JAWA
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
BUKU DUA
Banjir Tujuh Generasi
Sebuah Saga Pulau di Antara Dua Samudra
Air tidak datang sekali.
Ia datang, dan surut, dan kembali, dan
tiap generasi
harus belajar kembali apa yang generasi
sebelumnya lupa.
BAGIAN I
Air yang Naik
BAB SATU
Asin di Sumur
Mereka bertanya kepadaku kapan banjir
itu datang. Aku berkata kepada mereka: ia tidak datang. Ia sudah di sini sejak
sebelum kakekmu lahir, naik selutut tiap tujuh generasi, dan kalian menyebutnya
dunia.
dari ajaran para pengingat, yang dimulai
oleh Nyai Sela
Pada musim
ketika padi tak lagi serendah lutut, sebab tak ada lagi cukup tanah tawar untuk
menanam padi serendah lutut, apa yang tersisa dari Nagara Rata berdiri di atas
sebuah lidah daratan yang menyempit di antara dua air: laut di selatan, yang
telah datang, dan laut di utara, yang juga telah datang, dan di antara keduanya
sebuah jalur tanah yang setiap tahun lebih sempit, seperti seseorang yang
berdiri di atas jembatan sementara air naik dari kedua sisi.
Tujuh generasi telah lewat sejak dua saudari berdiri di pantai dan
memandang laut menutupi pasar tempat mereka dulu berjalan. Tujuh generasi, itu
adalah kata yang kini orang gunakan untuk mengukur, walau sedikit dari mereka
yang masih ingat dari mana kata itu datang, atau bahwa ia pernah, dulu, adalah
ramalan seorang tua dari perbukitan yang ditertawakan dewan. Kakek bercerita
kepada cucu bahwa di masa kakeknya, tanah membentang sejauh tujuh hari berjalan
ke selatan sebelum bertemu air. Kini ia membentang sejauh setengah hari. Cucu
mendengar cerita itu sebagaimana anak-anak mendengar cerita tentang raksasa dan
negeri di balik bulan: dengan minat yang sopan, dan tanpa percaya, sebab tanah
yang membentang tujuh hari adalah tanah yang tak bisa mereka bayangkan, tanah
dari dongeng, bukan tanah yang nyata.
Itulah cara air menang, pada akhirnya: bukan dengan menenggelamkan,
melainkan dengan membuat orang lupa bahwa pernah ada lebih banyak tanah untuk
ditenggelamkan. Tiap generasi lahir ke dunia yang sedikit lebih kecil daripada
dunia orang tuanya, dan tiap generasi menyebut dunia yang lebih kecil itu
sebagai dunia yang utuh, sebab ia adalah satu-satunya dunia yang pernah mereka
kenal. Apa yang hilang sebelum kau lahir tidak terasa seperti kehilangan. Ia
hanya terasa seperti dongeng tentang sesuatu yang barangkali tak pernah ada.
❖
Sumur itu ada di
tengah kampung yang tersisa, dan ia adalah sumur terakhir yang masih tawar, dan
maka ia adalah pusat dari segala sesuatu, sebagaimana dulu pasar adalah pusat
dari segala sesuatu.
Orang-orang mengaturnya dengan hati-hati yang nyaris menyerupai ibadah.
Hanya air yang cukup boleh diambil tiap hari, tak lebih; dijaga oleh seorang
tua yang tugasnya adalah menjaga sumur, sebagaimana dulu ada orang yang
tugasnya menjaga catatan langit atau menjaga bara perapian. Sebab di lidah
daratan yang menyempit, di antara dua laut yang naik, sebuah sumur tawar bukan
lagi sekadar sumur. Ia adalah satu-satunya alasan kampung itu masih bisa
berdiri di tempat ia berdiri. Ketika ia kering, atau ketika ia berubah, kampung
akan harus pindah lagi, ke utara, selalu ke utara, ke jalur tanah yang semakin
sempit, dan tiap perpindahan adalah pengakuan, yang tak seorang pun mau
ucapkan, bahwa air sedang menang.
Maka ketika perempuan yang menjaga sumur itu menarik timba pada suatu
pagi, dan mencicipi air sebagaimana ia mencicipinya tiap pagi, sebab itu adalah
tugasnya, menjadi yang pertama tahu, dan merasakan, di balik rasa tawar yang
biasa, sesuatu yang lain, sesuatu yang samar dan asin dan tak seharusnya ada,
ia tidak berteriak. Ia hanya berdiri sangat diam, dengan timba di tangannya,
dan ia merasakan dunia bergeser di bawah kakinya, sebab ia tahu apa artinya,
sebagaimana setiap orang di kampung tahu apa artinya, sebab mereka adalah
keturunan dari orang-orang yang telah belajar, lewat tujuh generasi, persis apa
artinya ketika yang asin mulai merembes ke dalam yang tawar.
Ia mencicipinya lagi, berharap ia keliru. Ia tidak keliru. Laut telah
menemukan sumur terakhir. Tidak dari atas, tidak lewat kanal, kanal-kanal sudah
lama hilang, sudah lama menjadi laut, melainkan dari bawah, lewat tanah itu
sendiri, merembes ke atas melalui batu dan pasir ke dalam satu-satunya air
tawar yang tersisa, sebagaimana ia telah merembes, tujuh generasi lalu, ke
dalam sebuah mata air yang berpindah ke darat, di sebuah ladang milik dua
saudari yang kini tak seorang pun ingat namanya.
❖
Anak itu bernama
Rangin, dan ia berdiri di tepi kerumunan yang berkumpul di sekeliling sumur
ketika kabar menyebar, dan ia adalah satu-satunya yang tidak terkejut.
Ia bukan satu-satunya yang takut, semua takut, walau sebagian besar
menyembunyikannya di balik perdebatan tentang apa yang harus dilakukan, sebab
perdebatan adalah cara orang dewasa menyembunyikan ketakutan dari diri mereka
sendiri. Tapi Rangin tidak terkejut, dan ketidakterkejutannya membuatnya, di
tengah kerumunan yang panik, terasa aneh, terpisah, sebagaimana ia selalu
terasa aneh dan terpisah. Sebab Rangin telah memimpikan ini. Bukan sumur ini,
bukan pagi ini, ia telah memimpikan air. Sepanjang hidupnya yang muda ia telah
memimpikan air: air yang naik, air yang menutup, air yang menyimpan di dalamnya
kota-kota lurus dan ladang-ladang penuh dan wajah-wajah orang yang tak pernah
ia temui tapi entah bagaimana ia kenal. Ia memimpikan sebuah daratan yang luas,
lebih luas daripada dongeng mana pun, daratan yang membentang ke segala arah
tanpa air di mana pun, dan ia memimpikannya dengan kerinduan yang aneh dan
menyakitkan, kerinduan akan tempat yang tak pernah ia lihat, tempat yang telah
tenggelam sebelum kakek dari kakeknya lahir.
Ibunya, ketika Rangin masih sangat kecil dan menceritakan mimpi-mimpinya,
telah memandangnya dengan ekspresi yang Rangin tak mengerti waktu itu dan baru
mulai mengerti sekarang: ekspresi seseorang yang mengenali sesuatu yang telah
lama ia tunggu dan harap tak akan datang. “Kau mendengarnya, ” ibunya berkata,
suatu malam, ketika Rangin bangun menangis dari mimpi tentang air. “Sebagaimana
nenek dari nenekku mendengarnya. Ia melompati banyak dari kita, kemampuan ini,
ia tidur sepanjang generasi dan lalu ia bangun lagi di salah satu anak, tanpa
peringatan. Aku berharap ia tidak bangun di dirimu. Tapi ia bangun. Aku bisa
melihatnya. Kau adalah salah satu yang mengingat.”
❖
Malam setelah
sumur berubah, ibu Rangin membawanya ke luar kampung, ke tempat di mana mereka
bisa bicara tanpa didengar, dan ia menceritakan kepadanya apa yang harus
diceritakan, sebab kini waktunya telah tiba dan ia tak bisa menundanya lagi.
“Ada sebuah rantai, ” katanya. “Lebih tua daripada kampung ini, lebih tua
daripada apa pun yang diingat siapa pun. Ia berjalan dari ibu ke anak, atau
kadang melompati ibu dan jatuh ke cucu, atau tidur sepanjang banyak generasi
lalu bangun di tempat yang tak terduga. Tapi ia tak pernah putus. Tujuh
generasi, sekarang, mungkin lebih, aku kehilangan hitungannya, sebab sebagian
dari rantai itu hilang dalam perpindahan, hilang ketika kampung tenggelam dan
orang-orang tercerai. Tapi ia sampai kepadaku, dan dariku ia sampai kepadamu,
dan inilah yang harus kau ketahui, Rangin, inilah satu hal yang harus kau ingat
di atas segala hal yang lain.”
Ia berlutut, supaya matanya sejajar dengan mata anaknya, dan ia berkata
kata-kata yang telah dikatakan ibunya kepadanya, dan ibu dari ibunya kepada
ibunya, mundur dan mundur melalui tujuh generasi air, kembali ke seorang
perempuan yang berdiri di air sebatas dada dan menelan tujuh kerikil, walau
baik ibu maupun Rangin tak lagi tahu nama perempuan itu.
“Ada dahulu sebuah daratan, ” katanya, “luas, dan datar, dan yakin, dan
dicintai. Air mengambilnya. Tapi ia tidak benar-benar tenggelam, Rangin, ia
tidak benar-benar hilang, selama ada salah satu dari kita yang mengingatnya.
Itulah tugasmu. Bukan menghentikan air; tak seorang pun bisa menghentikan air.
Tugasmu adalah mengingat apa yang diambilnya, dan mewariskan ingatan itu,
supaya suatu hari, mungkin tidak dalam hidupmu, mungkin tidak dalam hidup
cucumu, tapi suatu hari, seseorang yang membawa darah kita akan berdiri di atas
semua air ini, dan akan tahu bahwa di bawahnya, dulu, ada sebuah dunia, dan
akan tahu namanya.”
“Apa namanya?” tanya Rangin.
Dan ibunya membuka mulutnya untuk menjawab, dan kemudian berhenti, dan
sesuatu yang dekat dengan ketakutan melintas di wajahnya, sebab ia menyadari,
pada saat itu, bahwa ia tidak tahu. Bahwa namanya telah hilang. Bahwa di suatu
tempat dalam tujuh generasi air, di antara semua perpindahan dan kematian dan
tenggelam, nama daratan itu telah jatuh dari rantai dan tenggelam bersama
daratannya, dan yang tersisa hanyalah kebenaran bahwa ia pernah ada, dan tugas
untuk mengingat bahwa ia pernah ada, tapi bukan namanya, tidak lagi namanya.
❖
Itu adalah hal
yang akan tinggal bersama Rangin, lebih lama daripada hal lain yang dikatakan
ibunya malam itu: bahwa ada sebuah dunia di bawah air, dan bahwa ia harus
mengingatnya, tapi bahwa namanya telah hilang, dan maka ia harus mengingat
sesuatu yang ia tak bisa sepenuhnya namai.
Ia berbaring malam itu di kampung yang akan segera harus pindah lagi, di
atas lidah daratan yang menyempit di antara dua laut, dan ia menutup matanya,
dan ia bermimpi, sebagaimana ia selalu bermimpi, tentang daratan yang luas.
Tapi malam ini mimpinya berbeda, atau ia memandangnya dengan cara yang berbeda,
sebab kini ia tahu bahwa ia tidak hanya bermimpi. Ia mengingat. Daratan dalam
mimpinya adalah daratan yang nyata, daratan yang pernah ada, dan kerinduan yang
ia rasakan untuknya bukanlah kerinduan seorang anak akan negeri dongeng
melainkan kerinduan dari sebuah rantai yang sangat panjang akan tanah yang
melahirkannya. Ia berjalan, dalam mimpinya, di sepanjang sebuah kanal yang
lurus, melewati kota-kota yang saling memandang menyeberangi tanah yang datar, dan
di pasar tempat empat kanal bertemu ia melihat seorang gadis berjalan di depan
dan seorang gadis lain mengikuti, dan ia tahu, dengan pengetahuan yang datang
dari tempat yang lebih dalam daripada mimpi, bahwa dari kedua gadis itu ia
turun, dan bahwa salah satu dari mereka telah memberinya hal yang sekarang
membuatnya tak bisa tidur tanpa mengingat.
Dan di bawah kampung tempat Rangin tidur dan bermimpi, di bawah lidah
daratan yang menyempit, di bawah sumur yang kini asin, air bergerak. Tapi ia
tidak lagi bergerak sebagaimana ia bergerak dalam cerita tentang masa sebelum
laut. Ia tidak lagi menghitung. Ia tidak lagi menunggu. Ia telah datang, dan ia
tinggal, dan ia menutup di atas dunia yang dulu ada sebagaimana ia akan,
segera, menutup di atas dunia yang tersisa. Tapi di dalam air itu, ini adalah
hal yang tak diketahui oleh siapa pun di kampung, hal yang hanya diketahui oleh
seorang anak yang bermimpi dan oleh air itu sendiri, di dalam air itu, di
kedalaman tempat tujuh generasi tanah kini terbaring tenggelam, ada sesuatu
yang bukan kekosongan. Ada ingatan. Sebab air menyimpan segala sesuatu yang
jatuh ke dalamnya, dan selama tujuh generasi ia telah menyimpan sebuah dunia,
dan kini, di dalam darah seorang anak yang mengingat tanpa tahu nama yang ia
ingat, dunia yang tenggelam itu mulai, dengan sangat pelan, untuk berbisik
kembali ke permukaan.
❖
BAB DUA
Dua Laut
Ketika air datang dari satu sisi, kau
bisa lari ke sisi yang lain. Ketika ia datang dari kedua sisi, kau belajar
bahwa lari hanyalah cara lain untuk berdiri diam, dan menunggu.
yang dikatakan orang-orang terakhir
Nagara Rata
Tujuh generasi
sebelum Rangin bermimpi tentang kanal yang lurus, di malam-malam terakhir dunia
yang akan ia impikan, seorang perempuan tua bernama Sela berdiri di tempat yang
dulu adalah pusat daratan dan kini adalah tepi, dan ia memandang dua laut sekaligus.
Sebab itulah yang telah terjadi pada Nagara Rata, di tahun-tahun sejak ia
dan saudarinya berdiri di pantai selatan dan memandang laut menutupi pasar
mereka: laut tidak datang hanya dari selatan. Sela, yang mengingat, yang telah
menghabiskan hidupnya mengumpulkan tanda-tanda sebagaimana orang lain
mengumpulkan harta, adalah satu di antara sedikit yang memahami bentuk dari apa
yang sedang terjadi. Laut selatan telah lama datang, menelan kota demi kota,
mendorong orang ke utara. Tapi laut utara, yang dulu bahkan lebih jauh, yang
dulu hanya dongeng pedagang, laut utara juga telah datang, dari arah
berlawanan, menelan dari sisi yang lain. Dan apa yang tersisa dari Nagara Rata,
seluruh peradaban yang dulu membentang sejauh tujuh hari berjalan, kini
terjepit di antara keduanya, di atas sebuah punggung tanah yang menyempit
setiap musim, seperti seseorang yang berdiri di atas atap rumah yang tenggelam
sementara air naik dari segala penjuru.
Sela tua sekarang. Rambutnya yang dulu gelap telah memutih, dan tangannya
yang dulu bisa menenangkan lembu dengan satu sentuhan kini gemetar bila ia
memegangnya terlalu lama di udara, dan ia berjalan dengan kelambatan yang dulu
ia tonton dengan kasihan pada orang tua dari perbukitan, dan yang kini ia
pahami dari dalam: bahwa kelambatan itu bukan kelemahan melainkan sejenis
perhitungan, tubuh yang mengukur sisa kekuatannya dan membelanjakannya dengan
hati-hati. Bapa telah lama mati. Banyak yang ia kenal telah lama mati. Dan
saudarinya, saudarinya tidak mati, dan itu adalah hal yang paling sulit dari
semuanya, hal yang Sela memikirkannya tiap kali ia memandang laut selatan,
mengetahui apa yang menunggu di bawahnya.
❖
Sebab Awu telah
mulai turun.
Tidak seluruhnya, belum. Ritus menghalus, telah Sela pelajari dari apa
yang berani diceritakan Awu kepadanya dan dari apa yang ia simpulkan sendiri,
bukanlah satu peristiwa melainkan sebuah jalan, panjang dan bertahap, ditempuh
sepanjang tahun. Mereka yang memilihnya tidak menghilang dalam semalam ke dasar
laut. Mereka berubah perlahan, membuang waktu dari dalam diri mereka sehelai
demi sehelai, seperti orang melepas pakaian sebelum masuk ke air, dan sepanjang
perubahan itu mereka masih berjalan di antara yang hidup, masih tampak hampir
seperti manusia, tapi semakin lama semakin tidak. Sela telah melihat beberapa
dari mereka. Para bangsawan, para empu, mereka yang telah memilih jalan Awu.
Mereka tidak menua lagi. Itu adalah hal pertama yang orang perhatikan, dan hal
yang membuat orang takut pada mereka: di sebuah dunia di mana segala sesuatu
menua dan rusak dan tenggelam, ada sekelompok kecil yang tidak, yang wajahnya
tetap sama dari tahun ke tahun, yang berdiri di tengah keruntuhan dunia dengan
keutuhan yang dingin dan tak wajar, seperti buah yang menolak membusuk di
tengah saudara-saudaranya yang membusuk dengan sehat.
Dan Awu memimpin mereka. Awu, yang dulu berjalan di depan di hari pasar,
kini berjalan di depan menuju laut, dan mereka mengikutinya sebagaimana orang
Nagara Rata dulu mengikuti Bapa: dengan kepercayaan, dengan rasa lega telah
menemukan seseorang yang yakin di tengah dunia yang tak lagi menawarkan
kepastian. Sela jarang melihatnya sekarang. Mereka tinggal terpisah, Sela di
antara yang fana, mengajar, mengingat, menua; Awu di antara yang
setengah-halus, bersiap, menunggu, tak berubah. Tapi kadang-kadang, di malam
hari, Sela akan memandang ke arah pantai selatan, dan ia akan melihat cahaya di
sana, cahaya yang bukan api, cahaya pucat dan dingin yang berkumpul di tempat
para penghalus berkumpul, dan ia tahu bahwa di antara cahaya itu adalah
saudarinya, semakin jauh setiap tahun, semakin dingin, semakin dekat ke air
yang akan menjadi rumahnya selamanya.
❖
Sela tidak
sendirian, walau ia sering merasa sendirian, sebab ia telah melakukan apa yang
ia janjikan kepada dirinya sendiri akan ia lakukan: ia telah mengajar, dan di
antara murid-muridnya rantai telah mulai terbentuk.
Ia mengajari mereka mengingat. Bukan ramalan, bukan ilmu, melainkan
ingatan, kisah Nagara Rata sebagaimana ia sungguh adanya, kisah dunia yang luas
dan yakin yang tak percaya pada air sampai air datang. Ia mengajari mereka
tanda-tanda, supaya mereka bisa mengenalinya pada anak-anak mereka: mimpi
tentang air, kepekaan pada tanah, kemampuan untuk mendengar hal-hal yang
terlalu pelan untuk didengar orang lain. Dan ia mengajari mereka untuk
mewariskan, dan untuk menyuruh yang mewarisi untuk mewariskan lagi, supaya
rantai tak pernah putus.
Di antara murid-muridnya ada seorang gadis, bukan keturunannya, sebab
Sela tak punya anak, melainkan anak dari sebuah keluarga yang telah
mempercayakan anaknya kepadanya, seorang gadis yang, sejak ia kecil, telah
memimpikan air. Sela mengenali tanda itu pada saat ia melihatnya, sebab ia
telah hidup cukup lama dan mengamati cukup banyak untuk tahu seperti apa
rupanya: seorang anak yang bangun menangis dari mimpi tentang sesuatu yang ia
tak bisa namai, yang merasakan tanah bergerak di bawah kakinya ketika tak ada
orang lain yang merasakannya, yang membawa di dalam dirinya kerinduan akan
tempat yang tak pernah ia lihat. Sela mengambil gadis itu sebagai murid yang
paling ia percaya, dan ia mengajarinya lebih daripada ia mengajari yang lain,
sebab ia tahu, dengan pengetahuan yang membuatnya sedih dan lega sekaligus,
bahwa pada gadis inilah rantai akan berlanjut ketika Sela telah tiada.
“Kau akan mewariskannya, ” Sela berkata kepada gadis itu, suatu malam,
sebagaimana orang tua dari perbukitan pernah berkata kepadanya, di sebuah
halaman, di sebuah malam, tujuh puluh tahun dan seumur hidup yang lalu. “Aku
tak akan hidup untuk melihatmu melakukannya. Tapi kau akan, dan yang kau
wariskan kepadanya akan mewariskannya lagi, dan suatu hari, jauh dari sini, di
sebuah masa yang tak bisa kubayangkan, ketika daratan ini telah lama menjadi
dasar laut, seseorang yang membawa apa yang kuberikan kepadamu akan berdiri di
atas air ini, dan akan tahu bahwa di bawahnya, dulu, ada sebuah dunia.”
Dan gadis itu, yang kelak akan mewariskannya, dan yang warisannya akan
mewariskannya lagi, mundur dan mundur melalui tujuh generasi air sampai ke
seorang anak bernama Rangin yang belum akan lahir selama berabad-abad, gadis
itu mengangguk, dan menyimpan kata-kata itu, sebab ia adalah jenis yang
menyimpan, sebagaimana Sela adalah jenis yang menyimpan, sebagaimana semua dari
mereka di sepanjang rantai itu, sampai ke ujungnya yang tak terlihat, adalah
jenis yang menyimpan.
❖
Dan kemudian,
pada suatu malam ketika laut utara dan laut selatan terasa lebih dekat daripada
sebelumnya, Awu datang kepada Sela.
Ia datang di malam hari, sebagaimana ia selalu datang ke hal-hal yang
penting di malam hari, dan Sela mengenalinya bahkan dalam gelap, bahkan dari
jauh, bahkan setelah bertahun-tahun, tapi ia mengenalinya dengan sentakan,
sebab saudarinya telah berubah. Awu tidak menua. Itu adalah hal yang Sela tahu
akan ia lihat, dan tetap, melihatnya secara langsung adalah hal yang berbeda
dari mengetahuinya. Sela tua sekarang, tua dan bungkuk dan berbintik usia, dan
Awu, Awu tampak sebagaimana ia tampak bertahun-tahun lalu, di pantai, ketika
mereka berpisah. Tidak persis sama; ada sesuatu pada wajahnya yang telah
berubah, sesuatu yang lebih sulit dinamai daripada usia, sebuah kehalusan,
sebuah jarak, seolah-olah Sela memandangnya melalui air. Tapi ia tidak menua.
Adik yang dulu lebih tua kini, dalam segala hal kecuali yang sebenarnya, jauh
lebih muda dari saudarinya.
Mereka memandang satu sama lain untuk waktu yang lama, dua perempuan yang
dulu adalah dua gadis yang berjalan ke pasar, yang kini terpisah oleh sesuatu
yang lebih dalam daripada tahun-tahun.
“Kau sudah tua, ” kata Awu akhirnya, dan suaranya, suaranya juga telah
berubah, menjadi lebih pelan, lebih jauh, suara seseorang yang bicara dari
tempat yang sedikit terpisah dari dunia. Tapi di bawah perubahan itu ada
sesuatu yang tak berubah, sesuatu yang membuat air mata naik ke mata Sela tanpa
peringatan: kelembutan. Duka. “Aku tahu kau akan menua. Aku memilih ini
mengetahui kau akan menua, mengetahui aku akan berdiri di hadapanmu suatu hari
seperti ini, kau tua dan aku tidak. Tapi mengetahuinya dan melihatnya, ” ia
berhenti. “Aku tidak siap untuk melihatnya. Aku tidak tahu bagaimana untuk
siap.”
“Tak seorang pun siap, ” kata Sela, lembut. “Itulah yang kucoba katakan
kepadamu, dulu. Tak ada cara untuk siap kehilangan. Hanya ada cara untuk
menanggungnya, atau cara untuk menolaknya. Dan kau memilih menolak. Dan
sekarang kau berdiri di sini, dan kau melihat bahwa menolak tidak
menyelamatkanmu dari kehilangan, ia hanya mengubah bentuknya. Kau tidak akan
kehilangan aku pada kematian, sebagaimana saudara biasa kehilangan saudara. Kau
akan kehilangan aku sambil tetap ada untuk mengingatnya, selamanya, tanpa
kemurahan untuk menyusul.”
❖
Awu tidak
membantahnya, sebab ia tak bisa, sebab Sela telah mengatakan kebenaran yang Awu
telah habiskan bertahun-tahun mencoba untuk tidak mengetahuinya.
“Air akan datang sepenuhnya, segera, ” kata Awu, akhirnya, dan kini
suaranya adalah suara yang lain, suara seorang pemimpin, suara yang ia gunakan
untuk para penghalus yang mengikutinya, dan Sela menyadari dengan sedih bahwa
saudarinya mundur ke peran itu sebab peran itu lebih mudah ditanggung daripada
menjadi sekadar Awu, sekadar seorang adik yang berbicara dengan kakak yang
sekarat. “Tidak selutut tiap tujuh generasi lagi. Sepenuhnya. Punggung tanah
ini tak akan bertahan satu musim lagi. Kedua laut akan bertemu, di sini, di
tempat kita berdiri, dan apa yang tersisa dari Nagara Rata akan hilang dalam
satu malam. Aku datang, ” ia berhenti, dan untuk satu saat ia bukan pemimpin,
ia hanya Awu, dan Sela melihat di matanya hal yang sama yang ia lihat di tepi kanal
bertahun-tahun lalu, malam ketika saudarinya menangis untuk satu-satunya kali.
“Aku datang untuk bertanya sekali lagi. Yang terakhir. Turunlah bersamaku,
Sela. Aku tahu jawabanmu. Aku selalu tahu jawabanmu. Tapi aku tak bisa pergi ke
bawah air selamanya tanpa bertanya, satu kali lagi, di malam terakhir, dengan
kedua laut menunggu: turunlah bersamaku, supaya aku tidak harus mengingat
selamanya, sendirian.”
Dan Sela, yang tua, yang sekarat, yang telah menghabiskan hidupnya
mengingat, memegang tangan saudarinya yang tak menua, dan ia memberikan jawaban
yang sama yang ia berikan di tepi kanal, jawaban yang membelah sesuatu di dalam
dirinya bahkan setelah bertahun-tahun, bahkan ketika ia tahu ia akan
memberikannya. “Tidak, ” katanya. “Aku tak bisa. Tapi aku akan melakukan
sesuatu yang lain, Awu. Sesuatu yang akan berarti, kuharap, bahwa kau tidak
akan sepenuhnya sendirian. Aku tidak akan turun bersamamu. Tapi aku akan
tinggal, di atas, di air, sampai air mengambilku, dan aku akan melakukan satu
hal terakhir sebelum ia mengambilku, satu hal yang telah kupersiapkan sepanjang
hidupku tanpa tahu bahwa aku mempersiapkannya. Dan karena hal itu, suatu hari,
seseorang akan datang. Bukan untukmu. Bukan untukku. Untuk semua ini, untuk
dunia yang kita berdua, dengan cara kita masing-masing, mencoba untuk
menyelamatkan. Dan ketika mereka datang, Awu, ketika mereka akhirnya datang,
kau tidak akan sendirian lagi.”
Awu tidak mengerti, malam itu, apa yang dimaksud saudarinya, sebab Sela
sendiri tidak sepenuhnya mengerti, ia hanya tahu, dengan pengetahuan yang lebih
dalam daripada pemahaman, bahwa apa yang akan ia lakukan di malam banjir
bukanlah akhir melainkan sebuah benih, sesuatu yang ditanam di dalam air untuk
tumbuh sepanjang tujuh generasi dan lebih. Dan jauh di masa depan yang tak bisa
dilihat keduanya, di sebuah kampung di atas lidah daratan lain yang menyempit
di antara dua laut lain, seorang anak bernama Rangin bermimpi, malam ini,
tentang dua perempuan yang berdiri bersama di tepi dunia, satu tua dan satu tak
menua, memegang tangan satu sama lain di bawah langit yang gelap, dan ia
bangun, tujuh generasi kemudian, dengan air mata di wajahnya, tidak tahu
mengapa, mengingat sesuatu yang belum terjadi, atau yang telah terjadi begitu
lama yang lalu sehingga ia telah berputar kembali menjadi sesuatu yang akan
datang. Dan di bawah keduanya, di bawah dua malam yang terpisah tujuh generasi,
air yang sama menyimpan, dan menunggu, dan mulai, dengan sangat pelan, untuk
mengingat bersama mereka.
❖
BAB TIGA
Tak Ada Lagi Utara
Nenek moyang kami menertawakan orang
yang menyuruh mereka pergi. Kami tidak menertawakan siapa pun. Kami percaya
sepenuhnya. Dan kami menemukan bahwa percaya tidak menyelamatkan, bila tak ada
lagi tempat untuk dituju.
dari ajaran para pengingat
Pagi setelah
sumur berubah asin, kampung berkumpul untuk memutuskan apa yang harus
dilakukan, dan Rangin, yang masih terlalu muda untuk bicara di hadapan yang
tua, berdiri di tepi dan mendengarkan, dan apa yang ia dengar adalah sesuatu
yang ibunya telah ajarkan kepadanya untuk mengenalinya: suara sebuah bangsa di
ujung pilihan-pilihannya.
Sebab kampung ini tidak seperti Nagara Rata di masa lampau, tentang siapa
Rangin telah mendengar cerita. Mereka tidak menertawakan air. Mereka tak punya
kemewahan untuk menertawakannya; mereka telah hidup terlalu lama dengannya,
terlalu dekat dengannya, di lidah tanah yang menyempit ini. Setiap orang di
kampung tahu air datang. Setiap orang tahu sumur yang asin berarti mereka harus
pindah. Tak ada yang perlu diyakinkan, tak ada dewan yang menertawakan seorang
nabi. Mereka semua adalah keturunan dari nabi-nabi yang ditertawakan, dan
mereka telah mewarisi kepercayaan yang nenek moyang mereka tolak, dan mereka
telah menemukan, inilah kepahitan yang menggantung di udara pagi itu, bahwa
kepercayaan, yang dulu tampak seperti satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan
mereka, tidak menyelamatkan apa pun.
“Kita pindah ke utara, ” kata salah satu yang tua, sebab itulah yang
selalu dikatakan, itulah yang telah dikatakan selama tujuh generasi. Pindah ke
utara. Menjauh dari laut selatan. Itu adalah jawaban yang telah menyelamatkan
mereka setiap kali sebelumnya, jawaban yang telah membawa kampung ini, langkah
demi langkah, generasi demi generasi, dari suatu tempat yang jauh di selatan
yang kini berada di bawah air ke tempat mereka berdiri sekarang.
Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya, jawaban itu disambut dengan
kesunyian, bukan persetujuan. Sebab semua orang di kampung itu, bahkan yang
termuda, bahkan Rangin, tahu hal yang tak seorang pun mau menjadi yang pertama
mengucapkannya.
❖
Akhirnya seorang
perempuan tua mengucapkannya, sebab yang sangat tua kadang bisa mengucapkan
hal-hal yang tak bisa diucapkan oleh yang lebih muda, sebab mereka punya lebih
sedikit untuk kehilangan dengan mengucapkannya.
“Tak ada lagi utara, ” katanya.
Kata-kata itu menggantung di udara, dan tak seorang pun membantahnya,
sebab tak seorang pun bisa. Sebab itulah kebenaran yang telah mereka semua
hindari sepanjang pagi, kebenaran yang membuat pagi ini berbeda dari setiap
pagi sebelumnya dalam tujuh generasi pengunduran: bahwa laut utara, yang dulu
hanya dongeng, kini telah datang juga, dari arah berlawanan, dan bahwa kampung
mereka kini berdiri bukan di tepi satu laut melainkan di antara dua, di atas
sebuah punggung tanah yang menyempit dari kedua sisi, dan bahwa pindah ke utara
tidak lagi berarti menjauh dari air. Ia berarti berjalan menuju air yang lain.
Kemana pun mereka pindah sekarang, mereka pindah menuju laut. Dua laut telah
hampir bertemu, dan kampung berdiri di tempat terakhir di mana mereka belum
bertemu, dan tempat terakhir itu mengecil setiap musim, dan tak ada lagi tempat
tinggi untuk dituju, tak ada lagi tanah tawar di balik cakrawala, tak ada lagi
utara.
Rangin, mendengarkan dari tepi, merasakan sesuatu yang dingin menyebar di
dalamnya, sebab ia mengerti, dengan kejelasan yang melampaui usianya, apa
artinya ini. Selama tujuh generasi, nenek moyangnya telah lari, dan lari telah
menyelamatkan mereka, tidak menyelamatkan tanah, tidak menyelamatkan kota-kota
yang mereka tinggalkan, tapi menyelamatkan mereka, garis darah, rantai. Mereka
telah membeli waktu dengan terus bergerak. Tapi kini waktu yang bisa dibeli
telah habis. Lari telah membawa mereka ke ujung daratan, ke titik di mana dua
laut akan bertemu, dan di titik itu lari berhenti menjadi pelarian dan menjadi
hanya, menunggu. Menunggu di tempat yang sedikit lebih tinggi, sedikit lebih
lama, sampai air yang sama yang telah mengejar mereka selama tujuh generasi
akhirnya menutup jarak terakhir.
❖
Dan kemudian
Rangin bicara, walau ia terlalu muda untuk bicara, walau ibunya menggenggam
lengannya untuk menahannya, sebab apa yang ada di dalamnya terlalu besar untuk
ditahan.
“Ada tempat, ” katanya, dan suaranya, suara anak di tengah suara orang
dewasa, membuat kerumunan berbalik memandangnya. “Bukan di utara. Bukan di
tanah ini sama sekali. Aku melihatnya. Di dalam mimpi. Tanah tinggi, bukan
lidah tanah seperti ini, melainkan tanah yang naik, tanah yang air tak bisa
capai sebab ia terlalu tinggi, dengan punggung batu dan, ” ia mencari kata-kata
untuk hal yang ia hanya tahu dari tidur, “, dan gunung. Tanah dengan gunung.
Air tak pernah mencapai puncak gunung. Aku melihatnya, di sebelah timur, jauh,
di seberang air. Bila kita bisa menyeberang, ”
“Menyeberang dengan apa?” seseorang bertanya, tidak dengan kasar, tapi
dengan keletihan orang yang telah kehilangan kemampuan untuk berharap. “Kita
bukan orang laut. Kita orang tanah. Kita tak punya perahu yang bisa membawa
kampung menyeberangi laut yang terbuka. Dan bahkan bila kita punya, bila tanah
dengan gunung itu nyata, bila ia bukan sekadar mimpi anak, berapa banyak dari
kita yang akan sampai? Setengah? Seperempat? Kita akan menukar kematian yang
pasti di sini dengan kematian yang hampir pasti di air.”
“Hampir pasti bukan pasti, ” kata ibu Rangin, dan kini ia berdiri, di
samping anaknya, dan kerumunan memandangnya pula, sebab ia adalah pembawa
ingatan, dan suaranya membawa bobot yang lebih dari usianya. “Anakku melihat
tanah tinggi di timur. Aku tidak menyuruh kalian percaya karena ia mimpi. Aku
menyuruh kalian mempertimbangkannya karena dari semua yang ada di kampung ini,
ia adalah satu-satunya yang mendengar air sebagaimana nenek moyang kita
mendengarnya. Mimpinya tentang masa lalu selalu benar, ia telah menggambarkan
kota-kota yang tenggelam dengan rincian yang tak bisa ia ketahui, kanal-kanal
lurus, pasar tempat empat kanal bertemu. Bila ingatannya tentang apa yang telah
tenggelam benar, mengapa firasatnya tentang apa yang masih berdiri akan salah?”
❖
Dan di sanalah
kampung terbelah, sebagaimana orang-orang yang menghadapi sesuatu yang lebih
besar dari mereka selalu terbelah: bukan menjadi yang benar dan yang salah,
melainkan menjadi dua jenis ketakutan.
Sebab ada yang memilih untuk percaya pada tanah tinggi di timur, bukan
karena mereka yakin ia ada, melainkan karena gagasan untuk bergerak, untuk
mencoba, untuk mati sambil berusaha lebih bisa ditanggung bagi mereka daripada
gagasan untuk duduk di lidah tanah yang menyempit dan menunggu air. Dan ada
yang memilih untuk tinggal, bukan karena mereka tak percaya pada Rangin,
melainkan karena menyeberangi laut terbuka dalam perahu yang tak cukup, menuju
tanah yang hanya ada dalam mimpi seorang anak, terdengar bagi mereka bukan
seperti harapan melainkan seperti cara yang lebih cepat dan lebih kejam untuk
tenggelam. Keduanya takut. Keduanya benar untuk takut. Dan ketakutan mereka,
yang lahir dari sumber yang sama, membawa mereka ke arah yang berlawanan.
Rangin memandang kampungnya terbelah, dan ia merasakan sesuatu yang ia
kenali, walau ia tak tahu dari mana ia mengenalinya, sebuah gema, sebuah
pengulangan, perasaan bahwa ini telah terjadi sebelumnya. Dua jalan.
Orang-orang yang saling mencintai memilih arah yang berlawanan, masing-masing
karena ketakutan yang nyata, masing-masing tak bisa mengikuti yang lain. Ia tak
tahu bahwa ia sedang merasakan gema dari dua saudari di tepi kanal, tujuh
generasi lalu, yang darahnya ia bawa. Ia hanya tahu bahwa perpecahan ini terasa
kuno, terasa seperti sesuatu yang telah dijalani garis darahnya berkali-kali,
sebuah pola yang berulang setiap kali air mendekat: bahwa di hadapan akhir,
mereka yang paling saling mencintai pun menemukan bahwa mereka tak bisa
berjalan bersama.
“Aku akan menyeberang, ” kata Rangin, kepada ibunya, ketika kerumunan
mulai bubar ke dalam dua kelompoknya. “Tanah itu nyata. Aku tahu ia nyata,
sebagaimana aku tahu kota-kota tenggelam itu nyata. Aku akan menyeberang, dan
aku akan membawa ingatan ke seberang, ke tanah tinggi, ke tempat di mana air
tak bisa mencapainya. Itulah cara rantai bertahan, Ibu. Bukan dengan lari ke
utara sampai tak ada lagi utara. Dengan menyeberang ke tempat yang air tak bisa
ambil.”
❖
Malam itu Rangin
pergi ke tepi timur lidah daratan, ke tempat tanah berakhir dan laut dimulai,
dan ia memandang ke seberang air ke arah di mana, dalam mimpinya, tanah tinggi
berdiri.
Ia tak bisa melihatnya. Tentu saja ia tak bisa; ia terlalu jauh, di balik
cakrawala, di seberang air yang gelap dan luas. Tapi ia tahu ia ada di sana,
dengan pengetahuan yang lebih dalam daripada penglihatan, pengetahuan yang sama
yang membuatnya mengenali kanal-kanal tenggelam yang tak pernah ia lihat. Tanah
dengan gunung. Tanah yang air tak bisa ambil. Dan ia merasakan, memandang ke
arahnya, sesuatu yang aneh dan baru: bukan hanya kerinduan akan masa lalu yang
tenggelam, yang selalu ia rasakan, melainkan kerinduan akan masa depan yang
belum ada, sebuah tempat yang belum ia capai tapi yang sudah, entah bagaimana,
ia rindukan, seolah-olah ingatannya bekerja ke dua arah sekaligus, mengingat
apa yang telah hilang dan apa yang belum ditemukan dengan kerinduan yang sama.
Dan ia memikirkan apa yang ibunya katakan tentang nama yang hilang, bahwa
ada sebuah daratan di bawah air, dan bahwa ia harus mengingatnya, tapi bahwa namanya
telah jatuh dari rantai. Dan ia membuat, di tepi air gelap itu, di bawah
bintang-bintang yang nenek moyangnya pernah baca dan ia tak bisa, sebuah sumpah
kecil dan diam, sumpah seorang anak yang tak tahu bahwa ia sedang memperbarui
sumpah yang dibuat tujuh generasi lalu oleh seorang perempuan di air sebatas
dada: bahwa ia akan menyeberang, dan ia akan membawa ingatan itu ke tanah
tinggi, dan ia akan menjaganya sampai suatu hari nama yang hilang itu ditemukan
kembali, entah bagaimana, entah oleh siapa, di suatu masa yang ia tak bisa
bayangkan.
Dan di bawahnya, di air gelap yang memisahkan lidah daratan yang sekarat
dari tanah tinggi yang ia impikan, air bergerak. Ia adalah air yang sama yang
telah menelan tujuh generasi tanah, air yang sama yang menyimpan kota-kota
tenggelam dan pasar dan ladang dan dua saudari, satu yang telah lama menjadi
tanah dan satu yang masih ada di bawah sana, utuh dan dingin dan menunggu. Dan
air itu, yang menyimpan segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya, menyimpan kini
juga sumpah seorang anak yang memandang ke seberang, dan ia membawanya, pelan,
dalam arus yang tak terlihat, ke arah timur, ke tanah tinggi, ke gunung,
seolah-olah air itu sendiri, yang telah menghabiskan tujuh generasi mengambil,
kini mulai, dengan sangat pelan, untuk membawa sesuatu kembali: bukan tanah,
tanah tak bisa dikembalikan, melainkan ingatan tentang tanah, diteruskan dari
yang tenggelam kepada yang masih berdiri, melintasi air, menuju seorang anak
yang akan menyeberanginya dan tak akan pernah, sepanjang sisa hidupnya,
berhenti mengingat apa yang ada di bawahnya.
❖
BAGIAN II
Yang Turun dan Yang Tinggal
BAB EMPAT
Mereka yang Memilih Turun
Kami tidak melarikan diri dari air. Kami
pergi menemuinya, dan turun ke dalamnya, dan berkata kepadanya: kau tak bisa
mengambil apa yang sudah kuberikan dengan sukarela. Kami pikir itu adalah
kemenangan. Kami tak tahu bahwa itu hanya nama lain untuk menyerah.
tak pernah ditulis siapa pun, sebab
mereka yang memahaminya tak pernah keluar untuk menuliskannya
Awu tinggal
sekarang di tempat yang dulu adalah istana di pesisir selatan, di tepi air, dan
ia tinggal di sana bersama mereka yang telah memilih jalannya, dan tempat itu
tidak seperti tempat mana pun yang tersisa di dunia yang sekarat.
Sebab di seluruh sisa Nagara Rata, segala sesuatu sedang bergerak, sedang
rusak, sedang bersiap untuk tenggelam atau melarikan diri. Kampung-kampung
dikemas dan ditinggalkan. Orang-orang menua dan mati dan lahir dan menua lagi.
Air naik. Itulah dunia: gerak, perubahan, kehilangan yang tak henti. Tapi di
istana pesisir tempat Awu tinggal, tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang
berubah. Para penghalus, mereka yang telah berjalan jauh di jalan membuang
waktu dari dalam diri mereka, duduk di tempat yang sama dari hari ke hari,
dengan wajah yang sama, dalam keheningan yang sama, dan udara di antara mereka
memiliki kualitas yang membuat orang yang masih fana, bila ia berani masuk,
ingin segera pergi: kualitas sebuah ruangan tempat waktu telah berhenti, tempat
tak ada satu pun jam berdetak, tempat keabadian telah datang lebih awal dan
duduk, dingin dan utuh, menunggu air.
Awu berjalan di antara mereka sebagai pemimpin mereka, dan ia melihat
pada mereka apa yang ia tahu sedang terjadi pada dirinya sendiri, walau ia tak
punya cermin yang cukup jujur untuk menunjukkannya kepadanya. Mereka telah
berhenti menua, ya. Tapi mereka juga telah berhenti, hal-hal lain. Mereka
jarang bicara sekarang, dan ketika mereka bicara, suara mereka datang dari
tempat yang jauh, seolah-olah dari seberang air. Mereka tidak lagi tertawa.
Mereka tidak lagi menangis. Mereka tidak lagi, Awu memperhatikan dengan sesuatu
yang ia tak izinkan dirinya namai sebagai ketakutan, tampak menginginkan apa
pun, bahkan keabadian yang telah mereka pilih, bahkan air yang mereka tunggu.
Mereka hanya ada, semakin utuh dan semakin kosong, seperti buah-buah di rak
Empu Wani, dan Awu memimpin mereka, dan setiap hari ia menjadi sedikit lebih
seperti mereka.
❖
Empu Wani tidak
ikut menghalus, dan itu adalah hal yang Awu baru memahami maknanya di
tahun-tahun terakhir ini, dan pemahaman itu mengganggunya dengan cara yang tak
bisa ia hilangkan.
Sang empu telah menjadi sangat tua. Ia, yang telah mengajari begitu
banyak orang cara membuang waktu dari dalam diri mereka, telah membiarkan waktu
tetap di dalam dirinya sendiri, dan maka ia menua sebagaimana semua yang fana
menua, dan kini ia adalah seorang lelaki yang sangat tua dan sangat rapuh, yang
tangannya yang dulu halus kini gemetar, yang akan, segera, mati. Awu telah
bertanya kepadanya, sekali, mengapa. Mengapa ia mengajari semua ini, mengapa ia
membuka jalan ini, dan kemudian menolak untuk menempuhnya sendiri.
“Sebab seseorang harus tinggal untuk melihat, ” jawab Empu Wani. “Kalian
yang turun tidak akan melihat apa pun. Itulah yang tak kalian pahami, bahkan
kau, yang paling cerdas dari semuanya. Kalian pikir kalian turun untuk
menyaksikan dunia bertahan, untuk tinggal, utuh, sementara segala sesuatu yang
lain hilang. Tapi untuk menyaksikan sesuatu, kau harus berubah bersama waktu,
kau harus bergerak melalui saat demi saat, kau harus hidup. Dan kalian telah
memilih untuk berhenti. Kalian tidak akan menyaksikan dunia bertahan, anak.
Kalian akan berhenti pada satu saat, dan tinggal di saat itu, dan dunia akan
terus bergerak tanpa kalian, di atas kalian, melupakan kalian. Kalian tidak
akan menjadi penonton keabadian. Kalian akan menjadi, ” ia mencari kata, dan
menemukannya, dan kata itu tinggal bersama Awu lama setelahnya, “, perabotan.
Perabotan di dasar laut. Indah, dan utuh, dan tak berguna, dan sendiri.”
“Lalu mengapa kau mengajari kami?” Awu bertanya, dan untuk sekali ada
kemarahan dalam suaranya, kemarahan yang ia kira telah ia buang bersama waktu.
“Bila kau tahu ini, mengapa kau membuka jalannya?”
“Sebab kalian akan menemukannya tanpa aku, ” kata Empu Wani, lelah.
“Keinginan untuk tidak kehilangan lebih tua daripada aku, lebih tua daripada
Nagara Rata. Aku hanya menemukan caranya. Bila bukan aku, orang lain. Dan
setidaknya, dengan menemukannya sendiri, aku bisa berdiri di sini di ujung dan
memperingatkan kalian, walau aku tahu, aku selalu tahu, bahwa peringatan tidak
menghentikan siapa pun yang cukup takut. Aku memperingatkanmu sekarang, Awu,
sebab kau adalah yang terbaik dari mereka dan maka yang paling kusesali. Tapi
aku melihat di matamu bahwa kau tak akan berhenti. Kau sudah terlalu jauh. Kau
sudah hampir tak bisa lagi merasakan apa yang akan kau hilangkan.”
❖
Malam itu,
sendirian, Awu mencoba untuk merasakan.
Itu telah menjadi sesuatu yang harus ia coba sekarang, sebuah usaha, di
mana dulu ia hanya perlu hidup dan perasaan datang sendiri. Ia duduk di tepi
air, di tempat yang dulu adalah daratan dan kini adalah pantai, dan ia mencoba
untuk merasakan apa yang seharusnya ia rasakan: takut akan air yang naik, duka
atas dunia yang hilang, cinta pada saudarinya yang menua di suatu tempat di
utara. Ia tahu bahwa dulu ia merasakan hal-hal ini. Ia ingat merasakannya,
ingatannya masih utuh, akan selalu utuh, itulah kutukan dari apa yang ia pilih.
Ia bisa mengingat dengan tepat bagaimana rasanya mencintai Sela, bagaimana
rasanya menangis di tepi kanal, bagaimana rasanya takut. Tapi mengingat sebuah
perasaan bukanlah merasakannya, sebagaimana mengingat sebuah buah bukanlah
memakannya, dan Awu duduk di tepi air mencoba untuk memakan sebuah ingatan, dan
menemukan, sebagaimana ia tahu ia akan menemukan, bahwa ia tak bisa.
Perasaan telah menjadi seperti sesuatu yang dilihat dari jarak jauh. Ia
masih ada, ia bisa melihatnya, di sana, di tempat ia dulu, tapi ia tak bisa
lagi menjangkaunya, tak bisa lagi masuk ke dalamnya. Dan ia menyadari, dengan
sesuatu yang akan menjadi kengerian bila kengerian itu sendiri tidak juga
memudar, bahwa inilah yang sebenarnya ia buang ketika ia membuang waktu: bukan
hanya penuaan, bukan hanya kematian, melainkan kemampuan untuk berada di dalam
saat ini, untuk merasakan apa pun sepenuhnya, untuk disentuh oleh dunia. Waktu,
ia mulai memahami terlalu terlambat, bukanlah musuh yang ia kira. Waktu adalah
apa yang memungkinkan perasaan. Sesuatu harus bergerak, harus berubah, harus
lewat, supaya hati bisa tersentuh olehnya. Sebuah saat yang tak pernah lewat
adalah saat yang tak pernah benar-benar dialami. Dan ia telah memilih sebuah
keabadian dari saat-saat yang tak pernah lewat, dan maka ia telah memilih,
tanpa mengetahuinya, sebuah keabadian dari tak pernah benar-benar mengalami apa
pun lagi.
Ia mencoba untuk menangis. Ia ingat bahwa menangis pernah membawa
kelegaan. Tapi air mata tak datang, sebab air mata juga adalah sesuatu yang
lewat, dan tak ada lagi yang lewat di dalam Awu. Ia hanya duduk, kering dan
utuh dan dingin, di tepi air yang akan segera menjadi rumahnya, dan ia
memandang ke utara, ke tempat saudarinya, dan ia mencoba untuk merindukannya,
dan ia hanya bisa mengingat bagaimana rasanya merindukan.
❖
Kabar datang, di
hari-hari itu, bahwa dua laut telah hampir bertemu.
Punggung tanah yang menghubungkan apa yang tersisa dari Nagara Rata
dengan dunia yang lebih luas telah menyempit sampai ke titik di mana, pada
pasang tinggi, air dari kedua sisi hampir bersentuhan, dan orang-orang yang
masih fana berlarian di lidah tanah yang menyempit itu seperti semut di atas
ranting yang tenggelam, sebagian berusaha menyeberang ke timur dalam perahu
yang tak cukup, sebagian berkumpul di tempat-tempat yang sedikit lebih tinggi
untuk menunggu apa yang tak bisa lagi mereka hindari. Awu mendengar kabar
tentang mereka dengan jarak yang sama dengan jarak yang kini memisahkannya dari
segala hal, ia tahu mereka menderita, ia tahu mereka takut, ia bisa mengingat
bagaimana rasanya menderita dan takut, tapi ia tak bisa lagi merasakannya
bersama mereka, dan maka penderitaan mereka sampai kepadanya seperti kabar dari
negeri yang jauh.
Tapi satu hal masih bisa menjangkaunya, satu hal saja, dan itu adalah
Sela. Sela, yang menua di utara, yang akan tenggelam bersama yang fana sebab ia
telah memilih untuk tenggelam, yang telah menolak, dua kali, untuk turun
bersama Awu. Bahkan melalui kabut yang kini memisahkan Awu dari semua perasaan,
pikiran tentang Sela masih bisa menimbulkan sesuatu, bukan perasaan penuh,
tidak lagi, tapi sebuah bayangan perasaan, sebuah gema, cukup untuk membuat Awu
tahu bahwa di suatu tempat di bawah kedinginan yang telah ia pilih, sesuatu
masih hidup, sesuatu yang menolak untuk sepenuhnya membeku, dan bahwa sesuatu
itu berbentuk seperti saudarinya.
Dan maka, di malam-malam terakhir sebelum dua laut bertemu, Awu membuat
satu keputusan terakhir sebagai sesuatu yang masih cukup hidup untuk membuat
keputusan. Ia tidak akan turun tanpa melihat Sela sekali lagi. Bukan untuk
memohon, ia telah memohon, dua kali, dan ia tahu jawabannya, dan ia hampir tak
lagi punya cukup keinginan untuk memohon lagi. Melainkan hanya untuk
melihatnya. Untuk menyimpan, dalam ingatannya yang tak akan pernah berubah,
wajah saudarinya sebagaimana adanya di akhir, supaya di dasar laut, sepanjang
sepuluh ribu tahun, ketika tak ada lagi apa pun untuk dilihat atau dirasakan,
Awu setidaknya akan punya itu: ingatan sempurna dan tak berubah tentang wajah
satu-satunya orang yang pernah membuatnya merasakan apa pun sama sekali.
❖
Maka Awu
meninggalkan istana pesisir, dan ia berjalan ke utara, melawan arus para
pengungsi yang berjalan ke segala arah mencari tanah yang tak ada, dan ia
adalah satu-satunya yang berjalan dengan tenang, sebab ia adalah satu-satunya
yang tak lagi punya apa pun untuk ditakuti.
Mereka yang melihatnya lewat, para pengungsi, yang fana, yang ketakutan,
menyingkir dari jalannya, dan menatapnya dengan campuran takut dan iri yang
kini selalu menyertai para penghalus. Sebab di tengah dunia yang panik, Awu
berjalan tanpa panik. Di tengah dunia yang menua dan rusak, ia tidak menua dan
tidak rusak. Ia berjalan melewati mereka seperti sesuatu yang bukan dari dunia
mereka lagi, sesuatu yang dingin dan utuh dan sudah setengah tenggelam walau ia
masih berjalan di atas tanah, dan mereka menyingkir, dan sebagian dari mereka,
yang paling tua, yang paling ingat, berbisik, ketika ia lewat, kata yang telah
mulai mereka gunakan untuk para penghalus, kata yang akan, sepanjang sepuluh
ribu tahun, tumbuh menjadi nama dan legenda dan ketakutan: ratu. Ratu dari
mereka yang turun. Ratu dari laut.
Awu mendengar bisikan itu, dan ia tak merasakan apa-apa tentangnya, sebab
ia hampir tak lagi merasakan apa-apa. Ia hanya terus berjalan, ke utara, menuju
saudarinya, di bawah langit yang gelap dan di atas tanah yang menyempit,
sementara di kedua sisinya dua laut menunggu untuk bertemu. Dan jauh di masa
depan yang tak bisa ia bayangkan, tujuh generasi ke depan, di lidah tanah lain
di antara dua laut lain, seorang anak bernama Rangin bersiap untuk menyeberangi
air menuju tanah tinggi, membawa ingatan tentang dunia ini, tentang malam ini,
tentang seorang perempuan dingin yang berjalan ke utara untuk melihat
saudarinya sekali lagi, walau Rangin tak akan pernah tahu nama perempuan itu,
hanya akan memimpikannya, hanya akan bangun menangis tanpa tahu mengapa. Dan di
antara dua malam yang terpisah tujuh generasi, di bawah dua lidah tanah yang
menyempit di antara dua pasang laut, air yang sama bergerak, dan menyimpan, dan
menunggu, menunggu Awu untuk turun ke dalamnya dan tinggal, menunggu Rangin
untuk menyeberanginya dan mengingat, menunggu, dengan kesabaran sesuatu yang
tahu ia akan menang dan tahu pula bahwa kemenangannya tak akan pernah
sepenuhnya menjadi miliknya, sebab di dalam air, di dalam yang turun dan yang
menyeberang, sebuah dunia yang tenggelam menolak, dengan sangat pelan, untuk
berhenti mengingat dirinya sendiri.
❖
BAB LIMA
Perahu yang Tak Cukup
Untuk menyelamatkan rantai, seseorang
harus memutuskan sebagian darinya. Itu adalah ilmu yang paling pahit yang
diwariskan para pengingat: bahwa tidak semua yang dicintai bisa dibawa
menyeberang, dan bahwa memilih siapa yang dibawa adalah memilih siapa yang
ditinggalkan.
dari ajaran para pengingat
Mereka membangun
perahu dari kampung itu sendiri, sebab tak ada lagi yang lain untuk
membangunnya.
Tak ada hutan di lidah tanah yang menyempit, tak ada pohon yang cukup
besar untuk dijadikan lambung perahu yang sesungguhnya. Maka mereka membongkar
rumah-rumah mereka. Tiang-tiang yang telah menyangga atap selama generasi
diturunkan dan diikat menjadi rangka. Papan-papan dinding dilepas dan disusun
menjadi lambung. Tali yang dulu mengikat ternak, kain yang dulu menjadi pakaian
dan layar tenda, segala sesuatu yang bisa mengapung atau mengikat yang
mengapung, semua dikumpulkan, dibongkar dari kehidupan yang dulu mereka jalani
dan dirakit kembali menjadi satu-satunya hal yang mungkin membawa mereka keluar
dari kehidupan itu. Rangin bekerja bersama yang lain, walau ia masih muda,
sebab di kampung yang sekarat tak ada yang terlalu muda untuk bekerja, dan
ketika ia melepas papan dari dinding rumah tempat ia dilahirkan, ia merasakan
sesuatu yang ganjil: bahwa ia sedang membongkar masa lalunya untuk membangun
masa depannya, bahwa rumah dan perahu tak bisa ada pada saat yang sama, bahwa
untuk pergi ia harus terlebih dulu menghancurkan tempat yang membuatnya ingin
tinggal.
Perahu-perahu itu, ketika selesai, tidak banyak, dan tidak baik. Mereka
adalah benda-benda yang dirakit oleh orang-orang tanah yang tak pernah
membangun perahu, dari bahan-bahan yang tak pernah dimaksudkan untuk menjadi
perahu, untuk menyeberangi air yang mereka tak pernah pelajari cara
menyeberanginya. Setiap orang yang memandangnya tahu kebenaran yang tak seorang
pun ucapkan: bahwa perahu-perahu ini mungkin tidak cukup. Bahwa air terbuka di
antara lidah tanah dan tanah tinggi di timur adalah air yang luas dan dalam dan
tak kenal ampun, dan bahwa benda-benda rapuh yang dirakit dari rumah-rumah yang
dibongkar ini mungkin akan pecah di tengahnya, dan menenggelamkan semua yang
mereka bawa, dan menjadi tak lebih dari cara yang lebih cepat untuk mati
daripada menunggu air di lidah tanah.
❖
Dan ketika
perahu selesai, kampung harus melakukan hal yang paling sulit yang pernah ia
lakukan: membagi dirinya.
Sebab perahu tak cukup untuk membawa semua, bahkan bila semua ingin
pergi, dan tidak semua ingin pergi. Ada yang telah memutuskan untuk tinggal,
yang terlalu tua untuk menyeberang, yang terlalu takut pada air terbuka, yang
lebih suka mati di tanah tempat mereka lahir daripada di air yang asing. Dan
ada yang telah memutuskan untuk pergi, dan di antara mereka pun harus ada
pilihan, sebab perahu tak bisa membawa semua yang ingin naik, dan maka harus
diputuskan siapa yang naik dan siapa yang tinggal, dan keputusan itu adalah
keputusan tentang siapa yang mungkin hidup dan siapa yang hampir pasti mati,
dan tak ada cara untuk membuatnya tanpa hati hancur.
Mereka memutuskannya sebagaimana orang-orang yang putus asa memutuskan
hal-hal seperti itu: dengan campuran kebijaksanaan dan kekejaman yang tak bisa
dipisahkan. Yang muda didahulukan, sebab yang muda membawa masa depan. Yang
membawa keterampilan didahulukan, sebab keterampilan dibutuhkan di tanah baru.
Dan yang membawa ingatan, inilah yang paling Rangin perhatikan, dan yang paling
membuatnya mengerti tempatnya di dunia, yang membawa ingatan didahulukan di
atas hampir semua yang lain. Sebab kampung itu, walau ia sekarat, walau ia
panik, masih memegang satu hal yang telah diwariskan kepadanya melalui tujuh
generasi: bahwa rantai ingatan tak boleh putus, bahwa lebih baik kehilangan
banyak orang daripada kehilangan yang membawa ingatan, sebab orang bisa lahir
kembali tapi ingatan yang hilang hilang selamanya.
Dan maka Rangin, yang masih muda dan membawa ingatan, diberi tempat di
perahu, tanpa pertanyaan, tanpa undian. Ia adalah salah satu yang pertama
dipilih untuk hidup. Dan ibunya, yang juga membawa ingatan, juga diberi tempat.
Tapi tidak semua yang dicintai Rangin diberi tempat, dan di sanalah, dalam
pemberian dan penolakan tempat-tempat di perahu yang tak cukup, kampung itu
mengalami perpisahannya yang sebenarnya.
❖
Nenek Rangin
memilih untuk tinggal.
Ia adalah ibu dari ibu Rangin, perempuan tua yang telah mewariskan
ingatan kepada putrinya yang mewariskannya kepada Rangin, sebuah mata rantai
yang hidup di antara Rangin dan masa lalu yang dalam. Ia terlalu tua untuk menyeberang;
ia tahu ini, dan ia tak berpura-pura sebaliknya. Dan ketika ibu Rangin memohon
kepadanya, dengan air mata, untuk mengambil tempatnya di perahu, untuk
membiarkan yang tua menggantikan yang muda, sebab bukankah itu yang seharusnya,
bukankah yang tua seharusnya memberi jalan kepada yang muda, nenek Rangin
menolak, dengan ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah berdamai
dengan akhir mereka.
“Tempatku bukan di perahu, ” katanya. “Tempatku di sini, di tanah,
sebagaimana tempat ibuku di tanah yang sekarang ada di bawah laut, sebagaimana
tempat ibunya di tanah yang bahkan lebih dalam. Kita semua tinggal di suatu
tempat, pada akhirnya. Aku akan tinggal di sini.” Ia memegang wajah Rangin di
antara kedua tangannya yang tua dan gemetar, dan ia memandangnya dengan mata
yang Rangin akan ingat selama sisa hidupnya. “Tapi kau, kau akan menyeberang.
Dan kau akan membawa apa yang kuberikan kepada ibumu dan ibumu berikan
kepadamu. Itulah caraku menyeberang, Rangin. Bukan dengan tubuhku; tubuhku
sudah lelah, dan ia akan tinggal di sini, dan air akan mengambilnya, dan itu
tak apa-apa. Aku menyeberang di dalam dirimu. Selama kau mengingat, aku tidak
benar-benar tinggal. Sebagian dariku menyeberangi air bersamamu, ke tanah
tinggi, dan akan terus menyeberang, dari kau ke anakmu, dari anakmu ke cucumu,
lama setelah tubuhku yang tua ini menjadi bagian dari dasar laut.”
Rangin menangis, sebab ia masih cukup muda untuk menangis tanpa malu, dan
sebab apa yang akan ia kehilangan terlalu besar untuk ditanggung tanpa air
mata. Tapi ia juga, di balik tangisnya, memahami sesuatu yang akan menjadi inti
dari siapa dirinya: bahwa mengingat bukanlah hal yang kecil, bukanlah
penghiburan yang lemah yang diberikan kepada mereka yang tak bisa menyelamatkan
apa yang mereka cintai. Mengingat adalah penyeberangan itu sendiri. Ia adalah
cara sesuatu yang tak bisa dibawa secara fisik tetap dibawa, cara yang tinggal
tetap pergi, cara yang mati tetap hidup. Neneknya akan tinggal dan tenggelam.
Dan neneknya akan menyeberang, di dalam Rangin, ke tanah tinggi, dan tak ada
kontradiksi di antara dua hal itu, sebab itulah yang dilakukan ingatan: ia membuat
dua hal yang tak mungkin menjadi benar pada saat yang sama.
❖
Malam sebelum
perahu berangkat, Rangin bermimpi lebih dalam daripada ia pernah bermimpi, dan
dalam mimpinya kedua lapis waktu yang ia bawa di dalam darahnya hampir
bersentuhan.
Ia bermimpi, sebagaimana ia selalu bermimpi, tentang daratan yang luas
dan tenggelam. Tapi malam ini ia melihat lebih dari yang pernah ia lihat. Ia
melihat sebuah lidah tanah yang menyempit di antara dua laut, bukan lidah
tanahnya sendiri, melainkan lidah tanah yang lain, lebih tua, di tempat yang
lain, tujuh generasi sebelum kelahirannya. Dan di atas lidah tanah itu ia
melihat seorang perempuan berjalan ke utara, sendirian, melawan arus
orang-orang yang melarikan diri, seorang perempuan yang berjalan dengan
ketenangan yang aneh dan dingin di tengah dunia yang panik, seorang perempuan
yang tidak menua. Dan Rangin tahu, dengan pengetahuan yang datang dari tempat
yang lebih dalam daripada mimpi, bahwa ia mengenal perempuan itu, bahwa
perempuan itu adalah bagian dari ceritanya sendiri, dari darahnya sendiri,
walau ia tak tahu bagaimana, walau ia tak tahu namanya.
Dan ia melihat, di kejauhan dalam mimpinya, seorang perempuan lain, tua,
bungkuk, berjalan dengan kelambatan usia, yang menunggu perempuan dingin itu,
dan Rangin tahu bahwa kedua perempuan itu akan bertemu, dan bahwa pertemuan
mereka adalah sesuatu yang penting, sesuatu yang menjadi akar dari rantai yang
membawanya ada. Tapi ia bangun sebelum mereka bertemu, sebagaimana ia selalu
bangun sebelum bagian yang paling penting, dengan air mata di wajahnya dan
dengan perasaan, yang kini sudah biasa baginya, walau tak pernah menjadi kurang
aneh, bahwa ia telah mengingat sesuatu yang belum terjadi, atau yang telah
terjadi begitu lama yang lalu sehingga ia telah berputar kembali menjadi
sesuatu yang masih menunggu untuk terjadi.
Ia berbaring dalam gelap, mendengarkan suara air di kedua sisi lidah
tanah, dan ia memikirkan kedua perempuan dalam mimpinya, dan ia memikirkan
neneknya yang akan tinggal, dan ia memikirkan tanah tinggi di timur yang belum
ia lihat, dan untuk pertama kalinya ia merasakan bahwa semua hal ini, masa lalu
yang tenggelam, masa kini yang sekarat, masa depan yang belum ada, bukanlah
hal-hal yang terpisah, melainkan satu hal, satu rantai panjang, dan bahwa ia
adalah titik tempat seluruh rantai itu lewat sekarang, titik tempat yang telah
tenggelam dan yang belum ditemukan bertemu dan menjadi satu di dalam darah
seorang anak yang akan menyeberangi air saat fajar.
❖
Perahu berangkat
saat fajar, ketika air paling tenang, dan kampung yang terbelah menyaksikan
dirinya berpisah menjadi dua: yang di atas air, dan yang di tepi.
Rangin berdiri di perahu di samping ibunya, dan ia memandang ke belakang,
ke tepi, di mana mereka yang tinggal berdiri menyaksikan mereka yang pergi.
Neneknya ada di sana, di depan, kecil dan tua dan tegak, tidak melambai, sebab
melambai adalah untuk perpisahan yang biasa, dan ini bukan perpisahan yang
biasa, melainkan hanya berdiri, memandang, menyimpan wajah cucunya sebagaimana
cucunya menyimpan wajahnya, supaya masing-masing akan membawa yang lain, di
dalam ingatan, ke tempat yang berbeda yang akan mereka tuju: yang satu ke dasar
laut, yang satu ke tanah tinggi. Dan Rangin memandang neneknya semakin mengecil
ketika perahu bergerak menjauh dari tepi, semakin kecil, sampai ia tak bisa
lagi membedakannya dari yang lain, sampai seluruh tepi menjadi satu garis tipis
di antara air dan langit, sampai garis itu sendiri menghilang di balik lengkung
air, dan lidah tanah tempat ia dilahirkan, dengan semua yang tinggal di
atasnya, lenyap ke dalam jarak seolah-olah ia tak pernah ada.
Tapi ia pernah ada. Rangin tahu ia pernah ada, dan akan terus tahu, dan
itulah seluruh maksudnya. Ia berdiri di perahu yang tak cukup, di atas air yang
dalam, menuju tanah yang hanya ia lihat dalam mimpi, dan ia memikul, semuda apa
pun ia, serapuh apa pun perahunya, seluruh bobot dari sebuah rantai yang
membentang mundur tujuh generasi ke seorang perempuan yang menelan tujuh
kerikil, dan yang membentang maju ke entah berapa generasi lagi, ke seseorang
yang suatu hari akan berdiri di atas semua air ini dan tahu namanya. Dan di
bawah perahu, di air yang dalam dan gelap yang memisahkan yang tenggelam dari
yang masih berdiri, air bergerak, air yang sama yang telah menelan tujuh
generasi tanah, air yang sama yang di kedalamannya seorang ratu duduk utuh dan
dingin dan menunggu, air yang sama yang menyimpan segala sesuatu yang jatuh ke
dalamnya. Dan ia membawa perahu Rangin di punggungnya, pelan, ke arah timur, ke
tanah tinggi, bukan dengan ramah, air tak pernah ramah, melainkan dengan
sesuatu yang lebih aneh daripada keramahan: dengan semacam pengakuan,
seolah-olah air tahu bahwa anak di atasnya membawa sesuatu yang bahkan air,
dengan segala kekuatannya untuk mengambil, tak akan pernah bisa benar-benar
menenggelamkan.
❖
BAB ENAM
Wajah untuk Sepuluh Ribu Tahun
Ada perpisahan yang kau ucapkan dengan
tahu kau akan bertemu lagi, dan ada perpisahan yang kau ucapkan dengan tahu kau
tidak akan. Tapi yang paling pahit adalah perpisahan yang kau ucapkan dengan
tahu bahwa salah satu dari kalian akan tetap ada, sendirian, mengingat
perpisahan itu selamanya.
dari ajaran para pengingat, tentang dua
saudari
Awu menemukan
saudarinya di tempat terakhir di utara di mana tanah masih cukup tinggi untuk
menahan air, sebuah kampung kecil yang berkerumun di sekitar tanah tinggi
seperti orang berkerumun di sekitar api di malam yang dingin.
Ke tempat inilah Sela telah pindah di tahun-tahun terakhir, bukan untuk
menyelamatkan dirinya, ia tahu tak ada yang bisa diselamatkan, ia tak pernah
berpura-pura sebaliknya, melainkan untuk berada di antara orang-orang yang
masih bisa diajar, masih bisa diberi ingatan untuk diwariskan. Sebab itulah
yang telah Sela lakukan sepanjang hidupnya yang panjang, dan yang ia terus
lakukan bahkan kini, bahkan di ujung: mengajar, mengingat, menempa rantai yang
akan menyeberangi air yang akan datang. Di kampung tanah tinggi itu, di antara
murid-muridnya dan murid-murid dari murid-muridnya, Sela telah menjadi sesuatu
yang lebih dari seorang perempuan tua. Ia telah menjadi sebuah sumber, sebuah
mata air ingatan, tempat orang datang untuk menimba apa yang harus mereka bawa
ke tanah yang lebih tinggi ketika air ini pun, akhirnya, datang.
Ketika Awu masuk ke kampung itu, orang-orang menyingkir darinya,
sebagaimana orang selalu menyingkir dari para penghalus sekarang. Mereka
mengenali apa yang ia adanya, yang tak menua, yang dingin, ratu dari mereka
yang turun, dan mereka takut padanya, dan ketakutan mereka membuka jalan
baginya melalui kampung, sebuah lorong kesunyian, sampai ke tempat di mana
saudarinya duduk. Dan ketika Awu mencapai Sela, dan kedua perempuan itu
memandang satu sama lain, seluruh kampung menahan napas, sebab bahkan mereka yang
tak tahu cerita kedua saudari bisa merasakan bahwa sesuatu yang sangat tua dan
sangat besar sedang mencapai akhirnya di hadapan mereka.
❖
Sela sangat tua
sekarang, lebih tua daripada ketika Awu terakhir melihatnya, begitu tua
sehingga ia tampak hampir tembus cahaya, seperti sesuatu yang telah hampir
selesai diubah oleh waktu menjadi ingatan tentang dirinya sendiri.
Ia tak bisa lagi berdiri tanpa bantuan. Ia duduk, dibungkus kain terhadap
dingin yang kini selalu ia rasakan, dan tangannya, tangan yang dulu menenangkan
lembu, yang dulu mengubur seekor burung, yang dulu menekan tanah dan merasakan
sesuatu menjawab, tangannya terbaring di pangkuannya seperti dua benda yang
telah lelah. Tapi matanya tidak tua. Itulah yang menghantam Awu, melalui kabut
yang memisahkannya dari semua perasaan: bahwa mata saudarinya masih mata yang
sama, masih hidup, masih melihat, masih, dan inilah yang nyaris, nyaris,
menembus kedinginan Awu, masih penuh dengan cinta ketika mereka memandangnya.
“Kau datang, ” kata Sela. Suaranya tipis sekarang, tapi jelas. “Aku
berharap kau akan datang. Aku tak berani memintanya, sebab aku tahu betapa jauh
kau telah pergi ke dalam jalanmu, dan aku tahu betapa sulit bagimu untuk
merasakan apa pun yang cukup untuk membawamu kembali ke utara. Tapi aku
berharap. Dan kau datang.”
“Aku datang untuk melihatmu, ” kata Awu, dan suaranya datang dari tempat
yang jauh, seberang air, dingin dan rata. “Bukan untuk memohon. Aku tak akan
memohon lagi; aku hampir tak punya cukup yang tersisa di dalamku untuk memohon.
Aku datang hanya untuk melihatmu. Untuk menyimpanmu. Air akan datang sepenuhnya
dalam beberapa malam, kedua laut hampir bertemu, dan ketika mereka bertemu,
semua ini akan hilang dalam satu malam. Aku akan turun sebelum itu. Dan aku
ingin membawa, ke bawah, ke tempat aku akan tinggal selamanya, satu hal:
wajahmu. Sebagaimana adanya sekarang. Di akhir. Aku ingin menyimpannya, utuh,
supaya sepanjang sepuluh ribu tahun di dasar laut, ketika tak ada lagi apa pun
untuk dilihat, aku akan punya wajahmu untuk diingat.”
❖
Dan Sela,
mendengar ini, menangis, ia masih bisa menangis, ia akan bisa menangis sampai
akhir, itu adalah salah satu hal yang ia pilih dengan memilih untuk tetap fana,
dan air matanya bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk dunia yang akan
tenggelam, melainkan untuk saudarinya.
“Oh, Awu, ” katanya. “Dengar dirimu. Kau datang sejauh ini, sejauh
seluruh daratan yang sekarat, untuk menyimpan wajahku, dan kau tak bisa lagi
merasakan mengapa kau menginginkannya. Aku bisa mendengarnya dalam suaramu. Kau
ingat bahwa kau mencintaiku. Kau ingat bahwa wajah seseorang yang dicintai
adalah hal yang berharga untuk disimpan. Tapi kau tak bisa lagi merasakan
cintanya, kan? Kau hanya bisa mengingat bahwa kau dulu merasakannya, dan bertindak
menurut ingatan itu, seperti orang yang mengikuti peta ke tempat yang tak bisa
lagi ia lihat.”
Awu tidak menjawab, sebab tak ada yang bisa ia jawab, sebab saudarinya
telah mengatakan kebenaran yang persis, kebenaran yang Awu sendiri telah
temukan di tepi air dan tak bisa ubah.
“Itulah yang paling kutangisi, ” Sela melanjutkan, pelan. “Bukan bahwa
kau akan turun. Bukan bahwa kau akan tinggal di dasar laut. Melainkan bahwa kau
akan menyimpan wajahku selama sepuluh ribu tahun, dan sepanjang sepuluh ribu
tahun itu kau tak akan bisa merasakan mengapa ia berharga. Kau akan
memandangnya, di dalam ingatanmu yang sempurna, dan ia akan menjadi sebuah
gambar yang sempurna dari sesuatu yang dulu kau cintai, dan kau tak akan bisa
lagi mencintainya. Itu bukan menyimpan, Awu. Itu adalah bentuk kehilangan yang
paling kejam: kehilangan kemampuan untuk mencintai apa yang kau simpan, sambil
menyimpannya dengan sempurna, selamanya. Aku lebih suka kau melupakan wajahku
sepenuhnya daripada mengingatnya tanpa bisa mencintainya.”
❖
Mereka duduk
bersama untuk waktu yang lama setelah itu, dua saudari di ujung dunia, dan tak
banyak yang dikatakan, sebab tak banyak yang tersisa untuk dikatakan, dan sebab
kehadiran kadang lebih banyak berkata daripada kata-kata.
Tapi sebelum Awu pergi, sebab ia harus pergi, sebab air memanggilnya,
sebab ada ritus yang harus diselesaikan sebelum kedua laut bertemu, Sela
memegang tangan saudarinya untuk terakhir kalinya, dan ia mengatakan hal yang
telah ia simpan, hal yang ia tak sepenuhnya mengerti tapi tahu ia harus
mengucapkannya.
“Aku akan melakukan sesuatu, di malam banjir, ” katanya. “Sesuatu yang
telah kupersiapkan sepanjang hidupku tanpa tahu bahwa aku mempersiapkannya. Aku
tidak akan menceritakannya kepadamu, sebab aku sendiri belum sepenuhnya tahu
apa ia, hanya bahwa aku harus melakukannya, dan bahwa karena hal itu, sesuatu
dari dunia ini akan bertahan dengan cara yang berbeda dari caramu bertahan.
Bukan utuh dan beku seperti dirimu. Hidup, dan berubah, dan diwariskan. Dan
suatu hari, Awu, jauh, lebih jauh daripada yang bisa kita bayangkan, ketika
sepuluh ribu tahun telah lewat dan kau telah lama dilupakan oleh dunia yang
berjalan di atasmu, suatu hari sesuatu yang kumulai malam itu akan sampai
kepadamu. Aku tak tahu bagaimana. Aku tak tahu dalam bentuk apa. Tapi aku
berjanji kepadamu, saudariku, dengan satu-satunya hal yang masih bisa
kujanjikan: bahwa kau tidak akan sendirian selamanya. Sepuluh ribu tahun,
mungkin. Tapi tidak selamanya. Suatu hari, sesuatu yang kumulai akan datang
untukmu, dan kau tidak akan sendirian lagi.”
Awu memandangnya, dan untuk satu saat, satu saat saja, tapi nyata, tapi
sungguh-sungguh ada, sesuatu menembus kedinginan. Bukan perasaan penuh; ia
telah kehilangan kemampuan untuk perasaan penuh. Tapi sebuah bayangan, sebuah
gema, cukup untuk membuat sesuatu yang basah muncul di mata yang ia kira telah
kering selamanya. Bukan air mata; air mata telah meninggalkannya. Tapi sesuatu
yang dekat dengan air mata, sejauh yang masih bisa ia capai. “Aku akan
menunggu, ” katanya, dan ia tak tahu mengapa ia mengatakannya, sebab menunggu
adalah sesuatu yang dilakukan oleh mereka yang masih merasakan waktu berlalu,
dan ia tak lagi merasakannya. Tapi ia mengatakannya, dan dalam mengatakannya ia
memberi saudarinya hal terakhir yang bisa ia berikan: kepercayaan. “Sepuluh ribu
tahun. Aku akan menunggu apa yang kau mulai.”
❖
Lalu Awu pergi,
ke selatan, kembali ke air yang menunggunya, dan Sela menyaksikannya pergi dari
tempat ia duduk, tak bisa berdiri untuk mengantarnya, hanya bisa memandang
punggung saudarinya semakin mengecil di sepanjang tanah tinggi sampai ia
menghilang.
Dan Sela tahu, memandangnya pergi, bahwa ia tak akan melihatnya lagi,
bukan dalam hidup ini, yang tinggal beberapa malam lagi, dan bukan sesudahnya,
sebab mereka telah memilih dua jenis keabadian yang tak akan pernah bertemu:
Sela akan tenggelam dan menjadi tanah dan diwariskan sebagai ingatan, dan Awu
akan turun dan tinggal utuh dan beku, dan di antara dua nasib itu tak ada
tempat pertemuan, tak ada ruang di mana seorang kakak yang telah menjadi
ingatan bisa duduk bersama seorang adik yang telah menjadi patung. Mereka telah
saling mencintai seumur hidup, dan mereka tak akan pernah, dalam segala waktu
yang akan datang, berada di tempat yang sama lagi.
Kecuali, dan inilah hal yang Sela pegang, memandang saudarinya
menghilang, hal yang membuatnya bisa menanggung perpisahan ini, kecuali melalui
apa yang akan ia lakukan di malam banjir. Sebab ia telah berjanji bahwa Awu
tidak akan sendirian selamanya, dan ia bermaksud menepati janji itu, walau ia
tak tahu bagaimana, walau ia hanya tahu bahwa di dalam dirinya ada sesuatu yang
telah tumbuh sepanjang hidupnya menuju malam ini, sesuatu yang melibatkan air
dan ingatan dan tujuh kerikil yang belum ia telan, sesuatu yang akan menanam,
di dasar laut yang akan menelan dunia, sebuah benih yang akan tumbuh sepanjang
tujuh generasi dan lebih, dan yang suatu hari, di suatu masa yang tak bisa ia
bayangkan, akan sampai kepada saudarinya yang menunggu di kedalaman, dan
membebaskannya.
Dan jauh di masa depan itu, tujuh generasi ke depan, di atas air yang
akan menutupi semua ini, sebuah perahu yang tak cukup membawa seorang anak
bernama Rangin ke arah timur, ke tanah tinggi, dan anak itu tidur di perahu
yang bergoyang dan bermimpi, malam ini, malam yang sama, walau terpisah tujuh
generasi, tentang dua saudari yang berpisah di ujung dunia, satu pergi ke
selatan menuju air dan satu tinggal di utara untuk menanam benih di dalam air.
Dan Rangin bangun, di atas air yang dalam, dengan air mata di wajahnya,
mengingat sebuah janji yang dibuat sebelum ia lahir, sebuah janji yang ia
sendiri, tanpa tahu, sedang membawa menyeberangi air untuk ditepati. Dan di
bawah keduanya, di bawah dua malam yang terpisah tujuh generasi, air yang sama
menyimpan, dan menunggu, dan untuk pertama kalinya dalam seluruh cerita yang
panjang ini, air itu menyimpan bukan hanya apa yang telah jatuh ke dalamnya,
melainkan juga sebuah janji tentang apa yang suatu hari akan naik kembali
darinya.
❖
BAGIAN III
Penyeberangan dan Sumpah
BAB TUJUH
Suara di Bawah Air
Air yang mengambil dan air yang
menyimpan adalah air yang sama. Inilah yang tak dipahami oleh mereka yang hanya
takut padanya: bahwa di kedalaman yang sama yang akan menenggelamkanmu, segala
sesuatu yang pernah tenggelam masih ada, menunggu untuk didengar oleh siapa pun
yang cukup tenggelam untuk mendengarnya.
dari ajaran para pengingat
Hari-hari di
laut terbuka mengajari Rangin sesuatu yang tak pernah bisa diajarkan oleh
daratan, bahkan daratan yang sekarat: betapa kecil manusia, dan betapa besar
air.
Di darat, bahkan di lidah tanah yang menyempit di antara dua laut, selalu
ada sesuatu yang menjadi ukuran, sebuah pohon, sebuah bukit, sebuah garis
pantai, sesuatu yang dengannya seseorang bisa berkata: aku sebesar ini, dunia
sebesar itu. Tapi di laut terbuka tak ada ukuran. Ada air ke segala arah,
sampai ke tempat air bertemu langit, dan di antara air dan langit hanya ada
perahu-perahu kecil yang dirakit dari rumah-rumah yang dibongkar, dan di dalam
perahu-perahu itu orang-orang yang telah meninggalkan segalanya, dan di
sekeliling mereka tak ada apa pun yang bisa berkata kepada mereka seberapa
kecil mereka, kecuali perasaan di dalam perut yang tak butuh diberitahu. Rangin
memandang ke segala arah dan tak melihat apa-apa kecuali air, dan ia merasakan
dirinya menyusut, hari demi hari, menjadi sebuah titik yang nyaris tak ada di
atas sesuatu yang nyaris tak berujung.
Air dan makanan dijatah dengan kekejaman yang diperlukan. Beberapa yang
tua dan yang lemah tidak bertahan melewati hari-hari pertama, dan tubuh mereka
dikembalikan ke air dengan upacara sesingkat yang bisa ditanggung hati, sebab
di perahu yang penuh tak ada ruang untuk yang mati, dan sebab air, pada
akhirnya, adalah tempat semua orang akan pergi. Rangin menyaksikan ini, dan ia
menyimpannya, sebab ia adalah jenis yang menyimpan, dan ia mengerti bahwa ia
sedang menyaksikan hal-hal yang harus diingat: bagaimana sebuah bangsa mati
sedikit demi sedikit dalam perjalanan untuk menyelamatkan dirinya, bagaimana
harga dari menyeberang dibayar bukan sekaligus di akhir melainkan
terus-menerus, sepanjang jalan, dalam mata uang orang-orang yang dicintai.
❖
Badai datang
pada hari yang tak bisa Rangin hitung lagi, sebab hari-hari telah berhenti
memiliki angka dan menjadi hanya terang dan gelap yang berganti di atas air
yang sama.
Ia datang sebagaimana badai laut datang kepada orang-orang yang tak
mengenal laut: tanpa peringatan yang bisa mereka baca. Mungkin ada peringatan,
mungkin langit telah mengubah warnanya, mungkin air telah mengubah geraknya,
mungkin seorang pelaut sejati akan melihatnya datang dari jauh dan bersiap.
Tapi mereka bukan pelaut. Mereka orang tanah di atas air, dan maka badai jatuh
ke atas mereka seolah-olah dari ketiadaan, langit yang tiba-tiba hitam, angin
yang tiba-tiba menjerit, dan air, air yang tadinya datar dan tak berujung, air
tiba-tiba bangkit, menjadi bukit, menjadi gunung, mengangkat perahu-perahu
kecil ke puncak yang mengerikan lalu menjatuhkannya ke lembah yang lebih
mengerikan, dan di antara puncak dan lembah segala sesuatu adalah air dan
jeritan dan gelap.
Perahu-perahu tercerai. Itu adalah hal pertama yang hilang: kebersamaan,
gagasan bahwa mereka menyeberang bersama. Dalam badai tiap perahu menjadi
dunianya sendiri, terisolasi oleh dinding-dinding air, dan Rangin, berpegang
pada perahunya bersama ibunya dan yang lain, tak bisa lagi melihat
perahu-perahu yang lain, tak tahu apakah mereka masih mengapung atau telah
pecah, tak tahu apakah ia menyaksikan kematian sebuah bangsa atau hanya satu
malam buruk yang akan dilewati. Air masuk ke perahu lebih cepat daripada yang
bisa mereka keluarkan. Papan-papan yang dibongkar dari rumah-rumah mengerang
dan mulai terpisah, ikatan-ikatan yang dibuat oleh tangan orang tanah mulai
mengendur, dan Rangin mengerti, dengan kejelasan yang dingin di tengah
kekacauan, bahwa perahu yang tak cukup itu sedang membuktikan dirinya tak
cukup, persis sebagaimana semua orang takutkan, dan bahwa mereka akan
tenggelam, di sini, di tengah air, sebelum mencapai tanah tinggi mana pun.
❖
Dan kemudian
sebuah gunung air datang yang lebih besar dari semua yang sebelumnya, dan ia
mengangkat perahu, dan ia membaliknya, dan Rangin jatuh ke dalam laut.
Air menutup di atasnya, dan dunia atas, jeritan, angin, gelap yang
berkilat, lenyap, digantikan oleh dunia lain, dunia bawah, yang hening dengan
keheningan yang mengerikan dan total. Rangin tenggelam. Ia tak bisa berenang,
orang tanah tak belajar berenang, dan ia merasakan air menariknya ke bawah,
menjauh dari permukaan, ke dalam gelap yang dingin dan dalam, dan ia tahu,
dengan ketenangan aneh yang kadang datang pada saat-saat terakhir, bahwa ia
sedang mati, bahwa rantai akan putus di dirinya, bahwa semua yang neneknya
wariskan dan ibunya wariskan akan tenggelam bersamanya ke dasar laut dan
hilang.
Tapi kemudian, di dalam gelap, di bawah air, ia mendengar sesuatu.
Bukan dengan telinganya. Telinganya hanya mendengar gemuruh teredam air.
Ia mendengarnya dengan bagian dirinya yang sama yang selalu mendengar air,
bagian yang telah membuatnya bermimpi tentang kota-kota tenggelam sepanjang
hidupnya, bagian yang ibunya sebut warisan dari nenek dari neneknya. Dan apa
yang ia dengar, di kedalaman tempat ia tenggelam, bukanlah keheningan kematian
yang ia harapkan. Ia adalah suara. Banyak suara. Suara-suara yang datang dari
lebih dalam lagi, dari dasar yang tak bisa ia lihat, suara-suara dari segala
sesuatu yang pernah tenggelam ke dalam air ini sepanjang tujuh generasi dan
lebih, kota-kota, ladang-ladang, orang-orang, sebuah dunia yang luas dan
tenggelam, semuanya masih ada di sana, di bawah, tidak hidup tapi tidak
sepenuhnya hilang, tersimpan di dalam air sebagaimana air menyimpan segala
sesuatu yang jatuh ke dalamnya. Dan suara-suara itu, mendengar Rangin tenggelam
ke arah mereka, melakukan sesuatu yang tak pernah Rangin pahami sepenuhnya:
mereka menolaknya. Mereka mendorongnya kembali ke atas. Bukan dengan tangan,
bukan dengan kekuatan yang bisa dinamai, melainkan dengan semacam pengakuan,
semacam panggilan, belum, belum, kau membawa kami, kau harus naik, kau harus
mengingat, belum.
❖
Rangin kembali
ke permukaan, walau ia tak pernah tahu bagaimana, walau orang tanah yang tak
bisa berenang tak seharusnya kembali dari kedalaman seperti itu.
Tangan-tangan menariknya kembali ke perahu yang entah bagaimana masih
mengapung, terbalik kembali oleh gunung air yang sama yang membaliknya atau
oleh keberuntungan atau oleh sesuatu yang tak bisa dinamai, dan ibunya ada di
sana, memeganginya, menangis, dan badai masih mengamuk tapi kini mulai melemah,
gunung-gunung air mulai surut menjadi bukit lalu menjadi gelombang biasa,
langit mulai membuka. Mereka telah selamat. Sebagian dari mereka. Rangin tak
akan tahu sampai kemudian berapa banyak perahu yang hilang, berapa banyak yang
tenggelam, berapa harga yang dibayar malam itu. Tapi ia telah selamat, dan
ibunya telah selamat, dan rantai tidak putus.
Dan ia membawa kembali dari kedalaman sesuatu yang akan mengubah cara ia
memahami segala sesuatu: pengetahuan bahwa air bukanlah hanya yang mengambil.
Sepanjang hidupnya ia telah memahami air sebagaimana semua keturunan korban
memahaminya, sebagai musuh, sebagai yang menelan, sebagai akhir. Tapi di
kedalaman ia telah mendengar kebenaran yang lebih dalam: bahwa air yang sama
yang mengambil juga menyimpan, bahwa di dasar tempat segala sesuatu tenggelam,
segala sesuatu yang tenggelam masih ada, dan bahwa maka tenggelam bukanlah
sepenuhnya akhir melainkan juga sejenis pelestarian, sejenis ingatan yang
dilakukan oleh air itu sendiri. Dunia yang tenggelam tidak hilang. Ia ada di
bawah, tersimpan, menunggu. Dan tugas para pengingat, Rangin mulai memahami,
bukanlah melawan air, tak seorang pun bisa melawan air, melainkan menjadi suara
di atas air bagi apa yang air simpan di bawahnya, menjadi cara bagi yang
tenggelam untuk terus berbicara ke dunia yang masih terapung.
❖
Tanah tinggi
terlihat tiga hari setelah badai, dan ketika Rangin pertama melihatnya, sebuah
garis gelap di cakrawala timur, naik, dengan punggung yang tak rata, dengan
sesuatu di belakangnya yang lebih tinggi lagi, lebih biru, lebih jauh, ia tahu
sebelum siapa pun memberitahunya bahwa itu adalah tanah dari mimpinya.
Tanah dengan gunung. Tanah yang air tak bisa capai sebab ia terlalu
tinggi. Ia telah memimpikannya sepanjang hidupnya, dan kini ia melihatnya
dengan matanya yang bangun, dan ia sama persis dengan mimpinya, sampai ke
lengkung punggungnya, sampai ke warna birunya yang jauh. Dan Rangin merasakan,
memandangnya, sesuatu yang ia tak punya nama untuknya, bukan kelegaan, walau
ada kelegaan, melainkan sesuatu yang lebih besar: perasaan bahwa ia telah
menyeberang bukan hanya air, melainkan sesuatu yang lebih dalam dari air, bahwa
ia telah membawa sebuah dunia yang tenggelam menyeberangi laut yang
menenggelamkannya, ke tanah baru di mana ia bisa tumbuh kembali, berubah,
diwariskan, hidup. Yang tenggelam telah menyeberang, di dalam dirinya, ke tanah
yang air tak bisa ambil.
Ia berdiri di perahu yang nyaris pecah, di antara orang-orang yang nyaris
mati, memandang tanah tinggi yang naik dari laut, dan ia membuat, sebagaimana
ia membuat di tepi air sebelum menyeberang, sebagaimana seorang perempuan
membuat di air sebatas dada tujuh generasi sebelumnya, sebuah sumpah diam:
bahwa ia akan membangun, di tanah tinggi itu, sebuah tempat di mana ingatan
tentang dunia yang tenggelam akan dijaga, diwariskan, dijaga agar tak pernah
putus, sampai suatu hari nama yang hilang itu ditemukan kembali. Dan di bawah perahunya,
di air yang dalam yang telah hampir menelannya dan kemudian menolaknya, air
bergerak, air yang sama yang menyimpan dunia yang tenggelam, air yang sama yang
di kedalamannya seorang ratu duduk utuh dan menunggu, air yang sama yang malam
ini, tujuh generasi di masa lalu, sedang naik untuk menelan dunia dan menerima
sumpah seorang perempuan yang berdiri di dalamnya sampai sebatas dada. Dan air
itu membawa perahu Rangin ke tanah tinggi dengan sesuatu yang nyaris seperti
kelembutan, sebab ia tahu, sejauh air bisa tahu, bahwa anak yang ia bawa adalah
suara yang akan berbicara, di dunia atas, bagi segala sesuatu yang ia simpan di
bawah; dan bahwa selama suara seperti itu ada, dunia yang tenggelam tidak akan
pernah sepenuhnya tenggelam, dan ratu yang menunggu di kedalaman tidak akan,
pada akhirnya, menunggu selamanya.
❖
BAB DELAPAN
Malam Dua Laut Bertemu
Tahun itu menjadi Tahun Nol, sebab
sesudahnya tak ada yang sama, dan sebelumnya hanya bisa dihitung mundur. Segala
sesuatu yang pernah terjadi terjadi sebelum air; segala sesuatu yang akan
terjadi terjadi sesudahnya. Malam itu adalah engsel tempat dunia berputar dari
satu menjadi yang lain.
pembuka Kalender Para Pengingat, yang
menandai Sadurunge Banyu dan Sawise Banyu
Pada hari
terakhir dunia yang lama, punggung tanah yang menghubungkan apa yang tersisa
dari Nagara Rata dengan dunia yang lebih luas telah menyempit sampai ke titik
di mana seseorang yang berdiri di tengahnya bisa melihat kedua laut sekaligus,
ke kiri dan ke kanan, tanpa memalingkan kepala.
Itu adalah pemandangan yang tak seharusnya dilihat oleh manusia, dan
mereka yang melihatnya tahu bahwa mereka melihat sesuatu yang melampaui mereka:
dua laut, yang dulu adalah dua dunia yang terpisah oleh seluruh lebar sebuah
daratan, kini begitu dekat sehingga seorang anak bisa berjalan dari tepi yang
satu ke tepi yang lain dalam waktu yang dibutuhkan untuk menanak nasi. Dan di
antara dua laut itu, di atas jalur tanah terakhir, berkumpul apa yang tersisa
dari sebuah peradaban yang dulu membentang sejauh tujuh hari berjalan: beberapa
ribu orang, mungkin kurang, di tanah yang akan, semua orang tahu kini, tak
bertahan satu pasang lagi.
Tak ada lagi yang melarikan diri. Itulah yang membuat hari terakhir
berbeda dari semua hari sebelumnya dalam tujuh generasi pengunduran. Selama
tujuh generasi, selalu ada ke mana untuk pergi, ke utara, ke tanah yang lebih
tinggi, ke suatu tempat. Kini tak ada lagi. Mereka yang akan menyeberangi laut
dalam perahu telah pergi, generasi sebelumnya atau bahkan malam itu,
mempertaruhkan diri pada air terbuka. Mereka yang tersisa adalah mereka yang
tak bisa atau tak mau pergi, dan mereka berkumpul di tanah tertinggi yang
tersisa, dan mereka menunggu, sebab menunggu adalah satu-satunya hal yang
tersisa untuk dilakukan, dan mereka memandang dua laut yang mendekat dengan
ketenangan aneh dari orang-orang yang telah melewati ketakutan dan tiba di
sesuatu yang lebih tenang dan lebih gelap di seberangnya.
❖
Di pesisir
selatan, di tempat yang dulu adalah istana, para penghalus berkumpul untuk
turun, dan Awu memimpin mereka.
Mereka tidak menunggu air mengambil mereka. Itu adalah hal yang
membedakan mereka, sampai akhir, dari semua yang lain: mereka tidak ditelan,
mereka turun. Ketika pasang malam itu mulai naik, pasang terakhir, pasang yang
akan menyatukan dua laut, para penghalus berjalan ke dalam air dengan sengaja,
satu per satu, dengan ketenangan yang membuat mereka yang menyaksikan dari
kejauhan menggigil. Mereka tidak meronta. Mereka tidak takut. Mereka berjalan
ke dalam laut sebagaimana orang berjalan masuk ke rumah di akhir hari yang
panjang, dan air menutup di atas mereka, dan mereka tidak naik kembali, dan
mereka tidak tenggelam, mereka hanya turun, ke kedalaman yang telah mereka
pilih, ke keabadian dingin yang telah mereka siapkan sepanjang bertahun-tahun,
untuk tinggal di sana, utuh dan tak berubah, sementara dunia di atas mereka
berakhir.
Awu adalah yang terakhir turun, sebab seorang pemimpin turun terakhir,
dan sebelum ia turun ia berdiri sejenak di tepi air, di tempat antara daratan
yang sekarat dan laut yang menunggu, dan ia memandang ke utara untuk terakhir
kalinya. Ke tempat saudarinya. Ia tak bisa melihat Sela dari sini, terlalu
jauh, dan malam terlalu gelap, tapi ia tahu ke arah mana saudarinya berada, dan
ia memandang ke arah itu, dan ia mencoba, untuk terakhir kalinya sebagai
sesuatu yang masih cukup hidup untuk mencoba, untuk merasakan sesuatu. Dan ia
merasakan, bukan banyak, hanya sebuah bayangan, hanya gema dari gema, tapi ia
merasakan, dan ia memegang perasaan kecil itu seperti orang memegang nyala
terakhir dalam angin, dan ia membawanya turun bersamanya ke dalam air, satu
serpihan kecil perasaan, satu ingatan tentang mencintai saudarinya, untuk ia
simpan di dasar laut sepanjang sepuluh ribu tahun, satu-satunya hal hangat yang
akan ia miliki di tempat yang dingin.
Lalu Awu turun. Air menutup di atasnya. Dan di tempat yang dulu adalah
istana di pesisir selatan, di kedalaman yang akan menjadi rumahnya selamanya,
Ratu Kidul mengambil tempatnya di dasar laut, dan mulai menunggu apa yang
dijanjikan saudarinya kepadanya, walau ia hampir tak lagi tahu apa artinya
menunggu.
❖
Dan di utara, di
tanah tinggi terakhir, Sela tidak melarikan diri dan tidak turun, sebab ia
telah memilih jalan ketiga, jalan yang bukan jalan Awu dan bukan jalan para
pengungsi: ia memilih untuk tinggal, dan untuk tenggelam, dan untuk melakukan,
di saat tenggelam, satu hal yang telah ia persiapkan sepanjang hidupnya.
Ia terlalu tua untuk melarikan diri; ia tak bisa lagi berjalan jauh, tak
bisa naik perahu, tak bisa menyeberangi air terbuka. Dan ia tak akan turun
seperti Awu, tak akan membuang waktu dari dirinya untuk menjadi utuh dan beku.
Maka yang tersisa baginya adalah tenggelam sebagaimana yang fana tenggelam:
dimakan air, dikembalikan ke tanah, diakhiri. Tapi Sela tidak takut pada ini.
Ia telah menghabiskan seluruh hidupnya bersiap untuk mengingat dunia yang akan
tenggelam; kini ia akan tenggelam bersamanya, dan ada sesuatu yang tepat
tentang itu, sesuatu yang melingkar dan utuh: bahwa yang mengingat akan
tenggelam bersama yang diingat, dan dengan begitu menjadi bagian dari apa yang
ia simpan.
Murid-muridnya telah pergi. Ia telah mengirim mereka, di hari-hari
terakhir, ke tanah yang lebih tinggi, ke timur, ke mana pun ada harapan,
mengirim mereka dengan ingatan yang telah ia berikan, dengan tugas untuk
mewariskannya, dengan rantai yang harus mereka jaga agar tak putus. Murid yang
paling ia percaya, gadis yang memimpikan air, telah ia kirim bersama yang lain,
menangis, tak mau pergi, dan Sela telah memaksanya pergi sebab itulah
satu-satunya cara rantai bisa bertahan. Kini Sela sendirian, atau hampir
sendirian, di tanah tinggi yang akan segera tenggelam, dan ia menunggu air
dengan ketenangan seseorang yang telah menyelesaikan pekerjaannya dan tinggal
menunggu satu hal terakhir.
Sebab ada satu hal yang belum ia lakukan, satu hal yang telah ia simpan
untuk saat terakhir, sebab ia tahu, dengan pengetahuan yang lebih dalam
daripada pemahaman, pengetahuan yang telah tumbuh di dalamnya sepanjang
hidupnya tanpa pernah sepenuhnya menjelaskan dirinya, bahwa hal itu hanya bisa
dilakukan di saat tenggelam, di air, di ambang antara yang fana dan yang
hilang. Tujuh kerikil. Ia telah membawanya sepanjang hidupnya tanpa tahu
sepenuhnya apa ia, tujuh batu kecil yang diberikan kepadanya oleh seseorang
yang telah lama mati, dengan pesan yang telah diwariskan bersama mereka: simpan
ini, dan ketika air datang untuk mengambil segalanya, telan mereka, dan
bersumpah.
❖
Dua laut bertemu
pada tengah malam, dan dunia yang lama berakhir.
Tak ada yang menyaksikan seluruhnya, sebab tak ada yang bisa berdiri di
tempat di mana mereka bertemu dan hidup untuk menceritakannya. Tapi mereka yang
ada di tanah tinggi merasakannya: sebuah gemuruh yang datang dari kedua arah
sekaligus, dari utara dan dari selatan, suara dua laut yang telah terpisah sepanjang
sejarah dunia akhirnya jatuh ke dalam satu sama lain melintasi jalur tanah
terakhir, dan tanah itu, punggung tanah yang telah menahan keduanya terpisah
selama tiga ribu tahun, tanah itu menyerah, dan tenggelam, dan kedua laut
mengalir ke atasnya dan ke atas satu sama lain dan menjadi satu laut, di tempat
yang dulu adalah jantung sebuah daratan.
Air datang ke tanah tinggi tak lama setelahnya. Ia datang bukan sebagai
gelombang tunggal yang menghancurkan, melainkan sebagai kenaikan yang tak
terhentikan, air yang naik dan naik dan tidak berhenti naik, menutup ladang
terakhir, menutup rumah terakhir, mendorong orang-orang ke tanah yang semakin
tinggi sampai tak ada lagi tanah yang lebih tinggi, sampai mereka berdiri di
puncak terakhir dengan air di pergelangan kaki, lalu di lutut, lalu di
pinggang. Dan di seluruh tanah tinggi itu, di malam yang gelap, terdengar suara
yang akan menghantui setiap keturunan dari setiap orang yang selamat: suara
sebuah bangsa yang tenggelam, tidak dalam kepanikan melainkan dalam sejenis
nyanyian, sebab di saat-saat terakhir orang-orang Nagara Rata mulai menyanyikan
kisah mereka, keras, bersama, supaya bila ada yang mendengar, di perahu di
kejauhan, di tanah tinggi di seberang air, di masa depan yang tak bisa mereka
bayangkan, supaya ada yang mendengar dan mengingat bahwa mereka pernah ada.
❖
Dan Sela berdiri
di air yang naik, di tanah tinggi yang tak lagi tinggi, dengan air mencapai
dadanya, dan ia tahu bahwa saatnya telah tiba.
Ia tak takut. Itulah yang akan diingat tentangnya, oleh rantai yang ia
mulai, sepanjang tujuh generasi dan lebih: bahwa di saat dunia berakhir,
perempuan tua itu tidak takut. Ia berdiri di air yang dingin dan naik,
sendirian di tempat yang dulu adalah tanah tinggi terakhir, dan di
sekelilingnya ia mendengar nyanyian bangsanya yang tenggelam, dan di bawahnya
ia merasakan air yang menyimpan segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya, dan di
dalam tangannya ia memegang tujuh kerikil yang telah ia bawa sepanjang hidupnya
menuju saat ini. Dan ia memikirkan semua yang telah membawanya ke sini: seekor
burung yang ia kubur di sebuah halaman, seorang nakhoda yang mengajarinya untuk
mengingat, seorang tua dari perbukitan yang mengajarinya untuk mewariskan,
sebuah ladang liar yang penuh bunga, sebuah pasar tempat ia berjalan di
belakang saudarinya, dan saudarinya, saudarinya, yang kini duduk di dasar laut
di selatan, utuh dan dingin dan menunggu, kepada siapa Sela telah berjanji
bahwa ia tidak akan sendirian selamanya.
“Aku menepati janjiku, ” kata Sela, ke air, ke malam, ke saudarinya yang
tak bisa mendengarnya dan yang akan, suatu hari, mendengarnya. “Apa yang
kumulai sekarang akan datang kepadamu. Tidak segera. Tidak dalam waktu yang
bisa kita hitung. Tapi ia akan datang. Aku tidak akan turun bersamamu, Awu.
Tapi aku akan menanam, di dalam air ini, sesuatu yang akan tumbuh sepanjang
segala generasi yang akan datang, dan suatu hari ia akan sampai kepadamu, dan
membebaskanmu, dan kau tidak akan sendirian lagi.”
Dan air naik mencapai bahunya, dan kemudian lehernya, dan Sela mengangkat
tujuh kerikil ke bibirnya, dan di bawah air yang naik, di malam Tahun Nol, di
ambang antara yang fana dan yang hilang, dengan nyanyian bangsanya yang
tenggelam di telinganya dan janji kepada saudarinya di hatinya, ia bersiap
untuk menelan mereka, dan bersumpah. Dan jauh di masa depan yang tak bisa ia
bayangkan, tujuh generasi ke depan, di tanah tinggi di seberang air, seorang
anak bernama Rangin yang baru saja mendarat dari penyeberangannya berdiri
memandang ke barat, ke arah air, dan merasakan, tanpa tahu mengapa, tanpa tahu
apa, sesuatu yang sangat tua dan sangat penting sedang terjadi di seberang laut
dan di seberang waktu, sebuah sumpah yang sedang diucapkan di dalam air, sebuah
benih yang sedang ditanam, sebuah janji yang suatu hari akan menjadi tugasnya
untuk ditepati. Dan di antara mereka berdua, perempuan tua yang tenggelam
sambil bersumpah, dan anak yang mendarat sambil mengingat, air yang sama
bergerak, menyimpan, menunggu, dan untuk pertama kalinya dalam seluruh cerita
yang panjang ini mulai, dengan sangat pelan, untuk membawa sesuatu naik kembali
dari kedalamannya: bukan tanah, bukan kota, melainkan sebuah sumpah, diteruskan
dari yang tenggelam kepada yang selamat, melintasi tujuh generasi air, menuju
hari yang masih sangat jauh ketika ia akhirnya akan ditepati.
❖
BAB SEMBILAN
Tujuh Kerikil
Selama ada keturunanku, daratan ini
tidak benar-benar tenggelam. Inilah sumpah yang darinya kami semua turun, dan
inilah beban yang kami semua bawa, dan inilah satu kalimat yang, bila seluruh
sisa ingatan kami hilang, harus tetap diingat.
Sumpah Nyai Sela, kalimat pendiri
Silsilah Para Pengingat
Tujuh kerikil
itu telah ada sebelum Sela, dan akan ada sesudahnya, dan itulah hal pertama
yang harus dipahami tentang mereka: bahwa mereka bukan miliknya, bahwa ia
hanyalah yang membawanya pada saat mereka dibutuhkan.
Dari mana mereka datang, tak seorang pun tahu, bahkan Sela. Mereka telah
diberikan kepadanya oleh orang tua dari perbukitan, di hari-hari terakhirnya,
bersama dengan pengetahuan yang telah ia wariskan: bahwa kerikil-kerikil ini
lebih tua daripada Nagara Rata, lebih tua daripada ingatan, bahwa mereka telah
dibawa oleh para pengingat sebelumnya melalui banjir-banjir sebelumnya, sebab
ini bukan banjir pertama, orang tua itu telah mengajarinya, hanya banjir yang
ini, dan bahwa mereka tak bisa diciptakan dan tak bisa dihancurkan, hanya
berpindah, dari pembawa ke pembawa, tidur di antara banjir lalu bangun ketika
air datang lagi. Tujuh kerikil, untuk tujuh jenis ingatan. Mereka kecil, dan
kelabu, dan tampak seperti kerikil mana pun yang bisa dipungut dari dasar sungai,
dan itulah, barangkali, perlindungan mereka: bahwa hal yang paling penting di
dunia tampak seperti hal yang paling tak berarti, sehingga hanya yang tahu yang
akan mengenalinya, dan hanya yang ditakdirkan yang akan membawanya.
Sela memegang mereka di telapak tangannya yang tua, di bawah air yang
naik, dan ia memandang mereka untuk terakhir kalinya sebagai benda di luar
dirinya. Tujuh batu kecil, kelabu, basah oleh air laut. Begitu kecil. Dan di
dalam mereka, ia tahu ini sekarang, di saat terakhir, dengan pengetahuan yang
datang penuh untuk pertama kalinya, di dalam mereka tersimpan kemampuan untuk
mengikat ingatan ke dalam darah, untuk membuat ingatan tentang sebuah dunia
bukan hanya sesuatu yang diceritakan melainkan sesuatu yang diwarisi, dibawa
dalam tubuh, diteruskan melalui kelahiran sebagaimana warna mata diteruskan,
sehingga ingatan tentang daratan yang tenggelam tak akan pernah bergantung pada
satu generasi yang memilih untuk menceritakannya, melainkan akan mengalir, dengan
sendirinya, melalui darah, sepanjang segala generasi yang akan datang.
❖
Air mencapai
lehernya, dan Sela tahu bahwa ia tak bisa menunggu lebih lama, dan maka ia
melakukan apa yang telah ia bawa seluruh hidupnya untuk dilakukan.
Ia menelan kerikil yang pertama, dan ketika ia menelannya, sesuatu
terjadi yang tak bisa ia siapkan walau ia telah menunggu seumur hidup untuknya:
sebuah ingatan masuk ke dalamnya yang bukan ingatannya sendiri. Air. Ia
merasakan air, bukan air yang naik di sekelilingnya, melainkan semua air, air
yang telah menelan tujuh generasi, air yang menyimpan kota-kota tenggelam, dan
di dalam air itu setiap kota yang pernah tenggelam, setiap suara yang pernah
dibawa ke bawah, semua sekaligus, sebuah lautan ingatan yang masuk ke dalamnya
dan tak menenggelamkannya, sebab kerikil itu mengikatnya, membuatnya bisa
ditanggung, membuatnya menjadi bagian dari dirinya. Kerikil air. Sela Banyu.
Dan ia tahu, dengan pengetahuan yang datang bersama kerikil, bahwa keturunannya
yang membawa kerikil ini akan mendengar air sebagaimana ia kini mendengarnya,
akan bermimpi tentang kota-kota tenggelam, akan menjadi suara di atas air bagi
apa yang air simpan di bawah.
Ia menelan yang kedua, dan api masuk, bukan membakar, melainkan ingatan
tentang api, tentang gunung, tentang nyala yang dijaga dan nyala yang
menghancurkan, ingatan dari peradaban-peradaban yang dibangun di sekitar api
dan dari mereka yang menjaganya. Yang ketiga, dan angin masuk, dan bersama
angin lidah-lidah yang mati, aksara-aksara yang hilang, kata-kata yang tak
seorang pun lagi bisa ucapkan, termasuk, Sela menyadari dengan sesuatu yang
dekat dengan kegembiraan di tengah kengerian, kata-kata yang telah ia bisikkan
kepada seekor burung mati di sebuah halaman, bertahun-tahun dan seumur hidup
yang lalu, kata-kata yang kini ia mengerti adalah bagian dari lidah yang sangat
tua yang kerikil ini menyimpannya: kau diingat.
Yang keempat, dan tanah masuk, segala sesuatu yang terkubur, segala
sesuatu yang tertimbun, ingatan dari yang berada di bawah. Yang kelima, dan
kemampuan untuk melihat yang halus, untuk melihat para Lelembut yang kini,
dengan air yang naik, sedang menghalus di sekelilingnya, dunia roh yang selalu
ada di tepi penglihatan. Yang keenam, dan kemampuan untuk mengenali sesama
pengingat, untuk merasakan dalam darah orang lain darah yang sama, rantai yang
sama. Dan ketika ia menelan keenam kerikil itu, satu demi satu, di bawah air
yang kini mencapai dagunya, Sela menjadi sesuatu yang lebih dari seorang
perempuan tua yang tenggelam. Ia menjadi sebuah wadah, sebuah simpul, tempat
tujuh jenis ingatan diikat menjadi satu dan ditanam ke dalam sebuah garis darah
yang akan membawanya menyeberangi air dan waktu.
❖
Tinggal satu
kerikil, yang ketujuh, dan Sela ragu sebelum menelannya, sebab ia tahu,
kerikil-kerikil lain telah memberitahunya, dalam bahasa yang bukan bahasa,
bahwa yang ketujuh berbeda dari yang lain, dan lebih berat, dan lebih
berbahaya.
Sebab enam kerikil yang pertama menyimpan ingatan tentang dunia: air dan
api dan angin dan tanah, yang halus, dan sesama. Tapi yang ketujuh menyimpan
sesuatu yang lebih dalam dan lebih mengerikan: ia menyimpan ingatan tentang
hidup-hidup sebelumnya. Kerikil Suwung, kerikil kekosongan, yang pembawanya
mengingat bukan hanya dunia yang tenggelam di hadapan mata mereka sendiri
melainkan semua dunia yang pernah tenggelam, semua banjir sebelum banjir ini,
mundur dan mundur ke awal yang tak bisa diingat. Orang tua dari perbukitan
telah memperingatkannya tentang yang ketujuh: bahwa pembawanya sering menjadi
gila, sebab tak ada pikiran manusia yang dibuat untuk menampung begitu banyak
akhir; atau menjadi suci, sebab kadang, jarang, sebuah pikiran bisa menanggung
pengetahuan itu dan diubah olehnya menjadi sesuatu yang lebih dari manusia.
Gila atau suci, dan tak ada cara untuk tahu yang mana sampai kerikil ditelan.
Sela memegang kerikil ketujuh di antara jari-jarinya, di bawah air yang
kini mencapai bibirnya, dan untuk satu saat ia mempertimbangkan untuk tidak
menelannya, untuk membiarkannya jatuh ke air, untuk membawa hanya enam ke dalam
garis darahnya, untuk menyelamatkan keturunannya dari beban yang paling berat.
Tapi kemudian ia mengerti, dengan kejernihan terakhir yang datang di ambang
kematian, mengapa ketujuh harus ditelan: sebab tanpa yang ketujuh, garis
pengingat akan mengingat dunia yang ini, tapi melupakan bahwa ia bukan yang
pertama. Mereka akan mengira banjir mereka adalah satu-satunya banjir,
kehilangan mereka satu-satunya kehilangan. Dan itu adalah sejenis kesombongan,
sejenis kelupaan, yang sama dengan kelupaan yang menenggelamkan Nagara Rata,
keyakinan bahwa duniamu adalah satu-satunya dunia. Yang ketujuh adalah
kerendahan hati. Ia adalah ingatan bahwa segala sesuatu telah berakhir
sebelumnya, dan akan berakhir lagi, dan bahwa tugas mengingat tak pernah
selesai, tak pernah cukup, tak pernah hanya tentang satu dunia.
Maka Sela menelan kerikil yang ketujuh, dan semua dunia yang pernah
tenggelam masuk ke dalamnya sekaligus, dan ia tidak menjadi gila, dan ia tidak
menjadi suci, atau barangkali ia menjadi keduanya, sejenak, di saat terakhir,
sebab di saat itu, dengan tujuh kerikil di dalamnya dan air di bibirnya, Sela
melihat seluruhnya: setiap banjir, setiap dunia, setiap perpisahan dua saudari
yang memilih dua jalan, setiap rantai pengingat yang dimulai dan diwariskan dan
diteruskan, mundur ke awal dan maju ke akhir yang tak bisa ia lihat tapi kini
bisa ia percayai. Dan dalam penglihatan itu ia menemukan, bukan kengerian,
melainkan damai. Sebab ia melihat bahwa ia bukan akhir dari apa pun. Ia hanya
satu simpul dalam sebuah rantai yang jauh lebih panjang daripada satu dunia,
dan rantai itu tidak akan putus, dan itu sudah cukup, itu selalu sudah cukup.
❖
Dan kemudian,
dengan tujuh kerikil di dalamnya dan air mencapai bibirnya, dengan dunia yang
lama tenggelam di sekelilingnya dan dunia yang baru belum lahir, Nyai Sela
mengucapkan sumpah yang darinya seluruh garis pengingat akan turun.
Ia tidak mengucapkannya dengan suara yang keras. Tak ada yang
mendengarnya, kecuali air. Tapi ia mengucapkannya dengan seluruh dirinya,
dengan tujuh kerikil dan seluruh hidup yang telah membawanya ke sini, dan
kata-katanya, walau pelan, walau hanya didengar oleh air, akan bergema melalui
tujuh generasi dan lebih, akan menjadi kalimat pertama yang diajarkan setiap
pengingat kepada setiap pewaris, akan bertahan ketika nama-nama dan
tempat-tempat dan bahkan nama daratannya sendiri telah hilang dari ingatan.
“Selama ada keturunanku, ” kata Nyai Sela, ke air, ke malam, ke seluruh
waktu yang akan datang, “daratan ini tidak benar-benar tenggelam.”
Dan air menutup di atasnya.
❖
Nyai Sela
tenggelam, sebagaimana yang fana tenggelam, dan tubuhnya menjadi bagian dari
dasar laut sebagaimana tubuh seluruh bangsanya menjadi bagian dari dasar laut,
dan dalam satu pengertian ia berakhir, malam itu, di air, sebagaimana segala
sesuatu yang fana berakhir.
Tapi dalam pengertian lain ia tidak berakhir sama sekali, dan itulah
seluruh maksud dari apa yang ia lakukan. Sebab tujuh kerikil tidak tenggelam
bersamanya. Mereka tidak bisa tenggelam; mereka tak bisa dihancurkan. Di saat
tubuhnya melepaskannya, mereka telah menyelesaikan tugas mereka, mereka telah
mengikat tujuh jenis ingatan ke dalam garis darahnya, ke dalam murid-murid yang
membawa darahnya dan murid-murid dari murid-muridnya, yang kini sedang
menyeberangi air ke tanah yang lebih tinggi, membawa di dalam tubuh mereka,
tanpa sepenuhnya tahu, sebuah kemampuan yang akan bangun dan tidur dan bangun
lagi sepanjang generasi, melompati sebagian, jatuh pada yang lain, tapi tak
pernah, tak pernah putus. Para pengingat telah lahir. Wong Eling. Dan dari
malam ini, di air Tahun Nol, mereka akan mengalir ke depan melalui waktu,
masing-masing membawa serpihan dari sumpah Nyai Sela, masing-masing menjadi
tempat di mana daratan yang tenggelam menolak untuk benar-benar tenggelam.
Dan jauh di selatan, di dasar laut tempat dulu adalah istana, Awu, Ratu
Kidul, merasakan sesuatu pada malam itu, walau ia hampir tak lagi bisa
merasakan apa pun. Sebuah getaran di air. Sebuah perubahan. Ia tak tahu apa ia,
tak bisa tahu, sebab ia telah membuang terlalu banyak dari dirinya untuk
memahaminya. Tapi sesuatu di dalamnya, serpihan kecil perasaan yang ia bawa
turun, serpihan yang berbentuk seperti saudarinya, mengenali bahwa saudarinya
telah melakukan apa yang ia janjikan, telah menanam sesuatu di dalam air,
sesuatu yang hidup, sesuatu yang akan tumbuh sepanjang segala generasi yang
akan datang dan suatu hari sampai kepadanya. Dan Ratu Kidul, di dasar laut,
utuh dan dingin dan abadi, mulai menunggu dengan cara yang berbeda dari
sebelumnya: bukan menunggu air, yang telah datang; bukan menunggu akhir, yang
tak akan datang untuknya; melainkan menunggu sebuah janji, yang tujuh generasi
kemudian seorang anak bernama Rangin telah mulai membawa ke arahnya,
menyeberangi air dan waktu, dari yang tenggelam menuju yang menunggu. Dan di
antara mereka semua, Sela yang tenggelam, Awu yang menunggu, Rangin yang
menyeberang, dan seluruh rantai pengingat yang membentang di antara mereka, air
bergerak, menyimpan, dan untuk pertama kalinya dalam seluruh cerita yang panjang
ini, mengingat; sebab kini ada yang hidup di dalam dan di atasnya yang akan
membuatnya mengingat, selama ada keturunan Nyai Sela, sampai ke akhir yang
masih sangat jauh ketika daratan yang tenggelam akhirnya, dengan caranya
sendiri yang tak terduga, akan naik kembali.
❖
BAGIAN IV
Tanah Tinggi
BAB SEPULUH
Tanah yang Air Tak Bisa Ambil
Kami membangun di gunung bukan karena
gunung lebih indah daripada dataran. Kami membangun di gunung karena kami ingat
apa yang terjadi pada mereka yang membangun di dataran, dan berkata kepada diri
sendiri: tidak lagi, tidak pernah lagi akan kami percaya bahwa air tunduk pada
kami.
dari ajaran para pengingat, di tanah
tinggi
Mereka yang
selamat dari penyeberangan mendarat di tanah tinggi pada hari-hari yang
berbeda, di tempat-tempat yang berbeda, sebab badai telah mencerai
perahu-perahu, dan tak ada yang tahu, untuk waktu yang lama, berapa banyak yang
telah selamat dan berapa banyak yang telah hilang.
Perahu Rangin mendarat di sebuah teluk kecil di kaki tanah tinggi, di
tempat air laut bertemu lereng pertama yang naik, dan ketika lambung perahu
yang nyaris pecah itu menyentuh dasar, dan orang-orang turun ke air dangkal dan
kemudian ke tanah, tanah yang sesungguhnya, tanah yang naik, tanah yang air tak
bisa ambil, beberapa dari mereka menangis, dan beberapa berlutut dan menyentuh
tanah dengan tangan mereka untuk meyakinkan diri bahwa ia nyata, dan beberapa
hanya berdiri diam, terlalu lelah dan terlalu hampa untuk merasakan apa pun
selain fakta sederhana bahwa mereka masih hidup, dan tanah ini tidak, seperti
semua tanah yang pernah mereka kenal, sedang dalam proses tenggelam.
Rangin termasuk yang berdiri diam. Ia memandang ke atas, ke tanah tinggi
yang naik di hadapannya, lereng demi lereng, sampai ke puncak-puncak yang
hilang di awan, gunung, gunung yang sesungguhnya, lebih tinggi daripada apa pun
yang pernah ia bayangkan, gunung dari mimpinya. Dan ia merasakan, memandangnya,
bukan kemenangan, melainkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih khidmat:
perasaan bahwa ia telah sampai bukan hanya ke sebuah tempat melainkan ke sebuah
jawaban, jawaban atas pertanyaan yang telah dibawa garis darahnya sepanjang
tujuh generasi tenggelam. Ke mana orang pergi ketika tak ada lagi utara? Ke
atas. Ke gunung. Ke tanah yang air, dengan segala kesabarannya, dengan segala
kemenangannya, tak akan pernah bisa capai.
❖
Tapi tanah
tinggi tidak kosong, dan itu adalah hal yang tak diduga Rangin, walau ia
seharusnya menduganya: bahwa tempat yang air tak bisa ambil adalah tempat yang
orang lain juga telah mencarinya.
Sebab di gunung telah tinggal, selama lebih lama daripada yang bisa
diingat siapa pun, orang-orang yang bukan dari Nagara Rata, orang-orang yang
nenek moyangnya telah naik ke tanah tinggi di banjir-banjir sebelumnya, atau
yang telah selalu tinggal di sana, yang tak pernah menjadi bangsa dataran sama
sekali. Mereka adalah orang-orang gunung, dan mereka memandang para pendatang
dari laut dengan kewaspadaan yang wajar bagi mereka yang melihat orang asing
tiba dari arah kehancuran, membawa tak lebih dari perahu yang pecah dan ingatan
tentang dunia yang tenggelam. Untuk beberapa waktu ada ketegangan, ketakutan,
kemungkinan akan kekerasan, sebab tanah tinggi pun tidak tak terbatas, dan
orang-orang gunung tahu bahwa pendatang berarti lebih banyak mulut, lebih sedikit
untuk masing-masing.
Tapi Rangin, walau ia muda, membawa sesuatu yang membuat orang-orang
gunung mendengarkan, dan itu adalah ingatan. Ketika ia bicara, melalui
penerjemah pada mulanya, sebab lidah mereka berbeda, lalu langsung ketika ia
belajar lidah gunung dengan kecepatan yang mengejutkan, seolah-olah sebagian
dari dirinya telah mengenalnya, ketika ia bicara, ia bicara tentang dunia yang
tenggelam dengan rincian yang tak bisa diketahui oleh seorang anak, dan ia
bicara tentang air dengan pemahaman yang lebih dalam daripada ketakutan, dan
orang-orang gunung, yang memiliki ingatan mereka sendiri tentang banjir-banjir
yang lebih tua, mengenali pada Rangin sesuatu yang mereka hormati: seorang
pembawa ingatan, seorang yang mendengar air. Dan perlahan, melalui ingatan yang
dibagi, dua bangsa yang bertemu di tanah tinggi, yang datang dari laut dan yang
telah tinggal di gunung, mulai menjadi satu.
❖
Dan di tanah
tinggi, di tahun-tahun yang mengikuti, Rangin membangun apa yang telah ia
janjikan untuk dibangun: sebuah tempat di mana ingatan akan dijaga.
Tapi ia tidak membangun Nagara Rata lagi. Itulah hal yang paling penting
tentang apa yang ia bangun, dan hal yang membuatnya berbeda dari semua yang
datang sebelumnya. Sebab ia membawa, di dalam darahnya dan di dalam ingatan
yang diwariskan kepadanya, pengetahuan tentang bagaimana Nagara Rata telah
jatuh, bukan hanya karena air, melainkan karena kesombongan, karena keyakinan
bahwa air tunduk padanya, karena penolakan untuk percaya bahwa dunia yang luas
dan yakin dan dicintai bisa berakhir. Dan Rangin bertekad untuk membangun
sesuatu yang tidak akan jatuh dengan cara yang sama.
Maka ia membangun bukan di atas keyakinan melainkan di atas ingatan.
Tempat yang ia bangun di tanah tinggi, yang kelak, jauh kelak, akan disebut
dengan banyak nama oleh banyak generasi, dan yang akarnya akan tetap ada di
gunung-gunung Jawa lama setelah Rangin sendiri menjadi nama yang setengah
dilupakan, tempat itu dibangun di sekitar satu prinsip yang Rangin tanamkan ke
dalam fondasinya sedalam ia menanam batu: bahwa mereka tidak boleh lupa. Bahwa
setiap generasi harus diajari kisah dunia yang tenggelam, bukan sebagai dongeng
melainkan sebagai peringatan. Bahwa para pengingat, mereka yang membawa
kerikil, mereka yang mendengar air, mereka yang bermimpi tentang kota-kota
tenggelam, harus dihormati dan dijaga dan didengar, bukan ditertawakan seperti
dewan Nagara Rata menertawakan orang tua dari perbukitan. Bahwa filosofi bangsa
baru ini tidak boleh menjadi kami tak akan pernah jatuh, melainkan sesuatu yang
lebih rendah hati dan lebih kuat: kami ingat bahwa segala sesuatu jatuh, dan
maka kami hidup dengan ringan, dan kami melepaskan dengan damai, dan kami
menjaga ingatan supaya yang jatuh tidak benar-benar hilang.
Itu adalah benih dari sesuatu yang akan tumbuh sepanjang ribuan tahun,
melalui peradaban-peradaban yang belum bisa Rangin bayangkan, menjadi cara
seluruh sebuah pulau memahami dirinya: sebuah filosofi tentang menerima,
tentang melepaskan, tentang menjaga ingatan akan yang hilang. Rangin tidak tahu
bahwa ia sedang menanam akar dari narima, dari eling, dari seluruh cara hidup
yang akan mendefinisikan tanah ini. Ia hanya tahu bahwa ia tak ingin
keturunannya mati sebagaimana Nagara Rata mati, dan bahwa satu-satunya cara
untuk memastikannya adalah dengan tidak pernah, tidak pernah membiarkan mereka
lupa.
❖
Dan pada suatu
malam, bertahun-tahun setelah ia mendarat, ketika tempat yang ia bangun telah
mulai berdiri dan ingatan telah mulai diwariskan dan rantai telah mulai menjadi
tradisi, Rangin bermimpi untuk terakhir kalinya tentang dua saudari, dan kali
ini ia melihat sampai ke akhir.
Sepanjang hidupnya ia telah bermimpi tentang mereka, dan selalu ia bangun
sebelum bagian yang paling penting. Tapi malam ini, akhirnya, mimpi membawanya
sampai ke ujung. Ia melihat perempuan tua, ia tahu sekarang, dengan pengetahuan
yang datang dari kerikil di dalam darahnya, bahwa namanya adalah Sela, walau
nama itu sendiri akan hilang dari rantai dalam beberapa generasi dan menjadi
hanya Nyai, hanya gelar, hanya hormat tanpa nama, ia melihat perempuan tua itu
berdiri di air yang naik, dengan tujuh kerikil di tangannya, dan ia melihatnya
menelan mereka satu demi satu, dan ia melihatnya mengucapkan sumpah, dan ia
mendengar kata-katanya, jelas, melintasi tujuh generasi air: selama ada keturunanku,
daratan ini tidak benar-benar tenggelam.
Dan Rangin mengerti, dalam mimpinya, bahwa ia adalah keturunan itu. Bahwa
kerikil yang ia bawa, kemampuan yang membuatnya bermimpi dan mendengar dan
mengingat, adalah kerikil yang sama yang ditelan perempuan tua itu di air Tahun
Nol. Bahwa sumpah itu mengalir melalui dirinya, sekarang, di tanah tinggi, dan
bahwa dengan membangun tempat ingatan ini, dengan menolak untuk membiarkan
keturunannya lupa, ia sedang menepati sumpah itu, sedang membuat daratan yang
tenggelam tidak benar-benar tenggelam. Dan ia melihat, di ujung mimpinya, hal
yang tak pernah ia lihat sebelumnya: perempuan tua itu, sebelum air menutup di
atasnya, memandang ke selatan, ke arah dasar laut tempat saudarinya menunggu,
dan berjanji. Dan Rangin merasakan, dalam mimpinya, bobot dari janji itu jatuh
ke pundaknya sendiri, sebab ia kini mengerti bahwa rantai yang ia bawa tidak
hanya membawa ingatan tentang dunia yang tenggelam, ia juga membawa sebuah
janji yang belum ditepati, kepada seseorang yang masih menunggu, di kedalaman,
di selatan, di air.
❖
Rangin bangun
dari mimpi itu sebelum fajar, dan ia tidak menangis kali ini, sebab ia telah
tumbuh melampaui air mata seorang anak, tapi ia bangun dengan sesuatu yang
lebih berat dan lebih tahan lama daripada air mata: sebuah pemahaman tentang
apa yang ia adanya, dan apa yang harus ia teruskan.
Ia keluar dari tempat tinggalnya di tanah tinggi, dan ia berjalan ke tepi
sebuah punggung gunung dari mana ia bisa memandang ke selatan, ke arah laut
yang kini menutupi seluruh dunia yang dulu ada, seluruh Nagara Rata, seluruh
dataran tempat dua saudari pernah berjalan ke pasar. Air itu tenang sekarang,
dari kejauhan, dari ketinggian, sebuah hamparan kelabu yang luas yang tak
memberi tanda tentang apa yang ia simpan di bawahnya. Tapi Rangin tahu apa yang
ada di bawahnya. Ia membawa di dalam darahnya pengetahuan tentang apa yang ada
di bawahnya: kota-kota dan ladang-ladang dan rumah-rumah, sebuah dunia yang
tenggelam tapi tidak hilang, dan di suatu tempat di kedalamannya, di selatan,
seorang ratu yang duduk utuh dan dingin dan menunggu sebuah janji untuk ditepati.
“Aku membawanya, ” kata Rangin, ke selatan, ke air, ke ratu yang tak bisa
mendengarnya tapi yang menunggu, melintasi waktu, apa yang ia bawa. “Aku tidak
tahu bagaimana ia akan ditepati, atau kapan, atau oleh siapa. Mungkin bukan
olehku. Mungkin oleh seseorang yang lahir dari keturunanku, jauh setelah aku
menjadi tanah. Tapi aku membawanya sekarang, dan aku akan mewariskannya, dan
rantai tidak akan putus. Suatu hari, sumpah yang dimulai di air akan sampai
kepadamu. Suatu hari, daratan yang tenggelam akan naik kembali, bukan sebagai
tanah, mungkin, tapi sebagai ingatan, sebagai sesuatu yang hidup, sebagai kau
yang dibebaskan. Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku membawanya, dan aku
berjanji, sebagaimana ia berjanji: kau tidak akan sendirian selamanya.”
Dan di bawah air yang jauh, di kedalaman yang tak bisa dilihat dari
gunung mana pun, sesuatu bergerak, bukan ratu, yang terlalu beku untuk
bergerak, melainkan air itu sendiri, air yang menyimpan segala sesuatu yang
jatuh ke dalamnya, air yang kini, untuk pertama kalinya sejak ia mulai menelan
dunia, membawa di dalamnya bukan hanya yang tenggelam melainkan juga sebuah
janji tentang yang akan naik. Dan bisik air, yang dimulai sebagai ancaman di
telinga seorang gadis di tepi kanal sepuluh ribu tahun yang lalu, dan menjadi
gema di telinga seorang anak di lidah tanah yang menyempit, kini menjadi
sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih besar dari ancaman dan lebih besar dari
gema: sebuah janji, dibawa oleh air dari yang tenggelam menuju yang menunggu,
melalui rantai yang tak akan putus, menuju hari yang masih sangat jauh, ribuan
tahun jauhnya, melalui peradaban-peradaban yang belum lahir, melalui Buku-buku
yang belum ditulis, ketika seseorang yang membawa darah Nyai Sela akhirnya akan
berdiri di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan ingatan yang tepat,
dan menepati apa yang dijanjikan di air Tahun Nol, dan membebaskan ratu dari
laut, dan membiarkan daratan yang tenggelam, akhirnya, untuk naik.
❖
BAB SEBELAS
Yang Diwariskan Rangin
Seorang pengingat tidak pernah
menyelesaikan tugasnya. Ia hanya membawanya sejauh yang bisa ia bawa, lalu
meletakkannya di tangan yang lebih muda, dan mati dengan tahu bahwa apa yang ia
mulai tidak akan selesai dalam hidup siapa pun, dan bahwa justru itulah yang
membuatnya layak dimulai.
dari ajaran para pengingat
Rangin menjadi
tua di tanah tinggi, sebagaimana orang tanah tinggi menjadi tua: pelan, dan
dengan tubuh yang dikeraskan oleh lereng dan dingin dan kerja, sehingga ia
menjadi tua tanpa menjadi lemah, seperti pohon gunung yang batangnya semakin
keras setiap tahun.
Tempat yang ia bangun telah berdiri sekarang. Ia bukan kota, Rangin telah
berhati-hati untuk tidak membangun kota, sebab kota adalah apa yang dibangun
Nagara Rata, dan kota adalah apa yang tenggelam. Ia adalah sesuatu yang lain:
sebuah rangkaian kampung yang tersebar di lereng-lereng, terhubung bukan oleh
kanal melainkan oleh jalan setapak dan oleh sesuatu yang lebih kuat daripada
jalan, yang terhubung oleh ingatan bersama, oleh kisah yang sama yang
diceritakan di setiap perapian, oleh rantai pengingat yang mengalir di antara
mereka seperti darah mengalir di antara anggota satu tubuh. Orang-orang gunung
dan orang-orang yang datang dari laut telah menjadi satu bangsa, dan bangsa itu
tidak punya nama untuk dirinya sendiri, belum, sebab ia masih terlalu muda dan
terlalu sibuk bertahan hidup untuk memikirkan nama. Tapi ia punya sesuatu yang
lebih penting daripada nama: ia punya ingatan tentang dari mana ia datang, dan
mengapa ia ada di sini, dan apa yang tak boleh ia lupakan.
Dan di pusat dari semua itu, walau ia tak pernah meminta untuk berada di
pusat, ada Rangin. Ia telah menjadi, di usia tuanya, sesuatu yang menyerupai
apa yang dulu Sela menjadi di kampung tanah tinggi terakhir: sebuah mata air
ingatan, tempat orang datang untuk menimba apa yang harus mereka ketahui.
Anak-anak dibawa kepadanya untuk mendengar kisah dunia yang tenggelam dari
mulut orang yang telah memimpikannya. Para pengingat muda, sebab ada yang lain
sekarang, kerikil telah bangun di beberapa dari generasi yang lahir di tanah
tinggi, dibawa kepadanya untuk diajari apa artinya membawa apa yang mereka
bawa. Rangin telah menjadi jangkar dari rantai, simpul tempat masa lalu yang
tenggelam diikat ke masa depan yang belum lahir.
❖
Di antara para
pengingat muda ada satu yang Rangin perhatikan secara khusus, sebagaimana Sela
pernah memperhatikan seorang gadis yang memimpikan air, sebab ia mengenali pada
anak ini sesuatu yang ia kenali pada dirinya sendiri ketika ia masih muda:
beban yang terlalu besar untuk usia yang membawanya.
Anak itu, seorang anak lelaki kali ini, sebab kerikil tak peduli pada
hal-hal seperti itu, ia jatuh pada siapa ia jatuh, membawa kerikil air, Sela
Banyu, kerikil yang sama yang Rangin bawa, dan ia bermimpi sebagaimana Rangin
bermimpi, tentang kota-kota tenggelam dan daratan yang luas dan dua saudari
yang berpisah di tepi dunia. Tapi ia membawa juga sesuatu yang lain, sesuatu
yang Rangin tidak bawa, dan itu membuat Rangin sekaligus berharap dan takut: ia
membawa kerikil kedua. Kerikil yang melihat yang halus, Wening, kerikil yang
membuat pembawanya bisa melihat para Lelembut, dunia roh yang menghuni gunung
dan hutan dan air. Dua kerikil dalam satu anak. Itu jarang, dan ia berarti
sesuatu, walau Rangin tak sepenuhnya tahu apa, kecuali bahwa anak ini akan membawa
beban yang lebih berat daripada yang Rangin bawa, dan akan melihat lebih
banyak, dan akan, barangkali, dibutuhkan untuk sesuatu yang lebih besar.
“Kau melihat mereka, ” kata Rangin kepada anak itu, suatu malam, ketika
anak itu datang kepadanya terganggu oleh penglihatan yang tak ia mengerti.
“Yang halus. Mereka yang tidak menapak tanah sepenuhnya. Mereka ada di
mana-mana di gunung ini, lebih banyak daripada yang bisa dibayangkan orang yang
tak bisa melihat mereka.”
“Apa mereka?” tanya anak itu. “Mereka takut padaku ketika aku memandang
mereka. Atau mungkin aku yang takut pada mereka. Aku tak bisa membedakan.”
“Mereka adalah bagian dari apa yang kita bawa, ” kata Rangin. “Bagian
yang aku tak bisa ajarkan kepadamu, sebab aku tak membawa kerikil yang melihat
mereka. Tapi aku bisa mengatakan ini: mereka bukan musuh kita, walau mereka
bukan pula kawan kita. Mereka adalah penghuni lain dari tanah yang sama,
makhluk yang air ubah dengan cara yang berbeda dari cara ia mengubah kita, kita
yang mengingat, mereka yang menghalus. Dan suatu hari, anak, garis kita dan
garis mereka akan saling membutuhkan, dengan cara yang aku tak bisa lihat tapi
bisa rasakan, sebagaimana aku bisa merasakan air sebelum ia datang. Pelajari
untuk melihat mereka tanpa takut. Itu akan menjadi tugasmu, sebagaimana
mengingat adalah tugasku.”
❖
Dan ketika
Rangin merasa waktunya mulai dekat, sebab seorang pengingat yang membawa
kerikil air sering tahu, dengan cara mendengar yang sama yang membuatnya
mendengar air, kapan air dirinya sendiri mulai surut, ia memanggil anak itu,
dan murid-murid lain yang membawa kerikil, dan ia mengajari mereka hal
terakhir, hal yang paling penting, hal yang harus diteruskan di atas segala hal
yang lain.
Ia mengajari mereka sumpah. Bukan hanya kata-katanya, selama ada
keturunanku, daratan ini tidak benar-benar tenggelam, melainkan apa yang ada di
balik kata-katanya, beban yang ada di dalamnya, janji yang tersembunyi di
dalamnya. Ia menceritakan kepada mereka, sejauh ia sendiri memahaminya, tentang
dua saudari: yang satu yang mengingat dan tenggelam dan menjadi sumber dari
mereka semua, dan yang satu yang menolak untuk hilang dan turun ke dasar laut
dan tinggal di sana, utuh dan dingin dan menunggu. Ia menceritakan kepada
mereka bahwa rantai yang mereka bawa tidak hanya membawa ingatan tentang dunia
yang tenggelam, ia juga membawa sebuah janji yang belum ditepati, kepada ratu
yang menunggu di kedalaman, bahwa ia tidak akan sendirian selamanya.
“Kita tidak tahu bagaimana janji itu akan ditepati, ” kata Rangin kepada
mereka. “Aku tidak akan menepatinya; aku tahu itu sekarang. Kalian pun mungkin
tidak. Mungkin tak satu pun dari kita yang lahir selama ribuan tahun akan
menepatinya. Tapi itu bukan alasan untuk melupakannya. Itu justru alasan untuk
mengingatnya lebih kuat. Sebab sebuah janji yang membutuhkan ribuan tahun untuk
ditepati hanya bisa ditepati bila ia tidak pernah, dalam seluruh ribuan tahun
itu, dilupakan. Dan itulah tugas kita, bukan menepati janji, melainkan
menjaganya tetap hidup, mewariskannya utuh, supaya pada hari ketika seseorang
akhirnya bisa menepatinya, ia masih ada untuk ditepati. Kita adalah penjaga
sebuah janji yang lebih panjang daripada hidup kita. Itu adalah hal yang berat
untuk dibawa. Tapi ia juga adalah hal yang paling layak dibawa yang pernah
diberikan kepada manusia: untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar
daripada satu hidup, sesuatu yang tidak akan selesai dalam waktu kita, dan yang
justru karena itu menghubungkan kita kepada semua yang datang sebelum dan semua
yang akan datang sesudah.”
❖
Rangin mati di
tanah tinggi, di musim ketika kabut turun rendah di lereng-lereng dan dunia
menjadi putih dan lembut dan hening, dan ia mati sebagaimana ia telah hidup:
mengingat.
Di hari-hari terakhirnya ia tidak takut, sebagaimana Sela tidak takut,
sebab ia telah menyelesaikan apa yang bisa ia selesaikan dan meletakkan sisanya
di tangan yang lebih muda. Anak yang membawa dua kerikil ada di sampingnya di
akhir, dan Rangin memandangnya, dan ia melihat di anak itu kelanjutan dari
dirinya, dan kelanjutan dari Sela, dan kelanjutan dari rantai panjang yang
membentang mundur ke air Tahun Nol dan maju ke hari yang tak bisa ia bayangkan.
Dan ia merasa, di saat terakhir, sesuatu yang dekat dengan apa yang Sela
rasakan ketika ia menelan kerikil ketujuh: damai. Damai dari mengetahui bahwa
ia bukan akhir dari apa pun, bahwa ia hanya satu simpul dalam rantai yang tidak
akan putus, dan bahwa itu sudah cukup, itu selalu sudah cukup.
“Bawa ia menyeberang, ” katanya kepada anak itu, di akhir, dengan
kata-kata yang sama yang neneknya katakan kepadanya tujuh generasi, tidak,
lebih sekarang, ia telah kehilangan hitungannya, yang lalu, di tepi air,
sebelum penyeberangan. “Apa yang kuberikan kepadamu. Bawa ia menyeberang, dan
suruh yang kau wariskan kepadanya untuk membawanya menyeberang lagi, dan jangan
biarkan ia berhenti. Daratan yang tenggelam ada di dalam dirimu sekarang. Ratu
yang menunggu menunggu melalui dirimu. Bawa mereka menyeberang, anak. Itu
satu-satunya hal yang kuminta darimu, dan aku tak akan hidup untuk tahu apakah
kau melakukannya.”
Dan anak itu, yang akan membawanya menyeberang, dan yang warisannya akan
membawanya menyeberang lagi, mundur dan maju melalui ribuan tahun air,
mengangguk, dan menyimpan kata-kata itu, sebab ia adalah jenis yang menyimpan,
sebagaimana Rangin adalah jenis yang menyimpan, sebagaimana Sela adalah jenis
yang menyimpan, sebagaimana semua dari mereka di sepanjang rantai itu, sampai
ke ujungnya yang masih tak terlihat, adalah jenis yang menyimpan.
❖
Dan setelah
Rangin, rantai berlanjut, sebagaimana ia dirancang untuk berlanjut, melalui
generasi demi generasi yang akan terlalu banyak untuk diceritakan dan terlalu
penting untuk dilupakan.
Bangsa yang Rangin bantu bangun di tanah tinggi tumbuh, dan menyebar, dan
berubah, dan terbelah menjadi banyak bangsa, sebagaimana satu sungai terbelah menjadi
banyak anak sungai ketika ia mencapai dataran. Mereka turun dari gunung pertama
ke lembah-lembah, dan membangun di sana, dan ketika mereka membangun mereka
membawa serta ingatan yang Rangin tanamkan, ingatan tentang dunia yang
tenggelam, peringatan untuk tidak pernah percaya bahwa air tunduk pada mereka,
filosofi tentang menerima dan melepaskan dan menjaga ingatan. Dan rantai
pengingat mengalir bersama mereka, menyebar bersama mereka, kadang menebal dan
kadang menipis, kadang hampir putus dan selalu, pada akhirnya, bertahan, sebab
kerikil tak bisa dihancurkan, dan sumpah tak bisa dilupakan selama satu pun
keturunan Nyai Sela masih hidup untuk membawanya.
Dan sepanjang ribuan tahun yang mengikuti, melalui peradaban-peradaban
yang akan naik dan jatuh di tanah ini sebagaimana Nagara Rata naik dan jatuh,
melalui gunung-gunung yang akan menjadi suci dan kerajaan-kerajaan yang akan
menjadi legenda dan nama-nama yang akan diukir di batu dan kemudian dilupakan,
satu hal akan tetap, mengalir di bawah segala perubahan seperti air mengalir di
bawah tanah: rantai para pengingat, membawa sumpah Nyai Sela, menjaga janji
kepada ratu yang menunggu di laut, menunggu hari, masih sangat jauh, masih
banyak Buku jauhnya, ketika seseorang yang membawa darah mereka akan berdiri di
tempat yang tepat dengan ingatan yang tepat, dan menepati apa yang dijanjikan
di air Tahun Nol.
Dan di dasar laut, di selatan, di kedalaman tempat dulu adalah istana,
Ratu Kidul menunggu, utuh dan dingin dan abadi, sementara di atasnya dunia
berputar dan berubah dan lupa dan ingat dan lupa lagi. Ia tidak tahu berapa
lama ia telah menunggu; waktu tak lagi berarti apa pun baginya. Tapi kadang,
sangat jarang, sebuah getaran akan mencapainya melalui air, sebuah mimpi
seorang anak di gunung, sebuah sumpah yang diucapkan di sebuah perapian, sebuah
kerikil yang bangun di dalam darah seseorang yang baru lahir, dan di saat-saat
itu, sesuatu di dalam Ratu Kidul, serpihan kecil perasaan yang ia bawa turun,
serpihan yang berbentuk seperti saudarinya, akan bergerak, sangat sedikit,
seperti seseorang yang tidur sangat dalam yang mendengar, dari kejauhan, suara
yang ia kenali. Dan bisik air akan membawa getaran itu, bolak-balik, antara
yang menunggu di bawah dan yang mengingat di atas, sepanjang seluruh waktu yang
akan datang, sampai ke hari ketika getaran itu akhirnya akan menjadi langkah
kaki, dan seseorang akan datang, dan ratu akan, akhirnya, tidak sendirian lagi.
❖
BAB DUA BELAS
Yang Menghalus dan Yang Mengingat
Air mengubah segala sesuatu yang
disentuhnya, tapi tidak dengan cara yang sama. Manusia ia ajari untuk
mengingat. Lelembut ia ajari untuk menghalus. Dan di antara dua jenis perubahan
itu, sepanjang segala zaman, tanah ini akan dihuni oleh dua bangsa yang melihat
satu sama lain hanya di sudut mata.
dari ajaran para pengingat, tentang yang
halus
Anak yang
membawa dua kerikil tumbuh menjadi seorang lelaki, dan di tanah tinggi tempat
Rangin telah mati dan diwariskan kepadanya, ia menjadi sesuatu yang belum
pernah ada sebelumnya: seorang pengingat yang juga bisa melihat yang halus.
Namanya, dalam lidah bangsa gunung yang baru, berarti sesuatu yang dekat
dengan yang berjalan di dua tepi, walau ia jarang dipanggil dengan nama itu,
sebab orang yang membawa beban seperti yang ia bawa cenderung dipanggil dengan
gelar daripada nama, didekati dengan hormat daripada keakraban. Ia membawa,
sebagaimana Rangin telah membawa, ingatan tentang dunia yang tenggelam, ia
bermimpi tentang kanal-kanal lurus dan kota-kota yang saling memandang dan dua
saudari yang berpisah di tepi dunia. Tapi ia membawa juga kerikil yang kedua,
Wening, dan maka ia melihat apa yang tak dilihat Rangin, apa yang tak dilihat
hampir siapa pun: ia melihat para Lelembut.
Mereka ada di mana-mana di gunung. Itu adalah hal pertama yang ia
pelajari, ketika kerikil kedua bangun di dalamnya di masa mudanya, dan itu
nyaris menghancurkannya: bahwa dunia yang ia kira kosong sebenarnya penuh,
bahwa di setiap mata air dan setiap pohon tua dan setiap tikungan jurang ada
penghuni yang ia tak pernah lihat sebelumnya, makhluk-makhluk yang tidak
menapak tanah sepenuhnya, yang bergerak di tepi penglihatan, yang ada dan tidak
ada pada saat yang sama. Untuk waktu yang lama ia takut pada mereka,
sebagaimana orang takut pada apa yang tak mereka mengerti. Tapi Rangin, sebelum
ia mati, telah menyuruhnya untuk belajar melihat mereka tanpa takut, dan maka
ia belajar, pelan, sepanjang bertahun-tahun, untuk memandang dunia yang halus
tidak sebagai ancaman melainkan sebagai apa adanya: bangsa lain, penghuni lain
dari tanah yang sama, yang air telah ubah dengan cara yang berbeda dari cara ia
mengubah manusia.
❖
Sebab itulah
yang akhirnya ia pahami tentang mereka, dan yang membuatnya bisa melihat mereka
tanpa takut: bahwa para Lelembut bukan roh dalam arti yang orang takutkan,
bukan hantu, bukan iblis, melainkan sesuatu yang lebih dekat dan lebih
menyedihkan.
Mereka adalah, ia mulai memahami, apa yang terjadi pada makhluk hidup
yang dialami air dengan cara yang berbeda dari manusia. Ketika air datang,
bukan hanya banjir besar, melainkan air dalam pengertian yang lebih dalam,
perubahan, kehilangan, akhir yang datang pada segala sesuatu, manusia
menanggapinya dengan mengingat, atau dengan menolak seperti para penghalus
Nagara Rata. Tapi ada jalan ketiga, jalan yang tak diambil oleh manusia
melainkan oleh makhluk-makhluk lain, oleh sesuatu di dalam tanah dan air dan
pohon yang lebih tua daripada manusia: jalan menghalus. Bukan menghalus seperti
Ratu Kidul menghalus, dengan membuang waktu dari dalam diri secara sengaja.
Melainkan menghalus dengan cara yang lebih alami dan lebih lambat, menjadi
semakin kurang padat, semakin kurang menapak, semakin menjadi bagian dari
tempat daripada penghuni tempat, sampai akhirnya makhluk itu tak lagi
sepenuhnya ada di dunia kasar sama sekali, melainkan ada di tepi, di antara, di
alam halus yang membayangi alam kasar seperti bayangan membayangi benda.
Dan maka para Lelembut adalah, dalam satu pengertian, sepupu manusia,
makhluk yang menghadapi akhir yang sama yang dihadapi manusia, kehilangan yang
sama, air yang sama, tapi yang menjawabnya dengan cara yang berbeda. Di mana
para pengingat berkata: aku akan menyimpan apa yang hilang di dalam ingatan,
para Lelembut berkata, dengan cara mereka yang tanpa kata: aku akan menjadi
begitu halus sehingga tak ada lagi yang bisa hilang dariku, sebab aku tak lagi
cukup padat untuk memiliki apa pun yang bisa diambil. Dan keduanya, pengingat
dan Lelembut, hidup berdampingan di tanah yang sama, melihat satu sama lain
hanya di sudut mata, dua jawaban berbeda atas pertanyaan yang sama, dua bangsa
yang dilahirkan oleh air dari satu kehilangan.
❖
Dan kemudian,
pada suatu malam di tepi sebuah mata air tua di gunung, salah satu dari mereka
berbicara kepadanya, dan itu adalah pertama kalinya dalam ingatan rantai bahwa
seorang Lelembut dan seorang pengingat berbicara, dan itu mengubah segalanya
yang akan datang.
Ia tampak, ketika akhirnya ia membiarkan dirinya tampak sepenuhnya,
seperti seorang perempuan tua, atau seperti ingatan tentang seorang perempuan
tua, sebab ada kualitas tembus cahaya padanya, kualitas sesuatu yang hampir
tidak ada. Ia telah, ia katakan kepadanya, dengan suara yang lebih seperti
gerak air daripada suara, dulu menjadi manusia. Sangat lama yang lalu. Ia telah
hidup di dataran, di dunia sebelum laut, dan ketika air datang ia tidak
mengingat seperti yang dilakukan para pengingat, dan ia tidak menghalus dengan
sengaja seperti yang dilakukan para bangsawan, melainkan ia telah, perlahan,
sepanjang waktu yang terlalu panjang untuk diukur, menghalus dengan sendirinya,
kehilangan kepadatannya sehelai demi sehelai, sampai ia menjadi apa yang ia
sekarang: sesuatu yang ada di tepi, yang mengingat samar-samar pernah menjadi
manusia, yang menghuni mata air ini sebab ia tak punya tempat lain untuk dihuni.
“Kalian yang mengingat, ” katanya kepadanya, “kalian membuat kami iri,
dengan cara kami yang sudah hampir tak bisa iri lagi. Sebab kalian menyimpan
dunia yang hilang. Ia ada di dalam kalian, jelas, hidup, bisa diceritakan. Kami
juga kehilangan dunia yang sama, aku berjalan di pasar yang sama yang kalian
impikan, aku melihat kanal-kanal yang sama, tapi kami tidak menyimpannya. Kami
membiarkannya pergi, bersama kepadatan kami, bersama segala sesuatu yang bisa
hilang. Dan sekarang aku hampir tak bisa mengingat wajahku sendiri ketika aku
masih manusia. Aku hanya tahu bahwa aku dulu, dan bahwa ada sebuah dunia, dan
bahwa ia hilang.” Ia memandangnya dengan mata yang hampir tidak ada. “Maukah
kau melakukan sesuatu untukku, pengingat? Maukah kau mengingat untukku? Aku tak
bisa lagi mengingat dunia yang kuhilangkan. Tapi kau bisa. Ceritakan kepadaku
tentang pasar, tentang kanal, tentang daratan yang luas. Beri aku kembali,
sejenak, apa yang kuhilangkan ketika aku menjadi halus.”
❖
Dan maka ia
melakukannya. Ia duduk di tepi mata air tua itu, sepanjang malam, dan ia
mengingat untuk seorang Lelembut yang telah lupa, dan dalam melakukannya ia
memahami apa yang Rangin maksudkan ketika ia berkata bahwa suatu hari garis
pengingat dan garis Lelembut akan saling membutuhkan.
Sebab para pengingat menyimpan dunia yang hilang, tapi mereka
menyimpannya dari luar, mereka mengingat dunia yang tenggelam, tapi tak satu
pun dari mereka pernah benar-benar hidup di dalamnya. Mimpi mereka, betapapun
jelasnya, adalah mimpi tentang tempat yang tak pernah mereka pijak. Tapi para
Lelembut, yang tertua dari mereka, yang seperti perempuan di mata air ini,
mereka telah benar-benar hidup di dunia sebelum laut. Mereka telah berjalan di
pasar yang sesungguhnya, melihat kanal yang sesungguhnya, dengan mata yang sesungguhnya,
sebelum mata itu menjadi halus. Mereka kehilangan ingatannya, ya. Tapi ingatan
yang mereka kehilangan adalah ingatan langsung, ingatan dari dalam, jenis
ingatan yang tak bisa dimiliki pengingat betapapun jelas mimpi mereka.
Dan maka ada pertukaran yang mungkin di antara mereka, sebuah pertukaran
yang akan menjadi penting dengan cara-cara yang lelaki itu baru mulai
membayangkan: bahwa pengingat bisa memberi Lelembut kembali ingatan yang mereka
hilangkan, dan Lelembut bisa memberi pengingat sesuatu yang lebih berharga,
saksi langsung, detail yang hanya bisa diketahui oleh seseorang yang telah
benar-benar ada di sana, konfirmasi bahwa apa yang para pengingat impikan
bukanlah hanya mimpi melainkan ingatan sejati tentang dunia yang
sungguh-sungguh ada. Bersama, yang mengingat dari luar dan yang telah hidup
dari dalam, mereka bisa menyimpan dunia yang tenggelam lebih lengkap daripada
yang bisa dilakukan oleh masing-masing sendirian. Dan lelaki itu mengerti,
duduk di tepi mata air, bahwa ini adalah benih dari sesuatu yang akan tumbuh
sepanjang zaman-zaman yang akan datang: sebuah persekutuan antara dua bangsa
yang air pisahkan, yang masing-masing membawa setengah dari ingatan yang sama,
dan yang hanya bersama bisa membuatnya utuh.
❖
Menjelang fajar,
ketika lelaki itu telah selesai mengingat dan perempuan Lelembut itu telah
menerima kembali, sejenak, dunia yang ia hilangkan, ia bertanya kepadanya satu
hal terakhir, hal yang akan ia bawa kembali ke rantai dan wariskan sebagai
pengetahuan baru.
“Di selatan, ” katanya, “di dasar laut, ada yang lain seperti kau, tapi
tidak seperti kau. Mereka yang menghalus dengan sengaja. Aku merasakan mereka
kadang, dalam mimpiku. Sebuah ratu di antara mereka. Apakah kau tahu
tentangnya?”
Dan perempuan Lelembut itu diam untuk waktu yang lama, dan ketika ia
berbicara, suaranya lebih pelan, lebih takut, sejauh sesuatu yang hampir tidak
ada bisa takut. “Kami tidak pergi ke selatan, ” katanya. “Kami yang menghalus
dengan sendirinya, perlahan, kami tetap di tempat kami menjadi halus, di mata
air, di pohon, di gunung. Tapi mereka yang menghalus dengan sengaja, yang
membuang waktu dari diri mereka sekaligus, mereka turun ke laut, dan mereka
berbeda dari kami. Kami menjadi halus dan kehilangan; mereka menjadi halus dan
menyimpan, semuanya, utuh, selamanya. Itu lebih buruk, pengingat. Jauh lebih
buruk. Kami yang lupa setidaknya damai. Mereka yang ingat segalanya tanpa bisa merasakannya,
mereka adalah yang paling sengsara dari semua makhluk yang pernah air ciptakan.
Dan ratu mereka adalah yang paling sengsara dari mereka semua. Bila garismu
suatu hari bisa melakukan sesuatu untuknya, pengingat, bila janji yang kalian
bawa benar, maka lakukanlah, sebab tak ada penderitaan di seluruh tanah ini, di
alam kasar maupun alam halus, yang lebih dalam daripada penderitaan sesuatu
yang menyimpan segalanya dan tak bisa mencintai apa pun yang ia simpan.”
Dan lelaki itu membawa kata-kata itu kembali ke rantai, dan ia
mewariskannya bersama segala sesuatu yang lain, dan maka pengetahuan tentang
penderitaan Ratu Kidul menjadi bagian dari apa yang dibawa para pengingat,
bukan lagi hanya janji yang harus ditepati melainkan belas kasihan yang harus
dirasakan, sebuah pemahaman bahwa yang menunggu di dasar laut bukanlah monster
melainkan korban, saudari yang tersesat, sesuatu yang harus dibebaskan bukan
hanya karena janji melainkan karena kasihan. Dan di bawah segala sesuatu, di
dasar laut di selatan dan di mata air di gunung dan di darah para pengingat
yang menyebar ke seluruh tanah, air bergerak, menyimpan, menunggu, membawa,
bolak-balik, antara yang menghalus dan yang mengingat, antara yang menunggu dan
yang berjanji, sebuah getaran yang sepanjang ribuan tahun yang akan datang akan
tumbuh, pelan, dari bisikan menjadi gema menjadi panggilan, menuju hari ketika
dua bangsa yang air pisahkan akhirnya akan bekerja bersama untuk menepati
sebuah janji yang dibuat di air Tahun Nol, dan membebaskan seorang ratu yang
telah menunggu, di kedalaman, lebih lama daripada yang bisa diingat oleh siapa
pun kecuali air.
❖
BAGIAN V
Lidah-Lidah yang Berpisah
BAB TIGA BELAS
Turun ke Lembah
Ketika satu bangsa menjadi banyak,
ingatannya pun menjadi banyak. Tiap lembah menyimpan kisah yang sama dengan
kata yang berbeda, sampai kata-kata itu berbeda begitu jauh sehingga anak-anak
dari satu nenek moyang tak lagi bisa saling memahami, dan hanya para pengingat,
yang membawa kisah di bawah kata, masih tahu bahwa mereka bersaudara.
dari ajaran para pengingat, tentang
lidah-lidah yang berpisah
Banyak generasi
setelah lelaki yang membawa dua kerikil duduk di tepi mata air dan mengingat
untuk seorang Lelembut, bangsa yang Rangin bantu bangun di tanah tinggi telah
tumbuh terlalu besar untuk tanah tinggi itu sendiri.
Itu adalah masalah yang tak pernah dibayangkan oleh mereka yang mendarat
dari laut, yang seluruh ingatannya adalah tentang dunia yang menyusut, tentang
tanah yang diambil air sedikit demi sedikit. Tapi di gunung, jauh dari laut,
tanah tidak menyusut. Ia tetap. Dan di atas tanah yang tetap, sebuah bangsa
yang ingat bagaimana caranya bertahan hidup melakukan satu hal yang dilakukan
oleh bangsa-bangsa yang bertahan hidup: ia tumbuh. Anak-anak lahir, dan tumbuh,
dan punya anak-anak sendiri, dan lereng-lereng yang dulu cukup untuk segelintir
pengungsi kini penuh dengan kampung-kampung, dan kampung-kampung itu mulai
bersaing untuk tanah dan air dan kayu, dan untuk pertama kalinya sejak banjir,
orang-orang mulai memandang ke bawah, ke lembah-lembah, ke dataran rendah yang
membentang dari kaki gunung menuju cakrawala.
Dataran. Untuk generasi yang lahir di gunung, yang tak pernah melihat
laut, kata itu tidak lagi membawa teror yang ia bawa bagi nenek moyang mereka.
Mereka tahu kisah dunia yang tenggelam, para pengingat memastikan mereka
mengetahuinya, tapi mengetahui sebuah kisah tidak sama dengan mengalaminya, dan
bagi orang muda yang berdiri di lereng yang penuh sesak dan memandang lembah
hijau yang kosong di bawahnya, lembah itu tidak tampak seperti ancaman. Ia
tampak seperti ruang. Seperti masa depan. Seperti tanah yang menunggu untuk
ditinggali.
❖
Maka mereka
turun, sebagaimana air, dengan caranya sendiri, juga turun: mencari tingkat
yang lebih rendah, menyebar ke mana ada ruang.
Tidak sekaligus, dan tidak semua. Sebagian tetap di gunung, terutama
mereka yang membawa ingatan paling dalam, yang merasa paling dekat dengan tanah
tinggi tempat nenek moyang mereka diselamatkan. Tapi banyak yang turun,
kelompok demi kelompok, generasi demi generasi, mengikuti sungai-sungai dari
gunung ke lembah, membangun kampung baru di tanah yang lebih rendah dan lebih
subur, dan menemukan, sebab tanah rendah memang lebih subur, itu tak pernah
menjadi kebohongan, bahwa hidup di lembah lebih mudah daripada hidup di lereng.
Tanah memberi lebih banyak. Panen lebih besar. Dan dengan kemudahan datang
pertumbuhan, dan dengan pertumbuhan datang lebih banyak perpindahan, lebih jauh
ke dataran, lebih jauh dari gunung tempat semuanya dimulai.
Para pengingat menyaksikan ini dengan perasaan terbelah yang akan menjadi
ciri khas mereka sepanjang segala zaman: kewajiban untuk mengingat, dan
ketidakmampuan untuk menghentikan. Sebab mereka melihat, dalam perpindahan ke
dataran, gema dari sesuatu yang sangat tua dan sangat berbahaya. Bukankah
Nagara Rata juga sebuah peradaban dataran? Bukankah ia juga tumbuh di tanah
subur yang memberi dengan mudah, sampai ia lupa bahwa tanah yang memberi juga
bisa mengambil? Para pengingat memperingatkan, sebagaimana Giri Tua
memperingatkan, sebagaimana para pengingat selalu memperingatkan: jangan
terlalu mencintai dataran, jangan terlalu percaya pada tanah yang mudah, ingat
bahwa air selalu kembali. Dan mereka ditanggapi sebagaimana para pengingat
sering ditanggapi, dengan hormat, dengan anggukan, dan dengan pengabaian yang
sopan, sebab lembah terlalu hijau dan hidup terlalu mudah untuk dirusak oleh
peringatan tentang bencana yang tak seorang pun yang hidup pernah lihat.
❖
Dan ketika
bangsa itu menyebar, ke lembah ini dan lembah itu, ke sisi gunung ini dan sisi
gunung itu, dipisahkan oleh jurang dan hutan dan jarak, sesuatu terjadi pada
cara mereka berbicara, sesuatu yang begitu pelan sehingga tak ada satu generasi
pun yang memperhatikannya, dan begitu mendalam sehingga ia akan membentuk tanah
ini selamanya.
Lidah mereka mulai berpisah. Mula-mula hanya sedikit, sebuah kata yang
diucapkan berbeda di lembah utara daripada di lembah selatan, sebuah nama yang
berubah bentuk ketika ia berpindah dari mulut ke mulut melintasi jarak. Lalu
lebih banyak. Kampung-kampung yang terpisah oleh gunung yang tak bisa dilewati
dengan mudah berhenti saling bicara setiap hari, dan ketika orang berhenti
saling bicara setiap hari, lidah mereka mulai menyimpang, perlahan, tak
terhindarkan, seperti dua ranting dari satu pohon yang tumbuh menjauh satu sama
lain. Setelah cukup banyak generasi, orang dari lembah utara dan orang dari
lembah selatan, yang nenek moyangnya pernah berbicara satu lidah, yang
sama-sama turun dari mereka yang mendarat dari laut bersama Rangin, tak lagi
bisa saling memahami. Mereka telah menjadi, dalam segala hal yang tampak, dua
bangsa yang berbeda, dengan dua bahasa yang berbeda, dengan dua nama yang
berbeda untuk diri mereka sendiri.
Dan begitu pula seterusnya, melipat dan melipat, satu bangsa menjadi dua,
dua menjadi empat, empat menjadi banyak, sampai tanah yang dulu dihuni oleh
satu bangsa pengungsi kini dihuni oleh banyak bangsa yang masing-masing percaya
bahwa mereka selalu ada, yang masing-masing punya lidah sendiri dan adat
sendiri dan kisah sendiri tentang dari mana mereka datang, kisah-kisah yang
berbeda di permukaan tapi yang, bila seseorang mendengarkan cukup dalam, semua
mengandung gema yang sama: sebuah air yang datang, sebuah dunia yang hilang,
sebuah pendakian ke tanah yang tinggi. Sebab itulah yang tak bisa diubah oleh
perpisahan lidah: bahwa di bawah semua bahasa yang berbeda, semua bangsa yang
berbeda, ada satu ingatan yang sama, satu banjir, satu kehilangan, dari mana
mereka semua, tanpa mengetahuinya, turun.
❖
Dan di tengah
perpisahan ini, para pengingat menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang
dibutuhkan tanah ini lebih daripada sebelumnya: mereka menjadi benang di bawah
lidah-lidah yang berpisah.
Sebab rantai pengingat tidak berpisah sebagaimana lidah berpisah. Ia
tidak bisa. Kerikil tidak peduli pada bahasa; ingatan yang mereka bawa lebih
dalam daripada kata. Seorang pengingat di lembah utara dan seorang pengingat di
lembah selatan, walau mereka tak bisa lagi saling bicara dalam lidah
sehari-hari, membawa di dalam darah mereka kisah yang sama, mimpi yang sama
tentang kanal-kanal lurus, sumpah yang sama dari Nyai Sela, janji yang sama
kepada ratu yang menunggu. Dan ketika mereka bertemu, sebab kerikil Getih
membuat mereka saling mengenali, membuat seorang pengingat merasakan dalam
darah orang lain darah yang sama, mereka mengenali satu sama lain sebagai
saudara di bawah perbedaan lidah, anggota dari satu rantai yang lebih tua
daripada semua bahasa yang membelah tanah.
Dan maka para pengingat menjadi, tanpa merencanakannya, satu-satunya hal
yang menyatukan tanah yang semakin terpecah. Di atas permukaan, tanah itu adalah
banyak bangsa, banyak lidah, banyak adat, sebuah kepingan-kepingan yang tampak
tak punya kesamaan. Tapi di bawah permukaan, mengalir melalui semua kepingan
itu seperti air mengalir di bawah tanah yang terbelah, ada rantai pengingat,
membawa satu ingatan, satu sumpah, satu janji, menghubungkan lembah ke lembah
dan bangsa ke bangsa melalui sesuatu yang lebih dalam daripada bahasa. Mereka
adalah rahasia kesatuan tanah yang tampak terpecah. Dan suatu hari, jauh kelak,
ketika tanah ini punya nama dan kerajaan dan sejarah yang ditulis, akan ada
yang bertanya mengapa begitu banyak bangsa yang berbeda di pulau ini berbagi
mitos yang sama tentang banjir, filosofi yang sama tentang menerima, kerinduan
yang sama akan sesuatu yang tenggelam. Dan jawabannya, walau tak seorang pun
akan mengetahuinya, adalah para pengingat: benang yang tak terlihat di bawah
lidah-lidah yang berpisah, yang telah menjaga, sepanjang segala perpecahan,
ingatan bahwa semua bangsa di tanah ini, pada akhirnya, bersaudara.
❖
Pada akhir zaman
ini, seorang pengingat tua, keturunan yang jauh dari Rangin, yang namanya tak
penting sebab ia hanyalah satu simpul di antara banyak simpul, berdiri di
sebuah punggung gunung dan memandang ke bawah, ke tanah yang telah menjadi
banyak.
Ia bisa melihat, dari ketinggian, beberapa lembah sekaligus, dan ia tahu
bahwa di tiap lembah tinggal bangsa yang berbeda, dengan lidah yang berbeda,
yang sebagian bahkan telah mulai berperang satu sama lain atas tanah dan air,
lupa sepenuhnya bahwa mereka pernah satu. Dan ia merasakan kesedihan yang
dalam, sebab ia mengingat, ia harus mengingat, itu adalah bebannya, bahwa
mereka semua bersaudara, bahwa mereka semua turun dari segelintir pengungsi
yang mendarat dari laut, bahwa darah yang mereka tumpahkan satu sama lain
adalah darah yang sama. Tapi ia juga merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang
dekat dengan harapan, sebab ia tahu bahwa di tiap lembah yang berperang itu,
ada pengingat sepertinya, membawa kerikil sepertinya, membawa ingatan yang sama
tentang banjir dan sumpah dan janji. Dan selama itu benar, selama rantai
bertahan di bawah semua perpecahan, tanah ini tidak benar-benar terpecah,
sebagaimana daratan yang tenggelam tidak benar-benar tenggelam.
“Mereka akan lupa bahwa mereka bersaudara, ” katanya, kepada angin,
kepada lembah-lembah, kepada tak seorang pun. “Mereka akan berperang, dan
membangun kerajaan, dan menulis sejarah yang melupakan dari mana mereka datang.
Lidah mereka akan berpisah sampai tak ada yang ingat mereka pernah satu. Tapi
kami akan ingat. Kami akan selalu ingat. Dan suatu hari, ketika tanah ini sudah
cukup tua, ketika ia sudah punya nama dan sudah melupakan dan mengingat dan
melupakan lagi berkali-kali, seseorang akan menyatukan apa yang lidah pisahkan,
bukan dengan menaklukkan, tapi dengan mengingat; bukan dengan membuat semua
bangsa menjadi satu, tapi dengan menunjukkan kepada mereka bahwa mereka selalu,
di bawah segala perbedaan, satu.”
Dan di bawahnya, jauh di bawah lembah-lembah dan dataran dan akhirnya
laut, di kedalaman tempat seorang ratu menunggu, air bergerak, air yang sama
yang telah memisahkan dan menyatukan, yang telah menelan dan menyimpan, yang
membawa di dalamnya ingatan tentang dunia yang tenggelam dan janji tentang
dunia yang akan naik. Dan bisik air, yang kini telah menjadi sesuatu yang
mengalir di bawah seluruh tanah, di bawah semua lidah yang berpisah dan semua
bangsa yang lupa, membawa terus getarannya yang sabar, dari yang tenggelam
menuju yang menunggu, dari yang mengingat menuju yang akan mengingat, melalui
rantai yang tak akan putus, menuju zaman-zaman yang belum lahir ketika
lidah-lidah yang berpisah ini akan punya nama, dan kerajaan, dan prasasti yang
diukir di batu; ketika seseorang akan menulis bahasa pertama yang bertahan, dan
dengan itu mengubah cara tanah ini mengingat dirinya sendiri, selamanya.
❖
BAB EMPAT BELAS
Batu yang Mengingat
Selama ingatan hanya hidup di dalam
darah, ia bisa hilang dengan satu kematian yang salah. Tapi ketika manusia
belajar mengukir ingatan ke dalam batu, sesuatu berubah: untuk pertama kalinya,
yang diingat bisa bertahan lebih lama daripada yang mengingat. Para pengingat
menyambut ini dengan gembira, dan dengan takut, sebab batu yang mengingat juga
adalah batu yang bisa berbohong.
dari ajaran para pengingat, di ambang
zaman aksara
Zaman-zaman
berlalu di atas tanah yang telah menjadi banyak, dan dengan tiap zaman tanah
itu menjadi sesuatu yang lebih daripada kumpulan kampung yang berperang yang
dilihat oleh pengingat tua dari punggung gunung.
Bangsa-bangsa di lembah tumbuh, dan berperang, dan kadang menang dan
kadang kalah, dan dari peperangan mereka muncul sesuatu yang belum pernah ada
di tanah ini sejak Nagara Rata: bukan sekadar kampung, melainkan pemerintahan,
sebuah orang yang memerintah banyak kampung, sebuah pusat yang menarik upeti
dan tenaga dan kesetiaan dari sekitarnya. Mereka kecil pada mulanya,
pemerintahan-pemerintahan ini, tak lebih dari seorang kepala yang kuat dan
kampung-kampung yang takut padanya. Tapi mereka tumbuh, sebagaimana segala
sesuatu di tanah subur tumbuh, dan ketika mereka tumbuh mereka mulai
membutuhkan hal-hal yang dibutuhkan oleh kekuasaan yang tumbuh: cara untuk
menghitung upeti, cara untuk mengingat janji, cara untuk menyimpan perintah
yang bisa dikirim lebih jauh daripada suara manusia bisa membawanya.
Dan dari kebutuhan itu, perlahan, di lebih dari satu tempat, dengan cara
yang tak ada satu orang pun yang menciptakannya, lahir aksara. Tanda-tanda yang
berdiri untuk kata-kata. Goresan di atas tanah liat, ukiran di atas batu, takik
di atas kayu, mula-mula hanya untuk menghitung, untuk menandai berapa banyak,
berapa banyak yang berutang, berapa banyak yang dimiliki. Lalu lebih dari itu.
Sebab begitu manusia memiliki tanda yang berdiri untuk satu kata, mereka mulai
bertanya tanda apa yang berdiri untuk kata yang lain, dan kata yang lain lagi,
sampai suatu hari, dan ini adalah salah satu ambang besar dalam sejarah tanah
ini, walau tak seorang pun yang hidup pada saat itu mengetahuinya, sampai suatu
hari seseorang mengukir, bukan sebuah hitungan, melainkan sebuah kalimat,
sebuah pikiran, sesuatu yang dimaksudkan untuk dibaca oleh orang yang belum
lahir.
❖
Para pengingat
adalah, sebagaimana selalu, di antara yang pertama memahami apa artinya ini,
dan mereka memahaminya dengan campuran gembira dan takut yang akan
mendefinisikan hubungan mereka dengan aksara selamanya.
Sebab selama seluruh sejarah mereka, sejak Nyai Sela menelan tujuh
kerikil di air Tahun Nol, ingatan telah hidup hanya di satu tempat: di dalam
manusia. Di dalam darah, di dalam mimpi, di dalam kata-kata yang diucapkan dari
mulut ke telinga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan itu telah
membuat ingatan kuat dengan satu cara, ia hidup, ia bisa berubah, ia bisa
dirasakan, tapi lemah dengan cara yang lain: ia bisa hilang. Satu kematian yang
salah, satu pengingat yang mati sebelum mewariskan, satu kampung yang tenggelam
atau terbakar atau dibantai, dan seluruh untaian rantai bisa putus, ingatan
yang telah dibawa sepanjang ribuan tahun bisa lenyap dalam satu malam. Para
pengingat telah hidup dengan ketakutan ini selama seluruh keberadaan mereka:
ketakutan bahwa rantai akan putus pada mereka, bahwa mereka akan menjadi yang
gagal mewariskan.
Dan kini, dengan aksara, ada kemungkinan baru. Sebuah ingatan yang diukir
di batu tidak mati dengan kematian orang yang mengukirnya. Ia bertahan. Ia bisa
dibaca oleh orang yang belum lahir, oleh orang yang tak pernah bertemu yang
mengukirnya, oleh orang yang berbicara lidah yang berbeda asalkan mereka bisa
membaca tanda. Untuk pertama kalinya dalam sejarah tanah ini, yang diingat bisa
bertahan lebih lama, jauh lebih lama, daripada yang mengingat. Bagi para
pengingat, yang seluruh keberadaannya adalah perang melawan kelupaan, ini
adalah sesuatu yang nyaris seperti keajaiban.
❖
Tapi para
pengingat juga melihat, lebih cepat daripada orang lain, bahaya dari batu yang
mengingat, dan itu adalah bahaya yang akan menghantui tanah ini sepanjang
seluruh zaman aksara yang akan datang.
Sebab ingatan yang hidup di dalam darah memiliki sebuah penjaga: kerikil.
Seorang pengingat tak bisa berbohong tentang apa yang ia ingat, tak sepenuhnya,
sebab ingatan itu bukan miliknya untuk diubah, ia datang dari kerikil, dari
rantai, dari Nyai Sela sendiri, dan ia membawa di dalamnya kebenaran tentang
apa yang sungguh-sungguh terjadi. Tapi batu tidak punya kerikil. Batu mengingat
apa pun yang diukirkan ke atasnya, benar atau salah, dan ia mengingatnya dengan
keyakinan yang sama, ketahanan yang sama, otoritas yang sama. Sebuah kebohongan
yang diukir di batu bertahan persis selama kebenaran yang diukir di batu, dan
bagi orang yang membacanya seribu tahun kemudian, tak ada cara untuk
membedakannya.
Dan para pengingat melihat, dengan kejernihan yang menyedihkan, bagaimana
ini akan digunakan. Sebab mereka yang memerintah, para kepala yang menjadi
raja, pemerintahan-pemerintahan yang menjadi kerajaan, mereka akan menemukan
dalam aksara bukan hanya cara untuk mengingat melainkan cara untuk membentuk
apa yang diingat. Mereka akan mengukir di batu bukan apa yang terjadi melainkan
apa yang mereka ingin orang percayai telah terjadi. Mereka akan menulis diri
mereka sendiri menjadi keturunan dewa, kemenangan mereka menjadi lebih besar
daripada adanya, musuh mereka menjadi lebih jahat daripada adanya. Mereka akan
menggunakan batu yang mengingat untuk membuat tanah ini melupakan kebenaran dan
mengingat kebohongan, dan kebohongan itu akan bertahan, terukir, selama batu
bertahan. Dan terhadap ini, para pengingat akan menjadi satu-satunya penjaga:
pembawa ingatan yang hidup, ingatan yang tak bisa diukir dan tak bisa
dipalsukan, yang akan berdiri melawan batu-batu yang berbohong dengan
satu-satunya senjata yang mereka miliki, kebenaran yang dibawa di dalam darah,
dari Nyai Sela, yang tak pernah, dalam seluruh ribuan tahun, bisa diubah oleh
kekuasaan mana pun.
❖
Dan maka, di
suatu tempat di ambang zaman aksara, seorang pengingat melakukan sesuatu yang
belum pernah dilakukan sebelumnya: ia mengukir, di atas batu, bukan upeti dan
bukan kemenangan raja, melainkan ingatan.
Ia tahu risikonya. Ia tahu bahwa mengukir ingatan di batu adalah
membekukannya, membuatnya berhenti hidup dan berubah sebagaimana ingatan dalam
darah hidup dan berubah. Ia tahu bahwa batu bisa berbohong, dan bahwa dengan
mengukir ia mungkin menciptakan sesuatu yang suatu hari akan disalahgunakan.
Tapi ia juga tahu ketakutan yang lebih tua, ketakutan bahwa rantai akan putus,
bahwa suatu malam yang buruk akan datang ketika pengingat terakhir mati sebelum
mewariskan, dan seluruh ingatan tentang dunia yang tenggelam akan lenyap dari
tanah ini selamanya. Dan terhadap ketakutan itu, batu menawarkan sesuatu yang
darah tak bisa: jaminan. Sebuah salinan yang akan bertahan bahkan bila rantai
putus, sebuah benih yang bisa menumbuhkan kembali ingatan bahkan dari kepunahan.
Maka ia mengukir, dengan hati-hati, dalam aksara yang baru dan masih
kaku, kalimat yang paling penting yang ia tahu, kalimat pendiri, sumpah Nyai
Sela: selama ada keturunanku, daratan ini tidak benar-benar tenggelam. Dan di
bawahnya ia mengukir, sejauh ia bisa, kisah ringkas dari apa yang kalimat itu
maksudkan, bahwa ada dahulu sebuah daratan, luas dan dicintai, bahwa air
mengambilnya, bahwa mereka yang mengingat membawa kisahnya ke tanah tinggi dan
menjaganya hidup. Ia tidak bisa mengukir seluruhnya; batu terlalu keras dan
aksara terlalu muda dan hidup terlalu pendek. Tapi ia mengukir cukup, cukup
supaya bila suatu hari rantai yang hidup putus, seseorang yang menemukan batu
ini bisa, dari goresan-goresan ini, mulai mengingat kembali. Ia menanam, di
dalam batu, sebuah benih yang bisa tidur sepanjang zaman dan bangun ketika
dibutuhkan, sebagaimana kerikil tidur dan bangun, sebagaimana ingatan itu
sendiri tidur dan bangun sepanjang rantai panjang dari Nyai Sela sampai ke hari
yang tak bisa ia bayangkan.
❖
Batu itu
berdiri, ketika pengingat yang mengukirnya telah lama mati, dan ia akan berdiri
jauh lebih lama daripada yang bisa ia bayangkan, melalui zaman-zaman aksara
yang akan datang, melalui kerajaan-kerajaan yang akan naik dan jatuh, melalui
semua perubahan yang akan menimpa tanah ini sepanjang ribuan tahun.
Sebagian besar dari apa yang diukir di batu di tanah ini, sepanjang
zaman-zaman yang akan datang, akan menjadi apa yang ditakuti para pengingat:
kebohongan kekuasaan, kemenangan yang dibesar-besarkan, raja-raja yang menulis
diri mereka menjadi dewa. Prasasti demi prasasti akan mengukir versi yang
nyaman dari sejarah, dan banyak dari kebenaran akan hilang di bawah berat dari
batu-batu yang berbohong. Tapi di antara semua itu, tersembunyi, sering tak
dikenali, kadang terkubur dan terlupakan sepanjang generasi, akan ada batu-batu
lain, batu-batu pengingat, yang mengukir bukan kebohongan melainkan ingatan,
yang membawa di dalam goresan kaku mereka benih dari kebenaran yang lebih tua:
tentang banjir, tentang daratan yang tenggelam, tentang sumpah yang dibuat di
air. Dan suatu hari, jauh kelak, di zaman yang bahkan para pengingat tak bisa
bayangkan, ketika tanah ini akan punya nama yang dikenal seluruh dunia dan
sejarah yang ditulis dalam aksara yang bahkan belum lahir, seseorang akan
menemukan batu-batu ini, dan membaca goresan-goresan tua mereka, dan mulai
bertanya: dari mana datang kisah-kisah banjir ini? Mengapa begitu banyak bangsa
di pulau ini mengingat sebuah dunia yang tenggelam?
Dan di bawah segala sesuatu, di bawah batu-batu yang berbohong dan
batu-batu yang mengingat, di bawah kerajaan-kerajaan yang akan naik dan
lidah-lidah yang telah berpisah, di bawah lembah dan dataran dan akhirnya laut,
di kedalaman tempat seorang ratu menunggu, utuh dan dingin dan abadi, air
bergerak. Dan bisik air, yang telah menjadi ancaman dan gema dan janji, kini
menjadi sesuatu yang baru lagi: ia menjadi pertanyaan, sebuah pertanyaan yang
ditanam di dalam batu dan di dalam darah dan di dalam air itu sendiri, menunggu
untuk ditanyakan oleh seseorang di masa depan yang cukup tua untuk memilikinya:
dari mana kita datang? Apa yang tenggelam di bawah kita? Dan siapa yang masih
menunggu, di kedalaman, untuk diingat? Sebab tanah ini telah mulai, untuk
pertama kalinya, mengukir ingatannya ke dalam sesuatu yang lebih keras daripada
daging, dan dalam melakukannya, ia telah mulai perjalanan panjang menuju hari
ketika ingatan itu, terukir dan terkubur dan ditemukan kembali, akhirnya akan
cukup untuk membebaskan apa yang menunggu di bawah air.
❖
BAB LIMA BELAS
Banjir Tujuh Generasi
Banjir tidak datang sekali. Inilah
pelajaran yang paling sulit dan paling penting: bahwa air kembali, lagi dan
lagi, sepanjang segala zaman, dan bahwa tiap generasi harus belajar kembali apa
yang generasi sebelumnya pelajari dan lupa. Banjir tujuh generasi bukanlah satu
banjir. Ia adalah nama untuk seluruh cara dunia berakhir dan dimulai lagi.
penutup ajaran para pengingat tentang
Banjir Tujuh Generasi
Pada akhirnya,
mereka yang mengingat memahami mengapa kisah ini disebut Banjir Tujuh Generasi,
dan pemahaman itu sendiri adalah salah satu hal yang paling penting yang mereka
wariskan.
Sebab pada mulanya orang mengira nama itu merujuk pada satu banjir,
banjir besar, banjir Tahun Nol, banjir yang menenggelamkan Nagara Rata dan dari
mana semuanya turun. Dan dalam satu pengertian itu benar. Tapi para pengingat,
yang membawa kerikil ketujuh, yang mengingat bahwa banjir Tahun Nol bukanlah
banjir pertama melainkan hanya banjir yang ini, memahami sesuatu yang lebih
dalam: bahwa air tidak datang sekali. Bahwa ia datang, dan surut, dan datang
lagi, sepanjang segala zaman, tidak selalu sebagai air harfiah, tidak selalu
sebagai laut yang naik, tapi sebagai bencana, sebagai kehancuran, sebagai akhir
yang datang pada tiap peradaban sebagaimana ia datang pada Nagara Rata. Tujuh
generasi: itu adalah perkiraan kasar tentang seberapa lama dibutuhkan bagi
sebuah bangsa untuk lupa. Untuk lahir setelah bencana terakhir, tumbuh dalam
keamanan yang dibangun di atas ingatan tentang bencana, dan kemudian, perlahan,
melupakan, sampai generasi datang yang tak lagi percaya bahwa air bisa kembali,
dan membangun di dataran, dan menertawakan para pengingat, dan dengan begitu
mengundang banjir berikutnya.
Itulah bentuk sejarah yang dilihat para pengingat, bentuk yang membuat
mereka sekaligus putus asa dan tak tergantikan: sebuah lingkaran, atau lebih
tepatnya sebuah spiral, di mana bencana dan kelupaan dan kemakmuran dan
kelupaan lagi dan bencana lagi berputar tanpa akhir, tiap tujuh generasi atau
lebih, sepanjang seluruh sejarah tanah ini. Dan tugas para pengingat, mereka
memahami akhirnya, bukanlah untuk menghentikan lingkaran, tak ada yang bisa
menghentikannya, ia setua manusia, setua air, melainkan untuk memperpendek
kelupaan, untuk menjaga ingatan hidup sedikit lebih lama di tiap putaran,
supaya tiap bencana sedikit kurang total, supaya sedikit lebih banyak yang
bertahan menyeberang ke putaran berikutnya.
❖
Dan rantai
bertahan, sepanjang putaran demi putaran, sebagaimana ia dirancang untuk
bertahan.
Ia menipis dan menebal, hampir putus dan pulih kembali, melompat dari
bangsa ke bangsa ketika bangsa-bangsa naik dan jatuh, dari lidah ke lidah
ketika lidah-lidah berpisah dan berpisah lagi. Kadang ia hampir hilang, ada
zaman-zaman gelap, para pengingat tahu, zaman-zaman ketika rantai menyusut
sampai hanya beberapa pembawa yang tersisa di seluruh tanah, ketika satu
kematian yang salah bisa memutuskannya selamanya. Tapi ia tak pernah putus.
Selalu, pada saat-saat paling tipis, kerikil akan bangun pada seorang anak yang
tak terduga, di sebuah lembah yang jauh, dan rantai akan menebal kembali, dan
ingatan akan terus mengalir. Sebab itulah yang dijanjikan oleh sumpah Nyai
Sela, dan sumpah itu, walau diucapkan oleh seorang perempuan tua yang tenggelam
sepuluh ribu tahun yang lalu, telah terbukti lebih kuat daripada kerajaan mana
pun, lebih tahan lama daripada prasasti mana pun, lebih dalam daripada lidah
mana pun: selama ada keturunannya, daratan yang tenggelam tidak benar-benar
tenggelam.
Dan tanah ini, yang dimulai sebagai tanah tinggi tempat segelintir
pengungsi mendarat dari laut, telah menjadi sesuatu yang luas dan tua dan
rumit, penuh dengan bangsa dan lidah dan kerajaan, penuh dengan gunung-gunung
yang menjadi suci dan sungai-sungai yang menjadi keramat dan tempat-tempat yang
menyimpan kekuatan yang tak bisa dijelaskan oleh mereka yang tinggal di sana,
kekuatan yang sebenarnya adalah ingatan, gema dari dunia yang tenggelam yang
masih merembes ke atas melalui tanah dan air. Mereka yang tinggal di tanah ini
akan, sepanjang segala zaman, merasakan sesuatu tentangnya yang mereka tak bisa
namai, sebuah kedalaman, sebuah kesedihan yang indah, sebuah perasaan bahwa di
bawah segala sesuatu ada sesuatu yang hilang dan dirindukan. Mereka akan menyebutnya
dengan banyak nama, menjelaskannya dengan banyak cerita. Tapi pada akarnya,
selalu, akan ada hal yang sama: sebuah daratan yang tenggelam, dan sebuah
rantai yang mengingatnya, dan sebuah janji yang belum ditepati.
❖
Dan di selatan,
di dasar laut, di kedalaman tempat dulu adalah istana Nagara Rata, Ratu Kidul
masih menunggu.
Waktu tak berarti apa pun baginya; ia tak bisa menghitung tahun-tahun
yang telah lewat, tak bisa merasakan ribuan tahun yang telah mengalir di
atasnya sementara dunia di permukaan berputar melalui putaran demi putaran
bencana dan kelupaan. Ia hanya ada, utuh dan dingin dan abadi, sebagaimana ia
memilih untuk ada, menyimpan di dalam dirinya ingatan sempurna tentang sebuah
dunia yang tak seorang pun lagi yang hidup pernah lihat, wajah saudarinya di
akhir, pasar tempat empat kanal bertemu, ladang liar yang penuh bunga,
hari-hari sebelum laut. Ia memegang semua itu, utuh, tak berubah, dan tak bisa
merasakan satu pun darinya, dan itu adalah penderitaan yang lebih dalam
daripada penderitaan mana pun di tanah ini, sebagaimana seorang Lelembut tua
pernah berkata kepada seorang pengingat di tepi mata air: yang paling sengsara
dari semua makhluk yang pernah air ciptakan.
Tapi ia menunggu. Dan dalam penantiannya ada sesuatu yang menyerupai
harapan, walau ia hampir tak bisa lagi merasakan harapan, sebab ia memegang, di
antara semua ingatannya yang dingin, satu ingatan yang masih, samar-samar,
hangat: ingatan tentang saudarinya berjanji, di kampung tanah tinggi, di
malam-malam terakhir sebelum air datang. Kau tidak akan sendirian selamanya.
Sepuluh ribu tahun, mungkin. Tapi tidak selamanya. Dan kadang, sangat jarang,
melalui ribuan tahun yang tak bisa ia hitung, sebuah getaran akan mencapainya
melalui air, sebuah mimpi seorang anak di gunung yang jauh, sebuah sumpah yang
diucapkan di sebuah perapian dalam lidah yang belum ada ketika ia tenggelam,
sebuah kerikil yang bangun di dalam darah seseorang yang baru lahir, dan di
saat-saat itu, sesuatu di dalam Ratu Kidul akan bergerak, sangat sedikit,
seperti seseorang yang tidur sangat dalam yang mendengar, dari kejauhan, suara
yang ia kenali, dan ia akan tahu, sejauh ia masih bisa tahu apa pun, bahwa
rantai masih bertahan, bahwa janji masih dibawa, bahwa suatu hari, masih jauh,
masih banyak zaman jauhnya, seseorang akan datang.
❖
Tanah itu, pada
akhir Buku ini, telah mulai memiliki bentuk yang akan dikenalinya selama sisa
sejarahnya: sebuah pulau panjang yang membentang dari barat ke timur, dengan
tulang punggung gunung-gunung berapi yang menjulang di tengahnya, dengan
dataran subur di utara dan pantai yang ganas di selatan, dengan laut di segala
sisi yang menyimpan, di kedalamannya, ingatan tentang daratan yang dulu lebih
luas.
Ia belum punya nama yang akan dikenal seluruh dunia. Itu akan datang
nanti, di zaman-zaman aksara yang baru saja mulai, ketika para pelaut dari jauh
akan tiba dan menamainya, ketika kerajaan-kerajaan akan mengukir nama mereka sendiri
untuknya di batu, ketika sejarah yang ditulis akan, perlahan, menggantikan
ingatan yang dibawa di dalam darah. Tapi bentuknya telah ada, dan jiwanya telah
ada, jiwa yang dibentuk oleh banjir, oleh kehilangan, oleh ribuan tahun
mengingat sebuah dunia yang tenggelam. Sebab itulah yang membuat tanah ini
berbeda dari tanah mana pun, walau mereka yang tinggal di sana tak akan pernah
sepenuhnya tahu mengapa: bahwa ia dibangun, dari fondasinya yang paling dalam,
di atas ingatan akan apa yang hilang. Bahwa filosofinya, lidah-lidahnya,
gunung-gunungnya yang suci dan lautnya yang ditakuti, semua tumbuh dari satu
akar: sebuah daratan yang tenggelam, dan sebuah bangsa yang menolak untuk
membiarkannya benar-benar tenggelam.
Ini adalah Jawa, walau ia belum disebut Jawa. Tanah yang merupakan jejak
dari banyak dunia yang tenggelam. Dan kisahnya, yang dimulai dengan dua saudari
yang berjalan ke pasar di sebuah daratan yang luas dan yakin, baru saja
mencapai akhir dari permulaannya.
❖
Sebab ada banyak
yang masih akan datang, banyak Buku yang masih akan ditulis, banyak zaman yang
masih akan berputar melalui lingkaran bencana dan kelupaan dan ingatan sebelum
janji yang dibuat di air Tahun Nol akhirnya bisa ditepati.
Akan ada zaman ketika lidah-lidah yang berpisah akan tumbuh menjadi
bangsa-bangsa besar, dan ketika seseorang akan bertanya mengapa begitu banyak
dari mereka berbagi mitos yang sama, dan mulai mencari jawaban yang hanya para
pengingat tahu. Akan ada zaman ketika aksara akan matang, dan kerajaan-kerajaan
akan mengukir kebesaran dan kebohongan mereka di batu, dan para pengingat akan
berjuang untuk menjaga kebenaran hidup di bawah berat dari sejarah yang
ditulis. Akan ada zaman gunung-gunung suci dan candi-candi besar, zaman pelaut
dari seberang lautan, zaman penaklukan dan kebangkitan dan kejatuhan,
masing-masing sebuah putaran dari spiral yang sama, masing-masing membawa
rantai pengingat sedikit lebih jauh menuju hari yang dijanjikan. Dan pada akhir
dari semua itu, di zaman yang bahkan para pengingat tertua tak bisa bayangkan,
zaman ketika orang akan menyelam ke dasar laut dengan alat yang belum ada, dan
menemukan, di kedalaman, bentuk-bentuk yang tak seharusnya ada di sana,
struktur-struktur yang terlalu teratur untuk menjadi alami, gema dari sebuah
dunia yang ilmu pengetahuan tak bisa jelaskan, pada akhir dari semua itu,
seseorang akhirnya akan mengangkat ingatan yang tenggelam kembali ke permukaan,
dan menepati janji, dan membebaskan ratu dari laut.
Tapi itu adalah Buku-buku yang lain, dan zaman-zaman yang lain. Untuk
sekarang, di akhir banjir tujuh generasi, cukup untuk mengetahui ini: bahwa
dunia yang lama telah tenggelam, dan sebuah dunia yang baru telah dibangun di
atas ingatannya; bahwa rantai para pengingat telah lahir, dan tidak akan putus;
bahwa di dasar laut seorang ratu menunggu, dan tidak akan menunggu selamanya;
dan bahwa tanah yang akan menjadi Jawa telah mulai menjadi dirinya sendiri,
sebuah pulau yang dibangun di atas kehilangan, yang mengingat, di dalam
gunung-gunungnya dan lidah-lidahnya dan lautnya yang dalam, sebuah daratan yang
tenggelam dan sebuah janji untuk membawanya naik. Dan di bawah segala sesuatu,
sabar sebagaimana ia selalu sabar, air bergerak, membawa, dari yang tenggelam
menuju yang menunggu, melalui rantai yang tak akan putus, melalui zaman-zaman
yang belum lahir, satu bisikan yang telah menjadi ancaman dan gema dan janji
dan pertanyaan dan kini, di akhir Buku ini, menjadi sesuatu yang paling
sederhana dan paling kuat dari semuanya: sebuah jenis kesabaran. Kesabaran air,
yang tahu ia akan menang. Dan kesabaran ingatan, yang tahu bahwa bahkan
kemenangan air tidak akan, pada akhirnya, menjadi yang terakhir.
❖
❖
Akhir Buku Dua
Banjir Tujuh Generasi
Kisah berlanjut dalam Buku Tiga
Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU I · Daratan Sebelum Laut
BUKU II · Banjir Tujuh Generasi
BUKU III · Lidah-Lidah yang Berpisah
BUKU IV · Bukit yang Lebih Tua dari Waktu
BUKU V · Tulang-Tulang Nenek Moyang
BUKU VI · Huruf di Atas Batu
BUKU VII · Candi di Atas Bukit
BUKU VIII · Nama di Atas Air
BUKU IX · Nyala di Atas Besi
BUKU X · Cahaya di Atas Dasar