6.9.26

(filsafat) Apakah Ribuan Agama Menuju Tuhan yang Hakikatnya Sama?

 


"Ekam sat vipra bahudha vadanti" — Yang Ada itu Satu; para bijak menyebutnya dengan banyak nama. — Rgveda 1.164.46

Ada sebuah kisah tua yang seperti udara: ia ada di mana-mana, dihirup oleh hampir semua tradisi, dan jarang ada yang menanyakan dari mana asalnya. Sekelompok orang buta diminta menggambarkan seekor gajah di dalam ruang gelap. Yang memegang belalai berkata gajah itu seperti ular tebal yang lentur. Yang meraba telinga bersikukuh ia seperti kipas. Yang memeluk kaki yakin gajah adalah sebatang pilar, dan yang menyentuh ekor menertawakan mereka semua: gajah, katanya, jelas-jelas sehelai tali. Mereka bertengkar sepanjang malam, masing-masing benar tentang bagian yang disentuhnya, masing-masing keliru tentang keseluruhannya. Kisah ini muncul dalam kanon Buddhis (Udāna 6.4), dalam khazanah Jaina, dalam syair sufistik Rumi, dan dalam beragam wujud di anak benua India — sebuah perumpamaan yang, secara ironis, dimiliki bersama oleh agama-agama yang ia gunakan untuk menjelaskan mengapa agama-agama tampak berbeda. Pesannya terasa begitu murah hati sehingga sukar ditolak: kita semua meraba Realitas yang satu dan sama, hanya saja dari sudut yang berlainan, dengan tangan yang terbatas, di dalam gelap.

Dari perumpamaan inilah lahir salah satu gagasan paling memikat dalam sejarah pemikiran manusia, yang dalam khazanah filsafat disebut filsafat perenial (perennial philosophy) atau, lebih spesifik, tesis kesatuan transenden agama-agama (transcendent unity of religions). Pendukungnya bukan orang-orang sembarangan. Frithjof Schuon (1953/1984) berargumen bahwa di balik selubung bentuk lahiriah yang berbeda-beda — ritual, dogma, hukum — semua agama besar berbagi inti esoteris yang identik, sebuah pengetahuan tentang Yang Mutlak yang hanya tampak terpecah karena keterbatasan bahasa dan budaya. Aldous Huxley mempopulerkannya bagi pembaca abad ke-20, dan Huston Smith (1991), barangkali penafsir agama-agama dunia yang paling banyak dibaca dalam bahasa Inggris, menjadikannya semacam keyakinan personal: bahwa tradisi-tradisi besar adalah jendela-jendela berbeda yang menghadap ke cahaya yang sama.

Namun perumusan yang paling tahan uji secara filosofis datang dari filsuf agama Inggris, John Hick. Dalam karyanya yang monumental, An Interpretation of Religion (1989), Hick mengajukan apa yang ia sebut hipotesis pluralis (pluralist hypothesis). Inti argumennya begini: ada satu Yang Nyata (the Real) — istilah sengaja dipilih netral, bukan "Tuhan" yang sudah terlalu bermuatan teologi tertentu — yang pada dirinya sendiri tak terjangkau oleh konsep manusia mana pun. Yang dapat kita alami bukanlah Yang Nyata sebagaimana adanya (the Real an sich), melainkan Yang Nyata sebagaimana ia tampak melalui saringan kategori-kategori budaya, bahasa, dan psikologis kita. Hick meminjam kerangka Immanuel Kant: sebagaimana kita tak pernah menjangkau "benda pada dirinya sendiri" melainkan hanya gejalanya, demikian pula kita tak pernah menjangkau Yang Nyata melainkan hanya manifestasinya. Maka Allah dalam Islam, Bapa dalam Kristen, Brahman dalam Vedanta, Sunyata dalam Buddhisme Mahayana — semuanya, bagi Hick, adalah respons-respons manusiawi yang otentik namun terbatas terhadap satu Realitas terakhir yang melampaui semuanya. Tak ada yang sepenuhnya benar; tak ada pula yang sepenuhnya keliru. Mereka adalah para peraba gajah.

Argumen ini patut kita perlakukan dengan serius, bukan sekadar sebagai sentimen hangat di forum dialog antaragama. Ia menjawab sebuah teka-teki moral yang nyata: jika hanya satu agama yang benar dan selebihnya sesat, bagaimana kita memahami kesalehan, kearifan, dan buah-buah moral yang nyata-nyata tumbuh subur di hampir setiap tradisi? Mengapa seorang sufi, seorang rabi, seorang bhikkhu, dan seorang santo Katolik dapat sampai pada bentuk welas asih dan kerendahan hati yang nyaris tak terbedakan, meskipun teologi mereka berseberangan? Hipotesis pluralis menawarkan jawaban yang elegan dan secara moral murah hati: karena mereka semua, dengan caranya masing-masing, sedang menanggapi Yang Nyata yang sama. Bagi sebuah negara seperti Indonesia, gagasan ini bahkan terasa konstitusional. Sila pertama Pancasila — Ketuhanan Yang Maha Esa — kerap dibaca persis dalam semangat itu: sebuah ketuhanan tunggal yang menaungi keragaman cara menyembah-Nya, sebuah payung yang cukup luas untuk umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu sekaligus. Bhinneka Tunggal Ika — berbeda-beda tetapi satu — seolah menubuhkan parabel gajah itu ke dalam dasar bernegara.

Lalu, apakah ia benar?

Di sinilah, saya kira, antropologi — ilmu yang menghabiskan satu setengah abad mendatangi rumah-rumah ibadah manusia di seluruh muka bumi dan duduk mencatat apa yang benar-benar dilakukan dan diyakini orang — punya sesuatu yang merepotkan untuk dikatakan. Bukan jawaban "ya" atau "tidak" atas pertanyaan metafisis itu; antropologi memang tak memiliki alat untuk menimbang apakah ada satu Tuhan di balik segalanya. Yang dimilikinya adalah sesuatu yang lebih rendah hati sekaligus lebih mengganggu: pengetahuan terperinci tentang betapa beragamnya hal yang sesungguhnya disebut manusia sebagai "agama," dan betapa pengandaian bahwa semuanya menuju "Tuhan" yang satu itu sendiri sudah merupakan pilihan budaya yang sangat khas.

Masalah pertama, dan yang paling mendasar, adalah pada kata "Tuhan" itu sendiri. Pertanyaan "apakah semua agama menuju Tuhan yang sama" diam-diam mengandaikan bahwa setiap agama, pada dasarnya, sedang menuju sesuatu yang pantas disebut Tuhan — satu pribadi ilahi, transenden, pencipta, yang menjadi tujuan akhir. Ini adalah cara pandang monoteistik (monotheistic), dan ia justru merupakan pengecualian, bukan kaidah umum, dalam sejarah keberagamaan manusia. Antropolog Inggris abad ke-19, Edward Burnett Tylor (1871), ketika hendak merumuskan definisi agama yang cukup luas untuk merangkum seluruh manusia, sampai pada rumusan minimal yang terkenal: agama adalah "kepercayaan kepada makhluk-makhluk spiritual" (belief in spiritual beings) — makhluk, bentuk jamak, bukan satu Tuhan. Sebagian besar tradisi yang ditemui para etnograf bukanlah monoteisme melainkan dunia yang ramai oleh roh leluhur, penunggu tempat, dewa-dewi yang berbagi kuasa, dan kekuatan yang tak berpribadi. Buddhisme Theravada, yang dianut ratusan juta orang, secara teknis adalah tradisi non-teistik (non-theistic): ia tidak berpusat pada penyembahan suatu Tuhan pencipta sama sekali, melainkan pada pembebasan dari penderitaan melalui pemahaman akan sifat sejati realitas. Jainisme bahkan dapat disebut a-teistik dalam pengertian itu. Hinduisme, jika kita memaksanya masuk kotak monoteisme, akan segera meledakkannya — ia sekaligus dapat dibaca sebagai politeisme yang semarak, sebagai monisme (Brahman yang tunggal), dan sebagai sesuatu yang tak terumuskan dalam dikotomi Barat tentang "satu" versus "banyak."

Skalanya bukan hal sepele. Data demografi keagamaan global dari Pew Research Center (2012) memperkirakan, pada 2010, terdapat sekitar satu miliar umat Hindu (15% populasi dunia) dan hampir 500 juta umat Buddha (7%), di samping ratusan juta penganut agama rakyat dan tradisional. Dalam laporan terbarunya tentang perubahan lanskap keagamaan dunia sepanjang 2010–2020, Pew Research Center (2025) bahkan mencatat bahwa kelompok yang tidak berafiliasi agama (religiously unaffiliated) telah tumbuh menjadi sekitar 24% populasi dunia pada 2020 — kelompok terbesar ketiga setelah Kristen dan Islam — meskipun banyak di antara mereka tetap memelihara semacam keyakinan spiritual yang samar. Artinya, ketika kita mengajukan pertanyaan apakah "ribuan agama" menuju "Tuhan yang sama," sebagian besar manusia yang sedang kita bicarakan ternyata tidak sedang menuju satu Tuhan pribadi dalam pengertian yang kita andaikan — sebagian menuju pluralitas yang ilahi, sebagian menuju realitas tanpa pribadi, sebagian lagi menuju pembebasan yang justru meninggalkan kategori "Tuhan" di belakang. Pertanyaan kita, dengan kata lain, sudah memuat jawabannya secara terselubung dalam cara ia bertanya.

Antropolog Talal Asad (1993) mendorong kecurigaan ini lebih jauh lagi. Menurutnya, kategori "agama" itu sendiri — sebagai ranah keyakinan personal yang terpisah dari politik, ekonomi, dan kehidupan sosial — bukanlah kategori universal yang melekat pada sifat manusia, melainkan produk sejarah tertentu, terutama Kristen Eropa pascareformasi dan pasca-Pencerahan. Ketika kita mengandaikan bahwa semua tradisi di dunia adalah varian dari satu hal bernama "agama" yang semuanya intinya adalah "iman kepada yang ilahi," kita sebenarnya sedang memproyeksikan satu cetakan budaya tertentu ke seluruh dunia. Tesis kesatuan transenden, dari sudut ini, mulai tampak kurang seperti penemuan netral tentang hakikat segala agama, dan lebih seperti gestur budaya modern yang khas — sebuah cara murah hati, tetapi tetap partikular, untuk menertibkan keragaman yang sesungguhnya jauh lebih liar.

Masalah kedua menyangkut apa yang sebenarnya sedang dilakukan agama menurut kacamata ilmu sosial. Émile Durkheim, dalam Les formes élémentaires de la vie religieuse (1912/1995), mengajukan tesis yang sampai hari ini menggetarkan: bahwa ketika sebuah masyarakat menyembah totem atau dewanya, yang sesungguhnya disembah — tanpa disadari — adalah masyarakat itu sendiri. Yang sakral (the sacred), bagi Durkheim, adalah daya kolektif masyarakat yang dialami sebagai sesuatu yang melampaui individu, lalu diberi nama ilahi. Jika ini benar, bahkan sebagian saja, maka agama-agama yang berbeda tidak sedang meraba satu gajah metafisis yang sama; mereka sedang mencerminkan struktur sosial, sejarah, dan kebutuhan kolektif yang berbeda-beda. Clifford Geertz (1973), dalam esainya yang termasyhur tentang agama sebagai sistem budaya (religion as a cultural system), menambahkan bahwa agama bekerja dengan merajut suatu "tatanan makna" yang membuat dunia terasa masuk akal dan dapat dihuni — dan tatanan makna setiap masyarakat tumbuh dari tanah lokalnya sendiri. Dari sudut ini, keserupaan antara tradisi-tradisi bukanlah bukti adanya satu objek transenden bersama, melainkan bukti bahwa manusia di mana pun menghadapi persoalan eksistensial yang serupa — kematian, ketidakadilan, derita yang tak terjelaskan — dan menjawabnya dengan perangkat kognitif yang serupa.

Perangkat kognitif itulah yang menjadi pokok masalah ketiga, dan barangkali yang paling menantang bagi tesis kesatuan. Selama tiga dekade terakhir, sebuah bidang yang disebut ilmu kognitif tentang agama (cognitive science of religion) berargumen bahwa kepercayaan religius muncul, sebagian besar, sebagai produk sampingan (byproduct) dari cara kerja normal otak manusia. Stewart Guthrie (1993) menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan kuat untuk antropomorfisme — melihat wajah pada awan, niat pada angin, kehendak pada peristiwa acak. Pascal Boyer (2001) menambahkan bahwa konsep-konsep keagamaan yang paling mudah menyebar dan bertahan adalah yang ia sebut agen yang sedikit berlawanan-intuisi (minimally counterintuitive agents): makhluk yang sebagian besar berperilaku seperti manusia biasa namun melanggar satu-dua aturan intuitif kita — bisa menembus dinding, mengetahui pikiran kita, tak pernah mati. Justin Barrett menamai mekanisme yang membuat kita cepat menyimpulkan adanya "pelaku" di balik gerak sebagai perangkat deteksi keagenan yang hiperaktif (hypersensitive agency detection device). Implikasinya tajam: jika gagasan tentang yang ilahi muncul berulang kali lintas budaya bukan karena ia menunjuk ke satu Realitas yang sama, melainkan karena otak kita semua dibangun dengan cara yang serupa, maka keserupaan agama-agama bisa jadi mengatakan lebih banyak tentang neurologi manusia ketimbang tentang struktur kosmos.

Ara Norenzayan (2013), dalam Big Gods, mengangkat pertanyaan ini ke tataran sejarah peradaban. Mengapa "Tuhan-Tuhan besar" — dewa moral yang mahatahu, peduli pada perilaku manusia, dan menghukum pelanggaran — muncul justru ketika masyarakat manusia membengkak dari desa-desa kecil menjadi kerajaan dan imperium yang menampung orang-orang asing yang tak saling kenal? Hipotesisnya: keyakinan pada pengawas ilahi yang mahatahu adalah semacam teknologi sosial yang membantu menumbuhkan kerja sama dan kepercayaan dalam skala besar (lihat juga Norenzayan & Shariff, 2008). Di sini kita harus berhati-hati dan jujur, sebab justru di titik ini bukti empiris menjadi paling ramai diperdebatkan. Sebuah studi ambisius oleh Whitehouse dkk. (2019) di jurnal Nature, yang menganalisis 414 masyarakat sepanjang sepuluh ribu tahun melalui basis data Seshat, menyimpulkan kebalikan dari dugaan banyak orang: kompleksitas sosial yang besar ternyata cenderung mendahului kemunculan Tuhan-Tuhan moral, bukan disebabkan olehnya. Artikel itu kemudian ditarik (retracted) pada 2021 setelah sekelompok ilmuwan mempersoalkan cara penanganan data yang hilang dalam analisisnya, lalu para penulisnya menerbitkan kembali analisis yang dikoreksi dan mempertahankan temuan intinya — sementara para sejarawan lain tetap mempertanyakan ketelitian pengodean datanya. Perdebatan ini belum tuntas, dan saya tidak hendak berpura-pura ia sudah tuntas. Namun apa pun arah kausalitasnya pada akhirnya, satu hal sudah cukup jelas dari seluruh program riset ini: bentuk-bentuk ketuhanan yang dianut manusia tampak berkembang seiring dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan sosial yang konkret dan berubah-ubah — bukan seperti yang kita harapkan dari refraksi-refraksi atas satu objek ilahi yang abadi dan tak berubah.

Lalu bagaimana dengan benteng terakhir tesis kesatuan, yakni pengalaman mistik? Inilah argumen yang paling sukar dipatahkan. Bukankah, di balik perbedaan doktrin, para mistikus dari semua tradisi melaporkan pengalaman yang serupa — peleburan ego, kesatuan dengan Yang Tak Terhingga, rasa cinta dan cahaya yang melampaui kata? William James (1902), dalam The Varieties of Religious Experience, memetakan ciri-ciri umum pengalaman mistik lintas tradisi; W. T. Stace (1960) kemudian merumuskannya sebagai tesis "inti bersama" (common core): di kedalaman, semua mistisisme bertemu pada satu pengalaman murni yang sama, dan perbedaan hanya muncul ketika pengalaman itu ditafsirkan dengan kosakata agama masing-masing. Jika benar, tesis ini menjadi bukti pengalaman paling kuat bahwa di puncak setiap jalan, gunungnya ternyata satu.

Tetapi di sinilah seorang filsuf bernama Steven Katz (1978) melontarkan keberatan yang mengubah seluruh perdebatan. Tidak ada, kata Katz, pengalaman yang tak terperantarai (unmediated experience). Seorang mistikus Buddhis yang bertahun-tahun melatih pikirannya untuk menembus kekosongan (sunyata) tidak akan mengalami "kesatuan dengan Tuhan personal," sebab seluruh kerangka latihan, harapan, dan bahasanya tidak mengandung Tuhan personal — ia akan mengalami persis kekosongan yang ia siapkan untuk dialami. Seorang mistikus Kristen yang sejak kecil merindukan perjumpaan dengan Kristus tidak akan mencapai "ketiadaan diri tanpa Tuhan"; ia akan berjumpa dengan yang ia rindukan. Pengalaman, dengan kata lain, dibentuk dari awal hingga akhir oleh tradisi yang membentuk si pengalam — sebuah posisi yang kini disebut konstruktivisme (constructivism). Jika Katz benar, maka keserupaan laporan mistik bisa jadi sebagian merupakan ilusi yang tercipta ketika kita menerjemahkan pengalaman-pengalaman yang sesungguhnya berbeda ke dalam kosakata umum yang kabur seperti "kesatuan" dan "yang transenden." Para peraba gajah, ternyata, bahkan tidak sedang menyentuh gajah yang sama.

Maka sampailah kita pada keberatan yang paling membumi, yang diajukan oleh sejarawan agama Stephen Prothero (2010) dalam buku dengan judul yang sengaja provokatif, God Is Not One. Menurut Prothero, ide bahwa semua agama adalah jalan berbeda menuju puncak gunung yang sama bukan hanya keliru secara faktual, melainkan juga — ini bagian yang menarik — merupakan bentuk ketidaksopanan yang terselubung. Sebab ia menghapus apa yang justru paling diperjuangkan dan dihargai oleh setiap tradisi. Agama-agama, kata Prothero, bahkan tidak sepakat tentang apa masalah manusia yang paling fundamental, apalagi tentang solusinya. Bagi Kristen, masalahnya adalah dosa dan solusinya keselamatan. Bagi Buddhisme, masalahnya adalah penderitaan (dukkha) dan solusinya kepadaman keinginan (nirvana). Bagi Islam, persoalannya adalah kesombongan dan kelalaian, dan jalannya adalah penyerahan diri (islam). Bagi Konfusianisme, persoalannya adalah kekacauan sosial, dan jalannya adalah keteraturan dan kepatutan. Ini bukan jawaban-jawaban berbeda atas pertanyaan yang sama; ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang berbeda. Memaksa semuanya menjadi "pada hakikatnya sama" justru meratakan perbedaan-perbedaan yang oleh para penganutnya dipandang sebagai inti hidup-mati. Murah hati di permukaan, ujar Prothero, tetapi meremehkan di kedalaman.

Indonesia, sekali lagi, menyediakan miniatur perdebatan ini dalam ukuran sebuah bangsa. Frasa Ketuhanan Yang Maha Esa yang tampak menyatukan itu sesungguhnya lahir dari kompromi yang tegang dan tak pernah benar-benar selesai. Apakah "Maha Esa" berarti monoteisme yang ketat — satu Tuhan dalam pengertian Ibrahimiah — sehingga tradisi yang tak menyembah satu Tuhan pencipta berada dalam posisi yang janggal? Bagaimana dengan jutaan penganut kepercayaan lokal — para penghayat — yang selama berpuluh tahun harus berjuang sekadar agar keyakinan mereka diakui setara di kolom kartu tanda penduduk? Payung yang tampak menaungi semua itu, jika diperiksa dari dekat, ternyata memiliki tepi-tepi yang menentukan siapa yang masuk dan siapa yang tertinggal di luar — dan garis itu sendiri ditarik oleh sejarah, politik, dan kuasa, bukan oleh wahyu yang netral. Kesatuan, bahkan dalam wujudnya yang paling dermawan, selalu merupakan kesatuan menurut takaran seseorang.

Lalu, di mana kita berdiri pada akhirnya? Saya kira kejujuran menuntut kita mengakui batas pisau yang sedang kita pakai. Antropologi, ilmu kognitif, dan sejarah agama tidak dapat — dan tidak akan pernah dapat — membuktikan bahwa di balik segala tirai itu tidak ada satu Realitas terakhir yang sama. Seorang beriman dapat dengan sah berkata bahwa seluruh temuan ini hanyalah deskripsi tentang tangan-tangan yang meraba, dan sama sekali tidak menyentuh pertanyaan tentang gajahnya. Itu benar. Klaim kesatuan transenden, pada dirinya sendiri, bukanlah hipotesis ilmiah yang dapat diuji-batalkan; ia adalah keyakinan metafisis, dan ia berhak hidup di ranahnya sendiri. Tetapi yang dapat kita katakan dengan cukup percaya diri adalah ini: gagasan bahwa ribuan agama "pada hakikatnya menuju Tuhan yang sama" bukanlah temuan netral yang dipersembahkan oleh data, melainkan sebuah penafsiran — dan penafsiran itu sendiri memiliki sejarah, asal-usul budaya, dan kepentingan moralnya sendiri. Ia adalah sebuah gerakan yang khas modern, lahir dari pertemuan antara mistisisme lintas-tradisi, liberalisme Pencerahan, dan kebutuhan dunia yang sempit untuk hidup berdampingan tanpa saling membunuh. Itu adalah motif yang mulia. Tetapi motif yang mulia tidak dengan sendirinya menjadikan sebuah klaim benar tentang hakikat segala sesuatu.

Barangkali ironi terdalam dari perumpamaan gajah itu justru terletak pada bagian yang jarang diperhatikan. Dalam versi Buddhis yang asli, satu-satunya tokoh yang tahu bahwa yang diraba para orang buta itu adalah seekor gajah, satu-satunya yang dapat berkata dengan yakin "kalian semua benar, ini satu binatang yang sama," adalah sang raja — yakni satu-satunya tokoh dalam cerita yang dapat melihat. Untuk menyatakan bahwa semua jalan menuju Tuhan yang sama, seseorang harus, untuk sesaat, mengklaim dapat melihat gajah seutuhnya — mengambil posisi sang raja, posisi yang melampaui semua sudut pandang yang terbatas. Dan justru di situlah persoalannya: kita semua, tanpa terkecuali, adalah orang-orang yang meraba dalam gelap. Tak seorang pun di antara kita yang pernah berdiri di luar ruangan dan melihat. Mungkin memang ada satu gajah. Mungkin ada banyak. Mungkin yang kita sebut "gajah" itu sendiri adalah cara tangan kita yang terbatas merangkai sentuhan-sentuhan yang sebenarnya berserakan. Yang pasti hanyalah ini: ruangan tetap gelap, dan tangan kita tetap mungil — dan barangkali kearifan tertinggi bukanlah memastikan bentuk gajahnya, melainkan belajar duduk dengan hormat di samping mereka yang meraba bagian yang lain.


Catatan tentang batas tulisan ini

Tulisan ini sengaja tidak menjawab pertanyaan metafisis pada judulnya, sebab pisau yang dipakainya — antropologi, ilmu kognitif tentang agama, dan sejarah agama — memang tidak dirancang untuk membuktikan ada-tidaknya Realitas terakhir. Yang dipersoalkan di sini adalah status epistemis dari klaim kesatuan, bukan kebenaran akhirnya. Pembaca yang berangkat dari iman tertentu berhak menilai bahwa seluruh temuan empiris di atas tak menyentuh inti keyakinannya; posisi itu sah dan tidak terbantahkan oleh data mana pun. Beberapa bukti yang dirujuk — khususnya debat seputar Tuhan-Tuhan moral dan kompleksitas sosial (Whitehouse dkk., 2019) — masih diperdebatkan secara aktif di kalangan ilmuwan dan tidak boleh dibaca sebagai temuan yang sudah final. Demikian pula, kategori-kategori demografi Pew memperlakukan "agama" sebagai unit yang rapi, padahal di lapangan batas-batasnya jauh lebih cair.

Referensi

Asad, T. (1993). Genealogies of religion: Discipline and reasons of power in Christianity and Islam. Johns Hopkins University Press.

Boyer, P. (2001). Religion explained: The evolutionary origins of religious thought. Basic Books.

Durkheim, É. (1995). The elementary forms of religious life (K. E. Fields, Trans.). Free Press. (Karya asli terbit 1912)

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures: Selected essays. Basic Books.

Guthrie, S. E. (1993). Faces in the clouds: A new theory of religion. Oxford University Press.

Hick, J. (1989). An interpretation of religion: Human responses to the transcendent. Yale University Press.

James, W. (1902). The varieties of religious experience: A study in human nature. Longmans, Green.

Katz, S. T. (1978). Language, epistemology, and mysticism. Dalam S. T. Katz (Ed.), Mysticism and philosophical analysis (hlm. 22–74). Oxford University Press.

Norenzayan, A. (2013). Big gods: How religion transformed cooperation and conflict. Princeton University Press.

Norenzayan, A., & Shariff, A. F. (2008). The origin and evolution of religious prosociality. Science, 322(5898), 58–62. https://doi.org/10.1126/science.1158757

Pew Research Center. (2012). The global religious landscape. https://www.pewresearch.org/religion/2012/12/18/global-religious-landscape-exec/

Pew Research Center. (2025). How the global religious landscape changed from 2010 to 2020. https://www.pewresearch.org/religion/2025/06/09/how-the-global-religious-landscape-changed-from-2010-to-2020/

Prothero, S. (2010). God is not one: The eight rival religions that run the world—and why their differences matter. HarperOne.

Schuon, F. (1984). The transcendent unity of religions (P. Townsend, Trans.). Quest Books. (Karya asli terbit 1953)

Smith, H. (1991). The world's religions: Our great wisdom traditions. HarperOne.

Stace, W. T. (1960). Mysticism and philosophy. Macmillan.

Tylor, E. B. (1871). Primitive culture. John Murray.

Whitehouse, H., François, P., Savage, P. E., Currie, T. E., Feeney, K. C., Cioni, E., Purcell, R., Ross, R. M., Larson, J., Baines, J., ter Haar, B., Covey, A., & Turchin, P. (2019). Complex societies precede moralizing gods throughout world history. Nature, 567(7748), 226–229. https://doi.org/10.1038/s41586-019-1043-4 (Artikel ditarik pada 2021; analisis terkoreksi kemudian diterbitkan kembali oleh para penulisnya)

No comments:

Post a Comment