10.9.26

(Novel) JAWA: Buku 2. Banjir Tujuh Generasi

   JAWA

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra


BUKU DUA

Banjir Tujuh Generasi

Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra

Air tidak datang sekali.

Ia datang, dan surut, dan kembali, dan tiap generasi

harus belajar kembali apa yang generasi sebelumnya lupa.


 

BAGIAN I

Air yang Naik


 

BAB SATU

Asin di Sumur

Mereka bertanya kepadaku kapan banjir itu datang. Aku berkata kepada mereka: ia tidak datang. Ia sudah di sini sejak sebelum kakekmu lahir, naik selutut tiap tujuh generasi, dan kalian menyebutnya dunia.

dari ajaran para pengingat, yang dimulai oleh Nyai Sela

Pada musim ketika padi tak lagi serendah lutut, sebab tak ada lagi cukup tanah tawar untuk menanam padi serendah lutut, apa yang tersisa dari Nagara Rata berdiri di atas sebuah lidah daratan yang menyempit di antara dua air: laut di selatan, yang telah datang, dan laut di utara, yang juga telah datang, dan di antara keduanya sebuah jalur tanah yang setiap tahun lebih sempit, seperti seseorang yang berdiri di atas jembatan sementara air naik dari kedua sisi.

Tujuh generasi telah lewat sejak dua saudari berdiri di pantai dan memandang laut menutupi pasar tempat mereka dulu berjalan. Tujuh generasi, itu adalah kata yang kini orang gunakan untuk mengukur, walau sedikit dari mereka yang masih ingat dari mana kata itu datang, atau bahwa ia pernah, dulu, adalah ramalan seorang tua dari perbukitan yang ditertawakan dewan. Kakek bercerita kepada cucu bahwa di masa kakeknya, tanah membentang sejauh tujuh hari berjalan ke selatan sebelum bertemu air. Kini ia membentang sejauh setengah hari. Cucu mendengar cerita itu sebagaimana anak-anak mendengar cerita tentang raksasa dan negeri di balik bulan: dengan minat yang sopan, dan tanpa percaya, sebab tanah yang membentang tujuh hari adalah tanah yang tak bisa mereka bayangkan, tanah dari dongeng, bukan tanah yang nyata.

Itulah cara air menang, pada akhirnya: bukan dengan menenggelamkan, melainkan dengan membuat orang lupa bahwa pernah ada lebih banyak tanah untuk ditenggelamkan. Tiap generasi lahir ke dunia yang sedikit lebih kecil daripada dunia orang tuanya, dan tiap generasi menyebut dunia yang lebih kecil itu sebagai dunia yang utuh, sebab ia adalah satu-satunya dunia yang pernah mereka kenal. Apa yang hilang sebelum kau lahir tidak terasa seperti kehilangan. Ia hanya terasa seperti dongeng tentang sesuatu yang barangkali tak pernah ada.

❖

Sumur itu ada di tengah kampung yang tersisa, dan ia adalah sumur terakhir yang masih tawar, dan maka ia adalah pusat dari segala sesuatu, sebagaimana dulu pasar adalah pusat dari segala sesuatu.

Orang-orang mengaturnya dengan hati-hati yang nyaris menyerupai ibadah. Hanya air yang cukup boleh diambil tiap hari, tak lebih; dijaga oleh seorang tua yang tugasnya adalah menjaga sumur, sebagaimana dulu ada orang yang tugasnya menjaga catatan langit atau menjaga bara perapian. Sebab di lidah daratan yang menyempit, di antara dua laut yang naik, sebuah sumur tawar bukan lagi sekadar sumur. Ia adalah satu-satunya alasan kampung itu masih bisa berdiri di tempat ia berdiri. Ketika ia kering, atau ketika ia berubah, kampung akan harus pindah lagi, ke utara, selalu ke utara, ke jalur tanah yang semakin sempit, dan tiap perpindahan adalah pengakuan, yang tak seorang pun mau ucapkan, bahwa air sedang menang.

Maka ketika perempuan yang menjaga sumur itu menarik timba pada suatu pagi, dan mencicipi air sebagaimana ia mencicipinya tiap pagi, sebab itu adalah tugasnya, menjadi yang pertama tahu, dan merasakan, di balik rasa tawar yang biasa, sesuatu yang lain, sesuatu yang samar dan asin dan tak seharusnya ada, ia tidak berteriak. Ia hanya berdiri sangat diam, dengan timba di tangannya, dan ia merasakan dunia bergeser di bawah kakinya, sebab ia tahu apa artinya, sebagaimana setiap orang di kampung tahu apa artinya, sebab mereka adalah keturunan dari orang-orang yang telah belajar, lewat tujuh generasi, persis apa artinya ketika yang asin mulai merembes ke dalam yang tawar.

Ia mencicipinya lagi, berharap ia keliru. Ia tidak keliru. Laut telah menemukan sumur terakhir. Tidak dari atas, tidak lewat kanal, kanal-kanal sudah lama hilang, sudah lama menjadi laut, melainkan dari bawah, lewat tanah itu sendiri, merembes ke atas melalui batu dan pasir ke dalam satu-satunya air tawar yang tersisa, sebagaimana ia telah merembes, tujuh generasi lalu, ke dalam sebuah mata air yang berpindah ke darat, di sebuah ladang milik dua saudari yang kini tak seorang pun ingat namanya.

❖

Anak itu bernama Rangin, dan ia berdiri di tepi kerumunan yang berkumpul di sekeliling sumur ketika kabar menyebar, dan ia adalah satu-satunya yang tidak terkejut.

Ia bukan satu-satunya yang takut, semua takut, walau sebagian besar menyembunyikannya di balik perdebatan tentang apa yang harus dilakukan, sebab perdebatan adalah cara orang dewasa menyembunyikan ketakutan dari diri mereka sendiri. Tapi Rangin tidak terkejut, dan ketidakterkejutannya membuatnya, di tengah kerumunan yang panik, terasa aneh, terpisah, sebagaimana ia selalu terasa aneh dan terpisah. Sebab Rangin telah memimpikan ini. Bukan sumur ini, bukan pagi ini, ia telah memimpikan air. Sepanjang hidupnya yang muda ia telah memimpikan air: air yang naik, air yang menutup, air yang menyimpan di dalamnya kota-kota lurus dan ladang-ladang penuh dan wajah-wajah orang yang tak pernah ia temui tapi entah bagaimana ia kenal. Ia memimpikan sebuah daratan yang luas, lebih luas daripada dongeng mana pun, daratan yang membentang ke segala arah tanpa air di mana pun, dan ia memimpikannya dengan kerinduan yang aneh dan menyakitkan, kerinduan akan tempat yang tak pernah ia lihat, tempat yang telah tenggelam sebelum kakek dari kakeknya lahir.

Ibunya, ketika Rangin masih sangat kecil dan menceritakan mimpi-mimpinya, telah memandangnya dengan ekspresi yang Rangin tak mengerti waktu itu dan baru mulai mengerti sekarang: ekspresi seseorang yang mengenali sesuatu yang telah lama ia tunggu dan harap tak akan datang. “Kau mendengarnya, ” ibunya berkata, suatu malam, ketika Rangin bangun menangis dari mimpi tentang air. “Sebagaimana nenek dari nenekku mendengarnya. Ia melompati banyak dari kita, kemampuan ini, ia tidur sepanjang generasi dan lalu ia bangun lagi di salah satu anak, tanpa peringatan. Aku berharap ia tidak bangun di dirimu. Tapi ia bangun. Aku bisa melihatnya. Kau adalah salah satu yang mengingat.”

❖

Malam setelah sumur berubah, ibu Rangin membawanya ke luar kampung, ke tempat di mana mereka bisa bicara tanpa didengar, dan ia menceritakan kepadanya apa yang harus diceritakan, sebab kini waktunya telah tiba dan ia tak bisa menundanya lagi.

“Ada sebuah rantai, ” katanya. “Lebih tua daripada kampung ini, lebih tua daripada apa pun yang diingat siapa pun. Ia berjalan dari ibu ke anak, atau kadang melompati ibu dan jatuh ke cucu, atau tidur sepanjang banyak generasi lalu bangun di tempat yang tak terduga. Tapi ia tak pernah putus. Tujuh generasi, sekarang, mungkin lebih, aku kehilangan hitungannya, sebab sebagian dari rantai itu hilang dalam perpindahan, hilang ketika kampung tenggelam dan orang-orang tercerai. Tapi ia sampai kepadaku, dan dariku ia sampai kepadamu, dan inilah yang harus kau ketahui, Rangin, inilah satu hal yang harus kau ingat di atas segala hal yang lain.”

Ia berlutut, supaya matanya sejajar dengan mata anaknya, dan ia berkata kata-kata yang telah dikatakan ibunya kepadanya, dan ibu dari ibunya kepada ibunya, mundur dan mundur melalui tujuh generasi air, kembali ke seorang perempuan yang berdiri di air sebatas dada dan menelan tujuh kerikil, walau baik ibu maupun Rangin tak lagi tahu nama perempuan itu.

“Ada dahulu sebuah daratan, ” katanya, “luas, dan datar, dan yakin, dan dicintai. Air mengambilnya. Tapi ia tidak benar-benar tenggelam, Rangin, ia tidak benar-benar hilang, selama ada salah satu dari kita yang mengingatnya. Itulah tugasmu. Bukan menghentikan air; tak seorang pun bisa menghentikan air. Tugasmu adalah mengingat apa yang diambilnya, dan mewariskan ingatan itu, supaya suatu hari, mungkin tidak dalam hidupmu, mungkin tidak dalam hidup cucumu, tapi suatu hari, seseorang yang membawa darah kita akan berdiri di atas semua air ini, dan akan tahu bahwa di bawahnya, dulu, ada sebuah dunia, dan akan tahu namanya.”

“Apa namanya?” tanya Rangin.

Dan ibunya membuka mulutnya untuk menjawab, dan kemudian berhenti, dan sesuatu yang dekat dengan ketakutan melintas di wajahnya, sebab ia menyadari, pada saat itu, bahwa ia tidak tahu. Bahwa namanya telah hilang. Bahwa di suatu tempat dalam tujuh generasi air, di antara semua perpindahan dan kematian dan tenggelam, nama daratan itu telah jatuh dari rantai dan tenggelam bersama daratannya, dan yang tersisa hanyalah kebenaran bahwa ia pernah ada, dan tugas untuk mengingat bahwa ia pernah ada, tapi bukan namanya, tidak lagi namanya.

❖

Itu adalah hal yang akan tinggal bersama Rangin, lebih lama daripada hal lain yang dikatakan ibunya malam itu: bahwa ada sebuah dunia di bawah air, dan bahwa ia harus mengingatnya, tapi bahwa namanya telah hilang, dan maka ia harus mengingat sesuatu yang ia tak bisa sepenuhnya namai.

Ia berbaring malam itu di kampung yang akan segera harus pindah lagi, di atas lidah daratan yang menyempit di antara dua laut, dan ia menutup matanya, dan ia bermimpi, sebagaimana ia selalu bermimpi, tentang daratan yang luas. Tapi malam ini mimpinya berbeda, atau ia memandangnya dengan cara yang berbeda, sebab kini ia tahu bahwa ia tidak hanya bermimpi. Ia mengingat. Daratan dalam mimpinya adalah daratan yang nyata, daratan yang pernah ada, dan kerinduan yang ia rasakan untuknya bukanlah kerinduan seorang anak akan negeri dongeng melainkan kerinduan dari sebuah rantai yang sangat panjang akan tanah yang melahirkannya. Ia berjalan, dalam mimpinya, di sepanjang sebuah kanal yang lurus, melewati kota-kota yang saling memandang menyeberangi tanah yang datar, dan di pasar tempat empat kanal bertemu ia melihat seorang gadis berjalan di depan dan seorang gadis lain mengikuti, dan ia tahu, dengan pengetahuan yang datang dari tempat yang lebih dalam daripada mimpi, bahwa dari kedua gadis itu ia turun, dan bahwa salah satu dari mereka telah memberinya hal yang sekarang membuatnya tak bisa tidur tanpa mengingat.

Dan di bawah kampung tempat Rangin tidur dan bermimpi, di bawah lidah daratan yang menyempit, di bawah sumur yang kini asin, air bergerak. Tapi ia tidak lagi bergerak sebagaimana ia bergerak dalam cerita tentang masa sebelum laut. Ia tidak lagi menghitung. Ia tidak lagi menunggu. Ia telah datang, dan ia tinggal, dan ia menutup di atas dunia yang dulu ada sebagaimana ia akan, segera, menutup di atas dunia yang tersisa. Tapi di dalam air itu, ini adalah hal yang tak diketahui oleh siapa pun di kampung, hal yang hanya diketahui oleh seorang anak yang bermimpi dan oleh air itu sendiri, di dalam air itu, di kedalaman tempat tujuh generasi tanah kini terbaring tenggelam, ada sesuatu yang bukan kekosongan. Ada ingatan. Sebab air menyimpan segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya, dan selama tujuh generasi ia telah menyimpan sebuah dunia, dan kini, di dalam darah seorang anak yang mengingat tanpa tahu nama yang ia ingat, dunia yang tenggelam itu mulai, dengan sangat pelan, untuk berbisik kembali ke permukaan.

❖


 

BAB DUA

Dua Laut

Ketika air datang dari satu sisi, kau bisa lari ke sisi yang lain. Ketika ia datang dari kedua sisi, kau belajar bahwa lari hanyalah cara lain untuk berdiri diam, dan menunggu.

yang dikatakan orang-orang terakhir Nagara Rata

Tujuh generasi sebelum Rangin bermimpi tentang kanal yang lurus, di malam-malam terakhir dunia yang akan ia impikan, seorang perempuan tua bernama Sela berdiri di tempat yang dulu adalah pusat daratan dan kini adalah tepi, dan ia memandang dua laut sekaligus.

Sebab itulah yang telah terjadi pada Nagara Rata, di tahun-tahun sejak ia dan saudarinya berdiri di pantai selatan dan memandang laut menutupi pasar mereka: laut tidak datang hanya dari selatan. Sela, yang mengingat, yang telah menghabiskan hidupnya mengumpulkan tanda-tanda sebagaimana orang lain mengumpulkan harta, adalah satu di antara sedikit yang memahami bentuk dari apa yang sedang terjadi. Laut selatan telah lama datang, menelan kota demi kota, mendorong orang ke utara. Tapi laut utara, yang dulu bahkan lebih jauh, yang dulu hanya dongeng pedagang, laut utara juga telah datang, dari arah berlawanan, menelan dari sisi yang lain. Dan apa yang tersisa dari Nagara Rata, seluruh peradaban yang dulu membentang sejauh tujuh hari berjalan, kini terjepit di antara keduanya, di atas sebuah punggung tanah yang menyempit setiap musim, seperti seseorang yang berdiri di atas atap rumah yang tenggelam sementara air naik dari segala penjuru.

Sela tua sekarang. Rambutnya yang dulu gelap telah memutih, dan tangannya yang dulu bisa menenangkan lembu dengan satu sentuhan kini gemetar bila ia memegangnya terlalu lama di udara, dan ia berjalan dengan kelambatan yang dulu ia tonton dengan kasihan pada orang tua dari perbukitan, dan yang kini ia pahami dari dalam: bahwa kelambatan itu bukan kelemahan melainkan sejenis perhitungan, tubuh yang mengukur sisa kekuatannya dan membelanjakannya dengan hati-hati. Bapa telah lama mati. Banyak yang ia kenal telah lama mati. Dan saudarinya, saudarinya tidak mati, dan itu adalah hal yang paling sulit dari semuanya, hal yang Sela memikirkannya tiap kali ia memandang laut selatan, mengetahui apa yang menunggu di bawahnya.

❖

Sebab Awu telah mulai turun.

Tidak seluruhnya, belum. Ritus menghalus, telah Sela pelajari dari apa yang berani diceritakan Awu kepadanya dan dari apa yang ia simpulkan sendiri, bukanlah satu peristiwa melainkan sebuah jalan, panjang dan bertahap, ditempuh sepanjang tahun. Mereka yang memilihnya tidak menghilang dalam semalam ke dasar laut. Mereka berubah perlahan, membuang waktu dari dalam diri mereka sehelai demi sehelai, seperti orang melepas pakaian sebelum masuk ke air, dan sepanjang perubahan itu mereka masih berjalan di antara yang hidup, masih tampak hampir seperti manusia, tapi semakin lama semakin tidak. Sela telah melihat beberapa dari mereka. Para bangsawan, para empu, mereka yang telah memilih jalan Awu. Mereka tidak menua lagi. Itu adalah hal pertama yang orang perhatikan, dan hal yang membuat orang takut pada mereka: di sebuah dunia di mana segala sesuatu menua dan rusak dan tenggelam, ada sekelompok kecil yang tidak, yang wajahnya tetap sama dari tahun ke tahun, yang berdiri di tengah keruntuhan dunia dengan keutuhan yang dingin dan tak wajar, seperti buah yang menolak membusuk di tengah saudara-saudaranya yang membusuk dengan sehat.

Dan Awu memimpin mereka. Awu, yang dulu berjalan di depan di hari pasar, kini berjalan di depan menuju laut, dan mereka mengikutinya sebagaimana orang Nagara Rata dulu mengikuti Bapa: dengan kepercayaan, dengan rasa lega telah menemukan seseorang yang yakin di tengah dunia yang tak lagi menawarkan kepastian. Sela jarang melihatnya sekarang. Mereka tinggal terpisah, Sela di antara yang fana, mengajar, mengingat, menua; Awu di antara yang setengah-halus, bersiap, menunggu, tak berubah. Tapi kadang-kadang, di malam hari, Sela akan memandang ke arah pantai selatan, dan ia akan melihat cahaya di sana, cahaya yang bukan api, cahaya pucat dan dingin yang berkumpul di tempat para penghalus berkumpul, dan ia tahu bahwa di antara cahaya itu adalah saudarinya, semakin jauh setiap tahun, semakin dingin, semakin dekat ke air yang akan menjadi rumahnya selamanya.

❖

Sela tidak sendirian, walau ia sering merasa sendirian, sebab ia telah melakukan apa yang ia janjikan kepada dirinya sendiri akan ia lakukan: ia telah mengajar, dan di antara murid-muridnya rantai telah mulai terbentuk.

Ia mengajari mereka mengingat. Bukan ramalan, bukan ilmu, melainkan ingatan, kisah Nagara Rata sebagaimana ia sungguh adanya, kisah dunia yang luas dan yakin yang tak percaya pada air sampai air datang. Ia mengajari mereka tanda-tanda, supaya mereka bisa mengenalinya pada anak-anak mereka: mimpi tentang air, kepekaan pada tanah, kemampuan untuk mendengar hal-hal yang terlalu pelan untuk didengar orang lain. Dan ia mengajari mereka untuk mewariskan, dan untuk menyuruh yang mewarisi untuk mewariskan lagi, supaya rantai tak pernah putus.

Di antara murid-muridnya ada seorang gadis, bukan keturunannya, sebab Sela tak punya anak, melainkan anak dari sebuah keluarga yang telah mempercayakan anaknya kepadanya, seorang gadis yang, sejak ia kecil, telah memimpikan air. Sela mengenali tanda itu pada saat ia melihatnya, sebab ia telah hidup cukup lama dan mengamati cukup banyak untuk tahu seperti apa rupanya: seorang anak yang bangun menangis dari mimpi tentang sesuatu yang ia tak bisa namai, yang merasakan tanah bergerak di bawah kakinya ketika tak ada orang lain yang merasakannya, yang membawa di dalam dirinya kerinduan akan tempat yang tak pernah ia lihat. Sela mengambil gadis itu sebagai murid yang paling ia percaya, dan ia mengajarinya lebih daripada ia mengajari yang lain, sebab ia tahu, dengan pengetahuan yang membuatnya sedih dan lega sekaligus, bahwa pada gadis inilah rantai akan berlanjut ketika Sela telah tiada.

“Kau akan mewariskannya, ” Sela berkata kepada gadis itu, suatu malam, sebagaimana orang tua dari perbukitan pernah berkata kepadanya, di sebuah halaman, di sebuah malam, tujuh puluh tahun dan seumur hidup yang lalu. “Aku tak akan hidup untuk melihatmu melakukannya. Tapi kau akan, dan yang kau wariskan kepadanya akan mewariskannya lagi, dan suatu hari, jauh dari sini, di sebuah masa yang tak bisa kubayangkan, ketika daratan ini telah lama menjadi dasar laut, seseorang yang membawa apa yang kuberikan kepadamu akan berdiri di atas air ini, dan akan tahu bahwa di bawahnya, dulu, ada sebuah dunia.”

Dan gadis itu, yang kelak akan mewariskannya, dan yang warisannya akan mewariskannya lagi, mundur dan mundur melalui tujuh generasi air sampai ke seorang anak bernama Rangin yang belum akan lahir selama berabad-abad, gadis itu mengangguk, dan menyimpan kata-kata itu, sebab ia adalah jenis yang menyimpan, sebagaimana Sela adalah jenis yang menyimpan, sebagaimana semua dari mereka di sepanjang rantai itu, sampai ke ujungnya yang tak terlihat, adalah jenis yang menyimpan.

❖

Dan kemudian, pada suatu malam ketika laut utara dan laut selatan terasa lebih dekat daripada sebelumnya, Awu datang kepada Sela.

Ia datang di malam hari, sebagaimana ia selalu datang ke hal-hal yang penting di malam hari, dan Sela mengenalinya bahkan dalam gelap, bahkan dari jauh, bahkan setelah bertahun-tahun, tapi ia mengenalinya dengan sentakan, sebab saudarinya telah berubah. Awu tidak menua. Itu adalah hal yang Sela tahu akan ia lihat, dan tetap, melihatnya secara langsung adalah hal yang berbeda dari mengetahuinya. Sela tua sekarang, tua dan bungkuk dan berbintik usia, dan Awu, Awu tampak sebagaimana ia tampak bertahun-tahun lalu, di pantai, ketika mereka berpisah. Tidak persis sama; ada sesuatu pada wajahnya yang telah berubah, sesuatu yang lebih sulit dinamai daripada usia, sebuah kehalusan, sebuah jarak, seolah-olah Sela memandangnya melalui air. Tapi ia tidak menua. Adik yang dulu lebih tua kini, dalam segala hal kecuali yang sebenarnya, jauh lebih muda dari saudarinya.

Mereka memandang satu sama lain untuk waktu yang lama, dua perempuan yang dulu adalah dua gadis yang berjalan ke pasar, yang kini terpisah oleh sesuatu yang lebih dalam daripada tahun-tahun.

“Kau sudah tua, ” kata Awu akhirnya, dan suaranya, suaranya juga telah berubah, menjadi lebih pelan, lebih jauh, suara seseorang yang bicara dari tempat yang sedikit terpisah dari dunia. Tapi di bawah perubahan itu ada sesuatu yang tak berubah, sesuatu yang membuat air mata naik ke mata Sela tanpa peringatan: kelembutan. Duka. “Aku tahu kau akan menua. Aku memilih ini mengetahui kau akan menua, mengetahui aku akan berdiri di hadapanmu suatu hari seperti ini, kau tua dan aku tidak. Tapi mengetahuinya dan melihatnya, ” ia berhenti. “Aku tidak siap untuk melihatnya. Aku tidak tahu bagaimana untuk siap.”

“Tak seorang pun siap, ” kata Sela, lembut. “Itulah yang kucoba katakan kepadamu, dulu. Tak ada cara untuk siap kehilangan. Hanya ada cara untuk menanggungnya, atau cara untuk menolaknya. Dan kau memilih menolak. Dan sekarang kau berdiri di sini, dan kau melihat bahwa menolak tidak menyelamatkanmu dari kehilangan, ia hanya mengubah bentuknya. Kau tidak akan kehilangan aku pada kematian, sebagaimana saudara biasa kehilangan saudara. Kau akan kehilangan aku sambil tetap ada untuk mengingatnya, selamanya, tanpa kemurahan untuk menyusul.”

❖

Awu tidak membantahnya, sebab ia tak bisa, sebab Sela telah mengatakan kebenaran yang Awu telah habiskan bertahun-tahun mencoba untuk tidak mengetahuinya.

“Air akan datang sepenuhnya, segera, ” kata Awu, akhirnya, dan kini suaranya adalah suara yang lain, suara seorang pemimpin, suara yang ia gunakan untuk para penghalus yang mengikutinya, dan Sela menyadari dengan sedih bahwa saudarinya mundur ke peran itu sebab peran itu lebih mudah ditanggung daripada menjadi sekadar Awu, sekadar seorang adik yang berbicara dengan kakak yang sekarat. “Tidak selutut tiap tujuh generasi lagi. Sepenuhnya. Punggung tanah ini tak akan bertahan satu musim lagi. Kedua laut akan bertemu, di sini, di tempat kita berdiri, dan apa yang tersisa dari Nagara Rata akan hilang dalam satu malam. Aku datang, ” ia berhenti, dan untuk satu saat ia bukan pemimpin, ia hanya Awu, dan Sela melihat di matanya hal yang sama yang ia lihat di tepi kanal bertahun-tahun lalu, malam ketika saudarinya menangis untuk satu-satunya kali. “Aku datang untuk bertanya sekali lagi. Yang terakhir. Turunlah bersamaku, Sela. Aku tahu jawabanmu. Aku selalu tahu jawabanmu. Tapi aku tak bisa pergi ke bawah air selamanya tanpa bertanya, satu kali lagi, di malam terakhir, dengan kedua laut menunggu: turunlah bersamaku, supaya aku tidak harus mengingat selamanya, sendirian.”

Dan Sela, yang tua, yang sekarat, yang telah menghabiskan hidupnya mengingat, memegang tangan saudarinya yang tak menua, dan ia memberikan jawaban yang sama yang ia berikan di tepi kanal, jawaban yang membelah sesuatu di dalam dirinya bahkan setelah bertahun-tahun, bahkan ketika ia tahu ia akan memberikannya. “Tidak, ” katanya. “Aku tak bisa. Tapi aku akan melakukan sesuatu yang lain, Awu. Sesuatu yang akan berarti, kuharap, bahwa kau tidak akan sepenuhnya sendirian. Aku tidak akan turun bersamamu. Tapi aku akan tinggal, di atas, di air, sampai air mengambilku, dan aku akan melakukan satu hal terakhir sebelum ia mengambilku, satu hal yang telah kupersiapkan sepanjang hidupku tanpa tahu bahwa aku mempersiapkannya. Dan karena hal itu, suatu hari, seseorang akan datang. Bukan untukmu. Bukan untukku. Untuk semua ini, untuk dunia yang kita berdua, dengan cara kita masing-masing, mencoba untuk menyelamatkan. Dan ketika mereka datang, Awu, ketika mereka akhirnya datang, kau tidak akan sendirian lagi.”

Awu tidak mengerti, malam itu, apa yang dimaksud saudarinya, sebab Sela sendiri tidak sepenuhnya mengerti, ia hanya tahu, dengan pengetahuan yang lebih dalam daripada pemahaman, bahwa apa yang akan ia lakukan di malam banjir bukanlah akhir melainkan sebuah benih, sesuatu yang ditanam di dalam air untuk tumbuh sepanjang tujuh generasi dan lebih. Dan jauh di masa depan yang tak bisa dilihat keduanya, di sebuah kampung di atas lidah daratan lain yang menyempit di antara dua laut lain, seorang anak bernama Rangin bermimpi, malam ini, tentang dua perempuan yang berdiri bersama di tepi dunia, satu tua dan satu tak menua, memegang tangan satu sama lain di bawah langit yang gelap, dan ia bangun, tujuh generasi kemudian, dengan air mata di wajahnya, tidak tahu mengapa, mengingat sesuatu yang belum terjadi, atau yang telah terjadi begitu lama yang lalu sehingga ia telah berputar kembali menjadi sesuatu yang akan datang. Dan di bawah keduanya, di bawah dua malam yang terpisah tujuh generasi, air yang sama menyimpan, dan menunggu, dan mulai, dengan sangat pelan, untuk mengingat bersama mereka.

❖


 

BAB TIGA

Tak Ada Lagi Utara

Nenek moyang kami menertawakan orang yang menyuruh mereka pergi. Kami tidak menertawakan siapa pun. Kami percaya sepenuhnya. Dan kami menemukan bahwa percaya tidak menyelamatkan, bila tak ada lagi tempat untuk dituju.

dari ajaran para pengingat

Pagi setelah sumur berubah asin, kampung berkumpul untuk memutuskan apa yang harus dilakukan, dan Rangin, yang masih terlalu muda untuk bicara di hadapan yang tua, berdiri di tepi dan mendengarkan, dan apa yang ia dengar adalah sesuatu yang ibunya telah ajarkan kepadanya untuk mengenalinya: suara sebuah bangsa di ujung pilihan-pilihannya.

Sebab kampung ini tidak seperti Nagara Rata di masa lampau, tentang siapa Rangin telah mendengar cerita. Mereka tidak menertawakan air. Mereka tak punya kemewahan untuk menertawakannya; mereka telah hidup terlalu lama dengannya, terlalu dekat dengannya, di lidah tanah yang menyempit ini. Setiap orang di kampung tahu air datang. Setiap orang tahu sumur yang asin berarti mereka harus pindah. Tak ada yang perlu diyakinkan, tak ada dewan yang menertawakan seorang nabi. Mereka semua adalah keturunan dari nabi-nabi yang ditertawakan, dan mereka telah mewarisi kepercayaan yang nenek moyang mereka tolak, dan mereka telah menemukan, inilah kepahitan yang menggantung di udara pagi itu, bahwa kepercayaan, yang dulu tampak seperti satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan mereka, tidak menyelamatkan apa pun.

“Kita pindah ke utara, ” kata salah satu yang tua, sebab itulah yang selalu dikatakan, itulah yang telah dikatakan selama tujuh generasi. Pindah ke utara. Menjauh dari laut selatan. Itu adalah jawaban yang telah menyelamatkan mereka setiap kali sebelumnya, jawaban yang telah membawa kampung ini, langkah demi langkah, generasi demi generasi, dari suatu tempat yang jauh di selatan yang kini berada di bawah air ke tempat mereka berdiri sekarang.

Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya, jawaban itu disambut dengan kesunyian, bukan persetujuan. Sebab semua orang di kampung itu, bahkan yang termuda, bahkan Rangin, tahu hal yang tak seorang pun mau menjadi yang pertama mengucapkannya.

❖

Akhirnya seorang perempuan tua mengucapkannya, sebab yang sangat tua kadang bisa mengucapkan hal-hal yang tak bisa diucapkan oleh yang lebih muda, sebab mereka punya lebih sedikit untuk kehilangan dengan mengucapkannya.

“Tak ada lagi utara, ” katanya.

Kata-kata itu menggantung di udara, dan tak seorang pun membantahnya, sebab tak seorang pun bisa. Sebab itulah kebenaran yang telah mereka semua hindari sepanjang pagi, kebenaran yang membuat pagi ini berbeda dari setiap pagi sebelumnya dalam tujuh generasi pengunduran: bahwa laut utara, yang dulu hanya dongeng, kini telah datang juga, dari arah berlawanan, dan bahwa kampung mereka kini berdiri bukan di tepi satu laut melainkan di antara dua, di atas sebuah punggung tanah yang menyempit dari kedua sisi, dan bahwa pindah ke utara tidak lagi berarti menjauh dari air. Ia berarti berjalan menuju air yang lain. Kemana pun mereka pindah sekarang, mereka pindah menuju laut. Dua laut telah hampir bertemu, dan kampung berdiri di tempat terakhir di mana mereka belum bertemu, dan tempat terakhir itu mengecil setiap musim, dan tak ada lagi tempat tinggi untuk dituju, tak ada lagi tanah tawar di balik cakrawala, tak ada lagi utara.

Rangin, mendengarkan dari tepi, merasakan sesuatu yang dingin menyebar di dalamnya, sebab ia mengerti, dengan kejelasan yang melampaui usianya, apa artinya ini. Selama tujuh generasi, nenek moyangnya telah lari, dan lari telah menyelamatkan mereka, tidak menyelamatkan tanah, tidak menyelamatkan kota-kota yang mereka tinggalkan, tapi menyelamatkan mereka, garis darah, rantai. Mereka telah membeli waktu dengan terus bergerak. Tapi kini waktu yang bisa dibeli telah habis. Lari telah membawa mereka ke ujung daratan, ke titik di mana dua laut akan bertemu, dan di titik itu lari berhenti menjadi pelarian dan menjadi hanya, menunggu. Menunggu di tempat yang sedikit lebih tinggi, sedikit lebih lama, sampai air yang sama yang telah mengejar mereka selama tujuh generasi akhirnya menutup jarak terakhir.

❖

Dan kemudian Rangin bicara, walau ia terlalu muda untuk bicara, walau ibunya menggenggam lengannya untuk menahannya, sebab apa yang ada di dalamnya terlalu besar untuk ditahan.

“Ada tempat, ” katanya, dan suaranya, suara anak di tengah suara orang dewasa, membuat kerumunan berbalik memandangnya. “Bukan di utara. Bukan di tanah ini sama sekali. Aku melihatnya. Di dalam mimpi. Tanah tinggi, bukan lidah tanah seperti ini, melainkan tanah yang naik, tanah yang air tak bisa capai sebab ia terlalu tinggi, dengan punggung batu dan, ” ia mencari kata-kata untuk hal yang ia hanya tahu dari tidur, “, dan gunung. Tanah dengan gunung. Air tak pernah mencapai puncak gunung. Aku melihatnya, di sebelah timur, jauh, di seberang air. Bila kita bisa menyeberang, ”

“Menyeberang dengan apa?” seseorang bertanya, tidak dengan kasar, tapi dengan keletihan orang yang telah kehilangan kemampuan untuk berharap. “Kita bukan orang laut. Kita orang tanah. Kita tak punya perahu yang bisa membawa kampung menyeberangi laut yang terbuka. Dan bahkan bila kita punya, bila tanah dengan gunung itu nyata, bila ia bukan sekadar mimpi anak, berapa banyak dari kita yang akan sampai? Setengah? Seperempat? Kita akan menukar kematian yang pasti di sini dengan kematian yang hampir pasti di air.”

“Hampir pasti bukan pasti, ” kata ibu Rangin, dan kini ia berdiri, di samping anaknya, dan kerumunan memandangnya pula, sebab ia adalah pembawa ingatan, dan suaranya membawa bobot yang lebih dari usianya. “Anakku melihat tanah tinggi di timur. Aku tidak menyuruh kalian percaya karena ia mimpi. Aku menyuruh kalian mempertimbangkannya karena dari semua yang ada di kampung ini, ia adalah satu-satunya yang mendengar air sebagaimana nenek moyang kita mendengarnya. Mimpinya tentang masa lalu selalu benar, ia telah menggambarkan kota-kota yang tenggelam dengan rincian yang tak bisa ia ketahui, kanal-kanal lurus, pasar tempat empat kanal bertemu. Bila ingatannya tentang apa yang telah tenggelam benar, mengapa firasatnya tentang apa yang masih berdiri akan salah?”

❖

Dan di sanalah kampung terbelah, sebagaimana orang-orang yang menghadapi sesuatu yang lebih besar dari mereka selalu terbelah: bukan menjadi yang benar dan yang salah, melainkan menjadi dua jenis ketakutan.

Sebab ada yang memilih untuk percaya pada tanah tinggi di timur, bukan karena mereka yakin ia ada, melainkan karena gagasan untuk bergerak, untuk mencoba, untuk mati sambil berusaha lebih bisa ditanggung bagi mereka daripada gagasan untuk duduk di lidah tanah yang menyempit dan menunggu air. Dan ada yang memilih untuk tinggal, bukan karena mereka tak percaya pada Rangin, melainkan karena menyeberangi laut terbuka dalam perahu yang tak cukup, menuju tanah yang hanya ada dalam mimpi seorang anak, terdengar bagi mereka bukan seperti harapan melainkan seperti cara yang lebih cepat dan lebih kejam untuk tenggelam. Keduanya takut. Keduanya benar untuk takut. Dan ketakutan mereka, yang lahir dari sumber yang sama, membawa mereka ke arah yang berlawanan.

Rangin memandang kampungnya terbelah, dan ia merasakan sesuatu yang ia kenali, walau ia tak tahu dari mana ia mengenalinya, sebuah gema, sebuah pengulangan, perasaan bahwa ini telah terjadi sebelumnya. Dua jalan. Orang-orang yang saling mencintai memilih arah yang berlawanan, masing-masing karena ketakutan yang nyata, masing-masing tak bisa mengikuti yang lain. Ia tak tahu bahwa ia sedang merasakan gema dari dua saudari di tepi kanal, tujuh generasi lalu, yang darahnya ia bawa. Ia hanya tahu bahwa perpecahan ini terasa kuno, terasa seperti sesuatu yang telah dijalani garis darahnya berkali-kali, sebuah pola yang berulang setiap kali air mendekat: bahwa di hadapan akhir, mereka yang paling saling mencintai pun menemukan bahwa mereka tak bisa berjalan bersama.

“Aku akan menyeberang, ” kata Rangin, kepada ibunya, ketika kerumunan mulai bubar ke dalam dua kelompoknya. “Tanah itu nyata. Aku tahu ia nyata, sebagaimana aku tahu kota-kota tenggelam itu nyata. Aku akan menyeberang, dan aku akan membawa ingatan ke seberang, ke tanah tinggi, ke tempat di mana air tak bisa mencapainya. Itulah cara rantai bertahan, Ibu. Bukan dengan lari ke utara sampai tak ada lagi utara. Dengan menyeberang ke tempat yang air tak bisa ambil.”

❖

Malam itu Rangin pergi ke tepi timur lidah daratan, ke tempat tanah berakhir dan laut dimulai, dan ia memandang ke seberang air ke arah di mana, dalam mimpinya, tanah tinggi berdiri.

Ia tak bisa melihatnya. Tentu saja ia tak bisa; ia terlalu jauh, di balik cakrawala, di seberang air yang gelap dan luas. Tapi ia tahu ia ada di sana, dengan pengetahuan yang lebih dalam daripada penglihatan, pengetahuan yang sama yang membuatnya mengenali kanal-kanal tenggelam yang tak pernah ia lihat. Tanah dengan gunung. Tanah yang air tak bisa ambil. Dan ia merasakan, memandang ke arahnya, sesuatu yang aneh dan baru: bukan hanya kerinduan akan masa lalu yang tenggelam, yang selalu ia rasakan, melainkan kerinduan akan masa depan yang belum ada, sebuah tempat yang belum ia capai tapi yang sudah, entah bagaimana, ia rindukan, seolah-olah ingatannya bekerja ke dua arah sekaligus, mengingat apa yang telah hilang dan apa yang belum ditemukan dengan kerinduan yang sama.

Dan ia memikirkan apa yang ibunya katakan tentang nama yang hilang, bahwa ada sebuah daratan di bawah air, dan bahwa ia harus mengingatnya, tapi bahwa namanya telah jatuh dari rantai. Dan ia membuat, di tepi air gelap itu, di bawah bintang-bintang yang nenek moyangnya pernah baca dan ia tak bisa, sebuah sumpah kecil dan diam, sumpah seorang anak yang tak tahu bahwa ia sedang memperbarui sumpah yang dibuat tujuh generasi lalu oleh seorang perempuan di air sebatas dada: bahwa ia akan menyeberang, dan ia akan membawa ingatan itu ke tanah tinggi, dan ia akan menjaganya sampai suatu hari nama yang hilang itu ditemukan kembali, entah bagaimana, entah oleh siapa, di suatu masa yang ia tak bisa bayangkan.

Dan di bawahnya, di air gelap yang memisahkan lidah daratan yang sekarat dari tanah tinggi yang ia impikan, air bergerak. Ia adalah air yang sama yang telah menelan tujuh generasi tanah, air yang sama yang menyimpan kota-kota tenggelam dan pasar dan ladang dan dua saudari, satu yang telah lama menjadi tanah dan satu yang masih ada di bawah sana, utuh dan dingin dan menunggu. Dan air itu, yang menyimpan segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya, menyimpan kini juga sumpah seorang anak yang memandang ke seberang, dan ia membawanya, pelan, dalam arus yang tak terlihat, ke arah timur, ke tanah tinggi, ke gunung, seolah-olah air itu sendiri, yang telah menghabiskan tujuh generasi mengambil, kini mulai, dengan sangat pelan, untuk membawa sesuatu kembali: bukan tanah, tanah tak bisa dikembalikan, melainkan ingatan tentang tanah, diteruskan dari yang tenggelam kepada yang masih berdiri, melintasi air, menuju seorang anak yang akan menyeberanginya dan tak akan pernah, sepanjang sisa hidupnya, berhenti mengingat apa yang ada di bawahnya.

❖


 

BAGIAN II

Yang Turun dan Yang Tinggal


 

BAB EMPAT

Mereka yang Memilih Turun

Kami tidak melarikan diri dari air. Kami pergi menemuinya, dan turun ke dalamnya, dan berkata kepadanya: kau tak bisa mengambil apa yang sudah kuberikan dengan sukarela. Kami pikir itu adalah kemenangan. Kami tak tahu bahwa itu hanya nama lain untuk menyerah.

tak pernah ditulis siapa pun, sebab mereka yang memahaminya tak pernah keluar untuk menuliskannya

Awu tinggal sekarang di tempat yang dulu adalah istana di pesisir selatan, di tepi air, dan ia tinggal di sana bersama mereka yang telah memilih jalannya, dan tempat itu tidak seperti tempat mana pun yang tersisa di dunia yang sekarat.

Sebab di seluruh sisa Nagara Rata, segala sesuatu sedang bergerak, sedang rusak, sedang bersiap untuk tenggelam atau melarikan diri. Kampung-kampung dikemas dan ditinggalkan. Orang-orang menua dan mati dan lahir dan menua lagi. Air naik. Itulah dunia: gerak, perubahan, kehilangan yang tak henti. Tapi di istana pesisir tempat Awu tinggal, tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berubah. Para penghalus, mereka yang telah berjalan jauh di jalan membuang waktu dari dalam diri mereka, duduk di tempat yang sama dari hari ke hari, dengan wajah yang sama, dalam keheningan yang sama, dan udara di antara mereka memiliki kualitas yang membuat orang yang masih fana, bila ia berani masuk, ingin segera pergi: kualitas sebuah ruangan tempat waktu telah berhenti, tempat tak ada satu pun jam berdetak, tempat keabadian telah datang lebih awal dan duduk, dingin dan utuh, menunggu air.

Awu berjalan di antara mereka sebagai pemimpin mereka, dan ia melihat pada mereka apa yang ia tahu sedang terjadi pada dirinya sendiri, walau ia tak punya cermin yang cukup jujur untuk menunjukkannya kepadanya. Mereka telah berhenti menua, ya. Tapi mereka juga telah berhenti, hal-hal lain. Mereka jarang bicara sekarang, dan ketika mereka bicara, suara mereka datang dari tempat yang jauh, seolah-olah dari seberang air. Mereka tidak lagi tertawa. Mereka tidak lagi menangis. Mereka tidak lagi, Awu memperhatikan dengan sesuatu yang ia tak izinkan dirinya namai sebagai ketakutan, tampak menginginkan apa pun, bahkan keabadian yang telah mereka pilih, bahkan air yang mereka tunggu. Mereka hanya ada, semakin utuh dan semakin kosong, seperti buah-buah di rak Empu Wani, dan Awu memimpin mereka, dan setiap hari ia menjadi sedikit lebih seperti mereka.

❖

Empu Wani tidak ikut menghalus, dan itu adalah hal yang Awu baru memahami maknanya di tahun-tahun terakhir ini, dan pemahaman itu mengganggunya dengan cara yang tak bisa ia hilangkan.

Sang empu telah menjadi sangat tua. Ia, yang telah mengajari begitu banyak orang cara membuang waktu dari dalam diri mereka, telah membiarkan waktu tetap di dalam dirinya sendiri, dan maka ia menua sebagaimana semua yang fana menua, dan kini ia adalah seorang lelaki yang sangat tua dan sangat rapuh, yang tangannya yang dulu halus kini gemetar, yang akan, segera, mati. Awu telah bertanya kepadanya, sekali, mengapa. Mengapa ia mengajari semua ini, mengapa ia membuka jalan ini, dan kemudian menolak untuk menempuhnya sendiri.

“Sebab seseorang harus tinggal untuk melihat, ” jawab Empu Wani. “Kalian yang turun tidak akan melihat apa pun. Itulah yang tak kalian pahami, bahkan kau, yang paling cerdas dari semuanya. Kalian pikir kalian turun untuk menyaksikan dunia bertahan, untuk tinggal, utuh, sementara segala sesuatu yang lain hilang. Tapi untuk menyaksikan sesuatu, kau harus berubah bersama waktu, kau harus bergerak melalui saat demi saat, kau harus hidup. Dan kalian telah memilih untuk berhenti. Kalian tidak akan menyaksikan dunia bertahan, anak. Kalian akan berhenti pada satu saat, dan tinggal di saat itu, dan dunia akan terus bergerak tanpa kalian, di atas kalian, melupakan kalian. Kalian tidak akan menjadi penonton keabadian. Kalian akan menjadi, ” ia mencari kata, dan menemukannya, dan kata itu tinggal bersama Awu lama setelahnya, “, perabotan. Perabotan di dasar laut. Indah, dan utuh, dan tak berguna, dan sendiri.”

“Lalu mengapa kau mengajari kami?” Awu bertanya, dan untuk sekali ada kemarahan dalam suaranya, kemarahan yang ia kira telah ia buang bersama waktu. “Bila kau tahu ini, mengapa kau membuka jalannya?”

“Sebab kalian akan menemukannya tanpa aku, ” kata Empu Wani, lelah. “Keinginan untuk tidak kehilangan lebih tua daripada aku, lebih tua daripada Nagara Rata. Aku hanya menemukan caranya. Bila bukan aku, orang lain. Dan setidaknya, dengan menemukannya sendiri, aku bisa berdiri di sini di ujung dan memperingatkan kalian, walau aku tahu, aku selalu tahu, bahwa peringatan tidak menghentikan siapa pun yang cukup takut. Aku memperingatkanmu sekarang, Awu, sebab kau adalah yang terbaik dari mereka dan maka yang paling kusesali. Tapi aku melihat di matamu bahwa kau tak akan berhenti. Kau sudah terlalu jauh. Kau sudah hampir tak bisa lagi merasakan apa yang akan kau hilangkan.”

❖

Malam itu, sendirian, Awu mencoba untuk merasakan.

Itu telah menjadi sesuatu yang harus ia coba sekarang, sebuah usaha, di mana dulu ia hanya perlu hidup dan perasaan datang sendiri. Ia duduk di tepi air, di tempat yang dulu adalah daratan dan kini adalah pantai, dan ia mencoba untuk merasakan apa yang seharusnya ia rasakan: takut akan air yang naik, duka atas dunia yang hilang, cinta pada saudarinya yang menua di suatu tempat di utara. Ia tahu bahwa dulu ia merasakan hal-hal ini. Ia ingat merasakannya, ingatannya masih utuh, akan selalu utuh, itulah kutukan dari apa yang ia pilih. Ia bisa mengingat dengan tepat bagaimana rasanya mencintai Sela, bagaimana rasanya menangis di tepi kanal, bagaimana rasanya takut. Tapi mengingat sebuah perasaan bukanlah merasakannya, sebagaimana mengingat sebuah buah bukanlah memakannya, dan Awu duduk di tepi air mencoba untuk memakan sebuah ingatan, dan menemukan, sebagaimana ia tahu ia akan menemukan, bahwa ia tak bisa.

Perasaan telah menjadi seperti sesuatu yang dilihat dari jarak jauh. Ia masih ada, ia bisa melihatnya, di sana, di tempat ia dulu, tapi ia tak bisa lagi menjangkaunya, tak bisa lagi masuk ke dalamnya. Dan ia menyadari, dengan sesuatu yang akan menjadi kengerian bila kengerian itu sendiri tidak juga memudar, bahwa inilah yang sebenarnya ia buang ketika ia membuang waktu: bukan hanya penuaan, bukan hanya kematian, melainkan kemampuan untuk berada di dalam saat ini, untuk merasakan apa pun sepenuhnya, untuk disentuh oleh dunia. Waktu, ia mulai memahami terlalu terlambat, bukanlah musuh yang ia kira. Waktu adalah apa yang memungkinkan perasaan. Sesuatu harus bergerak, harus berubah, harus lewat, supaya hati bisa tersentuh olehnya. Sebuah saat yang tak pernah lewat adalah saat yang tak pernah benar-benar dialami. Dan ia telah memilih sebuah keabadian dari saat-saat yang tak pernah lewat, dan maka ia telah memilih, tanpa mengetahuinya, sebuah keabadian dari tak pernah benar-benar mengalami apa pun lagi.

Ia mencoba untuk menangis. Ia ingat bahwa menangis pernah membawa kelegaan. Tapi air mata tak datang, sebab air mata juga adalah sesuatu yang lewat, dan tak ada lagi yang lewat di dalam Awu. Ia hanya duduk, kering dan utuh dan dingin, di tepi air yang akan segera menjadi rumahnya, dan ia memandang ke utara, ke tempat saudarinya, dan ia mencoba untuk merindukannya, dan ia hanya bisa mengingat bagaimana rasanya merindukan.

❖

Kabar datang, di hari-hari itu, bahwa dua laut telah hampir bertemu.

Punggung tanah yang menghubungkan apa yang tersisa dari Nagara Rata dengan dunia yang lebih luas telah menyempit sampai ke titik di mana, pada pasang tinggi, air dari kedua sisi hampir bersentuhan, dan orang-orang yang masih fana berlarian di lidah tanah yang menyempit itu seperti semut di atas ranting yang tenggelam, sebagian berusaha menyeberang ke timur dalam perahu yang tak cukup, sebagian berkumpul di tempat-tempat yang sedikit lebih tinggi untuk menunggu apa yang tak bisa lagi mereka hindari. Awu mendengar kabar tentang mereka dengan jarak yang sama dengan jarak yang kini memisahkannya dari segala hal, ia tahu mereka menderita, ia tahu mereka takut, ia bisa mengingat bagaimana rasanya menderita dan takut, tapi ia tak bisa lagi merasakannya bersama mereka, dan maka penderitaan mereka sampai kepadanya seperti kabar dari negeri yang jauh.

Tapi satu hal masih bisa menjangkaunya, satu hal saja, dan itu adalah Sela. Sela, yang menua di utara, yang akan tenggelam bersama yang fana sebab ia telah memilih untuk tenggelam, yang telah menolak, dua kali, untuk turun bersama Awu. Bahkan melalui kabut yang kini memisahkan Awu dari semua perasaan, pikiran tentang Sela masih bisa menimbulkan sesuatu, bukan perasaan penuh, tidak lagi, tapi sebuah bayangan perasaan, sebuah gema, cukup untuk membuat Awu tahu bahwa di suatu tempat di bawah kedinginan yang telah ia pilih, sesuatu masih hidup, sesuatu yang menolak untuk sepenuhnya membeku, dan bahwa sesuatu itu berbentuk seperti saudarinya.

Dan maka, di malam-malam terakhir sebelum dua laut bertemu, Awu membuat satu keputusan terakhir sebagai sesuatu yang masih cukup hidup untuk membuat keputusan. Ia tidak akan turun tanpa melihat Sela sekali lagi. Bukan untuk memohon, ia telah memohon, dua kali, dan ia tahu jawabannya, dan ia hampir tak lagi punya cukup keinginan untuk memohon lagi. Melainkan hanya untuk melihatnya. Untuk menyimpan, dalam ingatannya yang tak akan pernah berubah, wajah saudarinya sebagaimana adanya di akhir, supaya di dasar laut, sepanjang sepuluh ribu tahun, ketika tak ada lagi apa pun untuk dilihat atau dirasakan, Awu setidaknya akan punya itu: ingatan sempurna dan tak berubah tentang wajah satu-satunya orang yang pernah membuatnya merasakan apa pun sama sekali.

❖

Maka Awu meninggalkan istana pesisir, dan ia berjalan ke utara, melawan arus para pengungsi yang berjalan ke segala arah mencari tanah yang tak ada, dan ia adalah satu-satunya yang berjalan dengan tenang, sebab ia adalah satu-satunya yang tak lagi punya apa pun untuk ditakuti.

Mereka yang melihatnya lewat, para pengungsi, yang fana, yang ketakutan, menyingkir dari jalannya, dan menatapnya dengan campuran takut dan iri yang kini selalu menyertai para penghalus. Sebab di tengah dunia yang panik, Awu berjalan tanpa panik. Di tengah dunia yang menua dan rusak, ia tidak menua dan tidak rusak. Ia berjalan melewati mereka seperti sesuatu yang bukan dari dunia mereka lagi, sesuatu yang dingin dan utuh dan sudah setengah tenggelam walau ia masih berjalan di atas tanah, dan mereka menyingkir, dan sebagian dari mereka, yang paling tua, yang paling ingat, berbisik, ketika ia lewat, kata yang telah mulai mereka gunakan untuk para penghalus, kata yang akan, sepanjang sepuluh ribu tahun, tumbuh menjadi nama dan legenda dan ketakutan: ratu. Ratu dari mereka yang turun. Ratu dari laut.

Awu mendengar bisikan itu, dan ia tak merasakan apa-apa tentangnya, sebab ia hampir tak lagi merasakan apa-apa. Ia hanya terus berjalan, ke utara, menuju saudarinya, di bawah langit yang gelap dan di atas tanah yang menyempit, sementara di kedua sisinya dua laut menunggu untuk bertemu. Dan jauh di masa depan yang tak bisa ia bayangkan, tujuh generasi ke depan, di lidah tanah lain di antara dua laut lain, seorang anak bernama Rangin bersiap untuk menyeberangi air menuju tanah tinggi, membawa ingatan tentang dunia ini, tentang malam ini, tentang seorang perempuan dingin yang berjalan ke utara untuk melihat saudarinya sekali lagi, walau Rangin tak akan pernah tahu nama perempuan itu, hanya akan memimpikannya, hanya akan bangun menangis tanpa tahu mengapa. Dan di antara dua malam yang terpisah tujuh generasi, di bawah dua lidah tanah yang menyempit di antara dua pasang laut, air yang sama bergerak, dan menyimpan, dan menunggu, menunggu Awu untuk turun ke dalamnya dan tinggal, menunggu Rangin untuk menyeberanginya dan mengingat, menunggu, dengan kesabaran sesuatu yang tahu ia akan menang dan tahu pula bahwa kemenangannya tak akan pernah sepenuhnya menjadi miliknya, sebab di dalam air, di dalam yang turun dan yang menyeberang, sebuah dunia yang tenggelam menolak, dengan sangat pelan, untuk berhenti mengingat dirinya sendiri.

❖


 

BAB LIMA

Perahu yang Tak Cukup

Untuk menyelamatkan rantai, seseorang harus memutuskan sebagian darinya. Itu adalah ilmu yang paling pahit yang diwariskan para pengingat: bahwa tidak semua yang dicintai bisa dibawa menyeberang, dan bahwa memilih siapa yang dibawa adalah memilih siapa yang ditinggalkan.

dari ajaran para pengingat

Mereka membangun perahu dari kampung itu sendiri, sebab tak ada lagi yang lain untuk membangunnya.

Tak ada hutan di lidah tanah yang menyempit, tak ada pohon yang cukup besar untuk dijadikan lambung perahu yang sesungguhnya. Maka mereka membongkar rumah-rumah mereka. Tiang-tiang yang telah menyangga atap selama generasi diturunkan dan diikat menjadi rangka. Papan-papan dinding dilepas dan disusun menjadi lambung. Tali yang dulu mengikat ternak, kain yang dulu menjadi pakaian dan layar tenda, segala sesuatu yang bisa mengapung atau mengikat yang mengapung, semua dikumpulkan, dibongkar dari kehidupan yang dulu mereka jalani dan dirakit kembali menjadi satu-satunya hal yang mungkin membawa mereka keluar dari kehidupan itu. Rangin bekerja bersama yang lain, walau ia masih muda, sebab di kampung yang sekarat tak ada yang terlalu muda untuk bekerja, dan ketika ia melepas papan dari dinding rumah tempat ia dilahirkan, ia merasakan sesuatu yang ganjil: bahwa ia sedang membongkar masa lalunya untuk membangun masa depannya, bahwa rumah dan perahu tak bisa ada pada saat yang sama, bahwa untuk pergi ia harus terlebih dulu menghancurkan tempat yang membuatnya ingin tinggal.

Perahu-perahu itu, ketika selesai, tidak banyak, dan tidak baik. Mereka adalah benda-benda yang dirakit oleh orang-orang tanah yang tak pernah membangun perahu, dari bahan-bahan yang tak pernah dimaksudkan untuk menjadi perahu, untuk menyeberangi air yang mereka tak pernah pelajari cara menyeberanginya. Setiap orang yang memandangnya tahu kebenaran yang tak seorang pun ucapkan: bahwa perahu-perahu ini mungkin tidak cukup. Bahwa air terbuka di antara lidah tanah dan tanah tinggi di timur adalah air yang luas dan dalam dan tak kenal ampun, dan bahwa benda-benda rapuh yang dirakit dari rumah-rumah yang dibongkar ini mungkin akan pecah di tengahnya, dan menenggelamkan semua yang mereka bawa, dan menjadi tak lebih dari cara yang lebih cepat untuk mati daripada menunggu air di lidah tanah.

❖

Dan ketika perahu selesai, kampung harus melakukan hal yang paling sulit yang pernah ia lakukan: membagi dirinya.

Sebab perahu tak cukup untuk membawa semua, bahkan bila semua ingin pergi, dan tidak semua ingin pergi. Ada yang telah memutuskan untuk tinggal, yang terlalu tua untuk menyeberang, yang terlalu takut pada air terbuka, yang lebih suka mati di tanah tempat mereka lahir daripada di air yang asing. Dan ada yang telah memutuskan untuk pergi, dan di antara mereka pun harus ada pilihan, sebab perahu tak bisa membawa semua yang ingin naik, dan maka harus diputuskan siapa yang naik dan siapa yang tinggal, dan keputusan itu adalah keputusan tentang siapa yang mungkin hidup dan siapa yang hampir pasti mati, dan tak ada cara untuk membuatnya tanpa hati hancur.

Mereka memutuskannya sebagaimana orang-orang yang putus asa memutuskan hal-hal seperti itu: dengan campuran kebijaksanaan dan kekejaman yang tak bisa dipisahkan. Yang muda didahulukan, sebab yang muda membawa masa depan. Yang membawa keterampilan didahulukan, sebab keterampilan dibutuhkan di tanah baru. Dan yang membawa ingatan, inilah yang paling Rangin perhatikan, dan yang paling membuatnya mengerti tempatnya di dunia, yang membawa ingatan didahulukan di atas hampir semua yang lain. Sebab kampung itu, walau ia sekarat, walau ia panik, masih memegang satu hal yang telah diwariskan kepadanya melalui tujuh generasi: bahwa rantai ingatan tak boleh putus, bahwa lebih baik kehilangan banyak orang daripada kehilangan yang membawa ingatan, sebab orang bisa lahir kembali tapi ingatan yang hilang hilang selamanya.

Dan maka Rangin, yang masih muda dan membawa ingatan, diberi tempat di perahu, tanpa pertanyaan, tanpa undian. Ia adalah salah satu yang pertama dipilih untuk hidup. Dan ibunya, yang juga membawa ingatan, juga diberi tempat. Tapi tidak semua yang dicintai Rangin diberi tempat, dan di sanalah, dalam pemberian dan penolakan tempat-tempat di perahu yang tak cukup, kampung itu mengalami perpisahannya yang sebenarnya.

❖

Nenek Rangin memilih untuk tinggal.

Ia adalah ibu dari ibu Rangin, perempuan tua yang telah mewariskan ingatan kepada putrinya yang mewariskannya kepada Rangin, sebuah mata rantai yang hidup di antara Rangin dan masa lalu yang dalam. Ia terlalu tua untuk menyeberang; ia tahu ini, dan ia tak berpura-pura sebaliknya. Dan ketika ibu Rangin memohon kepadanya, dengan air mata, untuk mengambil tempatnya di perahu, untuk membiarkan yang tua menggantikan yang muda, sebab bukankah itu yang seharusnya, bukankah yang tua seharusnya memberi jalan kepada yang muda, nenek Rangin menolak, dengan ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah berdamai dengan akhir mereka.

“Tempatku bukan di perahu, ” katanya. “Tempatku di sini, di tanah, sebagaimana tempat ibuku di tanah yang sekarang ada di bawah laut, sebagaimana tempat ibunya di tanah yang bahkan lebih dalam. Kita semua tinggal di suatu tempat, pada akhirnya. Aku akan tinggal di sini.” Ia memegang wajah Rangin di antara kedua tangannya yang tua dan gemetar, dan ia memandangnya dengan mata yang Rangin akan ingat selama sisa hidupnya. “Tapi kau, kau akan menyeberang. Dan kau akan membawa apa yang kuberikan kepada ibumu dan ibumu berikan kepadamu. Itulah caraku menyeberang, Rangin. Bukan dengan tubuhku; tubuhku sudah lelah, dan ia akan tinggal di sini, dan air akan mengambilnya, dan itu tak apa-apa. Aku menyeberang di dalam dirimu. Selama kau mengingat, aku tidak benar-benar tinggal. Sebagian dariku menyeberangi air bersamamu, ke tanah tinggi, dan akan terus menyeberang, dari kau ke anakmu, dari anakmu ke cucumu, lama setelah tubuhku yang tua ini menjadi bagian dari dasar laut.”

Rangin menangis, sebab ia masih cukup muda untuk menangis tanpa malu, dan sebab apa yang akan ia kehilangan terlalu besar untuk ditanggung tanpa air mata. Tapi ia juga, di balik tangisnya, memahami sesuatu yang akan menjadi inti dari siapa dirinya: bahwa mengingat bukanlah hal yang kecil, bukanlah penghiburan yang lemah yang diberikan kepada mereka yang tak bisa menyelamatkan apa yang mereka cintai. Mengingat adalah penyeberangan itu sendiri. Ia adalah cara sesuatu yang tak bisa dibawa secara fisik tetap dibawa, cara yang tinggal tetap pergi, cara yang mati tetap hidup. Neneknya akan tinggal dan tenggelam. Dan neneknya akan menyeberang, di dalam Rangin, ke tanah tinggi, dan tak ada kontradiksi di antara dua hal itu, sebab itulah yang dilakukan ingatan: ia membuat dua hal yang tak mungkin menjadi benar pada saat yang sama.

❖

Malam sebelum perahu berangkat, Rangin bermimpi lebih dalam daripada ia pernah bermimpi, dan dalam mimpinya kedua lapis waktu yang ia bawa di dalam darahnya hampir bersentuhan.

Ia bermimpi, sebagaimana ia selalu bermimpi, tentang daratan yang luas dan tenggelam. Tapi malam ini ia melihat lebih dari yang pernah ia lihat. Ia melihat sebuah lidah tanah yang menyempit di antara dua laut, bukan lidah tanahnya sendiri, melainkan lidah tanah yang lain, lebih tua, di tempat yang lain, tujuh generasi sebelum kelahirannya. Dan di atas lidah tanah itu ia melihat seorang perempuan berjalan ke utara, sendirian, melawan arus orang-orang yang melarikan diri, seorang perempuan yang berjalan dengan ketenangan yang aneh dan dingin di tengah dunia yang panik, seorang perempuan yang tidak menua. Dan Rangin tahu, dengan pengetahuan yang datang dari tempat yang lebih dalam daripada mimpi, bahwa ia mengenal perempuan itu, bahwa perempuan itu adalah bagian dari ceritanya sendiri, dari darahnya sendiri, walau ia tak tahu bagaimana, walau ia tak tahu namanya.

Dan ia melihat, di kejauhan dalam mimpinya, seorang perempuan lain, tua, bungkuk, berjalan dengan kelambatan usia, yang menunggu perempuan dingin itu, dan Rangin tahu bahwa kedua perempuan itu akan bertemu, dan bahwa pertemuan mereka adalah sesuatu yang penting, sesuatu yang menjadi akar dari rantai yang membawanya ada. Tapi ia bangun sebelum mereka bertemu, sebagaimana ia selalu bangun sebelum bagian yang paling penting, dengan air mata di wajahnya dan dengan perasaan, yang kini sudah biasa baginya, walau tak pernah menjadi kurang aneh, bahwa ia telah mengingat sesuatu yang belum terjadi, atau yang telah terjadi begitu lama yang lalu sehingga ia telah berputar kembali menjadi sesuatu yang masih menunggu untuk terjadi.

Ia berbaring dalam gelap, mendengarkan suara air di kedua sisi lidah tanah, dan ia memikirkan kedua perempuan dalam mimpinya, dan ia memikirkan neneknya yang akan tinggal, dan ia memikirkan tanah tinggi di timur yang belum ia lihat, dan untuk pertama kalinya ia merasakan bahwa semua hal ini, masa lalu yang tenggelam, masa kini yang sekarat, masa depan yang belum ada, bukanlah hal-hal yang terpisah, melainkan satu hal, satu rantai panjang, dan bahwa ia adalah titik tempat seluruh rantai itu lewat sekarang, titik tempat yang telah tenggelam dan yang belum ditemukan bertemu dan menjadi satu di dalam darah seorang anak yang akan menyeberangi air saat fajar.

❖

Perahu berangkat saat fajar, ketika air paling tenang, dan kampung yang terbelah menyaksikan dirinya berpisah menjadi dua: yang di atas air, dan yang di tepi.

Rangin berdiri di perahu di samping ibunya, dan ia memandang ke belakang, ke tepi, di mana mereka yang tinggal berdiri menyaksikan mereka yang pergi. Neneknya ada di sana, di depan, kecil dan tua dan tegak, tidak melambai, sebab melambai adalah untuk perpisahan yang biasa, dan ini bukan perpisahan yang biasa, melainkan hanya berdiri, memandang, menyimpan wajah cucunya sebagaimana cucunya menyimpan wajahnya, supaya masing-masing akan membawa yang lain, di dalam ingatan, ke tempat yang berbeda yang akan mereka tuju: yang satu ke dasar laut, yang satu ke tanah tinggi. Dan Rangin memandang neneknya semakin mengecil ketika perahu bergerak menjauh dari tepi, semakin kecil, sampai ia tak bisa lagi membedakannya dari yang lain, sampai seluruh tepi menjadi satu garis tipis di antara air dan langit, sampai garis itu sendiri menghilang di balik lengkung air, dan lidah tanah tempat ia dilahirkan, dengan semua yang tinggal di atasnya, lenyap ke dalam jarak seolah-olah ia tak pernah ada.

Tapi ia pernah ada. Rangin tahu ia pernah ada, dan akan terus tahu, dan itulah seluruh maksudnya. Ia berdiri di perahu yang tak cukup, di atas air yang dalam, menuju tanah yang hanya ia lihat dalam mimpi, dan ia memikul, semuda apa pun ia, serapuh apa pun perahunya, seluruh bobot dari sebuah rantai yang membentang mundur tujuh generasi ke seorang perempuan yang menelan tujuh kerikil, dan yang membentang maju ke entah berapa generasi lagi, ke seseorang yang suatu hari akan berdiri di atas semua air ini dan tahu namanya. Dan di bawah perahu, di air yang dalam dan gelap yang memisahkan yang tenggelam dari yang masih berdiri, air bergerak, air yang sama yang telah menelan tujuh generasi tanah, air yang sama yang di kedalamannya seorang ratu duduk utuh dan dingin dan menunggu, air yang sama yang menyimpan segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya. Dan ia membawa perahu Rangin di punggungnya, pelan, ke arah timur, ke tanah tinggi, bukan dengan ramah, air tak pernah ramah, melainkan dengan sesuatu yang lebih aneh daripada keramahan: dengan semacam pengakuan, seolah-olah air tahu bahwa anak di atasnya membawa sesuatu yang bahkan air, dengan segala kekuatannya untuk mengambil, tak akan pernah bisa benar-benar menenggelamkan.

❖


 

BAB ENAM

Wajah untuk Sepuluh Ribu Tahun

Ada perpisahan yang kau ucapkan dengan tahu kau akan bertemu lagi, dan ada perpisahan yang kau ucapkan dengan tahu kau tidak akan. Tapi yang paling pahit adalah perpisahan yang kau ucapkan dengan tahu bahwa salah satu dari kalian akan tetap ada, sendirian, mengingat perpisahan itu selamanya.

dari ajaran para pengingat, tentang dua saudari

Awu menemukan saudarinya di tempat terakhir di utara di mana tanah masih cukup tinggi untuk menahan air, sebuah kampung kecil yang berkerumun di sekitar tanah tinggi seperti orang berkerumun di sekitar api di malam yang dingin.

Ke tempat inilah Sela telah pindah di tahun-tahun terakhir, bukan untuk menyelamatkan dirinya, ia tahu tak ada yang bisa diselamatkan, ia tak pernah berpura-pura sebaliknya, melainkan untuk berada di antara orang-orang yang masih bisa diajar, masih bisa diberi ingatan untuk diwariskan. Sebab itulah yang telah Sela lakukan sepanjang hidupnya yang panjang, dan yang ia terus lakukan bahkan kini, bahkan di ujung: mengajar, mengingat, menempa rantai yang akan menyeberangi air yang akan datang. Di kampung tanah tinggi itu, di antara murid-muridnya dan murid-murid dari murid-muridnya, Sela telah menjadi sesuatu yang lebih dari seorang perempuan tua. Ia telah menjadi sebuah sumber, sebuah mata air ingatan, tempat orang datang untuk menimba apa yang harus mereka bawa ke tanah yang lebih tinggi ketika air ini pun, akhirnya, datang.

Ketika Awu masuk ke kampung itu, orang-orang menyingkir darinya, sebagaimana orang selalu menyingkir dari para penghalus sekarang. Mereka mengenali apa yang ia adanya, yang tak menua, yang dingin, ratu dari mereka yang turun, dan mereka takut padanya, dan ketakutan mereka membuka jalan baginya melalui kampung, sebuah lorong kesunyian, sampai ke tempat di mana saudarinya duduk. Dan ketika Awu mencapai Sela, dan kedua perempuan itu memandang satu sama lain, seluruh kampung menahan napas, sebab bahkan mereka yang tak tahu cerita kedua saudari bisa merasakan bahwa sesuatu yang sangat tua dan sangat besar sedang mencapai akhirnya di hadapan mereka.

❖

Sela sangat tua sekarang, lebih tua daripada ketika Awu terakhir melihatnya, begitu tua sehingga ia tampak hampir tembus cahaya, seperti sesuatu yang telah hampir selesai diubah oleh waktu menjadi ingatan tentang dirinya sendiri.

Ia tak bisa lagi berdiri tanpa bantuan. Ia duduk, dibungkus kain terhadap dingin yang kini selalu ia rasakan, dan tangannya, tangan yang dulu menenangkan lembu, yang dulu mengubur seekor burung, yang dulu menekan tanah dan merasakan sesuatu menjawab, tangannya terbaring di pangkuannya seperti dua benda yang telah lelah. Tapi matanya tidak tua. Itulah yang menghantam Awu, melalui kabut yang memisahkannya dari semua perasaan: bahwa mata saudarinya masih mata yang sama, masih hidup, masih melihat, masih, dan inilah yang nyaris, nyaris, menembus kedinginan Awu, masih penuh dengan cinta ketika mereka memandangnya.

“Kau datang, ” kata Sela. Suaranya tipis sekarang, tapi jelas. “Aku berharap kau akan datang. Aku tak berani memintanya, sebab aku tahu betapa jauh kau telah pergi ke dalam jalanmu, dan aku tahu betapa sulit bagimu untuk merasakan apa pun yang cukup untuk membawamu kembali ke utara. Tapi aku berharap. Dan kau datang.”

“Aku datang untuk melihatmu, ” kata Awu, dan suaranya datang dari tempat yang jauh, seberang air, dingin dan rata. “Bukan untuk memohon. Aku tak akan memohon lagi; aku hampir tak punya cukup yang tersisa di dalamku untuk memohon. Aku datang hanya untuk melihatmu. Untuk menyimpanmu. Air akan datang sepenuhnya dalam beberapa malam, kedua laut hampir bertemu, dan ketika mereka bertemu, semua ini akan hilang dalam satu malam. Aku akan turun sebelum itu. Dan aku ingin membawa, ke bawah, ke tempat aku akan tinggal selamanya, satu hal: wajahmu. Sebagaimana adanya sekarang. Di akhir. Aku ingin menyimpannya, utuh, supaya sepanjang sepuluh ribu tahun di dasar laut, ketika tak ada lagi apa pun untuk dilihat, aku akan punya wajahmu untuk diingat.”

❖

Dan Sela, mendengar ini, menangis, ia masih bisa menangis, ia akan bisa menangis sampai akhir, itu adalah salah satu hal yang ia pilih dengan memilih untuk tetap fana, dan air matanya bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk dunia yang akan tenggelam, melainkan untuk saudarinya.

“Oh, Awu, ” katanya. “Dengar dirimu. Kau datang sejauh ini, sejauh seluruh daratan yang sekarat, untuk menyimpan wajahku, dan kau tak bisa lagi merasakan mengapa kau menginginkannya. Aku bisa mendengarnya dalam suaramu. Kau ingat bahwa kau mencintaiku. Kau ingat bahwa wajah seseorang yang dicintai adalah hal yang berharga untuk disimpan. Tapi kau tak bisa lagi merasakan cintanya, kan? Kau hanya bisa mengingat bahwa kau dulu merasakannya, dan bertindak menurut ingatan itu, seperti orang yang mengikuti peta ke tempat yang tak bisa lagi ia lihat.”

Awu tidak menjawab, sebab tak ada yang bisa ia jawab, sebab saudarinya telah mengatakan kebenaran yang persis, kebenaran yang Awu sendiri telah temukan di tepi air dan tak bisa ubah.

“Itulah yang paling kutangisi, ” Sela melanjutkan, pelan. “Bukan bahwa kau akan turun. Bukan bahwa kau akan tinggal di dasar laut. Melainkan bahwa kau akan menyimpan wajahku selama sepuluh ribu tahun, dan sepanjang sepuluh ribu tahun itu kau tak akan bisa merasakan mengapa ia berharga. Kau akan memandangnya, di dalam ingatanmu yang sempurna, dan ia akan menjadi sebuah gambar yang sempurna dari sesuatu yang dulu kau cintai, dan kau tak akan bisa lagi mencintainya. Itu bukan menyimpan, Awu. Itu adalah bentuk kehilangan yang paling kejam: kehilangan kemampuan untuk mencintai apa yang kau simpan, sambil menyimpannya dengan sempurna, selamanya. Aku lebih suka kau melupakan wajahku sepenuhnya daripada mengingatnya tanpa bisa mencintainya.”

❖

Mereka duduk bersama untuk waktu yang lama setelah itu, dua saudari di ujung dunia, dan tak banyak yang dikatakan, sebab tak banyak yang tersisa untuk dikatakan, dan sebab kehadiran kadang lebih banyak berkata daripada kata-kata.

Tapi sebelum Awu pergi, sebab ia harus pergi, sebab air memanggilnya, sebab ada ritus yang harus diselesaikan sebelum kedua laut bertemu, Sela memegang tangan saudarinya untuk terakhir kalinya, dan ia mengatakan hal yang telah ia simpan, hal yang ia tak sepenuhnya mengerti tapi tahu ia harus mengucapkannya.

“Aku akan melakukan sesuatu, di malam banjir, ” katanya. “Sesuatu yang telah kupersiapkan sepanjang hidupku tanpa tahu bahwa aku mempersiapkannya. Aku tidak akan menceritakannya kepadamu, sebab aku sendiri belum sepenuhnya tahu apa ia, hanya bahwa aku harus melakukannya, dan bahwa karena hal itu, sesuatu dari dunia ini akan bertahan dengan cara yang berbeda dari caramu bertahan. Bukan utuh dan beku seperti dirimu. Hidup, dan berubah, dan diwariskan. Dan suatu hari, Awu, jauh, lebih jauh daripada yang bisa kita bayangkan, ketika sepuluh ribu tahun telah lewat dan kau telah lama dilupakan oleh dunia yang berjalan di atasmu, suatu hari sesuatu yang kumulai malam itu akan sampai kepadamu. Aku tak tahu bagaimana. Aku tak tahu dalam bentuk apa. Tapi aku berjanji kepadamu, saudariku, dengan satu-satunya hal yang masih bisa kujanjikan: bahwa kau tidak akan sendirian selamanya. Sepuluh ribu tahun, mungkin. Tapi tidak selamanya. Suatu hari, sesuatu yang kumulai akan datang untukmu, dan kau tidak akan sendirian lagi.”

Awu memandangnya, dan untuk satu saat, satu saat saja, tapi nyata, tapi sungguh-sungguh ada, sesuatu menembus kedinginan. Bukan perasaan penuh; ia telah kehilangan kemampuan untuk perasaan penuh. Tapi sebuah bayangan, sebuah gema, cukup untuk membuat sesuatu yang basah muncul di mata yang ia kira telah kering selamanya. Bukan air mata; air mata telah meninggalkannya. Tapi sesuatu yang dekat dengan air mata, sejauh yang masih bisa ia capai. “Aku akan menunggu, ” katanya, dan ia tak tahu mengapa ia mengatakannya, sebab menunggu adalah sesuatu yang dilakukan oleh mereka yang masih merasakan waktu berlalu, dan ia tak lagi merasakannya. Tapi ia mengatakannya, dan dalam mengatakannya ia memberi saudarinya hal terakhir yang bisa ia berikan: kepercayaan. “Sepuluh ribu tahun. Aku akan menunggu apa yang kau mulai.”

❖

Lalu Awu pergi, ke selatan, kembali ke air yang menunggunya, dan Sela menyaksikannya pergi dari tempat ia duduk, tak bisa berdiri untuk mengantarnya, hanya bisa memandang punggung saudarinya semakin mengecil di sepanjang tanah tinggi sampai ia menghilang.

Dan Sela tahu, memandangnya pergi, bahwa ia tak akan melihatnya lagi, bukan dalam hidup ini, yang tinggal beberapa malam lagi, dan bukan sesudahnya, sebab mereka telah memilih dua jenis keabadian yang tak akan pernah bertemu: Sela akan tenggelam dan menjadi tanah dan diwariskan sebagai ingatan, dan Awu akan turun dan tinggal utuh dan beku, dan di antara dua nasib itu tak ada tempat pertemuan, tak ada ruang di mana seorang kakak yang telah menjadi ingatan bisa duduk bersama seorang adik yang telah menjadi patung. Mereka telah saling mencintai seumur hidup, dan mereka tak akan pernah, dalam segala waktu yang akan datang, berada di tempat yang sama lagi.

Kecuali, dan inilah hal yang Sela pegang, memandang saudarinya menghilang, hal yang membuatnya bisa menanggung perpisahan ini, kecuali melalui apa yang akan ia lakukan di malam banjir. Sebab ia telah berjanji bahwa Awu tidak akan sendirian selamanya, dan ia bermaksud menepati janji itu, walau ia tak tahu bagaimana, walau ia hanya tahu bahwa di dalam dirinya ada sesuatu yang telah tumbuh sepanjang hidupnya menuju malam ini, sesuatu yang melibatkan air dan ingatan dan tujuh kerikil yang belum ia telan, sesuatu yang akan menanam, di dasar laut yang akan menelan dunia, sebuah benih yang akan tumbuh sepanjang tujuh generasi dan lebih, dan yang suatu hari, di suatu masa yang tak bisa ia bayangkan, akan sampai kepada saudarinya yang menunggu di kedalaman, dan membebaskannya.

Dan jauh di masa depan itu, tujuh generasi ke depan, di atas air yang akan menutupi semua ini, sebuah perahu yang tak cukup membawa seorang anak bernama Rangin ke arah timur, ke tanah tinggi, dan anak itu tidur di perahu yang bergoyang dan bermimpi, malam ini, malam yang sama, walau terpisah tujuh generasi, tentang dua saudari yang berpisah di ujung dunia, satu pergi ke selatan menuju air dan satu tinggal di utara untuk menanam benih di dalam air. Dan Rangin bangun, di atas air yang dalam, dengan air mata di wajahnya, mengingat sebuah janji yang dibuat sebelum ia lahir, sebuah janji yang ia sendiri, tanpa tahu, sedang membawa menyeberangi air untuk ditepati. Dan di bawah keduanya, di bawah dua malam yang terpisah tujuh generasi, air yang sama menyimpan, dan menunggu, dan untuk pertama kalinya dalam seluruh cerita yang panjang ini, air itu menyimpan bukan hanya apa yang telah jatuh ke dalamnya, melainkan juga sebuah janji tentang apa yang suatu hari akan naik kembali darinya.

❖


 

BAGIAN III

Penyeberangan dan Sumpah


 

BAB TUJUH

Suara di Bawah Air

Air yang mengambil dan air yang menyimpan adalah air yang sama. Inilah yang tak dipahami oleh mereka yang hanya takut padanya: bahwa di kedalaman yang sama yang akan menenggelamkanmu, segala sesuatu yang pernah tenggelam masih ada, menunggu untuk didengar oleh siapa pun yang cukup tenggelam untuk mendengarnya.

dari ajaran para pengingat

Hari-hari di laut terbuka mengajari Rangin sesuatu yang tak pernah bisa diajarkan oleh daratan, bahkan daratan yang sekarat: betapa kecil manusia, dan betapa besar air.

Di darat, bahkan di lidah tanah yang menyempit di antara dua laut, selalu ada sesuatu yang menjadi ukuran, sebuah pohon, sebuah bukit, sebuah garis pantai, sesuatu yang dengannya seseorang bisa berkata: aku sebesar ini, dunia sebesar itu. Tapi di laut terbuka tak ada ukuran. Ada air ke segala arah, sampai ke tempat air bertemu langit, dan di antara air dan langit hanya ada perahu-perahu kecil yang dirakit dari rumah-rumah yang dibongkar, dan di dalam perahu-perahu itu orang-orang yang telah meninggalkan segalanya, dan di sekeliling mereka tak ada apa pun yang bisa berkata kepada mereka seberapa kecil mereka, kecuali perasaan di dalam perut yang tak butuh diberitahu. Rangin memandang ke segala arah dan tak melihat apa-apa kecuali air, dan ia merasakan dirinya menyusut, hari demi hari, menjadi sebuah titik yang nyaris tak ada di atas sesuatu yang nyaris tak berujung.

Air dan makanan dijatah dengan kekejaman yang diperlukan. Beberapa yang tua dan yang lemah tidak bertahan melewati hari-hari pertama, dan tubuh mereka dikembalikan ke air dengan upacara sesingkat yang bisa ditanggung hati, sebab di perahu yang penuh tak ada ruang untuk yang mati, dan sebab air, pada akhirnya, adalah tempat semua orang akan pergi. Rangin menyaksikan ini, dan ia menyimpannya, sebab ia adalah jenis yang menyimpan, dan ia mengerti bahwa ia sedang menyaksikan hal-hal yang harus diingat: bagaimana sebuah bangsa mati sedikit demi sedikit dalam perjalanan untuk menyelamatkan dirinya, bagaimana harga dari menyeberang dibayar bukan sekaligus di akhir melainkan terus-menerus, sepanjang jalan, dalam mata uang orang-orang yang dicintai.

❖

Badai datang pada hari yang tak bisa Rangin hitung lagi, sebab hari-hari telah berhenti memiliki angka dan menjadi hanya terang dan gelap yang berganti di atas air yang sama.

Ia datang sebagaimana badai laut datang kepada orang-orang yang tak mengenal laut: tanpa peringatan yang bisa mereka baca. Mungkin ada peringatan, mungkin langit telah mengubah warnanya, mungkin air telah mengubah geraknya, mungkin seorang pelaut sejati akan melihatnya datang dari jauh dan bersiap. Tapi mereka bukan pelaut. Mereka orang tanah di atas air, dan maka badai jatuh ke atas mereka seolah-olah dari ketiadaan, langit yang tiba-tiba hitam, angin yang tiba-tiba menjerit, dan air, air yang tadinya datar dan tak berujung, air tiba-tiba bangkit, menjadi bukit, menjadi gunung, mengangkat perahu-perahu kecil ke puncak yang mengerikan lalu menjatuhkannya ke lembah yang lebih mengerikan, dan di antara puncak dan lembah segala sesuatu adalah air dan jeritan dan gelap.

Perahu-perahu tercerai. Itu adalah hal pertama yang hilang: kebersamaan, gagasan bahwa mereka menyeberang bersama. Dalam badai tiap perahu menjadi dunianya sendiri, terisolasi oleh dinding-dinding air, dan Rangin, berpegang pada perahunya bersama ibunya dan yang lain, tak bisa lagi melihat perahu-perahu yang lain, tak tahu apakah mereka masih mengapung atau telah pecah, tak tahu apakah ia menyaksikan kematian sebuah bangsa atau hanya satu malam buruk yang akan dilewati. Air masuk ke perahu lebih cepat daripada yang bisa mereka keluarkan. Papan-papan yang dibongkar dari rumah-rumah mengerang dan mulai terpisah, ikatan-ikatan yang dibuat oleh tangan orang tanah mulai mengendur, dan Rangin mengerti, dengan kejelasan yang dingin di tengah kekacauan, bahwa perahu yang tak cukup itu sedang membuktikan dirinya tak cukup, persis sebagaimana semua orang takutkan, dan bahwa mereka akan tenggelam, di sini, di tengah air, sebelum mencapai tanah tinggi mana pun.

❖

Dan kemudian sebuah gunung air datang yang lebih besar dari semua yang sebelumnya, dan ia mengangkat perahu, dan ia membaliknya, dan Rangin jatuh ke dalam laut.

Air menutup di atasnya, dan dunia atas, jeritan, angin, gelap yang berkilat, lenyap, digantikan oleh dunia lain, dunia bawah, yang hening dengan keheningan yang mengerikan dan total. Rangin tenggelam. Ia tak bisa berenang, orang tanah tak belajar berenang, dan ia merasakan air menariknya ke bawah, menjauh dari permukaan, ke dalam gelap yang dingin dan dalam, dan ia tahu, dengan ketenangan aneh yang kadang datang pada saat-saat terakhir, bahwa ia sedang mati, bahwa rantai akan putus di dirinya, bahwa semua yang neneknya wariskan dan ibunya wariskan akan tenggelam bersamanya ke dasar laut dan hilang.

Tapi kemudian, di dalam gelap, di bawah air, ia mendengar sesuatu.

Bukan dengan telinganya. Telinganya hanya mendengar gemuruh teredam air. Ia mendengarnya dengan bagian dirinya yang sama yang selalu mendengar air, bagian yang telah membuatnya bermimpi tentang kota-kota tenggelam sepanjang hidupnya, bagian yang ibunya sebut warisan dari nenek dari neneknya. Dan apa yang ia dengar, di kedalaman tempat ia tenggelam, bukanlah keheningan kematian yang ia harapkan. Ia adalah suara. Banyak suara. Suara-suara yang datang dari lebih dalam lagi, dari dasar yang tak bisa ia lihat, suara-suara dari segala sesuatu yang pernah tenggelam ke dalam air ini sepanjang tujuh generasi dan lebih, kota-kota, ladang-ladang, orang-orang, sebuah dunia yang luas dan tenggelam, semuanya masih ada di sana, di bawah, tidak hidup tapi tidak sepenuhnya hilang, tersimpan di dalam air sebagaimana air menyimpan segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya. Dan suara-suara itu, mendengar Rangin tenggelam ke arah mereka, melakukan sesuatu yang tak pernah Rangin pahami sepenuhnya: mereka menolaknya. Mereka mendorongnya kembali ke atas. Bukan dengan tangan, bukan dengan kekuatan yang bisa dinamai, melainkan dengan semacam pengakuan, semacam panggilan, belum, belum, kau membawa kami, kau harus naik, kau harus mengingat, belum.

❖

Rangin kembali ke permukaan, walau ia tak pernah tahu bagaimana, walau orang tanah yang tak bisa berenang tak seharusnya kembali dari kedalaman seperti itu.

Tangan-tangan menariknya kembali ke perahu yang entah bagaimana masih mengapung, terbalik kembali oleh gunung air yang sama yang membaliknya atau oleh keberuntungan atau oleh sesuatu yang tak bisa dinamai, dan ibunya ada di sana, memeganginya, menangis, dan badai masih mengamuk tapi kini mulai melemah, gunung-gunung air mulai surut menjadi bukit lalu menjadi gelombang biasa, langit mulai membuka. Mereka telah selamat. Sebagian dari mereka. Rangin tak akan tahu sampai kemudian berapa banyak perahu yang hilang, berapa banyak yang tenggelam, berapa harga yang dibayar malam itu. Tapi ia telah selamat, dan ibunya telah selamat, dan rantai tidak putus.

Dan ia membawa kembali dari kedalaman sesuatu yang akan mengubah cara ia memahami segala sesuatu: pengetahuan bahwa air bukanlah hanya yang mengambil. Sepanjang hidupnya ia telah memahami air sebagaimana semua keturunan korban memahaminya, sebagai musuh, sebagai yang menelan, sebagai akhir. Tapi di kedalaman ia telah mendengar kebenaran yang lebih dalam: bahwa air yang sama yang mengambil juga menyimpan, bahwa di dasar tempat segala sesuatu tenggelam, segala sesuatu yang tenggelam masih ada, dan bahwa maka tenggelam bukanlah sepenuhnya akhir melainkan juga sejenis pelestarian, sejenis ingatan yang dilakukan oleh air itu sendiri. Dunia yang tenggelam tidak hilang. Ia ada di bawah, tersimpan, menunggu. Dan tugas para pengingat, Rangin mulai memahami, bukanlah melawan air, tak seorang pun bisa melawan air, melainkan menjadi suara di atas air bagi apa yang air simpan di bawahnya, menjadi cara bagi yang tenggelam untuk terus berbicara ke dunia yang masih terapung.

❖

Tanah tinggi terlihat tiga hari setelah badai, dan ketika Rangin pertama melihatnya, sebuah garis gelap di cakrawala timur, naik, dengan punggung yang tak rata, dengan sesuatu di belakangnya yang lebih tinggi lagi, lebih biru, lebih jauh, ia tahu sebelum siapa pun memberitahunya bahwa itu adalah tanah dari mimpinya.

Tanah dengan gunung. Tanah yang air tak bisa capai sebab ia terlalu tinggi. Ia telah memimpikannya sepanjang hidupnya, dan kini ia melihatnya dengan matanya yang bangun, dan ia sama persis dengan mimpinya, sampai ke lengkung punggungnya, sampai ke warna birunya yang jauh. Dan Rangin merasakan, memandangnya, sesuatu yang ia tak punya nama untuknya, bukan kelegaan, walau ada kelegaan, melainkan sesuatu yang lebih besar: perasaan bahwa ia telah menyeberang bukan hanya air, melainkan sesuatu yang lebih dalam dari air, bahwa ia telah membawa sebuah dunia yang tenggelam menyeberangi laut yang menenggelamkannya, ke tanah baru di mana ia bisa tumbuh kembali, berubah, diwariskan, hidup. Yang tenggelam telah menyeberang, di dalam dirinya, ke tanah yang air tak bisa ambil.

Ia berdiri di perahu yang nyaris pecah, di antara orang-orang yang nyaris mati, memandang tanah tinggi yang naik dari laut, dan ia membuat, sebagaimana ia membuat di tepi air sebelum menyeberang, sebagaimana seorang perempuan membuat di air sebatas dada tujuh generasi sebelumnya, sebuah sumpah diam: bahwa ia akan membangun, di tanah tinggi itu, sebuah tempat di mana ingatan tentang dunia yang tenggelam akan dijaga, diwariskan, dijaga agar tak pernah putus, sampai suatu hari nama yang hilang itu ditemukan kembali. Dan di bawah perahunya, di air yang dalam yang telah hampir menelannya dan kemudian menolaknya, air bergerak, air yang sama yang menyimpan dunia yang tenggelam, air yang sama yang di kedalamannya seorang ratu duduk utuh dan menunggu, air yang sama yang malam ini, tujuh generasi di masa lalu, sedang naik untuk menelan dunia dan menerima sumpah seorang perempuan yang berdiri di dalamnya sampai sebatas dada. Dan air itu membawa perahu Rangin ke tanah tinggi dengan sesuatu yang nyaris seperti kelembutan, sebab ia tahu, sejauh air bisa tahu, bahwa anak yang ia bawa adalah suara yang akan berbicara, di dunia atas, bagi segala sesuatu yang ia simpan di bawah; dan bahwa selama suara seperti itu ada, dunia yang tenggelam tidak akan pernah sepenuhnya tenggelam, dan ratu yang menunggu di kedalaman tidak akan, pada akhirnya, menunggu selamanya.

❖


 

BAB DELAPAN

Malam Dua Laut Bertemu

Tahun itu menjadi Tahun Nol, sebab sesudahnya tak ada yang sama, dan sebelumnya hanya bisa dihitung mundur. Segala sesuatu yang pernah terjadi terjadi sebelum air; segala sesuatu yang akan terjadi terjadi sesudahnya. Malam itu adalah engsel tempat dunia berputar dari satu menjadi yang lain.

pembuka Kalender Para Pengingat, yang menandai Sadurunge Banyu dan Sawise Banyu

Pada hari terakhir dunia yang lama, punggung tanah yang menghubungkan apa yang tersisa dari Nagara Rata dengan dunia yang lebih luas telah menyempit sampai ke titik di mana seseorang yang berdiri di tengahnya bisa melihat kedua laut sekaligus, ke kiri dan ke kanan, tanpa memalingkan kepala.

Itu adalah pemandangan yang tak seharusnya dilihat oleh manusia, dan mereka yang melihatnya tahu bahwa mereka melihat sesuatu yang melampaui mereka: dua laut, yang dulu adalah dua dunia yang terpisah oleh seluruh lebar sebuah daratan, kini begitu dekat sehingga seorang anak bisa berjalan dari tepi yang satu ke tepi yang lain dalam waktu yang dibutuhkan untuk menanak nasi. Dan di antara dua laut itu, di atas jalur tanah terakhir, berkumpul apa yang tersisa dari sebuah peradaban yang dulu membentang sejauh tujuh hari berjalan: beberapa ribu orang, mungkin kurang, di tanah yang akan, semua orang tahu kini, tak bertahan satu pasang lagi.

Tak ada lagi yang melarikan diri. Itulah yang membuat hari terakhir berbeda dari semua hari sebelumnya dalam tujuh generasi pengunduran. Selama tujuh generasi, selalu ada ke mana untuk pergi, ke utara, ke tanah yang lebih tinggi, ke suatu tempat. Kini tak ada lagi. Mereka yang akan menyeberangi laut dalam perahu telah pergi, generasi sebelumnya atau bahkan malam itu, mempertaruhkan diri pada air terbuka. Mereka yang tersisa adalah mereka yang tak bisa atau tak mau pergi, dan mereka berkumpul di tanah tertinggi yang tersisa, dan mereka menunggu, sebab menunggu adalah satu-satunya hal yang tersisa untuk dilakukan, dan mereka memandang dua laut yang mendekat dengan ketenangan aneh dari orang-orang yang telah melewati ketakutan dan tiba di sesuatu yang lebih tenang dan lebih gelap di seberangnya.

❖

Di pesisir selatan, di tempat yang dulu adalah istana, para penghalus berkumpul untuk turun, dan Awu memimpin mereka.

Mereka tidak menunggu air mengambil mereka. Itu adalah hal yang membedakan mereka, sampai akhir, dari semua yang lain: mereka tidak ditelan, mereka turun. Ketika pasang malam itu mulai naik, pasang terakhir, pasang yang akan menyatukan dua laut, para penghalus berjalan ke dalam air dengan sengaja, satu per satu, dengan ketenangan yang membuat mereka yang menyaksikan dari kejauhan menggigil. Mereka tidak meronta. Mereka tidak takut. Mereka berjalan ke dalam laut sebagaimana orang berjalan masuk ke rumah di akhir hari yang panjang, dan air menutup di atas mereka, dan mereka tidak naik kembali, dan mereka tidak tenggelam, mereka hanya turun, ke kedalaman yang telah mereka pilih, ke keabadian dingin yang telah mereka siapkan sepanjang bertahun-tahun, untuk tinggal di sana, utuh dan tak berubah, sementara dunia di atas mereka berakhir.

Awu adalah yang terakhir turun, sebab seorang pemimpin turun terakhir, dan sebelum ia turun ia berdiri sejenak di tepi air, di tempat antara daratan yang sekarat dan laut yang menunggu, dan ia memandang ke utara untuk terakhir kalinya. Ke tempat saudarinya. Ia tak bisa melihat Sela dari sini, terlalu jauh, dan malam terlalu gelap, tapi ia tahu ke arah mana saudarinya berada, dan ia memandang ke arah itu, dan ia mencoba, untuk terakhir kalinya sebagai sesuatu yang masih cukup hidup untuk mencoba, untuk merasakan sesuatu. Dan ia merasakan, bukan banyak, hanya sebuah bayangan, hanya gema dari gema, tapi ia merasakan, dan ia memegang perasaan kecil itu seperti orang memegang nyala terakhir dalam angin, dan ia membawanya turun bersamanya ke dalam air, satu serpihan kecil perasaan, satu ingatan tentang mencintai saudarinya, untuk ia simpan di dasar laut sepanjang sepuluh ribu tahun, satu-satunya hal hangat yang akan ia miliki di tempat yang dingin.

Lalu Awu turun. Air menutup di atasnya. Dan di tempat yang dulu adalah istana di pesisir selatan, di kedalaman yang akan menjadi rumahnya selamanya, Ratu Kidul mengambil tempatnya di dasar laut, dan mulai menunggu apa yang dijanjikan saudarinya kepadanya, walau ia hampir tak lagi tahu apa artinya menunggu.

❖

Dan di utara, di tanah tinggi terakhir, Sela tidak melarikan diri dan tidak turun, sebab ia telah memilih jalan ketiga, jalan yang bukan jalan Awu dan bukan jalan para pengungsi: ia memilih untuk tinggal, dan untuk tenggelam, dan untuk melakukan, di saat tenggelam, satu hal yang telah ia persiapkan sepanjang hidupnya.

Ia terlalu tua untuk melarikan diri; ia tak bisa lagi berjalan jauh, tak bisa naik perahu, tak bisa menyeberangi air terbuka. Dan ia tak akan turun seperti Awu, tak akan membuang waktu dari dirinya untuk menjadi utuh dan beku. Maka yang tersisa baginya adalah tenggelam sebagaimana yang fana tenggelam: dimakan air, dikembalikan ke tanah, diakhiri. Tapi Sela tidak takut pada ini. Ia telah menghabiskan seluruh hidupnya bersiap untuk mengingat dunia yang akan tenggelam; kini ia akan tenggelam bersamanya, dan ada sesuatu yang tepat tentang itu, sesuatu yang melingkar dan utuh: bahwa yang mengingat akan tenggelam bersama yang diingat, dan dengan begitu menjadi bagian dari apa yang ia simpan.

Murid-muridnya telah pergi. Ia telah mengirim mereka, di hari-hari terakhir, ke tanah yang lebih tinggi, ke timur, ke mana pun ada harapan, mengirim mereka dengan ingatan yang telah ia berikan, dengan tugas untuk mewariskannya, dengan rantai yang harus mereka jaga agar tak putus. Murid yang paling ia percaya, gadis yang memimpikan air, telah ia kirim bersama yang lain, menangis, tak mau pergi, dan Sela telah memaksanya pergi sebab itulah satu-satunya cara rantai bisa bertahan. Kini Sela sendirian, atau hampir sendirian, di tanah tinggi yang akan segera tenggelam, dan ia menunggu air dengan ketenangan seseorang yang telah menyelesaikan pekerjaannya dan tinggal menunggu satu hal terakhir.

Sebab ada satu hal yang belum ia lakukan, satu hal yang telah ia simpan untuk saat terakhir, sebab ia tahu, dengan pengetahuan yang lebih dalam daripada pemahaman, pengetahuan yang telah tumbuh di dalamnya sepanjang hidupnya tanpa pernah sepenuhnya menjelaskan dirinya, bahwa hal itu hanya bisa dilakukan di saat tenggelam, di air, di ambang antara yang fana dan yang hilang. Tujuh kerikil. Ia telah membawanya sepanjang hidupnya tanpa tahu sepenuhnya apa ia, tujuh batu kecil yang diberikan kepadanya oleh seseorang yang telah lama mati, dengan pesan yang telah diwariskan bersama mereka: simpan ini, dan ketika air datang untuk mengambil segalanya, telan mereka, dan bersumpah.

❖

Dua laut bertemu pada tengah malam, dan dunia yang lama berakhir.

Tak ada yang menyaksikan seluruhnya, sebab tak ada yang bisa berdiri di tempat di mana mereka bertemu dan hidup untuk menceritakannya. Tapi mereka yang ada di tanah tinggi merasakannya: sebuah gemuruh yang datang dari kedua arah sekaligus, dari utara dan dari selatan, suara dua laut yang telah terpisah sepanjang sejarah dunia akhirnya jatuh ke dalam satu sama lain melintasi jalur tanah terakhir, dan tanah itu, punggung tanah yang telah menahan keduanya terpisah selama tiga ribu tahun, tanah itu menyerah, dan tenggelam, dan kedua laut mengalir ke atasnya dan ke atas satu sama lain dan menjadi satu laut, di tempat yang dulu adalah jantung sebuah daratan.

Air datang ke tanah tinggi tak lama setelahnya. Ia datang bukan sebagai gelombang tunggal yang menghancurkan, melainkan sebagai kenaikan yang tak terhentikan, air yang naik dan naik dan tidak berhenti naik, menutup ladang terakhir, menutup rumah terakhir, mendorong orang-orang ke tanah yang semakin tinggi sampai tak ada lagi tanah yang lebih tinggi, sampai mereka berdiri di puncak terakhir dengan air di pergelangan kaki, lalu di lutut, lalu di pinggang. Dan di seluruh tanah tinggi itu, di malam yang gelap, terdengar suara yang akan menghantui setiap keturunan dari setiap orang yang selamat: suara sebuah bangsa yang tenggelam, tidak dalam kepanikan melainkan dalam sejenis nyanyian, sebab di saat-saat terakhir orang-orang Nagara Rata mulai menyanyikan kisah mereka, keras, bersama, supaya bila ada yang mendengar, di perahu di kejauhan, di tanah tinggi di seberang air, di masa depan yang tak bisa mereka bayangkan, supaya ada yang mendengar dan mengingat bahwa mereka pernah ada.

❖

Dan Sela berdiri di air yang naik, di tanah tinggi yang tak lagi tinggi, dengan air mencapai dadanya, dan ia tahu bahwa saatnya telah tiba.

Ia tak takut. Itulah yang akan diingat tentangnya, oleh rantai yang ia mulai, sepanjang tujuh generasi dan lebih: bahwa di saat dunia berakhir, perempuan tua itu tidak takut. Ia berdiri di air yang dingin dan naik, sendirian di tempat yang dulu adalah tanah tinggi terakhir, dan di sekelilingnya ia mendengar nyanyian bangsanya yang tenggelam, dan di bawahnya ia merasakan air yang menyimpan segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya, dan di dalam tangannya ia memegang tujuh kerikil yang telah ia bawa sepanjang hidupnya menuju saat ini. Dan ia memikirkan semua yang telah membawanya ke sini: seekor burung yang ia kubur di sebuah halaman, seorang nakhoda yang mengajarinya untuk mengingat, seorang tua dari perbukitan yang mengajarinya untuk mewariskan, sebuah ladang liar yang penuh bunga, sebuah pasar tempat ia berjalan di belakang saudarinya, dan saudarinya, saudarinya, yang kini duduk di dasar laut di selatan, utuh dan dingin dan menunggu, kepada siapa Sela telah berjanji bahwa ia tidak akan sendirian selamanya.

“Aku menepati janjiku, ” kata Sela, ke air, ke malam, ke saudarinya yang tak bisa mendengarnya dan yang akan, suatu hari, mendengarnya. “Apa yang kumulai sekarang akan datang kepadamu. Tidak segera. Tidak dalam waktu yang bisa kita hitung. Tapi ia akan datang. Aku tidak akan turun bersamamu, Awu. Tapi aku akan menanam, di dalam air ini, sesuatu yang akan tumbuh sepanjang segala generasi yang akan datang, dan suatu hari ia akan sampai kepadamu, dan membebaskanmu, dan kau tidak akan sendirian lagi.”

Dan air naik mencapai bahunya, dan kemudian lehernya, dan Sela mengangkat tujuh kerikil ke bibirnya, dan di bawah air yang naik, di malam Tahun Nol, di ambang antara yang fana dan yang hilang, dengan nyanyian bangsanya yang tenggelam di telinganya dan janji kepada saudarinya di hatinya, ia bersiap untuk menelan mereka, dan bersumpah. Dan jauh di masa depan yang tak bisa ia bayangkan, tujuh generasi ke depan, di tanah tinggi di seberang air, seorang anak bernama Rangin yang baru saja mendarat dari penyeberangannya berdiri memandang ke barat, ke arah air, dan merasakan, tanpa tahu mengapa, tanpa tahu apa, sesuatu yang sangat tua dan sangat penting sedang terjadi di seberang laut dan di seberang waktu, sebuah sumpah yang sedang diucapkan di dalam air, sebuah benih yang sedang ditanam, sebuah janji yang suatu hari akan menjadi tugasnya untuk ditepati. Dan di antara mereka berdua, perempuan tua yang tenggelam sambil bersumpah, dan anak yang mendarat sambil mengingat, air yang sama bergerak, menyimpan, menunggu, dan untuk pertama kalinya dalam seluruh cerita yang panjang ini mulai, dengan sangat pelan, untuk membawa sesuatu naik kembali dari kedalamannya: bukan tanah, bukan kota, melainkan sebuah sumpah, diteruskan dari yang tenggelam kepada yang selamat, melintasi tujuh generasi air, menuju hari yang masih sangat jauh ketika ia akhirnya akan ditepati.

❖


 

BAB SEMBILAN

Tujuh Kerikil

Selama ada keturunanku, daratan ini tidak benar-benar tenggelam. Inilah sumpah yang darinya kami semua turun, dan inilah beban yang kami semua bawa, dan inilah satu kalimat yang, bila seluruh sisa ingatan kami hilang, harus tetap diingat.

Sumpah Nyai Sela, kalimat pendiri Silsilah Para Pengingat

Tujuh kerikil itu telah ada sebelum Sela, dan akan ada sesudahnya, dan itulah hal pertama yang harus dipahami tentang mereka: bahwa mereka bukan miliknya, bahwa ia hanyalah yang membawanya pada saat mereka dibutuhkan.

Dari mana mereka datang, tak seorang pun tahu, bahkan Sela. Mereka telah diberikan kepadanya oleh orang tua dari perbukitan, di hari-hari terakhirnya, bersama dengan pengetahuan yang telah ia wariskan: bahwa kerikil-kerikil ini lebih tua daripada Nagara Rata, lebih tua daripada ingatan, bahwa mereka telah dibawa oleh para pengingat sebelumnya melalui banjir-banjir sebelumnya, sebab ini bukan banjir pertama, orang tua itu telah mengajarinya, hanya banjir yang ini, dan bahwa mereka tak bisa diciptakan dan tak bisa dihancurkan, hanya berpindah, dari pembawa ke pembawa, tidur di antara banjir lalu bangun ketika air datang lagi. Tujuh kerikil, untuk tujuh jenis ingatan. Mereka kecil, dan kelabu, dan tampak seperti kerikil mana pun yang bisa dipungut dari dasar sungai, dan itulah, barangkali, perlindungan mereka: bahwa hal yang paling penting di dunia tampak seperti hal yang paling tak berarti, sehingga hanya yang tahu yang akan mengenalinya, dan hanya yang ditakdirkan yang akan membawanya.

Sela memegang mereka di telapak tangannya yang tua, di bawah air yang naik, dan ia memandang mereka untuk terakhir kalinya sebagai benda di luar dirinya. Tujuh batu kecil, kelabu, basah oleh air laut. Begitu kecil. Dan di dalam mereka, ia tahu ini sekarang, di saat terakhir, dengan pengetahuan yang datang penuh untuk pertama kalinya, di dalam mereka tersimpan kemampuan untuk mengikat ingatan ke dalam darah, untuk membuat ingatan tentang sebuah dunia bukan hanya sesuatu yang diceritakan melainkan sesuatu yang diwarisi, dibawa dalam tubuh, diteruskan melalui kelahiran sebagaimana warna mata diteruskan, sehingga ingatan tentang daratan yang tenggelam tak akan pernah bergantung pada satu generasi yang memilih untuk menceritakannya, melainkan akan mengalir, dengan sendirinya, melalui darah, sepanjang segala generasi yang akan datang.

❖

Air mencapai lehernya, dan Sela tahu bahwa ia tak bisa menunggu lebih lama, dan maka ia melakukan apa yang telah ia bawa seluruh hidupnya untuk dilakukan.

Ia menelan kerikil yang pertama, dan ketika ia menelannya, sesuatu terjadi yang tak bisa ia siapkan walau ia telah menunggu seumur hidup untuknya: sebuah ingatan masuk ke dalamnya yang bukan ingatannya sendiri. Air. Ia merasakan air, bukan air yang naik di sekelilingnya, melainkan semua air, air yang telah menelan tujuh generasi, air yang menyimpan kota-kota tenggelam, dan di dalam air itu setiap kota yang pernah tenggelam, setiap suara yang pernah dibawa ke bawah, semua sekaligus, sebuah lautan ingatan yang masuk ke dalamnya dan tak menenggelamkannya, sebab kerikil itu mengikatnya, membuatnya bisa ditanggung, membuatnya menjadi bagian dari dirinya. Kerikil air. Sela Banyu. Dan ia tahu, dengan pengetahuan yang datang bersama kerikil, bahwa keturunannya yang membawa kerikil ini akan mendengar air sebagaimana ia kini mendengarnya, akan bermimpi tentang kota-kota tenggelam, akan menjadi suara di atas air bagi apa yang air simpan di bawah.

Ia menelan yang kedua, dan api masuk, bukan membakar, melainkan ingatan tentang api, tentang gunung, tentang nyala yang dijaga dan nyala yang menghancurkan, ingatan dari peradaban-peradaban yang dibangun di sekitar api dan dari mereka yang menjaganya. Yang ketiga, dan angin masuk, dan bersama angin lidah-lidah yang mati, aksara-aksara yang hilang, kata-kata yang tak seorang pun lagi bisa ucapkan, termasuk, Sela menyadari dengan sesuatu yang dekat dengan kegembiraan di tengah kengerian, kata-kata yang telah ia bisikkan kepada seekor burung mati di sebuah halaman, bertahun-tahun dan seumur hidup yang lalu, kata-kata yang kini ia mengerti adalah bagian dari lidah yang sangat tua yang kerikil ini menyimpannya: kau diingat.

Yang keempat, dan tanah masuk, segala sesuatu yang terkubur, segala sesuatu yang tertimbun, ingatan dari yang berada di bawah. Yang kelima, dan kemampuan untuk melihat yang halus, untuk melihat para Lelembut yang kini, dengan air yang naik, sedang menghalus di sekelilingnya, dunia roh yang selalu ada di tepi penglihatan. Yang keenam, dan kemampuan untuk mengenali sesama pengingat, untuk merasakan dalam darah orang lain darah yang sama, rantai yang sama. Dan ketika ia menelan keenam kerikil itu, satu demi satu, di bawah air yang kini mencapai dagunya, Sela menjadi sesuatu yang lebih dari seorang perempuan tua yang tenggelam. Ia menjadi sebuah wadah, sebuah simpul, tempat tujuh jenis ingatan diikat menjadi satu dan ditanam ke dalam sebuah garis darah yang akan membawanya menyeberangi air dan waktu.

❖

Tinggal satu kerikil, yang ketujuh, dan Sela ragu sebelum menelannya, sebab ia tahu, kerikil-kerikil lain telah memberitahunya, dalam bahasa yang bukan bahasa, bahwa yang ketujuh berbeda dari yang lain, dan lebih berat, dan lebih berbahaya.

Sebab enam kerikil yang pertama menyimpan ingatan tentang dunia: air dan api dan angin dan tanah, yang halus, dan sesama. Tapi yang ketujuh menyimpan sesuatu yang lebih dalam dan lebih mengerikan: ia menyimpan ingatan tentang hidup-hidup sebelumnya. Kerikil Suwung, kerikil kekosongan, yang pembawanya mengingat bukan hanya dunia yang tenggelam di hadapan mata mereka sendiri melainkan semua dunia yang pernah tenggelam, semua banjir sebelum banjir ini, mundur dan mundur ke awal yang tak bisa diingat. Orang tua dari perbukitan telah memperingatkannya tentang yang ketujuh: bahwa pembawanya sering menjadi gila, sebab tak ada pikiran manusia yang dibuat untuk menampung begitu banyak akhir; atau menjadi suci, sebab kadang, jarang, sebuah pikiran bisa menanggung pengetahuan itu dan diubah olehnya menjadi sesuatu yang lebih dari manusia. Gila atau suci, dan tak ada cara untuk tahu yang mana sampai kerikil ditelan.

Sela memegang kerikil ketujuh di antara jari-jarinya, di bawah air yang kini mencapai bibirnya, dan untuk satu saat ia mempertimbangkan untuk tidak menelannya, untuk membiarkannya jatuh ke air, untuk membawa hanya enam ke dalam garis darahnya, untuk menyelamatkan keturunannya dari beban yang paling berat. Tapi kemudian ia mengerti, dengan kejernihan terakhir yang datang di ambang kematian, mengapa ketujuh harus ditelan: sebab tanpa yang ketujuh, garis pengingat akan mengingat dunia yang ini, tapi melupakan bahwa ia bukan yang pertama. Mereka akan mengira banjir mereka adalah satu-satunya banjir, kehilangan mereka satu-satunya kehilangan. Dan itu adalah sejenis kesombongan, sejenis kelupaan, yang sama dengan kelupaan yang menenggelamkan Nagara Rata, keyakinan bahwa duniamu adalah satu-satunya dunia. Yang ketujuh adalah kerendahan hati. Ia adalah ingatan bahwa segala sesuatu telah berakhir sebelumnya, dan akan berakhir lagi, dan bahwa tugas mengingat tak pernah selesai, tak pernah cukup, tak pernah hanya tentang satu dunia.

Maka Sela menelan kerikil yang ketujuh, dan semua dunia yang pernah tenggelam masuk ke dalamnya sekaligus, dan ia tidak menjadi gila, dan ia tidak menjadi suci, atau barangkali ia menjadi keduanya, sejenak, di saat terakhir, sebab di saat itu, dengan tujuh kerikil di dalamnya dan air di bibirnya, Sela melihat seluruhnya: setiap banjir, setiap dunia, setiap perpisahan dua saudari yang memilih dua jalan, setiap rantai pengingat yang dimulai dan diwariskan dan diteruskan, mundur ke awal dan maju ke akhir yang tak bisa ia lihat tapi kini bisa ia percayai. Dan dalam penglihatan itu ia menemukan, bukan kengerian, melainkan damai. Sebab ia melihat bahwa ia bukan akhir dari apa pun. Ia hanya satu simpul dalam sebuah rantai yang jauh lebih panjang daripada satu dunia, dan rantai itu tidak akan putus, dan itu sudah cukup, itu selalu sudah cukup.

❖

Dan kemudian, dengan tujuh kerikil di dalamnya dan air mencapai bibirnya, dengan dunia yang lama tenggelam di sekelilingnya dan dunia yang baru belum lahir, Nyai Sela mengucapkan sumpah yang darinya seluruh garis pengingat akan turun.

Ia tidak mengucapkannya dengan suara yang keras. Tak ada yang mendengarnya, kecuali air. Tapi ia mengucapkannya dengan seluruh dirinya, dengan tujuh kerikil dan seluruh hidup yang telah membawanya ke sini, dan kata-katanya, walau pelan, walau hanya didengar oleh air, akan bergema melalui tujuh generasi dan lebih, akan menjadi kalimat pertama yang diajarkan setiap pengingat kepada setiap pewaris, akan bertahan ketika nama-nama dan tempat-tempat dan bahkan nama daratannya sendiri telah hilang dari ingatan.

“Selama ada keturunanku, ” kata Nyai Sela, ke air, ke malam, ke seluruh waktu yang akan datang, “daratan ini tidak benar-benar tenggelam.”

Dan air menutup di atasnya.

❖

Nyai Sela tenggelam, sebagaimana yang fana tenggelam, dan tubuhnya menjadi bagian dari dasar laut sebagaimana tubuh seluruh bangsanya menjadi bagian dari dasar laut, dan dalam satu pengertian ia berakhir, malam itu, di air, sebagaimana segala sesuatu yang fana berakhir.

Tapi dalam pengertian lain ia tidak berakhir sama sekali, dan itulah seluruh maksud dari apa yang ia lakukan. Sebab tujuh kerikil tidak tenggelam bersamanya. Mereka tidak bisa tenggelam; mereka tak bisa dihancurkan. Di saat tubuhnya melepaskannya, mereka telah menyelesaikan tugas mereka, mereka telah mengikat tujuh jenis ingatan ke dalam garis darahnya, ke dalam murid-murid yang membawa darahnya dan murid-murid dari murid-muridnya, yang kini sedang menyeberangi air ke tanah yang lebih tinggi, membawa di dalam tubuh mereka, tanpa sepenuhnya tahu, sebuah kemampuan yang akan bangun dan tidur dan bangun lagi sepanjang generasi, melompati sebagian, jatuh pada yang lain, tapi tak pernah, tak pernah putus. Para pengingat telah lahir. Wong Eling. Dan dari malam ini, di air Tahun Nol, mereka akan mengalir ke depan melalui waktu, masing-masing membawa serpihan dari sumpah Nyai Sela, masing-masing menjadi tempat di mana daratan yang tenggelam menolak untuk benar-benar tenggelam.

Dan jauh di selatan, di dasar laut tempat dulu adalah istana, Awu, Ratu Kidul, merasakan sesuatu pada malam itu, walau ia hampir tak lagi bisa merasakan apa pun. Sebuah getaran di air. Sebuah perubahan. Ia tak tahu apa ia, tak bisa tahu, sebab ia telah membuang terlalu banyak dari dirinya untuk memahaminya. Tapi sesuatu di dalamnya, serpihan kecil perasaan yang ia bawa turun, serpihan yang berbentuk seperti saudarinya, mengenali bahwa saudarinya telah melakukan apa yang ia janjikan, telah menanam sesuatu di dalam air, sesuatu yang hidup, sesuatu yang akan tumbuh sepanjang segala generasi yang akan datang dan suatu hari sampai kepadanya. Dan Ratu Kidul, di dasar laut, utuh dan dingin dan abadi, mulai menunggu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya: bukan menunggu air, yang telah datang; bukan menunggu akhir, yang tak akan datang untuknya; melainkan menunggu sebuah janji, yang tujuh generasi kemudian seorang anak bernama Rangin telah mulai membawa ke arahnya, menyeberangi air dan waktu, dari yang tenggelam menuju yang menunggu. Dan di antara mereka semua, Sela yang tenggelam, Awu yang menunggu, Rangin yang menyeberang, dan seluruh rantai pengingat yang membentang di antara mereka, air bergerak, menyimpan, dan untuk pertama kalinya dalam seluruh cerita yang panjang ini, mengingat; sebab kini ada yang hidup di dalam dan di atasnya yang akan membuatnya mengingat, selama ada keturunan Nyai Sela, sampai ke akhir yang masih sangat jauh ketika daratan yang tenggelam akhirnya, dengan caranya sendiri yang tak terduga, akan naik kembali.

❖


 

BAGIAN IV

Tanah Tinggi


 

BAB SEPULUH

Tanah yang Air Tak Bisa Ambil

Kami membangun di gunung bukan karena gunung lebih indah daripada dataran. Kami membangun di gunung karena kami ingat apa yang terjadi pada mereka yang membangun di dataran, dan berkata kepada diri sendiri: tidak lagi, tidak pernah lagi akan kami percaya bahwa air tunduk pada kami.

dari ajaran para pengingat, di tanah tinggi

Mereka yang selamat dari penyeberangan mendarat di tanah tinggi pada hari-hari yang berbeda, di tempat-tempat yang berbeda, sebab badai telah mencerai perahu-perahu, dan tak ada yang tahu, untuk waktu yang lama, berapa banyak yang telah selamat dan berapa banyak yang telah hilang.

Perahu Rangin mendarat di sebuah teluk kecil di kaki tanah tinggi, di tempat air laut bertemu lereng pertama yang naik, dan ketika lambung perahu yang nyaris pecah itu menyentuh dasar, dan orang-orang turun ke air dangkal dan kemudian ke tanah, tanah yang sesungguhnya, tanah yang naik, tanah yang air tak bisa ambil, beberapa dari mereka menangis, dan beberapa berlutut dan menyentuh tanah dengan tangan mereka untuk meyakinkan diri bahwa ia nyata, dan beberapa hanya berdiri diam, terlalu lelah dan terlalu hampa untuk merasakan apa pun selain fakta sederhana bahwa mereka masih hidup, dan tanah ini tidak, seperti semua tanah yang pernah mereka kenal, sedang dalam proses tenggelam.

Rangin termasuk yang berdiri diam. Ia memandang ke atas, ke tanah tinggi yang naik di hadapannya, lereng demi lereng, sampai ke puncak-puncak yang hilang di awan, gunung, gunung yang sesungguhnya, lebih tinggi daripada apa pun yang pernah ia bayangkan, gunung dari mimpinya. Dan ia merasakan, memandangnya, bukan kemenangan, melainkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih khidmat: perasaan bahwa ia telah sampai bukan hanya ke sebuah tempat melainkan ke sebuah jawaban, jawaban atas pertanyaan yang telah dibawa garis darahnya sepanjang tujuh generasi tenggelam. Ke mana orang pergi ketika tak ada lagi utara? Ke atas. Ke gunung. Ke tanah yang air, dengan segala kesabarannya, dengan segala kemenangannya, tak akan pernah bisa capai.

❖

Tapi tanah tinggi tidak kosong, dan itu adalah hal yang tak diduga Rangin, walau ia seharusnya menduganya: bahwa tempat yang air tak bisa ambil adalah tempat yang orang lain juga telah mencarinya.

Sebab di gunung telah tinggal, selama lebih lama daripada yang bisa diingat siapa pun, orang-orang yang bukan dari Nagara Rata, orang-orang yang nenek moyangnya telah naik ke tanah tinggi di banjir-banjir sebelumnya, atau yang telah selalu tinggal di sana, yang tak pernah menjadi bangsa dataran sama sekali. Mereka adalah orang-orang gunung, dan mereka memandang para pendatang dari laut dengan kewaspadaan yang wajar bagi mereka yang melihat orang asing tiba dari arah kehancuran, membawa tak lebih dari perahu yang pecah dan ingatan tentang dunia yang tenggelam. Untuk beberapa waktu ada ketegangan, ketakutan, kemungkinan akan kekerasan, sebab tanah tinggi pun tidak tak terbatas, dan orang-orang gunung tahu bahwa pendatang berarti lebih banyak mulut, lebih sedikit untuk masing-masing.

Tapi Rangin, walau ia muda, membawa sesuatu yang membuat orang-orang gunung mendengarkan, dan itu adalah ingatan. Ketika ia bicara, melalui penerjemah pada mulanya, sebab lidah mereka berbeda, lalu langsung ketika ia belajar lidah gunung dengan kecepatan yang mengejutkan, seolah-olah sebagian dari dirinya telah mengenalnya, ketika ia bicara, ia bicara tentang dunia yang tenggelam dengan rincian yang tak bisa diketahui oleh seorang anak, dan ia bicara tentang air dengan pemahaman yang lebih dalam daripada ketakutan, dan orang-orang gunung, yang memiliki ingatan mereka sendiri tentang banjir-banjir yang lebih tua, mengenali pada Rangin sesuatu yang mereka hormati: seorang pembawa ingatan, seorang yang mendengar air. Dan perlahan, melalui ingatan yang dibagi, dua bangsa yang bertemu di tanah tinggi, yang datang dari laut dan yang telah tinggal di gunung, mulai menjadi satu.

❖

Dan di tanah tinggi, di tahun-tahun yang mengikuti, Rangin membangun apa yang telah ia janjikan untuk dibangun: sebuah tempat di mana ingatan akan dijaga.

Tapi ia tidak membangun Nagara Rata lagi. Itulah hal yang paling penting tentang apa yang ia bangun, dan hal yang membuatnya berbeda dari semua yang datang sebelumnya. Sebab ia membawa, di dalam darahnya dan di dalam ingatan yang diwariskan kepadanya, pengetahuan tentang bagaimana Nagara Rata telah jatuh, bukan hanya karena air, melainkan karena kesombongan, karena keyakinan bahwa air tunduk padanya, karena penolakan untuk percaya bahwa dunia yang luas dan yakin dan dicintai bisa berakhir. Dan Rangin bertekad untuk membangun sesuatu yang tidak akan jatuh dengan cara yang sama.

Maka ia membangun bukan di atas keyakinan melainkan di atas ingatan. Tempat yang ia bangun di tanah tinggi, yang kelak, jauh kelak, akan disebut dengan banyak nama oleh banyak generasi, dan yang akarnya akan tetap ada di gunung-gunung Jawa lama setelah Rangin sendiri menjadi nama yang setengah dilupakan, tempat itu dibangun di sekitar satu prinsip yang Rangin tanamkan ke dalam fondasinya sedalam ia menanam batu: bahwa mereka tidak boleh lupa. Bahwa setiap generasi harus diajari kisah dunia yang tenggelam, bukan sebagai dongeng melainkan sebagai peringatan. Bahwa para pengingat, mereka yang membawa kerikil, mereka yang mendengar air, mereka yang bermimpi tentang kota-kota tenggelam, harus dihormati dan dijaga dan didengar, bukan ditertawakan seperti dewan Nagara Rata menertawakan orang tua dari perbukitan. Bahwa filosofi bangsa baru ini tidak boleh menjadi kami tak akan pernah jatuh, melainkan sesuatu yang lebih rendah hati dan lebih kuat: kami ingat bahwa segala sesuatu jatuh, dan maka kami hidup dengan ringan, dan kami melepaskan dengan damai, dan kami menjaga ingatan supaya yang jatuh tidak benar-benar hilang.

Itu adalah benih dari sesuatu yang akan tumbuh sepanjang ribuan tahun, melalui peradaban-peradaban yang belum bisa Rangin bayangkan, menjadi cara seluruh sebuah pulau memahami dirinya: sebuah filosofi tentang menerima, tentang melepaskan, tentang menjaga ingatan akan yang hilang. Rangin tidak tahu bahwa ia sedang menanam akar dari narima, dari eling, dari seluruh cara hidup yang akan mendefinisikan tanah ini. Ia hanya tahu bahwa ia tak ingin keturunannya mati sebagaimana Nagara Rata mati, dan bahwa satu-satunya cara untuk memastikannya adalah dengan tidak pernah, tidak pernah membiarkan mereka lupa.

❖

Dan pada suatu malam, bertahun-tahun setelah ia mendarat, ketika tempat yang ia bangun telah mulai berdiri dan ingatan telah mulai diwariskan dan rantai telah mulai menjadi tradisi, Rangin bermimpi untuk terakhir kalinya tentang dua saudari, dan kali ini ia melihat sampai ke akhir.

Sepanjang hidupnya ia telah bermimpi tentang mereka, dan selalu ia bangun sebelum bagian yang paling penting. Tapi malam ini, akhirnya, mimpi membawanya sampai ke ujung. Ia melihat perempuan tua, ia tahu sekarang, dengan pengetahuan yang datang dari kerikil di dalam darahnya, bahwa namanya adalah Sela, walau nama itu sendiri akan hilang dari rantai dalam beberapa generasi dan menjadi hanya Nyai, hanya gelar, hanya hormat tanpa nama, ia melihat perempuan tua itu berdiri di air yang naik, dengan tujuh kerikil di tangannya, dan ia melihatnya menelan mereka satu demi satu, dan ia melihatnya mengucapkan sumpah, dan ia mendengar kata-katanya, jelas, melintasi tujuh generasi air: selama ada keturunanku, daratan ini tidak benar-benar tenggelam.

Dan Rangin mengerti, dalam mimpinya, bahwa ia adalah keturunan itu. Bahwa kerikil yang ia bawa, kemampuan yang membuatnya bermimpi dan mendengar dan mengingat, adalah kerikil yang sama yang ditelan perempuan tua itu di air Tahun Nol. Bahwa sumpah itu mengalir melalui dirinya, sekarang, di tanah tinggi, dan bahwa dengan membangun tempat ingatan ini, dengan menolak untuk membiarkan keturunannya lupa, ia sedang menepati sumpah itu, sedang membuat daratan yang tenggelam tidak benar-benar tenggelam. Dan ia melihat, di ujung mimpinya, hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya: perempuan tua itu, sebelum air menutup di atasnya, memandang ke selatan, ke arah dasar laut tempat saudarinya menunggu, dan berjanji. Dan Rangin merasakan, dalam mimpinya, bobot dari janji itu jatuh ke pundaknya sendiri, sebab ia kini mengerti bahwa rantai yang ia bawa tidak hanya membawa ingatan tentang dunia yang tenggelam, ia juga membawa sebuah janji yang belum ditepati, kepada seseorang yang masih menunggu, di kedalaman, di selatan, di air.

❖

Rangin bangun dari mimpi itu sebelum fajar, dan ia tidak menangis kali ini, sebab ia telah tumbuh melampaui air mata seorang anak, tapi ia bangun dengan sesuatu yang lebih berat dan lebih tahan lama daripada air mata: sebuah pemahaman tentang apa yang ia adanya, dan apa yang harus ia teruskan.

Ia keluar dari tempat tinggalnya di tanah tinggi, dan ia berjalan ke tepi sebuah punggung gunung dari mana ia bisa memandang ke selatan, ke arah laut yang kini menutupi seluruh dunia yang dulu ada, seluruh Nagara Rata, seluruh dataran tempat dua saudari pernah berjalan ke pasar. Air itu tenang sekarang, dari kejauhan, dari ketinggian, sebuah hamparan kelabu yang luas yang tak memberi tanda tentang apa yang ia simpan di bawahnya. Tapi Rangin tahu apa yang ada di bawahnya. Ia membawa di dalam darahnya pengetahuan tentang apa yang ada di bawahnya: kota-kota dan ladang-ladang dan rumah-rumah, sebuah dunia yang tenggelam tapi tidak hilang, dan di suatu tempat di kedalamannya, di selatan, seorang ratu yang duduk utuh dan dingin dan menunggu sebuah janji untuk ditepati.

“Aku membawanya, ” kata Rangin, ke selatan, ke air, ke ratu yang tak bisa mendengarnya tapi yang menunggu, melintasi waktu, apa yang ia bawa. “Aku tidak tahu bagaimana ia akan ditepati, atau kapan, atau oleh siapa. Mungkin bukan olehku. Mungkin oleh seseorang yang lahir dari keturunanku, jauh setelah aku menjadi tanah. Tapi aku membawanya sekarang, dan aku akan mewariskannya, dan rantai tidak akan putus. Suatu hari, sumpah yang dimulai di air akan sampai kepadamu. Suatu hari, daratan yang tenggelam akan naik kembali, bukan sebagai tanah, mungkin, tapi sebagai ingatan, sebagai sesuatu yang hidup, sebagai kau yang dibebaskan. Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku membawanya, dan aku berjanji, sebagaimana ia berjanji: kau tidak akan sendirian selamanya.”

Dan di bawah air yang jauh, di kedalaman yang tak bisa dilihat dari gunung mana pun, sesuatu bergerak, bukan ratu, yang terlalu beku untuk bergerak, melainkan air itu sendiri, air yang menyimpan segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya, air yang kini, untuk pertama kalinya sejak ia mulai menelan dunia, membawa di dalamnya bukan hanya yang tenggelam melainkan juga sebuah janji tentang yang akan naik. Dan bisik air, yang dimulai sebagai ancaman di telinga seorang gadis di tepi kanal sepuluh ribu tahun yang lalu, dan menjadi gema di telinga seorang anak di lidah tanah yang menyempit, kini menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih besar dari ancaman dan lebih besar dari gema: sebuah janji, dibawa oleh air dari yang tenggelam menuju yang menunggu, melalui rantai yang tak akan putus, menuju hari yang masih sangat jauh, ribuan tahun jauhnya, melalui peradaban-peradaban yang belum lahir, melalui Buku-buku yang belum ditulis, ketika seseorang yang membawa darah Nyai Sela akhirnya akan berdiri di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan ingatan yang tepat, dan menepati apa yang dijanjikan di air Tahun Nol, dan membebaskan ratu dari laut, dan membiarkan daratan yang tenggelam, akhirnya, untuk naik.

❖


 

BAB SEBELAS

Yang Diwariskan Rangin

Seorang pengingat tidak pernah menyelesaikan tugasnya. Ia hanya membawanya sejauh yang bisa ia bawa, lalu meletakkannya di tangan yang lebih muda, dan mati dengan tahu bahwa apa yang ia mulai tidak akan selesai dalam hidup siapa pun, dan bahwa justru itulah yang membuatnya layak dimulai.

dari ajaran para pengingat

Rangin menjadi tua di tanah tinggi, sebagaimana orang tanah tinggi menjadi tua: pelan, dan dengan tubuh yang dikeraskan oleh lereng dan dingin dan kerja, sehingga ia menjadi tua tanpa menjadi lemah, seperti pohon gunung yang batangnya semakin keras setiap tahun.

Tempat yang ia bangun telah berdiri sekarang. Ia bukan kota, Rangin telah berhati-hati untuk tidak membangun kota, sebab kota adalah apa yang dibangun Nagara Rata, dan kota adalah apa yang tenggelam. Ia adalah sesuatu yang lain: sebuah rangkaian kampung yang tersebar di lereng-lereng, terhubung bukan oleh kanal melainkan oleh jalan setapak dan oleh sesuatu yang lebih kuat daripada jalan, yang terhubung oleh ingatan bersama, oleh kisah yang sama yang diceritakan di setiap perapian, oleh rantai pengingat yang mengalir di antara mereka seperti darah mengalir di antara anggota satu tubuh. Orang-orang gunung dan orang-orang yang datang dari laut telah menjadi satu bangsa, dan bangsa itu tidak punya nama untuk dirinya sendiri, belum, sebab ia masih terlalu muda dan terlalu sibuk bertahan hidup untuk memikirkan nama. Tapi ia punya sesuatu yang lebih penting daripada nama: ia punya ingatan tentang dari mana ia datang, dan mengapa ia ada di sini, dan apa yang tak boleh ia lupakan.

Dan di pusat dari semua itu, walau ia tak pernah meminta untuk berada di pusat, ada Rangin. Ia telah menjadi, di usia tuanya, sesuatu yang menyerupai apa yang dulu Sela menjadi di kampung tanah tinggi terakhir: sebuah mata air ingatan, tempat orang datang untuk menimba apa yang harus mereka ketahui. Anak-anak dibawa kepadanya untuk mendengar kisah dunia yang tenggelam dari mulut orang yang telah memimpikannya. Para pengingat muda, sebab ada yang lain sekarang, kerikil telah bangun di beberapa dari generasi yang lahir di tanah tinggi, dibawa kepadanya untuk diajari apa artinya membawa apa yang mereka bawa. Rangin telah menjadi jangkar dari rantai, simpul tempat masa lalu yang tenggelam diikat ke masa depan yang belum lahir.

❖

Di antara para pengingat muda ada satu yang Rangin perhatikan secara khusus, sebagaimana Sela pernah memperhatikan seorang gadis yang memimpikan air, sebab ia mengenali pada anak ini sesuatu yang ia kenali pada dirinya sendiri ketika ia masih muda: beban yang terlalu besar untuk usia yang membawanya.

Anak itu, seorang anak lelaki kali ini, sebab kerikil tak peduli pada hal-hal seperti itu, ia jatuh pada siapa ia jatuh, membawa kerikil air, Sela Banyu, kerikil yang sama yang Rangin bawa, dan ia bermimpi sebagaimana Rangin bermimpi, tentang kota-kota tenggelam dan daratan yang luas dan dua saudari yang berpisah di tepi dunia. Tapi ia membawa juga sesuatu yang lain, sesuatu yang Rangin tidak bawa, dan itu membuat Rangin sekaligus berharap dan takut: ia membawa kerikil kedua. Kerikil yang melihat yang halus, Wening, kerikil yang membuat pembawanya bisa melihat para Lelembut, dunia roh yang menghuni gunung dan hutan dan air. Dua kerikil dalam satu anak. Itu jarang, dan ia berarti sesuatu, walau Rangin tak sepenuhnya tahu apa, kecuali bahwa anak ini akan membawa beban yang lebih berat daripada yang Rangin bawa, dan akan melihat lebih banyak, dan akan, barangkali, dibutuhkan untuk sesuatu yang lebih besar.

“Kau melihat mereka, ” kata Rangin kepada anak itu, suatu malam, ketika anak itu datang kepadanya terganggu oleh penglihatan yang tak ia mengerti. “Yang halus. Mereka yang tidak menapak tanah sepenuhnya. Mereka ada di mana-mana di gunung ini, lebih banyak daripada yang bisa dibayangkan orang yang tak bisa melihat mereka.”

“Apa mereka?” tanya anak itu. “Mereka takut padaku ketika aku memandang mereka. Atau mungkin aku yang takut pada mereka. Aku tak bisa membedakan.”

“Mereka adalah bagian dari apa yang kita bawa, ” kata Rangin. “Bagian yang aku tak bisa ajarkan kepadamu, sebab aku tak membawa kerikil yang melihat mereka. Tapi aku bisa mengatakan ini: mereka bukan musuh kita, walau mereka bukan pula kawan kita. Mereka adalah penghuni lain dari tanah yang sama, makhluk yang air ubah dengan cara yang berbeda dari cara ia mengubah kita, kita yang mengingat, mereka yang menghalus. Dan suatu hari, anak, garis kita dan garis mereka akan saling membutuhkan, dengan cara yang aku tak bisa lihat tapi bisa rasakan, sebagaimana aku bisa merasakan air sebelum ia datang. Pelajari untuk melihat mereka tanpa takut. Itu akan menjadi tugasmu, sebagaimana mengingat adalah tugasku.”

❖

Dan ketika Rangin merasa waktunya mulai dekat, sebab seorang pengingat yang membawa kerikil air sering tahu, dengan cara mendengar yang sama yang membuatnya mendengar air, kapan air dirinya sendiri mulai surut, ia memanggil anak itu, dan murid-murid lain yang membawa kerikil, dan ia mengajari mereka hal terakhir, hal yang paling penting, hal yang harus diteruskan di atas segala hal yang lain.

Ia mengajari mereka sumpah. Bukan hanya kata-katanya, selama ada keturunanku, daratan ini tidak benar-benar tenggelam, melainkan apa yang ada di balik kata-katanya, beban yang ada di dalamnya, janji yang tersembunyi di dalamnya. Ia menceritakan kepada mereka, sejauh ia sendiri memahaminya, tentang dua saudari: yang satu yang mengingat dan tenggelam dan menjadi sumber dari mereka semua, dan yang satu yang menolak untuk hilang dan turun ke dasar laut dan tinggal di sana, utuh dan dingin dan menunggu. Ia menceritakan kepada mereka bahwa rantai yang mereka bawa tidak hanya membawa ingatan tentang dunia yang tenggelam, ia juga membawa sebuah janji yang belum ditepati, kepada ratu yang menunggu di kedalaman, bahwa ia tidak akan sendirian selamanya.

“Kita tidak tahu bagaimana janji itu akan ditepati, ” kata Rangin kepada mereka. “Aku tidak akan menepatinya; aku tahu itu sekarang. Kalian pun mungkin tidak. Mungkin tak satu pun dari kita yang lahir selama ribuan tahun akan menepatinya. Tapi itu bukan alasan untuk melupakannya. Itu justru alasan untuk mengingatnya lebih kuat. Sebab sebuah janji yang membutuhkan ribuan tahun untuk ditepati hanya bisa ditepati bila ia tidak pernah, dalam seluruh ribuan tahun itu, dilupakan. Dan itulah tugas kita, bukan menepati janji, melainkan menjaganya tetap hidup, mewariskannya utuh, supaya pada hari ketika seseorang akhirnya bisa menepatinya, ia masih ada untuk ditepati. Kita adalah penjaga sebuah janji yang lebih panjang daripada hidup kita. Itu adalah hal yang berat untuk dibawa. Tapi ia juga adalah hal yang paling layak dibawa yang pernah diberikan kepada manusia: untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada satu hidup, sesuatu yang tidak akan selesai dalam waktu kita, dan yang justru karena itu menghubungkan kita kepada semua yang datang sebelum dan semua yang akan datang sesudah.”

❖

Rangin mati di tanah tinggi, di musim ketika kabut turun rendah di lereng-lereng dan dunia menjadi putih dan lembut dan hening, dan ia mati sebagaimana ia telah hidup: mengingat.

Di hari-hari terakhirnya ia tidak takut, sebagaimana Sela tidak takut, sebab ia telah menyelesaikan apa yang bisa ia selesaikan dan meletakkan sisanya di tangan yang lebih muda. Anak yang membawa dua kerikil ada di sampingnya di akhir, dan Rangin memandangnya, dan ia melihat di anak itu kelanjutan dari dirinya, dan kelanjutan dari Sela, dan kelanjutan dari rantai panjang yang membentang mundur ke air Tahun Nol dan maju ke hari yang tak bisa ia bayangkan. Dan ia merasa, di saat terakhir, sesuatu yang dekat dengan apa yang Sela rasakan ketika ia menelan kerikil ketujuh: damai. Damai dari mengetahui bahwa ia bukan akhir dari apa pun, bahwa ia hanya satu simpul dalam rantai yang tidak akan putus, dan bahwa itu sudah cukup, itu selalu sudah cukup.

“Bawa ia menyeberang, ” katanya kepada anak itu, di akhir, dengan kata-kata yang sama yang neneknya katakan kepadanya tujuh generasi, tidak, lebih sekarang, ia telah kehilangan hitungannya, yang lalu, di tepi air, sebelum penyeberangan. “Apa yang kuberikan kepadamu. Bawa ia menyeberang, dan suruh yang kau wariskan kepadanya untuk membawanya menyeberang lagi, dan jangan biarkan ia berhenti. Daratan yang tenggelam ada di dalam dirimu sekarang. Ratu yang menunggu menunggu melalui dirimu. Bawa mereka menyeberang, anak. Itu satu-satunya hal yang kuminta darimu, dan aku tak akan hidup untuk tahu apakah kau melakukannya.”

Dan anak itu, yang akan membawanya menyeberang, dan yang warisannya akan membawanya menyeberang lagi, mundur dan maju melalui ribuan tahun air, mengangguk, dan menyimpan kata-kata itu, sebab ia adalah jenis yang menyimpan, sebagaimana Rangin adalah jenis yang menyimpan, sebagaimana Sela adalah jenis yang menyimpan, sebagaimana semua dari mereka di sepanjang rantai itu, sampai ke ujungnya yang masih tak terlihat, adalah jenis yang menyimpan.

❖

Dan setelah Rangin, rantai berlanjut, sebagaimana ia dirancang untuk berlanjut, melalui generasi demi generasi yang akan terlalu banyak untuk diceritakan dan terlalu penting untuk dilupakan.

Bangsa yang Rangin bantu bangun di tanah tinggi tumbuh, dan menyebar, dan berubah, dan terbelah menjadi banyak bangsa, sebagaimana satu sungai terbelah menjadi banyak anak sungai ketika ia mencapai dataran. Mereka turun dari gunung pertama ke lembah-lembah, dan membangun di sana, dan ketika mereka membangun mereka membawa serta ingatan yang Rangin tanamkan, ingatan tentang dunia yang tenggelam, peringatan untuk tidak pernah percaya bahwa air tunduk pada mereka, filosofi tentang menerima dan melepaskan dan menjaga ingatan. Dan rantai pengingat mengalir bersama mereka, menyebar bersama mereka, kadang menebal dan kadang menipis, kadang hampir putus dan selalu, pada akhirnya, bertahan, sebab kerikil tak bisa dihancurkan, dan sumpah tak bisa dilupakan selama satu pun keturunan Nyai Sela masih hidup untuk membawanya.

Dan sepanjang ribuan tahun yang mengikuti, melalui peradaban-peradaban yang akan naik dan jatuh di tanah ini sebagaimana Nagara Rata naik dan jatuh, melalui gunung-gunung yang akan menjadi suci dan kerajaan-kerajaan yang akan menjadi legenda dan nama-nama yang akan diukir di batu dan kemudian dilupakan, satu hal akan tetap, mengalir di bawah segala perubahan seperti air mengalir di bawah tanah: rantai para pengingat, membawa sumpah Nyai Sela, menjaga janji kepada ratu yang menunggu di laut, menunggu hari, masih sangat jauh, masih banyak Buku jauhnya, ketika seseorang yang membawa darah mereka akan berdiri di tempat yang tepat dengan ingatan yang tepat, dan menepati apa yang dijanjikan di air Tahun Nol.

Dan di dasar laut, di selatan, di kedalaman tempat dulu adalah istana, Ratu Kidul menunggu, utuh dan dingin dan abadi, sementara di atasnya dunia berputar dan berubah dan lupa dan ingat dan lupa lagi. Ia tidak tahu berapa lama ia telah menunggu; waktu tak lagi berarti apa pun baginya. Tapi kadang, sangat jarang, sebuah getaran akan mencapainya melalui air, sebuah mimpi seorang anak di gunung, sebuah sumpah yang diucapkan di sebuah perapian, sebuah kerikil yang bangun di dalam darah seseorang yang baru lahir, dan di saat-saat itu, sesuatu di dalam Ratu Kidul, serpihan kecil perasaan yang ia bawa turun, serpihan yang berbentuk seperti saudarinya, akan bergerak, sangat sedikit, seperti seseorang yang tidur sangat dalam yang mendengar, dari kejauhan, suara yang ia kenali. Dan bisik air akan membawa getaran itu, bolak-balik, antara yang menunggu di bawah dan yang mengingat di atas, sepanjang seluruh waktu yang akan datang, sampai ke hari ketika getaran itu akhirnya akan menjadi langkah kaki, dan seseorang akan datang, dan ratu akan, akhirnya, tidak sendirian lagi.

❖


 

BAB DUA BELAS

Yang Menghalus dan Yang Mengingat

Air mengubah segala sesuatu yang disentuhnya, tapi tidak dengan cara yang sama. Manusia ia ajari untuk mengingat. Lelembut ia ajari untuk menghalus. Dan di antara dua jenis perubahan itu, sepanjang segala zaman, tanah ini akan dihuni oleh dua bangsa yang melihat satu sama lain hanya di sudut mata.

dari ajaran para pengingat, tentang yang halus

Anak yang membawa dua kerikil tumbuh menjadi seorang lelaki, dan di tanah tinggi tempat Rangin telah mati dan diwariskan kepadanya, ia menjadi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: seorang pengingat yang juga bisa melihat yang halus.

Namanya, dalam lidah bangsa gunung yang baru, berarti sesuatu yang dekat dengan yang berjalan di dua tepi, walau ia jarang dipanggil dengan nama itu, sebab orang yang membawa beban seperti yang ia bawa cenderung dipanggil dengan gelar daripada nama, didekati dengan hormat daripada keakraban. Ia membawa, sebagaimana Rangin telah membawa, ingatan tentang dunia yang tenggelam, ia bermimpi tentang kanal-kanal lurus dan kota-kota yang saling memandang dan dua saudari yang berpisah di tepi dunia. Tapi ia membawa juga kerikil yang kedua, Wening, dan maka ia melihat apa yang tak dilihat Rangin, apa yang tak dilihat hampir siapa pun: ia melihat para Lelembut.

Mereka ada di mana-mana di gunung. Itu adalah hal pertama yang ia pelajari, ketika kerikil kedua bangun di dalamnya di masa mudanya, dan itu nyaris menghancurkannya: bahwa dunia yang ia kira kosong sebenarnya penuh, bahwa di setiap mata air dan setiap pohon tua dan setiap tikungan jurang ada penghuni yang ia tak pernah lihat sebelumnya, makhluk-makhluk yang tidak menapak tanah sepenuhnya, yang bergerak di tepi penglihatan, yang ada dan tidak ada pada saat yang sama. Untuk waktu yang lama ia takut pada mereka, sebagaimana orang takut pada apa yang tak mereka mengerti. Tapi Rangin, sebelum ia mati, telah menyuruhnya untuk belajar melihat mereka tanpa takut, dan maka ia belajar, pelan, sepanjang bertahun-tahun, untuk memandang dunia yang halus tidak sebagai ancaman melainkan sebagai apa adanya: bangsa lain, penghuni lain dari tanah yang sama, yang air telah ubah dengan cara yang berbeda dari cara ia mengubah manusia.

❖

Sebab itulah yang akhirnya ia pahami tentang mereka, dan yang membuatnya bisa melihat mereka tanpa takut: bahwa para Lelembut bukan roh dalam arti yang orang takutkan, bukan hantu, bukan iblis, melainkan sesuatu yang lebih dekat dan lebih menyedihkan.

Mereka adalah, ia mulai memahami, apa yang terjadi pada makhluk hidup yang dialami air dengan cara yang berbeda dari manusia. Ketika air datang, bukan hanya banjir besar, melainkan air dalam pengertian yang lebih dalam, perubahan, kehilangan, akhir yang datang pada segala sesuatu, manusia menanggapinya dengan mengingat, atau dengan menolak seperti para penghalus Nagara Rata. Tapi ada jalan ketiga, jalan yang tak diambil oleh manusia melainkan oleh makhluk-makhluk lain, oleh sesuatu di dalam tanah dan air dan pohon yang lebih tua daripada manusia: jalan menghalus. Bukan menghalus seperti Ratu Kidul menghalus, dengan membuang waktu dari dalam diri secara sengaja. Melainkan menghalus dengan cara yang lebih alami dan lebih lambat, menjadi semakin kurang padat, semakin kurang menapak, semakin menjadi bagian dari tempat daripada penghuni tempat, sampai akhirnya makhluk itu tak lagi sepenuhnya ada di dunia kasar sama sekali, melainkan ada di tepi, di antara, di alam halus yang membayangi alam kasar seperti bayangan membayangi benda.

Dan maka para Lelembut adalah, dalam satu pengertian, sepupu manusia, makhluk yang menghadapi akhir yang sama yang dihadapi manusia, kehilangan yang sama, air yang sama, tapi yang menjawabnya dengan cara yang berbeda. Di mana para pengingat berkata: aku akan menyimpan apa yang hilang di dalam ingatan, para Lelembut berkata, dengan cara mereka yang tanpa kata: aku akan menjadi begitu halus sehingga tak ada lagi yang bisa hilang dariku, sebab aku tak lagi cukup padat untuk memiliki apa pun yang bisa diambil. Dan keduanya, pengingat dan Lelembut, hidup berdampingan di tanah yang sama, melihat satu sama lain hanya di sudut mata, dua jawaban berbeda atas pertanyaan yang sama, dua bangsa yang dilahirkan oleh air dari satu kehilangan.

❖

Dan kemudian, pada suatu malam di tepi sebuah mata air tua di gunung, salah satu dari mereka berbicara kepadanya, dan itu adalah pertama kalinya dalam ingatan rantai bahwa seorang Lelembut dan seorang pengingat berbicara, dan itu mengubah segalanya yang akan datang.

Ia tampak, ketika akhirnya ia membiarkan dirinya tampak sepenuhnya, seperti seorang perempuan tua, atau seperti ingatan tentang seorang perempuan tua, sebab ada kualitas tembus cahaya padanya, kualitas sesuatu yang hampir tidak ada. Ia telah, ia katakan kepadanya, dengan suara yang lebih seperti gerak air daripada suara, dulu menjadi manusia. Sangat lama yang lalu. Ia telah hidup di dataran, di dunia sebelum laut, dan ketika air datang ia tidak mengingat seperti yang dilakukan para pengingat, dan ia tidak menghalus dengan sengaja seperti yang dilakukan para bangsawan, melainkan ia telah, perlahan, sepanjang waktu yang terlalu panjang untuk diukur, menghalus dengan sendirinya, kehilangan kepadatannya sehelai demi sehelai, sampai ia menjadi apa yang ia sekarang: sesuatu yang ada di tepi, yang mengingat samar-samar pernah menjadi manusia, yang menghuni mata air ini sebab ia tak punya tempat lain untuk dihuni.

“Kalian yang mengingat, ” katanya kepadanya, “kalian membuat kami iri, dengan cara kami yang sudah hampir tak bisa iri lagi. Sebab kalian menyimpan dunia yang hilang. Ia ada di dalam kalian, jelas, hidup, bisa diceritakan. Kami juga kehilangan dunia yang sama, aku berjalan di pasar yang sama yang kalian impikan, aku melihat kanal-kanal yang sama, tapi kami tidak menyimpannya. Kami membiarkannya pergi, bersama kepadatan kami, bersama segala sesuatu yang bisa hilang. Dan sekarang aku hampir tak bisa mengingat wajahku sendiri ketika aku masih manusia. Aku hanya tahu bahwa aku dulu, dan bahwa ada sebuah dunia, dan bahwa ia hilang.” Ia memandangnya dengan mata yang hampir tidak ada. “Maukah kau melakukan sesuatu untukku, pengingat? Maukah kau mengingat untukku? Aku tak bisa lagi mengingat dunia yang kuhilangkan. Tapi kau bisa. Ceritakan kepadaku tentang pasar, tentang kanal, tentang daratan yang luas. Beri aku kembali, sejenak, apa yang kuhilangkan ketika aku menjadi halus.”

❖

Dan maka ia melakukannya. Ia duduk di tepi mata air tua itu, sepanjang malam, dan ia mengingat untuk seorang Lelembut yang telah lupa, dan dalam melakukannya ia memahami apa yang Rangin maksudkan ketika ia berkata bahwa suatu hari garis pengingat dan garis Lelembut akan saling membutuhkan.

Sebab para pengingat menyimpan dunia yang hilang, tapi mereka menyimpannya dari luar, mereka mengingat dunia yang tenggelam, tapi tak satu pun dari mereka pernah benar-benar hidup di dalamnya. Mimpi mereka, betapapun jelasnya, adalah mimpi tentang tempat yang tak pernah mereka pijak. Tapi para Lelembut, yang tertua dari mereka, yang seperti perempuan di mata air ini, mereka telah benar-benar hidup di dunia sebelum laut. Mereka telah berjalan di pasar yang sesungguhnya, melihat kanal yang sesungguhnya, dengan mata yang sesungguhnya, sebelum mata itu menjadi halus. Mereka kehilangan ingatannya, ya. Tapi ingatan yang mereka kehilangan adalah ingatan langsung, ingatan dari dalam, jenis ingatan yang tak bisa dimiliki pengingat betapapun jelas mimpi mereka.

Dan maka ada pertukaran yang mungkin di antara mereka, sebuah pertukaran yang akan menjadi penting dengan cara-cara yang lelaki itu baru mulai membayangkan: bahwa pengingat bisa memberi Lelembut kembali ingatan yang mereka hilangkan, dan Lelembut bisa memberi pengingat sesuatu yang lebih berharga, saksi langsung, detail yang hanya bisa diketahui oleh seseorang yang telah benar-benar ada di sana, konfirmasi bahwa apa yang para pengingat impikan bukanlah hanya mimpi melainkan ingatan sejati tentang dunia yang sungguh-sungguh ada. Bersama, yang mengingat dari luar dan yang telah hidup dari dalam, mereka bisa menyimpan dunia yang tenggelam lebih lengkap daripada yang bisa dilakukan oleh masing-masing sendirian. Dan lelaki itu mengerti, duduk di tepi mata air, bahwa ini adalah benih dari sesuatu yang akan tumbuh sepanjang zaman-zaman yang akan datang: sebuah persekutuan antara dua bangsa yang air pisahkan, yang masing-masing membawa setengah dari ingatan yang sama, dan yang hanya bersama bisa membuatnya utuh.

❖

Menjelang fajar, ketika lelaki itu telah selesai mengingat dan perempuan Lelembut itu telah menerima kembali, sejenak, dunia yang ia hilangkan, ia bertanya kepadanya satu hal terakhir, hal yang akan ia bawa kembali ke rantai dan wariskan sebagai pengetahuan baru.

“Di selatan, ” katanya, “di dasar laut, ada yang lain seperti kau, tapi tidak seperti kau. Mereka yang menghalus dengan sengaja. Aku merasakan mereka kadang, dalam mimpiku. Sebuah ratu di antara mereka. Apakah kau tahu tentangnya?”

Dan perempuan Lelembut itu diam untuk waktu yang lama, dan ketika ia berbicara, suaranya lebih pelan, lebih takut, sejauh sesuatu yang hampir tidak ada bisa takut. “Kami tidak pergi ke selatan, ” katanya. “Kami yang menghalus dengan sendirinya, perlahan, kami tetap di tempat kami menjadi halus, di mata air, di pohon, di gunung. Tapi mereka yang menghalus dengan sengaja, yang membuang waktu dari diri mereka sekaligus, mereka turun ke laut, dan mereka berbeda dari kami. Kami menjadi halus dan kehilangan; mereka menjadi halus dan menyimpan, semuanya, utuh, selamanya. Itu lebih buruk, pengingat. Jauh lebih buruk. Kami yang lupa setidaknya damai. Mereka yang ingat segalanya tanpa bisa merasakannya, mereka adalah yang paling sengsara dari semua makhluk yang pernah air ciptakan. Dan ratu mereka adalah yang paling sengsara dari mereka semua. Bila garismu suatu hari bisa melakukan sesuatu untuknya, pengingat, bila janji yang kalian bawa benar, maka lakukanlah, sebab tak ada penderitaan di seluruh tanah ini, di alam kasar maupun alam halus, yang lebih dalam daripada penderitaan sesuatu yang menyimpan segalanya dan tak bisa mencintai apa pun yang ia simpan.”

Dan lelaki itu membawa kata-kata itu kembali ke rantai, dan ia mewariskannya bersama segala sesuatu yang lain, dan maka pengetahuan tentang penderitaan Ratu Kidul menjadi bagian dari apa yang dibawa para pengingat, bukan lagi hanya janji yang harus ditepati melainkan belas kasihan yang harus dirasakan, sebuah pemahaman bahwa yang menunggu di dasar laut bukanlah monster melainkan korban, saudari yang tersesat, sesuatu yang harus dibebaskan bukan hanya karena janji melainkan karena kasihan. Dan di bawah segala sesuatu, di dasar laut di selatan dan di mata air di gunung dan di darah para pengingat yang menyebar ke seluruh tanah, air bergerak, menyimpan, menunggu, membawa, bolak-balik, antara yang menghalus dan yang mengingat, antara yang menunggu dan yang berjanji, sebuah getaran yang sepanjang ribuan tahun yang akan datang akan tumbuh, pelan, dari bisikan menjadi gema menjadi panggilan, menuju hari ketika dua bangsa yang air pisahkan akhirnya akan bekerja bersama untuk menepati sebuah janji yang dibuat di air Tahun Nol, dan membebaskan seorang ratu yang telah menunggu, di kedalaman, lebih lama daripada yang bisa diingat oleh siapa pun kecuali air.

❖


 

BAGIAN V

Lidah-Lidah yang Berpisah


 

BAB TIGA BELAS

Turun ke Lembah

Ketika satu bangsa menjadi banyak, ingatannya pun menjadi banyak. Tiap lembah menyimpan kisah yang sama dengan kata yang berbeda, sampai kata-kata itu berbeda begitu jauh sehingga anak-anak dari satu nenek moyang tak lagi bisa saling memahami, dan hanya para pengingat, yang membawa kisah di bawah kata, masih tahu bahwa mereka bersaudara.

dari ajaran para pengingat, tentang lidah-lidah yang berpisah

Banyak generasi setelah lelaki yang membawa dua kerikil duduk di tepi mata air dan mengingat untuk seorang Lelembut, bangsa yang Rangin bantu bangun di tanah tinggi telah tumbuh terlalu besar untuk tanah tinggi itu sendiri.

Itu adalah masalah yang tak pernah dibayangkan oleh mereka yang mendarat dari laut, yang seluruh ingatannya adalah tentang dunia yang menyusut, tentang tanah yang diambil air sedikit demi sedikit. Tapi di gunung, jauh dari laut, tanah tidak menyusut. Ia tetap. Dan di atas tanah yang tetap, sebuah bangsa yang ingat bagaimana caranya bertahan hidup melakukan satu hal yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang bertahan hidup: ia tumbuh. Anak-anak lahir, dan tumbuh, dan punya anak-anak sendiri, dan lereng-lereng yang dulu cukup untuk segelintir pengungsi kini penuh dengan kampung-kampung, dan kampung-kampung itu mulai bersaing untuk tanah dan air dan kayu, dan untuk pertama kalinya sejak banjir, orang-orang mulai memandang ke bawah, ke lembah-lembah, ke dataran rendah yang membentang dari kaki gunung menuju cakrawala.

Dataran. Untuk generasi yang lahir di gunung, yang tak pernah melihat laut, kata itu tidak lagi membawa teror yang ia bawa bagi nenek moyang mereka. Mereka tahu kisah dunia yang tenggelam, para pengingat memastikan mereka mengetahuinya, tapi mengetahui sebuah kisah tidak sama dengan mengalaminya, dan bagi orang muda yang berdiri di lereng yang penuh sesak dan memandang lembah hijau yang kosong di bawahnya, lembah itu tidak tampak seperti ancaman. Ia tampak seperti ruang. Seperti masa depan. Seperti tanah yang menunggu untuk ditinggali.

❖

Maka mereka turun, sebagaimana air, dengan caranya sendiri, juga turun: mencari tingkat yang lebih rendah, menyebar ke mana ada ruang.

Tidak sekaligus, dan tidak semua. Sebagian tetap di gunung, terutama mereka yang membawa ingatan paling dalam, yang merasa paling dekat dengan tanah tinggi tempat nenek moyang mereka diselamatkan. Tapi banyak yang turun, kelompok demi kelompok, generasi demi generasi, mengikuti sungai-sungai dari gunung ke lembah, membangun kampung baru di tanah yang lebih rendah dan lebih subur, dan menemukan, sebab tanah rendah memang lebih subur, itu tak pernah menjadi kebohongan, bahwa hidup di lembah lebih mudah daripada hidup di lereng. Tanah memberi lebih banyak. Panen lebih besar. Dan dengan kemudahan datang pertumbuhan, dan dengan pertumbuhan datang lebih banyak perpindahan, lebih jauh ke dataran, lebih jauh dari gunung tempat semuanya dimulai.

Para pengingat menyaksikan ini dengan perasaan terbelah yang akan menjadi ciri khas mereka sepanjang segala zaman: kewajiban untuk mengingat, dan ketidakmampuan untuk menghentikan. Sebab mereka melihat, dalam perpindahan ke dataran, gema dari sesuatu yang sangat tua dan sangat berbahaya. Bukankah Nagara Rata juga sebuah peradaban dataran? Bukankah ia juga tumbuh di tanah subur yang memberi dengan mudah, sampai ia lupa bahwa tanah yang memberi juga bisa mengambil? Para pengingat memperingatkan, sebagaimana Giri Tua memperingatkan, sebagaimana para pengingat selalu memperingatkan: jangan terlalu mencintai dataran, jangan terlalu percaya pada tanah yang mudah, ingat bahwa air selalu kembali. Dan mereka ditanggapi sebagaimana para pengingat sering ditanggapi, dengan hormat, dengan anggukan, dan dengan pengabaian yang sopan, sebab lembah terlalu hijau dan hidup terlalu mudah untuk dirusak oleh peringatan tentang bencana yang tak seorang pun yang hidup pernah lihat.

❖

Dan ketika bangsa itu menyebar, ke lembah ini dan lembah itu, ke sisi gunung ini dan sisi gunung itu, dipisahkan oleh jurang dan hutan dan jarak, sesuatu terjadi pada cara mereka berbicara, sesuatu yang begitu pelan sehingga tak ada satu generasi pun yang memperhatikannya, dan begitu mendalam sehingga ia akan membentuk tanah ini selamanya.

Lidah mereka mulai berpisah. Mula-mula hanya sedikit, sebuah kata yang diucapkan berbeda di lembah utara daripada di lembah selatan, sebuah nama yang berubah bentuk ketika ia berpindah dari mulut ke mulut melintasi jarak. Lalu lebih banyak. Kampung-kampung yang terpisah oleh gunung yang tak bisa dilewati dengan mudah berhenti saling bicara setiap hari, dan ketika orang berhenti saling bicara setiap hari, lidah mereka mulai menyimpang, perlahan, tak terhindarkan, seperti dua ranting dari satu pohon yang tumbuh menjauh satu sama lain. Setelah cukup banyak generasi, orang dari lembah utara dan orang dari lembah selatan, yang nenek moyangnya pernah berbicara satu lidah, yang sama-sama turun dari mereka yang mendarat dari laut bersama Rangin, tak lagi bisa saling memahami. Mereka telah menjadi, dalam segala hal yang tampak, dua bangsa yang berbeda, dengan dua bahasa yang berbeda, dengan dua nama yang berbeda untuk diri mereka sendiri.

Dan begitu pula seterusnya, melipat dan melipat, satu bangsa menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi banyak, sampai tanah yang dulu dihuni oleh satu bangsa pengungsi kini dihuni oleh banyak bangsa yang masing-masing percaya bahwa mereka selalu ada, yang masing-masing punya lidah sendiri dan adat sendiri dan kisah sendiri tentang dari mana mereka datang, kisah-kisah yang berbeda di permukaan tapi yang, bila seseorang mendengarkan cukup dalam, semua mengandung gema yang sama: sebuah air yang datang, sebuah dunia yang hilang, sebuah pendakian ke tanah yang tinggi. Sebab itulah yang tak bisa diubah oleh perpisahan lidah: bahwa di bawah semua bahasa yang berbeda, semua bangsa yang berbeda, ada satu ingatan yang sama, satu banjir, satu kehilangan, dari mana mereka semua, tanpa mengetahuinya, turun.

❖

Dan di tengah perpisahan ini, para pengingat menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang dibutuhkan tanah ini lebih daripada sebelumnya: mereka menjadi benang di bawah lidah-lidah yang berpisah.

Sebab rantai pengingat tidak berpisah sebagaimana lidah berpisah. Ia tidak bisa. Kerikil tidak peduli pada bahasa; ingatan yang mereka bawa lebih dalam daripada kata. Seorang pengingat di lembah utara dan seorang pengingat di lembah selatan, walau mereka tak bisa lagi saling bicara dalam lidah sehari-hari, membawa di dalam darah mereka kisah yang sama, mimpi yang sama tentang kanal-kanal lurus, sumpah yang sama dari Nyai Sela, janji yang sama kepada ratu yang menunggu. Dan ketika mereka bertemu, sebab kerikil Getih membuat mereka saling mengenali, membuat seorang pengingat merasakan dalam darah orang lain darah yang sama, mereka mengenali satu sama lain sebagai saudara di bawah perbedaan lidah, anggota dari satu rantai yang lebih tua daripada semua bahasa yang membelah tanah.

Dan maka para pengingat menjadi, tanpa merencanakannya, satu-satunya hal yang menyatukan tanah yang semakin terpecah. Di atas permukaan, tanah itu adalah banyak bangsa, banyak lidah, banyak adat, sebuah kepingan-kepingan yang tampak tak punya kesamaan. Tapi di bawah permukaan, mengalir melalui semua kepingan itu seperti air mengalir di bawah tanah yang terbelah, ada rantai pengingat, membawa satu ingatan, satu sumpah, satu janji, menghubungkan lembah ke lembah dan bangsa ke bangsa melalui sesuatu yang lebih dalam daripada bahasa. Mereka adalah rahasia kesatuan tanah yang tampak terpecah. Dan suatu hari, jauh kelak, ketika tanah ini punya nama dan kerajaan dan sejarah yang ditulis, akan ada yang bertanya mengapa begitu banyak bangsa yang berbeda di pulau ini berbagi mitos yang sama tentang banjir, filosofi yang sama tentang menerima, kerinduan yang sama akan sesuatu yang tenggelam. Dan jawabannya, walau tak seorang pun akan mengetahuinya, adalah para pengingat: benang yang tak terlihat di bawah lidah-lidah yang berpisah, yang telah menjaga, sepanjang segala perpecahan, ingatan bahwa semua bangsa di tanah ini, pada akhirnya, bersaudara.

❖

Pada akhir zaman ini, seorang pengingat tua, keturunan yang jauh dari Rangin, yang namanya tak penting sebab ia hanyalah satu simpul di antara banyak simpul, berdiri di sebuah punggung gunung dan memandang ke bawah, ke tanah yang telah menjadi banyak.

Ia bisa melihat, dari ketinggian, beberapa lembah sekaligus, dan ia tahu bahwa di tiap lembah tinggal bangsa yang berbeda, dengan lidah yang berbeda, yang sebagian bahkan telah mulai berperang satu sama lain atas tanah dan air, lupa sepenuhnya bahwa mereka pernah satu. Dan ia merasakan kesedihan yang dalam, sebab ia mengingat, ia harus mengingat, itu adalah bebannya, bahwa mereka semua bersaudara, bahwa mereka semua turun dari segelintir pengungsi yang mendarat dari laut, bahwa darah yang mereka tumpahkan satu sama lain adalah darah yang sama. Tapi ia juga merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang dekat dengan harapan, sebab ia tahu bahwa di tiap lembah yang berperang itu, ada pengingat sepertinya, membawa kerikil sepertinya, membawa ingatan yang sama tentang banjir dan sumpah dan janji. Dan selama itu benar, selama rantai bertahan di bawah semua perpecahan, tanah ini tidak benar-benar terpecah, sebagaimana daratan yang tenggelam tidak benar-benar tenggelam.

“Mereka akan lupa bahwa mereka bersaudara, ” katanya, kepada angin, kepada lembah-lembah, kepada tak seorang pun. “Mereka akan berperang, dan membangun kerajaan, dan menulis sejarah yang melupakan dari mana mereka datang. Lidah mereka akan berpisah sampai tak ada yang ingat mereka pernah satu. Tapi kami akan ingat. Kami akan selalu ingat. Dan suatu hari, ketika tanah ini sudah cukup tua, ketika ia sudah punya nama dan sudah melupakan dan mengingat dan melupakan lagi berkali-kali, seseorang akan menyatukan apa yang lidah pisahkan, bukan dengan menaklukkan, tapi dengan mengingat; bukan dengan membuat semua bangsa menjadi satu, tapi dengan menunjukkan kepada mereka bahwa mereka selalu, di bawah segala perbedaan, satu.”

Dan di bawahnya, jauh di bawah lembah-lembah dan dataran dan akhirnya laut, di kedalaman tempat seorang ratu menunggu, air bergerak, air yang sama yang telah memisahkan dan menyatukan, yang telah menelan dan menyimpan, yang membawa di dalamnya ingatan tentang dunia yang tenggelam dan janji tentang dunia yang akan naik. Dan bisik air, yang kini telah menjadi sesuatu yang mengalir di bawah seluruh tanah, di bawah semua lidah yang berpisah dan semua bangsa yang lupa, membawa terus getarannya yang sabar, dari yang tenggelam menuju yang menunggu, dari yang mengingat menuju yang akan mengingat, melalui rantai yang tak akan putus, menuju zaman-zaman yang belum lahir ketika lidah-lidah yang berpisah ini akan punya nama, dan kerajaan, dan prasasti yang diukir di batu; ketika seseorang akan menulis bahasa pertama yang bertahan, dan dengan itu mengubah cara tanah ini mengingat dirinya sendiri, selamanya.

❖


 

BAB EMPAT BELAS

Batu yang Mengingat

Selama ingatan hanya hidup di dalam darah, ia bisa hilang dengan satu kematian yang salah. Tapi ketika manusia belajar mengukir ingatan ke dalam batu, sesuatu berubah: untuk pertama kalinya, yang diingat bisa bertahan lebih lama daripada yang mengingat. Para pengingat menyambut ini dengan gembira, dan dengan takut, sebab batu yang mengingat juga adalah batu yang bisa berbohong.

dari ajaran para pengingat, di ambang zaman aksara

Zaman-zaman berlalu di atas tanah yang telah menjadi banyak, dan dengan tiap zaman tanah itu menjadi sesuatu yang lebih daripada kumpulan kampung yang berperang yang dilihat oleh pengingat tua dari punggung gunung.

Bangsa-bangsa di lembah tumbuh, dan berperang, dan kadang menang dan kadang kalah, dan dari peperangan mereka muncul sesuatu yang belum pernah ada di tanah ini sejak Nagara Rata: bukan sekadar kampung, melainkan pemerintahan, sebuah orang yang memerintah banyak kampung, sebuah pusat yang menarik upeti dan tenaga dan kesetiaan dari sekitarnya. Mereka kecil pada mulanya, pemerintahan-pemerintahan ini, tak lebih dari seorang kepala yang kuat dan kampung-kampung yang takut padanya. Tapi mereka tumbuh, sebagaimana segala sesuatu di tanah subur tumbuh, dan ketika mereka tumbuh mereka mulai membutuhkan hal-hal yang dibutuhkan oleh kekuasaan yang tumbuh: cara untuk menghitung upeti, cara untuk mengingat janji, cara untuk menyimpan perintah yang bisa dikirim lebih jauh daripada suara manusia bisa membawanya.

Dan dari kebutuhan itu, perlahan, di lebih dari satu tempat, dengan cara yang tak ada satu orang pun yang menciptakannya, lahir aksara. Tanda-tanda yang berdiri untuk kata-kata. Goresan di atas tanah liat, ukiran di atas batu, takik di atas kayu, mula-mula hanya untuk menghitung, untuk menandai berapa banyak, berapa banyak yang berutang, berapa banyak yang dimiliki. Lalu lebih dari itu. Sebab begitu manusia memiliki tanda yang berdiri untuk satu kata, mereka mulai bertanya tanda apa yang berdiri untuk kata yang lain, dan kata yang lain lagi, sampai suatu hari, dan ini adalah salah satu ambang besar dalam sejarah tanah ini, walau tak seorang pun yang hidup pada saat itu mengetahuinya, sampai suatu hari seseorang mengukir, bukan sebuah hitungan, melainkan sebuah kalimat, sebuah pikiran, sesuatu yang dimaksudkan untuk dibaca oleh orang yang belum lahir.

❖

Para pengingat adalah, sebagaimana selalu, di antara yang pertama memahami apa artinya ini, dan mereka memahaminya dengan campuran gembira dan takut yang akan mendefinisikan hubungan mereka dengan aksara selamanya.

Sebab selama seluruh sejarah mereka, sejak Nyai Sela menelan tujuh kerikil di air Tahun Nol, ingatan telah hidup hanya di satu tempat: di dalam manusia. Di dalam darah, di dalam mimpi, di dalam kata-kata yang diucapkan dari mulut ke telinga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan itu telah membuat ingatan kuat dengan satu cara, ia hidup, ia bisa berubah, ia bisa dirasakan, tapi lemah dengan cara yang lain: ia bisa hilang. Satu kematian yang salah, satu pengingat yang mati sebelum mewariskan, satu kampung yang tenggelam atau terbakar atau dibantai, dan seluruh untaian rantai bisa putus, ingatan yang telah dibawa sepanjang ribuan tahun bisa lenyap dalam satu malam. Para pengingat telah hidup dengan ketakutan ini selama seluruh keberadaan mereka: ketakutan bahwa rantai akan putus pada mereka, bahwa mereka akan menjadi yang gagal mewariskan.

Dan kini, dengan aksara, ada kemungkinan baru. Sebuah ingatan yang diukir di batu tidak mati dengan kematian orang yang mengukirnya. Ia bertahan. Ia bisa dibaca oleh orang yang belum lahir, oleh orang yang tak pernah bertemu yang mengukirnya, oleh orang yang berbicara lidah yang berbeda asalkan mereka bisa membaca tanda. Untuk pertama kalinya dalam sejarah tanah ini, yang diingat bisa bertahan lebih lama, jauh lebih lama, daripada yang mengingat. Bagi para pengingat, yang seluruh keberadaannya adalah perang melawan kelupaan, ini adalah sesuatu yang nyaris seperti keajaiban.

❖

Tapi para pengingat juga melihat, lebih cepat daripada orang lain, bahaya dari batu yang mengingat, dan itu adalah bahaya yang akan menghantui tanah ini sepanjang seluruh zaman aksara yang akan datang.

Sebab ingatan yang hidup di dalam darah memiliki sebuah penjaga: kerikil. Seorang pengingat tak bisa berbohong tentang apa yang ia ingat, tak sepenuhnya, sebab ingatan itu bukan miliknya untuk diubah, ia datang dari kerikil, dari rantai, dari Nyai Sela sendiri, dan ia membawa di dalamnya kebenaran tentang apa yang sungguh-sungguh terjadi. Tapi batu tidak punya kerikil. Batu mengingat apa pun yang diukirkan ke atasnya, benar atau salah, dan ia mengingatnya dengan keyakinan yang sama, ketahanan yang sama, otoritas yang sama. Sebuah kebohongan yang diukir di batu bertahan persis selama kebenaran yang diukir di batu, dan bagi orang yang membacanya seribu tahun kemudian, tak ada cara untuk membedakannya.

Dan para pengingat melihat, dengan kejernihan yang menyedihkan, bagaimana ini akan digunakan. Sebab mereka yang memerintah, para kepala yang menjadi raja, pemerintahan-pemerintahan yang menjadi kerajaan, mereka akan menemukan dalam aksara bukan hanya cara untuk mengingat melainkan cara untuk membentuk apa yang diingat. Mereka akan mengukir di batu bukan apa yang terjadi melainkan apa yang mereka ingin orang percayai telah terjadi. Mereka akan menulis diri mereka sendiri menjadi keturunan dewa, kemenangan mereka menjadi lebih besar daripada adanya, musuh mereka menjadi lebih jahat daripada adanya. Mereka akan menggunakan batu yang mengingat untuk membuat tanah ini melupakan kebenaran dan mengingat kebohongan, dan kebohongan itu akan bertahan, terukir, selama batu bertahan. Dan terhadap ini, para pengingat akan menjadi satu-satunya penjaga: pembawa ingatan yang hidup, ingatan yang tak bisa diukir dan tak bisa dipalsukan, yang akan berdiri melawan batu-batu yang berbohong dengan satu-satunya senjata yang mereka miliki, kebenaran yang dibawa di dalam darah, dari Nyai Sela, yang tak pernah, dalam seluruh ribuan tahun, bisa diubah oleh kekuasaan mana pun.

❖

Dan maka, di suatu tempat di ambang zaman aksara, seorang pengingat melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: ia mengukir, di atas batu, bukan upeti dan bukan kemenangan raja, melainkan ingatan.

Ia tahu risikonya. Ia tahu bahwa mengukir ingatan di batu adalah membekukannya, membuatnya berhenti hidup dan berubah sebagaimana ingatan dalam darah hidup dan berubah. Ia tahu bahwa batu bisa berbohong, dan bahwa dengan mengukir ia mungkin menciptakan sesuatu yang suatu hari akan disalahgunakan. Tapi ia juga tahu ketakutan yang lebih tua, ketakutan bahwa rantai akan putus, bahwa suatu malam yang buruk akan datang ketika pengingat terakhir mati sebelum mewariskan, dan seluruh ingatan tentang dunia yang tenggelam akan lenyap dari tanah ini selamanya. Dan terhadap ketakutan itu, batu menawarkan sesuatu yang darah tak bisa: jaminan. Sebuah salinan yang akan bertahan bahkan bila rantai putus, sebuah benih yang bisa menumbuhkan kembali ingatan bahkan dari kepunahan.

Maka ia mengukir, dengan hati-hati, dalam aksara yang baru dan masih kaku, kalimat yang paling penting yang ia tahu, kalimat pendiri, sumpah Nyai Sela: selama ada keturunanku, daratan ini tidak benar-benar tenggelam. Dan di bawahnya ia mengukir, sejauh ia bisa, kisah ringkas dari apa yang kalimat itu maksudkan, bahwa ada dahulu sebuah daratan, luas dan dicintai, bahwa air mengambilnya, bahwa mereka yang mengingat membawa kisahnya ke tanah tinggi dan menjaganya hidup. Ia tidak bisa mengukir seluruhnya; batu terlalu keras dan aksara terlalu muda dan hidup terlalu pendek. Tapi ia mengukir cukup, cukup supaya bila suatu hari rantai yang hidup putus, seseorang yang menemukan batu ini bisa, dari goresan-goresan ini, mulai mengingat kembali. Ia menanam, di dalam batu, sebuah benih yang bisa tidur sepanjang zaman dan bangun ketika dibutuhkan, sebagaimana kerikil tidur dan bangun, sebagaimana ingatan itu sendiri tidur dan bangun sepanjang rantai panjang dari Nyai Sela sampai ke hari yang tak bisa ia bayangkan.

❖

Batu itu berdiri, ketika pengingat yang mengukirnya telah lama mati, dan ia akan berdiri jauh lebih lama daripada yang bisa ia bayangkan, melalui zaman-zaman aksara yang akan datang, melalui kerajaan-kerajaan yang akan naik dan jatuh, melalui semua perubahan yang akan menimpa tanah ini sepanjang ribuan tahun.

Sebagian besar dari apa yang diukir di batu di tanah ini, sepanjang zaman-zaman yang akan datang, akan menjadi apa yang ditakuti para pengingat: kebohongan kekuasaan, kemenangan yang dibesar-besarkan, raja-raja yang menulis diri mereka menjadi dewa. Prasasti demi prasasti akan mengukir versi yang nyaman dari sejarah, dan banyak dari kebenaran akan hilang di bawah berat dari batu-batu yang berbohong. Tapi di antara semua itu, tersembunyi, sering tak dikenali, kadang terkubur dan terlupakan sepanjang generasi, akan ada batu-batu lain, batu-batu pengingat, yang mengukir bukan kebohongan melainkan ingatan, yang membawa di dalam goresan kaku mereka benih dari kebenaran yang lebih tua: tentang banjir, tentang daratan yang tenggelam, tentang sumpah yang dibuat di air. Dan suatu hari, jauh kelak, di zaman yang bahkan para pengingat tak bisa bayangkan, ketika tanah ini akan punya nama yang dikenal seluruh dunia dan sejarah yang ditulis dalam aksara yang bahkan belum lahir, seseorang akan menemukan batu-batu ini, dan membaca goresan-goresan tua mereka, dan mulai bertanya: dari mana datang kisah-kisah banjir ini? Mengapa begitu banyak bangsa di pulau ini mengingat sebuah dunia yang tenggelam?

Dan di bawah segala sesuatu, di bawah batu-batu yang berbohong dan batu-batu yang mengingat, di bawah kerajaan-kerajaan yang akan naik dan lidah-lidah yang telah berpisah, di bawah lembah dan dataran dan akhirnya laut, di kedalaman tempat seorang ratu menunggu, utuh dan dingin dan abadi, air bergerak. Dan bisik air, yang telah menjadi ancaman dan gema dan janji, kini menjadi sesuatu yang baru lagi: ia menjadi pertanyaan, sebuah pertanyaan yang ditanam di dalam batu dan di dalam darah dan di dalam air itu sendiri, menunggu untuk ditanyakan oleh seseorang di masa depan yang cukup tua untuk memilikinya: dari mana kita datang? Apa yang tenggelam di bawah kita? Dan siapa yang masih menunggu, di kedalaman, untuk diingat? Sebab tanah ini telah mulai, untuk pertama kalinya, mengukir ingatannya ke dalam sesuatu yang lebih keras daripada daging, dan dalam melakukannya, ia telah mulai perjalanan panjang menuju hari ketika ingatan itu, terukir dan terkubur dan ditemukan kembali, akhirnya akan cukup untuk membebaskan apa yang menunggu di bawah air.

❖


 

BAB LIMA BELAS

Banjir Tujuh Generasi

Banjir tidak datang sekali. Inilah pelajaran yang paling sulit dan paling penting: bahwa air kembali, lagi dan lagi, sepanjang segala zaman, dan bahwa tiap generasi harus belajar kembali apa yang generasi sebelumnya pelajari dan lupa. Banjir tujuh generasi bukanlah satu banjir. Ia adalah nama untuk seluruh cara dunia berakhir dan dimulai lagi.

penutup ajaran para pengingat tentang Banjir Tujuh Generasi

Pada akhirnya, mereka yang mengingat memahami mengapa kisah ini disebut Banjir Tujuh Generasi, dan pemahaman itu sendiri adalah salah satu hal yang paling penting yang mereka wariskan.

Sebab pada mulanya orang mengira nama itu merujuk pada satu banjir, banjir besar, banjir Tahun Nol, banjir yang menenggelamkan Nagara Rata dan dari mana semuanya turun. Dan dalam satu pengertian itu benar. Tapi para pengingat, yang membawa kerikil ketujuh, yang mengingat bahwa banjir Tahun Nol bukanlah banjir pertama melainkan hanya banjir yang ini, memahami sesuatu yang lebih dalam: bahwa air tidak datang sekali. Bahwa ia datang, dan surut, dan datang lagi, sepanjang segala zaman, tidak selalu sebagai air harfiah, tidak selalu sebagai laut yang naik, tapi sebagai bencana, sebagai kehancuran, sebagai akhir yang datang pada tiap peradaban sebagaimana ia datang pada Nagara Rata. Tujuh generasi: itu adalah perkiraan kasar tentang seberapa lama dibutuhkan bagi sebuah bangsa untuk lupa. Untuk lahir setelah bencana terakhir, tumbuh dalam keamanan yang dibangun di atas ingatan tentang bencana, dan kemudian, perlahan, melupakan, sampai generasi datang yang tak lagi percaya bahwa air bisa kembali, dan membangun di dataran, dan menertawakan para pengingat, dan dengan begitu mengundang banjir berikutnya.

Itulah bentuk sejarah yang dilihat para pengingat, bentuk yang membuat mereka sekaligus putus asa dan tak tergantikan: sebuah lingkaran, atau lebih tepatnya sebuah spiral, di mana bencana dan kelupaan dan kemakmuran dan kelupaan lagi dan bencana lagi berputar tanpa akhir, tiap tujuh generasi atau lebih, sepanjang seluruh sejarah tanah ini. Dan tugas para pengingat, mereka memahami akhirnya, bukanlah untuk menghentikan lingkaran, tak ada yang bisa menghentikannya, ia setua manusia, setua air, melainkan untuk memperpendek kelupaan, untuk menjaga ingatan hidup sedikit lebih lama di tiap putaran, supaya tiap bencana sedikit kurang total, supaya sedikit lebih banyak yang bertahan menyeberang ke putaran berikutnya.

❖

Dan rantai bertahan, sepanjang putaran demi putaran, sebagaimana ia dirancang untuk bertahan.

Ia menipis dan menebal, hampir putus dan pulih kembali, melompat dari bangsa ke bangsa ketika bangsa-bangsa naik dan jatuh, dari lidah ke lidah ketika lidah-lidah berpisah dan berpisah lagi. Kadang ia hampir hilang, ada zaman-zaman gelap, para pengingat tahu, zaman-zaman ketika rantai menyusut sampai hanya beberapa pembawa yang tersisa di seluruh tanah, ketika satu kematian yang salah bisa memutuskannya selamanya. Tapi ia tak pernah putus. Selalu, pada saat-saat paling tipis, kerikil akan bangun pada seorang anak yang tak terduga, di sebuah lembah yang jauh, dan rantai akan menebal kembali, dan ingatan akan terus mengalir. Sebab itulah yang dijanjikan oleh sumpah Nyai Sela, dan sumpah itu, walau diucapkan oleh seorang perempuan tua yang tenggelam sepuluh ribu tahun yang lalu, telah terbukti lebih kuat daripada kerajaan mana pun, lebih tahan lama daripada prasasti mana pun, lebih dalam daripada lidah mana pun: selama ada keturunannya, daratan yang tenggelam tidak benar-benar tenggelam.

Dan tanah ini, yang dimulai sebagai tanah tinggi tempat segelintir pengungsi mendarat dari laut, telah menjadi sesuatu yang luas dan tua dan rumit, penuh dengan bangsa dan lidah dan kerajaan, penuh dengan gunung-gunung yang menjadi suci dan sungai-sungai yang menjadi keramat dan tempat-tempat yang menyimpan kekuatan yang tak bisa dijelaskan oleh mereka yang tinggal di sana, kekuatan yang sebenarnya adalah ingatan, gema dari dunia yang tenggelam yang masih merembes ke atas melalui tanah dan air. Mereka yang tinggal di tanah ini akan, sepanjang segala zaman, merasakan sesuatu tentangnya yang mereka tak bisa namai, sebuah kedalaman, sebuah kesedihan yang indah, sebuah perasaan bahwa di bawah segala sesuatu ada sesuatu yang hilang dan dirindukan. Mereka akan menyebutnya dengan banyak nama, menjelaskannya dengan banyak cerita. Tapi pada akarnya, selalu, akan ada hal yang sama: sebuah daratan yang tenggelam, dan sebuah rantai yang mengingatnya, dan sebuah janji yang belum ditepati.

❖

Dan di selatan, di dasar laut, di kedalaman tempat dulu adalah istana Nagara Rata, Ratu Kidul masih menunggu.

Waktu tak berarti apa pun baginya; ia tak bisa menghitung tahun-tahun yang telah lewat, tak bisa merasakan ribuan tahun yang telah mengalir di atasnya sementara dunia di permukaan berputar melalui putaran demi putaran bencana dan kelupaan. Ia hanya ada, utuh dan dingin dan abadi, sebagaimana ia memilih untuk ada, menyimpan di dalam dirinya ingatan sempurna tentang sebuah dunia yang tak seorang pun lagi yang hidup pernah lihat, wajah saudarinya di akhir, pasar tempat empat kanal bertemu, ladang liar yang penuh bunga, hari-hari sebelum laut. Ia memegang semua itu, utuh, tak berubah, dan tak bisa merasakan satu pun darinya, dan itu adalah penderitaan yang lebih dalam daripada penderitaan mana pun di tanah ini, sebagaimana seorang Lelembut tua pernah berkata kepada seorang pengingat di tepi mata air: yang paling sengsara dari semua makhluk yang pernah air ciptakan.

Tapi ia menunggu. Dan dalam penantiannya ada sesuatu yang menyerupai harapan, walau ia hampir tak bisa lagi merasakan harapan, sebab ia memegang, di antara semua ingatannya yang dingin, satu ingatan yang masih, samar-samar, hangat: ingatan tentang saudarinya berjanji, di kampung tanah tinggi, di malam-malam terakhir sebelum air datang. Kau tidak akan sendirian selamanya. Sepuluh ribu tahun, mungkin. Tapi tidak selamanya. Dan kadang, sangat jarang, melalui ribuan tahun yang tak bisa ia hitung, sebuah getaran akan mencapainya melalui air, sebuah mimpi seorang anak di gunung yang jauh, sebuah sumpah yang diucapkan di sebuah perapian dalam lidah yang belum ada ketika ia tenggelam, sebuah kerikil yang bangun di dalam darah seseorang yang baru lahir, dan di saat-saat itu, sesuatu di dalam Ratu Kidul akan bergerak, sangat sedikit, seperti seseorang yang tidur sangat dalam yang mendengar, dari kejauhan, suara yang ia kenali, dan ia akan tahu, sejauh ia masih bisa tahu apa pun, bahwa rantai masih bertahan, bahwa janji masih dibawa, bahwa suatu hari, masih jauh, masih banyak zaman jauhnya, seseorang akan datang.

❖

Tanah itu, pada akhir Buku ini, telah mulai memiliki bentuk yang akan dikenalinya selama sisa sejarahnya: sebuah pulau panjang yang membentang dari barat ke timur, dengan tulang punggung gunung-gunung berapi yang menjulang di tengahnya, dengan dataran subur di utara dan pantai yang ganas di selatan, dengan laut di segala sisi yang menyimpan, di kedalamannya, ingatan tentang daratan yang dulu lebih luas.

Ia belum punya nama yang akan dikenal seluruh dunia. Itu akan datang nanti, di zaman-zaman aksara yang baru saja mulai, ketika para pelaut dari jauh akan tiba dan menamainya, ketika kerajaan-kerajaan akan mengukir nama mereka sendiri untuknya di batu, ketika sejarah yang ditulis akan, perlahan, menggantikan ingatan yang dibawa di dalam darah. Tapi bentuknya telah ada, dan jiwanya telah ada, jiwa yang dibentuk oleh banjir, oleh kehilangan, oleh ribuan tahun mengingat sebuah dunia yang tenggelam. Sebab itulah yang membuat tanah ini berbeda dari tanah mana pun, walau mereka yang tinggal di sana tak akan pernah sepenuhnya tahu mengapa: bahwa ia dibangun, dari fondasinya yang paling dalam, di atas ingatan akan apa yang hilang. Bahwa filosofinya, lidah-lidahnya, gunung-gunungnya yang suci dan lautnya yang ditakuti, semua tumbuh dari satu akar: sebuah daratan yang tenggelam, dan sebuah bangsa yang menolak untuk membiarkannya benar-benar tenggelam.

Ini adalah Jawa, walau ia belum disebut Jawa. Tanah yang merupakan jejak dari banyak dunia yang tenggelam. Dan kisahnya, yang dimulai dengan dua saudari yang berjalan ke pasar di sebuah daratan yang luas dan yakin, baru saja mencapai akhir dari permulaannya.

❖

Sebab ada banyak yang masih akan datang, banyak Buku yang masih akan ditulis, banyak zaman yang masih akan berputar melalui lingkaran bencana dan kelupaan dan ingatan sebelum janji yang dibuat di air Tahun Nol akhirnya bisa ditepati.

Akan ada zaman ketika lidah-lidah yang berpisah akan tumbuh menjadi bangsa-bangsa besar, dan ketika seseorang akan bertanya mengapa begitu banyak dari mereka berbagi mitos yang sama, dan mulai mencari jawaban yang hanya para pengingat tahu. Akan ada zaman ketika aksara akan matang, dan kerajaan-kerajaan akan mengukir kebesaran dan kebohongan mereka di batu, dan para pengingat akan berjuang untuk menjaga kebenaran hidup di bawah berat dari sejarah yang ditulis. Akan ada zaman gunung-gunung suci dan candi-candi besar, zaman pelaut dari seberang lautan, zaman penaklukan dan kebangkitan dan kejatuhan, masing-masing sebuah putaran dari spiral yang sama, masing-masing membawa rantai pengingat sedikit lebih jauh menuju hari yang dijanjikan. Dan pada akhir dari semua itu, di zaman yang bahkan para pengingat tertua tak bisa bayangkan, zaman ketika orang akan menyelam ke dasar laut dengan alat yang belum ada, dan menemukan, di kedalaman, bentuk-bentuk yang tak seharusnya ada di sana, struktur-struktur yang terlalu teratur untuk menjadi alami, gema dari sebuah dunia yang ilmu pengetahuan tak bisa jelaskan, pada akhir dari semua itu, seseorang akhirnya akan mengangkat ingatan yang tenggelam kembali ke permukaan, dan menepati janji, dan membebaskan ratu dari laut.

Tapi itu adalah Buku-buku yang lain, dan zaman-zaman yang lain. Untuk sekarang, di akhir banjir tujuh generasi, cukup untuk mengetahui ini: bahwa dunia yang lama telah tenggelam, dan sebuah dunia yang baru telah dibangun di atas ingatannya; bahwa rantai para pengingat telah lahir, dan tidak akan putus; bahwa di dasar laut seorang ratu menunggu, dan tidak akan menunggu selamanya; dan bahwa tanah yang akan menjadi Jawa telah mulai menjadi dirinya sendiri, sebuah pulau yang dibangun di atas kehilangan, yang mengingat, di dalam gunung-gunungnya dan lidah-lidahnya dan lautnya yang dalam, sebuah daratan yang tenggelam dan sebuah janji untuk membawanya naik. Dan di bawah segala sesuatu, sabar sebagaimana ia selalu sabar, air bergerak, membawa, dari yang tenggelam menuju yang menunggu, melalui rantai yang tak akan putus, melalui zaman-zaman yang belum lahir, satu bisikan yang telah menjadi ancaman dan gema dan janji dan pertanyaan dan kini, di akhir Buku ini, menjadi sesuatu yang paling sederhana dan paling kuat dari semuanya: sebuah jenis kesabaran. Kesabaran air, yang tahu ia akan menang. Dan kesabaran ingatan, yang tahu bahwa bahkan kemenangan air tidak akan, pada akhirnya, menjadi yang terakhir.

❖

❖

Akhir Buku Dua

Banjir Tujuh Generasi

Kisah berlanjut dalam Buku Tiga

Lidah-Lidah yang Berpisah

BUKU I ·  Daratan Sebelum Laut
BUKU II  ·  Banjir Tujuh Generasi
BUKU III  ·  Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU IV  ·  Bukit yang Lebih Tua dari Waktu
BUKU V  ·  Tulang-Tulang Nenek Moyang 
BUKU VI  ·  Huruf di Atas Batu
BUKU VII  ·  Candi di Atas Bukit
BUKU VIII  ·  Nama di Atas Air 
BUKU IX  ·  Nyala di Atas Besi 
BUKU X  ·  Cahaya di Atas Dasar