9.9.26

(Novel) JAWA: Buku 1. Daratan Sebelum Laut

  JAWA

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra

 


BUKU SATU

Daratan Sebelum Laut

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra

Yang paling dalam tenggelam selalu yang paling dahulu dilupakan;

dan yang paling dilupakan selalu yang paling dalam tenggelam.


 

BAGIAN I

Tanah yang Utuh


 

BAB SATU

Pasar di Tengah Daratan

Yang paling dalam tenggelam selalu yang paling dahulu dilupakan; dan yang paling dilupakan selalu yang paling dalam tenggelam.

pepatah Nagara Tirta, dari masa yang tak lagi punya nama

Pada musim ketika padi serendah lutut dan langit belum belajar marah, Nagara Rata adalah pusat dunia, dan dunia tahu betul akan hal itu.

Kanal-kanal lurus membelah daratan seperti garis pada telapak tangan yang sangat tua, dan di sepanjang tepinya kota-kota berdiri menghadap satu sama lain, saling memandang menyeberangi tanah yang datar tak berujung. Tak ada laut di sini. Laut adalah dongeng yang diceritakan para pedagang Tirta, sesuatu yang jauh, yang dimiliki orang lain, yang baunya menempel di kain mereka dan tak pernah benar-benar dipercaya oleh siapa pun yang lahir di tengah daratan. Di Nagara Rata, air adalah hamba. Ia datang lewat kanal ketika dipanggil dan pergi ketika disuruh, dan ia mengairi padi dengan kesetiaan seekor anjing yang tak pernah membayangkan bahwa ia bisa, suatu hari, menjadi serigala.

Awu berjalan di depan, seperti biasa, dan Sela mengikuti, seperti biasa.

Mereka sudah berjalan sejak matahari masih sebatas pucuk lumbung, menyusuri tanggul yang membatasi ladang keluarga mereka dari ladang keluarga lain, dan kini, ketika matahari sudah naik cukup tinggi untuk memendekkan bayangan menjadi genangan hitam di bawah kaki, jalan setapak itu mulai ramai. Orang-orang membawa keranjang. Orang-orang menuntun lembu. Seorang anak menangis karena alasan yang hanya dimengerti oleh anak-anak, lalu berhenti menangis karena alasan yang sama, dan ibunya tidak menoleh sama sekali, sebab di Nagara Rata seorang ibu tahu, dari nada tangisan, persis seberapa besar bahaya yang sedang dihadapi anaknya, dan tangisan ini bukan apa-apa.

“Kalau kau berjalan secepat itu, ” kata Sela, “kau akan sampai sebelum hari layak ditiba-tibai.”

“Dan kalau kau berjalan selambat itu, ” balas Awu tanpa menoleh, “dunia akan berakhir sebelum kau melihatnya.”

Ia tidak tahu mengapa ia mengatakannya. Kelak, jauh, jauh kelak, ketika tak ada lagi yang tersisa untuk berjalan di atasnya, ia akan mengingat kalimat itu dan tidak bisa berhenti mengingatnya, akan memutarnya di dalam kepalanya selama bertahun-tahun yang tak terhitung sampai kata-katanya aus seperti anak tangga batu yang diinjak terlalu banyak kaki. Tapi hari ini ia hanya seorang gadis yang tergesa di hari pasar, dan saudarinya hanya tertawa, dan tanah di bawah kaki mereka terasa seperti satu-satunya hal di seluruh ciptaan yang tidak akan pernah pergi.

Di bawah mereka, terlalu dalam untuk didengar siapa pun, air sudah mulai menghitung.

Mereka bukan saudari yang mirip, dan orang-orang di kota sudah lama berhenti heran akan hal itu.

Awu adalah yang lebih tua, walau hanya selisih dua musim panen, dan ia membawa ketuaan itu seperti orang membawa sebuah gelar, dengan kesadaran penuh, dan dengan sedikit kelelahan. Wajahnya adalah wajah yang sudah memutuskan banyak hal sebelum orang lain sempat bertanya. Ketika ia memandang sesuatu, ia memandangnya seolah-olah sedang mengukurnya: berapa nilainya, berapa lama ia akan bertahan, dan apa yang akan terjadi pada dunia bila benda itu tiada. Tetua-tetua Nagara Rata berkata, di antara mereka sendiri dan tidak di hadapan Bapa, bahwa anak sulung itu memiliki mata seorang empu dan hati seorang raja, dan bahwa keduanya, dalam satu tubuh, adalah hal yang entah akan menyelamatkan atau menghancurkan, dan bahwa biasanya, dalam pengalaman panjang sebuah peradaban yang sudah melihat banyak anak tumbuh, hal semacam itu melakukan keduanya sekaligus.

Sela tidak diukur orang seperti itu. Sela diukur, kalau ia diukur sama sekali, dengan ukuran-ukuran yang lebih hangat dan lebih murah: bahwa ia tak pernah lupa nama, bahwa ia tahu di sebelah mana sungai kecil itu berbelok, bahwa ia bisa menenangkan lembu yang gelisah dengan menaruh telapak tangannya di antara dua mata binatang itu dan berbisik kata-kata yang ia sendiri tak ingat dari mana ia pelajari. Ia lebih pendek dari Awu, lebih gelap dari Awu, dan ia tertawa lebih sering daripada seorang anak bangsawan seharusnya tertawa, sebab, dan ini adalah hal yang tak pernah diucapkan keras-keras di rumah mereka, Sela bukan sepenuhnya seorang anak bangsawan. Ibu mereka satu. Ayah mereka, kata orang, tidak.

Tapi Bapa Rata tak pernah membedakan keduanya, setidaknya tidak dengan kata-kata, dan maka tak seorang pun berani membedakannya pula, dan maka kedua gadis itu tumbuh bersama di rumah yang sama, di bawah atap yang sama, di tepi kanal yang sama, dua tunas dari satu rumpun yang, bila orang cukup jeli, tumbuh ke arah yang berlawanan. Yang satu condong ke matahari. Yang satu condong ke tanah.

Hari itu, di jalan menuju pasar, mereka belum tahu bahwa arah condong adalah sebuah takdir.

Pasar Nagara Rata bukan sekadar tempat orang menukar barang. Ia adalah tempat daratan memandang dirinya sendiri.

Ia digelar di sebuah lapangan luas tempat empat kanal besar bertemu, dan karena keempat kanal itu datang dari empat penjuru daratan, maka pasar itu mengumpulkan, dalam satu lingkaran yang ramai dan berdebu dan berbau, segala sesuatu yang dimiliki oleh dunia yang dikenal. Dari utara datang gandum merah dan batu asah dan perempuan-perempuan tinggi yang menjalin rambut mereka dengan benang tembaga. Dari barat datang madu, dan kayu wangi, dan kabar-kabar tentang perbukitan tempat orang menyembah batu. Dari timur datang garam gunung, bukan garam laut, sebab tak seorang pun di Nagara Rata yang sudi memakai sesuatu yang berasal dari laut, dan datang pula para pendeta api dengan mata yang selalu tampak seperti baru saja menatap sesuatu yang terlalu terang. Dan dari selatan tidak datang apa-apa, sebab di selatan tidak ada apa-apa kecuali daratan yang semakin lama semakin sepi sampai akhirnya bertemu dengan kabut yang tak pernah diseberangi siapa pun, dan yang oleh orang-orang tua disebut, dengan suara yang direndahkan tanpa alasan yang bisa mereka jelaskan, sebagai tepi.

Awu suka pasar. Sela mencintainya. Perbedaan itu kecil, dan perbedaan itu adalah segalanya.

Awu suka pasar sebagaimana seorang pewaris menyukai tanah warisannya: dengan rasa memiliki, dengan perhitungan, dengan kepuasan tenang melihat sesuatu yang besar bekerja sebagaimana mestinya. Ia berjalan di antara lapak-lapak dan ia melihat sebuah sistem, kanal yang membawa, tangan yang menukar, angka yang dihitung pada simpul-simpul tali oleh para juru hitung yang duduk bersila di bawah tenda. Ia melihat keteraturan, dan keteraturan, bagi Awu, adalah bentuk keindahan yang paling tinggi, sebab keteraturan adalah bukti bahwa sesuatu bisa dibuat untuk bertahan.

Sela mencintai pasar sebagaimana seseorang mencintai sebuah lagu yang ia tahu tak akan terdengar dua kali dengan cara yang persis sama. Ia tidak melihat sistem. Ia melihat seorang tua yang menjual periuk dan menamai tiap periuknya seolah-olah mereka anak-anaknya. Ia melihat seorang anak mencuri buah dan seorang penjual buah berpura-pura tidak melihat. Ia melihat dua orang asing dari dua penjuru daratan yang berbeda, yang tak bisa saling memahami bahasa, menawar harga seekor ayam hanya dengan jari tangan dan dengan tawa, dan berhasil, dan berpisah sebagai sesuatu yang nyaris seperti sahabat. Ia melihat hal-hal yang terjadi sekali dan tak akan terulang, dan ia menyimpannya, sebab ia adalah jenis orang yang menyimpan.

Ia belum tahu bahwa menyimpan adalah sebuah bakat. Ia belum tahu bahwa, kelak, menyimpan akan menjadi sebuah beban yang berat seperti tujuh kerikil di dalam perut. Hari ini menyimpan hanyalah cara seorang gadis mencintai dunianya, dan dunianya begitu penuh sehingga mencintainya terasa seperti pekerjaan yang menyenangkan dan tak pernah selesai.

Mereka menemukannya di tepi pasar, di tempat para pedagang Tirta selalu ditempatkan, tidak diusir, tidak pula dipersilakan masuk, melainkan diberi ruang di pinggir, sebagaimana orang memberi ruang pada sesuatu yang berguna tapi tak sepenuhnya dipercaya.

Ia masih muda untuk seorang nakhoda, dan ia memiliki kulit orang yang menghabiskan hidup di bawah langit terbuka, dan ada sesuatu pada caranya berdiri, kaki sedikit terbuka, lutut sedikit lentur, seolah-olah tanah yang rata pun sewaktu-waktu bisa bergoyang, yang menandai dia sebagai orang yang bukan dari sini. Di hadapannya tergelar dagangan biasa: kerang yang dijadikan perhiasan, garam yang tak akan dibeli siapa pun, tali yang dianyam dengan cara yang tak dikenal di daratan. Tapi orang-orang tidak mengerumuni dagangannya. Orang-orang mengerumuni mulutnya. Sebab seorang pedagang Tirta, di Nagara Rata, menjual dua hal: barang, yang tak terlalu dibutuhkan, dan kabar, yang selalu.

“…dan dusun itu sekarang ada di bawah air, ” ia sedang berkata, ketika Awu dan Sela tiba di tepi kerumunan. “Bukan tenggelam karena banjir sungai. Tidak ada sungai di sana. Air laut yang naik. Pelan. Tidak dalam satu malam, dalam satu musim, dua musim. Garis pantai bergeser sejauh orang berjalan dari pagi sampai siang. Dusun-dusun yang dulu kering sekarang harus dijangkau dengan perahu, dan penduduknya pindah ke tanah yang lebih tinggi, dan tanah yang lebih tinggi itu, kata mereka, juga mulai terasa lembap di musim tertentu.”

Seseorang dalam kerumunan tertawa. Bukan tawa jahat, tawa orang yang merasa lega bahwa sebuah masalah adalah masalah orang lain. “Laut menelan rumah orang pesisir, ” katanya. “Berita apa itu? Laut memang begitu. Karena itu kami tinggal di tengah.”

Beberapa orang ikut tertawa, dan kerumunan mulai mengendur, sebab kabar yang tak mengancam diri sendiri adalah kabar yang membosankan. Tapi Sela tidak beranjak, dan karena Sela tidak beranjak, Awu pun tinggal.

“Seberapa jauh, ” tanya Sela, dan suaranya cukup pelan sehingga si nakhoda harus mencari dari mana suara itu datang sebelum ia menemukan wajahnya. “Garis pantai itu. Seberapa jauh ia bergeser, dibanding zaman kakekmu?”

Nakhoda muda itu memandangnya. Ada sesuatu dalam pertanyaan itu yang membuatnya, untuk sesaat, berhenti menjadi seorang pedagang dan menjadi seorang yang benar-benar berpikir.

“Kakekku, ” katanya akhirnya, “melaut dari sebuah pelabuhan yang sekarang harus kuselami untuk kulihat. Tiang-tiangnya masih ada di bawah sana. Ikan tinggal di rumah yang dulu ditinggali manusia.” Ia mengangkat bahu, gerak yang ingin terlihat acuh dan tidak berhasil. “Tapi orang itu benar. Kalian tinggal di tengah. Laut butuh waktu yang sangat lama untuk berjalan sejauh ini.”

“Berapa lama?” Sela bertanya lagi.

Dan si nakhoda tidak menjawab, sebab ia tidak tahu, dan sebab pertanyaan itu, yang ditanyakan oleh seorang gadis daratan dengan suara setenang permukaan kanal di pagi hari, entah bagaimana terasa seperti pertanyaan yang tak seharusnya ditanyakan di hari yang secerah ini, di tengah pasar yang seramai ini, di pusat dunia yang sekokoh ini.

Awu menarik lengan saudarinya. “Ayo, ” katanya. “Bapa menunggu. Dan orang ini menjual ketakutan seperti orang lain menjual garam, terlalu mahal, dan tak seorang pun benar-benar membutuhkannya.”

Sela membiarkan dirinya ditarik. Tapi di ambang antara lapak si nakhoda dan keramaian pasar, ia menoleh sekali, dan ia melihat orang itu masih memandangnya, dan ia melihat di belakang orang itu, tergantung pada seutas tali, sebuah benda kecil yang tak ia kenali: sepotong kayu yang sudah lama terendam, dimakan air sampai bentuk aslinya hilang, halus dan pucat seperti tulang. Dulu, ia tahu entah dari mana, kayu itu adalah bagian dari rumah seseorang. Sekarang ia adalah jimat. Begitulah cara air bekerja, pikir Sela, tanpa tahu mengapa ia memikirkannya: air mengambil rumahmu, lalu mengembalikan sepotong kecilnya bertahun-tahun kemudian, sudah berubah menjadi sesuatu yang kau gantungkan di leher untuk keberuntungan.

Ia berbalik, dan ia mengikuti saudarinya, dan ia tidak menceritakan kepada siapa pun pikiran itu, sebab ia tak punya kata-kata untuknya, dan sebab di Nagara Rata tak ada orang yang akan mengerti.

Mereka pulang ketika matahari sudah condong dan bayangan-bayangan kembali memanjang, meregang dari kaki setiap orang seperti hendak menggapai sesuatu di belakang mereka yang tak bisa mereka lihat.

Kanal di sisi jalan memantulkan langit yang mulai berwarna tembaga, dan di permukaannya yang tenang seekor burung air berjalan di atas pantulan awan seolah-olah langit adalah sesuatu yang bisa diinjak. Awu berjalan dengan kepala penuh oleh hal-hal yang akan ia katakan kepada Bapa, tentang harga gandum, tentang seorang juru hitung yang menurutnya curang, tentang seribu urusan kecil sebuah peradaban yang sehat dan yakin akan dirinya sendiri. Sela berjalan dengan kepala penuh oleh sepotong kayu yang halus dan pucat seperti tulang.

“Kau diam, ” kata Awu, ketika lumbung-lumbung rumah mereka sudah tampak di kejauhan, hitam menghadap matahari yang turun. “Kau tidak pernah diam.”

“Aku berpikir, ” kata Sela.

“Tentang orang Tirta itu.”

Sela tidak menjawab langsung. Mereka berjalan beberapa langkah, dan suara kaki mereka di atas tanggul tanah adalah satu-satunya suara di seluruh sore, sebab angin telah berhenti dan padi berdiri diam dan bahkan burung air itu kini hanya berdiri, satu kaki terangkat, memandang ke dalam air seolah-olah ada sesuatu di sana yang patut dipandang.

“Awu, ” akhirnya Sela berkata. “Kalau benar laut sedang berjalan, pelan, sangat pelan, sepanjang banyak generasi, ke arah mana ia berjalan?”

Awu tertawa, dan tawanya tulus, dan itulah yang membuatnya, kelak, begitu sulit untuk diingat tanpa rasa sakit. “Ke arah kita, kalau kau percaya pedagang yang menjual ketakutan, ” katanya. “Tapi pikirkan, Sela. Pikirkan seberapa jauh. Pikirkan seberapa lama. Laut harus menyeberangi seluruh daratan untuk sampai ke sini. Ia harus menelan setiap kota di antara pesisir dan kita. Dan bahkan seandainya ia melakukannya, bahkan seandainya, dalam mimpi terburuk seorang anak, itu akan memakan waktu lebih lama daripada nama kita akan diingat. Kau dan aku akan jadi tanah. Anak-anak kita akan jadi tanah. Tujuh generasi anak-anak mereka akan jadi tanah. Yang harus mengkhawatirkan laut, kalau memang ada yang harus, adalah orang-orang yang belum lahir, yang namanya pun belum ada di dunia.”

Ia mengatakannya untuk menenangkan. Ia mengatakannya sebagaimana orang mengatakan kepada seorang anak bahwa badai akan berlalu, bukan karena ia tahu, melainkan karena cinta menuntut sebuah kalimat yang menenangkan diletakkan di antara ketakutan dan tidur.

Dan ia benar dalam segala hal kecuali satu. Ia benar bahwa laut harus menyeberangi seluruh daratan. Ia benar bahwa itu akan memakan banyak generasi. Ia benar bahwa ia, dan saudarinya, dan anak-anak mereka akan menjadi tanah jauh sebelum air mencapai pintu mereka.

Ia hanya keliru tentang satu hal: ia mengira bahwa menjadi tanah berarti berhenti mengkhawatirkan. Ia belum tahu bahwa ada cara untuk tidak menjadi tanah. Ia belum tahu bahwa, kelak, ia sendiri yang akan memilih cara itu, dan bahwa dari dasar laut yang belum tiba, dengan mata yang tak akan pernah lagi menutup, ia akan mengkhawatirkan, selama sepuluh ribu tahun, persis hal yang sore ini ia tertawakan.

Mereka sampai di rumah ketika matahari menyentuh tepi daratan. Di belakang mereka, di sepanjang kanal yang lurus dan tenang dan setia, langit kehilangan warna tembaganya dan menjadi kelabu, dan permukaan air menjadi gelap, dan di dalam kegelapan itu, terlalu pelan untuk dilihat, terlalu dalam untuk didengar, tapi sudah dimulai, sudah lama dimulai, air terus menghitung, dengan kesabaran sesuatu yang tahu bahwa ia memiliki segala waktu di dunia, dan bahwa daratan, betapapun luas, betapapun yakin, betapapun dicintai, pada akhirnya hanyalah sebuah angka yang belum selesai dijumlahkan.


 

BAB DUA

Dua Saudari

Tanyakan kepada seseorang apa yang ia lakukan dengan sesuatu yang mati, dan kau akan tahu apa yang akan ia lakukan dengan sesuatu yang ia cintai.

ajaran para pembaca bintang Nagara Giri

Rumah mereka adalah rumah yang baik, sebagaimana rumah-rumah Nagara Rata adalah rumah yang baik: dibangun untuk bertahan, dan dibangun oleh orang-orang yang tak pernah membayangkan bahwa ia perlu bertahan terhadap apa pun selain waktu.

Dindingnya dari tanah yang dijemur sampai keras seperti batu, dan tiang-tiangnya dari kayu yang dibawa dari barat dengan biaya yang hanya bisa ditanggung oleh keluarga seperti keluarga mereka, dan atapnya cukup tinggi sehingga di musim panas udara di dalam tetap sejuk dan di musim hujan suara air yang jatuh terdengar jauh, seperti tepuk tangan sebuah kerumunan di kota lain. Di tengah rumah ada perapian yang tak pernah benar-benar mati; bahkan ketika apinya padam, baranya disimpan di bawah abu, dan tiap pagi seseorang, biasanya Sela, sebab Awu menganggap pekerjaan itu di bawah martabatnya, dan sebab Sela menganggap tak ada pekerjaan yang di bawah martabat siapa pun, akan menggali bara itu keluar, meniupnya, dan membujuk nyala baru dari sisa nyala lama.

Begitulah hidup di Nagara Rata diteruskan: bukan dengan menyalakan yang baru, melainkan dengan menjaga yang lama agar tak pernah padam sepenuhnya. Seluruh peradaban itu dibangun di atas prinsip yang sederhana itu, walau tak seorang pun pernah mengucapkannya keras-keras, sebab prinsip yang paling dalam dipegang adalah prinsip yang paling jarang diucapkan. Padi disimpan agar musim depan ada benih. Nama disimpan agar anak tahu dari siapa ia turun. Bara disimpan agar pagi selalu punya api. Apa pun yang berharga, simpan; apa pun yang hilang, sungguh-sungguh hilang, sebab di daratan yang datar dan kering ini tak ada yang datang dari luar untuk menggantikannya.

Pagi itu, beberapa hari setelah pasar, Sela bangun lebih dulu seperti biasa dan pergi ke perapian seperti biasa, dan ia sedang berlutut di depan abu yang hangat, meniup dengan sabar, ketika ia mendengar Awu memanggil namanya dari halaman, bukan dengan nada terkejut, bukan pula dengan nada takut, melainkan dengan nada yang lebih buruk daripada keduanya: nada seseorang yang telah menemukan sebuah masalah dan sedang memutuskan, dengan tenang, apa yang harus dilakukan terhadapnya.

Burung itu terbaring di bawah pohon di sudut halaman, di tempat embun masih bertahan di rumput karena matahari belum sampai ke sana.

Ia seekor burung air, jenis yang sama dengan yang berjalan di atas pantulan langit di kanal, berleher panjang, berbulu kelabu yang di tepi-tepinya menyimpan sedikit warna biru yang hanya tampak bila cahaya jatuh dengan tepat. Salah satu sayapnya terlipat di bawah tubuhnya dengan cara yang salah, cara yang membuat jelas, bahkan dari jauh, bahkan kepada seseorang yang belum pernah melihat kematian, bahwa burung ini tak akan terbang lagi. Tidak ada darah. Tidak ada tanda kekerasan. Ia hanya, di suatu titik dalam malam, berhenti, sebagaimana bara di perapian berhenti bila tak ada yang menjaganya, dan jatuh dari pohon, dan kini terbaring di rumput dengan satu mata terbuka memandang langit yang tak lagi bisa dicapainya.

Awu berdiri di atasnya, memandangnya, dengan tangan terlipat. Ketika Sela datang dan berlutut di samping burung itu, Awu tidak ikut berlutut.

“Sudah dingin, ” kata Awu. “Mati semalam, kurasa. Jatuh dari sarang, atau sakit. Tidak ada gunanya menebak.” Ia berkata seolah-olah sedang menutup sebuah perkara, seolah-olah pertanyaan satu-satunya yang pantas diajukan tentang sesuatu yang mati adalah pertanyaan sebab, dan begitu sebab tak bisa diketahui, perkara itu selesai. “Aku akan menyuruh seseorang membuangnya sebelum ia menarik lalat.”

Sela tidak menjawab. Ia sedang memandang mata yang terbuka itu.

Ia tahu, dengan cara yang tak bisa ia jelaskan, bahwa burung ini kemarin masih ada di antara burung-burung lain di kanal, bahwa ia adalah salah satu dari yang berjalan di atas langit, bahwa ia memiliki sebuah tempat di antara yang lain, sebuah tikungan sungai yang ia kenal, sebuah arah yang ia tuju ketika musim berganti. Semua itu kini tidak ada di mana pun. Bukan pindah ke tempat lain. Tidak ada. Dan yang membuat Sela tak bisa berdiri, yang membuatnya tetap berlutut di rumput basah sampai dingin merembes ke lututnya, adalah kesadaran, baru, mentah, terlalu besar untuk seorang gadis sepagi ini, bahwa tidak ada di mana pun adalah sebuah tempat yang sebenarnya, sebuah tempat yang menampung lebih banyak hal daripada seluruh daratan, dan bahwa segala sesuatu, cepat atau lambat, berjalan ke sana.

“Jangan dibuang, ” kata Sela.

Awu menoleh. “Apa?”

“Jangan disuruh seseorang membuangnya seperti sampah.” Sela mengangkat wajahnya, dan ada sesuatu di wajah itu yang membuat Awu, untuk sesaat, menahan kata-kata yang sudah siap di lidahnya. “Ia pernah ada. Kemarin ia ada. Sesuatu yang pernah ada tidak seharusnya dibuang seperti sesuatu yang tidak pernah ada.”

Awu adalah orang yang sabar terhadap banyak hal, tapi ia tidak sabar terhadap apa yang ia anggap kelembutan yang sia-sia, dan ia menganggap sebagian besar kelembutan sia-sia.

“Ia seekor burung, Sela, ” katanya, dan suaranya bukan suara yang kejam, itulah yang kelak paling menyakitkan untuk diingat, bahwa tak ada satu pun dari ini yang berasal dari kekejaman. “Ada ribuan seperti dia di kanal. Besok akan ada ribuan lagi. Satu mati, dan sungai tidak berubah. Kawanannya tidak berubah. Bila kau berdiri di tepi kanal sore nanti, kau tidak akan bisa menunjuk tempat yang kosong dan berkata: di sini, di sinilah dulu ada satu yang sekarang tiada. Tidak ada lubang. Air menutup di atas tempat ia dulu berdiri seolah-olah ia tak pernah berdiri di sana.”

“Itu justru yang membuatku tak bisa membiarkannya, ” kata Sela.

“Mengapa?”

Sela memikirkannya. Ia bukan jenis orang yang menjawab sebelum ia tahu apa yang ia maksud, dan maka ia diam cukup lama sehingga seekor lalat, yang pertama, datang dan hinggap di mata burung itu yang terbuka, dan Sela mengusirnya dengan tangan, pelan, seolah-olah burung itu masih bisa terganggu.

“Karena bila tak ada yang mengingat bahwa ia pernah ada, ” akhirnya Sela berkata, “maka air benar. Maka memang seolah-olah ia tak pernah ada. Dan kalau itu bisa terjadi pada seekor burung, ia bisa terjadi pada apa saja. Pada lembu. Pada orang. Pada, ” ia menggerakkan tangannya, sebuah gerak kecil yang merangkul halaman, rumah, kanal di kejauhan, seluruh daratan yang datar dan yakin, “, pada semua ini. Suatu hari semua ini akan menjadi tidak ada di mana pun, Awu, sebagaimana burung ini sekarang tidak ada di mana pun, dan satu-satunya hal yang akan membedakan apakah ia pernah ada atau tidak adalah apakah seseorang mengingatnya.”

Untuk sesaat, halaman menjadi sunyi. Bahkan Awu, yang punya jawaban untuk hampir segala hal, tidak menjawab langsung. Sebab ia mendengar, di balik kata-kata saudarinya, sesuatu yang ia sendiri juga rasakan, bukan rasa yang sama, tapi rasa yang lahir dari sumber yang sama. Mereka berdua, kedua gadis itu, sedang berdiri di tepi pemikiran yang sama, jurang yang sama: bahwa segala sesuatu berakhir. Hanya saja mereka berdiri di tepi yang berseberangan, dan memandang ke bawah, ke dalam jurang yang sama itu, mereka melihat dua hal yang sama sekali berbeda.

Sela melihat jurang itu dan berkata: maka aku akan mengingat, supaya yang jatuh ke dalamnya tidak benar-benar hilang.

Awu melihat jurang itu dan berkata, di dalam hatinya, dengan kata-kata yang belum sepenuhnya ia temukan dan tak akan ia ucapkan hari ini: maka aku akan mencari cara supaya tidak ada yang perlu jatuh.

Itulah seluruh perbedaan di antara mereka. Itulah, walau tak seorang pun di halaman itu yang bisa mengetahuinya, seluruh perbedaan yang kelak akan membelah dunia menjadi dua jenis keabadian, dan membelah laut dari daratan, dan membelah yang mengingat dari yang menolak untuk berakhir. Tapi hari ini ia hanyalah dua saudari yang berdebat tentang seekor burung, di sebuah halaman, di pagi yang cerah, dengan embun yang mulai menguap dari rumput ketika matahari akhirnya sampai ke sudut itu.

Pada akhirnya Awu membiarkannya, sebagaimana yang lebih kuat kadang membiarkan yang lebih lembut menang dalam hal-hal kecil, justru karena ia tahu hal itu kecil.

“Lakukan apa yang kau mau dengannya, ” katanya, sudah berbalik menuju rumah, sudah memikirkan hal-hal lain, hal-hal yang menurutnya lebih pantas dipikirkan oleh seseorang dengan mata empu dan hati raja. “Tapi cuci tanganmu sesudahnya. Dan jangan terlambat. Bapa ingin bicara tentang ladang utara.”

Maka Sela menggali. Ia menggali dengan tangannya sendiri, di bawah pohon yang sama tempat burung itu jatuh, sebab tampaknya benar bahwa sesuatu harus kembali ke tanah di tempat yang dekat dengan tempat ia terakhir hidup. Tanahnya gembur dan gelap dan berbau seperti hujan yang belum turun, dan ketika lubang itu cukup dalam, ia mengangkat burung itu, yang ternyata lebih ringan daripada yang ia bayangkan, jauh lebih ringan, seolah-olah sebagian besar dari berat seekor makhluk hidup bukanlah dagingnya melainkan hidupnya, dan ia membaringkannya di dalam, dan ia melipat sayap yang patah itu ke posisi yang seharusnya, supaya setidaknya di dalam tanah burung itu terbaring dengan benar.

Dan ketika ia menutupnya dengan tanah, sesuatu yang aneh terjadi, begitu kecil sehingga ia hampir tak menyadarinya, begitu sepele sehingga ia tak akan pernah menceritakannya kepada siapa pun, dan begitu penting sehingga, sepuluh ribu tahun kemudian, keturunan dari keturunan dari keturunannya akan melakukan hal yang persis sama tanpa tahu mengapa, di seluruh pulau, di setiap makam, melipat sesuatu yang patah ke posisi yang seharusnya sebelum menutupnya dengan tanah. Sela merasakan, lewat telapak tangannya yang menekan tanah, sesuatu yang menjawab. Bukan suara. Bukan gerak. Sebuah pengakuan, seolah-olah tanah itu sendiri telah menerima apa yang ia berikan, telah mencatatnya, telah menambahkannya pada sebuah daftar panjang yang tak terlihat dari segala sesuatu yang pernah ada dan kini disimpan di bawah, di tempat yang gelap dan dingin dan setia, tempat yang tidak pernah membuang apa pun.

Ia menarik tangannya. Ia memandang gundukan kecil itu. Lalu, merasa sedikit bodoh, dan tidak peduli bahwa ia merasa bodoh, ia berbisik kepadanya, kata-kata yang sama yang ia gunakan untuk menenangkan lembu, kata-kata yang ia tak ingat dari mana ia pelajari, kata-kata yang dalam lidah Nagara Rata sudah kehilangan artinya dan tinggal bunyinya, tapi yang dalam lidah yang jauh lebih tua, lidah yang tak seorang pun di daratan itu masih bisa bicara, masih berarti sesuatu yang sederhana dan benar: kau diingat, kau diingat, kau diingat.

Dari ambang pintu rumah, Awu menyaksikan saudarinya berbisik kepada tanah, dan ia tidak tertawa.

Ia ingin tertawa. Sebagian dari dirinya, bagian yang sudah memutuskan banyak hal dan tak sabar terhadap kelembutan yang sia-sia, mendorongnya untuk tertawa dan memanggil Sela masuk dan melupakan seluruh urusan konyol tentang seekor burung ini. Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang lebih dalam, bagian yang tak ia tunjukkan kepada siapa pun, bahkan kepada Bapa, bahkan kepada dirinya sendiri di sebagian besar hari, memandang saudarinya yang berlutut di tanah dan merasakan sesuatu yang sangat dekat dengan iri.

Sebab Sela telah menemukan sebuah jawaban, dan Awu belum. Sela memandang kematian seekor burung dan menemukan sebuah cara untuk hidup berdampingan dengannya: mengingat, dan dengan mengingat, menolak untuk menyetujui bahwa yang hilang benar-benar hilang. Itu adalah jawaban yang lembut, dan Awu menganggap kelembutan sia-sia, dan maka ia tak bisa menerimanya untuk dirinya sendiri. Tapi ia juga tak punya jawaban yang lain, belum, dan ketiadaan jawaban itu duduk di dalam dirinya seperti sebuah lubang yang menunggu, seperti sebuah pertanyaan yang menunggu sesuatu untuk mengisinya, dan suatu hari, bertahun-tahun dari sekarang, ketika air datang dan dunia berakhir dan seorang empu menawarkan sebuah jawaban yang sama sekali berbeda dari jawaban saudarinya, lubang itu akan terisi, dan Awu akan memilih, dan pilihannya akan menjadi kutukan bagi sepuluh ribu tahun.

Tapi itu nanti. Hari ini, Awu hanya memanggil dengan lembut, lebih lembut daripada biasanya, “Sela. Bapa menunggu.” Dan Sela berdiri, dan mencuci tangannya di air kanal seperti yang disuruh, dan kedua saudari itu masuk ke dalam rumah tempat bara lama sedang dibujuk menjadi api baru, dan halaman ditinggalkan kosong kecuali oleh sebuah gundukan kecil di bawah pohon, yang tak seorang pun akan ingat dalam seminggu, kecuali satu orang, yang tak akan pernah melupakannya.

Dan di kanal, tempat burung-burung air berjalan di atas pantulan langit, air mengalir lurus dan tenang dan setia, sebagaimana ia selalu mengalir, membawa apa yang disuruh dan pergi ke mana yang diperintahkan. Tapi bila ada orang yang cukup hening untuk mendengarnya, dan di seluruh Nagara Rata hanya ada satu, dan ia masih terlalu muda untuk tahu bahwa ia mendengar, air itu, di bawah ketenangannya, di bawah kesetiaannya, di bawah segala kepatuhannya yang panjang, sedang menyimpan. Sebagaimana Sela menyimpan. Sebagaimana tanah menyimpan. Air menyimpan segala sesuatu yang pernah jatuh ke dalamnya, dan ia sabar, dan ia tidak pernah membuang apa pun, dan ia menunggu hari, masih jauh, masih banyak generasi jauhnya, tapi sudah pasti, sudah lama pasti, ketika ia akhirnya akan mengembalikan semuanya sekaligus.


 

BAB TIGA

Bapa dan Kejayaan

Sebuah bangsa tidak pernah lebih dekat pada kejatuhannya selain pada malam ia merayakan bahwa ia tak mungkin jatuh.

yang dikatakan orang Nagara Rata sesudahnya, ketika tak ada lagi Nagara Rata untuk mengatakannya

Bapa Rata bukan seorang raja, sebab Nagara Rata tidak memiliki raja, dan inilah hal pertama yang harus dipahami tentang dia, dan tentang seluruh dunia yang ia wakili.

Di perbukitan barat, kata orang, ada bangsa yang menyembah satu orang di antara mereka, menaruh seseorang di atas yang lain dan menyebutnya keturunan batu atau anak bintang dan menundukkan kepala ketika ia lewat. Di pegunungan timur, para pendeta api memerintah, dan kehendak mereka adalah kehendak nyala, dan tak ada yang membantah nyala. Tapi di daratan yang datar tak ada tempat yang lebih tinggi dari tempat lain, dan barangkali itulah sebabnya, barangkali tanah membentuk jiwa orang yang tinggal di atasnya, sebagaimana ia membentuk air yang mengalir di atasnya, barangkali itulah sebabnya orang Nagara Rata tak pernah belajar menundukkan kepala. Mereka memerintah diri mereka sendiri melalui dewan tetua, dan Bapa Rata adalah yang paling dituakan di antara yang tua, bukan karena ia memiliki kuasa atas yang lain, melainkan karena, selama bertahun-tahun, ia paling sering benar.

Ia seorang lelaki besar yang mulai menyusut, sebagaimana lelaki besar menyusut di usia tua: bukan menjadi kecil, melainkan menjadi padat, seolah-olah seluruh kehidupan yang dulu mengisi tubuh yang lebih besar kini dipadatkan ke dalam tubuh yang lebih ringkas dan karena itu menjadi lebih pekat. Tangannya adalah tangan orang yang dulu bekerja dan kini memerintah, dan suaranya adalah suara orang yang sudah lama tak perlu mengulang dirinya. Ketika ia memandang kedua anak perempuannya, dan ia memandang keduanya, selalu, dengan tatapan yang sama, sehingga tak seorang pun pernah bisa memastikan apa yang ia ketahui atau tak ketahui tentang asal-usul mereka, ada di matanya sesuatu yang lebih dekat pada kepuasan seorang petani yang melihat ladangnya menjijau daripada kelembutan seorang ayah, tapi di Nagara Rata kedua hal itu tidak selalu dianggap berbeda.

Malam itu rumah mereka menyiapkan jamuan, sebab tetua-tetua dari kota-kota lain akan datang, dan seorang tamu dari jauh telah tiba: seorang tua dari Nagara Giri, dari perbukitan utara, yang turun ke daratan sekali dalam beberapa tahun untuk menukar batu asah dan ramuan dan, yang paling berharga, ramalan langit. Sela menghabiskan sepanjang sore membantu di dapur, dan Awu menghabiskan sepanjang sore di sisi Bapa, belajar, sebagaimana ia selalu belajar, dengan mata yang mengukur.

Ketika malam turun, rumah itu penuh, dan penuhnya rumah itu adalah penuhnya sebuah peradaban yang sedang berada di puncaknya dan tahu betul akan hal itu.

Di atas tikar-tikar anyaman terbaik tergelar segala yang bisa dihasilkan daratan: nasi yang ditanak dengan rempah dari timur, daging yang dipanggang di atas bara yang dijaga seharian, ikan air tawar dari kanal yang dagingnya putih dan manis, sayur dan umbi dan buah yang ditumpuk sampai melimpah, sebab di Nagara Rata melimpah bukan sekadar tanda kekayaan melainkan tanda kebenaran, bukti yang bisa dilihat dan dicicipi bahwa cara mereka hidup adalah cara yang benar, bahwa tanah memberkati mereka karena mereka pantas diberkati. Pelita-pelita minyak menyala di sepanjang dinding, dan asapnya naik lurus ke atap yang tinggi, dan dalam cahayanya wajah-wajah para tetua tampak keemasan dan yakin.

Mereka bicara, sebagaimana orang yang berkuasa bicara ketika mereka berkumpul, tentang hal-hal yang menegaskan kuasa mereka. Tentang panen yang melampaui panen tahun lalu. Tentang kanal baru yang akan dibuka ke arah selatan, membuka tanah yang selama ini terlalu jauh dari air. Tentang seorang pedagang barat yang mencoba menipu dan ditangani dengan cara yang membuat semua tertawa. Dan di balik tiap kata, tak terucap tapi hadir di setiap ruang di antara kata-kata, ada satu keyakinan yang menjadi udara yang mereka hirup: bahwa ini akan berlangsung selamanya. Bahwa daratan ini, kanal-kanal ini, cara hidup ini, telah berlangsung sejauh ingatan menjangkau dan akan berlangsung sejauh ingatan akan menjangkau ke depan. Bahwa Nagara Rata bukanlah sesuatu yang terjadi dalam sejarah, melainkan latar tempat sejarah terjadi, tetap, tak tergoyahkan, sebuah dasar dan bukan sebuah bangunan.

Awu duduk dekat Bapa dan minum sedikit dan bicara sedikit dan mendengar segalanya. Ia menyukai malam-malam seperti ini, menyukainya dengan kesukaan yang sama dengan kesukaannya pada pasar: di sini ia melihat sebuah sistem bekerja, melihat kuasa berpindah dan keputusan dibuat dan dunia diatur, dan ia menyimpan tiap gerak dan tiap kata di dalam dirinya sebagaimana seorang juru hitung menyimpan angka di simpul tali, untuk hari ketika ia sendiri akan duduk di tempat Bapa dan dunia akan menunggu kata-katanya.

Sela duduk lebih jauh, di antara yang muda dan yang membantu, dan ia tidak menyimpan kata-kata para tetua. Ia menyimpan hal-hal lain: cara seorang tetua tua menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah tikar, cara seorang istri memandang suaminya yang bicara terlalu keras, cara seorang anak tertidur di pangkuan ibunya di tengah segala keramaian, dengan kepercayaan penuh seorang anak bahwa dunia akan terus berputar dengan aman tanpa perlu ia jaga dengan tetap terjaga. Hal-hal yang terjadi sekali. Hal-hal yang tak akan terulang dengan cara yang persis sama. Hal-hal yang ia simpan tanpa tahu mengapa, kecuali bahwa menyimpannya terasa seperti satu-satunya cara yang ia punya untuk mencintai sebuah malam yang ia tahu, dengan kesedihan yang tak ia mengerti, tak akan pernah benar-benar kembali.

Tamu dari Nagara Giri itu bicara sedikit sepanjang jamuan, dan justru karena ia bicara sedikit, ketika ia akhirnya bicara, semua mendengar.

Ia jauh lebih tua dari siapa pun di ruangan, begitu tua sehingga usianya sudah berhenti menjadi angka dan menjadi sebuah keadaan, seperti cuaca. Kulitnya seperti kulit kayu yang sudah lama terkena matahari dan hujan bergantian sampai ia tak lagi tampak seperti kulit melainkan seperti tanah, dan matanya, ini yang diperhatikan Sela dari tempat duduknya yang jauh, matanya memiliki kualitas yang aneh, kualitas orang yang terbiasa memandang jauh, sangat jauh, ke benda-benda yang begitu tinggi dan begitu lambat sehingga memandangnya mengubah cara seseorang memandang segala hal yang lebih dekat dan lebih cepat.

“Kalian bicara tentang kanal selatan, ” katanya, pada satu titik, ketika percakapan tentang pembukaan tanah baru sedang ramai. Suaranya pelan dan tak tergesa, suara orang yang tak pernah khawatir tak didengar. “Kalian akan menggali ke selatan, ke arah tepi.”

“Tanah di sana baik, ” kata salah satu tetua. “Hanya butuh air. Kami akan membawa air kepadanya.”

“Hm.” Orang tua Giri itu mengangguk pelan, seolah-olah ini menjawab sebuah pertanyaan yang sudah lama ia pikirkan. “Air. Ya. Kalian akan membawa air ke selatan.” Ia diam sejenak, dan dalam diamnya ruangan ikut menunggu. “Aku membaca langit malam kemarin, dari atap rumah ini, ketika kalian semua tidur. Kebiasaan orang tua. Kami di perbukitan menyimpan catatan langit, bukan di kepala, sebab kepala mati bersama orangnya, melainkan di batu, sebab batu mengingat lebih lama dari daging. Catatan kami sangat panjang. Lebih panjang dari yang bisa kalian bayangkan, kalian yang menyimpan ingatan hanya sejauh kakek bisa bercerita kepada cucu.”

Ia mengangkat wajahnya, dan matanya yang terbiasa memandang jauh itu menyapu ruangan, melewati para tetua yang keemasan dan yakin, dan untuk sesaat, Sela bersumpah, kelak, bahwa ini terjadi, walau tak seorang pun lain yang memperhatikannya, untuk sesaat mata itu berhenti pada dirinya, gadis yang duduk jauh di antara yang muda, sebelum bergerak lagi.

“Susunan bintang malam kemarin, ” katanya, “pernah kulihat sebelumnya. Bukan dengan mataku sendiri. Dalam catatan kami, di batu yang dipahat oleh tangan yang sudah lama jadi tanah. Catatan itu mengiringi sebuah kata, dan kata itu, dalam lidah lama kami, berarti: air yang besar. Terakhir kali langit berdiri seperti ini di atas dunia, kata catatan itu, daratan menjadi lebih kecil.”

Untuk sesaat, ruangan sunyi, dan dalam sunyi itu ada sebuah kemungkinan, tipis, sekejap, tapi sungguh ada, bahwa sejarah bisa berjalan dengan cara yang lain.

Sebab kata-kata itu telah diucapkan, dan kini menggantung di udara di atas para tetua seperti asap pelita yang naik ke atap, dan setiap orang di ruangan itu, untuk satu detak jantung, merasakannya: sebuah dingin, sebuah keraguan, sebuah pintu yang terbuka sedikit ke arah sesuatu yang gelap dan luas. Bila satu orang di ruangan itu telah menjawab dengan ketakutan, mungkin yang lain akan ikut takut, dan ketakutan, kadang, adalah awal dari kebijaksanaan.

Tapi Bapa Rata tertawa.

Ia tertawa bukan dengan kekejaman, sekali lagi, dan ini adalah pola yang akan diulang dunia ini sampai akhir, tak ada kekejaman dalam tawa yang menghancurkannya, melainkan dengan kehangatan, dengan keramahan seorang tuan rumah yang ingin tamunya yang tua dan dihormati tidak merasa malu telah mengatakan sesuatu yang konyol. “Sahabatku yang bijak dari perbukitan, ” katanya, dan ia mengangkat cangkirnya ke arah orang tua itu, “kami menghormati batu-batumu, dan kami menghormati langitmu. Tapi pikirkanlah apa yang kau katakan, di rumah ini, di tengah daratan ini. Air yang besar membuat daratan lebih kecil. Mungkin. Di tepi. Di pesisir, tempat tanah sudah setengah milik air sejak awal. Biarkan air mengambil pesisir; kami tak pernah menginginkan pesisir.”

Beberapa tetua mulai tersenyum, lega, sebab Bapa sedang mengembalikan dunia ke bentuknya yang aman.

“Tapi lihat di mana kita duduk, ” Bapa melanjutkan, dan kini suaranya naik, mengisi ruangan, suara orang yang berbicara bukan kepada satu tamu melainkan kepada seluruh keyakinannya sendiri. “Berjalanlah dari sini ke arah laut mana pun yang kau pilih. Berjalanlah sampai kakimu berdarah. Kau akan berjalan berhari-hari, dan setiap hari kau hanya akan melihat daratan, dan kota, dan kanal, dan ladang, dan lebih banyak daratan. Untuk mencapai kami, air harus menelan semua itu lebih dulu. Setiap kota di antara pesisir dan kita. Setiap ladang. Setiap orang yang kau temui dalam perjalanan berdarahmu. Apakah kau benar-benar percaya, sahabatku, bahwa langit yang sama, yang kembali setelah waktu yang begitu lama sehingga butuh batu untuk mengingatnya, datang untuk menelan Nagara Rata? Kami bukan dusun pesisir. Kami adalah pusat dunia. Air bisa naik sampai kiamat, dan ia masih harus minta izin pada seribu kota sebelum ia sampai di pintu kami.”

Dan ruangan tertawa. Tertawa dengan lega, dengan bangga, dengan cinta pada lelaki tua yang sekali lagi telah mengubah ketakutan menjadi gurauan. Cangkir-cangkir diangkat. Seseorang mulai bernyanyi. Jamuan, yang sempat tergantung sesaat di tepi sesuatu, jatuh kembali dengan aman ke dalam dirinya sendiri, ke dalam kehangatan dan keyakinan dan kebenaran yang melimpah.

Orang tua dari Giri tidak ikut tertawa. Tapi ia juga tidak membantah. Ia hanya menundukkan kepalanya sedikit, gerak yang bisa diartikan sebagai sopan santun, dan ia mengangkat cangkirnya membalas Bapa, dan ia minum. Sebab ia sudah sangat tua, dan ia sudah melihat banyak hal, dan ia tahu, sebagaimana hanya orang yang sangat tua tahu, bahwa ada saat-saat ketika kebenaran telah diucapkan dan ditolak, dan ketika hal itu terjadi, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali minum bersama mereka yang menolaknya, dan diam, dan membiarkan langit menyelesaikan perdebatan dengan caranya sendiri, dalam waktunya sendiri, yang tak diukur dalam tahun-tahun manusia.

Larut malam, ketika jamuan mulai surut dan para tamu mulai mencari tempat tidur dan pelita-pelita dibiarkan padam satu per satu, Sela menemukan orang tua dari Giri itu sendirian di halaman, memandang langit.

Ia tak tahu mengapa ia mengikutinya keluar. Ia hanya tahu bahwa di antara semua yang telah dikatakan malam itu, hanya kata-kata orang tua inilah yang ia simpan dengan cara yang berbeda dari biasanya, bukan dengan kelembutan, melainkan dengan sesuatu yang lebih dekat pada rasa dingin, sesuatu yang menetap di dadanya dan tak mau pergi. Ia berdiri di samping orang tua itu, dan untuk beberapa saat keduanya tidak bicara, hanya memandang ke atas, ke tempat bintang-bintang berdiri dalam susunan yang bagi Sela tak berarti apa-apa dan bagi orang tua itu berarti kematian sebuah dunia.

“Kau tidak tertawa, ” akhirnya orang tua itu berkata, tanpa menoleh.

“Tidak, ” kata Sela.

“Mengapa?”

Sela memikirkannya, sebagaimana ia selalu memikirkan sebelum menjawab. “Beberapa hari lalu, ” katanya, “seekor burung mati di halaman ini. Di bawah pohon itu.” Ia menunjuk dengan dagunya ke arah gundukan kecil yang kini tak terlihat dalam gelap. “Saudariku bilang tak ada gunanya memperdulikannya, sebab ada ribuan burung lain dan sungai tidak berubah. Dan ia benar. Sungai memang tidak berubah. Tapi aku tak bisa berhenti memikirkan bahwa burung itu, untuk dirinya sendiri, adalah seluruh dunia. Dan kalau seluruh dunia bisa berakhir, dan sungai tidak berubah, maka sungai bukan tanda bahwa segala sesuatu aman. Sungai hanya tanda bahwa ia tak peduli.”

Orang tua itu menoleh kepadanya untuk pertama kalinya, dan dalam gelap Sela tak bisa melihat matanya, hanya bisa merasakan beratnya. “Berapa usiamu, anak?” tanyanya.

Sela menyebutkan musim panennya, dan orang tua itu mengangguk, pelan, lama, seolah-olah angka itu menjelaskan sesuatu dan sekaligus tidak menjelaskan apa-apa. “Terlalu muda untuk mengerti hal itu, ” katanya. “Dan kau mengerti juga. Itu bukan hal yang baik untuk dimiliki, anak. Mengingat bahwa segala sesuatu berakhir, dan tak bisa berhenti mengingatnya. Itu adalah beban. Kebanyakan orang dilahirkan dengan rahmat untuk melupakannya. Sebagian kecil tidak. Mereka membawa, seumur hidup, berat dari mengetahui apa yang dilupakan orang lain demi kebahagiaan mereka.” Ia berbalik kembali ke langit. “Bila air yang besar memang datang, dan ia akan datang, anak, walau bukan di hari yang ditakutkan ayahmu, walau bukan dalam hidupmu, mungkin, atau mungkin tepat di akhir hidupmu, maka yang seperti dirimu yang akan paling menderita. Sebab kalian akan mengingat daratan ini ketika daratan ini tak ada lagi. Dan tak ada beban yang lebih berat daripada menjadi satu-satunya tempat di mana sesuatu yang besar masih ada.”

Sela tidak menjawab, sebab tak ada jawaban, dan keduanya berdiri di halaman dalam diam, di bawah bintang-bintang yang mengeja kematian sebuah dunia dalam bahasa yang hanya bisa dibaca oleh seorang tua dari perbukitan dan dirasakan, tanpa dimengerti, oleh seorang gadis daratan. Dan di kejauhan, di balik rumah, di sepanjang kanal yang lurus dan gelap, air mengalir sebagaimana ia selalu mengalir, tenang, setia, patuh, tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Sela mendengarnya bukan sebagai suara air yang mengalir, melainkan sebagai suara sesuatu yang sedang menunggu, dengan kesabaran tak terbatas, untuk berhenti berpura-pura menjadi hamba.


 

BAGIAN II

Air yang Ganjil


 

BAB EMPAT

Layar dari Tirta

Orang daratan mengukur dunia dengan jarak. Kami yang berlayar belajar mengukurnya dengan waktu, sebab hanya waktu yang memberitahu seberapa jauh air telah berjalan.

kata para nakhoda Nagara Tirta

Pedagang Tirta datang ke daratan sesuai musim, sebagaimana burung datang sesuai musim, dan orang Nagara Rata mengenali kedatangan mereka tanpa perlu melihat mereka: dari bau, yang mendahului mereka di jalan, bau garam dan kayu basah dan sesuatu lagi yang tak bisa dinamai, bau jauh.

Tapi musim ini ada yang ganjil, dan keganjilannya bukan pada kedatangan melainkan pada kedalaman kedatangan itu. Pedagang Tirta jarang masuk jauh ke daratan. Mereka berhenti di kota-kota tepi, tempat kanal-kanal besar bermuara ke arah pesisir, menjual dan membeli dan pergi, sebab mereka tak betah jauh dari air, sebab seorang pelaut di tengah daratan adalah seperti ikan di tengah ladang, hidup, tapi salah tempat, tapi gelisah dengan kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan. Maka ketika kabar sampai ke kota Bapa Rata bahwa seorang nakhoda Tirta telah datang jauh ke pedalaman, melewati kota-kota tepi, menyusuri kanal demi kanal sampai hampir ke pusat daratan, ke tempat yang sejauh-jauhnya dari laut yang bisa dicapai seorang pelaut tanpa berhenti menjadi pelaut, maka kabar itu sendiri adalah sebuah berita, bahkan sebelum si nakhoda mengucapkan sepatah kata.

Sela mendengarnya dari perempuan-perempuan di sumur, yang mendengarnya dari para pengangkut yang mendengarnya dari kota tepi, dan begitu ia mendengar bahwa si nakhoda masih muda dan datang dari arah pesisir selatan, ia tahu, dengan kepastian yang tak bisa ia jelaskan, bahwa itu adalah orang yang sama, orang dari pasar, orang yang menggantungkan sepotong kayu terendam di lehernya, orang yang tak bisa menjawab ketika ia bertanya berapa lama. Dan ia tahu pula, dengan kepastian yang sama, bahwa ia tak datang sejauh ini untuk berdagang.

Ia menemukannya di tempat para tamu rendahan ditempatkan, di tepi kota, di sebuah penginapan yang lebih dekat pada lumbung daripada pada rumah, tempat orang-orang yang lewat tinggal semalam dan pergi tanpa meninggalkan nama.

Ia tampak lebih tua daripada di pasar, walau hanya beberapa minggu telah lewat, bukan tua dalam usia, melainkan tua dalam cara orang menjadi tua ketika ia membawa sesuatu yang terlalu berat untuk dibawa sendiri terlalu lama. Ketika ia melihat Sela datang, ada di wajahnya sesuatu yang aneh: bukan keterkejutan melihat seorang gadis bangsawan datang ke tempat serendah ini, melainkan sesuatu yang lebih dekat pada kelegaan, seolah-olah ia telah menempuh perjalanan panjang ke pedalaman dengan harapan samar bertemu kembali satu orang yang, di seluruh daratan, telah bertanya kepadanya pertanyaan yang benar.

“Kau, ” katanya. “Gadis yang bertanya berapa lama.”

“Kau tidak menjawab waktu itu, ” kata Sela.

“Aku tidak tahu jawabannya waktu itu.” Ia menggeser dirinya di bangku, memberi ruang, sebuah gerak yang di kota tepi adalah keramahan biasa dan di sini, di antara mereka berdua, terasa seperti sesuatu yang lebih, pengakuan bahwa mereka, untuk alasan yang tak satu pun dari mereka pahami, berada di pihak yang sama dalam sesuatu yang belum mereka mengerti. “Sekarang aku tahu lebih banyak. Tidak cukup. Tapi lebih banyak. Dan aku datang sejauh ini, ke tempat yang membuat dadaku sesak karena tak bisa mencium laut, untuk mengatakannya kepada seseorang yang akan mendengar. Aku sudah mencoba mengatakannya di kota-kota tepi. Mereka mendengar seperti orang mendengar cerita. Aku tak butuh pendengar cerita. Aku butuh seseorang yang akan percaya cukup untuk takut.”

Sela duduk. “Katakan, ” ia berkata.

Dan ia mengatakannya, dan dalam pengataannya ada hal yang tak dimiliki tawa Bapa dan tak dimiliki ramalan langit Giri Tua: ada angka, ada ukuran, ada hal-hal yang telah ia lihat dengan matanya sendiri dan diukur dengan tubuhnya sendiri.

“Aku akan ceritakan bukan apa yang kutakutkan, ” katanya, “melainkan apa yang kuukur, sebab ketakutan bisa dibantah dan ukuran tidak. Di kampungku ada sebuah batu. Bukan batu istimewa, sebuah batu besar di tepi air, tempat para perempuan dulu mencuci, tempat anak-anak melompat ke laut di musim panas. Kakekku, ketika ia masih hidup, menandai batu itu. Ia membuat takik di sisinya, setinggi air laut pada hari ia menjadi nakhoda. Itu kebiasaan keluargaku, kebiasaan tua, dan dulu aku pikir itu kebiasaan konyol orang tua yang tak punya kerjaan lebih baik. Tiap nakhoda baru di keluargaku menandai batu itu di ketinggian air pada hari ia mengambil alih perahu.”

Ia mengangkat tangannya, dan dengan jari ia menggambar di udara di antara mereka, garis demi garis, seolah-olah batu itu ada di sana.

“Takik kakek buyutku, paling bawah. Lalu takik kakekku, di atasnya, setinggi dua jari. Lalu takik ayahku, di atasnya lagi, setinggi tiga jari. Lalu takikku sendiri, yang kubuat ketika aku menjadi nakhoda, dan ketika aku mengangkat pahat untuk membuatnya, aku harus berdiri lebih jauh ke darat dari tempat ayahku berdiri, sebab tempat ayahku berdiri kini sudah di dalam air.” Ia menurunkan tangannya. “Empat takik. Empat orang. Empat masa hidup. Dan dari takik paling bawah ke takik paling atas, air telah naik setinggi lutut seorang dewasa. Itu bukan ramalan, gadis. Itu bukan langit. Itu batu, dan pahat, dan empat orang yang telah berdiri di tempat yang sama dan menandai air yang sama, dan air itu telah naik setinggi lutut dalam waktu yang dibutuhkan oleh satu keluarga untuk melahirkan empat nakhoda.”

Sela merasakan dingin yang sama yang ia rasakan di halaman bersama Giri Tua, tapi kini lebih tajam, sebab kini ada bentuknya. “Setinggi lutut, ” ia mengulang. “Dalam empat masa hidup. Tapi, ” ia mencoba memikirkannya, mencoba membuat angka itu menjadi sesuatu yang tidak menakutkan, sebagaimana Awu akan melakukannya, “, setinggi lutut bukan banjir. Setinggi lutut, orang bisa berjalan di dalamnya.”

“Setinggi lutut di batu, ” kata si nakhoda, dan suaranya pelan, hampir lembut, suara orang yang akan mengatakan hal yang ia harap tak perlu ia katakan. “Tapi pikirkan tanahnya, gadis. Tanahmu. Daratanmu yang datar, yang kau banggakan karena ia datar. Di tepi yang curam, air yang naik setinggi lutut hanya menelan selutut tanah. Tapi di tanah yang datar, di tanah yang nyaris rata dengan air sejauh mata memandang, air yang naik setinggi lutut tidak berjalan ke atas. Ia berjalan ke dalam. Ia berjalan ke darat. Sehasta air yang naik di tempat yang datar bisa menelan tanah sejauh kau berjalan dalam sehari. Justru karena daratanmu datar, gadis, justru karena hal yang kau banggakan, ia adalah tanah yang paling mudah ditelan di seluruh dunia. Bukan yang paling aman. Yang paling rapuh.”

Mereka masih duduk dalam diam yang ditinggalkan kata-kata itu ketika Awu datang.

Ia datang sebagaimana Awu selalu datang, dengan langkah orang yang tak pernah ragu ia berhak berada di tempat ia berada, dan ia datang mencari Sela, sebab seorang gadis bangsawan yang menghilang ke tepi kota adalah hal yang menarik perhatian, dan sebab Awu, walau ia tak akan pernah mengakuinya dengan kata-kata, menjaga saudarinya dengan kewaspadaan seseorang yang menjaga satu-satunya hal yang ia miliki yang tak bisa ia ukur nilainya. Ketika ia melihat siapa yang duduk di samping Sela, wajahnya mengeras.

“Orang pasar, ” katanya. “Penjual ketakutan. Kupikir kita sudah selesai denganmu.”

Si nakhoda berdiri, hormat tapi tak gentar. “Aku tidak menjual apa-apa kepada saudarimu, ” katanya. “Aku memberitahunya apa yang kulihat.”

“Dan apa yang kau lihat?”

“Air naik setinggi lutut dalam empat masa hidup. Diukur di batu. Aku bisa membawamu ke batu itu, bila perkataan tak cukup bagimu.”

Awu memandangnya, dan untuk sesaat Sela berharap, berharap dengan harapan yang membuatnya malu, sebab ia mencintai saudarinya dan tak ingin saudarinya keliru, berharap bahwa Awu akan mendengar, bahwa angka dan batu dan pahat akan menembus tempat yang tak bisa ditembus oleh firasat dan langit. Tapi Awu hanya tersenyum, senyum tipis yang Sela kenal, senyum yang berarti perkara sudah ditimbang dan diputuskan.

“Setinggi lutut dalam empat masa hidup, ” kata Awu. “Kau dengar dirimu sendiri? Kau datang sejauh ini, membuat dadamu sesak seperti yang kau bilang, untuk memberitahu kami bahwa air mungkin sampai ke daratan tengah dalam, berapa? Bila selutut butuh empat masa hidup untuk menelan tepimu yang curam, berapa banyak masa hidup yang dibutuhkan air untuk menyeberangi seluruh daratan yang datar ini? Seratus? Seribu? Kau meminta kami menakuti sesuatu yang tak akan dilihat oleh cucu dari cucu dari cucu kami. Bahkan seandainya kau benar, dan aku tak mengatakan kau salah, aku hanya mengatakan tak ada gunanya, bahkan seandainya kau benar, apa yang kau ingin kami lakukan? Meninggalkan daratan kami hari ini, karena air mungkin tiba seribu tahun lagi?”

Dan inilah yang paling buruk, Sela menyadarinya kelak: bahwa Awu tidak salah. Tiap kata yang diucapkannya benar. Air memang akan butuh waktu yang sangat lama. Mereka memang tak akan melihatnya. Meninggalkan rumah hari ini karena air seribu tahun lagi memang akan menjadi kegilaan. Awu benar dalam segala hal yang bisa diukur dengan akal, dan ia keliru hanya dalam satu hal yang tak bisa diukur dengan akal sama sekali: ia mengira bahwa karena bencana itu jauh, ia tak nyata. Ia mengira bahwa sesuatu yang tak akan menyakitimu tak perlu kau percayai. Ia belum tahu, belum, tapi suatu hari akan tahu, dengan cara yang paling pahit, bahwa beberapa hal benar dan jauh dan tak terhindarkan sekaligus, dan bahwa menolak melihatnya tidak memperlambatnya bahkan sehari.

“Ayo, Sela, ” kata Awu, dan ia mengulurkan tangannya, dan dalam suaranya ada kelembutan yang membuatnya lebih sulit dibantah daripada kemarahan. “Tinggalkan orang ini dengan batu-batunya. Hari masih panjang, dan ada hal-hal nyata yang menunggu.”

Sela bangkit, sebab ia selalu mengikuti saudarinya pada akhirnya, sebab itulah bentuk cinta mereka, yang satu memimpin, yang satu mengikuti, dan keduanya menyebutnya kasih sayang dan tak satu pun bertanya apakah ia bisa berbentuk lain.

Tapi di ambang, ia berbalik, sebagaimana ia berbalik di pasar, dan si nakhoda masih berdiri di sana, dan kali ini ia berkata sesuatu yang akan tinggal bersama Sela jauh lebih lama daripada batu mana pun.

“Saudarimu bertanya apa yang kuingin kalian lakukan, ” katanya, pelan, hanya untuk Sela, sebab Awu sudah berjalan di depan. “Ia mengira aku akan menjawab: tinggalkan rumah kalian. Tapi itu bukan jawabanku. Aku tahu kalian tak akan pergi. Tak ada yang pergi karena air seribu tahun lagi; aku pun tak akan. Jawabanku lebih kecil dari itu, dan lebih sulit. Jawabanku adalah: ingatlah. Ingat bahwa air sedang berjalan. Ceritakan kepada anak-anak kalian, dan suruh mereka menceritakan kepada anak-anak mereka, supaya ketika air akhirnya tiba, bukan kepada kalian, bukan kepada cucu kalian, tapi kepada seseorang, suatu hari, yang membawa darah kalian, supaya ketika ia tiba, ada seseorang yang tidak terkejut. Seseorang yang berkata: ya, kami tahu ini akan datang. Nenek moyang kami memberitahu kami. Itu saja yang kuminta. Bukan supaya kalian melarikan diri dari air. Hanya supaya, ketika ia datang, ia tidak menemukan kalian sedang tertawa.”

Sela memandangnya, dan ia merasa, di dalam dirinya, sesuatu yang seperti sebuah tugas diberikan, sebuah beban yang diletakkan ke pundaknya oleh orang asing di tepi kota, dan ia tak tahu bahwa beban itu adalah benih dari beban yang jauh lebih besar, yang akan ia pikul kelak sampai ke dasar laut. Ia hanya tahu bahwa ia akan mengingat. Bahwa di antara seluruh Nagara Rata yang sedang tertawa, ia setidaknya tak akan tertawa. Bahwa bila itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan, mengingat, dan menolak terkejut, maka ia akan melakukannya, walau ia tak mengerti mengapa, walau tak seorang pun memintanya selain seorang nakhoda yang besok akan pergi dan mungkin tak akan pernah ia lihat lagi.

“Aku akan ingat, ” katanya. Dan ia mengikuti saudarinya keluar, kembali ke kota yang yakin, kembali ke daratan yang luas, kembali ke hari yang panjang dan cerah dan penuh hal-hal nyata yang menunggu.

Di belakangnya, di tepi kota, seorang nakhoda muda berdiri sendiri dengan sepotong kayu terendam di lehernya, memandang ke arah yang ia tahu adalah arah laut walau laut terlalu jauh untuk dilihat atau dicium dari sini. Dan jauh di selatan, di tempat yang oleh orang-orang tua disebut tepi, di tempat daratan bertemu kabut yang tak diseberangi siapa pun, air bergerak ke darat dengan gerak yang terlalu pelan untuk dilihat oleh mata mana pun dalam satu masa hidup, selutut dalam empat generasi, sehasta dalam selusin, dan terus, dan terus, dengan kesabaran sesuatu yang telah menunggu sejak sebelum ada nama untuk menamainya, menghitung daratan langkah demi langkah, sebagaimana seseorang menghitung anak tangga menuju sebuah pintu yang ia tahu, dengan kepastian yang tenang, pada akhirnya akan ia capai.


 

BAB LIMA

Sela dan Mata Air

Air tawar dan air asin adalah dua saudara yang lama berpisah. Bila yang asin datang, yang tawar pergi mendahuluinya, sebab saudara mengenali langkah saudara jauh sebelum ia tiba.

yang dibisikkan perempuan-perempuan tua di tepi sumur, asalnya tak diketahui

Lanang tidak pergi keesokan harinya, sebagaimana yang ia katakan akan ia lakukan, dan ia sendiri tak sepenuhnya bisa menjelaskan mengapa.

Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia tinggal karena urusan dagang, bahwa ada kain yang belum terjual, tali yang belum tertukar, kabar yang masih bisa dikumpulkan. Tapi seorang pelaut tahu kapan ia berbohong kepada dirinya sendiri, sebagaimana ia tahu kapan langit berbohong tentang cuaca, dan Lanang tahu bahwa ia tinggal karena di seluruh daratan yang luas dan yakin ini, di antara seluruh orang yang mendengar kata-katanya seperti orang mendengar cerita, ada satu yang mendengarnya seperti orang mendengar kebenaran, dan ia belum siap berlayar menjauh dari satu-satunya orang itu. Maka ia tinggal di tepi kota, di penginapan yang lebih mirip lumbung, dan ia menunggu, tanpa mengakui kepada dirinya sendiri bahwa ia sedang menunggu, hari-hari ketika Sela bisa lepas dari rumah dan datang.

Dan Sela datang. Mula-mula dengan dalih, membawa kain yang katanya hendak ia tukar, menanyakan sesuatu tentang laut yang katanya membuatnya penasaran, lalu, ketika dalih-dalih itu menjadi terlalu tipis untuk ditahan dan keduanya tahu ia terlalu tipis, tanpa dalih sama sekali. Mereka akan duduk di tepi kanal yang membatasi kota dari ladang, di tempat seorang gadis bangsawan dan seorang nakhoda asing bisa duduk tanpa terlalu banyak mata yang bertanya, dan mereka akan bicara. Bukan selalu tentang air. Itulah yang mengejutkan Sela, dan yang perlahan menjadi hal yang paling ia tunggu: bahwa mereka tidak selalu bicara tentang air.

Lanang menceritakan laut kepadanya, bukan laut yang menakutkan, melainkan laut yang ia cintai, sebab seorang pelaut mencintai hal yang sama yang ia takuti, dan barangkali itulah yang membedakannya dari orang daratan, yang hanya tahu mencintai hal-hal yang aman. Ia menceritakan warna air di pagi hari yang berbeda dari warnanya di sore hari. Ia menceritakan pulau-pulau yang muncul dari kabut seperti punggung binatang yang tidur. Ia menceritakan malam-malam di tengah laut ketika tak ada daratan ke segala arah, dan bintang-bintang turun sampai ke garis air, dan seorang manusia merasa dirinya begitu kecil sehingga rasa kecil itu, anehnya, berubah menjadi sesuatu yang dekat dengan kedamaian. Dan Sela mendengarkan, dan ia menyimpan, sebab ia adalah jenis orang yang menyimpan, dan ia menyadari bahwa ia sedang menyimpan hal-hal ini dengan kehati-hatian yang berbeda dari biasanya, bukan seperti orang menyimpan sebuah malam yang indah, melainkan seperti orang menyimpan suara seseorang yang ia tahu, suatu hari, akan pergi.

Mata air itu ada di sebuah cekungan di antara dua ladang keluarga mereka, dan sejauh ingatan siapa pun menjangkau, ia selalu ada di sana.

Itu bukan mata air besar, hanya sebuah tempat di mana air tawar merembes dari tanah, mengisi sebuah kubangan sebesar tampah, lalu mengalir tipis ke kanal terdekat. Tapi ia tua, dan ia setia, dan keluarga-keluarga di sekitarnya telah meminum darinya selama lebih banyak generasi daripada yang bisa mereka hitung. Ada sebuah batu pipih di tepinya, diletakkan oleh entah siapa di masa entah kapan, tempat orang berlutut untuk minum, dan batu itu sudah cekung di tengahnya karena lutut yang tak terhitung jumlahnya.

Sela pergi ke sana pada suatu pagi untuk mengambil air, sebagaimana ia telah pergi ke sana ratusan kali, dan ia menemukan mata air itu kering.

Bukan kering karena kemarau, musim sedang basah, dan tanah di sekitarnya lembap, dan rumput hijau. Hanya mata airnya yang kering, kubangannya kosong dan retak di dasarnya, batu tempat berlutut itu mengering di bawah matahari untuk pertama kalinya dalam hidup siapa pun. Sela berdiri memandangnya cukup lama, dengan perasaan ganjil yang belum bisa ia namai, sebelum ia menyadari bahwa ia mendengar air. Dekat. Air yang mengalir. Ia mengikuti suaranya, menyeberangi cekungan, naik ke sisi lain, dan di sana, beberapa puluh langkah lebih ke utara, lebih ke darat, lebih jauh dari arah laut, ia menemukan air tawar merembes dari tanah di tempat yang kemarin masih kering, mengisi sebuah kubangan baru yang belum punya batu, belum punya nama, belum punya generasi yang meminum darinya.

Mata air itu tidak mengering. Ia pindah. Ia berjalan, dalam satu malam, beberapa puluh langkah menjauh dari laut.

Sela berlutut di tepi kubangan baru itu, dan ia menyentuh airnya, dan ia merasakan, lewat telapak tangannya, sebagaimana ia pernah merasakan sesuatu menjawab ketika ia menekan tanah di atas makam burung, ia merasakan tanah di bawahnya bukan sebagai sesuatu yang diam, melainkan sebagai sesuatu yang sedang bergerak, sangat pelan, sangat dalam, seperti tubuh seseorang yang menggeser dirinya dalam tidur. Dan ia tahu, dengan pengetahuan yang datang dari tempat yang lebih tua daripada pikirannya, mengapa mata air itu pindah. Air tawar di dalam tanah sedang mundur. Sesuatu sedang mendorongnya dari bawah, dari arah laut, sesuatu yang berat dan asin dan sabar, dan air tawar yang lebih ringan sedang melarikan diri ke darat, ke tempat yang lebih tinggi, mendahului saudaranya yang asin sebagaimana orang melarikan diri mendahului sesuatu yang mereka tahu akan datang.

Ia menceritakannya kepada Lanang sore itu, di tepi kanal, dan ia menceritakannya sebelum ia menceritakannya kepada siapa pun di rumahnya, dan ia menyadari makna dari urutan itu hanya setelah ia melakukannya.

Bahwa ada hal-hal yang kini ia bawa lebih dulu kepada orang asing dari pesisir daripada kepada saudarinya sendiri. Bahwa ada sebuah ruang yang tumbuh di antara dirinya dan Lanang yang tak ada di antara dirinya dan siapa pun lain, sebuah ruang tempat hal-hal yang tak bisa dikatakan di tempat lain bisa dikatakan, tempat firasat tidak ditertawakan, tempat air dipercaya. Dan bahwa ruang itu, ia mulai mengerti, adalah jenis ruang yang berbahaya, sebab sekali seseorang menemukan tempat di mana ia bisa berkata jujur, ia tak akan pernah lagi puas dengan tempat-tempat di mana ia harus berbohong.

Lanang mendengarkan kisah mata air itu tanpa menyela, dan ketika Sela selesai, ia diam lama, memandang air kanal yang mengalir di kaki mereka.

“Di kampungku, ” akhirnya ia berkata, “itu sudah lama terjadi. Sumur-sumur yang dulu tawar menjadi payau, lalu asin, lalu kami tinggalkan. Kami pikir itu karena kami terlalu dekat laut. Kami tak pernah berpikir, ” ia berhenti, dan Sela melihat sesuatu bergeser di wajahnya, sebuah pemahaman yang datang terlambat dan karena itu lebih berat, “, kami tak pernah berpikir bahwa hal yang sama bisa terjadi di sini. Di tengah daratan. Sejauh ini dari laut. Bila air asin sudah mendorong air tawar bahkan di tanahmu, Sela, bahkan di sini, maka ia tidak datang lewat permukaan, lewat pantai yang bisa kaulihat bergeser. Ia datang dari bawah. Lewat tanah itu sendiri. Dan tanah tidak punya pantai yang bisa kau jaga. Tanah ada di mana-mana, di bawah segalanya, dan bila air bergerak di dalamnya, ”

Ia tidak menyelesaikannya. Ia tidak perlu. Mereka berdua duduk dengan pengetahuan itu di antara mereka, pengetahuan yang terlalu besar untuk salah satu dari mereka tanggung sendiri dan karena itu mengikat mereka lebih erat, sebagaimana dua orang yang memikul satu beban berat harus berjalan dekat atau menjatuhkannya. Dan Sela menyadari, dengan sebuah perasaan yang separuh ketakutan dan separuh sesuatu yang sama sekali bukan ketakutan, bahwa ia tak ingin berada di tempat lain. Bahwa di antara seluruh dunia yang sedang tertawa, tempat ini, tepi kanal ini, di samping orang ini, dengan beban ini di antara mereka, adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa ia sedang melihat dunia sebagaimana adanya, dan tidak sendirian dalam melihatnya.

Matahari turun sementara mereka duduk, dan tak satu pun dari mereka beranjak, walau Sela tahu ia seharusnya, walau ia tahu rumahnya menunggu dan saudarinya akan bertanya dan hari memiliki bentuk yang seharusnya ia patuhi.

“Kau akan pergi, ” kata Sela. Itu bukan pertanyaan.

“Aku seorang pelaut, ” kata Lanang. “Daratan membuatku sesak. Sudah terlalu lama aku jauh dari air yang bisa kuminum dengan mata, kalau kau mengerti maksudku. Aku tak bisa tinggal.”

“Aku tahu.”

“Tapi, ” ia berkata, dan ia mengatakannya pelan, memandang air dan bukan memandangnya, sebab ada hal-hal yang lebih mudah dikatakan kepada air yang mengalir daripada kepada wajah seseorang, “aku datang sesuai musim. Setiap musim. Selama ini aku berhenti di kota-kota tepi, sebab tak ada alasan masuk lebih jauh. Sekarang, ” ia mengangkat bahu, gerak yang ingin terlihat acuh dan, sebagaimana di pasar dulu, tidak berhasil, “, sekarang barangkali ada alasan masuk lebih jauh. Sebuah mata air yang berpindah perlu ditengok lagi musim depan, untuk melihat seberapa jauh lagi ia berjalan. Itu hal yang masuk akal bagi seseorang yang mengukur air. Bukan begitu?”

Sela memandangnya, orang yang menyembunyikan sebuah janji di balik sebuah alasan tentang mata air, dan ia merasa sesuatu di dadanya yang hangat dan tajam sekaligus, sesuatu yang ia tak punya nama untuknya sebab di hidupnya yang muda ia belum pernah punya alasan untuk menamainya. “Ya, ” katanya, dan suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. “Itu masuk akal. Bagi seseorang yang mengukur air.”

“Maka aku akan kembali, ” kata Lanang, “untuk mengukur air.”

Dan itulah seluruhnya. Tak ada lagi yang dikatakan, sebab tak ada lagi yang perlu dikatakan, dan sebab keduanya masih cukup muda dan cukup berhati-hati untuk membiarkan sebuah hal tetap kecil dan tak bernama sedikit lebih lama, sebagaimana orang membiarkan bara tetap terpendam di bawah abu, tahu bahwa ia ada di sana, tahu bahwa ia bisa dibujuk menjadi nyala kapan pun, dan justru karena itu tak terburu-buru membujuknya. Mereka berpisah ketika langit menjadi tembaga, dan Sela berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan daripada beban yang ia bawa seharusnya membuatnya, dan ia tidak bertanya kepada dirinya sendiri mengapa, sebab ada hal-hal yang seorang gadis pilih untuk tidak tanyakan, supaya jawabannya tidak datang terlalu cepat dan membuat segalanya menjadi nyata sebelum ia siap.

Malam itu, di rumah, Sela mencoba menceritakan tentang mata air kepada Awu, sebab ia merasa ia harus, sebab ia tahu apa artinya dan ia tak bisa menyimpannya sendiri walau ia tahu bagaimana ia akan disambut.

“Mata air pindah sepanjang waktu, ” kata Awu, tanpa mengangkat wajah dari tali hitung yang sedang ia kerjakan, urusan ladang utara yang nyata dan bisa diukur. “Tanah bergeser. Air mencari jalan baru. Kakek pernah cerita mata air di ladang barat pindah dua kali dalam hidupnya. Itu bukan pertanda apa-apa, Sela. Itu hanya tanah menjadi tanah.”

“Ia pindah menjauh dari laut, ” kata Sela. “Ke arah darat. Selalu ke arah darat.”

Awu berhenti, sesaat. Hanya sesaat. Dan Sela melihat, ia yakin ia melihatnya, walau ia tak akan pernah bisa membuktikannya, ia melihat sesuatu melintas di mata saudarinya, sebuah perhitungan cepat, sebuah pintu yang terbuka sedikit lalu, dengan sengaja, ditutup kembali. Sebab Awu cerdas, lebih cerdas dari Bapa, lebih cerdas dari siapa pun di daratan, dan kecerdasan itu telah mendengar apa yang dikatakan saudarinya dan memahaminya sepenuhnya dalam sekejap, air tawar mundur dari air asin, di dalam tanah, bahkan di sini, dan justru karena ia memahaminya sepenuhnya, ia memilih untuk tidak memahaminya. Sebab beberapa kebenaran terlalu besar untuk diundang masuk tanpa membongkar seluruh rumah, dan Awu belum siap membongkar rumahnya, belum, tidak hari ini, mungkin tidak selama bertahun-tahun, sampai air itu sendiri yang membongkarnya untuknya.

“Tanah menjadi tanah, ” Awu mengulang, dan ia kembali ke tali hitungnya, dan perkara itu, baginya, selesai.

Sela tidak memaksa. Ia sudah belajar bahwa memaksa tak ada gunanya, bahwa Awu tak bisa dibawa ke sebuah tempat yang ia putuskan untuk tidak datangi. Ia hanya pergi tidur, dan ia berbaring lama dalam gelap mendengarkan rumah, bara yang berdesis di perapian, napas Bapa di ruang sebelah, suara malam yang biasa dan aman dan dicintai, dan ia memikirkan mata air yang berjalan menjauh dari laut, dan ia memikirkan Lanang yang akan kembali musim depan untuk mengukur air, dan ia memikirkan, untuk pertama kalinya dengan kata-kata yang hampir jelas, bahwa ia hidup di dua dunia sekaligus: dunia siang, tempat segala sesuatu aman dan tanah hanya menjadi tanah, dan dunia lain, lebih dalam, tempat air bergerak di bawah segalanya dan tak ada yang mendengarnya kecuali dia, dan kini, satu orang lagi.

Dan jauh di bawah rumah, jauh di bawah daratan yang tidur, di tempat yang tak bisa dilihat siapa pun dan dirasakan hanya oleh satu gadis yang menekan telapak tangannya ke tanah, air tawar terus mundur dan air asin terus maju, dua saudara yang lama berpisah, yang satu melarikan diri dan yang satu mengejar, sepanjang malam, sepanjang tahun, sepanjang generasi yang belum lahir, dan di antara mereka, di lapisan tempat yang tawar bertemu yang asin, tanah Nagara Rata terendam diam-diam dari dalam, jauh sebelum setetes pun air laut terlihat di permukaannya, sebagaimana sebuah kabar buruk telah menjadi benar jauh sebelum ia sampai ke telinga yang harus mendengarnya.


 

BAB ENAM

Giri Tua Membaca Bintang

Daging melupakan dalam satu malam. Kepala melupakan dalam satu hidup. Batu melupakan dalam seribu hidup. Maka kami menulis di batu hal-hal yang tak boleh dilupakan sebelum seribu hidup berlalu, dan kami berdoa agar seribu hidup cukup.

hukum para penjaga batu Nagara Giri

Orang tua dari Giri itu seharusnya sudah pergi, sebagaimana ia selalu pergi setelah jamuan dan pertukaran selesai, tapi musim ini ia tinggal lebih lama, dan tak seorang pun bertanya mengapa, sebab seseorang tak bertanya kepada yang sangat tua mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan.

Sela mencarinya pada malam terakhir sebelum ia berangkat. Ia tahu itu malam terakhir sebab orang tua itu telah mengikat kembali bungkusannya dan memeriksa tongkatnya, gerak-gerik seseorang yang akan berjalan jauh di pagi hari, dan Sela telah belajar membaca gerak-gerik perpisahan, belajar membacanya, barangkali, dari menunggu satu perpisahan lain yang belum tiba, perpisahan dari seorang nakhoda yang akan kembali musim depan untuk mengukur air. Ia menemukan orang tua Giri itu di tempat yang sama dengan malam jamuan: di halaman, memandang langit, sebab itulah yang dilakukan orang yang seluruh hidupnya adalah memandang langit. Ia tak terkejut melihat Sela datang. Ia bahkan, Sela merasa, telah menunggunya.

“Kau kembali, ” katanya. “Aku menduga kau akan kembali. Yang membawa beban selalu mencari orang lain yang membawanya, sebagaimana orang kedinginan mencari api. Duduklah. Langit malam ini jernih. Ini malam yang baik untuk diajari sesuatu yang akan membuatmu lebih sulit tidur seumur hidupmu.”

Sela duduk. “Kau mengatakan, di jamuan, bahwa langit malam itu pernah kau lihat dalam catatan. Bahwa terakhir kali ia berdiri seperti itu, daratan menjadi lebih kecil.”

“Aku mengatakannya, dan ayahmu menertawakannya, dan ia benar untuk menertawakannya, dengan caranya sendiri yang keliru.” Orang tua itu menepuk tanah di sampingnya. “Tapi kau tidak datang untuk mendengar apa yang sudah kukatakan. Kau datang untuk mendengar apa yang tidak kukatakan di hadapan ayahmu. Maka dengarlah. Tapi pertama, lihat ke atas. Aku tak bisa mengajarimu membaca langit dalam satu malam, itu butuh seumur hidup, dan kau punya pekerjaan lain. Tapi aku bisa menunjukkan satu hal kepadamu, satu, dan setelah kau melihatnya kau tak akan bisa berhenti melihatnya.”

Ia mengangkat tongkatnya dan menunjuk ke langit, ke sebuah titik di mana, bagi Sela, tak ada apa-apa kecuali bintang-bintang yang sama dengan bintang-bintang lain.

“Orang daratan memandang langit dan melihat hiasan, ” katanya. “Titik-titik terang yang indah dan tak berarti. Tapi langit bukan hiasan. Langit adalah jam yang terlalu besar dan terlalu lambat untuk dibaca oleh satu manusia, dan itulah sebabnya kami menulisnya di batu, supaya banyak manusia, berturut-turut, sepanjang banyak hidup, bisa membaca satu putaran jam itu yang tak bisa diselesaikan oleh satu pun dari mereka. Lihat di sana. Bintang-bintang itu, yang membentuk seperti seekor burung yang membentangkan sayap. Tahun ini ia terbit tepat ketika padi serendah lutut. Kakekku mencatat bahwa di masa kakeknya, ia terbit ketika padi setinggi pinggang. Ia bergeser, anak. Sangat pelan. Seukuran selebar jari dalam satu hidup manusia. Tapi ia bergeser, dan ia bergeser dalam lingkaran, dan lingkaran itu, ” ia menggambar dengan tongkatnya sebuah busur lebar di udara, “, lingkaran itu begitu besar sehingga dibutuhkan lebih banyak hidup manusia untuk menyelesaikannya daripada jumlah orang yang pernah tinggal di seluruh Nagara Rata.”

Sela memandang burung bintang itu, dan untuk pertama kalinya ia tidak melihatnya sebagai hiasan. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang bergerak, sangat pelan, terlalu pelan untuk dilihat, sebagaimana mata air bergerak, sebagaimana air di dalam tanah bergerak, sebagaimana garis pantai bergerak di batu Lanang, dan ia merasakan, dengan rasa pusing yang hampir seperti jatuh, betapa banyak hal di dunia yang bergerak terlalu pelan untuk dilihat, dan betapa seseorang bisa hidup seluruh hidupnya mengira dunia diam hanya karena ia sendiri terlalu cepat berlalu untuk melihatnya bergerak.

“Kau merasakannya, ” kata orang tua itu, mengamati wajahnya. “Bagus. Itu rasa pusing yang benar. Itu adalah rasa seorang manusia yang, untuk pertama kalinya, melihat dirinya sendiri sebagaimana adanya: sesuatu yang sangat kecil dan sangat cepat, hidup dan mati dalam sekejap di hadapan jam yang begitu lambat sehingga, baginya, ia tampak seperti diam. Daratan tampak abadi bagi ayahmu, anak, hanya karena ayahmu tidak hidup cukup lama untuk melihatnya bergerak. Tapi ia bergerak. Segalanya bergerak. Dan langit, langit adalah satu-satunya benda yang kami punya yang cukup besar untuk menunjukkan kepada kami seberapa banyak hal yang bergerak tanpa kami lihat.”

“Sekarang, ” kata orang tua itu, dan suaranya berubah, menjadi lebih pelan dan lebih hati-hati, suara seseorang yang akan membuka sebuah pintu yang jarang dibuka, “aku akan mengatakan kepadamu hal yang tidak kukatakan di hadapan ayahmu. Bukan karena ia rahasia. Karena ia tak ada gunanya dikatakan kepada orang yang tak akan percaya, dan ada gunanya, mungkin, dikatakan kepada satu orang yang akan.”

Ia menurunkan tongkatnya.

“Catatan kami panjang, kubilang. Lebih panjang dari yang bisa kalian bayangkan. Begitu panjang sehingga sebagian dari batu kami sudah tak bisa lagi kami baca, pahatan dari tangan yang begitu tua sehingga lidah yang mereka tulis sudah mati, dan kami menjaga batu-batu itu tanpa tahu apa yang mereka katakan, sebagaimana kau menjaga kata-kata yang kau bisikkan kepada lembu tanpa tahu artinya.” Sela tersentak, ia tak pernah menceritakan kepada siapa pun tentang kata-kata itu, tapi orang tua itu melanjutkan tanpa berhenti, seolah-olah ia tak menyadari apa yang baru saja ia ungkap, atau seolah-olah ia menyadarinya sepenuhnya dan memilih untuk membiarkannya lewat. “Tapi sebagian masih bisa kami baca. Dan di antara yang masih bisa kami baca, ada satu catatan yang lebih tua dari yang lain, yang diturunkan dengan peringatan bahwa ia tak boleh hilang. Catatan itu berbicara tentang sebuah air yang besar. Bukan banjir sungai. Bukan hujan. Sebuah air yang datang dari laut dan tidak surut. Yang datang begitu pelan sehingga tujuh generasi hidup dan mati sementara ia datang, sehingga tak ada satu pun manusia yang melihat awalnya dan akhirnya, sehingga bagi siapa pun yang hidup di tengahnya, ia tampak bukan seperti bencana melainkan seperti, dunia. Hanya dunia. Air memang di sana. Air selalu sedikit lebih tinggi daripada di masa kakek. Itu hanya bagaimana dunia adanya.”

“Dan catatan itu, ” kata Sela, dan suaranya hampir tak terdengar, “mengiringi susunan bintang yang sama dengan malam ini.”

“Susunan yang sama. Burung yang sama membentangkan sayap, di ketinggian yang sama di atas padi yang sama tingginya.” Orang tua itu memandangnya. “Yang berarti, anak, bahwa apa yang terjadi sebelumnya, sebelum Nagara Rata, sebelum nama kami, sebelum apa pun yang kami ingat selain lewat batu yang tak bisa kami baca lagi, sedang mulai terjadi lagi. Bukan untuk pertama kali. Itulah yang tak akan dimengerti ayahmu, dan tak perlu ia mengerti. Daratan ini, yang ia kira abadi, yang ia kira latar tempat sejarah terjadi, daratan ini sendiri adalah sesuatu yang terjadi. Ia muncul ketika air yang sebelumnya surut, dan ia akan hilang ketika air yang ini naik, dan suatu hari, jauh setelah kita semua menjadi tanah dan tanah itu sendiri menjadi dasar laut, air akan surut lagi, dan daratan baru akan muncul, dan orang-orang baru akan berdiri di atasnya dan menyebutnya abadi.”

Sela duduk dengan kata-kata itu untuk waktu yang lama, dan langit berputar di atasnya dengan kelambatan yang kini ia rasakan, untuk pertama kalinya, sebagai gerak dan bukan sebagai diam.

“Kalau begitu, ” akhirnya ia berkata, “tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya apa pun. Bila daratan datang dan pergi seperti musim, bila segalanya yang kita bangun akan menjadi dasar laut, bila bahkan ingatan kita, bahkan batu kalian, pada akhirnya menjadi terlalu tua untuk dibaca, maka mengapa mengingat sama sekali? Mengapa tidak melupakan seperti yang dilakukan ayahku, dan hidup bahagia dalam waktu yang singkat yang kita punya, dan membiarkan air mengambil semuanya sebab ia akan mengambil semuanya pada akhirnya?”

Ia mengatakannya dengan kepahitan, dan ia berharap, ia menyadari, agar orang tua itu membantahnya, agar ia memberinya alasan, agar ada jawaban. Tapi orang tua dari Giri itu tidak segera menjawab. Ia memandang langit, dan ia membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara malam selama waktu yang cukup lama sehingga Sela mulai takut tak akan ada jawaban sama sekali.

“Aku tidak tahu apakah ada gunanya, ” akhirnya orang tua itu berkata, dan kejujuran itu lebih menakutkan daripada kepastian mana pun. “Aku sudah sangat tua, dan aku belum tahu. Tapi aku akan mengatakan kepadamu apa yang kupercaya, bukan apa yang kutahu, sebab di usiaku perbedaan keduanya sudah tak sebesar dulu.” Ia menoleh kepadanya. “Aku percaya bahwa antara sebuah dunia yang ada dan diingat, dan sebuah dunia yang ada dan dilupakan, ada perbedaan, walau aku tak bisa membuktikannya, walau air tak peduli pada perbedaan itu sama sekali. Burung yang kau kubur. Kau menceritakannya kepadaku malam jamuan. Kau berkata: bila tak ada yang mengingat ia pernah ada, maka seolah-olah ia tak pernah ada. Aku percaya kau benar. Aku percaya bahwa mengingat adalah satu-satunya hal yang dimiliki makhluk fana yang bisa melawan air, bukan menghentikannya, tak ada yang bisa menghentikannya, melainkan melawannya, menolaknya, berkata kepadanya: kau boleh mengambil daratan ini, tapi kau tak akan membuatnya seolah-olah ia tak pernah ada, sebab aku ada di sini, dan aku ingat, dan selama aku ingat, ia ada.”

“Tapi aku akan mati, ” kata Sela. “Dan ingatanku akan mati bersamaku.”

“Maka kau wariskan, ” kata orang tua itu, sederhana, seolah-olah ini adalah hal yang paling jelas di dunia. “Sebagaimana kami mewariskan batu kami. Sebagaimana ayahmu mewariskan ladangnya tanpa berpikir bahwa itu juga adalah cara mengingat. Kau wariskan ingatan itu kepada anak-anakmu, dan kau suruh mereka mewariskannya, dan dengan begitu sebuah ingatan bisa berjalan lebih jauh daripada satu hidup, bisa menyeberangi tujuh generasi sebagaimana air menyeberangi tujuh generasi, bisa, bila ia cukup kuat, bila ia diwariskan dengan cukup setia, bertahan bahkan sampai daratan itu sendiri hilang, sehingga di suatu masa yang jauh, seseorang yang tak pernah melihat daratan ini akan tetap mengetahuinya, akan tetap mengingatnya, akan berdiri di atas laut yang menutupinya dan berkata: di sini, di bawah air ini, dulu ada sebuah dunia, dan aku tahu namanya.”

Orang tua dari Giri itu pergi keesokan paginya, sebelum matahari penuh, sebagaimana orang tua pergi: tanpa banyak kata, dengan tongkat dan bungkusan, menjadi semakin kecil di sepanjang tanggul yang lurus sampai daratan yang datar menelannya ke dalam jaraknya sendiri.

Sebelum ia pergi, di ambang halaman, ia berhenti di hadapan Sela sekali lagi, dan ia menatapnya dengan mata yang terbiasa memandang jauh, dan untuk sesaat Sela merasa ia sedang dipandang bukan sebagai seorang gadis melainkan sebagai sebuah catatan, sebuah batu, sesuatu yang sedang dinilai apakah ia akan cukup setia menjaga apa yang dituliskan padanya.

“Kau akan diberi banyak hal untuk dilupakan, dalam hidupmu, ” katanya. “Dunia akan menawarimu kelupaan seperti orang menawarkan air kepada yang kehausan, dan kau akan tergoda, sebab kelupaan itu manis dan mengingat itu pahit. Tapi kau adalah jenis yang tak bisa lupa, anak, aku melihatnya pada malam pertama, ketika kau tidak ikut tertawa, dan maka jangan buang dirimu mencoba menjadi jenis yang lain. Ada sedikit dari kita di tiap zaman. Sangat sedikit. Dan kami tidak ada untuk hidup bahagia. Kami ada supaya, ketika air datang, ada seseorang yang ingat apa yang ditelannya.” Ia mengangkat tangannya, sentuhan ringan di kepala Sela, berkat atau beban, atau keduanya, yang di Nagara Giri barangkali tak dibedakan. “Wariskan, anak. Apa pun yang kau lakukan dalam hidupmu, wariskan. Itu satu-satunya hal yang kuminta darimu, dan aku tak akan hidup untuk tahu apakah kau melakukannya.”

Lalu ia pergi, dan Sela berdiri di halaman memandangnya mengecil, dan ia tidak tahu, bagaimana ia bisa tahu?, bahwa ia baru saja diberi, oleh dua orang asing dalam satu musim, satu sumpah dalam dua bagian. Lanang telah berkata: ingatlah, supaya ketika air datang ia tidak menemukan kalian tertawa. Orang tua Giri telah berkata: wariskan, supaya ingatan itu menyeberangi generasi sampai ke seseorang yang akan berdiri di atas laut dan tahu namanya. Ingat, dan wariskan. Dua bagian dari satu hal. Dan suatu hari, jauh, di air sebatas dada, di tanah yang sudah tenggelam, Sela akan menyatukan dua bagian itu menjadi satu sumpah, dan menelan tujuh kerikil supaya sumpah itu punya tubuh, dan tak satu pun dari dua orang asing yang memberinya bagian-bagian itu akan hidup untuk mengetahui apa yang mereka mulai.

Tapi itu nanti. Hari ini, Sela hanya seorang gadis di sebuah halaman, memegang sebuah beban yang baru, dan di sekelilingnya Nagara Rata bangun untuk hari yang lain, bara dibujuk menjadi api, lembu dituntun ke ladang, kanal-kanal membawa air ke mana ia disuruh, seluruh peradaban yang luas dan yakin meneruskan dirinya sebagaimana ia selalu meneruskan dirinya, dengan menjaga yang lama agar tak padam, tanpa pernah membayangkan bahwa ia sendiri, seluruhnya, adalah yang lama, dan bahwa sesuatu di bawahnya sudah mulai memutuskan untuk membiarkannya padam. Dan jauh di selatan, di tepi, air yang besar, yang pernah datang, yang selalu datang, yang sedang datang lagi, bergerak ke darat selebar jari dalam satu hidup, seukuran burung bintang yang bergeser di langit, terlalu pelan untuk ditakuti, terlalu pasti untuk dihindari, menghitung tujuh generasi menuju sebuah hari yang sudah ditulis, sangat lama yang lalu, di sebuah batu yang tak seorang pun lagi bisa membacanya.


 

BAGIAN III

Empu dan Ambisi


 

BAB TUJUH

Empu Wani

Segala sesuatu lapuk karena ia mengandung waktu di dalam dirinya, sebagaimana buah mengandung biji. Buang waktunya, dan kau membuang kelapukannya. Inilah seluruh ilmuku, dan inilah seluruh dosaku.

Empu Wani, dari kata-kata yang hanya didengar oleh satu murid

Di Nagara Rata ada banyak empu, sebab sebuah peradaban yang dibangun di atas ukur-mengukur menghormati orang-orang yang membuat dan memperbaiki: empu kanal yang tahu bagaimana memiringkan tanah supaya air mengalir tanpa dipaksa, empu lumbung yang tahu bagaimana menyimpan padi supaya ia tak membusuk dalam setahun, empu tali yang menyimpan angka dalam simpul. Tapi Empu Wani bukan empu dari jenis itu, dan inilah hal pertama yang membuat Awu tertarik kepadanya, sebab Awu juga, dengan caranya sendiri, bukan dari jenis yang biasa.

Empu Wani tidak membuat apa pun yang berguna. Itulah yang dikatakan orang tentang dia, separuh dengan hormat dan separuh dengan curiga, sebab di Nagara Rata kegunaan adalah ukuran dari hampir segala hal, dan seorang empu yang tidak membuat apa pun yang berguna adalah teka-teki yang membuat orang tidak nyaman. Ia tinggal di tepi kota, di sebuah rumah yang terlalu besar untuk seseorang yang tinggal sendiri, dan ia menghabiskan hari-harinya dengan, orang tak yakin dengan apa. Mengamati. Mencoba. Merusak benda untuk melihat bagaimana ia rusak, lalu mencoba membuatnya tidak rusak. Ada yang berkata ia setengah gila. Ada yang berkata ia adalah orang paling cerdas di daratan. Bapa Rata, yang telah lama berhenti membuat penilaian yang tergesa tentang siapa pun, berkata bahwa keduanya seringkali adalah hal yang sama, dan bahwa sebuah peradaban yang sehat menyediakan ruang, di tepinya, untuk satu atau dua orang seperti itu, tidak terlalu dekat dengan pusat, supaya mereka tak mengganggu, tapi tidak diusir pula, sebab tak ada yang tahu kapan teka-teki mereka akan ternyata berguna.

Awu mulai mengunjunginya bukan karena disuruh, melainkan karena ditarik, ditarik oleh hal yang sama yang membuat seseorang menekan luka untuk merasakan sakitnya, ditarik oleh sesuatu di dalam dirinya yang belum punya nama tapi sudah punya bentuk: sebuah ketidakpuasan, sebuah penolakan, sebuah rasa bahwa dunia sebagaimana adanya, dengan segala keteraturannya yang ia cintai, mengandung satu cacat di jantungnya yang tak bisa ia terima. Dan cacat itu, ia mulai menyadari, adalah cacat yang sama yang dilihat saudarinya pada seekor burung mati. Hanya saja Sela melihat cacat itu dan memutuskan untuk mencintai dunia justru karena ia cacat. Awu melihat cacat itu dan ingin memperbaikinya.

Rumah Empu Wani di dalam tidak seperti rumah. Ia lebih seperti isi kepala seseorang yang ditumpahkan ke dalam ruang: rak-rak penuh benda yang tak punya hubungan satu sama lain kecuali hubungan yang ada di pikiran si empu.

Di satu rak ada potongan-potongan kayu dalam berbagai tahap pembusukan, diberi tanda dengan cara yang hanya dimengerti Wani, disusun, Awu perlahan memahaminya, bukan menurut jenis kayu melainkan menurut seberapa jauh waktu telah memakan mereka. Di rak lain ada buah-buahan, sebagian segar, sebagian mengering, sebagian membusuk, dan satu, Awu memandangnya cukup lama untuk yakin, satu buah yang seharusnya sudah lama membusuk tapi tidak, yang duduk di antara saudara-saudaranya yang membusuk dengan keutuhan yang ganjil dan, entah bagaimana, mengganggu, seperti orang yang tidak menua di antara orang-orang yang menua.

“Kau memandang buah itu, ” kata Empu Wani, tanpa menoleh dari pekerjaannya. Ia seorang lelaki kurus dengan tangan yang terlalu halus untuk seorang empu, tangan yang tak pernah mengangkat beban, hanya menyentuh dan menimbang dan mencoba. “Semua orang memandang buah itu. Ia satu-satunya benda di ruangan ini yang membuat orang tidak nyaman, dan mereka tak selalu tahu mengapa.”

“Mengapa ia tidak membusuk?” tanya Awu.

“Pertanyaan yang salah.” Wani akhirnya menoleh, dan matanya, Awu memperhatikan, memiliki kualitas yang sama dengan mata Giri Tua, mata orang yang terbiasa memandang sesuatu yang tak dilihat orang lain, tapi di mana mata Giri Tua memandang jauh, ke atas, ke hal-hal yang besar dan lambat, mata Wani memandang dekat, ke dalam, ke jantung benda-benda kecil. “Pertanyaan yang benar adalah: mengapa yang lain membusuk? Apa yang ada di dalam sebuah buah yang membuatnya membusuk, yang tidak ada, atau yang telah kuambil, dari buah ini?”

Awu tidak menjawab, sebab ia tahu ia tak tahu, dan ia sudah belajar dari mengamati Bapa bahwa orang yang berkuasa tidak berpura-pura tahu apa yang tak ia ketahui.

“Waktu, ” kata Empu Wani. “Itu jawabannya, walau jawaban itu hampir tak berarti apa-apa sampai kau memahaminya. Segala sesuatu yang hidup, dan banyak yang tak hidup, mengandung waktu di dalam dirinya. Bukan waktu yang di luar, bukan matahari yang terbit dan tenggelam, melainkan waktu yang di dalam, sebuah arah, sebuah dorongan, sebuah kehendak benda untuk bergerak dari utuh menuju hancur, dari segar menuju busuk, dari muda menuju tua menuju tiada. Itulah yang kupelajari, anak. Bukan bagaimana menghentikan waktu di luar, tak seorang pun bisa, bahkan langit bergerak, orang tua dari perbukitan itu akan mengatakannya kepadamu. Melainkan bagaimana mengambil waktu dari dalam sebuah benda. Dan sebuah benda yang tak lagi mengandung waktu, ” ia menunjuk buah yang utuh itu, “, tidak membusuk. Ia tidak menjadi tua. Ia hanya, selamanya, adalah dirinya yang sekarang.”

Awu mengambil buah yang utuh itu, dengan izin yang diberikan lewat anggukan, dan ia memegangnya, dan ia merasakan sesuatu yang membuat tangannya hampir melepaskannya.

Buah itu salah. Ia tak tahu bagaimana lagi menamainya. Ia tampak seperti buah, ia berbentuk seperti buah, kulitnya berwarna seperti buah yang sehat, tapi memegangnya terasa seperti memegang gambar sebuah buah, bukan buah itu sendiri. Ia terlalu ringan. Tidak, bukan terlalu ringan, ia terlalu diam. Ada, dalam sebuah buah yang sungguh-sungguh buah, sebuah kehidupan yang kecil dan tak terlihat, sebuah proses, sesuatu yang sedang terjadi di dalamnya bahkan ketika ia terbaring diam di tangan. Buah ini tidak punya itu. Tidak ada yang terjadi di dalamnya. Ia telah berhenti, berhenti dengan sempurna, berhenti selamanya, pada satu titik dan akan tinggal di titik itu sampai akhir dunia, tidak membusuk, tidak matang, tidak berubah, tidak hidup.

“Ia indah, ” kata Awu, perlahan, “dan ia mengerikan.”

“Ya.” Empu Wani mengamatinya dengan sesuatu yang hampir seperti kasih sayang, kasih sayang seorang guru yang melihat murid mencapai, sendiri, kesimpulan yang ia harapkan. “Itulah persisnya. Indah dan mengerikan, dan keduanya karena alasan yang sama. Ia indah karena ia tak akan pernah hilang. Ia mengerikan karena, ” ia berhenti, membiarkan Awu menyelesaikannya.

“Karena ia tak lagi hidup, ” kata Awu. “Ia membayar ketidakhilangannya dengan kehidupannya.”

“Sebagian orang akan mengatakannya begitu.” Wani mengambil kembali buah itu, mengembalikannya ke tempatnya di antara saudara-saudaranya yang membusuk dengan sehat. “Sebagian orang akan mengatakan bahwa membusuk adalah harga dari hidup, dan bahwa sebuah buah yang tak bisa membusuk telah membayar harga yang terlalu mahal, telah, dengan kata lain, mati, hanya saja menolak untuk membaringkan diri sebagaimana yang mati seharusnya. Saudarimu, kudengar, akan mengatakannya begitu.”

Awu menegang. “Kau tahu tentang saudariku?”

“Aku tahu tentang banyak hal, anak. Tepi kota adalah tempat yang baik untuk mendengar, justru karena ia di tepi. Aku tahu bahwa saudarimu mengubur seekor burung dan berbisik kepadanya. Aku tahu bahwa ia duduk di tepi kanal dengan seorang nakhoda yang mengukur air. Aku tahu bahwa ia adalah jenis orang yang melihat sesuatu yang hilang dan memutuskan untuk mengingatnya. Itu adalah satu jawaban atas cacat di jantung dunia, jawaban yang lembut, dan menyedihkan, dan tak berdaya. Mengingat sesuatu tidak membuatnya tidak hilang. Ia hanya membuatmu, yang mengingat, terus terluka oleh kehilangan yang sudah lewat.” Ia menoleh kepada Awu, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang tajam di matanya, sesuatu yang mengundang. “Tapi kau, kurasa, bukan jenis yang puas dengan mengingat. Kau bukan jenis yang menerima cacat dan mencoba mencintainya. Kau adalah jenis yang melihat cacat dan bertanya: bagaimana cara membuangnya?”

Dan di sanalah, di ruangan yang penuh benda-benda yang membusuk dan satu benda yang menolak membusuk, godaan itu untuk pertama kalinya mengambil bentuk yang jelas, walau tak satu pun dari mereka cukup berani, hari itu, untuk menamainya sampai ke ujungnya.

“Kau bicara tentang buah, ” kata Awu, dan ia mendengar suaranya sendiri menjadi hati-hati, cara suara menjadi hati-hati ketika seseorang berjalan menuju tepi sesuatu. “Tentang kayu. Tentang benda.”

“Aku bicara tentang waktu, ” kata Empu Wani. “Dan waktu tidak peduli pada perbedaan antara sebuah buah dan, sesuatu yang lebih dari buah. Waktu ada di dalam segala sesuatu yang sama. Di dalam kayu. Di dalam buah. Di dalam lembu. Di dalam, ” ia membiarkannya menggantung.

“Di dalam manusia, ” kata Awu.

“Apakah aku mengatakan itu?” Empu Wani tersenyum, senyum yang tak menjawab. “Aku seorang tua yang bermain dengan buah, anak. Aku tak akan pernah cukup berani mengatakan hal sebesar itu. Aku hanya mengatakan: waktu ada di dalam segala sesuatu yang sama. Apa yang bisa diambil dari satu, secara prinsip, bisa diambil dari yang lain. Aku tidak mengatakan bahwa aku bisa melakukannya. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang harus. Aku hanya mengatakan bahwa prinsipnya tidak membedakan. Dan aku membiarkanmu, yang punya mata empu dan hati raja, ya, aku mendengar apa yang dikatakan para tetua tentangmu, aku membiarkanmu memikirkan sendiri apa artinya itu.”

Awu memikirkannya. Ia memikirkannya berdiri di sana, di ruangan itu, dan ia memikirkannya dalam perjalanan pulang, dan ia memikirkannya pada malam-malam berikutnya ketika ia seharusnya tidur. Sebuah manusia yang waktunya telah diambil. Sebuah manusia yang tidak menua, tidak membusuk, tidak hilang. Sebuah manusia yang, seperti buah itu, akan tinggal selamanya pada satu titik, bukan mati, sebab mati adalah membaringkan diri dan berhenti, melainkan sesuatu yang lain, sesuatu yang belum punya nama, sebuah keutuhan tanpa akhir. Dan ia memikirkan, dengan rasa dingin dan rasa lapar yang bercampur menjadi sesuatu yang tak bisa ia pisahkan lagi: bukan hanya satu manusia. Sebuah keluarga. Sebuah kota. Sebuah daratan. Sebuah seluruh dunia yang waktunya telah diambil, yang tak bisa lagi diambil oleh air, sebab apa yang air ambil adalah apa yang berakhir, dan apa yang tak mengandung waktu tak pernah berakhir.

Sela, ia menyadari, telah menemukan cara untuk hidup berdamai dengan kehilangan: mengingat. Tapi ia, Awu, sedang menemukan sesuatu yang lebih besar, lebih berani, lebih sepadan dengan ketidakpuasan di jantungnya. Bukan cara untuk hidup berdamai dengan kehilangan. Cara untuk mengakhiri kehilangan. Cara untuk membuat kata itu, hilang, tidak lagi punya arti.

Ia pulang larut, dan ia berjalan menyusuri kanal yang sama yang dilewati saudarinya bersama nakhoda yang mengukur air, dan ia memandang air yang gelap dan tenang dan ia tidak merasakan apa yang dirasakan Sela ketika memandangnya.

Sela memandang air dan mendengar sesuatu yang menunggu, sesuatu yang sabar, sesuatu yang akan datang. Awu memandang air dan, untuk pertama kalinya, tidak merasa takut padanya, merasa, sebaliknya, sebuah tantangan, sebuah lawan yang sepadan, sesuatu yang besar dan kuno dan tak terhindarkan yang, mungkin, untuk pertama kalinya dalam seluruh sejarah dunia, akan bertemu dengan sesuatu yang menolak untuk ditelannya. Di mana Sela tunduk pada kebenaran bahwa segala sesuatu berakhir dan mencari cara untuk menanggungnya dengan anggun, Awu menolak kebenaran itu sepenuhnya, dengan seluruh kekuatan dari mata empu dan hati raja, dan mulai mencari cara untuk membuatnya menjadi tidak benar.

Itulah malam ketika dua jalan, yang selama ini hanya condong ke arah yang berbeda, mulai benar-benar berpisah. Tak ada pertengkaran malam itu. Tak ada perpisahan. Kedua saudari itu tidur di bawah atap yang sama, dekat perapian yang sama, di rumah yang sama yang menjaga baranya agar tak padam. Tapi di dalam diri mereka, dalam ruang yang tak terlihat tempat seseorang memutuskan apa yang ia percayai tentang akhir dari segala sesuatu, mereka kini berdiri di dua daratan yang berbeda, dan di antara dua daratan itu, perlahan, tak terlihat, sebuah laut sudah mulai naik.

Sela, yang malam itu berbaring memikirkan seorang nakhoda dan sebuah sumpah dalam dua bagian, akan memilih untuk mengingat, dan untuk mewariskan, dan untuk tetap menjadi makhluk fana yang terluka oleh kehilangan sampai ke dasar laut tempat ia akhirnya akan menelan tujuh kerikil. Awu, yang malam itu berbaring memikirkan sebuah buah yang menolak membusuk, akan memilih untuk membuang waktu dari dalam dirinya, dan dari dalam istananya, dan untuk menjadi sesuatu yang tak punya nama, sesuatu yang utuh dan dingin dan abadi, yang akan duduk di dasar laut yang sama selama sepuluh ribu tahun, tidak membusuk, tidak menua, tidak hilang, dan, ia belum tahu ini, ia tak akan tahu sampai terlambat, tidak hidup.

Tapi itu nanti. Hari ini keduanya tidur, dan rumah hangat, dan di luar, di sepanjang kanal yang lurus dan setia, air mengalir ke mana ia disuruh, dan menyimpan apa yang jatuh ke dalamnya, dan menunggu. Air tidak tergesa. Air tahu bahwa dari dua jalan yang malam ini mulai berpisah, kedua-duanya pada akhirnya akan menuju kepadanya, yang satu untuk ditelan dan diingat, yang satu untuk menolak ditelan dan, dengan menolak, menjadi tahanan di dasarnya selamanya. Air bisa menunggu. Air selalu bisa menunggu. Dan sementara dua saudari tidur di daratan yang mereka kira abadi, air terus menghitung, tenang, sabar, asin, menuju malam, masih jauh, masih banyak generasi jauhnya, tapi sudah pasti, ketika ia akan datang untuk memungut keduanya, masing-masing menurut pilihannya sendiri.


 

BAB DELAPAN

Pertengkaran Pertama

Dua orang bisa memandang jurang yang sama dan tidak bertengkar tentang kedalamannya. Mereka bertengkar tentang apa yang harus dilakukan setelah melihatnya, dan tentang itu, saudara bisa menjadi orang asing dalam satu sore.

yang dikatakan orang tentang kedua saudari, jauh sesudahnya

Pertengkaran itu tidak dimulai sebagai pertengkaran, sebagaimana hampir tak ada pertengkaran sungguhan yang dimulai sebagai pertengkaran. Ia dimulai sebagai sebuah sore yang biasa, dan sebuah pertanyaan yang biasa, dan barulah ketika sudah terlambat keduanya menyadari bahwa mereka tidak sedang membicarakan hal yang mereka kira mereka bicarakan.

Mereka sedang di ladang utara, ladang yang Bapa ingin mereka pelajari, sebab Bapa sudah mulai memikirkan, walau ia tak mengatakannya dengan kata-kata, sebab di Nagara Rata seseorang tak mengatakan hal-hal seperti itu sebelum waktunya, siapa di antara kedua anaknya yang kelak akan duduk di tempatnya. Awu memeriksa tanah dengan cara Awu memeriksa segalanya: menghitung, mengukur, menimbang hasil terhadap usaha. Sela berjalan di tepi ladang, di tempat tanaman yang ditanam orang bertemu dengan tanaman yang tumbuh sendiri, sebab ia selalu lebih tertarik pada batas-batas, pada tempat-tempat di mana satu hal berubah menjadi hal lain.

“Bapa akan membuka kanal selatan tahun depan, ” kata Awu, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sela, suara orang yang sedang menyusun masa depan di kepalanya. “Membawa air ke tanah baru. Bila berhasil, Nagara Rata akan lebih besar dari yang pernah ada. Lebih besar dari yang dibayangkan kakek kita. Kita akan menanam di tanah yang dulu terlalu kering untuk apa pun, dan dalam tiga generasi tak seorang pun akan ingat bahwa tanah itu pernah kosong.”

“Kanal selatan, ” kata Sela, dan sesuatu dalam suaranya membuat Awu mengangkat wajah. “Ke arah laut.”

“Ke arah tanah yang baik, ” Awu mengoreksi. “Yang kebetulan ada di selatan.”

“Yang kebetulan ada di arah dari mana air datang.” Sela berhenti berjalan. “Awu. Kau akan menggali kanal untuk membawa air kita ke selatan, ke tanah yang lebih rendah, lebih dekat ke laut, di musim ketika air laut sedang naik. Kau akan membuka jalan bagi air, dan menyebutnya membawa air kepada tanah.”

Awu meletakkan tali hitungnya. Ia melakukannya pelan, dan kepelanannya adalah tanda, sebab Awu yang tergesa adalah Awu yang tak menganggap sesuatu penting, dan Awu yang pelan adalah Awu yang telah memutuskan untuk menghadapi sesuatu.

“Kita sudah membicarakan ini, ” katanya. “Bukan kau dan aku. Aku dan orang Tirta itu. Dan jawabannya tetap sama. Air mungkin naik. Mungkin. Dalam ratusan, ribuan tahun. Aku tak bisa menjalankan sebuah daratan, aku tak bisa membuka tanah, memberi makan orang, membangun apa pun, bila aku melumpuhkan diri dengan ketakutan tentang air yang tak akan dilihat oleh cucu dari cucu kita. Kau memintaku untuk tidak menggali kanal selatan. Baik. Lalu apa? Tidak menggali kanal mana pun, sebab semua kanal pada akhirnya menuju ke suatu arah? Tidak menanam, sebab tanaman pada akhirnya mati? Tidak membangun, sebab segala bangunan pada akhirnya runtuh?”

“Aku tidak memintamu berhenti membangun, ” kata Sela.

“Lalu apa yang kau minta?”

Dan Sela tidak punya jawaban yang siap, sebab ia belum tahu, sebab apa yang ia rasakan masih lebih besar daripada apa yang ia bisa katakan. Maka ia menjawab dengan sebuah pertanyaan, sebagaimana ia selalu menjawab ketika ia belum tahu, dengan harapan bahwa pertanyaan akan menuntunnya ke jawaban yang ia belum miliki.

“Mengapa kau ingin Nagara Rata lebih besar?” tanyanya. “Sungguh-sungguh, Awu. Bukan jawaban yang akan kau berikan kepada Bapa. Jawaban yang sebenarnya. Mengapa lebih besar? Mengapa lebih banyak tanah, lebih banyak panen, lebih banyak kota? Kita sudah punya cukup. Kita sudah punya lebih dari cukup. Apa yang kau kejar?”

Awu memandangnya cukup lama, dan ketika ia menjawab, ia menjawab dengan kejujuran yang mengejutkan keduanya, kejujuran yang barangkali hanya mungkin di antara dua saudari di sebuah ladang ketika tak ada orang lain yang mendengar.

“Karena yang besar bertahan lebih lama, ” katanya. “Karena sebuah dusun kecil bisa hilang dan tak seorang pun ingat. Tapi sesuatu yang cukup besar, sesuatu yang cukup agung, cukup kuat, cukup mengakar, sesuatu seperti itu tidak hilang. Ia terlalu besar untuk hilang. Ia menjadi, ” ia mencari kata, “, ia menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan oleh waktu. Aku tidak ingin Nagara Rata lebih besar karena aku serakah, Sela. Aku ingin ia lebih besar karena aku tak tahan, aku tak tahan, pada gagasan bahwa suatu hari ia bisa menjadi seperti dusun pesisir yang ditelan orang Tirat itu. Ada, lalu tiada, dan air menutup di atasnya seolah-olah ia tak pernah ada. Aku akan membuatnya begitu besar sehingga itu tak mungkin terjadi. Itu satu-satunya hal yang kuinginkan. Aku ingin membuat sesuatu yang tak bisa hilang.”

Dan di sanalah, mendengar kata-kata saudarinya, Sela akhirnya memahami apa yang sedang terjadi, bukan tentang kanal, tak pernah tentang kanal, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang telah tumbuh di dalam Awu seperti air asin tumbuh di dalam tanah, tak terlihat dari permukaan sampai mata air pindah.

“Sesuatu yang tak bisa hilang, ” Sela mengulang, pelan. “Kau sudah bicara dengan Empu Wani.”

Itu bukan pertanyaan, dan Awu tak memperlakukannya sebagai pertanyaan. Sesuatu mengeras di wajahnya, pertahanan yang naik. “Aku bicara dengan banyak orang.”

“Aku pernah melihat bengkelnya, ” kata Sela. “Bukan masuk. Hanya lewat. Orang bercerita tentang benda-benda yang ia simpan di sana. Buah yang tidak membusuk. Mereka menceritakannya seperti menceritakan sesuatu yang lucu, sesuatu yang aneh. Tapi kau tidak menganggapnya lucu, kan? Kau menganggapnya, ” ia berhenti, sebab kebenaran yang ia dekati terlalu besar, dan ia takut padanya, takut pada apa artinya tentang saudarinya. “Kau menganggapnya jawaban.”

“Dan kalau ya?” Suara Awu kini tajam. “Kalau ada cara, Sela, cara nyata, bukan dongeng, bukan firasat, cara untuk membuat sesuatu tidak hilang? Untuk membuat sebuah buah, sebuah rumah, sebuah daratan, tinggal selamanya pada saat terbaiknya, tak tersentuh oleh waktu, tak tersentuh oleh air? Kau akan menolaknya? Kau akan berdiri di tepi sebuah dunia yang sedang tenggelam dan berkata: tidak, biarkan ia tenggelam, biarkan ia hilang, aku lebih suka mengingatnya daripada menyelamatkannya?”

“Buah itu mati, Awu.”

“Buah itu utuh, ”

“Buah itu mati!” Dan kini suara Sela naik pula, untuk pertama kalinya, sebab ada hal-hal yang tak bisa dikatakan dengan tenang, sebab ketenangan itu sendiri akan menjadi kebohongan. “Aku tahu apa yang dilakukan Empu Wani, semua orang tahu, ia mengambil sesuatu dari dalam benda supaya benda itu berhenti. Ia menyebutnya membuang waktu. Tapi yang ia buang bukan hanya waktu, Awu. Yang ia buang adalah, segalanya yang membuat sebuah benda hidup. Sebuah buah yang tidak membusuk tidak juga matang. Tidak juga memberi benih. Tidak juga menjadi pohon. Ia hanya berhenti, di satu titik, selamanya, dan kau memandangnya dan menyebutnya selamat padahal yang kau lihat adalah sesuatu yang telah berhenti menjadi dirinya supaya ia tak perlu kehilangan dirinya. Itu bukan menyelamatkan, Awu. Itu cara lain untuk mati, cara yang lebih buruk, sebab setidaknya yang mati membaringkan diri dan membiarkan yang hidup melanjutkan. Yang seperti buah itu tinggal, dan utuh, dan kosong, selamanya, mengisi tempat yang seharusnya ditinggalkan untuk sesuatu yang baru.”

Mereka berdiri saling berhadapan di ladang utara, dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, jarak di antara mereka bukan jarak yang bisa diseberangi dengan berjalan.

“Kau lebih suka kehilangan, ” kata Awu, dan suaranya kini pelan lagi, tapi pelan yang berbeda, pelan yang menyakiti. “Itulah dirimu, kan? Sejak burung itu. Kau jatuh cinta pada kehilangan. Kau menjadikannya keindahan. Kau berkata: lihat betapa indahnya bahwa segala sesuatu berakhir, betapa berharganya menjadi karena ia tak abadi. Tapi itu adalah kemewahan, Sela. Itu adalah hal yang bisa dikatakan seseorang yang belum pernah benar-benar kehilangan apa pun. Mudah mencintai kehilangan ketika yang hilang hanyalah seekor burung. Apa yang akan kau katakan ketika yang hilang adalah Bapa? Ketika yang hilang adalah rumah kita? Ketika yang hilang adalah, ” ia berhenti, dan Sela melihat sesuatu melintas di matanya, dan ia tahu, tanpa nama disebutkan, bahwa Awu sedang memikirkannya, sedang memikirkan kehilangan dirinya, “, semuanya? Akankah kau masih berdiri di sana memuji keindahan kehilangan? Atau akankah kau, akhirnya, berharap seseorang telah menemukan cara untuk menghentikannya?”

Dan Sela tidak punya jawaban untuk itu, sebab ia jujur, dan kejujuran memaksanya untuk mengakui, di dalam dirinya, bahwa ia tak tahu. Bahwa ia tak pernah benar-benar kehilangan apa pun yang besar. Bahwa burung itu mudah. Bahwa ia tak tahu siapa dirinya akan menjadi ketika air mengambil Bapa, rumah, daratan, segalanya, dan barangkali Awu benar, barangkali ia akan berubah, barangkali ketika kehilangan menjadi cukup besar bahkan ia akan berlutut dan memohon untuk sebuah buah yang tak membusuk.

Tapi ia tahu satu hal, dan ia mengatakannya, sebab itu satu-satunya hal yang ia tahu dengan pasti.

“Mungkin kau benar, ” katanya. “Mungkin ketika air datang, aku akan berubah. Mungkin aku akan memohon untuk apa yang ditawarkan Empu Wani. Aku tidak tahu, Awu, dan aku tak akan berpura-pura tahu. Tapi aku tahu ini: bila aku berubah, bila aku berlutut dan memohon untuk tidak kehilangan, itu akan menjadi aku pada saat terburukku, bukan aku pada saat terbaikku. Dan kau, ” suaranya pecah sedikit, sebab apa yang akan ia katakan adalah hal yang paling sulit ia katakan kepada saudari yang ia cintai, “, kau sedang membangun seluruh masa depanmu di atas saat terburukmu. Di atas ketakutan. Kau menyebutnya keberanian, menyebutnya menolak untuk menyerah, tapi di dasarnya, Awu, di dasar yang paling dalam, ia adalah ketakutan. Kau begitu takut kehilangan sehingga kau bersedia berhenti hidup supaya tak perlu kehilangan. Dan aku tak bisa mengikutimu ke sana. Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa mengikutimu ke sana.”

Tidak ada lagi yang dikatakan setelah itu, sebab tak ada lagi yang bisa dikatakan tanpa menjadikannya lebih buruk, dan keduanya cukup bijak, atau cukup takut, untuk mengetahuinya.

Mereka berjalan pulang dengan jarak di antara mereka, jarak harfiah, beberapa langkah tanah ladang, tapi jarak itu terasa lebih besar daripada seluruh daratan yang datar. Matahari turun seperti ia selalu turun. Kanal memantulkan langit seperti ia selalu memantulkannya. Segalanya sama, dan tak ada yang sama, sebab di antara dua saudari yang berjalan pulang dalam diam, sesuatu telah diucapkan yang tak bisa ditarik kembali: bahwa mereka, yang tumbuh dari satu rumpun, yang tidur di bawah satu atap, yang menyebut diri mereka saudara, mereka memandang akhir dari segala sesuatu dan menginginkan dua hal yang tak bisa didamaikan. Yang satu ingin mengingat. Yang satu ingin menolak. Dan tak ada ladang yang cukup luas, tak ada kanal yang cukup panjang, tak ada cinta yang cukup dalam, untuk menjembatani jarak antara dua keinginan itu.

Malam itu mereka tidur di tempat mereka selalu tidur, dekat perapian yang sama, dan bila ada yang menengok ke dalam rumah itu ia akan melihat dua saudari yang tidur berdekatan, damai, dan ia tak akan menduga bahwa ada apa-apa di antara mereka. Sebab cinta mereka tidak putus malam itu. Itulah yang membuatnya begitu menyakitkan, kelak, untuk diingat: bahwa cinta itu tidak putus, tidak hari itu, tidak selama bertahun-tahun sesudahnya. Mereka akan terus saling mencintai sepanjang sisa waktu yang mereka miliki sebagai manusia. Mereka hanya tak bisa lagi sepakat tentang hal yang paling penting, dan mereka tahu kini bahwa mereka tak bisa, dan maka mereka berhenti membicarakannya, dan apa yang tak dibicarakan tumbuh di antara mereka dalam diam, sebagaimana air asin tumbuh di dalam tanah, tak terlihat, sampai hari ketika ia akhirnya akan memaksa segalanya ke permukaan.

Dan di luar, di sepanjang kanal yang akan digali lebih jauh ke selatan, lebih dekat ke laut, di tahun yang akan datang, air mengalir tenang dan setia dan menunggu, sebab air telah mendengar, dengan cara air mendengar, perdebatan dua saudari, dan air tahu sesuatu yang tak diketahui keduanya: bahwa mereka berdua keliru, dan mereka berdua benar. Sela keliru mengira ia bisa tetap menjadi dirinya yang terbaik ketika air mengambil segalanya. Awu keliru mengira ia bisa menyelamatkan apa pun dengan berhenti hidup. Tapi Sela benar bahwa mengingat adalah satu-satunya kemenangan yang mungkin atas air, dan Awu benar bahwa kehilangan, ketika ia cukup besar, mengubah seseorang menjadi tak terkenali. Keduanya benar. Keduanya keliru. Dan air, yang tidak benar dan tidak keliru, yang hanya datang, terus menghitung di bawah daratan yang tidur, menuju malam ketika ia akan menguji kedua kebenaran dan kedua kekeliruan itu sekaligus, dan membuktikan, kepada dua saudari yang kini tidur berdamai, betapa mahal harga dari masing-masing.


 

BAB SEMBILAN

Apa yang Hilang Itu Indah

Menerima bukan berarti menyerah. Menerima berarti memegang sesuatu dengan tangan terbuka, cukup erat untuk mencintainya, cukup longgar untuk merelakannya pergi. Inilah yang paling sulit dipelajari, dan yang paling akhir.

ajaran yang kelak disebut narima, yang akarnya tak diketahui, yang sebenarnya dimulai di sebuah ladang liar

Beberapa hari lewat setelah pertengkaran di ladang utara, dan dalam hari-hari itu kedua saudari hidup berdampingan dengan kesopanan yang lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Mereka tidak bertengkar lagi. Itulah yang salah. Mereka bicara tentang hal-hal yang aman, tentang panen, tentang cuaca, tentang urusan rumah, dan mereka bicara dengan ramah, dan mereka menghindari, dengan kehati-hatian dua orang yang berjalan mengelilingi sebuah lubang di lantai, satu-satunya hal yang benar-benar penting. Sela merasakannya seperti orang merasakan gigi yang sakit dengan lidahnya, terus-menerus, tak bisa berhenti, menyentuh tempat yang sakit hanya untuk memastikan ia masih sakit. Ia kehilangan saudarinya, perlahan, bukan karena kematian, bukan karena jarak, melainkan karena sebuah kebenaran yang telah diucapkan dan tak bisa ditarik kembali, dan ia tak tahan kehilangan itu, dan, inilah yang membuatnya hampir tertawa pada dirinya sendiri dengan pahit, ketidaktahanannya pada kehilangan itu adalah persis perasaan yang ia tahu menggerakkan Awu, perasaan yang ia lawan dengan seluruh dirinya. Ia mulai mengerti saudarinya justru pada saat ia paling jauh darinya.

Maka pada suatu pagi, Sela mengajak Awu pergi. Bukan ke ladang utara, dengan tanahnya yang diukur dan dihitung. Ke tempat lain. Ke sebuah tempat yang telah lama ingin ia tunjukkan kepada saudarinya, dan yang kini, ia merasa, mungkin adalah satu-satunya cara yang tersisa untuk menjangkaunya, bukan dengan kata-kata, yang sudah gagal, melainkan dengan sesuatu yang harus dilihat untuk dipahami.

Awu, yang juga merasakan kehilangan itu, dan yang juga tak tahan padanya walau ia tak akan pernah mengatakannya, setuju untuk pergi.

Tempat itu adalah sebuah ladang yang dulu ditanami dan kini tidak.

Itu terjadi kadang-kadang, bahkan di Nagara Rata yang teratur: sebuah keluarga punah, atau pindah, atau kehilangan terlalu banyak anak untuk mengerjakan tanahnya, dan ladang yang dulu lurus dan tertata dibiarkan, dan tanah, yang tak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun walau orang menyebutnya milik, mengambil kembali apa yang dipinjamkannya. Ladang ini telah dibiarkan selama bertahun-tahun, cukup lama sehingga garis-garis lurus yang dulu dibuat manusia telah lenyap sepenuhnya, cukup lama sehingga seseorang yang datang tanpa mengetahui sejarahnya tak akan pernah menduga bahwa tangan manusia pernah menyentuh tempat ini.

Dan tempat itu hidup. Itulah yang ingin ditunjukkan Sela. Bukan kosong, bukan terlantar, bukan mati, hidup, dengan kehidupan yang lebih liar dan lebih penuh daripada ladang mana pun yang dijaga manusia. Tanaman yang tak ditanam siapa pun tumbuh di mana-mana, berebut cahaya, dan di antara mereka ada bunga-bunga yang tak punya nama sebab tak seorang pun menanamnya untuk dinamai. Serangga berdengung. Seekor burung, bukan burung air, burung lain, burung kecil berwarna yang tak pernah Sela lihat di ladang yang dijaga, terbang dari satu tangkai ke tangkai lain. Di satu sudut, sebatang pohon muda telah tumbuh, anak dari biji yang dibawa angin atau burung, berdiri di tempat yang tak pernah direncanakan untuk sebuah pohon, dan justru karena itu, entah bagaimana, lebih sungguh-sungguh sebuah pohon daripada pohon mana pun yang ditanam dalam barisan.

“Apa ini?” tanya Awu, memandang sekeliling. Ada sesuatu dalam suaranya yang bukan penolakan, belum penolakan, hanya ketidakmengertian, ketidaknyamanan orang teratur yang dihadapkan pada sesuatu yang indah justru karena ia tak teratur.

“Sebuah ladang yang ditinggalkan, ” kata Sela. “Keluarga Wregu, kau ingat mereka? Mereka punah dua musim sebelum kita lahir. Tak ada yang mengambil alih tanah ini. Maka tanah ini mengambil alih dirinya sendiri.”

Mereka duduk di tepi ladang liar itu, di atas batu yang dulu mungkin adalah bagian dari pondasi rumah keluarga Wregu dan kini hanya sebuah batu, dan Sela mencoba, untuk terakhir kalinya, untuk mengatakan apa yang tak bisa ia katakan dengan berdebat.

“Aku tidak membawamu ke sini untuk bertengkar lagi, ” katanya. “Aku tahu kita tak akan sepakat. Aku hanya ingin kau melihat ini, dan mendengar satu hal, dan setelah itu aku tak akan membicarakannya lagi, aku berjanji.” Ia memungut sehelai bunga tak bernama, memutarnya di antara jarinya. “Kau bilang aku jatuh cinta pada kehilangan. Kau salah, tapi kau hampir benar, dan aku ingin mengatakan kepadamu bagian yang benar, supaya setidaknya kau tahu apa sebenarnya yang kupercaya, bukan apa yang kau kira kupercaya.”

Awu tidak menjawab, tapi ia mendengarkan. Itu sudah lebih dari yang Sela harapkan.

“Aku tidak mencintai kehilangan, ” kata Sela. “Tak seorang pun mencintai kehilangan. Kehilangan itu menyakitkan, dan aku tak akan berpura-pura ia tidak. Tapi lihat tempat ini, Awu. Lihat sungguh-sungguh. Keluarga Wregu hilang. Itu menyedihkan; mereka adalah orang-orang, dan mereka punya nama, dan kini mereka tiada. Tapi karena mereka hilang, karena tanah ini dilepaskan, lihat apa yang datang. Bunga yang tak akan pernah tumbuh bila tanah ini tetap ditanami padi. Pohon yang tak akan pernah ada bila seseorang masih menjaga barisan. Burung itu, yang tak akan pernah datang ke ladang yang dijaga. Tak satu pun dari ini bisa ada selama yang lama masih bertahan. Mereka hanya bisa datang karena yang lama pergi.”

Ia melepaskan bunga itu, membiarkannya jatuh ke rumput.

“Itulah yang kupercaya. Bukan bahwa kehilangan itu indah. Bahwa kehilangan adalah harga dari sesuatu yang lebih indah daripada apa pun yang bisa diberikan oleh ketiadaan kehilangan. Tempat di mana tak ada yang hilang adalah tempat di mana tak ada yang baru bisa lahir. Buah Empu Wani yang tak membusuk, ia tak akan pernah menjadi pohon, kau sendiri yang mengatakannya, atau aku yang mengatakannya, aku lupa. Ia utuh, tapi ia mandul. Ia ada, tapi tak ada yang bisa datang setelahnya, sebab ia tak pernah memberi ruang. Dan sebuah dunia yang seluruhnya seperti buah itu, sebuah Nagara Rata yang abadi, yang tak pernah hilang, yang waktunya telah dibuang, akan menjadi sebuah dunia yang indah dan utuh dan mati, sebuah ladang yang dijaga selamanya, lurus dan teratur dan tak pernah, tak pernah, membiarkan satu bunga liar pun tumbuh.”

Awu memandang ladang liar itu untuk waktu yang lama, dan Sela membiarkannya, dan untuk sesaat ada harapan, tipis, hangat, hampir tak tertanggungkan, bahwa kata-kata itu telah masuk, bahwa keindahan tempat ini telah berbicara ke tempat di dalam Awu yang tak bisa dijangkau oleh debat.

“Ia indah, ” akhirnya Awu berkata, pelan. “Kau benar. Ia indah. Aku melihatnya.”

Dan untuk satu detak jantung, Sela percaya ia telah berhasil.

“Tapi, ” Awu melanjutkan, dan dengan satu kata itu harapan itu padam, “kau menunjukkan kepadaku sebuah ladang dan menyebut keluarga Wregu sebagai harga yang pantas untuknya. Bunga-bunga ini, pohon ini, burung itu, semua ini lahir, kau bilang, karena keluarga Wregu mati. Dan kau menemukannya indah.” Ia menoleh kepada Sela, dan tak ada kemarahan di wajahnya, hanya sebuah kesedihan yang dalam dan kokoh, kesedihan orang yang melihat sesuatu yang tak bisa ia lihat dengan cara lain. “Tapi mereka adalah orang-orang, Sela. Mereka punya nama. Kau sendiri mengatakannya. Keluarga Wregu. Mereka punya pagi-pagi dan malam-malam dan pertengkaran dan tawa, sebagaimana kita, dan mereka punya seseorang yang mereka cintai sebagaimana aku mencintaimu, dan kini mereka tiada, dan di tempat mereka tumbuh bunga yang tak punya nama. Dan kau memintaku untuk memandang bunga itu dan berkata: ya, ini sepadan. Kematian sebuah keluarga sepadan dengan sehelai bunga liar.”

“Itu bukan, ” Sela mulai, tapi Awu mengangkat tangannya, lembut, bukan untuk membungkam melainkan untuk meminta agar ia diizinkan menyelesaikan.

“Aku tahu itu bukan persis yang kau maksud. Tapi itu adalah dasarnya, Sela, bila kau ikuti sampai ke dasarnya. Kau berkata kehilangan adalah harga dari yang baru. Baik. Tapi seseorang harus membayar harga itu. Selalu ada seseorang yang membayar. Dan ia tak pernah orang yang sama dengan orang yang menikmati yang baru. Keluarga Wregu membayar; bunga-bunga ini menikmati. Dan dari tempat dudukku, satu-satunya cara untuk menemukan keindahan dalam pertukaran itu adalah dengan tidak terlalu memikirkan keluarga yang membayar. Dengan membiarkan mereka menjadi kabur, menjadi sebuah nama tanpa wajah, menjadi harga. Tapi aku tak bisa membiarkan orang menjadi kabur, Sela. Itulah kelemahanku, atau kekuatanku, aku tak pernah tahu yang mana. Aku melihat keluarga Wregu lebih jelas daripada aku melihat bunga-bunga ini. Aku selalu akan. Dan selama aku melihat mereka, aku tak bisa menyebut kehilangan mereka indah, dan aku tak bisa berhenti mencari cara, cara apa pun, dengan harga apa pun, supaya tak ada keluarga lain yang harus membayar.”

Dan di sanalah keduanya berhenti, sebab keduanya telah mengatakan hal yang paling benar yang mereka bisa katakan, dan kedua hal yang paling benar itu tidak bisa berdiri di tempat yang sama.

Sebab Sela benar: sebuah dunia tanpa kehilangan adalah sebuah dunia tanpa kelahiran, sebuah ladang yang dijaga selamanya tanpa satu bunga liar. Dan Awu benar: keindahan yang dibeli dengan kematian seseorang yang punya nama hanya bisa disebut indah oleh orang yang tak terlalu lama memandang wajah yang membayarnya. Keduanya benar. Itulah tragedi yang tak bisa diperbaiki, tragedi yang lebih dalam daripada satu yang benar dan satu yang salah: dua saudari yang saling mencintai, memandang kebenaran yang sama dari dua tempat yang berbeda, dan masing-masing melihat sesuatu yang nyata, dan sesuatu yang nyata itu tak bisa didamaikan dengan sesuatu nyata yang dilihat oleh yang lain.

Mereka pulang dari ladang liar itu di sore hari, dan kali ini mereka berjalan berdekatan, bukan dengan jarak seperti dari ladang utara, sebab kali ini tak ada kemarahan, hanya kesedihan, dan kesedihan, tidak seperti kemarahan, bisa dibagi. Mereka berjalan berdekatan dalam kesedihan yang sama, kesedihan karena tahu bahwa mereka mencintai satu sama lain dan tak bisa mengikuti satu sama lain, dan barangkali itu adalah bentuk kedekatan yang paling dalam yang masih mungkin di antara mereka: bukan sepakat, melainkan berduka bersama atas ketidaksepakatan yang tak bisa mereka sembuhkan.

Di belakang mereka, ladang liar keluarga Wregu meneruskan hidupnya yang liar dan penuh, bunga-bunganya mekar dan layu dan mekar lagi, pohonnya tumbuh setinggi jari lalu setinggi lengan, tak peduli pada dua saudari yang telah datang dan berdebat dan pergi, tak peduli pada apa pun kecuali pada tugasnya yang sederhana dan tak ada habisnya: menjadi, dan berakhir, dan dengan berakhir, memberi ruang bagi yang menjadi berikutnya. Dan jauh di bawah ladang itu, di bawah seluruh daratan, air terus naik dengan kelambatan yang tak terlihat, dan air, bila ia bisa berbicara, akan mengatakan kepada kedua saudari bahwa mereka berdua akan segera diuji, bahwa Sela akan diberi kesempatan untuk melihat apakah ia masih bisa menyebut kehilangan indah ketika yang hilang adalah segala-galanya, dan Awu akan diberi kesempatan untuk melihat apakah cara untuk membuat tak ada yang membayar adalah cara yang ia bisa tanggung setelah ia membayarnya. Air tahu. Air selalu tahu. Dan air, sabar dan asin dan tak berpihak, terus menghitung di bawah ladang bunga liar, menuju malam ketika kedua kebenaran akan bertemu dengan kebenaran yang lebih besar dan lebih dingin daripada keduanya: bahwa air datang, apa pun yang dipercaya manusia, dan tak peduli sedikit pun mana di antara mereka yang benar.


 

BAGIAN IV

Bintang dan Firasat


 

BAB SEPULUH

Musim yang Salah

Sebuah bangsa tidak tenggelam karena ia tak diperingatkan. Ia tenggelam karena peringatan datang sebagai sesuatu yang masih bisa dirayakan, dan ia memilih merayakannya.

catatan yang ditemukan terukir di sebuah batu Nagara Giri, jauh kemudian

Musim itu datang terlambat, dan ia datang salah, dan keduanya bisa dijelaskan, itulah yang membuat keduanya begitu mudah diabaikan.

Hujan, yang biasanya tiba ketika bintang burung terbit, tidak tiba. Ia terlambat sepuluh hari, lalu dua puluh, dan ketika ia akhirnya datang ia datang terlalu deras dan terlalu sebentar, mengisi kanal-kanal sampai meluap lalu berhenti, meninggalkan tanah yang tergenang di tempat-tempat yang seharusnya kering dan kering di tempat-tempat yang seharusnya basah. Padi tumbuh, tapi tumbuh dengan keraguan, sebagian terlalu cepat dan sebagian tidak sama sekali, dan para petani saling bertukar pandang di ladang dengan ekspresi yang tak mereka punya kata untuknya, ekspresi orang yang merasakan ada yang salah pada sesuatu yang terlalu besar dan terlalu lama untuk dilihat seluruhnya.

Tapi tiap hal, diambil sendiri, bisa dijelaskan. Musim memang kadang terlambat; kakek bercerita tentang tahun-tahun ketika hujan terlambat sebulan penuh. Kanal memang kadang meluap; itu sebabnya orang membangun tanggul. Padi memang kadang tumbuh tak rata; itu sebabnya orang menanam lebih dari yang dibutuhkan. Setiap tanda, sendiri-sendiri, adalah hal biasa yang pernah terjadi sebelumnya dan akan terjadi lagi. Hanya bila seseorang menaruh semua tanda itu berdampingan, musim yang terlambat, dan pasang yang lebih tinggi, dan sumur yang menjadi payau, dan mata air yang berpindah ke darat, dan burung yang pergi dan tak kembali, hanya bila seseorang menaruh semuanya dalam satu pandangan, sebagaimana Giri Tua menaruh bintang dalam satu lingkaran, barulah tanda-tanda itu berhenti menjadi banyak kebetulan kecil dan menjadi satu hal besar. Dan tak seorang pun di Nagara Rata menaruh mereka dalam satu pandangan. Tak seorang pun, kecuali satu gadis, yang telah diajari oleh dua orang asing dalam satu musim cara melihat hal-hal yang terlalu lambat untuk dilihat.

Sela memperhatikan burung-burung itu pada suatu pagi di tepi kanal, dan butuh waktu sebelum ia menyadari bahwa yang ia perhatikan adalah ketiadaan, bukan keberadaan.

Burung-burung air selalu pergi pada akhir satu musim dan kembali pada awal musim berikutnya; itu adalah ritme yang setua kanal itu sendiri, dan orang Nagara Rata mengatur sebagian hidup mereka menurutnya, sebab kedatangan burung berarti satu hal dan kepergian mereka berarti hal lain. Tahun ini mereka pergi seperti biasa. Tapi mereka tidak kembali.

Bukan semuanya tidak kembali, itu akan terlalu jelas, terlalu mudah ditakuti. Sebagian kembali. Tapi lebih sedikit. Jauh lebih sedikit, dan mereka yang kembali tampak gelisah, tinggal lebih sebentar, lalu pergi lagi ke arah utara, ke arah darat, sebagaimana mata air pergi ke arah darat, sebagaimana segala sesuatu yang bisa merasakan air di dalam tanah pergi ke arah darat, semuanya kecuali manusia, yang tinggal, sebab manusia telah mengukur dunia dengan jarak dan bukan dengan waktu, dan jarak memberitahu mereka bahwa mereka aman, dan waktu, yang akan memberitahu mereka kebenaran, adalah hal yang tak bisa mereka baca.

Sela berdiri di tepi kanal dan menghitung burung, dan ketika ia selesai menghitung ia merasakan sesuatu yang dingin di dadanya, sebab ia ingat, ia adalah jenis yang mengingat, berapa banyak burung yang biasa ada di tepi kanal ini pada pagi seperti ini, dan ia tahu bahwa yang ia lihat sekarang adalah sebagian kecil dari itu. Burung tahu, ia berpikir. Burung tak bisa membaca bintang dan burung tak punya batu yang menyimpan catatan, tapi burung tahu, dengan pengetahuan yang lebih tua daripada membaca, bahwa tanah ini sedang menjadi tanah yang salah, dan burung melakukan apa yang dilakukan oleh segala sesuatu yang bijak dan tak terbebani oleh kebanggaan: ia pergi. Hanya kami yang tinggal, pikir Sela. Hanya kami, yang menyebut diri kami pusat dunia, terlalu bangga untuk pergi, terlalu yakin untuk takut. Burung lebih bijak dari kami. Burung sudah pergi.

Dan justru di musim itu, musim yang salah, Nagara Rata bersiap untuk pesta panen yang paling megah yang pernah diingat siapa pun.

Bukan kebetulan. Sela memahaminya, kelak, dengan kejelasan yang menyakitkan: bahwa kemegahan pesta itu justru lahir dari kesalahan musim, bukan terlepas darinya. Sebab orang-orang merasakan ada yang salah, mereka tidak buta, mereka petani, mereka membaca tanah lebih baik daripada siapa pun, dan justru karena mereka merasakannya, mereka membutuhkan, dengan kebutuhan yang lebih dalam daripada akal, sesuatu yang akan menenggelamkan perasaan itu. Mereka membutuhkan untuk meyakinkan diri mereka sendiri. Dan tak ada cara meyakinkan diri yang lebih kuat daripada melimpah, daripada pesta, daripada berdiri di tengah tumpukan makanan dan tawa dan musik dan berkata kepada perasaan dingin di dalam dada: lihat, lihat betapa banyak yang kita punya, betapa kaya kita, betapa diberkati, bagaimana mungkin ada yang salah pada dunia yang memberi kita semua ini?

Maka mereka menyembelih lebih banyak ternak dari yang bijaksana untuk disembelih. Mereka mengeluarkan padi yang seharusnya disimpan. Mereka mengumpulkan dari empat penjuru daratan segala yang bisa dikumpulkan, dan mereka menumpuknya di lapangan tempat empat kanal bertemu, tempat yang sama dengan pasar, dan mereka menghias kota dengan segala yang mereka punya, sebab sebagian dari mereka, tak seorang pun akan mengakuinya, tapi sebagian dari mereka tahu, merasakan bahwa ini mungkin adalah pesta yang harus mereka ingat, dan maka ia harus cukup besar untuk diingat.

Awu berada di tengah persiapan itu, di sisi Bapa, mengatur, dan ia mengaturnya dengan kecakapan yang sama dengan kecakapan yang selalu ia bawa pada segala hal. Bila ada bagian dalam dirinya yang merasakan ironi, bila empu muda yang telah memandang buah yang menolak membusuk dan memikirkan keabadian merasakan sesuatu yang ganjil tentang merayakan kelimpahan di musim yang salah, ia tidak menunjukkannya. Atau barangkali ia tak merasakannya. Barangkali Awu, yang begitu cerdas, telah melakukan apa yang dilakukan oleh yang cerdas ketika kebenaran terlalu besar: ia telah membaginya menjadi bagian-bagian kecil yang bisa ditangani, dan menyimpan bagian yang menakutkan di tempat yang tak perlu ia pandang, dan menjalani hari-harinya di antara bagian-bagian yang aman, mengatur pesta, melayani Bapa, membangun masa depan, sambil di suatu sudut dirinya yang tak ia kunjungi, sebuah buah yang tak membusuk menunggu, dan sebuah keputusan menunggu bersamanya.

Lanang kembali tiga hari sebelum pesta, sesuai musim, sesuai janjinya, untuk mengukur air.

Sela tahu ia datang sebelum ia melihatnya, sebab kabar tentang seorang nakhoda Tirta yang masuk jauh ke pedalaman kini berjalan lebih cepat, orang sudah mulai mengenalnya, dan mengenal kebiasaannya, dan beberapa bahkan mulai memanggilnya dengan setengah ejekan dan setengah sayang sebagai orang yang datang untuk berbicara dengan mata air. Sela menemukannya di tempat mereka selalu bertemu, di tepi kanal, dan ketika ia melihatnya sesuatu di dadanya yang telah dingin selama berhari-hari, sejak burung dan pesta dan musim yang salah, menjadi sedikit lebih hangat, dan ia menyadari betapa ia telah merindukannya, dan betapa berbahayanya merindukan seseorang yang hidupnya adalah pergi.

“Mata airmu, ” kata Lanang, sebagai salam, tapi matanya mengatakan hal lain, hal yang lebih hangat, hal yang tak diucapkan. “Aku sudah melihatnya. Yang baru, yang kau tunjukkan padaku musim lalu, yang sudah pindah ke darat.”

“Dan?”

“Ia pindah lagi. Lebih jauh ke darat. Beberapa langkah lagi, dalam satu musim.” Ia mengatakannya pelan, dan Sela melihat di wajahnya bahwa ia telah berhenti mengukur dengan harapan dan mulai mengukur hanya dengan kejujuran. “Aku menandainya. Aku selalu menandai sekarang. Aku punya batu kakekku di kampung, dan kini aku punya tanda mata airmu di sini, dan keduanya mengatakan hal yang sama, dengan suara yang sama, yang tak mau berhenti: lebih cepat, Sela. Air bergerak lebih cepat daripada yang kukira musim lalu. Bukan secepat yang bisa dilihat orang biasa, tidak. Tapi lebih cepat daripada selutut dalam empat generasi. Sesuatu telah berubah. Air yang besar sedang mempercepat langkahnya.”

Mereka berdiri dengan kabar itu di antara mereka, di tepi kanal, dan di kejauhan mereka bisa mendengar suara kota yang bersiap untuk pesta, musik yang dilatih, ternak yang digiring, tawa anak-anak yang gembira oleh kegembiraan yang akan datang. Dan kontras antara dua hal itu, kabar dingin di antara mereka, dan kegembiraan hangat di kejauhan, begitu tajam sehingga Sela hampir tak bisa menanggungnya.

“Mereka akan berpesta, ” katanya. “Besok lusa. Pesta panen terbesar yang pernah ada. Dan air sedang mempercepat langkahnya, dan burung sudah pergi, dan mereka akan berpesta seolah-olah dunia tak pernah lebih aman.”

Lanang memandangnya lama. “Dan kau?” tanyanya, lembut. “Akankah kau berpesta bersama mereka?”

Sela memikirkannya. “Aku akan ada di sana, ” akhirnya ia berkata. “Aku harus. Aku anak Bapa. Tapi aku tak akan berpesta, Lanang. Aku akan berdiri di tengah pesta itu, dan aku akan mengingatnya. Setiap wajah. Setiap tawa. Aku akan menyimpannya. Sebab bila orang tua dari perbukitan itu benar, bila air datang, suatu hari, dan mengambil semua ini, maka pesta ini akan menjadi sesuatu yang pernah ada, dan seseorang harus mengingat bahwa ia pernah ada, dan menyimpannya dengan benar, supaya ia tidak menjadi seolah-olah ia tak pernah ada. Itulah yang akan kulakukan di pesta. Aku akan menjadi orang yang mengingatnya.”

Malam sebelum pesta, Sela tak bisa tidur, dan ia keluar dari rumah dan berdiri di halaman tempat ia pernah mengubur seekor burung, dan ia memandang langit.

Ia tak bisa membaca langit sebagaimana Giri Tua membacanya, ia hanya seorang gadis, dan satu malam pengajaran tak menjadikan seseorang pembaca bintang, tapi ia bisa menemukan satu hal yang ditunjukkan kepadanya, satu hal: burung bintang itu, yang membentangkan sayap, di ketinggian yang sama di atas padi yang sama, susunan yang pernah berdiri di atas dunia ketika air yang besar datang sebelumnya. Ia berdiri di sana, di sana, di atas Nagara Rata yang tidur dan yang besok akan berpesta, dan Sela memandangnya, dan untuk pertama kalinya ia tidak melihatnya sebagai sebuah peringatan tentang sesuatu yang jauh. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang sedang menonton. Sebagai mata. Sebagai sesuatu yang telah melihat ini terjadi sebelumnya, sebuah bangsa yang berpesta di tepi kehancurannya, dan akan melihatnya terjadi lagi, dengan kesabaran benda-benda yang sangat tua, yang tak terkejut oleh apa pun, sebab mereka telah melihat segalanya, berkali-kali, dalam putaran yang terlalu besar untuk diakhiri.

Dan di bawahnya, di bawah halaman, di bawah gundukan kecil tempat seekor burung dulu dikubur dan dibisiki bahwa ia diingat, air bergerak. Lebih cepat sekarang. Lanang benar; ia selalu benar, orang yang mengukur dan bukan menebak. Air yang besar telah mempercepat langkahnya, dan ia bergerak di bawah daratan yang tidur, asin dan sabar dan kini sedikit kurang sabar daripada dulu, mendorong air tawar ke darat, mendorong burung ke darat, mendorong segala sesuatu yang bisa merasakannya ke darat, segala sesuatu kecuali manusia, yang besok akan berkumpul di lapangan tempat empat kanal bertemu, dan menumpuk makanan setinggi seorang anak, dan menyalakan api, dan menyanyi, dan tertawa, dan merayakan kelimpahan sebuah dunia yang sudah, di bawah kaki mereka, di tempat yang tak bisa mereka lihat dan tak mau mereka rasakan, mulai diambil dari mereka, sehasta demi sehasta, generasi demi generasi, menuju malam, masih beberapa generasi jauhnya, tapi mendekat sekarang, mendekat lebih cepat daripada dulu, ketika air akhirnya akan berhenti menghitung, dan mulai datang.


 

BAB SEBELAS

Dewan yang Menertawakan

Kebenaran yang ditertawakan tidak menjadi kurang benar. Ia hanya menunggu, dengan sabar, sampai tak ada lagi yang tersisa untuk menertawakannya.

hukum para penjaga batu Nagara Giri

Orang tua dari Giri itu kembali pada hari kedua setelah pesta panen, dan kepulangannya sendiri adalah sebuah peringatan, sebab ia tak pernah kembali dalam tahun yang sama.

Ia datang menempuh jarak yang sama yang telah ia tempuh pulang beberapa musim lalu, jarak yang berat bagi seseorang semuda apa pun dan hampir mustahil bagi seseorang setua dia, dan ketika Sela melihatnya datang menyusuri tanggul, kecil di kejauhan, bersandar pada tongkatnya, berjalan dengan kelambatan yang menyakitkan untuk ditonton, ia tahu bahwa hanya satu hal yang bisa membawa orang setua itu menempuh perjalanan seperti itu lagi, begitu cepat, di luar musimnya. Ia tidak datang untuk berdagang. Ia tidak datang untuk meramal. Ia datang karena ia telah membaca sesuatu di batu-batunya atau di langitnya yang tak bisa ia diamkan, dan ia telah memutuskan untuk menghabiskan apa yang barangkali tersisa dari kekuatannya untuk mengatakannya satu kali lagi, dengan keras, di tempat yang mungkin mendengarnya.

Sela berlari menemuinya. Lanang, yang belum pergi, ikut bersamanya. Dan ketika mereka mencapai orang tua itu di tanggul, ia berhenti, dan ia memandang keduanya dengan matanya yang terbiasa memandang jauh, dan ada sesuatu di matanya yang membuat Sela takut sebelum sepatah kata diucapkan.

“Bintang itu sudah penuh, ” katanya, ketika ia bisa bicara, sebab napasnya pendek dari perjalanan. “Burung yang membentangkan sayap. Ia telah mencapai ketinggian yang dicatat batu kami sebagai ketinggian terakhir, ketinggian di mana, terakhir kali, air sudah tak bisa lagi dihentikan oleh apa pun. Aku datang untuk mengatakannya kepada ayahmu. Bukan karena aku percaya ia akan mendengar. Karena aku tak bisa hidup dengan tidak mengatakannya. Bawa aku kepadanya, anak. Bawa aku ke dewan. Aku tak punya banyak perjalanan tersisa, dan aku ingin menghabiskan yang terakhir ini dengan benar.”

Dewan Nagara Rata berkumpul di rumah Bapa, di ruang yang sama tempat jamuan dulu digelar, tapi kali ini tanpa kehangatan jamuan, hanya para tetua, duduk dalam lingkaran, dan di tengah mereka seorang tua dari perbukitan yang telah datang dua kali untuk mengatakan satu hal.

Mereka berkumpul karena sopan santun, bukan karena percaya. Itu jelas dari cara mereka duduk, dari pandangan yang mereka tukar, dari kesabaran yang sudah letih bahkan sebelum siapa pun bicara. Orang tua dari Giri dihormati, ia tamu, ia tua, ia membawa ilmu yang berguna, dan maka mereka akan mendengarkannya, sebagaimana orang mendengarkan tamu yang dihormati yang mengatakan sesuatu yang konyol: dengan wajah yang sopan, dan telinga yang sudah menutup.

Awu duduk di sisi Bapa, di tempatnya, dan Sela duduk lebih jauh, di antara yang muda, di tempatnya. Dan di antara mereka, di seberang lingkaran, mata kedua saudari bertemu sekali, dan dalam tatapan itu ada seluruh sejarah dari apa yang telah mereka katakan satu sama lain di ladang utara dan ladang liar, dan keduanya tahu bahwa apa yang akan terjadi di ruang ini adalah versi besar, versi publik, dari pertengkaran yang telah mereka lakukan dalam versi kecil dan privat. Sela memohon dengan matanya. Awu memandang kembali dengan mata yang menyesal dan tak tergoyahkan, mata seseorang yang sudah memutuskan di pihak mana ia berdiri dan tahu bahwa pihak itu akan menyakiti saudarinya.

Orang tua dari Giri berbicara. Ia berbicara dengan baik, lebih baik daripada Sela duga, sebab usia telah mengajarinya bahwa kebenaran tanpa kefasihan adalah kebenaran yang tak didengar. Ia tidak memulai dengan ramalan, ia tahu ramalan akan ditertawakan. Ia memulai dengan apa yang bisa dilihat dan dihitung. Mata air yang berpindah ke darat. Sumur yang menjadi payau. Burung yang pergi dan tak kembali. Garis pantai yang bergeser di batu seorang nakhoda, yang ada di ruangan ini, yang bisa bersaksi. Ia menumpuk tanda di atas tanda, sebagaimana Sela pernah menumpuknya dalam pikirannya, sampai semua tanda itu berdiri bersama dalam satu pandangan, dan untuk sesaat, Sela merasakannya, harapan yang menyakitkan itu lagi, untuk sesaat ruangan itu hening dengan keheningan yang mungkin saja adalah awal dari mendengar.

“Aku punya seorang saksi, ” kata orang tua itu, dan ia memberi isyarat kepada Lanang, yang berdiri.

Seorang nakhoda Tirta berdiri di hadapan dewan Nagara Rata, itu sendiri adalah hal yang ganjil, hampir tak pantas, seorang asing pesisir berbicara di ruang tempat daratan memutuskan urusannya sendiri, dan Sela melihat ketidaknyamanan itu bergerak di sekeliling lingkaran seperti riak. Tapi Lanang bicara dengan tenang, dengan ketenangan orang yang telah berhenti berharap dan tinggal mengukur, dan ia menceritakan batunya: empat takik, empat nakhoda, air setinggi lutut. Dan kemudian, lebih buruk, ia menceritakan mata air Sela, yang berpindah ke darat dua kali dalam dua musim, lebih cepat sekarang, mempercepat langkahnya.

“Aku tidak meminta kalian percaya pada langit, ” Lanang menutup. “Aku tak bisa membaca langit; itu urusan orang tua ini. Aku hanya bisa mengukur air, dan air mengatakan satu hal, dan ia mengatakannya di kampungku dan ia mengatakannya di sini, di tanah kalian, di mata air kalian sendiri: ia naik, dan ia mempercepat. Itu bukan ramalan. Itu pahat dan batu. Pergilah ke mata air di cekungan utara, dan kalian akan menemukannya kering, dan kalian akan menemukan yang baru beberapa langkah lebih ke darat, dan tahun depan ia akan lebih jauh lagi. Itu bisa kalian lihat dengan mata kalian sendiri. Aku hanya meminta kalian melihatnya.”

Untuk sesaat lagi, ruangan hening. Dan dalam keheningan itu, salah satu tetua, bukan Bapa, seorang yang lebih muda, yang ingin menyenangkan Bapa dengan mengatakan apa yang ia tahu Bapa pikirkan, tertawa kecil, tawa yang dimaksudkan untuk memecahkan ketegangan, dan berkata: “Mata air pindah. Burung terbang. Dan seorang nakhoda yang mengukur air dengan pahat ingin kita meninggalkan daratan kita. Berapa yang ia minta, kupikir, untuk membawa kita ke tempat aman dengan perahunya?”

Dan beberapa tetua tersenyum, sebab tuduhan itu, bahwa kabar buruk adalah dagangan, bahwa ketakutan dijual oleh orang yang diuntungkan oleh ketakutan, adalah cara yang nyaman untuk tidak perlu mendengarnya. Lanang tidak membela diri. Ia hanya memandang tetua yang bicara dengan tatapan lelah, tatapan orang yang telah mendengar tuduhan ini sebelumnya dan tahu bahwa membantahnya tak ada gunanya, sebab tuduhan itu tak pernah benar-benar tentang kebenaran kabarnya, melainkan tentang keinginan untuk tidak mempercayainya.

Dan kemudian Bapa Rata berbicara, dan ketika Bapa berbicara, semua diam, sebab pada akhirnya keputusan ada padanya, dan semua tahu, bahkan sebelum ia membuka mulut, apa yang akan ia katakan.

Ia tidak berbicara dengan kemarahan. Itu, sekali lagi, adalah yang paling buruk. Ia berbicara dengan kebaikan, dengan kebijaksanaan seorang tua yang telah memimpin dengan baik selama bertahun-tahun dan telah benar lebih sering daripada siapa pun, dan yang kini, untuk pertama kalinya dalam hal yang paling penting, akan menjadi keliru dengan seluruh kekuatan dari reputasinya untuk menjadi benar.

“Sahabatku dari perbukitan, ” katanya, kepada orang tua Giri, “kau telah menempuh perjalanan yang berat, dua kali, untuk mengatakan kepada kami sesuatu yang kau percaya menyelamatkan kami. Itu adalah tindakan seorang sahabat sejati, dan aku menghormatinya, dan aku tak akan pernah melupakannya.” Ia berhenti. “Tapi aku harus memimpin daratan ini berdasarkan apa yang nyata, bukan apa yang ditakuti. Dan inilah yang nyata. Mata air berpindah; mereka selalu berpindah. Sumur menjadi payau; sebagian sumur selalu payau, dan kami menggali yang baru. Burung pergi; mungkin mereka akan kembali tahun depan, dan kalau tidak, akan datang burung lain. Air naik di pesisir; pesisir adalah tempat air, dan kami bukan pesisir. Tiap hal yang kau katakan, sahabatku, adalah benar. Dan tiap hal, diambil sendiri, adalah hal yang pernah terjadi sebelumnya dan tak menenggelamkan siapa pun.”

“Tapi diambil bersama, ” mulai orang tua Giri.

“Diambil bersama, ” Bapa memotong, lembut, “mereka membentuk sebuah cerita yang menakutkan. Aku mengerti. Tapi sebuah cerita yang menakutkan bukanlah kebenaran, sahabatku. Manusia selalu bisa mengambil banyak hal kecil yang benar dan menumpuknya menjadi satu hal besar yang menakutkan. Itu adalah bakat tertua kita, dan bakat yang paling berbahaya, sebab ia membuat kita meninggalkan yang nyata demi yang dibayangkan.” Ia memandang ke sekeliling lingkaran, dan suaranya naik, mengisi ruangan, dan Sela mendengar di dalamnya bukan kebodohan, Bapa tidak bodoh, itulah tragedinya, melainkan keyakinan yang begitu dalam sehingga ia telah berhenti bisa membedakan dirinya dari kebenaran. “Berdirilah di pintu ini dan pandang keluar. Daratan, sejauh mata memandang. Setiap kota, setiap kanal, setiap ladang yang dibangun oleh tangan ayah dari ayah kita. Air ingin mengambil ini? Biarkan ia mencoba. Biarkan ia menyeberangi seribu kota. Biarkan ia menelan setiap dusun antara pesisir dan kita. Air tunduk pada Nagara Rata, sahabatku. Ia mengalir di kanal yang kita gali. Ia berhenti di tanggul yang kita bangun. Ia datang ketika kita memanggilnya dan pergi ketika kita menyuruhnya. Tiga ribu tahun ia menjadi hamba kita. Ia tidak akan menjadi tuan kita sekarang.”

Dan ruangan, yang telah menahan napas, menghembuskannya dalam gumaman setuju, dalam anggukan, dalam kelegaan orang yang diberi izin untuk tidak takut. Keputusan telah dibuat. Tidak akan ada perubahan. Kanal selatan akan digali. Daratan akan diperluas. Dan kabar buruk seorang nakhoda dan ramalan seorang tua dari perbukitan akan menjadi, dalam seminggu, sebuah cerita yang diceritakan orang dengan tawa: ingat ketika orang Tirta itu mencoba menakuti dewan, dan Bapa menaruhnya di tempatnya?

Orang tua dari Giri tidak membantah lagi. Ia telah hidup terlalu lama untuk membuang sisa kekuatannya melawan sebuah pintu yang telah ditutup. Ia hanya menundukkan kepalanya, sebagaimana ia menundukkannya di jamuan dulu, dan ia berdiri, perlahan, dengan bantuan tongkatnya.

Tapi di ambang, sebelum ia pergi, ia berhenti, dan ia mengatakan satu hal terakhir, bukan kepada dewan, bukan kepada Bapa, melainkan ke ruangan secara keseluruhan, ke udara, ke batu-batu rumah yang akan, ia tahu, hidup lebih lama daripada orang-orang yang duduk di dalamnya.

“Kalian benar bahwa air telah menjadi hamba kalian selama tiga ribu tahun, ” katanya. “Aku tak akan membantahnya. Tapi aku akan mengatakan kepada kalian satu hal yang diketahui orang-orang perbukitan yang tak diketahui orang daratan, sebab kami tinggal di tempat di mana kami bisa melihat jauh, dan kalian tinggal di tempat di mana segala sesuatu tampak dekat dan rata dan abadi. Tidak ada hamba yang menjadi hamba selamanya. Setiap hamba menunggu. Air telah melayani kalian selama tiga ribu tahun bukan karena ia tunduk, melainkan karena, selama tiga ribu tahun, melayani kalian dan menunggu adalah hal yang sama baginya. Tapi ia menunggu, sahabat-sahabatku. Sepanjang tiga ribu tahun itu, di bawah setiap kanal yang kalian banggakan, ia menunggu. Dan apa yang menunggu cukup lama selalu, pada akhirnya, sampai pada gilirannya.”

Lalu ia pergi, dan kali ini ia tak akan kembali, dan Sela tahu itu memandangnya menyusuri tanggul untuk terakhir kalinya, semakin kecil, sampai daratan yang datar dan yakin menelannya ke dalam jaraknya sendiri, seorang tua yang telah menghabiskan perjalanan terakhirnya untuk mengatakan sebuah kebenaran yang ditertawakan, dan yang pergi tanpa kepahitan, sebab ia tahu sesuatu yang membuat kepahitan tak ada gunanya: bahwa kebenaran tidak membutuhkan untuk dipercaya agar menjadi benar, dan bahwa air tidak membutuhkan izin dewan untuk datang.

Dan di bawah rumah tempat dewan telah memutuskan untuk tidak takut, di bawah seluruh daratan yang malam ini tidur dengan nyenyak dari kelegaan telah diberitahu bahwa ia aman, air menunggu, sebagaimana ia telah menunggu selama tiga ribu tahun, asin dan sabar di bawah air tawar yang melarikan diri darinya, di bawah kanal-kanal yang mengira mereka menguasainya, di bawah tanggul-tanggul yang mengira mereka menahannya. Ia tidak tersinggung oleh tawa dewan. Air tidak bisa tersinggung. Ia hanya menunggu, dengan kesabaran yang telah lama melampaui kesabaran dan menjadi sesuatu yang lebih dekat pada kepastian, gilirannya yang sedang datang, masih beberapa generasi jauhnya, tapi datang, datang lebih cepat sekarang, mendekat di bawah daratan yang tertawa, menuju malam ketika hamba yang telah menunggu tiga ribu tahun akhirnya akan berdiri, dan mengambil apa yang selama ini hanya ia jaga.


 

BAB DUA BELAS

Awu Memilih Diam

Yang paling sulit dimaafkan bukanlah orang yang tak percaya pada bahaya. Melainkan orang yang percaya, dan diam, dan menyelamatkan dirinya sendiri.

yang tak pernah dikatakan siapa pun tentang Ratu Kidul, sebab tak ada yang tahu cukup untuk mengatakannya

Pada malam setelah dewan, ketika seluruh Nagara Rata tidur dengan kelegaan telah diberitahu bahwa ia aman, Awu tidak tidur.

Ia berbaring di tempatnya, dekat perapian, mendengarkan napas Sela yang tidur di sampingnya, atau yang berpura-pura tidur; Awu tak pernah yakin, di malam-malam itu, mana di antara mereka yang benar-benar tidur dan mana yang hanya berbaring diam supaya yang lain tak perlu bicara, dan ia memandang ke atap yang tinggi dan gelap, dan ia memikirkan apa yang telah ia dengar di dewan. Dan untuk pertama kalinya, sendirian dalam gelap, di tempat di mana tak ada Bapa untuk dilayani dan tak ada tetua untuk diyakinkan dan tak ada saudari untuk dilawan, Awu membiarkan dirinya berpikir hal yang tak ia izinkan dirinya pikirkan di siang hari.

Ia berpikir: bagaimana bila mereka benar.

Bukan orang Tirta itu sendiri, Awu tak terlalu peduli pada orang Tirta itu, yang ia anggap, dengan ketidakadilan yang ia ketahui ketidakadilannya, sebagai sesuatu yang mengambil saudarinya darinya. Bukan pula orang tua dari perbukitan, walau orang tua itu sulit untuk diabaikan. Melainkan tanda-tandanya. Mata air yang berpindah ke darat. Sumur yang menjadi payau. Burung yang tak kembali. Awu telah mendengar semuanya di dewan, dan ia telah menyaksikan Bapa membantah semuanya, dan ia telah mengangguk bersama yang lain, dan ia telah merasa lega bersama yang lain. Tapi Awu cerdas, lebih cerdas dari Bapa, ia tahu ini tanpa kesombongan, sebagaimana seseorang tahu ia lebih tinggi atau lebih cepat dari orang lain, dan kecerdasan itu, di malam hari, ketika tak ada yang menyaksikannya, tak bisa berbohong kepada dirinya sendiri sebaik yang bisa dilakukannya di siang hari.

Bapa membantah tiap tanda dengan mengambilnya sendiri-sendiri, dan tiap tanda, sendiri, memang bisa dibantah. Tapi Awu telah mengamati cara Empu Wani berpikir, dan Empu Wani telah mengajarinya, tanpa pernah mengatakannya, satu hal: bahwa kebenaran sering bersembunyi bukan di dalam satu hal melainkan di dalam pola dari banyak hal, dan bahwa orang yang membantah sebuah pola dengan membantah tiap bagiannya secara terpisah adalah orang yang telah memutuskan, sebelum ia mulai, untuk tidak melihat pola itu. Bapa telah memutuskan untuk tidak melihat. Dan Awu, di malam hari, tidak bisa tidak melihat.

Maka ia tahu. Itulah hal yang harus dipahami tentang Awu, hal yang membuat segala yang ia lakukan berikutnya menjadi bukan kebodohan melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap dan lebih manusiawi: ia tahu.

Ia tahu bahwa air datang. Mungkin tidak dalam hidupnya, bahkan orang tua Giri mengatakan itu, bahkan Lanang, mungkin tidak dalam hidup anak-anaknya. Tapi ia datang, dan ia mempercepat langkahnya, dan suatu hari, kepada seseorang yang membawa darah Nagara Rata, ia akan tiba. Awu tahu ini dengan bagian dirinya yang tak bisa berbohong, bagian yang sama yang membuatnya unggul dalam segala hal, dan untuk beberapa malam ia berbaring dengan pengetahuan itu, memutarnya, mencari apa yang harus dilakukan dengannya.

Dan di sinilah, kelak, seseorang yang menceritakan kisahnya akan berhenti, dan berkata: di sinilah ia bisa menjadi pahlawan. Sebab ada sebuah jalan, di persimpangan itu, yang terbuka bagi Awu, dan jalan itu jelas, dan jalan itu sulit, dan jalan itu adalah jalan yang akan dipilih oleh seseorang yang baik. Jalan itu adalah: gunakan apa yang kau tahu. Kau adalah anak Bapa, calon penggantinya, yang paling cerdas di daratan. Kau memiliki pengaruh, dan kau memiliki waktu, bukan banyak, tapi beberapa generasi, dan beberapa generasi adalah cukup untuk hal-hal besar. Mulailah memindahkan orang ke darat, sedikit demi sedikit, tanpa panik, sepanjang generasi. Bangun di tanah yang lebih tinggi. Ajari anak-anak tentang air. Lakukan apa yang diminta orang Tirta itu: bukan melarikan diri, melainkan bersiap, mengingat, mewariskan, supaya ketika air akhirnya datang, ia menemukan sebuah bangsa yang telah lama tahu ia akan datang, dan telah lama bersiap, dan tidak tenggelam bersama kebanggaannya.

Itulah jalan pahlawan. Awu melihatnya dengan jelas. Ia bahkan, untuk beberapa malam, mempertimbangkannya. Dan kemudian ia menolaknya, dan alasan ia menolaknya adalah hal yang paling penting yang harus dipahami tentang perempuan yang kelak akan menjadi Ratu Kidul.

Ia menolaknya bukan karena ia jahat. Ia menolaknya karena ia memandang jalan itu sampai ke ujungnya, sebagaimana ia memandang segala hal sampai ke ujungnya, dan di ujungnya ia melihat sesuatu yang tak bisa ia tanggung.

Sebab jalan pahlawan, bila diikuti sampai ke ujungnya, mengarah ke satu hal: penerimaan. Untuk menyiapkan sebuah bangsa menghadapi air adalah untuk menerima bahwa air akan menang. Untuk memindahkan orang ke darat, untuk mengajari anak-anak mengingat, untuk mewariskan kebenaran sepanjang generasi, semua itu bersandar pada satu pengandaian yang tak terucap: bahwa daratan ini akan hilang. Bahwa Nagara Rata, kota-kota lurus ini, kanal-kanal ini, rumah tempat ia tidur di samping saudarinya, semua ini akan menjadi dasar laut, dan yang terbaik yang bisa dilakukan siapa pun adalah memastikan bahwa orang-orangnya selamat untuk mengingatnya, di tempat lain, di tanah lain, sebagai sesuatu yang dulu ada.

Dan itulah persis yang tak bisa diterima Awu. Itulah cacat di jantung dunia yang telah menyiksanya sejak ia masih kecil, sejak sebelum burung mati di halaman, cacat yang ia lihat dan saudarinya lihat dan keduanya menjawab dengan cara yang berlawanan. Sela menjawabnya dengan mengingat: ya, ia akan hilang, dan aku akan menyimpannya supaya kehilangannya tidak sempurna. Jalan pahlawan adalah jalan Sela, diperbesar ke ukuran sebuah bangsa: ya, ia akan hilang, dan kita akan bersiap supaya kehilangannya tidak total. Tapi keduanya, pada dasarnya, adalah jalan penerimaan. Keduanya berkata kepada air: kau akan menang, dan kami hanya akan mengatur seberapa anggun kekalahan kami.

Awu tidak bisa berkata itu. Sesuatu di dalam dirinya, mata empu, hati raja, atau barangkali hanya sebuah luka yang tak pernah sembuh sejak ia pertama kali menyadari bahwa segala sesuatu berakhir, sesuatu di dalam dirinya menolak untuk berkata kepada air: kau akan menang. Dan bila ada jalan lain, jalan mana pun, betapapun gelap, betapapun mahal, yang memungkinkannya untuk berkata sebaliknya, untuk berkata kepada air: tidak, kau tidak akan menang, tidak atas apa yang kupilih untuk kuselamatkan, maka itulah jalan yang akan ia pilih, walau ia harus berjalan di atasnya sendirian, walau ia harus meninggalkan saudarinya di belakang, walau harga jalan itu adalah segala sesuatu yang membuat hidup layak dijalani.

Maka ia bangun, di malam ketiga setelah dewan, ketika ia akhirnya yakin akan apa yang akan ia lakukan, dan ia pergi ke Empu Wani.

Ia pergi di malam hari, diam-diam, melewati saudarinya yang tidur atau berpura-pura tidur, melewati Bapa yang tidur dengan keyakinan seorang lelaki yang telah menaruh sebuah ancaman di tempatnya, melewati kota yang tidur dengan kelegaan. Ia berjalan ke tepi kota, ke rumah yang terlalu besar untuk seseorang yang tinggal sendiri, dan ia mendapati Empu Wani terjaga, sebab Empu Wani selalu terjaga, sebab orang yang berurusan dengan menghapus waktu barangkali tak lagi tidur sebagaimana orang lain tidur.

Ia tidak terkejut melihat Awu. Itulah hal pertama yang Awu perhatikan, dan hal yang seharusnya memperingatkannya, walau ia terlalu jauh dalam keputusannya untuk diperingatkan: bahwa Empu Wani tidak terkejut, bahwa ia memandang Awu datang di tengah malam dengan ekspresi seseorang yang telah lama menunggu seorang tamu yang ia tahu pasti akan datang.

“Kau telah memutuskan, ” katanya. Bukan pertanyaan.

“Air datang, ” kata Awu. “Aku tahu ini. Dewan tidak tahu, atau tak mau tahu, tapi aku tahu. Dan aku tidak akan, ” suaranya, yang selalu mantap, bergetar sedikit, dan ia membencinya, dan ia melanjutkan melewatinya, “, aku tidak akan menerimanya. Aku tidak akan menghabiskan hidupku menyiapkan sebuah kekalahan yang anggun. Kau mengatakan kepadaku, dulu, bahwa waktu bisa diambil dari dalam sebuah benda. Dari buah. Dari kayu. Dari, segala sesuatu yang sama. Aku datang untuk bertanya: seberapa besar? Berapa banyak yang bisa kau buang waktunya? Sebuah buah, ya. Tapi sebuah rumah? Sebuah orang? Banyak orang? Sebuah, ” ia berhenti, di tepi sebuah kata yang terlalu besar.

“Sebuah istana, ” kata Empu Wani, pelan, menyelesaikannya untuknya, sebagaimana ia selalu membiarkan Awu mengucapkan setengahnya lalu mengucapkan setengah yang lain, supaya keputusan itu selalu terasa setengah milik Awu. “Sebuah keluarga. Sebuah seluruh kaum bangsawan yang waktunya telah dibuang, yang tak bisa lagi ditelan air, sebab apa yang air ambil adalah apa yang berakhir, dan kalian tidak akan lagi mengandung akhir.” Ia memandang Awu dengan matanya yang dekat dan tajam. “Itu yang kau tanyakan. Dan jawabannya adalah ya. Secara prinsip, ya. Aku telah memikirkannya lebih lama daripada yang kau bayangkan. Tapi aku harus mengatakan kepadamu harganya, anak, sebab aku bukan orang jahat, apa pun yang dikatakan orang tentangku. Harganya adalah yang sama dengan harga buah itu. Kalian tidak akan menua. Kalian tidak akan hilang. Dan kalian tidak akan, ”

“Aku tahu harganya, ” kata Awu, memotongnya, sebab ia tak bisa menanggung mendengarnya diucapkan keras-keras, sebab selama ia tak mendengarnya diucapkan ia bisa berpura-pura ia tak sepenuhnya memahaminya. “Aku sudah memegang buah itu. Aku tahu apa rasanya di tangan. Aku tahu apa yang hilang darinya. Aku tidak peduli. Lebih baik utuh dan kosong selamanya daripada penuh dan hilang. Lebih baik menjadi seperti buah itu daripada menjadi seperti keluarga Wregu, yang kini hanya nama, hanya tanah tempat bunga liar tumbuh. Ajari aku. Apa pun yang dibutuhkan, ajari aku. Aku akan membayar harganya, dan aku akan membayarnya untuk semua orang yang kucintai yang bersedia membayarnya bersamaku.”

Dan Empu Wani mengangguk, dan mulai mengajarinya, dan itulah malam ketika Ratu Kidul mulai ada, bukan di dasar laut, bukan dalam keabadian, melainkan di sebuah rumah di tepi kota, dalam seorang gadis yang memutuskan bahwa ia lebih suka tidak hidup daripada kehilangan.

Tapi ada satu hal yang tak ia lihat, malam itu, satu hal yang akan ia perlukan sepuluh ribu tahun untuk benar-benar memahaminya, dan inilah hal itu: bahwa ketika ia berkata lebih baik utuh dan kosong daripada penuh dan hilang, ia mengira ia sedang memilih untuk menyelamatkan apa yang ia cintai. Ia mengira ia sedang berkata kepada air: kau tidak akan mengambil Bapa, kau tidak akan mengambil rumah ini, kau tidak akan mengambil, ia hampir tak berani memikirkannya, kau tidak akan mengambil Sela. Ia mengira menghalus adalah cara untuk memegang yang ia cintai begitu erat sehingga air tak bisa merenggutnya. Ia belum mengerti, bagaimana ia bisa, ia masih muda, ia masih hidup, ia masih memiliki tubuh yang mengandung waktu, bahwa memegang sesuatu begitu erat sehingga ia tak bisa hilang adalah cara lain untuk kehilangannya. Bahwa buah yang tak membusuk juga tak bisa dimakan, tak bisa dibagi, tak bisa dinikmati; ia hanya bisa dipandang, selamanya, utuh dan tak tersentuh dan sendiri. Bahwa apa yang akan ia selamatkan dengan menghalus bukanlah Bapa, bukan rumah, bukan Sela, sebab Sela tak akan pernah ikut, Awu sudah tahu ini, jauh di dalam, walau ia belum mengizinkan dirinya tahu, melainkan hanya dirinya sendiri, sendirian, utuh dan kosong dan abadi, memandang ke atas dari dasar laut pada sebuah dunia yang telah ia pilih untuk tidak ia tanggung kehilangannya, dan yang, karena pilihan itu, akan ia kehilangan lebih total daripada Sela, yang merelakannya, akan pernah kehilangannya.

Tapi itu nanti. Malam itu, Awu hanya belajar. Ia duduk di rumah Empu Wani sampai menjelang fajar, dan ia menyerap apa yang diajarkan kepadanya, dengan mata empu dan hati raja dan luka yang tak sembuh, dan ketika ia pulang menjelang pagi, melewati saudarinya yang tidur, ia berhenti sejenak di samping Sela, dan ia memandangnya, dan sesuatu di dadanya yang ia telah putuskan untuk membuang waktunya berdenyut, untuk terakhir kali barangkali, dengan sesuatu yang sangat dekat dengan duka. Lalu ia berbaring, dan ia menutup matanya, dan di luar, di sepanjang kanal yang lurus dan setia, air mengalir ke mana ia disuruh, dan menyimpan apa yang jatuh ke dalamnya, dan menunggu, tidak tahu, atau barangkali tahu dengan cara air tahu, bahwa di rumah di atasnya seorang gadis baru saja memilih untuk bertemu dengannya bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai sesuatu yang akan turun ke dalamnya dengan sukarela, dan tinggal di dasarnya, utuh dan kosong, lebih lama daripada air itu sendiri akan ingat mengapa ia pernah datang.


 

BAGIAN V

Ambang


 

BAB TIGA BELAS

Air Masuk Kanal

Bencana besar tidak datang sebagai bencana. Ia datang sebagai sesuatu yang kecil dan ganjil, sesuatu yang bisa dijelaskan, sesuatu yang masih bisa kau pungkiri, sampai pada suatu pagi kau tak bisa lagi.

yang dipahami terlambat oleh orang Nagara Rata

Air masuk ke kanal kota pada sebuah pagi yang dalam segala hal lain tampak biasa, dan itulah cara bencana besar selalu datang: pada pagi yang biasa, lewat sebuah hal kecil, sehingga ketika orang mengingatnya kemudian mereka tak bisa percaya bahwa langit tidak memberi tanda yang lebih besar.

Seorang perempuan menemukannya pertama. Ia turun ke kanal di tepi kota untuk mengambil air, sebagaimana ia turun setiap pagi, sebagaimana ibunya turun dan nenek ibunya turun, ke kanal yang sama yang telah memberi air tawar kepada kota sejak kota berdiri. Ia mencelupkan periuknya, dan ia mengangkatnya, dan, sebab ia haus, sebab pagi itu panas, sebab tak ada alasan di dunia untuk tidak melakukannya, ia minum.

Dan ia memuntahkannya. Asin. Bukan asin yang aneh sedikit, bukan payau seperti sumur yang mulai rusak, asin seperti laut, asin seperti air mata, asin dengan rasa yang tak seorang pun di kota itu pernah rasakan di kanal mereka, sebab kanal mereka membawa air dari sungai-sungai daratan, dari hujan yang jatuh di tanah tinggi, dari segala sesuatu kecuali laut. Laut ada terlalu jauh untuk masuk ke kanal kota. Itu telah benar selama tiga ribu tahun. Pagi itu, ia berhenti benar.

Perempuan itu berdiri di tepi kanal dengan rasa asin di mulutnya dan periuk di tangannya, dan ia memandang air yang tampak persis seperti air yang selalu ada di sana, jernih, tenang, mengalir lurus ke arah yang selalu ia alir, dan ia merasakan sesuatu yang tak ia punya nama untuknya, sesuatu yang lebih tua daripada ketakutan, sesuatu yang bangkit dari bagian tubuh yang tahu sebelum pikiran tahu. Lalu ia berlari, periuknya tertinggal, untuk memberitahu seseorang, siapa pun, bahwa kanal telah berubah menjadi laut.

Mula-mula, sebagaimana yang sudah bisa diduga, mereka menjelaskannya.

Para tetua datang ke kanal, dan mereka mencicipi air, dan mereka mengakui bahwa ya, ia asin, dan kemudian mereka mulai, dengan kefasihan orang yang telah lama berlatih, menjelaskan mengapa itu tak berarti apa-apa. Mungkin sebuah lapisan garam di dalam tanah telah pecah, di suatu tempat di hulu, dan mencemari air, itu terjadi kadang-kadang, di tempat-tempat tertentu. Mungkin ada bangkai di kanal, sesuatu yang membusuk, yang mengubah rasa. Mungkin, dan ini adalah penjelasan yang paling disukai, sebab ia paling menenangkan, mungkin ini hanya satu pagi, satu keanehan, sesuatu yang akan berlalu dengan air berikutnya, dengan hujan berikutnya, dengan hari berikutnya.

Maka mereka menunggu hari berikutnya. Dan pada hari berikutnya, air masih asin. Dan mereka menunggu lagi, dan menjelaskan lagi, dan pada hari ketiga seseorang yang lebih jujur atau lebih takut daripada yang lain menelusuri kanal ke arah dari mana air datang, ke selatan, selalu ke selatan, dan ia menemukan, di tempat kanal kota bertemu dengan kanal yang lebih besar yang datang dari arah pesisir, bahwa air asin masuk dari sana, dari arah laut, mengalir ke hulu, ke daratan, ke tempat yang selama tiga ribu tahun hanya dialiri oleh air yang mengalir ke arah sebaliknya.

Kanal tidak rusak. Tak ada lapisan garam yang pecah, tak ada bangkai. Yang terjadi jauh lebih sederhana dan jauh lebih mengerikan: laut telah naik cukup tinggi, dan telah datang cukup dekat, sehingga pada pasang tertinggi ia kini bisa mendorong dirinya ke dalam mulut kanal yang menghadap ke pesisir, dan mengalir ke hulu, melawan arah yang seharusnya, ke jantung daratan. Air laut tidak lagi menunggu di kejauhan. Ia telah menemukan sebuah pintu, pintu yang digali oleh tangan manusia sendiri, kanal yang dibangun untuk membawa air tawar ke laut, kini membawa air asin dari laut, dan ia telah masuk.

Sela mendengar kabar itu di hari pertama, dan ia tidak perlu menunggu hari ketiga untuk memahami apa artinya, sebab ia telah diajari, dan sebab ia telah mengingat.

Ia pergi ke kanal dan ia mencicipi air dengan tangannya sendiri, dan ia merasakan laut di tempat yang seharusnya tawar, dan ia memikirkan semua yang telah menuntunnya ke pagi ini: mata air yang berpindah ke darat, sumur yang menjadi payau, burung yang pergi, batu Lanang dengan empat takiknya, bintang burung yang telah mencapai ketinggian terakhirnya. Semua tanda itu, selama ini, terjadi di tempat yang tak bisa dilihat, di bawah tanah, di langit, di pesisir yang jauh. Pagi ini, untuk pertama kalinya, salah satu dari mereka telah naik ke permukaan, ke tempat yang tak bisa diabaikan, ke mulut setiap orang di kota yang minum dari kanal. Air telah berhenti memberi tanda yang hanya bisa dibaca oleh pengingat. Ia telah mulai memberi tanda yang bisa dirasakan oleh lidah.

Ia menemukan Lanang di tepi kota, dan ia tak perlu mengatakan apa-apa, sebab Lanang sudah tahu, sebab seorang pelaut mengenali laut bahkan ketika ia datang di tempat yang salah.

“Ia masuk lewat kanal, ” kata Lanang. Wajahnya pucat, dan untuk pertama kalinya sejak Sela mengenalnya, ada ketakutan yang nyata di sana, bukan kekhawatiran terukur seorang yang mengukur air, melainkan ketakutan manusia biasa yang melihat sesuatu yang ia tahu akan datang tiba lebih cepat dari yang ia harapkan. “Aku tak menduga ini. Aku menduga air akan datang dari bawah, lewat tanah, pelan, sepanjang generasi. Aku tak menduga ia akan menemukan kanal. Kanal-kanal kalian, Sela, yang kalian banggakan, yang kalian gali lurus dan dalam dari pesisir ke jantung daratan, mereka adalah jalan. Kalian menggali jalan untuk air, selama tiga ribu tahun, dan kalian menyebutnya membawa air ke laut. Tapi sebuah jalan berjalan dua arah. Dan sekarang laut telah menemukannya.”

Dan Sela memikirkan kanal selatan, kanal baru yang Bapa akan gali, lebih jauh ke selatan, lebih dekat ke laut, lebih dalam, dan ia merasa mual, sebab ia mengerti, dengan kejelasan yang mengerikan, bahwa setiap kanal yang digali Nagara Rata untuk menjadi lebih besar adalah pintu lain yang dibuka untuk air, dan bahwa kebanggaan mereka, ambisi mereka, keinginan mereka untuk tumbuh dan meluas dan menjadi terlalu besar untuk hilang, semua itu, justru itu, adalah yang sedang mengundang air masuk lebih cepat.

Bapa Rata datang ke kanal pada hari keempat, ketika sudah tak mungkin lagi tidak datang, dan ia berdiri di tepi air asin dengan wajah yang Sela tak pernah lihat sebelumnya.

Sebab Bapa tidak bodoh, itu, sekali lagi, selalu, adalah tragedinya, dan berdiri di tepi kanal yang telah berubah menjadi laut, ia mengerti. Sela melihatnya mengerti. Ia melihat pemahaman itu masuk ke wajah ayahnya seperti air masuk ke kanal, melawan arah, ke tempat yang selama ini terlindung darinya, dan untuk satu saat yang panjang dan mengerikan ia melihat Bapa Rata, yang telah memimpin dengan baik, yang telah benar lebih sering daripada siapa pun, yang telah berdiri di dewan dan berkata air tunduk pada Nagara Rata, ia melihatnya berdiri di tepi bukti bahwa ia keliru, dan ia melihat sesuatu di dalam lelaki tua itu berperang dengan dirinya sendiri.

Untuk satu saat, pintu terbuka. Untuk satu saat, Sela percaya, berharap, dengan harapan yang sudah terlalu sering dikecewakan tapi yang menolak untuk mati, bahwa Bapa akan berbalik kepada kota dan berkata: aku keliru. Orang tua dari perbukitan benar. Nakhoda itu benar. Air datang, dan kita harus bersiap, dan kita harus mulai sekarang. Satu saat, satu kalimat, dan sejarah bisa berjalan dengan cara yang lain.

Tapi mengakui itu, bagi Bapa, bukan hanya mengakui sebuah fakta tentang air. Itu adalah mengakui bahwa seluruh hidupnya, setiap keputusan, setiap keyakinan, kebanggaan yang telah ia berikan kepada kotanya, kepastian yang dengannya ia telah menertawakan seorang tua yang menempuh perjalanan dua kali untuk menyelamatkannya, bahwa semua itu telah keliru, di hal yang paling penting, dan bahwa kekeliruannya akan menenggelamkan dunia. Dan itu adalah terlalu besar. Tak ada manusia yang cukup kuat untuk mengangkat beban sebesar itu dalam satu pagi di tepi kanal. Maka Bapa melakukan apa yang dilakukan manusia ketika kebenaran terlalu berat: ia memungutnya sebagian, dan menurunkannya kembali.

“Pasang tinggi, ” katanya, akhirnya, kepada kota yang menunggu kata-katanya. Suaranya mantap, tapi Sela, yang mengenalnya, mendengar usaha di balik kemantapan itu. “Pasang yang luar biasa tinggi, didorong oleh angin barangkali, atau musim. Ia telah mendorong air laut ke kanal kita. Itu akan surut. Kita akan menutup mulut kanal selatan dengan tanggul sampai pasang berlalu, dan kita akan menggali kanal air tawar yang baru dari hulu, dari tanah tinggi, untuk sementara. Ini adalah masalah, dan kita akan menyelesaikannya, sebagaimana kita selalu menyelesaikan masalah.” Ia berpaling dari air. “Ini bukan apa yang ditakuti orang tua itu. Ini adalah pasang tinggi. Tak lebih.”

Dan kota, yang ingin mempercayainya, mempercayainya, sebagian besar dari mereka, sebagian besar dari waktu. Tapi sesuatu telah berubah, dan semua merasakannya, walau hanya sedikit yang akan mengakuinya. Sebab kau bisa menjelaskan air asin di kanal. Tapi kau tak bisa, setelah kau merasakannya di lidahmu sendiri, sepenuhnya melupakan rasanya. Laut kini punya rasa, di Nagara Rata, di tempat yang dulu hanya tawar. Dan rasa itu akan tinggal, di bawah setiap kata penenang, di bawah setiap penjelasan, mengingatkan, mengingatkan, mengingatkan.

Malam itu, kedua saudari berdiri bersama di tepi kanal, sendirian, setelah kota tidur, dan untuk pertama kalinya sejak ladang liar mereka tidak berdebat.

Mereka tak perlu berdebat. Air asin di antara mereka telah menyelesaikan perdebatan dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh kata-kata mana pun: ia telah membuktikan, kepada keduanya, bahwa apa yang selama ini hanya firasat bagi Sela dan hanya kemungkinan yang ditolak bagi Awu adalah nyata. Air datang. Mereka berdua tahu sekarang. Tak ada lagi yang perlu diyakinkan, tak ada lagi yang perlu dibantah. Hanya tinggal pertanyaan yang selalu memisahkan mereka, pertanyaan yang kini menjadi mendesak: apa yang harus dilakukan dengan kebenaran yang akhirnya tak terbantahkan.

“Kau sudah tahu, ” kata Awu, pelan, memandang air gelap. “Jauh sebelum ini. Kau sudah tahu sejak burung itu, mungkin. Sejak mata air pindah.”

“Ya, ” kata Sela.

“Dan kau tak pernah berhenti tahu. Bahkan ketika aku menyuruhmu berhenti. Bahkan ketika Bapa menertawakan orang tua itu. Kau hanya, terus tahu, diam-diam, sendirian.” Awu menoleh kepadanya, dan di wajahnya ada sesuatu yang sangat dekat dengan rasa hormat, dan sesuatu yang lebih dekat lagi dengan duka. “Aku tak tahu bagaimana kau menanggungnya. Mengetahui, dan diam, dan tak bisa membuat siapa pun percaya. Aku tak tahu bagaimana kau tidak menjadi gila karenanya.”

“Aku mengingat, ” kata Sela, sederhana. “Itu yang kulakukan dengannya. Setiap tanda, aku menyimpannya. Setiap hari, aku menyimpannya. Mengetahui tanpa bisa berbuat apa-apa akan membuat siapa pun gila, kau benar. Tapi mengingat bukan tidak berbuat apa-apa, Awu. Mengingat adalah sesuatu. Ia adalah satu-satunya sesuatu yang bisa kulakukan, dan maka aku melakukannya, dan ia menjagaku tetap waras. Aku tak bisa menghentikan air. Tapi aku bisa menjadi tempat di mana semua ini, ” ia mengangkat tangannya ke arah kota yang tidur, kanal yang asin, daratan yang luas dan terkutuk, “, semua ini tidak akan sepenuhnya hilang.”

Dan Awu tidak menjawab, sebab ia juga punya rencana untuk kebenaran yang tak terbantahkan, rencana yang sudah ia mulai pelajari di rumah Empu Wani, rencana yang sama sekali berbeda dari rencana saudarinya dan yang tak bisa ia ceritakan kepada saudarinya, belum, mungkin tak akan pernah. Maka kedua saudari berdiri dalam diam di tepi kanal yang telah menjadi laut, masing-masing memegang rencananya sendiri untuk hari ketika air datang, masing-masing mencintai yang lain, masing-masing tahu kini bahwa mereka tak akan menghadapi hari itu bersama. Dan di bawah mereka, di kanal yang dulu tawar dan kini asin, air laut mengalir ke hulu, ke jantung daratan, melawan arah, dengan kesabaran yang akhirnya mulai berbuah, bukan lagi menunggu di kejauhan, bukan lagi bergerak hanya di bawah tanah tempat tak ada yang merasakannya, melainkan di sini, di permukaan, di mulut setiap orang, asin dan nyata dan tak terbantahkan, langkah pertama dari sebuah kedatangan yang telah tiga ribu tahun dalam perjalanan, dan yang kini, akhirnya, telah sampai di pintu.


 

BAB EMPAT BELAS

Dua Jalan

Ada perpisahan yang lebih dalam daripada kematian. Kematian memisahkan dua orang yang ingin tinggal bersama. Tapi ada perpisahan di mana dua orang yang saling mencintai memandang jalan yang sama dan tahu mereka harus berjalan ke arah yang berlawanan, dan tetap saling mencintai sepanjang jalan.

yang dikatakan, jauh kemudian, tentang dua saudari yang menjadi dua bangsa

Setelah air masuk ke kanal, waktu di Nagara Rata berubah, walau tak seorang pun akan bisa menunjuk hari ketika ia berubah.

Pasang tinggi tidak surut, sebagaimana Bapa berjanji ia akan surut. Atau lebih tepatnya: ia surut, dan kembali, dan surut, dan kembali, dan tiap kali ia kembali ia datang sedikit lebih jauh ke hulu, sehingga apa yang mula-mula hanya menyentuh kota-kota di tepi selatan perlahan menjalar ke utara, kanal demi kanal, sumur demi sumur. Bapa menutup mulut kanal selatan dengan tanggul, sebagaimana ia janjikan, dan untuk satu musim ia berhasil, dan kota bernapas lega dan mulai melupakan rasa asin itu. Lalu pasang datang lebih tinggi dari tanggul, dan menelannya, dan masuk lagi, dan kali ini tak ada yang bisa menyebutnya pasang tinggi yang luar biasa, sebab ia telah datang terlalu sering untuk disebut luar biasa.

Ini berlangsung bukan dalam hari atau bulan, melainkan dalam tahun. Air bersabar, sebagaimana ia selalu bersabar. Ia tidak datang sebagai banjir yang menenggelamkan dalam semalam; itu akan datang nanti, untuk generasi yang lain. Untuk generasi Awu dan Sela, air datang sebagaimana usia datang pada seseorang yang dicintai: terlalu pelan untuk dilihat dari hari ke hari, terlalu pasti untuk dihentikan, sehingga suatu pagi kau memandang dan menyadari bahwa yang dulu kuat kini rapuh, yang dulu penuh kini surut, dan kau tak bisa mengingat hari ketika perubahan itu terjadi sebab ia tak pernah terjadi dalam satu hari, ia terjadi di semua hari, sedikit demi sedikit, sementara kau memandang ke arah lain.

Dan sepanjang tahun-tahun itu, dua saudari hidup, dan menua, dan masing-masing mempersiapkan, dalam diam, jalan yang telah ia pilih. Sela mengingat, dan mulai mengajar, mula-mula anak-anak di kota, lalu siapa pun yang mau mendengar, bukan untuk panik, melainkan untuk mengetahui: bahwa air datang, bahwa ia telah datang sebelumnya, bahwa yang terpenting adalah jangan lupa. Awu pergi ke Empu Wani, malam demi malam, dan belajar hal-hal yang tak ia ceritakan kepada siapa pun, dan mengumpulkan, di sekelilingnya, mereka yang seperti dia, bangsawan, empu, orang-orang yang tak tahan pada gagasan kehilangan, yang lebih suka utuh dan kosong daripada penuh dan hilang.

Mereka sudah tak lagi muda ketika Awu akhirnya memberitahu Sela apa yang akan ia lakukan, dan ia memberitahunya bukan karena ia ingin, melainkan karena ia tak bisa lagi menanggung tidak memberitahunya.

Sebab di antara semua orang yang akan ikut dengannya ke dalam jalan yang telah ia pilih, hanya ada satu yang ia inginkan lebih dari semua, satu yang tanpanya bahkan keabadian akan terasa seperti kehilangan, dan satu yang ia tahu, sejak malam pertama di rumah Empu Wani, tak akan pernah ikut. Tapi mengetahui sesuatu dan mengucapkannya adalah dua hal yang berbeda, dan Awu telah menunda mengucapkannya selama bertahun-tahun, sebab selama ia tak mengucapkannya, ada sebuah dunia kecil di mana Sela mungkin berkata ya.

Mereka duduk di tepi kanal, di tempat mereka selalu duduk, di tempat yang dulu memberi air tawar dan kini memberi air asin, di sebuah sore ketika langit berwarna tembaga sebagaimana ia selalu berwarna tembaga di sore hari, tak peduli pada apa yang terjadi pada manusia di bawahnya.

“Ada cara, ” kata Awu, akhirnya, “untuk tidak hilang.”

Dan Sela, yang telah mengenal saudarinya seumur hidupnya, yang telah mengamati Awu pergi ke rumah Empu Wani malam demi malam dan tidak bertanya sebab ia takut pada jawabannya, menutup matanya sejenak, sebab kalimat itu telah datang, akhirnya, kalimat yang telah ia takuti selama bertahun-tahun. “Awu, ”

“Dengar aku. Biarkan aku mengatakannya, satu kali, sepenuhnya, sebelum kau menolaknya. Aku berutang itu padamu, dan kau berutang itu padaku.” Awu menarik napas. “Empu Wani bisa melakukannya. Bukan teori, bukan buah dalam rak, pada manusia. Ia telah mencobanya, dan ia berhasil, dan mereka yang telah ia ubah masih ada, utuh, tak tersentuh oleh tahun-tahun yang telah lewat. Ketika air datang, ketika ia benar-benar datang, bukan asin di kanal melainkan air yang menenggelamkan, kami tidak akan tenggelam. Kami akan turun ke dalamnya dengan sengaja. Kami akan membawa apa yang bisa kami bawa, bukan dengan perahu, perahu hanya menunda, tapi ke bawah, ke dalam, ke tempat di mana waktu telah dibuang dari kami sehingga air tak bisa mengambil apa pun, sebab tak ada lagi yang bisa diambil. Kami akan tinggal, Sela. Ketika segala sesuatu yang lain hilang, kami akan tinggal. Utuh. Selamanya.” Suaranya, yang telah mantap, melembut. “Dan aku ingin kau bersamaku. Lebih dari apa pun yang pernah kuinginkan, aku ingin kau ada di sana, supaya ketika seluruh dunia ini menjadi dasar laut, kau dan aku masih ada untuk, ” ia berhenti, sebab kata berikutnya terlalu besar.

“Untuk apa, Awu?” tanya Sela, lembut. “Untuk apa kita masih ada?”

Dan Awu tidak punya jawaban untuk itu, dan ketidakmampuannya menjawab adalah, bagi Sela, seluruh jawaban yang ia butuhkan.

“Kau berkata kita akan tinggal, ” kata Sela, dan ia mengatakannya tanpa kemarahan, dengan kelembutan yang lebih sulit ditanggung Awu daripada kemarahan mana pun. “Tapi tinggal untuk apa? Kau bisa mengatakan kepadaku apa yang akan kita selamatkan, tapi kau tak bisa mengatakan apa yang akan kita lakukan dengan keselamatan itu. Sebab tak ada yang bisa dilakukan, Awu. Itulah yang kau tak izinkan dirimu lihat. Sebuah buah yang tak membusuk tak bisa dimakan. Ia tak memberi benih. Ia tak menjadi pohon. Ia hanya ada, utuh, selamanya, dan tak seorang pun bisa berbuat apa pun dengannya kecuali memandangnya. Kau menawariku untuk menjadi seperti itu. Untuk turun ke dasar laut dan tinggal di sana, utuh dan kosong, memandang ke atas pada sebuah dunia yang telah hilang, tidak bisa menyentuhnya, tidak bisa mengubahnya, tidak bisa mati dan membiarkan sesuatu yang baru tumbuh di tempatku, hanya ada, dan ada, dan ada, sampai bahkan air lupa mengapa ia datang. Itu bukan keselamatan, Awu. Itu adalah kehilangan yang paling sempurna yang pernah dibayangkan siapa pun. Kau akan kehilangan segalanya kecuali dirimu sendiri, dan kau akan kehilangannya selamanya, tanpa kemurahan akhir.”

“Aku akan punya kau, ” kata Awu, dan suaranya pecah, untuk pertama kalinya dalam ingatan Sela, suara saudarinya yang kuat pecah seperti tanggul yang ditelan pasang. “Bila kau ikut, aku akan punya kau. Itu bukan tak ada apa-apa. Itu adalah segalanya.”

Dan di sanalah Sela hampir menyerah. Sebab ia mencintai saudarinya, lebih dari ia mencintai prinsip mana pun, lebih dari ia mencintai kebenaran mana pun tentang buah dan pohon dan kehilangan, dan mendengar Awu yang kuat memohon dengan suara yang pecah hampir cukup untuk membuatnya berkata ya, hampir cukup untuk membuatnya turun ke dasar laut dan tinggal di sana selamanya, utuh dan kosong, asalkan ia tidak harus kehilangan saudarinya. Untuk satu napas yang panjang, ya menggantung di bibirnya.

Lalu ia memikirkan ladang liar keluarga Wregu. Bunga-bunga yang tak akan pernah tumbuh bila yang lama tak pergi. Pohon yang berdiri di tempat yang tak direncanakan. Ia memikirkan burung yang ia kubur, dan kata-kata yang ia bisikkan, kau diingat. Ia memikirkan orang tua dari perbukitan yang berkata: wariskan, supaya ingatan menyeberangi generasi sampai seseorang berdiri di atas laut dan tahu namanya. Dan ia mengerti bahwa untuk berkata ya kepada Awu adalah untuk berkata tidak kepada semua itu, untuk menjadi buah yang tak membusuk dan bukan ladang yang melepaskan, untuk berhenti dan bukan mewariskan, untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan harga menjadi tempat di mana tak ada lagi yang baru bisa lahir.

“Tidak, ” kata Sela, dan kata itu membelah sesuatu di dalam dirinya bahkan ketika ia mengucapkannya. “Tidak, Awu. Aku tak bisa.”

Mereka duduk dengan kata itu di antara mereka, dan langit kehilangan tembaganya dan menjadi kelabu, dan air asin mengalir di kanal di kaki mereka, dan untuk waktu yang lama tak seorang pun bicara.

“Aku akan tinggal, ” kata Sela akhirnya, dan kini ia tak lagi menolak melainkan menjelaskan, memberi saudarinya kebenarannya sebagaimana Awu telah memberinya kebenaran Awu. “Bukan di dasar laut. Di sini, di atas, di antara yang fana. Aku akan menua, Awu. Aku akan menjadi tua dan rapuh dan akhirnya aku akan mati, sebagaimana Bapa akan mati, sebagaimana segala sesuatu yang hidup mati. Dan sebelum aku mati, aku akan mengingat. Aku akan menyimpan segala sesuatu yang bisa kusimpan, dunia ini, kota ini, kau, malam-malam ini di tepi kanal, semuanya, dan aku akan mewariskannya. Kepada anak-anak, bila aku punya. Kepada murid, bila aku tak punya. Aku akan membuat ingatan ini begitu kuat sehingga ia bisa menyeberangi air, menyeberangi generasi, menyeberangi seluruh waktu yang gelap yang akan datang, sampai suatu hari, jauh, jauh dari sini, di sebuah masa yang tak bisa kubayangkan, seseorang yang membawa darahku akan berdiri di atas laut yang menutupi semua ini, dan akan tahu bahwa di bawahnya dulu ada sebuah dunia, dan akan tahu namanya.”

“Dan kau akan mati, ” kata Awu. “Ingatanmu akan diwariskan, mungkin, tapi kau, kau sendiri, kau yang duduk di sampingku sekarang, kau akan hilang. Selamanya. Sementara aku akan tinggal.”

“Ya, ” kata Sela. “Aku akan hilang, dan kau akan tinggal. Itulah perbedaan kita, akhirnya, diucapkan sepenuhnya. Kau memilih untuk tinggal dan kehilangan segalanya. Aku memilih untuk hilang dan menyelamatkan, bukan diriku, aku tak bisa menyelamatkan diriku, tak seorang pun bisa, melainkan ingatan tentang segalanya. Kau akan menjadi satu hal yang utuh di tengah dunia yang hilang. Aku akan menjadi sebuah dunia yang hilang yang seseorang, suatu hari, akan ingat. Dan aku tak tahu mana di antara kita yang membuat pilihan yang benar, Awu. Aku bersumpah aku tak tahu. Aku hanya tahu pilihan mana yang bisa kutanggung, dan pilihan mana yang tidak.”

Dan itulah perpisahan mereka, walau mereka akan hidup bertahun-tahun lagi di bawah atap yang sama, walau air belum datang dan dunia belum berakhir.

Sebab sesuatu telah diucapkan yang tak bisa ditarik kembali, dan kedua-duanya tahu, kini, dengan kepastian penuh: bahwa ketika air akhirnya datang, mereka akan berpisah, satu turun ke dalam laut dan satu tinggal di atasnya untuk mati, dan tak ada cinta, dan mereka saling mencintai, mereka tak pernah berhenti saling mencintai, itulah yang membuatnya tak tertanggungkan, tak ada cinta yang cukup besar untuk mengubah arah dua jalan yang berjalan ke arah berlawanan. Mereka telah memandang akhir dari segala sesuatu dari dua tempat yang berbeda untuk terakhir kalinya, dan masing-masing telah melihat sesuatu yang nyata, dan kedua hal nyata itu tak bisa berjalan bersama.

Awu menangis. Sela tak pernah melihatnya menangis, tak sekali pun dalam seluruh hidup mereka, dan melihatnya menangis kini, saudari yang kuat, yang memiliki mata empu dan hati raja, yang telah memutuskan untuk membuang waktu dari dirinya supaya ia tak perlu kehilangan apa pun, melihatnya menangis adalah hal yang akan tinggal bersama Sela jauh lebih lama daripada kata-kata mana pun, akan tinggal bersamanya sampai ke air sebatas dada, akan tinggal bersamanya, barangkali, lebih lama dari itu. Sebab dalam tangis itu Sela melihat kebenaran yang Awu sendiri tak akan pernah izinkan dirinya ucapkan: bahwa Awu tahu, jauh di dalam, bahwa ia sedang memilih kehilangan yang lebih besar, bukan yang lebih kecil. Bahwa keabadian yang ia kejar bukanlah kemenangan atas kehilangan melainkan bentuk kehilangan yang paling lengkap. Bahwa ia menangis bukan karena Sela menolak ikut, melainkan karena, jauh di dalam, ia tahu Sela benar untuk menolak, dan ia akan tetap memilih jalannya, dan ia akan tetap turun ke dalam laut, sebab ia tak bisa, ia benar-benar tak bisa, melakukan hal yang lain.

Mereka berpelukan, di tepi kanal, di bawah langit yang telah menjadi kelabu, dua saudari yang saling mencintai dan tak bisa saling menyelamatkan, dan untuk satu saat yang panjang mereka memegang satu sama lain seolah-olah memegang cukup erat bisa mengubah sesuatu, seolah-olah cinta adalah jenis kekuatan yang bisa membengkokkan jalan. Tapi ia bukan. Cinta tidak membengkokkan jalan; ia hanya membuatnya lebih menyakitkan untuk dijalani. Dan ketika mereka melepaskan, dan berjalan pulang berdampingan dalam gelap, masing-masing tahu bahwa mereka telah mengucapkan selamat tinggal yang sesungguhnya, jauh sebelum air datang, jauh sebelum dunia berakhir, bahwa mereka akan menghabiskan tahun-tahun yang tersisa sebagai dua orang yang telah berpisah tapi belum pergi, mencintai satu sama lain melintasi sebuah jarak yang tak bisa diseberangi, menunggu air yang akan membuat perpisahan itu menjadi nyata.

Dan di kanal di belakang mereka, air asin mengalir ke hulu dalam gelap, sabar dan tak tergesa, mengingat, bila air mengingat, bahwa ia telah mendengar dua saudari memilih dua jalan, dan bahwa kedua jalan itu, pada akhirnya, menuju kepadanya: yang satu untuk ditelan dan diwariskan, yang satu untuk turun dengan sukarela dan tinggal. Air bisa menunggu sedikit lebih lama. Air selalu bisa. Dan ia menghitung, di bawah daratan yang akan segera ia ambil, menuju malam terakhir, mendekat sekarang, mendekat dengan tiap pasang, ketika ia akhirnya akan datang bukan sebagai rasa asin di lidah, melainkan sebagai dinding air di malam hari, dan menyaksikan kedua saudari menempuh, masing-masing, jalan yang malam ini mereka pilih.


 

BAB LIMA BELAS

Daratan Sebelum Laut

Ingatlah daratan sebagaimana ia pada hari sebelum laut: luas, dan datar, dan yakin, dan dicintai. Sebab itulah hari yang akan paling sulit dipercaya pernah ada, dan karena itu, yang paling penting untuk diingat.

kata pertama dari ajaran yang akan diwariskan tujuh generasi, sumbernya tak diketahui

Bertahun-tahun lewat setelah malam di tepi kanal, dan dunia berubah, dan dunia tetap berdiri, dan keduanya benar pada saat yang sama, sebab itulah cara dunia berakhir: tidak sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, sehingga sampai ke ujung selalu ada cukup yang tersisa untuk membuat orang percaya bahwa tak ada yang benar-benar hilang.

Kota-kota di tepi selatan telah ditinggalkan, satu demi satu, ketika air asin membuat tanah mereka tak bisa ditanami dan sumur mereka tak bisa diminum. Penduduknya pindah ke utara, ke kota-kota yang masih kering, dan kota-kota yang masih kering menerima mereka dengan campuran kasihan dan tidak sabar, dan tak seorang pun menyebut perpindahan itu sebagai apa yang sebenarnya ia adanya: langkah pertama dari pengunduran sebuah bangsa dari tanah yang telah ia tempati selama tiga ribu tahun. Mereka menyebutnya kemalangan. Mereka menyebutnya tanah yang buruk. Mereka menyebutnya apa pun kecuali nama yang benar, sebab nama yang benar terlalu besar untuk diucapkan.

Bapa Rata telah mati. Ia mati sebelum air mencapai kotanya sendiri, mati sebagai orang tua di tempat tidurnya, dan ia mati, ini adalah belas kasihan, barangkali satu-satunya yang diberikan kepadanya, masih percaya, atau hampir percaya, bahwa Nagara Rata akan bertahan. Di hari-hari terakhirnya ia bicara tentang kanal-kanal yang akan diperbaiki, tentang tanggul yang akan dibangun lebih tinggi, tentang masa depan yang masih ia bayangkan datar dan luas dan aman. Awu duduk di sisinya sampai akhir, dan ia tidak membantahnya, sebab tak ada gunanya membantah seorang lelaki sekarat, dan sebab ada bagian dari Awu yang iri pada keyakinan yang dengannya ayahnya bisa mati. Sela juga ada di sana, dan ia menyimpan kata-kata terakhir Bapa, setiap kata, walau kata-kata itu keliru, justru karena kata-kata itu keliru, sebab keyakinan yang keliru dari seseorang yang dicintai adalah hal yang juga patut diingat, hal yang juga akan hilang bila tak ada yang menyimpannya.

Sela tidak menikah dengan Lanang, walau orang di kota menduga ia akan, walau Lanang sendiri, barangkali, pernah berharap ia akan.

Mereka mencintai satu sama lain dengan cara yang tak punya nama, cara dua orang yang sama-sama mendengar air dan karena itu tak bisa benar-benar hidup di dunia yang sama dengan orang yang tak mendengarnya. Tapi Lanang adalah seorang pelaut, dan ia tak bisa tinggal di daratan, dan Sela telah memilih untuk tinggal di daratan sampai akhir, untuk mengingatnya, untuk menjadi tempat di mana ia tak sepenuhnya hilang. Maka mereka tak bisa hidup bersama, sebab hidup masing-masing menuntut tempat yang berbeda, dan mereka cukup mengenal satu sama lain untuk tahu bahwa meminta yang lain meninggalkan jalannya adalah meminta yang lain berhenti menjadi dirinya. Lanang datang sesuai musim, sepanjang tahun-tahun itu, dan tiap kali ia datang mereka duduk di tepi kanal, dan ia memberitahunya seberapa jauh air telah berjalan, dan tiap kali angkanya lebih besar. Dan tiap kali ia pergi, Sela memandangnya pergi dengan pengetahuan bahwa suatu musim ia tak akan datang lagi, sebab laut yang dicintai Lanang adalah laut yang sama yang akan mengambil segalanya, dan seorang pelaut, pada akhirnya, milik lautnya.

Tapi Sela tidak sendirian, sebab ia telah mulai mengajar, dan murid-muridnya menjadi, dengan cara, keluarganya. Ia mengajari mereka bukan ramalan, bukan ketakutan, melainkan ingatan. Ia mengajari mereka kisah Nagara Rata, bukan kisah yang dipoles untuk membuatnya tampak abadi, melainkan kisah yang benar, kisah sebuah bangsa yang luas dan yakin dan dicintai yang tak percaya pada air sampai air datang. Ia mengajari mereka tanda-tanda: mata air yang berpindah ke darat, sumur yang menjadi payau, burung yang pergi. Ia mengajari mereka untuk mewariskan, dan untuk menyuruh yang mewarisi untuk mewariskan lagi, supaya rantai ingatan tak pernah putus. Dan kepada yang paling ia percaya, ia mengajari satu hal lagi, satu hal yang ia sendiri tak sepenuhnya mengerti: kata-kata dalam lidah yang sangat tua, kata-kata yang ia bisikkan dulu kepada seekor burung mati, kau diingat, kau diingat, kau diingat. Ia tak tahu dari mana kata-kata itu datang. Ia hanya tahu bahwa mereka harus diteruskan, bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya, sesuatu yang dimulai sebelum dia dan akan berlanjut setelahnya, melintasi air, melintasi generasi, menuju tujuan yang tak bisa ia lihat.

Awu, di tahun-tahun yang sama, mempersiapkan jalannya sendiri, dan jalannya menuntut persiapan yang sama sekali berbeda dari jalan saudarinya.

Sebab menghalus, telah diajarkan Empu Wani kepadanya, bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dalam satu malam ketika air datang. Ia adalah sesuatu yang harus disiapkan jauh sebelumnya, dengan hati-hati, sebab membuang waktu dari dalam manusia adalah pekerjaan yang lebih halus dan lebih berbahaya daripada membuangnya dari dalam buah. Maka Awu mengumpulkan, sepanjang tahun-tahun itu, mereka yang akan turun bersamanya: para bangsawan yang tak tahan kehilangan kuasa mereka, para empu yang tak tahan kehilangan karya mereka, orang-orang yang, seperti Awu, lebih suka utuh dan kosong daripada penuh dan hilang. Mereka berkumpul di rumah Empu Wani, dan kemudian, ketika rumah itu terlalu kecil, di tempat-tempat lain, tempat-tempat rahasia, dan mereka belajar, dan mereka bersiap, dan mereka menunggu air.

Awu menjadi pemimpin mereka, sebab ia memiliki mata empu dan hati raja, dan sebab di antara mereka semua ia adalah yang paling tak tergoyahkan dalam pilihannya. Mereka memandangnya sebagaimana orang Nagara Rata dulu memandang Bapa: sebagai orang yang akan benar, sebagai orang yang akan memimpin mereka melalui sesuatu yang menakutkan menuju tempat yang aman. Dan Awu memimpin mereka, dan ia tak pernah menunjukkan kepada mereka keraguan yang ia tunjukkan, satu kali, hanya satu kali, kepada saudarinya di tepi kanal, tangis itu, suara yang pecah, pengetahuan terkubur bahwa ia memilih kehilangan yang lebih besar. Ia mengubur itu dalam-dalam, lebih dalam daripada ia mengubur apa pun, sebab seorang pemimpin tak bisa memimpin orang ke dalam laut sambil menunjukkan bahwa ia ragu apakah laut adalah tempat yang benar untuk dituju. Dan dengan menguburnya, ia mulai, bahkan sebelum ia menghalus, bahkan ketika ia masih berdaging dan fana, ia mulai menjadi dingin. Sebab itulah harga pertama dari jalannya, dibayar jauh sebelum harga yang sebenarnya: untuk memimpin orang menuju keabadian, ia harus terlebih dulu membunuh, di dalam dirinya, kemampuan untuk meragukannya.

Dan kemudian datang sebuah hari, bukan hari ketika air datang, itu masih ada di depan, masih satu malam yang gelap di masa depan yang dekat, sebuah hari ketika kedua saudari, yang kini sudah tua, pergi bersama untuk terakhir kalinya ke tempat yang oleh orang-orang dulu disebut tepi.

Mereka pergi ke selatan, ke arah yang dari sana air datang, melewati kota-kota yang telah ditinggalkan, melewati tanah yang telah menjadi asin, sampai mereka mencapai tempat di mana daratan yang dulu membentang sejauh mata memandang kini berakhir, tidak di kabut, sebagaimana ia berakhir di masa kecil mereka, melainkan di air. Laut telah datang sejauh ini. Tempat yang dulu adalah pusat keganjilan, tepi yang tak diseberangi siapa pun, kini adalah pantai, dan di luar pantai itu terbentang laut yang tak berujung, abu-abu dan bergerak dan sabar, di tempat yang dulu adalah daratan, kota, ladang, rumah orang.

Mereka berdiri di sana bersama, dua perempuan tua yang dulu adalah dua gadis yang berjalan ke pasar, dan mereka memandang laut yang menutupi dunia masa kecil mereka, dan untuk waktu yang lama tak seorang pun bicara.

“Di bawah sana, ” kata Sela akhirnya, pelan, “ada pasar. Tempat empat kanal bertemu. Tempat kita berjalan di hari itu, kau di depan, aku di belakang.”

“Aku ingat, ” kata Awu.

“Dan ladang keluarga Wregu. Yang liar, yang penuh bunga. Itu juga di bawah sana sekarang.”

“Aku ingat, ” kata Awu lagi, dan suaranya, Sela mendengar, telah menjadi sesuatu yang lain selama tahun-tahun ini, masih suara saudarinya, tapi lebih dingin, lebih jauh, suara seseorang yang telah mulai menarik dirinya dari dunia bahkan sebelum ia meninggalkannya. “Aku ingat semuanya, Sela. Itulah yang paling menakutkan tentang apa yang akan kulakukan. Aku akan membawa semua ingatan ini ke bawah bersamaku, dan aku akan menyimpannya, utuh, tak berubah, selamanya. Kau akan mewariskan ingatanmu dan kemudian mati, dan ingatanmu akan berubah saat ia diwariskan, sedikit demi sedikit, sampai ia menjadi sesuatu yang lain, sebuah kisah, sebuah legenda. Tapi ingatanku tak akan pernah berubah. Aku akan ingat pasar ini, dan ladang ini, dan hari ini, persis sebagaimana adanya, selama sepuluh ribu tahun. Dan aku mulai bertanya-tanya, ” ia berhenti.

“Bertanya-tanya apa?”

“Apakah itu sebuah berkat atau sebuah hukuman, ” kata Awu. “Mengingat segalanya, dengan sempurna, selamanya, tanpa pernah diizinkan untuk melupakan, tanpa pernah diizinkan untuk berubah. Kau bilang dulu bahwa buahku tidak hidup. Aku mulai bertanya-tanya apakah ingatan yang tak pernah berubah juga tidak hidup, apakah ingatan yang sebenarnya, ingatan yang hidup, harus berubah, harus melembut, harus dilupakan sedikit demi sedikit supaya yang tersisa bisa ditanggung. Dan aku akan tak pernah punya itu. Aku akan ingat hari ini, di pantai ini, denganmu, dengan kejelasan yang persis sama, sepuluh ribu tahun dari sekarang, ketika kau telah lama menjadi tanah dan tanah itu telah lama menjadi dasar laut. Dan aku akan sendirian dengan ingatan itu. Itu, kurasa, adalah hal yang baru mulai kupahami sekarang, terlalu terlambat untuk mengubah apa pun: bahwa aku tidak memilih untuk menyelamatkan dunia ini. Aku memilih untuk menjadi kuburannya. Sebuah kuburan yang tak pernah bisa melupakan siapa yang ia kubur.”

Sela mengambil tangan saudarinya, di pantai itu, di tepi laut yang telah menelan dunia mereka dan akan segera menelan sisanya, dan untuk sesaat keduanya berdiri seperti mereka berdiri di hari pasar, bertahun-tahun dan seumur hidup yang lalu: yang satu dan yang lain, bersama, di atas tanah yang mereka kira tak akan pernah pergi.

“Apa pun yang terjadi, ” kata Sela, “apa pun yang kita pilih, dan ke mana pun jalan kita membawa kita, aku ingin kau tahu bahwa aku tak pernah berpikir kau keliru. Aku berpikir kau memilih jalan yang tak bisa kutanggung. Itu bukan hal yang sama dengan keliru. Aku tak tahu mana di antara kita yang akan terbukti telah memilih dengan benar. Mungkin tak ada di antara kita. Mungkin air akan membuktikan kita berdua bodoh, masing-masing dengan cara kita sendiri. Tapi kau adalah saudariku, dan aku mencintaimu, dan aku akan mengingatmu, kau, Awu, bukan Ratu yang akan kau jadikan dirimu, melainkan kau, gadis yang berjalan di depan di hari pasar, gadis yang menangis satu kali di tepi kanal. Aku akan mewariskan itu juga. Aku akan memastikan seseorang, suatu hari, mengetahui bahwa sebelum ada Ratu di laut selatan, ada seorang gadis bernama Awu yang sangat takut kehilangan sehingga ia memilih untuk tidak hidup. Dan bahwa saudarinya mencintainya, sampai akhir, dan sesudahnya.”

Awu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggenggam tangan saudarinya lebih erat, untuk satu saat, dan dalam genggaman itu ada segala sesuatu yang tak bisa lagi ia ucapkan, segala sesuatu yang telah ia kubur supaya ia bisa memimpin, segala sesuatu yang akan ia bawa ke dasar laut dan simpan, tak berubah, selama sepuluh ribu tahun. Lalu ia melepaskan, dan kedua saudari berbalik dari laut, dan berjalan kembali ke utara, ke daratan yang masih tersisa, untuk menghabiskan hari-hari terakhir yang mereka miliki sebelum air datang.

Di belakang mereka, laut bergerak di tempat yang dulu adalah daratan, abu-abu dan sabar dan tak berujung, dan ia telah berhenti menghitung, sebab tak ada lagi yang perlu dihitung. Ia telah sampai. Apa yang tersisa hanyalah waktu yang singkat sebelum malam terakhir, satu pasang yang lebih tinggi dari semua pasang, satu malam yang lebih gelap dari semua malam, ketika air akan berhenti datang sedikit demi sedikit dan datang sekaligus, dan menutup di atas Nagara Rata sebagaimana ia telah menutup di atas pasar dan ladang dan rumah keluarga Wregu, dan dua saudari akan berdiri, untuk terakhir kalinya, di tepi dunia mereka, dan masing-masing akan menempuh jalan yang telah ia pilih: yang satu turun ke dalam air untuk tinggal di sana, utuh dan kosong dan abadi, dan yang satu berdiri di air sampai sebatas dada, di tanah yang sudah tenggelam, untuk menelan tujuh kerikil dan bersumpah.

Tapi itu adalah malam yang lain, dan kisah yang lain. Hari ini, dua saudari tua berjalan pulang dari pantai bersama, di bawah langit yang berwarna tembaga, melintasi daratan yang masih, untuk beberapa hari lagi, untuk beberapa pasang lagi, daratan. Daratan sebelum laut. Luas, dan datar, dan yakin, dan dicintai. Dan seseorang dari mereka mengingatnya, setiap langkah, setiap warna, setiap napas, supaya ia tidak sepenuhnya hilang; dan seorang lagi mengingatnya pula, dengan cara yang berbeda, dengan cara yang akan membuatnya, kelak, lebih kesepian daripada siapa pun yang pernah hidup; dan di antara mereka berdua, dalam ingatan yang satu yang akan diwariskan dan ingatan yang lain yang akan dibekukan, daratan sebelum laut akan bertahan, tidak utuh, tidak selamanya, tapi cukup, cukup untuk diteruskan, cukup untuk menyeberangi tujuh generasi dan air yang dalam, cukup supaya suatu hari, jauh dari sini, seseorang akan berdiri di atas laut dan tahu bahwa di bawahnya, dulu, ada sebuah dunia, dan tahu namanya.

Akhir Buku Satu

Daratan Sebelum Laut

Kisah berlanjut dalam Buku Dua

Banjir Tujuh Generasi