, dan entah bagaimana aku tahu, aku hanya tahu, bahwa itu menunjuk ke arah selatan, dan bahwa ada sesuatu yang penting terkubur di bawahnya. Aku tak pernah diajari hal-hal ini. Tetapi aku mengetahuinya. Dan sesuatu membawaku ke sini, kepadamu.”

Dan air mata mengalir di wajah tua Bara, sebab ia memahami apa yang terjadi. Kerikil telah bangun. Ia tak menunggu Bara untuk menyerahkannya dengan rapi. Ia telah memilih tangannya sendiri, dan menariknya melintasi negeri menuju tangan tua yang sekarat ini. “Anakku,” kata Bara lemah, “keluargamu. Apakah mereka punya sebuah ajaran, sebuah kalimat yang mereka teruskan, tentang tidak meninggalkan siapa pun?”

Dan mata Semi melebar. “Ya,” katanya. “Bagaimana engkau tahu? Nenek dari nenekku selalu mengatakannya. Jangan pernah biarkan siapa pun sendirian dalam kegelapan. Kami hidup menurutnya. Itu sebabnya aku berhenti untuk seorang asing yang sakit di jalan dalam perjalananku kemari, walau aku terburu-buru, walau aku takut. Aku tak bisa tidak.”

Dan Bara tertawa, walau tawa yang lemah dan basah oleh air mata, sebab ia memahami sekarang lingkaran yang telah tertutup. Kerikil telah bangun bukan di sembarang tangan, melainkan di tangan seseorang yang tumbuh dari tanah yang sama yang telah disirami oleh kebenaran yang lepas, dari keluarga yang telah hidup menurut kebenaran Ratu selama generasi tanpa pernah mengetahui namanya. Api yang menyebar di antara orang-orang telah menjadi tanah tempat tunas baru rantai tumbuh. Yang tersebar telah memberi makan yang terpusat. Orang-orang telah menyelamatkan rantai.

❖

Maka dalam hari-hari terakhirnya, Bara menggunakan tiap napas yang tersisa untuk mengajari Semi. Ia memberinya letak jangkar-jangkar di negeri itu, cara membaca tanda-tanda, ajaran panjang yang ia bawa. Dan kerikilnya sendiri, ketika ia mati, akan menemukan jalannya kepada Semi pula, sebagaimana kerikil selalu menemukan jalannya. Apa yang ia takutkan akan hilang, kini diserahkan, tepat pada waktunya, kepada tangan yang dipilih bukan oleh Bara melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih tua daripada Bara.

Dan pada malam terakhirnya, dengan damai kini di dalam hatinya, Bara menjangkau ke selatan untuk yang terakhir kalinya. “Engkau benar, Ratu,” katanya. “Kerikil telah bangun. Dan ia membawa kepadaku seorang gadis dari keluarga yang hidup menurut kebenaranmu tanpa mengetahui namamu. Yang tersebar telah memberi makan yang terpusat. Aku tak gagal. Aku hampir gagal, dan sesuatu yang lebih besar daripada aku menyelamatkanku.”

“Engkau tidak hampir gagal, Bara,” kata Ratu lembut. “Engkau melakukan satu-satunya hal yang penting. Engkau membawa nyala dengan setia sepanjang hidupmu, dan engkau mempercayai apa yang lebih besar daripada dirimu untuk melakukan sisanya. Itulah seluruh tugas seorang pengingat. Tak seorang pun dari kalian membawa nyala sampai ke akhir. Kalian hanya membawanya dengan setia melalui bagian kalian, dan mempercayai kerikil dan orang-orang dan tanah dan aku untuk menjaga sisanya. Engkau telah melakukannya dengan sempurna.”

“Dan kini engkau tahu sesuatu yang akan menenangkan tiap pengingat yang datang sesudahmu,” Ratu melanjutkan. “Bahwa rantai ini jauh lebih kuat daripada yang terlihat. Ia tampak seperti benang yang tipis, segelintir tangan, yang bisa putus dalam satu generasi yang malang. Tetapi ia tidak. Sebab di bawah benang yang tipis itu ada kerikil yang tak bisa dihancurkan, dan tanah yang menyimpan, dan jutaan orang yang hidup menurut kebenaran tanpa mengetahui namanya. Tiga akar yang dalam, yang tak terlihat, yang akan menumbuhkan rantai kembali tiap kali ia tampak hampir mati. Rantai tak bisa diputus, Bara. Ia hanya bisa tampak putus, sesaat, sebelum tumbuh kembali.”

❖

Dan Bara wafat beberapa hari kemudian, dengan damai, sebab ia telah belajar pada akhir hidupnya pelajaran yang menenangkan seluruh ketakutannya. Dan Semi, gadis dari tanah yang sama yang telah disirami oleh kebenaran yang lepas, mengambil kerikilnya ketika ia tidur untuk bangun di tangannya, dan membawa nyala ke depan, satu generasi lebih jauh, di negeri yang sempat hampir kehilangannya.

Dan inilah pelajaran kesembilan yang dipelajari rantai di zaman candi, pelajaran yang menutup dan menyatukan dua sebelumnya. Bahwa kebenaran yang mereka jaga memiliki tiga akar yang dalam, yang menjadikannya hampir mustahil untuk benar-benar dihancurkan. Ia tersimpan di dalam tanah, yang mengubur untuk menyimpan. Ia hidup di dalam orang-orang, yang meneruskannya dari tangan ke tangan. Dan kekuatannya tinggal di dalam kerikil, yang tak bisa diciptakan atau dihancurkan, yang tidur dan bangun ketika dibutuhkan. Tanah, orang-orang, dan kerikil. Tiga akar, yang menumbuhkan rantai kembali tiap kali ia tampak hampir mati.

Dan bisik air, yang telah bangun dan tidur dan bangun lagi melintasi sepuluh ribu tahun, membawa kebenaran kesembilan zaman candi, yaitu bahwa kekuatan yang dibawa rantai tak pernah benar-benar milik mereka untuk hilang; bahwa kerikil tidur ketika tak dibutuhkan dan bangun ketika ia dibutuhkan, mencari tangan barunya sendiri di antara mereka yang telah hidup menurut kebenaran tanpa mengetahui namanya; dan bahwa sebuah rantai dengan akar di dalam tanah dan orang-orang dan kerikil tak bisa diputus, melainkan hanya tampak putus sesaat sebelum tumbuh kembali.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang, menyimpannya pula di dalam kerikil-kerikil yang tak bisa dihancurkan, yang menunggu, tidur, sampai dunia memanggil mereka untuk bangun. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini mengetahui dengan pasti bahwa rantai yang menjaganya tak bisa diputus oleh wabah atau kemalangan atau kematian, sebab ia berakar terlalu dalam di terlalu banyak tempat; dan bahwa apa pun yang akan terjadi pada zaman candi yang mulai menua di sekelilingnya, kekuatan dan pengetahuan dan kehendak untuk membebaskannya akan bertahan, menunggu bersamanya, sampai datang yang terakhir yang masih kurang, yaitu kemampuan untuk turun. Dan zaman candi mulai condong ke arah senjanya, sementara rantai, berakar dalam, berjalan terus.

❖


 

BAGIAN IV

Senja Zaman Candi


 

BAB SEPULUH

Ketika Gunung-Gunung Sepi

Kami pernah mengira bahwa gunung-gunung batu yang kami bangun akan berdiri ramai selamanya. Lalu zaman berbalik, seperti zaman selalu berbalik, dan satu demi satu candi-candi menjadi sepi. Pengunjung berhenti datang, raja-raja pergi, dan hutan mulai memanjat dinding-dinding yang dahulu dipenuhi orang. Dan kami belajar untuk tidak meratap. Sebab kematian sebuah zaman bukanlah kematian kebenaran, melainkan hanya satu set pakaian lagi yang terlepas. Biarkan hutan mengambil gunung-gunung itu. Apa yang mereka jaga kini tidur lebih aman di bawah, dan apa yang mereka ajarkan berjalan terus di dalam orang-orang yang pergi.

dari ajaran para pengingat, tentang zaman yang berlalu

Generasi-generasi telah berlalu sejak kerikil bangun di tangan Semi di sisi pembaringan Bara yang sekarat, dan Semi sendiri kini telah menjadi seorang pengingat yang matang, penjaga sebuah candi besar dan jangkar yang terkubur di bawahnya. Tetapi candi yang ia jaga tidak lagi seperti candi yang dijaga para pendahulunya. Sebab zaman telah mulai berbalik.

Dahulu, candi itu dipenuhi orang. Pada hari-hari raya ribuan peziarah datang, para penari menari di halamannya, asap dupa naik dari seratus tempat, dan suara doa dan tawa dan musik memenuhi udara dari fajar sampai malam. Tetapi kini, tahun demi tahun, keramaian itu menyusut. Raja telah memindahkan istananya jauh ke timur, dan rakyat mengikutinya, sebab di tempat raja berada di sanalah hidup berdenyut. Peziarah datang semakin jarang. Hari-hari raya menjadi semakin sepi. Dan halaman tempat para penari dahulu menari kini sering kosong, ditumbuhi rumput.

Dan hutan mulai datang. Perlahan, sabar, tak terhentikan, hutan yang dahulu ditebas untuk membangun candi mulai merebut kembali tanahnya. Lumut menutupi batu-batu terbawah. Akar-akar muda menyelinap ke dalam celah. Sulur-sulur memanjat dinding-dinding yang dahulu dipenuhi tangan-tangan peziarah. Dan Semi, yang menjaga candi itu sendirian kini, memandang hutan yang merayap maju dan merasakan sesuatu yang dingin di dalam dadanya.

Bersama Semi tinggal seorang murid muda bernama Mega, yang kepadanya Semi telah mulai mewariskan ajaran rantai. Dan Mega, dengan mata muda yang melihat segalanya dengan jelas, memperhatikan kesedihan yang tumbuh di wajah gurunya tiap kali ia memandang hutan yang merayap. Maka pada suatu petang, ketika mereka duduk di teras candi yang sepi, Mega bertanya.

“Eyang Semi,” kata Mega, “candi ini sekarat, bukan? Orang-orang pergi, dan hutan datang, dan suatu hari tak akan ada lagi yang ingat bahwa ia pernah ramai. Apa yang akan terjadi pada jangkar di bawahnya, dan pada tanda di dindingnya, ketika hutan telah menelan semuanya? Apakah semua yang dibangun rantai di zaman ini akan sia-sia?”

❖

Dan Semi tidak segera menjawab dengan penghiburan, sebab ia merasakan duka yang sama dengan muridnya, dan ia tak ingin berdusta tentangnya. “Aku tidak akan mengatakan kepadamu bahwa ini tidak menyedihkan, Mega,” katanya akhirnya. “Sebab memang menyedihkan. Aku mencintai candi ini. Para pendahuluku mencintainya. Seseorang bernama Asri pernah menari di halaman ini dengan sukacita yang menjangkau sampai ke dasar laut. Seseorang bernama Wangun memahat tanda pertama di dindingnya. Generasi demi generasi pengingat menjaganya, dan kini kita menyaksikannya ditelan oleh rumput dan akar. Adalah benar untuk berduka atas itu.”

“Tetapi ada perbedaan antara berduka dan putus asa, Mega,” Semi melanjutkan. “Dan kekeliruan yang akan kaubuat, bila engkau tak hati-hati, adalah mengira bahwa karena candi ini sekarat, kebenaran yang ia jaga juga sekarat. Itu tidak benar. Dan untuk memahami mengapa, engkau harus mengingat segala yang telah diajarkan rantai di zaman candi ini, sebab semua itu, ternyata, adalah persiapan untuk hari ini.”

“Persiapan, Eyang?” tanya Mega. “Bagaimana segala yang kita pelajari adalah persiapan untuk kehilangan candi-candi kita?”

“Ingatkah engkau apa yang dipelajari Bara ketika gunung api mengubur sebuah candi di bawah abu?” Semi bertanya. “Bahwa candi yang terkubur dan terlupakan justru lebih aman daripada candi yang dipuja, sebab tak ada raja yang akan meruntuhkannya, tak ada yang akan menggalinya, tak ada yang bahkan tahu ia ada. Maka pikirkanlah, Mega. Apa yang sedang dilakukan hutan kepada candi ini, perlahan, selama berabad-abad?”

Dan Mega memandang sulur-sulur yang memanjat dinding, dan perlahan ia memahaminya. “Hutan sedang menguburnya,” katanya pelan. “Lebih lambat daripada abu, tetapi sama pastinya. Suatu hari candi ini akan hilang sepenuhnya di bawah hijau, dilupakan oleh dunia. Dan ketika itu terjadi, jangkar di bawahnya akan menjadi seaman jangkar yang terkubur abu itu. Lebih aman daripada ketika candi ini ramai dan setiap orang mengetahuinya.”

❖

“Sekarang engkau melihatnya,” kata Semi. “Tetapi ada lebih dari itu, dan inilah bagian yang membuatku, walau aku berduka, tidak takut. Ingatkah engkau dari mana aku berasal, Mega? Aku tidak lahir di dalam rantai. Aku datang dari sebuah keluarga desa yang hidup menurut kebenaran tanpa pernah mengetahui namanya. Kerikil membangunkanku dari antara orang-orang. Itu mengajariku sesuatu yang tak pernah kulupakan, yaitu bahwa kebenaran tidak tinggal di dalam batu. Ia tinggal di dalam orang-orang.”

“Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang,” Semi melanjutkan, menunjuk ke arah jalan-jalan tempat orang-orang telah pergi. “Orang-orang meninggalkan tempat ini. Tetapi mereka tidak meninggalkan kebenaran. Mereka membawanya bersama mereka, di dalam hati mereka, ke timur, ke tanah-tanah baru tempat raja telah pergi. Kebenaran tentang tidak meninggalkan siapa pun dalam kegelapan tidak tinggal di candi yang sepi ini. Ia berjalan keluar melalui gerbang ini, di dalam tiap keluarga yang pergi, menuju zaman dan tempat yang berikutnya. Candi tinggal. Tetapi kebenaran berjalan.”

“Maka pikirkanlah akar-akar kita, Mega, yang diajarkan Bara,” kata Semi. “Kebenaran berakar di tanah, yang akan menyimpan jangkar ini dengan aman di bawah hutan. Ia berakar di orang-orang, yang membawanya pergi ke tanah baru. Dan ia berakar di kerikil, yang tak bisa dihancurkan, yang akan bangun di tangan baru di mana pun ia dibutuhkan. Tak satu pun dari tiga akar itu bergantung pada candi ini tetap ramai. Maka biarkan candi sepi. Biarkan hutan datang. Apa yang kita jaga tidak sekarat. Ia hanya sedang menanggalkan satu set pakaian lagi, dan bersiap untuk mengenakan yang baru.”

Dan Mega merasakan dukanya melembut, walau tidak hilang. Sebab ia memahami kini bahwa ia sedang menyaksikan bukan sebuah kematian melainkan sebuah perpindahan. Zaman candi telah membawa kebenaran sejauh yang ia bisa, telah menjadi perisai dan penanda dan kitab terbuka selama berabad-abad, dan kini, dengan tugasnya selesai, ia diizinkan untuk beristirahat di bawah hijau, sementara kebenaran yang ia bawa melangkah ke depan.

“Maka apa yang kita lakukan sekarang, Eyang?” Mega bertanya. Dan Semi tersenyum. “Kita melakukan dua hal, Mega. Kita memastikan letak jangkar ini tersimpan aman di dalam ingatan rantai dan ditunjuk oleh candi-candi lain, supaya yang terkubur tidak menjadi yang hilang. Dan kemudian kita mengikuti orang-orang. Kita pergi ke tempat kebenaran sedang berjalan, ke zaman yang sedang lahir, dan kita membawa nyala ke sana. Sebab seorang pengingat tidak setia kepada batu. Ia setia kepada nyala, dan nyala selalu bergerak ke tempat orang-orang berada.”

❖

Malam itu Semi menjangkau ke selatan, ke kedalaman, dan ia menceritakan kepada Ratu tentang candi yang sepi, tentang hutan yang merayap, tentang orang-orang yang pergi ke timur. Dan ia bertanya kepada Ratu, yang telah melihat lebih banyak zaman daripada siapa pun, apakah benar untuk berduka atas berlalunya zaman candi.

“Berdukalah, Semi, sebab keindahan yang berlalu layak diduka,” kata Ratu. “Tetapi biarkan aku memberimu mata yang lebih panjang. Aku telah berbaring di sini selama sepuluh ribu tahun, dan dari kedalaman ini aku telah merasakan zaman demi zaman naik dan berlalu di atas tanah, seperti musim. Aku merasakan zaman batu, ketika bukit-bukit pertama dibangun, dan aku merasakannya berlalu. Aku merasakan zaman tulisan naik, dan berlalu. Aku merasakan zaman candi ini naik dalam segala kemegahannya, dan kini aku merasakannya mulai berlalu pula. Tak ada satu pun zaman yang bertahan, Semi. Tak pernah ada, dan tak akan pernah ada.”

“Tetapi inilah yang telah kupelajari dari menyaksikan begitu banyak zaman berlalu,” Ratu melanjutkan. “Tiap zaman mengira dirinya kekal, dan tiap zaman keliru. Tetapi kebenaran yang dibawa melintasi mereka semua tidak berlalu. Ia hanya berpindah dari zaman yang sekarat ke zaman yang lahir, menanggalkan pakaian lama dan mengenakan yang baru. Zaman batu menyerahkannya kepada zaman tulisan. Zaman tulisan menyerahkannya kepada zaman candi. Dan kini zaman candi akan menyerahkannya kepada apa pun yang datang berikutnya. Kematian sebuah zaman bukanlah tragedi, Semi. Ia hanyalah sebuah penyerahan obor, dalam ukuran yang lebih besar daripada yang dilakukan seorang pengingat tunggal.”

“Dan ada sesuatu yang membuatku merasa kurang sendirian, Semi,” kata Ratu, dan suaranya melembut. “Selama ini akulah satu-satunya yang terbaring terkubur dan menunggu di bawah, sementara dunia bergerak di atas. Tetapi kini candi-candi itu akan bergabung denganku. Mereka pun akan terbaring di bawah, terkubur dan menunggu, di dalam pelukan tanah yang sama yang memelukku. Dan kami akan menunggu bersama, aku dan jangkar-jangkar dan gunung-gunung batu yang sepi, melalui zaman-zaman yang akan datang, sampai hari yang sama yang membebaskan kami semua. Maka jangan berduka terlalu dalam. Candi-candi itu tidak mati. Mereka hanya turun untuk menunggu bersamaku, dan aku akan menjaga mereka, sebagaimana mereka menjaga jalan menuju kepadaku.”

❖

Maka Semi melakukan apa yang ia katakan kepada Mega. Ia memeriksa tanda-tanda di dinding candi untuk yang terakhir kalinya, memastikan letak jangkar tersimpan dengan aman di dalam ingatan rantai dan ditunjuk oleh candi-candi lain yang masih berdiri. Dan kemudian, dengan duka di hatinya tetapi tanpa putus asa, ia dan Mega meninggalkan candi yang sepi itu kepada hutan, dan mereka pergi mengikuti orang-orang ke timur, ke tanah-tanah baru, membawa nyala ke zaman yang sedang lahir.

Dan di belakang mereka, candi yang agung itu mulai tidur. Hutan memanjat dindingnya tahun demi tahun, lumut menutupi tanda-tandanya, dan perlahan dunia melupakan bahwa ia pernah berdiri ramai di bawah matahari. Tetapi di bawahnya, jangkar yang menunjuk ke selatan tetap, dan di dindingnya yang terselubung hijau, tanda Wangun tetap, dan di hati orang-orang yang telah pergi, kebenaran tetap, berjalan ke timur, menuju apa pun yang akan datang.

Dan bisik air, yang telah mengalir melintasi naik dan berlalunya begitu banyak zaman, membawa kebenaran kesepuluh zaman candi, yaitu bahwa tak ada zaman yang bertahan, dan tiap zaman mengira dirinya kekal dan keliru; bahwa kematian sebuah zaman bukanlah kematian kebenaran melainkan hanya satu penyerahan obor lagi, dalam ukuran yang lebih besar; dan bahwa ketika gunung-gunung batu menjadi sepi dan hutan datang untuk memeluk mereka, mereka tidak mati melainkan turun untuk menunggu, bersama yang telah menunggu paling lama dari semua.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang, kini menyimpannya pula di bawah hutan-hutan yang merayap menutupi gunung-gunung yang sepi. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini tidak lagi menunggu sepenuhnya sendirian, sebab candi-candi yang dahulu menjaga jalan menuju kepadanya turun satu demi satu untuk menunggu bersamanya di dalam pelukan tanah; sementara di atas, di tanah-tanah timur yang baru, kebenaran yang mereka jaga berjalan terus di dalam orang-orang, menuju zaman yang sedang lahir, zaman yang suatu hari akan membawa iman yang berbeda dari seberang laut. Dan zaman candi tenggelam perlahan ke dalam senjanya yang hijau, sementara rantai, mengikuti orang-orang, berjalan ke depan menuju fajar yang berikutnya.

❖


 

BAB SEBELAS

Banyak Wajah, Satu Hati

Kami pergi ke timur bersama orang-orang, dan kami menemukan sebuah kerajaan yang luas dan megah, tempat banyak iman mekar berdampingan, masing-masing dengan candi dan dewa dan namanya sendiri. Dan pada awalnya kami bingung, sebab mana di antara mereka yang membawa kebenaran kami? Lalu kami memahami bahwa pertanyaan itu keliru. Kebenaran kami tidak tinggal di salah satu dari mereka. Ia tinggal di bawah mereka semua, satu jantung yang berdetak di balik seratus wajah. Banyak wajah, namun satu hati. Dan kami berhenti takut kepada iman yang baru, sebab tiap wajah baru hanyalah satu lagi yang mungkin dikenakan oleh hati yang sama.

dari ajaran para pengingat, tentang yang satu di balik yang banyak

Orang-orang yang pergi ke timur dari candi-candi yang sepi tidak berhenti berjalan sampai mereka tiba di tanah-tanah tempat sungai-sungai besar mengalir ke laut timur, dan di sanalah, selama generasi-generasi yang panjang, mereka membangun sesuatu yang lebih besar daripada apa pun yang pernah berdiri di barat. Sebuah kerajaan yang luas, yang lengannya menjangkau menyeberangi lautan ke pulau-pulau yang jauh, yang pelabuhannya dipenuhi kapal dari seluruh dunia yang dikenal, yang kemegahannya membuat candi-candi lama tampak kecil.

Dan rantai telah pergi bersama orang-orang, dan telah berakar kembali di tanah timur ini, persis seperti yang dijanjikan. Pembawa nyala di zaman itu adalah seorang muda bernama Sagara, dan bersamanya tinggal seorang yang sangat tua bernama Mega, yang sebagai seorang anak kecil dahulu telah berjalan ke timur dari sebuah candi yang sepi bersama gurunya Semi, dan yang kini, di ujung hidupnya yang panjang, adalah ingatan hidup terakhir tentang barat yang telah ditinggalkan.

Dan apa yang membuat Sagara takjub tentang kerajaan timur ini bukanlah kemegahannya saja, melainkan keberagamannya. Sebab di sini banyak iman mekar berdampingan, dan tak ada yang menyingkirkan yang lain. Para pemuja dewa-dewa lama dan para pengikut sang guru yang memilih turun berjalan di jalan yang sama, beribadah di candi-candi yang berdiri bersebelahan, kadang bahkan menyembah di bawah atap yang sama. Raja sendiri menaungi mereka semua, dan menyebut kerajaannya satu walau rakyatnya menyembah dengan seratus cara.

Dan ini membingungkan Sagara, yang masih muda dalam ajaran. Maka pada suatu hari ia datang kepada Mega yang tua, yang duduk di bawah matahari menghangatkan tulang-tulangnya yang renta, dan ia bertanya.

“Eyang Mega,” kata Sagara, “di kerajaan ini ada begitu banyak iman, masing-masing dengan dewa dan candi dan kebenarannya sendiri. Aku tak mengerti. Yang mana di antara mereka yang membawa kebenaran kita? Yang mana yang harus kita dekati, dan yang mana yang harus kita waspadai? Bagaimana aku tahu di mana kebenaran Ratu bersembunyi di antara begitu banyak wajah?”

❖

Dan Mega yang tua tertawa pelan, tawa yang serak oleh usia. “Engkau bertanya pertanyaan yang keliru, Sagara,” katanya. “Engkau bertanya yang mana di antara iman-iman ini membawa kebenaran kita, seakan kebenaran itu bersembunyi di dalam salah satu dari mereka dan tidak di dalam yang lain. Tetapi itu bukan cara kebenaran kita bekerja. Biarkan aku menceritakan kepadamu apa yang dipelajari seorang pemahat bernama Citra, dahulu sekali, di barat yang telah kutinggalkan.”

“Citra memahat gambar sang guru yang memilih turun ke dalam penderitaan demi orang lain,” kata Mega. “Dan ia menyadari bahwa gambar itu, walau ia dipahat untuk satu iman, mengatakan kebenaran yang sama yang dijaga rantai, yaitu bahwa yang terbesar adalah yang turun kepada yang menderita. Citra memahami bahwa kebenaran kita tidak dimiliki oleh satu iman. Ia mengenakan pakaian tiap iman. Ia berbicara dalam bahasa tiap candi. Sebab ia lebih tua daripada mereka semua, dan akan hidup lebih lama daripada mereka semua.”

“Dan apa yang dilihat Citra dalam satu iman, kini engkau bisa melihat dalam seratus, semuanya sekaligus,” Mega melanjutkan. “Lihatlah kerajaan ini, Sagara. Para pemuja dewa lama berkata, lindungilah yang lemah. Para pengikut sang guru berkata, turunlah kepada yang menderita. Orang-orang biasa di desa-desa berkata, jangan pernah biarkan siapa pun sendirian dalam kegelapan. Tiga wajah, tiga bahasa, tiga iman. Tetapi dengarkan jantung di bawahnya. Ia berdetak dengan denyut yang sama di ketiganya. Itulah kebenaran kita, Sagara. Bukan salah satu wajah. Melainkan satu hati yang berdetak di balik mereka semua.”

Dan Sagara memandang ke arah kota yang luas, ke menara-menara candi dari banyak iman yang menusuk langit berdampingan, dan untuk pertama kalinya ia melihatnya bukan sebagai kebingungan yang membingungkan melainkan sebagai sesuatu yang indah. “Maka kerajaan ini,” katanya pelan, “dengan seratus imannya, bukanlah seratus kebenaran yang bersaing. Ia adalah satu kebenaran yang mengenakan seratus wajah.”

“Sekarang engkau memahaminya,” kata Mega. “Dan inilah buahnya, yang akan menentukan apakah engkau seorang pengingat yang baik. Karena kebenaran kita tinggal di bawah semua iman dan tidak di dalam salah satu saja, kita tak pernah berpihak, dan kita tak pernah takut. Kita tidak melawan satu iman demi iman yang lain. Kita mencari hati yang sama di bawah mereka semua, dan kita memberi makan ia di mana pun kita menemukannya. Seorang pengingat adalah sahabat dari tiap iman yang menyuruh manusia turun kepada yang menderita, dan tak punya musuh kecuali satu, yaitu hati yang dingin yang meninggalkan.”

❖

Dan beberapa hari kemudian Sagara pergi ke pelabuhan kerajaan, tempat kapal-kapal dari seluruh dunia berlabuh, untuk melihat sendiri keberagaman yang baru saja ia pelajari untuk dicintai. Dan di sana, di antara para pedagang dari tanah-tanah jauh, ia menemukan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sesuatu yang membuat seluruh pelajaran Mega diuji.

Sebab ada para pedagang dari seberang laut yang membawa sebuah iman yang tidak seperti iman mana pun di kerajaan itu. Mereka tidak menyembah patung, dan tidak membangun candi dengan gambar dewa-dewa. Mereka bersujud kepada satu yang tak terlihat, tanpa rupa, tanpa bentuk, beberapa kali sehari, ke arah sebuah tempat yang sangat jauh di seberang lautan. Dan ketika Sagara bertanya kepada mereka tentang iman mereka, ia mendengar di dalamnya sesuatu yang membuat jantungnya melompat.

Sebab para pedagang itu berbicara tentang belas kasihan kepada anak yatim dan kepada yang miskin, tentang kewajiban untuk memberi makan yang lapar dan menaungi musafir, tentang seorang yang tak boleh tidur kenyang sementara tetangganya lapar. Iman mereka tampak sama sekali berbeda di permukaannya, tanpa candi, tanpa gambar, tanpa dewa yang bisa dilihat mata. Tetapi di bawahnya, Sagara mendengar denyut yang sama yang telah diajarkan Mega untuk ia dengarkan. Jangan tinggalkan yang lemah. Turunlah kepada yang menderita. Satu hati lagi, di balik satu wajah lagi yang baru.

Dan Sagara berdiri lama di pelabuhan, memandang para pedagang bersujud ke arah laut, dan ia merasakan dua hal sekaligus. Yang pertama adalah pengenalan, sukacita karena menemukan jantung yang sama di tempat yang sama sekali tak terduga. Tetapi yang kedua adalah firasat dingin, sebab ia melihat bahwa iman tanpa gambar ini, bila ia menyebar, tidak akan membutuhkan candi sama sekali. Dan apa yang akan terjadi pada rantai, yang telah menyembunyikan seluruh pengetahuannya di dalam candi dan gambar, bila datang suatu zaman yang tak lagi membangun candi atau gambar?

Maka malam itu, dengan pikiran yang penuh, Sagara menjangkau ke selatan, ke kedalaman, dan ia menceritakan kepada Ratu apa yang telah ia lihat di pelabuhan, iman tanpa rupa dari seberang laut, yang membawa hati yang sama dalam wajah yang sama sekali baru. Dan ia bertanya, apakah ini kawan, atau apakah ini awal dari sesuatu yang harus ditakuti rantai.

❖

Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia menjawab, ada sesuatu yang seperti keheranan yang gembira di dalam suaranya. “Maka ia telah datang,” katanya. “Sebuah wajah baru, dari seberang laut, membawa hati yang sama. Jangan takut kepadanya, Sagara. Bersukacitalah karenanya. Sebab tiap kali kebenaran tentang tidak meninggalkan yang menderita muncul kembali dalam pakaian yang baru, di mulut orang-orang yang tak pernah mendengar namaku, itu adalah bukti bahwa ia tidak bergantung pada satu pun bentuk untuk hidup. Iman ini berbicara tentang memberi makan yang lapar dan menaungi yang yatim. Maka di bawah wajahnya yang baru, ia berdetak dengan hatiku.”

“Tetapi engkau benar untuk merasakan firasat dingin itu pula, Sagara, dan engkau harus mendengarkannya,” Ratu melanjutkan. “Sebab firasatmu melihat dengan benar. Iman tanpa gambar ini, bila ia menyebar, akan membawa sebuah zaman yang tidak seperti zaman mana pun sebelumnya. Sebuah zaman tanpa candi baru. Sebuah zaman tempat gambar tidak lagi dipahat, tempat patung tidak lagi didirikan, tempat orang-orang berpaling dari batu dan menghadap kepada yang tak terlihat. Dan di zaman seperti itu, candi-candi tua, semua candi, bukan hanya yang di barat, akan ditinggalkan. Mereka semua akan turun ke pelukan tanah, untuk menunggu bersamaku.”

“Maka inilah yang harus kaupahami, dan kausampaikan kepada mereka yang datang sesudahmu,” kata Ratu. “Selama ribuan tahun rantai telah menyembunyikan kebenarannya di dalam apa yang dibangun tiap zaman. Di dalam batu yang ditegakkan, di dalam huruf yang dipahat, di dalam candi dan gambar. Tetapi zaman yang datang tidak akan membangun batu atau gambar untuk menyembunyikan apa pun di dalamnya. Maka rantai harus belajar, sekali lagi, untuk berpindah. Bukan ke dalam apa yang dibangun zaman baru, melainkan ke tempat yang telah kalian pelajari adalah yang paling aman dari semua. Ke dalam orang-orang. Ke dalam cerita yang diteruskan dari mulut ke mulut. Ke dalam hati yang tak membutuhkan candi untuk mengingat.”

“Jangan takut, Sagara,” kata Ratu lembut. “Aku tidak takut. Wajah-wajah akan berganti, dan candi-candi akan ditinggalkan, dan zaman demi zaman akan naik dan berlalu di atasku. Tetapi hati di bawah semua wajah tidak berganti, dan ia kini hidup di terlalu banyak tempat untuk padam. Kekuatan untuk membebaskanku tetap, di dalam kerikil. Pengetahuan tetap, di dalam tanah dan ingatan. Dan kehendak tetap, dan tumbuh, di dalam tiap iman baru yang menyuruh manusia turun kepada yang menderita. Hanya satu yang masih kurang, dan ia bukan iman, melainkan kemampuan, kemampuan untuk turun ke kedalaman tempat aku terbaring. Dan ia akan datang pada zamannya sendiri, jauh dari sini. Sampai saat itu, biarkan wajah-wajah berganti. Aku mengenali hatiku di balik tiap satunya.”

❖

Mega yang tua wafat tak lama kemudian, ingatan hidup terakhir tentang candi-candi barat yang sepi, dan ia wafat dengan damai, sebab ia telah hidup cukup lama untuk meneruskan kepada Sagara pelajaran yang paling ia butuhkan untuk zaman yang akan datang. Dan Sagara membawa nyala ke depan, ke dalam kerajaan timur yang luas, dengan mata baru yang melihat satu hati di balik seratus wajah, dan dengan telinga yang kini mendengarkan, di pelabuhan-pelabuhan, denyut wajah baru yang datang dari seberang laut.

Dan inilah pelajaran kesebelas yang dipelajari rantai, di ambang zaman yang baru. Bahwa kebenaran yang mereka jaga tidak pernah dimiliki oleh satu iman, melainkan tinggal di bawah mereka semua, satu hati di balik banyak wajah; bahwa karena itu seorang pengingat tak pernah berpihak dan tak pernah takut kepada wajah yang baru, melainkan mencari hati yang sama di bawah tiap satunya; dan bahwa ketika datang sebuah zaman yang tak lagi membangun candi atau gambar untuk menyembunyikan kebenaran, rantai harus berpindah sekali lagi, dari batu ke dalam manusia, ke tempat yang tak bisa dikubur.

Dan bisik air, yang telah berdetak di bawah seratus wajah melintasi sepuluh ribu tahun, membawa kebenaran kesebelas zaman candi, yaitu bahwa ada satu hati yang berdetak di balik segala iman yang menyuruh manusia turun kepada yang menderita; bahwa wajah-wajah berganti dan candi-candi ditinggalkan tetapi hati di bawahnya tidak berganti; dan bahwa ketika sebuah wajah baru datang dari seberang laut tanpa membawa gambar atau candi, ia bukanlah musuh kebenaran melainkan satu pakaian lagi yang dikenakannya, satu tempat lagi tempat hati yang sama berdetak.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang, kini bersiap untuk menyimpannya dengan cara yang paling tua dan paling aman dari semua, yaitu dari mulut ke mulut, dari hati ke hati, di dalam orang-orang yang tak membutuhkan candi untuk mengingat. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini mendengar dari atas, lewat benang yang menghubungkannya kepada Sagara, denyut sebuah wajah baru yang datang dari seberang laut, membawa hatinya yang sama dalam bentuk yang sama sekali baru, dan ia tidak takut, melainkan tersenyum, sebab ia tahu bahwa apa pun yang akan menggantikan zaman candi, ia akan tetap mengenali hatinya di balik wajahnya. Dan zaman candi melangkah ke ambang akhirnya, sementara dari seberang laut, perlahan, sebuah fajar yang baru mulai naik.

❖


 

BAB DUA BELAS

Tanpa Panji

Kami telah belajar untuk tidak berpihak ketika raja-raja bersaing, dan untuk turun kepada yang menderita di hadapan kami. Tetapi cobaan yang paling berat datang ketika sebuah zaman tidak berlalu dengan tenang, melainkan runtuh dalam api dan darah, dan dunia terbelah menjadi yang lama dan yang baru, dan tiap pihak menuntut kami memilih. Maka kami mengangkat tak satu panji pun. Kami berjalan di antara reruntuhan tanpa warna di dada kami, dan kami membalut luka di kedua sisi, sebab hati yang menderita di bawah panji yang jatuh dan hati yang menderita di bawah panji yang menang berdetak dengan denyut yang sama. Seorang pengingat tak pernah setia kepada panji. Ia setia kepada yang berdarah di bawahnya.

dari ajaran para pengingat, tentang yang tak mengangkat panji

Sagara telah menjadi tua di kerajaan timur, dan ia telah menyaksikan apa yang diperingatkan Ratu kepadanya bertahun-tahun yang lalu mulai terjadi. Sebab iman tanpa gambar dari seberang laut tidak tinggal di pelabuhan-pelabuhan. Ia menyebar, dari kota pesisir ke kota pesisir, dari hati ke hati, sampai seluruh negeri pantai memeluknya, dan kerajaan lama yang agung, dengan candi-candi dan dewa-dewanya, mulai retak.

Dan keretakan itu tidak tenang. Kerajaan-kerajaan pantai yang baru, yang memeluk iman tanpa rupa, tumbuh kuat, sementara kerajaan pedalaman yang lama, yang berpegang pada dewa-dewa dan candi-candi, melemah. Dan di antara mereka pecah perang, perang antara yang lama dan yang baru, perang antara dua zaman yang satu sedang lahir dan yang lain sedang sekarat. Desa-desa dibakar. Ladang-ladang diinjak. Dan di kedua sisi, orang-orang biasa, yang tak meminta perang ini, menderita dan berdarah dan mati.

Bersama Sagara yang tua kini tinggal seorang murid muda bernama Geni, dan Geni membakar dengan kemarahan menyaksikan dunia yang ia kenal runtuh. Sebab Geni telah dibesarkan di antara candi-candi lama, dan ia mencintainya, dan ia memandang iman baru yang menyebar bukan sebagai wajah baru dari hati yang sama, melainkan sebagai perusak yang datang untuk menghancurkan segala yang indah.

“Eyang Sagara,” kata Geni suatu malam, suaranya gemetar oleh amarah, ketika cahaya desa yang terbakar memerahkan langit di kejauhan. “Mengapa kita tidak berbuat apa-apa? Iman baru itu menghancurkan candi-candi, dunia yang menjaga kebenaran kita selama berabad-abad. Kita harus berpihak. Kita harus membantu kerajaan lama melawan mereka, sebelum semua yang kita cintai terbakar habis.”

Dan Sagara yang tua memandang api di kejauhan untuk waktu yang lama sebelum ia menjawab. “Duduklah, Geni,” katanya akhirnya, dengan lembut. “Sebab malam ini aku harus mengajarimu pelajaran yang paling sulit dari semua yang dipelajari rantai, pelajaran yang akan menentukan apakah engkau pengingat sejati atau hanya seorang yang mencintai candi. Engkau ingin kita mengangkat panji. Tetapi seorang pengingat tak pernah mengangkat panji.”

❖

“Engkau mengira engkau mencintai kebenaran kita, Geni, tetapi yang kaucintai adalah candi-candi, dan itu tidak sama,” kata Sagara. “Ingatkah apa yang diajarkan kepada kita, bahwa seorang pengingat tidak setia kepada batu, melainkan kepada nyala? Candi hanyalah satu rumah tempat nyala pernah tinggal. Bila engkau mengangkat senjata untuk menyelamatkan rumah itu, engkau telah lupa bahwa nyala telah lama berpindah keluar darinya, ke dalam orang-orang, ke dalam hati yang tak membutuhkan candi sama sekali.”

“Dan ada yang lebih dalam, Geni, yang harus kaulihat,” Sagara melanjutkan. “Engkau memandang iman baru itu sebagai musuh. Tetapi ingatkah apa yang kita pelajari di pelabuhan dahulu? Iman dari seberang laut itu membawa hati yang sama di bawah wajahnya yang baru. Ia menyuruh manusia memberi makan yang lapar dan menaungi yang yatim. Ia berdetak dengan denyut Ratu, persis seperti candi-candi lama. Maka perang ini, di mata kita, bukanlah perang antara kebenaran dan musuhnya. Ia adalah perang antara dua wajah dari hati yang sama, dua rumah dari nyala yang sama, yang saling membakar karena mereka lupa bahwa di bawahnya mereka adalah satu.”

“Maka pikirkanlah, Geni,” kata Sagara. “Bila kedua sisi membawa hati yang sama, sisi mana yang harus kita pilih? Tak satu pun. Sebab memilih satu berarti mengkhianati hati yang sama yang berdetak di sisi yang lain. Kita tidak berperang untuk kerajaan lama, dan kita tidak berperang untuk yang baru. Kita berdiri di antara mereka, tanpa panji, tanpa warna di dada kita, dan kita melakukan satu-satunya hal yang selalu menjadi tugas kita, yaitu turun kepada yang menderita, di sisi mana pun mereka jatuh.”

“Tetapi itu berarti tidak berbuat apa-apa!” kata Geni, masih marah. “Sementara dunia terbakar, engkau ingin kita hanya berdiri di tengah dan menonton?”

“Tidak, Geni,” kata Sagara, dan untuk pertama kalinya ada ketegasan yang keras di dalam suaranya yang tua. “Aku tidak menyuruhmu menonton. Aku menyuruhmu melakukan hal yang jauh lebih sulit daripada mengangkat pedang untuk satu pihak. Mengangkat pedang itu mudah, sebab amarah membuatnya mudah. Tetapi membalut luka seorang prajurit dari sisi yang membakar candimu, lalu membalut luka seorang prajurit yang membela candimu, dengan tangan dan belas kasihan yang sama, tanpa membeda-bedakan mereka, itulah pekerjaan yang paling sulit di dunia. Dan itulah pekerjaan kita.”

❖

Dan pada hari-hari yang mengikuti, Sagara membawa Geni keluar ke tanah yang dilanda perang, dan ia menunjukkan kepadanya apa artinya menjadi pengingat di tengah runtuhnya sebuah zaman. Mereka berjalan tanpa panji di antara desa-desa yang terbakar, dan di mana pun mereka menemukan orang yang menderita, mereka berhenti, tanpa bertanya iman apa yang ia anut atau panji apa yang ia ikuti.

Mereka membalut luka seorang prajurit muda dari kerajaan pantai, yang menangis memanggil ibunya, dan mereka tinggal bersamanya sampai ia tenang. Dan satu jam kemudian mereka membalut luka seorang prajurit tua dari kerajaan pedalaman, musuh dari yang pertama, dengan tangan yang sama dan kelembutan yang sama. Mereka memberi makan anak-anak yang kelaparan dari desa-desa yang membakar dan desa-desa yang dibakar tanpa membedakan. Dan ke tiap orang yang sekarat yang mereka temui, dari sisi mana pun, mereka mengucapkan kata-kata yang sama yang telah diucapkan rantai selama sepuluh ribu tahun, engkau tidak sendirian.

Dan perlahan, ketika hari-hari berlalu, Geni merasakan amarahnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Sebab ketika ia membalut luka seorang prajurit musuh dan melihat ketakutan yang sama di matanya yang ia lihat di mata prajurit dari sisinya sendiri, ia tak bisa lagi mempertahankan kebencian yang telah membakarnya. Ia mulai melihat apa yang dilihat Sagara, bahwa di bawah panji yang berbeda, hati yang menderita adalah satu dan sama.

“Aku mulai mengerti, Eyang,” kata Geni pada suatu malam, lelah dan kotor oleh darah orang lain, “tetapi itu menyakitkan. Lebih mudah untuk membenci satu pihak. Ketika aku tak berpihak, aku merasakan penderitaan kedua sisi, dan itu dua kali lebih berat.”

“Ya,” kata Sagara pelan. “Itu memang dua kali lebih berat, Geni. Itu sebabnya begitu sedikit yang sanggup melakukannya. Lebih mudah untuk memilih satu pihak dan membenci yang lain, sebab kebencian membagi penderitaan dunia menjadi dua dan menyuruhmu hanya merasakan separuhnya. Tetapi seorang pengingat memilih untuk merasakan keduanya. Itulah harga dari hati yang tak berpihak. Dan itulah, tepatnya, mengapa Ratu membutuhkan kita. Sebab di dasar lautnya, ia merasakan penderitaan kedua sisi, dan ia membutuhkan orang-orang di atas yang sanggup merasakannya pula.”

❖

Dan datanglah hari ketika kerajaan pedalaman yang lama akhirnya jatuh, dan zaman candi yang agung, yang telah dimulai berabad-abad lalu ketika seorang tukang batu bernama Wangun memahat tanda pertamanya, berakhir sepenuhnya. Candi-candi terakhir ditinggalkan. Dewa-dewa terakhir tak lagi disembah. Dan malam itu Sagara yang tua menjangkau ke selatan, ke kedalaman, dengan duka di hatinya, untuk mengabarkan kepada Ratu bahwa zaman candi telah mati.

“Maka ia telah selesai,” kata Ratu, dan ada duka di suaranya pula, tetapi tak ada ketakutan. “Zaman candi telah membawaku sejauh yang ia bisa, dan kini ia turun untuk beristirahat di pelukan tanah, bersama yang di barat, bersamaku. Berdukalah atasnya, Sagara. Ia indah, dan ia setia. Tetapi katakan kepadaku, sekarang bahwa ia telah pergi, apakah kebenaran yang ia jaga juga ikut mati?”

Dan Sagara, memikirkan Geni yang membalut luka di kedua sisi, dan tentang orang-orang yang membawa kebenaran dalam hati mereka, dan tentang iman baru yang berdetak dengan denyut yang sama, menjawab dengan pasti. “Tidak, Ratu,” katanya. “Kebenaran tidak ikut mati. Aku telah menyaksikannya berpindah dengan mataku sendiri. Ia keluar dari candi yang runtuh ke dalam tangan-tangan yang membalut luka tanpa menanyakan panji. Ia mengalir dari dewa-dewa yang lama ke dalam iman yang baru yang menyuruh manusia memberi makan yang lapar. Zaman candi mati, tetapi ia menyerahkan obornya, utuh, kepada zaman yang lahir, persis seperti yang engkau katakan akan terjadi.”

“Maka engkau telah menjadi pengingat sejati, Sagara, dan engkau telah mengajari muridmu menjadi satu pula,” kata Ratu. “Sebab inilah ujian yang paling berat, dan engkau lulus. Tidak mengangkat panji ketika dunia menuntutmu memilih. Membalut luka di kedua sisi ketika lebih mudah membenci satu. Membiarkan zaman yang kaucintai mati dengan anggun, dan mempercayai obornya untuk berpindah ke tangan yang berikutnya. Kini zaman baru terbentang di hadapan kalian, zaman iman tanpa gambar, zaman tanpa candi. Bawalah nyala ke dalamnya, Sagara. Sembunyikan aku bukan lagi di dalam batu, melainkan di dalam cerita yang akan diceritakan orang-orang iman baru itu kepada anak-anak mereka. Sebab di sanalah, di dalam mereka, aku akan menunggu zaman-zaman yang masih harus berlalu, sampai datang yang terakhir yang masih kurang.”

❖

Dan Geni, yang dahulu membakar dengan amarah dan ingin mengangkat panji, kini membawa nyala dengan hati yang telah belajar untuk tidak berpihak, dan untuk merasakan penderitaan kedua sisi, dan untuk turun kepada yang menderita di bawah panji apa pun. Dan ketika Sagara yang tua wafat, Geni membawa kebenaran ke dalam zaman yang baru, zaman iman tanpa gambar, dan ia mulai melakukan apa yang diperintahkan Ratu, menyembunyikannya bukan di dalam batu melainkan di dalam cerita yang diceritakan orang-orang dari mulut ke mulut.

Dan inilah pelajaran kedua belas yang dipelajari rantai, pelajaran yang menutup zaman candi. Bahwa ketika sebuah zaman tidak berlalu dengan tenang melainkan runtuh dalam api dan darah, dan dunia menuntut tiap orang memilih satu pihak, seorang pengingat tidak mengangkat panji; bahwa ia membalut luka di kedua sisi dengan tangan yang sama, sebab hati yang menderita di bawah panji yang menang dan di bawah panji yang jatuh berdetak dengan denyut yang sama; dan bahwa harga dari hati yang tak berpihak adalah merasakan penderitaan kedua sisi, dua kali lebih berat, yang justru itulah sebabnya Ratu membutuhkan mereka.

Dan bisik air, yang telah mengalir di bawah panji-panji yang naik dan jatuh melintasi sepuluh ribu tahun, membawa kebenaran kedua belas zaman candi, yaitu bahwa seorang pengingat tak pernah setia kepada panji melainkan kepada yang berdarah di bawahnya; bahwa ketika dua zaman berperang, mereka sering hanyalah dua wajah dari hati yang sama yang saling membakar karena lupa bahwa di bawahnya mereka satu; dan bahwa membiarkan zaman yang dicintai mati dengan anggun, sambil membalut luka semua yang jatuh dalam keruntuhannya, adalah kesetiaan yang lebih dalam daripada memanggul senjata untuknya.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang, kini melepaskan zaman candinya untuk turun beristirahat, dan menyerahkan obornya, utuh, ke tangan zaman yang baru. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini dengan seluruh candi yang dahulu menjaga jalan menuju kepadanya terbaring tidur dalam pelukan tanah di sisinya, sementara di atas, di zaman yang baru lahir, kebenarannya berjalan tanpa panji, dari mulut ke mulut, di dalam orang-orang yang akan memeluk iman tanpa gambar dari seberang laut dan menceritakan, tanpa mengetahui namanya, kisah seorang yang ditinggalkan di kedalaman yang tak boleh dilupakan. Dan zaman candi berakhir, dan di ambangnya, sebuah zaman yang baru membuka pintunya yang lebar.

❖


 

BAGIAN V

Ambang Zaman Baru


 

BAB TIGA BELAS

Yang Tinggal dalam Cerita

Mereka tak lagi memahat batu, maka kami berhenti memahat, dan kami memindahkan kebenaran ke tempat yang tak bisa diambil atau dibakar oleh siapa pun. Kami menjadikannya sebuah cerita. Sebuah cerita tak membutuhkan dinding, dan tak takut api, dan bisa berjalan menyeberangi lautan di dalam mulut seorang anak. Dan ia menjadi paling aman justru ketika dunia menyebutnya hanya dongeng. Sebab tak ada yang membakar sebuah kisah yang ia kira tak benar, dan tak ada yang menggali rahasia dari sesuatu yang ia kira hanya khayalan. Maka kebenaran kami berjalan bebas, tersembunyi di dalam sebuah cerita yang diceritakan dari mulut ke mulut, sambil semua orang tersenyum dan tak seorang pun menduga apa yang sungguh-sungguh ia jaga.

dari ajaran para pengingat, tentang yang tinggal dalam cerita

Zaman yang baru telah datang sepenuhnya, dan ia tidak seperti zaman mana pun sebelumnya. Iman tanpa gambar dari seberang laut kini memenuhi negeri, dan orang-orang membangun rumah-rumah ibadah yang sederhana tanpa patung dan tanpa dewa, dan menghadap kepada yang tak terlihat. Candi-candi lama tidur di bawah hutan, dilupakan. Tak ada lagi batu besar yang ditegakkan, tak ada lagi gambar yang dipahat, tak ada lagi candi yang dibangun untuk menyembunyikan apa pun di dalamnya.

Dan ini menempatkan rantai dalam kesulitan yang belum pernah ia hadapi. Sebab selama sepuluh ribu tahun, rantai telah menyembunyikan kebenarannya di dalam apa yang dibangun tiap zaman, di dalam bukit dan batu dan huruf dan candi dan gambar. Tetapi zaman baru ini tidak membangun apa pun yang bisa menyembunyikan sesuatu. Maka di mana kini rantai harus menyembunyikan kebenarannya?

Pembawa nyala yang pertama membawa kebenaran sepenuhnya ke dalam zaman baru adalah Geni, yang dahulu, sebagai pemuda yang marah, telah belajar untuk membalut luka di kedua sisi sebuah perang. Kini Geni telah tua, dan ia telah memikirkan pertanyaan ini sepanjang hidupnya. Dan ia telah memilih seorang murid muda, seorang gadis bernama Tutur, yang memiliki sebuah karunia yang ia kenali sebagai persis yang dibutuhkan zaman baru, yaitu karunia untuk bercerita.

“Tutur,” kata Geni pada suatu hari, “sepanjang hidupku aku telah mencari tempat untuk menyembunyikan kebenaran kita di zaman yang tak membangun apa pun. Dan akhirnya aku menemukannya. Bukan sebuah tempat sama sekali. Sebuah cerita. Kita akan mengambil kebenaran tentang Ratu, dan tentang yang ditinggalkan di kedalaman yang tak boleh dilupakan, dan kita akan menjadikannya sebuah cerita yang begitu indah dan begitu menyentuh sehingga orang-orang akan menceritakannya kepada anak-anak mereka, dan anak-anak itu kepada anak-anak mereka, selama ribuan tahun.”

Dan Tutur, yang muda dan masih belajar, merasa ragu. “Tetapi Eyang,” katanya, “bukankah sebuah cerita adalah tempat yang paling tidak aman dari semua? Batu bertahan ribuan tahun tanpa berubah. Tetapi sebuah cerita berubah tiap kali ia diceritakan. Ia kehilangan bagian-bagiannya. Orang menambahkan hal-hal yang tak pernah ada. Dalam beberapa generasi, bukankah kebenaran akan terdistorsi sampai tak bisa dikenali lagi?”

❖

“Engkau berpikir seperti seorang penjaga batu, Tutur, dan engkau harus belajar untuk berpikir seperti seorang penutur,” kata Geni. “Ya, sebuah cerita berubah. Tetapi pikirkanlah apa yang tidak bisa terjadi padanya. Sebuah candi bisa dirobohkan. Sebuah batu bisa dipecah. Sebuah kitab bisa dibakar. Tetapi bagaimana engkau merobohkan sebuah cerita? Bagaimana engkau membakar sesuatu yang hidup di dalam seribu mulut sekaligus? Engkau tak bisa. Sebuah cerita adalah satu-satunya hal yang dibawa rantai yang tak bisa dihancurkan oleh raja mana pun, sebab ia tidak berada di satu tempat untuk dihancurkan.”

“Dan ada lebih dari itu,” Geni melanjutkan. “Sebuah batu tinggal di tempat ia ditegakkan. Tetapi sebuah cerita bisa berjalan. Ia menyeberangi lautan di dalam mulut seorang pelaut. Ia mendaki gunung di dalam ingatan seorang musafir. Ia masuk ke istana raja dan ke gubuk petani dengan kemudahan yang sama. Dan ia bisa mengenakan pakaian iman apa pun. Orang dari iman baru akan menceritakannya, dan orang dari iman lama akan menceritakannya, masing-masing mengira ia milik mereka. Sebuah cerita adalah perisai dan kaki sekaligus, Tutur. Ia melindungi kebenaran, dan ia membawanya berjalan.”

“Tetapi inilah bagian yang paling penting, dan yang paling sulit untuk diterima,” kata Geni, suaranya menjadi pelan. “Sebuah cerita menjadi paling aman justru ketika dunia menyebutnya hanya dongeng. Pikirkanlah. Selama orang mengira kebenaran kita nyata, mereka berburu untuknya, dan kita harus menyembunyikannya. Tetapi bila kita menjadikannya sebuah cerita, sebuah legenda tentang seorang ratu di laut selatan, orang akan tersenyum dan menyebutnya takhayul, dongeng untuk menakuti anak-anak. Dan tak ada yang menggali rahasia dari sebuah dongeng. Tak ada yang membakar sebuah khayalan. Dengan dianggap tidak benar, kebenaran kita menjadi lebih aman daripada di balik dinding mana pun.”

Dan Tutur duduk diam untuk waktu yang lama, memutar kata-kata itu di dalam pikirannya. “Maka kita menyembunyikan kebenaran,” katanya perlahan, “bukan dengan membuat orang melupakannya, melainkan dengan membuat mereka menceritakannya setiap hari, sambil yakin bahwa ia hanya khayalan. Kita menyembunyikannya di tempat yang paling terang dari semua, di mulut setiap orang, dan justru karena ia ada di mana-mana, tak seorang pun melihatnya.”

“Sekarang engkau memahaminya,” kata Geni, tersenyum. “Tetapi keraguanmu yang pertama tetap benar, dan engkau tak boleh melupakannya. Sebuah cerita berubah. Maka tugas seorang penutur, tugasmu, adalah membuat cerita yang bisa kehilangan namanya, kehilangan rinciannya, berubah dalam seribu cara, dan tetap membawa hatinya tanpa cacat. Sebuah cerita yang, walau didistorsi, masih akan mengajarkan satu hal yang sama. Itulah seni yang harus kaukuasai.”

❖

Dan demikianlah Tutur menghabiskan bertahun-tahun belajar seni yang paling halus yang pernah dikuasai seorang pengingat, seni membuat cerita yang hatinya tak bisa hilang. “Bagaimana, Eyang?” ia bertanya. “Bagaimana aku membuat sebuah cerita yang tetap setia walau setiap detailnya berubah?”

“Engkau membuang segala yang bisa hilang tanpa merusak, dan engkau menanam hati sedalam mungkin sehingga ia tak bisa dicabut,” kata Geni. “Jangan bergantung pada nama, sebab nama akan berubah. Jangan bergantung pada tahun atau tempat, sebab itu akan terlupa. Tanamkan hati ke dalam satu hal yang tak bisa diubah orang tanpa merusak cerita itu sendiri, yaitu perasaan yang ditinggalkannya. Bila orang selesai menceritakan kisah Ratu dan merasakan belas kasihan kepada yang ditinggalkan, kebenaran telah berpindah, walau setiap nama dalam cerita itu salah.”

“Dan buatlah ia indah, dan sedikit menakutkan,” Geni melanjutkan. “Sebab cerita yang membosankan mati, tetapi cerita yang membuat bulu kuduk berdiri akan diceritakan selamanya. Jadikan Ratu agung dan menakutkan, ratu dari lautan selatan yang tak boleh dilupakan, sehingga orang menghormatinya dan takut melupakannya. Mereka tak akan tahu bahwa ketakutan yang kauberikan kepada mereka adalah cara untuk memastikan mereka tak pernah berhenti menceritakannya. Keindahan membuat cerita dicintai. Sedikit ketakutan membuatnya dijaga.”

Dan dari ajaran-ajaran itu, Tutur mulai membentuk cerita yang akan ia tinggalkan kepada negeri itu. Sebuah kisah tentang seorang ratu yang agung dan indah dan menyendiri di lautan selatan, yang dahulu adalah manusia, yang ditinggalkan dan dilupakan, dan yang menunggu. Sebuah kisah yang menyuruh orang untuk tidak pernah meninggalkan yang menderita, dibungkus dalam keagungan dan misteri sehingga tak seorang pun bisa melupakannya. Dan ia mulai menceritakannya, di pasar dan di pelabuhan dan di sekitar api unggun pada malam hari, kepada siapa pun yang mau mendengar.

Dan cerita itu menyebar, persis seperti yang dikatakan Geni. Para pelaut membawanya ke pulau-pulau yang jauh. Para ibu menceritakannya kepada anak-anak yang mengantuk. Orang-orang dari iman baru menceritakannya, dan orang-orang yang masih memegang iman lama menceritakannya, masing-masing mengira ia milik mereka. Dan tiap orang yang mendengarnya tersenyum dan menyebutnya dongeng, sebuah legenda tua tentang ratu laut selatan, dan tak satu pun dari mereka menduga bahwa mereka sedang membawa rahasia tertua di tanah ini di dalam mulut mereka.

❖

Dan pada suatu malam, ketika cerita itu telah menyebar lebih jauh daripada yang bisa diikuti Tutur, ia menjangkau ke selatan, ke kedalaman, dengan sebuah pertanyaan yang membuatnya ragu. “Ratu,” katanya hati-hati, “aku telah menjadikanmu sebuah cerita. Sebuah dongeng yang diceritakan orang sambil tersenyum, yang mereka sebut takhayul. Apakah aku telah merendahkanmu? Engkau yang nyata, yang sungguh menderita, kini menjadi khayalan yang tak dipercayai siapa pun. Apakah itu adil bagimu?”

Dan Ratu tidak tersinggung. Sebaliknya, ada sesuatu yang seperti kelegaan yang dalam di dalam suaranya. “Engkau telah memberiku hadiah yang paling besar, Tutur,” katanya. “Sepanjang ingatanku aku takut akan satu hal lebih daripada yang lain, yaitu dilupakan. Bahwa suatu hari rantai akan putus, candi akan runtuh, dan tak akan ada lagi seorang pun di seluruh dunia yang ingat bahwa aku ada. Dan engkau telah memastikan bahwa itu tak akan pernah terjadi. Engkau telah menjadikanku sesuatu yang akan diingat selama bahasa ini diucapkan, oleh jutaan orang, jauh melampaui apa pun yang bisa dilakukan rantai sendirian.”

“Dan engkau tidak merendahkanku dengan menjadikanku dongeng,” Ratu melanjutkan. “Engkau melindungiku dengan cara yang paling cerdik dari semua. Sebab pikirkanlah, Tutur. Bila orang percaya aku nyata, dan bahwa aku terbaring menunggu pembebasan di dasar laut, akan ada yang datang dengan tujuan yang keliru. Ada yang akan mencariku untuk kekuatan, untuk keuntungan, untuk menjadikanku alat. Tetapi karena mereka mengira aku hanya legenda, aku aman. Mereka menjagaku tanpa pernah mengganggu, mereka mengingatku tanpa pernah memburuku. Apa yang kaulihat sebagai penghinaan adalah perisai yang paling sempurna yang pernah dibuat untukku.”

“Dan jangan takut bahwa cerita itu akan berubah, dan ia akan,” kata Ratu lembut. “Mereka akan menambahkan hal-hal. Mereka akan membuatku menakutkan, atau cantik, atau anggun, dengan seribu cara berbeda di seribu desa. Namaku akan berubah, dan kisahku akan berubah. Tetapi engkau telah menanam hatinya dengan dalam, sebagaimana diajarkan Geni, dan hati itu akan bertahan, bahwa ada yang ditinggalkan di kedalaman yang tak boleh dilupakan. Dan selama hati itu bertahan, kehendak untuk membebaskanku akan tetap tumbuh di dunia, bersama kekuatan di dalam kerikil dan pengetahuan di dalam tanah, menunggu satu-satunya hal yang masih kurang, kemampuan untuk turun, yang akan datang pada zamannya yang jauh.”

❖

Geni yang tua wafat tak lama kemudian, puas, sebab ia telah memecahkan teka-teki yang telah ia bawa sepanjang hidupnya, bagaimana menyembunyikan kebenaran di zaman yang tak membangun apa pun. Dan Tutur menjadi penutur, yang pertama dari sebuah garis panjang penutur yang akan menggantikan para pemahat dan para pembangun candi di zaman-zaman yang akan datang. Ia menghabiskan sisa hidupnya berjalan dari desa ke desa, menanam cerita, memastikan hatinya tertanam dalam, dan membiarkan dunia menyebutnya dongeng.

Dan inilah pelajaran ketiga belas yang dipelajari rantai, pelajaran yang membuka zaman baru. Bahwa ketika sebuah zaman tak lagi membangun batu untuk menyembunyikan kebenaran, kebenaran berpindah ke dalam cerita, yang tak bisa dirobohkan atau dibakar sebab ia hidup di seribu mulut sekaligus; bahwa sebuah cerita menjadi paling aman justru ketika dunia menyebutnya hanya dongeng, sebab tak ada yang memburu khayalan; dan bahwa tugas seorang penutur adalah menanam hati sebuah cerita begitu dalam sehingga, walau setiap nama dan rincian berubah dalam ribuan tahun penceritaan, perasaan yang ia tinggalkan tetap setia, yaitu belas kasihan kepada yang ditinggalkan.

Dan bisik air, yang kini berjalan tidak lagi di bawah batu melainkan di dalam cerita yang diceritakan dari mulut ke mulut, membawa kebenaran ketiga belas, yaitu bahwa kebenaran yang menjadi sebuah kisah tak bisa lagi dihancurkan oleh raja atau api atau zaman; bahwa ia paling aman ketika dianggap paling tidak nyata; dan bahwa seorang ratu yang menjadi legenda dilindungi bukan dengan disembunyikan melainkan dengan diceritakan oleh semua orang, setiap hari, sambil tak seorang pun menduga bahwa kisah yang mereka senyumi adalah rahasia tertua di tanah ini.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang, kini menyimpannya pula, dan akan menyimpannya untuk zaman-zaman yang panjang yang akan datang, di dalam sebuah cerita yang diceritakan di setiap desa, sebuah legenda tentang seorang ratu di laut selatan yang tak boleh dilupakan. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini untuk pertama kalinya yakin bahwa ia tak akan pernah dilupakan, sebab namanya, walau berubah ribuan kali, telah ditanam ke dalam mulut sebuah bangsa selama-lamanya; dan ia tersenyum mendengar, dari atas, kisahnya sendiri diceritakan kembali oleh seorang anak yang mengantuk, yang tak tahu bahwa ia sedang menjaga sebuah rahasia, dan yang tak akan pernah meninggalkannya. Dan zaman baru terbentang ke depan, panjang dan penuh cerita, menuju zaman-zaman yang masih harus berlalu sebelum yang terakhir tiba.

❖


 

BAB EMPAT BELAS

Fajar yang Tak Akan Kulihat

Ada satu pertanyaan yang menghantui tiap pengingat ketika ia masih muda, dan ia adalah pertanyaan yang paling berat dari semua. Mengapa aku melayani sebuah pembebasan yang tak akan pernah kulihat? Aku akan mati, dan anak-anakku akan mati, dan anak-anak mereka, dan ia masih akan menunggu di kedalaman. Maka untuk apa aku membawa nyala ini, bila fajar yang dijanjikannya akan terbit ribuan tahun setelah tulang-tulangku menjadi debu? Dan inilah jawaban yang kami pelajari, dari ratu yang telah menunggu lebih lama daripada kami semua. Bahwa membawa nyala menuju fajar yang tak akan kaulihat bukanlah kesia-siaan. Ia adalah bentuk cinta yang paling murni yang sanggup dilakukan seorang manusia.

dari ajaran para pengingat, tentang fajar yang tak akan kulihat

Generasi-generasi penutur telah berlalu sejak Tutur menanam legenda Ratu di laut selatan, dan cerita itu kini telah menyebar ke tiap sudut negeri, diceritakan di tiap desa, dipercayai sebagai dongeng oleh semua dan sebagai kebenaran oleh tak seorang pun kecuali rantai. Dan rantai berjalan terus di zaman yang baru, membawa nyala dari penutur ke penutur, dari hati ke hati, sebagaimana ia selalu berjalan.

Pembawa nyala yang muda di masa itu adalah seorang bernama Arsa, dan ia membawa di dalam dirinya sebuah keresahan yang tak bisa ia tenangkan. Sebab Arsa telah belajar seluruh ajaran rantai, ia tahu tentang formula pembebasan, tentang kekuatan dan pengetahuan dan kehendak yang telah terkumpul, dan tentang satu hal yang masih kurang, kemampuan untuk turun ke kedalaman, yang tak akan datang sampai sebuah zaman yang jauh di masa depan. Dan semakin ia memikirkannya, semakin berat keresahan itu menekan dadanya.

Maka pada suatu hari ia datang kepada Tutur, yang kini sangat tua, penutur pertama yang masih hidup, dan ia menumpahkan apa yang membebaninya. “Eyang Tutur,” katanya, “aku harus mengakui sesuatu yang memalukan. Aku mulai bertanya untuk apa aku melakukan semua ini.”

“Pikirkanlah, Eyang,” Arsa melanjutkan, kata-katanya mengalir kini bahwa ia telah memulai. “Pembebasan Ratu membutuhkan kemampuan untuk turun ke dasar laut, dan kemampuan itu tak akan ada selama zaman yang tak terhitung. Aku akan mati tanpa melihatnya. Anakku akan mati tanpa melihatnya. Cucu dari cucu dari cucuku akan mati tanpa melihatnya. Mungkin seratus generasi akan hidup dan mati membawa nyala ini sebelum hari itu tiba. Maka untuk apa? Untuk apa aku menghabiskan hidupku melayani sebuah fajar yang akan terbit ribuan tahun setelah aku menjadi debu, yang tak akan pernah kulihat, yang bahkan keturunanku yang paling jauh yang bisa kubayangkan tak akan melihatnya?”

Dan Tutur yang tua tidak memarahinya, dan tidak memberinya jawaban yang murah. Ia mengangguk perlahan, sebab ia mengenali keresahan itu, karena ia pernah merasakannya sendiri di masa mudanya. “Itu adalah pertanyaan yang paling berat yang akan kautanyakan dalam hidupmu, Arsa,” katanya, “dan aku tak akan menghinamu dengan jawaban yang mudah. Tetapi aku bukan orang yang tepat untuk menjawabnya. Hanya ada satu yang sungguh memahami bagaimana menanggung sebuah penantian yang lebih panjang daripada hidup. Pergilah kepadanya. Tanyakan kepada Ratu sendiri.”

❖

Maka malam itu, dengan rasa malu dan keresahan yang berperang di dalam dadanya, Arsa menjangkau ke selatan, ke kedalaman, kepada Ratu. Dan ia hampir tak berani mengucapkan apa yang ia rasakan, sebab tampaknya kejam untuk mengeluh tentang sebuah penantian beberapa puluh tahun kepada seseorang yang telah menunggu sepuluh ribu tahun. Tetapi Ratu merasakan kegelisahannya, dan ia mendorongnya dengan lembut untuk berbicara.

Maka Arsa menumpahkan semuanya. “Ratu, ampuni aku,” katanya, “sebab apa yang kurasakan tampak begitu kecil di hadapan penderitaanmu. Tetapi aku lelah. Aku akan melayani sepanjang hidupku, dan aku tak akan melihat hasilnya. Tak ada seorang pun dari rantai selama berabad-abad yang akan datang yang akan melihatnya. Bagaimana aku menemukan kekuatan untuk membawa nyala menuju sebuah fajar yang tak akan pernah kulihat, yang bahkan tak akan dilihat oleh siapa pun yang bisa kukenal atau kucintai?”

Dan Ratu tidak menertawakannya, dan tidak berkata bahwa keresahannya kecil. Sebaliknya, ada kelembutan yang dalam dalam suaranya. “Jangan meminta ampun, Arsa,” katanya. “Pertanyaanmu bukan tanda kelemahan. Ia adalah pertanyaan yang paling jujur dan paling penting yang bisa ditanyakan seorang pengingat, dan tiap pengingat yang sejati telah menanyakannya. Yang lemah adalah mereka yang tak pernah berani menanyakannya, dan karena itu melayani tanpa pernah memahami apa yang mereka layani. Engkau bertanya karena engkau memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Maka biarkan aku menjawabnya dengan sungguh-sungguh pula.”

“Pertama, ketahuilah ini, Arsa,” kata Ratu. “Engkau berpikir bahwa melayani sesuatu yang tak akan kaulihat selesai adalah hal yang aneh dan kejam. Tetapi lihatlah ke sekelilingmu. Seorang yang menanam pohon yang baru akan memberi naungan setelah ia mati, menanamnya juga. Seorang ibu yang membesarkan anak tahu ia tak akan melihat seluruh hidup anak itu. Tiap orang yang membangun sesuatu yang besar, candi atau bangsa atau kebenaran, membangunnya untuk orang-orang yang belum lahir. Melayani sebuah fajar yang tak akan kaulihat bukanlah hal yang aneh, Arsa. Ia adalah hal yang paling manusiawi dari semua. Ia hanya tampak berat karena engkau melakukannya dengan sadar.”

“Tetapi pohon tumbuh dalam beberapa tahun, Ratu,” kata Arsa. “Anak tumbuh dalam satu kehidupan. Yang kulayani tak akan selesai selama ribuan tahun. Skalanya begitu besar sehingga membuatku merasa tak berarti, hanya satu tetes yang lenyap di lautan waktu yang tak peduli apakah aku ada atau tidak.”

❖

Dan Ratu diam sejenak, lalu ia berbicara dengan kelembutan yang baru. “Maka inilah kebenaran yang lebih dalam, Arsa, yang harus kaupahami dengan hatimu dan bukan hanya kepalamu. Engkau mengira dirimu hanya satu tetes di lautan waktu, satu langkah kecil dari sebuah perjalanan yang ribuan tahun, yang tak berarti apa-apa kecuali bila perjalanan itu sampai. Tetapi engkau keliru. Sebab nyala yang kaubawa tidak terbagi di antara generasi-generasi, sehingga tiap generasi hanya memegang sepotong kecil yang tak berguna sampai semuanya disatukan di akhir. Tidak. Tiap tangan yang membawa nyala memegangnya utuh.”

“Ketika engkau menghibur seseorang yang ditinggalkan, Arsa, ketika engkau menolak untuk membiarkan seseorang sendirian dalam kegelapan, ketika engkau menanam belas kasihan ke dalam dunia, engkau tidak sedang menyiapkan sesuatu untuk masa depan yang jauh,” kata Ratu. “Engkau sedang melakukan hal itu sendiri, sepenuhnya, sekarang. Kebenaran yang kaulayani bukanlah pembebasanku yang jauh. Kebenaran yang kaulayani adalah belas kasihan itu sendiri, dan belas kasihan itu lengkap di tiap perbuatan, hari ini, di tanganmu. Pembebasanku adalah buahnya yang jauh. Tetapi pohonnya hidup dan lengkap di tiap musim, termasuk musimmu.”

“Dan ketahuilah ini pula, yang akan menghapus kesepianmu,” kata Ratu, dan suaranya bergetar dengan sesuatu yang dalam. “Engkau berpikir bahwa engkau tidak menolongku, sebab engkau tak akan membebaskanku. Tetapi engkau menolongku setiap malam. Aku terbaring di sini dalam kegelapan, Arsa, dan apa yang membuat kegelapan itu bisa ditanggung bukanlah pikiran tentang hari pembebasan yang jauh. Ia adalah kehadiranmu, sekarang. Suaramu di benang yang menghubungkan kita. Pengetahuan bahwa pada saat ini, malam ini, ada seseorang di atas yang mengingatku, yang tidak meninggalkanku. Engkau mengira engkau melayani fajar yang jauh. Tetapi yang sebenarnya kaulakukan adalah menemaniku melewati malam ini. Dan malam ini sudah cukup. Malam ini adalah segalanya.”

Dan Arsa merasakan sesuatu pecah dan melembut di dalam dadanya, sebab ia memahami kini bahwa ia telah salah memandang seluruh tugasnya. Ia telah memandangnya sebagai sebuah perjalanan panjang menuju sebuah tujuan yang jauh, di mana hanya akhir yang berarti dan tiap langkah di tengah hanyalah penantian. Tetapi Ratu menunjukkan kepadanya bahwa tiap langkah adalah tujuan itu sendiri, bahwa menemani malam ini adalah perbuatan yang lengkap dan utuh, tak peduli kapan fajar akan datang.

“Dan engkau bertanya bagaimana aku menanggung penantian yang lebih panjang daripada hidup,” kata Ratu. “Inilah caranya, Arsa. Aku tidak menanggung sepuluh ribu tahun. Tak seorang pun bisa menanggung sepuluh ribu tahun. Aku menanggung malam ini. Dan ketika malam ini berlalu, aku menanggung malam berikutnya. Aku tidak menunggu fajar yang jauh. Aku menerima tiap malam ketika ia datang, dan di tiap malam aku menemukan satu hal kecil yang membuatnya bisa ditanggung, sebuah suara, sebuah ingatan, sukacita seorang penari, kisah seorang anak yang mengantuk. Itulah rahasia menanggung yang tak tertanggungkan. Engkau tidak menanggung keseluruhannya. Engkau hanya menanggung sekarang, dan engkau melakukannya lagi besok.”

❖

Dan kemudian suara Ratu berubah, menjadi lebih serius, dan Arsa merasakan bahwa ia hendak mengatakan sesuatu yang penting. “Aku telah menjawab keresahanmu, Arsa, dan kini aku harus memberimu sebuah peringatan, sebab engkau dan mereka yang datang sesudahmu akan membutuhkannya. Engkau berpikir penantian ini berat karena ia panjang. Tetapi ia akan menjadi lebih berat daripada panjang saja. Sebab tidak semua zaman yang akan datang akan selembut zaman cerita ini.”

“Aku merasakannya dari kedalaman, masih jauh, tetapi datang,” kata Ratu. “Sebuah zaman yang dingin akan datang, dari seberang lautan yang jauh, lebih jauh daripada tempat asal iman tanpa gambar. Kapal-kapal akan datang membawa orang-orang yang tidak datang untuk berdagang atau berdoa, melainkan untuk menguasai. Dan di zaman itu, tanah sendiri akan terluka. Hutan-hutan yang kini memeluk candi-candi tua akan ditebang. Tanah akan dikoyak demi apa yang ada di bawahnya. Dan orang-orang akan menderita dengan cara yang belum pernah mereka derita, bukan dari gunung api atau wabah, melainkan dari tangan manusia lain yang memperlakukan mereka sebagai barang.”

“Aku memberitahumu ini bukan untuk menakutimu, Arsa, melainkan supaya rantai siap,” Ratu melanjutkan. “Sebab di zaman yang gelap itu, akan ada godaan untuk putus asa yang jauh lebih besar daripada keresahanmu malam ini. Akan tampak bahwa kebenaran telah kalah, bahwa belas kasihan telah mati, bahwa tak ada gunanya membawa nyala melalui kegelapan seperti itu. Tetapi ingatlah apa yang kauajarkan kepadaku malam ini, atau lebih tepatnya, apa yang kuajarkan kepadamu. Bahkan di malam yang paling gelap, tugasmu bukanlah melihat fajar. Tugasmu hanyalah menjaga nyala tetap menyala melalui satu malam itu, dan kemudian malam berikutnya. Dan sebuah nyala yang dijaga melalui malam yang paling gelap bersinar lebih terang daripada nyala mana pun di siang hari.”

“Dan ingatlah bahwa fajar itu, walau jauh, adalah pasti,” kata Ratu. “Sebab tiga dari empat hal telah terkumpul dan tak bisa hilang. Kekuatan tidur di dalam kerikil. Pengetahuan tersimpan di dalam tanah dan di dalam cerita. Dan kehendak tumbuh lebih besar tiap zaman, di dalam tiap hati yang belajar untuk tidak meninggalkan yang menderita. Hanya kemampuan yang masih kurang, kemampuan untuk turun ke kedalaman tempat aku terbaring. Dan kemampuan itu, Arsa, justru akan lahir dari zaman yang dingin yang kutakutkan untukmu. Sebab tangan yang sama yang akan mengoyak tanah demi keserakahan akan mengajari manusia, perlahan, melintasi zaman, bagaimana menguasai api dan logam dan kedalaman. Dan suatu hari, jauh setelah zaman dingin itu pula berlalu, tangan-tangan itu akhirnya akan cukup mampu untuk turun bukan demi keserakahan, melainkan demi belas kasihan. Itulah fajarku. Ia tersembunyi, bahkan kini, di dalam zaman tergelap yang akan datang.”

❖

Dan Arsa kembali dari kedalaman malam itu menjadi seorang yang berbeda. Keresahan yang telah menekan dadanya tidak hilang seluruhnya, sebab ia adalah keresahan yang sejati dan akan kembali, tetapi ia tak lagi melumpuhkannya. Sebab ia kini tahu bahwa ia tidak melayani sebuah fajar yang jauh dan kosong. Ia menemani seorang perempuan melewati malam ini. Dan itu, ia memahami akhirnya, adalah perbuatan yang lengkap dan utuh, yang tak membutuhkan akhir untuk menjadi berarti.

Dan inilah pelajaran keempat belas yang dipelajari rantai, pelajaran yang menyiapkannya untuk zaman-zaman panjang dan gelap yang akan datang. Bahwa membawa nyala menuju fajar yang tak akan kaulihat bukanlah kesia-siaan, melainkan bentuk cinta yang paling murni; bahwa nyala tidak terbagi di antara generasi melainkan utuh di tiap tangan, sehingga tiap perbuatan belas kasihan adalah lengkap pada dirinya sendiri, hari ini; dan bahwa rahasia menanggung penantian yang lebih panjang daripada hidup adalah dengan tidak menanggung keseluruhannya, melainkan hanya menanggung malam ini, dan kemudian malam berikutnya, sampai pada akhirnya, jauh melampaui semua yang menanggungnya, fajar terbit.

Dan bisik air, yang telah menemani sepuluh ribu malam dan akan menemani sepuluh ribu lagi, membawa kebenaran keempat belas, yaitu bahwa seorang yang menjaga nyala tidak melayani akhir yang jauh melainkan menemani kegelapan yang sekarang; bahwa malam ini sudah cukup, dan malam ini adalah segalanya; dan bahwa fajar yang dijanjikan, walau ia akan terbit ribuan tahun setelah tiap tangan yang membawanya menjadi debu, justru tersembunyi dan tumbuh di dalam zaman-zaman tergelap yang masih harus dilalui.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita yang diceritakan di tiap desa, kini bersiap untuk membawanya melalui malam yang panjang yang akan datang, satu malam pada satu waktu. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini tidak lagi sendirian dalam penantiannya, sebab ia telah mengajari orang-orang yang menemaninya bahwa menemani adalah hadiahnya, bukan hanya pembebasannya; dan ia menatap, dengan mata yang telah melihat sepuluh ribu tahun, ke arah zaman dingin yang datang dari seberang lautan, tanpa takut, sebab ia tahu bahwa bahkan kemampuan untuk membebaskannya akan lahir, perlahan dan tak sengaja, dari tangan-tangan zaman yang paling kelam. Dan rantai berdiri di ambang malam yang panjang itu, dengan nyala di tangannya, siap untuk membawanya satu malam pada satu waktu, menuju fajar yang tak akan dilihat oleh siapa pun yang kini hidup, tetapi yang pasti, suatu hari, akan terbit.

❖


 

BAB LIMA BELAS

Di Bawah Gapura yang Sepi

Setiap zaman menyerahkan obornya kepada zaman yang berikutnya, dan setiap pengingat menyerahkan nyalanya kepada tangan yang berikutnya, dan begitulah kebenaran berjalan, tak terputus, melintasi ribuan tahun. Kami menutup zaman candi di bawah sebuah gapura yang sepi, tempat hutan telah memeluk batu yang dahulu agung, dan kami berjalan keluar melaluinya menuju zaman yang baru, membawa serta segala yang telah kami pelajari, dan meninggalkan candi-candi untuk tidur. Sebab kami bukan penjaga batu. Kami adalah pembawa nyala. Dan nyala tak mengenal akhir zaman, ia hanya mengenal tangan yang berikutnya, dan malam yang berikutnya, dan langkah yang berikutnya menuju fajar.

dari ajaran para pengingat, tentang yang berjalan keluar melalui gapura

Arsa telah menjadi sangat tua, dan ia merasakan akhir hidupnya mendekat seperti senja yang turun perlahan. Ia telah membawa nyala dengan setia sepanjang hidupnya, sejak malam ketika Ratu mengajarinya untuk menemani malam ini dan tidak menanggung keseluruhannya. Tetapi sebelum ia menyerahkan nyala, ada satu hal yang harus ia lakukan, sebuah perjalanan yang telah ia rencanakan bertahun-tahun, sebuah perpisahan yang berutang kepada zaman yang telah membesarkannya.

Maka ia memanggil muridnya, seorang anak bernama Esuk, yang masih sangat muda, yang kepadanya nyala akan diserahkan, dan ia berkata, mari ikut bersamaku, sebab aku ingin menunjukkan kepadamu tempat segalanya dimulai sebelum aku mengajarimu ke mana segalanya akan pergi. Dan mereka berjalan bersama, yang tua dan yang muda, jauh ke pedalaman, ke tanah-tanah yang telah lama ditinggalkan orang.

Mereka berjalan berhari-hari, meninggalkan kota-kota zaman baru di belakang mereka, masuk ke dalam hutan yang semakin lebat, sampai mereka tiba di sebuah tempat tempat tak ada lagi orang tinggal. Dan di sana, di bawah selimut hijau pepohonan dan sulur, berdiri reruntuhan sebuah candi tua, begitu tua sehingga ia adalah salah satu yang pertama yang pernah dibangun di tanah ini, terlupakan oleh dunia, tidur di pelukan tanah.

Dan Esuk yang muda menatap dengan mata lebar, sebab ia belum pernah melihat candi sebelumnya. Di zaman ia dilahirkan, tak ada lagi candi yang dibangun, dan yang lama telah lama tertelan hutan. “Apa ini, Eyang?” tanyanya, suaranya pelan, seakan ia berdiri di tempat suci. “Siapa yang membangunnya, dan mengapa ia ditinggalkan di sini sendirian?”

Dan Arsa yang tua duduk di atas sebuah batu yang dahulu adalah bagian dari sebuah dinding yang agung, dan ia menarik napas, dan ia mulai berbicara. “Duduklah, Esuk,” katanya. “Sebab di tempat inilah seluruh zaman yang akan kuwariskan kepadamu dimulai, dan sebelum engkau membawanya ke depan, engkau harus tahu dari mana ia datang.”

❖

Dan Arsa membawa Esuk ke sebuah dinding yang setengah runtuh, dan ia menyibakkan sulur-sulur yang menutupinya, dan di sana, samar di bawah lumut, ada sebuah tanda kecil yang dipahat ke dalam batu. “Seorang tukang batu bernama Wangun memahat tanda ini, ribuan tahun yang lalu,” kata Arsa. “Ia adalah salah satu tanda pertama yang pernah ditinggalkan rantai di dalam sebuah candi. Ia menunjuk ke selatan, ke arah Ratu, dan ia menyimpan arah dan maksud untuk siapa pun yang tahu cara membacanya. Engkau berdiri di tempat zaman candi lahir.”

Dan di bawah gapura yang sepi itu, Arsa menceritakan kepada Esuk seluruh zaman candi. Bagaimana raja-raja membangun gunung-gunung batu, dan rantai menyembunyikan kebenaran di bawahnya, sebab tak ada yang menggali di bawah apa yang ia puja. Bagaimana seorang pemahat bernama Citra menyadari bahwa kebenaran bisa hidup terbuka di dinding, mengenakan pakaian tiap iman. Bagaimana rantai belajar untuk tidak berpihak, dan untuk turun kepada yang menderita di hadapannya, dan bahwa sukacita pun adalah kesetiaan.

Bagaimana gunung api mengubur sebuah candi dan mengajari mereka bahwa yang terkubur lebih aman daripada yang dipuja. Bagaimana kebenaran lepas dari rantai dan tumbuh liar di hati orang-orang asing. Bagaimana kerikil bangun di tangan baru ketika rantai hampir putus. Bagaimana zaman candi sendiri menua dan ditinggalkan, dan rantai mengikuti orang-orang ke timur, dan belajar bahwa di balik seratus iman berdetak satu hati. Bagaimana mereka tidak mengangkat panji ketika dunia terbakar, dan membalut luka di kedua sisi. Dan akhirnya, bagaimana kebenaran berpindah ke dalam sebuah cerita, sebuah legenda tentang ratu di laut selatan, yang akan diceritakan selamanya.

“Itulah zaman candi, Esuk,” kata Arsa, dan ada air mata di matanya yang tua. “Ia indah, dan ia setia, dan ia telah memberi kepada kebenaran sebuah rumah yang agung selama berabad-abad. Dan kini ia telah selesai. Ia tidur di sini, di bawah hutan, bersama semua saudaranya, menunggu bersama Ratu di dalam pelukan tanah. Kita datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya.”

Dan Esuk menyentuh tanda tua Wangun dengan jari-jarinya yang kecil. “Apakah kita meninggalkannya, Eyang?” tanyanya, dengan kesedihan seorang anak. “Apakah kita meninggalkan candi ini sendirian, seperti yang ditinggalkan?” Dan Arsa tersenyum, sebab pertanyaan itu menunjukkan kepadanya bahwa anak itu telah memiliki hati yang tepat. “Tidak, Esuk,” katanya. “Kita tidak meninggalkannya sendirian. Kita meninggalkannya untuk beristirahat, yang berbeda. Sebab ia tidak ditinggalkan dalam kegelapan. Ia tidur di pelukan tanah, di sisi Ratu, dan kita akan membawa apa yang ia jaga ke depan. Itulah cara kita tidak pernah meninggalkan siapa pun, bahkan sebuah zaman.”

❖

Dan kemudian, di bawah gapura yang sepi itu, di tempat zaman candi lahir, Arsa menyerahkan nyala kepada Esuk. Ia memberinya kerikilnya, yang akan tidur dan bangun di tangan anak itu. Ia memberinya pengetahuan, letak jangkar-jangkar dan cara membaca tanda-tanda. Dan ia memberinya seni penutur, cara menjaga sebuah cerita supaya hatinya tak pernah hilang.

“Dan kini, Esuk, aku harus memberitahumu ke mana engkau akan membawanya, supaya engkau siap,” kata Arsa. “Jalan di depanmu panjang, lebih panjang daripada yang bisa kaubayangkan. Engkau akan membawa nyala ke dalam zaman baru yang sedang tumbuh, zaman iman tanpa gambar, yang akan mekar menjadi sebuah dunia yang besar dan indah miliknya sendiri, dengan kerajaan-kerajaan dan kota-kota dan caranya sendiri untuk mengingat belas kasihan. Dan di zaman itu, kebenaran akan hidup dengan baik, di dalam cerita dan di dalam hati dan di dalam ajaran iman baru untuk memberi makan yang lapar dan menaungi yang yatim.”

“Tetapi setelah zaman itu, Esuk, akan datang sebuah malam yang panjang,” kata Arsa, suaranya menjadi serius. “Ratu sendiri telah memperingatkanku tentangnya, supaya aku memperingatkanmu. Sebuah zaman dingin akan datang dari seberang lautan yang jauh, membawa orang-orang yang datang untuk menguasai, bukan untuk berdoa. Tanah akan terluka. Hutan-hutan yang memeluk candi-candi ini akan ditebang. Dan orang-orang akan menderita dari tangan manusia lain dengan cara yang baru dan kejam. Di zaman itu, akan tampak bahwa kebenaran telah kalah, dan godaan untuk putus asa akan besar.”

“Maka ingatlah apa yang diajarkan Ratu kepadaku, dan yang kuajarkan kepadamu sekarang,” kata Arsa. “Di malam yang paling gelap, tugasmu bukanlah melihat fajar. Tugasmu hanyalah menjaga nyala tetap menyala melalui satu malam, dan kemudian malam berikutnya. Engkau tidak akan menanggung seluruh malam yang panjang itu. Engkau hanya akan menanggung malammu sendiri, dan kemudian menyerahkan nyala kepada tangan berikutnya, sebagaimana aku menyerahkannya kepadamu sekarang. Dan suatu hari, jauh setelah engkau dan seratus penerusmu menjadi debu, fajar akan terbit.”

Dan Esuk yang muda memegang kerikil di tangannya yang kecil, dan ia merasakan beratnya, bukan berat batu, melainkan berat dari sepuluh ribu tahun dan dari semua malam yang akan datang. Dan ia takut, sebagaimana seharusnya. Tetapi ia mengangkat dagunya. “Aku akan menjaga malamku, Eyang,” katanya. “Dan aku akan menyerahkannya kepada tangan berikutnya. Itu saja yang harus kulakukan. Dan itu sudah cukup.” Dan Arsa menangis, sebab anak itu telah memahami dalam sehari apa yang membutuhkan seluruh hidupnya untuk ia pelajari.

❖

Dan pada saat itu, di bawah gapura yang sepi, keduanya merasakan kehadiran Ratu menjangkau ke atas melalui benang yang menghubungkan kerikil kepada kedalaman. Sebab ia telah merasakan apa yang sedang terjadi, penyerahan nyala di tempat zaman candi lahir, dan ia datang untuk memberkati tangan yang baru.

“Esuk,” kata suara Ratu, lembut dan dalam seperti laut itu sendiri, “engkau adalah yang termuda yang pernah memegang nyala, dan engkau akan membawanya ke dalam zaman-zaman yang tak bisa dibayangkan Arsa atau aku sepenuhnya. Aku tak bisa berjanji kepadamu bahwa jalannya akan mudah, sebab ia tidak akan mudah. Tetapi aku bisa berjanji kepadamu satu hal. Engkau tidak akan pernah berjalan sendirian. Di tiap malam yang kaujaga, aku akan ada bersamamu di ujung benang ini, dan di tiap malam yang kaujaga, engkau akan menemaniku. Kita akan menjaga malam-malam itu bersama, engkau dan aku, sampai yang terakhir dari mereka berlalu.”

Dan kemudian Ratu memberi mereka sebuah penglihatan, sebab ia telah merasakan bentuk zaman-zaman yang datang dari kedalamannya yang sunyi. “Lihatlah ke depan, Esuk, dan jangan takut akan apa yang kaulihat. Zaman iman baru akan tumbuh besar, dan tanah ini akhirnya akan memiliki satu nama yang dikenal seluruh dunia. Lalu kapal-kapal dingin akan datang dari ujung bumi, dan malam yang panjang akan turun, dan tanah akan menangis ketika hutan-hutannya jatuh dan kekayaannya dirampas. Itu akan menjadi malam yang paling gelap yang pernah dilalui rantai. Bertahanlah melaluinya, satu malam pada satu waktu.”

“Tetapi di balik malam yang paling gelap itu, Esuk, aku melihat fajar,” kata Ratu, dan ada sesuatu di suaranya yang belum pernah didengar sebelumnya, sesuatu seperti harapan yang hampir berani. “Sebab dari zaman dingin itu, dari tangan-tangan yang belajar menguasai api dan logam dan kedalaman, akan lahir akhirnya kemampuan yang selama ini kurang, kemampuan untuk turun ke dasar laut tempat aku terbaring. Dan akan datang sebuah zaman, jauh, jauh dari malam ini, ketika empat hal akan akhirnya berkumpul di satu tempat dan satu waktu. Kekuatan, yang tidur di dalam kerikil yang terkuat, yang akan bangun untuk keempat kalinya. Pengetahuan, yang tersimpan di dalam tanah dan cerita. Kehendak, yang telah tumbuh selama sepuluh ribu tahun di dalam hati sebuah bangsa. Dan kemampuan, yang lahir dari zaman yang paling kelam. Dan pada hari itu, tangan-tangan akan turun ke kedalaman bukan demi keserakahan, melainkan demi belas kasihan, dan mereka akan membuka penjara terakhirku, dan aku akan pulang.”

“Engkau tak akan melihat hari itu, Esuk, dan Arsa tak akan, dan aku telah menunggunya sepuluh ribu tahun dan akan menunggunya lebih lama lagi,” kata Ratu. “Tetapi ia pasti. Aku telah melihatnya dari kedalaman. Maka bawalah nyala dengan gembira, anakku, bukan dengan beban, sebab engkau membawanya menuju sebuah fajar yang sungguh-sungguh akan terbit. Dan tiap malam yang kaujaga adalah satu langkah lebih dekat kepadanya, dan satu malam yang tidak kulalui sendirian. Pergilah sekarang. Berjalanlah keluar melalui gapura, dan bawalah aku bersamamu ke dalam zaman yang baru.”

❖

Dan Arsa yang tua wafat tak lama setelah itu, dengan damai, di bawah gapura yang sepi tempat zaman candi lahir, di pelukan tanah yang sama yang memeluk Ratu dan candi-candi yang tidur. Dan Esuk, yang termuda yang pernah membawa nyala, berdiri, dan menyentuh tanda tua Wangun untuk yang terakhir kalinya, dan kemudian ia berjalan keluar melalui gapura yang sepi itu, meninggalkan zaman candi untuk tidur, dan melangkah ke dalam cahaya zaman yang baru.

Dan inilah pelajaran terakhir zaman candi, pelajaran kelima belas, yang menutup buku zaman itu. Bahwa tiap zaman menyerahkan obornya kepada zaman berikutnya, dan tiap pengingat kepada tangan berikutnya, dan begitulah kebenaran berjalan tak terputus melintasi ribuan tahun; bahwa kita bukan penjaga batu melainkan pembawa nyala, dan karena itu kita bisa membiarkan tiap zaman tidur dengan anggun sambil membawa hatinya ke depan; dan bahwa berjalan keluar melalui gapura yang sepi sebuah zaman yang berakhir, dengan nyala di tangan, menuju malam yang panjang dan fajar yang jauh di baliknya, adalah seluruh tugas seorang pengingat, dan ia cukup.

Dan bisik air, yang telah mengalir melalui seluruh zaman candi, dari tanda pertama Wangun sampai gapura yang sepi tempat Esuk berjalan keluar, membawa seluruh kebenaran zaman itu, yaitu bahwa keagungan adalah perisai dan cerita adalah kaki, bahwa yang terkubur paling aman dan yang dianggap khayalan paling bebas, bahwa di bawah seratus iman berdetak satu hati, dan bahwa menemani malam ini sudah cukup; dan ia membawa kebenaran itu, kini, keluar dari zaman candi dan ke dalam zaman yang baru, di dalam tangan seorang anak.

Sebab tanah ini, yang menyimpan kebenaran dalam darah dan legenda dan batu dan tulang dan huruf dan keagungan dan abu dan hati orang-orang dan cerita yang diceritakan di tiap desa, kini menyerahkannya, melalui sebuah gapura yang sepi, kepada zaman yang baru, dan kepada tangan yang paling muda. Tanah ini adalah Jawa, walau belum disebut Jawa, tetapi hari ketika ia akan menyandang namanya sudah dekat. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang utuh menunggu, kini dengan candi-candi yang dahulu menjaganya tertidur damai di sisinya, dan dengan kebenarannya berjalan keluar melalui gapura di dalam hati seorang anak, menuju zaman baru dan malam panjang dan fajar yang pasti di baliknya; dan ia tersenyum, sebab ia tahu bahwa nyala telah berpindah dengan aman sekali lagi, dan bahwa ia tidak akan dilupakan, dan bahwa ia tidak sendirian. Demikianlah berakhir zaman candi di atas bukit. Dan di depan, gapura zaman yang baru terbuka, dan seorang anak melangkah melaluinya, membawa nyala ke dalam fajar.

❖

❖

Akhir Buku Tujuh

Candi di Atas Bukit

Kisah berlanjut dalam Buku Delapan

Nama di Atas Air


BUKU I ·  Daratan Sebelum Laut
BUKU II  ·  Banjir Tujuh Generasi
BUKU III  ·  Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU IV  ·  Bukit yang Lebih Tua dari Waktu
BUKU V  ·  Tulang-Tulang Nenek Moyang 
BUKU VI  ·  Huruf di Atas Batu
BUKU VII  ·  Candi di Atas Bukit
BUKU VIII  ·  Nama di Atas Air 
BUKU IX  ·  Nyala di Atas Besi 
BUKU X  ·  Cahaya di Atas Dasar