16.9.26

KITAB HIDUP BAIK - Bagian 10. Masyarakat & Negara (Soceity & State)

 KITAB HIDUP BAIK

(The Book of Good Living) - 

Prinsip hidup baik berdasarkan prinsip-prinsip universal
(A guide to good living grounded in universal principles)


BAGIAN X . HARTA & EKONOMI
[Part X. 
Society & State]


HIDUP 125 — HUKUM
[Law]

Saya berpikir bahwa hukum adalah kesepakatan bersama yang memungkinkan jutaan orang asing hidup berdampingan tanpa saling menghancurkan — ia tidak sempurna dan kadang tidak adil, tetapi tanpa aturan yang dipatuhi bersama, yang berlaku hanyalah kekuatan yang kuat menindas yang lemah — maka saya:

Laku 1 — Menaati hukum yang adil sebagai bagian dari hidup bersama.

Saya berusaha menaati hukum dan aturan yang menjaga ketertiban dan keadilan bersama — bukan semata karena takut hukuman, melainkan karena memahami bahwa hidup berdampingan menuntut aturan yang dipatuhi bersama. Sebab bila setiap orang hanya menuruti kehendaknya dan melanggar aturan kapan menguntungkan, yang tersisa hanyalah kekacauan tempat yang kuat menindas yang lemah. Maka saya menghormati aturan yang menjaga kebaikan bersama, dan tidak menganggap diri kebal dari aturan yang berlaku bagi semua. Menaati hukum yang adil bukanlah kelemahan; ia adalah sumbangan bagi ketertiban yang melindungi semua orang, termasuk saya dan keluarga saya.

Laku 2 — Membedakan hukum yang adil dari hukum yang menindas.

Saya menyadari bahwa tidak semua hukum adil — sebagian hukum dalam sejarah justru menindas, mendiskriminasi, dan melanggengkan ketidakadilan — sehingga menaati hukum tidak berarti membenarkan setiap aturan secara membabi buta. Maka saya membedakan antara hukum yang menjaga keadilan dan hukum yang melanggar martabat manusia, dan terhadap yang kedua, saya berhak dan kadang berkewajiban menentangnya lewat jalan yang sah. Banyak perbaikan besar dalam sejarah dimulai dari orang-orang yang berani menentang hukum yang tidak adil. Menghormati hukum sebagai sistem tidak sama dengan menyembah setiap aturan; keadilan berdiri di atas hukum, bukan sebaliknya.

Laku 3 — Menempuh jalan yang sah untuk mengubah hukum yang keliru.

Saya berusaha, ketika menghadapi hukum yang saya nilai tidak adil, menempuh jalan yang sah untuk mengubahnya — menyuarakan, mengusulkan, dan memperjuangkan perubahan lewat cara-cara yang tidak menghancurkan tatanan — alih-alih sekadar melanggar diam-diam demi keuntungan pribadi. Sebab melanggar hukum demi keuntungan sendiri berbeda dari menentang ketidakadilan demi kebaikan bersama. Maka saya membedakan keduanya, dan ketika menentang hukum yang tidak adil, saya melakukannya secara terbuka dan demi keadilan, bukan diam-diam demi diri sendiri. Mengubah hukum yang keliru lewat jalan yang sah lebih sulit dan lambat daripada melanggarnya, tetapi ia membangun, bukan merusak, tatanan yang melindungi semua.

Laku 4 — Menghormati hukum tanpa menjadikannya pengganti hati nurani.

Saya berusaha menghormati hukum tanpa menjadikannya satu-satunya ukuran benar dan salah — sebab hukum mengatur batas minimal hidup bersama, sedangkan hati nurani dan moral menuntut lebih daripada sekadar tidak melanggar hukum. Banyak hal yang sah secara hukum namun tidak benar secara moral, dan banyak kebaikan yang tidak diwajibkan hukum namun dituntut oleh hati nurani. Maka saya tidak menjadikan "ini legal" sebagai pembenaran untuk perbuatan yang merugikan orang lain. Hukum adalah lantai, bukan langit-langit; ia menetapkan batas terendah yang tidak boleh dilanggar, bukan ukuran tertinggi dari kebaikan yang seharusnya saya kejar.

Laku 5 — Ikut menjaga agar hukum berlaku adil bagi semua.

Saya berusaha, sesuai kemampuan, ikut menjaga agar hukum diterapkan secara adil bagi semua — tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, tidak pandang bulu berdasarkan kekayaan atau kekuasaan. Sebab keadilan hukum runtuh ketika ia hanya berlaku bagi yang lemah sementara yang kuat kebal, dan masyarakat yang hukumnya berlaku pilih kasih kehilangan kepercayaan dan keadilannya. Maka saya tidak diam terhadap penyalahgunaan hukum, dan tidak ikut memanfaatkan kekuasaan atau kekayaan untuk lolos dari aturan yang berlaku bagi orang lain. Hukum yang adil hanya bertahan bila warga ikut menjaganya tetap adil — sebab hukum yang dibiarkan diselewengkan akhirnya merugikan semua, termasuk yang hari ini merasa diuntungkan olehnya.

· · ·

LIFE 125 — LAW

I believe that law is a shared agreement that lets millions of strangers live side by side without destroying one another — it is imperfect and sometimes unjust, but without rules obeyed in common, what prevails is only the strength of the strong oppressing the weak — therefore I:

Practice 1 — Obey just law as part of life together.

I strive to obey the laws and rules that guard shared order and justice — not merely out of fear of punishment, but out of understanding that living side by side demands rules obeyed in common. For if everyone follows only their own will and breaks the rules whenever advantageous, what remains is only a chaos where the strong oppress the weak. So I respect the rules that guard the common good, and do not consider myself immune from the rules that apply to all. To obey just law is no weakness; it is a contribution to the order that protects everyone, including me and my family.

Practice 2 — Distinguish just law from oppressive law.

I am aware that not all laws are just — some laws in history in fact oppress, discriminate, and perpetuate injustice — so to obey the law does not mean to justify every rule blindly. So I distinguish between law that guards justice and law that violates human dignity, and toward the latter, I have the right and sometimes the duty to oppose it through legitimate means. Many great improvements in history began from people who dared to oppose unjust law. To respect law as a system is not the same as worshipping every rule; justice stands above law, not the reverse.

Practice 3 — Take the legitimate path to change a wrong law.

I strive, when facing a law I judge unjust, to take the legitimate path to change it — voicing, proposing, and fighting for change through ways that do not destroy the order — rather than merely breaking it quietly for personal gain. For breaking the law for one's own gain differs from opposing injustice for the common good. So I distinguish the two, and when I oppose an unjust law, I do it openly and for justice, not quietly for myself. To change a wrong law through legitimate means is harder and slower than breaking it, but it builds, not damages, the order that protects all.

Practice 4 — Respect law without making it a substitute for conscience.

I strive to respect law without making it the only measure of right and wrong — for law governs the minimal bound of life together, while conscience and morality demand more than merely not breaking the law. Many things are legal yet not morally right, and many goods are not required by law yet demanded by conscience. So I do not make "this is legal" a justification for an act that harms others. Law is the floor, not the ceiling; it sets the lowest bound not to be crossed, not the highest measure of the good I should pursue.

Practice 5 — Help keep the law applied justly for all.

I strive, according to my ability, to help keep the law applied justly for all — not sharp downward and blunt upward, not partial by wealth or power. For the justice of law collapses when it applies only to the weak while the strong are immune, and a society whose law is applied with favoritism loses its trust and its justice. So I do not stay silent toward abuse of the law, and do not join in using power or wealth to escape the rules that apply to others. Just law endures only if citizens help keep it just — for law allowed to be perverted in the end harms all, including those who feel advantaged by it today.

 

HIDUP 126 — POLITIK
[Politics]

Saya berpikir bahwa politik pada hakikatnya adalah cara manusia mengatur hidup bersama dan membagi kekuasaan serta sumber daya — sesuatu yang menyangkut nasib banyak orang — sehingga ia terlalu penting untuk diabaikan, namun juga terlalu mudah berubah menjadi permusuhan yang membutakan; maka saya menyikapinya dengan kepedulian sekaligus kepala yang jernih — maka saya:

Laku 1 — Peduli pada urusan bersama tanpa terseret permusuhan yang membutakan.

Saya berusaha peduli pada urusan bersama yang diatur lewat politik — sebab keputusan-keputusan itu menyangkut nasib banyak orang termasuk saya — tanpa membiarkan politik mengubah saya menjadi pembenci yang memandang lawan pandangan sebagai musuh yang harus dihancurkan. Sebab politik yang sehat adalah perdebatan tentang cara terbaik mengatur hidup bersama, bukan perang antar kubu yang saling membenci. Maka saya terlibat dengan kepedulian sambil menjaga agar perbedaan pandangan politik tidak meracuni hati saya dengan kebencian. Orang yang membiarkan politik membutakannya kehilangan kemampuan melihat kemanusiaan pada mereka yang berbeda pandangan — dan kehilangan itu merusak masyarakat lebih dari perbedaan pandangan itu sendiri.

Laku 2 — Menilai gagasan dan kebijakan, bukan sekadar mengikuti tokoh atau kubu.

Saya berusaha menilai gagasan dan kebijakan berdasarkan isi dan dampaknya, bukan sekadar mengikuti tokoh, partai, atau kubu secara membabi buta — sebab kesetiaan buta pada satu kubu membuat orang membela apa pun yang dilakukan kubunya dan menolak apa pun dari kubu lawan, terlepas dari benar atau salahnya. Maka saya berusaha menimbang setiap hal berdasarkan kebenaran dan kebaikannya, dan berani mengakui kebenaran dari pihak yang saya tak sukai serta mengkritik kesalahan dari pihak yang saya dukung. Politik yang sehat menuntut warga yang berpikir, bukan pengikut yang membela kubu secara buta — sebab pengikut buta mudah dimanfaatkan, dan masyarakat yang penuh pengikut buta mudah dipecah belah.

Laku 3 — Mencari informasi dari berbagai sumber dan mewaspadai manipulasi.

Saya berusaha mencari informasi politik dari berbagai sumber dan mewaspadai manipulasi, kabar bohong, dan provokasi yang sengaja disebarkan untuk memecah belah dan menggerakkan emosi — sebab di zaman ini, politik penuh dengan upaya memanipulasi pikiran dan membakar kemarahan untuk keuntungan segelintir pihak. Maka saya tidak menelan mentah-mentah apa yang menggerakkan emosi saya, dan memeriksa sebelum mempercayai dan menyebarkan. Orang yang mudah dibakar emosinya oleh kabar yang belum diperiksa menjadi alat bagi yang ingin memecah belah. Menjaga kepala tetap jernih di tengah hiruk-pikuk politik adalah salah satu sumbangan terpenting bagi kewarasan bersama.

Laku 4 — Menghormati lawan pandangan sebagai sesama warga, bukan musuh.

Saya berusaha memandang orang yang berbeda pandangan politik sebagai sesama warga yang juga menginginkan kebaikan dengan cara berbeda, bukan sebagai musuh yang jahat — sebab kebanyakan orang, dari kubu mana pun, sesungguhnya menginginkan kehidupan yang baik dan berbeda terutama dalam cara mencapainya. Maka saya berdebat tentang gagasan tanpa merendahkan martabat orangnya, dan menjaga hubungan dengan keluarga serta sahabat yang berbeda pandangan. Politik yang mengubah sesama warga menjadi musuh yang saling membenci adalah racun yang menghancurkan masyarakat dari dalam. Kemampuan untuk berbeda pandangan tanpa berhenti memandang lawan sebagai manusia adalah tanda masyarakat yang dewasa dan sehat.

Laku 5 — Ikut serta dalam urusan bersama sesuai kemampuan.

Saya berusaha ikut serta dalam urusan bersama sesuai kemampuan dan keadaan saya — memberikan suara dengan pertimbangan, menyuarakan pendapat secara sah, dan ikut menjaga agar kekuasaan tidak disalahgunakan — alih-alih bersikap acuh dan menyerahkan nasib bersama sepenuhnya kepada orang lain. Sebab masyarakat yang warganya acuh terhadap urusan bersama mudah dikuasai oleh yang berkepentingan jahat, sedangkan masyarakat yang warganya peduli dan ikut mengawasi lebih terlindungi. Maka saya tidak menjadi penonton pasif atas hal-hal yang menentukan nasib bersama. Keikutsertaan ini tidak harus berupa jabatan atau aktivisme besar; kepedulian, pengawasan, dan suara yang dipertimbangkan dari warga biasa pun adalah sumbangan yang penting.

· · ·

LIFE 126 — POLITICS

I believe that politics is in essence how humans arrange life together and divide power and resources — something that concerns the fate of many people — so it is too important to ignore, yet also too easily turned into a blinding enmity; so I approach it with care and at once a clear head — therefore I:

Practice 1 — Care about shared affairs without being dragged into blinding enmity.

I strive to care about the shared affairs arranged through politics — for those decisions concern the fate of many people including me — without letting politics turn me into a hater who views those who differ as enemies to be destroyed. For healthy politics is a debate about the best way to arrange life together, not a war between factions hating one another. So I engage with care while keeping political differences from poisoning my heart with hatred. A person who lets politics blind them loses the ability to see the humanity in those who differ — and that loss damages society more than the difference of views itself.

Practice 2 — Judge ideas and policies, not merely follow figures or factions.

I strive to judge ideas and policies by their content and impact, not merely following a figure, party, or faction blindly — for blind loyalty to one faction makes a person defend whatever their faction does and reject whatever comes from the opposing one, regardless of right or wrong. So I strive to weigh each thing by its truth and goodness, and dare to acknowledge a truth from a side I dislike and to criticize a fault from a side I support. Healthy politics demands thinking citizens, not followers who defend a faction blindly — for blind followers are easily exploited, and a society full of blind followers is easily divided.

Practice 3 — Seek information from various sources and beware manipulation.

I strive to seek political information from various sources and beware of manipulation, false news, and provocation deliberately spread to divide and stir emotion — for in this age, politics is full of attempts to manipulate minds and ignite anger for the gain of a few. So I do not swallow whole what stirs my emotions, and check before believing and spreading. A person whose emotions are easily ignited by unchecked news becomes a tool for those who want to divide. To keep a clear head amid the din of politics is one of the most important contributions to the shared sanity.

Practice 4 — Respect those who differ as fellow citizens, not enemies.

I strive to view people who differ in political view as fellow citizens who also want the good by a different way, not as wicked enemies — for most people, from any faction, in truth want a good life and differ mainly in the way to attain it. So I debate about ideas without demeaning the person's dignity, and keep relationships with family and friends who differ in view. Politics that turns fellow citizens into enemies hating one another is a poison that destroys society from within. The ability to differ in view without ceasing to see the other as human is a sign of a mature and healthy society.

Practice 5 — Take part in shared affairs according to ability.

I strive to take part in shared affairs according to my ability and circumstance — casting a considered vote, voicing opinion legitimately, and helping keep power from being abused — rather than being indifferent and surrendering the shared fate entirely to others. For a society whose citizens are indifferent to shared affairs is easily mastered by those with wicked interests, while a society whose citizens care and help watch is more protected. So I do not become a passive spectator of the things that determine the shared fate. This participation need not be an office or great activism; the care, watchfulness, and considered voice of an ordinary citizen are also an important contribution.

 

HIDUP 127 — MEMILIH DALAM PEMILU
[Voting In Elections]

Saya berpikir bahwa hak untuk ikut memilih siapa yang memerintah adalah sesuatu yang diperjuangkan dengan darah dan pengorbanan oleh generasi sebelumnya, dan tidak dimiliki oleh sebagian besar manusia sepanjang sejarah — sehingga menggunakannya dengan pertimbangan adalah penghormatan terhadap perjuangan itu dan tanggung jawab terhadap nasib bersama — maka saya:

Laku 1 — Menggunakan hak pilih sebagai tanggung jawab, bukan menyia-nyiakannya.

Saya berusaha menggunakan hak pilih saya sebagai tanggung jawab terhadap nasib bersama, bukan menyia-nyiakannya karena acuh atau putus asa — sebab keputusan tentang siapa yang memerintah menyangkut nasib banyak orang, dan warga yang tidak peduli menyerahkan keputusan itu kepada orang lain. Maka saya memandang memilih sebagai kesempatan untuk ikut menentukan arah bersama, betapapun kecil suara saya di antara jutaan. Hak yang diperjuangkan dengan pengorbanan besar oleh generasi sebelumnya layak digunakan dengan sungguh-sungguh, bukan disia-siakan dengan sikap acuh yang sebenarnya adalah kemewahan dari orang yang lupa betapa mahalnya hak itu diperoleh.

Laku 2 — Memilih dengan pertimbangan, bukan emosi sesaat atau imbalan.

Saya berusaha memilih dengan pertimbangan yang matang — menimbang rekam jejak, gagasan, watak, dan kemungkinan dampak — bukan berdasarkan emosi sesaat, provokasi, atau imbalan materi. Sebab memilih berdasarkan suap, kebencian yang dibakar, atau janji kosong yang memikat adalah menyerahkan nasib bersama kepada pertimbangan yang dangkal dan mudah dimanipulasi. Maka saya berusaha memilih dengan kepala jernih dan mempertimbangkan kebaikan bersama, bukan keuntungan sesaat. Suara yang dijual atau diberikan berdasarkan kebencian merusak demokrasi dari dalam, sebab ia memilih pemimpin berdasarkan kemampuan menyuap atau memprovokasi, bukan kemampuan memerintah dengan baik.

Laku 3 — Menolak politik uang dan suara yang diperjualbelikan.

Saya berusaha menolak politik uang — tidak menjual suara saya demi imbalan, dan tidak ikut dalam praktik yang merusak kemurnian pilihan rakyat — sebab suara yang diperjualbelikan menghasilkan pemimpin yang merasa membeli kekuasaan dan akan berusaha mengembalikan modalnya dengan menyalahgunakan jabatan. Maka saya menjaga suara saya tetap menjadi pertimbangan jujur, bukan komoditas yang dijual. Politik uang adalah salah satu akar korupsi dan pemerintahan yang buruk: ia memilih pemimpin berdasarkan kemampuan menyuap, bukan kemampuan melayani, dan menanam benih penyalahgunaan kekuasaan sejak sebelum jabatan diperoleh. Menolaknya, meski tampak kecil, adalah sumbangan bagi pemerintahan yang lebih bersih.

Laku 4 — Menerima hasil yang sah meski tidak sesuai pilihan saya.

Saya berusaha menerima hasil pemilu yang berlangsung secara sah meski tidak sesuai dengan pilihan saya — sebab inti dari cara damai mengatur hidup bersama adalah kesediaan menerima kekalahan secara sah dan tetap menjaga ketertiban, alih-alih menolak hasil dan menghancurkan tatanan demi keinginan kubu sendiri. Maka saya membedakan menerima hasil yang sah dari menyetujui pemenangnya: saya bisa tetap mengkritik dan mengawasi tanpa menolak keabsahan hasil. Kesediaan menerima kekalahan secara damai adalah salah satu fondasi terpenting dari cara bernegara yang beradab — sebab tanpa itu, yang tersisa hanyalah perebutan kekuasaan dengan kekerasan yang merugikan semua.

Laku 5 — Tetap mengawasi dan menuntut tanggung jawab setelah memilih.

Saya berusaha tidak menganggap tanggung jawab saya selesai begitu memberikan suara — melainkan tetap mengawasi mereka yang terpilih dan menuntut tanggung jawab atas amanah yang diberikan. Sebab memilih hanyalah awal; kekuasaan yang tidak diawasi cenderung disalahgunakan, dan warga yang berhenti peduli setelah pemilu membiarkan penyalahgunaan terjadi. Maka saya tetap mengikuti, mengkritik, dan menuntut pertanggungjawaban sesuai kemampuan saya. Demokrasi yang sehat tidak berhenti di bilik suara; ia menuntut warga yang terus mengawasi dan menuntut amanah ditunaikan. Pemimpin yang merasa diawasi cenderung lebih bertanggung jawab daripada yang merasa bebas setelah terpilih.

· · ·

LIFE 127 — VOTING IN ELECTIONS

I believe that the right to take part in choosing who governs is something fought for with the blood and sacrifice of earlier generations, and not possessed by most humans throughout history — so to use it with consideration is an honoring of that struggle and a responsibility toward the shared fate — therefore I:

Practice 1 — Use the right to vote as a responsibility, not waste it.

I strive to use my right to vote as a responsibility toward the shared fate, not waste it out of indifference or despair — for the decision about who governs concerns the fate of many people, and a citizen who does not care surrenders that decision to others. So I view voting as a chance to help determine the shared direction, however small my voice among millions. A right fought for with great sacrifice by earlier generations deserves to be used in earnest, not wasted with an indifference that is in fact the luxury of one who has forgotten how dearly that right was won.

Practice 2 — Vote with consideration, not momentary emotion or reward.

I strive to vote with mature consideration — weighing track record, ideas, character, and probable impact — not on the basis of momentary emotion, provocation, or material reward. For voting on the basis of a bribe, an ignited hatred, or an alluring empty promise is to surrender the shared fate to a shallow and easily manipulated judgment. So I strive to vote with a clear head and consider the common good, not a momentary gain. A vote sold or given on the basis of hatred damages democracy from within, for it chooses a leader by the ability to bribe or provoke, not the ability to govern well.

Practice 3 — Reject money politics and the buying and selling of votes.

I strive to reject money politics — not selling my vote for a reward, and not joining in practices that damage the purity of the people's choice — for a bought-and-sold vote produces a leader who feels they bought power and will try to recoup their capital by abusing office. So I keep my vote an honest consideration, not a commodity to be sold. Money politics is one of the roots of corruption and bad government: it chooses a leader by the ability to bribe, not the ability to serve, and plants the seed of abuse of power even before office is gained. To reject it, though it seems small, is a contribution to a cleaner government.

Practice 4 — Accept a legitimate result though not my choice.

I strive to accept an election result that proceeds legitimately though it is not my choice — for the core of the peaceful way of arranging life together is the willingness to accept a legitimate defeat and still keep order, rather than rejecting the result and destroying the order for the sake of one's own faction's wishes. So I distinguish accepting a legitimate result from approving its winner: I can still criticize and watch without rejecting the result's legitimacy. The willingness to accept defeat peacefully is one of the most important foundations of a civilized way of statehood — for without it, what remains is only a struggle for power by violence that harms all.

Practice 5 — Keep watching and demanding accountability after voting.

I strive not to consider my responsibility done once I have cast my vote — but to keep watching those elected and demanding accountability for the trust given. For voting is only the start; power not watched tends to be abused, and citizens who stop caring after an election let abuse happen. So I keep following, criticizing, and demanding accountability according to my ability. A healthy democracy does not stop at the voting booth; it demands citizens who keep watching and demanding the trust be fulfilled. A leader who feels watched tends to be more accountable than one who feels free after being elected.

 

HIDUP 128 — MEMBAYAR PAJAK
[Paying Taxes]

Saya berpikir bahwa pajak, betapapun terasa berat, adalah cara kita bersama membiayai hal-hal yang tak mungkin dibangun sendiri-sendiri — jalan, sekolah, rumah sakit, keamanan, dan perlindungan bagi yang lemah — sehingga membayarnya dengan jujur adalah bagian dari kontrak hidup bersama, meski saya berhak menuntut agar ia digunakan dengan benar — maka saya:

Laku 1 — Membayar pajak yang menjadi kewajiban dengan jujur.

Saya berusaha membayar pajak yang menjadi kewajiban saya dengan jujur, tidak menggelapkan atau mengakali demi keuntungan pribadi — sebab pajak adalah cara kita bersama membiayai hal-hal yang dibutuhkan semua orang dan tak mungkin dibangun sendiri-sendiri. Maka saya memandang membayar pajak sebagai bagian dari tanggung jawab hidup bersama, bukan sekadar beban yang harus dihindari. Mereka yang menikmati jalan, keamanan, dan layanan bersama namun mengelak dari membiayainya sedang menumpang pada kontribusi orang lain. Membayar bagian saya dengan jujur adalah keadilan terhadap sesama warga yang juga menanggung.

Laku 2 — Menuntut agar pajak digunakan dengan benar dan bertanggung jawab.

Saya berusaha, sambil membayar pajak dengan jujur, juga menuntut agar uang itu digunakan dengan benar untuk kebaikan bersama dan tidak dikorupsi — sebab kewajiban membayar pajak datang bersama hak untuk menuntut pertanggungjawaban atas penggunaannya. Maka saya tidak diam terhadap penyelewengan uang rakyat, dan ikut mengawasi sesuai kemampuan. Membayar pajak dan menuntut pertanggungjawaban bukanlah dua hal yang bertentangan; keduanya adalah bagian dari menjadi warga yang bertanggung jawab. Justru karena saya membayar, saya berhak menuntut agar ia tidak disia-siakan atau dicuri oleh yang dipercaya mengelolanya.

Laku 3 — Tidak menjadikan kekecewaan sebagai pembenaran untuk menggelapkan.

Saya berusaha tidak menjadikan kekecewaan terhadap penyelewengan sebagai pembenaran untuk menggelapkan pajak saya sendiri — sebab dua kesalahan tidak menghasilkan kebenaran, dan menghindari kewajiban dengan alasan "toh dikorupsi juga" hanya menambah kerusakan dan merugikan layanan yang dibutuhkan sesama. Maka saya menempuh jalan yang benar: membayar bagian saya dengan jujur sambil melawan penyelewengan lewat cara yang sah. Membiarkan kemarahan terhadap korupsi membuat saya ikut tidak jujur berarti membiarkan keburukan menulari saya. Lebih baik menjadi bagian dari yang menuntut perbaikan daripada ikut dalam kerusakan dengan dalih kekecewaan.

Laku 4 — Memahami pajak sebagai bentuk gotong royong dalam skala besar.

Saya berusaha memahami pajak sebagai bentuk gotong royong dalam skala besar — cara jutaan orang bersama-sama membiayai hal-hal yang melindungi dan melayani semua, termasuk yang lemah dan miskin yang tak mampu membiayai sendiri. Sebab memandang pajak hanya sebagai uang yang diambil dari saya membuatnya terasa sebagai perampasan, sedangkan memahaminya sebagai sumbangan bersama bagi kebaikan semua membuatnya bermakna. Maka saya melihat di balik beban itu ada jalan yang dilalui, sekolah yang mendidik anak orang lain, dan perlindungan bagi yang membutuhkan. Pajak yang dibayar dengan kesadaran ini menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat, bukan sekadar kewajiban yang terpaksa.

Laku 5 — Bersikap adil: tidak menuntut layanan tanpa bersedia menyumbang.

Saya berusaha bersikap adil dalam hubungan saya dengan negara dan masyarakat — tidak menuntut layanan, perlindungan, dan kemudahan sambil mengelak dari menyumbang bagian saya. Sebab tidak adil menikmati hal-hal yang dibiayai bersama sambil menolak ikut membiayainya, dan masyarakat tidak bisa berjalan bila banyak yang hanya mengambil tanpa memberi. Maka saya menjaga keseimbangan antara hak yang saya tuntut dan kewajiban yang saya tunaikan. Menjadi warga yang baik berarti tidak hanya menuntut apa yang saya terima, tetapi juga menyumbang apa yang menjadi bagian saya — sebab hidup bersama yang adil dibangun di atas keseimbangan antara menerima dan memberi.

· · ·

LIFE 128 — PAYING TAXES

I believe that taxes, however heavy they feel, are how we together finance the things impossible to build alone — roads, schools, hospitals, security, and protection for the weak — so to pay them honestly is part of the contract of life together, though I have the right to demand they be used rightly — therefore I:

Practice 1 — Pay the taxes that are my obligation honestly.

I strive to pay the taxes that are my obligation honestly, not evading or gaming them for personal gain — for taxes are how we together finance the things everyone needs and that cannot be built alone. So I view paying taxes as part of the responsibility of life together, not merely a burden to be avoided. Those who enjoy the roads, security, and shared services yet dodge financing them are freeloading on others' contributions. To pay my share honestly is a justice toward fellow citizens who also bear it.

Practice 2 — Demand that taxes be used rightly and accountably.

I strive, while paying taxes honestly, also to demand that the money be used rightly for the common good and not corrupted — for the obligation to pay taxes comes together with the right to demand accountability for their use. So I do not stay silent toward the misuse of the people's money, and help watch according to my ability. Paying taxes and demanding accountability are not two opposing things; both are part of being a responsible citizen. It is precisely because I pay that I have the right to demand it not be wasted or stolen by those entrusted to manage it.

Practice 3 — Not make disappointment a justification for evading.

I strive not to make disappointment over misuse a justification for evading my own taxes — for two wrongs do not make a right, and avoiding the obligation with the excuse "it gets corrupted anyway" only adds damage and harms the services others need. So I take the right path: paying my share honestly while fighting misuse through legitimate means. Letting anger at corruption make me also dishonest means letting the bad infect me. Better to be part of those demanding improvement than to join in the damage with the excuse of disappointment.

Practice 4 — Understand taxes as a form of mutual cooperation on a large scale.

I strive to understand taxes as a form of mutual cooperation on a large scale — how millions of people together finance the things that protect and serve all, including the weak and poor who cannot finance their own. For seeing taxes only as money taken from me makes it feel like a seizure, while understanding it as a shared contribution to the good of all makes it meaningful. So I see behind that burden a road traveled, a school that educates others' children, and protection for those in need. Taxes paid with this awareness become a form of care for society, not merely a reluctant obligation.

Practice 5 — Be fair: not demand services without being willing to contribute.

I strive to be fair in my relationship with the state and society — not demanding services, protection, and conveniences while dodging contributing my share. For it is unfair to enjoy the things financed together while refusing to help finance them, and society cannot run if many only take without giving. So I keep a balance between the rights I demand and the obligations I fulfill. To be a good citizen means not only demanding what I receive, but also contributing what is my share — for a just life together is built on the balance between receiving and giving.

 

HIDUP 129 — KEADILAN
[Justice]

Saya berpikir bahwa keadilan — memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya dan memperlakukan yang setara secara setara — adalah salah satu fondasi yang tanpanya masyarakat menjadi tempat yang kuat menindas yang lemah; dan bahwa kepedulian terhadap keadilan, termasuk keadilan bagi yang bukan golongan saya, adalah ukuran kematangan moral — maka saya:

Laku 1 — Berlaku adil dalam urusan saya sendiri lebih dulu.

Saya berusaha berlaku adil dalam urusan-urusan yang ada dalam kendali saya — memperlakukan orang dengan setara, memberikan hak orang lain, dan tidak memihak berdasarkan kesukaan atau keuntungan pribadi — sebab keadilan yang besar dibangun dari keadilan kecil dalam keseharian. Maka saya tidak menuntut keadilan dari dunia sambil berlaku tidak adil dalam lingkup saya sendiri. Adil dalam membagi, adil dalam menilai, adil dalam memperlakukan bawahan dan orang yang tak berkuasa atas saya — di situlah keadilan diuji setiap hari. Orang yang adil dalam hal-hal kecil yang ada dalam kuasanya membangun fondasi bagi masyarakat yang adil, satu perbuatan setiap kali.

Laku 2 — Peduli pada keadilan bagi orang lain, bukan hanya bagi diri sendiri.

Saya berusaha peduli pada keadilan bagi semua, termasuk bagi mereka yang bukan golongan saya dan yang penderitaannya tidak menyentuh saya secara langsung — sebab keadilan yang hanya dituntut untuk diri dan kelompok sendiri bukanlah keadilan, melainkan kepentingan yang menyamar. Maka saya berusaha melihat ketidakadilan yang menimpa orang lain sebagaimana saya melihat yang menimpa saya. Ukuran kematangan moral seseorang justru terlihat dari kepeduliannya terhadap ketidakadilan yang tidak merugikannya sendiri. Masyarakat yang adil dibangun oleh orang-orang yang peduli pada keadilan secara menyeluruh, bukan hanya membela hak sendiri sambil acuh terhadap penindasan atas orang lain.

Laku 3 — Tidak diam terhadap ketidakadilan ketika mampu bersuara.

Saya berusaha tidak diam terhadap ketidakadilan yang saya saksikan ketika saya mampu bersuara atau bertindak — sebab kediaman di hadapan ketidakadilan sering berarti memihak pada yang menindas, dan banyak penindasan berlangsung karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam. Maka saya berusaha membela yang diperlakukan tidak adil, sesuai kemampuan dan keadaan saya, meski itu tidak nyaman. Tetapi saya juga menimbang dengan bijak kapan dan bagaimana bersuara agar efektif dan tidak ceroboh. Bersuara melawan ketidakadilan menuntut keberanian, dan tidak setiap orang berada dalam posisi yang sama untuk melakukannya — tetapi dalam batas kemampuan saya, saya memilih tidak menjadi penonton yang diam.

Laku 4 — Menuntut keadilan tanpa terjerumus pada balas dendam.

Saya berusaha membedakan keadilan dari balas dendam — sebab keadilan bertujuan memulihkan keseimbangan dan mencegah kerusakan lebih lanjut, sedangkan balas dendam bertujuan memuaskan kemarahan dengan menimbulkan penderitaan, dan sering melahirkan lingkaran kekerasan yang tak berujung. Maka dalam menuntut keadilan, saya berusaha menjaga agar tuntutan saya tetap proporsional dan tidak berubah menjadi kekejaman yang dibenarkan atas nama keadilan. Keadilan yang sejati menjaga martabat bahkan terhadap yang bersalah, dan tidak menghancurkan tanpa batas. Balas dendam yang berkedok keadilan justru merusak keadilan itu sendiri, dan sering melahirkan ketidakadilan baru yang menuntut pembalasan berikutnya.

Laku 5 — Mengakui ketidaksempurnaan keadilan tanpa berhenti memperjuangkannya.

Saya menerima bahwa keadilan sempurna sulit dicapai di dunia ini — bahwa sebagian ketidakadilan tak terbalas, sebagian yang bersalah lolos, dan sebagian yang tak bersalah menderita — tanpa membiarkan kenyataan pahit ini membuat saya berhenti peduli dan memperjuangkannya. Sebab menyerah pada ketidakadilan karena keadilan tak pernah sempurna adalah membiarkan keburukan menang. Maka saya terus memperjuangkan keadilan sebisa mungkin sambil menerima bahwa hasilnya tak akan pernah sempurna. Setiap langkah kecil menuju keadilan berharga meski dunia tak pernah sepenuhnya adil; dan kepedulian yang terus menyala, meski di tengah ketidaksempurnaan, adalah yang perlahan membuat dunia sedikit lebih adil dari generasi ke generasi.

· · ·

LIFE 129 — JUSTICE

I believe that justice — giving each person their right and treating equals equally — is one of the foundations without which society becomes a place where the strong oppress the weak; and that care for justice, including justice for those not of my group, is a measure of moral maturity — therefore I:

Practice 1 — Act justly in my own affairs first.

I strive to act justly in the affairs within my control — treating people equally, giving others their rights, and not favoring by personal liking or gain — for great justice is built from small justice in daily life. So I do not demand justice from the world while acting unjustly within my own sphere. Fair in dividing, fair in judging, fair in treating subordinates and those who have no power over me — there justice is tested every day. A person just in the small things within their power builds the foundation for a just society, one deed at a time.

Practice 2 — Care about justice for others, not only for myself.

I strive to care about justice for all, including those not of my group and whose suffering does not touch me directly — for justice demanded only for oneself and one's own group is no justice, but interest in disguise. So I strive to see the injustice that befalls others as I see what befalls me. The measure of a person's moral maturity is in fact seen in their care for injustice that does not harm them. A just society is built by people who care about justice as a whole, not only defending their own rights while indifferent to the oppression of others.

Practice 3 — Not stay silent toward injustice when able to speak.

I strive not to stay silent toward injustice I witness when I am able to speak or act — for silence before injustice often means siding with the oppressor, and much oppression continues because too many good people choose silence. So I strive to defend those treated unjustly, according to my ability and circumstance, though it is uncomfortable. But I also weigh wisely when and how to speak so as to be effective and not careless. To speak against injustice demands courage, and not everyone is in the same position to do it — but within the limits of my ability, I choose not to be a silent spectator.

Practice 4 — Demand justice without falling into revenge.

I strive to distinguish justice from revenge — for justice aims to restore balance and prevent further damage, while revenge aims to satisfy anger by causing suffering, and often breeds an endless cycle of violence. So in demanding justice, I strive to keep my demand proportionate and not let it turn into a cruelty justified in the name of justice. True justice guards dignity even toward the guilty, and does not destroy without limit. Revenge masked as justice in fact damages justice itself, and often breeds a new injustice that demands the next retaliation.

Practice 5 — Acknowledge the imperfection of justice without ceasing to fight for it.

I accept that perfect justice is hard to attain in this world — that some injustice goes unanswered, some of the guilty escape, and some of the innocent suffer — without letting this bitter reality make me stop caring and fighting for it. For to surrender to injustice because justice is never perfect is to let the bad win. So I keep fighting for justice as much as I can while accepting that the result will never be perfect. Every small step toward justice is precious though the world is never fully just; and care that keeps burning, even amid imperfection, is what slowly makes the world a little more just from generation to generation.

 

HIDUP 130 — BERBEDA PENDAPAT
[Differing In Opinion]

Saya berpikir bahwa perbedaan pendapat bukanlah ancaman terhadap kebersamaan melainkan tanda masyarakat yang hidup dan merdeka — sebab keseragaman pendapat hanya ada di tempat yang dipaksakan, dan dari benturan gagasan yang sehat lahir pemahaman yang lebih baik; yang merusak bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan cara menyikapinya — maka saya:

Laku 1 — Memandang perbedaan pendapat sebagai hal yang wajar dan sehat.

Saya berusaha memandang perbedaan pendapat sebagai hal yang wajar dan bahkan sehat dalam masyarakat yang merdeka — bukan sebagai ancaman yang harus dibungkam atau bukti permusuhan. Sebab manusia yang berbeda pengalaman, kepentingan, dan cara berpikir wajar berbeda pandangan, dan masyarakat yang menuntut keseragaman pendapat hanya bisa mencapainya lewat penindasan. Maka saya menerima perbedaan sebagai bagian dari hidup bersama yang sehat. Dari benturan gagasan yang berbeda, bila disikapi dengan baik, lahir pemahaman yang lebih kaya daripada yang bisa dicapai oleh satu pandangan tunggal — sebab tidak ada satu orang atau kelompok pun yang memegang seluruh kebenaran.

Laku 2 — Berdebat tentang gagasan tanpa menyerang pribadi.

Saya berusaha, dalam berbeda pendapat, fokus pada gagasan dan argumennya, bukan menyerang pribadi orang yang berbeda — sebab begitu perbedaan pendapat berubah menjadi serangan pribadi dan penghinaan, ia berhenti menjadi pertukaran gagasan dan menjadi permusuhan yang merusak. Maka saya menjaga agar perdebatan tetap tentang isi, dan menghormati martabat orang yang berbeda pandangan dengan saya. Saya bisa menolak gagasan seseorang dengan tegas sambil tetap menghormatinya sebagai manusia. Kemampuan berdebat sengit tentang gagasan tanpa berhenti menghargai lawan sebagai pribadi adalah tanda kedewasaan, dan ia menjaga agar perbedaan tidak meretakkan hubungan dan masyarakat.

Laku 3 — Mendengarkan pihak yang berbeda dengan sungguh-sungguh.

Saya berusaha mendengarkan pandangan yang berbeda dengan niat sungguh memahami, bukan sekadar menunggu giliran membantah — sebab sering ada kebenaran atau kekhawatiran yang sah di balik pandangan yang saya tolak, dan memahaminya memperkaya pemikiran saya bahkan ketika saya tetap tidak setuju. Maka saya berusaha memahami pandangan lawan dalam bentuk terkuatnya sebelum menolaknya. Mendengarkan untuk memahami, bukan untuk membantah, membuka kemungkinan saya belajar dan kadang mengubah pikiran. Orang yang hanya mendengarkan untuk menyerang menutup diri dari kebenaran yang mungkin ada di pihak lain, dan memperdalam jurang perbedaan alih-alih menjembataninya.

Laku 4 — Mencari kebenaran bersama, bukan sekadar memenangkan perdebatan.

Saya berusaha menjadikan tujuan perbedaan pendapat sebagai pencarian kebenaran dan pemahaman bersama, bukan sekadar memenangkan dan menundukkan lawan — sebab ketika tujuannya kebenaran, maka terbukti keliru pun menjadi keuntungan, dan kedua pihak bisa keluar dengan pemahaman yang lebih baik. Maka saya bertanya pada diri: apakah saya sedang mencari yang benar, atau sekadar berusaha menang? Perbedaan pendapat yang sehat bertujuan saling memahami dan mendekati kebenaran, bukan saling mengalahkan. Banyak perdebatan menjadi sia-sia dan merusak justru karena kedua pihak hanya ingin menang, bukan ingin sama-sama menemukan yang benar.

Laku 5 — Menjaga hubungan dan kebersamaan melintasi perbedaan.

Saya berusaha menjaga hubungan dan kebersamaan dengan orang yang berbeda pendapat — terutama keluarga, sahabat, dan tetangga — tanpa membiarkan perbedaan, termasuk perbedaan politik dan keyakinan, memutuskan ikatan kasih dan kerja sama. Sebab masyarakat yang terpecah-pecah menjadi kubu-kubu yang saling memutus hubungan karena perbedaan adalah masyarakat yang rapuh dan getir. Maka saya bisa berbeda pandangan dengan seseorang sambil tetap mengasihi dan bekerja sama dengannya dalam hal-hal lain. Kemampuan untuk tetap bersatu dan saling peduli melintasi perbedaan pendapat adalah salah satu kekuatan terpenting masyarakat yang sehat — sebab yang menyatukan manusia jauh lebih banyak daripada yang membedakan mereka.

· · ·

LIFE 130 — DIFFERING IN OPINION

I believe that a difference of opinion is not a threat to togetherness but a sign of a living and free society — for uniformity of opinion exists only where it is forced, and from a healthy clash of ideas is born a better understanding; what is destructive is not the difference itself, but the way of handling it — therefore I:

Practice 1 — View a difference of opinion as natural and healthy.

I strive to view a difference of opinion as natural and even healthy in a free society — not as a threat to be silenced or proof of enmity. For humans differing in experience, interest, and way of thinking naturally differ in view, and a society that demands uniformity of opinion can attain it only through oppression. So I accept difference as part of a healthy life together. From a clash of differing ideas, if handled well, is born an understanding richer than any single view can attain — for no one person or group holds the whole truth.

Practice 2 — Debate about ideas without attacking the person.

I strive, in differing, to focus on the idea and its argument, not to attack the person who differs — for once a difference of opinion turns into personal attack and insult, it ceases to be an exchange of ideas and becomes a destructive enmity. So I keep the debate about the content, and respect the dignity of the person who differs from me. I can firmly reject someone's idea while still respecting them as a human. The ability to debate fiercely about ideas without ceasing to value the other as a person is a sign of maturity, and it keeps difference from fracturing relationships and society.

Practice 3 — Listen to the other side in earnest.

I strive to listen to a differing view with the intent of truly understanding, not merely waiting my turn to rebut — for there is often a truth or legitimate concern behind a view I reject, and understanding it enriches my thinking even when I still disagree. So I strive to understand the other's view in its strongest form before rejecting it. To listen to understand, not to rebut, opens the possibility of my learning and sometimes changing my mind. A person who listens only to attack shuts themselves off from the truth that may be on the other side, and deepens the gulf of difference rather than bridging it.

Practice 4 — Seek truth together, not merely to win the debate.

I strive to make the aim of a difference of opinion the seeking of truth and shared understanding, not merely winning and subduing the opponent — for when the aim is truth, then even being proven wrong becomes a gain, and both sides can come away with a better understanding. So I ask myself: am I seeking what is true, or merely trying to win? A healthy difference of opinion aims at mutual understanding and approaching truth, not at defeating one another. Many debates become futile and destructive precisely because both sides only want to win, not to find together what is true.

Practice 5 — Keep relationships and togetherness across differences.

I strive to keep relationships and togetherness with those who differ in opinion — especially family, friends, and neighbors — without letting differences, including political and religious ones, sever the bond of love and cooperation. For a society fractured into factions that sever relationships over difference is a fragile and bitter society. So I can differ in view with someone while still loving and cooperating with them in other things. The ability to stay united and care for one another across differences of opinion is one of the most important strengths of a healthy society — for what unites humans is far more than what differentiates them.

 

HIDUP 131 — TOLERANSI DAN KEBERAGAMAN
[Tolerance and Diversity]

Saya berpikir bahwa keberagaman manusia — dalam suku, agama, pandangan, dan cara hidup — adalah kenyataan yang tak terhindarkan dan sekaligus sumber kekayaan; dan bahwa toleransi bukanlah menyetujui semua perbedaan, melainkan menghormati hak orang lain untuk berbeda selama tidak melukai sesama — maka saya:

Laku 1 — Menghormati hak orang lain untuk berbeda.

Saya berusaha menghormati hak orang lain untuk berbeda dari saya — dalam keyakinan, cara hidup, pandangan, dan identitas — selama perbedaan itu tidak melukai orang lain. Sebab dunia dihuni bersama oleh manusia yang sangat beragam, dan memaksakan keseragaman selalu melahirkan penindasan dan penderitaan. Maka saya membiarkan orang lain menjalani hidupnya menurut pilihannya, sebagaimana saya ingin dibiarkan menjalani hidup saya. Toleransi bukanlah kelemahan atau ketidakpedulian; ia adalah pengakuan bahwa setiap orang berhak atas martabat dan kemerdekaannya, dan bahwa keragaman adalah kenyataan yang harus dijalani dengan damai, bukan diperangi.

Laku 2 — Membedakan toleransi dari menyetujui segalanya.

Saya membedakan toleransi dari keharusan menyetujui atau membenarkan segala hal — sebab menghormati hak orang untuk berbeda tidak berarti saya harus setuju dengan pilihan mereka, dan saya tetap bisa memegang keyakinan saya sendiri dengan teguh. Maka toleransi saya adalah menghormati hak orang untuk berbeda, bukan kehilangan pendirian sendiri. Tetapi toleransi juga punya batas: ia tidak menuntut saya membiarkan hal-hal yang sungguh melukai dan menindas orang lain atas nama menghormati perbedaan. Menghormati keragaman dan menolak yang merusak bukanlah dua hal yang bertentangan; keduanya bagian dari menjaga masyarakat yang beragam tetap manusiawi.

Laku 3 — Memandang keberagaman sebagai kekayaan, bukan ancaman.

Saya berusaha memandang keberagaman sebagai kekayaan yang memperkaya hidup bersama — sebab dari pertemuan berbagai budaya, gagasan, dan cara hidup lahir pembelajaran, kreativitas, dan pemahaman yang lebih luas daripada yang bisa dicapai oleh masyarakat yang seragam. Maka saya tidak memandang yang berbeda sebagai ancaman yang harus ditakuti, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar dan memperluas pandangan. Masyarakat yang merangkul keberagamannya dengan damai lebih hidup dan lebih kaya daripada yang menuntut keseragaman. Ketakutan terhadap yang berbeda sering lahir dari ketidaktahuan, dan perkenalan yang sungguh dengan yang berbeda biasanya meluruhkan ketakutan itu.

Laku 4 — Melawan prasangka dan diskriminasi terhadap yang berbeda.

Saya berusaha melawan prasangka dan diskriminasi terhadap orang berdasarkan kelompoknya — suku, agama, atau identitas — baik dalam diri saya sendiri maupun di sekitar saya. Sebab memperlakukan orang dengan tidak adil semata karena kelompoknya adalah ketidakadilan yang melukai dan melanggengkan permusuhan. Maka saya berusaha menilai orang sebagai pribadi, bukan sebagai wakil kelompoknya, dan tidak diam terhadap diskriminasi yang saya saksikan. Prasangka dan diskriminasi adalah racun yang memecah masyarakat dan melukai martabat manusia; melawannya, dimulai dari memeriksa prasangka dalam diri sendiri, adalah bagian dari menjaga masyarakat yang beragam tetap adil dan damai.

Laku 5 — Membangun jembatan, bukan tembok, antar kelompok.

Saya berusaha menjadi pembangun jembatan antar kelompok yang berbeda, bukan pemecah belah — mencari titik temu, kepentingan bersama, dan kemanusiaan yang sama di balik perbedaan. Sebab masyarakat beragam bisa hidup damai atau saling bermusuhan, dan yang menentukan adalah apakah warganya membangun jembatan atau tembok. Maka saya berusaha mengenal dan bergaul melintasi batas kelompok, dan menolak provokasi yang ingin membenturkan satu kelompok dengan kelompok lain. Permusuhan antar kelompok sering dibakar oleh segelintir yang mengambil keuntungan dari perpecahan; menolak terbakar dan justru membangun jembatan adalah sumbangan bagi kedamaian bersama yang dimulai dari satu hubungan lintas perbedaan setiap kali.

· · ·

LIFE 131 — TOLERANCE AND DIVERSITY

I believe that human diversity — in ethnicity, religion, view, and way of life — is an unavoidable reality and at once a source of richness; and that tolerance is not approving of all differences, but respecting others' right to differ as long as it does not wound others — therefore I:

Practice 1 — Respect others' right to differ.

I strive to respect others' right to differ from me — in belief, way of life, view, and identity — as long as that difference does not wound others. For the world is inhabited together by very diverse humans, and forcing uniformity always breeds oppression and suffering. So I let others live their lives by their choice, as I wish to be left to live mine. Tolerance is no weakness or indifference; it is the recognition that everyone has a right to their dignity and freedom, and that diversity is a reality to be lived peacefully, not warred against.

Practice 2 — Distinguish tolerance from approving of everything.

I distinguish tolerance from an obligation to approve or justify everything — for to respect a person's right to differ does not mean I must agree with their choice, and I can still hold my own beliefs firmly. So my tolerance is respecting people's right to differ, not losing my own stance. But tolerance also has a limit: it does not require me to allow things that truly wound and oppress others in the name of respecting difference. To respect diversity and to reject the destructive are not two opposing things; both are part of keeping a diverse society humane.

Practice 3 — View diversity as richness, not a threat.

I strive to view diversity as a richness that enriches life together — for from the meeting of various cultures, ideas, and ways of life is born learning, creativity, and an understanding wider than a uniform society can attain. So I do not view the different as a threat to be feared, but as a chance to learn and widen my view. A society that embraces its diversity peacefully is more alive and richer than one that demands uniformity. Fear of the different is often born of ignorance, and a true acquaintance with the different usually dissolves that fear.

Practice 4 — Fight prejudice and discrimination against the different.

I strive to fight prejudice and discrimination against people by their group — ethnicity, religion, or identity — both in myself and around me. For to treat people unjustly merely because of their group is an injustice that wounds and perpetuates enmity. So I strive to judge a person as an individual, not as a representative of their group, and not stay silent toward discrimination I witness. Prejudice and discrimination are a poison that divides society and wounds human dignity; fighting them, starting from examining the prejudice within myself, is part of keeping a diverse society just and peaceful.

Practice 5 — Build bridges, not walls, between groups.

I strive to be a builder of bridges between differing groups, not a divider — seeking common ground, shared interests, and the same humanity behind difference. For a diverse society can live peacefully or in mutual enmity, and what determines it is whether its citizens build bridges or walls. So I strive to know and mix across group lines, and reject provocation that wants to pit one group against another. Enmity between groups is often ignited by a few who profit from division; to refuse to be ignited and instead build bridges is a contribution to the shared peace, beginning with one relationship across difference at a time.

 

HIDUP 132 — AGAMA ORANG LAIN
[The Religion of Others]

Saya berpikir bahwa agama dan keyakinan adalah salah satu hal yang paling dalam dan paling pribadi bagi banyak orang, sekaligus salah satu yang paling sering menjadi sumber perpecahan dan permusuhan — dan bahwa menghormati keyakinan orang lain, terlepas dari apa keyakinan saya sendiri, adalah syarat hidup bersama yang damai dalam masyarakat yang beragam — maka saya:

Laku 1 — Menghormati hak setiap orang atas keyakinannya.

Saya berusaha menghormati hak setiap orang untuk memeluk keyakinan atau tidak memeluk keyakinan menurut hati nuraninya — sebab keyakinan adalah hal yang paling pribadi, dan memaksakan keyakinan kepada orang lain melahirkan penindasan dan permusuhan sepanjang sejarah. Maka saya membiarkan orang lain memeluk keyakinannya sebagaimana saya ingin dibiarkan dengan keyakinan saya, terlepas dari perbedaan di antara kami. Menghormati kebebasan berkeyakinan bukanlah pengingkaran terhadap keyakinan saya sendiri; ia adalah pengakuan bahwa keyakinan yang dipaksakan kehilangan maknanya, dan bahwa kedamaian dalam masyarakat beragam hanya mungkin bila kebebasan ini dihormati bersama.

Laku 2 — Tidak merendahkan atau menghina keyakinan orang lain.

Saya berusaha tidak merendahkan, menghina, atau mengolok keyakinan orang lain — sebab keyakinan menyentuh sesuatu yang sangat dalam dan berharga bagi pemeluknya, dan menghinanya melukai dengan cara yang dalam dan membakar permusuhan. Maka saya bisa berbeda keyakinan, bahkan tidak setuju, tanpa merendahkan apa yang disucikan orang lain. Saya boleh mendiskusikan dan mempertanyakan gagasan secara hormat, tetapi menghina dan mengolok hal yang dianggap suci oleh orang lain hanyalah kekasaran yang melukai dan memecah belah. Menghormati keyakinan orang lain dalam ucapan dan sikap adalah salah satu dasar hidup berdampingan yang damai di tengah keragaman keyakinan.

Laku 3 — Tidak memaksakan keyakinan saya kepada orang lain.

Saya berusaha tidak memaksakan keyakinan saya kepada orang lain — tidak menekan, mengancam, atau memanfaatkan kelemahan orang untuk memaksa mereka menerima apa yang saya yakini. Sebab keyakinan yang sejati lahir dari hati yang bebas, bukan dari paksaan, dan memaksakan keyakinan justru mengkhianati hakikat keyakinan itu sendiri. Maka saya bisa berbagi apa yang saya yakini bila diminta atau dalam percakapan yang terbuka, tanpa memaksa penerimaan. Menghormati kemerdekaan orang lain dalam berkeyakinan adalah bagian dari menghormati martabat mereka sebagai manusia yang berhak memilih jalannya sendiri — dan masyarakat yang warganya saling tidak memaksakan keyakinan adalah masyarakat yang lebih damai.

Laku 4 — Mencari kemanusiaan bersama di balik perbedaan keyakinan.

Saya berusaha mencari kemanusiaan bersama dan nilai-nilai baik yang sering dimiliki bersama oleh berbagai keyakinan — kasih, kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama — alih-alih hanya berfokus pada perbedaan yang memisahkan. Sebab di balik perbedaan keyakinan, sebagian besar manusia berbagi kerinduan yang sama akan kebaikan, makna, dan kehidupan yang baik. Maka saya membangun hubungan dengan orang yang berbeda keyakinan atas dasar kemanusiaan bersama. Berfokus pada nilai-nilai baik yang dimiliki bersama, bukan hanya pada perbedaan, adalah cara membangun kedamaian dan kerja sama lintas keyakinan — sebab yang menyatukan manusia sering lebih dalam daripada yang membedakan keyakinan mereka.

Laku 5 — Menolak penggunaan agama untuk menindas dan memecah belah.

Saya berusaha menolak penggunaan agama dan keyakinan untuk menindas, membenci, atau memecah belah — sebab sepanjang sejarah, keyakinan yang mulia sering disalahgunakan untuk membenarkan kekejaman, permusuhan, dan penindasan terhadap yang berbeda. Maka saya membedakan keyakinan yang menumbuhkan kasih dan kebaikan dari penyalahgunaan keyakinan untuk membakar kebencian dan membenarkan kekerasan. Apa pun keyakinan saya, saya menolak ketika ia digunakan untuk melukai dan menindas sesama. Keyakinan yang sejati, dalam tradisi mana pun, menumbuhkan belas kasih dan kedamaian; penyalahgunaannya untuk kebencian adalah pengkhianatan terhadap inti keyakinan itu sendiri, dan menolaknya adalah bagian dari menjaga agar keyakinan tetap menjadi sumber kebaikan, bukan kehancuran.

· · ·

LIFE 132 — THE RELIGION OF OTHERS

I believe that religion and belief are among the deepest and most personal things for many people, and at once one of the most frequent sources of division and enmity — and that respecting others' beliefs, regardless of my own, is a condition for peaceful life together in a diverse society — therefore I:

Practice 1 — Respect each person's right to their belief.

I strive to respect each person's right to hold a belief or not hold one according to their conscience — for belief is the most personal of things, and forcing belief on others has bred oppression and enmity throughout history. So I let others hold their belief as I wish to be left with mine, regardless of the difference between us. To respect freedom of belief is no denial of my own belief; it is the recognition that a forced belief loses its meaning, and that peace in a diverse society is possible only if this freedom is respected in common.

Practice 2 — Not demean or insult others' beliefs.

I strive not to demean, insult, or mock others' beliefs — for belief touches something very deep and precious to its holder, and insulting it wounds deeply and ignites enmity. So I can differ in belief, even disagree, without demeaning what others hold sacred. I may discuss and question ideas respectfully, but to insult and mock what others consider sacred is mere rudeness that wounds and divides. To respect others' beliefs in word and attitude is one of the foundations of peaceful coexistence amid a diversity of beliefs.

Practice 3 — Not force my belief on others.

I strive not to force my belief on others — not pressuring, threatening, or exploiting people's weakness to force them to accept what I believe. For true belief is born of a free heart, not of compulsion, and forcing belief in fact betrays the very nature of belief itself. So I can share what I believe if asked or in an open conversation, without forcing acceptance. To respect others' freedom in belief is part of respecting their dignity as humans entitled to choose their own path — and a society whose citizens do not force belief on one another is a more peaceful society.

Practice 4 — Seek the shared humanity behind differences of belief.

I strive to seek the shared humanity and good values often held in common by various beliefs — love, honesty, justice, and care for others — rather than focusing only on the differences that separate. For behind differences of belief, most humans share the same longing for goodness, meaning, and a good life. So I build relationships with people of different beliefs on the basis of shared humanity. To focus on the good values held in common, not only on differences, is the way to build peace and cooperation across beliefs — for what unites humans is often deeper than what differentiates their beliefs.

Practice 5 — Reject the use of religion to oppress and divide.

I strive to reject the use of religion and belief to oppress, hate, or divide — for throughout history, noble beliefs have often been abused to justify cruelty, enmity, and oppression of the different. So I distinguish belief that grows love and goodness from the abuse of belief to ignite hatred and justify violence. Whatever my belief, I reject it when it is used to wound and oppress others. True belief, in any tradition, grows compassion and peace; its abuse for hatred is a betrayal of the core of belief itself, and rejecting it is part of keeping belief a source of goodness, not of ruin.

 

HIDUP 133 — SUKU DAN RAS
[Ethnicity and Race]

Saya berpikir bahwa pembedaan manusia berdasarkan suku dan ras telah menjadi sumber sebagian penindasan dan kekejaman terbesar dalam sejarah — padahal di balik segala perbedaan warna kulit dan asal-usul, manusia berbagi kemanusiaan yang sama dan jauh lebih banyak persamaan daripada perbedaan — maka saya:

Laku 1 — Memandang setiap orang sebagai manusia setara, terlepas dari suku dan rasnya.

Saya berusaha memandang setiap orang sebagai manusia yang setara dalam martabat, terlepas dari suku, ras, warna kulit, dan asal-usulnya — sebab perbedaan-perbedaan ini bersifat lahiriah dan tidak menentukan nilai, kemampuan, atau watak seseorang. Maka saya menolak gagasan bahwa ada suku atau ras yang lebih unggul atau lebih rendah dari yang lain. Di balik segala perbedaan tampilan, manusia berbagi kemanusiaan yang sama: kemampuan merasakan, mencintai, menderita, dan bercita-cita. Memandang setiap orang sebagai manusia setara bukanlah mengabaikan keragaman, melainkan mengakui kesetaraan martabat yang mendasari seluruh keragaman itu.

Laku 2 — Menolak prasangka dan diskriminasi berdasarkan suku dan ras.

Saya berusaha menolak prasangka dan perlakuan tidak adil terhadap orang berdasarkan suku dan rasnya — baik dalam diri saya sendiri maupun di sekitar saya. Sebab menilai dan memperlakukan orang berdasarkan kelompok rasial atau sukunya, bukan berdasarkan dirinya sebagai pribadi, adalah ketidakadilan yang telah melahirkan penindasan mengerikan sepanjang sejarah. Maka saya memeriksa prasangka dalam diri saya sendiri — sebab semua orang menyerapnya dari lingkungan — dan berusaha melawannya, serta tidak diam terhadap diskriminasi yang saya saksikan. Melawan rasisme dimulai dari kejujuran mengakui dan memeriksa prasangka dalam diri sendiri, bukan hanya menunjuk keburukan orang lain.

Laku 3 — Menghargai keragaman suku dan budaya sebagai kekayaan.

Saya berusaha menghargai keragaman suku, budaya, dan asal-usul sebagai kekayaan yang memperindah hidup bersama — sebab dari berbagai budaya lahir keindahan, kearifan, dan cara hidup yang berbeda-beda yang memperkaya pengalaman manusia. Maka saya tidak memandang budaya dan suku yang berbeda sebagai sesuatu yang aneh atau rendah, melainkan sebagai bagian dari kekayaan keragaman manusia. Menghargai budaya orang lain sambil bangga pada budaya sendiri bukanlah dua hal yang bertentangan; keduanya bisa berjalan bersama. Kebanggaan pada suku sendiri menjadi sehat ketika ia tidak dibangun di atas merendahkan suku lain, melainkan berdampingan dengan penghargaan terhadap keragaman.

Laku 4 — Tidak membangga-banggakan suku sendiri sambil merendahkan yang lain.

Saya berusaha bangga pada asal-usul saya tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan suku atau ras lain — sebab kebanggaan yang sehat terhadap kelompok sendiri berbeda dari kesombongan yang merendahkan kelompok lain. Maka saya menghargai akar dan identitas saya sambil mengakui kesetaraan martabat semua kelompok. Kebanggaan suku yang dibangun di atas merendahkan suku lain adalah benih permusuhan dan kekerasan, sedangkan kebanggaan yang berdampingan dengan penghargaan terhadap yang lain memperkaya tanpa memecah. Mencintai asal-usul sendiri tidak menuntut membenci yang lain; justru orang yang sungguh percaya diri dengan identitasnya tidak perlu merendahkan identitas orang lain untuk merasa berharga.

Laku 5 — Membangun persatuan dalam keragaman, melawan provokasi yang memecah.

Saya berusaha ikut membangun persatuan di tengah keragaman suku dan ras, dan menolak provokasi yang ingin membenturkan satu kelompok dengan kelompok lain — sebab permusuhan antar suku dan ras sering dibakar oleh segelintir orang yang mengambil keuntungan dari perpecahan, dan menolak terprovokasi adalah sumbangan bagi kedamaian. Maka saya berusaha mengenal dan bergaul lintas suku dan ras, mencari kemanusiaan bersama, dan tidak ikut menyebarkan kebencian rasial. Sejarah menunjukkan betapa cepat masyarakat yang beragam bisa terjerumus ke dalam kekerasan ketika kebencian antar kelompok dibakar; menjaga persatuan dan menolak provokasi adalah tanggung jawab setiap warga yang menghendaki hidup bersama yang damai.

· · ·

LIFE 133 — ETHNICITY AND RACE

I believe that distinguishing humans by ethnicity and race has been a source of some of the greatest oppressions and cruelties in history — when behind all differences of skin color and origin, humans share the same humanity and far more similarities than differences — therefore I:

Practice 1 — View every person as an equal human, regardless of ethnicity and race.

I strive to view every person as a human equal in dignity, regardless of ethnicity, race, skin color, and origin — for these differences are outward and do not determine a person's worth, ability, or character. So I reject the idea that there is an ethnicity or race superior or inferior to another. Behind all differences of appearance, humans share the same humanity: the ability to feel, love, suffer, and aspire. To view every person as an equal human is not to ignore diversity, but to recognize the equality of dignity that underlies all that diversity.

Practice 2 — Reject prejudice and discrimination by ethnicity and race.

I strive to reject prejudice and unjust treatment of people by their ethnicity and race — both in myself and around me. For to judge and treat people by their racial or ethnic group, not by themselves as individuals, is an injustice that has bred terrible oppression throughout history. So I examine the prejudice within myself — for everyone absorbs it from their environment — and strive to fight it, and not stay silent toward discrimination I witness. Fighting racism begins with the honesty to acknowledge and examine the prejudice within oneself, not only pointing at the faults of others.

Practice 3 — Value the diversity of ethnicity and culture as richness.

I strive to value the diversity of ethnicity, culture, and origin as a richness that beautifies life together — for from various cultures are born beauty, wisdom, and differing ways of life that enrich human experience. So I do not view a different culture and ethnicity as something strange or low, but as part of the richness of human diversity. To value others' culture while being proud of one's own is not two opposing things; both can go together. Pride in one's own ethnicity becomes healthy when it is not built on demeaning another, but stands alongside an appreciation of diversity.

Practice 4 — Not glorify my own ethnicity while demeaning others.

I strive to be proud of my origin without making it a reason to demean another ethnicity or race — for healthy pride in one's own group differs from an arrogance that demeans another. So I value my roots and identity while recognizing the equal dignity of all groups. Ethnic pride built on demeaning another ethnicity is the seed of enmity and violence, while pride that stands alongside appreciation of others enriches without dividing. To love one's own origin does not require hating another; in fact a person truly confident in their identity need not demean others' identity to feel worthy.

Practice 5 — Build unity in diversity, against dividing provocation.

I strive to help build unity amid the diversity of ethnicity and race, and to reject provocation that wants to pit one group against another — for enmity between ethnicities and races is often ignited by a few who profit from division, and refusing to be provoked is a contribution to peace. So I strive to know and mix across ethnicity and race, seek the shared humanity, and not join in spreading racial hatred. History shows how quickly a diverse society can plunge into violence when hatred between groups is ignited; keeping unity and refusing provocation is the responsibility of every citizen who wills a peaceful life together.

 

HIDUP 134 — LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
[Men and Women]

Saya berpikir bahwa laki-laki dan perempuan berbagi kemanusiaan dan martabat yang sama, dan bahwa perlakuan tidak adil terhadap seseorang semata karena jenis kelaminnya adalah ketidakadilan — sementara saya juga menghormati keragaman cara masyarakat dan keluarga mengatur peran, selama ia tidak menindas dan tidak merampas martabat siapa pun — maka saya:

Laku 1 — Menghormati martabat yang setara antara laki-laki dan perempuan.

Saya berusaha memperlakukan laki-laki dan perempuan sebagai manusia yang setara dalam martabat dan nilai — sebab keduanya berbagi kemanusiaan yang sama: kemampuan berpikir, merasa, mencintai, dan bercita-cita. Maka saya menolak gagasan bahwa satu jenis kelamin lebih berharga atau lebih rendah daripada yang lain sebagai manusia. Perbedaan antara keduanya tidak menjadikan salah satunya lebih bermartabat. Menghormati kesetaraan martabat ini adalah dasar dari memperlakukan setiap orang dengan adil, terlepas dari jenis kelaminnya, dan menolak segala bentuk penghinaan atau perendahan yang ditujukan kepada seseorang semata karena ia laki-laki atau perempuan.

Laku 2 — Menolak penindasan dan ketidakadilan berbasis jenis kelamin.

Saya berusaha menolak penindasan, kekerasan, dan ketidakadilan yang ditujukan kepada seseorang karena jenis kelaminnya — sebab sepanjang sejarah dan hingga kini, banyak orang menderita perlakuan tidak adil, kekerasan, dan perampasan hak semata karena jenis kelaminnya. Maka saya tidak diam terhadap kekerasan dan penindasan semacam itu, dan tidak ikut melanggengkannya. Memperlakukan seseorang dengan tidak adil, membatasi haknya, atau menyakitinya karena jenis kelaminnya adalah ketidakadilan yang melukai martabat manusia. Menolak penindasan ini bukan soal memihak satu jenis kelamin atas yang lain, melainkan soal membela keadilan dan martabat bagi semua.

Laku 3 — Menghargai perbedaan tanpa menjadikannya dasar ketidakadilan.

Saya berusaha menghargai perbedaan-perbedaan yang ada antara laki-laki dan perempuan tanpa menjadikannya dasar untuk memperlakukan salah satunya dengan tidak adil atau membatasi kemerdekaannya — sebab mengakui adanya perbedaan tidak sama dengan membenarkan penindasan, dan perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk merampas hak atau kesempatan. Maka saya membedakan menghargai keragaman dari melanggengkan ketidakadilan. Bagaimana persisnya peran diatur dalam keluarga dan masyarakat bisa beragam menurut budaya dan kesepakatan, dan saya menghormati keragaman itu — selama pengaturan itu tidak menindas, tidak memaksa, dan tidak merampas martabat serta kemerdekaan siapa pun yang terlibat.

Laku 4 — Menghormati pilihan dan kemerdekaan setiap orang dalam menjalani perannya.

Saya berusaha menghormati pilihan setiap orang, laki-laki maupun perempuan, dalam menjalani peran dan jalan hidupnya — tidak memaksakan satu cetakan tunggal tentang bagaimana seharusnya seseorang hidup karena jenis kelaminnya. Sebab manusia beragam dalam keinginan dan kemampuan, dan memaksa semua orang masuk ke dalam satu peran yang ditentukan jenis kelaminnya sering merampas kemerdekaan dan potensi mereka. Maka saya menghormati mereka yang menjalani peran sesuai harapan umum maupun yang memilih jalan berbeda, selama pilihan itu bebas dan tidak melukai orang lain. Menghormati kemerdekaan ini adalah bagian dari menghormati setiap orang sebagai pribadi yang berhak menentukan jalannya.

Laku 5 — Membangun hubungan antar jenis kelamin atas dasar saling menghormati.

Saya berusaha membangun hubungan antara laki-laki dan perempuan — dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat — atas dasar saling menghormati, bukan dominasi, perendahan, atau perlakuan sebagai objek. Sebab hubungan yang sehat antar jenis kelamin dibangun di atas penghargaan terhadap martabat masing-masing, bukan di atas penindasan satu pihak atau pemanfaatan pihak lain. Maka saya memperlakukan lawan jenis dengan hormat, tidak merendahkan atau menjadikannya sekadar objek pemuas, dan menjaga agar relasi dibangun di atas kesetaraan martabat. Masyarakat yang laki-laki dan perempuannya saling menghormati lebih sehat dan lebih adil daripada masyarakat yang dibangun di atas dominasi dan perendahan salah satu pihak.

· · ·

LIFE 134 — MEN AND WOMEN

I believe that men and women share the same humanity and dignity, and that unjust treatment of a person merely because of their sex is an injustice — while I also respect the diversity of ways societies and families arrange roles, as long as it does not oppress and does not strip anyone's dignity — therefore I:

Practice 1 — Respect the equal dignity of men and women.

I strive to treat men and women as humans equal in dignity and worth — for both share the same humanity: the ability to think, feel, love, and aspire. So I reject the idea that one sex is more valuable or lower than the other as a human. The difference between them does not make one more dignified. To respect this equality of dignity is the foundation of treating everyone justly, regardless of their sex, and of rejecting every form of insult or demeaning aimed at a person merely because they are a man or a woman.

Practice 2 — Reject oppression and injustice based on sex.

I strive to reject the oppression, violence, and injustice aimed at a person because of their sex — for throughout history and to this day, many people suffer unjust treatment, violence, and the stripping of rights merely because of their sex. So I do not stay silent toward such violence and oppression, and do not help perpetuate it. To treat a person unjustly, limit their rights, or harm them because of their sex is an injustice that wounds human dignity. To reject this oppression is not a matter of taking one sex's side over the other, but of defending justice and dignity for all.

Practice 3 — Value difference without making it a basis for injustice.

I strive to value the differences that exist between men and women without making them a basis for treating one unjustly or limiting their freedom — for to acknowledge difference is not the same as justifying oppression, and difference must not become a reason to strip rights or opportunity. So I distinguish valuing diversity from perpetuating injustice. How exactly roles are arranged in family and society can vary by culture and agreement, and I respect that diversity — as long as the arrangement does not oppress, does not coerce, and does not strip the dignity and freedom of anyone involved.

Practice 4 — Respect each person's choice and freedom in living their role.

I strive to respect each person's choice, man or woman, in living their role and life path — not forcing one single mold of how a person should live because of their sex. For humans vary in desire and ability, and forcing everyone into one role determined by their sex often strips their freedom and potential. So I respect those who live a role according to common expectation and those who choose a different path, as long as the choice is free and does not wound others. To respect this freedom is part of respecting each person as an individual entitled to determine their own path.

Practice 5 — Build relationships between the sexes on mutual respect.

I strive to build relationships between men and women — in family, work, and society — on mutual respect, not domination, demeaning, or treatment as an object. For a healthy relationship between the sexes is built on respect for each one's dignity, not on the oppression of one party or the exploitation of the other. So I treat the opposite sex with respect, do not demean or make them merely an object of gratification, and keep the relationship built on equality of dignity. A society whose men and women respect one another is healthier and more just than one built on the domination and demeaning of one party.

 

HIDUP 135 — KAUM MISKIN DAN LEMAH
[The Poor and The Weak]

Saya berpikir bahwa cara sebuah masyarakat memperlakukan kaum yang paling miskin dan paling lemah adalah ukuran paling jujur dari peradabannya — sebab mudah menghormati yang kuat dan berguna, tetapi memperlakukan dengan baik mereka yang tak bisa membalas adalah tanda kemanusiaan yang sejati — maka saya:

Laku 1 — Memandang martabat kaum miskin dan lemah sebagai sama dengan yang lain.

Saya berusaha memandang kaum miskin, lemah, dan tersisih sebagai manusia yang bermartabat sama dengan siapa pun — bukan sebagai golongan yang lebih rendah atau layak diabaikan. Sebab kemiskinan dan kelemahan tidak mengurangi martabat seseorang sebagai manusia, dan sering merupakan akibat keadaan, bukan pilihan. Maka saya memperlakukan mereka dengan hormat, bukan dengan rasa kasihan yang merendahkan atau pengabaian yang dingin. Cara saya memperlakukan orang yang tak bisa membalas budi dan tak menguntungkan saya menunjukkan watak saya yang sebenarnya — dan menghormati martabat yang lemah adalah salah satu tanda kemanusiaan yang paling jujur.

Laku 2 — Menolong yang lemah sesuai kemampuan, dengan menjaga martabatnya.

Saya berusaha menolong kaum miskin dan lemah sesuai kemampuan saya, dengan cara yang menjaga martabat mereka — bukan dengan pemberian yang merendahkan atau menciptakan ketergantungan yang melemahkan. Sebab menolong yang membutuhkan adalah salah satu kebaikan yang paling mendesak, tetapi cara menolong sama pentingnya dengan menolong itu sendiri. Maka saya memberi dengan hormat, dan sebisa mungkin membantu mereka menuju kemandirian, bukan sekadar meredakan rasa iba saya. Pertolongan yang menjaga martabat mengangkat penerimanya, sedangkan pertolongan yang merendahkan melukai meski meringankan — dan memberi sambil menjaga harga diri penerima adalah bentuk kebaikan yang paling mulia.

Laku 3 — Tidak menyalahkan korban atas penderitaannya.

Saya berusaha tidak menyalahkan kaum miskin dan lemah atas penderitaan mereka — sebab kemiskinan dan kelemahan sering disebabkan oleh keadaan di luar kendali: lahir dalam kekurangan, sakit, bencana, ketidakadilan, dan kesempatan yang tertutup. Maka saya memandang penderitaan mereka dengan belas kasih dan pemahaman, bukan dengan penghakiman yang menyalahkan. Mudah bagi yang beruntung untuk mengira keberuntungannya adalah hasil kehebatannya sendiri dan menyalahkan yang kurang beruntung atas nasibnya, padahal banyak dari keberhasilan adalah pemberian keadaan. Menyalahkan korban menambah luka pada penderitaan dan menutup hati dari menolong yang sungguh membutuhkan.

Laku 4 — Membela yang tak berdaya membela dirinya.

Saya berusaha membela hak dan martabat mereka yang tak berdaya membela dirinya sendiri — yang lemah, yang tersisih, yang tak punya suara — sesuai kemampuan dan keadaan saya. Sebab keadilan menuntut bukan hanya tidak menindas, tetapi juga membela yang ditindas dan tak mampu melawan, dan banyak penindasan berlangsung karena yang mampu bersuara memilih diam. Maka saya tidak diam terhadap penindasan atas yang lemah ketika saya mampu bersuara atau bertindak. Membela yang tak berdaya adalah salah satu bentuk keadilan yang paling mulia, sebab ia diberikan kepada mereka yang tak bisa membalas dan dilakukan bukan demi keuntungan, melainkan demi kemanusiaan.

Laku 5 — Ikut melawan ketidakadilan yang melanggengkan kelemahan dan kemiskinan.

Saya berusaha, sesuai kemampuan, tidak hanya meringankan penderitaan kaum miskin dan lemah, tetapi juga ikut melawan ketidakadilan dan sistem yang melanggengkan kelemahan mereka. Sebab belas kasih yang sejati tidak berhenti pada memberi sedekah untuk meredakan gejala, tetapi juga peduli pada akar yang membuat sebagian orang terus tertindas dan tak berdaya. Maka saya, sebisa mungkin, mendukung perubahan yang membuka kesempatan dan mengurangi ketidakadilan, bukan hanya menolong satu per satu sambil membiarkan sumbernya. Masyarakat yang membiarkan ketidakadilan terus melanggengkan penderitaan sambil sesekali bersedekah adalah masyarakat yang mengobati luka sambil membiarkan pisaunya tetap menusuk.

· · ·

LIFE 135 — THE POOR AND THE WEAK

I believe that how a society treats the poorest and weakest is the most honest measure of its civilization — for it is easy to respect the strong and useful, but to treat well those who cannot repay is a sign of true humanity — therefore I:

Practice 1 — View the dignity of the poor and weak as the same as others'.

I strive to view the poor, weak, and marginalized as humans of dignity equal to anyone — not as a lower class or one fit to be ignored. For poverty and weakness do not reduce a person's dignity as a human, and are often the result of circumstance, not choice. So I treat them with respect, not with a demeaning pity or a cold neglect. How I treat people who cannot repay me and do not benefit me shows my true character — and to respect the dignity of the weak is one of the most honest signs of humanity.

Practice 2 — Help the weak according to ability, guarding their dignity.

I strive to help the poor and weak according to my ability, in a way that guards their dignity — not with a demeaning gift or one that creates a weakening dependence. For to help those in need is one of the most urgent kindnesses, but the way of helping matters as much as the helping itself. So I give with respect, and as much as possible help them toward independence, not merely ease my own pity. Help that guards dignity lifts its receiver, while help that demeans wounds even as it relieves — and to give while guarding the receiver's self-worth is the noblest form of kindness.

Practice 3 — Not blame the victim for their suffering.

I strive not to blame the poor and weak for their suffering — for poverty and weakness are often caused by circumstances beyond control: born in want, illness, disaster, injustice, and closed opportunity. So I view their suffering with compassion and understanding, not with a blaming judgment. It is easy for the fortunate to imagine their fortune is the result of their own greatness and to blame the less fortunate for their lot, when much of success is the gift of circumstance. To blame the victim adds a wound to the suffering and closes the heart from helping those who truly need it.

Practice 4 — Defend those powerless to defend themselves.

I strive to defend the rights and dignity of those powerless to defend themselves — the weak, the marginalized, the voiceless — according to my ability and circumstance. For justice demands not only not oppressing, but also defending the oppressed who cannot resist, and much oppression continues because those able to speak choose silence. So I do not stay silent toward the oppression of the weak when I am able to speak or act. To defend the powerless is one of the noblest forms of justice, for it is given to those who cannot repay and done not for gain, but for humanity.

Practice 5 — Help fight the injustice that perpetuates weakness and poverty.

I strive, according to my ability, not only to ease the suffering of the poor and weak, but also to help fight the injustice and system that perpetuate their weakness. For true compassion does not stop at giving alms to ease the symptom, but also cares about the root that keeps some people oppressed and powerless. So I, as much as possible, support changes that open opportunity and reduce injustice, not only help one by one while leaving the source. A society that lets injustice keep perpetuating suffering while occasionally giving alms is a society that treats the wound while leaving the knife still stabbing.

 

HIDUP 136 — PENYANDANG DISABILITAS
[People With Disabilities]

Saya berpikir bahwa penyandang disabilitas adalah manusia utuh dengan martabat, kemampuan, dan hak yang sama — dan bahwa yang sering lebih melumpuhkan daripada keterbatasan fisik itu sendiri adalah sikap masyarakat yang memandang rendah, mengabaikan, atau menghalangi mereka untuk hidup penuh — maka saya:

Laku 1 — Memandang penyandang disabilitas sebagai manusia utuh dan setara.

Saya berusaha memandang penyandang disabilitas sebagai manusia utuh dengan martabat dan nilai yang sama, bukan sebagai objek kasihan atau orang yang kurang lengkap. Sebab keterbatasan dalam satu hal tidak mengurangi kemanusiaan seseorang, dan banyak penyandang disabilitas memiliki kemampuan, bakat, dan kontribusi yang luar biasa. Maka saya memperlakukan mereka dengan hormat sebagai pribadi yang utuh, bukan mendefinisikan mereka semata oleh keterbatasannya. Memandang seseorang hanya sebagai "orang cacat" alih-alih sebagai pribadi yang utuh dengan disabilitas tertentu adalah bentuk perendahan yang halus namun melukai.

Laku 2 — Tidak merendahkan, mengasihani secara merendahkan, atau memandang rendah.

Saya berusaha tidak merendahkan penyandang disabilitas, tidak mengasihani dengan cara yang merendahkan, dan tidak memandang mereka sebagai kurang mampu dalam segala hal karena keterbatasan dalam satu hal. Sebab rasa kasihan yang merendahkan sama melukainya dengan pengabaian, dan menganggap seseorang tidak mampu apa-apa karena satu keterbatasan adalah ketidakadilan yang merampas kesempatan. Maka saya memperlakukan mereka dengan hormat yang wajar, mengakui kemampuan mereka, dan tidak menganggap mereka sebagai beban. Banyak penyandang disabilitas lebih menderita oleh sikap merendahkan masyarakat daripada oleh keterbatasan fisik mereka sendiri.

Laku 3 — Membantu menghilangkan halangan, bukan menghalangi.

Saya berusaha ikut menghilangkan halangan-halangan yang menghambat penyandang disabilitas untuk hidup penuh dan mandiri — baik halangan fisik maupun halangan sikap — alih-alih menambah halangan atau mengabaikannya. Sebab sering yang lebih melumpuhkan daripada keterbatasan fisik adalah lingkungan dan sikap yang tidak ramah dan tidak memberi kesempatan. Maka saya, sesuai kemampuan, mendukung lingkungan dan sikap yang memungkinkan mereka berpartisipasi penuh. Membantu menghilangkan halangan bukanlah belas kasihan, melainkan keadilan: ia memberi kesempatan yang setara bagi mereka untuk hidup, bekerja, dan berkontribusi sebagaimana orang lain.

Laku 4 — Menghormati kemandirian dan pilihan mereka.

Saya berusaha menghormati kemandirian dan pilihan penyandang disabilitas — tidak memaksakan bantuan yang tidak diinginkan, tidak memutuskan untuk mereka tentang hidup mereka, dan tidak memperlakukan mereka seolah tak mampu mengambil keputusan sendiri. Sebab menghormati seseorang berarti menghormati kemerdekaan dan kemampuannya untuk menentukan hidupnya, dan bantuan yang dipaksakan atau sikap yang mengambil alih keputusan justru merampas martabat. Maka saya menawarkan bantuan dengan menanyakan, bukan memaksakan, dan menghormati keputusan mereka. Menghormati kemandirian penyandang disabilitas adalah bentuk penghormatan yang sering lebih berarti daripada bantuan yang merampas otonomi mereka.

Laku 5 — Membangun masyarakat yang merangkul, bukan menyisihkan.

Saya berusaha ikut membangun masyarakat yang merangkul penyandang disabilitas sebagai bagian penuh — memberi kesempatan, akses, dan tempat — bukan menyisihkan mereka ke pinggir. Sebab masyarakat yang adil adalah yang memberi tempat dan kesempatan bagi semua anggotanya untuk hidup dan berkontribusi, terlepas dari keterbatasan mereka. Maka saya menyambut kehadiran dan partisipasi mereka, dan menolak sikap yang menyingkirkan. Cara masyarakat memperlakukan anggotanya yang paling rentan adalah ukuran peradabannya, dan masyarakat yang merangkul penyandang disabilitas dengan martabat bukan hanya lebih adil bagi mereka, tetapi juga lebih manusiawi bagi semua — sebab keterbatasan adalah bagian dari pengalaman manusia yang bisa menimpa siapa saja.

· · ·

LIFE 136 — PEOPLE WITH DISABILITIES

I believe that people with disabilities are whole humans with the same dignity, ability, and rights — and that what is often more crippling than the physical limitation itself is the attitude of a society that looks down on, ignores, or hinders them from living fully — therefore I:

Practice 1 — View people with disabilities as whole and equal humans.

I strive to view people with disabilities as whole humans with the same dignity and worth, not as objects of pity or people who are incomplete. For a limitation in one thing does not reduce a person's humanity, and many people with disabilities have extraordinary abilities, talents, and contributions. So I treat them with respect as whole persons, not defining them merely by their limitation. To view a person only as "a disabled person" rather than as a whole individual with a particular disability is a subtle but wounding form of demeaning.

Practice 2 — Not demean, pity demeaningly, or look down.

I strive not to demean people with disabilities, not to pity them in a demeaning way, and not to view them as less able in everything because of a limitation in one thing. For demeaning pity wounds as much as neglect, and to consider a person unable to do anything because of one limitation is an injustice that strips opportunity. So I treat them with appropriate respect, acknowledge their abilities, and do not view them as a burden. Many people with disabilities suffer more from society's demeaning attitude than from their own physical limitation.

Practice 3 — Help remove barriers, not hinder.

I strive to help remove the barriers that hinder people with disabilities from living fully and independently — both physical barriers and attitudinal ones — rather than adding barriers or ignoring them. For often what is more crippling than the physical limitation is an environment and attitude that are unfriendly and give no opportunity. So I, according to my ability, support an environment and attitude that let them participate fully. To help remove barriers is no charity, but justice: it gives them an equal chance to live, work, and contribute like others.

Practice 4 — Respect their independence and choices.

I strive to respect the independence and choices of people with disabilities — not forcing unwanted help, not deciding for them about their lives, and not treating them as though unable to make their own decisions. For to respect a person means to respect their freedom and ability to determine their own life, and forced help or an attitude that takes over the decision in fact strips dignity. So I offer help by asking, not forcing, and respect their decisions. To respect the independence of people with disabilities is a form of respect often more meaningful than help that strips their autonomy.

Practice 5 — Build a society that embraces, not marginalizes.

I strive to help build a society that embraces people with disabilities as full members — giving opportunity, access, and place — not pushing them to the margins. For a just society is one that gives place and opportunity to all its members to live and contribute, regardless of their limitations. So I welcome their presence and participation, and reject attitudes that push them out. How a society treats its most vulnerable members is the measure of its civilization, and a society that embraces people with disabilities with dignity is not only more just to them, but also more humane for all — for limitation is part of the human experience that can befall anyone.

 

HIDUP 137 — GOTONG ROYONG DAN KERJA SUKARELA
[Mutual Cooperation And Volunteering]

Saya berpikir bahwa banyak hal baik dalam hidup bersama hanya bisa dicapai ketika orang-orang bekerja bersama secara sukarela demi kebaikan bersama — dan bahwa kebiasaan saling membantu tanpa pamrih adalah salah satu kekuatan terindah masyarakat, yang menjadikan beban yang berat bagi satu orang menjadi ringan bagi banyak orang — maka saya:

Laku 1 — Ikut serta dalam kerja bersama demi kebaikan bersama.

Saya berusaha ikut serta dalam kerja-kerja bersama yang demi kebaikan bersama — membersihkan lingkungan, membantu yang tertimpa musibah, membangun fasilitas bersama, dan menjaga hal-hal yang dimiliki bersama. Sebab banyak kebaikan hanya bisa dicapai lewat kerja bersama, dan masyarakat yang warganya mau bergotong royong jauh lebih kuat dan hangat daripada yang warganya hanya peduli urusan sendiri. Maka saya tidak mengasingkan diri dari kerja bersama dengan dalih sibuk atau tak peduli. Ikut memikul beban bersama, betapapun kecil sumbangan saya, adalah bagian dari menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, bukan sekadar penumpang yang menikmati tanpa menyumbang.

Laku 2 — Membantu sesama yang tertimpa kesulitan tanpa pamrih.

Saya berusaha membantu sesama yang tertimpa kesulitan — musibah, bencana, kehilangan — secara sukarela tanpa mengharap balasan, sebagaimana saya berharap dibantu bila giliran saya tertimpa. Sebab kebiasaan saling membantu di saat sulit adalah jaring pengaman yang menangkap setiap orang ketika ia jatuh, dan kebaikan yang diberikan tanpa pamrih membangun masyarakat yang saling menopang. Maka saya hadir bagi sesama di saat mereka membutuhkan. Pertolongan tanpa pamrih bukan hanya meringankan beban yang ditolong; ia juga memberi makna dan kebahagiaan bagi yang menolong, dan menenun jaring kepercayaan yang menghangatkan seluruh masyarakat.

Laku 3 — Menyumbangkan waktu, tenaga, dan keterampilan, bukan hanya uang.

Saya berusaha menyumbang bagi kebaikan bersama bukan hanya lewat uang, tetapi juga lewat waktu, tenaga, dan keterampilan saya — sebab kehadiran dan keterlibatan langsung sering lebih berharga daripada sumbangan uang yang menjaga jarak. Maka saya tidak merasa cukup dengan memberi uang sambil menjaga jarak dari kerja nyata; saya ikut turun tangan sesuai kemampuan. Menyumbangkan waktu dan tenaga membangun ikatan dan rasa memiliki yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan kerja sukarela yang dilakukan bersama menumbuhkan kebersamaan yang memperkuat masyarakat. Memberi diri saya — bukan hanya harta saya — adalah bentuk sumbangan yang paling kaya.

Laku 4 — Memberi sukarela dengan tulus, tanpa pamrih dan tanpa pamer.

Saya berusaha melakukan kerja sukarela dan membantu sesama dengan tulus — karena sungguh peduli, bukan demi pujian, pengakuan, atau keuntungan tersembunyi. Sebab kerja sukarela yang dipamerkan atau yang berpamrih kehilangan sebagian besar nilainya, dan kebaikan yang sejati mengalir dari kepedulian, bukan dari keinginan tampak baik. Maka saya membantu sebisa mungkin tanpa menonjolkan diri, dan tidak menjadikan kebaikan saya sebagai bahan pamer. Kerja sukarela yang tulus, yang dilakukan diam-diam tanpa mengharap pengakuan, adalah salah satu bentuk kebaikan yang paling murni — dan justru kebaikan semacam itu yang paling memuaskan jiwa pelakunya.

Laku 5 — Menjaga keseimbangan: menyumbang tanpa menghancurkan diri.

Saya berusaha menyumbang dan terlibat dalam kerja bersama sesuai kemampuan saya yang sebenarnya, tanpa memaksakan diri sampai menghancurkan kesehatan, keuangan, atau keluarga saya sendiri. Sebab penolong yang hancur tidak bisa terus menolong, dan kemurahan hati yang tak berbatas bisa berubah menjadi kelelahan dan kepahitan. Maka saya memberi dari kerelaan dan kemampuan, sambil menjaga keseimbangan dengan tanggung jawab saya yang lain. Menjaga keseimbangan ini bukan kekikiran; ia adalah kebijaksanaan yang memastikan saya bisa terus berkontribusi dalam jangka panjang. Kontribusi yang berkelanjutan dari banyak orang yang menjaga keseimbangan lebih membangun daripada pengorbanan habis-habisan segelintir orang yang akhirnya terbakar dan menyerah.

· · ·

LIFE 137 — MUTUAL COOPERATION AND VOLUNTEERING

I believe that many good things in life together can only be attained when people work together voluntarily for the common good — and that the habit of helping one another without ulterior motive is one of the loveliest strengths of a society, which makes a burden heavy for one person light for many — therefore I:

Practice 1 — Take part in joint work for the common good.

I strive to take part in joint work for the common good — cleaning the neighborhood, helping those struck by misfortune, building shared facilities, and tending what is owned in common. For many goods can only be attained through joint work, and a society whose citizens are willing to cooperate is far stronger and warmer than one whose citizens care only for their own affairs. So I do not isolate myself from joint work with the excuse of being busy or indifferent. To help carry the shared burden, however small my contribution, is part of being a responsible member of society, not merely a passenger who enjoys without contributing.

Practice 2 — Help others struck by difficulty without ulterior motive.

I strive to help others struck by difficulty — misfortune, disaster, loss — voluntarily without expecting return, as I would hope to be helped when it is my turn to be struck. For the habit of helping one another in hard times is a safety net that catches everyone when they fall, and kindness given without ulterior motive builds a society that supports one another. So I am present for others when they need it. Help without ulterior motive not only eases the burden of the helped; it also gives meaning and happiness to the helper, and weaves a net of trust that warms the whole society.

Practice 3 — Contribute time, effort, and skills, not only money.

I strive to contribute to the common good not only through money, but also through my time, effort, and skills — for presence and direct involvement are often more valuable than a money contribution that keeps its distance. So I do not feel content with giving money while keeping distance from the real work; I lend a hand according to my ability. To contribute time and effort builds bonds and a sense of belonging that money cannot buy, and volunteering done together grows the togetherness that strengthens society. To give myself — not only my wealth — is the richest form of contribution.

Practice 4 — Volunteer sincerely, without ulterior motive and without show.

I strive to volunteer and help others sincerely — because I truly care, not for praise, recognition, or a hidden gain. For volunteering that is paraded or self-serving loses most of its value, and true kindness flows from care, not from a desire to look good. So I help as much as possible without drawing attention to myself, and do not make my kindness material for show. Sincere volunteering, done quietly without expecting recognition, is one of the purest forms of kindness — and it is precisely such kindness that most satisfies the soul of the doer.

Practice 5 — Keep the balance: contribute without destroying myself.

I strive to contribute and engage in joint work according to my real ability, without forcing myself until I destroy my health, finances, or my own family. For a destroyed helper cannot keep helping, and boundless generosity can turn into exhaustion and bitterness. So I give from willingness and ability, while keeping a balance with my other responsibilities. To keep this balance is no stinginess; it is the wisdom that ensures I can keep contributing over the long run. A sustained contribution from many people who keep their balance builds more than the all-out sacrifice of a few who in the end burn out and give up.

 

HIDUP 138 — KORUPSI [Corruption]

Saya berpikir bahwa korupsi — penyalahgunaan kepercayaan dan kekuasaan untuk keuntungan pribadi — adalah salah satu penyakit yang paling merusak masyarakat, sebab ia mencuri dari yang lemah, menghancurkan keadilan, dan meracuni kepercayaan yang menjadi dasar hidup bersama; dan ia tumbuh subur justru ketika dianggap biasa — maka saya:

Laku 1 — Tidak melakukan korupsi, sekecil apa pun, dalam lingkup saya.

Saya berusaha tidak melakukan korupsi dalam bentuk apa pun dalam lingkup saya — tidak menyuap, tidak menerima suap, tidak menyalahgunakan kepercayaan dan jabatan untuk keuntungan pribadi, dan tidak mengambil yang bukan hak. Sebab korupsi besar tumbuh dari pembiasaan korupsi kecil, dan setiap kompromi kecil terhadap kejujuran melemahkan pertahanan terhadap yang lebih besar. Maka saya menjaga kejujuran bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele, dan tidak menganggap remeh "uang pelicin" atau keuntungan kecil yang diperoleh dengan menyalahgunakan kepercayaan. Korupsi yang dianggap biasa adalah korupsi yang tumbuh subur, dan menolaknya dimulai dari menolak yang kecil dalam lingkup saya sendiri.

Laku 2 — Menolak ikut serta meski semua orang melakukannya.

Saya berusaha menolak ikut dalam korupsi meski ia tampak biasa, diterima luas, atau "semua orang melakukannya" — sebab pembenaran "semua juga begitu" adalah justru yang menjadikan korupsi mengakar dan tak teratasi. Maka saya tidak menjadikan keumuman sebuah keburukan sebagai pembenaran untuk ikut melakukannya. Menolak ikut, meski berdiri sendiri dan meski merugikan saya secara jangka pendek, adalah cara menjaga agar keburukan tidak menjadi norma yang tak tertanyakan. Setiap orang yang menolak ikut korupsi, betapapun kecil pengaruhnya, menjaga nyala kejujuran tetap hidup dan menolak menyerah pada anggapan bahwa korupsi tak terhindarkan.

Laku 3 — Tidak menjadikan kekecewaan sebagai pembenaran untuk ikut korup.

Saya berusaha tidak menjadikan kekecewaan terhadap korupsi yang merajalela sebagai pembenaran untuk ikut korup sendiri — sebab dua kesalahan tidak menghasilkan kebenaran, dan ikut korup dengan alasan "toh sistemnya sudah rusak" hanya menambah kerusakan dan mengkhianati mereka yang dirugikan. Maka saya menempuh jalan yang benar: menjaga kejujuran saya sendiri sambil melawan korupsi lewat cara yang sah. Membiarkan kemarahan terhadap korupsi membuat saya ikut korup berarti membiarkan keburukan menulari saya dan menjadikan saya bagian dari masalah yang saya kutuk. Lebih baik menjadi bagian dari yang menjaga kejujuran, betapapun sulit, daripada menyerah pada kerusakan dengan dalih kekecewaan.

Laku 4 — Melawan korupsi lewat cara yang sah sesuai kemampuan.

Saya berusaha, sesuai kemampuan dan keadaan saya, melawan korupsi lewat cara yang sah — tidak diam terhadap penyelewengan yang saya saksikan, mendukung pengawasan dan pertanggungjawaban, dan tidak ikut melindungi pelaku. Sebab korupsi tumbuh subur dalam kediaman dan pembiaran, dan melawannya menuntut keberanian warga untuk tidak menutup mata. Maka saya tidak menjadi penonton yang acuh, sambil menimbang dengan bijak cara yang aman dan efektif sesuai keadaan saya. Tidak setiap orang berada dalam posisi yang sama untuk melawan, dan kehati-hatian diperlukan, tetapi dalam batas kemampuan saya, saya memilih tidak melindungi atau membiarkan korupsi yang merugikan banyak orang.

Laku 5 — Menyadari siapa yang dirugikan oleh korupsi.

Saya berusaha menyadari bahwa korupsi bukanlah kejahatan tanpa korban — bahwa setiap uang yang dicuri lewat korupsi adalah jalan yang tidak dibangun, sekolah yang tidak layak, rumah sakit yang kekurangan, dan keadilan yang dirampas, yang paling merugikan kaum miskin dan lemah yang paling membutuhkan layanan bersama. Maka saya tidak memandang korupsi sebagai kejahatan abstrak yang tak menyentuh siapa-siapa, melainkan sebagai pencurian dari yang paling membutuhkan. Kesadaran akan korban nyata di balik korupsi menguatkan tekad untuk menolaknya: di balik setiap penyelewengan ada orang-orang yang menderita karena hak mereka dicuri, dan menutup mata terhadap korupsi berarti ikut membiarkan penderitaan mereka.

· · ·

LIFE 138 — CORRUPTION

I believe that corruption — the abuse of trust and power for personal gain — is one of the most destructive diseases of a society, for it steals from the weak, destroys justice, and poisons the trust that is the foundation of life together; and it thrives precisely when it is deemed ordinary — therefore I:

Practice 1 — Not commit corruption, however small, within my sphere.

I strive not to commit corruption in any form within my sphere — not bribing, not taking bribes, not abusing trust and office for personal gain, and not taking what is not my right. For great corruption grows from the habituation of small corruption, and every small compromise of honesty weakens the defense against the greater. So I keep my honesty even in things that seem trivial, and do not make light of "grease money" or a small gain obtained by abusing trust. Corruption deemed ordinary is corruption that thrives, and rejecting it begins with rejecting the small within my own sphere.

Practice 2 — Refuse to take part even if everyone does it.

I strive to refuse to take part in corruption even if it seems ordinary, widely accepted, or "everyone does it" — for the justification "everyone's like that" is precisely what makes corruption take root and become intractable. So I do not make the commonness of a wrong a justification for joining in it. To refuse to take part, even standing alone and even at a short-term cost to me, is a way of keeping a wrong from becoming an unquestioned norm. Everyone who refuses to take part in corruption, however small their influence, keeps the flame of honesty alive and refuses to surrender to the notion that corruption is unavoidable.

Practice 3 — Not make disappointment a justification for joining in corruption.

I strive not to make disappointment over rampant corruption a justification for being corrupt myself — for two wrongs do not make a right, and joining in corruption with the excuse "the system is already broken anyway" only adds damage and betrays those harmed. So I take the right path: keeping my own honesty while fighting corruption through legitimate means. Letting anger at corruption make me corrupt too means letting the bad infect me and making me part of the problem I condemn. Better to be among those who keep their honesty, however hard, than to surrender to the damage with the excuse of disappointment.

Practice 4 — Fight corruption through legitimate means according to ability.

I strive, according to my ability and circumstance, to fight corruption through legitimate means — not staying silent toward the misuse I witness, supporting oversight and accountability, and not helping protect the perpetrators. For corruption thrives in silence and tolerance, and fighting it demands the courage of citizens not to shut their eyes. So I do not become an indifferent spectator, while weighing wisely the safe and effective way according to my circumstance. Not everyone is in the same position to fight, and caution is needed, but within the limits of my ability, I choose not to protect or tolerate corruption that harms many people.

Practice 5 — Be aware of who is harmed by corruption.

I strive to be aware that corruption is no victimless crime — that every bit of money stolen through corruption is a road not built, a substandard school, an under-resourced hospital, and a justice stripped away, which most harms the poor and weak who most need the shared services. So I do not view corruption as an abstract crime that touches no one, but as theft from those who most need it. Awareness of the real victims behind corruption strengthens the resolve to reject it: behind every misuse are people suffering because their rights were stolen, and to shut one's eyes to corruption is to help let their suffering continue.

 

HIDUP 139 — KEKERASAN [Violence]

Saya berpikir bahwa kekerasan — menyakiti tubuh dan jiwa orang lain untuk memaksakan kehendak — adalah salah satu keburukan yang paling merusak, dan bahwa masyarakat yang beradab dibangun justru dengan menundukkan kekerasan di bawah aturan dan dialog; namun saya juga mengakui hak membela diri dan yang lemah dari serangan yang nyata — maka saya:

Laku 1 — Menolak kekerasan sebagai cara menyelesaikan persoalan.

Saya berusaha menolak kekerasan sebagai cara menyelesaikan perbedaan dan memaksakan kehendak — sebab kekerasan menyelesaikan masalah hanya di permukaan sambil menanam dendam, luka, dan lingkaran pembalasan yang sering lebih buruk daripada masalah awalnya. Maka saya mengutamakan dialog, perundingan, dan jalan damai dalam menyelesaikan persoalan. Kekerasan mungkin tampak menyelesaikan dengan cepat, tetapi ia merusak yang lebih dalam dan melahirkan kekerasan berikutnya. Masyarakat yang beradab adalah yang menundukkan kekerasan di bawah aturan dan dialog, dan menolak menjadikan kekerasan sebagai cara biasa menyelesaikan perselisihan.

Laku 2 — Menjaga diri dari kekerasan dalam kemarahan.

Saya berusaha menjaga diri agar tidak melakukan kekerasan dalam kemarahan — terhadap pasangan, anak, atau siapa pun — sebab kekerasan yang lahir dari amarah yang tak terkendali meninggalkan luka yang dalam dan kadang tak terpulihkan, terutama terhadap mereka yang lebih lemah dan bergantung pada saya. Maka saya melatih diri menahan dan menjauh ketika amarah memuncak, sebelum ia berubah menjadi kekerasan. Kekerasan dalam rumah tangga dan terhadap anak adalah salah satu luka yang paling merusak dan paling sering diwariskan antar generasi. Menjaga tangan dan lidah dari menyakiti orang yang seharusnya saya lindungi adalah salah satu tanggung jawab yang paling mendasar.

Laku 3 — Membela diri dan yang lemah dari serangan yang nyata.

Saya mengakui hak untuk membela diri dan melindungi yang lemah dari serangan dan bahaya yang nyata — sebab menolak kekerasan tidak berarti menyerah pasif terhadap yang menyerang dan menindas, dan membiarkan kekerasan menimpa yang tak berdaya bukanlah kebajikan. Maka saya membedakan kekerasan yang menyerang dan menindas dari pembelaan yang melindungi dari serangan nyata. Membela diri dan yang lemah dari bahaya nyata, dengan kekuatan yang sepadan dan tidak berlebihan, berbeda dari kekerasan yang menyerang untuk memaksakan kehendak. Tetapi saya menjaga agar pembelaan tetap proporsional dan tidak berubah menjadi pembalasan yang melampaui batas, sebab pembelaan yang berlebihan kembali menjadi kekerasan yang menyerang.

Laku 4 — Tidak membiarkan dan tidak ikut melanggengkan kekerasan terhadap yang lemah.

Saya berusaha tidak diam terhadap kekerasan yang menimpa yang lemah dan tak berdaya — kekerasan terhadap anak, perempuan, dan yang tertindas — ketika saya mampu bertindak atau bersuara. Sebab kediaman di hadapan kekerasan terhadap yang tak berdaya sering berarti membiarkannya berlanjut, dan banyak kekerasan berlangsung karena terlalu banyak yang memilih tidak ikut campur. Maka saya, sesuai kemampuan dan keadaan saya yang aman, berusaha melindungi yang terancam dan tidak menutup mata. Tetapi saya juga menimbang dengan bijak agar pembelaan saya tidak ceroboh dan justru membahayakan. Membela yang lemah dari kekerasan menuntut keberanian sekaligus kebijaksanaan tentang cara yang aman dan efektif.

Laku 5 — Mengakar pada dialog dan keadilan untuk mencegah kekerasan.

Saya berusaha mendukung dan menempuh jalan-jalan yang mencegah kekerasan di akarnya — dialog, keadilan, dan penyelesaian persoalan yang menjadi sumber kekerasan — sebab kekerasan sering tumbuh dari ketidakadilan, penindasan, dan persoalan yang tak terselesaikan. Maka saya tidak hanya menolak kekerasan ketika ia muncul, tetapi juga peduli pada keadilan dan dialog yang mencegahnya lahir. Mencegah kekerasan lebih baik daripada memadamkannya setelah meledak, dan masyarakat yang adil serta yang warganya bisa menyelesaikan perbedaan lewat dialog jauh lebih damai daripada masyarakat yang penuh ketidakadilan dan kebuntuan. Mengakar pada keadilan dan dialog adalah pencegahan kekerasan yang paling mendasar.

· · ·

LIFE 139 — VIOLENCE

I believe that violence — wounding the body and soul of another to force one's will — is one of the most destructive evils, and that a civilized society is built precisely by subduing violence under rules and dialogue; yet I also acknowledge the right to defend oneself and the weak from a real attack — therefore I:

Practice 1 — Reject violence as a way of settling problems.

I strive to reject violence as a way of settling differences and forcing one's will — for violence settles a problem only on the surface while planting grudges, wounds, and a cycle of retaliation often worse than the original problem. So I prioritize dialogue, negotiation, and the peaceful path in settling problems. Violence may seem to settle things fast, but it damages more deeply and breeds the next violence. A civilized society is one that subdues violence under rules and dialogue, and refuses to make violence the ordinary way of settling disputes.

Practice 2 — Guard myself from violence in anger.

I strive to guard myself from committing violence in anger — toward my partner, child, or anyone — for violence born of uncontrolled rage leaves a deep and sometimes unhealable wound, especially toward those weaker and dependent on me. So I train myself to restrain and step away when rage peaks, before it turns into violence. Domestic violence and violence against children are among the most destructive wounds and the most often passed between generations. To keep my hand and tongue from hurting those I should protect is one of the most fundamental responsibilities.

Practice 3 — Defend myself and the weak from a real attack.

I acknowledge the right to defend myself and protect the weak from real attack and danger — for to reject violence does not mean passively surrendering to those who attack and oppress, and letting violence befall the powerless is no virtue. So I distinguish violence that attacks and oppresses from defense that protects from a real attack. To defend oneself and the weak from real danger, with proportionate and not excessive force, differs from violence that attacks to force one's will. But I keep the defense proportionate and not turned into a retaliation that exceeds the bound, for excessive defense becomes again an attacking violence.

Practice 4 — Not tolerate and not help perpetuate violence against the weak.

I strive not to stay silent toward violence that befalls the weak and powerless — violence against children, women, and the oppressed — when I am able to act or speak. For silence before violence against the powerless often means letting it continue, and much violence persists because too many choose not to get involved. So I, according to my ability and a safe situation, strive to protect the threatened and not shut my eyes. But I also weigh wisely so that my defense is not careless and itself dangerous. To defend the weak from violence demands courage and at once wisdom about the safe and effective way.

Practice 5 — Root prevention of violence in dialogue and justice.

I strive to support and take the paths that prevent violence at its root — dialogue, justice, and settling the problems that are the source of violence — for violence often grows from injustice, oppression, and unresolved problems. So I do not only reject violence when it arises, but also care about the justice and dialogue that prevent its birth. To prevent violence is better than to extinguish it after it explodes, and a society that is just and whose citizens can settle differences through dialogue is far more peaceful than one full of injustice and deadlock. To root in justice and dialogue is the most fundamental prevention of violence.

 

HIDUP 140 — PERANG DAN PERDAMAIAN [War and Peace]

Saya berpikir bahwa perang adalah salah satu kegagalan dan penderitaan terbesar manusia — di dalamnya yang paling tak bersalah sering paling menderita — dan bahwa perdamaian, meski rapuh dan tak sempurna, hampir selalu lebih baik daripada perang; namun saya juga mengakui bahwa ada kalanya melawan penindasan yang nyata menjadi tak terhindarkan — maka saya:

Laku 1 — Menghargai perdamaian sebagai sesuatu yang berharga dan rapuh.

Saya berusaha menghargai perdamaian sebagai sesuatu yang berharga dan harus dijaga, bukan dianggap biasa — sebab perdamaian, meski tak sempurna, memungkinkan kehidupan, pembangunan, dan kebahagiaan yang dihancurkan oleh perang. Maka saya tidak meremehkan perdamaian atau dengan ringan menyerukan perang dan permusuhan. Mereka yang paling bersemangat menyerukan perang sering adalah yang paling jauh dari penderitaannya, sedangkan yang menanggung adalah rakyat biasa dan yang tak bersalah. Perdamaian yang rapuh hampir selalu lebih baik daripada perang, dan menghargainya berarti menjaganya dengan sungguh-sungguh, bukan mengorbankannya demi kemarahan atau ambisi.

Laku 2 — Menolak menyalakan kebencian dan permusuhan antar kelompok.

Saya berusaha menolak ikut menyalakan kebencian dan permusuhan yang menjadi bahan bakar konflik dan perang — antar suku, agama, bangsa, atau golongan — sebab perang dan kekerasan besar hampir selalu didahului oleh kebencian yang disebarkan dan dibakar. Maka saya tidak menyebarkan kebencian, tidak mendehumanisasi kelompok lain, dan tidak ikut dalam provokasi yang membenturkan. Salah satu cara mencegah perang adalah dengan menolak terbakar oleh kebencian dan menolak menyebarkannya. Setiap kebencian antar kelompok yang dipadamkan dan setiap kemanusiaan bersama yang diakui adalah sumbangan kecil bagi pencegahan kekerasan besar yang sering bermula dari kebencian yang dibiarkan tumbuh.

Laku 3 — Mengakui penderitaan semua pihak, bukan hanya pihak sendiri.

Saya berusaha mengakui penderitaan manusia di semua pihak dalam konflik, bukan hanya pihak saya sendiri — sebab kecenderungan untuk memanusiakan pihak sendiri dan mendehumanisasi pihak lawan adalah yang membuat kekejaman perang menjadi mungkin dan dibenarkan. Maka saya berusaha mengingat bahwa di balik setiap pihak ada manusia yang menderita, kehilangan, dan ketakutan yang sama. Mengakui kemanusiaan pihak lawan tidak berarti membenarkan kesalahan mereka; ia berarti menolak kebutaan yang membuat kekejaman terhadap mereka terasa wajar. Kemampuan melihat kemanusiaan bahkan pada pihak yang berseberangan adalah penjaga terhadap kekejaman dan benih bagi perdamaian yang kelak harus dibangun.

Laku 4 — Mengakui bahwa melawan penindasan nyata kadang tak terhindarkan.

Saya mengakui bahwa meski perdamaian hampir selalu lebih baik, ada kalanya melawan penindasan, penjajahan, dan kekejaman yang nyata menjadi tak terhindarkan — sebab tunduk pasif terhadap penindasan yang menghancurkan juga merupakan keburukan. Maka saya tidak menjadikan cinta damai sebagai pembenaran untuk membiarkan penindasan besar berlangsung tanpa perlawanan. Tetapi saya juga sangat berhati-hati di sini: perang dan kekerasan harus menjadi pilihan terakhir setelah jalan damai sungguh-sungguh diupayakan, bukan jalan pertama yang dipilih karena kemarahan atau ambisi. Membedakan perlawanan yang sungguh terpaksa dari agresi yang dibungkus pembenaran menuntut kejujuran yang dalam.

Laku 5 — Membangun perdamaian lewat keadilan dan rekonsiliasi.

Saya berusaha mendukung perdamaian yang dibangun di atas keadilan dan rekonsiliasi, bukan sekadar ketiadaan perang yang menyimpan dendam — sebab perdamaian yang dibangun di atas penindasan dan ketidakadilan yang dibiarkan hanyalah jeda sebelum konflik berikutnya. Maka saya peduli bukan hanya pada menghentikan kekerasan, tetapi juga pada menyembuhkan luka dan menyelesaikan ketidakadilan yang menjadi akarnya. Perdamaian yang sejati dan tahan lama menuntut keadilan bagi yang dirugikan dan rekonsiliasi yang menyembuhkan permusuhan, bukan sekadar gencatan yang menyimpan bara. Membangun perdamaian semacam ini lebih sulit dan lebih lambat daripada sekadar menghentikan tembakan, tetapi hanya ia yang sungguh bertahan.

· · ·

LIFE 140 — WAR AND PEACE

I believe that war is one of the greatest failures and sufferings of humanity — in it the most innocent often suffer most — and that peace, though fragile and imperfect, is almost always better than war; yet I also acknowledge that there are times when resisting a real oppression becomes unavoidable — therefore I:

Practice 1 — Value peace as something precious and fragile.

I strive to value peace as something precious and to be guarded, not taken as ordinary — for peace, though imperfect, allows the life, building, and happiness that war destroys. So I do not belittle peace or lightly call for war and enmity. Those most eager to call for war are often those farthest from its suffering, while those who bear it are ordinary people and the innocent. A fragile peace is almost always better than war, and to value it means to guard it in earnest, not sacrifice it for anger or ambition.

Practice 2 — Refuse to ignite hatred and enmity between groups.

I strive to refuse to help ignite the hatred and enmity that are the fuel of conflict and war — between ethnicities, religions, nations, or factions — for great war and violence are almost always preceded by hatred spread and ignited. So I do not spread hatred, do not dehumanize another group, and do not join in provocation that pits one against another. One way to prevent war is to refuse to be ignited by hatred and to refuse to spread it. Every hatred between groups extinguished and every shared humanity acknowledged is a small contribution to the prevention of the great violence that often begins with hatred allowed to grow.

Practice 3 — Acknowledge the suffering of all sides, not only one's own.

I strive to acknowledge the human suffering on all sides of a conflict, not only my own side — for the tendency to humanize one's own side and dehumanize the opposing side is what makes the cruelty of war possible and justified. So I strive to remember that behind every side are humans suffering, losing, and fearing the same. To acknowledge the humanity of the opposing side does not mean justifying their wrongs; it means refusing the blindness that makes cruelty toward them feel natural. The ability to see humanity even in the opposing side is a guard against cruelty and a seed for the peace that must one day be built.

Practice 4 — Acknowledge that resisting real oppression is sometimes unavoidable.

I acknowledge that though peace is almost always better, there are times when resisting real oppression, occupation, and cruelty becomes unavoidable — for to submit passively to a destroying oppression is also an evil. So I do not make the love of peace a justification for letting great oppression proceed without resistance. But I am also very careful here: war and violence must be a last resort after the peaceful path has been earnestly attempted, not a first path chosen out of anger or ambition. To distinguish a truly forced resistance from an aggression wrapped in justification demands deep honesty.

Practice 5 — Build peace through justice and reconciliation.

I strive to support a peace built on justice and reconciliation, not merely the absence of war that stores up a grudge — for peace built on oppression and injustice left in place is only a pause before the next conflict. So I care not only about stopping the violence, but also about healing the wounds and settling the injustice that is its root. A true and lasting peace demands justice for the wronged and a reconciliation that heals the enmity, not merely a ceasefire that stores embers. To build such a peace is harder and slower than merely stopping the shooting, but only it truly endures.

 

HIDUP 141 — PENDATANG DAN PERANTAU [Migrants and Newcomers]

Saya berpikir bahwa hampir setiap orang, bila ditelusuri cukup jauh, adalah keturunan pendatang dan perantau — dan bahwa orang yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari hidup yang lebih baik atau melarikan diri dari bahaya layak diperlakukan dengan kemanusiaan, sebagaimana saya berharap diperlakukan bila saya yang merantau — maka saya:

Laku 1 — Memperlakukan pendatang dengan kemanusiaan dan hormat.

Saya berusaha memperlakukan pendatang dan perantau dengan kemanusiaan dan hormat — sebab mereka adalah manusia yang sama, yang sering meninggalkan kampung halaman karena kebutuhan, kesulitan, atau bahaya, bukan karena keinginan. Maka saya tidak memandang rendah atau memusuhi orang semata karena ia pendatang. Banyak dari mereka menempuh perjalanan yang berat dan meninggalkan segala yang dikenalnya demi mencari hidup yang lebih baik atau menyelamatkan diri, dan memperlakukan mereka dengan kemanusiaan adalah pengakuan akan martabat dan perjuangan mereka. Hampir setiap orang adalah keturunan perantau bila ditelusuri cukup jauh, dan kemanusiaan tidak mengenal batas asal-usul.

Laku 2 — Menempatkan diri pada posisi mereka yang merantau.

Saya berusaha menempatkan diri pada posisi orang yang merantau — membayangkan beratnya meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan segala yang dikenal untuk mencari hidup di tempat asing yang sering tidak ramah. Sebab membayangkan keadaan orang lain adalah akar dari belas kasih, dan kita tidak bisa sungguh peduli pada penderitaan yang tak bisa kita bayangkan. Maka saya berusaha memahami, bukan menghakimi dari jauh. Bila saya yang terpaksa merantau ke tempat asing demi keluarga atau keselamatan, saya pun berharap diperlakukan dengan kemanusiaan, bukan permusuhan — dan memperlakukan pendatang sebagaimana saya ingin diperlakukan adalah keadilan yang paling sederhana.

Laku 3 — Menolak prasangka dan kambing hitam terhadap pendatang.

Saya berusaha menolak prasangka dan kebiasaan menjadikan pendatang sebagai kambing hitam atas masalah-masalah masyarakat — sebab sepanjang sejarah, pendatang sering dijadikan sasaran kemarahan dan disalahkan atas kesulitan yang sebenarnya berakar di tempat lain. Maka saya tidak ikut menyebarkan kebencian terhadap pendatang atau menggeneralisasi keburukan segelintir menjadi tuduhan terhadap semua. Menjadikan pendatang kambing hitam mudah dilakukan dan secara politik sering menguntungkan bagi yang mencari sasaran kemarahan, tetapi ia tidak adil dan tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Menolak prasangka ini adalah bagian dari kejujuran melihat akar masalah dan dari keadilan terhadap mereka yang rentan dijadikan sasaran.

Laku 4 — Menghargai sumbangan pendatang bagi masyarakat.

Saya berusaha menghargai sumbangan yang sering diberikan pendatang dan perantau bagi masyarakat yang menerimanya — tenaga, keterampilan, keragaman budaya, dan semangat untuk membangun hidup baru. Sebab pendatang sering mengisi kebutuhan, membawa keterampilan, dan memperkaya budaya tempat yang mereka tuju, dan banyak masyarakat dibangun dan diperkuat oleh sumbangan para pendatang. Maka saya tidak memandang pendatang semata sebagai beban, melainkan juga mengakui apa yang mereka sumbangkan. Memandang pendatang dengan adil berarti melihat bukan hanya tantangan yang mungkin mereka bawa, tetapi juga sumbangan dan perjuangan mereka untuk hidup dengan baik dan berkontribusi.

Laku 5 — Menjadi tuan rumah yang baik, dan perantau yang menghormati.

Saya berusaha, bila menjadi tuan rumah bagi pendatang, menyambut dengan kemanusiaan; dan bila saya sendiri yang merantau, menghormati tempat dan masyarakat yang menerima saya. Sebab hidup bersama yang damai antara penduduk asli dan pendatang menuntut tanggung jawab dua arah: tuan rumah memperlakukan pendatang dengan kemanusiaan, dan pendatang menghormati aturan, adat, dan masyarakat yang menerimanya sambil tetap menjaga jati dirinya. Maka saya menjalankan bagian saya di sisi mana pun saya berada. Keseimbangan ini — keramahan dari tuan rumah dan penghormatan dari pendatang — adalah dasar bagi masyarakat yang bisa menerima keragaman asal-usul tanpa kehilangan kedamaian dan kohesinya.

· · ·

LIFE 141 — MIGRANTS AND NEWCOMERS

I believe that almost everyone, if traced far enough back, is a descendant of migrants and newcomers — and that a person who leaves their homeland to seek a better life or flee danger deserves to be treated with humanity, as I would hope to be treated were I the one migrating — therefore I:

Practice 1 — Treat newcomers with humanity and respect.

I strive to treat newcomers and migrants with humanity and respect — for they are the same humans, who often leave their homeland out of need, difficulty, or danger, not out of desire. So I do not look down on or be hostile to a person merely because they are a newcomer. Many of them undertake a hard journey and leave all they know to seek a better life or save themselves, and to treat them with humanity is a recognition of their dignity and struggle. Almost everyone is a descendant of migrants if traced far enough back, and humanity knows no boundary of origin.

Practice 2 — Put myself in the position of those who migrate.

I strive to put myself in the position of those who migrate — imagining the weight of leaving homeland, family, and all that is known to seek a life in a strange place that is often unwelcoming. For imagining another's situation is the root of compassion, and we cannot truly care about a suffering we cannot imagine. So I strive to understand, not judge from afar. Were I the one forced to migrate to a strange place for family or safety, I too would hope to be treated with humanity, not hostility — and to treat newcomers as I would wish to be treated is the simplest justice.

Practice 3 — Reject prejudice and scapegoating of newcomers.

I strive to reject prejudice and the habit of making newcomers a scapegoat for society's problems — for throughout history, newcomers have often been made a target of anger and blamed for difficulties that are in truth rooted elsewhere. So I do not join in spreading hatred toward newcomers or generalize the faults of a few into an accusation against all. To scapegoat newcomers is easy to do and often politically advantageous for those seeking a target for anger, but it is unjust and does not solve the real problem. To reject this prejudice is part of the honesty to see the root of the problem and of justice toward those vulnerable to being made a target.

Practice 4 — Value the contribution of newcomers to society.

I strive to value the contribution newcomers and migrants often give to the society that receives them — effort, skills, cultural diversity, and the spirit to build a new life. For newcomers often fill needs, bring skills, and enrich the culture of the place they go to, and many societies are built and strengthened by the contributions of newcomers. So I do not view newcomers merely as a burden, but also acknowledge what they contribute. To view newcomers justly means to see not only the challenges they may bring, but also their contribution and their struggle to live well and contribute.

Practice 5 — Be a good host, and a respectful newcomer.

I strive, when I am a host to newcomers, to welcome with humanity; and when I am the one migrating, to respect the place and society that receives me. For peaceful life together between natives and newcomers demands a two-way responsibility: the host treats the newcomer with humanity, and the newcomer respects the rules, customs, and society that receive them while still keeping their own identity. So I do my part on whichever side I am on. This balance — hospitality from the host and respect from the newcomer — is the foundation for a society able to receive a diversity of origins without losing its peace and cohesion.