JAWA
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
BUKU TIGA
Lidah-Lidah yang Berpisah
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
Apa yang berpisah dapat menyatu kembali,
bukan dengan menghapus perbedaan,
melainkan dengan mengingat apa yang ada di bawahnya.
BAGIAN I
Tujuh Nama
BAB SATU
Tujuh Nama untuk Satu Gunung
Gunung itu satu. Tapi ia punya tujuh
nama, sebab tujuh bangsa tinggal di kakinya, dan tiap bangsa memberinya nama
dalam lidahnya sendiri, dan tiap bangsa percaya bahwa namanya adalah nama yang
benar. Hanya para pengingat yang tahu bahwa ketujuh nama merujuk pada gunung
yang sama, dan bahwa ketujuh bangsa turun dari nenek moyang yang sama.
dari ajaran para pengingat, di zaman
bangsa-bangsa
Ribuan tahun
setelah seorang pengingat mengukir sumpah Nyai Sela ke dalam batu untuk pertama
kalinya, tanah yang akan menjadi Jawa telah menjadi sesuatu yang tak akan
dikenali oleh mereka yang mendarat dari laut bersama Rangin: sebuah dunia penuh
bangsa, penuh lidah, penuh kerajaan kecil yang saling bersaing dan saling
menaklukkan dan saling melupakan.
Tak ada lagi satu bangsa. Itulah hal pertama yang harus dipahami tentang
zaman ini. Di mana dulu ada segelintir pengungsi yang berbagi satu lidah dan
satu ingatan, kini ada puluhan bangsa, masing-masing dengan lidahnya sendiri,
adatnya sendiri, dewa-dewanya sendiri, dan kisahnya sendiri tentang dari mana
mereka datang, kisah-kisah yang hampir selalu menempatkan bangsa itu sendiri
sebagai yang pertama, yang asli, yang sejati, dan bangsa-bangsa lain sebagai
pendatang, atau musuh, atau makhluk yang lebih rendah. Mereka berperang atas
tanah dan air dan kehormatan. Mereka membangun kerajaan yang bertahan beberapa
generasi dan kemudian runtuh. Mereka mengukir nama mereka di batu, dan menulis
sejarah yang memuliakan diri mereka dan merendahkan tetangga mereka, dan dengan
tiap generasi mereka semakin lupa, semakin lupa bahwa mereka pernah satu, bahwa
lidah-lidah mereka pernah satu lidah, bahwa di bawah semua perbedaan yang
mereka pertahankan dengan darah, mereka adalah saudara yang turun dari banjir
yang sama.
Dan di antara semua bangsa yang lupa ini, tersebar seperti benang yang
tak terlihat di bawah kain yang berwarna-warni, hidup para pengingat, tak
banyak, tak pernah banyak, tapi tak pernah sepenuhnya hilang. Mereka tinggal di
tiap bangsa, berbicara tiap lidah, tampak seperti orang biasa dari bangsa
tempat mereka lahir. Tapi mereka membawa, di dalam darah mereka, sesuatu yang
melampaui bangsa: kerikil, ingatan, sumpah Nyai Sela, dan pengetahuan, yang
membuat mereka kesepian dengan cara yang khusus, bahwa semua bangsa yang saling
membenci ini sesungguhnya satu.
❖
Salah satu dari
mereka adalah seorang perempuan muda bernama Wreda, yang lahir di sebuah bangsa
di kaki gunung berapi besar di tengah pulau, gunung yang bangsanya sebut dengan
satu nama dan bangsa di lereng seberang sebut dengan nama yang sama sekali berbeda.
Wreda tahu sejak ia kecil bahwa ia berbeda, sebab ia bermimpi tentang
hal-hal yang tak mungkin ia ketahui. Ia bermimpi tentang daratan yang luas dan
datar yang tak ada di mana pun di dunianya yang penuh gunung dan lembah. Ia
bermimpi tentang kanal-kanal lurus yang membelah tanah, dan kota-kota yang
saling memandang menyeberangi dataran, dan air yang naik, dan dua perempuan,
selalu dua perempuan, yang berpisah di tepi sebuah dunia. Dan ketika ia
menceritakan mimpi-mimpinya, ibunya memandangnya dengan ekspresi yang Wreda
baru kemudian mengerti: ekspresi seseorang yang mengenali warisan yang ia harap
telah tidur untuk selamanya, dan yang kini, ia lihat, telah bangun lagi.
“Kau membawa apa yang kubawa, ” ibunya berkata kepadanya, ketika Wreda
cukup tua untuk diberitahu. “Dan apa yang ibuku bawa, dan ibunya sebelumnya,
mundur lebih jauh daripada yang bisa kuhitung. Kita bukan hanya orang dari
bangsa ini, Wreda. Kita lebih tua daripada bangsa ini. Kita adalah pengingat,
dan kita membawa ingatan tentang sesuatu yang terjadi sebelum ada
bangsa-bangsa, sebelum gunung ini punya tujuh nama, ketika semua orang yang
sekarang saling membenci masih satu.” Ia menurunkan suaranya, walau tak ada
yang mendengar. “Itu adalah pengetahuan yang berbahaya di zaman ini, anakku.
Sebab bangsa-bangsa tidak ingin mendengar bahwa mereka bersaudara. Mereka telah
membangun segala sesuatu di atas keyakinan bahwa mereka berbeda, lebih baik,
yang pertama. Seorang pengingat yang berbicara terlalu keras tentang kesatuan
yang lama bisa kehilangan nyawanya. Maka kita mengingat dalam diam, dan kita
mewariskan dalam diam, dan kita menunggu zaman ketika kebenaran bisa diucapkan
dengan keras.”
❖
Ketika Wreda
tumbuh, ibunya membawanya, sekali, dalam sebuah perjalanan yang berbahaya dan
rahasia, mengelilingi gunung besar di tengah pulau, supaya ia bisa melihat
dengan matanya sendiri apa yang ia warisi.
Mereka berjalan dari bangsa ke bangsa, di kaki gunung yang sama, dan di
tiap bangsa ibunya menunjukkan kepadanya hal yang sama: bahwa gunung itu,
gunung tunggal yang menjulang di atas mereka semua, punya nama yang berbeda di
tiap lidah. Di bangsa Wreda ia disebut satu nama, yang berarti sesuatu seperti
yang tua. Di bangsa di lereng timur ia disebut nama lain, yang berarti yang
memberi api. Di bangsa di selatan, nama yang berarti yang menahan langit. Tujuh
bangsa, tujuh lidah, tujuh nama, dan tiap bangsa yakin bahwa namanya adalah
nama yang sejati, bahwa gunung itu sesungguhnya milik mereka, bahwa
bangsa-bangsa lain hanyalah penyusup yang memberi nama palsu pada sesuatu yang
bukan milik mereka.
“Tapi ia satu gunung, ” kata Wreda, memandang ke atas pada puncak yang
sama yang telah ia lihat dari tujuh sisi sekarang, dengan tujuh nama di
kepalanya.
“Ia satu gunung, ” ibunya setuju. “Dan mereka satu bangsa, walau mereka
akan membunuhmu bila kau mengatakannya. Itulah yang kita bawa, Wreda. Bukan
hanya ingatan tentang daratan yang tenggelam. Juga ingatan bahwa semua
perpecahan ini, semua bangsa, semua lidah, semua perang, adalah baru, adalah
permukaan, adalah sesuatu yang tumbuh di atas sebuah kesatuan yang lebih tua
dan lebih dalam. Gunung itu mengingat ketika ia hanya punya satu nama. Kita
mengingatnya juga. Dan suatu hari, ketika tanah ini cukup tua dan cukup lelah
oleh perang, seseorang akan dibutuhkan untuk mengingatkannya bahwa ketujuh nama
adalah satu gunung, dan ketujuh bangsa adalah satu darah.”
❖
Dan di salah
satu bangsa yang mereka lewati, sesuatu terjadi yang akan mengubah hidup Wreda,
dan yang akan menjadi awal dari kisah Buku ini: ia bertemu pengingat lain.
Ia adalah seorang lelaki muda dari bangsa di lereng timur, bangsa yang
menyebut gunung dengan nama yang berarti yang memberi api, sebuah bangsa yang
berperang dengan bangsa Wreda sendiri sejak sebelum keduanya lahir. Mereka
seharusnya menjadi musuh. Segala sesuatu tentang dunia mereka, lidah mereka
yang berbeda, kesetiaan mereka yang berlawanan, darah yang telah ditumpahkan di
antara bangsa mereka, segala sesuatu seharusnya membuat mereka membenci satu
sama lain. Tapi ketika mata mereka bertemu, di sebuah pasar di bangsa asing,
sesuatu terjadi yang lebih dalam daripada bangsa, lebih tua daripada
permusuhan: kerikil Getih, kerikil yang membuat pengingat saling mengenali,
bangun di dalam darah keduanya, dan mereka tahu, seketika, tanpa sepatah kata,
bahwa mereka adalah saudara dari rantai yang sama.
Itu adalah pengalaman yang mengguncang Wreda lebih daripada apa pun dalam
hidupnya. Sebab sepanjang hidupnya ia telah diajari, oleh bangsanya, oleh lidahnya,
oleh setiap kisah yang ia dengar, bahwa orang dari lereng timur adalah musuh,
adalah lain, adalah sesuatu yang harus ditakuti dan dibenci. Dan kini,
memandang ke mata seorang lelaki muda dari bangsa itu, ia merasakan dalam
darahnya kebenaran yang membatalkan semua yang telah ia diajari: bahwa ia dan
lelaki ini lebih dekat satu sama lain daripada mereka kepada bangsa mereka
sendiri, bahwa mereka berbagi sesuatu, ingatan, kerikil, sumpah Nyai Sela, yang
melampaui setiap perbedaan yang dunia mereka pertahankan dengan darah. Mereka
adalah dua tetes dari satu aliran yang mengalir di bawah semua bangsa, dan
dalam pertemuan mata itu, aliran itu mengenali dirinya sendiri.
❖
Malam itu, jauh
dari telinga kedua bangsa yang akan mengutuk mereka karena berbicara, Wreda dan
pengingat dari lereng timur duduk bersama dan berbagi apa yang mereka bawa, dan
mereka menemukan, dengan kegembiraan dan kengerian, bahwa ingatan mereka cocok.
Ia membawa mimpi yang sama yang ia bawa: daratan yang luas, kanal-kanal
lurus, dua perempuan yang berpisah. Ia membawa sumpah yang sama, dalam lidah
yang berbeda tapi dengan makna yang persis sama: selama ada keturunannya,
daratan yang tenggelam tidak benar-benar tenggelam. Dan ia membawa, sebagaimana
Wreda membawa, perasaan bahwa zaman sedang berubah, bahwa sesuatu sedang
bergerak di bawah permukaan dunia yang terpecah ini, bahwa rantai pengingat,
yang selama ribuan tahun telah tersebar dan tersembunyi dan diam, sedang, untuk
alasan yang tak satu pun dari mereka mengerti, mulai menemukan dirinya kembali.
“Ada lebih banyak dari kita, ” kata lelaki itu, malam itu. “Aku telah
merasakannya. Tersebar di seluruh bangsa, di tiap lidah, membawa ingatan yang
sama. Dan untuk pertama kalinya sejak lidah-lidah berpisah, kurasa kita mulai
mencari satu sama lain. Aku tak tahu mengapa. Tapi aku merasa bahwa kita
dipanggil, bukan oleh bangsa mana pun, bukan oleh raja mana pun, melainkan oleh
sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang menunggu, sesuatu yang membutuhkan kita
untuk berkumpul kembali setelah semua zaman terpisah ini.”
Dan Wreda, mendengarnya, merasakan dalam darahnya bahwa ia benar, dan ia
memikirkan apa yang ibunya katakan, tentang zaman ketika seseorang akan
dibutuhkan untuk mengingatkan tanah ini bahwa ketujuh nama adalah satu gunung.
Dan ia bertanya-tanya apakah zaman itu telah tiba, apakah ia dan lelaki ini dan
semua pengingat yang tersebar adalah bagian dari sesuatu yang baru mulai. Dan
jauh di selatan, di dasar laut tempat seorang ratu menunggu, dan jauh di bawah
segala bangsa yang terpecah dan segala lidah yang berpisah, air bergerak, air
yang sama yang menyimpan dunia yang tenggelam, air yang sama yang membawa
sumpah Nyai Sela melalui tujuh generasi dan kemudian melalui ribuan tahun
bangsa-bangsa. Dan bisik air, yang telah menjadi ancaman dan gema dan janji dan
pertanyaan dan kesabaran, kini menjadi sesuatu yang baru: sebuah panggilan.
Sebuah pemanggilan kembali. Sebab setelah ribuan tahun terpisah dan
tersembunyi, sesuatu telah mulai memanggil para pengingat untuk berkumpul, dari
tiap bangsa, dari tiap lidah, dari tiap lereng gunung yang punya tujuh nama,
untuk berkumpul, dan mengingat bersama, dan memulai perjalanan panjang menuju
hari ketika lidah-lidah yang berpisah akhirnya akan disatukan kembali, bukan
oleh pedang, melainkan oleh ingatan.
❖
BAB DUA
Lidah yang Tak Kupelajari
Seorang pengingat bisa memasuki bangsa
mana pun, sebab ia membawa di bawah lidahnya sendiri sebuah lidah yang lebih
tua daripada semua bangsa. Ia tak selalu bisa berbicara dengan mereka. Tapi ia
selalu bisa mengingat bersama mereka, dan kadang, di zaman yang terpecah ini,
mengingat bersama adalah satu-satunya bahasa yang masih bisa menyatukan.
dari ajaran para pengingat, tentang
melintasi batas
Setelah
pengingat dari lereng timur kembali ke bangsanya, Wreda tak bisa lagi hidup
sebagaimana ia hidup sebelumnya, sebab ia kini tahu sesuatu yang membuat
kehidupan lamanya terasa seperti tidur.
Ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Bahwa tersebar di seluruh bangsa-bangsa
yang bermusuhan, di tiap lidah, di tiap lereng gunung yang punya tujuh nama,
ada orang-orang seperti dia, pembawa kerikil, pembawa ingatan, pembawa sumpah
yang sama. Dan ia tahu, dengan kepastian yang tumbuh di dalamnya seperti air
mengisi sebuah cekungan, bahwa ia harus menemukan mereka. Bukan karena
seseorang menyuruhnya. Bukan karena ada rencana yang ia mengerti. Melainkan
karena panggilan yang ia rasakan di dalam darahnya, panggilan yang sama yang
dirasakan pengingat dari lereng timur, panggilan untuk berkumpul setelah ribuan
tahun terpisah.
Ibunya, ketika Wreda memberitahunya, tidak mencoba menghentikannya, walau
ketakutan jelas di wajahnya. “Aku tahu hari ini akan datang, ” katanya. “Aku
merasakannya ketika kau mulai bermimpi lebih jelas daripada yang pernah
kubermimpi, ketika kerikil di dalammu tampak lebih terjaga daripada di dalamku.
Kau membawa sesuatu yang lebih kuat daripada yang kubawa, Wreda. Mungkin
sesuatu yang lebih kuat daripada yang dibawa siapa pun selama banyak generasi.
Dan bila kerikil memanggilmu untuk pergi, untuk mencari yang lain, maka itu
berarti zaman sedang berubah, dan kau adalah bagian dari perubahannya.” Ia
memegang wajah putrinya. “Tapi ketahuilah apa yang kau hadapi. Untuk mencari
pengingat di bangsa lain, kau harus melintasi batas-batas yang dijaga dengan
darah. Kau harus memasuki bangsa-bangsa yang lidahnya tak kaupelajari, yang
akan memandangmu sebagai musuh sebelum kau mengucapkan sepatah kata. Kerikil
akan membantumu mengenali kawan. Tapi ia tak akan melindungimu dari mereka yang
melihat hanya orang asing dari bangsa yang salah.”
❖
Maka Wreda
pergi, melintasi batas pertama, ke dalam bangsa yang lidahnya tak ia pelajari,
dan ia belajar dengan cepat betapa benar peringatan ibunya.
Di bangsanya sendiri, ia adalah seseorang, ia punya nama, keluarga,
tempat. Di bangsa asing, ia adalah tak seorang pun, atau lebih buruk: ia adalah
orang asing, dan di zaman bangsa-bangsa yang bermusuhan, orang asing adalah
ancaman sampai terbukti sebaliknya. Ia tak bisa berbicara lidah mereka;
kata-katanya, yang di rumah membawa makna dan kehangatan, di sini hanya suara
aneh yang membuat orang waspada. Ia tak tahu adat mereka, dan maka ia
melanggarnya tanpa mengetahuinya, dan tiap pelanggaran membuatnya lebih
dicurigai. Ia berjalan melalui pasar-pasar tempat orang berhenti berbicara
ketika ia lewat, melalui kampung-kampung tempat anak-anak menatapnya dan orang
dewasa memalingkan muka, dan ia merasakan, untuk pertama kalinya dalam
hidupnya, apa artinya menjadi sepenuhnya asing, sepenuhnya di luar, di sebuah
dunia yang telah membagi dirinya menjadi kita dan mereka dan telah lupa bahwa
pembagian itu pernah tak ada.
Dan ia memahami, berjalan melalui keasingan ini, sesuatu tentang apa yang
telah dilakukan oleh perpisahan lidah kepada tanah ini. Ia telah membuat
orang-orang yang sesungguhnya bersaudara menjadi tak bisa saling melihat
sebagai saudara. Bukan karena mereka jahat, sebagian besar orang yang
memandangnya dengan curiga bukanlah orang jahat, mereka hanya orang yang takut
pada apa yang tak mereka mengerti. Melainkan karena lidah yang berbeda telah
menjadi dinding, dan di balik dinding itu, tiap bangsa telah tumbuh meyakini
bahwa ia sendiri, bahwa yang di balik dinding adalah lain, asing, mungkin
musuh. Perpisahan lidah bukanlah hanya perpisahan kata. Ia adalah perpisahan
kemampuan untuk melihat kemanusiaan satu sama lain.
❖
Tapi kerikil
membawanya, sebagaimana ibunya berkata ia akan, dan di bangsa asing itu, di
tengah keasingan yang nyaris menghancurkannya, Wreda menemukan pengingat lain.
Ia merasakannya sebelum ia melihatnya, kerikil Getih bangun di dalam
darahnya, menariknya melalui kampung-kampung asing seperti air ditarik ke air,
sampai ia berdiri di hadapan seorang perempuan tua yang menjual kain di tepi
sebuah pasar, seorang perempuan yang memandangnya dan yang matanya, pada saat
mereka bertemu, melebar dengan pengenalan yang sama yang Wreda rasakan. Mereka
tak bisa berbicara. Lidah mereka terlalu berbeda; kata-kata Wreda tak berarti
apa-apa bagi perempuan itu, dan kata-kata perempuan itu tak berarti apa-apa
bagi Wreda. Tapi mereka tak membutuhkan kata-kata, sebab mereka berbagi sesuatu
yang lebih dalam daripada kata: ingatan yang sama, dibawa di dalam darah,
melampaui lidah mana pun.
Perempuan tua itu membawa Wreda ke rumahnya, dan di sana, tanpa berbagi
satu kata pun dari lidah yang sama, mereka mengingat bersama. Perempuan itu
menggambar di tanah: sebuah daratan yang luas, kanal-kanal lurus, air yang
naik. Wreda mengangguk, dan menambahkan ke gambar itu: dua perempuan, berpisah
di tepi. Perempuan tua itu mengangguk, dan air mata muncul di matanya, dan ia
menambahkan: tujuh batu kecil, ditelan oleh salah satu dari dua perempuan. Dan
begitulah, dengan gambar di tanah dan air mata dan anggukan, dua perempuan yang
tak bisa berbicara satu sama lain berbagi ingatan yang sama tentang dunia yang
tenggelam sepuluh ribu tahun lebih yang lalu, dan dalam berbagi itu, mereka
membuktikan apa yang ingin dibuktikan oleh seluruh perjalanan Wreda: bahwa
ingatan lebih dalam daripada lidah, bahwa apa yang dibawa para pengingat bisa
menyeberangi dinding-dinding yang memisahkan bangsa, bahwa di bawah tujuh nama
dan tujuh lidah, ada satu kebenaran yang tak terbagi.
❖
Dan di rumah
perempuan tua itu, malam itu, Wreda memahami sesuatu yang akan menjadi inti
dari segala sesuatu yang ia lakukan sesudahnya: bahwa para pengingat memiliki
sebuah lidah yang lebih tua daripada semua lidah yang berpisah, dan bahwa lidah
itu bukanlah kata-kata.
Ia adalah ingatan itu sendiri. Gambar daratan yang tenggelam. Kanal yang
lurus. Dua perempuan di tepi dunia. Tujuh kerikil. Sumpah. Hal-hal ini tak
bergantung pada lidah mana pun; mereka bisa digambar di tanah, ditunjukkan
dengan tangan, dibagi melalui mata yang bertemu. Dan maka, walau lidah-lidah
dunia telah berpisah sampai bangsa tak bisa lagi berbicara satu sama lain, para
pengingat telah, tanpa merencanakannya, menjaga sebuah bahasa yang masih bisa
dipahami oleh semua dari mereka, bukan bahasa kata, melainkan bahasa ingatan,
bahasa gambar dan tanda dan kebenaran yang dibawa di dalam darah.
Dan Wreda mulai memahami bentuk dari apa yang mungkin, bentuk dari
mengapa kerikil memanggil para pengingat untuk berkumpul di zaman ini. Sebab
bila para pengingat bisa berbicara satu sama lain melintasi lidah-lidah yang
berpisah, melalui bahasa ingatan yang mereka semua bawa, maka mereka bisa
menjadi sesuatu yang tak ada lagi di tanah ini sejak banjir: sebuah jembatan. Sebuah
cara bagi bangsa-bangsa yang tak bisa lagi saling memahami untuk dihubungkan
kembali, bukan dengan memaksa mereka berbicara satu lidah, yang tak mungkin,
melainkan dengan mengingatkan mereka, melalui rantai pengingat yang membentang
di antara mereka semua, bahwa di bawah lidah-lidah yang berbeda mereka berbagi
satu ingatan, satu asal, satu darah. Para pengingat tidak akan menyatukan
bangsa-bangsa dengan menghapus perbedaan mereka. Mereka akan menyatukan
bangsa-bangsa dengan mengingat, dan membuat bangsa-bangsa mengingat, apa yang
ada di bawah perbedaan itu.
❖
Sebelum Wreda
meninggalkan bangsa asing itu, perempuan tua memberinya sesuatu, bukan dengan
kata-kata, sebab mereka masih tak bisa berbagi kata, melainkan dengan tangan:
ia menggambar, di selembar kulit, sebuah peta.
Bukan peta tanah, atau setidaknya tidak hanya itu. Ia adalah peta
pengingat. Tanda-tanda kecil tersebar di seluruh gambar pulau, masing-masing
menandai tempat di mana perempuan tua tahu, atau menduga, atau telah merasakan
melalui kerikilnya, bahwa seorang pengingat lain hidup. Sebab perempuan tua
itu, dalam hidupnya yang panjang, telah melakukan apa yang Wreda baru mulai
lakukan: ia telah merasakan yang lain, melalui kerikil, melintasi jarak, dan ia
telah menyimpan pengetahuan tentang di mana mereka berada, menunggu zaman
ketika seseorang akan datang yang cukup kuat untuk mengumpulkan mereka. Dan
kini, memandang Wreda, ia tahu, sebagaimana ibu Wreda tahu, sebagaimana
pengingat dari lereng timur tahu, bahwa Wreda mungkin adalah orang itu.
Wreda mengambil peta, dan ia memahami bobot dari apa yang diberikan
kepadanya: bukan hanya sebuah daftar tempat, melainkan sebuah tugas, sebuah
panggilan yang kini menjadi nyata dan terarah. Ia akan mengikuti peta ini. Ia
akan melintasi batas demi batas, bangsa demi bangsa, lidah demi lidah yang tak
ia pelajari, dan ia akan menemukan para pengingat yang tersebar, satu demi
satu, dan ia akan mulai melakukan apa yang belum dilakukan sejak lidah-lidah
berpisah: mengumpulkan rantai yang tercerai, menyatukan kembali apa yang telah
lama terpisah. Dan jauh di bawahnya, di bawah tanah yang terbagi menjadi banyak
bangsa, di bawah laut tempat seorang ratu menunggu, air bergerak, membawa, dari
yang tenggelam menuju yang menunggu, melalui rantai yang kini mulai berkumpul
kembali, bisikannya yang sabar. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan,
kini menjadi sesuatu yang lebih terarah: sebuah peta. Sebuah jalan. Sebab
setelah ribuan tahun tersebar, para pengingat telah mulai, untuk pertama kalinya,
untuk mencari satu sama lain dengan sengaja, dan dalam pencarian itu, di bawah
semua lidah yang berpisah, sebuah lidah yang lebih tua mulai, sangat pelan,
untuk berbicara kembali.
❖
BAB TIGA
Raja yang Mengukir Dusta
Yang berkuasa selalu takut pada yang
mengingat. Sebab kekuasaan dibangun di atas kisah, dan kisah yang menguntungkan
kekuasaan jarang adalah kisah yang benar. Maka di tiap zaman, raja-raja yang
mengukir dusta di batu akan memburu mereka yang membawa kebenaran di dalam
darah.
dari ajaran para pengingat, tentang
kekuasaan
Peta perempuan
tua membawa Wreda, setelah banyak batas dan banyak lidah yang tak ia pelajari,
ke sebuah tempat yang berbeda dari semua yang ia lewati sebelumnya: bukan
sekadar bangsa, melainkan kerajaan.
Ia telah mendengar tentang kerajaan-kerajaan, tapi ia belum pernah
melihat satu. Di tempat asalnya, di kaki gunung bernama tujuh, kekuasaan masih
kecil, kepala kampung, tetua, paling banter seorang yang kuat yang memerintah
beberapa lembah. Tapi kerajaan ini adalah sesuatu yang lain. Ia memiliki
seorang raja yang menyebut dirinya keturunan dewa. Ia memiliki tentara, dan
pemungut pajak, dan pendeta yang melayani baik dewa maupun raja, dan, inilah
yang paling menarik perhatian Wreda, sebab ibunya telah memperingatkannya
tentang ini, ia memiliki batu. Batu di mana-mana, diukir dengan aksara,
mengukir nama raja dan kebesaran raja dan keturunan ilahi raja, sehingga setiap
orang yang lewat akan membaca, atau bila mereka tak bisa membaca akan
diberitahu, bahwa raja ini agung, bahwa raja ini benar, bahwa raja ini layak
diberi pajak dan kesetiaan dan, bila perlu, nyawa.
Dan Wreda, yang membawa di dalam darahnya ingatan yang lebih tua daripada
kerajaan mana pun, memandang batu-batu itu dan merasakan apa yang telah
diperingatkan para pengingat sejak aksara pertama diukir: bahwa batu bisa
berbohong. Sebab ia tahu, dengan kepastian yang datang dari kerikil, bahwa raja
ini bukan keturunan dewa. Tak seorang pun keturunan dewa. Semua orang di tanah
ini, raja dan budak sama saja, adalah keturunan dari segelintir pengungsi yang
mendarat dari laut setelah banjir, keturunan dari Nyai Sela dan bangsanya yang
tenggelam. Tapi batu mengatakan sebaliknya, dengan otoritas yang dingin dan
permanen, dan orang-orang yang membaca batu mempercayainya, sebab batu bertahan
lebih lama daripada manusia, dan apa yang bertahan mulai tampak seperti apa
yang benar.
❖
Pengingat yang
Wreda cari di kerajaan ini hidup dalam bahaya yang lebih besar daripada
pengingat mana pun yang telah ia temui, sebab di kerajaan, kebenaran yang
dibawa para pengingat bukan hanya tak diinginkan, ia berbahaya bagi kekuasaan
itu sendiri.
Wreda menemukannya melalui kerikil, sebagaimana selalu, ditarik melalui
kota kerajaan yang ramai sampai ke sebuah tempat di pinggirannya, tempat
seorang lelaki bekerja sebagai pengukir batu, dan ini adalah ironi yang tak
luput dari Wreda, bahwa seorang pengingat mencari nafkah dengan mengukir di
batu kebohongan-kebohongan raja yang ia tahu adalah kebohongan. Ketika mata
mereka bertemu dan kerikil mengenali kerikil, lelaki itu membawanya ke tempat
yang aman dengan kewaspadaan seseorang yang telah lama hidup dalam bahaya,
memandang ke belakang, berbicara dengan suara rendah, memastikan tak ada yang
mengikuti.
“Kau tak mengerti betapa berbahayanya di sini, ” katanya kepadanya,
ketika mereka akhirnya sendirian. Mereka bisa berbicara, ini kali, sebab
kerajaan ini cukup dekat dengan tanah asal Wreda sehingga lidah mereka, walau
berbeda, masih cukup mirip untuk dipahami dengan usaha. “Di bangsa-bangsa
kecil, seorang pengingat hanya aneh. Orang mencurigainya, mungkin
menghindarinya, tapi membiarkannya hidup. Di sini, di kerajaan, seorang
pengingat adalah ancaman. Sebab raja membangun seluruh kekuasaannya di atas sebuah
kisah, bahwa ia keturunan dewa, bahwa garisnya selalu memerintah, bahwa dunia
selalu seperti ini dan harus selalu seperti ini. Dan aku membawa, di dalam
darahku, kebenaran yang menghancurkan kisah itu: bahwa tak ada yang selalu
seperti ini, bahwa raja-raja datang dari pengungsi sebagaimana semua orang,
bahwa dunia telah berakhir sebelumnya dan akan berakhir lagi. Bila aku
mengucapkan kebenaran itu dengan keras, raja akan membunuhku, bukan karena ia
jahat, melainkan karena kebenaranku adalah racun bagi kekuasaannya.”
❖
Dan bahaya yang
dibicarakan lelaki itu datang lebih cepat daripada yang diharapkan keduanya,
sebab di kerajaan, orang asing yang datang mencari pengukir batu yang dicurigai
menarik perhatian yang salah.
Wreda tak menyadari bahwa ia telah diperhatikan, seorang perempuan asing,
dari bangsa yang jauh, yang berjalan melalui kota kerajaan dengan tujuan yang
tak jelas dan kemudian menghilang ke pinggiran untuk bertemu seorang pengukir
yang telah lama dicurigai oleh pendeta-pendeta raja. Para pendeta, yang
tugasnya adalah menjaga kisah raja tetap utuh, telah lama mengawasi pengukir
itu, merasakan dalam dirinya sesuatu yang tak mereka pahami tapi tahu untuk
ditakuti: sebuah pengetahuan yang lebih tua daripada kisah yang mereka jaga,
sebuah ingatan yang bisa, bila dilepaskan, meruntuhkan segala sesuatu yang
mereka bangun. Dan ketika orang asing datang dan mencarinya, para pendeta
memutuskan bahwa waktunya telah tiba untuk bertindak.
Mereka datang di malam hari, sebagaimana kekuasaan selalu datang untuk
yang lemah di malam hari. Wreda dan pengukir hampir tak punya waktu, kerikil
Wreda, yang merasakan bahaya sebagaimana ia merasakan air, memperingatkannya
beberapa saat sebelum mereka tiba, cukup untuk melarikan diri tapi tidak cukup
untuk melarikan diri dengan tenang. Mereka berlari, melalui gang-gang kota
kerajaan dalam gelap, dengan suara para penjaga di belakang mereka, dan untuk
pertama kalinya dalam hidupnya Wreda merasakan apa artinya diburu bukan karena
apa yang ia lakukan melainkan karena apa yang ia tahu, diburu karena membawa
kebenaran di sebuah dunia yang dibangun di atas kebohongan.
❖
Mereka melarikan
diri dari kota kerajaan, tapi tidak tanpa harga, sebab pelarian di zaman ini,
sebagaimana penyeberangan di zaman banjir, selalu menuntut harga.
Pengukir batu mengenal kota, dan ia memimpin Wreda melalui jalan-jalan
rahasia, melewati tembok-tembok dan keluar ke ladang-ladang gelap di luar,
sementara di belakang mereka kota bangun dengan obor dan teriakan. Mereka
berhasil keluar. Tapi pengukir, yang lebih tua dan lebih lambat, terluka dalam
pelarian, sebuah panah dari penjaga di tembok, menemukan punggungnya dalam
gelap. Ia terus berlari, jauh ke dalam ladang, sampai kota dan obornya
tertinggal di belakang, dan kemudian ia jatuh, dan Wreda tahu, memeganginya,
bahwa lukanya terlalu dalam.
“Dengarkan, ” katanya kepadanya, dengan napas yang mulai pendek. “Aku tak
akan sampai ke tempat berikutnya. Tapi kau harus. Apa yang kubawa, ambil. Aku
tak bisa memberikannya kepadamu seperti yang lain memberikannya, dengan
tahun-tahun mengajar. Tapi aku bisa memberikannya sekarang, cepat, sebab itulah
cara rantai bekerja ketika tak ada waktu: dari sekarat ke yang hidup, dari yang
jatuh ke yang berlanjut.” Dan ia berbicara, cepat, dalam gelap, menuangkan ke
dalam Wreda apa yang ia bawa, bukan kerikil, kerikil tak berpindah seperti itu,
melainkan pengetahuan, ingatan tentang para pengingat di kerajaan ini dan di kerajaan-kerajaan
di sekitarnya, peta yang ia bawa di kepalanya tentang di mana yang lain
bersembunyi, dan sebuah peringatan: bahwa zaman kerajaan adalah zaman yang
paling berbahaya bagi para pengingat yang pernah ada, sebab untuk pertama
kalinya, kekuasaan memiliki baik motif maupun alat untuk memburu mereka, batu
untuk mengukir dusta, dan tentara untuk membunuh kebenaran.
❖
Pengukir batu
mati di ladang gelap di luar kota kerajaan, dan Wreda menguburnya sendirian,
dengan tangannya, dan ketika ia menutup tanah di atasnya ia membisikkan
kata-kata yang ia bawa di dalam darahnya, kata-kata dari lidah yang sangat tua,
kata-kata yang telah dibisikkan kepada setiap pengingat yang mati sejak Nyai
Sela: kau diingat.
Lalu ia berdiri, sendirian, di ladang gelap, dengan kota kerajaan dan
obornya jauh di belakang, dan ia memahami bahwa tugasnya telah menjadi lebih
besar dan lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan ketika ia meninggalkan
rumah. Ia tidak hanya mengumpulkan para pengingat yang tersebar. Ia
mengumpulkan mereka di sebuah dunia yang, untuk pertama kalinya, memiliki
kekuasaan yang cukup terorganisir untuk memburu mereka, kerajaan-kerajaan yang
dibangun di atas kebohongan yang diukir di batu, yang kebohongannya terancam
oleh kebenaran yang dibawa para pengingat di dalam darah. Mengumpulkan rantai
tidak akan menjadi perjalanan yang damai dari pengingat ke pengingat. Ia akan
menjadi perlawanan, sebuah perlawanan yang sunyi, yang dibawa di dalam darah,
antara mereka yang mengingat kebenaran dan mereka yang berkuasa dengan dusta.
Dan Wreda, berdiri di ladang gelap, merasa takut, tapi ia juga merasa, di
bawah ketakutan, sesuatu yang lebih kuat: kepastian. Sebab ia tahu, dengan
kepastian yang datang dari kerikil, bahwa kebenaran yang ia bawa lebih tua
daripada kerajaan mana pun, dan akan bertahan lebih lama daripada kerajaan mana
pun. Raja-raja akan datang dan pergi. Batu-batu yang mereka ukir akan retak dan
terkubur dan dilupakan. Tapi rantai pengingat akan bertahan, sebagaimana ia
selalu bertahan, membawa kebenaran di bawah semua dusta, menunggu zaman ketika
kebenaran itu akhirnya bisa diucapkan dengan keras. Dan jauh di bawahnya, di
bawah ladang dan kerajaan dan akhirnya laut, di kedalaman tempat seorang ratu
menunggu, air bergerak, membawa, dari yang tenggelam menuju yang menunggu,
melalui rantai yang kini tumbuh meski diburu, bisikannya yang sabar. Dan bisik
air, yang telah menjadi panggilan dan peta, kini menjadi sesuatu yang lebih
keras: sebuah ketabahan. Sebuah tekad. Sebab para pengingat telah memasuki
zaman ketika mengingat menjadi berbahaya, ketika membawa kebenaran berarti
diburu, dan tetap, di bawah semua kerajaan yang akan mengukir dusta mereka di
batu, rantai tidak akan putus, dan kebenaran tidak akan hilang, dan suatu hari,
ketika semua batu yang berbohong telah lama runtuh, ingatan yang dibawa di
dalam darah akan masih ada untuk mengucapkan apa yang sungguh-sungguh terjadi.
❖
BAGIAN II
Yang Berkumpul
BAB EMPAT
Rumah di Antara Batas
Bila kau tak bisa hidup dengan aman di
bangsa mana pun, kau belajar untuk hidup di antara mereka, di celah-celah, di
tanah tak bertuan, di tempat-tempat yang terlalu sunyi untuk diperebutkan. Para
pengingat menemukan, di zaman kerajaan, bahwa rumah mereka bukanlah satu
bangsa, melainkan ruang di antara semua bangsa.
dari ajaran para pengingat, tentang
tempat berlindung
Peta yang
dituangkan pengukir batu ke dalam Wreda sebelum ia mati membawanya ke suatu
tempat yang tak ada di peta mana pun yang dibuat oleh kerajaan: ke tanah di
antara batas-batas, tempat yang tak diklaim oleh siapa pun sebab ia terlalu
tinggi, terlalu kering, terlalu sunyi untuk diperebutkan.
Sebab itulah, ia mulai memahami, tempat para pengingat telah belajar
untuk berkumpul di zaman kerajaan. Bukan di dalam bangsa, di mana mereka
diburu. Bukan di kota, di mana batu raja mengawasi. Melainkan di celah-celah
dunia, di tanah tak bertuan di antara kerajaan dan kerajaan, di lereng-lereng
yang terlalu curam untuk ditanami dan hutan-hutan yang terlalu dalam untuk
ditaklukkan. Di tempat-tempat ini, di mana kekuasaan tak punya alasan untuk
datang, mereka yang membawa ingatan bisa hidup tanpa harus terus-menerus
menyembunyikan apa yang mereka adanya. Mereka telah menemukan, tanpa
merencanakannya, bahwa mereka bukan milik bangsa mana pun, bahwa rumah mereka
adalah ruang di antara semua bangsa, tanah yang terlupakan yang dilewati semua
orang dan dimiliki tak seorang pun.
Wreda mendaki ke salah satu tempat ini, mengikuti tanda-tanda dari peta
dalam kepalanya, naik melalui hutan yang semakin lebat dan udara yang semakin
tipis, sampai ia mencapai sebuah lembah tinggi yang tersembunyi di antara
puncak-puncak, sebuah tempat yang tak akan ditemukan oleh siapa pun yang tak
tahu untuk mencarinya. Dan di lembah tinggi itu, untuk pertama kalinya sejak ia
meninggalkan rumah, Wreda melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan: bukan
satu pengingat, bukan dua, melainkan banyak. Sebuah kampung kecil dari mereka.
Sebuah tempat di mana para pengingat, yang ia kira tersebar dan sendirian,
telah mulai berkumpul.
❖
Mereka datang
dari banyak bangsa, para pengingat di lembah tinggi itu, dan itu adalah hal
pertama yang menghantam Wreda tentang tempat itu: bahwa di sini, di celah
dunia, orang-orang yang di bawah akan menjadi musuh hidup berdampingan sebagai
saudara.
Ada di antara mereka orang dari bangsa Wreda sendiri, dan orang dari
lereng timur yang bermusuhan dengan bangsanya, dan orang dari kerajaan yang
baru saja ia larikan diri darinya, dan orang dari bangsa-bangsa yang bahkan tak
ia kenal namanya. Mereka berbicara lidah-lidah yang berbeda, di lembah itu,
pada hari mana pun, seseorang bisa mendengar setengah lusin lidah yang tak
saling dimengerti. Tapi mereka berbagi sesuatu yang membuat lidah tak penting:
ingatan yang sama, kerikil yang sama, sumpah yang sama. Dan maka mereka telah
membangun, di lembah tinggi ini, sesuatu yang tak ada di tempat lain di seluruh
tanah: sebuah tempat di mana bangsa tidak penting, di mana satu-satunya yang
penting adalah apa yang dibawa seseorang di dalam darahnya.
Mereka menyambut Wreda sebagaimana mereka menyambut tiap pengingat yang
menemukan jalan ke lembah: tanpa pertanyaan tentang dari bangsa mana ia datang,
tanpa kecurigaan tentang lidah yang ia bicarakan, melainkan dengan pengenalan
langsung dari kerikil ke kerikil, darah ke darah. Untuk pertama kalinya sejak
ia meninggalkan rumah, Wreda merasa bukan orang asing. Ia berada di antara
orang-orangnya, bukan bangsanya, melainkan orang-orangnya, rantai yang ia
adalah bagiannya, keluarga yang lebih dalam daripada darah keluarga. Dan ia
merasakan, di lembah tinggi itu, sebuah kelegaan yang nyaris membuatnya
menangis: kelegaan tidak lagi sendirian, tidak lagi harus menyembunyikan apa
yang ia adanya, tidak lagi menjadi satu-satunya yang mengingat di sebuah dunia
yang telah memilih untuk lupa.
❖
Tapi lembah
tinggi itu, Wreda segera memahami, bukanlah surga, dan para pengingat yang
berkumpul di sana terbagi oleh sebuah pertanyaan yang tak bisa mereka jawab:
apa, tepatnya, yang harus mereka lakukan dengan ingatan yang mereka jaga?
Sebab selama ribuan tahun, tugas para pengingat sederhana, walau berat:
mengingat, dan mewariskan, dan menjaga rantai agar tak putus. Tapi kini mereka
berkumpul, dan dalam berkumpul mereka mulai bertanya pertanyaan yang tak bisa
diajukan oleh pengingat yang sendirian: apakah cukup hanya mengingat? Sementara
di bawah, di bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan, orang-orang saling membunuh
karena lupa bahwa mereka bersaudara, sementara raja-raja mengukir dusta di batu
dan kebenaran terkubur di bawah berat kekuasaan, apakah cukup bagi para
pengingat untuk duduk di lembah tinggi mereka dan mengingat dalam diam? Atau
apakah mereka punya kewajiban yang lebih besar: untuk turun, untuk berbicara,
untuk membawa kebenaran yang mereka jaga ke dunia yang telah melupakannya,
betapapun berbahayanya?
Lembah terbagi atas pertanyaan ini, dan pembagian itu adalah pembagian
yang Wreda kenali, sebab ia adalah gema dari pembagian yang lebih tua, gema
dari dua saudari di tepi kanal yang memilih dua jalan. Ada yang berkata: kita
harus tetap tersembunyi, tetap aman, menjaga rantai. Bila kita turun dan
berbicara, kita akan diburu dan dibunuh, dan rantai akan putus, dan semua
ingatan akan hilang. Lebih baik mengingat dalam diam selamanya daripada mati
mencoba berbicara. Dan ada yang berkata: ingatan yang disimpan dalam diam
selamanya adalah ingatan yang tak berguna. Apa gunanya mengingat bahwa semua
bangsa bersaudara bila kita tak pernah memberitahu bangsa-bangsa itu? Kita
tidak diberi kerikil untuk bersembunyi dengannya. Kita diberi kerikil untuk
mengingat, dan mengingat tanpa berbicara bukanlah mengingat, ia hanya menimbun.
❖
Wreda
mendengarkan perdebatan itu, malam demi malam, di lembah tinggi, dan ia
merasakan tertarik ke kedua sisi, sebab kedua sisi membawa kebenaran,
sebagaimana kedua saudari di tepi kanal membawa kebenaran.
Tapi ia juga merasakan, semakin lama ia mendengarkan, bahwa ia melihat
sesuatu yang tak dilihat oleh yang lain, sesuatu yang datang dari kerikil yang
lebih kuat yang ia bawa, kerikil yang ibunya katakan mungkin lebih kuat
daripada yang dibawa siapa pun selama banyak generasi. Sebab ketika para
pengingat berdebat apakah harus bersembunyi atau berbicara, mereka berdebat
seolah-olah itu adalah satu-satunya dua pilihan. Tapi Wreda merasakan, di bawah
perdebatan, sebuah jalan ketiga yang belum dilihat siapa pun, sebuah jalan yang
bukan bersembunyi dan bukan berbicara dengan keras, melainkan sesuatu yang
lebih halus dan lebih sabar dan, ia mulai percaya, lebih kuat.
Sebab ia telah belajar, dalam perjalanannya, bahwa para pengingat
memiliki sebuah bahasa di bawah bahasa, sebuah cara untuk berbagi ingatan yang
melampaui lidah. Dan ia mulai bertanya-tanya: bila para pengingat tersebar di
tiap bangsa, di tiap kerajaan, membawa ingatan yang sama dalam darah yang sama,
lalu bagaimana bila mereka tidak turun untuk berbicara dengan keras, yang akan
membuat mereka diburu, melainkan bekerja dari dalam, perlahan, melalui bahasa
ingatan, menanam, di tiap bangsa, melalui mimpi dan kisah dan ritus yang tampak
tak berbahaya, benih-benih ingatan tentang kesatuan yang lama? Tidak menyatukan
bangsa-bangsa dengan satu deklarasi berani yang akan dihancurkan oleh
kekuasaan, melainkan dengan ribuan bisikan kecil, tersebar di seluruh tanah,
sampai suatu hari, tanpa ada yang bisa menunjuk kapan atau bagaimana, semua
bangsa akan menemukan bahwa mereka berbagi mitos yang sama, kerinduan yang
sama, ingatan yang sama tentang sebuah dunia yang tenggelam, dan dengan begitu,
tanpa pernah dipaksa, akan mulai mengingat bahwa mereka satu.
❖
Wreda tidak
mengucapkan pemikirannya dengan keras, belum, sebab ia masih muda di antara
para pengingat lembah, dan ia masih belajar bentuk dari apa yang ia rasakan.
Tapi ia menyimpannya, dan ia menumbuhkannya, dan ia tahu, dengan kepastian yang
datang dari kerikil, bahwa ia telah melihat sesuatu yang penting.
Sebab perdebatan antara bersembunyi dan berbicara adalah perdebatan yang
akan selalu buntu, selalu terbagi, sebagaimana dua saudari selalu terbagi. Tapi
jalan ketiga, jalan menanam ingatan secara perlahan ke dalam tanah semua
bangsa, sampai kesatuan yang lama tumbuh kembali dengan sendirinya dari bawah,
jalan itu tidak menuntut para pengingat untuk memilih antara aman dan berguna.
Ia membiarkan mereka menjadi keduanya: tersembunyi dalam tindakan tiap
pengingat tunggal, namun kuat dalam keseluruhan, sebuah pekerjaan yang terlalu
tersebar dan terlalu lambat untuk diburu oleh kekuasaan mana pun, namun yang,
di sepanjang generasi, akan mengubah cara seluruh tanah ini mengingat dirinya
sendiri.
Dan Wreda memahami, memikirkan ini di lembah tinggi di antara para
pengingat dari banyak bangsa, bahwa inilah barangkali mengapa kerikil telah
memanggil mereka untuk berkumpul di zaman ini, bukan untuk membentuk tentara,
bukan untuk membuat deklarasi, melainkan untuk menemukan, bersama, cara yang
lebih sabar dan lebih dalam untuk menyembuhkan tanah yang terpecah: bukan
dengan menyatukan bangsa-bangsa dari atas, melainkan dengan menanam ingatan
dari bawah, satu mimpi, satu kisah, satu bisikan pada satu waktu. Dan jauh di
bawahnya, di bawah lembah tinggi dan bangsa-bangsa yang terbagi dan akhirnya
laut, di kedalaman tempat seorang ratu menunggu, air bergerak, membawa, dari
yang tenggelam menuju yang menunggu, melalui rantai yang kini berkumpul dan
mulai memahami dirinya sendiri, bisikannya yang sabar. Dan bisik air, yang
telah menjadi panggilan dan peta dan ketabahan, kini menjadi sesuatu yang baru
lagi: sebuah rencana. Sebuah cara. Sebab para pengingat, setelah ribuan tahun
mengingat dalam diam, telah mulai bertanya bukan hanya bagaimana mengingat,
melainkan untuk apa, dan dalam pertanyaan itu, di sebuah lembah tinggi di
antara batas-batas, benih dari penyembuhan tanah yang terpecah mulai, sangat
pelan, untuk tumbuh.
❖
BAB LIMA
Benih dalam Sebuah Kisah
Sebuah kebenaran yang diteriakkan akan
diburu dan dibunuh. Tapi sebuah kebenaran yang disembunyikan di dalam sebuah
kisah, sebuah lagu, sebuah ritus yang tampak tak berbahaya, kebenaran itu bisa
berjalan masuk ke jantung sebuah bangsa lewat pintu depan, disambut, dicintai,
diwariskan, sampai suatu hari bangsa itu menyadari ia telah selalu
mempercayainya.
dari ajaran para pengingat, tentang
menanam
Akhirnya Wreda
mengucapkan jalan ketiganya dengan keras, di lembah tinggi, di hadapan para
pengingat yang berkumpul, dan ia mengucapkannya dengan ketakutan seseorang yang
masih muda berbicara di hadapan yang lebih tua, tapi juga dengan keteguhan
seseorang yang tahu ia benar.
Ia menjelaskan apa yang telah ia rasakan: bahwa perdebatan antara
bersembunyi dan berbicara adalah perdebatan yang salah, bahwa ada jalan ketiga
yang bukan keduanya. Tidak mengumumkan kebenaran dengan keras, yang akan
membuat mereka diburu. Tidak menyembunyikannya selamanya, yang akan membuatnya
tak berguna. Melainkan menanamnya, di dalam kisah-kisah yang diceritakan kepada
anak-anak, di dalam lagu-lagu yang dinyanyikan di perayaan, di dalam
ritus-ritus yang tampak hanya adat tapi yang membawa, terselubung di dalamnya,
ingatan tentang banjir dan daratan yang tenggelam dan kesatuan yang lama.
Menanam benih, di tiap bangsa, yang akan tumbuh begitu pelan sehingga tak ada
kekuasaan yang akan merasakannya sebagai ancaman, sampai suatu hari, setelah
cukup banyak generasi, semua bangsa akan menemukan bahwa mereka berbagi
kisah-kisah yang sama, dan akan mulai bertanya mengapa.
Sebagian para pengingat mendengarkan dengan mata yang menyala, mengenali
dalam kata-kata Wreda sesuatu yang telah mereka rindukan tanpa bisa menamainya.
Tapi yang lain, terutama yang lebih tua, yang telah lama menjaga rantai melalui
kehati-hatian, mendengarkan dengan kecurigaan, dan kemudian dengan penolakan.
“Kau berbicara tentang mengubah kisah-kisah bangsa, ” kata salah satu dari
mereka, seorang lelaki tua yang telah membawa kerikilnya lebih lama daripada
Wreda hidup. “Kau berbicara tentang menyelundupkan ingatan kita ke dalam
adat-adat orang lain. Itu bukan menjaga rantai. Itu menyebarkannya,
mengencerkannya, membiarkannya bercampur dengan kisah-kisah yang bukan milik
kita sampai tak ada yang tahu lagi mana yang ingatan sejati dan mana yang
dongeng. Kau akan kehilangan kebenaran dengan mencoba menyebarkannya.”
❖
Perdebatan yang
mengikuti adalah perdebatan terdalam yang pernah dihadapi para pengingat, dan
ia menyentuh sesuatu yang lebih tua daripada pertanyaan tentang bersembunyi
atau berbicara: ia menyentuh pertanyaan tentang apa, sesungguhnya, yang harus
mereka jaga.
Lelaki tua itu membawa kebenaran yang tak bisa diabaikan Wreda. Sebab
selama ribuan tahun, para pengingat telah menjaga ingatan dengan menjaganya
murni, meneruskannya dari pengingat ke pengingat dengan kehati-hatian yang
besar, memastikan bahwa apa yang diwariskan adalah persis apa yang diterima,
supaya kebenaran tentang dunia yang tenggelam tidak terdistorsi sepanjang
ribuan tahun. Dan ada kebijaksanaan dalam itu, kebijaksanaan yang telah membuat
rantai bertahan: bahwa ingatan yang dijaga murni adalah ingatan yang bisa
dipercaya, sementara ingatan yang dibiarkan bercampur dengan kisah-kisah lain
akan, sepanjang generasi, berubah menjadi sesuatu yang lain, sampai kebenaran
asli hilang di bawah lapisan-lapisan dongeng.
“Bila kau menanam ingatan kita ke dalam kisah-kisah bangsa, ” kata lelaki
tua itu, “kau tak bisa mengendalikan bagaimana ia tumbuh. Bangsa akan
mengambilnya, dan mengubahnya, dan mencampurnya dengan kisah-kisah mereka
sendiri, sampai daratan yang tenggelam menjadi negeri dewa, dan Nyai Sela
menjadi seorang ratu peri, dan banjir menjadi hukuman dari langit untuk dosa
yang tak pernah terjadi. Kebenaran yang kita jaga akan menjadi dongeng. Dan
dongeng tak menyelamatkan siapa pun. Dongeng tak membebaskan ratu yang menunggu
di laut. Hanya kebenaran yang bisa, kebenaran yang dijaga murni, kebenaran yang
masih tahu dirinya sebagai kebenaran.”
❖
Dan Wreda,
mendengar ini, merasakan bobot dari kebenaran lelaki tua itu, dan untuk
beberapa saat ia ragu. Tapi kemudian ia menemukan jawabannya, dan jawabannya
datang dari sesuatu yang telah ia pelajari di seluruh perjalanannya.
“Kau benar bahwa kisah akan mengubah ingatan kita, ” katanya. “Bila kita
menanamnya di seluruh bangsa, daratan yang tenggelam mungkin menjadi negeri
dewa, dan Nyai Sela mungkin menjadi ratu peri, dan banjir mungkin menjadi
hukuman langit. Aku tak menyangkalnya. Tapi tanyakan dirimu ini: mana yang
lebih mungkin bertahan ribuan tahun, sebuah kebenaran murni yang dibawa oleh
segelintir pengingat yang diburu oleh tiap kerajaan, yang bisa putus dengan
satu kematian yang salah, satu pembantaian, satu zaman gelap? Atau sebuah
kebenaran yang telah menyebar ke dalam kisah-kisah ratusan bangsa, yang
dicintai dan diwariskan oleh jutaan orang yang bahkan tak tahu mereka
membawanya, yang terlalu tersebar untuk diburu dan terlalu dicintai untuk
dilupakan? Ya, kisah akan mengubah kebenaran kita. Tapi kisah juga akan
menyelamatkannya. Sebuah negeri dewa di bawah laut, sebuah ratu peri di pantai
selatan, sebuah banjir besar dalam ingatan tiap bangsa, ini bukan kebenaran
kita yang hilang. Ini adalah kebenaran kita yang bertahan, terselubung, menunggu
seseorang yang cukup tahu untuk mengupas selubungnya dan menemukan, di bawah
dongeng, ingatan yang sesungguhnya.”
“Dan suatu hari, ” lanjutnya, dan kini suaranya membawa sesuatu yang
membuat bahkan lelaki tua itu terdiam, “suatu hari akan datang seseorang,
mungkin seorang pengingat, mungkin seseorang yang lain, seseorang dengan
alat-alat yang bahkan tak bisa kita bayangkan, yang akan memandang semua kisah
ini, di semua bangsa, dan memperhatikan bahwa mereka semua mengandung gema yang
sama: sebuah banjir, sebuah dunia yang tenggelam, sesuatu yang hilang di bawah
laut. Dan orang itu akan bertanya mengapa. Mengapa ratusan bangsa yang tak
pernah saling bicara semua mengingat banjir yang sama? Dan dalam bertanya,
mereka akan mulai menemukan kebenaran yang kita tanam, bukan karena kita
meneriakkannya, melainkan karena kita menyembunyikannya begitu dalam, di begitu
banyak tempat, sehingga ia menjadi mustahil untuk diabaikan.”
❖
Lembah tetap
terbagi atas pertanyaan itu; perdebatan seperti itu tak diselesaikan dalam satu
malam, atau bahkan satu generasi. Tapi Wreda tidak menunggu lembah untuk
setuju. Ia mulai, sendirian, melakukan apa yang ia yakini.
Ia turun dari lembah tinggi, kembali ke bangsa-bangsa, dan ia mulai
menanam. Tapi ia tidak menanam dengan berbicara tentang kebenaran; ia menanam
dengan bercerita. Di sebuah kampung di sebuah bangsa, ia duduk di antara
anak-anak di malam hari, dan ia menceritakan sebuah kisah, bukan kisah tentang
Nyai Sela dan tujuh kerikil, yang akan terlalu telanjang, terlalu berbahaya,
melainkan sebuah kisah yang membawa kebenaran terselubung di dalamnya: sebuah
kisah tentang seorang putri yang tinggal di dasar laut selatan, yang dulu
adalah manusia, yang kehilangan dunianya pada air dan kini menunggu, di
kedalaman, untuk seseorang yang akan mengingatnya. Ia membuat kisah itu indah,
dan menakutkan, dan tak terlupakan, sebagaimana kisah yang baik harus, dan ia
memberinya bentuk yang akan disukai oleh bangsa ini, dengan dewa-dewa yang
mereka kenal dan tempat-tempat yang mereka cintai.
Dan anak-anak mendengarkan dengan mata lebar, dan mereka membawa pulang
kisah itu, dan menceritakannya kepada anak-anak mereka sendiri kelak, dan kisah
tentang putri di laut selatan mulai berakar di bangsa itu, tumbuh, berubah,
bercampur dengan kisah-kisah lain, tapi membawa, di intinya, terselubung di
bawah keindahan dan ketakutan, benih dari kebenaran yang sesungguhnya: bahwa
ada sesuatu di dasar laut selatan, sesuatu yang dulu manusia, sesuatu yang
menunggu untuk diingat. Wreda telah menanam benih pertamanya. Dan ia tahu,
meninggalkan kampung itu, bahwa ia akan tumbuh, bahwa ratusan tahun dari
sekarang, bangsa ini, dan bangsa-bangsa di sekitarnya yang akan mendengar kisah
itu dan membuatnya milik mereka sendiri, akan semua mengingat seorang ratu di
laut selatan, tanpa tahu mengapa, tanpa tahu bahwa mereka membawa, di dalam
dongeng yang mereka cintai, benih dari kebenaran yang ditanam oleh seorang
perempuan muda yang telah lama mati.
❖
Wreda berjalan
dari kampung itu di bawah langit malam, dan ia merasakan, untuk pertama kalinya
sejak ia meninggalkan rumah, bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar-benar
penting, bukan menemukan pengingat, bukan melarikan diri dari kekuasaan,
melainkan menanam, di tanah hidup sebuah bangsa, sebuah benih yang akan tumbuh
lama setelah ia tiada.
Ia memikirkan lelaki tua di lembah, dan ketakutannya bahwa kebenaran akan
hilang di bawah dongeng. Dan ia mengakui, kepada dirinya sendiri, di bawah
langit malam, bahwa lelaki tua itu mungkin benar, bahwa kisah tentang putri di
laut selatan akan, sepanjang generasi, menjadi semakin jauh dari kebenaran
tentang Awu Sela yang memilih untuk menghalus daripada kehilangan. Akan ada
penambahan, perubahan, hiasan. Ratu di laut selatan akan menjadi makhluk
legenda, ditakuti dan dipuja, dengan istana di dasar laut dan kekuatan atas
badai dan kebiasaan mengambil mereka yang berjalan terlalu dekat ke air.
Kebenaran yang menyedihkan dan manusiawi, seorang perempuan yang begitu takut
kehilangan sehingga ia memilih untuk tidak hidup, akan terkubur di bawah
keagungan legenda.
Tapi ia akan bertahan. Itulah yang dipegang Wreda, berjalan di bawah
langit malam. Terkubur, terselubung, diubah, tapi bertahan. Dan suatu hari
seseorang akan menggali di bawah legenda, dan menemukan kebenaran, dan
mengingat Awu Sela bukan sebagai ratu peri melainkan sebagai apa yang
sesungguhnya ia adanya: seorang perempuan, seorang saudari, seseorang yang
tersesat, seseorang yang menunggu. Dan jauh di selatan, di dasar laut tempat
ratu itu menunggu, sesuatu bergerak pada malam itu, bukan ratu, yang terlalu
beku untuk bergerak, melainkan air di sekelilingnya, air yang membawa, untuk
pertama kalinya, gema dari sebuah kisah yang baru saja mulai diceritakan di
permukaan, sebuah kisah tentang dirinya. Dan bisik air, yang telah menjadi
panggilan dan peta dan rencana, kini membawa sesuatu yang akan tumbuh menjadi
salah satu kekuatan terbesar di tanah ini: sebuah legenda, ditanam oleh seorang
pengingat, yang akan menyebar ke tiap bangsa, dan tumbuh sepanjang ribuan
tahun, dan menjaga ingatan tentang ratu di laut selatan hidup di hati jutaan
orang yang tak akan pernah tahu namanya yang sesungguhnya, sampai hari ketika
seseorang, akhirnya, akan mengingatnya, dan datang.
❖
BAB ENAM
Kisah yang Tumbuh Liar
Tanam sebuah benih, dan kau memberinya
kepada tanah. Sesudah itu ia bukan lagi milikmu. Ia akan tumbuh menjadi bentuk
yang tak kaurencanakan, berbuah hal-hal yang tak kauduga, dan kadang ia akan
tumbuh menjadi sesuatu yang kau tak akan pernah tanam bila kau tahu. Inilah
harga dari menanam: kau menyelamatkan benih dengan melepaskan kendali atasnya.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
tak terkendali
Bertahun-tahun
setelah Wreda menanam kisah pertamanya tentang putri di laut selatan, ia
kembali ke wilayah itu, lebih tua sekarang, dengan rambut yang mulai memutih,
setelah menanam benih-benih serupa di banyak bangsa lain, dan ia menemukan
bahwa kisahnya telah tumbuh menjadi sesuatu yang tak ia kenali.
Ia mendengarnya pertama dari mulut seorang anak di sebuah pasar, seorang
anak yang tak tahu siapa Wreda dan tak akan pernah tahu bahwa perempuan tua
yang lewat adalah orang yang menanam kisah yang kini ia ceritakan kepada
temannya. Tapi itu adalah kisahnya, ia mengenalinya, di intinya, di bawah semua
yang telah ditambahkan. Putri di laut selatan masih ada di sana. Tapi di
sekelilingnya kini telah tumbuh hutan dari hal-hal yang tak pernah ditanam
Wreda: bahwa sang putri memerintah seluruh laut selatan dengan tangan besi,
bahwa ia mengirim ombak untuk menyeret mereka yang berani mandi di pantainya,
bahwa ia mengenakan warna hijau dan membenci siapa pun yang memakainya di dekat
lautnya, bahwa ia mengambil pemuda-pemuda tampan untuk menjadi pelayannya di
istana bawah lautnya yang megah. Sang putri yang menyedihkan dan menunggu yang
ditanam Wreda telah menjadi seorang ratu yang perkasa dan menakutkan, dipuja
dan ditakuti, dengan kekuasaan dan kehendak dan amarah.
Dan Wreda berdiri di pasar itu, mendengarkan kisahnya sendiri
dikembalikan kepadanya dalam bentuk yang tak ia kenali, dan ia merasakan dua
hal sekaligus, bertentangan dan keduanya benar. Yang pertama adalah kesedihan:
bahwa kebenaran yang ia tanam, seorang perempuan yang tersesat, yang menunggu
untuk diingat, telah terkubur di bawah keagungan legenda, persis sebagaimana
lelaki tua di lembah memperingatkan. Yang kedua adalah sesuatu yang dekat
dengan kegembiraan: bahwa kisahnya hidup. Bahwa ia telah tumbuh begitu kuat,
begitu dicintai, begitu mengakar, sehingga ia kini diceritakan oleh anak-anak
yang tak pernah ia temui, di pasar-pasar yang tak pernah ia kunjungi, dalam
bentuk yang telah menjadi milik bangsa ini sepenuhnya. Ia telah melepaskan
benihnya ke tanah, dan tanah telah menumbuhkannya menjadi sesuatu yang liar dan
kuat dan hidup.
❖
Tapi ada
konsekuensi dari pertumbuhan liar ini yang tak diramalkan Wreda, dan ia
menghadapinya di kampung-kampung di sepanjang pantai selatan: bahwa legenda
yang ia tanam telah memperoleh kekuasaan nyata atas kehidupan orang.
Orang-orang kini takut pada laut selatan dengan cara yang baru. Mereka
tak lagi memandangnya hanya sebagai laut yang berbahaya, semua laut berbahaya,
melainkan sebagai wilayah seorang ratu yang berkehendak, yang bisa tersinggung,
yang harus ditenangkan. Mereka memberi persembahan ke laut. Mereka melarang
warna-warna tertentu di pantai. Mereka menceritakan kepada anak-anak mereka
kisah-kisah tentang orang-orang yang diambil ratu, dan anak-anak itu tumbuh
dengan ketakutan yang nyata pada sesuatu yang Wreda tahu, lebih baik daripada
siapa pun, sebenarnya bukanlah monster melainkan korban. Dan kadang, ini adalah
hal yang paling mengganggu Wreda, legenda itu digunakan oleh yang berkuasa.
Seorang kepala kampung bisa berkata bahwa ratu laut menghendaki ini atau itu,
dan orang akan menurut, sebab siapa yang berani menentang kehendak ratu laut
selatan?
Wreda telah menanam kebenaran untuk menyembuhkan, dan menemukan bahwa
kebenaran yang ditanam, sekali ia tumbuh liar, bisa digunakan untuk hal-hal
yang tak pernah ia maksudkan, untuk menakuti, untuk mengendalikan, untuk
memberi kekuasaan kepada mereka yang mengaku berbicara atas nama ratu. Ia telah
berharap menanam ingatan tentang kesatuan; ia telah, dalam beberapa hal, juga
menanam sebuah alat baru bagi ketakutan dan kekuasaan. Dan ia harus menghadapi
pertanyaan yang mengganggu yang dibawa oleh ini: apakah ia telah melakukan
kebaikan atau keburukan? Apakah menanam kebenaran di dalam legenda, mengetahui
legenda akan tumbuh liar dan bisa disalahgunakan, adalah kebijaksanaan atau
kesombongan?
❖
Wreda membawa
keraguan ini, berat di dalamnya, sampai ia bertemu seorang pengingat lain di
sepanjang pantai, seorang perempuan muda, jauh lebih muda dari Wreda sekarang,
yang membawa kerikil dan ingatan dan, Wreda segera melihat, sebuah kepercayaan
yang belum diretakkan oleh keraguan.
Wreda menceritakan kepadanya keraguannya: bahwa ia telah menanam legenda
untuk menyembuhkan dan menemukan bahwa ia juga menakuti, bahwa ia telah
berharap menyebarkan ingatan tentang kesatuan dan menemukan bahwa ia juga telah
menyebarkan alat baru bagi kekuasaan. Dan perempuan muda itu mendengarkan, dan
kemudian berkata sesuatu yang akan tinggal bersama Wreda untuk sisa hidupnya.
“Kau memandang legenda seolah-olah ia telah selesai tumbuh, ” katanya.
“Tapi ia baru saja mulai. Kau menanamnya beberapa puluh tahun yang lalu. Apa
yang kau lihat sekarang, ratu yang menakutkan, persembahan, ketakutan, ini
bukan bentuk akhir dari kisahmu. Ini hanya bentuknya sekarang, di zaman ini, di
mana orang takut dan yang berkuasa mengeksploitasi ketakutan. Tapi legenda akan
terus tumbuh, ribuan tahun lagi, melalui zaman-zaman yang tak bisa kita
bayangkan. Dan di sepanjang pertumbuhan itu, ia akan berubah lagi, dan lagi. Di
satu zaman ia akan menakutkan. Di zaman lain, mungkin, ia akan menjadi indah,
menyedihkan, dicintai. Kau tak bisa menilai sebuah benih dari bentuknya di satu
musim. Kau menanam sesuatu yang akan tumbuh sepanjang ribuan tahun. Percayalah
pada keseluruhan pertumbuhan, bukan pada satu bentuknya yang kaulihat
sekarang.”
“Tapi bagaimana bila ia tumbuh menjadi sesuatu yang jahat?” tanya Wreda.
“Bagaimana bila ketakutan menang, dan legenda menjadi hanya alat untuk
mengendalikan?”
“Maka pengingat di zaman itu akan menanam benih baru untuk
memperbaikinya, ” kata perempuan muda itu, dengan kesederhanaan yang membuat
Wreda malu pada keraguannya sendiri. “Itulah mengapa rantai tak boleh putus.
Bukan supaya satu pengingat bisa menanam kebenaran sempurna yang akan tumbuh
sempurna selamanya, itu mustahil, tak ada yang tumbuh sempurna. Melainkan
supaya selalu ada pengingat, di tiap zaman, untuk merawat kebun yang tumbuh
liar, untuk menanam benih baru ketika yang lama tumbuh salah, untuk menjaga
kebenaran hidup melalui semua bentuk yang akan diambilnya. Kau bukan tukang
kebun yang menanam sekali dan pergi. Kau adalah satu tukang kebun dalam rantai
panjang tukang kebun, masing-masing merawat kebun yang sama melalui zaman
mereka sendiri.”
❖
Dan Wreda,
mendengar ini dari seseorang yang cukup muda untuk menjadi cucunya, menemukan
kedamaian yang telah lama luput darinya, kedamaian dengan ketidaksempurnaan
dari apa yang ia lakukan.
Sebab ia telah membawa, tanpa menyadarinya, sebuah harapan yang mustahil:
bahwa ia bisa menanam kebenaran dengan begitu sempurna sehingga ia akan tumbuh
hanya menjadi kebaikan, hanya menjadi penyembuhan, tak pernah disalahgunakan,
tak pernah berubah menjadi ketakutan. Tapi itu adalah harapan dari seseorang
yang ingin mengendalikan apa yang ia lepaskan, dan kebenaran yang lebih dalam,
kebenaran yang baru saja diajarkan oleh seorang pengingat muda kepadanya,
adalah bahwa menanam berarti melepaskan kendali, dan melepaskan kendali berarti
menerima bahwa apa yang kau tanam akan tumbuh menjadi baik dan buruk, menjadi
penyembuhan dan ketakutan, menjadi seribu bentuk yang tak bisa kau ramalkan,
dan bahwa tugasmu bukanlah mengendalikan pertumbuhan itu melainkan mempercayainya,
dan merawatnya, dan mewariskan kepada generasi berikutnya tugas untuk terus
merawatnya.
Dan ia memahami, akhirnya, sesuatu tentang seluruh saga yang ia adalah
bagiannya, tentang Nyai Sela yang menelan kerikil tanpa tahu apa yang akan
tumbuh dari sumpahnya, tentang Rangin yang membangun di tanah tinggi tanpa tahu
menjadi apa ia akan tumbuh, tentang tiap pengingat dalam rantai panjang yang
telah menanam sesuatu dan melepaskannya ke waktu. Mereka semua telah melakukan
apa yang kini Wreda lakukan: menanam tanpa mengendalikan, mempercayai
keseluruhan yang tak bisa mereka lihat, melepaskan benih ke tanah waktu dengan
iman bahwa, melalui semua bentuk liar yang akan diambilnya, sesuatu yang sejati
akan bertahan. Itulah, ia memahami akhirnya, apa artinya menjadi seorang
pengingat: bukan menjaga kebenaran tetap beku dan sempurna, melainkan
melepaskannya ke dalam kehidupan, ke dalam pertumbuhan, ke dalam perubahan, dan
mempercayai bahwa ia akan menemukan jalannya, melalui ribuan tahun dan ribuan
bentuk, menuju hari ketika ia akhirnya akan dibutuhkan.
❖
Wreda
menghabiskan sisa hidupnya menanam, dan ia mati sebagai seorang perempuan tua
yang telah menyebarkan, di seluruh bangsa-bangsa di tanah ini, benih-benih dari
sebuah kebenaran yang terselubung dalam legenda, dan yang terbesar dari semua
benihnya adalah kisah tentang ratu di laut selatan.
Sebab kisah itu, yang ia tanam pertama dan rawat paling lama, menyebar
lebih jauh daripada semua yang lain. Ia berjalan dari bangsa ke bangsa, dari
lidah ke lidah, melintasi batas-batas yang tak bisa diseberangi oleh tentara
mana pun, sebab sebuah kisah yang indah tak membutuhkan paspor dan tak mengenal
perbatasan. Dan di tiap bangsa yang menerimanya, ia berubah, dan tumbuh, dan bercampur
dengan kisah-kisah setempat, sampai seluruh pantai selatan tanah ini, yang
dihuni oleh puluhan bangsa yang tak saling bicara, semua berbagi, tanpa
mengetahuinya, satu legenda: seorang ratu di laut selatan, yang dulu manusia,
yang menunggu di kedalaman. Bangsa-bangsa yang akan saling berperang atas
segala hal lain akan berbagi ratu ini, akan mengingatnya bersama, akan diikat
oleh dia melintasi semua perbedaan mereka, persis sebagaimana Wreda harapkan,
walau dalam bentuk yang tak pernah ia ramalkan.
Dan jauh di selatan, di dasar laut tempat ratu yang sesungguhnya
menunggu, bukan ratu legenda yang perkasa dan menakutkan, melainkan Awu Sela
yang menyedihkan dan beku dan menunggu, sesuatu berubah, sangat pelan,
sepanjang generasi-generasi ketika legenda menyebar di atasnya. Sebab kini,
untuk pertama kalinya sejak ia turun ke laut, ada jutaan orang di permukaan
yang mengingatnya. Mereka mengingatnya salah, mereka mengira ia perkasa ketika
ia tak berdaya, mereka mengira ia jahat ketika ia hanya tersesat, mereka takut
padanya ketika mereka seharusnya mengasihaninya. Tapi mereka mengingatnya. Dan
ingatan, bahkan ingatan yang salah, adalah lebih daripada kelupaan; ia adalah
benang yang menghubungkan, betapapun tipis, betapapun terdistorsi, yang
menunggu menuju yang mengingat. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan
peta dan rencana dan legenda, kini membawa sesuatu yang baru: ia membawa, ke
ratu yang menunggu di kedalaman, gema samar dari namanya sendiri, bukan nama
yang sesungguhnya, yang telah lama hilang, melainkan nama legenda, nama yang
diberikan jutaan orang kepada sesuatu yang mereka ingat tanpa mengerti, ratu
laut selatan, ratu yang menunggu, ratu yang suatu hari, ketika seseorang
akhirnya mengingat dengan benar, akan dibebaskan.
❖
BAGIAN III
Kekuasaan dan Reruntuhan
BAB TUJUH
Raja yang Menikahi Legenda
Sebuah legenda yang cukup kuat berhenti
menjadi milik rakyat dan mulai diinginkan oleh raja-raja. Sebab kekuasaan
selalu mencari untuk mengikat dirinya pada apa yang dicintai rakyat, dan tak
ada yang lebih dicintai, dan lebih ditakuti, daripada ratu di laut selatan.
dari ajaran para pengingat, di zaman
kerajaan besar
Banyak generasi
setelah Wreda mati, tanah ini telah memasuki zaman yang berbeda dari semua yang
datang sebelumnya: zaman kerajaan-kerajaan besar, yang membentang bukan atas
beberapa lembah melainkan atas seluruh wilayah, yang punya nama yang dikenal
jauh melampaui perbatasan mereka, yang menulis sejarah mereka dalam aksara yang
telah matang menjadi sesuatu yang indah dan rumit.
Ini adalah zaman yang akan ditemukan kembali, jauh kelak, oleh mereka
yang menggali masa lalu, zaman dari mana prasasti-prasasti besar akan bertahan,
dari mana nama-nama raja akan diingat, dari mana bentuk dari apa yang tanah ini
akan menjadi mulai mengkristal. Bagi para pengingat, yang membawa ingatan yang
jauh lebih tua daripada kerajaan mana pun, zaman ini membawa bahaya baru dan
kesempatan baru. Bahaya, sebab kerajaan besar memiliki kekuasaan yang jauh
melampaui kerajaan kecil yang dari mana Wreda pernah melarikan diri, mereka
punya tentara yang lebih besar, pendeta yang lebih terorganisir, dan kemampuan
yang lebih besar untuk mengukir versi mereka sendiri tentang sejarah ke dalam
batu dan membuat orang mempercayainya. Tapi juga kesempatan, sebab kerajaan
besar menarik orang dari banyak bangsa, mencampur lidah dan adat dan ingatan
dengan cara yang belum pernah terjadi sejak lidah-lidah berpisah, dan di dalam
pencampuran itu, benih-benih yang ditanam para pengingat menemukan tanah baru
untuk tumbuh.
Dan yang terkuat dari semua benih itu, legenda yang ditanam Wreda dan
dirawat oleh para pengingat sesudahnya sepanjang banyak generasi, telah tumbuh
menjadi sesuatu yang tak bisa lagi diabaikan oleh kekuasaan mana pun: ratu di
laut selatan kini dikenal di seluruh tanah, ditakuti dan dipuja oleh rakyat
dari setiap bangsa, sebuah kekuatan dalam imajinasi orang yang lebih besar
daripada raja mana pun. Dan kekuasaan, sebagaimana selalu, mulai
menginginkannya.
❖
Pengingat di
zaman ini bukanlah seorang pengembara di celah-celah dunia, sebagaimana Wreda.
Ia adalah seseorang yang hidup di jantung kekuasaan: seorang perempuan muda
bernama Larasati, yang melayani di istana raja terbesar di tanah ini, sebagai
juru kisah.
Itu adalah posisi yang aneh bagi seorang pengingat, dan berbahaya, tapi
juga, Larasati telah menyadari, penuh kemungkinan. Sebab tugasnya adalah
menceritakan kisah kepada keluarga raja, untuk menghibur dan untuk mengajar dan
untuk memuliakan garis raja. Dan dalam tugas itu, ia membawa, terselubung, apa
yang ia adanya: seorang pengingat, pembawa kerikil, pembawa ingatan tentang
dunia yang tenggelam dan sumpah Nyai Sela dan kebenaran tentang ratu di laut
selatan. Ia menceritakan kisah-kisah yang diinginkan raja, kisah-kisah yang
memuliakan garisnya. Tapi ia menenun ke dalamnya, dengan kehalusan yang telah
ia warisi dari rantai panjang pengingat sebelum dia, benih-benih dari kebenaran
yang lebih tua, sehingga bahkan ketika ia memuliakan raja, ia menanam, di jantung
kekuasaan, ingatan yang suatu hari bisa meretakkan kekuasaan itu.
Larasati membawa kerikil yang kuat, walau tidak sekuat yang dibawa Wreda
generasi-generasi yang lalu, sebab kerikil terkuat, kerikil Wreda, telah tidur
lagi setelah kematiannya, menunggu untuk bangun di seseorang di zaman yang
belum datang. Tapi Larasati membawa cukup: ia bermimpi tentang daratan yang
tenggelam, ia mengenali pengingat lain, ia merasakan kebenaran di bawah dusta
yang diukir di batu raja. Dan ia membawa, lebih daripada itu, sebuah pemahaman
tentang posisinya yang berbahaya: bahwa ia berada lebih dekat ke kekuasaan
daripada pengingat mana pun sebelumnya, dan bahwa kedekatan itu adalah baik
pedang maupun perisai.
❖
Dan kemudian
raja, yang Larasati layani, mengumumkan sesuatu yang mengguncang istana dan
yang akan menempatkan Larasati di pusat dari bahaya yang ia tak pernah
bayangkan: ia menyatakan bahwa garisnya menikahi ratu di laut selatan.
Bukan secara harfiah, tentu, atau setidaknya, tidak hanya secara harfiah.
Apa yang raja maksudkan, dan apa yang ia perintahkan para juru kisah dan
pendeta untuk mengukir di batu dan menyebarkan ke seluruh kerajaan, adalah
bahwa garis rajanya telah, sejak pendirinya, terikat dalam pernikahan suci
dengan ratu laut selatan, bahwa ratu itu adalah pelindung gaib dari garisnya,
permaisuri dari dunia bawah laut yang memberikan kepada raja-raja garis ini hak
ilahi untuk memerintah. Dengan satu pernyataan, raja mengambil legenda yang
paling dicintai dan paling ditakuti di seluruh tanah, dan mengikatnya pada
kekuasaannya sendiri, sehingga mencintai ratu laut menjadi sama dengan
menghormati raja, dan menentang raja menjadi sama dengan menentang ratu laut.
Larasati memahami, dengan kengerian yang dingin, betapa cerdas dan betapa
berbahaya langkah ini. Sebab legenda ratu laut adalah benih yang ditanam para
pengingat, benih yang membawa, di bawah selubungnya, kebenaran tentang Awu Sela
dan dunia yang tenggelam dan kesatuan semua bangsa. Dan kini raja sedang
mengambil benih itu, dan mencangkokkannya pada pohon kekuasaannya sendiri,
mengubahnya dari sesuatu yang dimiliki semua rakyat secara setara menjadi
sesuatu yang dimiliki secara khusus oleh garis raja. Bila ia berhasil, legenda
yang ditanam untuk menyatukan semua bangsa akan menjadi alat untuk meninggikan
satu garis di atas yang lain. Kebenaran yang Wreda tanam akan dibajak oleh
kekuasaan, diputarbalikkan untuk melayani persis hal yang dirancang untuk dilawannya.
❖
Larasati
menghadapi dilema yang lebih dalam daripada yang pernah dihadapi pengingat mana
pun, sebab ia tak bisa melawan raja secara terbuka, itu akan berarti kematian,
dan putusnya benang rantai di istana ini, tapi ia juga tak bisa membiarkan
legenda dibajak tanpa perlawanan.
Maka ia melakukan apa yang telah diajarkan oleh rantai panjang pengingat
sebelum dia: ia melawan dengan kehalusan, dari dalam, melalui kisah. Ketika
raja memerintahkannya untuk menceritakan kisah pernikahan suci antara garis
raja dan ratu laut, ia menceritakannya, ia tak bisa menolak, tapi ia
menceritakannya dengan cara yang menanam, di bawah pemuliaan raja, sebuah
kebenaran yang lebih tua dan lebih berbahaya. Ia menceritakan tentang ratu
laut, ya, dan tentang kekuasaannya, dan tentang ikatannya dengan garis raja.
Tapi ia menenun ke dalam kisah itu hal-hal yang raja tak perhatikan tapi yang
rakyat yang mendengarnya akan bawa pulang: bahwa ratu laut dulu adalah manusia,
sebelum ia menjadi ratu. Bahwa ia kehilangan dunianya pada air, sebagaimana
semua orang kehilangan. Bahwa ia menunggu, di kedalaman, bukan untuk melayani
satu garis raja, melainkan untuk diingat oleh siapa pun yang membawa darah dari
dunia yang tenggelam, yang berarti, walau Larasati tak mengucapkannya, semua
orang, raja dan budak sama saja.
Sebab inilah kebijaksanaan yang telah diwarisi Larasati: bahwa kau tak
bisa selalu menghentikan kekuasaan dari mengambil apa yang dicintai rakyat.
Tapi kau bisa, bila kau cukup halus, menanam di dalam apa yang diambil
kekuasaan sebuah kebenaran yang pada akhirnya akan melawan kekuasaan itu
sendiri. Raja mengira ia mengikat ratu laut pada garisnya. Tapi Larasati,
menceritakan kisah raja sendiri, menanam di dalamnya sebuah ingatan yang
berkata: ratu laut bukan milik garis mana pun. Ia milik semua yang mengingat.
Dan suatu hari, ketika garis raja ini telah lama jatuh, sebab semua garis raja
jatuh, ingatan itu akan masih ada, menunggu, di bawah reruntuhan kekuasaan yang
mengira ia bisa memilikinya.
❖
Larasati
melayani di istana itu sepanjang sisa hidupnya, menceritakan kisah-kisah raja
sambil menanam di bawahnya kebenaran yang lebih tua, dan ia mati tanpa pernah
melihat apakah apa yang ia tanam akan tumbuh sebagaimana ia harapkan.
Tapi ia mati dengan kepercayaan yang telah diwarisi dari rantai panjang
pengingat: kepercayaan pada permainan yang panjang, pada benih yang ditanam
untuk generasi yang belum lahir, pada kebenaran yang bersabar lebih lama
daripada kekuasaan mana pun. Sebab ia tahu sesuatu yang raja, dengan segala
kekuasaannya, tak bisa tahu: bahwa kerajaan ini, betapapun besar, betapapun
abadi ia tampak, akan jatuh. Semua kerajaan jatuh. Itulah salah satu kebenaran
terdalam yang dibawa para pengingat, kebenaran dari kerikil ketujuh, kebenaran
tentang air yang datang lagi dan lagi: bahwa tak ada yang dibangun manusia
bertahan, bahwa tiap kemegahan adalah sementara, bahwa di balik tiap kerajaan
yang mengira dirinya abadi menunggu zaman ketika ia akan menjadi reruntuhan dan
prasasti dan nama setengah dilupakan. Dan ketika kerajaan ini jatuh,
sebagaimana ia akan, ikatan yang ditempanya antara garisnya dan ratu laut akan
jatuh bersamanya, tapi legenda ratu laut, dan kebenaran yang ditanam di
bawahnya, akan bertahan, melampaui kerajaan, sebagaimana ia telah bertahan
melampaui segala sesuatu.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang sesungguhnya menunggu, tak
peduli pada raja yang mengaku menikahinya, tak peduli pada kerajaan yang
mengaku memilikinya, tak peduli pada apa pun kecuali ingatan yang samar dan
dingin tentang sebuah janji yang dibuat oleh saudarinya sepuluh ribu tahun
lebih yang lalu. Raja-raja akan datang dan mengaku memilikinya, dan jatuh, dan
dilupakan. Tapi ia akan menunggu, melampaui mereka semua, menunggu bukan raja
melainkan pengingat, seseorang yang akan datang bukan untuk mengikatnya pada
kekuasaan melainkan untuk membebaskannya dari kesepian. Dan bisik air, yang
telah menjadi panggilan dan peta dan rencana dan legenda, kini membawa sesuatu
yang ironis dan sabar: gema dari raja-raja yang mengaku memiliki ratu laut,
suara-suara kecil dari kekuasaan yang datang dan pergi di atas air, sementara
di bawah air ratu yang sesungguhnya menunggu, tak tersentuh oleh klaim mereka,
kepada hari yang masih jauh, masih banyak Buku jauhnya, ketika seseorang yang
tak menginginkan apa pun darinya kecuali untuk mengingatnya dengan benar
akhirnya akan datang, dan ratu laut yang sesungguhnya, di bawah semua legenda
dan semua klaim raja, akhirnya akan dibebaskan.
❖
BAB DELAPAN
Reruntuhan yang Masih Bicara
Tiap kerajaan mengira ia adalah yang
terakhir, yang abadi, yang tak akan jatuh seperti yang sebelumnya. Dan tiap
kerajaan menjadi reruntuhan, dan dari reruntuhannya tumbuh kerajaan berikutnya
yang mengira hal yang sama. Hanya para pengingat yang berdiri di antara
reruntuhan dan tahu: ini telah terjadi sebelumnya. Ini akan terjadi lagi. Air
datang dalam banyak bentuk.
dari ajaran para pengingat, di antara
reruntuhan
Beberapa
generasi setelah Larasati mati menanam kebenaran di bawah kisah-kisah raja,
kerajaan besar yang ia layani jatuh, sebagaimana Larasati tahu ia akan jatuh,
sebagaimana semua kerajaan jatuh.
Ia tidak jatuh pada air, tidak pada banjir harfiah yang menenggelamkan
Nagara Rata. Ia jatuh pada hal-hal yang menjatuhkan kerajaan di zaman manusia:
pada perang saudara antara putra-putra raja yang memperebutkan takhta, pada
kelaparan ketika panen gagal beberapa tahun berturut-turut, pada kerajaan
tetangga yang melihat kelemahan dan menyerang, pada erosi pelan dari kesetiaan
ketika rakyat berhenti percaya bahwa raja-raja mereka sungguh keturunan dewa.
Tapi para pengingat, yang menyaksikan kejatuhan ini, memahaminya dengan cara
yang tak dipahami orang lain: bahwa ini adalah air dalam bentuk lain. Bahwa
banjir tidak selalu datang sebagai laut yang naik. Kadang ia datang sebagai
perang, sebagai kelaparan, sebagai erosi pelan dari segala sesuatu yang
dibangun manusia. Tapi ia selalu datang. Itulah kebenaran banjir tujuh
generasi, kebenaran yang dibawa para pengingat sejak Nyai Sela: bahwa segala
sesuatu yang dibangun akan tenggelam, dengan satu cara atau lain, dan bahwa
tugas mengingat tak pernah selesai.
Dan maka kerajaan besar, yang mengukir namanya di batu dan mengaku
menikahi ratu laut dan percaya dirinya abadi, menjadi reruntuhan. Istananya
yang megah, yang dulu berdenyut dengan kekuasaan, ditinggalkan, ditumbuhi
hutan, dilupakan. Prasasti-prasastinya, yang dulu memproklamirkan kebesaran
raja kepada seluruh tanah, retak dan terkubur dan tak terbaca. Dan rakyatnya
tersebar, atau ditaklukkan oleh kerajaan baru, atau hanya melanjutkan hidup di
bawah penguasa baru yang mengukir nama baru di batu baru dan percaya,
sebagaimana raja sebelumnya percaya, bahwa garisnya akan memerintah selamanya.
❖
Dan di antara
reruntuhan kerajaan yang jatuh berjalan seorang pengingat, seorang lelaki tua
bernama Tunggul, yang telah hidup cukup lama untuk melihat kerajaan itu pada
puncak kejayaannya dan kini melihatnya sebagai reruntuhan, dan yang membawa di
dalam dirinya pengetahuan tentang apa yang berdiri di sini sebelumnya.
Ia berjalan melalui istana yang ditinggalkan, melalui aula-aula tempat
raja pernah duduk, melalui halaman-halaman tempat Larasati generasi-generasi
yang lalu pernah menceritakan kisah-kisahnya, dan ia merasakan apa yang selalu
dirasakan para pengingat di antara reruntuhan: kesedihan, tapi bukan
keterkejutan. Sebab ia telah tahu, sebagaimana semua pengingat tahu, bahwa ini
akan datang. Ia telah berdiri di antara reruntuhan kerajaan-kerajaan lain,
lebih tua, yang bahkan namanya kini hilang. Ia membawa di dalam darahnya
ingatan tentang reruntuhan tertua dari semua, Nagara Rata di dasar laut,
kerajaan pertama yang mengira dirinya abadi dan menjadi dasar laut. Dan maka
berjalan di antara reruntuhan kerajaan ini, ia tidak melihat sesuatu yang baru.
Ia melihat sesuatu yang sangat tua: pola yang sama, terulang lagi, sebagaimana
ia akan terulang lagi sesudah ini.
Tapi Tunggul mencari sesuatu di antara reruntuhan, dan ia menemukannya:
prasasti-prasasti. Batu-batu yang diukir oleh kerajaan yang jatuh, yang dulu
memproklamirkan kebesaran raja dan ikatannya dengan ratu laut, kini berbaring
retak dan terkubur sebagian di antara akar-akar pohon yang telah tumbuh di atas
kemegahan yang dilupakan. Dan Tunggul, yang bisa membaca aksara lama, sebuah
keterampilan yang para pengingat jaga sepanjang generasi, sebab membaca masa
lalu adalah bagian dari mengingatnya, berlutut di antara reruntuhan dan membaca
apa yang diukir di batu, dan ia menemukan, di bawah pemuliaan raja yang kosong,
sesuatu yang membuat napasnya tertahan.
❖
Sebab di salah
satu prasasti, di bawah kisah resmi tentang pernikahan suci raja dengan ratu
laut, terukir sesuatu yang lain, sesuatu yang Tunggul mengenali dengan sentakan
sebagai karya seorang pengingat.
Ia tak tahu nama Larasati; nama itu telah hilang, sebagaimana hampir
semua nama pengingat hilang. Tapi ia mengenali tangannya, mengenali cara
seorang pengingat menenun kebenaran ke dalam kisah resmi, menanam di bawah
pemuliaan kekuasaan sebuah ingatan yang lebih tua dan lebih berbahaya. Sebab
prasasti itu, yang memproklamirkan bahwa ratu laut adalah permaisuri garis
raja, juga mengandung, terukir dengan hati-hati, terselubung dalam bahasa yang
tampak hanya hiasan puitis, kebenaran yang Larasati tanam: bahwa ratu laut dulu
adalah manusia, bahwa ia kehilangan dunianya pada air, bahwa ia menunggu untuk
diingat oleh semua yang membawa darah dari dunia yang tenggelam.
Dan Tunggul memahami, berlutut di antara reruntuhan, kebijaksanaan dari
apa yang telah dilakukan pengingat yang tak ia kenal namanya generasi-generasi
yang lalu. Raja telah memaksa pengingat itu mengukir pemuliaan kekuasaan. Dan
pengingat itu telah menurut, tapi telah menanam, di dalam pemuliaan itu, sebuah
benih kebenaran. Dan kini raja telah lama mati, dan kerajaannya telah lama
jatuh, dan pemuliaan kekuasaan yang ia paksa diukir telah menjadi kosong,
lelucon, kebohongan yang dibuktikan oleh reruntuhan di sekelilingnya. Tapi
benih kebenaran yang ditanam pengingat masih ada, masih terbaca, masih hidup,
bertahan persis sebagaimana pengingat itu harapkan ia akan: lebih lama daripada
kekuasaan yang mencoba memakainya, menunggu di antara reruntuhan untuk seorang
pengingat dari generasi mendatang yang akan datang dan membacanya dan
mengingat.
❖
Tunggul
menghabiskan banyak hari di antara reruntuhan kerajaan yang jatuh, membaca
prasasti demi prasasti, dan dari mereka ia belajar pelajaran yang akan ia
wariskan: tentang apa yang bertahan dan apa yang jatuh.
Sebab reruntuhan adalah guru, bila kau tahu cara membacanya. Dan apa yang
diajarkan reruntuhan ini kepada Tunggul adalah pola dari apa yang manusia
bangun dan apa yang waktu lakukan terhadapnya. Kemegahan jatuh. Istana-istana,
takhta-takhta, tentara-tentara, semua kekuasaan yang mengira dirinya abadi,
semua jatuh, semua menjadi reruntuhan dan akar dan kelupaan. Tapi sesuatu
bertahan, dan sesuatu yang bertahan bukanlah yang paling megah melainkan yang
paling sabar: bukan kekuasaan raja, melainkan benih kebenaran yang ditanam
pengingat di bawah kekuasaan itu. Bukan proklamasi yang diteriakkan dengan
keras, melainkan ingatan yang dibisikkan dengan pelan. Bukan apa yang dibangun
untuk bertahan, melainkan apa yang ditanam untuk tumbuh.
Dan Tunggul memahami, di antara reruntuhan, mengapa para pengingat selalu
memilih untuk menanam daripada membangun, untuk membisikkan daripada
memproklamirkan, untuk bekerja dalam diam dan kesabaran daripada dalam
kemegahan dan kekuasaan. Sebab mereka telah belajar, sepanjang ribuan tahun menyaksikan
kerajaan demi kerajaan naik dan jatuh, bahwa kemegahan adalah persis apa yang
tidak bertahan. Yang bertahan adalah yang kecil, yang tersembunyi, yang sabar,
benih, bukan istana; bisikan, bukan proklamasi; ingatan yang dibawa di dalam
darah, bukan kekuasaan yang diukir di batu. Para pengingat telah memilih, sejak
awal, untuk menjadi yang kecil dan sabar dan tersembunyi, dan dalam pilihan itu
mereka telah menjamin bahwa mereka akan bertahan lebih lama daripada semua
kemegahan yang menertawakan mereka.
❖
Sebelum Tunggul
meninggalkan reruntuhan, ia melakukan apa yang dilakukan para pengingat di tiap
zaman: ia memastikan bahwa apa yang ditemukannya tidak hilang.
Ia tak bisa membawa prasasti-prasasti itu; mereka terlalu berat, terlalu
banyak, terlalu terkubur. Tapi ia bisa membawa apa yang terukir di atasnya, ia
menyalinnya ke dalam ingatannya, kerikil mengikatnya ke dalam darahnya, dan ia
membawanya keluar dari reruntuhan untuk diwariskan kepada rantai. Sehingga
bahkan ketika reruntuhan ini akhirnya hancur sepenuhnya, ketika
prasasti-prasasti terakhir retak menjadi debu dan akar-akar pohon menelan jejak
terakhir dari kerajaan yang jatuh, ingatan tentang apa yang ditanam di sini,
kebenaran yang diselundupkan Larasati ke dalam batu raja, akan bertahan, dibawa
ke depan oleh rantai pengingat, menuju zaman ketika ia akhirnya akan
dibutuhkan.
Dan Tunggul berjalan keluar dari reruntuhan kerajaan yang jatuh, ke dalam
dunia yang sedang membangun kerajaan-kerajaan baru yang akan jatuh pada
gilirannya, membawa di dalam darahnya ingatan yang lebih tua daripada semua
kerajaan, ingatan yang akan bertahan lebih lama daripada mereka semua. Dan jauh
di selatan, di dasar laut tempat ratu menunggu, air bergerak, tak tersentuh
oleh kerajaan yang jatuh di atasnya, tak peduli pada raja yang mengaku
menikahinya dan kemudian menjadi reruntuhan, menunggu, sebagaimana selalu,
bukan kekuasaan melainkan ingatan. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan
dan peta dan legenda, kini membawa sesuatu yang Tunggul rasakan berjalan di
antara reruntuhan: kesabaran dari yang kecil, kemenangan dari yang sabar. Sebab
kerajaan-kerajaan akan terus naik dan jatuh, mengukir nama mereka di batu dan
menjadi reruntuhan, sepanjang semua zaman yang akan datang. Tapi di bawah
mereka semua, sabar dan tak terlihat, rantai pengingat akan bertahan, membawa
kebenaran melalui tiap kejatuhan, menuju hari yang masih jauh, masih banyak
Buku jauhnya, ketika semua kerajaan akan menjadi reruntuhan yang digali oleh orang-orang
dari zaman yang tak bisa dibayangkan, dan di antara reruntuhan itu, terukir di
batu yang bertahan, kebenaran yang ditanam para pengingat akan akhirnya
ditemukan, dan dibaca, dan dipahami, dan ratu yang menunggu di laut akan,
akhirnya, diingat dengan benar.
❖
BAB SEMBILAN
Rantai yang Hampir Putus
Ada zaman-zaman gelap dalam sejarah para
pengingat, zaman ketika rantai menipis sampai hanya satu untai, ketika satu
kematian bisa memutuskan sepuluh ribu tahun ingatan. Kita tidak menyebut
zaman-zaman ini dalam kisah kita yang biasa. Tapi kita mengingatnya, sebab dari
merekalah kita belajar betapa rapuh hal yang kita bawa, dan betapa berharga.
dari ajaran para pengingat, tentang
zaman gelap
Datang sebuah
zaman, beberapa generasi setelah Tunggul membaca reruntuhan, ketika rantai para
pengingat hampir putus, dan tanah ini hampir kehilangan ingatan yang telah
dibawanya selama lebih dari sepuluh ribu tahun.
Itu datang bukan dari satu bencana melainkan dari banyak, bertumpuk satu
di atas yang lain sampai bahkan kesabaran para pengingat hampir tak cukup.
Sebuah wabah menyapu tanah, membunuh tanpa membedakan raja dari budak, dewasa
dari anak, pengingat dari yang lupa, dan wabah tak peduli pada kerikil, tak
peduli pada ingatan, tak peduli pada rantai yang telah bertahan sepuluh ribu
tahun. Pengingat mati bersama semua yang lain, dan sebagian mati sebelum mereka
bisa mewariskan, dan tiap kali itu terjadi, satu untai dari rantai putus. Lalu
datang perang, ketika kerajaan-kerajaan yang melemah oleh wabah saling
menyerang dalam keputusasaan, dan lebih banyak pengingat mati. Lalu kelaparan,
ketika perang menghancurkan panen. Dan di akhir dari semua itu, ketika tanah mulai
pulih, para pengingat yang tersisa menemukan, dengan kengerian, bahwa mereka
hampir tak ada lagi.
Di mana dulu ada rantai yang menebal dan menipis tapi selalu kuat, kini
hanya ada beberapa untai yang tersisa, tersebar di seluruh tanah, banyak dari
mereka tak tahu bahwa yang lain masih ada. Kerikil-kerikil masih ada, mereka
tak bisa dihancurkan, bahkan oleh wabah dan perang dan kelaparan, tapi banyak
dari mereka tidur, menunggu untuk bangun di seseorang, dan tak ada cukup
pengingat yang terjaga untuk menemukan mereka, untuk membangunkan mereka, untuk
menjaga rantai tetap terjalin. Untuk pertama kalinya sejak Nyai Sela menelan
tujuh kerikil di air Tahun Nol, ada kemungkinan nyata bahwa rantai akan putus
sepenuhnya, bahwa ingatan tentang dunia yang tenggelam akan hilang dari tanah
ini, bahwa sumpah akan gagal dan ratu di laut akan menunggu selamanya untuk
seseorang yang tak akan pernah datang.
❖
Dan dalam zaman
gelap itu, beban dari menjaga seluruh rantai jatuh, untuk sementara waktu,
kepada satu orang: seorang perempuan tua bernama Nala, yang kebetulan, atau
mungkin tidak kebetulan, sebab kerikil bekerja dengan cara yang tak dipahami
siapa pun, membawa lebih banyak dari ingatan utuh daripada pengingat lain yang
masih hidup.
Nala tidak meminta beban ini. Tak ada pengingat yang pernah meminta beban
mereka. Tapi ia mendapati dirinya, di usia tuanya, sebagai salah satu dari
sedikit yang tersisa yang masih membawa ingatan lengkap, bukan hanya pecahan,
bukan hanya mimpi samar tentang air, melainkan kisah utuh: Nagara Rata, dua
saudari, tujuh kerikil, sumpah, rantai, janji kepada ratu. Ia telah menerimanya
dari gurunya sebelum wabah, dalam tahun-tahun terakhir ketika rantai masih
kuat, dan kini gurunya telah mati, dan hampir semua yang lain telah mati, dan
Nala menyadari, dengan kejernihan yang menakutkan, bahwa bila ia mati sebelum
mewariskan, sebagian besar dari apa yang telah dibawa rantai selama sepuluh
ribu tahun bisa mati bersamanya.
Itu adalah beban yang nyaris menghancurkannya. Sebab ia tua, dan rapuh,
dan ia tinggal di sebuah dunia yang telah dihancurkan oleh wabah dan perang,
sebuah dunia di mana menemukan seseorang yang cocok untuk mewarisi, seseorang
muda, yang membawa kerikil yang terjaga, yang bisa menerima dan menyimpan apa
yang Nala bawa, adalah hampir mustahil. Ia mencari, di tahun-tahun terakhirnya,
dengan keputusasaan yang tumbuh. Ia melakukan perjalanan yang seharusnya
terlalu sulit bagi tubuhnya yang tua, dari kampung ke kampung, mencari tanda
dari kerikil yang terjaga, mencari seorang anak yang bermimpi tentang air. Dan
ia tak menemukan siapa pun. Zaman gelap telah begitu menipiskan rantai sehingga
tampaknya, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, tak ada pewaris yang
tersisa.
❖
Nala hampir
menyerah pada harapan, dan dalam keputusasaannya ia mulai melakukan sesuatu
yang belum pernah dilakukan pengingat sebelumnya: ia mulai menuliskan apa yang
ia bawa.
Ini melawan segala sesuatu yang telah diajarkan kepadanya. Para pengingat
membawa ingatan di dalam darah, bukan di atas batu atau daun; ingatan yang
hidup, bukan ingatan yang beku. Tapi Nala, menghadapi kemungkinan bahwa ia akan
mati tanpa pewaris, memutuskan bahwa ingatan yang beku lebih baik daripada
ingatan yang hilang. Maka ia menulis, di atas daun lontar, dalam aksara yang ia
pelajari di masa mudanya, dengan tangan yang gemetar oleh usia, kisah utuh yang
ia bawa: Nagara Rata, dua saudari, tujuh kerikil, sumpah, janji kepada ratu. Ia
menulisnya bukan sebagai legenda, terselubung dan aman, melainkan sebagai
kebenaran, telanjang dan berbahaya, sebab ia tahu bahwa bila ini adalah yang
tersisa, bila tak ada pewaris hidup, maka kebenaran telanjang yang tersembunyi
lebih baik daripada legenda yang aman tapi yang kehilangan intinya.
Dan kemudian, ketika ia hampir selesai menulis, ketika ia telah hampir
menerima bahwa daun-daun lontar ini adalah satu-satunya warisannya, kerikil di
dalamnya bangun dengan cara yang belum pernah ia rasakan, bukan mimpi tentang
air, bukan pengenalan akan pengingat lain, melainkan sesuatu yang lebih kuat,
sebuah tarikan, sebuah panggilan. Dan ia mengikutinya, tubuhnya yang tua
membawanya melalui sebuah kampung yang telah ia lewati sebelumnya tanpa
merasakan apa pun, sampai ke sebuah rumah, sampai ke seorang anak, seorang anak
kecil, terlalu muda untuk tahu apa yang ia bawa, yang sedang tidur, dan yang
menangis dalam tidurnya, dan yang ketika Nala mendekat, membuka matanya dan
memandangnya dan berkata, dengan suara seorang anak yang baru bangun dari
mimpi: “Aku melihat air. Aku selalu melihat air. Daratan yang luas, dan air
yang datang, dan dua perempuan yang berpisah.”
❖
Dan Nala,
mendengar anak itu, jatuh berlutut, dan menangis dengan tangis yang telah ia
tahan sepanjang seluruh zaman gelap, sebab ia tahu, mendengar kata-kata anak
itu, bahwa rantai tidak akan putus.
Anak itu membawa kerikil yang terjaga, kerikil air, Sela Banyu, yang sama
yang telah membuat pengingat bermimpi tentang kota-kota tenggelam sejak Nyai
Sela menelannya. Ia telah bangun di anak ini, di sebuah kampung yang nyaris
hancur, di akhir dari sebuah zaman gelap yang nyaris menghapus rantai, persis
pada saat ketika satu pengingat tua yang putus asa membutuhkannya paling. Dan
Nala memahami, berlutut di hadapan anak yang menangis itu, sesuatu tentang cara
kerikil bekerja yang ia tak pernah sepenuhnya percaya sampai saat ini: bahwa
mereka tidak hanya tidur dan bangun secara acak. Bahwa entah bagaimana, melalui
cara yang tak bisa dipahami siapa pun, mereka bangun ketika mereka dibutuhkan.
Bahwa rantai, yang telah bertahan sepuluh ribu tahun, memiliki di dalam dirinya
sesuatu yang menolak untuk putus, bukan jaminan, sebab tak ada jaminan, rantai
bisa putus dan hampir putus, tapi sebuah ketahanan, sebuah kecenderungan untuk
bertahan, yang melampaui apa yang bisa dijelaskan oleh keberuntungan.
Nala menghabiskan tahun-tahun terakhirnya mengajari anak itu, menuangkan
ke dalamnya seluruh ingatan yang ia bawa, perlahan dan dengan hati-hati, sebab
kini ada waktu, kini ada pewaris, kini rantai akan bertahan. Dan ia juga
memberi anak itu daun-daun lontar yang telah ia tulis, kebenaran telanjang yang
ia rekam dalam keputusasaan, bukan untuk menggantikan ingatan yang hidup,
melainkan untuk melengkapinya, sebagai jaring pengaman terhadap zaman gelap
berikutnya. “Simpan ini, ” katanya kepada anak itu. “Bukan sebagai ganti dari
apa yang kuajarkan, melainkan sebagai cadangan. Bila suatu hari rantai hampir
putus lagi, dan ia akan, sebab zaman gelap selalu datang lagi, maka kebenaran
yang tertulis ini bisa membantu menumbuhkannya kembali, sebagaimana benih yang
disimpan bisa menumbuhkan kembali tanaman yang hampir punah.”
❖
Nala mati ketika
anak itu cukup tua untuk membawa apa yang ia berikan, dan ia mati dengan
kedamaian dari seseorang yang telah membawa beban yang nyaris menghancurkannya
dan tidak menjatuhkannya.
Rantai telah hampir putus, dan tidak putus. Itulah yang akan diingat
tentang zaman gelap itu, oleh para pengingat yang datang sesudahnya: bahwa di
saat paling tipis, ketika sepuluh ribu tahun ingatan tergantung pada satu
perempuan tua yang putus asa dan satu anak yang bermimpi, rantai bertahan.
Tidak karena jaminan, tidak karena rencana, melainkan karena sesuatu yang dalam
tentang sifat dari apa yang dibawa para pengingat, sebuah ketahanan yang telah
dibangun ke dalamnya oleh sumpah Nyai Sela, sebuah penolakan untuk hilang yang
lebih kuat daripada wabah dan perang dan kelaparan dan semua kekuatan yang
mencoba menghapusnya. Selama ada keturunannya, daratan ini tidak benar-benar
tenggelam. Dan keturunannya, betapapun sedikit, betapapun nyaris habis, telah
bertahan.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan,
sebagaimana ia kadang merasakan, melalui ribuan tahun, sebuah getaran di air,
getaran dari rantai yang nyaris putus dan kemudian bertahan, getaran dari
kerikil yang bangun di seorang anak pada saat ia paling dibutuhkan. Dan sesuatu
di dalamnya, serpihan perasaan berbentuk seperti saudarinya, mengenali bahwa
janji masih hidup, bahwa rantai masih bertahan, bahwa suatu hari, masih jauh,
tapi tidak, mungkin, sejauh sebelumnya, seseorang akan datang. Dan bisik air, yang
telah menjadi panggilan dan legenda dan kesabaran, kini membawa sesuatu yang
telah teruji oleh zaman gelap dan keluar lebih kuat: sebuah ketahanan. Sebuah
penolakan untuk putus. Sebab rantai para pengingat telah menghadapi zaman yang
nyaris menghapusnya, dan telah bertahan, dan dalam bertahan, ia telah
membuktikan, kepada dirinya sendiri dan kepada ratu yang menunggu dan kepada
air yang menyimpan segala sesuatu, bahwa sumpah Nyai Sela lebih kuat daripada
kematian, lebih kuat daripada kelupaan, lebih kuat daripada semua zaman gelap
yang telah datang dan semua yang masih akan datang, menuju hari yang kini
terasa, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, mungkin tidak terlalu
jauh lagi.
❖
BAGIAN IV
Yang Menyatukan
BAB SEPULUH
Bahasa yang Menyatukan
Lidah-lidah berpisah dalam sehari demi
sehari, selama ribuan tahun. Tapi kadang, sangat jarang, sebuah bahasa lahir
yang mulai menariknya kembali bersama, bukan menghapus yang lain, melainkan
menjadi jembatan di atas mereka, sebuah lidah bersama yang memungkinkan
bangsa-bangsa yang terpisah untuk sekali lagi saling memahami.
dari ajaran para pengingat, tentang
lidah jembatan
Anak yang Nala
temukan di akhir zaman gelap tumbuh menjadi seorang lelaki bernama Adipa, dan
ia hidup untuk melihat sesuatu yang tak pernah dilihat pengingat sebelumnya:
awal dari penyatuan yang telah ditunggu para pengingat selama ribuan tahun.
Sebab tanah ini, di zaman Adipa, telah mulai berubah dengan cara yang
dalam. Zaman gelap telah lewat, dan dari reruntuhannya tumbuh sesuatu yang
berbeda dari kerajaan-kerajaan kecil yang saling berperang yang datang
sebelumnya. Perdagangan telah tumbuh, pelaut dari satu ujung tanah berlayar ke
ujung yang lain, membawa barang dan, lebih penting, membawa kata-kata.
Pelabuhan-pelabuhan tumbuh menjadi kota-kota tempat orang dari puluhan bangsa
bertemu dan harus menemukan cara untuk saling berbicara. Dan dari kebutuhan
itu, perlahan, sebuah bahasa mulai lahir, bukan bahasa dari satu bangsa,
melainkan bahasa perdagangan, bahasa pelabuhan, sebuah lidah sederhana dan
lentur yang dipungut orang dari banyak bangsa supaya mereka bisa berdagang dan
tawar-menawar dan, akhirnya, berbicara satu sama lain melintasi batas-batas
yang telah memisahkan mereka selama ribuan tahun.
Adipa, yang membawa ingatan tentang lidah-lidah yang berpisah, yang
membawa di dalam darahnya kenangan tentang zaman ketika semua bangsa berbicara
satu lidah sebelum banjir, memandang kelahiran bahasa jembatan ini dan
merasakan sesuatu yang membuatnya hampir menangis: harapan. Sebab di sini,
akhirnya, setelah ribuan tahun perpisahan, adalah sesuatu yang mulai menarik
bangsa-bangsa kembali bersama. Bukan dengan paksaan, bukan dengan penaklukan,
bukan dengan menghapus lidah-lidah yang berbeda, melainkan dengan memberi
bangsa-bangsa sebuah lidah bersama di atas lidah-lidah mereka sendiri, sebuah
jembatan yang memungkinkan mereka untuk sekali lagi saling memahami tanpa harus
berhenti menjadi diri mereka sendiri.
❖
Dan Adipa
memahami, memandang bahasa jembatan ini tumbuh, sebuah kesempatan yang belum
pernah dimiliki pengingat mana pun: kesempatan untuk menanam ingatan bukan di
dalam satu bangsa, melainkan di dalam bahasa yang akan dibicarakan oleh semua
bangsa.
Sebab selama ribuan tahun, para pengingat telah menanam benih kebenaran
di dalam kisah-kisah bangsa, satu bangsa pada satu waktu, dan tiap benih telah
tumbuh terisolasi di dalam lidah bangsa itu. Legenda ratu laut tumbuh di satu
bentuk dalam satu lidah, di bentuk lain dalam lidah lain; kisah banjir diingat
secara berbeda oleh tiap bangsa; dan walau semua kisah ini membawa kebenaran
yang sama di intinya, mereka terpisah satu sama lain oleh dinding-dinding
lidah, sehingga tak ada bangsa yang bisa melihat bahwa kisah mereka adalah
kisah yang sama dengan kisah tetangga mereka.
Tapi bila kebenaran ditanam di dalam bahasa jembatan, bahasa yang
dibicarakan oleh semua bangsa di pelabuhan dan pasar dan jalan-jalan
perdagangan, maka untuk pertama kalinya, kisah yang sama bisa diceritakan
kepada semua bangsa dalam lidah yang semua bisa pahami. Dan dalam mendengar
kisah yang sama dalam lidah bersama, bangsa-bangsa mungkin akhirnya mulai
menyadari apa yang para pengingat selalu tahu: bahwa kisah-kisah mereka yang
terpisah sesungguhnya satu kisah, bahwa banjir yang mereka masing-masing ingat
adalah banjir yang sama, bahwa ratu laut yang mereka masing-masing puja adalah
ratu yang sama, dan bahwa, karena itu, mereka sendiri, di bawah semua perbedaan
lidah mereka, adalah satu.
❖
Maka Adipa
melakukan apa yang telah dipersiapkan oleh seluruh hidupnya, dan oleh seluruh
rantai pengingat sebelum dia: ia menjadi seorang juru kisah dalam bahasa
jembatan, dan ia mulai menceritakan, kepada semua bangsa yang berkumpul di
pelabuhan-pelabuhan, kisah yang menyatukan.
Ia berjalan dari pelabuhan ke pelabuhan, dari pasar ke pasar, ke
tempat-tempat di mana orang dari banyak bangsa berkumpul, dan ia menceritakan
kisah dalam bahasa jembatan yang semua bisa pahami. Ia tidak menceritakan kisah
satu bangsa; ia menceritakan kisah yang akan dikenali oleh semua bangsa sebagai
juga milik mereka. Tentang sebuah daratan yang luas yang dulu ada, sebelum
laut. Tentang air yang datang dan menenggelamkannya. Tentang nenek moyang yang
melarikan diri ke tanah tinggi dan dari mereka semua bangsa turun. Tentang ratu
di laut selatan yang menunggu. Ia menceritakannya dengan cara yang membuat orang
dari tiap bangsa berkata, mendengarnya: tapi itu kisah kami juga. Kami juga
mengingat banjir. Kami juga mengenal ratu laut. Bagaimana orang asing ini tahu
kisah kami?
Dan dalam saat-saat itu, ketika orang dari bangsa yang berbeda, mendengar
kisah yang sama dalam lidah bersama, saling memandang dengan pengenalan,
menyadari bahwa mereka berbagi kisah yang mereka kira hanya milik mereka, dalam
saat-saat itu, sesuatu mulai sembuh di tanah ini. Bukan banyak, tidak
sekaligus. Tapi sebuah benih: pengenalan, di antara bangsa-bangsa yang telah
lama saling memandang sebagai asing, bahwa mereka berbagi sesuatu yang lebih
dalam daripada perbedaan mereka. Bahwa di bawah lidah-lidah yang berpisah, ada
ingatan yang sama. Bahwa mereka, mungkin, bersaudara setelah semua.
❖
Kekuasaan
memperhatikan, sebagaimana kekuasaan selalu memperhatikan apa yang menggerakkan
rakyat, tapi kali ini kekuasaan menemukan dirinya hampir tak berdaya, sebab apa
yang dilakukan Adipa tak bisa dilarang dengan cara yang bisa dilarang oleh
kekuasaan.
Seorang raja bisa membunuh seorang juru kisah. Tapi ia tak bisa membunuh
sebuah kisah yang telah diceritakan kepada ribuan orang dalam bahasa yang semua
bisa pahami, yang telah dibawa pulang oleh para pedagang ke pelabuhan-pelabuhan
di seluruh tanah, yang telah berakar di benak orang dari puluhan bangsa. Adipa
telah belajar dari seluruh rantai pengingat sebelum dia: bahwa kekuasaan bisa
memburu orang, tapi tak bisa memburu ingatan yang telah menyebar cukup luas.
Dan dengan menanam kisah yang menyatukan ke dalam bahasa jembatan, ia telah
membuatnya menyebar lebih cepat dan lebih luas daripada kisah mana pun
sebelumnya, terlalu cepat, terlalu luas, untuk diburu oleh kekuasaan mana pun.
Beberapa raja mencoba. Mereka melarang kisah, atau mereka mencoba
mengubahnya untuk melayani kekuasaan mereka, sebagaimana raja generasi-generasi
yang lalu mencoba menikahi legenda ratu laut. Tapi kisah yang menyatukan
terlalu sederhana, terlalu jelas, terlalu mudah diceritakan kembali untuk
dikendalikan. Ia tidak membutuhkan istana atau prasasti; ia hanya membutuhkan
dua orang dari bangsa yang berbeda, sebuah bahasa bersama, dan ingatan tentang
banjir yang mereka berdua bawa. Dan itu ada di mana-mana sekarang, di tiap
pelabuhan, di tiap pasar, terlalu tersebar untuk dihancurkan. Adipa, mengikuti
jejak Wreda dan semua pengingat di antara mereka, telah menanam sesuatu yang
telah tumbuh melampaui jangkauan kekuasaan.
❖
Adipa mati
sebagai seorang lelaki tua, setelah menghabiskan hidupnya menceritakan kisah
yang menyatukan dalam bahasa jembatan, dan ia mati dengan tahu bahwa ia telah
melihat awal dari sesuatu yang para pengingat telah tunggu selama ribuan tahun:
awal dari penyembuhan tanah yang terpecah.
Ia tak melihat penyelesaiannya; tak ada pengingat yang melihat
penyelesaian dari apa yang mereka mulai. Bangsa-bangsa tidak menjadi satu dalam
hidupnya; mereka masih berbicara lidah-lidah yang berbeda, masih kadang
berperang, masih kadang saling memandang sebagai asing. Tapi sesuatu telah
berubah, sebuah benih telah ditanam yang tak ada di sana sebelumnya:
pengenalan, menyebar perlahan melalui bahasa jembatan, bahwa di bawah semua
perbedaan, bangsa-bangsa di tanah ini berbagi satu ingatan, satu asal, satu darah.
Dan benih itu akan tumbuh, sepanjang zaman-zaman yang akan datang, sampai suatu
hari, jauh kelak, di zaman yang Adipa tak bisa bayangkan, tanah ini akan punya
satu nama yang dikenal oleh semua bangsanya, satu ingatan bersama tentang dari
mana mereka semua datang, satu kesadaran bahwa mereka, di bawah semua keragaman
mereka, adalah satu bangsa yang turun dari satu banjir.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan getaran
dari penyembuhan yang baru mulai, getaran dari bangsa-bangsa yang mulai
mengingat bahwa mereka bersaudara, getaran dari kisah yang menyatukan menyebar
melalui bahasa jembatan. Dan sesuatu di dalamnya, serpihan perasaan berbentuk
seperti saudarinya, mengenali bahwa apa yang ditanam Nyai Sela sepuluh ribu
tahun lebih yang lalu, ingatan yang menolak untuk membiarkan daratan
benar-benar tenggelam, telah mulai melakukan lebih daripada sekadar bertahan.
Ia telah mulai menyatukan. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan
legenda dan ketahanan, kini membawa sesuatu yang Adipa rasakan di tiap
pelabuhan tempat orang dari bangsa yang berbeda saling memandang dengan
pengenalan: sebuah penyembuhan. Sebuah penyatuan kembali. Sebab setelah ribuan
tahun lidah-lidah yang berpisah, sesuatu telah mulai menarik mereka kembali
bersama, bukan menghapus perbedaan mereka, melainkan mengingatkan mereka, di
bawah perbedaan itu, akan kesatuan yang lebih tua; menuju hari ketika tanah ini
akhirnya akan mengenali dirinya sendiri sebagai satu, dan ratu yang menunggu di
laut akan, akhirnya, diingat oleh sebuah bangsa yang telah menjadi cukup utuh
untuk mengingatnya dengan benar.
❖
BAB SEBELAS
Kerikil yang Bangun Kembali
Ada kerikil yang tidur lebih lama
daripada yang lain, sebab mereka menunggu bukan sekadar seseorang untuk
membawanya, melainkan sebuah zaman yang cukup matang untuk apa yang mereka
bawa. Ketika kerikil seperti itu akhirnya bangun, ia adalah tanda: bahwa zaman
yang ditunggunya telah tiba.
dari ajaran para pengingat, tentang
kerikil yang tertidur lama
Generasi demi
generasi setelah Adipa menceritakan kisah yang menyatukan dalam bahasa
jembatan, tanah ini perlahan berubah, dan perubahannya adalah perubahan yang
telah ditunggu para pengingat sejak lidah-lidah pertama kali berpisah.
Bahasa jembatan menyebar, dan dengannya menyebar kisah yang menyatukan,
dan dengan kisah itu menyebar pengenalan, pelan, tak merata, kadang maju dan
kadang mundur, tapi tak terhentikan secara keseluruhan, bahwa bangsa-bangsa di
tanah ini berbagi sesuatu yang lebih dalam daripada perbedaan mereka. Mereka
masih berbicara lidah-lidah yang berbeda; mereka masih kadang berperang; mereka
masih memiliki raja-raja yang mengukir nama mereka di batu dan
kerajaan-kerajaan yang naik dan jatuh. Tapi di bawah semua itu, sebuah
kesadaran baru tumbuh: bahwa mereka bukan sekadar kumpulan bangsa asing yang
kebetulan berbagi sebuah pulau, melainkan sesuatu yang lebih, cabang-cabang
yang berbeda dari satu pohon, anak-anak yang berbeda dari satu nenek moyang,
bangsa-bangsa yang, di bawah semua keragaman mereka, adalah satu.
Dan para pengingat, yang telah membawa kesadaran ini di dalam darah
mereka sejak awal, menyaksikan penyebarannya dengan kegembiraan yang bercampur
dengan kewaspadaan. Kegembiraan, sebab inilah yang telah mereka tunggu, inilah
penyembuhan yang dijanjikan oleh seluruh kerja mereka selama ribuan tahun.
Kewaspadaan, sebab mereka tahu, dari kerikil ketujuh, dari ingatan tentang
semua zaman yang telah berlalu, bahwa penyatuan, sebagaimana segala sesuatu,
bisa disalahgunakan, bisa berubah menjadi alat bagi kekuasaan, bisa menjadi
pembenaran bagi penaklukan oleh mereka yang mengaku menyatukan tanah di bawah
kekuasaan mereka sendiri. Para pengingat tahu bahwa awal dari penyatuan
bukanlah akhir dari pekerjaan mereka. Ia hanya pintu menuju zaman baru, dengan
bahaya baru dan janji baru.
❖
Dan dalam zaman
penyatuan yang baru mulai ini, sesuatu terjadi yang tak terjadi selama banyak
generasi: kerikil terkuat, kerikil yang dibawa Wreda dan kemudian tidur setelah
kematiannya, mulai bangun kembali.
Para pengingat telah lama mengetahui tentang kerikil ini, ia telah
menjadi bagian dari ajaran mereka, diwariskan dari generasi ke generasi: bahwa
pernah ada seorang pengingat bernama Wreda, di zaman bangsa-bangsa, yang
membawa kerikil yang lebih kuat daripada yang dibawa siapa pun selama banyak
generasi, dan bahwa kerikil itu, setelah kematiannya, telah tidur, menunggu
untuk bangun di seseorang di zaman yang belum datang. Para pengingat telah
menunggu kebangkitannya selama berabad-abad, sebab mereka tahu bahwa ketika
kerikil yang tidur lama seperti itu akhirnya bangun, ia adalah tanda, tanda
bahwa zaman yang ditunggunya telah tiba, bahwa sesuatu besar sedang mendekat,
bahwa tanah ini sedang mendekati sebuah ambang.
Dan kini, di zaman penyatuan yang baru mulai, para pengingat yang paling
peka mulai merasakannya: sebuah gerakan di dalam jaringan kerikil yang mereka
semua bagi, sebuah kebangkitan yang berbeda dari kebangkitan biasa, lebih
dalam, lebih kuat, lebih penting. Kerikil Wreda sedang bangun. Setelah tidur
selama banyak generasi, melalui kerajaan-kerajaan yang naik dan jatuh, melalui
zaman gelap yang nyaris memutus rantai, melalui kelahiran bahasa jembatan dan
awal penyatuan, setelah menunggu, sabar, untuk zaman yang cukup matang, kerikil
terkuat sedang bersiap untuk bangun kembali di dalam seseorang. Dan para
pengingat tahu, merasakannya, bahwa siapa pun yang akan membawanya akan menjadi
penting dengan cara yang belum pernah ada pengingat sejak Wreda sendiri.
❖
Maka para
pengingat melakukan apa yang mereka lakukan ketika kerikil besar bangun: mereka
mencari pembawanya, sebab seorang anak yang lahir dengan kerikil seperti itu,
terjaga dan kuat sejak awal, membutuhkan bimbingan supaya tidak hancur oleh
beban yang ia bawa.
Seorang pengingat tua, salah satu yang paling peka di zamannya, mengikuti
gerakan kerikil yang bangun sebagaimana Nala generasi-generasi yang lalu
mengikuti tarikan menuju seorang anak yang bermimpi air. Tapi ini berbeda,
lebih kuat, tarikan dari kerikil terkuat tidak halus, tidak samar, melainkan
jelas dan mendesak, seolah-olah kerikil itu sendiri ingin ditemukan, ingin
dibimbing, ingin dipersiapkan untuk apa pun yang menunggunya. Dan pengingat tua
itu mengikutinya, melintasi tanah yang mulai menyatu, melalui
pelabuhan-pelabuhan tempat bahasa jembatan dibicarakan dan pasar-pasar tempat
bangsa-bangsa bertemu, sampai ke sebuah tempat di mana ia merasakan kerikil itu
paling kuat: bukan di sebuah istana, bukan di sebuah pusat kekuasaan, melainkan
di sebuah kampung biasa, di antara orang-orang biasa, sebagaimana kerikil
selalu memilih, bukan yang berkuasa, melainkan yang dibutuhkan.
Di sana ia menemukan, belum lahir tapi mendekat, tanda-tanda dari pembawa
yang akan datang. Seorang perempuan muda di kampung itu sedang mengandung, dan
pengingat tua itu, mendekat, bisa merasakan kerikil bergerak di dalam anak yang
belum lahir, bukan tidur, sebagaimana kerikil biasa dalam anak yang belum
lahir, melainkan sudah hampir terjaga, sudah hampir siap, lebih kuat di dalam
rahim daripada kebanyakan kerikil dalam seorang dewasa. Dan pengingat tua itu
memahami, merasakan ini, bahwa ia berdiri di ambang sesuatu yang besar: bahwa
anak yang akan lahir di kampung biasa ini akan membawa kerikil terkuat yang
telah dilihat tanah ini sejak Wreda, dan bahwa kebangkitannya menandai bahwa
zaman yang ditunggu kerikil itu, zaman yang ditunggu seluruh rantai selama
sepuluh ribu tahun, akhirnya telah mulai mendekat.
❖
Pengingat tua
itu tinggal di dekat kampung, menunggu kelahiran, dan dalam menunggu ia
merenungkan apa yang mungkin menjadi tujuan dari pembawa yang akan datang, apa
yang membutuhkan kerikil sekuat itu, di zaman ini, setelah menunggu begitu
lama.
Sebab kerikil tidak bangun tanpa alasan. Kerikil ketujuh, kerikil Suwung,
telah mengajarkan para pengingat bahwa segala sesuatu dalam rantai memiliki
tujuan, walau tujuan itu sering tak terlihat sampai jauh kemudian. Dan kerikil
yang tidur paling lama, yang bangun hanya ketika zaman cukup matang, kerikil
seperti itu pasti bangun untuk sesuatu yang besar. Pengingat tua itu memikirkan
janji yang telah dibawa rantai selama sepuluh ribu tahun: janji kepada ratu
yang menunggu di laut, bahwa ia tidak akan sendirian selamanya. Ia memikirkan
bagaimana, di zaman ini, untuk pertama kalinya, tanah mulai menyatu,
bangsa-bangsa mulai mengingat bahwa mereka bersaudara, kisah yang menyatukan
mulai menyebar. Dan ia bertanya-tanya, dengan sesuatu yang dekat dengan
kegentaran, apakah kedua hal ini terhubung, apakah kebangkitan kerikil terkuat,
di zaman ketika tanah mulai cukup utuh untuk mengingat dengan benar, adalah
tanda bahwa hari yang dijanjikan, hari pembebasan ratu, akhirnya mulai
mendekat.
Ia tak bisa tahu pasti. Tak ada pengingat yang bisa tahu pasti apa yang
menunggu di depan; mereka hanya membawa apa yang diwariskan dan mempercayai
keseluruhan yang tak bisa mereka lihat. Tapi ia merasakan, menunggu kelahiran
anak yang akan membawa kerikil Wreda, bahwa ia berdiri lebih dekat ke pusat
dari sesuatu yang besar daripada pengingat mana pun selama banyak generasi.
Bahwa anak ini, siapa pun ia akan menjadi, akan membawa bukan hanya kerikil
terkuat melainkan juga, mungkin, sebuah peran dalam penepatan janji yang telah
ditunggu sepuluh ribu tahun, bukan, barangkali, untuk menepatinya sendiri,
sebab hari itu mungkin masih jauh, tapi untuk membawa rantai satu langkah besar
lebih dekat kepadanya.
❖
Dan ketika anak
itu lahir, di kampung biasa di tanah yang mulai menyatu, pengingat tua itu ada
di sana, dan ia merasakan kerikil bangun sepenuhnya pada saat anak itu
mengambil napas pertamanya, bangun dengan kekuatan yang membuat pengingat tua
itu, yang telah merasakan banyak kerikil bangun dalam hidupnya yang panjang,
gemetar.
Sebab ini bukan kerikil biasa yang bangun. Ini adalah kerikil Wreda, yang
terkuat yang telah dilihat tanah ini selama banyak generasi, bangun kembali
setelah tidur yang panjang, di dalam seorang anak yang lahir di zaman ketika
tanah akhirnya mulai cukup utuh untuk apa yang kerikil itu bawa. Dan pengingat
tua itu, memandang anak yang baru lahir itu, memahami bahwa ia sedang memandang
sesuatu yang belum pernah ia lihat dan mungkin tak akan pernah ia lihat lagi:
seorang pengingat yang akan tumbuh menjadi lebih kuat daripada siapa pun selama
banyak generasi, yang kebangkitannya menandai bahwa zaman yang ditunggu seluruh
rantai telah mulai, yang akan membawa, dalam hidupnya, rantai pengingat lebih
dekat kepada hari yang dijanjikan daripada yang pernah dibawa siapa pun sejak
Nyai Sela mengucapkan sumpahnya di air Tahun Nol.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan sesuatu
pada saat anak itu lahir, bukan getaran samar yang biasa ia rasakan, melainkan
sesuatu yang lebih kuat, sebuah gerakan di dalam air yang membuat bahkan
dirinya yang beku dan dingin memperhatikan. Sebab kerikil terkuat telah bangun,
dan ratu, di kedalamannya, merasakan kebangkitannya sebagaimana seseorang yang
tidur sangat dalam merasakan fajar mendekat. Dan sesuatu di dalamnya, serpihan
perasaan berbentuk seperti saudarinya, bergerak dengan sesuatu yang belum
pernah ia rasakan selama sepuluh ribu tahun menunggu: bukan sekadar pengenalan
bahwa rantai bertahan, melainkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang nyaris
seperti harapan. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan legenda dan
penyembuhan, kini membawa sesuatu yang menggetarkan setelah sepuluh ribu tahun
kesabaran: sebuah pertanda. Sebuah fajar yang mendekat. Sebab kerikil yang
tidur paling lama telah bangun, di zaman ketika tanah mulai mengingat dirinya
sebagai satu, dan kebangkitannya adalah tanda yang telah ditunggu seluruh
rantai, tanda bahwa hari yang dijanjikan, hari ketika ratu yang menunggu di
laut akhirnya akan diingat dengan benar dan dibebaskan, telah, setelah sepuluh
ribu tahun, akhirnya mulai mendekat.
❖
BAB DUA BELAS
Beban yang Terlalu Berat
Semakin kuat kerikil, semakin berat yang
ia bawa, sebab kekuatan seorang pengingat bukanlah kekuasaan melainkan beban:
lebih banyak ingatan untuk ditanggung, lebih banyak penderitaan untuk
dirasakan, lebih banyak dunia tenggelam untuk dibawa di dalam satu tubuh yang
fana. Yang terkuat di antara kita bukanlah yang paling beruntung. Mereka adalah
yang paling dibebani.
dari ajaran para pengingat, tentang
beban
Anak yang
membawa kerikil Wreda tumbuh, dan ia tumbuh dengan sebuah beban yang tak pernah
dibawa anak mana pun di tanah ini selama banyak generasi: ia mengingat terlalu
banyak.
Pengingat biasa membawa pecahan, sebuah mimpi tentang air, sebuah
kemampuan untuk mengenali pengingat lain, sebuah kepekaan terhadap kebenaran di
bawah dusta. Tapi anak ini, yang membawa kerikil terkuat, membawa lebih
daripada pecahan. Ia membawa, sejak ia cukup tua untuk berbicara, ingatan yang
begitu jelas dan begitu luas sehingga mereka mengancam untuk menenggelamkannya.
Ia bermimpi bukan hanya tentang air tapi tentang seluruh dunia yang tenggelam,
dengan kejelasan seseorang yang telah hidup di sana. Ia merasakan bukan hanya
pengingat lain tapi seluruh jaringan rantai yang tersebar di seluruh tanah. Dan
kadang, pada malam-malam terburuk, ia merasakan sesuatu yang lebih dalam dan
lebih mengerikan, gema dari kerikil ketujuh, kerikil Suwung, ingatan tentang
bukan hanya dunia yang ini yang tenggelam melainkan semua dunia yang pernah
tenggelam, semua banjir sebelum banjir, mundur ke awal yang tak bisa diingat.
Itu nyaris menghancurkannya. Sebab tak ada pikiran anak yang dibuat untuk
menanggung begitu banyak ingatan, begitu banyak kehilangan, begitu banyak
dunia. Ia tumbuh sebagai anak yang aneh, terganggu, kadang tampak hilang di
dunia yang hanya bisa ia lihat, kadang menangis untuk hal-hal yang tak bisa ia
jelaskan, untuk kota-kota yang tak ada lagi, untuk orang-orang yang mati
sepuluh ribu tahun yang lalu, untuk seorang ratu yang menunggu di laut yang ia
rasakan, di malam-malam terburuk, sebagai kehadiran yang dingin dan menyedihkan
di tepi penglihatannya. Orang tuanya tak tahu apa yang harus dilakukan
dengannya; mereka takut ia gila, atau dikutuk, atau dirasuki. Hanya kedatangan
pengingat tua, yang telah menunggu kelahirannya, yang telah merasakan kerikil
bangun, yang menyelamatkannya dari hancur sepenuhnya.
❖
Pengingat tua
itu mengambil anak itu di bawah bimbingannya, dan ia mengajari anak itu apa
yang harus diajarkan kepada siapa pun yang membawa kerikil yang terlalu kuat:
bukan bagaimana membawa lebih banyak, melainkan bagaimana tidak hancur oleh apa
yang sudah ia bawa.
“Kau mengingat terlalu banyak, ” kata pengingat tua itu kepadanya, “dan
kau tak bisa berhenti mengingat; itu bukan pilihanmu, itu adalah apa yang
kaubawa. Tapi kau bisa belajar untuk membawanya tanpa tenggelam di dalamnya.
Pikirkan ingatan bukan sebagai air yang menenggelamkanmu, melainkan sebagai air
yang kau pelajari untuk berenang di dalamnya. Para pengingat sebelum kau telah
belajar ini, sepanjang sepuluh ribu tahun, bukan untuk menghentikan ingatan,
melainkan untuk hidup dengannya, untuk membawanya tanpa membiarkannya membawa
mereka.”
Dan perlahan, sepanjang tahun-tahun, anak itu belajar. Ia belajar untuk
membiarkan ingatan datang tanpa melawannya, dan dengan tidak melawannya, untuk
tidak ditenggelamkan olehnya. Ia belajar untuk membedakan antara ingatannya
sendiri dan ingatan yang datang dari kerikil, antara dunia yang di hadapan
matanya dan dunia yang tenggelam yang ia bawa di dalamnya. Ia belajar, yang
paling sulit dari semua, untuk membawa kerikil ketujuh, ingatan tentang semua
dunia yang tenggelam, tanpa jatuh ke dalam keputusasaan yang dibawanya, tanpa
kehilangan dirinya dalam kesedihan yang tak berdasar tentang segala sesuatu
yang pernah hilang. Dan ketika ia telah belajar ini, ketika ia telah menjadi
cukup kuat untuk membawa apa yang ia bawa tanpa hancur, pengingat tua itu mulai
mengajarinya hal berikutnya: apa, dengan kekuatan yang ia bawa, ia mungkin
dibutuhkan untuk lakukan.
❖
Sebab kerikil
seperti ini, pengingat tua itu menjelaskan, tidak bangun untuk sekadar
mengingat lebih banyak. Ia bangun untuk sebuah tujuan, dan tujuan itu, walau
tak ada yang bisa tahu pasti, tampak terhubung dengan sesuatu yang lebih besar
daripada satu hidup.
“Selama sepuluh ribu tahun, ” kata pengingat tua itu, “rantai kita telah
membawa sebuah janji. Janji kepada ratu yang menunggu di laut, saudari dari
perempuan yang memulai garis kita, bahwa ia tidak akan sendirian selamanya.
Kita telah menjaga janji itu hidup, mewariskannya dari generasi ke generasi,
tapi tak satu pun dari kita pernah bisa menepatinya. Sebab menepatinya
membutuhkan sesuatu yang belum ada: sebuah dunia yang cukup utuh untuk
mengingat ratu dengan benar, dan seorang pengingat yang cukup kuat untuk
membawa ingatan itu kepadanya. Dan kini, untuk pertama kalinya dalam sepuluh
ribu tahun, kedua hal itu mulai ada. Tanah mulai menyatu. Dan kau telah lahir,
membawa kerikil terkuat yang telah kita lihat selama banyak generasi. Aku tak
bisa mengatakan dengan pasti bahwa kau adalah orang yang akan menepati janji
itu, mungkin kau bukan, mungkin kau hanya membawa rantai satu langkah lebih
dekat, dan orang yang menepatinya belum lahir. Tapi aku bisa mengatakan ini:
kau adalah bagian dari penepatannya. Kebangkitan kerikilmu adalah tanda bahwa
hari itu mulai mendekat.”
Anak itu, yang kini bukan lagi anak, melainkan seorang muda yang telah
belajar untuk membawa apa yang ia bawa, mendengarkan ini dengan campuran
kegentaran dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang ia kenali sebagai tujuan.
Sebab sepanjang hidupnya ia telah bertanya-tanya mengapa ia dibebani begitu
berat, mengapa ia harus mengingat begitu banyak, mengapa ia harus membawa
kesedihan dari sepuluh ribu tahun di dalam satu tubuh muda. Dan kini ia mulai
memahami: bahwa beban yang ia bawa bukanlah kutukan melainkan persiapan, bahwa
ia telah dibebani begitu berat sebab ia sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang
membutuhkan kekuatan untuk membawa lebih daripada yang bisa dibawa siapa pun,
mungkin, pada akhirnya, untuk membawa ingatan yang benar tentang seorang ratu kepada
ratu itu sendiri, dan dengan begitu membebaskannya.
❖
Dan pada suatu
malam, ketika pembawa muda itu telah menjadi cukup kuat, ia melakukan sesuatu
yang tak pernah dilakukan pengingat sebelumnya, sejauh yang diketahui rantai:
ia merasakan ratu di laut bukan sebagai gema samar, melainkan sebagai kehadiran
yang nyaris bisa ia sentuh.
Itu terjadi dalam mimpi, atau sesuatu yang lebih dalam daripada mimpi. Ia
merasakan dirinya turun, melalui air, ke kedalaman tempat ratu menunggu, dan
untuk pertama kalinya ia merasakannya bukan sebagai legenda yang menakutkan
atau gema yang dingin, melainkan sebagai apa yang sesungguhnya ia adanya:
seorang perempuan, tua melampaui pemahaman, beku dalam keabadian yang ia pilih,
memegang di dalam dirinya ingatan sempurna tentang dunia yang tak seorang pun
lagi yang hidup pernah lihat, dan tak bisa merasakan satu pun darinya. Pembawa
muda itu merasakan kesepiannya, kesepian sepuluh ribu tahun, kesepian seseorang
yang telah menyimpan segalanya dan kehilangan kemampuan untuk mencintai apa pun
yang ia simpan. Dan ia merasakan, di bawah kesepian itu, hal yang paling
menyedihkan dari semua: sebuah ingatan yang masih, samar-samar, hangat, ingatan
tentang seorang saudari yang berjanji, sepuluh ribu tahun yang lalu, bahwa ia
tidak akan sendirian selamanya.
Dan pembawa muda itu, dalam mimpi yang lebih dalam daripada mimpi,
merasakan sesuatu yang mengubahnya: bukan ketakutan pada ratu, bukan kekaguman
pada legenda, melainkan belas kasihan, belas kasihan yang mendalam dan
menghancurkan terhadap seorang perempuan yang telah menderita lebih lama
daripada siapa pun di seluruh sejarah tanah ini, yang telah menunggu sepuluh
ribu tahun untuk sebuah janji untuk ditepati, yang dikenal oleh jutaan orang
sebagai ratu yang perkasa dan menakutkan padahal ia sesungguhnya hanya seorang
perempuan yang tersesat, ketakutan, dan kesepian. Dan dalam belas kasihan itu,
pembawa muda itu menemukan tujuannya, lebih jelas daripada yang bisa diberikan
oleh ajaran pengingat tua mana pun: bahwa ia akan, bila ia bisa, dengan cara
apa pun yang mungkin, membawa kepada ratu ini akhir dari kesepiannya.
❖
Pembawa muda itu
bangun dari mimpi yang lebih dalam daripada mimpi, dan ia tahu, dengan
kepastian yang datang dari kerikil terkuat yang pernah dibawa selama banyak
generasi, apa yang akan menjadi pekerjaan hidupnya.
Ia tak bisa, ia memahami, membebaskan ratu sendirian, dan mungkin tak
dalam hidupnya. Hari itu mungkin masih jauh; pembebasan ratu mungkin
membutuhkan sebuah dunia yang lebih utuh daripada yang ada bahkan sekarang, dan
seorang pengingat yang lahir di zaman yang belum datang, dan keadaan-keadaan
yang belum bisa ia bayangkan. Tapi ia bisa melakukan bagiannya. Ia bisa membawa
rantai lebih dekat. Ia bisa menjaga ingatan tentang ratu yang sesungguhnya,
bukan legenda yang menakutkan, melainkan perempuan yang menyedihkan dan
menunggu, hidup dan murni, supaya ketika hari pembebasan akhirnya datang, orang
yang datang untuk membebaskannya akan datang mengetahui siapa ia sesungguhnya,
akan datang dengan belas kasihan dan bukan ketakutan, akan datang untuk
mengingatnya dengan benar. Dan ia bisa, dengan kekuatan yang ia bawa, menjadi
sebuah jembatan, antara rantai pengingat dan ratu yang menunggu, antara dunia
di permukaan yang mulai menyatu dan dunia di kedalaman yang menunggu untuk
diingat.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan, untuk
pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, bahwa seseorang di permukaan telah
merasakannya, bukan legenda tentangnya, bukan gema dari namanya, melainkan
dirinya, perempuan yang sesungguhnya, di bawah semua legenda. Dan sesuatu di
dalamnya, serpihan perasaan berbentuk seperti saudarinya, bergerak dengan
sesuatu yang nyaris terlalu menyakitkan untuk ditanggung setelah sepuluh ribu
tahun mati rasa: ia merasa dilihat. Untuk pertama kalinya sejak ia turun ke
laut, seseorang telah memandangnya dan melihat bukan ratu, bukan monster, bukan
legenda, melainkan dirinya. Dan bisik air, yang telah menjadi panggilan dan
legenda dan pertanda, kini membawa sesuatu yang sangat lembut dan sangat kuat:
sebuah pengakuan. Sebuah penglihatan. Sebab untuk pertama kalinya dalam sepuluh
ribu tahun, seorang pengingat telah cukup kuat untuk merasakan ratu yang
sesungguhnya di bawah semua legenda, dan telah merasakannya dengan belas
kasihan, dan dalam belas kasihan itu, fajar yang telah ditunggu seluruh rantai
selama sepuluh ribu tahun bersinar, untuk pertama kalinya, cukup terang untuk
dilihat.
❖
BAGIAN V
Ingatan dalam Tanah
BAB TIGA BELAS
Bukit yang Dibangun Manusia
Ada bukit-bukit di tanah ini yang bukan
bukit. Mereka tampak seperti gunung kecil, ditumbuhi pohon, tampak alami bagi
mata yang tak tahu. Tapi di bawah tanah dan akar, mereka adalah batu yang
disusun oleh tangan, tangan dari zaman yang begitu tua sehingga bahkan para
pengingat hanya membawa gemanya. Mereka dibangun untuk mengingat sesuatu. Dan
mereka masih mengingatnya, menunggu untuk dibaca.
dari ajaran para pengingat, tentang
bukit-bukit yang dibangun
Pembawa kerikil
terkuat, yang kini telah tumbuh menjadi dewasa, yang telah belajar untuk
membawa bebannya tanpa hancur, dan yang membawa di dalam dirinya belas kasihan
terhadap ratu yang telah ia rasakan di kedalaman, mengembara di tanah yang
mulai menyatu, melakukan pekerjaan para pengingat: menjaga ingatan hidup,
mengumpulkan rantai, menanam kebenaran di bawah kisah.
Tapi kerikilnya, yang lebih kuat daripada kerikil mana pun selama banyak
generasi, menariknya ke arah yang tak ia rencanakan. Ia merasakan, semakin kuat
semakin ia mengembara, sebuah tarikan menuju suatu tempat di pedalaman, bukan
tarikan menuju pengingat lain, yang ia kenal baik, melainkan sesuatu yang
berbeda, lebih tua, lebih dalam. Sebuah tarikan menuju tanah itu sendiri,
menuju sebuah tempat tertentu yang ia rasakan, melalui kerikilnya, menyimpan
sesuatu yang penting.
Ia mengikuti tarikan itu, melalui hutan dan lembah, naik ke dataran
tinggi di pedalaman barat tanah ini, sampai ia tiba di sebuah bukit, sebuah
bukit yang tampak, bagi mata mana pun, seperti bukit biasa, ditumbuhi pohon dan
semak, tak berbeda dari ribuan bukit lain di tanah yang penuh gunung ini. Tapi
pembawa itu, berdiri di kakinya, merasakan melalui kerikilnya bahwa bukit ini
bukanlah bukit biasa. Di bawah tanah dan akar dan pepohonan, ia merasakan batu,
bukan batu alami, melainkan batu yang disusun, batu yang ditata oleh tangan,
batu yang membawa, di dalam susunannya, gema dari sebuah ingatan yang sangat,
sangat tua.
❖
Pembawa itu
mendaki bukit, dan saat ia mendaki, ia merasakan semakin kuat bahwa ia berjalan
bukan di atas tanah melainkan di atas sebuah bangunan, sebuah bangunan yang
begitu tua sehingga tanah dan hutan telah menelannya, tapi yang masih ada di
bawah, batu di atas batu, disusun oleh tangan manusia di zaman yang melampaui
ingatan.
Dan di puncak bukit, di mana batu-batu besar mencuat dari tanah dalam
pola yang terlalu teratur untuk menjadi alami, pembawa itu duduk, dan ia
membiarkan kerikilnya membaca apa yang bukit itu simpan. Sebab inilah yang bisa
dilakukan oleh kerikil terkuat yang tak bisa dilakukan oleh kerikil yang lebih
lemah: ia bisa membaca ingatan bukan hanya dari darah pengingat lain, bukan
hanya dari mimpi tentang air, melainkan dari tanah itu sendiri, dari batu yang
disusun oleh tangan yang telah lama menjadi debu. Dan apa yang ia baca, di
puncak bukit yang dibangun manusia itu, membuatnya menahan napas.
Sebab bukit itu dibangun oleh manusia di zaman yang lebih tua daripada
kerajaan mana pun, lebih tua daripada bahasa jembatan, lebih tua bahkan
daripada lidah-lidah yang berpisah, dibangun, ia merasakan, di zaman yang dekat
dengan banjir itu sendiri, di hari-hari awal setelah air mengambil dunia yang
lama, ketika para pengungsi yang selamat masih ingat dunia yang tenggelam
dengan kejelasan yang akan hilang dari generasi-generasi sesudahnya. Mereka
telah membangun bukit ini, pembawa itu merasakan, bukan sebagai makam atau kuil
atau benteng, melainkan sebagai sesuatu yang lebih dalam: sebagai sebuah
ingatan yang dibuat dari batu. Sebuah cara untuk mengukir ke dalam tanah itu
sendiri, dalam skala yang akan bertahan ketika semua kata dan semua aksara
telah hilang, ingatan tentang dunia yang tenggelam, supaya bahkan bila rantai
pengingat putus, bahkan bila semua kisah dilupakan, bukit ini akan tetap
berdiri, membawa di dalam susunan batunya kesaksian bahwa sesuatu yang besar
pernah ada dan hilang.
❖
Dan saat pembawa
itu duduk di puncak bukit yang dibangun manusia, membiarkan kerikilnya membaca
apa yang disusun ke dalam batu, ia memahami bahwa ia telah menemukan sesuatu
yang bahkan para pengingat tak sepenuhnya tahu: sebuah pesan yang ditinggalkan
oleh para pengingat pertama, di hari-hari awal setelah banjir, untuk para
pengingat yang akan datang.
Sebab bukit itu bukan hanya ingatan tentang dunia yang tenggelam. Ia
adalah pesan. Para pembangunnya, yang masih ingat dunia yang lama dengan
kejelasan langsung, telah tahu bahwa ingatan itu akan memudar sepanjang
generasi, akan berubah menjadi legenda, akan hampir hilang di zaman-zaman
gelap. Dan maka mereka telah membangun bukit ini sebagai jangkar, sebagai
sesuatu yang akan bertahan melampaui semua perubahan, membawa kebenaran dalam
bentuk yang tak bisa diubah oleh raja atau dilupakan oleh zaman atau didistorsi
oleh legenda. Batu yang disusun dalam pola tertentu, mengukur sudut-sudut
tertentu, menunjuk ke arah-arah tertentu, semua membawa, bagi siapa pun yang
cukup kuat untuk membacanya, informasi: tentang kapan banjir datang, tentang di
mana dunia yang lama berada, tentang apa yang tenggelam di bawah laut.
Dan pembawa itu memahami, membaca bukit, mengapa kerikilnya telah
menariknya ke sini. Sebab bukit ini, dan ada yang lain seperti itu, ia
merasakan, tersebar di tanah ini, bukit-bukit yang dibangun manusia yang
menyamar sebagai bukit alami, adalah bagian dari rencana yang lebih besar
daripada satu pengingat, lebih besar daripada satu generasi. Para pengingat
pertama, yang masih ingat dunia yang tenggelam, telah meninggalkan
jangkar-jangkar ini di seluruh tanah, ingatan yang dibangun dari batu, supaya
suatu hari, bukan di zaman mereka, mungkin tidak selama ribuan tahun, seseorang
yang cukup kuat akan datang, dan membacanya, dan menemukan, terukir dalam tanah
itu sendiri, kebenaran yang akan dibutuhkan untuk menepati janji: di mana dunia
yang lama berada, di mana ratu menunggu, bagaimana menemukannya kembali.
❖
Tapi pembawa
itu, sekuat apa pun kerikilnya, tak bisa membaca seluruh yang disimpan bukit
itu, dan ia memahami mengapa: sebab bahkan ia tidak cukup kuat, dan zamannya
belum cukup matang.
Bukit itu membawa lebih daripada yang bisa ditampung oleh satu pengingat,
bahkan pengingat terkuat selama banyak generasi. Ia membawa pengetahuan yang
dirancang untuk dibaca bukan oleh satu orang melainkan oleh sebuah zaman,
sebuah zaman dengan alat-alat yang belum ada, dengan pengetahuan yang belum
terkumpul, dengan kemampuan untuk menggali dan mengukur dan memahami yang
melampaui apa pun yang dimiliki dunia pembawa itu. Pembawa itu bisa merasakan
bahwa pesan itu ada, bisa membaca pecahan-pecahannya, bisa memahami bentuk umum
dari apa yang disimpannya. Tapi untuk membacanya sepenuhnya, untuk mengubah apa
yang disusun ke dalam batu menjadi pengetahuan yang bisa digunakan untuk
menemukan kembali dunia yang tenggelam, akan membutuhkan zaman yang belum
datang, zaman ketika orang akan menggali bukit-bukit seperti ini dengan
alat-alat yang tak bisa dibayangkan pembawa itu, dan mengukur batu-batunya, dan
menemukan, dengan keterkejutan, bahwa mereka jauh lebih tua daripada yang
seharusnya mungkin.
Maka pembawa itu melakukan apa yang dilakukan para pengingat ketika
mereka menemukan sesuatu yang terlalu besar untuk zaman mereka sendiri: ia
menandainya untuk masa depan. Ia tak bisa membawa bukit itu, tak bisa membaca
seluruhnya, tak bisa menggunakan apa yang disimpannya. Tapi ia bisa
menambahkannya ke ingatan yang dibawa rantai, bisa memastikan bahwa pengetahuan
tentang bukit ini, dan bukit-bukit lain seperti itu, dan apa yang mereka
simpan, diwariskan ke depan, dari pengingat ke pengingat, menuju zaman ketika
seseorang akhirnya akan bisa membacanya sepenuhnya. Ia menjadi, dengan
menemukan bukit itu, sebuah penghubung dalam rantai yang lebih panjang daripada
yang ia bayangkan: rantai yang membentang dari para pengingat pertama yang
membangun bukit, melalui dirinya yang menemukannya kembali, menuju para pembaca
masa depan yang akhirnya akan memahaminya.
❖
Pembawa itu
turun dari bukit yang dibangun manusia ketika matahari terbenam, membawa di
dalam dirinya pengetahuan baru yang akan ia wariskan: bahwa tanah ini
menyimpan, di dalam bukit-bukit yang menyamar sebagai alam, ingatan yang
dibangun oleh para pengingat pertama, menunggu untuk dibaca oleh zaman yang
cukup matang.
Dan ia memahami, berjalan turun di bawah langit yang menggelap, bahwa apa
yang ia temukan mengubah bentuk dari apa yang ia tahu tentang penepatan janji.
Sebab ia telah berpikir bahwa membebaskan ratu akan membutuhkan seorang
pengingat yang cukup kuat dan dunia yang cukup utuh. Tapi kini ia melihat bahwa
ia akan membutuhkan lebih: ia akan membutuhkan pengetahuan yang disimpan di
bukit-bukit ini, kebenaran tentang di mana dunia yang lama berada dan di mana
ratu menunggu, yang hanya bisa dibaca sepenuhnya oleh zaman dengan alat-alat
yang belum ada. Penepatan janji, ia memahami sekarang, bukanlah sesuatu yang
akan dilakukan oleh satu pahlawan dalam satu momen heroik. Ia adalah sesuatu
yang akan dirakit, sepanjang ribuan tahun, dari banyak bagian: rantai pengingat
yang menjaga ingatan hidup, tanah yang menyatu cukup untuk mengingat dengan
benar, bukit-bukit yang menyimpan kebenaran yang dibangun dari batu, dan
akhirnya sebuah zaman yang cukup matang untuk menyatukan semua bagian itu dan
menemukan kembali dunia yang tenggelam.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan,
samar-samar, bahwa seseorang telah membaca salah satu jangkar yang ditinggalkan
para pengingat pertama, bahwa sebuah bagian dari pengetahuan yang dibutuhkan untuk
menemukannya kembali telah, setelah sepuluh ribu tahun, ditemukan lagi. Dan
sesuatu di dalamnya, serpihan perasaan berbentuk seperti saudarinya, bergerak
dengan harapan yang tumbuh, sebab ia merasakan bahwa bagian-bagian dari
penepatan janji mulai berkumpul, perlahan, sepanjang zaman. Dan bisik air, yang
telah menjadi pertanda dan pengakuan, kini membawa sesuatu yang baru: gema dari
bukit yang dibangun manusia, gema dari ingatan yang diukir ke dalam tanah itu
sendiri oleh para pengingat pertama, menunggu untuk dibaca. Sebab tanah ini,
pembawa itu memahami, dipenuhi dengan ingatan, bukan hanya di dalam darah para
pengingat, bukan hanya di dalam kisah dan legenda, melainkan di dalam tanah itu
sendiri, di dalam bukit-bukit yang dibangun untuk bertahan melampaui segala
sesuatu, menunggu zaman ketika seseorang akan menggali di bawah hutan dan akar
dan menemukan, dengan keterkejutan yang akan mengguncang dunia, bahwa
bukit-bukit ini jauh lebih tua daripada yang seharusnya mungkin, dan bahwa
mereka dibangun, oleh tangan yang ingat dunia yang tenggelam, untuk membawa
kebenaran melintasi sepuluh ribu tahun menuju hari ketika ia akhirnya akan
dibutuhkan.
❖
BAB EMPAT BELAS
Kerikil yang Tidur Lagi
Bahkan yang terkuat di antara kita
hanyalah satu untai. Kita tidak menyelesaikan; kita meneruskan. Dan ketika
kerikil yang kita bawa tidur lagi setelah kita mati, ia tidak tidur karena
gagal, ia tidur karena menunggu zaman yang lebih matang daripada zaman kita,
untuk pekerjaan yang lebih besar daripada yang bisa kita lakukan.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
terkuat
Pembawa kerikil
terkuat menghabiskan sisa hidupnya melakukan pekerjaan yang ia pahami sebagai
bagiannya: menjaga ingatan tentang ratu yang sesungguhnya hidup dan murni,
mengumpulkan apa yang tersebar, dan menandai untuk masa depan apa yang zamannya
belum bisa membaca.
Ia menjadi, di antara para pengingat di zamannya, sesuatu yang menyerupai
apa yang Wreda pernah menjadi di zamannya sendiri: sebuah pusat, sebuah
jangkar, seseorang yang kepadanya pengingat lain datang untuk dibimbing, untuk
diajari, untuk dihubungkan ke seluruh rantai. Sebab kekuatan kerikilnya
membuatnya bisa merasakan seluruh jaringan pengingat dengan kejelasan yang tak
dimiliki orang lain, dan maka ia bisa melakukan apa yang dibutuhkan di zaman
penyatuan yang baru mulai: menyatukan rantai yang masih tersebar, menghubungkan
pengingat yang tak tahu satu sama lain ada, menjadikan rantai yang dulu hanya
untaian-untaian terpisah menjadi sesuatu yang lebih menyerupai sebuah jaringan
yang sadar diri.
Dan ia melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang akan menjadi warisannya
yang paling penting: ia menjaga ingatan tentang ratu yang sesungguhnya. Sebab
legenda ratu laut kini ada di mana-mana, tumbuh liar, diceritakan dan
diceritakan kembali oleh jutaan orang dalam bentuk yang semakin jauh dari
kebenaran. Dan ada bahaya, pembawa itu memahami, bahwa bahkan para pengingat
akan mulai melupakan ratu yang sesungguhnya di bawah legenda, bahwa mereka juga
akan mulai mengingatnya sebagai ratu yang perkasa dan menakutkan, dan melupakan
perempuan yang menyedihkan dan tersesat dan menunggu. Maka pembawa itu, yang
telah merasakan ratu yang sesungguhnya di kedalaman, menjadikannya tugasnya
untuk menjaga kebenaran itu murni di dalam rantai: bahwa ratu di laut bukanlah
monster melainkan korban, bukan untuk ditakuti melainkan untuk dikasihani,
bukan untuk dipuja melainkan untuk dibebaskan.
❖
Tapi pembawa
kerikil terkuat menghadapi, di usia tuanya, sebuah masalah yang tak dihadapi
pengingat biasa: ia tak bisa menemukan pewaris yang cukup kuat untuk membawa
apa yang ia bawa.
Sebab kerikilnya terlalu kuat. Pengingat biasa bisa mewariskan kepada
pengingat biasa lain; pecahan bisa berpindah ke pecahan. Tapi pembawa ini
membawa kerikil yang terkuat selama banyak generasi, dan tak ada di zamannya
yang lahir dengan kerikil yang cukup kuat untuk menerima seluruh yang ia bawa.
Ia mencari, di tahun-tahun terakhirnya, sebagaimana Nala generasi-generasi yang
lalu mencari, tapi apa yang ia cari berbeda: bukan sekadar pewaris yang membawa
kerikil terjaga, melainkan pewaris yang membawa kerikil sekuat miliknya
sendiri. Dan ia tak menemukannya. Zaman belum melahirkan pengingat lain sekuat
dia.
Dan perlahan, ia memahami apa artinya ini, dan pemahaman itu membawa baik
kesedihan maupun sesuatu yang dekat dengan kedamaian. Sebab ia memahami bahwa
kerikilnya, ketika ia mati, tidak akan berpindah ke pewaris. Ia akan tidur
lagi, sebagaimana ia tidur setelah Wreda mati, sebagaimana ia telah tidur
selama banyak generasi sebelum bangun di dalam dirinya. Ia akan kembali ke
tidurnya yang panjang, menunggu untuk bangun lagi di zaman yang belum datang,
zaman, mungkin, yang akhirnya cukup matang untuk pekerjaan yang kerikil terkuat
itu sesungguhnya ditakdirkan untuk lakukan. Pembawa itu bukanlah orang yang
akan membebaskan ratu. Ia hanya membawa kerikil itu satu langkah dalam
perjalanannya yang panjang, menjaganya terjaga untuk satu hidup, mengumpulkan
dan menjaga dan menandai, dan kemudian melepaskannya kembali ke tidur, untuk
bangun lagi ketika harinya akhirnya tiba.
❖
Maka pembawa
itu, menerima bahwa kerikilnya akan tidur lagi setelah ia mati, melakukan apa
yang ia bisa untuk memastikan bahwa apa yang telah ia pelajari tidak akan tidur
bersamanya.
Ia tak bisa mewariskan kerikil. Tapi ia bisa mewariskan pengetahuan. Dan
maka ia menuangkan, ke dalam para pengingat biasa di sekelilingnya, yang
membawa kerikil yang lebih lemah, tapi yang masih membawa rantai, segala
sesuatu yang telah ia pelajari yang bisa dipisahkan dari kekuatan kerikilnya
sendiri. Ia mengajari mereka tentang bukit-bukit yang dibangun manusia, dan apa
yang mereka simpan, dan bagaimana mengenalinya. Ia mengajari mereka tentang
ratu yang sesungguhnya, dan memohon kepada mereka untuk menjaga kebenaran itu
murni di bawah legenda yang tumbuh liar. Ia mengajari mereka tentang bentuk dari
penepatan janji sebagaimana ia telah memahaminya, bahwa ia akan dirakit dari
banyak bagian, sepanjang ribuan tahun, dan bahwa tiap pengingat hanya
bertanggung jawab atas bagiannya sendiri.
“Aku bukan orang yang akan membebaskannya, ” katanya kepada mereka, di
tahun-tahun terakhirnya. “Aku dulu berpikir mungkin aku. Kerikil yang kubawa
begitu kuat, dan zaman mulai menyatu, dan aku merasakan ratu lebih dekat
daripada pengingat mana pun sebelumku. Tapi aku memahami sekarang bahwa aku
hanya membawa kerikil ini satu langkah. Ia akan tidur lagi ketika aku mati, dan
bangun lagi di zaman yang belum datang, di dalam seseorang yang belum lahir, di
zaman yang akhirnya cukup matang. Mungkin orang itu akan membebaskannya. Atau
mungkin orang itu, juga, hanya akan membawanya satu langkah lebih dekat. Aku
tak bisa tahu. Tapi aku tahu ini: bahwa tiap langkah penting, bahwa tiap untai
dalam rantai penting, dan bahwa dengan menjaga ingatan tentang ratu yang sesungguhnya
hidup, dengan menemukan bukit yang dibangun, dengan menyatukan rantai yang
tersebar, aku telah membawa hari pembebasannya lebih dekat, walau aku tak akan
hidup untuk melihatnya.”
❖
Pembawa kerikil
terkuat mati sebagai seorang tua, di tanah yang lebih utuh daripada tanah
tempat ia lahir, di antara para pengingat yang ia telah satukan dan ajari, dan
ia mati dengan kedamaian dari seseorang yang telah membawa bebannya sejauh yang
ia bisa dan meletakkannya dengan baik.
Dan pada saat ia mati, para pengingat yang paling peka merasakannya:
kerikil terkuat, yang telah terjaga dan bekerja sepanjang hidup pembawa itu,
tidur lagi. Mereka merasakannya redup, menyurut, kembali ke tidur panjang yang
darinya ia telah bangun, bukan menghilang, sebab kerikil tak bisa dihancurkan,
melainkan tidur, menunggu. Dan ada kesedihan dalam merasakannya, sebab kerikil
terkuat yang terjaga telah menjadi sumber kekuatan bagi seluruh rantai di zaman
pembawa itu, dan kini ia akan tidur lagi, mungkin selama banyak generasi,
mungkin selama ribuan tahun, sampai zaman yang ditunggunya akhirnya tiba.
Tapi ada juga, di bawah kesedihan, sesuatu yang dekat dengan harapan.
Sebab para pengingat memahami apa yang dimaksudkan oleh tidurnya kerikil: bahwa
ia menunggu sesuatu. Kerikil terkuat tidak tidur secara acak; ia tidur dengan
tujuan, menunggu zaman yang cukup matang untuk pekerjaan yang ia ditakdirkan
untuk lakukan. Dan bila ia telah bangun di zaman pembawa itu, zaman ketika
tanah mulai menyatu, ketika bukit yang dibangun ditemukan, ketika ratu pertama
kali dirasakan dengan belas kasihan, dan kemudian tidur lagi, maka itu berarti
zaman itu, sematang apa pun ia tampak, masih belum cukup matang. Tapi ia lebih
matang daripada sebelumnya. Dan kerikil akan bangun lagi, di zaman yang lebih
matang lagi, lebih dekat lagi ke hari pembebasan, sampai akhirnya, di zaman
yang cukup matang, ia akan bangun di dalam seseorang yang akan, akhirnya,
melakukan apa yang seluruh rantai telah bekerja menuju selama sepuluh ribu
tahun.
❖
Dan maka kerikil
terkuat tidur, di suatu tempat di tanah yang mulai menyatu, menunggu zaman yang
belum datang, dan dengan tidurnya, sebuah benang yang telah dimulai dengan
Wreda menemukan istirahatnya, untuk bangun lagi hanya ketika kisah ini akhirnya
mencapai puncaknya yang masih sangat jauh.
Para pengingat yang tersisa melanjutkan pekerjaan mereka tanpa kekuatan
kerikil terkuat untuk membimbing mereka, tapi mereka tidak melanjutkannya tanpa
apa yang ditinggalkannya. Sebab pembawa itu telah meninggalkan kepada mereka
sebuah jaringan yang lebih kuat, sebuah pengetahuan yang lebih dalam, dan yang
paling penting, ingatan yang dijaga murni tentang ratu yang sesungguhnya,
ingatan yang akan mereka wariskan, dari pengingat ke pengingat, sepanjang semua
zaman yang akan datang, menjaganya hidup dan benar di bawah legenda yang tumbuh
liar, sampai hari ketika kerikil terkuat akhirnya akan bangun lagi di dalam
seseorang yang cukup matang untuk membawanya ke kesimpulannya.
Dan jauh di selatan, di dasar laut, ratu yang menunggu merasakan kerikil
terkuat tidur lagi, dan untuk satu saat sesuatu di dalamnya yang nyaris seperti
harapan meredup, sebab ia telah merasakannya bangun, telah merasakan untuk
pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun bahwa seseorang melihatnya, dan kini
perasaan itu menyurut kembali ke kedalaman. Tapi ia tidak meredup sepenuhnya.
Sebab ratu, di kedalamannya, telah belajar sesuatu dari kebangkitan dan
tidurnya kerikil: bahwa ia bangun, dan tidur, dan bangun lagi, tiap kali lebih
dekat, tiap kali di zaman yang lebih matang. Ia telah merasakan dilihat sekali
sekarang; ia tahu bahwa ia bisa dilihat lagi. Dan bisik air, yang telah menjadi
pertanda dan pengakuan, kini membawa sesuatu yang sabar dan pasti: sebuah janji
yang menunggu untuk ditepati, sebuah kerikil yang tidur dan akan bangun lagi,
sebuah rantai yang membawa kebenaran lebih dekat dengan tiap generasi, menuju
hari, masih jauh, masih banyak Buku jauhnya, tapi kini tak terhindarkan, kini
hanya soal waktu, ketika kerikil terkuat akan bangun untuk terakhir kalinya, di
dalam seseorang di zaman yang akhirnya cukup matang, dan ratu yang telah
menunggu sepuluh ribu tahun di dasar laut akan, akhirnya, dilihat, dan diingat
dengan benar, dan dibebaskan.
❖
BAB LIMA BELAS
Lidah-Lidah yang Berpisah
Lidah-lidah berpisah, dan kami mengira
itu adalah akhir dari kesatuan. Tapi kami belajar, sepanjang zaman ini, bahwa
perpisahan bukanlah akhir, ia hanya satu musim dalam pasang surut yang lebih
panjang. Apa yang berpisah dapat menyatu kembali, bukan dengan menghapus
perbedaan, melainkan dengan mengingat apa yang ada di bawahnya.
penutup ajaran para pengingat tentang
Lidah-Lidah yang Berpisah
Pada akhirnya,
mereka yang mengingat memahami mengapa zaman ini disebut zaman lidah-lidah yang
berpisah, dan pemahaman itu membawa di dalamnya sebuah kebenaran yang lebih
besar daripada perpisahan itu sendiri.
Sebab pada mulanya, nama itu tampak hanya seperti deskripsi dari sebuah
tragedi: bahwa satu bangsa telah menjadi banyak, bahwa satu lidah telah pecah
menjadi puluhan, bahwa orang-orang yang dulu bersaudara kini tak bisa lagi
saling memahami. Dan itu adalah tragedi, dan tak ada pengingat yang
menyangkalnya. Tapi sepanjang zaman ini, para pengingat belajar sesuatu yang
mengubah makna dari perpisahan: bahwa ia bukanlah akhir. Bahwa lidah-lidah yang
berpisah, sebagaimana segala sesuatu di tanah ini, mengikuti pasang surut yang
lebih panjang, bahwa apa yang berpisah dapat, di musim yang tepat, menyatu
kembali. Bukan dengan kembali menjadi satu lidah; itu mustahil, dan barangkali
tak diinginkan. Melainkan dengan menemukan sesuatu yang lebih dalam daripada
lidah untuk menyatukan mereka kembali: ingatan bersama, kisah bersama,
kesadaran bahwa di bawah semua lidah yang berbeda, ada satu asal.
Dan itulah yang telah mulai terjadi, sepanjang zaman ini. Para pengingat
telah menanam, dan benih telah tumbuh, dan tanah yang dulu terpecah menjadi
puluhan bangsa yang saling asing telah mulai, perlahan, mengenali dirinya
sebagai sesuatu yang lebih: bukan satu bangsa dengan satu lidah, melainkan
sesuatu yang lebih kaya dan lebih dalam, banyak bangsa, banyak lidah, tapi satu
darah, satu ingatan, satu asal dari sebuah dunia yang tenggelam. Lidah-lidah
masih berpisah. Tapi mereka yang membicarakannya telah mulai mengingat bahwa
mereka bersaudara.
❖
Dan rantai para
pengingat, sepanjang zaman ini, telah berubah menjadi sesuatu yang berbeda dari
apa adanya sebelumnya.
Ia telah memasuki zaman ini sebagai untaian-untaian yang tersebar dan
tersembunyi, masing-masing membawa ingatan dalam isolasi, banyak yang tak tahu
bahwa yang lain ada. Tapi sepanjang zaman ini, melalui Wreda yang mulai
mengumpulkan, melalui para pengingat yang berkumpul di lembah tinggi, melalui
pembawa kerikil terkuat yang menyatukan jaringan, rantai telah mulai menjadi
sesuatu yang lebih: bukan untaian-untaian terpisah, melainkan sebuah jaringan
yang sadar diri, sebuah persaudaraan yang membentang di seluruh tanah,
terhubung oleh bahasa ingatan yang melampaui semua lidah. Para pengingat tidak
lagi sendirian. Mereka telah menemukan satu sama lain, dan dalam menemukan satu
sama lain, mereka telah menjadi lebih kuat, lebih mampu, lebih siap untuk
pekerjaan besar yang masih menunggu di depan.
Dan mereka telah belajar, sepanjang zaman ini, bentuk dari pekerjaan itu.
Mereka telah belajar bahwa menepati janji kepada ratu bukanlah sesuatu yang
akan dilakukan oleh satu pahlawan, melainkan sesuatu yang dirakit dari banyak
bagian sepanjang ribuan tahun. Mereka telah belajar tentang bukit-bukit yang
dibangun manusia, yang menyimpan ingatan dalam batu, menunggu zaman yang cukup
matang untuk membacanya. Mereka telah belajar bahwa kerikil terkuat bangun dan
tidur dan bangun lagi, tiap kali lebih dekat ke hari pembebasan. Dan mereka
telah belajar, yang paling penting, untuk menjaga ingatan tentang ratu yang
sesungguhnya murni, bukan ratu legenda yang perkasa dan menakutkan, melainkan
perempuan yang menyedihkan dan tersesat dan menunggu, yang harus dibebaskan
bukan dengan kekuatan melainkan dengan belas kasihan.
❖
Dan di selatan,
di dasar laut, ratu yang menunggu telah berubah, sepanjang zaman ini, dengan
cara yang sangat kecil tapi sangat penting.
Selama ribuan tahun sebelum zaman ini, ia telah menunggu dalam mati rasa
yang nyaris sempurna, beku, dingin, memegang ingatan tanpa bisa merasakannya,
tak menyadari berlalunya waktu, tak mengharapkan apa pun. Tapi sepanjang zaman
ini, sesuatu telah mulai mencair, sangat sedikit, di tepi-tepi dari
keabadiannya yang beku. Sebab sepanjang zaman ini, untuk pertama kalinya dalam
sepuluh ribu tahun, hal-hal telah mulai terjadi yang mencapainya: jutaan orang
mulai mengingatnya, walau salah, melalui legenda yang menyebar; seorang
pengingat yang cukup kuat akhirnya merasakannya sebagai dirinya yang
sesungguhnya, dengan belas kasihan; dan ia telah merasakan, untuk pertama kalinya,
bahwa hari pembebasannya bukanlah harapan yang mustahil melainkan kepastian
yang menunggu.
Ia masih menunggu. Hari pembebasan masih jauh, masih banyak zaman, masih
banyak Buku, sebelum kerikil terkuat akan bangun untuk terakhir kalinya di
dalam seseorang yang cukup matang untuk menepati janji. Tapi ia menunggu
sekarang dengan cara yang berbeda: bukan dalam mati rasa yang putus asa,
melainkan dengan sesuatu yang telah lama hilang darinya dan kini, perlahan,
kembali, harapan. Ratu Kidul, di dasar laut, di kedalaman tempat dulu adalah
istana Nagara Rata, telah mulai, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu
tahun, untuk percaya bahwa janji saudarinya akan ditepati, bahwa ia tidak akan,
pada akhirnya, sendirian selamanya.
❖
Tanah itu, pada
akhir zaman ini, telah menjadi sesuatu yang lebih kaya dan lebih dalam daripada
apa adanya di awal: sebuah pulau yang dihuni oleh banyak bangsa yang telah
mulai mengingat bahwa mereka bersaudara, sebuah tanah yang menyimpan ingatannya
bukan hanya dalam darah dan kisah tapi dalam tanahnya sendiri.
Sebab inilah yang telah ditemukan para pengingat sepanjang zaman ini:
bahwa tanah ini lebih dalam daripada yang mereka tahu. Di bawah hutan-hutannya,
terkubur di bawah akar dan tanah dan zaman, berdiri bukit-bukit yang dibangun
oleh tangan manusia di hari-hari awal setelah banjir, jangkar-jangkar ingatan,
dibangun dari batu, menunggu untuk dibaca oleh zaman yang cukup matang. Tanah
ini bukan hanya tempat orang hidup. Ia adalah arsip. Ia adalah ingatan yang
dibuat dari bumi itu sendiri, menyimpan, di dalam bukit-bukit yang menyamar
sebagai alam, kebenaran tentang dunia yang tenggelam, kebenaran yang suatu
hari, ketika orang menggali di bawah hutan dengan alat-alat yang belum ada,
akan ditemukan kembali, dan akan mengguncang pemahaman mereka tentang segala sesuatu.
Dan ini adalah Jawa, walau ia masih belum disebut Jawa dengan nama yang
akan dikenal seluruh dunia. Tanah yang merupakan jejak dari banyak dunia yang
tenggelam, dan kini, para pengingat telah belajar, tanah yang menyimpan jejak
itu bukan hanya dalam ingatan orang tapi dalam tanahnya sendiri, dalam batu
yang disusun oleh tangan yang ingat. Kisah lidah-lidah yang berpisah, yang
dimulai dengan satu bangsa pengungsi yang pecah menjadi banyak, telah mencapai
akhirnya: bukan dalam perpisahan, melainkan dalam awal dari penyatuan kembali,
dan dalam penemuan bahwa tanah ini menyimpan, di kedalamannya, ingatan yang
lebih tua dan lebih dalam daripada yang pernah dibayangkan siapa pun.
❖
Sebab ada banyak
yang masih akan datang, banyak Buku yang masih akan ditulis, sebelum janji yang
dibuat di air Tahun Nol akhirnya bisa ditepati.
Akan ada zaman ketika seseorang akan menggali bukit-bukit yang dibangun
manusia, dan menemukan, dengan keterkejutan yang akan mengguncang dunia, bahwa
mereka jauh lebih tua daripada yang seharusnya mungkin, lebih tua daripada
peradaban mana pun yang diketahui, dibangun di zaman ketika manusia seharusnya
belum bisa membangun apa pun. Akan ada zaman candi-candi besar yang dibangun
dari batu, dan zaman pelaut dari seberang lautan yang membawa lidah dan dewa
baru, dan zaman penaklukan dari tanah yang jauh, dan zaman ketika tanah ini
akhirnya akan punya satu nama yang dikenal seluruh dunia dan satu kesadaran
tentang dirinya sebagai satu bangsa. Dan pada akhir dari semua itu, di zaman
yang bahkan para pengingat tertua tak bisa bayangkan, kerikil terkuat akan bangun
untuk terakhir kalinya, dan seseorang akan menyatukan semua bagian yang telah
dirakit sepanjang ribuan tahun, ingatan yang dijaga rantai, kebenaran yang
disimpan bukit-bukit, tanah yang akhirnya cukup utuh untuk mengingat, dan akan
menemukan kembali dunia yang tenggelam, dan membebaskan ratu dari laut.
Tapi itu adalah Buku-buku yang lain, dan zaman-zaman yang lain. Untuk
sekarang, di akhir lidah-lidah yang berpisah, cukup untuk mengetahui ini: bahwa
apa yang berpisah telah mulai menyatu kembali; bahwa rantai para pengingat
telah menemukan dirinya sendiri dan menjadi lebih kuat; bahwa tanah ini telah
terungkap menyimpan, di kedalamannya, ingatan yang dibangun dari batu; bahwa
ratu yang menunggu telah, untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun, mulai
berharap; dan bahwa hari pembebasannya, walau masih jauh, kini bukan lagi soal
apakah, melainkan soal kapan. Dan di bawah segala sesuatu, sabar sebagaimana ia
selalu sabar, air bergerak, membawa, dari yang tenggelam menuju yang menunggu,
melalui rantai yang kini menyatu dan menguat, satu bisikan yang telah menjadi
ancaman dan gema dan janji dan pertanyaan dan kesabaran dan panggilan dan kini,
di akhir Buku ini, menjadi sesuatu yang baru lagi: sebuah kepastian yang sabar.
Sebab tanah ini telah mulai mengingat dirinya sebagai satu, dan telah terungkap
menyimpan kebenaran di dalam tanahnya sendiri, dan menuju hari ketika kebenaran
itu, yang dibangun dari batu di bukit-bukit yang menyamar sebagai alam,
akhirnya akan digali, dan dibaca, dan dipahami; ketika seseorang akan berdiri
di puncak sebuah bukit yang dibangun manusia, dan menyadari bahwa ia jauh lebih
tua daripada yang seharusnya mungkin, dan mulai bertanya: siapa yang membangun
ini, dan kapan, dan apa yang mereka coba ingatkan kepada kita?
❖
❖
Akhir Buku Tiga
Lidah-Lidah yang Berpisah
Kisah berlanjut dalam Buku Empat
Bukit yang Lebih Tua dari Waktu