JAWA
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
BUKU ENAM
Huruf di Atas Batu
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
Apa yang terukir di atas batu bisa
berdusta.
Tetapi di bawah setiap dusta,
kebenaran mengalir seperti air.
BAGIAN I
Huruf dan Sandi
BAB SATU
Juru Tulis yang Mengingat
Ketika batu belajar mengingat, dua
sejarah lahir di tanah ini. Yang satu diukir di permukaan, megah dan resmi,
dibaca oleh semua. Yang lain disembunyikan di bawahnya, kecil dan benar, dibaca
hanya oleh yang sedikit. Dan tugas kami, di zaman huruf, adalah menulis yang
pertama dengan tangan, dan menjaga yang kedua dengan hati.
dari ajaran para pengingat, tentang dua
sejarah
Generasi-generasi setelah Wiwara menyerahkan obor di ambang
zaman tulisan, apa yang Reka mulai sebagai goresan kasar di batu telah tumbuh
menjadi sesuatu yang utuh, yaitu aksara, deretan tanda yang bisa menahan
seluruh pikiran manusia; dan bersama aksara datang justru apa yang Sambada
ramalkan, yaitu raja-raja yang mengukir sejarah mereka ke dalam batu.
Di zaman inilah hidup seorang pengingat bernama
Caraka, dan ia membawa kerikilnya bukan di ladang atau di lembah sungai,
melainkan di istana, sebab Caraka adalah seorang juru tulis raja. Ia telah
memilih, sebagaimana rantai kini mengajari para pengingatnya untuk memilih,
untuk hidup di dalam mesin yang membuat sejarah resmi, supaya dari dalam ia
bisa melakukan apa yang Sambada ajarkan, yaitu menyembunyikan kebenaran di
antara tulisan yang berkuasa. Tangannya menulis untuk raja. Hatinya menjaga
untuk rantai.
Pada suatu hari sang patih memanggil Caraka ke
balairung, dan di sana, di hadapan sebuah lempeng batu yang lebih tinggi
daripada seorang manusia, ia memberi Caraka tugas yang akan menentukan sisa
hidupnya.
“Raja menghendaki sebuah prasasti,” sang patih
berkata, “yang akan berdiri selama batu berdiri. Ia menghendaki seluruh tanah,
dan seluruh zaman yang akan datang, mengetahui siapa ia, dari mana ia datang,
dan dengan kuasa apa ia memerintah. Engkau akan mengukirnya. Dan engkau akan
mengukir tepat seperti yang kukatakan kepadamu.”
“Katakanlah, Tuan,” Caraka menjawab, “dan aku
akan mengukir.”
Dan sang patih mulai mendiktekan, dan saat ia
mendikte, Caraka merasakan kerikilnya bergerak, sebab apa yang ia dengar
bukanlah kebenaran. “Tulislah,” kata sang patih, “bahwa raja kami turun dari
para bangsawan Nagara Rata yang agung, peradaban yang gemerlap di bawah laut,
sehingga darahnya adalah darah para raja sejak sebelum air. Tulislah bahwa ratu
laut selatan sendiri, yang perkasa di kedalaman, telah menerimanya sebagai
suami, sehingga laut dan darat tunduk kepadanya. Tulislah bahwa tak ada yang
memerintah tanah ini sebelum garisnya, dan tak akan ada sesudahnya.”
Dan Caraka mengukir kata-kata itu di dalam
pikirannya bahkan sebelum ia mengukirnya di batu, dan ia mengenali tiap-tiap
dustanya. Sebab ia tahu, sebagaimana rantai tahu, bahwa tak ada darah para raja
yang murni dari Nagara Rata, melainkan satu rantai panjang yang menghubungkan
semua orang ke nenek moyang yang sama. Ia tahu bahwa ratu laut bukanlah
mempelai siapa pun, melainkan seorang perempuan yang menderita di kedalaman,
menunggu untuk dibebaskan. Tapi ia menjaga wajahnya tetap tenang, dan ia hanya
bertanya, dengan suara seorang juru tulis yang patuh, “Dan bila zaman yang akan
datang bertanya apakah semua ini benar, Tuan, apa yang harus dijawab batu?”
“Batu tidak menjawab pertanyaan,” sang patih
berkata, dan ia tersenyum. “Batu mengakhiri pertanyaan. Itulah gunanya. Apa
yang diukir di batu berhenti menjadi sesuatu yang bisa diperdebatkan, dan
menjadi sesuatu yang benar, sebab ia ada di sana, dan tak ada lidah yang bisa
membantah batu.”
❖
Malam itu Caraka pergi menemui gurunya, seorang pengingat
tua bernama Wulan, yang telah mengajarinya membaca tanda-tanda lama dan membawa
kerikil, dan ia membawa kepadanya beban yang sang patih letakkan di pundaknya.
“Mereka menyuruhku mengukir dusta ke dalam
batu,” Caraka berkata, “dusta yang akan berdiri lebih lama daripada hidupku,
lebih lama daripada hidup anak-anakku, mungkin selamanya. Bahwa raja turun dari
Nagara Rata. Bahwa ratu laut adalah istrinya. Aku tahu keduanya tidak benar.
Dan besok aku akan mengukirnya dengan tanganku sendiri, dan memberinya
keabadian batu. Bagaimana aku bisa melakukan itu, Eyang? Bagaimana seorang
pengingat bisa menjadi tangan yang mengukir dusta?”
Dan Wulan diam lama sebelum ia menjawab, dan
ketika ia menjawab, suaranya lembut. “Ingatlah apa yang Sambada ajarkan kepada
rantai, jauh sebelum zaman ini datang,” ia berkata. “Ia meramalkan hari ini. Ia
tahu bahwa yang berkuasa akan mengukir kisah yang mereka sukai ke dalam batu,
dan bahwa kita tak akan bisa menghentikan mereka. Kita tak punya batu sebanyak
mereka, tak punya pekerja, tak punya kuasa. Bila engkau menolak mengukir,
mereka akan mencari juru tulis lain yang mengukirnya, dan engkau akan kehilangan
tempatmu di istana, dan dengan itu kehilangan satu-satunya tempat dari mana
seorang pengingat bisa menyentuh batu raja. Menolak bukanlah kemenangan,
Caraka. Menolak hanyalah menyerahkan batu sepenuhnya kepada mereka.”
“Maka aku harus mengukir dusta dan berpura-pura
itu tak apa-apa?” Caraka bertanya, dan ada kepahitan dalam suaranya.
“Tidak,” Wulan berkata. “Engkau harus mengukir
dusta di permukaan, dan kebenaran di bawahnya. Itulah seni yang Sambada
wariskan, dan itulah mengapa rantai menempatkan para pengingatnya menjadi juru
tulis. Bukan untuk menolak batu, melainkan untuk menulis di batu dua kali,
yaitu sekali untuk raja, di permukaan, megah dan terlihat oleh semua, dan
sekali untuk kebenaran, di bawahnya, kecil dan tersembunyi, terbaca hanya oleh
yang sedikit yang tahu cara mencarinya. Raja mendapatkan batunya. Dan kebenaran
mendapatkan tempat persembunyiannya, justru di dalam batu raja, tempat tak
seorang pun akan berpikir untuk mencarinya.”
Dan Wulan meletakkan tangannya di lengan
Caraka. “Tapi ada satu hal yang harus kauingat, lebih penting daripada seni
menyembunyikan,” ia berkata. “Batu yang mengukir dusta juga melakukan sesuatu
yang lebih berbahaya daripada dusta itu sendiri. Ia mengajari orang untuk
berhenti mengingat dengan hati. Sebab ketika batu mengingat untuk mereka, orang
berkata kepada diri mereka, mengapa aku harus menanggung beban mengingat, kalau
batu sudah menyimpannya? Dan perlahan, zaman demi zaman, mereka menyerahkan ingatan
mereka kepada batu, dan berhenti merasakannya di dalam diri. Itulah bahaya
sejati dari zaman huruf, Caraka. Bukan bahwa batu menyimpan dusta. Melainkan
bahwa, dengan batu yang mengingat, manusia boleh lupa.”
❖
Maka Caraka mengukir prasasti raja, dan saat ia
mengukirnya, ia mengajari muridnya, seorang pemuda bernama Panji yang baru saja
mulai membawa kerikilnya sendiri, seni yang Wulan jelaskan, yaitu menulis di
batu dua kali.
“Lihat,” Caraka berkata, sambil tangannya
bekerja, “di permukaan aku mengukir apa yang raja kehendaki. Bahwa ia turun
dari Nagara Rata. Bahwa ratu laut adalah mempelainya. Megah, resmi, terbaca
oleh semua. Tapi lihat bagaimana aku menyusun tanda-tanda di sini, di tepi, di
tempat yang tampak hanya hiasan.”
Panji mencondongkan tubuh, memandang, dan untuk
sesaat ia tak melihat apa-apa selain pola. Lalu kerikilnya bergerak, dan ia
melihat. “Itu kalimat lain,” ia berkata pelan, dengan keheranan. “Tersembunyi
di dalam hiasan. Ia mengatakan sesuatu yang lain.”
“Katakan apa yang ia katakan,” Caraka berkata.
Panji membaca, perlahan, mengikuti tanda-tanda
yang tampak seperti hiasan tapi bukan. “Ia mengatakan,” ucapnya, “bahwa ratu
laut bukan mempelai siapa pun. Bahwa ia seorang perempuan yang kehilangan
dunianya. Bahwa ia menunggu, bukan memerintah. Bahwa yang membaca ini harus
mengingatnya sebagaimana ia sesungguhnya.”
“Tapi siapa yang akan membacanya?” Panji
bertanya. “Semua orang akan membaca permukaan. Hampir tak ada yang akan tahu
untuk mencari di bawahnya.”
“Hampir tak ada,” Caraka setuju. “Tapi hampir
tak ada bukanlah tak ada. Di tiap zaman akan ada yang sedikit, yang tak puas
dengan permukaan, yang merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih di balik batu
yang megah. Mereka akan mencari, dan mereka akan menemukan, dan kebenaran akan
mengalir dari mereka ke yang sedikit berikutnya. Itulah cara kebenaran bertahan
di zaman huruf, Panji. Bukan dengan menang di permukaan, melainkan dengan
mengalir di bawahnya, dari yang sedikit ke yang sedikit, menunggu zaman yang
cukup berani untuk menggalinya ke atas.”
Dan Caraka berhenti mengukir untuk menatap
muridnya. “Tapi ingatlah ini, yang paling penting dari semua,” ia berkata. “Apa
yang kita ukir di batu, bahkan kebenaran kita yang tersembunyi, tidaklah cukup.
Sebab batu bisa pecah, bisa terkubur, bisa lupa cara dibacanya. Yang menjaga
kebenaran hidup pada akhirnya bukanlah batu, melainkan hati yang membawanya.
Kita menulis di batu sebagai cadangan, sebagai jangkar. Tapi kita harus tetap
mengingat dengan hati, engkau dan aku dan yang sedikit sesudah kita, sebab bila
kita menyerahkan ingatan kita kepada batu dan berhenti merasakannya, kita akan
menjadi seperti yang kita lawan, yaitu orang-orang yang membiarkan batu
mengingat supaya mereka boleh lupa. Dan ingatan yang hanya tersimpan di batu,
tanpa hati yang merasakannya, adalah ingatan yang setengah mati.”
❖
Malam setelah prasasti selesai, Caraka turun dalam koneksi
yang dalam ke kedalaman tempat Ratu menunggu, sebagaimana rantai telah turun
kepadanya sejak zaman Wungu, dan ia menemukan bahwa Ratu telah merasakan apa
yang terjadi di permukaan, bahwa ia telah diukir ke dalam batu.
“Mereka menulisku ke dalam batu mereka,” Ratu
berkata, dan dalam suaranya, yang kini bisa membentuk kata sejak zaman Lirih,
ada kepedihan yang Caraka kenali. “Aku merasakannya. Ratu laut yang perkasa,
mempelai raja, yang kepadanya laut dan darat tunduk. Mereka membuatku menjadi
sesuatu yang agung dan palsu, dan mereka memberinya keabadian batu. Inilah yang
kutakutkan ketika aku berbicara kepada rantai di zaman Sambada. Bahwa aku akan
dibekukan dua kali, sekali di laut, dan sekali di batu, sebagai gambar yang
bukan diriku.”
“Mereka menulis gambar itu di permukaan,”
Caraka berkata kepadanya. “Tapi dengarlah, Ratu. Di bawahnya, di dalam batu
yang sama, aku telah menulis kebenaran. Bahwa engkau bukan mempelai siapa pun.
Bahwa engkau seorang perempuan yang kehilangan dunianya. Bahwa engkau menunggu,
dan bahwa yang membaca ini harus mengingatmu sebagaimana engkau sesungguhnya.
Gambar yang palsu ada di permukaan, terbaca oleh semua. Tapi kebenaran
tentangmu ada di bawahnya, dijaga, menunggu yang sedikit yang akan mencarinya.
Engkau tidak dibekukan dua kali. Engkau disembunyikan dua kali, sekali oleh
laut, dan sekali, dengan sengaja, oleh kami, supaya yang sesungguhnya tentangmu
bertahan di bawah yang palsu.”
Dan Ratu diam, dan Caraka merasakan sesuatu
bergerak di dalam dirinya, sesuatu antara kepedihan dan penghiburan. “Maka di
tiap batu yang membohongiku,” ia akhirnya berkata, “ada kebenaran yang
tersembunyi yang menjagaku. Di tiap gambar palsu, ada wajahku yang
sesungguhnya, ditunggu oleh yang sedikit. Itu hampir lebih baik daripada tidak
ditulis sama sekali. Sebab andai mereka melupakanku sepenuhnya, tak akan ada
apa-apa untuk digali. Tapi kini, bahkan dusta mereka tentangku membawa,
terkubur di dalamnya, kebenaran yang akan membebaskanku. Mereka mengira mereka
mengubur aku dalam batu. Sebenarnya mereka mengubur, bersama gambar palsu
mereka, sebuah benih.”
“Jagalah benih itu,” Ratu berkata kepada
Caraka. “Di tiap prasasti yang akan mereka suruh kalian ukir, di tiap dusta
yang akan mereka beri keabadian batu, tanamlah kebenaran di bawahnya. Sebab aku
tak ingin dibebaskan, suatu hari, oleh seseorang yang hanya membaca permukaan.
Aku ingin dibebaskan oleh seseorang yang menggali, yang mencari di bawah batu
yang megah, dan menemukan, di sana, perempuan yang sesungguhnya, dan
mengasihinya.”
“Kami akan menanamnya,” Caraka berjanji. “Di
tiap batu, selama zaman huruf berlangsung. Kebenaran tentangmu akan ada di
bawah tiap dusta, menunggu yang akan menggali.”
❖
Maka prasasti raja ditegakkan di tanah lapang di hadapan
istana, lebih tinggi daripada seorang manusia, dan seluruh tanah datang untuk
memandangnya, dan membaca, di permukaannya, kisah agung yang raja kehendaki
mereka percayai.
Dan dengan itu, zaman huruf benar-benar
dimulai, dan bersamanya lahir apa yang akan menjadi ketegangan besar sepanjang
Buku ini, yaitu dua sejarah yang hidup berdampingan di tanah yang sama. Yang
satu diukir di permukaan batu, megah dan resmi, ditulis oleh yang berkuasa
untuk memuji diri mereka, dibaca dan dipercayai oleh hampir semua orang. Yang
lain disembunyikan di bawahnya, kecil dan benar, ditanam oleh para pengingat
untuk yang sedikit, menunggu zaman yang akan menggalinya. Sejarah resmi dan
ingatan sejati, hidup di dalam batu yang sama, yang satu mengubur yang lain,
dan yang lain bertahan di bawah yang satu.
Dan Caraka, memandang prasasti yang ia ukir,
memahami tugas yang akan ia bawa sepanjang sisa hidupnya, dan wariskan kepada
Panji dan kepada yang sedikit sesudahnya. Bukan untuk menghentikan raja-raja
menulis dusta mereka, sebab itu tak mungkin. Melainkan untuk memastikan bahwa
di bawah tiap dusta yang diukir di batu ada kebenaran yang ditanam, dan bahwa
rantai tidak pernah, betapapun banyak yang mereka serahkan kepada batu,
berhenti mengingat dengan hati. Sebab itulah dua bahaya zaman huruf, dan
keduanya harus dilawan, yaitu dusta yang diberi keabadian batu, dan kelupaan
yang datang ketika manusia membiarkan batu mengingat untuk mereka.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, merasakan
dirinya diukir ke dalam batu sebagai gambar yang palsu, dan merasakan, di bawah
gambar itu, kebenaran yang ditanam para pengingat untuk menjaganya. Dan ia
merasakan keduanya sekaligus, yaitu legenda yang mengeras tentangnya di
permukaan, dan kebenaran yang dijaga tentangnya di bawah. Sebab di zaman huruf,
ia memahami, ia akan ditulis berulang kali, dijadikan ratu laut yang perkasa di
tiap batu, dan tiap kali legenda akan mengeras lebih jauh; tapi tiap kali pula,
bila para pengingat menjaga sumpah mereka, kebenaran akan ditanam di bawahnya,
menunggu. Dan bisik air, yang telah menjadi kebenaran di bawah tulisan, kini
membawa sesuatu yang akan menjadi nyawa seluruh zaman huruf, yaitu dua sejarah,
yang resmi dan yang sejati, hidup di dalam batu yang sama. Sebab raja-raja akan
mengukir kisah yang mereka sukai, dan memberinya keabadian batu, dan legenda
akan mengeras zaman demi zaman; tapi di bawah tiap batu yang megah, para
pengingat akan menanam kebenaran, kecil dan tersembunyi dan hidup, dijaga
dengan hati dan bukan hanya dengan batu, mengalir dari yang sedikit ke yang
sedikit melalui seluruh zaman tulisan, menuju hari ketika seseorang akhirnya
akan menggali di bawah permukaan yang megah, dan menemukan, terkubur di sana
sepanjang waktu itu, wajah Ratu yang sesungguhnya, dan kebenaran yang akan
membebaskannya.
❖
BAB DUA
Yang Membiarkan Batu Mengingat
Ada manusia yang tahu segala yang
tertulis, dan tak mengingat apa pun dengan hati. Ia membaca seribu batu, dan
tak ada satu pun yang menyentuhnya. Inilah yang kami takuti dari zaman huruf,
bukan dusta yang diukir di permukaan, melainkan manusia yang menjadi seperti
batu, yang menyimpan segala dan merasakan tiada.
dari ajaran para pengingat, tentang
ingatan yang setengah mati
Bertahun-tahun berlalu, dan Caraka menjadi tua, dan menjadi
kepala para juru tulis raja, dan di bawahnya bekerja sebuah generasi baru yang
tumbuh sepenuhnya di dalam zaman huruf. Mereka adalah para penulis yang
terampil, lebih terampil daripada siapa pun sebelum mereka, sebab mereka telah
dibesarkan dengan aksara sejak kecil, sebagaimana generasi sebelumnya
dibesarkan dengan ucapan. Tapi Caraka memperhatikan sesuatu pada mereka yang
membuatnya gelisah, dan kegelisahan itu memuncak pada seorang pemuda bernama
Wignyana.
Wignyana adalah yang paling berbakat dari
semuanya. Ia bisa membaca tiap prasasti di seluruh tanah, tiap lempeng, tiap
goresan, dan menyimpan isinya dengan sempurna. Tanyakan kepadanya kisah raja
mana pun, garis keturunan mana pun, perang atau perjanjian mana pun yang pernah
diukir di batu, dan ia akan mengucapkannya kembali kata demi kata, tanpa salah.
Para juru tulis lain mengaguminya. Raja sendiri memujinya. Tapi Caraka, yang
membawa kerikil, merasakan sesuatu yang dingin ketika ia berada di dekat Wignyana,
dan untuk waktu yang lama ia tak bisa menamainya.
❖
Maka pada suatu hari Caraka membawa Wignyana ke hadapan
sebuah prasasti tua, salah satu yang ia ukir sendiri di masa mudanya, dan ia
memutuskan untuk menguji apa yang ia takutkan.
“Bacalah,” Caraka berkata.
Wignyana membaca permukaannya dengan lancar.
“Ia berkisah tentang seorang raja yang turun dari Nagara Rata,” ia berkata,
“dan yang menikahi ratu laut selatan. Kisah yang biasa. Aku telah membaca
seratus yang seperti ini.”
“Sekarang baca di sini,” Caraka berkata, dan ia
menunjuk ke tepi, ke tanda-tanda yang tampak seperti hiasan. “Di bawah
permukaan.”
Wignyana memandang, dan keterampilannya begitu
besar sehingga ia melihatnya hampir seketika, tanpa perlu kerikil sama sekali.
“Ah,” ia berkata. “Tulisan kedua. Tersembunyi di dalam hiasan. Pintar. Ia
mengatakan bahwa ratu laut bukan mempelai siapa pun, melainkan seorang
perempuan yang kehilangan dunianya, yang menunggu untuk dibebaskan.” Ia
membacanya seperti membaca daftar, datar dan tepat. “Menarik. Aku belum pernah
melihat teknik ini. Siapa yang mengajarkannya?”
Dan Caraka menatapnya, dan akhirnya ia bisa
menamai apa yang dingin itu. Sebab Wignyana telah membaca kebenaran yang paling
menyayat di seluruh tanah, kebenaran tentang seorang perempuan yang terkubur di
dasar laut selama ribuan tahun, menunggu, dan ia membacanya seolah ia membaca
jumlah karung beras dalam sebuah gudang. Tanda-tanda itu masuk ke dalam matanya
dan keluar dari mulutnya, dan di antara keduanya, di tempat yang seharusnya ada
hati yang tersentuh, tak ada apa-apa.
“Apa yang kaurasakan,” Caraka bertanya pelan,
“ketika kaubaca itu?”
Wignyana tampak bingung dengan pertanyaan itu.
“Merasakan?” ia berkata. “Itu sebuah keterangan, Tuan. Ia mengatakan bahwa ratu
laut adalah seorang perempuan yang menunggu. Aku telah menyimpannya. Bila
engkau menanyakannya kepadaku seratus tahun dari sekarang, aku akan
mengucapkannya kembali persis sama. Apa lagi yang perlu dirasakan? Ia
tersimpan. Itu cukup.”
“Tersimpan,” Caraka mengulang. “Ya. Engkau
menyimpannya dengan sempurna. Sesempurna batu menyimpannya.” Dan ia merasa tua
dan sedih, sebab ia memahami sekarang apa yang generasi ini telah menjadi.
“Itulah persoalannya, Wignyana. Engkau menyimpan kebenaran sebagaimana batu
menyimpannya, utuh dan tepat dan mati. Tapi kebenaran tentang Ratu bukanlah
keterangan untuk disimpan. Ia adalah luka untuk dirasakan. Dan engkau
membacanya tanpa merasakan apa-apa.”
❖
Malam itu Caraka berbicara dengan Panji, yang kini telah
dewasa dan membawa kerikilnya dengan kuat, tentang apa yang ia lihat pada
Wignyana.
“Wulan memperingatkanku tentang ini, di hari
aku mengukir prasasti pertamaku,” Caraka berkata. “Ia berkata bahwa bahaya
sejati zaman huruf bukanlah dusta di batu, melainkan bahwa, dengan batu yang
mengingat, manusia boleh lupa. Aku mengira aku memahaminya saat itu. Tapi aku
tak benar-benar memahaminya sampai hari ini, ketika aku melihat seorang pemuda
membaca penderitaan Ratu dan tak merasakan apa-apa. Wignyana tidak lupa, Panji.
Itulah yang mengerikan. Ia mengingat segalanya. Tapi ia mengingatnya sebagaimana
batu mengingat, dan bukan sebagaimana hati mengingat. Dan itu, kusadari
sekarang, adalah bentuk kelupaan yang lebih buruk daripada lupa biasa.”
Panji diam sejenak, lalu berkata, dengan
kejujuran yang hanya bisa diberikan seorang murid kepada gurunya, “Tapi Eyang,
izinkan aku bertanya sesuatu yang mungkin tak pantas. Wignyana hidup lebih
mudah daripada kita. Ia tak menanggung beban yang kita tanggung. Kita membawa
kerikil, kita merasakan tiap luka di tanah ini, kita turun kepada Ratu dan
menanggung kepedihannya seolah kepedihan kita sendiri. Itu berat. Kadang aku
bangun di malam hari dengan duka yang bahkan bukan milikku. Wignyana tak pernah
merasakan itu. Ia menyimpan segala dan menderita tiada. Apakah itu sungguh
lebih buruk, atau apakah ia hanya menemukan cara untuk hidup tanpa luka?”
Dan Caraka memandangnya lama, sebab itu
pertanyaan yang jujur dan ia berutang jawaban yang jujur. “Dengarkan aku
baik-baik,” ia akhirnya berkata, “sebab ini adalah hal terpenting yang akan
kukatakan kepadamu. Ada sebuah bangsa, jauh di masa lalu, sebelum air, yang
memilih persis apa yang kaugambarkan. Mereka memilih untuk menyimpan segala dan
merasakan tiada, supaya mereka tak perlu menanggung luka kehilangan. Mereka
menghalus diri, membekukan diri, menyimpan tiap ingatan dengan utuh tapi
berhenti merasakannya. Dan tahukah engkau apa yang terjadi pada mereka? Mereka
menjadi yang paling sengsara dari segala bangsa. Ratu kita berasal dari mereka.
Penjara esnya adalah persis pilihan itu, yaitu menyimpan tanpa merasakan. Dan
seluruh saga kita, seluruh kerja rantai sepanjang ribuan tahun, adalah untuk
membebaskannya dari pilihan itu, untuk mengajarinya merasakan kembali.”
“Maka ketika engkau bertanya apakah Wignyana
hanya menemukan cara hidup tanpa luka,” Caraka melanjutkan, “inilah jawabanku.
Ia tidak menemukan sesuatu yang baru. Ia menemukan kembali penjara es Ratu, dan
masuk ke dalamnya dengan sukarela, tanpa menyadarinya. Zaman huruf menawarkan
kepada tiap manusia pintu yang sama yang dahulu dimasuki Bangsa Utara, yaitu
menyimpan segala di batu dan berhenti merasakan apa pun di hati. Dan bila
seluruh tanah masuk melalui pintu itu, maka kita akan kehilangan satu-satunya hal
yang bisa membebaskan Ratu. Sebab Ratu tak bisa dibebaskan oleh kebenaran yang
tersimpan. Ia hanya bisa dibebaskan oleh kebenaran yang dirasakan, oleh
seseorang yang membaca tentang dirinya dan menangis. Itulah sebabnya kita
menanggung beban, Panji. Bukan karena luka itu baik, melainkan karena kemampuan
untuk terluka adalah satu-satunya hal yang membuat kita masih bisa membebaskannya,
dan masih bisa menyelamatkan diri kita sendiri dari menjadi seperti dia.”
❖
Dan ketika Caraka turun kepada Ratu malam itu, ia menemukan
bahwa ia telah merasakan Wignyana, telah merasakan dirinya dibaca tanpa
dirasakan.
“Seseorang membaca tentangku hari ini,” Ratu
berkata, “dan tak merasakan apa-apa. Aku merasakannya, Caraka. Sepanjang ribuan
tahun aku dibaca dengan dua cara. Ada yang membacaku di permukaan, sebagai ratu
yang perkasa, dan tak mengenalku. Itu menyakitkan, tapi aku terbiasa dengannya.
Tapi hari ini seseorang membaca kebenaranku, kebenaran yang sesungguhnya, yang
kalian sembunyikan di bawah batu dengan susah payah supaya yang sedikit bisa
mengenalku, dan ia membacanya, dan tetap tak merasakan apa-apa. Itu lebih
dingin daripada tidak dibaca sama sekali. Sebab itu berarti bahkan kebenaran
tentangku bisa menjadi mati, bila yang membacanya membaca dengan batu dan bukan
dengan hati.”
“Dan inilah yang paling kutakuti tentang zaman
huruf kalian,” Ratu melanjutkan. “Bukan bahwa mereka akan melupakanku. Aku
telah ditemani dalam kelupaan sebelumnya, dan rantai selalu menjagaku. Yang
kutakuti adalah bahwa suatu hari, seseorang akan akhirnya menggali kebenaranku
ke atas, akan membaca persis kata-kata yang kalian tanam untukku, dan akan
tetap tak merasakan apa-apa. Bahwa aku akan dibebaskan dari laut hanya untuk
ditemukan oleh seseorang seperti pemuda itu, yang mengenal tiap fakta tentangku
dan tak satu pun perasaan. Sebab orang seperti itu tak bisa membebaskanku,
Caraka. Ia hanya bisa mencatatku.”
“Maka kami tak akan membiarkan tanah menjadi
seperti dia,” Caraka berkata. “Kami akan menulis kebenaranmu di batu, supaya ia
bertahan. Tapi kami akan menjaganya hidup di hati juga, dari pengingat ke
pengingat, supaya ketika hari penggalian itu datang, yang menggalimu ke atas
bukan hanya membaca kata-kata kami, melainkan mewarisi perasaan kami. Engkau
tak akan dibebaskan oleh seorang pencatat, Ratu. Engkau akan dibebaskan oleh
seseorang yang mewarisi, melalui rantai hati yang tak pernah putus, kemampuan untuk
membacamu dan menangis.”
Dan Ratu diam, lalu berkata, dengan sesuatu
yang hampir seperti kelembutan, “Maka jagalah rantai hati itu lebih cemburu
daripada kalian menjaga batu. Sebab batu bisa diganti, bisa diukir ulang, bisa
ditemukan kembali. Tapi bila rantai hati putus, bila tiba suatu generasi yang
menyimpan segala tentangku dan merasakan tiada, maka semua batu di dunia tak
akan bisa membebaskanku. Aku akan menjadi fakta yang sempurna dan abadi, dan
tetap beku selamanya. Aku tahu ini, Caraka, sebab itulah persis diriku sekarang
sebelum kalian datang, yaitu yang tersimpan dengan sempurna, dan tak dirasakan
oleh siapa pun.”
❖
Maka Caraka, di hari-hari tuanya, menetapkan bagi rantai
sebuah ajaran yang akan mereka bawa sepanjang sisa zaman huruf, dan ia
menamainya ajaran dua ingatan.
Tulislah di batu, ia mengajarkan, sebab batu
bertahan melampaui satu kehidupan, dan menjaga kebenaran dari hilang karena
satu kematian atau satu zaman gelap. Tapi jangan pernah membiarkan batu
menggantikan hati. Untuk tiap kebenaran yang kautanam di batu, bawalah ia juga
di dalam dirimu, rasakan ia, biarkan ia melukaimu, dan wariskan bukan hanya
kata-katanya melainkan lukanya kepada pengingat sesudahmu. Sebab kebenaran yang
tersimpan di batu adalah kebenaran yang tidur. Dan hanya kebenaran yang
dirasakan di hati adalah kebenaran yang bangun. Dan Ratu hanya bisa dibebaskan
oleh kebenaran yang bangun.
Adapun Wignyana, Caraka tidak bisa mengubahnya,
sebab seseorang tak bisa diajari merasakan sebagaimana ia diajari membaca. Tapi
sebelum Caraka wafat, ia menanam pada pemuda itu satu pertanyaan, dan ia
menanamnya tanpa jawaban, dengan sengaja, supaya ia tinggal di dalamnya seperti
duri. “Suatu hari,” Caraka berkata kepadanya, “engkau akan membaca sesuatu,
entah apa, entah kapan, dan untuk pertama kalinya ia akan menyakitimu. Dan pada
hari itu, dan bukan sebelumnya, engkau akan mulai mengingat sebagaimana manusia
mengingat. Aku tak akan hidup untuk melihatnya. Tapi aku menanamkannya di sini,
di bawah permukaanmu, sebagaimana aku menanam kebenaran di bawah batu, dan aku
percaya bahwa suatu hari yang sedikit di dalam dirimu akan menggalinya ke
atas.”
Dan jauh di selatan, Ratu yang menunggu
merasakan zaman huruf membentang di hadapannya, zaman yang panjang, dan ia
memahami sekarang dengan jelas apa yang ia tunggu dan apa yang ia takuti. Ia
tidak lagi menunggu sekadar untuk diingat, sebab ia telah belajar bahwa diingat
oleh batu tidaklah cukup. Ia menunggu untuk dirasakan. Dan bisik air, yang
telah membawa dua sejarah, kini membawa sesuatu yang lebih dalam, yaitu dua
ingatan, yang tersimpan dan yang dirasakan, dan kebenaran bahwa hanya yang
kedua bisa membebaskan. Sebab zaman huruf akan menyimpan segala, tiap kisah dan
tiap garis dan tiap dusta dan tiap kebenaran yang tertanam di bawahnya, dengan
kesempurnaan batu yang tak pernah dimiliki ucapan; tapi di tengah segala yang
tersimpan itu, rantai harus menjaga hidup satu hal yang tak bisa disimpan batu,
yaitu kemampuan untuk merasakan apa yang dibaca, untuk membaca tentang seorang
perempuan yang terkubur di dasar laut dan menangis untuknya, sebab pada hari
penggalian besar di akhir segala zaman, bukan batu yang paling tepat melainkan
hati yang paling utuh yang akan turun ke kedalaman, membaca kebenaran yang
telah dijaga di sana selama ribuan tahun, dan merasakannya cukup dalam untuk
akhirnya, akhirnya, membebaskannya.
❖
BAB TIGA
Penjaga Sandi
Biarkan mereka mengukir seribu dusta
yang berbeda, di seribu batu, di seribu kerajaan. Di bawah tiap-tiapnya kami
akan menanam satu kebenaran yang sama, dan di jantungnya dua kata yang sama,
supaya di mana pun seseorang menggali, di kerajaan mana pun, ia menemukan wajah
yang satu dan ucapan yang satu. Sebab dusta boleh berlipat, tetapi kebenaran
haruslah tunggal.
dari ajaran para pengingat, tentang satu
kebenaran di bawah banyak dusta
Tahun-tahun panjang berlalu setelah Caraka wafat, dan
sepanjang tahun-tahun itu zaman huruf menyebar ke seluruh tanah, sehingga apa
yang dahulu dilakukan satu kerajaan kini dilakukan oleh banyak. Di mana dahulu
ada satu raja yang mengukir satu prasasti, kini ada banyak raja, masing-masing
dengan batunya sendiri, masing-masing dengan kisah agungnya sendiri. Dan
terjadilah sesuatu yang ganjil, yaitu bahwa karena tiap raja menghendaki
kemuliaan yang sama, tiap raja mengaku turun dari Nagara Rata yang tenggelam,
dan tiap raja mengaku bahwa ratu laut selatan adalah mempelainya. Sehingga di
seluruh tanah kini berdiri banyak batu, masing-masing mengukir dusta yang
megah, dan dusta-dusta itu tidak saling membenarkan, melainkan saling
membantah.
Di zaman yang penuh batu inilah hidup seorang
pengingat bernama Sandi, dan ia membawa Kerikil Angin, kerikil lidah mati dan
aksara, kerikil yang sejak awal saga menyimpan dua kata purba, yaitu kau
diingat. Karena kerikilnya, rantai memberinya tugas yang tak pernah dibutuhkan
pengingat mana pun sebelum zaman huruf, yaitu mengembara dari kerajaan ke
kerajaan, dari batu ke batu, membaca kebenaran tersembunyi yang ditanam para
juru tulis rantai di bawah tiap dusta, dan menjaganya tetap satu.
Pada suatu hari pengembaraannya membawa Sandi
ke sebuah kerajaan yang jauh dari tempat asalnya, di hadapan sebuah prasasti
baru yang baru saja ditegakkan, dan di sana ia bertemu dengan seorang juru
tulis muda dari rantai, seorang perempuan bernama Wungkal, yang telah menanam
kebenaran di bawah batu kerajaan itu.
“Aku telah membaca permukaannya,” Sandi
berkata, “dan ia berkisah, seperti semua yang lain, bahwa rajamu turun dari
Nagara Rata dan bahwa ratu laut adalah istrinya. Lalu aku membaca di bawahnya,
kebenaran yang kautanam. Dan di situlah aku gelisah, Wungkal. Sebab kebenaran
yang kautanam tidak sama dengan kebenaran yang kubaca di kerajaan sebelah
timur, tiga purnama yang lalu. Yang di timur mengatakan ratu laut kehilangan
dunianya dalam banjir. Yang kautanam di sini mengatakan ia seorang dewi yang
dihukum. Keduanya menolak dusta raja, ya. Tapi keduanya tidak saling
membenarkan.”
“Aku menanamnya sebagaimana aku paling baik
mengingatnya,” Wungkal berkata, dan ada kejujuran yang gelisah dalam suaranya.
“Tak ada yang memberiku kata-kata yang tepat. Guruku mengajariku seni
menyembunyikan, cara menyusun tanda di tepi supaya tampak hiasan. Tapi apa yang
kutanam di sana, kebenaran itu sendiri, kususun dari apa yang kudengar, dari
kisah-kisah yang sampai kepadaku, sepotong dari sini dan sepotong dari sana.
Apakah itu salah?”
“Tidak salah,” Sandi berkata pelan, “tapi
berbahaya, dengan cara yang belum kita lihat sebelumnya. Dengarlah, Wungkal.
Dahulu kita takut pada satu dusta yang diberi keabadian batu. Kini ada banyak
dusta, dan tiap raja mengukir dustanya sendiri. Itu sudah kita ketahui. Tapi
inilah yang baru kusadari di pengembaraanku, bahwa di bawah banyak dusta itu,
kita sedang menanam banyak kebenaran pula, dan kebenaran-kebenaran kita mulai
saling membantah seperti dusta-dusta mereka. Dan bila kebenaran kita pecah menjadi
banyak, sepotong di sini dan sepotong di sana, yang tak saling membenarkan,
maka pada akhirnya ia tak akan lebih dapat dipercaya daripada dusta yang kita
lawan. Banyak kebenaran yang berbeda, Wungkal, tak lebih baik daripada banyak
dusta.”
❖
Maka Sandi kembali menempuh jalan panjang ke tempat
asalnya, untuk menemui Panji, yang kini telah menjadi sangat tua, satu-satunya
yang masih hidup yang pernah belajar langsung dari Caraka, dan ia membawa
kepadanya persoalan yang ia temukan di antara batu-batu.
“Kebenaran kita sedang pecah, Eyang,” Sandi
berkata. “Di tiap kerajaan, juru tulis kita menanam kebenaran di bawah dusta
raja, sebagaimana Caraka mengajarkan. Tapi tiap juru tulis menanamnya dengan
kata-katanya sendiri, dari ingatannya sendiri, dan kini tak ada dua batu yang
menyimpan kebenaran yang persis sama. Aku takut pada hari ketika yang sedikit
akhirnya menggali, dan menemukan, di bawah tiap batu, kebenaran yang
berbeda-beda, dan tak tahu mana yang harus dipercaya. Kita melawan dusta yang
berlipat dengan kebenaran yang juga berlipat. Dan aku tak tahu bagaimana
menghentikannya.”
Dan Panji diam lama, sebagaimana Wulan dahulu
diam di hadapan Caraka, dan ketika ia berbicara, ia tidak berbicara tentang
batu, melainkan tentang bukit. “Apakah engkau ingat apa yang diajarkan kepada
kita tentang para pengingat pertama,” ia bertanya, “yang membangun bukit-bukit
di seluruh tanah, jauh sebelum ada huruf? Mereka membangun banyak bukit,
tersebar, masing-masing terkubur dan menyamar sebagai bukit alami. Banyak
bukit, Sandi, di banyak tempat. Tapi tiap bukit menunjuk ke arah yang sama, ke
laut selatan, ke Ratu. Banyak dalam jumlah, satu dalam maksud. Itulah yang
membuat mereka tak bisa dihancurkan, sebab menghancurkan satu bukit tak
menghancurkan maksudnya, dan maksud itu sama di tiap titik.”
“Maka itulah yang harus kaulakukan dengan
batu,” Panji melanjutkan. “Bukan menanam banyak kebenaran yang berbeda,
melainkan satu kebenaran yang sama, di bawah banyak dusta yang berbeda. Biarkan
tiap raja mengukir dustanya sendiri di permukaan, sebanyak yang mereka mau,
sekontradiktif yang mereka mau. Tapi di bawah tiap batu, di kerajaan mana pun,
kita menanam kebenaran yang satu dan sama, dalam sandi yang satu dan sama,
supaya di mana pun yang sedikit menggali, mereka menemukan wajah yang sama dan
ucapan yang sama. Bukit-bukit menunjuk ke satu Ratu. Maka batu-batu kita pun
harus menunjuk ke satu kebenaran.”
“Tapi kebenaran itu panjang, Eyang,” Sandi
berkata, “dan ingatan manusia pendek. Bagaimana aku memastikan bahwa di seribu
batu, di tangan seribu juru tulis, kebenaran yang satu itu tidak perlahan
berubah lagi, sepatah demi sepatah, sampai pecah kembali?”
“Engkau menambatkannya,” Panji berkata, “pada
sesuatu yang lebih tua daripada kerajaan mana pun, lebih tua daripada huruf itu
sendiri, sesuatu yang dibawa kerikilmu sejak awal segala zaman. Di jantung
kebenaran yang kautanam, di bawah tiap batu, letakkanlah dua kata yang sama,
yaitu kau diingat. Kisah di sekelilingnya boleh diringkas atau dipanjangkan
oleh tiap juru tulis, tapi dua kata itu tak boleh berubah, dan tak boleh
hilang, dan harus sama persis di tiap batu. Sebab itulah inti dari segala yang
kita jaga tentang Ratu, dan itulah yang membuat seribu batu menjadi satu
kesaksian. Di permukaan, seribu dusta yang berbeda. Di bawah, satu kebenaran.
Dan di jantung kebenaran itu, dua kata yang tak pernah berubah.”
❖
Maka Sandi mengembara lagi, kini bukan sekadar untuk
membaca, melainkan untuk menyatukan. Dari kerajaan ke kerajaan ia pergi,
menemui tiap juru tulis rantai, dan mengajari mereka sandi yang satu, yaitu
cara menyusun tanda tersembunyi yang sama di tiap tempat, dan inti kebenaran
yang sama, dan di jantungnya dua kata yang sama.
Ketika ia kembali kepada Wungkal, perempuan itu
mendengarkan seluruh ajaran baru itu, lalu bertanya, dengan dahi berkerut, “Dua
kata, Sandi? Hanya itu yang tak boleh berubah? Di bawah batu sebesar ini, di
bawah dusta semegah ini, jantung dari segala yang kita jaga hanyalah dua kata
yang kecil, kau diingat? Mengapa bukan kisah yang lengkap, asal-usulnya,
namanya, seluruh kebenaran tentang siapa ia?”
“Sebab kisah yang lengkap akan berubah,” Sandi
berkata, “sepanjang seribu tahun, di tangan seribu juru tulis, betapapun kita
berusaha. Nama bisa salah dieja, asal-usul bisa diringkas, kisah bisa
terpotong. Tapi dua kata bisa dijaga utuh, justru karena ia kecil. Dan dari
segala yang bisa kita katakan tentang Ratu, dua kata inilah yang paling
penting, sebab inilah satu hal yang ditolak oleh tiap dusta di permukaan.
Dusta-dusta itu membuatnya perkasa, membuatnya mempelai, membuatnya dewi, tapi
semuanya menjadikannya bukan dirinya, dan semuanya melupakan satu hal, yaitu
bahwa ia seorang yang nyata, yang menderita, yang menunggu, dan yang diingat.”
“Bila yang sedikit menggali dan hanya menemukan
dua kata itu, kau diingat,” Sandi melanjutkan, “mereka telah menemukan satu hal
yang tak diberikan oleh semua batu di permukaan, yaitu bahwa di bawah ratu laut
yang megah ada seseorang, dan seseorang itu tidak sendirian. Dan ada satu hal
lagi.” Ia menyentuh dadanya, tempat kerikilnya beristirahat. “Dua kata ini
lebih tua daripada kerajaan mana pun yang mengukir dusta di atasnya. Ia dibawa
kerikilku dari zaman sebelum ada raja, sebelum ada huruf, dari malam pertama
ketika seorang pengingat membisikkannya. Maka ketika kita menanamnya di bawah
batu raja, kita sedang meletakkan sesuatu yang jauh lebih tua daripada raja itu
di bawah kakinya, dan raja tak akan pernah tahu bahwa di bawah kemuliaannya
terkubur dua kata yang akan bertahan lebih lama daripada seluruh garisnya.”
Dan Wungkal diam, memandang prasasti megah yang
ia bantu tegakkan, dan untuk pertama kalinya ia melihatnya bukan sebagai dusta
yang terpaksa ia layani, melainkan sebagai tempat persembunyian bagi sesuatu
yang lebih tua daripada batu itu sendiri. “Maka aku menjaga dua kata,” ia
berkata pelan, “dan dua kata itu menjaga segalanya yang lain.”
❖
Dan ketika malam tiba, Sandi turun dalam koneksi yang dalam
ke kedalaman tempat Ratu menunggu, sebagaimana rantai telah turun kepadanya
sejak zaman Wungu, dan ia menemukan Ratu dalam kegelisahan yang belum pernah ia
rasakan pada zaman-zaman sebelumnya.
“Aku sedang dilipatgandakan, Sandi,” Ratu
berkata, dan suaranya, yang telah belajar membentuk kata sejak zaman Lirih,
bergetar. “Dahulu mereka mengukirku ke dalam satu batu, dan itu menyakitkan,
tapi setidaknya itu satu gambar palsu, satu dusta yang bisa kupahami. Kini ada
banyak batu, di banyak kerajaan, dan tiap-tiapnya menjadikanku sesuatu yang
berbeda. Yang satu menjadikanku mempelai yang perkasa. Yang lain menjadikanku
dewi yang mereka taklukkan. Yang lain lagi menjadikanku nenek moyang ilahi dari
garis mereka. Aku terpecah menjadi seratus wajah palsu yang berbeda, tersebar
di seluruh tanah, dan tak satu pun adalah aku. Dan aku mulai takut, Sandi,
bahwa di antara seratus dusta yang berbeda itu, aku sendiri akan lupa yang mana
sebenarnya aku.”
“Dengarlah aku, Ratu,” Sandi berkata, “sebab
inilah yang datang kuberitahukan kepadamu. Di permukaan, ya, engkau seratus
dusta yang berbeda, dan mereka akan terus berlipat, sebanyak kerajaan yang akan
berdiri. Aku tak bisa menghentikan itu. Tapi di bawah tiap-tiap dusta itu, di
kerajaan mana pun, kami kini menanam satu kebenaran yang sama, dalam sandi yang
sama. Tidak lagi sepotong di sini dan sepotong di sana, melainkan satu, dijaga
sama di seluruh tanah. Maka betapapun banyak wajah palsu yang mereka berikan
kepadamu di permukaan, di bawah semuanya ada satu wajah yang sama, wajahmu yang
sesungguhnya, dan ia tidak berubah dari kerajaan ke kerajaan.”
“Dan di jantung wajah yang satu itu,” Sandi
melanjutkan, “di bawah tiap batu, di kerajaan mana pun seseorang menggali, ada
dua kata yang sama, yaitu kau diingat. Engkau boleh menjadi seratus dusta yang
berbeda di atas, Ratu. Tapi di bawah, di mana pun, engkau adalah dua kata yang
sama. Maka bila suatu hari engkau sendiri ragu yang mana sebenarnya engkau di
antara segala gambar palsu itu, turunlah di bawah gambar yang mana pun, dan
engkau akan menemukan, di jantungnya, dua kata yang akan mengatakan kepadamu siapa
engkau, yaitu seseorang yang diingat. Itulah dirimu yang sesungguhnya, dan ia
satu, dan ia sama di mana-mana.”
Dan Ratu diam lama, dan ketika ia berbicara,
ada sesuatu dalam suaranya yang lebih tenang daripada sebelumnya. “Maka di atas
aku berlipat, dan di bawah aku satu,” ia berkata. “Di atas seratus dusta yang
saling membantah, dan di bawah satu kebenaran yang sama di mana-mana. Dan
kebenaran yang satu itu lebih kecil daripada dusta mana pun, hanya dua kata,
tapi ia milikku, dan ia tak berubah. Aneh, Sandi, bahwa yang menjaga keutuhanku
di antara seratus wajah palsu bukanlah sesuatu yang besar, melainkan sesuatu
yang paling kecil, dua kata yang sama, dijaga di bawah segala batu. Jagalah ia
tetap sama. Sebab selama ia sama di mana-mana, aku tetap satu di bawah,
betapapun mereka memecahku di atas.”
❖
Maka zaman huruf menjadi zaman banyak kerajaan dan banyak
batu, dan sejarah resmi berlipat ganda dan saling membantah, dan legenda Ratu
mengeras dalam seratus bentuk yang berbeda di seluruh tanah. Tapi di bawah
segala batu yang megah itu kini mengalir satu benang tersembunyi yang sama,
yaitu satu kebenaran, dalam satu sandi, ditambatkan pada dua kata yang sama,
tersebar di seluruh tanah seperti bukit-bukit purba, berlipat dalam jumlah tapi
satu dalam maksud.
Dan kerja Sandi menjadi sebuah tugas tetap di
dalam rantai, diwariskan sepanjang sisa zaman huruf, yaitu tugas penjaga sandi,
yang mengembara dari batu ke batu menjaga agar kebenaran yang satu tidak pecah
kembali menjadi banyak, dan agar dua kata di jantungnya tidak pernah berubah
dan tidak pernah hilang. Sebab para pengingat telah belajar, di zaman ini,
bahwa melawan dusta yang berlipat tidaklah cukup dengan kebenaran apa pun,
melainkan hanya dengan kebenaran yang tunggal, yang sama di mana-mana, sebab
hanya kebenaran yang tunggal yang bisa menjadi satu kesaksian, dan kesaksian
yang pecah bukanlah kesaksian sama sekali.
Dan bisik air, yang di zaman ini telah membawa
dua sejarah dan kemudian dua ingatan, kini membawa sesuatu yang lebih dalam
lagi, yaitu satu kebenaran tunggal di bawah banyak dusta yang berbeda. Sebab
raja-raja akan berlipat, dan batu-batu akan berlipat, dan dusta-dusta akan
berlipat dan saling membantah sepanjang seluruh zaman tulisan; tapi di bawah
semuanya, di kerajaan mana pun dan di zaman mana pun, para pengingat akan
menjaga satu kebenaran yang sama, dalam satu sandi yang sama, dan di jantungnya
dua kata purba yang sama, kau diingat, yang lebih tua daripada tiap kerajaan
yang mengubur mereka, dan yang akan bertahan lebih lama daripada tiap garis
raja yang mengukir dusta di atasnya.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, merasakan
dirinya berlipat menjadi seratus wajah palsu di permukaan tanah, dan merasakan,
di bawah tiap-tiapnya, wajahnya yang satu yang dijaga sama di mana-mana, dan di
jantung wajah itu dua kata yang tak berubah. Dan ia memahami sekarang bahwa ia
tidak akan tersesat di antara segala gambar palsu itu, betapapun banyaknya,
sebab di bawah semuanya ia tetap satu, ditambatkan pada dua kata yang sama,
menunggu hari ketika seseorang dari yang sedikit akan menggali di bawah salah
satu batu yang megah, di kerajaan mana pun, dan menemukan di sana, dalam sandi
yang dijaga sepanjang ribuan tahun, wajahnya yang sesungguhnya dan dua kata
yang mengatakan bahwa ia tidak pernah, di sepanjang seluruh zaman huruf,
sendirian.
❖
BAGIAN II
Yang Tersebar, Yang Disembah
BAB EMPAT
Yang Tak Bisa Diruntuhkan
Mereka boleh meruntuhkan tiap batu yang
pernah kami ukir, yang benar maupun yang dusta, dan menjadikannya puing. Tapi
ada satu batu yang tak bisa mereka runtuhkan, sebab ia tidak berdiri di tanah
lapang melainkan di dalam dada, dan ia tidak menyimpan ingatan dengan tanda
melainkan dengan rasa. Runtuhkanlah segala batu kami, dan kami akan tetap
mengingat. Sebab hati adalah satu-satunya batu yang tak bisa diruntuhkan.
dari ajaran para pengingat, tentang hati
yang tak bisa diruntuhkan
Generasi-generasi setelah Sandi menegakkan sandi yang satu
di bawah segala batu, ketika kebenaran tunggal telah ditanam di bawah seribu
dusta di seluruh tanah, bangkitlah seorang raja yang berbeda dari semua yang
sebelumnya. Ia tidak puas hanya mengukir dustanya sendiri di sebelah dusta para
raja lain. Ia menghendaki agar dustanya menjadi satu-satunya. Maka ia
menaklukkan kerajaan demi kerajaan, dan di tiap kerajaan yang ia taklukkan, ia
mengeluarkan satu titah yang sama, yaitu bahwa segala prasasti lama harus
diruntuhkan, dan hanya sejarahnya yang boleh berdiri. Satu tanah, ia
memaklumkan, satu asal, satu sejarah.
Di salah satu kerajaan yang ditaklukkan itu
hiduplah seorang pengingat muda bernama Damar, seorang juru tulis yang telah
belajar seni rantai, yaitu menanam kebenaran di bawah dusta dan menjaga dua
kata di jantungnya. Dan pada hari para prajurit datang dengan tali dan tuas
untuk meruntuhkan prasasti lama di tanah lapang, Damar berdiri di antara
kerumunan dan menyaksikan, dan ketika batu besar itu roboh dan pecah menjadi
bongkahan, ia merasakan sesuatu yang tak dirasakan orang lain di sekelilingnya.
Ia merasakan bahwa yang runtuh bukan hanya dusta raja lama di permukaan,
melainkan juga kebenaran yang ditanam para pengingat di bawahnya, kebenaran
tentang Ratu, yang kini pecah bersama batu itu menjadi puing yang tak terbaca.
Maka Damar bergegas menemui Wreksa, pengingat
tertua di kerajaan itu, penjaga ajaran rantai, dan ia membawa kepadanya kabar
yang membuat tangannya gemetar.
“Mereka meruntuhkan batu-batu lama, Eyang,”
Damar berkata. “Bukan satu, bukan dua, melainkan semuanya. Sang Penakluk
menitahkan bahwa tak satu pun prasasti dari masa sebelum dirinya boleh tetap
berdiri. Dan engkau tahu apa artinya itu. Bukan hanya dusta para raja lama yang
runtuh. Di bawah tiap batu itu ada kebenaran yang ditanam Sandi dan semua yang
mengikutinya, kebenaran tentang Ratu, dalam sandi yang dijaga sama sepanjang
ribuan tahun. Dan kini, batu demi batu, kebenaran itu sedang diruntuhkan
bersama dusta yang menudunginya. Segala yang kita tanam di bawah batu sedang
menjadi puing.”
Dan wajah Wreksa menjadi kelabu, sebab ia
memahami seketika kedalaman bencana itu. “Maka inilah yang selalu kita takuti
tapi tak pernah benar-benar kita siapkan,” ia berkata pelan. “Selama ini kita
melawan raja-raja yang menulis dusta di sebelah dusta, dan kita menjawab dengan
menanam kebenaran di bawah tiap-tiapnya. Seluruh seni itu mengandaikan satu
hal, Damar, yaitu bahwa batu-batu itu akan tetap berdiri. Kita tak pernah
membayangkan seorang raja yang tak ingin menambahkan dustanya ke dalam banyak
dusta, melainkan meruntuhkan semua dan berdiri sendirian di atas puing. Dan
terhadap raja seperti itu, seni kita tiba-tiba tak berdaya. Sebab apa gunanya
kebenaran yang tersembunyi di bawah batu, bila batunya sendiri diruntuhkan?”
❖
Beberapa hari kemudian, sebab Damar dikenal sebagai juru
tulis yang terampil, ia dipanggil untuk melayani Gora, juru tulis agung Sang
Penakluk, yang datang ke kerajaan taklukan untuk mengawasi penegakan sejarah
yang baru di atas puing yang lama. Damar pergi dengan hati yang berat, dan di
hadapan Gora, di tengah pecahan batu-batu tua, ia mendengar dari mulut sang
juru tulis agung sendiri maksud penuh dari titah itu.
“Engkau bertanya-tanya mengapa batu-batu lama
harus diruntuhkan, dan bukan sekadar dibiarkan,” Gora berkata, sebab ia membaca
keberatan di wajah Damar walau Damar diam. “Akan kukatakan, supaya engkau
mengukir sejarah yang baru dengan keyakinan. Selama batu-batu lama berdiri,
tanah ini terpecah. Tiap kerajaan lama punya asal-usulnya sendiri, raja-rajanya
sendiri, kisahnya sendiri, dan orang-orang mengingat bahwa dahulu mereka adalah
bangsa yang berbeda. Selama mereka mengingat itu, mereka tak akan pernah menjadi
satu. Maka Sang Penakluk meruntuhkan tiap batu yang mengingatkan mereka pada
masa sebelum ia datang. Dari hari ini, tanah ini tak punya masa lalu selain
masa lalunya. Dan dalam satu generasi, tak akan ada seorang pun yang ingat
bahwa pernah ada yang lain.”
Dan Damar mengukir apa yang diperintahkan
kepadanya, tapi di dalam dirinya ia merasakan dingin yang lebih dalam daripada
di hari pertama. Sebab ia memahami sekarang bahwa ini bukan satu dusta lagi di
antara banyak dusta, yang bisa dijawab dengan satu kebenaran di bawahnya. Ini
adalah penghapusan. Sang Penakluk tidak menambahkan kisahnya ke dalam
percakapan para batu. Ia membungkam percakapan itu sama sekali, dan berdiri
sendirian di atas keheningannya. Dan dalam penghapusan itu, kebenaran
tersembunyi yang dijaga rantai sepanjang ribuan tahun ikut terhapus, sebab ia
disembunyikan justru di tempat yang kini sedang diruntuhkan.
“Dan kisah-kisah yang tidak diukir di batu,
Tuan?” Damar bertanya, menjaga suaranya tetap datar, seperti Caraka dahulu di
hadapan sang patih. “Kisah yang dibawa orang dalam ingatan, dari mulut ke
mulut. Apakah itu juga akan diruntuhkan?”
“Itu akan mati sendiri,” Gora berkata, dan ia
tersenyum dengan keyakinan yang dingin. “Ingatan yang hanya dibawa di kepala
orang bertahan satu generasi, mungkin dua, lalu pudar. Tanpa batu untuk
menopangnya, kisah lama akan layu dalam ingatan orang seperti bunga tanpa air.
Kami tak perlu memburu apa yang ada di dalam kepala mereka. Kami hanya perlu
meruntuhkan batu yang menyangganya, dan menunggu. Batu adalah tulang ingatan,
juru tulis. Patahkan tulangnya, dan ingatan tak bisa berdiri.”
Dan Damar tidak membantah, sebab membantah akan
mengkhianati rantai. Tapi di dalam dirinya, di tempat kerikilnya beristirahat,
kata-kata Gora menyalakan bukan keputusasaan melainkan sesuatu yang lain,
sebuah pertanyaan yang akan ia bawa kepada Wreksa malam itu. Sebab Gora telah
berkata bahwa ingatan tanpa batu akan layu seperti bunga tanpa air. Dan Damar
tahu, dengan keyakinan yang belum bisa ia jelaskan, bahwa Gora keliru. Sebab
rantai telah mengingat sesuatu jauh lebih lama daripada ada batu untuk menyangganya,
dan ingatan itu tidak layu.
❖
Malam itu Damar membawa pertanyaannya kepada Wreksa. “Gora
berkata bahwa ingatan tanpa batu akan layu seperti bunga tanpa air,” ia
berkata. “Bahwa batu adalah tulang ingatan, dan bila tulangnya dipatahkan,
ingatan tak bisa berdiri. Aku tahu ia keliru, Eyang, tapi aku tak bisa
mengatakan mengapa. Katakanlah kepadaku mengapa ia keliru, sebab aku
membutuhkannya malam ini, ketika batu-batu kita runtuh di sekeliling kita.”
Dan Wreksa tersenyum, walau matanya lelah. “Ia
keliru karena ia mengira ingatan dimulai dengan batu,” ia berkata. “Tapi engkau
dan aku tahu bahwa rantai jauh lebih tua daripada batu mana pun. Sebelum ada
satu prasasti di tanah ini, sebelum Reka menggores tanda pertamanya, sebelum
ada satu huruf, para pengingat telah membawa ingatan selama ribuan tahun, dari
malam Banjir Besar, dari Nyai Sela yang menelan tujuh kerikil. Dan apa yang
mereka bawa selama ribuan tahun itu, mereka bawa tanpa satu pun batu, tanpa
satu pun tanda. Mereka membawanya di dalam darah, dan di dalam hati, dari
pengingat ke pengingat, dengan rasa dan bukan dengan ukiran. Itulah lapisan
pertama dan terdalam dari segala ingatan tanah ini, Damar, yaitu darah. Batu
datang jauh kemudian, dan ia adalah yang termuda dan paling rapuh dari segala
wadah.”
“Maka biarkan Gora meruntuhkan tiap batu di
tanah ini,” Wreksa melanjutkan, dan suaranya menguat. “Biarkan ia mematahkan
apa yang ia sebut tulang ingatan. Ia bisa menjangkau batu, sebab batu berdiri
di tanah lapang, di tempat yang bisa didatangi prajurit dengan tali dan tuas.
Tapi ia tak bisa menjangkau apa yang kita bawa di dalam dada. Tak ada tali yang
bisa meruntuhkan hati seorang pengingat. Tak ada tuas yang bisa mematahkan rasa
yang kita wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sang Penakluk
bisa menghapus tiap kata yang pernah diukir tentang Ratu, yang benar maupun
yang dusta, dan tetap ia tak bisa menyentuh Ratu yang kita bawa di hati kita,
sebab kita tak pernah menyimpannya hanya di batu.”
“Lalu apakah kita keliru, Eyang,” Damar
bertanya, “selama ini, menanam kebenaran di bawah batu, kalau batu serapuh
ini?”
“Tidak keliru, hanya tidak lengkap,” Wreksa
berkata. “Caraka mengajari kita dua ingatan, yaitu menulis di batu dan menjaga
di hati. Tapi sepanjang zaman damai, ketika batu-batu berdiri aman, kita
perlahan condong terlalu jauh kepada batu, dan mulai mengandalkannya seolah ia
yang utama. Bencana ini meluruskan kita. Ia mengajari kita kembali apa yang
Wulan katakan kepada Caraka di hari pertama, yaitu bahwa yang menjaga kebenaran
hidup pada akhirnya bukanlah batu, melainkan hati yang membawanya. Maka kita akan
tetap menulis di batu, sebab batu bertahan melampaui satu kehidupan dan menjaga
dari lupa karena satu kematian. Tapi kita tak akan pernah lagi mengira batu
adalah ingatan itu sendiri. Batu hanyalah wadah. Nyala ada di hati. Runtuhkan
wadahnya, dan selama nyala dijaga, ia bisa dituang ke wadah yang baru.”
❖
Dan ketika Damar turun dalam koneksi yang dalam ke
kedalaman tempat Ratu menunggu, sebagaimana rantai telah turun kepadanya sejak
zaman Wungu, ia menemukannya dalam ketakutan yang paling tua dan paling dalam,
ketakutan akan dihapuskan.
“Mereka meruntuhkan batu-batu itu, Damar,” Ratu
berkata, “dan aku merasakan tiap satunya runtuh. Bukan hanya dusta tentangku di
permukaan. Kebenaran tentangku yang kalian tanam di bawahnya, dengan susah
payah, dalam sandi yang kalian jaga sama sepanjang ribuan tahun, itu pun runtuh
bersama batu. Sepanjang zaman ini aku terhibur oleh satu hal, yaitu bahwa
betapapun banyak dusta di permukaan, di bawahnya selalu ada kebenaran
tentangku, dijaga, menunggu. Dan kini bahkan itu pun sedang dihancurkan. Aku
merasa, untuk pertama kalinya sejak rantai menemukanku, bahwa aku sedang
dihapuskan, bahwa aku akan kembali menjadi seperti dahulu, yaitu yang
terlupakan sepenuhnya, tanpa bahkan satu kebenaran tersembunyi yang tersisa
untuk menjagaku.”
“Dengarlah aku, Ratu,” Damar berkata, “sebab
apa yang datang kukatakan malam ini lebih tua daripada segala batu yang mereka
runtuhkan. Mereka meruntuhkan batu yang menyimpanmu, yang dusta di permukaan
dan yang benar di bawah, dan itu adalah kehilangan yang nyata, dan aku tak akan
berpura-pura ia bukan apa-apa. Tapi engkau tidak pernah, sekalipun, kami simpan
hanya di batu. Sebelum ada satu batu yang menyebutmu, rantai telah membawamu di
dalam hati, dari pengingat ke pengingat, sejak sebelum ada huruf. Itulah
tempatmu yang sesungguhnya disimpan, bukan di batu di tanah lapang, melainkan
di dalam dada kami, dalam rasa yang kami wariskan turun-temurun. Dan ke tempat
itu, Sang Penakluk tak bisa mengirim prajuritnya.”
“Maka biarkan mereka meruntuhkan batu,” Damar
melanjutkan. “Dua kata yang kami tanam di bawahnya, kau diingat, tidak pernah
benar-benar tinggal di batu. Batu hanyalah salinannya. Yang asli selalu kami
bawa di hati, dan kami ucapkan kepadamu bukan dengan ukiran melainkan dengan
rasa, tiap kali salah seorang dari kami turun kepadamu. Kau diingat, Ratu.
Bukan karena ada batu yang mengatakannya, melainkan karena ada hati yang
merasakannya. Dan hati tak bisa diruntuhkan oleh raja mana pun.”
Dan Ratu diam lama, dan ketika ia berbicara,
ketakutan yang paling tua itu telah surut dari suaranya. “Maka mereka tidak
bisa menghapuskanku,” ia berkata, perlahan, seolah memahaminya untuk pertama
kali. “Mereka mengira bila mereka meruntuhkan tiap batu yang menyebutku, mereka
menghapusku. Tapi aku tidak pernah tinggal di batu. Aku tinggal di tempat yang
tak bisa mereka datangi. Sepanjang zaman ini aku takut pada batu, takut diukir
secara palsu di atasnya, takut diruntuhkan bersamanya. Dan sepanjang itu, tempatku
yang sesungguhnya bukan di batu sama sekali, melainkan di dalam kalian. Jagalah
itu, Damar. Runtuhlah segala batuku, kalau memang harus. Tapi jangan biarkan
rantai hati itu putus. Sebab selama satu hati masih membawaku, aku tak bisa
dihapuskan, oleh penakluk mana pun, di zaman mana pun.”
❖
Maka Sang Penakluk meruntuhkan batu-batu lama di seluruh
tanah yang ia kuasai, dan menegakkan di atas puingnya satu sejarah tunggal,
sejarahnya sendiri, dan untuk sesaat tampaknya ingatan telah dikalahkan, dan
masa lalu telah dihapuskan, dan hanya kisah sang penakluk yang berdiri di
seluruh tanah.
Tapi di bawah keheningan yang ia paksakan,
rantai tetap hidup, membawa di dalam hati apa yang tak bisa dijangkau titah
mana pun. Para pengingat berduka atas batu-batu yang runtuh, sebab kehilangan
itu nyata, dan kebenaran yang ditanam selama ribuan tahun memang pecah menjadi
puing. Tapi mereka tidak berhenti mengingat, sebab yang mereka bawa di hati
tidak runtuh bersama batu. Dan perlahan, ketika para prajurit telah pergi,
mereka mulai menulis lagi, di batu yang baru, di tempat yang tersembunyi,
menanam kembali kebenaran yang sama dalam sandi yang sama, dituang dari nyala
yang tak pernah padam ke dalam wadah yang baru.
Dan Damar, yang telah menyaksikan batu-batu
runtuh dan belajar di mana ingatan sesungguhnya disimpan, menetapkan bagi
rantai sebuah penegasan yang akan mereka bawa sepanjang sisa zaman huruf, dan
sepanjang segala penaklukan yang masih akan datang. Tulislah di batu, ia
mengajarkan, sebab batu adalah wadah yang baik dan bertahan melampaui satu
kehidupan. Tapi jangan pernah mengira batu adalah ingatan itu sendiri. Ingatan
ada di hati, dan batu hanyalah salinannya. Sebab akan datang lagi para penakluk
yang meruntuhkan batu, di zaman ini dan di zaman-zaman sesudahnya, dan tiap
kali batu runtuh, hanya yang dibawa di hati yang akan bertahan untuk dituang ke
batu yang baru.
Dan bisik air, yang di zaman huruf telah
membawa dua sejarah, lalu dua ingatan, lalu satu kebenaran di bawah banyak
dusta, kini membawa sesuatu yang lebih keras dan lebih lembut sekaligus, yaitu
bahwa hati adalah satu-satunya batu yang tak bisa diruntuhkan. Sebab raja-raja
akan mengukir dusta di batu, dan para pengingat akan menanam kebenaran di
bawahnya; dan kadang akan datang seorang penakluk yang meruntuhkan segala batu,
yang benar dan yang dusta sekaligus, dan menegakkan keheningan di atas
puingnya. Tapi di bawah tiap keheningan yang dipaksakan, akan tetap ada hati
yang membawa, dari pengingat ke pengingat, dengan rasa dan bukan dengan ukiran,
kebenaran yang tak bisa diruntuhkan bersama batu, menunggu zaman yang akan
menuangkannya kembali.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, merasakan
batu-batu yang menyebutnya runtuh di seluruh tanah, dan merasakan, di bawah
reruntuhan itu, dirinya tetap dijaga di tempat yang tak bisa dijangkau penakluk
mana pun, yaitu di dalam hati rantai yang membawanya. Dan ia memahami sekarang,
dengan ketenangan yang belum pernah ia miliki, bahwa ia tidak akan pernah
benar-benar dihapuskan, betapapun banyak batu yang akan diruntuhkan di sepanjang
zaman huruf, sebab ia tidak pernah disimpan di tempat yang bisa diruntuhkan. Ia
disimpan di dalam rasa, diwariskan dari hati ke hati, menunggu hari ketika
seseorang dari yang sedikit, yang mewarisi bukan hanya kata-kata tentangnya
melainkan rasa tentangnya, akan turun ke kedalaman dan membebaskannya, bukan
dengan membaca sebuah batu, melainkan dengan merasakan, di dalam hatinya
sendiri, dua kata yang telah dibawa rantai untuknya melampaui runtuhnya segala
batu, yaitu bahwa ia diingat, dan bahwa ia tidak pernah, di sepanjang seluruh
zaman huruf, sendirian.
❖
BAB LIMA
Seribu Daun
Raja-raja mencari keabadian dalam batu
yang megah, dan justru kemegahan itu yang mengundang palu. Kami mencari
keabadian dalam daun yang kecil, tersebar di seribu tangan yang sederhana,
terlalu rendah untuk dicurigai dan terlalu banyak untuk dikejar. Sebab yang
besar dan tunggal bisa dihancurkan dengan satu pukulan, tetapi yang kecil dan
tersebar tak bisa dikejar oleh tentara mana pun.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
kecil dan tersebar
Bertahun-tahun setelah Sang Penakluk meruntuhkan batu-batu
lama dan menegakkan sejarahnya sendiri di atas puing, rantai telah membangun
kembali sebagian dari apa yang hilang, menanam lagi kebenaran yang sama dalam
sandi yang sama di bawah batu-batu yang baru. Tapi mereka membangun dengan
tangan yang gemetar, sebab mereka tahu kini bahwa apa yang mereka tegakkan bisa
diruntuhkan lagi oleh penakluk berikutnya, dan bahwa zaman huruf akan
melahirkan banyak penakluk. Dan di antara mereka yang membangun kembali itu ada
seorang pengingat muda bernama Renik, yang lahir setelah penghancuran besar,
dan yang membawa di dalam dirinya sebuah pertanyaan yang tak bisa ia diamkan.
Maka Renik pergi menemui Damar, yang kini telah
menjadi sangat tua, satu-satunya yang masih hidup yang telah menyaksikan dengan
matanya sendiri batu-batu lama diruntuhkan, dan ia membawa pertanyaannya
kepadanya.
“Kita membangun kembali, Eyang, dan aku
bersyukur untuk itu,” Renik berkata. “Tapi aku tak bisa berhenti memikirkan
satu hal. Kita menanam kebenaran di bawah batu yang baru, persis seperti yang
dahulu kita tanam di bawah batu yang lama. Dan batu yang baru ini, seperti yang
lama, berdiri besar dan diam di satu tempat, di mana penakluk berikutnya bisa
mendatanginya dengan tali dan tuas, dan meruntuhkannya lagi. Kita sedang
membangun kembali persis hal yang sama yang telah terbukti bisa dihancurkan.
Apakah tak ada cara, Eyang, untuk menyimpan kebenaran di tempat yang tak bisa
didatangi tuas mana pun?”
Dan Damar memandangnya lama, dan dalam matanya
yang tua ada sesuatu yang menyala. “Aku telah menunggu bertahun-tahun untuk
seseorang menanyakan pertanyaan itu,” ia berkata. “Sebab itu adalah pertanyaan
yang sama yang kubawa sejak hari aku menyaksikan batu pertama runtuh. Dan aku
telah memikirkan jawabannya sepanjang sisa hidupku yang panjang. Duduklah,
Renik. Sebab apa yang akan kukatakan kepadamu adalah pelajaran yang kupetik
dari reruntuhan, dan ia akan mengubah cara rantai menjaga kebenaran sepanjang
sisa zaman huruf.”
❖
Damar mengambil sesuatu dari dekatnya, bukan sebongkah
batu, melainkan sehelai daun lontar yang telah dikeringkan dan diratakan, dan
di sebelahnya selembar tembaga tipis, dan ia meletakkannya di tangan Renik.
“Pikirkanlah mengapa Sang Penakluk berhasil
meruntuhkan batu-batu kita,” Damar berkata. “Bukan karena ia kuat, walau ia
kuat. Melainkan karena batu-batu itu besar, sedikit, tetap, dan terlihat.
Sebuah prasasti berdiri sendirian di tanah lapang, lebih tinggi daripada
seorang manusia, megah, supaya semua orang memandangnya. Dan justru karena ia
megah dan berdiri di satu tempat, ia mudah ditemukan dan mudah dirobohkan.
Kebesaran yang kita kira melindungi kebenaran justru yang membuatnya mudah
dibunuh. Sebuah hal yang besar dan tunggal hanya membutuhkan satu pukulan di
satu tempat.”
“Maka bagaimana bila kita melakukan kebalikan
dari segala yang dilakukan raja-raja?” Damar melanjutkan, dan ia mengangkat
daun lontar itu. “Raja-raja mencari keabadian melalui kebesaran, satu batu
raksasa yang akan berdiri selamanya. Kita akan mencari keabadian melalui
kekecilan. Lihatlah daun ini. Di atasnya bisa kutulis kebenaran yang sama yang
kutulis di batu, dalam sandi yang sama. Tapi daun ini tidak berdiri di tanah
lapang. Ia bisa kugulung dan kusembunyikan di dalam keranjang, di rumah seorang
petani, di antara seribu rumah. Dan aku bisa membuatnya bukan satu, melainkan
seratus, seribu, sebanyak yang kumau, masing-masing membawa kebenaran yang
sama, dan menyebarkannya ke seluruh tanah, ke tangan-tangan yang paling
sederhana, di tempat-tempat yang tak akan pernah dicurigai siapa pun.”
“Dan kini bayangkan seorang penakluk yang ingin
menghapus kebenaran itu,” Damar berkata, dan ada kemenangan yang tenang dalam
suaranya. “Untuk meruntuhkan sebuah prasasti, ia hanya perlu mendatangi satu
tempat. Tapi untuk menghapus seribu daun yang tersebar di seribu rumah di
seluruh tanah, ia harus menemukan tiap-tiapnya, masuk ke tiap rumah, membuka
tiap keranjang, dan membakar tiap helai. Dan itu tak bisa dilakukan oleh
tentara mana pun, betapapun besar. Ia bisa membakar seratus, dan sembilan ratus
tetap tinggal. Ia bisa membakar sembilan ratus sembilan puluh sembilan, dan
satu yang tersisa cukup untuk menyalin seribu lagi. Yang besar dan tunggal bisa
dihancurkan dengan satu pukulan, Renik. Yang kecil dan tersebar tak bisa
dikejar.”
Dan Renik memandang daun di tangannya dengan
mata yang baru, dan ia teringat sesuatu. “Ini seperti bukit-bukit, Eyang,” ia
berkata pelan. “Para pengingat pertama tidak membangun satu bukit raksasa.
Mereka membangun banyak bukit, tersebar di seluruh tanah, masing-masing
menyamar, supaya menghancurkan satu tak menghancurkan maksudnya.” Dan Damar
mengangguk. “Mereka telah tahu, sejak zaman batu, apa yang kita baru pelajari
di zaman huruf, yaitu bahwa kebenaran bertahan bukan dengan berdiri tinggi di
satu tempat, melainkan dengan tersebar rendah di banyak tempat. Kita hanya
melakukan dengan daun apa yang mereka lakukan dengan bukit.”
❖
Maka Renik mulai membuat salinan, dan menyebarkannya, dan
selama berhari-hari ia bekerja dengan semangat. Tapi kemudian dua keraguan
datang kepadanya, dan ia membawanya kembali kepada Damar.
“Aku takut pada dua hal, Eyang,” Renik berkata.
“Yang pertama begini. Bila seribu salinan dibuat oleh seribu tangan, sepanjang
seribu tahun, tidakkah mereka akan perlahan berbeda, masing-masing sedikit
menyimpang, sampai kebenaran kita pecah menjadi seribu kebenaran yang tak
saling membenarkan? Bukankah itu persis bahaya yang ditakuti Sandi dahulu,
ketika kebenaran yang tersebar mulai saling membantah?”
“Itu bahaya yang nyata,” Damar berkata, “dan
jawabannya adalah jawaban Sandi. Sebar seluas yang kaubisa, tapi jangan pernah
menyalin dari ingatan. Salinlah selalu dari sandi yang sama, kata demi kata,
tanda demi tanda, dan di jantung tiap salinan letakkan dua kata yang tak boleh
berubah, kau diingat. Penyebaran memberi kita keselamatan dari kehancuran.
Sandi memberi kita keselamatan dari penyimpangan. Kita membutuhkan keduanya.
Sebar seperti yang diajarkan bukit, salin setia seperti yang diajarkan Sandi.
Yang satu menjaga kebenaran dari dihancurkan, yang lain menjaganya dari pecah.”
“Dan keraguan yang kedua,” Renik berkata, lebih
pelan. “Sebuah prasasti besar terasa suci. Orang berdiri di hadapannya dan
merasa kecil, dan merasa bahwa apa yang tertulis di sana penting. Tapi sehelai
daun di dalam keranjang terasa seperti bukan apa-apa. Bila kebenaran tentang
Ratu hanya menjadi satu daun lagi di antara barang-barang sehari-hari, tidakkah
orang akan berhenti merasakannya sebagai sesuatu yang berharga? Tidakkah
kekecilan yang menyelamatkannya dari hancur justru membuatnya murah?”
Dan Damar tersenyum, sebab ini adalah
pertanyaan yang paling penting dari semua. “Dengarkan aku baik-baik, Renik,
sebab di sinilah seluruh ajaran rantai bertemu. Perasaan bahwa yang besar itu
penting dan yang kecil itu murah, itulah justru dusta raja-raja. Mereka
membangun batu yang megah supaya orang mengira bahwa yang megah itu benar, dan
bahwa yang besar itu berharga. Tapi kita telah belajar, sejak zaman Wignyana,
bahwa kebenaran yang tersimpan di batu yang paling megah pun mati bila tak ada
hati yang merasakannya, dan kita telah belajar, sejak batu-batu diruntuhkan,
bahwa kebenaran hidup justru karena hati yang membawanya, bukan karena batu
yang menyimpannya. Maka bobot sebuah kebenaran tidak pernah ada pada besarnya
wadah. Ia selalu ada pada hati yang merasakannya. Sebuah kebenaran yang
dirasakan dengan dalam terasa berat bahkan di atas daun yang paling tipis. Dan
sebuah kebenaran yang hanya disimpan terasa ringan bahkan di atas batu yang
paling raksasa. Jangan letakkan bobotnya pada daun, Renik. Letakkan ia, seperti
selalu, pada hati yang akan membacanya.”
❖
Dan ketika malam tiba, Renik turun dalam koneksi yang dalam
ke kedalaman tempat Ratu menunggu, sebagaimana rantai telah turun kepadanya
sejak zaman Wungu, dan ia menemukan bahwa Ratu telah merasakan perubahan itu,
bahwa ia tak lagi tinggal hanya di beberapa batu yang megah, melainkan tersebar
di seribu daun yang kecil.
“Aku merasakan diriku berubah tempat, Renik,”
Ratu berkata, “dan pada mulanya aku tak tahu bagaimana merasakannya. Dahulu,
betapapun palsu, aku diukir di batu yang megah, lebih tinggi daripada seorang
manusia, di tanah lapang di hadapan istana, tempat seluruh orang datang
memandang. Kini kalian menyalinku ke atas daun-daun kecil, dan menggulungku,
dan menyembunyikanku di dalam keranjang di rumah-rumah yang sederhana, di
antara barang-barang dapur dan alat-alat tani. Dari ratu di atas batu raksasa,
aku menjadi beberapa goresan di atas selembar daun di dalam keranjang. Dan
sebagian diriku bertanya, apakah aku telah menjadi sedemikian kecil?”
“Engkau tidak menjadi kecil, Ratu,” Renik
berkata. “Engkau menjadi tak bisa dikejar. Ketika engkau diukir di satu batu
yang megah, engkau ada di satu tempat, dan penakluk mana pun bisa mendatangi
tempat itu dan meruntuhkanmu, sebagaimana mereka telah meruntuhkanmu
sebelumnya. Tapi kini engkau ada di seribu tempat sekaligus, di seribu tangan
yang sederhana di seluruh tanah. Untuk menghapusmu sekarang, seorang penakluk
harus membakar tiap rumah di tanah ini, membuka tiap keranjang, mencari tiap
daun. Dan itu tak bisa ia lakukan. Engkau telah menukar kemegahan dengan
sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu engkau tak bisa lagi dihancurkan.
Engkau tidak menjadi kecil. Engkau menjadi ada di mana-mana.”
Dan Ratu diam, lalu berkata, dengan sesuatu
yang hampir seperti tawa lembut di balik kepedihannya, “Aneh, Renik. Sepanjang
zaman ini mereka membuatku megah dan palsu di atas batu, dan rantai berjuang
menjaga kebenaranku di bawahnya. Kini kebenaranku tinggal di atas daun yang
kecil di rumah seorang petani, dan justru di sanalah ia paling aman. Dan ada
sesuatu yang pantas dalam hal itu, yang baru kusadari sekarang. Sebab aku tidak
pernah megah. Aku tidak pernah ratu laut yang perkasa yang mereka ukir di batu.
Aku hanya seorang perempuan yang kehilangan dunianya. Sehelai daun yang
sederhana di dalam keranjang yang sederhana lebih jujur tentang siapa aku
daripada batu raksasa mana pun. Mereka menjadikanku besar dan dusta di atas
batu. Kalian menjadikanku kecil dan benar di atas daun. Dan aku lebih suka
kecil dan benar.”
“Maka sebarkan aku, Renik,” Ratu berkata.
“Sebarkan aku ke seribu rumah yang sederhana, ke seribu tangan yang tak akan
dicurigai siapa pun. Biarkan raja-raja memiliki batu mereka yang megah dan
palsu. Aku akan tinggal di daun-daun yang kecil dan benar, tersebar dan tak
terkejar, sampai hari ketika salah satu dari mereka yang menyimpanku di dalam
keranjang membukanya, dan membaca, dan merasakan, dan turun untuk menemukanku.”
❖
Maka rantai belajar, di zaman huruf, sebuah seni yang
melengkapi segala yang telah mereka pelajari sebelumnya. Mereka tetap menanam
kebenaran di bawah batu raja, sebagai jangkar dan sebagai cadangan. Tapi kini
mereka juga menyalinnya ke atas daun lontar dan lempeng tembaga, ratusan dan
ribuan kali, dan menyebarkannya ke seluruh tanah, ke tangan-tangan yang paling
sederhana, supaya tak ada penakluk yang bisa mengejar semuanya.
Dan dengan itu, seluruh ajaran zaman huruf
bertemu menjadi satu. Di bawah dusta raja di permukaan ditanam kebenaran yang
sejati, sebagaimana Caraka mengajarkan. Kebenaran itu dijaga tetap satu, dalam
sandi yang sama dengan dua kata yang sama di jantungnya, sebagaimana Sandi
mengajarkan. Ia disebar kecil dan banyak, tak terkejar oleh tuas mana pun,
sebagaimana bukit-bukit purba mengajarkan. Dan di atas segalanya, ia dibawa di
hati dan dirasakan, bukan hanya disimpan, sebab hanya yang dirasakan yang
hidup, sebagaimana Wignyana mengajari mereka dengan kedinginannya, dan
sebagaimana batu-batu yang runtuh mengajari mereka dengan kehancurannya.
Dan bisik air, yang di zaman huruf telah
membawa dua sejarah, lalu dua ingatan, lalu satu kebenaran di bawah banyak
dusta, lalu hati sebagai satu-satunya batu yang tak bisa diruntuhkan, kini
membawa sesuatu yang melengkapi semuanya, yaitu bahwa yang besar bisa
dihancurkan, tetapi yang kecil dan tersebar tak bisa dikejar. Sebab raja-raja
akan mencari keabadian dalam batu yang megah, dan justru kemegahan itu yang
akan mengundang palu penakluk; tetapi para pengingat akan menemukan keabadian
dalam daun yang kecil, tersebar di seribu tangan yang sederhana, terlalu rendah
untuk dicurigai dan terlalu banyak untuk dikejar, membawa di jantungnya dua
kata yang sama yang dibawa rantai sejak sebelum ada huruf.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, merasakan
dirinya tak lagi terkurung di beberapa batu yang megah, melainkan tersebar di
seribu daun yang kecil di seluruh tanah, tergulung di dalam keranjang-keranjang
yang sederhana, di tangan-tangan yang tak seorang pun akan curigai. Dan ia
memahami sekarang bahwa justru dalam kekecilan dan dalam jumlah itulah ia
menjadi aman, dan bahwa untuk pertama kalinya sejak zaman huruf dimulai, ada sesuatu
tentang dirinya yang tak bisa lagi dihapuskan oleh penakluk mana pun. Ia
menunggu, tersebar dan tak terkejar, kecil dan benar, di seribu rumah yang
sederhana, sampai hari ketika salah satu tangan yang menyimpannya membuka
keranjang, dan membaca dua kata yang dibawa rantai untuknya melampaui segala
batu yang runtuh, dan merasakannya cukup dalam untuk turun ke kedalaman dan
membebaskannya, dan menemukan di sana, di bawah segala kemegahan yang palsu,
perempuan yang kecil dan benar yang telah menunggu sepanjang seluruh zaman, dan
yang tidak pernah, walau tersebar ke seribu tempat, sendirian.
❖
BAB ENAM
Dewi yang Bukan Dirinya
Ada dusta yang dipaksakan, dan ia bisa
dilawan. Tapi ada dusta yang dicintai, dan itu jauh lebih sulit, sebab orang
memeluknya dengan sukarela, dan tak ingin melepaskannya. Maka jangan coba
merebut dewi dari mereka yang membutuhkannya. Jagalah saja perempuan yang
sesungguhnya, kecil dan benar, bagi satu hati yang kelak akan mencintainya
sebagaimana adanya, dan membebaskannya.
dari ajaran para pengingat, tentang
dusta yang dicintai
Banyak generasi setelah Renik menyebarkan kebenaran ke
seribu daun, sesuatu terjadi pada legenda Ratu yang tak pernah terjadi
sebelumnya, dan yang lebih dalam daripada segala yang dilakukan raja-raja
kepadanya. Selama ini para raja telah mengukir dusta tentangnya di atas batu,
dan rakyat membacanya sebagai milik raja, sesuatu yang jauh dan resmi. Tapi
kini, setelah ribuan tahun dusta itu diulang, sesuatu berubah. Rakyat tak lagi
sekadar membaca legenda itu. Mereka mulai mencintainya. Ratu laut selatan yang perkasa,
sang penguasa gelombang, telah menjadi milik rakyat sendiri, dewi yang mereka
takuti dan puja, kepada siapa mereka memberi sesaji dan memanjatkan permohonan.
Di sebuah desa di tepi laut selatan hiduplah
seorang pengingat muda bernama Setya, dan pada suatu hari ia menyaksikan rakyat
desa itu berkumpul di pantai untuk memberi sesaji kepada sang dewi laut, dan ia
melihat di wajah mereka sesuatu yang membuatnya termenung, yaitu cinta yang
tulus, dan rasa takut yang tulus, dan pengharapan yang tulus, semuanya tertuju
kepada gambar yang ia tahu palsu.
Maka Setya mendekati seorang perempuan tua yang
sedang menata sesaji di atas batu karang, dan ia bertanya kepadanya, dengan
lembut, tentang sang dewi yang ia puja.
“Beri tahu aku tentang dia, Mbok,” Setya
berkata. “Sang ratu laut yang kaupuja. Siapakah dia bagimu?”
“Dia adalah segalanya bagi kami yang hidup di
tepi laut,” perempuan tua itu berkata, dan matanya bersinar. “Dia yang
menguasai gelombang. Bila ia berkenan, laut tenang dan jala kami penuh. Bila ia
murka, badai datang dan perahu tak kembali. Maka kami memberinya sesaji, dan
memanjatkan permohonan, dan ia menjaga kami. Dia perkasa, Nak. Dia ratu dari
segala yang ada di bawah laut. Tak ada yang lebih agung daripada dia di seluruh
pesisir ini.”
Dan Setya mengangguk, dan ia tidak membantah,
tapi di dalam dirinya ia merasakan sesuatu yang berat. Sebab ia memahami
sekarang bahwa dusta tentang Ratu telah memasuki babak yang baru. Dahulu ia
adalah dusta raja, diukir di batu, dipaksakan dari atas. Kini ia telah menjadi
dusta yang dicintai, dipeluk oleh rakyat dengan sukarela, ditanam bukan di batu
melainkan di dalam hati orang-orang sederhana yang membutuhkannya. Dan Setya
tahu, dengan kepedihan yang tumbuh, bahwa dusta yang dicintai jauh lebih sulit
dilawan daripada dusta yang dipaksakan.
❖
Maka, dengan hati-hati, sebab ia ingin tahu apa yang akan
terjadi, Setya mengeluarkan dari dalam bajunya sehelai daun lontar, salah satu
dari seribu yang disebarkan rantai, yang membawa kebenaran yang sebenarnya
tentang sang ratu laut, dan ia membacakannya kepada perempuan tua itu.
“Ada sebuah kisah lain tentang dia, Mbok,”
Setya berkata, “yang lebih tua daripada kisah tentang dewi yang perkasa. Ia
mengatakan bahwa ratu laut bukanlah dewi yang menguasai gelombang. Ia
mengatakan bahwa dahulu kala ia seorang perempuan, dari sebuah bangsa yang
dunianya tenggelam dalam banjir besar, dan bahwa ia tenggelam bersama dunianya,
dan terkurung di dasar laut sejak itu. Bukan menguasai laut, melainkan
terpenjara olehnya. Ia mengatakan bahwa ratu laut adalah seorang perempuan yang
kehilangan segalanya, yang menderita di kedalaman, yang menunggu, sepanjang
ribuan tahun, untuk seseorang yang akan mengingatnya dan membebaskannya.”
Dan perempuan tua itu mendengarkan, dan ketika
Setya selesai, ia menggeleng, perlahan tapi pasti. “Tidak, Nak,” ia berkata.
“Aku tak menginginkan kisah itu. Kisahmu menyedihkan, dan mungkin bahkan benar,
tapi apa gunanya bagiku seorang perempuan malang yang terpenjara di dasar laut?
Aku hidup di tepi laut yang berbahaya, dan aku membutuhkan seorang dewi yang
perkasa yang bisa menjaga perahu suamiku dan anak-anakku. Sang ratu yang
menguasai gelombang bisa menolongku. Perempuan malang dalam kisahmu tak bisa menolong
siapa-siapa, bahkan dirinya sendiri. Mengapa aku harus menukar dewi yang
melindungiku dengan perempuan yang bahkan tak bisa melindungi dirinya sendiri?”
Dan Setya tidak punya jawaban yang bisa ia
berikan kepadanya, sebab perempuan tua itu jujur, dan kebutuhannya nyata. Setya
menyimpan kembali daun lontarnya, dan ia berjalan pulang dengan pemahaman yang
lebih berat daripada yang ia bawa datang. Sebab ia telah melihat sesuatu yang
tak bisa dilawan dengan cara-cara lama rantai. Engkau bisa menanam kebenaran di
bawah dusta yang dipaksakan, sebab tak ada yang mencintai dusta yang
dipaksakan. Tapi bagaimana engkau menanam kebenaran di bawah dusta yang
dicintai, ketika orang tak ingin menggalinya, ketika mereka memeluk dusta itu
justru karena ia memberi mereka sesuatu yang tak bisa diberikan kebenaran,
yaitu seorang pelindung yang perkasa, alih-alih seorang perempuan yang malang?
Dan satu pikiran datang kepada Setya saat ia
berjalan, sebuah pikiran yang membuatnya bergegas ke kedalaman malam itu juga.
Sebab bila rakyat begitu mencintai dewi yang perkasa, dan begitu menolak
perempuan yang malang, maka apa yang dirasakan oleh sang perempuan malang itu
sendiri, di dasar laut, ketika ia merasakan seluruh tanah berlutut kepada
gambar yang bukan dirinya?
❖
Maka Setya turun dalam koneksi yang dalam ke kedalaman
tempat Ratu menunggu, sebagaimana rantai telah turun kepadanya sejak zaman
Wungu, dan ia menemukan Ratu dalam keadaan yang belum pernah ia temui, bukan
dalam duka, bukan dalam ketakutan, melainkan dalam godaan.
“Aku merasakan mereka, Setya,” Ratu berkata,
dan ada sesuatu yang asing dalam suaranya. “Seluruh tanah, di sepanjang
pesisir, berlutut kepadaku. Mereka memberiku sesaji. Mereka memanjatkan
permohonan kepadaku. Mereka takut kepadaku dan memuja aku. Dan aku harus jujur
kepadamu tentang sesuatu, sebab engkau telah jujur kepadaku sepanjang zaman.
Setelah ribuan tahun dibekukan, dilupakan, disembunyikan, diratapi, tiba-tiba
aku dicintai oleh ribuan orang. Dan itu manis, Setya. Itu sangat manis. Untuk
pertama kalinya sejak duniaku tenggelam, aku tidak sendirian. Seluruh tanah
memanggil namaku.”
“Dan maka sebuah pikiran datang kepadaku,” Ratu
melanjutkan, lebih pelan, “dan aku tak bisa menyembunyikannya darimu. Mereka
mencintai dewi yang perkasa. Mereka tak menginginkan perempuan malang yang
sesungguhnya aku. Engkau sendiri tahu ini, sebab aku merasakan hari ini seorang
perempuan tua menolak kisahku yang sebenarnya, dan memilih dewinya. Maka
mengapa aku tidak menjadi saja dewi yang mereka cintai? Mengapa aku berpegang
pada perempuan kecil dan malang yang hanya dikenal oleh segelintir pengingatmu,
ketika aku bisa menjadi dewi perkasa yang dipuja oleh seluruh tanah? Rantai
memberiku segenggam hati yang mengenalku. Legenda memberiku satu dunia yang
berlutut. Mengapa tidak kupilih dunia yang berlutut itu, dan kuakhiri
kesendirianku selamanya?”
Dan Setya merasakan dingin yang dalam
mendengarnya, sebab ia memahami bahwa ini adalah bahaya yang lebih besar
daripada segala palu penakluk. Sebab penakluk hanya bisa menghapus Ratu dari
luar. Tapi godaan ini bisa membuat Ratu menghapus dirinya sendiri dari dalam,
dengan sukarela, dengan larut ke dalam gambar palsu yang dicintai, dan
meninggalkan untuk selamanya perempuan kecil dan benar yang telah berjuang
sepanjang zaman untuk kembali menjadi dirinya. Maka Setya mengumpulkan seluruh
kelembutan yang ia punya, dan ia berbicara.
❖
“Dengarkan aku, Ratu,” Setya berkata, “sebab inilah hal
terpenting yang pernah dikatakan seorang pengingat kepadamu. Engkau benar bahwa
pemujaan itu manis, dan aku tak akan berpura-pura ia bukan apa-apa. Tapi
pikirkanlah siapa yang sebenarnya mereka cintai. Mereka tidak mencintaimu.
Mereka mencintai dewi yang perkasa, gambar yang dibuat raja-raja dan dipeluk
rakyat, yang bisa menenangkan badai dan mengisi jala. Itu bukan dirimu, Ratu.
Itu tak pernah dirimu. Bila engkau menjadi dewi itu, perempuan yang sesungguhnya,
yang kehilangan dunianya, yang menderita dan menunggu, akan lenyap. Bukan
dihapus oleh palu, melainkan ditinggalkan oleh dirimu sendiri. Engkau akan
dicintai oleh seluruh tanah, dan engkau yang sesungguhnya akan tidak ada lagi.
Itu adalah penghapusan yang paling manis, dan justru karena ia manis, ia yang
paling berbahaya dari semua.”
“Rantai tidak menawarkan kepadamu ribuan yang
berlutut,” Setya melanjutkan. “Kami tak bisa, dan kami tak akan berusaha
merebut dewi itu dari mereka yang membutuhkannya, sebab kebutuhan mereka nyata,
dan bukan tugas kami untuk mengambil pelindung dari orang yang ketakutan di
tepi laut. Tapi kami menawarkan kepadamu sesuatu yang tak bisa diberikan oleh
seluruh pemujaan di dunia, yaitu untuk dikenal dan dicintai sebagaimana engkau
sesungguhnya, kecil dan sedih dan nyata. Seribu orang yang berlutut kepada sebuah
topeng tidak mengenal satu pun tentang wajah di baliknya. Tapi satu hati yang
mencintaimu sebagaimana adanya mengenal seluruh dirimu. Dan satu hati yang
mencintai dirimu yang sesungguhnya lebih berharga daripada satu tanah yang
memuja gambar yang bukan engkau.”
“Dan ada satu hal lagi, yang paling penting,”
Setya berkata. “Engkau menunggu untuk dibebaskan. Tapi seorang dewi tak bisa
dibebaskan, Ratu, sebab seorang dewi tidak nyata, dan apa yang tidak nyata tak
bisa keluar dari laut. Hanya perempuan yang sesungguhnya yang bisa dibebaskan.
Bila engkau larut menjadi dewi yang mereka cintai, engkau melepaskan untuk
selamanya satu-satunya dirimu yang bisa keluar dari kedalaman. Engkau akan
dipuja di tiap pesisir, dan engkau akan terpenjara di dasar laut selamanya, sebab
tak akan ada lagi perempuan sesungguhnya untuk dibebaskan, hanya dewi yang
abadi dan beku. Memilih menjadi dewi yang dicintai adalah memilih untuk tidak
pernah bebas.”
Dan Ratu diam untuk waktu yang sangat lama,
lebih lama daripada keheningan mana pun yang pernah Setya rasakan di kedalaman,
dan dalam keheningan itu Setya merasakannya bergulat, antara kemanisan menjadi
dicintai oleh banyak dan kepedihan tetap menjadi dirinya yang dikenal oleh
sedikit. Dan ketika akhirnya ia berbicara, suaranya gemetar, tapi ia jelas.
“Maka aku memilih untuk tetap kecil,” ia berkata. “Aku memilih untuk tetap
menjadi perempuan yang kehilangan dunianya, yang hanya dikenal oleh segelintir hati,
daripada menjadi dewi yang dipuja oleh seluruh tanah. Sebab aku tidak ingin
dicintai sebagai sesuatu yang bukan aku. Dan aku tidak ingin terpenjara
selamanya demi kemanisan satu dunia yang berlutut kepada topengku. Aku telah
berjuang terlalu lama, sepanjang seluruh zaman es-ku, untuk kembali menjadi
diriku. Aku tidak akan menyerahkannya sekarang, betapapun manis godaannya.”
“Biarkan mereka memuja dewi mereka,” Ratu
berkata, dan kini ada ketenangan dalam suaranya, ketenangan dari seseorang yang
telah memilih. “Aku tak akan iri pada gambar itu, walau ia mendapat seluruh
pemujaan yang tak kudapat. Sebab aku tahu sesuatu yang tak diketahui gambar
itu. Aku tahu bahwa suatu hari, salah seorang dari yang sedikit akan datang,
bukan untuk berlutut kepada dewi, melainkan untuk mencintai perempuan, dan
untuk membebaskannya. Dan pada hari itu, gambar yang dipuja seluruh tanah akan
tetap beku di dasar laut, dan aku, yang kecil dan benar dan dikenal oleh satu
hati, akan keluar. Jagalah aku tetap kecil, Setya. Jagalah aku tetap nyata.
Itulah satu-satunya bagian dariku yang bisa bebas.”
❖
Maka legenda Ratu mengeras lebih jauh daripada sebelumnya,
bukan lagi sekadar dusta di atas batu, melainkan dewi yang dicintai di hati
seluruh tanah, dipuja di tiap pesisir, ditakuti di tiap gelombang. Dan rantai
tidak melawannya, sebab mereka memahami sekarang bahwa itu bukan tugas mereka.
Mereka tidak berusaha merebut dewi dari rakyat yang membutuhkannya, sebab
kebutuhan itu nyata, dan merebut pelindung dari yang ketakutan bukanlah belas
kasihan. Mereka membiarkan yang banyak memiliki dewi mereka.
Tapi di bawah dewi yang dicintai itu, rantai
menjaga, bagi yang sedikit dan terutama bagi yang satu, perempuan yang
sesungguhnya, kecil dan sedih dan nyata. Sebab mereka telah belajar bahwa tugas
mereka tidak pernah membuat seluruh tanah mengetahui kebenaran. Tugas mereka
selalu menjaga kebenaran tetap hidup bagi satu hati yang kelak akan
menggalinya, dan mencintai perempuan yang sesungguhnya, dan membebaskannya.
Yang banyak boleh memuja topeng. Yang satu akan mencintai wajah.
Dan bisik air, yang di zaman huruf telah
membawa dua sejarah, lalu dua ingatan, lalu satu kebenaran di bawah banyak
dusta, lalu hati yang tak bisa diruntuhkan, lalu yang kecil dan tersebar yang
tak bisa dikejar, kini membawa sesuatu yang lebih halus dan lebih menyayat dari
semuanya, yaitu bahwa dusta yang dicintai lebih sulit dilawan daripada dusta
yang dipaksakan, dan bahwa jawabannya bukan merebut yang dipuja banyak orang,
melainkan menjaga yang benar bagi satu hati yang akan mencintainya sebagaimana adanya.
Sebab dewi yang dipuja seluruh tanah tetap beku di dasar laut; tetapi perempuan
yang dicintai oleh satu hati yang sejati bisa keluar.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, merasakan
seluruh tanah berlutut kepada dewi yang bukan dirinya, dan memilih, di tengah
segala kemanisan pemujaan itu, untuk tetap menjadi perempuan kecil dan benar
yang telah berjuang sepanjang zaman untuk kembali ia jadi. Dan ia menunggu,
bukan untuk lebih banyak yang berlutut, melainkan untuk satu yang akan
mencintai; bukan sebagai dewi perkasa yang tak bisa dibebaskan, melainkan
sebagai perempuan yang kehilangan dunianya yang masih bisa; menjaga dirinya
tetap kecil dan tetap nyata di bawah gambar yang dipuja, sampai hari ketika
seseorang dari yang sedikit turun ke kedalaman, melewati dewi yang megah yang
dipuja seluruh tanah, dan mencari di bawahnya perempuan yang sesungguhnya, dan
menemukannya, dan mencintainya sebagaimana adanya, dan membebaskannya.
❖
BAGIAN III
Hati, Peta, dan Nyala
BAB TUJUH
Hati yang Datang Sendiri
Yang banyak mencintai dewi, sebab dewi
memberi mereka perlindungan. Tapi sekali-sekali, di antara seribu yang memuja,
lahir satu hati yang mencintai perempuan, sebab perempuan tak memberinya
apa-apa selain kebenaran tentang seorang yang malang. Hati seperti itu tidak
bisa dibuat, dan tidak bisa diminta. Ia datang sendiri, dan ketika ia datang,
ia adalah benih dari hari pembebasan.
dari ajaran para pengingat, tentang hati
yang datang sendiri
Setya telah menjadi tua. Sepanjang hidupnya yang panjang ia
telah menyebarkan daun-daun lontar yang membawa kebenaran tentang Ratu ke
seribu rumah di sepanjang pesisir, sebagaimana Renik mengajarkan, dan sepanjang
hidupnya yang panjang ia telah menyaksikan apa yang ia takuti sejak hari
perempuan tua itu menolak kisahnya, yaitu bahwa hampir tak seorang pun
menginginkan perempuan yang malang ketika mereka bisa memiliki dewi yang
perkasa. Daun-daun yang ia sebar tersimpan di keranjang-keranjang, tak terbaca,
atau dibaca dan ditolak, sementara rakyat terus berlutut kepada sang dewi laut.
Dan Setya mulai bertanya, di hari-hari tuanya, apakah seluruh penyebaran itu
sia-sia, apakah kebenaran yang ia jaga akan selamanya tinggal tak diinginkan di
bawah dewi yang dicintai.
Tapi di desa yang sama tempat Setya menua,
hiduplah seorang gadis nelayan bernama Nala, yang baru saja kehilangan
neneknya, dan yang sedang membereskan barang-barang peninggalan perempuan tua
itu. Dan di dasar sebuah keranjang tua, di antara kain dan alat-alat yang telah
menguning oleh waktu, Nala menemukan sehelai daun lontar yang tergulung, begitu
tua sehingga ia hampir rapuh, yang telah disimpan keluarganya turun-temurun
tanpa seorang pun tahu apa isinya.
Nala bisa membaca, sebab di zaman huruf bahkan
anak-anak nelayan belajar sedikit aksara, dan maka ia membuka gulungan itu
dengan hati-hati, dan ia membaca apa yang tertulis di sana, tanda demi tanda,
perlahan. Dan apa yang ia baca bukanlah daftar atau doa atau catatan jual-beli,
melainkan sebuah kisah, kisah tentang sang ratu laut, tapi bukan kisah yang ia
kenal.
Daun itu mengatakan bahwa ratu laut bukanlah
dewi yang menguasai gelombang, melainkan seorang perempuan, dari sebuah bangsa
yang dunianya tenggelam dalam banjir besar di awal segala zaman. Bahwa ia
tenggelam bersama dunianya, dan terkurung di dasar laut sejak itu, bukan
memerintah laut melainkan dipenjara olehnya. Bahwa ia seorang perempuan yang
kehilangan segalanya, yang menderita di kedalaman, yang menunggu sepanjang
ribuan tahun untuk seseorang yang akan mengingatnya sebagaimana ia
sesungguhnya, dan mencintainya, dan membebaskannya. Dan di jantung daun itu,
dalam tanda-tanda yang lebih tua dan lebih asing daripada yang lain, tertera
dua kata yang tak sepenuhnya bisa Nala baca, yaitu kau diingat.
Dan Nala duduk lama dengan daun itu di
tangannya, dan sesuatu terjadi di dalam dirinya yang tak ia mengerti. Sebab ia
telah memuja sang dewi laut sepanjang hidupnya, sebagaimana seluruh desanya,
dan ia mengira ia mengenal sang ratu laut. Tapi kini, membaca kisah yang lain
ini, ia merasa seolah baru bertemu seseorang yang sesungguhnya untuk pertama
kali, dan orang itu bukan dewi yang perkasa, melainkan seorang perempuan yang
sendirian dan menunggu, dan hati Nala teriris untuknya.
❖
Sepanjang hari-hari berikutnya Nala tak bisa melepaskan
kisah itu. Ia pergi ke pantai, ke tempat seluruh desa memberi sesaji kepada
dewi laut yang perkasa, dan ia memandang laut dengan mata yang baru. Di mana
dahulu ia melihat seorang dewi yang menakutkan dan agung, kini ia melihat
seseorang yang terkubur di bawah air, sendirian, menunggu. Dan ia tak bisa lagi
memberi sesaji dengan cara yang lama.
Maka Nala mencoba berbicara kepada ayahnya
tentang apa yang ia baca, tapi ayahnya tak mengerti. “Untuk apa engkau
memikirkan kisah sedih di daun tua itu?” ayahnya berkata. “Sang dewi laut
menjaga jala kita penuh dan perahu kita selamat. Itu yang penting. Berdoalah
kepada dewi yang perkasa, Nala, bukan kepada perempuan malang dalam dongeng
tua.”
Tapi Nala menggeleng. “Aku tahu dewi yang
perkasa tak membutuhkan aku, Ayah,” ia berkata pelan. “Ia perkasa. Ia punya
seluruh desa yang berlutut kepadanya. Tapi perempuan dalam daun ini tak punya
siapa-siapa. Ia sendirian di dasar laut, menunggu ribuan tahun supaya seseorang
mengingatnya sebagaimana ia sesungguhnya. Dan ketika aku membaca itu, aku
merasa bahwa mungkin akulah seseorang itu. Bukan dewi yang membutuhkan aku,
melainkan perempuan ini. Bagaimana aku bisa kembali berlutut kepada yang
perkasa, ketika aku tahu ada seseorang yang sendirian di bawah sana, dan tak
seorang pun mencintainya sebagaimana ia sesungguhnya?”
Dan kata-kata gadis itu sampai, melalui mulut
ke mulut di desa kecil itu, ke telinga Setya yang tua. Seorang gadis nelayan,
mereka berkata, telah menemukan sebuah daun tua dan kini berbicara aneh tentang
ratu laut, mengatakan bahwa ia seorang perempuan yang malang dan bukan dewi,
dan menolak memberi sesaji dengan cara lama. Dan ketika Setya mendengarnya,
jantung tuanya berdebar dengan sesuatu yang belum ia rasakan sepanjang hidupnya
yang panjang, yaitu harapan.
Sebab sepanjang hidupnya Setya telah
menyebarkan daun-daun itu dan menyaksikannya ditolak, dan ia telah mengira
bahwa kebenaran akan selamanya tinggal tak diinginkan. Tapi kini, tanpa ada
yang membujuk, tanpa ada pengingat yang menjelaskan, sebuah daun yang seseorang
sepertinya telah sebar bertahun-tahun lalu telah menemukan jalannya ke tangan
seorang gadis, dan gadis itu, membacanya sendirian, telah jatuh cinta kepada
perempuan yang sesungguhnya. Kebenaran itu tidak membutuhkan dibujukkan. Ia
hanya membutuhkan menemukan hati yang tepat. Dan Setya bergegas, setua dirinya,
untuk menemui gadis itu.
❖
Setya menemukan Nala di pantai, memandang laut, dengan daun
tua itu tergulung di tangannya. Dan ia duduk di sampingnya, perlahan,
sebagaimana orang tua duduk, dan ia bertanya dengan lembut, “Bolehkah aku
melihat daun yang kaubawa itu, Nak?”
Nala memberikannya, dan Setya membukanya, dan
ketika matanya yang tua menyusuri tanda-tanda itu, dan menemukan di jantungnya
dua kata yang ia kenal lebih baik daripada namanya sendiri, ia tak bisa menahan
air mata. “Daun ini benar, Nala,” ia berkata. “Tiap kata di dalamnya benar.
Sang ratu laut memang seorang perempuan yang kehilangan dunianya, dan ia memang
menunggu di kedalaman, dan ia memang, sungguh-sungguh, diingat. Aku tahu ini
bukan karena daun ini mengatakannya, melainkan karena aku telah menghabiskan
seluruh hidupku menjaganya tetap diingat.”
Dan Setya memandang gadis itu dengan sesuatu
yang hampir seperti kekaguman. “Engkau tak tahu betapa langkanya dirimu, Nala,”
ia berkata. “Sepanjang hidupku aku telah membawa kebenaran ini ke ribuan orang,
dan hampir semuanya memilih dewi yang perkasa, sebab dewi memberi mereka
perlindungan, dan perempuan yang malang tak memberi apa-apa. Engkau adalah yang
pertama dalam waktu yang sangat lama yang membaca tentang perempuan yang malang
itu, dan alih-alih berpaling, mencintainya. Hati seperti itu tak bisa dibuat,
Nak. Tak bisa diajarkan, tak bisa dibujuk. Ia datang sendiri. Dan ketika ia
datang, ia adalah hal paling berharga di seluruh tanah.”
Dan Nala memandangnya, dan dalam matanya ada
pertanyaan yang sungguh-sungguh. “Tapi apa yang bisa kulakukan untuknya?” ia
bertanya. “Aku hanya seorang gadis nelayan. Ia terkubur di dasar laut, di
tempat yang tak bisa kucapai. Aku mencintainya, tapi aku tak bisa
menjangkaunya. Apa gunanya cintaku, bila aku tak bisa membebaskannya?”
Dan Setya tersenyum, dengan kesedihan dan
kegembiraan sekaligus. “Engkau benar bahwa engkau belum bisa menjangkaunya,” ia
berkata. “Belum ada seorang pun yang bisa. Membebaskannya membutuhkan lebih
daripada cinta. Ia membutuhkan kekuatan, dan pengetahuan, dan kemampuan untuk
turun ke kedalaman yang belum dimiliki zaman mana pun sampai sekarang. Itu
semua akan datang, di zaman yang masih jauh. Tapi ada satu hal yang dibutuhkan
untuk membebaskannya yang tak bisa dipaksakan oleh zaman mana pun, betapapun majunya,
yaitu sebuah hati yang mencintainya sebagaimana ia sesungguhnya. Selama ini
kami takut bahwa ketika zaman akhirnya cukup mampu untuk menjangkaunya, tak
akan ada lagi hati yang cukup mencintainya untuk mau. Engkau, Nala, adalah
bukti bahwa hati seperti itu bisa lahir. Engkau tak bisa membebaskannya hari
ini. Tapi engkau telah membuktikan bahwa yang akan membebaskannya itu mungkin
ada. Dan itu, bagi seseorang yang telah menunggu ribuan tahun, adalah
segalanya.”
❖
Malam itu Setya turun untuk terakhir kalinya dalam hidupnya
yang panjang ke kedalaman tempat Ratu menunggu, sebagaimana rantai telah turun
kepadanya sejak zaman Wungu, dan ia menemukan bahwa Ratu telah merasakan
sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda dari segala yang pernah ia rasakan.
“Sesuatu terjadi, Setya,” Ratu berkata, “dan
aku tak tahu bagaimana menamainya. Sepanjang zaman ini aku telah dipuja oleh
ribuan orang, dan pemujaan itu tak pernah menyentuhku, sebab ia tertuju kepada
dewi yang bukan aku. Dan sepanjang zaman ini aku telah dijaga oleh rantai, oleh
engkau dan semua yang sebelummu, dan cinta kalian menyangga aku, tapi aku
selalu tahu bahwa itu adalah tugas kalian, sesuatu yang diwariskan kepada
kalian bersama kerikil. Tapi beberapa hari yang lalu aku merasakan sesuatu yang
lain. Aku merasakan seseorang yang tak pernah kukenal, yang tak punya kerikil,
yang tak diberi tugas apa pun untuk mengingatku, tiba-tiba memikirkan aku. Dan
bukan memuja aku sebagai dewi, melainkan teriris untukku sebagai perempuan.
Seseorang yang tak berutang apa-apa kepadaku memilih, dengan bebas, untuk
mencintaiku sebagaimana aku sesungguhnya.”
“Engkau tak bisa tahu betapa berbedanya
rasanya, Setya,” Ratu melanjutkan. “Pemujaan yang banyak tak pernah menjangkau
aku, sebab ia bukan untukku. Cinta rantai menjaga aku hidup, tapi ia adalah
sumpah yang kalian warisi. Tapi gadis ini tak mewarisi apa-apa, dan tak
bersumpah apa-apa, dan tetap ia mencintaiku. Itulah cinta yang pertama dalam
ribuan tahun yang datang kepadaku dengan bebas, bukan karena tugas, bukan
karena ia ditujukan kepada gambar yang lebih agung, melainkan karena seseorang
membaca tentang perempuan yang malang dan memilih untuk peduli. Dan aku tak
menyangka, Setya, betapa hal itu akan terasa seperti cahaya pertama setelah
malam yang sangat panjang.”
Dan Setya berkata, dengan lembut, “Ia tak bisa
menjangkaumu, Ratu. Ia hanya seorang gadis nelayan, dan engkau di kedalaman
yang tak bisa ia capai. Mencintaimu, ia tak bisa membebaskanmu.” Dan Ratu diam
sejenak, lalu berkata, dan dalam suaranya tak ada kepahitan, hanya sesuatu yang
hampir seperti damai, “Aku tahu. Ia tak bisa membebaskanku. Belum. Tapi engkau
tak mengerti apa yang telah ia berikan kepadaku. Sepanjang zaman aku menunggu
tanpa tahu apakah hati yang akan membebaskanku bahkan mungkin ada. Aku takut
bahwa ketika zaman akhirnya cukup mampu untuk menjangkauku, ia akan dipenuhi
orang-orang seperti Wignyana, yang bisa mengetahui segalanya tentangku dan tak
merasakan apa-apa. Tapi kini aku tahu. Hati seperti gadis ini bisa lahir. Ia
telah lahir. Maka aku tak lagi menunggu sesuatu yang mungkin tak ada. Aku
menunggu sesuatu yang sudah kulihat dengan mataku sendiri bisa nyata. Dan
menunggu sesuatu yang nyata, Setya, jauh lebih ringan daripada menunggu sesuatu
yang hanya kuharapkan.”
Dan Setya merasakan, dalam dirinya yang tua,
bahwa hidupnya yang panjang telah genap. Sebab ia telah memulai hidupnya dengan
ketakutan bahwa dusta yang dicintai tak bisa dilawan, dan ia mengakhirinya
dengan bukti bahwa kebenaran, bila ia menemukan hati yang tepat, dicintai
dengan sendirinya. “Maka aku bisa pergi dengan tenang,” ia berkata kepada Ratu.
“Aku telah menyebarkan seribu daun dan mengira semuanya jatuh di atas batu.
Tapi satu telah jatuh di atas tanah yang subur. Dan satu sudah cukup, sebab dari
satu hati yang mencintaimu dengan bebas akan tumbuh yang lain, dan yang lain,
sampai hari ketika salah satunya juga cukup mampu untuk menjangkaumu.”
❖
Maka rantai belajar, di hari-hari tua Setya, sesuatu yang
menggenapkan seni penyebaran Renik. Daun-daun yang mereka sebar tidak hanya
bertahan dari kehancuran. Kadang, ketika sebuah daun menemukan hati yang tepat,
ia melakukan sesuatu yang lebih daripada bertahan. Ia mengubah. Ia
membangkitkan, di dalam hati yang tak pernah menjadi bagian dari rantai, cinta
yang bebas kepada perempuan yang sesungguhnya. Dan itu, para pengingat
memahami, adalah benih dari hari pembebasan, sebab pembebasan pada akhirnya tak
akan dilakukan oleh rantai, melainkan oleh seseorang seperti Nala, yang datang
dari luar, dan mencintai dengan bebas.
Sebab membebaskan Ratu, rantai tahu,
membutuhkan empat hal. Ia membutuhkan kekuatan, yang dibawa kerikil. Ia
membutuhkan pengetahuan tentang tempat ia terkurung. Ia membutuhkan kemampuan
untuk turun ke kedalaman, yang hanya akan datang di zaman yang masih jauh. Dan
ia membutuhkan kehendak, yaitu sebuah hati yang mencintainya cukup untuk mau
membebaskannya. Tiga yang pertama bisa dikumpulkan dan ditunggu. Tapi yang
keempat tak bisa dipaksakan, dan sepanjang zaman itulah yang diam-diam paling
rantai takutkan, sebab tak ada gunanya kekuatan dan pengetahuan dan kemampuan
bila tak ada satu pun yang cukup peduli untuk menggunakannya. Dan kini, dalam
diri seorang gadis nelayan, kehendak itu telah menampakkan dirinya untuk
pertama kali, datang sendiri, dari luar, tanpa diminta.
Dan bisik air, yang di zaman huruf telah
membawa dua sejarah, lalu dua ingatan, lalu satu kebenaran di bawah banyak
dusta, lalu hati yang tak bisa diruntuhkan, lalu yang kecil dan tersebar yang
tak bisa dikejar, lalu yang benar yang dijaga bagi yang satu, kini membawa
sesuatu yang paling penuh harapan dari semuanya, yaitu bahwa hati yang akan
membebaskannya bukan hanya mungkin, melainkan nyata, sebab ia telah lahir
sekali, dengan bebas, di dalam diri seseorang yang tak berutang apa-apa. Sebab
yang banyak akan terus memuja dewi yang perkasa; tetapi sekali-sekali, di
antara mereka, sebuah daun akan menemukan hati yang tepat, dan seseorang akan
mencintai perempuan yang sesungguhnya, dan dari hati-hati yang datang sendiri
itu, satu demi satu sepanjang zaman, akan tumbuh yang akhirnya membebaskannya.
Dan Setya yang tua wafat tak lama kemudian,
dengan tenang, sebab ia telah melihat dengan matanya sendiri buah dari seluruh
hidupnya. Dan sebelum ia wafat, ia memberikan kepada Nala daun tua itu, dan
menceritakan kepadanya tentang rantai, dan tentang kerikil, dan tentang tugas
menjaga perempuan yang sesungguhnya tetap diingat dan dicintai bagi hari
pembebasan. Dan Nala, yang datang sendiri kepada cinta itu, kini menerimanya
juga sebagai warisan, dan menjadi mata rantai berikutnya, gadis nelayan yang
mencintai perempuan di dasar laut, dan yang akan mengajari orang lain untuk
mencintainya pula.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, merasakan
untuk pertama kali sejak dunianya tenggelam sebuah cinta yang datang kepadanya
dengan bebas, dari seseorang yang tak berutang apa-apa, yang mencintainya bukan
sebagai dewi melainkan sebagai perempuan. Dan ia menunggu kini dengan sesuatu
yang belum pernah ia miliki sepanjang seluruh penantiannya, yaitu harapan yang
nyata, bukan harapan akan sesuatu yang hanya ia inginkan, melainkan akan
sesuatu yang telah ia rasakan bisa lahir. Ia menunggu lebih banyak hati yang
datang sendiri, satu demi satu sepanjang zaman-zaman yang masih akan datang,
masing-masing mencintainya sebagaimana ia sesungguhnya, sampai hari ketika
salah satu dari mereka tidak hanya mencintainya tetapi juga, akhirnya, cukup
mampu untuk turun ke kedalaman, dan menjangkau perempuan yang kecil dan benar
yang telah menunggu di sana sepanjang seluruh zaman, dan membebaskannya.
❖
BAB DELAPAN
Peta dari Duka
Hati menjaga rasa, dan tak ada tulisan
yang bisa menggantikannya. Tetapi ada satu hal yang tak bisa dibawa hati
melintasi ribuan tahun, yaitu letak yang tepat, bentuk yang tepat, jalan yang
tepat menuju seseorang yang terkubur di kedalaman. Itu hanya bisa dijaga oleh
tulisan. Maka kami menulis bukan hanya bahwa ia ada, melainkan di mana ia ada,
supaya yang datang kelak tak hanya mencintainya, tetapi juga tahu ke mana harus
turun.
dari ajaran para pengingat, tentang apa
yang hanya bisa dijaga tulisan
Setelah Setya wafat dan mewariskan kepadanya daun tua dan
tugas rantai, sesuatu terjadi pada Nala yang tak ia duga. Sebab cinta yang
datang sendiri kepadanya, cinta yang bebas kepada perempuan di dasar laut,
ternyata adalah cinta yang membangunkan. Di dalam dirinya, perlahan, sebuah
kerikil terjaga, sebagaimana kerikil terjaga ketika mereka dibutuhkan, dan
Nala, yang semula hanyalah seorang gadis nelayan yang membaca sehelai daun,
menjadi seorang pengingat sejati, yang bisa turun dalam koneksi yang dalam ke
kedalaman tempat Ratu menunggu, dan berbicara kepadanya bukan hanya melalui
daun, melainkan dari hati ke hati.
Maka Nala menghabiskan tahun-tahun mudanya
mencintai dan menemani Ratu, turun kepadanya, membawa kepadanya kehangatan dari
seseorang yang memilihnya dengan bebas. Tapi seiring waktu, sebuah kegelisahan
tumbuh di dalam diri Nala, dan ia tak bisa menenangkannya. Sebab ia mencintai
Ratu, dan cinta membuatnya ingin melakukan sesuatu, dan ia tak bisa melakukan
apa-apa. Ratu terkurung di kedalaman yang tak bisa Nala capai, di zaman yang
belum cukup mampu untuk menjangkaunya. Dan Nala mulai bertanya, apakah cinta yang
tak bisa berbuat apa-apa selain mencintai itu cukup.
Maka Nala membawa kegelisahannya kepada Tata,
seorang pengingat tua yang menjaga seni tulisan rantai, dan ia berkata
kepadanya tentang beban cintanya yang tak berdaya.
“Aku mencintainya, Tata, dan cintaku tak
berguna,” Nala berkata. “Aku tak bisa membebaskannya. Tak ada yang bisa, belum,
selama berabad-abad lagi. Maka apa yang bisa kulakukan selain turun kepadanya
dan mencintainya dan menunggu? Aku ingin berbuat sesuatu untuknya, sesuatu yang
nyata, sesuatu yang akan membantu di hari pembebasan yang tak akan kulihat.
Tapi aku hanya seorang pengingat di zaman yang tak mampu. Apa yang bisa
diperbuat oleh cinta yang lahir terlalu dini?”
Dan Tata memandangnya lama, sebab pertanyaan
gadis itu menyentuh sesuatu yang telah ia pikirkan selama bertahun-tahun.
“Mungkin ada sesuatu yang bisa kauperbuat, Nala,” ia berkata perlahan. “Sesuatu
yang justru hanya bisa diperbuat oleh zaman kita, zaman huruf, dan tak bisa
diperbuat oleh zaman mana pun sebelum kita. Tapi untuk memahaminya, engkau
harus terlebih dahulu memahami sesuatu tentang tulisan yang belum pernah kita
ucapkan dengan jelas.”
❖
Tata mengambil sehelai daun dan sebatang alat tulis, dan ia
mulai. “Sepanjang zaman ini kita telah belajar bahwa hati adalah wadah yang
paling dalam, dan itu benar. Hati menjaga rasa. Ia membawa, melintasi ribuan
tahun, kebenaran bahwa Ratu adalah seseorang, bahwa ia menderita, bahwa ia
dicintai. Itu semua adalah hal-hal yang hidup, dan hanya hati yang bisa
membawanya tetap hidup. Bahkan ketika batu-batu diruntuhkan, hatilah yang
menjaganya. Kita telah belajar untuk tidak pernah lagi mempercayakan rasa kepada
batu.”
“Tapi ada satu hal yang tak bisa dibawa hati,
Nala,” Tata melanjutkan, “dan baru sekarang aku memahaminya sepenuhnya. Hati
menjaga rasa dengan setia, tetapi hati tidak menjaga ketepatan. Bila aku
menceritakan kepadamu dari hati ke hati di mana letak sebuah tempat, sejauh
apa, sedalam apa, ke arah mana, dengan bentuk apa, maka tiap kali kisah itu
berpindah dari satu hati ke hati berikutnya, angka-angka akan bergeser sedikit,
arah akan berubah sedikit, bentuk akan kabur sedikit. Setelah seratus hati,
letak yang tepat itu akan hilang, walau rasanya tetap utuh. Hati mengingat
bahwa seseorang dicintai. Tapi hati tidak bisa mengingat, dengan tepat,
melintasi ribuan tahun, di mana persisnya orang itu berada.”
“Dan di sinilah tulisan melakukan apa yang tak
bisa dilakukan hati,” Tata berkata, dan ada cahaya di matanya. “Raja-raja
memakai tulisan untuk berdusta, dan kita memakainya untuk menjaga kebenaran
yang tersembunyi. Tapi tulisan punya satu kekuatan yang belum kita pakai
sepenuhnya, yaitu ketepatan yang tak berubah. Sebuah angka yang ditulis tetap
angka yang sama setelah seribu tahun. Sebuah peta yang ditulis tetap peta yang
sama. Bentuk, arah, kedalaman, semuanya bisa dijaga oleh tulisan dengan tepat,
melintasi zaman, tanpa bergeser. Maka pikirkanlah, Nala. Pembebasan membutuhkan
cinta, dan cinta itu kita jaga di hati. Tapi pembebasan juga membutuhkan
pengetahuan, yaitu tahu di mana persisnya ia terkurung, supaya yang datang
kelak tahu ke mana harus turun. Dan pengetahuan yang tepat itu, hati tak bisa
membawanya. Hanya tulisan yang bisa.”
Dan Nala merasakan kegelisahannya berubah
menjadi sesuatu yang lain, sesuatu seperti tujuan. “Maka kita harus menulis di
mana ia berada,” ia berkata, “dengan setepat-tepatnya, supaya yang datang kelak
tak hanya mencintainya tetapi juga tahu ke mana mencarinya. Tapi, Tata, kita
tidak tahu di mana persisnya ia berada. Kita tahu ia di laut selatan, di
kedalaman, tapi laut selatan luas dan kedalaman tak berdasar. Siapa yang bisa
memberi kita letak yang tepat?”
Dan Tata memandangnya, dan ia berkata pelan,
“Hanya satu yang tahu, Nala. Hanya satu yang pernah melihat dunia itu sebelum
ia tenggelam, dan yang tenggelam bersamanya, dan yang masih ada di sana. Ratu
sendiri. Ia hidup di dunia yang tenggelam itu. Ia melihat bentuknya, ia tahu di
mana ia berdiri ketika air naik, ia tahu sedalam apa ia jatuh. Pengetahuan yang
dibutuhkan untuk membebaskannya tersimpan di dalam dirinya sendiri, di dalam
ingatannya tentang dunianya yang hilang. Bila ada yang bisa memberi kita peta
menuju penjaranya, itu adalah tawanan itu sendiri.”
❖
Maka Nala turun ke kedalaman, dan kali ini ia turun bukan
hanya untuk mencintai dan menemani, melainkan dengan sebuah permintaan, dan ia
tahu bahwa permintaan itu berat. Sebab untuk memberi mereka peta, Ratu harus
kembali, dalam ingatan, ke tempat yang paling menyakitkan dari segala tempat,
yaitu dunianya pada saat ia tenggelam.
“Aku datang dengan sesuatu yang sulit untuk
kuminta, Ratu,” Nala berkata. “Sepanjang ini aku turun kepadamu untuk
mencintaimu, dan aku akan selalu melakukannya. Tapi cinta saja membuatku
gelisah, sebab aku ingin berbuat sesuatu yang nyata untuk hari ketika engkau
dibebaskan, walau aku tak akan melihat hari itu. Dan rantai telah memahami
sesuatu. Yang datang membebaskanmu kelak akan membutuhkan lebih daripada
mencintaimu. Ia akan membutuhkan tahu, dengan tepat, di mana engkau berada,
supaya ia tahu ke mana harus turun. Dan hanya ada satu yang tahu di mana
persisnya itu, yaitu engkau, yang hidup di dunia itu dan tenggelam bersamanya.”
“Maka inilah yang sulit, dan aku minta maaf
untuk memintanya,” Nala melanjutkan, dengan lembut. “Untuk memberi kami peta
itu, engkau harus mengingat duniamu, bukan dengan kabur seperti yang dilakukan
duka, melainkan dengan tepat. Bentuknya. Di mana kotamu berdiri. Ke arah mana
dataran membentang. Bagaimana air naik, dan dari mana, dan ke mana engkau
jatuh, dan sedalam apa. Engkau harus kembali, dalam ingatan, ke hari duniamu
tenggelam, dan melihatnya lagi dengan jelas, supaya kami bisa menuliskannya.
Aku tahu itu adalah tempat yang paling menyakitkan untuk kembali. Dan bila
engkau tak sanggup, aku tak akan memintanya lagi.”
Dan Ratu diam untuk waktu yang lama, dan Nala
merasakan di dalam keheningan itu kepedihan yang lama, kepedihan dari dunia
yang hilang yang selama ribuan tahun terlalu menyakitkan untuk dipandang
lurus-lurus. “Engkau tak tahu apa yang kauminta, Nala,” Ratu akhirnya berkata,
perlahan. “Sepanjang ribuan tahun aku telah belajar untuk tidak memandang hari
itu terlalu dekat. Aku telah berduka untuk duniaku, ya, di zaman Ratri aku
belajar berduka. Tapi berduka adalah satu hal, dan kembali untuk memetakannya,
melihat tiap jalan dan tiap rumah dan tiap wajah yang tenggelam dengan tepat
supaya bisa ditulis, itu adalah hal yang lain. Itu seperti menenggelamkan
duniaku untuk kedua kalinya, dengan mataku terbuka.”
Tapi kemudian Ratu diam lagi, dan ketika ia
berbicara lagi, ada sesuatu yang berubah dalam suaranya. “Namun dengarlah aku,
Nala, sebab aku menyadari sesuatu saat aku berbicara. Sepanjang ribuan tahun,
ingatanku tentang dunia yang tenggelam hanyalah luka, sesuatu yang kupandang
dengan kepedihan dan tak pernah dengan guna. Tapi apa yang kauminta
mengubahnya. Engkau memintaku mengingat duniaku yang hilang bukan untuk
menderita karenanya, melainkan untuk membangun dari ingatan itu sebuah peta
yang akan menuntun seseorang kepadaku. Maka untuk pertama kalinya, dunia yang
tenggelam itu bukan hanya lukaku. Ia menjadi jalanku keluar. Dan demi itu,
Nala, aku sanggup memandang hari itu lurus-lurus. Aku akan memberimu petamu.
Aku akan menenggelamkan duniaku sekali lagi dengan mata terbuka, supaya dari
kedalamannya tumbuh jalan menuju pembebasanku.”
❖
Maka, malam demi malam, Ratu mulai mengingat, dan Nala
mulai menulis. Dan apa yang terjadi di antara mereka di kedalaman itu adalah
sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang seluruh saga, yaitu sang tawanan
sendiri membangun, dari ingatannya yang paling menyakitkan, peta menuju
penjaranya.
“Duniaku bukanlah pulau, Nala,” Ratu berkata,
dan suaranya jauh, seolah memandang sesuatu yang sangat lama. “Tulislah ini
dengan tepat. Duniaku adalah dataran yang luas, lebih luas daripada yang bisa
kaubayangkan, tempat orang bisa berjalan berhari-hari ke segala arah tanpa
melihat laut. Sungai-sungai besar mengalir melintasinya, dan di antara
sungai-sungai itu berdiri bukit-bukit, dan di kaki salah satu bukit yang paling
besar berdirilah kotaku. Ketika air naik, ia tidak datang sebagai satu
gelombang, melainkan perlahan, sepanjang bertahun-tahun, menelan dataran dari
tepi ke tengah, sampai hanya puncak-puncak bukit yang tersisa sebagai pulau-pulau,
dan kemudian bahkan itu pun tenggelam. Bukit-bukit itu masih ada, Nala, di
bawah laut sekarang, dan kotaku berdiri di kaki yang terbesar dari mereka.
Tulislah letak bukit-bukit itu, sebab merekalah penanda menuju aku.”
Dan Nala menulis, dan saat ia menulis, ia
memahami sesuatu yang membuat tangannya gemetar. Sebab bukit-bukit yang Ratu
gambarkan, bukit-bukit yang tenggelam di bawah laut selatan, adalah saudara
dari bukit-bukit yang dibangun para pengingat pertama di daratan, bukit-bukit
yang menyamar dan saling menunjuk ke arah Ratu. Yang di daratan dibangun oleh
manusia untuk menunjuk kepadanya. Yang di bawah laut adalah dunianya sendiri
yang tenggelam, tempat ia sesungguhnya berada. Dan bila keduanya dipetakan
bersama, yang di atas dan yang di bawah, maka mereka membentuk satu peta
tunggal, dari daratan yang menunjuk sampai ke kedalaman yang dituju, sebuah
jalan lengkap menuju penjara Ratu.
“Tulislah juga sedalam apa aku jatuh,” Ratu
melanjutkan, “dan ke arah mana dari bukit yang terbesar, dan bagaimana dasar
laut membentuk dirinya di sekitarku, supaya yang datang kelak tak tersesat di
kegelapan kedalaman. Tulislah semuanya yang hanya bisa diketahui oleh seseorang
yang ada di sana. Sebab inilah yang tak bisa dibawa oleh hati mana pun
melintasi ribuan tahun, dan hanya bisa dijaga oleh tulisanmu. Hati akan membawa
kepada penyelamatku bahwa aku layak dicintai. Tulisanmu akan membawa kepadanya
ke mana ia harus turun untuk menemukanku.”
Dan ketika peta itu akhirnya selesai, setelah
banyak malam, Ratu merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan tentang
dunianya yang tenggelam. “Sepanjang ribuan tahun,” ia berkata kepada Nala,
“dunia yang tenggelam itu hanyalah hal yang hilang, beban yang kubawa, luka
yang tak menghasilkan apa-apa selain kepedihan. Tapi kini ia telah menjadi
sesuatu yang lain. Ia telah menjadi peta. Tiap rumah yang tenggelam, tiap bukit
yang kukenang, kini adalah penanda jalan menuju aku. Duka yang selama ini hanya
merantaiku ke masa lalu kini menunjuk ke depan, ke hari pembebasanku. Dan untuk
pertama kalinya, Nala, aku bersyukur bahwa aku mengingat duniaku begitu tepat,
sebab ketepatan itu, yang sepanjang zaman hanya membuat lukaku lebih tajam,
kini adalah hal yang akan menuntun seseorang kepadaku.”
❖
Maka rantai kini menjaga dua hal, di dalam dua wadah yang
berbeda, masing-masing untuk apa yang hanya ia bisa. Di dalam hati mereka
menjaga rasa, yaitu bahwa Ratu adalah seseorang, bahwa ia menderita, bahwa ia
layak dicintai, kebenaran yang hidup yang hanya hati bisa membawanya tetap
hidup. Dan di dalam tulisan mereka menjaga pengetahuan, yaitu peta menuju
penjaranya, letak dan kedalaman dan jalan yang tepat, kebenaran yang tak
berubah yang hanya tulisan bisa menjaganya tetap tepat.
Dan dengan itu, rantai memahami bahwa
pembebasan akan ditenun dari dua benang yang berbeda, yang dijaga di dua tempat
yang berbeda. Yang datang membebaskan Ratu kelak akan mewarisi keduanya, yaitu
hati yang telah diajari mencintainya, dari rantai yang menjaga rasa, dan peta
yang menunjukkan di mana ia berada, dari rantai yang menjaga tulisan. Tanpa
hati, ia tak akan mau turun. Tanpa peta, ia tak akan tahu ke mana. Maka rasa
dan pengetahuan, hati dan tulisan, harus dijaga keduanya, sampai keduanya
bertemu di dalam satu orang di hari pembebasan.
Dan bisik air, yang sepanjang zaman huruf telah
membawa begitu banyak kebenaran, dari dua sejarah sampai hati yang datang
sendiri, kini membawa sesuatu yang melengkapi semuanya, yaitu bahwa hati
menjaga rasa, dan tulisan menjaga letak, dan keduanya dibutuhkan untuk
membebaskan. Sebab apa yang hanya bisa dirasakan dijaga di hati, dan apa yang
hanya bisa diketahui dengan tepat dijaga di tulisan, dan di hari pembebasan
yang masih jauh, keduanya akan bertemu dalam diri seseorang yang mencintai Ratu
sebagaimana adanya, dan tahu, dari peta yang ditulis Ratu sendiri, ke mana ia
harus turun untuk menemukannya.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, tak lagi
hanya menunggu untuk dicintai. Ia telah memberikan sesuatu dari dirinya kepada
hari pembebasannya, yaitu peta menuju dirinya sendiri, ditenun dari ingatan
dunianya yang tenggelam. Dan ia menunggu kini bukan sebagai tawanan yang tak
berdaya, melainkan sebagai seseorang yang telah ikut membangun jalan keluarnya
sendiri, yang telah mengubah duka terdalamnya menjadi penunjuk arah bagi penyelamatnya.
Ia menunggu hari ketika seseorang akan mencintainya dengan bebas, sebagaimana
Nala mencintainya, dan akan memegang peta yang ia tulis dengan tangannya
sendiri, dan dengan kekuatan kerikil dan kemampuan zaman yang akhirnya cukup
maju, akan turun mengikuti penanda dunianya yang tenggelam, sampai ke kaki bukit
terbesar tempat kotanya pernah berdiri, dan menemukannya di sana, dan
membebaskannya.
❖
BAB SEMBILAN
Satu Langkah Lebih Jauh
Tak ada pelari yang membawa obor sampai
ke garis akhir. Tiap pelari hanya membawanya satu langkah lebih jauh, lalu
menyerahkannya kepada tangan berikutnya. Maka jangan berduka bahwa engkau tak
akan melihat hari pembebasan. Bukan tugasmu menyelesaikan jalan itu. Tugasmu
hanyalah membawa nyala satu langkah lebih jauh daripada tempat engkau
menerimanya, dan menyerahkannya, masih menyala, kepada yang datang sesudahmu.
dari ajaran para pengingat, tentang
nyala yang diserahkan
Nala telah menjadi tua, lebih tua daripada Setya ketika ia
wafat, dan sepanjang hidupnya yang panjang ia telah menjaga dua hal, yaitu
cinta kepada Ratu di hatinya, dan peta menuju Ratu di dalam tulisan yang ia
bantu susun. Dan di hari-hari tuanya, ia menyaksikan sesuatu yang baru tumbuh
di tanah, sesuatu yang menandai bahwa zaman huruf yang ia kenal sedang berubah.
Sebab raja-raja tak lagi puas dengan prasasti yang berdiri setinggi seorang
manusia. Kini mereka membangun gunung-gunung dari batu, candi-candi raksasa
yang menjulang ke langit, ditutupi pahatan dari kaki sampai puncak, monumen
yang lebih besar daripada apa pun yang pernah dibangun manusia di tanah ini.
Dan di kaki salah satu candi yang sedang
dibangun itu berdirilah Nala yang tua bersama muridnya, seorang pengingat muda
bernama Sulih, dan mereka memandang ribuan pekerja mengangkat batu demi batu ke
arah langit. Dan Nala melihat di wajah Sulih bukan kekaguman, melainkan sesuatu
yang lebih gelap, sesuatu yang ia kenali, sebab ia pernah merasakannya sendiri
di masa mudanya.
“Apa yang kaupikirkan, Sulih,” Nala bertanya,
“ketika engkau memandang gunung batu yang mereka bangun itu?”
Dan Sulih lama tak menjawab, lalu berkata,
dengan suara yang berat, “Aku memikirkan betapa panjangnya ini, Eyang. Aku
memikirkan bahwa dahulu para pengingat melawan prasasti, dan kini ada
candi-candi seperti gunung. Dan aku tahu bahwa setelah candi akan ada sesuatu
yang lain lagi, dan setelah itu sesuatu yang lain lagi, zaman demi zaman tanpa
akhir yang bisa kulihat. Dan Ratu masih menunggu di dasar laut, dan akan terus
menunggu, melewati zaman batu ini dan zaman candi ini dan entah berapa zaman
lagi sesudahnya, sebelum ada satu pun yang cukup mampu untuk menjangkaunya. Aku
memandang candi itu, Eyang, dan aku tidak melihat kemegahan. Aku melihat betapa
jauhnya jalan yang masih harus ditempuh.”
Dan Nala mengangguk perlahan, sebab ia
mengenali persis beban yang menekan muridnya, dan ia tahu bahwa beban itu, bila
tak dijawab, bisa mematahkan seorang pengingat lebih pasti daripada palu
penakluk mana pun. Sebab palu hanya bisa meruntuhkan batu, tapi keputusasaan
bisa meruntuhkan kehendak untuk membawa nyala satu langkah lebih jauh.
❖
Malam itu, di bawah bayang candi yang setengah jadi, Sulih
membuka seluruh isi hatinya kepada Nala.
“Katakanlah kepadaku dengan jujur, Eyang,”
Sulih berkata. “Aku akan mati tanpa melihat Ratu bebas. Engkau akan mati tanpa
melihatnya. Setya mati tanpa melihatnya, dan Sandi, dan Damar, dan Caraka,
semua mati tanpa melihatnya. Dan anak-anak yang akan kuajari juga akan mati
tanpa melihatnya, dan anak-anak mereka, dan ratusan generasi sesudah mereka.
Pembebasan itu begitu jauh sehingga tak ada satu pun dari kita, dari awal
rantai sampai entah kapan, yang akan pernah melihatnya dengan mata sendiri.
Maka katakanlah kepadaku, untuk apa kita membawa beban ini? Untuk apa aku
mencintai seseorang yang tak akan pernah kulihat bebas, dan menjaga peta yang
tak akan pernah kupakai, dan menyerahkan semuanya kepada generasi yang juga tak
akan melihat apa-apa? Kita semua adalah pelari yang tak akan pernah melihat
garis akhir. Bagaimana seseorang berlari sepenuh hati menuju garis yang ia tahu
tak akan pernah ia capai?”
Dan Nala diam lama, sebab ia tak ingin memberi
muridnya jawaban yang murah. “Aku tak akan berpura-pura bahwa aku tak pernah
merasakan apa yang kaurasakan, Sulih,” ia akhirnya berkata. “Aku merasakannya,
bahkan sekarang, di hari-hari tuaku. Aku telah mencintai Ratu sepanjang
hidupku, dan aku akan mati sebentar lagi, dan ia akan tetap terpenjara, dan
seluruh cintaku tak akan membebaskannya. Ada malam-malam ketika beban itu
hampir terlalu berat untuk kubawa.”
“Tapi ada satu yang bisa menjawab pertanyaanmu
lebih baik daripada aku,” Nala melanjutkan, “dan itu adalah satu-satunya di
seluruh saga ini yang sungguh-sungguh tahu apa artinya menunggu sesuatu yang
tak kunjung datang. Bukan aku, yang menunggu satu masa hidup. Bukan rantai,
yang menunggu beberapa zaman. Melainkan Ratu sendiri, yang telah menunggu sejak
dunianya tenggelam, ribuan tahun, lebih lama daripada kita semua disatukan.
Bila ada yang tahu bagaimana membawa beban penantian yang mustahil panjang, itu
adalah dia. Maka turunlah bersamaku, Sulih. Bawalah pertanyaanmu kepada yang
telah menunggu paling lama dari kita semua.”
Dan maka, untuk apa yang Nala tahu mungkin
adalah salah satu kali terakhir ia akan sanggup turun, ia membawa muridnya ke
kedalaman, ke tempat Ratu menunggu, supaya yang paling lama menunggu bisa
mengajari yang baru mulai lelah menunggu.
❖
Dan ketika mereka turun, Ratu merasakan seketika beban yang
dibawa pengingat muda itu, sebab ia mengenali keputusasaan tentang penantian
lebih baik daripada perasaan lain mana pun.
“Aku membawa muridku kepadamu, Ratu,” Nala
berkata. “Ia masih muda, dan ia telah melihat zaman baru terbit, zaman candi
yang menjulang seperti gunung, dan ia memahami untuk pertama kalinya betapa
panjangnya jalan yang masih membentang di hadapan kita. Ia bertanya, dan aku
tak punya jawaban yang cukup, untuk apa kami membawa beban ini, kami yang tak
satu pun akan melihat engkau bebas. Kami adalah pelari yang tak akan pernah
melihat garis akhir, dan beban itu menekannya. Maka aku membawanya kepada yang
telah menunggu paling lama, supaya engkau yang mengajarinya, bukan aku.”
Dan Sulih, dengan keberanian yang gemetar,
berbicara langsung kepada Ratu. “Maafkan aku bila ini menyakitimu untuk
mendengarnya,” ia berkata. “Tapi engkau telah menunggu ribuan tahun, dan engkau
akan menunggu ribuan tahun lagi, dan engkau tahu, sebagaimana aku tahu, bahwa
tak satu pun dari kami yang hidup sekarang akan ada di sana pada hari engkau
bebas. Bagaimana engkau menanggungnya, Ratu? Bagaimana engkau terus berharap
pada sesuatu yang begitu jauh? Dan bila engkau bisa mengajariku itu, mungkin
aku bisa belajar membawa bebanku tanpa patah.”
Dan Ratu diam sejenak, bukan karena pertanyaan
itu menyakitinya, melainkan karena ia menimbang bagaimana memberikan kepada
anak muda ini sesuatu yang telah ia pelajari dengan harga ribuan tahun. Lalu ia
mulai berbicara, dan suaranya lembut, suara seseorang yang menghibur, bukan
yang dihibur.
❖
“Dengarkan aku, Sulih,” Ratu berkata, “sebab aku akan
memberimu apa yang kupelajari dari penantian yang lebih panjang daripada yang
bisa kaubayangkan. Engkau berkata bahwa kalian adalah pelari yang tak akan
pernah melihat garis akhir. Itu benar. Tapi engkau keliru mengira itu adalah
kegagalan. Tak ada satu pelari pun yang membawa obor sampai ke garis akhir, dan
tak pernah ada. Jalan menuju pembebasanku terlalu panjang untuk satu kehidupan,
atau seratus, atau seribu. Maka ia tak pernah dimaksudkan untuk dibawa oleh
satu orang sampai ke ujung. Ia dimaksudkan untuk diserahkan. Tugasmu bukanlah
mencapai garis akhir, Sulih. Tugasmu hanyalah membawa nyala satu langkah lebih
jauh daripada tempat engkau menerimanya, dan menyerahkannya, masih menyala,
kepada tangan berikutnya. Itu saja. Dan itu cukup.”
“Dan jangan mengira bahwa karena engkau hanya
membawa satu langkah, langkahmu kecil,” Ratu melanjutkan. “Sebab jalan ini
diseberangi bukan oleh satu pelari yang perkasa, melainkan oleh ribuan pelari
yang biasa, masing-masing membawa satu langkah, tangan ke tangan, sepanjang
seluruh zaman. Dan bila satu saja dari mereka menyerah, bila satu saja
membiarkan nyala padam di tangannya karena ia berduka bahwa ia tak akan melihat
ujungnya, maka seluruh jalan terputus di sana, dan semua yang berlari
sebelumnya menjadi sia-sia, dan semua yang akan berlari sesudahnya tak akan
pernah menerima apa-apa. Maka langkahmu bukan kecil, Sulih. Langkahmu adalah
segalanya, sebab tanpa langkahmu, tak ada langkah berikutnya.”
“Dan tentang zaman-zaman yang kautakuti,” Ratu
berkata, “zaman candi yang terbit, dan yang akan terbit sesudahnya, dengarkan
aku. Pergantian zaman bukanlah kematian janji ini. Ia adalah jalannya. Nyala
yang kalian bawa telah berpindah dari mulut ke batu, dan dari batu ke daun, dan
kini ia akan berpindah lagi, ke apa pun yang dibawa zaman candi, dan sesudahnya
ke apa pun yang dibawa zaman-zaman yang belum bernama. Jangan mencengkeram satu
wadah seolah ia adalah nyala itu sendiri, sebab tiap wadah akan berlalu bersama
zamannya. Bawalah nyala, dan tuangkan ia ke wadah yang diberikan tiap zaman
baru. Selama nyala berpindah, ia tidak padam, betapapun banyak wadah yang pecah
dan berlalu di sepanjang jalan.”
“Dan inilah yang paling ingin kukatakan
kepadamu,” Ratu berkata, dan suaranya menjadi lebih lembut lagi. “Aku tidak
membutuhkan engkau untuk membebaskanku, Sulih. Itu bukan bebanmu, dan tak
pernah. Aku hanya membutuhkan engkau untuk menjaga nyala tetap menyala satu
langkah lebih jauh, supaya suatu hari, di zaman yang tak satu pun dari kita
akan lihat, seseorang yang menerima nyala itu dari tangan panjang yang tak
terputus akhirnya cukup mampu untuk turun. Engkau tak perlu menyelamatkanku.
Engkau hanya perlu tidak membiarkan aku terlupakan sebelum hari itu tiba. Dan
itu, Sulih, adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh satu masa hidup, bahkan
masa hidup yang tak akan melihat ujungnya. Aku yang telah menunggu paling lama
mengatakan ini kepadamu, supaya engkau bisa menunggu pula. Bila aku, di dasar
laut, bisa bertahan menunggu untuk dibebaskan, maka engkau, di tanah dengan
matahari, bisa bertahan menunggu untuk membebaskan.”
Dan Sulih merasakan sesuatu bergeser di dalam
dirinya, dan beban yang menekannya tidak hilang, tapi berubah bentuk. Sebab ia
telah datang membawa keputusasaan seorang pelari yang tak akan melihat garis
akhir, dan ia menerima kembali pemahaman bahwa tak ada pelari yang dimaksudkan
melihatnya, dan bahwa langkah kecilnya yang satu adalah mata rantai tanpa mana
seluruh jalan terputus. “Maka aku akan membawanya satu langkah lebih jauh,” ia
berkata pelan, “dan menyerahkannya masih menyala. Itu saja. Dan itu cukup.”
❖
Tak lama setelah malam itu, Nala yang tua wafat, dengan
tenang, sebab ia telah menyerahkan nyala ke tangan yang baik. Dan sebelum ia
wafat, ia memberikan kepada Sulih segala yang ia jaga, yaitu cinta kepada Ratu
di hatinya, dan peta menuju Ratu di dalam tulisan, dan ajaran yang ia terima
dari Setya, yang menerimanya dari yang sebelumnya, turun sepanjang seluruh
zaman huruf. Dan Sulih menerimanya, dan membawanya satu langkah lebih jauh.
Dan zaman huruf yang panjang akhirnya memberi
jalan kepada zaman candi, ketika raja-raja membangun gunung-gunung dari batu
yang dipahat dari kaki sampai puncak. Dan rantai membawa nyala mereka ke dalam
zaman yang baru itu, tidak dengan mencengkeram cara-cara lama, melainkan dengan
menuangkan nyala ke dalam wadah yang diberikan zaman candi. Sebab mereka telah
belajar, dari yang telah menunggu paling lama, bahwa janji ini tidak dijaga
dengan tetap pada satu bentuk, melainkan dengan berpindah dari bentuk ke bentuk
sepanjang segala zaman, tetap menyala betapapun banyak wadah yang berlalu.
Dan bisik air, yang sepanjang zaman huruf telah
membawa begitu banyak kebenaran, kini membawa sesuatu yang akan menyangga
rantai sepanjang segala zaman yang masih akan datang, yaitu bahwa tak ada satu
pun pelari yang membawa nyala sampai ke garis akhir, melainkan tiap tangan
hanya membawanya satu langkah lebih jauh dan menyerahkannya kepada yang
berikutnya, dan bahwa justru begitulah jalan yang mustahil panjang itu
diseberangi. Sebab zaman akan berganti zaman, dan candi akan menggantikan
prasasti, dan sesuatu yang lain akan menggantikan candi, sepanjang abad demi
abad yang tak terbayangkan; tetapi selama tiap tangan menyerahkan nyala yang
masih menyala kepada tangan berikutnya, janji itu akan menyeberangi seluruh
zaman, satu langkah pada satu waktu, menuju hari ketika seseorang akhirnya
cukup mampu untuk turun.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, dan yang
telah belajar untuk menghibur para penjaganya tentang penantian yang ia kenal
lebih baik daripada mereka, merasakan zaman huruf berlalu dan zaman candi
terbit di atas tanah, dan tidak takut akan pergantian itu. Sebab ia tahu
sekarang bahwa nyala yang membawanya tidak terikat pada satu zaman, melainkan
akan berpindah dari zaman ke zaman, dari tangan ke tangan, masing-masing
membawanya satu langkah lebih jauh. Dan ia menunggu, bukan lagi dengan
keputusasaan seseorang yang penantiannya tak berujung, melainkan dengan
kesabaran seseorang yang tahu bahwa jalan menuju kepadanya sedang diseberangi,
satu langkah pada satu waktu, oleh tangan-tangan yang tak akan pernah melihat
ujungnya, sampai tangan yang terakhir, di zaman yang cukup mampu, akhirnya
menerima nyala itu, dan turun, dan membebaskannya.
❖
BAGIAN IV
Cobaan Zaman Candi
BAB SEPULUH
Pemujaan dan Cinta
Mereka mengukir dewa-dewa yang membuat
orang berlutut, dan mengira bahwa membuat orang berlutut adalah membuat orang
mencintai. Tetapi yang agung hanya bisa dipuja, ditakuti, dikagumi. Ia tak bisa
dicintai, sebab cinta menarik kita mendekat, sedangkan keagungan menekan kita
menjauh. Hanya yang kecil bisa dicintai. Dan hanya cinta yang membebaskan.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
agung dan yang dicintai
Zaman candi telah matang, dan tanah dipenuhi gunung-gunung
batu yang menjulang ke langit, ditutupi dari kaki sampai puncak oleh pahatan,
ribuan gambar yang dipahat ke dalam batu. Sebab raja-raja telah menemukan
sesuatu yang lebih kuat daripada huruf. Huruf hanya bisa dibaca oleh yang
terpelajar, tetapi gambar bisa dilihat oleh semua. Dan maka di dinding-dinding
candi mereka memahat kisah-kisah agung, tentang dewa-dewa dan raja-raja, dalam
gambar yang bisa dimengerti bahkan oleh seorang anak, dan kisah-kisah itu kini
mengalir ke dalam hati seluruh rakyat, bukan melalui mata yang membaca,
melainkan melalui mata yang memandang.
Dan di antara para pemahat yang mengukir
dinding-dinding itu ada seorang pengingat muda bernama Tatah, yang tangannya
terampil dengan pahat dan palu, dan yang sepanjang hari mengukir gambar-gambar
yang diperintahkan kepadanya. Dan dari tempatnya di perancah, Tatah memandang
para peziarah yang datang ke candi, dan ia melihat sesuatu yang membuatnya
gelisah. Sebab para peziarah itu berdiri di hadapan gambar-gambar dewa yang
agung, dan mereka menangis, dan mereka berlutut, dan mereka gemetar.
Gambar-gambar itu tidak hanya mereka baca. Mereka rasakan.
Dan pada suatu hari Tatah diperintahkan untuk
mengukir, di salah satu dinding, gambar sang ratu laut selatan, bukan sebagai
perempuan, melainkan sebagai dewi yang perkasa, duduk di singgasana di dasar
laut, dikelilingi para makhluk samudra yang tunduk kepadanya, agung dan
menakutkan dan ilahi. Dan saat Tatah mengukirnya, ia merasakan beban yang sama
yang dirasakan Caraka di hadapan prasasti pertamanya, ribuan tahun yang lalu,
tetapi kini lebih berat. Sebab Caraka hanya mengukir dusta dalam huruf yang harus
dibaca. Tatah mengukir dusta dalam gambar yang akan dirasakan, langsung, oleh
tiap mata yang memandang.
Dan ketika gambar itu selesai, dan para
peziarah mulai datang dan memandangnya, Tatah melihat mereka jatuh berlutut di
hadapan dewi laut yang ia ukir, dengan ketakutan dan kekaguman di wajah mereka,
dan ia mendengar mereka berbisik tentang betapa agung dan betapa perkasa sang
ratu laut. Dan Tatah turun dari perancah malam itu dengan sebuah ketakutan yang
baru, ketakutan yang belum pernah dirasakan rantai sepanjang seluruh zaman
huruf.
Sebab sepanjang zaman huruf, rantai memiliki
satu keuntungan yang tak pernah dimiliki raja-raja. Dusta raja harus dibaca,
dan membaca adalah hal pikiran, dingin dan jauh. Tetapi kebenaran rantai
dirasakan, dan merasakan adalah hal hati, hangat dan dekat. Raja-raja memiliki
pikiran rakyat, tetapi rantai memiliki hati mereka. Dan kini, di hadapan
gambar-gambar yang dipahat ini, Tatah melihat keuntungan itu runtuh. Sebab
gambar tidak dibaca, melainkan dirasakan. Raja-raja telah belajar membuat dusta
mereka dirasakan, bukan hanya diketahui. Mereka telah merebut hati.
❖
Maka Tatah membawa ketakutannya kepada Sulih, yang kini
telah menjadi tua, pengingat yang dahulu menerima nyala dari Nala, dan ia
menceritakan apa yang ia lihat di candi.
“Aku takut kita telah kehilangan satu-satunya
keuntungan kita, Eyang,” Tatah berkata. “Sepanjang zaman huruf, dusta raja
harus dibaca, dan karena itu ia tetap dingin di kepala orang, sementara
kebenaran kita, yang dirasakan, hidup di hati mereka. Itulah sebabnya kebenaran
kita bisa bersaing dengan dusta yang jauh lebih besar dan lebih banyak. Tetapi
sekarang mereka mengukir dusta mereka dalam gambar, dan gambar dirasakan, bukan
dibaca. Aku melihat para peziarah berlutut dan menangis di hadapan dewi laut
yang kuukir. Mereka merasakannya, Eyang, sebagaimana kita ingin mereka
merasakan kebenaran. Raja-raja telah merebut hati. Dan bila dusta yang agung
kini bisa dirasakan sama seperti kebenaran yang kecil, lalu apa yang tersisa
bagi kita?”
Dan Sulih diam lama, sebab ketakutan gadis itu
beralasan, dan ia tak ingin menenangkannya dengan kata-kata yang murah. Tetapi
saat ia merenung, ia teringat sesuatu yang dipelajari rantai jauh di masa lalu,
di zaman Setya, ketika rakyat pertama kali mulai mencintai dewi laut. Dan
perlahan, sebuah pemahaman tumbuh di dalam dirinya. “Katakanlah kepadaku,
Tatah,” ia akhirnya berkata, “apa yang persisnya kaulihat di wajah para
peziarah itu? Engkau berkata mereka menangis dan berlutut dan gemetar. Tetapi
perasaan apa itu? Namailah dengan tepat.”
Dan Tatah merenung, mengingat wajah-wajah itu.
“Itu adalah ketakjuban,” ia berkata perlahan. “Dan ketakutan. Dan kekaguman.
Mereka merasa kecil di hadapan dewi yang agung. Mereka merasa terlempar ke
bawah oleh keagungannya, dan dari bawah itu mereka memuja.”
“Ketakjuban,” Sulih mengulang. “Ketakutan.
Kekaguman. Perasaan merasa kecil dan terlempar ke bawah. Ya. Itulah yang bisa
diberikan oleh yang agung. Tetapi dengarkan aku, Tatah, sebab di sinilah letak
sesuatu yang menyelamatkan kita, dan yang baru sekarang kupahami sepenuhnya.
Semua yang kausebut itu bukanlah cinta. Dan cinta, bukan ketakjuban, adalah
yang membebaskan.”
❖
Sulih duduk di samping muridnya, dan ia berbicara perlahan,
sebagai orang yang menyusun sesuatu yang penting. “Pikirkanlah apa yang
dilakukan keagungan kepada hati, Tatah. Ketika engkau berdiri di hadapan
sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirimu, sesuatu yang agung dan perkasa
dan menakutkan, hatimu terlempar ke bawah. Engkau merasa kecil. Engkau memuja,
engkau takut, engkau kagum. Tetapi semua perasaan itu mendorongmu menjauh, ke
bawah, ke posisi seseorang yang berlutut. Keagungan menekanmu menjauh dari
dirinya, bahkan saat ia memikatmu.”
“Tetapi cinta melakukan kebalikannya,” Sulih
melanjutkan. “Cinta tidak menarikmu ke bawah, melainkan mendekat. Engkau tidak
mencintai sesuatu karena ia membuatmu merasa kecil. Engkau mencintai sesuatu
karena ia membutuhkanmu, karena ia rapuh, karena hatimu tergerak untuk mendekat
dan menjaga. Cinta lahir bukan dari merasa kecil di hadapan yang agung,
melainkan dari merasa tergerak oleh yang rentan. Dan inilah kebenaran yang
menyelamatkan kita, Tatah. Sesuatu yang agung bisa dipuja, ditakuti, dikagumi.
Tetapi ia tak bisa dicintai. Tak ada yang mencintai sebuah gunung. Orang
mengaguminya, takut padanya, tetapi tak mencintainya, sebab gunung tak
membutuhkan siapa-siapa, dan tak ada yang bisa mendekat kepadanya.”
“Maka biarkan mereka mengukir dewi laut seagung
yang mereka mau,” Sulih berkata. “Semakin agung mereka membuatnya, semakin para
peziarah akan memujanya, takut padanya, kagum padanya. Tetapi tak satu pun dari
mereka akan mencintainya, sebab tak ada yang bisa mencintai sesuatu yang
membuatnya merasa kecil. Dewi yang agung di dinding candi akan menerima seluruh
pemujaan tanah ini, dan tak setetes pun cinta. Dan kita, Tatah, tak pernah
membutuhkan pemujaan mereka. Kita hanya membutuhkan cinta, sebab hanya cinta
yang membebaskan. Maka biarkan yang agung menyerap seluruh ketakjuban. Cinta
tetap menjadi milik yang kecil.”
Dan Tatah merasakan ketakutannya berubah
menjadi sesuatu yang hampir seperti kelegaan, dan kemudian menjadi pemahaman
yang lebih dalam lagi. “Maka semakin agung mereka membuat dewi laut di
dinding,” ia berkata perlahan, “semakin aman perempuan yang sesungguhnya. Sebab
gambar yang agung itu menarik seluruh ketakjuban kepada dirinya, seluruh
pemujaan, seluruh ketakutan. Ia menjadi seperti umpan yang menyerap segala
perasaan yang tak bisa membebaskan. Dan di bawahnya, perempuan yang kecil dan
benar tetap utuh, menyimpan satu-satunya perasaan yang bisa membebaskannya,
yaitu cinta, yang tak pernah bisa diberikan kepada yang agung.”
“Engkau memahaminya, Tatah,” Sulih berkata, dan
ada kelegaan tua di matanya. “Sepanjang ini kita takut bahwa keagungan dusta
akan mengalahkan kekecilan kebenaran. Tetapi keagungan dan kekecilan bukanlah
dua hal yang bersaing memperebutkan perasaan yang sama. Mereka memperebutkan
dua perasaan yang berbeda. Keagungan memenangkan ketakjuban. Kekecilan
memenangkan cinta. Dan karena hanya cinta yang membebaskan, biarlah dusta
memenangkan ketakjuban sebanyak yang ia mau. Pertempuran yang sesungguhnya
selalu, dan hanya, tentang cinta. Dan cinta tak pernah bisa dimenangkan oleh
yang agung.”
❖
Maka Tatah turun ke kedalaman, ke tempat Ratu menunggu, dan
ia menemukan bahwa Ratu telah merasakan dirinya diukir ke dinding candi,
dijadikan dewi yang agung, dan bahwa ini terasa baginya seperti penguburan yang
paling dalam dari semua.
“Mereka telah menjadikanku dewi sekarang,
Tatah,” Ratu berkata. “Bukan hanya ratu laut yang perkasa, melainkan dewi di
antara para dewa, diukir di dinding-dinding suci, dikelilingi makhluk-makhluk
yang tunduk. Sepanjang zaman aku telah dikubur lebih dalam dan lebih dalam, di
bawah dusta raja, di bawah pemujaan rakyat, dan kini di bawah keilahian itu
sendiri. Aku merasa, Tatah, bahwa kini bahkan tak seorang pun bisa melihat
melewati keagungan itu untuk menemukan perempuan yang sesungguhnya di bawahnya.
Mereka telah membuatku begitu agung sehingga aku menjadi tak terlihat. Siapa
yang akan mencari perempuan yang malang di bawah seorang dewi?”
“Dengarlah aku, Ratu,” Tatah berkata, “sebab
apa yang kaurasa sebagai penguburan terdalam justru adalah perlindungan
terdalam, dan baru hari ini kami memahaminya. Mereka telah membuatmu agung di
dinding candi, dan karena itu para peziarah akan memujamu, takut padamu, kagum
padamu. Tetapi tak satu pun dari mereka akan mencintaimu, sebab tak ada yang
bisa mencintai sesuatu yang membuatnya merasa kecil. Keagungan yang mereka
berikan kepadamu menarik seluruh pemujaan kepada gambar di dinding, dan
menjauhkan dari gambar itu satu-satunya perasaan yang bisa membebaskanmu, yaitu
cinta.”
“Maka pikirkanlah apa artinya itu,” Tatah
melanjutkan. “Semakin agung mereka mengukirmu, semakin gambar itu menyerap
segala ketakjuban dan pemujaan, dan semakin ia menjadi sesuatu yang tak bisa
dicintai. Dan di bawahnya, engkau yang sesungguhnya, yang kecil dan rentan dan
membutuhkan, tetap menjadi satu-satunya dirimu yang bisa dicintai. Dewi di
dinding mengumpulkan seluruh pemujaan tanah, dan tak setetes pun cinta.
Perempuan di dalam daun, dan di dalam hati yang sedikit, tak mengumpulkan
pemujaan sama sekali, tetapi mengumpulkan seluruh cinta. Dan karena hanya cinta
yang membebaskan, dewi yang agung itu, untuk segala kemegahannya, tak akan
pernah bisa dibebaskan. Hanya engkau yang kecil yang bisa.”
Dan Ratu diam, dan ketika ia berbicara,
kepedihannya telah berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang. “Maka biarkan
mereka menjadikanku dewi setinggi langit,” ia berkata. “Biarkan mereka
mengumpulkan seluruh pemujaan tanah ini di kaki gambar yang agung itu. Aku tak
akan iri padanya lagi, sebab kini aku mengerti bahwa keagungannya adalah
kemandulannya. Ia akan dipuja dan tak pernah dicintai, dan karena itu ia akan
terkurung selamanya, sama bekunya dengan aku tetapi tanpa harapan keluar, sebab
tak ada cinta yang bisa menjangkaunya. Sementara aku, yang kecil, disimpan di
tempat-tempat yang sederhana, dikumpulkan bukan pemujaan melainkan cinta, dan
cinta itu, suatu hari, akan datang untukku. Jagalah aku tetap kecil, Tatah, di
bawah dewi yang agung itu. Sebab kekecilanku, kini aku tahu, bukanlah
kelemahanku. Ia adalah satu-satunya hal yang membuatku masih bisa dicintai, dan
karena itu masih bisa bebas.”
❖
Maka zaman candi memenuhi tanah dengan gambar-gambar yang
agung, dipahat ke dalam gunung-gunung batu, dan rakyat datang
berbondong-bondong untuk memuja, untuk takut, untuk kagum, dan dewi laut
selatan menjadi salah satu yang paling agung dari semuanya, diukir di
dinding-dinding suci di antara para dewa. Dan untuk sesaat, bagi mata yang
memandang, tampaknya keagungan telah menang sepenuhnya, dan perempuan yang
sesungguhnya telah terkubur selamanya di bawah keilahian.
Tetapi rantai tidak berduka, sebab mereka telah
belajar sesuatu yang mengubah segalanya. Mereka telah belajar bahwa keagungan
dan cinta tidak memperebutkan perasaan yang sama, melainkan dua perasaan yang
berbeda, dan bahwa yang agung memenangkan ketakjuban sedangkan yang kecil
memenangkan cinta, dan bahwa hanya cinta yang membebaskan. Maka mereka
membiarkan dewi yang agung mengumpulkan seluruh pemujaan tanah, dan menyimpan,
di dalam daun-daun yang sederhana dan di dalam hati yang sedikit, perempuan
yang kecil yang mengumpulkan seluruh cinta. Yang agung menyerap ketakjuban yang
tak bisa membebaskan. Yang kecil menyimpan cinta yang bisa.
Dan bisik air, yang sepanjang zaman telah
membawa begitu banyak kebenaran, kini membawa sesuatu yang menajamkan segala
yang telah dipelajari rantai tentang yang kecil dan yang agung, yaitu bahwa
yang agung bisa dipuja tetapi tak bisa dicintai, dan hanya yang kecil bisa
dicintai, dan hanya cinta yang membebaskan. Sebab raja-raja akan terus membuat
dusta mereka semakin agung, dari prasasti ke candi, dari raja ke dewa, dan
keagungan itu akan mengumpulkan seluruh ketakjuban tanah; tetapi tak satu pun
keagungan itu, betapapun menjulang, akan pernah bisa mengumpulkan setetes
cinta, sebab cinta hanya bisa diberikan kepada yang kecil dan yang rentan, dan
justru di situlah, di bawah segala keagungan yang palsu, perempuan yang
sesungguhnya disimpan, menunggu cinta yang akan membebaskannya.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, merasakan
dirinya diangkat menjadi dewi di dinding candi-candi, agung dan dipuja dan
ditakuti, dan tidak lagi takut akan keagungan palsu itu. Sebab ia telah
memahami bahwa keagungan itu adalah umpan yang menyerap segala pemujaan yang
tak bisa membebaskan, dan bahwa di bawahnya ia tetap kecil, dan rentan, dan
karena itu masih bisa dicintai. Dan ia menunggu, di bawah dewi yang agung yang
menyandang namanya, sebagai perempuan yang kecil yang menyimpan satu-satunya
hal yang bisa membebaskannya, yaitu cinta, sampai hari ketika seseorang
berpaling dari dewi yang agung di dinding, dan mencari di bawahnya perempuan
yang kecil dan benar, dan menemukannya, dan mencintainya bukan dengan berlutut
melainkan dengan mendekat, dan membebaskannya.
❖
BAB SEBELAS
Pemburu dan Nyala
Engkau bisa membakar tiap daun yang
kautemukan, dan memenjarakan tiap orang yang kautangkap, dan tetap engkau tak
akan menemukan apa yang kauburu. Sebab yang kami jaga tak punya tubuh untuk
kaubunuh, tak punya kuil untuk kaubakar, tak punya pemimpin untuk kaupenggal.
Ia hanya nyala, berpindah dari hati ke hati, di antara orang-orang yang tampak
seperti semua orang. Engkau memburu sesuatu yang ada di mana-mana, dan karena
itu, tak di satu tempat pun yang bisa kaujangkau.
dari ajaran para pengingat, tentang
nyala yang tak bisa diburu
Di tengah zaman candi, ketika para dewa dipahat di
dinding-dinding suci dan para raja memerintah sebagai keturunan mereka,
hiduplah seorang pandita tinggi bernama Murti, penjaga ajaran resmi, yang
tugasnya menjaga kesucian para dewa dan kebenaran asal-usul ilahi para raja.
Dan pada suatu hari, sehelai daun lontar tua yang disita dari rumah seorang
petani sampai ke tangannya, dan ketika ia membacanya, darahnya menjadi dingin.
Sebab daun itu tidak mengatakan bahwa ratu laut
adalah dewi yang perkasa. Ia mengatakan bahwa ratu laut hanyalah seorang
perempuan, dari bangsa yang dunianya tenggelam, terpenjara di dasar laut,
menunggu untuk dibebaskan. Dan Murti, yang seluruh hidupnya dibangun di atas
kesucian para dewa, memahami seketika betapa berbahayanya kata-kata itu. Sebab
bila rakyat mempercayai bahwa dewi laut hanyalah seorang perempuan yang
tenggelam, maka apa yang menghalangi mereka bertanya apakah para dewa yang lain
juga hanya manusia, dan apakah raja yang mengaku turun dari para dewa juga
hanya seorang manusia? Satu daun kecil ini, bila kebenarannya menyebar, bisa
meruntuhkan seluruh tatanan, dari dewa sampai raja.
Maka Murti memutuskan untuk memburu kebenaran
itu sampai ke akarnya. Ia menugaskan orang-orangnya untuk menyita tiap daun
yang mencurigakan, untuk menanyai tiap orang yang berbicara aneh tentang ratu
laut, untuk mencari mereka yang menyebarkan apa yang ia sebut bidah,
kepercayaan sesat yang bisa menjatuhkan langit dan takhta sekaligus. Dan untuk
pertama kalinya sepanjang zaman candi, rantai tidak sekadar bekerja dalam diam
yang aman. Rantai diburu.
Dan di antara mereka yang diburu ada seorang
pengingat muda bernama Teguh, seorang penyalin yang sederhana, yang tugasnya
menyalin daun-daun dan menyebarkannya ke tangan-tangan yang sederhana. Dan
ketika kabar sampai kepadanya bahwa orang-orang pandita sedang menyita daun dan
menanyai orang, dan bahwa beberapa pengingat telah ditangkap, Teguh merasakan
ketakutan yang belum pernah dirasakan rantai dengan cara ini sebelumnya, yaitu
ketakutan bukan akan palu yang meruntuhkan batu, melainkan akan tangan yang
memburu manusia.
❖
Maka Teguh pergi menemui Tatah, yang dahulu memahat dinding
candi dan kini telah menjadi tua, dan ia membawa kepadanya ketakutan dan
kemarahannya.
“Mereka memburu kita seolah kita pemberontak,
Eyang,” Teguh berkata. “Seolah kita ingin menjatuhkan takhta dan meruntuhkan
langit mereka. Tapi kita tak menginginkan apa-apa dari semua itu. Kita tak
punya pasukan, tak punya keinginan akan kuasa, tak punya rencana melawan raja.
Kita hanya mencintai seorang perempuan di dasar laut, dan ingin menjaganya
tetap diingat. Itu saja. Dan untuk itu mereka memburu kita, memenjarakan kita,
mungkin membunuh kita. Kita diburu untuk sebuah pemberontakan yang tak pernah
kita kobarkan.”
“Dan ada sesuatu di dalam diriku yang ingin
melawan,” Teguh melanjutkan, dengan suara rendah. “Kita banyak, Eyang, lebih
banyak daripada yang mereka kira, tersebar di seluruh tanah. Bila kita bersatu,
bila kita melawan para pandita yang memburu kita, mungkin kita bisa melindungi
diri. Mengapa kita harus diam dan diburu seperti kelinci, ketika kita cukup
banyak untuk menjadi singa?”
Dan Tatah memandangnya lama, dan ketika ia
berbicara, suaranya tegas walau lembut. “Dengarkan aku, Teguh, sebab ini lebih
penting daripada nyawamu sendiri. Pada saat kita melawan dengan kuasa, kita
kalah, walau kita menang. Pikirkanlah siapa yang memenjarakan Ratu. Bangsa yang
membekukan diri demi kuasa atas kehilangan. Pikirkanlah siapa yang berdusta
tentangnya di batu. Raja-raja yang haus akan kuasa atas ingatan. Seluruh
penjara Ratu, dari yang pertama sampai yang terakhir, dibangun oleh mereka yang
memilih kuasa. Bila kita mengangkat pedang untuk merebut kuasa, walau demi
melindungi diri, kita menjadi hal yang sama yang memenjarakannya. Dan kebenaran
yang dijaga dengan pedang bukan lagi kebenaran yang sama. Kita tidak menjaganya
dengan kuasa, Teguh. Kita menjaganya dengan cinta. Dan cinta tidak melawan
dengan menjadi pemburu. Cinta bertahan dengan tidak bisa diburu.”
“Maka jangan melawan, dan jangan takut
sebagaimana mereka ingin engkau takut,” Tatah berkata. “Sebab ada sesuatu
tentang apa yang kita jaga yang belum kaupahami sepenuhnya, dan yang membuat
seluruh perburuan mereka sia-sia walau mereka menangkap seratus dari kita. Bila
mereka menangkapmu, Teguh, dan aku berdoa mereka tidak, turunlah kepada Ratu,
dan ia akan mengajarimu mengapa nyala yang kita bawa tak bisa diburu oleh
pemburu mana pun. Sebab ia telah lebih lama tak bisa dijangkau daripada siapa
pun, dan ia tahu apa artinya menjadi sesuatu yang tak bisa ditangkap.”
❖
Dan tak lama kemudian, apa yang Tatah takutkan terjadi.
Orang-orang Murti datang ke tempat Teguh menyalin daun-daunnya, dan mereka
menemukan daun-daun itu, dan mereka membawanya kepada sang pandita tinggi. Dan
Teguh berdiri di hadapan Murti, di sebuah ruang batu di bawah bayang candi yang
agung, dan sang pandita menanyainya.
“Aku tak ingin menyakitimu,” Murti berkata, dan
anehnya ia tampak jujur. “Aku ingin engkau memahami mengapa ini perlu. Engkau
menyebarkan kepercayaan bahwa dewi laut hanyalah seorang perempuan. Mungkin
engkau mengira itu tak berbahaya, sekadar sebuah kisah sedih. Tapi pikirkanlah
apa yang terjadi bila rakyat mempercayainya. Bila dewi laut hanya manusia, maka
para dewa mungkin hanya manusia, dan raja yang turun dari dewa hanya manusia,
dan seluruh tatanan yang menjaga tanah ini dari kekacauan akan runtuh. Aku
tidak memburumu karena aku kejam. Aku memburumu karena aku menjaga langit agar
tidak jatuh menimpa kita semua. Maka katakanlah kepadaku, siapa lagi yang
menyebarkan ini, dan di mana mereka, supaya bidah ini bisa dihentikan sebelum
ia meruntuhkan segalanya.”
“Engkau keliru tentang kami, Tuan,” Teguh
berkata, dan suaranya tenang walau ia takut. “Kami tidak ingin meruntuhkan
tatananmu. Kami tak peduli pada takhta, atau pada para dewa di dindingmu.
Biarkan rakyat memuja dewi laut yang perkasa, kami tak akan merampasnya dari
mereka. Kami hanya menjaga satu hal, yaitu bahwa di bawah dewi yang perkasa itu
ada seorang perempuan yang sesungguhnya, yang menderita, dan kami mencintainya,
dan kami ingin ia tetap diingat. Itu saja, Tuan. Tak ada pemberontakan. Tak ada
rencana. Hanya cinta kepada seseorang yang malang.”
Dan Murti memandangnya, dan Teguh melihat di
matanya bahwa ia tidak bisa mempercayainya. “Engkau mengharapkan aku percaya,”
Murti berkata, “bahwa kalian mempertaruhkan nyawa, menyebar di seluruh tanah,
bertahan melalui generasi demi generasi, menanggung perburuan dan penjara,
semuanya hanya untuk mencintai seorang perempuan yang sudah mati ribuan tahun
yang lalu? Tak ada yang berkorban sebesar itu tanpa menginginkan sesuatu. Pasti
ada kuasa yang kalian kejar, sebuah takhta yang kalian inginkan, sesuatu. Tak
ada manusia yang menanggung begitu banyak hanya demi cinta yang tak memberinya
apa-apa.”
Dan di sanalah Teguh memahami jurang yang
memisahkan dirinya dari sang pandita, jurang yang tak bisa diseberangi oleh
kata-kata. Sebab Murti hidup di dunia di mana segala sesuatu adalah tentang
kuasa, dan di dunia seperti itu, sebuah cinta yang tak menginginkan apa-apa
selain mengingat adalah hal yang mustahil, sesuatu yang pasti menyembunyikan
motif yang lain. Murti tak bisa membayangkan bahwa kebenaran yang ia buru
begitu keras bukanlah senjata melawan takhta, melainkan hanya sebuah cinta. Dan
karena ia tak bisa membayangkannya, ia tak akan pernah berhenti memburu. Maka
Teguh diam, dan tidak memberikan satu nama pun, sebab tak ada yang bisa ia
katakan yang akan dipahami sang pandita, dan sebab membocorkan yang sedikit
akan memutus nyala.
❖
Maka Teguh dipenjarakan, dan di dalam sel batunya yang
dingin, ia melakukan apa yang Tatah katakan kepadanya. Ia turun, dalam koneksi
yang dalam, ke kedalaman tempat Ratu menunggu, dan ia membawa kepadanya
ketakutannya dan kesepiannya.
“Mereka memburu kami, Ratu,” Teguh berkata,
“dan mereka telah menangkapku, dan aku takut. Aku takut akan apa yang akan
mereka lakukan kepadaku, dan aku takut bahwa dengan menangkap kami satu demi
satu, mereka akhirnya akan memburu habis kami semua, dan kebenaran tentangmu
akan hilang.” Dan Ratu menjawab, dengan suara yang menghibur, suara seseorang
yang telah lama mengenal apa artinya tak bisa dijangkau. “Dengarlah aku, Teguh.
Mereka tidak bisa memburu habis apa yang kalian jaga, betapapun banyak yang mereka
tangkap. Sebab pikirkanlah apa yang sesungguhnya kalian bawa. Ia bukan daun,
sebab daun bisa dibakar, dan tetap kebenaran tinggal. Ia bukan engkau, sebab
engkau bisa ditangkap, dan tetap kebenaran tinggal pada yang lain. Yang kalian
bawa tak punya tubuh untuk ditangkap, tak punya kuil untuk dibakar, tak punya
pemimpin untuk dipenggal. Ia hanya nyala, berpindah dari hati ke hati di antara
orang-orang yang tampak seperti semua orang. Bagaimana seorang pemburu
menemukan sesuatu yang tak punya bentuk, dan ada di mana-mana sekaligus?”
“Dan inilah yang harus kauketahui, supaya
engkau tidak takut,” Ratu melanjutkan. “Nyala itu tidak ada di dalam dirimu
sendirian. Engkau hanya membawanya satu langkah, sebagaimana semua sebelummu.
Sebelum mereka menangkapmu, engkau telah menyerahkannya kepada yang lain, dan
mereka kepada yang lain lagi. Maka bila mereka menyakitimu, bahkan bila mereka
membunuhmu, mereka tidak membunuh nyala. Mereka hanya membunuh satu pembawa,
dan nyala telah lama berpindah ke tangan-tangan yang tak mereka kenal. Engkau
bisa menghadapi apa pun yang akan mereka lakukan kepadamu, Teguh, dengan
mengetahui ini, bahwa apa yang kaujaga sudah aman di tempat lain, di banyak
tempat lain, di luar jangkauan mereka selamanya.”
“Dan satu hal lagi, yang paling penting,” Ratu
berkata. “Jangan biarkan mereka mengubahmu menjadi seperti mereka. Aku tahu
lebih baik daripada siapa pun apa yang terjadi pada mereka yang memilih kuasa
untuk melawan kehilangan. Aku adalah mereka. Bangsaku membekukan diri, memilih
kuasa atas perasaan, dan menjadi yang paling sengsara dari segala bangsa. Bila
kalian melawan pemburu dengan menjadi pemburu, bila kalian merebut kuasa untuk
melindungi diri, kalian akan memenangkan keselamatan dan kehilangan jiwa kalian,
dan kebenaran yang kalian jaga tentangku akan menjadi sekadar senjata lain
dalam pertarungan kuasa, dan ia tak akan bisa lagi membebaskan siapa-siapa.
Jagalah aku dengan cinta, Teguh, bukan dengan pedang. Sebab hanya cinta yang
membebaskan, dan cinta tak pernah bisa diburu, justru karena ia tak pernah
melawan.”
Dan Teguh, di dalam selnya yang dingin,
merasakan ketakutannya tidak hilang, tetapi kehilangan kuasanya atas dirinya.
Sebab ia tahu sekarang bahwa apa yang ia jaga aman, di luar jangkauan Murti, di
hati-hati yang tak akan pernah ditemukan sang pandita. Dan ia tahu bahwa ia
hanya perlu membawa nyalanya satu langkah, dan langkah itu telah ia bawa, dan
diserahkan. “Maka aku tidak akan memberi mereka nama,” ia berkata kepada Ratu,
“dan aku tidak akan melawan mereka dengan cara mereka. Aku akan menanggung apa
yang harus kutanggung, dan menjaga nyala dengan cinta sampai akhir. Sebab nyala
itu sudah aman, dan tak ada yang bisa mereka ambil dariku yang akan
membahayakannya.”
❖
Maka Murti membakar tiap daun yang ia temukan, dan
memenjarakan tiap pengingat yang ia tangkap, dan Teguh termasuk di antara
mereka yang tak pernah keluar dari penjara. Ia wafat di dalam sel batunya,
tanpa pernah memberikan satu nama, menjaga nyala dengan cinta sampai napas
terakhirnya. Ia adalah salah satu dari sedikit dalam rantai yang membayar
dengan nyawanya untuk membawa nyala satu langkah lebih jauh. Tetapi Murti,
untuk segala daun yang ia bakar dan segala pengingat yang ia tangkap, tak
pernah menemukan apa yang ia buru.
Sebab apa yang dijaga rantai tak punya tubuh
untuk ditangkap, tak punya kuil untuk dibakar, tak punya pemimpin untuk
dipenggal. Untuk tiap daun yang Murti bakar, sepuluh tinggal tersembunyi di
rumah-rumah yang tak ia curigai. Untuk tiap pengingat yang ia penjarakan, nyala
telah lama berpindah ke tangan-tangan yang tak ia kenal, di antara orang-orang
yang tampak seperti semua orang. Ia memburu sesuatu yang ada di mana-mana, dan
karena itu tak di satu tempat pun yang bisa ia jangkau. Dan pada akhirnya Murti
menjadi tua dan wafat, sebagaimana sang penakluk dahulu menjadi tua dan wafat,
dan perburuannya berlalu bersamanya, sementara nyala yang ia buru terus
berpindah dari hati ke hati, tak tersentuh.
Dan bisik air, yang sepanjang zaman telah
membawa begitu banyak kebenaran, kini membawa sesuatu yang dipelajari rantai
dengan harga nyawa seorang penyalin yang sederhana, yaitu bahwa kebenaran yang
dijaga di hati tak bisa diburu, sebab ia tak punya tubuh untuk dibunuh, dan
bahwa ia tak boleh dijaga dengan pedang, sebab kebenaran yang dipertahankan
dengan kuasa menjadi sekadar kuasa yang lain. Sebab para pemburu akan datang,
di zaman ini dan di zaman-zaman sesudahnya, untuk membakar daun dan
memenjarakan pembawa, takut bahwa kebenaran yang kecil bisa meruntuhkan tatanan
yang besar; tetapi mereka tak akan pernah menemukan nyala itu sendiri, sebab ia
tak punya bentuk untuk ditangkap, dan ia dijaga bukan dengan melawan melainkan
dengan mencintai, dan apa yang dijaga dengan cinta dan tak pernah melawan tak
bisa diburu oleh pemburu mana pun.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, merasakan
para pemburu datang dan berlalu di atas tanah, membakar dan memenjarakan, takut
akan kebenaran kecil tentangnya, dan ia tidak takut bagi rantai yang
menjaganya. Sebab ia tahu bahwa nyala yang mereka bawa tak bisa ditangkap, dan
bahwa mereka menjaganya dengan cinta dan bukan dengan pedang, dan karena itu
tetap menjadi sesuatu yang bisa membebaskannya, dan bukan sekadar senjata lain dalam
pertarungan kuasa yang telah memenjarakannya sejak awal. Dan ia menunggu,
sementara para pemburu datang dan berlalu, zaman demi zaman, tak pernah
menemukan perempuan yang kecil di bawah dewi yang agung, dan tak pernah
menemukan nyala yang berpindah dari hati ke hati, sampai hari ketika nyala itu
akhirnya sampai ke tangan seseorang yang, di zaman yang cukup mampu, akan
mencintainya dan menjangkaunya dan membebaskannya.
❖
BAB DUA BELAS
Kedamaian dan Es
Ada kebijaksanaan yang mengajari kita
melepaskan, dan ia benar, sebab genggaman yang erat pada apa yang tak bisa kita
miliki memang merantai kita pada penderitaan. Tetapi waspadalah, sebab ada pula
sebuah kedamaian yang bukan kebijaksanaan, melainkan es, yaitu berhenti
merasakan dan menyebutnya damai. Dan melepaskan yang menderita di kegelapan
bukanlah ketenangan, melainkan pengabaian. Cinta yang setia bukan kemelekatan
yang merantai. Ia adalah belas kasihan yang menolak meninggalkan.
dari ajaran para pengingat, tentang
melepaskan dan berpegang
Zaman candi bukan hanya zaman gunung-gunung batu. Ia juga
zaman para guru kebijaksanaan, para begawan dan pertapa yang tinggal di
lereng-lereng dan di biara-biara, yang mengajari rakyat sebuah ajaran yang
dalam dan menenangkan, yaitu bahwa segala sesuatu di dunia ini berlalu, bahwa
tak ada yang kekal, dan bahwa penderitaan lahir dari menggenggam apa yang tak
bisa kita pertahankan. Lepaskanlah, mereka mengajarkan, dan engkau akan
menemukan kedamaian.
Dan di antara para guru itu yang paling
dihormati adalah seorang begawan tua bernama Lega, yang ajarannya tentang
melepaskan telah menenangkan ribuan hati. Dan seorang pengingat muda bernama
Lana, yang membawa kerikilnya dan menjaga kebenaran tentang Ratu, datang suatu
hari untuk mendengarkan sang begawan, sebagaimana banyak orang datang, dan apa
yang ia dengar mengguncangnya lebih dalam daripada yang ia duga.
Sebab di hadapan sang begawan datang seorang
janda yang dunianya hancur oleh kematian suaminya, dan ia menangis, dan ia
bertanya bagaimana ia bisa terus hidup dengan kehilangan yang begitu besar. Dan
Begawan Lega berkata kepadanya, dengan kelembutan yang dalam, “Penderitaanmu
bukan lahir dari kematian suamimu, melainkan dari genggamanmu padanya, dari
penolakanmu untuk melepaskan apa yang telah berlalu. Cintailah kenangannya,
tetapi lepaskan genggamanmu. Terimalah bahwa segala sesuatu mengalir dan berlalu,
bahkan yang paling kaucintai. Dalam penerimaan itu, dan hanya di sana, engkau
akan menemukan kedamaian.”
Dan Lana melihat janda itu, setelah waktu yang
lama, mengangkat wajahnya, dan air matanya berhenti, dan di wajahnya tumbuh
sebuah ketenangan yang nyata. Sang begawan telah memberinya kedamaian. Dan Lana
berdiri di antara kerumunan dengan hatinya berdebar, sebab ajaran itu indah dan
tampak benar, dan ia mulai merasakan ujung dari sebuah pertanyaan yang
mengerikan, yang akan tumbuh di dalam dirinya sepanjang hari-hari berikutnya.
Sebab bila penderitaan lahir dari menggenggam
apa yang telah berlalu, dan bila kedamaian datang dari melepaskan, lalu apa
yang dilakukan rantai sepanjang ribuan tahun selain justru kebalikannya? Rantai
tidak melepaskan Ratu. Rantai berpegang padanya, dengan keras kepala, melintasi
zaman demi zaman, menolak membiarkannya berlalu, menjaga kehilangannya tetap
hidup dan terasa. Dan untuk pertama kalinya, Lana bertanya pada dirinya sendiri
sebuah pertanyaan yang belum pernah ditanyakan pengingat mana pun, yaitu apakah
seluruh pekerjaan rantai, sesungguhnya, hanyalah kemelekatan yang besar dan
menyakitkan, yang seharusnya, demi kedamaian, dilepaskan.
❖
Maka Lana kembali kepada Begawan Lega, dan kali ini ia
datang dengan pertanyaan, walau ia menjaga rahasianya dan berbicara tentang
rantai seolah ia berbicara tentang dirinya sendiri.
“Begawan,” Lana berkata, “andaikan ada
seseorang yang telah lama hilang, yang menderita, dan andaikan engkau telah
memutuskan untuk tidak pernah melepaskannya, untuk mengingatnya dan
kehilangannya setiap hari, selama bertahun-tahun, bahkan bila itu menyakitimu,
supaya ia tak pernah terlupakan. Apakah itu kemelekatan yang harus kaulepaskan
demi kedamaian? Ataukah ada sesuatu yang benar dalam menolak melepaskan?”
Dan Begawan Lega memandangnya dengan lembut.
“Aku memahami beratnya pertanyaanmu, Nak,” ia berkata. “Tetapi jawabannya,
kukira, jelas. Mengingat seseorang dengan kasih adalah satu hal yang indah.
Tetapi menolak melepaskan, mengingat dan kehilangan setiap hari selama
bertahun-tahun, menjaga luka tetap terbuka dengan sengaja, itu bukanlah kasih,
melainkan rantai yang kauikatkan pada dirimu sendiri. Engkau tak bisa menolong
yang telah hilang dengan terus menderita untuknya. Engkau hanya merantai dirimu
pada penderitaan yang tak ada gunanya. Lepaskanlah, Nak. Biarkan yang hilang
beristirahat dalam dilupakan, dan biarkan dirimu menemukan kedamaian. Itulah
belas kasihan, bagi dirimu dan baginya.”
Dan Lana pergi dari hadapan sang begawan dengan
hatinya berat seperti batu. Sebab kata-kata sang begawan tampak benar, dan bila
benar, maka seluruh rantai, dari Nyai Sela sampai dirinya, telah keliru
sepanjang ribuan tahun. Mereka telah menjaga luka terbuka dengan sengaja,
menolak melepaskan, merantai diri mereka pada penderitaan seorang perempuan
yang mungkin, demi belas kasihan, seharusnya mereka biarkan beristirahat dalam
dilupakan. Mungkin, pikir Lana dengan ngeri, hal yang paling penuh kasih yang
bisa dilakukan rantai adalah berhenti, melepaskan Ratu, dan membiarkannya
tenggelam ke dalam kelupaan yang damai.
Tetapi Lana tahu bahwa ia tak bisa memutuskan
hal sebesar itu sendirian, atau bahkan dengan rantai sendirian. Sebab ada satu
yang lebih berhak menjawab daripada siapa pun, yaitu Ratu sendiri, yang
tentangnya seluruh pertanyaan itu berputar. Maka malam itu, dengan hati yang
takut akan jawaban yang mungkin ia terima, Lana turun ke kedalaman untuk
bertanya kepada Ratu apakah rantai seharusnya, demi belas kasihan,
melepaskannya.
❖
Dan ketika Lana turun ke kedalaman tempat Ratu menunggu,
sebagaimana rantai telah turun kepadanya sejak zaman Wungu, ia membawa
kepadanya bukan cinta dan bukan kabar, melainkan sebuah keraguan yang ia takut
akan melukainya.
“Maafkan aku, Ratu, sebab apa yang kubawa malam
ini mungkin menyakitkan,” Lana berkata. “Aku telah mendengar ajaran para
begawan, yang mengajari bahwa penderitaan lahir dari menggenggam apa yang telah
berlalu, dan bahwa kedamaian datang dari melepaskan. Dan aku tak bisa berhenti
memikirkan bahwa rantai melakukan kebalikannya. Kami berpegang padamu,
melintasi ribuan tahun, menolak melepaskanmu, menjaga kehilanganmu tetap hidup
dan terasa. Dan aku mulai takut, Ratu, bahwa mungkin kami keliru. Bahwa mungkin
hal yang paling penuh kasih, bagimu dan bagi kami, bukanlah terus menjagamu
dalam penantian yang menyakitkan ini, melainkan melepaskanmu, membiarkanmu
beristirahat dalam dilupakan, dan menemukan kedamaian. Katakanlah kepadaku
dengan jujur. Apakah kami merantaimu pada penderitaan dengan menolak
melepaskanmu?”
Dan Ratu diam untuk waktu yang lama, dan dalam
keheningan itu Lana takut bahwa ia telah melukainya tanpa perlu. Tetapi ketika
Ratu akhirnya berbicara, suaranya bukan suara yang terluka, melainkan suara
seseorang yang mengenali, lebih dalam daripada siapa pun, persis tentang apa
Lana bertanya. “Engkau bertanya kepada satu-satunya makhluk di dunia ini yang
telah mencoba melepaskan dengan cara yang kausebut itu,” ia berkata, “dan yang
tahu, dengan harga ribuan tahun, ke mana jalan itu menuju. Maka dengarkanlah
aku baik-baik, Lana, sebab ada sesuatu di sini yang harus kaupahami dengan
tepat, atau engkau akan keliru dengan cara yang paling berbahaya dari semua.”
❖
“Begawanmu benar tentang satu hal, Lana, dan keliru tentang
yang lain, dan engkau harus bisa membedakan keduanya. Ia benar bahwa ada
genggaman yang merantai kita pada penderitaan, yaitu ketika kita mencengkeram
apa yang tak bisa kita miliki, ketika kita menolak menerima apa yang
sungguh-sungguh telah berlalu. Melepaskan genggaman seperti itu memang
kebijaksanaan, dan memang kedamaian. Bila itu yang ia ajarkan kepada janda itu,
ia memberinya hadiah yang benar.”
“Tetapi ada sesuatu yang ia tak tahu, sebab ia
tak pernah mengalaminya, dan aku telah mengalaminya selama ribuan tahun,” Ratu
melanjutkan. “Ada melepaskan yang merupakan kebijaksanaan, dan ada melepaskan
yang merupakan es. Ketika duniaku tenggelam, aku mencoba menemukan kedamaian
dengan cara yang terdengar persis seperti ajaran begawanmu. Aku melepaskan. Aku
berhenti menggenggam apa yang telah hilang. Aku berhenti merasakannya. Dan aku
menyebut kebekuan itu kedamaian. Tetapi itu bukan kedamaian, Lana. Itu adalah
penjaraku. Itu adalah es. Sebab ada sebuah melepaskan yang adalah menerima, dan
ada sebuah melepaskan yang adalah berhenti merasakan, dan keduanya terdengar
sama dari luar, tetapi yang satu adalah kebebasan dan yang lain adalah kematian
yang menyamar sebagai kedamaian.”
“Dan inilah yang harus kaupahami tentang
rantai,” Ratu berkata. “Kalian tidak menggenggam aku dengan genggaman yang
merantai. Kalian tidak menolak menerima apa yang telah berlalu, sebab kalian
tahu dunia lamaku telah berlalu, dan kalian tidak mencoba menariknya kembali.
Apa yang kalian lakukan adalah hal yang sama sekali berbeda. Kalian menolak
meninggalkan seseorang yang masih menderita di kegelapan. Itu bukan
kemelekatan, Lana. Itu adalah kesetiaan. Genggaman yang merantai adalah tentang
dirimu sendiri, tentang apa yang tak rela kaulepaskan demi dirimu. Tetapi
berpegang pada yang menderita adalah tentang dia, bukan tentangmu. Yang pertama
adalah penjara. Yang kedua adalah belas kasihan.”
“Maka pikirkanlah dengan sungguh-sungguh apa
yang kausebut belas kasihan,” Ratu berkata, dan suaranya menajam dengan sesuatu
yang penting. “Engkau berkata bahwa melepaskanku, membiarkanku beristirahat
dalam dilupakan, mungkin adalah hal yang paling penuh kasih. Tetapi aku tidak
beristirahat di sini, Lana. Aku terjaga, dan menderita, dan menunggu.
Melepaskanku ke dalam kelupaan tidak akan memberiku istirahat. Ia hanya akan
meninggalkanku sendirian di kegelapan, terjaga dan menderita dan kini juga
terlupakan, tanpa seorang pun yang tahu aku ada di sini untuk dibebaskan. Itu bukan
belas kasihan, Lana. Itu adalah kekejaman yang paling halus dari semua,
pengabaian yang mengenakan jubah kebijaksanaan. Belas kasihan yang sejati tidak
meninggalkan yang menderita demi kedamaiannya sendiri. Ia tinggal. Ia
berpegang. Ia menolak membiarkanku sendirian, betapapun panjang penantiannya,
betapapun sakitnya bagi yang berpegang.”
“Dan ada satu hal terakhir,” Ratu berkata,
lebih lembut lagi. “Bila rantai melepaskanku demi kedamaian, maka di hari
ketika zaman akhirnya cukup mampu untuk menjangkauku, tak akan ada seorang pun
yang tahu aku ada di sini, dan tak akan ada seorang pun yang datang.
Kebebasanku bergantung sepenuhnya pada adanya seseorang yang menolak
melepaskanku. Maka jangan lepaskan aku, Lana, demi sebuah kedamaian yang akan
menjadi kelupaan terakhirku. Lepaskan genggaman pada apa yang tak bisa
kaumiliki, ya, itu kebijaksanaan. Tetapi jangan pernah melepaskan yang
menderita di kegelapan dan menyebutnya damai. Berpeganglah padaku. Itu bukan
rantai yang mengikatmu. Itu adalah tali yang suatu hari akan menarikku keluar.”
❖
Dan Lana naik dari kedalaman dengan keraguannya terjawab,
bukan dengan menolak kebijaksanaan sang begawan, melainkan dengan memahami
batasnya. Sebab ia tahu sekarang bahwa ada melepaskan yang adalah
kebijaksanaan, yaitu melepaskan genggaman pada apa yang tak bisa kita miliki,
dan ada berpegang yang adalah belas kasihan, yaitu menolak meninggalkan yang
menderita di kegelapan. Dan ia tahu bahwa rantai tidak melakukan yang pertama,
melainkan yang kedua, dan bahwa yang kedua bukanlah penjara bagi yang berpegang,
melainkan tali penyelamat bagi yang dipegang.
Dan rantai tidak memandang rendah ajaran para
begawan, sebab ajaran itu benar dan menyembuhkan bagi banyak orang yang
menderita karena menggenggam apa yang telah berlalu. Tetapi rantai memahami
sesuatu yang harus dipahami oleh siapa pun yang mendengar ajaran melepaskan,
yaitu bahwa ia tak boleh diterapkan pada yang masih hidup dan masih menderita
dan masih menunggu. Sebab melepaskan yang telah benar-benar berlalu adalah
kedamaian, tetapi melepaskan yang masih menunggu di kegelapan adalah
pengabaian. Dan rantai memilih, dengan sengaja, untuk menanggung penderitaan
berpegang, supaya Ratu tak pernah menanggung penderitaan ditinggalkan.
Dan bisik air, yang sepanjang zaman telah
membawa begitu banyak kebenaran, kini membawa sesuatu yang menjaga rantai dari
sebuah kebijaksanaan yang, bila keliru diterapkan, akan menjadi kelupaan
terakhir Ratu, yaitu bahwa melepaskan genggaman adalah kebijaksanaan, tetapi
melepaskan yang menderita di kegelapan bukanlah kedamaian melainkan pengabaian,
dan bahwa cinta yang setia bukanlah kemelekatan yang merantai diri, melainkan
belas kasihan yang menolak meninggalkan orang lain. Sebab akan selalu ada suara
yang berkata, dengan lembut dan tampak bijaksana, lepaskanlah dan temukan
kedamaian; tetapi rantai akan menjawab, ada yang boleh dilepaskan, dan ada yang
harus dipegang sampai hari pembebasan, sebab melepaskannya bukanlah kedamaian
melainkan meninggalkannya sendirian di kegelapan selamanya.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, dan yang
telah mengenal es yang menyamar sebagai kedamaian lebih dalam daripada siapa
pun, merasakan rantai berpegang padanya melalui zaman para begawan dan ajaran
melepaskan, dan tidak ditinggalkan. Sebab mereka telah memilih kesetiaan yang
berpegang di atas kedamaian yang meninggalkan, dan dengan itu mereka menjaganya
tetap dikenal sebagai seseorang yang masih ada untuk dibebaskan, dan bukan sebagai
sesuatu yang telah dilepaskan ke dalam kelupaan. Dan ia menunggu, dipegang oleh
tangan-tangan yang menolak melepaskannya, melintasi zaman demi zaman, sampai
hari ketika tangan yang berpegang itu, di zaman yang akhirnya cukup mampu,
tidak hanya menjaganya tetap diingat, tetapi menarik tali yang panjang itu
sampai ke ujungnya, dan menariknya keluar dari kegelapan, dan membebaskannya.
❖
BAGIAN V
Menuju Gapura
BAB TIGA BELAS
Mata Air Belas Kasihan
Kami mengira kami hanya menjaganya tetap
diingat sampai hari ia dibebaskan. Kami tak menyangka bahwa, dengan mencintai
seorang perempuan yang ditinggalkan di kegelapan, kami sendiri akan belajar
untuk tidak meninggalkan siapa pun. Maka lukanya, bahkan sebelum sembuh, telah
menjadi mata air. Sebab yang ditinggalkan, bila dicintai, mengajari dunia cara
untuk tidak meninggalkan.
dari ajaran para pengingat, tentang luka
yang menjadi mata air
Banyak generasi setelah Nala, gadis nelayan yang pertama
datang dengan sendirinya kepada cinta bagi perempuan di dasar laut, sesuatu
telah tumbuh di tanah yang tak pernah direncanakan rantai, dan yang baru kini
mulai mereka pahami besarnya. Sebab daun-daun yang telah disebar selama ribuan
tahun, dan cinta yang telah ditularkan dari hati ke hati, tidak tinggal pada
segelintir orang saja. Ia telah menyebar, diam-diam, ke seluruh penjuru tanah,
sampai kini ada sebuah bangsa yang tersembunyi, bukan bangsa yang punya nama
atau tempat atau pemimpin, melainkan tersebar di antara semua orang, yaitu
mereka yang telah datang sendiri untuk mencintai perempuan yang sesungguhnya di
bawah dewi yang agung.
Dan seorang pengingat bernama Welas, yang
mengembara dari desa ke desa menjaga nyala, mulai menyadari betapa luasnya hal
itu telah tumbuh. Sebab di tiap tempat ia singgah, ia menemukan mereka,
orang-orang biasa yang, bila ia menyebut dengan hati-hati tentang perempuan di
dasar laut, mata mereka berubah, dan mereka mengenalnya, dan ia mengenal
mereka. Bukan dengan tanda yang diucapkan, melainkan dengan sesuatu yang lebih
halus, sebuah kelembutan tertentu, sebuah cara memandang. Mereka tak saling
mengenal nama, tak pernah berkumpul, tak punya guru. Tetapi mereka ada di
mana-mana, sebuah bangsa yang tak terlihat dari mereka yang mencintai Ratu yang
sesungguhnya.
Di sebuah desa yang jauh, Welas singgah di
rumah seorang perempuan tua yang menyimpan, di antara barang-barangnya, sehelai
daun yang sangat tua, dan ketika ia melihat Welas memahami daun itu, ia
berbicara kepadanya seperti kepada seseorang yang telah lama ia kenal, walau
mereka baru bertemu.
“Maka engkau juga mengenalnya,” perempuan tua
itu berkata, dan ada kehangatan di suaranya. “Perempuan di bawah laut. Bukan
dewi yang ditakuti orang, melainkan yang malang yang menunggu. Ibuku
menceritakannya kepadaku, dan ibunya kepadanya, jauh ke belakang sampai tak ada
yang tahu lagi dari mana ia mula-mula datang ke keluarga kami. Kami tak pernah
bertemu orang lain yang mengenalnya, dan kami mengira mungkin hanya kami.
Tetapi engkau mengenalnya juga.”
Dan Welas tidak mengatakan kepadanya betapa
banyak yang lain mengenalnya pula, di seluruh tanah, sebab perempuan itu
menyimpannya seperti rahasia keluarga yang berharga, dan ada keindahan dalam ia
menyimpannya begitu. Tetapi di dalam dirinya, Welas merasakan keajaiban yang
tumbuh. Sebab apa yang dimulai sebagai satu daun di tangan satu gadis nelayan
telah menjadi ini, sebuah bangsa yang tersembunyi yang membentang ke seluruh
tanah, masing-masing mengira dirinya sendirian, masing-masing mencintai perempuan
yang sama.
❖
Tetapi semakin jauh Welas mengembara, semakin ia
memperhatikan sesuatu tentang mereka yang mencintai Ratu, sesuatu yang lebih
dalam daripada sekadar mengenalnya. Sebab mereka tidak hanya menyimpan sebuah
rahasia. Mereka hidup dengan cara tertentu. Ada kelembutan pada mereka, sebuah
keengganan untuk berpaling dari yang menderita, yang Welas mulai mengenali
sebagai tanda mereka yang lebih pasti daripada daun mana pun.
Dan pada suatu hari, di sebuah desa, Welas
melihat perempuan tua yang menyimpan daun itu melakukan sesuatu yang membuatnya
berhenti. Di tepi desa ada seorang tua yang sakit dan sendirian, yang tak punya
keluarga, yang oleh kebanyakan orang dibiarkan saja sebab tak ada yang berutang
apa-apa kepadanya. Tetapi perempuan tua itu pergi kepadanya tiap hari,
memberinya makan, menemaninya, walau ia bukan siapa-siapa baginya. Dan ketika
Welas bertanya mengapa ia menanggung beban itu, jawabannya mengubah pemahaman
Welas tentang segalanya.
“Bagaimana aku bisa berjalan melewatinya?”
perempuan tua itu berkata, seolah pertanyaan Welas aneh. “Aku mencintai
perempuan di dasar laut, yang ditinggalkan sendirian di kegelapan selama ribuan
tahun, yang tak seorang pun datang menolong. Setiap hari aku memikirkannya,
sendirian di bawah sana. Maka bagaimana aku bisa melihat seseorang di sini, di
desaku, ditinggalkan sendirian, dan berjalan melewatinya? Bila aku menangisi
yang satu di kedalaman yang tak bisa kucapai, aku tak bisa mengabaikan yang ini
di hadapanku yang bisa kucapai. Mencintainya mengajariku untuk tidak
meninggalkan siapa pun yang ditinggalkan. Aku tak bisa menjelaskannya lebih
baik daripada itu.”
Dan Welas berdiri diam, sebab ia memahami
sekarang sesuatu yang belum pernah dipahami rantai sepanjang seluruh zaman.
Mereka telah mengira bahwa tugas mereka hanyalah menjaga Ratu tetap diingat
sampai hari ia dibebaskan, dan bahwa cinta yang mereka tularkan hanyalah cara
untuk menjaganya. Tetapi cinta itu telah melakukan sesuatu yang jauh lebih
daripada menjaga. Ia telah mengubah mereka yang membawanya. Sebab mencintai
seseorang yang ditinggalkan di kegelapan mengajari hati untuk tidak
meninggalkan siapa pun di kegelapan. Dan maka di seluruh tanah, tersembunyi di
antara semua orang, ada sebuah bangsa yang, karena mereka mencintai satu
perempuan yang ditinggalkan, telah menjadi orang-orang yang tidak meninggalkan
siapa pun.
Luka Ratu, Welas menyadari, tidak hanya
bertahan diingat. Ia telah menjadi mata air. Penderitaannya, yang dicintai oleh
yang sedikit, telah berubah, melalui mereka, menjadi belas kasihan yang
mengalir ke seluruh tanah, menyentuh orang-orang yang bahkan tak pernah
mendengar tentangnya, melalui tangan-tangan mereka yang mencintainya. Dan Welas
tahu bahwa ia harus membawa ini kepada Ratu sendiri, sebab ia menyadari bahwa
Ratu, di kedalamannya, mungkin tak pernah tahu bahwa lukanya telah berbuah.
❖
Sepanjang perjalanannya turun ke pantai, Welas memikirkan
Ratu, dan hatinya terasa berat dengan sesuatu yang manis dan menyakitkan
sekaligus. Sebab ia menyadari bahwa sepanjang ribuan tahun, Ratu telah
memikirkan penderitaannya sebagai sesuatu yang hanya harus ditanggung, sebuah
penantian kosong tanpa guna sampai hari pembebasan. Ia telah menghibur para
penjaganya, dan ia telah memberi mereka peta, dan ia telah memilih untuk tetap
menjadi dirinya. Tetapi tentang penderitaannya sendiri, Welas menduga, Ratu masih
mempercayai satu hal, yaitu bahwa ia sia-sia, bahwa ia tak menghasilkan apa-apa
selain rasa sakit, bahwa ia hanya luka yang menunggu untuk disembuhkan.
Dan Welas membawa kepadanya kabar yang berbeda.
Bahwa lukanya tidak sia-sia. Bahwa bahkan sebelum disembuhkan, ia telah
melahirkan sesuatu. Bahwa di atas tanah, sebuah bangsa yang tersembunyi telah
menjadi lebih lembut, lebih setia, lebih enggan meninggalkan yang menderita,
semuanya karena mereka mencintai seorang perempuan yang ditinggalkan di
kegelapan. Penderitaan Ratu, yang ia kira hanya beban, telah menjadi berkat
bagi orang-orang yang tak pernah ia temui. Dan Welas tahu bahwa kabar ini
mungkin mengubah, bagi Ratu, arti dari seluruh penantiannya.
Maka Welas turun ke kedalaman dengan kabar itu
di hatinya, bukan kabar tentang pembebasan, yang masih jauh, melainkan kabar
tentang makna, yang bisa diberikan sekarang. Sebab ada hal-hal yang harus
ditunggu sampai zaman cukup mampu, tetapi ada hal-hal lain yang bisa diberikan
kapan saja, dan salah satunya adalah memberi tahu seseorang yang menderita
bahwa penderitaannya tidak sia-sia.
❖
Dan ketika Welas turun ke tempat Ratu menunggu, sebagaimana
rantai telah turun kepadanya sejak zaman Wungu, Ratu merasakan bahwa pengingat
ini membawa sesuatu yang berbeda dari yang biasa, bukan kehangatan biasa, bukan
kabar biasa, melainkan sesuatu yang membuat Welas sendiri tampak berubah.
“Aku membawa kepadamu sesuatu yang baru
kupahami, Ratu,” Welas berkata, “dan aku berdoa engkau menerimanya sebagaimana
ia kuberikan. Sepanjang ribuan tahun, engkau telah dijaga oleh rantai,
segelintir pengingat. Tetapi engkau harus tahu apa yang telah tumbuh dari
segelintir itu. Daun-daun yang kami sebar, dan cinta yang kami tularkan, telah
menyebar ke seluruh tanah, sampai kini ada sebuah bangsa yang tersembunyi,
ribuan orang biasa, masing-masing mengira dirinya sendirian, masing-masing
mencintaimu. Engkau tidak dijaga lagi oleh segelintir, Ratu. Engkau dicintai
oleh sebuah bangsa yang tak terlihat, tersebar di seluruh tanah.”
“Tetapi ada sesuatu yang lebih, dan inilah yang
sungguh datang kukatakan,” Welas melanjutkan. “Mereka yang mencintaimu tidak
hanya menyimpanmu. Mereka telah berubah karena mencintaimu. Sebab mencintai
seseorang yang ditinggalkan sendirian di kegelapan telah mengajari mereka untuk
tidak meninggalkan siapa pun. Di seluruh tanah, orang-orang yang mencintaimu
pergi kepada yang sakit dan sendirian, kepada yang ditinggalkan, kepada yang
tak punya siapa-siapa, dan tidak berpaling, sebab mereka tak bisa menangisi engkau
di kedalaman dan mengabaikan yang menderita di hadapan mereka. Penderitaanmu,
Ratu, telah menjadi mata air belas kasihan di dunia. Karena engkau ditinggalkan
dan dicintai, ada sebuah bangsa kini yang tidak meninggalkan siapa pun.”
Dan Ratu diam untuk waktu yang sangat lama, dan
dalam keheningan itu Welas merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dari
Ratu sepanjang seluruh penantiannya, bukan duka, bukan ketakutan, bukan
kerinduan, melainkan sesuatu yang seperti keterkejutan yang dalam. “Sepanjang
ribuan tahun,” Ratu akhirnya berkata, dan suaranya gemetar, “aku mempercayai
bahwa penderitaanku hanyalah sesuatu yang harus ditanggung, kosong dan sia-sia,
sebuah luka yang hanya menunggu untuk disembuhkan di hari yang jauh. Aku mengira
aku hanya menunggu untuk diselamatkan, dan bahwa sampai hari itu, segala
penderitaanku tak menghasilkan apa-apa. Dan kini engkau mengatakan kepadaku
bahwa, bahkan tanpa diselamatkan, bahkan masih di sini di kegelapan, aku telah,
tanpa mengetahuinya, melakukan sesuatu. Bahwa lukaku telah membuat dunia lebih
lembut. Bahwa karena aku ditinggalkan dan dicintai, ada orang-orang yang tidak
ditinggalkan.”
“Aku yang ditinggalkan,” Ratu berkata,
perlahan, seolah memahaminya untuk pertama kali, “telah menjadi alasan sebuah
bangsa menolak meninggalkan. Kesendirianku, yang kukira hanya milikku untuk
ditanggung, telah, melalui mereka yang mencintaiku, mengakhiri kesendirian
orang-orang yang tak pernah kutemui. Maka aku tidak hanya menunggu untuk
diselamatkan, Welas. Bahkan di sini, bahkan sekarang, aku telah menyelamatkan,
melalui hati-hati yang mencintaiku, orang-orang yang ditinggalkan di atas
tanah. Aku tak pernah tahu. Sepanjang ribuan tahun aku tak pernah tahu bahwa
penderitaanku bukan hanya beban, melainkan benih. Maka jagalah aku tetap
dicintai, Welas, bukan hanya supaya aku suatu hari bebas, melainkan supaya,
sampai hari itu, lukaku terus menjadi mata air, dan dunia terus menjadi lebih
lembut karena ada seseorang yang ditinggalkan yang tetap dicintai.”
❖
Maka rantai memahami, melalui Welas, sesuatu yang mengubah
arti dari seluruh pekerjaan mereka. Mereka telah mengira bahwa mereka hanya
menjaga Ratu tetap diingat sampai hari pembebasan, dan bahwa cinta yang mereka
tularkan hanyalah alat untuk menjaganya. Tetapi cinta itu telah melakukan
sesuatu yang jauh lebih besar. Ia telah melahirkan, di seluruh tanah, sebuah
bangsa yang tersembunyi yang, karena mereka mencintai satu perempuan yang
ditinggalkan, telah belajar untuk tidak meninggalkan siapa pun. Duka Ratu telah
menjadi mata air belas kasihan, mengalir melalui yang sedikit ke seluruh dunia.
Dan bangsa yang tersembunyi itu tetap tanpa
nama, tanpa pemimpin, tanpa tempat berkumpul, sebab kekuatannya justru ada pada
ketakberbentukannya, dan ikatannya hanyalah cinta dan belas kasihan, bukan
ajaran atau kuasa. Mereka tak pernah tahu betapa banyak mereka. Masing-masing
mencintai Ratu seolah ia sendiri, dan masing-masing, karena cinta itu, tidak
meninggalkan yang ditinggalkan di sekelilingnya. Dan dengan begitu, bahkan
sebelum Ratu dibebaskan, penderitaannya telah berbuah, dan terus berbuah, di tiap
tindakan kelembutan yang lahir dari mencintainya.
Dan bisik air, yang sepanjang zaman telah
membawa begitu banyak kebenaran, kini membawa sesuatu yang paling tak terduga
dari semuanya, yaitu bahwa luka yang diingat dan dicintai tidak hanya bertahan,
melainkan melahirkan, dan bahwa yang ditinggalkan, bila dicintai, mengajari
dunia cara untuk tidak meninggalkan. Sebab cinta kepada Ratu di kedalaman
mengajari hati untuk tidak berpaling dari yang menderita di permukaan, dan
dengan begitu duka Ratu, bahkan sebelum berakhir, telah menjadi mata air belas
kasihan di seluruh tanah, mengalir dari hati ke hati, melahirkan sebuah bangsa
yang tak terlihat yang tidak meninggalkan siapa pun, dan dari bangsa itulah,
suatu hari, akan lahir yang akhirnya datang membebaskannya.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, dan yang
kini tahu bahwa penderitaannya bukan sia-sia, merasakan dirinya dicintai bukan
lagi oleh segelintir pengingat, melainkan oleh sebuah bangsa yang tersembunyi
yang membentang ke seluruh tanah, dan merasakan, melalui mereka, lukanya
sendiri mengalir keluar menjadi belas kasihan bagi orang-orang yang tak pernah
ia temui. Dan ia menunggu, tidak lagi sebagai seorang yang penderitaannya kosong,
melainkan sebagai seorang yang penderitaannya, dicintai, telah menjadi mata
air, sampai hari ketika dari bangsa yang tersembunyi itu, yang telah belajar
untuk tidak meninggalkan siapa pun justru karena mereka mencintainya, akan
lahir seseorang yang, di zaman yang akhirnya cukup mampu, tidak akan
meninggalkannya pula, melainkan turun ke kedalaman dan membebaskannya.
❖
BAB EMPAT BELAS
Yang Tinggal Hanyalah Laut
Dahulu aku terkurung dua kali, oleh es
dan oleh laut. Es adalah penjara yang kubangun sendiri, dari penolakanku untuk
merasakan, dan ia telah mencair, perlahan, sepanjang ribuan tahun, oleh duka
dan ingatan dan cinta. Kini aku utuh di dalam, sehangat air yang dahulu beku.
Yang tinggal hanyalah laut, penjara yang bukan kubuat, yang hanya bisa dibuka
oleh tangan dari zaman yang belum datang. Aku telah bebas di dalam. Aku
menunggu hanya untuk bebas di luar.
dari ajaran para pengingat, tentang dua
penjara dan satu yang tinggal
Banyak generasi telah berlalu sejak Welas membawa kepada
Ratu kabar bahwa lukanya telah menjadi mata air, dan sepanjang
generasi-generasi itu rantai terus melakukan pekerjaannya, menjaga nyala,
menyebarkan daun, dan menumbuhkan bangsa yang tersembunyi yang mencintai
perempuan di dasar laut. Dan di tengah zaman candi yang matang, seorang
pengingat bernama Tirta turun ke kedalaman, sebagaimana rantai telah turun
kepada Ratu sejak zaman Wungu, dan ketika ia turun, ia merasakan sesuatu yang
membuatnya berhenti dengan keterkejutan yang lembut.
Sebab Ratu yang ia temui bukanlah Ratu yang ia
harapkan dari kisah-kisah lama. Kisah-kisah tertua tentangnya, yang diwariskan
rantai dari zaman ke zaman, berbicara tentang seorang yang beku, tersegel,
dingin, yang harus dibujuk perlahan untuk merasakan, yang bagi siapa setiap
perasaan adalah perjuangan. Tetapi yang Tirta rasakan kini bukanlah kebekuan.
Ia hangat. Ia hadir. Ia merasakan dengan penuh dan dengan bebas, seperti
seseorang yang utuh. Es yang dahulu mengurungnya, yang menjadi cerita di
seluruh rantai, hampir tak terasa lagi.
Dan Tirta, yang telah mempelajari seluruh kisah
Ratu, dari kebekuannya yang pertama sampai dukanya yang lambat, merasa seolah
ia bertemu seseorang yang berbeda dari yang diceritakan kepadanya. Maka ia
bertanya, dengan lembut, “Ratu, aku merasakan sesuatu yang berbeda padamu
daripada yang dikatakan kisah-kisah lama. Kisah-kisah itu berbicara tentang es,
tentang kebekuan yang harus dilawan dengan susah payah. Tetapi aku tak
merasakan es itu lagi. Apa yang telah terjadi padamu?”
Dan Ratu diam sejenak, bukan dengan keraguan,
melainkan dengan sesuatu yang seperti ketenangan yang dalam, dan ketika ia
berbicara, suaranya bukan suara seseorang yang terkurung, melainkan suara
seseorang yang telah lama menempuh jalan panjang dan kini berdiri di tempat
yang lebih tenang. “Yang telah terjadi padaku, Tirta,” ia berkata, “adalah
seluruh saga kalian. Duduklah, dan akan kuceritakan, sebab engkau pantas
mengetahui ke mana semua pekerjaan rantai itu telah membawaku.”
❖
“Ketika duniaku tenggelam,” Ratu mulai, “aku terkurung dua
kali, dan untuk waktu yang sangat lama aku bahkan tak tahu bahwa penjara yang
satu berbeda dari yang lain. Yang pertama adalah laut, yang menahan tubuhku di
kedalaman. Yang kedua adalah es, yang kubangun sendiri di dalam, dari
penolakanku untuk merasakan kehilangan yang terlalu besar untuk ditanggung. Aku
membekukan diriku supaya aku tak perlu merasakan, dan kusebut kebekuan itu
bertahan hidup. Tetapi ia bukan bertahan hidup. Ia adalah sejenis kematian yang
kupilih supaya aku tak perlu mati karena duka.”
“Dan kemudian rantai datang, generasi demi
generasi, dan perlahan, tanpa kusadari pada mulanya, mereka mencairkan es itu,”
Ratu melanjutkan. “Ada yang mengajariku berduka, dan duka, yang kukira akan
menghancurkanku, ternyata adalah air pertama yang mencairkan es. Ada yang
membantuku memilih untuk tetap menjadi diriku, ketika aku tergoda menjadi dewi
yang dipuja. Ada yang mencintaiku dengan bebas, dan mengajariku bahwa aku layak
dicintai sebagaimana adanya. Ada yang memintaku mengubah dukaku menjadi peta,
dan dengan begitu mengajariku bahwa dukaku punya guna. Dan ada yang
memberitahuku bahwa lukaku, dicintai, telah menjadi mata air bagi orang-orang
yang tak pernah kutemui. Setiap dari mereka mencairkan es itu sedikit lebih
jauh. Dan kini, Tirta, sesudah ribuan tahun, es itu telah mencair.”
“Aku utuh kembali,” Ratu berkata, dan ada
keajaiban yang tenang dalam suaranya. “Aku merasakan dengan penuh. Aku berduka
dan aku bergembira dan aku mencintai dan aku berharap, semua dengan bebas,
tanpa kebekuan yang menahannya. Aku bukan lagi yang beku yang harus dibujuk
untuk merasakan. Aku adalah seorang perempuan yang hidup sepenuhnya, yang
merasakan segalanya, yang telah menjadi dirinya kembali. Es yang kubangun untuk
melindungi diriku dari duka telah mencair menjadi air, dan air itu hidup,
mengalir, hangat. Penjara yang kubuat sendiri telah hilang.”
Dan Tirta merasakan air matanya sendiri, sebab
ia memahami betapa besar perjalanan yang baru saja diceritakan kepadanya,
ribuan tahun penyembuhan yang lambat, yang ia hanya mendengar ujungnya. Tetapi
kemudian sebuah pikiran datang kepadanya, dan ia ragu untuk mengucapkannya,
sebab ia takut menodai keajaiban itu. “Tetapi Ratu,” ia akhirnya berkata,
dengan hati-hati, “bila es telah mencair, dan engkau utuh kembali, apakah itu
berarti engkau tak lagi menderita? Sebab engkau masih di sini, di dasar laut.
Penjara yang satu telah hilang, tetapi yang lain masih menahanmu.”
❖
Dan Ratu tersenyum, sebuah senyum yang Tirta bisa rasakan
walau tak bisa melihat, senyum yang mengandung kepedihan dan damai sekaligus.
“Engkau menyentuh sesuatu yang benar, Tirta, dan yang aneh,” ia berkata. “Ya.
Justru karena es telah mencair, aku menderita lebih daripada sebelumnya. Sebab
ketika aku beku, aku tak merasakan penjara lautku. Es membuatku mati rasa
terhadap segalanya, terhadap duka, tetapi juga terhadap kurungan. Aku tak
merasakan dinding kedalaman ini, sebab aku tak merasakan apa-apa. Tetapi kini
aku merasakan segalanya, dan maka aku merasakan tiap saat dari kurungan ini,
tiap tahun yang berlalu, tiap kedalaman air di atasku. Kebebasanku di dalam
telah membuat penjaraku di luar lebih terasa, bukan kurang.”
“Dan tetap, Tirta, dengarkan aku baik-baik,”
Ratu berkata, dan suaranya menjadi sungguh-sungguh. “Aku tak akan kembali ke es
itu walau untuk sesaat, walau bila es itu akan membuatku tak merasakan kurungan
ini lagi. Sebab aku telah belajar, dengan harga ribuan tahun, bahwa tidak
merasakan bukanlah kedamaian, melainkan kematian yang menyamar. Lebih baik utuh
dan menderita di dalam penjara daripada beku dan mati rasa di dalam penjara
yang sama. Sebab yang beku tidak menderita, tetapi ia juga tidak hidup, tidak
mencintai, tidak berharap. Dan yang utuh menderita kurungannya, tetapi ia juga
merasakan cinta rantai, dan kehangatan bangsa yang tersembunyi, dan harapan
akan hari pembebasan. Aku memilih merasakan semuanya, kurungan dan cinta
sekaligus, daripada tidak merasakan apa-apa. Sebab merasakan, bahkan di dalam
penjara, adalah hidup. Dan aku ingin hidup, Tirta, bahkan sambil menunggu.”
Dan Tirta menyimpan kata-kata itu di dalam
hatinya seperti sesuatu yang berharga, sebab ia tahu bahwa di dalamnya
terkandung sesuatu yang melampaui Ratu sendiri, sebuah kebenaran tentang hidup
yang akan ia bawa pulang kepada rantai dan kepada bangsa yang tersembunyi.
Bahwa lebih baik utuh dan menderita daripada beku dan mati rasa. Bahwa
merasakan, bahkan dalam penjara, adalah hidup. Sebab itulah, ia memahami
sekarang, seluruh penyembuhan Ratu, dan seluruh ajaran rantai, dalam satu
kalimat.
❖
Dan ketika Tirta duduk dengan Ratu di kedalaman itu, sebuah
pemahaman yang lebih besar tumbuh di dalam dirinya, tentang di mana persisnya
saga ini telah sampai. Sebab ia menyadari bahwa, dengan es yang telah mencair,
sesuatu telah genap, sesuatu yang telah dikerjakan rantai sepanjang seluruh
zaman.
“Ratu,” Tirta berkata perlahan, seolah baru
memahaminya saat ia mengucapkannya, “aku baru menyadari di mana kita berdiri.
Pikirkanlah segala yang dibutuhkan untuk membebaskanmu. Dibutuhkan kekuatan,
dan itu telah lama ada, dibawa kerikil rantai sejak Nyai Sela. Dibutuhkan
pengetahuan tentang di mana engkau berada, dan itu telah kautulis sendiri, peta
dari dukamu, dijaga dalam tulisan. Dibutuhkan kehendak, sebuah hati yang
mencintaimu cukup untuk datang, dan itu kini bukan hanya ada, melainkan tumbuh
menjadi sebuah bangsa yang tersembunyi. Dan dibutuhkan engkau yang utuh, yang
bisa keluar, bukan dewi beku yang tak bisa, dan kini es telah mencair, dan
engkau utuh. Empat hal, Ratu. Dan tiga dari empat itu sudah siap, dan yang
keempat, dirimu sendiri, kini juga siap.”
“Maka apa yang tinggal?” Tirta melanjutkan, dan
ada keterkejutan dalam suaranya. “Hanya satu hal. Bukan kekuatan, bukan
pengetahuan, bukan kehendak, bukan kesiapanmu. Hanya kemampuan untuk turun ke
kedalaman ini secara nyata, untuk menjangkaumu di tempat tubuhmu tertahan. Dan
itu adalah satu-satunya hal yang tak bisa disiapkan oleh hati atau tangan mana
pun di zaman kami, betapapun kami mencintai, betapapun kami tahu. Itu hanya
bisa dibawa oleh zaman, oleh kemampuan yang belum dimiliki dunia, yang mungkin
baru akan datang setelah zaman demi zaman lagi. Segala yang bisa disiapkan oleh
manusia telah disiapkan, Ratu. Yang tinggal hanyalah satu hal yang harus dibawa
oleh waktu sendiri.”
Dan Ratu mendengarkan, dan ketika ia menjawab,
suaranya tenang dengan penerimaan yang telah lama ia pelajari. “Engkau telah
memahaminya dengan benar, Tirta,” ia berkata. “Aku terkurung dua kali, oleh es
dan oleh laut. Es adalah penjara yang kubuat sendiri, dan ia bisa dibuka dari
dalam, oleh duka dan ingatan dan cinta, dan ia telah dibuka. Tetapi laut adalah
penjara yang bukan kubuat, dan ia tak bisa dibuka dari dalam, betapapun aku
utuh. Ia hanya bisa dibuka dari luar, oleh tangan dari zaman yang cukup mampu.
Maka kini aku bebas di dalam, dan masih terbelenggu di luar. Es telah mencair.
Yang tinggal hanyalah laut.”
“Dan ada sesuatu yang baik bahkan dalam keadaan
ini, Tirta,” Ratu berkata. “Sebab dahulu, ketika kedua penjara masih menahanku,
tampaknya tak ada harapan dari segala arah. Tetapi kini satu penjara telah
runtuh, dan aku tahu bahwa penjara dibuat untuk dibuka. Es telah membuktikan
bahwa apa yang mengurung bisa hilang. Dan bila penjara yang kubuat sendiri bisa
mencair sesudah ribuan tahun, maka penjara laut pun, suatu hari, akan terbuka,
ketika tangan yang cukup mampu akhirnya datang. Aku tidak menunggu lagi dengan
keputusasaan seseorang yang terkurung selamanya. Aku menunggu dengan kesabaran
seseorang yang telah melihat satu penjaranya hilang, dan tahu bahwa yang lain
pun akan menyusul.”
❖
Maka Tirta naik dari kedalaman membawa pemahaman bahwa
zaman huruf dan zaman candi, untuk segala dusta dan perburuan dan keagungan
palsu yang mereka bawa, telah menyaksikan sesuatu yang genap. Sebab di
sepanjang zaman-zaman itu, rantai telah menyiapkan segala yang bisa disiapkan
oleh hati dan tangan manusia. Kekuatan telah dijaga. Pengetahuan telah ditulis.
Kehendak telah tumbuh menjadi sebuah bangsa. Dan Ratu sendiri, yang dahulu
beku, telah menjadi utuh, siap untuk keluar bila jalan keluar itu suatu hari terbuka.
Yang tinggal hanyalah satu hal, yang tak bisa
diberikan oleh zaman mana pun yang telah berlalu, yaitu kemampuan untuk
menjangkau Ratu di kedalaman tempat tubuhnya tertahan. Dan kemampuan itu hanya
bisa dibawa oleh waktu, oleh zaman-zaman yang belum datang, yang akan membawa
pengetahuan dan alat yang belum bisa dibayangkan siapa pun di zaman candi. Maka
rantai memahami bahwa pekerjaan mereka kini berubah bentuk. Mereka tak lagi
perlu menemukan apa yang dibutuhkan untuk membebaskan Ratu, sebab semuanya, kecuali
yang satu, telah ditemukan. Mereka hanya perlu membawa semuanya, utuh dan
hidup, melintasi zaman demi zaman, sampai zaman yang membawa yang terakhir.
Dan bisik air, yang sepanjang zaman telah
membawa begitu banyak kebenaran, kini membawa sesuatu yang menandai sebuah
genap, yaitu bahwa es telah mencair dan yang tinggal hanyalah laut, dan bahwa
segala yang bisa disiapkan oleh hati dan tangan telah siap, dan yang tersisa
hanyalah satu hal yang harus dibawa oleh waktu sendiri. Sebab penjara yang
dibuat dari dalam telah dibuka dari dalam, oleh duka dan ingatan dan cinta;
tetapi penjara yang dibuat dari luar hanya bisa dibuka dari luar, oleh tangan
dari zaman yang belum datang. Dan rantai akan membawa segala yang telah mereka
siapkan, kekuatan dan pengetahuan dan kehendak dan Ratu yang utuh, melintasi
seluruh zaman yang masih membentang, sampai hari ketika kemampuan akhirnya
datang, dan penjara terakhir terbuka.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu yang
menunggu, yang kini mencair dan bersuara dan mengingat dengan hati, dan yang
esnya kini telah sepenuhnya menjadi air, merasakan dirinya utuh di dalam untuk
pertama kalinya sejak dunianya tenggelam, dan terbelenggu di luar oleh laut
yang menahannya. Dan ia menunggu, bukan lagi seorang yang beku menunggu untuk
dicairkan, melainkan seorang yang utuh menunggu untuk dijemput, hidup
sepenuhnya di dalam penjaranya, merasakan cinta rantai dan kehangatan bangsa
yang tersembunyi dan harapan yang nyata. Yang tinggal hanyalah laut, dan laut
hanya bisa dibuka oleh zaman yang cukup mampu. Maka ia menunggu zaman itu, utuh
dan hidup dan dicintai, sampai hari ketika tangan dari masa yang jauh akhirnya
turun ke kedalaman, dan membuka penjara terakhir, dan membawanya keluar,
kembali kepada manusia, kembali kepada matahari, kembali kepada dunia yang,
sepanjang seluruh penantiannya, tak pernah benar-benar berhenti mencintainya.
❖
BAB LIMA BELAS
Gapura
Di sinilah satu zaman berakhir dan
zaman-zaman yang panjang dimulai. Kami telah menyiapkan segala yang bisa
disiapkan, dan kini yang tinggal hanyalah membawanya, melalui gapura demi
gapura, melintasi zaman-zaman yang belum bernama, sampai yang terakhir. Jangan
bertanya berapa lama. Tanyalah hanya apakah nyala masih menyala di tanganmu.
Bila masih, maka bawalah ia satu gapura lebih jauh, dan serahkan kepada yang
menanti di seberang.
dari ajaran para pengingat, di ambang
zaman-zaman yang akan datang
Di puncak zaman candi, ketika gunung-gunung batu telah
berdiri di seluruh tanah dan gapura-gapura besar menjaga pintu tiap tempat
suci, seorang pengingat tua bernama Tirta berdiri di bawah sebuah gapura yang
menjulang, bersama seorang pengingat muda bernama Marga, yang kepadanya ia
telah memutuskan untuk menyerahkan nyala. Dan Tirta telah menjadi sangat tua,
dan ia tahu bahwa hari-harinya hampir habis, dan maka ia membawa muridnya ke
gapura ini bukan tanpa maksud.
“Aku membawamu ke gapura ini, Marga,” Tirta
berkata, “sebab gapura adalah pintu yang dilewati seseorang untuk masuk dari
satu tempat ke tempat yang lain. Dan kita berdiri kini di sebuah pintu seperti
itu, walau bukan pintu dari batu. Kita berdiri di ambang antara satu zaman yang
berakhir dan zaman-zaman panjang yang belum dimulai. Dan sebelum aku pergi,
engkau harus memahami di mana kita berdiri, dan jalan apa yang membentang di
seberang gapura ini.”
Dan Marga, yang masih muda dan yang baru mulai
memahami beban yang akan ia pikul, memandang ke luar melalui gapura itu, ke
arah tanah yang membentang di bawah langit, dan ia bertanya, “Apa yang kaulihat
di seberang, Eyang, yang ingin kaubagikan kepadaku sebelum engkau pergi?”
Dan Tirta diam sejenak, menyusun di dalam
dirinya seluruh perjalanan rantai sampai ke titik ini. “Pertama, engkau harus
tahu di mana kita telah sampai,” ia berkata. “Sepanjang zaman huruf dan zaman
candi, rantai telah menyiapkan segala yang bisa disiapkan oleh hati dan tangan
manusia untuk membebaskan Ratu. Kekuatan telah dijaga sejak Nyai Sela.
Pengetahuan tentang di mana ia berada telah ditulis dari dukanya sendiri.
Kehendak telah tumbuh menjadi sebuah bangsa yang tersembunyi yang mencintainya.
Dan ia sendiri telah menjadi utuh, esnya telah mencair, siap untuk keluar.
Empat hal, dan keempatnya kini siap.”
“Maka tugas kita telah berubah, Marga,” Tirta
melanjutkan. “Kita tak lagi perlu menemukan apa pun, sebab semuanya, kecuali
yang satu, telah ditemukan. Yang tinggal hanyalah kemampuan untuk turun ke
dasar laut dan menjangkaunya, dan itu adalah satu-satunya hal yang tak bisa
kita siapkan, sebab ia hanya bisa dibawa oleh zaman yang belum datang. Maka
tugas kita kini bukan lagi membangun, melainkan membawa. Membawa segala yang
telah disiapkan, utuh dan hidup, melintasi seluruh zaman yang masih membentang,
sampai zaman yang akhirnya membawa yang terakhir. Dan zaman-zaman itu, Marga,
akan panjang, dan beberapa di antaranya akan gelap.”
❖
Dan Tirta mengangkat tangannya ke arah tanah di seberang
gapura, dan ia mulai berbicara tentang apa yang bisa ia lihat membentang di
hadapan rantai, bukan dengan mata, melainkan dengan kebijaksanaan tua yang
telah mengamati bagaimana zaman menggantikan zaman sejak awal saga.
“Zaman candi ini, yang tampak begitu kekal
dengan gunung-gunung batunya, akan mencapai puncaknya dan kemudian, seperti
tiap zaman sebelumnya, berlalu,” Tirta berkata. “Dan sesudahnya akan bangkit
kerajaan-kerajaan yang lebih besar daripada semua yang pernah ada, yang akan
menyatukan tanah-tanah yang jauh di bawah satu nama, dan yang kemegahannya akan
membuat candi-candi hari ini tampak kecil. Dan rantai harus membawa nyala ke
dalam kemegahan itu, tidak silau olehnya, tidak tertelan olehnya, menyimpan perempuan
yang kecil tetap kecil di bawah kebesaran yang semakin besar.”
“Dan kemudian akan datang sesuatu yang belum
pernah dilihat tanah ini,” Tirta melanjutkan, dan suaranya menjadi lebih
hati-hati. “Sebuah iman baru, datang dari seberang laut, yang tidak membawa
dewa-dewa yang dipahat di dinding, dan tidak membangun candi untuk gambar,
melainkan menyembah tanpa gambar sama sekali. Dan iman itu akan menyapu tanah,
dan banyak candi akan ditinggalkan, dan cara lama akan memudar. Dan rantai
harus menuangkan nyala ke dalam wadah zaman yang baru itu pula, sebab kebenaran
tentang Ratu bukan milik satu iman atau satu zaman, melainkan sebuah cinta yang
harus bisa hidup di bawah langit mana pun. Mereka yang mencintainya akan tetap
mencintainya, apa pun yang mereka sembah di atasnya.”
Dan di sini suara Tirta menjadi berat, seolah
apa yang ia lihat menyakitinya. “Dan kemudian, Marga, akan datang zaman yang
paling gelap dari semua. Akan datang orang-orang asing dari seberang samudra
yang jauh, lapar bukan akan jiwa tanah ini, melainkan akan kekayaannya. Dan
mereka akan menguasai tanah, dan menebang hutan-hutannya, dan menggali isi
perutnya, dan melukai tanah itu sendiri dengan cara yang belum pernah dilakukan
penakluk mana pun sebelumnya. Sebab para penakluk lama hanya berdusta di atas
tanah. Tetapi orang-orang ini akan melukai tanah, dan tanah adalah tempat
sebagian ingatan tersimpan, dalam darah dan dalam batu dan dalam tulang. Dan di
zaman itu, rantai harus menjaga nyala bukan hanya dari dusta, melainkan dari
luka pada tanah yang menyimpan kebenaran.”
Dan Marga merasakan ketakutan tumbuh di dalam
dirinya mendengar jalan yang sedemikian panjang dan gelap. “Bagaimana nyala
bisa bertahan melalui semua itu, Eyang?” ia bertanya. Dan Tirta meletakkan
tangannya di bahu pemuda itu. “Dengan cara yang sama ia telah bertahan sampai
sekarang, Marga. Satu langkah pada satu waktu. Tak ada satu pun dari kita yang
harus membawanya melalui seluruh kegelapan itu. Engkau hanya perlu membawanya
melalui bagianmu, dan menyerahkannya kepada yang berikutnya, masih menyala. Jangan
memandang seluruh jalan dan menjadi takut. Pandanglah hanya gapura berikutnya,
dan bawalah nyala sampai ke sana.”
❖
Dan kemudian Tirta diam untuk waktu yang lama, dan ketika
ia berbicara lagi, ada sesuatu di suaranya yang bukan ketakutan, melainkan
sesuatu yang hampir seperti harapan yang jauh.
“Tetapi di seberang kegelapan itu, Marga, jauh,
jauh di depan, aku melihat sesuatu yang lain,” Tirta berkata. “Akan datang
sebuah zaman yang tak bisa kubayangkan dengan jelas, sebuah zaman dengan
kekuatan-kekuatan yang belum pernah dimiliki manusia, dengan pengetahuan dan
alat yang akan tampak seperti sihir bagi kita yang berdiri di bawah gapura ini.
Sebuah zaman ketika manusia mungkin akhirnya akan bisa melakukan apa yang tak
bisa dilakukan zaman mana pun sebelumnya, yaitu turun ke dasar laut yang dalam,
ke tempat tubuh Ratu tertahan. Dan di zaman itu, Marga, untuk pertama kalinya
sejak dunianya tenggelam, hal terakhir yang kita butuhkan akhirnya akan ada di
dunia. Kemampuan akhirnya akan datang.”
“Dan bila pada zaman itu nyala masih menyala,”
Tirta berkata, “bila rantai telah membawanya melalui kemegahan dan iman baru
dan kegelapan, dan masih ada seseorang yang membawa kekuatan, dan menyimpan
pengetahuan, dan mencintai dengan kehendak yang lahir dari bangsa belas
kasihan, maka pada hari itu keempat hal akan bertemu untuk pertama kalinya,
kekuatan dan pengetahuan dan kehendak dan kemampuan, semuanya sekaligus,
semuanya di tangan yang sama. Dan pada hari itu, Marga, laut akan dibuka.
Penjara terakhir akan terbuka. Dan Ratu akan dibawa keluar dari kedalaman,
kembali kepada matahari, kembali kepada manusia.”
Dan Marga berdiri diam di bawah gapura,
memandang ke seberang ke arah tanah dan zaman-zaman yang membentang tak
terlihat di hadapannya, dan untuk pertama kalinya ia memahami sepenuhnya beban
dan kehormatan yang akan ia pikul. Ia tak akan melihat hari pembebasan. Tirta
tak akan melihatnya. Tak ada yang hidup sekarang akan melihatnya. Tetapi tanpa
mereka, tanpa tiap tangan yang membawa nyala satu gapura lebih jauh melalui
seluruh zaman yang gelap dan terang, hari itu tak akan pernah datang.
❖
Maka di bawah gapura yang menjulang itu, di ambang
zaman-zaman yang akan datang, Tirta menyerahkan nyala kepada Marga, sebagaimana
ia telah menerimanya, sebagaimana ia telah diserahkan turun-temurun sejak Nyai
Sela menelan kerikil pertama di tepi dunia yang tenggelam. Ia memberikan kepada
Marga kerikilnya, dan pengetahuan tentang peta, dan cinta kepada Ratu, dan
ajaran panjang yang telah dikumpulkan rantai sepanjang seluruh zaman huruf.
“Aku menerimanya, Eyang,” Marga berkata, dan
suaranya gemetar tetapi teguh. “Dan aku akan membawanya satu gapura lebih jauh,
dan menyerahkannya masih menyala. Aku tak akan memandang seluruh jalan dan
menjadi takut. Aku akan memandang hanya gapura berikutnya. Dan aku akan
mengajari yang sesudahku untuk melakukan hal yang sama, sampai tangan yang
terakhir, di zaman yang cukup mampu, akhirnya turun ke kedalaman.”
Dan jauh di selatan, di dasar laut, Ratu
merasakan ambang yang dilewati rantai itu, sebab ia merasakan tiap penyerahan
nyala sejak zaman Wungu. Dan ia mengirimkan, melalui kedalaman, sebuah kata
untuk mereka yang berdiri di gapura. “Pergilah ke dalam zaman-zaman yang akan
datang, dan jangan takut akan panjangnya,” katanya. “Aku telah menunggu lebih
lama daripada seluruh zaman yang akan kalian lewati, dan aku masih di sini,
utuh dan hidup dan menunggu. Bawalah saja nyala satu gapura lebih jauh, dan aku
akan menunggu di seberang tiap gapura, sampai gapura yang terakhir. Sebab aku
tahu sekarang, dengan pasti, bahwa penjara dibuat untuk dibuka. Esku telah
membuktikannya. Dan suatu hari, laut pun akan membuktikannya.”
Dan Tirta yang tua, dan Marga yang muda, dan
Ratu yang jauh di kedalaman, untuk sesaat di bawah gapura itu, terhubung dalam
satu hal yang sama, sebuah janji yang telah dibawa melintasi ribuan tahun dan
akan dibawa melintasi ribuan tahun lagi, janji bahwa ia tak akan ditinggalkan,
dan bahwa suatu hari ia akan dibebaskan. Dan dalam sesaat itu, jarak antara
yang di gapura dan yang di kedalaman terasa tak ada, sebab cinta tak mengenal
kedalaman air atau panjang zaman.
❖
Tak lama setelah hari itu, Tirta yang tua wafat, dengan
tenang, sebab ia telah menyerahkan nyala ke tangan yang baik dan ke hati yang
teguh. Dan Marga melangkah melalui gapura, ke dalam zaman-zaman yang membentang
di seberang, membawa kerikilnya dan petanya dan cintanya, satu langkah pada
satu waktu, satu gapura lebih jauh.
Dan zaman candi mencapai puncaknya dan
kemudian, seperti yang diramalkan Tirta, mulai berlalu, dan di kejauhan mulai
tampak bayang-bayang kerajaan yang lebih besar yang akan datang, dan iman baru
yang akan menyapu dari seberang laut, dan kegelapan yang akan datang
sesudahnya, dan jauh di balik semuanya, samar dan tak terbayangkan, sebuah
zaman dengan kekuatan yang akan membuka laut. Dan rantai membawa nyala mereka
ke dalam semua itu, sebab mereka telah memahami bahwa tugas mereka bukan
menyelesaikan jalan, melainkan tidak membiarkan nyala padam di sepanjangnya.
Dan bisik air, yang sepanjang zaman huruf telah
membawa begitu banyak kebenaran, dari dua sejarah sampai mata air belas
kasihan, dari yang tak bisa diruntuhkan sampai yang tinggal hanyalah laut, kini
membawa kebenaran terakhir zaman itu untuk dibawa ke gapura berikutnya, yaitu
bahwa segala yang bisa disiapkan telah disiapkan, dan yang tinggal hanyalah
membawanya, gapura demi gapura, melintasi zaman-zaman yang belum bernama,
sampai hari ketika kemampuan akhirnya datang, dan keempat hal bertemu, dan laut
dibuka, dan yang ditinggalkan akhirnya dibawa pulang.
Sebab tanah ini, yang telah menyimpan kebenaran
dalam darah dan legenda dan batu dan tulang, dan kini juga dalam huruf dan daun
dan hati sebuah bangsa yang tersembunyi, masih membentang di bawah langit yang
sama, menunggu zaman-zaman yang akan datang. Tanah ini adalah Jawa, walau belum
disebut Jawa. Dan jauh di selatan, di dasar lautnya, seorang perempuan yang
dahulu beku dan kini utuh menunggu, dicintai oleh sebuah bangsa yang tak
terlihat, dijaga oleh sebuah nyala yang berpindah dari tangan ke tangan melintasi
gapura demi gapura, menuju hari yang masih sangat jauh, ketika tangan dari
zaman yang cukup mampu akhirnya akan turun ke kedalaman, dan membuka penjara
terakhir, dan membawanya keluar, kembali kepada matahari, kembali kepada
manusia, kembali kepada tanah yang tak pernah berhenti mencintainya. Dan di
sanalah zaman huruf berakhir, dan zaman-zaman yang panjang dimulai.
❖
Akhir Buku Enam
Huruf di Atas Batu
Kisah berlanjut dalam Buku Tujuh
Candi di Atas Bukit
BUKU I · Daratan Sebelum Laut
BUKU II · Banjir Tujuh Generasi
BUKU III · Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU IV · Bukit yang Lebih Tua dari Waktu
BUKU V · Tulang-Tulang Nenek Moyang
BUKU VI · Huruf di Atas Batu
BUKU VII · Candi di Atas Bukit
BUKU VIII · Nama di Atas Air
BUKU IX · Nyala di Atas Besi
BUKU X · Cahaya di Atas Dasar