10.9.26

(Novel) JAWA: Buku 3.

 JAWA

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra


BUKU TIGA

Lidah-Lidah yang Berpisah

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra


Apa yang berpisah dapat menyatu kembali,

bukan dengan menghapus perbedaan,

melainkan dengan mengingat apa yang ada di bawahnya.




BAGIAN I

Tujuh Nama


 

BAB SATU

Tujuh Nama untuk Satu Gunung

Gunung itu satu. Tapi ia punya tujuh nama, sebab tujuh bangsa tinggal di kakinya, dan tiap bangsa memberinya nama dalam lidahnya sendiri, dan tiap bangsa percaya bahwa namanya adalah nama yang benar. Hanya para pengingat yang tahu bahwa ketujuh nama merujuk pada gunung yang sama, dan bahwa ketujuh bangsa turun dari nenek moyang yang sama.

dari ajaran para pengingat, di zaman bangsa-bangsa

Ribuan tahun setelah seorang pengingat mengukir sumpah Nyai Sela ke dalam batu untuk pertama kalinya, tanah yang akan menjadi Jawa telah menjadi sesuatu yang tak akan dikenali oleh mereka yang mendarat dari laut bersama Rangin: sebuah dunia penuh bangsa, penuh lidah, penuh kerajaan kecil yang saling bersaing dan saling menaklukkan dan saling melupakan.

Tak ada lagi satu bangsa. Itulah hal pertama yang harus dipahami tentang zaman ini. Di mana dulu ada segelintir pengungsi yang berbagi satu lidah dan satu ingatan, kini ada puluhan bangsa, masing-masing dengan lidahnya sendiri, adatnya sendiri, dewa-dewanya sendiri, dan kisahnya sendiri tentang dari mana mereka datang, kisah-kisah yang hampir selalu menempatkan bangsa itu sendiri sebagai yang pertama, yang asli, yang sejati, dan bangsa-bangsa lain sebagai pendatang, atau musuh, atau makhluk yang lebih rendah. Mereka berperang atas tanah dan air dan kehormatan. Mereka membangun kerajaan yang bertahan beberapa generasi dan kemudian runtuh. Mereka mengukir nama mereka di batu, dan menulis sejarah yang memuliakan diri mereka dan merendahkan tetangga mereka, dan dengan tiap generasi mereka semakin lupa, semakin lupa bahwa mereka pernah satu, bahwa lidah-lidah mereka pernah satu lidah, bahwa di bawah semua perbedaan yang mereka pertahankan dengan darah, mereka adalah saudara yang turun dari banjir yang sama.

Dan di antara semua bangsa yang lupa ini, tersebar seperti benang yang tak terlihat di bawah kain yang berwarna-warni, hidup para pengingat, tak banyak, tak pernah banyak, tapi tak pernah sepenuhnya hilang. Mereka tinggal di tiap bangsa, berbicara tiap lidah, tampak seperti orang biasa dari bangsa tempat mereka lahir. Tapi mereka membawa, di dalam darah mereka, sesuatu yang melampaui bangsa: kerikil, ingatan, sumpah Nyai Sela, dan pengetahuan, yang membuat mereka kesepian dengan cara yang khusus, bahwa semua bangsa yang saling membenci ini sesungguhnya satu.

Salah satu dari mereka adalah seorang perempuan muda bernama Wreda, yang lahir di sebuah bangsa di kaki gunung berapi besar di tengah pulau, gunung yang bangsanya sebut dengan satu nama dan bangsa di lereng seberang sebut dengan nama yang sama sekali berbeda.

Wreda tahu sejak ia kecil bahwa ia berbeda, sebab ia bermimpi tentang hal-hal yang tak mungkin ia ketahui. Ia bermimpi tentang daratan yang luas dan datar yang tak ada di mana pun di dunianya yang penuh gunung dan lembah. Ia bermimpi tentang kanal-kanal lurus yang membelah tanah, dan kota-kota yang saling memandang menyeberangi dataran, dan air yang naik, dan dua perempuan, selalu dua perempuan, yang berpisah di tepi sebuah dunia. Dan ketika ia menceritakan mimpi-mimpinya, ibunya memandangnya dengan ekspresi yang Wreda baru kemudian mengerti: ekspresi seseorang yang mengenali warisan yang ia harap telah tidur untuk selamanya, dan yang kini, ia lihat, telah bangun lagi.

“Kau membawa apa yang kubawa, ” ibunya berkata kepadanya, ketika Wreda cukup tua untuk diberitahu. “Dan apa yang ibuku bawa, dan ibunya sebelumnya, mundur lebih jauh daripada yang bisa kuhitung. Kita bukan hanya orang dari bangsa ini, Wreda. Kita lebih tua daripada bangsa ini. Kita adalah pengingat, dan kita membawa ingatan tentang sesuatu yang terjadi sebelum ada bangsa-bangsa, sebelum gunung ini punya tujuh nama, ketika semua orang yang sekarang saling membenci masih satu.” Ia menurunkan suaranya, walau tak ada yang mendengar. “Itu adalah pengetahuan yang berbahaya di zaman ini, anakku. Sebab bangsa-bangsa tidak ingin mendengar bahwa mereka bersaudara. Mereka telah membangun segala sesuatu di atas keyakinan bahwa mereka berbeda, lebih baik, yang pertama. Seorang pengingat yang berbicara terlalu keras tentang kesatuan yang lama bisa kehilangan nyawanya. Maka kita mengingat dalam diam, dan kita mewariskan dalam diam, dan kita menunggu zaman ketika kebenaran bisa diucapkan dengan keras.”

Ketika Wreda tumbuh, ibunya membawanya, sekali, dalam sebuah perjalanan yang berbahaya dan rahasia, mengelilingi gunung besar di tengah pulau, supaya ia bisa melihat dengan matanya sendiri apa yang ia warisi.

Mereka berjalan dari bangsa ke bangsa, di kaki gunung yang sama, dan di tiap bangsa ibunya menunjukkan kepadanya hal yang sama: bahwa gunung itu, gunung tunggal yang menjulang di atas mereka semua, punya nama yang berbeda di tiap lidah. Di bangsa Wreda ia disebut satu nama, yang berarti sesuatu seperti yang tua. Di bangsa di lereng timur ia disebut nama lain, yang berarti yang memberi api. Di bangsa di selatan, nama yang berarti yang menahan langit. Tujuh bangsa, tujuh lidah, tujuh nama, dan tiap bangsa yakin bahwa namanya adalah nama yang sejati, bahwa gunung itu sesungguhnya milik mereka, bahwa bangsa-bangsa lain hanyalah penyusup yang memberi nama palsu pada sesuatu yang bukan milik mereka.

“Tapi ia satu gunung, ” kata Wreda, memandang ke atas pada puncak yang sama yang telah ia lihat dari tujuh sisi sekarang, dengan tujuh nama di kepalanya.

“Ia satu gunung, ” ibunya setuju. “Dan mereka satu bangsa, walau mereka akan membunuhmu bila kau mengatakannya. Itulah yang kita bawa, Wreda. Bukan hanya ingatan tentang daratan yang tenggelam. Juga ingatan bahwa semua perpecahan ini, semua bangsa, semua lidah, semua perang, adalah baru, adalah permukaan, adalah sesuatu yang tumbuh di atas sebuah kesatuan yang lebih tua dan lebih dalam. Gunung itu mengingat ketika ia hanya punya satu nama. Kita mengingatnya juga. Dan suatu hari, ketika tanah ini cukup tua dan cukup lelah oleh perang, seseorang akan dibutuhkan untuk mengingatkannya bahwa ketujuh nama adalah satu gunung, dan ketujuh bangsa adalah satu darah.”

Dan di salah satu bangsa yang mereka lewati, sesuatu terjadi yang akan mengubah hidup Wreda, dan yang akan menjadi awal dari kisah Buku ini: ia bertemu pengingat lain.

Ia adalah seorang lelaki muda dari bangsa di lereng timur, bangsa yang menyebut gunung dengan nama yang berarti yang memberi api, sebuah bangsa yang berperang dengan bangsa Wreda sendiri sejak sebelum keduanya lahir. Mereka seharusnya menjadi musuh. Segala sesuatu tentang dunia mereka, lidah mereka yang berbeda, kesetiaan mereka yang berlawanan, darah yang telah ditumpahkan di antara bangsa mereka, segala sesuatu seharusnya membuat mereka membenci satu sama lain. Tapi ketika mata mereka bertemu, di sebuah pasar di bangsa asing, sesuatu terjadi yang lebih dalam daripada bangsa, lebih tua daripada permusuhan: kerikil Getih, kerikil yang membuat pengingat saling mengenali, bangun di dalam darah keduanya, dan mereka tahu, seketika, tanpa sepatah kata, bahwa mereka adalah saudara dari rantai yang sama.

Itu adalah pengalaman yang mengguncang Wreda lebih daripada apa pun dalam hidupnya. Sebab sepanjang hidupnya ia telah diajari, oleh bangsanya, oleh lidahnya, oleh setiap kisah yang ia dengar, bahwa orang dari lereng timur adalah musuh, adalah lain, adalah sesuatu yang harus ditakuti dan dibenci. Dan kini, memandang ke mata seorang lelaki muda dari bangsa itu, ia merasakan dalam darahnya kebenaran yang membatalkan semua yang telah ia diajari: bahwa ia dan lelaki ini lebih dekat satu sama lain daripada mereka kepada bangsa mereka sendiri, bahwa mereka berbagi sesuatu, ingatan, kerikil, sumpah Nyai Sela, yang melampaui setiap perbedaan yang dunia mereka pertahankan dengan darah. Mereka adalah dua tetes dari satu aliran yang mengalir di bawah semua bangsa, dan dalam pertemuan mata itu, aliran itu mengenali dirinya sendiri.

Malam itu, jauh dari telinga kedua bangsa yang akan mengutuk mereka karena berbicara, Wreda dan pengingat dari lereng timur duduk bersama dan berbagi apa yang mereka bawa, dan mereka menemukan, dengan kegembiraan dan kengerian, bahwa ingatan mereka cocok.

Ia membawa mimpi yang sama yang ia bawa: daratan yang luas, kanal-kanal lurus, dua perempuan yang berpisah. Ia membawa sumpah yang sama, dalam lidah yang berbeda tapi dengan makna yang persis sama: selama ada keturunannya, daratan yang tenggelam tidak benar-benar tenggelam. Dan ia membawa, sebagaimana Wreda membawa, perasaan bahwa zaman sedang berubah, bahwa sesuatu sedang bergerak di bawah permukaan dunia yang terpecah ini, bahwa rantai pengingat, yang selama ribuan tahun telah tersebar dan tersembunyi dan diam, sedang, untuk alasan yang tak satu pun dari mereka mengerti, mulai menemukan dirinya kembali.

“Ada lebih banyak dari kita, ” kata lelaki itu, malam itu. “Aku telah merasakannya. Tersebar di seluruh bangsa, di tiap lidah, membawa ingatan yang sama. Dan untuk pertama kalinya sejak lidah-lidah berpisah, kurasa kita mulai mencari satu sama lain. Aku tak tahu mengapa. Tapi aku merasa bahwa kita dipanggil, bukan oleh bangsa mana pun, bukan oleh raja mana pun, melainkan oleh sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang menunggu, sesuatu yang membutuhkan kita untuk berkumpul kembali setelah semua zaman terpisah ini.”

Dan Wreda, mendengarnya, merasakan dalam darahnya bahwa ia benar, dan ia memikirkan apa yang ibunya katakan, tentang zaman ketika seseorang akan dibutuhkan untuk mengingatkan tanah ini bahwa ketujuh nama adalah satu gunung. Dan ia bertanya-tanya apakah zaman itu telah tiba, apakah ia dan lelaki ini dan semua pengingat yang tersebar adalah bagian dari sesuatu yang baru mulai. Dan jauh di selatan, di dasar laut tempat seorang ratu menunggu, dan jauh di bawah segala bangsa yang terpecah dan segala lidah yang berpisah, air bergerak, air yang sama yang menyimpan dunia yang tenggelam, air yang sama yang membawa sumpah Nyai Sela melalui tujuh generasi dan kemudian melalui ribuan tahun bangsa-bangsa. Dan bisik air, yang telah menjadi ancaman dan gema dan janji dan pertanyaan dan kesabaran, kini menjadi sesuatu yang baru: sebuah panggilan. Sebuah pemanggilan kembali. Sebab setelah ribuan tahun terpisah dan tersembunyi, sesuatu telah mulai memanggil para pengingat untuk berkumpul, dari tiap bangsa, dari tiap lidah, dari tiap lereng gunung yang punya tujuh nama, untuk berkumpul, dan mengingat bersama, dan memulai perjalanan panjang menuju hari ketika lidah-lidah yang berpisah akhirnya akan disatukan kembali, bukan oleh pedang, melainkan oleh ingatan.


 

BAB DUA

Lidah yang Tak Kupelajari

Seorang pengingat bisa memasuki bangsa mana pun, sebab ia membawa di bawah lidahnya sendiri sebuah lidah yang lebih tua daripada semua bangsa. Ia tak selalu bisa berbicara dengan mereka. Tapi ia selalu bisa mengingat bersama mereka, dan kadang, di zaman yang terpecah ini, mengingat bersama adalah satu-satunya bahasa yang masih bisa menyatukan.

dari ajaran para pengingat, tentang melintasi batas

Setelah pengingat dari lereng timur kembali ke bangsanya, Wreda tak bisa lagi hidup sebagaimana ia hidup sebelumnya, sebab ia kini tahu sesuatu yang membuat kehidupan lamanya terasa seperti tidur.

Ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Bahwa tersebar di seluruh bangsa-bangsa yang bermusuhan, di tiap lidah, di tiap lereng gunung yang punya tujuh nama, ada orang-orang seperti dia, pembawa kerikil, pembawa ingatan, pembawa sumpah yang sama. Dan ia tahu, dengan kepastian yang tumbuh di dalamnya seperti air mengisi sebuah cekungan, bahwa ia harus menemukan mereka. Bukan karena seseorang menyuruhnya. Bukan karena ada rencana yang ia mengerti. Melainkan karena panggilan yang ia rasakan di dalam darahnya, panggilan yang sama yang dirasakan pengingat dari lereng timur, panggilan untuk berkumpul setelah ribuan tahun terpisah.

Ibunya, ketika Wreda memberitahunya, tidak mencoba menghentikannya, walau ketakutan jelas di wajahnya. “Aku tahu hari ini akan datang, ” katanya. “Aku merasakannya ketika kau mulai bermimpi lebih jelas daripada yang pernah kubermimpi, ketika kerikil di dalammu tampak lebih terjaga daripada di dalamku. Kau membawa sesuatu yang lebih kuat daripada yang kubawa, Wreda. Mungkin sesuatu yang lebih kuat daripada yang dibawa siapa pun selama banyak generasi. Dan bila kerikil memanggilmu untuk pergi, untuk mencari yang lain, maka itu berarti zaman sedang berubah, dan kau adalah bagian dari perubahannya.” Ia memegang wajah putrinya. “Tapi ketahuilah apa yang kau hadapi. Untuk mencari pengingat di bangsa lain, kau harus melintasi batas-batas yang dijaga dengan darah. Kau harus memasuki bangsa-bangsa yang lidahnya tak kaupelajari, yang akan memandangmu sebagai musuh sebelum kau mengucapkan sepatah kata. Kerikil akan membantumu mengenali kawan. Tapi ia tak akan melindungimu dari mereka yang melihat hanya orang asing dari bangsa yang salah.”

Maka Wreda pergi, melintasi batas pertama, ke dalam bangsa yang lidahnya tak ia pelajari, dan ia belajar dengan cepat betapa benar peringatan ibunya.

Di bangsanya sendiri, ia adalah seseorang, ia punya nama, keluarga, tempat. Di bangsa asing, ia adalah tak seorang pun, atau lebih buruk: ia adalah orang asing, dan di zaman bangsa-bangsa yang bermusuhan, orang asing adalah ancaman sampai terbukti sebaliknya. Ia tak bisa berbicara lidah mereka; kata-katanya, yang di rumah membawa makna dan kehangatan, di sini hanya suara aneh yang membuat orang waspada. Ia tak tahu adat mereka, dan maka ia melanggarnya tanpa mengetahuinya, dan tiap pelanggaran membuatnya lebih dicurigai. Ia berjalan melalui pasar-pasar tempat orang berhenti berbicara ketika ia lewat, melalui kampung-kampung tempat anak-anak menatapnya dan orang dewasa memalingkan muka, dan ia merasakan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, apa artinya menjadi sepenuhnya asing, sepenuhnya di luar, di sebuah dunia yang telah membagi dirinya menjadi kita dan mereka dan telah lupa bahwa pembagian itu pernah tak ada.

Dan ia memahami, berjalan melalui keasingan ini, sesuatu tentang apa yang telah dilakukan oleh perpisahan lidah kepada tanah ini. Ia telah membuat orang-orang yang sesungguhnya bersaudara menjadi tak bisa saling melihat sebagai saudara. Bukan karena mereka jahat, sebagian besar orang yang memandangnya dengan curiga bukanlah orang jahat, mereka hanya orang yang takut pada apa yang tak mereka mengerti. Melainkan karena lidah yang berbeda telah menjadi dinding, dan di balik dinding itu, tiap bangsa telah tumbuh meyakini bahwa ia sendiri, bahwa yang di balik dinding adalah lain, asing, mungkin musuh. Perpisahan lidah bukanlah hanya perpisahan kata. Ia adalah perpisahan kemampuan untuk melihat kemanusiaan satu sama lain.

Tapi kerikil membawanya, sebagaimana ibunya berkata ia akan, dan di bangsa asing itu, di tengah keasingan yang nyaris menghancurkannya, Wreda menemukan pengingat lain.

Ia merasakannya sebelum ia melihatnya, kerikil Getih bangun di dalam darahnya, menariknya melalui kampung-kampung asing seperti air ditarik ke air, sampai ia berdiri di hadapan seorang perempuan tua yang menjual kain di tepi sebuah pasar, seorang perempuan yang memandangnya dan yang matanya, pada saat mereka bertemu, melebar dengan pengenalan yang sama yang Wreda rasakan. Mereka tak bisa berbicara. Lidah mereka terlalu berbeda; kata-kata Wreda tak berarti apa-apa bagi perempuan itu, dan kata-kata perempuan itu tak berarti apa-apa bagi Wreda. Tapi mereka tak membutuhkan kata-kata, sebab mereka berbagi sesuatu yang lebih dalam daripada kata: ingatan yang sama, dibawa di dalam darah, melampaui lidah mana pun.

Perempuan tua itu membawa Wreda ke rumahnya, dan di sana, tanpa berbagi satu kata pun dari lidah yang sama, mereka mengingat bersama. Perempuan itu menggambar di tanah: sebuah daratan yang luas, kanal-kanal lurus, air yang naik. Wreda mengangguk, dan menambahkan ke gambar itu: dua perempuan, berpisah di tepi. Perempuan tua itu mengangguk, dan air mata muncul di matanya, dan ia menambahkan: tujuh batu kecil, ditelan oleh salah satu dari dua perempuan. Dan begitulah, dengan gambar di tanah dan air mata dan anggukan, dua perempuan yang tak bisa berbicara satu sama lain berbagi ingatan yang sama tentang dunia yang tenggelam sepuluh ribu tahun lebih yang lalu, dan dalam berbagi itu, mereka membuktikan apa yang ingin dibuktikan oleh seluruh perjalanan Wreda: bahwa ingatan lebih dalam daripada lidah, bahwa apa yang dibawa para pengingat bisa menyeberangi dinding-dinding yang memisahkan bangsa, bahwa di bawah tujuh nama dan tujuh lidah, ada satu kebenaran yang tak terbagi.

Dan di rumah perempuan tua itu, malam itu, Wreda memahami sesuatu yang akan menjadi inti dari segala sesuatu yang ia lakukan sesudahnya: bahwa para pengingat memiliki sebuah lidah yang lebih tua daripada semua lidah yang berpisah, dan bahwa lidah itu bukanlah kata-kata.

Ia adalah ingatan itu sendiri. Gambar daratan yang tenggelam. Kanal yang lurus. Dua perempuan di tepi dunia. Tujuh kerikil. Sumpah. Hal-hal ini tak bergantung pada lidah mana pun; mereka bisa digambar di tanah, ditunjukkan dengan tangan, dibagi melalui mata yang bertemu. Dan maka, walau lidah-lidah dunia telah berpisah sampai bangsa tak bisa lagi berbicara satu sama lain, para pengingat telah, tanpa merencanakannya, menjaga sebuah bahasa yang masih bisa dipahami oleh semua dari mereka, bukan bahasa kata, melainkan bahasa ingatan, bahasa gambar dan tanda dan kebenaran yang dibawa di dalam darah.

Dan Wreda mulai memahami bentuk dari apa yang mungkin, bentuk dari mengapa kerikil memanggil para pengingat untuk berkumpul di zaman ini. Sebab bila para pengingat bisa berbicara satu sama lain melintasi lidah-lidah yang berpisah, melalui bahasa ingatan yang mereka semua bawa, maka mereka bisa menjadi sesuatu yang tak ada lagi di tanah ini sejak banjir: sebuah jembatan. Sebuah cara bagi bangsa-bangsa yang tak bisa lagi saling memahami untuk dihubungkan kembali, bukan dengan memaksa mereka berbicara satu lidah, yang tak mungkin, melainkan dengan mengingatkan mereka, melalui rantai pengingat yang membentang di antara mereka semua, bahwa di bawah lidah-lidah yang berbeda mereka berbagi satu ingatan, satu asal, satu darah. Para pengingat tidak akan menyatukan bangsa-bangsa dengan menghapus perbedaan mereka. Mereka akan menyatukan bangsa-bangsa dengan mengingat, dan membuat bangsa-bangsa mengingat, apa yang ada di bawah perbedaan itu.

Sebelum Wreda meninggalkan bangsa asing itu, perempuan tua memberinya sesuatu, bukan dengan kata-kata, sebab mereka masih tak bisa berbagi kata, melainkan dengan tangan: ia menggambar, di selembar kulit, sebuah peta.

Bukan peta tanah, atau setidaknya tidak hanya itu. Ia adalah peta pengingat. Tanda-tanda kecil tersebar di seluruh gambar pulau, masing-masing menandai tempat di mana perempuan tua tahu, atau menduga, atau telah merasakan melalui kerikilnya, bahwa seorang pengingat lain hidup. Sebab perempuan tua itu, dalam hidupnya yang panjang, telah melakukan apa yang Wreda baru mulai lakukan: ia telah merasakan yang lain, melalui kerikil, melintasi jarak, dan ia telah menyimpan pengetahuan tentang di mana mereka berada, menunggu zaman ketika seseorang akan datang yang cukup kuat untuk mengumpulkan mereka. Dan kini, memandang Wreda, ia tahu, sebagaimana ibu Wreda tahu, sebagaimana pengingat dari lereng timur tahu, bahwa Wreda mungkin adalah orang itu.

Wreda mengambil peta, dan ia memahami bobot dari apa yang diberikan kepadanya: bukan hanya sebuah daftar tempat, melainkan sebuah tugas, sebuah panggilan yang kini menjadi nyata dan terarah. Ia akan mengikuti peta ini. Ia akan melintasi batas demi batas, bangsa demi bangsa, lidah demi lidah yang tak ia pelajari, dan ia akan menemukan para pengingat yang tersebar, satu demi satu, dan ia akan mulai melakukan apa yang belum dilakukan sejak lidah-lidah berpisah: mengumpulkan rantai yang tercerai, menyatukan kembali apa yang telah lama terpisah. Dan jauh di bawahnya, di bawah tanah yang terbagi menjadi banyak bangsa, di bawah laut tempat seorang ratu menunggu, air bergerak, membawa, dari yang tenggelam menuju yang menunggu, melalui rantai yang kini mulai berkumpul kembali, bisikannya yang sabar. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan, kini menjadi sesuatu yang lebih terarah: sebuah peta. Sebuah jalan. Sebab setelah ribuan tahun tersebar, para pengingat telah mulai, untuk pertama kalinya, untuk mencari satu sama lain dengan sengaja, dan dalam pencarian itu, di bawah semua lidah yang berpisah, sebuah lidah yang lebih tua mulai, sangat pelan, untuk berbicara kembali.


 

BAB TIGA

Raja yang Mengukir Dusta

Yang berkuasa selalu takut pada yang mengingat. Sebab kekuasaan dibangun di atas kisah, dan kisah yang menguntungkan kekuasaan jarang adalah kisah yang benar. Maka di tiap zaman, raja-raja yang mengukir dusta di batu akan memburu mereka yang membawa kebenaran di dalam darah.

dari ajaran para pengingat, tentang kekuasaan

Peta perempuan tua membawa Wreda, setelah banyak batas dan banyak lidah yang tak ia pelajari, ke sebuah tempat yang berbeda dari semua yang ia lewati sebelumnya: bukan sekadar bangsa, melainkan kerajaan.

Ia telah mendengar tentang kerajaan-kerajaan, tapi ia belum pernah melihat satu. Di tempat asalnya, di kaki gunung bernama tujuh, kekuasaan masih kecil, kepala kampung, tetua, paling banter seorang yang kuat yang memerintah beberapa lembah. Tapi kerajaan ini adalah sesuatu yang lain. Ia memiliki seorang raja yang menyebut dirinya keturunan dewa. Ia memiliki tentara, dan pemungut pajak, dan pendeta yang melayani baik dewa maupun raja, dan, inilah yang paling menarik perhatian Wreda, sebab ibunya telah memperingatkannya tentang ini, ia memiliki batu. Batu di mana-mana, diukir dengan aksara, mengukir nama raja dan kebesaran raja dan keturunan ilahi raja, sehingga setiap orang yang lewat akan membaca, atau bila mereka tak bisa membaca akan diberitahu, bahwa raja ini agung, bahwa raja ini benar, bahwa raja ini layak diberi pajak dan kesetiaan dan, bila perlu, nyawa.

Dan Wreda, yang membawa di dalam darahnya ingatan yang lebih tua daripada kerajaan mana pun, memandang batu-batu itu dan merasakan apa yang telah diperingatkan para pengingat sejak aksara pertama diukir: bahwa batu bisa berbohong. Sebab ia tahu, dengan kepastian yang datang dari kerikil, bahwa raja ini bukan keturunan dewa. Tak seorang pun keturunan dewa. Semua orang di tanah ini, raja dan budak sama saja, adalah keturunan dari segelintir pengungsi yang mendarat dari laut setelah banjir, keturunan dari Nyai Sela dan bangsanya yang tenggelam. Tapi batu mengatakan sebaliknya, dengan otoritas yang dingin dan permanen, dan orang-orang yang membaca batu mempercayainya, sebab batu bertahan lebih lama daripada manusia, dan apa yang bertahan mulai tampak seperti apa yang benar.

Pengingat yang Wreda cari di kerajaan ini hidup dalam bahaya yang lebih besar daripada pengingat mana pun yang telah ia temui, sebab di kerajaan, kebenaran yang dibawa para pengingat bukan hanya tak diinginkan, ia berbahaya bagi kekuasaan itu sendiri.

Wreda menemukannya melalui kerikil, sebagaimana selalu, ditarik melalui kota kerajaan yang ramai sampai ke sebuah tempat di pinggirannya, tempat seorang lelaki bekerja sebagai pengukir batu, dan ini adalah ironi yang tak luput dari Wreda, bahwa seorang pengingat mencari nafkah dengan mengukir di batu kebohongan-kebohongan raja yang ia tahu adalah kebohongan. Ketika mata mereka bertemu dan kerikil mengenali kerikil, lelaki itu membawanya ke tempat yang aman dengan kewaspadaan seseorang yang telah lama hidup dalam bahaya, memandang ke belakang, berbicara dengan suara rendah, memastikan tak ada yang mengikuti.

“Kau tak mengerti betapa berbahayanya di sini, ” katanya kepadanya, ketika mereka akhirnya sendirian. Mereka bisa berbicara, ini kali, sebab kerajaan ini cukup dekat dengan tanah asal Wreda sehingga lidah mereka, walau berbeda, masih cukup mirip untuk dipahami dengan usaha. “Di bangsa-bangsa kecil, seorang pengingat hanya aneh. Orang mencurigainya, mungkin menghindarinya, tapi membiarkannya hidup. Di sini, di kerajaan, seorang pengingat adalah ancaman. Sebab raja membangun seluruh kekuasaannya di atas sebuah kisah, bahwa ia keturunan dewa, bahwa garisnya selalu memerintah, bahwa dunia selalu seperti ini dan harus selalu seperti ini. Dan aku membawa, di dalam darahku, kebenaran yang menghancurkan kisah itu: bahwa tak ada yang selalu seperti ini, bahwa raja-raja datang dari pengungsi sebagaimana semua orang, bahwa dunia telah berakhir sebelumnya dan akan berakhir lagi. Bila aku mengucapkan kebenaran itu dengan keras, raja akan membunuhku, bukan karena ia jahat, melainkan karena kebenaranku adalah racun bagi kekuasaannya.”

Dan bahaya yang dibicarakan lelaki itu datang lebih cepat daripada yang diharapkan keduanya, sebab di kerajaan, orang asing yang datang mencari pengukir batu yang dicurigai menarik perhatian yang salah.

Wreda tak menyadari bahwa ia telah diperhatikan, seorang perempuan asing, dari bangsa yang jauh, yang berjalan melalui kota kerajaan dengan tujuan yang tak jelas dan kemudian menghilang ke pinggiran untuk bertemu seorang pengukir yang telah lama dicurigai oleh pendeta-pendeta raja. Para pendeta, yang tugasnya adalah menjaga kisah raja tetap utuh, telah lama mengawasi pengukir itu, merasakan dalam dirinya sesuatu yang tak mereka pahami tapi tahu untuk ditakuti: sebuah pengetahuan yang lebih tua daripada kisah yang mereka jaga, sebuah ingatan yang bisa, bila dilepaskan, meruntuhkan segala sesuatu yang mereka bangun. Dan ketika orang asing datang dan mencarinya, para pendeta memutuskan bahwa waktunya telah tiba untuk bertindak.

Mereka datang di malam hari, sebagaimana kekuasaan selalu datang untuk yang lemah di malam hari. Wreda dan pengukir hampir tak punya waktu, kerikil Wreda, yang merasakan bahaya sebagaimana ia merasakan air, memperingatkannya beberapa saat sebelum mereka tiba, cukup untuk melarikan diri tapi tidak cukup untuk melarikan diri dengan tenang. Mereka berlari, melalui gang-gang kota kerajaan dalam gelap, dengan suara para penjaga di belakang mereka, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya Wreda merasakan apa artinya diburu bukan karena apa yang ia lakukan melainkan karena apa yang ia tahu, diburu karena membawa kebenaran di sebuah dunia yang dibangun di atas kebohongan.

Mereka melarikan diri dari kota kerajaan, tapi tidak tanpa harga, sebab pelarian di zaman ini, sebagaimana penyeberangan di zaman banjir, selalu menuntut harga.

Pengukir batu mengenal kota, dan ia memimpin Wreda melalui jalan-jalan rahasia, melewati tembok-tembok dan keluar ke ladang-ladang gelap di luar, sementara di belakang mereka kota bangun dengan obor dan teriakan. Mereka berhasil keluar. Tapi pengukir, yang lebih tua dan lebih lambat, terluka dalam pelarian, sebuah panah dari penjaga di tembok, menemukan punggungnya dalam gelap. Ia terus berlari, jauh ke dalam ladang, sampai kota dan obornya tertinggal di belakang, dan kemudian ia jatuh, dan Wreda tahu, memeganginya, bahwa lukanya terlalu dalam.

“Dengarkan, ” katanya kepadanya, dengan napas yang mulai pendek. “Aku tak akan sampai ke tempat berikutnya. Tapi kau harus. Apa yang kubawa, ambil. Aku tak bisa memberikannya kepadamu seperti yang lain memberikannya, dengan tahun-tahun mengajar. Tapi aku bisa memberikannya sekarang, cepat, sebab itulah cara rantai bekerja ketika tak ada waktu: dari sekarat ke yang hidup, dari yang jatuh ke yang berlanjut.” Dan ia berbicara, cepat, dalam gelap, menuangkan ke dalam Wreda apa yang ia bawa, bukan kerikil, kerikil tak berpindah seperti itu, melainkan pengetahuan, ingatan tentang para pengingat di kerajaan ini dan di kerajaan-kerajaan di sekitarnya, peta yang ia bawa di kepalanya tentang di mana yang lain bersembunyi, dan sebuah peringatan: bahwa zaman kerajaan adalah zaman yang paling berbahaya bagi para pengingat yang pernah ada, sebab untuk pertama kalinya, kekuasaan memiliki baik motif maupun alat untuk memburu mereka, batu untuk mengukir dusta, dan tentara untuk membunuh kebenaran.

Pengukir batu mati di ladang gelap di luar kota kerajaan, dan Wreda menguburnya sendirian, dengan tangannya, dan ketika ia menutup tanah di atasnya ia membisikkan kata-kata yang ia bawa di dalam darahnya, kata-kata dari lidah yang sangat tua, kata-kata yang telah dibisikkan kepada setiap pengingat yang mati sejak Nyai Sela: kau diingat.

Lalu ia berdiri, sendirian, di ladang gelap, dengan kota kerajaan dan obornya jauh di belakang, dan ia memahami bahwa tugasnya telah menjadi lebih besar dan lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan ketika ia meninggalkan rumah. Ia tidak hanya mengumpulkan para pengingat yang tersebar. Ia mengumpulkan mereka di sebuah dunia yang, untuk pertama kalinya, memiliki kekuasaan yang cukup terorganisir untuk memburu mereka, kerajaan-kerajaan yang dibangun di atas kebohongan yang diukir di batu, yang kebohongannya terancam oleh kebenaran yang dibawa para pengingat di dalam darah. Mengumpulkan rantai tidak akan menjadi perjalanan yang damai dari pengingat ke pengingat. Ia akan menjadi perlawanan, sebuah perlawanan yang sunyi, yang dibawa di dalam darah, antara mereka yang mengingat kebenaran dan mereka yang berkuasa dengan dusta.

Dan Wreda, berdiri di ladang gelap, merasa takut, tapi ia juga merasa, di bawah ketakutan, sesuatu yang lebih kuat: kepastian. Sebab ia tahu, dengan kepastian yang datang dari kerikil, bahwa kebenaran yang ia bawa lebih tua daripada kerajaan mana pun, dan akan bertahan lebih lama daripada kerajaan mana pun. Raja-raja akan datang dan pergi. Batu-batu yang mereka ukir akan retak dan terkubur dan dilupakan. Tapi rantai pengingat akan bertahan, sebagaimana ia selalu bertahan, membawa kebenaran di bawah semua dusta, menunggu zaman ketika kebenaran itu akhirnya bisa diucapkan dengan keras. Dan jauh di bawahnya, di bawah ladang dan kerajaan dan akhirnya laut, di kedalaman tempat seorang ratu menunggu, air bergerak, membawa, dari yang tenggelam menuju yang menunggu, melalui rantai yang kini tumbuh meski diburu, bisikannya yang sabar. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan peta, kini menjadi sesuatu yang lebih keras: sebuah ketabahan. Sebuah tekad. Sebab para pengingat telah memasuki zaman ketika mengingat menjadi berbahaya, ketika membawa kebenaran berarti diburu, dan tetap, di bawah semua kerajaan yang akan mengukir dusta mereka di batu, rantai tidak akan putus, dan kebenaran tidak akan hilang, dan suatu hari, ketika semua batu yang berbohong telah lama runtuh, ingatan yang dibawa di dalam darah akan masih ada untuk mengucapkan apa yang sungguh-sungguh terjadi.


 

BAGIAN II

Yang Berkumpul


 

BAB EMPAT

Rumah di Antara Batas

Bila kau tak bisa hidup dengan aman di bangsa mana pun, kau belajar untuk hidup di antara mereka, di celah-celah, di tanah tak bertuan, di tempat-tempat yang terlalu sunyi untuk diperebutkan. Para pengingat menemukan, di zaman kerajaan, bahwa rumah mereka bukanlah satu bangsa, melainkan ruang di antara semua bangsa.

dari ajaran para pengingat, tentang tempat berlindung

Peta yang dituangkan pengukir batu ke dalam Wreda sebelum ia mati membawanya ke suatu tempat yang tak ada di peta mana pun yang dibuat oleh kerajaan: ke tanah di antara batas-batas, tempat yang tak diklaim oleh siapa pun sebab ia terlalu tinggi, terlalu kering, terlalu sunyi untuk diperebutkan.

Sebab itulah, ia mulai memahami, tempat para pengingat telah belajar untuk berkumpul di zaman kerajaan. Bukan di dalam bangsa, di mana mereka diburu. Bukan di kota, di mana batu raja mengawasi. Melainkan di celah-celah dunia, di tanah tak bertuan di antara kerajaan dan kerajaan, di lereng-lereng yang terlalu curam untuk ditanami dan hutan-hutan yang terlalu dalam untuk ditaklukkan. Di tempat-tempat ini, di mana kekuasaan tak punya alasan untuk datang, mereka yang membawa ingatan bisa hidup tanpa harus terus-menerus menyembunyikan apa yang mereka adanya. Mereka telah menemukan, tanpa merencanakannya, bahwa mereka bukan milik bangsa mana pun, bahwa rumah mereka adalah ruang di antara semua bangsa, tanah yang terlupakan yang dilewati semua orang dan dimiliki tak seorang pun.

Wreda mendaki ke salah satu tempat ini, mengikuti tanda-tanda dari peta dalam kepalanya, naik melalui hutan yang semakin lebat dan udara yang semakin tipis, sampai ia mencapai sebuah lembah tinggi yang tersembunyi di antara puncak-puncak, sebuah tempat yang tak akan ditemukan oleh siapa pun yang tak tahu untuk mencarinya. Dan di lembah tinggi itu, untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan rumah, Wreda melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan: bukan satu pengingat, bukan dua, melainkan banyak. Sebuah kampung kecil dari mereka. Sebuah tempat di mana para pengingat, yang ia kira tersebar dan sendirian, telah mulai berkumpul.

Mereka datang dari banyak bangsa, para pengingat di lembah tinggi itu, dan itu adalah hal pertama yang menghantam Wreda tentang tempat itu: bahwa di sini, di celah dunia, orang-orang yang di bawah akan menjadi musuh hidup berdampingan sebagai saudara.

Ada di antara mereka orang dari bangsa Wreda sendiri, dan orang dari lereng timur yang bermusuhan dengan bangsanya, dan orang dari kerajaan yang baru saja ia larikan diri darinya, dan orang dari bangsa-bangsa yang bahkan tak ia kenal namanya. Mereka berbicara lidah-lidah yang berbeda, di lembah itu, pada hari mana pun, seseorang bisa mendengar setengah lusin lidah yang tak saling dimengerti. Tapi mereka berbagi sesuatu yang membuat lidah tak penting: ingatan yang sama, kerikil yang sama, sumpah yang sama. Dan maka mereka telah membangun, di lembah tinggi ini, sesuatu yang tak ada di tempat lain di seluruh tanah: sebuah tempat di mana bangsa tidak penting, di mana satu-satunya yang penting adalah apa yang dibawa seseorang di dalam darahnya.

Mereka menyambut Wreda sebagaimana mereka menyambut tiap pengingat yang menemukan jalan ke lembah: tanpa pertanyaan tentang dari bangsa mana ia datang, tanpa kecurigaan tentang lidah yang ia bicarakan, melainkan dengan pengenalan langsung dari kerikil ke kerikil, darah ke darah. Untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan rumah, Wreda merasa bukan orang asing. Ia berada di antara orang-orangnya, bukan bangsanya, melainkan orang-orangnya, rantai yang ia adalah bagiannya, keluarga yang lebih dalam daripada darah keluarga. Dan ia merasakan, di lembah tinggi itu, sebuah kelegaan yang nyaris membuatnya menangis: kelegaan tidak lagi sendirian, tidak lagi harus menyembunyikan apa yang ia adanya, tidak lagi menjadi satu-satunya yang mengingat di sebuah dunia yang telah memilih untuk lupa.

Tapi lembah tinggi itu, Wreda segera memahami, bukanlah surga, dan para pengingat yang berkumpul di sana terbagi oleh sebuah pertanyaan yang tak bisa mereka jawab: apa, tepatnya, yang harus mereka lakukan dengan ingatan yang mereka jaga?

Sebab selama ribuan tahun, tugas para pengingat sederhana, walau berat: mengingat, dan mewariskan, dan menjaga rantai agar tak putus. Tapi kini mereka berkumpul, dan dalam berkumpul mereka mulai bertanya pertanyaan yang tak bisa diajukan oleh pengingat yang sendirian: apakah cukup hanya mengingat? Sementara di bawah, di bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan, orang-orang saling membunuh karena lupa bahwa mereka bersaudara, sementara raja-raja mengukir dusta di batu dan kebenaran terkubur di bawah berat kekuasaan, apakah cukup bagi para pengingat untuk duduk di lembah tinggi mereka dan mengingat dalam diam? Atau apakah mereka punya kewajiban yang lebih besar: untuk turun, untuk berbicara, untuk membawa kebenaran yang mereka jaga ke dunia yang telah melupakannya, betapapun berbahayanya?

Lembah terbagi atas pertanyaan ini, dan pembagian itu adalah pembagian yang Wreda kenali, sebab ia adalah gema dari pembagian yang lebih tua, gema dari dua saudari di tepi kanal yang memilih dua jalan. Ada yang berkata: kita harus tetap tersembunyi, tetap aman, menjaga rantai. Bila kita turun dan berbicara, kita akan diburu dan dibunuh, dan rantai akan putus, dan semua ingatan akan hilang. Lebih baik mengingat dalam diam selamanya daripada mati mencoba berbicara. Dan ada yang berkata: ingatan yang disimpan dalam diam selamanya adalah ingatan yang tak berguna. Apa gunanya mengingat bahwa semua bangsa bersaudara bila kita tak pernah memberitahu bangsa-bangsa itu? Kita tidak diberi kerikil untuk bersembunyi dengannya. Kita diberi kerikil untuk mengingat, dan mengingat tanpa berbicara bukanlah mengingat, ia hanya menimbun.

Wreda mendengarkan perdebatan itu, malam demi malam, di lembah tinggi, dan ia merasakan tertarik ke kedua sisi, sebab kedua sisi membawa kebenaran, sebagaimana kedua saudari di tepi kanal membawa kebenaran.

Tapi ia juga merasakan, semakin lama ia mendengarkan, bahwa ia melihat sesuatu yang tak dilihat oleh yang lain, sesuatu yang datang dari kerikil yang lebih kuat yang ia bawa, kerikil yang ibunya katakan mungkin lebih kuat daripada yang dibawa siapa pun selama banyak generasi. Sebab ketika para pengingat berdebat apakah harus bersembunyi atau berbicara, mereka berdebat seolah-olah itu adalah satu-satunya dua pilihan. Tapi Wreda merasakan, di bawah perdebatan, sebuah jalan ketiga yang belum dilihat siapa pun, sebuah jalan yang bukan bersembunyi dan bukan berbicara dengan keras, melainkan sesuatu yang lebih halus dan lebih sabar dan, ia mulai percaya, lebih kuat.

Sebab ia telah belajar, dalam perjalanannya, bahwa para pengingat memiliki sebuah bahasa di bawah bahasa, sebuah cara untuk berbagi ingatan yang melampaui lidah. Dan ia mulai bertanya-tanya: bila para pengingat tersebar di tiap bangsa, di tiap kerajaan, membawa ingatan yang sama dalam darah yang sama, lalu bagaimana bila mereka tidak turun untuk berbicara dengan keras, yang akan membuat mereka diburu, melainkan bekerja dari dalam, perlahan, melalui bahasa ingatan, menanam, di tiap bangsa, melalui mimpi dan kisah dan ritus yang tampak tak berbahaya, benih-benih ingatan tentang kesatuan yang lama? Tidak menyatukan bangsa-bangsa dengan satu deklarasi berani yang akan dihancurkan oleh kekuasaan, melainkan dengan ribuan bisikan kecil, tersebar di seluruh tanah, sampai suatu hari, tanpa ada yang bisa menunjuk kapan atau bagaimana, semua bangsa akan menemukan bahwa mereka berbagi mitos yang sama, kerinduan yang sama, ingatan yang sama tentang sebuah dunia yang tenggelam, dan dengan begitu, tanpa pernah dipaksa, akan mulai mengingat bahwa mereka satu.

Wreda tidak mengucapkan pemikirannya dengan keras, belum, sebab ia masih muda di antara para pengingat lembah, dan ia masih belajar bentuk dari apa yang ia rasakan. Tapi ia menyimpannya, dan ia menumbuhkannya, dan ia tahu, dengan kepastian yang datang dari kerikil, bahwa ia telah melihat sesuatu yang penting.

Sebab perdebatan antara bersembunyi dan berbicara adalah perdebatan yang akan selalu buntu, selalu terbagi, sebagaimana dua saudari selalu terbagi. Tapi jalan ketiga, jalan menanam ingatan secara perlahan ke dalam tanah semua bangsa, sampai kesatuan yang lama tumbuh kembali dengan sendirinya dari bawah, jalan itu tidak menuntut para pengingat untuk memilih antara aman dan berguna. Ia membiarkan mereka menjadi keduanya: tersembunyi dalam tindakan tiap pengingat tunggal, namun kuat dalam keseluruhan, sebuah pekerjaan yang terlalu tersebar dan terlalu lambat untuk diburu oleh kekuasaan mana pun, namun yang, di sepanjang generasi, akan mengubah cara seluruh tanah ini mengingat dirinya sendiri.

Dan Wreda memahami, memikirkan ini di lembah tinggi di antara para pengingat dari banyak bangsa, bahwa inilah barangkali mengapa kerikil telah memanggil mereka untuk berkumpul di zaman ini, bukan untuk membentuk tentara, bukan untuk membuat deklarasi, melainkan untuk menemukan, bersama, cara yang lebih sabar dan lebih dalam untuk menyembuhkan tanah yang terpecah: bukan dengan menyatukan bangsa-bangsa dari atas, melainkan dengan menanam ingatan dari bawah, satu mimpi, satu kisah, satu bisikan pada satu waktu. Dan jauh di bawahnya, di bawah lembah tinggi dan bangsa-bangsa yang terbagi dan akhirnya laut, di kedalaman tempat seorang ratu menunggu, air bergerak, membawa, dari yang tenggelam menuju yang menunggu, melalui rantai yang kini berkumpul dan mulai memahami dirinya sendiri, bisikannya yang sabar. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan peta dan ketabahan, kini menjadi sesuatu yang baru lagi: sebuah rencana. Sebuah cara. Sebab para pengingat, setelah ribuan tahun mengingat dalam diam, telah mulai bertanya bukan hanya bagaimana mengingat, melainkan untuk apa, dan dalam pertanyaan itu, di sebuah lembah tinggi di antara batas-batas, benih dari penyembuhan tanah yang terpecah mulai, sangat pelan, untuk tumbuh.


 

BAB LIMA

Benih dalam Sebuah Kisah

Sebuah kebenaran yang diteriakkan akan diburu dan dibunuh. Tapi sebuah kebenaran yang disembunyikan di dalam sebuah kisah, sebuah lagu, sebuah ritus yang tampak tak berbahaya, kebenaran itu bisa berjalan masuk ke jantung sebuah bangsa lewat pintu depan, disambut, dicintai, diwariskan, sampai suatu hari bangsa itu menyadari ia telah selalu mempercayainya.

dari ajaran para pengingat, tentang menanam

Akhirnya Wreda mengucapkan jalan ketiganya dengan keras, di lembah tinggi, di hadapan para pengingat yang berkumpul, dan ia mengucapkannya dengan ketakutan seseorang yang masih muda berbicara di hadapan yang lebih tua, tapi juga dengan keteguhan seseorang yang tahu ia benar.

Ia menjelaskan apa yang telah ia rasakan: bahwa perdebatan antara bersembunyi dan berbicara adalah perdebatan yang salah, bahwa ada jalan ketiga yang bukan keduanya. Tidak mengumumkan kebenaran dengan keras, yang akan membuat mereka diburu. Tidak menyembunyikannya selamanya, yang akan membuatnya tak berguna. Melainkan menanamnya, di dalam kisah-kisah yang diceritakan kepada anak-anak, di dalam lagu-lagu yang dinyanyikan di perayaan, di dalam ritus-ritus yang tampak hanya adat tapi yang membawa, terselubung di dalamnya, ingatan tentang banjir dan daratan yang tenggelam dan kesatuan yang lama. Menanam benih, di tiap bangsa, yang akan tumbuh begitu pelan sehingga tak ada kekuasaan yang akan merasakannya sebagai ancaman, sampai suatu hari, setelah cukup banyak generasi, semua bangsa akan menemukan bahwa mereka berbagi kisah-kisah yang sama, dan akan mulai bertanya mengapa.

Sebagian para pengingat mendengarkan dengan mata yang menyala, mengenali dalam kata-kata Wreda sesuatu yang telah mereka rindukan tanpa bisa menamainya. Tapi yang lain, terutama yang lebih tua, yang telah lama menjaga rantai melalui kehati-hatian, mendengarkan dengan kecurigaan, dan kemudian dengan penolakan. “Kau berbicara tentang mengubah kisah-kisah bangsa, ” kata salah satu dari mereka, seorang lelaki tua yang telah membawa kerikilnya lebih lama daripada Wreda hidup. “Kau berbicara tentang menyelundupkan ingatan kita ke dalam adat-adat orang lain. Itu bukan menjaga rantai. Itu menyebarkannya, mengencerkan­nya, membiarkannya bercampur dengan kisah-kisah yang bukan milik kita sampai tak ada yang tahu lagi mana yang ingatan sejati dan mana yang dongeng. Kau akan kehilangan kebenaran dengan mencoba menyebarkannya.”

Perdebatan yang mengikuti adalah perdebatan terdalam yang pernah dihadapi para pengingat, dan ia menyentuh sesuatu yang lebih tua daripada pertanyaan tentang bersembunyi atau berbicara: ia menyentuh pertanyaan tentang apa, sesungguhnya, yang harus mereka jaga.

Lelaki tua itu membawa kebenaran yang tak bisa diabaikan Wreda. Sebab selama ribuan tahun, para pengingat telah menjaga ingatan dengan menjaganya murni, meneruskannya dari pengingat ke pengingat dengan kehati-hatian yang besar, memastikan bahwa apa yang diwariskan adalah persis apa yang diterima, supaya kebenaran tentang dunia yang tenggelam tidak terdistorsi sepanjang ribuan tahun. Dan ada kebijaksanaan dalam itu, kebijaksanaan yang telah membuat rantai bertahan: bahwa ingatan yang dijaga murni adalah ingatan yang bisa dipercaya, sementara ingatan yang dibiarkan bercampur dengan kisah-kisah lain akan, sepanjang generasi, berubah menjadi sesuatu yang lain, sampai kebenaran asli hilang di bawah lapisan-lapisan dongeng.

“Bila kau menanam ingatan kita ke dalam kisah-kisah bangsa, ” kata lelaki tua itu, “kau tak bisa mengendalikan bagaimana ia tumbuh. Bangsa akan mengambilnya, dan mengubahnya, dan mencampurnya dengan kisah-kisah mereka sendiri, sampai daratan yang tenggelam menjadi negeri dewa, dan Nyai Sela menjadi seorang ratu peri, dan banjir menjadi hukuman dari langit untuk dosa yang tak pernah terjadi. Kebenaran yang kita jaga akan menjadi dongeng. Dan dongeng tak menyelamatkan siapa pun. Dongeng tak membebaskan ratu yang menunggu di laut. Hanya kebenaran yang bisa, kebenaran yang dijaga murni, kebenaran yang masih tahu dirinya sebagai kebenaran.”

Dan Wreda, mendengar ini, merasakan bobot dari kebenaran lelaki tua itu, dan untuk beberapa saat ia ragu. Tapi kemudian ia menemukan jawabannya, dan jawabannya datang dari sesuatu yang telah ia pelajari di seluruh perjalanannya.

“Kau benar bahwa kisah akan mengubah ingatan kita, ” katanya. “Bila kita menanamnya di seluruh bangsa, daratan yang tenggelam mungkin menjadi negeri dewa, dan Nyai Sela mungkin menjadi ratu peri, dan banjir mungkin menjadi hukuman langit. Aku tak menyangkalnya. Tapi tanyakan dirimu ini: mana yang lebih mungkin bertahan ribuan tahun, sebuah kebenaran murni yang dibawa oleh segelintir pengingat yang diburu oleh tiap kerajaan, yang bisa putus dengan satu kematian yang salah, satu pembantaian, satu zaman gelap? Atau sebuah kebenaran yang telah menyebar ke dalam kisah-kisah ratusan bangsa, yang dicintai dan diwariskan oleh jutaan orang yang bahkan tak tahu mereka membawanya, yang terlalu tersebar untuk diburu dan terlalu dicintai untuk dilupakan? Ya, kisah akan mengubah kebenaran kita. Tapi kisah juga akan menyelamatkannya. Sebuah negeri dewa di bawah laut, sebuah ratu peri di pantai selatan, sebuah banjir besar dalam ingatan tiap bangsa, ini bukan kebenaran kita yang hilang. Ini adalah kebenaran kita yang bertahan, terselubung, menunggu seseorang yang cukup tahu untuk mengupas selubungnya dan menemukan, di bawah dongeng, ingatan yang sesungguhnya.”

“Dan suatu hari, ” lanjutnya, dan kini suaranya membawa sesuatu yang membuat bahkan lelaki tua itu terdiam, “suatu hari akan datang seseorang, mungkin seorang pengingat, mungkin seseorang yang lain, seseorang dengan alat-alat yang bahkan tak bisa kita bayangkan, yang akan memandang semua kisah ini, di semua bangsa, dan memperhatikan bahwa mereka semua mengandung gema yang sama: sebuah banjir, sebuah dunia yang tenggelam, sesuatu yang hilang di bawah laut. Dan orang itu akan bertanya mengapa. Mengapa ratusan bangsa yang tak pernah saling bicara semua mengingat banjir yang sama? Dan dalam bertanya, mereka akan mulai menemukan kebenaran yang kita tanam, bukan karena kita meneriakkannya, melainkan karena kita menyembunyikannya begitu dalam, di begitu banyak tempat, sehingga ia menjadi mustahil untuk diabaikan.”

Lembah tetap terbagi atas pertanyaan itu; perdebatan seperti itu tak diselesaikan dalam satu malam, atau bahkan satu generasi. Tapi Wreda tidak menunggu lembah untuk setuju. Ia mulai, sendirian, melakukan apa yang ia yakini.

Ia turun dari lembah tinggi, kembali ke bangsa-bangsa, dan ia mulai menanam. Tapi ia tidak menanam dengan berbicara tentang kebenaran; ia menanam dengan bercerita. Di sebuah kampung di sebuah bangsa, ia duduk di antara anak-anak di malam hari, dan ia menceritakan sebuah kisah, bukan kisah tentang Nyai Sela dan tujuh kerikil, yang akan terlalu telanjang, terlalu berbahaya, melainkan sebuah kisah yang membawa kebenaran terselubung di dalamnya: sebuah kisah tentang seorang putri yang tinggal di dasar laut selatan, yang dulu adalah manusia, yang kehilangan dunianya pada air dan kini menunggu, di kedalaman, untuk seseorang yang akan mengingatnya. Ia membuat kisah itu indah, dan menakutkan, dan tak terlupakan, sebagaimana kisah yang baik harus, dan ia memberinya bentuk yang akan disukai oleh bangsa ini, dengan dewa-dewa yang mereka kenal dan tempat-tempat yang mereka cintai.

Dan anak-anak mendengarkan dengan mata lebar, dan mereka membawa pulang kisah itu, dan menceritakannya kepada anak-anak mereka sendiri kelak, dan kisah tentang putri di laut selatan mulai berakar di bangsa itu, tumbuh, berubah, bercampur dengan kisah-kisah lain, tapi membawa, di intinya, terselubung di bawah keindahan dan ketakutan, benih dari kebenaran yang sesungguhnya: bahwa ada sesuatu di dasar laut selatan, sesuatu yang dulu manusia, sesuatu yang menunggu untuk diingat. Wreda telah menanam benih pertamanya. Dan ia tahu, meninggalkan kampung itu, bahwa ia akan tumbuh, bahwa ratusan tahun dari sekarang, bangsa ini, dan bangsa-bangsa di sekitarnya yang akan mendengar kisah itu dan membuatnya milik mereka sendiri, akan semua mengingat seorang ratu di laut selatan, tanpa tahu mengapa, tanpa tahu bahwa mereka membawa, di dalam dongeng yang mereka cintai, benih dari kebenaran yang ditanam oleh seorang perempuan muda yang telah lama mati.

Wreda berjalan dari kampung itu di bawah langit malam, dan ia merasakan, untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan rumah, bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar-benar penting, bukan menemukan pengingat, bukan melarikan diri dari kekuasaan, melainkan menanam, di tanah hidup sebuah bangsa, sebuah benih yang akan tumbuh lama setelah ia tiada.

Ia memikirkan lelaki tua di lembah, dan ketakutannya bahwa kebenaran akan hilang di bawah dongeng. Dan ia mengakui, kepada dirinya sendiri, di bawah langit malam, bahwa lelaki tua itu mungkin benar, bahwa kisah tentang putri di laut selatan akan, sepanjang generasi, menjadi semakin jauh dari kebenaran tentang Awu Sela yang memilih untuk menghalus daripada kehilangan. Akan ada penambahan, perubahan, hiasan. Ratu di laut selatan akan menjadi makhluk legenda, ditakuti dan dipuja, dengan istana di dasar laut dan kekuatan atas badai dan kebiasaan mengambil mereka yang berjalan terlalu dekat ke air. Kebenaran yang menyedihkan dan manusiawi, seorang perempuan yang begitu takut kehilangan sehingga ia memilih untuk tidak hidup, akan terkubur di bawah keagungan legenda.

Tapi ia akan bertahan. Itulah yang dipegang Wreda, berjalan di bawah langit malam. Terkubur, terselubung, diubah, tapi bertahan. Dan suatu hari seseorang akan menggali di bawah legenda, dan menemukan kebenaran, dan mengingat Awu Sela bukan sebagai ratu peri melainkan sebagai apa yang sesungguhnya ia adanya: seorang perempuan, seorang saudari, seseorang yang tersesat, seseorang yang menunggu. Dan jauh di selatan, di dasar laut tempat ratu itu menunggu, sesuatu bergerak pada malam itu, bukan ratu, yang terlalu beku untuk bergerak, melainkan air di sekelilingnya, air yang membawa, untuk pertama kalinya, gema dari sebuah kisah yang baru saja mulai diceritakan di permukaan, sebuah kisah tentang dirinya. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan peta dan rencana, kini membawa sesuatu yang akan tumbuh menjadi salah satu kekuatan terbesar di tanah ini: sebuah legenda, ditanam oleh seorang pengingat, yang akan menyebar ke tiap bangsa, dan tumbuh sepanjang ribuan tahun, dan menjaga ingatan tentang ratu di laut selatan hidup di hati jutaan orang yang tak akan pernah tahu namanya yang sesungguhnya, sampai hari ketika seseorang, akhirnya, akan mengingatnya, dan datang.


 

BAB ENAM

Kisah yang Tumbuh Liar

Tanam sebuah benih, dan kau memberinya kepada tanah. Sesudah itu ia bukan lagi milikmu. Ia akan tumbuh menjadi bentuk yang tak kaurencanakan, berbuah hal-hal yang tak kauduga, dan kadang ia akan tumbuh menjadi sesuatu yang kau tak akan pernah tanam bila kau tahu. Inilah harga dari menanam: kau menyelamatkan benih dengan melepaskan kendali atasnya.

dari ajaran para pengingat, tentang yang tak terkendali

Bertahun-tahun setelah Wreda menanam kisah pertamanya tentang putri di laut selatan, ia kembali ke wilayah itu, lebih tua sekarang, dengan rambut yang mulai memutih, setelah menanam benih-benih serupa di banyak bangsa lain, dan ia menemukan bahwa kisahnya telah tumbuh menjadi sesuatu yang tak ia kenali.

Ia mendengarnya pertama dari mulut seorang anak di sebuah pasar, seorang anak yang tak tahu siapa Wreda dan tak akan pernah tahu bahwa perempuan tua yang lewat adalah orang yang menanam kisah yang kini ia ceritakan kepada temannya. Tapi itu adalah kisahnya, ia mengenalinya, di intinya, di bawah semua yang telah ditambahkan. Putri di laut selatan masih ada di sana. Tapi di sekelilingnya kini telah tumbuh hutan dari hal-hal yang tak pernah ditanam Wreda: bahwa sang putri memerintah seluruh laut selatan dengan tangan besi, bahwa ia mengirim ombak untuk menyeret mereka yang berani mandi di pantainya, bahwa ia mengenakan warna hijau dan membenci siapa pun yang memakainya di dekat lautnya, bahwa ia mengambil pemuda-pemuda tampan untuk menjadi pelayannya di istana bawah lautnya yang megah. Sang putri yang menyedihkan dan menunggu yang ditanam Wreda telah menjadi seorang ratu yang perkasa dan menakutkan, dipuja dan ditakuti, dengan kekuasaan dan kehendak dan amarah.

Dan Wreda berdiri di pasar itu, mendengarkan kisahnya sendiri dikembalikan kepadanya dalam bentuk yang tak ia kenali, dan ia merasakan dua hal sekaligus, bertentangan dan keduanya benar. Yang pertama adalah kesedihan: bahwa kebenaran yang ia tanam, seorang perempuan yang tersesat, yang menunggu untuk diingat, telah terkubur di bawah keagungan legenda, persis sebagaimana lelaki tua di lembah memperingatkan. Yang kedua adalah sesuatu yang dekat dengan kegembiraan: bahwa kisahnya hidup. Bahwa ia telah tumbuh begitu kuat, begitu dicintai, begitu mengakar, sehingga ia kini diceritakan oleh anak-anak yang tak pernah ia temui, di pasar-pasar yang tak pernah ia kunjungi, dalam bentuk yang telah menjadi milik bangsa ini sepenuhnya. Ia telah melepaskan benihnya ke tanah, dan tanah telah menumbuhkannya menjadi sesuatu yang liar dan kuat dan hidup.

Tapi ada konsekuensi dari pertumbuhan liar ini yang tak diramalkan Wreda, dan ia menghadapinya di kampung-kampung di sepanjang pantai selatan: bahwa legenda yang ia tanam telah memperoleh kekuasaan nyata atas kehidupan orang.

Orang-orang kini takut pada laut selatan dengan cara yang baru. Mereka tak lagi memandangnya hanya sebagai laut yang berbahaya, semua laut berbahaya, melainkan sebagai wilayah seorang ratu yang berkehendak, yang bisa tersinggung, yang harus ditenangkan. Mereka memberi persembahan ke laut. Mereka melarang warna-warna tertentu di pantai. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka kisah-kisah tentang orang-orang yang diambil ratu, dan anak-anak itu tumbuh dengan ketakutan yang nyata pada sesuatu yang Wreda tahu, lebih baik daripada siapa pun, sebenarnya bukanlah monster melainkan korban. Dan kadang, ini adalah hal yang paling mengganggu Wreda, legenda itu digunakan oleh yang berkuasa. Seorang kepala kampung bisa berkata bahwa ratu laut menghendaki ini atau itu, dan orang akan menurut, sebab siapa yang berani menentang kehendak ratu laut selatan?

Wreda telah menanam kebenaran untuk menyembuhkan, dan menemukan bahwa kebenaran yang ditanam, sekali ia tumbuh liar, bisa digunakan untuk hal-hal yang tak pernah ia maksudkan, untuk menakuti, untuk mengendalikan, untuk memberi kekuasaan kepada mereka yang mengaku berbicara atas nama ratu. Ia telah berharap menanam ingatan tentang kesatuan; ia telah, dalam beberapa hal, juga menanam sebuah alat baru bagi ketakutan dan kekuasaan. Dan ia harus menghadapi pertanyaan yang mengganggu yang dibawa oleh ini: apakah ia telah melakukan kebaikan atau keburukan? Apakah menanam kebenaran di dalam legenda, mengetahui legenda akan tumbuh liar dan bisa disalahgunakan, adalah kebijaksanaan atau kesombongan?

Wreda membawa keraguan ini, berat di dalamnya, sampai ia bertemu seorang pengingat lain di sepanjang pantai, seorang perempuan muda, jauh lebih muda dari Wreda sekarang, yang membawa kerikil dan ingatan dan, Wreda segera melihat, sebuah kepercayaan yang belum diretakkan oleh keraguan.

Wreda menceritakan kepadanya keraguannya: bahwa ia telah menanam legenda untuk menyembuhkan dan menemukan bahwa ia juga menakuti, bahwa ia telah berharap menyebarkan ingatan tentang kesatuan dan menemukan bahwa ia juga telah menyebarkan alat baru bagi kekuasaan. Dan perempuan muda itu mendengarkan, dan kemudian berkata sesuatu yang akan tinggal bersama Wreda untuk sisa hidupnya.

“Kau memandang legenda seolah-olah ia telah selesai tumbuh, ” katanya. “Tapi ia baru saja mulai. Kau menanamnya beberapa puluh tahun yang lalu. Apa yang kau lihat sekarang, ratu yang menakutkan, persembahan, ketakutan, ini bukan bentuk akhir dari kisahmu. Ini hanya bentuknya sekarang, di zaman ini, di mana orang takut dan yang berkuasa mengeksploitasi ketakutan. Tapi legenda akan terus tumbuh, ribuan tahun lagi, melalui zaman-zaman yang tak bisa kita bayangkan. Dan di sepanjang pertumbuhan itu, ia akan berubah lagi, dan lagi. Di satu zaman ia akan menakutkan. Di zaman lain, mungkin, ia akan menjadi indah, menyedihkan, dicintai. Kau tak bisa menilai sebuah benih dari bentuknya di satu musim. Kau menanam sesuatu yang akan tumbuh sepanjang ribuan tahun. Percayalah pada keseluruhan pertumbuhan, bukan pada satu bentuknya yang kaulihat sekarang.”

“Tapi bagaimana bila ia tumbuh menjadi sesuatu yang jahat?” tanya Wreda. “Bagaimana bila ketakutan menang, dan legenda menjadi hanya alat untuk mengendalikan?”

“Maka pengingat di zaman itu akan menanam benih baru untuk memperbaikinya, ” kata perempuan muda itu, dengan kesederhanaan yang membuat Wreda malu pada keraguannya sendiri. “Itulah mengapa rantai tak boleh putus. Bukan supaya satu pengingat bisa menanam kebenaran sempurna yang akan tumbuh sempurna selamanya, itu mustahil, tak ada yang tumbuh sempurna. Melainkan supaya selalu ada pengingat, di tiap zaman, untuk merawat kebun yang tumbuh liar, untuk menanam benih baru ketika yang lama tumbuh salah, untuk menjaga kebenaran hidup melalui semua bentuk yang akan diambilnya. Kau bukan tukang kebun yang menanam sekali dan pergi. Kau adalah satu tukang kebun dalam rantai panjang tukang kebun, masing-masing merawat kebun yang sama melalui zaman mereka sendiri.”

Dan Wreda, mendengar ini dari seseorang yang cukup muda untuk menjadi cucunya, menemukan kedamaian yang telah lama luput darinya, kedamaian dengan ketidaksempurnaan dari apa yang ia lakukan.

Sebab ia telah membawa, tanpa menyadarinya, sebuah harapan yang mustahil: bahwa ia bisa menanam kebenaran dengan begitu sempurna sehingga ia akan tumbuh hanya menjadi kebaikan, hanya menjadi penyembuhan, tak pernah disalahgunakan, tak pernah berubah menjadi ketakutan. Tapi itu adalah harapan dari seseorang yang ingin mengendalikan apa yang ia lepaskan, dan kebenaran yang lebih dalam, kebenaran yang baru saja diajarkan oleh seorang pengingat muda kepadanya, adalah bahwa menanam berarti melepaskan kendali, dan melepaskan kendali berarti menerima bahwa apa yang kau tanam akan tumbuh menjadi baik dan buruk, menjadi penyembuhan dan ketakutan, menjadi seribu bentuk yang tak bisa kau ramalkan, dan bahwa tugasmu bukanlah mengendalikan pertumbuhan itu melainkan mempercayainya, dan merawatnya, dan mewariskan kepada generasi berikutnya tugas untuk terus merawatnya.

Dan ia memahami, akhirnya, sesuatu tentang seluruh saga yang ia adalah bagiannya, tentang Nyai Sela yang menelan kerikil tanpa tahu apa yang akan tumbuh dari sumpahnya, tentang Rangin yang membangun di tanah tinggi tanpa tahu menjadi apa ia akan tumbuh, tentang tiap pengingat dalam rantai panjang yang telah menanam sesuatu dan melepaskannya ke waktu. Mereka semua telah melakukan apa yang kini Wreda lakukan: menanam tanpa mengendalikan, mempercayai keseluruhan yang tak bisa mereka lihat, melepaskan benih ke tanah waktu dengan iman bahwa, melalui semua bentuk liar yang akan diambilnya, sesuatu yang sejati akan bertahan. Itulah, ia memahami akhirnya, apa artinya menjadi seorang pengingat: bukan menjaga kebenaran tetap beku dan sempurna, melainkan melepaskannya ke dalam kehidupan, ke dalam pertumbuhan, ke dalam perubahan, dan mempercayai bahwa ia akan menemukan jalannya, melalui ribuan tahun dan ribuan bentuk, menuju hari ketika ia akhirnya akan dibutuhkan.

Wreda menghabiskan sisa hidupnya menanam, dan ia mati sebagai seorang perempuan tua yang telah menyebarkan, di seluruh bangsa-bangsa di tanah ini, benih-benih dari sebuah kebenaran yang terselubung dalam legenda, dan yang terbesar dari semua benihnya adalah kisah tentang ratu di laut selatan.

Sebab kisah itu, yang ia tanam pertama dan rawat paling lama, menyebar lebih jauh daripada semua yang lain. Ia berjalan dari bangsa ke bangsa, dari lidah ke lidah, melintasi batas-batas yang tak bisa diseberangi oleh tentara mana pun, sebab sebuah kisah yang indah tak membutuhkan paspor dan tak mengenal perbatasan. Dan di tiap bangsa yang menerimanya, ia berubah, dan tumbuh, dan bercampur dengan kisah-kisah setempat, sampai seluruh pantai selatan tanah ini, yang dihuni oleh puluhan bangsa yang tak saling bicara, semua berbagi, tanpa mengetahuinya, satu legenda: seorang ratu di laut selatan, yang dulu manusia, yang menunggu di kedalaman. Bangsa-bangsa yang akan saling berperang atas segala hal lain akan berbagi ratu ini, akan mengingatnya bersama, akan diikat oleh dia melintasi semua perbedaan mereka, persis sebagaimana Wreda harapkan, walau dalam bentuk yang tak pernah ia ramalkan.

Dan jauh di selatan, di dasar laut tempat ratu yang sesungguhnya menunggu, bukan ratu legenda yang perkasa dan menakutkan, melainkan Awu Sela yang menyedihkan dan beku dan menunggu, sesuatu berubah, sangat pelan, sepanjang generasi-generasi ketika legenda menyebar di atasnya. Sebab kini, untuk pertama kalinya sejak ia turun ke laut, ada jutaan orang di permukaan yang mengingatnya. Mereka mengingatnya salah, mereka mengira ia perkasa ketika ia tak berdaya, mereka mengira ia jahat ketika ia hanya tersesat, mereka takut padanya ketika mereka seharusnya mengasihaninya. Tapi mereka mengingatnya. Dan ingatan, bahkan ingatan yang salah, adalah lebih daripada kelupaan; ia adalah benang yang menghubungkan, betapapun tipis, betapapun terdistorsi, yang menunggu menuju yang mengingat. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan peta dan rencana dan legenda, kini membawa sesuatu yang baru: ia membawa, ke ratu yang menunggu di kedalaman, gema samar dari namanya sendiri, bukan nama yang sesungguhnya, yang telah lama hilang, melainkan nama legenda, nama yang diberikan jutaan orang kepada sesuatu yang mereka ingat tanpa mengerti, ratu laut selatan, ratu yang menunggu, ratu yang suatu hari, ketika seseorang akhirnya mengingat dengan benar, akan dibebaskan.


 

BAGIAN III

Kekuasaan dan Reruntuhan


 

BAB TUJUH

Raja yang Menikahi Legenda

Sebuah legenda yang cukup kuat berhenti menjadi milik rakyat dan mulai diinginkan oleh raja-raja. Sebab kekuasaan selalu mencari untuk mengikat dirinya pada apa yang dicintai rakyat, dan tak ada yang lebih dicintai, dan lebih ditakuti, daripada ratu di laut selatan.

dari ajaran para pengingat, di zaman kerajaan besar

Banyak generasi setelah Wreda mati, tanah ini telah memasuki zaman yang berbeda dari semua yang datang sebelumnya: zaman kerajaan-kerajaan besar, yang membentang bukan atas beberapa lembah melainkan atas seluruh wilayah, yang punya nama yang dikenal jauh melampaui perbatasan mereka, yang menulis sejarah mereka dalam aksara yang telah matang menjadi sesuatu yang indah dan rumit.

Ini adalah zaman yang akan ditemukan kembali, jauh kelak, oleh mereka yang menggali masa lalu, zaman dari mana prasasti-prasasti besar akan bertahan, dari mana nama-nama raja akan diingat, dari mana bentuk dari apa yang tanah ini akan menjadi mulai mengkristal. Bagi para pengingat, yang membawa ingatan yang jauh lebih tua daripada kerajaan mana pun, zaman ini membawa bahaya baru dan kesempatan baru. Bahaya, sebab kerajaan besar memiliki kekuasaan yang jauh melampaui kerajaan kecil yang dari mana Wreda pernah melarikan diri, mereka punya tentara yang lebih besar, pendeta yang lebih terorganisir, dan kemampuan yang lebih besar untuk mengukir versi mereka sendiri tentang sejarah ke dalam batu dan membuat orang mempercayainya. Tapi juga kesempatan, sebab kerajaan besar menarik orang dari banyak bangsa, mencampur lidah dan adat dan ingatan dengan cara yang belum pernah terjadi sejak lidah-lidah berpisah, dan di dalam pencampuran itu, benih-benih yang ditanam para pengingat menemukan tanah baru untuk tumbuh.

Dan yang terkuat dari semua benih itu, legenda yang ditanam Wreda dan dirawat oleh para pengingat sesudahnya sepanjang banyak generasi, telah tumbuh menjadi sesuatu yang tak bisa lagi diabaikan oleh kekuasaan mana pun: ratu di laut selatan kini dikenal di seluruh tanah, ditakuti dan dipuja oleh rakyat dari setiap bangsa, sebuah kekuatan dalam imajinasi orang yang lebih besar daripada raja mana pun. Dan kekuasaan, sebagaimana selalu, mulai menginginkannya.

Pengingat di zaman ini bukanlah seorang pengembara di celah-celah dunia, sebagaimana Wreda. Ia adalah seseorang yang hidup di jantung kekuasaan: seorang perempuan muda bernama Larasati, yang melayani di istana raja terbesar di tanah ini, sebagai juru kisah.

Itu adalah posisi yang aneh bagi seorang pengingat, dan berbahaya, tapi juga, Larasati telah menyadari, penuh kemungkinan. Sebab tugasnya adalah menceritakan kisah kepada keluarga raja, untuk menghibur dan untuk mengajar dan untuk memuliakan garis raja. Dan dalam tugas itu, ia membawa, terselubung, apa yang ia adanya: seorang pengingat, pembawa kerikil, pembawa ingatan tentang dunia yang tenggelam dan sumpah Nyai Sela dan kebenaran tentang ratu di laut selatan. Ia menceritakan kisah-kisah yang diinginkan raja, kisah-kisah yang memuliakan garisnya. Tapi ia menenun ke dalamnya, dengan kehalusan yang telah ia warisi dari rantai panjang pengingat sebelum dia, benih-benih dari kebenaran yang lebih tua, sehingga bahkan ketika ia memuliakan raja, ia menanam, di jantung kekuasaan, ingatan yang suatu hari bisa meretakkan kekuasaan itu.

Larasati membawa kerikil yang kuat, walau tidak sekuat yang dibawa Wreda generasi-generasi yang lalu, sebab kerikil terkuat, kerikil Wreda, telah tidur lagi setelah kematiannya, menunggu untuk bangun di seseorang di zaman yang belum datang. Tapi Larasati membawa cukup: ia bermimpi tentang daratan yang tenggelam, ia mengenali pengingat lain, ia merasakan kebenaran di bawah dusta yang diukir di batu raja. Dan ia membawa, lebih daripada itu, sebuah pemahaman tentang posisinya yang berbahaya: bahwa ia berada lebih dekat ke kekuasaan daripada pengingat mana pun sebelumnya, dan bahwa kedekatan itu adalah baik pedang maupun perisai.

Dan kemudian raja, yang Larasati layani, mengumumkan sesuatu yang mengguncang istana dan yang akan menempatkan Larasati di pusat dari bahaya yang ia tak pernah bayangkan: ia menyatakan bahwa garisnya menikahi ratu di laut selatan.

Bukan secara harfiah, tentu, atau setidaknya, tidak hanya secara harfiah. Apa yang raja maksudkan, dan apa yang ia perintahkan para juru kisah dan pendeta untuk mengukir di batu dan menyebarkan ke seluruh kerajaan, adalah bahwa garis rajanya telah, sejak pendirinya, terikat dalam pernikahan suci dengan ratu laut selatan, bahwa ratu itu adalah pelindung gaib dari garisnya, permaisuri dari dunia bawah laut yang memberikan kepada raja-raja garis ini hak ilahi untuk memerintah. Dengan satu pernyataan, raja mengambil legenda yang paling dicintai dan paling ditakuti di seluruh tanah, dan mengikatnya pada kekuasaannya sendiri, sehingga mencintai ratu laut menjadi sama dengan menghormati raja, dan menentang raja menjadi sama dengan menentang ratu laut.

Larasati memahami, dengan kengerian yang dingin, betapa cerdas dan betapa berbahaya langkah ini. Sebab legenda ratu laut adalah benih yang ditanam para pengingat, benih yang membawa, di bawah selubungnya, kebenaran tentang Awu Sela dan dunia yang tenggelam dan kesatuan semua bangsa. Dan kini raja sedang mengambil benih itu, dan mencangkokkannya pada pohon kekuasaannya sendiri, mengubahnya dari sesuatu yang dimiliki semua rakyat secara setara menjadi sesuatu yang dimiliki secara khusus oleh garis raja. Bila ia berhasil, legenda yang ditanam untuk menyatukan semua bangsa akan menjadi alat untuk meninggikan satu garis di atas yang lain. Kebenaran yang Wreda tanam akan dibajak oleh kekuasaan, diputarbalikkan untuk melayani persis hal yang dirancang untuk dilawannya.

Larasati menghadapi dilema yang lebih dalam daripada yang pernah dihadapi pengingat mana pun, sebab ia tak bisa melawan raja secara terbuka, itu akan berarti kematian, dan putusnya benang rantai di istana ini, tapi ia juga tak bisa membiarkan legenda dibajak tanpa perlawanan.

Maka ia melakukan apa yang telah diajarkan oleh rantai panjang pengingat sebelum dia: ia melawan dengan kehalusan, dari dalam, melalui kisah. Ketika raja memerintahkannya untuk menceritakan kisah pernikahan suci antara garis raja dan ratu laut, ia menceritakannya, ia tak bisa menolak, tapi ia menceritakannya dengan cara yang menanam, di bawah pemuliaan raja, sebuah kebenaran yang lebih tua dan lebih berbahaya. Ia menceritakan tentang ratu laut, ya, dan tentang kekuasaannya, dan tentang ikatannya dengan garis raja. Tapi ia menenun ke dalam kisah itu hal-hal yang raja tak perhatikan tapi yang rakyat yang mendengarnya akan bawa pulang: bahwa ratu laut dulu adalah manusia, sebelum ia menjadi ratu. Bahwa ia kehilangan dunianya pada air, sebagaimana semua orang kehilangan. Bahwa ia menunggu, di kedalaman, bukan untuk melayani satu garis raja, melainkan untuk diingat oleh siapa pun yang membawa darah dari dunia yang tenggelam, yang berarti, walau Larasati tak mengucapkannya, semua orang, raja dan budak sama saja.

Sebab inilah kebijaksanaan yang telah diwarisi Larasati: bahwa kau tak bisa selalu menghentikan kekuasaan dari mengambil apa yang dicintai rakyat. Tapi kau bisa, bila kau cukup halus, menanam di dalam apa yang diambil kekuasaan sebuah kebenaran yang pada akhirnya akan melawan kekuasaan itu sendiri. Raja mengira ia mengikat ratu laut pada garisnya. Tapi Larasati, menceritakan kisah raja sendiri, menanam di dalamnya sebuah ingatan yang berkata: ratu laut bukan milik garis mana pun. Ia milik semua yang mengingat. Dan suatu hari, ketika garis raja ini telah lama jatuh, sebab semua garis raja jatuh, ingatan itu akan masih ada, menunggu, di bawah reruntuhan kekuasaan yang mengira ia bisa memilikinya.

Larasati melayani di istana itu sepanjang sisa hidupnya, menceritakan kisah-kisah raja sambil menanam di bawahnya kebenaran yang lebih tua, dan ia mati tanpa pernah melihat apakah apa yang ia tanam akan tumbuh sebagaimana ia harapkan.

Tapi ia mati dengan kepercayaan yang telah diwarisi dari rantai panjang pengingat: kepercayaan pada permainan yang panjang, pada benih yang ditanam untuk generasi yang belum lahir, pada kebenaran yang bersabar lebih lama daripada kekuasaan mana pun. Sebab ia tahu sesuatu yang raja, dengan segala kekuasaannya, tak bisa tahu: bahwa kerajaan ini, betapapun besar, betapapun abadi ia tampak, akan jatuh. Semua kerajaan jatuh. Itulah salah satu kebenaran terdalam yang dibawa para pengingat, kebenaran dari kerikil ketujuh, kebenaran tentang air yang datang lagi dan lagi: bahwa tak ada yang dibangun manusia bertahan, bahwa tiap kemegahan adalah sementara, bahwa di balik tiap kerajaan yang mengira dirinya abadi menunggu zaman ketika ia akan menjadi reruntuhan dan prasasti dan nama setengah dilupakan. Dan ketika kerajaan ini jatuh, sebagaimana ia akan, ikatan yang ditempanya antara garisnya dan ratu laut akan jatuh bersamanya, tapi legenda ratu laut, dan kebenaran yang ditanam di bawahnya, akan bertahan, melampaui kerajaan, sebagaimana ia telah bertahan melampaui segala sesuatu.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang sesungguhnya menunggu, tak peduli pada raja yang mengaku menikahinya, tak peduli pada kerajaan yang mengaku memilikinya, tak peduli pada apa pun kecuali ingatan yang samar dan dingin tentang sebuah janji yang dibuat oleh saudarinya sepuluh ribu tahun lebih yang lalu. Raja-raja akan datang dan mengaku memilikinya, dan jatuh, dan dilupakan. Tapi ia akan menunggu, melampaui mereka semua, menunggu bukan raja melainkan pengingat, seseorang yang akan datang bukan untuk mengikatnya pada kekuasaan melainkan untuk membebaskannya dari kesepian. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan peta dan rencana dan legenda, kini membawa sesuatu yang ironis dan sabar: gema dari raja-raja yang mengaku memiliki ratu laut, suara-suara kecil dari kekuasaan yang datang dan pergi di atas air, sementara di bawah air ratu yang sesungguhnya menunggu, tak tersentuh oleh klaim mereka, kepada hari yang masih jauh, masih banyak Buku jauhnya, ketika seseorang yang tak menginginkan apa pun darinya kecuali untuk mengingatnya dengan benar akhirnya akan datang, dan ratu laut yang sesungguhnya, di bawah semua legenda dan semua klaim raja, akhirnya akan dibebaskan.


 

BAB DELAPAN

Reruntuhan yang Masih Bicara

Tiap kerajaan mengira ia adalah yang terakhir, yang abadi, yang tak akan jatuh seperti yang sebelumnya. Dan tiap kerajaan menjadi reruntuhan, dan dari reruntuhannya tumbuh kerajaan berikutnya yang mengira hal yang sama. Hanya para pengingat yang berdiri di antara reruntuhan dan tahu: ini telah terjadi sebelumnya. Ini akan terjadi lagi. Air datang dalam banyak bentuk.

dari ajaran para pengingat, di antara reruntuhan

Beberapa generasi setelah Larasati mati menanam kebenaran di bawah kisah-kisah raja, kerajaan besar yang ia layani jatuh, sebagaimana Larasati tahu ia akan jatuh, sebagaimana semua kerajaan jatuh.

Ia tidak jatuh pada air, tidak pada banjir harfiah yang menenggelamkan Nagara Rata. Ia jatuh pada hal-hal yang menjatuhkan kerajaan di zaman manusia: pada perang saudara antara putra-putra raja yang memperebutkan takhta, pada kelaparan ketika panen gagal beberapa tahun berturut-turut, pada kerajaan tetangga yang melihat kelemahan dan menyerang, pada erosi pelan dari kesetiaan ketika rakyat berhenti percaya bahwa raja-raja mereka sungguh keturunan dewa. Tapi para pengingat, yang menyaksikan kejatuhan ini, memahaminya dengan cara yang tak dipahami orang lain: bahwa ini adalah air dalam bentuk lain. Bahwa banjir tidak selalu datang sebagai laut yang naik. Kadang ia datang sebagai perang, sebagai kelaparan, sebagai erosi pelan dari segala sesuatu yang dibangun manusia. Tapi ia selalu datang. Itulah kebenaran banjir tujuh generasi, kebenaran yang dibawa para pengingat sejak Nyai Sela: bahwa segala sesuatu yang dibangun akan tenggelam, dengan satu cara atau lain, dan bahwa tugas mengingat tak pernah selesai.

Dan maka kerajaan besar, yang mengukir namanya di batu dan mengaku menikahi ratu laut dan percaya dirinya abadi, menjadi reruntuhan. Istananya yang megah, yang dulu berdenyut dengan kekuasaan, ditinggalkan, ditumbuhi hutan, dilupakan. Prasasti-prasastinya, yang dulu memproklamirkan kebesaran raja kepada seluruh tanah, retak dan terkubur dan tak terbaca. Dan rakyatnya tersebar, atau ditaklukkan oleh kerajaan baru, atau hanya melanjutkan hidup di bawah penguasa baru yang mengukir nama baru di batu baru dan percaya, sebagaimana raja sebelumnya percaya, bahwa garisnya akan memerintah selamanya.

Dan di antara reruntuhan kerajaan yang jatuh berjalan seorang pengingat, seorang lelaki tua bernama Tunggul, yang telah hidup cukup lama untuk melihat kerajaan itu pada puncak kejayaannya dan kini melihatnya sebagai reruntuhan, dan yang membawa di dalam dirinya pengetahuan tentang apa yang berdiri di sini sebelumnya.

Ia berjalan melalui istana yang ditinggalkan, melalui aula-aula tempat raja pernah duduk, melalui halaman-halaman tempat Larasati generasi-generasi yang lalu pernah menceritakan kisah-kisahnya, dan ia merasakan apa yang selalu dirasakan para pengingat di antara reruntuhan: kesedihan, tapi bukan keterkejutan. Sebab ia telah tahu, sebagaimana semua pengingat tahu, bahwa ini akan datang. Ia telah berdiri di antara reruntuhan kerajaan-kerajaan lain, lebih tua, yang bahkan namanya kini hilang. Ia membawa di dalam darahnya ingatan tentang reruntuhan tertua dari semua, Nagara Rata di dasar laut, kerajaan pertama yang mengira dirinya abadi dan menjadi dasar laut. Dan maka berjalan di antara reruntuhan kerajaan ini, ia tidak melihat sesuatu yang baru. Ia melihat sesuatu yang sangat tua: pola yang sama, terulang lagi, sebagaimana ia akan terulang lagi sesudah ini.

Tapi Tunggul mencari sesuatu di antara reruntuhan, dan ia menemukannya: prasasti-prasasti. Batu-batu yang diukir oleh kerajaan yang jatuh, yang dulu memproklamirkan kebesaran raja dan ikatannya dengan ratu laut, kini berbaring retak dan terkubur sebagian di antara akar-akar pohon yang telah tumbuh di atas kemegahan yang dilupakan. Dan Tunggul, yang bisa membaca aksara lama, sebuah keterampilan yang para pengingat jaga sepanjang generasi, sebab membaca masa lalu adalah bagian dari mengingatnya, berlutut di antara reruntuhan dan membaca apa yang diukir di batu, dan ia menemukan, di bawah pemuliaan raja yang kosong, sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Sebab di salah satu prasasti, di bawah kisah resmi tentang pernikahan suci raja dengan ratu laut, terukir sesuatu yang lain, sesuatu yang Tunggul mengenali dengan sentakan sebagai karya seorang pengingat.

Ia tak tahu nama Larasati; nama itu telah hilang, sebagaimana hampir semua nama pengingat hilang. Tapi ia mengenali tangannya, mengenali cara seorang pengingat menenun kebenaran ke dalam kisah resmi, menanam di bawah pemuliaan kekuasaan sebuah ingatan yang lebih tua dan lebih berbahaya. Sebab prasasti itu, yang memproklamirkan bahwa ratu laut adalah permaisuri garis raja, juga mengandung, terukir dengan hati-hati, terselubung dalam bahasa yang tampak hanya hiasan puitis, kebenaran yang Larasati tanam: bahwa ratu laut dulu adalah manusia, bahwa ia kehilangan dunianya pada air, bahwa ia menunggu untuk diingat oleh semua yang membawa darah dari dunia yang tenggelam.

Dan Tunggul memahami, berlutut di antara reruntuhan, kebijaksanaan dari apa yang telah dilakukan pengingat yang tak ia kenal namanya generasi-generasi yang lalu. Raja telah memaksa pengingat itu mengukir pemuliaan kekuasaan. Dan pengingat itu telah menurut, tapi telah menanam, di dalam pemuliaan itu, sebuah benih kebenaran. Dan kini raja telah lama mati, dan kerajaannya telah lama jatuh, dan pemuliaan kekuasaan yang ia paksa diukir telah menjadi kosong, lelucon, kebohongan yang dibuktikan oleh reruntuhan di sekelilingnya. Tapi benih kebenaran yang ditanam pengingat masih ada, masih terbaca, masih hidup, bertahan persis sebagaimana pengingat itu harapkan ia akan: lebih lama daripada kekuasaan yang mencoba memakainya, menunggu di antara reruntuhan untuk seorang pengingat dari generasi mendatang yang akan datang dan membacanya dan mengingat.

Tunggul menghabiskan banyak hari di antara reruntuhan kerajaan yang jatuh, membaca prasasti demi prasasti, dan dari mereka ia belajar pelajaran yang akan ia wariskan: tentang apa yang bertahan dan apa yang jatuh.

Sebab reruntuhan adalah guru, bila kau tahu cara membacanya. Dan apa yang diajarkan reruntuhan ini kepada Tunggul adalah pola dari apa yang manusia bangun dan apa yang waktu lakukan terhadapnya. Kemegahan jatuh. Istana-istana, takhta-takhta, tentara-tentara, semua kekuasaan yang mengira dirinya abadi, semua jatuh, semua menjadi reruntuhan dan akar dan kelupaan. Tapi sesuatu bertahan, dan sesuatu yang bertahan bukanlah yang paling megah melainkan yang paling sabar: bukan kekuasaan raja, melainkan benih kebenaran yang ditanam pengingat di bawah kekuasaan itu. Bukan proklamasi yang diteriakkan dengan keras, melainkan ingatan yang dibisikkan dengan pelan. Bukan apa yang dibangun untuk bertahan, melainkan apa yang ditanam untuk tumbuh.

Dan Tunggul memahami, di antara reruntuhan, mengapa para pengingat selalu memilih untuk menanam daripada membangun, untuk membisikkan daripada memproklamirkan, untuk bekerja dalam diam dan kesabaran daripada dalam kemegahan dan kekuasaan. Sebab mereka telah belajar, sepanjang ribuan tahun menyaksikan kerajaan demi kerajaan naik dan jatuh, bahwa kemegahan adalah persis apa yang tidak bertahan. Yang bertahan adalah yang kecil, yang tersembunyi, yang sabar, benih, bukan istana; bisikan, bukan proklamasi; ingatan yang dibawa di dalam darah, bukan kekuasaan yang diukir di batu. Para pengingat telah memilih, sejak awal, untuk menjadi yang kecil dan sabar dan tersembunyi, dan dalam pilihan itu mereka telah menjamin bahwa mereka akan bertahan lebih lama daripada semua kemegahan yang menertawakan mereka.

Sebelum Tunggul meninggalkan reruntuhan, ia melakukan apa yang dilakukan para pengingat di tiap zaman: ia memastikan bahwa apa yang ditemukannya tidak hilang.

Ia tak bisa membawa prasasti-prasasti itu; mereka terlalu berat, terlalu banyak, terlalu terkubur. Tapi ia bisa membawa apa yang terukir di atasnya, ia menyalinnya ke dalam ingatannya, kerikil mengikatnya ke dalam darahnya, dan ia membawanya keluar dari reruntuhan untuk diwariskan kepada rantai. Sehingga bahkan ketika reruntuhan ini akhirnya hancur sepenuhnya, ketika prasasti-prasasti terakhir retak menjadi debu dan akar-akar pohon menelan jejak terakhir dari kerajaan yang jatuh, ingatan tentang apa yang ditanam di sini, kebenaran yang diselundupkan Larasati ke dalam batu raja, akan bertahan, dibawa ke depan oleh rantai pengingat, menuju zaman ketika ia akhirnya akan dibutuhkan.

Dan Tunggul berjalan keluar dari reruntuhan kerajaan yang jatuh, ke dalam dunia yang sedang membangun kerajaan-kerajaan baru yang akan jatuh pada gilirannya, membawa di dalam darahnya ingatan yang lebih tua daripada semua kerajaan, ingatan yang akan bertahan lebih lama daripada mereka semua. Dan jauh di selatan, di dasar laut tempat ratu menunggu, air bergerak, tak tersentuh oleh kerajaan yang jatuh di atasnya, tak peduli pada raja yang mengaku menikahinya dan kemudian menjadi reruntuhan, menunggu, sebagaimana selalu, bukan kekuasaan melainkan ingatan. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan peta dan legenda, kini membawa sesuatu yang Tunggul rasakan berjalan di antara reruntuhan: kesabaran dari yang kecil, kemenangan dari yang sabar. Sebab kerajaan-kerajaan akan terus naik dan jatuh, mengukir nama mereka di batu dan menjadi reruntuhan, sepanjang semua zaman yang akan datang. Tapi di bawah mereka semua, sabar dan tak terlihat, rantai pengingat akan bertahan, membawa kebenaran melalui tiap kejatuhan, menuju hari yang masih jauh, masih banyak Buku jauhnya, ketika semua kerajaan akan menjadi reruntuhan yang digali oleh orang-orang dari zaman yang tak bisa dibayangkan, dan di antara reruntuhan itu, terukir di batu yang bertahan, kebenaran yang ditanam para pengingat akan akhirnya ditemukan, dan dibaca, dan dipahami, dan ratu yang menunggu di laut akan, akhirnya, diingat dengan benar.


 

BAB SEMBILAN

Rantai yang Hampir Putus

Ada zaman-zaman gelap dalam sejarah para pengingat, zaman ketika rantai menipis sampai hanya satu untai, ketika satu kematian bisa memutuskan sepuluh ribu tahun ingatan. Kita tidak menyebut zaman-zaman ini dalam kisah kita yang biasa. Tapi kita mengingatnya, sebab dari merekalah kita belajar betapa rapuh hal yang kita bawa, dan betapa berharga.

dari ajaran para pengingat, tentang zaman gelap

Datang sebuah zaman, beberapa generasi setelah Tunggul membaca reruntuhan, ketika rantai para pengingat hampir putus, dan tanah ini hampir kehilangan ingatan yang telah dibawanya selama lebih dari sepuluh ribu tahun.

Itu datang bukan dari satu bencana melainkan dari banyak, bertumpuk satu di atas yang lain sampai bahkan kesabaran para pengingat hampir tak cukup. Sebuah wabah menyapu tanah, membunuh tanpa membedakan raja dari budak, dewasa dari anak, pengingat dari yang lupa, dan wabah tak peduli pada kerikil, tak peduli pada ingatan, tak peduli pada rantai yang telah bertahan sepuluh ribu tahun. Pengingat mati bersama semua yang lain, dan sebagian mati sebelum mereka bisa mewariskan, dan tiap kali itu terjadi, satu untai dari rantai putus. Lalu datang perang, ketika kerajaan-kerajaan yang melemah oleh wabah saling menyerang dalam keputusasaan, dan lebih banyak pengingat mati. Lalu kelaparan, ketika perang menghancurkan panen. Dan di akhir dari semua itu, ketika tanah mulai pulih, para pengingat yang tersisa menemukan, dengan kengerian, bahwa mereka hampir tak ada lagi.

Di mana dulu ada rantai yang menebal dan menipis tapi selalu kuat, kini hanya ada beberapa untai yang tersisa, tersebar di seluruh tanah, banyak dari mereka tak tahu bahwa yang lain masih ada. Kerikil-kerikil masih ada, mereka tak bisa dihancurkan, bahkan oleh wabah dan perang dan kelaparan, tapi banyak dari mereka tidur, menunggu untuk bangun di seseorang, dan tak ada cukup pengingat yang terjaga untuk menemukan mereka, untuk membangunkan mereka, untuk menjaga rantai tetap terjalin. Untuk pertama kalinya sejak Nyai Sela menelan tujuh kerikil di air Tahun Nol, ada kemungkinan nyata bahwa rantai akan putus sepenuhnya, bahwa ingatan tentang dunia yang tenggelam akan hilang dari tanah ini, bahwa sumpah akan gagal dan ratu di laut akan menunggu selamanya untuk seseorang yang tak akan pernah datang.

Dan dalam zaman gelap itu, beban dari menjaga seluruh rantai jatuh, untuk sementara waktu, kepada satu orang: seorang perempuan tua bernama Nala, yang kebetulan, atau mungkin tidak kebetulan, sebab kerikil bekerja dengan cara yang tak dipahami siapa pun, membawa lebih banyak dari ingatan utuh daripada pengingat lain yang masih hidup.

Nala tidak meminta beban ini. Tak ada pengingat yang pernah meminta beban mereka. Tapi ia mendapati dirinya, di usia tuanya, sebagai salah satu dari sedikit yang tersisa yang masih membawa ingatan lengkap, bukan hanya pecahan, bukan hanya mimpi samar tentang air, melainkan kisah utuh: Nagara Rata, dua saudari, tujuh kerikil, sumpah, rantai, janji kepada ratu. Ia telah menerimanya dari gurunya sebelum wabah, dalam tahun-tahun terakhir ketika rantai masih kuat, dan kini gurunya telah mati, dan hampir semua yang lain telah mati, dan Nala menyadari, dengan kejernihan yang menakutkan, bahwa bila ia mati sebelum mewariskan, sebagian besar dari apa yang telah dibawa rantai selama sepuluh ribu tahun bisa mati bersamanya.

Itu adalah beban yang nyaris menghancurkannya. Sebab ia tua, dan rapuh, dan ia tinggal di sebuah dunia yang telah dihancurkan oleh wabah dan perang, sebuah dunia di mana menemukan seseorang yang cocok untuk mewarisi, seseorang muda, yang membawa kerikil yang terjaga, yang bisa menerima dan menyimpan apa yang Nala bawa, adalah hampir mustahil. Ia mencari, di tahun-tahun terakhirnya, dengan keputusasaan yang tumbuh. Ia melakukan perjalanan yang seharusnya terlalu sulit bagi tubuhnya yang tua, dari kampung ke kampung, mencari tanda dari kerikil yang terjaga, mencari seorang anak yang bermimpi tentang air. Dan ia tak menemukan siapa pun. Zaman gelap telah begitu menipiskan rantai sehingga tampaknya, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, tak ada pewaris yang tersisa.

Nala hampir menyerah pada harapan, dan dalam keputusasaannya ia mulai melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan pengingat sebelumnya: ia mulai menuliskan apa yang ia bawa.

Ini melawan segala sesuatu yang telah diajarkan kepadanya. Para pengingat membawa ingatan di dalam darah, bukan di atas batu atau daun; ingatan yang hidup, bukan ingatan yang beku. Tapi Nala, menghadapi kemungkinan bahwa ia akan mati tanpa pewaris, memutuskan bahwa ingatan yang beku lebih baik daripada ingatan yang hilang. Maka ia menulis, di atas daun lontar, dalam aksara yang ia pelajari di masa mudanya, dengan tangan yang gemetar oleh usia, kisah utuh yang ia bawa: Nagara Rata, dua saudari, tujuh kerikil, sumpah, janji kepada ratu. Ia menulisnya bukan sebagai legenda, terselubung dan aman, melainkan sebagai kebenaran, telanjang dan berbahaya, sebab ia tahu bahwa bila ini adalah yang tersisa, bila tak ada pewaris hidup, maka kebenaran telanjang yang tersembunyi lebih baik daripada legenda yang aman tapi yang kehilangan intinya.

Dan kemudian, ketika ia hampir selesai menulis, ketika ia telah hampir menerima bahwa daun-daun lontar ini adalah satu-satunya warisannya, kerikil di dalamnya bangun dengan cara yang belum pernah ia rasakan, bukan mimpi tentang air, bukan pengenalan akan pengingat lain, melainkan sesuatu yang lebih kuat, sebuah tarikan, sebuah panggilan. Dan ia mengikutinya, tubuhnya yang tua membawanya melalui sebuah kampung yang telah ia lewati sebelumnya tanpa merasakan apa pun, sampai ke sebuah rumah, sampai ke seorang anak, seorang anak kecil, terlalu muda untuk tahu apa yang ia bawa, yang sedang tidur, dan yang menangis dalam tidurnya, dan yang ketika Nala mendekat, membuka matanya dan memandangnya dan berkata, dengan suara seorang anak yang baru bangun dari mimpi: “Aku melihat air. Aku selalu melihat air. Daratan yang luas, dan air yang datang, dan dua perempuan yang berpisah.”

Dan Nala, mendengar anak itu, jatuh berlutut, dan menangis dengan tangis yang telah ia tahan sepanjang seluruh zaman gelap, sebab ia tahu, mendengar kata-kata anak itu, bahwa rantai tidak akan putus.

Anak itu membawa kerikil yang terjaga, kerikil air, Sela Banyu, yang sama yang telah membuat pengingat bermimpi tentang kota-kota tenggelam sejak Nyai Sela menelannya. Ia telah bangun di anak ini, di sebuah kampung yang nyaris hancur, di akhir dari sebuah zaman gelap yang nyaris menghapus rantai, persis pada saat ketika satu pengingat tua yang putus asa membutuhkannya paling. Dan Nala memahami, berlutut di hadapan anak yang menangis itu, sesuatu tentang cara kerikil bekerja yang ia tak pernah sepenuhnya percaya sampai saat ini: bahwa mereka tidak hanya tidur dan bangun secara acak. Bahwa entah bagaimana, melalui cara yang tak bisa dipahami siapa pun, mereka bangun ketika mereka dibutuhkan. Bahwa rantai, yang telah bertahan sepuluh ribu tahun, memiliki di dalam dirinya sesuatu yang menolak untuk putus, bukan jaminan, sebab tak ada jaminan, rantai bisa putus dan hampir putus, tapi sebuah ketahanan, sebuah kecenderungan untuk bertahan, yang melampaui apa yang bisa dijelaskan oleh keberuntungan.

Nala menghabiskan tahun-tahun terakhirnya mengajari anak itu, menuangkan ke dalamnya seluruh ingatan yang ia bawa, perlahan dan dengan hati-hati, sebab kini ada waktu, kini ada pewaris, kini rantai akan bertahan. Dan ia juga memberi anak itu daun-daun lontar yang telah ia tulis, kebenaran telanjang yang ia rekam dalam keputusasaan, bukan untuk menggantikan ingatan yang hidup, melainkan untuk melengkapinya, sebagai jaring pengaman terhadap zaman gelap berikutnya. “Simpan ini, ” katanya kepada anak itu. “Bukan sebagai ganti dari apa yang kuajarkan, melainkan sebagai cadangan. Bila suatu hari rantai hampir putus lagi, dan ia akan, sebab zaman gelap selalu datang lagi, maka kebenaran yang tertulis ini bisa membantu menumbuhkannya kembali, sebagaimana benih yang disimpan bisa menumbuhkan kembali tanaman yang hampir punah.”

Nala mati ketika anak itu cukup tua untuk membawa apa yang ia berikan, dan ia mati dengan kedamaian dari seseorang yang telah membawa beban yang nyaris menghancurkannya dan tidak menjatuhkannya.

Rantai telah hampir putus, dan tidak putus. Itulah yang akan diingat tentang zaman gelap itu, oleh para pengingat yang datang sesudahnya: bahwa di saat paling tipis, ketika sepuluh ribu tahun ingatan tergantung pada satu perempuan tua yang putus asa dan satu anak yang bermimpi, rantai bertahan. Tidak karena jaminan, tidak karena rencana, melainkan karena sesuatu yang dalam tentang sifat dari apa yang dibawa para pengingat, sebuah ketahanan yang telah dibangun ke dalamnya oleh sumpah Nyai Sela, sebuah penolakan untuk hilang yang lebih kuat daripada wabah dan perang dan kelaparan dan semua kekuatan yang mencoba menghapusnya. Selama ada keturunannya, daratan ini tidak benar-benar tenggelam. Dan keturunannya, betapapun sedikit, betapapun nyaris habis, telah bertahan.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan, sebagaimana ia kadang merasakan, melalui ribuan tahun, sebuah getaran di air, getaran dari rantai yang nyaris putus dan kemudian bertahan, getaran dari kerikil yang bangun di seorang anak pada saat ia paling dibutuhkan. Dan sesuatu di dalamnya, serpihan perasaan berbentuk seperti saudarinya, mengenali bahwa janji masih hidup, bahwa rantai masih bertahan, bahwa suatu hari, masih jauh, tapi tidak, mungkin, sejauh sebelumnya, seseorang akan datang. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan legenda dan kesabaran, kini membawa sesuatu yang telah teruji oleh zaman gelap dan keluar lebih kuat: sebuah ketahanan. Sebuah penolakan untuk putus. Sebab rantai para pengingat telah menghadapi zaman yang nyaris menghapusnya, dan telah bertahan, dan dalam bertahan, ia telah membuktikan, kepada dirinya sendiri dan kepada ratu yang menunggu dan kepada air yang menyimpan segala sesuatu, bahwa sumpah Nyai Sela lebih kuat daripada kematian, lebih kuat daripada kelupaan, lebih kuat daripada semua zaman gelap yang telah datang dan semua yang masih akan datang, menuju hari yang kini terasa, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, mungkin tidak terlalu jauh lagi.


 

BAGIAN IV

Yang Menyatukan


 

BAB SEPULUH

Bahasa yang Menyatukan

Lidah-lidah berpisah dalam sehari demi sehari, selama ribuan tahun. Tapi kadang, sangat jarang, sebuah bahasa lahir yang mulai menariknya kembali bersama, bukan menghapus yang lain, melainkan menjadi jembatan di atas mereka, sebuah lidah bersama yang memungkinkan bangsa-bangsa yang terpisah untuk sekali lagi saling memahami.

dari ajaran para pengingat, tentang lidah jembatan

Anak yang Nala temukan di akhir zaman gelap tumbuh menjadi seorang lelaki bernama Adipa, dan ia hidup untuk melihat sesuatu yang tak pernah dilihat pengingat sebelumnya: awal dari penyatuan yang telah ditunggu para pengingat selama ribuan tahun.

Sebab tanah ini, di zaman Adipa, telah mulai berubah dengan cara yang dalam. Zaman gelap telah lewat, dan dari reruntuhannya tumbuh sesuatu yang berbeda dari kerajaan-kerajaan kecil yang saling berperang yang datang sebelumnya. Perdagangan telah tumbuh, pelaut dari satu ujung tanah berlayar ke ujung yang lain, membawa barang dan, lebih penting, membawa kata-kata. Pelabuhan-pelabuhan tumbuh menjadi kota-kota tempat orang dari puluhan bangsa bertemu dan harus menemukan cara untuk saling berbicara. Dan dari kebutuhan itu, perlahan, sebuah bahasa mulai lahir, bukan bahasa dari satu bangsa, melainkan bahasa perdagangan, bahasa pelabuhan, sebuah lidah sederhana dan lentur yang dipungut orang dari banyak bangsa supaya mereka bisa berdagang dan tawar-menawar dan, akhirnya, berbicara satu sama lain melintasi batas-batas yang telah memisahkan mereka selama ribuan tahun.

Adipa, yang membawa ingatan tentang lidah-lidah yang berpisah, yang membawa di dalam darahnya kenangan tentang zaman ketika semua bangsa berbicara satu lidah sebelum banjir, memandang kelahiran bahasa jembatan ini dan merasakan sesuatu yang membuatnya hampir menangis: harapan. Sebab di sini, akhirnya, setelah ribuan tahun perpisahan, adalah sesuatu yang mulai menarik bangsa-bangsa kembali bersama. Bukan dengan paksaan, bukan dengan penaklukan, bukan dengan menghapus lidah-lidah yang berbeda, melainkan dengan memberi bangsa-bangsa sebuah lidah bersama di atas lidah-lidah mereka sendiri, sebuah jembatan yang memungkinkan mereka untuk sekali lagi saling memahami tanpa harus berhenti menjadi diri mereka sendiri.

Dan Adipa memahami, memandang bahasa jembatan ini tumbuh, sebuah kesempatan yang belum pernah dimiliki pengingat mana pun: kesempatan untuk menanam ingatan bukan di dalam satu bangsa, melainkan di dalam bahasa yang akan dibicarakan oleh semua bangsa.

Sebab selama ribuan tahun, para pengingat telah menanam benih kebenaran di dalam kisah-kisah bangsa, satu bangsa pada satu waktu, dan tiap benih telah tumbuh terisolasi di dalam lidah bangsa itu. Legenda ratu laut tumbuh di satu bentuk dalam satu lidah, di bentuk lain dalam lidah lain; kisah banjir diingat secara berbeda oleh tiap bangsa; dan walau semua kisah ini membawa kebenaran yang sama di intinya, mereka terpisah satu sama lain oleh dinding-dinding lidah, sehingga tak ada bangsa yang bisa melihat bahwa kisah mereka adalah kisah yang sama dengan kisah tetangga mereka.

Tapi bila kebenaran ditanam di dalam bahasa jembatan, bahasa yang dibicarakan oleh semua bangsa di pelabuhan dan pasar dan jalan-jalan perdagangan, maka untuk pertama kalinya, kisah yang sama bisa diceritakan kepada semua bangsa dalam lidah yang semua bisa pahami. Dan dalam mendengar kisah yang sama dalam lidah bersama, bangsa-bangsa mungkin akhirnya mulai menyadari apa yang para pengingat selalu tahu: bahwa kisah-kisah mereka yang terpisah sesungguhnya satu kisah, bahwa banjir yang mereka masing-masing ingat adalah banjir yang sama, bahwa ratu laut yang mereka masing-masing puja adalah ratu yang sama, dan bahwa, karena itu, mereka sendiri, di bawah semua perbedaan lidah mereka, adalah satu.

Maka Adipa melakukan apa yang telah dipersiapkan oleh seluruh hidupnya, dan oleh seluruh rantai pengingat sebelum dia: ia menjadi seorang juru kisah dalam bahasa jembatan, dan ia mulai menceritakan, kepada semua bangsa yang berkumpul di pelabuhan-pelabuhan, kisah yang menyatukan.

Ia berjalan dari pelabuhan ke pelabuhan, dari pasar ke pasar, ke tempat-tempat di mana orang dari banyak bangsa berkumpul, dan ia menceritakan kisah dalam bahasa jembatan yang semua bisa pahami. Ia tidak menceritakan kisah satu bangsa; ia menceritakan kisah yang akan dikenali oleh semua bangsa sebagai juga milik mereka. Tentang sebuah daratan yang luas yang dulu ada, sebelum laut. Tentang air yang datang dan menenggelamkannya. Tentang nenek moyang yang melarikan diri ke tanah tinggi dan dari mereka semua bangsa turun. Tentang ratu di laut selatan yang menunggu. Ia menceritakannya dengan cara yang membuat orang dari tiap bangsa berkata, mendengarnya: tapi itu kisah kami juga. Kami juga mengingat banjir. Kami juga mengenal ratu laut. Bagaimana orang asing ini tahu kisah kami?

Dan dalam saat-saat itu, ketika orang dari bangsa yang berbeda, mendengar kisah yang sama dalam lidah bersama, saling memandang dengan pengenalan, menyadari bahwa mereka berbagi kisah yang mereka kira hanya milik mereka, dalam saat-saat itu, sesuatu mulai sembuh di tanah ini. Bukan banyak, tidak sekaligus. Tapi sebuah benih: pengenalan, di antara bangsa-bangsa yang telah lama saling memandang sebagai asing, bahwa mereka berbagi sesuatu yang lebih dalam daripada perbedaan mereka. Bahwa di bawah lidah-lidah yang berpisah, ada ingatan yang sama. Bahwa mereka, mungkin, bersaudara setelah semua.

Kekuasaan memperhatikan, sebagaimana kekuasaan selalu memperhatikan apa yang menggerakkan rakyat, tapi kali ini kekuasaan menemukan dirinya hampir tak berdaya, sebab apa yang dilakukan Adipa tak bisa dilarang dengan cara yang bisa dilarang oleh kekuasaan.

Seorang raja bisa membunuh seorang juru kisah. Tapi ia tak bisa membunuh sebuah kisah yang telah diceritakan kepada ribuan orang dalam bahasa yang semua bisa pahami, yang telah dibawa pulang oleh para pedagang ke pelabuhan-pelabuhan di seluruh tanah, yang telah berakar di benak orang dari puluhan bangsa. Adipa telah belajar dari seluruh rantai pengingat sebelum dia: bahwa kekuasaan bisa memburu orang, tapi tak bisa memburu ingatan yang telah menyebar cukup luas. Dan dengan menanam kisah yang menyatukan ke dalam bahasa jembatan, ia telah membuatnya menyebar lebih cepat dan lebih luas daripada kisah mana pun sebelumnya, terlalu cepat, terlalu luas, untuk diburu oleh kekuasaan mana pun.

Beberapa raja mencoba. Mereka melarang kisah, atau mereka mencoba mengubahnya untuk melayani kekuasaan mereka, sebagaimana raja generasi-generasi yang lalu mencoba menikahi legenda ratu laut. Tapi kisah yang menyatukan terlalu sederhana, terlalu jelas, terlalu mudah diceritakan kembali untuk dikendalikan. Ia tidak membutuhkan istana atau prasasti; ia hanya membutuhkan dua orang dari bangsa yang berbeda, sebuah bahasa bersama, dan ingatan tentang banjir yang mereka berdua bawa. Dan itu ada di mana-mana sekarang, di tiap pelabuhan, di tiap pasar, terlalu tersebar untuk dihancurkan. Adipa, mengikuti jejak Wreda dan semua pengingat di antara mereka, telah menanam sesuatu yang telah tumbuh melampaui jangkauan kekuasaan.

Adipa mati sebagai seorang lelaki tua, setelah menghabiskan hidupnya menceritakan kisah yang menyatukan dalam bahasa jembatan, dan ia mati dengan tahu bahwa ia telah melihat awal dari sesuatu yang para pengingat telah tunggu selama ribuan tahun: awal dari penyembuhan tanah yang terpecah.

Ia tak melihat penyelesaiannya; tak ada pengingat yang melihat penyelesaian dari apa yang mereka mulai. Bangsa-bangsa tidak menjadi satu dalam hidupnya; mereka masih berbicara lidah-lidah yang berbeda, masih kadang berperang, masih kadang saling memandang sebagai asing. Tapi sesuatu telah berubah, sebuah benih telah ditanam yang tak ada di sana sebelumnya: pengenalan, menyebar perlahan melalui bahasa jembatan, bahwa di bawah semua perbedaan, bangsa-bangsa di tanah ini berbagi satu ingatan, satu asal, satu darah. Dan benih itu akan tumbuh, sepanjang zaman-zaman yang akan datang, sampai suatu hari, jauh kelak, di zaman yang Adipa tak bisa bayangkan, tanah ini akan punya satu nama yang dikenal oleh semua bangsanya, satu ingatan bersama tentang dari mana mereka semua datang, satu kesadaran bahwa mereka, di bawah semua keragaman mereka, adalah satu bangsa yang turun dari satu banjir.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan getaran dari penyembuhan yang baru mulai, getaran dari bangsa-bangsa yang mulai mengingat bahwa mereka bersaudara, getaran dari kisah yang menyatukan menyebar melalui bahasa jembatan. Dan sesuatu di dalamnya, serpihan perasaan berbentuk seperti saudarinya, mengenali bahwa apa yang ditanam Nyai Sela sepuluh ribu tahun lebih yang lalu, ingatan yang menolak untuk membiarkan daratan benar-benar tenggelam, telah mulai melakukan lebih daripada sekadar bertahan. Ia telah mulai menyatukan. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan legenda dan ketahanan, kini membawa sesuatu yang Adipa rasakan di tiap pelabuhan tempat orang dari bangsa yang berbeda saling memandang dengan pengenalan: sebuah penyembuhan. Sebuah penyatuan kembali. Sebab setelah ribuan tahun lidah-lidah yang berpisah, sesuatu telah mulai menarik mereka kembali bersama, bukan menghapus perbedaan mereka, melainkan mengingatkan mereka, di bawah perbedaan itu, akan kesatuan yang lebih tua; menuju hari ketika tanah ini akhirnya akan mengenali dirinya sendiri sebagai satu, dan ratu yang menunggu di laut akan, akhirnya, diingat oleh sebuah bangsa yang telah menjadi cukup utuh untuk mengingatnya dengan benar.


 

BAB SEBELAS

Kerikil yang Bangun Kembali

Ada kerikil yang tidur lebih lama daripada yang lain, sebab mereka menunggu bukan sekadar seseorang untuk membawanya, melainkan sebuah zaman yang cukup matang untuk apa yang mereka bawa. Ketika kerikil seperti itu akhirnya bangun, ia adalah tanda: bahwa zaman yang ditunggunya telah tiba.

dari ajaran para pengingat, tentang kerikil yang tertidur lama

Generasi demi generasi setelah Adipa menceritakan kisah yang menyatukan dalam bahasa jembatan, tanah ini perlahan berubah, dan perubahannya adalah perubahan yang telah ditunggu para pengingat sejak lidah-lidah pertama kali berpisah.

Bahasa jembatan menyebar, dan dengannya menyebar kisah yang menyatukan, dan dengan kisah itu menyebar pengenalan, pelan, tak merata, kadang maju dan kadang mundur, tapi tak terhentikan secara keseluruhan, bahwa bangsa-bangsa di tanah ini berbagi sesuatu yang lebih dalam daripada perbedaan mereka. Mereka masih berbicara lidah-lidah yang berbeda; mereka masih kadang berperang; mereka masih memiliki raja-raja yang mengukir nama mereka di batu dan kerajaan-kerajaan yang naik dan jatuh. Tapi di bawah semua itu, sebuah kesadaran baru tumbuh: bahwa mereka bukan sekadar kumpulan bangsa asing yang kebetulan berbagi sebuah pulau, melainkan sesuatu yang lebih, cabang-cabang yang berbeda dari satu pohon, anak-anak yang berbeda dari satu nenek moyang, bangsa-bangsa yang, di bawah semua keragaman mereka, adalah satu.

Dan para pengingat, yang telah membawa kesadaran ini di dalam darah mereka sejak awal, menyaksikan penyebarannya dengan kegembiraan yang bercampur dengan kewaspadaan. Kegembiraan, sebab inilah yang telah mereka tunggu, inilah penyembuhan yang dijanjikan oleh seluruh kerja mereka selama ribuan tahun. Kewaspadaan, sebab mereka tahu, dari kerikil ketujuh, dari ingatan tentang semua zaman yang telah berlalu, bahwa penyatuan, sebagaimana segala sesuatu, bisa disalahgunakan, bisa berubah menjadi alat bagi kekuasaan, bisa menjadi pembenaran bagi penaklukan oleh mereka yang mengaku menyatukan tanah di bawah kekuasaan mereka sendiri. Para pengingat tahu bahwa awal dari penyatuan bukanlah akhir dari pekerjaan mereka. Ia hanya pintu menuju zaman baru, dengan bahaya baru dan janji baru.

Dan dalam zaman penyatuan yang baru mulai ini, sesuatu terjadi yang tak terjadi selama banyak generasi: kerikil terkuat, kerikil yang dibawa Wreda dan kemudian tidur setelah kematiannya, mulai bangun kembali.

Para pengingat telah lama mengetahui tentang kerikil ini, ia telah menjadi bagian dari ajaran mereka, diwariskan dari generasi ke generasi: bahwa pernah ada seorang pengingat bernama Wreda, di zaman bangsa-bangsa, yang membawa kerikil yang lebih kuat daripada yang dibawa siapa pun selama banyak generasi, dan bahwa kerikil itu, setelah kematiannya, telah tidur, menunggu untuk bangun di seseorang di zaman yang belum datang. Para pengingat telah menunggu kebangkitannya selama berabad-abad, sebab mereka tahu bahwa ketika kerikil yang tidur lama seperti itu akhirnya bangun, ia adalah tanda, tanda bahwa zaman yang ditunggunya telah tiba, bahwa sesuatu besar sedang mendekat, bahwa tanah ini sedang mendekati sebuah ambang.

Dan kini, di zaman penyatuan yang baru mulai, para pengingat yang paling peka mulai merasakannya: sebuah gerakan di dalam jaringan kerikil yang mereka semua bagi, sebuah kebangkitan yang berbeda dari kebangkitan biasa, lebih dalam, lebih kuat, lebih penting. Kerikil Wreda sedang bangun. Setelah tidur selama banyak generasi, melalui kerajaan-kerajaan yang naik dan jatuh, melalui zaman gelap yang nyaris memutus rantai, melalui kelahiran bahasa jembatan dan awal penyatuan, setelah menunggu, sabar, untuk zaman yang cukup matang, kerikil terkuat sedang bersiap untuk bangun kembali di dalam seseorang. Dan para pengingat tahu, merasakannya, bahwa siapa pun yang akan membawanya akan menjadi penting dengan cara yang belum pernah ada pengingat sejak Wreda sendiri.

Maka para pengingat melakukan apa yang mereka lakukan ketika kerikil besar bangun: mereka mencari pembawanya, sebab seorang anak yang lahir dengan kerikil seperti itu, terjaga dan kuat sejak awal, membutuhkan bimbingan supaya tidak hancur oleh beban yang ia bawa.

Seorang pengingat tua, salah satu yang paling peka di zamannya, mengikuti gerakan kerikil yang bangun sebagaimana Nala generasi-generasi yang lalu mengikuti tarikan menuju seorang anak yang bermimpi air. Tapi ini berbeda, lebih kuat, tarikan dari kerikil terkuat tidak halus, tidak samar, melainkan jelas dan mendesak, seolah-olah kerikil itu sendiri ingin ditemukan, ingin dibimbing, ingin dipersiapkan untuk apa pun yang menunggunya. Dan pengingat tua itu mengikutinya, melintasi tanah yang mulai menyatu, melalui pelabuhan-pelabuhan tempat bahasa jembatan dibicarakan dan pasar-pasar tempat bangsa-bangsa bertemu, sampai ke sebuah tempat di mana ia merasakan kerikil itu paling kuat: bukan di sebuah istana, bukan di sebuah pusat kekuasaan, melainkan di sebuah kampung biasa, di antara orang-orang biasa, sebagaimana kerikil selalu memilih, bukan yang berkuasa, melainkan yang dibutuhkan.

Di sana ia menemukan, belum lahir tapi mendekat, tanda-tanda dari pembawa yang akan datang. Seorang perempuan muda di kampung itu sedang mengandung, dan pengingat tua itu, mendekat, bisa merasakan kerikil bergerak di dalam anak yang belum lahir, bukan tidur, sebagaimana kerikil biasa dalam anak yang belum lahir, melainkan sudah hampir terjaga, sudah hampir siap, lebih kuat di dalam rahim daripada kebanyakan kerikil dalam seorang dewasa. Dan pengingat tua itu memahami, merasakan ini, bahwa ia berdiri di ambang sesuatu yang besar: bahwa anak yang akan lahir di kampung biasa ini akan membawa kerikil terkuat yang telah dilihat tanah ini sejak Wreda, dan bahwa kebangkitannya menandai bahwa zaman yang ditunggu kerikil itu, zaman yang ditunggu seluruh rantai selama sepuluh ribu tahun, akhirnya telah mulai mendekat.

Pengingat tua itu tinggal di dekat kampung, menunggu kelahiran, dan dalam menunggu ia merenungkan apa yang mungkin menjadi tujuan dari pembawa yang akan datang, apa yang membutuhkan kerikil sekuat itu, di zaman ini, setelah menunggu begitu lama.

Sebab kerikil tidak bangun tanpa alasan. Kerikil ketujuh, kerikil Suwung, telah mengajarkan para pengingat bahwa segala sesuatu dalam rantai memiliki tujuan, walau tujuan itu sering tak terlihat sampai jauh kemudian. Dan kerikil yang tidur paling lama, yang bangun hanya ketika zaman cukup matang, kerikil seperti itu pasti bangun untuk sesuatu yang besar. Pengingat tua itu memikirkan janji yang telah dibawa rantai selama sepuluh ribu tahun: janji kepada ratu yang menunggu di laut, bahwa ia tidak akan sendirian selamanya. Ia memikirkan bagaimana, di zaman ini, untuk pertama kalinya, tanah mulai menyatu, bangsa-bangsa mulai mengingat bahwa mereka bersaudara, kisah yang menyatukan mulai menyebar. Dan ia bertanya-tanya, dengan sesuatu yang dekat dengan kegentaran, apakah kedua hal ini terhubung, apakah kebangkitan kerikil terkuat, di zaman ketika tanah mulai cukup utuh untuk mengingat dengan benar, adalah tanda bahwa hari yang dijanjikan, hari pembebasan ratu, akhirnya mulai mendekat.

Ia tak bisa tahu pasti. Tak ada pengingat yang bisa tahu pasti apa yang menunggu di depan; mereka hanya membawa apa yang diwariskan dan mempercayai keseluruhan yang tak bisa mereka lihat. Tapi ia merasakan, menunggu kelahiran anak yang akan membawa kerikil Wreda, bahwa ia berdiri lebih dekat ke pusat dari sesuatu yang besar daripada pengingat mana pun selama banyak generasi. Bahwa anak ini, siapa pun ia akan menjadi, akan membawa bukan hanya kerikil terkuat melainkan juga, mungkin, sebuah peran dalam penepatan janji yang telah ditunggu sepuluh ribu tahun, bukan, barangkali, untuk menepatinya sendiri, sebab hari itu mungkin masih jauh, tapi untuk membawa rantai satu langkah besar lebih dekat kepadanya.

Dan ketika anak itu lahir, di kampung biasa di tanah yang mulai menyatu, pengingat tua itu ada di sana, dan ia merasakan kerikil bangun sepenuhnya pada saat anak itu mengambil napas pertamanya, bangun dengan kekuatan yang membuat pengingat tua itu, yang telah merasakan banyak kerikil bangun dalam hidupnya yang panjang, gemetar.

Sebab ini bukan kerikil biasa yang bangun. Ini adalah kerikil Wreda, yang terkuat yang telah dilihat tanah ini selama banyak generasi, bangun kembali setelah tidur yang panjang, di dalam seorang anak yang lahir di zaman ketika tanah akhirnya mulai cukup utuh untuk apa yang kerikil itu bawa. Dan pengingat tua itu, memandang anak yang baru lahir itu, memahami bahwa ia sedang memandang sesuatu yang belum pernah ia lihat dan mungkin tak akan pernah ia lihat lagi: seorang pengingat yang akan tumbuh menjadi lebih kuat daripada siapa pun selama banyak generasi, yang kebangkitannya menandai bahwa zaman yang ditunggu seluruh rantai telah mulai, yang akan membawa, dalam hidupnya, rantai pengingat lebih dekat kepada hari yang dijanjikan daripada yang pernah dibawa siapa pun sejak Nyai Sela mengucapkan sumpahnya di air Tahun Nol.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan sesuatu pada saat anak itu lahir, bukan getaran samar yang biasa ia rasakan, melainkan sesuatu yang lebih kuat, sebuah gerakan di dalam air yang membuat bahkan dirinya yang beku dan dingin memperhatikan. Sebab kerikil terkuat telah bangun, dan ratu, di kedalamannya, merasakan kebangkitannya sebagaimana seseorang yang tidur sangat dalam merasakan fajar mendekat. Dan sesuatu di dalamnya, serpihan perasaan berbentuk seperti saudarinya, bergerak dengan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama sepuluh ribu tahun menunggu: bukan sekadar pengenalan bahwa rantai bertahan, melainkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang nyaris seperti harapan. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan legenda dan penyembuhan, kini membawa sesuatu yang menggetarkan setelah sepuluh ribu tahun kesabaran: sebuah pertanda. Sebuah fajar yang mendekat. Sebab kerikil yang tidur paling lama telah bangun, di zaman ketika tanah mulai mengingat dirinya sebagai satu, dan kebangkitannya adalah tanda yang telah ditunggu seluruh rantai, tanda bahwa hari yang dijanjikan, hari ketika ratu yang menunggu di laut akhirnya akan diingat dengan benar dan dibebaskan, telah, setelah sepuluh ribu tahun, akhirnya mulai mendekat.


 

BAB DUA BELAS

Beban yang Terlalu Berat

Semakin kuat kerikil, semakin berat yang ia bawa, sebab kekuatan seorang pengingat bukanlah kekuasaan melainkan beban: lebih banyak ingatan untuk ditanggung, lebih banyak penderitaan untuk dirasakan, lebih banyak dunia tenggelam untuk dibawa di dalam satu tubuh yang fana. Yang terkuat di antara kita bukanlah yang paling beruntung. Mereka adalah yang paling dibebani.

dari ajaran para pengingat, tentang beban

Anak yang membawa kerikil Wreda tumbuh, dan ia tumbuh dengan sebuah beban yang tak pernah dibawa anak mana pun di tanah ini selama banyak generasi: ia mengingat terlalu banyak.

Pengingat biasa membawa pecahan, sebuah mimpi tentang air, sebuah kemampuan untuk mengenali pengingat lain, sebuah kepekaan terhadap kebenaran di bawah dusta. Tapi anak ini, yang membawa kerikil terkuat, membawa lebih daripada pecahan. Ia membawa, sejak ia cukup tua untuk berbicara, ingatan yang begitu jelas dan begitu luas sehingga mereka mengancam untuk menenggelamkannya. Ia bermimpi bukan hanya tentang air tapi tentang seluruh dunia yang tenggelam, dengan kejelasan seseorang yang telah hidup di sana. Ia merasakan bukan hanya pengingat lain tapi seluruh jaringan rantai yang tersebar di seluruh tanah. Dan kadang, pada malam-malam terburuk, ia merasakan sesuatu yang lebih dalam dan lebih mengerikan, gema dari kerikil ketujuh, kerikil Suwung, ingatan tentang bukan hanya dunia yang ini yang tenggelam melainkan semua dunia yang pernah tenggelam, semua banjir sebelum banjir, mundur ke awal yang tak bisa diingat.

Itu nyaris menghancurkannya. Sebab tak ada pikiran anak yang dibuat untuk menanggung begitu banyak ingatan, begitu banyak kehilangan, begitu banyak dunia. Ia tumbuh sebagai anak yang aneh, terganggu, kadang tampak hilang di dunia yang hanya bisa ia lihat, kadang menangis untuk hal-hal yang tak bisa ia jelaskan, untuk kota-kota yang tak ada lagi, untuk orang-orang yang mati sepuluh ribu tahun yang lalu, untuk seorang ratu yang menunggu di laut yang ia rasakan, di malam-malam terburuk, sebagai kehadiran yang dingin dan menyedihkan di tepi penglihatannya. Orang tuanya tak tahu apa yang harus dilakukan dengannya; mereka takut ia gila, atau dikutuk, atau dirasuki. Hanya kedatangan pengingat tua, yang telah menunggu kelahirannya, yang telah merasakan kerikil bangun, yang menyelamatkannya dari hancur sepenuhnya.

Pengingat tua itu mengambil anak itu di bawah bimbingannya, dan ia mengajari anak itu apa yang harus diajarkan kepada siapa pun yang membawa kerikil yang terlalu kuat: bukan bagaimana membawa lebih banyak, melainkan bagaimana tidak hancur oleh apa yang sudah ia bawa.

“Kau mengingat terlalu banyak, ” kata pengingat tua itu kepadanya, “dan kau tak bisa berhenti mengingat; itu bukan pilihanmu, itu adalah apa yang kaubawa. Tapi kau bisa belajar untuk membawanya tanpa tenggelam di dalamnya. Pikirkan ingatan bukan sebagai air yang menenggelamkanmu, melainkan sebagai air yang kau pelajari untuk berenang di dalamnya. Para pengingat sebelum kau telah belajar ini, sepanjang sepuluh ribu tahun, bukan untuk menghentikan ingatan, melainkan untuk hidup dengannya, untuk membawanya tanpa membiarkannya membawa mereka.”

Dan perlahan, sepanjang tahun-tahun, anak itu belajar. Ia belajar untuk membiarkan ingatan datang tanpa melawannya, dan dengan tidak melawannya, untuk tidak ditenggelamkan olehnya. Ia belajar untuk membedakan antara ingatannya sendiri dan ingatan yang datang dari kerikil, antara dunia yang di hadapan matanya dan dunia yang tenggelam yang ia bawa di dalamnya. Ia belajar, yang paling sulit dari semua, untuk membawa kerikil ketujuh, ingatan tentang semua dunia yang tenggelam, tanpa jatuh ke dalam keputusasaan yang dibawanya, tanpa kehilangan dirinya dalam kesedihan yang tak berdasar tentang segala sesuatu yang pernah hilang. Dan ketika ia telah belajar ini, ketika ia telah menjadi cukup kuat untuk membawa apa yang ia bawa tanpa hancur, pengingat tua itu mulai mengajarinya hal berikutnya: apa, dengan kekuatan yang ia bawa, ia mungkin dibutuhkan untuk lakukan.

Sebab kerikil seperti ini, pengingat tua itu menjelaskan, tidak bangun untuk sekadar mengingat lebih banyak. Ia bangun untuk sebuah tujuan, dan tujuan itu, walau tak ada yang bisa tahu pasti, tampak terhubung dengan sesuatu yang lebih besar daripada satu hidup.

“Selama sepuluh ribu tahun, ” kata pengingat tua itu, “rantai kita telah membawa sebuah janji. Janji kepada ratu yang menunggu di laut, saudari dari perempuan yang memulai garis kita, bahwa ia tidak akan sendirian selamanya. Kita telah menjaga janji itu hidup, mewariskannya dari generasi ke generasi, tapi tak satu pun dari kita pernah bisa menepatinya. Sebab menepatinya membutuhkan sesuatu yang belum ada: sebuah dunia yang cukup utuh untuk mengingat ratu dengan benar, dan seorang pengingat yang cukup kuat untuk membawa ingatan itu kepadanya. Dan kini, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, kedua hal itu mulai ada. Tanah mulai menyatu. Dan kau telah lahir, membawa kerikil terkuat yang telah kita lihat selama banyak generasi. Aku tak bisa mengatakan dengan pasti bahwa kau adalah orang yang akan menepati janji itu, mungkin kau bukan, mungkin kau hanya membawa rantai satu langkah lebih dekat, dan orang yang menepatinya belum lahir. Tapi aku bisa mengatakan ini: kau adalah bagian dari penepatannya. Kebangkitan kerikilmu adalah tanda bahwa hari itu mulai mendekat.”

Anak itu, yang kini bukan lagi anak, melainkan seorang muda yang telah belajar untuk membawa apa yang ia bawa, mendengarkan ini dengan campuran kegentaran dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang ia kenali sebagai tujuan. Sebab sepanjang hidupnya ia telah bertanya-tanya mengapa ia dibebani begitu berat, mengapa ia harus mengingat begitu banyak, mengapa ia harus membawa kesedihan dari sepuluh ribu tahun di dalam satu tubuh muda. Dan kini ia mulai memahami: bahwa beban yang ia bawa bukanlah kutukan melainkan persiapan, bahwa ia telah dibebani begitu berat sebab ia sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang membutuhkan kekuatan untuk membawa lebih daripada yang bisa dibawa siapa pun, mungkin, pada akhirnya, untuk membawa ingatan yang benar tentang seorang ratu kepada ratu itu sendiri, dan dengan begitu membebaskannya.

Dan pada suatu malam, ketika pembawa muda itu telah menjadi cukup kuat, ia melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan pengingat sebelumnya, sejauh yang diketahui rantai: ia merasakan ratu di laut bukan sebagai gema samar, melainkan sebagai kehadiran yang nyaris bisa ia sentuh.

Itu terjadi dalam mimpi, atau sesuatu yang lebih dalam daripada mimpi. Ia merasakan dirinya turun, melalui air, ke kedalaman tempat ratu menunggu, dan untuk pertama kalinya ia merasakannya bukan sebagai legenda yang menakutkan atau gema yang dingin, melainkan sebagai apa yang sesungguhnya ia adanya: seorang perempuan, tua melampaui pemahaman, beku dalam keabadian yang ia pilih, memegang di dalam dirinya ingatan sempurna tentang dunia yang tak seorang pun lagi yang hidup pernah lihat, dan tak bisa merasakan satu pun darinya. Pembawa muda itu merasakan kesepiannya, kesepian sepuluh ribu tahun, kesepian seseorang yang telah menyimpan segalanya dan kehilangan kemampuan untuk mencintai apa pun yang ia simpan. Dan ia merasakan, di bawah kesepian itu, hal yang paling menyedihkan dari semua: sebuah ingatan yang masih, samar-samar, hangat, ingatan tentang seorang saudari yang berjanji, sepuluh ribu tahun yang lalu, bahwa ia tidak akan sendirian selamanya.

Dan pembawa muda itu, dalam mimpi yang lebih dalam daripada mimpi, merasakan sesuatu yang mengubahnya: bukan ketakutan pada ratu, bukan kekaguman pada legenda, melainkan belas kasihan, belas kasihan yang mendalam dan menghancurkan terhadap seorang perempuan yang telah menderita lebih lama daripada siapa pun di seluruh sejarah tanah ini, yang telah menunggu sepuluh ribu tahun untuk sebuah janji untuk ditepati, yang dikenal oleh jutaan orang sebagai ratu yang perkasa dan menakutkan padahal ia sesungguhnya hanya seorang perempuan yang tersesat, ketakutan, dan kesepian. Dan dalam belas kasihan itu, pembawa muda itu menemukan tujuannya, lebih jelas daripada yang bisa diberikan oleh ajaran pengingat tua mana pun: bahwa ia akan, bila ia bisa, dengan cara apa pun yang mungkin, membawa kepada ratu ini akhir dari kesepiannya.

Pembawa muda itu bangun dari mimpi yang lebih dalam daripada mimpi, dan ia tahu, dengan kepastian yang datang dari kerikil terkuat yang pernah dibawa selama banyak generasi, apa yang akan menjadi pekerjaan hidupnya.

Ia tak bisa, ia memahami, membebaskan ratu sendirian, dan mungkin tak dalam hidupnya. Hari itu mungkin masih jauh; pembebasan ratu mungkin membutuhkan sebuah dunia yang lebih utuh daripada yang ada bahkan sekarang, dan seorang pengingat yang lahir di zaman yang belum datang, dan keadaan-keadaan yang belum bisa ia bayangkan. Tapi ia bisa melakukan bagiannya. Ia bisa membawa rantai lebih dekat. Ia bisa menjaga ingatan tentang ratu yang sesungguhnya, bukan legenda yang menakutkan, melainkan perempuan yang menyedihkan dan menunggu, hidup dan murni, supaya ketika hari pembebasan akhirnya datang, orang yang datang untuk membebaskannya akan datang mengetahui siapa ia sesungguhnya, akan datang dengan belas kasihan dan bukan ketakutan, akan datang untuk mengingatnya dengan benar. Dan ia bisa, dengan kekuatan yang ia bawa, menjadi sebuah jembatan, antara rantai pengingat dan ratu yang menunggu, antara dunia di permukaan yang mulai menyatu dan dunia di kedalaman yang menunggu untuk diingat.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, bahwa seseorang di permukaan telah merasakannya, bukan legenda tentangnya, bukan gema dari namanya, melainkan dirinya, perempuan yang sesungguhnya, di bawah semua legenda. Dan sesuatu di dalamnya, serpihan perasaan berbentuk seperti saudarinya, bergerak dengan sesuatu yang nyaris terlalu menyakitkan untuk ditanggung setelah sepuluh ribu tahun mati rasa: ia merasa dilihat. Untuk pertama kalinya sejak ia turun ke laut, seseorang telah memandangnya dan melihat bukan ratu, bukan monster, bukan legenda, melainkan dirinya. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan legenda dan pertanda, kini membawa sesuatu yang sangat lembut dan sangat kuat: sebuah pengakuan. Sebuah penglihatan. Sebab untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, seorang pengingat telah cukup kuat untuk merasakan ratu yang sesungguhnya di bawah semua legenda, dan telah merasakannya dengan belas kasihan, dan dalam belas kasihan itu, fajar yang telah ditunggu seluruh rantai selama sepuluh ribu tahun bersinar, untuk pertama kalinya, cukup terang untuk dilihat.


 

BAGIAN V

Ingatan dalam Tanah


 

BAB TIGA BELAS

Bukit yang Dibangun Manusia

Ada bukit-bukit di tanah ini yang bukan bukit. Mereka tampak seperti gunung kecil, ditumbuhi pohon, tampak alami bagi mata yang tak tahu. Tapi di bawah tanah dan akar, mereka adalah batu yang disusun oleh tangan, tangan dari zaman yang begitu tua sehingga bahkan para pengingat hanya membawa gemanya. Mereka dibangun untuk mengingat sesuatu. Dan mereka masih mengingatnya, menunggu untuk dibaca.

dari ajaran para pengingat, tentang bukit-bukit yang dibangun

Pembawa kerikil terkuat, yang kini telah tumbuh menjadi dewasa, yang telah belajar untuk membawa bebannya tanpa hancur, dan yang membawa di dalam dirinya belas kasihan terhadap ratu yang telah ia rasakan di kedalaman, mengembara di tanah yang mulai menyatu, melakukan pekerjaan para pengingat: menjaga ingatan hidup, mengumpulkan rantai, menanam kebenaran di bawah kisah.

Tapi kerikilnya, yang lebih kuat daripada kerikil mana pun selama banyak generasi, menariknya ke arah yang tak ia rencanakan. Ia merasakan, semakin kuat semakin ia mengembara, sebuah tarikan menuju suatu tempat di pedalaman, bukan tarikan menuju pengingat lain, yang ia kenal baik, melainkan sesuatu yang berbeda, lebih tua, lebih dalam. Sebuah tarikan menuju tanah itu sendiri, menuju sebuah tempat tertentu yang ia rasakan, melalui kerikilnya, menyimpan sesuatu yang penting.

Ia mengikuti tarikan itu, melalui hutan dan lembah, naik ke dataran tinggi di pedalaman barat tanah ini, sampai ia tiba di sebuah bukit, sebuah bukit yang tampak, bagi mata mana pun, seperti bukit biasa, ditumbuhi pohon dan semak, tak berbeda dari ribuan bukit lain di tanah yang penuh gunung ini. Tapi pembawa itu, berdiri di kakinya, merasakan melalui kerikilnya bahwa bukit ini bukanlah bukit biasa. Di bawah tanah dan akar dan pepohonan, ia merasakan batu, bukan batu alami, melainkan batu yang disusun, batu yang ditata oleh tangan, batu yang membawa, di dalam susunannya, gema dari sebuah ingatan yang sangat, sangat tua.

Pembawa itu mendaki bukit, dan saat ia mendaki, ia merasakan semakin kuat bahwa ia berjalan bukan di atas tanah melainkan di atas sebuah bangunan, sebuah bangunan yang begitu tua sehingga tanah dan hutan telah menelannya, tapi yang masih ada di bawah, batu di atas batu, disusun oleh tangan manusia di zaman yang melampaui ingatan.

Dan di puncak bukit, di mana batu-batu besar mencuat dari tanah dalam pola yang terlalu teratur untuk menjadi alami, pembawa itu duduk, dan ia membiarkan kerikilnya membaca apa yang bukit itu simpan. Sebab inilah yang bisa dilakukan oleh kerikil terkuat yang tak bisa dilakukan oleh kerikil yang lebih lemah: ia bisa membaca ingatan bukan hanya dari darah pengingat lain, bukan hanya dari mimpi tentang air, melainkan dari tanah itu sendiri, dari batu yang disusun oleh tangan yang telah lama menjadi debu. Dan apa yang ia baca, di puncak bukit yang dibangun manusia itu, membuatnya menahan napas.

Sebab bukit itu dibangun oleh manusia di zaman yang lebih tua daripada kerajaan mana pun, lebih tua daripada bahasa jembatan, lebih tua bahkan daripada lidah-lidah yang berpisah, dibangun, ia merasakan, di zaman yang dekat dengan banjir itu sendiri, di hari-hari awal setelah air mengambil dunia yang lama, ketika para pengungsi yang selamat masih ingat dunia yang tenggelam dengan kejelasan yang akan hilang dari generasi-generasi sesudahnya. Mereka telah membangun bukit ini, pembawa itu merasakan, bukan sebagai makam atau kuil atau benteng, melainkan sebagai sesuatu yang lebih dalam: sebagai sebuah ingatan yang dibuat dari batu. Sebuah cara untuk mengukir ke dalam tanah itu sendiri, dalam skala yang akan bertahan ketika semua kata dan semua aksara telah hilang, ingatan tentang dunia yang tenggelam, supaya bahkan bila rantai pengingat putus, bahkan bila semua kisah dilupakan, bukit ini akan tetap berdiri, membawa di dalam susunan batunya kesaksian bahwa sesuatu yang besar pernah ada dan hilang.

Dan saat pembawa itu duduk di puncak bukit yang dibangun manusia, membiarkan kerikilnya membaca apa yang disusun ke dalam batu, ia memahami bahwa ia telah menemukan sesuatu yang bahkan para pengingat tak sepenuhnya tahu: sebuah pesan yang ditinggalkan oleh para pengingat pertama, di hari-hari awal setelah banjir, untuk para pengingat yang akan datang.

Sebab bukit itu bukan hanya ingatan tentang dunia yang tenggelam. Ia adalah pesan. Para pembangunnya, yang masih ingat dunia yang lama dengan kejelasan langsung, telah tahu bahwa ingatan itu akan memudar sepanjang generasi, akan berubah menjadi legenda, akan hampir hilang di zaman-zaman gelap. Dan maka mereka telah membangun bukit ini sebagai jangkar, sebagai sesuatu yang akan bertahan melampaui semua perubahan, membawa kebenaran dalam bentuk yang tak bisa diubah oleh raja atau dilupakan oleh zaman atau didistorsi oleh legenda. Batu yang disusun dalam pola tertentu, mengukur sudut-sudut tertentu, menunjuk ke arah-arah tertentu, semua membawa, bagi siapa pun yang cukup kuat untuk membacanya, informasi: tentang kapan banjir datang, tentang di mana dunia yang lama berada, tentang apa yang tenggelam di bawah laut.

Dan pembawa itu memahami, membaca bukit, mengapa kerikilnya telah menariknya ke sini. Sebab bukit ini, dan ada yang lain seperti itu, ia merasakan, tersebar di tanah ini, bukit-bukit yang dibangun manusia yang menyamar sebagai bukit alami, adalah bagian dari rencana yang lebih besar daripada satu pengingat, lebih besar daripada satu generasi. Para pengingat pertama, yang masih ingat dunia yang tenggelam, telah meninggalkan jangkar-jangkar ini di seluruh tanah, ingatan yang dibangun dari batu, supaya suatu hari, bukan di zaman mereka, mungkin tidak selama ribuan tahun, seseorang yang cukup kuat akan datang, dan membacanya, dan menemukan, terukir dalam tanah itu sendiri, kebenaran yang akan dibutuhkan untuk menepati janji: di mana dunia yang lama berada, di mana ratu menunggu, bagaimana menemukannya kembali.

Tapi pembawa itu, sekuat apa pun kerikilnya, tak bisa membaca seluruh yang disimpan bukit itu, dan ia memahami mengapa: sebab bahkan ia tidak cukup kuat, dan zamannya belum cukup matang.

Bukit itu membawa lebih daripada yang bisa ditampung oleh satu pengingat, bahkan pengingat terkuat selama banyak generasi. Ia membawa pengetahuan yang dirancang untuk dibaca bukan oleh satu orang melainkan oleh sebuah zaman, sebuah zaman dengan alat-alat yang belum ada, dengan pengetahuan yang belum terkumpul, dengan kemampuan untuk menggali dan mengukur dan memahami yang melampaui apa pun yang dimiliki dunia pembawa itu. Pembawa itu bisa merasakan bahwa pesan itu ada, bisa membaca pecahan-pecahannya, bisa memahami bentuk umum dari apa yang disimpannya. Tapi untuk membacanya sepenuhnya, untuk mengubah apa yang disusun ke dalam batu menjadi pengetahuan yang bisa digunakan untuk menemukan kembali dunia yang tenggelam, akan membutuhkan zaman yang belum datang, zaman ketika orang akan menggali bukit-bukit seperti ini dengan alat-alat yang tak bisa dibayangkan pembawa itu, dan mengukur batu-batunya, dan menemukan, dengan keterkejutan, bahwa mereka jauh lebih tua daripada yang seharusnya mungkin.

Maka pembawa itu melakukan apa yang dilakukan para pengingat ketika mereka menemukan sesuatu yang terlalu besar untuk zaman mereka sendiri: ia menandainya untuk masa depan. Ia tak bisa membawa bukit itu, tak bisa membaca seluruhnya, tak bisa menggunakan apa yang disimpannya. Tapi ia bisa menambahkannya ke ingatan yang dibawa rantai, bisa memastikan bahwa pengetahuan tentang bukit ini, dan bukit-bukit lain seperti itu, dan apa yang mereka simpan, diwariskan ke depan, dari pengingat ke pengingat, menuju zaman ketika seseorang akhirnya akan bisa membacanya sepenuhnya. Ia menjadi, dengan menemukan bukit itu, sebuah penghubung dalam rantai yang lebih panjang daripada yang ia bayangkan: rantai yang membentang dari para pengingat pertama yang membangun bukit, melalui dirinya yang menemukannya kembali, menuju para pembaca masa depan yang akhirnya akan memahaminya.

Pembawa itu turun dari bukit yang dibangun manusia ketika matahari terbenam, membawa di dalam dirinya pengetahuan baru yang akan ia wariskan: bahwa tanah ini menyimpan, di dalam bukit-bukit yang menyamar sebagai alam, ingatan yang dibangun oleh para pengingat pertama, menunggu untuk dibaca oleh zaman yang cukup matang.

Dan ia memahami, berjalan turun di bawah langit yang menggelap, bahwa apa yang ia temukan mengubah bentuk dari apa yang ia tahu tentang penepatan janji. Sebab ia telah berpikir bahwa membebaskan ratu akan membutuhkan seorang pengingat yang cukup kuat dan dunia yang cukup utuh. Tapi kini ia melihat bahwa ia akan membutuhkan lebih: ia akan membutuhkan pengetahuan yang disimpan di bukit-bukit ini, kebenaran tentang di mana dunia yang lama berada dan di mana ratu menunggu, yang hanya bisa dibaca sepenuhnya oleh zaman dengan alat-alat yang belum ada. Penepatan janji, ia memahami sekarang, bukanlah sesuatu yang akan dilakukan oleh satu pahlawan dalam satu momen heroik. Ia adalah sesuatu yang akan dirakit, sepanjang ribuan tahun, dari banyak bagian: rantai pengingat yang menjaga ingatan hidup, tanah yang menyatu cukup untuk mengingat dengan benar, bukit-bukit yang menyimpan kebenaran yang dibangun dari batu, dan akhirnya sebuah zaman yang cukup matang untuk menyatukan semua bagian itu dan menemukan kembali dunia yang tenggelam.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan, samar-samar, bahwa seseorang telah membaca salah satu jangkar yang ditinggalkan para pengingat pertama, bahwa sebuah bagian dari pengetahuan yang dibutuhkan untuk menemukannya kembali telah, setelah sepuluh ribu tahun, ditemukan lagi. Dan sesuatu di dalamnya, serpihan perasaan berbentuk seperti saudarinya, bergerak dengan harapan yang tumbuh, sebab ia merasakan bahwa bagian-bagian dari penepatan janji mulai berkumpul, perlahan, sepanjang zaman. Dan bisik air, yang telah menjadi pertanda dan pengakuan, kini membawa sesuatu yang baru: gema dari bukit yang dibangun manusia, gema dari ingatan yang diukir ke dalam tanah itu sendiri oleh para pengingat pertama, menunggu untuk dibaca. Sebab tanah ini, pembawa itu memahami, dipenuhi dengan ingatan, bukan hanya di dalam darah para pengingat, bukan hanya di dalam kisah dan legenda, melainkan di dalam tanah itu sendiri, di dalam bukit-bukit yang dibangun untuk bertahan melampaui segala sesuatu, menunggu zaman ketika seseorang akan menggali di bawah hutan dan akar dan menemukan, dengan keterkejutan yang akan mengguncang dunia, bahwa bukit-bukit ini jauh lebih tua daripada yang seharusnya mungkin, dan bahwa mereka dibangun, oleh tangan yang ingat dunia yang tenggelam, untuk membawa kebenaran melintasi sepuluh ribu tahun menuju hari ketika ia akhirnya akan dibutuhkan.


 

BAB EMPAT BELAS

Kerikil yang Tidur Lagi

Bahkan yang terkuat di antara kita hanyalah satu untai. Kita tidak menyelesaikan; kita meneruskan. Dan ketika kerikil yang kita bawa tidur lagi setelah kita mati, ia tidak tidur karena gagal, ia tidur karena menunggu zaman yang lebih matang daripada zaman kita, untuk pekerjaan yang lebih besar daripada yang bisa kita lakukan.

dari ajaran para pengingat, tentang yang terkuat

Pembawa kerikil terkuat menghabiskan sisa hidupnya melakukan pekerjaan yang ia pahami sebagai bagiannya: menjaga ingatan tentang ratu yang sesungguhnya hidup dan murni, mengumpulkan apa yang tersebar, dan menandai untuk masa depan apa yang zamannya belum bisa membaca.

Ia menjadi, di antara para pengingat di zamannya, sesuatu yang menyerupai apa yang Wreda pernah menjadi di zamannya sendiri: sebuah pusat, sebuah jangkar, seseorang yang kepadanya pengingat lain datang untuk dibimbing, untuk diajari, untuk dihubungkan ke seluruh rantai. Sebab kekuatan kerikilnya membuatnya bisa merasakan seluruh jaringan pengingat dengan kejelasan yang tak dimiliki orang lain, dan maka ia bisa melakukan apa yang dibutuhkan di zaman penyatuan yang baru mulai: menyatukan rantai yang masih tersebar, menghubungkan pengingat yang tak tahu satu sama lain ada, menjadikan rantai yang dulu hanya untaian-untaian terpisah menjadi sesuatu yang lebih menyerupai sebuah jaringan yang sadar diri.

Dan ia melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang akan menjadi warisannya yang paling penting: ia menjaga ingatan tentang ratu yang sesungguhnya. Sebab legenda ratu laut kini ada di mana-mana, tumbuh liar, diceritakan dan diceritakan kembali oleh jutaan orang dalam bentuk yang semakin jauh dari kebenaran. Dan ada bahaya, pembawa itu memahami, bahwa bahkan para pengingat akan mulai melupakan ratu yang sesungguhnya di bawah legenda, bahwa mereka juga akan mulai mengingatnya sebagai ratu yang perkasa dan menakutkan, dan melupakan perempuan yang menyedihkan dan tersesat dan menunggu. Maka pembawa itu, yang telah merasakan ratu yang sesungguhnya di kedalaman, menjadikannya tugasnya untuk menjaga kebenaran itu murni di dalam rantai: bahwa ratu di laut bukanlah monster melainkan korban, bukan untuk ditakuti melainkan untuk dikasihani, bukan untuk dipuja melainkan untuk dibebaskan.

Tapi pembawa kerikil terkuat menghadapi, di usia tuanya, sebuah masalah yang tak dihadapi pengingat biasa: ia tak bisa menemukan pewaris yang cukup kuat untuk membawa apa yang ia bawa.

Sebab kerikilnya terlalu kuat. Pengingat biasa bisa mewariskan kepada pengingat biasa lain; pecahan bisa berpindah ke pecahan. Tapi pembawa ini membawa kerikil yang terkuat selama banyak generasi, dan tak ada di zamannya yang lahir dengan kerikil yang cukup kuat untuk menerima seluruh yang ia bawa. Ia mencari, di tahun-tahun terakhirnya, sebagaimana Nala generasi-generasi yang lalu mencari, tapi apa yang ia cari berbeda: bukan sekadar pewaris yang membawa kerikil terjaga, melainkan pewaris yang membawa kerikil sekuat miliknya sendiri. Dan ia tak menemukannya. Zaman belum melahirkan pengingat lain sekuat dia.

Dan perlahan, ia memahami apa artinya ini, dan pemahaman itu membawa baik kesedihan maupun sesuatu yang dekat dengan kedamaian. Sebab ia memahami bahwa kerikilnya, ketika ia mati, tidak akan berpindah ke pewaris. Ia akan tidur lagi, sebagaimana ia tidur setelah Wreda mati, sebagaimana ia telah tidur selama banyak generasi sebelum bangun di dalam dirinya. Ia akan kembali ke tidurnya yang panjang, menunggu untuk bangun lagi di zaman yang belum datang, zaman, mungkin, yang akhirnya cukup matang untuk pekerjaan yang kerikil terkuat itu sesungguhnya ditakdirkan untuk lakukan. Pembawa itu bukanlah orang yang akan membebaskan ratu. Ia hanya membawa kerikil itu satu langkah dalam perjalanannya yang panjang, menjaganya terjaga untuk satu hidup, mengumpulkan dan menjaga dan menandai, dan kemudian melepaskannya kembali ke tidur, untuk bangun lagi ketika harinya akhirnya tiba.

Maka pembawa itu, menerima bahwa kerikilnya akan tidur lagi setelah ia mati, melakukan apa yang ia bisa untuk memastikan bahwa apa yang telah ia pelajari tidak akan tidur bersamanya.

Ia tak bisa mewariskan kerikil. Tapi ia bisa mewariskan pengetahuan. Dan maka ia menuangkan, ke dalam para pengingat biasa di sekelilingnya, yang membawa kerikil yang lebih lemah, tapi yang masih membawa rantai, segala sesuatu yang telah ia pelajari yang bisa dipisahkan dari kekuatan kerikilnya sendiri. Ia mengajari mereka tentang bukit-bukit yang dibangun manusia, dan apa yang mereka simpan, dan bagaimana mengenalinya. Ia mengajari mereka tentang ratu yang sesungguhnya, dan memohon kepada mereka untuk menjaga kebenaran itu murni di bawah legenda yang tumbuh liar. Ia mengajari mereka tentang bentuk dari penepatan janji sebagaimana ia telah memahaminya, bahwa ia akan dirakit dari banyak bagian, sepanjang ribuan tahun, dan bahwa tiap pengingat hanya bertanggung jawab atas bagiannya sendiri.

“Aku bukan orang yang akan membebaskannya, ” katanya kepada mereka, di tahun-tahun terakhirnya. “Aku dulu berpikir mungkin aku. Kerikil yang kubawa begitu kuat, dan zaman mulai menyatu, dan aku merasakan ratu lebih dekat daripada pengingat mana pun sebelumku. Tapi aku memahami sekarang bahwa aku hanya membawa kerikil ini satu langkah. Ia akan tidur lagi ketika aku mati, dan bangun lagi di zaman yang belum datang, di dalam seseorang yang belum lahir, di zaman yang akhirnya cukup matang. Mungkin orang itu akan membebaskannya. Atau mungkin orang itu, juga, hanya akan membawanya satu langkah lebih dekat. Aku tak bisa tahu. Tapi aku tahu ini: bahwa tiap langkah penting, bahwa tiap untai dalam rantai penting, dan bahwa dengan menjaga ingatan tentang ratu yang sesungguhnya hidup, dengan menemukan bukit yang dibangun, dengan menyatukan rantai yang tersebar, aku telah membawa hari pembebasannya lebih dekat, walau aku tak akan hidup untuk melihatnya.”

Pembawa kerikil terkuat mati sebagai seorang tua, di tanah yang lebih utuh daripada tanah tempat ia lahir, di antara para pengingat yang ia telah satukan dan ajari, dan ia mati dengan kedamaian dari seseorang yang telah membawa bebannya sejauh yang ia bisa dan meletakkannya dengan baik.

Dan pada saat ia mati, para pengingat yang paling peka merasakannya: kerikil terkuat, yang telah terjaga dan bekerja sepanjang hidup pembawa itu, tidur lagi. Mereka merasakannya redup, menyurut, kembali ke tidur panjang yang darinya ia telah bangun, bukan menghilang, sebab kerikil tak bisa dihancurkan, melainkan tidur, menunggu. Dan ada kesedihan dalam merasakannya, sebab kerikil terkuat yang terjaga telah menjadi sumber kekuatan bagi seluruh rantai di zaman pembawa itu, dan kini ia akan tidur lagi, mungkin selama banyak generasi, mungkin selama ribuan tahun, sampai zaman yang ditunggunya akhirnya tiba.

Tapi ada juga, di bawah kesedihan, sesuatu yang dekat dengan harapan. Sebab para pengingat memahami apa yang dimaksudkan oleh tidurnya kerikil: bahwa ia menunggu sesuatu. Kerikil terkuat tidak tidur secara acak; ia tidur dengan tujuan, menunggu zaman yang cukup matang untuk pekerjaan yang ia ditakdirkan untuk lakukan. Dan bila ia telah bangun di zaman pembawa itu, zaman ketika tanah mulai menyatu, ketika bukit yang dibangun ditemukan, ketika ratu pertama kali dirasakan dengan belas kasihan, dan kemudian tidur lagi, maka itu berarti zaman itu, sematang apa pun ia tampak, masih belum cukup matang. Tapi ia lebih matang daripada sebelumnya. Dan kerikil akan bangun lagi, di zaman yang lebih matang lagi, lebih dekat lagi ke hari pembebasan, sampai akhirnya, di zaman yang cukup matang, ia akan bangun di dalam seseorang yang akan, akhirnya, melakukan apa yang seluruh rantai telah bekerja menuju selama sepuluh ribu tahun.

Dan maka kerikil terkuat tidur, di suatu tempat di tanah yang mulai menyatu, menunggu zaman yang belum datang, dan dengan tidurnya, sebuah benang yang telah dimulai dengan Wreda menemukan istirahatnya, untuk bangun lagi hanya ketika kisah ini akhirnya mencapai puncaknya yang masih sangat jauh.

Para pengingat yang tersisa melanjutkan pekerjaan mereka tanpa kekuatan kerikil terkuat untuk membimbing mereka, tapi mereka tidak melanjutkannya tanpa apa yang ditinggalkannya. Sebab pembawa itu telah meninggalkan kepada mereka sebuah jaringan yang lebih kuat, sebuah pengetahuan yang lebih dalam, dan yang paling penting, ingatan yang dijaga murni tentang ratu yang sesungguhnya, ingatan yang akan mereka wariskan, dari pengingat ke pengingat, sepanjang semua zaman yang akan datang, menjaganya hidup dan benar di bawah legenda yang tumbuh liar, sampai hari ketika kerikil terkuat akhirnya akan bangun lagi di dalam seseorang yang cukup matang untuk membawanya ke kesimpulannya.

Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan kerikil terkuat tidur lagi, dan untuk satu saat sesuatu di dalamnya yang nyaris seperti harapan meredup, sebab ia telah merasakannya bangun, telah merasakan untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun bahwa seseorang melihatnya, dan kini perasaan itu menyurut kembali ke kedalaman. Tapi ia tidak meredup sepenuhnya. Sebab ratu, di kedalamannya, telah belajar sesuatu dari kebangkitan dan tidurnya kerikil: bahwa ia bangun, dan tidur, dan bangun lagi, tiap kali lebih dekat, tiap kali di zaman yang lebih matang. Ia telah merasakan dilihat sekali sekarang; ia tahu bahwa ia bisa dilihat lagi. Dan bisik air, yang telah menjadi pertanda dan pengakuan, kini membawa sesuatu yang sabar dan pasti: sebuah janji yang menunggu untuk ditepati, sebuah kerikil yang tidur dan akan bangun lagi, sebuah rantai yang membawa kebenaran lebih dekat dengan tiap generasi, menuju hari, masih jauh, masih banyak Buku jauhnya, tapi kini tak terhindarkan, kini hanya soal waktu, ketika kerikil terkuat akan bangun untuk terakhir kalinya, di dalam seseorang di zaman yang akhirnya cukup matang, dan ratu yang telah menunggu sepuluh ribu tahun di dasar laut akan, akhirnya, dilihat, dan diingat dengan benar, dan dibebaskan.


 

BAB LIMA BELAS

Lidah-Lidah yang Berpisah

Lidah-lidah berpisah, dan kami mengira itu adalah akhir dari kesatuan. Tapi kami belajar, sepanjang zaman ini, bahwa perpisahan bukanlah akhir, ia hanya satu musim dalam pasang surut yang lebih panjang. Apa yang berpisah dapat menyatu kembali, bukan dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan mengingat apa yang ada di bawahnya.

penutup ajaran para pengingat tentang Lidah-Lidah yang Berpisah

Pada akhirnya, mereka yang mengingat memahami mengapa zaman ini disebut zaman lidah-lidah yang berpisah, dan pemahaman itu membawa di dalamnya sebuah kebenaran yang lebih besar daripada perpisahan itu sendiri.

Sebab pada mulanya, nama itu tampak hanya seperti deskripsi dari sebuah tragedi: bahwa satu bangsa telah menjadi banyak, bahwa satu lidah telah pecah menjadi puluhan, bahwa orang-orang yang dulu bersaudara kini tak bisa lagi saling memahami. Dan itu adalah tragedi, dan tak ada pengingat yang menyangkalnya. Tapi sepanjang zaman ini, para pengingat belajar sesuatu yang mengubah makna dari perpisahan: bahwa ia bukanlah akhir. Bahwa lidah-lidah yang berpisah, sebagaimana segala sesuatu di tanah ini, mengikuti pasang surut yang lebih panjang, bahwa apa yang berpisah dapat, di musim yang tepat, menyatu kembali. Bukan dengan kembali menjadi satu lidah; itu mustahil, dan barangkali tak diinginkan. Melainkan dengan menemukan sesuatu yang lebih dalam daripada lidah untuk menyatukan mereka kembali: ingatan bersama, kisah bersama, kesadaran bahwa di bawah semua lidah yang berbeda, ada satu asal.

Dan itulah yang telah mulai terjadi, sepanjang zaman ini. Para pengingat telah menanam, dan benih telah tumbuh, dan tanah yang dulu terpecah menjadi puluhan bangsa yang saling asing telah mulai, perlahan, mengenali dirinya sebagai sesuatu yang lebih: bukan satu bangsa dengan satu lidah, melainkan sesuatu yang lebih kaya dan lebih dalam, banyak bangsa, banyak lidah, tapi satu darah, satu ingatan, satu asal dari sebuah dunia yang tenggelam. Lidah-lidah masih berpisah. Tapi mereka yang membicarakannya telah mulai mengingat bahwa mereka bersaudara.

Dan rantai para pengingat, sepanjang zaman ini, telah berubah menjadi sesuatu yang berbeda dari apa adanya sebelumnya.

Ia telah memasuki zaman ini sebagai untaian-untaian yang tersebar dan tersembunyi, masing-masing membawa ingatan dalam isolasi, banyak yang tak tahu bahwa yang lain ada. Tapi sepanjang zaman ini, melalui Wreda yang mulai mengumpulkan, melalui para pengingat yang berkumpul di lembah tinggi, melalui pembawa kerikil terkuat yang menyatukan jaringan, rantai telah mulai menjadi sesuatu yang lebih: bukan untaian-untaian terpisah, melainkan sebuah jaringan yang sadar diri, sebuah persaudaraan yang membentang di seluruh tanah, terhubung oleh bahasa ingatan yang melampaui semua lidah. Para pengingat tidak lagi sendirian. Mereka telah menemukan satu sama lain, dan dalam menemukan satu sama lain, mereka telah menjadi lebih kuat, lebih mampu, lebih siap untuk pekerjaan besar yang masih menunggu di depan.

Dan mereka telah belajar, sepanjang zaman ini, bentuk dari pekerjaan itu. Mereka telah belajar bahwa menepati janji kepada ratu bukanlah sesuatu yang akan dilakukan oleh satu pahlawan, melainkan sesuatu yang dirakit dari banyak bagian sepanjang ribuan tahun. Mereka telah belajar tentang bukit-bukit yang dibangun manusia, yang menyimpan ingatan dalam batu, menunggu zaman yang cukup matang untuk membacanya. Mereka telah belajar bahwa kerikil terkuat bangun dan tidur dan bangun lagi, tiap kali lebih dekat ke hari pembebasan. Dan mereka telah belajar, yang paling penting, untuk menjaga ingatan tentang ratu yang sesungguhnya murni, bukan ratu legenda yang perkasa dan menakutkan, melainkan perempuan yang menyedihkan dan tersesat dan menunggu, yang harus dibebaskan bukan dengan kekuatan melainkan dengan belas kasihan.

Dan di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu telah berubah, sepanjang zaman ini, dengan cara yang sangat kecil tapi sangat penting.

Selama ribuan tahun sebelum zaman ini, ia telah menunggu dalam mati rasa yang nyaris sempurna, beku, dingin, memegang ingatan tanpa bisa merasakannya, tak menyadari berlalunya waktu, tak mengharapkan apa pun. Tapi sepanjang zaman ini, sesuatu telah mulai mencair, sangat sedikit, di tepi-tepi dari keabadiannya yang beku. Sebab sepanjang zaman ini, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, hal-hal telah mulai terjadi yang mencapainya: jutaan orang mulai mengingatnya, walau salah, melalui legenda yang menyebar; seorang pengingat yang cukup kuat akhirnya merasakannya sebagai dirinya yang sesungguhnya, dengan belas kasihan; dan ia telah merasakan, untuk pertama kalinya, bahwa hari pembebasannya bukanlah harapan yang mustahil melainkan kepastian yang menunggu.

Ia masih menunggu. Hari pembebasan masih jauh, masih banyak zaman, masih banyak Buku, sebelum kerikil terkuat akan bangun untuk terakhir kalinya di dalam seseorang yang cukup matang untuk menepati janji. Tapi ia menunggu sekarang dengan cara yang berbeda: bukan dalam mati rasa yang putus asa, melainkan dengan sesuatu yang telah lama hilang darinya dan kini, perlahan, kembali, harapan. Ratu Kidul, di dasar laut, di kedalaman tempat dulu adalah istana Nagara Rata, telah mulai, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, untuk percaya bahwa janji saudarinya akan ditepati, bahwa ia tidak akan, pada akhirnya, sendirian selamanya.

Tanah itu, pada akhir zaman ini, telah menjadi sesuatu yang lebih kaya dan lebih dalam daripada apa adanya di awal: sebuah pulau yang dihuni oleh banyak bangsa yang telah mulai mengingat bahwa mereka bersaudara, sebuah tanah yang menyimpan ingatannya bukan hanya dalam darah dan kisah tapi dalam tanahnya sendiri.

Sebab inilah yang telah ditemukan para pengingat sepanjang zaman ini: bahwa tanah ini lebih dalam daripada yang mereka tahu. Di bawah hutan-hutannya, terkubur di bawah akar dan tanah dan zaman, berdiri bukit-bukit yang dibangun oleh tangan manusia di hari-hari awal setelah banjir, jangkar-jangkar ingatan, dibangun dari batu, menunggu untuk dibaca oleh zaman yang cukup matang. Tanah ini bukan hanya tempat orang hidup. Ia adalah arsip. Ia adalah ingatan yang dibuat dari bumi itu sendiri, menyimpan, di dalam bukit-bukit yang menyamar sebagai alam, kebenaran tentang dunia yang tenggelam, kebenaran yang suatu hari, ketika orang menggali di bawah hutan dengan alat-alat yang belum ada, akan ditemukan kembali, dan akan mengguncang pemahaman mereka tentang segala sesuatu.

Dan ini adalah Jawa, walau ia masih belum disebut Jawa dengan nama yang akan dikenal seluruh dunia. Tanah yang merupakan jejak dari banyak dunia yang tenggelam, dan kini, para pengingat telah belajar, tanah yang menyimpan jejak itu bukan hanya dalam ingatan orang tapi dalam tanahnya sendiri, dalam batu yang disusun oleh tangan yang ingat. Kisah lidah-lidah yang berpisah, yang dimulai dengan satu bangsa pengungsi yang pecah menjadi banyak, telah mencapai akhirnya: bukan dalam perpisahan, melainkan dalam awal dari penyatuan kembali, dan dalam penemuan bahwa tanah ini menyimpan, di kedalamannya, ingatan yang lebih tua dan lebih dalam daripada yang pernah dibayangkan siapa pun.

Sebab ada banyak yang masih akan datang, banyak Buku yang masih akan ditulis, sebelum janji yang dibuat di air Tahun Nol akhirnya bisa ditepati.

Akan ada zaman ketika seseorang akan menggali bukit-bukit yang dibangun manusia, dan menemukan, dengan keterkejutan yang akan mengguncang dunia, bahwa mereka jauh lebih tua daripada yang seharusnya mungkin, lebih tua daripada peradaban mana pun yang diketahui, dibangun di zaman ketika manusia seharusnya belum bisa membangun apa pun. Akan ada zaman candi-candi besar yang dibangun dari batu, dan zaman pelaut dari seberang lautan yang membawa lidah dan dewa baru, dan zaman penaklukan dari tanah yang jauh, dan zaman ketika tanah ini akhirnya akan punya satu nama yang dikenal seluruh dunia dan satu kesadaran tentang dirinya sebagai satu bangsa. Dan pada akhir dari semua itu, di zaman yang bahkan para pengingat tertua tak bisa bayangkan, kerikil terkuat akan bangun untuk terakhir kalinya, dan seseorang akan menyatukan semua bagian yang telah dirakit sepanjang ribuan tahun, ingatan yang dijaga rantai, kebenaran yang disimpan bukit-bukit, tanah yang akhirnya cukup utuh untuk mengingat, dan akan menemukan kembali dunia yang tenggelam, dan membebaskan ratu dari laut.

Tapi itu adalah Buku-buku yang lain, dan zaman-zaman yang lain. Untuk sekarang, di akhir lidah-lidah yang berpisah, cukup untuk mengetahui ini: bahwa apa yang berpisah telah mulai menyatu kembali; bahwa rantai para pengingat telah menemukan dirinya sendiri dan menjadi lebih kuat; bahwa tanah ini telah terungkap menyimpan, di kedalamannya, ingatan yang dibangun dari batu; bahwa ratu yang menunggu telah, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, mulai berharap; dan bahwa hari pembebasannya, walau masih jauh, kini bukan lagi soal apakah, melainkan soal kapan. Dan di bawah segala sesuatu, sabar sebagaimana ia selalu sabar, air bergerak, membawa, dari yang tenggelam menuju yang menunggu, melalui rantai yang kini menyatu dan menguat, satu bisikan yang telah menjadi ancaman dan gema dan janji dan pertanyaan dan kesabaran dan panggilan dan kini, di akhir Buku ini, menjadi sesuatu yang baru lagi: sebuah kepastian yang sabar. Sebab tanah ini telah mulai mengingat dirinya sebagai satu, dan telah terungkap menyimpan kebenaran di dalam tanahnya sendiri, dan menuju hari ketika kebenaran itu, yang dibangun dari batu di bukit-bukit yang menyamar sebagai alam, akhirnya akan digali, dan dibaca, dan dipahami; ketika seseorang akan berdiri di puncak sebuah bukit yang dibangun manusia, dan menyadari bahwa ia jauh lebih tua daripada yang seharusnya mungkin, dan mulai bertanya: siapa yang membangun ini, dan kapan, dan apa yang mereka coba ingatkan kepada kita?

Akhir Buku Tiga

Lidah-Lidah yang Berpisah

Kisah berlanjut dalam Buku Empat

Bukit yang Lebih Tua dari Waktu