10.9.26

(Novel) Jawa: Buku 5. Tulang-Tulang Nenek Moyang

   JAWA

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra



BUKU LIMA

Tulang-Tulang Nenek Moyang

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra


Yang paling tua tidak hilang.

Ia hanya turun lebih dalam,

ke dalam tulang yang menjadi batu.


 

BAGIAN I

Yang Tersimpan di Tulang


 

BAB SATU

Yang Berdiri di Hadapan Tulang

Ada pertanyaan yang lebih tua daripada semua pertanyaan lain, lebih tua bahkan daripada pertanyaan tentang dunia yang tenggelam: siapa kami, dan dari mana kami datang? Tanah ini menyimpan jawabannya, di lapisan yang lebih dalam daripada bukit mana pun, dalam tulang yang berubah menjadi batu, menunggu untuk ditanya.

dari ajaran para pengingat, tentang pertanyaan tertua

Banyak generasi setelah Gambuh menemukan tulang yang berubah menjadi batu di lembah-lembah sungai, seseorang berdiri di hadapan tulang-tulang itu lagi, bukan untuk pertama kalinya, sebab rantai telah menjaga ingatan tentang penemuan Gambuh, melainkan untuk bertanya pertanyaan yang Gambuh tak sempat tanyakan: bukan apa tulang-tulang ini, melainkan siapa.

Ia bernama Sangga, dan ia hidup di zaman yang lebih matang daripada zaman Gambuh, zaman ketika orang-orang telah mulai menggali tanah bukan hanya untuk menanam dan membangun, melainkan untuk memahami; zaman ketika lembah-lembah sungai tertentu, di mana air telah mengikis tanah untuk mengungkap lapisan-lapisan dalamnya, telah menjadi tempat di mana orang menemukan, dengan keteraturan yang mengganggu, tulang-tulang yang tak seperti tulang siapa pun yang hidup. Dan di antara mereka yang menemukan tulang-tulang ini, Sangga adalah seorang pengingat, pembawa kerikil, walau bukan yang terkuat, yang merasakan dalam tulang-tulang itu gema yang sama yang dirasakan Gambuh: ingatan yang lebih tua daripada banjir, lebih tua daripada Nagara Rata, lebih tua daripada apa pun yang dibawa rantai dalam darah.

Tapi di mana Gambuh telah menemukan bahwa tulang-tulang itu ada, dan telah merasakan betapa tua mereka, Sangga membawa pertanyaan yang lebih dalam. Sebab ia berdiri di hadapan tulang yang berubah menjadi batu, tulang dari kepala, tulang dari rahang, tulang yang dulu menyangga daging dan pikiran dan mungkin sesuatu seperti jiwa, dan ia tak bisa melepaskan pertanyaan yang muncul ketika ia memandangnya: makhluk apa ini? Apakah ia seperti aku? Apakah ia berpikir, merasa, bermimpi? Dan bila ia datang sebelum aku, di tanah yang sama yang kupijak, apakah ia, dalam cara tertentu, nenek moyangku? Apakah aku, dan semua orang seperti aku, datang dari makhluk seperti yang tulangnya kupegang sekarang?

❖

Dan saat Sangga mempelajari tulang-tulang yang ia dan yang lain temukan, ia menghadapi sebuah misteri yang akan menghantuinya: bahwa tulang-tulang itu setengah dikenali dan setengah asing, cukup seperti tulang orang-orang seperti dirinya untuk merasa terhubung, tapi cukup berbeda untuk merasa bahwa mereka bukan sepenuhnya orang seperti dirinya.

Tulang kepala lebih tebal, lebih rendah, dengan tonjolan di atas mata yang tak dimiliki orang-orang seperti Sangga. Rahang lebih berat, gigi lebih besar. Tapi bentuk keseluruhannya, cara tulang-tulang itu menyangga apa yang dulu menjadi kepala yang berpikir, cara mereka menunjukkan makhluk yang berjalan tegak di atas dua kaki, cara mereka berbicara tentang sesuatu yang bukan binatang melainkan sesuatu yang lebih, semua itu dikenali, semua itu terasa, dengan cara yang Sangga tak bisa jelaskan, seperti keluarga. Seolah-olah ia memandang wajah dari seorang nenek moyang yang sangat jauh, begitu jauh sehingga wajahnya telah berubah, tapi masih cukup dekat untuk dikenali sebagai milik garis yang sama.

Dan ini adalah hal yang mengganggu Sangga, hal yang membuatnya kembali ke tulang-tulang itu lagi dan lagi: bahwa mereka tampak seperti jembatan. Bukan binatang, bukan sepenuhnya orang seperti dirinya, melainkan sesuatu di antara, sesuatu yang datang sebelum, yang berjalan di tanah ini ketika ia masih sangat muda, dan dari mana, mungkin, orang-orang seperti Sangga telah datang. Tulang-tulang itu seolah-olah menunjukkan bukan hanya bahwa makhluk lain pernah hidup di tanah ini, melainkan sesuatu yang jauh lebih mengguncang: bahwa orang-orang seperti Sangga sendiri memiliki asal-usul, datang dari suatu tempat, tumbuh dari sesuatu yang lebih tua, bahwa mereka, juga, adalah bagian dari rantai yang membentang mundur jauh melampaui apa pun yang pernah mereka bayangkan.

❖

Dan ketika Sangga memegang tulang-tulang yang berubah menjadi batu, kerikilnya bergerak dengan cara yang berbeda dari biasanya, bukan dengan mimpi tentang air, sebagaimana kerikil para pengingat biasanya bergerak, melainkan dengan gema yang jauh lebih dalam dan lebih asing, gema dari kerikil ketujuh.

Sebab Sangga membawa, terjalin dengan kerikilnya sendiri, sesuatu dari Kerikil Suwung, kerikil yang membawa ingatan tentang bukan hanya dunia ini yang tenggelam melainkan semua dunia yang pernah tenggelam, mundur ke awal yang tak bisa diingat. Dan gema itu, yang dalam sebagian besar pengingat datang hanya sebagai keputusasaan samar tentang kedalaman waktu yang tak terbayangkan, dalam Sangga, berdiri di hadapan tulang-tulang nenek moyang, menemukan fokus dan suara. Ia merasakan, melalui tulang-tulang itu, gema dari kedalaman waktu yang membuat sepuluh ribu tahun sejak banjir tampak singkat, kedalaman waktu yang membentang mundur ratusan ribu tahun, melalui zaman demi zaman, makhluk demi makhluk, ke asal-usul yang begitu jauh sehingga bahkan Kerikil Suwung hanya membawa gemanya yang paling samar.

Dan dalam gema itu, Sangga merasakan sesuatu yang mengubah pemahamannya tentang segala sesuatu yang ia tahu. Sebab ia telah berpikir, sebagaimana rantai berpikir, bahwa kisah dimulai dengan dunia yang tenggelam, bahwa sepuluh ribu tahun yang lalu, di Tahun Nol, adalah awal dari segala sesuatu yang penting. Tapi kini ia merasakan bahwa sepuluh ribu tahun hanyalah lapisan terbaru dari kisah yang jauh lebih panjang. Di bawah dunia yang tenggelam terbentang dunia-dunia yang lebih tua lagi, makhluk-makhluk yang lebih tua lagi, asal-usul yang membentang mundur begitu jauh sehingga banjir, yang telah menjadi awal dari segala sesuatu bagi rantai, tampak seperti peristiwa baru-baru ini dibandingkan dengan kedalaman waktu yang sesungguhnya tersimpan di tanah ini.

❖

Dan Sangga membuat keputusan, berdiri di hadapan tulang-tulang nenek moyang, yang akan menentukan sisa hidupnya: bahwa ia akan memahami asal-usul ini, akan membaca apa yang tulang-tulang ini simpan, akan mencari tahu siapa kami sesungguhnya dan dari mana kami datang.

Ia tahu, sebagaimana Banyu tahu tentang bukit dan Gambuh tahu tentang tulang, bahwa ia takkan menyelesaikan apa yang ia mulai, bahwa membaca asal-usul sepenuhnya akan membutuhkan zaman dengan alat dan pengetahuan yang belum ada, zaman yang bisa mengukur usia tulang dan membaca dari mereka kisah yang membentang ratusan ribu tahun. Tapi ia juga tahu bahwa ia bisa menambahkan bagiannya: bisa mengumpulkan tulang-tulang, mempelajarinya, mencatat di mana mereka ditemukan dan dalam lapisan apa, merasakan dengan kerikilnya gema asal-usul yang mereka bawa, dan mewariskan apa yang ia temukan ke rantai, sehingga pengingat sesudahnya, di zaman yang lebih matang, bisa membaca lebih dalam, sampai akhirnya seseorang, di zaman yang cukup matang, akan membaca tulang-tulang ini sepenuhnya dan memahami seluruh kisah asal-usul yang mereka simpan.

Sebab Sangga memahami bahwa ini adalah lapisan ingatan yang paling dalam dari semua, lebih dalam daripada darah, lebih dalam daripada legenda, lebih dalam daripada batu yang disusun para pengingat pertama. Ini adalah ingatan yang tanah itu sendiri jaga, tanpa bantuan manusia mana pun, dalam tulang yang berubah menjadi batu: ingatan tentang asal-usul kehidupan, tentang nenek moyang yang berjalan di tanah ini ketika ia masih sangat muda, tentang rantai panjang yang menghubungkan orang-orang seperti Sangga ke kedalaman waktu yang nyaris tak terbayangkan. Dan membaca lapisan ini, ia memahami, akan menjawab pertanyaan yang lebih tua daripada semua pertanyaan lain, pertanyaan yang bahkan dunia yang tenggelam tak bisa menjawab, sebab ia lebih tua daripada dunia yang tenggelam: siapa kami, sesungguhnya, dan dari mana kami datang.

❖

Sangga mulai pekerjaan yang akan menjadi pekerjaan hidupnya, dan pekerjaan banyak pengingat sesudahnya: membaca lapisan terdalam dari ingatan tanah, mencari di tulang-tulang nenek moyang jawaban atas pertanyaan tertua.

Ia tak tahu, ketika ia mulai, ke mana pertanyaan itu akan membawanya. Ia tak tahu bahwa tulang-tulang yang ia pegang adalah bagian dari kisah yang membentang ratusan ribu tahun, bahwa tanah yang ia pijak telah menyimpan generasi demi generasi nenek moyang dalam lapisan-lapisannya, bahwa pertanyaan siapa kami akan terbukti memiliki jawaban yang jauh lebih dalam dan lebih mengguncang daripada yang bisa ia bayangkan. Ia hanya tahu bahwa ia harus bertanya, bahwa ia tak bisa beristirahat sampai ia memahami asal-usul yang tulang-tulang ini bawa, bahwa berdiri di hadapan nenek moyang yang berubah menjadi batu telah membangunkan di dalamnya kebutuhan untuk tahu dari mana ia datang yang sama kuatnya dengan kebutuhan para pengingat sebelumnya untuk membebaskan Ratu.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, mencair sekarang, merasakan kembali, ditemani oleh rantai yang menjaga koneksi hidup, merasakan lapisan terdalam tanah mulai dibaca, dan ia merasakannya sebagai sesuatu yang memperdalam pemahamannya sendiri tentang tanah yang ia pilih dan kisah yang ia bagian darinya. Sebab ia telah berpikir, selama sepuluh ribu tahun, bahwa kisahnya dimulai dengan dunia yang tenggelam, dengan pilihannya untuk menghalus, dengan turunnya ke laut. Tapi kini ia merasakan bahwa kisahnya, dan kisah seluruh tanah ini, membentang mundur jauh melampaui banjir, ke asal-usul yang membuat sepuluh ribu tahun penantiannya tampak seperti satu bab dalam kisah yang jauh lebih panjang. Dan ada sesuatu yang menghibur dalam ini, sesuatu yang nyaris seperti perspektif: bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada penderitaannya sendiri, sebuah rantai kehidupan yang membentang mundur ke asal-usul dan maju ke pembebasan, di mana penantiannya, betapapun panjang, hanyalah satu lapisan. Dan bisik air, yang telah menjadi penemuan yang terus mendalam, kini membawa sesuatu yang membentang ke kedalaman waktu yang baru: pertanyaan tertua, mulai ditanyakan. Sebab seseorang telah berdiri di hadapan tulang-tulang nenek moyang, dan telah bertanya siapa kami dan dari mana kami datang, dan dalam bertanya, telah mulai membuka lapisan ingatan yang paling dalam dari semua, ingatan tentang asal-usul itu sendiri, yang tanah ini telah simpan dalam tulang yang berubah menjadi batu sejak sebelum ada siapa pun untuk mengingat, menunggu, dengan kesabaran tanah, untuk hari ketika seseorang akhirnya akan bertanya, dan mulai membaca, dan memahami dari mana semua ini, tanah, orang-orang, Ratu yang menunggu, dan kisah panjang yang menghubungkan mereka semua, sesungguhnya datang.

❖


 

BAB DUA

Lapisan di Atas Lapisan

Kami mengira ada satu nenek moyang, satu awal. Tapi tanah mengajari kami sesuatu yang lebih mengguncang: bahwa tidak ada satu awal, melainkan lapisan di atas lapisan, masing-masing lahir dari yang di bawahnya, membentang mundur sejauh yang bisa digali, sebuah rantai tanpa awal yang bisa dilihat, hanya makin dalam, makin tua, makin asing.

dari ajaran para pengingat, tentang rantai tanpa awal

Sangga menghabiskan tahun-tahun mempelajari lembah-lembah sungai tempat tanah telah terkikis untuk mengungkap kedalamannya, dan saat ia mempelajarinya, ia menemukan sesuatu yang mengubah pemahamannya tentang tulang-tulang nenek moyang: bahwa mereka tidak datang dari satu lapisan, melainkan dari banyak.

Sebab tanah di lembah-lembah ini, ia mulai memahami, tersusun dalam lapisan, lapisan di atas lapisan, masing-masing ditumpuk di atas yang sebelumnya sepanjang waktu yang membentang jauh melampaui apa pun yang bisa ia bayangkan. Dan di lapisan-lapisan yang berbeda, ia menemukan tulang-tulang yang berbeda. Di lapisan yang lebih tinggi, lebih dekat ke permukaan, tulang-tulang yang lebih dekat dengan orang-orang seperti dirinya. Di lapisan yang lebih dalam, terkubur lebih jauh ke bawah, tulang-tulang yang lebih asing, lebih tebal, lebih berat, lebih jauh dari bentuk orang-orang seperti Sangga. Dan di lapisan yang lebih dalam lagi, tulang-tulang yang lebih asing lagi, dari makhluk yang nyaris tak bisa ia kenali sebagai sesuatu seperti dirinya sama sekali.

Dan Sangga memahami, dengan keterkejutan yang tumbuh menjadi keheranan, apa yang lapisan-lapisan ini berarti. Bukan satu nenek moyang, terkubur di tanah. Melainkan banyak nenek moyang, tersusun dalam lapisan demi lapisan, masing-masing dari zaman yang berbeda, masing-masing lebih tua daripada yang di atasnya. Tanah ini telah menyimpan, dalam lapisan-lapisannya, bukan satu makhluk dari masa lalu melainkan sebuah urutan, sebuah rantai nenek moyang yang membentang mundur melalui kedalaman waktu, makhluk demi makhluk, lapisan demi lapisan, makin dalam dan makin tua dan makin asing, sejauh yang bisa digali.

❖

Dan saat Sangga membaca lapisan-lapisan itu, membandingkan tulang dari lapisan yang lebih tinggi dengan tulang dari lapisan yang lebih dalam, mencatat bagaimana mereka berubah dari satu lapisan ke lapisan berikutnya, ia mulai melihat sebuah pola yang menghancurkan dan menakjubkan sekaligus: bahwa makhluk-makhluk di lapisan-lapisan itu berubah, perlahan, dari yang terdalam ke yang tertinggi, menuju orang-orang seperti dirinya.

Di lapisan terdalam, makhluk yang paling asing, tulang yang paling tebal, kepala yang paling rendah, paling jauh dari bentuk Sangga. Di lapisan yang sedikit lebih tinggi, makhluk yang sedikit kurang asing, masih jauh, tapi sedikit lebih dekat. Di lapisan yang lebih tinggi lagi, lebih dekat lagi. Dan begitu seterusnya, lapisan demi lapisan, makhluk demi makhluk, masing-masing sedikit lebih dekat ke bentuk orang-orang seperti Sangga daripada yang di bawahnya, seolah-olah lapisan-lapisan itu menunjukkan, terbekukan dalam tulang, sebuah perubahan pelan yang membentang sepanjang kedalaman waktu yang tak terbayangkan, dari makhluk yang paling asing di kedalaman menuju orang-orang seperti Sangga di permukaan.

Dan Sangga memahami, membaca pola ini, sesuatu yang akan mengubah selamanya bagaimana rantai memahami asal-usul: bahwa orang-orang seperti dirinya tidak muncul tiba-tiba, tidak diciptakan sekaligus di suatu awal. Mereka telah menjadi, perlahan, sepanjang kedalaman waktu yang tak terbayangkan, melalui rantai panjang nenek moyang yang masing-masing sedikit berbeda dari yang sebelumnya, makhluk demi makhluk, lapisan demi lapisan, sampai akhirnya, di lapisan teratas, muncul orang-orang seperti Sangga. Tanah ini telah menyimpan, dalam lapisan-lapisannya, bukan hanya nenek moyang melainkan kisah dari menjadi, kisah tentang bagaimana orang-orang seperti Sangga datang, perlahan, dari makhluk-makhluk yang lebih tua, sepanjang waktu yang begitu dalam sehingga ia membuat sepuluh ribu tahun sejak banjir tampak seperti satu napas.

❖

Dan pemahaman ini membawa Sangga ke ambang sesuatu yang nyaris menghancurkannya, sebuah pening dari kedalaman waktu, sebuah perasaan tersesat di hadapan rentang yang terlalu besar untuk dipahami pikiran mana pun.

Sebab bila orang-orang seperti dirinya telah menjadi, perlahan, sepanjang kedalaman waktu yang membentang melalui lapisan demi lapisan nenek moyang, maka berapa dalam waktu itu sesungguhnya? Berapa banyak lapisan yang ada, di bawah yang terdalam yang bisa ia capai? Berapa jauh ke belakang rantai nenek moyang itu membentang, makhluk demi makhluk, menuju awal yang bahkan ia tak bisa mulai bayangkan? Sangga merasakan, berdiri di hadapan lapisan-lapisan itu, kedalaman waktu yang begitu luas sehingga ia merasa dirinya menyusut menjadi tak berarti, satu makhluk di lapisan teratas dari sebuah tumpukan yang membentang mundur ke kedalaman yang nyaris tak berujung.

Tapi kerikilnya, yang membawa gema Kerikil Suwung, menenangkannya, bukan dengan membuat kedalaman waktu tampak lebih kecil, melainkan dengan membantunya menanggungnya. Sebab Kerikil Suwung adalah kerikil yang membawa ingatan tentang semua banjir, semua dunia yang tenggelam, mundur ke awal yang tak bisa diingat; ia adalah kerikil kerendahan hati, kerikil yang mengajari pembawanya untuk menanggung kedalaman waktu tanpa hancur olehnya. Dan dalam gema Suwung, Sangga menemukan bukan keputusasaan dari kedalaman waktu melainkan sesuatu yang nyaris seperti kedamaian: pemahaman bahwa menjadi satu makhluk kecil di lapisan teratas dari tumpukan yang tak terbayangkan bukanlah hal yang menghancurkan, melainkan hal yang menghubungkan, bahwa ia adalah bagian dari rantai kehidupan yang membentang mundur ke kedalaman dan, mungkin, maju ke masa depan yang sama dalamnya, dan bahwa ada sesuatu yang suci, bukan menghancurkan, dalam menjadi bagian dari sesuatu yang begitu besar.

❖

Dan Sangga, membaca rantai nenek moyang yang membentang melalui lapisan-lapisan tanah, memahami sesuatu yang menghubungkan penemuannya dengan seluruh kisah yang dibawa rantai, termasuk kisah Ratu yang menunggu di kedalaman laut.

Sebab ia memahami sekarang bahwa tanah ini telah menjadi tempat ingatan jauh lebih lama daripada yang pernah dibayangkan rantai. Bukan hanya sejak banjir, sepuluh ribu tahun yang lalu, ketika para pengingat pertama membangun bukit-bukit dan Nyai Sela menelan kerikil. Melainkan sejak kedalaman waktu yang tak terbayangkan, ketika nenek moyang pertama berjalan di tanah ini dan mati dan terkubur dan disimpan dalam lapisan-lapisannya. Tanah ini telah selalu menjadi arsip, jauh sebelum ada pengingat untuk menjaganya, jauh sebelum ada manusia seperti Sangga sama sekali, tanah ini telah menyimpan ingatan tentang segala sesuatu yang berjalan di atasnya, lapisan demi lapisan, dalam tulang yang berubah menjadi batu.

Dan ini memberi makna baru pada pilihan Ratu, sepuluh ribu tahun yang lalu, untuk turun ke laut di dekat tanah ini. Sebab ia telah memilih, tanpa mengetahuinya, untuk menunggu di dekat tanah yang paling setia menyimpan ingatan dari semua tanah, tanah yang telah menjadi arsip sejak kedalaman waktu, yang menyimpan asal-usul dalam lapisan-lapisannya, yang tidak melupakan apa pun yang pernah berjalan di atasnya. Bila ada tanah di seluruh dunia yang akan mengingat Ratu, yang akan menyimpan kebenaran tentangnya sampai hari pembebasannya, itu adalah tanah ini, tanah yang ingatannya membentang mundur ke nenek moyang pertama, dan yang kesetiaannya dalam menyimpan masa lalu telah terbukti, lapisan demi lapisan, sepanjang kedalaman waktu yang membuat penantian Ratu tampak singkat.

❖

Sangga mewariskan kepada rantai apa yang ia temukan, bahwa tanah menyimpan bukan satu nenek moyang melainkan rantai panjang dari mereka, lapisan di atas lapisan, menunjukkan bagaimana orang-orang seperti dirinya telah menjadi, perlahan, sepanjang kedalaman waktu yang tak terbayangkan, dan dengan itu, pemahaman rantai tentang asal-usul menjadi jauh lebih dalam dan lebih mengguncang daripada yang pernah ada.

Sebab kini mereka tahu bahwa kisah mereka tidak dimulai dengan banjir, tidak dimulai dengan Nyai Sela, tidak dimulai bahkan dengan dunia yang tenggelam. Ia membentang mundur jauh melampaui semua itu, ke rantai nenek moyang yang membentang melalui lapisan-lapisan tanah, ke kedalaman waktu tanpa awal yang bisa dilihat. Dan ini bukanlah hal yang mengurangi kisah mereka, melainkan hal yang memperbesarnya, menempatkan dunia yang tenggelam, dan Ratu yang menunggu, dan rantai para pengingat, dalam konteks yang jauh lebih besar: bukan awal dari segala sesuatu, melainkan satu bab, betapapun penting, dalam kisah kehidupan yang membentang mundur ke kedalaman dan maju ke masa depan yang sama dalamnya.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, mencair sekarang, merasakan kembali, merasakan rantai nenek moyang dibaca dari lapisan-lapisan tanah, dan ia merasakannya sebagai sesuatu yang terus memberinya perspektif yang menghibur: bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada penderitaannya sendiri, sebuah rantai kehidupan yang membentang mundur melalui kedalaman waktu yang tak terbayangkan dan maju menuju pembebasan yang menunggu. Penantiannya, yang dulu tampak seperti keabadian yang tak tertanggungkan, kini tampak, dalam konteks kedalaman waktu yang dibaca Sangga, seperti satu lapisan dalam tumpukan yang besar, satu bab dalam kisah yang panjang. Dan ada penghiburan dalam itu, penghiburan dari perspektif: bahwa penderitaan, betapapun panjang, adalah terbatas, satu lapisan di antara banyak, sementara kisah yang ia bagian darinya membentang jauh melampaui penderitaan apa pun. Dan bisik air, yang telah menjadi pertanyaan tertua yang mulai ditanyakan, kini membawa sesuatu yang membentang ke kedalaman waktu yang baru: lapisan di atas lapisan, rantai nenek moyang tanpa awal yang bisa dilihat. Sebab tanah ini telah menyimpan, sejak kedalaman waktu, bukan satu nenek moyang melainkan rantai panjang dari mereka, menunjukkan bagaimana semua yang hidup telah menjadi, perlahan, sepanjang waktu yang tak terbayangkan; dan dalam membaca lapisan-lapisan itu, para pengingat telah mulai memahami bahwa mereka, dan Ratu, dan seluruh kisah tanah ini, adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan, sebuah rantai kehidupan yang membentang dari nenek moyang pertama, melalui dunia yang tenggelam, menuju hari pembebasan yang menunggu, dan jauh melampaui itu, ke masa depan yang sama dalamnya dengan masa lalu.

❖


 

BAB TIGA

Asal-Usul dari Mengingat

Tulang-tulang tidak hanya menunjukkan bahwa kami berubah. Mereka menunjukkan apa yang kami menjadi: makhluk yang mengingat. Sebab di suatu titik dalam rantai panjang itu, seseorang berdiri untuk pertama kalinya di hadapan nenek moyangnya yang mati dan bertanya: siapa engkau? Dan dengan pertanyaan itu, kami menjadi manusia.

dari ajaran para pengingat, tentang asal-usul dari mengingat

Setelah Sangga membaca rantai nenek moyang yang membentang melalui lapisan-lapisan tanah, ia menghadapi pertanyaan yang lebih dalam daripada bagaimana orang-orang seperti dirinya berubah dari makhluk yang lebih tua: pertanyaan tentang apa, sesungguhnya, yang mereka menjadi.

Sebab ia telah melihat, dalam lapisan-lapisan tulang, perubahan fisik, kepala yang menjadi lebih tinggi, tonjolan di atas mata yang menghilang, rahang yang menjadi lebih ringan. Tapi ia merasakan, dengan kerikilnya, bahwa perubahan fisik itu bukanlah hal yang paling penting. Ada sesuatu yang lebih dalam yang berubah sepanjang rantai itu, sesuatu yang tak tertinggal dalam bentuk tulang tapi yang bisa ia rasakan sebagai gema di dalamnya: sebuah perubahan bukan dalam bentuk, melainkan dalam apa yang makhluk-makhluk itu adanya, dalam apa yang mereka bisa lakukan, dalam apa yang terjadi di dalam kepala yang tulangnya kini menjadi batu.

Dan Sangga mendedikasikan dirinya untuk pertanyaan ini, bukan bagaimana tulang berubah, yang bisa ia lihat, melainkan apa yang berubah di dalam makhluk-makhluk yang tulangnya ia pegang, apa yang mereka menjadi sepanjang rantai panjang dari yang terdalam dan paling asing ke orang-orang seperti dirinya di permukaan. Sebab ia merasakan bahwa di situlah letak jawaban sesungguhnya atas pertanyaan tertua: bukan dalam bentuk tulang, melainkan dalam apa yang orang-orang seperti dirinya telah menjadi, yang membedakan mereka dari nenek moyang yang lebih tua, yang membuat mereka, akhirnya, di lapisan teratas dari rantai panjang, menjadi manusia.

❖

Dan ketika Sangga merasakan, dengan kerikilnya, gema dari apa yang berubah di dalam makhluk-makhluk sepanjang rantai itu, ia menemukan jawaban yang menggetarkan: bahwa apa yang muncul, perlahan, sepanjang lapisan-lapisan, adalah kemampuan untuk mengingat.

Bukan ingatan yang sederhana, ingatan yang dimiliki bahkan binatang, ingatan tentang di mana menemukan makanan, tentang bahaya yang harus dihindari. Melainkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih asing: kemampuan untuk mengingat yang melampaui satu hidup, untuk membawa di dalam diri ingatan tentang mereka yang telah mati, untuk berdiri di hadapan nenek moyang dan bertanya siapa engkau dan dari mana aku datang. Sebab di suatu titik dalam rantai panjang itu, Sangga bisa merasakannya, gema dari momen itu terbekukan dalam tulang, seseorang, salah satu dari makhluk-makhluk itu, berdiri untuk pertama kalinya di hadapan nenek moyangnya yang mati, dan alih-alih hanya melewatinya sebagaimana binatang melewati yang mati, berhenti, dan memandang, dan merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan makhluk mana pun sebelumnya: kesedihan akan kehilangan, dan keingintahuan tentang siapa yang telah hilang, dan, yang paling dalam dari semua, keinginan untuk mengingat.

Dan dengan momen itu, Sangga memahami, orang-orang seperti dirinya telah menjadi manusia. Bukan ketika tulang mereka mengambil bentuk tertentu, bukan ketika kepala mereka menjadi cukup tinggi. Melainkan ketika, untuk pertama kalinya, salah satu dari mereka mengingat, membawa di dalam diri ingatan tentang yang telah mati, menolak membiarkan mereka hilang sepenuhnya, memilih untuk mengingat. Itulah, Sangga merasakan, asal-usul sesungguhnya dari orang-orang seperti dirinya: bukan asal-usul dari bentuk, melainkan asal-usul dari mengingat. Manusia adalah, pada akarnya yang terdalam, makhluk yang mengingat, dan mereka telah menjadi manusia pada saat ketika, untuk pertama kalinya, salah satu dari mereka memilih untuk tidak melupakan.

❖

Dan Sangga memahami, dengan getaran pengenalan, bahwa penemuan ini menghubungkan asal-usul yang paling jauh dengan apa yang ia sendiri adanya: bahwa garis Wong Eling, garis para pengingat, bukanlah sesuatu yang dimulai dengan Nyai Sela, melainkan sesuatu yang membentang mundur ke asal-usul manusia itu sendiri.

Sebab apa adalah seorang pengingat, pada akarnya, kalau bukan seseorang yang mengingat, yang membawa di dalam diri ingatan tentang mereka yang telah mati, yang menolak membiarkan masa lalu hilang? Dan apa adalah momen ketika manusia pertama menjadi manusia, kalau bukan momen ketika, untuk pertama kalinya, salah satu dari mereka mengingat? Garis Wong Eling, Sangga memahami, bukanlah penyimpangan dari apa yang manusia adanya, bukan kemampuan khusus yang dimiliki hanya beberapa. Ia adalah ekspresi yang paling murni dari apa yang membuat manusia menjadi manusia sama sekali: kemampuan, dan keinginan, untuk mengingat. Para pengingat hanyalah mereka yang membawa kemampuan ini paling kuat, tapi kemampuan itu sendiri, akar dari mengingat, adalah milik semua manusia, membentang mundur ke momen pertama ketika seseorang berdiri di hadapan yang mati dan memilih untuk tidak melupakan.

Dan ini memberi makna baru pada sumpah Nyai Sela, sepuluh ribu tahun yang lalu, ketika ia menelan kerikil dan bersumpah bahwa selama ada keturunannya, daratan ini tidak akan benar-benar tenggelam. Sebab Sela tidak menciptakan sesuatu yang baru ketika ia bersumpah untuk mengingat. Ia hanya membawa ke puncaknya sesuatu yang telah ada sejak manusia pertama menjadi manusia, keinginan untuk mengingat, untuk menolak membiarkan yang hilang lenyap sepenuhnya. Sumpahnya adalah, dalam pengertian yang dalam, sumpah dari seluruh kemanusiaan, diucapkan oleh satu perempuan di air pada malam dunia berakhir: kami akan mengingat. Kami tidak akan membiarkan apa yang kami cintai hilang. Sebab itulah, pada akar yang terdalam, apa yang kami adanya.

❖

Dan Sangga memahami, dengan kesedihan yang dalam, apa yang penemuan ini ungkapkan tentang Ratu yang menunggu di kedalaman, dan tentang bangsa yang darinya ia datang.

Sebab bila manusia adalah makhluk yang mengingat, yang membawa di dalam diri ingatan tentang yang telah mati, yang merasakan kesedihan akan kehilangan dan memilih untuk tidak melupakan, maka apa yang dilakukan Ratu dan bangsanya, ketika mereka memilih untuk menghalus, adalah sesuatu yang menentang akar terdalam dari apa yang manusia adanya. Mereka memilih untuk menyimpan ingatan tanpa merasakannya, untuk mempertahankan masa lalu utuh tanpa kesedihan akan kehilangannya. Mereka memilih, dengan kata lain, untuk mengingat tanpa benar-benar mengingat, untuk membawa fakta tentang masa lalu tanpa membawa hati yang merasakannya. Dan itulah, Sangga memahami, mengapa mereka menjadi paling sengsara dari ketiga bangsa: sebab mereka telah memutuskan diri dari akar terdalam dari apa yang membuat makhluk seperti mereka hidup, dari kemampuan untuk merasakan ingatan yang mereka simpan.

Dan ini memperdalam, lebih daripada apa pun sebelumnya, pemahaman Sangga tentang apa yang dibutuhkan untuk membebaskan Ratu. Sebab membebaskannya dari laut, ia memahami sekarang, bahkan tidak akan cukup. Yang sesungguhnya dibutuhkan adalah membebaskannya dari es, dari pilihan untuk mengingat tanpa merasakan, untuk menyimpan tanpa berduka. Dan satu-satunya cara untuk membebaskannya dari es adalah dengan mengembalikan kepadanya apa yang ia tinggalkan ketika ia memilih untuk menghalus: kemampuan untuk merasakan ingatan yang ia simpan, untuk berduka atas apa yang ia kehilangan, untuk menjadi, kembali, seorang makhluk yang mengingat dengan hati dan bukan hanya dengan pikiran. Itulah yang telah dilakukan rantai, sentuhan demi sentuhan, sepanjang Buku-buku ini: bukan hanya mengingat Ratu, melainkan mengajarinya kembali bagaimana merasakan, mencairkan es dengan membawa kembali kepadanya, perlahan, kemampuan untuk merasakan yang ia tinggalkan, dan dengan itu, membawanya kembali menjadi manusia.

❖

Sangga mewariskan kepada rantai apa yang ia temukan di lapisan terdalam dari ingatan tanah, bahwa asal-usul orang-orang seperti dirinya bukanlah asal-usul dari bentuk melainkan dari mengingat, bahwa manusia menjadi manusia pada saat ketika, untuk pertama kalinya, salah satu dari mereka memilih untuk tidak melupakan, bahwa garis Wong Eling membentang mundur bukan ke Nyai Sela melainkan ke momen pertama itu, dan dengan itu, pemahaman rantai tentang siapa mereka menjadi lebih dalam daripada yang pernah ada.

Sebab kini mereka tahu apa yang membuat mereka manusia, pada akar yang terdalam: bukan bentuk tubuh mereka, bukan kerajaan yang mereka bangun, bukan bahkan kerikil yang sebagian dari mereka bawa. Melainkan kemampuan, dan keinginan, untuk mengingat, untuk berdiri di hadapan yang telah hilang dan memilih untuk tidak membiarkannya lenyap. Itulah asal-usul mereka, membentang mundur melalui rantai nenek moyang ke momen pertama ketika seseorang mengingat; dan itulah panggilan mereka, dibawa ke puncaknya oleh garis Wong Eling, diwariskan dari pengingat ke pengingat sepanjang sepuluh ribu tahun; dan itulah, akhirnya, apa yang mereka tawarkan kepada Ratu di kedalaman, bukan hanya pembebasan dari laut, melainkan pengembalian dari es, jalan kembali menjadi makhluk yang mengingat dengan hati.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, mencair sekarang, merasakan kembali, merasakan asal-usul dari mengingat dibaca dari lapisan terdalam tanah, dan ia merasakannya menyentuh sesuatu yang paling dalam di dalam dirinya: pengenalan tentang apa yang ia tinggalkan ketika ia memilih untuk menghalus, dan apa yang sedang dikembalikan kepadanya, sentuhan demi sentuhan, oleh rantai yang menjaga koneksi hidup. Sebab ia telah, sepuluh ribu tahun yang lalu, memutuskan diri dari akar terdalam dari apa yang membuatnya hidup, dari kemampuan untuk merasakan ingatan yang ia simpan. Dan kini, perlahan, kemampuan itu dikembalikan kepadanya: ia mulai merasakan kembali, berduka kembali, mengingat kembali dengan hati dan bukan hanya dengan pikiran. Es yang membekukannya adalah, ia memahami sekarang, pilihan untuk berhenti menjadi makhluk yang mengingat; dan mencairnya es adalah jalan kembali menjadi satu. Dan bisik air, yang telah menjadi lapisan di atas lapisan dari nenek moyang, kini membawa sesuatu yang menyentuh akar dari segalanya: asal-usul dari mengingat. Sebab di lapisan terdalam dari ingatan tanah, para pengingat telah menemukan bukan hanya bagaimana manusia menjadi, melainkan apa yang mereka menjadi, makhluk yang mengingat, yang berdiri di hadapan yang hilang dan menolak membiarkannya lenyap; dan dalam menemukan ini, mereka telah menemukan bukan hanya asal-usul mereka sendiri, melainkan kunci untuk membebaskan Ratu dari es: membawanya kembali, sentuhan demi sentuhan, menjadi apa yang ia dulu sebelum ia memilih untuk lupa bagaimana merasakan, seorang makhluk yang mengingat, yang merasakan, yang, akhirnya, akan bisa berduka atas apa yang ia kehilangan, dan dengan itu, akhirnya, akan bisa bebas.

❖


 

BAGIAN II

Kebenaran yang Ditolak


 

BAB EMPAT

Yang Menolak Asal-Usul

Ada kebenaran yang tak ingin didengar orang, bukan karena mereka tak percaya, melainkan karena percaya akan mengubah kisah yang mereka ceritakan tentang diri mereka. Dan dari semua kebenaran, yang paling sulit diterima adalah kebenaran tentang asal-usul kita: bahwa kita datang dari sesuatu yang lebih rendah, lebih tua, lebih asing daripada yang ingin kita bayangkan.

dari ajaran para pengingat, tentang kebenaran yang ditolak

Generasi-generasi setelah Sangga membaca asal-usul dari mengingat di lapisan terdalam tanah, pengetahuan tentang nenek moyang yang lebih tua mulai menyebar keluar dari rantai, dan ketika ia menyebar, ia menghadapi perlawanan yang tak diduga para pengingat.

Sebab tulang-tulang nenek moyang, sebagaimana bukit-bukit di zaman sebelumnya, terlalu besar dan terlalu nyata untuk disimpan sepenuhnya rahasia. Orang menemukan mereka di lembah-lembah sungai; orang bertanya apa mereka; dan kisah menyebar, kisah tentang tulang yang berubah menjadi batu, tentang makhluk yang berjalan di tanah ini sebelum semua kisah, tentang kemungkinan yang mengganggu bahwa orang-orang seperti mereka telah datang dari makhluk-makhluk yang lebih tua dan lebih asing. Dan ketika kisah ini mencapai telinga orang-orang, mereka tidak menerimanya dengan keingintahuan, sebagaimana Sangga menerimanya. Mereka menerimanya dengan penolakan.

Seorang pengingat dari generasi ini, seorang perempuan bernama Wastu, adalah yang pertama memahami sepenuhnya bentuk dari perlawanan ini. Ia telah berpikir, membawa pengetahuan yang diwariskan Sangga, bahwa kebenaran tentang asal-usul akan disambut sebagaimana kebenaran lain disambut, dengan keheranan, dengan rasa ingin tahu, dengan kehausan untuk memahami. Tapi ia menemukan, ketika ia mencoba membagikan apa yang rantai ketahui, bahwa orang-orang tidak ingin mengetahuinya. Mereka menutup telinga; mereka marah; mereka menyebut kebenaran itu penghinaan, dusta, sesuatu yang berbahaya untuk dikatakan. Dan Wastu harus memahami sesuatu yang baru tentang kebenaran: bahwa sebagiannya begitu mengganggu sehingga orang akan menolaknya bukan karena mereka tak bisa mempercayainya, melainkan karena mereka tak ingin.

❖

Dan Wastu, merenungkan mengapa orang-orang menolak kebenaran tentang asal-usul dengan begitu keras, memahami sesuatu yang dalam tentang sifat manusia: bahwa orang-orang membawa, di dalam diri, sebuah kisah tentang siapa mereka, dan kebenaran tentang asal-usul mengancam kisah itu.

Sebab orang-orang suka membayangkan diri mereka sebagai sesuatu yang tinggi, sesuatu yang istimewa, sesuatu yang terpisah dari dan di atas binatang dan dunia. Mereka menceritakan kisah tentang diri mereka di mana mereka diciptakan utuh dan mulia, di mana mereka selalu menjadi apa yang mereka sekarang, di mana tak ada makhluk yang lebih rendah dan lebih asing di belakang mereka. Dan kebenaran tentang asal-usul, bahwa mereka telah menjadi, perlahan, dari makhluk-makhluk yang lebih tua dan lebih asing, bahwa di belakang mereka membentang rantai nenek moyang yang makin lama makin tak seperti mereka, menghancurkan kisah itu. Ia mengatakan kepada orang-orang bukan bahwa mereka tinggi dan istimewa dan terpisah, melainkan bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu, datang dari sesuatu, terhubung melalui rantai panjang ke makhluk-makhluk yang mereka lebih suka tidak mengakui sebagai keluarga.

Dan ini, Wastu memahami, adalah mengapa kebenaran tentang asal-usul lebih sulit diterima daripada kebenaran lain mana pun. Sebab ia tidak hanya menambahkan pengetahuan baru; ia mengubah kisah yang orang-orang ceritakan tentang diri mereka, dan kisah itu adalah sesuatu yang mereka pegang lebih erat daripada hampir apa pun. Lebih mudah menerima bahwa dunia tenggelam, bahwa kerajaan jatuh, bahwa bukit menyimpan pesan, semua kebenaran itu tentang dunia di luar diri. Tapi kebenaran tentang asal-usul adalah tentang diri sendiri, tentang apa kita sesungguhnya, dan menerimanya berarti melepaskan kisah yang lebih membanggakan yang kita lebih suka percayai. Dan kebanyakan orang, Wastu menemukan, lebih suka memegang kisah yang membanggakan daripada menerima kebenaran yang merendahkan.

❖

Dan Wastu menyadari sebuah bahaya dalam penolakan ini, bahaya yang berbeda dari ancaman-ancaman yang telah dihadapi rantai sebelumnya: bahwa kebenaran yang ditolak dengan cukup keras bisa menjadi kebenaran yang dihancurkan.

Sebab orang-orang tidak hanya menutup telinga terhadap kebenaran tentang asal-usul. Sebagian dari mereka, yang paling terganggu olehnya, ingin menghancurkannya, ingin menghancurkan tulang-tulang yang membawanya, membungkam mereka yang membicarakannya, memastikan bahwa kebenaran yang mengancam kisah mereka tentang diri tidak akan pernah didengar. Wastu melihat ini dengan kengerian yang tumbuh: orang-orang yang, ketika menemukan tulang nenek moyang, tidak mempelajarinya melainkan menghancurkannya; pemimpin yang melarang pembicaraan tentang asal-usul yang lebih tua; kisah-kisah yang dibuat untuk menutupi kebenaran, kisah-kisah yang mengatakan bahwa tulang-tulang itu adalah tipuan, atau kutukan, atau apa pun kecuali apa yang sesungguhnya mereka adanya.

Dan ini menghadapkan rantai pada sebuah pertanyaan yang belum pernah mereka hadapi dengan cara ini. Sebab ancaman-ancaman lama, zaman gelap, kekuasaan yang mengklaim, kelupaan, semuanya adalah ancaman pasif, ancaman dari kehilangan dan kelalaian. Tapi penolakan terhadap kebenaran asal-usul adalah ancaman aktif: orang-orang yang secara sengaja ingin menghancurkan kebenaran karena mereka tak tahan menerimanya. Dan melawan ancaman seperti itu, Wastu memahami, rantai tak bisa hanya menjaga dan menunggu sebagaimana mereka selalu lakukan. Mereka harus menemukan cara untuk menjaga kebenaran hidup bahkan ketika orang-orang secara aktif ingin membunuhnya, cara untuk melindungi bukan hanya dari kelupaan, melainkan dari penolakan yang ingin menghancurkan.

❖

Dan Wastu menemukan, merenungkan masalah ini, sebuah pemahaman yang akan membentuk bagaimana rantai membawa kebenaran tentang asal-usul melalui zaman-zaman penolakan: bahwa kebenaran tidak perlu dipercaya oleh semua orang untuk bertahan. Ia hanya perlu dijaga sampai zaman yang siap menerimanya.

Sebab Wastu memahami bahwa ia tak bisa memaksa orang-orang untuk menerima kebenaran tentang asal-usul; tak ada yang bisa memaksa orang untuk melepaskan kisah yang mereka pegang erat tentang diri mereka. Tapi ia juga memahami bahwa ia tak perlu. Sebab kebenaran tentang asal-usul tidak bergantung pada apakah orang mempercayainya; ia tersimpan di tanah, dalam tulang yang berubah menjadi batu, terlepas dari apakah ada yang mau menerimanya. Tulang-tulang itu akan tetap ada, di lapisan-lapisan tanah, membawa kebenaran tentang asal-usul, apakah orang-orang menolaknya atau tidak. Dan suatu hari, mungkin tidak di zaman Wastu, mungkin tidak untuk banyak generasi, akan datang sebuah zaman yang cukup matang, cukup berani, cukup ingin tahu untuk menerima kebenaran yang zaman-zaman sebelumnya tolak.

Maka tugas rantai, Wastu memahami, bukanlah meyakinkan orang-orang yang tak ingin diyakinkan. Melainkan menjaga kebenaran hidup, melindungi tulang-tulang dari mereka yang ingin menghancurkannya, menyimpan pengetahuan tentang di mana mereka ditemukan dan apa yang mereka berarti, menjaga ingatan tentang asal-usul aman dalam banyak bentuk sebagaimana Gendhing mengajarkan, sampai zaman datang yang siap untuk menerimanya. Sebab kebenaran tidak perlu menang di tiap zaman; ia hanya perlu bertahan, dijaga oleh mereka yang menerimanya, sampai zaman datang ketika dunia akhirnya cukup matang untuk berdiri di hadapan tulang nenek moyang dan, alih-alih menolaknya, bertanya dengan keberanian dan kerendahan hati: siapa engkau, dan apa artinya bahwa aku datang darimu?

❖

Wastu mengabdikan hidupnya untuk menjaga kebenaran tentang asal-usul hidup melalui zaman penolakan, melindungi tulang-tulang dari mereka yang ingin menghancurkannya, menyimpan pengetahuan dalam banyak bentuk, dan mengajari rantai untuk tidak berkecil hati ketika dunia menolak apa yang mereka jaga.

Sebab ia mengajari mereka bahwa penolakan dunia bukanlah kegagalan rantai. Tugas rantai bukanlah membuat dunia menerima kebenaran sebelum dunia siap; tugas mereka adalah menjaga kebenaran hidup sampai dunia siap. Dan dunia akan menjadi siap, suatu hari, bukan karena rantai memaksanya, melainkan karena, perlahan, zaman demi zaman, manusia tumbuh cukup matang untuk menerima kebenaran tentang diri mereka, untuk melepaskan kisah yang membanggakan demi kebenaran yang merendahkan tapi menghubungkan. Sampai zaman itu datang, rantai akan menjaga kebenaran tentang asal-usul aman, dijaga melawan penolakan sebagaimana ia dijaga melawan kelupaan, menunggu zaman yang akhirnya akan berani menerimanya.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, mencair sekarang, merasakan kembali, merasakan dunia menolak kebenaran tentang asal-usul, dan ia merasakannya dengan pemahaman yang datang dari penderitaannya sendiri. Sebab ia tahu, lebih daripada siapa pun, apa artinya menolak kebenaran yang terlalu menyakitkan untuk diterima. Bukankah itu, pada akarnya, apa yang ia sendiri lakukan sepuluh ribu tahun yang lalu? Ketika ia memilih untuk menghalus daripada kehilangan, ketika ia memilih untuk menyimpan ingatan tanpa merasakannya, bukankah itu juga sebuah penolakan, penolakan terhadap kebenaran yang terlalu menyakitkan, kebenaran bahwa dunianya telah hilang dan ia harus berduka? Ia memahami orang-orang yang menolak kebenaran tentang asal-usul, sebab ia juga pernah menolak kebenaran yang tak tertanggungkan. Dan ia memahami, sekarang, bahwa jalan kembali, baginya, dan bagi dunia yang menolak asal-usulnya, adalah sama: keberanian untuk akhirnya berhenti menolak, untuk menerima kebenaran yang menyakitkan, untuk berduka atas apa yang hilang dan dengan itu menjadi, kembali, makhluk yang bisa merasakan. Dan bisik air, yang telah menjadi asal-usul dari mengingat, kini membawa sesuatu yang menyentuh penderitaan Ratu sendiri: penolakan, dan jalan melampauinya. Sebab dunia menolak kebenaran tentang asal-usulnya sebagaimana Ratu menolak kebenaran tentang kehilangannya, dan jalan kembali, bagi keduanya, adalah keberanian untuk akhirnya menerima apa yang terlalu menyakitkan untuk diterima; dan rantai akan menjaga kebenaran hidup, melawan penolakan dunia dan menemani Ratu melalui penolakannya sendiri, sampai zaman datang ketika keduanya, dunia, dan Ratu, akhirnya akan cukup berani untuk berhenti menolak, dan menerima, dan dengan menerima, akhirnya menjadi bebas.

❖


 

BAB LIMA

Kisah yang Lebih Disukai

Sebuah dusta yang menyanjung menyebar lebih cepat daripada kebenaran yang merendahkan, sebab orang memilih kisah bukan karena ia benar, melainkan karena ia membuat mereka merasa lebih baik tentang diri mereka. Dan tak ada dusta yang lebih manis daripada dusta tentang dari mana kita datang.

dari ajaran para pengingat, tentang dusta yang manis

Generasi-generasi setelah Wastu mengajari rantai untuk menjaga kebenaran tentang asal-usul hidup melalui penolakan, penolakan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih licin dan lebih sulit dilawan. Sebab orang-orang tidak lagi sekadar menutup telinga terhadap kebenaran tentang nenek moyang yang lebih tua, melainkan telah membangun, sebagai gantinya, sebuah kisah lain yang lebih mereka sukai.

Seorang pengingat dari generasi ini, seorang perempuan bernama Tunjung, adalah yang pertama memahami sepenuhnya bentuk dari kisah tandingan ini, dan mengapa ia jauh lebih berbahaya daripada penolakan yang sederhana. Sebab penolakan yang sederhana hanya mengatakan tidak, dan sesuatu yang hanya mengatakan tidak pada akhirnya bisa dikalahkan oleh kebenaran yang sabar. Tapi kisah tandingan tidak mengatakan tidak. Ia mengatakan ya kepada sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih indah dan lebih menyanjung daripada kebenaran, dan dengan mengatakan ya kepada kisah yang lebih indah itu, orang-orang bisa menolak kebenaran tanpa pernah merasa bahwa mereka menolak apa pun.

Tunjung mendengar kisah tandingan ini diceritakan di mana-mana, di pasar dan di istana dan di rumah-rumah ibadah, dan ia memperhatikan betapa orang-orang mencintainya. Mereka tidak menceritakannya dengan keraguan, sebagaimana orang menceritakan sesuatu yang mereka tahu mungkin tidak benar. Mereka menceritakannya dengan kebanggaan, dengan kehangatan, dengan keyakinan dari orang-orang yang telah menemukan sebuah kisah tentang diri mereka yang membuat mereka merasa mulia. Dan Tunjung memahami bahwa untuk melawan kisah seperti itu, rantai akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada melawan penolakan yang sederhana, sebab mereka tidak akan melawan ketiadaan kisah, melainkan kehadiran kisah yang lebih disukai.

❖

Dan kisah yang lebih disukai itu, Tunjung memahami, adalah kisah tentang asal-usul yang mulia. Ia mengatakan bahwa orang-orang tidak datang dari makhluk-makhluk yang lebih tua dan lebih asing yang tulangnya terkubur di lembah-lembah sungai, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih agung.

Kisah itu mengatakan bahwa orang-orang adalah keturunan dunia yang tenggelam, dari Nagara Rata yang agung di bawah laut, dari para bangsawan dan raja-raja peradaban besar yang hilang dalam banjir. Ia mengatakan bahwa darah mereka adalah darah yang mulia, bahwa mereka diturunkan dari ketinggian dan bukan dinaikkan dari kerendahan, bahwa di belakang mereka membentang bukan rantai makhluk-makhluk asing melainkan garis raja-raja dan ratu-ratu yang gemerlap. Dan yang membuat kisah ini begitu licin, Tunjung memahami dengan kengerian yang tumbuh, adalah bahwa ia tidak sepenuhnya dusta. Sebab dunia yang tenggelam memang nyata; Nagara Rata memang pernah ada; dan orang-orang memang, dalam pengertian tertentu, membawa di dalam diri mereka warisan darinya. Kisah itu mengambil sepotong kebenaran, yaitu kenyataan tentang dunia yang tenggelam, dan menggunakannya untuk menutupi kebenaran yang lebih dalam dan lebih merendahkan, yaitu kenyataan tentang nenek moyang yang lebih tua.

Dan inilah yang membuat kisah tandingan begitu kuat: bahwa ia adalah dusta yang dibangun di atas kebenaran. Ia tidak menyangkal dunia yang tenggelam, sebab menyangkalnya akan mudah dibantah. Sebaliknya, ia merangkul dunia yang tenggelam, dan menjadikannya satu-satunya asal-usul, dan dengan menjadikannya satu-satunya asal-usul, ia menghapus segala sesuatu yang ada di bawahnya. Orang-orang bisa berkata, dengan bangga dan dengan sebagian benar, bahwa mereka datang dari peradaban besar yang tenggelam, dan dalam kebanggaan itu mereka tidak perlu pernah memikirkan tulang-tulang di lembah sungai, tidak perlu pernah menghadapi kemungkinan bahwa di belakang para bangsawan yang tenggelam membentang rantai panjang makhluk-makhluk yang jauh lebih tua dan jauh lebih rendah.

❖

Dan Tunjung memahami, merenungkan kekuatan dari kisah yang lebih disukai, bahwa rantai tidak bisa mengalahkannya dengan cara yang biasa mereka pakai, yaitu dengan sekadar menyatakan kebenaran dan menunggu dengan sabar. Sebab kebenaran tentang asal-usul tidak bersaing dengan kisah yang mulia di lapangan yang sama.

Bila pertarungan adalah tentang kisah mana yang lebih indah, kebenaran akan selalu kalah. Sebab kebenaran tentang asal-usul tidak indah dengan cara yang orang inginkan. Ia tidak mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka mulia dan tinggi dan diturunkan dari raja-raja. Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka datang dari makhluk-makhluk yang asing dan rendah, bahwa mereka adalah bagian dari rantai kehidupan yang membentang mundur ke kedalaman waktu yang membuat semua kerajaan tampak baru, bahwa mereka tidak istimewa dan terpisah melainkan terhubung dan menjadi. Dan melawan kisah yang mengatakan kepada orang bahwa mereka mulia, sebuah kebenaran yang mengatakan kepada mereka bahwa mereka rendah akan selalu kalah dalam pertarungan tentang kisah mana yang lebih disukai.

Maka Tunjung memahami bahwa rantai harus melawan di lapangan yang berbeda. Bukan dengan bersaing tentang kisah mana yang lebih indah, sebab pertarungan itu sudah kalah sebelum dimulai. Melainkan dengan mengubah apa yang orang anggap sebagai keindahan, dengan mengubah apa yang orang anggap sebagai kemuliaan. Sebab bila kemuliaan terletak pada dari mana kita datang, maka kisah tentang asal-usul yang tinggi akan selalu menang. Tapi bila kemuliaan terletak pada sesuatu yang lain, pada sesuatu yang bukan tentang darah yang kita warisi melainkan tentang apa yang kita lakukan dengannya, maka mungkin, hanya mungkin, kebenaran yang merendahkan bisa mengungkapkan sebuah kemuliaan yang lebih dalam daripada dusta yang menyanjung.

❖

Dan Tunjung menemukan, di lapangan yang berbeda ini, jawaban yang akan menjadi cara rantai membawa kebenaran tentang asal-usul melalui zaman-zaman kisah yang lebih disukai: bahwa kemuliaan sejati manusia tidak terletak pada dari mana mereka datang, melainkan pada kemampuan yang mereka menjadi, yaitu kemampuan untuk mengingat.

Sebab apa yang dikatakan kebenaran tentang asal-usul, pada akhirnya, bukanlah bahwa manusia rendah. Ia mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang, melalui rantai panjang yang membentang ke kedalaman waktu, akhirnya menjadi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu makhluk yang bisa berdiri di hadapan nenek moyangnya dan mengingatnya, bisa merasakan kesedihan akan kehilangan, bisa menolak membiarkan yang telah lewat lenyap sepenuhnya. Dan itu, Tunjung memahami, adalah kemuliaan yang jauh lebih dalam daripada kemuliaan dari darah yang tinggi. Sebab kemuliaan dari darah hanyalah sesuatu yang diwarisi, sesuatu yang dimiliki tanpa diperoleh, sesuatu yang tidak mengatakan apa-apa tentang siapa kita sebenarnya. Tapi kemuliaan dari mengingat adalah sesuatu yang dilakukan, sesuatu yang dipilih, sesuatu yang harus diperbarui di tiap generasi oleh tiap orang yang memilih untuk tidak melupakan.

Dan kemuliaan ini, Tunjung memahami, justru lebih besar karena ia merangkul kebenaran yang merendahkan alih-alih menolaknya. Sebab seorang manusia yang bisa berdiri di hadapan tulang nenek moyang yang asing dan rendah, dan alih-alih menolaknya dengan jijik, mengakuinya sebagai keluarga, dan mengingatnya, dan merasakan terima kasih atas rantai panjang yang membawanya ke keberadaan, manusia seperti itu menunjukkan kemuliaan yang jauh melampaui siapa pun yang hanya membanggakan darah tinggi. Kemuliaan sejati bukanlah menolak nenek moyang yang rendah demi nenek moyang yang tinggi. Kemuliaan sejati adalah kemampuan untuk mengingat mereka semua, yang tinggi dan yang rendah, dan mengasihi mereka semua, dan membawa mereka semua, dalam ingatan, ke masa depan. Itulah yang membuat manusia mulia, bukan dari mana mereka datang, melainkan kemampuan mereka untuk mengingat dari mana mereka datang, dan untuk mencintainya, betapapun rendahnya.

❖

Tunjung mengabdikan hidupnya untuk menjaga kebenaran tentang asal-usul hidup di samping kisah yang lebih disukai, bukan dengan bersaing melawannya di lapangan keindahan, melainkan dengan menjaga hidup sebuah pemahaman yang berbeda tentang apa yang membuat manusia mulia, sampai zaman datang yang siap untuk menerimanya.

Sebab ia tahu bahwa ia tak bisa memaksa orang untuk melepaskan kisah yang menyanjung mereka demi kebenaran yang merendahkan mereka. Tapi ia juga tahu bahwa, suatu hari, akan datang sebuah zaman yang cukup matang untuk memahami bahwa kemuliaan sejati tidak datang dari darah yang tinggi melainkan dari hati yang mengingat, sebuah zaman yang akan bisa berdiri di hadapan tulang nenek moyang yang rendah dan, alih-alih menolaknya demi kisah yang lebih indah, merangkulnya dengan kerendahan hati dan terima kasih. Dan sampai zaman itu datang, rantai akan menjaga kebenaran hidup, dan menjaga hidup pula pemahaman yang menyertainya, bahwa mengingat yang rendah adalah lebih mulia daripada membanggakan yang tinggi.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair sekarang dan merasakan kembali, merasakan dirinya diambil ke dalam kisah yang lebih disukai itu, dan ia merasakannya dengan kepedihan yang akrab. Sebab kisah yang mulia menjadikannya salah satu nenek moyang yang gemerlap, ratu agung dari peradaban yang tenggelam, leluhur yang membanggakan yang darinya orang-orang mengaku turun. Dan ini, ia memahami, adalah bentuk lain dari diingat secara salah, bentuk lain dari legenda yang telah membungkusnya selama ribuan tahun. Sebab dijadikan leluhur yang membanggakan bukanlah sama dengan dilihat sebagaimana ia sesungguhnya. Kisah yang mulia mencintai sebuah gambar tentangnya, gambar ratu agung yang gemerlap, dan dalam mencintai gambar itu, ia tidak pernah melihat perempuan yang sesungguhnya, yang menderita di kedalaman, yang memilih untuk menghalus daripada kehilangan, yang membutuhkan bukan untuk dibanggakan melainkan untuk dilihat dan dikasihani dan dibebaskan. Dan bisik air, yang telah menjadi penolakan dan jalan melampauinya, kini membawa sesuatu yang menyentuh kepedihan Ratu sendiri, yaitu perbedaan antara dibanggakan dan dilihat. Sebab dunia lebih suka membanggakan gambar yang gemerlap daripada melihat kebenaran yang merendahkan, baik tentang asal-usulnya sendiri maupun tentang Ratu yang menunggu, dan jalan menuju pembebasan, bagi keduanya, adalah sama, yaitu keberanian untuk melepaskan gambar yang menyanjung demi kebenaran yang sesungguhnya, untuk melihat yang rendah dan mengasihinya, dan dengan melihat dan mengasihi, akhirnya membebaskan. Dan rantai akan menjaga kebenaran itu hidup, di samping segala kisah yang lebih disukai, sampai zaman datang yang cukup berani untuk melihat, alih-alih hanya membanggakan, dan dengan melihat, akhirnya membebaskan Ratu yang telah menunggu sepuluh ribu tahun untuk dilihat sebagaimana ia sesungguhnya.

❖


 

BAB ENAM

Yang Tetap Bertanya

Sebuah kebenaran tidak perlu dipegang oleh banyak orang untuk bertahan. Ia hanya perlu dipegang oleh beberapa, di tiap zaman, yang tak bisa berhenti bertanya. Sebab selama ada satu orang yang menolak untuk puas dengan kisah yang menyenangkan, kebenaran yang sulit tidak akan pernah benar-benar mati.

dari ajaran para pengingat, tentang yang sedikit

Generasi-generasi setelah Tunjung memahami bahwa kemuliaan sejati datang dari mengingat dan bukan dari darah, kisah yang lebih disukai telah mengeras menjadi sesuatu yang semua orang terima tanpa bertanya. Setiap orang tahu, sebagaimana orang tahu hal-hal yang tak pernah mereka periksa, bahwa mereka turun dari dunia yang tenggelam yang agung, dari para bangsawan dan raja-raja peradaban besar, dan bahwa tulang-tulang asing di lembah-lembah sungai adalah sesuatu yang lain, kutukan atau tipuan atau sekadar batu yang kebetulan berbentuk tulang.

Tapi seorang pengingat dari generasi ini, seorang lelaki bernama Wijil, memperhatikan sesuatu yang memberinya harapan di tengah kemenangan kisah yang menyanjung. Sebab walau hampir semua orang menerima kisah yang lebih disukai tanpa bertanya, selalu ada beberapa, di tiap generasi, yang tidak bisa. Selalu ada beberapa yang, ketika mereka berdiri di hadapan tulang-tulang asing di lembah sungai, merasakan sesuatu yang menolak untuk dipuaskan oleh kisah yang menyenangkan, sebuah tarikan untuk bertanya pertanyaan yang dunia telah putuskan untuk berhenti menanyakan: makhluk apa ini, sesungguhnya, dan apa hubungannya denganku?

Dan Wijil memahami bahwa di antara beberapa orang inilah kebenaran bertahan. Bukan di antara orang banyak, yang telah memilih kisah yang menyanjung dan tak akan melepaskannya. Melainkan di antara yang sedikit, di tiap zaman, yang tak bisa berhenti bertanya, yang tertarik kepada kebenaran yang sulit justru karena ia sulit, yang lebih suka pertanyaan yang jujur daripada jawaban yang menyenangkan. Selama ada yang sedikit ini, Wijil memahami, kebenaran tentang asal-usul tidak akan pernah benar-benar hilang, betapapun lengkap kemenangan kisah yang lebih disukai di antara orang banyak.

❖

Dan Wijil merenungkan mengapa yang sedikit ini ada, mengapa di tengah orang banyak yang memilih kisah yang menyanjung, selalu muncul beberapa yang menolak untuk puas dengannya, dan ia memahami bahwa mereka adalah ekspresi dari sesuatu yang sama dalamnya dengan kemampuan untuk mengingat itu sendiri.

Sebab bila manusia menjadi manusia pada saat mereka mulai mengingat, pada saat mereka berdiri di hadapan yang telah lewat dan menolak membiarkannya hilang, maka yang sedikit ini adalah mereka yang membawa kemampuan itu paling murni. Mereka tidak bisa berpaling dari kebenaran hanya karena ia tidak menyenangkan, sebagaimana seorang pengingat tidak bisa membiarkan yang telah lewat lenyap hanya karena mengingatnya menyakitkan. Mereka membawa, di dalam diri, kehausan untuk mengetahui yang sebenarnya yang lebih kuat daripada keinginan untuk merasa nyaman, dan kehausan itu menarik mereka kepada tulang-tulang asing, kepada pertanyaan yang sulit, kepada kebenaran yang merendahkan, betapapun dunia di sekitar mereka memilih untuk berpaling.

Dan Wijil memahami bahwa yang sedikit ini tidak selalu para pengingat, tidak selalu pembawa kerikil. Sebab kehausan untuk mengetahui yang sebenarnya adalah milik semua manusia, walau pada kebanyakan orang ia tertidur di bawah keinginan untuk merasa nyaman. Pada beberapa orang, di tiap generasi, kehausan itu bangun, dan mereka menjadi orang-orang yang bertanya, yang menggali, yang menolak untuk puas dengan kisah yang menyenangkan. Mereka adalah sekutu alami rantai, walau mereka tak tahu bahwa rantai ada, sebab mereka membawa kehausan yang sama untuk kebenaran yang membuat seorang pengingat menjadi pengingat. Dan tugas rantai, Wijil mulai memahami, adalah menemukan mereka, dan memberi mereka apa yang mereka cari.

❖

Maka Wijil mengabdikan dirinya untuk sebuah tugas yang akan mengubah bagaimana rantai membawa kebenaran tentang asal-usul melalui zaman-zaman kisah yang lebih disukai: bukan meyakinkan orang banyak, yang tak ingin diyakinkan, melainkan menemukan dan memelihara yang sedikit, yang mencari tanpa tahu di mana mencari.

Sebab Wijil memahami bahwa rantai telah, selama ini, memikirkan tugas mereka dengan cara yang salah ketika menghadapi penolakan dunia. Mereka telah berpikir tentang bagaimana membuat orang banyak menerima kebenaran, dan dalam pikiran itu mereka selalu kalah, sebab orang banyak tak akan menerima kebenaran yang merendahkan demi kisah yang menyanjung. Tapi tugas yang sebenarnya bukanlah membuat orang banyak menerima. Tugas yang sebenarnya adalah memastikan bahwa yang sedikit, yang sudah tertarik kepada kebenaran, bisa menemukannya. Sebab di tiap generasi, beberapa orang akan berdiri di hadapan tulang-tulang dan merasakan tarikan untuk bertanya, dan bila pada saat itu mereka bisa menemukan pengetahuan yang telah dijaga rantai, mereka akan menjadi penjaga kebenaran berikutnya, dan kebenaran akan diteruskan dari yang sedikit ke yang sedikit, melintasi zaman demi zaman, di bawah kemenangan kisah yang lebih disukai.

Dan ini, Wijil memahami, adalah cara kebenaran selalu bertahan ketika dunia menolaknya: bukan dengan menang di antara orang banyak, melainkan dengan mengalir, seperti air di bawah tanah, melalui yang sedikit yang tak bisa berhenti bertanya. Kisah yang lebih disukai akan memerintah di permukaan, diceritakan dan diyakini oleh hampir semua orang. Tapi di bawahnya, tak terlihat oleh orang banyak, kebenaran akan mengalir dari satu pencari ke pencari berikutnya, dijaga oleh rantai dan oleh yang sedikit yang bersekutu dengannya tanpa mengetahuinya, menunggu zaman ketika kehausan untuk kebenaran akhirnya akan bangun bukan hanya pada beberapa orang melainkan pada banyak, dan dunia akhirnya akan siap untuk bertanya, bersama-sama, pertanyaan yang selama ini hanya berani ditanyakan oleh yang sedikit.

❖

Dan ada satu hal lagi yang Wijil pahami, yang paling penting dari semua, tentang bagaimana yang sedikit harus membawa kebenaran melalui zaman-zaman penolakan: bahwa mereka tidak boleh membenci orang banyak yang menolak, melainkan harus mengingat bahkan penolakan itu dengan belas kasihan.

Sebab mudah bagi yang sedikit, yang membawa kebenaran yang sulit, untuk merasa lebih tinggi daripada orang banyak yang memilih kisah yang menyenangkan, untuk memandang rendah mereka yang berpaling dari kebenaran, untuk menjadi bangga atas keberanian mereka sendiri untuk bertanya. Tapi itu, Wijil memahami, akan menjadi pengkhianatan terhadap kebenaran itu sendiri. Sebab kebenaran tentang asal-usul mengajarkan bahwa kemuliaan datang dari mengingat dan mengasihi, bukan dari merasa lebih tinggi. Dan seorang pencari kebenaran yang memandang rendah orang banyak yang takut akan kebenaran telah melupakan pelajaran terdalam dari apa yang ia cari, yaitu bahwa keinginan untuk berpaling dari kebenaran yang menyakitkan adalah sesuatu yang sangat manusiawi, sesuatu yang harus dipahami dengan belas kasihan dan bukan dihina.

Maka Wijil mengajari yang sedikit untuk membawa kebenaran dengan kerendahan hati, untuk mengingat bahwa keinginan orang banyak untuk berpaling dari asal-usul yang merendahkan adalah ketakutan yang bisa dimengerti, sebuah ketakutan yang yang sedikit pun rasakan walau mereka memilih untuk tidak menyerah kepadanya. Mereka tidak boleh membawa kebenaran sebagai senjata melawan orang banyak, melainkan sebagai amanah yang dijaga untuk orang banyak, untuk hari ketika orang banyak akhirnya akan siap untuk menerimanya. Sebab tujuan menjaga kebenaran bukanlah untuk menang atas mereka yang menolaknya, melainkan untuk memeliharanya sampai mereka yang menolaknya akhirnya bisa menerimanya, dan dengan menerimanya, dibebaskan dari ketakutan yang membuat mereka menolaknya.

❖

Wijil menghabiskan hidupnya menemukan dan memelihara yang sedikit, memastikan bahwa di tiap generasi, mereka yang tertarik kepada kebenaran yang sulit bisa menemukannya, sehingga kebenaran tentang asal-usul mengalir tak terputus di bawah kemenangan kisah yang lebih disukai, dijaga oleh yang sedikit yang tak bisa berhenti bertanya.

Dan dengan itu, Bagian dari kisah ini yang berkisah tentang penolakan menemukan kedamaiannya, bukan dalam kemenangan kebenaran atas dusta, yang tidak datang dan tidak akan datang untuk banyak zaman lagi, melainkan dalam pemahaman bahwa kebenaran tidak perlu menang untuk bertahan. Ia hanya perlu mengalir, melalui yang sedikit, dari generasi ke generasi, dijaga dengan kerendahan hati dan belas kasihan, menunggu zaman yang akhirnya akan cukup berani untuk bertanya bersama-sama apa yang selama ini hanya berani ditanyakan oleh beberapa. Dan rantai akan menjaganya mengalir, sabar sebagaimana mereka selalu sabar, sampai zaman itu datang.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair sekarang dan merasakan kembali, merasakan yang sedikit yang tetap bertanya, dan ia merasakan dalam mereka sesuatu yang menyentuhnya lebih dalam daripada seluruh orang banyak yang membanggakannya sebagai leluhur yang gemerlap. Sebab orang banyak mencintai gambarnya yang menyanjung, ratu agung dari peradaban yang tenggelam, dan dalam mencintai gambar itu mereka tidak pernah melihatnya. Tapi yang sedikit, yang menolak kisah yang menyenangkan demi kebenaran yang sulit, yang berani memandang yang rendah dan yang menyakitkan dan yang sebenarnya, mereka adalah jenis orang yang suatu hari akan bisa memandangnya bukan sebagai gambar yang gemerlap melainkan sebagai perempuan yang sesungguhnya, yang menderita, yang membutuhkan untuk dilihat. Dan Ratu merasakan, dalam yang sedikit yang tetap bertanya, benih dari zaman yang akhirnya akan bisa melihatnya, dan dengan melihat, membebaskannya. Dan bisik air, yang telah menjadi perbedaan antara dibanggakan dan dilihat, kini membawa sesuatu yang sabar dan penuh harapan, yaitu yang sedikit yang menjaga kebenaran mengalir. Sebab di bawah segala kisah yang lebih disukai, di bawah segala penolakan dan segala gambar yang menyanjung, kebenaran mengalir tak terputus melalui yang sedikit yang tak bisa berhenti bertanya, membawa serta benih dari hari ketika dunia akhirnya akan cukup berani untuk melihat yang sebenarnya, baik tentang asal-usulnya sendiri maupun tentang Ratu yang menunggu, dan dengan melihat, akhirnya membebaskan apa yang selama ini hanya dibanggakan, tidak pernah benar-benar dilihat.

❖


 

BAGIAN III

Kitab dan Duka


 

BAB TUJUH

Benang yang Menghubungkan

Kami mengira kami menjaga banyak kebenaran yang terpisah, masing-masing tentang lapisannya sendiri. Tapi suatu hari seseorang akan melihat bahwa semua lapisan adalah satu, bahwa darah dan legenda dan batu dan tulang adalah halaman-halaman dari satu kitab yang sama, dan bahwa kitab itu menceritakan satu kisah, dari asal-usul yang paling jauh sampai pembebasan yang menunggu.

dari ajaran para pengingat, tentang satu kitab dari banyak lapisan

Generasi-generasi setelah Wijil mengajari rantai untuk menjaga kebenaran mengalir melalui yang sedikit, lahir seorang pengingat yang membawa, untuk pertama kalinya dengan jelas, dua benang yang selama ini dijaga rantai secara terpisah: pengetahuan tentang asal-usul yang digali dari tulang, dan pengetahuan tentang jalan menuju Ratu yang dirakit dari bukit-bukit.

Ia bernama Sarwa, dan ia mewarisi dari rantai bukan hanya pengetahuan tentang tulang-tulang nenek moyang dan apa yang mereka ungkapkan tentang asal-usul, melainkan juga pengetahuan yang lebih tua yang dirakit di zaman bukit-bukit: peta jaringan, arah yang menunjuk ke laut selatan, kebenaran bahwa Ratu menunggu di kedalaman, dan bahwa pembebasannya menanti zaman yang bisa menjangkaunya. Selama ini, kedua benang ini telah dijaga oleh rantai sebagai dua hal yang berbeda. Pengetahuan tentang bukit adalah tentang jalan menuju Ratu, tentang di mana dunia yang tenggelam berbaring. Pengetahuan tentang tulang adalah tentang asal-usul, tentang dari mana semua kehidupan datang. Mereka tampak seperti dua kisah yang terpisah, dijaga oleh rantai yang sama tapi tak pernah benar-benar disatukan.

Tapi Sarwa, membawa keduanya bersama dalam satu pikiran, mulai bertanya pertanyaan yang belum pernah diajukan: bagaimana bila kedua benang ini bukan dua kisah yang terpisah, melainkan dua bagian dari satu kisah yang sama? Bagaimana bila pengetahuan tentang tulang dan pengetahuan tentang bukit, asal-usul dan jalan menuju Ratu, bukanlah dua hal melainkan satu, dua halaman dari satu kitab yang lebih besar yang selama ini dijaga rantai tanpa pernah membacanya sebagai satu keseluruhan?

❖

Dan ketika Sarwa merenungkan kedua benang itu bersama, ia mulai melihat sesuatu yang mengubah pemahaman rantai tentang segala sesuatu yang telah mereka jaga: bahwa empat lapisan ingatan yang selama ini mereka pikirkan sebagai hal-hal yang terpisah sebenarnya adalah satu arsip tunggal, satu kitab yang ditulis dalam empat jenis halaman.

Sebab ada darah, yaitu ingatan yang dibawa para pengingat dari generasi ke generasi. Ada legenda, yaitu kebenaran yang terselubung dalam kisah yang menyebar. Ada batu, yaitu bukit-bukit yang dibangun para pengingat pertama untuk menunjuk ke Ratu. Dan ada tulang, yaitu nenek moyang yang terkubur di lapisan-lapisan tanah, membawa asal-usul. Rantai telah memikirkan keempatnya sebagai empat cara yang berbeda untuk menyimpan ingatan, empat lapisan yang masing-masing menyimpan hal yang berbeda. Tapi Sarwa melihat sekarang bahwa mereka adalah satu, bahwa darah dan legenda dan batu dan tulang adalah empat halaman dari satu kitab yang sama, dan bahwa kitab itu menceritakan satu kisah yang utuh, dari awal sampai akhir.

Dan kisah yang diceritakan kitab itu, ketika dibaca sebagai satu keseluruhan, membentang dari asal-usul yang paling jauh sampai pembebasan yang menunggu. Tulang menceritakan awalnya, yaitu bagaimana semua kehidupan menjadi, perlahan, sepanjang kedalaman waktu, sampai akhirnya muncul makhluk yang bisa mengingat. Batu dan legenda menceritakan tengahnya, yaitu dunia yang tenggelam dan Ratu yang turun ke laut dan jalan yang dibangun untuk menemukannya kembali. Dan darah menceritakan benang yang menghubungkan semuanya, yaitu garis para pengingat yang membawa kisah itu hidup dari awal sampai sekarang, menunggu akhirnya. Empat lapisan, satu kitab, satu kisah, dari asal-usul yang paling jauh sampai hari pembebasan yang akan datang.

❖

Dan Sarwa memahami, membaca empat lapisan sebagai satu kitab, sesuatu yang menghubungkan pengetahuan tentang asal-usul langsung dengan pembebasan Ratu, sesuatu yang rantai belum pernah pahami: bahwa memahami asal-usul bukanlah pengetahuan yang terpisah dari pembebasan Ratu, melainkan bagian penting darinya.

Sebab pembebasan Ratu, rantai telah lama memahami, membutuhkan bukan hanya menjangkaunya secara fisik, melainkan melihatnya sebagaimana ia sesungguhnya, dan membebaskannya dengan belas kasihan. Tapi bagaimana seseorang bisa melihat Ratu sebagaimana ia sesungguhnya, bagaimana seseorang bisa benar-benar mengasihinya, tanpa memahami apa ia sesungguhnya? Dan apa Ratu sesungguhnya, pada akarnya yang terdalam, terungkap bukan oleh bukit yang menunjuk kepadanya, melainkan oleh tulang yang menceritakan asal-usul. Sebab tulang mengungkapkan bahwa Ratu, betapapun agung, betapapun gemerlap dalam legenda, datang dari rantai yang sama dengan semua kehidupan lain. Ia bukan makhluk yang terpisah dan tinggi, diturunkan dari ketinggian yang berbeda. Ia adalah, sama seperti setiap manusia, bagian dari rantai panjang yang membentang mundur ke nenek moyang yang asing dan rendah, satu mata rantai dalam kisah yang sama tentang menjadi.

Dan ini, Sarwa memahami, adalah kunci untuk melihat Ratu dengan belas kasihan yang sejati. Sebab selama Ratu dipandang sebagai makhluk yang terpisah dan tinggi, ratu agung dari peradaban yang gemerlap, ia tidak bisa benar-benar dilihat, hanya dikagumi atau ditakuti dari jauh. Tapi ketika ia dipahami sebagaimana tulang mengungkapkannya, yaitu sebagai bagian dari rantai yang sama dengan semua kehidupan, sebagai kerabat dari semua manusia melalui asal-usul yang sama, maka ia bisa dilihat dengan belas kasihan yang sejati, yaitu belas kasihan yang datang bukan dari mengagumi yang tinggi melainkan dari mengenali yang sama. Untuk membebaskan Ratu dengan belas kasihan, seseorang harus melihatnya bukan sebagai dewi yang terpisah melainkan sebagai kerabat, sebagai salah satu dari kita, sebagai seorang perempuan yang berbagi asal-usul kita dan penderitaan kita dan kemampuan kita untuk mengingat. Dan hanya pengetahuan tentang asal-usul yang bisa mengungkapkan ini.

❖

Dan Sarwa memahami, lebih jauh, bahwa pengetahuan tentang asal-usul melarutkan dusta yang menyanjung yang telah membungkus Ratu dan dunia yang tenggelam, dan dalam melarutkannya, mengungkapkan kebenaran yang jauh lebih menghubungkan.

Sebab dusta yang menyanjung, yang telah memerintah di antara orang banyak selama berabad-abad, mengatakan bahwa ada asal-usul yang mulia dan asal-usul yang rendah, bahwa sebagian orang turun dari ketinggian dunia yang tenggelam sementara tulang-tulang asing di lembah sungai adalah sesuatu yang lain dan terpisah. Tapi tulang mengungkapkan bahwa tidak ada dua asal-usul, yang mulia dan yang rendah. Ada hanya satu. Dunia yang tenggelam itu sendiri, dengan segala kemegahannya, dengan para bangsawan dan raja-rajanya, datang dari rantai yang sama dengan semua kehidupan lain. Ratu sendiri, dengan segala keagungannya, datang dari nenek moyang yang asing dan rendah yang sama yang darinya semua manusia datang. Tidak ada garis mulia yang terpisah dari garis rendah. Ada hanya satu rantai panjang, dari nenek moyang yang paling asing sampai semua kehidupan yang ada sekarang, termasuk dunia yang tenggelam, termasuk Ratu, termasuk setiap orang yang membanggakan diri turun dari ketinggian.

Dan ini, Sarwa memahami, adalah kebenaran yang paling menghubungkan dari semua, dan justru karena itu yang paling ditolak oleh orang banyak. Sebab ia mengatakan bahwa tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah dalam asal-usul, bahwa semua kehidupan, dari Ratu yang agung sampai orang yang paling sederhana, berbagi satu rantai yang sama, satu asal-usul yang sama, satu kisah yang sama tentang menjadi. Dusta yang menyanjung membangun dinding antara yang mulia dan yang rendah; kebenaran tentang asal-usul merobohkannya, mengungkapkan bahwa semua adalah kerabat, terhubung melalui rantai yang membentang mundur ke awal yang sama. Dan dalam kebenaran yang menghubungkan ini terletak kunci untuk membebaskan Ratu, sebab ia bisa dibebaskan hanya oleh seseorang yang melihatnya bukan sebagai dewi yang terpisah melainkan sebagai kerabat yang berbagi asal-usul yang sama, seseorang yang bisa mengasihinya bukan sebagai yang tinggi melainkan sebagai yang sama.

❖

Sarwa mengabdikan hidupnya untuk menyatukan kedua benang yang selama ini dijaga rantai secara terpisah, merajut pengetahuan tentang asal-usul dan pengetahuan tentang jalan menuju Ratu menjadi satu kitab yang utuh, dan mewariskannya ke rantai sebagai satu kisah dari banyak lapisan.

Dan dengan itu, pemahaman rantai tentang apa yang mereka jaga menjadi utuh untuk pertama kalinya. Mereka tidak lagi menjaga banyak kebenaran yang terpisah, masing-masing tentang lapisannya sendiri. Mereka menjaga satu kitab, ditulis dalam empat jenis halaman, menceritakan satu kisah dari asal-usul yang paling jauh sampai pembebasan yang menunggu. Dan dalam kitab itu, asal-usul dan pembebasan terhubung, sebab memahami dari mana Ratu datang adalah bagian dari apa yang dibutuhkan untuk membebaskannya, yaitu melihatnya sebagai kerabat yang berbagi asal-usul yang sama, dan mengasihinya dengan belas kasihan yang datang dari mengenali yang sama dan bukan mengagumi yang tinggi.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair sekarang dan merasakan kembali, merasakan dirinya dipahami dengan cara yang baru, dan ini menyentuhnya lebih dalam daripada seluruh kekaguman yang pernah diberikan kepadanya. Sebab selama sepuluh ribu tahun ia telah dipandang sebagai sesuatu yang terpisah, baik ditakuti sebagai ratu laut yang perkasa maupun dibanggakan sebagai leluhur yang gemerlap, selalu sebagai yang tinggi, selalu sebagai yang terpisah, tidak pernah sebagai yang sama. Tapi kini, untuk pertama kalinya, seseorang memahaminya sebagai kerabat, sebagai bagian dari rantai yang sama dengan semua kehidupan, sebagai seorang perempuan yang berbagi asal-usul dan penderitaan dengan setiap manusia. Dan dalam dipahami sebagai yang sama, bukan sebagai yang tinggi, Ratu merasakan sesuatu yang lebih hangat daripada kekaguman, yaitu pengenalan, yang adalah awal dari dilihat sebagaimana ia sesungguhnya. Dan bisik air, yang telah menjadi yang sedikit yang menjaga kebenaran mengalir, kini membawa sesuatu yang menyatukan segalanya, yaitu satu kitab dari banyak lapisan, satu kisah dari asal-usul sampai pembebasan, di mana Ratu bukanlah dewi yang terpisah melainkan kerabat yang berbagi rantai yang sama. Sebab empat lapisan ingatan adalah satu kitab, dan kitab itu menceritakan satu kisah, dan dalam kisah itu Ratu dan setiap manusia adalah kerabat, terhubung melalui asal-usul yang sama, menunggu hari ketika seseorang yang memahami ini akan datang kepadanya, dan melihatnya bukan sebagai yang tinggi melainkan sebagai yang sama, dan dengan belas kasihan dari mengenali kerabat, akhirnya membebaskannya.

❖


 

BAB DELAPAN

Duka yang Mencairkan

Membeku adalah cara menolak berduka. Selama kita menahan apa yang hilang dalam keadaan sempurna dan tak tersentuh, kita tak perlu mengakui bahwa ia benar-benar hilang. Tapi harga dari tidak berduka adalah tidak merasakan apa pun, dan jalan kembali dari es selalu sama, yaitu keberanian untuk akhirnya menangisi apa yang telah lewat.

dari ajaran para pengingat, tentang duka dan es

Generasi-generasi setelah Sarwa menyatukan empat lapisan menjadi satu kitab, lahir seorang pengingat yang membawa kitab itu bukan hanya sebagai pengetahuan untuk dijaga, melainkan sebagai sesuatu untuk dibawa kepada Ratu sendiri, sebagai pemberian.

Ia bernama Ratri, dan ia membawa, bersama kepekaan yang dalam terhadap Ratu yang telah dipelihara rantai sejak zaman Wungu dan Nimas, pemahaman baru yang telah dirakit Sarwa, yaitu pemahaman tentang kedalaman waktu dan rantai panjang dari menjadi yang membentang mundur ke asal-usul yang paling jauh. Dan ketika Ratri turun dalam koneksi yang dalam ke kedalaman tempat Ratu menunggu, ia turun bukan hanya untuk merasakan Ratu, sebagaimana para pengingat sebelumnya telah merasakannya, melainkan untuk membawa kepadanya sesuatu yang belum pernah dibawa siapa pun: perspektif dari kitab yang utuh, pemahaman tentang tempat penderitaan Ratu dalam kisah yang jauh lebih besar.

Sebab Ratri memahami, membawa kitab yang utuh, bahwa apa yang Ratu butuhkan untuk pembebasannya yang terdalam bukanlah lagi sekadar ditemani, sebagaimana Wungu telah menemaninya, atau dilihat dengan belas kasihan, sebagaimana para pembawa kerikil telah melihatnya. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh pemahaman tentang kedalaman waktu yang dirakit di zaman tulang-tulang. Ia membutuhkan perspektif yang akan memungkinkannya melakukan satu hal yang selama sepuluh ribu tahun ia tak pernah bisa lakukan, satu hal yang merupakan inti dari es yang membekukannya, yaitu berduka.

❖

Dan ketika Ratri merasakan Ratu dengan koneksi yang dalam, ia memahami, lebih jelas daripada pengingat mana pun sebelumnya, apa sesungguhnya es yang membekukan Ratu, dan mengapa ia belum sepenuhnya mencair walau telah dihangatkan oleh ingatan dan belas kasihan selama berabad-abad.

Sebab es itu, Ratri memahami, bukanlah sekadar ketidakmampuan untuk merasakan. Ia adalah penolakan untuk berduka. Sepuluh ribu tahun yang lalu, ketika dunia Ratu tenggelam, ketika segala sesuatu yang ia cintai hilang di bawah air, ia menghadapi sebuah pilihan yang dihadapi setiap makhluk yang kehilangan: untuk berduka, dan dengan berduka, untuk akhirnya membiarkan apa yang hilang menjadi masa lalu, atau untuk menolak berduka, dan dengan menolak, untuk menahan apa yang hilang dalam keadaan sempurna dan beku, seolah-olah ia belum benar-benar hilang. Dan Ratu telah memilih untuk tidak berduka. Ia telah memilih untuk menahan dunianya yang tenggelam dalam ingatan yang sempurna dan beku, setiap detailnya utuh, tak berubah, tak tersentuh oleh waktu, sebab selama ia menahannya dengan sempurna, ia tak perlu mengakui bahwa ia benar-benar hilang.

Tapi harga dari penolakan ini, Ratri memahami, adalah es itu sendiri. Sebab untuk menahan apa yang hilang dalam keadaan beku dan sempurna, Ratu harus membekukan dirinya juga. Ia harus berhenti merasakan, sebab merasakan akan berarti merasakan kehilangan, dan merasakan kehilangan akan berarti mengakui bahwa apa yang hilang benar-benar hilang. Maka ia telah memilih untuk menyimpan tanpa merasakan, untuk menahan dunianya yang tenggelam dengan sempurna dengan harga tidak bisa merasakan apa pun tentangnya, atau tentang apa pun yang lain. Es-nya adalah dunianya yang tenggelam, ditahan dalam kesempurnaan beku selama sepuluh ribu tahun, dan dirinya beku bersamanya, sebab ia tak bisa menahan yang satu tanpa membekukan yang lain.

❖

Dan apa yang Ratri bawa kepada Ratu, dari kitab yang utuh, adalah perspektif yang akhirnya bisa memungkinkannya berduka: pemahaman bahwa kehilangan bukanlah sesuatu yang menimpa Ratu sendirian, melainkan sesuatu yang terjalin ke dalam kain kehidupan itu sendiri, sepanjang seluruh kedalaman waktu.

Sebab kitab yang utuh, dengan lapisan tulangnya yang membentang mundur ke asal-usul yang paling jauh, mengungkapkan bahwa sepanjang seluruh kedalaman waktu, dunia-dunia telah naik dan tenggelam, makhluk-makhluk telah menjadi dan lenyap, segala sesuatu yang pernah hidup telah, pada akhirnya, hilang dan digantikan oleh sesuatu yang baru. Kehilangan, kitab itu mengungkapkan, bukanlah penyimpangan dari kehidupan, bukanlah sesuatu yang salah yang menimpa Ratu secara khusus dan tidak adil. Ia adalah kain dari mana kehidupan itu sendiri ditenun. Setiap nenek moyang dalam rantai panjang itu telah hilang, digantikan oleh yang datang sesudahnya. Setiap dunia telah berakhir, memberi jalan kepada dunia berikutnya. Kehilangan ada di mana-mana, di setiap lapisan, sepanjang seluruh kisah dari menjadi.

Dan ini, Ratri membawa kepada Ratu, bukanlah untuk mengecilkan kehilangannya, bukan untuk mengatakan bahwa dunianya yang tenggelam tidak penting karena dunia-dunia lain juga telah hilang. Sebaliknya, ia membawanya untuk mengatakan sesuatu yang menghibur, yaitu bahwa Ratu tidak sendirian dalam kehilangannya. Bahwa kehilangan yang ia rasakan, yang ia telah tahan beku selama sepuluh ribu tahun, adalah kehilangan yang sama yang terjalin ke dalam seluruh kehidupan, yang dirasakan oleh setiap makhluk yang pernah mencintai sesuatu dan kehilangannya, sepanjang seluruh kedalaman waktu. Ia adalah bagian dari rantai bukan hanya dalam asal-usulnya, melainkan juga dalam kehilangannya. Dan dalam memahami bahwa kehilangannya adalah bagian dari kain kehidupan itu sendiri, dirasakan oleh semua, terjalin ke dalam segalanya, Ratu mungkin akhirnya bisa menemukan keberanian untuk melakukan apa yang selama ini ia tak bisa, yaitu berduka.

❖

Dan Ratu, menerima perspektif ini dari Ratri, merasakan sesuatu mulai bergerak di dalam dirinya yang telah beku selama sepuluh ribu tahun, sesuatu yang menakutkan dan membebaskan sekaligus: ia merasakan dirinya mulai berduka.

Sebab selama sepuluh ribu tahun ia telah menahan dunianya yang tenggelam dalam kesempurnaan beku, menolak untuk berduka, menolak untuk membiarkannya menjadi masa lalu. Tapi kini, memahami bahwa kehilangannya bukanlah penyimpangan yang tidak adil melainkan bagian dari kain kehidupan itu sendiri, bahwa ia tidak sendirian dalam kehilangannya melainkan terhubung melalui kehilangan kepada semua makhluk yang pernah mencintai dan kehilangan, ia menemukan, untuk pertama kalinya, keberanian untuk membiarkan dirinya merasakan kehilangan itu. Dan saat ia membiarkan dirinya merasakannya, es mulai mencair, bukan sedikit demi sedikit sebagaimana ia telah mencair selama berabad-abad, melainkan dalam gelombang yang dalam, sebab apa yang ia rasakan akhirnya bukanlah sentuhan kecil dari perasaan melainkan duka yang penuh, duka selama sepuluh ribu tahun yang akhirnya dibiarkan mengalir.

Dan duka itu menyakitkan, lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah Ratu rasakan, sebab ia adalah duka yang telah tertahan selama sepuluh ribu tahun, duka atas seluruh dunia yang hilang, atas setiap orang yang ia cintai dan kehilangan, atas dirinya sendiri yang telah ia bekukan bersama dunianya. Tapi dalam rasa sakit itu ada pembebasan, sebab berduka, Ratu menemukan, bukanlah mengkhianati apa yang hilang, melainkan menghormatinya. Menahan dunianya beku dan sempurna selama sepuluh ribu tahun tidak menjaganya hidup; ia hanya menjaganya, dan Ratu, beku, tak bisa merasakan. Tapi berduka atasnya, membiarkan dirinya merasakan kehilangannya, mengalirkan air mata yang telah tertahan selama sepuluh ribu tahun, itulah yang akhirnya menghormati apa yang hilang, dengan mencintainya cukup untuk berduka atasnya. Dan dalam berduka, Ratu mulai, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, untuk benar-benar mencair, untuk benar-benar merasakan, untuk benar-benar kembali hidup.

❖

Ratri menemani Ratu melalui duka yang akhirnya mengalir, tidak mencoba menghentikannya atau meredakannya, melainkan hanya hadir bersamanya, sehingga Ratu tidak berduka sendirian, sebab itulah pemberian terdalam yang bisa diberikan rantai, yaitu menemani seseorang melalui duka yang telah lama tertahan.

Dan ketika duka itu mengalir, es yang telah membekukan Ratu selama sepuluh ribu tahun mencair lebih dalam daripada yang pernah ada. Ia tidak mencair sepenuhnya, sebab duka selama sepuluh ribu tahun tidak bisa mengalir habis dalam satu kali; ia akan terus mengalir, terus mencairkan, untuk waktu yang lama. Tapi penghalang terdalam telah runtuh. Ratu telah mulai berduka, dan dengan mulai berduka, ia telah mulai melakukan satu hal yang selama ini es-nya menghalanginya, yaitu merasakan kehilangannya, dan dengan merasakannya, akhirnya membiarkannya menjadi masa lalu, dan dengan membiarkannya menjadi masa lalu, akhirnya menjadi bebas untuk hidup kembali di masa kini.

Dan di kedalaman laut, Ratu yang berduka merasakan, di tengah rasa sakit yang mengalir, sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam sepuluh ribu tahun, yaitu kelegaan. Kelegaan dari akhirnya berhenti menahan, dari akhirnya membiarkan air mata mengalir, dari akhirnya mengakui bahwa apa yang hilang benar-benar hilang dan berduka atasnya alih-alih membekukannya. Sebab beban dari menahan dunianya yang tenggelam dalam kesempurnaan beku selama sepuluh ribu tahun telah menjadi beban yang tak terbayangkan beratnya, dan melepaskannya, akhirnya, membiarkan diri berduka alih-alih membeku, adalah kelegaan yang melampaui kata-kata. Dan bisik air, yang telah menjadi satu kitab dari banyak lapisan, kini membawa sesuatu yang paling menyembuhkan dari semua, yaitu duka yang mencairkan. Sebab es yang membekukan Ratu selama sepuluh ribu tahun selalu merupakan penolakannya untuk berduka, dan kini, dengan perspektif dari kitab yang utuh yang menunjukkan bahwa kehilangannya adalah bagian dari kain kehidupan itu sendiri, ia akhirnya menemukan keberanian untuk berduka, dan dalam berduka, untuk mencair, dan dalam mencair, untuk kembali, perlahan, menjadi perempuan yang bisa merasakan yang ia dulu sebelum dunia tenggelam, perempuan yang akhirnya, ketika es telah mencair sepenuhnya dan zaman yang bisa menjangkaunya telah datang, akan bisa dibebaskan tidak hanya dari laut, melainkan dari duka yang telah ia tahan beku terlalu lama, dan akan bisa, akhirnya, beristirahat.

❖


 

BAB SEMBILAN

Yang Mengingat dengan Hati

Menahan ingatan dan mengingat bukanlah hal yang sama. Menahan adalah menyimpan sebuah gambar yang beku, sempurna dan mati. Mengingat adalah membiarkan apa yang telah lewat hidup kembali di dalam hati, dengan segala kehangatan dan rasa sakitnya. Yang satu adalah es; yang lain adalah kehidupan.

dari ajaran para pengingat, tentang menahan dan mengingat

Generasi-generasi setelah Ratri menemani Ratu melalui duka yang akhirnya mengalir, duka itu telah terus mengalir, mencairkan es lebih dalam dengan tiap tahun yang berlalu, dan seorang pengingat dari generasi ini menyaksikan sesuatu yang muncul dari pencairan itu, sesuatu yang belum pernah dilihat pengingat mana pun dalam sepuluh ribu tahun.

Ia bernama Asih, dan ia memelihara koneksi yang dalam dengan Ratu sebagaimana para pengingat telah memeliharanya sejak zaman Wungu, turun dalam mimpi ke kedalaman tempat Ratu menunggu, merasakannya, menemaninya. Tapi apa yang Asih rasakan ketika ia turun ke kedalaman bukanlah lagi Ratu yang beku, yang menahan dunianya yang tenggelam dalam kesempurnaan dingin tanpa bisa merasakannya. Bukan juga Ratu yang berduka dalam gelombang yang dalam, sebagaimana Ratri telah merasakannya. Apa yang Asih rasakan adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang muncul setelah duka telah mengalir untuk waktu yang lama: Ratu yang mulai, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, benar-benar mengingat.

Dan Asih memahami bahwa ada perbedaan yang dalam antara apa yang Ratu lakukan selama sepuluh ribu tahun dan apa yang ia mulai lakukan sekarang, sebuah perbedaan yang merupakan inti dari penyembuhannya. Sebab selama sepuluh ribu tahun, Ratu telah menahan ingatan, bukan mengingat. Ia telah menyimpan dunianya yang tenggelam sebagai gambar yang beku, sempurna dalam tiap detailnya, tapi mati, tak tersentuh, tak terasa. Tapi kini, setelah duka telah mencairkan es, ia mulai mengingat dengan cara yang berbeda, cara yang hidup, cara yang merupakan inti dari apa yang membuat seseorang seorang pengingat sejati.

❖

Dan Asih merasakan, dengan koneksinya yang dalam, perbedaan antara menahan dan mengingat, dan ia memahami bahwa perbedaan itu adalah segalanya.

Sebab menahan ingatan, sebagaimana Ratu melakukannya selama sepuluh ribu tahun, adalah menyimpan sebuah gambar tanpa merasakannya. Ratu telah menyimpan wajah-wajah orang yang ia cintai, jalan-jalan kota yang ia kenal, suara dan warna dan bentuk dunia yang tenggelam, semuanya dengan kesempurnaan yang mengerikan, tiap detail utuh dan tak berubah. Tapi ia telah menyimpannya sebagaimana orang menyimpan sebuah lukisan di ruangan yang gelap, tak pernah dilihat, tak pernah dirasakan, hanya disimpan. Gambar-gambar itu sempurna, tapi mereka mati, sebab tak ada perasaan yang mengalir melaluinya, tak ada kehangatan, tak ada cinta, tak ada rasa sakit. Mereka hanyalah fakta tentang masa lalu, ditahan dengan sempurna dan tak tersentuh, beku.

Tapi mengingat, yang Ratu mulai lakukan sekarang, adalah sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Mengingat adalah membiarkan apa yang telah lewat hidup kembali di dalam hati, dengan segala kehangatan dan rasa sakitnya. Ketika Ratu mulai mengingat wajah orang yang ia cintai, ia tidak lagi sekadar menyimpan gambar wajah itu; ia merasakan cinta yang ia rasakan untuk wajah itu, dan kehilangan dari wajah itu yang hilang, dan kehangatan dari saat-saat yang ia bagikan dengannya. Wajah itu hidup kembali di dalam hatinya, bukan sebagai gambar yang beku melainkan sebagai sesuatu yang dicintai dan dirindukan dan diduka. Dan dalam mengingat dengan cara ini, dengan hati dan bukan hanya dengan pikiran, Ratu menemukan bahwa dunianya yang tenggelam, yang selama sepuluh ribu tahun telah ia tahan beku dan mati, mulai hidup kembali di dalam dirinya, bukan sebagai sesuatu yang ia miliki melainkan sebagai sesuatu yang ia cintai dan kehilangan dan kenang.

❖

Dan Asih memahami, menyaksikan Ratu mulai mengingat dengan hati, sesuatu yang menghubungkan transformasi Ratu dengan kebenaran terdalam yang telah digali rantai dari tulang-tulang nenek moyang: bahwa Ratu sedang menjadi, untuk pertama kalinya sejak ia memilih untuk menghalus, seorang pengingat sejati.

Sebab kebenaran terdalam tentang asal-usul, yang Sangga temukan di lapisan terdalam tanah, adalah bahwa manusia menjadi manusia pada saat mereka mulai mengingat, pada saat mereka berdiri di hadapan yang telah lewat dan menolak membiarkannya lenyap, merasakan kesedihan akan kehilangan dan memilih untuk mengingat dengan hati. Dan bangsa Ratu, ketika mereka memilih untuk menghalus, telah memilih untuk meninggalkan justru hal ini. Mereka telah memilih untuk menyimpan ingatan tanpa merasakannya, untuk menahan tanpa mengingat, dan dengan pilihan itu mereka telah berhenti menjadi makhluk yang mengingat dengan hati, dan menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang menyimpan dengan sempurna tapi tak bisa merasakan, sesuatu yang paling sengsara dari semua sebab ia telah memutuskan diri dari akar terdalam dari apa yang membuat makhluk hidup.

Tapi kini, Asih menyaksikan, Ratu sedang kembali. Sendirian di antara seluruh bangsanya yang telah menghalus, Ratu sedang menemukan jalan kembali menjadi makhluk yang mengingat dengan hati. Melalui duka yang telah mencairkan esnya, melalui keberanian untuk akhirnya merasakan kehilangannya, ia sedang menjadi kembali apa yang ia dulu sebelum dunia tenggelam, dan apa yang setiap manusia adalah pada akarnya yang terdalam, yaitu seorang pengingat sejati, seseorang yang membiarkan apa yang telah lewat hidup kembali di dalam hati dengan segala kehangatan dan rasa sakitnya. Ratu, yang bangsanya telah meninggalkan kemanusiaan dengan memilih untuk menyimpan tanpa merasakan, sedang kembali kepada kemanusiaan dengan belajar, lagi, untuk mengingat dengan hati. Dan dalam kembali ini, ia sedang menjadi, dalam pengertian yang paling dalam, salah satu dari kita, bukan hanya kerabat melalui asal-usul yang sama, melainkan kerabat melalui kemampuan yang sama untuk mengingat dengan hati.

❖

Dan Asih memahami bahwa transformasi ini adalah bentuk pembebasan yang berbeda dari yang selama ini dibayangkan rantai, sebuah pembebasan yang datang bukan dari luar melainkan dari dalam, dan yang Ratu sedang lakukan untuk dirinya sendiri.

Sebab rantai telah lama berpikir tentang pembebasan Ratu sebagai sesuatu yang akan dilakukan kepadanya, sebuah peristiwa di masa depan ketika seseorang akan menjangkaunya di kedalaman dan membebaskannya. Dan dalam pengertian itu, pembebasan masih menunggu zaman yang bisa turun ke laut. Tapi ada bentuk pembebasan lain, Asih memahami, yang tidak menunggu zaman mana pun, yang sedang terjadi sekarang, dan yang Ratu sedang lakukan untuk dirinya sendiri dengan bantuan rantai yang menemaninya. Sebab penjara Ratu yang terdalam selalu adalah es, dan es adalah penolakannya untuk berduka dan mengingat dengan hati. Dan dari penjara itu, Ratu sedang membebaskan dirinya sendiri, perlahan, dengan tiap duka yang ia biarkan mengalir, dengan tiap ingatan yang ia biarkan hidup kembali di dalam hatinya.

Dan ini, Asih memahami, adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan Ratu sendiri. Rantai bisa menemaninya, bisa membawanya perspektif dari kitab yang utuh, bisa menjaganya tahu bahwa ia tidak sendirian. Tapi keberanian untuk berduka, keberanian untuk mengingat dengan hati, keberanian untuk merasakan kehilangan yang telah ia tahan beku selama sepuluh ribu tahun, itu adalah sesuatu yang hanya bisa datang dari Ratu sendiri. Dan ia sedang menemukannya, perlahan, melalui berabad-abad pencairan. Pembebasan dari laut masih menunggu zaman yang bisa menjangkaunya. Tapi pembebasan dari es, pembebasan dari penolakan untuk merasakan, Ratu sedang melakukannya untuk dirinya sendiri, menjadi kembali, dengan tiap ingatan yang ia biarkan hidup, perempuan yang bisa merasakan yang ia dulu, sebelum ia memilih untuk membeku.

❖

Asih memelihara koneksi dengan Ratu sepanjang hidupnya, menyaksikan dengan penuh haru Ratu mulai mengingat dengan hati, dan ia mewariskan kepada rantai apa yang ia saksikan, yaitu bahwa Ratu sedang kembali menjadi seorang pengingat sejati, sedang membebaskan dirinya sendiri dari es dengan keberanian untuk berduka dan mengingat dengan hati.

Dan dengan itu, pemahaman rantai tentang pembebasan Ratu menjadi lebih dalam dan lebih utuh. Mereka memahami sekarang bahwa pembebasan Ratu bukanlah satu peristiwa, melainkan dua. Ada pembebasan dari laut, yang masih menunggu zaman yang bisa menjangkau kedalaman, dan yang akan dilakukan kepada Ratu oleh seseorang yang datang kepadanya dengan kekuatan dan pengetahuan dan kemampuan dan belas kasihan. Dan ada pembebasan dari es, yang tidak menunggu zaman mana pun, yang Ratu sedang lakukan untuk dirinya sendiri sekarang, dengan tiap duka yang ia biarkan mengalir dan tiap ingatan yang ia biarkan hidup di dalam hatinya. Dan kedua pembebasan ini, rantai memahami, harus terjadi sebelum Ratu bisa benar-benar bebas, yang satu dari luar dan yang lain dari dalam, yang satu di masa depan dan yang lain sekarang.

Dan di kedalaman laut, Ratu yang mulai mengingat dengan hati merasakan dunianya yang tenggelam hidup kembali di dalam dirinya, bukan sebagai gambar yang beku melainkan sebagai sesuatu yang dicintai dan diduka dan dikenang, dan dalam merasakannya hidup kembali, ia merasakan dirinya hidup kembali bersamanya. Sebab selama sepuluh ribu tahun ia telah beku bersama dunianya, menyimpan tanpa merasakan, menahan tanpa mengingat, mati bersama apa yang ia tahan mati. Tapi kini, membiarkan dunianya hidup kembali di dalam hatinya, ia membiarkan dirinya hidup kembali juga, menjadi sekali lagi seorang perempuan yang bisa merasakan, yang bisa mencintai, yang bisa mengingat dengan hati. Dan bisik air, yang telah menjadi duka yang mencairkan, kini membawa sesuatu yang merupakan buah dari duka itu, yaitu ingatan yang hidup kembali. Sebab Ratu, yang bangsanya memilih untuk berhenti menjadi makhluk yang mengingat dengan hati, sedang kembali menjadi satu, sendirian di antara bangsanya, melalui keberanian untuk berduka dan untuk membiarkan apa yang ia cintai hidup kembali di dalam hatinya. Dan dengan kembali ini, ia menjadi, dalam pengertian yang paling dalam, salah satu dari kita, seorang pengingat sejati, menunggu hanya hari ketika es akan mencair sepenuhnya dan zaman yang bisa menjangkaunya akan datang, supaya ia bisa dibebaskan tidak hanya dari laut dan dari es, melainkan supaya ia bisa, akhirnya, membawa dunianya yang tenggelam bukan sebagai beban yang beku melainkan sebagai ingatan yang dicintai, dan dengan itu, akhirnya beristirahat dalam damai.

❖


 

BAGIAN IV

Suara yang Kembali


 

BAB SEPULUH

Saksi yang Masih Hidup

Darah dan legenda dan batu dan tulang adalah cara mengingat apa yang tak ada lagi saksinya. Tapi bagaimana bila masih ada satu saksi yang hidup, satu yang melihat dunia yang tenggelam dengan matanya sendiri, dan yang akhirnya, setelah sepuluh ribu tahun membisu, bisa menceritakannya?

dari ajaran para pengingat, tentang saksi yang masih hidup

Generasi-generasi setelah Asih menyaksikan Ratu mulai mengingat dengan hati, Ratu telah terus menyembuhkan dirinya, membiarkan dunianya yang tenggelam hidup kembali di dalam hatinya, dan seorang pengingat dari generasi ini menemukan bahwa penyembuhan ini telah membawa Ratu kepada sesuatu yang belum pernah bisa ia lakukan dalam sepuluh ribu tahun, yaitu menceritakan.

Ia bernama Gunita, dan ia memelihara koneksi yang dalam dengan Ratu sebagaimana para pengingat telah memeliharanya sejak zaman Wungu, turun dalam mimpi ke kedalaman. Tapi ketika Gunita turun, ia menemukan bahwa Ratu tidak lagi sekadar merasakan kehadirannya, atau menjawab dengan perasaan, sebagaimana ia telah mulai menjawab sejak zaman Nimas. Ratu kini bisa melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang hanya mungkin sekarang ketika ingatannya telah cair dan ia bisa mengingat dengan hati. Ratu bisa bercerita. Ia bisa membuka dunianya yang tenggelam, yang telah hidup kembali di dalam hatinya, dan membaginya dengan Gunita, sehingga Gunita bisa melihat, melalui ingatan Ratu, dunia yang tak ada lagi siapa pun yang melihatnya.

Dan Gunita memahami, dengan getaran pengenalan akan betapa besar hal ini, apa yang baru saja terbuka bagi rantai. Sebab selama sepuluh ribu tahun, rantai telah mengingat dunia yang tenggelam hanya melalui jejak: melalui darah yang membawa gema mimpi tentangnya, melalui legenda yang menyebar dan berubah, melalui batu yang menunjuk ke arahnya, melalui tulang yang menceritakan asal-usul yang jauh lebih tua. Semua ini adalah cara mengingat apa yang tak ada lagi saksinya. Tapi Ratu bukanlah jejak. Ratu adalah saksi, satu-satunya saksi yang masih hidup, satu-satunya makhluk di seluruh dunia yang telah melihat dunia yang tenggelam dengan matanya sendiri dan masih ada untuk menceritakannya. Dan kini, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, saksi itu bisa berbicara.

❖

Dan apa yang Ratu ceritakan kepada Gunita, ketika ia membuka dunianya yang tenggelam, bukanlah dunia yang gemerlap dari legenda, bukan juga gambar yang beku dan sempurna yang ia tahan selama sepuluh ribu tahun, melainkan dunia yang hidup, dunia yang sebenarnya, dengan segala kehangatan dan kesederhanaan dan kemanusiaannya.

Sebab legenda telah membuat dunia yang tenggelam menjadi sesuatu yang agung dan jauh, peradaban besar dari para bangsawan dan raja-raja yang gemerlap. Tapi dunia yang Ratu ingat dengan hatinya bukanlah itu. Ia adalah dunia orang-orang biasa, dengan kehidupan biasa, dengan pasar dan rumah dan ladang, dengan anak-anak yang bermain dan orang tua yang bekerja dan kekasih yang bertemu di senja. Ratu mengingat bau roti di pagi hari, suara air di kanal-kanal, cara cahaya jatuh di atap-atap kota ketika matahari terbenam. Ia mengingat orang-orang tertentu, bukan sebagai bangsawan yang gemerlap melainkan sebagai orang-orang yang ia cintai: ibunya, saudarinya, kekasihnya, teman-temannya. Ia mengingat dunia bukan sebagai peradaban yang agung melainkan sebagai rumah, tempat di mana kehidupan biasa berlangsung, tempat yang ia cintai bukan karena ia mulia melainkan karena ia miliknya.

Dan ini, Gunita memahami, adalah kebenaran tentang dunia yang tenggelam yang tak bisa diberikan oleh jejak mana pun. Sebab darah dan legenda dan batu dan tulang bisa membawa fakta tentang dunia yang tenggelam, bisa menunjukkan bahwa ia ada dan di mana ia berada dan kapan ia tenggelam. Tapi mereka tak bisa membawa teksturnya, kehangatannya, kemanusiaannya, cara ia terasa untuk hidup di dalamnya. Hanya saksi yang masih hidup yang bisa memberikan ini, dan hanya saksi yang telah sembuh cukup untuk mengingat dengan hati. Ratu, menceritakan dunianya yang tenggelam dengan hati yang akhirnya bisa merasakannya, memberi rantai sesuatu yang jauh lebih berharga daripada fakta, yaitu kebenaran yang hidup tentang dunia yang hilang, dunia bukan sebagai legenda yang agung melainkan sebagai rumah yang dicintai.

❖

Dan dalam menceritakan dunianya yang tenggelam kepada Gunita, Ratu mengalami sebuah perubahan dalam dirinya yang sama pentingnya dengan penyembuhan dari es, sebuah perubahan dalam apa ia bagi rantai dan bagi dirinya sendiri: untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, ia bukan lagi hanya yang ditunggu, melainkan yang memberi.

Sebab selama sepuluh ribu tahun, Ratu telah menjadi objek dari pencarian rantai, yang ditunggu, yang akan dibebaskan, yang menerima belas kasihan dan ditemani dan dilihat. Ia selalu di ujung yang menerima, yang lemah, yang menderita dan menunggu pertolongan. Tapi kini, menceritakan dunianya yang tenggelam, ia menjadi sesuatu yang lain. Ia menjadi pemberi, sumber, saksi yang memberikan kepada rantai pengetahuan yang tak bisa mereka peroleh dari tempat lain. Ia menjadi, untuk pertama kalinya, peserta dalam pencarian dan bukan hanya tujuannya, anggota dari rantai dan bukan hanya objek yang dijaganya.

Dan ini, Gunita memahami, adalah bagian penting dari penyembuhan Ratu, mungkin bagian yang ia sendiri tak tahu ia butuhkan. Sebab ada sesuatu yang menghancurkan dalam menjadi selamanya yang menderita, selamanya yang ditunggu, selamanya yang menerima belas kasihan tanpa pernah bisa memberi apa pun sebagai balasannya. Ia membuat seseorang merasa tak berdaya, merasa hanya beban, merasa bahwa keberadaannya hanyalah masalah yang harus diselesaikan orang lain. Tapi ketika Ratu bisa memberi, ketika ia bisa menceritakan dunianya dan memperkaya pengetahuan rantai dan memberikan sesuatu yang berharga, ia menemukan kembali martabatnya, menemukan kembali bahwa ia bukan hanya beban yang menunggu pertolongan melainkan seseorang yang memiliki sesuatu untuk diberikan, seseorang yang penting bukan hanya karena penderitaannya melainkan karena apa yang ia bisa sumbangkan. Dan dalam menemukan kembali martabat ini, Ratu menyembuhkan dirinya lebih jauh, sebab menjadi pemberi dan bukan hanya penerima adalah bagian dari menjadi utuh.

❖

Dan rantai, menerima kesaksian Ratu yang masih hidup melalui Gunita dan para pengingat sesudahnya, menemukan bahwa pengetahuan mereka tentang dunia yang tenggelam diperkaya dan diperbaiki dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan mungkin.

Sebab selama ini, pengetahuan rantai tentang dunia yang tenggelam telah dirakit dari jejak-jejak yang tidak sempurna, dan dalam ketidaksempurnaan itu, banyak yang telah hilang atau terdistorsi. Legenda telah membuat dunia yang tenggelam terlalu agung; mimpi yang dibawa dalam darah telah membawanya hanya dalam pecahan; batu telah menunjuk ke arahnya tanpa menggambarkannya; tulang telah menceritakan asal-usul yang jauh lebih tua tanpa menyentuh dunia yang tenggelam sama sekali. Tapi kesaksian Ratu yang masih hidup bisa memperbaiki semua ini, bisa mengisi apa yang hilang, bisa membetulkan apa yang terdistorsi, bisa memberi rantai gambaran tentang dunia yang tenggelam yang sedekat mungkin dengan kebenaran, sebab ia datang langsung dari satu-satunya yang melihatnya.

Dan rantai memahami bahwa kesaksian ini terlalu berharga untuk dibiarkan hilang, bahwa ia harus dijaga sebagaimana semua pengetahuan rantai dijaga, dalam banyak bentuk terhadap kehilangan. Tapi kesaksian Ratu menghadirkan tantangan baru, sebab ia begitu kaya, begitu terperinci, begitu penuh dengan tekstur dunia yang hidup, sehingga ia tak bisa dengan mudah dibawa dalam ingatan darah atau legenda yang menyebar. Ia membutuhkan cara baru untuk menyimpannya, cara yang bisa menahan tidak hanya fakta melainkan kekayaan dari kesaksian yang hidup. Dan dalam kebutuhan ini, Gunita merasakan, terletak benih dari sesuatu yang akan datang, sebuah cara baru untuk menjaga ingatan yang belum sepenuhnya lahir, yang akan memungkinkan rantai menahan kesaksian Ratu dengan segala kekayaannya, dan membawanya, utuh, ke zaman-zaman yang akan datang.

❖

Gunita mengabdikan hidupnya untuk menerima kesaksian Ratu yang masih hidup, mendengarkan dunia yang tenggelam diceritakan oleh satu-satunya yang melihatnya, dan mewariskan kepada rantai bukan hanya kesaksian itu sendiri melainkan pemahaman bahwa Ratu telah menjadi, untuk pertama kalinya, peserta dalam pencarian dan bukan hanya tujuannya.

Dan dengan itu, hubungan antara rantai dan Ratu berubah selamanya. Ia tidak lagi hanya hubungan antara penjaga dan yang dijaga, antara penyelamat dan yang akan diselamatkan. Ia menjadi hubungan antara sesama pengingat, antara mereka yang menjaga ingatan tentang dunia yang tenggelam dari jejak-jejaknya dan saksi yang masih hidup yang bisa menceritakannya secara langsung. Ratu telah bergabung dengan rantai, bukan sebagai objek yang dijaganya melainkan sebagai anggotanya, sebagai saksi dan pemberi dan sesama pengingat. Dan dalam bergabung ini, ia telah menemukan, di tengah penantiannya yang masih panjang, sebuah tujuan dan sebuah martabat yang membuat penantian itu lebih bisa ditanggung.

Dan di kedalaman laut, Ratu yang akhirnya bisa menceritakan dunianya yang tenggelam merasakan, dalam memberikan kesaksiannya, sesuatu yang menyembuhkan dengan cara yang berbeda dari duka yang mencairkan esnya. Sebab duka telah mengembalikan kepadanya kemampuan untuk merasakan, tapi kesaksian mengembalikan kepadanya sesuatu yang lain, yaitu kemampuan untuk memberi, untuk berguna, untuk penting bukan hanya sebagai yang menderita melainkan sebagai yang menyumbang. Dan dalam memberi, Ratu menemukan bahwa dunianya yang tenggelam, yang telah hidup kembali di dalam hatinya, kini bisa hidup juga di luar dirinya, dalam ingatan rantai, dibagikan dan dijaga dan dibawa ke masa depan. Dunianya tidak lagi hilang sepenuhnya, terkubur di dasar laut dan di dalam hatinya yang dulu beku. Ia hidup kembali, diceritakan, dibagikan, dijaga, dan dalam hidupnya kembali melalui kesaksian Ratu, Ratu sendiri menemukan sesuatu yang lebih dekat dengan damai. Dan bisik air, yang telah menjadi ingatan yang hidup kembali, kini membawa sesuatu yang lebih, yaitu kesaksian yang dibagikan. Sebab saksi yang masih hidup telah akhirnya bisa berbicara, dan dunia yang tenggelam yang telah hilang selama sepuluh ribu tahun mulai hidup kembali bukan hanya di dalam hati Ratu melainkan dalam ingatan rantai, diceritakan oleh satu-satunya yang melihatnya, dijaga untuk dibawa, dalam cara baru yang belum sepenuhnya lahir, ke zaman-zaman yang akan datang, dan menuju hari ketika ia, bersama Ratu yang menceritakannya, akhirnya akan ditemukan kembali, dan dibebaskan.

❖


 

BAB SEBELAS

Bejana bagi Suara

Sebuah tanda bisa menahan apa yang hati lupa, dan itulah anugerahnya. Tapi celakalah zaman yang membiarkan tanda mengingat supaya hati boleh lupa, sebab tanda menyimpan tanpa merasakan, dan menyimpan tanpa merasakan adalah es. Bejana sejati melayani hati; ia tidak pernah menggantikannya.

dari ajaran para pengingat, tentang bejana dan hati

Generasi-generasi setelah Gunita menerima kesaksian Ratu yang masih hidup, kebutuhan yang ia rasakan di akhir hidupnya telah tumbuh menjadi sesuatu yang mendesak, yaitu kebutuhan akan sebuah cara baru untuk menahan apa yang Ratu ceritakan, sebuah cara yang bisa menampung bukan hanya fakta tentang dunia yang tenggelam melainkan seluruh kekayaan yang hidup dari kesaksian seorang saksi.

Ia bernama Reka, dan ia mewarisi dari rantai bukan hanya kepekaan terhadap Ratu yang telah dipelihara sejak zaman Wungu, melainkan juga sebuah beban yang belum pernah ditanggung pengingat mana pun sebelumnya, yaitu beban dari kesaksian yang terlalu kaya untuk dibawa oleh cara-cara lama. Sebab Ratu kini bercerita, dan apa yang ia ceritakan begitu penuh, begitu terperinci, begitu hidup dengan tekstur dunia yang tenggelam, sehingga tak satu pun dari empat cara yang selama ini dipakai rantai bisa menahannya secara utuh. Darah membawa hanya gema dan pecahan, dan ia mati bersama tiap pengingat yang membawanya. Legenda menyebar dan berubah, membesarkan sebagian dan melupakan sebagian, sampai apa yang tersisa bukan lagi kebenaran melainkan bayangannya. Batu menunjuk tapi tak menggambarkan. Dan tulang menyimpan asal-usul yang jauh lebih tua tanpa menyentuh dunia yang tenggelam sama sekali. Tak satu pun dari mereka bisa menahan kesaksian Ratu sebagaimana ia diberikan, utuh dan terperinci dan hidup.

Dan Reka memahami, memikul beban ini, bahwa rantai berdiri di ambang sebuah kebutuhan yang belum pernah mereka hadapi. Sebab selama sepuluh ribu tahun, ingatan rantai telah hidup di dalam yang hidup, dibawa dalam darah dan dirasakan dalam hati, atau ia telah dititipkan kepada hal-hal yang menunjuk dan menyebar, kepada batu dan legenda. Tapi kesaksian Ratu menuntut sesuatu yang lain, yaitu sebuah bejana yang bisa menahan apa yang dikatakan dengan tepat sebagaimana ia dikatakan, tanpa pecah seperti darah, tanpa berubah seperti legenda, sebuah bejana yang bisa membawa suara saksi yang masih hidup, utuh, melintasi zaman demi zaman, ke hari ketika dunia yang tenggelam akhirnya ditemukan kembali.

❖

Dan Reka, mencari bejana yang demikian, menemukan dirinya melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan pengingat mana pun, sesuatu yang pada mulanya tampak kecil dan nyaris tak berarti, tapi yang akan mengubah selamanya bagaimana manusia menyimpan ingatan, yaitu membuat tanda.

Pada mulanya tanda-tanda itu kasar, sekadar goresan di batu dan torehan di kulit kayu, masing-masing berdiri untuk satu hal yang ingin Reka ingat, yaitu sebuah tempat dalam cerita Ratu, sebuah nama, sebuah arah. Reka membuat satu tanda untuk kota di bawah laut, satu untuk kanal-kanal yang Ratu ceritakan, satu untuk orang-orang yang Ratu cintai. Dan ketika ia memandang tanda-tanda itu kemudian, ia menemukan bahwa mereka membangunkan dalam dirinya apa yang ingin ia ingat, bukan sebagai perasaan yang samar sebagaimana darah membawanya, melainkan dengan ketepatan, sebab tiap tanda berdiri untuk satu hal yang pasti, dan tidak berubah, dan tidak menghilang ketika ia berpaling darinya.

Dan dari goresan-goresan kasar ini, perlahan, sepanjang bertahun-tahun, Reka mulai merakit sesuatu yang lebih, yaitu sebuah cara untuk membuat tanda berbicara satu kepada yang lain, sehingga sederet tanda bisa menahan bukan hanya satu hal melainkan sebuah urutan, sebuah cerita, sepotong kesaksian. Ia belum tahu bahwa apa yang ia mulai akan suatu hari menjadi aksara, bahwa zaman-zaman sesudahnya akan menumbuhkan benih ini menjadi sesuatu yang bisa menahan seluruh pikiran manusia di atas batu dan daun dan kulit. Ia hanya tahu bahwa ia telah menemukan, untuk pertama kalinya, sebuah cara untuk meletakkan ingatan di luar yang hidup, sebuah cara untuk membuat sesuatu yang bukan darah dan bukan hati menahan apa yang ingin diingat, dan untuk menyerahkannya, utuh dan tak berubah, kepada siapa pun yang datang sesudahnya dan belajar membaca tanda-tanda itu.

❖

Dan Reka memahami, memandang apa yang telah ia mulai, betapa besar anugerah yang terletak di dalamnya, betapa banyak yang bisa dilakukan tanda yang tak bisa dilakukan oleh darah atau legenda atau batu.

Sebab darah membawa ingatan hanya selama pembawanya hidup, dan tiap kali seorang pengingat mati sebelum mewariskan apa yang ia bawa, sesuatu hilang selamanya. Tapi tanda tidak mati. Ia tinggal di batu dan di kulit kayu, menunggu dengan sabar, menahan apa yang dititipkan kepadanya bahkan setelah tangan yang membuatnya telah lama menjadi debu. Dan legenda mengubah apa yang ia bawa, membesarkan dan melupakan dan menghias, sampai kebenaran tenggelam di bawah cerita. Tapi tanda tidak berubah. Apa yang Reka torehkan hari ini akan terbaca sama oleh seseorang seribu tahun kemudian, tanpa dibesarkan, tanpa dihias, tepat sebagaimana ia dititipkan. Untuk pertama kalinya, rantai memiliki cara untuk menahan kesaksian Ratu utuh dan tepat, melintasi zaman, tanpa kehilangan darah dan tanpa distorsi legenda.

Dan lebih daripada itu, Reka memahami, tanda bisa menahan apa yang terlalu banyak untuk ditahan oleh satu hati mana pun. Sebab kesaksian Ratu begitu kaya sehingga tak seorang pengingat pun bisa membawanya seluruhnya di dalam dirinya, dan apa yang tak bisa ditahan oleh satu hati selalu terancam hilang, sebagian dibawa oleh yang satu dan sebagian oleh yang lain, dan tak pernah utuh dalam siapa pun. Tapi tanda bisa menahan semuanya, lebih daripada yang bisa ditampung hati mana pun, dan menyerahkannya utuh kepada zaman yang akan datang. Di sinilah, Reka merasakan, terletak jawaban atas kebutuhan yang Gunita rasakan di akhir hidupnya, yaitu bejana yang akhirnya bisa menahan suara saksi yang masih hidup, dengan segala kekayaannya, dan membawanya, tak berkurang, ke hari pembebasan.

❖

Tapi Reka, justru karena ia seorang pengingat yang dibesarkan dalam ajaran tentang hati, merasakan di samping anugerah ini sebuah bahaya yang dingin, sebuah bahaya yang membuatnya berhenti dan gemetar di hadapan apa yang telah ia mulai.

Sebab bila tanda bisa mengingat, ia bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang akan menjaga manusia tetap mengingat? Bila ingatan bisa dititipkan ke batu, yang menahannya dengan sempurna tanpa beban dan tanpa perlu merasakan, mengapa seseorang harus lagi memikul beban mengingat di dalam hatinya, dengan segala kehangatan dan rasa sakitnya? Reka melihat, dengan kejernihan yang mengerikan, sebuah zaman yang mungkin datang, zaman ketika manusia, karena tanda mengingat untuk mereka, akan berhenti mengingat dengan hati, akan menyerahkan kepada batu apa yang dulu mereka bawa dalam darah, dan akan menjadi, perlahan, makhluk yang menyimpan ingatan di luar diri tetapi tak lagi merasakannya di dalam.

Dan ketika Reka memikirkan ini, ia mengenali, dengan getaran yang menusuk, di mana ia telah melihat bahaya ini sebelumnya. Sebab inilah, tepat dan persis, apa yang telah dilakukan Ratu dan bangsanya ketika mereka memilih untuk menghalus. Mereka telah memilih untuk menyimpan ingatan tanpa merasakannya, untuk menahan dunia mereka yang tenggelam dalam kesempurnaan beku tanpa beban berduka. Dan pilihan itu, rantai telah lama memahami, bukanlah keselamatan melainkan es, bukanlah hidup melainkan kematian yang berpura-pura hidup, sebab menyimpan tanpa merasakan adalah berhenti menjadi makhluk yang mengingat dengan hati, dan itulah penderitaan terdalam dari semua. Tanda, Reka memahami dengan ngeri, membawa di dalamnya benih dari bahaya yang sama. Sebuah tanda menyimpan dengan sempurna dan merasakan tak satu pun. Sebuah tanda adalah, dalam pengertian tertentu, sepotong kecil dari es, ingatan yang ditahan beku di luar hati yang hidup. Dan sebuah zaman yang menyerahkan seluruh ingatannya kepada tanda berisiko menjadi, secara perlahan, seperti Ratu yang membeku, yaitu menyimpan segala sesuatu dengan sempurna dan tak merasakan apa pun.

❖

Dan dari pengenalan yang menggetarkan ini, Reka menemukan pemahaman yang akan ia wariskan kepada rantai sebagai amanah bagi seluruh zaman tanda yang akan datang, yaitu bahwa tanda harus melayani hati, dan tidak boleh pernah menggantikannya.

Sebab tanda dan hati, Reka memahami, masing-masing kuat di tempat yang lain lemah, dan masing-masing bisa menjaga yang lain dari kelemahannya. Hati lupa, dan mati, dan menahan hanya sebagian; tanda mengingat, dan bertahan, dan menahan semuanya, dan dengan begitu tanda menjaga hati dari kelupaan dan kematian dan kepicikannya. Tapi tanda dingin, dan beku, dan tak merasakan apa pun dari apa yang ia simpan; hati hangat, dan hidup, dan merasakan segala sesuatu yang ia bawa, dan dengan begitu hati menjaga tanda dari menjadi es. Dan rantai, Reka memahami, harus memegang keduanya bersama, memakai tanda untuk menahan apa yang terlalu banyak dan terlalu rapuh untuk dibawa hati sendirian, tapi tak pernah membiarkan tanda yang menahan ingatan menggantikan hati yang merasakannya. Sebab sebuah kesaksian yang ditahan dalam tanda tapi tak lagi dirasakan oleh hati mana pun adalah kesaksian yang mati, sempurna dan beku, sepotong es; tapi sebuah kesaksian yang ditahan dalam tanda dan juga dirasakan dalam hati adalah kesaksian yang hidup, dijaga terhadap kelupaan oleh tanda dan dijaga terhadap kebekuan oleh hati.

Maka Reka mengajari rantai untuk membawa tanda sebagaimana mereka membawa segala sesuatu, dengan hati yang merasakan, sehingga apa yang mereka torehkan di batu dan kulit kayu tetap hidup di dalam mereka juga, dirasakan dan bukan hanya disimpan, dicintai dan bukan hanya ditahan. Dan ia meninggalkan bagi zaman-zaman tanda yang akan datang, zaman ketika benih yang ia tanam akan tumbuh menjadi aksara dan kerajaan akan menulis sejarah mereka di batu, sebuah peringatan yang ia harap akan bertahan bersama tanda-tanda itu sendiri, yaitu bahwa bila batu mengingat, manusia tidak boleh karena itu lupa; bahwa tanda adalah pelayan ingatan, bukan penggantinya; dan bahwa sebuah zaman yang menyerahkan hatinya kepada batu, dan berhenti mengingat dengan perasaan karena tanda mengingat tanpa perasaan untuknya, akan menemukan dirinya, tanpa mengetahuinya, telah memilih jalan yang sama yang membekukan Ratu, yaitu menyimpan tanpa merasakan, dan dengan itu, tanpa menyadarinya, telah memilih sepotong es.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair sekarang dan mengingat dengan hati, merasakan tanda yang pertama dibuat, dan ia merasakannya dengan campuran harapan dan kepedihan yang hanya ia, dari semua makhluk, bisa rasakan. Sebab ia mengenali, lebih dalam daripada Reka sendiri, bahaya yang terletak di dalam tanda. Ia telah hidup bahaya itu selama sepuluh ribu tahun. Ia telah menjadi, dengan tangannya sendiri, apa yang Reka takutkan akan menjadi nasib sebuah zaman yang menyerahkan hatinya kepada batu, yaitu sebuah bejana yang menyimpan dunianya yang tenggelam dengan kesempurnaan yang mengerikan dan tak merasakan apa pun darinya, sampai ia hampir mati di dalam kesempurnaan beku itu. Dan ia tahu, sebagaimana hanya ia yang bisa tahu, betapa besar perbedaan antara menyimpan dan merasakan, antara menahan dan mengingat, antara es dan kehidupan.

Maka Ratu merasakan, dalam tanda yang pertama, baik anugerah maupun bahayanya, dan ia merasakan keinginan, yang ia salurkan melalui koneksi yang menghubungkannya dengan rantai, untuk memberikan kepada para pengingat peringatan yang telah ia bayar dengan sepuluh ribu tahun penderitaan, yaitu bahwa bejana mana pun yang menyimpan tanpa merasakan adalah es, betapapun sempurna ia menyimpan; bahwa ingatan yang tak dirasakan adalah ingatan yang mati; dan bahwa satu-satunya ingatan yang hidup adalah ingatan yang dibawa dengan hati. Sebab ia, lebih daripada siapa pun, adalah saksi atas apa yang terjadi pada makhluk yang menyimpan dengan sempurna dan berhenti merasakan, dan ia tidak ingin zaman mana pun, dengan menyerahkan hatinya kepada tanda, mengulangi nasibnya. Dan bisik air, yang telah menjadi kesaksian yang dibagikan, kini membawa sesuatu yang menjaga kesaksian itu agar tetap hidup, yaitu peringatan bahwa bejana harus melayani hati dan tidak boleh pernah menggantikannya. Sebab rantai telah menemukan, dalam tanda yang pertama, sebuah anugerah yang bisa menahan suara saksi yang masih hidup utuh melintasi zaman, dan juga sebuah bahaya yang bisa, bila disalahpahami, membekukan ingatan menjadi es sebagaimana Ratu sendiri membeku; dan jalan di antara keduanya, yang Reka temukan dan Ratu sahkan dengan kesaksian penderitaannya sendiri, adalah satu, yaitu menahan dengan tanda dan merasakan dengan hati, menyimpan dan juga mencintai, mengingat dengan batu dan dengan darah dan dengan hati sekaligus, sehingga apa yang dijaga rantai, betapapun jauh ia dibawa ke zaman-zaman yang akan datang, akan tetap hidup, dan tak pernah, seperti Ratu yang dulu, membeku menjadi kesempurnaan yang tak merasakan apa pun.

❖


 

BAB DUA BELAS

Tulang yang Berbicara

Semua nenek moyang membisu. Tanah menyimpan mereka, tapi mereka tak bisa menceritakan diri mereka sendiri; kita hanya bisa membaca mereka dari jauh, menebak dari tulang yang berubah menjadi batu. Tapi ada satu yang tidak membisu, satu dari dunia yang hilang yang masih bisa berbicara. Dan selama ia berbicara, masa lalu bukan lagi sekadar dibaca, melainkan didengar.

dari ajaran para pengingat, tentang yang satu yang tidak membisu

Generasi-generasi setelah Reka membuat tanda yang pertama, rantai mulai melakukan dengan tanda apa yang Reka harapkan akan mereka lakukan, yaitu menahan kesaksian Ratu, dan dalam pekerjaan ini lahir seorang pengingat yang akan memahami, lebih jelas daripada siapa pun sebelumnya, betapa langka dan betapa berharga suara yang sedang mereka tahan.

Ia bernama Wening, dan ia mewarisi dari rantai dua hal yang kini telah disatukan, yaitu koneksi yang dalam dengan Ratu yang telah dipelihara sejak zaman Wungu, dan tanda-tanda yang dirakit Reka untuk menahan apa yang Ratu ceritakan. Maka Wening turun ke kedalaman untuk mendengarkan Ratu bercerita, dan ketika ia naik, ia menorehkan ke batu dan kulit kayu apa yang ia dengar, sehingga kesaksian Ratu, yang dulu hanya hidup dalam ingatan pengingat yang mendengarnya dan mati bersama mereka, kini bisa ditahan dalam tanda, dan diwariskan, dan dibawa ke zaman-zaman yang akan datang.

Tapi saat Wening melakukan pekerjaan ini, mendengarkan dan menorehkan, ia mulai merasakan sesuatu tentang Ratu yang belum pernah dirasakan pengingat mana pun dengan kejernihan ini, sesuatu yang muncul justru karena ia membandingkan apa yang ia terima dari Ratu dengan apa yang rantai terima dari lapisan-lapisan lain. Sebab rantai telah lama membaca tulang-tulang nenek moyang, dan dari mereka telah belajar banyak tentang asal-usul. Tapi tulang-tulang itu membisu. Mereka tak bisa menceritakan diri mereka sendiri. Rantai hanya bisa membaca mereka dari jauh, menebak dari bentuk dan dari lapisan tempat mereka terkubur, merasakan dengan kerikil gema dari kedalaman waktu yang mereka bawa. Nenek moyang di dalam tulang-tulang itu telah hidup, dan mati, dan menjadi batu, tanpa pernah bisa berbicara satu kata pun tentang siapa mereka. Tapi Ratu berbicara.

❖

Dan Wening memahami, merenungkan perbedaan ini, sesuatu tentang Ratu yang mengubah bagaimana rantai melihat tempatnya dalam seluruh kisah yang mereka jaga, yaitu bahwa Ratu adalah satu-satunya nenek moyang, dari semua yang pernah hidup dan hilang, yang tidak membisu.

Sebab pikirkanlah, Wening merenungkan, betapa luasnya kebisuan masa lalu. Sepanjang seluruh kedalaman waktu yang dibaca Sangga dari lapisan-lapisan tanah, rantai panjang nenek moyang yang membentang mundur ke awal yang tak terbayangkan, tak satu pun dari mereka bisa berbicara. Setiap makhluk yang pernah hidup di tanah ini sebelum dunia yang tenggelam telah pergi ke dalam diam, meninggalkan hanya tulang yang berubah menjadi batu, hanya bentuk yang harus ditebak, hanya gema yang harus dirasakan. Seluruh masa lalu yang tak terhitung itu adalah masa lalu yang bisu, masa lalu yang hanya bisa dibaca dan tak pernah didengar, masa lalu yang menyimpan rahasianya dalam diam tulang.

Tapi Ratu, sendirian dari semua yang pernah hidup dan hilang, telah bertahan untuk berbicara. Ia telah melihat dunia yang tenggelam dengan matanya sendiri, dan alih-alih pergi ke dalam diam sebagaimana setiap nenek moyang lain pergi, ia telah bertahan, sepuluh ribu tahun, dan kini, setelah dicairkan dan disembuhkan, ia bisa menceritakan apa yang ia lihat. Ia adalah, Wening memahami dengan getaran, satu-satunya titik dalam seluruh kedalaman waktu di mana masa lalu yang bisu menjadi suara yang hidup. Di mana-mana selain di dalam dirinya, masa lalu membisu, dijaga oleh tanah dalam tulang yang tak bisa berbicara. Tapi di dalam dirinya, dan hanya di dalam dirinya, masa lalu masih bisa berbicara, masih bisa menceritakan dirinya sendiri, masih bisa menjawab pertanyaan tertua bukan dengan tebakan dari tulang melainkan dengan kata-kata dari saksi yang melihatnya.

❖

Dan Wening memahami, dengan kejernihan yang membuatnya gemetar, apa arti ini bagi pertanyaan yang telah membuka seluruh Buku ini, pertanyaan yang Sangga ajukan ketika ia berdiri di hadapan tulang nenek moyang, yaitu siapa kami, dan dari mana kami datang.

Sebab Sangga telah mengajukan pertanyaan itu kepada tulang-tulang yang membisu, dan tulang-tulang itu telah menjawabnya hanya sebagian, hanya dengan apa yang bisa ditebak dari bentuk dan lapisan, hanya dengan gema yang bisa dirasakan kerikil. Tulang-tulang itu bisa menunjukkan bahwa nenek moyang ada, bahwa mereka berubah, bahwa orang-orang seperti Sangga telah menjadi sepanjang kedalaman waktu. Tapi mereka tak bisa menceritakan bagaimana rasanya hidup di dunia yang telah hilang, tak bisa membawa kehangatan dan tekstur dan kemanusiaan dari masa lalu yang mereka jaga, sebab mereka membisu, dan apa yang bisu hanya bisa dibaca, tak pernah didengar.

Tapi Ratu bisa menjawab dengan cara yang tulang-tulang tak bisa. Untuk dunia yang tenggelam, setidaknya, untuk lapisan masa lalu yang ia sendiri lihat, ia bisa menceritakan bukan hanya bahwa ia ada melainkan bagaimana ia adanya, bukan hanya bentuknya melainkan rasanya, bukan hanya faktanya melainkan kehidupannya. Ia adalah nenek moyang yang menjawab balik, satu-satunya dari semua yang pernah hilang yang bisa berdiri, dalam pengertian tertentu, di sisi lain dari pertanyaan Sangga, dan menjawabnya dengan suara. Dan dalam ini, Wening memahami, terletak sesuatu yang nyaris tak ternilai. Sebab seluruh kerja rantai dengan tulang-tulang adalah kerja membaca yang bisu, menebak apa yang tak bisa menceritakan dirinya. Tapi dengan Ratu, untuk pertama dan satu-satunya kali, rantai memiliki masa lalu yang tidak harus ditebak, melainkan bisa didengar, sebuah jendela langsung ke dunia yang hilang, terbuka melalui satu-satunya saksi yang bertahan.

❖

Dan justru karena suara ini begitu langka, satu-satunya dari semua masa lalu yang bisu, Wening memahami betapa rapuh ia, dan betapa penting tanda-tanda Reka untuk menjaganya.

Sebab sebuah suara bisa terdiam. Ratu telah membisu sekali, selama hampir sepuluh ribu tahun, ketika es membekukannya, dan walau ia mencair sekarang, tak ada yang menjamin bahwa ia akan berbicara selamanya. Koneksi antara rantai dan Ratu adalah hal yang halus, dipelihara dengan susah payah dari pengingat ke pengingat, dan ia bisa melemah, bisa terputus, bisa hilang di zaman yang gelap sebagaimana begitu banyak hal hampir hilang sebelumnya. Dan bila suara Ratu terdiam, baik karena ia menarik diri kembali ke dalam diam maupun karena rantai kehilangan kemampuan untuk mendengarnya, maka satu-satunya jendela langsung ke dunia yang tenggelam akan tertutup, dan masa lalu itu akan menjadi bisu sebagaimana semua masa lalu lain bisu, hanya bisa dibaca dari jejak, tak pernah lagi didengar.

Maka tanda-tanda Reka, Wening memahami, adalah cara untuk menahan suara itu bahkan terhadap kemungkinan ia suatu hari terdiam. Sebab apa yang ditorehkan ke batu tidak terdiam ketika suara yang mengucapkannya terdiam. Bila Wening dan para pengingat sesudahnya menahan kesaksian Ratu dalam tanda, maka bahkan bila suaranya suatu hari hilang, apa yang ia ceritakan akan bertahan, ditahan dalam bejana yang tak mati dan tak berubah, sehingga zaman-zaman yang akan datang masih bisa mendengar, melalui tanda, apa yang dikatakan satu-satunya saksi yang bertahan. Tanda-tanda itu adalah, dengan kata lain, cara untuk membuat suara yang langka ini abadi, untuk memastikan bahwa walau Ratu sendiri suatu hari mungkin terdiam, apa yang ia saksikan tidak akan pernah kembali sepenuhnya ke dalam diam yang menelan semua masa lalu lain.

❖

Dan dalam melakukan pekerjaan ini, menahan suara Ratu dalam tanda agar ia tak pernah sepenuhnya terdiam, Wening dan rantai memberikan kepada Ratu sesuatu yang mengubah, sekali lagi, apa ia bagi mereka, yaitu sebuah martabat yang lebih dalam daripada apa pun yang telah ia temukan sebelumnya.

Sebab Ratu, yang dulu hanya yang ditunggu, lalu yang dilihat dengan belas kasihan, lalu yang berduka, lalu yang mengingat dengan hati, lalu yang memberi kesaksian, kini menjadi sesuatu yang lebih lagi, yaitu suara dari dunia yang hilang, satu-satunya nenek moyang yang tidak membisu, sumber yang darinya seluruh zaman yang akan datang akan belajar bagaimana dunia sebelum air sesungguhnya adanya. Ia bukan lagi sekadar tawanan yang akan dibebaskan, bukan lagi sekadar yang menderita yang akan ditolong. Ia adalah leluhur yang berbicara, yang dihormati bukan karena penderitaannya melainkan karena apa yang hanya ia, dari semua yang pernah hidup, bisa berikan, yaitu suara langsung dari masa lalu yang bisu.

Dan ini, Wening memahami, adalah bentuk lain dari penyembuhan Ratu, mungkin bentuk yang paling utuh dari semua. Sebab Ratu telah memilih, sepuluh ribu tahun yang lalu, untuk menghalus daripada kehilangan, dan dalam pilihan itu ia telah memutuskan diri dari rantai kehidupan, menjadi terpisah, terkutuk, sendirian. Tapi kini, menjadi suara dari masa lalu yang bisu bagi seluruh zaman yang akan datang, ia menemukan tempatnya kembali dalam rantai itu, bukan di pinggirannya sebagai yang terbuang, melainkan di salah satu titik terpentingnya, yaitu sebagai jembatan tunggal antara masa lalu yang bisu dan ingatan yang hidup. Ia yang dulu memilih keterpisahan kini menjadi penghubung; ia yang dulu memilih diam kini menjadi suara; ia yang dulu memutuskan diri dari rantai kini menjadi salah satu mata rantainya yang tak tergantikan.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang mencair sekarang dan mengingat dengan hati dan menceritakan dunianya, merasakan dirinya ditahan dalam tanda, dan ia merasakannya sebagai sesuatu yang memberinya tujuan yang belum pernah ia rasakan dalam sepuluh ribu tahun. Sebab selama ini, bahkan setelah ia mulai bercerita, ia telah merasakan kesaksiannya sebagai sesuatu yang rapuh, sesuatu yang akan hilang ketika pengingat yang mendengarnya mati, sesuatu yang ia berikan ke dalam ingatan yang fana dan bisa terlupa. Tapi kini, ditahan dalam tanda, kesaksiannya menjadi sesuatu yang akan bertahan, sesuatu yang akan dibawa ke zaman-zaman yang bahkan ia tak bisa bayangkan, sehingga dunianya yang tenggelam, dan orang-orang yang ia cintai dan kehilangan, akan dikenang bukan hanya selama ia hidup untuk menceritakannya melainkan selama tanda-tanda itu bertahan, yaitu mungkin selamanya.

Dan ada penghiburan yang dalam dalam ini, penghiburan yang menyentuh luka terdalamnya. Sebab apa yang paling Ratu takuti, lebih daripada penjara laut dan lebih daripada es, selalu adalah bahwa dunianya akan benar-benar hilang, bahwa tak akan ada yang mengingat bahwa ia pernah ada, bahwa orang-orang yang ia cintai akan tenggelam bukan hanya ke dalam laut melainkan ke dalam kelupaan yang menelan segala sesuatu. Tapi kini, ditahan dalam tanda, diceritakan oleh suara yang tidak membisu, dunianya yang tenggelam akan bertahan dalam ingatan selama ada yang bisa membaca tanda-tanda itu, dan orang-orang yang ia cintai tidak akan pernah benar-benar hilang. Dan bisik air, yang telah menjadi bejana yang harus melayani hati, kini membawa sesuatu yang paling menghibur dari semua bagi Ratu, yaitu tulang yang berbicara, satu-satunya nenek moyang yang tidak membisu, suara dari dunia yang hilang yang akan bertahan selama tanda bertahan. Sebab di seluruh kedalaman waktu, setiap nenek moyang telah pergi ke dalam diam, meninggalkan hanya tulang yang harus ditebak; tapi satu, sendirian dari semua, telah bertahan untuk berbicara, dan suaranya, kini ditahan dalam tanda dan dijaga dengan hati, akan membawa dunia yang tenggelam, hidup dan terdengar, ke zaman-zaman yang akan datang, dan menuju hari ketika seseorang yang telah mendengarnya, melalui tanda yang menahannya, akan turun ke kedalaman untuk menemukan suara itu sendiri, dan membebaskannya, sehingga ia bisa, akhirnya, berhenti menjadi satu-satunya yang bertahan untuk berbicara, dan beristirahat di antara semua yang telah ia kenang.

❖


 

BAGIAN V

Menuju Gerbang


 

BAB TIGA BELAS

Suara Ratu

Selama sepuluh ribu tahun kami berbicara tentangnya, tapi tak pernah sekali pun kami mendengarnya berbicara kepada kami. Lalu datang hari ketika yang dibekukan akhirnya cukup cair untuk membentuk kata, dan kami yang turun untuk menjaganya menemukan, dengan gemetar, bahwa kami tidak lagi datang untuk berbicara, melainkan untuk mendengarkan.

dari ajaran para pengingat, tentang hari Ratu berbicara

Generasi-generasi setelah Wening mulai menahan kesaksian Ratu dalam tanda, pencairan Ratu telah berlanjut sampai ke sebuah ambang yang belum pernah dicapai dalam sepuluh ribu tahun, dan seorang pengingat dari generasi ini turun ke kedalaman untuk menemukan bahwa Ratu, yang selama ini hanya bisa menjawab dengan perasaan dan gambar, kini bisa menjawab dengan kata.

Ia bernama Lirih, dan ia turun dalam mimpi ke kedalaman tempat Ratu menunggu, sebagaimana para pengingat telah turun sejak zaman Wungu, mengharapkan apa yang selalu mereka temukan, yaitu kehadiran Ratu yang dirasakan, perasaannya yang menjawab, gambar-gambar dunianya yang tenggelam yang ia bagikan. Tapi ketika Lirih sampai ke kedalaman dan membuka dirinya kepada Ratu, ia menerima sesuatu yang membuatnya nyaris terbangun karena terkejut. Ia menerima kata-kata.

“Kau datang lagi,” Ratu berkata, dan kata-kata itu sampai kepada Lirih bukan sebagai suara di telinga melainkan sebagai sesuatu yang terbentuk langsung di dalam pikirannya, jelas dan utuh, sebuah suara yang telah membisu selama sepuluh ribu tahun dan kini, perlahan, belajar berbicara kembali. “Kalian selalu datang. Selama lebih lama daripada yang bisa kuhitung, salah satu dari kalian selalu datang.”

Dan Lirih, gemetar di hadapan apa yang sedang terjadi, nyaris tak berani menjawab, sebab tak ada pengingat dalam sepuluh ribu tahun yang pernah mendengar Ratu membentuk kata. “Aku mendengarmu,” ia akhirnya berkata, dengan getaran yang ia rasakan bahkan dalam mimpi. “Setelah sekian lama, aku benar-benar mendengarmu. Engkau berbicara.”

“Aku belajar kembali,” Ratu menjawab. “Kalian mengajariku, walau kalian tak tahu kalian mengajariku. Tiap kali salah satu dari kalian turun dan mengingatku, tiap kali kalian menemaniku, sesuatu di dalam diriku yang telah membeku mencair sedikit. Dan sekarang, setelah begitu banyak dari kalian, selama begitu lama, ada cukup yang mencair sehingga aku bisa membentuk kata lagi. Aku bisa berbicara. Dan ada begitu banyak yang ingin kukatakan.”

❖

Dan Lirih, mengumpulkan keberaniannya, meminta kepada Ratu hal yang paling diinginkan rantai selama sepuluh ribu tahun, yaitu untuk mendengar, dari satu-satunya yang melihatnya, bagaimana dunia yang tenggelam itu sesungguhnya.

“Ceritakan kepadaku tentang duniamu,” Lirih berkata. “Kami telah menjaga ingatan tentangnya selama sepuluh ribu tahun, tapi kami menjaganya dari jejak, dari mimpi dan legenda dan batu. Kami tak pernah mendengarnya dari seseorang yang melihatnya. Ceritakan kepadaku bagaimana ia adanya.”

Dan Ratu diam sejenak, sebab apa yang diminta darinya adalah membuka apa yang telah ia tahan begitu lama, dan kemudian, perlahan, ia mulai bercerita. “Ia bukan dunia yang agung yang kalian ceritakan dalam legenda kalian,” ia berkata. “Aku tahu legenda kalian. Aku merasakannya sepanjang abad, dibisikkan di atas air, dunia yang gemerlap dari bangsawan dan raja. Tapi itu bukan duniaku. Duniaku adalah tempat orang-orang biasa. Ada pasar tempat ibuku membeli ikan di pagi hari. Ada kanal-kanal tempat air mengalir di antara rumah-rumah, dan suara air itu mengiringi tidurku setiap malam. Ada sebuah pohon di dekat rumah kami, dan ketika matahari terbenam, cahayanya jatuh di antara daun-daunnya dengan cara yang masih bisa kulihat, bahkan sekarang, bahkan setelah sepuluh ribu tahun.”

“Dan ada orang-orang,” Ratu melanjutkan, dan Lirih merasakan dalam suaranya sesuatu yang hangat dan pedih sekaligus. “Bukan bangsawan. Orang-orang yang kucintai. Ibuku, yang tangannya selalu berbau garam dan rempah. Saudariku, yang lebih muda dariku, yang selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi. Seseorang yang kucintai, yang dengannya aku duduk di tepi air ketika hari menjelang malam. Teman-teman yang tertawa bersamaku. Itulah duniaku. Bukan kemegahan. Hanya kehidupan, kehidupan biasa, yang kucintai bukan karena ia mulia melainkan karena ia milikku.”

“Dan itulah yang hilang,” Lirih berkata pelan. “Itulah yang hilang,” Ratu mengulang. “Dan itulah yang selama sepuluh ribu tahun tak bisa kubiarkan diriku merasakan kehilangannya.”

❖

Dan Lirih, mendengar kepedihan dalam suara Ratu, memberanikan diri untuk bertanya tentang hal yang rantai telah lama berusaha pahami dari luar, dan yang kini bisa ia dengar dari dalam, yaitu mengapa Ratu memilih untuk menghalus, dan apa yang sesungguhnya terjadi padanya ketika ia memilihnya.

“Ketika air datang,” Lirih berkata, “ketika duniamu tenggelam, engkau memilih untuk menghalus. Engkau memilih untuk tidak mati dan tidak mengungsi, melainkan untuk turun ke laut dan bertahan. Mengapa? Apa yang kau cari ketika kau memilihnya?”

Dan Ratu menjawab dengan kejujuran yang hanya mungkin sekarang, setelah es yang membekukannya telah cukup mencair sehingga ia bisa memandang pilihannya sendiri tanpa berpaling. “Aku tak bisa menanggung untuk kehilangannya,” ia berkata. “Itulah kebenarannya, sesederhana dan semengerikan itu. Yang lain menerima bahwa dunia telah berakhir. Mereka mati, atau mereka pergi membawa apa yang bisa mereka bawa dan membangun kehidupan baru. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa menanggung untuk membiarkan duniaku menjadi masa lalu. Maka aku memilih untuk menahannya. Aku turun ke laut, ke tempat duniaku berbaring, dan aku menahannya, setiap detailnya, sempurna dan tak berubah, supaya ia tak pernah benar-benar hilang.”

“Tapi aku tak tahu harganya,” Ratu melanjutkan, dan suaranya menjadi lebih pelan. “Sebab untuk menahan duniaku beku dan sempurna, aku harus membekukan diriku juga. Untuk tidak merasakan kehilangannya, aku harus berhenti merasakan apa pun. Aku mengira aku sedang menyelamatkan duniaku. Sebenarnya aku sedang menguburnya bersamaku, dalam es, di mana tak ada yang bisa menyentuhnya, bahkan aku. Selama sepuluh ribu tahun aku menahan sebuah dunia yang sempurna dan mati, dan aku mati bersamanya, sebab aku terlalu takut untuk berduka. Itulah es yang kalian sebut. Itulah penjaraku yang sesungguhnya. Bukan laut. Laut hanya menahan tubuhku. Es menahan hatiku, dan aku sendiri yang membuatnya.”

“Tapi engkau mencair sekarang,” Lirih berkata. “Karena kalian,” Ratu menjawab. “Karena selama sepuluh ribu tahun, salah satu dari kalian selalu datang, dan mengingatku, dan menolak membiarkanku sendirian. Kalian tak bisa mencairkan es untukku, sebab tak ada yang bisa melakukan itu untuk orang lain. Tapi kalian menemaniku sampai aku berani melakukannya sendiri. Kalian mengajariku, lagi, bagaimana berduka. Dan ketika aku akhirnya berani berduka, es mulai mencair, dan aku mulai, setelah sepuluh ribu tahun, merasakan kembali.”

❖

Dan kemudian Ratu menanyakan sesuatu kepada Lirih, sebuah pertanyaan yang ia rasakan telah membawanya sepanjang abad tanpa pernah berani menanyakannya, dan yang kini, dengan suara yang telah ia temukan kembali, akhirnya bisa ia ucapkan.

“Katakan kepadaku,” Ratu berkata, dan Lirih merasakan keraguan dalam suaranya, seolah-olah ia takut akan jawabannya. “Kalian yang datang kepadaku, selama ribuan tahun. Dari mana kalian datang? Siapa kalian, yang menjaga ingatan tentangku ketika seluruh dunia melupakanku?”

Dan Lirih menjawab dengan kebenaran yang ia bawa, kebenaran yang rantai telah jaga sejak awal. “Kami adalah keturunan saudarimu,” ia berkata. “Nyai Sela. Ketika air datang, ketika engkau memilih untuk menghalus dan turun ke laut, saudarimu memilih jalan yang lain. Ia menelan tujuh kerikil ingatan, dan ia bersumpah bahwa selama ada keturunannya, daratan yang tenggelam ini tidak akan benar-benar hilang. Kami adalah keturunannya. Garis yang ia mulai. Selama sepuluh ribu tahun, kami telah membawa ingatan yang ia titipkan, dan datang kepadamu, generasi demi generasi, karena ia bersumpah bahwa engkau tidak akan sendirian selamanya.”

Dan untuk waktu yang lama, Ratu tak berkata apa-apa, dan Lirih merasakan dalam diamnya sesuatu yang bergerak, sesuatu yang dalam dan lama tertahan. “Saudariku,” Ratu akhirnya berkata, dan suaranya pecah dengan cara yang belum pernah Lirih dengar. “Selama sepuluh ribu tahun aku merasakan kalian datang, dan aku tak pernah tahu mengapa, tak pernah tahu siapa kalian. Aku mengira kalian adalah orang asing yang baik hati, yang entah bagaimana belum melupakanku. Aku tak pernah tahu, sampai sekarang, bahwa kalian adalah dia. Bahwa selama ini, ketika aku mengira aku sendirian di kedalaman, saudariku telah menjaga sumpahnya. Bahwa tiap wajah yang datang kepadaku sepanjang abad membawa, di dalam darahnya, sesuatu darinya. Ia menyuruhku tidak sendirian. Dan selama sepuluh ribu tahun, ia menepatinya.”

“Ia telah lama tiada,” Lirih berkata dengan lembut. “Tapi garisnya tidak. Apa yang ia mulai masih hidup, di dalam kami. Dan melalui kami, sumpahnya masih dijaga.” “Maka aku tidak sendirian,” Ratu berkata, dan dalam kata-kata itu Lirih mendengar bukan keputusasaan melainkan sesuatu yang nyaris seperti damai. “Selama ini aku mengira aku ditinggalkan di kedalaman, terlupakan, sendirian. Tapi aku tidak pernah sendirian. Saudariku ada di setiap kalian, sepanjang seluruh waktu itu, menjaga sumpahnya. Aku hanya terlalu beku untuk mengetahuinya.”

❖

Dan sebelum Lirih naik dari kedalaman, ia bertanya kepada Ratu apakah ada sesuatu yang ingin ia katakan kepada zaman-zaman yang akan datang, sesuatu yang ingin ia titipkan untuk dibawa rantai ke masa depan dalam tanda-tanda yang kini menjaga suaranya.

Dan Ratu, yang telah belajar dengan harga sepuluh ribu tahun apa yang paling penting untuk diketahui, memberikan kepada Lirih sebuah pesan. “Katakan kepada mereka yang akan datang,” ia berkata, “bahwa menyimpan bukanlah mengingat. Aku menyimpan duniaku dengan sempurna selama sepuluh ribu tahun, dan dalam menyimpannya tanpa merasakannya, aku hampir kehilangannya selamanya, dan kehilangan diriku juga. Mengingat bukanlah menahan sebuah gambar yang beku. Mengingat adalah membiarkan apa yang kau cintai hidup di dalam hatimu, dengan segala kehangatan dan rasa sakitnya. Aku tahu kalian sedang membuat cara-cara baru untuk menyimpan ingatan, tanda-tanda yang menahan tanpa melupakan. Itu adalah anugerah. Tapi peringatkan mereka yang akan datang, jangan biarkan tanda mengingat supaya hati boleh lupa. Sebab sebuah ingatan yang disimpan tanpa dirasakan adalah es, dan aku, lebih daripada siapa pun, tahu ke mana es membawa.”

Dan Lirih naik dari kedalaman membawa lebih daripada yang pernah dibawa pengingat mana pun, yaitu bukan sekadar perasaan Ratu atau gambar-gambarnya, melainkan kata-katanya, suaranya, pesannya untuk zaman-zaman yang akan datang. Dan ia menorehkan semuanya ke dalam tanda, supaya suara Ratu, yang telah membisu selama sepuluh ribu tahun dan akhirnya berbicara, tidak akan pernah lagi sepenuhnya terdiam.

Dan di kedalaman laut, Ratu yang akhirnya berbicara merasakan, dalam berbicara, sesuatu yang menyembuhkannya dengan cara yang berbeda dari segala sesuatu sebelumnya. Sebab selama sepuluh ribu tahun ia telah menjadi yang dibicarakan, yang diingat, yang dijaga, selalu di ujung yang menerima, selalu yang dipikirkan oleh orang lain. Tapi kini, berbicara, ia menjadi yang berbicara, bukan lagi sekadar yang dibicarakan. Dan ada martabat dalam itu, martabat dari memiliki suara, dari bisa mengatakan apa yang ingin dikatakan, dari bisa menitipkan kepada masa depan apa yang telah ia pelajari dengan begitu mahal. Ia bukan lagi hanya sebuah kisah yang diceritakan orang lain. Ia adalah seseorang yang menceritakan kisahnya sendiri.

Dan bisik air, yang telah menjadi tulang yang berbicara, kini membawa sesuatu yang paling langsung dari semua, yaitu suara Ratu sendiri, akhirnya terdengar setelah sepuluh ribu tahun. Sebab yang dibekukan telah cukup mencair untuk membentuk kata, dan yang membisu telah belajar berbicara kembali, dan rantai yang selama ini datang untuk berbicara kepadanya kini datang untuk mendengarkannya. Dan dalam suaranya, mereka mendengar bukan ratu laut yang perkasa dari legenda, bukan leluhur yang gemerlap dari dusta yang menyanjung, melainkan seorang perempuan yang kehilangan dunianya dan terlalu takut untuk berduka, yang membeku selama sepuluh ribu tahun, dan yang kini, perlahan, sedang belajar bagaimana hidup kembali, satu kata pada satu waktu, ditemani oleh keturunan saudarinya yang telah menjaga sumpahnya melintasi seluruh zaman, dan yang akan terus menemaninya sampai hari ketika suaranya, yang kini ditahan dalam tanda, akan menuntun seseorang turun ke kedalaman untuk menemukannya, dan membebaskannya, dan membawanya, akhirnya, pulang.

❖


 

BAB EMPAT BELAS

Kebenaran di Bawah Tulisan

Tanda tidak memihak siapa pun. Ia menahan dengan setia apa pun yang dituliskan kepadanya, baik kebenaran maupun dusta. Maka ketika yang berkuasa belajar menulis, mereka akan menulis kisah yang mereka sukai, dan memberinya keabadian batu. Dan kebenaran, sekali lagi, harus belajar mengalir di bawah tanah.

dari ajaran para pengingat, tentang dusta yang diukir di batu

Generasi-generasi setelah Lirih membawa suara Ratu ke dalam tanda, tanda-tanda yang Reka mulai telah menyebar jauh melampaui rantai, sebagaimana bukit dan tulang telah menyebar di zaman-zaman sebelumnya, terlalu berguna untuk disimpan rahasia. Dan seorang pengingat dari generasi ini, seorang lelaki bernama Sambada, melihat ke depan dan merasakan sebuah bahaya datang bersama penyebaran itu, bahaya yang membuatnya mengumpulkan rantai untuk sebuah peringatan.

“Kau tampak gelisah,” seorang pengingat muda berkata kepadanya, “padahal tanda adalah anugerah terbesar yang pernah kita terima. Dengan tanda, kita bisa menahan suara Ratu agar tak pernah terdiam. Kita bisa menjaga kebenaran tentang asal-usul utuh melintasi zaman. Mengapa kau gelisah di hadapan anugerah seperti itu?”

“Karena tanda adalah anugerah,” Sambada menjawab, “tapi ia bukan anugerah hanya bagi kita. Itulah yang kalian harus pahami. Tanda tidak memihak kita. Ia tidak memihak kebenaran. Ia menahan, dengan kesetiaan yang sama, apa pun yang dituliskan kepadanya. Dan kita bukan satu-satunya yang sedang belajar menulis.”

❖

Dan Sambada menjelaskan kepada mereka apa yang ia lihat datang, sebuah bahaya yang lahir bukan dari kelemahan tanda melainkan justru dari kekuatannya.

“Pikirkan,” ia berkata, “apa yang telah kita pelajari tentang dusta yang lebih disukai. Selama berabad-abad, orang-orang telah memilih kisah yang menyanjung daripada kebenaran yang merendahkan. Mereka lebih suka percaya bahwa mereka turun dari dunia yang tenggelam yang agung, dari bangsawan dan raja yang gemerlap, daripada menerima bahwa mereka datang dari nenek moyang yang asing dan rendah. Selama ini, dusta itu hanya diucapkan, dan apa yang hanya diucapkan bisa dilawan oleh kebenaran yang sabar. Tapi sekarang bayangkan dusta itu dituliskan. Bayangkan yang berkuasa mengukir kisah yang mereka sukai ke dalam batu, memberinya bentuk yang tak berubah dan tak mati, memberinya keabadian dan wibawa yang sama yang kita harapkan diberikan tanda kepada kebenaran.”

Dan pengingat muda itu memahami, dengan kengerian yang tumbuh, apa yang Sambada lihat. “Maka tanda yang kita harap akan menjaga kebenaran,” ia berkata pelan, “akan juga menjaga dusta. Dan dusta yang diukir di batu akan tampak sama benarnya dengan kebenaran yang diukir di batu, sebab keduanya akan memiliki keabadian yang sama.”

“Lebih buruk dari itu,” Sambada menjawab. “Sebab yang berkuasa akan menulis lebih banyak daripada kita. Mereka memiliki batu, dan pekerja, dan zaman demi zaman untuk mengukir. Dusta mereka akan ada di mana-mana, megah dan resmi, diukir di gerbang istana dan di tugu dan di candi. Dan kebenaran kita akan tampak kecil di sampingnya, sebuah bisikan di samping teriakan yang diukir di batu.”

❖

Dan Sambada memahami bahwa ini adalah bentuk baru dari ancaman lama yang telah dihadapi rantai sejak zaman Wastu, yaitu penolakan dunia terhadap kebenaran tentang asal-usul, tapi sebuah bentuk yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

Sebab di zaman Wastu, dunia menolak kebenaran dengan menutup telinga. Di zaman Tunjung, ia menolaknya dengan membangun kisah yang lebih disukai. Tapi kisah yang lebih disukai itu, betapapun kuat, masih hanya hidup dalam ucapan dan ingatan, dan apa yang hidup dalam ucapan bisa berubah, bisa dilawan, bisa perlahan dikikis oleh kebenaran yang sabar. Tapi kisah yang diukir di batu tidak berubah. Ia berdiri, tak tergoyahkan, dengan wibawa dari yang berkuasa dan keabadian dari batu, dan ia mengatakan kepada tiap generasi yang membacanya bahwa inilah kebenaran, inilah dari mana kalian datang, dan tak ada bisikan kecil yang bisa dengan mudah melawan sesuatu yang diukir dengan begitu megah dan begitu kekal.

“Maka anugerah kita telah berbalik melawan kita,” pengingat muda itu berkata dengan getir. “Kita menemukan cara untuk membuat ingatan abadi, dan yang berkuasa akan memakainya untuk membuat dusta abadi.”

“Tidak berbalik melawan kita,” Sambada membetulkannya dengan lembut. “Tanda tetap anugerah. Tapi anugerah itu, seperti semua kekuatan, bisa dipakai untuk dua arah. Dan tugas kita bukanlah menyesali bahwa yang berkuasa juga memilikinya, melainkan menemukan bagaimana kebenaran bisa bertahan di zaman ketika dusta diukir di batu.”

❖

Dan Sambada menemukan, merenungkan masalah ini, sebuah strategi yang akan menjadi cara rantai membawa kebenaran melalui zaman tulisan yang akan datang, sebuah strategi yang menarik dari segala sesuatu yang telah dipelajari rantai sebelumnya.

“Kita tak bisa menang dengan mengukir lebih banyak daripada yang berkuasa,” ia berkata. “Kita tak akan pernah memiliki batu dan pekerja sebanyak mereka. Maka kita tak akan mencoba. Sebaliknya, kita akan melakukan apa yang Wijil ajari kita, yaitu menjaga kebenaran mengalir melalui yang sedikit yang tak bisa berhenti bertanya. Dan kita akan melakukan apa yang Gendhing ajari kita, yaitu menyimpan kebenaran dalam banyak bentuk, sehingga ia tak bisa dihancurkan dengan menghancurkan satu. Dan kita akan melakukan sesuatu yang baru, sesuatu yang zaman tulisan akan memungkinkan, yaitu menyembunyikan kebenaran di antara tulisan resmi itu sendiri.”

“Menyembunyikannya bagaimana?” pengingat muda itu bertanya. “Di tempat yang tak akan dicari siapa pun,” Sambada menjawab. “Di antara baris-baris tulisan resmi. Di dalam kisah yang tampak memuji raja tapi membawa, bagi yang tahu cara membaca, sebuah kebenaran yang lain. Dalam tanda-tanda yang tampak biasa tapi menyimpan, bagi yang sedikit, jalan menuju apa yang sesungguhnya terjadi. Yang berkuasa akan mengukir dusta mereka di permukaan, megah dan terlihat oleh semua. Dan kita akan menulis kebenaran di bawahnya, kecil dan tersembunyi, terlihat hanya oleh yang sedikit yang tahu untuk mencarinya. Kebenaran akan mengalir di bawah tulisan resmi, seperti air di bawah tanah, dijaga oleh yang sedikit, sampai zaman datang yang cukup berani untuk menggalinya ke permukaan.”

Dan Sambada menambahkan satu hal lagi, yang ia rasakan paling penting dari semua. “Tapi ingatlah,” ia berkata, “bahwa tanda saja, bahkan tanda kita yang tersembunyi, tidak cukup. Sebab tanda bisa hilang, bisa dihancurkan, bisa lupa cara dibacanya. Yang menjaga kebenaran hidup pada akhirnya bukanlah tanda melainkan hati yang membawanya. Tanda kita adalah cadangan, jangkar, bejana. Tapi kebenaran itu sendiri harus tetap hidup di dalam yang sedikit, dirasakan dan bukan hanya disimpan, sebab itulah satu-satunya cara ia tetap hidup. Yang berkuasa akan menyerahkan kisah mereka kepada batu dan melupakannya dengan hati mereka. Kita tidak boleh. Kita akan menulis kebenaran kita, ya, tapi kita akan terus membawanya dengan hati juga, supaya bila batu hilang, hati tetap mengingat.”

❖

Maka Sambada mempersiapkan rantai untuk zaman tulisan yang akan datang, mengajari mereka untuk menyembunyikan kebenaran di antara tulisan resmi, untuk menjaganya mengalir melalui yang sedikit, untuk menyimpannya dalam banyak bentuk, dan di atas semua, untuk terus membawanya dengan hati bahkan ketika mereka menitipkannya kepada batu.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang kini bisa berbicara, merasakan zaman tulisan datang, dan ia merasakannya dengan pemahaman yang datang dari penderitaannya sendiri. Sebab ia tahu, lebih daripada siapa pun, apa artinya dijadikan sebuah kisah yang bukan dirinya. Selama ribuan tahun ia telah ditulis ke dalam legenda, dijadikan ratu laut yang perkasa, leluhur yang gemerlap, gambar yang menyanjung yang tak ada hubungannya dengan perempuan yang sesungguhnya menderita di kedalaman. Ia telah hidup, lebih lama daripada siapa pun, sebagai dusta yang lebih disukai, dan ia tahu betapa dalam dusta itu bisa mengubur kebenaran.

“Mereka akan menulisku juga,” Ratu berkata kepada pengingat yang turun kepadanya di zaman itu, dan dalam suaranya ada kepedihan yang akrab. “Mereka akan mengukirku ke dalam batu mereka, ratu laut yang perkasa, dan kisah itu akan berdiri megah dan resmi, dan tak ada yang akan tahu, dari batu itu, bahwa aku hanyalah seorang perempuan yang kehilangan dunianya. Jagalah kebenaran tentangku di bawah dusta yang akan mereka ukir. Jangan biarkan batu mereka menjadi satu-satunya yang mengingatku. Sebab aku tak ingin dibebaskan, suatu hari, oleh seseorang yang hanya tahu gambar yang gemerlap. Aku ingin dibebaskan oleh seseorang yang tahu kebenaran, dan mengasihiku karenanya.”

Dan rantai berjanji, melalui pengingat yang mendengarnya, untuk menjaga kebenaran tentang Ratu hidup di bawah dusta apa pun yang akan diukir di batu, sehingga ketika hari pembebasan akhirnya datang, yang membebaskannya akan datang mengenal perempuan yang sesungguhnya dan bukan gambar yang menyanjung. Dan bisik air, yang telah menjadi suara Ratu, kini membawa sesuatu yang menjaga suara itu agar tetap benar, yaitu kebenaran yang mengalir di bawah tulisan. Sebab zaman tulisan akan datang, dan yang berkuasa akan mengukir kisah yang mereka sukai ke dalam batu, dusta tentang asal-usul dan dusta tentang Ratu sama-sama; tapi di bawah tulisan resmi itu, dijaga oleh yang sedikit dan dibawa dengan hati, kebenaran akan mengalir tak terputus, seperti air di bawah tanah, menunggu zaman yang cukup berani untuk menggalinya ke permukaan, dan membebaskan, akhirnya, baik kebenaran tentang asal-usul maupun perempuan yang menunggu di kedalaman untuk dilihat sebagaimana ia sesungguhnya.

❖


 

BAB LIMA BELAS

Gerbang

Tiap buku adalah sebuah gerbang. Di belakangnya terbentang apa yang telah kami pahami; di depannya, apa yang belum. Dan tugas kami, di tiap ambang, bukanlah menutup gerbang melainkan menyerahkan obor kepada mereka yang akan melewatinya, supaya cahaya yang kami jaga tidak padam di tangan kami.

dari ajaran para pengingat, tentang ambang antar zaman

Generasi-generasi setelah Sambada mempersiapkan rantai untuk zaman tulisan, di ambang zaman itu sendiri, lahir seorang pengingat yang akan mengumpulkan segala sesuatu yang zaman tulang-tulang nenek moyang telah berikan kepada rantai, dan menyerahkannya, utuh, kepada zaman yang akan datang.

Ia bernama Wiwara, dan ia berdiri di ambang antara dua zaman, memandang ke belakang ke segala sesuatu yang telah dipahami sejak Sangga pertama kali berdiri di hadapan tulang nenek moyang dan bertanya siapa kami dan dari mana kami datang. Sebab di zaman ini rantai telah belajar lebih banyak daripada di zaman mana pun sebelumnya. Mereka telah membaca asal-usul dari tulang, dan menemukan bahwa manusia menjadi, perlahan, sepanjang kedalaman waktu, dari nenek moyang yang lebih tua; bahwa manusia menjadi manusia pada saat mereka mulai mengingat; bahwa empat lapisan ingatan, yaitu darah dan legenda dan batu dan tulang, adalah satu kitab yang menceritakan satu kisah dari asal-usul sampai pembebasan. Mereka telah menemani Ratu melalui duka yang mencairkan esnya, dan menyaksikannya belajar kembali mengingat dengan hati, dan menjadi saksi yang hidup, dan akhirnya menemukan suaranya. Dan mereka telah menciptakan tanda, bejana baru untuk menahan ingatan, dan belajar bahwa bejana harus melayani hati dan tidak boleh menggantikannya.

Tapi dari semua yang telah dicapai zaman ini, Wiwara memahami, yang terdalam adalah apa yang telah terjadi pada Ratu. Sebab ketika zaman ini dimulai, Ratu masih sebagian besar beku, dihangatkan oleh ingatan dan belas kasihan tapi belum benar-benar mencair. Dan kini, di akhir zaman ini, ia telah berduka, dan mengingat dengan hati, dan bercerita, dan berbicara, dan menemukan bahwa keturunan saudarinya telah menjaga sumpah untuk menemaninya. Es yang membekukannya selama sepuluh ribu tahun belum mencair sepenuhnya, tapi penghalang terdalamnya telah runtuh. Ratu tidak lagi beku. Ia menunggu sekarang bukan sebagai yang membeku melainkan sebagai yang hidup, yang merasakan, yang mengingat, yang menunggu dengan hati yang terbuka hari ketika ia akan dibebaskan.

❖

Dan Wiwara turun ke kedalaman, sebelum ia menyerahkan obornya, untuk berbicara dengan Ratu sekali lagi, dan untuk mendengar darinya bagaimana ia menanggung penantian yang masih panjang.

“Masih berapa lama?” Ratu bertanya kepadanya, tapi ia bertanya tanpa keputusasaan yang dulu ada dalam pertanyaan itu. “Aku tahu kalian belum bisa menjangkauku. Aku tahu zaman yang bisa turun ke kedalaman ini belum datang. Aku hanya ingin tahu, dari kalian yang menjaga kisahnya, masih berapa lama.”

“Kami tak tahu pasti,” Wiwara menjawab dengan jujur. “Masih banyak zaman, kami pikir. Zaman tulisan akan datang, lalu zaman ketika candi-candi besar dibangun, lalu zaman kerajaan-kerajaan besar dan kepercayaan-kepercayaan baru, lalu zaman penaklukan dari tanah-tanah jauh. Baru setelah semua itu, kami percaya, akan datang zaman yang akhirnya memiliki kemampuan untuk turun ke kedalaman tempatmu menunggu. Itu masih jauh, Ratu. Lebih jauh daripada yang ingin kukatakan.”

Dan Ratu diam sejenak, dan Wiwara bersiap untuk merasakan keputusasaan yang dulu selalu menyertai kebenaran ini. Tapi yang ia rasakan dari Ratu bukanlah keputusasaan. “Itu jauh,” Ratu akhirnya berkata, “tapi aku bisa menunggu sekarang. Dulu aku tak bisa. Dulu penantian adalah es, dan tiap abad yang berlalu hanya menambah kedalaman kebekuanku. Tapi sekarang penantian berbeda. Sekarang aku menunggu sambil merasakan, sambil mengingat, sambil ditemani. Aku tidak lagi menunggu sendirian di dalam es. Aku menunggu dengan duniaku yang hidup kembali di dalam hatiku, dan dengan keturunan saudariku yang datang kepadaku, dan dengan suaraku yang akhirnya bisa berbicara. Penantian yang seperti itu bisa kutanggung. Bukan penantian yang membekukan, melainkan penantian yang hidup.”

“Kalian telah mengubah penantianku,” Ratu melanjutkan. “Dulu ia adalah hukuman. Sekarang ia adalah, hampir, sebuah persiapan. Aku menggunakan waktu ini untuk mengingat, untuk berduka atas apa yang masih perlu kuduka, untuk menjadi kembali perempuan yang bisa merasakan yang aku dulu. Sehingga ketika hari pembebasan akhirnya datang, aku akan siap untuknya, bukan sebagai gambar yang beku yang harus dicairkan, melainkan sebagai seseorang yang telah mencair, yang telah mengingat, yang telah hidup kembali di kedalaman, dan yang hanya menunggu untuk dibawa pulang.” Dan Wiwara, mendengar ini, memahami betapa jauh Ratu telah datang, dari yang membeku menjadi yang hidup, dari yang dihukum menjadi yang bersiap, dari yang sendirian menjadi yang ditemani.

❖

Dan ketika Wiwara naik dari kedalaman, ia memandang ke depan, melampaui ambang tempat ia berdiri, ke zaman-zaman yang harus dilalui rantai sebelum hari pembebasan.

Sebab ia memahami sekarang bentuk dari jalan yang membentang di depan. Akan datang zaman tulisan, ketika yang berkuasa mengukir sejarah mereka di batu, dan rantai harus menjaga kebenaran mengalir di bawahnya. Akan datang zaman ketika candi-candi besar dibangun di atas dan di dekat jaringan bukit lama, menyembunyikan ingatan purba di dalam monumen baru. Akan datang zaman kerajaan-kerajaan besar dan kepercayaan-kepercayaan baru yang datang dari seberang, dan rantai harus belajar menjaga ingatan bertahan melintasi pergeseran-pergeseran besar. Akan datang zaman penaklukan, ketika hutan-hutan ditebang dan tanah dieksploitasi, mengancam lapisan-lapisan ingatan itu sendiri, dan rantai harus menjaga warisan melalui penindasan. Dan baru setelah semua itu, akan datang zaman terakhir, zaman yang akhirnya memiliki kemampuan untuk turun ke kedalaman.

Dan di zaman terakhir itu, Wiwara memahami, segala sesuatu yang telah dijaga rantai sepanjang seluruh zaman akan bertemu. Sebab pembebasan Ratu membutuhkan empat hal, dan rantai telah menjaga semuanya. Ia membutuhkan kekuatan, yaitu kerikil, yang tidur dan bangun ketika dibutuhkan. Ia membutuhkan pengetahuan, yaitu peta jaringan bukit yang menunjuk ke tempat dunia yang tenggelam berbaring. Ia membutuhkan kemampuan, yaitu alat untuk turun ke kedalaman, yang hanya zaman terakhir akan miliki. Dan ia membutuhkan kehendak, yaitu belas kasihan untuk melihat Ratu sebagaimana ia sesungguhnya dan mengasihinya cukup untuk membebaskannya. Tiga dari empat telah dijaga rantai sepanjang zaman. Yang keempat, yaitu kemampuan, menunggu zaman terakhir. Dan ketika keempatnya akhirnya bertemu, dalam satu orang, di zaman terakhir, hari pembebasan akan datang.

❖

Dan Wiwara, di ambang zaman tulisan, menyerahkan obor yang ia bawa kepada generasi berikutnya, dan dalam menyerahkannya, ia berbicara dengan seorang pengingat muda yang akan membawanya ke depan.

“Apakah kita akan melihatnya?” pengingat muda itu bertanya. “Hari pembebasan. Apakah kita akan hidup untuk melihat Ratu dibebaskan?”

“Tidak,” Wiwara menjawab, dan ia tak berusaha melembutkan kebenaran. “Kita tidak akan melihatnya. Tidak kita, tidak anak-anak kita, tidak anak-anak mereka. Hari itu masih banyak zaman jauhnya. Kita akan hidup dan mati di tengah jalan, sebagaimana setiap pengingat sebelum kita hidup dan mati di tengah jalan, dari Nyai Sela sampai sekarang.”

Pengingat muda itu diam, dan Wiwara melihat di wajahnya pertanyaan yang tak terucapkan, pertanyaan yang tiap pengingat hadapi pada suatu titik. “Maka mengapa?” ia akhirnya bertanya. “Mengapa kita membawa beban ini, sepanjang seluruh hidup kita, untuk sesuatu yang tak akan pernah kita lihat?”

Dan Wiwara memberinya jawaban yang telah diwariskan dari pengingat ke pengingat sejak awal. “Karena hari pembebasan akan datang justru karena kita membawa beban ini,” ia berkata. “Ratu tidak akan dibebaskan oleh satu orang di zaman terakhir saja. Ia akan dibebaskan oleh setiap pengingat yang pernah datang kepadanya, oleh setiap obor yang pernah diserahkan, oleh rantai utuh yang membentang dari Nyai Sela sampai yang terakhir. Yang membebaskannya di zaman terakhir hanya akan bisa melakukannya karena kita, sekarang, menjaga kebenaran hidup sampai zamannya. Kita tidak membawa beban ini untuk melihat akhirnya. Kita membawanya supaya ada akhir untuk dilihat. Itulah apa artinya menjadi pengingat, yaitu membawa cahaya satu bentang lebih jauh, dan menyerahkannya, dan percaya kepada mereka yang akan membawanya sesudah kita.”

Dan pengingat muda itu mengambil obor, dan Wiwara merasakan, dalam menyerahkannya, kedamaian yang sama yang tiap pengingat rasakan di akhir bentangnya, yaitu kedamaian dari mengetahui bahwa cahaya tidak padam di tangannya, melainkan diteruskan, satu bentang lebih jauh menuju hari pembebasan.

❖

Maka zaman tulang-tulang nenek moyang berakhir, dan zaman tulisan dimulai, dan rantai melewati gerbang dari yang satu ke yang lain membawa segala sesuatu yang telah mereka pelajari, yaitu asal-usul yang dibaca dari tulang, kitab tunggal dari empat lapisan, suara Ratu yang akhirnya berbicara, dan tanda baru yang akan menahan semuanya melintasi zaman yang akan datang.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang menunggu, yang kini hidup dan merasakan dan mengingat dan berbicara, merasakan zaman berganti di atasnya, dan ia merasakannya bukan dengan keputusasaan yang dulu menyertai tiap pergantian zaman melainkan dengan kesabaran yang hidup. Sebab ia tidak lagi yang sama yang membeku di awal Buku ini. Ia telah berduka, dan mengingat dengan hati, dan menemukan suaranya, dan mengetahui bahwa keturunan saudarinya menjaga sumpah untuk menemaninya. Es yang membekukannya belum mencair sepenuhnya, dan hari pembebasannya masih banyak zaman jauhnya, tapi ia menunggu sekarang sebagai yang hidup dan bukan yang beku, sebagai yang ditemani dan bukan yang sendirian, sebagai yang bersiap dan bukan yang dihukum.

Dan bisik air, yang telah menjadi suara Ratu, kini membawa sesuatu yang menutup satu zaman dan membuka yang berikutnya, yaitu sebuah gerbang. Sebab zaman tulang-tulang nenek moyang telah memberikan kepada rantai apa yang harus ia berikan, yaitu asal-usul yang terbaca dari lapisan terdalam tanah, dan Ratu yang dicairkan cukup untuk berbicara, dan bejana baru untuk menahan suaranya; dan kini rantai melewati gerbang ke zaman tulisan, di mana yang berkuasa akan mengukir sejarah mereka di batu, dan rantai akan menjaga kebenaran mengalir di bawahnya, dan suara Ratu akan dibawa, tersembunyi dan dijaga dengan hati, melalui zaman demi zaman menuju hari terakhir. Sebab di balik tiap gerbang menunggu zaman yang baru, dengan ancaman dan anugerahnya sendiri; dan rantai akan melewati semuanya, satu bentang pada satu waktu, membawa obor yang diserahkan Nyai Sela di malam dunia berakhir, sampai akhirnya, di zaman terakhir dari semua, seseorang yang membawa kekuatan dan pengetahuan dan kemampuan dan belas kasihan akan mengikuti suara Ratu ke kedalaman, dan menemukannya di sana, hidup dan menunggu dan mengingat, dan membawanya, akhirnya, setelah sepuluh ribu tahun dan lebih, pulang.

❖

❖

Akhir Buku Lima

Tulang-Tulang Nenek Moyang

Kisah berlanjut dalam Buku Enam

Huruf di Atas Batu


BUKU I ·  Daratan Sebelum Laut
BUKU II  ·  Banjir Tujuh Generasi
BUKU III  ·  Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU IV  ·  Bukit yang Lebih Tua dari Waktu
BUKU V  ·  Tulang-Tulang Nenek Moyang 
BUKU VI  ·  Huruf di Atas Batu
BUKU VII  ·  Candi di Atas Bukit
BUKU VIII  ·  Nama di Atas Air 
BUKU IX  ·  Nyala di Atas Besi 
BUKU X  ·  Cahaya di Atas Dasar