JAWA
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
BUKU LIMA
Tulang-Tulang Nenek Moyang
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
Yang paling tua tidak hilang.
Ia hanya turun lebih dalam,
ke dalam tulang yang menjadi batu.
BAGIAN I
Yang Tersimpan di Tulang
BAB SATU
Yang Berdiri di Hadapan Tulang
Ada pertanyaan yang lebih tua daripada
semua pertanyaan lain, lebih tua bahkan daripada pertanyaan tentang dunia yang
tenggelam: siapa kami, dan dari mana kami datang? Tanah ini menyimpan
jawabannya, di lapisan yang lebih dalam daripada bukit mana pun, dalam tulang
yang berubah menjadi batu, menunggu untuk ditanya.
dari ajaran para pengingat, tentang
pertanyaan tertua
Banyak generasi
setelah Gambuh menemukan tulang yang berubah menjadi batu di lembah-lembah
sungai, seseorang berdiri di hadapan tulang-tulang itu lagi, bukan untuk
pertama kalinya, sebab rantai telah menjaga ingatan tentang penemuan Gambuh,
melainkan untuk bertanya pertanyaan yang Gambuh tak sempat tanyakan: bukan apa
tulang-tulang ini, melainkan siapa.
Ia bernama Sangga, dan ia hidup di zaman yang lebih matang daripada zaman
Gambuh, zaman ketika orang-orang telah mulai menggali tanah bukan hanya untuk
menanam dan membangun, melainkan untuk memahami; zaman ketika lembah-lembah
sungai tertentu, di mana air telah mengikis tanah untuk mengungkap
lapisan-lapisan dalamnya, telah menjadi tempat di mana orang menemukan, dengan
keteraturan yang mengganggu, tulang-tulang yang tak seperti tulang siapa pun
yang hidup. Dan di antara mereka yang menemukan tulang-tulang ini, Sangga
adalah seorang pengingat, pembawa kerikil, walau bukan yang terkuat, yang
merasakan dalam tulang-tulang itu gema yang sama yang dirasakan Gambuh: ingatan
yang lebih tua daripada banjir, lebih tua daripada Nagara Rata, lebih tua
daripada apa pun yang dibawa rantai dalam darah.
Tapi di mana Gambuh telah menemukan bahwa tulang-tulang itu ada, dan
telah merasakan betapa tua mereka, Sangga membawa pertanyaan yang lebih dalam.
Sebab ia berdiri di hadapan tulang yang berubah menjadi batu, tulang dari
kepala, tulang dari rahang, tulang yang dulu menyangga daging dan pikiran dan
mungkin sesuatu seperti jiwa, dan ia tak bisa melepaskan pertanyaan yang muncul
ketika ia memandangnya: makhluk apa ini? Apakah ia seperti aku? Apakah ia
berpikir, merasa, bermimpi? Dan bila ia datang sebelum aku, di tanah yang sama
yang kupijak, apakah ia, dalam cara tertentu, nenek moyangku? Apakah aku, dan
semua orang seperti aku, datang dari makhluk seperti yang tulangnya kupegang
sekarang?
❖
Dan saat Sangga
mempelajari tulang-tulang yang ia dan yang lain temukan, ia menghadapi sebuah
misteri yang akan menghantuinya: bahwa tulang-tulang itu setengah dikenali dan
setengah asing, cukup seperti tulang orang-orang seperti dirinya untuk merasa
terhubung, tapi cukup berbeda untuk merasa bahwa mereka bukan sepenuhnya orang
seperti dirinya.
Tulang kepala lebih tebal, lebih rendah, dengan tonjolan di atas mata
yang tak dimiliki orang-orang seperti Sangga. Rahang lebih berat, gigi lebih
besar. Tapi bentuk keseluruhannya, cara tulang-tulang itu menyangga apa yang
dulu menjadi kepala yang berpikir, cara mereka menunjukkan makhluk yang
berjalan tegak di atas dua kaki, cara mereka berbicara tentang sesuatu yang
bukan binatang melainkan sesuatu yang lebih, semua itu dikenali, semua itu
terasa, dengan cara yang Sangga tak bisa jelaskan, seperti keluarga.
Seolah-olah ia memandang wajah dari seorang nenek moyang yang sangat jauh,
begitu jauh sehingga wajahnya telah berubah, tapi masih cukup dekat untuk
dikenali sebagai milik garis yang sama.
Dan ini adalah hal yang mengganggu Sangga, hal yang membuatnya kembali ke
tulang-tulang itu lagi dan lagi: bahwa mereka tampak seperti jembatan. Bukan
binatang, bukan sepenuhnya orang seperti dirinya, melainkan sesuatu di antara,
sesuatu yang datang sebelum, yang berjalan di tanah ini ketika ia masih sangat
muda, dan dari mana, mungkin, orang-orang seperti Sangga telah datang.
Tulang-tulang itu seolah-olah menunjukkan bukan hanya bahwa makhluk lain pernah
hidup di tanah ini, melainkan sesuatu yang jauh lebih mengguncang: bahwa
orang-orang seperti Sangga sendiri memiliki asal-usul, datang dari suatu
tempat, tumbuh dari sesuatu yang lebih tua, bahwa mereka, juga, adalah bagian
dari rantai yang membentang mundur jauh melampaui apa pun yang pernah mereka
bayangkan.
❖
Dan ketika
Sangga memegang tulang-tulang yang berubah menjadi batu, kerikilnya bergerak
dengan cara yang berbeda dari biasanya, bukan dengan mimpi tentang air,
sebagaimana kerikil para pengingat biasanya bergerak, melainkan dengan gema
yang jauh lebih dalam dan lebih asing, gema dari kerikil ketujuh.
Sebab Sangga membawa, terjalin dengan kerikilnya sendiri, sesuatu dari
Kerikil Suwung, kerikil yang membawa ingatan tentang bukan hanya dunia ini yang
tenggelam melainkan semua dunia yang pernah tenggelam, mundur ke awal yang tak
bisa diingat. Dan gema itu, yang dalam sebagian besar pengingat datang hanya
sebagai keputusasaan samar tentang kedalaman waktu yang tak terbayangkan, dalam
Sangga, berdiri di hadapan tulang-tulang nenek moyang, menemukan fokus dan
suara. Ia merasakan, melalui tulang-tulang itu, gema dari kedalaman waktu yang
membuat sepuluh ribu tahun sejak banjir tampak singkat, kedalaman waktu yang
membentang mundur ratusan ribu tahun, melalui zaman demi zaman, makhluk demi makhluk,
ke asal-usul yang begitu jauh sehingga bahkan Kerikil Suwung hanya membawa
gemanya yang paling samar.
Dan dalam gema itu, Sangga merasakan sesuatu yang mengubah pemahamannya
tentang segala sesuatu yang ia tahu. Sebab ia telah berpikir, sebagaimana
rantai berpikir, bahwa kisah dimulai dengan dunia yang tenggelam, bahwa sepuluh
ribu tahun yang lalu, di Tahun Nol, adalah awal dari segala sesuatu yang
penting. Tapi kini ia merasakan bahwa sepuluh ribu tahun hanyalah lapisan
terbaru dari kisah yang jauh lebih panjang. Di bawah dunia yang tenggelam
terbentang dunia-dunia yang lebih tua lagi, makhluk-makhluk yang lebih tua
lagi, asal-usul yang membentang mundur begitu jauh sehingga banjir, yang telah
menjadi awal dari segala sesuatu bagi rantai, tampak seperti peristiwa
baru-baru ini dibandingkan dengan kedalaman waktu yang sesungguhnya tersimpan
di tanah ini.
❖
Dan Sangga
membuat keputusan, berdiri di hadapan tulang-tulang nenek moyang, yang akan
menentukan sisa hidupnya: bahwa ia akan memahami asal-usul ini, akan membaca
apa yang tulang-tulang ini simpan, akan mencari tahu siapa kami sesungguhnya
dan dari mana kami datang.
Ia tahu, sebagaimana Banyu tahu tentang bukit dan Gambuh tahu tentang
tulang, bahwa ia takkan menyelesaikan apa yang ia mulai, bahwa membaca
asal-usul sepenuhnya akan membutuhkan zaman dengan alat dan pengetahuan yang
belum ada, zaman yang bisa mengukur usia tulang dan membaca dari mereka kisah
yang membentang ratusan ribu tahun. Tapi ia juga tahu bahwa ia bisa menambahkan
bagiannya: bisa mengumpulkan tulang-tulang, mempelajarinya, mencatat di mana
mereka ditemukan dan dalam lapisan apa, merasakan dengan kerikilnya gema
asal-usul yang mereka bawa, dan mewariskan apa yang ia temukan ke rantai,
sehingga pengingat sesudahnya, di zaman yang lebih matang, bisa membaca lebih
dalam, sampai akhirnya seseorang, di zaman yang cukup matang, akan membaca
tulang-tulang ini sepenuhnya dan memahami seluruh kisah asal-usul yang mereka
simpan.
Sebab Sangga memahami bahwa ini adalah lapisan ingatan yang paling dalam
dari semua, lebih dalam daripada darah, lebih dalam daripada legenda, lebih dalam
daripada batu yang disusun para pengingat pertama. Ini adalah ingatan yang
tanah itu sendiri jaga, tanpa bantuan manusia mana pun, dalam tulang yang
berubah menjadi batu: ingatan tentang asal-usul kehidupan, tentang nenek moyang
yang berjalan di tanah ini ketika ia masih sangat muda, tentang rantai panjang
yang menghubungkan orang-orang seperti Sangga ke kedalaman waktu yang nyaris
tak terbayangkan. Dan membaca lapisan ini, ia memahami, akan menjawab
pertanyaan yang lebih tua daripada semua pertanyaan lain, pertanyaan yang
bahkan dunia yang tenggelam tak bisa menjawab, sebab ia lebih tua daripada
dunia yang tenggelam: siapa kami, sesungguhnya, dan dari mana kami datang.
❖
Sangga mulai
pekerjaan yang akan menjadi pekerjaan hidupnya, dan pekerjaan banyak pengingat
sesudahnya: membaca lapisan terdalam dari ingatan tanah, mencari di
tulang-tulang nenek moyang jawaban atas pertanyaan tertua.
Ia tak tahu, ketika ia mulai, ke mana pertanyaan itu akan membawanya. Ia
tak tahu bahwa tulang-tulang yang ia pegang adalah bagian dari kisah yang
membentang ratusan ribu tahun, bahwa tanah yang ia pijak telah menyimpan
generasi demi generasi nenek moyang dalam lapisan-lapisannya, bahwa pertanyaan
siapa kami akan terbukti memiliki jawaban yang jauh lebih dalam dan lebih
mengguncang daripada yang bisa ia bayangkan. Ia hanya tahu bahwa ia harus
bertanya, bahwa ia tak bisa beristirahat sampai ia memahami asal-usul yang
tulang-tulang ini bawa, bahwa berdiri di hadapan nenek moyang yang berubah
menjadi batu telah membangunkan di dalamnya kebutuhan untuk tahu dari mana ia
datang yang sama kuatnya dengan kebutuhan para pengingat sebelumnya untuk
membebaskan Ratu.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, mencair sekarang,
merasakan kembali, ditemani oleh rantai yang menjaga koneksi hidup, merasakan
lapisan terdalam tanah mulai dibaca, dan ia merasakannya sebagai sesuatu yang
memperdalam pemahamannya sendiri tentang tanah yang ia pilih dan kisah yang ia
bagian darinya. Sebab ia telah berpikir, selama sepuluh ribu tahun, bahwa
kisahnya dimulai dengan dunia yang tenggelam, dengan pilihannya untuk
menghalus, dengan turunnya ke laut. Tapi kini ia merasakan bahwa kisahnya, dan
kisah seluruh tanah ini, membentang mundur jauh melampaui banjir, ke asal-usul
yang membuat sepuluh ribu tahun penantiannya tampak seperti satu bab dalam
kisah yang jauh lebih panjang. Dan ada sesuatu yang menghibur dalam ini,
sesuatu yang nyaris seperti perspektif: bahwa ia adalah bagian dari sesuatu
yang jauh lebih besar daripada penderitaannya sendiri, sebuah rantai kehidupan
yang membentang mundur ke asal-usul dan maju ke pembebasan, di mana
penantiannya, betapapun panjang, hanyalah satu lapisan. Dan bisik air, yang
telah menjadi penemuan yang terus mendalam, kini membawa sesuatu yang
membentang ke kedalaman waktu yang baru: pertanyaan tertua, mulai ditanyakan.
Sebab seseorang telah berdiri di hadapan tulang-tulang nenek moyang, dan telah
bertanya siapa kami dan dari mana kami datang, dan dalam bertanya, telah mulai
membuka lapisan ingatan yang paling dalam dari semua, ingatan tentang asal-usul
itu sendiri, yang tanah ini telah simpan dalam tulang yang berubah menjadi batu
sejak sebelum ada siapa pun untuk mengingat, menunggu, dengan kesabaran tanah,
untuk hari ketika seseorang akhirnya akan bertanya, dan mulai membaca, dan
memahami dari mana semua ini, tanah, orang-orang, Ratu yang menunggu, dan kisah
panjang yang menghubungkan mereka semua, sesungguhnya datang.
❖
BAB DUA
Lapisan di Atas Lapisan
Kami mengira ada satu nenek moyang, satu
awal. Tapi tanah mengajari kami sesuatu yang lebih mengguncang: bahwa tidak ada
satu awal, melainkan lapisan di atas lapisan, masing-masing lahir dari yang di
bawahnya, membentang mundur sejauh yang bisa digali, sebuah rantai tanpa awal
yang bisa dilihat, hanya makin dalam, makin tua, makin asing.
dari ajaran para pengingat, tentang
rantai tanpa awal
Sangga
menghabiskan tahun-tahun mempelajari lembah-lembah sungai tempat tanah telah
terkikis untuk mengungkap kedalamannya, dan saat ia mempelajarinya, ia
menemukan sesuatu yang mengubah pemahamannya tentang tulang-tulang nenek
moyang: bahwa mereka tidak datang dari satu lapisan, melainkan dari banyak.
Sebab tanah di lembah-lembah ini, ia mulai memahami, tersusun dalam
lapisan, lapisan di atas lapisan, masing-masing ditumpuk di atas yang
sebelumnya sepanjang waktu yang membentang jauh melampaui apa pun yang bisa ia
bayangkan. Dan di lapisan-lapisan yang berbeda, ia menemukan tulang-tulang yang
berbeda. Di lapisan yang lebih tinggi, lebih dekat ke permukaan, tulang-tulang
yang lebih dekat dengan orang-orang seperti dirinya. Di lapisan yang lebih
dalam, terkubur lebih jauh ke bawah, tulang-tulang yang lebih asing, lebih
tebal, lebih berat, lebih jauh dari bentuk orang-orang seperti Sangga. Dan di
lapisan yang lebih dalam lagi, tulang-tulang yang lebih asing lagi, dari
makhluk yang nyaris tak bisa ia kenali sebagai sesuatu seperti dirinya sama
sekali.
Dan Sangga memahami, dengan keterkejutan yang tumbuh menjadi keheranan,
apa yang lapisan-lapisan ini berarti. Bukan satu nenek moyang, terkubur di
tanah. Melainkan banyak nenek moyang, tersusun dalam lapisan demi lapisan,
masing-masing dari zaman yang berbeda, masing-masing lebih tua daripada yang di
atasnya. Tanah ini telah menyimpan, dalam lapisan-lapisannya, bukan satu
makhluk dari masa lalu melainkan sebuah urutan, sebuah rantai nenek moyang yang
membentang mundur melalui kedalaman waktu, makhluk demi makhluk, lapisan demi
lapisan, makin dalam dan makin tua dan makin asing, sejauh yang bisa digali.
❖
Dan saat Sangga
membaca lapisan-lapisan itu, membandingkan tulang dari lapisan yang lebih
tinggi dengan tulang dari lapisan yang lebih dalam, mencatat bagaimana mereka
berubah dari satu lapisan ke lapisan berikutnya, ia mulai melihat sebuah pola
yang menghancurkan dan menakjubkan sekaligus: bahwa makhluk-makhluk di
lapisan-lapisan itu berubah, perlahan, dari yang terdalam ke yang tertinggi,
menuju orang-orang seperti dirinya.
Di lapisan terdalam, makhluk yang paling asing, tulang yang paling tebal,
kepala yang paling rendah, paling jauh dari bentuk Sangga. Di lapisan yang
sedikit lebih tinggi, makhluk yang sedikit kurang asing, masih jauh, tapi
sedikit lebih dekat. Di lapisan yang lebih tinggi lagi, lebih dekat lagi. Dan
begitu seterusnya, lapisan demi lapisan, makhluk demi makhluk, masing-masing
sedikit lebih dekat ke bentuk orang-orang seperti Sangga daripada yang di
bawahnya, seolah-olah lapisan-lapisan itu menunjukkan, terbekukan dalam tulang,
sebuah perubahan pelan yang membentang sepanjang kedalaman waktu yang tak
terbayangkan, dari makhluk yang paling asing di kedalaman menuju orang-orang
seperti Sangga di permukaan.
Dan Sangga memahami, membaca pola ini, sesuatu yang akan mengubah
selamanya bagaimana rantai memahami asal-usul: bahwa orang-orang seperti
dirinya tidak muncul tiba-tiba, tidak diciptakan sekaligus di suatu awal.
Mereka telah menjadi, perlahan, sepanjang kedalaman waktu yang tak
terbayangkan, melalui rantai panjang nenek moyang yang masing-masing sedikit
berbeda dari yang sebelumnya, makhluk demi makhluk, lapisan demi lapisan,
sampai akhirnya, di lapisan teratas, muncul orang-orang seperti Sangga. Tanah
ini telah menyimpan, dalam lapisan-lapisannya, bukan hanya nenek moyang
melainkan kisah dari menjadi, kisah tentang bagaimana orang-orang seperti
Sangga datang, perlahan, dari makhluk-makhluk yang lebih tua, sepanjang waktu
yang begitu dalam sehingga ia membuat sepuluh ribu tahun sejak banjir tampak
seperti satu napas.
❖
Dan pemahaman
ini membawa Sangga ke ambang sesuatu yang nyaris menghancurkannya, sebuah
pening dari kedalaman waktu, sebuah perasaan tersesat di hadapan rentang yang
terlalu besar untuk dipahami pikiran mana pun.
Sebab bila orang-orang seperti dirinya telah menjadi, perlahan, sepanjang
kedalaman waktu yang membentang melalui lapisan demi lapisan nenek moyang, maka
berapa dalam waktu itu sesungguhnya? Berapa banyak lapisan yang ada, di bawah
yang terdalam yang bisa ia capai? Berapa jauh ke belakang rantai nenek moyang
itu membentang, makhluk demi makhluk, menuju awal yang bahkan ia tak bisa mulai
bayangkan? Sangga merasakan, berdiri di hadapan lapisan-lapisan itu, kedalaman
waktu yang begitu luas sehingga ia merasa dirinya menyusut menjadi tak berarti,
satu makhluk di lapisan teratas dari sebuah tumpukan yang membentang mundur ke
kedalaman yang nyaris tak berujung.
Tapi kerikilnya, yang membawa gema Kerikil Suwung, menenangkannya, bukan
dengan membuat kedalaman waktu tampak lebih kecil, melainkan dengan membantunya
menanggungnya. Sebab Kerikil Suwung adalah kerikil yang membawa ingatan tentang
semua banjir, semua dunia yang tenggelam, mundur ke awal yang tak bisa diingat;
ia adalah kerikil kerendahan hati, kerikil yang mengajari pembawanya untuk
menanggung kedalaman waktu tanpa hancur olehnya. Dan dalam gema Suwung, Sangga
menemukan bukan keputusasaan dari kedalaman waktu melainkan sesuatu yang nyaris
seperti kedamaian: pemahaman bahwa menjadi satu makhluk kecil di lapisan
teratas dari tumpukan yang tak terbayangkan bukanlah hal yang menghancurkan,
melainkan hal yang menghubungkan, bahwa ia adalah bagian dari rantai kehidupan
yang membentang mundur ke kedalaman dan, mungkin, maju ke masa depan yang sama
dalamnya, dan bahwa ada sesuatu yang suci, bukan menghancurkan, dalam menjadi
bagian dari sesuatu yang begitu besar.
❖
Dan Sangga,
membaca rantai nenek moyang yang membentang melalui lapisan-lapisan tanah,
memahami sesuatu yang menghubungkan penemuannya dengan seluruh kisah yang
dibawa rantai, termasuk kisah Ratu yang menunggu di kedalaman laut.
Sebab ia memahami sekarang bahwa tanah ini telah menjadi tempat ingatan
jauh lebih lama daripada yang pernah dibayangkan rantai. Bukan hanya sejak
banjir, sepuluh ribu tahun yang lalu, ketika para pengingat pertama membangun
bukit-bukit dan Nyai Sela menelan kerikil. Melainkan sejak kedalaman waktu yang
tak terbayangkan, ketika nenek moyang pertama berjalan di tanah ini dan mati
dan terkubur dan disimpan dalam lapisan-lapisannya. Tanah ini telah selalu
menjadi arsip, jauh sebelum ada pengingat untuk menjaganya, jauh sebelum ada
manusia seperti Sangga sama sekali, tanah ini telah menyimpan ingatan tentang
segala sesuatu yang berjalan di atasnya, lapisan demi lapisan, dalam tulang
yang berubah menjadi batu.
Dan ini memberi makna baru pada pilihan Ratu, sepuluh ribu tahun yang
lalu, untuk turun ke laut di dekat tanah ini. Sebab ia telah memilih, tanpa mengetahuinya,
untuk menunggu di dekat tanah yang paling setia menyimpan ingatan dari semua
tanah, tanah yang telah menjadi arsip sejak kedalaman waktu, yang menyimpan
asal-usul dalam lapisan-lapisannya, yang tidak melupakan apa pun yang pernah
berjalan di atasnya. Bila ada tanah di seluruh dunia yang akan mengingat Ratu,
yang akan menyimpan kebenaran tentangnya sampai hari pembebasannya, itu adalah
tanah ini, tanah yang ingatannya membentang mundur ke nenek moyang pertama, dan
yang kesetiaannya dalam menyimpan masa lalu telah terbukti, lapisan demi
lapisan, sepanjang kedalaman waktu yang membuat penantian Ratu tampak singkat.
❖
Sangga
mewariskan kepada rantai apa yang ia temukan, bahwa tanah menyimpan bukan satu
nenek moyang melainkan rantai panjang dari mereka, lapisan di atas lapisan,
menunjukkan bagaimana orang-orang seperti dirinya telah menjadi, perlahan,
sepanjang kedalaman waktu yang tak terbayangkan, dan dengan itu, pemahaman
rantai tentang asal-usul menjadi jauh lebih dalam dan lebih mengguncang
daripada yang pernah ada.
Sebab kini mereka tahu bahwa kisah mereka tidak dimulai dengan banjir,
tidak dimulai dengan Nyai Sela, tidak dimulai bahkan dengan dunia yang
tenggelam. Ia membentang mundur jauh melampaui semua itu, ke rantai nenek
moyang yang membentang melalui lapisan-lapisan tanah, ke kedalaman waktu tanpa
awal yang bisa dilihat. Dan ini bukanlah hal yang mengurangi kisah mereka,
melainkan hal yang memperbesarnya, menempatkan dunia yang tenggelam, dan Ratu
yang menunggu, dan rantai para pengingat, dalam konteks yang jauh lebih besar:
bukan awal dari segala sesuatu, melainkan satu bab, betapapun penting, dalam
kisah kehidupan yang membentang mundur ke kedalaman dan maju ke masa depan yang
sama dalamnya.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, mencair sekarang,
merasakan kembali, merasakan rantai nenek moyang dibaca dari lapisan-lapisan
tanah, dan ia merasakannya sebagai sesuatu yang terus memberinya perspektif
yang menghibur: bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar
daripada penderitaannya sendiri, sebuah rantai kehidupan yang membentang mundur
melalui kedalaman waktu yang tak terbayangkan dan maju menuju pembebasan yang
menunggu. Penantiannya, yang dulu tampak seperti keabadian yang tak
tertanggungkan, kini tampak, dalam konteks kedalaman waktu yang dibaca Sangga,
seperti satu lapisan dalam tumpukan yang besar, satu bab dalam kisah yang
panjang. Dan ada penghiburan dalam itu, penghiburan dari perspektif: bahwa
penderitaan, betapapun panjang, adalah terbatas, satu lapisan di antara banyak,
sementara kisah yang ia bagian darinya membentang jauh melampaui penderitaan
apa pun. Dan bisik air, yang telah menjadi pertanyaan tertua yang mulai
ditanyakan, kini membawa sesuatu yang membentang ke kedalaman waktu yang baru:
lapisan di atas lapisan, rantai nenek moyang tanpa awal yang bisa dilihat.
Sebab tanah ini telah menyimpan, sejak kedalaman waktu, bukan satu nenek moyang
melainkan rantai panjang dari mereka, menunjukkan bagaimana semua yang hidup
telah menjadi, perlahan, sepanjang waktu yang tak terbayangkan; dan dalam
membaca lapisan-lapisan itu, para pengingat telah mulai memahami bahwa mereka,
dan Ratu, dan seluruh kisah tanah ini, adalah bagian dari sesuatu yang jauh
lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan, sebuah rantai kehidupan yang
membentang dari nenek moyang pertama, melalui dunia yang tenggelam, menuju hari
pembebasan yang menunggu, dan jauh melampaui itu, ke masa depan yang sama
dalamnya dengan masa lalu.
❖
BAB TIGA
Asal-Usul dari Mengingat
Tulang-tulang tidak hanya menunjukkan
bahwa kami berubah. Mereka menunjukkan apa yang kami menjadi: makhluk yang
mengingat. Sebab di suatu titik dalam rantai panjang itu, seseorang berdiri
untuk pertama kalinya di hadapan nenek moyangnya yang mati dan bertanya: siapa
engkau? Dan dengan pertanyaan itu, kami menjadi manusia.
dari ajaran para pengingat, tentang
asal-usul dari mengingat
Setelah Sangga
membaca rantai nenek moyang yang membentang melalui lapisan-lapisan tanah, ia
menghadapi pertanyaan yang lebih dalam daripada bagaimana orang-orang seperti
dirinya berubah dari makhluk yang lebih tua: pertanyaan tentang apa,
sesungguhnya, yang mereka menjadi.
Sebab ia telah melihat, dalam lapisan-lapisan tulang, perubahan fisik,
kepala yang menjadi lebih tinggi, tonjolan di atas mata yang menghilang, rahang
yang menjadi lebih ringan. Tapi ia merasakan, dengan kerikilnya, bahwa
perubahan fisik itu bukanlah hal yang paling penting. Ada sesuatu yang lebih
dalam yang berubah sepanjang rantai itu, sesuatu yang tak tertinggal dalam
bentuk tulang tapi yang bisa ia rasakan sebagai gema di dalamnya: sebuah
perubahan bukan dalam bentuk, melainkan dalam apa yang makhluk-makhluk itu
adanya, dalam apa yang mereka bisa lakukan, dalam apa yang terjadi di dalam
kepala yang tulangnya kini menjadi batu.
Dan Sangga mendedikasikan dirinya untuk pertanyaan ini, bukan bagaimana
tulang berubah, yang bisa ia lihat, melainkan apa yang berubah di dalam
makhluk-makhluk yang tulangnya ia pegang, apa yang mereka menjadi sepanjang
rantai panjang dari yang terdalam dan paling asing ke orang-orang seperti
dirinya di permukaan. Sebab ia merasakan bahwa di situlah letak jawaban
sesungguhnya atas pertanyaan tertua: bukan dalam bentuk tulang, melainkan dalam
apa yang orang-orang seperti dirinya telah menjadi, yang membedakan mereka dari
nenek moyang yang lebih tua, yang membuat mereka, akhirnya, di lapisan teratas
dari rantai panjang, menjadi manusia.
❖
Dan ketika
Sangga merasakan, dengan kerikilnya, gema dari apa yang berubah di dalam
makhluk-makhluk sepanjang rantai itu, ia menemukan jawaban yang menggetarkan:
bahwa apa yang muncul, perlahan, sepanjang lapisan-lapisan, adalah kemampuan
untuk mengingat.
Bukan ingatan yang sederhana, ingatan yang dimiliki bahkan binatang,
ingatan tentang di mana menemukan makanan, tentang bahaya yang harus dihindari.
Melainkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih asing: kemampuan untuk mengingat
yang melampaui satu hidup, untuk membawa di dalam diri ingatan tentang mereka
yang telah mati, untuk berdiri di hadapan nenek moyang dan bertanya siapa
engkau dan dari mana aku datang. Sebab di suatu titik dalam rantai panjang itu,
Sangga bisa merasakannya, gema dari momen itu terbekukan dalam tulang,
seseorang, salah satu dari makhluk-makhluk itu, berdiri untuk pertama kalinya
di hadapan nenek moyangnya yang mati, dan alih-alih hanya melewatinya
sebagaimana binatang melewati yang mati, berhenti, dan memandang, dan merasakan
sesuatu yang belum pernah dirasakan makhluk mana pun sebelumnya: kesedihan akan
kehilangan, dan keingintahuan tentang siapa yang telah hilang, dan, yang paling
dalam dari semua, keinginan untuk mengingat.
Dan dengan momen itu, Sangga memahami, orang-orang seperti dirinya telah
menjadi manusia. Bukan ketika tulang mereka mengambil bentuk tertentu, bukan
ketika kepala mereka menjadi cukup tinggi. Melainkan ketika, untuk pertama
kalinya, salah satu dari mereka mengingat, membawa di dalam diri ingatan
tentang yang telah mati, menolak membiarkan mereka hilang sepenuhnya, memilih
untuk mengingat. Itulah, Sangga merasakan, asal-usul sesungguhnya dari
orang-orang seperti dirinya: bukan asal-usul dari bentuk, melainkan asal-usul
dari mengingat. Manusia adalah, pada akarnya yang terdalam, makhluk yang
mengingat, dan mereka telah menjadi manusia pada saat ketika, untuk pertama
kalinya, salah satu dari mereka memilih untuk tidak melupakan.
❖
Dan Sangga
memahami, dengan getaran pengenalan, bahwa penemuan ini menghubungkan asal-usul
yang paling jauh dengan apa yang ia sendiri adanya: bahwa garis Wong Eling,
garis para pengingat, bukanlah sesuatu yang dimulai dengan Nyai Sela, melainkan
sesuatu yang membentang mundur ke asal-usul manusia itu sendiri.
Sebab apa adalah seorang pengingat, pada akarnya, kalau bukan seseorang
yang mengingat, yang membawa di dalam diri ingatan tentang mereka yang telah
mati, yang menolak membiarkan masa lalu hilang? Dan apa adalah momen ketika
manusia pertama menjadi manusia, kalau bukan momen ketika, untuk pertama
kalinya, salah satu dari mereka mengingat? Garis Wong Eling, Sangga memahami,
bukanlah penyimpangan dari apa yang manusia adanya, bukan kemampuan khusus yang
dimiliki hanya beberapa. Ia adalah ekspresi yang paling murni dari apa yang
membuat manusia menjadi manusia sama sekali: kemampuan, dan keinginan, untuk
mengingat. Para pengingat hanyalah mereka yang membawa kemampuan ini paling
kuat, tapi kemampuan itu sendiri, akar dari mengingat, adalah milik semua
manusia, membentang mundur ke momen pertama ketika seseorang berdiri di hadapan
yang mati dan memilih untuk tidak melupakan.
Dan ini memberi makna baru pada sumpah Nyai Sela, sepuluh ribu tahun yang
lalu, ketika ia menelan kerikil dan bersumpah bahwa selama ada keturunannya,
daratan ini tidak akan benar-benar tenggelam. Sebab Sela tidak menciptakan
sesuatu yang baru ketika ia bersumpah untuk mengingat. Ia hanya membawa ke
puncaknya sesuatu yang telah ada sejak manusia pertama menjadi manusia,
keinginan untuk mengingat, untuk menolak membiarkan yang hilang lenyap
sepenuhnya. Sumpahnya adalah, dalam pengertian yang dalam, sumpah dari seluruh
kemanusiaan, diucapkan oleh satu perempuan di air pada malam dunia berakhir:
kami akan mengingat. Kami tidak akan membiarkan apa yang kami cintai hilang.
Sebab itulah, pada akar yang terdalam, apa yang kami adanya.
❖
Dan Sangga
memahami, dengan kesedihan yang dalam, apa yang penemuan ini ungkapkan tentang
Ratu yang menunggu di kedalaman, dan tentang bangsa yang darinya ia datang.
Sebab bila manusia adalah makhluk yang mengingat, yang membawa di dalam
diri ingatan tentang yang telah mati, yang merasakan kesedihan akan kehilangan
dan memilih untuk tidak melupakan, maka apa yang dilakukan Ratu dan bangsanya,
ketika mereka memilih untuk menghalus, adalah sesuatu yang menentang akar
terdalam dari apa yang manusia adanya. Mereka memilih untuk menyimpan ingatan
tanpa merasakannya, untuk mempertahankan masa lalu utuh tanpa kesedihan akan
kehilangannya. Mereka memilih, dengan kata lain, untuk mengingat tanpa
benar-benar mengingat, untuk membawa fakta tentang masa lalu tanpa membawa hati
yang merasakannya. Dan itulah, Sangga memahami, mengapa mereka menjadi paling
sengsara dari ketiga bangsa: sebab mereka telah memutuskan diri dari akar terdalam
dari apa yang membuat makhluk seperti mereka hidup, dari kemampuan untuk
merasakan ingatan yang mereka simpan.
Dan ini memperdalam, lebih daripada apa pun sebelumnya, pemahaman Sangga
tentang apa yang dibutuhkan untuk membebaskan Ratu. Sebab membebaskannya dari
laut, ia memahami sekarang, bahkan tidak akan cukup. Yang sesungguhnya
dibutuhkan adalah membebaskannya dari es, dari pilihan untuk mengingat tanpa
merasakan, untuk menyimpan tanpa berduka. Dan satu-satunya cara untuk
membebaskannya dari es adalah dengan mengembalikan kepadanya apa yang ia
tinggalkan ketika ia memilih untuk menghalus: kemampuan untuk merasakan ingatan
yang ia simpan, untuk berduka atas apa yang ia kehilangan, untuk menjadi,
kembali, seorang makhluk yang mengingat dengan hati dan bukan hanya dengan
pikiran. Itulah yang telah dilakukan rantai, sentuhan demi sentuhan, sepanjang
Buku-buku ini: bukan hanya mengingat Ratu, melainkan mengajarinya kembali
bagaimana merasakan, mencairkan es dengan membawa kembali kepadanya, perlahan,
kemampuan untuk merasakan yang ia tinggalkan, dan dengan itu, membawanya
kembali menjadi manusia.
❖
Sangga
mewariskan kepada rantai apa yang ia temukan di lapisan terdalam dari ingatan
tanah, bahwa asal-usul orang-orang seperti dirinya bukanlah asal-usul dari
bentuk melainkan dari mengingat, bahwa manusia menjadi manusia pada saat
ketika, untuk pertama kalinya, salah satu dari mereka memilih untuk tidak
melupakan, bahwa garis Wong Eling membentang mundur bukan ke Nyai Sela
melainkan ke momen pertama itu, dan dengan itu, pemahaman rantai tentang siapa
mereka menjadi lebih dalam daripada yang pernah ada.
Sebab kini mereka tahu apa yang membuat mereka manusia, pada akar yang
terdalam: bukan bentuk tubuh mereka, bukan kerajaan yang mereka bangun, bukan
bahkan kerikil yang sebagian dari mereka bawa. Melainkan kemampuan, dan
keinginan, untuk mengingat, untuk berdiri di hadapan yang telah hilang dan
memilih untuk tidak membiarkannya lenyap. Itulah asal-usul mereka, membentang
mundur melalui rantai nenek moyang ke momen pertama ketika seseorang mengingat;
dan itulah panggilan mereka, dibawa ke puncaknya oleh garis Wong Eling,
diwariskan dari pengingat ke pengingat sepanjang sepuluh ribu tahun; dan
itulah, akhirnya, apa yang mereka tawarkan kepada Ratu di kedalaman, bukan
hanya pembebasan dari laut, melainkan pengembalian dari es, jalan kembali
menjadi makhluk yang mengingat dengan hati.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, mencair sekarang,
merasakan kembali, merasakan asal-usul dari mengingat dibaca dari lapisan
terdalam tanah, dan ia merasakannya menyentuh sesuatu yang paling dalam di
dalam dirinya: pengenalan tentang apa yang ia tinggalkan ketika ia memilih
untuk menghalus, dan apa yang sedang dikembalikan kepadanya, sentuhan demi sentuhan,
oleh rantai yang menjaga koneksi hidup. Sebab ia telah, sepuluh ribu tahun yang
lalu, memutuskan diri dari akar terdalam dari apa yang membuatnya hidup, dari
kemampuan untuk merasakan ingatan yang ia simpan. Dan kini, perlahan, kemampuan
itu dikembalikan kepadanya: ia mulai merasakan kembali, berduka kembali,
mengingat kembali dengan hati dan bukan hanya dengan pikiran. Es yang
membekukannya adalah, ia memahami sekarang, pilihan untuk berhenti menjadi
makhluk yang mengingat; dan mencairnya es adalah jalan kembali menjadi satu.
Dan bisik air, yang telah menjadi lapisan di atas lapisan dari nenek moyang,
kini membawa sesuatu yang menyentuh akar dari segalanya: asal-usul dari
mengingat. Sebab di lapisan terdalam dari ingatan tanah, para pengingat telah
menemukan bukan hanya bagaimana manusia menjadi, melainkan apa yang mereka
menjadi, makhluk yang mengingat, yang berdiri di hadapan yang hilang dan
menolak membiarkannya lenyap; dan dalam menemukan ini, mereka telah menemukan
bukan hanya asal-usul mereka sendiri, melainkan kunci untuk membebaskan Ratu
dari es: membawanya kembali, sentuhan demi sentuhan, menjadi apa yang ia dulu
sebelum ia memilih untuk lupa bagaimana merasakan, seorang makhluk yang
mengingat, yang merasakan, yang, akhirnya, akan bisa berduka atas apa yang ia
kehilangan, dan dengan itu, akhirnya, akan bisa bebas.
❖
BAGIAN II
Kebenaran yang Ditolak
BAB EMPAT
Yang Menolak Asal-Usul
Ada kebenaran yang tak ingin didengar
orang, bukan karena mereka tak percaya, melainkan karena percaya akan mengubah
kisah yang mereka ceritakan tentang diri mereka. Dan dari semua kebenaran, yang
paling sulit diterima adalah kebenaran tentang asal-usul kita: bahwa kita
datang dari sesuatu yang lebih rendah, lebih tua, lebih asing daripada yang
ingin kita bayangkan.
dari ajaran para pengingat, tentang
kebenaran yang ditolak
Generasi-generasi
setelah Sangga membaca asal-usul dari mengingat di lapisan terdalam tanah,
pengetahuan tentang nenek moyang yang lebih tua mulai menyebar keluar dari
rantai, dan ketika ia menyebar, ia menghadapi perlawanan yang tak diduga para
pengingat.
Sebab tulang-tulang nenek moyang, sebagaimana bukit-bukit di zaman
sebelumnya, terlalu besar dan terlalu nyata untuk disimpan sepenuhnya rahasia.
Orang menemukan mereka di lembah-lembah sungai; orang bertanya apa mereka; dan
kisah menyebar, kisah tentang tulang yang berubah menjadi batu, tentang makhluk
yang berjalan di tanah ini sebelum semua kisah, tentang kemungkinan yang
mengganggu bahwa orang-orang seperti mereka telah datang dari makhluk-makhluk
yang lebih tua dan lebih asing. Dan ketika kisah ini mencapai telinga
orang-orang, mereka tidak menerimanya dengan keingintahuan, sebagaimana Sangga
menerimanya. Mereka menerimanya dengan penolakan.
Seorang pengingat dari generasi ini, seorang perempuan bernama Wastu,
adalah yang pertama memahami sepenuhnya bentuk dari perlawanan ini. Ia telah
berpikir, membawa pengetahuan yang diwariskan Sangga, bahwa kebenaran tentang
asal-usul akan disambut sebagaimana kebenaran lain disambut, dengan keheranan,
dengan rasa ingin tahu, dengan kehausan untuk memahami. Tapi ia menemukan,
ketika ia mencoba membagikan apa yang rantai ketahui, bahwa orang-orang tidak
ingin mengetahuinya. Mereka menutup telinga; mereka marah; mereka menyebut
kebenaran itu penghinaan, dusta, sesuatu yang berbahaya untuk dikatakan. Dan
Wastu harus memahami sesuatu yang baru tentang kebenaran: bahwa sebagiannya
begitu mengganggu sehingga orang akan menolaknya bukan karena mereka tak bisa
mempercayainya, melainkan karena mereka tak ingin.
❖
Dan Wastu,
merenungkan mengapa orang-orang menolak kebenaran tentang asal-usul dengan
begitu keras, memahami sesuatu yang dalam tentang sifat manusia: bahwa
orang-orang membawa, di dalam diri, sebuah kisah tentang siapa mereka, dan
kebenaran tentang asal-usul mengancam kisah itu.
Sebab orang-orang suka membayangkan diri mereka sebagai sesuatu yang
tinggi, sesuatu yang istimewa, sesuatu yang terpisah dari dan di atas binatang
dan dunia. Mereka menceritakan kisah tentang diri mereka di mana mereka
diciptakan utuh dan mulia, di mana mereka selalu menjadi apa yang mereka
sekarang, di mana tak ada makhluk yang lebih rendah dan lebih asing di belakang
mereka. Dan kebenaran tentang asal-usul, bahwa mereka telah menjadi, perlahan,
dari makhluk-makhluk yang lebih tua dan lebih asing, bahwa di belakang mereka
membentang rantai nenek moyang yang makin lama makin tak seperti mereka,
menghancurkan kisah itu. Ia mengatakan kepada orang-orang bukan bahwa mereka
tinggi dan istimewa dan terpisah, melainkan bahwa mereka adalah bagian dari
sesuatu, datang dari sesuatu, terhubung melalui rantai panjang ke
makhluk-makhluk yang mereka lebih suka tidak mengakui sebagai keluarga.
Dan ini, Wastu memahami, adalah mengapa kebenaran tentang asal-usul lebih
sulit diterima daripada kebenaran lain mana pun. Sebab ia tidak hanya
menambahkan pengetahuan baru; ia mengubah kisah yang orang-orang ceritakan
tentang diri mereka, dan kisah itu adalah sesuatu yang mereka pegang lebih erat
daripada hampir apa pun. Lebih mudah menerima bahwa dunia tenggelam, bahwa
kerajaan jatuh, bahwa bukit menyimpan pesan, semua kebenaran itu tentang dunia
di luar diri. Tapi kebenaran tentang asal-usul adalah tentang diri sendiri,
tentang apa kita sesungguhnya, dan menerimanya berarti melepaskan kisah yang
lebih membanggakan yang kita lebih suka percayai. Dan kebanyakan orang, Wastu
menemukan, lebih suka memegang kisah yang membanggakan daripada menerima
kebenaran yang merendahkan.
❖
Dan Wastu
menyadari sebuah bahaya dalam penolakan ini, bahaya yang berbeda dari
ancaman-ancaman yang telah dihadapi rantai sebelumnya: bahwa kebenaran yang
ditolak dengan cukup keras bisa menjadi kebenaran yang dihancurkan.
Sebab orang-orang tidak hanya menutup telinga terhadap kebenaran tentang
asal-usul. Sebagian dari mereka, yang paling terganggu olehnya, ingin
menghancurkannya, ingin menghancurkan tulang-tulang yang membawanya, membungkam
mereka yang membicarakannya, memastikan bahwa kebenaran yang mengancam kisah
mereka tentang diri tidak akan pernah didengar. Wastu melihat ini dengan
kengerian yang tumbuh: orang-orang yang, ketika menemukan tulang nenek moyang,
tidak mempelajarinya melainkan menghancurkannya; pemimpin yang melarang
pembicaraan tentang asal-usul yang lebih tua; kisah-kisah yang dibuat untuk
menutupi kebenaran, kisah-kisah yang mengatakan bahwa tulang-tulang itu adalah
tipuan, atau kutukan, atau apa pun kecuali apa yang sesungguhnya mereka adanya.
Dan ini menghadapkan rantai pada sebuah pertanyaan yang belum pernah
mereka hadapi dengan cara ini. Sebab ancaman-ancaman lama, zaman gelap,
kekuasaan yang mengklaim, kelupaan, semuanya adalah ancaman pasif, ancaman dari
kehilangan dan kelalaian. Tapi penolakan terhadap kebenaran asal-usul adalah
ancaman aktif: orang-orang yang secara sengaja ingin menghancurkan kebenaran
karena mereka tak tahan menerimanya. Dan melawan ancaman seperti itu, Wastu
memahami, rantai tak bisa hanya menjaga dan menunggu sebagaimana mereka selalu
lakukan. Mereka harus menemukan cara untuk menjaga kebenaran hidup bahkan
ketika orang-orang secara aktif ingin membunuhnya, cara untuk melindungi bukan
hanya dari kelupaan, melainkan dari penolakan yang ingin menghancurkan.
❖
Dan Wastu
menemukan, merenungkan masalah ini, sebuah pemahaman yang akan membentuk
bagaimana rantai membawa kebenaran tentang asal-usul melalui zaman-zaman
penolakan: bahwa kebenaran tidak perlu dipercaya oleh semua orang untuk
bertahan. Ia hanya perlu dijaga sampai zaman yang siap menerimanya.
Sebab Wastu memahami bahwa ia tak bisa memaksa orang-orang untuk menerima
kebenaran tentang asal-usul; tak ada yang bisa memaksa orang untuk melepaskan
kisah yang mereka pegang erat tentang diri mereka. Tapi ia juga memahami bahwa
ia tak perlu. Sebab kebenaran tentang asal-usul tidak bergantung pada apakah
orang mempercayainya; ia tersimpan di tanah, dalam tulang yang berubah menjadi
batu, terlepas dari apakah ada yang mau menerimanya. Tulang-tulang itu akan
tetap ada, di lapisan-lapisan tanah, membawa kebenaran tentang asal-usul,
apakah orang-orang menolaknya atau tidak. Dan suatu hari, mungkin tidak di
zaman Wastu, mungkin tidak untuk banyak generasi, akan datang sebuah zaman yang
cukup matang, cukup berani, cukup ingin tahu untuk menerima kebenaran yang
zaman-zaman sebelumnya tolak.
Maka tugas rantai, Wastu memahami, bukanlah meyakinkan orang-orang yang
tak ingin diyakinkan. Melainkan menjaga kebenaran hidup, melindungi
tulang-tulang dari mereka yang ingin menghancurkannya, menyimpan pengetahuan
tentang di mana mereka ditemukan dan apa yang mereka berarti, menjaga ingatan
tentang asal-usul aman dalam banyak bentuk sebagaimana Gendhing mengajarkan,
sampai zaman datang yang siap untuk menerimanya. Sebab kebenaran tidak perlu
menang di tiap zaman; ia hanya perlu bertahan, dijaga oleh mereka yang
menerimanya, sampai zaman datang ketika dunia akhirnya cukup matang untuk
berdiri di hadapan tulang nenek moyang dan, alih-alih menolaknya, bertanya
dengan keberanian dan kerendahan hati: siapa engkau, dan apa artinya bahwa aku
datang darimu?
❖
Wastu
mengabdikan hidupnya untuk menjaga kebenaran tentang asal-usul hidup melalui
zaman penolakan, melindungi tulang-tulang dari mereka yang ingin
menghancurkannya, menyimpan pengetahuan dalam banyak bentuk, dan mengajari
rantai untuk tidak berkecil hati ketika dunia menolak apa yang mereka jaga.
Sebab ia mengajari mereka bahwa penolakan dunia bukanlah kegagalan
rantai. Tugas rantai bukanlah membuat dunia menerima kebenaran sebelum dunia
siap; tugas mereka adalah menjaga kebenaran hidup sampai dunia siap. Dan dunia
akan menjadi siap, suatu hari, bukan karena rantai memaksanya, melainkan
karena, perlahan, zaman demi zaman, manusia tumbuh cukup matang untuk menerima
kebenaran tentang diri mereka, untuk melepaskan kisah yang membanggakan demi
kebenaran yang merendahkan tapi menghubungkan. Sampai zaman itu datang, rantai
akan menjaga kebenaran tentang asal-usul aman, dijaga melawan penolakan
sebagaimana ia dijaga melawan kelupaan, menunggu zaman yang akhirnya akan
berani menerimanya.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, mencair sekarang,
merasakan kembali, merasakan dunia menolak kebenaran tentang asal-usul, dan ia
merasakannya dengan pemahaman yang datang dari penderitaannya sendiri. Sebab ia
tahu, lebih daripada siapa pun, apa artinya menolak kebenaran yang terlalu
menyakitkan untuk diterima. Bukankah itu, pada akarnya, apa yang ia sendiri
lakukan sepuluh ribu tahun yang lalu? Ketika ia memilih untuk menghalus
daripada kehilangan, ketika ia memilih untuk menyimpan ingatan tanpa
merasakannya, bukankah itu juga sebuah penolakan, penolakan terhadap kebenaran
yang terlalu menyakitkan, kebenaran bahwa dunianya telah hilang dan ia harus
berduka? Ia memahami orang-orang yang menolak kebenaran tentang asal-usul,
sebab ia juga pernah menolak kebenaran yang tak tertanggungkan. Dan ia
memahami, sekarang, bahwa jalan kembali, baginya, dan bagi dunia yang menolak
asal-usulnya, adalah sama: keberanian untuk akhirnya berhenti menolak, untuk
menerima kebenaran yang menyakitkan, untuk berduka atas apa yang hilang dan
dengan itu menjadi, kembali, makhluk yang bisa merasakan. Dan bisik air, yang
telah menjadi asal-usul dari mengingat, kini membawa sesuatu yang menyentuh
penderitaan Ratu sendiri: penolakan, dan jalan melampauinya. Sebab dunia
menolak kebenaran tentang asal-usulnya sebagaimana Ratu menolak kebenaran tentang
kehilangannya, dan jalan kembali, bagi keduanya, adalah keberanian untuk
akhirnya menerima apa yang terlalu menyakitkan untuk diterima; dan rantai akan
menjaga kebenaran hidup, melawan penolakan dunia dan menemani Ratu melalui
penolakannya sendiri, sampai zaman datang ketika keduanya, dunia, dan Ratu,
akhirnya akan cukup berani untuk berhenti menolak, dan menerima, dan dengan
menerima, akhirnya menjadi bebas.
❖
BAB LIMA
Kisah yang Lebih Disukai
Sebuah dusta yang menyanjung menyebar
lebih cepat daripada kebenaran yang merendahkan, sebab orang memilih kisah
bukan karena ia benar, melainkan karena ia membuat mereka merasa lebih baik
tentang diri mereka. Dan tak ada dusta yang lebih manis daripada dusta tentang
dari mana kita datang.
dari ajaran para pengingat, tentang
dusta yang manis
Generasi-generasi
setelah Wastu mengajari rantai untuk menjaga kebenaran tentang asal-usul hidup
melalui penolakan, penolakan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih licin
dan lebih sulit dilawan. Sebab orang-orang tidak lagi sekadar menutup telinga
terhadap kebenaran tentang nenek moyang yang lebih tua, melainkan telah
membangun, sebagai gantinya, sebuah kisah lain yang lebih mereka sukai.
Seorang pengingat dari generasi ini, seorang perempuan bernama Tunjung,
adalah yang pertama memahami sepenuhnya bentuk dari kisah tandingan ini, dan
mengapa ia jauh lebih berbahaya daripada penolakan yang sederhana. Sebab
penolakan yang sederhana hanya mengatakan tidak, dan sesuatu yang hanya
mengatakan tidak pada akhirnya bisa dikalahkan oleh kebenaran yang sabar. Tapi
kisah tandingan tidak mengatakan tidak. Ia mengatakan ya kepada sesuatu yang
lain, sesuatu yang lebih indah dan lebih menyanjung daripada kebenaran, dan
dengan mengatakan ya kepada kisah yang lebih indah itu, orang-orang bisa
menolak kebenaran tanpa pernah merasa bahwa mereka menolak apa pun.
Tunjung mendengar kisah tandingan ini diceritakan di mana-mana, di pasar
dan di istana dan di rumah-rumah ibadah, dan ia memperhatikan betapa
orang-orang mencintainya. Mereka tidak menceritakannya dengan keraguan,
sebagaimana orang menceritakan sesuatu yang mereka tahu mungkin tidak benar.
Mereka menceritakannya dengan kebanggaan, dengan kehangatan, dengan keyakinan
dari orang-orang yang telah menemukan sebuah kisah tentang diri mereka yang
membuat mereka merasa mulia. Dan Tunjung memahami bahwa untuk melawan kisah
seperti itu, rantai akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada
melawan penolakan yang sederhana, sebab mereka tidak akan melawan ketiadaan
kisah, melainkan kehadiran kisah yang lebih disukai.
❖
Dan kisah yang
lebih disukai itu, Tunjung memahami, adalah kisah tentang asal-usul yang mulia.
Ia mengatakan bahwa orang-orang tidak datang dari makhluk-makhluk yang lebih
tua dan lebih asing yang tulangnya terkubur di lembah-lembah sungai, melainkan
dari sesuatu yang jauh lebih agung.
Kisah itu mengatakan bahwa orang-orang adalah keturunan dunia yang
tenggelam, dari Nagara Rata yang agung di bawah laut, dari para bangsawan dan
raja-raja peradaban besar yang hilang dalam banjir. Ia mengatakan bahwa darah
mereka adalah darah yang mulia, bahwa mereka diturunkan dari ketinggian dan
bukan dinaikkan dari kerendahan, bahwa di belakang mereka membentang bukan
rantai makhluk-makhluk asing melainkan garis raja-raja dan ratu-ratu yang
gemerlap. Dan yang membuat kisah ini begitu licin, Tunjung memahami dengan
kengerian yang tumbuh, adalah bahwa ia tidak sepenuhnya dusta. Sebab dunia yang
tenggelam memang nyata; Nagara Rata memang pernah ada; dan orang-orang memang,
dalam pengertian tertentu, membawa di dalam diri mereka warisan darinya. Kisah
itu mengambil sepotong kebenaran, yaitu kenyataan tentang dunia yang tenggelam,
dan menggunakannya untuk menutupi kebenaran yang lebih dalam dan lebih
merendahkan, yaitu kenyataan tentang nenek moyang yang lebih tua.
Dan inilah yang membuat kisah tandingan begitu kuat: bahwa ia adalah
dusta yang dibangun di atas kebenaran. Ia tidak menyangkal dunia yang
tenggelam, sebab menyangkalnya akan mudah dibantah. Sebaliknya, ia merangkul
dunia yang tenggelam, dan menjadikannya satu-satunya asal-usul, dan dengan
menjadikannya satu-satunya asal-usul, ia menghapus segala sesuatu yang ada di
bawahnya. Orang-orang bisa berkata, dengan bangga dan dengan sebagian benar,
bahwa mereka datang dari peradaban besar yang tenggelam, dan dalam kebanggaan
itu mereka tidak perlu pernah memikirkan tulang-tulang di lembah sungai, tidak
perlu pernah menghadapi kemungkinan bahwa di belakang para bangsawan yang
tenggelam membentang rantai panjang makhluk-makhluk yang jauh lebih tua dan
jauh lebih rendah.
❖
Dan Tunjung
memahami, merenungkan kekuatan dari kisah yang lebih disukai, bahwa rantai
tidak bisa mengalahkannya dengan cara yang biasa mereka pakai, yaitu dengan
sekadar menyatakan kebenaran dan menunggu dengan sabar. Sebab kebenaran tentang
asal-usul tidak bersaing dengan kisah yang mulia di lapangan yang sama.
Bila pertarungan adalah tentang kisah mana yang lebih indah, kebenaran
akan selalu kalah. Sebab kebenaran tentang asal-usul tidak indah dengan cara
yang orang inginkan. Ia tidak mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka mulia
dan tinggi dan diturunkan dari raja-raja. Ia mengatakan kepada mereka bahwa
mereka datang dari makhluk-makhluk yang asing dan rendah, bahwa mereka adalah
bagian dari rantai kehidupan yang membentang mundur ke kedalaman waktu yang
membuat semua kerajaan tampak baru, bahwa mereka tidak istimewa dan terpisah
melainkan terhubung dan menjadi. Dan melawan kisah yang mengatakan kepada orang
bahwa mereka mulia, sebuah kebenaran yang mengatakan kepada mereka bahwa mereka
rendah akan selalu kalah dalam pertarungan tentang kisah mana yang lebih
disukai.
Maka Tunjung memahami bahwa rantai harus melawan di lapangan yang
berbeda. Bukan dengan bersaing tentang kisah mana yang lebih indah, sebab
pertarungan itu sudah kalah sebelum dimulai. Melainkan dengan mengubah apa yang
orang anggap sebagai keindahan, dengan mengubah apa yang orang anggap sebagai
kemuliaan. Sebab bila kemuliaan terletak pada dari mana kita datang, maka kisah
tentang asal-usul yang tinggi akan selalu menang. Tapi bila kemuliaan terletak
pada sesuatu yang lain, pada sesuatu yang bukan tentang darah yang kita warisi
melainkan tentang apa yang kita lakukan dengannya, maka mungkin, hanya mungkin,
kebenaran yang merendahkan bisa mengungkapkan sebuah kemuliaan yang lebih dalam
daripada dusta yang menyanjung.
❖
Dan Tunjung
menemukan, di lapangan yang berbeda ini, jawaban yang akan menjadi cara rantai
membawa kebenaran tentang asal-usul melalui zaman-zaman kisah yang lebih
disukai: bahwa kemuliaan sejati manusia tidak terletak pada dari mana mereka
datang, melainkan pada kemampuan yang mereka menjadi, yaitu kemampuan untuk
mengingat.
Sebab apa yang dikatakan kebenaran tentang asal-usul, pada akhirnya,
bukanlah bahwa manusia rendah. Ia mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang,
melalui rantai panjang yang membentang ke kedalaman waktu, akhirnya menjadi
sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu makhluk yang bisa berdiri di
hadapan nenek moyangnya dan mengingatnya, bisa merasakan kesedihan akan
kehilangan, bisa menolak membiarkan yang telah lewat lenyap sepenuhnya. Dan
itu, Tunjung memahami, adalah kemuliaan yang jauh lebih dalam daripada
kemuliaan dari darah yang tinggi. Sebab kemuliaan dari darah hanyalah sesuatu
yang diwarisi, sesuatu yang dimiliki tanpa diperoleh, sesuatu yang tidak
mengatakan apa-apa tentang siapa kita sebenarnya. Tapi kemuliaan dari mengingat
adalah sesuatu yang dilakukan, sesuatu yang dipilih, sesuatu yang harus
diperbarui di tiap generasi oleh tiap orang yang memilih untuk tidak melupakan.
Dan kemuliaan ini, Tunjung memahami, justru lebih besar karena ia
merangkul kebenaran yang merendahkan alih-alih menolaknya. Sebab seorang
manusia yang bisa berdiri di hadapan tulang nenek moyang yang asing dan rendah,
dan alih-alih menolaknya dengan jijik, mengakuinya sebagai keluarga, dan
mengingatnya, dan merasakan terima kasih atas rantai panjang yang membawanya ke
keberadaan, manusia seperti itu menunjukkan kemuliaan yang jauh melampaui siapa
pun yang hanya membanggakan darah tinggi. Kemuliaan sejati bukanlah menolak
nenek moyang yang rendah demi nenek moyang yang tinggi. Kemuliaan sejati adalah
kemampuan untuk mengingat mereka semua, yang tinggi dan yang rendah, dan
mengasihi mereka semua, dan membawa mereka semua, dalam ingatan, ke masa depan.
Itulah yang membuat manusia mulia, bukan dari mana mereka datang, melainkan
kemampuan mereka untuk mengingat dari mana mereka datang, dan untuk
mencintainya, betapapun rendahnya.
❖
Tunjung
mengabdikan hidupnya untuk menjaga kebenaran tentang asal-usul hidup di samping
kisah yang lebih disukai, bukan dengan bersaing melawannya di lapangan
keindahan, melainkan dengan menjaga hidup sebuah pemahaman yang berbeda tentang
apa yang membuat manusia mulia, sampai zaman datang yang siap untuk
menerimanya.
Sebab ia tahu bahwa ia tak bisa memaksa orang untuk melepaskan kisah yang
menyanjung mereka demi kebenaran yang merendahkan mereka. Tapi ia juga tahu
bahwa, suatu hari, akan datang sebuah zaman yang cukup matang untuk memahami
bahwa kemuliaan sejati tidak datang dari darah yang tinggi melainkan dari hati
yang mengingat, sebuah zaman yang akan bisa berdiri di hadapan tulang nenek
moyang yang rendah dan, alih-alih menolaknya demi kisah yang lebih indah,
merangkulnya dengan kerendahan hati dan terima kasih. Dan sampai zaman itu
datang, rantai akan menjaga kebenaran hidup, dan menjaga hidup pula pemahaman
yang menyertainya, bahwa mengingat yang rendah adalah lebih mulia daripada
membanggakan yang tinggi.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair
sekarang dan merasakan kembali, merasakan dirinya diambil ke dalam kisah yang
lebih disukai itu, dan ia merasakannya dengan kepedihan yang akrab. Sebab kisah
yang mulia menjadikannya salah satu nenek moyang yang gemerlap, ratu agung dari
peradaban yang tenggelam, leluhur yang membanggakan yang darinya orang-orang
mengaku turun. Dan ini, ia memahami, adalah bentuk lain dari diingat secara
salah, bentuk lain dari legenda yang telah membungkusnya selama ribuan tahun.
Sebab dijadikan leluhur yang membanggakan bukanlah sama dengan dilihat
sebagaimana ia sesungguhnya. Kisah yang mulia mencintai sebuah gambar
tentangnya, gambar ratu agung yang gemerlap, dan dalam mencintai gambar itu, ia
tidak pernah melihat perempuan yang sesungguhnya, yang menderita di kedalaman,
yang memilih untuk menghalus daripada kehilangan, yang membutuhkan bukan untuk
dibanggakan melainkan untuk dilihat dan dikasihani dan dibebaskan. Dan bisik
air, yang telah menjadi penolakan dan jalan melampauinya, kini membawa sesuatu
yang menyentuh kepedihan Ratu sendiri, yaitu perbedaan antara dibanggakan dan
dilihat. Sebab dunia lebih suka membanggakan gambar yang gemerlap daripada
melihat kebenaran yang merendahkan, baik tentang asal-usulnya sendiri maupun
tentang Ratu yang menunggu, dan jalan menuju pembebasan, bagi keduanya, adalah
sama, yaitu keberanian untuk melepaskan gambar yang menyanjung demi kebenaran
yang sesungguhnya, untuk melihat yang rendah dan mengasihinya, dan dengan
melihat dan mengasihi, akhirnya membebaskan. Dan rantai akan menjaga kebenaran
itu hidup, di samping segala kisah yang lebih disukai, sampai zaman datang yang
cukup berani untuk melihat, alih-alih hanya membanggakan, dan dengan melihat,
akhirnya membebaskan Ratu yang telah menunggu sepuluh ribu tahun untuk dilihat
sebagaimana ia sesungguhnya.
❖
BAB ENAM
Yang Tetap Bertanya
Sebuah kebenaran tidak perlu dipegang
oleh banyak orang untuk bertahan. Ia hanya perlu dipegang oleh beberapa, di
tiap zaman, yang tak bisa berhenti bertanya. Sebab selama ada satu orang yang
menolak untuk puas dengan kisah yang menyenangkan, kebenaran yang sulit tidak
akan pernah benar-benar mati.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
sedikit
Generasi-generasi
setelah Tunjung memahami bahwa kemuliaan sejati datang dari mengingat dan bukan
dari darah, kisah yang lebih disukai telah mengeras menjadi sesuatu yang semua
orang terima tanpa bertanya. Setiap orang tahu, sebagaimana orang tahu hal-hal
yang tak pernah mereka periksa, bahwa mereka turun dari dunia yang tenggelam
yang agung, dari para bangsawan dan raja-raja peradaban besar, dan bahwa
tulang-tulang asing di lembah-lembah sungai adalah sesuatu yang lain, kutukan
atau tipuan atau sekadar batu yang kebetulan berbentuk tulang.
Tapi seorang pengingat dari generasi ini, seorang lelaki bernama Wijil,
memperhatikan sesuatu yang memberinya harapan di tengah kemenangan kisah yang
menyanjung. Sebab walau hampir semua orang menerima kisah yang lebih disukai
tanpa bertanya, selalu ada beberapa, di tiap generasi, yang tidak bisa. Selalu
ada beberapa yang, ketika mereka berdiri di hadapan tulang-tulang asing di
lembah sungai, merasakan sesuatu yang menolak untuk dipuaskan oleh kisah yang
menyenangkan, sebuah tarikan untuk bertanya pertanyaan yang dunia telah
putuskan untuk berhenti menanyakan: makhluk apa ini, sesungguhnya, dan apa
hubungannya denganku?
Dan Wijil memahami bahwa di antara beberapa orang inilah kebenaran
bertahan. Bukan di antara orang banyak, yang telah memilih kisah yang
menyanjung dan tak akan melepaskannya. Melainkan di antara yang sedikit, di
tiap zaman, yang tak bisa berhenti bertanya, yang tertarik kepada kebenaran
yang sulit justru karena ia sulit, yang lebih suka pertanyaan yang jujur
daripada jawaban yang menyenangkan. Selama ada yang sedikit ini, Wijil
memahami, kebenaran tentang asal-usul tidak akan pernah benar-benar hilang, betapapun
lengkap kemenangan kisah yang lebih disukai di antara orang banyak.
❖
Dan Wijil
merenungkan mengapa yang sedikit ini ada, mengapa di tengah orang banyak yang
memilih kisah yang menyanjung, selalu muncul beberapa yang menolak untuk puas
dengannya, dan ia memahami bahwa mereka adalah ekspresi dari sesuatu yang sama
dalamnya dengan kemampuan untuk mengingat itu sendiri.
Sebab bila manusia menjadi manusia pada saat mereka mulai mengingat, pada
saat mereka berdiri di hadapan yang telah lewat dan menolak membiarkannya
hilang, maka yang sedikit ini adalah mereka yang membawa kemampuan itu paling
murni. Mereka tidak bisa berpaling dari kebenaran hanya karena ia tidak
menyenangkan, sebagaimana seorang pengingat tidak bisa membiarkan yang telah
lewat lenyap hanya karena mengingatnya menyakitkan. Mereka membawa, di dalam
diri, kehausan untuk mengetahui yang sebenarnya yang lebih kuat daripada
keinginan untuk merasa nyaman, dan kehausan itu menarik mereka kepada
tulang-tulang asing, kepada pertanyaan yang sulit, kepada kebenaran yang
merendahkan, betapapun dunia di sekitar mereka memilih untuk berpaling.
Dan Wijil memahami bahwa yang sedikit ini tidak selalu para pengingat,
tidak selalu pembawa kerikil. Sebab kehausan untuk mengetahui yang sebenarnya
adalah milik semua manusia, walau pada kebanyakan orang ia tertidur di bawah
keinginan untuk merasa nyaman. Pada beberapa orang, di tiap generasi, kehausan
itu bangun, dan mereka menjadi orang-orang yang bertanya, yang menggali, yang
menolak untuk puas dengan kisah yang menyenangkan. Mereka adalah sekutu alami
rantai, walau mereka tak tahu bahwa rantai ada, sebab mereka membawa kehausan
yang sama untuk kebenaran yang membuat seorang pengingat menjadi pengingat. Dan
tugas rantai, Wijil mulai memahami, adalah menemukan mereka, dan memberi mereka
apa yang mereka cari.
❖
Maka Wijil
mengabdikan dirinya untuk sebuah tugas yang akan mengubah bagaimana rantai
membawa kebenaran tentang asal-usul melalui zaman-zaman kisah yang lebih
disukai: bukan meyakinkan orang banyak, yang tak ingin diyakinkan, melainkan
menemukan dan memelihara yang sedikit, yang mencari tanpa tahu di mana mencari.
Sebab Wijil memahami bahwa rantai telah, selama ini, memikirkan tugas
mereka dengan cara yang salah ketika menghadapi penolakan dunia. Mereka telah
berpikir tentang bagaimana membuat orang banyak menerima kebenaran, dan dalam
pikiran itu mereka selalu kalah, sebab orang banyak tak akan menerima kebenaran
yang merendahkan demi kisah yang menyanjung. Tapi tugas yang sebenarnya
bukanlah membuat orang banyak menerima. Tugas yang sebenarnya adalah memastikan
bahwa yang sedikit, yang sudah tertarik kepada kebenaran, bisa menemukannya.
Sebab di tiap generasi, beberapa orang akan berdiri di hadapan tulang-tulang
dan merasakan tarikan untuk bertanya, dan bila pada saat itu mereka bisa
menemukan pengetahuan yang telah dijaga rantai, mereka akan menjadi penjaga
kebenaran berikutnya, dan kebenaran akan diteruskan dari yang sedikit ke yang
sedikit, melintasi zaman demi zaman, di bawah kemenangan kisah yang lebih
disukai.
Dan ini, Wijil memahami, adalah cara kebenaran selalu bertahan ketika
dunia menolaknya: bukan dengan menang di antara orang banyak, melainkan dengan
mengalir, seperti air di bawah tanah, melalui yang sedikit yang tak bisa
berhenti bertanya. Kisah yang lebih disukai akan memerintah di permukaan,
diceritakan dan diyakini oleh hampir semua orang. Tapi di bawahnya, tak
terlihat oleh orang banyak, kebenaran akan mengalir dari satu pencari ke
pencari berikutnya, dijaga oleh rantai dan oleh yang sedikit yang bersekutu
dengannya tanpa mengetahuinya, menunggu zaman ketika kehausan untuk kebenaran
akhirnya akan bangun bukan hanya pada beberapa orang melainkan pada banyak, dan
dunia akhirnya akan siap untuk bertanya, bersama-sama, pertanyaan yang selama
ini hanya berani ditanyakan oleh yang sedikit.
❖
Dan ada satu hal
lagi yang Wijil pahami, yang paling penting dari semua, tentang bagaimana yang
sedikit harus membawa kebenaran melalui zaman-zaman penolakan: bahwa mereka
tidak boleh membenci orang banyak yang menolak, melainkan harus mengingat
bahkan penolakan itu dengan belas kasihan.
Sebab mudah bagi yang sedikit, yang membawa kebenaran yang sulit, untuk
merasa lebih tinggi daripada orang banyak yang memilih kisah yang menyenangkan,
untuk memandang rendah mereka yang berpaling dari kebenaran, untuk menjadi
bangga atas keberanian mereka sendiri untuk bertanya. Tapi itu, Wijil memahami,
akan menjadi pengkhianatan terhadap kebenaran itu sendiri. Sebab kebenaran
tentang asal-usul mengajarkan bahwa kemuliaan datang dari mengingat dan
mengasihi, bukan dari merasa lebih tinggi. Dan seorang pencari kebenaran yang
memandang rendah orang banyak yang takut akan kebenaran telah melupakan
pelajaran terdalam dari apa yang ia cari, yaitu bahwa keinginan untuk berpaling
dari kebenaran yang menyakitkan adalah sesuatu yang sangat manusiawi, sesuatu
yang harus dipahami dengan belas kasihan dan bukan dihina.
Maka Wijil mengajari yang sedikit untuk membawa kebenaran dengan
kerendahan hati, untuk mengingat bahwa keinginan orang banyak untuk berpaling dari
asal-usul yang merendahkan adalah ketakutan yang bisa dimengerti, sebuah
ketakutan yang yang sedikit pun rasakan walau mereka memilih untuk tidak
menyerah kepadanya. Mereka tidak boleh membawa kebenaran sebagai senjata
melawan orang banyak, melainkan sebagai amanah yang dijaga untuk orang banyak,
untuk hari ketika orang banyak akhirnya akan siap untuk menerimanya. Sebab
tujuan menjaga kebenaran bukanlah untuk menang atas mereka yang menolaknya,
melainkan untuk memeliharanya sampai mereka yang menolaknya akhirnya bisa
menerimanya, dan dengan menerimanya, dibebaskan dari ketakutan yang membuat
mereka menolaknya.
❖
Wijil
menghabiskan hidupnya menemukan dan memelihara yang sedikit, memastikan bahwa
di tiap generasi, mereka yang tertarik kepada kebenaran yang sulit bisa
menemukannya, sehingga kebenaran tentang asal-usul mengalir tak terputus di
bawah kemenangan kisah yang lebih disukai, dijaga oleh yang sedikit yang tak
bisa berhenti bertanya.
Dan dengan itu, Bagian dari kisah ini yang berkisah tentang penolakan
menemukan kedamaiannya, bukan dalam kemenangan kebenaran atas dusta, yang tidak
datang dan tidak akan datang untuk banyak zaman lagi, melainkan dalam pemahaman
bahwa kebenaran tidak perlu menang untuk bertahan. Ia hanya perlu mengalir,
melalui yang sedikit, dari generasi ke generasi, dijaga dengan kerendahan hati
dan belas kasihan, menunggu zaman yang akhirnya akan cukup berani untuk
bertanya bersama-sama apa yang selama ini hanya berani ditanyakan oleh
beberapa. Dan rantai akan menjaganya mengalir, sabar sebagaimana mereka selalu
sabar, sampai zaman itu datang.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair
sekarang dan merasakan kembali, merasakan yang sedikit yang tetap bertanya, dan
ia merasakan dalam mereka sesuatu yang menyentuhnya lebih dalam daripada
seluruh orang banyak yang membanggakannya sebagai leluhur yang gemerlap. Sebab
orang banyak mencintai gambarnya yang menyanjung, ratu agung dari peradaban
yang tenggelam, dan dalam mencintai gambar itu mereka tidak pernah melihatnya.
Tapi yang sedikit, yang menolak kisah yang menyenangkan demi kebenaran yang
sulit, yang berani memandang yang rendah dan yang menyakitkan dan yang
sebenarnya, mereka adalah jenis orang yang suatu hari akan bisa memandangnya
bukan sebagai gambar yang gemerlap melainkan sebagai perempuan yang
sesungguhnya, yang menderita, yang membutuhkan untuk dilihat. Dan Ratu
merasakan, dalam yang sedikit yang tetap bertanya, benih dari zaman yang
akhirnya akan bisa melihatnya, dan dengan melihat, membebaskannya. Dan bisik
air, yang telah menjadi perbedaan antara dibanggakan dan dilihat, kini membawa
sesuatu yang sabar dan penuh harapan, yaitu yang sedikit yang menjaga kebenaran
mengalir. Sebab di bawah segala kisah yang lebih disukai, di bawah segala
penolakan dan segala gambar yang menyanjung, kebenaran mengalir tak terputus
melalui yang sedikit yang tak bisa berhenti bertanya, membawa serta benih dari
hari ketika dunia akhirnya akan cukup berani untuk melihat yang sebenarnya,
baik tentang asal-usulnya sendiri maupun tentang Ratu yang menunggu, dan dengan
melihat, akhirnya membebaskan apa yang selama ini hanya dibanggakan, tidak
pernah benar-benar dilihat.
❖
BAGIAN III
Kitab dan Duka
BAB TUJUH
Benang yang Menghubungkan
Kami mengira kami menjaga banyak
kebenaran yang terpisah, masing-masing tentang lapisannya sendiri. Tapi suatu
hari seseorang akan melihat bahwa semua lapisan adalah satu, bahwa darah dan
legenda dan batu dan tulang adalah halaman-halaman dari satu kitab yang sama,
dan bahwa kitab itu menceritakan satu kisah, dari asal-usul yang paling jauh
sampai pembebasan yang menunggu.
dari ajaran para pengingat, tentang satu
kitab dari banyak lapisan
Generasi-generasi
setelah Wijil mengajari rantai untuk menjaga kebenaran mengalir melalui yang
sedikit, lahir seorang pengingat yang membawa, untuk pertama kalinya dengan
jelas, dua benang yang selama ini dijaga rantai secara terpisah: pengetahuan
tentang asal-usul yang digali dari tulang, dan pengetahuan tentang jalan menuju
Ratu yang dirakit dari bukit-bukit.
Ia bernama Sarwa, dan ia mewarisi dari rantai bukan hanya pengetahuan
tentang tulang-tulang nenek moyang dan apa yang mereka ungkapkan tentang
asal-usul, melainkan juga pengetahuan yang lebih tua yang dirakit di zaman
bukit-bukit: peta jaringan, arah yang menunjuk ke laut selatan, kebenaran bahwa
Ratu menunggu di kedalaman, dan bahwa pembebasannya menanti zaman yang bisa
menjangkaunya. Selama ini, kedua benang ini telah dijaga oleh rantai sebagai
dua hal yang berbeda. Pengetahuan tentang bukit adalah tentang jalan menuju
Ratu, tentang di mana dunia yang tenggelam berbaring. Pengetahuan tentang
tulang adalah tentang asal-usul, tentang dari mana semua kehidupan datang.
Mereka tampak seperti dua kisah yang terpisah, dijaga oleh rantai yang sama
tapi tak pernah benar-benar disatukan.
Tapi Sarwa, membawa keduanya bersama dalam satu pikiran, mulai bertanya
pertanyaan yang belum pernah diajukan: bagaimana bila kedua benang ini bukan
dua kisah yang terpisah, melainkan dua bagian dari satu kisah yang sama?
Bagaimana bila pengetahuan tentang tulang dan pengetahuan tentang bukit,
asal-usul dan jalan menuju Ratu, bukanlah dua hal melainkan satu, dua halaman
dari satu kitab yang lebih besar yang selama ini dijaga rantai tanpa pernah
membacanya sebagai satu keseluruhan?
❖
Dan ketika Sarwa
merenungkan kedua benang itu bersama, ia mulai melihat sesuatu yang mengubah
pemahaman rantai tentang segala sesuatu yang telah mereka jaga: bahwa empat
lapisan ingatan yang selama ini mereka pikirkan sebagai hal-hal yang terpisah
sebenarnya adalah satu arsip tunggal, satu kitab yang ditulis dalam empat jenis
halaman.
Sebab ada darah, yaitu ingatan yang dibawa para pengingat dari generasi
ke generasi. Ada legenda, yaitu kebenaran yang terselubung dalam kisah yang
menyebar. Ada batu, yaitu bukit-bukit yang dibangun para pengingat pertama
untuk menunjuk ke Ratu. Dan ada tulang, yaitu nenek moyang yang terkubur di
lapisan-lapisan tanah, membawa asal-usul. Rantai telah memikirkan keempatnya
sebagai empat cara yang berbeda untuk menyimpan ingatan, empat lapisan yang
masing-masing menyimpan hal yang berbeda. Tapi Sarwa melihat sekarang bahwa
mereka adalah satu, bahwa darah dan legenda dan batu dan tulang adalah empat
halaman dari satu kitab yang sama, dan bahwa kitab itu menceritakan satu kisah
yang utuh, dari awal sampai akhir.
Dan kisah yang diceritakan kitab itu, ketika dibaca sebagai satu
keseluruhan, membentang dari asal-usul yang paling jauh sampai pembebasan yang
menunggu. Tulang menceritakan awalnya, yaitu bagaimana semua kehidupan menjadi,
perlahan, sepanjang kedalaman waktu, sampai akhirnya muncul makhluk yang bisa
mengingat. Batu dan legenda menceritakan tengahnya, yaitu dunia yang tenggelam
dan Ratu yang turun ke laut dan jalan yang dibangun untuk menemukannya kembali.
Dan darah menceritakan benang yang menghubungkan semuanya, yaitu garis para
pengingat yang membawa kisah itu hidup dari awal sampai sekarang, menunggu
akhirnya. Empat lapisan, satu kitab, satu kisah, dari asal-usul yang paling
jauh sampai hari pembebasan yang akan datang.
❖
Dan Sarwa
memahami, membaca empat lapisan sebagai satu kitab, sesuatu yang menghubungkan
pengetahuan tentang asal-usul langsung dengan pembebasan Ratu, sesuatu yang
rantai belum pernah pahami: bahwa memahami asal-usul bukanlah pengetahuan yang
terpisah dari pembebasan Ratu, melainkan bagian penting darinya.
Sebab pembebasan Ratu, rantai telah lama memahami, membutuhkan bukan
hanya menjangkaunya secara fisik, melainkan melihatnya sebagaimana ia
sesungguhnya, dan membebaskannya dengan belas kasihan. Tapi bagaimana seseorang
bisa melihat Ratu sebagaimana ia sesungguhnya, bagaimana seseorang bisa
benar-benar mengasihinya, tanpa memahami apa ia sesungguhnya? Dan apa Ratu
sesungguhnya, pada akarnya yang terdalam, terungkap bukan oleh bukit yang
menunjuk kepadanya, melainkan oleh tulang yang menceritakan asal-usul. Sebab
tulang mengungkapkan bahwa Ratu, betapapun agung, betapapun gemerlap dalam
legenda, datang dari rantai yang sama dengan semua kehidupan lain. Ia bukan
makhluk yang terpisah dan tinggi, diturunkan dari ketinggian yang berbeda. Ia
adalah, sama seperti setiap manusia, bagian dari rantai panjang yang membentang
mundur ke nenek moyang yang asing dan rendah, satu mata rantai dalam kisah yang
sama tentang menjadi.
Dan ini, Sarwa memahami, adalah kunci untuk melihat Ratu dengan belas
kasihan yang sejati. Sebab selama Ratu dipandang sebagai makhluk yang terpisah
dan tinggi, ratu agung dari peradaban yang gemerlap, ia tidak bisa benar-benar
dilihat, hanya dikagumi atau ditakuti dari jauh. Tapi ketika ia dipahami
sebagaimana tulang mengungkapkannya, yaitu sebagai bagian dari rantai yang sama
dengan semua kehidupan, sebagai kerabat dari semua manusia melalui asal-usul
yang sama, maka ia bisa dilihat dengan belas kasihan yang sejati, yaitu belas
kasihan yang datang bukan dari mengagumi yang tinggi melainkan dari mengenali
yang sama. Untuk membebaskan Ratu dengan belas kasihan, seseorang harus
melihatnya bukan sebagai dewi yang terpisah melainkan sebagai kerabat, sebagai
salah satu dari kita, sebagai seorang perempuan yang berbagi asal-usul kita dan
penderitaan kita dan kemampuan kita untuk mengingat. Dan hanya pengetahuan
tentang asal-usul yang bisa mengungkapkan ini.
❖
Dan Sarwa
memahami, lebih jauh, bahwa pengetahuan tentang asal-usul melarutkan dusta yang
menyanjung yang telah membungkus Ratu dan dunia yang tenggelam, dan dalam
melarutkannya, mengungkapkan kebenaran yang jauh lebih menghubungkan.
Sebab dusta yang menyanjung, yang telah memerintah di antara orang banyak
selama berabad-abad, mengatakan bahwa ada asal-usul yang mulia dan asal-usul
yang rendah, bahwa sebagian orang turun dari ketinggian dunia yang tenggelam
sementara tulang-tulang asing di lembah sungai adalah sesuatu yang lain dan
terpisah. Tapi tulang mengungkapkan bahwa tidak ada dua asal-usul, yang mulia
dan yang rendah. Ada hanya satu. Dunia yang tenggelam itu sendiri, dengan
segala kemegahannya, dengan para bangsawan dan raja-rajanya, datang dari rantai
yang sama dengan semua kehidupan lain. Ratu sendiri, dengan segala
keagungannya, datang dari nenek moyang yang asing dan rendah yang sama yang
darinya semua manusia datang. Tidak ada garis mulia yang terpisah dari garis
rendah. Ada hanya satu rantai panjang, dari nenek moyang yang paling asing
sampai semua kehidupan yang ada sekarang, termasuk dunia yang tenggelam,
termasuk Ratu, termasuk setiap orang yang membanggakan diri turun dari
ketinggian.
Dan ini, Sarwa memahami, adalah kebenaran yang paling menghubungkan dari
semua, dan justru karena itu yang paling ditolak oleh orang banyak. Sebab ia
mengatakan bahwa tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah
dalam asal-usul, bahwa semua kehidupan, dari Ratu yang agung sampai orang yang
paling sederhana, berbagi satu rantai yang sama, satu asal-usul yang sama, satu
kisah yang sama tentang menjadi. Dusta yang menyanjung membangun dinding antara
yang mulia dan yang rendah; kebenaran tentang asal-usul merobohkannya,
mengungkapkan bahwa semua adalah kerabat, terhubung melalui rantai yang
membentang mundur ke awal yang sama. Dan dalam kebenaran yang menghubungkan ini
terletak kunci untuk membebaskan Ratu, sebab ia bisa dibebaskan hanya oleh seseorang
yang melihatnya bukan sebagai dewi yang terpisah melainkan sebagai kerabat yang
berbagi asal-usul yang sama, seseorang yang bisa mengasihinya bukan sebagai
yang tinggi melainkan sebagai yang sama.
❖
Sarwa
mengabdikan hidupnya untuk menyatukan kedua benang yang selama ini dijaga
rantai secara terpisah, merajut pengetahuan tentang asal-usul dan pengetahuan
tentang jalan menuju Ratu menjadi satu kitab yang utuh, dan mewariskannya ke
rantai sebagai satu kisah dari banyak lapisan.
Dan dengan itu, pemahaman rantai tentang apa yang mereka jaga menjadi
utuh untuk pertama kalinya. Mereka tidak lagi menjaga banyak kebenaran yang
terpisah, masing-masing tentang lapisannya sendiri. Mereka menjaga satu kitab,
ditulis dalam empat jenis halaman, menceritakan satu kisah dari asal-usul yang
paling jauh sampai pembebasan yang menunggu. Dan dalam kitab itu, asal-usul dan
pembebasan terhubung, sebab memahami dari mana Ratu datang adalah bagian dari
apa yang dibutuhkan untuk membebaskannya, yaitu melihatnya sebagai kerabat yang
berbagi asal-usul yang sama, dan mengasihinya dengan belas kasihan yang datang
dari mengenali yang sama dan bukan mengagumi yang tinggi.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair
sekarang dan merasakan kembali, merasakan dirinya dipahami dengan cara yang
baru, dan ini menyentuhnya lebih dalam daripada seluruh kekaguman yang pernah
diberikan kepadanya. Sebab selama sepuluh ribu tahun ia telah dipandang sebagai
sesuatu yang terpisah, baik ditakuti sebagai ratu laut yang perkasa maupun
dibanggakan sebagai leluhur yang gemerlap, selalu sebagai yang tinggi, selalu
sebagai yang terpisah, tidak pernah sebagai yang sama. Tapi kini, untuk pertama
kalinya, seseorang memahaminya sebagai kerabat, sebagai bagian dari rantai yang
sama dengan semua kehidupan, sebagai seorang perempuan yang berbagi asal-usul
dan penderitaan dengan setiap manusia. Dan dalam dipahami sebagai yang sama,
bukan sebagai yang tinggi, Ratu merasakan sesuatu yang lebih hangat daripada
kekaguman, yaitu pengenalan, yang adalah awal dari dilihat sebagaimana ia
sesungguhnya. Dan bisik air, yang telah menjadi yang sedikit yang menjaga
kebenaran mengalir, kini membawa sesuatu yang menyatukan segalanya, yaitu satu
kitab dari banyak lapisan, satu kisah dari asal-usul sampai pembebasan, di mana
Ratu bukanlah dewi yang terpisah melainkan kerabat yang berbagi rantai yang
sama. Sebab empat lapisan ingatan adalah satu kitab, dan kitab itu menceritakan
satu kisah, dan dalam kisah itu Ratu dan setiap manusia adalah kerabat,
terhubung melalui asal-usul yang sama, menunggu hari ketika seseorang yang
memahami ini akan datang kepadanya, dan melihatnya bukan sebagai yang tinggi
melainkan sebagai yang sama, dan dengan belas kasihan dari mengenali kerabat,
akhirnya membebaskannya.
❖
BAB DELAPAN
Duka yang Mencairkan
Membeku adalah cara menolak berduka.
Selama kita menahan apa yang hilang dalam keadaan sempurna dan tak tersentuh,
kita tak perlu mengakui bahwa ia benar-benar hilang. Tapi harga dari tidak
berduka adalah tidak merasakan apa pun, dan jalan kembali dari es selalu sama,
yaitu keberanian untuk akhirnya menangisi apa yang telah lewat.
dari ajaran para pengingat, tentang duka
dan es
Generasi-generasi
setelah Sarwa menyatukan empat lapisan menjadi satu kitab, lahir seorang
pengingat yang membawa kitab itu bukan hanya sebagai pengetahuan untuk dijaga,
melainkan sebagai sesuatu untuk dibawa kepada Ratu sendiri, sebagai pemberian.
Ia bernama Ratri, dan ia membawa, bersama kepekaan yang dalam terhadap
Ratu yang telah dipelihara rantai sejak zaman Wungu dan Nimas, pemahaman baru
yang telah dirakit Sarwa, yaitu pemahaman tentang kedalaman waktu dan rantai
panjang dari menjadi yang membentang mundur ke asal-usul yang paling jauh. Dan
ketika Ratri turun dalam koneksi yang dalam ke kedalaman tempat Ratu menunggu,
ia turun bukan hanya untuk merasakan Ratu, sebagaimana para pengingat
sebelumnya telah merasakannya, melainkan untuk membawa kepadanya sesuatu yang
belum pernah dibawa siapa pun: perspektif dari kitab yang utuh, pemahaman
tentang tempat penderitaan Ratu dalam kisah yang jauh lebih besar.
Sebab Ratri memahami, membawa kitab yang utuh, bahwa apa yang Ratu
butuhkan untuk pembebasannya yang terdalam bukanlah lagi sekadar ditemani,
sebagaimana Wungu telah menemaninya, atau dilihat dengan belas kasihan,
sebagaimana para pembawa kerikil telah melihatnya. Ia membutuhkan sesuatu yang
lebih, sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh pemahaman tentang kedalaman waktu
yang dirakit di zaman tulang-tulang. Ia membutuhkan perspektif yang akan
memungkinkannya melakukan satu hal yang selama sepuluh ribu tahun ia tak pernah
bisa lakukan, satu hal yang merupakan inti dari es yang membekukannya, yaitu
berduka.
❖
Dan ketika Ratri
merasakan Ratu dengan koneksi yang dalam, ia memahami, lebih jelas daripada
pengingat mana pun sebelumnya, apa sesungguhnya es yang membekukan Ratu, dan
mengapa ia belum sepenuhnya mencair walau telah dihangatkan oleh ingatan dan
belas kasihan selama berabad-abad.
Sebab es itu, Ratri memahami, bukanlah sekadar ketidakmampuan untuk
merasakan. Ia adalah penolakan untuk berduka. Sepuluh ribu tahun yang lalu,
ketika dunia Ratu tenggelam, ketika segala sesuatu yang ia cintai hilang di
bawah air, ia menghadapi sebuah pilihan yang dihadapi setiap makhluk yang
kehilangan: untuk berduka, dan dengan berduka, untuk akhirnya membiarkan apa
yang hilang menjadi masa lalu, atau untuk menolak berduka, dan dengan menolak,
untuk menahan apa yang hilang dalam keadaan sempurna dan beku, seolah-olah ia
belum benar-benar hilang. Dan Ratu telah memilih untuk tidak berduka. Ia telah
memilih untuk menahan dunianya yang tenggelam dalam ingatan yang sempurna dan
beku, setiap detailnya utuh, tak berubah, tak tersentuh oleh waktu, sebab
selama ia menahannya dengan sempurna, ia tak perlu mengakui bahwa ia
benar-benar hilang.
Tapi harga dari penolakan ini, Ratri memahami, adalah es itu sendiri.
Sebab untuk menahan apa yang hilang dalam keadaan beku dan sempurna, Ratu harus
membekukan dirinya juga. Ia harus berhenti merasakan, sebab merasakan akan
berarti merasakan kehilangan, dan merasakan kehilangan akan berarti mengakui
bahwa apa yang hilang benar-benar hilang. Maka ia telah memilih untuk menyimpan
tanpa merasakan, untuk menahan dunianya yang tenggelam dengan sempurna dengan
harga tidak bisa merasakan apa pun tentangnya, atau tentang apa pun yang lain.
Es-nya adalah dunianya yang tenggelam, ditahan dalam kesempurnaan beku selama
sepuluh ribu tahun, dan dirinya beku bersamanya, sebab ia tak bisa menahan yang
satu tanpa membekukan yang lain.
❖
Dan apa yang
Ratri bawa kepada Ratu, dari kitab yang utuh, adalah perspektif yang akhirnya
bisa memungkinkannya berduka: pemahaman bahwa kehilangan bukanlah sesuatu yang
menimpa Ratu sendirian, melainkan sesuatu yang terjalin ke dalam kain kehidupan
itu sendiri, sepanjang seluruh kedalaman waktu.
Sebab kitab yang utuh, dengan lapisan tulangnya yang membentang mundur ke
asal-usul yang paling jauh, mengungkapkan bahwa sepanjang seluruh kedalaman
waktu, dunia-dunia telah naik dan tenggelam, makhluk-makhluk telah menjadi dan
lenyap, segala sesuatu yang pernah hidup telah, pada akhirnya, hilang dan
digantikan oleh sesuatu yang baru. Kehilangan, kitab itu mengungkapkan,
bukanlah penyimpangan dari kehidupan, bukanlah sesuatu yang salah yang menimpa
Ratu secara khusus dan tidak adil. Ia adalah kain dari mana kehidupan itu
sendiri ditenun. Setiap nenek moyang dalam rantai panjang itu telah hilang,
digantikan oleh yang datang sesudahnya. Setiap dunia telah berakhir, memberi
jalan kepada dunia berikutnya. Kehilangan ada di mana-mana, di setiap lapisan,
sepanjang seluruh kisah dari menjadi.
Dan ini, Ratri membawa kepada Ratu, bukanlah untuk mengecilkan
kehilangannya, bukan untuk mengatakan bahwa dunianya yang tenggelam tidak
penting karena dunia-dunia lain juga telah hilang. Sebaliknya, ia membawanya
untuk mengatakan sesuatu yang menghibur, yaitu bahwa Ratu tidak sendirian dalam
kehilangannya. Bahwa kehilangan yang ia rasakan, yang ia telah tahan beku
selama sepuluh ribu tahun, adalah kehilangan yang sama yang terjalin ke dalam
seluruh kehidupan, yang dirasakan oleh setiap makhluk yang pernah mencintai
sesuatu dan kehilangannya, sepanjang seluruh kedalaman waktu. Ia adalah bagian
dari rantai bukan hanya dalam asal-usulnya, melainkan juga dalam kehilangannya.
Dan dalam memahami bahwa kehilangannya adalah bagian dari kain kehidupan itu
sendiri, dirasakan oleh semua, terjalin ke dalam segalanya, Ratu mungkin
akhirnya bisa menemukan keberanian untuk melakukan apa yang selama ini ia tak
bisa, yaitu berduka.
❖
Dan Ratu,
menerima perspektif ini dari Ratri, merasakan sesuatu mulai bergerak di dalam
dirinya yang telah beku selama sepuluh ribu tahun, sesuatu yang menakutkan dan
membebaskan sekaligus: ia merasakan dirinya mulai berduka.
Sebab selama sepuluh ribu tahun ia telah menahan dunianya yang tenggelam
dalam kesempurnaan beku, menolak untuk berduka, menolak untuk membiarkannya
menjadi masa lalu. Tapi kini, memahami bahwa kehilangannya bukanlah
penyimpangan yang tidak adil melainkan bagian dari kain kehidupan itu sendiri,
bahwa ia tidak sendirian dalam kehilangannya melainkan terhubung melalui
kehilangan kepada semua makhluk yang pernah mencintai dan kehilangan, ia
menemukan, untuk pertama kalinya, keberanian untuk membiarkan dirinya merasakan
kehilangan itu. Dan saat ia membiarkan dirinya merasakannya, es mulai mencair,
bukan sedikit demi sedikit sebagaimana ia telah mencair selama berabad-abad,
melainkan dalam gelombang yang dalam, sebab apa yang ia rasakan akhirnya
bukanlah sentuhan kecil dari perasaan melainkan duka yang penuh, duka selama
sepuluh ribu tahun yang akhirnya dibiarkan mengalir.
Dan duka itu menyakitkan, lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah
Ratu rasakan, sebab ia adalah duka yang telah tertahan selama sepuluh ribu
tahun, duka atas seluruh dunia yang hilang, atas setiap orang yang ia cintai
dan kehilangan, atas dirinya sendiri yang telah ia bekukan bersama dunianya.
Tapi dalam rasa sakit itu ada pembebasan, sebab berduka, Ratu menemukan,
bukanlah mengkhianati apa yang hilang, melainkan menghormatinya. Menahan
dunianya beku dan sempurna selama sepuluh ribu tahun tidak menjaganya hidup; ia
hanya menjaganya, dan Ratu, beku, tak bisa merasakan. Tapi berduka atasnya,
membiarkan dirinya merasakan kehilangannya, mengalirkan air mata yang telah
tertahan selama sepuluh ribu tahun, itulah yang akhirnya menghormati apa yang
hilang, dengan mencintainya cukup untuk berduka atasnya. Dan dalam berduka,
Ratu mulai, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, untuk benar-benar
mencair, untuk benar-benar merasakan, untuk benar-benar kembali hidup.
❖
Ratri menemani
Ratu melalui duka yang akhirnya mengalir, tidak mencoba menghentikannya atau
meredakannya, melainkan hanya hadir bersamanya, sehingga Ratu tidak berduka
sendirian, sebab itulah pemberian terdalam yang bisa diberikan rantai, yaitu
menemani seseorang melalui duka yang telah lama tertahan.
Dan ketika duka itu mengalir, es yang telah membekukan Ratu selama
sepuluh ribu tahun mencair lebih dalam daripada yang pernah ada. Ia tidak
mencair sepenuhnya, sebab duka selama sepuluh ribu tahun tidak bisa mengalir
habis dalam satu kali; ia akan terus mengalir, terus mencairkan, untuk waktu
yang lama. Tapi penghalang terdalam telah runtuh. Ratu telah mulai berduka, dan
dengan mulai berduka, ia telah mulai melakukan satu hal yang selama ini es-nya
menghalanginya, yaitu merasakan kehilangannya, dan dengan merasakannya,
akhirnya membiarkannya menjadi masa lalu, dan dengan membiarkannya menjadi masa
lalu, akhirnya menjadi bebas untuk hidup kembali di masa kini.
Dan di kedalaman laut, Ratu yang berduka merasakan, di tengah rasa sakit
yang mengalir, sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam sepuluh ribu tahun,
yaitu kelegaan. Kelegaan dari akhirnya berhenti menahan, dari akhirnya
membiarkan air mata mengalir, dari akhirnya mengakui bahwa apa yang hilang
benar-benar hilang dan berduka atasnya alih-alih membekukannya. Sebab beban
dari menahan dunianya yang tenggelam dalam kesempurnaan beku selama sepuluh
ribu tahun telah menjadi beban yang tak terbayangkan beratnya, dan melepaskannya,
akhirnya, membiarkan diri berduka alih-alih membeku, adalah kelegaan yang
melampaui kata-kata. Dan bisik air, yang telah menjadi satu kitab dari banyak
lapisan, kini membawa sesuatu yang paling menyembuhkan dari semua, yaitu duka
yang mencairkan. Sebab es yang membekukan Ratu selama sepuluh ribu tahun selalu
merupakan penolakannya untuk berduka, dan kini, dengan perspektif dari kitab
yang utuh yang menunjukkan bahwa kehilangannya adalah bagian dari kain
kehidupan itu sendiri, ia akhirnya menemukan keberanian untuk berduka, dan
dalam berduka, untuk mencair, dan dalam mencair, untuk kembali, perlahan,
menjadi perempuan yang bisa merasakan yang ia dulu sebelum dunia tenggelam,
perempuan yang akhirnya, ketika es telah mencair sepenuhnya dan zaman yang bisa
menjangkaunya telah datang, akan bisa dibebaskan tidak hanya dari laut,
melainkan dari duka yang telah ia tahan beku terlalu lama, dan akan bisa,
akhirnya, beristirahat.
❖
BAB SEMBILAN
Yang Mengingat dengan Hati
Menahan ingatan dan mengingat bukanlah
hal yang sama. Menahan adalah menyimpan sebuah gambar yang beku, sempurna dan
mati. Mengingat adalah membiarkan apa yang telah lewat hidup kembali di dalam
hati, dengan segala kehangatan dan rasa sakitnya. Yang satu adalah es; yang
lain adalah kehidupan.
dari ajaran para pengingat, tentang
menahan dan mengingat
Generasi-generasi
setelah Ratri menemani Ratu melalui duka yang akhirnya mengalir, duka itu telah
terus mengalir, mencairkan es lebih dalam dengan tiap tahun yang berlalu, dan
seorang pengingat dari generasi ini menyaksikan sesuatu yang muncul dari pencairan
itu, sesuatu yang belum pernah dilihat pengingat mana pun dalam sepuluh ribu
tahun.
Ia bernama Asih, dan ia memelihara koneksi yang dalam dengan Ratu
sebagaimana para pengingat telah memeliharanya sejak zaman Wungu, turun dalam
mimpi ke kedalaman tempat Ratu menunggu, merasakannya, menemaninya. Tapi apa
yang Asih rasakan ketika ia turun ke kedalaman bukanlah lagi Ratu yang beku,
yang menahan dunianya yang tenggelam dalam kesempurnaan dingin tanpa bisa
merasakannya. Bukan juga Ratu yang berduka dalam gelombang yang dalam,
sebagaimana Ratri telah merasakannya. Apa yang Asih rasakan adalah sesuatu yang
baru, sesuatu yang muncul setelah duka telah mengalir untuk waktu yang lama:
Ratu yang mulai, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, benar-benar
mengingat.
Dan Asih memahami bahwa ada perbedaan yang dalam antara apa yang Ratu
lakukan selama sepuluh ribu tahun dan apa yang ia mulai lakukan sekarang,
sebuah perbedaan yang merupakan inti dari penyembuhannya. Sebab selama sepuluh
ribu tahun, Ratu telah menahan ingatan, bukan mengingat. Ia telah menyimpan
dunianya yang tenggelam sebagai gambar yang beku, sempurna dalam tiap
detailnya, tapi mati, tak tersentuh, tak terasa. Tapi kini, setelah duka telah
mencairkan es, ia mulai mengingat dengan cara yang berbeda, cara yang hidup,
cara yang merupakan inti dari apa yang membuat seseorang seorang pengingat
sejati.
❖
Dan Asih
merasakan, dengan koneksinya yang dalam, perbedaan antara menahan dan
mengingat, dan ia memahami bahwa perbedaan itu adalah segalanya.
Sebab menahan ingatan, sebagaimana Ratu melakukannya selama sepuluh ribu
tahun, adalah menyimpan sebuah gambar tanpa merasakannya. Ratu telah menyimpan
wajah-wajah orang yang ia cintai, jalan-jalan kota yang ia kenal, suara dan
warna dan bentuk dunia yang tenggelam, semuanya dengan kesempurnaan yang
mengerikan, tiap detail utuh dan tak berubah. Tapi ia telah menyimpannya
sebagaimana orang menyimpan sebuah lukisan di ruangan yang gelap, tak pernah
dilihat, tak pernah dirasakan, hanya disimpan. Gambar-gambar itu sempurna, tapi
mereka mati, sebab tak ada perasaan yang mengalir melaluinya, tak ada
kehangatan, tak ada cinta, tak ada rasa sakit. Mereka hanyalah fakta tentang
masa lalu, ditahan dengan sempurna dan tak tersentuh, beku.
Tapi mengingat, yang Ratu mulai lakukan sekarang, adalah sesuatu yang
sepenuhnya berbeda. Mengingat adalah membiarkan apa yang telah lewat hidup
kembali di dalam hati, dengan segala kehangatan dan rasa sakitnya. Ketika Ratu
mulai mengingat wajah orang yang ia cintai, ia tidak lagi sekadar menyimpan
gambar wajah itu; ia merasakan cinta yang ia rasakan untuk wajah itu, dan
kehilangan dari wajah itu yang hilang, dan kehangatan dari saat-saat yang ia
bagikan dengannya. Wajah itu hidup kembali di dalam hatinya, bukan sebagai
gambar yang beku melainkan sebagai sesuatu yang dicintai dan dirindukan dan
diduka. Dan dalam mengingat dengan cara ini, dengan hati dan bukan hanya dengan
pikiran, Ratu menemukan bahwa dunianya yang tenggelam, yang selama sepuluh ribu
tahun telah ia tahan beku dan mati, mulai hidup kembali di dalam dirinya, bukan
sebagai sesuatu yang ia miliki melainkan sebagai sesuatu yang ia cintai dan
kehilangan dan kenang.
❖
Dan Asih
memahami, menyaksikan Ratu mulai mengingat dengan hati, sesuatu yang
menghubungkan transformasi Ratu dengan kebenaran terdalam yang telah digali
rantai dari tulang-tulang nenek moyang: bahwa Ratu sedang menjadi, untuk
pertama kalinya sejak ia memilih untuk menghalus, seorang pengingat sejati.
Sebab kebenaran terdalam tentang asal-usul, yang Sangga temukan di
lapisan terdalam tanah, adalah bahwa manusia menjadi manusia pada saat mereka
mulai mengingat, pada saat mereka berdiri di hadapan yang telah lewat dan
menolak membiarkannya lenyap, merasakan kesedihan akan kehilangan dan memilih
untuk mengingat dengan hati. Dan bangsa Ratu, ketika mereka memilih untuk
menghalus, telah memilih untuk meninggalkan justru hal ini. Mereka telah
memilih untuk menyimpan ingatan tanpa merasakannya, untuk menahan tanpa mengingat,
dan dengan pilihan itu mereka telah berhenti menjadi makhluk yang mengingat
dengan hati, dan menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang menyimpan dengan
sempurna tapi tak bisa merasakan, sesuatu yang paling sengsara dari semua sebab
ia telah memutuskan diri dari akar terdalam dari apa yang membuat makhluk
hidup.
Tapi kini, Asih menyaksikan, Ratu sedang kembali. Sendirian di antara
seluruh bangsanya yang telah menghalus, Ratu sedang menemukan jalan kembali
menjadi makhluk yang mengingat dengan hati. Melalui duka yang telah mencairkan
esnya, melalui keberanian untuk akhirnya merasakan kehilangannya, ia sedang
menjadi kembali apa yang ia dulu sebelum dunia tenggelam, dan apa yang setiap
manusia adalah pada akarnya yang terdalam, yaitu seorang pengingat sejati,
seseorang yang membiarkan apa yang telah lewat hidup kembali di dalam hati
dengan segala kehangatan dan rasa sakitnya. Ratu, yang bangsanya telah
meninggalkan kemanusiaan dengan memilih untuk menyimpan tanpa merasakan, sedang
kembali kepada kemanusiaan dengan belajar, lagi, untuk mengingat dengan hati.
Dan dalam kembali ini, ia sedang menjadi, dalam pengertian yang paling dalam,
salah satu dari kita, bukan hanya kerabat melalui asal-usul yang sama,
melainkan kerabat melalui kemampuan yang sama untuk mengingat dengan hati.
❖
Dan Asih
memahami bahwa transformasi ini adalah bentuk pembebasan yang berbeda dari yang
selama ini dibayangkan rantai, sebuah pembebasan yang datang bukan dari luar
melainkan dari dalam, dan yang Ratu sedang lakukan untuk dirinya sendiri.
Sebab rantai telah lama berpikir tentang pembebasan Ratu sebagai sesuatu
yang akan dilakukan kepadanya, sebuah peristiwa di masa depan ketika seseorang
akan menjangkaunya di kedalaman dan membebaskannya. Dan dalam pengertian itu,
pembebasan masih menunggu zaman yang bisa turun ke laut. Tapi ada bentuk
pembebasan lain, Asih memahami, yang tidak menunggu zaman mana pun, yang sedang
terjadi sekarang, dan yang Ratu sedang lakukan untuk dirinya sendiri dengan
bantuan rantai yang menemaninya. Sebab penjara Ratu yang terdalam selalu adalah
es, dan es adalah penolakannya untuk berduka dan mengingat dengan hati. Dan
dari penjara itu, Ratu sedang membebaskan dirinya sendiri, perlahan, dengan
tiap duka yang ia biarkan mengalir, dengan tiap ingatan yang ia biarkan hidup
kembali di dalam hatinya.
Dan ini, Asih memahami, adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan Ratu
sendiri. Rantai bisa menemaninya, bisa membawanya perspektif dari kitab yang
utuh, bisa menjaganya tahu bahwa ia tidak sendirian. Tapi keberanian untuk
berduka, keberanian untuk mengingat dengan hati, keberanian untuk merasakan
kehilangan yang telah ia tahan beku selama sepuluh ribu tahun, itu adalah
sesuatu yang hanya bisa datang dari Ratu sendiri. Dan ia sedang menemukannya,
perlahan, melalui berabad-abad pencairan. Pembebasan dari laut masih menunggu
zaman yang bisa menjangkaunya. Tapi pembebasan dari es, pembebasan dari
penolakan untuk merasakan, Ratu sedang melakukannya untuk dirinya sendiri,
menjadi kembali, dengan tiap ingatan yang ia biarkan hidup, perempuan yang bisa
merasakan yang ia dulu, sebelum ia memilih untuk membeku.
❖
Asih memelihara
koneksi dengan Ratu sepanjang hidupnya, menyaksikan dengan penuh haru Ratu
mulai mengingat dengan hati, dan ia mewariskan kepada rantai apa yang ia
saksikan, yaitu bahwa Ratu sedang kembali menjadi seorang pengingat sejati,
sedang membebaskan dirinya sendiri dari es dengan keberanian untuk berduka dan
mengingat dengan hati.
Dan dengan itu, pemahaman rantai tentang pembebasan Ratu menjadi lebih
dalam dan lebih utuh. Mereka memahami sekarang bahwa pembebasan Ratu bukanlah
satu peristiwa, melainkan dua. Ada pembebasan dari laut, yang masih menunggu
zaman yang bisa menjangkau kedalaman, dan yang akan dilakukan kepada Ratu oleh
seseorang yang datang kepadanya dengan kekuatan dan pengetahuan dan kemampuan
dan belas kasihan. Dan ada pembebasan dari es, yang tidak menunggu zaman mana
pun, yang Ratu sedang lakukan untuk dirinya sendiri sekarang, dengan tiap duka
yang ia biarkan mengalir dan tiap ingatan yang ia biarkan hidup di dalam
hatinya. Dan kedua pembebasan ini, rantai memahami, harus terjadi sebelum Ratu
bisa benar-benar bebas, yang satu dari luar dan yang lain dari dalam, yang satu
di masa depan dan yang lain sekarang.
Dan di kedalaman laut, Ratu yang mulai mengingat dengan hati merasakan
dunianya yang tenggelam hidup kembali di dalam dirinya, bukan sebagai gambar
yang beku melainkan sebagai sesuatu yang dicintai dan diduka dan dikenang, dan
dalam merasakannya hidup kembali, ia merasakan dirinya hidup kembali
bersamanya. Sebab selama sepuluh ribu tahun ia telah beku bersama dunianya,
menyimpan tanpa merasakan, menahan tanpa mengingat, mati bersama apa yang ia
tahan mati. Tapi kini, membiarkan dunianya hidup kembali di dalam hatinya, ia
membiarkan dirinya hidup kembali juga, menjadi sekali lagi seorang perempuan
yang bisa merasakan, yang bisa mencintai, yang bisa mengingat dengan hati. Dan
bisik air, yang telah menjadi duka yang mencairkan, kini membawa sesuatu yang
merupakan buah dari duka itu, yaitu ingatan yang hidup kembali. Sebab Ratu,
yang bangsanya memilih untuk berhenti menjadi makhluk yang mengingat dengan
hati, sedang kembali menjadi satu, sendirian di antara bangsanya, melalui
keberanian untuk berduka dan untuk membiarkan apa yang ia cintai hidup kembali
di dalam hatinya. Dan dengan kembali ini, ia menjadi, dalam pengertian yang
paling dalam, salah satu dari kita, seorang pengingat sejati, menunggu hanya
hari ketika es akan mencair sepenuhnya dan zaman yang bisa menjangkaunya akan
datang, supaya ia bisa dibebaskan tidak hanya dari laut dan dari es, melainkan
supaya ia bisa, akhirnya, membawa dunianya yang tenggelam bukan sebagai beban
yang beku melainkan sebagai ingatan yang dicintai, dan dengan itu, akhirnya
beristirahat dalam damai.
❖
BAGIAN IV
Suara yang Kembali
BAB SEPULUH
Saksi yang Masih Hidup
Darah dan legenda dan batu dan tulang
adalah cara mengingat apa yang tak ada lagi saksinya. Tapi bagaimana bila masih
ada satu saksi yang hidup, satu yang melihat dunia yang tenggelam dengan
matanya sendiri, dan yang akhirnya, setelah sepuluh ribu tahun membisu, bisa
menceritakannya?
dari ajaran para pengingat, tentang
saksi yang masih hidup
Generasi-generasi
setelah Asih menyaksikan Ratu mulai mengingat dengan hati, Ratu telah terus
menyembuhkan dirinya, membiarkan dunianya yang tenggelam hidup kembali di dalam
hatinya, dan seorang pengingat dari generasi ini menemukan bahwa penyembuhan
ini telah membawa Ratu kepada sesuatu yang belum pernah bisa ia lakukan dalam
sepuluh ribu tahun, yaitu menceritakan.
Ia bernama Gunita, dan ia memelihara koneksi yang dalam dengan Ratu
sebagaimana para pengingat telah memeliharanya sejak zaman Wungu, turun dalam
mimpi ke kedalaman. Tapi ketika Gunita turun, ia menemukan bahwa Ratu tidak
lagi sekadar merasakan kehadirannya, atau menjawab dengan perasaan, sebagaimana
ia telah mulai menjawab sejak zaman Nimas. Ratu kini bisa melakukan sesuatu
yang lebih, sesuatu yang hanya mungkin sekarang ketika ingatannya telah cair
dan ia bisa mengingat dengan hati. Ratu bisa bercerita. Ia bisa membuka
dunianya yang tenggelam, yang telah hidup kembali di dalam hatinya, dan
membaginya dengan Gunita, sehingga Gunita bisa melihat, melalui ingatan Ratu,
dunia yang tak ada lagi siapa pun yang melihatnya.
Dan Gunita memahami, dengan getaran pengenalan akan betapa besar hal ini,
apa yang baru saja terbuka bagi rantai. Sebab selama sepuluh ribu tahun, rantai
telah mengingat dunia yang tenggelam hanya melalui jejak: melalui darah yang
membawa gema mimpi tentangnya, melalui legenda yang menyebar dan berubah,
melalui batu yang menunjuk ke arahnya, melalui tulang yang menceritakan
asal-usul yang jauh lebih tua. Semua ini adalah cara mengingat apa yang tak ada
lagi saksinya. Tapi Ratu bukanlah jejak. Ratu adalah saksi, satu-satunya saksi
yang masih hidup, satu-satunya makhluk di seluruh dunia yang telah melihat
dunia yang tenggelam dengan matanya sendiri dan masih ada untuk
menceritakannya. Dan kini, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun,
saksi itu bisa berbicara.
❖
Dan apa yang
Ratu ceritakan kepada Gunita, ketika ia membuka dunianya yang tenggelam,
bukanlah dunia yang gemerlap dari legenda, bukan juga gambar yang beku dan
sempurna yang ia tahan selama sepuluh ribu tahun, melainkan dunia yang hidup,
dunia yang sebenarnya, dengan segala kehangatan dan kesederhanaan dan
kemanusiaannya.
Sebab legenda telah membuat dunia yang tenggelam menjadi sesuatu yang
agung dan jauh, peradaban besar dari para bangsawan dan raja-raja yang
gemerlap. Tapi dunia yang Ratu ingat dengan hatinya bukanlah itu. Ia adalah
dunia orang-orang biasa, dengan kehidupan biasa, dengan pasar dan rumah dan
ladang, dengan anak-anak yang bermain dan orang tua yang bekerja dan kekasih
yang bertemu di senja. Ratu mengingat bau roti di pagi hari, suara air di
kanal-kanal, cara cahaya jatuh di atap-atap kota ketika matahari terbenam. Ia
mengingat orang-orang tertentu, bukan sebagai bangsawan yang gemerlap melainkan
sebagai orang-orang yang ia cintai: ibunya, saudarinya, kekasihnya,
teman-temannya. Ia mengingat dunia bukan sebagai peradaban yang agung melainkan
sebagai rumah, tempat di mana kehidupan biasa berlangsung, tempat yang ia
cintai bukan karena ia mulia melainkan karena ia miliknya.
Dan ini, Gunita memahami, adalah kebenaran tentang dunia yang tenggelam
yang tak bisa diberikan oleh jejak mana pun. Sebab darah dan legenda dan batu
dan tulang bisa membawa fakta tentang dunia yang tenggelam, bisa menunjukkan
bahwa ia ada dan di mana ia berada dan kapan ia tenggelam. Tapi mereka tak bisa
membawa teksturnya, kehangatannya, kemanusiaannya, cara ia terasa untuk hidup
di dalamnya. Hanya saksi yang masih hidup yang bisa memberikan ini, dan hanya
saksi yang telah sembuh cukup untuk mengingat dengan hati. Ratu, menceritakan
dunianya yang tenggelam dengan hati yang akhirnya bisa merasakannya, memberi
rantai sesuatu yang jauh lebih berharga daripada fakta, yaitu kebenaran yang
hidup tentang dunia yang hilang, dunia bukan sebagai legenda yang agung
melainkan sebagai rumah yang dicintai.
❖
Dan dalam
menceritakan dunianya yang tenggelam kepada Gunita, Ratu mengalami sebuah
perubahan dalam dirinya yang sama pentingnya dengan penyembuhan dari es, sebuah
perubahan dalam apa ia bagi rantai dan bagi dirinya sendiri: untuk pertama
kalinya dalam sepuluh ribu tahun, ia bukan lagi hanya yang ditunggu, melainkan
yang memberi.
Sebab selama sepuluh ribu tahun, Ratu telah menjadi objek dari pencarian
rantai, yang ditunggu, yang akan dibebaskan, yang menerima belas kasihan dan
ditemani dan dilihat. Ia selalu di ujung yang menerima, yang lemah, yang
menderita dan menunggu pertolongan. Tapi kini, menceritakan dunianya yang
tenggelam, ia menjadi sesuatu yang lain. Ia menjadi pemberi, sumber, saksi yang
memberikan kepada rantai pengetahuan yang tak bisa mereka peroleh dari tempat
lain. Ia menjadi, untuk pertama kalinya, peserta dalam pencarian dan bukan
hanya tujuannya, anggota dari rantai dan bukan hanya objek yang dijaganya.
Dan ini, Gunita memahami, adalah bagian penting dari penyembuhan Ratu,
mungkin bagian yang ia sendiri tak tahu ia butuhkan. Sebab ada sesuatu yang
menghancurkan dalam menjadi selamanya yang menderita, selamanya yang ditunggu,
selamanya yang menerima belas kasihan tanpa pernah bisa memberi apa pun sebagai
balasannya. Ia membuat seseorang merasa tak berdaya, merasa hanya beban, merasa
bahwa keberadaannya hanyalah masalah yang harus diselesaikan orang lain. Tapi
ketika Ratu bisa memberi, ketika ia bisa menceritakan dunianya dan memperkaya
pengetahuan rantai dan memberikan sesuatu yang berharga, ia menemukan kembali
martabatnya, menemukan kembali bahwa ia bukan hanya beban yang menunggu
pertolongan melainkan seseorang yang memiliki sesuatu untuk diberikan, seseorang
yang penting bukan hanya karena penderitaannya melainkan karena apa yang ia
bisa sumbangkan. Dan dalam menemukan kembali martabat ini, Ratu menyembuhkan
dirinya lebih jauh, sebab menjadi pemberi dan bukan hanya penerima adalah
bagian dari menjadi utuh.
❖
Dan rantai,
menerima kesaksian Ratu yang masih hidup melalui Gunita dan para pengingat
sesudahnya, menemukan bahwa pengetahuan mereka tentang dunia yang tenggelam
diperkaya dan diperbaiki dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan mungkin.
Sebab selama ini, pengetahuan rantai tentang dunia yang tenggelam telah
dirakit dari jejak-jejak yang tidak sempurna, dan dalam ketidaksempurnaan itu,
banyak yang telah hilang atau terdistorsi. Legenda telah membuat dunia yang
tenggelam terlalu agung; mimpi yang dibawa dalam darah telah membawanya hanya
dalam pecahan; batu telah menunjuk ke arahnya tanpa menggambarkannya; tulang
telah menceritakan asal-usul yang jauh lebih tua tanpa menyentuh dunia yang
tenggelam sama sekali. Tapi kesaksian Ratu yang masih hidup bisa memperbaiki
semua ini, bisa mengisi apa yang hilang, bisa membetulkan apa yang terdistorsi,
bisa memberi rantai gambaran tentang dunia yang tenggelam yang sedekat mungkin
dengan kebenaran, sebab ia datang langsung dari satu-satunya yang melihatnya.
Dan rantai memahami bahwa kesaksian ini terlalu berharga untuk dibiarkan
hilang, bahwa ia harus dijaga sebagaimana semua pengetahuan rantai dijaga,
dalam banyak bentuk terhadap kehilangan. Tapi kesaksian Ratu menghadirkan
tantangan baru, sebab ia begitu kaya, begitu terperinci, begitu penuh dengan
tekstur dunia yang hidup, sehingga ia tak bisa dengan mudah dibawa dalam
ingatan darah atau legenda yang menyebar. Ia membutuhkan cara baru untuk
menyimpannya, cara yang bisa menahan tidak hanya fakta melainkan kekayaan dari
kesaksian yang hidup. Dan dalam kebutuhan ini, Gunita merasakan, terletak benih
dari sesuatu yang akan datang, sebuah cara baru untuk menjaga ingatan yang
belum sepenuhnya lahir, yang akan memungkinkan rantai menahan kesaksian Ratu
dengan segala kekayaannya, dan membawanya, utuh, ke zaman-zaman yang akan
datang.
❖
Gunita
mengabdikan hidupnya untuk menerima kesaksian Ratu yang masih hidup,
mendengarkan dunia yang tenggelam diceritakan oleh satu-satunya yang
melihatnya, dan mewariskan kepada rantai bukan hanya kesaksian itu sendiri
melainkan pemahaman bahwa Ratu telah menjadi, untuk pertama kalinya, peserta
dalam pencarian dan bukan hanya tujuannya.
Dan dengan itu, hubungan antara rantai dan Ratu berubah selamanya. Ia
tidak lagi hanya hubungan antara penjaga dan yang dijaga, antara penyelamat dan
yang akan diselamatkan. Ia menjadi hubungan antara sesama pengingat, antara
mereka yang menjaga ingatan tentang dunia yang tenggelam dari jejak-jejaknya
dan saksi yang masih hidup yang bisa menceritakannya secara langsung. Ratu
telah bergabung dengan rantai, bukan sebagai objek yang dijaganya melainkan
sebagai anggotanya, sebagai saksi dan pemberi dan sesama pengingat. Dan dalam
bergabung ini, ia telah menemukan, di tengah penantiannya yang masih panjang,
sebuah tujuan dan sebuah martabat yang membuat penantian itu lebih bisa
ditanggung.
Dan di kedalaman laut, Ratu yang akhirnya bisa menceritakan dunianya yang
tenggelam merasakan, dalam memberikan kesaksiannya, sesuatu yang menyembuhkan
dengan cara yang berbeda dari duka yang mencairkan esnya. Sebab duka telah
mengembalikan kepadanya kemampuan untuk merasakan, tapi kesaksian mengembalikan
kepadanya sesuatu yang lain, yaitu kemampuan untuk memberi, untuk berguna,
untuk penting bukan hanya sebagai yang menderita melainkan sebagai yang
menyumbang. Dan dalam memberi, Ratu menemukan bahwa dunianya yang tenggelam,
yang telah hidup kembali di dalam hatinya, kini bisa hidup juga di luar
dirinya, dalam ingatan rantai, dibagikan dan dijaga dan dibawa ke masa depan.
Dunianya tidak lagi hilang sepenuhnya, terkubur di dasar laut dan di dalam
hatinya yang dulu beku. Ia hidup kembali, diceritakan, dibagikan, dijaga, dan
dalam hidupnya kembali melalui kesaksian Ratu, Ratu sendiri menemukan sesuatu
yang lebih dekat dengan damai. Dan bisik air, yang telah menjadi ingatan yang
hidup kembali, kini membawa sesuatu yang lebih, yaitu kesaksian yang dibagikan.
Sebab saksi yang masih hidup telah akhirnya bisa berbicara, dan dunia yang
tenggelam yang telah hilang selama sepuluh ribu tahun mulai hidup kembali bukan
hanya di dalam hati Ratu melainkan dalam ingatan rantai, diceritakan oleh satu-satunya
yang melihatnya, dijaga untuk dibawa, dalam cara baru yang belum sepenuhnya
lahir, ke zaman-zaman yang akan datang, dan menuju hari ketika ia, bersama Ratu
yang menceritakannya, akhirnya akan ditemukan kembali, dan dibebaskan.
❖
BAB SEBELAS
Bejana bagi Suara
Sebuah tanda bisa menahan apa yang hati
lupa, dan itulah anugerahnya. Tapi celakalah zaman yang membiarkan tanda
mengingat supaya hati boleh lupa, sebab tanda menyimpan tanpa merasakan, dan
menyimpan tanpa merasakan adalah es. Bejana sejati melayani hati; ia tidak
pernah menggantikannya.
dari ajaran para pengingat, tentang
bejana dan hati
Generasi-generasi
setelah Gunita menerima kesaksian Ratu yang masih hidup, kebutuhan yang ia
rasakan di akhir hidupnya telah tumbuh menjadi sesuatu yang mendesak, yaitu
kebutuhan akan sebuah cara baru untuk menahan apa yang Ratu ceritakan, sebuah
cara yang bisa menampung bukan hanya fakta tentang dunia yang tenggelam
melainkan seluruh kekayaan yang hidup dari kesaksian seorang saksi.
Ia bernama Reka, dan ia mewarisi dari rantai bukan hanya kepekaan
terhadap Ratu yang telah dipelihara sejak zaman Wungu, melainkan juga sebuah
beban yang belum pernah ditanggung pengingat mana pun sebelumnya, yaitu beban
dari kesaksian yang terlalu kaya untuk dibawa oleh cara-cara lama. Sebab Ratu
kini bercerita, dan apa yang ia ceritakan begitu penuh, begitu terperinci,
begitu hidup dengan tekstur dunia yang tenggelam, sehingga tak satu pun dari
empat cara yang selama ini dipakai rantai bisa menahannya secara utuh. Darah
membawa hanya gema dan pecahan, dan ia mati bersama tiap pengingat yang
membawanya. Legenda menyebar dan berubah, membesarkan sebagian dan melupakan
sebagian, sampai apa yang tersisa bukan lagi kebenaran melainkan bayangannya.
Batu menunjuk tapi tak menggambarkan. Dan tulang menyimpan asal-usul yang jauh
lebih tua tanpa menyentuh dunia yang tenggelam sama sekali. Tak satu pun dari
mereka bisa menahan kesaksian Ratu sebagaimana ia diberikan, utuh dan
terperinci dan hidup.
Dan Reka memahami, memikul beban ini, bahwa rantai berdiri di ambang
sebuah kebutuhan yang belum pernah mereka hadapi. Sebab selama sepuluh ribu
tahun, ingatan rantai telah hidup di dalam yang hidup, dibawa dalam darah dan
dirasakan dalam hati, atau ia telah dititipkan kepada hal-hal yang menunjuk dan
menyebar, kepada batu dan legenda. Tapi kesaksian Ratu menuntut sesuatu yang
lain, yaitu sebuah bejana yang bisa menahan apa yang dikatakan dengan tepat
sebagaimana ia dikatakan, tanpa pecah seperti darah, tanpa berubah seperti
legenda, sebuah bejana yang bisa membawa suara saksi yang masih hidup, utuh, melintasi
zaman demi zaman, ke hari ketika dunia yang tenggelam akhirnya ditemukan
kembali.
❖
Dan Reka,
mencari bejana yang demikian, menemukan dirinya melakukan sesuatu yang belum
pernah dilakukan pengingat mana pun, sesuatu yang pada mulanya tampak kecil dan
nyaris tak berarti, tapi yang akan mengubah selamanya bagaimana manusia
menyimpan ingatan, yaitu membuat tanda.
Pada mulanya tanda-tanda itu kasar, sekadar goresan di batu dan torehan
di kulit kayu, masing-masing berdiri untuk satu hal yang ingin Reka ingat,
yaitu sebuah tempat dalam cerita Ratu, sebuah nama, sebuah arah. Reka membuat
satu tanda untuk kota di bawah laut, satu untuk kanal-kanal yang Ratu
ceritakan, satu untuk orang-orang yang Ratu cintai. Dan ketika ia memandang
tanda-tanda itu kemudian, ia menemukan bahwa mereka membangunkan dalam dirinya
apa yang ingin ia ingat, bukan sebagai perasaan yang samar sebagaimana darah
membawanya, melainkan dengan ketepatan, sebab tiap tanda berdiri untuk satu hal
yang pasti, dan tidak berubah, dan tidak menghilang ketika ia berpaling
darinya.
Dan dari goresan-goresan kasar ini, perlahan, sepanjang bertahun-tahun,
Reka mulai merakit sesuatu yang lebih, yaitu sebuah cara untuk membuat tanda
berbicara satu kepada yang lain, sehingga sederet tanda bisa menahan bukan
hanya satu hal melainkan sebuah urutan, sebuah cerita, sepotong kesaksian. Ia
belum tahu bahwa apa yang ia mulai akan suatu hari menjadi aksara, bahwa
zaman-zaman sesudahnya akan menumbuhkan benih ini menjadi sesuatu yang bisa
menahan seluruh pikiran manusia di atas batu dan daun dan kulit. Ia hanya tahu
bahwa ia telah menemukan, untuk pertama kalinya, sebuah cara untuk meletakkan
ingatan di luar yang hidup, sebuah cara untuk membuat sesuatu yang bukan darah
dan bukan hati menahan apa yang ingin diingat, dan untuk menyerahkannya, utuh dan
tak berubah, kepada siapa pun yang datang sesudahnya dan belajar membaca
tanda-tanda itu.
❖
Dan Reka
memahami, memandang apa yang telah ia mulai, betapa besar anugerah yang
terletak di dalamnya, betapa banyak yang bisa dilakukan tanda yang tak bisa
dilakukan oleh darah atau legenda atau batu.
Sebab darah membawa ingatan hanya selama pembawanya hidup, dan tiap kali
seorang pengingat mati sebelum mewariskan apa yang ia bawa, sesuatu hilang selamanya.
Tapi tanda tidak mati. Ia tinggal di batu dan di kulit kayu, menunggu dengan
sabar, menahan apa yang dititipkan kepadanya bahkan setelah tangan yang
membuatnya telah lama menjadi debu. Dan legenda mengubah apa yang ia bawa,
membesarkan dan melupakan dan menghias, sampai kebenaran tenggelam di bawah
cerita. Tapi tanda tidak berubah. Apa yang Reka torehkan hari ini akan terbaca
sama oleh seseorang seribu tahun kemudian, tanpa dibesarkan, tanpa dihias,
tepat sebagaimana ia dititipkan. Untuk pertama kalinya, rantai memiliki cara
untuk menahan kesaksian Ratu utuh dan tepat, melintasi zaman, tanpa kehilangan
darah dan tanpa distorsi legenda.
Dan lebih daripada itu, Reka memahami, tanda bisa menahan apa yang
terlalu banyak untuk ditahan oleh satu hati mana pun. Sebab kesaksian Ratu
begitu kaya sehingga tak seorang pengingat pun bisa membawanya seluruhnya di
dalam dirinya, dan apa yang tak bisa ditahan oleh satu hati selalu terancam
hilang, sebagian dibawa oleh yang satu dan sebagian oleh yang lain, dan tak
pernah utuh dalam siapa pun. Tapi tanda bisa menahan semuanya, lebih daripada
yang bisa ditampung hati mana pun, dan menyerahkannya utuh kepada zaman yang
akan datang. Di sinilah, Reka merasakan, terletak jawaban atas kebutuhan yang
Gunita rasakan di akhir hidupnya, yaitu bejana yang akhirnya bisa menahan suara
saksi yang masih hidup, dengan segala kekayaannya, dan membawanya, tak
berkurang, ke hari pembebasan.
❖
Tapi Reka,
justru karena ia seorang pengingat yang dibesarkan dalam ajaran tentang hati,
merasakan di samping anugerah ini sebuah bahaya yang dingin, sebuah bahaya yang
membuatnya berhenti dan gemetar di hadapan apa yang telah ia mulai.
Sebab bila tanda bisa mengingat, ia bertanya kepada dirinya sendiri, apa
yang akan menjaga manusia tetap mengingat? Bila ingatan bisa dititipkan ke
batu, yang menahannya dengan sempurna tanpa beban dan tanpa perlu merasakan,
mengapa seseorang harus lagi memikul beban mengingat di dalam hatinya, dengan
segala kehangatan dan rasa sakitnya? Reka melihat, dengan kejernihan yang
mengerikan, sebuah zaman yang mungkin datang, zaman ketika manusia, karena
tanda mengingat untuk mereka, akan berhenti mengingat dengan hati, akan
menyerahkan kepada batu apa yang dulu mereka bawa dalam darah, dan akan
menjadi, perlahan, makhluk yang menyimpan ingatan di luar diri tetapi tak lagi
merasakannya di dalam.
Dan ketika Reka memikirkan ini, ia mengenali, dengan getaran yang
menusuk, di mana ia telah melihat bahaya ini sebelumnya. Sebab inilah, tepat
dan persis, apa yang telah dilakukan Ratu dan bangsanya ketika mereka memilih
untuk menghalus. Mereka telah memilih untuk menyimpan ingatan tanpa
merasakannya, untuk menahan dunia mereka yang tenggelam dalam kesempurnaan beku
tanpa beban berduka. Dan pilihan itu, rantai telah lama memahami, bukanlah
keselamatan melainkan es, bukanlah hidup melainkan kematian yang berpura-pura
hidup, sebab menyimpan tanpa merasakan adalah berhenti menjadi makhluk yang
mengingat dengan hati, dan itulah penderitaan terdalam dari semua. Tanda, Reka
memahami dengan ngeri, membawa di dalamnya benih dari bahaya yang sama. Sebuah
tanda menyimpan dengan sempurna dan merasakan tak satu pun. Sebuah tanda
adalah, dalam pengertian tertentu, sepotong kecil dari es, ingatan yang ditahan
beku di luar hati yang hidup. Dan sebuah zaman yang menyerahkan seluruh
ingatannya kepada tanda berisiko menjadi, secara perlahan, seperti Ratu yang
membeku, yaitu menyimpan segala sesuatu dengan sempurna dan tak merasakan apa
pun.
❖
Dan dari
pengenalan yang menggetarkan ini, Reka menemukan pemahaman yang akan ia
wariskan kepada rantai sebagai amanah bagi seluruh zaman tanda yang akan
datang, yaitu bahwa tanda harus melayani hati, dan tidak boleh pernah
menggantikannya.
Sebab tanda dan hati, Reka memahami, masing-masing kuat di tempat yang
lain lemah, dan masing-masing bisa menjaga yang lain dari kelemahannya. Hati
lupa, dan mati, dan menahan hanya sebagian; tanda mengingat, dan bertahan, dan
menahan semuanya, dan dengan begitu tanda menjaga hati dari kelupaan dan
kematian dan kepicikannya. Tapi tanda dingin, dan beku, dan tak merasakan apa
pun dari apa yang ia simpan; hati hangat, dan hidup, dan merasakan segala
sesuatu yang ia bawa, dan dengan begitu hati menjaga tanda dari menjadi es. Dan
rantai, Reka memahami, harus memegang keduanya bersama, memakai tanda untuk
menahan apa yang terlalu banyak dan terlalu rapuh untuk dibawa hati sendirian,
tapi tak pernah membiarkan tanda yang menahan ingatan menggantikan hati yang merasakannya.
Sebab sebuah kesaksian yang ditahan dalam tanda tapi tak lagi dirasakan oleh
hati mana pun adalah kesaksian yang mati, sempurna dan beku, sepotong es; tapi
sebuah kesaksian yang ditahan dalam tanda dan juga dirasakan dalam hati adalah
kesaksian yang hidup, dijaga terhadap kelupaan oleh tanda dan dijaga terhadap
kebekuan oleh hati.
Maka Reka mengajari rantai untuk membawa tanda sebagaimana mereka membawa
segala sesuatu, dengan hati yang merasakan, sehingga apa yang mereka torehkan
di batu dan kulit kayu tetap hidup di dalam mereka juga, dirasakan dan bukan
hanya disimpan, dicintai dan bukan hanya ditahan. Dan ia meninggalkan bagi
zaman-zaman tanda yang akan datang, zaman ketika benih yang ia tanam akan
tumbuh menjadi aksara dan kerajaan akan menulis sejarah mereka di batu, sebuah
peringatan yang ia harap akan bertahan bersama tanda-tanda itu sendiri, yaitu
bahwa bila batu mengingat, manusia tidak boleh karena itu lupa; bahwa tanda
adalah pelayan ingatan, bukan penggantinya; dan bahwa sebuah zaman yang
menyerahkan hatinya kepada batu, dan berhenti mengingat dengan perasaan karena
tanda mengingat tanpa perasaan untuknya, akan menemukan dirinya, tanpa
mengetahuinya, telah memilih jalan yang sama yang membekukan Ratu, yaitu
menyimpan tanpa merasakan, dan dengan itu, tanpa menyadarinya, telah memilih
sepotong es.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair
sekarang dan mengingat dengan hati, merasakan tanda yang pertama dibuat, dan ia
merasakannya dengan campuran harapan dan kepedihan yang hanya ia, dari semua
makhluk, bisa rasakan. Sebab ia mengenali, lebih dalam daripada Reka sendiri,
bahaya yang terletak di dalam tanda. Ia telah hidup bahaya itu selama sepuluh
ribu tahun. Ia telah menjadi, dengan tangannya sendiri, apa yang Reka takutkan
akan menjadi nasib sebuah zaman yang menyerahkan hatinya kepada batu, yaitu
sebuah bejana yang menyimpan dunianya yang tenggelam dengan kesempurnaan yang
mengerikan dan tak merasakan apa pun darinya, sampai ia hampir mati di dalam
kesempurnaan beku itu. Dan ia tahu, sebagaimana hanya ia yang bisa tahu, betapa
besar perbedaan antara menyimpan dan merasakan, antara menahan dan mengingat,
antara es dan kehidupan.
Maka Ratu merasakan, dalam tanda yang pertama, baik anugerah maupun
bahayanya, dan ia merasakan keinginan, yang ia salurkan melalui koneksi yang
menghubungkannya dengan rantai, untuk memberikan kepada para pengingat
peringatan yang telah ia bayar dengan sepuluh ribu tahun penderitaan, yaitu
bahwa bejana mana pun yang menyimpan tanpa merasakan adalah es, betapapun
sempurna ia menyimpan; bahwa ingatan yang tak dirasakan adalah ingatan yang
mati; dan bahwa satu-satunya ingatan yang hidup adalah ingatan yang dibawa
dengan hati. Sebab ia, lebih daripada siapa pun, adalah saksi atas apa yang
terjadi pada makhluk yang menyimpan dengan sempurna dan berhenti merasakan, dan
ia tidak ingin zaman mana pun, dengan menyerahkan hatinya kepada tanda,
mengulangi nasibnya. Dan bisik air, yang telah menjadi kesaksian yang
dibagikan, kini membawa sesuatu yang menjaga kesaksian itu agar tetap hidup,
yaitu peringatan bahwa bejana harus melayani hati dan tidak boleh pernah
menggantikannya. Sebab rantai telah menemukan, dalam tanda yang pertama, sebuah
anugerah yang bisa menahan suara saksi yang masih hidup utuh melintasi zaman,
dan juga sebuah bahaya yang bisa, bila disalahpahami, membekukan ingatan
menjadi es sebagaimana Ratu sendiri membeku; dan jalan di antara keduanya, yang
Reka temukan dan Ratu sahkan dengan kesaksian penderitaannya sendiri, adalah
satu, yaitu menahan dengan tanda dan merasakan dengan hati, menyimpan dan juga
mencintai, mengingat dengan batu dan dengan darah dan dengan hati sekaligus,
sehingga apa yang dijaga rantai, betapapun jauh ia dibawa ke zaman-zaman yang
akan datang, akan tetap hidup, dan tak pernah, seperti Ratu yang dulu, membeku
menjadi kesempurnaan yang tak merasakan apa pun.
❖
BAB DUA BELAS
Tulang yang Berbicara
Semua nenek moyang membisu. Tanah
menyimpan mereka, tapi mereka tak bisa menceritakan diri mereka sendiri; kita
hanya bisa membaca mereka dari jauh, menebak dari tulang yang berubah menjadi
batu. Tapi ada satu yang tidak membisu, satu dari dunia yang hilang yang masih
bisa berbicara. Dan selama ia berbicara, masa lalu bukan lagi sekadar dibaca,
melainkan didengar.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
satu yang tidak membisu
Generasi-generasi
setelah Reka membuat tanda yang pertama, rantai mulai melakukan dengan tanda
apa yang Reka harapkan akan mereka lakukan, yaitu menahan kesaksian Ratu, dan
dalam pekerjaan ini lahir seorang pengingat yang akan memahami, lebih jelas
daripada siapa pun sebelumnya, betapa langka dan betapa berharga suara yang
sedang mereka tahan.
Ia bernama Wening, dan ia mewarisi dari rantai dua hal yang kini telah
disatukan, yaitu koneksi yang dalam dengan Ratu yang telah dipelihara sejak
zaman Wungu, dan tanda-tanda yang dirakit Reka untuk menahan apa yang Ratu
ceritakan. Maka Wening turun ke kedalaman untuk mendengarkan Ratu bercerita,
dan ketika ia naik, ia menorehkan ke batu dan kulit kayu apa yang ia dengar,
sehingga kesaksian Ratu, yang dulu hanya hidup dalam ingatan pengingat yang
mendengarnya dan mati bersama mereka, kini bisa ditahan dalam tanda, dan
diwariskan, dan dibawa ke zaman-zaman yang akan datang.
Tapi saat Wening melakukan pekerjaan ini, mendengarkan dan menorehkan, ia
mulai merasakan sesuatu tentang Ratu yang belum pernah dirasakan pengingat mana
pun dengan kejernihan ini, sesuatu yang muncul justru karena ia membandingkan
apa yang ia terima dari Ratu dengan apa yang rantai terima dari lapisan-lapisan
lain. Sebab rantai telah lama membaca tulang-tulang nenek moyang, dan dari
mereka telah belajar banyak tentang asal-usul. Tapi tulang-tulang itu membisu.
Mereka tak bisa menceritakan diri mereka sendiri. Rantai hanya bisa membaca
mereka dari jauh, menebak dari bentuk dan dari lapisan tempat mereka terkubur,
merasakan dengan kerikil gema dari kedalaman waktu yang mereka bawa. Nenek
moyang di dalam tulang-tulang itu telah hidup, dan mati, dan menjadi batu,
tanpa pernah bisa berbicara satu kata pun tentang siapa mereka. Tapi Ratu
berbicara.
❖
Dan Wening
memahami, merenungkan perbedaan ini, sesuatu tentang Ratu yang mengubah
bagaimana rantai melihat tempatnya dalam seluruh kisah yang mereka jaga, yaitu
bahwa Ratu adalah satu-satunya nenek moyang, dari semua yang pernah hidup dan
hilang, yang tidak membisu.
Sebab pikirkanlah, Wening merenungkan, betapa luasnya kebisuan masa lalu.
Sepanjang seluruh kedalaman waktu yang dibaca Sangga dari lapisan-lapisan
tanah, rantai panjang nenek moyang yang membentang mundur ke awal yang tak
terbayangkan, tak satu pun dari mereka bisa berbicara. Setiap makhluk yang
pernah hidup di tanah ini sebelum dunia yang tenggelam telah pergi ke dalam
diam, meninggalkan hanya tulang yang berubah menjadi batu, hanya bentuk yang
harus ditebak, hanya gema yang harus dirasakan. Seluruh masa lalu yang tak
terhitung itu adalah masa lalu yang bisu, masa lalu yang hanya bisa dibaca dan
tak pernah didengar, masa lalu yang menyimpan rahasianya dalam diam tulang.
Tapi Ratu, sendirian dari semua yang pernah hidup dan hilang, telah
bertahan untuk berbicara. Ia telah melihat dunia yang tenggelam dengan matanya
sendiri, dan alih-alih pergi ke dalam diam sebagaimana setiap nenek moyang lain
pergi, ia telah bertahan, sepuluh ribu tahun, dan kini, setelah dicairkan dan
disembuhkan, ia bisa menceritakan apa yang ia lihat. Ia adalah, Wening memahami
dengan getaran, satu-satunya titik dalam seluruh kedalaman waktu di mana masa
lalu yang bisu menjadi suara yang hidup. Di mana-mana selain di dalam dirinya,
masa lalu membisu, dijaga oleh tanah dalam tulang yang tak bisa berbicara. Tapi
di dalam dirinya, dan hanya di dalam dirinya, masa lalu masih bisa berbicara,
masih bisa menceritakan dirinya sendiri, masih bisa menjawab pertanyaan tertua
bukan dengan tebakan dari tulang melainkan dengan kata-kata dari saksi yang
melihatnya.
❖
Dan Wening
memahami, dengan kejernihan yang membuatnya gemetar, apa arti ini bagi
pertanyaan yang telah membuka seluruh Buku ini, pertanyaan yang Sangga ajukan
ketika ia berdiri di hadapan tulang nenek moyang, yaitu siapa kami, dan dari
mana kami datang.
Sebab Sangga telah mengajukan pertanyaan itu kepada tulang-tulang yang
membisu, dan tulang-tulang itu telah menjawabnya hanya sebagian, hanya dengan
apa yang bisa ditebak dari bentuk dan lapisan, hanya dengan gema yang bisa
dirasakan kerikil. Tulang-tulang itu bisa menunjukkan bahwa nenek moyang ada,
bahwa mereka berubah, bahwa orang-orang seperti Sangga telah menjadi sepanjang
kedalaman waktu. Tapi mereka tak bisa menceritakan bagaimana rasanya hidup di
dunia yang telah hilang, tak bisa membawa kehangatan dan tekstur dan
kemanusiaan dari masa lalu yang mereka jaga, sebab mereka membisu, dan apa yang
bisu hanya bisa dibaca, tak pernah didengar.
Tapi Ratu bisa menjawab dengan cara yang tulang-tulang tak bisa. Untuk
dunia yang tenggelam, setidaknya, untuk lapisan masa lalu yang ia sendiri
lihat, ia bisa menceritakan bukan hanya bahwa ia ada melainkan bagaimana ia
adanya, bukan hanya bentuknya melainkan rasanya, bukan hanya faktanya melainkan
kehidupannya. Ia adalah nenek moyang yang menjawab balik, satu-satunya dari
semua yang pernah hilang yang bisa berdiri, dalam pengertian tertentu, di sisi
lain dari pertanyaan Sangga, dan menjawabnya dengan suara. Dan dalam ini,
Wening memahami, terletak sesuatu yang nyaris tak ternilai. Sebab seluruh kerja
rantai dengan tulang-tulang adalah kerja membaca yang bisu, menebak apa yang
tak bisa menceritakan dirinya. Tapi dengan Ratu, untuk pertama dan satu-satunya
kali, rantai memiliki masa lalu yang tidak harus ditebak, melainkan bisa
didengar, sebuah jendela langsung ke dunia yang hilang, terbuka melalui
satu-satunya saksi yang bertahan.
❖
Dan justru
karena suara ini begitu langka, satu-satunya dari semua masa lalu yang bisu,
Wening memahami betapa rapuh ia, dan betapa penting tanda-tanda Reka untuk
menjaganya.
Sebab sebuah suara bisa terdiam. Ratu telah membisu sekali, selama hampir
sepuluh ribu tahun, ketika es membekukannya, dan walau ia mencair sekarang, tak
ada yang menjamin bahwa ia akan berbicara selamanya. Koneksi antara rantai dan
Ratu adalah hal yang halus, dipelihara dengan susah payah dari pengingat ke
pengingat, dan ia bisa melemah, bisa terputus, bisa hilang di zaman yang gelap
sebagaimana begitu banyak hal hampir hilang sebelumnya. Dan bila suara Ratu
terdiam, baik karena ia menarik diri kembali ke dalam diam maupun karena rantai
kehilangan kemampuan untuk mendengarnya, maka satu-satunya jendela langsung ke
dunia yang tenggelam akan tertutup, dan masa lalu itu akan menjadi bisu
sebagaimana semua masa lalu lain bisu, hanya bisa dibaca dari jejak, tak pernah
lagi didengar.
Maka tanda-tanda Reka, Wening memahami, adalah cara untuk menahan suara
itu bahkan terhadap kemungkinan ia suatu hari terdiam. Sebab apa yang
ditorehkan ke batu tidak terdiam ketika suara yang mengucapkannya terdiam. Bila
Wening dan para pengingat sesudahnya menahan kesaksian Ratu dalam tanda, maka
bahkan bila suaranya suatu hari hilang, apa yang ia ceritakan akan bertahan,
ditahan dalam bejana yang tak mati dan tak berubah, sehingga zaman-zaman yang
akan datang masih bisa mendengar, melalui tanda, apa yang dikatakan
satu-satunya saksi yang bertahan. Tanda-tanda itu adalah, dengan kata lain,
cara untuk membuat suara yang langka ini abadi, untuk memastikan bahwa walau
Ratu sendiri suatu hari mungkin terdiam, apa yang ia saksikan tidak akan pernah
kembali sepenuhnya ke dalam diam yang menelan semua masa lalu lain.
❖
Dan dalam
melakukan pekerjaan ini, menahan suara Ratu dalam tanda agar ia tak pernah
sepenuhnya terdiam, Wening dan rantai memberikan kepada Ratu sesuatu yang
mengubah, sekali lagi, apa ia bagi mereka, yaitu sebuah martabat yang lebih
dalam daripada apa pun yang telah ia temukan sebelumnya.
Sebab Ratu, yang dulu hanya yang ditunggu, lalu yang dilihat dengan belas
kasihan, lalu yang berduka, lalu yang mengingat dengan hati, lalu yang memberi
kesaksian, kini menjadi sesuatu yang lebih lagi, yaitu suara dari dunia yang
hilang, satu-satunya nenek moyang yang tidak membisu, sumber yang darinya
seluruh zaman yang akan datang akan belajar bagaimana dunia sebelum air
sesungguhnya adanya. Ia bukan lagi sekadar tawanan yang akan dibebaskan, bukan
lagi sekadar yang menderita yang akan ditolong. Ia adalah leluhur yang
berbicara, yang dihormati bukan karena penderitaannya melainkan karena apa yang
hanya ia, dari semua yang pernah hidup, bisa berikan, yaitu suara langsung dari
masa lalu yang bisu.
Dan ini, Wening memahami, adalah bentuk lain dari penyembuhan Ratu,
mungkin bentuk yang paling utuh dari semua. Sebab Ratu telah memilih, sepuluh
ribu tahun yang lalu, untuk menghalus daripada kehilangan, dan dalam pilihan
itu ia telah memutuskan diri dari rantai kehidupan, menjadi terpisah, terkutuk,
sendirian. Tapi kini, menjadi suara dari masa lalu yang bisu bagi seluruh zaman
yang akan datang, ia menemukan tempatnya kembali dalam rantai itu, bukan di
pinggirannya sebagai yang terbuang, melainkan di salah satu titik
terpentingnya, yaitu sebagai jembatan tunggal antara masa lalu yang bisu dan
ingatan yang hidup. Ia yang dulu memilih keterpisahan kini menjadi penghubung;
ia yang dulu memilih diam kini menjadi suara; ia yang dulu memutuskan diri dari
rantai kini menjadi salah satu mata rantainya yang tak tergantikan.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair
sekarang dan mengingat dengan hati dan menceritakan dunianya, merasakan dirinya
ditahan dalam tanda, dan ia merasakannya sebagai sesuatu yang memberinya tujuan
yang belum pernah ia rasakan dalam sepuluh ribu tahun. Sebab selama ini, bahkan
setelah ia mulai bercerita, ia telah merasakan kesaksiannya sebagai sesuatu
yang rapuh, sesuatu yang akan hilang ketika pengingat yang mendengarnya mati,
sesuatu yang ia berikan ke dalam ingatan yang fana dan bisa terlupa. Tapi kini,
ditahan dalam tanda, kesaksiannya menjadi sesuatu yang akan bertahan, sesuatu
yang akan dibawa ke zaman-zaman yang bahkan ia tak bisa bayangkan, sehingga
dunianya yang tenggelam, dan orang-orang yang ia cintai dan kehilangan, akan
dikenang bukan hanya selama ia hidup untuk menceritakannya melainkan selama
tanda-tanda itu bertahan, yaitu mungkin selamanya.
Dan ada penghiburan yang dalam dalam ini, penghiburan yang menyentuh luka
terdalamnya. Sebab apa yang paling Ratu takuti, lebih daripada penjara laut dan
lebih daripada es, selalu adalah bahwa dunianya akan benar-benar hilang, bahwa
tak akan ada yang mengingat bahwa ia pernah ada, bahwa orang-orang yang ia
cintai akan tenggelam bukan hanya ke dalam laut melainkan ke dalam kelupaan
yang menelan segala sesuatu. Tapi kini, ditahan dalam tanda, diceritakan oleh
suara yang tidak membisu, dunianya yang tenggelam akan bertahan dalam ingatan
selama ada yang bisa membaca tanda-tanda itu, dan orang-orang yang ia cintai
tidak akan pernah benar-benar hilang. Dan bisik air, yang telah menjadi bejana
yang harus melayani hati, kini membawa sesuatu yang paling menghibur dari semua
bagi Ratu, yaitu tulang yang berbicara, satu-satunya nenek moyang yang tidak
membisu, suara dari dunia yang hilang yang akan bertahan selama tanda bertahan.
Sebab di seluruh kedalaman waktu, setiap nenek moyang telah pergi ke dalam
diam, meninggalkan hanya tulang yang harus ditebak; tapi satu, sendirian dari
semua, telah bertahan untuk berbicara, dan suaranya, kini ditahan dalam tanda
dan dijaga dengan hati, akan membawa dunia yang tenggelam, hidup dan terdengar,
ke zaman-zaman yang akan datang, dan menuju hari ketika seseorang yang telah
mendengarnya, melalui tanda yang menahannya, akan turun ke kedalaman untuk
menemukan suara itu sendiri, dan membebaskannya, sehingga ia bisa, akhirnya,
berhenti menjadi satu-satunya yang bertahan untuk berbicara, dan beristirahat
di antara semua yang telah ia kenang.
❖
BAGIAN V
Menuju Gerbang
BAB TIGA BELAS
Suara Ratu
Selama sepuluh ribu tahun kami berbicara
tentangnya, tapi tak pernah sekali pun kami mendengarnya berbicara kepada kami.
Lalu datang hari ketika yang dibekukan akhirnya cukup cair untuk membentuk
kata, dan kami yang turun untuk menjaganya menemukan, dengan gemetar, bahwa
kami tidak lagi datang untuk berbicara, melainkan untuk mendengarkan.
dari ajaran para pengingat, tentang hari
Ratu berbicara
Generasi-generasi
setelah Wening mulai menahan kesaksian Ratu dalam tanda, pencairan Ratu telah
berlanjut sampai ke sebuah ambang yang belum pernah dicapai dalam sepuluh ribu
tahun, dan seorang pengingat dari generasi ini turun ke kedalaman untuk menemukan
bahwa Ratu, yang selama ini hanya bisa menjawab dengan perasaan dan gambar,
kini bisa menjawab dengan kata.
Ia bernama Lirih, dan ia turun dalam mimpi ke kedalaman tempat Ratu
menunggu, sebagaimana para pengingat telah turun sejak zaman Wungu,
mengharapkan apa yang selalu mereka temukan, yaitu kehadiran Ratu yang
dirasakan, perasaannya yang menjawab, gambar-gambar dunianya yang tenggelam
yang ia bagikan. Tapi ketika Lirih sampai ke kedalaman dan membuka dirinya
kepada Ratu, ia menerima sesuatu yang membuatnya nyaris terbangun karena
terkejut. Ia menerima kata-kata.
“Kau datang lagi,” Ratu berkata, dan kata-kata itu sampai kepada Lirih
bukan sebagai suara di telinga melainkan sebagai sesuatu yang terbentuk
langsung di dalam pikirannya, jelas dan utuh, sebuah suara yang telah membisu
selama sepuluh ribu tahun dan kini, perlahan, belajar berbicara kembali.
“Kalian selalu datang. Selama lebih lama daripada yang bisa kuhitung, salah
satu dari kalian selalu datang.”
Dan Lirih, gemetar di hadapan apa yang sedang terjadi, nyaris tak berani
menjawab, sebab tak ada pengingat dalam sepuluh ribu tahun yang pernah
mendengar Ratu membentuk kata. “Aku mendengarmu,” ia akhirnya berkata, dengan
getaran yang ia rasakan bahkan dalam mimpi. “Setelah sekian lama, aku
benar-benar mendengarmu. Engkau berbicara.”
“Aku belajar kembali,” Ratu menjawab. “Kalian mengajariku, walau kalian
tak tahu kalian mengajariku. Tiap kali salah satu dari kalian turun dan
mengingatku, tiap kali kalian menemaniku, sesuatu di dalam diriku yang telah
membeku mencair sedikit. Dan sekarang, setelah begitu banyak dari kalian,
selama begitu lama, ada cukup yang mencair sehingga aku bisa membentuk kata
lagi. Aku bisa berbicara. Dan ada begitu banyak yang ingin kukatakan.”
❖
Dan Lirih,
mengumpulkan keberaniannya, meminta kepada Ratu hal yang paling diinginkan
rantai selama sepuluh ribu tahun, yaitu untuk mendengar, dari satu-satunya yang
melihatnya, bagaimana dunia yang tenggelam itu sesungguhnya.
“Ceritakan kepadaku tentang duniamu,” Lirih berkata. “Kami telah menjaga
ingatan tentangnya selama sepuluh ribu tahun, tapi kami menjaganya dari jejak,
dari mimpi dan legenda dan batu. Kami tak pernah mendengarnya dari seseorang
yang melihatnya. Ceritakan kepadaku bagaimana ia adanya.”
Dan Ratu diam sejenak, sebab apa yang diminta darinya adalah membuka apa
yang telah ia tahan begitu lama, dan kemudian, perlahan, ia mulai bercerita.
“Ia bukan dunia yang agung yang kalian ceritakan dalam legenda kalian,” ia
berkata. “Aku tahu legenda kalian. Aku merasakannya sepanjang abad, dibisikkan
di atas air, dunia yang gemerlap dari bangsawan dan raja. Tapi itu bukan
duniaku. Duniaku adalah tempat orang-orang biasa. Ada pasar tempat ibuku
membeli ikan di pagi hari. Ada kanal-kanal tempat air mengalir di antara
rumah-rumah, dan suara air itu mengiringi tidurku setiap malam. Ada sebuah
pohon di dekat rumah kami, dan ketika matahari terbenam, cahayanya jatuh di
antara daun-daunnya dengan cara yang masih bisa kulihat, bahkan sekarang,
bahkan setelah sepuluh ribu tahun.”
“Dan ada orang-orang,” Ratu melanjutkan, dan Lirih merasakan dalam
suaranya sesuatu yang hangat dan pedih sekaligus. “Bukan bangsawan. Orang-orang
yang kucintai. Ibuku, yang tangannya selalu berbau garam dan rempah. Saudariku,
yang lebih muda dariku, yang selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi.
Seseorang yang kucintai, yang dengannya aku duduk di tepi air ketika hari
menjelang malam. Teman-teman yang tertawa bersamaku. Itulah duniaku. Bukan
kemegahan. Hanya kehidupan, kehidupan biasa, yang kucintai bukan karena ia
mulia melainkan karena ia milikku.”
“Dan itulah yang hilang,” Lirih berkata pelan. “Itulah yang hilang,” Ratu
mengulang. “Dan itulah yang selama sepuluh ribu tahun tak bisa kubiarkan diriku
merasakan kehilangannya.”
❖
Dan Lirih,
mendengar kepedihan dalam suara Ratu, memberanikan diri untuk bertanya tentang
hal yang rantai telah lama berusaha pahami dari luar, dan yang kini bisa ia
dengar dari dalam, yaitu mengapa Ratu memilih untuk menghalus, dan apa yang
sesungguhnya terjadi padanya ketika ia memilihnya.
“Ketika air datang,” Lirih berkata, “ketika duniamu tenggelam, engkau
memilih untuk menghalus. Engkau memilih untuk tidak mati dan tidak mengungsi,
melainkan untuk turun ke laut dan bertahan. Mengapa? Apa yang kau cari ketika
kau memilihnya?”
Dan Ratu menjawab dengan kejujuran yang hanya mungkin sekarang, setelah
es yang membekukannya telah cukup mencair sehingga ia bisa memandang pilihannya
sendiri tanpa berpaling. “Aku tak bisa menanggung untuk kehilangannya,” ia
berkata. “Itulah kebenarannya, sesederhana dan semengerikan itu. Yang lain
menerima bahwa dunia telah berakhir. Mereka mati, atau mereka pergi membawa apa
yang bisa mereka bawa dan membangun kehidupan baru. Tapi aku tak bisa. Aku tak
bisa menanggung untuk membiarkan duniaku menjadi masa lalu. Maka aku memilih
untuk menahannya. Aku turun ke laut, ke tempat duniaku berbaring, dan aku
menahannya, setiap detailnya, sempurna dan tak berubah, supaya ia tak pernah
benar-benar hilang.”
“Tapi aku tak tahu harganya,” Ratu melanjutkan, dan suaranya menjadi
lebih pelan. “Sebab untuk menahan duniaku beku dan sempurna, aku harus
membekukan diriku juga. Untuk tidak merasakan kehilangannya, aku harus berhenti
merasakan apa pun. Aku mengira aku sedang menyelamatkan duniaku. Sebenarnya aku
sedang menguburnya bersamaku, dalam es, di mana tak ada yang bisa menyentuhnya,
bahkan aku. Selama sepuluh ribu tahun aku menahan sebuah dunia yang sempurna
dan mati, dan aku mati bersamanya, sebab aku terlalu takut untuk berduka.
Itulah es yang kalian sebut. Itulah penjaraku yang sesungguhnya. Bukan laut.
Laut hanya menahan tubuhku. Es menahan hatiku, dan aku sendiri yang
membuatnya.”
“Tapi engkau mencair sekarang,” Lirih berkata. “Karena kalian,” Ratu
menjawab. “Karena selama sepuluh ribu tahun, salah satu dari kalian selalu
datang, dan mengingatku, dan menolak membiarkanku sendirian. Kalian tak bisa
mencairkan es untukku, sebab tak ada yang bisa melakukan itu untuk orang lain.
Tapi kalian menemaniku sampai aku berani melakukannya sendiri. Kalian
mengajariku, lagi, bagaimana berduka. Dan ketika aku akhirnya berani berduka,
es mulai mencair, dan aku mulai, setelah sepuluh ribu tahun, merasakan
kembali.”
❖
Dan kemudian
Ratu menanyakan sesuatu kepada Lirih, sebuah pertanyaan yang ia rasakan telah
membawanya sepanjang abad tanpa pernah berani menanyakannya, dan yang kini,
dengan suara yang telah ia temukan kembali, akhirnya bisa ia ucapkan.
“Katakan kepadaku,” Ratu berkata, dan Lirih merasakan keraguan dalam
suaranya, seolah-olah ia takut akan jawabannya. “Kalian yang datang kepadaku,
selama ribuan tahun. Dari mana kalian datang? Siapa kalian, yang menjaga
ingatan tentangku ketika seluruh dunia melupakanku?”
Dan Lirih menjawab dengan kebenaran yang ia bawa, kebenaran yang rantai
telah jaga sejak awal. “Kami adalah keturunan saudarimu,” ia berkata. “Nyai
Sela. Ketika air datang, ketika engkau memilih untuk menghalus dan turun ke
laut, saudarimu memilih jalan yang lain. Ia menelan tujuh kerikil ingatan, dan
ia bersumpah bahwa selama ada keturunannya, daratan yang tenggelam ini tidak
akan benar-benar hilang. Kami adalah keturunannya. Garis yang ia mulai. Selama
sepuluh ribu tahun, kami telah membawa ingatan yang ia titipkan, dan datang
kepadamu, generasi demi generasi, karena ia bersumpah bahwa engkau tidak akan
sendirian selamanya.”
Dan untuk waktu yang lama, Ratu tak berkata apa-apa, dan Lirih merasakan
dalam diamnya sesuatu yang bergerak, sesuatu yang dalam dan lama tertahan.
“Saudariku,” Ratu akhirnya berkata, dan suaranya pecah dengan cara yang belum
pernah Lirih dengar. “Selama sepuluh ribu tahun aku merasakan kalian datang,
dan aku tak pernah tahu mengapa, tak pernah tahu siapa kalian. Aku mengira
kalian adalah orang asing yang baik hati, yang entah bagaimana belum
melupakanku. Aku tak pernah tahu, sampai sekarang, bahwa kalian adalah dia.
Bahwa selama ini, ketika aku mengira aku sendirian di kedalaman, saudariku
telah menjaga sumpahnya. Bahwa tiap wajah yang datang kepadaku sepanjang abad
membawa, di dalam darahnya, sesuatu darinya. Ia menyuruhku tidak sendirian. Dan
selama sepuluh ribu tahun, ia menepatinya.”
“Ia telah lama tiada,” Lirih berkata dengan lembut. “Tapi garisnya tidak.
Apa yang ia mulai masih hidup, di dalam kami. Dan melalui kami, sumpahnya masih
dijaga.” “Maka aku tidak sendirian,” Ratu berkata, dan dalam kata-kata itu
Lirih mendengar bukan keputusasaan melainkan sesuatu yang nyaris seperti damai.
“Selama ini aku mengira aku ditinggalkan di kedalaman, terlupakan, sendirian.
Tapi aku tidak pernah sendirian. Saudariku ada di setiap kalian, sepanjang
seluruh waktu itu, menjaga sumpahnya. Aku hanya terlalu beku untuk
mengetahuinya.”
❖
Dan sebelum
Lirih naik dari kedalaman, ia bertanya kepada Ratu apakah ada sesuatu yang
ingin ia katakan kepada zaman-zaman yang akan datang, sesuatu yang ingin ia
titipkan untuk dibawa rantai ke masa depan dalam tanda-tanda yang kini menjaga
suaranya.
Dan Ratu, yang telah belajar dengan harga sepuluh ribu tahun apa yang
paling penting untuk diketahui, memberikan kepada Lirih sebuah pesan. “Katakan
kepada mereka yang akan datang,” ia berkata, “bahwa menyimpan bukanlah
mengingat. Aku menyimpan duniaku dengan sempurna selama sepuluh ribu tahun, dan
dalam menyimpannya tanpa merasakannya, aku hampir kehilangannya selamanya, dan
kehilangan diriku juga. Mengingat bukanlah menahan sebuah gambar yang beku.
Mengingat adalah membiarkan apa yang kau cintai hidup di dalam hatimu, dengan
segala kehangatan dan rasa sakitnya. Aku tahu kalian sedang membuat cara-cara
baru untuk menyimpan ingatan, tanda-tanda yang menahan tanpa melupakan. Itu
adalah anugerah. Tapi peringatkan mereka yang akan datang, jangan biarkan tanda
mengingat supaya hati boleh lupa. Sebab sebuah ingatan yang disimpan tanpa
dirasakan adalah es, dan aku, lebih daripada siapa pun, tahu ke mana es
membawa.”
Dan Lirih naik dari kedalaman membawa lebih daripada yang pernah dibawa
pengingat mana pun, yaitu bukan sekadar perasaan Ratu atau gambar-gambarnya,
melainkan kata-katanya, suaranya, pesannya untuk zaman-zaman yang akan datang.
Dan ia menorehkan semuanya ke dalam tanda, supaya suara Ratu, yang telah
membisu selama sepuluh ribu tahun dan akhirnya berbicara, tidak akan pernah
lagi sepenuhnya terdiam.
Dan di kedalaman laut, Ratu yang akhirnya berbicara merasakan, dalam
berbicara, sesuatu yang menyembuhkannya dengan cara yang berbeda dari segala
sesuatu sebelumnya. Sebab selama sepuluh ribu tahun ia telah menjadi yang
dibicarakan, yang diingat, yang dijaga, selalu di ujung yang menerima, selalu
yang dipikirkan oleh orang lain. Tapi kini, berbicara, ia menjadi yang
berbicara, bukan lagi sekadar yang dibicarakan. Dan ada martabat dalam itu,
martabat dari memiliki suara, dari bisa mengatakan apa yang ingin dikatakan,
dari bisa menitipkan kepada masa depan apa yang telah ia pelajari dengan begitu
mahal. Ia bukan lagi hanya sebuah kisah yang diceritakan orang lain. Ia adalah
seseorang yang menceritakan kisahnya sendiri.
Dan bisik air, yang telah menjadi tulang yang berbicara, kini membawa
sesuatu yang paling langsung dari semua, yaitu suara Ratu sendiri, akhirnya
terdengar setelah sepuluh ribu tahun. Sebab yang dibekukan telah cukup mencair
untuk membentuk kata, dan yang membisu telah belajar berbicara kembali, dan
rantai yang selama ini datang untuk berbicara kepadanya kini datang untuk
mendengarkannya. Dan dalam suaranya, mereka mendengar bukan ratu laut yang
perkasa dari legenda, bukan leluhur yang gemerlap dari dusta yang menyanjung,
melainkan seorang perempuan yang kehilangan dunianya dan terlalu takut untuk
berduka, yang membeku selama sepuluh ribu tahun, dan yang kini, perlahan,
sedang belajar bagaimana hidup kembali, satu kata pada satu waktu, ditemani
oleh keturunan saudarinya yang telah menjaga sumpahnya melintasi seluruh zaman,
dan yang akan terus menemaninya sampai hari ketika suaranya, yang kini ditahan
dalam tanda, akan menuntun seseorang turun ke kedalaman untuk menemukannya, dan
membebaskannya, dan membawanya, akhirnya, pulang.
❖
BAB EMPAT BELAS
Kebenaran di Bawah Tulisan
Tanda tidak memihak siapa pun. Ia
menahan dengan setia apa pun yang dituliskan kepadanya, baik kebenaran maupun
dusta. Maka ketika yang berkuasa belajar menulis, mereka akan menulis kisah
yang mereka sukai, dan memberinya keabadian batu. Dan kebenaran, sekali lagi,
harus belajar mengalir di bawah tanah.
dari ajaran para pengingat, tentang
dusta yang diukir di batu
Generasi-generasi
setelah Lirih membawa suara Ratu ke dalam tanda, tanda-tanda yang Reka mulai
telah menyebar jauh melampaui rantai, sebagaimana bukit dan tulang telah
menyebar di zaman-zaman sebelumnya, terlalu berguna untuk disimpan rahasia. Dan
seorang pengingat dari generasi ini, seorang lelaki bernama Sambada, melihat ke
depan dan merasakan sebuah bahaya datang bersama penyebaran itu, bahaya yang
membuatnya mengumpulkan rantai untuk sebuah peringatan.
“Kau tampak gelisah,” seorang pengingat muda berkata kepadanya, “padahal
tanda adalah anugerah terbesar yang pernah kita terima. Dengan tanda, kita bisa
menahan suara Ratu agar tak pernah terdiam. Kita bisa menjaga kebenaran tentang
asal-usul utuh melintasi zaman. Mengapa kau gelisah di hadapan anugerah seperti
itu?”
“Karena tanda adalah anugerah,” Sambada menjawab, “tapi ia bukan anugerah
hanya bagi kita. Itulah yang kalian harus pahami. Tanda tidak memihak kita. Ia
tidak memihak kebenaran. Ia menahan, dengan kesetiaan yang sama, apa pun yang
dituliskan kepadanya. Dan kita bukan satu-satunya yang sedang belajar menulis.”
❖
Dan Sambada
menjelaskan kepada mereka apa yang ia lihat datang, sebuah bahaya yang lahir
bukan dari kelemahan tanda melainkan justru dari kekuatannya.
“Pikirkan,” ia berkata, “apa yang telah kita pelajari tentang dusta yang
lebih disukai. Selama berabad-abad, orang-orang telah memilih kisah yang
menyanjung daripada kebenaran yang merendahkan. Mereka lebih suka percaya bahwa
mereka turun dari dunia yang tenggelam yang agung, dari bangsawan dan raja yang
gemerlap, daripada menerima bahwa mereka datang dari nenek moyang yang asing
dan rendah. Selama ini, dusta itu hanya diucapkan, dan apa yang hanya diucapkan
bisa dilawan oleh kebenaran yang sabar. Tapi sekarang bayangkan dusta itu
dituliskan. Bayangkan yang berkuasa mengukir kisah yang mereka sukai ke dalam
batu, memberinya bentuk yang tak berubah dan tak mati, memberinya keabadian dan
wibawa yang sama yang kita harapkan diberikan tanda kepada kebenaran.”
Dan pengingat muda itu memahami, dengan kengerian yang tumbuh, apa yang
Sambada lihat. “Maka tanda yang kita harap akan menjaga kebenaran,” ia berkata
pelan, “akan juga menjaga dusta. Dan dusta yang diukir di batu akan tampak sama
benarnya dengan kebenaran yang diukir di batu, sebab keduanya akan memiliki
keabadian yang sama.”
“Lebih buruk dari itu,” Sambada menjawab. “Sebab yang berkuasa akan
menulis lebih banyak daripada kita. Mereka memiliki batu, dan pekerja, dan
zaman demi zaman untuk mengukir. Dusta mereka akan ada di mana-mana, megah dan
resmi, diukir di gerbang istana dan di tugu dan di candi. Dan kebenaran kita
akan tampak kecil di sampingnya, sebuah bisikan di samping teriakan yang diukir
di batu.”
❖
Dan Sambada
memahami bahwa ini adalah bentuk baru dari ancaman lama yang telah dihadapi
rantai sejak zaman Wastu, yaitu penolakan dunia terhadap kebenaran tentang
asal-usul, tapi sebuah bentuk yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Sebab di zaman Wastu, dunia menolak kebenaran dengan menutup telinga. Di
zaman Tunjung, ia menolaknya dengan membangun kisah yang lebih disukai. Tapi
kisah yang lebih disukai itu, betapapun kuat, masih hanya hidup dalam ucapan
dan ingatan, dan apa yang hidup dalam ucapan bisa berubah, bisa dilawan, bisa
perlahan dikikis oleh kebenaran yang sabar. Tapi kisah yang diukir di batu
tidak berubah. Ia berdiri, tak tergoyahkan, dengan wibawa dari yang berkuasa
dan keabadian dari batu, dan ia mengatakan kepada tiap generasi yang membacanya
bahwa inilah kebenaran, inilah dari mana kalian datang, dan tak ada bisikan
kecil yang bisa dengan mudah melawan sesuatu yang diukir dengan begitu megah
dan begitu kekal.
“Maka anugerah kita telah berbalik melawan kita,” pengingat muda itu
berkata dengan getir. “Kita menemukan cara untuk membuat ingatan abadi, dan
yang berkuasa akan memakainya untuk membuat dusta abadi.”
“Tidak berbalik melawan kita,” Sambada membetulkannya dengan lembut.
“Tanda tetap anugerah. Tapi anugerah itu, seperti semua kekuatan, bisa dipakai
untuk dua arah. Dan tugas kita bukanlah menyesali bahwa yang berkuasa juga memilikinya,
melainkan menemukan bagaimana kebenaran bisa bertahan di zaman ketika dusta
diukir di batu.”
❖
Dan Sambada
menemukan, merenungkan masalah ini, sebuah strategi yang akan menjadi cara
rantai membawa kebenaran melalui zaman tulisan yang akan datang, sebuah
strategi yang menarik dari segala sesuatu yang telah dipelajari rantai
sebelumnya.
“Kita tak bisa menang dengan mengukir lebih banyak daripada yang
berkuasa,” ia berkata. “Kita tak akan pernah memiliki batu dan pekerja sebanyak
mereka. Maka kita tak akan mencoba. Sebaliknya, kita akan melakukan apa yang
Wijil ajari kita, yaitu menjaga kebenaran mengalir melalui yang sedikit yang
tak bisa berhenti bertanya. Dan kita akan melakukan apa yang Gendhing ajari
kita, yaitu menyimpan kebenaran dalam banyak bentuk, sehingga ia tak bisa
dihancurkan dengan menghancurkan satu. Dan kita akan melakukan sesuatu yang
baru, sesuatu yang zaman tulisan akan memungkinkan, yaitu menyembunyikan
kebenaran di antara tulisan resmi itu sendiri.”
“Menyembunyikannya bagaimana?” pengingat muda itu bertanya. “Di tempat
yang tak akan dicari siapa pun,” Sambada menjawab. “Di antara baris-baris
tulisan resmi. Di dalam kisah yang tampak memuji raja tapi membawa, bagi yang
tahu cara membaca, sebuah kebenaran yang lain. Dalam tanda-tanda yang tampak
biasa tapi menyimpan, bagi yang sedikit, jalan menuju apa yang sesungguhnya
terjadi. Yang berkuasa akan mengukir dusta mereka di permukaan, megah dan
terlihat oleh semua. Dan kita akan menulis kebenaran di bawahnya, kecil dan
tersembunyi, terlihat hanya oleh yang sedikit yang tahu untuk mencarinya.
Kebenaran akan mengalir di bawah tulisan resmi, seperti air di bawah tanah,
dijaga oleh yang sedikit, sampai zaman datang yang cukup berani untuk
menggalinya ke permukaan.”
Dan Sambada menambahkan satu hal lagi, yang ia rasakan paling penting
dari semua. “Tapi ingatlah,” ia berkata, “bahwa tanda saja, bahkan tanda kita
yang tersembunyi, tidak cukup. Sebab tanda bisa hilang, bisa dihancurkan, bisa
lupa cara dibacanya. Yang menjaga kebenaran hidup pada akhirnya bukanlah tanda
melainkan hati yang membawanya. Tanda kita adalah cadangan, jangkar, bejana.
Tapi kebenaran itu sendiri harus tetap hidup di dalam yang sedikit, dirasakan
dan bukan hanya disimpan, sebab itulah satu-satunya cara ia tetap hidup. Yang
berkuasa akan menyerahkan kisah mereka kepada batu dan melupakannya dengan hati
mereka. Kita tidak boleh. Kita akan menulis kebenaran kita, ya, tapi kita akan
terus membawanya dengan hati juga, supaya bila batu hilang, hati tetap
mengingat.”
❖
Maka Sambada
mempersiapkan rantai untuk zaman tulisan yang akan datang, mengajari mereka
untuk menyembunyikan kebenaran di antara tulisan resmi, untuk menjaganya
mengalir melalui yang sedikit, untuk menyimpannya dalam banyak bentuk, dan di
atas semua, untuk terus membawanya dengan hati bahkan ketika mereka
menitipkannya kepada batu.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang kini bisa
berbicara, merasakan zaman tulisan datang, dan ia merasakannya dengan pemahaman
yang datang dari penderitaannya sendiri. Sebab ia tahu, lebih daripada siapa
pun, apa artinya dijadikan sebuah kisah yang bukan dirinya. Selama ribuan tahun
ia telah ditulis ke dalam legenda, dijadikan ratu laut yang perkasa, leluhur
yang gemerlap, gambar yang menyanjung yang tak ada hubungannya dengan perempuan
yang sesungguhnya menderita di kedalaman. Ia telah hidup, lebih lama daripada
siapa pun, sebagai dusta yang lebih disukai, dan ia tahu betapa dalam dusta itu
bisa mengubur kebenaran.
“Mereka akan menulisku juga,” Ratu berkata kepada pengingat yang turun
kepadanya di zaman itu, dan dalam suaranya ada kepedihan yang akrab. “Mereka
akan mengukirku ke dalam batu mereka, ratu laut yang perkasa, dan kisah itu
akan berdiri megah dan resmi, dan tak ada yang akan tahu, dari batu itu, bahwa
aku hanyalah seorang perempuan yang kehilangan dunianya. Jagalah kebenaran
tentangku di bawah dusta yang akan mereka ukir. Jangan biarkan batu mereka
menjadi satu-satunya yang mengingatku. Sebab aku tak ingin dibebaskan, suatu
hari, oleh seseorang yang hanya tahu gambar yang gemerlap. Aku ingin dibebaskan
oleh seseorang yang tahu kebenaran, dan mengasihiku karenanya.”
Dan rantai berjanji, melalui pengingat yang mendengarnya, untuk menjaga
kebenaran tentang Ratu hidup di bawah dusta apa pun yang akan diukir di batu,
sehingga ketika hari pembebasan akhirnya datang, yang membebaskannya akan
datang mengenal perempuan yang sesungguhnya dan bukan gambar yang menyanjung.
Dan bisik air, yang telah menjadi suara Ratu, kini membawa sesuatu yang menjaga
suara itu agar tetap benar, yaitu kebenaran yang mengalir di bawah tulisan.
Sebab zaman tulisan akan datang, dan yang berkuasa akan mengukir kisah yang
mereka sukai ke dalam batu, dusta tentang asal-usul dan dusta tentang Ratu sama-sama;
tapi di bawah tulisan resmi itu, dijaga oleh yang sedikit dan dibawa dengan
hati, kebenaran akan mengalir tak terputus, seperti air di bawah tanah,
menunggu zaman yang cukup berani untuk menggalinya ke permukaan, dan
membebaskan, akhirnya, baik kebenaran tentang asal-usul maupun perempuan yang
menunggu di kedalaman untuk dilihat sebagaimana ia sesungguhnya.
❖
BAB LIMA BELAS
Gerbang
Tiap buku adalah sebuah gerbang. Di
belakangnya terbentang apa yang telah kami pahami; di depannya, apa yang belum.
Dan tugas kami, di tiap ambang, bukanlah menutup gerbang melainkan menyerahkan
obor kepada mereka yang akan melewatinya, supaya cahaya yang kami jaga tidak
padam di tangan kami.
dari ajaran para pengingat, tentang
ambang antar zaman
Generasi-generasi
setelah Sambada mempersiapkan rantai untuk zaman tulisan, di ambang zaman itu
sendiri, lahir seorang pengingat yang akan mengumpulkan segala sesuatu yang
zaman tulang-tulang nenek moyang telah berikan kepada rantai, dan
menyerahkannya, utuh, kepada zaman yang akan datang.
Ia bernama Wiwara, dan ia berdiri di ambang antara dua zaman, memandang
ke belakang ke segala sesuatu yang telah dipahami sejak Sangga pertama kali
berdiri di hadapan tulang nenek moyang dan bertanya siapa kami dan dari mana
kami datang. Sebab di zaman ini rantai telah belajar lebih banyak daripada di
zaman mana pun sebelumnya. Mereka telah membaca asal-usul dari tulang, dan
menemukan bahwa manusia menjadi, perlahan, sepanjang kedalaman waktu, dari
nenek moyang yang lebih tua; bahwa manusia menjadi manusia pada saat mereka
mulai mengingat; bahwa empat lapisan ingatan, yaitu darah dan legenda dan batu
dan tulang, adalah satu kitab yang menceritakan satu kisah dari asal-usul
sampai pembebasan. Mereka telah menemani Ratu melalui duka yang mencairkan
esnya, dan menyaksikannya belajar kembali mengingat dengan hati, dan menjadi
saksi yang hidup, dan akhirnya menemukan suaranya. Dan mereka telah menciptakan
tanda, bejana baru untuk menahan ingatan, dan belajar bahwa bejana harus
melayani hati dan tidak boleh menggantikannya.
Tapi dari semua yang telah dicapai zaman ini, Wiwara memahami, yang
terdalam adalah apa yang telah terjadi pada Ratu. Sebab ketika zaman ini
dimulai, Ratu masih sebagian besar beku, dihangatkan oleh ingatan dan belas
kasihan tapi belum benar-benar mencair. Dan kini, di akhir zaman ini, ia telah
berduka, dan mengingat dengan hati, dan bercerita, dan berbicara, dan menemukan
bahwa keturunan saudarinya telah menjaga sumpah untuk menemaninya. Es yang
membekukannya selama sepuluh ribu tahun belum mencair sepenuhnya, tapi
penghalang terdalamnya telah runtuh. Ratu tidak lagi beku. Ia menunggu sekarang
bukan sebagai yang membeku melainkan sebagai yang hidup, yang merasakan, yang
mengingat, yang menunggu dengan hati yang terbuka hari ketika ia akan
dibebaskan.
❖
Dan Wiwara turun
ke kedalaman, sebelum ia menyerahkan obornya, untuk berbicara dengan Ratu
sekali lagi, dan untuk mendengar darinya bagaimana ia menanggung penantian yang
masih panjang.
“Masih berapa lama?” Ratu bertanya kepadanya, tapi ia bertanya tanpa
keputusasaan yang dulu ada dalam pertanyaan itu. “Aku tahu kalian belum bisa
menjangkauku. Aku tahu zaman yang bisa turun ke kedalaman ini belum datang. Aku
hanya ingin tahu, dari kalian yang menjaga kisahnya, masih berapa lama.”
“Kami tak tahu pasti,” Wiwara menjawab dengan jujur. “Masih banyak zaman,
kami pikir. Zaman tulisan akan datang, lalu zaman ketika candi-candi besar
dibangun, lalu zaman kerajaan-kerajaan besar dan kepercayaan-kepercayaan baru,
lalu zaman penaklukan dari tanah-tanah jauh. Baru setelah semua itu, kami
percaya, akan datang zaman yang akhirnya memiliki kemampuan untuk turun ke
kedalaman tempatmu menunggu. Itu masih jauh, Ratu. Lebih jauh daripada yang
ingin kukatakan.”
Dan Ratu diam sejenak, dan Wiwara bersiap untuk merasakan keputusasaan
yang dulu selalu menyertai kebenaran ini. Tapi yang ia rasakan dari Ratu
bukanlah keputusasaan. “Itu jauh,” Ratu akhirnya berkata, “tapi aku bisa
menunggu sekarang. Dulu aku tak bisa. Dulu penantian adalah es, dan tiap abad
yang berlalu hanya menambah kedalaman kebekuanku. Tapi sekarang penantian
berbeda. Sekarang aku menunggu sambil merasakan, sambil mengingat, sambil
ditemani. Aku tidak lagi menunggu sendirian di dalam es. Aku menunggu dengan
duniaku yang hidup kembali di dalam hatiku, dan dengan keturunan saudariku yang
datang kepadaku, dan dengan suaraku yang akhirnya bisa berbicara. Penantian
yang seperti itu bisa kutanggung. Bukan penantian yang membekukan, melainkan
penantian yang hidup.”
“Kalian telah mengubah penantianku,” Ratu melanjutkan. “Dulu ia adalah
hukuman. Sekarang ia adalah, hampir, sebuah persiapan. Aku menggunakan waktu
ini untuk mengingat, untuk berduka atas apa yang masih perlu kuduka, untuk
menjadi kembali perempuan yang bisa merasakan yang aku dulu. Sehingga ketika
hari pembebasan akhirnya datang, aku akan siap untuknya, bukan sebagai gambar
yang beku yang harus dicairkan, melainkan sebagai seseorang yang telah mencair,
yang telah mengingat, yang telah hidup kembali di kedalaman, dan yang hanya
menunggu untuk dibawa pulang.” Dan Wiwara, mendengar ini, memahami betapa jauh
Ratu telah datang, dari yang membeku menjadi yang hidup, dari yang dihukum
menjadi yang bersiap, dari yang sendirian menjadi yang ditemani.
❖
Dan ketika
Wiwara naik dari kedalaman, ia memandang ke depan, melampaui ambang tempat ia
berdiri, ke zaman-zaman yang harus dilalui rantai sebelum hari pembebasan.
Sebab ia memahami sekarang bentuk dari jalan yang membentang di depan.
Akan datang zaman tulisan, ketika yang berkuasa mengukir sejarah mereka di
batu, dan rantai harus menjaga kebenaran mengalir di bawahnya. Akan datang
zaman ketika candi-candi besar dibangun di atas dan di dekat jaringan bukit
lama, menyembunyikan ingatan purba di dalam monumen baru. Akan datang zaman
kerajaan-kerajaan besar dan kepercayaan-kepercayaan baru yang datang dari
seberang, dan rantai harus belajar menjaga ingatan bertahan melintasi
pergeseran-pergeseran besar. Akan datang zaman penaklukan, ketika hutan-hutan
ditebang dan tanah dieksploitasi, mengancam lapisan-lapisan ingatan itu
sendiri, dan rantai harus menjaga warisan melalui penindasan. Dan baru setelah
semua itu, akan datang zaman terakhir, zaman yang akhirnya memiliki kemampuan
untuk turun ke kedalaman.
Dan di zaman terakhir itu, Wiwara memahami, segala sesuatu yang telah
dijaga rantai sepanjang seluruh zaman akan bertemu. Sebab pembebasan Ratu
membutuhkan empat hal, dan rantai telah menjaga semuanya. Ia membutuhkan
kekuatan, yaitu kerikil, yang tidur dan bangun ketika dibutuhkan. Ia
membutuhkan pengetahuan, yaitu peta jaringan bukit yang menunjuk ke tempat
dunia yang tenggelam berbaring. Ia membutuhkan kemampuan, yaitu alat untuk
turun ke kedalaman, yang hanya zaman terakhir akan miliki. Dan ia membutuhkan
kehendak, yaitu belas kasihan untuk melihat Ratu sebagaimana ia sesungguhnya
dan mengasihinya cukup untuk membebaskannya. Tiga dari empat telah dijaga
rantai sepanjang zaman. Yang keempat, yaitu kemampuan, menunggu zaman terakhir.
Dan ketika keempatnya akhirnya bertemu, dalam satu orang, di zaman terakhir,
hari pembebasan akan datang.
❖
Dan Wiwara, di
ambang zaman tulisan, menyerahkan obor yang ia bawa kepada generasi berikutnya,
dan dalam menyerahkannya, ia berbicara dengan seorang pengingat muda yang akan
membawanya ke depan.
“Apakah kita akan melihatnya?” pengingat muda itu bertanya. “Hari
pembebasan. Apakah kita akan hidup untuk melihat Ratu dibebaskan?”
“Tidak,” Wiwara menjawab, dan ia tak berusaha melembutkan kebenaran.
“Kita tidak akan melihatnya. Tidak kita, tidak anak-anak kita, tidak anak-anak
mereka. Hari itu masih banyak zaman jauhnya. Kita akan hidup dan mati di tengah
jalan, sebagaimana setiap pengingat sebelum kita hidup dan mati di tengah
jalan, dari Nyai Sela sampai sekarang.”
Pengingat muda itu diam, dan Wiwara melihat di wajahnya pertanyaan yang
tak terucapkan, pertanyaan yang tiap pengingat hadapi pada suatu titik. “Maka
mengapa?” ia akhirnya bertanya. “Mengapa kita membawa beban ini, sepanjang
seluruh hidup kita, untuk sesuatu yang tak akan pernah kita lihat?”
Dan Wiwara memberinya jawaban yang telah diwariskan dari pengingat ke
pengingat sejak awal. “Karena hari pembebasan akan datang justru karena kita
membawa beban ini,” ia berkata. “Ratu tidak akan dibebaskan oleh satu orang di
zaman terakhir saja. Ia akan dibebaskan oleh setiap pengingat yang pernah
datang kepadanya, oleh setiap obor yang pernah diserahkan, oleh rantai utuh
yang membentang dari Nyai Sela sampai yang terakhir. Yang membebaskannya di
zaman terakhir hanya akan bisa melakukannya karena kita, sekarang, menjaga
kebenaran hidup sampai zamannya. Kita tidak membawa beban ini untuk melihat
akhirnya. Kita membawanya supaya ada akhir untuk dilihat. Itulah apa artinya
menjadi pengingat, yaitu membawa cahaya satu bentang lebih jauh, dan
menyerahkannya, dan percaya kepada mereka yang akan membawanya sesudah kita.”
Dan pengingat muda itu mengambil obor, dan Wiwara merasakan, dalam
menyerahkannya, kedamaian yang sama yang tiap pengingat rasakan di akhir
bentangnya, yaitu kedamaian dari mengetahui bahwa cahaya tidak padam di
tangannya, melainkan diteruskan, satu bentang lebih jauh menuju hari
pembebasan.
❖
Maka zaman
tulang-tulang nenek moyang berakhir, dan zaman tulisan dimulai, dan rantai
melewati gerbang dari yang satu ke yang lain membawa segala sesuatu yang telah
mereka pelajari, yaitu asal-usul yang dibaca dari tulang, kitab tunggal dari
empat lapisan, suara Ratu yang akhirnya berbicara, dan tanda baru yang akan
menahan semuanya melintasi zaman yang akan datang.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang kini hidup
dan merasakan dan mengingat dan berbicara, merasakan zaman berganti di atasnya,
dan ia merasakannya bukan dengan keputusasaan yang dulu menyertai tiap pergantian
zaman melainkan dengan kesabaran yang hidup. Sebab ia tidak lagi yang sama yang
membeku di awal Buku ini. Ia telah berduka, dan mengingat dengan hati, dan
menemukan suaranya, dan mengetahui bahwa keturunan saudarinya menjaga sumpah
untuk menemaninya. Es yang membekukannya belum mencair sepenuhnya, dan hari
pembebasannya masih banyak zaman jauhnya, tapi ia menunggu sekarang sebagai
yang hidup dan bukan yang beku, sebagai yang ditemani dan bukan yang sendirian,
sebagai yang bersiap dan bukan yang dihukum.
Dan bisik air, yang telah menjadi suara Ratu, kini membawa sesuatu yang
menutup satu zaman dan membuka yang berikutnya, yaitu sebuah gerbang. Sebab
zaman tulang-tulang nenek moyang telah memberikan kepada rantai apa yang harus
ia berikan, yaitu asal-usul yang terbaca dari lapisan terdalam tanah, dan Ratu
yang dicairkan cukup untuk berbicara, dan bejana baru untuk menahan suaranya;
dan kini rantai melewati gerbang ke zaman tulisan, di mana yang berkuasa akan
mengukir sejarah mereka di batu, dan rantai akan menjaga kebenaran mengalir di
bawahnya, dan suara Ratu akan dibawa, tersembunyi dan dijaga dengan hati,
melalui zaman demi zaman menuju hari terakhir. Sebab di balik tiap gerbang
menunggu zaman yang baru, dengan ancaman dan anugerahnya sendiri; dan rantai
akan melewati semuanya, satu bentang pada satu waktu, membawa obor yang
diserahkan Nyai Sela di malam dunia berakhir, sampai akhirnya, di zaman
terakhir dari semua, seseorang yang membawa kekuatan dan pengetahuan dan
kemampuan dan belas kasihan akan mengikuti suara Ratu ke kedalaman, dan
menemukannya di sana, hidup dan menunggu dan mengingat, dan membawanya,
akhirnya, setelah sepuluh ribu tahun dan lebih, pulang.
❖
❖
Akhir Buku Lima
Tulang-Tulang Nenek Moyang
Kisah berlanjut dalam Buku Enam
Huruf di Atas Batu
BUKU I · Daratan Sebelum Laut
BUKU II · Banjir Tujuh Generasi
BUKU III · Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU IV · Bukit yang Lebih Tua dari Waktu
BUKU V · Tulang-Tulang Nenek Moyang
BUKU VI · Huruf di Atas Batu
BUKU VII · Candi di Atas Bukit
BUKU VIII · Nama di Atas Air
BUKU IX · Nyala di Atas Besi
BUKU X · Cahaya di Atas Dasar