6.9.26

(filsafat-industri) Jika otomatisasi dan AI menggantikan sebagian besar pekerjaan, apa legitimasi moral industri di masa depan; bagaimana industri mempertahankan kontrak sosialnya ketika kebutuhan terhadap tenaga kerja menurun?

Di sebuah pabrik pengolahan nikel di pesisir timur Sulawesi, seorang operator bernama Rusli — sebut saja begitu — menghabiskan dua belas jam setiap shift mengawasi serangkaian layar yang menampilkan suhu tungku peleburan. Pekerjaan itu, secara teknis, tidak menuntut tangannya. Tungku diatur oleh sistem kontrol yang membaca ribuan titik data per detik dan melakukan koreksi jauh lebih cepat daripada refleks manusia mana pun. Rusli ada di sana, ia tahu, terutama karena regulasi menuntut kehadiran manusia, karena asuransi menuntutnya, dan karena — ini yang paling mengganggu pikirannya pada jam tiga pagi — manajemen belum sepenuhnya percaya pada mesin yang sudah mereka percayai untuk segala hal lain. Ia dibayar bukan untuk bekerja, melainkan untuk berada di sana sebagai jaminan, sebagai tanda tangan biologis pada sebuah proses yang sebenarnya sudah berjalan tanpanya. Suatu malam ia bertanya pada dirinya sendiri sebuah pertanyaan yang terdengar naif tetapi sesungguhnya menyimpan seluruh persoalan zaman kita: kalau pabrik ini bisa berjalan tanpa aku, kenapa pabrik ini masih berutang sesuatu padaku?

Pertanyaan Rusli bukan pertanyaan ekonomi. Ekonomi punya jawaban yang dingin dan tidak memuaskan: pabrik berutang padanya selama, dan hanya selama, kehadirannya menambah nilai lebih besar daripada biayanya. Pertanyaan Rusli adalah pertanyaan moral, dan ia menyentuh fondasi yang selama dua abad terakhir kita anggap sudah selesai dipikirkan. Sejak Revolusi Industri, legitimasi moral perusahaan — hak sosialnya untuk ada, untuk mengeruk sumber daya, untuk menghasilkan keuntungan, untuk membentuk lanskap dan kehidupan di sekitarnya — bersandar pada satu pertukaran yang kelihatannya adil: industri memberi pekerjaan, dan melalui pekerjaan, ia memberi orang akses pada kehidupan yang bermartabat. Kontrak sosial industri, dalam bentuknya yang paling sederhana, adalah ini: kami mengambil sesuatu dari masyarakat dan lingkungan, tetapi kami mengembalikannya dalam bentuk nafkah bagi banyak orang. Upah adalah benang yang mengikat raksasa pada komunitas yang menampungnya.

Tetapi apa yang terjadi ketika benang itu menipis? Apa yang terjadi ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan membuat tenaga kerja manusia menjadi semakin tidak diperlukan — bukan dihapus seluruhnya, tetapi dikurangi, didevaluasi, didorong ke pinggiran proses produksi sebagaimana Rusli didorong ke kursi pengawas yang tak perlu? Jika industri masa depan dapat menghasilkan kekayaan luar biasa dengan segelintir insinyur dan armada robot, atas dasar apa ia masih bisa mengklaim memiliki tempat yang sah di tengah masyarakat? Pertanyaan ini bukan ramalan fiksi ilmiah. Ia sudah mulai terjadi di ruang-ruang kontrol yang sunyi, di gudang-gudang yang dijalankan algoritma, di kantor-kantor tempat perangkat lunak menulis laporan yang dulu ditulis manusia. Dan ia memaksa kita untuk membongkar kembali sesuatu yang kita kira sudah kokoh: gagasan bahwa industri dan masyarakat terikat oleh kebutuhan timbal balik.

## **Janji yang Diam-diam Sudah Lama Retak**

Sebelum kita membayangkan masa depan tanpa kerja, ada baiknya kita jujur tentang masa kini. Kontrak sosial yang saya gambarkan di atas — industri memberi nafkah, masyarakat memberi legitimasi — tidak pernah sebersih yang kita kenang. Ia adalah pencapaian historis tertentu, hasil dari pertarungan panjang, bukan hukum alam ekonomi. Pada paruh pertama abad kesembilan belas, pabrik-pabrik tekstil di Manchester mengambil tenaga kerja, termasuk tenaga anak-anak, dengan upah yang nyaris tidak menjamin kelangsungan hidup, dan mereka tidak merasa berutang apa pun pada para pekerja itu selain upah harian yang disepakati pasar. Legitimasi moral, pada masa itu, bukan diberikan oleh masyarakat; ia diasumsikan begitu saja oleh para pemilik modal sebagai hak alamiah properti. Yang mengubahnya bukanlah kebaikan hati industri, melainkan tekanan: gerakan buruh, undang-undang pabrik, serikat pekerja, dan akhirnya kontrak sosial pasca-perang yang menjadikan pekerjaan tetap, upah layak, dan jaminan sosial sebagai norma di sebagian dunia.

Dengan kata lain, ikatan antara industri dan masyarakat melalui kerja bukanlah pemberian, melainkan rebutan. Dan justru karena ia rebutan, ia rapuh. Sepanjang empat dekade terakhir, jauh sebelum kecerdasan buatan menjadi kekhawatiran utama, benang itu sudah dirusakkan oleh hal-hal yang lebih tua: pemindahan produksi ke negara berupah rendah, fleksibilisasi tenaga kerja, ekonomi gig yang mengubah pekerja menjadi kontraktor lepas tanpa jaminan, dan finansialisasi yang membuat perusahaan lebih berutang pada pemegang saham daripada pada karyawan atau komunitas. Di kawasan industri seperti Morowali yang menjadi latar cerita Rusli, kontrak sosial itu hadir dalam bentuk yang khas dan timpang: ribuan pekerjaan memang tercipta, tetapi dalam kondisi yang sering kali tidak aman, dengan kecelakaan kerja yang berulang, dan dengan komunitas lokal yang menyaksikan kekayaan mengalir keluar lebih cepat daripada manfaat mengalir masuk. Otomatisasi, bila datang ke tempat seperti ini, tidak akan menghancurkan sebuah kontrak yang utuh dan adil. Ia akan datang ke sebuah kontrak yang sudah compang-camping, dan menghapus satu-satunya pembenaran yang masih tersisa: bahwa setidaknya, betapapun timpangnya, industri ini memberi orang pekerjaan.

Maka pertanyaannya menjadi lebih tajam. Bila pekerjaan adalah satu-satunya alasan moral yang tersisa bagi banyak operasi industri untuk diterima oleh masyarakat yang menanggung biayanya — dalam bentuk tanah yang diambil, sungai yang tercemar, udara yang dihirup — apa yang terjadi pada penerimaan itu ketika pekerjaan menguap? Dapatkah sebuah industri yang nyaris tidak mempekerjakan siapa pun tetap mengklaim bahwa ia melayani kepentingan bersama, ataukah ia berubah menjadi sesuatu yang lain: sebuah mesin ekstraksi murni, yang mengambil dari dunia tetapi tidak lagi mengembalikan apa pun kepada orang-orang yang hidup di dekatnya?

## **Tiga Cara Memandang Kerja yang Hilang**

Untuk memikirkan ini dengan serius, kita perlu menyadari bahwa "kerja" bukanlah satu hal, melainkan beberapa hal yang dibungkus dalam satu kata. Tradisi pemikiran yang berbeda melihat kerja secara berbeda, dan masing-masing memberi kita lensa yang berbeda untuk memahami apa sebenarnya yang hilang ketika mesin menggantikan manusia. Tidak satu pun dari lensa ini, akan saya tunjukkan nanti, cukup dengan sendirinya. Tetapi mengabaikan salah satunya membuat kita buta pada bagian penting dari persoalan.

Tradisi pertama, yang paling dekat dengan akal sehat ekonomi liberal, melihat kerja terutama sebagai sarana — alat untuk memperoleh pendapatan, yang pada gilirannya adalah alat untuk memperoleh kesejahteraan. Dalam pandangan ini, yang berakar pada utilitarianisme dan dimatangkan dalam ekonomi kesejahteraan, kerja itu sendiri tidak punya nilai intrinsik; ia adalah disutilitas, beban yang kita tanggung demi imbalan. Jika begitu, maka otomatisasi sesungguhnya kabar baik. Membebaskan manusia dari kerja yang melelahkan adalah pembebasan, bukan perampasan. John Maynard Keynes, dalam esainya yang terkenal tentang kemungkinan ekonomi bagi cucu-cucunya, membayangkan dunia di mana mesin telah menyelesaikan masalah ekonomi, dan tantangan manusia bukan lagi bekerja melainkan mengisi waktu luang dengan baik. Bagi tradisi ini, legitimasi moral industri masa depan tidak bergantung pada apakah ia mempekerjakan manusia, melainkan pada apakah kekayaan yang dihasilkannya didistribusikan secara adil. Pisahkan nafkah dari pekerjaan — melalui pendapatan dasar universal, dividen sosial, atau pajak atas modal dan otomatisasi — dan kontrak sosial bisa dipertahankan dalam bentuk baru: industri mengembalikan sesuatu kepada masyarakat bukan melalui gaji, melainkan melalui pajak yang membiayai kemakmuran bersama.

Tetapi ada tradisi kedua yang menolak premis dasar tadi. Bagi tradisi ini — yang membentang dari Karl Marx hingga para pemikir kerja kontemporer — kerja bukan sekadar sarana untuk memperoleh sesuatu yang lain. Kerja adalah cara manusia mengubah dunia dan, dalam proses itu, mengubah dan mewujudkan dirinya sendiri. Marx muda menulis tentang kerja sebagai aktivitas yang melaluinya manusia mengobjektivasi dirinya, menuangkan kapasitasnya ke dalam dunia material dan melihat dirinya terpantul kembali dari apa yang ia buat. Keterasingan, dalam analisisnya, terjadi justru ketika kerja direduksi menjadi sarana belaka — ketika pekerja kehilangan kendali atas apa yang ia hasilkan, atas proses pembuatannya, atas hubungannya dengan sesama pekerja, dan akhirnya atas dirinya sebagai makhluk yang bekerja. Dari sudut pandang ini, otomatisasi total bukanlah pembebasan otomatis. Ia bisa menjadi keterasingan dalam bentuk paling ekstrem: manusia tidak lagi terasing dalam kerja, melainkan terasing dari kerja, dipisahkan sepenuhnya dari salah satu cara fundamental ia terlibat dengan dunia. Pendapatan dasar mungkin mengisi perut Rusli, tetapi ia tidak menjawab kekosongan yang Rusli rasakan ketika menyadari bahwa kehadirannya tidak menambah apa pun.

Tradisi ketiga, yang saya temukan paling menggugah, datang dari Hannah Arendt. Dalam *The Human Condition*, Arendt membuat pembedaan yang tajam antara tiga bentuk aktivitas manusia: kerja (labor), karya (work), dan tindakan (action). Labor adalah aktivitas yang melayani kebutuhan biologis kita yang berulang — memberi makan, membersihkan, memproduksi yang habis dikonsumsi; ia siklis dan tak pernah selesai. Work adalah aktivitas yang membangun dunia objek yang tahan lama, artefak dan institusi yang melampaui hidup pembuatnya. Dan action adalah aktivitas politik, perjumpaan antarmanusia dalam ruang publik tempat kita mengungkapkan siapa kita melalui kata dan perbuatan. Bagi Arendt, bahaya zaman modern bukanlah hilangnya labor, melainkan kemenangan kategori labor atas segalanya — sebuah masyarakat yang memandang seluruh hidup sebagai labor, sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, sehingga tak mampu lagi membayangkan kebebasan di luar konsumsi. Ironi yang ditangkap Arendt menusuk: kita mungkin sedang menuju "masyarakat pekerja tanpa kerja" — sebuah masyarakat yang seluruh nilai dan harga dirinya diorganisasikan di sekitar pekerjaan, justru pada saat pekerjaan itu menghilang. Inilah jebakan Rusli. Ia hidup dalam kebudayaan yang mengajarinya bahwa harga dirinya melekat pada kegunaannya sebagai pekerja, lalu menempatkannya pada kursi di mana kegunaan itu telah dicabut, tetapi keyakinan tentang harga diri itu tetap tertinggal, menggantung, tanpa objek.

## **Apakah Perusahaan Berutang pada Lebih dari Sekadar Pemiliknya?**

Pembedaan tentang makna kerja itu menjelaskan apa yang hilang bagi individu. Tetapi pertanyaan tentang legitimasi industri adalah pertanyaan tentang institusi, bukan individu, dan di sini kita perlu lensa yang berbeda. Pertanyaan intinya: kepada siapa sebenarnya sebuah perusahaan bertanggung jawab?

Selama beberapa dekade, jawaban dominan di dunia bisnis adalah jawaban yang dirumuskan dengan tajam oleh Milton Friedman: tanggung jawab sosial perusahaan adalah meningkatkan keuntungannya, dalam batas-batas hukum dan aturan main. Dalam pandangan ini, perusahaan adalah jaringan kontrak sukarela antara orang-orang yang setuju untuk bertransaksi; ia berutang pada pemiliknya, dan kewajibannya pada pihak lain hanyalah kewajiban yang telah disepakati dalam kontrak. Pekerja diberi upah yang disepakati; setelah itu, tidak ada utang yang tersisa. Dari kacamata Friedman, pertanyaan Rusli mengandung kekeliruan kategori. Pabrik tidak berutang apa pun padanya selain apa yang tertulis dalam kontrak kerjanya. Bila otomatisasi membuat kontrak itu tidak lagi menguntungkan, maka memutuskannya — dengan kompensasi yang sah — bukanlah pengkhianatan moral, melainkan justru pemenuhan tujuan perusahaan. Konsistensi pandangan ini adalah kekuatannya sekaligus kedinginannya: ia menjawab kegamangan Rusli dengan mengatakan bahwa kegamangan itu tidak berdasar.

Berhadapan dengan pandangan ini adalah tradisi yang melihat perusahaan sebagai entitas yang tertanam dalam jaring hubungan yang jauh lebih luas daripada kontrak. Teori pemangku kepentingan, yang dikembangkan oleh R. Edward Freeman dan lainnya, berargumen bahwa perusahaan memiliki kewajiban pada semua pihak yang terpengaruh oleh keberadaannya dan yang tanpanya ia tidak bisa eksis: bukan hanya pemegang saham, tetapi karyawan, pemasok, komunitas lokal, dan lingkungan. Industri tidak melayang di ruang hampa pasar; ia berdiri di atas tanah tertentu, menggunakan infrastruktur publik, mengandalkan tenaga kerja yang dibesarkan dan dididik oleh masyarakat, dan menghasilkan limbah yang ditanggung oleh komunitas. Dari sudut pandang ini, legitimasi industri tidak pernah semata-mata berasal dari kontrak; ia berasal dari semacam izin sosial untuk beroperasi — sebuah persetujuan diam-diam dari masyarakat bahwa keberadaan industri ini, dengan segala biayanya, dapat dibenarkan. Dan izin itu bisa dicabut. Ketika sebuah industri berhenti memberi manfaat yang sepadan dengan biaya yang ditimbulkannya, izin moralnya menipis, terlepas dari apakah operasinya masih legal dan menguntungkan.

Ada pula tradisi ketiga di sini, yang lebih tua dari keduanya: tradisi pemikiran tentang barang bersama (common good) yang berakar pada Aristoteles dan dikembangkan dalam ajaran sosial yang menekankan bahwa aktivitas ekonomi harus melayani perkembangan manusia, bukan sebaliknya. Bagi tradisi ini, pertanyaan bukan sekadar "apakah industri menguntungkan" atau bahkan "apakah ia memberi manfaat yang melebihi biaya," melainkan "apakah ia menyumbang pada tatanan sosial di mana manusia dapat berkembang sebagai manusia." Pekerjaan, dalam tradisi ini, bukan hanya sumber pendapatan; ia adalah salah satu cara manusia berpartisipasi dalam kehidupan komunitasnya dan menyumbang pada kebaikan bersama. Sebuah industri yang menghasilkan kekayaan besar tetapi mengikis kemampuan orang untuk berpartisipasi secara bermakna dalam masyarakat — yang menjadikan mereka penerima pasif dividen ketimbang kontributor aktif — bisa jadi gagal secara moral meskipun berhasil secara material.

## **Ketika Kegamangan Punya Nama**

Saya ingin kembali pada Rusli, karena pertanyaan-pertanyaan besar ini, bila dibiarkan melayang dalam abstraksi, kehilangan beratnya yang sebenarnya. Berat itu terasa pada tingkat batin seseorang, dan ada baiknya kita berdiam sejenak di sana.

Bayangkan Rusli pulang dari shift malam. Ia tidak lelah secara fisik — itulah yang aneh. Tubuhnya tidak melakukan apa pun selama dua belas jam selain duduk dan sesekali menatap layar. Tetapi ada keletihan jenis lain yang ia bawa pulang, keletihan yang tidak punya nama dalam kosakata yang ia warisi dari ayahnya, seorang nelayan yang pulang dengan punggung pegal dan tangan yang berbau garam dan ikan, dan yang tidak pernah sekali pun bertanya apakah ia dibutuhkan. Ayahnya dibutuhkan; lautan menuntut sesuatu darinya setiap hari, dan ia memberi. Rusli, di kursi pengawasnya yang nyaman ber-AC, tidak dituntut apa-apa, dan justru ketiadaan tuntutan itulah yang menggerogotinya. Ia mulai curiga bahwa upahnya bukanlah pengakuan atas kontribusi, melainkan semacam sedekah yang dibungkus rapi agar tidak terlihat seperti sedekah — pembayaran untuk tetap diam, untuk tidak menjadi masalah, untuk mengisi kursi yang regulasi haruskan ada tetapi yang sebenarnya tidak diperlukan.

Kegamangan Rusli punya beberapa lapis, dan layak kita bedakan. Lapis pertama adalah ketakutan praktis: kalau mesin makin dipercaya, kursinya pun akan hilang, dan bersamanya hilang pula nafkah bagi keluarganya. Ini ketakutan yang riil tetapi, dalam arti tertentu, paling mudah dijawab — dengan jaminan ekonomi, pelatihan ulang, jaring pengaman. Lapis kedua lebih dalam: bahkan bila nafkahnya dijamin, Rusli merasakan sesuatu yang hilang dari cara ia memandang dirinya. Ia dibesarkan dalam dunia di mana menjadi seorang laki-laki dewasa yang terhormat berarti menafkahi melalui kerja yang nyata, dan kini ia mendapati dirinya dibayar untuk hadir tanpa berbuat. Pendapatan dasar, andai diberikan padanya, justru bisa memperdalam luka ini, bukan menyembuhkannya — karena ia akan menegaskan secara terbuka apa yang selama ini ia takutkan: bahwa masyarakat tidak lagi membutuhkan apa yang bisa ia berikan, dan hanya bersedia memberinya cukup untuk hidup agar ia tidak menjadi gangguan.

Tetapi ada lapis ketiga, dan inilah yang membuat kasus Rusli melampaui dirinya sendiri. Ketika Rusli menyadari bahwa pabrik bisa berjalan tanpanya, ia juga mulai menyadari sesuatu tentang pabrik itu sendiri. Selama ini ia membenarkan keberadaan pabrik — yang telah mengubah teluk tempat ayahnya dulu menangkap ikan, yang telah membuat udara terkadang berbau logam — dengan mengatakan pada dirinya bahwa setidaknya pabrik itu memberi pekerjaan, memberi masa depan bagi anak-anak yang dulu hanya punya pilihan menjadi nelayan dengan hasil yang kian menyusut. Tetapi bila pabrik tidak lagi membutuhkan orang seperti dirinya, pembenaran itu runtuh. Pabrik berubah, di matanya, dari mitra yang timpang menjadi sesuatu yang lebih menyerupai parasit yang anggun: ia mengambil tanah, air, dan mineral, menghasilkan kekayaan yang mengalir ke tempat-tempat jauh, dan tidak lagi perlu berpura-pura bahwa ia melakukannya demi orang-orang Morowali. Kegamangan personal Rusli, pada lapis terdalamnya, adalah intuisi politik yang belum sepenuhnya terartikulasi: intuisi bahwa kontrak sosial telah dilanggar, dan bahwa ia menyaksikan momen ketika sebuah institusi kehilangan hak moralnya untuk mengklaim dirinya bagian dari komunitas.

Yang menarik, dan yang membuat keadaan Rusli begitu modern, adalah bahwa ia tidak punya bahasa yang memadai untuk mengungkapkan apa pun dari lapisan kedua dan ketiga ini. Kosakata publik yang tersedia baginya hampir seluruhnya ekonomi: lapangan kerja, upah, pertumbuhan, produktivitas. Ketika ia mencoba menjelaskan keresahannya pada istrinya, yang keluar hanyalah kalimat tentang ketakutan kehilangan pekerjaan, padahal yang ia rasakan jauh lebih besar dan lebih sulit — sesuatu tentang martabat, tentang menjadi berlebih, tentang menyaksikan tempat kelahirannya menjadi panggung bagi proses yang tidak lagi membutuhkan penduduknya. Kita telah, sebagaimana dicemaskan Arendt, menjadi masyarakat yang begitu fasih berbicara tentang kerja sebagai nafkah sehingga kita kehilangan kemampuan berbicara tentang kerja sebagai apa pun yang lain.

## **Mengapa Tak Satu Pun Jawaban Itu Cukup**

Saya berjanji di awal untuk tidak menutup esai ini dengan sebuah pernyataan, melainkan dengan sebuah refleksi, dan saya ingin menepatinya. Tetapi sebelum sampai ke refleksi itu, ada gunanya menunjukkan mengapa setiap jawaban yang kita miliki, bila diambil sendirian, terasa tidak memuaskan ketika dihadapkan pada kegamangan Rusli.

Jawaban liberal-distributif — pisahkan nafkah dari kerja, bagikan kekayaan otomatisasi melalui pajak dan transfer — menjawab lapis pertama kegamangan Rusli dengan baik dan tidak boleh diremehkan; perut yang kenyang adalah prasyarat bagi segala pertanyaan yang lebih tinggi. Tetapi ia membisu di hadapan lapis kedua dan ketiga. Ia mengasumsikan bahwa yang dicari manusia dari kerja pada akhirnya bisa diuangkan, dan karenanya bisa diganti dengan uang yang datang dari sumber lain. Andai asumsi itu benar, Rusli mestinya lega, bukan resah. Kenyataan bahwa banyak orang dalam posisi Rusli justru merasa terhina, bukan terbebaskan, oleh prospek hidup dari tunjangan adalah bukti bahwa ada sesuatu dalam kerja yang tidak sepenuhnya bisa diterjemahkan ke dalam angka.

Jawaban Marxian dan Arendtian — yang menekankan kerja sebagai pewujudan diri dan partisipasi — menangkap dengan tepat apa yang hilang, tetapi mengalami kesulitan ketika ditanya apa yang harus dilakukan. Bila kerja produktif memang menghilang secara struktural, menyerukan agar manusia menemukan makna melalui kerja terdengar seperti menyuruh seseorang berenang di kolam yang airnya sedang dikuras. Sebagian pemikir dalam tradisi ini menjawab dengan membayangkan pembebasan kreativitas di luar kerja upahan — seni, perawatan, keterlibatan sipil, hubungan. Ini indah, tetapi kita harus jujur bahwa bagi seseorang seperti Rusli, yang seluruh identitasnya dibangun di atas peran sebagai penafkah produktif, transisi menuju model makna yang sama sekali berbeda bukanlah sesuatu yang bisa diresepkan dari atas. Ia adalah transformasi kultural yang dalam, yang memakan generasi, dan yang tidak bisa dipercepat hanya dengan kebijakan.

Jawaban pemangku kepentingan dan barang bersama — yang menuntut industri mempertanggungjawabkan dirinya pada komunitas dan kebaikan bersama — paling tajam dalam mendiagnosis krisis legitimasi, tetapi paling lemah dalam menentukan siapa yang berhak memutuskan dan menegakkan. Bila izin sosial untuk beroperasi bisa dicabut ketika industri berhenti memberi manfaat sepadan, siapa yang mencabutnya? Melalui mekanisme apa? Dalam dunia tempat modal bisa berpindah lebih cepat daripada komunitas bisa berorganisasi, di mana kerangka hukum sering kali dirancang justru untuk melindungi mobilitas modal itu, seruan moral pada tanggung jawab sosial mudah berubah menjadi sekadar bahasa hubungan masyarakat — laporan keberlanjutan yang tebal dan mengilap, yang tidak mengubah apa pun yang substansial. Saya menulis ini dengan kesadaran khusus: terlalu sering, perangkat tata kelola dan tanggung jawab sosial dipakai bukan untuk memenuhi kewajiban moral melainkan untuk menyamarkan ketiadaannya, dan tidak ada laporan dampak yang bisa menggantikan perbaikan nyata pada hidup orang-orang seperti Rusli.

Ada juga keterbatasan yang melekat pada esai ini sendiri yang harus saya akui. Saya telah menulis seolah-olah otomatisasi total adalah cakrawala yang pasti, padahal sejarah ramalan tentang akhir kerja penuh dengan nubuat yang meleset; teknologi yang menghapus sebagian pekerjaan kerap menciptakan jenis pekerjaan lain yang tak terbayangkan sebelumnya, dan klaim bahwa "kali ini berbeda" telah diucapkan begitu sering sehingga kita harus skeptis terhadapnya. Saya juga telah memusatkan cerita pada figur seorang pekerja industri laki-laki dengan identitas penafkah yang khas, dan dengan begitu mungkin telah meminggirkan realitas yang tidak kalah penting: kerja perawatan yang sebagian besar dilakukan perempuan dan yang justru paling sulit diotomatisasi, kerja informal dan agraris-transisional yang mendominasi banyak ekonomi di Selatan global namun nyaris absen dari literatur Barat tentang masa depan kerja, dan realitas ekonomi gig yang sudah lebih dulu mencabut kepastian tanpa menunggu robot. Peta yang saya gambar, dengan kata lain, adalah peta yang penuh wilayah kosong, dan pembaca berhak curiga bahwa sebagian persoalan terpenting justru bersembunyi di wilayah-wilayah yang tak saya petakan itu.

## **Refleksi, Bukan Jawaban**

Maka, apa yang tersisa setelah semua jawaban ternyata tidak cukup? Bukan keputusasaan, saya kira, melainkan sebuah pergeseran pada jenis pertanyaan yang kita ajukan.

Selama ini kita bertanya: bagaimana industri mempertahankan legitimasinya ketika tidak lagi membutuhkan pekerja? Tetapi mungkin pertanyaan itu sendiri menyimpan asumsi yang perlu kita curigai — asumsi bahwa legitimasi adalah sesuatu yang dimiliki industri dan dipertahankan melalui pertukaran yang menguntungkan, seakan-akan ia transaksi dagang yang bisa diseimbangkan ulang dengan menambah kolom baru pada neraca. Kegamangan Rusli mengisyaratkan kemungkinan lain: bahwa legitimasi bukanlah sesuatu yang dimiliki, melainkan sesuatu yang terus-menerus dipertaruhkan, sebuah hubungan yang harus diperbarui dan yang bisa rusak, persis seperti kepercayaan antara dua manusia. Pekerjaan, dalam pengertian ini, tidak pernah menjadi sumber legitimasi yang sebenarnya; ia hanyalah bentuk paling kasat mata dari sesuatu yang lebih dalam — pengakuan timbal balik bahwa keberadaan kita penting bagi satu sama lain, bahwa kita saling membutuhkan, bahwa kita terikat dalam nasib bersama. Yang ditakuti Rusli, pada akhirnya, bukanlah kehilangan upah, melainkan terlepasnya ikatan itu: kemungkinan bahwa ia, dan tempat kelahirannya, dan cara hidup yang ia warisi, telah menjadi tidak penting bagi mesin besar yang kini bekerja di tengah-tengahnya.

Bila itu benar, maka pertanyaan yang lebih jujur bukanlah bagaimana industri menjaga legitimasinya, melainkan apakah kita bersedia membangun bentuk-bentuk pengakuan timbal balik yang tidak lagi bergantung pada kebutuhan industri akan tenaga kerja kita. Sejarah memberi sedikit alasan untuk optimisme mudah: ikatan yang dulu kita rebut melalui gerakan buruh dibangun justru karena kita saling membutuhkan, dan tidak jelas apakah solidaritas bisa bertahan ketika kebutuhan itu menguap. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa manusia telah berulang kali menciptakan kewajiban moral di tempat yang tidak dituntut oleh kebutuhan ekonomi — kita merawat yang renta meski mereka tak lagi produktif, kita memuliakan yang lemah, kita membangun katedral dan menulis konstitusi yang melampaui kalkulasi untung-rugi. Kapasitas untuk mengakui martabat seseorang terlepas dari kegunaannya adalah salah satu pencapaian moral manusia yang paling rapuh dan paling berharga, dan justru kapasitas itulah yang akan diuji oleh dunia tanpa kerja.

Saya tidak tahu apakah kita akan lulus ujian itu. Saya menulis ini bukan untuk meyakinkan Anda bahwa kita akan baik-baik saja, atau bahwa kita pasti gagal, melainkan untuk berdiam di samping Rusli dalam keresahannya, dan menyarankan bahwa keresahan itu sendiri adalah sesuatu yang berharga — sebuah penolakan untuk menerima bahwa nilai seorang manusia habis ketika kegunaan ekonominya habis. Selama Rusli masih gelisah di kursi pengawasnya pada jam tiga pagi, masih ada di dalam dirinya pengertian, betapapun tak terartikulasi, bahwa ia layak dibutuhkan, bahwa ia berhak atas tempat dalam dunia yang melampaui apa yang bisa ia produksi. Mungkin tugas kita bukanlah menjawab pertanyaannya, melainkan menjaga agar pertanyaan itu tetap hidup — menolak baik pesimisme yang berkata semua sudah hilang maupun optimisme yang berkata teknologi atau pasar akan menyelesaikan segalanya. Di antara dua kepastian yang sama-sama menutup pikiran itu, ada ruang sempit tempat kita masih bisa berpikir, dan barangkali, masih bisa bertindak. Rusli mematikan layar pada akhir shift-nya, dan dalam keheningan ruang kontrol itu, pertanyaannya tetap menggantung, tak terjawab, dan justru karena itu, masih milik kita semua.

---

## **Catatan untuk Pembaca yang Ingin Menelusuri Lebih Jauh**

Esai yang melayang di antara begitu banyak tradisi ini berutang pada banyak suara, dan ada baiknya saya tunjukkan ke mana pembaca bisa pergi untuk mendengar mereka langsung.

Gambaran tentang dunia di mana mesin telah menyelesaikan masalah ekonomi datang dari esai pendek Keynes, *Economic Possibilities for Our Grandchildren* (1930), yang masih layak dibaca justru karena ramalannya yang sebagian benar dan sebagian meleset secara instruktif. Bagi sisi yang lebih kritis tentang apa yang hilang ketika kerja diambil dari manusia, titik tolaknya adalah Karl Marx muda dalam *Manuskrip Ekonomi-Filosofis 1844*, terutama bagian tentang kerja terasing — teks yang lebih puitis dan lebih manusiawi daripada karikatur Marx yang sering beredar. Pembedaan antara labor, work, dan action yang menjadi tulang punggung bagian tengah esai ini sepenuhnya berasal dari Hannah Arendt, *The Human Condition* (1958); frasa tentang "masyarakat pekerja tanpa kerja" yang saya pinjam ada di bagian pembukanya, dan saya anjurkan pembaca menemukannya sendiri karena konteksnya jauh lebih kaya daripada yang bisa saya ringkas.

Perdebatan tentang kepada siapa perusahaan bertanggung jawab paling tajam diwakili oleh dua kubu yang saling berhadapan. Esai Milton Friedman di *The New York Times Magazine* (1970), yang berargumen bahwa tanggung jawab sosial bisnis adalah menaikkan labanya, tetap menjadi rumusan paling jernih dari posisi pemegang saham, dan layak dibaca justru oleh mereka yang tidak setuju dengannya. Lawannya yang paling sistematis adalah R. Edward Freeman, yang karyanya *Strategic Management: A Stakeholder Approach* (1984) meletakkan dasar bagi cara berpikir alternatif. Untuk tradisi barang bersama yang lebih tua, pembaca bisa kembali ke *Etika Nikomakea* karya Aristoteles, terutama gagasannya tentang kerja dan kehidupan yang baik, sambil menyadari bahwa Aristoteles sendiri hidup dalam masyarakat yang menyandarkan waktu luang kaum merdeka pada kerja para budak — sebuah pengingat bahwa impian tentang kebebasan dari kerja punya sejarah kelam yang tak boleh kita lupakan.

Bagi yang ingin memikirkan kerja yang justru kehilangan maknanya bukan karena otomatisasi melainkan karena kesia-siaannya sendiri, *Bullshit Jobs* (2018) karya David Graeber adalah bacaan yang provokatif dan kerap lucu, sangat relevan bagi kasus seperti Rusli yang dibayar untuk hadir tanpa berbuat. Untuk perdebatan ekonomi tentang apakah "kali ini benar-benar berbeda," tulisan-tulisan Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee, terutama *The Second Machine Age* (2014), memberi sisi yang antusias terhadap teknologi, sementara para ekonom yang lebih skeptis terhadap nubuat akhir kerja menawarkan penyeimbang yang sehat. Akhirnya, bagi pembaca yang ingin memikirkan martabat dan pengakuan di luar logika kegunaan ekonomi, karya-karya tentang etika perawatan dan tentang pengakuan dalam tradisi Hegelian — termasuk tulisan Axel Honneth tentang *recognition* — membuka jalan yang sengaja tidak saya tempuh sepenuhnya di sini, dan yang menurut saya menyimpan sebagian jawaban yang esai ini hanya berani menyentuh tepinya.