6.9.26

(filsafat) Mengapa Kita Merindukan Masa Lalu yang Sebenarnya Tidak Lebih Baik

 "Difficilis, querulus, laudator temporis acti se puero" — sosok tua yang pemarah, suka mengeluh, dan tak henti memuji "zaman ketika ia masih bocah." (Horace, Ars Poetica, abad pertama SM)

Di belakang truk-truk yang melintasi jalur Pantura, di tembok-tembok warung, di stiker kaca angkutan kota, satu wajah berkali-kali kembali: seorang lelaki berpeci tersenyum dengan tangan melambai, disertai sebaris kalimat dalam bahasa Jawa yang sudah menjadi semacam mantra kolektif — "Piye kabare? Isih penak jamanku, to?" (Bagaimana kabarmu? Masih enak zamanku, kan?). Kalimat itu mulai bertebaran beberapa tahun setelah Soeharto jatuh, ketika reformasi membawa kebebasan yang belum pernah dimiliki bangsa ini sekaligus kekacauan yang juga belum pernah dirasakan. Yang menarik bukan sekadar bahwa orang merindukan seorang penguasa lama, melainkan bahwa kerinduan itu beredar justru di antara orang-orang yang, secara material, hidup lebih baik daripada nenek moyang mereka di "zaman" yang dirindukan itu. Inilah teka-teki yang ingin saya bedah: mengapa manusia begitu rajin merindukan masa lalu yang, bila ditimbang dengan angka, sering kali sama sekali tidak lebih baik daripada masa kini?

Pertanyaan ini terdengar khas Indonesia, tetapi sebetulnya tidak ada yang lokal di dalamnya. Horace sudah menyindir sosok semacam itu dua ribu tahun lalu — orang tua yang menjadi laudator temporis acti, pemuja masa silam. Hesiod, jauh sebelumnya, menyusun mitos lima zaman yang menurun dari Zaman Emas ke Zaman Besi yang penuh kerja keras dan ketidakadilan; kisah tentang taman yang hilang, kemurnian yang ternodai, dunia yang dulunya lebih baik, muncul di hampir setiap kebudayaan yang kita kenal. Kerinduan akan "dulu" tampaknya adalah salah satu bentuk paling tua dan paling lintas-budaya dari imajinasi manusia. Maka pertanyaannya bukan sekadar psikologis-individual, melainkan antropologis: apa yang dilakukan kerinduan ini bagi manusia, sehingga ia bertahan begitu lama dan begitu luas?

Kata yang kita pakai untuk perasaan ini sendiri menyimpan jejak sejarah yang menggelitik. Nostalgia bukan kata kuno; ia diciptakan pada 1688 oleh Johannes Hofer, seorang mahasiswa kedokteran Swiss, dengan merangkai dua kata Yunani — nostos (kepulangan) dan algos (nyeri). Hofer memakainya untuk mendiagnosis penyakit: kerinduan akut para tentara bayaran Swiss yang ditempatkan jauh dari pegunungan kampung halaman, suatu kondisi yang dianggap bisa membuat orang demam, melemah, bahkan mati. Selama hampir tiga abad, nostalgia diperlakukan sebagai gangguan medis dan psikiatris — sesuatu yang harus disembuhkan (Wildschut, Sedikides, Arndt, & Routledge, 2006; Sedikides, Wildschut, Arndt, & Routledge, 2008). Yang menarik, kerinduan itu pada mulanya bersifat spasial: rindu pada tempat, pada rumah. Hanya kemudian ia bergeser menjadi temporal: rindu pada waktu, pada masa, pada sebuah "dulu" yang tak bisa dikunjungi kembali karena ia sudah lewat, bukan sekadar jauh. Pergeseran ini penting, karena ia menandai sesuatu yang khas modern — bahwa rumah yang paling kita rindukan bukan lagi sebuah tempat di peta, melainkan sebuah titik di garis waktu yang tak mungkin kita datangi lagi.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya menegakkan dulu fakta yang sering dilewati: apakah masa lalu memang lebih baik? Pada banyak ukuran yang paling mendasar — kelangsungan hidup, kesehatan, kecukupan pangan — jawabannya cukup tegas: tidak. Ambil contoh yang paling dekat dengan kita. Pada awal 1990-an, lebih dari dua pertiga penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan ekstrem; hari ini, angka itu telah turun menjadi di bawah sepuluh persen (Our World in Data, 2025). Dalam skala global, jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem turun dari sekitar 2,3 miliar pada 1990 menjadi sekitar 831 juta pada 2025 — penurunan lebih dari 1,5 miliar jiwa dalam satu generasi, kira-kira seratus delapan belas ribu orang setiap hari (Bank Dunia, 2025; Our World in Data, 2025). Pada periode yang sama, harapan hidup meningkat dan kematian anak menurun di hampir seluruh penjuru dunia. "Zaman dulu" yang dikenang sebagai sederhana dan damai itu, bagi mayoritas manusia, adalah zaman ketika anak lebih mungkin mati sebelum usia lima tahun dan keluarga lebih mungkin kelaparan.

Dan inilah letak teka-tekinya yang sesungguhnya. Bukan saja orang merindukan masa lalu yang lebih buruk — orang bahkan keliru menilai arah perubahan itu sendiri. Survei lintas-negara menunjukkan bahwa mayoritas orang justru mengira kemiskinan global meningkat atau setidaknya tidak berubah, padahal ia anjlok drastis (Our World in Data, 2025). Lebih jauh lagi, dalam salah satu studi paling ambisius tentang persepsi semacam ini, Adam Mastroianni dan Daniel Gilbert (2023) menganalisis data dari lebih dari dua belas juta responden di sedikitnya enam puluh negara dan menemukan satu pola yang nyaris seragam: orang di mana-mana percaya bahwa moralitas masyarakat sedang merosot — bahwa orang dulu lebih jujur, lebih baik, lebih bermoral daripada orang sekarang. Mereka telah mempercayai ini setidaknya selama tujuh puluh tahun terakhir. Namun ketika para peneliti memeriksa data yang sebenarnya — laporan orang tentang kebaikan orang-orang di sekitar mereka, yang dikumpulkan dari tahun ke tahun — tidak ada bukti bahwa moralitas benar-benar menurun. Persepsi kemerosotan moral, simpul mereka, adalah sebuah ilusi: pervasif, bertahan lama, tak berdasar, dan mudah diproduksi.

Pertanyaan yang lebih menarik daripada "apakah masa lalu lebih baik" karena itu adalah: mengapa otak kita begitu konsisten menipu kita ke arah yang sama? Di sinilah psikologi memori memberi jawaban yang elegan, dan jawaban itu terdiri dari beberapa lapis mesin kognitif yang bekerja bersama.

Lapis pertama adalah apa yang oleh Terence Mitchell dan koleganya disebut rosy retrospection — kecenderungan mengenang suatu peristiwa lebih indah daripada saat kita benar-benar mengalaminya. Dalam serangkaian tiga studi yang kini klasik, mereka melacak bagaimana orang menilai tiga peristiwa — perjalanan ke Eropa, libur Thanksgiving, dan tur sepeda tiga minggu di California — pada tiga titik waktu: sebelum, selama, dan sesudah. Polanya konsisten dan agak lucu: orang berharap peristiwa itu akan menyenangkan, lalu selama peristiwa berlangsung mereka justru dilanda gangguan, kekecewaan, dan keluhan kecil — antrean, hujan, pertengkaran, kelelahan — tetapi begitu peristiwa usai, dalam hitungan hari kenangan mereka kembali memutih menjadi indah, bahkan lebih indah daripada harapan awal mereka (Mitchell, Thompson, Peterson, & Cronk, 1997). Memori, dengan kata lain, adalah seorang editor yang murah hati: ia memangkas detail-detail menjengkelkan dan mempertahankan inti yang manis.

Lapis kedua menjelaskan mengapa editing itu berat sebelah. Inilah yang disebut fading affect bias (FAB) — temuan yang berkali-kali direplikasi bahwa intensitas emosi negatif yang melekat pada kenangan otobiografis memudar lebih cepat daripada intensitas emosi positif (Walker, Skowronski, & Thompson, 2003; Walker & Skowronski, 2009). Judul salah satu makalah mereka merangkum seluruh fenomenanya dengan padat: "Life is pleasant — and memory helps to keep it that way." Hidup terasa menyenangkan, dan memori membantu menjaganya tetap begitu. Rasa malu, sakit hati, takut, dan bosan dari sepuluh tahun lalu sudah meluruh menjadi anekdot yang bisa kita tertawakan; kebahagiaan dari periode yang sama tetap relatif utuh. Akibatnya, ketika kita menengok ke belakang, yang tersisa adalah residu yang condong cerah — bukan karena masa lalu memang cerah, melainkan karena bagian gelapnya lebih dulu pudar. FAB tampak bersifat lintas-budaya dan dianggap menjalankan fungsi pengaturan emosi (emotion regulation) yang menopang pandangan positif tentang diri.

Tetapi mesin ini hanya bekerja pada satu arah waktu. Terhadap masa kini, justru kebalikannya yang terjadi. Manusia menanggung apa yang oleh Roy Baumeister dan koleganya disebut negativity bias — kabar buruk, ancaman, dan kerugian menancap lebih dalam dan terasa lebih besar daripada kabar baik yang setara; "bad is stronger than good," tulis mereka, dan itu berlaku di hampir semua ranah psikologis yang mereka tinjau (Baumeister, Bratslavsky, Finkenauer, & Vohs, 2001; lihat juga Rozin & Royzman, 2001). Masa kini sampai kepada kita sebagai arus berita, notifikasi, dan keluhan yang tak henti — dan arus itu secara struktural menonjolkan yang buruk, sebab yang buruklah yang dianggap layak diberitakan. Maka kita mengukur masa kini dengan timbangan yang sensitif terhadap keburukan, dan mengukur masa lalu dengan memori yang telah membuang sebagian besar keburukannya.

Mastroianni dan Gilbert (2023) merangkai dua mesin ini menjadi satu penjelasan yang rapi tentang ilusi kemerosotan: paparan yang berat sebelah terhadap informasi negatif tentang masa kini, ditambah memori yang berat sebelah terhadap informasi positif tentang masa lalu, secara otomatis memproduksi kesan bahwa dunia sedang menurun. Dan ada satu bukti penentu yang amat memikat dalam temuan mereka: ilusi itu lenyap ketika orang diminta menilai moralitas orang-orang yang hidup sebelum mereka dilahirkan. Sebab terhadap zaman sebelum kita lahir, kita tidak punya kenangan personal yang bisa memudar dengan manis — kita hanya punya catatan sejarah, yang justru penuh perang, wabah, dan kekejaman. Ilusi masa lalu yang lebih baik, dengan kata lain, hanya berlaku pada masa lalu yang pernah kita alami sendiri. Ia bukan klaim tentang sejarah; ia adalah gema dari biografi kita.

Sampai di sini, mudah menyimpulkan bahwa nostalgia tak lebih dari kekeliruan kognitif — bug dalam perangkat lunak ingatan manusia. Tetapi kesimpulan itu, menurut saya, terlalu tergesa, dan justru mengabaikan temuan paling menarik dari tiga dekade riset terakhir. Sekelompok psikolog di Universitas Southampton — terutama Constantine Sedikides dan Tim Wildschut — telah membalik pemahaman lama bahwa nostalgia adalah penyakit, dan menunjukkan bahwa ia justru adalah sumber daya psikologis (psychological resource). Dalam program riset mereka yang panjang, nostalgia ternyata dipicu oleh keadaan-keadaan getir: suasana hati negatif, kebosanan, dan terutama kesepian (loneliness). Dan ketika dipicu, ia berfungsi: ia mengangkat suasana hati, memperkuat harga diri, dan yang paling penting, menumbuhkan rasa keterhubungan sosial (social connectedness) — karena kenangan nostalgis hampir selalu menampilkan diri kita di tengah orang-orang yang kita sayangi (Wildschut dkk., 2006; Sedikides dkk., 2008; Zhou, Sedikides, Wildschut, & Gao, 2008). Nostalgia juga memberi rasa kesinambungan diri (self-continuity) — perasaan bahwa "aku" yang sekarang adalah orang yang sama dengan "aku" yang dulu — dan dengan begitu meredam kecemasan eksistensial. Orang yang merindukan masa lalu, dilihat dari sudut ini, bukanlah orang yang tertipu, melainkan orang yang sedang mengobati diri: menjahit kembali keutuhan biografisnya di tengah dunia yang terus berubah.

Inilah belokan antropologisnya. Jika nostalgia adalah obat melawan keterputusan, maka ia mestinya memuncak justru pada masa-masa perubahan paling cepat dan paling membingungkan — dan memang demikianlah adanya. Sosiolog Fred Davis, dalam karyanya yang berpengaruh, Yearning for Yesterday (1979), berargumen bahwa nostalgia adalah semacam kerja identitas (identity work) yang menyala terutama pada momen diskontinuitas: peralihan, krisis, migrasi, revolusi. Ketika tanah di bawah kaki kolektif sebuah masyarakat bergeser — ketika desa berubah menjadi kota, ketika rezim tumbang, ketika teknologi mendefinisikan ulang cara orang bekerja dan saling menyapa — orang berpaling ke masa lalu bukan karena masa lalu itu lebih baik, melainkan karena masa lalu menawarkan sesuatu yang sangat langka di masa transisi: rasa bahwa dunia dapat dipahami, bahwa hari esok dapat diramalkan dari hari kemarin. Yang dirindukan, sering kali, bukanlah kondisi material masa silam, melainkan keterbacaannya — sebuah dunia yang masih masuk akal.

Maka stiker "Isih penak jamanku, to?" itu menjadi lebih dapat dimengerti, sekalipun tetap tidak benar secara faktual. Yang dirindukan banyak orang di sana bukanlah angka kemiskinan yang lebih tinggi atau kebebasan yang lebih sempit — itu jelas bukan keuntungan. Yang dirindukan adalah perasaan bahwa harga-harga stabil, bahwa aturan main jelas (meski represif), bahwa masa depan tampak bisa diramalkan. Ini adalah kerinduan akan keterbacaan, yang oleh memori kolektif kemudian disalahatribusikan kepada seorang tokoh dan suatu era. Dan di sinilah nostalgia berhenti menjadi sekadar perkara pribadi dan mulai menjadi perkara politik.

Svetlana Boym, dalam The Future of Nostalgia (2001), menawarkan satu pembedaan yang amat berguna untuk menavigasi bahaya ini. Ia memisahkan nostalgia reflektif (reflective nostalgia) dari nostalgia restoratif (restorative nostalgia). Nostalgia reflektif berdiam dalam kerinduan itu sendiri; ia sadar bahwa masa lalu telah lewat dan tak bisa dipulihkan, ia bersifat individual, ironis, dan justru mendekati masa lalu sebagai bahan renungan — sebuah cara untuk memahami diri, bukan untuk membangun ulang dunia. Nostalgia restoratif, sebaliknya, tidak menganggap dirinya sebagai nostalgia sama sekali; ia memandang masa lalu sebagai kebenaran dan tradisi yang harus dipugar. Ia bersifat kolektif, serius, dan kerap menjadi bahan bakar bagi nasionalisme serta gerakan yang menjanjikan pemulihan kejayaan yang hilang. Dari sinilah lahir seluruh keluarga slogan politik yang bertumpu pada kata "kembali" — kembali ke kejayaan, kembali ke kemurnian, kembali ke tatanan lama. Yang berbahaya bukanlah kerinduannya, melainkan keyakinan bahwa sebuah memori yang sudah dipoles oleh rosy retrospection dan fading affect bias bisa dijadikan cetak biru (blueprint) untuk masa depan. Sebab masa lalu yang ingin dipugar oleh nostalgia restoratif tidak pernah benar-benar ada; ia adalah komposit dari kenangan terbaik yang telah dibersihkan dari segala nyerinya.

Namun saya tidak ingin menutup dengan menertawakan si perindu. Ada baiknya kita perlakukan posisi mereka dengan adil sampai ke versi terkuatnya. Mungkin saja sebagian dari yang dirindukan itu nyata, dan bukan sekadar artefak memori. Mungkin tempo hidup memang lebih lambat; mungkin tetangga memang lebih saling mengenal; mungkin pekerjaan memang lebih pasti, ikatan komunitas lebih kuat, dan rasa cemas yang difus tentang masa depan — yang kini menjadi latar konstan kehidupan modern — memang lebih jarang. Pertumbuhan kesejahteraan agregat yang ditunjukkan oleh angka kemiskinan dan harapan hidup tidak otomatis berarti pertumbuhan dalam hal makna, kepemilikan, atau ketenangan. Sangat mungkin sebuah masyarakat menjadi jauh lebih kaya dan lebih sehat sekaligus kehilangan sesuatu yang sulit dimasukkan ke dalam statistik. Jika demikian, nostalgia tidak sepenuhnya keliru — ia mungkin menunjuk pada kerugian yang nyata, hanya saja salah alamat: kita merindukan waktu padahal yang hilang adalah suatu cara hidup yang kebetulan terjadi di waktu itu.

Lalu untuk apa semua ini, bila pada akhirnya kita tetap tak bisa pulang? Barangkali nilai dari membongkar nostalgia bukanlah untuk menyembuhkannya — sebab, seperti telah kita lihat, ia justru menyembuhkan banyak hal — melainkan untuk belajar membacanya dengan benar. Kerinduan pada masa lalu adalah alat ukur, bukan peta. Ia mengukur suhu ketidakpuasan kita terhadap masa kini, dan ia menunjuk ke arah sesuatu yang kita rasa telah hilang — keterhubungan, keterbacaan, keutuhan diri. Membacanya sebagai alat ukur berarti bertanya: kalau aku merindukan dunia yang lebih dapat dipahami, lebih guyub, lebih tidak cemas, apa yang bisa kubangun ke depan untuk menghadirkannya kembali — bukan dengan memugar sebuah era yang tak pernah seindah ingatanku, tetapi dengan menamai persis apa yang kurindukan dan mengejarnya dalam bentuknya yang baru? Membacanya sebagai peta, sebaliknya, berarti percaya bahwa ada jalan pulang ke sebuah tempat di garis waktu — dan tak ada penipuan yang lebih halus daripada itu.

Sebelum menutup, beberapa keterbatasan analisis ini perlu saya akui secara terbuka. Pertama, sebagian besar studi psikologis yang saya kutip — tentang rosy retrospection, fading affect bias, dan fungsi nostalgia — dilakukan terutama pada populasi yang lazim disebut WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic), sehingga sejauh mana temuannya berlaku persis untuk masyarakat Indonesia masih memerlukan verifikasi empiris tersendiri; meskipun beberapa fenomena seperti FAB dan ilusi kemerosotan moral telah diuji lintas-budaya, kehati-hatian tetap diperlukan. Kedua, banyak temuan ini bersifat korelasional atau berbasis laboratorium, sehingga mekanisme kausal yang saya rangkai — paparan negatif plus memori positif menghasilkan ilusi — adalah inferensi yang masuk akal, bukan hukum yang pasti. Ketiga, data kemiskinan dan kesehatan yang saya pakai bersifat agregat dan menyembunyikan ketimpangan distribusi: rata-rata yang membaik tidak berarti setiap kelompok membaik. Dan keempat, klaim "masa lalu tidak lebih baik" itu sendiri sarat nilai. Pada ukuran kelangsungan hidup, pangan, dan kesehatan, klaim itu kokoh; tetapi pada ukuran makna, komunitas, ketenangan, atau keberlanjutan ekologis, perbandingannya jauh lebih bisa diperdebatkan — dan justru di celah itulah nostalgia sering kali menyimpan kebenarannya yang malu-malu.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukanlah apakah zaman dulu lebih enak, melainkan apa yang sedang dikatakan oleh rasa rindu itu tentang masa kini yang telah kita bangun — dan apakah kita cukup berani mendengarkannya tanpa tergoda untuk memutar jarum jam ke belakang.


Rujukan

Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad is stronger than good. Review of General Psychology, 5(4), 323–370. https://doi.org/10.1037/1089-2680.5.4.323

Boym, S. (2001). The future of nostalgia. Basic Books.

Davis, F. (1979). Yearning for yesterday: A sociology of nostalgia. Free Press.

Mastroianni, A. M., & Gilbert, D. T. (2023). The illusion of moral decline. Nature, 618, 782–789. https://doi.org/10.1038/s41586-023-06137-x

Mitchell, T. R., Thompson, L., Peterson, E., & Cronk, R. (1997). Temporal adjustments in the evaluation of events: The "rosy view." Journal of Experimental Social Psychology, 33(4), 421–448. https://doi.org/10.1006/jesp.1997.1333

Our World in Data. (2025). Poverty. https://ourworldindata.org/poverty

Rozin, P., & Royzman, E. B. (2001). Negativity bias, negativity dominance, and contagion. Personality and Social Psychology Review, 5(4), 296–320. https://doi.org/10.1207/S15327957PSPR0504_2

Sedikides, C., Wildschut, T., Arndt, J., & Routledge, C. (2008). Nostalgia: Past, present, and future. Current Directions in Psychological Science, 17(5), 304–307. https://doi.org/10.1111/j.1467-8721.2008.00595.x

Walker, W. R., & Skowronski, J. J. (2009). The fading affect bias: But what the hell is it for? Applied Cognitive Psychology, 23(8), 1122–1136. https://doi.org/10.1002/acp.1614

Walker, W. R., Skowronski, J. J., & Thompson, C. P. (2003). Life is pleasant—and memory helps to keep it that way. Review of General Psychology, 7(2), 203–210. https://doi.org/10.1037/1089-2680.7.2.203

Wildschut, T., Sedikides, C., Arndt, J., & Routledge, C. (2006). Nostalgia: Content, triggers, functions. Journal of Personality and Social Psychology, 91(5), 975–993. https://doi.org/10.1037/0022-3514.91.5.975

World Bank. (2025). Poverty: Overview. https://www.worldbank.org/en/topic/poverty/overview

Zhou, X., Sedikides, C., Wildschut, T., & Gao, D.-G. (2008). Counteracting loneliness: On the restorative function of nostalgia. Psychological Science, 19(10), 1023–1029. https://doi.org/10.1111/j.1467-9280.2008.02194.x

No comments:

Post a Comment